Loading
Sejarah | EP Artikel-Edy Gojira - Part 2

sangat JELAS sekali ....BUNGA BANK ADALAH RIBA ..... dalam Islam ---------------------------------- Sabda Rasululullah SAW, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai). ---------------------- Pengantar-------------- Dalam kehidupan kaum Muslimin yang semakin sulit ini, memang ada yang tidak memperduli­kan lagi masalah halal dan haramnya bunga bank. Bahkan ada pendapat yang terang-terangan menghalalkannya. Ini dikarenakan keterlibatan kaum Muslimin dalam sistem kehidupan Sekularisme-Kapital­isme Barat serta sistem Sosialisme-Atheisme. Bagi yang masih berpegang teguh kepada hukum Syariat Islam, maka berusaha agar kehidupannya berdiri di atas keadaan yang bersih dan halal. Namun karena umat pada masa sekarang adalah umat yang lemah, bodoh, dan tidak mampu membeda-bedakan antara satu pendapat dengan pendapat lain­nya, maka mereka saat ini menjadi golongan yang paling bingung, diombang-ambing oleh berbagai pendapat dan pemikiran. ------------------------- Dalam tulisan yang singkat ini, ada beberapa aspek yang ingin diketengahkan tentang seputar masalah riba : ................... -------------- Pertama, bunga riba dalam tinjauan sejarah. Akan dijelaskan secara singkat peran Bani Israil dan tingkah laku mereka dalam masalah riba. -------------------- Kedua, diketengahkan kela­kuan orang-orang Yahudi dalam mengubah syariatnya sendiri (Hukum Allah SWT). Secara singkat akan dipaparkan peran kaum Yahudi dalam menghalalkan riba. ---------------- Ketiga, masih dalam kerangka tingkah laku kaum Yahudi, diceritakan juga serba sedikit usaha-usaha mereka dalam membangun jaringan kehi­dupan dalam bidang ekonomi dan keuangan dunia, khususnya dalam bidang moneter dan perbankan. ----------------------- Keempat, mengetengah­kan bagaimana bank pada awalnya berdiri, serta keterlibat­an umat Islam Indonesia dalam masalah perbankan pada deka­de awal abad XX sampai sekarang. --------------------- Kelima, mengetengahkan usaha-usaha para tokoh masyarakat Islam (intelektual dan kaum modernis) dalam menghalalkan riba (bunga) bank. -------------------- Keenam, mengetengahkan hukum riba yang tetap haram sampai Hari Kiamat. --------------------------- Riba dan Yahudi dalam Tinjauan Sejarah ----------------------- Sejak dahulu, Allah SWT telah mengharamkan riba. Keharamannya adalah abadi dan tidak boleh diubah sampai Hari Kiamat. Bahkan hukum ini telah ditegaskan dalam sya­riat Nabi Musa as, Isa as, sampai pada masa Nabi Muhammad saw. Tentang hal tersebut, Al Qur-aan telah mengabarkan tentang tingkah laku kaum Yahudi yang dihukum Allah SWT akibat tindakan kejam dan amoral mereka, termasuk di da­lamnya perbuatan memakan harta riba. ------------------------------ Firman Allah SWT: “….disebabkan oleh kezhaliman orang-orang Yahudi, maka Kami telah haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka; dan (juga) karena mereka banyak menghalangi (manu­sia) dari jalan Allah; serta disebabkan mereka memakan riba. Padahal sesungguhnya mereka telah dilarang memakan­nya, dan mereka memakan harta dengan jalan yang bathil (seperti memakan uang sogok, merampas harta orang yang lemah. Kemudian) Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS An Nisaa’ : 160-161). ----------------------------- Dalam sejarahnya, orang Yahudi adalah kaum yang sejak dahulu berusaha dengan segala cara menghalangi manusia untuk tidak melaksana­kan syariat Allah SWT. Mereka membu­nuh para nabi, berusaha mengubah bentuk dan isi Taurat dan Injil, serta menghalalkan apa saja yang telah diharamkan Allah SWT, misalnya menghalalkan hubungan seksual antara anak dengan ayah, membolehkan adanya praktek sihir, meng­halalkan riba sehingga terkenallah dari dahulu sampai sekarang bahwa antara Yahudi dengan perbuatan riba adalah susah dipisahkan. -------------------- Tentang eratnya antara riba dengan gerak kehidupan kaum Yahudi, kita dapat mengetahuinya di dalam kitab suci mereka: “Jikalau kamu memberikan pinjaman uang kepada umatku, yaitu kepada orang-orang miskin yang ada di antara kamu, maka janganlah kamu menjadikan baginya sebagai orang pena­gih hutang yang keras, dan janganlah mengambil bunga dari­padanya” (Keluaran, 22:25). ------------------------- Dalam kitab Imamat (orang Lewi), tersebut pula la­rangan yang senada. Pada kitab tersebut disebutkan agar orang-orang Yahudi tidak mengambil riba dari kalangan kaum­nya sendiri: ............... “Maka jikalau saudaramu telah menjadi miskin dan tangannya gemetar besertamu ….., maka janganlah kamu mengambil daripadanya bunga dan laba yang terlalu (be­sar)…… jangan kamu memberikan uangmu kepadanya dengan memakai bunga …..” (Imamat 35-37). ------------------------- Jelaslah di dalam ayat-ayat tersebut bahwa orang-orang Yahudi telah dila­rang memakan riba (bunga). Namun dalam kenyataannya, mereka membangkang dan mengabaikan larangan tersebut. Mengapa mereka demikian berani melang­gar ketentuan hukum Taurat itu? Dalam hal ini, Buya Hamka (alm) mengutip dari buku Taurat pada kitab Ulangan pasal 23 ayat 20 : ----------------------------------

August 5, 2016 Edy Gojira 0

sangat JELAS sekali ....BUNGA BANK ADALAH RIBA ..... dalam Islam [...]

perang MUSLIM ....melawan PERSIA {Qadisia war} ------------------------------------------------------------ Perang Qadisia adalah salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Islam. Sebuah perang yang penting dan menentukan dalam penaklukan imperium Persia, negara adidaya saat itu selain imperium Romawi Byzantium. Peristiwa monumental tersebut menurut beberapa ahli sejarah terjadi pd tahun 14 H/637 M, pada masa khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu. ------------------------------ Al-Qadisiyyah, Kadisiah atau Qadisia merupakan sebuah daerah di timur sungai Eufrat. Memiliki banyak kebun kurma dan aliran irigasi. Qadisia merupakan pintu gerbang Persia masa lampau. Saat ini terletak di barat daya Hillah & Kufah, wilayah tengah negara Irak sekarang ini. Pada tahun 634 M, Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu menjadi khalifah menggantikan Abu Bakr radhiyallahu’anhu yang wafat. --------------------------------------- Tahun 636 M, sebagian Syam (sekitar Syiria) sudah dibebaskan dari Romawi, sebagian Mesopotamia (Irak) dibebaskan dari Persia.Setelah pembebasan Damsyik/Damaskus dan Yordania, maka Umar lalu menargetkan ibukota Persia, Mada’in/Ctesiphon. Umar menganggap bila Mada’in, Hims, Antiokia dan seluruh Syam & Irak tidak dikuasai, maka Romawi & Persia akan terus jadi ancaman. --------------------------- Umar lalu mengirim surat kepada para wakilnya di kota-kota kecil dan kabilah-kabilah di semenanjung Arab. “Pilih dan kirimkan kepadaku semua yang memiliki senjata dan kuda, serta keberanian dan kearifan. Cepat! Cepat!”. ”Akan aku hantam raja-raja Persia itu dengan raja-raja Arab!” . Sebenarnya khalifah ingin memimpin sendiri pasukan dalam ekspedisi militer teramat penting ini. ---------------------- Namun para sahabat senior berpendapat lain, karena terlalu besar “pertaruhannya”. Musuh yang akan dihadapi bukan main-main. Bila pasukan yang dipimpin khalifah kalah, maka efeknya akan sangat buruk. Akhirnya melalui perundingan Khalifah Umar dengan para sahabat senior, ditunjuklah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu radhiyallahu’anhu, sebagai panglima. --------------------- Sa’ad adalah salah seorang sahabat Rasul shalallahu’alihi wasalam yang utama. 1 dari 10 orang yang dijanjikan surga. Setelah itu terkumpul 4.000 prajurit di Madinah dengan membawa isteri dan anak-anak mereka. Pasukan ini pun berangkat menuju Qadisia. Sementara pasukan ini berangkat, mobilisasi terus berjalan sampai terkumpul 36.000 prajurit. ---------------------

June 7, 2016 Edy Gojira 3

perang MUSLIM ....melawan PERSIA {Qadisia war} ------------------------------------------------------------ Perang Qadisia adalah [...]

1 2