Loading
Pedoman | EP Artikel-Edy Gojira

PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK yg tersebar di masyarakat sebelum KIAMAT/ MALAPETAKA BESAR bagi semua penduduk BUMI ——————– “Tidak akan terjadi hari KIAMAT sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang MUSYRIK dan sampai mereka MENYEMBAH “berhala” (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)” Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952. ——————— “Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu? Mana buktinya?”. ————————- Tapi kalau sumber beritanya berasal dari firman Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân, masihkah ada yang meragukan kebenarannya?. Simaklah, Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ ” Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [Yûsuf/12:106] —————– Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman: وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya” [Yûsuf/12:103] ——————————- Ketauhidan manusia pada zaman Rasulullah SAW tidaklah sama dengan ketauhidan manusia di zaman sekarang. Ketauhidan manusia pada zaman sekarang sudah banyak yang melenceng dari syariat agama islam, kurang mendalami ilmu agama dan otomatis keimanannya juga lemah. Berbeda dengan zaman Rasulullah SAW, pada zaman Rasulullah SAW ketauhidan manusia pada saat itu masih asli, masih bagus, dan bersifat praktikal, sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Ketika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan lansung kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan dengan kita yang hidup pada zaman sekarang, apakah kita bisa bertanya lansung kepada rasulullah SAW ketika ada masalah. Hal itu tidak mungkin karena Rasulullah telah wafat , namun kita bisa mengamalkan sunah rasul dan Al-qur’annul karim sebagai pedoman hidup manusia, ———————— Salah satu bentuk penyimpangan terhadap ketauhidan manusia terhadap sang pencipta ialah syirik. Kenapa saya memilih syirik dalam makalah observasi lapangan ini. Karena perbuatan syirik merupakan dosa terbesar dalam agama islam. Dewasa ini perbuatan syirik atau menyekutukan Allah ini seperti perbuatan biasa dan seperti perbuatan yang lumrah bagi manusia pada masa sekarang, ini terbukti dengan masih adanya budaya sesajen, pesugihan, meminta keberuntungan kekuburan, meminta kekayaan kegunung kawi dan masih banyak lagi. Dalam pandangan islam ini bukan merupakan hal sepele dan sangat fatal dampaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT ———– ”Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Anisa : 48) —————- <<< Pernyataan ayat diatas sangat mengancam manusia untuk meninggalkan perbuatan syirik itu. ---------- Surat Al A'raf ayat 172 menjelaskan bahwa setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia, oleh Allah SWT sudah dimintai kesaksian tentang ketuhanan Allah SWT dengan pertanyaan, ---------- ''Bukankah Aku ini Tuhanmu?'' Setiap janin yang hendak menjadi manusia ini pun menjawab, ''Tentu saja kami menjadi saksi.'' Untuk apa Allah SWT meminta kesaksian seperti itu? Agar kelak di hari kiamat tidak ada orang (yang menyembah selain Allah SWT) berargumen bahwa mereka tidak tahu tentang ketuhanan dan keesaan Allah SWT.----------- Dalam sebuah hadits riwayat Al Hakim, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap bayi yang terlahir --dari dua orang tua Muslim maupun kafir-- itu berada dalam kondisi Muslim. Hanya apakah si anak itu tetap sebagai Muslim atau berubah menjadi musyrik atau kafir, itu tergantung agama yang diajarkan kedua orang tuanya. ------------------ <<< Setiap orang tua Muslim memiliki tugas utama dan pertama untuk menjaga akidah diri dan anak keturunannya istiqamah pada akidah yang mengesakan Allah SWT. Saat ini, tugas tersebut menjadi bertambah wajib untuk ditunaikan, karena semakin banyak pihak yang berkeinginan untuk menyeret kaum Muslim pindah agama dan keyakinan. --------- <<< Gerakan pemurtadan yang dilakukan dengan iming-iming yang menggiurkan adalah salah satu aktivitas yang terus menggoda akidah umat Islam. Selain itu juga ada paham pluralisme agama yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran Islam. Semua agama dianggap sama.--------- Sahabat Ismail bin Umayah pernah meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Beliau memberinya nasihat singkat dengan mengingatkan, ''Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah SWT dengan sesuatupun, meski kamu harus menerima risiko kematian dengan cara dibakar hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah dua. '' (HR Ibnu Majah).------------- Nasihat Rasulullah SAW itu tentu terkait dengan peringatan Allah SWT bahwa dosa syirik akan menghanguskan segala kebajikan dan merupakan dosa tak terampuni. Allah SWT berfirman, ''Jika kamu mempersekutukan Allah SWT niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'' (QS Az Zumar:65). Di ayat yang lain Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'' (QS An Nisa 48). Semua keterangan tersebut terkait dengan syirik kufur, yakni orang yang menyembah kepada selain Allah SWT. -------------------- ---------------Tauhid adalah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada juga definisi yang lain, yaitu konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah (tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (diabdi/disembah) selain Allah. Orang yang bertauhid disebut orang yang beriman (orang mukmin). Lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik menurut bahasa artinya bersekutu atau berserikat. Sedangkan syirik menurut istilah artinya menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam Zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, maupun dalam ketaatan yang seharusnya ditujukan hanya untuk Allah semata. Dan orang yang berbuat syirik disebut orang musyrik (ada dua golongan). Sudah menjadi Sunnatullah bahwa pertentangan antara tauhid vs syirik atau orang mukmin vs orang musyrik akan selalu ada di segala zaman. -------- Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka mentaati 3 (tiga) prinsip ajaran tauhid sebagai berikut: Beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah-- • Meninggalkan perbuatan syirik---- • Menjauhi thaghut-------- Hal tersebut sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:------- Ibadatilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun... (QS. An-Nisa: 36)------- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadati..." (QS. Az-Zumar: 65-66)------ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Ibadatilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut."... (QS. An-Nahl: 36)----- Perbuatan syirik merupakan kezaliman yang besar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:-- Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)------------ Ada 3 (tiga) sebab munculnya perilaku syirik, yaitu sebagai berikut:--- Al jahlu (kebodohan) ---- • Dhai’ful iman (lemahnya iman) ---- • Taqlid (ikut-ikutan secara membabi-buta)--------- Barangsiapa yang berbuat syirik maka hapuslah pahala segala amal perbuatannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:--- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)----- ...Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'am: 88)--- Barangsiapa yang berbuat syirik maka dia telah berbuat dosa yang besar dan dosanya itu tidak akan diampuni, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:-------- Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa: 48)------------ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa: 116)---------- Barangsiapa yang berbuat syirik maka Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya adalah neraka, berdasarkan firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:---------- ...Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim (musyrik) itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)--------- Orang-orang beriman tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun anggota keluarga sendiri, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:------- Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)------- Orang-orang musyrik itu halal darah dan hartanya, bahkan Allah memerintahkan untuk membunuh mereka di mana saja menjumpai mereka, kecuali mereka bertaubat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:--- ...bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan... (QS. At-Taubah: 5)--------- Demikian juga Nabi Musa 'alaihis salam dulu memerintahkan kaumnya agar membunuh orang-orang musyrik di antara mereka yang terlibat penyembahan patung anak lembu yang terbuat dari emas, akan tetapi dibunuhnya mereka dalam hal ini justru sebagai bentuk taubat mereka kepada Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada sang Pencipta yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi sang Pencipta yang menjadikan kamu; maka Dia akan menerima taubatmu... (QS. Al-Baqarah: 54)---------- Khusus para pelaku syirik dari golongan Yahudi dan Nasrani, Allah menamakan mereka ahli kitab (bukan orang musyrik) dan memerintahkan untuk memerangi mereka sampai mereka membayar jizyah, yaitu pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:---------- Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)--------

September 27, 2017 Edy Gojira 2

PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK yg tersebar di masyarakat sebelum KIAMAT/ MALAPETAKA BESAR […]

Apakah kita masih terus rela menjadi orang-orang yang sekedar ‘memegangi buntut-BUNTUT sapi’ dan puas menjadi ‘BUIH dari air banjir’ yang akan segera sirna dan ditimpakan keHINAan ataukah KEMBALI ke JALAN-Nya berdakwah dan bersiaga ?!!——– ————————- Bukankah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah mengabarkan hal ini. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بِشْرٍ الْمَرْثَدِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ ، عَنْ مَرْزُوقٍ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحِمْصِيِّ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحْبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ” . Telah diriwayatkan dari Tsauban hamba Nabi saw bahwa beliau bersabda: “Akan datang suatu masa di mana bangsa mengeroyok kalian seperti orang rakus merebutkan makanan di atas meja, ditanyakan (kepada rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam) apakah karena di saat itu jumlah kita sedikit? Jawab rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak bahkan kamu saat itu mayoritas tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air banjir, hanya mengikuti kemana air banjir mengalir (artinya kamu hanya ikut-ikutan pendapat kebanyakan orang seakan-akan kamu tidak punya pedoman hidup) sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu, dan mencampakkan di dalam hatimu ‘al-wahn’ ditanyakan (kepada Rasulullah) apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Jawabnya: wahn adalah cinta dunia dan benci mati.” (Hadits Mursal diriwayatkan Ibn Hajar Al Asqalani dalam Tahzib al Tahzib Juz 8 hal 75). ————————- Didalam hadits lain yang terkait pula: Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia menjelaskan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ. “Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi, kalian ridha akan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, (yang) tidak akan hilang kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 423)]. ———————— Definisi Khilafah —– Khilafah atau Imamah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin diseluruh dunia. Khilafah menerapkan syariat islam di wilayahnya dan menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah adalah sebuah nama negara sekaligus nama sistem pemerintahan. Sistem khilafah berbeda dengan seluruh sistem buatan manusia seperti teokrasi, kerajaan, demokrasi, republik, dll. ————————— Khilafah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: imamah, daulah islam dan darul islam. Imamah berarti kepemimpinan, daulah islam berarti negara islam (islamic state), dan darul islam berarti daerah islam. Ketiga kata tersebut pada hakikatnya memiliki makna yang sama, namun untuk menghilangkan perbedaan maksud maka kita sebut saja khilafah. Sebab imamah juga digunakan oleh agama syiah imamiyyah yang menganggap bahwa imam mereka ma’sum atau suci, daulah islam juga kadang digunakan untuk negara regional (tidak seperti khilafah yang merupakan negara internasional), dan darul islam yang sering digunakan untuk menyebut negri-negri kaum muslimin yang sekarang padahal didalamnya tidak diterapkan syariat islam kaffah. ——————————– Khalifah adalah kepala negara khilafah. Pengangkatannya dengan metode baiat, meskipun boleh saja didahului oleh pemilihan dan musyawarah, namun yang menjadikan khalifah itu sah atau tidak adalah dia dibaiat atau tidak. Khalifah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: Imam, Amirul Mukminin, Ulil Amri, dan Sultan. Khalifah bertanggungjawab penuh atas pengurusan urusan umat (baik muslim maupun ahlu dzimmah yaitu kafir yang tunduk dibawah naungan negara islam) dengan syariat islam. Khalifah berhak mengadobsi salah satu ijtihad dalam sebuah persoalan jika terjadi perbedaan dalam menerapkan syariat islam. ——————— Khilafah, wajibkah? ———————– Umat islam wajib hidup dalam naungan khilafah islam. Sepanjang sejarah, umat islam tidak pernah hidup tanpa khilafah kecuali paska diruntuhkannya khilafah islamiyyah utsmaniyyah tahun 1924. Khilafah bahkan merupakan mahkotanya kewajiban, sebab banyak kewajiban yang tidak bisa terlaksana sempurna kecuali dengan khilafah. Diantaranya hukum hudud (hukum pidana islam), jizyah (pajak untuk ahlu dzimmah), penarikan zakat, jihad offensif (jihad untuk membuka penghalang dakwah dan memperluas wilayah khilafah), dan persatuan umat islam. Tanpa khilafah tidak ada perlindungan darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin, hal ini terbukti dengan banyaknya pembunuhan atas umat islam sejak runtuhnya khilafah seperti pembantaian di Palestina, Bosnia, Afghanistan, Irak, Rohingya, Xinjiang, Poso, Somalia, Mali, Kashmir, Pakistan, Suriah, dan sebagainya. —————————- Allah SWT berfirman: فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah: 48) ——————- وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al-Maidah: 49) ——————————— Memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah jelas merupakan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari syahadat. Ayat diatas melarang kaum muslimin membuat aturan-aturan yang dibuat tidak berlandaskan syara’ atau menyelisihi syara’. Misalnya dalam pencurian, membuat aturan bahwa ”barangsiapa yang mencuri maka akan dipenjara” ini sangat bertentangan dengan syara’, sebab Allah telah memutuskan untuk melakukan hukum potong tangan bagi pencuri (lihat QS. Alma’idah: 38). ————————— Rasulullah SAW bersabda: “Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”(HR Muslim) ———————— Hadits diatas menunjukkan betapa pentingnya kewajiban menegakkan khilafah, bahkan perkara ini disebut sebagai perkara hidup atau mati. Matinya seorang muslim adalah suatu perkara yang amat besar dihadapan Allah, namun lebih besar lagi jika sampai umat islam hidup dengan dua kepala negara. ———————– Mengomentari hadits diatas, Ibn Hazm rahimahullah menuturkan, “kaum Muslim di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam/khalifah, baik keduanya saling sepakat ataupun berselisih, di dua tempat berbeda atau di tempat yang sama” (Ibn Hazm, al-Muhalla, IX/360, Idârah at-Thabâ’ah al-Munîriyyah, Kairo. 1938 M). ——————- Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh diakadkan baiat kepada dua orang khalifah pada satu masa, baik wilayah Negara Islam itu luas ataupun tidak” (Imam an-Nawawi, Syarh an-Nawâwî ‘alâ Shahîh Muslim, XII/232). ————————– Kewajiban mengangkat satu orang khalifah untuk seluruh kaum muslimin juga ditunjukkan oleh perbuatan sahabat Nabi yang merupakan ijma’ sahabat ketika Nabi Muhammad SAW wafat, maka sahabat bersegera mungkin mengangkat pemimpin penggantinya (khalifaturrasul), bahkan sampai para sahabat tidak mengurusi jasad Rasulullah SAW sebelum terangkat khalifah. —————————–

August 27, 2016 Edy Gojira 2

Apakah kita masih terus rela menjadi orang-orang yang sekedar ‘memegangi […]

Mengapa Ummat Islam Mundur ?? dan Ummat Selain Islam Maju? ——————— Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.———————— > kenapa ummat Islam mundur?? adalah karena ummat Islam sudah tidak memPRAKTEKkan/mengamalkan ajaran ISLAM yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits. …. Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan akhirat. ————————————- > ummat Islam TIDAK berSATU, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu. —————————- >ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati. ———————– > Ummat Islam kehilangan semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah. ——————————- > Ummat Islam TIDAK MANDIRI di bidang ekonomi. ……. Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan. ————————– > ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama. ———————– >ummat Islam banyak melakukan HAL yang TIDAK berGUNA …………… Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya) ———————— >ummat Islam tidak menguasai media massa. …..Akibatnya ketika HUKUM ISLAM diLECEHkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa. ——————————– Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi. ——————– Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.—————- Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang kafir mampu memerangi ummat Islam dan menang: ………………… ”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr:14] ———————- Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena masalah furu’iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah dan mudah ditaklukkan musuh.

July 28, 2016 Edy Gojira 2

Mengapa Ummat Islam Mundur ?? dan Ummat Selain Islam Maju? […]

ANCAMAN dari ALLAH SWT …. Bagi Orang yang MENINGGALKAN JIHAD ———————- JIHAD ADA TIGA MACAM …….. 1. Jihad melawan musuh yang nyata………….. 2. Jihad melawan setan………….. 3. Jihad melawan hawa nafsu………….. —————- 1. Disiksa dengan azab yang pedih Allah Ta’ala berfirman, Artinya,“ Wahai kaum mukmin, mengapa kalian merasa sangat keberatan ketika diperintahkan kepada kalian: “Pergilah berjihad guna membela Islam?” Apa­kah kalian lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kesenangan dunia hanyalah sangat sedikit jika dibandingkan de­ngan kesenangan di akhirat. Wahai kaum mukmin, jika kalian tidak mau pergi berperang, maka Allah akan mengadzab kalian dengan adzab yang pedih. Allah akan mengganti kalian dengan kaum lain yang mau berjihad, dan kalian sedikit pun tidak akan dapat merugikan Rasul Allah. Allah Mahakuasa mengatur semua­nya.” (QS. at-Taubah, 9: 38-39) —————————– 2. Ditimpa kehinaan yang sangat parah dan kehinaan itu tidak akan hilang sehingga mereka kembali berjihad إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ Artinya,“Bila kamu berjual-beli dengan ‘inah (dengan cara riba’ dan penipuan), mengikuti ekor-ekor lembu, menyukai bercocok-tanam, dan kamu meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kamu yang tidak akan dicabut sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (HR. Abu Dawud, Silsilah Al-Ahaadits ash-Shahihah Al-Albani no.10-11) ——————— Abu Bakar ash-Siddiq berkata, أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  عَامُ أَوَّل فِيْ هَذَا الشَّهْرِ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُوْلُ: مَا تَرَكَ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللهُ وَمَا تَرَكَ قَوْمٌ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْي عَنِ الْمُنْكَرِ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ. Artinya, “Wahai manusia sesungguhnya pada tahun pertama di dalam bulan seperti bulan ini aku telah mendengar Rasulullah berbicara diatas mimbar, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah melainkan Allah hinakan mereka, dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar-ma’ruf dan nahi-munkar melainkan Allah ratakan azab atas mereka.” (HR. Said bin Mansur) ——————————- 3. Ditimpakan kefakiran Sya’bi berkata, لَمَّا بويع أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْق صَعَدَ الْمِنْبَرَ فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَقَالَ فِيْهِ: لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ. Artinya,“Ketika Abu Bakar as-Shiddiq naik mimbar, beliau menyebutkan hadits dan di dalam hadits itu beliau mengatakan, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah, melainkan Allah timpakan kefakiran terhadap mereka.” (HR. Ibnu ‘Asakir) ——————- Kefakiran yang dimaksud tersebut bukanlah kefakiran dalam harta benda semata, tetapi dominasinya ialah fakir jiwa, sehingga mereka sangat takut dan gentar berhadapan dan menentang musuh-musuh Allah Ta’ala dan musuh-musuh mereka. Di dalam hadits shahih, Rasulullah menerangkan apa yang dimaksud dengan kaya, لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. Artinya,“Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kaya yang sebenarnya adalah jiwa yang kaya.” (HR. Bukhari) ————————————- Itulah definisi kaya yang sebenarnya, sedangkan manusia yang kita saksikan pada masa sekarang ini, ketika mereka telah berpaling daripada jihad, dan berganti dengan menghadapkan perhatiannya kepada berbagai usaha yang berbeda-beda—apatah perkara itu mubah maupun haram, Allah timpakan atas mereka kefakiran hati, terlalu tamak dan sangat bakhil, pelit dan kikir. Sehingga mereka banyak menolak kewajiban dan banyak memakan barang haram seperti hasil ruswah (sogokan) dan sebagainya. Dunia atau harta yang sedikit bagi mereka merupakan sesuatu yang membuat mereka sangat bimbang. Allah Ta’ala jadikan mereka hina karena tamak dan rakus, sehingga tidaklah sekali-kali engkau jumpai salah seorang dari mereka yang beranggapan bahwa rezekinya itu datang dari arah dirinya, melainkan ia telah dikuasai oleh kehinaan dan telah diperhamba oleh ketamakan dan rasa takut kehilangan rezeki. ——————————- 4. Orang yang mengatakan bahwa sekarang bukanlah zaman jihad, dilaknat oleh Allah Ta’ala, malaikat dan manusia Sesungguhnya Rasulullah bersabda, لاَ يَزَالُ الْجِهَادُ حُلْوًا خَضِراً مَا قَطرَ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ وَسَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَقُوْلُ فِيْهِ قُرَّاء مِنْهُمْ: لَيْسَ هَذَا بِزَمَانِ جِهَادٍ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَنِعْمَ الزَّمَانُ الْجِهَادُ ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَو أَحَدٌ يقُوْلُ ذَلِكَ ؟ قَالَ: نَعَمْ ، مَنْ لَعَنَهُ اللهُ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالنَّاسُ أَجْمَعُوْنَ. Artinya, “Jihad itu akan senantiasa manis dan segar selama hujan turun dari langit. Akan datang suatu zaman pada manusia, yang pada zaman itu ada ulama diantara mereka yang mengatakan, “Sekarang itu bukan zaman jihad lagi.” Siapa yang mengalami zaman tersebut, maka sebaliknya—zaman itu adalah jihad.” Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, adakah orang yang berkata semacam itu?” Beliau saw menjawab, “Ya, yaitu orang yang dilaknat oleh Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (HR. Said bin Mansur) —————————————– 5. Orang yang mati sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka ia mati pada satu cabang kemunafikan Rasulullah bersabda, مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ Artinya, “Barangsiapa yang mati (muslim), sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak pernah tergerak hatinya untuk berperang, maka ia mati pada satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim) 6. Orang yang tidak berperang, atau tidak membantu perlengkapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang pergi berperang dengan baik, ia akan ditimpa kegoncangan sebelum hari kiamat مَنْ لَمْ يَغْزُ أَوْ يُجَهِّزْ غَازِيًا أَوْ يَخْلُفْ غَازِيًا فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ أَصَابَهُ اللَّهُ بِقَارِعَةٍ ». قَالَ يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ فِى حَدِيثِهِ : قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ Artinya,“Siapa yang tidak berperang dan tidak membantu persiapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, niscaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan.” Yazid bin Abdu Rabbihi berkata, “Didalam hadits yang diriwayatkannya ada perkataan, “Sebelum hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir) ——————————————— Demikian pentingnya seorang mukmin mengetahui dan menyadari urgensi dakwah dan jihad dalam kehidupannya. Zaman kehidupan dimana saat ini manusia berada dalam kegelisahan dan kebingungan, serta ketandusan hati. Zaman dimana manusia bergerak cepat untuk berlomba memenuhi perutnya dan menghiasi dunianya. Maka seorang muslim yang benar-benar mencintai Islam dan keislamannya, ia bersifat totalitas menjadikan syari’at-Nya sebagai pedoman dan tatanan hidupnya, ia rela untuk hidup di bawah naungannya, ia bersedia berkorban dengan materi dan jiwanya demi tegaknya dinullah. ——————————- Mari camkan perintah Allah Ta’ala, Artinya, “Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah, 2:208) ————————————-

July 25, 2016 Edy Gojira 2

ANCAMAN dari ALLAH SWT ….  Bagi Orang yang MENINGGALKAN JIHAD […]

ISLAM adalah agama yang FITRAH …………………………………………………………. artinya = orang yang memiliki jiwa yang bersih sebagaimana ketika ia diciptakan pasti akan menerima ajaran-ajaran Islam dengan lapang dada ……………………………………….. Secara bahasa, fitrah artinya al khilqah yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah (lihat Lisaanul Arab 5/56, Al Qamus Al Muhith 1/881). ————————— Dan ketahuilah, yang dimaksud dengan agama yang fitrah ialah Islam. Setiap manusia lahir dalam keadaan berislam, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim) —————————- Allah Ta’ala berfirman: أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Ruum: 30) —————————- Seorang ulama pakar tafsir, Imam Ibnu Katsir, menjelaskan ayat ini: “Maksudnya adalah tegakkan wajahmu dan teruslah berpegang pada apa yang disyariatkan Allah kepadamu, yaitu berupa agama Nabi Ibrahim yang hanif, yang merupakan pedoman hidup bagimu. Yang Allah telah sempurnakan agama ini dengan puncak kesempurnaan. Dengan itu berarti engkau masih berada pada fitrahmu yang salimah (lurus dan benar). Sebagaimana ketika Allah ciptakan para makhluk dalam keadaan itu. Yaitu Allah menciptakan para makhluk dalam keaadan mengenal-Nya, mentauhidkan-Nya dan mengakui tidak ada yang berhak disembah selain Allah” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/313) ————————– Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Islam adalah agama yang fitrah yang pasti akan diterima oleh semua orang yang memiliki fitrah yang salimah”. Artinya orang yang memiliki jiwa yang bersih sebagaimana ketika ia diciptakan pasti akan menerima ajaran-ajaran Islam dengan lapang dada. —————————— Setelah kita paham bahwa sesungguhnya agama yang sesuai dengan fitrah manusia itu adalah agama Islam dan manusia sesungguhnya terlahir dalam keadaan Islam yang murni, maka kini kita perlu ketahui apa itu Islam. —————- Makna Islam ——————————- Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Al Imran: 19) ——————— Ia juga berfirman: وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85) ———————————– Islam artinya berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dalam ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Karena kesyirikan merupakan aqidah orang Arab sebelum berkembangnya dakwah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. ——————————– Imam Al Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Raja’ Al ‘Atharidi, ia berkata: كنا نعبد الحجر فإذا وجدنا حجراً هو خير منه ألقيناه وأخذنا الآخر، فإذا لم نجد حجراً جمعنا حثوة من تراب ثم جئنا بالشاة فحلبنا عليه ثم طفنا به “Dahulu kami menyembah batu. Apabila kami mendapatkan batu yg lebih baik, maka kami melemparkannya dan mengambil yg lain. Apabila kami tidak menemukan batu, kami kumpulkan segenggam tanah, lalu kami bawakan seekor kambing kemudian kami peraskan susu untuknya. Lalu kami thawaf dengannya” —————————- Keadaan Manusia Sebelum Datangnya Islam —————————– Sedangkan keadaan umat secara umum, sebelum berkembangnya dakwah Islam, telah dijelaskan oleh banyak ayat-ayat Al Qur’an, diantaranya firman Allah Ta’ala: وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”” (QS. Yunus: 18) ————————————– Juga firman Allah Ta’ala: وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”” (QS. Az Zumar: 3) ————————–

July 23, 2016 Edy Gojira 1

ISLAM adalah agama yang FITRAH ……………………..……………………..…………… artinya = orang yang […]

1 2