AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!?? …. sudah tahu AZAB dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah ——————- Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman). —————- Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.” {HR Imran bin Husain r.a} —————– Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah) ———— Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya. ———– Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.” —————- Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan. ———— sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah. Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa : 1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama? 2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah. 3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi. 4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta 5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar. 6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar. 7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan. 8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah. Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi : إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari). ————– sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah). ——— Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ? ————— ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya : 1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86). 2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51) 3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57) 4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104) berbagai sumber

minta bayar dakwah

AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!??  …. sudah tahu AZAB  dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah
——————-
Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman).
—————-
Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.”  {HR Imran bin Husain r.a}
—————–
Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)
————
Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya.
———–
Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.”
—————-
Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”.
Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan.
————
sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah.
Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa :
1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama?
2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah.
3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi.
4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta
5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar.
6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar.
7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan.
8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi :
إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ
Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari).
————–
sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
———
Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ?
—————
ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya :
1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86).
2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51)
3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57)
4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104)

berbagai sumber

PAHALA Amal Shalih …..Adalah HASIL USAHAnya Sendiri ———————————-usaha-ku/ usaha-mu sendiri ——————- Allah berfirman: “Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka USAHA-kan dan bagimu apa yang telah kamu USAHA-kan.” (Al-Baqarah, 134 & 141) ————————————- Sehingga jelas bahwa kita hanya mendapatkan pahala yang kita kerjakan dan bukan hadiah dari orang lain. ……………. Dan masih banyak ayat-ayat yang semisalnya seperti firman Allah: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah, 286) —————————- Seseorang tidak mendapatkan pahala kecuali dari usahanya sendiri. Pahala kebaikan yang telah didapatkan bisa dilipatgandakan sebesar 10 hingga 700 kali lipat bahkan hingga kelipatan tanpa batas yang hanya diketahui oleh Allah sebagaimana hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim. —————————- Hal ini berbeda dengan apa yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin bahwa pahala amal shalih bisa “dihadiahkan” kepada mayit. Olehkarena itu kita dapati banyak majelis yang dimanfaatkan untuk mangumpulkan kaum muslimin dalam rangka beramal dan mengirimkan pahalanya untuk mayit yang dimaksud. ———————————– Apakah yang seperti ini sesuai dengan ajaran Islam? Karena sepintas kita pahami jika demikian adanya maka akan membuka beberapa pintu kejelekan seperti membuat orang malas beramal, meremehkan dosa, dan lain-lain karena mengandalkan ‘pahala kiriman’ dari orang lain. ————————————–

pahala kerja sendiri

PAHALA Amal Shalih …..Adalah HASIL USAHAnya Sendiri
————————–——–usaha-ku/ usaha-mu sendiri ——————-
Allah berfirman:
“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka USAHA-kan dan bagimu apa yang telah kamu USAHA-kan.” (Al-Baqarah, 134 & 141)
————————————-
Sehingga jelas bahwa kita hanya mendapatkan pahala yang kita kerjakan dan bukan hadiah dari orang lain. ……………. Dan masih banyak ayat-ayat yang semisalnya seperti firman Allah:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah, 286)

—————————-
tanggung dosa pahala 1

Seseorang tidak mendapatkan pahala kecuali dari usahanya sendiri. Pahala kebaikan yang telah didapatkan bisa dilipatgandakan sebesar 10 hingga 700 kali lipat bahkan hingga kelipatan tanpa batas yang hanya diketahui oleh Allah sebagaimana hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
—————————-
Hal ini berbeda dengan apa yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin bahwa pahala amal shalih bisa “dihadiahkan” kepada mayit. Olehkarena itu kita dapati banyak majelis yang dimanfaatkan untuk mangumpulkan kaum muslimin dalam rangka beramal dan mengirimkan pahalanya untuk mayit yang dimaksud.
———————————–
Apakah yang seperti ini sesuai dengan ajaran Islam? Karena sepintas kita pahami jika demikian adanya maka akan membuka beberapa pintu kejelekan seperti membuat orang malas beramal, meremehkan dosa, dan lain-lain karena mengandalkan ‘pahala kiriman’ dari orang lain.
————————————–
A. Balasan Pahala Untuk Yang Diamalkan Bukan Yang Sekedar Diketahui

Dalam banyak ayat disebutkan bahwa balasan pahala itu untuk amal yang dikerjakan, sehingga ketika seseorang hanya ‘mengetahui’ akan tetapi ‘tidak mengamalkan’ maka dia tidak mendapatkan pahalanya terutama ilmu-ilmu yang sifatnya wasilah kepada yang lainnya seperti ilmu tentang tatacara ibadah. Misalnya seseorang mengetahui hukum dan cara shalat akan tetapi dia tidak mengerjakan shalat padahal dia mampu maka dia tidak mendapatkan pahala shalat meskipun dia mengetahui cara shalat. Bahkan dia mendapatkan dosa yang sangat besar karena meninggalkan shalat yang merupakan rukun Islam.

Allah berfirman:
“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (berbagai macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajdah, 17)

Allah juga berfirman:
“ Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Waqi’ah, 24)

Dan masih banyak ayat-ayat yang semakna di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hal ini. Adapun ilmu-ilmu yang merupakan tujuan dan bukan wasilah maka pahala dia peroleh hanya dengan mengetahuinya, seperti ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Maka ilmu tentang hal ini merupakan tujuan secara dzatnya berbeda dengan ilmu-ilmu yang sifatnya wasilah seperti ilmu tentang tata cara ibadah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam ‘Miftah Daris Sa’adah’.

B. Manusia Hanya Mendapatkan Pahala Dari Apa Yang Dia Amalkan (Usahakan)

Allah berfirman:
“Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan.” (Al-Baqarah, 134 & 141)

Imam Ibnu Katsir berkata:
“Umat yang ada di zaman dahulu yaitu bapak-bapak kalian dari kalangan para Nabi dan orang-orang shalih, maka penyandaran diri kalian kepada mereka secara nasab tidaklah memberi manfaat kepada kalian jika kalian tidak mengerjakan amal shalih sama sekali yang manfaatnya kembali kepada kalian; karena sesungguhnya milik mereka amal-amal shalih mereka yang telah mereka kerjakan dan milik kalian amal-amal shalih kalian (yang telah kalian kerjakan)…”

Sehingga jelas bahwa kita hanya mendapatkan pahala yang kita kerjakan dan bukan hadiah dari orang lain. Dan masih banyak ayat-ayat yang semisalnya seperti firman Allah:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Al-Baqarah, 286)

Dalam ayat lain disebutkan:
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm, 40)

Dari beberapa ayat di atas kita mengetahui bahwa pahala yang didapatkan seseorang adalah hasil dari usahanya sendiri bukan hadiah yang dia dapatkan dari orang lain. Sebagai contoh ketika seseorang ingin mendapatkan pahala bacaan Al-Qur’an maka wajib baginya membaca Al-Qur’an dengan ikhlas dan semampunya. Akan tetapi jika dia tidak membaca Al-Qur’an padahal mampu serta kesempatan juga ada maka dia tidak mendapatkan pahala amal bacaan Al-Qur’an karena dia belum melakukan usaha yang dalam hal ini adalah membaca Al-Qur’an. Begitu seterusnya dan hal ini berlaku dalam amal-amal yang lain selain membaca Al-Qur’an.

C. Beberapa Amalan Yang Tidak Dikerjakan Secara Langsung Dan Terhitung Sebagai Usahanya (Amalnya)

Usaha seseorang tidak terbatas pada amal shalih yang dilakukan dengan tangannya secara langsung. Sebagai contoh ketika orang tua memberi pengarahan kepada anaknya tentang keutamaan bersedekah kepada fakir miskin dan dia mendorong anaknya itu untuk melakukannya ketika mampu.

Maka manakala anak bersedekah dengan ikhlas dalam waktu yang sama orang tua yang menunjukkan dan menganjurkan bersedekah tersebut mendapatkan pahala sedekah yang dilakukan anaknya tanpa mengurangi bagian pahala sedekah anaknya jika memang sedekah tersebut diterima Allah Ta’ala.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi:
“Siapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang mengikutinya dan ini tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Muslim, riyadhus shalihin no. 174)

Begitu juga sedekah jariyah yaitu sedekah pada jalur manfaatnya ada terus-menerus, ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain serta terus dimanfaatkan dan doa yang dipanjatkan anaknya yang shalih.

Nabi bersabda:
“Jika manusia telah meninggal maka amalannya terputus (yaitu tidak bisa beramal lagi dan mendapat pahala) kecuali tiga: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat (dalam riwayat lain: ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan), atau anak shalih yang mendoakan (kebaikan) untuknya (yaitu untuk orangtuanya).” (HR. Muslim, riyadhus shalihin no. 949)

Peringatan:
Yang dimaksud dengan ‘Doa’ di dalam hadist ini bukanlah ‘acara yasinan atau selamatan kematian’ yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena doa adalah permohonan yang dipanjatkan seseorang kepada Allah. Seperti ketika seorang anak berdoa agar dosa orang tuanya yang muslim diampuni, dimasukkan surga dan lain-lain. Tanpa terikat waktu maupun tempat dan tanpa biaya sepeserpun.

tahlilan bidah hasanah 2132

D. Pendapat Imam Syafi’I Tentang Mengirim Pahala Bacaan Qur’an

Imam Ibnu Katsir berkata:
“Dan dari ayat yang mulia ini (surat An-Najm ayat 40) Imam Syafi’I dan yang mengikuti beliau menyimpulkan suatu hukum bahwa bacaan (Al-Qur’an) itu tidaklah sampai pahalanya jika dihadiahkan kepada mayit, karena pahala bacaan tersebut bukan dari amalan dan usaha mereka. Olehkarena itu Rasulullah tidak menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan itu dan tidak pula mendorong mereka kepadanya. Beliau juga tidak membimbing mereka kepadanya baik dengan nash maupun isyarat. Dan hal ini tidak pernah dinukil dari seorangpun dari sahabat Nabi Muhammad. Seandainya itu kebaikan pasti mereka telah mendahului kita melakukannya. Dan ibadah-ibadah itu terbatas pada nash-nash (dalil-dalil), dan dalam hal ibadah tidak boleh di dasarkan pada analogi-analogi maupun akal. Adapun doa dan sedekah maka hal ini telah disepakati akan sampainya, dan juga berdasarkan nash dari syari’at atas keduanya.”

tahlilan kejam

Dari penjelasan Ibnu Katsir kita mengetahui bahwa:
1. Untuk melakukan ibadah hanya boleh didasarkan pada dalil bukan pada akal atau yang semisalnya.
2. Mengirim pahala bacaan Al-Qur’an merupakan ibadah yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad. Dan semua ibadah yang tidak dicontohkan beliau tidak boleh dikerjakan.
3. Pahala bacaan Al-Qur’an yang dikirimkan untuk mayit maka pahalanya tidak sampai karena bukan merupakan usaha si mayit ketika hidupnya.
Dan inilah pendapat Imam Syafi’I yang dinukil banyak para ulama. (Tafsir Ibnu Katsir & Bahjatun Nazhirin juz. 2 hal. 173)

E. Anak Adalah Usaha Orang Tuanya

Salah seorang ahli hadist abad ini yaitu syaikh Al-Albany rahimahullah berkata:
“…Apa yang dikerjakan oleh anak yang shalih berupa amal-amal shalih maka bagi kedua orangtuanya semisal dengan pahalanya, tanpa mengurangi pahala anak sedikitpun, karena anak merupakan usaha dari kedua orangtuanya sekaligus pekerjaannya dan Allah berfirman, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm, 40), dan Nabi bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah yang berasal dari usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya termasuk usahanya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasaai, At-Tirmidzy, Ad-Darimy, Ibnu Majah, Al-Hakim dan lain-lain)
Dan menguatkan apa yang ditunjukkan ayat dan hadist (di atas) beberapa hadist yang secara khusus datang dalam pembahasan tentang orang tua mendapat manfaat dari amal anaknya yang shalih seperti sedekah, puasa, membebaskan budak dan yang semisalnya…” (Ahkamul Janaa-iz hal. 171)

F. Beberapa Pengecualian

Kecuali dalam hal pelunasan hutang puasa nadzar dari walinya dan juga pelunasan hutang antar manusia. Misalnya seseorang meninggal dan dia masih memiliki hutang puasa nadzar kemudian walinya melunasinya maka dia mendapatkan pahala puasa nadzar yang dilakukan oleh walinya meskipun bukan anaknya. Begitu juga dalam hal hutang piutang antar manusia.

Bukan berarti kita katakan bahwa mayit bisa mendapatkan pahala dari siapapun akan tetapi kita katakan bahwa ini adalah pengecualian berdasarkan dalil;

Tentang pelunasan hutang puasa yang dilakukan wali mayit berdasarkan hadist riwayat Abu Dawud, An-Nasaai, Ath-Thahawy dan lain-lain.

Sedangkan mengenai pelunasan hutang harta antar manusia berdasarkan riwayat Imam Ahmad, Ibnu Majah, Al-Baihaqy dan lain-lain. (Ahkamul Janaaiz hal. 169-173)

Imam Asy-Syaukany berkata:
“Hadist-hadist dalam bab ini menunjukkan bahwa sedekah dari anak sampai kepada kedua orangtuanya setelah keduanya meninggal (meskipun) tanpa wasiat dari keduanya, dan sampai pahalanya kepada keduanya, maka dengan hadist-hadist ini ke-umuman firman Allah, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya…” dikhususkan (dikecualikan).

Akan tetapi tidak ada (penjelasan) di dalam hadist-hadist tersebut kecuali sampainya sedekah dari seorang anak, dan telah tsabit (ada kepastian dari dalil) bahwa anak termasuk usahanya, sehingga tidak perlu pengkhususan dalam hal ini.

Adapun dari selain anak maka yang tampak dari keumuman ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa hal itu tidak sampai pahalanya kepada mayit, maka ditetapkan (kaidah) pada erkara tersebut (tidak sampai pahala selain dari anak) sampai adanya dalil yang mengharuskan adanya pengecualian untuknya.” (Kitab Ahkamul Janaaiz hal. 173)

Ulama berbeda pendapat apakah pahala sedekah sampai kepada mayit meskipun bukan dari anaknya. Pendapat yang kuat sebagaimana keterangan Imam Asy-Syaukany maka tidak sampai pahalanya. Inilah yang dipilih Imam Al-Albany rahimahullah.

Dan perlu diketahui bahwa ulama sepakat bahwa syarat ibadah yang diterima ada dua yaitu ikhlas dan mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

BERBAGAI SUMBER

Nabi IBRAHIM memBUKTIkan ……CINTAnya kepada ALLAH … meNEGAKkan TAUHID —————————– 1. Mengenal Allah, berusaha mendekatkan diri pada Allah ————————- 2. mengHANCURkan semua KESYIRIKAN tanpa TAKUT, .. hanya Allah saja yg diTAKUTI ————————— 3. diberi UJIAN sangat BERAT, … tetap diLAKSANAkan ….. tanpa RAGU —————————— Maka tatkala anak itu (Nabi Ismail as) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffat : 102) ———————————

ibrahim cover 1

Nabi IBRAHIM memBUKTIkan ……CINTAnya kepada ALLAH … meNEGAKkan TAUHID
—————————–
1. Mengenal Allah, berusaha mendekatkan diri pada Allah
————————-
2. mengHANCURkan semua KESYIRIKAN tanpa TAKUT, .. hanya Allah saja yg diTAKUTI
—————————
3. diberi UJIAN sangat BERAT, … tetap diLAKSANAkan ….. tanpa RAGU
——————————
Maka tatkala anak itu (Nabi Ismail as) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffat : 102)
———————————

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :

  1. Bahwa Nabi Ibrahim as merupakan seorang nabi yang patut dijadikan teladan, khususnya dalam masalah pengorbanan. Demikian pentingnya kita mengambil pelajaran dan keteladanan dari Nabi Ibrahim as, hingga Allah SWT menyebutkan tentang kisah Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an sebanyak 25 kali yang mencakup 156 ayat yang tersebar di dalam 20 surat di dalam Al-Qur’an. Berikut adalah diantara keistimewaan Nabi Ibrahim as :
    1. Beliau mendapatkan julukan sebagai ( أبو الأنبياء ) Abul Anbiya’ (Bapaknya para Nabi dan Rasul), karena dari garis keturunan beliau, lahirlah nabi Ismail dan nabi Ishak. Dari keturunan kedua nabi ini muncul banyak nabi dan Rasul. Dan dari keturunan nabi Ismail as, lahirlah para nabi dan rasul, dan yang paling terarkhir adalah nabi kita, nabi Muhammad SAW.
    2. Selain Abul Anbiya’, Nabi Ibrahim as juga mendapatkan julukan ( أبو الضيفان ) Abu Dhaifan (Bapaknya para tamu). Karena beliau memiliki sifat mulia, suka menjamu para tamu, khususnya ketika datang tamu yang kemudian beliau menyuguhkan daging anak sapi gemuk yang dibakar (dipanggang) yang tenyata mereka adalah para Malaikat yang mulia.
    3. Beliau juga disebut sebagai ( أبو التوحيد ) Abu Tauhid, atau Bapak agama Tauhid. Hal ini karena keistiqamahan dan kekokohan beliau dalam mentauhidkan Allah dan dalam memberantas kemusyrikan, walalupun berakibat buruk bagi keselematan beliau.
    4. Nabi Ibrahim as juga merupakan satu-satunya Nabi yang Allah SWT sifatkan dalam Al-Qur’an memiliki ( قلب سليم ) “qalbun salim”, yaitu hati yang bersih. Bahkan Allah SWT menyebutkan istilah qalbun salim dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, dan keduanya hanya ketika menyebutkan nabi Ibrahim as. Kedua ayat tersebut adalah pertama dalam QS. As-Syu’ara : 89, dan Kedua dalam QS. As-Shaffat : 84.
  2. Hal yang paling dominan pada Nabi Ibrahim as yang patut dijadikan keteladanan adalah sisi kecintaannya kepada Allah SWT dan sisi pengorbanannya yang demikian besar. Keteladanan Nabi Ibrahim as dalam hal pengorbanan demikian besarnya demi melaksanakan perintah Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya, bahkan hingga beliau “rela” melakukan apapun, kendatipun ketika harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya yaitu putra kandungnya sendiri yang tentunya teramat sangat disayanginya. Adalah Nabi Ismail as sebagaimana digambarkan dalam QS. As-Shaffat : 102, merupakan putra yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim as untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Walaupun hati terasa berat, walaupun rasa iba kepada sang anak demikian menggelora, namun kalau itu sudah menjadi ketetapan dan perintah Allah SWT, maka beliaupun siap melaksanakan apa yang Allah SWT perintahkan. Karena cinta kepada Allah haruslah berada di atas cinta kepada yang lain-lainnya. Allah SWT berfirman :

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴿٢٤﴾

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kerabat keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah : 24)

  1. Bahwa terdapat beberapa pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as, dalam rangka menggapai cinta dan keridhaan Allah SWT. Diantara pengorbanan beliau adalah sebagai berikut :
    1. Pengorbanan dalam menghilangkan kemusyrikan. Hal ini terlihat jelas sejak beliau baru tumbuh remaja. Bahkan beliau tetap dengan tegas berupaya menghilangkan kemusyrikan kendatipun yang melakukan perbuatan syirik tersebut adalah ayahnya sendiri dan juga kaumnya. Beliau mengingatkan mereka, memberi nasehat serta melakukan dialog dengan logika yang rasional. Al-Qur’an merekam kejadian tersebut :

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِه عَالِمِينَ ﴿٥١﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ ﴿٥٢﴾

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya.(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS. Al-Anbiya’ : 51 – 52)

ibrahim berhala 1Ideologi keimanannya berbicara lantang menghancurkan sanubari para penyembah berhala. Bahkan dengan idiologi keimanannya ini pulalah, (bukan hanya menghancurkan sanubari mereka) namun beliau juga menghancurkan berhala-berhala buatan kaumnya dengan tangan beliau sendiri. Beliau “rela berkorban” untuk melakukan hal tersebut, meskipun beliau sadar bahwa hal tersebut akan memiliki resiko yang berat baginya;

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ ﴿٥٧﴾ فَجَعَلَهُمْ جُذَاذاً إِلاَّ كَبِيراً لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ ﴿٥٨﴾

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (QS. Al-Anbiya’ 57 – 58)

Dan ternyata benar, kaumnya murka dan sangat marah kepada beliau, bahkan mereka bertekad untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Mereka berbuat demikian kaena mereka merasa tidak mampu berbicara dengan logika, ketika berhadapan dengan Nabi Ibrahim. Mereka kalap dan kehabisan akal, serta bertindak brutal dan melakukan tindakan fatal, yaitu ingin membakar nabi Ibrahim as hidup-hidup.:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ ﴿٦٨﴾ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْداً وَسَلاَماً عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴿٦٩﴾
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya’ : 68 – 69)

ibrahim bakar1

Namun Allah SWT pasti akan menolong hamba-hamba-Nya yang menolong agamanya. Beliau selamat tanpa luka sedikitpun, bahkan kemudian Allah muliakan dengan mu’jizat tersebut.

  1. Pengorbanan jiwa dan keluarga. Cobaaan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as, ternyata tidak terhenti sampai di sini saja. Allah SWT masih ingin mendapatkan pembuktian pengorbanan Nabi Ibrahim as, sebagai bukti kecintaannya kepada Allah SWT. Sebagai manusia biasa, Nabi Ibrahin pun sangat berharap memiliki keturunan, yang kelak dapat meneruskan da’wahnya. Namun hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berlalu, dan kehadiran sang penerus generasi belum juga muncul. Usia pun telah mulai senja, dan kekuatan Nabi Ibramin pun mulai melemah. Meskipun pada akhirnya penantian panjang ini berlalu dengan hadirnya seorang bayi sehat, cerdas dan kuat yang bernama Ismail as. Dan betapa bahagianya sang ayah ketika lahirnya Ismail as. Penantian panjangnya berbuah manis; beliau memiliki keturunan yang akan meneruskan da’wahnya kelak. Namun belum lagi kebahagiaan itu dirasakannya, tiba-tiba Allah memerintahkannya untuk meninggalkan anak dan istrinya di sebuah padang yang sangat tandus, dan tiada tanaman dan tumbuhan serta air disana.ismail 1Padang itu adalah Mekah Mukarramah. Berat sebenarnya hati beliau, namun karena kecintaan beliau kepada Allah yang demikian besarnya, Nabi Ibrahim harus “rela” berkurban kembali meninggalkan anak dan istrinya di sebuah padang tandus yang tiada air, tiada tumbuhan dan tiada kehidupan tersebut. Beliau sangat yakin, bahwa Allah tidak akan mungkin menyengsarakan anak istrinya di tempat tersebut. Allah SWT berfirman :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ ﴿٣٧﴾

“Wahai Rab kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat rumah Engkau (baitullah) yang dihormati. Yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim 37)

Siti Hajar mendidik Nabi Ismail hingga menjadi seorang remaja yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Bersamaan dengan itu, Mekah lambat laun banyak dikunjungi dan dijadikan tempat tinggal oleh banyak orang, sehingga jadilah Mekah sebagai kota kecil yang sering dilalui oleh para pedagang. Tempat yang asalnya gersang, Allah cukupi dengan makanan dan buah-buahan. Hingga suatu ketika, Allah mengizinkan Nabi Ibrahim as untuk kembali ke Mekah. Dan betapa bahagianya beliau ketika bertemu dengan anaknya yang sudah sekian lama ditinggalkannya. Bersama dengan putranya Ismail, Nabi Ibrahim membangun baitullah Ka’bah al-musyarrafah. Namun kebahagiaan yang baru sebentar dinikmatinya, lagi-lagi diuji oleh Allah SWT. Allah memerintahkannya untuk menyembelih sang anak, yang teramat sangat di sayangi dan dicintainya. Setiap orang pasti akan miris hatinya, ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Dan disinilah, idiologi keimanan dalam diri Nabi Ibrahim kembali berbicara. Bahwa kecintaan kepada Allah harus didahulukan dari pada kecintaan pada apapun juga di dunia ini. Nabi Ibrahim pun mencoba mengkomunikasikan perintah Allah ini kepada Ismail as. Dan subhanallah, ketika mendengarkan hal tersebut, Nabi Ismail as yang memiliki keimanan dan ketaqwaan menerima dengan ikhlas perintah Allah tersebut. Dalam Al-Qur’an Allah menggambarkan:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffat : 102)

semb ismail 1

Dengan hati yang ikhlas mengharapkan ridha dan cinta Allah SWT, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah tersebut. Namun ketika pisau telah siap mengenai leher Nabi Ismail, ketika itu pulalah Allah SWT mencegah beliau:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَء الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾

“Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (As-Shaffat, 103-108)

  1. Inilah gambaran pengorbanan yang sempurna dari seorang hamba demi mengharapkan keridhaan Allah SWT, yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim as. Dan atas pengorbanan yang demikian besarnya tersebut, kita umat Islam dianjurkan untuk mengikuti keteladanan beliau untuk senantiasa berkurban dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan demi mengharapkan cinta-Nya. Pengorbanan hakiki adalah dengan “menyembelih” sifat-sifat kenegatifan yang terdapat dalam diri kita, seperti sikap egois, mau menang sendiri, cinta dunia, ambisi terhadap harta, kedudukan, dsb. Untuk kemudian kita menjadi hamba-hamba Allah SWT yang senantiasa “sami’na wa atha’na” terhadap apapun yang diperintahkan oleh Allah SWT. Pengorbanan tersebut disimbolikkan dengan menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha bagi yang memiliki kemampuan untuk menyembelihnya. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa dalam berkurban haruslah didasari dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Karena hewan-hewan kurban tersebut tidak akan sampai kepada Allah SWT, namun yang akan sampai kepada-Nya adalah nilai dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman :

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٧﴾

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj : 37)

Wallahu A’lam bis Shawab
==================================
Nabi Ibrahim Tidak Pernah mengalami transisi keimanan (proses pencarian tuhan)

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa nabi Ibrahim As ketika masih anak-anak beliau mencari Tuhan, ada juga didalam tafsir yang menyebutkan bahwa beliau pertamanya masih ragu dengan Tuhannya dan melakukan pencarian Tuhan.

Didalam al-quran surat al-an’am ayat 76, firman Allah, yang mengisahkan nabi Ibrahim As yang berbunyi:” Ini adalah Tuhanku” dalam menafsiri ayat ini banyak sekali ulama tafsir yang mengambil kisah atau hadist dari ahli kitab (israiliyat) bahkan adalah hadist palsu (maudhu’), kisah ini, bisa menurunkan eksistensi beliau sebagai bapak tauhid, nabi dan rasul.

Dari hadist dan kisah-kisah tadi seakan menunjukkan bahwa beliau mengalami masa pencarian Tuhan, ini tentu bertentangan dengan aqidah kita, karena beliau adalah rasul yang ma’sum (dijaga) bagaimana mungkin akan mengalami masa transisi ketuhanan dalam keyakinannya.

Seorang nabi bukan di pilih ketika dia berumur anak-2 atau setelah remaja melainkan dari bayi sudah mulai dicetak. Kita mempercayai bahwa setiap bayi yang lahir dalam keadaan muslim, berdasarkan hadist nabi Muhammad Saw:” setiap anak yang lahir dalam keadaan suci (islam) maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi, atau Nashrani” Dalam pendapat yang muktamad, bahwa semua orang yang lahir dalam keadaan beragama islam, ini disebabkan karena didalam hadist tadi tidak menyebutkan lafadz ” yusallimaanihi”.

Ada beberapa hadist didalam kitab tafsir yang oleh muhadditsin dan mufassirin di yakini hadist maudhu’ dan israiliyah; misalnya yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas didalam kitab tafsir At-Thabary.

Didalam tafsir ini walaupun termasuk tafsir yang ma’tsur (manqul dari al-quran, nabi, sahabat dan tabi,in) akan tetapi banyak sekali kisah Israiliyat (cerita-2 orang-2 Yahudi) dan hadist palsu yang tidak di ta’liq (di komentari atau di sanggah), jika tidak di komentari atau di sanggah, maka nantinya akan membuat pembaca meyakini begitu saja, jika pembaca tidak membaca kitab tafsir yang lainnya bisa saja bagi pembaca menimbulkan salah pengertian terhadap suatu tafsir ayat tertentu, jika pembaca tanpa mengoreksi atau meneliti kisah-2 atau hadist yang menafsir suatu ayat tertentu, yang akhirnya adalah menafikan sifat maksum para utusan Allah.

Mayoritas semua kisah yang palsu atau israiliyah di nisbatkan kepada Ibnu Abbas ini tidak terlepas karena terkadang beliau bertanya kepada orang Yahudi Nasrani yang telah masuk islam akan tetapi pertanyaan beliau bukan sesuatu yang berkaitan dengan aqidah.

Kisah nabi Ibrahim di atas di sanggah oleh Imam Arrozi dalam kitabnya Mafatihul Ghaib (tafsir kabir), dalam pandangan beliau cerita bahwa nabi Ibrahim mencari Tuhan ini tidak benar, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim tidak sedang mencari Tuhan melainkan mengajak dialog atau debat kaumnya, bahwa apa saja yang mereka jadikan Tuhan selain Allah adalah keyakinan yang sesat.

Ini adalah sebagian cara nabi Ibrahim As untuk menghadapi kaumnya yang berbeda-berbeda keyakinan, dari yang menyembah berhala sampai yang menyembah matahari, ketika kaumnya sedang mengadakn ritual pemujaan, beliau mendatangi mereka yang sedang menyembah Tuhan mereka, mereka di ajak diskusi dialog dan adu argumen, sebenarnya Tuhan siapa yang paling benar. Maka tatkala matahari, bulan dan bintang terbenam beliau berkata” qola” hadza rabbi?” Dalam ayat ini Imam Arrozi mempunyai penafsiranm yang berbeda dengan ulama tafsir lainnya, beliau berpendapat bahwa nabi Ibrahim As berkata kepada kaumnya dengan methode kata tanya (istifahmul inkar) ” Ibrahim Berkata” Inikah Tuhanku dalam keyakinan kalian?” dengan maksud untuk mempertanyakan dan membatalkan pendapat mereka bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas di jadikan Tuhan.

Jadi perkataan Nabi Ibrahim didalam ayat al-quran itu bukan sebagai penetapan atau keyakinan (la ‘ala sabilil jazmi) bahwa dengan mengatakan “ ini tuhanku?” melainkan dengan lafadz istifaham inkar (pertanyaan menyangkal).

Begitu juga dengan Imam al-Qurtubi, beliau memaparkan bahwa perkataan nabi ibrahim ketika berkata” ini adalah Tuhanku” untuk mengalahkan pendapat kaumnya, ketika matahari terbenam, maka pendapat mereka tentang Tuhan yang mereka sembah batal, salah dan kalah dengan pendapat nabi Ibrahim As bahwa sesuatu yang terbenam tidak pantas untuk di jadikan Tuhan atau mempunyai arti, “masa’ seperti ini dijadikan tuhan?”.

Begitu juga Imam Al-Baidhowi didalam kitabnya, Syarhul muwafiq, beliau berpendapat bahwa kejadian ini, dimasa nabi Ibrahim masih anak-anak dan perkataan tadi memang keluar dari lisan beliau akan tetapi bukan sebuah bentuk penetapan keyakinan penyembahan terhadap apa yang disembah oleh kaumnya, dengan demikian nabi ibrahin tidak berdusta didalam perkataanya ” Hadza Rabbi” akan tetapi perkatannya tadi menunjukkan bahwa beliau sedang berdebat dengan kaumnya dan menentang pendapat kaumnya yang salah, yang telah mepertuhankan, matahari, bulan dan bintang.

Diperkuat juga pendapat ini oleh pendapat Imam Ibnu Arabi, didalam kitab karangannya, Ahkamul Quran, beliau berpendapat bahwa apa yang telah Allah berikan kepada nabi Ibrahim As dari ilmu, hujjah dan kuatnya aqidah beliau dan termasuk nabi dan rasul pertama yang diutus untuk membumikan tauhid Allah di muka bumi ini serta penjelasan yang telah Allah berikan kepadanya tentang ketauhidan Allah, dengan demikian Ibrahim As tidak mungkin tidak mengetahui Allah SWT atau bahkan ragu akan keesaan Allah Swt, kejadian tersebut adalah berita atau cerita yang terjadi antara Ibrahim As dengan kaumnya didalam perdebatan atau diskusi saja, bukan suatu bentuk keyakinan dan kometmen dari nabi Ibrahim As.

Ibnu Arabi mengatakan: “Barang siapa yang berprasangka atau yakin bahwa Ibrahim As ragu, mengalami transisi dalam menentukan Tuhannya atau yakin bahwa nabi Ibrahim pernah menyembah matahari, bulan, bintang maka itu adalah pemahaman yang keliru dan salah, disebabkan orang ini kurang dalam memahami dan bodoh terhadap sifat-2 Nabi dan Rasul” Bagaimana mungkin seorang rasul yang Allah telah berikan kepadanya akal, ilmu, anugerah dan kesempurnaan kepintarannya sebelum menjadi nabi, kok malah menyembah selain Allah denagn kata lain kok masih ragu dengan keEsaan Allah SWT, ini tentu tidak masuk akal,

Firman Allah Swt dalam al-quran:” Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum ( Musa dan Harun), dan adalah kami mengetahui (keadaan) nya“. Begitu juga lanjutan dari ayat yang di surah al-an’am ayat 78, Allah berfirman:” Ibrahim berkata, ” Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu sekutukan”.

Dari ayat ini jelas sekali bahwa nabi Ibrahim tidak pernah mengalami transisi ketuhanan dengan artian mencari Tuhan, ayat ini juga mempertegas bahwa beliau tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Swt.

Allhu A’lam Bisshowab

Oleh; Miskari Ahmad. Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo Mesir,

Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir

TAHLILAN = Bid’ah … SESAT ……………………..……….. KIRIM DO’A = = Bid’ah … SESAT ————————————— Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, “Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?”. ……………………..……………… Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab syafi’i !!!. Ternyata para ulama besar dari madzhab Syafi’iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid’ah yang mungkar, atau minimal bid’ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi’yah seperti Al-Imam Asy-Syafii dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!! —————— Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radhiallahu ‘anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…………

tahlilan bidah hasanah

TAHLILAN = Bid’ah … SESAT
……………………..………..
KIRIM DO’A = = Bid’ah … SESAT
—————————————
Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, “Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?”.
……………………..………………
>>>> Ada orang yg udah abis2an jual harta untuk ngobatin ortunya sakit.
Saat hartanya habis, ortunya pun meninggal.
Saat meninggalpun masih harus menggelar tahlilan. Demi ga malu sama masyarakat sekitar. Masak ngubur ortunya sendiri kayak ngubur kucing aja.

>>>> Akhirnya utang sana sini buat nyiapin besek dan amplop serta biaya2 tahlilan lainnya. Ini namanya… Uda jatuh ketimpa tangga sama rumah2nya sekalian.
……………………
Tentunya tidak seorang muslimpun yang melarang tahlilan, bahkan yang melarang tahlilan adalah orang yang tidak diragukan kekafirannya. Akan tetapi yang dimaksud dengan istilah “Tahlilan” di sini adalah acara yang dikenal oleh masyarakat yaitu acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah.

Lebih aneh lagi jika ada yang melarang tahlilan langsung dikatakan “Dasar wahabi”..!!!

Seakan-akan pelarangan melakukan acara tahlilan adalah bid’ah yang dicetus oleh kaum wahabi !!?

Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab syafi’i !!!. Ternyata para ulama besar dari madzhab Syafi’iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid’ah yang mungkar, atau minimal bid’ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi’yah seperti Al-Imam Asy-Syafii dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!!

tahlilan kejam 1

A. Ijmak Ulama bahwa Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab tidak pernah tahlilan

Tentu sangat tidak diragukan bahwa acara tahlilan –sebagaimana acara maulid Nabi dan bid’ah-bid’ah yang lainnya- tidaklah pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para sahabatnya, tidak juga para tabi’in, dan bahkan tidak juga pernah dilakukan oleh 4 imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah).

Akan tetapi anehnya sekarang acara tahlilan pada kenyataannya seperti merupakan suatu kewajiban di pandangan sebagian masyarakat. Bahkan merupakan celaan yang besar jika seseorang meninggal lalu tidak ditahlilkan. Sampai-sampai ada yang berkata, “Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal??, seperti nguburi kucing aja !!!”.

Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radhiallahu ‘anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??.

Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah radhiallahu ‘anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan. Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthholib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thoolib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula jika kita beranjak kepada zaman al-Khulafaa’ ar-Roosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia.

Nah lantas apakah acara tahlilan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya, bahkan bukan merupakan syari’at tatkala itu, lantas sekarang berubah statusnya menjadi syari’at yang sunnah untuk dilakukan??!!, bahkan wajib??!! Sehingga jika ditinggalkan maka timbulah celaan??!!

tahlilan tercela 1
=============================

Tahlilan, Haul dan Semacamnya Adalah Bid’ah Tercela Menurut Muktamar NU ke-1 Tahun 1926

https://www.nahimunkar.com/tahlilan-haul-dan-semacamnya-adalah-bidah-tercela-menurut-muktamar-nu-ke-1-tahun-1926/
=====================

Sungguh indah perkataan Al-Imam Malik (gurunya Al-Imam Asy-Syaafi’i rahimahumallahu)

فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا لاَ يَكُوْنُ الْيَوْمَ دِيْنًا

“Maka perkara apa saja yang pada hari itu (pada hari disempurnakan Agama kepada Nabi, yaitu masa Nabi dan para sahabat-pen) bukan merupakan perkara agama maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama.”(Al-Ihkam, karya Ibnu Hazm 6/255)

Bagaimana bisa suatu perkara yang jangankan merupakan perkara agama, bahkan tidak dikenal sama sekali di zaman para sahabat, kemudian lantas sekarang menjadi bagian dari agama !!!

B. Yang Sunnah adalah meringankan beban keluarga mayat bukan malah memberatkan

Yang lebih tragis lagi acara tahlilan ini ternyata terasa berat bagi sebagian kaum muslimin yang rendah tingkat ekonominya. Yang seharusnya keluarga yang ditinggal mati dibantu, ternyata kenyataannya malah dibebani dengan acara yang berkepanjangan…biaya terus dikeluarkan untuk tahlilan…hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, hari ke-1000…

Tatkala datang kabar tentang meninggalnya Ja’far radhiallahu ‘anhu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

اِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

“Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukan mereka” (HR Abu Dawud no 3132

Al-Imam Asy-Syafi’I rahimahullah berkata :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)

C. Argumen Madzhab Syafi’i Yang Menunjukkan makruhnya/bid’ahnya acara Tahlilan

Banyak hukum-hukum madzhab Syafi’i yang menunjukkan akan makruhnya/bid’ahnya acara tahlilan. Daintaranya :

PERTAMA : Pendapat madzhab Syafi’i yang mu’tamad (yang menjadi patokan) adalah dimakruhkan berta’ziah ke keluarga mayit setelah tiga hari kematian mayit. Tentunya hal ini jelas bertentangan dengan acara tahlilan yang dilakukan berulang-ulang pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan bahkan ke-1000

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

“Para sahabat kami (para fuqohaa madzhab syafi’i) mengatakan : “Dan makruh ta’ziyah (melayat) setelah tiga hari. Karena tujuan dari ta’ziah adalah untuk menenangkan hati orang yang terkena musibah, dan yang dominan hati sudah tenang setelah tiga hari, maka jangan diperbarui lagi kesedihannya. Dan inilah pendapat yang benar yang ma’ruf….” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277)

Setalah itu al-Imam An-Nawawi menyebutkan pendapat lain dalam madzhab syafi’i yaitu pendapat Imam Al-Haromain yang membolehkan ta’ziah setelah lewat tiga hari dengan tujuan mendoakan mayat. Akan tetapi pendapat ini diingkari oleh para fuqohaa madzhab syafi’i.

Al-Imam An-Nawawi berkata :

“Dan Imam al-Haromain menghikayatkan –satu pendapat dalam madzhab syafi’i- bahwasanya tidak ada batasan hari dalam berta’ziah, bahkan boleh berta’ziah setelah tiga hari dan meskipun telah lama waktu, karena tujuannya adalah untuk berdoa, untuk kuat dalam bersabar, dan larangan untuk berkeluh kesah. Dan hal-hal ini bisa terjadi setelah waktu yang lama. Pendapat ini dipilih (dipastikan) oleh Abul ‘Abbaas bin Al-Qoosh dalam kitab “At-Talkhiis”.

Al-Qoffaal (dalam syarahnya) dan para ahli fikih madzhab syafi’i yang lainnya mengingkarinya. Dan pendapat madzhab syafi’i adalah adanya ta’ziah akan tetapi tidak ada ta’ziah setelah tiga hari. Dan ini adalah pendapat yang dipastikan oleh mayoritas ulama.

Al-Mutawalli dan yang lainnya berkata, “Kecuali jika salah seorang tidak hadir, dan hadir setelah tiga hari maka ia boleh berta’ziah”

(Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/277-278)

Lihatlah dalam perkataan al-Imam An-Nawawi di atas menunjukkan bahwasanya dalih untuk mendoakan sang mayat tidak bisa dijadikan sebagai argument untuk membolehkan acara tahlilan !!!

KEDUA : Madzhab syafi’i memakruhkan sengajanya keluarga mayat berkumpul lama-lama dalam rangka menerima tamu-tamu yang berta’ziyah, akan tetapi hendaknya mereka segera pergi dan mengurusi kebutuhan mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

“Adapun duduk-duduk untuk ta’ziyah maka Al-Imam Asy-Syafi’i menashkan (menyatakan) dan juga sang penulis al-Muhadzdzab serta seluruh ahli fikih madzhab syafi’i akan makruhnya hal tersebut…

Mereka (para ulama madzhab syafi’i) berkata : Yang dimaksud dengan “duduk-duduk untuk ta’ziyah” adalah para keluarga mayat berkumpul di rumah lalu orang-orang yang hendak ta’ziyah pun mendatangi mereka.

Mereka (para ulama madzhab syafi’i) berkata : Akan tetapi hendaknya mereka (keluarga mayat) pergi untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka barang siapa yang bertemu mereka memberi ta’ziyah kepada mereka. Dan hukumnya tidak berbeda antara lelaki dan wanita dalam hal dimakruhkannya duduk-duduk untuk ta’ziyah…”

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata dalam kitab “Al-Umm” :

“Dan aku benci al-maatsim yaitu berkumpulnya orang-orang (di rumah keluarga mayat –pen) meskipun mereka tidak menangis. Karena hal ini hanya memperbarui kesedihan, dan membebani pembiayayan….”. ini adalah lafal nash (pernyataan) Al-Imam Asy-syafi’i dalam kitab al-Umm. Dan beliau diikuti oleh para ahli fikih madzhab syafi’i.

Dan penulis (kitab al-Muhadzdzab) dan yang lainnya juga berdalil untuk pendapat ini dengan dalil yang lain, yaitu bahwasanya model seperti ini adalah muhdats (bid’ah)” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/278-279)

Sangat jelas dari pernyataan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ini bahwasanya para ulama madzhab syafi’i memandang makruhnya berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayat karena ada 3 alasan :

(1) Hal ini hanya memperbarui kesedihan, karenanya dimakruhkan berkumpul-kumpul meskipun mereka tidak menangis

(2) Hal ini hanya menambah biaya

(3) Hal ini adalah bid’ah (muhdats)

KETIGA : Madzhab syafi’i memandang bahwa perbuatan keluarga mayat yang membuat makanan agar orang-orang berkumpul di rumah keluarga mayat adalah perkara bid’ah

Telah lalu penukilan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah :

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat. Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’afar, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka” (Kitab Al-Umm 1/278)

Akan tetapi jika ternyata para wanita dari keluarga mayat berniahah (meratapi) sang mayat maka para ulama madzhab syafi’i memandang tidak boleh membuat makanan untuk mereka (keluarga mayat).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

Para sahabat kami (para ahli fikih madzhab syafi’i) rahimahullah berkata, “Jika seandainya para wanita melakukan niahah (meratapi sang mayat di rumah keluarga mayat-pen) maka tidak boleh membuatkan makanan bagi mereka. Karena hal ini merupakan bentuk membantu mereka dalam bermaksiat.

Penulis kitab as-Syaamil dan yang lainnya berkata : “Adapun keluarga mayat membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan makanan tersebut maka tidak dinukilkan sama sekali dalilnya, dan hal ini merupakan bid’ah, tidak mustahab (tidak disunnahkan/tidak dianjurkan)”.

Ini adalah perkataan penulis asy-Syaamil. Dan argumen untuk pendapat ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/290)

D. Fatwa para ulama 4 madzhab di kota Mekah akan bid’ahnya tahlilan

Diantara para ulama madzhab syafi’i lainnya yang menyatakan dengan tegas akan bid’ahnya tahlilan adalah :

Dalam kitab Hasyiah I’aanat at-Thoolibin, Ad-Dimyaathi berkata :

“Aku telah melihat pertanyaan yang ditujukan kepada para mufti kota Mekah tentang makanan yang dibuat oleh keluarga mayat dan jawaban mereka tentang hal ini.

(Pertanyaan) : Apakah pendapat para mufti yang mulia di tanah haram –semoga Allah senantiasa menjadikan mereka bermanfaat bagi manusia sepanjang hari- tentang tradisi khusus orang-orang yang tinggal di suatu negeri, yaitu bahwasanya jika seseorang telah berpindah ke daarul jazaa’ (akhirat) dan orang-orang kenalannya serta tetangga-tetangganya menghadiri ta’ziyah (melayat) maka telah berlaku tradisi bahwasanya mereka menunggu (dihidangkannya) makanan. Dan karena rasa malu yang meliputi keluarga mayat maka merekapun bersusah payah untuk menyiapkan berbagai makanan untuk para tamu ta’ziyah tersebut. Mereka menghadirkan makanan tersebut untuk para tamu dengan susah payah. Maka apakah jika kepala pemerintah yang lembut dan kasih sayang kepada rakyat melarang sama sekali tradisi ini agar mereka kembali kepada sunnah yang mulia yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau berkata, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far”, maka sang kepala pemerintahan ini akan mendapatkan pahala karena pelarangan tersebut?. Berikanlah jawaban dengan tulisan dan dalil !!”

Jawaban :

“Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya setelahnya. Ya Allah aku meminta kepadMu petunjuk kepada kebenaran.

Benar bahwasanya apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa berkumpul di keluarga mayat dan pembuatan makanan merupakan bid’ah yang munkar yang pemerintah diberi pahala atas pelarangannya ….

Dan tidaklah diragukan bahwasanya melarang masyarakat dari bid’ah yang mungkar ini, padanya ada bentuk menghidupkan sunnaah dan mematikan bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan. Karena masyarakat benar-benar bersusah payah, yang hal ini mengantarkan pada pembuatan makanan tersebut hukumnya haram. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh : Yang mengharapkan ampunan dari Robnya : Ahmad Zainy Dahlan, mufti madzhab Syafi’iyah di Mekah”

Adapun jawaban Mufti madzhab Hanafiyah di Mekah sbb :

“Benar, pemerintah (waliyyul ‘amr) mendapatkan pahala atas pelarangan masyarakat dari perbuatan-perbuatan tersebut yang merupakah bid’ah yang buruk menurut mayoritas ulama….

Penulis Raddul Muhtaar berkata, “Dan dibenci keluarga mayat menjamu dengan makanan karena hal itu merupakan bentuk permulaan dalam kegembiraan, dan hal ini merupakan bid’ah”…

Dan dalam al-Bazzaaz : “Dan dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, hari ketiga, dan setelah seminggu, serta memindahkan makanan ke kuburan pada waktu musim-musim dst”…

Ditulis oleh pelayan syari’at dan minhaaj : Abdurrahman bin Abdillah Sirooj, Mufti madzhab Hanafiyah di Kota Mekah Al-Mukarromah…

Ad-Dimyathi berkata : Dan telah menjawab semisal dua jawaban di atas Mufti madzhab Malikiah dan Mufti madzhab Hanabilah” (Hasyiah I’aanat at-Thoolibin 2/165-166)

Penutup

Pertama : Mereka yang masih bersikeras melaksanakan acara tahlilan mengaku bermadzhab syafi’iyah, akan tetapi ternyata para ulama syafi’iyah membid’ahkan acara tahlilan !!. Lantas madzhab syafi’iyah yang manakah yang mereka ikuti ??

(silahkan baca juga : http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/…/tahlilan-dal…)

Kedua : Para ulama telah ijmak bahwasanya mendoakan mayat yang telah meninggal bermanfaat bagi sang mayat. Demikian pula para ulama telah berijmak bahwa sedekah atas nama sang mayat akan sampai pahalanya bagi sang mayat. Akan tetapi kesepakatan para ulama ini tidak bisa dijadikan dalil untuk melegalisasi acara tahlilan, karena meskipun mendoakan mayat disyari’atkan dan bersedakah (dengan memberi makanan) atas nama mayat disyari’atkan, akan tetapi kaifiyat (tata cara) tahlilan inilah yang bid’ah yang diada-adakan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya. Kreasi tata cara inilah yang diingkari oleh para ulama syafi’iyah, selain merupakan perkara yang muhdats juga bertentangan dengan nas (dalil) yang tegas :

– Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu : “Kami memandang berkumpul di rumah keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Maajah dengan sanad yang shahih”

– Berlawanan dengan sunnah yang jelas untuk membuatkan makanan bagi keluarga mayat dalam rangka meringankan beban mereka

Bid’ah sering terjadi dari sisi kayfiyah (tata cara). Karenanya kita sepakat bahwa adzan merupakan hal yang baik, akan tetapi jika dikumandangkan tatkala sholat istisqoo, sholat gerhana, sholat ‘ied maka ini merupakan hal yang bid’ah. Kenapa?, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukannya.

Demikian juga bahwasanya membaca ayat al-kursiy bisa mengusir syaitan, akan tetapi jika ada seseorang lantas setiap kali keluar dari masjid selalu membaca ayat al-kursiy dengan dalih untuk mengusir syaitan karena di luar masjid banyak syaitan, maka kita katakan hal ini adalah bid’ah. Kenapa?, karena kaifiyyah dan tata cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Ketiga : Kalau kita boleh menganalogikan lebih jauh maka bisa kita katakan bahwasanya orang yang nekat untuk mengadakan tahlilan dengan alasan untuk mendoakan mayat dan menyedekahkan makanan, kondisinya sama seperti orang yang nekat sholat sunnah di waktu-waktu terlarang. Meskipun ibadah sholat sangat dicintai oleh Allah, akan tetapi Allah telah melarang melaksanakan sholat pada waktu-waktu terlarang.

Demikian pula berkumpul-kumpul di rumah keluarga kematian dan bersusah-susah membuat makanan untuk para tamu bertentangan dan bertabrakan dengan dua perkara di atas:

– Sunnahnya membuatkan makanan untuk keluarga mayat

– Dan hadits Jarir bin Abdillah tentang berkumpul-kumpul di keluarga mayat termasuk niyaahah yang dilarang.

Keempat : Untuk berbuat baik kepada sang mayat maka kita bisa menempuh cara-cara yang disyari’atkan, sebagaimana telah lalu. Diantaranya adalah mendoakannya kapan saja –tanpa harus acara khusus tahlilan-, dan juga bersedakah kapan saja, berkurban atas nama mayat, menghajikan dan mengumrohkan sang mayat, dll.

Adapun mengirimkan pahala bacaan Al-Qur’an maka hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Dan pendapat yang dipilih oleh Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwasanya mengirimkan pahala bacaan al-Qur’an tidak akan sampai bagi sang mayat.

Kelima : Kalaupun kita memilih pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengirim bacaan al-qur’an akan sampai kepada mayat, maka kita berusaha agar kita atau keluarga yang mengirimkannya, ataupun orang lain adalah orang-orang yang amanah.

Adapun menyewa para pembaca al-Qur’an yang sudah siap siaga di pekuburan menanti kedatangan para peziarah kuburan untuk membacakan al-quran dan mengirim pahalanya maka hendaknya dihindari karena :

– Tidak disyari’atkan membaca al-Qur’an di kuburan, karena kuburan bukanlah tempat ibadah sholat dan membaca al-Qur’an

– Jika ternyata terjadi tawar menawar harga dengan para tukang baca tersebut, maka hal ini merupakan indikasi akan ketidak ikhlasan para pembaca tersebut. Dan jika keikhlasan mereka dalam membaca al-qur’an sangat-sangat diragukan, maka kelazimannya pahala mereka juga sangatlah diragukan. Jika pahalanya diragukan lantas apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat??!!

– Para pembaca sewaan tersebut biasanya membaca al-Qur’an dengan sangat cepat karena mengejar dan memburu korban penziarah berikutnya. Jika bacaan mereka terlalu cepat tanpa memperhatikan tajwid, apalagi merenungkan maknanya, maka tentu pahala yang diharapkan sangatlah minim. Terus apa yang mau dikirimkan kepada sang mayat ??!!

berbagai sumber

 

apa itu … Musyrik, Syirik, Munafik, Kafir, Murtad, Namimah ? ————————————- berKACA diri kita sendiri …. apa yg telah dilakukan oleh kita untuk Allah .. di JALAN Allah ?? …atau di JALAN SYAITAN ?? ….. atau di jalan musuh Allah/musuh orang beriman ?? ————————————– >> Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah, mengaku akan adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah. Perbuatan itu disebut Syirik. ……………………………………… >> Orang munafik adalah orang yang bermuka dua, mengaku beriman padahal hatinya ingkar. disebut Nifaq/pembohong. Segala amal perbuatan yang dikerjakan itu bukan ditegakkan di atas dasar keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah, akan tetapi hanya didasarkan pada perasaan dan hawa nafsunya semata-mata untuk mencari muka, penampilan, mengambil hati dalam masyarakat dan pandangan orang belaka. Segala perbuatan baiknya itu hanya dijadikan tempat berlindung untuk menutupi segala keburukan I’tikad dan niatnya. ………………………….. >> Kafir bermakna orang yang ingkar,yang tidak beriman (tidak percaya) atau tidak beragama Islam. Dengan kata lain orang kafir adalah orang yang tidak mahu memperhatikan serta menolak terhadap segala hukum Allah atau hukum Islam disampaikan melalui para Rasul. Perbuatan orang kafir disebut kufur. …………………………. >> Murtad Ialah orang Islam yang keluar dari Islam yakni mengingkari semua ajaran Islam, baik dari segi Keyakinan, ucapan dan/atau perbuatannya Semua amalan orang murtad akan dimusnahkan dan tidak nilai pada hari akhirat nanti. ……………………… >> An-Namimah adalah menebar fitnah atau mengadu domba ——————————-

tauhid benteng 2
apa itu … Musyrik, Syirik, Munafik, Kafir, Murtad, Namimah ?
————————–———– berKACA diri kita sendiri …. apa yg telah dilakukan oleh kita untuk Allah .. di JALAN Allah ?? …atau di JALAN SYAITAN ?? ….. atau di jalan musuh Allah/musuh orang beriman ??
————————–————
>> Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah, mengaku akan adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah. Perbuatan itu disebut Syirik.
……………………..……………….
>> Orang munafik adalah orang yang bermuka dua, mengaku beriman padahal hatinya ingkar. disebut Nifaq/pembohong. Segala amal perbuatan yang dikerjakan itu bukan ditegakkan di atas dasar keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah, akan tetapi hanya didasarkan pada perasaan dan hawa nafsunya semata-mata untuk mencari muka, penampilan, mengambil hati dalam masyarakat dan pandangan orang belaka. Segala perbuatan baiknya itu hanya dijadikan tempat berlindung untuk menutupi segala keburukan I’tikad dan niatnya.
……………………..……
>> Kafir bermakna orang yang ingkar,yang tidak beriman (tidak percaya) atau tidak beragama Islam. Dengan kata lain orang kafir adalah orang yang tidak mau memperhatikan serta menolak terhadap segala hukum Allah atau hukum Islam disampaikan melalui para Rasul. Perbuatan orang kafir disebut kufur.
……………………..…..
>> Murtad Ialah orang Islam yang keluar dari Islam yakni mengingkari semua ajaran Islam, baik dari segi Keyakinan, ucapan dan/atau perbuatannya Semua amalan orang murtad akan dimusnahkan dan tidak nilai pada hari akhirat nanti.
……………………...
>> An-Namimah adalah menebar fitnah atau mengadu domba
————————–—–
mukmin munafik 2

MUSYRIK
Pengertian Musyrik
Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah, mengaku akan adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah. Perbuatan itu disebut musyrik.
Firman Allah ; “Ingatlah Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya:’Hai anakku!janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar’ “ [Qs Luqman:13]

Dengan demikian org musyrik disamping menyembah Allah mengabdikan kepada Allah, juga mengabdikan dirinya kepada yang selain Allah.JAdi org musyrik itu ialah mereka yg mempersekutukan Allah baik dalam bentuk I’tikad (kepercayaan), ucapan mahupun dalam bentuk amal perbuatan. Mereka (org musyrik) menjadikan mahkluk yang diciptakan Allah ini baik yang berupa benda mahupun manusia sebagai Tuhan dan menjadikan sebagai An dad, Alihah, Thoughut dan Arbab…..

i. Alihah ialah suatu kepercayaan terhadap benda dan binatang yang menurut keyakinannya dapat memberikan manfaat serta dapat menolak bahaya. Misalnya kita memakai cincin merah delima, dan kita yakin bahawa dengan memakainya dapat menghindarkan bahaya. Adapun kepercayaan memelihara burung Terkukur dapat memberikan kemajuan dalam bidang perniagaannya. Dan itulah dinamakan Alihah, yakni menyekutukan Allah dengan binatang dan benda (Kepada Makhluk).

ii. Andad, sesuatu perkara yang dicintai dan dihormati melebihi daripada cintanya kepada Allah, sehingga dapat memalingkan seseorang dari melaksanakan ketaatan terhadap Allah dan RasulNya. Misalnya saja seorang yang senang mencintai kepada benda, keluarga, rumah dan sebagainya, dimana cintanya melebihi cintai terhadap Allah dan RasulNya, sehingga mereka melalaikan dalam melaksanakan kewajiban agama, kerana terlalu cintanya terhadap benda tersebut (makhluk tersebut).

iii. Thoghut ialah orang yang ditakuti dan ditaati seperti takut kepada Allah, bahkan melebihi rasa takut dan taatnya kepada Allah, walaupun keinginan dan perintahnya itu harus berbuat derhaka kepadaNya.

iv. Arbab, ialah para pemuka agama (ulama,ustad) yang suka memberikan fatwa, nasihat yang menyalahi ketentuan (perintah dan Larangan) Allah dan RasulNya, kemudian ditaati oleh para pengikutnya tanpa diteliti dulu seperti mentaati terhadap Allah dan RasulNya. Para pemuka agama itu telah menjadikan dirinya dan dijadikan para pengikutnya Arbab (Tuhan selain Allah).

Bentuk musyrik ini menyesatkan terhadap perilaku manusia. Dan dengan memiliki aqidah seperti itu dapat menghilangkan Keimanan.

murnikan tauhid 1syirik

Syirik

Pengertian Syirik

Syirik adalah perbuatan menyembah atau menyekutukan sesuatu selai Allah dan ini adalah dosa besar. Dan berikut ini contoh – contoh Syirik:
a.Menyembah sesuatu selain Allah
Menyembah sesuatu selain Allah adalah termasuk syrik yang paling berat dan tinggi. Mereka ini menyembah benda-benda, patung, batu, kayu, kubur bahkan manusia dan lain-lainnya. Mereka percaya bahawa benda-benda (makhluk) tersebut adalah tuhan-tuhan yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan. Termasuk dalam tahap syrik seperti ini adalah mengadakan pemujaan seseorang tokoh pepimpin.

b.Mempersekutukan Allah.
Artinya mempercayai bahawa makhluk selain Allah itu mempunyai sifat-sifat seperti yang ada pada Allah.
Dalam kategori mempersekutukan Allah ini adalah faham Trinti menurut kepercayaan Kristian, begitu faham Trimurti menurut kepercayaan agama Hindu, yang mempercayai bahawa Tuhan itu ada tiga, iaitu Brahman (tuhan menciptakan alam seisinya),Wisnu(Tuhan yang memelihara Alam) dan Syiwa (Tuhan yang menghancurkan alam).

c.Mempertuhankan Manusia.
Mempertuhankan manusia atau menjadikan manusia sebagai tuhannya adalah termasuk syrik atau mempersekutukan Allah. Termasuk didalam mengtuhankan manusia itu adalah pemuka-pemuka agama,ulama, pendita, para auliya’,para solehin dan sebagainya.
Dalam ajaran ilmu Tauhid terlalu mengagungkan, mendewakan seseorang itu dinamakan Ghuluwwun. Ertinya keterlaluan dalam mengagungkan dan meninggikan darjat makhluk sehingga ditempatkan pada kedudukan yang bukan sepatutnya menempati kedudukan itu kecuali Allah.

Bahaya Syrik
Firman Allah:
“Maka apakah orang kafir (musyrik) menyangka bahawa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka jahanam tempat tinggal bagi orang-orang kafir(musyrik)” [Qs Al Kahfi:102]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syrik, dan Dia mengampuni dosa-dosa selain dari syrik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. BArangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” [Qs At Taubah:113]

Sabda Rasulullah:
“Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kamu sekalian ialah syrik yang paling kecil. Ketika Nabi SAW ditanya:’Apa syrik kecil itu?’,Nabi SAW bersabda:”Ri’yak”
Imam Muslim meriwayatkan, yang datangnya dari Nabi SAW baginda bersabda:”Barangsiapa yang menjumpai Allah (meninggal dunia) dalam keadaan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun, dimasuk syurga dan barangsiapa menjumpai Allah keadaan mempersekutukanNya dengan sesuatu, dia masuk neraka”

fasik munafk 23

MUNAFIK
Pengertian Munafik
Munafik adalah orang yang termasuk golongan orang yang tidak mendapat hidayah atau petunjuk dari Allah, sehingga jalan hidupnya yang ditempuhi tidaklah mengandungi nilai-nilai ibadah dan segala amal yang dikerjakan tidak mencari keredhaan Allah.
Orang munafik adalah orang yang bermuka dua, mengaku beriman padahal hatinya ingkar. Perbuatan orang munafik disebut Nifaq. Mereka ini hanya pada mulutnya saja, kemudian dalam perbuatannya sehari-hari tampak baik, tapi hanya tipu belaka saja.
Artinya segala amal perbuatan yang dikerjakan itu bukan ditegakkan di atas dasar keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah, akan tetapi hanya didasarkan pada perasaan dan hawa nafsunya semata-mata untuk mencari muka, penampilan, mengambil hati dalam masyarakat dan pandangan orang belaka. Segala perbuatan baiknya itu hanya dijadikan tempat berlindung untuk menutupi segala keburukan I’tikad dan niatnya.

Tanda-tanda munafik.
a. Ingin menipu daya Allah.
Firman Allah: “Dan diantara manusia ada yang mengatakan,’aku beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian,’padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang yang beriman.Mereka itu hendak menipu Allah berserta orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri,sedang mereka tidak sadar” [Qs Al Baqarah: 8-9]

b. Lebih suka memilih orang kafir sebagai pepimpinnya.
Firman Allah maksudnya:
“…..(iaitu) orang yang mengambil orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” [Qs An Nisa’ :139]

c. Tidak ingin diajak berhukum dengan hukum Allah dan RasulNya.
Firman Allah:
“Apabila dikatakan kepada mereka (org munafik):”Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia ) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu” [Qs An Nisa:61]

d. Malas menegakkan solat, tapi kalau solat suka menunjuk-nunjuk (riyak)
Firman Allah: “Dan bila mereka berdiri untuk melaksanakan solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riyak dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka itu menyebut asma Allah, kecuali sedikit sekali [Qs An Nisa:142]

e. Berdusta apanbila berkata, menyalahi janji dan khinat (pecah amanah)
“Tanda-tanda orang munafik itu ada 3 macam, apabila berkata suka berdusta,apabila berjanji selalu menyalahi dan apabila diberi kepercayaan (amanah) suka khinat”
[Hr muslim dan bukhari]

Pengaruh munafik bagi kehidupan bermasyarakat.
Dalam sejarah telah banyak membuktikan bahawa umat Islam zaman dulu sering diperdaya oleh orang munafik dan hal itu akan berterus sampai zaman sekarang bahkan zaman yang akan datang dari generasi ke generasi. Oleh kerana itu kita umat Islam dimana saja berada hendaknya berhati-hati terhadap orang munafik yang berhasrat mematahkan semangat juang kita umat Islam, memporak-perandakan kekuatan Islam, memadamkan cahaya Allah ditengah-tengah orang Islam dan selalu kerosakan dan kekacauan dimana-mana.

“Mereka (orang munafik) hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka. Dan Allah telah menyempurkan cahayaNya, meskipun orang kafir membenci.” [Qs Asy-Shaf;8]

muslim kafir 1

KAFIR
Pengertian Kafir
Kafir bermakna orang yang ingkar,yang tidak beriman (tidak percaya) atau tidak beragama Islam. Dengan kata lain orang kafir adalah orang yang tidak mahu memperhatikan serta menolak terhadap segala hukum Allah atau hukum Islam disampaikan melalui para Rasul (Muhammad SAW) atau para penyampai dakwah/risalah. Perbuatan yang semacam ini disebut dengan kufur.

Kufur pula bermaksud menutupi dan menyamarkan sesuatu perkara. Sedangkan menurut istilah ialah menolak terhadap sesuatu perkara yang telah diperjelaskan adanya perkara yang tersebut dalam Al Quran. Penolakan tersebut baik langsung terhadap kitabnya ataupun menolak terhadap rasul sebagai pembawanya.

‘Sesungguhnya orang kafir kepada Allah dan RasulNya, dan bermaksud memperbezakan antara Allah dan RasulNya seraya (sambil) mengatakan:’Kami beriman kepada yang sebahagian (dari Rasul itu / ayat Al Quran) dan kami kafir (ingkar) terhadap sebahagian yang lain. Serta bermaksud (dengan perkataanya itu) mengambil jalan lain diantara yang demikian itu (iman dan kafir). Merekalah orang kafir yang sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk mereka itu seksaan yang menghinakan” [Qs An Nisa, 150-151]

kafir tanpa sadar 1

Pembahagian Kafir.
i. Kafir yang sama sekali tidak percaya akan adanya Allah, baik dari segi zahir dan batin seperti Raja Namrud dan Firaun.

ii. Kafir jumud (ertinya membantah). Orang kafir jumud ini pada hatinya (pemikirannya) mengakui akan adanya Allah TAPI tidak mengakui dengan lisannya, seperti Iblis dan sebagainya.

iii. Kafir ‘Inad .Orang kafir ‘Inad ini, adalah mereka pada hati (pemikiran) dan lisannya (sebutannya) mengakui terhadap kebenaran Allah, TAPI tidak mahu mengamalkannya , mengikuti atau mengerjakannya seperti Abu Talib.

iv. Kafir Nifaq yaitu orang yang munafik. Yang mengakui diluarnya,pada lisannya saja terhadap adanya Allah dan Hukum Allah, bahkan suka mengerjakannya Perintah Allah, TAPI hatinya (pemikirannya) atau batinnya TIDAK mempercayainya.

Tanda Orang Kafir.
a.Suka pecah belahkan antara perintah dan larangan Allah dengan RasulNya.
b.Kafir (ingkar) perintah dan larangan Allah dan RasulNya.
c.Iman kepada sebahagian perintah dan larangan Allah (dari Ayat Al Quran),tapi menolak sebahagian daripadanya.
d.Suka berperang dijalan Syaitan (Thoghut).
e.Mengatakan Nabi Isa AL Masihi adalah anak Tuhan.
f.Agama menjadi bahan senda gurau atau permainan .
g.Lebih suka kehidupan duniawi sehingga aktiviti yang dikerjakan hanya mengikut hawa nafsu mereka, tanpa menghiraukan hukum Allah yang telah diturunkan.
h.Mengingkari adanya hari Akhirat, hari pembalasan dan syurga dan neraka.
i.Menghalangi manusia ke jalan Allah.

Hubungan Orang Kafir.
Berhubungan Muslim dengan Orang kafir adalah tidak dilarang, dicegah bahkan dibolehkan oleh Islam, KECUALI adanya perhubungan (bertujuan) yang memusuhi Allah dan RasulNya (Hukum Allah), termasuk merosakkan aqidah Islam.

jebakan murtad

MURTAD
Perertian Murtad,
Ialah orang Islam yang keluar dari Islam yakni mengingkari semua ajaran Islam, baik dari segi Keyakinan, ucapan dan/atau perbuatannya Semua amalan orang murtad akan dimusnahkan dan tidak nilai pada hari akhirat nanti. Apabila ia tidak segera kembali kepada Islam serta bertaubat bersungguh-sungguh.

NAMIMAH

Pengertian An-Namimah (menebar fitnah)

Namimah adalah menukilkan perkataan dua orang yang bertujuan untuk berbuat kerusakan, menimbulkan permusuhan dan kebencian kepada sesama mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan janganlah kamu mentaati setiap penyumpah yang hina, yang banyak mencela dan kian kemari menebar fitnah”. (QS. al-Qalam: 10-11)
Contoh dari Namimah ini: ketika si A berkata kepada si B tentang si C; bahwa si C itu orangnya tamak, rakus, lalu si B tanpa tabayyun (klarifikasi) menyampaikan kepada si C perkataan si A dengan tujuan agar si C marah dan benci kepada si A, sehingga dengan demikian si B dapat dikatakan sebagai orang yang berbuat Fitnah (Namimah) yaitu sebagai penyebar fitnah.