Loading
Shodaqoh | EP Artikel-Edy Gojira

Gaya hidup yang penuh foya-foya dan keMEWAHan tersebut berasal dari peradaban barat yang KAFIR .... LALU ... kamu/aku akan MENIRU/tasyabuh gaya hidup KAFIR ??? ---------------------------------------------------------- APAKAH Nabi dan SAHABAT Nabi .... mengikuti/tasyabuh perilaku dan gaya HIDUP seperti orang KAFIR ??? --------------------------------------------------------- Konsumerisme telah menjadi gaya hidup yang mempengaruhi kehidupan kaum muslimin. Gaya hidup yang penuh foya-foya dan kemewahan tersebut berasal dari peradaban barat yang kafir. Mereka mengukur kebahagiaan dengan ukuran materi dan bertujuan mempeturutkan hawa nafsu belaka. Kaum muslimin memiliki gaya hidup yang unik yang sangat berbeda dengan peradaban manapun. Gaya hidup ini akan menyelamatkan manusia dari kerusakan umat manusia. Kebahagiaan kaum muslimin diukur dari keridhaan Allah SWT. Kita bisa meneladaninya dari kehidupan rasul, sahabat, dan para pengikutnya. ----------------------------- Makna Gaya hidup Konsumtif ------------------------------ Konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Konsumen memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. -------------------------------- Budaya konsumtivisme menimbulkan shopilimia.Dalam psikologi ini dikenal sebagai compulsive buying disorder (penyakit kecanduan belanja). Penderitanya tidak menyadari dirinya terjebak dalam kubangan metamorfosa antara keinginan dan kebutuhan. Ini bisa menyerang siapa saja, perempuan atau laki-laki. Susahnya, kita terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif dan menjadi bagian dari budaya populer. Kehidupan kaum muslimin saat ini berada di tengah arus kapitalisme. --------------------------- Membelanjakan harta (Infaq) ---------------------------- Menginfaqkan harta adalah memberikan harta dengan tanpa kompensasi apapun. Allah SWT berfirman : “Dan nafkahkanlah (harta kalian) di jalan Allah.” (QS. Al-Baqarah:195) ----------------------------- Membelanjakan harta (infaq) bisa berbentuk wajib, sunnnah, mubah, bahkan haram. Wajib dalam hal nafkah kepada anak- isteri, zakat, dll. Sunnah dalam hal shodaqoh, memberi hadiah, wasiat, dll. Mubah dalam hal rekreasi, dll. Haram jika bersifat israf, tabdzir dan taqtir. -------------------------------- Keharaman Israf dan tabdzir ------------------------------------- Pelaku israf disebut musrifin. Makna musrifin banyak. ------------------------- Pertama, mu’ridhin (orang-orang yang lalai) dari mengingat Allah. Maksudnya bisikan setan telah melalaikannya dari dzikir dan mengikuti syahwat, serta menganggapnya sebagai suatu kebaikan. Kedua, orang-orang yang banyak kejelekannya daripada kebaikannya (QS. Ghafir:43). Ketiga, dari Qathadah memaknainya sebagai musyrikin (orang-orang musyrik). Dari Mujahid, al-musrifin adalah orang-orang yang menumpahkan darah dengan cara tidak halal. Keempat, mufsidin (orang-orang yang membuat kerusakan) (QS. Asy-Syu’ara: 150-152). ---------------------------- Adapun kata tabdzir makna syara’nya adalah menafkahkan harta pada perkara-perkara yang haram. Allah SWT berfirman :“Janganlah kamu berbuat tabdzir. Sebab sesungguhnya orang yang melakukan tabdzir itu adalah saudaranya setan.” (QS. Al-Isra’: 27) --------------------------- Keharaman berbuat kikir ------------------------------ Islam melarang berbuat kikir (taqtir) terhadap diri sendiri, serta menahan diri dari kenikmatan yang diperbolehkan syara’(QS. Al-Furqan: 67). Sabda Nabi Muhammad SAW :“Apabila engkau telah dianugerahi harta oleh Allah, maka hendaknya tanda-tanda nikmat dan kemuliaan Allah yang diberikan kepadamu tersebut ditampakkan.” (H.r. Al-Hakim, dari ayah Abi Al-Ahwash). Apabila ada seseorang memiliki harta, sementara dia bertindak bakhil terhadap dirinya sendiri, maka menurut Allah tindakan semacam itu adalah dosa. Apabila orang tersebut bakhil terhadap orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggungannya, maka dia berdosa dan harus dipaksa oleh Negara agar mau bertanggungjawab untuk keperluan keluarganya. Orang tersebut juga harus menjamin nafkah ini secara layak sehingga mencapai taraf hidup yang layak(QS. Ath-Thalaq : 7). --------------------------------------------------------- Teladan Rasul, Sahabat, dan Para Penerusnya ----------------------------------------------------------- Nabi sebagai kepala negara seharusnya bisa hidup dengan mewah. Tetapi ternyata nabi hidup dengan sederhana. Dalam sebuah hadits diketahui bahwa jika bangun tidur di punggung nabi terlihat bekas – bekas anyaman tikar yang menjadi alas tidurnya. Di pagi hari, jika nabi tidak menemukan makanan untuk sarapan maka nabi langsung berniat melaksanakan puasa sunat. Rumah nabi pun yang dibangun di samping masjid nabawi tidak memerlukan biaya yang mahal. Keluarga nabi terkenal sebagai keluarga yang dermawan. -------------------------- Para sahabat yang memiliki harta yang banyak tidak segan–segan untuk membantu dakwah dan jihad. Umar bin Khattab rela menyumbang setengah dari seluruh hartanya. Bahkan Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. -------------------------- Abdurrahman bin Auf yang merupakan konglomerat di jamannya terkenal banyak memberikan hutang kepada hampir sseluruh penduduk madinah. ------------------- Para hartawan terdahulu, banyak yang mengeluarkan hartanya untuk mendirikan majelis-majelis ilmu, membangun perpustakaan, dan memberikan beasiswa sehingga bisa membantu program pemerintah dalam melakukan pendidikan bebas biaya bagi seluruh kaum muslimin. --------------------- orang BERIMAN .... BUKAN Orang Yang Gemar Bersenang-Senang ......................... عن معاذ ابن جبل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث به إلى اليمن قال له إياك والتنعم فإن عباد الله ليسوا بالمتنعمين Dari Mu’adz bin Jabal, ketika ia diutus ke Yaman, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpesan kepadanya: “Tinggalkanlah sifat gemar berSENANG-SENANG (at tana’um). Karena hamba Allah yang sejati bukanlah orang yang gemar bersenang-senang” (HR. Ahmad 5/243, 244, Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin 279, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 5/155)-------------- JANGAN mati sebagai Kanzul Mal !!.. jangan meREMEHkan !!! ------------------- dicap Allah sbg PENIMBUN HARTA Siapa saja yang meninggalkan (mati dalam keadaan menyimpan) yang kuning (uang emas) dan yang putih (uang perak), maka dia diSETERIKA dengannya (di neraka kelak).” (HR. Bukhari), ............PENIMBUN HARTA = tidak menafkahkannya pada jalan Allah .. << apa itu JALAN Allah ??? ................................. Imam Thabrani meriwayatkan dari Abi Umamah bahwa seorang ahlus shuffah (yang tinggal di Masjid Nabawi) meninggal, lalu ditemukan di dalam selimut (sarungnya) sekeping uang dinar, lalu Rasulullah Saw menyebutnya “kayyah” (sepotong api neraka). Lalu ada orang lain yang meninggal dan ditemukan ditempat tidurnya dua keping dinar. Beliaupun mengomentari “kayyataan” (dua keping api neraka). ------------------------------ “Hai oang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagaian besar orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan bathil, dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak {= uang di BANK, perhiasan, investasi ....dst sekarang ini} dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka. ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At Taubah 34-35) <<< “BerJIHADlah terhadap kaum MUSYRIKIN dengan HARTA benda kamu, dan diri-DIRI kamu {NYAWA} dan lidah-LIDAH kamu.” (HR. Abu Daud, dari Anas).>>> ------------------------ “Setan menjanjikan (menakut-nahkuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

July 23, 2016 Edy Gojira 3

Gaya hidup yang penuh foya-foya dan keMEWAHan tersebut berasal dari [...]

Rasul bersabda; "..... TIDAK SHADAQAH dan TIDAK JIHAD? Dengan apa engkau MASUK SURGA?....” .................................................... mati MUNAFIK ?.... takut MATI ? ... ........................ “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.“ (QS. Ali Imran: 169) ------------------------ Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Thabraniy dan Imam al-Bayhaqiy, dari Basyir bin al-Khoshoshiyyah ra berkata,”Aku datang kepada kepada Rasulullah saw untuk berbai’at masuk islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya, sholat lima waktu, puasa Romadhon menunaikan zakat, haji ke baitullah dan berjihad di jalan Allah.” Dia lanjutkan, “Wahai Rasulullah, ada dua yang aku TIDAK mampu, yaitu ZAKAT karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sekelompok unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku TAKUT MATI dan ingin (menyelamatkan) jiwaku.” Lalu Rasulullah menggenggam tangannya kemudian menggerakkannya lalu berkata, “TIDAK SHADAQAH dan TIDAK JIHAD? Dengan apa engkau MASUK SURGA?” ------------------ Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: جَاهِدُوا اَلْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ, وَأَنْفُسِكُمْ, وَأَلْسِنَتِكُمْ “Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan HARTA-mu, JIWA-mu {nyawa} dan LIDAH-mu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim) --------- Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mati (dalam keadaan) BELUM pernah berperang dan tidak terbesit dalam BENAK-nya {/hati/qalbu} keINGINan berPERANG, maka ia MATI dalam keadaan MUNAFIK.” (HR. Muslim dan Abu Daud. Hadits-hadits yang se makna dengan hadits ini banyak jumlahnya) --------------- Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, Amalan apakah yang (pahalanya) sebanding dengan Jihad fi Sabilillah?” beliau menjawab, “Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya.” Mereka (para sahabat) mengulangi pertanyaan tersebut dua atau tiga kali, dan jawaban beliau atas setiap pertanyaan itu sama, “Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya.” Kemudian setelah yang ketiga beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى “Perumpamaan seorang mujahid Fi Sabilillah adalah seperti orang yang berpuasa yang mendirikan shalat lagi lama membaca ayat-ayat Allah. Dan dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga seorang mujahid fi sabilillah Ta’ala pulang.” (Muttafaq ‘Alaih) ------------------------------ Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersabda kepada Ummu Haritsah binti Nu’man -putranya gugur di perang badar-ketika dia bertanya kepada beliau (tentang nasib putranya): “Di mana dia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya dia ada di surga Firdaus yang tinggi.” (HR. Al Bukhari) ---------------------- “Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada’ itu ada di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di ‘Arsy. Mereka bebas menikmati surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu. Kemudian Rabb mereka memperlihatkan diri kepada mereka dengan jelas, lalu bertanya: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bisa menikmati surga dengan sekehendak kami?” Rabb mereka bertanya seperti itu sebanyak tiga kali. Maka tatkala mereka merasa bahwasanya mereka harus minta sesuatu, mereka berkata, “Wahai Rabb kami! kami ingin ruh kami dikembalikan ke jasad-jasad kami sehingga kami dapat berperang di jalan-Mu sekali lagi. “Maka tatkala Dia melihat bahwasanya mereka tidak mempunyai keinginan lagi, mereka ditinggalkan.” (HR. Muslim) ---------------

June 6, 2016 Edy Gojira 5

Rasul bersabda; "..... TIDAK SHADAQAH dan TIDAK JIHAD? Dengan apa [...]