Ibadah Tarawih adalah Sholat Malam --------------- Siapa yang sholat malam di bulan ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridho Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhori dan Muslim) ------------------------- Qiyamul Lail/Qiyam Ramadhan ------------------------- Ibadah Qiyamul Lail / Sholat malam adalah sholat yang dikerjakan setelah sholat isya’ hingga terbit fajar, baik shalat tersebut dikerjakan pada bulan ramadhan atau pada selainnya, demikian makna umumnya. Untuk sholat malam pada bulan ramadhan juga sering disebut dengan istilah Qiyam Ramadhan. --------------------- Dahulu, awal mulanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memulai untuk melaksanakan sholat malam pada malam-malam bulan ramadhan, berikut Aisyah ra bercerita seperti dalam riwayat Imam Al-Bukhari: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam pernah melaksankan shalat kemudian orang-orang shalat dengan shalatnya tersebut, kemudian beliau shalat pada malam selanjutnya dan orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau keempat dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, “Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat) bersama kalian kecuali aku khawatir bahwa shalat tersebut akan difardukan.” Rawi hadits berkata, “Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari). ---------------------- Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluarnya pada jauf al-lail (tengah malam), itu artinya kebiasaan sholat malam pada selain ramadhan juga dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada bulan ramadhan. Jadi shalat malam itu adalah nama umum untuk setiap sholat yang dikerjakan pada malam hari setelah sholat isya’ hingga terbit fajar. --------------------------- Ibadah Tarawih adalah Sholat Malam -------------------------- Sepertinya belum ada istilah tarawih pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karenanya dalam teks hadits diatas Aisyah memakai redaksi sholat secara umum, atau hadits-hadits tentang shalat di bulan ramadhan diungkap dengan redaksi Qiyam Ramadhan bukan dengan tarawih. ---------------------------- Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, ibadah malam dibulan ramadhan dilaksanakan sendiri-sendiri oleh para sahabat, sehingga datanglah masa Umar bin Khattab, dan beliau mengintruksikan agar ibadah malam yang sering dilakukan sendiri-sendiri itu dirubah menjadi berjamaah dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. ------------------- Sahabat Umar mengumpulkan jamaah shalat malam ramadhan dalam jumlah 20 rakaat, dimana pada setiap selesai empat rakaat (dua kali salam) mereka semua istirahat dari shalat dan melakukan thawaf, dan thawaf ini juga ibadah. Seperti inilah akhirnya yang dilakukan oleh penduduk Makkah kala itu, dan tidak terdengar ada sahabat yang menentang pendapat Umar ini. -------------------------- Istirahat dari setiap selesainya empat rakaat inilah yang dikenal dengan istilah tarwihah/istirahat, demikian Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menuliskan. Karena ada banyak tarwihah dalam shalat tersebut sehingga disebut dengan tarawih. Dari sinilah muncul istilah tarawih, dan shalat malam yang sering dikerjakan oleh ummat Islam setelah shalat isyak akhirnya disebut dengan Shalat Tarawih, selebihnya shalat ini juga disebut dengan shalat malam atau ia adalah bagian dari shalat malam. ------------ Firman Allah ta’ala: {يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4)} [المزمل / 1- 4]. Artinya: “Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. al-Muzzammil: 1-4).

Ibadah Tarawih adalah Sholat Malam
---------------

Siapa yang sholat malam di bulan ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridho Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhori dan Muslim)
-------------------------

Qiyamul Lail/Qiyam Ramadhan
-------------------------

Ibadah Qiyamul Lail / Sholat malam adalah sholat yang dikerjakan setelah sholat isya’ hingga terbit fajar, baik shalat tersebut dikerjakan pada bulan ramadhan atau pada selainnya, demikian makna umumnya. Untuk sholat malam pada bulan ramadhan juga sering disebut dengan istilah Qiyam Ramadhan.
---------------------

Dahulu, awal mulanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memulai untuk melaksanakan sholat malam pada malam-malam bulan ramadhan, berikut Aisyah ra bercerita seperti dalam riwayat Imam Al-Bukhari:

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam pernah melaksankan shalat kemudian orang-orang shalat dengan shalatnya tersebut, kemudian beliau shalat pada malam selanjutnya dan orang-orang yang mengikutinya tambah banyak kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau keempat dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Dan di pagi harinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, “Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (shalat) bersama kalian kecuali aku khawatir bahwa shalat tersebut akan difardukan.” Rawi hadits berkata, “Hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari).
----------------------

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluarnya pada jauf al-lail (tengah malam), itu artinya kebiasaan sholat malam pada selain ramadhan juga dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada bulan ramadhan. Jadi shalat malam itu adalah nama umum untuk setiap sholat yang dikerjakan pada malam hari setelah sholat isya’ hingga terbit fajar.
---------------------------

Ibadah Tarawih adalah Sholat Malam
--------------------------

Sepertinya belum ada istilah tarawih pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karenanya dalam teks hadits diatas Aisyah memakai redaksi sholat secara umum, atau hadits-hadits tentang shalat di bulan ramadhan diungkap dengan redaksi Qiyam Ramadhan bukan dengan tarawih.
----------------------------

Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, ibadah malam dibulan ramadhan dilaksanakan sendiri-sendiri oleh para sahabat, sehingga datanglah masa Umar bin Khattab, dan beliau mengintruksikan agar ibadah malam yang sering dilakukan sendiri-sendiri itu dirubah menjadi berjamaah dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab.
-------------------

Sahabat Umar mengumpulkan jamaah shalat malam ramadhan dalam jumlah 20 rakaat, dimana pada setiap selesai empat rakaat (dua kali salam) mereka semua istirahat dari shalat dan melakukan thawaf, dan thawaf ini juga ibadah. Seperti inilah akhirnya yang dilakukan oleh penduduk Makkah kala itu, dan tidak terdengar ada sahabat yang menentang pendapat Umar ini.
--------------------------

Istirahat dari setiap selesainya empat rakaat inilah yang dikenal dengan istilah tarwihah/istirahat, demikian Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menuliskan.  Karena ada banyak tarwihah dalam shalat tersebut sehingga disebut dengan tarawih. Dari sinilah muncul istilah tarawih, dan shalat malam yang sering dikerjakan oleh ummat Islam setelah shalat isyak akhirnya disebut dengan Shalat Tarawih, selebihnya shalat ini juga disebut dengan shalat malam atau ia adalah bagian dari shalat malam.

Mendengar bahwa penduduk Makkah melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat dan setiap jedah empat rakaat mereka melakasanakan thawaf, maka akhirnya di zaman Imam Malik penduduk madinah melakasanakan shalat tarawih dengan jumlah 36 rakaat, dengan mengganti setiap thawafnya penduduk Mekkah dengan 4 rakaat shalat tarawih.

Pada akhirnya jumlah 20 rakaat inilah yang menjadi pegangan mayoritas ulama fikih dalam banyak pendapat mereka, walaupun sebenarnya tidak ada pembatasan khusus dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terkait berapa rakaat seharusnya jumlah shalat tarawih.

Memang ada riwayat yang menjalaskan perihal shalat malamya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik dibulan ramadhan maupun dibulan lainnya yang tidak lebih dari 11 rakaat, seperti hadits Aisyah ra berikut ketika beliau ditanya bagaimana shalat malamnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

ما كان رسول الله يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة

Aisyah ra menjawab: “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah shalat malam melebihi 11 rakaat baik pada bulan ramadhan maupun pada bulan lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jumlah ini menurut Ibnu Taimiyah dan ulama lainnya tidaklah menjadi batas akhir, karenanya memungkinkan untuk melebihi jumlah tersebut. Apalagi sosok Umar bin Khattab yang tidak mungkin akan mengambil keputusan 20 rakaat  plus thawaf jika tanpa dalil dan penalaran yang matang tentang urusan beragama.

Kiranya apa yang dilakukan Umar bin Khattab ini janganlah dibenturkan dengan apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah lakukan, karenan urusan ini bukan hanya perkara teks dalil, tapi ini juga perkara dalam memahami teks/pendalilan, dan sahabat Umar adalah salah satu sahabat yang ahli dalam masalah analisis teks/pendalilan. Belum lagi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  berpesan agar juga berpegang dengan sunnah-sunnah Khalifah Ar-Rasyidun, dan Umar adalah salah satu dari mereka.

Shalat tarawih ini juga bisa dibagi dalam dua waktu, sebagian dikerjakan diawal waktu dan sebagiannya dikerjakan diakhir waktu, lalu kemudian ditutup dengan witir. Karena tarawih adalah shalat malam maka waktunya pun luas, selama fajar belum terbit masih boleh melaksanakan tarawih.

Tahajjud juga Shalat Malam

Berdasarkan arti dari tahajjud itu sendiri, maka shalat ini adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah bangun dari tidur malam. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”(QS. Al-Isra’ : 79).

Shalat ini juga bagian dari Qiyamul Lail/shalat malam, Al-Quran mengungkapkan:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً  نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) pada malam hari kecuali sedikit, yaitu setengahnya atau kurang dari itu sedikit”. (QS. Al-Muzzammil : 1-3)

Umumnya para ulama membolehkan untuk melaksanakan shalat tahajjud setelah shalat tarawih. Baik sendirian maupun berjamaah, di rumah maupun di masjid. Terlebih bahwa akhir malam adalah waktu yang paling baik untuk beribadah kepada Allah SWT dan berdoa.

Walaupun sebagian tetap menganjurkan untuk menyelesaikan shalat tarawih dan witir bersama imam di masjid, merujuk kepada keutamaannya yang disebutkan oleh Rasulullah bahwa:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

Siapa saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Tahajjud Setelah Witir

Sebenarnya ini permasalahan khilafiyah diantara para ulama, walaupun akan lebih aman jika dikerjakan sebelum shalat witir, namun dari beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga pernah melaksanakan shalat sunnah setelah witir, ini artinya bahwa walaupun sudah witir bersama imam di masjid, masih memungkinkan untuk tetap melaksanakan tahajjud atau shalat malam lainnya di rumah, tanpa harus ditutup dengan shalat witir lagi.

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

لا وتران في ليلة

“Tidak boleh melakukan dua kali witir dalam satu malam.” (HR. Ahmad, Nasai da Abu Daud)

Kebolehan untuk tetap melaksanakan tahajjud walaupun sudah melaksanakan witir didasarkan pada cerita Aisyah ra:

“Kemudian beliau bangun untuk melaksanakan rakaat kesembilan, hingga beliau dudu tasyahud, beliau memuji Allah dan berdoa. Lalu beliau salam agak keras, hingga kami mendengarnya. Kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi ketika menjalaskan hadits diatas menuliskan bahwa dua rakaat yang dikerjakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sambil duduk tersebut dilakukan setelah shalat witir, ini sebagai penjelas bahwa masih boleh shalat setelah witir, dan kebolehan shalat sunnah sambil duduk, walaupun yang demikian jarang dilakuakn oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jadi Kesimpulannya?

Dalam permasahan ini, penulis sepakat dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Dr. Ali jumuah:

الإنسان يجب وينبغي عليه أن يعبد ربه طاقته؛ يعني في حدود طاقته، وليس عليه أن يكلف نفسه ما لا تطيق.

Bahwa harusnya setiap kita berusaha untuk beribadah/menyembah Allah sesuai dengan batas kemampuannya, tanpa harus memaksakan apa yang sebenarnya tidak kuasa dilakukan.

Untuk itu, beliau melanjutkan:

ولذلك من صلى الثمانية ثم أوتر بثلاث؛ فلا بأس بها، ومن صلى العشرين وأوتر بثلاث؛ فلا بأس بذلك، ومن قام بعد ذلك بليل، فأراد أن يزيد صلاة التهجد؛ فلا بأس بذلك.

Bagi siapa yang mau melaksanakan shalat 8 rakaat dengan 3 witir silahkan, dan itu tidak ada masalahnya. Dan siapa yang ingin mengerjakan shalat dengan 20 rakaat dengan 3 witir itu juga tidak ada yang salah, lalu jika ada yang ingin menambah shalat lagi di malamnya, atau menambah dengan shalat tahajud itu juga tidak ada masalah.

Demikian bahwa perkara ini sangat longgar, hingga akhirnya yang terpenting bagi kita sekarang ini adalah sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan shalat malam di malam-malam bulan ramadhan tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas shalat yang dilakukan. Karena, “Siapa yang sholat malam di bulan ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridho Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”

LARANGAN atau PERBUATAN HARAM .... selama melakukan IBADAH PUASA ----------------------------------- LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA -------------------- من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له. “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai) ---------------------- Faedah Pembahasan : Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah. ---------------------- Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda: “Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim) ------------------- Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan. ------------------------ LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I ----------------------- Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.” ------------- Faedah Pembahasan : Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya. ---------------------------- Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan --------------------- Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa. ----------------------- Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali. ------------------------------- Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa -------------------- Syarat wajib Puasa ------------------- Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 : Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan . Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}. ------------ Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk. -----------------------

perkara batal puasa

LARANGAN atau PERBUATAN HARAM ....   selama melakukan IBADAH PUASA

-----------------------------------
LARANGAN BERPUASA TANPA DIAWALI DENGAN NIAT DI MALAM HARINYA
--------------------

من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له.

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasaai)
----------------------

Faedah Pembahasan :

  1. Berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar merupakan syarat puasa.
  2. Berniat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, qadha puasa, puasa kafarat, dan nadzar, selain puasa sunnah.

----------------------
Dahulu Rasulullah datang kepada Aisyah di saat selain bulan Ramadhan, kemudian bersabda:

“Apakah kamu mempunyai makanan? Kalau tidak ada maka saya akan berpuasa.” (HR. Muslim)
-------------------

  1. Memperbaharui niat setiap hari hukumnya mustahab.
  2. Niat tempatnya di hati, melafadzkannya merupakan bentuk kebid’ahan yang sesat mesti manusia memandangnya suatu kebaikan.
    ------------------------
    LARANGAN MEMBATALKAN PUASA DENGAN SENGAJA TANPA SEBAB SYAR’I
    -----------------------

Dari Abu Umamah al-Bahili, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:” Ketika aku sedang tidur, datang dua orang lelaki, mereka memegang tanganku kemudian membawaku ke gunung yang susah dilalui, kemudian keduanya berkata: Naiklah! Maka aku katakana:AKu tidak mampu menaikinya. Lalu keduanya berkata: Kami akan memudahkannya bagimu. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung itu, tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: Suara apakah ini? Mereka menjawab: ini adalah lolongan (teriakan) penghuni neraka. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat di atas tumit mereka, robek-robek rahang mereka, darah mengucur dari rahang-rahang mereka. Beliau berkata: Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesai puasanya.”
-------------

Faedah Pembahasan :

  1. Diharamkan berbuka puasa dengan apapun di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i.
  2. Membatalkan puasa Ramadhan dengan sengaja tidaklah diampuni kecuali dengan taubat nasuha dan dengan memperbanyak amalan ibadah sunnah lainnya.

----------------------------

Puasa ; Syarat, Rukun, Dan Yang Membatalkan

 ---------------------

Berbicara soal Puasa langsung terbayang di benak kita yaitu menahan lapar dan haus dari mulai waktu Imsak setelah sahur hingga bedug Maghrib berbunyi. Tidak salah memang karena itulah yang paling mudah diingat tentang puasa.
-----------------------

Namun, kalau ditelaah lebih dalam lagi, akan diketahui bahwa puasa tidaklah cukup sebatas ungkapan tersebut di atas. Ada tata cara pokok dan penting sesuai yang telah diatur oleh syari’at dan harus dipatuhi agar ibadah puasa benar-benar menjadi sah. Tata cara itu meliputi syarat, rukun serta larangan melakukan hal-hal yang membatalkan. Juga ada berbagai aturan yang yang bersifat batiniyyah yang harus diperhatikan agar puasa yang dilakukan tidak menjadi sia – sia atau tidak mendapat fadhilah sama sekali.
-------------------------------

Berikut adalah syarat, rukun serta beberapa larangan bagi orang yang berpuasa
--------------------

Syarat wajib Puasa
-------------------

Pengertian syarat adalah perkara yang wajib dipenuhi dan berlaku terus menerus. Dalam kaitannya dengan, syarat wajib adalah perkara yang wajib dipenuhi sejak sebelum melaksanakan puasa hingga selesainya puasa (saat berbuka). Jumlahnya ada 4 :

  1. Islam, baligh (dewasa), Hanya yang beragama Islam yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan.
  2. Berakal, bagi orang gila, penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan .
  3. Mampu secara fisik, Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau dikarenakan memang benar-benar lemah fisik (dalam arti, apabila dipaksakan berpuasa bisa timbul risiko yang sangat besar seperti sakit parah atau menimbulkan kematian), maka tidak diwajibkan melaksanakan puasa.
  4. Suci dari haid dan nifas, Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa . Akan tetapi dia wajib untuk qodlo’ atau mengganti puasa dikemudian hari {pada puasa WAJIB di bulan Ramadhan}.

------------
Sedangkan syarat sah puasa Ramadhan atau yang membuat puasa menjadi sah adalah ke empat hal di atas ditambah satu yaitu Mumayyiz atau sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk.

-----------------------
Rukun puasa Ramadhan

Rukun puasa adalah teknis yang harus dilaksanakan bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan tidak boleh ditinggal sama sekali.

  1. Niat pada waktu malam hari. Sekali lagi, niat puasa Ramadhan wajib dilakukan pada malam hari. Kalau meninggalkan niat pada malam hari entah karena lupa atau sengaja maka puasanya tidak dibilang sah dan wajib mengulangnya setelah Ramadhan usai.
  2. Imsak yaitu menahan diri dan meninggalkan hal-hal yang bisa membatalkan puasa dari mulai waktu fajar hingga terbenamnya matahari atau Maghrib.

Larangan atau hal yang membatalkan puasa

Disamping syarat dan rukun harus dipenuhi, ada hal-hal yang harus ditinggalkan bagi orang yang berpuasa, karena bila dilakukan, maka puasanya menjadi batal. Dan larangan ini berlaku juga untuk puasa – puasa selain puasa Ramadhan

  1. Makan dan minum dengan sengaja walaupun sedikit. Kalau makan dan minumnya dalam keadaan lupa maka puasanya tetap sah dengan syarat begitu teringat bahwa dia sedang puasa dia tidak meneruskan makan atau minum.
  2. Melakukan hubungan suami istri dengan sengaja. Kalau melakukannya dalam keadaan lupa maka tidak membatalkan puasa dengan syarat begitu teringat bahwa dia sedang puasa dia tidak meneruskan lagi. Mungkinkah melakukan hubungan suami istri dalam keadaan lupa…?
  3. Muntah-muntah dengan sengaja. Termasuk kategori sengaja yaitu ceroboh. Contoh: sudah jadi kebiasaan kalau naik bis pasti mabuk dan muntah. Kok kemudian dia naik bis dan akhirnya muntah maka puasanya batal.
  4. Memasukkan suatu benda kedalam bagian tubuh yang berlubang secara sengaja seperti hidung, kedua telinga, mulut, qubul dan dubur pria maupun wanita, lubang pembuangan atau dubur. Termasuk kategori sengaja yaitu ceroboh. Contoh: sudah menjadi kebiasaan kalau berenang pasti ada air yang masuk ke telinga atau hidung atau mulut. Kok kemudian dia berenang dan telinga, hidung atau mulutnya benar – benar kemasukan air maka puasanya menjadi batal.
  5. Memasukkan obat melalui dubur.
  6. Mengeluarkan sperma atau air mani dengan sengaja seperti onani dan masturbasi. Kalau keluarnya sperma dikarenakan mimpi basah maka tidak membatalkan puasa karena tidak ada unsur kesengajaan.
  7. Keluar darah haid atau nifas bagi wanita.
  8. Hilang akal karena gila, epilepsi.
  9. Murtad yaitu keluar dari agama Islam baik secara ucapan, tindakan ataupun batin.

Itulah keterangan ringkas tentang hal-hal teknis yang wajib dipenuhi dan dipatuhi bagi orang yang menjalankan puasa khususnya puasa bulan Ramadhan.
=======================
tambahan .... seputar  PUASA
---------------

Mencium istri adalah bagian dari kasih sayang, cinta, dan perhatian seorang suami. Kebiasan mencium istri pada saat-saat tertentu, terutama saat akan meninggalkannya untuk keperluan apa saja, termasuk pergi kerja pada dasarnya hukumnya adalah ibahah (boleh), bahkan sangat dianjurkan untuk merawat dan memupuk rasa cinta. Perbuatan itu malah bernilai ibadah jika diniatkan untuk memenuhi ketentuan Allah:

“Dan pergaulilah isteri-isterimu dengan ma’ruf (dengan baik).” (an-Nisa’ [4]: 17).

Salah satu cara melakukan mu’asyarah bil ma’ruf adalah mencium. Karenanya, kebiasaan Anda mencium istri tidak salah dan dibenarkan syariah, bahkan bisa mendatangkan dua keuntungan sekaligus, yaitu kenikmatan dunia dan pahala akhirat.

Kebiasaan mencium istri juga dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), bahkan di bulan Ramadhan. Dalam hal ini, istri beliau sendiri, ‘Aisyah yang menjelaskan: “Rasulullah SAW mencium dan menyentuhnya dalam keadaan puasa.” (Riwayat Muslim). Dalam riwayat yang lain disebutkan,“Beliau menciumnya pada bulan Ramadhan dan beliau sedang berpuasa.”

Dari istri yang lain, Umi Salamah RA meriwayatkan: “Nabi SAW mencium istrinya dalam keadaan berpuasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Umar bin Abi Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW, bolehkah orang yang sedang berpuasa mencium? “Tanya saja pada orang ini (sambil menunjuk Umi Salamah),” jawab Rasulullah SAW. Kemudian Umi Salamah memberitahu bahwa Rasulullah SAW melakukannya. Lalu Umar bin Abi Salamah berkata: “Dosamu telah diampuni, baik yang lalu maupun yang akan datang.” Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, akulah orang yang paling bertakwa dan takut kepada-Nya.” (Riwayat Muslim).

Atas dasar beberapa Hadits di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa mencium istri di siang hari di bulan Ramadhan itu boleh dan tidak ada halangan untuk melakukannya. Tetapi sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa jika mencium itu dilakukan dengan disertai syahwat, maka hukumnya menjadi makruh karena esensi puasa itu salah satunya adalah menahan syahwat.

Ulama yang kedua itu menguatkan pendapatnya, bahwa Nabi ketika mencium istrinya di bulan Ramadhan tidak disertai syahwat. Bukankah Nabi adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya? Yang demikian itu sulit dilakukan manusia biasa, seperti kita.

Dari penjelasan di atas, kami menyarankan kepada Anda untuk menahan diri agar tidak mencium istri di bulan Ramadhan, karena dikhawatirkan ketika mencium dapat merangsang syahwat dan menimbulkan keinginan untuk melakukan hubungan suami istri yang sangat dilarang dilakukan pada siang hari di bulan Ramadhan. Apalagi Anda termasuk pasangan baru yang kemungkinan terjadinya hal tersebut sangat besar.
========================

Hubungan Intim Selama Puasa

Hubungan Intim Selama Bulan Puasa – Sebelum kita bahas hal apa yang boleh maupun tidak boleh yang dilakukan pasutri selama bulan ramadhan ada baiknya kita pahami terlebih dahulu dasar hukumnya hubungan Intim selama bulan puasa raamadhan, karena yang akan kita bahas berkaitan erat dengan masalah ibadah yang diwajibkan untuk ummat Islam yang telah balig dan tidak ada halangan padanya:

Dasar Hukum, Firman ALLOH SWT dalam Al Quran: surah al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”. (QS:al-Baqarah ayat 187).

Dari penjelasan di atas sudah jelas tidak ada pantangan bagi pasangan suami isteri untuk tetap melakukan ritual hubungan intim selama bulan puasa ramadhan, namun hal yang patut untuk dipahami hanyalah kapan waktu yang tepat ritual hubungan intim itu dilakukan.

Tips waktu yang tepat hubungan intim selama bulan puasa

Hubungan intim adalah bagian dari nafsu syahwat manusia yang tetap wajib untuk disalurkan dan tetap halal dilakukan selama bulan puasa mengikuti aturan waktu layaknya kita menahan makan dan minum yang diawali saat imsyak dan berbuka pada saat memasuki waktu magrib. Hanya masalah waktu saja yang membedakan saat hubungan intim boleh dilakukan. Bagi anda pasangan suami isteri yang dalam rutinitas keseharian memiliki waktu khusus yang telah menjadi kesepakan bersama dalam hal hubungan intim yang pada rentang waktu larangan selama ibadah bulan puasa ramadhan tentu wajib hukumnya untuk merubah kebiasaan tersebut, misalnya ada kebiasaan make love pada pagi hari, siang hari atau sore hari tentunya harus menggeser waktu kebiasaan make love tersebut selama bulan puasa ramadhan menjadi waktu yang dibolehkan atau dihalalkan yaitu lepas magrib hingga waktu sahur.

Menahan nafsu syahwat selama bulan puasa ramadhan dengan tidak melakukan hubungan intim sama sekali justru merupakan hal yang tidak bijak dan akan memperberat ibadah puasa yang anda lakukan, dan bukan tidak mungkin kualitas puasa yang kita lakukan menjadi terganggu oleh pikiran dan dorongan nafsu biologis yang tidak bisa anda salurkan.

Ditinjau dari sisi kesehatan hubungan intim memerlukan energi yang cukup dan sebaiknya minimal 1-2 setelah makan dimana metabolisme tubuh sudah bisa menghasilkan energi dari asupan makanan yang diserap oleh tubuh. Bila berkaitan dengan waktu selama bulan puasa sebaiknya anda atur 2-3 jam setelah berbuka atau selepas tarawih.

Hubungan intim selama bulan puasa ramadhan dengan pilihan waktu yang tepat dan dihalalkan justru akan menambah khusuk ibadah puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh.

berbagai sumber
wallahua'lam