AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!?? …. sudah tahu AZAB dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah ——————- Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman). —————- Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.” {HR Imran bin Husain r.a} —————– Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah) ———— Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya. ———– Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.” —————- Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan. ———— sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah. Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa : 1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama? 2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah. 3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi. 4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta 5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar. 6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar. 7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan. 8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah. Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi : إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari). ————– sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah). ——— Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ? ————— ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya : 1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86). 2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51) 3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57) 4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104) berbagai sumber

minta bayar dakwah

AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!??  …. sudah tahu AZAB  dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah
——————-
Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman).
—————-
Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.”  {HR Imran bin Husain r.a}
—————–
Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)
————
Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya.
———–
Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.”
—————-
Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”.
Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan.
————
sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah.
Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa :
1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama?
2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah.
3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi.
4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta
5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar.
6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar.
7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan.
8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi :
إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ
Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari).
————–
sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
———
Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ?
—————
ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya :
1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86).
2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51)
3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57)
4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104)

berbagai sumber

UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ————————— ———— Kaya dan Miskin ————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————- ———– Hasad dan Ghittoh ———- Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—– Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———– Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————– Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——- Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———– Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———- Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——– Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————- ————- Definisi Fitnah —————— Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.———— Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————– Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——- ————- Sumber Fitnah —————— Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ——— Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————- Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ———— Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). ————— —————- Bahagia itu Sederhana —————- Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———- Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).—————— Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.————— Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————- Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————- ———— Ujian Hidup ———- Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————– Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————- Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————- Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————- Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————- Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————– Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————– Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. —— ———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————- Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———– Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————– Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————- ———– Kesejahteraan itu Perlu ———————– Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).—————— Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.————— Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.————— Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.————— Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.————— Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu. ———————– Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ———— Allâh Ta’ala berfirman:———- Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——– Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————- “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———- ——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———– Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.———— Allâh Ta’ala berfirman:———– Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—- Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——– “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————- Allâh Ta’ala berfirman:———– “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——– Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—– “Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———– —- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———– Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.———— Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:— Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———– “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—– Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.—— Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———– Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———- “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————- Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).————— Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——– ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———– Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]——— ————- HIKMAH COBAAN ——– Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.—— Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————– Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————- “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——- Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]——-

ujian hidup muslim

UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah
—————————
———— Kaya dan Miskin ————-

Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —–

Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.—————

Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——–

Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———–

————– Empat Jenis Manusia —————–

 Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —-

  1. Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—-
  2. Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—–
  3. Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———-
  4. Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————-

———– Hasad dan Ghittoh ———-
Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—–

Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———–

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————–

Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——-

Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———–

Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———-

Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——–

Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————-

————- Definisi Fitnah ——————

Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.————

Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————–

Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——-

————- Sumber Fitnah ——————

Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ———

Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————-

Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ————

Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). —————

—————- Bahagia itu Sederhana —————-

Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———-

Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).——————

Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.—————

Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————-

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————-

Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————-

———— Ujian Hidup ———-

Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————–

Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————-

Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————-

Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————-

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————-

Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————–

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————–

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ——

———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————-

Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———–

Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————–

Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————-

———– Kesejahteraan itu Perlu ———————–

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).——————

Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.—————

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.—————

Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.—————

Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.—————

Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu.

———————–
Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ————

Allâh Ta’ala berfirman:———-

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——–

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————-

“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———-

——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———–

Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.————

Allâh Ta’ala berfirman:———–

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—-

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——–

“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————-

Allâh Ta’ala berfirman:———–

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——–

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—–

“Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———–

—- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———–

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.————

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:—

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————-

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———–

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—–

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.——

Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———–

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———-

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————-

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).—————

Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——–

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———–

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]———

————- HIKMAH COBAAN ——–

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.——

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————–

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————-

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——-

Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]————

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

1.

Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala[9].———-

2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :——-“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]——–
3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :———–”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]—

 

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullâh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allâh Ta’ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:

“Dan Allâh Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullâh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allâh Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullâh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).

Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[14]

 

[1]

Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).

[2] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).
[3] Kitab Al-Fawâ-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)
[4] Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi).
[5] Tafsîr Ibnu Katsîr (8/137)
[6] Ighâtsatul Lahfân (hal 421-422 – Mawâridul Amân)
[7] HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)

Allah menciptakan berPASANGAN, termasuk TAKDIR Allah yang BAIK atau pun yang BURUK adalah rukun Iman yang ke 6. ———————- Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. ———————— Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim) —————- Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————– “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———- “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]——— Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————- —-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——– Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.—— Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———– Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————- Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————– Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]———— Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——- Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——- ”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————- Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz——— Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]—————— Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.——— Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——– “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———- Allah Maha Berkehendak——————– Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———- ”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———– Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————- Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]————— Mendekat Kepada Allah————- Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.———— Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————- Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]——— Berserah diri Kepada Allah——————- Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———– Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——- “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]——— Menerima Ketetapan/Takdir Allah————– Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————- Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——– Jangan Putus Asa!————— Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——– Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————– Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————- Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]———— Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]——— Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.———— Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————- Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—– ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,— (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———- Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———- ”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———– Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———- Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——– sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———– ”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————- Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita——— Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——– ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———- ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]——— “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——- ———Berusaha Mencari Karunia Allah——- Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.———— ”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——- Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————– ========= Allah Maha Tahu =========== Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan———— Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)————— Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:— Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)—————— Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————– Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—-

rukun iman percaya takdir

Allah menciptakan berPASANGAN, termasuk  TAKDIR Allah yang BAIK atau pun yang BURUK adalah rukun Iman yang ke 6.
———————-
Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir.

————————

Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim) —————-

Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————–

“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———-

“Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]———

Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————-

—-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——–

Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.——

Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———–

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————-

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————–

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]————

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——-

Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——-

”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————-

Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz———

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]——————

Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.———

Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——–

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———-

Allah Maha Berkehendak——————–

Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———-

”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———–

Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————-

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]—————

Mendekat Kepada Allah————-

Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.————

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————-

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]———

Berserah diri Kepada Allah——————-

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———–

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——-

“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]———

Menerima Ketetapan/Takdir Allah————–

Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————-

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——–

Jangan Putus Asa!—————

Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——–

Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————–

Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————-

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]————

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]———

Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.————

Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————-

Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—–

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,—

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———-

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———-

”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———–

Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———-

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——–

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———–

”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————-

Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita———

Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——–

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———-

”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]———

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——-

———Berusaha Mencari Karunia Allah——-

Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.————

”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——-

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————–

========= Allah Maha Tahu ===========

Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan————

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:

Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)—————

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:—

Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)——————

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————–

Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—-
==========================

Qadha’ dan Takdir dari Sisi Kehendak Allah Swt.

=============================
Qadha’ dan takdir dari sisi kehendak Allah Swt. terbagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama, kehendak yang telah tertuang di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sesungguhnya kalimat Syâ-a, Yasyâ-u, Masyî-atan mempunyai makna kehendak, dan redaksi ini banyak disebutkan melalui firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Adapun hubungan kata kehendak Allah Swt. dengan takdir sangatlah erat kaitannya.

Sesungguhnya kehendak Allah Swt. adalah asal mula terjadinya atau timbulnya segala sesuatu. Ayat Al-Qur’an banyak menyebutkan hakikat tersebut di dalam beberapa firman Allah Swt. berikut ini, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok pagi, kecuali –dengan menyebut– insya Allah.[1] Dan segera ingatlah kepada Rabbmu jika engkau lupa, lalu katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini,’” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, siapa saja yang berencana melakukan sesuatu esok hari, maka janganlah ia hanya mengandalkan keinginannya saja tanpa bersandar kepada kekuatan dan izin dari sisi Allah. Sebab, kita semua tidak dapat berbuat sesuatu apa pun jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, setiap orang harus mengerti bahwa segala sesuatu yang dikehendakinya sangat erat hubungannya dengan ketetapan Allah Swt.. Sehubungan dengan masalah ini, Rasulullah Saw. pernah mengajarkan kepada kita, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau berikut ini, “Abu Hurairah ra. menuturkan, Sulaiman bin Daud as. pernah mengatakan, ‘Pada malam ini aku akan menggauli seratus orang istriku, agar setiap orang di antara mereka melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah.’ Malaikat pun berujar kepada beliau, ‘Katakanlah Insya Allah.’ Akan tetapi, Nabi Sulaiman tidak mengatakannya, karena beliau terlupa. Maka beliau menggauli seratus orang istri beliau satu per satu pada malam itu, akan tetapi tidak seorang pun dari istri beliau yang berhasil melahirkan keturunan, kecuali seorang istri yang melahirkan seorang anak dalam kondisi cacat. Nabi Saw. pun mengatakan, ‘Andaikata beliau (Sulaiman) mengucapkan kalimat Insya Allah, maka apa yang ia rencanakan (kehendaki) akan terpenuhi.”[2]

Penjelasan dari hadis tersebut adalah, hendaknya setiap orang yang bersungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, maka selayaknya ia menyandarkan keinginannya hanya kepada Allah Swt. semata. Karena, ia tidak bisa melakukan segala sesuatu jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Apabila keinginan seseorang tidak mendapat izin dari Allah Swt., maka keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud sedikit pun, meski yang dikehendakinya itu sangatlah mudah dalam pandangan manusia.

Jika kita melihat segala kejadian yang berhubungan dengan takdir, maka kita akan yakin bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu apa pun, kecuali jika dikehendaki oleh Allah Swt.. Bahkan adakalanya kita telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, dan kita yakin bahwa kita dapat melaksanakannya dengan baik, akan tetapi akhirnya kita melihat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak kita itu. Meski, jika kita telah memperhitungkan secara teliti, namun kehendak Allah Swt. bertentangan dengan kita, maksudnya jika Allah tidak berkehendak bahwa sesuatu yang kita kehendaki itu akan terwujud, maka yang kita kehendaki itu tidak akan pernah terwujud, meskipun segala persyaratannya telah kita penuhi. Hal ini telah dijelaskan melalui firman Allah Swt. berikut ini, “Dan engkau tidak mampu menempuh jalan itu, kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (QS Al-Insân [76]: 30).

Apa pun yang tidak dikehendaki oleh Allah Swt., meskipun kita telah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, pasti tidak akan pernah mungkin terwujud. Akan tetapi, adakalanya dengan kasih sayang yang serba Maha Allah Swt. mengabulkan atau mewujudkan sesuatu yang dihendaki seseorang, dimana Allah menganggap kehendak orang tersebut sebagai do’a, dan kehendak Allah sebagai pengabulan atasnya. Sehingga kehendak Allah Swt. pasti bertepatan dengan kehendak manusia.

Kesimpulannya, kehendak Allah Swt. akan terlihat di semua sektor kehidupan, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah berikut ini, “Para Rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata secara langsung dengannya, dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam beberapa mukjizat, serta Kami perkuat ia dengan Ruh al-Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah para Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman, dan ada pula di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya,‛ (QS Al-Baqarah [2]: 253).

Andaikan tidak ada kehendak Allah Swt. dalam segala sesuatu, pasti kita tidak dapat mengerjakan atau mewujudkan sesuatu, meskipun kita telah bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Misalnya, kalau Allah Swt. tidak menghendaki kita berperang, tentu kita tidak akan pernah berperang, dan tidak akan pernah ada berjihad di jalan-Nya. Sebab, kehendak kita terkait erat dengan kehendak Allah Swt.. Apa pun yang telah dikehendaki oleh Allah Swt., maka pasti akan terwujud, dan Allah tidak mungkin ditanya tentang apa yang Dia lakukan, serta Dia tidak akan meminta pendapat dari siapa pun untuk melakukan kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, pasti Dia akan melakukan. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini, “Apa yang dihendaki oleh Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dihendaki oleh Allah, maka tidak akan terjadi.”[3]

Hadis di atas menyimpulkan, bahwa kehendak Allah Swt. pasti akan terwujud, dan apa pun yang yang tidak dikehendaki oleh Allah, pasti tidak akan terwujud. Sebab, segala sesuatunya berada di dalam kekuasaan Allah Swt.. Andaikata kaum Mu’tazilah atau kaum Jabbariyyah memahami hadis di atas dengan baik, maka sudah tentu mereka tidak akan mempunyai pendapat yang berlebihan tentang kehendak Allah Swt..

Demikian pula kehendak Allah Swt. sangat terkait erat dengan masalah keimanan dan petunjuk bagi seseorang. Orang-orang yang melihat masalah takdir dari sudut pandang ini, maka mereka akan berkata, ‚Sesungguhnya Iman adalah cahaya Allah Swt. yang dimasukkan ke dalam sanubari seseorang yang dikehendaki-Nya.‛ Dengan kata lain, meskipun engkau berusaha sekuat tenagamu untuk mengajak seseorang agar beriman kepada Allah Swt., maka engkau tidak dapat mengajaknya beriman jika tidak dikehendaki oleh Allah untuk beriman. Seseorang akan beriman jika Allah Swt. menyalahkan sinar keimanan di dalam sanubarinya. Sebaliknya, ia tidak akan beriman jika Allah Swt. tidak menghendaki- Nya beriman. Sebagaimana Allah Swt. sendiri yang telah berfirman, “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi, seluruhnya. Maka apakah engkau hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yûnus [10]: 99).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, jika Allah berkehendak maka pasti semua orang akan beriman. Oleh karena itu, janganlah engkau memaksa sebagian orang yang tidak mau beriman. Sebab, Allah Swt. tidak berkehendak semua orang beriman. Dalam masalah ini, terdapat firman Allah Swt. yang berbunyi sebagai berikut, “Dan jika perpalingan mereka darimu terasa amat berat bagimu, maka jika engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, maka buatlah.[4] Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang jahil,” (QS Al-An’âm [6]: 35).

Firman Allah Swt. di atas merupakan peringatan bagi pribadi Rasulullah Saw., bahwa yang berhak memberi petunjuk kepada seorang hanyalah Allah, bukan Nabi Saw., dan bukan pula yang lain. Jika Allah Swt. berkehendak, maka pasti semua orang akan beriman, atau akan masuk Islam. Akan tetapi, kehendak Allah Swt. tidaklah demikian. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat beriman, meskipun Nabi Saw. telah bersungguh-sungguh mengajak umat beliau untuk beriman. Sebagaimana Allah Swt. telah berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang datang sebelumnya, yaitu kitabkitab yang diturunkan sebelumnya, dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat saja, akan tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlombalombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu,” (QS Al-Mâidah [5]: 48).

Memang, kalau Allah Swt. berkehendak, pasti Dia akan menjadikan semua manusia berada dalam satu keyakinan yang sama, yaitu semuanya akan beriman kepada-Nya saja. Akan tetapi, Allah Swt. berkehendak lain, Dia telah menggariskan manusia menjadi berbagai macam aliran dan keyakinan. Oleh karena itu, setiap kelompok pasti akan berbeda dengan kelompok yang lain, sebagai ujian antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula kekuatan suatu negara atau keperkasaan seorang penguasa di atas penguasa yang lain akan silih berganti, antara yang satu dengan yang lain, semua itu terjadi atas kehendak Allah Swt. semata, bukan atas kehendak yang lain.

Selanjutnya, Allah Swt. juga telah berfirman, “Jika kalian pada peperangan Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itu pun pada peperangan Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan serta kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, supaya sebagian kalian dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 140).

Menurut ayat di atas, semua kekuatan akan silih-berganti, berpindah dari satu penguasa kepada yang lain. Semua itu terjadi menurut kehendak Allah Swt., bukan kehendak manusia. Demikian pula seperti yang telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kalian wahai manusia. Dan Dia datangkan umat yang lain sebagai pengganti kalian. Dan adalah Allah Mahakuasa berbuat demikian,” (QS Al-Nisâ’ [4]: 133).

Menurut firman Allah Swt. di atas, Allah mampu mengganti kelompok manusia yang lama dengan kelompok yang baru. Demikian pula Allah Swt. Mahamampu mengganti satu generasi dengan generasi yang baru. Seperti mengganti generasi para sahabat dengan generasi Umawi (Umayyah), kemudian menggantinya kembali dengan kelompok ‘Abbasi (‘Abbasiyyah). Setelah itu, menggantinya kembali dengan kelompok Saljukiyyah, dan dilanjutkan dengan kelompok ‘Utsmaniyyah. Dengan kata lain, warisan yang suci akan diberikan kepada generasi beriman yang shalih. Semua ketetapan Allah Swt. akan berjalan menurut kehendak-Nya, dan semua kehendak-Nya tidak dapat diubah oleh makhluk (manusia), meskipun diusahakan sambil dibantu oleh kekuatan yang lain (seluruh makhluk yang ada).

Memang, masalah agama adalah masalah yang terpenting dalam hidup ini. Sebab, hanya agama yang dapat menerangkan tujuan manusia hidup, berikut akibat di akhir kehidupannya. Demikian pula masalah agama dapat meletakkan segala sesuatu pada posisinya di tengah-tengah. Orang-orang yang menjaga agamanya secara baik, maka mereka dapat memimpin alam semesta ini dengan cara yang adil. Sehingga tidak ada yang lemah dan tidak ada pula yang lebih kuat, semuanya diatur menurut petunjuk agama yang baik.

Ketika seseorang jauh dari agamanya, maka batinnya menjadi kosong dari petunjuk agama. Demikian pula setiap kelompok manusia yang menjauhi agama, maka ia akan terjebak di kubangan materialis. Negara yang dibangun dengan sistem kufur selalu mangandalkan perekonomian dan kekuatan materialistis, akan tetapi mereka tidak mengakui adanya takdir Allah Yang Maha Berkuasa mengendalikan alam semesta dengan baik.

Di lain kesempatan, Allah Swt. juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, siapa saja di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang yang Mu’min, serta bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui,” (QS Al-Mâidah [5]: 54).

Kalimat murtad mempunyai arti kembali ke belakang atau keluar dari suatu agama. Al-Qur’an menujukkan kalimat murtad terhadap orang-orang yang sebelumnya beragama Islam, akan tetapi kemudian ia keluar dari Islam, sehingga ia meninggalkan akidah yang lama dan pemikiran yang sebelumnya ia sandang.

Seorang atau sekelompok orang yang telah mencapai kedudukan tertentu dalam agamanya, maka ia merupakan bagian yang paling penting dalam dakwah kepada Allah Swt.. Pada saat ia menyelami makna dari firman Allah Swt. di atas, maka ia merasa takut kalau ia kembali kepada kepercayaannya yang lama, yakni sebelum ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ia merasa lebih berhati-hati, jangan sampai ia terjebak ke dalam kepercayaan atau pikiran di luar ajaran Islam. Atau, ia selalu berhati-hati agar keimanan yang telah terpatri di dalam lubuk sanubarinya tidak dicabut oleh Allah Swt. dan diserahkan kepada orang lain.

Demikian pula halnya dengan suatu negara, jika mendasari pandangan hidup yang ada dengan agama, maka seluruh penduduknya akan menaruh perhatian terhadap firman-firman Allah Swt., dan mereka akan selalu berhati-hati ketika mendengar ancaman Allah yang disebutkan di dalam salah satu firman-Nya. Karena, jika keimanan seseorang dicabut dari lubuk sanubarinya, maka selama itu pula ia akan hidup dalam kesesatan.

Mari kita perhatikan kalimat qaumin yang diakhirii dengan huruf nun tankir. Maksudnya, kaum apa saja –selain kaum Muslim– adakalanya mereka tidak dikenali oleh orang banyak, dan tidak pula diketahui kapan munculnya serta dalam kondisi apa mereka mulai ada, akan tetapi mereka mempunyai beberapa sifat tertentu yang bisa dikenali dan merupakan ciri khas yang melekat pada diri mereka. Adapun jika sifat-sifatnya sama seperti apa yang telah diterangkan seperti dalam kandungan ayat di atas, maka kaum itulah yang telah dipuji oleh Allah Swt.. Sehingga tidak ada kaum lain yang berhak mengaku apabila sifat mereka tidak cocok dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dalam firman Allah Swt. di atas.

Adapun sifat-sifat utama dari kaum yang dipuji oleh Allah Swt. itu yang pertama adalah, Allah mencintai mereka dan Allah menakdirkan banyak orang mencintai mereka. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini, “Dari Abu Hurairah ra. ia mengatakan, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, ‘Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan mengatakan bahwa Allah telah mencintai si Fulan, maka cintailah ia. Lalu malaikat Jibril mencintainya, dan mengumumkan kecintaan Allah itu kepada orang tersebut di kalangan penduduk langit, hingga penduduk langit pun mencintai orang itu. Kemudian orang itu dicintai oleh penduduk bumi, sehingga ucapannya akan ditaati oleh penduduk bumi, dan ia sangat dipedulikan oleh penduduk bumi.’”[5]

Sifat yang kedua, ia juga mencintai Allah Swt.. Dengan kata lain, qalbunya selalu mengingat kepada Allah, menaati seluruh perintah-Nya, dan mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Sifat yang ketiga, ia sangat santun dalam bersikap kepada orang-orang yang beriman. Yaitu, ia tidak pernah menyombongkan dirinya kepada orang-orang yang beriman, sehingga ia dicintai oleh orang-orang yang beriman. Sifat yang keempat, ia tidak pernah tunduk kepada oang-orang kafir, ia selalu mengumumkan permusuhan kepada oang-orang kafir, karena ia merasa bahwa orang-orang kafir adalah musuhmusuh Allah Swt.. Sifat yang kelima, ia selalu berjuang di hadapan Allah Swt.. Dengan redaksi lain, orang itu senantiasa bersiap-siap menghadapi serangan musuh-musuh agama Allah Swt.. Sedangkan sifat yang keenam, ia tidak pernah takut oleh celaan orang-orang yang tidak senang dengan Islam dan umatnya, serta ia selalu membela agama Islam dan umatnya demi untuk mencari keridhaan Allah Swt..

Itulah kiranya sifat orang-orang yang pantas bertindak selaku pemimpin bagi Islam dan umatnya. Sebab, agama Islam adalah tuntunan Ilahi dan merupakan amanat yang suci. Jika bangsa ‘Arab saat ini mempunyai keenam sifat di atas, maka mereka berhak menjadi pemimpin Islam dan kaum Muslim. Demikian pula bangsa-bangsa lain yang mempunyai keenam sifat tersebut, maka mereka juga berhak menjadi pemimpin Islam dan kaum Muslim.

Selanjutnya terdapat pula firman Allah Swt. yang menyebutkan tentang beberapa dasar yang perlu diperhatikan oleh setiap Mu’min, bahwa Allah yang paling berwenang memberikan kedudukan yang mulia kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang berhak mencabut dari siapa pun apa yang dikehendaki-Nya. Allah Swt. berhak memberi kemuliaan bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan berhak pula mencabut kemuliaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya. Seperti disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau cerabut kerajaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 26).

Alhasil, bangsa apa pun yang tidak memiliki sifat-sifat kepemimpinan seperti yang dikehendaki oleh Allah Swt., maka kekuasaannya akan berantakan (tidak bertahan lama). Sebab, keenam dari sifat tersebut merupakan sifat-sifat utama bagi seorang pemimpin yang akan langgeng kekuasaannya.

Dari firman Allah Swt. di atas dapat diketahui, bahwa siapa saja yang ingin menjadi pemimpin yang adil dan dihormati oleh orang lain (rakyatnya), maka ia harus mempunyai keenam sifat di atas. Tanpa keenam sifat itu, maka ia tidak akan mendapat kedudukan yang tinggi. Sebab, yang menentukan kedudukan seorang hanyalah Allah Swt. semata. Karena semua yang terjadi di alam dunia ini harus sesuai dengan kehendak Allah Swt., seperti disebutkan di dalam firman- Nya berikut ini, “Mereka kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melaksanakan terhadap apa yang Dia kehendaki,” (QS Hûd [11]: 107).

Allah Swt. juga telah berfirman, “Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya,” (QS Al-Burûj [85]: 16).

Dengan kata lain, semua yang terjadi di alam dunia ini harus sesuai dengan kehendak dan takdir Allah Swt.. Tanpa itu, semuanya tidak akan pernah terwujud, meskipun dikehendaki oleh siapa pun.

Allah Swt. juga telah berfirman, “Rabb kalian lebih mengetahui tentang diri kalian. Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengadzab kalian jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga bagi mereka,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 54).

Allah Swt. juga telah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia serta mengetahui apa yang dibisikkan oleh qalbunya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri,” (QS Qâf [50]: 16).

Allah Swt. juga berfirman, “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam sanubari kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya serta menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS Al-Baqarah [2]: 284).

Demikian pula halnya dengan para Nabi, mereka tidak akan bertindak apa pun kecuali akan menyesuaikan tindakan mereka dengan kehendak Allah Swt.. Sebab, mereka merasa tidak mampu mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi diri mereka sendiri serta bagi orang lain. Seperti telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan, kecuali atas apa yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, serta aku tidak akan ditimpa kemudharatan karenanya. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman,” (QS Al-A’râf [7]: 188).

Dengan kata lain, kehendak Allah Swt. merupakan dasar bagi terwujudnya segala sesuatu, yang tanpa kehendak serta takdir dari-Nya maka segala sesuatu tidak akan pernah terwujud.

Demikian pula Nabi kita Muhammad Saw. senantiasa menyerahkan kehendak beliau kepada kehendak Allah Swt.. Seperti telah disebutkan dalam sabda beliau Saw. berikut ini, “Bersungguh-sungguhlah kalian, kuatkan persatuan kalian, dan bergembiralah kalian. Sesungguhnya tidak seorang pun akan dimasukkan ke dalam surga lantaran amal kebajikannya. Para sahabat yang mendengar ucapan beliau itu mengajukan pertanyaan, ‘Apakah engkau juga termasuk di antara apa yang engkau sebutkan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk juga aku, kecuali jika Allah memberi ampunan dan rahmat bagiku.”[6]

Itulah keyakinan Rasulullah Saw. di hadapan kehendak Allah Swt., sehingga setiap Mu’min harus mempunyai keyakinan seperti itu terhadap kehendak Allah. Perlu diketahui, jika Rasulullah Saw. bersikap sangat hati-hati terhadap takdir dan kehendak Allah Swt., maka bagaimankah seharusnya kita (orang-orang selain beliau) bersikap terhadap takdir dan kehendak Allah? Sebab, hanya dengan bersikap seperti itulah seorang Mu’min akan mencapai kedudukan terdekat di sisi Allah Swt.. Meskipun kita telah diberi wasiat (pesan) untuk memperbanyak amalan yang shalih, namun kalau bukan kita yang dimasukkan ke dalam surga, maka siapa kiranya yang akan dimasukkan ke sana? Kita tidak boleh berbangga dengan amal-amal kebajikan yang telah kita lakukan, karena kita diperintahkan untuk selalu waspada dan berhati-hati atas cara bersikap di hadapan takdir dan kehendak Allah Swt.. Sebab, setiap orang harus menerima takdir dan kehendak Allah Swt. dengan perasaan tawakkal yang total (utuh), dan selalu berharap mendapatkan kasih sayang-Nya, agar qalbu kita tidak merasa sombong dengan banyaknya amal kebajikan yang telah kita lakukan.

Tidak diragukan lagi, bahwa setiap Mu’min harus memahami secara baik kehendak Allah Swt., karena tidak semua Mu’min memahami benar kehendak-Nya Swt.. Sebab, yang dapat memahami secara baik dan benar atas kehendak Allah Swt. hanyalah para Nabi.

Di dalam Al-Qur’an diterangkan dengan panjang lebar tentang kehendak atau ketetapan Allah Swt.. Terutama yang berkenaan dengan kisah-kisah para Nabi dan kaum mereka. Misalnya saja kisah Nabi Allah Nuh as. dan kaum beliau. Al-Qur’an menyebutkannya sebagai berikut, “Mereka berkata, wahai Nuh, sesungguhnya engkau telah berbantah-bantahan dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau termasuk orangorang yang benar. Nuh menjawab, ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepada kalian jika Dia menghendaki, dan kalian sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari adzab-Nya. Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Rabb kalian, dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan,” (QS Hûd [11]: 32-34).

Dari firman Allah Swt. di atas dapat disimpulkan, bahwa Nabi Allah Nuh as. menjawab ucapan kaum beliau dengan jawaban yang penuh kepasrahan (sikap tawakal) kepada kehendak Allah Swt.. Seolah-olah beliau mengatakan, ‚Aku tidak dapat mendatangkan siksa kepada siapa pun, meski ia membantah semua keterangan tentang kenabian yang telah aku berikan kepadanya.‛ Memang, semua orang bergantung kepada kehendak dan ketetapan Allah Swt., serta tidak seorang pun dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan bagi dirinya sendiri, apa lagi bagi orang lain. Sebab, kewenangan mengenai masalah itu hanya berada di tangan Allah Swt.. Para Nabi dan Rasul hanya bertugas mengajak kaum masingmasing untuk beriman kepada Allah Swt.. Mereka mau beriman ataupun tidak, semua itu terserah kepada kehendak Allah Swt.. Demikian pula mereka akan mendapat siksa ataupun tidak juga terserah kepada kehendak Allah Swt.. Sebab, para Nabi dan Rasul tidak dapat memberi petunjuk dan keimanan kepada kaum mereka, kecuali kepada orang-orang yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.. Dan, mereka (para Nabi dan Rasul) tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan bagi kaum mereka, kecuali jika dikehendaki dan ditetapkan oleh takdir Allah Swt..

Demikian pula dengan kisah Nabi Allah Ibrahim as. yang pernah mengajarkan tentang adanya takdir Allah Swt. kepada kaum beliau ketika beliau mengajak mereka masuk ke dalam agama Islam; seperti yang telah disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan ia dibantah oleh kaumnya. Ia berkata, ‘Apakah kalian hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku?’ Dan aku tidak takut kepada malapetaka dari sembahan-sembahan yang kalian persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu dari malapetaka itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran darinya?” (QS Al-An’âm [6]: 80).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, Nabi Allah Ibrahim as. mengatakan, ‚Aku tidak takut sedikit pun terhadap berhala-berhala yang kalian sembah. Aku hanya takut kepada ketetapan dan kehendak Rabbku (Allah Swt.). Meskipun semua orang membelanjakan harta mereka sepenuh bumi, dan mereka ingin menimpakan keburukan kepadaku, maka aku yakin bahwa keburukan itu tidak akan terkena kepada diriku sedikit pun, kecuali telah dikehendaki oleh Allah Swt..‛

Pelajaran di atas merupakan pelajaran tauhid yang telah beliau ajarkan kepada kaum beliau as., bahwa ketetapan atau takdir Allah Swt. terhadap alam semesta ini pasti akan terjadi, baik takdir yang buruk maupun yang baik.

Allah Swt. juga telah berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Putranya (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar,’” (QS Al-Shâffât [37]: 102).

Firman Allah Swt. di atas mengajarkan kepada kita tentang adanya kehendak dan cobaan Allah bagi orang-orang yang beriman, apakah mereka akan bersabar ataukah justru akan menentang kehendak dan cobaan dari sisi-Nya?

Selanjutnya dalam surah Al-Kahfi [18] diceritakan, bahwa Nabi Musa as. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk berguru kepada Nabi Allah Hidir as. Dalam pertemuan itu, Nabi Hidir melarang Nabi Musa untuk bertanya kepada beliau tentang apa saja, dan Nabi Musa menyanggupi tidak akan bertanya sedikit pun. Sperti yang disebutkan pada firman Allah Swt. berikut ini, “Ia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku.Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata, ‘Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang bersabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun,” (QS Al-Kahfi [18]: 67-69).

Dari kisah-kisah para Nabi di atas dapat kita tarik benang merah, bahwa mereka (para Nabi Allah) itu selalu bertawakkal kepada kehendak dan takdir Allah Swt.. Selain itu, Allah Swt. juga telah menyebutkan kisah Nabi Yusuf as., seperti dijelaskan di dalam firman-Nya berikut ini, “Maka tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf, Yusuf merangkul ayah ibunya dan ia berkata, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman,” (QS Yûsuf [12]: 99).

Firman Allah Swt. di atas mengisayaratkan kepada kita, bahwa Nabi Allah Yusuf tidak lupa mengandalkan kemauannya kepada kehendak Allah semata. Meskipun beliau mampu mendatangkan ayah ibunya ke negeri Mesir dengan aman dan terhormat.

Jika kita perhatikan kisah-kisah para Nabi di atas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa mereka selalu mengandalkan kepada takdir dan kehendak Allah Swt.. Sebab, mereka yakin bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi atau terwujud kecuali jika telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Swt.. Jika seseorang mengandalkan kehendaknya sendiri tanpa disandarkan kepada kehendak Allah Swt., maka ia termasuk kelompok orang yang berbuat kesyirikan.

Yang kedua, kehendak Allah Swt. yang terdapat di dalam sabda-sabda Nabi Saw., “Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullâh bercerita, disebutkan oleh Thufail bin Syahbarah, saudara laki-laki dari ‘Aisyah, dari ibunya, bahwa ia telah bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah ia bertemu dengan kaum Yahudi, maka ia bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah kaum Yahudi.’ Kata laki-laki itu, ‘Kalian adalah orangorang yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah putra Allah.’ Jawab kaum Yahudi itu, ‘Kalian adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah dan Muhammad yang berkehendak.’ Kemudian ia bergabung kembali dengan kelompok yang lain, lalu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian ini?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah umat Nashrani.’ Tanya laki-laki itu, ‚Mengapa kalian mengatakan bahwa ‘Isa adalah putra Allah?’ Jawab kaum Nashrani tadi, ‘Mengapa pula kalian mengatakan bahwa Allah dan Muhammad yang berkehendak?’ Di pagi harinya, laki-laki itu memberitahukan kepada seorang sahabat tentang mimpinya semalam, kemudian ia menemui Nabi Saw. dan menyebutkan kisah mimpi tersebut kepada beliau. Tanya Nabi kepadanya, ‘Apakah engkau telah memberitahukan kisah mimpimu ini kepada orang lain?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya, aku telah memberitahukan kisah mimpiku ini kepada seorang sahabat dekatku.’ Setelah mereka melakukan shalat Subuh, maka Nabi pun naik mimbar dan berkhotbah di atasnya dengan mengawali pidato beliau menggunakan kalimat tahmid, kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya Thufail bermimpi sesuatu, kemudian ia memberitahukan kisah mimpinya itu kepada salah seorang sahabatnya. Ketahuilah, bahwa sebenarnya aku ingin melarang kalian mengatakan apa yang dikehendaki oleh Allah dan apa yang dikehendaki oleh Muhammad.’”[7]

Dari hadis di atas dapat kita simpulkan, bahwa kehendak dan takdir Allah Swt. merupakan masalah yang paling pokok dalam keimanan seorang hamba. Sehingga tidak seorang pun boleh mempercayai bahwa kehendaknya mempunyai potensi dapat mendatangkan yang baik dan yang buruk. Sebab, hal itu dapat menyebabkan orang tersebut menjadi kafir dan musyrik.

Pada riwayat yang lain disebutkan, “Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki mengatakan kepada Nabi Saw., ‘Menurut kehendak Allah dan menurut kehendakmu.’ Maka beliau bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau hendak menyamakan kedudukan Allah dengan kedudukanku?’ Janganlah kalian mengatakan demikian, akan tetapi katakanlah menurut kehendak Allah saja.”[8]

Pada penjelasan hadis di atas disebutkan, Nabi Saw. sengaja mengajarkan tauhid kepada umat beliau bahwa semua kehendak yang ada di alam semesta ini hanya milik Allah Swt. semata, bukan milik yang lain. Sehingga tidak seorang pun boleh berkehendak sesuatu tanpa menyandarkan kehendaknya itu dengan kehendak Allah Swt..

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Anas bin Malik ra. mengatakan, Nabi Sw. selalu mengucapkan do’a, ‘Wahai Rabb yang membolak-balikan qalbu, teguhkan qalbuku berada dalam agama-Mu.’ Maka aku (Anas) bertanya, ‘Ya Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada ajaran yang engkau sampaikan, apakah engkau masih menghawatirkan keimanan kami?’ Beliau Saw. menjawab, ‘Benar, aku selalu mengkhawatirkan keimanan kalian, karena setiap qalbu manusia berada di antara dua jari-jari Allah, dan Dia akan membolak-balikkan qalbu seorang hamba sekehendak-Nya’”[9]

Berkaitan dengan intensitas beliau mengucapkan do’a di atas, pernah juga diutarakan oleh Ummu Salamah ra. sebagai berikut, “Dari Syahru bin Hausyab, ia mengatakan, aku berkata kepada Ummu Salamah, ‘Wahai Ummul Mu’minin, kiranya do’a apa yang sering dibaca oleh Nabi Saw. ketika beliau berada di kediamanmu?’ Jawab Ummu Salamah, ‘Beliau sering mengucapkan do’a, ‘Wahai Rabb yang membolak-balikan qalbu, teguhkan qalbuku di atas agama-Mu.’ Aku (Ummu Salamah) pernah mengajukan pertanyaan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau membaca do’a seperti itu?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, tidak seorang pun dari hamba-Nya, kecuali qalbunya berada di antara dua jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia akan memberinya petunjuk atau Dia justru akan menyesatkannya, dan semua itu menurut kehendak-Nya.’”[10]

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Dalam riwayat Nuwas Ibnu Sam’an, katanya: ‚Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda tidak hati serangpun, melainkan berada diantara dua jari Tuhan Yang Maha Pemurah, adakalanya Dia memberinya petunjuk dan adakalanya Dia memberinya kesesatan, semuanya sekehendak-Nya.”[11]

Sebenarnya Allah Swt. telah mengajari kita do’a di atas, yaitu seperti yang tercantum dalam firman-Nya berikut ini, “Mereka berdo’a, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan sanubari kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Memberi karunia,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 8).

Tidak diragukan lagi, bahwa segala do’a yang mengakui adanya kehendak Allah Swt. yang kita yakini bahwa Allah mampu mengabulkan setiap do’a kita dan yakini pula bahwa Allah yang mengilhami kita untuk berdo’a seperti itu adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai kesimpulannya, bahwa setiap do’a adalah sebagai pengakuan kita terhadap adanya kehendak Allah Swt. yang berhubungan dengan takdir-Nya. Dan kita menerangkan panjang lebar tentang masalah ini, karena sangat kuat hubungannya dengan masalah tauhid (keimanan).

Yang keetiga, masalah perintah yang bersifat Jabbari dan masalah perintah yang mengandung unsur Syar’i. Perlu pula dibicarakan mengenai masalah ini, agar dapat dipahami oleh semua orang atas posisi atau kedudukannya pada diri hamba. Adapun firman Allah Swt. yang menegaskan mengenai masalah ini adalah sebagai berikut, “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.[12] Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan serta bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam,” (QS Al-A’râf [7]: 54).

Sebenarnya, masalah perintah dan ciptaan hanya milik Allah Swt. semata. Adapun perintah Allah Swt. dalam hal ini terbagi menjadi dua macam. Pertama, perintah alam semesta; perintah yang bersifat ketetapan dan sesuai dengan takdir- Nya. Yang kedua, perintah berupa syari’at agama. Perintah yang bersifat takdir memberi arti bahwa Allah Swt. yang berkuasa di seluruh alam semesta ini. Setiap makhluk diciptakan oleh Allah menurut kehendak-Nya sendiri. Tidak seorang pun boleh mencampuri dalam masalah penciptaan makhluk Allah Swt.. Alhasil, kesemuanya tunduk pada kehendak-Nya. Karena, Dia-lah pemilik tunggal seluruh alam semesta ini, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Swt. berhak melakukan apa saja terhadap alam semesta ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan tidak satu pau yang dapat menentang kehendak-Nya.

Adapun perintah yang berupa ketetapan syari’at, maka perintah ini ditujukan kepada kita. Akan tetapi, melaksanakan atau tidaknya perintah tersebut terkait erat dengan kehendak Allah Swt. yang diberikan kepada sipa pun yang dikehendaki-Nya.

Setelah kita memahami kedua perintah ini secara baik, maka kita akan memahami semua bentuk perintah yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang adakalanya terdapat perbedaan secara lahiriah di dalamnya. Bagaimanapun kemauan atau kehendak Allah Swt. tentang alam semesta sangatlah jelas di hadapan kita. Adapun perintah yang berkenaan dengan sifat, maka Allah Swt. memerintahkan kepada setiap orang untuk melakukan perintah-Nya menurut kehendak-Nya. Di dalam kedua persoalan tersebut terdapat kehendak Allah Swt. dan ridha-Nya.

Ibadah yang dilakukan oleh para malaikat dan amal-amal perbuatan mereka sangat bergantung dengan kehendak Allah Swt.. Demikian pula para Nabi dan segala perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shalih juga termasuk kehendak Allah Swt.. Alhasil, Allah Swt. ridha kepada semua perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shalih.

Selain itu, ada pula beberapa perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah Swt., meskipun pada dasarnya terkait erat dengan kehendak Allah. Seperti kekafiran, perbuatan dosa, kemunafikan dan sejenisnya. Adapun firman-firman Allah Swt. yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tidak diridhai oleh Allah adalah sebagai berikut, “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya,” (QS Al-Zumar [39]: 7).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS Al-Qashash [28]: 77).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” (QS Al-An’âm [6]: 141).

Allah Swt. juga berfirman, “Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (QS Al-Baqarah [2]: 191).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan yang suka membangga-banggakan diri –di hadapan manusia–,” (QS Al-Nisâ’ [4]: 36).

Memang Allah Swt. berkehendak menjadikan kerusakan di muka bumi, semuanya diciptakan dengan kehendak-Nya, akan tetapi Dia tidak ridha terhadap perbuatan yang bersifat merusa di muka bumi, termasuk juga masalah-masalah kejahatan yang lain. Jika kita perhatikan permasalahan ini dengan seksama, maka akan dapat kita simpulkan bahwa ayatayat Al-Qur’an yang kami sebutkan di atas keterangannya lebih jelas, dimana Allah Swt. tidak ridha dan tidak menyukai perbuatan buruk, apa pun bentuknya. Seperti telah disebutkan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, akan tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, hingga sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 16).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, jika Allah menghendaki akan membinasakan suatu negeri atau suatu bangsa, maka orang-orang yang jahil di antara mereka akan berbuat berbagai macam kerusakan, sampai pada batas akhir yang bisa ditoleransi, maka Allah menurunkan siksa pada penduduk negeri atau bangsa tersebut. Terlebih lagi jika kaum yang lemah di antara mereka menjadikan orang-orang jahat sebagai para penguasa tunggal di antara mereka. Dan setelah para penguasa itu berbuat sewenang-wenang, maka pada saat itulah Allah Swt. menurunkan bencana atau siksa bagi penduduk negeri tersebut. Apakah kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an itu benar-benar terjadi? Ya, orang-orang buruk di suatu negeri mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di dalam negeri mereka. Mereka berlaku zhalim, sewenangwenang, berbuat kerusakan dan perbuatan dosa yang luar biasa lainnya, sampai ketika meningkat pada puncaknya, maka di saat itulah Allah Swt. menurunkan siksa-Nya kepada negeri tersebut.

Jelas sekali di sini, bahwa masalah apa pun merupakan garis takdir atau kehendak yang bersifat takwini, bukan takdir atau kehendak yang bersifat syar’i. Dengan penjelasan, Allah Swt. berkehendak akan menghukum suatu kaum, dan hal itu telah ditetapkan dalam garis takdir-Nya di Lauh al-Mahfuzh. Sebab, Allah Swt. tidak rela apabila melihat ada sebagian hamba-Nya melakukan kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak memerintahkan mereka berbuat kerusakan apa pun bentuknya. Seperti dijelaskan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji.’ Mengapa engkau mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak engkau ketahui?,” (QS Al-A’râf [7]: 28).

Antara takdir takwini dengan takdir syar’i mempunyai kecocokan seperti yang disebutkan dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Al-Ra’d [13]: 11).

Biasanya, jika kerusakan di suatu negara telah mencapai puncaknya yang paling atas, maka susunan kemasyarakatan di negara itu akan ikut kacau tak terurus. Sehingga keadilan dan kebenaran hampir lenyap di negara tersebut. Oleh karena itu, masalah dari kedua takdir ini harus dipahami secara baik dan benar (sesuai).

Kelompok Jabbariyyah mempunyai pandangan yang keliru mengenai kedua persoalan tersebut. Sebab, mereka tidak dapat membedakan antara kedua macam takdir dimaksud, yaitu takdir takwini dan takdir syar’i. Menurut mereka, keduanya adalah sama, dan keduanya berasal dari kehendak manusia. Sedangkan kelompok Mu’tazilah berpendapat, bahwa perbuatan seseorang diciptakan oleh kehendaknya sendiri, sehingga kelompok ini tidak pernah benar dalam pendapat mereka. Sedangkan kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan, bahwa takdir Allah Swt. yang bersifat takwini dan takdir Allah yang bersifat syar’i adalah sama-sama kehendak Allah. Hanya saja, takdir syar’i diberikan sesuai dengan kehendak manusia yang akan berbuat keburukan, sehingga Allah Swt. akan menghukum orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Alhasil, antara petunjuk dan kesesatan ada kaitannya yang erat dengan kehendak Allah Swt.. Masalah ini banyak disebutkan oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Di antaranya, seperti telah disebutkan dalam firman-Nya berikut ini, “Siapa saja yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan siapa saja yang dikehendaki Allah kesesatan atasnya,[13] niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman,” (QS Al-An’âm [6]: 125).

Firman Allah Swt. di atas mengisyaratkan, bahwa kehendak manusia sangatlah erat hubungannya dengan kehendak Allah. Manusia tidak akan mendapat petunjuk kalau tidak mendapat karunia dari sisi Allah Swt.. Demikian pula manusia tidak akan melakukan keburukan atau perbuatan dosa kalau tidak ditetapkan oleh Allah Swt. dalam suratan takdirnya yang azali. Sehingga meskipun ada sebagian orang yang diberi otak sangat cerdas dan kepandaian yang cemerlang, akan tetapi ia lebih memilih hidup tersesat, dan mereka hidup bagaikan binatang ternak; bahkan lebih buruk lagi. Sebagai kesimpulannya, masalah kehendak untuk berbuat baik atau berbuat buruk yang ada pada diri manusia tidak sepenuhnya dari kehendak manusia itu sendiri, akan tetapi masih terkait erat dengan kehendak dan takdir Allah Swt..

Dari keterangan di atas dapat kita pahami, bahwa tidak seorang pun mempunyai kesempatan untuk bertindak sendiri, tanpa ada kehendak dari Allah Swt.. Karena, kita tidak mempunyai kemampuan apa pun untuk bertindak sendiri menurut kehendak kita. Akan tetapi, yang mempunyai kehendak penuh hanyalah Allah Swt.. Jadi, semua yang terjadi di alam semesta ini, baik yang bersifat takdir takwini ataupun yang bersifat takdir syar’i, kesemuanya itu tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari takdir Allah Swt.. Demikian pula masalah petunjuk dan kesesatan yang sangat menentukan dengan takdir-Nya, hanyalah atas kehendak Allah Swt. semata. Artinya, manusia tidak dapat mendatangkan petunjuk ataupun kesesatan bagi dirinya sendiri, kecuali dengan ketetapan dan takdir dari Allah Swt. semata.

Dalam sejarah telah tercatat, bahwa Allah Swt. yang menggerakkan sanubari ‘Umar Ibnul Khaththab ra. untuk berniat membunuh Rasulullah Saw., dan ia sudah bergerak mencari di manakah posisi Rasulullah Saw. berada pada saat itu. Akan tetapi, pada kenyataannya niat ‘Umar yang buruk itu berubah menjadi niat yang baik, karena ia ingin segera bertemu dengan Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Tentunya, yang menggerakkan sanubari ‘Umar Ibnul Khaththab ingin membunuh Rasulullah Saw. adalah Allah Swt.. Dan yang menggerakkan jiwa ‘Umar untuk ingin segera bertemu Rasulullah Saw. guna menyatakan keislamannya juga Allah Swt.. Demikian pula yang menggerakkan pikiran seorang penya’ir ‘Arab yang bernama Al-A’sya untuk memilih kesesatan juga Allah Swt.. Sebab, ia membanggakan minuman keras dalam bait-bait sya’ir yang dilantunkannya.

Peristiwa yang serupa dengan kejadian ini seringkali terjadi, bahkan jumlahnya tidak mungkin untuk dihitung. Sehingga mau tidak mau, manusia harus mengakui bahwa masalah petunjuk atau hidayah dan masalah kesesatan, semuanya hanya berada di tangan Allah Swt.. Dengan kata lain, seseorang akan diberi petunjuk menurut kehendak-Nya, dan akan menemui kesesatan menurut kehendak-Nya pula.

Perlu diketahui pula, bahwa Allah Swt. telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini, termasuk juga apa saja yang akan dilakukan oleh setiap orang dalam perbuatannya, dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh. Oleh karena itu, setiap hamba wajib memohon petunjuk kepada Allah Swt. agar ia diberi hidayah ke jalan yang lurus. Karena, hanya Allah Swt. yang berwenang berbuat apa pun terhadap segala sesuatu, termasuk juga terhadap seluruh kepentingan bagi makhluk-Nya. Allah Maha Berwenang memberi petunjuk kepada seseorang yang berdo’a memohon petunjuk, dan Dia juga berwenang mentapkan kesesatan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Setiap orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt., maka ia akan tertarik kepada Islam, dan kepada segala bentuk perbuatan baik yang mendatangkan keridhaan-Nya. Sebaliknya, jika seseorang dikehendaki kesesatan oleh Allah Swt., maka ia tidak akan mau menerima petunjuk, meskipun ia diminta dengan cara yang terbaik. Orang-orang semacam itu telah diisyaratkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari auman seekor singa,” (QS Al-Muddatstsir [74]: 49-51).

Dengan kata lain, orang-orang yang ditetapkan oleh Allah Swt. tidak mendapatkan petunjuk-Nya, maka ia akan lari dari jalan Islam bagaikan larinya seekor keledai yang dikejar oleh seekor singa yang liar.

Apa saja yang kami sebutkan di atas tidak lain hanya sebagai sebuah persyaratan, yaitu adanya kemauan manusia untuk rela mengerjakan suatu perbuatan atau justru meninggalkannya. Manusia bebas memilih apa saja yang akan ia lakukan di dalam pilihan hidupnya, akan tetapi Allah Swt. telah menentukan dalam catatan takdir-Nya apa saja yang akan dilakukan oleh manusia tersebut.

Misalnya saja, jika engkau ingin mengubah keadaan dunia ini menurut kehendakmu, dan engkau telah berusaha sekuat tenaga untuk mengubah keadaan dunia ini dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar,maka pada saat itulah Allah Swt. akan memberimu pertolongan dengan berbagai bantuan-Nya. Itulah undang-undang Allah Swt., atau ketetapan- Nya yang tidak akan mampu diubah oleh siapa pun.

Hendaknya kita mengerti secara saksama apa saja yang telah kita usahakan dan apa saja yang kita tunggu dari sisi Allah Swt. tentang bantuan-Nya. Jika Allah memberimu bantuan dengan kemurahan-Nya, maka hal itu dari rahmat dan karunia-Nya semata. Manusia hanya boleh berusaha apa saja untuk dirinya, akan tetapi tetap saja Allah Swt. yang menentukan sukses atau tidaknya tentang apa yang diinginkan oleh manusia.

Allah Swt. akan memberi kemuliaan bagi seseorang yang berjuang di jalan-Nya dengan predikat sebagai seorang syahid. Dan, di akhirat kelak ia akan diberi balasan berupa surga serta berbagai kenikmatan yang lain tanpa batas. Sebab, hal itu merupakan balasan yang pantas bagi seorang hamba yang mau (bersedia) berjuang di jalan Allah Swt. dengan ikhlas.

Oleh karena itu, janganlah kalian menunggu turunnya ‘Isa al-Masih atau Imam al-Mahdi as. di akhir masa kelak, sebelum kalian melakukan berbagai usaha yang baik untuk menciptakan kebaikan dan kebahagiaan di alam dunia ini. Sebab, Allah Swt. tidak akan pernah mengubah segala penetapan arah takdir-Nya sampai kalian mau mengubah diri kalian sendiri menjadi orang yang baik. Allah Swt. tidak akan mengubah ketetapan-Nya, meskipun terhadap para Nabi-Nya sendiri, sebelum mereka mau berjuang secara maksimal untuk memperbaiki kerusakan yang ada di alam dunia ini, hingga menjadi dunia yang lebih baik dan membahagiakan.

Rasulullah Saw. telah lama hidup dalam keadaan lapar dan haus, wajah beliau terluka dan gigi beliau terlepas karena serangan musuh. Kedua kaki beliau bengkak karena banyak mengalami berbagai penderitaan. Demikian pula yang diderita oleh para sahabat beliau. Dengan kata lain, Nabi Saw. dan para sahabat beliau yang telah mendapatkan keridhaan Allah Swt. telah banyak mengalami berbagai cobaan serta penderitaan di dalam hidup mereka. Sampai-sampai mereka pernah mengajukan pertanyaan, ‚Bilakah datangnya pertolongan Allah?‛

Pada saat cobaan telah memuncak sampai di tingkat yang tertinggi, maka di saat itulah Allah Swt. akan menurunkan pertolongan-Nya kepada para hamba yang bersedia untuk berjuang demi mewujudkan kebaikan alam semesta. Sebab, pertolongan Allah Swt. akan sangat dekat kepada orang-orang yang diberi-Nya ujian. Tentang masalah ini, Allah Swt. telah mensinyalir dalam salah satu firman-Nya sebagai berikut, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja, padahal belum datang kepada kalian cobaan (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat,” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Penjelasan seputar firman Allah Swt. di atas adalah, pada saat seseorang telah dicoba dengan berbagai kesulitan berupa sedikitnya makanan, minuman dan tempat tinggal, sehingga ia sudah tidak berdaya lagi untuk menghadapi cobaan yang sedemikian beratnya, maka di saat itulah ia akan mohon bantuan Allah. Dan, pada saat itu juga Allah Swt. akan menurunkan pertolongan-Nya, sehingga orang itu akan menikmati kesuksesan dalam hidupnya. Kalau dahulunya hina dan sulit, maka kehinaan serta kesulitan itu akan berubah menjadi kemuliaan dan kemudahan.

Apakah Anda benar-benar percaya bahwa manusia harus berusaha sekuat tenaga dan berjuang mati-matian untuk memperbaiki nasibnya? Jika jawabanmu adalah ya, maka aku sampaikan berita gembira kepadamu, percayalah dan tenangkan qalbumu bahwa Allah Swt. yang memiliki dan mengendalikan seluruh alam semesta ini akan memberimu pertolongan serta menjagamu dari segala bentuk kesulitan. Sebab, kewenangan Allah Swt. adalah seperti itu. Dengan kata lain, adakalanya Dia Swt. memberi cobaan kepada sebagian orang terlebih dahulu untuk menguji sampai di manakah kesabarannya, dan sampai di manakah usahanya untuk memperbaiki nasibnya sendiri? Jika ia bersungguh-sungguh dalam kesabarannya, dan bersungguh-sungguh usahanya untuk memperbaiki nasibnya, berarti ia akan menemui kesuksesan di dalam kehidupannya; baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak.

Sebaiknya kita akhiri pembahasan kita tentang takdir dari sisi kehendak Ilahi dengan kesimpulan sebagai berikut. Sesungguhnya Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Mengetahui tentang segala sesuatu dari segala sisinya. Sebab, ilmu-Nya mampu menjangkau dan mengetahui segala sesuatu. Semua itu telah dicatat dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh secara jelas dan terperinci. Demikian pula para malaikat akan mencatat semua perbuatan manusia yang baik maupun buruk. Adapun takdir Allah Swt. tidak akan meleset sedikit pun dari ilmu-Nya, dan segala apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi. Kami yakin, bahwa apa saja yang telah dikehendaki oleh Allah Swt. pasti akan terjadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan pernah terjadi.

[1] Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang roh, kisah Ashhabul Kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain? Lalu beliau menjawab, datanglah esok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allâh (jika Allah menghendaki). Sampai esok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal yang beliau janjikan tersebut, dan Nabi tidak dapat menjawab pertanyaan sesuai janji yang telah beliau ucap kemarin. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi, bahwa Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allâh haruslah segera menyebutkannya kemudian-penerj.
[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Nikah, hadis nomor 119. Juga pada bahasan seputar al-Jihad, hadis nomor 23. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad, Jilid 2, hadis nomor 229, 275, dan 506.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud pada pembahasan mengenai Adab, hadis nomor 106.
[4] Maksudnya ialah, janganlah engkau merasa keberatan atas sikap mereka itu berpaling dari ajakan menuju jalan Kami. Kalau engkau merasa keberatan, cobalah usahakan suatu mukjizat yang dapat memuaskan qalbu mereka, dan engkau tentu tidak akan pernah sanggup-penerj.
[5] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada bahasan mengenai Awal Penciptaan, hadis nomor 6. Juga oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai Berbuat Baik, hadis nomor 156.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai Sifa-sifat Orang Munafik, hadis nomor 76.
[7] Lihat lebih lanjut keterangannya dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 5, hadis nomor 72.
[8] Lihat lebih lanjut keterangannya dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 1, hadis nomor 214.
[9] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai al-Qadaru, hadis nomor 7.
[10] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai Do’a, hadis nomor 89.
[11] Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, pada pendahuluan kitab, hadis nomor 13.
[12] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah san kesucian-Nya.
[13] Disesatkan Allâh dimaksud adalah, bahwa orang itu tersesat lantaran sikap ingkarnya, dan akibat ia tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allâh. Dalam ayat ini, karena mereka bersikap ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allâh menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi tersesat-penerj.

 

keBENARan Islam sebagai AGAMA bagi seluruh umat manusia …. ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA ————————————————— Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’ ————————————- Keyakinan bahwa Islam satu-satunya Agama yang Benar adalah termasuk perkara yang bersifat qath’i, tsawabit dan badihiy (pasti, tetap dan jelas —minal umuridl-dlaruriyah fid din), yakni termasuk di antara perkara-perkara agama yang bersifat dhlaruriyah (suatu keharusan) karena telah disepakati dan didukung oleh seluruh ulama sepanjang masa, lebih-lebih oleh salafus salih berdasarkan nash-nash yang jelas dan tegas. ————————- Namun demikian, sekarang perkara tersebut sering mendapat rongrongan dari kalangan-kalangan tertentu dengan mengatasnamakan toleransi agama. Mereka menyebarkan paham pluralisme agama dan mengecam setiap orang yang meyakini dan menyatakan kebenaran agamanya dan kesesatan agama lain. Kelompok ini menyebarkan pahamnya dengan berbagai cara, baik melalui TV, majalah, koran, buku-buku dan film-film. Mereka tidak segan-segan mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan menurut selera mereka, Padahal hal itu jauh dari manhaj yang benar. ———————– AZAS ISLAM ADALAH TAUHID DAN MENJAUHKAN SYIRIK ——————— Setiap orang yang beragama Islam wajib mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan seorang Muslim juga mesti memahami pengertian tauhid, makna syahadat, rukun syahadat dan syarat-syaratnya, supaya ia benar-benar bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla . ———————- Tauhid menurut etimologi (bahasa) diambil dari kata: وَحَّدَ، يُوَحِّدُ، تَوْحِيْدًا artinya menjadikan sesuatu itu satu. ———————- Sedangkan menurut terminologi (istilah ilmu syar’i), tauhid berarti mengesakan Allâh Azza wa Jalla pada segala sesuatu yang khusus bagi-Nya. Mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dalam ketiga macam tauhid, yaitu Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya. Dengan kata lain, Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja. ——————– Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allâh Azza wa Jalla adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu. ———————- Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’ânah (minta pertolongan), istighâtsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’âdzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya untuk Allâh semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allâh. ————————- Tauhid Asma’ wa Shifat artinya menetapkan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan atas diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya n , serta mensucikan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya n . Dan kaum Muslimin wajib menetapkan Sifat-Sifat Allâh Azza wa Jalla , baik yang terdapat di dalam al-Qur’ân maupun dalam as-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil. —————————– Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2:163] ————————— Syaikh al-‘Allâmah ‘Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata, “Allâh Azza wa Jalla itu tunggal dalam Dzat-Nya, Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama-Nya, dan Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allâh Azza wa Jalla . Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan Allâh tidak boleh disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.”[3] ————————– Inilah inti ajaran Islam, yaitu mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla . Seorang Muslim wajib mentauhidkan Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan konsekuensi dari kalimat syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ sebagai wujud rasa syukur kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa yang bertauhid kepada Allâh dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, maka baginya Surga dan diharamkan masuk Neraka. ————————— Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْـجَنَّةَ Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh, maka ia masuk Surga. [5] —————————— Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُـحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allâh, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allâh mengharamkannya masuk Neraka[6] ——————————– Sebaliknya, orang-orang yang berbuat syirik kepada Allâh Azza wa Jalla , maka diharamkan Surga bagi mereka dan tempat mereka adalah di Neraka. ————————- Allâh Azza wa Jalla berfirman : إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ “…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allâh, maka sungguh Allâh mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah Neraka dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [al-Mâidah/5:72] ——————

keBENARan Islam sebagai AGAMA bagi seluruh umat manusia  …. ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA
—————————————————
Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’
————————————-

Keyakinan bahwa Islam satu-satunya Agama yang Benar adalah termasuk perkara yang bersifat qath’i,  tsawabit dan badihiy (pasti, tetap dan jelas —minal umuridl-dlaruriyah fid din), yakni termasuk di antara perkara-perkara agama yang bersifat dhlaruriyah (suatu keharusan)  karena telah disepakati dan didukung oleh seluruh ulama sepanjang masa, lebih-lebih oleh salafus salih berdasarkan nash-nash yang jelas dan  tegas.
————————-

Namun demikian,  sekarang perkara tersebut sering mendapat rongrongan dari kalangan-kalangan tertentu dengan mengatasnamakan toleransi agama. Mereka menyebarkan paham pluralisme  agama  dan mengecam setiap orang yang meyakini dan menyatakan kebenaran agamanya dan kesesatan agama lain. Kelompok ini menyebarkan pahamnya dengan berbagai cara, baik melalui TV, majalah, koran, buku-buku dan film-film. Mereka tidak segan-segan mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan menurut selera  mereka,  Padahal hal itu jauh dari manhaj yang benar.
———————–

B. PENGERTIAN ISLAM 

Dalil-Dalil:

a. Q.s. an-Nisa/4 ayat 163:

Terjemah: Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

b. Q.s. asy-Syuura/42 ayat 13:

Terjemah: Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwa-siatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepa-danya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Pengertian Khusus

Agama yakni agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. ialah apa yang diturunkan Allah di dalam al-Qur’an dan yang tersebut dalam Sunnah yang sahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat

Dalil-Dalil:

a. Q.s. at-Taubah/9 ayat 33:
Terjemah: Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.

b. Q.s. al-Anbiya’/21 ayat 107:
Terjemah: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

c. Hadits shahih Bukhari, surat Nabi Muhammad SAW. kepada Hiraklius:
Terjemah: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraklius, kaisar Romawi. Kesejahteraan kiranya untuk orang-orang yang mengikuti petunjuk. Kemudian sesungguhnya saya mengajak anda memenuhi panggilan Islam. Masuklah Islam! Pasti anda selamat, dan Allah memberi pahala kepada anda dua kali lipat. Tetapi jika anda enggan, niscaya anda akan memikul dosa seluruh rakyat. “Hai ahli kitab! Marilah kita bersatu dalam satu kalimat yang sama antara kita, yaitu supaya kita tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain menjadi Tuhan selain Allah. Apabila engkau enggan menuruti ajakan ini, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.”

Kesimpulan Pengertian:

  1. Antara Islam sebagai agama samawi terakhir dan agama wahyu sebelumnya  jelas mempunyai hubungan yang erat, karena keberadaannya merupakan mata rantai terakhir agama Allah
  2. Kebenaran-kebenaran fundamental dan nilai-nilai hidup yang bersifat universal yang pernah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul terdahulu dikukuhkan dan dilestarikan. Sementara, beberapa aturan yang merupakan realisasi dan nilai-nilai universal disesuaikan dengan perkembangan hidup.

 

C. KEBENARAN DINUL ISLAM 

Dalam al-Qur’an, Allah telah menegaskan sendiri tentang kebenaran Islam sebagai agama bagi seluruh umat manusia. Diantara penegasan tersebut terdapat dalam beberapa surat berikut:
Surat Ali Imran/3 ayat 83

Terjemah: Apakah selain agama Allah yang mereka cari, padahal hanya kepada-Nya tunduk siapapun yang ada di langit-langit dan di bumi, baik karena taat maupun terpaksa. Dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.

Ayat di atas menjelaskan bahwa agama yang benar adalah agama yang datang dari Allah SwT.

Dalam firman-Nya yang lain, pada surat Ali Imran/3 ayat 19, Allah menegaskan:

Terjemah: Sungguh agama yang diridlai di sisi Allah adalah agama Islam.

Kemudian, dalam surat Ali Imran ayat 15, Allah SwT. berfirman:

Terjemah: Barangsiapa yang mencari agama lain selain Islam maka ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat tergolong orang-orang yang merugi.

Dalam surat al-Ma’idah/5 ayat 3, Allah juga menegaskan:

Terjemah: Hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan bagimu nikmat-Ku dan aku telah meridlai Islam sebagai agama untukmu.

Dalam  al-Qur’an terdapat beberapa nama untuk menyebut agama yang benar (agama Islam), yaitu “al-Islam” seperti tersebut nama itu dalam surat Ali Imran: 85 dan surat al-Ma’idah: 3. Nama lain dari agama Islam adalah ad-Dinul Qayyim seperti tersebut dalam surat at-Taubah: 36. Dan dalam surat al-Bayyinah: 5 disebut dengan istilah Dinul Qayyimah. Sebutan lain adalah Dinullah, seperti nampak dalam surat Ali Imran: 83 dan an-Nashr: 2; “Dinul Haq” seperti tersebut dalam surat at-Taubah: 29 dan 33.

Penegasan Allah SwT. dalam al-Qur’an yang mengatakan bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. sebagai satu-satunya agama yang benar ajarannya dapat dikuatkan dengan alasan dan bukti sebagai berikut:

  1. Islam sebagai agama yang jelas asal usulnya, yaitu sebagai agama wahyu yang terakhir.
  2. Islam dibawa oleh seorang Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SwT.
  3. Ajaran Islam diterangkan dalam Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir bagi seluruh umat manusia.
  4. Ajaran Islam tidak ada yang bertentangan dengan fitrah manusia, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan ayat al-Qur’an dalam surat al-Ma’idah ayat 3 sebagaimana telah disebutkan di atas; dan surat Rum ayat 30, terjemah: Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam), fitrah Allah, dimana Dia menciptakan manusia diatas fitrah tersebut. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
  5. Ajaran Islam tertumpu pada ajaran mengesakan Tuhan dan bertujuan menjadikan manusia sebagai sumber kabaikan.
  6. Ajaran Islam dapat diamalkan dengan mudah dan praktis oleh orang yang beriman (tidak memerlukan upacara yang rumit), dan semua ajarannya baik dan lurus sesuai dengan fitrah manusia yang tidak mau dipersulit dan yang kecenderungannya kepada yang baik dan lurus.
    Hal ini ditegaskan al-Qur’an dalam surat al-Ma’idah ayat 50, terjemah:Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin.

Al-Qur’an surat  al-Baqarah  ayat 185 menyebutkan bahwa al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda.

Terjemah: Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Q.s. al-Baqarah ayat 286:

Terjemah: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

 

D. SUMBER AJARAN ISLAM

Islam sebagai agama samawi terakhir yang baik, benar dan sempurna mempunyai dua sumber ajaran pokok, yaitu: al-Qur’an dan Hadits (as-Sunnah al-maqbulah)

1.   Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. (baik isi maupun redaksi) melalui perantaraan Malaikat Jibril. Al-Qur’an  mempunyai beberapa nama, yaitu: al-Qur’an, al-Kitab, al-Furqan, az-Zikr, dan lain-lain.
Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang terjaga kemurniaannya sejak awal diturunkan sampai sekarang dan sampai hari kiamat. Kemurnian itu tetap terjaga dan dipelihara oleh penciptanya sendiri, yaitu Allah swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat al-Hijr ayat 9:

Terjemah: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Terbukti bahwa sampai saat ini al-Qur’an tetap terjaga kemurniannya. Sejak awal diturunkannya, al-Qur’an ditulis dan dihafalkan oleh para sahabat atas petunjuk Nabi Muhammad SAW. Kodifikasi al-Qur’an telah dirintis pada zaman khalifah Abu Bakar dan disempurnakan pada zaman khalifah Usman bin Affan.
Kedudukan dan fungsi al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Q.s. al-Baqarah ayat 185, terjemah: Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
  2. Sebagai sumber dari segala sumber hukum. Q.s. al-Ahzab ayat 36, terjemah: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
  3. Isi ajaran-ajaran di dalam al-Qur’an, di samping sebagai pembenar, juga sebagai koreksi terhadap ajaran agama-agama samawi yang terdahulu, sebagaimana diungkapkan dalam Q.s. an-Nahl ayat 64, terjemah: Dan kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Selain ayat tersebut, perhatikan pula surat an-Nisa’(4) ayat 47 dan surat al-Ma’idah (5) ayat 48.
  4. Sebagai mu’jizat Nabi Muhammad SAW. Qs. al-Baqarah ayat 23, terjemah: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.  (Lihat pula surat Yunus: 38; surat Hud: 13; dan surat al-Isra’: 88).

Al-Qur’an berisi ajaran-ajaran yang meliputi:

  1. Akidah. Ajaran tentang keimanan kepada Allah swt., para Malaikat, kitab-kitab Allah, para Rasul Allah, hari akhir dan takdir Allah.
  2. Hukum. Ajaran tentang hukum  terdiri atas aturan tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang disebut ibadah (cara ritual) dan aturan tentang hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat yang disebut mu’amalah.
  3. Akhlak, adalah tata aturan tentang bagaimana orang harus berbudi pekerti  baik dan menjauhi budi pekerti yang jelek, bagaimana berakhlak kepada Allah, sesama manusia, maupun kepada alam hewani, nabati dan alam jamadi.
  4. Janji dan ancaman Allah. Allah tidak akan memperselisihi janji dan ancamannya. Barangsiapa beriman dan beramal shalih, Allah berjanji akan membalas dengan surga, dan barang siapa yang kafir dan berbuat jelek, Allah mengancam dengan balasan neraka.
  5. Cerita atau sejarah umat terdahulu, seperti sejarah kaum Bani Israil, kaum ‘Ad, kaum Tsamud dan Raja Fir’aun. Hal itu disebutkan dalam al-Qur’an agar umat manusia mau mengambil hikmah dari sejarah umat-umat terdahulu tersebut.
  6. Cara atau ajaran tentang bagaimana manusia dapat memperoleh kehidupan yang sejahtera dan bahagia.
  7. Petunjuk atau cara yang mendorong manusia untuk dapat hidup maju dengan ilmu pengetahuan. Banyak ayat yang mendorong manusia untuk dapat hidup yang lebih maju dengan ilmu pengetahuan, dan Allah berjanji akan mengangkat derajat mereka yang menguasai ilmu pengetahuan.

2. Hadits Nabi

Hadits  adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan dan sifat-sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Kaum muslimin sepakat bahwa Hadits Nabi atau Sunnah Nabi menjadi sumber hukum kedua setelah al-Qur’an.

Dasarnya adalah sebagai berikut:

  1. Firman Allah swt. dalam al-Qur’an surat al-Hasyr (59): 7.  Terjemah: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
  2. Hadits Nabi riwayat Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain. Al ‘Irbah bin Sariyah berkata: “Pada suatu ketika, Rasulullah saw. berdiri di hadapan kami, lalu menasehati dengan nasehat yang menyentuh, yang membuat hati kami bergetar dan air mata meleleh. Rasulullah saw. ditanya, wahai Rasulullah, engkau telah menasehati kami dengan nasehat orang yang berpamitan, maka berpesanlah engkau kepada kami dengan satu pesan. Beliau berkata: “Tetaplah kalian bertakwa kepada Allah, patuh dan tunduk pada pemimpin walaupun ia seorang budak yang hitam legam. Kalian akan melihat perselisihan yang amat dahsyat setelah peninggalanku. Maka tetaplah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat”.

Para sahabat sepakat  bahwa Sunnah Rasul dijadikan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Kesepakatan itu berlaku sejak Rasul masih hidup sampai setelah wafat. Mereka selalu menaati hadits Rasul; menaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
Al-Qur’an adalah kitab suci yang berisi aturan hidup secara umum yang masih memerlukan penjelasan. Contoh, shalat diperintahkan dalam al-Qur’an, tetapi tidak ada penjelasan tentang tata cara melakukan shalat. Untuk menjelaskan tata cara shalat ini, Nabi memberikan contoh pelaksanaannya.
Segala sesuatu mengenai hidup dan kehidupan sudah diatur oleh al-Qur’an dan Hadits Nabi, tetapi tidak semuanya bersifat rinci. Ada yang diatur secara global (garis besar atau prinsip-prinsipnya) dan ada yang diatur secara detail. Untuk penjabaran dan pengembangan hal-hal yang belum diatur secara detail, al-Qur’an dan Hadits memberikan kesempatan kepada para ulama mujtahidin untuk melakukan ijtihad, yaitu menggunakan pikiran untuk menentukan sesuatu (hukum) yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh al-Qur’an dan Hadits.

Dalam surat an-Nisa’(4): 59 Allah s.w.t. berfirman, terjemah:  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dalam menggunakan ijtihad, para mujtahidin menggunakan metode ijma’, qiyas, istihsan dan mashalih mursalah. Keputusan ijtihad tidak bersifat absolut, karena merupakan produk akal pikiran, tidak berlaku bagi semua orang dan semua masa, dan tentu saja tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits (Zaky Mubarok, dkk: 62-74).

 

D. ASPEK-ASPEK AJARAN ISLAM

Secara garis besar, ajaran Islam mencakup empat aspek, yaitu:

  1. Akidah, yaitu aspek keyakinan atau keimanan kepada perkara-perkara yang dijelaskan dalam rukun Iman.
    Akidah merupakan fondasi ajaran Islam yang sifat ajarannya pasti, mutlak kebenarannya, terperinci dan monoteistis. Ajaran intinya adalah mengesakan Tuhan (tauhid). Oleh karena itu, ajaran akidah Islam yang tauhidi sangat menentang segala bentuk kemusyrikan.
  2. Ibadah, yaitu aturan-aturan tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah atau segala cara dan upacara pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaannya dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi, seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain.
  3. Akhlak, yaitu aturan tentang perilaku lahir dan batin yang dapat membedakan antara perilaku yang terpuji dan tercela,  antara yang salah dan yang benar, antara yang patut dan yang tidak patut (sopan); dan antara yang baik dan yang buruk. Sifat ajaran akhlak Islam adalah universal, eksternal dan absolut. Dan akhlak yang benar menurut Islam adalah akhlak yang dilandasi dengan iman yang benar.
  4. Mu’amalah, yaitu aturan tentang hubungan manusia dengan manusia dalam rangka memenuhi kepentingan atau kebutuhan hidupnya, baik yang primer maupun sekunder. Contoh: berdagang, perkawinan, termasuk juga masalah hukum pidana dan hukum tata negara.  (Zaky Mubarok, dkk: 78-80)

 

E. KARAKTERISTIK DINUL ISLAM

Dinul Islam mempunyai karakteristik yang tidak dimiliki agama lain dan sekaligus merupakan kekuatannya.

  1. Agama Islam adalah agama Allah (dinullah), yakni seluruh ajarannya  bersumber dari Allah swt., baik  mela-lui wahyu langsung (al-Qur’an) maupun tidak langsung (Hadits Nabi). Allah berfirman dalam al-Qur’an surat az-Zumar/39: 2, terjemah: Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sem-bahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.   (Lihat pula surat as-Sajdah/32 ayat 2)
  2. Agama Islam mengandung ajaran-ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (syumul).
  3. Agama Islam berlaku untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman (al-’umum)
  4. Agama Islam mengandung ajaran-ajaran yang sesuai fitrah manusia. Terjemah: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.s. ar-Ruum/30 ayat 30). Fitrah Allah maksudnya adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu: agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
  5. Agama Islam menempatkan akal manusia pada tempat yang sebaik-baiknya.  Terjemah:  Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (Qs. al-A’raf [7]: 179).  Terjemah:  Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan (Q.s. Luqman [31]: 20).
  6. Agama Islam berfungsi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Al-Qur’an surat al-Anbiya’ (21) ayat 107, terjemah: Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
  7. Agama Islam mengarahkan umat manusia ke masa depan (akhirat) tanpa melupakan masa kini (dunia), sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat Qashash (28) ayat 77, terjemah: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan buat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepa-damu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesung-guhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Bagi orang yang beriman, masa depan itu penuh harapan. Karenanya, ia harus selalu optimis dan menghilangkan pesimisme.
  8. Agama Islam menjanjikan balasan (al-jaza’), yakni: surga bagi orang-orang yang beriman, dan neraka bagi orang yang kufur kepada Allah swt.  Firman Allah, al-Qur’an surat al- Bayyinah (98): 6-8, terjemah: Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan kaum musyrikin akan masuk neraka jahan-nam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruknya makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka disisi Tuhannya ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha ter-hadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

=========================================

Setiap Muslim yakin sepenuhnya bahwa karunia Allâh Azza wa Jalla yang terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang Muslim wajib bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat-Nya yang telah memberikan hidayah Islam. Allâh Azza wa Jalla menyatakan bahwa nikmat Islam adalah karunia yang terbesar, sebagaimana firman-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” [al-Mâidah/5:3]

Sebagai bukti syukur seorang Muslim atas nikmat ini adalah dengan menjadikan dirinya sebagai seorang Muslim yang ridha Allâh sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabinya. Seorang Muslim harus menerima dan meyakini agama Islam dengan sepenuh hati. Artinya ia dengan penuh kesadaran dan keyakinan menerima apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengamalkan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika seseorang ingin menjadi Muslim sejati, pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang setia, maka ia harus meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang haq (benar). Ia harus belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh dan mengamalkan Islam dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dengan mengikuti contoh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Kondisi sebagian umat Islam yang kita lihat sekarang ini sangat menyedihkan. Mereka mengaku Islam, KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka Islam, mereka semua mengaku sebagai Muslim, tetapi ironinya mereka tidak mengetahui tentang Islam, tidak berusaha untuk mengamalkan Islam. Bahkan ada sebagian ritual keagamaan yang mereka amalkan hanya ikut-ikutan saja. Penilaian baik dan tidaknya seseorang sebagai Muslim bukan dengan pengakuan dan KTP, tetapi berdasarkan ilmu dan amal. Allâh Azza wa Jalla tidak memberikan penilaian berdasarkan keaslian KTP yang dikeluarkan pemerintah, juga tidak kepada rupa dan bentuk tubuh, tetapi Allâh melihat kepada hati dan amal.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَـى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَـى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allâh tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.[1]

Seorang Muslim wajib belajar tentang Islam yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah Nabi n yang shahih sesuai dengan pemahaman para Shahabat Radhiyallahu anhum . al-Qur’ân diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla agar dibaca, dipahami isinya dan diamalkan petunjuknya. al-Qur’ân dan as-Sunnah merupakan pedoman hidup abadi dan terpelihara, yang harus dipelajari dan diamalkan. Seorang Muslim tidak akan sesat selama mereka berpegang kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat Radhiyallahu anhum .

al-Qur’ân adalah petunjuk hidup, penawar, rahmat, penyembuh, dan sumber kebahagiaan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧﴾ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (al-Qur’ân) dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Dengan karunia Allâh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ [ Yunus/10:57-58]

ISLAM ADALAH SATU-SATUNYA AGAMA YANG BENAR
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam… [Ali ‘Imrân/3:19]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. [Ali ‘Imrân/3:85]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allâh itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, maka tidak akan ada bagimu Pelindung dan Penolong dari Allâh. [al-Baqarah/2:120]

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Islam satu-satunya agama yang benar, adapun selain Islam tidak benar dan tidak diterima oleh Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, agama selain Islam, tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla , karena agama-agama tersebut telah mengalami penyimpangan yang fatal dan telah dicampuri dengan tangan-tangan kotor manusia. Setelah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka orang Yahudi, Nasrani dan yang lainnya wajib masuk ke dalam Islam, mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Kemudian ayat-ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada Islam serta mereka tidak ridha sampai umat Islam mengikuti mereka. Mereka berusaha untuk menyesatkan umat Islam dan memurtadkan umat Islam dengan berbagai cara. Saat ini gencar sekali dihembuskan propaganda penyatuan agama, yang menyatakan konsep satu Tuhan tiga agama. Hal ini tidak bisa diterima, baik secara nash (dalil al-Qur’ân dan as-Sunnah) maupun akal. Ini hanyalah angan-angan semu belaka.

Kesesatan ini telah dibantah oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân :

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴿١١١﴾بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’ Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar. Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allâh, dan ia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.’ [al-Baqarah/2:111-112]

Orang Yahudi dan Nasrani mengadakan propaganda berupa tipuan agar kaum Muslimin keluar dari ke-Islamannya dan mengikuti mereka. Bahkan mereka memberikan iming-iming bahwa dengan mengikuti agama mereka, maka orang Islam akan mendapat petunjuk. Padahal, Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim q yang lurus, agama tauhid yang terpelihara. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘(Tidak!) tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan dia tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allâh. [al-Baqarah/2:135]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya. [al-Baqarah/2:42]

Berkenaan dengan tafsir ayat ini, “Dan janganlah kalian campuradukkan yang haq dengan yang bathil,” Imam Ibnu Jarîr t membawakan pernyataan Imam Mujâhid rahimahullah yang mengatakan, “Janganlah kalian mencampuradukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam.”

Sementara dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Imam Qatâdah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian campur-adukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan agama Islam, karena sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allâh Azza wa Jalla hanyalah Islam. Sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah bukan dari Allâh Azza wa Jalla !”

Sungguh, tafsir ini merupakan khazanah fiqih yang sangat agung dalam memahami Al-Qur-an.

Untuk itulah kewajiban kita bersikap hati-hati terhadap propaganda-propaganda sesat, yang menyatakan bahwa, ‘Semua agama adalah baik’, ‘kebersamaan antar agama’, ‘satu tuhan tiga agama’, ‘persaudaraan antar agama’, ‘persatuan agama’, ‘perhimpunan agama samawi’, ‘Jaringan Islam Liberal (JIL)’, dan lainnya. Bahkan mereka gunakan juga istilah HAM (Hak Asasi Manusia) untuk menyesatkan kaum Muslimin dengan kebebasan beragama.

Semua slogan dan propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam, dengan memberikan simpati atas agama Nasrani dan Yahudi, mendangkalkan pengetahuan umat Islam tentang Islam yang haq, untuk menghapus jihad, untuk menghilangkan ‘aqidah al-wala’ wal bara’ (cinta/loyal kepada kaum Mukminin dan berlepas diri dari selainnya), dan mengembangkan pemikiran anti agama Islam. Dari semua sisi hal ini sangat merugikan Islam dan umatnya.

Semua propaganda sesat tersebut merusak ‘aqidah Islam. Sedangkan ‘aqidah merupakan hal yang paling pokok dan asas dalam agama Islam ini, karena agama yang mengajarkan prinsip ibadah yang benar kepada Allâh Azza wa Jalla saja, hanyalah agama Islam.

Rasûlullâh, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , adalah Rasul terakhir dan Rasul penutup. Syari’at beliau n adalah penghapus bagi syari’at sebelumnya. Dan Allâh Azza wa Jalla tidak menerima syari’at lain dari seorang hamba selain syari’at Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Islam). Islam adalah syari’at penutup yang kekal dan terpelihara dari penyimpangan yang terjadi pada syari’at-syari’at sebelumnya, dan seluruh manusia diwajibkan untuk mengemban syari’at ini.

Setiap Muslim wajib berpegang teguh kepada agama Islam, dan janganlah ia mati melainkan dalam keadaan Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Ali ‘Imrân/3:102]

Maka siapa saja yang tidak masuk Islam sesudah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia mati dalam keadaan kafir maka ia menjadi penghuni Neraka. Wal ‘iyâdzubillâh.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُـحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِـي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِـيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni Neraka.[3]
——————-

AZAS ISLAM ADALAH TAUHID DAN MENJAUHKAN SYIRIK
———————
Setiap orang yang beragama Islam wajib mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Dan seorang Muslim juga mesti memahami pengertian tauhid, makna syahadat, rukun syahadat dan syarat-syaratnya, supaya ia benar-benar bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla .
———————-

Tauhid menurut etimologi (bahasa) diambil dari kata: وَحَّدَ، يُوَحِّدُ، تَوْحِيْدًا artinya menjadikan sesuatu itu satu.
———————-

Sedangkan menurut terminologi (istilah ilmu syar’i), tauhid berarti mengesakan Allâh Azza wa Jalla pada segala sesuatu yang khusus bagi-Nya. Mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dalam ketiga macam tauhid, yaitu Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya. Dengan kata lain, Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja.
——————–

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allâh Azza wa Jalla adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu.
———————-

Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’ânah (minta pertolongan), istighâtsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’âdzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya untuk Allâh semata dan ikhlas karena-Nya. Dan ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kepada selain Allâh.
————————-

Tauhid Asma’ wa Shifat artinya menetapkan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan atas diri-Nya dan yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya n , serta mensucikan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya n . Dan kaum Muslimin wajib menetapkan Sifat-Sifat Allâh Azza wa Jalla , baik yang terdapat di dalam al-Qur’ân maupun dalam as-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.
—————————–
Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [al-Baqarah/2:163]
—————————

Syaikh al-‘Allâmah ‘Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah (wafat th. 1376 H) berkata, “Allâh Azza wa Jalla itu tunggal dalam Dzat-Nya, Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama-Nya, dan Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allâh Azza wa Jalla . Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi dan Allâh tidak boleh disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.”[3]
————————–

Inilah inti ajaran Islam, yaitu mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla . Seorang Muslim wajib mentauhidkan Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan konsekuensi dari kalimat syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ sebagai wujud rasa syukur kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa yang bertauhid kepada Allâh dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, maka baginya Surga dan diharamkan masuk Neraka.
—————————

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْـجَنَّةَ

Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh, maka ia masuk Surga. [5]
——————————

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُـحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allâh, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allâh mengharamkannya masuk Neraka[6]
——————————–

Sebaliknya, orang-orang yang berbuat syirik kepada Allâh Azza wa Jalla , maka diharamkan Surga bagi mereka dan tempat mereka adalah di Neraka.
————————-
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allâh, maka sungguh Allâh mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah Neraka dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [al-Mâidah/5:72]
——————

ISLAM ADALAH AGAMA YANG MUDAH
Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia.[7] Islam adalah agama yang tidak sulit. Allâh Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana firman Allâh Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“…Allâh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [al-Baqarah/2:185]

Juga firman-Nya :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama …” [Al-Hajj/22: 78]

Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia, tidak akan memberikan beban kepada hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan, Allâh Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… [Al-Baqarah/2: 286]

Tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا، وَأَبْشِرُوْا، وَاسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْـجَةِ

Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta mohonlah pertolongan (kepada Allâh) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.[8]

Hanya saja ada sebagian orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit. Anggapan keliru ini muncul karena :
1. Ketidaktahuan tentang Islam. Mereka tidak belajar al-Qur’ân dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman Shahabat, dan tidak mau menuntut ilmu syar’i.
2. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu menggap semuanya susah dan berat kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya. Jadi yang mudah dalam pandangan mereka hanyalah yang sesuai dengan nafsu mereka saja.
3. Banyak berbuat dosa dan maksiat, sebab dosa dan maksiat menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.
4. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti pendapat orang banyak.
5. Mengikuti adat istiadat dan kebudayaan.
6. Mengikuti kelompok, madzhab, dan lainnya.

Syari’at Islam adalah mudah. Kemudahan syari’at Islam berlaku dalam semua hal, baik dalam ushûl (hal-hal pokok dan mendasar) maupun furu’ (cabang), baik dalam ‘aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, jual beli, pinjam-meminjam, pernikahan, hukuman dan lainnya.

Semua perintah dalam Islam mengandung banyak manfaat. Sebaliknya, semua yang dilarang dalam Islam mengandung banyak kemudharatan. Maka, kewajiban atas kita untuk sungguh-sungguh memegang teguh syari’at Islam dan mengamalkannya. Apabila kita mengikuti al-Qur’ân dan as-Sunnah dan mengamalkannya maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan hidayah (petunjuk) dan kita dimudahkan dalam melaksanakan agama Islam ini.

ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA
Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” [al-Mâidah/5:3]

Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam al-Qur’ân tentang ushûl (hal-hal pokok dan mendasar) dan furu’ (cabang-cabang) agama Islam. Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan tentang tauhid dengan segala macam-macamnya. Islam menjelaskan tentang beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan benar, mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , menjauhkan syirik, bagaimana shalat yang benar, zakat, puasa, haji, bagaimana melaksanakan hari raya, bergaul dengan manusia dengan batas-batasnya sampai tentang cara buang air besar pun diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ سَلْمَانَ z قَـالَ: قَـالَ لَنَـا الْمُشْـرِكُوْنَ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى الْـخِرَاءَةَ ! فَقَالَ: أَجَلْ !

Dari Salmân Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Orang-orang musyrik telah bertanya kepada kami, ‘Sesungguhnya Nabi kalian sudah mengajarkan kalian segala sesuatu sampai (diajarkan pula adab) buang air besar!’ Maka, Salman Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Ya!’”[9]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada manusia apa saja yang membawa manusia ke Surga dan apa saja yang membawa manusia ke Neraka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَبِـى ذَرٍّ z قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ j وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِـي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ j: مَا بَقِـيَ شَـيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْـجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu , ia mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu , “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” [10]

Setiap Muslim wajib mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allâh dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [an-Nisâ’/4:59]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [an-Nisâ’/4:65]
Wallaahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Shahih: HR. Muslim (no. 2564 (33)), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[2]. Pembahasan lengkapnya lihat kitab al-Ibthâl Linazhariyyatil Khalthi baina Dînil Islâm wa Ghairihi minal Adyân karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, cet. Daar ‘Alamul Fawaa-id, cet II/ th. 1421 H.
[3]. Shahih: HR. Muslim no 153 (240) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[4]. Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân (hlm. 63), cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1420 H.
[5]. Shahih: HR. Muslim (no. 26) dari Shahabat ‘Utsman Radhiyallahu anhu.
[6]. Shahih: HR. al-Bukhari (no. 128) dan Muslim (no. 32), dari hadits Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu.
[7]. Pembahasan ini diambil dari kitab Kamâluddîn al-Islâmi oleh Syaikh ‘Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim (hlm. 42) dan Shuwarun min Samâhatil Islâm oleh DR. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali Ar-Rabii’ah, cet. Darul Mathbu’aat al-Haditsah, Jeddah th. 1406 H, dan kitab-kitab lainnya.
[8]. Shahih: HR. al-Bukhari (no. 39), Kitâbul Imân bab ‘Addînu Yusrun’, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[9]. Shahih: Riwayat Muslim (no. 262 (57)), Abu Dawud (no. 7), at-Tirmidzi (no. 16) dan Ibnu Mâjah (no. 316), dari Salmân al-Farisi Radhiyallahu anhu.
[10]. Shahih: HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (II/155-156, no. 1647) dan Ibnu Hibbân (no. 65) dengan ringkas, dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts Ash-Shahîhah (no. 1803).

-======================================
berbagai sumber
wallahua’lam

Maksud dari istilah “Shalat menurut cara Nabi SAW” adalah mengerjakan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita wajib mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hal beribadah, apalagi dalam hal melaksanakan shalat tentunya. ————————- Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1] ————————- Diantara ayat Al-Qur’an yang mewajibkan sekeligus memerintahkan kita shalat yaitu: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa (4) : 103) ———————- Shalat itu dibagi pada yang wajib dan sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun islam.[2] ———————– Rukun shalat adalah bagian pokok dari sholat itu sendiri. Artinya, perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan karena jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah/batal. Rukun sholat itu ada 13 rukun, yaitu sebagai berikut: Niat (cukup didalam hati) Berdiri (jika mampu) Takbiratul Ikhram (takbir awal shalat) Membaca surat al-fatihah (kecuali makmum yang mendengar bacaan imam) Ruku` dan tuma`ninah (dengan sikap tenang sejenak) I`tidal dan tuma`ninah Sujud dan tuma`ninah Duduk diantara dua sujud dan tuma`ninah Duduk tasyahud akhir Membaca tasyahud akhir. Membaca shalawat kepada Nabi Membaca salam pertama menoleh ke kanan Tartib urutan tukunnya

Maksud dari istilah “Shalat menurut cara Nabi SAW” adalah mengerjakan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita wajib mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hal beribadah, apalagi dalam hal melaksanakan shalat tentunya.
————————-

Lalu bagaimana cara kita mengikuti shalat Beliau SAW ? Ya tentu saja dengan cara kita mempelajari shalat tersebut dari para pewaris Nabi SAW, yaitu para ulama. Para ulama terutama para Imam Madzhab inilah yang jaraknya lebih dekat dengan para sahabat Rasulullah SAW. Guru-guru mereka  adalah para tabi’in yang tentunya berguru langsung dengan para sahabat Nabi SAW. Sekedar contoh saja misalnya Imam Malik Rahimullah Ta’ala. Beliau adalah salah satu dari empat imam madzhab fiqh. Beliau diberi gelar Imam Daril Hijrah (Pemuka Ulama Madinah). Beliau mempunyai guru yang bernama Nafi’ Rahimahullahu. Beliau (Nafi’) adalah mantan budak dsri Sahabat Abdullah Ibn Umar RA. Nafi’ Rahimahullahu Ta’ala tentunya berguru langsung kepada Abdullah Ibn Umar RA. Guru dari Abdullah Ibn Umar RA adalah ayahnya (Umar Ibn Al-Khattab RA) dan Rasulullah SAW. Dengan demikian. Sudah sangat jelas bahwa sanad keguruan beliau-beliau bersambung kepada Rasulullah SAW. Tentu saja dalil yang digunakan dalam ber-fiqh baik shalat dan lainnya adalah Al-Qur’an dan Hadis-hadis Rasulullah SAW. Untuk kita yang awam ini, tentu menjadi layak mengikuti (ittiba’) kepada salah satu dari imam 4 madzhab karena kedalaman ilmu beliau-beliau, baik dalam bidang fiqh mau pun hadis.
—————————–

Namun yang perlu kita maklumi bahwa tidak selalu pendapat para imam madzhab ini sama dalam menyimpulkan hukum fiqh. Keragamaan pendapat beliau-beliau yang sangat pakar ini tentu dalam hal teks nash, baik dari ayat Al-Qur’an maupun Hadis. Selain dari pemahaman teks nash yang tidak selalu sama, penilaian tentang kuat atau lemahnya hadis menurut beliau-beliau ini juga bisa saja menyebabkan kesimpulan hukum yang tidak sama. Namun perlu dipertegas lagi, bahwa keragamaan merka dalam berijtihad adalah sekitar masalah teks nash yang memang sangat memungkinkan adanya multi tafsir dan masalah tersebut berkutat pada masalah furu’iyah yang masih sangat dimaklumi dan ditolelir, tidak pada masalah pokok seperti tauhid. Dengan demikian, ittiba’ kepada salah satu madzhab sudah pasti mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW.
——————–

Contoh lain yang paling mudah kita temui seperti pertanyaan di atas adalah masalah membaca do’a iftitah dalam shalat. Sebagian ulama ada yang membaca iftitah dengan do’a Allahumma Ba’id Baini dst dan sebagian lagi ada yang membaca dengan Allahu Akbar Kabira dst. Kenapa, kok beda ? karena masing-masing mereka mempunyai dalil hadis bahwa nabi ketika iftitah membaca doa yang mereka hujahkan. Dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa do’a iftitah, baik Allahu Akbar Kabiira atau pun redaksi lainnya yang bersumber dari hadis, boleh dibaca semuanya ketika ifitah.
——————

Baiklah, Bii Aunillaahi Ta’ala saya mencoba memaparkan beberapa point pertanyaan akhi angga sebagai berikut :

  1. Untuk masalah taharruk (menggerakan ) jari ketika tasyahud, sebagai berikut :
  • Imam hanafi berpendapat bahwa mengangkat jari ketika sampai pada kalimat “La” dan menurunkan kembali ketika pada kalimat “illa”
  • Mazhab Maliki berpendapat bahwa menggerakan jari ke kanan dan ke kiri mulai dari awal tahiyyat sampai akhir.
  • Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa mengangkat telunjuk ketika mengucapkan “Illallaah”
  • Madzhab Hambali : Mengerakkan jari ketika setiap kali membaca kalimat “Allah”
    Mengenai bacaan tasyahud yang populer adalah sebagaimana yang umum dibaca masyarakat kita.
  1. Mengenai bacaan iftitah, malikiyah berpendapat makruh, sedangkan jumhur berpendapat sunnah. Do’a iftitah sangat banyak, mungkin yang paling jarang dibaca di masyarakat kita adalah redaksi : subhanakkallahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuk wa taalaa jadduk wala ilaaha ghairuk. Adapun bacaan iftitah NU dan Muhammadiyah sebagaimana yang anda tanyakan semuanya berdasarkah dari Hadis Rsulullah SAW dan kita boleh memilih salah satu diantaranya atau membacanya berganti-gantian, hari ini allahu akbar kabira, besoknya Allahumma ba’id dan besoknya lagi sebagaiman redaksi diatas.
  2. Jumhur berpendapat bahwa disunnahkan makmum membaca do’a iftitah sebelum imam memulai bacaan al Fatihah. Makmum mendengarkan bacaan Al fatihah ketika imam membacanya. Kemudian makmum membaca Al Fatihah ketika imam membaca surah setelah al fatihah. Bagaimana jika bacaan imam lebih pendek dari bacaan fatihah makmum ? makmum membaca alfatihah sepanjang bacaan imam walaupun fatihahnya belum selesai. Ini menurut pendapat madzhab Asy-Syafi’iyyah. Untuk pendapat madzhab lainnya dalam masalah ini, bisa dibaca lengkap di artikel kami : Hukum membaca Al-Fatihah bagi makmum.
  3. Para ulama sepakat bahwa niat adalah di dalam hati. Adapun membahasan atau melafazkan niat itulah yang menjadi perselihan mereka. Talaffuzh niyat ( membahasakan niyat) seperti membca ushalli dst, sebagian ulama ada yang menganggap sunnah, sebagian lagi menganggap boleh dan sebagian lagi menganggap makruh bahkan ada yang menganggap bid’ah.
  4. Mengenai sighat salam : Madzhab hanafi berpendapat paling sedikit dengan mengucapkan “assalam”. Sedangkan Madzhab Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa lafazh yang paling minimal adalah assalam alaikum (syafi’I hambali)./ ke semua madzhab sepakat bahwa yang paling afdhal adalah menggunakan redaksi lengkap, yaitu : “assalam alaikum wa rahmatullah” dan mereka sepakat tidak danjurkan membaca wa barakatuh

Wallahu a’lam
==========================

Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1]
————————-

Diantara ayat Al-Qur’an yang mewajibkan sekeligus memerintahkan kita shalat yaitu:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”       (QS. An-Nisaa (4) : 103)
———————-

Shalat itu dibagi pada yang wajib dan sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun islam.[2]
———————–

 

  1. Rukun, syarat wajib dan syarat sah sholat
    1. Rukun Sholat

Rukun shalat adalah bagian pokok dari sholat itu sendiri. Artinya, perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan karena jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah/batal. Rukun sholat itu ada 13 rukun, yaitu sebagai berikut:

  1. Niat (cukup didalam hati)
  2. Berdiri (jika mampu)
  3. Takbiratul Ikhram (takbir awal shalat)
  4. Membaca surat al-fatihah (kecuali makmum yang mendengar bacaan imam)
  5. Ruku` dan tuma`ninah (dengan sikap tenang sejenak)
  6. I`tidal dan tuma`ninah
  7. Sujud dan tuma`ninah
  8. Duduk diantara dua sujud dan tuma`ninah
  9. Duduk tasyahud akhir
  10. Membaca tasyahud akhir.
  11. Membaca shalawat kepada Nabi
  12. Membaca salam pertama menoleh ke kanan
  13. Tartib urutan tukunnya
    1. Syarat wajib sholat

Orang yang melaksanakan sholat lima waktu wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Beragama Islam
  2. Telah menerima dakwah Islam
  3. Suci dari darah haid dan nifas (bagi wanita)
  4. Berkal
  5. Balig
    1. Syarat sah sholat lima waktu

Sholat seseorang dikatakan sah apabila memnuhi hal-hal berikut ini:

  1. Suci dari hadas (baik hadas besar maupun kecil)
  2. Badan, pakaian, dan tempat sholat harus suci dari najis
  3. Menutup aurat
  4. Menghadap kiblat
  5. Telah tiba waktu sholat, tidak mendahuluinya[3]
  1. Bacaan dan gerakan sholat menurut tuntunan hadits Nabi SAW
    1. Takbir

Mengangkat kedua tangan sebatas kedua pundak saat takbiratul ikram

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ وَلَا يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi, Sa’id bin Manshur, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Amru an-Naqid, dan Zuhair bin Harb, serta Ibnu Numair semuanya dari Sufyan bin Uyainah dan lafazh tersebut milik Yahya, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Salim dari bapaknya dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memulai shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundak, dan mengangkat tangan sebelum rukuk dan ketika berdiri dari rukuk, namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya antara dua sujud.” (HR. Muslim)

Mengangkat kedua tangan hingga sebatas telinga

عَنْ وَاءِلَ ابْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صل الله عليه و سلّم : حِينَ افْتَتَحَ الصّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِيَالَ أُذُنَيْهِ قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُهُمْ فَرَ أَيْتُهُمْ يَرْ فَعُونَ اَيْدِيَهُمْ إِلَى صُدُورِهِمْ فِي افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ وَعَلَيْهِمْ بَرَانِسُ وَأَكْسِيَةٌ

Artinya: dari Wail bin Hujr, dia berkata, “saya melihat Rasullah SAW sewaktu memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua telinga beliau.” Katanya, “kemudian aku datang kepada mereka, aku melihat mereka mengangkat tangan sampai ke dada mereka sewaktu memulai shalat, sementara mereka memakai mantel yang menutup kepala dan memakai pakaian” (HR. Abu Daud)

  1. Do’a Iftitah

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ { وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا } مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ { إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ } اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ لِي إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَإِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعِظَامِي وَعَصَبِي وَإِذَا رَفَعَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ وَإِذَا سَجَدَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ فَأَحْسَنَ صُورَتَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ وَإِذَا سَلَّمَ مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya: Dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengerjakan shalat, beliau bertakbir kemudian membaca; “Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardli Haniifam Muslima Wamaa Ana Minal Musyrikin, Inna Shalaati Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaati Lillahi Rabbil ‘Aalamin, Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Anaa Awwalul Muslimin. Allahumma Antal Malik Laailaaha Illa Anta, Anta Rabbi Wa Anaa ‘Abduka Dlalamtu Nafsii Wa’taraftu Bidzanbii Faghfirlii Dzunuubi Jamii’a Innahu Laa Yaghfirud Dzunuuba Illa Anta Wahdinii Liahsanil Ahlaaqi Laa Yahdii Li Ahsanihaa Illa Anta Washrif ‘Anni Sayyi`Ahaa Laa Yashrif Sayyi`Ahaa Illa Anta. Labbaika Wa Sa’daika Wal Khairu Kulluhu Fii Yadaika Wass Syarru Laisa Ilaika Ana Bika Wa Ilaika Tabaarakta Wa Ta’aalaita Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaika”. (Aku hadapkan muka-Ku ke hadirat Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan tunduk dan menyerahkan diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang Musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Penguasa seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian aku di perintah, dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam (yang menyerah diri). Ya Allah, Enkau adalah Rabbku dan aku dalah hamba-Mu, aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dan mengakui kesalahanku, maka amnpunilah dosaku semuanya, dan tiadalah yang dapat mengampuni dosaku itu melainkan Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang baik, dan tak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang tercela, karena tidak ada yang dapat menjauhkanku dari akhlak yang tercela melainkan Engkau, Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku patuhi perintah-Mu, kebaikan seluruhnya berada dalam kekuasaan-Mu, sedangkan kejahatan tidak dapat di pakai untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Aku ini hanya dapat hidup dengan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, Maha Berkah Engakau dan Maha Tinggi, aku meohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

Apabila ruku’, beliau membaca; “Allahumma Laka Raka’tu Wabika Aamantu Walaka Aslamtu Khasya’a Laka Sam’ii Wa Basharii Wa Mukhhii Wa ‘Idzaamii Wa ‘Ashabii (Ya Allah, kepada-Mu lah aku ruku’, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, dan kepada-Mu lah pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang belulangku dan urat sarafku tunduk).”

Apabila i’tidal beliau mengucapkan; “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanaa Walakal Hamdu Mil`Us Samaawaati Wal Ardli Wa Mil`U Maa Bainahumaa Wamil`U Maa Syi`Ta Min Syai`In Ba’du” (Maha Mendengar Allah terhadap siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya bagi Engkau jua segala pujian, sepenuh langit, bumi, dan sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu).”

Apabila sujud, beliau mengucapkan; “Allahumma Laka Sajadtu Wa Bika Aamantu Walaka Aslamtu, Sajada Wajhiya Lilladzii Khalaqahu Wa Shawwarahu Fa Ahsana Shuuratahu Wa Syaqqa Sam’ahu Wa Basharahu Wa Tabaarakallahu Ahsanul Khaaliqin” (Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya dengan sebaik-baik bentuk, membuat pendengaran dan penglihatannya, dan Maha Barakah Allah, sebaik-baik pencipta).”

Apabila selesai salam, beliau mengucapkan; “Allahummaghfirlii Maa Qaddamtu Wa Maa Akhhartu Wamaa Asrartu Wamaa A’lantu Wamaa Asraftu Wamaa Anta A’lamu Bihi Minni Antal Muqaddim Wal Mu`Akhhir Laa Ilaaha Illa Anta (Ya Allah, ampunilah daku, dan dosa-dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang samar dan dosa yang jelas, serta dosa yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya, Engkau lah yang mendahulukan dan mengundurkan, tiada ilah selain Engkau).” (HR. Muslim)

Do’a iftitah dengan bacaan “Subhaanaka Allahumma Wabihamdika”

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ ثُمَّ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثَلَاثًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ثَلَاثًا أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ ثُمَّ يَقْرَأُ

Artinya: Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan: “Subhaanaka Allahumma Wabihamdika Watabaarakasmuka Wa Ta’aala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairaka” (Maha suci Engkau, ya Allah, aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha luhur keluhuran-Mu dan tidak ilah selain Engkau).” kemudian membaca: “Laa Ilaaha Illallah” (tidak ada ilah selain Allah) sebanyak tiga kali, kemudian membaca: “Allahu Akbar Kabiira (Allah Maha besar benar-benar Maha besar).” sebanyak tiga kali- (kemudian membaca): “A’uudzu Billahis Samii’il ‘Aliim Minas Syaithaanir Rajiim Min Hamzihii Wanafkhihi Wa Naftsihi” (Aku berlindung kepada Allah, dzat yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari goda’an syetan yang terkutuk, dari kegilaannya, dari kesombongannya dan syairnya yang jelek).” kemudian beliau membaca (Al-Fatihah).” (HR. Abu Daud)

  1. Wajibnya membaca al Fatihah pada setiap rakaat

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Arinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid serta Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Sufyan berkata Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Mahmud bin ar-Rabi’ dari Ubadah bin ash-Shamit menyatakan hadits tersebut marfu’ kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Hr. Muslim)

Membaca ‘Amin’ di belakang imam

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ عَنْ حُجْرٍ أَبِي الْعَنْبَسِ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ { وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah dari Hujr Abu Al ‘Anbas Al Hadlrami dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca; “Walaadl dlaallin, beliau mengucapkan; “Amiin” Sambil mengangkat suaranya.“ (HR. Abu Daud)

  1. Tentang Basmalah

Pendapat yang tidak mengeraskan Basmalah

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَ�قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka semua memulai bacaannya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin”. (HR. Abu Daud)

Pendapat yang mengeraskan Basmalah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قال: كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه و سلّم لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA. Dia berkata, “Nabi SAW tidak mengetahui pemisah surah, sehingga diturunkan kepada beliau . Bismillaa hirramaa nirraahim” (HR. Abu Daud)

  1. Peletakan tangan

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جُحَادَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ وَائِلٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ وَمَوْلًى لَهُمْ أَنَّهُمَا حَدَّثَاهُ عَنْ أَبِيهِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنْ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهُمَا ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ فَلَمَّا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhadah telah menceritakan kepadaku Abdul Jabbar bin Wail dari Alqamah bin Wail dan maula milik mereka bahwa keduanya telah menceritakannya dari bapaknya, Wail bin Hujr “Bahwasanya dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika masuk shalat, bertakbir.” Hammam menggambarkannya, “Di hadapanya, kemudian melipatnya pada bajunya kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Ketika dia ingin rukuk, maka beliau mengeluarkan kedua tangannya dari bajunya, kemudian mengangkat keduanya, kemudian bertakbir, lalu rukuk. Ketika beliau mengucapkan, ‘Samiallahu Liman Hamidahu’ maka beliau mengangkat kedua tangannya. Ketika beliau sujud, maka beliau sujud di antara kedua telapak tangannya.” (HR. Muslim)

Meletakkan tangan diatas dada

عَنْ طَاوُسٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ الله صل الله عليه و سلّم يَضَعُ يَدَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدَّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

Artinya: dari Thawus, dia berkata, “Rasulullah SAW meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, kemudian menarik keduanya di atas dada, sedang beliau dalam keadaan shalat” (HR. Abu Daud)

Larangan melatakkan tangan pada lambung

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ عَنْ وَكِيعٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ صَبِيحٍ الْحَنَفِيِّ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَوَضَعْتُ يَدَيَّ عَلَى خَاصِرَتَيَّ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ هَذَا الصَّلْبُ فِي الصَّلَاةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sarri dari Waki’ dari Sa’id bin Ziyad dari Ziyad bin Shabih Al Hanafi dia berkata; saya shalat di samping Ibnu Umar, lalu aku meletakkan kedua tanganku pada kedua lambungku (bertolak pinggang), seusainya shalat, dia berkata; “Ini adalah salib dalam shalat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan seperti ini.” (HR. Abu Daud)

  1. Ruku’

Mengangkat tangan saat ruku’

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ

وَزَادَ

Artinya: telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Ibnu Abu Umar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membuka shalat mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. Beliau juga mengangkat tangan ketika rukuk dan mengangkat kepalanya dari rukuk.” (HR. Tirmidzi)

Meletakkan tangan diatas kedua lutut saat rukuk

عن مُصْعَبْ بن سَعْدٍ قال: صَلَيْتُ إِلَي جَنْبِ أَبِي فَجَعَلْتُ يَدَيَّ بَيْنَ رُكْبَتَيَّ فَنَهَانِي عَنْ ذَلِكَ فَعُدْتَ فَقَالَ: لَاتَصْنَعْ هَذَا، فَإِنَّا كُنَّا نَفْعَلَهُ فَنُهِيْنَا عَنْ ذَلِكَ وَأُمِرْنَا أَنْ نَضَعَ أَيْدِيَنَا عَلَى الرُّكَبِ

Artinya: dari Mush’ab bin Sa’ad, dia berkata, ”Aku pernah mengerjakan shalat disamping bapakku, lalu aku meletakkan kedua tanganku antara kedua lututku, maka ia melarangku mengerjakan cara yang demikian itu. Lalu saya kembali (mengulanginya), ia berkata (ayahku), janganlah kamu melakukan cara ini, lalu kami dilarang melakukannya dan kami diperintahkan supaya meletakkan tangan diatas lutut.” (HR. Abu Daud)

Bacaan dalam Ruku dan Sujud

عن شُعْبَةُ قَالَ: قُلْتُ لِسُلَيْمَانَ أَدْعُوْ فِي الصَّلَاةِ إِذَا مَرَرْتُ بِايةِ تَخَوُّفٍ؟ فَحَدَّثَنِى عنْ سَعْدِ عُبَيْدَتَ عنْ مُسْتَوْرِدٍ عنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ عنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم فَكَانَ يَقُوْلُ فِي رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَفِي سُجُوْدِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى، وَمَا مَرَّ بِايةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَقَفَ عِنْدَهَا فَسَأَلَ وَلَا بِايةِ عَذَابٍ إَلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا فَتَعَوَّذَ.

Artinya: Dari Syu’bah, dia berkata, ”aku berkata kepada Sulaiman, Apabila aku membaca ayat yang mengandung kekhawatiran (atau ketakutan), apakah aku harus berdo’a dalam shalat?” dari Hudzaifah, bahwasannya dia pernah shalat dengan Nabi SAW, lalu beliau dalam rukuknya, ”Subhaana Rabbiyal ’Azimii (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)” dalam sujud membaca ”Subhaana Rabbiyal A’laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Luhur)”. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau pasti berhenti pada ayat itu, lalu berdo’a dan setiap kali melewati ayat tentang adzab, beliau juga pasti berhenti pada ayat itu, lalu memohon perindungan.” (HR. Muslim)

Bacaan dalam ruku’ dan Sujud

عَنْ عَاءِشَةَ أَنْ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم كَانَ يَقُوْلُ فِي رُكُوْعِهِ وَ سُجُوْدِهِ: سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَا ءِكَةَ وَالرُّوْحِ

Artinya: Dari Aisyah RA, bahwasannya Nabi SAW mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya, ”Subbuhul Qudduusun, rabbul malaa’ikati waruuhi” (Maha Suci Allah, Tuhan kami, Tuhan Malaikat dan Jibril”). (HR. Muslim)

Shalatnya orang yang tidak menegakkan tulang sulbinya saat rukuk dan sujud

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ النَّمَرِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar An Namari telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari ‘Umarah bin Umair dari Abu Ma’mar dari Abu Mas’ud Al Badri dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sempurna shalat seseorang sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.“ (HR. Abu Daud)

  1. I’tidal

Apa yang dibaca saat mengangkat kepala dari rukuk

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dan Waki’ dari al-A’masy dari Ubaid bin al-Hasan dari Ibnu Abi Aufa dia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam apabila beliau mengangkat punggungnya dari rukuk maka beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidahu, Allahumma Rabbana laka al-Hamdu Mil’u as-Samawati wa Mil’u al-Ardh wa Mil’u Ma Syi’ta Min Sya’in Ba’du. (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujiNya. Yami, segala puji bagimu sepenuh langit dan bumi serta sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu)”. (HR. Muslim)

  1. Cara meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَال

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “saya melihat apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Daud)

  1. Sujud

Mengangkat tangan saat turun sujud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ وَهُوَ يَهْوِي

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ التَّابِعِينَ قَالُوا يُكَبِّرُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَهْوِي لِلرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

dari Abu Hurairah berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika sedang turun (sujud).” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih. ini adalah pendapat ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in. Mereka berkata; “Seorang laki-laki hendaknya bertakbir ketika rukuk dan sujud.” (HR. Tirmidzi)

Anggota sujud

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ قَالَ حَمَّادٌ أُمِرَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ وَلَا يَكُفَّ شَعْرًا وَلَا ثَوْبًا

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Sulaiman bin Harb keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “aku di perintah” sedangkan Hammad mengatakan; Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam di perintah supaya melakukan sujud atas tujuh anggota badan, dan supaya seseorang tidak menahan rambut dan kainnya ketika sujud.” (HR. Abu Daud)

Tujuh anggota sujud

عَنِ الْعَبَّاسِ ابْنِ عَبْدِالْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولُ الله صل الله عليه و سلّم يَقُوْلُ: إِذَا سَجَدُ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ اَرَابٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ

Artinya: Dari Abbas bin Abbdul Muthallib RA, bahwasannya dia pernah mendengar Rasullah SAW bersabda, ”Apabila seorang hamba bersujud, sujudlah bersamanya anggota badan, yakni: Muka, Kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kakinya.” (HR. Muslim)

Sujud pada hidung dan jidad

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُئِيَ عَلَى جَبْهَتِهِ وَعَلَى أَرْنَبَتِهِ أَثَرُ طِينٍ مِنْ صَلَاةٍ صَلَّاهَا بِالنَّاسِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ نَحْوَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Sufwan bin Isa telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat pada dahi dan ujung hidung beliau terdapat bekas tanah dari mengerjakan shalat bersama orang-orang.” Telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar seperti hadits di atas.” (HR. Abu Daud)

Menampakkan ketiak dan merenggangkan lengan saat sujud

أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُرْمُزَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ رَبِيعَةَ نَحْوَه

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Bakar bin Mudlar dari Ja’far bin Rabi’ah dari Ibnu Hurmuz dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah, “bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya.” Al Laits berkata, telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Rabi’ah seperti itu.” (HR. Bukhari)

Sifat (Cara) Sujud

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه و سلّم قال: اع ْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ، وَلَا يَفْتَرِشْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ الْكَلْبِ

Artinya: Dari Anas RA, bahwasannya Nabi SAW bersabda, ”Sempurnakanlah dalam bersujud, dan janganlah salah seorang dari kamu membentangkan kedua lengannya, sebagaimana anjing.” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk Iq’a` antara dua sujud

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا يَقُولُ قُلْنَا لِابْنِ عَبَّاسٍ فِي الْإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ فِي السُّجُودِ فَقَالَ هِيَ السُّنَّةُ قَالَ قُلْنَا إِنَّا لَنَرَاهُ جُفَاءً بِالرَّجُلِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ هِيَ سُنَّةُ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa “dia mendengar Thawus berkata; kami bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai duduk iq`a’ (duduk bersimpuh) di atas kedua tumit di antara sujud.” Ibnu Abbas menjawab; “itu termasuk sunnah”. Kata Thawus; “kami berkata; “Sesungguhnya kami melihatnya kurang sopan.” Ibnu Abbas menjawab; “Itu adalah sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam.“ (HR. Abu Daud)

Doa antara dua sujud

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas’ud telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Khubbab telah menceritakan kepada kami Kamil Abu Al ‘Ala` telah menceritakan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan diantara dua sujudnya “Allahumma Ghfir Li Warhamni Wa’afini Wahdini Warzuqni” (ya Allah anugerahkanlah untukku ampunan, rahmat, kesejahteraan, petunjuk dan rizki).“ (HR. Abu Daud)

  1. Cara bangkit dari rakaat ganjil

عنْ أَبِى قِلَابَةَ قَالَ: جَاءَ نَا أَبُوْ سُلَيُمَانَ مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثْ إِلَى مَسْجِدِنَا فقال: وَ الله إِنِّي لأُصَلِّي وَمَا أُرِيْدُ الصَلَاةَ وَلَكِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ رَأَيْتُ رَسُوْلُ الله صل الله عليه و سلّم يُصَلِّي ؟ قَالَ: فَقَعَدَ فِيْ الرَّكْعَةِ الأُوْلَى حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجَدَةِ الاَخِرِةِ

Artinya: Dari Abu Qilabah, dia berkata, ”Abu Sulaiman Malik bin Huwarits datang ke masjid kami, lalu berkata, ”Demi Allah sesungguhnya aku akan mengerjakan shalat bersamamu, sebenarnya aku tidak mau mengerjakan shalat, akan tetapi aku bermaksud akan memperhatklan kepada kalian bagaimana cara Rasullah SAW mengerjakan Shalat,” kata Abu Qilabah, ”maka dia duduk (istirahat) pada rakaat pertama, ketika bangkit dari sujud akhir.” (HR. Abu Daud)

Mengangkat tangan saat bangkit rakaat kedua

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْمُحَارِبِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Muhammad bin ‘Ubaid Al Muharibi keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari ‘Ashim bin Kulaib dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari raka’at kedua, beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya.” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk tasyahud

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً وَرَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَحَلَّقَ بِشْرٌ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa’il bin Hujr dia berkata; kataku; “Sungguh aku melihat bagaimana tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!.” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, lalu menghadap kiblat, bertakbir, mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua telinga, setelah itu tangan kanan beliau memegang tangan kirinya, sewaktu beliau hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya seperti tadi.” Katanya melanjutkan; “Kemudian beliau duduk, yaitu menduduki kaki kirinya dan meletakkan tangan kiri di atas paha kirinya sambil merenggangkan siku yang kanan terhadap paha sebelah kanan dan menggenggam kedua jari (kelingking dan manis) dan membentuk suatu lingkaran. Aku melihat beliau melakukan seperti ini Bisyr membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah serta menunjuk dengan jari telunjuk.“ (HR. Abu Daud)

Bacaan Tasyahud

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كُنَّا إِذَا جَلَسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ ذَلِكَ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُوَ بِهِ

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata; “Apabila kami selesai duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat, maka kami ucapkan; “As Salaamu ‘alallah qabla ‘ibaadihis salaam’ala fulaanin wa fulaan (selamat sejahtera bagi Allah sebelum hamba-bamba-Nya, selamat sejahtera bagi fulan dan fulan).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengatakan “As Salaamu ‘alaallah, karena Allah adalah dzat sumber keselamatan, akan tetapi jika salah seorang dari kalian duduk hendaklah mengucapkan; ‘At Tahiyyati Lillah Was Shalawaatu Wat Thayyibaat, As Salaamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiiyyu Warahmatullahi Wa Barakaatuh As Salaamu ‘Alaina Wa ‘Alaa Ibaadillahis Shalihin (Segala kesejahteraan milik Allah semata, begitupun segala kasih-sayang dan hal-hal yang baik, selamat sejahtera kiranya terlimpah kepadamu wahai Nabi, begitupun rahmat Allah serta berkah-berkah-nya. Selamat sejahtera terlimpah pula atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang Shalih) ” apabila kalian mengucapkan seperti ini, maka kalian dapat mencapai semua hamba yang Shalih baik yang di langit maupun yang di bumi, -atau sabdanya- di antara langit dan bumi. ‘ “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Ann Namuhammadan ‘Abduhu Wa Rasuuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selaian Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya) “, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih do’a yang menarik hatinya dan berdo’a dengan do’a itu.” (HR. Abu Daud)

Membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setelah syahadat

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَرْتَنَا أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ وَأَنْ نُسَلِّمَ عَلَيْكَ فَأَمَّا السَّلَامُ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ بِشْرٍ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ الْحَكَمِ بِإِسْنَادِهِ بِهَذَا قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى كَمَا رَوَاهُ مِسْعَرٌ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَاقَ مِثْلَه

dari Ka’b bin ‘Ujrah dia berkata; kami bertanya -atau- mereka bertanya; “Wahai Rasulullah, Anda memerintahkan kami untuk bershalawat dan salam kepada anda, kami telah mengetahui tentang salam, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepada anda?” beliau bersabda: “Ucapkanlah; ‘Allahumma Shalli ‘Ala Muhammadin Wa’alaa Aalii Muhammad, Kamaa Shallaita ‘Alaa Ibrahim. Wabaarik ‘Alaa Muhammad Wa’alaa Aali Muhammad, Kamaa Barakta ‘Alaa Ibrahim Fil ‘Alamiina Innaka Hamidum-Majiid (Ya Allah, curahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau curahkan kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Agung).” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk tawaruk pada rakaat keempat

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍالسَّاعِدِيَّ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو قَتَادَةَ قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا فَاعْرِضْ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ وَيَفْتَحُ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ إِذَا سَجَدَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا ثُمَّ يَصْنَعُ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ زَادَ أَحْمَدُ قَالُوا صَدَقْتَ هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي وَلَمْ يَذْكُرَا فِي حَدِيثِهِمَا الْجُلُوسَ فِي الثِّنْتَيْنِ كَيْفَ جَلَسَ

Artinya: dari Abu Humaid As Sa’idi dia berkata; saya pernah mendengarnya berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -Ahmad berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atha` dia berkata; aku mendengar Abu Humaid As Sa’idi berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah Abu Qatadah, Abu Humaid berkata; “Aku lebih mengetahui tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka berkata; “kalau demikian, jelaskanlah.” Kemudian Abu Humaid menyebutkan hadits tersebut, katanya; “… kemudian beliau membuka jari-jari kedua tangannya apabila sujud, lalu mengucapkan: “Allahu Akbar” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, beliau mengerjakan seperti itu di raka’at yang lain.” Kemudian dia menyebutkan lanjutan dari hadits tersebut, katanya; “…dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan) di atas betis kiri.” Ahmad menambahkan; “Sepuluh sahabat tersebut berkata; “Benar kamu, demikianlah beliau biasa melaksanakan shalat.” keduanya tidak menyebutkan dalam kedua hadits tersebut tentang cara duduk dalam rala’at kedua.”  (HR. Abu Daud)

  1. Menunjukdalam shalat

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِيِّ قَالَ رَآنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِي وَقَالَ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فَقُلْتُ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُسْرَى

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi dari Malik dari Muslim bin Abu Maryam dari Ali bin Abdurrahman Al Mu’awi dia berkata; Abdullah bin Umar melihatku, ketika aku sedang mempermainkan kerikil dalam shalat, seusai shalat, dia melarangku sambil berkata; “Perbuatlah seperti yang di perbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” kataku; ‘Bagaimana yang biasa di perbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Apabila beliau duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan menggenggam semua jari jemarinya seraya menunjuk dengan jari yang dekat ibu jari (jari telunjuk) dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.” (HR. Abu Daud)

  1. Doa setelah syahadat

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَائِشَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hasan bin ‘Athiyah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Aisyah bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu; dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari kejahatan Dajjal.” (HR. Abu Daud)

Do’a setelah Tasayahhud

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَلْمَمَاتِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, dari Nabi SAW, bahwasannya setelah membaca tasyahhud beliau mengucapkan, “Allahumma Innii ‘Auudzu Bika Min ‘Azaabi Jahanna, Wa A’uudzu Bika Min ‘Adzaabil Qabri, Wa A’uudzu Bika Min Fitnatid Dajjal, Wa A’uudzuu Bika Min Fitnatil Mahyaa Wal Mamaati (Wahai Allah, aku berlindung kepada engkau dari siksa neraka, aku berlindung kepada engkau dari siksa kubur, aku berlindung kepada engkau dari fitnah dajjal. Aku berlindung kepada engkau dari fitnah hidup dan mati ), (HR. Abu Daud)

  1. Salam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Artinya: Dari Abdullah bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memberi salam ke arah kanan dan ke arah kiri sehingga terlihat putih pipi beliau (beliau mengucapkan): ” Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah, Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian, semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Abu Daud)

Ucapan Salam

عَنْ وَاءِلٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم فَكَانَ يُسَلَّمُ عَنْ يَمِينِهِ (اَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ (الله وَبَرَكَةُ) وَ عَنْ شِمَالِهِ (اَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله

Artinya: Dari Wail, dia berkata, “saya pernah mengerjakan shalat bersama nabi SAW, beliau biasa memberi salam ke kanan beliau (dengan mengucapkan), Asslamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakatu (Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkahnya tetap atas kalian), dan ke sebelah kiri beliau (dengan mengucapkan) Asslamu ‘alaikum wa rahmatullaahi (semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Muslim)

  1. Bacaan samar dalam shalat dzuhur

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ وَعُمَارَةَ بْنِ مَيْمُونٍ وَحَبِيبٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَلَيْنَا أَخْفَيْنَا عَلَيْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qais bin Sa’d dan ‘Umarah bin Maimun serta Habib dari ‘Atha` bin Abu Rabah bahwa Abu Hurairah berkata; “Di dalam shalat itu ada yang di baca, dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perdengarkan kepada kami, maka kami pun akan perdengarkan kepada kalian, dan apa yang beliau samarkan (dalam bacaan) kepada kami, maka kami pun akan menyamarkan kepada kalian.” (HR. Abu Daud)

 

  1. Kesimpulan

Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu,dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Rukun sholat terdiri dari tigas belas (13) rukun, syarat wajib sholat terdiri dari lima (5) syarat, dan syarat sah sholat terdiri dari lima (5) syarat.

Mengenai bacaan dan gerakan sholat menurut tuntunan Nabi SAW telah kami cantumkan di bagian pembahasan, yang dimana menurut keyakinan kami masih banyak lagi hadits mengenai hal ini yang belum kami temukan dan kami cantumkan.