Mempersiapkan Kekuatan Melawan Musuh {I’dad} untuk berPERANG adalah WAJIB bagi setiap orang ISLAM —————- betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan dalam diri: —— “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214 ———————- Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya. ——————- I’dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? ————– ———— Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ————- Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.———– Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya———– إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)———- Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta’ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.——— Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta’ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———- Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———– Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.———– Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.———- وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)————- Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————- Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.—— bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46) ——— Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan. * * *———- Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? ——— Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad. * * *——- Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”——- Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta’ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan? ————– Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I’dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: ——— Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!——— Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———- Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.————– وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40) ————– Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.———— Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ———— Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar: وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)——– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا “Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)———— Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri. ————- Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan.”——— Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “kenapa kamu tidak memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?” Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu ‘alaihi bersabda: “Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua.”——– Beliau bersabda, “Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah menerangkan, “Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.——- Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.———- Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——— Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——- Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala sesuai harapan para pemimpinnya.—– Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ “Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 59-60)———— ———————– I’DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. ———–

idad siap perang

Mempersiapkan Kekuatan Melawan Musuh {I’dad} untuk berPERANG adalah WAJIB bagi setiap orang ISLAM

—————-
betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan  dalam diri: ——

 “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214
———————-
Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya.
——————-

I’dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? ————–
————
Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ————-

Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.———–

Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya———–

 

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)———-

Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta’ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.———

Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta’ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———-

Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———–

Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.———–

Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.———-

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)————-

Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———-

Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————-

Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.——

bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46)

———

Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan.

* * *———-

Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? ———

Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad.

* * *——-

Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”——-

Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta’ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan?

————–
Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I’dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: ———

Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———

Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———-

Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.————–

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40) ————–

Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———-

Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————

Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ————

Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)——–

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda,

ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا

Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)————

Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri.

————-

Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan.”———

Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “kenapa kamu tidak memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?” Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu ‘alaihi bersabda: “Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua.”——–

Beliau bersabda, “Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya.”——

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  juga pernah menerangkan, “Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga.”——

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.——-

Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.———-

Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).———

Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——-

Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala sesuai harapan para pemimpinnya.—–

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 59-60)————

———————–

I’DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. ———–

 

Negeri ini dimerdekakan oleh teriak dan pekik “ALLAAHU AKBAR” !!! Tanpa I’DAD & JIHAD , negeri ini tak akan merdeka !!! Mereka para pejuang berjuang demi Islam, Syahid mengorbankan harta, jiwa, raga, keluarga dan bahkan Nyawa untuk Islam !!!

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ

  مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون

 

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu . Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” QS Ash-Shaff:10-13

 

Tradisi jihad sebagai sebuah perniagaan atau jual-beli antara orang beriman dengan Allah SWT bukan merupakan tradisi yang baru diperkenalkan oleh Nabi Akhir Zaman, yaitu Nabi Muhammad saw. Namun tradisi ini sudah Allah tetapkan semenjak diwahyukannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa as dan Kitab Injil kepada Nabi Isa as.

 

Negara-negara non Islam justru malah menerapkan undang-undang Kewajiban I’dad bagi seluruh rakyatnya melalui kebijakan WAJIB MILITER,kita ambil contoh saja: Korea Selatan, IsraHELL, Amerika, Rusia, dan lain lain. Dan perlu digarisbawahi bahwa kewajiban ini bagi semua pria & wanita TANPA TERKECUALI !!!

 

Dan tentu saja dalam Wajib Militer yang dipelajari bukan hanya baris berbaris, cara menyemir sepatu atau upacara, tapi pasti yang dipelajari adalah beladiri, cara melawan musuh, gerilya, membunuh lawan, mengenal jenis senjata, dan bahkan latihan menembak sasaran dengan peluru asli, bukan peluru kosong / peluru karet.

 

 

Namun mengapa negeri kita yang menyandang gelar sebagai: “NEGARA MUSLIM TERBESAR DI DUNIA” dengan jumlah muslim mencapai 225 juta jiwa justru malah tidak menerapkan kewajiban I’DAD yang jelas-jelas diperintahkan Allah dalam Qur’an dan juga disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW?

 

Tidak lain adalah karena para pemimpin & wakil rakyat hasil DEMOKRASI bentukan Yahudi, semua yang berbau Islam dijauhkan, mereka ingin memisahkan negara dan Islam. Sehingga ini pun termasuk salah satu cara untuk melemahkan Umat Islam.

 

 

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ 

 بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ 

وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ 

 

 

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. (QS At-Taubah 111)

 

Allah SWT menawarkan kepada orang beriman agar menjual diri dan harta mereka kepada Allah SWT dengan bayarannya berupa surga untuk mereka. Wujud jual-belinya ialah berupa kesediaan seorang mukmin untuk berperang di jalan Allah, lalu ia membunuh atau terbunuh di medan perang. Perkara ini sudah Allah janjikan semenjak turunnya Kitab Taurat dan Injil kemudian Al-Qur’an.

 

 

Ironisnya dewasa ini, masyarakat yahudi-nasrani yang mendominasi dunia diizinkan dan dimudahkan untuk membangun kekuatan militer mereka. Bahkan mereka dapat dengan seenaknya mengerahkan armada perangnya ke negeri mana saja yang mereka sukai. Termasuk ke negeri-negeri kaum muslimin sebagaimana yang kita saksikan di Palestina, Irak dan Afghanistan. Kehadiran pasukan mereka di bumi Islam tidak dipandang sebagai sebuah tindak kriminal atau pelanggaran hukum internasional. Sementara bila kaum muslimin berusaha mempersenjatai diri, maka mereka segera dilabel sebagai kelompok teroris.

 

 

Maka sudah tiba masanya bagi ummat Islam untuk memperhatikan kewajiban syariat yang satu ini. Tidak pantas bila ummat Islam menghindar untuk mempersiapkan diri membangun armada perang sedangkan Barat kafir yang diwakili oleh kekuatan militer yahudi-nasrani dibiarkan bebas menyusun bahkan memobilisasi kekuatan militer mereka sesuka hati.

 

Oleh karenanya, sudah sewajarnya bila kaum muslimin berusaha sekuat tenaga untuk mempersiapakn berbagai kekuatan –termasuk armada perang- dalam rangka memenuhi perintah mulia Allah SWT.

 

 

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ

 تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ

 لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ

فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal 60

 

Untuk itu marilah kita memulakan persiapan tersebut dengan melakukan apa yang jelas-jelas telah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya ialah memanah.

 

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ

{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }

أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa sahaja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (ABUDAUD – 2153)

 

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ اللَّهْوُ إِلَّا فِي ثَلَاثَةٍ

 تَأْدِيبِ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتِهِ امْرَأَتَهُ وَرَمْيِهِ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ

تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ كَفَرَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَ بِهَا

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hiburan kecuali dalam tiga hal; seorang laki-laki yang melatih kudanya, candaan seseorang terhadap isterinya, dan lemparan anak panahnya. Dan barangsiapa yang tidak memanah setelah ia mengetahui ilmunya karena tidak menyenanginya, maka sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan yang ia kufuri.” (NASAI – 3522)
==========================

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Anfaal: 60).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam tafsir Ibnu Kastir, yang dimaksud dengan “Kekuatan dan kuda-kuda yang di tambat”, riwayat Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir ra bersabda Rosulullah s.a.w dan beliau di atas mimbar, ‘Persiapkanlah olehmu kekuatan, ketahuilah kekuatan adalah ar-romyu, kekuatan adalah ar-romyu’.” (Mukhtashar Muslim 110). Kata ar-romyu dapat diartikan melempar, membidik, memanah, menembak, dan sebagainya.

Dr. Abdullah Azzam rohimahullah, menerangkan dan menjelaskan maksud hadis tersebut:
Hadist tersebut pada hakikatnya termasuk di antara mu’jizat Nabi, mengapa? Perlu diketahui bahwa dalam peperangan mereka di zaman kenabian, menggunakan pedang, tombak dan panah. Pedang untuk memukul, tombak untuk menikam, dan busur untuk melempar atau membidikkan anak panah. Sementara penggunaan pedang dan tombak lebih domoinan dari penggunaan busur.

Jadi, mengapa Nabi saw bersabda bahwa kekuatan adalah melempar? Sementara ar-romyu atau melempar di zaman kita ini menjadi sarana yang banyak dipakai dalam peperangan. Semua peperangan dengan melempar, hampir tidak ada lagi dengan tusukan tombak dan pukulan pedang.

Pada umumnya memang dengan melempar, baik senjata ringan, atau menengah, atau senjata berat atau pesawat tempur, semuanya dengan cara melempar. Klasinkov (AKA) dengan melempar, ZPU, DSCK,Grinov, Mortir, pesawat-pesawat tempur BM 12, Rudal-rudal, semuanya dengan melempar.

Ketahuilah bahwa kekuatan adalah melempar ini benar-benar merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. Ketahuilah kekuatan adalah melempar. Melemparlah wahai Bani Ismail, karena sesungguhnya bapak kalian adalah seorang (jago) melempar. (HR Bukhari).

“Barangsiapa yang belajar melempar, lalu melupakannya, maka dia bukan termasuk golongan kami.” ( HR Muslim )
“Barangsiapa melempar (memanah), lalu melupakannya, maka ia adalah suatu nikmat yang dia kufuri atau dia ingkari.” (HR Muslim)

Selanjutnya, beliau menerangkan tentang i’dad yang dimaksud ayat tersebaut:
“I’dad adalah memepersiapkan kekuatan, i’dad adalah melempar…. I’dad adalah melatih kuda dan memeliharanya, …I’dad adalah memepersiapkan fisik…. I’dad adalah mempersiapkan mental dan spiritual.” (Lihat Hijrah dan I’dad, Dr. Abdullah Azzam).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Umat Islam di mana saja di seluruh dunia seharusnya menjawab seruan-seruan para ulama yang mereka berangkat dari dalil-dalil Quran dan Sunnah untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjdi. Musuh-musuh Islam sudah merasa bahwa Islam memang suatu yang membahayakan dan akan bangkit sebagai satu-satunya musuh yang tak pernah absen dari sejarah peradapan dunia. Amerika yang dahulu menganggap Uni Soviet adalah musuhnya sekarang sudah bergandeng tangan untuk menghadapi Islam.

Suatu ketika, sepulang dari kunjungannya ke perbatasan Afghanistan untuk menyaksikan gerakan jihad di Afghan, Nikson ditanya oleh wartawan:
“Apa yang telah Anda lakukan untuk menyelesaikan problemnya?”
Ia menjawab, ” Itu mudah.”
“Apakah solusi yang Anda persiapkan?”
Dijawab, “Itu mudah.”
Mereka bertanya lagi, “Apa problem yang terjadi?”
Ia menjawab, “The problem is Islam?”
Jadi, Islam adalah problem. Maka, Amerika harus bersatu dengan Rusia untuk menghancurkan jihad Afghanistan dan menghentikan gerak maju Islam. (Lihat Fie Dhilal Suratut Taubah, Dr. Abdullah Azzam ).

Syaid Qutb dalam al-Mustaqbal Hadza Dien menyatakan, “Musuh-musuh Islam menyadari betul bahwa satu-satunya musuh mereka adalah Islam. Karena itu mereka berusaha mati-matian untuk menghancurkan generasi yang tinggi ini. Sebab, generasi inilah yang bakal menjegal tujuan imperialisme mereka.”

Kita dapat melihat apa yang terjadi di dunia, di mana-mana Islam dan umatnya menjadi sasaran kejahatan dan kebencian mereka. Kalau terhadap umat mayoritas saja sudah mulai berani, apalagi terhadap kaum yang minoritas.

Lihat saja seperti kasus Ambon dll. Dari keadaan ini seharusnya setiap muslim waspada dan selalu mempersiapkan diri dan keluarganya untuk suatu hari yang tak terduga,
yang bukan mustahil dapat menimpa siapa saja yang memeluk Islam. Islam bagi mereka suatu problem dan ancaman, Islam adalah musuh bebuyutan, dan perang salib tidak pernah berhenti.

Musuh-musuh Islam mengadakan persiapan yang tidak tanggung-tanggung untuk menghdapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Salah satu contohnya adalah sejarah kekalahan orang-orang Arab melawan Israel pada tahun 1967. Ada seorang bertanya pada Mose atau Igel Alun: “Bagaimana kalian dapat memenangkan pertempuran melawan orang-orang Arab, dengan kemenangan yang mengagumkan?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya kami telah mengadakan persiapan sebelum itu selama sepuluh tahun, lalu kami laksanakan rencana tersebut dalam waktu tiga jam. Kami telah mempersiapkan secara masak selama sepuluh tahun, hanya untuk serangan tiga jam, yang pertama menghancurkan lapangan-lapangan pesawat tempur Mesir. Maka kami memperoleh kemenangan itu.”

Sepuluh tahun melakukan i’dad, sementara peperangan hanya berjalan sebentar, hanya beberapa hari saja, sekali dalam sebulan.
Sedangkan i’dad dan ribath itu bisa berlangsung sangat lama; lama dan membosankan, kecuali bagi jiwa yang mengharapkan balasan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hati yang selalu bertambah kekuatannya dengan zikrullah, ibadah-ibadah nafilah, salat malam, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah yang lainnya. (Lihat Hijrah dan I’dad, Dr. Abdullah Azzam).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Pada dasarnya Islam memerintahkan i’dad sejak seorang masih kanak-kanak atau sejak kecil. Generasi yang kuat secara fisik dan mental, jasmani dan rohani adalah generasi yang akan mampu mengemban amanah dalam mengamalkan dan mendakwahkan risalah Allah, sehingga tidak mudah dijajah, dikuasai, dihina, dibantai. Jangan kita jadikan generasi ini seperti ayam potong, yang kita gemukkan dengan berbagai makanan untuk disembelih oleh musuh-musuh Islam, karena mereka tidak mempunyai kesiapan mental maupun fisik.

Nabi saw bersabda yang artinya, “Ajarkanlah anak-anak kamu renang, memanah, dan menunggang kuda.”

Generasi yang kuat jasmani dan rohani akan mampu memikul beban dakwah dan tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini.
Oleh sebab itu, sejak awal, Islam menekankan untuk mempersiapkan anak-anak sebagai penerus dakwah dan membekali mereka dengan keterampilan yang optimal yang pada suatu hari diperlukan sebagai pembela risalah ini.

Kalau musuh-musuh Islam menyiapkan dan melatih anak-anak mereka dengan hal-hal yang menjadikan mereka siap kapan-kapan saja bila terjadi peperangan, mengapa justru umat Islam melupakan dan meninggalkan hal itu. Sehingga umat Islam selalu menjadi korban dan mangsa dari keganasan musuh-musuhnya.

Menyiapkan kekuatan sudah disyareatkan Allah, baik dalam keadaan aman atau keadaan perang. Tujuan dari pada i’dad adalah agar musuh-musuh Islam merasa takut, gentar, dan sangat memperhitungkan dengan kekuatan Islam secara syumul, sebagaimana yang dinyatakan ayat di atas (QS 8: 60), “Menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya.”

Dalam Ibnu kastir, makna “turhibuuna” yaitu “tukhwifuuna”: memberi rasa takut, gentar, kepada orang-orang kafir. “Dan musuh-musuh selain mereka, yang kamu tidak ketahui sedang Allah mengetahui.” Berkata Mujahid yang dimaksud ini adalah Bany Quraizhoh, berkata Assady Parsi, berkata Shufyan Staury, berkata Ibnu Yaman, “Yang dimaksud ini adalah setan yang ada di sekitarnya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis.”

Berkata Ibnu Abi Hatim dalam suatu riwayat, “Yang dimaksud ini adalah jin.” Dan berkata Muqotil bin Hayyan dan Abdurrohman bin Zaid bin Aslam bahwa yang dimaksud ini adalah oarang-orang munafik. Ini sama sebagaimana firman Allah yang maknanya
“Dan di sekitar kamu banyak kaum Arab Badui yang munafik, dan juga di kalangan penduduk Madinah ada yang keterlaluan dalam kemunafikannya.”

Maka dalam sekian banyak pendapat tadi, dapat kita simpulkan bahwa musuh-musuh Islam yang kita tidak ketahui tetapi Allah yang mengetahuinya antara lain:

  • Orang kafir yang menyembunyikan kebenciannya, dan menunggu-nunggu kesempatan untuk membantai kaum muslimin apabila ada kesempatan.
  • Setan yang selalu menggangu manusia.
  • Bangsa jin yang kafir dan menentang Islam dan membantu musuh-musuh Islam untuk memerangi umat Islam.
  • Orang-orang munafik yang selalu membuat kesusahan di mana-mana dan memfitnah, melaporkan orang Islam kepada musuh-musuh Islam, dan menyebarkan rahasia umat Islam, memfitnah mereka-mereka yang mau menegakkan syariat Islam, mengadu domba umat, memecah belah umat, dan menjilat pada pemerintah yang zalim, pemerintahan kafir dll.

Dari uraian yang singkat ini, dapat kami simpulkan bahwa hendaknya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuh kita, baik musuh dalam diri kita (yang berupa setan dan hawa nafsu) maupun musuh di luar kita (yang berupa orang-orang kafir yang akan memerangi kita). Apabila kita tidak mau mempersiapkan diri, sesungguhnya musuh telah mempersiapkan diri guna menghanncurkan kita. Oleh karena itu, tidaka ada jalan lain bagi kita, kecuali mempersiapkan diri dan bersiap-siap menghadapi musuh yang sewaktu-waktu datang.
=====================
“Penopang-Penopang Jihad yang Bersifat Materi”
———————-
A. Kelayakan Fisik الليا قة البدنية
Ini biasa di dapat dengan:
· Kekuatan otot (با لقوة العضلية)
· Kecekatan dan kegesitan tubuh (والرشاقة الجسمية)
· Kesigapan dan semangat (والنشاط والهمة)
———————-
Mengingat kata “jihad” merupakan pecahan dari kata “mujahadah” (bersungguh-sungguh) dan “mukaabadah” (menahan sesuatu), lantaran keras dan beratnya beban, kesulitan, kesengsaraan, kepayahan, penderitaan, ketakutan dan bahaya yang ada di dalamnya… seperti membawa senjata dan perlengkapan, mengamankan amunisi dan logistic, berjalan jauh, berlari dan melompat; melakuakan operasi penyerangan, bertahan dari gempuran musuh, melakukan taktik hit and run dalam serangan; mengadakan latihan perang-perangan… dan aktivitas-aktivitas keras lainnya dalam suasana medan yang diwarnai dengan kepulan debu, kobaran api dan gumpalan asap; dalam bara api peperangan yang dahsyat yang berseliweran di sana-sini, pecahan bom dan roket; dan di antara gelimpangan mayat, serpihan daging dan genangan daerah… atau juga menderita kepayahan, kesulitan, sedikit tidur dan kekurangan makan.
—————-
Keadaan jihad yang sedemikian itu membutuhkan tubuh-tubuh yang lentur, gesit dan kuat; lengan dan otot yang sekeras baja, serta tekad dan semangat yang tinggi lagi kokoh seperti gunung, mampu mengemban segala bentuk tugas dilapangan, dan tidak pernah merasa letih ataupun jemu sampai akhir peperangan yang bisa singkat maupun lama, yang kadang menidingin dan kadang memanas pula.
——————
Jika demikian halnya, maka haruslah dipilih fisik-fisik yang tepat dan pantas untuk jihad, kemudian dilatih secara kontinyu dan teratur agar menjadi kuat dan bermental baja, gesit dan cekatan, serta mampu hidup dalam kondisi kasar dan keras…. Dan supaya mereka berlatih menghadapi kesulitan dan membiasakan diri terhadap kondisi yang tidak menyenangkan sehingga nantinya tidak shock (terkejut) bila menghadapi hal-hal yang di luar perhitungan, lalu menjadi lamban dan berat serta kembali dengan membawa kegagalan dan kerugian.
————————-
Ketika Bani Isra’il meminta Nabi mereka untuk mengangkat seorang raja bagi mereka supaya merka bisa berperang di jalan Alloh swt di bawah pimpinannya, maka kemudian Alloh swt mengangkat Tholut sebagai raja dan panglima perang mereka; dan Alloh swrt mensifati Tholut sebagai seorang yang luas ilmunya dan kuat (perkasa) tubuhnya.
Alloh berfirman:
————
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Tholut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Tholut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak ?!’. Nabi (mereka) berkata , ‘Sesungguhnya Alloh telah memilih rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakin-Nya dan Alloh maha Luas pemberiaan-Nya lagi Maha Mengetahui.’.” (QS. Al Baqarah; 247).
——————–
Ketika putri Nabi Syu’aib as memohon kepada bapaknya untuk menjadikan Musa sebagai pekerjanya, ia mensifatinya sebagai orang yang kuat lagi dapat dipercaya… dan sebaik-baik orang yang diupah sebagai pekerja adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan kuat tubuh mereka.—————-
Alloh saw berfirman:

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”.” (QS. Al Qashosh: 26).——————–
Alloh saw berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal: 60).——————–

Rosululloh saw bersabda:
المؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن

“Seseorang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).————

B. Keahlian Perang (الخبرة القتالية)——-
Yakni mengetahui:
· Taktik-taktik perang (بأساليب القتال)
· Macam-macam senjata (وأنواع السلاح)
· Cara-cara penyediaan dan pengiriman bantuan(وطرق الإعداد والإمداد وغيرها)
——————-
Sudah dimaklumi bahwa pedagang dan perniagaannya, perajin dengan karya tangannya, pegawai dengan tugasnya, petani dengan pertaniannya dan setiap pekerja dengan pekerjaannya membutuhkan keahlian terhadap bidang kerja yang dia geluti. Jika tidak berbekal keahlian maka akan berakhir dengan kegagalan. Sejauh mana tingkat keahlian, kecakapan dan kemahiran yang dimilikinya maka sejauh itu pula keberhasilan yang dapat diwujudkannya.
————–
Perang itu akan menentukan hidup dan mati, mulia atau hina, haq atau batil yang akan berkuasa. Dan perang juga akan membuat persaingan dalam hal kemampuan, kecakapan, kekuatan dan keahlian. Telah berkembang teknik-teknik, cara-cara serta siasat perang dan telah masuk ke dalam bagiannya berbagai cabang ilmui pengetahuan, dan telah dipergunakan di dalamnya berbagai jenis industry senjata dan ciptaan-ciptaan baru (dalam bidang persenjataan); dan telah ditundukkan di dalamnya hampir seluruh kekuatan dan kemampuan. Sehingga jadilah dia sebagai suatu kegiatan yang saling berjalinan, saling terkait dan terkoordinasi dengan rapi.
Jika demikian, dalam peprangan dibutuhkan suatu pengalaman dan keahlian khusus dalam hal strategi perang dan taktik-taktik tempur, baik taktik perang ofensif dan defensive, gerilya atau perang kota, operasi-operasi perang darat, perang laut, perang opini / propaganda / urat syaraf, atau perang politik ekonomi, pemikiran dan yang lainnya.—————-
Juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap jenis-jenis senjata, cara mengoperasikannya, memperbaiki dan merawatnya. Dan dalam perang juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap cara-cara dan sasaran-sasaran penyediaan dan pengirimanan bantuan yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pasukan yang berperang. Sebagai tambahan, sekarang ini Dinas Keamanan dan staf-staf ahli yang bekerja di dalamnya dengan peralatan-peralatan canggih dan alat-alat komunikasi, spionase dan mata-mata yang mereka miliki mempunyai peran yang sangat efektif dalam menentukan keberhasilan suatu operasi militer dan mewujudkan kemenangan di dalamnya.——————-

Semua itu dituntut dan sangat perlu dipersiapkan dan disediakan. Karena pentingnya sisi persoalan ini, maka didirikanlah akademi-akademi militer, pendidikan-pendidikan khusus dan diklat-diklat militer di sebagian besar Negara-negara di dunia.
——————
Maka dari itu sudah seyogyanya bagi umat islam untuk mempersiapkan seluruh kekuatan yang mereka miliki dan seluruh kemampuan yang mereka sanggupi supaya mereka punya kesiapan dan sudah siap ketika ada seruan yang memerintahkkan mereka untuk berperang.——————-
Alloh swt berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakanb langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram.; itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya dirirmu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya danketahuilah bahwasanya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36).———-

Rosululloh bersabda:
من علم الرمي ثم تركه فليس منا

“Barangsiapa yang telah diajari melempar, kemudian meninggalkannya maka ia bukan golongan kami. (HR. Muslim).—————

Rosululloh bersabda;
من تعلم الرمي ثم تركه فقد عصانى

“Barangsiapa yang belajar melempar (panah atau yang sejenisnya) kemudian dia meninggalkannya, maka sesungguhnya ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Ibnu Majah).—————–

Dari Salman bin Akwa, dia berkata, Nabi pernah melewati sebuah kaum yang sedang memanah, lalu beliau berkata dengan lantang, “Melemparlah kalian wahai anak-anak Ismail, karena sesungguhnya Bapak kalian adalah seorang pemanah. Saya akan bersama Bani Fulan.” Tetapi kemudian salah satu kelompok itu tidak ikut memanah. Rosuluulloh bertanya, ‘Kenapa kalian tidak ikut memanah?’Bagaimana kami (berani) melempar jika tuan bersama mereka?!’ jawab mereka. Lalu beliau berkata, “melemparlah kalian, saya bersama kalian semua.” (HR. Bukhori).——————–

Rosululloh bersabda:

“Melemparlah dan menunggang (kuda)lah, tetapi aku lebih suka kalian melempar daripada menunggang. Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah batil (sia-sia/tidak berguna), kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya atau seseorang yang melatih kudanya atau seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya. Sesungguhnya ketiga hal itu termasuk perkara yang haq. Dan barangsiapa meninggalkan melempar setelah belajar, maka sesungguhnya ia telah mengkufuri (nikmat) sesuatu yang telah diajarkan kepadanya.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan Al Baihaqi.
Nabi saw sering bermusyawarah dengan para sahabatnya, khususnya mereka yang memiliki keahlian dan pengalaman, ketika beliau hendak memerangi musuh dan yang lain, maka beliau sendiri pandai dalam persoalan tersebut meski beliau mendapat wahyu.————-

C. Strategi Perang (التخطيط القتالي)—————-
Yakni dengan membuat langkah-langkah sebagai berikut.
· Spesifikasi target (بتحديد الهدف).
· Taktik yang matang (وإحكام الخطة).
· Pelaksanaan yang tuntas (ودقةالتنفيذ).
——————
Yang dimaksud dengan “strategi perang” adalah suatu planning (rencana) operasi yang lengkap, representative dan jelas dari medan peperangan, lebar dan panjang areanya; dapat diiliustrasikan dengan jelas melalui sketsa tersebut, posisi-posisi lawan serta lokasi-lokasi pertahanannya, peralatan pendukung, pasukan, senjata, logistic dan sebagainya.—————

Sebagaimana dijelaskan pula di dalamnya tahap-tahap perang, taktik-taktik, kemungkinan-kemungkinannya, solusi serta antisipasi terhadap setiap terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang ada.—————

Dengan cara tersebut akan meminimalkan penyimpangan dan hal-hal mendadak yang terjadi di luar perhitungan dan bias dihindari dengan melakukan antisipasi secara cepat dan dadakan. Kecuali pada momen keadaan atau kondisi tertentu yang mana komandan pasukan, melalui kejelian pandangan serta kecerdikannya, merasa perlu melakukan perubahan strategi lain yang lebih tepat, dan mengganti taktik kepada taktik yang lain yang lebih pas untuk keuntungan pasukan dalam pertempuran.————–

Dalam penyusunan strategi ini perluu sekali melibatkan seluruh pakar dan ahli (militer yang kompeten) dengan tetap menjaga kerahasiaannya, agar jangan sampai ada informasi apapun yang bocor kepihak lawan, yang mana kebocoran tersebut bias mengakibatkan kegagalan dan kekalahan bahkan kehancuran. Adalah Rosululloh saw biasa merancang strategi bagi setiap peperangan yang diterjuninya.———–

Dalam perang Uhud, beliau saw menerangkan medan pertempuran dan menentukan lokasi-lokasi bagi pasukan pemanah dan pasukan tempur. Serta membagi-bagi tugas, memberikan pesan-pesan peringatan agar supaya tidak terjadi kegagalan strategi dan menderita kerugian. Al Qur’an telah menjelaskan hal tersebut melalui ayat:——–

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Al Imron: 121-122).———————

Dalam peperangan Khoibar, adalah orang Yahudi telah bersekutu dengan Bani Ghatafan untuk membantu melawan kaum Muslimin, apabila kaum Muslimin menyerang mereka di negeri mereka, Khaibar. Nabi saw diberitahu persekutuan tersebut. Maka beliau saw menggerakkan pasukan ke perkampungan Bani Ghatafan. Hal ini untuk memberikan kesan seolah-olah ia bermaksud untuk menyerang mereka. Kemudian, beliau berbalik menuju Khaibar, setelah mengirim sekelompok pasukan dari para sahabatnya untuk menyerbu perkampungan Bani Ghatafan, yang sudah tidak mempunyai kekuatan dan penjagaan karena orang-orangnya pergi ke Khaibar membantu orang-orang Yahudi melawan kaum Muslimin. Berita penyerbuan yang dilakukan kaum Muslimin menimbulkan ketakutan di kalangan Bani Ghatafan. Dan maneuver tersebut memaksa menarik kekuatan yang berada di Khaibar dan membawanya balik ke negeri mrereka., untuk mempertahankan dan menjaga negeri mereka dari ancaman dan serbuan kaum Muslimin.——————–

Demikianlah strategi dan siasat berhasil dalam mengelabuhi Yahudi Khaibar dan sekutunya Bani Ghatafan. Selanjutnya pasukan Islam meneyerbu mereka dan akhirnya berhasil menaklukan Khaibar.———————

Dalam perang Adzab, Nabi saw diberi saran untuk menggali parit pada arah satu-satunya yang memungkinkan musuh ke kota Madinah –oleh karena, kota Madinah terlindung kuat secara alami, dengan perbukitan di sisi timur dan baratnya, sedangkan di sisi selatan dengan kebun-kebunnya-, Beliau saw menerima saran tersebut, lalu memerintahkan kaum Muslimin menggali parit. Parit tersebut memaksa pasukan musuh menghentikan gerak majunya dan membuat perkemahan di belakangnya. Musuh tidak mampu melewatinya sampai akhirnya pasukan musuh menjadi kacau balau dan terpaksa harus mundur. Dan Alloh menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan.——————

Nu’aim bin Mas’ud ra mempunyai peranan besar dalam merusak persekutuan antara Yahudi Madinah dengan pasukan Ahzab. Yang demikian itu adalah berkat siasatnya yang jitu. Alloh berfirman mengisahkan kejadian dalam perang ini.————

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan [1209]. dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan dia menurunkan orang-orang ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 25-27).———–

Dari Ka’ab bin Malik ra, dia berkata “Adalah Nabi apabila bermaksud melakukan peperangan, maka beliau menyamarkan tujuan kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud).
Dari Ka’ab bin Malik ra, dia juga berkata “ Belum pernah Rosululloh saw bermaksud melakukan Sahr, melainkan pasti beliau menyamarkan kepada tujuan yang lain.” (HR. Al Bukhri dan Muslim).——————

Rosululloh saw bersabda,
الحرب خدعة
“Peperangan adalah tipu daya.” (HR.Muslim).—————

Rosululloh saw bersabda,
“Setiap kebohongan akan dicatat (sebagai dosa) atas anak Adam, kecuali dalam tiga hal: 1) seorang dalam berbohong ketika berperang, karena perang adalah tipu daya. 2) seseorang yang berbohong kepada isterinya untuk menyenangkannya. 3) seseorang yang berbohong kepada dua orang yang bersengketa untuk mendamaikan mereka. (HR. At Thabrani dan Ibn Sina).———————

Dan diriwayatkan, “Amru bin Abdul Wadd Al Amiri melakukan perang tanding dengan Ali ra. Ketika keduanya telah berhadap-hadapan. Ali berujar, ‘Aku berperang tanding bukan untuk menghadapi dua orang’. Mendengar ucapan Ali ra, Amru menoleh ke samping. Dengan segera Ali melompat ke depan dan menghantam Amru dengan pedangnya. Maka berteriaklah Amru, ‘Engkau telah menipuku’. Ali menjawab dengan tenang, ‘perang adalah tipu daya’.”——————-

Kaum Muslimingenerasi awal sangat mahir dan lihai dalam menentukkan target-target operasi militer mereka, mematangkan taktik –taktik peperangan mereka dan membagi-bagi kesatuan dan formasi tempur mereka, sehingga dapat mengungguli seluruh pasukan Persia dan pasukan Romawi yang merupakan dua kekuatan paling kuat pada zamannya, baik dalam soal kesepian, keteraturan dan persenjataan.————-
——-
D. Persenjataan Perang (التسليح القتالي)———-
Yang terdiri dari:
· Persenjataan darat (بالتسليح البري).
· Persenjataan laut (والتسليح البحري).
· Persenjataan udara (والتسليح الجوي).
———————–
Senjata adalah alat perang dan bekal yang harus dibawa seorang prajurit dalam perang. Tanpa senjata, tidak akan ada dan tidak akan terjadi peperangan. Pasukan yang tak bersenjata adalah seperti kawanan domba, dan umat yang tak bersenjata tidak akan bisa bertahan hidup (di muka bumi), kalaupun masih bertahan hidup, maka sudah pasti mereka lemah dan hina seperti domba betina yang tak bertanduk.
Persejataan modern telah berkembang sedemikian pesat dan menjadi bermacam-macam dengan kekuatan yang sangat hebat dan menakutkan dan mengancam kehancuran dunia.——————
Perlombaan dalam pengembangan dan penemuan senjata-senjata perang akan terus berjalan terus dan menyedot anggaran dana yang paling besar. Seandainya perang dunia ketiga pecah dan senjata-senjata tersebut digunakan, pastilah ia akan menghancurkan dunia, melenyapkan peradabannya dan merubahnya menjadi puing-puing dan reruntuhan.———————
Oleh karenanya, sisi ini perlu diperhitungkan dan diberikan porsi perhatian yang sangat besar dan untuk menghadapi perang perlu dipersiapkan berbagai jenis senjata terbaru, terbagus dan kuat agar jangan sampai umat Islam menjadi mangsa empuk bagi senjata-senjata lawan. Sebab tidak logis dan tidak bisa diterima, menghadapi besi dan kayu atau menghadapi peluru dengan panah; atau menghadapi bom dengan batu.————-

Untuk keberhasilan suatu perang, maka seharusnyalah memakai persenjataan dan mendekati kemampuan senjata lawan, meski tidak harus mengimbanginya. Inilah minimal yang memungkinkan perang berjalan terus. Jika tidak, maka perang tersebut adalah perang bunuh diri, yang pada ghalibnya berkesudahan dengan kekalahan dan kebinasaan.—————–
Menyiapkan kekuatan senjata, masuk dalam makna firman Alloh swt

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60).———————-

Dalam Tafsir Al Qurtubi diterangkan makna firman Alloh swt:———-

Suatu perintah dari Alloh kepada orang-orang beriman agar mereka menyiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sesungguhnya Alloh jika mau, maka bisa saja Dia mengalahkan mereka dengan kalam (ucapan) dan menaburi wajah mereka dengan segenggam debu, seperti yang pernah dilakukan oleh Rosululloh saw, akan tetapi Alloh hendak menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dengan ilmuNya yang mendahului segala sesuatu dan ketetapanNya yang pasti berjalan. Segala kebaikan yang kamu siapkan untuk musuhmu, maka iamasuk dalam bekal persiapanmu.———-
Ibn Abbas ramengatakan bahwa kekuatan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah senjata dan kekerasan.————
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, dia berkata, “Aku mendengar Rosululloh saw berkata di atas mimbar, setelah membaca ————

—————–
Lalu berkata, “Ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar.”——-

Ini adalah nash hadits yang diriwayatkan dari Uqbah Abu AliTsumamah bin Syafi Al Hamdzani. Sedangkan Muslim tidak mempunyai periwayatan hadits yang shohih tentang persoalan ini selain daripadanya.————
————
Dan hadits lain dalam masalah “melempar”, juga dari ‘Uqbah. Dia berkata, ‘Aku mendengar Rosululloh bersabda,——-
“Kelak akan ditaklukan untuk kalian negeri-negeri dan Alloh mencukupkan atas kalian, maka janganlah seseorang di antara kalian merasa malas untuk mempermainkan panahnya.” (HR. Muslim).

Rosululloh saw bersabda:–
“Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil (sia-sia/tidak berguna) kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya, sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq.”———–
Mempersiapkan bekal untuk perang memperkuat kaum Muslimin serta menggetarkan musuh-musuh Alloh. Yang terakhir ini adalah musuh-musuh yang tidak kelihatan yang dimaksudkan dalam firman Alloh swt————
“… dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60) {Tafsir Ath Thabrani}.———–

Memberikan bekal persiapan seseorang untuk berperang di jalan Alloh serta berinfak di dalamnya adalah seperti berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang memberikan bekal persiapan / perlengkapan adalah seperti orang yang berperang.

Rosululloh saw bersabda,
من جهز غازيا حتى يستقل كان له مثل أجره حتى يموت أو يرجع
“Siapa yangmempersiapkan perlengkapan orang yang akan berperang sampai ia bisa berangkat, maka orang tersebut akan memperoleh pahala sepertinya, sampai yang berperang mati atau kembali.” (HR. Ibn Majah).——————–

Rosululloh saw bersabda,
“Sesungguhnya Alloh akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah lantaran satu panah; pembuatnya yang memiliki niat kebaikan dalam membuatnya, orang yang membantu menyodorkan anak panahnya kepada orang yang membidikkannya damn orang yang membidikkannya. Melemparlah dan menungganglahkalian, tetapi aku lebih suka melempar daripada menunggang. Dan segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil, kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan isterinya. Sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq. Dan siapa saja yang telah diajari Alloh melempar kemudian ia meninggalkannya karena telah tidak menyukainya lagi, maka sesungguhnya itu adalah nikmat yang ia kufuri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’I dan Ibn Majah).
Alloh berfirman:———————-

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. At Taubah: 41).———————–

Perkembangan persenjataan perang merupakan reaksi positif dan kelanjutan dari apa yang telah dimiliki kaum Muslimin dahulu.————–
Pada zaman Nabi saw, kaum Muslimin telah menggunakan senjata Manjanik, pelempar batu (lebih kecil dari Manjanik) dan kendaraan pendobrakuntuk mengepung serta mendobrak benteng-benteng dan gerbang-gerbang pertahanan lawan.
Rosul saw pernah mengutus beberapa orang sahabat ke daerah Jarasy –di Negara Syam- untuk mempelajari pembuatan senjata. Kemudian kaum muslimin membuatnya sendiri dan Rosul saw memeprgunakannya dalam pengepungan kota Thoif serta negeri Khaibar.
Jumlah pasukan berkuda berkembang secara kontinyu. Pada perang Badr, jumlah prajurit dalam pasukan Rosul ada 12 orang saja dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 314 orang. Sementara perkembangan jumlah prajurit berkuda pada perang Tabuk mencapai 12.000 orang dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 30.000 orang. —

Kemudian pada periode selanjutnya persenjataan laut mulai dikembangkan oleh Kaum Muslimin. Mereka membuat rumah-rumah galangan untuk membuat kapal, yang diarsiteki oleh pakar-pakar yang mereka miliki. Di samping itu, telah dibuka pula akademi-akademi perang untuk melatih taktik-taktik perang di laut.————

Berkembanglah persenjataan laut yang dimiliki kaum Muslimin. Sehingga mereka menjadi armada laut yang terkuat di zamannya. Bahkan berhasil mengungguli armada laut bangsa Romawi, yang sebelumnya merupakan aramada laut paling kuat dan paling tangguh pada zamannya. Armada-armada laut ini (menurut penuturan Ibn Kaldun) melarikan diri ketika menghadapi armada laut Islam yang mengaum di hadapan mereka seperti auman singa yang melihat mangsanya.——————-

Pada zaman Khalifah Utsman bin Affan ra, bangsa Romawi keluar dari Negara mereka untuk memerangi kaum Muslimin dengan armada laut mereka yang berkekuatan 500 buah kapal prang di bawah pimpinan Konstantin putra Heraklius, Raja Romawi. Armada mereka bergerak menuju negeri Maghrib (sekarang adalah wilayah Negara Maroko dan sekitarnya). Kemudian kaum Muslimin menyongsong kedatangan mereka dengan armada laut mereka yang berkekuatan 200 kapal perang di bawah pimpinan Abdulloh bin Sa’ad bin Abu As Sarh.———————

Maka bertemulah kedua pasukan itu dalam pertempuran yang sangat sengit, yang terkenal dengan sebutan “Mauqi’ah Dzatus Shawar” (lantaran banyaknya kapal-kapal perang yang dikerahkan dalam peperangan tersebut). Dalam peperangan tersebut, panglima pasukan Romawi, Constantin terluka parah, yang mengakibatkan kekalahan di pihak pasukannya. Maka kemudian mundurlah dia dengan tentaranya yang tersisa, meninggalkan medan pertempuran. Sehingga kemenangan diraih oleh kaum Muslimin. Dengan kemenangan ini, maka jadilah perairan Laut Tengah sebagai perairan islam yang di kuasai kaum Muslimin, yang mana kapal-kapal mereka bisa berlayar ke mana saja dengan bebas dan aman.———-
====================

berbagai sumber
wallahu a’lam

PERBEDAAN dan HUKUM bagi pelaku KORUPSI / GHULUL, MENCURI, dan MERAMPOK ——————— MENCURI ——– Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang. ——— “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295) ———— Syarat dan KetentuanSuatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :———— 1. Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal—- 2. Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi—– 3. Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri– 4. Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain— 5. Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab– 6. Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.— —-Dampak Mencuri— Dampak mencuri dapat dibagi menjadi dua yaitu :— —-1. Bagi Pelakunyaa. ——— a. Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar— b. Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku— c. Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat—- d. Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih.—- —-2. Bagi Korban & Masyarakata. —- a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya— b. Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam—- c. Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.—– —-Hukuman Bagi Pencuri———– Mencuri adalah dosa besar dan orang yang yang mencuri wajib dihukum, yaitu:—– a. Mencuri yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya——- b. Mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya.——— c. Mencuri yang ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya.———– d. Mencuri yang ke empat kalinya, dipotong kaki kanannya——– e. Kalau masih mencuri, maka ia dipenjara sampai tobat———- ——– Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. Al-Maidah : 38 )——— Artinya : Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. ( Qs. Al-Hijr : 18 )————- ————- Syarat hukum potong tangan———– 1. Pencuri tersebut; sudah baligh, berakal, san melakukan pencurian degan kehendaknya bukan paksaan– 2. Barang yang dicuri sampai nisab (+ 93,6 gram emas), dan barang itu bukan milik si pencuri— ————— Hukuman Bagi Perampok——- 1. Bagi perampok yang membunuh orang yang dirampoknya dan mengambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib di bunuh; sesudah dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur)——– 2. Bagi perampok yang mebunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya hanya dibunuh saja.———- 3. Bagi perampok yang hanya mengambil harta bendanya saja, sedang orang orang yang dirampoknya tidak dibunuh, dan harta yang diambil sampai nisab, maka perampok trsebut mendapat hukuman potong tangan kanan dan kaki kirinya.———– 4. Bagi perampok yang hanya menakut-nakuti saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya adalah penjara atau hukuman lainnya yang dapat membuat jera, agar ia tidak mengulanginya.——— —————— Artinya : Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs. Al-Mumtahanah : 12 )——– Artinya : Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.” ( QS. Yusuf : 77 )————— Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, ( QS. Al-Maidah : 33 )———– Maksudnya Ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi Maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.——— Artinya : kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Maidah ayat 34 )———— —— KORUPSI —— Pengertian Korupsi ——– Korupsi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Arti kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.———- Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam undang-undang korupsi yang berlaku di Malaysia korupsi diartikan sebagai reswah yang dalam bahasa Arab bermakna suap.—— –Ayat dan Hadist Tentang Korupsi———— Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. ( QS. Al-Baqarah: 188 )————– Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi. ( QS. Ali Imran :161 )———— Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar. ( QS. Al-Maidah : 33 ) — Artinya : Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al-Maidah : 38 )—————- Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob ( QS. Al-Kahfi : 79 )————— – Sebenarnya korupsi dari asal kata yang mengandung banyak defenisi, sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. Termasuk ke dalam makna korupsi adalah suap. ———- Pengertian korupsi yang banyak tersebut dilihat dari sudut pandang fiqih Islam juga mempunyai dimensi-dimensi yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena beberapa defenisi tentang korupsi merupakan bagian-bagian tersendiri dari fiqih Islam. Adapun pengertian yang termasuk makna korupsi dalam fiqih Islam adalah sebagai berikut:— • Pencurian—- • Penggunaan Hak orang lain tanpa izin– • Penyelewengan harta negara (ghanimah)– • Suap– • Khianat— • Perampasan— Pada Surat Al-Baqarah ayat 188 disebutkan secara umum bahwa Allah SWT melarang untuk memakan harta orang lain secara batil. Qurtubi memasukkan dalam kategori larangan ayat ini adalah: riba, penipuan, ghosob, pelanggaran hak-hak, dan apa yang menyebabkan pemilik harta tidak senang, dan seluruh apa yang dilarang oleh syariat dalam bentuk apapun.———— Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk: • Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).————- • Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.——— Asbabunnuzul ayat ini diturunkan kepada Abdan bin Asywa’ al-Hadhramy menuduh bahwa ia yang berhak atas harta yang ada di tangan al-Qois al-Kindy, sehingga keduanya bertengkar di hadapan Nabi SAW. Al-Qois membantah dan ia mau bersumpah untuk membantah hal tersebut, akan tetapi turunlah ayat ini yang akhirnya Qois tidak jadi bersumpah dan menyerahkan harta Abdan dengan kerelaan. Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larang memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, apalagi dengan jalan membawa ke depan hakim, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya ————————- harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.————— Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan, ketika dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.———– Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXI/272).————– Dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara). (Nadhratun Na`im, XI. Hlm. 5131)————– Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri”. (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).———– Ibnu Hajar Al Haitami (wafat: 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).———— Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi)”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36.)————- Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi. (Jaraimul Fasad fil Fiqhil Islami, Hal. 99)———– ——–Hukum Potong Tangan untuk Koruptor ?—— Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila disamakan dengan pencuri, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.———— Allah berfirman, yang artinya, “>وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38).———— Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa batas maksimal harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat diatas di-taqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.———— Kemudian, para ulama menyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya: Barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada di kamar tidur untuk barang berharga, semisal: Emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.—————- Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman untuk pencuri buah kurma, “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu: 1/4 dinar (± 1,07 gr emas).” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).——————— Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya.” (HR. Muslim)——————- Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.————- Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.————– Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan. Karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum dengan dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya“. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).—————- Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Karena dia dapat mengambil harta orang lain yang disimpan dengan perangkat keamanan apapun. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri, telah dipotong.————- Sementara orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan, ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya. (Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in, jilid II, Hal. 80)———- Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga. Seorang koruptor tetap layak untuk dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor sebagai berikut:————- Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.———– Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).————- Kedua, hukuman ta’zir.———— Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, jilid XII, hal 276.)———– Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.———— Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.—————– Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.—————- Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.——————– Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).————— Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).———– ——-Kesimpulan dari tulisan di atas:—— 1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya sebagai orang yang diberi amanah.—— 2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat, lebih besar akibatnya dari pada pengkhianatan harta milik pribadi.———- 3. Pengkhianatan terhadap harta yang menjadi amanah disebut ghulul.———– 4. Termasuk kategori ghulul adalah tindak korupsi terhadap uang negara.———– 5. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri, antara lain:———– Harus mencapai nilai minimal: 1/4 dinar (1,07 gr emas).——– Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).—— 6. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul), termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya, melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).——— 7. Hukuman untuk pelaku kriminal ada 2:——– Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, disebut hudud.——— Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada keputusan hakim, disebut ta’zir.————- 8. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah sebagai berikut:————— Dipaksa untuk mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.——— Hukuman ta’zir. Hukuman ini bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan pada keputusan hakim.———–

hukum mencuri korup

PERBEDAAN dan HUKUM bagi pelaku KORUPSI / GHULUL , MENCURI, dan MERAMPOK

———————
MENCURI ——–
Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang. ———
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295) ————

Syarat dan KetentuanSuatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :————
1. Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal—-
2. Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi—–
3. Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri–
4. Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain—
5. Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab–
6. Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.—

—-Dampak Mencuri—
Dampak mencuri dapat dibagi menjadi dua yaitu :—
—-1. Bagi Pelakunyaa. ———
a. Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar—
b. Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku—
c. Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat—-
d. Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih.—-
—-2. Bagi Korban & Masyarakata. —-
a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya—
b. Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam—-
c. Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.—–

—-Hukuman Bagi Pencuri———–
Mencuri adalah dosa besar dan orang yang yang mencuri wajib dihukum, yaitu:—–
a. Mencuri yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya——-
b. Mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya.———
c. Mencuri yang ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya.———–
d. Mencuri yang ke empat kalinya, dipotong kaki kanannya——–
e. Kalau masih mencuri, maka ia dipenjara sampai tobat———-
——–
Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. Al-Maidah : 38 )———
Artinya : Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. ( Qs. Al-Hijr : 18 )————-
————-
Syarat hukum potong tangan———–
1. Pencuri tersebut; sudah baligh, berakal, san melakukan pencurian degan kehendaknya bukan paksaan–
2. Barang yang dicuri sampai nisab (+ 93,6 gram emas), dan barang itu bukan milik si pencuri—
—————
Hukuman Bagi Perampok——-
1. Bagi perampok yang membunuh orang yang dirampoknya dan mengambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib di bunuh; sesudah dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur)——–
2. Bagi perampok yang mebunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya hanya dibunuh saja.———-
3. Bagi perampok yang hanya mengambil harta bendanya saja, sedang orang orang yang dirampoknya tidak dibunuh, dan harta yang diambil sampai nisab, maka perampok trsebut mendapat hukuman potong tangan kanan dan kaki kirinya.———–
4. Bagi perampok yang hanya menakut-nakuti saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya adalah penjara atau hukuman lainnya yang dapat membuat jera, agar ia tidak mengulanginya.———
——————
Artinya : Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs. Al-Mumtahanah : 12 )——–

Artinya : Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.”
( QS. Yusuf : 77 )—————

Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, ( QS. Al-Maidah : 33 )———–
Maksudnya Ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi Maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.———

Artinya : kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Maidah ayat 34 )————

—— KORUPSI ——
Pengertian Korupsi ——–
Korupsi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Arti kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.———-
Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam undang-undang korupsi yang berlaku di Malaysia korupsi diartikan sebagai reswah yang dalam bahasa Arab bermakna suap.——

–Ayat dan Hadist Tentang Korupsi————
Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. ( QS. Al-Baqarah: 188 )————–

Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi. ( QS. Ali Imran :161 )————

Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar. ( QS. Al-Maidah : 33 ) —

Artinya : Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al-Maidah : 38 )—————-

Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob ( QS. Al-Kahfi : 79 )—————

Sebenarnya korupsi dari asal kata yang mengandung banyak defenisi, sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. Termasuk ke dalam makna korupsi adalah suap. ———-
Pengertian korupsi yang banyak tersebut dilihat dari sudut pandang fiqih Islam juga mempunyai dimensi-dimensi yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena beberapa defenisi tentang korupsi merupakan bagian-bagian tersendiri dari fiqih Islam. Adapun pengertian yang termasuk makna korupsi dalam fiqih Islam adalah sebagai berikut:—
• Pencurian—-
• Penggunaan Hak orang lain tanpa izin–
• Penyelewengan harta negara (ghanimah)–
• Suap–
• Khianat—
• Perampasan—
Pada Surat Al-Baqarah ayat 188 disebutkan secara umum bahwa Allah SWT melarang untuk memakan harta orang lain secara batil. Qurtubi memasukkan dalam kategori larangan ayat ini adalah: riba, penipuan, ghosob, pelanggaran hak-hak, dan apa yang menyebabkan pemilik harta tidak senang, dan seluruh apa yang dilarang oleh syariat dalam bentuk apapun.————
Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk:
• Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).————-
• Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.———
Asbabunnuzul ayat ini diturunkan kepada Abdan bin Asywa’ al-Hadhramy menuduh bahwa ia yang berhak atas harta yang ada di tangan al-Qois al-Kindy, sehingga keduanya bertengkar di hadapan Nabi SAW. Al-Qois membantah dan ia mau bersumpah untuk membantah hal tersebut, akan tetapi turunlah ayat ini yang akhirnya Qois tidak jadi bersumpah dan menyerahkan harta Abdan dengan kerelaan.
Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larang memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, apalagi dengan jalan membawa ke depan hakim, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya
————————-
harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.—————

Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan, ketika  dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.———–

Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXI/272).————–

Dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara). (Nadhratun Na`im, XI. Hlm. 5131)————–

Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri”. (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).———–

Ibnu Hajar Al Haitami (wafat: 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).————

Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi)”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36.)————-

Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi. (Jaraimul Fasad fil Fiqhil Islami, Hal. 99)———–

——–Hukum Potong Tangan untuk Koruptor ?——

Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila disamakan dengan pencuri, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.————

Allah berfirman, yang artinya,

“>وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38).————

Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa batas maksimal harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat diatas di-taqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.————

Kemudian, para ulama menyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya: Barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada di kamar tidur untuk barang berharga, semisal: Emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.—————-

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman untuk pencuri buah kurma, “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu: 1/4 dinar (± 1,07 gr emas).” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).———————

Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya.” (HR. Muslim)——————-

Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.————-

Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.————–

Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan. Karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum dengan dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya“. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).—————-

Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Karena dia dapat mengambil harta orang lain yang disimpan dengan perangkat keamanan apapun. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri, telah dipotong.————-

Sementara orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan, ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya. (Ibnu Qayyim,  I’lamul Muwaqqi’in, jilid II, Hal. 80)———-

Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga. Seorang koruptor tetap layak untuk dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor sebagai berikut:————-

Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.———–

Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).————-

Kedua, hukuman ta’zir.————
Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah,  jilid XII, hal 276.)———–

Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.————

Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.—————–

Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.—————-

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.——————–

Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).—————

Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).———–

——-Kesimpulan dari tulisan di atas:——

1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya sebagai orang yang diberi amanah.——

2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat, lebih besar akibatnya dari pada pengkhianatan harta milik pribadi.———-

3. Pengkhianatan terhadap harta yang menjadi amanah disebut ghulul.———–

4. Termasuk kategori ghulul adalah tindak korupsi terhadap uang negara.———–

5. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri, antara lain:———–

  • Harus mencapai nilai minimal: 1/4 dinar (1,07 gr emas).——–
  • Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).——

6. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul), termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya, melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).———

7. Hukuman untuk pelaku kriminal ada 2:——–

  • Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, disebut hudud.———
  • Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada         keputusan hakim, disebut ta’zir.————-

8. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah sebagai berikut:—————

  • Dipaksa untuk mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.———
  • Hukuman ta’zir. Hukuman ini bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan pada keputusan hakim.———–

Penjelasan di atas merupakan sinopsis dari salah satu artikel karya Dr. Erwandi Tarmidzi, yang diterbitkan di Majalah Pengusaha Muslim edisi 27. Pada edisi ini, Majalah Pengusaha Muslim mengupas berbagai kasus dalam dunia kerja, baik negeri maupun swasta.

Allah menciptakan berPASANGAN, termasuk TAKDIR Allah yang BAIK atau pun yang BURUK adalah rukun Iman yang ke 6. ———————- Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. ———————— Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim) —————- Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————– “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———- “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]——— Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————- —-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——– Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.—— Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———– Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————- Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————– Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]———— Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——- Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——- ”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————- Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz——— Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]—————— Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.——— Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——– “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———- Allah Maha Berkehendak——————– Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———- ”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———– Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————- Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]————— Mendekat Kepada Allah————- Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.———— Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————- Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]——— Berserah diri Kepada Allah——————- Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———– Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——- “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]——— Menerima Ketetapan/Takdir Allah————– Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————- Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——– Jangan Putus Asa!————— Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——– Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————– Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————- Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]———— Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]——— Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.———— Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————- Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—– ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,— (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———- Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———- ”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———– Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———- Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——– sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———– ”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————- Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita——— Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——– ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———- ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]——— “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——- ———Berusaha Mencari Karunia Allah——- Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.———— ”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——- Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————– ========= Allah Maha Tahu =========== Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan———— Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)————— Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:— Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)—————— Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————– Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—-

rukun iman percaya takdir

Allah menciptakan berPASANGAN, termasuk  TAKDIR Allah yang BAIK atau pun yang BURUK adalah rukun Iman yang ke 6.
———————-
Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir.

————————

Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim) —————-

Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————–

“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———-

“Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]———

Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————-

—-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——–

Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.——

Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———–

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————-

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————–

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]————

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——-

Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——-

”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————-

Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz———

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]——————

Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.———

Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——–

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———-

Allah Maha Berkehendak——————–

Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———-

”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———–

Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————-

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]—————

Mendekat Kepada Allah————-

Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.————

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————-

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]———

Berserah diri Kepada Allah——————-

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———–

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——-

“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]———

Menerima Ketetapan/Takdir Allah————–

Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————-

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——–

Jangan Putus Asa!—————

Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——–

Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————–

Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————-

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]————

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]———

Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.————

Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————-

Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—–

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,—

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———-

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———-

”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———–

Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———-

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——–

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———–

”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————-

Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita———

Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——–

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———-

”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]———

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——-

———Berusaha Mencari Karunia Allah——-

Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.————

”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——-

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————–

========= Allah Maha Tahu ===========

Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan————

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:

Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)—————

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:—

Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)——————

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————–

Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—-
==========================

Qadha’ dan Takdir dari Sisi Kehendak Allah Swt.

=============================
Qadha’ dan takdir dari sisi kehendak Allah Swt. terbagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama, kehendak yang telah tertuang di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sesungguhnya kalimat Syâ-a, Yasyâ-u, Masyî-atan mempunyai makna kehendak, dan redaksi ini banyak disebutkan melalui firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Adapun hubungan kata kehendak Allah Swt. dengan takdir sangatlah erat kaitannya.

Sesungguhnya kehendak Allah Swt. adalah asal mula terjadinya atau timbulnya segala sesuatu. Ayat Al-Qur’an banyak menyebutkan hakikat tersebut di dalam beberapa firman Allah Swt. berikut ini, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok pagi, kecuali –dengan menyebut– insya Allah.[1] Dan segera ingatlah kepada Rabbmu jika engkau lupa, lalu katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini,’” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, siapa saja yang berencana melakukan sesuatu esok hari, maka janganlah ia hanya mengandalkan keinginannya saja tanpa bersandar kepada kekuatan dan izin dari sisi Allah. Sebab, kita semua tidak dapat berbuat sesuatu apa pun jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, setiap orang harus mengerti bahwa segala sesuatu yang dikehendakinya sangat erat hubungannya dengan ketetapan Allah Swt.. Sehubungan dengan masalah ini, Rasulullah Saw. pernah mengajarkan kepada kita, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau berikut ini, “Abu Hurairah ra. menuturkan, Sulaiman bin Daud as. pernah mengatakan, ‘Pada malam ini aku akan menggauli seratus orang istriku, agar setiap orang di antara mereka melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah.’ Malaikat pun berujar kepada beliau, ‘Katakanlah Insya Allah.’ Akan tetapi, Nabi Sulaiman tidak mengatakannya, karena beliau terlupa. Maka beliau menggauli seratus orang istri beliau satu per satu pada malam itu, akan tetapi tidak seorang pun dari istri beliau yang berhasil melahirkan keturunan, kecuali seorang istri yang melahirkan seorang anak dalam kondisi cacat. Nabi Saw. pun mengatakan, ‘Andaikata beliau (Sulaiman) mengucapkan kalimat Insya Allah, maka apa yang ia rencanakan (kehendaki) akan terpenuhi.”[2]

Penjelasan dari hadis tersebut adalah, hendaknya setiap orang yang bersungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, maka selayaknya ia menyandarkan keinginannya hanya kepada Allah Swt. semata. Karena, ia tidak bisa melakukan segala sesuatu jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Apabila keinginan seseorang tidak mendapat izin dari Allah Swt., maka keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud sedikit pun, meski yang dikehendakinya itu sangatlah mudah dalam pandangan manusia.

Jika kita melihat segala kejadian yang berhubungan dengan takdir, maka kita akan yakin bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu apa pun, kecuali jika dikehendaki oleh Allah Swt.. Bahkan adakalanya kita telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, dan kita yakin bahwa kita dapat melaksanakannya dengan baik, akan tetapi akhirnya kita melihat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak kita itu. Meski, jika kita telah memperhitungkan secara teliti, namun kehendak Allah Swt. bertentangan dengan kita, maksudnya jika Allah tidak berkehendak bahwa sesuatu yang kita kehendaki itu akan terwujud, maka yang kita kehendaki itu tidak akan pernah terwujud, meskipun segala persyaratannya telah kita penuhi. Hal ini telah dijelaskan melalui firman Allah Swt. berikut ini, “Dan engkau tidak mampu menempuh jalan itu, kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (QS Al-Insân [76]: 30).

Apa pun yang tidak dikehendaki oleh Allah Swt., meskipun kita telah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, pasti tidak akan pernah mungkin terwujud. Akan tetapi, adakalanya dengan kasih sayang yang serba Maha Allah Swt. mengabulkan atau mewujudkan sesuatu yang dihendaki seseorang, dimana Allah menganggap kehendak orang tersebut sebagai do’a, dan kehendak Allah sebagai pengabulan atasnya. Sehingga kehendak Allah Swt. pasti bertepatan dengan kehendak manusia.

Kesimpulannya, kehendak Allah Swt. akan terlihat di semua sektor kehidupan, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah berikut ini, “Para Rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata secara langsung dengannya, dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam beberapa mukjizat, serta Kami perkuat ia dengan Ruh al-Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah para Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman, dan ada pula di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya,‛ (QS Al-Baqarah [2]: 253).

Andaikan tidak ada kehendak Allah Swt. dalam segala sesuatu, pasti kita tidak dapat mengerjakan atau mewujudkan sesuatu, meskipun kita telah bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Misalnya, kalau Allah Swt. tidak menghendaki kita berperang, tentu kita tidak akan pernah berperang, dan tidak akan pernah ada berjihad di jalan-Nya. Sebab, kehendak kita terkait erat dengan kehendak Allah Swt.. Apa pun yang telah dikehendaki oleh Allah Swt., maka pasti akan terwujud, dan Allah tidak mungkin ditanya tentang apa yang Dia lakukan, serta Dia tidak akan meminta pendapat dari siapa pun untuk melakukan kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, pasti Dia akan melakukan. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini, “Apa yang dihendaki oleh Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dihendaki oleh Allah, maka tidak akan terjadi.”[3]

Hadis di atas menyimpulkan, bahwa kehendak Allah Swt. pasti akan terwujud, dan apa pun yang yang tidak dikehendaki oleh Allah, pasti tidak akan terwujud. Sebab, segala sesuatunya berada di dalam kekuasaan Allah Swt.. Andaikata kaum Mu’tazilah atau kaum Jabbariyyah memahami hadis di atas dengan baik, maka sudah tentu mereka tidak akan mempunyai pendapat yang berlebihan tentang kehendak Allah Swt..

Demikian pula kehendak Allah Swt. sangat terkait erat dengan masalah keimanan dan petunjuk bagi seseorang. Orang-orang yang melihat masalah takdir dari sudut pandang ini, maka mereka akan berkata, ‚Sesungguhnya Iman adalah cahaya Allah Swt. yang dimasukkan ke dalam sanubari seseorang yang dikehendaki-Nya.‛ Dengan kata lain, meskipun engkau berusaha sekuat tenagamu untuk mengajak seseorang agar beriman kepada Allah Swt., maka engkau tidak dapat mengajaknya beriman jika tidak dikehendaki oleh Allah untuk beriman. Seseorang akan beriman jika Allah Swt. menyalahkan sinar keimanan di dalam sanubarinya. Sebaliknya, ia tidak akan beriman jika Allah Swt. tidak menghendaki- Nya beriman. Sebagaimana Allah Swt. sendiri yang telah berfirman, “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi, seluruhnya. Maka apakah engkau hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yûnus [10]: 99).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, jika Allah berkehendak maka pasti semua orang akan beriman. Oleh karena itu, janganlah engkau memaksa sebagian orang yang tidak mau beriman. Sebab, Allah Swt. tidak berkehendak semua orang beriman. Dalam masalah ini, terdapat firman Allah Swt. yang berbunyi sebagai berikut, “Dan jika perpalingan mereka darimu terasa amat berat bagimu, maka jika engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, maka buatlah.[4] Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang jahil,” (QS Al-An’âm [6]: 35).

Firman Allah Swt. di atas merupakan peringatan bagi pribadi Rasulullah Saw., bahwa yang berhak memberi petunjuk kepada seorang hanyalah Allah, bukan Nabi Saw., dan bukan pula yang lain. Jika Allah Swt. berkehendak, maka pasti semua orang akan beriman, atau akan masuk Islam. Akan tetapi, kehendak Allah Swt. tidaklah demikian. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat beriman, meskipun Nabi Saw. telah bersungguh-sungguh mengajak umat beliau untuk beriman. Sebagaimana Allah Swt. telah berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang datang sebelumnya, yaitu kitabkitab yang diturunkan sebelumnya, dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat saja, akan tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlombalombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu,” (QS Al-Mâidah [5]: 48).

Memang, kalau Allah Swt. berkehendak, pasti Dia akan menjadikan semua manusia berada dalam satu keyakinan yang sama, yaitu semuanya akan beriman kepada-Nya saja. Akan tetapi, Allah Swt. berkehendak lain, Dia telah menggariskan manusia menjadi berbagai macam aliran dan keyakinan. Oleh karena itu, setiap kelompok pasti akan berbeda dengan kelompok yang lain, sebagai ujian antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula kekuatan suatu negara atau keperkasaan seorang penguasa di atas penguasa yang lain akan silih berganti, antara yang satu dengan yang lain, semua itu terjadi atas kehendak Allah Swt. semata, bukan atas kehendak yang lain.

Selanjutnya, Allah Swt. juga telah berfirman, “Jika kalian pada peperangan Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itu pun pada peperangan Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan serta kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, supaya sebagian kalian dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 140).

Menurut ayat di atas, semua kekuatan akan silih-berganti, berpindah dari satu penguasa kepada yang lain. Semua itu terjadi menurut kehendak Allah Swt., bukan kehendak manusia. Demikian pula seperti yang telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kalian wahai manusia. Dan Dia datangkan umat yang lain sebagai pengganti kalian. Dan adalah Allah Mahakuasa berbuat demikian,” (QS Al-Nisâ’ [4]: 133).

Menurut firman Allah Swt. di atas, Allah mampu mengganti kelompok manusia yang lama dengan kelompok yang baru. Demikian pula Allah Swt. Mahamampu mengganti satu generasi dengan generasi yang baru. Seperti mengganti generasi para sahabat dengan generasi Umawi (Umayyah), kemudian menggantinya kembali dengan kelompok ‘Abbasi (‘Abbasiyyah). Setelah itu, menggantinya kembali dengan kelompok Saljukiyyah, dan dilanjutkan dengan kelompok ‘Utsmaniyyah. Dengan kata lain, warisan yang suci akan diberikan kepada generasi beriman yang shalih. Semua ketetapan Allah Swt. akan berjalan menurut kehendak-Nya, dan semua kehendak-Nya tidak dapat diubah oleh makhluk (manusia), meskipun diusahakan sambil dibantu oleh kekuatan yang lain (seluruh makhluk yang ada).

Memang, masalah agama adalah masalah yang terpenting dalam hidup ini. Sebab, hanya agama yang dapat menerangkan tujuan manusia hidup, berikut akibat di akhir kehidupannya. Demikian pula masalah agama dapat meletakkan segala sesuatu pada posisinya di tengah-tengah. Orang-orang yang menjaga agamanya secara baik, maka mereka dapat memimpin alam semesta ini dengan cara yang adil. Sehingga tidak ada yang lemah dan tidak ada pula yang lebih kuat, semuanya diatur menurut petunjuk agama yang baik.

Ketika seseorang jauh dari agamanya, maka batinnya menjadi kosong dari petunjuk agama. Demikian pula setiap kelompok manusia yang menjauhi agama, maka ia akan terjebak di kubangan materialis. Negara yang dibangun dengan sistem kufur selalu mangandalkan perekonomian dan kekuatan materialistis, akan tetapi mereka tidak mengakui adanya takdir Allah Yang Maha Berkuasa mengendalikan alam semesta dengan baik.

Di lain kesempatan, Allah Swt. juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, siapa saja di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang yang Mu’min, serta bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui,” (QS Al-Mâidah [5]: 54).

Kalimat murtad mempunyai arti kembali ke belakang atau keluar dari suatu agama. Al-Qur’an menujukkan kalimat murtad terhadap orang-orang yang sebelumnya beragama Islam, akan tetapi kemudian ia keluar dari Islam, sehingga ia meninggalkan akidah yang lama dan pemikiran yang sebelumnya ia sandang.

Seorang atau sekelompok orang yang telah mencapai kedudukan tertentu dalam agamanya, maka ia merupakan bagian yang paling penting dalam dakwah kepada Allah Swt.. Pada saat ia menyelami makna dari firman Allah Swt. di atas, maka ia merasa takut kalau ia kembali kepada kepercayaannya yang lama, yakni sebelum ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ia merasa lebih berhati-hati, jangan sampai ia terjebak ke dalam kepercayaan atau pikiran di luar ajaran Islam. Atau, ia selalu berhati-hati agar keimanan yang telah terpatri di dalam lubuk sanubarinya tidak dicabut oleh Allah Swt. dan diserahkan kepada orang lain.

Demikian pula halnya dengan suatu negara, jika mendasari pandangan hidup yang ada dengan agama, maka seluruh penduduknya akan menaruh perhatian terhadap firman-firman Allah Swt., dan mereka akan selalu berhati-hati ketika mendengar ancaman Allah yang disebutkan di dalam salah satu firman-Nya. Karena, jika keimanan seseorang dicabut dari lubuk sanubarinya, maka selama itu pula ia akan hidup dalam kesesatan.

Mari kita perhatikan kalimat qaumin yang diakhirii dengan huruf nun tankir. Maksudnya, kaum apa saja –selain kaum Muslim– adakalanya mereka tidak dikenali oleh orang banyak, dan tidak pula diketahui kapan munculnya serta dalam kondisi apa mereka mulai ada, akan tetapi mereka mempunyai beberapa sifat tertentu yang bisa dikenali dan merupakan ciri khas yang melekat pada diri mereka. Adapun jika sifat-sifatnya sama seperti apa yang telah diterangkan seperti dalam kandungan ayat di atas, maka kaum itulah yang telah dipuji oleh Allah Swt.. Sehingga tidak ada kaum lain yang berhak mengaku apabila sifat mereka tidak cocok dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dalam firman Allah Swt. di atas.

Adapun sifat-sifat utama dari kaum yang dipuji oleh Allah Swt. itu yang pertama adalah, Allah mencintai mereka dan Allah menakdirkan banyak orang mencintai mereka. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini, “Dari Abu Hurairah ra. ia mengatakan, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, ‘Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan mengatakan bahwa Allah telah mencintai si Fulan, maka cintailah ia. Lalu malaikat Jibril mencintainya, dan mengumumkan kecintaan Allah itu kepada orang tersebut di kalangan penduduk langit, hingga penduduk langit pun mencintai orang itu. Kemudian orang itu dicintai oleh penduduk bumi, sehingga ucapannya akan ditaati oleh penduduk bumi, dan ia sangat dipedulikan oleh penduduk bumi.’”[5]

Sifat yang kedua, ia juga mencintai Allah Swt.. Dengan kata lain, qalbunya selalu mengingat kepada Allah, menaati seluruh perintah-Nya, dan mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Sifat yang ketiga, ia sangat santun dalam bersikap kepada orang-orang yang beriman. Yaitu, ia tidak pernah menyombongkan dirinya kepada orang-orang yang beriman, sehingga ia dicintai oleh orang-orang yang beriman. Sifat yang keempat, ia tidak pernah tunduk kepada oang-orang kafir, ia selalu mengumumkan permusuhan kepada oang-orang kafir, karena ia merasa bahwa orang-orang kafir adalah musuhmusuh Allah Swt.. Sifat yang kelima, ia selalu berjuang di hadapan Allah Swt.. Dengan redaksi lain, orang itu senantiasa bersiap-siap menghadapi serangan musuh-musuh agama Allah Swt.. Sedangkan sifat yang keenam, ia tidak pernah takut oleh celaan orang-orang yang tidak senang dengan Islam dan umatnya, serta ia selalu membela agama Islam dan umatnya demi untuk mencari keridhaan Allah Swt..

Itulah kiranya sifat orang-orang yang pantas bertindak selaku pemimpin bagi Islam dan umatnya. Sebab, agama Islam adalah tuntunan Ilahi dan merupakan amanat yang suci. Jika bangsa ‘Arab saat ini mempunyai keenam sifat di atas, maka mereka berhak menjadi pemimpin Islam dan kaum Muslim. Demikian pula bangsa-bangsa lain yang mempunyai keenam sifat tersebut, maka mereka juga berhak menjadi pemimpin Islam dan kaum Muslim.

Selanjutnya terdapat pula firman Allah Swt. yang menyebutkan tentang beberapa dasar yang perlu diperhatikan oleh setiap Mu’min, bahwa Allah yang paling berwenang memberikan kedudukan yang mulia kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang berhak mencabut dari siapa pun apa yang dikehendaki-Nya. Allah Swt. berhak memberi kemuliaan bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan berhak pula mencabut kemuliaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya. Seperti disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau cerabut kerajaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 26).

Alhasil, bangsa apa pun yang tidak memiliki sifat-sifat kepemimpinan seperti yang dikehendaki oleh Allah Swt., maka kekuasaannya akan berantakan (tidak bertahan lama). Sebab, keenam dari sifat tersebut merupakan sifat-sifat utama bagi seorang pemimpin yang akan langgeng kekuasaannya.

Dari firman Allah Swt. di atas dapat diketahui, bahwa siapa saja yang ingin menjadi pemimpin yang adil dan dihormati oleh orang lain (rakyatnya), maka ia harus mempunyai keenam sifat di atas. Tanpa keenam sifat itu, maka ia tidak akan mendapat kedudukan yang tinggi. Sebab, yang menentukan kedudukan seorang hanyalah Allah Swt. semata. Karena semua yang terjadi di alam dunia ini harus sesuai dengan kehendak Allah Swt., seperti disebutkan di dalam firman- Nya berikut ini, “Mereka kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melaksanakan terhadap apa yang Dia kehendaki,” (QS Hûd [11]: 107).

Allah Swt. juga telah berfirman, “Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya,” (QS Al-Burûj [85]: 16).

Dengan kata lain, semua yang terjadi di alam dunia ini harus sesuai dengan kehendak dan takdir Allah Swt.. Tanpa itu, semuanya tidak akan pernah terwujud, meskipun dikehendaki oleh siapa pun.

Allah Swt. juga telah berfirman, “Rabb kalian lebih mengetahui tentang diri kalian. Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengadzab kalian jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga bagi mereka,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 54).

Allah Swt. juga telah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia serta mengetahui apa yang dibisikkan oleh qalbunya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri,” (QS Qâf [50]: 16).

Allah Swt. juga berfirman, “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam sanubari kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya serta menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS Al-Baqarah [2]: 284).

Demikian pula halnya dengan para Nabi, mereka tidak akan bertindak apa pun kecuali akan menyesuaikan tindakan mereka dengan kehendak Allah Swt.. Sebab, mereka merasa tidak mampu mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi diri mereka sendiri serta bagi orang lain. Seperti telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan, kecuali atas apa yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, serta aku tidak akan ditimpa kemudharatan karenanya. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman,” (QS Al-A’râf [7]: 188).

Dengan kata lain, kehendak Allah Swt. merupakan dasar bagi terwujudnya segala sesuatu, yang tanpa kehendak serta takdir dari-Nya maka segala sesuatu tidak akan pernah terwujud.

Demikian pula Nabi kita Muhammad Saw. senantiasa menyerahkan kehendak beliau kepada kehendak Allah Swt.. Seperti telah disebutkan dalam sabda beliau Saw. berikut ini, “Bersungguh-sungguhlah kalian, kuatkan persatuan kalian, dan bergembiralah kalian. Sesungguhnya tidak seorang pun akan dimasukkan ke dalam surga lantaran amal kebajikannya. Para sahabat yang mendengar ucapan beliau itu mengajukan pertanyaan, ‘Apakah engkau juga termasuk di antara apa yang engkau sebutkan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk juga aku, kecuali jika Allah memberi ampunan dan rahmat bagiku.”[6]

Itulah keyakinan Rasulullah Saw. di hadapan kehendak Allah Swt., sehingga setiap Mu’min harus mempunyai keyakinan seperti itu terhadap kehendak Allah. Perlu diketahui, jika Rasulullah Saw. bersikap sangat hati-hati terhadap takdir dan kehendak Allah Swt., maka bagaimankah seharusnya kita (orang-orang selain beliau) bersikap terhadap takdir dan kehendak Allah? Sebab, hanya dengan bersikap seperti itulah seorang Mu’min akan mencapai kedudukan terdekat di sisi Allah Swt.. Meskipun kita telah diberi wasiat (pesan) untuk memperbanyak amalan yang shalih, namun kalau bukan kita yang dimasukkan ke dalam surga, maka siapa kiranya yang akan dimasukkan ke sana? Kita tidak boleh berbangga dengan amal-amal kebajikan yang telah kita lakukan, karena kita diperintahkan untuk selalu waspada dan berhati-hati atas cara bersikap di hadapan takdir dan kehendak Allah Swt.. Sebab, setiap orang harus menerima takdir dan kehendak Allah Swt. dengan perasaan tawakkal yang total (utuh), dan selalu berharap mendapatkan kasih sayang-Nya, agar qalbu kita tidak merasa sombong dengan banyaknya amal kebajikan yang telah kita lakukan.

Tidak diragukan lagi, bahwa setiap Mu’min harus memahami secara baik kehendak Allah Swt., karena tidak semua Mu’min memahami benar kehendak-Nya Swt.. Sebab, yang dapat memahami secara baik dan benar atas kehendak Allah Swt. hanyalah para Nabi.

Di dalam Al-Qur’an diterangkan dengan panjang lebar tentang kehendak atau ketetapan Allah Swt.. Terutama yang berkenaan dengan kisah-kisah para Nabi dan kaum mereka. Misalnya saja kisah Nabi Allah Nuh as. dan kaum beliau. Al-Qur’an menyebutkannya sebagai berikut, “Mereka berkata, wahai Nuh, sesungguhnya engkau telah berbantah-bantahan dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau termasuk orangorang yang benar. Nuh menjawab, ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepada kalian jika Dia menghendaki, dan kalian sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari adzab-Nya. Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Rabb kalian, dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan,” (QS Hûd [11]: 32-34).

Dari firman Allah Swt. di atas dapat disimpulkan, bahwa Nabi Allah Nuh as. menjawab ucapan kaum beliau dengan jawaban yang penuh kepasrahan (sikap tawakal) kepada kehendak Allah Swt.. Seolah-olah beliau mengatakan, ‚Aku tidak dapat mendatangkan siksa kepada siapa pun, meski ia membantah semua keterangan tentang kenabian yang telah aku berikan kepadanya.‛ Memang, semua orang bergantung kepada kehendak dan ketetapan Allah Swt., serta tidak seorang pun dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan bagi dirinya sendiri, apa lagi bagi orang lain. Sebab, kewenangan mengenai masalah itu hanya berada di tangan Allah Swt.. Para Nabi dan Rasul hanya bertugas mengajak kaum masingmasing untuk beriman kepada Allah Swt.. Mereka mau beriman ataupun tidak, semua itu terserah kepada kehendak Allah Swt.. Demikian pula mereka akan mendapat siksa ataupun tidak juga terserah kepada kehendak Allah Swt.. Sebab, para Nabi dan Rasul tidak dapat memberi petunjuk dan keimanan kepada kaum mereka, kecuali kepada orang-orang yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.. Dan, mereka (para Nabi dan Rasul) tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan bagi kaum mereka, kecuali jika dikehendaki dan ditetapkan oleh takdir Allah Swt..

Demikian pula dengan kisah Nabi Allah Ibrahim as. yang pernah mengajarkan tentang adanya takdir Allah Swt. kepada kaum beliau ketika beliau mengajak mereka masuk ke dalam agama Islam; seperti yang telah disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan ia dibantah oleh kaumnya. Ia berkata, ‘Apakah kalian hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku?’ Dan aku tidak takut kepada malapetaka dari sembahan-sembahan yang kalian persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu dari malapetaka itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran darinya?” (QS Al-An’âm [6]: 80).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, Nabi Allah Ibrahim as. mengatakan, ‚Aku tidak takut sedikit pun terhadap berhala-berhala yang kalian sembah. Aku hanya takut kepada ketetapan dan kehendak Rabbku (Allah Swt.). Meskipun semua orang membelanjakan harta mereka sepenuh bumi, dan mereka ingin menimpakan keburukan kepadaku, maka aku yakin bahwa keburukan itu tidak akan terkena kepada diriku sedikit pun, kecuali telah dikehendaki oleh Allah Swt..‛

Pelajaran di atas merupakan pelajaran tauhid yang telah beliau ajarkan kepada kaum beliau as., bahwa ketetapan atau takdir Allah Swt. terhadap alam semesta ini pasti akan terjadi, baik takdir yang buruk maupun yang baik.

Allah Swt. juga telah berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Putranya (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar,’” (QS Al-Shâffât [37]: 102).

Firman Allah Swt. di atas mengajarkan kepada kita tentang adanya kehendak dan cobaan Allah bagi orang-orang yang beriman, apakah mereka akan bersabar ataukah justru akan menentang kehendak dan cobaan dari sisi-Nya?

Selanjutnya dalam surah Al-Kahfi [18] diceritakan, bahwa Nabi Musa as. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk berguru kepada Nabi Allah Hidir as. Dalam pertemuan itu, Nabi Hidir melarang Nabi Musa untuk bertanya kepada beliau tentang apa saja, dan Nabi Musa menyanggupi tidak akan bertanya sedikit pun. Sperti yang disebutkan pada firman Allah Swt. berikut ini, “Ia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku.Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata, ‘Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang bersabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun,” (QS Al-Kahfi [18]: 67-69).

Dari kisah-kisah para Nabi di atas dapat kita tarik benang merah, bahwa mereka (para Nabi Allah) itu selalu bertawakkal kepada kehendak dan takdir Allah Swt.. Selain itu, Allah Swt. juga telah menyebutkan kisah Nabi Yusuf as., seperti dijelaskan di dalam firman-Nya berikut ini, “Maka tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf, Yusuf merangkul ayah ibunya dan ia berkata, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman,” (QS Yûsuf [12]: 99).

Firman Allah Swt. di atas mengisayaratkan kepada kita, bahwa Nabi Allah Yusuf tidak lupa mengandalkan kemauannya kepada kehendak Allah semata. Meskipun beliau mampu mendatangkan ayah ibunya ke negeri Mesir dengan aman dan terhormat.

Jika kita perhatikan kisah-kisah para Nabi di atas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa mereka selalu mengandalkan kepada takdir dan kehendak Allah Swt.. Sebab, mereka yakin bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi atau terwujud kecuali jika telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Swt.. Jika seseorang mengandalkan kehendaknya sendiri tanpa disandarkan kepada kehendak Allah Swt., maka ia termasuk kelompok orang yang berbuat kesyirikan.

Yang kedua, kehendak Allah Swt. yang terdapat di dalam sabda-sabda Nabi Saw., “Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullâh bercerita, disebutkan oleh Thufail bin Syahbarah, saudara laki-laki dari ‘Aisyah, dari ibunya, bahwa ia telah bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah ia bertemu dengan kaum Yahudi, maka ia bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah kaum Yahudi.’ Kata laki-laki itu, ‘Kalian adalah orangorang yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah putra Allah.’ Jawab kaum Yahudi itu, ‘Kalian adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah dan Muhammad yang berkehendak.’ Kemudian ia bergabung kembali dengan kelompok yang lain, lalu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian ini?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah umat Nashrani.’ Tanya laki-laki itu, ‚Mengapa kalian mengatakan bahwa ‘Isa adalah putra Allah?’ Jawab kaum Nashrani tadi, ‘Mengapa pula kalian mengatakan bahwa Allah dan Muhammad yang berkehendak?’ Di pagi harinya, laki-laki itu memberitahukan kepada seorang sahabat tentang mimpinya semalam, kemudian ia menemui Nabi Saw. dan menyebutkan kisah mimpi tersebut kepada beliau. Tanya Nabi kepadanya, ‘Apakah engkau telah memberitahukan kisah mimpimu ini kepada orang lain?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya, aku telah memberitahukan kisah mimpiku ini kepada seorang sahabat dekatku.’ Setelah mereka melakukan shalat Subuh, maka Nabi pun naik mimbar dan berkhotbah di atasnya dengan mengawali pidato beliau menggunakan kalimat tahmid, kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya Thufail bermimpi sesuatu, kemudian ia memberitahukan kisah mimpinya itu kepada salah seorang sahabatnya. Ketahuilah, bahwa sebenarnya aku ingin melarang kalian mengatakan apa yang dikehendaki oleh Allah dan apa yang dikehendaki oleh Muhammad.’”[7]

Dari hadis di atas dapat kita simpulkan, bahwa kehendak dan takdir Allah Swt. merupakan masalah yang paling pokok dalam keimanan seorang hamba. Sehingga tidak seorang pun boleh mempercayai bahwa kehendaknya mempunyai potensi dapat mendatangkan yang baik dan yang buruk. Sebab, hal itu dapat menyebabkan orang tersebut menjadi kafir dan musyrik.

Pada riwayat yang lain disebutkan, “Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki mengatakan kepada Nabi Saw., ‘Menurut kehendak Allah dan menurut kehendakmu.’ Maka beliau bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau hendak menyamakan kedudukan Allah dengan kedudukanku?’ Janganlah kalian mengatakan demikian, akan tetapi katakanlah menurut kehendak Allah saja.”[8]

Pada penjelasan hadis di atas disebutkan, Nabi Saw. sengaja mengajarkan tauhid kepada umat beliau bahwa semua kehendak yang ada di alam semesta ini hanya milik Allah Swt. semata, bukan milik yang lain. Sehingga tidak seorang pun boleh berkehendak sesuatu tanpa menyandarkan kehendaknya itu dengan kehendak Allah Swt..

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Anas bin Malik ra. mengatakan, Nabi Sw. selalu mengucapkan do’a, ‘Wahai Rabb yang membolak-balikan qalbu, teguhkan qalbuku berada dalam agama-Mu.’ Maka aku (Anas) bertanya, ‘Ya Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada ajaran yang engkau sampaikan, apakah engkau masih menghawatirkan keimanan kami?’ Beliau Saw. menjawab, ‘Benar, aku selalu mengkhawatirkan keimanan kalian, karena setiap qalbu manusia berada di antara dua jari-jari Allah, dan Dia akan membolak-balikkan qalbu seorang hamba sekehendak-Nya’”[9]

Berkaitan dengan intensitas beliau mengucapkan do’a di atas, pernah juga diutarakan oleh Ummu Salamah ra. sebagai berikut, “Dari Syahru bin Hausyab, ia mengatakan, aku berkata kepada Ummu Salamah, ‘Wahai Ummul Mu’minin, kiranya do’a apa yang sering dibaca oleh Nabi Saw. ketika beliau berada di kediamanmu?’ Jawab Ummu Salamah, ‘Beliau sering mengucapkan do’a, ‘Wahai Rabb yang membolak-balikan qalbu, teguhkan qalbuku di atas agama-Mu.’ Aku (Ummu Salamah) pernah mengajukan pertanyaan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau membaca do’a seperti itu?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, tidak seorang pun dari hamba-Nya, kecuali qalbunya berada di antara dua jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia akan memberinya petunjuk atau Dia justru akan menyesatkannya, dan semua itu menurut kehendak-Nya.’”[10]

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Dalam riwayat Nuwas Ibnu Sam’an, katanya: ‚Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda tidak hati serangpun, melainkan berada diantara dua jari Tuhan Yang Maha Pemurah, adakalanya Dia memberinya petunjuk dan adakalanya Dia memberinya kesesatan, semuanya sekehendak-Nya.”[11]

Sebenarnya Allah Swt. telah mengajari kita do’a di atas, yaitu seperti yang tercantum dalam firman-Nya berikut ini, “Mereka berdo’a, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan sanubari kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Memberi karunia,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 8).

Tidak diragukan lagi, bahwa segala do’a yang mengakui adanya kehendak Allah Swt. yang kita yakini bahwa Allah mampu mengabulkan setiap do’a kita dan yakini pula bahwa Allah yang mengilhami kita untuk berdo’a seperti itu adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai kesimpulannya, bahwa setiap do’a adalah sebagai pengakuan kita terhadap adanya kehendak Allah Swt. yang berhubungan dengan takdir-Nya. Dan kita menerangkan panjang lebar tentang masalah ini, karena sangat kuat hubungannya dengan masalah tauhid (keimanan).

Yang keetiga, masalah perintah yang bersifat Jabbari dan masalah perintah yang mengandung unsur Syar’i. Perlu pula dibicarakan mengenai masalah ini, agar dapat dipahami oleh semua orang atas posisi atau kedudukannya pada diri hamba. Adapun firman Allah Swt. yang menegaskan mengenai masalah ini adalah sebagai berikut, “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.[12] Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan serta bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam,” (QS Al-A’râf [7]: 54).

Sebenarnya, masalah perintah dan ciptaan hanya milik Allah Swt. semata. Adapun perintah Allah Swt. dalam hal ini terbagi menjadi dua macam. Pertama, perintah alam semesta; perintah yang bersifat ketetapan dan sesuai dengan takdir- Nya. Yang kedua, perintah berupa syari’at agama. Perintah yang bersifat takdir memberi arti bahwa Allah Swt. yang berkuasa di seluruh alam semesta ini. Setiap makhluk diciptakan oleh Allah menurut kehendak-Nya sendiri. Tidak seorang pun boleh mencampuri dalam masalah penciptaan makhluk Allah Swt.. Alhasil, kesemuanya tunduk pada kehendak-Nya. Karena, Dia-lah pemilik tunggal seluruh alam semesta ini, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Swt. berhak melakukan apa saja terhadap alam semesta ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan tidak satu pau yang dapat menentang kehendak-Nya.

Adapun perintah yang berupa ketetapan syari’at, maka perintah ini ditujukan kepada kita. Akan tetapi, melaksanakan atau tidaknya perintah tersebut terkait erat dengan kehendak Allah Swt. yang diberikan kepada sipa pun yang dikehendaki-Nya.

Setelah kita memahami kedua perintah ini secara baik, maka kita akan memahami semua bentuk perintah yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang adakalanya terdapat perbedaan secara lahiriah di dalamnya. Bagaimanapun kemauan atau kehendak Allah Swt. tentang alam semesta sangatlah jelas di hadapan kita. Adapun perintah yang berkenaan dengan sifat, maka Allah Swt. memerintahkan kepada setiap orang untuk melakukan perintah-Nya menurut kehendak-Nya. Di dalam kedua persoalan tersebut terdapat kehendak Allah Swt. dan ridha-Nya.

Ibadah yang dilakukan oleh para malaikat dan amal-amal perbuatan mereka sangat bergantung dengan kehendak Allah Swt.. Demikian pula para Nabi dan segala perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shalih juga termasuk kehendak Allah Swt.. Alhasil, Allah Swt. ridha kepada semua perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shalih.

Selain itu, ada pula beberapa perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah Swt., meskipun pada dasarnya terkait erat dengan kehendak Allah. Seperti kekafiran, perbuatan dosa, kemunafikan dan sejenisnya. Adapun firman-firman Allah Swt. yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tidak diridhai oleh Allah adalah sebagai berikut, “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya,” (QS Al-Zumar [39]: 7).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS Al-Qashash [28]: 77).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” (QS Al-An’âm [6]: 141).

Allah Swt. juga berfirman, “Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (QS Al-Baqarah [2]: 191).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan yang suka membangga-banggakan diri –di hadapan manusia–,” (QS Al-Nisâ’ [4]: 36).

Memang Allah Swt. berkehendak menjadikan kerusakan di muka bumi, semuanya diciptakan dengan kehendak-Nya, akan tetapi Dia tidak ridha terhadap perbuatan yang bersifat merusa di muka bumi, termasuk juga masalah-masalah kejahatan yang lain. Jika kita perhatikan permasalahan ini dengan seksama, maka akan dapat kita simpulkan bahwa ayatayat Al-Qur’an yang kami sebutkan di atas keterangannya lebih jelas, dimana Allah Swt. tidak ridha dan tidak menyukai perbuatan buruk, apa pun bentuknya. Seperti telah disebutkan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, akan tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, hingga sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 16).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, jika Allah menghendaki akan membinasakan suatu negeri atau suatu bangsa, maka orang-orang yang jahil di antara mereka akan berbuat berbagai macam kerusakan, sampai pada batas akhir yang bisa ditoleransi, maka Allah menurunkan siksa pada penduduk negeri atau bangsa tersebut. Terlebih lagi jika kaum yang lemah di antara mereka menjadikan orang-orang jahat sebagai para penguasa tunggal di antara mereka. Dan setelah para penguasa itu berbuat sewenang-wenang, maka pada saat itulah Allah Swt. menurunkan bencana atau siksa bagi penduduk negeri tersebut. Apakah kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an itu benar-benar terjadi? Ya, orang-orang buruk di suatu negeri mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di dalam negeri mereka. Mereka berlaku zhalim, sewenangwenang, berbuat kerusakan dan perbuatan dosa yang luar biasa lainnya, sampai ketika meningkat pada puncaknya, maka di saat itulah Allah Swt. menurunkan siksa-Nya kepada negeri tersebut.

Jelas sekali di sini, bahwa masalah apa pun merupakan garis takdir atau kehendak yang bersifat takwini, bukan takdir atau kehendak yang bersifat syar’i. Dengan penjelasan, Allah Swt. berkehendak akan menghukum suatu kaum, dan hal itu telah ditetapkan dalam garis takdir-Nya di Lauh al-Mahfuzh. Sebab, Allah Swt. tidak rela apabila melihat ada sebagian hamba-Nya melakukan kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak memerintahkan mereka berbuat kerusakan apa pun bentuknya. Seperti dijelaskan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji.’ Mengapa engkau mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak engkau ketahui?,” (QS Al-A’râf [7]: 28).

Antara takdir takwini dengan takdir syar’i mempunyai kecocokan seperti yang disebutkan dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Al-Ra’d [13]: 11).

Biasanya, jika kerusakan di suatu negara telah mencapai puncaknya yang paling atas, maka susunan kemasyarakatan di negara itu akan ikut kacau tak terurus. Sehingga keadilan dan kebenaran hampir lenyap di negara tersebut. Oleh karena itu, masalah dari kedua takdir ini harus dipahami secara baik dan benar (sesuai).

Kelompok Jabbariyyah mempunyai pandangan yang keliru mengenai kedua persoalan tersebut. Sebab, mereka tidak dapat membedakan antara kedua macam takdir dimaksud, yaitu takdir takwini dan takdir syar’i. Menurut mereka, keduanya adalah sama, dan keduanya berasal dari kehendak manusia. Sedangkan kelompok Mu’tazilah berpendapat, bahwa perbuatan seseorang diciptakan oleh kehendaknya sendiri, sehingga kelompok ini tidak pernah benar dalam pendapat mereka. Sedangkan kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan, bahwa takdir Allah Swt. yang bersifat takwini dan takdir Allah yang bersifat syar’i adalah sama-sama kehendak Allah. Hanya saja, takdir syar’i diberikan sesuai dengan kehendak manusia yang akan berbuat keburukan, sehingga Allah Swt. akan menghukum orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Alhasil, antara petunjuk dan kesesatan ada kaitannya yang erat dengan kehendak Allah Swt.. Masalah ini banyak disebutkan oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Di antaranya, seperti telah disebutkan dalam firman-Nya berikut ini, “Siapa saja yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan siapa saja yang dikehendaki Allah kesesatan atasnya,[13] niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman,” (QS Al-An’âm [6]: 125).

Firman Allah Swt. di atas mengisyaratkan, bahwa kehendak manusia sangatlah erat hubungannya dengan kehendak Allah. Manusia tidak akan mendapat petunjuk kalau tidak mendapat karunia dari sisi Allah Swt.. Demikian pula manusia tidak akan melakukan keburukan atau perbuatan dosa kalau tidak ditetapkan oleh Allah Swt. dalam suratan takdirnya yang azali. Sehingga meskipun ada sebagian orang yang diberi otak sangat cerdas dan kepandaian yang cemerlang, akan tetapi ia lebih memilih hidup tersesat, dan mereka hidup bagaikan binatang ternak; bahkan lebih buruk lagi. Sebagai kesimpulannya, masalah kehendak untuk berbuat baik atau berbuat buruk yang ada pada diri manusia tidak sepenuhnya dari kehendak manusia itu sendiri, akan tetapi masih terkait erat dengan kehendak dan takdir Allah Swt..

Dari keterangan di atas dapat kita pahami, bahwa tidak seorang pun mempunyai kesempatan untuk bertindak sendiri, tanpa ada kehendak dari Allah Swt.. Karena, kita tidak mempunyai kemampuan apa pun untuk bertindak sendiri menurut kehendak kita. Akan tetapi, yang mempunyai kehendak penuh hanyalah Allah Swt.. Jadi, semua yang terjadi di alam semesta ini, baik yang bersifat takdir takwini ataupun yang bersifat takdir syar’i, kesemuanya itu tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari takdir Allah Swt.. Demikian pula masalah petunjuk dan kesesatan yang sangat menentukan dengan takdir-Nya, hanyalah atas kehendak Allah Swt. semata. Artinya, manusia tidak dapat mendatangkan petunjuk ataupun kesesatan bagi dirinya sendiri, kecuali dengan ketetapan dan takdir dari Allah Swt. semata.

Dalam sejarah telah tercatat, bahwa Allah Swt. yang menggerakkan sanubari ‘Umar Ibnul Khaththab ra. untuk berniat membunuh Rasulullah Saw., dan ia sudah bergerak mencari di manakah posisi Rasulullah Saw. berada pada saat itu. Akan tetapi, pada kenyataannya niat ‘Umar yang buruk itu berubah menjadi niat yang baik, karena ia ingin segera bertemu dengan Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Tentunya, yang menggerakkan sanubari ‘Umar Ibnul Khaththab ingin membunuh Rasulullah Saw. adalah Allah Swt.. Dan yang menggerakkan jiwa ‘Umar untuk ingin segera bertemu Rasulullah Saw. guna menyatakan keislamannya juga Allah Swt.. Demikian pula yang menggerakkan pikiran seorang penya’ir ‘Arab yang bernama Al-A’sya untuk memilih kesesatan juga Allah Swt.. Sebab, ia membanggakan minuman keras dalam bait-bait sya’ir yang dilantunkannya.

Peristiwa yang serupa dengan kejadian ini seringkali terjadi, bahkan jumlahnya tidak mungkin untuk dihitung. Sehingga mau tidak mau, manusia harus mengakui bahwa masalah petunjuk atau hidayah dan masalah kesesatan, semuanya hanya berada di tangan Allah Swt.. Dengan kata lain, seseorang akan diberi petunjuk menurut kehendak-Nya, dan akan menemui kesesatan menurut kehendak-Nya pula.

Perlu diketahui pula, bahwa Allah Swt. telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini, termasuk juga apa saja yang akan dilakukan oleh setiap orang dalam perbuatannya, dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh. Oleh karena itu, setiap hamba wajib memohon petunjuk kepada Allah Swt. agar ia diberi hidayah ke jalan yang lurus. Karena, hanya Allah Swt. yang berwenang berbuat apa pun terhadap segala sesuatu, termasuk juga terhadap seluruh kepentingan bagi makhluk-Nya. Allah Maha Berwenang memberi petunjuk kepada seseorang yang berdo’a memohon petunjuk, dan Dia juga berwenang mentapkan kesesatan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Setiap orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt., maka ia akan tertarik kepada Islam, dan kepada segala bentuk perbuatan baik yang mendatangkan keridhaan-Nya. Sebaliknya, jika seseorang dikehendaki kesesatan oleh Allah Swt., maka ia tidak akan mau menerima petunjuk, meskipun ia diminta dengan cara yang terbaik. Orang-orang semacam itu telah diisyaratkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari auman seekor singa,” (QS Al-Muddatstsir [74]: 49-51).

Dengan kata lain, orang-orang yang ditetapkan oleh Allah Swt. tidak mendapatkan petunjuk-Nya, maka ia akan lari dari jalan Islam bagaikan larinya seekor keledai yang dikejar oleh seekor singa yang liar.

Apa saja yang kami sebutkan di atas tidak lain hanya sebagai sebuah persyaratan, yaitu adanya kemauan manusia untuk rela mengerjakan suatu perbuatan atau justru meninggalkannya. Manusia bebas memilih apa saja yang akan ia lakukan di dalam pilihan hidupnya, akan tetapi Allah Swt. telah menentukan dalam catatan takdir-Nya apa saja yang akan dilakukan oleh manusia tersebut.

Misalnya saja, jika engkau ingin mengubah keadaan dunia ini menurut kehendakmu, dan engkau telah berusaha sekuat tenaga untuk mengubah keadaan dunia ini dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar,maka pada saat itulah Allah Swt. akan memberimu pertolongan dengan berbagai bantuan-Nya. Itulah undang-undang Allah Swt., atau ketetapan- Nya yang tidak akan mampu diubah oleh siapa pun.

Hendaknya kita mengerti secara saksama apa saja yang telah kita usahakan dan apa saja yang kita tunggu dari sisi Allah Swt. tentang bantuan-Nya. Jika Allah memberimu bantuan dengan kemurahan-Nya, maka hal itu dari rahmat dan karunia-Nya semata. Manusia hanya boleh berusaha apa saja untuk dirinya, akan tetapi tetap saja Allah Swt. yang menentukan sukses atau tidaknya tentang apa yang diinginkan oleh manusia.

Allah Swt. akan memberi kemuliaan bagi seseorang yang berjuang di jalan-Nya dengan predikat sebagai seorang syahid. Dan, di akhirat kelak ia akan diberi balasan berupa surga serta berbagai kenikmatan yang lain tanpa batas. Sebab, hal itu merupakan balasan yang pantas bagi seorang hamba yang mau (bersedia) berjuang di jalan Allah Swt. dengan ikhlas.

Oleh karena itu, janganlah kalian menunggu turunnya ‘Isa al-Masih atau Imam al-Mahdi as. di akhir masa kelak, sebelum kalian melakukan berbagai usaha yang baik untuk menciptakan kebaikan dan kebahagiaan di alam dunia ini. Sebab, Allah Swt. tidak akan pernah mengubah segala penetapan arah takdir-Nya sampai kalian mau mengubah diri kalian sendiri menjadi orang yang baik. Allah Swt. tidak akan mengubah ketetapan-Nya, meskipun terhadap para Nabi-Nya sendiri, sebelum mereka mau berjuang secara maksimal untuk memperbaiki kerusakan yang ada di alam dunia ini, hingga menjadi dunia yang lebih baik dan membahagiakan.

Rasulullah Saw. telah lama hidup dalam keadaan lapar dan haus, wajah beliau terluka dan gigi beliau terlepas karena serangan musuh. Kedua kaki beliau bengkak karena banyak mengalami berbagai penderitaan. Demikian pula yang diderita oleh para sahabat beliau. Dengan kata lain, Nabi Saw. dan para sahabat beliau yang telah mendapatkan keridhaan Allah Swt. telah banyak mengalami berbagai cobaan serta penderitaan di dalam hidup mereka. Sampai-sampai mereka pernah mengajukan pertanyaan, ‚Bilakah datangnya pertolongan Allah?‛

Pada saat cobaan telah memuncak sampai di tingkat yang tertinggi, maka di saat itulah Allah Swt. akan menurunkan pertolongan-Nya kepada para hamba yang bersedia untuk berjuang demi mewujudkan kebaikan alam semesta. Sebab, pertolongan Allah Swt. akan sangat dekat kepada orang-orang yang diberi-Nya ujian. Tentang masalah ini, Allah Swt. telah mensinyalir dalam salah satu firman-Nya sebagai berikut, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja, padahal belum datang kepada kalian cobaan (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat,” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Penjelasan seputar firman Allah Swt. di atas adalah, pada saat seseorang telah dicoba dengan berbagai kesulitan berupa sedikitnya makanan, minuman dan tempat tinggal, sehingga ia sudah tidak berdaya lagi untuk menghadapi cobaan yang sedemikian beratnya, maka di saat itulah ia akan mohon bantuan Allah. Dan, pada saat itu juga Allah Swt. akan menurunkan pertolongan-Nya, sehingga orang itu akan menikmati kesuksesan dalam hidupnya. Kalau dahulunya hina dan sulit, maka kehinaan serta kesulitan itu akan berubah menjadi kemuliaan dan kemudahan.

Apakah Anda benar-benar percaya bahwa manusia harus berusaha sekuat tenaga dan berjuang mati-matian untuk memperbaiki nasibnya? Jika jawabanmu adalah ya, maka aku sampaikan berita gembira kepadamu, percayalah dan tenangkan qalbumu bahwa Allah Swt. yang memiliki dan mengendalikan seluruh alam semesta ini akan memberimu pertolongan serta menjagamu dari segala bentuk kesulitan. Sebab, kewenangan Allah Swt. adalah seperti itu. Dengan kata lain, adakalanya Dia Swt. memberi cobaan kepada sebagian orang terlebih dahulu untuk menguji sampai di manakah kesabarannya, dan sampai di manakah usahanya untuk memperbaiki nasibnya sendiri? Jika ia bersungguh-sungguh dalam kesabarannya, dan bersungguh-sungguh usahanya untuk memperbaiki nasibnya, berarti ia akan menemui kesuksesan di dalam kehidupannya; baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak.

Sebaiknya kita akhiri pembahasan kita tentang takdir dari sisi kehendak Ilahi dengan kesimpulan sebagai berikut. Sesungguhnya Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Mengetahui tentang segala sesuatu dari segala sisinya. Sebab, ilmu-Nya mampu menjangkau dan mengetahui segala sesuatu. Semua itu telah dicatat dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh secara jelas dan terperinci. Demikian pula para malaikat akan mencatat semua perbuatan manusia yang baik maupun buruk. Adapun takdir Allah Swt. tidak akan meleset sedikit pun dari ilmu-Nya, dan segala apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi. Kami yakin, bahwa apa saja yang telah dikehendaki oleh Allah Swt. pasti akan terjadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan pernah terjadi.

[1] Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang roh, kisah Ashhabul Kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain? Lalu beliau menjawab, datanglah esok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allâh (jika Allah menghendaki). Sampai esok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal yang beliau janjikan tersebut, dan Nabi tidak dapat menjawab pertanyaan sesuai janji yang telah beliau ucap kemarin. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi, bahwa Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allâh haruslah segera menyebutkannya kemudian-penerj.
[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Nikah, hadis nomor 119. Juga pada bahasan seputar al-Jihad, hadis nomor 23. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad, Jilid 2, hadis nomor 229, 275, dan 506.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud pada pembahasan mengenai Adab, hadis nomor 106.
[4] Maksudnya ialah, janganlah engkau merasa keberatan atas sikap mereka itu berpaling dari ajakan menuju jalan Kami. Kalau engkau merasa keberatan, cobalah usahakan suatu mukjizat yang dapat memuaskan qalbu mereka, dan engkau tentu tidak akan pernah sanggup-penerj.
[5] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada bahasan mengenai Awal Penciptaan, hadis nomor 6. Juga oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai Berbuat Baik, hadis nomor 156.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai Sifa-sifat Orang Munafik, hadis nomor 76.
[7] Lihat lebih lanjut keterangannya dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 5, hadis nomor 72.
[8] Lihat lebih lanjut keterangannya dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 1, hadis nomor 214.
[9] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai al-Qadaru, hadis nomor 7.
[10] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai Do’a, hadis nomor 89.
[11] Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, pada pendahuluan kitab, hadis nomor 13.
[12] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah san kesucian-Nya.
[13] Disesatkan Allâh dimaksud adalah, bahwa orang itu tersesat lantaran sikap ingkarnya, dan akibat ia tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allâh. Dalam ayat ini, karena mereka bersikap ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allâh menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi tersesat-penerj.

 

NABI ISA …. Allah SWT kembali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui lahirnya Nabi Isa ’alaihis salam. …. Nabi Isa tidak mempunyai Ayah. Ia hanya memiliki Ibu bernama Siti Maryam. ——————————- Dan merupakan bentuk keimanan kepadanya adalah beriman dengan para nabi dan rasul yang telah Ia utus ke dunia ini. Kita diperintahkan untuk meyakini mereka sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. —— Sepanjang sejarah manusia, telah banyak para nabi dan rasul yang Allah utus ke dunia ini yang bertugas menyampaikan dan mengajarkan agama-Nya serta mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya. Salah satu di antara mereka adalah Nabi Isa ‘alaihissalaam.——- Siapa itu Nabi Isa——— Beliau adalah seorang lelaki yang lahir dari perut seorang wanita perawan nan suci bernama Maryam. Ibunya merupakan anak perempuan dari seorang lelaki pilihan Allah bernama ‘Imran dari keturunan Bani Israil (anak-anak Nabi Ya’kub alaihissalam). Keluarga Imran ini merupakan salah satu keluarga yang dipilih Allah untuk mendapatkan keistimewaan dari-Nya berupa nikmat kenabian.——— Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Sebagiannya merupakan keturunan dari yang lainnya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Ali ‘Imran: 33-34)———– Bagaimana Kelahiran Beliau?———– Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan tanpa proses pernikahan ibunya Maryam dengan seorang lelaki. Artinya, beliau lahir tanpa ayah. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang mustahil bagi Allah ‘Azza wa Jalla.——– Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Ali ‘Imron: 59)———— Ketika Maryam bertanya dengan penuh rasa heran saat mendapat kabar gembira berupa seorang putra yang akan lahir dari perutnya tanpa ‘sentuhan’ seorang lelaki, Allah menjelaskan dan menegaskan kepadanya serta kepada kita semua,——– كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ “Demikianlah Allah, yang menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Ia sudah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Ia hanya cukup mengatakan kepadanya, “jadilah kamu”, lalu jadilah ia.” (Ali’Imran: 47)———- Proses penciptaan beliau adalah dengan ditiupkannya roh ke dalam rahim ibunya, Maryam. Kemudian Allah katakan kepadanya, “kun” (jadilah), sebagaimana yang Allah sebutkan pada ayat sebelumnya. Maka, seketika itu Maryam hamil sebagaimana wanita pada umumnya dan kemudian melahirkan Nabi Isa sebagai seorang anak manusia.————— Sungguh, penciptaan ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Alquran,- وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ “Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya sebagai tanda (kekuasaan kami), dan Kami lindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Al-Mu’minun: 50)———- Ayat-ayat yang menerangkan tentang proses kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam di atas merupakan bantahan tehadap tuduhan orang-orang Yahudi, yang menganggap Maryam ‘alaihassalam telah berzina. Padahal, Allah telah menegaskan tentang kesucian wanita ini dari perbuatan keji itu.—– Allah Ta’ala berfirman, وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ “Dan (ingatlah) Maryam putri ‘Imran yang memelihara kemaluannya (dari perbuatan keji). Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia itu termasuk orang-orang yang taat.” (At-Tahriim: 12)—- وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan juga mengistimewakan kamu atas segala wanita di seluruh dunia.” (Ali ‘Imran: 42)———– Mukjizat Yang Diberikan kepada Beliau Ketika Bayi—————– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ “Dan dia (Isa) berbicara kepada manusia dalam buaian (ketika ia bayi) dan juga ketika sudah dewasa. Dan dia itu termasuk orang-orang yang saleh.” (Ali-‘Imran: 46)————- Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, مَا تَكَلَّمَ مَوْلُود فِي صِغَرِهِ إلا عِيسَى وصَاحِبَ جُرَيْج “Tidak ada seorang anak yang berbicara ketika kecilnya kecuali Isa dan sahabat Juraij.”1—— Dalam riwayat lain disebutkan, لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى “tidak ada seorangpun yang berbicara sewaktu kecilnya kecuali tiga orang: (satu di antara mereka adalah) Isa …….” (HR. Bukhari dan Muslim)—————- Ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 46, Ibnu Katsir mengatakan, “Ia (Isa bin Maryam) mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata tanpa kesyirikan pada saat ia masih kecil sebagai mukjizat dan tanda (kenabian), serta saat beliau sudah dewasa ketika Allah wahyukan kepadanya untuk melaksanakan urusan itu (dakwah).”2——— Kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam Dalam Islam———- Di dalam Alquran, Allah telah menjelaskan kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam yang sesungguhnya, bahwa beliau adalah salah satu hamba terbaik pilihan Allah dan juga utusan-Nya yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi-Nya. Bukan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Yahudi yang mengatakan beliau adalah anak zina. Bukan pula orang-orang Nasrani bahwa beliau adalah Allah atau anak Allah.———– Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membantah keyakinan buruk mereka ini dalam firman-Nya, إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Az-Zukhruf: 59)—— إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ “Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang Ia kirimkan kepada Maryam, dan juga roh dari-Nya.” (An-Nisaa’: 171)———- Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan bahwa maksud dari Isa adalah kalimat Allah yaitu Allah menciptakan beliau dengan kalimat-Nya, “كن”. Sedangkan maksud dari Roh ialah Isa ‘alaihissalam merupakan salah satu dari sekian banyak roh yang telah Allah ciptakan.3 Dan beliau bukanlah roh kudus, karena roh kudus itu ialah Jibril ‘alaihissalam sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir dari kalangan sahabat dan yang setelah mereka.4——- Dari ayat ini, kita dapati betapa mulia dan agungnya kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga Allah sebutkan beliau sebagai kalimat dan juga roh-Nya. Dan idhafah (penyandaran) pada ayat ini merupakan bentuk penghormatan kepada beliau.——- Dakwah Nabi Isa ‘alaihissalam—————- Dakwah beliau tidak berbeda dengan dakwahnya para Nabi dan Rasul yang lain, yaitu mengajak manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya saja, Nabi Isa ‘alaihissalam diutus khusus kepada Bani Israil. Berbeda dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diutus kepada semua makhluk, dari kalangan jin dan manusia.—– وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ “Dan (Allah jadikan Isa) sebagai Rasul (yang diutus) kepada Bani Israil (dan berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa ayat (mukjizat) dari Rabb-mu.” (Ali ‘Imran: 49)—————- Di antara yang beliau serukan kepada Bani Israil adalah apa yang Allah abadikan dalam kitab-Nya, وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ “Dan (Isa) Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabb-ku dan juga Rabb kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah (dalam ibadahnya), maka Allah haramkan surga untuknya, dan tempat kembalinya ialah neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak memiliki seorang penolong pun (yang akan menolongnya dari siksa api neraka).” (Al-Maaidah: 72)—- إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ “Sesungguhnya Allah itu Rabb-ku dan juga Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Nya. Inilah jalan yang lurus.” (Ali-‘Imran: 51)——— Walau Allah telah menganugerahi banyak mukjizat yang menunjukkan kenabian beliau, dan membenarkan kerasulan beliau, hanya sebagian saja yang menyambut dan menerima dakwah beliau. Mereka adalah al-hawariyyun yang menjadi pengikut dan penolong setia beliau.——– يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ ۖ فَآمَنَت طَّائِفَةٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَت طَّائِفَةٌ “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.” Maka (dengan begitu), segolongan dari Bani Israil beriman (al-hawariyyun) dan segolongan lain kafir.” (Ash-Shaff: 14)————- Siapa yang disalib???—————– Sejak zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, Bani Israil telah menunjukkan sikap-sikap melampaui batas. Mereka telah dikenal sebagai kaum yang sombong, berhati keras, pembangkang, suka berbohong dan ingkar janji, selalu mengingkari nikmat dan ayat-ayat Allah serta hobi mengakal-akali perintah dan larangan Allah. Karenanya, Allah selalu mengutus para Nabi kepada mereka untuk membimbing dan menuntun mereka ke jalan yang benar, serta menegakkan hukum Allah di tengah-tengah mereka.—- Akan tetapi, ketika ada Nabi yang diutus kepada mereka, selalu saja mendapat ancaman kejahatan tangan-tangan mereka. Dan mereka tidak segan-segan membunuh para Nabi yang diutus kepada mereka. Di antara Nabi yang Allah utus kepada mereka adalah Isa ‘alaihissalam.—— Tidak berbeda dengan nabi-nabi yang lain, Isa ‘alaihissalam juga mendapat perlakuan yang sama dari Bani Israil berupa pendustaan, pengingkaran, gangguan, dan permusuhan.———– Tatkala Allah mengutusnya kepada mereka dengan bukti-bukti dan juga petunjuk, mulailah mereka iri dan dengki terhadap beliau karena kenabian dan mukjizat-mukjizat luar biasa yang Allah berikan kepada beliau. Karena dasar kedengkian itulah mereka mengingkari kenabian Isa ‘alaihissalam dan kemudian memusuhi serta menyakiti beliau.——– Betapa besar permusuhan yang mereka sulutkan sehingga tidak membiarkan beliau ‘alaihissalam menetap di negeri bersama mereka. Bahkan beliau bersama ibunya selalu berkelana, berpindah-pindah tempat karena ulah orang-orang Yahudi tersebut.———— Tidak sampai di sini. Karena kedengkian telah tertancap dan mendarahdaging, mereka berusaha membuat konspirasi untuk membunuh beliau dengan menghasut Raja Damaskus saat itu yang beragama penyembah bintang-bintang. Mereka membuat fitnah-fitnah serta tuduhan dusta tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, sehingga Raja yang mendengar hal itu menjadi marah dan memerintahkan perwakilannya di al-Quds/Yerussalem untuk menyalibnya.———- Setelah menerima perintah dari raja, wakil raja yang berada di al-Quds itu langsung berangkat bersama sekelompok Yahudi menuju rumah yang sedang ditempati oleh Nabi Isa ‘alaihissalam dan kemudian mengepungnya.————- Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka telah merancang tipu muslihat, dan Allah juga membuat tipu muslihat (terhadap mereka). Sedangkan Allah adalah sebaik-baik perancang tipu muslihat.” (Ali ‘Imran: 54)————— Dalam keadaan demikian, Nabi Isa ‘alaihissalam menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapa yang bersedia diserupakan wajahnya seperti wajah beliau. Dan beliau menjanjikan surga bagi siapa yang bersedia. Maka, salah seorang pemuda di antara mereka ada yang merespon beliau dengan jawaban, “Saya bersedia”. Kemudian Allah serupakan wajahnya dengan wajah Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah itu, Nabi Isa tertidur dan diangkat Allah ke langit dari rumah tersebut dalam keadaan demikian. Tatkala para murid beliau keluar dari rumah itu, orang-orang Yahudi yang telah mengepung sejak sore menangkap dan menyalib lelaki tersebut.5 Setelah itu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah membunuh Isa putra Maryam, yaitu utusan Allah” (An-Nisaa’: 157)——- Namun, Allah membantah perkataan mereka ini pada ayat yang sama, “Dan mereka sama sekali tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya. Akan tetapi, (orang yang mereka salib itu) adalah yang diserupakan (wajahnya dengan Isa) untuk mereka.”————- Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa sebelum menangkap lelaki tersebut, mereka menghitung jumlah orang-orang yang keluar dari rumah itu karena mendengar bahwa Isa telah diangkat ke langit. Setelah dihitung, ternyata mereka mendapatkan ada satu orang yang kurang. Sehingga mereka ragu apakah yang mereka tangkap itu benar-benar Isa atau bukan?6—— Inilah mengapa Allah sebutkan di akhir ayat, “Dan sungguh, orang-orang yang berselisih padanya (urusan pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan. Mereka itu tidak memiliki ilmu yang pasti tentangnya. Dan mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin (bahwa yang dibunuh itu benar-benar Isa).” (An-Nisaa’: 157)————— Keberadaan Beliau Saat Ini———– Para ulama telah sepakat tentang keberadaan beliau saat ini, yaitu di langit dalam keadaan masih hidup dan sama sekali belum mati. Dan hal ini telah disebutkan Allah dalam firman-Nya,———– وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin. Akan tetapi (sebenarnya), Allah telah mengangkatnya (Isa) kepada-Nya. Dan Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 157-158)———- Pengangkatan Nabi Isa ‘alaihissalam terjadi ketika beliau dikepung oleh orang-orang Yahudi untuk ditangkap dan disalib, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Allah mengangkat beliau kepada-Nya, yaitu ke langit.————— Allah Ta’ala juga berfirman, إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir tersebut.” (Ali-‘Imran: 55)———– Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud wafat pada ayat ini adalah tidur. Maksudnya, Allah menjadikan beliau tertidur sebelum diangkat ke langit.7———- Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari al-Hasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang Yahudi, “Sesungguhnya Isa itu belum mati. Dan ia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat nanti.”8———– Dan sangat banyak hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau saat ini masih hidup dan berada di langit.——– Di antara hadis-hadis tersebut adalah kisah perjalanan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam kisah tersebut, beliau bertemu dengan Nabi Isa ‘alaihissalam di langit yang menyapa dan memberikan salam penghormatan kepada beliau.9————– Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di Akhir Zaman—————– Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam ke dunia pada akhir zaman nanti merupakan perkara yang pasti akan terjadi dan merupakan salah satu tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat. Tidak ada satu orang pun dari ulama kaum muslimin yang mengingkari kejadian ini. Bahkan mereka menganggap perkara tersebut termasuk perkara yang wajib diyakini oleh setiap muslim.————– Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkannya dalam Alquran. Begitu pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengabarkan akan terjadinya kejadian itu.——— Allah Ta’ala berfirman, وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا “Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa alaihissalam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisaa: 159)— Imam As-Saffarini menjelaskan bahwa mereka benar-benar akan beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam sebelum wafatnya. Dan hal itu terjadi ketika beliau turun dari langit pada akhir zaman nanti, sehingga hanya akan ada satu agama, yaitu agama Ibrahim yang lurus.10——— Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil.”11———— Bagaimana Beliau Turun??—————— Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun di dekat ‘menara putih’ yang berada di bagian timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelupkan wars12 dan za’faran.13 Saat turun, beliau meletakkan kedua telapak tangannya di sayap dua malaikat. Ketika beliau menundukkan kepala, maka akan menetes. Dan ketika beliau mengangkatnya, maka akan bercucuran air yang sangat bening seperti mutiara. Tidak ada seorang kafir pun yang mencium aroma nafas beliau kecuali ia akan mati. Sedangkan nafas beliau itu menjangkau jarak yang sangat panjang, sejauh matanya memandang.14————– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa ketika turun, Nabi Isa ‘alaihissalam akan disambut oleh Imam Mahdi beserta kaum muslimin, dan kemudian sholat bersama mereka.——- “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku ini yang selalu berperang menampakkan kebenaran sampai hari kiamat tiba. Maka turunlah Isa alaihissalam, dan pemimpin mereka (Imam Mahdi) akan berkata (kepadanya), ‘Kemarilah anda dan sholatlah bersama kami (maksudnya jadilah imam dalam sholat kami-red).’ Kemudian ia menjawab, ‘Tidak, sungguh sebagian kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah terhadap umat ini.’”15————- Apa Yang Beliau Bawa Ketika Diturunkan dan Untuk Apa Beliau Turun??————– Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menetapkan suatu hal melainkan ia mempunyai misi tersendiri untuk itu. Dan Dia juga telah menetapkan misi khusus diturunkannya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman nanti. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ “Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil. Maka ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah/upeti. Dan (saat itu) harta benda berhamburan sampai-sampai tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya (harta pemberian).” (HR. Bukhari no. 2222, Muslim no. 155)—————- Misi lain dari turunnya Isa ‘alaihissalam adalah untuk membunuh Dajjal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, يخرج الدجال في أمتي فيمكث أربعين –لا أدري أربعين يوما أو أربعين شهرا أو أربعين عاما– فيبعث الله عيسى بن مريم كأنه عروة بن مسعود فيطلبه فيهلكه “Dajjal akan keluar di tengah-tengah umatku dan akan menetap selama 40 –salah seorang perawi berkata, aku tidak tahu apakah itu 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun–. Maka Allah utus Isa putra Maryam. Kemudian beliau mencarinya dan akan berhasil membinasakannya.”16———– Satu hal yang perlu diperhatikan adalah beliau turun bukan sebagai Nabi yang membawa syariat baru setelah syariat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, sebagai imam kaum muslimin atau hakim yang adil sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.——————— Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam beribadah dengan syariat Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik dalam perkara-perkara pokok maupun cabang. Bukan dengan syariat beliau yang dahulu. Sebab, syariat tersebut telah dihapus.————– Dengan demikian, beliau turun ke bumi sebagai khalifah bagi Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam, sekaligus sebagai hakim bagi umatnya.17—————– Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan Isa itu masih hidup di langit dan sama sekali belum mati. Dan ketika turun nanti, ia tidak akan menerapkan hukum kecuali dengan hukum kitab dan sunah, bukan dengan yang menyelisihi itu.”18—————- Inilah sedikit tentang hal-hal yang wajib kita yakini seputar Nabi Isa ‘alaihissalam. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi setiap orang yang ingin mengambil manfaat darinya.——– Wallaahu a’lam.

NABI ISA  …. Allah SWT kembali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui lahirnya Nabi Isa ’alaihis salam. …. Nabi Isa tidak mempunyai Ayah. Ia hanya memiliki Ibu bernama Siti Maryam.

——————————-
Dan merupakan bentuk keimanan kepadanya adalah beriman dengan para nabi dan rasul yang telah Ia utus ke dunia ini. Kita diperintahkan untuk meyakini mereka sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. ——

Sepanjang sejarah manusia, telah banyak para nabi dan rasul yang Allah utus ke dunia ini yang bertugas menyampaikan dan mengajarkan agama-Nya serta mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya. Salah satu di antara mereka adalah Nabi Isa ‘alaihissalaam.——-

Siapa itu Nabi Isa———

Beliau adalah seorang lelaki yang lahir dari perut seorang wanita perawan nan suci bernama Maryam. Ibunya merupakan anak perempuan dari seorang lelaki pilihan Allah bernama ‘Imran dari keturunan Bani Israil (anak-anak Nabi Ya’kub alaihissalam). Keluarga Imran ini merupakan salah satu keluarga yang dipilih Allah untuk mendapatkan keistimewaan dari-Nya berupa nikmat kenabian.———

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). Sebagiannya merupakan keturunan dari yang lainnya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Ali ‘Imran: 33-34)———–

Bagaimana Kelahiran Beliau?———–

Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam dilahirkan tanpa proses pernikahan ibunya Maryam dengan seorang lelaki. Artinya, beliau lahir tanpa ayah. Dan yang demikian itu bukanlah hal yang mustahil bagi Allah ‘Azza wa Jalla.——–

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Ali ‘Imron: 59)————

Ketika Maryam bertanya dengan penuh rasa heran saat mendapat kabar gembira berupa seorang putra yang akan lahir dari perutnya tanpa ‘sentuhan’ seorang lelaki, Allah menjelaskan dan menegaskan kepadanya serta kepada kita semua,——–

كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Demikianlah Allah, yang menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Ia sudah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Ia hanya cukup mengatakan kepadanya, “jadilah kamu”, lalu jadilah ia.” (Ali’Imran: 47)———-

Proses penciptaan beliau adalah dengan ditiupkannya roh ke dalam rahim ibunya, Maryam. Kemudian Allah katakan kepadanya, “kun” (jadilah), sebagaimana yang Allah sebutkan pada ayat sebelumnya. Maka, seketika itu Maryam hamil sebagaimana wanita pada umumnya dan kemudian melahirkan Nabi Isa sebagai seorang anak manusia.—————

Sungguh, penciptaan ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Alquran,-

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ

Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya sebagai tanda (kekuasaan kami), dan Kami lindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Al-Mu’minun: 50)———-

Ayat-ayat yang menerangkan tentang proses kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam di atas merupakan bantahan tehadap tuduhan orang-orang Yahudi, yang menganggap Maryam ‘alaihassalam telah berzina. Padahal, Allah telah menegaskan tentang kesucian wanita ini dari perbuatan keji itu.—–

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Dan (ingatlah) Maryam putri ‘Imran yang memelihara kemaluannya (dari perbuatan keji). Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia itu termasuk orang-orang yang taat.” (At-Tahriim: 12)—-

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan juga mengistimewakan kamu atas segala wanita di seluruh dunia.” (Ali ‘Imran: 42)———–

Mukjizat Yang Diberikan kepada Beliau Ketika Bayi—————–

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan dia (Isa) berbicara kepada manusia dalam buaian (ketika ia bayi) dan juga ketika sudah dewasa. Dan dia itu termasuk orang-orang yang saleh.” (Ali-‘Imran: 46)————-

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا تَكَلَّمَ مَوْلُود فِي صِغَرِهِ إلا عِيسَى وصَاحِبَ جُرَيْج

“Tidak ada seorang anak yang berbicara ketika kecilnya kecuali Isa dan sahabat Juraij.”1——

Dalam riwayat lain disebutkan,

لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى

tidak ada seorangpun yang berbicara sewaktu kecilnya kecuali tiga orang: (satu di antara mereka adalah) Isa …….” (HR. Bukhari dan Muslim)—————-

Ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 46, Ibnu Katsir mengatakan, “Ia (Isa bin Maryam) mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata tanpa kesyirikan pada saat ia masih kecil sebagai mukjizat dan tanda (kenabian), serta saat beliau sudah dewasa ketika Allah wahyukan kepadanya untuk melaksanakan urusan itu (dakwah).”2———

Kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam Dalam Islam———-

Di dalam Alquran, Allah telah menjelaskan kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam yang sesungguhnya, bahwa beliau adalah salah satu hamba terbaik pilihan Allah dan juga utusan-Nya yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi-Nya. Bukan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Yahudi yang mengatakan beliau adalah anak zina. Bukan pula orang-orang Nasrani bahwa beliau adalah Allah atau anak Allah.———–

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membantah keyakinan buruk mereka ini dalam firman-Nya,

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (Az-Zukhruf: 59)——

إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ

Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang Ia kirimkan kepada Maryam, dan juga roh dari-Nya.” (An-Nisaa’: 171)———-

Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan bahwa maksud dari Isa adalah kalimat Allah yaitu Allah menciptakan beliau dengan kalimat-Nya, “كن”. Sedangkan maksud dari Roh ialah Isa ‘alaihissalam merupakan salah satu dari sekian banyak roh yang telah Allah ciptakan.3 Dan beliau bukanlah roh kudus, karena roh kudus itu ialah Jibril ‘alaihissalam sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir dari kalangan sahabat dan yang setelah mereka.4——-

Dari ayat ini, kita dapati betapa mulia dan agungnya kedudukan Nabi Isa ‘alaihissalam di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga Allah sebutkan beliau sebagai kalimat dan juga roh-Nya. Dan idhafah (penyandaran) pada ayat ini merupakan bentuk penghormatan kepada beliau.——-

Dakwah Nabi Isa ‘alaihissalam—————-

Dakwah beliau tidak berbeda dengan dakwahnya para Nabi dan Rasul yang lain, yaitu mengajak manusia untuk beriman dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya saja, Nabi Isa ‘alaihissalam diutus khusus kepada Bani Israil. Berbeda dengan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diutus kepada semua makhluk, dari kalangan jin dan manusia.—–

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ

Dan (Allah jadikan Isa) sebagai Rasul (yang diutus) kepada Bani Israil (dan berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa ayat (mukjizat) dari Rabb-mu.” (Ali ‘Imran: 49)—————-

Di antara yang beliau serukan kepada Bani Israil adalah apa yang Allah abadikan dalam kitab-Nya,

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Dan (Isa) Al-Masih berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabb-ku dan juga Rabb kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah (dalam ibadahnya), maka Allah haramkan surga untuknya, dan tempat kembalinya ialah neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak memiliki seorang penolong pun (yang akan menolongnya dari siksa api neraka).” (Al-Maaidah: 72)—-

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Sesungguhnya Allah itu Rabb-ku dan juga Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Nya. Inilah jalan yang lurus.” (Ali-‘Imran: 51)———

Walau Allah telah menganugerahi banyak mukjizat yang menunjukkan kenabian beliau, dan membenarkan kerasulan beliau, hanya sebagian saja yang menyambut dan menerima dakwah beliau. Mereka adalah al-hawariyyun yang menjadi pengikut dan penolong setia beliau.——–

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ ۖ فَآمَنَت طَّائِفَةٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَت طَّائِفَةٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.” Maka (dengan begitu), segolongan dari Bani Israil beriman (al-hawariyyun) dan segolongan lain kafir.” (Ash-Shaff: 14)————-

Siapa yang disalib???—————–

Sejak zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, Bani Israil telah menunjukkan sikap-sikap melampaui batas. Mereka telah dikenal sebagai kaum yang sombong, berhati keras, pembangkang, suka berbohong dan ingkar janji, selalu mengingkari nikmat dan ayat-ayat Allah serta hobi mengakal-akali perintah dan larangan Allah. Karenanya, Allah selalu mengutus para Nabi kepada mereka untuk membimbing dan menuntun mereka ke jalan yang benar, serta menegakkan hukum Allah di tengah-tengah mereka.—-

Akan tetapi, ketika ada Nabi yang diutus kepada mereka, selalu saja mendapat ancaman kejahatan tangan-tangan mereka. Dan mereka tidak segan-segan membunuh para Nabi yang diutus kepada mereka. Di antara Nabi yang Allah utus kepada mereka adalah Isa ‘alaihissalam.——

Tidak berbeda dengan nabi-nabi yang lain, Isa ‘alaihissalam juga mendapat perlakuan yang sama dari Bani Israil berupa pendustaan, pengingkaran, gangguan, dan permusuhan.———–

Tatkala Allah mengutusnya kepada mereka dengan bukti-bukti dan juga petunjuk, mulailah mereka iri dan dengki terhadap beliau karena kenabian dan mukjizat-mukjizat luar biasa yang Allah berikan kepada beliau. Karena dasar kedengkian itulah mereka mengingkari kenabian Isa ‘alaihissalam dan kemudian memusuhi serta menyakiti beliau.——–

Betapa besar permusuhan yang mereka sulutkan sehingga tidak membiarkan beliau ‘alaihissalam menetap di negeri bersama mereka. Bahkan beliau bersama ibunya selalu berkelana, berpindah-pindah tempat karena ulah orang-orang Yahudi tersebut.————

Tidak sampai di sini. Karena kedengkian telah tertancap dan mendarahdaging, mereka berusaha membuat konspirasi untuk membunuh beliau dengan menghasut Raja Damaskus saat itu yang beragama penyembah bintang-bintang. Mereka membuat fitnah-fitnah serta tuduhan dusta tentang Nabi Isa ‘alaihissalam, sehingga Raja yang mendengar hal itu menjadi marah dan memerintahkan perwakilannya di al-Quds/Yerussalem untuk menyalibnya.———-

Setelah menerima perintah dari raja, wakil raja yang berada di al-Quds itu langsung berangkat bersama sekelompok Yahudi menuju rumah yang sedang ditempati oleh Nabi Isa ‘alaihissalam dan kemudian mengepungnya.————-

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka telah merancang tipu muslihat, dan Allah juga membuat tipu muslihat (terhadap mereka). Sedangkan Allah adalah sebaik-baik perancang tipu muslihat.” (Ali ‘Imran: 54)—————

Dalam keadaan demikian, Nabi Isa ‘alaihissalam menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapa yang bersedia diserupakan wajahnya seperti wajah beliau. Dan beliau menjanjikan surga bagi siapa yang bersedia. Maka, salah seorang pemuda di antara mereka ada yang merespon beliau dengan jawaban, “Saya bersedia”. Kemudian Allah serupakan wajahnya dengan wajah Nabi Isa ‘alaihissalam. Setelah itu, Nabi Isa tertidur dan diangkat Allah ke langit dari rumah tersebut dalam keadaan demikian. Tatkala para murid beliau keluar dari rumah itu, orang-orang Yahudi yang telah mengepung sejak sore menangkap dan menyalib lelaki tersebut.5 Setelah itu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah membunuh Isa putra Maryam, yaitu utusan Allah” (An-Nisaa’: 157)——-

Namun, Allah membantah perkataan mereka ini pada ayat yang sama, “Dan mereka sama sekali tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya. Akan tetapi, (orang yang mereka salib itu) adalah yang diserupakan (wajahnya dengan Isa) untuk mereka.”————-

Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa sebelum menangkap lelaki tersebut, mereka menghitung jumlah orang-orang yang keluar dari rumah itu karena mendengar bahwa Isa telah diangkat ke langit. Setelah dihitung, ternyata mereka mendapatkan ada satu orang yang kurang. Sehingga mereka ragu apakah yang mereka tangkap itu benar-benar Isa atau bukan?6——

Inilah mengapa Allah sebutkan di akhir ayat, “Dan sungguh, orang-orang yang berselisih padanya (urusan pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan. Mereka itu tidak memiliki ilmu yang pasti tentangnya. Dan mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin (bahwa yang dibunuh itu benar-benar Isa).” (An-Nisaa’: 157)—————

Keberadaan Beliau Saat Ini———–

Para ulama telah sepakat tentang keberadaan beliau saat ini, yaitu di langit dalam keadaan masih hidup dan sama sekali belum mati. Dan hal ini telah disebutkan Allah dalam firman-Nya,———–

وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Mereka tidak membunuhnya dalam keadaan yakin. Akan tetapi (sebenarnya), Allah telah mengangkatnya (Isa) kepada-Nya. Dan Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 157-158)———-

Pengangkatan Nabi Isa ‘alaihissalam terjadi ketika beliau dikepung oleh orang-orang Yahudi untuk ditangkap dan disalib, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Allah mengangkat beliau kepada-Nya, yaitu ke langit.—————

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir tersebut.” (Ali-‘Imran: 55)———–

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud wafat pada ayat ini adalah tidur. Maksudnya, Allah menjadikan beliau tertidur sebelum diangkat ke langit.7———-

Imam Ath-Thabari meriwayatkan dari al-Hasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang Yahudi, “Sesungguhnya Isa itu belum mati. Dan ia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat nanti.”8———–

Dan sangat banyak hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa beliau saat ini masih hidup dan berada di langit.——–

Di antara hadis-hadis tersebut adalah kisah perjalanan mikraj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam kisah tersebut, beliau bertemu dengan Nabi Isa ‘alaihissalam di langit yang menyapa dan memberikan salam penghormatan kepada beliau.9————–

Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam di Akhir Zaman—————–

Turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam ke dunia pada akhir zaman nanti merupakan perkara yang pasti akan terjadi dan merupakan salah satu tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat. Tidak ada satu orang pun dari ulama kaum muslimin yang mengingkari kejadian ini. Bahkan mereka menganggap perkara tersebut termasuk perkara yang wajib diyakini oleh setiap muslim.————–

Hal itu dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkannya dalam Alquran. Begitu pula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengabarkan akan terjadinya kejadian itu.———

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa alaihissalam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisaa: 159)—

Imam As-Saffarini menjelaskan bahwa mereka benar-benar akan beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam sebelum wafatnya. Dan hal itu terjadi ketika beliau turun dari langit pada akhir zaman nanti, sehingga hanya akan ada satu agama, yaitu agama Ibrahim yang lurus.10———

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,

Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil.11————

Bagaimana Beliau Turun??——————

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam akan turun di dekat ‘menara putih’ yang berada di bagian timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelupkan wars12 dan za’faran.13 Saat turun, beliau meletakkan kedua telapak tangannya di sayap dua malaikat. Ketika beliau menundukkan kepala, maka akan menetes. Dan ketika beliau mengangkatnya, maka akan bercucuran air yang sangat bening seperti mutiara. Tidak ada seorang kafir pun yang mencium aroma nafas beliau kecuali ia akan mati. Sedangkan nafas beliau itu menjangkau jarak yang sangat panjang, sejauh matanya memandang.14————–

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa ketika turun, Nabi Isa ‘alaihissalam akan disambut oleh Imam Mahdi beserta kaum muslimin, dan kemudian sholat bersama mereka.——-

Akan senantiasa ada segolongan dari umatku ini yang selalu berperang menampakkan kebenaran sampai hari kiamat tiba. Maka turunlah Isa alaihissalam, dan pemimpin mereka (Imam Mahdi) akan berkata (kepadanya), ‘Kemarilah anda dan sholatlah bersama kami (maksudnya jadilah imam dalam sholat kami-red).’ Kemudian ia menjawab, ‘Tidak, sungguh sebagian kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah terhadap umat ini.’”15————-

Apa Yang Beliau Bawa Ketika Diturunkan dan Untuk Apa Beliau Turun??————–

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menetapkan suatu hal melainkan ia mempunyai misi tersendiri untuk itu. Dan Dia juga telah menetapkan misi khusus diturunkannya Nabi Isa ‘alaihissalam di akhir zaman nanti. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

Demi Allah, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam itu turun di tengah-tengah kalian sebagai seorang hakim yang adil. Maka ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah/upeti. Dan (saat itu) harta benda berhamburan sampai-sampai tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya (harta pemberian).” (HR. Bukhari no. 2222, Muslim no. 155)—————-

Misi lain dari turunnya Isa ‘alaihissalam adalah untuk membunuh Dajjal. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يخرج الدجال في أمتي فيمكث أربعين –لا أدري أربعين يوما أو أربعين شهرا أو أربعين عاما– فيبعث الله عيسى بن مريم كأنه عروة بن مسعود فيطلبه فيهلكه

Dajjal akan keluar di tengah-tengah umatku dan akan menetap selama 40 –salah seorang perawi berkata, aku tidak tahu apakah itu 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun–. Maka Allah utus Isa putra Maryam. Kemudian beliau mencarinya dan akan berhasil membinasakannya.”16———–

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah beliau turun bukan sebagai Nabi yang membawa syariat baru setelah syariat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, sebagai imam kaum muslimin atau hakim yang adil sebagaimana yang disebutkan dalam hadis di atas.———————

Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam beribadah dengan syariat Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik dalam perkara-perkara pokok maupun cabang. Bukan dengan syariat beliau yang dahulu. Sebab, syariat tersebut telah dihapus.————–

Dengan demikian, beliau turun ke bumi sebagai khalifah bagi Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam, sekaligus sebagai hakim bagi umatnya.17—————–

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan Isa itu masih hidup di langit dan sama sekali belum mati. Dan ketika turun nanti, ia tidak akan menerapkan hukum kecuali dengan hukum kitab dan sunah, bukan dengan yang menyelisihi itu.”18—————-

Inilah sedikit tentang hal-hal yang wajib kita yakini seputar Nabi Isa ‘alaihissalam. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi setiap orang yang ingin mengambil manfaat darinya.——–

Wallaahu a’lam.

 

 

Catatan Kaki

1 HR. Bukhori dalam al-adabul mufrod no. 33, dan juga Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya no. 3572.

2 Lihat tafsir ibnu katsir surah Ali-‘Imran ayat 46.

3 Lihat fathul majid 42-43.

4 Tafsir ibnu katsir 1/190.

5 Lihat tafsir ibnu katsir 1/293-294.

6 Tafsir ath-thobari 9/371, maktabah syamilah.

7 Lihat tafsir ibnu katsir pada ayat ini.

8 Lihat tafsir ath-thobari pada ayat 55 surah Ali ‘Imran.

9 Bukhori (349), Muslim (259)

10 Al-irsyad ilaa shohihil-i’tiqood 1/215.

11 HR. Bukhori no. 2222, Muslim no. 155

12 Wars adalah salah satu jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah Arab, Habasyah, dan juga India. Buahnya dilapisi oleh kelenjar merah seperti ada bulu-bulu halus diatasnya. Ini biasa digunakan untuk mewarnai pakaian (lihat almu’jamul-waasith).

13 Za’faran adalah salah satu jenis wewangian.

14 Lihat hadits riwayat Muslim (2937).

15 HR. Muslim no. 156

16 HR. Muslim no. 2940

17 Lihat kitab al-irsyad ilaa shohihil-i’tiqood 1/196, maktabah syamilah.

18Al-irsyad ilaa shohihil-i’tiqood 1/215, maktabah syamilah.

sejarah turunnya Al Qur’an …. petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat —————— Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. ——— Bagian-bagian Al-Qur’an ———— Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. ——————– Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).——— Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.——— Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——- ————– Sejarah Turunnya Al-Qur’an ———– Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —- 2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.— 3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—- Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. 4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—- Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. ———— Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat. Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. ——– Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah ———— Makkiyah Madaniyyah ———— Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang, Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—– Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—– Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun. ——- Kodifikasi Al-Qur’an ———— Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. ———— Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan. ————– Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an —————— Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik. ——————- Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat. ———— Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi) ————– Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh. Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———– Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.— Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——- Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———– Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——- Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah: Firman Allah SWT:———- Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu. ————- Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap. ————— Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat. Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda. —————- Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an ————— Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:—— Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?——— Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah. Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam. ————– Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———– Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.——— Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.—— Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).—— ==========================

sejarah turunnya Al Qur’an …. petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat
——————

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.

———
Bagian-bagian Al-Qur’an

————
Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr.
Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat.

——————–
Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an).
Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).———
Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.———
Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——-
————–
Sejarah Turunnya Al-Qur’an
———–
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —-
2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.—
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—-
Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin.
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—-
Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.
————
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat.
Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
——–
Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah
————
Makkiyah Madaniyyah ————
Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang,
Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—–
Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—–
Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun.
——-
Kodifikasi Al-Qur’an
————
Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.
————
Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
————–
Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an
——————
Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
——————-
Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As.
Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.
————
Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi)
————–
Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.
Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———–
Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.—
Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——-
Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———–
Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——-
Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah:
Firman Allah SWT:———-

Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.
————-
Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap.
—————
Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat.
Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.
—————-
Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an
—————
Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:——
Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?———
Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.
Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam.
————–
Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———–
Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.———
Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.——
Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).——

=================================

Ketika Al-Quran turun kepada Nabi SAW, beliau menyampaikan kepada para sahabatnya secara perlahan-lahan agar mereka menghafalnya lafaznya, dan mampu memahami maknanya. Nabi Muhammad SAW, sangat perhatian dalam menghafal (memelihara) Al-Qur’an dan dalam memperolehnya. Al-Qur’an sepenuhnya hanya bisa diapresiasi dalam bahasa Arab. Al-Qur’an adalah dokumen keagamaan yang mengandung pernyataan awal tentang kepercayaan dan praktek kaum Muslim yang mendasar, namun bukan doktrin yang dijelaskan secara utuh dan sistematis. Al-Qur’an adalah sebuah dokumen hukum suci yang terdiri dari peraturan-peraturan tentang perkawinan, perceraian, makanan, finansial, harta rampasan, pembalasan (Qishash), perjanjian, wasiat, warisan, dan sebagainya, meskipun tampaknya ia mengandung inkonsistensi dan kode hukum yang diberikan, dilakukan secara tidak lengkap dan sistematis. Peraturan-peraturan individu sepertinya dinyatakan dari waktu ke waktu dengan kebutuhan yang ada, dan men-naskh beberapa peraturan yang mendahuluinya.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus sebagaimana kitab-kitab yang kita ketahui, akan tetapi sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur, sebab ada suatu hikmah atau rahasia yang terkandung di dalamnya. Wahyu itu diturunkan pada setiap ada peristiwa atau kejadian, supaya mereka kaum muslimin bertetap hati, tidak merasa jenuh dan Nabi sering dikunjungi oleh malaikat Jibril untuk dibangun kegembiraan dan kesenangan hati. Dengan demikian Nabi selalu merasa gembira karenanya. Untuk orang-orang yang ummi akan lebih mudah cara menghafalnya dan memahami. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan Malaikat Jibril adalah secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Kadang-kadang turun hanya terdiri dari beberapa ayat saja, dan kadang-kadang terdiri dari beberapa ayat, lima sampai sepuluh ayat bahkan ada yang hanya satu ayat. Tetapi ada pula yang sekali turun terdiri dari satu surat lengkap yaitu terdiri dari beberapa surat yang pendek, seperti Surat Al-fatihah, Surat Al-Ikhlas, Al-Alaq, dan sebagainya.
Oleh karena itu, tidaklah aneh kalau Al-Qur’an itu, sebagaimana apa yang telah kita dengar, telah dihafal oleh sejumlah besar para sahabat. Karena salah satu hikmah Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut hemat penulis adalah agar lebih mudah dihafal ataupun dipahami oleh umat Rasulullah SAW dikemudian hari.
B. Pembahasan
1. Ayat yang Pertama Turun
Agama Islam adalah agama yang dianut oleh ratusan juta bahkan miliaran kaum muslim seluruh dunia, dan merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat, karena agama Islam mempunyai satu sendi utama yang esensial berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya; yaitu kalamulah.
Al-Qur’an pertama kali turun pada malam Lailatul Qadr di sebuah gua Hira dengan ayat yang pertama dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5, ini didasarkan pada firman Allah SWT, pada Surat Al-Qadr, dan ayat yang terakhir turun adalah ayat mengenai riba. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau di waktu Nabi Muhammad SAW telah di angkat menjadi Nabi Muhammad SAW. Sampai saat ini, tanggal tersebut diperingati oleh umat Islam Indonesia setiap tahun sebagai malam peringatan Nuzulul Qur’an. Sebenarnya para ulama mengenai hal ini tidak sependapat. Ada tiga pendapat, mengenai ayat atau surat pertama sekali turun, yaitu ada yang mengatakan Surat Al-Fatihah, Surat Al-Mudatstsir, dan pendapat yang terkuat adalah Surat Al-‘Alaq. Semua pendapat ini masing-masing mempunyai alasan.
Pendapat yang lain mengatakan, bahwa ayat yang pertama diturunkan adalah Surat Al-Mudatstsir berhujjah dengan hadits riwayat Asy-Syaikhani, yang diterima dari Abi Salamah bin Abdurrahman. Dia berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah “Ayat apa yang turun sebelum segalanya? Jabir berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “Ya Ayyuhal Mudatstsir.” Kemudian aku berkata, atau “Iqra’ Bismi Rabbika”? jabir berkata: “Saya ceritakan kepadamu apa yang diceritakan oleh Rasulullah kepada kami.” Rasulullah berkata “ Aku mengasingkan diri di gua Hira, setelah aku pun turun ke lembah, kemudian aku dipanggil oleh seorang, maka aku menoleh ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri (tapi tiada siapa-siapa). Selanjutnya aku melihat ke atas, ternyata ada Jibril, kemudian aku menggigil, aku lalu datang kepada Khadijah. Aku menyuruh orang-orang menyelimutiku. Maka Allah SWT menurunkan ayat “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” Demikian pula pendapat-pendapat yang lain, masing-masing didukung oleh hadits. Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat bahwa ayat pertama turun ialah Surat Al-‘Alaq 1-5 berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari, yang diterima dari Aisyah ra, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Tentang ayat pertama turun Imam Al-Bukhari meriwayatkan dua hadits yang berbeda. Salah satunya mengatakan bahwa ayat pertama turun adalah lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq (seperti teks di atas). Hadits riwayat Imam Al-Bukhari yang bersumber dari Aisyah ra ini menyatakan sahih oleh dua tokoh hadits yang lain. Yaitu oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya dan oleh Al-Baihaqiy dalam Dalil-nya. Kemudian Al-Thabraniy dalam kitabnya Al-Kabir dengan sanad-nya sendiri- yang bersumber dari Abi Raja Al-Aththardiy menyatakan:”Abu Musa mengajarkan kami mengaji. Beliau menyuruh kami duduk ber-halaqah. Beliau mengenakan dua baju putih. Jika beliau membaca surat Al-Alaq, Beliau menyatakan: “Ini adalah surat pertama yang turun kepada Muhammad SAW.
Imam Al-Bukhari juga memang meriwayatkan dua hadits yang seakan-akan berbeda mengenai satu masalah. Yakni ayat yang pertama turun. Mari kita simak riwayat Imam Al-Bukhari, dan Imam Muslim dari Abu Salamah bin Abdal Rahman bin ‘Auf yang mengatakan “Aku pernah menanya Jabir bin Abdullah: (ayat) Al-Qur’an manakah turun terlebih dahulu?” Ia menjawab: “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” Lalu kukatakan “Ataukah “Iqra’ Bismi Rabbika?” Ia (Jabir) lalu mengatakan: “Akan kuceritakan kepadamu, apa yang diceritakan Rasulullah.” Rasulullah pernah bersabda:”Sesungguhnya aku pernah di gua Hira. Seusai aku menyendiri di sana, aku keluar. Aku menuruni lembah. Kemudian aku dipanggil. Aku melihat ke depan dan ke belakangku, ke kanan dan ke kiriku. Kemudian aku menatap ke langit. Tiba-tiba dia (maksudnya Jibril) tengah duduk di atas Arsy antara langit dan bumi. Aku gemetar. Maka kudatangi Khadijah dan dia menyelimutiku. Kemudian Allah SWT menurunkan: “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” (Wahai orang yang tengah berselimut. Bangunlah, maka berilah peringatan).
Sedikitnya ada dua hal yang perlu diperhatikan menurut penulis menyangkut hadits di atas. Pertama, kalimat Abu Salamah yang berbunyi:” Ataukah Iqra’ Bismi Rabbika?” ini artinya, Abu Salamah tidak serta merta menerima keterangan Jabir yang mengatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir” itu. Dan, kalimat Abu Salamah yang berbentuk pertanyaan (Ataukah Iqra’ Bismi Rabbika?) itu sesungguhnya bantahan secara halus terhadap keterangan Jabir. Tetapi oleh karena dalam masalah ini status Abu Salamah sebagai orang yang bertanya (katakanlah murid), tentu ia harus bersikap sopan, tidak membantah ulang keterangan Jabir bin Abdullah; kedua, kecuali hadits di atas, Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan yang lain dari Abu Salamah dan dari Jabir. Intinya berbunyi “Ketika aku (maksudnya Rasulullah SAW) tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suatu jenis suara dari langit. Aku lalu mengarahkan pandangan ke arah langit. Rupanya malaikat yang telah mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku takut, sampai-sampai aku terperosok ke tanah. Aku kemudian mendatangi keluargaku dan kukatakan “Selimuti aku, selimuti aku”. Lalu Allah SWT menurunkan ayat: “Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan!, Dan Tuhanmu agungkanlah!, Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (QS. Al-Muddatstsir:1-5)
Adanya pengakuan Rasulullah yang berbunyi: “Rupanya malaikat yang tengah mendatangiku di Hira…” menunjukkan bahwa sebelum peristiwa turunnya Surat Al-Muddatstsir, Rasulullah telah bertemu Jibril di Hira. Dengan dasar dua alasan tadi, kebanyakan ulama mengatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang pertama sekali turun adalah ayat 1-5 Surat Al-Alaq. Sementara itu, Surat Al-Muddatstsir mereka nyatakan diturunkan, bukan yang pertama kali turun.
Menurut penulis, mungkin saja timbul pertanyaan: Apakah kegunaan kita mengetahui ayat lebih dahulu turun dibandingkan dengan ayat lainnya? Pertanyaan seperti ini memang bisa saja timbul terutama dari orang yang awam terhadap hakikat Al-Qur’an.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya dikutip apa yang tulis oleh Syekh Muhammad Abd Al-‘Azhim Al-Zarganiy. Penulis kitab Manahil Al-‘Irfan ini, melihat sedikitnya ada tiga faedah yang dapat dipetik dari mengetahui hal seperti ini, yaitu:
1. “Untuk membedakan ayat mana yang nasikh dan mana mansukh. Jika ditemui atau beberapa ayat yang berbeda mengenai satu masalah, maka dengan mengetahui ayat yang mana turun lebih dahulu dan belakangan, dapat diketahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh.
2. Untuk mengetahui Tarikh Tasyri’. Artinya, perjalanan sejarah penetapan hukum Islam dapat ditangkap secara lebih jelas dengan mengetahui hal ini.
3. Untuk dapat mengikuti secara pasti perjalanan turunnya Al-Qur’an yang berangsur-angsur. Dengan demikian bisa ditangkap taktik strategi dakwah Islam di dalam mengajak orang kepada jalan Allah SWT.”
2. Surat yang Terakhir Turun
Ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(QS. Al-Baqarah: 281)
Para ulama tidak sepakat mengenai ayat terakhir turun. Selain dari pendapat di atas, terdapat pula pendapat lain yaitu di antara mereka yang mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, An-Nisa’ ayat 176, At-Taubah ayat 128-129, dan yang paling populer adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah pendapat di atas, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 281. Masing-masing pendapat ini mempunyai alasan, tetapi alasan itu kurang kuat jika dibandingkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa yang terakhir turun tersebut Surat Al-Baqarah ayat 281. Tapi menurut Salman Harun bahwa ayat terakhir yang turun adalah ayat ke lima dari Surat Al-Maidah. Isinya adalah pesan bahwa ajaran Tuhan tentang manusia dan kemanusiaan telah sempurna diberikan lewat Al-Qur’an. Sesuai dengan makna Al-Maidah yaitu “ hidangan”, maka untuk mencapai kesempurnaan manusia dan kemanusiaan tersebut, perlu ada sesuatu yang dihidangkan yaitu pendidikan dan pengajaran. Mayoritas ulama berpendapat bahwa terakhirnya turunnya Al-Qur’an ialah hari Jumat, 9 Dzulhijah tahun 10 H atau tahun 63 kelahiran Nabi Muhammad SAW atau sama dengan bulan Maret 632 M, pada saat itu nabi sedang berwukuf di Padang Arafah dalam menyelenggarakan haji yang dikenal dengan haji Wada’. Sa’id bin Al-Khudri, sebagaimana dikutip oleh As-Syayuti, mengatakan, ayat ini turun kepada Nabi Muhammad SAW sembilan hari menjelang beliau wafat.
Menurut pendapat yang lain masalah ayat yang paling akhir turun, tak satu pun yang marfu’ kepada Nabi Muhammad SAW. Riwayat-riwayat yang semuanya bersumber dari sahabat dan tabi’in. Itulah sebabnya mengapa di dalam menunjuk ayat yang paling akhir turun, terjadi kesimpangsiuran dan persilangan pendapat. Dan, riwayat-riwayat yang hanya sekali tidak selamanya menunjukkan turunnya ayat. Tidak jarang di antaranya yang menunjuk pada surat. Bersama ini kita uraikan beberapa riwayat di antaranya:
a. Riwayat pertama yang paling akhir turun adalah firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(QS. Al-Baqarah: 281)

Dalil yang dipegang adalah:
1) Riwayat yang dikeluarkan oleh Nasa’i dari ‘Ikhrimah, dari Ibnu Abbas.
2) Riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id Jubair.
3) Riwayat Ibnu Jari, dari Ibnu Jurai.
4) Riwayat Al-Baihaqiy, dari Ibnu Abbas.
b. Riwayat kedua ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah:278)
Riwayat yang sama, juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqy.
c. Riwayat ketiga ayat yang terakhir adalah Surat Al-Baqarah ayat 282, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua orang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS.Baqarah:282)
Riwayat ini merujuk pada:
1) Riwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Sa’id bin Al-Musayyab.
2) Riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Ubaid, dari Ibnu Syihab.
Mengomentari ketiga riwayat di atas, Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy dan Dr. Muhammad Yusuf Al-Qasim dalam masalah ini sepakat dengan Imam Al-Syayuthi mengatakan: “Ketiga riwayat ini mungkin sekali dikompromikan”. Jelas, kata kedua guru besar Ilmu Al-Qur’an dari Universitas Al-Azhar ini, bahwa ketiga ayat yang ditunjuk oleh ketiga riwayat di atas diturunkan sekaligus karena letaknya yang boleh dikatakan berurutan dan kisahnya masih satu rangkaian.
d. Riwayat keempat ayat yang terakhir turun adalah Surat Maidah ayat 3, “…pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…”( QS. Al-Maidah:3)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini turun 81 hari sebelum Rasulullah SAW wafat. Jadi, inilah pendapat yang kuat dibandingkan dengan pendapat yang populer di kalangan umat Islam, bahwa ayat yang terakhir adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Ayat ini turun di Padang Arafah ketika Rasulullah menunaikan haji terakhir, dan dia masih hidup beberapa bulan lagi setelah itu. Setelah Surat Al-Baqarah ayat 281, turun 9 hari atau 81 hari menjelang Rasulullah SAW wafat.
Syekh Muhammad Al-Khudhari dalam kitabnya, Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami, dan Syekh Abdu Al-Aziz Al-Khuli dalam kitabnya Al-Qur’an Wasfhuhu, Hidayatuhu, ‘Atsaru I’jazihi termasuk memegang ayat 3, surat Al-Maidah ini sebagai ayat yang diturunkan paling akhir yang diturunkan pada haji Wada’, dan setelah ayat diturunkan 81 hari sebelum Rasulullah SAW 81 hari.
Imam Al-Syayuthi menolak ayat 3 Surat Al-Maidah sebagai ayat yang paling akhir turun dengan alasan, bahwa; pertama, yang dimaksud dengan “menyempurnakan agama” adalah menyempurnakan kekuasaannya, meninggikan kalimatnya, dan memperkuat wibawanya; kedua, yang dimaksud dengan “menyempurnakan agama” adalah menyempurnakan hukum-hukum halal dan haram. Dengan kata lain, tidak berarti setelah itu turun lagi ayat-ayat mengenai peringatan dan nasihat.
Tetapi menurut Imam Al-Zarkasyi punya pilihan lain. Penulis kitab Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an ini menulis “Al-Qadhi Abu bakar mengatakan dalam kitab Al-Intishar ”Tak satu pun dari ucapan-ucapan ini yang marfu’ kepada Rasulullah SAW. Boleh jadi, perawinya mengatakannya sebagai suatu jenis ijtihad dan kecenderungan dugaan. Mengetahui yang demikian bukan termasuk kewajiban agama, ada kemungkinan, masing-masing mereka menginformasikan ayat yang terakhir yang didengarnya dari Rasulullah SAW pada hari wafatnya atau beberapa saat sebelum beliau sakit”.
3. Masa Turun Al-Qur’an
Rentang selama turunnya Al-Qur’an, salah satu faktor kuat yang menyebabkan keterjagaan hafalan Nabi Muhammad SAW, dan tetapnya dalam hati Nabi yang mulia adalah penyampaian Al-Qur’an yang dilakukan oleh Jibril kepada nabi Muhammad SAW, pada bulan Ramadhan di setiap tahun. Bahkan, pada tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW, Jibril menyampaikan bacaan Al-Qur’an dua kali, sehingga dapat memahaminya pada waktu menjelang akhir kehidupannya.
Penyampaian Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW seiring dengan periode dakwah Nabi SAW, yang meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. Yang pertama berlangsung lebih kurang 13 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Dan yang terakhir berlangsung lebih kurang selama 10 tahun, setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Ayat atau surat Al-Qur’an yang diturunkan pada periode pertama disebut dengan ayat atau surat Al-Makkiyah dan pada periode kedua disebut dengan Al-Madaniyah.
Tentang rentang waktu di mana Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an, Abdal Wahhab Abdal Masjid Ghazlan dalam Mabahitsfi ‘Ulum Al-Qur’an-nya menurunkan tiga pendapat, yaitu; pertama, bahwa Al-Qur’an diturunkan berturut-turut selama dua puluh tahun; kedua, bahwa Al-Qur’an diturunkan selama dua puluh tiga tahun; ketiga, Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an selama dua puluh lima tahun.
Ketiga pendapat Al-Ghazlan di atas, tak satu pun yang menunjukkan secara cermat mengenai masa di mana Rasulullah SAW menerima Al-Qur’an. Agaknya mereka memilih menggenapkan bilangan masa itu ketimbang merincinya. Seperti diketahui, bahwa pengangkatan Muhammad bin Abdullah yang lahir tanggal 12 Rabi’ul-Awwal menjadi nabi dan rasul pada saat usia beliau mencapai usia 40 tahun. Sedangkan pertama kali beliau menerima wahyu pada tanggal 12 Rabi’ul-Awwal saat beliau bermimpi (ru’ya shadiqah). Enam bulan kemudian, pada bulan yang sama juga, yakni pada bulan Ramadhan, beliau menerima ayat Al-Qur’an yang pertama turun. Sedangkan Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun. Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan, bahwa Rasulullah SAW menerima wahyu Al-Qur’an selama 22 tahun 6 bulan.
Semua ayat Al-Qur’an diperoleh Nabi Muhammad melalui wahyu. Hal ini tidak dapat disamakan dengan proses ilham. Karena ilham datang lantaran suatu usaha, sedangkan wahyu datang dengan sendirinya. Wahyu datang dalam dua bentuk, yaitu bentuk pertama lewat malaikat Jibril yang bertugas menyampaikannya dan cara seperti inilah yang sering terjadi. Bentuk yang kedua adalah penyampaian secara langsung dari Allah SWT ke dalam kesadaran Nabi, bentuk terakhir ini sangat berat bagi beliau sehingga sampai bercucuran keringat walau itu terjadi di musim dingin.
Wahyu turun kapan saja dan tidak atas kemauan Nabi Muhammad. Adakalanya saat beliau sudah berangkat tidur lalu beliau duduk dan senyum ( misalnya QS.108 ), atau sedang lelap dini hari ( misalnya QS.9:118 ), sedang menetap ( misalnya QS.2:125 ), bepergian ( antara lain QS.4:176 ), sedang berperang ( seperti QS.63 ), melaksanakan Isra’ ( yaitu QS.43:45 ), melaksanakan Mi’raj ( seperti QS.2:284 sampai akhir ), waktu musim dingin ( ayat mengenai fitnah terhadap Aisyah; QS.24:11 ), musim panas ( QS.9:81), serta keadaan lainnya.
Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan berbagai peristiwa, baik bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah SAW. Beberapa sumber riwayat memperkirakan masa turunnya wahyu seluruhnya 20 tahun, tetapi ada juga memperkirakan kurang lebih 25 tahun, perkiraan ini didasarkan pada masa mukimnya Rasulullah SAW di Mekkah setelah bi’tsah yaitu antara 10 dan 15 tahun.
4. Dalil dan Bukti Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsur
Al-Qur’an itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap. Pertama, penyampaian Al-Qur’an dari Allah SAW kepada Lawh Al-Mahfuzh. Maksudnya, sebelum Al-Qur’an disampaikan kepada Rasulullah SAW sebagai utusan Allah SWT terhadap manusia, ia terlebih dahulu disampaikan kepada Lawh Al-Mahfuzh, yaitu suatu lembaran yang terpelihara di mana Al-Qur’an pertama kalinya ditulis pada lembaran tersebut. Allah SWT menjelaskan, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuz.“(QS. Al-Buruuj:21-22)
Tidak ada manusia yang tahu bagaimana cara penyampaian Al-Qur’an dari Allah SWT ke Lawh Al-Mahfuzh. Dan manusia tidak wajib mengetahuinya, tetapi wajib mempercayainya karena yang dikatakan Allah SWT.
Tahap kedua adalah turunnya ke langit pertama dengan sekaligus. Di langit pertama itu, ia disimpan pada Bayt Al-‘Izzah. Penurunan tahap kedua ini bertepatan dengan malam Qadar, seperti dalam Surat Al-Qadr (97) ayat 1, Ad-Dukhan (44) ayat 3, dan Al-Baqarah ayat 185. Ibnu Abbas mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Az-Zarqani: “Al-Qur’an diturunkan, secara sekaligus, ke langit dunia pada malam Qadr. Setelah itu, ia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 20 tahun.”
Para Mufassirin mengkaji hikmah penurunan Al-Qur’an ke langit pertama. Fakhruddin Ar-Razi, misalnya mengatakan bahwa hikmah diturunkan Al-Qur’an ke langit dunia adalah untuk kemaslahatan, yaitu agar ia tidak jauh, baik dari Rasulullah SAW maupun dari malaikat, terutama malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat Ar-Razi ini dikomentari oleh Al-Hijazi. Dia mengatakan hal ini merupakan rahasia Allah SWT. Masalah tersebut lebih tinggi dari itu semua, di mata manusia sulit mengetahuinya.
Tahap ketiga adalah turunnya Al-Qur’an dari Bayt Al-‘Izzah secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, atau 23 tahun. Jibril menyampaikan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW, sehingga setiap kali wahyu ini disampaikan beliau langsung menghafalnya. Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 97 menyebutkan hal tersebut, yaitu: “Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Baqarah: 97)

Klasifikasi tahap penurunan Al-Qur’an di atas, didasarkan penyampaian Al-Qur’an dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Apabila klasifikasi tersebut didasarkan atas periode penyampaian dakwah Islam dan penanaman serta pertumbuhan ajaran Islam, maka penurunan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan pula kepada periode Mekkah dan Madinah. Periode Mekkah lebih kurang 13 tahun dan periode Madinah kurang lebih 10 tahun. Dalam kajian Ulumul Al-Qur’an, hal ini disebut dengan ilmu Al-Makkiyah Wa Al-Madaniyah. Jumlah surat yang diturunkan pada periode Mekkah lebih banyak dari jumlah surat yang diturunkan pada periode Madinah. Surat yang diturunkan pada periode Mekkah adalah berjumlah 86 surat, sedangkan periode Madinah berjumlah 28 surat. Perbedaan antara kedua periode ini ditandai dengan perjalanan dakwah Islam oleh Rasulullah SAW, yaitu yang terdiri dari sebelum hijrah yang disebut periode Mekkah, dan setelah hijrah yang disebut periode Madinah.
Seperti yang telah digambarkan di atas, bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Hal ini mendapat ejekan dan kritik dari kaum kafir. Mereka mempertanyakan kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan dengan sekaligus. Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an diturunkan dengan sekaligus. Maka Al-Qur’an menjawab kritikan dan protes kaum kafir itu. Allah menjawab dengan beberapa berfirman-Nya: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).”(QS.Al-Furqan:32). “Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.”(QS.Al-Isra’:106)

5. Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Berangsur-Angsur
Paling tidak ada empat hikmah kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, yaitu:
a. Menetapkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad SAW, seperti digambarkan dalam ayat di atas. Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka berarti Nabi Muhammad SAW akan selalu berjumpa dengan Jibril dan menerima Al-Qur’an. Hal ini secara psikologis akan berpengaruh kepada Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah ilahi, dia akan menjadi tegar dan kuat. Berbeda dengan turunnya sekaligus, berjumpa dan mendapatkan seluruh ayat kemudian tidak muncul lagi.
b. Berangsur-angsur dalam mendidik umat, yang sedang tumbuh ini, untuk menanamkan ilmu dan amal. Hal ini dapat memberikan kemudahan kepada para sahabat untuk memahami dan menghafalkannya. Betapa sulitnya memahami dan menghafal ayat-ayat yang begitu banyak jika ia diturunkan sekaligus. Dan bahkan lebih sulit lagi mengamalkannya, karena perintah dan larangan yang begitu banyak muncul secara bersamaan. Maka untuk itulah Allah SAW menurunkan ayat-ayat tersebut dengan berangsur-angsur.
c. Menyesuaikan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan perlunya penyesuaian penurunan ayat dengan peristiwa yang sedang terjadi, yaitu; pertama, akan menimbulkan kesan yang mendalam sehingga umat Islam benar-benar merasakan betapa butuhnya mereka dengan Al-Qur’an; kedua, berguna menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat secara langsung dengan yang diturunkan ketika itu juga atau menunggu beberapa lama, hal ini selain menimbulkan kesan yang mendalam bagi penanya, dan juga dapat menambah keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an benar-benar datang dari Allah SWT, sehingga Nabi Muhammad SAW harus menunggu turunnya ayat yang berkenaan dengan itu.
d. Memberikan isyarat yang nyata kepada musuh-musuh Islam, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang datang dari Allah SWT bukan perkataan Nabi Muhammad SAW. Jika ia kalam Nabi Muhammad SAW, maka dia dapat mengungkapkannya kapan dan di mana saja, tidak perlu menunggu.

C. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan yakni:
1. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau di waktu Nabi Muhammad SAW telah di angkat menjadi Nabi Muhammad SAW, dan peringati sebagai Nuzulul Qur’an. Sebenarnya para ulama mengenai hal ini tidak sependapat. Ada tiga pendapat, mengenai ayat atau surat pertama sekali turun, yaitu ada yang mengatakan Surat Al-Fatihah, Surat Al-Mudatstsir, dan jumhur ulama berpendapat bahwa ayat pertama turun ialah Surat Al-‘Alaq 1-5.
2. Para ulama tidak sepakat mengenai ayat terakhir turun. Terdapat banyak pendapat mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, An-Nisa’ ayat 176, At-Taubah ayat 128-129, dan yang paling populer adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah Surat Al-Baqarah ayat 281.
3. Penyampaian Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW seiring dengan periode dakwah Nabi SAW, yang meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan berbagai peristiwa, baik bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah SAW.
4. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Hal ini dibuktikan dengan jumlah 86 surat yang diturunkan pada periode Mekkah lebih banyak dari jumlah 28 surat yang diturunkan pada periode Madinah. Perbedaan antara kedua periode ini ditandai dengan perjalanan dakwah islam oleh Rasulullah SAW, yaitu yang terdiri dari sebelum hijrah yang disebut periode Mekkah, dan setelah hijrah yang disebut periode Madinah. Dalilnya dapat dilihat pada Surat Al-Furqan ayat 32 dan Surat Al-Isra’ ayat 106.
5. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an berangsur-angsur, yaitu:
a. Menetapkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad SAW.
b. Berangsur-angsur dalam mendidik umat, yang sedang tumbuh ini, untuk menanamkan ilmu dan amal.
c. Menyesuaikan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu.
d. Memberikan isyarat yang nyata kepada musuh-musuh Islam, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang datang dari Allah SWT bukan perkataan Nabi Muhammad SAW.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (1996), Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Depag RI.
Abu Syuhbah, Muhammad bin Muhammad, (2003), Al-Madkhal Li Dirasah Al-Qur’an Karim, Terj. Taufiqurrahman, Bandung: Pustaka setia.
Al-Kumiy, Ahmad Al-Sayyid, dan Yusuf Al-Qasim, Muhammad Ahmad, (1396H/1976M), ‘Ulum Al-Qur’an Cet. III, Mesir: Universitas Al-Azhar.
As-Shalih, Subuhi, (2001), Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.
As-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman, (1398H/1978), Al-Itqan ‘Ulum Al-Qur’an, Beirut: Darul Al-Ma’rifah.
Hijazi, Mahmud, (1970), Al-Wahdah Al-Mawdhu’iyyah fi Al-Qur’an Al-Karim, Kairo:Marba’ah Al-Madani.
Harun, Salman, (1999), Mutiara Al-Qur’an, Jakarta:Logos.
Marzuki, Kamaluddin, (1994), ‘Ulum Al-Qur’an, Bandung: Remaja Rosakarya.
M. Yusuf, Kadar, (2009), Studi Al-Qur’an, Jakarta: Hamzah.
Shihab, M. Quraish, (1996), Membumikan Al-Qur’an¸ Bandung: Mizan.
Wahid, Marzuki, (2005), Studi Al-Qur’an Kontemporer, Bandung: Pustaka Setia.
Zarkasiy, Al-Imam Badru Al-Din Muhammad Abdullah (1391H/1972M) Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an, Tahqiq Muhammad Al-fadlal Ibrahim cet.I, Beirut:Darul Al-Ma’rifah.