Loading
patah | Edy Gojira >

APA gunanya kita diberi Allah … MARAH?…. gunakan MARAH pada tempatnya … untuk memBERANTAS KEMAKSIATAN ———————————— melihat MAKSIAT … keMUNKARan kok DIAM … tidak MARAH ?? … ALLAH akan sangat MARAH/murka pada orang itu …. —————————– ‘Adi bin Umair ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengadzab manusia secara umum hanya karena perbuatan maksiat dari orang-orang tertentu, kecuali mereka mengetahui kemaksiatan itu, namun tidak mau memberantasnya. Padahal mereka sebenarnya mampu. Jika mereka melakukan seperti itu maka Allah akan mengadzab semuanya, yang tidak melakukan dan yang melakukan.” (HR Abu Dawud) ——————- >>>> Marah adalah sifat bagi makhluk. Jika kita menetapkan sifat marah bagi Allah berarti kita menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. ????? <<<<<< --------------- Untuk menjawab kesalahpahaman seperti ini maka bisa kita jawab dari beberapa sisi: 1 Jika Anda boleh mengatakan demikian, maka kami pun juga bisa mengatakan bahwa orang yang menolak sifat ghadhab bagi Allah sama artinya telah menyerupakan Allah dengan dengan benda-beda mati (seperti batu, tanah, kayu, dsb) yang tidak memiliki sifat marah. 2 Kesamaan nama tidak mengharuskan kesamaan materi. Sebagai contoh, Allah bersifat wujud (ada). Demikian juga manusia bersifat wujud. Akan tetapi eksistensi keduanya berbeda. Wujud Allah adalah wujud azali abadi, sedangkan wujud manusia adalah wujud fana dan sementara. ---------- Demikian juga dengan sifat murka/marah/gadhab, meskipun Allah punya sifat marah namun amarah Allah sesuai dengan kemuliaan-Nya tidak sama dengan sifat amarah makhluk-Nya. ----------------- >> Marah adalah keadaan saat darah mendidih dalam hati, dan hal itu mustahil bagi Allah. —————- >>> Pemahaman seperti ini juga tidak tepat. Sebab mendidihnya darah, atau berubahnya warna wajah saat marah adalah sifat yang terjadi pada makhluk. Adapun Allah, maka marah-Nya tidak lazim harus seperti itu. Lantas bagaimana marahnya Allah? Hanya Allah–lah yang mengetahui bagaimana kaifiahnya. —————- >>> Menetapkan sifat marah bagi Allah sama dengan mengatakan bahwa Allah dipengaruhi oleh ciptaan, dan ciptaan yang menyebabkan peristiwa kemarahan-Nya, dll. Padahal Allah tidak terpengaruh oleh apa yang kita lakukan, atau oleh apa pun dalam ciptaan-Nya. Karena Dia tidak membutuhkan ciptaan dengan cara atau bentuk apapun. ——————- Untuk meluruskan kesalahpahaman ini kita bisa menjawabnya dari beberapa sisi: Pertama: Yang menetapkan sifat murka bagi Allah adalah Allah sendiri. Sedangkan kewajiban kita hanyalah menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sebagai hamba-Nya tentu kita tidak boleh lancang sampai berani menolak ketetapan Allah atau menetapkan perkara yang tidak Ia tetapkan bagi diri-Nya Kedua: sifat murka adalah sifat ikhtiyariyah (pilihan) Allah. Artinya Allah tidak dipaksa oleh siapapun dalam hal ini. Semuanya terserah kepada kehendak Allah. Jika Ia menghendaki maka Ia akan murka kepada orang yang pantas untuk dimurkai, Sebagaimana Allah juga meridai hamba-Nya sesuai dengan kehendak dan iradah-nya. Jadi menetapkan sifat murka bagi Allah, tidak berarti mengtakan bahwa Allah bergantung kepada makhluk-Nya. Dengan demikian kita tidak perlu menakwil makna ghadhab dengan “kehendak menyiksa” atau “siksaan” atau takwil-takwil lain yang menyimpang dari makna lahirnya. —————- MAKSIAT kok didiamkan ??? kok TIDAK MARAH ?? .. apa gunanya mARAH yg diberikan Allah ??? ————— Abu Bakar ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika terjadi kemaksiatan dalam suatu kaum, tetapi mereka tidak memberantasnya, padahal mereka mampu melakukannya, maka dikhawatirkan Allah akan menurunkan siksa-Nya kepada mereka semua.” (HR Abu Dawud) sifat PENGECUT …. MUNAFIK … FASIK ———————– mengapa KAU DIAM saja …. melihat keMUNKARan ? … mengapa tidak kau GUNAKAN MARAHmu …. untuk membasmi KEMUNKARAN ??!!! ——————————— Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat, Allah akan bertanya kepada seseorang, “Apa yang menghalangimu untuk memberantas kemunkaran yang kamu lihat?” Lalu Allah mengajarkan jawabannya, “Ya Rabbi, saya mengharapkan pengampunan-Mu, dan sayat takut musibah yang akan menimpaku, atau hartaku.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah) —- Ada banyak teks ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat marah / murka/ghadhab. Di antaranya adalah: ——————— QS. An-Nisa: 93 وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا “Dan barang siapa membunuh seorang beriman dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93) ——————— QS. Al-Baqarah: 90 Allah berfirman, فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ “Dankarena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan, dan kepada orang-orang kafir ditimpakan azab yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 90) —————— Ketika menanggapi ayat ini, Imam Ibnu Katsir membawakanriwayat dari Abu ‘Aliyah. Beliau mengatakan, “Allahmurka kepada mereka lantaran mereka mengingkari Injil dan Isa. Kemudian mereka juga ingkar terhadap Muhammad dan Alquran.” ——————- QS. An-Nur: 9 ————– Allah berfirman, وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ “Dan sumpah yang kelima bahwa kemurkaan Allah akan menimpanya (istri) jika suaminya termasuk orang yang berkata benar.” (QS. An-Nur: 9) Ada sekian banyak hadis yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat marah/murka/ghadhab. Di antaranya adalah: ——— Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي “Sesungguhnya tatkala Allah menetapkan makhluk-Nya, Dia tulis di sisi-Nya di atas ‘arsy bahwa rahmat-Ku mendahului murka-Ku” (HR. Bukhari: 7422) ————— Hadis yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ketika Rasulullah terluka dalam sebuah peperangan, beliau bersabda, اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ فَعَلُوا بِنَبِيِّهِ يُشِيرُ إِلَى رَبَاعِيَتِهِ اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى رَجُلٍ يَقْتُلُهُ رَسُولُ اللهِ فِي سَبِيلِ اللهِ “Allah sangat murka terhadap kaum yang memperlakukan nabinya seperti ini. Beliau menunjuk giginya yang patah. Kemudian beliau mengatakan, “Allah juga sangat murka terhadap orang yang dibunuh oleh nabi-Nya.”(HR. Bukhari: 4073 dan Muslim: 1793)

October 21, 2016 Edy Gojira 1

APA gunanya kita diberi Allah … MARAH?…. gunakan MARAH pada […]

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG … QALBU BUTA tidak memahami AYAT Allah —————— BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> ————- Qalbu Jasmani, yaitu Jantung ———- Dalam kamus bahasa Arab, qalbu dalam bentuk fisik didefenisikan sebagai “organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri.” Dari definisi ini dipastikan qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. ————– Sebuah hadist yag amat populer menyebutkan : أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Qalbu”. (HR Muslim, no. 1599. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadits ini dimuat oleh Imam an-Nawawi dalam Arba’in an-Nawawiyah, hadits no. 6, dan Riyadhush-Shalihin, no. 588)——— Kebanyakan orang mengartikan kalimat terakhir menjadi: “segumpal daging itu adalah hati,” padahal merujuk pembahasan diatas, dimana qalbu berarti jantung, maka seharusnya menjadi “segumpal daging itu adalah jantung.” Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak? jawabnya adalah jantung.———– Jadi, hadist yang selama ini diartikan hanya secara ruhiyah, ternyata bila kita gunakan tata bahasa yang benar, maka ia juga akan memiliki makna jasmaniah.————– ————- Qalbu Ruhani, yakni hati nurani———————- إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya. (Hadist Riwayat Ibnu Majah)———— Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu rohani. Roh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena roh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) roh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.——– Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Dalam bahasa inggris pun disebutkan heart sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan intuisi, perasaan dan emosi. seperti pada “His head told him not to fall in love, but his heart had the final say”.——- Nah, dengan memahami makna sebenarnya dari Qalbu, kita takkan lagi bingung dengan kontadiksi artinya dalam bahasa Indonesia. Mulai sekarang kita bisa menyebut Qalbu, atau Heart sebagai jantung. Ungkapan “Kaulah jantung hatiku” mungkin sebuah transisi sederhana untuk memperbaiki salah kaprah ini.——– Mungkin yang agak repot ketika kita sedang patah hati dan berkata “Kau sudah membuatku sakit hati,” kemudian kita rubah menjadi “Kau sudah membuatku sakit jantung,” orang akan menganggap Anda terserang penyakit medis, dan hilanglah unsur melankolis disini. Dan bila kita minta Aa Gym merubah lirik lagu “Jagalah Hati” menjadi “Jagalah Jantung,” apa beliau mau? repot juga, ya.——— Oya, bila Anda lebih memilih mengganti kata “hati” menjadi “qalbu” daripada memakai kata “jantung,” maka pastikan Anda menulis atau mengatakannya sebagai Qalbu, jangan Kalbu. Kalbu dengan huruf ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis “kalbu”, maknanya akan berubah menjadi anjing. ======================= QALBU = BUTA = tidak diGUNAkan untuk MEMAHAMI ayat-ayat Allah << ” … BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> <<< TIDAK BERUSAHA memahami ayat-ayat Allah = golongan BINATANG TERNAK … Al Furqaan:44 >> ————–﴾ Al Hajj:46 ﴿maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai QALBU yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada. أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصٰرُ وَلٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿الحج:٤٦﴾ ————﴾ Al Baqarah:7 ﴿ Allah telah mengunci-mati QALBU dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. خَتَمَ ٱللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة:٧﴾ ———-﴾ Al Baqarah:10 ﴿ Dalam QALBU mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿البقرة:١۰﴾ ————-﴾ Al Baqarah:18 ﴿ Mereka tuli, bisu dan BUTA, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿البقرة:١٨﴾ ……………………………….. ﴾ Al Furqaan:44 ﴿ atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الفرقان:٤٤﴾ ……………………………………………………… ——﴾ Al Israa’:72 ﴿ Dan barangsiapa yang BUTA (QALBUnya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). وَمَن كَانَ فِى هٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الإسراء:٧٢﴾ ——–﴾ Az Zukhruf:40 ﴿ Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang BUTA (QALBUnya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? أَفَأَنتَ تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ أَوْ تَهْدِى ٱلْعُمْىَ وَمَن كَانَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ ﴿الزخرف:٤۰﴾ ——–﴾ Ar Ruum:53 ﴿ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang BUTA (QALBUnya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). وَمَآ أَنتَ بِهٰدِ ٱلْعُمْىِ عَن ضَلٰلَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِـَٔايٰتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ ﴿الروم:٥٣﴾ ————-﴾ An Nahl:127 ﴿ Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿النحل:١٢٧ ====================

September 27, 2016 Edy Gojira 1

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG … QALBU BUTA tidak memahami AYAT […]

sudah tahu Syarat-Syarat Tawakal ? ———– Allah berfirman, “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS. At-taubah: 129). ———Tawaqal Bukan Pasrah Tanpa Usaha…. ———– Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. ———————– Diantara firman-Nya tentang tawakal ketika disandingkan dengan orang-orang beriman, “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11). ————— Dan firman-Nya,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2). —————– Tentunya masih banyak ayat lain dalam Al Qur’an yang berisi tentang tawakal, demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apakah itu sebenarnya tawakal? Pada pembahasan selanjutnya akan dibahas lebih terperinci mengenai tawakal. ——————— Definisi tawakal ——————— Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hakikat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akhirat” —————– Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.” ————– Tawakal Bukan Pasrah Tanpa Usaha Dari definisi sebelumnya para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun tidak berusaha menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya. ————– Tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas bahwa tawakal tidak lepas dari ikhtiyar dan penyandaran diri kepada Allah. —————– Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310) ——————- Tidak kita temukan seekor burung diam saja dan mengharap makanan datang sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, jelas sekali bahwa seekor burung pergi untuk mencari makan, namun seekor burung keluar mencari makan disertai keyakinan akan rizki Allah, maka Allah Ta’ala pun memberikan rizkiNya atas usahanya tersebut. ————— Syarat-Syarat Tawakal ————— Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu: ———- 1. Bertawakal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123). ———– 2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Maha mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Allah berfirman,“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12). ————— 3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq: 3). ———- 4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS. At-taubah: 129). ———— Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Dengan besarnya tawakal kepada Allah akan memberikan keyakinan yang besar sekali bahkan membuahkan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107) —————- Dengan mendasarkan diri pada keyakinan bahwa hanya Allah saja yang dapat memberikan kemudharatan maka seorang mukmin tidak akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang melanda, seberapapun besarnya, karena dia yakin bahwa Allah akan menolong hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya hanya kepada Allah. Dengan keyakinan yang kuat seperti inilah muncul mujahid-mujahid besar dan ulama-ulama pembela agama Islam yang senantiasa teguh di atas agama Islam walaupun menghadapi ujian yang besar, bahkan mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk agama Islam. ———— Tawakal yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala akan menjadikan hati seorang mukmin ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah, yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan kemanisan dan kesempurnaan iman. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya” —————

August 24, 2016 Edy Gojira 1

sudah tahu Syarat-Syarat Tawakal ? —- ————————- Allah berfirman, “Jika […]

Wanita Tercipta Dari TULANG RUSUK Pria ..yang BENGKOK ? …………………………. hikmah: “… “Berbuat baiklah kepada wanita….” ……………………………………. ”Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.“ QS an-Nisâ’/4: 1 ————————– Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186) ——————————– sabda Rasulullah Alaihi Wasallam: “Nasihatilah perempuan dengan cara yang baik! Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik!” (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi) ——————————– Dalam hadits shahih disebutkan: إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632) ———————————- Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dari jiwa yang satu, Allah menciptakan pasangannya. Qatadah dan Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang satu adalah nabi Adam ‚alaihissalam, sedangkan pasangannya adalah Hawa. Qatadah mengatakan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. (Tafsir Ath-Thabari, 3/565, 566).

May 28, 2016 Edy Gojira 3

Wanita Tercipta Dari TULANG RUSUK Pria ..yang BENGKOK ? ……………………..….. […]