apa itu MILLAH IBRAHIM ?…. keBODOHan; Islam Nusantara …. ajaran PLURALISME … mengaku MILAH IBRAHIM ? ———————— Secara terminologis (arti lughowy), “millah” itu identik dengan “Thorieqoh” atau “Syarie’ah”, yang artinya JALAN yang dibentang (dirumuskan/ditata) mengarah ke tujuan yang ingin dicapai. ———— Dengan demikian, millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang. —————- Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. — شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ “Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13) ———— Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman. ————- Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran. ———— Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130. وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———– Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129. ———— Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41. ———– Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya. ———— Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——- 1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126) “Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. — Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman. ————— 2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—– Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural. ———- 3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128) ————- 4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128) ———– Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna. ——- 5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129) ——— 6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36) ——- 7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37) —— 8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37) ——– 9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) —— Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”. ———– 10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41) ———– Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia). ———- Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim, ——— sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut: وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———— Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya. وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124) ——— Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka. ————— Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”. ———- Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——– إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin) Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123) ———– Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya. ———

milah ibrahim

apa itu MILLAH IBRAHIM ?…. keBODOHan; Islam Nusantara …. ajaran PLURALISME … mengaku MILLAH IBRAHIM ?
————————
Secara terminologis (arti lughowy), “millah” itu identik dengan “Thorieqoh” atau “Syarie’ah”, yang artinya JALAN yang dibentang (dirumuskan/ditata) mengarah ke tujuan yang ingin dicapai.
————

Dengan demikian, millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang.
—————-

Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. —

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ

“Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13)
————

Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman.
————-

Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran.
————

Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130.

وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130)
———–

Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129.
————

Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41.
———–

Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya.
————

Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——-

1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126)

“Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. —

Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman.
—————

2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—–

Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural.
———-

3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128)
————-

4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128)
———–

Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna.
——-

5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129)
———

6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36)
——-

7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37)
——

8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37)
——–

9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) ——

Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”.
———–

10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41)
———–

Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia).
———-

Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim,
———
sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut:

وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130)
————

Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya.

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124)
———

Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka.
—————

Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”.
———-

Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——–

إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ

  • Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin)
  • Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
  • Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh.
  • Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123)
    ———–

Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya.
———

Dan pantas pulalah bahwa Allah memerintahkan Rasulullah Muhammad untuk mengikuti Millah Ibrahim, dan memerintahkan agar Millah Ibrahim tersebut dijadikan sebagai arah perjuangan (Jihad) Ummat Muslimin, yang sebenar-benarnya Jihad di pihak Allah.

وَجَـٰهِدُواْ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ‌ۚ هُوَ ٱجۡتَبَٮٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ۬‌ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٲهِيمَ‌ۚ

Dan berjihadlah (berjuanglah) kamu di pihak Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah menyeleksi kamu dan Dia sekali-kali tidak membebankan atas kamu sesuatupun kesempitan dalam agama ini. (perjuangkanlah) cita-cita leluhurmu Ibrahim …. (Al Hajj : 78)

Lebih lanjut Allah menegaskan bahwa Millah Ibrahim adalah bagian tak terpisahkan dalam menggelar Konsep Dienullah, menegakkan Agama Allah.

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينً۬ا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُ ۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ۬ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٲهِيمَ خَلِيلاً۬

Dan siapakah yang paling baik dalam beragama selain orang yang menyerah diri seutuhnya kepada Allah, lalu menampilkan kinerja terbaiknya, dan mengikuti Millah Ibrahim secara lurus dan konsekuen? Allah menjadikan Ibrahim sebagai kebanggaan. (An Nisa : 125)

Tapi sayang seribu kali sayang, terminologi “Millah Ibrahim” ini diterjemahkan para Ulama dengan “Agama Ibrahim”. Maka tak pelak lagi, konsep Millah Ibrahim sebagai arah perjuangan Jihad Ummat Islam sepanjang zaman ini, terkuburlah sudah dengan sangat dalam, sangat jauh sekali dari pemikiran dan wacana Kaum Muslimin. Karena dengan diterjemahkan “Agama Ibrahim”, maka mereka pikir bahwa kita ini Ummat Muhammad, maka agama kita ini Agama Nabi Muhammad bukan Agama Nabi Ibrahim yang sudah menjadi “kisah masa lalu”.

Petunjuk implementatifnya pun jelas sekali, bahwa yang harus diikuti oleh Rosulullah itu adalah falsafah hidup dan arah perjuanan Nabi Ibrahim, bukan “Agama Ibrahim”.

Akibat yang lebih jauh lagi, Jihad yang sebenar-benarnya (Haqqo Jihadihi), menurut rekomendasi dan arahan dari Allah, yaitu perjuangan mewujudkan cita-cita (idealisme) yang sejalan dan searah dengan cita-cita Nabi Ibrahim itu, lenyap pula dari konsep jihadnya Kaum Muslimin mutaakhkhirin ini.

Perjuangan yang Khas dari kelompok-kelompok pergerakan Islam di mana-mana adalah “menegakkan Syari’at Islam”, yang diartikan sebagai “sistem perundang-undangan (hukum) Islam, yang untuk menegakannya harus terlebih dahulu merebut kekuasaan.

Padahal makna dari kosakata “Syari’ah” itu adalah: “arah yang dituju” atau “jalan yang dibentang/ditata”. Bukan undang-undang atau “rambu-rambu”, yang untuk itu Allah menyebutnya “huduud (huduudullah)”.

Lebih jauh ditegaskan pula bahwa hak untuk menetapkan syari’ah itu hanya Allah saja satu, dan telah ditetapkan secara permanen untuk semua Rosul-rosulnya sepanjang zaman.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ‌ۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِىٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ

Mereka yang ikut-ikutan mengatur dan merumuskan syari’ah tanpa adanya izin dari Allah, Allah menyebut mereka sebagai “para PENYEKUTU ALLAH (Syurokaa`).

أَمۡ لَهُمۡ شُرَڪَـٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ‌ۚ

Ataukah mereka mempunyai (mengakui adanya) para penyekutu Allah, yang mensyariatkan bagi mereka (bagian) dari Ad Dien ini, sesuatu yg tidak diijinkan Allah? …

Demikianlah, terminologi MILLAH IBRAHIM yang dari Allahnya merupakan salah satu unsur fundamental dari Dien-Nya itu, telah lenyap sama sekali wacana kajian Islam yg mapan selama ini, diganti dengan berbagai terma dan isu yang sama sekali tidak ada dari Allahnya.

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقً۬ا يَلۡوُ ۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Dan sesungguhnya di antara mereka itu sungguh ada segolongan yang begitu piawai ber-rethorika, sehingga kamu menganggapnya dari Al Kitab, padahal itu bukan dari Al Kitab. Mereka mengklaim “ini dari Allah” padahal ia bukan dari Allah. Dan mereka mengatakan suatu kebohongan atas (nama) Allah, padahal merekapun mengetahui. (Ali Imron : 78)
================================

Belum lama ini sekitar sejak bulan September tahun 2010 hingga Juni 2011, ummat Islam di beberapa daerah dikejutkan oleh muncul dan berkembangnya aliran “Millah Abraham”. Mulai dari Aceh di ujung pulau Sumatera, Padang, Bandar Lampung dan beberapa kota di pulau Jawa diindikasi telah terjangkit ajaran baru tersebut. Seperti apa paham, letak kesesatan dan jawabannya, berikut penulis paparkan kepada sidang pembaca umat muslim di Indonesia berdasarkan penelitian dan pengkajian terhadap beberapa sumber pustaka dari aliran ini. Di antaranya berjudul “ALKITAB MENUBUATKAN ISLAM HANIF AKAN MASUK SURGA” ditulis oleh Dr. Robert P. Walean yang diterbitkan oleh Last Events Duty Institute tahun 2006 (selanjutnya diistilahkan IH) dan buku berjudul “TEOLOGI ABRAHAM; MEMBANGUN KESATUAN IMAN YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM” ditulis oleh Mahful M Hawary yang diterbitkan oleh Fajar Madani tahun 2009 (selanjutnya diistilahkan TA).

1. MENGUSUNG TEOLOGI INKLUSIF-PLURALIS DENGAN DALIH AGAMA IBRAHIM.

a. Dengan mempropagandakan ISLAM HANIF sebagai jalan keselamatan; bukan KRISTEN yang dibawa YESUS, dan juga bukan ISLAM yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Bagi mereka ISLAM HANIF itu telah dinubuatkan di dalam ALKITAB seperti tertulis dalam kitab nabi Yesaya [60] : 6-7.

“Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. Segala kambing domba KEDAR akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan NEBAYOT akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan diatas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”

Tentang siapa Kedar dan Nebayot, kitab Kejadian [25] : 13 menjelaskannya bahwa itu adalah anak-anak Ismael. “Inilah anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam.”

Buku itu menyimpulkan bahwa sesungguhnya seorang Islam harus beragama seperti agama Nabi Ibrahim. Sesuai perintah Al-Qur’an dalam An-Nahl [16] : 123;“Kami wahyukan kepadamu Muhammad, Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Jadi agama Islam adalah agama nabi Ibrahim. Sedangkan Kristen juga mengimani iman nabi Ibrahim, seperti tertulis dalam Injil Roma [4] : 16, “Agama Ibrahim adalah Bapa kita semua”. (lihat IH hal. 8)

Tujuan utama “pekabaran” bukan untuk mengKristenkan, tapi untuk membawa orang agar diselamatkan di akhirat nanti. Sedangkan ISLAM HANIF the remnant itu, sudah menjadi umat pilihan Allah yang pasti akan diselamatkan, karena mereka sudah beriman seperti iman nabi Ibrahim a.s. Ditulis dalam buku itu: “BAIKLAH UMAT ISLAM TETAP MENJADI ISLAM, TAPI HARUS MENJADI ISLAM HANIF SESUAI AN-NAHL : 123. SELAMA MEREKA BERADA DALAM KELOMPOK ISLAM HANIF, MEREKA AKAN DISELAMATKAN KARENA MEREKA TERGOLONG PADA KELOMPOK SEBAGIAN KECIL (THE REMNANT), SEPERTI DALAM AL-ISRA’ : 62” (lihat IH hal. 10)

Pemikiran dasar millah ini adalah mengampanyekan teologi pluralis-sinkretis yang dibungkus dengan istilah ISLAM HANIF yang memang banyak bertebaran dalam ayat Al-Qur’an terutama terkait dengan sosok Nabi Ibrahim alayhi salam yang memang adalah kakek buyut nabi Muhammad saw. Selain itu juga berdalih dengan ayat Asy-Syuura [42] : 15 “ALLAH LAH TUHAN KAMI DAN TUHAN KAMU”, Al-‘Ankabut [29] : 46 “TUHAN KAMI DAN TUHANMU ADALAH SATU”, sehingga disimpulkan bahwa AGAMA TAUHID ADALAH AGAMA KITA SEMUA seperti keterangan Al-Mu’minun: 52 wa inna hadzihi ummatukum ummatan wahidatan wa ana Robbukum fattaquuni. (lihat IH hal, 12-13)

Jawaban:

Agaknya makna perintah Allah agar nabi Muhammad saw mengikuti millah Ibrahim harus dipahami dengan baik dan proporsional. Pengertian bahwa Muhammad mengikuti millah Ibrahim dalam ayat ini dan banyak ayat lainnya di dalam Al-Qur’an adalah bahwa Islam dibangun atas elemen-elemen dan pondasi dasar millah Ibrahim yaitu prinsip-prinsip fitrah dan sikap pertengahan antara keras dan lembut. Sehingga amatlah wajar jika syariat Muhammad saw yang rincian dan cabang-cabangnya dibangun atas prinsip suatu syariat dapat dianggap ia adalah syariat Ibrahim a.s. Namun demikian tidaklah dimaksudkan bahwa semua ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad saw adalah copy-paste millah Ibrahim. Sebab secara substansial, ada perbedaan karakter antara Islam dengan millah Ibrahim. Islam adalah syariat yang legalistik dan universal, sementara syariat Ibrahim bersifat khusus untuk kaumnya saja.

Juga tidak berarti bahwa Allah perintahkan nabi Muhammad pada mulanya untuk mengikuti millah Ibrahim sebelum diwahyukan kepadanya ajaran Islam secara lengkap. Sebab tidak ada bukti/dalil historis-empiris dan legal bahwa syariat Islam yang diwahyukan kemudian lalu menghapus syariat dan amalan nabi Muhammad saw di awal kerasulannya.

Sehingga yang paling tepat dalam pemaknaan ayat tersebut bahwa nabi mengikuti millah Ibrahim itu adalah dalam pengertian diserapnya prinsip-prinsip syariat Ibrahim seperti pengarusutamaan TAUHID dan pembelaan terhadapnya serta mengikuti tuntunan fitrah, juga diserapnya beberapa rincian ajaran kehanifan Ibrahim seperti khitan, berbuat ihsan dan perkara-perkara fitrah. (Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, vol.14/320-321)

b. Aspek lain yang dijajakan oleh TEOLOGI ABRAHAM adalah kampanye istilah MUSLIM adalah istilah universal dan tidak eksklusif menjadi hak paten umat nabi Muhammad saw saja. Ini bisa dilihat dari pembahasan khusus masalah tersebut dalam (TA) hal. 13-21,

Jawaban:

Sebenarnya hal itu tidak aneh dan tidak pula salah. Namun konteks penamaan muslim dan Islam sebagai agama dan syariat yang diwahyukan kepada nabi akhir zaman Muhammad saw adalah konsisten dan sejalan dengan DINULLAH yang memang satu tidak berbeda-beda meski syariat yang Ia wahyukan kepada masing-masing nabi berbeda-beda sesuai tuntutan jaman dan tempat.

Namun patut diingat bahwa jika kita cermati ayat-ayat yang menyematkan sifat MUSLIM kepada para nabi terdahulu berikut umat mereka dalam QS. al-Baqarah [2] : 128 dan 131-133, Ali-Imran [3] : 52, al-Maidah [5] : 111, al-Hajj [22] : 78, an-Naml [27] : 42, al-Dzariyat [51] : 35-36, bahkan tak hanya itu ketundukan ‘aslama’ kepada sistem Allah di jagat raya dan umat para nabi dalam Ali-Imran [3] : 83-85, kesemuanya menunjukkan bahwa Allah SWT mencukupkannya dengan menyebutkan sikap dan sifat kepasrahan dan ketundukan kepada Allah SWT; ‘MUSLIM’, namun tidak menyebut secara spesifik dengan istilah ISLAM. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa nama agama dan sistem ajaran yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai ISLAM itu adalah ‘proper name’ (nama diri, ism al-‘alam bil ghalabah) untuk agama universal dan wahyu pamungkas yang Allah tanzilkan kepada Nabi Muhammad saw. Ini mengandung pesan bahwa seluruh ajaran dan system hidup yang diamalkan para nabi dan rasul itu telah mencapai kesempurnaannya pada saat Allah SWT menurunkan wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad, seperti yang dideklarasikan dalam ayat 3 surah Al-Maidah [5], “…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Dan juga sebelumnya dalam ayat 19 surah Ali-Imran [3], 19. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” Penamaan yang khas ini tidak dapat diubah atau dipelintir pemahamannya karena ‘nama diri’ itu langsung dimaktubkan dalam Al-Qur’an; satu-satunya wahyu Allah SWT yang mutawatir, otentik dan bersifat final.

2. MENGAJAK UMAT MUSLIM MENGHORMATI TRADISI SABAT YAHUDI, DISAMPING TETAP MENDIRIKAN IBADAH SALAT JUM’AT.

Ketika dinyatakan bahwa umat muslim harus mengikuti agama ISLAM HANIF yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, tentu mereka ingin juga menetapkan ritual baru yang cocok dengan millah baru tersebut. Maka didapatilah oleh mereka bahwa ibadah hari Sabtu (seperti yang dipilih oleh umat Yahudi pada masa Nabi Musa a.s.) itulah sebagai ritual “Millah Ibrahim” seperti diisyaratkan dalam Al-Qur’an surah An-Nahl [16] : 124, persis setelah ayat 123 yang perintahkan nabi Muhammad saw untuk mengikuti millah Ibrahim dengan menyatakan, “ Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) [844]hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya (Ibrahim). Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang Telah mereka perselisihkan itu.” (lihat IH hal. 15-17)

*FOOTNOTE TERJEMAH AL-QUR’AN DEPAG RI, [844] menghormati hari Sabtu itu ialah dengan jalan memperbanyak ibadat dan amalan-amalan yang saleh serta meninggalkan pekerjaan sehari-hari.

Jawaban:

Sebenarnya ayat tersebut tidak cocok dijadikan landasan ritual bagi millah Ibrahim ataupun umat Islam dewasa ini. Sebab ayat itu merupakan keterangan dan penjelasan atas pertanyaan yang timbul dari ayat sebelumnya, yaitu: jika Muhammad saw diperintahkan mengikuti millah Ibrahim dan Islam sebagai bagian dari millah itu, lalu mengapa hari ibadatnya adalah Jum’at dan bukannya hari Sabtu sebagaimana ditetapkan Taurat atas umat Yahudi? Syubhat inilah yang kerap dilontarkan umat Yahudi kepada nabi Muhammad saw. Jawabannya adalah ayat ini. Sehingga makna ayat itu adalah penegasan bahwa sabat tidaklah diwajibkan keatas umat Yahudi melainkan karena mereka bukanlah penganut millah Ibrahim. Dengan kata lain, karena umat Yahudi itu bukanlah pengikut sejati Ibrahim, bahkan mereka berselisih dan menentangnya (ikhtalafuu fiihi), maka diwajibkanlah ibadah pada hari Sabtu atas mereka. Jadi ibadah Sabtu bukanlah ritual nabi Ibrahim melainkan hanya bagi kaum Yahudi. Sehingga tidaklah tepat dan sangat keliru jika mereka nyatakan bahwa umat muslim juga diwajibkan menghormati hari Sabtu sebagaimana kaum Yahudi. (Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, vol.14/322-324)

Di samping itu, ajakan menghormati Sabat ala Yahudi kontradiktif dengan pernyataan mereka bahwa sesuai Al-Qur’an sendiri Nabi Ibrahim bukanlah seorang penganut Yahudi atau Kristen. Namun sangat aneh jika umat muslim diajak agar beribadah pada Sabat ala Yahudi, meskipun tradisi ibadah Sabat itu tak pernah diajarkan oleh Nabi Ibrahim dalam millahnya!

3. MENJUSTIFIKASI ISA AL-MASIH SEBAGAI PENEBUS DOSA UMAT MANUSIA

Yang lebih menyesatkan lagi adalah bahwa ajaran millah Ibrahim ini, dengan memelintir dan memperkosa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkisah tentang pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, juga menjustifikasi nabi Isa al-Masih sebagai penebus dosa umat manusia. Hujah yang mereka bangun adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada angin tidak ada hujan, soal ibadah Qurban hewan ternak yang disyariatkan oleh Allah SWT atas nabi Ibrahim sebagai pengganti nabi Ismail, lalu dikaitkan dengan doktrin penebusan dosa ala KRISTEN. Ayat yang mengisahkan bahwa saat nabi Ibrahim hendak menyembelih anaknya Islamil, Allah mencegahnya dan berkata ‘wa fadaynahu bi dzibhin ‘azhim’. “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [1285].” (QS. As-Shaffat [37] : 107) (lihat IH hal. 19)

[1285] Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). peristiwa Ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

Buku panduan ISLAM HANIF menyatakan: “Ayat ini justru yang terpenting dari peristiwa kurban Nabi Ibrahim. Karena ada kata TEBUS yang melambangkan semua dosa nabi Ibrahim dan dosa anaknya serta semua dosa umat manusia, Allah telah sediakan PENEBUS untuk menanggungnya. Sehingga barang siapa yang sudah bertobat dan menerima jasa penebusan itu, mereka tidak akan dituntut harus menanggung akibat dosanya di neraka,” di bagian lain dinyatakan: “…Semua yang berdosa harus masuk neraka, tapi setelah ada yang menebus dosa tersebut asalkan dia sudah bertaubat maka tuntutan dia harus masuk neraka tidak berlaku lagi karena sudah ada yang menebusnya.” (lihat IH hal. 20)

Jawaban:

  • Nampak sekali para perumus ajaran millah Ibrahim ini terobsesi dengan kosa kata ‘fadaynahu’ yang artinya Kami tebus/ganti dia, lalu dikorelasikan dengan doktrin ‘redemption’ (penebusan dosa) dalam teologi Kristen yang digagas oleh Paulus. Sebagai sebuah doktrin yang tak pernah diajarkan orisinil oleh Nabi Isa alayhi salam, doktrin penebusan dosa sangat berbeda jauh dengan konsep Qurban yang dialami Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Doktrin ‘penebusan dosa’ berarti seluruh dosa umat manusia telah ditanggung oleh seorang yang diklaim sebagai juru selamat YESUS KRISTUS, sementara konsep Qurban berarti ketundukan dan kepatuhan hamba kepada kehendak dan aturan Allah SWT dengan cara pendekatan diri dengan cara mengalirkan darah hewan ternak untuk tujuan meraih ketakwaan dan menebar manfaat bagi kaum dluafa. Adanya kemiripan kosa kata ‘fadaynahu’ dengan konsep redemption yang diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai ‘fida’ (dari akar kata yang sama dengan fadayna) tak berarti konotasi dan konsekuensinya juga sama.
  • Lagi pula, dalam kisah awal mula disyariatkannya Qurban itu tak ada penjelasan sedikitpun baik dari Nabi Ibrahim dan Ismail bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah untuk menebus dosa-dosa mereka dan anak keturunan mereka.

b. Buku itu juga sempat menyajikan beberapa konsep keselamatan yang ada dan pernah dipeluk umat manusia dalam sejarahnya: mulai dari konsep harus bertapa, konsep harus ada sesajian, konsep harus direinkarnasi, konsep harus menyiksa diri, konsep harus beramal sebanyak-banyaknya, dan konsep hanya menerima jasa penebusan (lambang tebusan yang ada pada acara qurban nabi Ibrahim). (lihat IH hal. 24-25)

Jawaban:

Seperti yang sudah kami kemukakan, bahwa konsep Qurban tidak identik dan tidak boleh disamakan dengan konsep menerima jasa penebusan dosa.

c. Lalu beranjak kepada pertanyaan: siapakah yang pantas jadi pengganti/penebus dosa umat manusia? Penebus dalam pandangan mereka disebut istilah lain jurusyafaat, dan ia sama dengan juru selamat yaitu al-Masih. Isa al-Masih inilah satu-satunya rasul yang pantas menjadi pengganti/penebus dosa manusia karena alasan-alasan berikut: (lihat IH hal. 26-27)

  • Dia sendiri tidak pernah berdosa, alias orang suci. Berdasarkan ayat 19 surah Maryam. “Ia (Jibril) berkata, ‘Sesungguhnya Aku Ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci’.”
  • Dia yang akan mendapat keselamatan dan kesejahteraan saat dilahirkan, saat mati, dan saat dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam [19] : 33), juga didasarkan ayat-ayat lain seperti An-Nisa [4] : 158 dan 159.

Jawaban:

Meski sifat-sifat mulia yang dimiliki nabi Isa ‘alayhi salam itu terungkap dalam Al-Qur’an, namun hal yang patut dicamkan adalah Al-Qur’an juga tak pernah membahas kemungkinan Nabi Isa sebagai juru selamat atau penebus dosa seluruh umat manusia apalagi pernah menyematkan sifat itu di dalam Al-Qur’an. Jika memang konsep itu benar secara orisinil diajarkan oleh Nabi Isa, maka pasti Al-Qur’an akan mengungkapkannya.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan secara rinci sifat-sifat keutamaan Isa al-Masih, dan tak ada di antaranya yang menyebutkan bahwa ia adalah juru selamat dan penebus dosa umat manusia, yaitu di antaranya:

  • Terkemuka di dunia dan di akhirat (QS. Ali-Imran [3] : 45)
  • Menghidupkan orang mati dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49 dan al-Maidah [5] : 110)
  • Menyembuhkan orang buta sejak lahirnya dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Menyembuhkan orang yang berpenyakit sopak dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Meniup tanah yang dibentuk seperti burung hingga menjadi burung sungguhan dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Mampu mengabarkan apa-apa yang dimakan dan disimpan oleh orang-orang di rumah mereka masing-masing (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Bani Israel berusaha membunuhnya, tetapi Allah melindunginya (QS. Ali-Imran [3] : 54)
  • Diangkat ke langit oleh Allah dalam keadaan hidup (QS. Ali-Imran [3] : 55)

Dipastikan bahwa selain doktrin TAUHID yang murni diajarkan oleh Nabi Isa a.s kepada Bani Israel seperti terekam dalam ayat 51 surah Ali-Imran [3] dan ayat 72, 116-118 surah al-Maidah [5], maka semua itu adalah doktrin-doktrin baru yang diciptakan oleh Paulus, yang dalam pandangan teologis muslim, dialah biang keladi dan sumber kerusakan dan penyimpangan ajaran Isa al-Masih.

d. Menurut mereka ajaran penebusan dosa itu tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengajarkan semua ajaran nabi dan rasul itu sama dan satu, para penganut agama dilarang berpecah belah tentangnya (la tatafarraquu fiihi) seperti pesan ayat 13 surah Asy-Syuura [42], dan ayat 9 surah Al-Ahqaaf [46], An-Nisa’ [4]: 136. Dikatakan pula ajaran Al-Qur’an pasti sama dengan ajaran Taurat, Zabur dan Injil. Sedangkan kitab-kitab tersebut mengajarkan doktrin penebus dosa atau jurusyafaat. Itulah yang dipesankan dalam ayat 94. “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya Telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu.”(QS. Yunus [10] : 94) (lihat IH hal. 29-31)

Jawaban:

Perintah kepada Nabi Muhammad saw untuk menanyakan kepada Ahlul Kitab umat nabi sebelumnya tentang kebenaran Islam yang beliau bawa dalam ayat 94 surah Yunus tentu saja diarahkan kepada umat Ahli Kitab yang telah masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Disisi lain, fungsi Al-Qur’an tidak lah semata-mata hanya membenarkan (mushaddiqan) ajaran-ajaran umat nabi terdahulu, namun juga berfungsi untuk menguji, meluruskan yang salah dan menjadi tolok ukur kebenaran ajaran mereka (muhayminan ‘alayhi) seperti yang termaktub dalam ayat 48 surah al-Maidah [5],“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu [422], kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu.”

Apalagi sepeninggal Nabi Musa dan Isa ‘alayhima assalam telah disinyalir kuat terjadi distorsi ajaran, dan penyelewengan serta pemalsuan (termasuk di dalamnya penambahan atau pengurangan) isi kitab suci Taurat dan Injil yang dilakukan oleh Ahli Kitab. Pewartaan soal ini telah jelas terbentang dalam Al-Qur’an di banyak surah (misalkan al-Baqarah [2]: 79, an-Nisa [4]: 46, al-Maidah [5]: 13 dan 41), sehingga boleh dikatakan Islam dan Al-Qur’an lah yang gigih menentang dan menolak berbagai doktrin Yahudi dan Kristen karena disebabkan ‘tahrif’ yang mereka lakukan terhadap kitab suci mereka (QS. an-Naml [27] : 76)

e. Syubhat terakhir mereka jika dinyatakan bahwa Al-Qur’an dan Alkitab tidak membenarkan dosa ditanggung oleh orang lain, mereka katakan ya itu benar, dosa tidak boleh dipindahkan/ditebus orang lain. Sebab perlu diketahui bahwa Isa al-Masih bukan orang lain, melainkan ia adalah Ruhullah dan Kalimatullah!! (lihat IH hal. 31)

Jawaban:

Meski Nabi Isa diberi julukan Ruhullah (Roh yang Allah tiupkan) dan Kalimatullah (firman Allah), namun itu semua tidak menunjukkan arti keilahiyan bagi Nabi Isa. Ia tetaplah sebagai seorang hamba Allah, rasul pilihan-Nya dan juga anak manusia biasa. Apalagi ayat 116-117 surah al-Maidah dengan tegas-jelas menafikan keilahiyan Nabi Isa, dan penegasan berulang kali bahwa tiada seorang pun di dunia ini yang berhak dan boleh menanggung dosa orang lain (lihat QS. al-An’am [6] : 164, al-Isra’ [17] : 15, Fathir [35] : 18, az-Zumar [39] : 7 dan an-Najm [53] : 38)

4. MENAFSIR ULANG AL-QUR’AN AGAR SETUJU/COCOK DENGAN KONSEP TRINITAS KRISTEN

SEMUA ITU DILAKUKAN DENGAN PIJAKAN DALIL-DALIL AL-QUR’AN YANG TELAH ‘DIPERKOSA’ PEMAHAMANNYA.

a. mereka berkesimpulan demikian dengan cara memahami ayat 73 surah al-Ma’idah secara tekstual dan sangat aneh. Ayat itu berbunyi, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. al-Maidah [5] : 73). Penulis buku TEOLOGI ABRAHAM hal. 209 menyatakan sbb:

“Dalam ayat ini dikatakan, bahwa kafirlah orang yang mengatakan bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga, itu berarti Allah melarang untuk memisahkan atau membeda-bedakan antara ketiganya; Allah, Rasul dan Ruhul Qudus (firman Allah). Dalam pengertian ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan antara satu dengan lainnya. Ketiga unsur itu menyatu dalam pengertian: Allah menyampaikan firman (Ruhul Qudus) melalui Rasul, sehingga perkataan seorang Rasul adalah sama dengan perkataan Allah (Ruhul Qudus).”

Selanjutnya dikatakan:

“Namun tidak berarti bahwa seorang Rasul berubah wujud menjadi Allah. Ruhul Qudus adalah bagian dari Ruh Allah yang dititupkan (baca: diwahyukan dan diajarkan) kepada Rasul-Nya sehingga dia berubah status menjadi makhluk ilahiyah. Karenanya tidak boleh dipisahkan atau dibedakan antara perkataan Allah dengan perkataan Rasul atau antara perbuatan BAPA dengan perbuatan ANAK. Dengan masuknya Ruhul Qudus itu ke dalam diri seorang Rasul, maka Allah telah bersemayam di dalam dirinya; Allah sudah manunggal dengan dirinya; saat itulah Allah sudah sangat dekat dengan urat nadinya.”

b. oleh mereka dinyatakan bahwa konsep TRINITAS yang diakui dalam millah Abraham adalah memposisikan Rasul sama dengan Allah, baik dalam hal keimanan lisan maupun dalam ketaatan praktik, bukan kesatuan dalam hal dzat-Nya. “Dalam kerangka ini dapat dipahami jika dikatakan bahwa ketaatan kepada Allah harus melalui ketaatan seseorang pada Rasul-Nya,”seperti firman Allah “Siapa saja yang telah mentaati Rasul, maka sejatinya dia telah mentaati Allah”. Lebih lanjut dinyatakan bahwa TRINITAS dalam Al-Qur’an tidak menempatkan Allah sebagai satu bagian dari yang tiga secara mandiri, tetapi satu kesatuan yang tauhid (ahad) secara spiritual (nilai) bukan kesatuan bendawi ala iman gereja. (hal. 212)

Jawaban:

  • Ayat 73 surah al-Maidah sangat populer dan bukti penolakan serta kecaman Al-Qur’an sebagai basis teologi muslim yang hanif terhadap doktrin teologis bernama TRINITAS. Kecaman terhadap keyakinan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, juga berimplikasi dan berarti kecaman terhadap siapa saja yang menyatukan dan memanunggalkan ketiga unsur itu menjadi satu. Inilah konsep satu dalam tiga dan tiga dalam satu yang dirangkum oleh konsep TRINITAS!
  • Upaya merasionalkan konsep TRINITAS yang sudah nyata sesatnya itu agar diterima umat muslim dengan klaim Allah=Firman=Rasul yang diasumsikan sebagai Allah Bapa=Allah Roh Kudus=Allah Anak bahwa hal itu telah dikenal oleh ajaran Al-Qur’an bahwa ‘siapa yang mentaati Rasul maka ia sungguh telah mentaati Allah’ (man yuthi’I arrasul fa qad atha’a Allah), adalah upaya penyesatan opini. Sebab dalam ajaran Islam dan Al-Qur’an, orang yang menerima ajaran atau firman Allah sebagai nabi tidak lah pantas menyatakan dirinya telah menyatu/manunggal dengan Allah SWT itu sendiri. Nabi atau Rasul tetap lah manusia, dan tidak akan pernah dan tidak boleh menyatakan dirinya juga adalah Allah. Inilah yang secara tegas dan gamblang dinyatakan ayat 79 surah Ali-Imran [3], Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (konsisten menyembah Allah), Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
  • Upaya atau tindakan untuk menyamakan dan mengisi atau menyebut istilah konsep asing, kufur dan syirik yang sudah mapan artinya seperti TRINITAS dan disamakan atau diisi dengan konsep muslim dan hanif, adalah ngawur dan merusak konsep ilmu dan epistemology. Seperti kasus penyamaan konsep ‘penebusan dosa’ dengan ‘qurban’, lalu misalkan ‘shalat’ dengan ‘meditasi’ atau ‘maulid nabi’ dengan ‘natal’ dan lain sebagainya yang membuat rancu dan menimbulkan kerusakan epistemology Islam.

5. MENAFSIR ULANG HARI QIYAMAT SEBAGAI HARI KEMENANGAN MILLAH ABRAHAM

Penulis TEOLOGI ABRAHAM menyatakan, “Dalam bahasa Arab kata qiyamah adalah bentuk isim mashdar (kata benda) dari kata qama-yaqumu-qiyaman-qiyamatan; berdiri atau tegak… salah satu istilah eskatologi dalam Al-Qur’an adalah yawmu ad-din; hari pembalasan, yakni hari ditegakkannya hukum Allah sebagai hari pembalasan atas perbuatan seseorang. Hari tegaknya hukum Allah ini identik dengan hari kemenangan para Rasul Allah di satu pihak dan hari dihancurkannya musuh-musuh Allah di pihak lain.”

Selanjutnya, ia menulis bahwa, “Pertanyaan orang-orang kafir tentang kapan saat datangnya Kerajaan Allah atau saat datangnya hari qiyamah adalah dalam kerangka tersebut; yakni SAAT DATANGNYA HARI KEMENANGAN MILLAH ABRAHAM (hari tegaknya Kerajaan Allah di dunia) bukan eskataologi dalam dimensi akhir zaman yang diawali oleh peristiwa apokaliptik; kehancuran bumi dan alam semesta.” (lihat TA, hal. 238)

Jawaban: yawmul qiyamat dan yawmu ad-din adalah nama lain dari al-yawm al-akhir; yaitu hari kiamat besar saat kehancuran bumi dan jagat raya yang menandai berakhirnya kehidupan fana di dunia menuju kehidupan abadi di akhirat. Ia disebut juga yawmul ba’ts (hari berbangkitnya manusia dari alam kubur) untuk menerima pembalasan amal yang dilakukan selama di dunia (yawm ad-din / yawm al-jaza’). Perkara tersebut telah menjadi aksioma dalam ajaran Islam, karena keimanan terhadap hari itu adalah salah satu Rukun Iman. Jadi tak ada kaitannya sama sekali dengan kemenangan millah Abraham.

Kesimpulan

Dari penelusuran dan kajian pustaka tersebut, dapat disimpulkan beberapa poin kesesatan dan penyimpangan akidah dari aliran Millah Abraham sbb:

  1. Mengusung teologi pluralis-sinkretis yang membahayakan akidah Islam.
  2. Ada indikasi kuat penyimpangan dan kekeliruan penafsiran terhadap soal-soal prinsipil dalam akidah Islam, sehingga menggiring opini kaum awam yang tidak mengerti kaidah penafsiran yang otentik dan sah untuk menjerumuskan mereka ke dalam penyimpangan dan kesesatan akidah yang direkayasa secara sistematis.
  3. Mendesak pimpinan pusat MUI agar segera memfatwakan aliran Millah Abraham adalah sesat dan menyesatkan, dan agar dilakukan pembinaan dan sosialisasi akidah Islam yang benar ke seluruh lapisan ummat agar tidak tergerus oleh penyesatan dan rekayasa musuh-musuh Islam.

Sekian, Wallahu A’lam bil-Shawab.

manusia BANYAK tergelincir dalam ………..keSYIRIKan ———————————- Mengucapkan Kalimat SYAHADAT= BUKAN Jaminan Masuk Surga ——————- Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan HAPUSlah AMALmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65) ——————————– Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah. ——————————- Dan sabda Nabi Saw. : …………… Dan tidak akan masuk surga kecuali yang berjiwa Muslim, sedangkan kalian kalau dibandingkan dengan ahli SYIRIK, bagaikan SEHELAI bulu putih di tengah-tengah kulit lembu yang berbulu merah. (Bukhori – Muslim). Dalam kitab Hadits Al Lu’lu’ Wal Marjan No : 132 ———————————- >>> Dalam 1000 orang 999 akan memasuki neraka.. Hadis Qudsi ; Daripada Abu Sa’id katanya; Rasulullah saw bersabda; “Allah berfirman; “Wahai Adam!” Adam menjawab; “Aku sambut seruanmu, Ya Allah… aku sambut seruanMu dan Engkau telah membahagiankan daku dengan kebahagiaan justeru kemuliaan dan ketinggianMu.” ………….. Allah berfirman; “Pisahkanlah ahli neraka (dari zuriatmu).” Adam bertanya: “Bagaimanakah pemisahan itu.” Allah berfirman; “Dari setiap 1000 orang, 999 orang (memasuki neraka).” maka itu terjadi di waktu kanak2 berubah menjadi tua dan wanita yg mengandung anaknya melahirkan anaknya dan kamu lihat manusia seperti orang2 gila sedangkan mereka tidak gila akan tetapi azab Allah amat dahsyat sekali.” ………………. Lalu para sahabat merasa amat terkesan dengan apa yg diberitahu oleh Rasulullah saw itu. Mereka pun berkata; “Ya Rasulullah, siapakah di kalangan kami si lelaki itu (yg memasuki syurga dari setiap 1000 org).? ……………………. Rasulullah saw bersabda; “Gembiralah kamu bahawa nisbah bilangan Ya’juj dan Ma’juj berbanding dengan orang2 beriman ialah 1:1000 (1000 Ya’juj dan Ma’juj dan seorang mukmin, iaitu nisbah yg hadir pada hari kiamat).” ………………………. Kemudian baginda saw bersabda; ” Demi Dia Yang memegang jiwaku di dalam tanganNya, sesungguhnya aku ingin sekali agar bilangan kamu menjadi 1/3 ahli syurga.” ………… Kata Abu Sa’id; “Maka kamipun memuji Allah serta bertakbir.” Kemudian baginda saw bersabda; “Dan demi Dia Yang memegang jiwaku di dalam tanganNya, sesungguhnya daku amat ingin sekali agar bilangan kamu menjadi separuh dari ahli syurga. Sesungguhnya perumpamaan kamu di kalangan umat2 ialah seperti sehelai bulu puith pada kulit seekor lembu jantan yg berwarna hitam atau kesan yg ada pada kaki keledai.” ……………….. {Hadis sahih. Dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim.} ————————————– Mengucapkan Kalimat Syahadat Bukan Jaminan Masuk Surga ————————– “Wah, ngawur ente!!” (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? ————————– Allah berfirman, إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145) ———————————– Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?). ——————————- Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته “Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.” ————————- Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya? ——————————– Makna Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Illallah” ———————————— Makna kalimat syahadat tersebut bukanlah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta ini. Karena orang Yahudi dan Nasrani juga mengakuinya. Akan tetapi mereka tetap dikatakan kafir. Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meyakini hal tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran, di antaranya adalah: قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31) ————————————– Bahkan kaum musyrikin tersebut mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang merupakan patung orang-orang shalih itu adalah dengan tujuan untuk mendapatkan syafaat mereka dan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (sebagaimana para penyembah kuburan para wali di sebagian negeri kaum muslimin). ————————— Hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut: وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)————————- وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)—————- وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (QS. Yusuf: 106) ———————— Yaitu mengimani, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, akan tetapi mempersekutukan-Nya dalam peribadatan. Secara ringkas makna syahadat “Laa ilaaha illallah” adalah tidak ada sembahan yang haq (benar) kecuali Allah. Seorang yang bersaksi dengan kalimat tersebut harus meninggalkan pengabdian kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja secara lahir maupun batin. Sama saja, baik yang dijadikan sembahan selain Allah itu malaikat, nabi, wali, orang-orang shalih, matahari, bulan, bintang, batu, pohon, jin, patung dan gambar-gambar. Jika kita masih merasa tenang dengan menganggap diri kita adalah ahli tauhid serta memandang remeh untuk mendalami dan medakwahkannya maka perhatikanlah beberapa hal berikut: ————————– Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah untuk MenTauhidkan Allah (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) ———————– Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah. وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65) ——————————— Karena tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadatan, maka syirik membatalkan tauhid sebagaimana berhadats dapat membatalkan wudhu. Jika sholatnya orang yang berhadats tidaklah sah, dalam arti kata belum dianggap telah melakukan sholat sehingga harus diulangi, maka begitu pun syirik jika mencampuri tauhid, akan merusak tauhid tersebut dan membatalkannya. —————————————

DOSA SYIRIK TIDAK DIAMPUNI

manusia BANYAK tergelincir dalam ………..keSYIRIKan
———————————-
Mengucapkan Kalimat SYAHADAT=  BUKAN Jaminan Masuk Surga
—————————————————
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan HAPUSlah AMALmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
—————————–
Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah.
——————————-
DOSA TIDAK DIAMPUNI 3
Dan sabda Nabi Saw. : ……………

Dan tidak akan masuk surga kecuali yang berjiwa Muslim, sedangkan kalian kalau dibandingkan dengan ahli SYIRIK, bagaikan SEHELAI bulu putih di tengah-tengah kulit lembu yang berbulu merah. (Bukhori – Muslim). Dalam kitab Hadits Al Lu’lu’ Wal Marjan No : 132
———————————-
>>> Dalam 1000 orang 999 akan memasuki neraka..
Hadis Qudsi ;

Daripada Abu Sa’id katanya; Rasulullah saw bersabda; “Allah berfirman; “Wahai Adam!” Adam menjawab; “Aku sambut seruanmu, Ya Allah… aku sambut seruanMu dan Engkau telah membahagiankan daku dengan kebahagiaan justeru kemuliaan dan ketinggianMu.”
…………..
Allah berfirman; “Pisahkanlah ahli neraka (dari zuriatmu).” Adam bertanya: “Bagaimanakah pemisahan itu.” Allah berfirman; “Dari setiap 1000 orang, 999 orang (memasuki neraka).” maka itu terjadi di waktu kanak2 berubah menjadi tua dan wanita yg mengandung anaknya melahirkan anaknya dan kamu lihat manusia seperti orang2 gila sedangkan mereka tidak gila akan tetapi azab Allah amat dahsyat sekali.”
……………….
Lalu para sahabat merasa amat terkesan dengan apa yg diberitahu oleh Rasulullah saw itu. Mereka pun berkata; “Ya Rasulullah, siapakah di kalangan kami si lelaki itu (yg memasuki syurga dari setiap 1000 org).?
…………………….
Rasulullah saw bersabda; “Gembiralah kamu bahawa nisbah bilangan Ya’juj dan Ma’juj berbanding dengan orang2 beriman ialah 1:1000 (1000 Ya’juj dan Ma’juj dan seorang mukmin, iaitu nisbah yg hadir pada hari kiamat).”
……………………….
Kemudian baginda saw bersabda; ” Demi Dia Yang memegang jiwaku di dalam tanganNya, sesungguhnya aku ingin sekali agar bilangan kamu menjadi 1/3 ahli syurga.”
…………
Kata Abu Sa’id; “Maka kamipun memuji Allah serta bertakbir.” Kemudian baginda saw bersabda; “Dan demi Dia Yang memegang jiwaku di dalam tanganNya, sesungguhnya daku amat ingin sekali agar bilangan kamu menjadi separuh dari ahli syurga. Sesungguhnya perumpamaan kamu di kalangan umat2 ialah seperti sehelai bulu puith pada kulit seekor lembu jantan yg berwarna hitam atau kesan yg ada pada kaki keledai.”
………………..
{Hadis sahih. Dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim.}
————————————–
Mengucapkan Kalimat Syahadat Bukan Jaminan Masuk Surga
————————–
“Wah, ngawur ente!!” (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar?
————————–
Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145)
———————————–
Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?).
——————————-
Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته

“Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.”
————————-
Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya?
——————————–
BAHAYA SYIRIK 3

Makna Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Illallah”
————————————
Makna kalimat syahadat tersebut bukanlah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta ini. Karena orang Yahudi dan Nasrani juga mengakuinya. Akan tetapi mereka tetap dikatakan kafir. Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meyakini hal tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran, di antaranya adalah:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)
————————————–
Bahkan kaum musyrikin tersebut mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang merupakan patung orang-orang shalih itu adalah dengan tujuan untuk mendapatkan syafaat mereka dan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (sebagaimana para penyembah kuburan para wali di sebagian negeri kaum muslimin).
—————————
Hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)————————-

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)—————-

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (QS. Yusuf: 106)
————————
Yaitu mengimani, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, akan tetapi mempersekutukan-Nya dalam peribadatan. Secara ringkas makna syahadat “Laa ilaaha illallah” adalah tidak ada sembahan yang haq (benar) kecuali Allah. Seorang yang bersaksi dengan kalimat tersebut harus meninggalkan pengabdian kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja secara lahir maupun batin. Sama saja, baik yang dijadikan sembahan selain Allah itu malaikat, nabi, wali, orang-orang shalih, matahari, bulan, bintang, batu, pohon, jin, patung dan gambar-gambar. Jika kita masih merasa tenang dengan menganggap diri kita adalah ahli tauhid serta memandang remeh untuk mendalami dan medakwahkannya maka perhatikanlah beberapa hal berikut:
————————–
Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah untuk MenTauhidkan Allah

(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
———————–
Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
———————————
Karena tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadatan, maka syirik membatalkan tauhid sebagaimana berhadats dapat membatalkan wudhu. Jika sholatnya orang yang berhadats tidaklah sah, dalam arti kata belum dianggap telah melakukan sholat sehingga harus diulangi, maka begitu pun syirik jika mencampuri tauhid, akan merusak tauhid tersebut dan membatalkannya.
—————————————
TAUHID KEHIDUPAN

Tauhid Merupakan Tujuan Diutusnya Para Rasul

Sebelumnya manusia adalah umat yang satu, berasal dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Kemudian datanglah syaitan menggoda manusia untuk mengada-adakan bid’ah dalam agama mereka. Bid’ah-bid’ah kecil yang semula dianggap remah saat generasi berganti generasi, bid’ahnya pun semakin menjadi. Hingga pada akhirnya menggelincirkan mereka kepada bid’ah yang sangat besar, yaitu kemusyrikan.

Iblis terbilang cukup ‘sabar’ dalam melancarkan aksinya selama sepuluh abad untuk menggelincirkan keturunan Adam ‘alaihissalam kepada kemusyrikan -sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (lihat “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsir)- Hingga tatkala seluruhnya tenggelam dalam kemusyrikan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nuh ‘alaihi salam.

Demikianlah, setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلنَا مِن قَبلِكَ مِنْ رََسُولٍ إِلا نُوحِي إلَيهِ أنَّه لا إِلهَ إلا أنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya: 25)

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi mengutus rasul. Hal ini bukanlah dalil bahwa kemusyrikan tidak akan pernah terjadi lagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dikatakan beberapa orang. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa akan senantiasa ada segolongan dari umat ini yang berada di atas tauhid dan mendakwahkannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim.

Tauhid Adalah Kewajiban Pertama Bagi Manusia Dewasa dan Berakal

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mendahulukan perintah tauhid dan menjauhi syirik, sebelum memerintahkan yang lainnya dalam setiap firmannya di Al Quran.

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي القُرْبَى وَاليَتَامَى وَالمَسَاكِيْنَ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالجَارِ الجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua (ibu & bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisa: 36)

Pelanggaran Tauhid Adalah Keharaman yang Terbesar

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)

Allah mendahulukan penyebutan pengharaman syirik sebelum yang lainnya, karena keharaman syirik adalah yang terbesar.

Tauhid Harus Diajarkan Sejak Dini

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ibnu Abbas tentang tauhid sejak beliau masih kecil.

إذا سألت فاسأل الله و إذ استعنت فستعن بالله

“Jika engkau hendak memohon, maka mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, maka memohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Tauhid Adalah Materi Dakwah yang Pertama Kali Harus Diserukan

Saat mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – و في رواية : إلي أن يوحدوا الله

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (dalam riwayat lain disebutkan: agar mereka menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari, Muslim)

Jika kita masih menganggap bahwa, itu jika yang menjadi objek dakwah kita adalah orang kafir. Jika kaum muslimin maka tidak demikian. Maka ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang jika tidak mendapatkan kesembuhan dari penyakit secara medis mereka berbondong-bondong mengunjungi dukun atau yang dikenal dengan istilah sekarang sebagi paranormal. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang tinggal di pesisir pantai yang melakukan penyembelihan kurban kepada selain Allah (baca: Nyi Roro Kidul) yang mereka istilahkan dengan sedekah laut. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang menyembelih kerbau untuk ditanam kepalanya di bawah jembatan yang hendak mereka bangun, sebagai persembahan agar mereka tidak diganggu oleh jin penunggu daerah tersebut? Berapa banyak kemusyrikan-kemusyrikan yang merajalela di tengah umat ini, sedangkan sebagian kaum muslimin yang lain mengatakan bahwa hal tersebut adalah ‘kebudayaan’ bangsa yang harus dilestarikan? Betapa sedikitnya kaum muslimin yang memahami dan mengamalkan tauhid? Lahan dakwah tauhid masih terlalu luas, akankah kita berdiam diri dan tetap meremehkan masalah ini? Wallahu waliyyut taufiiq. {ref Muslim.or.id}
………………………………………………………………
AGAR KITA SELAMAT DARI MEREKA, INILAH KIAT-KIAT NYA

1. Ikhlash yaitu orang yang beramal karena Allah. Ikhlash lawan dari syirik.

Al-Hijr (QS. 15:40)

“Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis [3] di antara mereka“

2. Merealisasikan penghambaan diri hanya kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan taat.

Al-Hijr (QS. 15:42)

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat”

3. Iltizam biljamaah bersama dlm jamaah kaum muslimin baik secara i’tiqod dan barisan.

“Sesungguhnya setan bersama org yg sendirian & menjauh dari dua orang” (HR.Ahmad)

4. Menjaga shalat berjamaah.

Al-Mujadila (Qs. 58:19)

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”

“Jika ada 3 orang di desa atau kampung yang tidak mendirikan shalat jamaah kecuali mereka telah dikuasai oleh setan” (HR. Abu Dawud)

5. Berpegang teguh dengan Al-Qur’an & Sunnah.

Al-Baqara (QS. 2:208)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”

6. Memohon pertolongan Allah dari tipu daya setan.

Ingat kita tidak akan menang atas setan kecuali ditolong oleh Allah.

7. Perkuat ibadah Jika anak adam baca ayat sajdah lalu dia sujud.

setan menyendiri sambil menangis, Ia berkata

“Sungguh celaka (aku) anak adam diperintah sujud & ia bersujud maka baginya surga, & aku disuruh sujud tdk mau sujud maka bagiku neraka” (HR.Muslim)

jika ingin setan byk menangis perbanyak sujud.

8. Isti’adzah (mohon perlindungan) A’udzubillahi minasy syaithonirrojim.

Pada saat terasa ada gangguan

Al-Araf (QS. 7:200)

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“

Saat Tilawah, saat masuk WC (hadits shahih riwayat Bukhari & Muslim),

saat shalat sebelum al-fatihah, saat marah, saat anjing menggonggong,

(QS. 16:98)

“Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk“

9. Membentengi keluarga, anak & harta.

﴾ At Tahriim:6 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
يٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّـهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿التحريم:٦﴾
﴾ Al Baqarah:24 ﴿
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِينَ ﴿البقرة:٢٤﴾
﴾ Ali Imran:131 ﴿
Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.
وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِينَ ﴿آل عمران:١٣١﴾
﴾ At Taubah:35 ﴿
pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.
يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ ﴿التوبة:٣٥﴾
﴾ Asy Syuura:45 ﴿
Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal.
وَتَرَىٰهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ يَنظُرُونَ مِن طَرْفٍ خَفِىٍّ ۗ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ ٱلْخٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيٰمَةِ ۗ أَلَآ إِنَّ ٱلظّٰلِمِينَ فِى عَذَابٍ مُّقِيمٍ ﴿الشورى:٤٥﴾