PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK yg tersebar di masyarakat sebelum KIAMAT/ MALAPETAKA BESAR bagi semua penduduk BUMI -------------------- “Tidak akan terjadi hari KIAMAT sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang MUSYRIK dan sampai mereka MENYEMBAH “berhala” (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)” Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952. --------------------- “Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu? Mana buktinya?”. ------------------------- Tapi kalau sumber beritanya berasal dari firman Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân, masihkah ada yang meragukan kebenarannya?. Simaklah, Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ ” Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [Yûsuf/12:106] ----------------- Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman: وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya” [Yûsuf/12:103] ------------------------------- Ketauhidan manusia pada zaman Rasulullah SAW tidaklah sama dengan ketauhidan manusia di zaman sekarang. Ketauhidan manusia pada zaman sekarang sudah banyak yang melenceng dari syariat agama islam, kurang mendalami ilmu agama dan otomatis keimanannya juga lemah. Berbeda dengan zaman Rasulullah SAW, pada zaman Rasulullah SAW ketauhidan manusia pada saat itu masih asli, masih bagus, dan bersifat praktikal, sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Ketika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan lansung kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan dengan kita yang hidup pada zaman sekarang, apakah kita bisa bertanya lansung kepada rasulullah SAW ketika ada masalah. Hal itu tidak mungkin karena Rasulullah telah wafat , namun kita bisa mengamalkan sunah rasul dan Al-qur’annul karim sebagai pedoman hidup manusia, ------------------------ Salah satu bentuk penyimpangan terhadap ketauhidan manusia terhadap sang pencipta ialah syirik. Kenapa saya memilih syirik dalam makalah observasi lapangan ini. Karena perbuatan syirik merupakan dosa terbesar dalam agama islam. Dewasa ini perbuatan syirik atau menyekutukan Allah ini seperti perbuatan biasa dan seperti perbuatan yang lumrah bagi manusia pada masa sekarang, ini terbukti dengan masih adanya budaya sesajen, pesugihan, meminta keberuntungan kekuburan, meminta kekayaan kegunung kawi dan masih banyak lagi. Dalam pandangan islam ini bukan merupakan hal sepele dan sangat fatal dampaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT ----------- ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Anisa : 48) ---------------- <<< Pernyataan ayat diatas sangat mengancam manusia untuk meninggalkan perbuatan syirik itu. ---------- Surat Al A'raf ayat 172 menjelaskan bahwa setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia, oleh Allah SWT sudah dimintai kesaksian tentang ketuhanan Allah SWT dengan pertanyaan, ---------- ''Bukankah Aku ini Tuhanmu?'' Setiap janin yang hendak menjadi manusia ini pun menjawab, ''Tentu saja kami menjadi saksi.'' Untuk apa Allah SWT meminta kesaksian seperti itu? Agar kelak di hari kiamat tidak ada orang (yang menyembah selain Allah SWT) berargumen bahwa mereka tidak tahu tentang ketuhanan dan keesaan Allah SWT.----------- Dalam sebuah hadits riwayat Al Hakim, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap bayi yang terlahir --dari dua orang tua Muslim maupun kafir-- itu berada dalam kondisi Muslim. Hanya apakah si anak itu tetap sebagai Muslim atau berubah menjadi musyrik atau kafir, itu tergantung agama yang diajarkan kedua orang tuanya. ------------------ <<< Setiap orang tua Muslim memiliki tugas utama dan pertama untuk menjaga akidah diri dan anak keturunannya istiqamah pada akidah yang mengesakan Allah SWT. Saat ini, tugas tersebut menjadi bertambah wajib untuk ditunaikan, karena semakin banyak pihak yang berkeinginan untuk menyeret kaum Muslim pindah agama dan keyakinan. --------- <<< Gerakan pemurtadan yang dilakukan dengan iming-iming yang menggiurkan adalah salah satu aktivitas yang terus menggoda akidah umat Islam. Selain itu juga ada paham pluralisme agama yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran Islam. Semua agama dianggap sama.--------- Sahabat Ismail bin Umayah pernah meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Beliau memberinya nasihat singkat dengan mengingatkan, ''Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah SWT dengan sesuatupun, meski kamu harus menerima risiko kematian dengan cara dibakar hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah dua. '' (HR Ibnu Majah).------------- Nasihat Rasulullah SAW itu tentu terkait dengan peringatan Allah SWT bahwa dosa syirik akan menghanguskan segala kebajikan dan merupakan dosa tak terampuni. Allah SWT berfirman, ''Jika kamu mempersekutukan Allah SWT niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'' (QS Az Zumar:65). Di ayat yang lain Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'' (QS An Nisa 48). Semua keterangan tersebut terkait dengan syirik kufur, yakni orang yang menyembah kepada selain Allah SWT. -------------------- ---------------Tauhid adalah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada juga definisi yang lain, yaitu konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah (tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (diabdi/disembah) selain Allah. Orang yang bertauhid disebut orang yang beriman (orang mukmin). Lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik menurut bahasa artinya bersekutu atau berserikat. Sedangkan syirik menurut istilah artinya menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam Zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, maupun dalam ketaatan yang seharusnya ditujukan hanya untuk Allah semata. Dan orang yang berbuat syirik disebut orang musyrik (ada dua golongan). Sudah menjadi Sunnatullah bahwa pertentangan antara tauhid vs syirik atau orang mukmin vs orang musyrik akan selalu ada di segala zaman. -------- Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka mentaati 3 (tiga) prinsip ajaran tauhid sebagai berikut: Beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah-- • Meninggalkan perbuatan syirik---- • Menjauhi thaghut-------- Hal tersebut sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:------- Ibadatilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun... (QS. An-Nisa: 36)------- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadati..." (QS. Az-Zumar: 65-66)------ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Ibadatilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut."... (QS. An-Nahl: 36)----- Perbuatan syirik merupakan kezaliman yang besar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:-- Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)------------ Ada 3 (tiga) sebab munculnya perilaku syirik, yaitu sebagai berikut:--- Al jahlu (kebodohan) ---- • Dhai’ful iman (lemahnya iman) ---- • Taqlid (ikut-ikutan secara membabi-buta)--------- Barangsiapa yang berbuat syirik maka hapuslah pahala segala amal perbuatannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:--- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)----- ...Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'am: 88)--- Barangsiapa yang berbuat syirik maka dia telah berbuat dosa yang besar dan dosanya itu tidak akan diampuni, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:-------- Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa: 48)------------ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa: 116)---------- Barangsiapa yang berbuat syirik maka Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya adalah neraka, berdasarkan firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:---------- ...Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim (musyrik) itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)--------- Orang-orang beriman tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun anggota keluarga sendiri, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:------- Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)------- Orang-orang musyrik itu halal darah dan hartanya, bahkan Allah memerintahkan untuk membunuh mereka di mana saja menjumpai mereka, kecuali mereka bertaubat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:--- ...bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan... (QS. At-Taubah: 5)--------- Demikian juga Nabi Musa 'alaihis salam dulu memerintahkan kaumnya agar membunuh orang-orang musyrik di antara mereka yang terlibat penyembahan patung anak lembu yang terbuat dari emas, akan tetapi dibunuhnya mereka dalam hal ini justru sebagai bentuk taubat mereka kepada Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada sang Pencipta yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi sang Pencipta yang menjadikan kamu; maka Dia akan menerima taubatmu... (QS. Al-Baqarah: 54)---------- Khusus para pelaku syirik dari golongan Yahudi dan Nasrani, Allah menamakan mereka ahli kitab (bukan orang musyrik) dan memerintahkan untuk memerangi mereka sampai mereka membayar jizyah, yaitu pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:---------- Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)--------

40 syirk 1

PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK yg tersebar di masyarakat sebelum KIAMAT/ MALAPETAKA BESAR bagi semua penduduk BUMI

--------------------
“Tidak akan terjadi hari KIAMAT sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang MUSYRIK dan sampai mereka MENYEMBAH “berhala” (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)”
Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952.
---------------------
“Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu? Mana buktinya?”.
-------------------------

Tapi kalau sumber beritanya berasal dari firman Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân, masihkah ada yang meragukan kebenarannya?. Simaklah, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [Yûsuf/12:106] -----------------

Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya” [Yûsuf/12:103]
-------------------------------
Ketauhidan manusia pada zaman Rasulullah SAW tidaklah sama dengan ketauhidan manusia di zaman sekarang. Ketauhidan manusia pada zaman sekarang sudah banyak yang melenceng dari syariat agama islam, kurang mendalami ilmu agama dan otomatis keimanannya juga lemah. Berbeda dengan zaman Rasulullah SAW, pada zaman Rasulullah SAW ketauhidan manusia pada saat itu masih asli, masih bagus, dan bersifat praktikal, sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Ketika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan lansung kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan dengan kita yang hidup pada zaman sekarang, apakah kita bisa bertanya lansung kepada rasulullah SAW ketika ada masalah. Hal itu tidak mungkin karena Rasulullah telah wafat , namun kita bisa mengamalkan sunah rasul dan Al-qur’annul karim sebagai pedoman hidup manusia,

------------------------

Salah satu bentuk penyimpangan terhadap ketauhidan manusia terhadap sang pencipta ialah syirik. Kenapa saya memilih syirik dalam makalah observasi lapangan ini. Karena perbuatan syirik merupakan dosa terbesar dalam agama islam. Dewasa ini perbuatan syirik atau menyekutukan Allah ini seperti perbuatan biasa dan seperti perbuatan yang lumrah bagi manusia pada masa sekarang, ini terbukti dengan masih adanya budaya sesajen, pesugihan, meminta keberuntungan kekuburan, meminta kekayaan kegunung kawi dan masih banyak lagi. Dalam pandangan islam ini bukan merupakan hal sepele dan sangat fatal dampaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT -----------

''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Anisa : 48)
----------------

<<< Pernyataan ayat diatas sangat mengancam manusia untuk meninggalkan perbuatan syirik itu.

----------

Surat Al A'raf ayat 172 menjelaskan bahwa setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia, oleh Allah SWT sudah dimintai kesaksian tentang ketuhanan Allah SWT dengan pertanyaan,  ----------

''Bukankah Aku ini Tuhanmu?'' Setiap janin yang hendak  menjadi manusia ini pun menjawab, ''Tentu saja kami menjadi saksi.'' Untuk apa Allah SWT meminta kesaksian seperti itu? Agar kelak di hari kiamat tidak ada orang (yang menyembah selain Allah SWT) berargumen bahwa mereka tidak tahu tentang ketuhanan dan keesaan Allah SWT.-----------

Dalam sebuah hadits riwayat Al Hakim, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap bayi yang terlahir --dari dua orang tua Muslim maupun kafir-- itu berada dalam kondisi Muslim. Hanya apakah si anak itu tetap sebagai Muslim atau berubah menjadi musyrik atau kafir, itu tergantung agama yang diajarkan kedua orang tuanya.
------------------

<<< Setiap orang tua Muslim memiliki tugas utama dan pertama untuk menjaga akidah diri dan anak keturunannya istiqamah pada akidah yang mengesakan Allah SWT. Saat ini, tugas tersebut menjadi bertambah wajib untuk ditunaikan, karena semakin banyak pihak yang berkeinginan untuk menyeret kaum Muslim pindah agama dan keyakinan.
---------

<<< Gerakan pemurtadan yang dilakukan dengan iming-iming yang menggiurkan adalah salah satu aktivitas yang terus menggoda akidah umat Islam. Selain itu juga ada paham pluralisme agama yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran Islam. Semua agama dianggap sama.---------

Sahabat Ismail bin Umayah pernah meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Beliau memberinya nasihat singkat dengan mengingatkan, ''Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah SWT dengan sesuatupun, meski kamu harus menerima risiko kematian dengan cara dibakar hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah dua. '' (HR Ibnu Majah).-------------

Nasihat Rasulullah SAW itu tentu terkait dengan peringatan Allah SWT bahwa dosa syirik akan menghanguskan segala kebajikan dan merupakan dosa tak terampuni. Allah SWT berfirman, ''Jika kamu mempersekutukan Allah SWT niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'' (QS Az Zumar:65). Di ayat yang lain Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'' (QS An Nisa 48). Semua keterangan tersebut terkait dengan syirik kufur, yakni orang yang menyembah kepada selain Allah SWT.

--------------------

---------------Tauhid adalah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada juga definisi yang lain, yaitu konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah (tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (diabdi/disembah) selain Allah. Orang yang bertauhid disebut orang yang beriman (orang mukmin). Lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik menurut bahasa artinya bersekutu atau berserikat. Sedangkan syirik menurut istilah artinya menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam Zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, maupun dalam ketaatan yang seharusnya ditujukan hanya untuk Allah semata. Dan orang yang berbuat syirik disebut orang musyrik (ada dua golongan). Sudah menjadi Sunnatullah bahwa pertentangan antara tauhid vs syirik atau orang mukmin vs orang musyrik akan selalu ada di segala zaman. --------

Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka mentaati 3 (tiga) prinsip ajaran tauhid sebagai berikut:

  • Beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah--
    • Meninggalkan perbuatan syirik----
    • Menjauhi thaghut--------

Hal tersebut sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:-------

Ibadatilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun... (QS. An-Nisa: 36)-------

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadati..." (QS. Az-Zumar: 65-66)------

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Ibadatilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut."... (QS. An-Nahl: 36)-----

Perbuatan syirik merupakan kezaliman yang besar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:--

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)------------

Ada 3 (tiga) sebab munculnya perilaku syirik, yaitu sebagai berikut:---

  • Al jahlu (kebodohan) ----
    • Dhai’ful iman (lemahnya iman) ----
    • Taqlid (ikut-ikutan secara membabi-buta)---------

Barangsiapa yang berbuat syirik maka hapuslah pahala segala amal perbuatannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:---

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)-----

...Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'am: 88)---

Barangsiapa yang berbuat syirik maka dia telah berbuat dosa yang besar dan dosanya itu tidak akan diampuni, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:--------

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa: 48)------------

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa: 116)----------

Barangsiapa yang berbuat syirik maka Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya adalah neraka, berdasarkan firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:----------

...Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim (musyrik) itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)---------

Orang-orang beriman tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun anggota keluarga sendiri, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:-------

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)-------

Orang-orang musyrik itu halal darah dan hartanya, bahkan Allah memerintahkan untuk membunuh mereka di mana saja menjumpai mereka, kecuali mereka bertaubat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:---

...bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan... (QS. At-Taubah: 5)---------

Demikian juga Nabi Musa 'alaihis salam dulu memerintahkan kaumnya agar membunuh orang-orang musyrik di antara mereka yang terlibat penyembahan patung anak lembu yang terbuat dari emas, akan tetapi dibunuhnya mereka dalam hal ini justru sebagai bentuk taubat mereka kepada Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada sang Pencipta yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi sang Pencipta yang menjadikan kamu; maka Dia akan menerima taubatmu... (QS. Al-Baqarah: 54)----------

Khusus para pelaku syirik dari golongan Yahudi dan Nasrani, Allah menamakan mereka ahli kitab (bukan orang musyrik) dan memerintahkan untuk memerangi mereka sampai mereka membayar jizyah, yaitu pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:----------

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)--------

contoh syrik t

Berikut 40 (empat puluh) contoh perbuatan syirik berdasarkan keterangan dari Al Quran dan As Sunnah. Jumlah 40 ini tidak bermaksud membatasi, tetapi hanya sekedar memberikan contoh saja, yaitu sebagai berikut:

  1. Sembahyang kepada makhluk tak bernyawa

Apakah makhluk itu murni disembah/dipuja atau hanya sebagai simbol bagi rabb/ilah (tuhan) selain Allah, umpamanya menyembah/memuja patung, kuburan, pohon, batu, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain. Penyembahan/pemujaan terhadap makhluk-makhluk tersebut adalah perbuatan syirik akbar* karena telah mengada-adakan dan mengibadati ilah selain Allah, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS. Al-Anbiya: 52)

Mereka (Bani Israel) menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu (emas) ini, hingga Musa kembali kepada kami." (QS. Thaha: 91)

Aku (burung Hudhud) mendapati dia (Ratu Balqis) dan kaumnya sujud kepada matahari, tidak kepada Allah;... (QS. An-Naml: 24)

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (QS. Al-A'raf: 191)

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, (QS. An-Nisa: 117)

  1. Mengaku sebagai Allah atau rabb/ilah (tuhan) selain Allah

Arbab adalah bentuk jamak dari rabb yang berarti pengatur atau yang mengatur. Jadi, Rabb (Allah) adalah Zat Yang mengatur atau Yang menentukan hukum. Sedangkan alihah merupakan bentuk jamak dari ilah yang berarti segala sesuatu yang diabdi, ditaati, atau disembah. Ilah bisa berupa manusia, barang, kesenangan atau hal-hal yang mendatangkan kesenangan maupun ketenangan. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah(tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (disembah/diabdi) selain Allah dengan kepengaturan-Nya/ajaran-Nya sebagai Rabb. Dengan demikian siapa saja yang mengaku sebagai Allah atau rabb/ilah selain Allah dengan tujuan atau alasan apapun, maka ia telah melakukan perbuatan syirik akbar karena telah menduakan keesaan Allah, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

(Fir'aun) berkata: "Akulah rabb-mu yang paling tinggi." Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (QS. An-Nazi'at: 24-25)

Dan barangsiapa yang mengatakan di antara mereka; “Sesungguhnya aku adalah ilah selain Allah” maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami membalas orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al-Anbiya: 29)

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang mengibadatiku selain Allah... (QS. Ali Imran: 79)

  1. Mengaku sebagai anak Allah

Baik mengaku secara biologis maupun hanya sekedar kiasan, siapapun yang mengaku sebagai anak Allah maka ia telah berbuat syirik akbar karena telah merendahkan Zat Khalik ke level makhluk-Nya, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya... (QS. Al-Maidah: 18)

...mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 100-101)

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlash: 1-4)

Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS. Al-Isra: 111)

...Sesungguhnya Allah Ilah yang Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa: 171)

  1. Mengatakan atau menetapkan bahwa Allah mempunyai anak

Barangsiapa yang berbuat demikian berarti ia telah menyamakan sifat Allah dengan makhluk-Nya dan tentu saja hal ini merupakan perbuatan syirik akbar, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Orang-orang Yahudi (Yaman) berkata: "Uzair itu anak Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu anak Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah: 30)

Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 116)

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak-anak perempuan Allah)? (QS. An-Najm: 19-20)

Katakanlah: "Jika benar Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)." Maha Suci Rabb Yang empunya langit dan bumi, Rabb Yang empunya 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu. (QS. Az-Zukhruf: 81-82)

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah (yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al-Mu'minun: 91-92)

...mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 100-101)

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). (QS. An-Nahl: 57)

  1. Mengatakan atau mengajarkan bahwa Allah ialah Nabi Isa 'alaihis salam atau salah satu oknum Trinitas

Secara khusus hal ini ditujukan kepada orang-orang Nasrani yang mengatakan dan mengajarkan bahwa Allah ialah Isa Al-Masih dan bahwa keduanya adalah oknum-oknum Trinitas (Allah, Isa Al-Masih, Ruhul Qudus). Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang selain Nasrani yang berpandangan seperti itu. Barangsiapa yang mengatakan, mengajarkan, atau berpandangan bahwa Allah ialah Nabi Isa 'alaihis salam atau salah satu oknum Trinitas, maka dia telah berbuat syirik akbar berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam." Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?"... (QS. Al- Maidah: 17)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, ibadatilah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka... (QS. Al- Maidah: 72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang Tiga (Trinitas)", padahal sekali-kali tidak ada ilah selain dari Ilah Yang Esa... (QS. Al- Maidah: 73)

...Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "Tiga (Trinitas)", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak... (QS. An-Nisa: 171)

  1. Menyembah malaikat atau nabi tertentu atau menjadikan mereka sebagai arbab

Arbab adalah bentuk jamak dari rabb yang berarti pengatur atau yang mengatur. Jadi, Rabb (Allah) adalah Zat Yang mengatur atau Yang menentukan hukum. Mengatur alam raya ini, baik secara kauniy (hukum alam) maupun secara syar’iy (syari’at) sepenuhnya merupakan hak Allah sebagai Rabb, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An’am: 57)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Karena itu, barangsiapa yang menyembah atau memuja malaikat atau nabi, atau menjadikan mereka sebagai arbab (rabb-rabb selain Allah), maka dia telah berbuat syirik akbar karena hal itu berarti telah merampas sifat ketuhanan dari Allah dan diberikan kepada malaikat atau nabi, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam? (QS. Ali Imran: 80)

...dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa, tidak ada ilah selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

  1. Mengkultuskan dan mengagungkan orang-orang saleh tertentu

Hal ini terutama kepada mereka yang sudah meninggal dunia, misalnya para penganut Syiah, khususnya Rafidhah, yang mengkultuskan dan mengagungkan Ali bin Abu Thalib dan putranya, Husein bin Ali, radhiyallahu 'anhum pada setiap ritual tertentu dengan melukai anggota badan hingga berdarah-darah dan memanggil-manggil: "Ya Ali!" dan "Ya Husein!" secara berulang-ulang sambil meratapi terbunuhnya mereka dan membenci serta mengutuk orang-orang saleh lainnya yang dianggap menjadi lawan mereka pada masa itu. Demikian pula ketika melaksanakan ibadah haji di Mekah, para Rafidhah selalu memuja Husein dengan berseru-seru: "Labbaika Ya Husein!"

Selain itu, banyak juga orang yang mengkultuskan dan memuja-muja para wali. Pengkultusan inilah yang mendorong sebagian kaum muslimin untuk berkunjung ke kuburan para wali. Meski harus merogoh kocek dalam-dalam (padahal uangnya pas-pasan) dan menempuh perjalanan yang jauh serta berpeluh, mereka tidak peduli karena mereka berkeyakinan bahwa mengunjungi kuburan para wali adalah perbuatan yang memiliki keutamaan, apalagi fenomena ini telah berlangsung sekian lama dan rutin dilakukan oleh sebagian penduduk negeri. Di antara para pengunjung tersebut ada yang ingin segera dapat jodoh, ingin punya momongan, ingin jadi orang kaya, ingin dagangannya laris, ingin sembuh dari penyakit, dan sebagainya. Mereka yakin, keinginan atau cita-cita mereka bisa terkabul dengan mengunjungi kuburan para wali dan di sana biasanya mereka mengambil atau memuja benda-benda tertentu seperti air, tanah, keris, atau lainnya serta melakukan sawer sebagai syaratagar keinginan mereka terkabul. Tidak masalah meskipun mereka harus membayar mahal untuk syarat tersebut yang penting cita-cita mereka tercapai.

Manakala seseorang meyakini bahwa arwah orang-orang saleh yang dikultuskan/dipuja tersebut bisa mendatangkan syafa'at dan pahala kepadanya, memberikan efek langsung di dalam kehidupannya atau menyebabkan keinginannya terkabul, maka dia telah berbuat syirik akbar karena telah menafikan Allah sebagai Rabb Maha Pemberi rahmat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Orang-orang (saleh) yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabb-mu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Isra: 57)

...Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir: 13-14)

  1. Menyembah atau memuja jin

Umpamanya ada orang mau membangun rumah, konon katanya di lokasi yang akan dibangun rumah itu terdapat jin penunggunya, sehingga ketika hendak membangun rumah, orang tersebut menuju lokasi itu (jin) dengan sesuatu hal berupa tumbal seperti: memotong ayam lalu dikubur sebelum dibuat pondasi rumah dalam rangka supaya tidak digangu oleh jin tersebut. Ini berarti jin tersebut adalah sesuatu yang dituju (diibadati) oleh pemilik rumah dengan sesuatu (tumbal) dalam rangka tolak bala. Barangsiapa berbuat demikian atau semisalnya (membakar kemenyan dan lain-lain untuk menyembah/memuja jin), maka dia telah melakukan perbuatan syirik akbar karena telah menjadikan jin sebagai ilah selain Allah (sekutu bagi Allah), berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu mengibadati kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah mengibadati jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." (QS. Saba: 40-41)

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu... (QS. Al-An'am: 100)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengibadati syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. (QS. Yasin: 60)

  1. Menuhankan atau menomorsatukan hawa nafsu

Hawa nafsu adalah kecenderungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu (menjadikan hawa nafsu sebagai ilah-nya), ia mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya (padahal tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah). Jenis syirik ini amat berbahaya, karena manusia telah dikuasai hawa nafsunya. Sehingga ia merasa dirinya di atas segalanya, bahkan ada yang mengaku dirinya sebagai ilah/rabb (tuhan) yang harus disembah dan ditaati. Orang yang terjerumus kedalam syirik ini antara lain: Qarun, orang yang terkaya pada zamannya. Juga Fir’aun yaitu orang yang menuhankan dirinya karena kesombongan akan pangkat dan kekuasaan.

Menuhankan hawa nafsu jelas-jelas merupakan perbuatan syirik akbar, karena mereka lebih mempercayai hawa nafsunya daripada Allah. Menuhankan hawa nafsu banyak macamnya, umpamanya ada orang yang menginginkan suatu jabatan dengan harapan jabatan/kekuasaan itu dapat mendapatkan kekayaan harta benda. Dengan berbagai cara dia akan terus berusaha meraihnya walaupun caranya melanggar hukum Allah. Contoh lainnya, korupsi atau mengambil harta secara batil. Jika ada orang yang terus-menerus melakukan korupsi, apakah dia tahu atau tidak bahwa perbuatan itu dilarang Allah, berarti dia lebih menuhankan atau menomorsatukan hawa nafsunya daripada Allah. Demikian pula dengan perbuatan zina, memakan riba, main judi, dan perbuatan maksiat lainnya yang dilakukan secara terus-menerus dan menganggapnya sebagai perbuatan yang wajar (padahal Allah melarangnya). Itulah yang disebut menuhankan hawa nafsu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang perbuatan syirik ini:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al-Furqan: 43)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Menurut Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Al-Jatsiyah: 23, yang dimaksud dengan "menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya" adalah orang itu bertindak berdasarkan hawa nafsunya, apa yang ia anggap baik, maka ia akan kerjakan, dan apa yang ia anggap jelek, maka ia akan tinggalkan. Dan ketika menafsirkan QS. Al-Furqan: 43, beliau berkata: "Kapan saja dia menilai baik sesuatu dan melihatnya sebagai suatu kebaikan dari hawa nafsunya sendiri, maka itulah agama dan madzhabnya."

  1. Berdoa kepada selain Allah

Yaitu doa/permohonan (tholab) seperti memohon suatu kemanfaatan atau terhindar dari suatu kemudharatan, apabila dipersembahkan atau dimintakan kepada selain Allah maka termasuk perbuatan syirik akbar jika tidak terpenuhi padanya tiga syarat:

-Permohonan tersebut mampu dikabulkan oleh orang yang diminta,
-Orang tersebut masih hidup, dan
-Orang tersebut hadir dan/atau mampu mendengarkan permohonan kepadanya.

Umpamanya berdoa/memohon kepada orang-orang yang telah mati, makhluk-makhluk halus (hantu, gendoruwo, arwah gentayangan, dan sebagainya), dewa/dewi berhala, tuhan-tuhan fiktif, dan sebagainya. Mereka yang diminta ini sesungguhnya tidak dapat memberi manfaat maupun mendatangkan mudharat (bahaya), karena itu berdoa/memohon kepada mereka adalah perbuatan syirik akbar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Yunus: 106)

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. Al-Ahqaf: 5-6)

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabb-ku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabb-ku. (QS. Maryam: 48)

Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. (QS. Saba: 22)

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. Al-Hajj: 73)

  1. Menjadikan sesuatu selain Allah sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah

Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh orang-orang Syiah, khususnya Rafidhah, karena keyakinan dalam ajarannya, yaitu bertawasuldengan menjadikan imam-imam mereka yang telah meninggal dunia sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Sesungguhnya dalam Islam, berdoa cukup dilakukan langsung kepada Allah tanpa melalui perantara, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Dan Rabb-mu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mu'min: 60)

Barangsiapa menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah, dia memohon dan meminta kepadanya, sungguh dia telah berbuat syirik akbar karena dia telah mengambil wali/pelindung (jamak: aulia) selain Allah, dengan syarat:

-Dia berkeyakinan bahwa Allah itu tidak akan menjawab doa orang yang memanjatkan doa kepada-Nya secara langsung karena harus ada perantara antara Allah dengan makhluk dalam doa; atau

-Meyakini bahwa Allah itu menjawab doa si perantara karena Allah itu membutuhkan perantara; atau

-Meyakini bahwa si perantara itu memiliki hak yang wajib Allah tunaikan.

Umpamanya memohon pertolongan kepada orang mati di kuburan keramat, dia yakin orang yang dimintai pertolongan tersebut bukan pencipta tetapi hanya penghubung antara dirinya dengan Allah dan dia yakin Allah akan mengabulkan permohonannya setelah si penghubung itu menyampaikan permohonannya kepada Allah. Hal ini seperti yang dilakukan kaum musyrikin pada masa lalu sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil aulia (pelindung-pelindung) selain Allah (berkata): "Kami tidak mengibadati mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az Zumar: 3)

Dan mereka mengibadati selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Yunus: 18)

Adapun bertawasul dengan doa orang lain yang masih hidup diperbolehkan, selama tidak memenuhi syarat-syarat di atas. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika mengisahkan anak-anak Nabi Ya'qub 'alaihis salam:

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabb-ku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yusuf: 97-98)

  1. Menjadikan sesuatu sebagai andad (tandingan) bagi/selain Allah

Andad adalah bentuk jamak dari nidd yang secara bahasa berarti tandingan. Sedangkan secara istilah, andad adalah sesuatu yang memalingkan manusia dari tauhid (Islam) atau menjerumuskan seseorang kepada kekafiran atau kemusyrikan, baik itu jabatan, harta, keluarga, adat-istiadat, nasionalisme, maupun apa saja. Umpamanya seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya, sedang si anak tersebut dalam keadaan sakit, lalu ada orang yang menyarankan kepada si ayah tersebut agar si anak yang lagi sakit itu dibawa ke dukun. Dikarenakan saking sayangnya kepada si anak tersebut akhirnya si ayah datang ke dukun dan mengikuti apa yang disarankan oleh si dukun tersebut. Selanjutnya ketika si anak itu pengen dibelikan sepeda motor baru tapi si ayah tidak punya uang, karena saking sayangnya kepada si anak, si ayah harus menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan anaknya tersebut seperti mencuri, korupsi, dan lain-lain. Maka dengan demikian si anak tersebut telah memalingkan si ayah dari tauhid, dan berarti si anak telah menjadi andad.

Demikian pula seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan hukum jahiliyah/thaghut (hukum buatan manusia, misal: KUHP) disebuah negara demokrasi (misal: NKRI), apakah si hakim sadar atau tidak bahwa hal itu menyelisihi hukum Allah, tapi karena jabatan hakim yang dia jalani harus memutuskan perkara berdasarkan hukum yang berlaku di negaranya (hukum jahiliyah/thaghut), maka ini berarti si hakim telah menjadikan jabatannya sebagai andad.

Mengadakan/menjadikan sesuatu sebagai andad bagi/selain Allah adalah perbuatan syirik akbar berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan andad (tandingan-tandingan) bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 22)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan andad (tandingan-tandingan) selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan:

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau menjadikan nidd (tandingan) bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Mengaku mengetahui perkara yang ghaib

Yang dimaksud perkara ghaib, yaitu perkara yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera. Termasuk perkara ghaib adalah apa yang akan terjadi. Sesungguhnya yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah. Dia Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah." Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml: 65)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am: 59)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS. Al-Hadid: 22–23)

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala; (1) Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, (2) tidak ada seorangpun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Ta’ala, (3) tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat selain Allah Ta’ala, (4) tidak ada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan (5) tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Ta’ala." (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kemudian Allah memberitahukan sebagian perkara ghaib lewat wahyu-Nya kepada rasul yang Dia kehendaki. Dia Subhanahu Wa Ta'alaberfirman: 

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al-Jin: 26-27)

Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah menyatakan: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib atau membenarkan orang yang mengaku-ngaku hal itu, maka dia musyrik, kafir. Karena dia mengaku-ngaku menyamai Allah dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhususan-Nya.”

Pengetahuan tentang perkara yang ghaib merupakan salah satu hak istimewa Allah. Menisbatkan hal tersebut kepada selain-Nya adalah syirik akbar. Contoh yang biasanya mengaku mengetahui perkara yang ghaib adalah dukun dan tukang ramal/paranormal.

  1. Menghalalkan yang diharamkan Allah atau mengharamkan yang dihalalkan Allah

Allah memiliki hak-hak yang khusus. Di antara hak khusus bagi Allah adalah hak tasyri’, yakni menetapkan syariat yang wajib dijalani oleh makhluk-Nya. Di antara perkara tasyri’ adalah penetapan halal dan haram. Tiada yang berhak menghalalkan dan mengharamkan selain Allah. Tidak ada seorangpun yang boleh menghalalkan kecuali yang telah dihalalkan oleh Allah dan tidak mengharamkan kecuali yang diharamkan oleh Allah. Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yangtidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (QS. Yunus: 59)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl: 116)

Dan barangsiapa yang taat kepada penetap syariat selain Allah maka dia telah menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah, berarti dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan. Bahkan dalam sebuah ayat, seseorang disebut musyrik hanya karena turut serta menghalalkan bangkai, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An'am: 121)

Tentang ayat ini Al Hakim dan yang lainnya meriwatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas: Bahwa orang-orang membantah kaum muslimin tentang sembelihan dan pengharaman bangkai, mereka berkata: “Kalian makan apa yang kalian bunuh (sembelihan) dan tidak makan dari apa yang Allah bunuh (yaitu bangkai)”, maka Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi:

"Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal (hukum asal), Aku ciptakan hamba-hamba-Ku ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya." (HR. Muslim)

Jadi, menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah adalah perbuatan syirik akbar karena telah merampas hak khusus Allah dalam menetapkan halal dan haram.

  1. Memecah-belah agama Allah

Ketika seseorang terjebak dalam perilaku memecah-belah agama hal tersebut disejajarkan dengan mempersekutukan sesuatu dengan Allah dan keluar dari keikhlasan ibadah karena tidak memelihara semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya sebaik-baiknya.

Perbuatan itu dianggap sebagai mengganti agama fitrah dengan agama sesat dan karena menjadikan agama fitrah menjadi beberapa agama dan mazhab, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, para penyembah berhala, dan para pemeluk agama yang salah.

Perpecahan mengakibatkan konsep Islam, konsep yang datangnya dari Allah dan rasul-Nya, tidak dapat terlaksana secara kaffah (paripurna) sesuai perintah-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 208. Secara rasional, konsep apapun di dunia ini baik yang haq maupun yang batil menghendaki penganutnya untuk bersatu agar konsepnya berjalan dan tidak mengalami kehancuran.

Karena mengaku sebagai bagian dari umat Islam tetapi berbuat seperti apa yang diperbuat kaum musyrikin maka para pemilik perilaku memecah-belah agama ini dimasukkan dalam golongan mereka. Disejajarkan dengan para penyembah tuhan-tuhan selain Allah. Menyembah Allah tetapi meminta kepada selain Allah atau sebaliknya meminta kepada Allah tetapi menyembah selain Allah. Dengan demikian maka para pemecah-belah agama Allah adalah para pelaku syirik akbar, hal ini sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum: 31-32)

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. (QS. Al-Mu'minun: 52-54)

Jika memecah-belah agama (mencerai-beraikan umat) adalah perbuatan syirik (mempersekutukan Allah), maka lawannya, mendirikan khilafah (mempersatukan umat) adalah perbuatan tauhid (mengesakan Allah).

  1. Tidak mau membayar zakat

Jika dilihat secara syariah, zakat merupakan kewajiban dan termasuk dalam rukun Islam yang kadarnya sama dengan kadar syahadat, shalat, dan puasa Ramadhan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Jika mereka (kaum musyrikin) bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama... (QS. At-Taubah: 11)

Orang-orang yang tidak mau membayar zakat pada dasarnya mereka itu menuhankan harta benda. Padahal Allahlah yang memberikan rizki kepada mereka. Karena itu, mereka yang tidak mau membayar zakat digolongkan sebagai para pelaku syirik akbar berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:

...Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Fushilat: 6-7)

Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)

  1. Takut kepada selain Allah

Maksudnya takut yang tersembunyi (dalam hati manusia), yakni takut dari suatu kemampuan khusus yang diyakini dimiliki oleh selain Allah, padahal kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh Allah. Takut yang tersembunyi bisa berupa takut kepada berhala atau patung, mayat, hantu atau yang ghaib (tidak terlihat mata) dari bangsa jin atau manusia (arwah gentayangan) bahwa mereka bisa membahayakan atau menimpakan sesuatu yang dibenci, misalnya adanya keyakinan sebagian masyarakat bahwa sebagian dari para wali yang telah meninggal dunia atau orang-orang yang ghaib itu bisa melakukan dan mengatur suatu urusan serta mendatangkan mudharat (bahaya). Karena keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada para wali atau orang-orang ghaib tersebut.

Takut termasuk tingkatan agama yang tertinggi dan teragung. Barangsiapa yang memalingkannya kepada selain Allah maka sungguh dia telah menyekutukan Allah dengan syirik akbar. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Ali Imran: 151)

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175)

...Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya... (QS. An-Nisa: 77)

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar: 36)

Takut kepada selain Allah yang tidak termasuk syirik:

-Takut karena sebab-sebab yang dapat dirasakan atau dilihat oleh panca indera, seperti takut kepada pencuri atau musuh. Takut seperti ini tidaklah termasuk syirik, dengan syarat tidak mengantarkan seseorang untuk meninggalkan perintah Allah.

-Takut yang sifatnya tabiat, seperti takut dari binatang buas, takut terbakar, takut tenggelam dan lain-lain. Takut seperti ini juga tidak termasuk bentuk syirik kepada Allah atau maksiat kepada-Nya.

  1. Berhukum/memutuskan perkara dengan selain hukum Allah

Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al-Maidah ayat 50 (lihat no. 27 dan 34), hanya ada dua pilihan hukum di dunia ini yaitu hukum Allah (Al Quran & As Sunnah) atau tandingannya yang disebut dengan hukum jahiliyah (hukum-hukum buatan manusia, misal: UUD 1945,hukum adat, KUHP, dan lain-lain). Hukum jahiliyah yang menyelisihi hukum Allah disebut juga hukum thaghut, misal: UUD 1945, KUHP, dan lain-lain. Orang yang berhukum kepada thaghut sedang ia masih mengaku beriman, maka pengakuan seperti ini adalah pengakuan dusta sebagaimana keadaan orang-orang munafik yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-Nisa: 60-61)

Pengertian "thaghut" dalam ayat di atas adalah siapa saja (orang atau lembaga) yang memutuskan perkara dengan selain hukum Allah. Allah telah menamakan orang-orang yang berhukum/memutuskan perkara dengan selain syariah-Nya sebagai orang-orang yang kafir, zalim (musyrik), dan fasik sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al-Maidah: 45)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 47)

Berdasarkan ayat-ayat di atas, maka barangsiapa yang berhukum/memutuskan perkara dengan selain hukum Allah atau yang disebut dengan hukum jahiliyah/thaghut (tandingan bagi hukum Allah), menurut sebagian ulama, untuk mengkafirkannya tidak perlu disyaratkan adanya sikapistihlal (membolehkan berhukum dengan selain hukum Allah) karena vonis Allah pada ketiga ayat tersebut sudah sangat jelas dan tegas maknanya (ayat-ayat muhkamat) sehingga tidak lagi memerlukan takwil apapun. Siapa saja yang melakukannya (hakim, jaksa, penyidik, kepala negara, kepala daerah, kepala suku, ketua adat, atau lainnya) maka ia telah berbuat syirik akbar dan kafir, bagaimanapun ia melakukannya, baik disertai sikap istihlal maupun tidak. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An-Nisa: 168-169)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

...Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al- Baqarah: 85)

...Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah: 5)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)

  1. Membuat hukum yang menandingi dan menyelisihi hukum Allah

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Rabb-ku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)

Kamu tidak mengibadati yang selain Allah kecuali hanya (mengibadati) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Seorang hamba Allah tidak patut menghukumi sesuatu dengan selain hukum/syariat Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut dien (peraturan/undang-undang) raja,... (QS. Yusuf: 76)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Barangsiapa (penguasa: eksekutif, legislatif, raja, ketua adat, dan lain-lain) yang membuat dan menetapkan hukum/undang-undang selain syariat Allah untuk hamba-hamba-Nya dan mewajibkan mereka berhukum dengannya, maka tidak diragukan lagi, penguasa tersebut telah berbuat syirik akbar karena telah menjadikan dirinya sebagai rabb selain Allah dan sekutu bagi Allah dalam menetapkan hukum/undang-undang, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

  1. Mentaati hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah

Allah telah menyebut orang-orang yang membuat hukum/undang-undang selain syariat Allah sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah dan sekutu bagi Allah (lihat no. 19). Allah juga menyebut rakyat yang mentaati hukum/undang-undang buatan para penguasa yang menghalalkan dan/atau mengharamkan sesuatu (tanpa izin Allah, menyelisihi hukum Allah) sebagai para penyembah arbab tersebut, sebagaimana firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Sudah lama diketahui bahwa ibadah kaum Yahudi dan Nasrani kepada para pendeta dan ahli ibadah mereka berbentuk ketaatan kepada mereka dalam penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal. Hal ini telah diterangkan dalam Hadits Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (3095), Ibnu Jarir (16631-16633), Baihaqi (X/116), Thabrani dalam Al Kabir (XVII/92) dan lainnya. Dalam hadits tersebut disebutkan: ”Mereka tidaklah menyembah mereka, namun jika para pendeta menghalalkan sesuatu yang haram mereka ikut menghalalkannya, dan jika para pendeta mengharamkan sesuatu yang halal mereka ikut mengharamkannya."

Pengarang Fathul Majid (hal. 79) mengatakan tentang ayat tersebut: ”Dengan ini jelaslah bahwa ayat tersebut menunjukkan siapa yang mentaati selain Allah dan rasul-Nya serta berpaling dari mengambil Al Kitab dan As Sunnah dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah dan mengikutinya dalam hal yang tidak dizinkan Allah, maka ia telah mengangkat orang tersebut sebagai rabb, ilah dan menjadikannya sebagai sekutu Allah.”

Dalam tafsirnya II/172, Ibnu Katsir berkata: ”Karena kalian berpaling dari perintah Allah dan syariat-Nya kepada kalian, kepada perkataan selain Allah dan kalian mendahulukan undang-undang selain-Nya atas syariat-Nya, maka ini adalah syirik. Sebagaimana firman Allah: 'Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.'”

Syaikh Asy-Syanqithi dalam tafsir Adhwaul Bayan IV/91 saat menafsirkan ayat "Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum" (QS. Al-Kahfi: 26), mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum para pembuat undang-undang selain apa yang disyariatkan Allah, mereka itu musyrik kepada Allah. Pemahaman ini diterangkan oleh ayat-ayat yang lain seperti firman Allah berikut tentang orang yang mengikuti tasyri’ (aturan-aturan) setan yang menghalalkan bangkai dengan alasan sebagai sembelihan Allah:

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An'am: 121)

Allah menegaskan mereka itu musyrik karena mentaati para pembuat keputusan yang menyelisihi hukum Allah. Kesyirikan dalam masalah ketaatan dan mengikuti tasyri’ (peraturan-peraturan) yang menyelisihi syariat Allah inilah yang dimaksud dengan beribadah kepada setan dalam ayat “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah (beribadah kepada) setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. Dan beribadahlah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60-61).

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa mentaati hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah adalah perbuatan syirik akbar. Sebagai contoh, mentaati dan mendukung hukum penguasa yang melarang pemakaian jilbab bagi kaum wanita, mentaati dan mendukung hukum penguasa yang membolehkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum muslimin, dan lain-lain.

  1. Memilih/mengangkat pemerintah atau wakil-wakil rakyat melalui pemilu dalam sistem demokrasi

Sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem demokrasi, salah satu tugas pemerintah dan wakil-wakil rakyat (DPR/parlemen) adalah membuat hukum/undang-undang yang bukan berdasarkan hukum Allah. Ini berarti pemerintah dan wakil-wakil rakyat telah merampas hak khusus Allah yaitu menetapkan hukum (lihat no. 19), dengan kata lain mereka adalah arbab (rabb-rabb) selain Allah yang memberlakukan hukum/undang-undang buatan mereka kepada manusia. Nah, dengan demikian maka memilih/mengangkat pemerintah atau wakil-wakil rakyat melalui pemilu dalam sistem demokrasi pada hakekatnya sama saja dengan memilih/mengangkat arbab (rabb-rabb) selain Allah. Hal ini berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan andad (tandingan-tandingan) bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 22)

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)  

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Jika memilih/mengangkat pemerintah atau wakil-wakil rakyat tersebut disertai dengan harapan bahwa mereka dapat membuat hukum/undang-undang yang lebih baik bagi rakyat atau dapat menjalankan hukum/undang-undang yang sudah ada dengan baik, tanpa peduli apakah hukum-hukum tersebut menyelisihi hukum Allah atau tidak, maka perbuatan ini termasuk perbuatan syirik akbar berdasarkan keterangan ayat-ayat tersebut khususnya QS. At-Taubah: 31 dan QS. Yusuf: 40.

  1. Meyakini atau menyebarkan ajaran yang menyelisihi ayat-ayat Allah

Ada pemikiran/ajaran yang menyatakan bahwa aspek-aspek Islam seperti soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, dan jubah merupakan cerminan kebudayaan Arab sehingga tidak wajib diikuti, karena itu hanyalah ekspresi lokal particular Islam di Arab saja. Demikian antara lain yang disampaikan oleh Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) melalui sebuah artikel karyanya yang berjudul: "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" (Kompas, 18 September 2002).

Sebagaimana diketahui bahwa jilbab, potong tangan, qishash, rajam, dan jenggot merupakan perkara-perkara yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya untuk ditegakkan. Pemikiran/ajaran Koordinator JIL tersebut bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Dalam hal ini, Koordinator JIL telah memposisikan dirinya sebagai rabb selain Allah dan orang-orang yang mengikuti pemikiran/ajarannya disebut sebagai orang-orang yang mengikuti rabb selain Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Dengan demikian maka meyakini atau menyebarkan ajaran yang menyelisihi ayat-ayat Allah termasuk perbuatan syirik akbar. Demikian pula dengan keyakinan para penganut Ahmadiyah yang menyatakan bahwa kitab Tadzkirah berisi wahyu-wahyu dan kasyaf-kasyaf yang diterima Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dari Allah, maka keyakinan ini termasuk perbuatan syirik akbar, hal ini antara lain karena salah satu ayat dalam kitab Tadzkirah (halaman 436) menyatakan:

"Kamu (MGA) di sisi-Ku (Allah) memiliki kedudukan seperti anak-anak-Ku."

Ayat yang diklaim MGA sebagai wahyu dari Allah tersebut palsu karena mensifati Allah seperti makhluk-Nya yaitu mempunyai anak (sekalipun dalam arti kiasan) dan hal ini bertentangan dengan ayat-ayat Allah dalam Al Quran (lihat no. 3 dan 4 di atas, mengaku sebagai anak Allah, mengatakan atau menetapkan bahwa Allah mempunyai anak adalah perbuatan syirik akbar).

  1. Percaya adanya kekuatan tertentu yang dapat menahan kehendak Allah

Kehendak Allah itu pasti terlaksana, tidak ada sesuatupun yang dapat menahannya, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya. Hal ini berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am: 59)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS. Al-Hadiid: 22–23)

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Fathir: 2)

Sebagian ulama seperti penulis tafsir Al Jalalain mengatakan bahwa "rahmat" yang dimaksud pada ayat tersebut adalah rizki dan hujan (lihatTafsir Al Jalalain, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Muhalla dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi, hal. 434, Maktabah Ash Shofaa, cetakan pertama, tahun 1425 H).

Oleh karena itu, jika ada yang mengaku dapat menahan kehendak Allah dengan kekuatan tertentu, umpamanya seorang pawang hujan, dia mengaku dapat memindahkan atau mencegah/menahan turunnya hujan dengan ritual tertentu atau dengan menaruh benda-benda tertentu pada tempat tertentu, maka dia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik akbar, termasuk orang-orang yang mempercayai pengakuan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?" Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS. Az-Zumar: 38)

  1. Menjadi tukang sihir

Sihir adalah ungkapan tentang ikatan-ikatan buhul, jampi-jampi (mantra), dan hembusan-hembusan tukang sihir yang bisa menimbulkan suatu bahaya bagi orang yang disihirnya, diantaranya bisa menghilangkan nyawa, menyakiti, menghilangkan akal, ada yang menyebabkan muncul ikatan yang sangat kuat (seperti pelet, gendam, dan lain-lain) dan ada yang menyebabkan berpalingnya seseorang dari orang yang lain (lihat syarah Riyadhus Shalihin oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin hal. 264 cet. Darul Atsar).

Mengerjakan sihir adalah perbuatan kekafiran (kufur akbar), berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Merekamengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 102)

dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan (nafas) pada buhul-buhul, (QS. Al-Falaq: 4)

Maksudnya wanita-wanita tukang sihir yang mengikat benda-benda sihirnya (jimat, tumbal, boneka voodoo, dan lain-lain) dan meniup pada buhul-buhulnya pada saat membaca mantra (lihat Tafsir Al Qurthubi XX/257). Seandainya sihir itu tidak memiliki hakekat tentu Allah tidak menyuruh kita untuk berlindung kepada-Nya dari pengaruh sihir itu. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tersihir. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Nabi pernah terkena sihir, sehingga sihir itu membuatnya seakan-akan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Kemudian beliau berkata kepada Aisyah pada suatu hari: ”Aku kedatangan dua malaikat, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan satunya lagi duduk di dekat kakiku, lalu malaikat itu berkata: "Sakit apa orang ini?" Malaikat yang satunya berkata: “Dia tersihir.” Malaikat itu berkata: "Siapa yang menyihirnya?" Malaikat yang satunya menjawab: ”Labid bin Al A’sham dengan sisir dan rambut dibungkus dengan pelepah kurma lalu dimasukkan ke sumur dzarwan.” (HR. Bukhari).

Mengerjakan sihir adalah perbuatan syirik, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu:

“Barangsiapa membuat suatu ikatan (bundelan), kemudian meniupnya, maka dia telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu (jimat) pada dirinya, maka dirinya akan dijadikan bersandar kepadanya.” (HR. Nasa’i)

Oleh karena mengerjakan sihir adalah perbuatan kufur akbar, maka syirik yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah syirik akbar. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Jundub radhiyallahu ’anhu tentang hukuman bagi tukang sihir:

"Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang." (HR. Tirmidzi dan Daruquthni)

  1. Percaya pada pantangan, mitos dan khurafat/takhayul

Banyak orang yang takut tidak selamat mengenakan baju hijau saat berkunjung ke pantai selatan, karena dianggap pantangan yang tidak disukai oleh Nyi Roro Kidul. Di sisi lain masyarakat juga masih takut tidak selamat bila melakukan pesta pernikahan di bulan Suro (Muharram). Mereka menganggap bulan Suro sebagai bulan yang keramat. Padahal keselamatan manusia itu tidak terletak pada tradisi atau keyakinan seperti itu, tapi berada di tangan Allah yang akan diberikan kepada orang yang taat menjalankan kitab-Nya, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 16)

Percaya pada pantangan yang disertai keyakinan adanya sesuatu selain Allah yang akan mendatangkan mudharat (bahaya) jika pantangan tersebut dilanggar, maka kepercayaan ini termasuk syirik akbar, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan mereka mengibadati selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Yunus: 18)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Apakah yang telah diturunkan Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu," (QS. An-Nahl: 24)

Adapun mitos adalah cerita-cerita bohong tentang suatu hal seperti asal-usul tempat, alam, manusia dan sebagainya yang mengandung arti mendalam dan diungkapkan dengan cara gaib. Sedangkan definisi khurafat adalah ajaran atau keyakinan yang tidak mempunyai landasan kebenaran, disebut pula takhayul. Hukum percaya kepada mitos dan khurafat adalah syirik. Adapun klasifikasi syirik akbar atau syirik asghar** tergantung pada jenis khurafat dan mitos serta pengamalan dari kepercayaan tersebut. Salah satu contoh mitos dan khurafat yang dikategorikan syirik akbar seperti keyakinan akan keberadaan Nyi Rodo Kidul sebagai penguasa pantai selatan, bahkan sampai melakukan ritual nadranan (ruwatan) meminta manfaat dan tolak bala kepada Nyi Roro Kidul. Khurafat dan mitos ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?" Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS. Az-Zumar: 38)

  1. Percaya pada dukun dan tukang ramal/paranormal

Dalam fiqih Islam setidaknya ada dua istilah terkait dengan masalah ini:

-'Arraf (dukun): yaitu orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang tersembunyi dari perkara-perkara yang telah terjadi, seperti mengaku mengetahui peristiwa pencurian, atau barang-barang yang telah hilang.

-Kahin (tukang ramal/paranormal): yaitu orang yang mengaku mengetahui berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Biasanya mereka bekerja sama dengan jin-jin fasik (setan), atau bersandar kepada bintang-bintang atau kepada sebab-sebab dan pendahuluan-pendahuluan (mukadimah) yang mereka buat sendiri.

Ada yang mengatakan 'arraf itu tukang ramal, sedangkan kahin itu dukun. Bahkan ada juga yang mengatakan 'arraf dan kahin itu sama saja, karena keduanya sama-sama mengaku mengetahui perkara yang ghaib (lihat no. 13).

Mendatangi dukun atau tukang ramal/paranormal amat berbahaya. Yang termasuk dalam hukum ini adalah membaca ramalan bintang. Membaca ramalan seperti itu tidak perlu lagi mendatangi dukun atau tukang ramal, namun cukup membaca majalah ramalan bintang atau menonton tayangan ramalan nasib di televisi.

Mendatangi dengan membenarkan dukun atau tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa dukun atau tukang ramal itu mengetahuinya dengan sendirinya, maka hal ini dihukumi musyrik dan kafir (keluar dari Islam), karena mengetahui hal ghaib secara khusus hanya Allah yang tahu, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah." Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml: 65)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am: 59)

Adapun mendatangi dukun atau tukang ramal dengan keyakinan bahwa dukun atau tukang ramal tersebut mendapatkan ramalan dari jin/setan sehingga dia mengetahui ada barang yang hilang atau terjatuh, atau mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi, maka seperti ini ada dua hukuman:

-Tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Shafiyah radhiyallahu ’anha dari beberapa istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mendatangi 'arraf (dukun), lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam." (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Nawawi berkata: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”

-Kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dimaksud adalah kufur asghar, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mendatangi 'arraf (dukun) atau kahin (tukang ramal) kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam." (HR. Nasa'i, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kadangkala ramalan tersebut secara kebetulan tepat. Sungguhpun demikian, ramalan dukun atau tukang ramal/paranormal tidak boleh dipercayai karena jin/setan sendiri tidak mengetahui perkara-perkara ghaib, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

...Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (QS. Saba: 14)

  1. Menghalalkan/ridha dengan sistem demokrasi

Demokrasi diambil dari bahasa Latin, demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti hukum atau kekuasaan. Jadi, demokrasi adalah hukum dan kekuasaan rakyat, dan dibahasakan dalam Undang Undang Dasar RI dengan “Kedaulatan berada di tangan rakyat”.

Kezaliman dan kejahatan paling besar dari demokrasi adalah memberikan kekuasaan tertinggi membuat undang-undang kepada selain Allah yaitu kepada rakyat yang diwakili oleh wakil-wakil mereka di parlemen (MPR/DPR), sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 45)

Dalam Islam, yang berhak untuk membuat hukum/undang-undang, membuat syariat, dan membuat tatanan untuk kehidupan umat manusia adalah Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri." (QS. Yusuf: 67)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Hai orang-orang yang beriman, ...apabila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apapun), maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian... (QS. An-Nisa: 59)

Dari keterangan ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa demokrasi adalah syirik akbar karena merampas hak khusus Allah dalam membuat hukum/undang-undang (lihat no. 18-21).

Oleh karena itu, barangsiapa yang menghalalkan/ridha dengan sistem demokrasi, baik ia terlibat atau tidak dalam kegiatan dan syiar-syiarnya, tetapi ia ridha dengan sistem demokrasi, maka ia termasuk orang yang ridha dengan syirik akbar. Orang yang ridha dengan syirik akbar, maka ia terlibat dalam kesyirikan. Dan itu berarti “yakhruju minal Islam”, keluar dari Islam.

  1. Mengabdi demi nasionalisme dan negara

Nasionalisme (kebangsaan) adalah sebuah faham yang membentuk loyalitas berdasarkan kesatuan tanah air, budaya dan suku. Pengertian ini diperjelas kembali oleh Dr. Ali Nafi’ di dalam bukunya “Ahammiyatul Jihad” hal. 411, beliau menulis: “Nasionalisme merupakan bentuk pengkultusan kepada suatu bangsa (tanah air) yang diaplikasikan dengan memberikan kecintaan dan kebencian kepada seseorang berdasarkan pengkultusan tersebut, ia berperang dan mengorbankan hartanya demi membela tanah air belaka (walaupun dalam posisi salah), yang secara otomatis akan menyebabkan lemahnya loyalitas kepada agama yang dianutnya, bahkan loyalitas tersebut bisa hilang sama sekali.”

Berkhidmat (mengabdi) untuk menegakkan nasionalisme dan menjadikannya sebagai tujuan utama dalam perjuangan hidup, seperti berperang karena untuk mempertahankan bangsa (nation), berpropaganda agar orang mendukung ide dan cita-cita nasionalisme, berjuang dan bekerja demi kebangsaan, serta menanamkan semangat fanatisme kebangsaan yang mendalam, maka penumpuan dan konsep hidup semacam itu adalah pandangan atau konsep hidup syirik, hal ini karena Allah telah menyuruh bekerja, berkhidmat, berjihad, dan berperang hanya karena Allah semata. Kaum muslimin dibenarkan berusaha memperbaiki bangsanya atas dasar apa yang diperintahkan oleh Allah. Maka apabila bangsanya itu kafir, umpamanya kafir karena berhukum dengan hukum buatan manusia seperti UUD dan UU turunannya (lihat no. 18-21 dan 27), saat itu pula kaum muslimin tidak boleh berkhidmat lagi, bahkan kalau ia berkhidmat pada bangsa kafir dianggap sebagai penghianatan terhadap diri dan Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hadits berikut:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-An'am: 162)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tali iman yang paling kuat adalah berkasih sayang karena Allah dan memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah." (HR. Thabrani dan Baghawi)

Fenomena nasionalisme ini dalam hadits dikenal dengan istilah 'ashabiyah, yaitu fanatisme kelompok, kekerabatan, kedaerahan, atau kebangsaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas mengharamkan ikatan 'ashabiyah, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan Jama'ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa yang berperang di bawah panji 'ashabiyah, marah karena 'ashabiyah, menyeru kepada 'ashabiyah dan membela 'ashabiyah kemudian terbunuh, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, dan tidak pernah mengindahkan janji yang telah dibuatnya, maka ia tidak termasuk dari golonganku dan aku tidak termasuk dari golongannya." (HR. Muslim)

Dari Jubair bin Muth'im radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan termasuk umatku orang yang menyeru kepada ‘ashabiyah, bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah, dan bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah.” (HR. Abu Dawud)

Syaikh Muhammad Said Al-Qahthani dalam tesisnya yang berjudul "Al Wala’ wal Bara’" hal. 42, mengatakan: “Nasionalisme merupakan salah satu bentuk kesyirikan, karena dia akan menuntut seseorang untuk berjuang membelanya, dan membenci setiap kelompok yang menjadi musuhnya, tanpa melihat muslim atau tidak, dengan demikian secara tidak langsung ia telah menjadikannya sebagai tandingan Allah.”

Bekerja semata-mata untuk kemajuan negara juga termasuk dalam kategori syirik, kaum muslimin tidak boleh meletakkan gantungannya kepada negaranya, kecuali tujuan negara dan orang-orang yang memerintahnya semua bertujuan menegakkan syariat Islam dan karena Allah semata. Apabila kita bekerja untuk kebaikan negara dan penduduknya yang bersyariat Islam maka pekerjaan kita itu sesuai dengan perintah Allah, tetapi apabila kita meletakkan kenegaraan sebagai tujuan perjuangan di dalam pekerjaan kita dan tidak mau meniatkan karena Allah (hal ini banyak terjadi di negara yang berhukum dengan hukum buatan manusia seperti UUD dan UU turunannya), maka pada dasarnya orang yang melakukannya itu sudah termasuk dalam kategori syirik karena ia telah menjadikan negara sebagai tandingan Allah. Allah telah memandang hina terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa yang menggantungkan keyakinannya kepada negara. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu." Niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), (QS. An-Nisa: 66)

  1. Melakukan ritual sesajen/persembahan korban untuk selain Allah (tradisi pesta sedekah bumi/laut, tradisi tumbal, dan lain-lain)

Berkorban dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah suatu bentuk ibadah yang agung, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al-An'am: 162)

Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkorbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)

Kedua ayat di atas menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkorban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih hewan qurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu AllahSubhanahu Wa Ta’ala.

Oleh karena itu, mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah (baik itu jin, dewa/dewi, manusia ataupun lainnya) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah ritual sesajen sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam ritual sedekah bumi/laut, tradisi tumbal, dan semacamnya adalah perbuatan syirik akbar, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hadits-hadits berikut:

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. Al-An'am: 136)

Dan mereka sediakan untuk berhala-berhala yang mereka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bahagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. (QS. An-Nahl: 56)

...dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.... (QS. Al-Maidah: 3)

Dari ‘Ali radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku dengan empat nasihat: “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat anak yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi muhdits (orang yang jahat)/muhdats (pelaku bid’ah). Allah melaknat orang yang sengaja mengubah patok batas tanah." (HR. Muslim)

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu: 'Berkorbanlah.' Maka dia menjawab: 'Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.' Maka mereka mengatakan: 'Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.' Maka dia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan mereka juga mengatakan kepada orang yang satunya: 'Berkorbanlah.' Dia menjawab: 'Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘Azza Wa Jalla.' Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.'" (HR. Ahmad)

Adapun orang-orang yang ikut berpartisipasi dan membantu terselenggaranya acara ritual pemberian sesaji tersebut dalam segala bentuknya, adalah termasuk perbuatan dosa yang sangat besar, karena termasuk tolong-menolong dalam perbuatan maksiat yang sangat besar kepada Allah, yaitu perbuatan syirik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah: 2)

  1. Menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah dan bernazar untuk selain Allah

Menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah, misalnya dengan menyebut nama "Husein" yang sering dilakukan oleh orang-orang Syiah, khususnya Rafidhah, adalah termasuk perbuatan syirik meskipun sembelihan itu ditujukan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan hadits berikut:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al-An'am: 162)

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah... (QS. Al-Maidah: 3)

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An'am: 118)

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An'am: 121)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Terlaknatlah orang yang mencela ayahnya, terlaknatlah orang yang mencela ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih bukan karena Allah, terlaknatlah orang yang merubah batas tanah, terlaknatlah orang yang membisu (tidak mau memberi petunjuk) terhadap orang yang buta yang mencari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi binatang dan terlaknatlah orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth." (HR. Ahmad)

Adapun nazar adalah perbuatan seorang mukallaf (orang yang sudah dikenai beban syariat) yang mewajibkan dirinya sendiri untuk mengerjakan suatu ibadah karena Allah. Nazar tidak boleh diarahkan kepada selain Allah. Apabila diarahkan kepada selain Allah maka itu termasuk syirik, umpamanya bernazar kepada kuburan wali atau tempat-tempat yang dianggap keramat bahwa apabila hajatnya terkabul akan menyembelih seekor kambing atau akan berpuasa tujuh hari berturut-turut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya. (QS. Al-Baqarah: 270)

...dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka... (QS. Al-Hajj: 29)

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al-Insan: 76)

  1. Syirik niat dan keinginan

Yaitu melakukan suatu amal ibadah dengan niat karena selain Allah. Penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya (lihat no. 40), adalah terselipnya niat dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seseorang yang berbuat amal kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Huud: 15-16)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal saleh yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya (memperlihatkan amal saleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan), karena seseorang yang menginginkan dunia dengan amal saleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal saleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya, karena riya biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab At-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (saleh yang dilakukan)nya.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Jawaabul Kaafi hal. 94 menggambarkan hal tersebut dengan berkata: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barangsiapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya selain wajah/keridhaan Allah (ikhlas), meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya.”

  1. Mencintai sesuatu selain Allah seperti atau lebih dari mencintai Allah

Yaitu cinta kepada sesuatu selain Allah dengan membentuk sikap pengabdian, kepasrahan, dan kerendahan. Cinta semacam itu tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Barangsiapa yang mengarahkannya kepada selain Allah, maka dia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Misalnya kita mencintai seseorang, kita rela melakukan apa saja demi orang itu, sampai-sampai terkadang lupa dengan Allah, lupa beribadah, atau malah berbuat maksiat. Padahal Allah-lah yang menciptakan cinta, dan cinta yang sempurna hanyalah pantas ditujukan kepada Allah semata. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan andad (tandingan-tandingan) selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)

Lalu tidak bolehkah kita mencintai orangtua, istri, anak, saudara, harta, rumah, kendaraan?

Tentu saja boleh, dan itulah yang disebut cinta naluriah (mahabbah thabi’iyyah). Hal itu dibenarkan karena bersifat fitri. Akan tetapi cinta kepada semuanya itu tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan bahkan cinta kepada semuanya itu haruslah dipayungi dan dibimbing dengan cinta kepada Allah.

Begitu pula, kecintaan kepada semua hal itu harus berakhir manakala mulai bertentangan dengan tuntutan cinta kepada Allah. Aplikasinya adalah seperti yang digambarkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut: 8)

Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)

  1. Memakai pelet dan susuk

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya mantera-mantera (jampi-jampi), jimat-jimat, dan tiwalah adalah syirik. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Tiwalah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang dibuat dan diklaim bisa membuat perempuan lengket pada suami dan sebaliknya (Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi). Jadi bisa saja tiwalah itu berupa pelet, susuk, dan bulu perindu. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa tiwalah yang dimaksud adalah jika berasal dari sihir (Syarh Kitab Tauhid, hal. 62). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa tiwalah ini diperoleh dari jalan sihir (Fathul Bari, 10:196). Sehingga jika pemikat hati atau pemikat cinta berupa pelet, susuk, dan bulu perindu, maka termasuk dalam kategori tamimah (jimat-jimat). Dan jimat-jimat itu terlarang sebagaimana telah disebutkan pula dalam hadits di atas.

Memakai tiwalah (pelet dan susuk) termasuk syirik karena di dalamnya ada keyakinan untuk menolak bahaya dan mendatangkan manfaat dari selain Allah (Fathul Majid, 139). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Tiwalah tergolong syirik karena tiwalah bukanlah sebab syar’i (yang didukung dalil) dan bukan pula sebab qodari (yang dibuktikan melalui eksperimen).” (lihat no. 36).

Lalu bagaimana jika yang memasang susuk itu seorang "kyai" atau menggunakan ayat-ayat Al Quran?

Syaikh Bin Baz rahimahullah memberikan komentar terhadap perkataan Ibnu Hajar yang menyebut tiwalah sebagai bagian dari sihir: “Meskipun yang melakukan (memasang susuk) itu mengaku sebagai muslim yang fanatik, mereka menulis Al Quran dan asma Allah hanya sebagai bentuk pelecehan terhadapnya, karena mereka menulis seperti caranya orang-orang Yahudi, yakni memisah-misahkan hurufnya (seperti dalam mujarobat, pen) dengan tinta khusus dan mencampurinya dengan mantra-mantra jahiliyyah.”

Dengan kata lain para pemasang susuk telah melakukan sihir, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Barangsiapa melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik." (lihat no. 24).

Alasan "yang penting niatnya" tidak bisa mengubah status haram menjadi halal. Karena niat baik hanya akan mendapat nilai baik jika jenis amal dan cara mengerjakannya juga baik dan benar dalam pandangan syar’i. Seperti seorang wanita tidak dibenarkan menjadi pelacur meskipun tujuannya adalah untuk menghidupi keluarga yang menjadi tanggungannya. Sedangkan melakukan kesyirikan apapun tujuannya lebih buruk dari itu, karena syirik adalah dosa yang paling besar.

  1. Setia dan taat kepada Pancasila atau ideologi sekuler lainnya

Salah satu ideologi sekuler yang dianut umat manusia adalah Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Selain sebagai dasar negara, Pancasila juga sebagai sumber dari segala sumber hukum di negara Indonesia. Artinya bahwa posisi Pancasila diletakkan pada posisi tertinggi dalam hukum di Indonesia, meskipun sejak Indonesia merdeka masih menggunakan hukum peninggalan Belanda, posisi Pancasila dalam hal ini menjadikan pedoman dan arah bagi setiap bangsa Indonesia dalam menyusun dan memperbaiki kondisi hukum di Indonesia. Mengingat bahwa hukum terus berubah dan mengikuti perkembangan masyarakat, maka setiap perubahan yang terjadi akan selalu disesuaikan dengan cita-cita bangsa Indonesia yang mengacu pada Pancasila.

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum diatur dalam pasal 2 Undang Undang No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menyatakan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara.

Sementara itu, Allah menyatakan dengan tegas bahwa Dia-lah Yang berhak menetapkan hukum dan Dia-lah Pemberi keputusan yang paling baik, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri." (QS. Yusuf: 67)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

Hai orang-orang yang beriman, ...apabila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apapun), maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian... (QS. An-Nisa: 59)

Berdasarkan firman Allah tersebut, barangsiapa yang setia dan taat kepada Pancasila, meskipun rajin shalat, puasa, dzikir, dan sedekah, maka dia terjerumus ke dalam perbuatan syirik akbar yang menghapuskan seluruh amal ibadahnya. Hal ini karena Pancasila ditempatkan sebagai sumber dari segala sumber hukum, yang berarti bahwa setiap penerapan hukum apapun, termasuk hukum Allah, harus tunduk kepada dan sesuai dengan Pancasila. Ini jelas kezaliman yang besar dan pelecehan yang nyata terhadap hukum Allah.

  1. Menjadi pemerintah yang berbaiat/bersumpah memegang teguh UUD 1945 atau hukum jahiliyah lainnya

UUD 1945 dan turunannya adalah hukum jahiliyah yang diberlakukan di negara Indonesia. Hukum jahiliyah adalah tandingan bagi hukum Allah (lihat no. 18 dan 27). Sebelum melaksanakan tugas sebagai pemerintah, baik presiden, gubernur, bupati, maupun walikota diharuskan berbaiat/bersumpah memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturan turunannya, hal ini sebagaimana diatur dalam UU No. 27 Tahun 2009 dan Permendagri No. 35 Tahun 2013. Adapun isi baiat/sumpah selengkapnya adalah sebagai berikut:

“Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa.”

Konsekuensi dari ketaatan kepada sumpahnya berarti mencampakkan sebagian perintah/hukum Allah seperti qishash, diyat, hudud, jizyah, hisbah, dan lainnya, padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah... (QS. Al-A'raf: 54)

Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia-lah yang berhak menjadi Rabb (Pengatur) bagi manusia. Kalau tidak ada pencipta lain bersama Dia, maka tidak ada pula yang berhak memerintah bersama Dia (lihat Tafsir Fi Zhilalil Qur'an IV hal. 324).

Dengan demikian, menjadi pemerintah yang berbaiat/bersumpah memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturan turunannya termasuk perbuatan syirik akbar karena hal itu sama saja dengan bersumpah meninggalkan sebagian perintah/hukum Allah dan menggantinya dengan perintah/hukum buatan manusia (misal: KUHP).

  1. Percaya pada azimat/jimat

Mengenakan jimat dan mempercayainya dapat memberikan manfaat atau melindungi dari bahaya dan menolak bala’ adalah syirik akbar karena menyamakan Allah dengan makhluk dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah. Adapun mengenakan jimat dan meyakini Allah yang memberikan manfaat atau melindungi dari bahaya dan menolak bala’, sedang jimat itu hanya sebagai sebab adalah syirik asghar. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan hadits-hadits berikut:

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al-An’am: 17)

Dari ‘Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad dan Hakim)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan pelet adalah syirkun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Dalam hadits tersebut kata syirik dalam bentuk nakirah: "syirkun" (tidak ada alif lam di awalnya). Yang dimaksud di sini adalah syirik asghar (lihatRasa-il fil ‘Aqidah, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, hal. 437-439).

Mengambil sebab untuk meraih suatu kemanfaatan dan menolak kemudaratan tidak dilarang dalam Islam, bahkan dianjurkan. Tetapi dengan syarat, sebab tersebut adalah sebab syar’i atau sebab qodari. Maka menjadikan sesuatu sebagai sebab, padahal ia bukanlah sebab syar’i dan bukan pula sebab qodari adalah perbuatan syirik (lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pada Al Qoulul Mufid, 1/168).

Sebab syar’i maksudnya adalah sebab yang dijelaskan oleh dalil syar’i. Contoh sebab syar'i: membaca surat Al-Fatihah untuk orang sakit adalah sebab kesembuhannya. Sedangkan yang dimaksud dengan sebab qodari adalah sebab yang Allah ciptakan sebagai sebab di alam ini dan dapat diketahui dengan dua cara: pertama, dengan dalil syar’i dan kedua, dengan penelitian ilmiah dan percobaan. Contoh sebab qodari dengan dalil syar'i: madu, habbatus sauda’, kencing unta untuk obat sakit perut, bekam dan lain-lain adalah sebab-sebab kesembuhan. Adapun contoh sebab qodari dengan penelitian ilmiah dan percobaan: obat-obat antibiotik kedokteran modern yang merupakan sebab untuk menekan atau menghentikan perkembangan bakteri atau mikroorganisme berbahaya yang berada di dalam tubuh.

  1. Percaya pada tathayur

Tathayur (perasaan sial) yaitu meyakini adanya kesialan (thiyarah) karena sesuatu. Seperti misalnya pada hari-hari tertentu yang terkait dengan hari kelahiran atau weton tertentu, konon akan merugi jika keluar bekerja atau berdagang pada hari Selasa. Atau akan tidak awet jika mulai bekerja pada hari kamis. Ada juga yang dihitung berdasarkan tanggal lahir dan wetonnya lalu dia tidak boleh berjalan ke arah utara pada hari tertentu dan tak boleh ke barat pada hari tertentu lainnya.

Al-Qarafi rahimahullah berkata: “Tathayur adalah persangkaan jelek yang muncul dalam hati, sedangkan thiyarah adalah perbuatan yang dilakukan sebagai akibat dari persangkaan itu, yaitu larinya dia dari urusan yang akan dilakukan atau perbuatan yang lain.” (lihat Al Furuq 4/238).

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (dalam hatinya terdapat hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang membatalkan hajatnya karena thiyarah (kesialan), maka ia telah berbuat syirik." Para sahabat bertanya: “Apakah tebusan daripada perbuatan tersebut?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: 'Ya Allah, tidak ada sesuatu kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang datang daripada-Mu, dan tidak ada ilah melainkan Engkau.'" (HR. Ahmad)

Thiyarah termasuk syirik karena keyakinan bahwa ia bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus: 107)

Contoh tathayur lainnya percaya pada tanda-tanda kesialan tertentu, misalnya ada burung gagak hitam pasti di kampung ini akan ada yang meninggal dunia atau terkena wabah. Demikian juga percaya pada tempat-tempat tertentu menjadi angker atau sial karena peristiwa tertentu misalnya tempat bekas kecelakaan, sehingga tikungan tersebut menjadi angker.

Dari Imran bin Husain bin Ali radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung, dan lain-lain), yang melakukan praktek dukun atau yang didukuni, yang menyihir atau meminta disihirkan, dan barangsiapa mendatangi kahin (tukang ramal) dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam." (HR. Bazzar)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak termasuk golongan kami orang yang bertathayur (merasa sial karena sesuatu) atau meminta ditathayurkan (ditebak kesialannya), atau menenung atau minta ditenungkan, menyihir atau minta disihirkan." (HR. Thabrani)

  1. Mencela masa/waktu (apalagi mencela Allah, ayat-ayat-Nya, atau rasul-Nya)

Mencela masa atau cuaca dengan meyakini bahwa ia adalah pelaku utama terjadinya keburukan sesuatu, ini hukumnya adalah syirik akbar karena dia meyakini adanya pencipta lain selain Allah dan menyandarkan terjadinya suatu peristiwa kepada selain Allah. Umpamanya perkataan:

“Aku benci musim kemarau karena ia menimbulkan bencana kelaparan.”

“Tahun ini merupakan tahun pembawa kesialan.”

"Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika bertanding pas hari Rabu."

"Bulan Suro, bulan penuh petaka!"

Bila mengucapkan celaan tersebut dengan diiringi keyakinan bahwa ia adalah pelaku utama terjadinya kelaparan atau musibah lainnya maka hal ini adalah syirik akbar (lihat rincian Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid).

Mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik di masa lalu. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)." Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Begitu juga dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan mengenai larangan mencela waktu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Aku-lah yang membolak-balikkan malam dan siang.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan mencela Allah, ayat-ayat-Nya, atau rasul-Nya dikategorikan sebagai kekufuran yang mengeluarkan dari agama. Sama saja apakah si pelakunya melakukan itu ketika marah atau dalam keadaan rela. Dan sama saja apakah ia melakukan itu serius atau bercanda. AllahSubhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman... (QS. At-Taubah: 65-66)

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi: 106)

  1. Bersumpah dengan menyebut selain nama Allah

Bersumpah dengan nama Allah adalah bentuk mengagungkan Allah. Oleh karenanya, bersumpah dengan selain nama Allah dinilai sebagai bentuk tindakan lancang kepada Allah dan melecehkan kesempurnaan dan keagungan Allah. Karena seorang insan jika ingin menegaskan bahwa dirinya benar dalam perkataannya atau berupaya membersihkan diri dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya maka dia akan bersumpah dengan sesuatu yang paling agung dalam hatinya. Adakah di alam semesta ini suatu yang lebih agung dibandingkan dengan Allah? Oleh karena itu, bersumpah dengan selain nama Allah tergolong kesyirikan sebab dalam sumpah tersebut terkandung pengagungan kepada selain Allah. Sedangkan pengagungan termasuk jenis ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah 'Azza Wa Jalla.

Yang dimaksud bersumpah dengan menyebut selain nama Allah -yang tergolong syirik- mencakup segala sesuatu selain Allah, baik itu Ka'bah, rasul, malaikat, langit, dan lain-lain. Misalnya dengan mengatakan “demi Ka'bah”, atau “demi Rasulullah”, “demi Jibril”, "demi langit yang luas", "demi bangsa dan negara", "demi kehormatanku", "demi cintaku kepadamu", dan seterusnya.

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ’anhu, suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu mendengar seorang yang bersumpah dengan mengatakan: "Tidak, demi Ka’bah." Maka Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan.'" (HR. Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, maka sungguh dia telah kafir atau musyrik." (HR. Ibnu Abi Hatim)

Bersumpah dengan menyebut selain nama Allah adalah syirik akbar jika diiringi keyakinan bahwa sesuatu yang disebutkan dalam sumpah tersebut sederajat dengan Allah dalam pengagungan dan dalam keagungan. Jika tidak ada unsur ini maka hukumnya adalah syirik asghar (Al Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al Kabair menyebutkan beberapa bentuk syirik asghar antara lain bersumpah dengan selain nama Allah dan percaya pada tathayur).

  1. Berbuat riya dan sum'ah

Yang dimaksud riya adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehinga pujian dan ketenaran pun datang. Riya dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang-orang munafik. Al Quran dan As Sunnah telah memperingatkan tentang riya dan sum'ah ini:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia... (QS. Al-Baqarah: 264)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah iamempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya. (QS. Al-Kahfi: 110)

Daru Jundub bin Abdullah bin Sufyan radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang berbuat sum'ah maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menyingkap hakikat dirinya, dan barangsiapa yang berbuat riya maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membuka tabir kejelekannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?" Para shahabat menjawab: "Kami mau, wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda: ”Syirik khafi (tersembunyi), seseorang bangkit untuk melaksanakan shalatnya, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya karena ia tahu ada seseorang yang memperhatikannya." (HR. Ibnu Majah)

Riya ada dua jenis. Jenis yang pertama hukumnya syirik akbar. Hal ini terjadi jika seseorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah/keridhaan Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang keadaan mereka:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisaa: 142)

Adapun yang kedua adalah riya yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya ini terkadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Riya jenis ini merupakan perbuatan syirik asghar. Syirik asghar adalah hukum asal riya sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik asghar.” Mereka (para Sahabat) bertanya: “Apakah syirik asghar itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu riya. Allah akan berfirman pada hari kiamat nanti ketika Ia memberi ganjaran amal perbuatan hamba-Nya: 'Pergilah kalian kepada orang yang kalian berlaku riya terhadapnya. Lihatlah apakah kalian memperoleh balasan dari mereka.'" (HR. Ahmad, Baghawi, dan Thabrani)

.
Keterangan:

* Syirik akbar atau syirik besar adalah perbuatan mempersekutukan Allah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, menghapuskan seluruh amal ibadahnya, dan menjadikannya kekal di dalam neraka.

** Syirik asghar atau syirik kecil adalah perbuatan mempersekutukan Allah yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun ia berdosa dengan dosa yang paling besar lebih besar daripada dosa-dosa besar perbuatan maksiat seperti membunuh, mencuri, berzina, dan minum khamar (minuman keras).

BERBAGAI SUMBER

 

ADAKAH lobang hitam / BLACK HOLE di AL QUR'AN ? ..... LUBANG HITAM sebagai PUSAT GALAKSI/ CLUSTER / SUPER CLUSTER --------------------- Black hole atau lubang hitam merupakan benda angkasa dengan kekuatan gravitasi sangat besar. Penemuan black hole pun menjadi satu penemuan besar dalam bidang astronomi. Sebelumnya tidak ada bayangan sama sekali tentang adanya lubang hitam dengan kekuatan sangat besar ini. Namun, setelah ditemukan adanya black hole kemudian munculah asumsi bahwa lubang hitam termasuk bintang yang tak terlihat karena tidak memancarkan cahaya sama sekali. Black hole diyakini terbentuk dari bintang yang terlihat gelap karena kehabisan bahan bakar sehingga bintang tersebut tidak terlihat. Secara lebih lanjut black hole pun masuk dalam tahapan kelahiran bintang. ---------- Black Hole Sudah Dikabarkan Dalam Al-Qur’an Faktor lain yang menyebabkan black hole tidak terlihat yaitu karena gravitasi yang super besar yang saking besarnya dirasa cukup kuat menarik cahaya. Selain memiliki gaya gravitasi yang besar, black hole memiliki massa yang besar pula. Massa besar yang dimiliki black hole ini pun diduga menjadi sebab besarnya gravitasinya. Akan tetapi, ada satu hal unik terkait massa besar black hole ini. Meskipun black hole memiliki massa yang amat besar, ukurannya cukup padat. Bila ditemukan black hole dengan berat matahari, maka ukuran black hole tersebut hanya memiliki diameter 3 km saja. Cukup padat bukan. Sementara black hole yang sebenarnya diketahui memiliki diameter 31 km dengan massa 1031. Dengan demikian sangat wajar bila gravitasi black hole super besar. ---------- Black Holes atau lubang hitam bisa dibilang penemuan paling fenomenal di abad 20 di bidang astronomi. Sebelumnya, tak seorang ilmuwan yang pernah membayangkan bahwa di langit ada sejumlah bintang bergerak terus, menyapu, menyedot semua benda langit di sekitarnya. Apalagi bintang itu memang tidak terlihat.-------- Sejak tahun 1790 seorang ilmuwan Inggris John Michell dan ilmuwan Perancis, Pierre-Simon Laplace memprediksi bahwa ada bintang tersembunyi di langit. Kemudian tahun 1910 teori relativitas Einstein memperkirakan adanya benda di luar angkasa yang memiliki pengaruh terhadap waktu dan tempat. Selanjutnya dikembangkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild, pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin dipopulerkan oleh Stephen William Hawking. Pada saat ini banyak astronom yang percaya bahwa hampir semua galaksi dibalam semesta ini mengelilingi lubang hitam pada pusat galaksi.---------- Tahun 1967 ilmuwan Amerika John Archibald Wheeler sudah mulai membicarakan dan menamakan “lubang hitam” black holes sebagai hasil dari hancurnya bintang-bintang. sehingga menjadi populer di dunia bahkan juga menjadi topik favorit para penulis fiksi ilmiah. Kita tidak dapat melihat lubang hitam akan tetapi kita bisa mendeteksi materi yang tertarik/tersedot ke arahnya. Dengan cara inilah, para astronom mempelajari dan mengidentifikasikan banyak lubang hitam di angkasa lewat observasi yang sangat hati-hati sehingga diperkirakan di angkasa dihiasi oleh jutaan lubang hitam--------- Para ilmuwan memastikan keberadaan black holes dengan menggunakan teleskop Hubble terhadap pusat galaksi M87. Mereka menemukan konsentrasi gas secara berkesinambungan di sekitar black holes. Konsentrasi gas bergerak sangat cepat yakni 400 km/detik. ------- Di tahun 1994, melalui teleskop Hubble di pusat galaksi M87 yang dikelilingi oleh gas yang jelas. Diperkirakan masa black holes ini 3 juta kali lipat masa matahari. Kemudian bukti-bukti ilmiah semakin banyak ditemukan tentang adanya black holes melalui sinar-X.----------- Black holes atau lubang hitam seperti definisi ilmuwan NASA adalah medan gravitasi sangat kuat. Akibatnya, benda-benda langit tersedot dengan intensitas tinggi tanpa terkecuali. Saking kuatnya, cahaya pun tidak bisa menghindar dari sedotan. Black hole terbentuk ketika sebuah bintang besar mulai habis usianya akibat kehabisan energi dan bahan bakar. Meski tidak terlihat, black hole memiliki magnet tingkat tinggi.-------------------- Semua bintang dengan masa 20 kali lipat dengan matahari memungkinkan untuk hancur dan berakhir dan berubah menjadi black hole. Ini karena bintang itu memiliki magnet dan masa yang besar. Namun jika masa bintang kecil dan bahan bakarnya habis, maka magnetnya dan masanya tidak mencukupi untuk menyedot benda-benda di sekitarnya dan tidak menjadi black holes. Bintang ini hanya menjadi white dwarf atau bintang mati. Matahari misalnya, setelah 400 juta tahun akan hilang bahan bakar nuklirnya dan redup. Namun ia tidak menjadi black hole karena masanya tidak mencukupi. Barangkali ini yang diisyaratkan oleh Al-Quran--------------- “Apabila matahari digulung,” (At Takwir: 1) ------------- Jadi bukan hancur namun redup. Kuwwirat dalam kamus maknanya satu bagian masuk tergulung ke bagian lainnya. ------------ Meledaknya bintang adalah fase pertama terbentuknya black holes. Para ahli menemukan bahwa semua bintang akan meledak setelah kehabisan bahan bakarnya dan berubah menjadi bintang lain, namun bentuk paling ekstrim adalah black holes. ---------------- Karena gravitasi begitu kuat pada lubang hitam mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata “hitam”. Istilah “lubang hitam” telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa. Kekuatan grafitasi eksrtrim ini menghasilkan panas tinggi sehingga menciptakan cahaya. Cahaya itu dengan mudah dideteksi oleh astronom melalui alat mereka. Padahal kecepatan cahaya adalah 300 ribu km/detik. Karenanya tidak bisa dilihat, ia disebut lubang hitam. Ada black hole yang memiliki masa lebih dari 1000 juta kali masa matahari. Ia menyedot benda, gas, benda langit di dekatnya secara berkesinambungan.--------------- Massa dari lubang hitam terus bertambah dengan cara menangkap semua materi didekatnya. Semua materi tidak bisa lari dari jeratan lubang hitam jika melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari lubang hitam akan tersedot. Berlainan dengan reputasi yang disandangnya saat ini yang menyatakan bahwa lubang hitam dapat menyedot apa saja disekitarnya, lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari dirinya. dia hanya bisa menarik materi yang lewat sangat dekat dengannya. ---------- Sejumlah galaxy sejauh 250 juta tahun kecepatan cahaya. Tahun 2002, ilmuwan menemukan sejumlah lubang hitam di wilayah ini. (nasa.gov) ---------- Antara Ilmuwan dan Al-Quran --------- Seorang ilmuwan Barat menjelaskan hakikat black hole “It creates an immense gravitational pull not unlike an invisible cosmic vacuum cleaner. As it moves, it sucks in all matter in its way — not even light can escape. Black hole menciptakan gravitasi ekstrim yang bekerja seperti vacuum cleaner alam raya yang tidak terlihat. Ia bergerak dan menelan semua benda yang ditemuinya bahkan cahaya pun disedotnya dan tidak bisa menghindar.” --------------- Karakter black hole: ------------ Tidak terlihat (Invisible) Bekerja seperti sapu mesin yang menyedot (cavuum cleaner) Bergerak secara berkesinambungan (moves) ------------ Black Hole dalam Al Quran ----------- ilustrasi Video BLACK HOLE/ lubang HITAM https://youtu.be/8-KKJeZs8eg Al Quran menyebutkan banyak fenomena alam raya dan benda-benda luar angkasa, bintang, planet, nama bintang, galaksi dan lain-lain. Sebelum mengklaim adanya fenomena black hole dalam Al-Quran, mari kita perhatikan ayat yang paling dekat untuk dikaji. Yakni di surat At-Takwir ayat 15-16. --- “Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu,” ----------- Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yakni bintang yang bernama atau memiliki tiga karakter. Pertama, khunnas(الْخُنَّسِ); yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannaas (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuawan tentang karakter black hole yakni; invisible. Kedua, aljawaar (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ini karakter black hole kedua moves. Lafadl Al Quran tajri lebih perfect dibanding penjelasan ilmuan sebab kata ia bermakna bergerak cepat atau lari. Sementara moves tidak menggambarkan bergerak dengan cepat. Ketiga, al kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole vacuum cleaner.---------------- Kunnas berasal dari kanasa artinya menyapu, miknasah alat untuk menyapu. Kunnas bentuk jamak dari kaanis yang menyapu. Kunnas adalah shigat muntaha jumuk (bentuk jamak paling tinggi) dari bentuk tunggal kaanis. --------------- Para ulama tafsir klasik menjelaskan makna khunnas al jawaril kunnas adalah bintang yang cahayanya tidak muncul di siang hari dan muncul di malam hari. Namun ini hanya penafsiran bukan makna sesungguhnya. Penafsiran paling sesuai dengan realitas alam raya adalah black holes. ---------- Lebih takjub lagi, ilmuwan NASA menemukan adanya gelombang suara dengan irama tertentu yang keluar dari black hole atau gas yang meliputinya di galaksi yang sangat jauh. ---------- “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al Isra’: 44). ------------- Black hole dengan ukuran sedang besarnya 10 kali limat dari berat matahari. Ada black hole yang besarnya sangat ekstrim yang ada di galaksi kita dan galaksi lain. Ada yang beratnya 1 juta kali lipat matahari. ------------ Bagaimana mendeteksi black hole yang tidak terlihat dan tidak mengeluarkan cahaya? Setelah mengamati alam raya dan bintang-bintang dalam waktu yang lama. Tiba para ilmuwan menemukan sebuah bintang itu hilang cahayanya. Setalah beberapa saat bintang itu muncul lagi. Ketika gambarnya diamati, para astronom berkesimpulan bahwa cahaya itu terhalang oleh black hole yang melintas. ----

lubang hitam kunnas

ADAKAH lobang hitam / BLACK HOLE di AL QUR'AN ? ..... LUBANG HITAM sebagai PUSAT GALAKSI/ CLUSTER / SUPER CLUSTER
---------------------

Black hole atau lubang hitam merupakan benda angkasa dengan kekuatan gravitasi sangat besar. Penemuan black hole pun menjadi satu penemuan besar dalam bidang astronomi. Sebelumnya tidak ada bayangan sama sekali tentang adanya lubang hitam dengan kekuatan sangat besar ini. Namun, setelah ditemukan adanya black hole kemudian munculah asumsi bahwa lubang hitam termasuk bintang yang tak terlihat karena tidak memancarkan cahaya sama sekali. Black hole diyakini terbentuk dari bintang yang terlihat gelap karena kehabisan bahan bakar sehingga bintang tersebut tidak terlihat. Secara lebih lanjut black hole pun masuk dalam tahapan kelahiran bintang. ----------
Black Hole Sudah Dikabarkan Dalam Al-Qur’an
Faktor lain yang menyebabkan black hole tidak terlihat yaitu karena gravitasi yang super besar yang saking besarnya dirasa cukup kuat menarik cahaya. Selain memiliki gaya gravitasi yang besar, black hole memiliki massa yang besar pula. Massa besar yang dimiliki black hole ini pun diduga menjadi sebab besarnya gravitasinya. Akan tetapi, ada satu hal unik terkait massa besar black hole ini. Meskipun black hole memiliki massa yang amat besar, ukurannya cukup padat. Bila ditemukan black hole dengan berat matahari, maka ukuran black hole tersebut hanya memiliki diameter 3 km saja. Cukup padat bukan. Sementara black hole yang sebenarnya diketahui memiliki diameter 31 km dengan massa 1031. Dengan demikian sangat wajar bila gravitasi black hole super besar.
 ----------

Black Holes atau lubang hitam bisa dibilang penemuan paling fenomenal di abad 20 di bidang astronomi. Sebelumnya, tak seorang ilmuwan yang pernah membayangkan bahwa di langit ada sejumlah bintang bergerak terus, menyapu, menyedot semua benda langit di sekitarnya. Apalagi bintang itu memang tidak terlihat.--------

Sejak tahun 1790 seorang ilmuwan Inggris John Michell dan ilmuwan Perancis, Pierre-Simon Laplace memprediksi bahwa ada bintang tersembunyi di langit. Kemudian tahun 1910 teori relativitas Einstein memperkirakan adanya benda di luar angkasa yang memiliki pengaruh terhadap waktu dan tempat. Selanjutnya dikembangkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild, pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin dipopulerkan oleh Stephen William Hawking. Pada saat ini banyak astronom yang percaya bahwa hampir semua galaksi dibalam semesta ini mengelilingi lubang hitam pada pusat galaksi.----------

Tahun 1967 ilmuwan Amerika John Archibald Wheeler sudah mulai membicarakan dan menamakan “lubang hitam” black holes sebagai hasil dari hancurnya bintang-bintang. sehingga menjadi populer di dunia bahkan juga menjadi topik favorit para penulis fiksi ilmiah. Kita tidak dapat melihat lubang hitam akan tetapi kita bisa mendeteksi materi yang tertarik/tersedot ke arahnya. Dengan cara inilah, para astronom mempelajari dan mengidentifikasikan banyak lubang hitam di angkasa lewat observasi yang sangat hati-hati sehingga diperkirakan di angkasa dihiasi oleh jutaan lubang hitam---------

Para ilmuwan memastikan keberadaan black holes dengan menggunakan teleskop Hubble terhadap pusat galaksi M87. Mereka menemukan konsentrasi gas secara berkesinambungan di sekitar black holes. Konsentrasi gas bergerak sangat cepat yakni 400 km/detik. -------

Di tahun 1994, melalui teleskop Hubble di pusat galaksi M87 yang dikelilingi oleh gas yang jelas. Diperkirakan masa black holes ini 3 juta kali lipat masa matahari. Kemudian bukti-bukti ilmiah semakin banyak ditemukan tentang adanya black holes melalui sinar-X.-----------

Black holes atau lubang hitam seperti definisi ilmuwan NASA adalah medan gravitasi sangat kuat. Akibatnya, benda-benda langit tersedot dengan intensitas tinggi tanpa terkecuali. Saking kuatnya, cahaya pun tidak bisa menghindar dari sedotan. Black hole terbentuk ketika sebuah bintang besar mulai habis usianya akibat kehabisan energi dan bahan bakar. Meski tidak terlihat, black hole memiliki magnet tingkat tinggi.--------------------

Semua bintang dengan masa 20 kali lipat dengan matahari memungkinkan untuk hancur dan berakhir dan berubah menjadi black hole. Ini karena bintang itu memiliki magnet dan masa yang besar. Namun jika masa bintang kecil dan bahan bakarnya habis, maka magnetnya dan masanya tidak mencukupi untuk menyedot benda-benda di sekitarnya dan tidak menjadi black holes. Bintang ini hanya menjadi white dwarf atau bintang mati. Matahari misalnya, setelah 400 juta tahun akan hilang bahan bakar nuklirnya dan redup. Namun ia tidak menjadi black hole karena masanya tidak mencukupi. Barangkali ini yang diisyaratkan oleh Al-Quran---------------

“Apabila matahari digulung,” (At Takwir: 1) -------------

Jadi bukan hancur namun redup. Kuwwirat dalam kamus maknanya satu bagian masuk tergulung ke bagian lainnya. ------------

Meledaknya bintang adalah fase pertama terbentuknya black holes. Para ahli menemukan bahwa semua bintang akan meledak setelah kehabisan bahan bakarnya dan berubah menjadi bintang lain, namun bentuk paling ekstrim adalah black holes. ----------------

Karena gravitasi begitu kuat pada lubang hitam mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata “hitam”. Istilah “lubang hitam” telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa. Kekuatan grafitasi eksrtrim ini menghasilkan panas tinggi sehingga menciptakan cahaya. Cahaya itu dengan mudah dideteksi oleh astronom melalui alat mereka. Padahal kecepatan cahaya adalah 300 ribu km/detik. Karenanya tidak bisa dilihat, ia disebut lubang hitam. Ada black hole yang memiliki masa lebih dari 1000 juta kali masa matahari. Ia menyedot benda, gas, benda langit di dekatnya secara berkesinambungan.---------------

Massa dari lubang hitam terus bertambah dengan cara menangkap semua materi didekatnya. Semua materi tidak bisa lari dari jeratan lubang hitam jika melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari lubang hitam akan tersedot. Berlainan dengan reputasi yang disandangnya saat ini yang menyatakan bahwa lubang hitam dapat menyedot apa saja disekitarnya, lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari dirinya. dia hanya bisa menarik materi yang lewat sangat dekat dengannya.
----------
Sejumlah galaxy sejauh 250 juta tahun kecepatan cahaya. Tahun 2002, ilmuwan menemukan sejumlah lubang hitam di wilayah ini. (nasa.gov) ----------

Antara Ilmuwan dan Al-Quran ---------

Seorang ilmuwan Barat menjelaskan hakikat black hole “It creates an immense gravitational pull not unlike an invisible cosmic vacuum cleaner. As it moves, it sucks in all matter in its way — not even light can escape. Black hole menciptakan gravitasi ekstrim yang bekerja seperti vacuum cleaner alam raya yang tidak terlihat. Ia bergerak dan menelan semua benda yang ditemuinya bahkan cahaya pun disedotnya dan tidak bisa menghindar.” ---------------

Karakter black hole: ------------

Tidak terlihat (Invisible) Bekerja seperti sapu mesin yang menyedot (cavuum cleaner) Bergerak secara berkesinambungan (moves) ------------


Black Hole dalam Al Quran -----------

ilustrasi Video BLACK HOLE/ lubang HITAM https://youtu.be/8-KKJeZs8eg

Al Quran menyebutkan banyak fenomena alam raya dan benda-benda luar angkasa, bintang, planet, nama bintang, galaksi dan lain-lain. Sebelum mengklaim adanya fenomena black hole dalam Al-Quran, mari kita perhatikan ayat yang paling dekat untuk dikaji. Yakni di surat At-Takwir ayat 15-16. ---

Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu,” -----------

Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yakni bintang yang bernama atau memiliki tiga karakter. Pertama, khunnas(الْخُنَّسِ); yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannaas (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuawan tentang karakter black hole yakni; invisible. Kedua, aljawaar (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ini karakter black hole kedua moves. Lafadl Al Quran tajri lebih perfect dibanding penjelasan ilmuan sebab kata ia bermakna bergerak cepat atau lari. Sementara moves tidak menggambarkan bergerak dengan cepat. Ketiga, al kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole vacuum cleaner.----------------

Kunnas berasal dari kanasa artinya menyapu, miknasah alat untuk menyapu. Kunnas bentuk jamak dari kaanis yang menyapu. Kunnas adalah shigat muntaha jumuk (bentuk jamak paling tinggi) dari bentuk tunggal kaanis. ---------------

Para ulama tafsir klasik menjelaskan makna khunnas al jawaril kunnas adalah bintang yang cahayanya tidak muncul di siang hari dan muncul di malam hari. Namun ini hanya penafsiran bukan makna sesungguhnya. Penafsiran paling sesuai dengan realitas alam raya adalah black holes. ----------

Lebih takjub lagi, ilmuwan NASA menemukan adanya gelombang suara dengan irama tertentu yang keluar dari black hole atau gas yang meliputinya di galaksi yang sangat jauh. ----------

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al Isra’: 44). -------------

Black hole dengan ukuran sedang besarnya 10 kali limat dari berat matahari. Ada black hole yang besarnya sangat ekstrim yang ada di galaksi kita dan galaksi lain. Ada yang beratnya 1 juta kali lipat matahari. ------------

Bagaimana mendeteksi black hole yang tidak terlihat dan tidak mengeluarkan cahaya? Setelah mengamati alam raya dan bintang-bintang dalam waktu yang lama. Tiba para ilmuwan menemukan sebuah bintang itu hilang cahayanya. Setalah beberapa saat bintang itu muncul lagi. Ketika gambarnya diamati, para astronom berkesimpulan bahwa cahaya itu terhalang oleh black hole yang melintas. ----

Diperkirakan jumlah black hole di alam raya ini jutaan bahkan ribuan juta.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat: 53)

Islam akan menang tanpa atau bersama Anda, ...... tetapi tanpa Islam Anda akan tersesat dan hilang –Syeikh Ahmed Deedat ----------------- Syeikh Ahmed Hussein Deedat yang lebih dikenal dengan nama ringkasnya Ahmed Deedat, lahir di daerah Surat, India, 1 Juli 1918 dan wafat 8 Agustus 2005 pada umur 87 tahun akibat stroke yang telah dideritanya sejak tahun 1996. Semasa kanak-kanak, ulama kharismatik ini hidup tanpa seorang ayah di sisinya sampai tahun 1926. Ayahnya terkabar berprofesi sebagai seorang penjahit yang berimigrasi ke Afrika Selatan tidak lama setelah kelahiran Deedat. ------------------------- Dalam bidang dakwah Deedat adalah seorang legenda. Melalui video-videonya yang banyak tersebar di dunia maya, kita mendapati sosok Deedat adalah seorang lelaki tua yang dengan kemantapan diri tinggi berbicara di hadapan hadirin dalam jumlah ribuan. Ya, ribuan orang yang berada dalam setuju dan tak setuju, yang keduanya terlihat mencermati, tak melewatkan kata demi kata yang mengucur lancar dari mulut sang Syeikh. --------------------- deedat2Hal pertama yang menjadi kelebihan Ahmed Deedat adalah artikulasi kata per kata yang diucapkan demikian mantap dan jelas. Disamping itu, ia menguasai beberapa bahasa seperti Arab, Inggris, Yunani, Ibrani, termasuk sedikit bahasa Melayu. Wawasannya tentang Alkitab dalam berbagai versinya, tambah menguatkan lagi daya magnitnya dalam berbicara. ----------------------- Syeikh Deedat, yang oleh beberapa sejawatnya dijuluki singa panggung itu, adalah seorang public speaker yang memiliki cara komunikasi berirama. Kadang ia bergolak-membara, kadang ia bertutur pelan-hening, dan sesekali secara spontan melemparkan humor yang menyegarkan. Tak jarang audience memberikan tepuk tangan yang gegap-gempita, dan kita bisa melihat di situ: Ahmed Deedat tetap tenang, ia akan menunggunya hingga reda, baru kemudian menyambung bicaranya. ------------------------------ deeeedatDari sisi dramaturgi, tak diragukan kemampuan Ahmed Deedat berpenampilan memang jauh di atas rata-rata. Ia mampu berdialog sekaligus mampu bermonolog dengan sangat baik. Ia bisa berbicara berjam-jam lamanya tanpa jeda dengan daya tarik yang tak memudar hingga usai. Bahasa tubuhnya demikian luwes memproyeksikan apa-apa yang disampaikannya. Cara berdiri, ekspresi wajah, gerakan tangan, cara dia menyimak dan kesigapannya memberi jawaban membuktikan ia memiliki kemampuan penguasaan panggung yang ulung. -------------------- Terkisah, masa kecil Deedat adalah masa-masa pematangan yang melalui pelbagai rintangan yang tak gampang. Tahun 1927, Ahmed Deedat berangkat ke Afrika Selatan menyusul ayahandanya. Perpisahan Deedat dengan ibunya pada tahun kepergiannya ke Afrika Selatan tersebut adalah saat terakhir ia bertemu ibunya yang meninggal beberapa bulan kemudian. ---------------------- Di negeri yang asing, seorang Deedat yang baru berusia 9 tahun tanpa berbekal pendidikan formal dan penguasaan bahasa Inggris yang tak memadai mulai menyiapkan diri untuk beradaptasi dan bersaing dengan kehidupan baru di koloni Inggris tersebut. Berkat ketekunannya dalam belajar, Deedat tidak hanya dapat mengatasi hambatan bahasa, tetapi juga unggul di sekolahnya. Kegemaran Deedat membaca membantunya untuk mendapatkan perkembangan yang signifikan. Namun, karena kendala kurangnya biaya menyebabkan sekolah Deedat tertunda di awal usia 16. Ia pun meninggalkan sekolahnya dan bekerja menjadi penjual barang-barang eceran. -------------------------- Jumma-Mosque_www.ipci.co.za.......Pada tahun 1936 Deedat bekerja pada toko muslim di dekat sebuah sekolah menengah Kristen di pantai selatan Natal. Di situ ia sering menerima penghinaan dari siswa-siswa misionaris yang tak jarang menantang Islam selama kunjungan mereka ke toko. Hal ini kemudian memotivasi Deedat mendalami agama Kristen dan membandingkannya dengan Islam. -------------------- Deedat kemudian menemukan sebuah buku berjudul Izharul-Haq yang berarti mengungkapkan kebenaran. Buku tersebut berisi materi debat dan keberhasilan usaha-usaha umat Islam di India yang sangat besar dalam memberikan argumen balasan kepada para misionaris Kristen yang melakukan misi penyebaran agama Kristen di bawah otoritas Kerajaan Inggris dan pemerintahan India. ----------------------- deedatshajahanahmed.wordpress.com...Usai mempelajari buku itu, Ahmed Deedat membeli Injil pertamanya dan mulai melakukan diskusi dengan siswa-siswa misionaris. Ketika siswa misionaris tersebut mundur dalam menghadapi argumen balik Deedat, ia secara pribadi memanggil guru teologi mereka dan bahkan pendeta-pendeta di daerah tersebut. ------------------ Keberhasilan-keberhasilan ini memacu Ahmed Deedat untuk meneruskan dakwahnya. Bahkan perkawinan, kelahiran anak, dan persinggahannya selama tiga tahun ke Pakistan sesudah kemerdekaannya, tidak mengurangi keinginannya untuk membela Islam dari penyimpangan-penyimpangan yang memperdayakan dari para misionaris Kristen. ---------------------- Dengan semangatnya untuk menyebarkan agama Islam, Ahmed Deedat membenamkan dirinya pada sekumpulan kegiatan lebih dari tiga dekade lamanya. Ia memimpin kelas untuk pelajaran Injil dan memberi sejumlah kuliah. Ia mendirikan As-Salaam, sebuah institut untuk tempat para da’i Islam menggembleng diri. Bersama-sama dengan keluarganya, ia mendirikan bangunan-bangunan termasuk masjid yang masih dikenal sampai saat ini. Pada 1957, bersama dua orang temannya, Deedat mendirikan Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan ia menjadi ketuanya hingga 1996. Zakir Naik, juru dakwah yang dewasa ini sedang populer merupakan salah satu dari sekian muridnya. ----------------------

Islam akan menang tanpa atau bersama Anda, ...... tetapi tanpa Islam Anda akan tersesat dan hilang –Syeikh Ahmed Deedat
-----------------

 Syeikh Ahmed Hussein Deedat yang lebih dikenal dengan nama ringkasnya Ahmed Deedat,  lahir di daerah Surat, India, 1 Juli 1918 dan wafat 8 Agustus 2005 pada umur 87 tahun akibat stroke yang telah dideritanya sejak tahun 1996. Semasa kanak-kanak, ulama kharismatik ini hidup tanpa seorang ayah di sisinya sampai tahun 1926. Ayahnya terkabar berprofesi sebagai seorang penjahit yang berimigrasi ke Afrika Selatan tidak lama setelah kelahiran Deedat.

-------------------------

 Dalam bidang dakwah Deedat adalah seorang legenda. Melalui video-videonya yang banyak tersebar di dunia maya, kita mendapati sosok Deedat adalah seorang lelaki tua yang dengan kemantapan diri tinggi berbicara di hadapan hadirin dalam jumlah ribuan. Ya, ribuan orang yang berada dalam setuju dan tak setuju, yang keduanya terlihat mencermati, tak melewatkan kata demi kata yang mengucur lancar dari mulut sang Syeikh.

---------------------

deedat2Hal pertama yang menjadi kelebihan Ahmed Deedat adalah artikulasi kata per kata yang diucapkan demikian mantap dan jelas. Disamping itu, ia menguasai beberapa bahasa seperti Arab, Inggris, Yunani, Ibrani, termasuk sedikit bahasa Melayu. Wawasannya tentang Alkitab dalam berbagai versinya, tambah menguatkan lagi daya magnitnya  dalam berbicara.
-----------------------

Syeikh Deedat, yang oleh beberapa sejawatnya dijuluki singa panggung itu, adalah seorang public speaker yang memiliki cara komunikasi berirama. Kadang ia bergolak-membara, kadang ia bertutur pelan-hening, dan sesekali secara spontan melemparkan humor yang menyegarkan. Tak jarang audience memberikan tepuk tangan yang gegap-gempita, dan kita bisa melihat di situ: Ahmed Deedat tetap tenang, ia akan menunggunya hingga reda, baru kemudian menyambung bicaranya.
------------------------------

deeeedatDari sisi dramaturgi, tak diragukan kemampuan Ahmed Deedat berpenampilan memang jauh di atas rata-rata. Ia mampu berdialog sekaligus mampu bermonolog dengan sangat baik. Ia bisa berbicara berjam-jam lamanya tanpa jeda dengan daya tarik yang tak memudar hingga usai. Bahasa tubuhnya demikian luwes memproyeksikan apa-apa yang disampaikannya. Cara berdiri, ekspresi wajah, gerakan tangan, cara dia menyimak dan kesigapannya memberi jawaban membuktikan ia memiliki kemampuan penguasaan panggung yang ulung.
--------------------

Terkisah, masa kecil Deedat adalah masa-masa pematangan yang melalui pelbagai rintangan yang tak gampang. Tahun 1927, Ahmed Deedat berangkat ke Afrika Selatan menyusul  ayahandanya. Perpisahan Deedat dengan ibunya pada tahun kepergiannya ke Afrika Selatan tersebut adalah saat terakhir ia bertemu ibunya yang meninggal beberapa bulan kemudian.
----------------------

Di negeri yang asing, seorang Deedat yang baru berusia 9 tahun tanpa berbekal pendidikan formal dan penguasaan bahasa Inggris yang tak memadai mulai menyiapkan diri untuk beradaptasi dan bersaing dengan kehidupan baru di koloni Inggris tersebut. Berkat ketekunannya dalam belajar, Deedat tidak hanya dapat mengatasi hambatan bahasa, tetapi juga unggul di sekolahnya. Kegemaran Deedat membaca membantunya untuk mendapatkan perkembangan yang signifikan. Namun, karena kendala kurangnya biaya menyebabkan sekolah Deedat tertunda di awal usia 16. Ia pun meninggalkan sekolahnya dan bekerja menjadi penjual barang-barang eceran.
--------------------------

Jumma-Mosque_www.ipci.co.za.......Pada tahun 1936 Deedat bekerja pada toko muslim di dekat sebuah sekolah menengah Kristen di pantai selatan Natal. Di situ ia sering menerima penghinaan dari siswa-siswa  misionaris yang tak jarang menantang Islam selama kunjungan mereka ke toko. Hal ini kemudian memotivasi Deedat mendalami agama Kristen dan membandingkannya dengan Islam.
--------------------

Deedat kemudian menemukan sebuah buku berjudul Izharul-Haq yang berarti mengungkapkan kebenaran. Buku tersebut berisi materi debat dan keberhasilan usaha-usaha umat Islam di India yang sangat besar dalam memberikan argumen balasan kepada para misionaris Kristen yang melakukan misi penyebaran agama Kristen di bawah otoritas Kerajaan Inggris dan pemerintahan India.
-----------------------

deedatshajahanahmed.wordpress.com...Usai mempelajari buku itu, Ahmed Deedat membeli Injil pertamanya dan mulai melakukan diskusi dengan siswa-siswa misionaris. Ketika siswa misionaris tersebut mundur dalam menghadapi argumen balik Deedat, ia secara pribadi memanggil guru teologi mereka dan bahkan pendeta-pendeta di daerah tersebut.
------------------

Keberhasilan-keberhasilan ini memacu Ahmed Deedat untuk meneruskan dakwahnya. Bahkan perkawinan, kelahiran anak, dan persinggahannya selama tiga tahun ke Pakistan sesudah kemerdekaannya, tidak mengurangi keinginannya untuk membela Islam dari penyimpangan-penyimpangan yang memperdayakan dari para misionaris Kristen.
----------------------

Dengan semangatnya untuk menyebarkan agama Islam, Ahmed Deedat membenamkan dirinya pada sekumpulan kegiatan lebih dari tiga dekade lamanya. Ia memimpin kelas untuk pelajaran Injil dan memberi sejumlah kuliah. Ia mendirikan As-Salaam, sebuah institut untuk tempat para da’i Islam menggembleng diri. Bersama-sama dengan keluarganya, ia mendirikan bangunan-bangunan termasuk masjid yang masih dikenal sampai saat ini. Pada 1957, bersama dua orang temannya, Deedat mendirikan Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan ia menjadi ketuanya hingga 1996. Zakir Naik, juru dakwah yang dewasa ini sedang populer merupakan salah satu dari sekian muridnya.
----------------------

deedatAhmed Deedat telah menerbitkan sekitar 22 buku penting dan telah dicetak hingga 20 juta kopi. Karya-karya Deedat seperti, The Choice-Between Islam and Christianity, Is the Bible God’s Word?, Al Qur’an the Miracle of Miracles, What the Bible says about Muhammad?, dan Crucifixion or Cruci-Fiction? begitu dikenal dan diakui di seluruh dunia. Buku The Choice-Between Islam and Christianity adalah buku terlarisnya yang menyebar luas dari Afrika Selatan hingga ke Eropa, Asia, Oceania, bahkan Amerika Utara dan Selatan.

Ahmed-DeedatSebagai penghargaan yang pantas untuk prestasi yang bersejarah itu, ia mendapat penghargaaan internasional dari Raja Faisal tahun 1986. Penghargaan bergengsi yang sangat berharga dalam dunia Islam.

Di sisa sembilan tahun usia hidupnya, Ahmed Deedat menjalani rawat jalan terkait penyakit stroke kronis yang dideritanya di kediamannya di Verulam, Afrika Selatan. Pada 8 Agustus 2005, ia meninggal di rumahnya di Trevennen Road di Verulam, provinsi KwaZulu-Natal, Durban. Ia dimakamkan di pemakaman Verulam.@ (Abu Alif Alfatih – oasemuslim)

Apakah “bentuk” BANTUAN Allah sehingga “orang-orang beriman” TIDAK— MUSNAH/ BINASA ?? …. --------------------- ALLAH sekali-kali —TIDAK AKAN— memberi jalan kepada orang-orang –KAFIR– untuk MEMUSNAHKAN orang-ORANG YANG BERIMAN”…. ﴾ An Nisaa:141 ﴿ ------------------------- ﴾ An Nisaa:141 ﴿ (yaitu) orang-orang yang {ٱلَّذِينَ} MENUNGGU-NUNGGU (menunggu peristiwa YANG AKAN TERJADI /يَتَرَبَّصُونَ) pada DIRIMU {بِكُمْ}. Maka jika terjadi bagimu KEMENANGAN { فَتْحٌ } dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu {ikut memenangkan/ نَسْتَحْوِذْ} ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi KEPUTUSAN { يَحْكُمُ } di antara kamu di HARI KIAMAT {ٱلْقِيٰمَةِ} dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk MEMUSNAHKAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN ========================== “BANI ASHFAR” dan “kalian” … berKOALISI {“gencatan senjata”}, melawan … “BENTENG UMAT ISLAM” …. Tanda KIAMAT (HR. Imam Ahmad) --------------------------- Urutan event 6 tanda kiamat … (1) kematian Nabi Muhammad SAW (2) PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS (palestina oleh Umar Bin Kattab) (3) WABAH new desease yg menyebabkan keMATIan dg CEPAT (oleh Virus/bakteri) (4) konflik umat Islam (“umatku”) (5) harta membumbung tinggi (banyak orang KAYA) (6) koalisi negara EROPA {/ BANI ASHFAR } dan negara-negara timur tengah {“kalian”) ….melawan/ vs… {BENTENG} “umat ISLAM (“umat Nabi MUHAMMAD”… Minhaj Nubuwah) --------------------------- “Auf bin Malik al-Asyja’iy berkata: Aku menemui Nabi saw lalu aku ucapkan salam. Nabi saw: Auf ? Aku: Ya, benar. Nabi saw: Masuklah. Aku: Semua atau aku sendiri? Nabi saw: Masuklah semua. Nabi saw: Wahai Auf, hitung ada ENAM tanda Kiamat. Pertama, (1)KEMATIANKU. Aku: Kalimat Nabi saw ini membuatku menangis sehingga Nabi saw membujukku untuk diam. Aku lalu menghitung: satu. Nabi saw: (2)PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS {…. = oleh Umar Bin Khattab dan pasukannya…. }. Aku: Dua. Nabi saw: (3)KEMATIAN yang akan merenggut UMATKU dengan CEPAT seperti wabah kematian kambing. {… = wabah penyakit oleh virus/ bakteri ….} Aku: Tiga. Nabi saw:(4) KONFLIK DAHSYAT yang menimpa UMATKU {… =Afghanistan war, jazirah war, Mesir war, Rohingya (genoside), Gaza war, Syam war ….}. Aku: Empat. Nabi saw: (5) HARTA MEMBUMBUNG TINGGI NILAInya hingga seseorang diberi 100 dinar masih belum puas. Aku: Lima. Nabi saw: (6)Terjadi GENCATAN SENJATA antara kalian dengan BANI ASHFAR {….= bangsa pirang/”negara Eropa” dg KOALISI “negara-negara munafik timur tengah”… HR Abu hurairah….}, lalu mereka mendukung kalian dengan 80 tujuan. Aku: Apa maksud tujuan? Nabi saw: Maksudnya panji. Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. BENTENG UMAT ISLAM SAAT ITU di wilayah yang disebut GHOUTHAH, daerah sekitar kota DAMASKUS.” (HR. Imam Ahmad) -------------------------- Ref HR Abu Hurairah; tanda AKHIR zaman= ….. {1} WAKTU MEMENDEK {24 jam menjadi 16 jam atau kurang; …..{2} umat Islam PENGETAHUAN MENYUSUT {= Al Qashash:60), …. {3} umat Islam KEKURANGAN DAN PENDERITAAN {= akibat perang/ genocide {Rohingya, palestina, Yaman, Afghanistan, Kashmir etc}}; …. {4} PENYAKIT {baru} BERMUNCULAN {= virus baru/ bakteri baru … Mers, AI, ebola etc} …. {5} Umat Islam mengalami HARJ (PEMBUNUHAN/… war/ genocide} -------------------------------- Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” --------------------------- ﴾ Al Qashash:60 ﴿ << pengetahuan menyusut (MEMENTINGKAN “perhiasan duniawi”} Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? ------------------------------- Umatku yang UNGGUL dg …“ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI “MEREKA”” … lalu …. DATANG KIAMAT ------------------------------------ “Salamah bin Nufail berkata: aku datang menemui Nabi saw dan berkata: aku bosan merawat kuda perang, aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Nabi saw menjawab: Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah UMATKU YANG UNGGUL melawan musuh-musuhnya, Allah sesatkan hati-hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI MEREKA (berupa ghanimah) —hingga— DATANG KEPUTUSAN ALLAH (Kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya. Ketahuilah, PUSAT NEGERI ISLAM adalah SYAM. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang), dan itu membawa kebaikan hingga DATANGnya KIAMAT.” (HR. Imam Ahmad) -----------------------------------------------

lalu kiamat

>>> Apakah “bentuk” BANTUAN Allah sehingga “orang-orang beriman” —TIDAK— MUSNAH/ BINASA ?? …. <<<
---------------------
ALLAH sekali-kali —TIDAK AKAN— memberi jalan kepada orang-orang –KAFIR– untuk MEMUSNAHKAN orang-ORANG YANG BERIMAN”…. ﴾ An Nisaa:141 ﴿
-------------------------
bani ashfar

﴾ An Nisaa:141 ﴿
(yaitu) orang-orang yang {ٱلَّذِينَ} MENUNGGU-NUNGGU (menunggu peristiwa YANG AKAN TERJADI /يَتَرَبَّصُونَ) pada DIRIMU {بِكُمْ}. Maka jika terjadi bagimu KEMENANGAN { فَتْحٌ } dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu {ikut memenangkan/ نَسْتَحْوِذْ} ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi KEPUTUSAN { يَحْكُمُ } di antara kamu di HARI KIAMAT {ٱلْقِيٰمَةِ} dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk MEMUSNAHKAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN

==========================
“BANI ASHFAR” dan “kalian” … berKOALISI {“gencatan senjata”}, melawan … “BENTENG UMAT ISLAM” …. Tanda KIAMAT (HR. Imam Ahmad)
---------------------------

Urutan event 6 tanda kiamat …
(1) kematian Nabi Muhammad SAW
(2) PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS (palestina oleh Umar Bin Kattab)
(3) WABAH new desease yg menyebabkan keMATIan dg CEPAT (oleh Virus/bakteri)
(4) konflik umat Islam (“umatku”)
(5) harta membumbung tinggi (banyak orang KAYA)
(6) koalisi negara EROPA {/ BANI ASHFAR } dan negara-negara timur tengah {“kalian”) ….melawan/ vs… {BENTENG} “umat ISLAM (“umat Nabi MUHAMMAD”… Minhaj Nubuwah)
---------------------------

“Auf bin Malik al-Asyja’iy berkata: Aku menemui Nabi saw lalu aku ucapkan salam. Nabi saw: Auf ? Aku: Ya, benar. Nabi saw: Masuklah. Aku: Semua atau aku sendiri? Nabi saw: Masuklah semua. Nabi saw: Wahai Auf, hitung ada ENAM tanda Kiamat. Pertama, (1)KEMATIANKU. Aku: Kalimat Nabi saw ini membuatku menangis sehingga Nabi saw membujukku untuk diam. Aku lalu menghitung: satu. Nabi saw: (2)PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS {…. = oleh Umar Bin Khattab dan pasukannya…. }. Aku: Dua. Nabi saw: (3)KEMATIAN yang akan merenggut UMATKU dengan CEPAT seperti wabah kematian kambing. {… = wabah penyakit oleh virus/ bakteri ….} Aku: Tiga. Nabi saw:(4) KONFLIK DAHSYAT yang menimpa UMATKU {… =Afghanistan war, jazirah war, Mesir war, Rohingya (genoside), Gaza war, Syam war ….}. Aku: Empat. Nabi saw: (5) HARTA MEMBUMBUNG TINGGI NILAInya hingga seseorang diberi 100 dinar masih belum puas. Aku: Lima. Nabi saw: (6)Terjadi GENCATAN SENJATA antara kalian dengan BANI ASHFAR {….= bangsa pirang/”negara Eropa” dg KOALISI “negara-negara munafik timur tengah”… HR Abu hurairah….}, lalu mereka mendukung kalian dengan 80 tujuan. Aku: Apa maksud tujuan? Nabi saw: Maksudnya panji. Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. BENTENG UMAT ISLAM SAAT ITU di wilayah yang disebut GHOUTHAH, daerah sekitar kota DAMASKUS.” (HR. Imam Ahmad)

--------------------------
Ref HR Abu Hurairah; tanda AKHIR zaman= ….. {1} WAKTU MEMENDEK {24 jam menjadi 16 jam atau kurang; …..{2} umat Islam PENGETAHUAN MENYUSUT {= Al Qashash:60), …. {3} umat Islam KEKURANGAN DAN PENDERITAAN {= akibat perang/ genocide {Rohingya, palestina, Yaman, Afghanistan, Kashmir etc}}; …. {4} PENYAKIT {baru} BERMUNCULAN {= virus baru/ bakteri baru … Mers, AI, ebola etc} …. {5} Umat Islam mengalami HARJ (PEMBUNUHAN/… war/ genocide}
--------------------------------

Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”
---------------------------

﴾ Al Qashash:60 ﴿ << pengetahuan menyusut (MEMENTINGKAN “perhiasan duniawi”}
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
-------------------------------
Umatku yang UNGGUL dg …“ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI “MEREKA”” … lalu …. DATANG KIAMAT
------------------------------------

“Salamah bin Nufail berkata: aku datang menemui Nabi saw dan berkata: aku bosan merawat kuda perang, aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Nabi saw menjawab: Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah UMATKU YANG UNGGUL melawan musuh-musuhnya, Allah sesatkan hati-hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI MEREKA (berupa ghanimah) —hingga— DATANG KEPUTUSAN ALLAH (Kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya. Ketahuilah, PUSAT NEGERI ISLAM adalah SYAM. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang), dan itu membawa kebaikan hingga DATANGnya KIAMAT.” (HR. Imam Ahmad)

-----------------------------------------------

“pasukan sangat besar” yang BELUM PERNAH diLIHAT SEBELUMnya
{ref: manuskrip dan HR Abu Hurairah} <<< JANJI ALLAH yg terakhir = HUJAN BATU = lemparan Allah = meteor shower >>>>

<<< kerusakan yang di muka bumi KEDUA = kesombongan “Yahudi di ISRAEL” dan “YAHUDI di seluruh dunia” sekarang ini = “yahudi dunia” merasa AKAN MENANG melawan kekuatan sekecil itu >>>
{“hanya orang BUTA yang TIDAK BISA melihat”}

PASUKAN

﴾ Muhammad:18 ﴿ Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA {بَغْتَةً}, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya {syarat-syaratnya/أَشْرَاطُهَا}. Maka apakah faedahnya {maka bagaimana/ فَأَنَّىٰ} bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?

……………………DATANG Janji Allah terakhir﴾ Al Israa’:7 ﴿
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan maka ketika {فَإِذَا} “DATANG {جَآءَ} JANJI {وَعْدُ} TERAKHIR {ٱلْءَاخِرَةِ}untuk MEMBURUKKAN/ MENYURAMKAN {muka suram Isلِيَسُۥٓـُٔوا۟} MUKA-MUKA kamu {muka suram orang-orang Israel ketika akan diHOLOCOUST/ وُجُوهَكُمْ}, dan MEREKA mujahidin Syam, Irak, Sunni libanon disekitar Israel … mengepung = pasukan Al mahdi = pasukan anak DOMBA ) masuk {وَلِيَدْخُلُوا۟}MASJID {ٱلْمَسْجِدَ}, sebagaimana {كَمَا} MEREKA MEMASUKInya {دَخَلُوهُ} PERTAMA {= orang BERIMAN ada di SYAM dg sifat… seperti KHALIFAH dulu … dg PASUKAN PERANG / أَوَّلَ} kali {مَرَّةٍ } untuk MENGUASAI/ MEMBINASAKAN SEHABIS-HABISNYA {وَلِيُتَبِّرُوا۟} apa yang {مَا } mereka dapati {عَلَوْا۟} dengan PENGUASAAN sepenuhnya {تَتْبِيرًا}

…………………………. JANJI ALLAH benar-benar DATANG dan TIDAK DIAKHIRKAN … akhir zaman di perkuat hadits Abu hurairah:

……………… MANUSKRIP Abu Hurairah : ……………………
” Dalam rangkaian Hijrah seribu empat ratus (tahun) dan hitungan dua atau tiga……. [1420-1430 H] Al-MAHDI Al AMIN keluar dan memerangi seluruh dunia dan menghimpun orang-orang sesat dan dimurkai Tuhan, dan orang-orang yang terseret dalam kemunafikan di bumi Isra’ dan Mi’raj di tepi bukit MAJIDUN.

Dalam perang itu keluar seorang ratu dunia, pelaku makar dan pelacur. Namanya AMIRIKA. Ia menggoda dunia waktu itu dalam kesesatan dan kekafiran. Sementara itu Yahudi dunia saat itu berada di tempat yang paling tinggi. Mereka menguasai seluruh Al QUDS {=menguasai masjid al quds/ Aqsa di palestina} dan Al MADINAH Al MUQADDASAH (Kota yang disucikan/ Yerusalem/ Palestina).

Semua negeri datang dari LAUT dan UDARA {= KOALISI kafir 2014; dari kaum tersesat, dimurkai, munafik HR Abu Hurairah} , kecuali negeri salju yang menakutkan dan negeri panas yang menakutkan {= bukan dari negara dekat KUTUB atau negara “panas”/jalur katulistiwa; Asia, Afrika Amerika Latin}. Al MAHDI melihat bahwa seluruh dunia melakukan makar buruk kepada dirinya dan ia melihat bahwa makar Allah lebih hebat lagi. Ia melihat bahwa seluruh alam Tuhan berada dalam kekuasaannya. Akhir dari perang itu ada di tangannya, dan seluruh dunia merupakan pohon yang dimilikinya dari dahan hingga ranting-rantingnya.

Di tanah Isra’ dan Mi’raj terjadi perang dunia yang disitu Al Mahdi memberi peringatan kepada orang-orang kafir bila mereka tidak mau keluar {= Syam harus “bersih” dari keKAFIRan; bersih dari orang-orang terSESAT, orang-orang diMURKAi, dan orang-orang MUNAFIK}. Maka orang-orang KAFIR DUNIA berkumpul untuk memerangi Al Mahdi dalam pasukan sangat besar yang BELUM PERNAH diLIHAT SEBELUMnya. Dalam kelompok kekuatan Yahudi Al KHAZAR {= kaum Syiah dan Yahudi di seluruh dunia ref: syiah merupakan aliran produk yahudi la’natullah. http://www.solusiislam.com/2013/01/syiah-ternyata-kembarannya-yahudi.html http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/syiah-vs-yahudi.htm http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/24/benarkah-askhenazi-bukan-yahudi-asli-keturunan-israel-1-576236.html http://nafas-diri.blogspot.com/2014/01/sejarah-kerajaan-khazaria-cikal-bakal.html } dan Bani Israel {= “Yahudi dari seluruh dunia ke israel” dan “penguasa AL QUDUS, Yerusalem/ Palestina”} masih terdapat pasukan lain yang tidak diketahui jumlahnya.

Al Mahdi melihat bahwa siksa Allah sangat mengerikan dan bahwa JANJI Allah benar-benar telah DATANG dan tidak diakhirkan lagi{{= “…. datang جَآءَ janji وَعْدُ terakhir ٱلْءَاخِرَةِ ….. “= Al Israa’:7}. Kemudian Allah melempari mereka dengan LEMPARAN yang dahsyat. Bumi, lautan dan langit TERBAKAR, untuk mereka, dan langit menurunkan HUJAN yang sangat BURUK {= hujan BATU}. Seluruh penduduk bumi mengutuk orang kafir dunia, dan Allah mengizinkan LENYAP-nya seluruh orang kafir di Perang DAJJAL, dan perangnya terjadi di negeri Syam dan kejahatan……… ”

comet hail bob

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<… HR Abu Hurairah …>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Pada dekade-dekade hijriah setelah 1400 tahun hijriah hitunglah dekade itu dua {1420) dan tiga {1430} ………, akan muncul Al Mahdi,ia memerangi seluruh dunia,bersatu padu memeranginya orang-orang yg tersesat{{ket= * “sudah terjadi” Irak war, Syam war – sampai sekarang {2014}}= Nasrani), orang-orang yg dimurkai {{ket= * “sudah terjadi” Gaza War- 2014}=Yahudi) serta orang-orang yg keterlaluan keMUNAFIKannya di negeri Isra’ Mi’raj {=SYIAH dan negara-negara munafik } di dekat Gunung Magedon.Akan keluar menghadapinya RATU DUNIA dan tipu muslihat,pezina namanya amirika {=America}. Ia MERAYU DUNIA pada hari itu dalam KESESATAN DAN KEKAFIRAN.{ket= * “sudah terjadi” 2014} } Yahudi dunia ketika itu berada di puncak ketinggian,menguasai AL QUDS dan KOTA SUCI. {ket= * “sudah terjadi” 2014}

SELURUH NEGERI datang dari LAUT,DAN UDARA kecuali negeri-negeri salju yg sangat dingin dan negeri-negeri panas yg sangat panas {ket= * “sudah terjadi” -koalisi- 2014} .

Al Mahdi melihat bahwa seluruh dunia sedang membuat tipu muslihat jahat terhadapnya dan meyakini bahwa Allah bisa membuat tipu muslihat yg lebih lihai. Ia yakin bahwa seluruh alam adalah pohon baginya,akan dikuasainya sejak ranting hingga akarnya….., MAKA Allah MELEMPARI {waktu = ” … TAK Mungkin lama dari peristiwa SEBELUMnya yang SUDAH terjadi”} mereka dg anak panah yg “paling DAHSYAT”, yg membakar bumi,laut dan langit mereka. Langitpun menurunkan hujan yg buruk dan seluruh penduduk bumi mengutuk semua orang kafir di bumi dan Allah mengizinkan hilangnya semua kekufuran” … HR ABu HUrairah

Ref ……………….. lahirnya …. dan … matinya ISRAEL ….. Al Israa’: 4-7
﴾ Al Israa’:4 ﴿
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini DUA KALI (مَرَّتَيْنِ) dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

﴾ Al Israa’:5 ﴿ <<< SUDAH TERJADI LAMA (Umar bin Khatab dan pasukannya)
Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu HAMBA-HAMBA KAMI yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana .

…………………. HAMBA KAMI = “ORANG BERIMAN” (Isa, Nabi Muhammad, manusia bersih = BUKAN KAFIR) … nebukadnezar = kafir, bukan hamba Allah/Kami, … Hamba Allah yang mempunyai kekuatan besar adalah UMAR BIN KHATAB yang pernah menguasai Palestina (Israel sekarang) ref: http://www.muslimdaily.net/artikel/ringan/sejarah-indah-pembebasan-palestina-oleh-khalifah-umar.html#.U8OUgECbXY8 http://catatansafira.wordpress.com/2011/10/18/umar-ibn-khattab-dan-penaklukan-jerusalem/

﴾ Maryam:30 ﴿
Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
﴾ Ash Shaaffat:169 ﴿
benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”.

﴾ Al Jin:19 ﴿
Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

……………………ISRAEL “kembali” menguasai PALESTINA = ISRAEL sekarang ini (ZIONIS sekarang) = KONDISI sekarang ini = present time
﴾ Al Israa’:6 ﴿
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk MENGALAHKAN MEREKA KEMBALI (=menguasai orang beriman/ muslim palestina) dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu KELOMPOK YANG LEBIH BESAR.
============================
Catastrophe/ extinction/ event “TIBA-TIBA” …. setelah TANDA-TANDA sebelumnya “sudah” terjadi/ TERBUKTI. {ref: HR Aisyah, Ali, dan Abu Hurairah)

… bentuknya= “PELEMPARAN” dan ANGIN MERAH {= efek HUJAN BATU/ meteor impact earth} , pengAMBLESan (penenggelaman) BUMI, GEMPA, pengUBAHan Bentuk

<<< Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha >>>>
Ibnu Abi Dunya berkata : Al Hasan bin Mahbub menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhar yaitu Hasyim bin Al Qasim, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Muhammad bin Al Munkadir dari “Aisyah radhiallahu’anha bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan terjadi PENGAMBLESAN {=penenggelaman bumi, efek gempa besar/ efek lemparan Allah}, PENGUBAHAN BENTUK dan PELEMPARAN {=meteor shower/ batsyah/ hujan batu/ lemparan Allah/meteor impact earth} ,”Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, —–sedangkan kaum itu masih mengatakan Laa ilaaha ilallah?——–” Beliau menjawab, “
Jika telah tampak BIDUANITA-BIDUANITA —{1},
telah muncul PERZINAAN —{2},
diteguknya KHAMR —{3} dan
dipakainya KAIN SUTERA —{4},maka di sinilah hal itu terjadi.
” (Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits ini dalam Dzammul Malalhi, hadits no. 3. Pensanadan hadits ini dha’if, namun banyak syawahid (bukti atau penguat dari hadits lain) yang mengangkat derajat hadits ini ke tingkat hasan lighairihi

>>>> menurut pemahaman Syi’ah, kekhalifahan mereka (terutama Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra) tidak sah, karena dianggap menyerobot hak Ali bin Abi Thalib ra. Selain mengingkari, kalangan Syi’ah juga mengutuk Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. MENGINGKARI DAN MENGUTUK {=melaknat/menjelek-jelekkan} Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra menurut ajarah Syi’ah merupakan ajaran prinsip yang harus dilakukan. Sementara itu, menurut ajaran Islam, perbuatan tersebut tidak patut dan dilarang. http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/syi-ah-menurut-kacamata-sejumlah-tokoh.htm#.VApSwUBnnxY

<<<< Hadits Ali ra. >>>>
Ibnu Abi Dunya berkata : telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Tsaqlab, katanya : Farj bin Fadhalah menceritakan kepada kami riwayat dari yahya bin Sa’id, dari Muhammad bin Ali, dari Ali ra, katanya Rasulullah telah bersabda : “Jika umatku telah melakukan lima belas {15} perilaku, maka ia layak mendapatkan bala’ (AZAB/bencana/ malapetaka/ CATASTROPHE),” Ditanyakan, “Apa saja kelima belas perilaku itu ya Rasulullah” Beliau menjawab, “
Jika kekayaan hanya berputar pada kalangan tertentu –{1},
amanat menjadi barang rampasan –{2},
zakat menjadi utang –{3};
ilmu dipelajari untuk selain agama –{4}
seorang lelaki (suami) menurut pada istrinya —{5} dan mendurhakai ibunya –{6};
berbuat baik kepada teman —{7} namun kasar terhadap ayahnya sendiri —{8};
ditinggikannya suara-suara di masjid —{9};
yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara
mereka —{10};
seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya —{11};
diminumnya khamr —{12};
dipakainya kain sutera —{13},
mengambil para biduanita —{14}; dan

ORANG-ORANG AKHIR DARI UMAT INI TELAH MELAKNAT ORANG-ORANG TERDAHULU —{15}
{= Syiah 2011-2014 sekarang ini- melaknat sahabat Nabi SAW “Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra” }.

Maka kalau sudah demikian, TUNGGULAH DATANGNYA ANGIN MERAH {= efek hujan batu impact earth}, PENGAMBLESAN BUMI {=efek gempa besar, setelah hujan batu/ lemparan Allah} DAN PENGUBAHAN BENTUK.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Al Farj bin Fadhalah yang oleh sebagian ahli hadits dinyatakan dha’if mengenai hafalannya, namun Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Takhrijul Misykat (5451)

<<<< Hadits Abu Hurairah >>>>
At Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah telah bersabda :

{1} Jika harta hanya diedarkan pada kalangan terbatas,
{2} amanat jadi barang rampasan,
{3} zakat sebagai utang,
{4} ilmu dipelajari untuk selain agama,
{5} seorang lelaki (suami) mentaati istrinya dan {6} mendurhakai ibunya,
{7} mendekatkan temannya dan menjauhkan ayahnya,
{8} tampak suara-suara di dalam masjid,
{9} orang yang fasik tampil memimpin kabilah,
{10} orang yang paling hina menjadi pimpinan suatu kaum,
{11} seorang dimuliakan karena ditakui kejahatannya,
{12} muncul penyanyi-penyanyi dari budak-budak wanita dan {13} berbagai alat musik,
{14} diteguknya khamr dan
{15} ORANG-ORANG AKHIR DARI UMAT INI TELAH MELAKNAT (mengutuk) umat TERDAHULU {= SYIAH sekarang ini- sehingga terjadi IRAK dan SYAM WAR 2011-2014 — melaknat sahabat Nabi SAW “Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra”}

maka ketika itu TUNGGULAH ANGIN MERAH {=efek Batsyah terlihat di langit dan ketika efek impact earth — {= AKAN segera terjadi/ BELUM terjadi}, } , GEMPA, AMBLESNYA BUMI {=efek gempa besar, setelah hujan batu/ lemparan Allah}, PERUBAHAN BENTUK, PENJERUMUSAN serta TANDA-TANDA LAIN yang beruntun seperti sebuah jaring tua (usang) yang jika kawatnya terputus maka akan terus merembet.” At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.
…………………………
===========================================
<<<Tanpa “PAIN” …. {﴾ Al A’raf:94; Al An’am:42 ﴿},>>> … <<< tanpa melihat “manusia dengan KAIN KAFAN di PUNDAKnya” …. Yang Tiap detik/menit/jam/hari/minggu/bulan, merasakan “nyawa” diambil oleh malaikat {﴾ At Taubah:111 ﴿}.>>>>
………………………………
>>>> manusia mengira/ “merasa” sudah CUKUP “iman-nya”, … apalagi sekarang dalam posisi “merasa” diMULIAkan Tuhan/ Allah {﴾ Ali Imran:26 ﴿}. …. ‘Merasa dirinya diMULIAkan Tuhan di DUNIA, (berprasangka/ berbaik sangka dirinya) disebabkan sudah “merasa” BAIK Islam-nya, …. Sudah “merasa” CUKUP BAIK Iman-nya’. <<<<
……………………………………………………….
>>> “diBUKAkan pintu kesenangan di DUNIA” bagi dirinya …. Semakin bertambah BANGGA DIRI-nya, …. Merasa dirinya diMULIAkan Tuhan didunia …. Karena Iman/Islam yang diMILIKinya … sudah “merasa” BAIK dan sudah “merasa” BENAR { ﴾ Al An’am:44 ﴿}.<<<<
………………………………………………………………………….
﴾ Ali Imran:26 ﴿
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. ENGKAU —-” MULIAKAN”—- orang yang ENGKAU KEHENDAKI dan Engkau —“HINAKAN— orang yang ENGKAU KEHENDAKI. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

﴾ Al An’am:44 ﴿
Maka tatkala mereka MELUPAKAN PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, KAMIPUN MEMBUKAKAN “SEMUA PINTU-PINTU KESENANGAN UNTUK MEREKA”; sehingga apabila mereka berGEMBIRA dengan —–“apa yang telah diberikan kepada mereka”—- , Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

﴾ At Taubah:111 ﴿
Sesungguhnya ALLAH TELAH MEMBELI dari orang-orang mukmin DIRI {أَنفُسَهُمْ} dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

﴾ Al A’raf:94 ﴿
Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya keSEMPITan dan penDERITAan supaya mereka TUNDUK dengan meRENDAHkan DIRI.

﴾ Al An’am:42 ﴿
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) keSENGSARAan dan keMELARATan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan TUNDUK meRENDAHkan DIRI.
……………………………………
>>> Manusia meLUPAkan PERINGATAN/ancaman Tuhan … karena diBUKAkan pintu-pintu KESENANGAN …. { Al An’am:44} … mereka BERGEMBIRA karenanya … sampai suatu waktu DIMUSNAHkan semuanya { Al An’am:45}
……………………………………………………………………
﴾ Al An’am:44 ﴿
Maka tatkala mereka MELUPAKAN PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, KAMIPUN MEMBUKAKAN SEMUA PINTU-PINTU KESENANGAN UNTUK MEREKA; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

﴾ Al An’am:45 ﴿
Maka orang-orang yang zalim itu DIMUSNAHKAN {فَقُطِعَ} sampai ke akar-akarnya {SELURUH دَابِرُ KAUM ٱلْقَوْمِ ORANG-ORANG yang ٱلَّذِينَ Dzalim ظَلَمُوا۟} . Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

﴾ Al An’am:51 ﴿
Dan berilah PERINGATAN {وَأَنذِرْ} dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan {DIKUMPULKAN/ يُحْشَرُوٓا۟} kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.
………………….

======================================
menyingkat

the sign … WAKTU “terasa” PENDEK {= menyingkat} …. = “frekuensi bumi (f) semakin besar” dan … efeknya waktu (t) semakin KECIL {pendek/ singkat} … hk kauniah/ sunnatullah di alam/ Physic law …. before CATASTROPHE (tanda akhir zaman HR ABu Hurairah)

<<< urutan event “akhir zaman” (1) waktu memendek (2) pengetahuan menyusut (3) kekurangan dan penderitaan) (4) penyakit bermunculan {new desease} (5/ the last/ terAKHIR) … HARJ (pembunuhan-pembunuhan terhadap umat Islam) … HR Abu Hurairah >>>

Dari Anas bin Malik Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak akan terjadi qiamat sehingga waktu terasa pendek, maka setahun dirasakan seperti sebulan, sebulan dirasakan seperti seminggu, seminggu dirasakan seperti sehari, sehari dirasakan seperti satu jam serta satu jam dirasakan seperti satu kilatan api. ” ( sebentar saja, hanya seperti kilatan api sekejap). (HR. Tirmizi).

Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa “WAKTU akan menjadi PENDEK”, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”
<<<<<<<<<<<<<<<<<<
>> alam semesta pada kondisi ACCELERATE EXPANSION (meluas yang dipercepat, … “waktu” menyingkat/memendek/mengecil dan “frekuensi” semakin cepat/ membesar/ rapat/ rapid)

>> jadi walau itu HADITS …. tetap dari PETUNJUK Allah SWT… Muhammad TIDAK sekedar “berkata yang keluar dari MULUTnya” …. krn diberitahu oleh Allah

>>> seluruh alam semesta “SEMAKIN menjauh/meluas …. kecepatan putaran (ROTASI dan REVOLUSI)…. semakin CEPAT … sampai ke level ATOMIK” (elektron mengitari proton…. atau … planet mengitari bintang/surya; … semua planet/bumi juga berotasi semakin CEPAT

>>> AKIBATnya …. t waktu /t bumi/waktu seluruh alam semesta … menjadi “PENDEK/short/mengecil”

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. لَمُوسِعُونَ” (Al Qur’an, 51:47)

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi).

Dari Anas Ra. berkata RasuJullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di an tara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi).

Dari Abu Malik Al-Asy’ari Ra. katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Sesungguhnya akan ada sebagian dari umatku yang meminum khamar dan mereka menamakannya dengan nama yang lain. (Mereka meminum) sambi! diiringi dengan alunan musik dan suara biduanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi (dengan gempa) dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengubah mereka menjadi kera atau babi.” (HR. Ibnu Majah).

Menurut Harun Yahya, di ruang di antara permukaan bumi dan ionosfera konduktif, terdapat getaran alami. Frekuensi asas ini yang juga dikenali sebagai Detak Jantung Dunia, disebut sebagai Resonansi Schumann.

” Hal tersebut telah diramalkan secara matematik oleh ahli fizik Jerman Winfried R Schuman pada tahun 1952,” ujarnya.

Resonansi Schumann, kata dia, sangat penting kerana membungkus bumi. ” Dengan demikian terus menjaga alam dan semua bentuk kehidupan di bawah kesannya. Hal ini secara terus menerus diukur oleh pusat penyelidikan fizik terkemuka di dunia.”
………………………………………………
Pada 1950, Resonansi Schumann diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap malar. Memang sistem komunikasi global tentera ini ditubuhkan di atas frekuensi ini.

Namun, pada 1980-an, berlaku perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. ” Laporan terbaru telah mendedahkan bahawa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepatkan masa,” ujarnya.

Dengan demikian, masa 24 jam terasa seperti 16 jam atau kurang. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskan mengapa angka ini mengalami kenaikan, atau faktor yang menyebabkannya meningkat.
………………………………
**} penelitian Schumann
Ditandai dalam waktu 30 tahun (1950-1980) resonansi Schuman (frequency clock/ penanda detak waktu BUMI) Berubah dari 7.8 Hertz (1950) menjadi 11 Hertz (1980) = sehingga kalau dihitung WAKTU 24 JAM “TERASA” 16 JAM

Nabi saw. bersabda bahwa pada akhir zaman waktu akan sangat pendek. Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan[1] dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”[2]

{{ ”Hal tersebut telah diramalkan secara matematis oleh fisikawan Jerman Winfried R Schuman pada tahun 1952,” tuturnya.

Resonansi Schumann, kata dia, sangat penting karena membungkus bumi. ”Dengan demikian terus menjaga alam dan semua bentuk kehidupan di bawah efeknya. Hal ini secara terus menerus diukur oleh pusat penelitian fisika terkemuka di dunia.”

Pada 1950, Resonansi Schumann diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap konstan. Memang sistem komunikasi global militer ini didirikan di atas frekuensi ini.

Namun, pada 1980-an, terjadi perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. ”Laporan terbaru telah mengungkapkan bahwa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepat waktu,” tuturnya. }}}

Dengan demikian, waktu 24 jam terasa seperti 16 jam atau kurang. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskan mengapa angka ini mengalami kenaikan, atau faktor yang menyebabkannya meningkat.

”Dengan makin singkatnya waktu, pertanda akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi SAW terbukti secara ilmiah saat ini,” tuturnya
,,,,,,,,,,,<<<<<<>>>>>>>>………………..

” Dengan makin singkatnya waktu, petanda akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi SAW terbukti secara ilmiah saat ini,” ujarnya.

Bumi semakin dipersiapkan untuk hari Kiamat dan oleh kehendak Allah petanda yang diisyaratkan berlaku secara berturut turut.

“Di masa lalu, hari itu lebih lama; kami dapat melakukan banyak pekerjaan setiap hari. Waktu telah makin singkat. Ini jelas. Ini adalah petanda dari Akhir Zaman. Ini adalah petanda hadirnya Imam Mahdi. Ini adalah sebuah keajaiban yang disebutkan Nabi Muhammad SAW,” papar Adnan Oktar dalam wawancara dengan AKS SAMSUN TV dan TV Kayseri.

” Semua orang mengatakan ini. Akhir pekan datang dalam waktu yang singkat. Apakah akhir pekan datang begitu cepat di masa lalu? Hari-hari tersebut tidak terelewati. [Sekarang] hari berakhir dalam sekejap. Satu kali tidur untuk sementara waktu, untuk tujuh atau lapan jam, kemudian dia terbangun, sarapan dan malam datang dan hari berakhir. Orang pergi bekerja dan dalam masa yang singkat kembali ke rumah dan tidur. Dia tidak punya masa untuk bernafas,” kata beliau
=================================

Bid’ah Tersebar, Reduplah Sunnah ... Waspadalah… ------------- setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i} --------- Tak ada seorang mukmin pun yang tidak mengharapkan kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana Islam dahulu pernah berada pada masa emas kejayaannya di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi cita-cita bukanlah angan-angan dan mimpi indah di kala terjaga. Bagaimana kita bisa meraih kejayaan Islam seperti dahulu sedangkan saat ini banyak diantara kaum muslimin sendiri yang meninggalkan ajaran Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengamalkan bid’ah. Kebid’ahan inilah yang menjadi pengeruh sunnah Nabi (syariat Islam) yang sebenarnya. ---------------------------------------- Dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, كَانَ النّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ. وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشّرِّ. مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِِ إنّا كُنّا فِي جَاهِلِيّةٍ وَشَرٍّ. فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: “نَعَمْ” فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: “نَعَمْ. وَفِيهِ دَخَنٌ” قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: “قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي. تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ”. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: “نَعَمْ. دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ. مَنْ أَجَابَهُمْ إلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: “نَعَمْ. قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا. وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ فَمَا تَرَى إنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: “تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإمَامَهُمْ” فَقُلْتُ: فَإنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: “فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا. وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتّىَ يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ، وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ” Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir hal tersebut akan menimpaku. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu kami berada pada masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya‘ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan lagi?’ Beliau menjawab,‘Ya, namun ada kerusakan‘ Aku bertanya lagi, ‘Apa bentuk kerusakan itu?’ Beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang berjalan bukan di atas sunnahku dan mengikuti petunjuk selain petunjukku. Engkau mengenali mereka dan mengingkarinya’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, (yaitu) para da’i yang mengajak kepada pintu neraka jahanam. Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka akan menjerumuskannya ke dalam neraka’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sifat-sifat mereka!’ Beliau menjawab, ‘Ya. Mereka berasal dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita‘. Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa yang kau perintahkan jika aku bertemu mereka?’ Beliau menjawab, ‘Berpegangteguhlah dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka‘ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana jika kami tidak mendapati adanya jamaah kaum muslimin dan imam mereka?’ Beliau menjawab,‘Tinggalkanlah semua kelompok-kelompok itu meskipun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian datang menjemputmu sedang engkau masih dalam keadaan seperti itu‘” (HR. Bukhari dan Muslim) --------------------- Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna kerusakan yang memperkeruh kebaikan, yaitu ‘suatu kaum yang berjalan bukan di atas sunnahku dan mengikuti petunjuk selain petunjukku‘. Artinya kaum tersebut melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: bid’ah). Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada terhadap amalan-amalan bid’ah yang banyak sekali tersebar saat ini, sebagaimana shahabat Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir akan terjerumus dalam keburukan tersebut. ----------------------------------------- Sesungguhnya syariat Islam ini sudah sempurna, tidak membutuhkan lagi penambahan maupun pengurangan dalam urusan ibadah, sebagaimana hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya : الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS.Al Maidah : 3) ------------------------------------ Bahaya Bid’ah ----------------------------- Di antara bahaya bid’ah adalah perbuatan ini akan menghilangkan sunnah yang semisal. Hal ini sebagaimana pernyataan salah seorang tabi’in, Hasan bin ‘Athiyah, ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu perkara yang diada-adakan dalam urusan agama mereka (bid’ah) melainkan Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan sunnah itu kepada mereka sampai kiamat” (Lammud Durril Mantsur, hal. 21) ------------------------------ Demikianlah gambaran masyarakat kita sekarang yang tidak lagi mengenal perbedaan sunnah dan bid’ah. Ajaran Nabi yang benar, dianggap sebagai bid’ah atau aliran menyimpang, sedangkan suatu amalan bid’ah justru dianggap sebagai sunnah Nabi yang perlu dilestarikan. Hal ini sudah jauh hari disinyalir keberadaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ “Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al Ghuroba’)” (HR. Muslim 2/175-176) ------------------------------ Terdapat beberapa penafsiran ulama mengenai kata al ghuroba’, namun penafsiran yang marfu’ (berdasarkan riwayat yang sampai kepada Nabi), adalah: Orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak. Orang-orang shalih di antara banyaknya orang-orang buruk. Orang yang menyelisihinya lebih banyak daripada yang mentaatinya. -------------------------------- “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)-------- Dalam riwayat An Nasa’i, مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

bidah neraka 2

Bid’ah Tersebar, Reduplah Sunnah ...

Waspadalah…
----------------------
setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka (HR. An Nasa’i}
------------------

Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya.
----------------

bid’ah adalah:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
-----------------

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

-----------------------------
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama)yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
-------------------

Dalam riwayat An Nasa’i,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

-----------------------------

Tak ada seorang mukmin pun yang tidak mengharapkan kembalinya kejayaan Islam, sebagaimana Islam dahulu pernah berada pada masa emas kejayaannya di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi cita-cita bukanlah angan-angan dan mimpi indah di kala terjaga. Bagaimana kita bisa meraih kejayaan Islam seperti dahulu sedangkan saat ini banyak diantara kaum muslimin sendiri yang meninggalkan ajaran Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengamalkan bid’ah. Kebid’ahan inilah yang menjadi pengeruh sunnah Nabi (syariat Islam) yang sebenarnya.

----------------------------------------

Dari Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ النّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ. وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشّرِّ. مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِِ إنّا كُنّا فِي جَاهِلِيّةٍ وَشَرٍّ. فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: “نَعَمْ” فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: “نَعَمْ. وَفِيهِ دَخَنٌ” قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: “قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي. تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ”. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: “نَعَمْ. دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ. مَنْ أَجَابَهُمْ إلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: “نَعَمْ. قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا. وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ فَمَا تَرَى إنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: “تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإمَامَهُمْ” فَقُلْتُ: فَإنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: “فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا. وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتّىَ يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ، وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ”

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir hal tersebut akan menimpaku. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu kami berada pada masa jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya‘ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan lagi?’ Beliau menjawab,‘Ya, namun ada kerusakan‘ Aku bertanya lagi, ‘Apa bentuk kerusakan itu?’ Beliau menjawab, ‘Suatu kaum yang berjalan bukan di atas sunnahku dan mengikuti petunjuk selain petunjukku. Engkau mengenali mereka dan mengingkarinya’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, (yaitu) para da’i yang mengajak kepada pintu neraka jahanam. Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka akan menjerumuskannya ke dalam neraka’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sifat-sifat mereka!’ Beliau menjawab, ‘Ya. Mereka berasal dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita‘. Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa yang kau perintahkan jika aku bertemu mereka?’ Beliau menjawab, ‘Berpegangteguhlah dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka‘ Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana jika kami tidak mendapati adanya jamaah kaum muslimin dan imam mereka?’ Beliau menjawab,‘Tinggalkanlah semua kelompok-kelompok itu meskipun dengan menggigit pokok pohon hingga kematian datang menjemputmu sedang engkau masih dalam keadaan seperti itu‘” (HR. Bukhari dan Muslim)
---------------------
bahaya bidah

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna kerusakan yang memperkeruh kebaikan, yaitu ‘suatu kaum yang berjalan bukan di atas sunnahku dan mengikuti petunjuk selain petunjukku‘. Artinya kaum tersebut melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: bid’ah). Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada terhadap amalan-amalan bid’ah yang banyak sekali tersebar saat ini, sebagaimana shahabat Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir akan terjerumus dalam keburukan tersebut.
-----------------------------------------

Sesungguhnya syariat Islam ini sudah sempurna, tidak membutuhkan lagi penambahan maupun pengurangan dalam urusan ibadah, sebagaimana hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS.Al Maidah : 3)
------------------------------------

Bahaya Bid’ah

 

Banyak kaum muslimin yang masih meremehkan masalah bid’ah. Hal itu bisa jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang dalil-dalil syar’i. Padahal andaikan mereka mengetahui betapa banyak hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang membicarakan dan mencela bid’ah, mereka akan menyadari betapa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat sering membahasnya dan sangat mewanti- wanti umat Beliau agar tidak terjerumus pada bid’ah.
Jadi, lisan yang mencela bid’ah dan mewanti-wanti umat dari bid’ah adalah lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri.
HADITS I
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

HADITS II
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

HADITS III
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan

«أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

 (yang artinya):
Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
Dalam riwayat An Nasa’i :

«مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ»

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar- benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, Shahiih, lihat dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

HADITS IV
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ»

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676, ia berkata : “hadits ini hasan shahih”)

HADITS V
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

«إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»

“Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Shahiih, lihat dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

HADITS VI
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

” أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ “

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu yang mereka ada-adakan (bid’ah) sepeninggalmu’ ” (HR. Bukhari no. 6576, 7049).
Dalam riwayat lain dikatakan :

” إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي “

“Wahai Rabb, sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku’ “(HR. Bukhari no. 7050).

Setelah menukil berbagai pendapat para ulama mengenai siapakah yang dimaksud dengan orang yang terhalang untuk minum dari telaga Rasul shallallahu’alaihi wasallam, Imam an-Nawawy menutup keterangannya dengan menukil perkataan Imam Ibn Abdil Bar :

“Setiap orang yang mengada-adakan hal baru dalam agama, mereka termasuk golongan yang terusir dari telaga. Semisal orang-orang Khawarij, Syi’ah, dan segenap ahlul bid’ah. Begitu pula orang- orang zalim yang melampaui batas dalam ketidak adilan dan mengaburkan kebenaran, serta para pelaku dosa besar yang terang-terangan melakukannya di hadapan umum. Mereka semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang dimaksud hadits ini. Wallahu a’lam” [Musnad Ahmad]

Al’Aini ketika menjelaskan hadits ini beliau juga berkata :
“Hadits-hadits yang menjelaskan orang- orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi sebagai umatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi wafat. Ini menunjukkan setiap orang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak diridhai Allah itu tidak termasuk jama’ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid’ah itu adalah orang- orang yang gemar mengganti (ajaran agama) dan mengada-ada, juga orang- orang zhalim dan ahli maksiat, mereka bertentangan dengan al haq. Orang-orang yang melakukan itu semua yaitu mengganti (ajaran agama) dan mengada- ada apa yang tidak ada ajarannya dalam Islam termasuk dalam bahasan hadits ini” (Umdatul Qari, 6/10)

HADITS VII
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” إِنَّهُ سَيَلِي أَمْرَكُمْ مِنْ بَعْدِي رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ، وَيُحْدِثُونَ بِدْعَةً، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا “، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ بِي إِذَا أَدْرَكْتُهُمْ؟ قَالَ: ” لَيْسَ يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ طَاعَةٌ لِمَنْ عَصَى اللهَ “. قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Sungguh diantara perkara yang akan datang pada kalian sepeninggalku nanti, yaitu akan ada orang (pemimpin) yang mematikan sunnah dan membuat bid’ah. Mereka juga mengakhirkan shalat dari waktu sebenarnya”. Ibnu Mas’ud lalu bertanya : ‘Apa yang mesti kami perbuat jika kami menemui mereka ?’. Nabi bersabda : ‘Wahai anak Adam, tidak ada ketaatan pada orang yang bermaksiat pada Allah’ “. Beliau mengatakannya 3 kali. (HR. Ahmad no.3659, Ibnu Majah no.2860. Shahiih, lihat dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 2864)

HADITS VIII
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي، فَإِنَّ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا تُرْضِي اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا»: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

“Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi no.2677, ia berkata : “Hadits ini hasan”)

HADITS IX
Hadits dari Hudzaifah Ibnul Yaman, ia berkata

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: كَيْفَ؟ قَالَ: «يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ»، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ»

“Wahai Rasulullah, dulu kami orang biasa. Lalu Allah mendatangkan kami kebaikan (berupa Islam), dan kami sekarang berada dalam keislaman. Apakah setelah semua ini akan datang kejelekan ?
Nabi bersabda : ‘ Ya ‘.
‘ Apakah setelah itu akan datang kebaikan ? ‘
Nabi bersabda : ‘ Ya ‘.
‘Apakah setelah itu akan datang kejelekan ?’
Nabi bersabda : ‘ Ya ‘.
Aku bertanya : ‘Apa itu ?’.
Nabi bersabda : ‘Akan datang para pemimpin yang tidak berpegang pada petunjukku dan tidak berpegang pada sunnahku. Akan hidup diantara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan namun berjasad manusia’.
Aku bertanya : ‘Apa yang mesti kami perbuat wahai Rasulullah jika mendapati mereka ?’
Nabi bersabda : ‘Tetaplah mendengar dan taat kepada penguasa, walau mereka memukul punggungmu atau mengambil hartamu, tetaplah mendengar dan taat’ ” (HR. Muslim no.1847)

Tidak berpegang pada sunnah Nabi dalam beragama artinya ia berpegang pada sunnah-sunnah yang berasal dari selain Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan kebid’ahan.

HADITS X
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«أَوَّلُ مَنْ يُغَيِّرُ سُنَّتِي رَجُلٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ»

“Orang yang akan pertama kali mengubah-ubah sunnahku berasal dari Bani Umayyah” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Al Awa’il, no.61. Shahiih, lihat dalam Silsilah Ash Shahihah 1749)
Dalam hadits ini Nabi mengabarkan bahwa akan ada orang yang mengubah-ubah sunnah beliau. Sunnah Nabi yang diubah- ubah ini adalah kebid’ahan.

HADITS XI

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: «أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri- istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang ?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama- lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya : “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)

Dalam hadits di atas, ketiga orang tersebut berniat melakukan kebid’ahan, karena ketiganya tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Yaitu puasa setahun penuh, shalat semalam suntuk setiap hari, kedua hal ini adalah bentuk ibadah yang bid’ah. Dan berkeyakinan bahwa dengan tidak menikah selamanya itu bisa mendatangkan pahala dan keutamaan adalah keyakinan yang bid’ah. Oleh karena itu Nabi bersabda :

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku”.
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan dan mencela bid’ah, namun apa yang kita nukilkan di atas sudah cukup mewakili betapa bahaya dan betapa pentingnya kita untuk waspada dari bid’ah.
Wallahu’alam. Hanya Allaah yang memberi petunjuk.


-----------------------------

Di antara bahaya bid’ah adalah perbuatan ini akan menghilangkan sunnah yang semisal. Hal ini sebagaimana pernyataan salah seorang tabi’in, Hasan bin ‘Athiyah,

ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu perkara yang diada-adakan dalam urusan agama mereka (bid’ah) melainkan Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan sunnah itu kepada mereka sampai kiamat” (Lammud Durril Mantsur, hal. 21)
------------------------------

Demikianlah gambaran masyarakat kita sekarang yang tidak lagi mengenal perbedaan sunnah dan bid’ah. Ajaran Nabi yang benar, dianggap sebagai bid’ah atau aliran menyimpang, sedangkan suatu amalan bid’ah justru dianggap sebagai sunnah Nabi yang perlu dilestarikan. Hal ini sudah jauh hari disinyalir keberadaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al Ghuroba’)” (HR. Muslim 2/175-176)
------------------------------

Terdapat beberapa penafsiran ulama mengenai kata al ghuroba’, namun penafsiran yang marfu’ (berdasarkan riwayat yang sampai kepada Nabi), adalah:

  1. Orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak.
  2. Orang-orang shalih di antara banyaknya orang-orang buruk. Orang yang menyelisihinya lebih banyak daripada yang mentaatinya.

--------------------------------

Contoh Amalan Bid’ah yang Menghilangkan Amalan Sunnah

Ada banyak amalan bid’ah yang tersebar di masyarakat, akibatnya amalan sunnah Nabi yang seharusnya dikerjakan justru ditinggalkan. Di antaranya:

1. Membaca doa اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ketika akan makan.

Doa ini merupakan bacaan yang sering diajarkan para guru sekolah, pesantren, maupun TPA ketika membahas tentang adab makan. Padahal hadits yang dijadikan sandaran doa ini adalah hadits yang lemah sekali. Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Ad Du’a: 888, Ibnu Sunni: 457, Ibnu Adi 6/2212 dari beberapa jalan dari Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Isa bin Sami’, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Zu’aiza’ah dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau apabila akan makan makanan berdoa ….(dengan doa di atas)…

Sisi cacat hadits ini adalah Hisyam bin Ammar dan Ibnu Sami’ diperbincangkan oleh para ulama, namun yang lebih parah adalah Ibnu Abi Zu’aiza’ah, dia seorang yang tertuduh berdusta dan haditsnya sangat munkar. Hadits ini dianggap munkar oleh Ibnu Adi, Adz Dzahabi, dan Ibnu Hajar. (Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, hal. 220-221 dari Takhrij Al Adzkar hal. 424)

Adapun bacaan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika akan makan justru kurang dikenal oleh masyarakat kita. Beliau mengajarkan sebelum makan hendaknya membaca :بِسْمِ اللهِ atau بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Dan apabila lupa membacanya, hendaknya kita membaca : بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ atau بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang dari kalian akan makan maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Jika lupa menyebutnya di awal makannya, hendaknya mengucapkan : ‘Dengan menyebut nama Allah di awalnya dan di akhirnya’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dan ia (Tirmidzi) berkata : ‘hadits hasan shahih’)

Begitu juga hal ini disebutkan dalam hadits dari ‘Umar bin Abi Salamah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa sebelum makan hendaknya kita menyebut nama Allah yakni dengan membaca بِسْمِ الله . Tidaklah mengapa apabila seseorang menambahkan kata الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ karena Allah menggunakan kedua nama ini untuk memuji diri-Nya sendiri pada bacaan basmalah, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , dalam Al Qur’an Al Karim. Oleh karena itu, tidaklah mengapa membaca بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ atau cukup meringkasnya dengan membaca بِسْمِ الله saja. (Syarh Riyadhus Sholihin: Kitab Adab Ath Tho’am)

2. Mengucap istighfar (“Astaghfirullah“) atau ta’awudz (“A’udzu billahi minasy syaithanirrajim“) ketika menguap.

Tatkala menguap, beberapa orang mengucapkan kalimat istighfar atau ta’awudz. Hal ini merupakan salah satu bentuk dzikir yang tidak ada tuntunannya dan menyelisihi apa yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menguap, hendaknya kita menahannya dengan sekuat tenaga, boleh jadi menahan mulut agar tidak terbuka yaitu dengan mengatupkan gigi pada bibir atau menutup mulut dengan tangan, kain, atau benda semisalnya (Kitabul Adab, hal. 322-323).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللهَ، كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ: فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seorang di antara kalian bersin lalu mengucapkan hamdalah (الحَمْدُ لِلَّهِ ), maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan : يَرْحَمُكَ اللهُ (Semoga Allah merahmatimu). Adapun menguap, maka itu datangnya dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya ia menahannya sekuat tenaga karena sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian menguap maka setan akan tertawa karenanya” (HR.Bukhari)

Sebagian orang berargumen dengan ayat di bawah ini mengenai alasan mereka berta’awudz ketika menguap. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al A’raf : 200)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwasanya godaan setan tersebut maknanya adalah perintah setan untuk melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban. Oleh karena itu, jika kita merasa bahwa setan mengajak pada hal tersebut, hendaknya kita berta’awudz memohon perlidungan pada Allah. (Syarh Riyadhush Sholihin: Kitab As Salam).

3. Membaca surat Yasin (Jawa: Yasinan) pada malam Jum’at

Di sebagian masjid, pada malam Jumat, setelah shalat Maghrib sering diadakan pembacaan surat Yasin. Menurut mereka, hal ini berdasar hadits :

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ (يس) فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ ؛ غُفِرَ لَهُ

Barangsiapa membaca surat Yasin pada malam Jum’at, maka (dosanya) akan diampuni

Teks hadits tersebut disebutkan oleh Al Ashfahani dalam At Targhib wat Tarhib dari jalan Zaid bin Al Harisy, mengabarkan pada kami Al Aghlab bin Tamim, mengabarkan kepada kami Ayyub dan Yunus dari Al Hasan dari Abu Hurairah secara marfu’.

Syaikh Al Albani menilai hadits ini dho’if jiddan (lemah sekali) karena ada perawi bernama Al Aghlab bin Tamim yang dinilai oleh Ibnu Hibban sebagai perawi yang haditsnya munkar serta perawi bernama Zaid bin Al Harisy yang dinilai oleh Ibnu Hibban sebagai perawi yang seringkali salah (dalam meriwayatkan hadits) (Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah 11/191)

Pada hari Jumat (yaitu dimulai ketika matahari sudah tenggelam/malam Jum’at sampai sebelum matahari tenggelam keesokan harinya) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengajarkan umatnya untuk membaca surat Al Kahfi. Sayangnya, sunnah ini banyak ditinggalkan masyarakat karena kekurang-tahuan mereka akan ilmu yang benar.

Dari Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Ju’mat, akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at” (HR. Al Hakim 2/368 dan Al Baihaqi 3/249, dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 626)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku juga menyukai surat Al Kahfi dibaca pada malam Jum’at” (Shahih Al Adzkar 1/449)

Semua keterangan di atas menunjukkan disunnahkan untuk membaca surat Al Kahfi pada malam dan hari Jum’at (Doa dan Wirid, hal.304)

Semoga tulisan yang ringkas ini dapat menjadi pemicu semangat bagi kaum muslimin untuk lebih mendalami agama Islam dengan sebenarnya sehingga kita dapat mengenali mana yang haq dan mana yang bathil. Pada akhirnya, kita tidaklah beramal kecuali di atas dasar ilmu yang benar yaitu yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman salafush shalih.

Selanjutnya, kita mendakwahkannya kepada orang lain dengan penuh hikmah dan kesabaran, sehingga lambat laun masyarakat kita akan kembali menemukan kesejukan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni dan terwujudlah kejayaan Islam yang sebenarnya.

Sungguh indah perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah yang selayaknya digoreskan dengan tinta emas:

لَا يُصْلِحُ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan menjadikan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya”

واللهُ المُوَفِّق
والحَمْدُ للهِ الذي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

***
artikel muslimah.or.id
Penyusun: Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti
Muraja’ah: Ust Ammi Nur Baits

Rujukan:

  • Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al Haritsi, Muroja’ah Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Lammud Durril Mantsur minal Qoulil Ma’tsur, Darus Salaf.
  • Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, Pustaka Al Furqon, Gresik.
  • Fuad bin Abdul ‘Azis Asy Syalhub, Kitabul Adab, Darul Qosim, Riyadh.
  • Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Syarh Riyadhush Sholihin, Maktabah Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, www.islamspirit.com.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah, Al Jami’ li Muallafat Asy Syaikh Al Albani, www.islamspirit.com.
  • Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Terj. Limadza Ikhtartu li Manhaj Salaf), Pustaka Imam Bukhari, Solo.
  • Yazid bin Abdul Qodir Jawwaz, Doa dan Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan As Sunnah, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Bogor.
=============================
Demikian pula bid’ah, ia tak ubahnya seperti penyakit yang menggerogoti agama seseorang. Kalau orang tersebut tidak merasa dirinya sakit, bagaimana ia akan berobat? Oleh karena itu, berikut ini kami sebutkan beberapa pengaruh buruk bid’ah terhadap agama seseorang, mudah-mudahan dengan menyadarinya, seseorang akan lebih waspada terhadap bahaya bid’ah dan berusaha sekuat tenaga untuk membasminya [1]. a. Amalan yang tercampuri bid’ah tidak akan diterima AllahBeberapa bid’ah memang sangat buruk dampaknya, seperti bid’ahnya faham qadariyyah. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa salah seorang tabi’in yang bernama Yahya bin Ya’mar menceritakan, bahwa yang pertama kali menyoal masalah takdir di Basrah ialah Ma’bad Al Juhany. Ia menuturkan: Ketika itu, aku bersama Humaid bin Abdirrahman Al Himyari hendak berangkat menunaikan haji atau umrah. Maka kukatakan kepadanya: “Andai saja kita berjumpa dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian kita tanyai dia tentang orang-orang qadariyyah itu…”. Lalu tiba-tiba kami berpapasan dengan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, maka segeralah kami mengapitnya dari sebelah kiri dan kanan. Saat itu nampaknya temanku ingin agar aku yang memulai pembicaraan, maka kukatakan kepada Ibnu ‘Umar:

“Hai Abu Abdirrahman, sesungguhnya di daerah kami muncul sekelompok orang yang pandai membaca Al Qur’an, dan mendalami berbagai ilmu… akan tetapi mereka mendakwakan bahwa takdir Allah itu tidak ada, dan bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya (tanpa ada ketentuan terlebih dahulu -pen)”

Setelah mendengar uraian tadi, Ibnu Umar radhiallahu’anhuma menjawab:

“Kalau kamu bertemu dengan mereka, sampaikan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku… kabarkan bahwa Ibnu Umar bersumpah kalau pun ada di antara mereka yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya Allah tak akan menerima infaknya sampai ia beriman kepada takdir…”

Kemudian Ibnu Umar radhiallahu’anhuma mengutip hadits dari ayahnya yang bercerita tentang kedatangan Malaikat Jibril dalam sosok orang yang tak dikenal, lalu menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna Islam, Iman dan Ihsan (H.R. Muslim no 8).

b. Pelaku bid’ah tak akan mendapat perlindungan Allah,  namun diserahkan pada dirinya sendiri

Imam Asy Syathiby mengatakan: “Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmatan lil ‘aalamin; Sedangkan kita, sebelum diutusnya beliau, tidaklah mengenal manakah jalan kebenaran itu. Kita tidak mengerti tentang apa-apa yang baik bagi urusan dunia melainkan sedikit, apalagi urusan akhirat, maka sedikitpun kita tak tahu. Sampai Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencabut semua keraguan dalam dada, dan mengangkat semua perselisihan diantara manusia.

Ketika seorang pelaku bid’ah meninggalkan karunia Allah dan pemberian-Nya yang sedemikian besar, lantas menganggap dirinya cukup faham akan apa yang baik baginya atau bagi dunianya, padahal Allah tidak menyebutkan satu dalil pun tentangnya; maka bagaimana mungkin orang semacam ini layak mendapat perlindungan Allah dan naungan rahmat-Nya, sedangkan ia telah melepaskan tangannya dari tali Allah dan menyerahkannya pada dirinya sendiri?! Sungguh, orang semacam ini amat layak untuk dijauhkan dari rahmat Allah. Bukankah Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

 “Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah berpecah-belah…” (Ali ‘Imran: 103),

setelah sebelumnya Ia berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa…” (Aali ‘Imran: 102).

Seakan Allah ingin mengisyaratkan bahwa takwa yang sesungguhnya ialah dengan berpegang teguh dengan tali Allah, dan semua yang diluar itu adalah perpecahan, karenanya Allah mengatakan: “janganlah berpecah”. Sedangkan perpecahan merupakan karakter terburuk setiap pelaku bid’ah, karena ia meninggalkan aturan Allah dan memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin.

c. Pelaku bid’ah adalah orang yang dilaknat menurut syari’at

Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (متفق عليه)

“Barangsiapa berbuat bid’ah di dalamnya (Madinah), atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya” (Muttafaq ‘Alaih).[2]

 

d. Bid’ah semakin menjauhkan pelakunya dari Allah Ta’ala 

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ayyub As Sikhtiyani -salah seorang tokoh tabi’in- bahwa beliau mengatakan:

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً {حلية الأولياء – (ج 1 / ص 392)}

“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah” (Hilyatul Auliya’, 1/392). Apa yang dikatakan oleh tokoh tabi’in di atas, kebenarannya didukung oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyifati orang-orang Khawarij:

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ … الحديث (متفق عليه)

Akan muncul diantara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian (para sahabat), puasa kalian, dan amal  kalian di samping shalat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca Al Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya” (Muttafaq Alaih).[3]

Perhatikan, bagaimana mulanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka sebagai kaum yang amat giat beribadah, lalu menjelaskan betapa jauhnya mereka dari Allah.[4]

e. Bid’ah mencegah pelakunya dari mendapat syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang berbunyi:

أَلَا وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام أَلَا وَإِنَّهُ سَيُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ (متفق عليه)

“Sesungguhnya manusia pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat ialah Ibrahim ‘alaihis salam. Ingatlah, bahwa nanti akan ada sekelompok umatku yang dihalau ke sebelah kiri… maka kutanyakan: “Ya Rabbi… mereka adalah sahabatku [5])?”, akan tetapi jawabannya ialah: “Kamu tidak tahu akan apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu…” (Muttafaq ‘Alaih).[6])

f. Pelaku bid’ah ikut menanggung dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat

Dasarnya ialah firman Allah Ta’ala:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Agar mereka memikul dosa-dosa mereka seluruhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dari dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu” (QS. An Nahl: 25).

Sebagaimana dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya, “Barangsiapa mengajarkan ajaran jelek, maka ia akan memikul dosanya dan dosa orang yang mengamalkan ajarannya…[7].

g. Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat

Dalilnya ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

إِنَّ اللهَ حَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ (رواه أبو الشيخ والطبراني والبيهقي وغيرهم)

“Sesungguhnya Allah mencegah setiap pelaku bid’ah dari taubat” (H.R Abu Syaikh, At Thabrani, Al Baihaqy dan lainnya).[8]

Demikian pula yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perpecahan umat beliau, yang diantaranya beliau mengatakan:

إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ (رواه أبو داود وأحمد وغيرهما بسند حسن).

Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah; dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah -maksudnya ajaran yang mengikuti bid’ah dan hawa nafsu,- mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu Al Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Hai sekalian bangsa Arab, demi Allah… kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi” (H.R. Abu Dawud, Ahmad dan lainnya).[9]

h. Pelaku bid’ah dijauhkan dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, katanya,

أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا (رواه مسلم وابن ماجه وأحمد)

Aku akan mendahului kalian menuju telaga… sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya onta yang kesasar. Aku memanggil mereka: “Hai datanglah kemari…!” namun dikatakan kepadaku: “Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu…” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” (H.R Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).[10]

i. Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran

Sebab itulah para ulama dari dahulu sampai sekarang senantiasa berbeda pendapat tentang kafir-tidaknya sejumlah firqah ahlul bid’ah, seperti khawarij, qadariyyah dan yang lainnya. Hal ini didukung oleh dhahir ayat yang berbunyi:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka (QS. Al An’am: 159).

Diantara mereka ada yang jelas-jelas mengkafirkan firqah bid’ah tertentu seperti batiniyyah dan yang lainnya. Jika ada ulama yang berselisih tentang suatu perkara, apakah ia dihukumi kafir atau tidak? Tentunya setiap orang yang berakal akan merinding untuk ditempatkan di persimpangan yang sarat marabahaya seperti ini. Siapa yang rela kalau ada orang yang mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya para ulama berselisih pendapat mengenaimu; apakah kamu telah kafir, atau sekedar sesat?” Atau yang mengatakan: “Sesungguhnya ada sebagian ulama yang mengkafirkan kamu dan menganggap darahmu halal…?!” tentunya tak seorang pun mau dikatakan seperti itu.[11]

 

j. Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah

Wajar saja, karena seorang pelaku bid’ah sama dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, dan siapa pun yang bersikukuh dengan maksiatnya perlu dicemaskan kalau-kalau ia mati dalam keadaan itu.

Bahkan disamping melanggar larangan Allah, seorang pelaku bid’ah seakan ingin mengoreksi syari’at dengan pendapatnya pribadi. Ia tak puas menerima syari’at begitu saja demi meraih yang dia inginkan. Ia justeru meyakini bahwa maksiat yang dilakukan adalah ketaatan, mengapa? Karena ia menganggap baik apa yang dianggap jelek oleh syari’at, yaitu bid’ah. Tentunya orang yang seperti ini keadaannya, sangat dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah.[12]

k. Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat

Dalilnya ialah firman Allah Ta’ala yang berbunyi,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula yang hitam muram…” (Ali ‘Imran: 106).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,

يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَةِ {تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 92)}

“Yaitu hari kiamat… ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam”[13]

 

Terapi kedua: Sibukkan diri dengan mengamalkan sunnah

Ketahuilah wahai saudaraku… tidaklah seseorang melakukan bid’ah melainkan pasti saat itu juga ia meninggalkan sunnah. Agama ini ibarat cawan yang penuh terisi air, kalau seseorang memasukkan secuil benda asing kedalamnya, pastilah ada air yang tertumpah sesuai kadar benda yang masuk tadi… demikian pula Islam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah kucukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah kuridhai Islam sebagai agamamu” (QS. Al Ma’idah: 3).

Baca dan pelajarilah Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim… niscaya kita akan mendapatkan ribuan sunnah yang selama ini belum pernah kita lakukan.

Mengapa sebagian kaum muslimin justeru menyibukkan diri dengan membaca buku-buku mujarrobat, ratib, burdah, barzanji dan sejenisnya yang sarat dengan penyimpangan dalam masalah tauhid; namun meninggalkan wirid pagi dan sore dan sunnah-sunnah lain yang diajarkan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah ini namanya mengorek-korek sampah demi mencari tempe basi, dan meninggalkan hidangan lezat yang siap disantap?

Sungguh, seandainya kita menyibukkan diri dengan mengamalkan semua sunnah yang ada, niscaya kita tidak akan berhasil mengamalkan seluruhnya dalam dua puluh empat jam… lantas, untuk apa membuat “ibadah model baru” yang hanya menambah beban hidup kita? Renungkanlah kembali nasehat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang tercantum dalam mukaddimah buku ini (hal 15).

 

Terapi ketiga: sadarlah bahwa Allah tidak membutuhkan amal kita

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya amalan yang kita lakukan -betapa pun besarnya- adalah bagi diri kita sendiri. Allah Ta’ala sama sekali tidak butuh terhadap amal kita. Biarpun manusia sedunia ini kafir semuanya, toh Allah Ta’ala tetaplah penguasa tunggal alam semesta…. Di sana masih ada jutaan, bahkan milyaran makhluk yang taat menyembah kepada-Nya. Para malaikat yang memenuhi angkasa raya… ikan-ikan di lautan… semut-semut dalam liangnya, bahkan setiap benda yang ada di langit maupun di bumi semuanya bertasbih kepada-Nya. Sebagaimana ayat:

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَماَ فِي الأَرضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ (التغابن: 1)

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi (senantiasa) bertasbih kepada Allah; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At Taghaabun: 1)

Ingatlah bahwa Allah Ta’ala berfirman:

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (Al Isra’: 44). 

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ  قَالَ: بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ  فِي أَصْحَابِهِ إِذْ قَالَ لَهُمْ: أَتَسْمَعُونَ مَا أَسْمَعُ ؟ قَالُوْا : مَا نَسْمَعُ مِنْ شَيْءٍ ، قَالَ: إِنِّي لَأَسْمَعُ أَطِيْطَ السَّمَاءِ وَمَا تُلاَمُ أَنْ تَئِطَّ وَمَا فِيْهَا مَوْضِعُ شِبْرٍ إِلاَّ وَعَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ أَوْ قَائِمٌ (رواه الطحاوي في مشكل الآثار والطيراني في الكبير بإسناد على شرط مسلم)

Dari Hakiem bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, katanya: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama sahabatnya, beliau berkata: “Adakah kalian mendengar apa yang kudengar?” mereka menjawab: “Kami tak mendengar apa-apa…” lalu lanjut beliau: “Aku benar-benar mendengar suara berat yang ditimbulkan langit… dan wajar memang kalau dia merasa berat, karena tak tersisa sejengkal pun ruangan di sana melainkan ada malaikat yang sedang sujud atau berdiri” [14]).

Ingatlah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari Allah Ta’ala, bahwa Dia berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا (رواه مسلم)

“Wahai hamba-Ku, kalian tak akan mampu mencelakai-Ku maupun memberi manfaat kepada-Ku… wahai hamba-Ku, kalaulah kalian seluruhnya sejak dari yang pertama hingga terakhir, baik dari jin maupun manusia; semuanya memiliki hati yang paling takwa, niscaya itu tak menambah kekuasaan-Ku sedikit pun… dan seandainya kalian seluruhnya sejak dari yang pertama hingga terakhir, dari jin dan manusia; semuanya memiliki hati paling bejat, niscaya itu tak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun…” (H.R. Muslim no 2577).

Lihatlah… alangkah tidak berartinya manusia di sisi Allah. Alangkah sia-sianya amal yang selama ini kita lakukan dengan susah payah kalau sampai Allah tak sudi menerimanya. Kalau amal shalih saja belum tentu diterima oleh-Nya, maka bagaimana dengan bid’ah? Adakah Allah Ta’ala menaruh minat sedikit pun kepadanya? Renungkanlah baik-baik masalah ini, kemudian mari kita koreksi amal kita masing-masing.

Terakhir: mintalah kepada Allah Ta’ala agar senantiasa membimbing kita

Terapi ini tak kalah penting dari pendahulunya. Apalah artinya usaha kita yang mati-matian kalau tidak mendapat bimbingan Allah Ta’ala? Mintalah selalu kepada-Nya agar Dia menunjukkan kepada kita mana yang bid’ah dan mana yang sunnah. Hadirkanlah selalu hati kita tatkala membaca firman Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

 “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”

Bersimpuhlah di hadapan-Nya pada sepertiga malam terakhir… teteskanlah airmata kita di haribaan-Nya, mudah-mudahan Dia mencurahkan sebagian rahmat-Nya untuk kita. Keluhkanlah segala gundah gulana kepada-Nya… karena Dia lah yang menguasai hati hamba-Nya, dan Dia lah yang membolak-balikkan hati mereka… mintalah kepada-Nya agar hati kita selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Simaklah apa yang diriwayatkan oleh Ummul mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ (رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Doa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah: (يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ) “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”. Aku pun bertanya kepadanya: “Ya Rasulullah, alangkah seringnya engkau memanjatkan doa ini…” maka jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hai Ummu Salamah, tak ada seorang anak Adam pun melainkan hatinya berada diantara dua jemari Allah Ta’ala. Orang yang Dia kehendaki akan dijadikan-Nya istiqamah (lurus), atau justeru dibiarkan sesat” (H.R. Tirmidzi, dan beliau menghasankannya).[15])

 

-bersambung insya Allah-

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah

Artikel www.muslim.or.id

 

 

 

 

[1]  Disadur dari Mukhtasar Al I’tisham, hal 31-39, oleh Imam Asy Syathiby. Ikhtisar Sayyid ‘Alawi Abdul Qadir Assaqqaf –hafidhahullaah-.

[2]) H.R. Bukhari no 1870, 7306 dan Muslim no 1366, dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik.

[3]) H.R. Bukhari no 5058, 6931, dan Mulim no 1064 dari sahabat Abu Sa’id Al Khudry. Lafazh hadits diatas kami ambilkan dari hadits Bukhari no 5058.

[4]) Lihat: Mukhtasar Al I’tisham hal 33, oleh Imam Asy Syathiby. Ikhtisar oleh Sayyid ‘Alawi Abdul Qadir Assaqqaf.

[5]) Makna dari ‘sahabatku’ di sini bukanlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi orang-orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal keyakinan (Islam). Karenanya hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa para sahabat berpaling (murtad) dari Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keyakinan orang-orang syi’ah rafidhah yang terkutuk itu. Jadi kata ashaab disini ialah seperti yang diungkapkan oleh ulama-ulama belakangan ketika menukil pendapat orang yang semadzhab dengan mereka dengan menagatakan: (وقال أصحابنا كذا…) yang artinya: Orang-orang yang semadzhab dengan kami mengatakan begini dan begitu…

[6]) H.R. Bukhari no 6526, 4625, 4626, 4740, 3349 dan Muslim no 2860, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas.

[7])  H.R. Muslim no 1017, dari sahabat Jarir bin Abdillah secara ringkas.

[8] H.R. Abu Syaikh dalam Tarikh Ashbahan, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Ausath, Al Baihaqy dalam Syu’abul Iman dan lainnya. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Sayyid ‘Alawi Assaqqaf dalam Mukhtasar Al I’tisham hal 35. Dishahihkan pula oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no 1620.

 

[9]  H.R. Abu Dawud no 4597, Ahmad dalam Musnadnya (4/102) no 17061 dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Hadits ini dinyatakan shahih lighairihi oleh Syaikh Al Albani dalam Dhilalul Jannah, 1/2, hadits no 1&2. Perhatian: kalimat yang bercetak miring di atas hanya terdapat pada riwayat Ahmad, dan nampaknya ia merupakan perkataan Mu’awiyah yang tersisipkan dalam hadits, karena disebutkan bahwa beliau menyampaikan hadits tadi di waktu haji selepas shalat dhuhur (lihat Musnad Imam Ahmad 4/102). Jadi beliau mengatakan kata-kata tadi dalam kapasitasnya sebagai khalifah saat itu, wallaahu a’lam -pen.

[10]  H.R. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306, dan Ahmad dalam Musnadnya (2/300, 408) hadits no 7980, 8865 dan 9281. Hadits ini juga dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if  Sunan Ibnu Majah, hadits no 4306.

[11]  Lihat: Mukhtasar Al I’tisham, hal 38.

[12]  Ibid, hal 38.

[13] Tafsir Ibnu Katsier, 2/92. Oleh Abul Fida’ Ibnu Katsier, tahqiq: DR. Sami Muhammad Salamah, cet.2, th. 1420/1999, Daarut Taybah.

[14]) H.R. Ath Thahawy dalam Syarh Musykilil Aatsar 7/337, hadits no 5319 dan Ath Thabrany dalam Al Mu’jamul Kabir, dengan sanad yang shahih sesuai syarat Muslim. Lihat: Silsilah Ash Shahihah hadits no 852.

[15]) H.R. Tirmidzi no 3522, dan Ahmad (6/302, 315) dan dihasankan pula oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadits no 2091. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik, dan Ahmad dari Aisyah.

Dari artikel ‘Ini Dalilnya (10): Terapi Intensif bagi Pelaku Bid’ah — Muslim.Or.Id
================================
=================================================

BEBERAPA CONTOH BID’AH MASA KINI

Oleh
Syaikh Dr Sahlih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Di antaranya adalah :
1. Perayaan bertepatan dengan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Rabiul Awwal.

2.Tabarruk (mengambil berkah) dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan, dan dari orang-orang baik, yang hidup ataupun yang sudah meninggal.

3. Bid’ah dalam hal ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Bid’ah-bid’ah modern banyak sekali macamnya, seiring dengan berlalunya zaman, sedikitnya ilmu, banyaknya para penyeru (da’i) yang mengajak kepada bid’ah dan penyimpangan, dan merebaknya tasyabuh (meniru) orang-orang kafir, baik dalam masalah adat kebiasaan maupun ritual agama mereka. Hal ini menunjukkan kebenaran (fakta) sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sungguh kalian akan mengikuti cara-cara kaum sebelum kalian” [Hadits Riwayat At-Turmudzi, dan ia men-shahihkannya]

1. Perayaan Bertepatan Dengan Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pada Bulan Rabiul Awwal.

Merayakan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah, karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan Salaf Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah.

Imam Abu Ja’far Tajuddin berkata : “Saya tidak tahu bahwa perayaan ini mempunyai dasar dalam Kitab dan Sunnah, dan tidak pula keterangan yang dinukil bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh seorang dari para ulama yang merupakan panutan dalam beragama, yang sangat kuat dan berpegang teguh terhadap atsar (keterangan) generasi terdahulu. Perayaan itu tiada lain adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan dan merupakan tempat pelampiasan nafsu yang sangat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hobi makan” [Risalatul Maurid fi Amalil Maulid]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa ‘Alaihis Salam atau karena alasan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menjadikan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebuah perayaan. Padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan.

Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.

Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercermin dalam meniru, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik” [Iqtida ‘Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/615]

2. Tabbaruk (Mengambil Berkah) Dari Tempat-Tempat Tertentu, Barang-Barang Peninggalan, Dan Dari Orang-Orang Baik, Yang Hidup Ataupun Yang Sudah Meninggal.

Termasuk di antara bid’ah juga adalah tabarruk (mengharapkan berkah) dari makhluk. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari watsaniyah (pengabdian terhadap mahluk) dan juga dijadikan jaringan bisnis untuk mendapatkan uang dari orang-orang awam.

Tabarruk artinya memohon berkah dan berkah artinya tetapnya dan bertambahnya kebaikan yang ada pada sesuatu. Dan memohon tetap dan bertambahnya kebaikan tidaklah mungkin bisa diharapkan kecuali dari yang memiliki dan mampu untuk itu dan dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah-lah yang menurunkan berkah dan mengekalkannya. Adapun mahluk, dia tidak mampu menetapkan dan mengekalkannya.

Maka, praktek tabarruk dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan dan orang-orang baik, baik yang hidup ataupun yang sudah meninggal tidak boleh dilakukan karena praktek ini bisa termasuk syirik bila ada keyakinan bahwa barang-barang tersebut dapat memberikan berkah, atau termasuk media menuju syirik, bila ada keyakinan bahwa menziarahi barang-barang tersebut, memegangnya dan mengusapnya merupakan penyebab untuk mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun tabarruk yang dilakukan para sahabat dengan rambut, ludah dan sesuatu yang terpisah/terlepas dari tubuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung terdahulu, hal tersebut hanya khusus Rasulullah di masa hidup beliau dan saat beliau berada di antara mereka ; dengan dalil bahwa para sahabat tidak ber-tabarruk dengan bekas kamar dan kuburan beliau setelah wafat.

Mereka juga tidak pergi ke tempat-tempat shalat atau tempat-tempat duduk untuk ber-tabarruk, apalagi kuburan-kuburan para wali. Mereka juga tidak ber-tabarruk dari orang-orang shalih seperti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, Umar Radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya dari para sahabat yang mulia. Baik semasa hidup ataupun setelah meninggal. Mereka tidak pergi ke Gua Hira untuk shalat dan berdo’a di situ, dan tidak pula ke tempat-tempat lainnya, seperti gunung-gunung yang katanya disana terdapat kuburan nabi-nabi dan lain sebagainya, tidak pula ke tempat yang dibangun di atas peninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, tidak ada seorangpun dari ulama salaf yang mengusap-ngusap dan mencium tempat-tempat shalat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di Madinah ataupun di Makkah. Apabila tempat yang pernah di injak kaki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yan mulia dan juga dipakai untuk shalat, tidak ada syari’at yang mengajarkan umat beliau untuk mengusap-ngusap atau menciuminya, maka bagaimana bisa dijadikan hujjah untuk tabarruk, dengan mengatakan bahwa (si fulan yang wali) –bukan lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah shalat atau tidur disana ?! Para ulama telah mengetahui secara pasti berdasarkan dalil-dalil dari syariat Islam, bahwa menciumi dan mengusap-ngusap sesuatu untuk ber-tabarruk tidaklah termasuk syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Lihat Iqtidha’ Al-Shirath Al-Mustaqim 2/759-802]

3. Bid’ah Dalam Hal Ibadah Dan Taqarrub Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan ibadah, pada saat ini cukup banyak. Pada dasarnya ibadah itu bersifat tauqif (terbatas pada ada dan tidak adanya dalil), oleh karenanya tidak ada sesuatu yang disyariatkan dalam hal ibadah kecuali dengan dalil. Sesuatu yang tidak ada dalilnya termasuk kategori bid’ah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka dia tertolak” [Hadits Riwayat Muslim]

Ibadah-ibadah yang banyak dipraktekkan pada masa sekarang ini, sungguh banyak sekali, di antaranya ; Mengeraskan niat ketika shalat. Misalnya dengan membaca dengan suara keras.

“Artinya : Aku berniat untuk shalat ini dan itu karena Allah Ta’ala”

Ini termasuk bid’ah, karena tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Katakanlah (kepada mereka), ‘Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Al-Hujarat : 16]

Niat itu tempatnya adalah hati. Jadi dia adalah aktifitas hati bukan aktifitas lisan. Termasuk juga dzikir berjama’ah setelah shalat. Sebab yang disyariatkan yaitu bahwa setiap membaca dzikir yang diajarkan itu sendiri-sendiri, di antara juga adalah meminta membaca surat Al-Fatihah pada kesempatan-kesempatan tertentu dan setelah membaca do’a serta ditujukan kepada orang-orang yang sudah meninggal. Termasuk juga dalam katagori bid’ah, mengadakan acara duka cita untuk orang-orang yang sudah meninggal, membuatkan makanan, menyewa tukang-tukang baca dengan dugaan bahwa hal tersebut dapat memberikan manfaat kepada si mayyit. Semua itu adalah bid’ah yang tidak mempunyai dasar sama sekali dan termasuk beban dan belenggu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu.

Termasuk bid’ah pula yaitu perayaan-perayaan yang diadakan pada kesempatan-kesempatan keagamaan seperti Isra’ Mi’raj dan hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perayaan-perayaan tersebut sama sekali tidak mempunyai dasar dalam syari’at, termasuk pula hal-hal yang dilakukan khusus pada bulan Rajab, shalat sunnah dan puasa khusus. Sebab tidak ada bedanya dengan keistimewaannya dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, baik dalam pelaksanaan umrah, puasa, shalat, menyembelih kurban dan lain sebagainya.

Yang termasuk bid’ah pula yaitu dzikir-dzikir sufi dengan segala macamnya. Semuanya bid’ah dan diada-adakan karena dia bertentangan dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan baik dari segi redaksinya, bentuk pembacaannya dan waktu-waktunya.

Di antaranya pula adalah mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah tertentu seperti shalat malam dan berpuasa pada siang harinya. Tidak ada keterangan yang pasti dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan khususnya untuk saat itu, termasuk bid’ah pula yaitu membangun di atas kuburan dan mejadikannya seperti masjid serta menziarahinya untuk ber-tabarruk dan bertawasul kepada orang mati dan lain sebagainya dari tujuan-tujuan lain yang berbau syirik.

Akhirnya, kami ingin mengatakan bahwa bid’ah-bid’ah itu ialah pengantar pada kekafiran. Bid’ah adalah menambah-nambahkan ke dalam agama ini sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Bid’ah lebih jelek dari maksiat besar sekalipun. Syetan akan bergembira dengan terjadinya praktek bid’ah melebihi kegembiraannya terhadap maksiat yang besar. Sebab, orang yang melakukan maksiat, dia tahu apa yang dia lakukannya itu maksiat (pelanggaran) maka (ada kemungkinan) dia akan bertaubat. Sementara orang yang melakukan bid’ah, dia meyakini bahwa perbuatannya itu adalah cara mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia tidak akan bertaubat. Bid’ah-bid’ah itu akan dapat mengikis sunnah-sunnah dan menjadikan pelakunya enggan untuk mengamalkannya.

Bid’ah akan dapat menjauhkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan mendatangkan kemarahan dan siksaanNya serta menjadi penyebab rusak dan melencengnya hati dari kebenaran.

SIKAP TERHADAP AHLI BID’AH
Diharamkanmengunjungi dan duduk-duduk dengan ahli bid’ah kecuali dengan maksud menasehati dan membantah bid’ahnya. Karena bergaul dengan ahli bid’ah akan berpengaruh negatif, dia akan menularkan permusuhannya pada yang lain. Kita wajib memberikan peringatan kepada masyarakat dari mereka dan bahaya mereka. Apabila kita sudah bisa menyelamatkan dan mencegah mereka dari praktek bid’ah. Dan kalau tidak, maka diharuskan kepada para ulama dan pemimpin umat Islam untuk menentang bid’ah-bid’ah dan mencegah para pelakunya serta meredam bahaya mereka. Karena bahaya mereka terhadap Islam sangatlah besar. Suatu hal yang perlu pula untuk diketahui bahwa negara-negara kafir sangat mendukung para pelaku bid’ah dan membantu mereka untuk menyebar luaskan bid’ah-bid’ah mereka dengan berbagai macam cara, sebab didalamnya terdapat proses penghangusan Islam dan pengrusakan terhadap gambaran Islam yang sebenarnya.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Dia akan menolong agamaNya, meninggikan kalimatNya, serta menghinakan musuh-musuhNya.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad Shallallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

[Disalin dari buku At-Tauhid Lish-Shaffits Tsani Al-‘Aliy, Penulis Syaikh Dr Sahlih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, edisi Indonesia Kitab Tauhid-3, Penerjemah Ainul Haris Arifin, hal 152-159, Darul Haq]

========================================
=============================================

Syirik dan Bid’ah Dibela

----------------------------------------
Saat ini, syirik dan bid’ahlah yang dibela mati-matian. Padahal kedua dosa ini telah melanggar prinsip dua kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh kaum muslimin. Lihatlah di tengah-tengah kita, ada suatu program yang sudah mau mengajarkan pada umat akidah yang benar dan sunnah yang shahihah, namun dituduh sebagai pendukung ajaran sesat sehingga program ini harus ditutup. Memang betul dikatakan oleh para ulama, pelaku syirik saat ini lebih parah dari masa silam. Dahulu orang-orang musyrik tahu bahwa mereka berseberangan dengan dakwah Rasul. Namun saat ini, mereka mengklaim bahwa merekalah ahlu tauhid dan merekalah yang sejalan dengan ajaran Rasul. Sungguh parah!

Syirik itu Kesesatan yang Paling Besar

Syirik artinya menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah, atau bisa katakan pula syirik adalah menduakan Allah dalam ibadah. Semacam menjadikan do’a, sembelihan dan tumbal pada selain Allah.

Orang yang berbuat syirik dikatakan dalam ayat sebagai orang yang telah jauh tersesat karena ia telah menginjak hak-hak Allah. Di antara hak Allah adalah menjadikan ibadah hanya pada Allah saja, bukan pada makhluk seperti malaikat, nabi, orang sholih atau pada pohon dan batu. Jika seorang muslim menjadikan wali yang telah mati sebagai perantara dalam do’a, lalu ia sampaikan do’a pada wali supaya hajatnya disampaikan pada Allah, ini namanya meminta do’a pada wali. Setiap yang meminta pada selain Allah, itu syirik walau yang diminta bukanlah berhala, batu atau pohon. Contoh tadi itulah bentuk kesyirikan yang terjadi di masa silam di kalangan orang-orang musyrik. Bukti bahwa perbuatan meminta semacam itu termasuk syirik dibuktikan dalam ayat berikut,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar: 3). Bagaimana perbuatan tadi tidak disebut syirik sedangkan di akhir ayat disebut bahwa mereka termasuk dusta lagi ingkar. Namun inilah perbuatan syirik yang dibela oleh para pengagung kubur, wali dan sunan. Wallahul musta’an.

Pelaku syirik itulah yang telah sesat sejauh-jauhnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (QS. An Nisa’: 116).

Dalam ayat lain dalam nasehat Lukman pada anaknya disebutkan,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezholiman yang besar.” (QS. Lukman: 13).

Coba renungkan ayat berikut pula,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88). Kenapa syirik itu dibela padahal syirik bisa menghapus amalan? Juga disebutkan dalam ayat lain,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).

Lantas kenapa sampai ajaran syirik dibela dan terus dilestarikan? Dan biasanya pelaku syirik pun sudah tidak punya argumen lagi ketika syirik mereka dikritik. Mereka hanya bisa beralasan bahwa ajaran tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun di tanah air. Hal ini pas seperti alasan orang-orang musyrik di masa silam. Tak jauh beda. Lihatlah ayat,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka“.” (QS. Az Zukhruf: 23). Mereka tidak punya dalil untuk mendukung kesyirikan mereka. Yang ada cuma dalil yang tidak tegas atau dalil yang tidak shahih. Dan ujung-ujungnya, alasan mereka adalah warisan tradisi. Sama halnya ternyata dengan orang musyrik di masa silam.

Demikianlah sebagian orang menganggap bahwa tindakan mesum masih lebih parah daripada tindakan menyekutukan Penciptanya dalam ibadah. Padahal dosa mesum masih berada di bawah kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48). Apa mereka lebih senang masyarakat rusak dengan syirik dibanding dengan mesum? Padahal dosa mesum masih di bawah kesyirikan. Sedangkan dosa syirik tidak diampuni jika dibawa mati.

Jika dakwah anti syirik dikatakan sesat, maka seharusnya dakwah para Nabi pun dikatakan demikian. Karena setiap Rasul telah mengajarkan pada umatnya untuk menjauhi syirik dan mentauhidkan Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu (segala sesuatu yang disembah selain Allah)” (QS. An Nahl: 36). Apa mereka mau menyesatkan para Nabi sebagai pendakwah anti syirik?

Bid’ah itu Sesat, Tidak Ada yang Hasanah

Yang dibela kedua adalah berbagai ritual bid’ah, yaitu amalan yang dibuat-buat dalam hal agama yang tiada tuntunan karena tidak ada dalil pendukung. Perbuatan bid’ah inilah yang menyelisihi syahadat (pengingkaran) bahwa Nabi kita adalah hamba dan utusan Allah. Kalau dikatakan demikian, maka setiap akidah, amalan dan ibadah mesti mengikuti tuntunan nabi, bukan seenaknya membuat ibadah-ibadah baru sendiri.

Ketika ada yang mengkritik ritual maulid Nabi, yasinan, tahlilan, serta ritual bid’ah lainnya, maka alasan pro-bid’ah tadi di antaranya ajaran ini semua baik (hasanah), kenapa dilarang?

Padahal Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri yang mengatakan setiap bid’ah itu sesat.

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Kata Al Hafizh Abu Thohir, sanad hadits ini shahih. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Kalau Rasul katakan setiap amalan yang tiada tuntunan itu sesat, lantas mengapa masih dikatakan ada bid’ah hasanah. Apakah kita mau pertentangkan sabda Rasul dan perkataan manusia lainnya? Lihatlah kata Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

Setiap bid’ah itu sesat, walaupun manusia menganggapnya baik (hasanah).” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1: 219, Asy Syamilah)

Seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i berkata mengenai maksud bid’ah itu sesat,

والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

“Yang dimaksud setiap bid’ah itu sesat adalah setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum” (Fathul Bari, 13: 254).

Ibnu Rajab dari madzhab Hambali juga mengatakan,

فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .

“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128).

Dan kami pun tidak asal menuduh sesatnya bid’ah kecuali jika memenuhi tiga syarat,

1- Amalan tersebut baru, diada-adakan atau dibuat-buat.

2- Amalan tersebut disandarkan sebagai bagian dari ajaran agama.

3- Amalan tersebut tidak memiliki landasan dalil baik dari dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)

Sehingga keliru jika ada yang menganggap bahwa naik pesawat, pakai laptop, pakai HP itu bid’ah dengan alasan di masa Nabi tidak ada komunikasi semacam itu dan kendaraannya hanya unta. Karena sekali lagi sebagaimana syarat yang disebutkan di atas, bid’ah itu dalam urusan agama, bukan urusan dunia.

Jika Nabi sendiri yang katakan setiap bid’ah itu sesat (tidak ada yang hasanah), lalu bila ada yang mengingkari bid’ah, apa pantas disebut sesat?

Memang Kita Mesti Bersabar!

Setiap yang mendakwahkan kebenaran, memang akan senantiasa menghadapi cobaan, baik berupa celaan, sindiran, pemboikotan bahkan juga disakiti fisiknya. Sebagaimana para nabi pun mendapatkan cobaan dan itu sesuai kualitas imannya.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Celaan dan caci maki dari orang yang tidak suka dengan dakwah anti syirik dan anti bid’ah adalah cobaan dan itu diberikan sesuai dengan tingkatan iman seorang muslim,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya balasan terbesar adalah dari ujian terberat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka, maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2396, beliau katakana hadits ini hasan ghorib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Sehingga tugas kita mesti bersabar. Kesabaran ini akan berbuah manis seperti dalam pepatah Arab,

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya

Namun akhirnya lebih manis daripada madu

Kesabaran itu bisa diraih dengan pertolongan Allah,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan dari Allah.” (QS. An Nahl : 127)

Dan pasti dakwah tauhid akan meraih kejayaan. Kebatilanlah yang akan sirna,

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al Isra’: 81).

Moga Allah menangkan dakwah tauhid dan sunnah serta menghancurkan kesyirikan.