Handshaking yang terbukti, life in pains ….. DULU sangat sulit kupahami, setelah menjalani sangat PAHIT in LIFE …. Baru bisa kupahami. Yang dicari BUKAN surga,—– TAPI RIDHO ALLAH saja … mengikuti kehendak ALLAH …. MESKIPUN dianugerahi oleh Allah di dunia berupa …. hidup PENUH DERITA …. hidup PEDIH … hidup PERIH … hidup SAKIT sekali …… hidup sangat kekurangan …. dll.——- >> hanya mengikuti KEHENDAK ALLAH TANPA bertanya lagi ……. WHY .. mengapa … sebabnya apa … dst …… MENGAPA orang mukmin lebih memilih JALAN SUKAR dan MENDAKI (QS Al-Balad [90]: 11-12) ….. sangat menyakitkan … tidak mengenakkan … menyesakkan hati ……<<< BUKAN memilih HIDUP yang INDAH … hidup yang ENAK… hidup yang NIKMAT ….. hidup yang NYAMAN ….. menikmati HIDUP … dst >>> Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:————مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ———-“Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia suka untuk kembali ke dunia padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena dia melihat keistimewaan karamah (mati syahid).”[ HR. Al-Bukhari no. 2817 dan Muslim no. 1877] ——————— Diriwayatkan dari Ali bin abi thalib, dia berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW, bersabda; ” Apakah kamu mau aku beri lima ribu ekor kambing, atau aku ajari kamu lima kalimat yang memuat kemaslahatan agamamuu dan duniamu?” maka aku jawab, ” Ya Rasulullah, lima ribu ekor kambing itu banyak, tetapi ajari aku ilmu.” lalu, Rasulullah SAW bersabda, bacalah; ALLAAHUMMAGHFIR LII DZANBII, WA WASSI’ KHULUQII, WA THAYYIB LII KASABII, WA QANNI’NII BIMAA RAZAQTANII, WA LAA TADZ-HAB QALBII ILAA SYAI-IN SHARRAFTAHU ‘ANNII, (” Ya Allah, ampunillah dosaku, perluaslah (muliakanlah) akhlakku, berilah untukku pekerjaan yang baik, jadikanlah aku puas menerima apapun yang Engkau karuniakan kepadaku, dan janganlah Engkau buat hatiku mengingat apapun yang telah Engkau palingkan dariku” ). (HR. Ibnu An-Najjar)——————- dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidak boleh ada hasad kecuali untuk 2 orang: Orang yang diberi harta oleh Allah, lalu dia gunakan harta itu untuk membela kebenaran. Yang kedua, orang yang diberi ilmu oleh Allah, lalu dia memutuskan perkara berdasarkan ilmu agamanya dan dia mengajarkannya. (HR. Ahmad 4109, Bukhari 1409 dan yang lainnya).————–MAYORITAS …. keBANYAKan ,,,,,manusia minta dikembalikan ke dunia, karena begitu “SULIT”nya setelah MATI, tidak semudah orang KIRA ——-Allah Ta’ala berfirman,—————–حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)————— “Hingga apabila telah datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”(Al Mukminun: 99-100) … ————————- Di dalam Al-Quran Allah menyebutkan sebuah pertanyaan:————–فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ (١١) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ (١٢)———-Artinya: “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?” (QS Al-Balad [90]: 11-12).—————————-Ayat ini berbicara soal jalan kebaikan yang dikatakan sebagai jalan yang sukar, sulit ditempuh lagi menanjak. Hanya orang-orang yang sabar saja yang mampu dan mau melakukannya.——————-Apa jalan mendaki itu? Allah menjawab pada ayat-ayat berikutnya, yakni:———فَكُّ رَقَبَةٍ (١٣) أَوۡ إِطۡعَـٰمٌ۬ فِى يَوۡمٍ۬ ذِى مَسۡغَبَةٍ۬ (١٤) يَتِيمً۬ا ذَا مَقۡرَبَةٍ (١٥) أَوۡ مِسۡكِينً۬ا ذَا مَتۡرَبَةٍ۬ (١٦) ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ (١٧)—————-Artinya: “[yaitu] melepaskan budak dari perbudakan, (13) atau memberi makan pada hari kelaparan, (14) [kepada] anak yatim yang ada hubungan kerabat, (15) atau orang miskin yang sangat fakir. (16) Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. ”(17). (QS Al-Balad [90]: 13-17). —————- wallahua’lam

January 22, 2022 Edy Gojira 0

MAYORITAS …. keBANYAKan ,,,,,manusia minta dikembalikan ke dunia, karena begitu […]

apakah AKU/KAMU sudah mengira CUKUP amalmu/ku ? …—– mengira SUDAH CUKUP IBADAHmu/ku untuk dibawa setelah MATI ?? .—–. sudah mengira cukup amalmu/ku akan ke SURGA ???? —- Sudah cukup AMALmu/ku menjauhkan dari terjatuh ke NERAKA ???? ……………… bercerminlah … lihat AMALmu/amalku sendiri .. lihat HATImu/hatiku….. sendiri…————————–———– Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Orang yang paling bijak adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…” [HR Imam Tarmizi; Hadis Hasan] =========== SURGA – NERAKA SESEORANG …. sudah Ditetapkan Allah =========== ———-<<< Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni SURGA dan orang yang akan menjadi penghuni NERAKA? Rasulullah saw. menjawab: YA. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi UNTUK APA ORANG-ORANG HARUS BERAMAL? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang AKAN DIMUDAHKAN untuk melakukan APA YANG TELAH MENJADI TAKDIRNYA. (Shahih Muslim No.4789) >> ——– Peristiwa Yang TERJADI … (now) dan … Yang “AKAN” TERjadi (future) adalah = UJIAN.——- ﴾ Az Zumar:49 ﴿ Maka apabila manusia ditimpa BAHAYA ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya NIKMAT dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. SEBENARNYA itu adalah “”””” UJIAN”””””, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. ———– Bersyukur pada PEMBERIAN Allah…. agarTIDAK meREMEHkan NIKMAT yg diberikan Allah kepada kita —————————————- – dunia …. di-JAGA agar kita CUKUP untuk HIDUP============ – CUKUP = TIDAK berlebihan …. BUKAN hidup MEWAH……………………..……………………… Nabi sbg Ittiba’ …. apakah NABI hidup bermewahan ….sbg kepala NEGARA ?? ……………………..……………………..……………….“Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu.” (HR. Bukhari-Muslim)—————————————–Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu melihat kepada orang yang berada di atasnya dalam hal harta dan fisik, maka hendaknya ia melihat kepada orang yang berada di bawahnya di antara mereka yang diberikan kelebihan.” (HR. Muslim)————————————- Bekerja seakan-akan ….. HIDUP SELAMAnya = PALSU =HADITS PALSU……………………..……………………..……….banyak manusia … tergelincir dalam memahami (shg Cinta dunia ….. takut mati …. al WAHN)……………………..……………………..……….“Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.= hadits PALSU”——-اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا ، و اعمل لآخرتك كأنك تموت غدا————————————-*) hadits seBENARnya adalah “ Uhruz lid Duniaka (JAGA-lah untuk duniamu) …’, bukan “ I’mal lid Duniaka (bekerjalah untuk duniamu) ..”أحزر لدنياك كأنك تعيش أبدا ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا——————————– “Jagalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.” (Lihat Musnad Al Harits, No. 1079. Mawqi’ Jami’ Al Hadits. Lalu Imam Nuruddin Al Haitsami, Bughiyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Al Harits, Hal. 327. Dar Ath Thala’i Lin Nasyr wat Tauzi’ wat Tashdir. Lihat juga, Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Mathalib Al ‘Aliyah, No. 3256. Mauqi’ Jami’ Al Hadits.)——————————————**) ada juga HADITS sebagai berikut: أصلحوا دنياكم ، و اعملوا لآخرتكم ، كأنكم تموتون غدا——“Perbaikilah oleh dunia kalian, dan bekerjalah untuk akhirat kalian, seakan kalian mati besok.” (HR. Al Qudha’i, No. 668. Mawqi’ Jami’ Al Hadits)———————————————-***) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersaba: ما قل و كفى خير مما كثر و ألهى —“Apa pun yang sedikit tapi men-CUKUP-i, adalah lebih baik dibanding yang banyak tetapi melalaikan.” (HR. Ahmad No. 20728}———————————– cukup = ….. BUKAN hidup mewah: ﴾ Al Israa’:16 ﴿Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang— hidup mewah— di negeri itu (supaya mentaati aturan Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. …………………….﴾ Al Mu’minun:64 ﴿ Hingga apabila Kami timpakan azab, kepada orang-orang yang —hidup mewah— di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong…………………..﴾ Saba’:34 ﴿ Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang —hidup mewah—- di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”…………………. ﴾ Az Zukhruf:23 ﴿ Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang —–hidup mewah— di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”…………….﴾ Al Waaqi’ah:45 ﴿ Sesungguhnya mereka sebelum itu —-hidup bermewahan—…………….. cukup = ….. TIDAK berlebihan ﴾ Al Furqaan:67 ﴿Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak —-berlebihan—, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian………………. ﴾ Al Fajr:20 ﴿dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang —berlebihan—………….—————————–Hadits berikut menjelaskan cara untuk membantu seseorang mensyukuri nikmat. Demikian juga mendorong seseorang agar bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan mengakui nikmat-nikmat-Nya, menyebut nikmat itu, menggunakannya untuk ketaatan kepada-Nya serta mengerjakan segala sebab yang membantu untuk bersyukur,——-عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ———–“Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu.” (HR. Bukhari-Muslim)————–Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:——إذَا نَظَرَ أَحَدَكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ———–“Apabila salah seorang di antara kamu melihat kepada orang yang berada di atasnya dalam hal harta dan fisik, maka hendaknya ia melihat kepada orang yang berada di bawahnya di antara mereka yang diberikan kelebihan.” (HR. Muslim) ….. wallahua’lam bishawab

October 14, 2021 Edy Gojira 0

………..apakah KAMU/AKU sudah mengira CUKUP amalmu/ku ? … mengira SUDAH […]

ku-kurangi buruk sangka-ku sendiri …….. hanya bisa berbaik sangka pada ALLAH SWT saja …… ———- “the sign for me, my destiny, good destiny from Allah” … HUSNUDZON-ku pada Allah SWT ———— dalam “kesempitanku” ========== Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah menTAKDIRkan segalanya dan apa yang diKEHENDAKi-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664)) ————— Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,——————-لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه—————–“TIDAK BERIMAN salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada QADAR BAIK dan BURUK-nya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)………………………….. Jibril ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,————-الإيمان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره——————“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang BAIK maupun yang BURUK.”(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5)) ===== wallahua’lam

September 11, 2021 Edy Gojira 4

ku-kurangi buruk sangka-ku sendiri  …………  hanya bisa berbaik sangka pada […]

Salah satu cara orang JAHILIYAH (keBODOHan) untuk MENOLAK keBENARan ISLAM adalah memBANGGAkan BUDAYA nenek moyang, ……………. sebagaimana Allâh Azza wa Jalla sebutkan argumentasi orang-orang musyrik ketika diseru ke dalam agama Islam:——– أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ ————- Dan apabila dikatakan kepada mereka: “IKUTilah apa yang telah diTURUNkan Allâh,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) NENEK MOYANG kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), WALAUpun nenek moyang mereka itu TIDAK MENGETAHUi suatu apapun, dan TIDAK mendapat PETUNJUK? [Al-Baqarah/2:170] ================ Dari Hudzaifah bin al Yaman radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah mengenai kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau mengenai keburukan.”—–Hudzaifah melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan yang Allah berikan kepada kita ini, akan muncul keburukan setelahnya seperti masa-masa sebelumnya?”———Rasul menjawab, “Benar!”Hudzaifah bertanya lagi, “Lalu bagaimana caranya selamat dari hal tersebut?”—-Beliau menegaskan, “Dengan pedang!”—Hudzaifah melayangkan pertanyaan kembali, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan terjadi?”——Rasul menjelaskan, “Jika Allah mempunyai —KHALIFAH— di muka bumi, lalu dia memukul punggung dan mengambil hartamu, maka taatilah dia. Jika tidak begitu, maka matilah engkau dalam keadaan menggigit akar pohon (tidak taat dan pergi menyepi).”——–Hudzaifah bertanya lagi, “Lalu apa yang akan terjadi?”—–Rasul menjawab, “Akan muncul DAJJAL dengan membawa SUNGAI dan API. Siapa yang jatuh ke dalam apinya, maka ia akan mendapatkan pahala dan akan dihapus dosanya. Dan siapa yang jatuh ke dalam sungainya, maka ia akan mendapat dosa dan digugurkan pahalanya.”—-Hudzaifah bertanya kembali, “Lalu apa lagi?”—–Rasul menyebutkan, “KIAMAT akan terjadi.”======== ————————— Hadits Hudzaifah: Nabi bersabda: “Ya”, Dai – dai yang mengajak ke pintu Neraka Jahanam. Barang siapa yang mengikutinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda: “Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Aku bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya? Beliau bersabda: “Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya”. Aku bertanya: “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau bersabda: “Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399) ———— Toleransi Yang Kebablasan -============= Berkasih sayang dengan orang kafir——————-Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:————————-وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ—————————-“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107)——————–Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. —————————Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.———————————Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:————–لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ—————–“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)————————————Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.————————–Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:—————إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ——————-“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)———————-Juga firman Allah Ta’ala:———–وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ——————-“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)————————Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:—————الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا—————-”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)—————Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.—================ Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama ================= Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”. —————Sungguh aneh.Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.——————–Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. —————————Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107: “Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus”. Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.—————————————-Pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:—————-قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ————-“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku‘”—————————————Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan.———————— Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?——————-وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ———————“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)————————————–Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. ———————Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:—————————–إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها——————“Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)————————————Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi.——–…wallahua’lam

May 4, 2021 Edy Gojira 5

Salah satu cara orang JAHILIYAH (keBODOHan) untuk MENOLAK keBENARan ISLAM […]

APAKAH ini KEHENDAK ALLAH ??? will of ALLAH SWT? .. atau aku masih bermimpi saja? … mimpiku benar ? ======== Allah menciptakan berPASANGAN, === UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ===== “Tidak ada di SURGA sesuatu yang SAMA seperti yang ada di dunia kecuali nama-NAMA ORANG”. (HR Ath-Thabrani)————————-…… SURGA = mendapatkan apa yg mereka … KEHENDAKI.. Al Furqaan:16—————–—SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI …. Az Zukhruf:71——————……….di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya———————-﴾ Asy Syarh:5 ﴿————–Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,————-فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٥﴾————-﴾ Asy Syarh:6 ﴿—————sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.————إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٦﴾————————–———– ============ Kaya dan Miskin ========————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.——— =========== wallahua’lam

April 9, 2021 Edy Gojira 4

will of ALLAH SWT ? .. atau … aku masih […]