ketahuilah semua BID’AH ................ itu SESAT ------------------------------------------- MENAMBAH atau MENGURANGI ...... dalam URUSAN 'AGAMA' = BID'AH = SESAT ----------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Barang siapa yang mengada-adakan {BID'AH} sesuatu amalan dalam urusan AGAMA yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu" (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133) --------------------------------------- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap BID'AH adalah SESAT.” (HR. Muslim no. 867) ------------------------------------------ HUKUM BID’AH DALAM ISLAM ......... Hukum semua bid’ah adalah terlarang. Namun, hukum tersebut bertingkat-tingkat.---------------------------- Bid'ah itu perkara ibadah bukan alat/benda/urusan dunia...seperti sabda Rasul,"Dalam perkara ibadah lihatlah Aku,sedangkan urusan Dunia kamu lebih tahu." ................ Contohnya:Sholat,Zakat,puasa,haji....Lihatlah Dalil yg diperintahkan Allah dlm Alquran kemudian lihatlah bagaimana Rosul mempraktekkan perintah Allah... ............. Sedangkan Contoh urusan dunia : Fb,twitter,Tv,Mobil pesawat,kereta semua ini adalah alat / benda yang dapat digunakan untuk mempermudah Ibadah kita kepada Allah. ............... Manusia Diciptakan Allah semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah.... Dan Allah Maha pemurah sehingga memberikan fasilitas Dunia sebagai alat untuk mempermudah Ibadah kepada Allah... ========================= dalam AGAMA harus ITTIBA' RASUL ==================================== Pengertian Ittiba’ Ittiba’ secara bahasa berarti iqtifa’ (menelusuri jejak), qudwah (bersuri teladan) dan uswah (berpanutan). Ittiba’ terhadap Al-Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dan mengamalkan isinya. Ittiba’ kepada Rasul berarti menjadikannya sebagai panutan yang patut diteladani dan ditelusuri langkahnya. (Mahabbatur Rasul, hal.101-102).----------------------- Kesempurnaan agama Islam ini diakui oleh orang-orang Yahudi. Bahawa agama Islam ini sudah sempurna, tidak boleh lagi ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Maka ketika ayat ini turun, Umar bin Khaththab menangis. Ketika beliau ditanya kenapa menangis, beliau menjawab: “Aku menangis, (kerana) tidak ada sesuatu yang sempurna melainkn pasti akan berkurang”. Berkurang yang beliau maksudkan adalah dengan wafatnya Rasulullah s.a.w.. kerana selang beberapa waktu antara turunnya ayat ini dengan wafatnya Rasulullah adalah 81 hari. ---------------. Tidak boleh sesiapa pun menambah sesuatu dalam agama ini. Agama Islam sudah sempurna, dan kewajiban kita adalah ittiba’.

bidah islam 1

ketahuilah  semua BID’AH ................ itu  SESAT
-------------------------------------------
MENAMBAH atau MENGURANGI ...... dalam URUSAN 'AGAMA' = BID'AH = SESAT
-----------------------------
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barang siapa yang mengada-adakan {BID'AH}  sesuatu amalan dalam urusan AGAMA yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu" (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)
---------------------------------------
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap BID'AH adalah SESAT.” (HR. Muslim no. 867)
------------------------------------------

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap keSESATan tempatnya di NERAKA.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)
-------------------------------------
Untuk memahami arti bid’ah secara bahasa, mari kita simak terlebih dahulu beberapa arti kata “bid’ah” yang terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab populer:

  1. Dalam kamus al-Muhith, Juz III hal. 3 disebutkan bahwa bid’ah adalah:

اَلاْمَرْ ُالَّذِيْ يَكُوْنُ أَوَّلاًَ (Sesuatu barang yang pertama adanya).

  1. Dalam kamus Mukhtarus Shihah, 379 disebutkan bahwa bid’ah adalah:

اِخْتَرَعَهُ لاَ عَلَى مِثَالٍِ (Mengadakan sesuatu tidak menurut contoh).

  1. Dalam kamus al-Mu’tamad, 28 disebutkan bid’ah adalah:

اِخْتَرَعَهُ وَاَنْشَأَهُ لاَ عَلَى مِثَالٍِ (Diciptakan tanpa contoh).

  1. Dalam kamus al-Munjid, 27 disebutkan bid’ah adalah:

مَاأُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍِ سَابِقٍٍ (Menciptakan dan membuat sesuatu tanpa contoh sebelumnya).

Dari beberapa penjelasan kamus di atas, dapat dipahami bahwa bid’ah dalam bahasa berarti sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya
-----------------------
Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676.

-----------------------------
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)
--------------------------------------

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat. (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

----------------------------------

Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama,pen)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)

Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)

Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya : semua) pada hadits,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.

Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).
=====================

HUKUM BID’AH DALAM ISLAM .........

Hukum semua bid’ah adalah terlarang.  Namun, hukum tersebut bertingkat-tingkat.
-----------------------------

Tingkatan Pertama: Bid’ah yang menyebabkan kekafiran sebagaimana bid’ah orang-orang Jahiliyah yang telah diperingatkan oleh Al Qur’an. Contohnya adalah pada ayat,

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”.” (QS. Al An’am [6]: 136)

Tingkatan Kedua : Bid’ah yang termasuk maksiat yang tidak menyebabkan kafir atau dipersilisihkan kekafirannya. Seperti bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang Khowarij, Qodariyah (penolak takdir) dan Murji’ah (yang tidak memasukkan amal dalam definisi iman secara istilah).

Tingkatan Ketiga: Bid’ah yang termasuk maksiat seperti bid’ah hidup membujang (kerahiban) dan berpuasa diterik matahari.

Tingkatan Keempat: Bid’ah yang makruh seperti berkumpulnya manusia di masjid-masjid untuk berdo’a pada sore hari saat hari Arofah.

Jadi setiap bid’ah tidak berada dalam satu tingkatan. Ada bid’ah yang besar dan ada bid’ah yang kecil (ringan).

Namun bid’ah itu dikatakan bid’ah yang ringan jika memenuhi beberapa syarat sebagaimana disebutkan oleh Asy Syatibi, yaitu:

  1. Tidak dilakukan terus menerus.
  2. Orang yang berbuat bid’ah (mubtadi’) tidak mengajak pada bid’ahnya.
  3. Tidak dilakukan di tempat yang dilihat oleh orang banyak sehingga orang awam mengikutinya.
  4. Tidak menganggap remeh bid’ah yang dilakukan.

Apabila syarat di atas terpenuhi, maka bid’ah yang semula disangka ringan lama kelamaan akan menumpuk sedikit demi sedikit sehingga jadilah bid’ah yang besar. Sebagaimana maksiat juga demikian. (Pembahasan pada point ini disarikan dari Al Bida’ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, www.islamspirit.com)

bidah akhirat 1

===================
Bid'ah itu perkara ibadah bukan alat/benda/urusan dunia...seperti sabda Rasul,"Dalam perkara ibadah lihatlah Aku,sedangkan urusan Dunia kamu lebih tahu." ................

Contohnya:Sholat,Zakat,puasa,haji....Lihatlah Dalil yg diperintahkan Allah dlm Alquran kemudian lihatlah bagaimana Rosul mempraktekkan perintah Allah... .............

Sedangkan Contoh urusan dunia : Fb,twitter,Tv,Mobil pesawat,kereta semua ini adalah alat / benda yang dapat digunakan untuk mempermudah Ibadah kita kepada Allah. ...............
Manusia Diciptakan Allah semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah.... Dan Allah Maha pemurah sehingga memberikan fasilitas Dunia sebagai alat untuk mempermudah Ibadah kepada Allah...
=========================
bidah hasanah adakah
KERANCUAN: BID’AH ADA YANG TERPUJI {bid’ah hasanah} ?
==================================

Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang bahwa tidak semua bid’ah itu sesat namun ada sebagian yang terpuji yaitu bid’ah hasanah.
---------------------------------

Memang kami akui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya. Beliau rahimahullah berkata,

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” (Lihat Hilyatul Awliya’, 9/113, Darul Kitab Al ‘Arobiy Beirut-Asy Syamilah dan lihat Fathul Bari, 20/330, Asy Syamilah)

Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata,

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)

Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’. Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.

salah bidah

SANGGAHAN TERHADAP KERANCUAN:
==========================================

KETAHUILAH SEMUA BID’AH ITU SESAT
========================================

Perlu  diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama, pen)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)

Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)

Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya: semua) pada hadits,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.
Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).

------------------------

BERALASAN DENGAN SHALAT TARAWIH YANG DILAKUKAN OLEH UMAR

[Sanggahan pertama]

Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.

Perlu diperhatikan, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan dianjurkan atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat, atau menunjukkannya secara mutlak, namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), maka boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. Begitu pula agama Islam ini disebut dengan muhdats/bid’ah (sesuatu yang baru yang diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja An Najasiy mengenai orang-orang Muhajirin-. Namun yang dimaksudkan dengan muhdats/bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena setiap agama yang dibawa oleh para Rasul adalah agama baru. (Disarikan dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93-96)

[Sanggahan Kedua]

Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. (Faedah dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

[Sanggahan Ketiga]

Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi perbuatan Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Namun, ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah –berdasarkan kaedah ushul fiqih- bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.

Misalnya mengenai acara selamatan kematian. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan tertolak.

Namun yang lebih tepat, lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadits ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam keumumannya (‘aam baqiya ‘ala umumiyatihi) dan tidak memerlukan takhsis (pengkhususan). Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadits dan pemahaman sahabat mengenai bid’ah.

Lalu pantaskah kita orang-orang saat ini memakai istilah sebagaimana yang dipakai oleh sahabat Umar?

Ingatlah bahwa umat Islam saat ini tidaklah seperti umat Islam di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Umat Islam saat ini tidak seperti umat Islam di generasi awal dahulu yang memahami maksud perkataan Umar. Maka tidak sepantasnya kita saat ini menggunakan istilah bid’ah (tanpa memahamkan apa bid’ah yang dimaksudkan) sehingga menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. Jika memang kita mau menggunakan istilah bid’ah namun yang dimaksudkan adalah definisi secara bahasa, maka selayaknya kita menyebutkan maksud dari perkataan tersebut.

Misalnya HP ini termasuk bid’ah secara bahasa. Tidaklah boleh kita hanya menyebut bahwa HP ini termasuk bid’ah karena hal ini bisa menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

Kesimpulan : Berdasarkan berbagai dalil dari As Sunnah maupun perkataan sahabat, setiap bid’ah itu sesat. Tidak ada bid’ah yang baik (hasanah). Tidak tepat pula membagi bid’ah menjadi lima : wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram karena pembagian semacam ini dapat menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.
============================

Hand holding a Social Media 3d Sphere sign on white background.
======================================================
Dakwah Lewat Facebook,Twitter,internet,WA,BBM,WEBSITE, Medsos lain adalah Bid'ah ??.... ILMU yg BERMANFAAT {disampaikan, disebarkan, Share} = AMAL JARIYAH = memberi MANFAAT pada orang lain
..............................................
"Jangan dakwah pakai medsos itu kan bid'ah, gak ada dijaman Nabi.. Ntar masuk neraka lho.."

Pernah dengar celetukan seperti itu..?? Hhhmm... Kalo dakwah di facebook bid'ah, berarti dakwah dimedia lain bid'ah juga dong..?? Kan juga gak ada dijaman Nabi.. Kasian para ustadz yang pada dakwah di TV, radio, majalah, buletin, dan media lainnya... Masuk neraka semua dong..??

Begitulah model pemikiran mereka yang berusaha melegalkan bid'ah (hasanah), ahirnya apa saja yang sebenernya bukan bid'ah maka ia bid'ahkan.. Yang entah sebenrnya ia tahu tapi pura2 tidak tahu, atau mmg bener2 gak tahu.. Hingga ahirnya memahami agama hanya berpijak pada akal akalan, rasa rasa, serta ikut2an teman2nya..
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
''Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (H.R. Muslim)

Dalam riwayat Ibn Majah, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam menambahkan tiga amal di atas, Rasulullah bersabda:

''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Alquran, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (H.R. Ibn Majah)
....................................
Saudaraku... Facebook, internet, email, TV, radio, dlsb.. sejatinya hanyalah sarana atau alat komunikasi saja.. Sebagaimana jaman dulu ada surat menyurat.. Cuman jaman sekarang sudah lebih canggih, tapi prinsipnya tetep sama, yakni sama2 alat komunikasi..

Intinya : Kita menyampaikan suatu berita, entah itu dakwah atau apapun tidak secara langsung face to face, tapi lewat alat komunikasi tsb.. Apakah itu bid'ah..??

Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah berdakwah tidak secara langsung face to face sama orang yang didakwahi.. Beliau pernah lho berdakwah menggunakan media alat komunikasi.. Gak percaya..??

Silahkan buka shahih Bukhari.. Diriwayatkan secara panjang dalam hadits shahih bahwa Rasulullah pernah mengirim surat pada raja Heraklius agar masuk masuk Islam.. Bukankah hal tsb juga merupakan dakwah..?? Dan bukankah surat menyurat adalah alat komunikasi..?? Dari sini saja sebenernya sudah termentahkan tudingan mereka yang membid'ahkan dakwah di facebook..

Memang betul.. Berdakwah merupakan ibadah, namun sarana yang dipakai untuk berdakwah bukanlah bid’ah menurut istilah agama.. Seperti penggunaan microphone untuk pengeras suara, facebook, email sebagai pengganti surat-menyurat, video ceramah dlsb..

Dalam masalah dunia, apapun itu (dalam kasus ini mengenai teknologi), hukum asalnya adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang melarang atau mengharamkannya..

Adapun bid’ah dalam agama, ucapan itu telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alahi was salam, dimana dalam hadits beliau bersabda, potongan haditsnya adalah : "setiap bidah itu adalah sesat". Begitu juga yang dipahami oleh para sahabat dan ulama-ulama lain yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan baik..

Maka.. Semua hal dalam perkara dunia.. Semisal Motor atau Mobil buat ke masjid, Pesawat terbang buat naik haji, Hand Phone, TV, radio, Komputer dan FB buat dakwah, kertas buat nulis Qur’an dan hadits, Sekolah, Madrasah, pesantern, dll buat belajar agama, microphone di masjid buat khutbah dll.. Semua itu adalah sarana / washillah untuk ibadah, BUKAN IBADAHNYA ITU SENDIRI.. Itulah yang disebut dengan Mashlahatul Marsalah..

Sebab untuk urusan dunia, yang menyangkut ilmu pengetahuan, teknologi, alat komunikasi, transportasi, dan semua yang berkenaan dengan peradaban manusia.. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam peristiwa penyilangan serbuk sari kurma yang sangat masyhur :

"Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu" [Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1366)]

Jadi.. Benda-benda yang disebutkan diatas itu adalah urusan dunia yang merupakan hasil kemajuan peradaban manusia secara umum dan pengembangan teknologi seiring dengan berjalannya waktu, yang mana orang kafir juga menggunakannya, dan tidak ada kaitannya dengan agama secara langsung..

Sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi, itu bukanlah bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi.. Silahkan mau buat mikrofon masjid, pesawat buat pergi haji, software dll..

Akan tetapi.. Yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam larang di sini adalah segala macam perkara baru dalam bentuk amalan / keyakinan agama dan syari’at, entah itu amalan-amalan (Fi’liyah) maupun Ucapan (Qouliyah) baik mengurangi atau menambahkan..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan dalam urusan agama yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu" (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Dan jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”(HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dia berkata Hadits hasan shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) kepada hal-hal yang baru itu adalah kebid’ahan dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan”. [SHAHIH. HR.Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43),Al-Hakim (1/97)]

Dari sini.. Maka telah jelaslah sudah : Bahwa berdakwah lewat media alat komunikasi bukan bid'ah..

-

Masih ngotot membid'ahkan dakwah di MEDSOS.??

Semoga Allah memberi kemudahan untuk memahaminya.
=======================
dalam AGAMA harus ITTIBA' RASUL
====================================
Pengertian Ittiba’

Ittiba’ secara bahasa berarti iqtifa’ (menelusuri jejak), qudwah (bersuri teladan) dan uswah (berpanutan).

Ittiba’ terhadap Al-Qur’an berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dan mengamalkan isinya. Ittiba’ kepada Rasul berarti menjadikannya sebagai panutan yang patut diteladani dan ditelusuri langkahnya. (Mahabbatur Rasul, hal.101-102).

Adapun secara istilah ittiba’ berarti mengikuti seseorang atau suatu ucapan dengan hujjah dan dalil. Ibnu Khuwaizi Mandad mengatakan : “Setiap orang yang engkau ikuti dengan hujjah dan dalil padanya, maka engkau adalah muttabi’ (Ibnu Abdilbar dalam kitab Bayanul ‘Ilmi, 2/143).

Allah memerintahkan agar semua kaum muslimin ber-ittiba’ kepada Rasulullah SAW, seperti Firman-Nya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik., (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kesenangan) hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab:21)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini : “Ayat ini merupakan azas pokok lagi agung dalam bersuri teladan kepada Rasulullah SAW dalam segala ucapan, perbuatan dan hal ihwalnya…”(Tafsir Ibnu Katsir, 3/475). Sedangkan Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Al-Hadits Al-Hujjatun bi Nafsihi pada hal.35 menyatakan : “Ayat ini memberi pengertian bahwa Rasulullah SAW adalah panutan kita dan suri teladan bagi kita dalam segala urusan agama…”

Ibnu Qoyyim-rahimulloh – dalam kitabnya I’lamu Muwaqqi’in 2/139 menukil ucapan Abu Daud -rahimahullah- , beliau berkata:” Aku mendengar imam Ahmad bin hanbal -rahimahullah- menyatakan: Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Rosulullah SAW dan para Shohabat RA .”

Dari perkataan para imam diatas, dapat dipahami bahwa yang dinamakan ittiba’ ialah mengikuti Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah dengan pemahaman salaful ummah, karena dua perkara ini adalah hujjah yang qathiyyah sebagaimana telah disepakati oleh para ulama.

Oleh karena itu Imam Ahmad bin hambal berkata:’ Janganlah engkau taqlid kepadaku, kepada malik, Sufyan Ats Tsauri dan Al Auza’I, tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” {lihat: A’lamul Muwaqi’in 2/139}

Sedangkan para imam yang disebut oleh imam ahmad diatas, tidak pernah mengambil pendapat rijal (orang-orang) tapi mereka mengambilnya dai Al Qur’an dan As Sunnah ash shahihah lengkap dengan perkataan para Sahabat RA .

Jika ada orang-orang yang mengikuti mereka (para imam) dengan dalil dan hujjah yang mereka ambil, maka dia adalah seorang muttabi’. Demikian pula jika ada orang yang mengikuti Syaikh Muhamamd Nashiruddin Al Albani , Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz , Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimakumullah- atau ulama yang lainnya karena berdasarkan hujjah dari Al Qur’an dan Assunnah dengan pemahaman salaful Ummah yang ada pada mereka, maka orang ini yang mengikuti para ulama tersebut adalah seorang muttabi’.

Ber-uswah kepada Rasulullah saw ialah mengerjakan sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh beliau, baik berupa amalan sunnah atau pun wajib dan meninggalkan semua yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW baik perkara itu makruh, apalagi yang haram. Jika beliau SAW mengucapkan suatu ucapan, kita juga berucap seperti ucapan beliau, jika beliau mengerjakan ibadah, maka kita mengikuti ibadah itu dengan tidak ditambah atau dikurangi. Jika beliau menganggungkan sesuatu, maka kita juga mengagungkannya.

Begitu pula jika Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu maka kita juga harus meninggalkan selama perbuatan atau ucapan tersebut bukan suatu kekhususan bagi beliau Rasulullah SAW. Dan jika beliau mengagungkan sesuatu maka kita juga mengagungkannya, dan demikian seterusnya.

Jadi, beruswah kepada Rasulullah SAW berarti kita mengesakannya dalam hal mutaba’ah (mengikuti) sebagaimana kita mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam beribadah. Hal ini merupakan konsekuensi dari ucapan syahadat Laa Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan rasulullah, jika hilang salah satu hal dari diri seseorang kedua kalimat persaksian tersebut maka belum dapat dikatakan seseorang tersebut sebagai muslim.

Namun perlu diperhatikan bahwa mustahil seseorang itu ber-uswah atau ber-ittiba’ kepada Rasulullah saw jika dia jahil (bodoh) terhadap sunnah-sunnah dan petunjuk-petunjuk Rasulullah saw. Oleh sebab itu jalan satu-satunya untuk ber-uswah kepada Rasulullah adalah dengan mempelajari sunnah-sunnah beliau – ini menunjukkan bahwa atba’ (pengikut Rasul) adalah ahlul bashirah (orang yang berilmu).

Selain itu, cukup banyak ayat-ayat Al-Qur’an agar kita senantiasa mengikuti sunnah berkaiatan dengan Ittiba' seperti :

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul berarti dia menta’ati Allah.. ” (An-Nisa’:80)

“Barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya Allah akan memasukkannya ke dalam Syurga…” (An-Nisa’:13) … dan ayat-ayat yang lainnya.

Dan perkataan Rasulullah merupakan perkataan yang harus dipercaya, sebab “Dan tidaklah ia berkata-kata dari hawa nafsunya melainkan wahyu yang disampaikan Allah kepadanya.” (An-Najm:4)

Bahkan Rasulullah mengingkari orang-orang yang beramal tetapi mereka tidak mau mencontoh seperti apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah :

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim, 1718).

Dalam hadits ini ada faedah penting, yaitu : Niat yang baik semata tidak dapat menjadikan suatu amalan menjadi lebih baik dan akan diterima di sisi Allah , akan tetapi harus sesuai dengan cara yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw. Oleh sebab itu Nabi menutup jalan bagi orang yang suka mengada-ngada dalam ibadah dengan ucapan : “Siapa yang benci (meninggalkan) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku“.(HR. Bukhari). Dan ini berlaku bagi seluruh sunnah yang telah ditetapkan beliau.

Maka dengan demikian kedudukan ittiba’ (mengikuti contoh kepada Ralullah saw) dalam Islam adalah wajib, setiap orang yang mengaku muslim mesti meninggikannya, bahkan ia merupakan pintu bagi seseorang setelah masuk Islam. Sehingga Ittiba’ kepada Rasulullah adalah salah satu syarat agar diterimanya amal seseorang.

Sedangkan syarat diterimanya ibadah seseorang yang disepakati oleh para ulama, ada dua:

Pertama, mengikhlaskan niat ibadah hanya kepada Allah.

Kedua, harus mengikuti dan cocok dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW.

Imam Al Baihaqi -rahimahullah- mengatakan:” Jika ittiba’ kepada Rasulullah SAW merupakan suatu kewajiban dan tidak ada cara lain untuk bisa berittiba’ kepada sunnah beliau kecuali dengan mengilmuinya, maka tidak ada jalan lain untuk bisa mengilmuinya kecuali dengan menerima semua apa yang datang dari beliau. Oleh sebab itu beliau memerintahkan umatnya untuk mengajarkan dan mendakwahkan sunnah kepada ummat.” [lihat Al I’tiqod Wal Hidayah Ila Sabili Ar Rasyad hal 154]

Sunnah Rasulullah SAW dibagi menjadi dua yaitu: Sunnah fi’liyah dan sunnah tarqiyyah. Segala sesuatu yang dikerjakan Rasulullah SAW termasuk sunnah yang kita kerjakan selama bukan merupakan kekhususan bagi beliau. Sunnah ini yang yang dinamakan sunnah fi’liyah. Sedangkan segala sesuatu yang ditinggalkan beliau adalah termasuk sunnah untuk kita tinggalkan dan ini dinamakan sunnah tarkiyyah.

Al Hafidz Ibnu Rajab Al Hambali -rahimahullah- dalam kitabnya Fadllu ‘Ilmi Salaf hal 31 beliau berkata”…Segala sesuatu yang disepakati oleh salafush shalih untuk ditinggalkan maka tidak boleh diamalkan karena mereka tidak akan meninggalkan suatu amalan karena mereka tahu bahwa amalan itu tidak dikerjakan Rasulullah SAW “

Dasar kaidah sunnah tarkiyyah ini diambil dari beberapa dalil. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori -rahimahullah- (no 5063) dan Imam Muslim -rahimahullah- (no 1401) dari anas bin malik -Rodliallohu anhu- , dia berkata :

”Datang tiga orang ke rumah istri Rasulullah SAW . Ketika mereka dikabari tentang ibadah Rasulullah SAW mereka merasa bahwa ibadah mereka amat sedikit. Oleh karena itu mereka mengatakan’Ada apanya kita dibanding Rasulullah SAW? padahal beliau telah diampuni oleh Allah dosanya yang lalu maupun yang akan datang’, salah satu diantara mereka berkata,’Saya akan sholat semalam suntuk selama-lamanya’ yang lainya berucap,’ Saya akan berpuasa sepanjang masa dan tidak akan berbuka.’ dan yang lainnya berkata,’saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya’ (mendengar hal ini) Rasulullah SAW pun bersabda,”Kalian mengucapkan begini dan begitu?! Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepadaNya, namun aku berpuasa juga berbuka, aku sholat dan juga tidur serta aku pun menikahi wanita. Maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku maka dia bukan dari golonganku” [HR Bukhori dan Muslim]

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid -Hafidlahullah- dalam kitabnya Ilmu Ushulil Bida’ hal 108 menjelaskan hadits tersebut :’Hadits ini secara jelas mengisyaratkan tentang usaha tiga orang yang tersebut dalam hadits untuk mengerjakan ibadah-ibdah yang pada dasarnya memang disyariatkan, namun kaifiyyah (tata cara) yang tidak pernah dilakukan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Puasa pada asalnya ibadah yang dianjurkan. Qiyamul Lail pun asalnya dalah ibadah yang disukai . Tetapi kaifiyah dan sifat ibadah yang akan dilakukan oleh tiga orang tadi ditinggalkan oleh Rasulullah SAW .dalam praktek ibadahnya dan tidak pernah diajarkan oleh beilau, maka beliau pun mengingkari perbuatan mereka. Pengingkaran Rasulullah SAW tesebut sesuai sabda beliau, "barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”[HR Muslim 1718]. “

Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam kitabnya Zaadul Ma’ad 1/69-70 mengatakan :”Kalau kebahagian seorang hamba di dunia dan akherat tergantung dengan petunjuk Rasulullah SAW maka wajib bagi setiap hamba yang ingin mendapatkannya untuk mengetahui dan memahami Sunnah Rasulullah SAW , petunjuk-petunjuk dan jalan hidup beliau sehingga dapat digolongkan sebagai atba’ (pengikut) beliau..”

Setelah mempelajari sunnah-sunnah beliau Rasulullah SAW , maka wajib bagi kita selanjutnya adalah tathbiqu Sunnah (mengamalkan sunnah) baik secara individu maupun masyarakat. Di dalam menjalankan sunnah ini tidak boleh hanya mengamalkan sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Tidak boleh hanya mementingkan sholat saja tanpa mengamalkan yang lain, begitu juga tidak boleh mementingkan akhlak saja namun tauhidnya tidak. Akan tetapi harus mengamalkan sunnah Rasulullah SAW baik yang berkaitan dengan masalah I’tiqod, ibadah, muamalah, akhlaq, adab, hubungan sosial ataupun lainnya.

Salah satu cara dalam tahthbiqu sunnah adalah dengan menyebarkan ilmu syar’i yang telah diwariskan Rasulullah SAW kepada ummat. Jadi merupakan kewajiban bagi setiap orang yang mempunyai illmu syari tersebut untuk meyampaikan dan mendakwahkan kepada ummat tentang sunnah.

Sekarang setelah kita mengetahui definisi dari Ittiba', hukum dari ittiba', maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ittiba' kepada sahabat RA, sebagaimana seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyyim-rahimulloh – dalam kitabnya I’lamu Muwaqqi’in 2/139 menukil ucapan Abu Daud -rahimahullah- , beliau berkata:” Aku mendengar imam Ahmad bin hanbal -rahimahullah- menyatakan: Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Rosulullah SAW dan para Shohabat RA ., yang mana ittiba' para sahabat adalah mengikuti Rasul, dan juga mengikuti Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah dengan pemahaman mereka (salaful ummah), karena dua perkara ini adalah hujjah yang qathiyyah sebagaimana telah disepakati oleh para ulama.

Sebagaimana kita ketahui dari penjelasan diatas bahwa Ittiba' para sahabat (ittiba' salaf) adalah mengikuti sunnah para sahabat (ulama salaf) tersebut. Selanjutnya bagaimanakan kita mengikuti sunnah para sahabat, yaitu dengan mengikuti kaidah-kaidah mereka dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah tersebut, yang mana para sahabat ini memiliki keunggulan dalam memahami nash Al Quran serta hadits Rasulullah, dikarenakan kemampuan mereka dan keunggulan bahasa Arab mereka, melebihi orang-orang dari luar Arab dalam melafazhkan dan memahami nash (yang tertuliskan dalam bahasa Arab itu)
=======================
ittib arasul taat

KEWAJIBAN MENCONTOHI (ITTIBA’) RASULULLAH S.A.W.

===========================
Agama Islam yang mulia ini dibangunkan & dibina di atas dua prinsip.

Pertama: Kita tidak boleh beribadah, melainkan hanya kepada Allah sahaja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Allah berfirman:

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Ali Imran 3: 64)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk menyampaikan kepada Ahlul Kitab:

1. Agar mereka kembali kepada kalimat yang sama. Di dalam Taurat dan Injil, manusia diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah sahaja, tidak kepada yang lain. lnilah kalimat yang sama, yang dibawa dan diserukan oleh seluruh nabi dan rasul yang Allah utus ke muka bumi ini, iaitu mentauhidkan Allah s.w.t..

Dan Kami tidak mengutus sebelummu (Wahai Muhammad) seseorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahawa Sesungguhnya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku; oleh itu, Beribadatlah kamu kepadaku". (al-Anbiya’ (21): 25)

2. Kita tidak boleh mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun juga. Para nabi, bermula dari Nuh a.s. hingga Muhammad s.a.w., dari Adam hingga Muhammad, semua mengajarkan kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, “maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS an Nahl 16: 36)

3. Tidak boleh pula, sebahagian menjadikan sebahagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka “Saksikanlah, bahawa kami adalah orang-orang Islam”. Dalam ayat yang lain disebutkan Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapa-mu dengan sebaik-baiknya. Jika salah soorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkatan yang mulia. (QS al Isra’ : 23)

Kedua: Kita tidak boleh beribadah melainkan dengan apa yang telah Allah syariatkan di dalam kitab-Nya, atau yang telah disyariatkan dalam Sunnah Nabi-Nya yang terpelihara, tidak dengan bid’ah (kaedah ibadah yang direka-reka) dan tidak dengan hawa nafsu.

Allah s.w.t. berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS al-Hasyr: 7) (Dinukil dari Iqtidha’ ash-Shirathul Mustaqiim (11/373); al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, halaman 179 dengan sedikit tambahan)

Ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah sangatlah banyak. Menurut Imam Ahmad, ada 33 ayat. Manakala menurut lbnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (19/83), bahawa Allah telah mewajibkan taat kepada Rasulullah s.a.w. pada sekitar 40 ayat dalam al-Qur’an.

Kita perlu membahas masalah ittiba’ (mencontohi Rasulullah s.a.w.) kerana persoalan ini sangat penting, sudah banyak dilalaikan (diabaikan) oleh kaum Muslimin dan juga oleh para da’i. Sama ada ittiba’ dalam bab aqidah, syariah (ibadah), akhlaq, dakwah, siyasah syar’iyyah, mahupun yang lainnya. Kerana dengan ittiba’, Allah menjamin kebahagiaan, kemenangan dan syurga. Allah akan menjadikan kebinasaan, kehinaan, kehancuran bagi orang-orang yang tidak ittiba’ (mencontohi) kepada Rasulullah s.a.w..

Ayat-ayat yang mulia di dalam al-Qur’an al-‘Azhim yang berkenaan dengan ittiba’, di antaranya:

1. Allah berfirman:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Ali lmran 3: 31)

Imam Ibnu Katsir (wafat th. 774 H) berkata, “Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mahu menempuh jalan Rasulullah s.a.w. maka orang tersebut dusta dalam pengakuannya, sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah dalam semua ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana terdapat dalam Sahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah s.a.w. bersabda:

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dan kami, maka amalan tersebut tertolak. (Hadis Riwayat Bukhani no. 2697, Muslim no. 1718, Abu Dawud no. 4606 dan lbnu Majah no. 14 dari hadis Aisyah r.h)

Kerana itu Allah berfirman “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu”. Kalian akan mendapatkan apa yang kalian minta, dan kecintaan kalian kepada-Nya, iaitu kecintaan Allah kepada kalian, dan ini lebih besar daripada yang pertama, sebagaimana yang diucapkan oleh para ulama. Yang penting adalah, bukan bagaimana kalian mencintai, akan tetapi bagaimana kalian dicintai oleh Allah.

Yang pertama kita mencintai Allah dan yang kedua Allah mencintai kita. Menurut al-Hafizh lbnu Katsir, bahawa Allah mencintai kita itulah yang paling besar, bagaimana supaya kita akan dicintai oleh Allah. Setiap kita berupaya mencintai, namun tidak setiap kita mampu dicintai. Syarat untuk dapat dicintai oleh Allah adalah dengan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w..

Imam Hasan Basri dan ulama salaf (para ulama generasi awal) lainnya mengatakan, sebagian manusia mengatakan mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini. Orang-orang munafik mengucapkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, namun hatinya tidak demikian, kerana mereka tidak mengikuti Rasulullah s.a.w.. (Tafsir lbnu Katsir, 1/384, Cet. Daarus Salaam, Th. 1413H)

Ayat ini mengandungi fadhilah (keutamaan) jika kita mengikuti Rasulullah s.a.w.. Allah akan mencintai kita, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.

2. Allah berfirman:

Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir”. (lmran Imran 3: 32)

Ayat ini mengandungi makna, jika seseorang menyalahi perintah Rasul-Nya atau tidak berittiba’ kepada Rasulullah s.a.w., maka dia telah kufur; dan Allah tidak menyukai orang yang memiliki sifat demikian, sehinggalah dia mengakui dan mendakwahkan kecintaannya kepada Allah s.w.t. dan ia mengikuti Rasulullah s.a.w.. Seluruh jin dan manusia wajib untuk ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w., hingga seandainya Nabi Musa a.s. ditakdirkan hidup pada zaman Nabi Muhammad s.a.w., maka dia pun wajib ittiba’ kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Demikian juga dengan Nabi Isa ketika turun ke bumi pada akhir zaman nanti, maka Nabi Isa wajib ittiba’ kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Demikian ini menunjukkan, bahawa seluruh manusia wajib ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Sebagaimana dijelaskan oleh lbnu Katsir, “Dan Rasulullah s.a.w. diutus untuk seluruh makhluk-Nya, baik golongan jin mahupun manusia. Kalau seandainya seluruh nabi dan rasul, bahkan seluruh Ulul ‘Azmi dan para rasul, mereka hidup pada zaman Rasulullah s.a.w., maka mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w., mengikuti syariat beliau s.a.w..” (Tafsir lbnu Katsir, 1/384)

Sebagaimana yang terjadi pada zaman Umar bin Khaththab, ketika itu beliau memegang dan membaca lembaran Taurat, maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Apakah engkau merasa ragu, wahai Umar bin Khaththab? Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, sungguh aku telah membawa kepada kalian agama ini dalam keadaan putih bersih. Janganlah kalian tanya kepada mereka tentang sesuatu, sebab nanti mereka khabarkan yang benar, namun kalian mendustakan. Atau mereka khabarkan yang bathil, kalian membenarkannya. Demi yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Nabi Musa itu hidup, maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku”. (Hadis Riwayat Ahmad, 3/387; ad-Darimi, 1/115; dan lbnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah, no. 50, dari sahabat Jabir bin Abdillah. Dan lafaz ini milik Ahmad. Darjat hadis ini hasan, kerana memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Lihat Hidayatur Ruwah, 1/136 no. 175).

Hadits ini memuatkan kandungan:

- Wajib bagi para nabi untukittiba’kepada Rasulullah Muhammad , seandainya mereka hidup pada zaman Nabi s.a.w..

- Jika para nabi juga turut wajib berittiba’ kepada Rasulullah Muhammad s.a.w., maka apatah lagi bagi kaum muslimin, mereka wajib berittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.

- Umar yang tidak diragukan keimanannya dan dijamin pasti masuk syurga, Rasulullah tetap menegur ketika beliau memegang kitab Taurat.

- Hendaknya kita lebih mengutamakan untuk mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah, memahami dan mengamalkannya, siang dan malam. Adapun untuk membantah Ahlul Kitab, cukup dengan al-Qur’an, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w., dan para sahabatnya. Bagi mereka yang telah hafal dan memahami al-Qur’an dengan benar, maka boleh bagi mereka membantah Ahlul Kitab dengan tujuan untuk mengajak mereka masuk ke dalam agama yang selamat ini bukan dengan tujuan supaya dikatakan bahawa dia hebat, dapat mengalahkan orang lain, untuk berbangga diri. Namun tujuan kita dibolehkan mendebat mereka, agar mereka mendapatkan hidayah (masuk ke dalam Islam). Allah s.w.t. berfirman:

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahil kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri. (al-Ankabuut 29: 46)

3. AIIah berfirman:

Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (an-Nisaa’ 4: 65)

Kandungan ayat:

- Seseorang tidak dikatakan beriman, sehingga mereka menjadikan Rasulullah sebagai hakim terhadap apa-apa yang diperselisihkan di antara sesama manusia.

- Diantara ciri-ciri orang yang beriman, mereka tidak merasa keberatan (kesempitan) terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah s.a.w.. Mereka menerima keputusan Rasulullah dengan lapang dada.

- Orang yang beriman tunduk kepada keputusan Rasulullah dengan setunduk-tunduknya.

- Syaikh Abdurrahman Nashir bin as-Sa’di menjelaskan, bahawa di sini, tahkim (menjadikan Rasulullah s.a.w. sebagai hakim), kedudukannya sama dalam Islam. Menghilangkan kesempitan hati dalam menerima keputusan hukum, kedudukannya sama dengan iman. Dan taslim (tunduk) kepada keputusan tersebut, kedudukannya sama dengan ihsan. (Tafsir al-Kariim ar-Rahman fi Tafsir Kalamil Mannaan, hlm. 149, Cet. Mu’assasah ar-Risaiah, Th. 1417 H)

4. Allah berfirman:

Maka hendaklah (berhati-hati) orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah, takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS an Nuur: 63)

Al-Hafizh ibnu Katsir menerangkan: “Menyalahi perintah Rasulullah s.a.w., iaitu menyalahi jalan hidup beliau s.a.w., manhaj (cara beragama), sunnah, syariatnya. Maka seluruh perkataan dan seluruh amal, harus ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah s.a.w.. Apa yang sesuai dengan perkataan dan perbuatan Rasuiullah s.a.w., maka akan diterima oleh Allah. Dan apa yang tidak sesuai dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah s.a.w., maka akan ditolak oleh Allah, siapapun yang melakukan perkataan dan perbuatan itu, serta apapun perkataan dan perbuatan itu. Meskipun dia ulama, atau seorang yang alim, jika perkataan dan perbuatannya menyelisihi perkataan dan perbuatan Rasulullah s.a.w., maka ia wajib ditolak dengan dasar hadis. Rasulullah s.a.w. bersabda:

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan (petunjuk) dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (Hadis Riwayat Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718, Abu Dawud no. 4606 dan Ibnu Majah no. 14 dari hadis Aisyah r.ha)

Hendaknya berhati-hati orang yang menyelisihi syariat Rasulullah secara lahir dan batin. Mereka akan ditimpa fitnah di dalam hatinya, berupa kekufuran, kemunafikkan dan bid’ah, atau ditimpa dengan fitnah di dunia dengan dibunuh, diberi hukuman haad, dipenjara atau yang lainnya.

Yang dimaksudkan “menyalahi perintah” adalah, menyelisihi sunnah, jalan, manhaj, syariat Rasulullah s.a.w.. Semua perkataan dan perbuatan kita, harus ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah s.a.w..

Orang yang tidak berittiba’ kepada Rasuluilah s.a.w., mengingkarinya dan menolaknya, akan terjatuh pada kekufuran, sama ada kufur yang besar (akbar) ataupun kufur yang kecil (ashghar), atau kemunafikan, atau bid’ah; dan ini merupakan pengaruh dan perbuatan dosa dan maksiat; maksiat kepada Rasulullah s.a.w. memiliki pengaruh yang besar terhadap hati manusia, berupa kekufuran, kemunafikan, bid’ah; atau fitnah yang besar di dunia, iaitu berupa ancaman dibunuh, diberi hukuman had ataupun di penjara oleh Ulil Amri. (Tafsir lbnu Katsir, 3/338)

5. Allah berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri,) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzaab 33: 21)

Al-Hafizh lbnu Katsir mengatakan, “Ayat yang mulia ini sebagai prinsip yang besar untuk mencontohi Rasulullah s.a.w., baik perkataan, perbuatan dan segala keadaan beliau s.a.w., sama ada berupa aqidah, syariah atau ibadah, akhlaq, dakwah, politik atau yang lainnya. Kita wajib berittiba’, tidak hanya dalam hal ibadah atau akhlaq beliau saja, akan tetapi harus menyeluruh.” (Tafsir lbnu Katsir, 3/522)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, untuk memiliki pilihan (yang lain) pada urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (al-Ahzaab 33: 36)

Ayat ini berlaku umum untuk seluruh kaum Mukminin terhadap setiap urusan mereka. Jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu ketetapan, maka wajib baginya untuk mendengar dan taat.

7. Allah berfirman

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (an-Nisaa’ 4: 115)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang wajibnya bagi setiap kita untuk ittiba’ kepada Rasulullah n, tidak hanya dalam masalah ibadah, namun juga wajib berittiba’ dalam masalah-masalah yang lain. Dengan ittiba’ ni, kita akan mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan dan kemenangan.

Para sahabat, mereka mendapatkan kemuliaan, kemenangan, izzah, dengan sebab mereka ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Ketika mereka tidak ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w., sekali saja, maka mereka mendapatkan kekalahan, sebagaimana yang masyhur kita ketahui tentang kisah Perang Uhud. Pada Perang Uhud tersebut para sahabat mendapatkan kekalahan, kerana pasukan pemanah tidak taat kepada Rasulullah s.a.w., dan itu disebabkan kerana perbuatan mereka. Allah berfirman:

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badan), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan,) diriimu sendiri” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imnan: 165)

Yang lebih menyedihkan lagi, umat Islam saat ini sudah sangat jauh dan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.

Bahkan mereka mengerjakan syirik dengan bangga, mereka melakukan perbuatan bid’ah, melakukan kemaksiatan dan lainnya, yang menjadi sebab kehinaan bagi mereka. Maka tarbiyah (pendidikan) yang harus diutamakan kepada ummat ml, yaltu harus mengikuti perkataan Allah dan perkataan RasulNya, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat.

Sebagai contoh, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., seorang sahabat yang dijamin oleh Allah masuk syurga, mengatakan:

Aku tidak akan meninggalkan sesuatu yang Rasulullah lakukan kecuali untuk aku amalkan, kerana aku khawatir, jika aku tinggalkan perintah Rasulullah, maka aku akan sesat. (Hadis Riwayat Bukhari, no. 3093, dan diriwayatkan oleh lbnu Baththah dalam kitabnya, al Ibanah, 1/245-246 no. 77)

Imam Abu Abdillah bin Ubaidillah bin Muhammad bin Baththah yang wafat pada tahun 387H dalam kitabnya al-Ibanah pada juz pertama, berkata: “Wahai saudara-saudaraku, Abu Bakar ash-Shiddiq, ash-Shiddiqul akbar, beliau takut apabila kesesatan menimpa dirinya. Kalau dia menyalahi sesuatu dan walau hanya salah satu saja dari perintah Nabi Muhammad s.a.w., bagaimana nanti akan ada satu zaman, yang orang yang ada di zaman tersebut, mereka memperolok-olok Nabi mereka, mereka memperolok-olok perintah Rasulullah s.a.w., dan mereka berbangga menyalahi Sunnah Rasulullah s.a.w., dan kita mohon kepada Allah dari ketergelinciran, dan kita mohon keselamatan dari amal yang jelek”. (al-Ibaanah, 1/246)

Kita sekarang berada pada abad ke-1 5 Hijriah. lbnu Baththah yang hidup pada abad ke-4 Hijriah telah mengingatkan, bahawa nanti akan ada di tengah ummat Islam yang mencela Sunnah Rasulullah s.a.w., dan hal ini telah terbukti pada zaman sekarang ini. Dan yang membenci serta mencela Sunnah Rasulullah s.a.w. bukan saja dari golongan orang-orang yang awam, tetapi juga para ustaz, da’i dan kyai. Jika mereka sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka mereka wajib memenuhi konsekuensi (syarat-syarat/tuntutan) dari kalimat tersebut, iaitu mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Tetapi mengapa mereka masih melecehkan dan meninggalkan sunnah-sunnah Nabi yang mulia, dengan mencela dan menghina sebahagian dari penuntut ilmu yang mengamalkan sunnah-sunnah, baik dalam tulisan mahupun ceramah-ceramah mereka? Hal ini akan menyebabkan kekufuran, kemunafikan, sebagaimana yang termaktub dalam surat an-Nuur ayat 63.

Menyalahi Sunnah Rasulullah s.a.w. akan menyebabkan kesesatan, sakitnya hati, bahkan matinya hati seseorang, dan akan membawa pada kebinasaan, kehinaan, serta azab yang pedih.

Orang yang sibuk dengan perbuatan sia-sia, tidak ada manfaatnya dan berbuat bid’ah, tidak mengikuti (meninggalkan) Sunnah Rasulullah s.a.w., maka pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang terhina.

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah menjelaskan tentang orang-orang yang membenci dan tidak mahu mengikuti Sunnah, tidak menyampaikan sabda-sabda Rasulullah s.a.w. di antara mereka ada yang sebelumnya telah hafal al-Quran kemudian lupa, kerana yang disampaikan bukan perkataan Allah dan perkataan Rasulullah, tetapi rnenurut pendapat si fulan dan si fulan, iaitu sibuk dengan pendapat fulan (orang-orang tertentu). Kata Syaikhul Islam, “Wahai saudaraku, berhati-hatilah jika engkau membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah atau engkau menolak Sunnah Rasulullah kerana mengikuti hawa nafsumu, atau membela mazhabmu, atau membela syeikh-mu, membela gurumu, atau kalian menolak Sunnah Rasulullah kerana engkau sibuk dengan dunia, mementingkan dunia, mengikuti syahwat. Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan ketaatan kepada seorang pun, melainkan taat kepada Rasulullah s.a.w. dan kita wajib berpegang dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w.. Kalau seandainya seorang hamba menyalahi seluruh makhluk dan mengikuti Rasulullah s.a.w., maka Allah tidak akan bertanya kenapa engkau menyalahi seluruh makhluk. Justeru yang akan ditanya, kenapa seseorang tidak mengikuti Rasulullah s.a.w., tapi malah mengikuti mazhab, syeikh, guru (kyai). Jika ia mengikuti Rasulullah s.a.w., justeru ini yang akan membawa kepada keselamatan dunia dan akhirat. Dan sebaliknya, jika dia menyalahi Sunnah Rasulullah s.a.w., maka dia akan celaka dan binasa di dunia dan di akhirat. Ketahuilah, hendaknya engkau dengar dan taat, ikuti dan janganlah berbuat bid’ah, nanti engkau akan tersesat, tidak akan berkah hidup dan amalmu, dan tidak ada kebaikan dari amal yang terputus, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang melakukannya.” (Majmu’ Fatawa, XVI/527-529)

Di dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang sahih disebutkan tentang amal-amal yang diterima Allah dan ditolak. Supaya amal kita diterima Allah, maka harus memenuhi dua syarat utama. Pertama, ikhlas kerana Allah. Dan kedua, ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w. Jika salah satu di antara keduanya tidak dipenuhi, maka tidak akan ditenima amal tersebut oleh Allah. Orang ikhlas tetapi tidak ittiba’ kepada Rasulullah atau sebaliknya dia berittiba’ kepada Rasulullah namun tidak ikhlas dalam beramal, maka tidak akan ditenima amal ibadahnya.

Kita wajib taat dan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w., dan semua ummat Islam dijamin masuk syurga, semuanya, dengan syarat mereka harus taat dan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w..

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Setiap ummatku akan masuk syurga, kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka dia masuk syurga. Dan barangsiapa yang derhaka kepadaku, maka dialah yang enggan. “(Hadis Riwayat Imam Bukhari no. 7280 dari sahabat Abu Hurairah r.a.)

Barangsiapa yang menghendaki dimasukkan ke dalam syurga, maka wajib baginya untuk taat kepada Rasulullah s.a.w., mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Tidak boleh membuat yang baru dalam Islam, kerana Islam sudah sempurna. Rasulullah s.a.w. diutus kepada golongan jin dan manusia, agar mereka semua ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Tidak ada aqidah, syariat dan hakikat, kecuali yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Tidak ada jalan yang selamat, kecuali jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad s.a.w.. Seseorang tidak akan masuk ke syurga dan mendapat keredhaan Allah, tidak mendapatkan kemuliaan, melainkan dengan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w..

Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Imam lbnu Abil ‘Izzi al-Hanafi (wafat tahun 792H), beliau mengatakan: “Tidak ada jalan, kecuali jalan yang ditempuh oleh Rasulullah s.a.w.. Tidak ada hakikat, kecuali hakikat yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w.. Tidak ada syariat, kecuali syariat yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w.. Tidak ada aqidah, kecuali aqidah yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w.. Seorang makhluk, setelah diutusnya Nabi Muhammad, mereka tidak akan mendapatkan keredhaan Allah, tidak akan sampai ke syurga dan kemuliannya, melainkan dengan ittiba’ kepada Rasulullah secara lahir dan batin. Barangsiapa yang tidak membenarkan apa yang diberitakan dan disampaikan oleh Rasulullah s.a.w., tidak berpegang dan tidak taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w., sama ada dalam perkataan yang batin (yang ada dalam hati) mahupun perkataan yang lahir (dengan lisan dan anggota tubuh), maka dia tidak termasuk orang yang beriman. Kalau dia tidak membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w., tidak taat kepada Rasulullah s.a.w., tidak tunduk, tidak taslim hatinya, dan anggota tubuhnya tidak melaksanakan sesuai dengan ketentuan Rasulullah s.a.w., maka dia bukan termasuk orang yang mukmin, apalagi dikatakan sebagai wali, meskipun dia terbang di udara atau berjalan di atas air”. (Syarah Aqidah Thahawiyah, hlm. 107, takhij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)

Demikian ini adalah bantahan terhadap thariqah Shufiyah, yang mereka membuat syariat dan hakikat serta ma’riifat sendiri; sebab di antara yang merosakan agama Islam ini adalah firqah-firqah yang sesat, yang disebutkan oleh Rasulullah s.a.w. ada 72 golongan. Ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan yang masuk syurga dan 72 golongan masuk neraka. Rasulullah s.a.w. bersabda:

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dan Ahli Kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (islam), akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Syurga, ialtu al-Jama’ah. (Hadis Riwayat Abu Dawud no. 4597, Ahmad (4/102); al-Hakim (1/128); ad-Darimi (2/241), al-Ajuri dalam asy-Asyari’ah (1/no. 29); al-Laalikai’y dalam as-Sunnah (1/113 no. 150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, hadis ini sahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Silsilah Ahaadis Sahihah, no. 203-204)

Dalam riwayat lain disebutkan:

Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (ialtu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya. (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, no. 2641 dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 5343. Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadits ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabii oleh Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali, Cet. Daarul Raayah, 1410H)

Dua firqah terbesar di dunia ini, di antara 72 golongan yang merosakan seperti yang tersebut adalah thariqah Shufiyah dan Syi’ah Rafidhah. Mereka merosakan aqidah Islam, tauhid, serta syariat Islam. Mereka membuat cara-cara sendiri untuk sampai (beribadat) kepada Allah, padahal semua cara-cara yang mereka lakukan tersebut, tidak akan dapat membuat mereka sampai kepada yang diinginkan, melainkan mereka wajib ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Banyak sekali di antara kaum Muslimin yang mengadakan cara-cara baru yang berbentuk bid’ah-bid’ah yang dikerjakan kaum Muslimin, yang jumlahnya sangat banyak, bahkan mencapai angka ribuan sampai hari ini. Dan bid’ah tersebut bukan semakin berkurangan, tetapi kian bertambah seiring dengan perjalanan waktu. Hal ini terus dilakukan oleh kaum Muslimin, serta sangat sedikit da’i yang mengingatkan bahaya ini; kerana dakwah mereka juga tidak ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w..

Jika dilihat kepada manhaj dakwah Rasulullah s.a.w., maka banyak da’i yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah dalam berdakwah. Mereka tidak memulakan dakwahnya dengan tauhid. Jika mereka menyatakan ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w., maka mereka harus memulakan dakwahnya dengan tauhid, sedangkan banyak sekali da’i yang tidak memulakan dakwahnya dengan tauhid. Dakwah tauhid ini harus terus diulang-ulang, supaya ummat ini ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w. dan mentauhidkan Allah s.w.t.. Mereka telah menyimpang dari manhaj para nabi dalam berdakwah di jalan Allah. Mereka juga tidak mengingatkan orang dari bahaya kesyirikan. Kesyirikan adalah sesuatu yang telah dianggap biasa di dalam masyarakat, padahal kesyirikan adalah dosa besar yang paling besar, yang tidak akan diampuni oleh Allah.

Banyak khutbah Jum’at dan ceramah yang tidak mengingatkan terhadap pentingnya tauhid kepada Allah. Mereka hanya banyak membahas masalah politik, yang terus diulang-ulang, yang tidak membawa manfaat bagi da’i itu sendiri dan tidak bermanfaat bagi ummat sama sekali, bahkan membawa mudharat bagi ummat ini. Seseorang yang telah menyalahi Sunnah Rasulullah s.a.w., jelas dia telah membawa mudharat. Ummat disogok dengan masalah politik, yang ummat tidak tahu sama sekali. Mestinya da’i dan khatib memberikan ilmu yang bermanfaat, agar ummat dapat membawa pulang ilmu yang disampaikan dan mengamalkannya. Seringkali ummat dibangkitkan emosinya dengan menyampaikan masalah politik, agar mereka marah kepada penguasa, lalu memberontak kepada penguasa. Hal ni tidak ada manfaatnya sama sekali. Dan ini menyalahi Sunnah Rasulullah s.a.w.

Mereka harus muhasabah diri, menggunakan akalnya kembali, apakah mereka sudah ittiba’ kepada Rasulullah ataukah belum?

Proses/perlaksanaan ittiba’ ini harus dimulai dari para da’i, untuk ittiba’ dalam dakwah ini jangan disibukkan dengan masalah-masalah politik, falsafah (pemikiran) atau yang lainnya, yang tidak membawa manfaat. Hal ini berbahaya bagi ummat. Berikanlah ilmu kepada ummat agar mereka boleh beramal sesuai dengan Sunnah Rasulullah s.a.w..

Saat ini fenomena kesyirikan banyak merebak di tengah kaum Muslimin. Di antaranya adalah, kubur-kubur yang dibangun dan disembah (dipuja sebagai keramat) semakin banyak adanya, setiap tahun bertambah, sama ada jumlah mahupun pengunjungnya. Dan yang menganjurkan untuk ziarah dan menyembah kubur itu adalah para da’i, ustadz, kyai. Padahal ini merupakan perbuatan syirik akbar (syirik besar). Ini sudah jelas, bahawa mereka tidak hanya berbuat bid’ah, tapi telah berbuat syirik akbar, mereka tidak ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Mereka berlebih-lebihan dalam ziarah kubur, sampài ada yang sujud, thawaf terutama di bulan-bulan Rabi’ul Awwal, Rajab, Sya’ban dan lainnya. Kita wajib mengingatkan agar mereka ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w. dan tidak boleh mereka melakukan yang demikian.

Di antara tujuan para peziarah kubur tersebut adalah untuk meminta, minta tolong, minta syafa’at dan berdoa kepada penghuni kubur. Maka perbuatan ini jelas-jelas merupakan syirik yang paling besar, menentang Allah dan Rasul-Nya. Dosa syirik adalah dosa yang tidak diampuni (jika mati tanpa sempat bertaubat) oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (an-Nisaa’ 4: 48)

Bid’ah yang banyak dilakukan di bulan Rabi’ul Awwal adalah peringatan Maulid Nabi. Dan sedikit sekali para da’i yang mengingatkan (menjelaskan serta memahami) penyimpangan ini. Malah bagi mereka, hal ini telah dianggap sebagai suatu syiar. Kita harus melihat, apakah hal ini dilaksanakan oleh Rasulullah s.a.w. ataukah tidak? Beliau mencontohkan atau tidak? Jika Nabi tidak melaksanakan, maka kita tidak boleh melakukannya.

Demikian juga, apakah peringatan maulid itu dilakukan para sahabat Nabi atau tidak? Jika sahabat tidak melakukan, maka kita tidak boleh melakukan. Seandainya ibadah-ibadah ni dianggap baik, pasti mereka sudah melaksanakannya terlebih dahulu. Bid’ah-bid’ah semacam ini sudah banyak berkembang di tengah masyarakat kerana para da’inya tidak ittiba’ dalam berdakwah di jalan Allah, malahan mereka meninggalkan amalan-amalan Sunnah dan mereka membiarkan kaum muslimin melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah.

Agama Islam telah sempurna, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 3:

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu menjadi agama bagimu.

Ibnu Katsir (wafat 774H) berkata, “lni merupakan nikmat yang terbesar atas ummat ini. Yakni Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka. Mereka tidak memerlukan agama selain dari agama Islam. Mereka tidak perlu pada Nabi selain daripada Nabi Muhammad s.a.w., kerana itu Allah menjadikan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup para nabi. Allah mengutus Nabi Muhammad kepada golongan jin dan manusia. Tidak ada yang halal, kecuali yang dihalalkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.. Tidak ada yang haram, kecuali yang diharamkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.. Tidak ada agama, melainkan yang disyariatkan oleh beliau s.a.w.. Setiap yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad s.a.w., semuanya benar dan jujur, tidak ada kedustaan dan tidak ada penyalahan janji, sebagaimana firman Allah “Telah sempurna kalimat Rabb-mu dengan jujur dan adil”. Jujur dalam masalah berita, dan adil dalam perintah dan larangan. Tatkala Allah telah menyempurnakan agama ini, Allah sempurnakan nikmat ini, kerana itu Allah berfirman “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu”.

Ayat ni turun pada petang hari ketika Hari Arafah, yang bertepatan dengan hari Juma’at. Orang-orang Yahudi mengakui tentang kesempurnaan agama Islam, dengan turunnya ayat ini. Ssehinggakan mereka berkata kepada Umar bin Khaththab: “Demi Allah, sesungguhnya kalian membaca ayat, “Kalau seandainya ayat tersebut turun kepada kami, nescaya kami akan jadikan sebagai Hari Raya”.

Kata Umar bin Khaththab, “Sesungguhnya aku mengetahui bilakah ayat ini turun, dimana ayat ini turun, dan dimana Rasulullah ketika ayat ini turun. Ayat ini turun pada Hari Arafah, dan aku dengan izin Allah ada di Arafah, dan hari itu Hari Juma’at (iaitu pada hajatul wada’)”. (Tafsir lbnu Katsir, 2/1 5-16)

islam sempurna 1

Penjelasan tentang keterangan lbnu Katsir adalah sebagai berikut:

1. Ayat ini turun di Arafah.

2. Dalam ayat ni, nikmat yang terbesar adalah nikmat Islam. Hal ni wajib kita syukuri. Kita bersyukur kerana telah diberi oleh Allah nikmat di atas Islam. Namun yang perlu kita ingat lagi, kita harus memohon kepada Allah agar kita diberikan hidayah di atas Sunnah. Sebab kalau dikatakan Islam saja, hal ini tidak cukup, kerana banyak orang-orang yang mengaku Islam. Firqah-firqah yang sesatpun mengaku Islam. Yang terbaik bagi kita adalah, meminta kepada Allah agar diberikan hidayah di atas Sunnah, setelah kita diberi hidayah di atas Islam ini. Sebagaimana kata Imam Abu Aliyah: “Aku tidak tahu, dari dua nikmat Allah yang mana yang paling besar. Yang pertama, aku diberikan hidayah di atas Islam. Yang kedua, Allah menunjuki aku di atas Sunnah, dan tidak dijadikan aku sebagai orang Khawarij”. (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Mushannafnya, 10/153; al-Laalikai’y dalam Syarah Ushul l’tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah no. 230. Disebutkan pula oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’, 4/212)

3. Bahawa Nabi diutus kepada jin dan manusia.

4. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi setelah beliau s.a.w.. Beliau merupakan penutup para nabi dan rasul.

Tidak ada agama, melainkan yang disyariatkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.. Islam satu-satunya agama yang haq. Semua orang Yahudi dan Nasrani, mereka harus masuk ke dalam agama Islam. Kalau mereka tidak masuk ke dalam agama Islam, maka pasti mereka menjadi penghuni neraka. Setelah diutusnya Nabi Muhammad, maka orang Yahudi, Nasrani dan juga yang lainnya harus masuk ke dalam Islam, sebab Allah berfirman:

Banangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang nugi. (Ali lmran 3: 85)

Dan Rasulullah s.a.w. bersabda:

Demi Dzat Allah yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya Muhammad, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya (Islam), nescaya dia termasuk penghuni neraka. (Hadis Riwayat Muslim no. 153 dari sahabat Abu Hurairah r.a.)

Setiap orang yang mendakwakan adanya kenabian sesudah Nabi s.a.w., maka yang demikian itu adalah sesat dan kufur. Allah s.w.t. berfirman:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapa dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui Segala sesuatu. (al-Ahzab 33: 40)

Nabi menyebutkan akan adanya ad-Dajjal yang mengaku nabi, kemudian Nabi bersabda:

Mereka semua mengaku sebagai nabi, dan aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi sepeninggalanku. (Hadis Riwayat Ahmad (5/278); Abu Dawud no. 4252; dan Ibnu Majah no. 3952 dari sahabat Tsauban r.a.. Lihat Silsllah Ahaadits Shahihah, no. 1683 oleh Syaikh al-Albani) Rasulullah s.a.w. bersabda:

Aku memiiki lima nama. Aku, Muhammad (yang terpuji). Aku adalah Ahmad (yang banyak memuji). Aku adalah al-Mahi (penghapus), iaitu dengan perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Hasyr (pengumpul), iaitu manusia akan dikumpulkan di hadapanku. Aku mempunyai nama juga al-‘Aqib (makna belakangan atau penutup), (iaitu tidak ada lagi nabi yang datang sesudahku). (Hadis Riwayat Bukhani, no. 3532; Muslim no. 2354, dan Tirmidzi no. 2840 dari sahabat Jubain bin Muth’im r.a. Penjelasan dalam tanda kurung adalah penjelasan dari lmam az-Zuhri yang terdapat dalam riwayat Tirmidzi. Lihat Fathul Baari (6/557), Cet. Daar Fikr)

5. Kesempurnaan agama Islam ini diakui oleh orang-orang Yahudi. Bahawa agama Islam ini sudah sempurna, tidak boleh lagi ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Maka ketika ayat ini turun, Umar bin Khaththab menangis. Ketika beliau ditanya kenapa menangis, beliau menjawab: “Aku menangis, (kerana) tidak ada sesuatu yang sempurna melainkn pasti akan berkurang”. Berkurang yang beliau maksudkan adalah dengan wafatnya Rasulullah s.a.w.. kerana selang beberapa waktu antara turunnya ayat ini dengan wafatnya Rasulullah adalah 81 hari.

6. Tidak boleh sesiapa pun menambah sesuatu dalam agama ini. Agama Islam sudah sempurna, dan kewajiban kita adalah ittiba’.

7. Semua yang dikatakan oleh Rasulullah adalah benar dan jujur. Kerana Allah telah berfirman:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. (an-Najm 53: 3-4)

8. Bahwa inti/dasar ajaran Islam adalah tauhid dan menjauhkan syirik.

9. Kewajiban kaum muslimin adalah ittiba’ kepada Rasulullah s.a.w.. Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.

[Disunting dari Majalah as-Sunnah Edisi 02/x/1427H/2006, m/s. 23-32, oleh Nawawi Bin Subandi, untuk http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com]

Wallahua'lam bishowab.

Dakwah Lewat Facebook/twitter/ MEDSOS lain ... adalah Bid'ah ??.... ILMU yg BERMANFAAT {disampaikan, disebarkan, Share} = AMAL JARIYAH = memberi MANFAAT pada orang lain .............................................. "Jangan dakwah pakai FB/twitter/ MEDSOS lain, .....itu kan bid'ah, gak ada dijaman Nabi.. Ntar masuk neraka lho.." --------------------------------- ''Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (H.R. Muslim) ----------------------- Dalam riwayat Ibn Majah, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam menambahkan tiga amal di atas, Rasulullah bersabda: ''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Alquran, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (H.R. Ibn Majah)

status manfaat 1

Dakwah Lewat Facebook/twitter/ MEDSOS lain ... adalah Bid'ah ??.... ILMU yg BERMANFAAT {disampaikan, disebarkan, Share} = AMAL JARIYAH = memberi MANFAAT pada orang lain
..............................................
"Jangan dakwah pakai FB/twitter/ MEDSOS lain, .....itu kan bid'ah, gak ada dijaman Nabi.. Ntar masuk neraka lho.."
---------------------------------
Pernah dengar celetukan seperti itu..?? Hhhmm... Kalo dakwah di facebook bid'ah, berarti dakwah dimedia lain bid'ah juga dong..?? Kan juga gak ada dijaman Nabi.. Kasian para ustadz yang pada dakwah di TV, radio, majalah, buletin, dan media lainnya... Masuk neraka semua dong..??

Begitulah model pemikiran mereka yang berusaha melegalkan bid'ah (hasanah), ahirnya apa saja yang sebenernya bukan bid'ah maka ia bid'ahkan.. Yang entah sebenrnya ia tahu tapi pura2 tidak tahu, atau mmg bener2 gak tahu.. Hingga ahirnya memahami agama hanya berpijak pada akal akalan, rasa rasa, serta ikut2an teman2nya..
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
''Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.'' (H.R. Muslim)
-----------------------
Dalam riwayat Ibn Majah, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam menambahkan tiga amal di atas, Rasulullah bersabda:

''Sesungguhnya amal dan kebaikan yang terus mengiringi seseorang ketika meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat, anak yang dididik agar menjadi orang shaleh, mewakafkan Alquran, membangun masjid, membangun tempat penginapan bagi para musafir, membuat irigasi, dan bersedekah.'' (H.R. Ibn Majah)
....................................
Saudaraku... Facebook, internet, email, TV, radio, dlsb.. sejatinya hanyalah sarana atau alat komunikasi saja.. Sebagaimana jaman dulu ada surat menyurat.. Cuman jaman sekarang sudah lebih canggih, tapi prinsipnya tetep sama, yakni sama2 alat komunikasi..

Intinya : Kita menyampaikan suatu berita, entah itu dakwah atau apapun tidak secara langsung face to face, tapi lewat alat komunikasi tsb.. Apakah itu bid'ah..??

Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah berdakwah tidak secara langsung face to face sama orang yang didakwahi.. Beliau pernah lho berdakwah menggunakan media alat komunikasi.. Gak percaya..??

Silahkan buka shahih Bukhari.. Diriwayatkan secara panjang dalam hadits shahih bahwa Rasulullah pernah mengirim surat pada raja Heraklius agar masuk masuk Islam.. Bukankah hal tsb juga merupakan dakwah..?? Dan bukankah surat menyurat adalah alat komunikasi..?? Dari sini saja sebenernya sudah termentahkan tudingan mereka yang membid'ahkan dakwah di facebook..

Memang betul.. Berdakwah merupakan ibadah, namun sarana yang dipakai untuk berdakwah bukanlah bid’ah menurut istilah agama.. Seperti penggunaan microphone untuk pengeras suara, facebook, email sebagai pengganti surat-menyurat, video ceramah dlsb..

Dalam masalah dunia, apapun itu (dalam kasus ini mengenai teknologi), hukum asalnya adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang melarang atau mengharamkannya..

Adapun bid’ah dalam agama, ucapan itu telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alahi was salam, dimana dalam hadits beliau bersabda, potongan haditsnya adalah : "setiap bidah itu adalah sesat". Begitu juga yang dipahami oleh para sahabat dan ulama-ulama lain yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan baik..

Maka.. Semua hal dalam perkara dunia.. Semisal Motor atau Mobil buat ke masjid, Pesawat terbang buat naik haji, Hand Phone, TV, radio, Komputer dan FB buat dakwah, kertas buat nulis Qur’an dan hadits, Sekolah, Madrasah, pesantern, dll buat belajar agama, microphone di masjid buat khutbah dll.. Semua itu adalah sarana / washillah untuk ibadah, BUKAN IBADAHNYA ITU SENDIRI.. Itulah yang disebut dengan Mashlahatul Marsalah..

Sebab untuk urusan dunia, yang menyangkut ilmu pengetahuan, teknologi, alat komunikasi, transportasi, dan semua yang berkenaan dengan peradaban manusia.. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam peristiwa penyilangan serbuk sari kurma yang sangat masyhur :

"Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu" [Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1366)]

Jadi.. Benda-benda yang disebutkan diatas itu adalah urusan dunia yang merupakan hasil kemajuan peradaban manusia secara umum dan pengembangan teknologi seiring dengan berjalannya waktu, yang mana orang kafir juga menggunakannya, dan tidak ada kaitannya dengan agama secara langsung..

Sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi, itu bukanlah bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi.. Silahkan mau buat mikrofon masjid, pesawat buat pergi haji, software dll..

Akan tetapi.. Yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam larang di sini adalah segala macam perkara baru dalam bentuk amalan / keyakinan agama dan syari’at, entah itu amalan-amalan (Fi’liyah) maupun Ucapan (Qouliyah) baik mengurangi atau menambahkan..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan dalam urusan agama yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu" (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Dan jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”(HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dia berkata Hadits hasan shahih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) kepada hal-hal yang baru itu adalah kebid’ahan dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan”. [SHAHIH. HR.Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43),Al-Hakim (1/97)]

Dari sini.. Maka telah jelaslah sudah : Bahwa berdakwah lewat media alat komunikasi bukan bid'ah..

-

Masih ngotot membid'ahkan dakwah di facebook..??

Semoga Allah memberi kemudahan untuk memahaminya.