AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!?? …. sudah tahu AZAB dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah ——————- Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman). —————- Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.” {HR Imran bin Husain r.a} —————– Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah) ———— Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya. ———– Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.” —————- Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan. ———— sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah. Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa : 1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama? 2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah. 3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi. 4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta 5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar. 6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar. 7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan. 8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah. Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi : إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari). ————– sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah). ——— Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ? ————— ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya : 1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86). 2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51) 3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57) 4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104) berbagai sumber

minta bayar dakwah

AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!??  …. sudah tahu AZAB  dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah
——————-
Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman).
—————-
Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.”  {HR Imran bin Husain r.a}
—————–
Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)
————
Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya.
———–
Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.”
—————-
Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”.
Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan.
————
sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah.
Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa :
1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama?
2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah.
3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi.
4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta
5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar.
6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar.
7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan.
8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi :
إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ
Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari).
————–
sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
———
Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ?
—————
ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya :
1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86).
2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51)
3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57)
4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104)

berbagai sumber

PENTINGnya RENDAH HATI dan apa itu TAWADHU’, … RENDAH HATI, LAWAN dari sombong ….. ——— Perintah Tawadhu’ ——————- Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Allah berfirman (artinya): “Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertaqwa.” (An Najm: 32) ——————- Demikianlah, Allah menutup pintu-pintu yang menjurus kepada takabbur (sombong) dengan melarang dari memuji-muji diri sendiri karena dari sinilah benih takabbur (sombong) datang. Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhias dengan akhlaq yang mulia ini, ————- sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya): “Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy Syu’ara’: 215)—————— Begitu juga Rasulullah , beliau senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda: إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588) —————- ——————- Pengertian tawadhu’ ————- Secara Etimologi Arab kata, tawadhu’ berasal dari kata ( تواضع- يتواضع) yang mempunyai arti (merendahkan diri, rendah hati). Selain itu ada kata lain (وضع) yang artinya “tempat, letaknya”. (Mahmud Yunus, 1992: 105).————- Tawadhu’ secara Terminologi Menurut Al-Ghozali (1995:350). Tawadhu’ adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita. Pada hakekatnya tawadhu’ itu adalah “sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.” (Ahmad Athoillah, 2006: 448).[1] Tawadhu adalah kerendahan hati yang tidak menilai dirinya lebih baik dari orang lain dan tuntutannya adalah perilaku dan ucapan hormat kepada orang lain. (Mulla Ahmad Naraqi, Mi’rajus Saadah, halaman 300).[2]———– Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang Tawadhu’: ‘Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan Tawadhu’ –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…‘ —————– Sebagaimana akhlak-akhlak yang lain, ketawadhu’an juga mempunyai dua ujung dan pertengahannya. Salah satu ujungnya adalah yang cenderung kepada sikap berlebihan, dan ini dinamakan kesombongan. Sedangkan ujung yang lain adalah yang cenderung kepada sikap mengurang-ngurangkan, dan ini dinamakan menghinakan dan merendahkan diri. Dan pertengahan antara kedua sikap inilah yang dinamakan tawadhu’. Dan tawadhu’ yang terpuji adalah yang tidak sampai menghinakan diri. Masing-masing dari dua ujung ini tercela. Dan sebaik-baik perkara yang disukai Allah adalah pertengahannya.[3] —————- Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”—————– مشتق من الضعة بكسر أوله وهي الهوان , والمراد بالتواضع إظهار التنزل عن المرتبة لمن يراد تعظيمه , وقيل هو تعظيم من فوقه لفضله . Arti kata Tawadhu’ dari segi bahasa sama dengan makna kata al-hawaan yang artinya, malu atau merasa rendah hati. Sedangkan secara istilah adalah menampakkan kerendahan martabat diri pada orang yang dianggap lebih mulia. Ada juga yang mengartikan Tawadhu’ adalah memuliakan seseorang yang lebih utama darinya.—————— Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Al-Sunnah وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”. (Al-Furqan: 63)————— وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا Artinya: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Al-Isra: 37)———– Thabaathabaa’i memahami ayat 37 di atas dalam arti kiasan, yakni kesombongan yang engkau lakukan untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu pada hakikatnya adalah hanya waham dan ilusi, sebab sebenarnya ada yang lebih kuat dari engkau yakni bumi, terbukti kakimu tidak dapat menembus bumi, dan ada juga yang lebih tinggi darimu yakni gunung, buktinya engkau tidak setinggi gunung. Maka akuilah bahwa engkau sebenarnya rendah lagi hina. Tidak ada sesuatu yang dikehendaki dan diperebutkan manusia dalam hidup ini seperti kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, harta benda dan lain-lain kecuali hal-hal yang bersifat waham yang tidak mempunyai hakikat di luar batas pengetahuan manusia.. Itu semua diciptakan dan ditundukkan Allah untuk diandalkan manusia guna memakmurkan bumi dan penyempurnaan kalimat (ketetapan) Allah. Tanpa hal yang tidak memiliki hakikat itu, manusia tidak hidup di dunia, dan kalimat Allah yang menyatakan: “Bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan matha (Kesenangan hidup) sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah [2] : 36). —— Demikian lebih kurang Thabaathabaa’i.————– عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر Artinya: Dari Nabi SAW berkata: “tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah.” (HR. Muslim, no. 33 juz 1)[4]—————- أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَد Artinya: “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR.Muslim no. 2865)—————— Selama hidupnya, Rasulullah saw selau bersikap rendah hati, kasih sayang, lemah lembut dan penuh toleransi. Sekalipun terhadap anak- anak kecil. Sifat kenabian dan kedudukan tinggi beliau tidak menghalanginya berbuat baik dan berakhlak mulia yang khusus diberikan Allah. Beliau selalu memberi salam kepada anak- anak, bermuka manis kepada mereka, dan meluangkan waktu sekedar untuk menyenangkan mereka.[5]—————– Anas bin Malik mengatakan bahwa ketika melewati kerumunan anak- anak beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR Muttafaq alaih).————– B. Macam-Macam Tawadhu’ dan Tanda-Tandanya ———– Telah dibahas oleh para ulama sifat Tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi Tawadhu’ menjadi dua, jika dilihat dari baik buruknya:———— 1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-Tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.———— 2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu Tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).————— —– Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam dilihat dari objeknya:[6] ——– 1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.—————– Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:————- a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.———— b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa— bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.— c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.— d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.—– 2. Tawadhu’ kepada Agama——————- Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada agama diantaranya:——- a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.——- Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.——— Tanda-tanda orang Tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:—– a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.——- b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.——— c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.———— 4. Tawadhu’ kepada Sesama.———– Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada manusia diantaranya:——— a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.—— b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.—— c. Siap membantu orang lain.—– d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.—— e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.——- C. Keutamaan Sifat Tawadhu’————- Allah Ta’ala berfirman: تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)—————- Allah Ta’ala berfirman: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215)————- Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)—————- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)———— Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)—————–

TAWADHU

PENTINGnya RENDAH HATI dan apa itu TAWADHU’, … RENDAH HATI, LAWAN dari sombong …..
——————–

Perintah Tawadhu’
——————-
Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Allah berfirman (artinya):
“Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertaqwa.” (An Najm: 32)
——————-
Demikianlah, Allah menutup pintu-pintu yang menjurus kepada takabbur (sombong) dengan melarang dari memuji-muji diri sendiri karena dari sinilah benih takabbur (sombong) datang.
Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhias dengan akhlaq yang mulia ini,
————-
sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya):
“Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy Syu’ara’: 215)——————

Begitu juga Rasulullah , beliau senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588) —————-

  1. Pengertian tawadhu’ ————-

Secara Etimologi Arab kata, tawadhu’ berasal dari kata ( تواضع- يتواضع) yang mempunyai arti (merendahkan diri, rendah hati). Selain itu ada kata lain (وضع) yang artinya “tempat, letaknya”. (Mahmud Yunus, 1992: 105).————-

Tawadhu’ secara Terminologi Menurut Al-Ghozali (1995:350). Tawadhu’ adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita. Pada hakekatnya tawadhu’ itu adalah “sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.” (Ahmad Athoillah, 2006: 448).[1] Tawadhu adalah kerendahan hati yang tidak menilai dirinya lebih baik dari orang lain dan tuntutannya adalah perilaku dan ucapan hormat kepada orang lain. (Mulla Ahmad Naraqi, Mi’rajus Saadah, halaman 300).[2]———–

Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang Tawadhu’:Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan  pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan Tawadhu’ –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…‘ —————–

Sebagaimana akhlak-akhlak yang lain, ketawadhu’an juga mempunyai dua ujung dan pertengahannya. Salah satu ujungnya adalah yang cenderung kepada sikap berlebihan, dan ini dinamakan kesombongan. Sedangkan ujung yang lain adalah yang cenderung kepada sikap mengurang-ngurangkan, dan ini dinamakan menghinakan dan merendahkan diri. Dan pertengahan antara kedua sikap inilah yang dinamakan tawadhu’. Dan tawadhu’ yang terpuji adalah yang tidak sampai menghinakan diri. Masing-masing dari dua ujung ini tercela. Dan sebaik-baik perkara yang disukai Allah adalah pertengahannya.[3]     —————-

Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”—————–

مشتق من الضعة بكسر أوله وهي الهوان , والمراد بالتواضع إظهار التنزل عن المرتبة لمن يراد تعظيمه , وقيل هو تعظيم من فوقه لفضله .

Arti kata Tawadhu’ dari segi bahasa sama dengan makna kata al-hawaan yang artinya, malu atau merasa rendah hati.  Sedangkan secara istilah adalah menampakkan kerendahan martabat diri pada orang yang dianggap lebih mulia. Ada juga yang mengartikan Tawadhu’ adalah memuliakan seseorang yang lebih utama darinya.——————

Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Al-Sunnah

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”. (Al-Furqan: 63)—————

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Al-Isra: 37)———–

Thabaathabaa’i memahami ayat 37 di atas dalam arti kiasan, yakni kesombongan yang engkau lakukan untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu pada hakikatnya adalah hanya waham dan ilusi, sebab sebenarnya ada yang lebih kuat dari engkau yakni bumi, terbukti kakimu tidak dapat menembus bumi, dan ada juga yang lebih tinggi darimu yakni gunung, buktinya engkau tidak setinggi gunung. Maka akuilah bahwa engkau sebenarnya rendah lagi hina. Tidak ada sesuatu yang dikehendaki dan diperebutkan manusia dalam hidup ini seperti kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, harta benda dan lain-lain kecuali hal-hal yang bersifat waham yang tidak mempunyai hakikat di luar batas pengetahuan manusia.. Itu semua diciptakan dan ditundukkan Allah untuk diandalkan manusia guna memakmurkan bumi dan penyempurnaan kalimat (ketetapan) Allah. Tanpa hal yang tidak memiliki hakikat itu, manusia tidak hidup di dunia, dan kalimat Allah yang menyatakan: “Bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan matha (Kesenangan hidup) sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah [2] : 36). —— Demikian lebih kurang Thabaathabaa’i.————–

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر

Artinya: Dari Nabi SAW berkata: “tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah.” (HR. Muslim, no. 33 juz 1)[4]—————-

أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَد

Artinya: “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR.Muslim no. 2865)——————

Selama hidupnya, Rasulullah saw selau bersikap rendah hati, kasih sayang, lemah lembut dan penuh toleransi. Sekalipun terhadap anak- anak kecil. Sifat kenabian dan kedudukan tinggi beliau tidak menghalanginya berbuat baik dan berakhlak mulia yang khusus diberikan Allah. Beliau selalu memberi salam kepada anak- anak, bermuka manis kepada mereka, dan meluangkan waktu sekedar untuk menyenangkan mereka.[5]—————–

Anas bin Malik mengatakan bahwa ketika melewati kerumunan anak- anak beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR Muttafaq alaih).————–

 

  1. B.     Macam-Macam Tawadhu’ dan Tanda-Tandanya ———–

Telah dibahas oleh para ulama sifat Tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi Tawadhu’ menjadi dua, jika dilihat dari baik buruknya:————

1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-Tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.————

2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu Tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).—————

—– Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam dilihat dari objeknya:[6] ——–

1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.—————–
Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:————-

a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.————
b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa— bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.—
c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.—
d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.—–

2. Tawadhu’ kepada Agama——————-

Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada agama diantaranya:——-
a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.——-

  1. Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.———

    Tanda-tanda orang Tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:—–
    a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.——-
    b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.———
    c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.————4. Tawadhu’ kepada Sesama.———–Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada manusia diantaranya:———
    a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.——
    b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.——
    c. Siap membantu orang lain.—–
    d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.——
    e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.——-
  2. C.    Keutamaan Sifat Tawadhu’————-

Allah Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)—————-

Allah Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215)————-

Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)—————-

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)————

Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

 

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)—————–

Penjelasan ringkas:

Tawadhu’ dan rendah diri kepada kaum mukminin merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu’ niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang Tawadhu’ kepada-Nya. Serta akan dihormati, disukai, disegani –walaupun dia tidak menginginkan itu semua- oleh orang-orang sekelilingnya.———–

Dan dalam hal ini -sebagaimana dalam sifat terpuji lainnya-, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan suri tauladan terbaik. Bagaimana tidak sementara Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau untuk merendah kepada kaum mukminin. Karenanya beliau senantiasa Tawadhu’ dan bergaul dengan kaum mukminin dari seluruh lapisan, dari yang kaya sampai yang miskin, dari orang kota sampai arab badui. Beliau duduk berbaur bersama mereka, menasehati mereka, dan memerintahkan mereka agar juga bersifat Tawadhu’. Kedudukan beliau yang tinggi tidak mencegah beliau untuk melakukan amalan yang merupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Karenanya sesibuk apapun beliau, beliau tetap menyempatkan untuk mengerjakan pekerjaan keluarganya di rumah.————

  1. D.    Cara Menghilangakan Kesombongan dan Mengupayakan Ketawadlu’an——-

Perlu diketahui, bahwa kesombongan termasuk perkara-perkara yang membinasakan dan membinasakanya fardlu’ain. Tentu kesombongan tidak akan hilang dengan angan-angan belaka, melainkan harus diupayakan pelenyapanya dengan sungguh-sungguh.—————

Mencabut Pangkal Kesombongan——————

Ini hanya bisa dilakukan dengan ilmu dan amal bersama-sama. Hanya dengan gabungan keduanya penyembuhan akan berlangsung sempurna.—————

Dari segi ilmu, hendaklah seseorang mengenal diri sendiri dan tuhanya, dan bagaimana kedudukan dirinya dihadapan tuhanya. Dengan hal ini saja, sesungguhnya sudah sangat memadai untuk menghilangan kesombongan. Sebab jika seseorang benar-benar mengetahui dirinya sendiri, tentu ia juga mengetahuai bahwa hanya tawadlu’lah sikap yang pantas dan sesuai dengan dirinya. Dan jika ia mengenal tuhanya, tentu ia akan mengetahui bahwa keagungan, dan kesombongan hanyalah hak Allah semata.—————-

Sedangkan dalam segi amaliyah, maka dengan membiasakan diri bersikap tawadlu’ terhadap orang lain karena Allah semata, dan menetapi akhlak oprang-orang yang bertawadlu’ sebagaimana akhlak-akhlak yang telah dicontohkan oleh beliau Rasulullah dan para shalihin.———

            Tawadlu’ tidak akan diperoleh hanya dengan mengetahui ilmunya saja, akan tetapi pengamalan dalam kehidpan sehari-hari dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya orang-orang Arab yang menyombongkan diri kepada Allah dan Rasulullah diperintahkan untuk beriman dan mengerjakan shalat berjama’ah.—————-
============================

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”.

Memahami Tawadhu’

Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299). Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)

Keutamaan Sifat Tawadhu’

Pertama: Sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  16: 142)

Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Lihatlah Nabi Musa ‘alaihis salam melakukan pekerjaan rendahan, memantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Lihat pula Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Nabi Zakariya dulunya seorang tukang kayu. Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya,

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32). Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di dunia dan di akhirat.

Kedua: Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.

Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Mencontoh Sifat Tawadhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memberi salam pada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Anas berkata,

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يزور الأنصار ويسلم على صبيانهم ويمسح رؤوسهم

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Subhanallah … Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang ia miliki.

Coba lihat lagi bagaimana keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Beliau membantu istrinya. Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek, beliau menjahit dan memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau untuk berdakwah dan mengurus umat.

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”

Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Lihatlah beda dengan kita yang lebih senang menunggu istri untuk memperbaiki atau memerintahkan pembantu untuk mengerjakannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa rasa malu membantu pekerjaan istrinya. ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 676). Beda dengan kita yang mungkin agak sungkan membersihkan popok anak, menemani anak ketika istri sibuk di dapur, atau mungkin membantu mencuci pakaian.

Nasehat Para Ulama Tentang Tawadhu’

قال الحسن رحمه الله: هل تدرون ما التواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً .

Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

يقول  الشافعي: « أرفع الناس قدرا : من لا يرى قدره ، وأكبر الناس فضلا : من لا يرى فضله »

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)

يقول بشر بن الحارث: “ما رأيتُ أحسنَ من غنيّ جالسٍ بين يدَي فقير”.

Basyr bin Al Harits berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir.” Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu’.

قال عبد الله بن المبارك: “رأسُ التواضعِ أن تضَع نفسَك عند من هو دونك في نعمةِ الله حتى تعلِمَه أن ليس لك بدنياك عليه فضل [أخرجه البيهقي في الشعب (6/298)].

‘Abdullah bin Al Mubarrok berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)

قال سفيان بن عيينة: من كانت معصيته في شهوة فارج له التوبة فإن آدم عليه السلام عصى مشتهياً فاستغفر فغفر له، فإذا كانت معصيته من كبر فاخش عليه اللعنة. فإن إبليس عصى مستكبراً فلعن.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya. Namun, jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”

قال أبو بكر الصديق: وجدنا الكرم في التقوى ، والغنى في اليقين ، والشرف في التواضع.

Abu Bakr Ash Shiddiq berkata, “Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qona’ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu’.”

قال عروة بن الورد :التواضع أحد مصائد الشرف، وكل نعمة محسود عليها إلا التواضع.

‘Urwah bin Al Warid berkata, “Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang merasa iri kecuali pada sifat tawadhu’.”

قال يحيى بن معين :ما رأيت مثل أحمد بن حنبل!! صحبناه خمسين سنة ما افتخر علينا بشيء مما كان عليه من الصلاح والخير

Yahya bin Ma’in berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”

قال زياد النمري :الزاهد بغير تواضع .. كالشجرة التي لا تثمر

Ziyad An Numari berkata, “Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah seperti pohon yang tidak berbuah.”[1]

Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.

اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau)” (HR. Muslim no. 771).

Wallahu waliyyut taufiq.

format Excel … penghitungan waktu shalat ——————— Dari sahabat Umar beliau berkata : Seorang laki-laki mendatangi Rosululooh SAW dan bertanya “Sesuatu apakah yang lebih dicintai Alloh di dalam Islam?”. Maka Rosululloh SAW menjawab “Yaitu melaksanakan sholat pada waktunya, barangsiapa meninggalkan sholat maka sama dengan tidak beragama, Sholat adalah tiang agama” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi) ——————————- Ibadah sholat adalah ibadah yang ada waktunya untuk mengetahui masuknya waktu sholat tersebut Alloh telah mengutus malaikat Jibril untuk memberi arahan kepada Rosululloh SAW tentang waktu-waktunya sholat tersebut dengan acuan matahari dan fenomena cahaya langit yang notabene juga disebabkan oleh pancaran sinar matahari. Jadi sebenarnya petunjuk awal untuk mengetahui masuknya awal waktu sholat adalah dengan melihat(rukyat) matahari. ————————- Untuk memudahkan kita dalam mengetahui awal masuknya waktu sholat kita bisa menggunakan perhitungan hisab, sehingga tidak harus melihat matahari setiap kali kita akan melaksanakan sholat. Akan tetapi sebelum kita menghitung awal masuknya waktu sholat, terlebih dahulu kita harus mengetahui kriteria-kriteria masuknya waktu sholat yang telah digariskan oleh Alloh SWT. —————————- WAKTU-WAKTU SHOLAT ——————————- Sholat disyaria’tkan di dalam Islam pada bulan Rojab tahun ke-11 kenabian, saat rosululloh diIsro’ dan Mi’rojkan ke sidrotil muntaha. Sholat diwajibkan bagi umat Islam dalam sehari semalam sebanyak lima (5) kali, yaitu Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Dan Alloh telah menentukan waktu-waktu baginya. Firman Alloh di dalam Al-Qur’an : إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (النساء 103) Artinya : Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisa’ 103) —————– فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (الروم 17-18) Artinya : Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.(Ar-Ruum 17-18) ———————- Mengetahui waktunya sholat adalah termasuk syarat syahnya sholat. Sholat adalah salah satu ibadah yang ada batasan waktunya, batas awal dan akhirnya. Waktu sholat habis ketika datang waktu sholat berikutnya, kecuali waktu sholat shubuh yang berakhir ketika munculnya matahari di ufuk timur. ———————— Yang dimaksud waktu sholat dalam pengertian hisab ialah awal masuknya waktu sholat. Waktu sholat ditentukan berdasarkan posisi matahari diukur dari suatu tempat di muka bumi. Menghitung waktu sholat pada hakekatnya adalah menghitung posisi matahari sesuai dengan yang kriteria yang ditentukan ditentukan. ——————— Firman Alloh didalam Al-Qur’an : أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا (الفرقان 45) Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,(AL-Furqon 45) ——————– وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (هود 114) Artinya : Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud 114) ———————- أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (الإسراء 78) Artinya : Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (Al-Isro’ 78). ——————— فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ ءَانَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى( طه 130) Artinya : Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Thooha 130) ———————

penghitungan waktu shalat  

————————–
Dari sahabat Umar beliau berkata : Seorang laki-laki mendatangi Rosululooh SAW dan bertanya “Sesuatu apakah yang lebih dicintai Alloh di dalam Islam?”. Maka Rosululloh SAW menjawab “Yaitu melaksanakan sholat pada waktunya, barangsiapa meninggalkan sholat maka sama dengan tidak beragama, Sholat adalah tiang agama” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi)
——————————-

Ibadah sholat adalah ibadah yang ada waktunya untuk mengetahui masuknya waktu sholat tersebut Alloh telah mengutus malaikat Jibril untuk memberi arahan kepada Rosululloh SAW tentang waktu-waktunya sholat tersebut dengan acuan matahari dan fenomena cahaya langit yang notabene juga disebabkan oleh pancaran sinar matahari. Jadi sebenarnya petunjuk awal untuk mengetahui masuknya awal waktu sholat adalah dengan melihat(rukyat) matahari.
————————-

Untuk memudahkan kita dalam mengetahui awal masuknya waktu sholat kita bisa menggunakan perhitungan hisab, sehingga tidak harus melihat matahari setiap kali kita akan melaksanakan sholat. Akan tetapi sebelum kita menghitung awal masuknya waktu sholat, terlebih dahulu kita harus mengetahui kriteria-kriteria masuknya waktu sholat yang telah digariskan oleh Alloh SWT.
—————————-

WAKTU-WAKTU SHOLAT
——————————-

Sholat disyaria’tkan di dalam Islam pada bulan Rojab tahun ke-11 kenabian, saat rosululloh diIsro’ dan Mi’rojkan ke sidrotil muntaha. Sholat diwajibkan bagi umat Islam dalam sehari semalam sebanyak lima (5) kali, yaitu Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Dan Alloh telah menentukan waktu-waktu baginya. Firman Alloh di dalam Al-Qur’an :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (النساء 103)

Artinya : Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (An-Nisa’ 103)
—————–

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (الروم 17-18)

Artinya : Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur.(Ar-Ruum 17-18)
———————-

Mengetahui waktunya sholat adalah termasuk syarat syahnya sholat. Sholat adalah salah satu ibadah yang ada batasan waktunya, batas awal dan akhirnya. Waktu sholat habis ketika datang waktu sholat berikutnya, kecuali waktu sholat shubuh yang berakhir ketika munculnya matahari di ufuk timur.
————————

Yang dimaksud waktu sholat dalam pengertian hisab ialah awal masuknya waktu sholat. Waktu sholat ditentukan berdasarkan posisi matahari diukur dari suatu tempat di muka bumi. Menghitung waktu sholat pada hakekatnya adalah menghitung posisi matahari sesuai dengan yang kriteria yang ditentukan ditentukan.
———————

Firman Alloh didalam Al-Qur’an :

أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا (الفرقان 45)

Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,(AL-Furqon 45)
——————–

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (هود 114)

Artinya : Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Hud 114)
———————-

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (الإسراء 78)

Artinya : Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (Al-Isro’ 78).
———————

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ ءَانَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى( طه 130)

Artinya : Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Thooha 130)
———————

Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan kriteria-kriteria awal waktu sholat diatas kurang detail sehingga menimbulkan multi tafsir. Untuk memperkuat ayat Al-Qur’an diatas, berikut sebagian hadits yang secara rinci dan detail menerangkan waktu-waktu sholat.

عن جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الظُّهْرَ حِينَ مَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا كَانَ فَيْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ جَاءَهُ لِلْعَصْرِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ الْعَصْرَ ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا غَابَتْ الشَّمْسُ جَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْمَغْرِبَ فَقَامَ فَصَلَّاهَا حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ سَوَاءً ثُمَّ مَكَثَ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ الشَّفَقُ جَاءَهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ الْعِشَاءَ فَقَامَ فَصَلَّاهَا ثُمَّ جَاءَهُ حِينَ سَطَعَ الْفَجْرُ فِي الصُّبْحِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ فَقَامَ فَصَلَّى الصُّبْحَ ثُمَّ جَاءَهُ مِنْ الْغَدِ حِينَ كَانَ فَيْءُ الرَّجُلِ مِثْلَهُ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ جَاءَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ كَانَ فَيْءُ الرَّجُلِ مِثْلَيْهِ فَقَالَ قُمْ يَا مُحَمَّدُ فَصَلِّ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْمَغْرِبِ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ وَقْتًا وَاحِدًا لَمْ يَزُلْ عَنْهُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ فَصَلَّى الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فَقَالَ قُمْ فَصَلِّ فَصَلَّى الصُّبْحَ فَقَالَ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ وَقْتٌ كُلُّهُ

Artinya : Dari Jabir bin Abdulloh, Bahwasanya Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata kepadanya : Bangunlah dan bershalatlah, maka Nabi pun melakukan shalat Dhuhur pada saat matahari telah tergelincir. Kemudian datang pula Jibril kepada Nabi pada waktu Ashar, lalu berkata : bangunlah dan bershalatlah, maka Nabi melakukan shalat Ashar pada saat bayangan matahari sama dengan panjang bendanya. Kemudian Jibril datang pula kepada Nabi waktu Maghrib, lalu berkata : Bangunlah dan bershalatlah, maka Nabi melakukan shalat Maghrib, pada saat matahari telah terbenam. Kemudian Jibril datang lagi pada waktu Isya’ serta berkata : Bangunlah dan bershalatlah, maka Nabi melakukan shalat Isya, pada saat mega merah telah hilang. Kemudian datang pula Jibril pada waktu Subuh, lalu berkata : Bangunlah dan bershalatlah, maka Nabi melakukan shalat Subuh pada saat fajar shadiq telah terbit. Pada keesokan harinya Jibril datang lagi untuk waktu Dhuhur, Jibril berkata : Bangunlah dan bershalatlah, maka Nabi melakukan shalat Dhuhur pada saat bayangan matahari yang berdiri telah menjadi panjang. Kemudian Jibril datang lagi pada waktu Ashar pada saat bayangan matahari dua kali sepanjang dirinya. Kemudian datang lagi Jibril pada waktu Maghrib pada saat waktu beliau datang kemarin juga. Kemudian datang lagi Jibril pada waktu Isya, diketika telah berlalu separuh malam, atau sepertiga malam, maka Nabi pun melakukan shalat Isya, Kemudian datang lagi Jibril diwaktu telah terbit fajar shadiq, lalu berkata : Bangunlah dan bershalatlah Subuh, sesudah itu Jibril berkata : Waktu-waktu di antara kedua waktu ini, itulah waktu shalat.

Berdasarkan ayat-ayat dan hadits yang sebagian dikutip diatas dapat disimpulkan bahwa parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan waktu sholat adalah dengan matahari. Akhirnya disimpulkan oleh para ulama Madzahibul Arba’ah bahwa awal waktu sholat fardlu ( 5 waktu ) dan sholat sunah sebagai berikut :

1. DHUHUR : dimulai ketika tergelincirnya matahari dari tengah langit(istiwa’) ke arah barat ditandai dengan terbentuknya bayangan suatu benda sesaat setelah posisi matahari di tengah langit, atau bertambah panjangnya bayangan suatu benda, sesaat setelah posisi matahari di tengah langit dan waktu Dhuhur berakhir ketika masuk waktu Ashar. Yang dimaksud tengah langit bukanlah zenit, akan tetapi tengah-tengah langit diukur dari ufuk timur dan barat.

Pada waktu zawal, yakni ketika matahari melewati garis zawal/istiwa’ (garis langit yang menghubungkan utara dan selatan) ada tiga kemungkinan arah bayangan benda yang berdiri tegak.

a. Pertama : arah bayangan berada di utara benda tersebut, yaitu ketika matahari melintasi zawal, posisinya berada di belahan langit selatan, azimuth 180°.

b. Kedua : arah bayangan berada di selatan benda tersebut, yaitu ketika matahari melintasi zawal, posisinya berada di belahan langit utara, azimuth 0°/360°.

c. Ketiga : tidak ada bayangan sama sekali, yaitu ketika matahari melintasi zawal, posisinya tepat berada di atas zenit yakni posisi matahari berada pada sudut 90° diukur dari ufuk. Di wilayah pulau Jawa fonemena ini hanya terjadi 2 kali di dalam setahun. Yang pertama antara tanggal 28 Februari sampai 4 Maret, sedangkan yang kedua antara 9 Oktober sampai 14 Oktober, di dalam bahasa Jawa, fonemena ini disebut dengan Tumbuk

Pada saat kondisi pertama dan kedua, bayangan suatu benda sudah ada pada saat zawal, sehingga masuknya waktu dhuhur adalah bertambah panjangnya bayangan suatu benda tersebut sesaat setelah zawal.

Pada kondisi ketiga, pada saat zawal, suatu benda yang berdiri tegak tidak menimbulkan bayangan sedikitpun, sehingga masuknya waktu Dhuhur adalah ketika terbentuknya/munculnya bayangan suatu benda sesaat setelah istiwa’/zawal.

Panjang bayangan saat datangnya waktu Dhuhur ini akan berpengaruh pula pada penentuan waktu Ashar.

2. ASHAR : dimulai ketika panjang bayangan suatu benda, sama dengan panjang benda tersebut dan berakhir ketika masuk waktu Maghrib. Terkecuali pendapat Imam Abu Hanifah, bahwa masuknya waktu Ahsar ialah ketika panjang bayangan suatu benda dua kali dari panjang bendanya.

Dalam perhitungan waktu Ashar panjang bayangan pada waktu Dhuhur yang merupakan panjang bayangan minimum perlu diperhitungkan, karena suatu saat mungkin panjang bayangan saat Dhuhur itu lebih panjang dari tinggi benda itu sendiri. Seperti di daerah Madinah yang lintangnya 24° 28’, pada bulan akhir bulan Desember deklinasi matahari ±23° sehingga pada saat Dhuhur sudut matahari sudah mencapai 47° lebih, dan tentunya pada saat Dhuhur, panjang bayangan suatu benda sudah melebihi panjang benda itu sendiri. Sehingga waktu Ashar adalah ketika panjang bayangan sebuah benda sama dengan panjang benda tersebut ditambah panjang bayangan waktu Dhuhur

3. MAGHRIB dimulai ketika terbenamnya semua piringan matahari di ufuq barat yakni tenggelamnya piringan atas matahari di ufuk barat. Waktu Maghrib berakhir ketika masuk waktu Isya’

4. ISYA’ dimulai ketika hilangnya cahaya merah yang disebabkan terbenamnya matahari dari cakrawala dan berakhir ketika masuk waktu Shubuh. Menurut asumsi ahli hisab kita posisi matahari pada sa’at itu sekitar -18° dari ufuq barat, sebagian pendapat lainnya berkisar -15° sampai -17.5°. sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, ketika hilangnya cahaya putih yakni ketinggian matahari sekitar -19°

5. SHUBUH dimulai ketika munculnya Fajar Shodiq, yaitu cahaya keputih-putihan yang menyebar di ufuq timur. Menurut asumsi ahli hisab kita posisi matahari pada sa’at itu sekitar -20° dari ufuq timur, sebagian pendapat lainnya berkisar -15° sampai -19.5°, munculnya fajar shodiq ditandai dengan mulai pudarnya cahaya bintang.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُوم ِ( الطور49)

Artinya : dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar) (Ath-Thuur 49).

Waktu terbenam/pudarnya cahaya bintang

Waktu Shubuh berakhir ketika piringan atas matahari muncul di ufuq timur.

6. DLUHA dimulai ketika ketinggian matahari sekitar satu tombak yakni 7 dziro’, dalam bahasa ahli hisab kita ketinggian matahari tersebut sekitar 4° 30’. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah ketinggian matahari sekitar dua tombak atau dalam ukuran ahli hisab 9°. Waktu Dluha berakhir ketika matahari tergelincir.

7. IDUL FIHTRI & IDUL ADHA, Waktu sholat Idul Fitri & Idul Adha menurut imam Syafi’I dimulai ketika terbitnya matahari dari ufuk timur dan utamanya adalah pada saat masuknya waktu Dhuha dan berakhir pada saat zawal. Sementara menurut imam, Maliki, Hanafi dan Hambali masuknya waktu sholat Id adalah masuknya waktu Dhuha sampai zawal.

8. NISFUL LAIL Nisful Lail (separuh malam) adalah waktu yang hampir terabaikan oleh ahli hisab ketika membuat jadwal sholat, padahal waktu ini sangat erat kaitannya dengan awal waktu sholat malam serta masuknya waktu Bermalam di Muzdalifah, Melempar Jumroh dan Mencukur rambut dalam manasik haji. Ada sebagian kalangan yang menghitung nisful lail ini dengan acuan jam 12 malam istiwak, akan tetapi definisi tersebut menurut syar’I kurang pas. Yang dimaksud separuh malam adalah separuh malam yang akhir dihitung dari waktu maghrib dan waktu shubuh. Misalnya tanggal 17 Nopember 2007 untuk wilayah Gresik, waktu Mahgrib = 17:29 WIB shubuh = 3:39 WIB. Maka nisful lail = 22:33:30 WIB / 23:19:18 Istiwak.

WAKTU IMSAK

Disamping waktu-waktu yang tersebut diatas, dalam hal ibadah puasa terdapat ketentuan (walaupun tidak wajib) waktu yang disebut Imsak. Yaitu jeda waktu sebelum masuknya waktu Shubuh berkisar sekitar 10 sampai 15 menit, untuk kehati-hatian.

Jeda waktu tersebut tidaklah bententangan dengan sunnahnya mengakhirkan sahur sebagaimana banyak diriwayatkan dalam hadits dan tersirat dalam Al-Qur’an

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَاتَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍمَاعَجَّلُوا الِإفْطَارَ وَأَخَّرُوا السَّحُوْرَ(مسند أحمد)

Dari Abu Dzar beiau berkata : Bersabda Rosululooh SAW. “Ummatku akan selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur” (Musnad Imam Achmad)

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ (البقرة 187)

“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. ” (QS. Al-Baqarah: 187)

Tanda-tanda waktu Shubuh adalah yang paling sulit diamati diantara tanda-tanda waktu sholat lainnya, karena itu untuk menghindari batalnya puasa karena keterbatasan kita dalam mengobservasi fonemena alam yang berkaitan dengan masuknya waktu Shubuh maka seyogyanya di beri batasan Imsak untuk ihtiyat.

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتْ قَالَ : تَسَخَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ثُمَّ قُمْناَ إِلَى الصَّلاَةِ وَكَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا خَمْسِيْنَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit, berkata : “Kami sahur bersama Rosululloh SAW. Kemudian kami mununaikan sholat Shubuh, dan waktu antara sahur dengan sholat sekitar 50 ayat (membaca Al-Qur’an 50 ayat)”.

Disimpulkan oleh ahli hisab bahwa jeda bacaan 50 ayat antara sahurnya Rosululloh dan waktu Shubuh tersebut sekitar 10 sampai 15 menit.

HISAB WAKTU SHOLAT

Waktu sholat yang pertama kali dihitung adalah awal waktu sholat Dhuhur karena waktu sholat inilah yang menjadi patokan untuk menghitung awal waktu sholat lainnya.

Sebagaimana diketahui bahwa awal waktu Dhuhur adalah mulai tergelincirnya matahari, itu berarti posisi matahari tepat di atas langit adalah jam 12:00 waktu istiwak. Untuk mendapatkan waktu daerah/Local Time maka waktu istiwak dikurangi tafawut yakni selisih waktu istiwak dengan waktu daerah.

Sebagai contoh kita menghitung waktu sholat dengan markas Surabaya, lintang -7° 15’, bujur 112° 45‘ dengan ketinggian tempat 10 meter, pada tanggal 9 Januari 2010. Contoh perhitungan di bawah ini menggunakan Microsoft Excel 2003.

Buka file “003_waktu_sholat_01.xls“ yang di sertakan di dalam materi ini, lalu tentukan lintang dan bujurnya serta time zone dan tinggi tempat. Jika file belum ada silahkan download terlebih di Link berikut : http://moeidzahid.site90.net/software/003_waktu_sholat_01.xls

Lintang (F49)= -7,25 lihat daftar lintang dan bujur

Bujur (F50)= 112,75 lihat daftar lintang dan bujur

Time zone (F51)= 7 lihat daftar lintang dan bujur

T tempat (F52)= 10 meter

Kemudian hitung deklinasi, equation of time serta semi diameter matahari dengan menggunakan rumus deklinasi yang telah disampaikan dalam sebelumnya

Deklinasi (F54) = -22,08388262 = -22°05′ 02“

e (F55) = -0,117430707 = -00°07′ 03“

s.d (F56) = 0,271593755 = 00°16′ 18“

Dip (F58) = 1,76/60*SQRT(F52) = 0,092760145

Dip : Kerendahan ufuk yang disebabkan tingginya tempat. Semakin tinggi tempat menyebabkan semakin rendahnya ufuq. Yakni pada saat maghrib ketika kita berada di ketinggian 0° matahari terlihat sudah terbenam akan tetapi jika kita naik ke atas dengan ketinggian tertentu maka matahari masih terlihat diatas ufuk. Dip = (1.76 / 60 ) x Ö tinggi tempat

Lalu tentukan bayangan waktu Ashar, satu kali panjang bayangan atau dua kali panjang bayangan kalau mengikuti Imam Abu Chanifah. Lalu tentukan tinggi matahari pada waktu sholat tersebut.

By Ashar (F59) = 1

H Mag & S (F60) = -( s.d +(34,5/60)+ Dip)-0,0024

= -(F56+(34,5/60)+F58)-0,0024 = -0,9417539

H Isya’ (F61) = -18

H Shubuh (F62) = -20

Imsak (F63) = 10 menit

Ha Dhuha (F64) = 4,5

F (F66) = -tan lintang x tan d

= -TAN(F49*Dr)*TAN(F54*Dr) = -0,051615407

G (F67) = cos lintang x cos d

= COS(F49*Dr)*COS(F54*Dr) = 0,919225938”

WAKTU DHUHUR

Dz (F69) = 12 – e + (( tz x 15 ) – bujur )/15

= 12 – F55 +((F51*15)-F50)/15 = 11,60076404

= 11:36:03

Maka Dz (istiwak) = 12

Dz (LT) = 11,60076404

Hasil Dz ini selanjutnya akan dipergunakan untuk menghitung waktu sholat lainnya. Dalam mengambil hasil Dz yang akan diinputkan ke waktu sholat yang lainnya, maka apabila Dz yang digunakan adalah Dz istiwak maka waktu sholat tersebut adalah waktu istiwak dan jika Dz yang diambil adalah Dz LT maka waktu sholat tersebut adalah waktu local time yakni waktu daerah seperti WIB, WITA dan WIT.

WAKTU ASHAR

Ha (F70) = tan-1 (1/(TAN(ABS(Lintang-d))+ By Ashar))

= ATAN(1/(TAN(ABS(F49-F54)*Dr)+F59))

*180/PI() = 38,33029293

As (F71) = Dz + cos-1 ( F + sin Ha / G ) /15

= F69 + ACOS(F66+ SIN((F70) * PI()/180)

/F67)*180/PI()/15 = 15,03135658

= 15:01:53

WAKTU MAGHRIB

Mg (F72) = Dz + cos-1 ( F + sin H Mag /G)/15

= F69+ACOS(F66+ SIN((F60) * Dr) /F67)

*180/PI()/15 = 17,86643194

= 17:51:59

WAKTU ISYA’

Isy (F73) = Dz + cos-1 ( F + sin -18 /G) /15

= F69+ACOS(F66+ SIN((F61) * Dr) /F67)

*180/PI()/15 = 19,12188576

= 19:07:19

WAKTU SHUBUH

Sb (F74) = Dz – cos-1 ( F + sin -20 /G) /15

= F69-ACOS(F66+ SIN((F62) * Dr) /F67)

*180/PI()/15 = 3,929581359

= 03:55:46

WAKTU THULUK / SYURUQ/TERBIT

Srq (F76) = Dz – cos-1 ( F + sin H Mag /G)/15

= F69-ACOS(F66+ SIN((F60) * Dr) /F67)

*180/PI()/15 = 5,335096142

= 05:20:06

WAKTU DLUHA

Dh (F77) = Dz – cos-1 ( F + sin 4.5 / G) / 15

= F69-ACOS(F66+ SIN((F64) *Dr) /F67)

*180/PI()/15 = 5,729658294

= 05:43:47

NISFUL LAIL

nL (F78) = Mg + ((24 + Sb) – Mg) / 2

= F72+((24+F74)-F72)/2 = 22,89800665

= 22:53:53

IHTIYAT

Waktu-waktu tersebut diatas belum ditambah ihtiyat, yakni toleransi waktu untuk hati-hati. Untuk mengantisipasi apabila ada kesalahan dalam perhitungan, dianjurkan untuk menambah waktu diatas dengan 1 menit atau 2 menit, kecuali terbit maka supaya dikurangi 1 menit atau 2 menit. Khusus untuk ihtiyat waktu Dzuhur supaya ditambah 4 menit.

Jihad akan terus ADA dan keWAJIBan orang BERIMAN ….. BUKAN untuk GOLONGAN MUSLIM 72 golongan, apalagi MUSYRIK, MUNAFIK, FASIK atau MURTAD/kafir TANPA SADAR …. hingga hari kiamat ——————— “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” [QS. Al-Baqoroh: 216]————————— “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.” [QS. At-Taubah: 29]—————————- Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini: {فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ} “Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Mahapenyayang.” [QS. At-Taubah: 5] ————- Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal. ————— Ditambah lagi, orang-orang munafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensiv (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, Na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini. —————— Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini –sejak zaman Rosul r — sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemahaman jihad yang baru yang tidak bias diselewengkan oleh siapapun, baik di belahan bumi timur maupun barat. —————– Alloh juga berfirman: {وَقَاتِلُوْهُمْ حَتَّى لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ} “Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh, jika mereka berhenti maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [QS. Al-Anfal: 39] ————— Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis kecuali di zaman Nabi Isa turun di akhir zaman, di saat beliau menghapus jizyah dan mematahkan salib serta membunuh babi, beliau hanya menerima Islam. Setelah itu Alloh wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan “Alloh, Alloh,” maka kiamatpun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu. —————- Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Alloh Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu ayatus Saif (ayat pedang): {فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ} “Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. At-Taubah: 5] ——————- Dalam Al-Quran, ayat yang menunjukkan terus adanya jihad sangatlah banyak. —————— Adapun dalil terus berlangsungnya jihad dalam As-Sunnah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rosul r sebagaimana diriwayatkan Al-Jama`ah serta yang lain, dari ‘Urwah Al-Bariqi t ia berkata, Rosululloh r bersabda, (اَلْخَيْلُ مَعْقُوْدٌ فِيْ نَوَاصِيْهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْأَجْرُ وَاْلمَغْنَمُ) “Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah.” ——————– Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika Bukhori menjadikan hadits ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadits ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad), sebab Nabi r menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ghanimah, sedangkan ghanimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadits ini juga berisi anjuran berperang dengan menggunakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadits ini senada dengan hadits yang berbunyi: “Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berperang di atas kebenaran.” Al-Hadits.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas. ————– Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam Shohih Bukhori Muslim serta kitab hadits lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir t Nabi r bersabda, (لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ) “Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.” —————– Dalam lafadz Bukhori disebutkan, (لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ) “Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.” —————— Dalam lafadz Imam Ahmad: “Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan semangat mereka.” ————- Sabda beliau: “Akan senantiasa ada…” menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun kon-teks hadits ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.——————– “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Alloh.” (muttafaq ‘alaih) ———— Dalam hadits ini, beliau menjadikan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam maka tidak lagi ada perang. ———- Di sisi lain, banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadits-hadits yang menunjukkan bahwa kekufuran akan ada hingga hari kiamat. ————- Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Alloh Ta‘ala. ———– Sedangkan maksud ketetapan Alloh dalam hadits ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukminin, hanya saja makna yang ditunjukkan hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada. —————–

jihad akhir zaman

Jihad akan terus ADA dan keWAJIBan orang BERIMAN ….. BUKAN untuk GOLONGAN MUSLIM 72 golongan, apalagi MUSYRIK, MUNAFIK, FASIK atau MURTAD/kafir TANPA SADAR ….  hingga hari kiamat

———————
Hari ini, seluruh dunia –kecuali yang dirahmati Alloh— berdiri satu barisan dengan kekuatan ediologinya, politiknya, ekonominya, informasinya, teknologi dan nasionalismenya, dan dengan segala kekuatannya, di hadapan salah satu syiar agama kita yang hanif (lurus), syiar itu adalah jihad fi sabilillah. Sebuah syiar yang Alloh wajibkan kepada kita dengan firman-Nya:

{كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ}

“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal perang itu kalian tidak suka; bisa jadi kalian tidak suka kepada sesuatu padahal itu lebih baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Dan Alloh Maha tahu sedangkan kalian tidaklah mengetahui.” [QS. Al-Baqoroh: 216]

Juga dengan firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّم وَبِئْسَ الْمَصِيْر}

“Wahai Nabi, jihadlah melawan orang kafir dan munafik dan bersikap keraslah kepada mereka, tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan sungguh itu sejelek-jelek tempat kembali.” [QS. At-Taubah: 73]

Dan firman-Nya:

{قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلاَ بِاْليَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ}

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari akhir, tidak mengharamkan apa yang Alloh dan rosul-Nya haramkan dan tidak menganut agama yang benar (Islam) dari kalangan ahli kitab, sampai mereka membayar jizyah dari tangan sementara mereka dalam keadaan hina.” [QS. At-Taubah: 29]

zaman fitnah

Dalam ayat terakhir yang turun tentang jihad, Alloh berfirman menegaskan kewajiban ini:

{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}

“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Mahapenyayang.” [QS. At-Taubah: 5]
————-

Orang-orang kafir berusaha menghapus syiar jihad ini dan memberikan label kepadanya dengan label terorisme dan tindak kejahatan, menjuluki para pelakunya sebagai kaum teroris, orang-orang ekstrim, fundamentalis dan radikal.
—————

Ditambah lagi, orang-orang munafik ikut membantu mereka dengan menjelekkan dan menghalang-halangi jihad dengan cara-cara syetan, ada yang mengatakan jihad dalam Islam hanya bersifat membela diri (defensive), tidak ada jihad ofensiv (menyerang terlebih dahulu). Ada juga yang mengatakan bahwa jihad disyariatkan hanya untuk membebaskan negeri terjajah. Ada juga yang mengatakan bahwa jihad menjadi wajib kalau sudah ada perintah dari penguasa –padahal penguasa itu menjadi antek yahudi dan salibis—. Sekali waktu ada yang mengatakan bahwa jihad sudah tidak relevan untuk zaman kita sekarang, zaman kedamaian dan undang-undang baru internasional, Na`udzubillah min dzalik, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan-kesesatan ini.
——————

Meski ada saja alasan, dorongan, istilah-istilah munafik dan kufur berbentuk apapun yang bertujuan menghapus panji jihad, kalau dirunut ujungnya sebenarnya jalan jihad ini –sejak   zaman Rosul r — sudah jelas bagi umat Islam, rambu-rambunya sudah ditetapkan, pemahaman dan fikihnya sudah gamblang, kita tidak perlu lagi menambahkan pemahaman-pemahaman jihad yang baru yang tidak bias diselewengkan oleh siapapun, baik di belahan bumi timur maupun barat.
—————–

Khazanah kita sudah terlalu cukup untuk ditambahi, dari khazanah itulah kita menimba rukun, syarat, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dan sunnah-sunnah dalam urusan jihad, kita juga mengambil pilar-pilar disyariatkannya jihad dari khazanah tersebut.

Lebih dari itu, Alloh dan rosul-Nya r telah mengkhabarkan bahwa jihad akan terus berlangsung sampai nanti Alloh wariskan bumi dan penduduknya kepada orang-orang sholeh. Khabar dari Alloh dan rosul-Nya ini termasuk perkara baku yang tidak kami ragukan lagi dan tidak akan kami tanyakan kepada siapapun setelah Alloh dan rosul-Nya r menegaskan hakikat ini.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini dari Al-Quran dan Sunnah sangatlah banyak, seperti firman Alloh Ta`ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ، يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ذَالِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ}

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, Alloh akan datangkan satu kaum yang Dia cintai dan merekapun mencintai-Nya, lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang kafir, mereka berjihad di jalan Alloh dan tidak takut celaan orang yang mencela. Itulah anugerah yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Maidah: 54]

Firman Alloh: “…mereka berjihad…” menunjukkan jihad akan terus berlangsung, konteks ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja meninggalkan sifat-sifat dalam ayat ini, Alloh akan datangkan kaum lain yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai Alloh, merekalah yang akan menyandang sifat-sifat tadi.

Alloh juga berfirman:

{وَقَاتِلُوْهُمْ حَتَّى لاَ تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ}

“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Alloh, jika mereka berhenti maka sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” [QS. Al-Anfal: 39]
—————

Makna fitnah di sini adalah kekufuran, jadi perang akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran. Para ulama mengatakan: Kekufuran di muka bumi tidak akan pernah habis kecuali di zaman Nabi Isa turun di akhir zaman, di saat beliau menghapus jizyah dan mematahkan salib serta membunuh babi, beliau hanya menerima Islam. Setelah itu Alloh wafatkan beliau beserta orang-orang beriman yang mengikuti beliau, saat itulah tidak ada di muka bumi yang mengucapkan “Alloh, Alloh,” maka kiamatpun terjadi menimpa makhluk paling buruk saat itu.
—————-
fase mulkan

Lebih menegaskan bahwa jihad ini akan terus berlangsung, Alloh Ta`ala berfirman dalam ayat jihad yang terakhir turun, yaitu ayatus Saif (ayat pedang):

{فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ}

“Jika telah habis bulan-bulan haram, perangilah orang-orang musyrik di manapun kalian jumpai, tawanlah dan kepunglah mereka serta intailah dari tempat-tempat pengintaian. Jika mereka taubat dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat, bebaskanlah mereka, sesungguhnya Alloh Mahapengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. At-Taubah: 5]
——————-

Dalam Al-Quran, ayat yang menunjukkan terus adanya jihad sangatlah banyak.
——————

Adapun dalil terus berlangsungnya jihad dalam As-Sunnah, maka lebih banyak lagi. Di antaranya adalah sabda Rosul r sebagaimana diriwayatkan Al-Jama`ah serta yang lain, dari ‘Urwah Al-Bariqi t ia berkata, Rosululloh r bersabda,

(اَلْخَيْلُ مَعْقُوْدٌ فِيْ نَوَاصِيْهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْأَجْرُ وَاْلمَغْنَمُ)

“Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, yaitu pahala dan ghanimah.”
——————–

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari ketika Bukhori menjadikan hadits ini sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad baik bersama orang jahat ataupun orang baik, “Sebelumnya, Imam Ahmad sudah lebih dahulu menjadikan hadits ini sebagai dalil (terus berlangsungnya jihad), sebab Nabi r menyebutkan terus adanya kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat, kemudian beliau maknai kebaikan itu dengan pahala dan ghanimah, sedangkan ghanimah yang disejajarkan dengan pahala pada kuda hanya terjadi ketika ada jihad. Hadits ini juga berisi anjuran berperang dengan menggunakan kuda. Juga berisi kabar gembira akan tetap bertahannya Islam serta pemeluknya hingga hari kiamat, sebab ada jihad berarti ada mujahidin, mujahidin sendiri adalah orang-orang Islam. Hadits ini senada dengan hadits yang berbunyi: “Akan senantiasa ada satu kelompok umatku yang berperang di atas kebenaran.” Al-Hadits.” Sampai di sini perkataan Ibnu Hajar secara ringkas.
————–

Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Shohih Muslim-nya ketika mengomentari hadits ini, “Sabda Rosululloh r: “Akan senantiasa tertambat kebaikan pada jambul kuda hingga hari kiamat,” ditafsirkan oleh hadits lain dalam hadits shohih: “Kebaikan itu adalah pahala dan ghanimah.” Hadits ini menunjukkan bahwa Islam dan jihad akan tetap eksis hingga hari kiamat, maksud hingga hari kiamat adalah hingga sesaat sebelum kiamat terjadi, yakni ketika datang angin harum dari Yaman yang mencabut nyawa setiap mukmin, laki-laki maupun perempuan, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits shohih.”

Sampai di sini perkataan An-Nawawi.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan yang lain dari Anas bin Malik ra ia berkata, Rosululloh r bersabda,

(وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ)

“Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupaun keadilan orang adil.”

Menerangkan hadits ini, penulis kitab `Aunul Ma`bud (Syarah Sunan Abu Dawud) mengatakan: Hadits yang berbunyi: “Jihad akan tetap berjalan sejak Alloh mengutusku,” Maksudnya sejak dimulainya era di mana aku (Rosululloh) diutus, “hingga umatku yang terakhir” maksudnya adalah Nabi Isa atau bisa juga Imam Mahdi, “…memerangi Dajjal…” Dajjal dalam konteks hadits di sini sebagai kata obyek. Setelah Dajjal terbunuh, selesailah sudah jihad. Mengenai peristiwa Ya’juj dan Ma’juj, jihad tidak dilakukan karena tidak mungkin bisa melawan mereka, dalam kondisi seperti ini jihad tidak wajib atas kaum muslimin berdasarkan nash ayat surat Al-Anfal. Adapun setelah Alloh binasakan Ya`juj dan Ma`juj, tidak ada lagi orang kafir di muka bumi selama Nabi Isa masih hidup di bumi. Adapun orang yang kembali kafir setelah kematian Nabi Isa u, mereka tidak diperangi karena baru saja kaum muslimin seluruhnya diwafatkan dengan hembusan angin harum dan karena orang-orang kafir terus ada hingga hari kiamat. Inilah pendapat Al-Qoriy. Al-Munziri tidak mengomentari hadits ini.” Selesai perkataan beliau.

perang komplit 3

Sebagai dalil akan terus berlangsungnya jihad, seperti tertera dalam Shohih Bukhori Muslim serta kitab hadits lain, redaksinya milik Muslim, dari Jabir t Nabi r bersabda,

(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ)

“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.”
—————–

Dalam lafadz Bukhori disebutkan,

(لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ)

“Tidak akan terpengaruh oleh orang yang melemahkan semangat dan menyelisihi mereka.”
——————

Dalam lafadz Imam Ahmad: “Mereka tidak mempedulikan orang yang menyelisihi dan melemahkan semangat mereka.” ————-

Sabda beliau: “Akan senantiasa ada…” menjadi dalil akan tetap berlangsungnya jihad meskipun kon-teks hadits ini sudah cukup untuk menetapkan bahwa jihad akan tetap berlangsung.

An-Nawawi berkata dalam Syarah Shohih Muslim-nya: “Saya katakan: Kemungkinan, kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar makruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia. Hadits ini berisi sebuah mukjizat nyata, karena ciri seperti ini –alhamdulillah— selalu ada dalam umat sejak zaman Nabi r hingga sekarang, dan akan selalu ada hingga tiba ketetapan Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.” Selesai perkataan An-Nawawi.

Dalil yang lain adalah sabda Nabi r,

(أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَّسُوْلُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَالِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang hak) selain Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, jika mereka lakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka diserahkan kepada Alloh.” (muttafaq ‘alaih)
————

Dalam hadits ini, beliau menjadikan tujuan akhir peperangan adalah Islam, bermakna jika semua manusia sudah Islam maka tidak lagi ada perang.
———-

Di sisi lain, banyak sekali hadits yang menunjukkan bahwa tidak mungkin seluruh manusia akan menjadi Islam. Demikian juga ada hadits-hadits yang menunjukkan bahwa kekufuran akan ada hingga hari kiamat.
————-

Jika demikian, berarti perang akan selalu ada bersamaan dengan adanya kekufuran sampai tiba ketetapan Alloh Ta‘ala.
———–

Sedangkan maksud ketetapan Alloh dalam hadits ini, ada yang mengatakan masuk Islamnya manusia di zaman Nabi Isa, ada juga yang berpendapat hari kiamat, ada yang mengatakan berhembusnya angin yang mencabut nyawa kaum mukminin, hanya saja makna yang ditunjukkan hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa perang akan selalu ada selama kekufuran ada.
—————–

Nash-nash lain yang menunjukkan bahwa jihad akan terus berlangsung hampir tak terhitung, para imam Islampun sepakat dan tidak ada yang berbeda pendapat bahwa jihad akan terus berlangsung. Rosul r sendiri mengkhabarkan hal ini sebagai sebuah berita yang tidak akan pernah berubah dan berganti.

Semua nash ini menjelaskan bahwa tidak akan pernah mungkin satu zaman berlalu sejak diutusnya Nabi r hingga hari kiamat kosong dari panji jihad pembela kebenaran yang diangkat di jalan Alloh Ta‘ala, ini adalah pengkhabaran yang pemung-kirnya bisa kufur kepada Alloh Ta`ala.

Jika kita meyakini hakikat ini, kita jadikan ini sebagai bagian terpenting dalam hidup kita, dan kita asumsikan sebagai salah satu prinsip baku yang kita konsentrasikan kehidupan kita ke arahnya, maka tidak akan mungkin kita akan mau tertinggal dalam memberikan andil kepada panji jihad dan berdiri di bawahnya walau bagaimanapun susahnya kondisi. Karena panji jihad di zaman kapanpun selalu terkait dengan Thoifah Manshuroh (kelompok yang ditolong, kelompok yang menang) yang diridhoi Alloh.

Thoifah manshuroh sendiri –menurut Imam Nawawi— tidak mesti harus ada di satu tempat, bisa saja dalam satu zaman kelompok ini berada di berbagai tempat. Thoifah manshuroh ini berperang di atas kebenaran dan mereka menang, zaman kapanpun tidak akan pernah kosong dari Thoifah manshuroh yang berperang dan mengangkat panji jihad.

Jika kita meyakini akidah ini, kita bisa pastikan bahwa kekuatan kufur dunia dan negara-negara munafik yang turut membantu mereka sampai kapanpun tidak akan pernah mampu memadamkan panji jihad, tidak akan mampu menumpas para mujahidin atau menghapus syiar jihad ini. Mungkin mereka bisa mengisolasinya di satu atau dua tempat, tapi untuk merontokkannya di zaman sekarang, itu hal yang mustahil walaupun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk melakukannya. Karena panji jihad ini diangkat atas ketetapan dan izin Alloh Ta‘ala serta tidak mungkin akan diletakkan karena Alloh sendirilah yang menetapkan bagi diri-Nya sendiri untuk meninggikan panji ini sampai umat terakhir Muhammad SAW memerangi Dajjal bersama Isa bin Maryam AS. Inilah hakikat yang mesti kita jadikan titik tolak pertama, inilah keyakinan yang sudah semesti-nya kita memerangi musuh berdasar-kan keyakinan ini. Akidah yakin dan percaya penuh dengan janji Alloh I bahwa jihad akan tetap berjalan hingga hari kiamat.

Keputus asaan kaum muslimin hari ini setelah peristiwa mundurnya mujahidin dari kota-kota di Afghanistan bukan menunjukkan mujahidin putus asa dan berhenti berjihad, selamanya bukan. Mereka tetap yakin jihad ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, kondisi mayoritas kaum muslimin yang begitu mengenaskan juga tidak akan selamanya berarti bahwa kekuatan kufur internasional mampu merontokkan panji jihad di dunia. Sayang, kebanyakan kaum muslimin tidak memahami hakikat permusuhan antara kebenaran dan kebatilan, tidak membaca sejarah umat, sejarah para nabi, khususnya dalam Al-Qur’an.

Seluruh dunia menentang janji Alloh bahwa jihad ini akan tetap berlangsung, sementara kami tetap percaya kepada Alloh dan kami bersumpah bahwa kekuatan kufur dunia yang memerangi Alloh I akan kalah. Undang-undang baru internasional berdiri di atas pemahaman yang sudah ditentukan, slogannya sangat jelas; pemahaman itu adalah jihad adalah terorisme, semua mujahid adalah teroris, para teroris harus ditangkap dan terorisme harus dibasmi; maknanya, para wali Alloh itu harus ditangkap dan syariat Alloh I harus dilenyapkan. Maka, hasil akhir peperangan seperti ini sudah bisa ditebak, dulu Alloh sudah menceritakan itu dalam kitab-Nya, Rosululloh r sudah menerangkannya dalam sunnahnya. Rosululloh r bersabda –sebagaimana riwayat Imam Bukhori, Ahmad dan yang lain, dari Abu Huroiroh t—,

(مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ)

“Alloh berfirman: Barangsiapa memu-suhi wali-Ku, Aku maklumkan perang dengannya…” artinya, Ku maklumkan bahwa ia pasti hancur, perang Alloh adalah melawan siapa saja yang memusuhi wali-Nya karena kesetiaan mereka kepada Alloh, dan orang menganggap para wali itu sebagai musuh lantaran komitmen mereka di atas agamanya.

Dalam redaksi lain disebutkan: “Aadzantuhuu bil Harbi…”

(Aku umumkan perang kepadanya), bentuknya nakiroh, artinya perang itu mencakup semua makna hukuman. Dalam riwayat Ahmad:

“Barangsiapa menyakiti wali-Ku…” Hanya menyakiti saja sudah berarti perang.

Dalam riwayat lain: “…sungguh ia telah menghalalkan perang melawan-Ku.”

Hukuman ini tidak selalunya nampak seperti yang menimpa umat-umat lain, tapi bisa juga hukuman itu disegerakan, bisa juga ditunda, Allohlah yang berhak menunda, tapi Alloh tidak pernah mengabaikannya.

Adapun hasil akhir dari perang ini, Alloh telah mengisahkannya dalam Al-Quran, kita ambil misalnya firman Alloh Ta‘ala:

{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادُ}

“Sesungguhnya Kami pasti menolong (memenangkan) para rosul Kami dan orang-orang beriman di dunia dan di hari ketika saksi-saksi tegak.” [QS. Ghofir: 51]

Alloh juga berfirman menegaskan bahwa musuh orang-orang beriman pasti kalah:

{إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللهِ فَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُوْنَ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا إِلىَ جَهَنَّمَ يُحْشَرُوْنَ}

Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta mereka untuk memalingkan dari jalan Alloh, maka mereka akan menginfakkannya kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan, dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam.” [QS. Al-Anfal: 36]

Alloh mengajak kita untuk mengambil pelajaran dari kejadian pada saat perang Badar, pada Yaumul Furqon (hari pembedaan antara yang hak dan batil):

{قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِِ اْلتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَعِبْرَةً لِأُوليِ اْلأَبْصَارِِ}

“Sungguh telah ada tanda-tanda kebesaran Alloh bagi kalian pada dua kelompok yang bertemu dalam perang; satu kelompok berperang di jalan Alloh, sementara kelompok yang lain kufur, mereka melihat orang beriman dua kali lipat dari mereka jika dilihat mata. Dan Alloh menguatkan dengan pertolongan-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki, sesungguhnya pada yang demikian terdapat pelajaran bagi mereka yang berpandangan jeli.” [QS. Ali Imron: 13]

Pertanyaan yang selalu mengusik hati dan menyusup ke hati orang-orang lemah adalah: Mengapa Alloh tidak meno-long Pemerintahan Islam Taliban dalam perangnya melawan pasukan sekutu hingga hari ini? Padahal Pemerintahan itulah yang mampu mengangkat syiar penerapan syariat Islam dan memegang teguh Al-Quran dan Sunnah, seluruh dunia bersa-tu menyerangnya sampai-sampai Taliban dipaksa mundur dari kota-kota yang mereka kuasai, mengapakah ini terjadi?

jihad sesuai quran

Kami katakan, Alloh memiliki hikmah mengapa itu terjadi, hikmah pertama diterangkan dalam firman Alloh Ta‘ala:

{ذَالِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللهُ لاَنْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ}

“Yang demikian itu, kalau Alloh berkehendak pasti akan menangkan mereka atas orang-orang kafir, akan tetapi untuk menguji sebagian atas sebagian yang lain, dan orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh, maka amalan mereka tidak akan pernah disia-siakan.” [QS. Muhammad: 4]

Bisa saja Alloh memenangkan Taliban atas mereka (bah-kan Alloh sangat Maha Kuasa) sendirian. Bisa saja Alloh mematikan dan meluluh lantakkan seluruh kekuatan mereka sekejap mata, akan tetapi Alloh membiarkan orang-orang kafir itu menguasai kaum muslimin untuk memberikan ujian, artinya untuk menguji kaum muslimin dan mencoba kejujuran mereka meskipun orang-orang kafir berkuasa atas mereka. Jika mereka sabar dan semakin berpegang teguh dengan agama mereka, serta lari dan mengadukan perkaranya kepada Alloh Ta‘ala, maka Alloh akan menolong mereka setelah melihat bahwa mereka memang layak memperoleh kemenangan, Alloh akan mantabkan kekuasaan agama yang Dia ridhoi bagi mereka (Islam), tentunya setelah mereka memenuhi syarat-syarat tercapainya kekuasaan di muka bumi. Alloh Ta‘ala berfirman:

{وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُوْنَنِيْ لاَ يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَالِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ}

“Alloh berjanji kepada orang-orang beriman dari kalian, pasti Ia kuasakan mereka di muka bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka dikuasakan, dan akan memantabkan posisi agama mereka yang Alloh ridhoi bagi mereka dan akan menggantikan keadaan takut mereka dengan keamanan, mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mensekutukan dengan apapun terhadap-Ku, dan barangsiapa kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang fasik.” [QS. An-Nuur: 55]

Dan berfirman:

{قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللهِ وَاصْبِرُوْا إِنَّ اْلأَرْضَ لِلَّهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَاْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ}

“Musa berkata kepada kaumnya: ‘Minta tolonglah kalian kepada Alloh dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini adalah milik Alloh, Alloh mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya, dan hasil akhir adalah milik orang-orang bertakwa.” [QS. Al-A‘roof: 128]

Dan berfirman:

{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ}

“Dan telah Kami tetapkan dalam Zabur bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang sholeh.”

Dan berfirman:

{إنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهِ ثُمّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِيْ اْلآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْ أَنْفُسَكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدْعُوْنَ}

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami adalah Alloh kemudian mereka istiqomah, malaikat turun kepada mereka: Janganlah kalian takut dan sedih dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian. Kami adalah pelindung kalian di kehidupan dunia dan akhirat, di sana kalian mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dan di sana terdapat apa yang kalian minta.” [QS. Fushilat: 30-31]

Jadi, syarat dimantabkannya posisi (tamkiin) di muka bumi harus terpenuhi dahulu dalam diri kaum mukminin sebelum kemantaban posisi itu tercapai. Sebagian syarat itu telah Alloh sebutkan dalam ayat-ayat tadi. Di antaranya adalah iman dan amal sholeh, mengikuti manhaj Nabi r dan para shahabat beliau yang dahulu telah berkuasa di muka bumi, meyakini ajaran agama yang benar (Islam), tidak menyekutukan Alloh, meminta tolong hanya kepada Alloh, sabar di atas jalan jihad dan perang melawan musuh, bertakwa kepada Alloh dalam kondisi sendirian atau dilihat orang, kesholihan secara menyeluruh di semua lapisan, karakter seorang mujahid hendaknya senantiasa menya-takan tuhanku adalah Alloh sekaligus mengamalkan konsek-wensi pernyataan tersebut, ia harus konsisten (istiqomah) di atas ajaran agamanya. Inilah syarat-syarat yang apabila seorang hamba bersungguh-sungguh merealisasikannya, ia akan menjadi orang yang berhak diberi kemenangan oleh Alloh dan Alloh akan kuasakan dia di muka bumi.

Kalau kita mau meneliti hikmah mengapa Alloh menunda kemenangan dan mendatangkan kekalahan –secara kasat mata— kepada kaum muslimin di medan pertempuran, mau tidak mau kita harus menilainya dengan adil. Hanya, kita akan sendirikan pembahasannya setelah ini dengan izin Alloh, cukup kita isyaratkan di sini secara sepintas mengingat pemahaman seperti ini tidak boleh hilang dari benak setiap muslim yang hidup hari ini di mana ia selalu mengikuti perkembangan dari medan pertempuran di Afghanistan dengan segala suasana dan eksistensinya, peperangan antara kekuatan kufur internasional seluruhnya melawan mujahidin Afghan.

Kita mohon kepada Alloh agar memuliakan mujahidin dan menolong mereka serta menjadikan mereka berkuasa. Semoga Alloh memecah belah dan mencerai beraikan orang-orang kafir, menghinakan dan menjadikan mereka sebagai ghanimah bagi kaum muslimin.

wallahua’lam
berbagai sumber


Mengapa Ummat Islam Mundur ?? dan Ummat Selain Islam Maju? ——————— Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.———————— > kenapa ummat Islam mundur?? adalah karena ummat Islam sudah tidak memPRAKTEKkan/mengamalkan ajaran ISLAM yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits. …. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan akhirat. ————————————- > ummat Islam TIDAK berSATU, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu. —————————- >ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati. ———————– > Ummat Islam kehilangan semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah. ——————————- > Ummat Islam TIDAK MANDIRI di bidang ekonomi. ……. Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan. ————————– > ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama. ———————– >ummat Islam banyak melakukan HAL yang TIDAK berGUNA …………… Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya) ———————— >ummat Islam tidak menguasai media massa. …..Akibatnya ketika HUKUM ISLAM diLECEHkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa. ——————————– Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi. ——————– Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.—————- Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang kafir mampu memerangi ummat Islam dan menang: ………………… ”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr:14] ———————- Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena masalah furu’iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah dan mudah ditaklukkan musuh.

islam mundur

Mengapa Ummat Islam Mundur ?? dan Ummat Selain Islam Maju?

—————————————
> kenapa ummat Islam mundur??  adalah karena ummat Islam sudah tidak memPRAKTEKkan/mengamalkan ajaran ISLAM yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits. …. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan akhirat.
————————————-
> ummat Islam TIDAK  berSATU, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu.
—————————-
>ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati.
———————–
> Ummat Islam  kehilangan semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah.
——————————-
> Ummat Islam  TIDAK MANDIRI di bidang ekonomi. ……. Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan.
————————–
> ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama.
———————–
>ummat Islam banyak melakukan HAL yang TIDAK berGUNA ……………
Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)————————
>ummat Islam tidak menguasai media massa. …..Akibatnya ketika HUKUM ISLAM diLECEHkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa.
——————————–
Saat ini boleh dikata ummat Islam adalah ummat yang paling tertinggal dibanding ummat-ummat beragama lainnya.Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi.

Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di bidang teknologi dan menguasai negara-negara Islam secara ekonomi dan politik. Mereka mampu membuat mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat ratusan kapal terbang, rudal antar benua, pesawat ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan bisa membuat pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga melewati planet Saturnus.

Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.

Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.

umat mundur

Padahal zaman Nabi, sahabat, dan beberapa generasi sesudahnya selama 700 tahun ummat Islam begitu maju menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate, India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani, bahkan hingga Spanyol.

Ummat Islam mampu mengalahkan orang-orang kafir, Yahudi, bahkan 2 kerajaan Super Power saat itu yaitu Romawi dan Persia. Bahkan ibukota kedua negara tersebut, yaitu Constantinople (Istambul) dan Baghdad saat ini tetap berada di tangan Islam yaitu di negara Turki dan Irak.

Semangat jihad ummat Islam begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Romawi tidak mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid yang berjumlah hanya 3 ribu orang. Bukannya tentara Islam yang mundur, justru pasukan Romawilah yang mundur ketakutan akibat strategi Khalid bin Walid.

Dalam Perang Salib antara ummat Kristen dengan Ummat Islam yang terjadi beberapa kali dari tahun 1096 hingga 1291 untuk memperebutkan Palestina, hanya perang Salib pertama yang dimenangkan ummat Kristen. Setelah itu ummat Islam yang menang dan berkuasa hingga abad 20 sebelum akhirnya jatuh ke tangan Israel.

Dalam bidang ilmu pengetahuan juga begitu. Ibnu Sina (Avicenna) dikenal sebagai Bapak Kedokteran dunia. Ketika perang Salib dan Raja Richard the Lion Heart sakit, tak ada satu dokter Eropa pun yang mampu mengobatinya. Justru Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menyelinap ke tenda Richard yang bisa mengobatinya. Itulah keunggulan ilmu kedokteran Islam saat itu.

islam utk semua

Ilmuwan Islam Al Khawarizmi juga mengembangkan ilmu Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma (Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Bahkan angka yang kita pakai sekarang pun merupakan hasil penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan ”ARABIC NUMERAL” yang menggantikan Sistem Bilangan Romawi yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol). Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

Mengapa ini semua bisa terjadi?

Syekh Amir Syakib Arsalan menulis satu buku yang mengungkap hal ini dengan judul ”Mengapa Ummat Islam Mundur dan Ummat Selainnya Maju?”
———————————–

Sebab pertama kenapa ummat Islam mundur adalah karena ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits.Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan akhirat.

Nabi SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagimu dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul(hadits)”. Ditambah lagi Qur’an sendiri menyatakan dalam surat Al-Furqon ayat 30. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. Menyoroti masalah ini Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Barang siapa yang tidak membaca Qur’an maka dia telah menjauhi Qur’an, dan barang siapa yang membaca tapi tidak pernah merenungkan isinya maka dia telah menjauhi Qur’an, dan barang siapa yang membaca lalu merenungkan isinya tapi tidak pernah mengamalkan nya maka dia telah menjauhi qur’an pula”. Tapi hal iniditujukan kepada orang yang berbeda kemampuan pemahamannya terhadap Qur”an.

Dalam Islam begitu banyak ajaran yang jika dilaksanakan akan bermanfaat bagi ummat Islam sendiri.

Sebagai contoh, Nabi berkata bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim lelaki dan perempuan [Ibnu Majah). Artinya jika kita mempelajari ilmu yang bermanfaat kita akan mendapat pahala, sedang jika tidak belajar kita akan berdosa.

Namun kenyataannya banyak ummat Islam yang malas belajar. Bahkan ada yang beranggapan wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya juga tinggal di dapur.

Akibatnya ummat Islam jadi bodoh dan terbelakang.

Sebaiknya ummat Non Muslim begitu rajin belajar. Tidak hanya S1, tapi juga S2, bahkan S3 dan banyak juga yang tetap belajar meski tidak melalui pendidikan formal seperti Bill Gates yang meski tidak lulus kuliah tapi tetap terus belajar sehingga bisa membuat sistem operasi komputer yang dipakai luas di seluruh dunia.

Ummat Non Muslim begitu cerdas hingga mereka bisa membuat pesawat terbang, kapal induk, peluru kendali, mobil, komputer, dan sebagainya, sementara ummat Islam karena bodoh nyaris tidak bisa apa-apa.

Nabi juga berkata: ”Kebersihan sebagian dari iman.” Namun ternyata ummat Islam banyak yang hidup jorok. Bahkan banyak pesantren yang merupakan tempat kaderisasi ulama yang begitu kotor tempat wudlu, kamar mandi, apalagi WC-nya. Saya sempat melihat air yang begitu kotor dan hijau dipakai untuk berwudlu di pesantren.

Sebaliknya, ummat Non Muslim hidup begitu bersih. Untuk kamar kecil saja, airnya begitu bersih dan jernih. Bahkan mereka bisa mencari nafkah dengan menjadikan kebersihan sebagai usaha/bisnis mereka. Sebagai contoh perusahaan Swedia, Electrolux, memproduksi berbagai produk kebersihan seperti Vacuum Cleaner, alat pel listrik, dan sebagainya. Unilever merupakan perusahaan Multinasional yang kaya dengan produk kebersihan seperti sabun mandi, shampo (pembersih rambut), dan juga sabun cuci. Mereka jadi bersih dan makmur dengan menjalankan kebersihan yang sebenarnya merupakan ajaran Islam.
———————————

Kedua adalah ummat Islam tidak bersatu, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu.

Allah sudah mengingatkan kepada kita . QS. Ali Imran : 103.Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Akan terpecah belah umatku seperti terpecah-belahnya Yahudi dan Nasrani menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali kaum yang mengikuti ajaran-ajaranku dan sahabat-sahabatku”.

Pada zaman Nabi, ummat Islam juga berusaha untuk dipecah-belah dan diadu-domba baik oleh orang kafir Mekkah, mau pun kaum Yahudi misalnya dengan berusaha menimbulkan fanatisme suku antara kelompok Muhajirin dan Anshar. Tapi Nabi berhasil mendamaikan dan mempersatukan mereka. Seharusnya para ulama yang merupakan pewaris Nabi harus berusaha mempersatukan ummat Islam yang terpecah-belah baik dalam kelompok bangsa/negara mau pun aliran.

Bahkan ummat Islam juga disusupi oleh kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul untuk memecah-belah ummat Islam dari dalam. Kaum munafik ini bahkan membangun masjid guna memecah-belah ummat Islam.

”Di antara orang-orang munafik itu ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan pada orang-orang mukmin, untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. [At Taubah:107-108]

Ummat Islam bukan hanya tidak sholat di masjid itu (Masjid Dliror), bahkan membakarnya sehingga orang-orang munafik tidak bisa memecah-belah ummat Islam.

”Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk kepadanya.

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir seperti mereka. Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan pula

menjadi penolong” [An Nisaa’:88-89]

Surat Al Baqoroh ayat 1-20 menjelaskan Muslim yang lurus, orang yang kafir, dan orang yang munafik. Ini agar ummat Islam bisa bersatu dengan Muslim yang lurus dan terhindar dari pecah-belah / adu domba kaum kafir dan munafik.

Dengan persatuan, ummat Islam tidak terkalahkan. Tidak hanya kaum kafir Quraisy yang gagal mengalahkan ummat Islam, tapi juga kaum Yahudi, Persia, dan Romawi. Mereka akhirnya takluk di tangan pejuang Islam.

Negara-negara Barat maju karena mereka bersatu. Di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan kelompoknya yang disebut NATO, mereka bersatu menyerang ummat Islam di Afghanistan, Iraq, dan juga memberikan dukungan penuh pada Israel yang menjajah Palestina dan menguasai masjid Al Aqsha.

Presiden AS, George W Bush mengatakan: ”Either with us or against us!”. Berjuang bersama kami. Jika tidak berarti melawan kami!” Jika tidak turut berjuang bersama George W Bush, berarti jadi musuh Bush cs.

Ummat Islam dulu juga begitu. Ketika bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’ tidak ikut berperang, mereka dikucilkan sehingga merasa berdosa:

”dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [At Taubah:118]

Ummat Islam gagal membebaskan masjid Al Aqsha karena politik adu domba dan pecah belah yang dilancarkan oleh AS dan sekutunya.

Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang kafir mampu memerangi ummat Islam dan menang: …………………

”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr:14]
———————-

Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena masalah furu’iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah dan mudah ditaklukkan musuh.
———————————-

Sebab Ketiga adalah ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati.

Nabi Muhammad SAW berkata: ”Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Saat ini mayoritas ummat Islam terlalu cinta dunia dan takut mati. Kebanyakan ummat Islam boleh dikata alergi terhadap perang. Apalagi ada beberapa boneka kelompok Barat yang berusaha melenyapkan ajaran jihad dengan perang dan menggantinya dengan ajaran Damai dan Cinta meski pada saat ini ummat Islam diserang dan dibunuh di Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Ajaran Jihad pun berusaha untuk dipersempit sehingga perang tidak termasuk di situ.

Allah mewajibkan ummat Islam untuk berperang membela diri dan orang-orang yang dizalimi:

”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.” [An Nisaa’:75]

”Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu” [Al Baqoroh:190]

”Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]

Dalam Islam kita diperintahkan untuk selalu dalam keadaan siap untuk berperang, sehingga ketika musuh menyerang, kita tidak terbantai dan terjajah:

”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [Al Anfaal:60]

Negara-negara Barat paham mengenai hal ini. Mereka punya semboyan: ”Si Vis Pacem Para Bellum”. Agar bisa damai, kita harus menyiapkan perang. Artinya jika kita kuat dan siap perang, maka musuh tidak berani menyerang dan memerangi kita sehingga kita bisa hidup damai.

Negara-negara Barat maju karena banyak melakukan peperangan. Dari Eropa, mereka berperang menyerang penduduk-penduduk di benua Asia, Afrika, Australia, dan Amerika. Akibatnya saat ini Kanada, Amerika Serikat, Australia, serta negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Brazil boleh dikata mayoritas penduduknya dan pemimpinnya berasal dari Eropa.

Negara-negara Barat juga melakukan peperangan baik dalam perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Afghanistan, Perang Iraq, dan sebagainya. Puluhan juta tentara mereka mati karenanya. Tapi musuh yang mereka bunuh (di antaranya ummat Islam) lebih banyak lagi dan mereka berhasil menguasai sumber daya dan kekayaan negara lain sehingga bisa maju dan kaya.

Seharusnya ummat Islam harus berani berperang untuk membela diri. Para ulama dan pemuda Islam yang sadar juga harus semangat untuk berperang membela orang-orang yang dijajah:

”Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” [Al Anfaal:65]

Saat ini kebanyakan ummat Islam takut untuk mati di dalam peperangan. Sebaliknya mati ketika tawuran sekolah, tawuran antar warga, perang Supporter bola, atau mati terinjak dalam konser jadi hal yang biasa ketimbang mati syahid di dalam peperangan.
————————

Sebab Keempat mundurnya ummat Islam adalah hilangnya semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah.

Ada hadits dloif yang berusaha memperkecil makna Jihad sebagai hanya perang melawan hawa nafsu dan bukan berperang. Padahal jihad adalah perjuangan yang sungguh-sungguh sehingga bukan hanya harta saja yang dikorbankan, tapi juga nyawa.

Ayat di bawah menjelaskan orang yang berjihad dengan harta dan nyawa jauh lebih tinggi derajadnya ketimbang orang yang tidak ikut berperang:

”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” [An Nisaa’:95]

Ummat Islam ketika perang dulu tidak takut mati. Justru mereka berperang dengan sengit agar bisa mati syahid dan mendapatkan surga:

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [At Taubah:111]

Orang-orang kafir heran, ummat Islam bukannya berusaha menghindari mati, tapi justru berusaha mati di dalam peperangan. Sehingga mereka begitu fokus menyerang musuh dan sulit untuk dikalahkan.

Dalam Perang Mu’tah, 3.000 pasukan Muslim dengan sabar melawan 200.000 pasukan Romawi. Mereka tidak mundur ketakutan. Justru pasukan Romawi yang mundur ketakutan karena strategi Panglima Muslim, Khalid bin Walid. Ketika ada yang mengusulkan untuk minta bantuan pasukan kepada Nabi, Abdullah bin Rawahah (salah satu syuhada) berkata: ”Demi Allah apa yang tidak kalian sukai sebenarnya justru yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang karena jumlah, kekuatan, dan banyaknya personil. Kita perang karena Islam yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah karena di sana hanya ada 2 kebaikan: Menang atau Mati Syahid!” (Siroh Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury).

Zaid bin Harits, Ja’far bin Abu Thalib, Abdullah bin Rawahah mati syahid. Total hanya 12 pasukan Muslim yang mati syahid. Sementara jumlah tentara Romawi yang gugur lebih banyak lagi.

Ibnu ’Umar yang melihat jasad Ja’far mengatakan bahwa ada 70 luka karena tikaman dan sabetan di tubuh Ja’far. Semua di tubuh bagian depan.

Itulah kehebatan semangat Jihad yang dimiliki ummat Islam. Meski kalah jumlah dan menghadapi Superpower dunia saat itu, mereka tidak gentar dan menang.

Sesungguhnya Jihad adalah semangat yang membuat ummat Islam menjadi kuat dan sulit untuk dizalimi, dijajah, atau dikalahkan. Orang-orang kafir membenci ini dan berusaha menghapusnya dengan memasukkan berbagai ajaran/paham sehingga ummat Islam jauh dari jihad. Misalnya dengan tasawuf, ummat Islam diasyikkan dengan ”mujahadah” sehingga lebih asyik menyepi dan ”berzikir” ketimbang berjihad.

Padahal jihad adalah satu kewajiban:

”Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya..” [Al Hajj:78]

Jihad adalah pintu atau syarat untuk masuk surga:

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ’Imran:142]

”Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” [Al Furqon:52]

Hanya orang yang munafik/tidak beriman yang tidak mau berperang dan berjihad:

”Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” [At Taubah:44]

”Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panasnya” jika mereka mengetahui.” [At Taubah:81]
——————————

Sebab Kelima kemunduran Ummat Islam adalah karena tidak mandiri di bidang ekonomi. Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan.

Sumber daya dan kekayaan alam negara-negara Islam saat ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Minyak, gas, emas, tembaga, perak, boleh dikata dikelola oleh Multi National Company (MNC) dari negara-negara Barat yang perekonomiannya didominasi Yahudi bekerjasama dengan segelintir pemimpin Muslim yang korup.

Ummat Islam hanya mendapat persentase yang amat kecil. Akibatnya ummat Islam jadi miskin, sementara orang-orang kafir bertambah kaya. Ummat Islam sering kesulitan dana untuk membangun masjid, sekolah-sekolah Islam dan tidak mampu menyantuni fakir miskin dan anak Yatim. Banyak anak-anak miskin yang berkeliaran di jalan mencari makan.

Nabi Muhammad bukan hanya mengadakan boikot terhadap produk asing. Tapi bahkan melarang orang-orang kafir masuk ke kota Mekkah. Padahal saat itu perekonomian masih dikuasai oleh orang-orang kafir. Ketika sebagian orang Islam ada yang khawatir nanti bisa susah/miskin, Allah menghibur mereka:

”Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At Taubah:28]

Justru dengan melarang orang-orang kafir masuk, ummat Islam malah mandiri di bidang ekonomi dan menjadi lebih makmur.

Sebagai contoh, jika minyak, gas, emas, tembaga, perak, dan sebagainya dikelola oleh ummat Islam sendiri, maka semua keuntungan masuk ke tangan ummat Islam. Bukan recehan kecil yang hanya nol sekian persen yang diberikan oleh orang-orang kafir tersebut.

Dengan begitu ummat Islam bisa makmur dan kuat. Kemiskinan bisa dikurangi.
———————————

Sebab Keenam kemunduran ummat Islam adalah ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama.

Sering ummat Islam mengerjakan hal-hal yang tidak penting dan tidak segera ketimbang hal yang sangat penting dan mendesak.

Padahal berbagai ajaran Islam seperti sholat, haji, wudlu, dan sebagainya merupakan pendidikan tentang mengerjakan sesuatu menurut urutan yang benar/tertib. Ummat Islam harus bisa menentukan mana pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dulu, dan mana yang bisa dikerjakan kemudian.

Ummat Islam juga sering gagal menentukan musuh mana dulu yang harus dilawan sekarang dan yang mana bisa dilakukan kemudian. Sering ummat Islam perang sesama mereka sementara lawan yang harus diserang seperti Israel yang menjajah Palestina atau AS yang menjajah Iraq dan Afghanistan justru aman dari mulut dan tangan ummat Islam.

Sebagai contoh kita menyaksikan perang Iraq melawan Iran yang menewaskan 2 juta ummat Islam, kemudian Iraq melawan Kuwait dan Saudi yang juga menewaskan banyak korban. Di saat yang sama negara-negara yang berperang dan mengorbankan nyawa jutaan rakyatnya ini tidak ada satu pun yang menyerang Israel untuk membebaskan Masjidil Aqsha.

Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah ribut apalagi perang dengan sesama. Bahkan ketika kelompok munafik Abdullah bin Ubay memecah-belah ummat Islam sehingga dari 1.000 pasukan Muslim, 300 membelot ke Abdullah bin Ubay, Nabi tidak memeranginya. Kata Nabi, jika aku membunuhnya, nanti orang akan berkata bahwa ummat Islam saling bunuh. Nabi juga menandatangani perjanjian damai dan kerjasama pertahanan dengan orang-orang Yahudi untuk menghadapi serangan kaum kafir Mekkah. Ketika kaum Yahudi berkhianat, baru Nabi memerangi mereka.

Jadi Nabi Muhammad SAW bertindak cerdas untuk menentukan lawan yang harus diserang dan mana yang diajak bekerjasama. Bukan memerangi seluruh dunia.
—————————-

Sebab Ketujuh mundurnya ummat Islam adalah ummat Islam banyak melakukan HAL yang TIDAK berGUNA

Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya)

”Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu” [Muslim]

Negara Barat maju karena banyak menemukan dan membuat hal yang berguna baik untuk orang lain mau pun diri mereka sendiri. Mereka membuat mobil dan kapal terbang sehingga orang bisa bepergian dengan cepat dan nyaman. Mereka membuat handphone dan telepon sehingga orang bisa berbicara dengan saudara dan temannya meski terpisah jauh sekali. Mereka membuat berbagai peralatan yang bermanfaat bagi kita semua seperti vacuum cleaner dan sebagainya.

Dengan menggemari hal yang bermanfaat, mereka memberikan manfaat bagi orang lain dan diri mereka sendiri.
———————————

Sebab kedelapan adalah ummat Islam tidak menguasai media massa. Akibatnya ketika  hukum Islam dilecehkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa.

Memang ummat Islam punya media cetak dan radio meski pembacanya tidak sebanyak media yang dimiliki oleh kelompok non Muslim dan sekuler. Contohnya di Indonesia oplah majalah Islam hanya 100 ribu atau kurang dengan pembaca kurang dari 500 ribu orang. Kurang dari 0,3% dari total penduduk Indonesia.

Bahkan untuk TV Nasional yang dapat menjangkau 200 juta penduduk Indonesia, tidak ada TV yang dimiliki oleh ummat Islam. Semuanya dimiliki kelompok Non Muslim atau sekuler. Bahkan 2 di antara TV Nasional di Indonesia dikuasai oleh Konglomerat Media Yahudi: Rupert Murdoch.

Di dunia boleh dikata media massa dikuasai oleh Non Muslim. Media massa terkemuka seperti TV CNN, majalah Time, New York Time dikuasai oleh mereka. Begitu pula dengan Hollywood yang film-filmnya ditonton jutaan orang. Tak jarang di film tersebut selain dipropagandakan gaya hidup sex bebas.

Padahal media massa sangat penting untuk menyampaikan berita. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah Al Qur’an yang artinya ”Bacaan” atau informasi. Salah satu tugas utama Nabi adalah menyampaikan berita:

”Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” [Al Ahzab:47]

”Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Baqarah:119]

”Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” [Al Fath:8]

Tentu saja untuk menyampaikan berita itu kepada masyarakat luas diperlukan berbagai media. Nabi melakukannya dengan berpidato ke masyarakat luas, dakwah dari mulut ke mulut, menyampaikan utusan, dan juga mengirim surat.

Tak jarang banyak berita yang memojokkan ummat Islam dan justru membela aliran-aliran sesat. Ini karena media massa dikuasai kelompok yang tidak senang dengan Islam. Oleh karena itu ummat Islam harus menguasai media massa agar ummat Islam bisa mendapatkan berita dari sumber yang benar. Bukan berita dari orang-orang fasik yang memojokkan Islam:

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]

WALLAHUA’LAM

berbagai sumber