BerCANDA …. ala Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ……………………………… sebagai manusia biasa, kadang kala rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati dan membuat mereka gembira. namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasannya. bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. begitu pula, meski dalam keadaan bercanda beliau tidak berkata kecuali yang benar. ————————- Hidup terasa hambar dan datar tanpa humor dan canda bagaikan masakan tanpa garam. Namun hanya dalam kadar kuantitas, kualitas dan penyajian tertentu akan menjadi penyedap kehidupan. Suatu kali Imam Al Ghazali melontarkan 6 pertanyaan kepada murid-muridnya yang hadir dalam majelis ta’limnya. Salah satunya adalah: Benda apa yang paling tajam di dunia ini?. Beragam jawaban muncul dari murid-murid beliau. Pisau, silet, sampai pedang. Imam Al Ghazali menanggapi jawaban murid-muridnya tersebut. “Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam. Tapi ada yang lebih tajam dari itu semua. Yaitu LIDAH”. ———————- Meskipun lidah tidak bertulang, namun memang lidah bisa lebih tajam dari apapun, karena dia bisa ‘merobek’ hati. Bahkan kadang lidah bisa membuat lubang menganga di hati lawan bicara yang mungkin perlu waktu lama untuk mengembalikannya ke kondisi semula. —————————– Dalam keseharian, kewajiban menjaga lidah ini tidak saja harus kita laksanakan baik di kala sedang bicara serius ataupun di kala bercanda. Point terakhir ini seringkali membuat kita tidak sadar telah melukai hati teman kita. Kata-kata yang kita maksudkan sebagai candaan, seringkali menusuk hati teman kita, bisa karena bercanda yang keterlaluan, bercanda di saat yang tidak tepat, dan sebagainya. Karena di saat bercanda, seringkali kita tidak memperhatikan bagaimana mood teman kita itu yang sebenarnya. ———————————-

canda rasul 1
BerCANDA …. ala Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
……………………..……….
sebagai manusia biasa, kadang kala rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati dan membuat mereka gembira. namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasannya. bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. begitu pula, meski dalam keadaan bercanda beliau tidak berkata kecuali yang benar.
————————-
Hidup terasa hambar dan datar tanpa humor dan canda bagaikan masakan tanpa garam. Namun hanya dalam kadar kuantitas, kualitas dan penyajian tertentu akan menjadi penyedap kehidupan. Suatu kali Imam Al Ghazali melontarkan 6 pertanyaan kepada murid-muridnya yang hadir dalam majelis ta’limnya. Salah satunya adalah: Benda apa yang paling tajam di dunia ini?. Beragam jawaban muncul dari murid-murid beliau. Pisau, silet, sampai pedang. Imam Al Ghazali menanggapi jawaban murid-muridnya tersebut. “Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam. Tapi ada yang lebih tajam dari itu semua. Yaitu LIDAH”.
———————-
Meskipun lidah tidak bertulang, namun memang lidah bisa lebih tajam dari apapun, karena dia bisa ‘merobek’ hati. Bahkan kadang lidah bisa membuat lubang menganga di hati lawan bicara yang mungkin perlu waktu lama untuk mengembalikannya ke kondisi semula.
—————————–
Dalam keseharian, kewajiban menjaga lidah ini tidak saja harus kita laksanakan baik di kala sedang bicara serius ataupun di kala bercanda. Point terakhir ini seringkali membuat kita tidak sadar telah melukai hati teman kita. Kata-kata yang kita maksudkan sebagai candaan, seringkali menusuk hati teman kita, bisa karena bercanda yang keterlaluan, bercanda di saat yang tidak tepat, dan sebagainya. Karena di saat bercanda, seringkali kita tidak memperhatikan bagaimana mood teman kita itu yang sebenarnya.
———————————–
Memang bercanda kadang diperlukan untuk memecahkan kebekuan suasana sebagaimana yang dikatakan Said bin Al-’Ash kepada anaknya. “Kurang bercanda dapat membuat orang yang ramah berpaling darimu. Sahabat-sahabat pun akan menjauhimu.” Namun canda juga bisa berdampak negatif, yaitu apabila canda dilakukan melampaui batas dan keluar dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Canda yang berlebihan juga dapat mematikan hati, mengurangi wibawa, dan dapat menimbulkan rasa dengki.

Allah Subhanahu wa ta’ala. berfirman, Artinya: “Dan sesungguhnya Dia-lah yang membuat orang tertawa dan menangis” [QS. An-Najm: 43]

Menurut Ibnu ‘Abbas, berdasarkan ayat ini, canda dengan sesuatu yang baik adalah mubah (boleh). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. pun sesekali juga bercanda, tetapi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. tidak pernah berkata kecuali yang benar. Imam Ibnu Hajar al-Asqalany menjelaskan ayat di atas bahwa Allah subhanahu wa ta’ala. telah menciptakan dalam diri manusia tertawa dan menangis. Karena itu silakanlah Anda tertawa dan menangis, namun tawa dan tangis kita harus sesuai dengan aturan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Mungkin sebagian orang merasa aneh dengan pernyataan tersebut dan mencoba mengingkarinya, seperti yang pernah terjadi pada seseorang yang mendatangi Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah. Orang itu berkata kepada Sufyan, “Canda adalah suatu keaiban (sesuatu yang harus diingkari).” Mendengar pernyataan itu Sufyan berkata, “Tidak demikian, justru canda sunnah hukumnya bagi orang yang membaguskan candanya dan menempatkan canda sesuai dengan situasi dan kondisi.”

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” [HR. Imam Ahmad]

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” [HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435]

Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” [HR. Al-Bukhari no. 6092 & Muslim no. 1497]

Berikut ini adalah kaidah fiqih terkait canda dan humor sebagai panduan agar canda dan humor bernilai dan berdampak positif dan tidak justru berdampak dan bernilai negatif seperti menimbulkan luka hati atau ketersinggungan orang lain.

1. Tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan gurauan. Firman Allah: “Dan jika kamu tanyakan mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” [QS. At-Taubah:65]

2. Jangan menjadikan kebohongan dan mengada-ada sebagai alat untuk menjadikan orang lain tertawa, seperti tren April Mop di masa sekarang ini. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi & Hakim]

3. Jangan mengandung penghinaan, meremehkan dan merendahkan orang lain, kecuali yang bersangkutan mengizinkannya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman..” [QS. al-Hujurat:11]. “Cukuplah keburukan bagi seseorang yang menghina saudaranya sesama muslim.” [HR. Muslim]

4. Tidak boleh menimbulkan kesedihan dan ketakutan terhadap orang muslim. Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak halal bagi seseorang menakut-nakuti sesama muslim lainnya.” [HR. Ath-Thabrani]. “Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang saudaranya, baik dengan maksud bermain-main maupun bersungguh-sungguh.” [HR. Tirmidzi]

5. Jangan bergurau untuk urusan yang serius dan jangan tertawa dalam urusan yang seharusnya menangis. Tiap-tiap sesuatu ada tempatnya, tiap-tiap kondisi ada (cara dan macam) perkataannya sendiri. Allah mencela orang-orang musyrik yang tertawa ketika mendengarkan Al-Qur’an padahal seharusnya mereka menangis, lalu firman-Nya: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkannya.” [QS. An-Najm:59-61]. Hendaklah gurauan itu dalam batas-batas yang diterima akal, sederhana dan seimbang, dapat diterima oleh fitrah yang sehat, diridhai akal yang lurus dan cocok dengan tata kehidupan masyarakat yang positif dan kreatif.

6. Islam tidak menyukai sifat berlebihan dan keterlaluan dalam segala hal, meskipun dalam urusan ibadah sekalipun. Dalam hal hiburan ini Rasulullah memberikan batasan dalam sabdanya; “Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi]. “Berilah humor dalam perkataan dengan ukuran seperti Anda memberi garam dalam makanan.” (Ali ra.). “Sederhanalah engkau dalam bergurau, karena berlebihan dalam bergurau itu dapat menghilangkan harga diri dan menyebabkan orang-orang bodoh berani kepadamu, tetapi meninggalkan bergurau akan menjadikan kakunya persahabatan dan sepinya pergaulan.” (Sa’id bin Ash).
……………………..……………
Humor dan Canda Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM
……………………..
berikut ini beberapa contohnya :
……………………..………………..
Aisya radhiyallahu anha berkata “aku belum pernah melihat rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tertawa ter bahak-bahak hingga kelihatan lidahnya. namun beliau hanya tersenyum.” (HR. bukhari, muslim)

Anas radhiyallahu anhu berkata “rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan ‘wahai pemilik dua telinga’.” (HR . ahmad, abu dawud)

Anas bin malik radhiyallahu anhu bercerita, “ada seorang pria dusun bernama zahir bin haram. rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat menyukainya, hanya saja tampang pria ini jelek. pada suatu hari, beliau menemui pria ini ketika ia sedang menjual barang dagangannya. tiba-tiba rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memeluk zahir bin haram sehingga ia tidak dapat melihat beliau. zahir bin haram pun berkata ‘lepaskan aku, siapakah ini ?’. setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. maka pria ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada rasulullah. rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lantas berkata ‘siapaka yang sudi membeli hamba sahaya ini ?’, lalu zahid berkata ‘demi allah subhanahu wa ta’ala. wahai rasulullah jika demikian, aku tidak akan laku dijual’. lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘justru disisi allah subhanahu wa ta’ala engkau sangat mahal harganya’.” (HR ahmad)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga sering kali menggoda aisya radhiyallahu anha. suatu kali beliau berkata kepadanya, “‘aku tau kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku ?’ aisya lalu berkata ‘darimana engkau tau ?’ rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘kalau engkau suka kepadaku, engkau akan mengatakan tidak, demi rabb muhammad. dan kalau engkau marah kepadaku, engkau akan mengatakan tidak, demi rabb ibrahim.’ lalu aisya berkata ‘benar demi allah subhanahu wa ta’ala tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.'” (muttafaqun alaihi)

Abu hurairah radhiyallahu anhu menceritakan “rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan al-hasan bin ali radhiyallahu anhu. ia pun meliat merah lidah rasulullah. lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (disarikan dari abu ihsan al-atsari/abu rafif)

diriwayatkan dari anas radhiyallahu anhu, bahwasannya ada seorang lelaki datang kepada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata “‘wahai rasulullah, bawalah aku ?’ maka rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘kami akan membawamu di atas anak onta’. laki-laki itu lalu berkata ‘apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta ?’ lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘bukankah onta yang melahirkan anak onta ?’ (HR abu dawud, tirmidzi)

Anas radhiyallahu anhu mengisahkan ummu sulaim radhiyallahu anha memiliki seorang putera yang bernama abu umair. rasulullah sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. pada suatu hari, beliau datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. mereka berkata “‘wahai rasulullah, burung peliaran kami yang biasa diajaknya main sudah mati’ lantas rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercanda dengannya, beliau berkata ‘wahai abu umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu ?'” (HR abu dawud)