Nabi Ibrahim melaksanakan TAQWA penuh resiko, nyawa taruhannya, dan UJIANnya sangat BESAR bagi NABI dan RASUL —————————— “Ibrahim” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang. ————————- Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut. ————— Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.——————- Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.———- Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud ———– Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:— “Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).——— Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.———— Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.———- Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.————– Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.——– Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”——– Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.—- Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”—- Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:—- “Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”——— “Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”——- “Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”—– Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”————– Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.——— Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)—————- “Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)———– Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.——– Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.——— “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).——————- Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.————– Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk————– “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)———— Nabi Ibrahim dan Keturunannya—————- Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.————– Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.———– Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.———- Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.—————– Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.——————- Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:- Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).——– Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran: 1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)———— 2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).——— 3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)————- 4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).——- Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja. ————— kisah nabi ibrahim Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.—————- “Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)———– “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)—————- ————– Kelahiran Nabi Ismail ————- Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.————- Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)—————— Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.———– Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat—– Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.———- Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.————— Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,————— “Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)————– Kisah Penyembelihan Nabi Ismail———– Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.————- Kunjungan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ke Mekah——– Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.——- Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,— “Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)———————- Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.— Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)———– Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.———— Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).—————— Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.———- Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),— (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)——————— Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)——————- Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud. ——————————– Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak.

kisah ibrahim lengkap

Nabi Ibrahim melaksanakan TAQWA penuh resiko, nyawa taruhannya, dan UJIANnya sangat BESAR bagi NABI dan RASUL 

——————————

“Ibrahim” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang.

————————-
Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut.

—————
Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.——————-

Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.———-

Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud ———–

Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:—

“Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).———

Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.————

Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.———-

Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.————–

Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.——–

Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”——–

Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.—-

Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”—-

Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:—-

“Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”———

“Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”——-

“Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”—–

Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”————–

Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.———

Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)—————-

“Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)———–

Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.——–

Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.———

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).——————-

Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.————–

Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk————–

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)————

Nabi Ibrahim dan Keturunannya—————-
Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.————–

Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.———–

Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.———-

Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.—————–

Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.——————-

Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:-

Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).——–

Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran:
1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)————

2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).———

3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)————-

4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).——-

Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja.
—————
kisah nabi ibrahim
Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.—————-

“Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)———–

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)—————-

————–

Kelahiran Nabi Ismail ————-

Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.————-

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)——————

Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.———–

Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat—–

Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.———-

Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.—————

Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,—————

Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)————–

Kisah Penyembelihan Nabi Ismail———–

Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.————-

Kunjungan Nabi Ibrahim Alaihissalam ke Mekah——–

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.——-

Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,—

Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)———————-

Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.—

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)———–

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.————

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).——————

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.———-

Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman,

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)———————

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)——————-

Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud.
——————————–

Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak.

berbagai sumber
wallahua’lam

apa itu MILLAH IBRAHIM ?…. keBODOHan; Islam Nusantara …. ajaran PLURALISME … mengaku MILAH IBRAHIM ? ———————— Secara terminologis (arti lughowy), “millah” itu identik dengan “Thorieqoh” atau “Syarie’ah”, yang artinya JALAN yang dibentang (dirumuskan/ditata) mengarah ke tujuan yang ingin dicapai. ———— Dengan demikian, millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang. —————- Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. — شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ “Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13) ———— Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman. ————- Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran. ———— Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130. وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———– Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129. ———— Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41. ———– Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya. ———— Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——- 1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126) “Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. — Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman. ————— 2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—– Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural. ———- 3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128) ————- 4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128) ———– Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna. ——- 5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129) ——— 6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36) ——- 7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37) —— 8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37) ——– 9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) —— Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”. ———– 10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41) ———– Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia). ———- Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim, ——— sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut: وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———— Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya. وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124) ——— Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka. ————— Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”. ———- Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——– إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin) Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123) ———– Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya. ———

milah ibrahim

apa itu MILLAH IBRAHIM ?…. keBODOHan; Islam Nusantara …. ajaran PLURALISME … mengaku MILLAH IBRAHIM ?
————————
Secara terminologis (arti lughowy), “millah” itu identik dengan “Thorieqoh” atau “Syarie’ah”, yang artinya JALAN yang dibentang (dirumuskan/ditata) mengarah ke tujuan yang ingin dicapai.
————

Dengan demikian, millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang.
—————-

Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. —

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ

“Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13)
————

Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman.
————-

Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran.
————

Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130.

وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130)
———–

Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129.
————

Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41.
———–

Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya.
————

Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——-

1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126)

“Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. —

Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman.
—————

2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—–

Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural.
———-

3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128)
————-

4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128)
———–

Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna.
——-

5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129)
———

6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36)
——-

7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37)
——

8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37)
——–

9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) ——

Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”.
———–

10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41)
———–

Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia).
———-

Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim,
———
sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut:

وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130)
————

Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya.

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124)
———

Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka.
—————

Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”.
———-

Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——–

إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ

  • Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin)
  • Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.
  • Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh.
  • Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123)
    ———–

Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya.
———

Dan pantas pulalah bahwa Allah memerintahkan Rasulullah Muhammad untuk mengikuti Millah Ibrahim, dan memerintahkan agar Millah Ibrahim tersebut dijadikan sebagai arah perjuangan (Jihad) Ummat Muslimin, yang sebenar-benarnya Jihad di pihak Allah.

وَجَـٰهِدُواْ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ‌ۚ هُوَ ٱجۡتَبَٮٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ۬‌ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٲهِيمَ‌ۚ

Dan berjihadlah (berjuanglah) kamu di pihak Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah menyeleksi kamu dan Dia sekali-kali tidak membebankan atas kamu sesuatupun kesempitan dalam agama ini. (perjuangkanlah) cita-cita leluhurmu Ibrahim …. (Al Hajj : 78)

Lebih lanjut Allah menegaskan bahwa Millah Ibrahim adalah bagian tak terpisahkan dalam menggelar Konsep Dienullah, menegakkan Agama Allah.

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينً۬ا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُ ۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ۬ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٲهِيمَ خَلِيلاً۬

Dan siapakah yang paling baik dalam beragama selain orang yang menyerah diri seutuhnya kepada Allah, lalu menampilkan kinerja terbaiknya, dan mengikuti Millah Ibrahim secara lurus dan konsekuen? Allah menjadikan Ibrahim sebagai kebanggaan. (An Nisa : 125)

Tapi sayang seribu kali sayang, terminologi “Millah Ibrahim” ini diterjemahkan para Ulama dengan “Agama Ibrahim”. Maka tak pelak lagi, konsep Millah Ibrahim sebagai arah perjuangan Jihad Ummat Islam sepanjang zaman ini, terkuburlah sudah dengan sangat dalam, sangat jauh sekali dari pemikiran dan wacana Kaum Muslimin. Karena dengan diterjemahkan “Agama Ibrahim”, maka mereka pikir bahwa kita ini Ummat Muhammad, maka agama kita ini Agama Nabi Muhammad bukan Agama Nabi Ibrahim yang sudah menjadi “kisah masa lalu”.

Petunjuk implementatifnya pun jelas sekali, bahwa yang harus diikuti oleh Rosulullah itu adalah falsafah hidup dan arah perjuanan Nabi Ibrahim, bukan “Agama Ibrahim”.

Akibat yang lebih jauh lagi, Jihad yang sebenar-benarnya (Haqqo Jihadihi), menurut rekomendasi dan arahan dari Allah, yaitu perjuangan mewujudkan cita-cita (idealisme) yang sejalan dan searah dengan cita-cita Nabi Ibrahim itu, lenyap pula dari konsep jihadnya Kaum Muslimin mutaakhkhirin ini.

Perjuangan yang Khas dari kelompok-kelompok pergerakan Islam di mana-mana adalah “menegakkan Syari’at Islam”, yang diartikan sebagai “sistem perundang-undangan (hukum) Islam, yang untuk menegakannya harus terlebih dahulu merebut kekuasaan.

Padahal makna dari kosakata “Syari’ah” itu adalah: “arah yang dituju” atau “jalan yang dibentang/ditata”. Bukan undang-undang atau “rambu-rambu”, yang untuk itu Allah menyebutnya “huduud (huduudullah)”.

Lebih jauh ditegaskan pula bahwa hak untuk menetapkan syari’ah itu hanya Allah saja satu, dan telah ditetapkan secara permanen untuk semua Rosul-rosulnya sepanjang zaman.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ‌ۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِىٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَہۡدِىٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ

Mereka yang ikut-ikutan mengatur dan merumuskan syari’ah tanpa adanya izin dari Allah, Allah menyebut mereka sebagai “para PENYEKUTU ALLAH (Syurokaa`).

أَمۡ لَهُمۡ شُرَڪَـٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ‌ۚ

Ataukah mereka mempunyai (mengakui adanya) para penyekutu Allah, yang mensyariatkan bagi mereka (bagian) dari Ad Dien ini, sesuatu yg tidak diijinkan Allah? …

Demikianlah, terminologi MILLAH IBRAHIM yang dari Allahnya merupakan salah satu unsur fundamental dari Dien-Nya itu, telah lenyap sama sekali wacana kajian Islam yg mapan selama ini, diganti dengan berbagai terma dan isu yang sama sekali tidak ada dari Allahnya.

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقً۬ا يَلۡوُ ۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Dan sesungguhnya di antara mereka itu sungguh ada segolongan yang begitu piawai ber-rethorika, sehingga kamu menganggapnya dari Al Kitab, padahal itu bukan dari Al Kitab. Mereka mengklaim “ini dari Allah” padahal ia bukan dari Allah. Dan mereka mengatakan suatu kebohongan atas (nama) Allah, padahal merekapun mengetahui. (Ali Imron : 78)
================================

Belum lama ini sekitar sejak bulan September tahun 2010 hingga Juni 2011, ummat Islam di beberapa daerah dikejutkan oleh muncul dan berkembangnya aliran “Millah Abraham”. Mulai dari Aceh di ujung pulau Sumatera, Padang, Bandar Lampung dan beberapa kota di pulau Jawa diindikasi telah terjangkit ajaran baru tersebut. Seperti apa paham, letak kesesatan dan jawabannya, berikut penulis paparkan kepada sidang pembaca umat muslim di Indonesia berdasarkan penelitian dan pengkajian terhadap beberapa sumber pustaka dari aliran ini. Di antaranya berjudul “ALKITAB MENUBUATKAN ISLAM HANIF AKAN MASUK SURGA” ditulis oleh Dr. Robert P. Walean yang diterbitkan oleh Last Events Duty Institute tahun 2006 (selanjutnya diistilahkan IH) dan buku berjudul “TEOLOGI ABRAHAM; MEMBANGUN KESATUAN IMAN YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM” ditulis oleh Mahful M Hawary yang diterbitkan oleh Fajar Madani tahun 2009 (selanjutnya diistilahkan TA).

1. MENGUSUNG TEOLOGI INKLUSIF-PLURALIS DENGAN DALIH AGAMA IBRAHIM.

a. Dengan mempropagandakan ISLAM HANIF sebagai jalan keselamatan; bukan KRISTEN yang dibawa YESUS, dan juga bukan ISLAM yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Bagi mereka ISLAM HANIF itu telah dinubuatkan di dalam ALKITAB seperti tertulis dalam kitab nabi Yesaya [60] : 6-7.

“Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. Segala kambing domba KEDAR akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan NEBAYOT akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan diatas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”

Tentang siapa Kedar dan Nebayot, kitab Kejadian [25] : 13 menjelaskannya bahwa itu adalah anak-anak Ismael. “Inilah anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam.”

Buku itu menyimpulkan bahwa sesungguhnya seorang Islam harus beragama seperti agama Nabi Ibrahim. Sesuai perintah Al-Qur’an dalam An-Nahl [16] : 123;“Kami wahyukan kepadamu Muhammad, Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Jadi agama Islam adalah agama nabi Ibrahim. Sedangkan Kristen juga mengimani iman nabi Ibrahim, seperti tertulis dalam Injil Roma [4] : 16, “Agama Ibrahim adalah Bapa kita semua”. (lihat IH hal. 8)

Tujuan utama “pekabaran” bukan untuk mengKristenkan, tapi untuk membawa orang agar diselamatkan di akhirat nanti. Sedangkan ISLAM HANIF the remnant itu, sudah menjadi umat pilihan Allah yang pasti akan diselamatkan, karena mereka sudah beriman seperti iman nabi Ibrahim a.s. Ditulis dalam buku itu: “BAIKLAH UMAT ISLAM TETAP MENJADI ISLAM, TAPI HARUS MENJADI ISLAM HANIF SESUAI AN-NAHL : 123. SELAMA MEREKA BERADA DALAM KELOMPOK ISLAM HANIF, MEREKA AKAN DISELAMATKAN KARENA MEREKA TERGOLONG PADA KELOMPOK SEBAGIAN KECIL (THE REMNANT), SEPERTI DALAM AL-ISRA’ : 62” (lihat IH hal. 10)

Pemikiran dasar millah ini adalah mengampanyekan teologi pluralis-sinkretis yang dibungkus dengan istilah ISLAM HANIF yang memang banyak bertebaran dalam ayat Al-Qur’an terutama terkait dengan sosok Nabi Ibrahim alayhi salam yang memang adalah kakek buyut nabi Muhammad saw. Selain itu juga berdalih dengan ayat Asy-Syuura [42] : 15 “ALLAH LAH TUHAN KAMI DAN TUHAN KAMU”, Al-‘Ankabut [29] : 46 “TUHAN KAMI DAN TUHANMU ADALAH SATU”, sehingga disimpulkan bahwa AGAMA TAUHID ADALAH AGAMA KITA SEMUA seperti keterangan Al-Mu’minun: 52 wa inna hadzihi ummatukum ummatan wahidatan wa ana Robbukum fattaquuni. (lihat IH hal, 12-13)

Jawaban:

Agaknya makna perintah Allah agar nabi Muhammad saw mengikuti millah Ibrahim harus dipahami dengan baik dan proporsional. Pengertian bahwa Muhammad mengikuti millah Ibrahim dalam ayat ini dan banyak ayat lainnya di dalam Al-Qur’an adalah bahwa Islam dibangun atas elemen-elemen dan pondasi dasar millah Ibrahim yaitu prinsip-prinsip fitrah dan sikap pertengahan antara keras dan lembut. Sehingga amatlah wajar jika syariat Muhammad saw yang rincian dan cabang-cabangnya dibangun atas prinsip suatu syariat dapat dianggap ia adalah syariat Ibrahim a.s. Namun demikian tidaklah dimaksudkan bahwa semua ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad saw adalah copy-paste millah Ibrahim. Sebab secara substansial, ada perbedaan karakter antara Islam dengan millah Ibrahim. Islam adalah syariat yang legalistik dan universal, sementara syariat Ibrahim bersifat khusus untuk kaumnya saja.

Juga tidak berarti bahwa Allah perintahkan nabi Muhammad pada mulanya untuk mengikuti millah Ibrahim sebelum diwahyukan kepadanya ajaran Islam secara lengkap. Sebab tidak ada bukti/dalil historis-empiris dan legal bahwa syariat Islam yang diwahyukan kemudian lalu menghapus syariat dan amalan nabi Muhammad saw di awal kerasulannya.

Sehingga yang paling tepat dalam pemaknaan ayat tersebut bahwa nabi mengikuti millah Ibrahim itu adalah dalam pengertian diserapnya prinsip-prinsip syariat Ibrahim seperti pengarusutamaan TAUHID dan pembelaan terhadapnya serta mengikuti tuntunan fitrah, juga diserapnya beberapa rincian ajaran kehanifan Ibrahim seperti khitan, berbuat ihsan dan perkara-perkara fitrah. (Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, vol.14/320-321)

b. Aspek lain yang dijajakan oleh TEOLOGI ABRAHAM adalah kampanye istilah MUSLIM adalah istilah universal dan tidak eksklusif menjadi hak paten umat nabi Muhammad saw saja. Ini bisa dilihat dari pembahasan khusus masalah tersebut dalam (TA) hal. 13-21,

Jawaban:

Sebenarnya hal itu tidak aneh dan tidak pula salah. Namun konteks penamaan muslim dan Islam sebagai agama dan syariat yang diwahyukan kepada nabi akhir zaman Muhammad saw adalah konsisten dan sejalan dengan DINULLAH yang memang satu tidak berbeda-beda meski syariat yang Ia wahyukan kepada masing-masing nabi berbeda-beda sesuai tuntutan jaman dan tempat.

Namun patut diingat bahwa jika kita cermati ayat-ayat yang menyematkan sifat MUSLIM kepada para nabi terdahulu berikut umat mereka dalam QS. al-Baqarah [2] : 128 dan 131-133, Ali-Imran [3] : 52, al-Maidah [5] : 111, al-Hajj [22] : 78, an-Naml [27] : 42, al-Dzariyat [51] : 35-36, bahkan tak hanya itu ketundukan ‘aslama’ kepada sistem Allah di jagat raya dan umat para nabi dalam Ali-Imran [3] : 83-85, kesemuanya menunjukkan bahwa Allah SWT mencukupkannya dengan menyebutkan sikap dan sifat kepasrahan dan ketundukan kepada Allah SWT; ‘MUSLIM’, namun tidak menyebut secara spesifik dengan istilah ISLAM. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa nama agama dan sistem ajaran yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai ISLAM itu adalah ‘proper name’ (nama diri, ism al-‘alam bil ghalabah) untuk agama universal dan wahyu pamungkas yang Allah tanzilkan kepada Nabi Muhammad saw. Ini mengandung pesan bahwa seluruh ajaran dan system hidup yang diamalkan para nabi dan rasul itu telah mencapai kesempurnaannya pada saat Allah SWT menurunkan wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad, seperti yang dideklarasikan dalam ayat 3 surah Al-Maidah [5], “…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Dan juga sebelumnya dalam ayat 19 surah Ali-Imran [3], 19. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” Penamaan yang khas ini tidak dapat diubah atau dipelintir pemahamannya karena ‘nama diri’ itu langsung dimaktubkan dalam Al-Qur’an; satu-satunya wahyu Allah SWT yang mutawatir, otentik dan bersifat final.

2. MENGAJAK UMAT MUSLIM MENGHORMATI TRADISI SABAT YAHUDI, DISAMPING TETAP MENDIRIKAN IBADAH SALAT JUM’AT.

Ketika dinyatakan bahwa umat muslim harus mengikuti agama ISLAM HANIF yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, tentu mereka ingin juga menetapkan ritual baru yang cocok dengan millah baru tersebut. Maka didapatilah oleh mereka bahwa ibadah hari Sabtu (seperti yang dipilih oleh umat Yahudi pada masa Nabi Musa a.s.) itulah sebagai ritual “Millah Ibrahim” seperti diisyaratkan dalam Al-Qur’an surah An-Nahl [16] : 124, persis setelah ayat 123 yang perintahkan nabi Muhammad saw untuk mengikuti millah Ibrahim dengan menyatakan, “ Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) [844]hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya (Ibrahim). Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang Telah mereka perselisihkan itu.” (lihat IH hal. 15-17)

*FOOTNOTE TERJEMAH AL-QUR’AN DEPAG RI, [844] menghormati hari Sabtu itu ialah dengan jalan memperbanyak ibadat dan amalan-amalan yang saleh serta meninggalkan pekerjaan sehari-hari.

Jawaban:

Sebenarnya ayat tersebut tidak cocok dijadikan landasan ritual bagi millah Ibrahim ataupun umat Islam dewasa ini. Sebab ayat itu merupakan keterangan dan penjelasan atas pertanyaan yang timbul dari ayat sebelumnya, yaitu: jika Muhammad saw diperintahkan mengikuti millah Ibrahim dan Islam sebagai bagian dari millah itu, lalu mengapa hari ibadatnya adalah Jum’at dan bukannya hari Sabtu sebagaimana ditetapkan Taurat atas umat Yahudi? Syubhat inilah yang kerap dilontarkan umat Yahudi kepada nabi Muhammad saw. Jawabannya adalah ayat ini. Sehingga makna ayat itu adalah penegasan bahwa sabat tidaklah diwajibkan keatas umat Yahudi melainkan karena mereka bukanlah penganut millah Ibrahim. Dengan kata lain, karena umat Yahudi itu bukanlah pengikut sejati Ibrahim, bahkan mereka berselisih dan menentangnya (ikhtalafuu fiihi), maka diwajibkanlah ibadah pada hari Sabtu atas mereka. Jadi ibadah Sabtu bukanlah ritual nabi Ibrahim melainkan hanya bagi kaum Yahudi. Sehingga tidaklah tepat dan sangat keliru jika mereka nyatakan bahwa umat muslim juga diwajibkan menghormati hari Sabtu sebagaimana kaum Yahudi. (Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, vol.14/322-324)

Di samping itu, ajakan menghormati Sabat ala Yahudi kontradiktif dengan pernyataan mereka bahwa sesuai Al-Qur’an sendiri Nabi Ibrahim bukanlah seorang penganut Yahudi atau Kristen. Namun sangat aneh jika umat muslim diajak agar beribadah pada Sabat ala Yahudi, meskipun tradisi ibadah Sabat itu tak pernah diajarkan oleh Nabi Ibrahim dalam millahnya!

3. MENJUSTIFIKASI ISA AL-MASIH SEBAGAI PENEBUS DOSA UMAT MANUSIA

Yang lebih menyesatkan lagi adalah bahwa ajaran millah Ibrahim ini, dengan memelintir dan memperkosa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkisah tentang pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim dan putranya Ismail, juga menjustifikasi nabi Isa al-Masih sebagai penebus dosa umat manusia. Hujah yang mereka bangun adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada angin tidak ada hujan, soal ibadah Qurban hewan ternak yang disyariatkan oleh Allah SWT atas nabi Ibrahim sebagai pengganti nabi Ismail, lalu dikaitkan dengan doktrin penebusan dosa ala KRISTEN. Ayat yang mengisahkan bahwa saat nabi Ibrahim hendak menyembelih anaknya Islamil, Allah mencegahnya dan berkata ‘wa fadaynahu bi dzibhin ‘azhim’. “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [1285].” (QS. As-Shaffat [37] : 107) (lihat IH hal. 19)

[1285] Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). peristiwa Ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

Buku panduan ISLAM HANIF menyatakan: “Ayat ini justru yang terpenting dari peristiwa kurban Nabi Ibrahim. Karena ada kata TEBUS yang melambangkan semua dosa nabi Ibrahim dan dosa anaknya serta semua dosa umat manusia, Allah telah sediakan PENEBUS untuk menanggungnya. Sehingga barang siapa yang sudah bertobat dan menerima jasa penebusan itu, mereka tidak akan dituntut harus menanggung akibat dosanya di neraka,” di bagian lain dinyatakan: “…Semua yang berdosa harus masuk neraka, tapi setelah ada yang menebus dosa tersebut asalkan dia sudah bertaubat maka tuntutan dia harus masuk neraka tidak berlaku lagi karena sudah ada yang menebusnya.” (lihat IH hal. 20)

Jawaban:

  • Nampak sekali para perumus ajaran millah Ibrahim ini terobsesi dengan kosa kata ‘fadaynahu’ yang artinya Kami tebus/ganti dia, lalu dikorelasikan dengan doktrin ‘redemption’ (penebusan dosa) dalam teologi Kristen yang digagas oleh Paulus. Sebagai sebuah doktrin yang tak pernah diajarkan orisinil oleh Nabi Isa alayhi salam, doktrin penebusan dosa sangat berbeda jauh dengan konsep Qurban yang dialami Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Doktrin ‘penebusan dosa’ berarti seluruh dosa umat manusia telah ditanggung oleh seorang yang diklaim sebagai juru selamat YESUS KRISTUS, sementara konsep Qurban berarti ketundukan dan kepatuhan hamba kepada kehendak dan aturan Allah SWT dengan cara pendekatan diri dengan cara mengalirkan darah hewan ternak untuk tujuan meraih ketakwaan dan menebar manfaat bagi kaum dluafa. Adanya kemiripan kosa kata ‘fadaynahu’ dengan konsep redemption yang diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai ‘fida’ (dari akar kata yang sama dengan fadayna) tak berarti konotasi dan konsekuensinya juga sama.
  • Lagi pula, dalam kisah awal mula disyariatkannya Qurban itu tak ada penjelasan sedikitpun baik dari Nabi Ibrahim dan Ismail bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah untuk menebus dosa-dosa mereka dan anak keturunan mereka.

b. Buku itu juga sempat menyajikan beberapa konsep keselamatan yang ada dan pernah dipeluk umat manusia dalam sejarahnya: mulai dari konsep harus bertapa, konsep harus ada sesajian, konsep harus direinkarnasi, konsep harus menyiksa diri, konsep harus beramal sebanyak-banyaknya, dan konsep hanya menerima jasa penebusan (lambang tebusan yang ada pada acara qurban nabi Ibrahim). (lihat IH hal. 24-25)

Jawaban:

Seperti yang sudah kami kemukakan, bahwa konsep Qurban tidak identik dan tidak boleh disamakan dengan konsep menerima jasa penebusan dosa.

c. Lalu beranjak kepada pertanyaan: siapakah yang pantas jadi pengganti/penebus dosa umat manusia? Penebus dalam pandangan mereka disebut istilah lain jurusyafaat, dan ia sama dengan juru selamat yaitu al-Masih. Isa al-Masih inilah satu-satunya rasul yang pantas menjadi pengganti/penebus dosa manusia karena alasan-alasan berikut: (lihat IH hal. 26-27)

  • Dia sendiri tidak pernah berdosa, alias orang suci. Berdasarkan ayat 19 surah Maryam. “Ia (Jibril) berkata, ‘Sesungguhnya Aku Ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci’.”
  • Dia yang akan mendapat keselamatan dan kesejahteraan saat dilahirkan, saat mati, dan saat dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam [19] : 33), juga didasarkan ayat-ayat lain seperti An-Nisa [4] : 158 dan 159.

Jawaban:

Meski sifat-sifat mulia yang dimiliki nabi Isa ‘alayhi salam itu terungkap dalam Al-Qur’an, namun hal yang patut dicamkan adalah Al-Qur’an juga tak pernah membahas kemungkinan Nabi Isa sebagai juru selamat atau penebus dosa seluruh umat manusia apalagi pernah menyematkan sifat itu di dalam Al-Qur’an. Jika memang konsep itu benar secara orisinil diajarkan oleh Nabi Isa, maka pasti Al-Qur’an akan mengungkapkannya.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan secara rinci sifat-sifat keutamaan Isa al-Masih, dan tak ada di antaranya yang menyebutkan bahwa ia adalah juru selamat dan penebus dosa umat manusia, yaitu di antaranya:

  • Terkemuka di dunia dan di akhirat (QS. Ali-Imran [3] : 45)
  • Menghidupkan orang mati dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49 dan al-Maidah [5] : 110)
  • Menyembuhkan orang buta sejak lahirnya dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Menyembuhkan orang yang berpenyakit sopak dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Meniup tanah yang dibentuk seperti burung hingga menjadi burung sungguhan dengan izin Allah (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Mampu mengabarkan apa-apa yang dimakan dan disimpan oleh orang-orang di rumah mereka masing-masing (QS. Ali-Imran [3] : 49)
  • Bani Israel berusaha membunuhnya, tetapi Allah melindunginya (QS. Ali-Imran [3] : 54)
  • Diangkat ke langit oleh Allah dalam keadaan hidup (QS. Ali-Imran [3] : 55)

Dipastikan bahwa selain doktrin TAUHID yang murni diajarkan oleh Nabi Isa a.s kepada Bani Israel seperti terekam dalam ayat 51 surah Ali-Imran [3] dan ayat 72, 116-118 surah al-Maidah [5], maka semua itu adalah doktrin-doktrin baru yang diciptakan oleh Paulus, yang dalam pandangan teologis muslim, dialah biang keladi dan sumber kerusakan dan penyimpangan ajaran Isa al-Masih.

d. Menurut mereka ajaran penebusan dosa itu tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengajarkan semua ajaran nabi dan rasul itu sama dan satu, para penganut agama dilarang berpecah belah tentangnya (la tatafarraquu fiihi) seperti pesan ayat 13 surah Asy-Syuura [42], dan ayat 9 surah Al-Ahqaaf [46], An-Nisa’ [4]: 136. Dikatakan pula ajaran Al-Qur’an pasti sama dengan ajaran Taurat, Zabur dan Injil. Sedangkan kitab-kitab tersebut mengajarkan doktrin penebus dosa atau jurusyafaat. Itulah yang dipesankan dalam ayat 94. “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya Telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu.”(QS. Yunus [10] : 94) (lihat IH hal. 29-31)

Jawaban:

Perintah kepada Nabi Muhammad saw untuk menanyakan kepada Ahlul Kitab umat nabi sebelumnya tentang kebenaran Islam yang beliau bawa dalam ayat 94 surah Yunus tentu saja diarahkan kepada umat Ahli Kitab yang telah masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Disisi lain, fungsi Al-Qur’an tidak lah semata-mata hanya membenarkan (mushaddiqan) ajaran-ajaran umat nabi terdahulu, namun juga berfungsi untuk menguji, meluruskan yang salah dan menjadi tolok ukur kebenaran ajaran mereka (muhayminan ‘alayhi) seperti yang termaktub dalam ayat 48 surah al-Maidah [5],“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu [422], kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu.”

Apalagi sepeninggal Nabi Musa dan Isa ‘alayhima assalam telah disinyalir kuat terjadi distorsi ajaran, dan penyelewengan serta pemalsuan (termasuk di dalamnya penambahan atau pengurangan) isi kitab suci Taurat dan Injil yang dilakukan oleh Ahli Kitab. Pewartaan soal ini telah jelas terbentang dalam Al-Qur’an di banyak surah (misalkan al-Baqarah [2]: 79, an-Nisa [4]: 46, al-Maidah [5]: 13 dan 41), sehingga boleh dikatakan Islam dan Al-Qur’an lah yang gigih menentang dan menolak berbagai doktrin Yahudi dan Kristen karena disebabkan ‘tahrif’ yang mereka lakukan terhadap kitab suci mereka (QS. an-Naml [27] : 76)

e. Syubhat terakhir mereka jika dinyatakan bahwa Al-Qur’an dan Alkitab tidak membenarkan dosa ditanggung oleh orang lain, mereka katakan ya itu benar, dosa tidak boleh dipindahkan/ditebus orang lain. Sebab perlu diketahui bahwa Isa al-Masih bukan orang lain, melainkan ia adalah Ruhullah dan Kalimatullah!! (lihat IH hal. 31)

Jawaban:

Meski Nabi Isa diberi julukan Ruhullah (Roh yang Allah tiupkan) dan Kalimatullah (firman Allah), namun itu semua tidak menunjukkan arti keilahiyan bagi Nabi Isa. Ia tetaplah sebagai seorang hamba Allah, rasul pilihan-Nya dan juga anak manusia biasa. Apalagi ayat 116-117 surah al-Maidah dengan tegas-jelas menafikan keilahiyan Nabi Isa, dan penegasan berulang kali bahwa tiada seorang pun di dunia ini yang berhak dan boleh menanggung dosa orang lain (lihat QS. al-An’am [6] : 164, al-Isra’ [17] : 15, Fathir [35] : 18, az-Zumar [39] : 7 dan an-Najm [53] : 38)

4. MENAFSIR ULANG AL-QUR’AN AGAR SETUJU/COCOK DENGAN KONSEP TRINITAS KRISTEN

SEMUA ITU DILAKUKAN DENGAN PIJAKAN DALIL-DALIL AL-QUR’AN YANG TELAH ‘DIPERKOSA’ PEMAHAMANNYA.

a. mereka berkesimpulan demikian dengan cara memahami ayat 73 surah al-Ma’idah secara tekstual dan sangat aneh. Ayat itu berbunyi, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. al-Maidah [5] : 73). Penulis buku TEOLOGI ABRAHAM hal. 209 menyatakan sbb:

“Dalam ayat ini dikatakan, bahwa kafirlah orang yang mengatakan bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga, itu berarti Allah melarang untuk memisahkan atau membeda-bedakan antara ketiganya; Allah, Rasul dan Ruhul Qudus (firman Allah). Dalam pengertian ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan antara satu dengan lainnya. Ketiga unsur itu menyatu dalam pengertian: Allah menyampaikan firman (Ruhul Qudus) melalui Rasul, sehingga perkataan seorang Rasul adalah sama dengan perkataan Allah (Ruhul Qudus).”

Selanjutnya dikatakan:

“Namun tidak berarti bahwa seorang Rasul berubah wujud menjadi Allah. Ruhul Qudus adalah bagian dari Ruh Allah yang dititupkan (baca: diwahyukan dan diajarkan) kepada Rasul-Nya sehingga dia berubah status menjadi makhluk ilahiyah. Karenanya tidak boleh dipisahkan atau dibedakan antara perkataan Allah dengan perkataan Rasul atau antara perbuatan BAPA dengan perbuatan ANAK. Dengan masuknya Ruhul Qudus itu ke dalam diri seorang Rasul, maka Allah telah bersemayam di dalam dirinya; Allah sudah manunggal dengan dirinya; saat itulah Allah sudah sangat dekat dengan urat nadinya.”

b. oleh mereka dinyatakan bahwa konsep TRINITAS yang diakui dalam millah Abraham adalah memposisikan Rasul sama dengan Allah, baik dalam hal keimanan lisan maupun dalam ketaatan praktik, bukan kesatuan dalam hal dzat-Nya. “Dalam kerangka ini dapat dipahami jika dikatakan bahwa ketaatan kepada Allah harus melalui ketaatan seseorang pada Rasul-Nya,”seperti firman Allah “Siapa saja yang telah mentaati Rasul, maka sejatinya dia telah mentaati Allah”. Lebih lanjut dinyatakan bahwa TRINITAS dalam Al-Qur’an tidak menempatkan Allah sebagai satu bagian dari yang tiga secara mandiri, tetapi satu kesatuan yang tauhid (ahad) secara spiritual (nilai) bukan kesatuan bendawi ala iman gereja. (hal. 212)

Jawaban:

  • Ayat 73 surah al-Maidah sangat populer dan bukti penolakan serta kecaman Al-Qur’an sebagai basis teologi muslim yang hanif terhadap doktrin teologis bernama TRINITAS. Kecaman terhadap keyakinan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, juga berimplikasi dan berarti kecaman terhadap siapa saja yang menyatukan dan memanunggalkan ketiga unsur itu menjadi satu. Inilah konsep satu dalam tiga dan tiga dalam satu yang dirangkum oleh konsep TRINITAS!
  • Upaya merasionalkan konsep TRINITAS yang sudah nyata sesatnya itu agar diterima umat muslim dengan klaim Allah=Firman=Rasul yang diasumsikan sebagai Allah Bapa=Allah Roh Kudus=Allah Anak bahwa hal itu telah dikenal oleh ajaran Al-Qur’an bahwa ‘siapa yang mentaati Rasul maka ia sungguh telah mentaati Allah’ (man yuthi’I arrasul fa qad atha’a Allah), adalah upaya penyesatan opini. Sebab dalam ajaran Islam dan Al-Qur’an, orang yang menerima ajaran atau firman Allah sebagai nabi tidak lah pantas menyatakan dirinya telah menyatu/manunggal dengan Allah SWT itu sendiri. Nabi atau Rasul tetap lah manusia, dan tidak akan pernah dan tidak boleh menyatakan dirinya juga adalah Allah. Inilah yang secara tegas dan gamblang dinyatakan ayat 79 surah Ali-Imran [3], Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (konsisten menyembah Allah), Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
  • Upaya atau tindakan untuk menyamakan dan mengisi atau menyebut istilah konsep asing, kufur dan syirik yang sudah mapan artinya seperti TRINITAS dan disamakan atau diisi dengan konsep muslim dan hanif, adalah ngawur dan merusak konsep ilmu dan epistemology. Seperti kasus penyamaan konsep ‘penebusan dosa’ dengan ‘qurban’, lalu misalkan ‘shalat’ dengan ‘meditasi’ atau ‘maulid nabi’ dengan ‘natal’ dan lain sebagainya yang membuat rancu dan menimbulkan kerusakan epistemology Islam.

5. MENAFSIR ULANG HARI QIYAMAT SEBAGAI HARI KEMENANGAN MILLAH ABRAHAM

Penulis TEOLOGI ABRAHAM menyatakan, “Dalam bahasa Arab kata qiyamah adalah bentuk isim mashdar (kata benda) dari kata qama-yaqumu-qiyaman-qiyamatan; berdiri atau tegak… salah satu istilah eskatologi dalam Al-Qur’an adalah yawmu ad-din; hari pembalasan, yakni hari ditegakkannya hukum Allah sebagai hari pembalasan atas perbuatan seseorang. Hari tegaknya hukum Allah ini identik dengan hari kemenangan para Rasul Allah di satu pihak dan hari dihancurkannya musuh-musuh Allah di pihak lain.”

Selanjutnya, ia menulis bahwa, “Pertanyaan orang-orang kafir tentang kapan saat datangnya Kerajaan Allah atau saat datangnya hari qiyamah adalah dalam kerangka tersebut; yakni SAAT DATANGNYA HARI KEMENANGAN MILLAH ABRAHAM (hari tegaknya Kerajaan Allah di dunia) bukan eskataologi dalam dimensi akhir zaman yang diawali oleh peristiwa apokaliptik; kehancuran bumi dan alam semesta.” (lihat TA, hal. 238)

Jawaban: yawmul qiyamat dan yawmu ad-din adalah nama lain dari al-yawm al-akhir; yaitu hari kiamat besar saat kehancuran bumi dan jagat raya yang menandai berakhirnya kehidupan fana di dunia menuju kehidupan abadi di akhirat. Ia disebut juga yawmul ba’ts (hari berbangkitnya manusia dari alam kubur) untuk menerima pembalasan amal yang dilakukan selama di dunia (yawm ad-din / yawm al-jaza’). Perkara tersebut telah menjadi aksioma dalam ajaran Islam, karena keimanan terhadap hari itu adalah salah satu Rukun Iman. Jadi tak ada kaitannya sama sekali dengan kemenangan millah Abraham.

Kesimpulan

Dari penelusuran dan kajian pustaka tersebut, dapat disimpulkan beberapa poin kesesatan dan penyimpangan akidah dari aliran Millah Abraham sbb:

  1. Mengusung teologi pluralis-sinkretis yang membahayakan akidah Islam.
  2. Ada indikasi kuat penyimpangan dan kekeliruan penafsiran terhadap soal-soal prinsipil dalam akidah Islam, sehingga menggiring opini kaum awam yang tidak mengerti kaidah penafsiran yang otentik dan sah untuk menjerumuskan mereka ke dalam penyimpangan dan kesesatan akidah yang direkayasa secara sistematis.
  3. Mendesak pimpinan pusat MUI agar segera memfatwakan aliran Millah Abraham adalah sesat dan menyesatkan, dan agar dilakukan pembinaan dan sosialisasi akidah Islam yang benar ke seluruh lapisan ummat agar tidak tergerus oleh penyesatan dan rekayasa musuh-musuh Islam.

Sekian, Wallahu A’lam bil-Shawab.

HARAMNYA ROKOK …. berdasarkan HADITS dan AL QUR’AN … serta Jawaban untuk Para Da’i Pembela Rokok) ———————————– Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama adalah nasihat”, Kami berkata: “Untuk Siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda: Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Fi An Nashihah, hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah,Tanpa tahun. lihat Juga Arbain an Nawawiyah, hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah. 1425H/2004M) ——————- Inilah nasihatku untuk diriku sendiri, dan saudaraku kaum muslimin, juga para da’i, atau imam mesjid, yang masih terbelenggu dengan candu rokok ….. untuk mereka yang mencari ketenangan dengan merokok, padahal seorang mu’min mencari ketenangan melalui dzikir dan shalat … untuk mereka yang tengah mencari kejelasan dan kebenaran …. Untuk merekalah risalah ini dipersembahkan … ———————- Tulisan ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam, dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidakpahaman mereka tentang nash-nash syar’i (teks-teks agama) dan qawaidusy syar’iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian para da’i hobi dengan rokok. Padahal para da’i adalah pelita, lalu, bagaimana jika pelita itu tidak mampu menerangi dirinya sendiri? Wallahul Musta’an! ——————– Mereka beralasan ‘tidak saya temukan dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.’ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kata-kata ‘rokok’ jelas tidak ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak paham fiqih, bahwa keharaman dalam Al Qur’an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksud. Nah, secara lafaz memang tidak ada tentang haramnya rokok, tetapi secara makna/pengertian/maksud, jelas sangat banyak dalilnya. Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini ada beberapa kemungkinan, pertama, ia benar-benar tidak tahu alias awam dengan urusan syariat, jika demikian maka ucapan “tidak saya temukan …dst” itu bisa dimaklumi. Kedua, ia telah mengetahui adanya ayat atau hadits yang secara makna mengharamkan apa pun yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain termasuk rokok, tetapi ia memahaminya sesuai selera dan hawa nafsunya sendiri, tidak merujuk kepada pandangan para Imam dan Ulama yang mendalam. Ketiga, ia sudah mengetahui dalilnya tetapi ia sembunyikan dari umat, atau ia pura-pura tidak tahu, maka ini adalah sikap dusta dan kitmanul haq (menyembunyikan kebenaran) yang dikecam dalam agama. ——————- Sejak zaman sahabat, umat telah ijma’ (sepakat) bahwa Anjing adalah haram dimakan, namun adakah ayat atau hadits secara jelas yang menyatakan Anjing haram di makan? Tidak ada! Tetapi kenapa Islam mengharamkan? Karena kita memiliki qawaid al fiqhiyyah fi at tahrim (kaidah-kaidah fiqih dalam mengharamkan), maqashid syari’ah (esensi syariat) yang mafhum secara tersirat, serta qarinah (korelasi/petunjuk isyarat) tentang haramnya sesuatu walau tidak secara jelas disebut nama barangnya atau perbuatannya. Nah, kaidah-kaidah inilah yang nampaknya luput dari mereka dalam perkara rokok ini. —————- Dikhawatiri dari pandangan sebagian da’i yang terlalu tekstual dan kaku ini, nanti-nanti ada umat yang mengatakan bahwa memonopoli barang dagangan adalah halal, karena tidak ada ayat atau hadits secara terang tentang ‘monopoli’, Joget ala ngebor Inul juga halal, karena tidak ada ayat atau hadits yang membahas tentang goyangnya Inul! Laa hawla wa laa quwwata illa billah. —————— Ada lagi yang berkata, “Bukankah para kiayi juga merokok? Bukankah mereka ahli agama?” —————- Jawaban kami: Hanya Rasulullah yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan), sedangkan selainnya (walau ulama atau kiayi) bisa saja salah. Kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para kiayi yang merokok pun sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkannya. Akhirnya, tidak sedikit di antara mereka yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan. ————— Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Perkataan seluruh manusia bisa diterima atau ditolak, hanya perkataan penghuni kubur ini (yakni Rasulullah) yang wajib diterima (tidak boleh ditolak).” —————– Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: “Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen) ….. “ (Al imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, hal.306. Maktabah at Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun) —————- Memang keteladanan hanya ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa Sallam. —————– Dan untuk para da’i hati-hatilah, sebab Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl (16): 116) ——————- Dari Abdullah bin Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara begitu saja dalam diri manusia, tetapi dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga orang berilmu tidak tersisa, lalu manusia menjadikan orang bodoh menangani urusan mereka. Mereka ditanya lalu menjawab dengan tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari, lihat Syaikh Fuad Abdul Baqi, Al lu’Lu’ wal Marjan, Kitabul ‘ilmi, hal. 457, hadits no. 1712. Darul Fikri, Beirut . 1423H/2002M) ————– “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diambilnya ilmu (agama) dari kalangan ashaghir.” (HR. Abdullah bin al Mubarak, dalam kitab Az Zuhd, dengan sanad hasan) —————— Siapakah Ashaghir? Berkata Abdullah bin al Mubarak Rahimahullah, yaitu orang yang Qillatul ‘ilmi (sedikit ilmunya). Ya, sedikit ilmunya tetapi banyak gayanya! Lidahnya menjulur melebihi pengetahuannya. ————- Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh dariku adalah yang banyak omongnya (ats tsartsarun), bermulut besar (al mutasyaddiqun), dan al mutafaihiqun.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kami telah tahu ats tsartsarun dan al mutasyaddiqun, tetapi apakah al mutafaihiqun? Rasulullah menjawab: “Yaitu al Mutakabbirun (orang yang merasa besar, sok berilmu). (HR. Imam At Tirmidzi, ia berkata: hadits ini ‘hasan’. Imam an Nawawi, Riyadhush Shalihin, Bab Husn al Khuluq, hal. 187, hadits no. 629. Maktabatul Iman, Al Manshurah) ————– Berikut ini akan kami paparkan adillatusy syar’iyyah (dalil-dalil syara’) dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. Wallahul Musta’an! —————-

kyai merokok 1

HARAMNYA ROKOK …. berdasarkan HADITS dan AL QUR’AN … serta Jawaban untuk Para Da’i Pembela Rokok

———————————–
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Agama adalah nasihat”, Kami berkata: “Untuk Siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda: Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Fi An Nashihah, hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah,Tanpa tahun. lihat Juga Arbain an Nawawiyah, hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah. 1425H/2004M)
——————-

Inilah nasihatku untuk diriku sendiri, dan saudaraku kaum muslimin, juga para da’i, atau imam mesjid, yang masih terbelenggu dengan candu rokok ….. untuk mereka yang mencari ketenangan dengan merokok, padahal seorang mu’min mencari ketenangan melalui dzikir dan shalat … untuk mereka yang tengah mencari kejelasan dan kebenaran …. Untuk merekalah risalah ini dipersembahkan …
———————-
rokok haram 1

Rokok, siapa yang tidak kenal dengan benda satu ini. Ia telah menyatu dalam kehidupan sebagian manusia. Baik orang awam, atau kaum intelek, miskin atau kaya, pedesaan atau kota , pria bahkan wanita, priyai atau kiayi. Kehidupan mereka seperti dikendalikan oleh rokok. Mereka sanggup untuk tidak makan berjam-jam, tetapi ‘pusing’ jika berjam-jam tidak merokok. Mengaku tidak ada uang untuk bayar sekolah, tetapi koq selalu ada uang untuk membeli rokok. Sungguh mengherankan!

Tulisan ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam, dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidakpahaman mereka tentang nash-nash syar’i (teks-teks agama) dan qawaidusy syar’iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian para da’i hobi dengan rokok. Padahal para da’i adalah pelita, lalu, bagaimana jika pelita itu tidak mampu menerangi dirinya sendiri? Wallahul Musta’an!
——————–

Mereka beralasan ‘tidak saya temukan dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.’ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kata-kata ‘rokok’ jelas tidak ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak paham fiqih, bahwa keharaman dalam Al Qur’an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksud. Nah, secara lafaz memang tidak ada tentang haramnya rokok, tetapi secara makna/pengertian/maksud, jelas sangat banyak dalilnya. Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini ada beberapa kemungkinan, pertama, ia benar-benar tidak tahu alias awam dengan urusan syariat, jika demikian maka ucapan “tidak saya temukan …dst” itu bisa dimaklumi. Kedua, ia telah mengetahui adanya ayat atau hadits yang secara makna mengharamkan apa pun yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain termasuk rokok, tetapi ia memahaminya sesuai selera dan hawa nafsunya sendiri, tidak merujuk kepada pandangan para Imam dan Ulama yang mendalam. Ketiga, ia sudah mengetahui dalilnya tetapi ia sembunyikan dari umat, atau ia pura-pura tidak tahu, maka ini adalah sikap dusta dan kitmanul haq (menyembunyikan kebenaran) yang dikecam dalam agama.
——————-
rokok binasa

Sejak zaman sahabat, umat telah ijma’ (sepakat) bahwa Anjing adalah haram dimakan, namun adakah ayat atau hadits secara jelas yang menyatakan Anjing haram di makan? Tidak ada! Tetapi kenapa Islam mengharamkan? Karena kita memiliki qawaid al fiqhiyyah fi at tahrim (kaidah-kaidah fiqih dalam mengharamkan), maqashid syari’ah (esensi syariat) yang mafhum secara tersirat, serta qarinah (korelasi/petunjuk isyarat) tentang haramnya sesuatu walau tidak secara jelas disebut nama barangnya atau perbuatannya. Nah, kaidah-kaidah inilah yang nampaknya luput dari mereka dalam perkara rokok ini.
—————-

Dikhawatiri dari pandangan sebagian da’i yang terlalu tekstual dan kaku ini, nanti-nanti ada umat yang mengatakan bahwa memonopoli barang dagangan adalah halal, karena tidak ada ayat atau hadits secara terang tentang ‘monopoli’, Joget ala ngebor Inul juga halal, karena tidak ada ayat atau hadits yang membahas tentang goyangnya Inul! Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
——————

Ada lagi yang berkata, “Bukankah para kiayi juga merokok? Bukankah mereka ahli agama?”
—————-

Jawaban kami: Hanya Rasulullah yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan), sedangkan selainnya (walau ulama atau kiayi) bisa saja salah. Kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para kiayi yang merokok pun sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkannya. Akhirnya, tidak sedikit di antara mereka yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan.
—————

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Perkataan seluruh manusia bisa diterima atau ditolak, hanya perkataan penghuni kubur ini (yakni Rasulullah) yang wajib diterima (tidak boleh ditolak).”
—————–

Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: “Setiap manusia bisa diambil atau ditinggalkan perkataan mereka, begitu pula apa-apa yang datang dari para salafus shalih sebelum kita yang sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, kecuali hanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang perkatannya wajib diterima tidak boleh ditolak, pen) ….. “ (Al imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, hal.306. Maktabah at Taufiqiyah, Kairo. Tanpa tahun)
—————-

Memang keteladanan hanya ada pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa Sallam.
—————–

Dan untuk para da’i hati-hatilah, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl (16): 116)
——————-

Dari Abdullah bin Amr bin al Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallah ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara begitu saja dalam diri manusia, tetapi dicabutnya ilmu melalui wafatnya para ulama. Sehingga orang berilmu tidak tersisa, lalu manusia menjadikan orang bodoh menangani urusan mereka. Mereka ditanya lalu menjawab dengan tanpa ilmu. Akhirnya, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari, lihat Syaikh Fuad Abdul Baqi, Al lu’Lu’ wal Marjan, Kitabul ‘ilmi, hal. 457, hadits no. 1712. Darul Fikri, Beirut . 1423H/2002M)
————–

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diambilnya ilmu (agama) dari kalangan ashaghir.” (HR. Abdullah bin al Mubarak, dalam kitab Az Zuhd, dengan sanad hasan)
——————

Siapakah Ashaghir? Berkata Abdullah bin al Mubarak Rahimahullah, yaitu orang yang Qillatul ‘ilmi (sedikit ilmunya). Ya, sedikit ilmunya tetapi banyak gayanya! Lidahnya menjulur melebihi pengetahuannya. ————-

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh dariku adalah yang banyak omongnya (ats tsartsarun), bermulut besar (al mutasyaddiqun), dan al mutafaihiqun.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kami telah tahu ats tsartsarun dan al mutasyaddiqun, tetapi apakah al mutafaihiqun? Rasulullah menjawab: “Yaitu al Mutakabbirun (orang yang merasa besar, sok berilmu). (HR. Imam At Tirmidzi, ia berkata: hadits ini ‘hasan’. Imam an Nawawi, Riyadhush Shalihin, Bab Husn al Khuluq, hal. 187, hadits no. 629. Maktabatul Iman, Al Manshurah)
————–

Berikut ini akan kami paparkan adillatusy syar’iyyah (dalil-dalil syara’) dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. Wallahul Musta’an!
—————-
racun rokok

1.Dalil dari Al Qur’an

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam jurang kerusakan.” (QS. Al Baqarah (2): 195)

“Dan Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri ..” (QS. An Nisa (4): 29)

Perhatikan dua ayat ini, tidak syak (ragu) lagi, merokok merupakan tindakan merusak diri si pelakunya, bahkan tindakan bunuh diri. Para pakar kesehatan telah menetapkan adanya 3000 racun berbahaya, dan 200 diantaranya amat berbahaya, bahkan lebih bahaya dari Ganja (Canabis Sativa). Mereka menetapkan bahwa sekali hisapan rokok dapat mengurangi umur hingga beberapa menit. Wallahu A’lam bis Shawab. Pastinya, umur manusia urusan Allah Ta’ala, namun penelitian para pakar ini adalah pandangan ilmiah empirik yang tidak bisa dianggap remeh. Al Ustadz Muhamad Abdul Ghafar al Hasyimi menyebutkan dalam bukunya Mashaibud Dukhan (Bencana Rokok) bahwa rokok bisa melahirkan 99 macam penyakit. Lancet, sebuah majalah kesehatan di Inggris menyatakan bahwa merokok itu adalah penyakit itu sendiri, bukan kebiasaan. Perilaku ini merupakan bencana yang dialami kebanyakan anggota keluarga, juga bisa menurunkan kehormatan seseorang. Jumlah yang mati karena rokok berlipat ganda. Majalah ini menyimpulkan, asap rokok lebih bahaya dari asap mobil.

Perhatikan dua ayat di atas, ia menggunakan sighat lin nahyi wa lin nafyi (bentuk kata untuk pengingkaran/larangan) yang bermakna jauhilah perbuatan merusak diri atau mengarah pada bunuh diri. Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan al Ashlu fi an Nahyi lil Haram (hukum asli dari sebuah larangan adalah haram). Seperti kalimat wa laa taqrabuz zinaa .. (jangan kalian dekati zina) artinya mendekati saja haram apa lagi melakukannya. Maksudnya, ada dua yang diharamkan dalam ayat ini yakni 1. Berzina, dan 2. perilaku atau sarana menuju perzinahan. Ini Sesuai kaidah Ushul Fiqh, ‘ Ma ada ilal haram fa huwa haram’ (Sesuatu yang membawa kepada yang haram, maka hal itu juga haram).

Begitu pula ayat ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’, artinya, yang haram yaitu 1. Bunuh diri, dan 2. Perilaku atau sarana apapun yang bisa mematikan diri sendiri.

Imam Asy Syaukani berkata dalam Kitab tafsirnya, Fat-hul Qadir, tentang maksud ayat An Nisa 29 di atas:

Artinya: “Maksud firmanNya ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’ adalah Wahai muslimun, janganlah kalian saling membunuh satu sama lain, kecuali karena ada sebab yang ditetapkan oleh syariat. Atau, janganlah bunuh diri kalian dengan perbuatan keji dan maksiat, atau yang dimaksud ayat ini adalah larangan membunuh diri sendiri secara hakiki (sebenarnya). Tidak terlarang membawa maksud ayat ini kepada makna-makna yang lebih umum. Dalilnya adalah Amr bin al Ash berhujjah (berdalil) dengan ayat tersebut, ketika ia tidak mandi wajib (mandi junub) dengan air dingin pada saat perang Dzatul Salasil. Namun, Nabi Shaliallahu ‘Alaihi wa Sallam mendiamkan (tanda setuju) hujjah (alasan) yang yang dipakai olenya. Ini ada dalam Musnad Ahmad, Sunan Abu daud, dan lain-lain.” Demikian dari Imam Asy Syaukani Rahimahullah. (Lihat juga Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Jilid 1, hal. 480. Toha Putera Semarang, dengan naskah berbahasa Arab yang disesuaikan dengan naskah dari Darul Kutub Al Mishriyah)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. Al Isra’ (17): 27)

Tidak ragu pula, hobi merokok merokok tindakan tabdzir (pemborosan) dan penyia-nyiaan terhadap harta. Mereka tidak mendapatkan apa-apa dari rokok kecuali ketenangan sesaat, bahaya penyakit yang mengancam jiwa, dan terbuangnya uang secara sia-sia. Bahkan, Allah Ta’ala menyebut mereka sebagai saudara-suadara syaitan.

Berkata Imam Asy Syaukany tentang tafsir ayat ini:

“… Bahwa orang yang berbuat mubadzir (pemboros) diumpamakan seperti syaitan, dan setiap yang diumpamakan dengan syaitan maka baginya dihukumi sebagai syaitan, dan setiap syaitan adalah ingkar (terhadap Allah, pen), maka orang yang mubadzir adalah orang yang ingkar.” (Imam Asy Syaukany, dalam Fat-hul Qadir-nya)

Sebagian ulama –seperti Imam Asy Syaukany ini- ada yang mengatakan bahwa berlebihan dalam berinfak juga termasuk tabdzir (pemborosan)[1], maka apalagi berlebihan dalam merokok! Berpikirlah wahai manusia!

Maka, haramnya rokok adalah muwafaqah bil maqashid asy Syari’ah (sesuai dengan tujuan syariat) yang menghendaki terjaganya lima hal asasi (mendasar), yaitu agama, nyawa, harta, akal, dan keturunan. Imam al Qarafi al Maliki menambahkan menjadi enam, yaitu kehormatan.

Allah Ta’ala juga menyebut tentang ciri-ciri orang yang beriman yakni orang yang:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS.Al Mu’minun (23): 8)

Kesehatan adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga, itu adalah amanah dari Allah Ta’ala yang tidak boleh dikhianati. Dalam hadits disebutkan, “Laa Imanan liman laa amanata lahu (tidak ada iman bagi orang yang tidak menjaga amanah). Seharusnya, seorang muslim yang baik berhati-hati dengan perkara amanah ini, sebab akan menjatuhkannya dalam kategori kemunafikan. Wal ‘Iyadzubillah!

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Yaitu jika diberi amanah ia tidak mengkhianatinya, bahkan ia menunaikannya kepada pihak yang memberinya.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Jilid 3, hal. 239)

Itulah orang yang beriman, ia menjaga amanah. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menjaga amanah?

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar, jika diberi amanah ia khianat.” (HR. Bukhari dan Muslim, Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab al Amr bi Ada’I al Amanah, hal. 77, hadits no. 199, dan juga Bab al Wafa’ bil ‘Ahdi wa Injaz bil Wa’di, hal. 201, hadits no. 687. Maktabatul Iman, Manshurah. Lihat juga kitabnya Syaikh Fuad Abdul Baqi, Al Lu’Lu’ wal Marjan, Bab Bayan Khishal al Munafiq, hadits no. 38. Darul Fikr, Beirut . Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab at Tarhib min Masawi al Akhlaq, hal. 279, hadits no. 1296. Cet. 1, Darul Kutub al islamiyah. 1425H/2004M)

Demikianlah dalil-dalil Al Qur’anul Karim yang amat tegas dan jelas tentang larangan merusak diri sendiri dan berbuat mubadzir, mengkhianati amanah kesehatan, yang semua itu telah dilakoni oleh aktifitas merokok. Bagian ini telah kami paparkan juga beberapa hadits, dan pandangan para ulama terdahulu kita. Alhamdulillah …

2. Dalil-dalil dari As Sunnah Al Muthahharah

Selain beberapa hadits di atas, ada lagi beberapa hadits lain yang memperkuat larangan merokok bagi seorang muslim. Kami hanya akan menggunakan hadits-hadits yang maqbul (bisa diterima periwayatannya) yaitu yang shahih atau hasan, ada pun hadits yang mardud (tertolak/tidak boleh digunakan khususnya dalam masalah aqidah dan hukum) yaitu hadits dhaif, tidak akan kami gunakan. Nas’alullaha as salamah wal ‘afiyah …

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa SallamI bersabda:

“Di antara baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Imam At Tirmidzi, ia berkata ‘hasan’. Bulughul Maram, Bab Az Zuhd wal Wara’, hal. 277, hadits no. 1287. Darul Kutub al Islamiyah)

Ya, tanda baiknya kualitas Islam seseorang adalah ia meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Rokok tidak membawa manfaat apa-apa, kecuali ancaman bagi kesehatan dan jiwa dan pemborosan. Ada pun ketenangan dan konsentrasi setelah merokok, itu hanyalah sugesti. Hendaknya bagi seorang muslim yang sadar dan faham agama merenungi hadits yang mulia ini.

Dari Abu Shirmah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memudharatkan (merusak) seorang muslim yang lain, maka Allah akan memudharatkannya, barang siapa yang menyulitkan orang lain maka Allah akan menyulitkan orang itu.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, ia menghasankan. Bulughul Maram, hal. 282, hadits no. 1311)

Ada istilah perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok namun tanpa disengaja (baik ia sudah menghindar atau belum) ia menghirup juga asap rokok. Bahkan menurut penelitian, perokok pasif mendapatkan dampak yang lebih berbahaya, sebab selain ia mendapatkan racun dari asap rokok, juga mendapat racun dari udara yang ditiupkan si perokok yang telah bercampur dengan asapnya. Inilah mudharat (kerusakan) yang telah dibuat oleh para perokok aktif kepada orang lain. Jelas Rasulullah amat melarangnya, bahkan ia mendoakan agar Allah Ta’ala membalas perbuatan rusak orang tersebut.

Berkata Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya, Al Muhalla, ”Maka barangsiapa yang menimbulkan mudharat pada dirinya sendiri dan pada orang lain berarti ia tidak berbuat baik, dan barangsiapa yng tidak berbuat baik berarti menentang perintah Allah untuk berbuat baik dalam segala sesuatu.” (Al Muhalla, Jilid 7, hal. 504-505)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihis Shalatu was Salami bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi bagian kaum itu.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Hibban menshahihkannya. Bulughul Maram, hal 277, hadits no. 1283. Hadits ini juga dishahihkan para Ahli Hadits seperti Syaikh Syu’aib al Arnauth, Syaikh al Albany, dan Syaikh Ahmad Syakir Rahimahumullah)

Dalam sejarahnya, rokok pertama kali dilakukan oleh suku Indian ketika sedang ritual penyembahan dewa-dewa mereka. Kami yakin perokok saat ini tidak bermaksud seperti suku Indian tersebut, namun perilaku yang nampak dari mereka merupakan bentuk tasyabbuh bil kuffar (penyerupaan dengan orang kafir) yang sangat diharamkan Islam. Dan perlu diketahui, bahwa Fiqih Islam menilai seseorang dari yang terlihat (nampak), adapun hati atau maksud orangnya, kita serahkan kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ (17): 36)

Demikian, kami cukupkan dulu dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebenarnya seluruh keterangan di atas –kami kira- sudah mencukupi, namun ada baiknya kami tambahkan beberapa hal untuk lebih meyakinkan lagi.

3. Qawaid al Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah fiqih)

Dalam fiqih ada kaidah-kaidah yang biasa digunakan para Ulama mujtahid (ahli ijtihad) untuk membantu menyimpulkan dan memutuskan sebuah hukum, baik untuk keputusan haram atau halalnya sesuatu benda atau perbuatan.

Dalam menentukan haramnya rokok ini ada beberapa kaidah yang menguatkan, di antaranya:

Ma ada ilal haram fa huwa haram atau Al Washilah ilal haram fa hiya haram (Sesuatu atau sarana yang membawa kepada keharaman, maka hukumnya haram). Merusak diri sendiri dengan perbuatan yang bisa mengancam kesehatan dan jiwa, jelas diharamkan dalam syariat, tanpa ragu lagi. Maka, merokok atau perilaku apa saja yang bisa merusak diri dan mengancam jiwa, baik cepat atau lambat, adalah haram, karena perilaku tersebut merupakan sarananya.

Laa Dharara wa Laa Dhirar (janganlah kalian rusak (melakukan dharar) atau merusak orang lain). Sebenarnya kaidah ini adalah bunyi hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah. Merokok selain merusak diri sendiri, juga merusak kesehatan orang lain di sekitarnya (perokok pasif). Keduanya (yakni merusak diri sendiri dan merusak orang lain) sama-sama dilarang oleh syariat. Ada pun bagi pelakunya ia mengalami dharar mali (kerusakan pada harta, karena ia menyia-nyiakannya), dharar jasady (kerusakan tubuh, karena membahayakan kesehatan bahkan jiwa), dharar nafsi (merusak kepribadian-citra diri). Jika berbahaya bagi kesehatan saja sudah cukup untuk mengharamkan, apalagi jika sudah termasuk menghamburkan uang dan menurunkan harga diri. Tentu lebih kuat lagi pengharamannya.

Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (Menghindari kerusakan, harus didahulukan dibanding mengambil manfaat). Kita tahu, para perokok –katanya- merasa tenang dan konsentrasi ketika merokok. Baik, taruhlah itu manfaat yang ada, namun ternyata dan terbukti bahwa mudharatnya sangat jauh lebih besar, maka menurut kaidah ini walau rokok punya manfaat, ia tetap wajib ditinggalkan, dalam rangka menghindari kerusakan yang ditimbulkannya. Faktanya, manfaatnya tidak ada, hanya sugesti dan mitos.

kyai rokok gadungan

4. Alasan Mereka dan Bantahannya

Mereka beralasan bahwa “hukum asal segala sesuatu (urusan dunia) adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil syariat yang mengharamkannya. Nah, kami tidak menemukan dalil pengharamannya.”

Alasan ini sudah terjawab secara tuntas dan rinci dari uraian di atas. Telah kami paparkan beberapa ayat, beberapa hadits, yang mengarah pada haramnya rokok (atau apa saja yang termasuk membahayakan kesehatan dan jiwa, dan mubadzir), beserta pandangan para Imam umat Islam. Ucapan “kami tidak menemukan dalil pengharamannya” bukan berarti tidak ada dalilnya. Sebab, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Hal ini, tergantung kejelian, kemauan, dan –yang paling penting- kesadaran manusianya. Memang, masalah ilmu dan kebenaran, bukan tempatnya bagi orang malas dan pengekor hawa nafsu dan emosi.

Mereka beralasan bahwa, “Kami pusing jika tidak merokok, jika merokok, kami kembali tenang dan konsentrasi.”

Alasan ini tidak layak keluar dari mulut orang Islam yang baik, apalagi da’i. Ucapan ini justru telah membuka kedok, bahwa orang tersebut telah ketergantungan dengan rokok, yang justru memperkuat keharamannya. Bahkan menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab, rokok telah menjadi berhala bagi orang ini, sehingga ia tidak layak menjadi imam shalat. Itu menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab. Bagi kami, ia masih boleh menjadi imam shalat, sebab Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu pernah shalat menjadi makmum di belakang ahli maksiat, yaitu seorang gubernur zhalim di Madinah, Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafy.

Ya, ajaib memang. Jika, memang mengaku muslim (tidak usahlah mu’min kalau masih berat), seharusnya ia berdzikir kepada Allah Ta’ala supaya pikiran tenang, hati khusyu’ dan konsentrasi, bukan dengan merokok! Karena hanya dengan mengingat Allah Ta’ala hati menjadi tenang. Wallahul Musta’an!

Allah Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du (13): 28)

Alasan lainnya adalah, “Bagi kami merokok adalah makruh saja, makruh’kan tidak berdosa.”

Jawaban ini hanya keluar dari orang yang wahnun fid din (lemah dalam beragama), tidak wara’, mempermainkan fiqih, dan mutasahil (menggampang-gampangkan). Jika benar itu makruh, maka tahukah Anda apa itu makruh? Ia diambil dari kata karaha (membenci), makruh artinya sesuatu yang dibenci, siapa yang membenci? Allah Ta’ala! Muslim yang baik, yang mengaku Allah Ta’ala adalah kekasihnya, ia akan meninggalkan hal yang dibenci kekasihnya. Kekasih model apa yang hobi melakukan sesuatu yang dibenci olah sang kekasih?

Dahulu, kami pun sekadar memakruhkan rokok, sebagaimana pendapat Imam Hasan al Banna dan Syaikh Said Hawwa Rahimahumallah. Namun, apa yang kami yakini itu, dan apa yang difatwakan oleh dua ulama ini adalah pandangan lama ketika sains belum berkembang, penemuan tentang bahaya rokok tidak separah seperti yang terkuak sekarang. Kami yakin, jika dua ulama ini berumur panjang dan diberi kesempatan untuk melihat perkembangan bahaya rokok, niscaya mereka akan merubah pendapatnya. Sebab mereka berdua adalah ulama yang terkenal open mind (pikiran terbuka), tidak jumud (statis/diam di tempat), mereka selalu terus mencari kebenaran.

Sesungguhnya, perubahan pendapat atau ijtihad yang disebabkan perubahan kondisi, tempat, dan peristiwa, dalam sejarah khazanah fiqih Islam bukanlah hal yang aneh.[2] Imam Ahlus Sunnah, Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu ketika masih tinggal di Baghdad ia memiliki Qaul Qadim (pendapat lama), namun ketika ia hijrah ke Mesir dan wafat di sana, lantaran perubahan kondisi, tempat, dan juga kematangan usia dan ilmu, ia merubahnya menjadi Qaul Jadid (pendapat baru). Contoh lain sangat banyak dan bukan di sini tempatnya.

Yang pasti, kami telah merevisi apa yang kami yakini dahulu. Sebab para ahli telah menegaskan betapa bahayanya rokok bagi penghisapnya dan orang di sekitarnya, cepat atau lambat. Dahulu dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, para pakar mengatakan bahaya rokok hanya ini dan itu. Namun sekarang ketika ilmu pengetahuan sudah maju, rahasia yang dahulu tertutup menjadi terbuka, racun yang dahulunya tersembunyi sekarang diketahui. Maka, tidak ragu lagi, bahwa saat ini kurang tepat jika rokok dihukumi makruh, melainkan haram. Masalahnya, adakah kesadaran dalam diri kita untuk merubah kebiasaan yang sudah mentradisi?

Sungguh, bersegera menuju kebenaran adalah lebih utama dari pada berlama-lama dalam kesalahan.

5. Pandangan Ulama Dunia Tentang Rokok

Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Ali Asy Syaikh berkata, “Saya pernah ditanya tentang hukum tembakau yang sering dihisap oleh orang yang belum paham tentang haramnya rokok. Maka kami jawab, bahwa kami kalangan para ulama dan syaikhSyaikh kita yang dahulu, para ahli ilmu, para imam da’wah, ahli Najd (daerah antara Makkah dan Madinah), dahulu sampai sekarang menghukumi bahwa rokok itu haram, berdasarkan dalil yang shahih, dan akal yang waras, serta penelitian para dokter yang masyhur.” Lalu Syaikh menyebut dalil-dalil tersebut, beliau juga mengatakan bahwa haramnya rokok telah difatwakan oleh para ulama dari kalangan madzhab yang empat.

Syaikh Abdurrahman bin Sa’di (Ulama tafsir terkenal) berkata, “Perokok, penjualnya, dan orang yang membantunya, semuanya haram. Tidak halal bagi umat islam memperolehnya, baik untuk dihisap atau untuk dijual. Barangsiapa yang memperolehnya, hendaknya ia bertaubat dengan taubat nasuha dari semua dosa. Sebab rokok ini masuk kepada dalil keumuman nash (teks Al Qur’an) yang menunjukkan haram baik lafazh atau makna..dst.”

Syaikh Musthafa al Hamami dalam An Nahdhatu al Ishlahiyah bekata tentang keanehan para perokok, “Tembakau dan rokok adalah perkara yang hampir sama. Keduanya memiliki daya tarik dan pengaruh yang kuat bagi para pecandunya, sehingga begitu menakjubkan, seolah-olah tidak ada daya tarik yang melebihi rokok. Kita saksikan bersama, betapa gelisahnya para penghisap rokok jika dia ingin merokok, sedangkan ia tidak punya uang. Maka ia akan mencari temannya yang merokok untuk mengemis walau satu batang. Hal ini kami ceritakan, karena kami melihatnya sendiri. Yang lucu, pengemis rokok itu orang yang berkedudukan tinggi, tetapi karena kuatnya dorongan untuk merokok membuat dirinya menjual harga dirinya untuk mengemis rokok walau satu batang!”

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan hafizhahullah dalam Al I’lam bi Naqdi Kitab al Halal wal Haram, berkata setelah ia menjelaskan haramnya rokok, “Begitulah intisari nasihat dari dokter tentang bahaya rokok, yang kami ketengahkan setelah fatwa para ulama tentang bahaya rokok. Apakah pantas bagi mereka yang sudah memahami berbagai macam fatwa ulama ini dan pandangan para dokter ahli, mereka masih ragu tentang haramnya rokok dan enggan meninggalkannya? Tidaklah yang demikian itu melainkan suatu ketakabburan tanpa alasan.”

Syaikh Yusuf al Qaradhawy hafizhahullah berkata dalam Al Halal wal Haram fil Islam, “Kami mengatakan bahwa rokok, selama hal itu telah dinyatakan membahayakan, maka hukumnya haram. Lebih-lebih jika dokter spesialis sudah menetapkan hal itu kepada orang tertentu.

Sekali pun tidak jelas bahayanya terhadap kesehatan, tetapi yang jelas hal itu termasuk membuang uang untuk yang tidak bermanfaat, baik untuk agama atau urusan dunia. Dalam hadits dengan tegas Rasulullah melarang membuang-buang harta. Keharamannya lebih kuat lagi, jika ternyata sebenarnya ia amat memerlukan uang itu untuk dirinya atau keluarganya.” Inilah fatwa Syaikh al Qaradhawy saat kitabnya ini baru dibuat yakni tahun 1960-an. Dalam Hadyu al Islam Fatawa Mu’ashirah jilid 1, tahun 1988, Darul Ma’rifah Ia lebih panjang lagi menjelaskan tentang haramnya rokok setelah ia membandingkan seluruh alasan yang membolehkan, memakruhkan, dan mengharamkan. Dengan dalil yang ada, serta maksud dalil tersebut, beserta keterangn para dokter, Ia semakin mantap tentang haramnya rokok.

berbagai Sumber
Wallahua’lam

KARMA DALAM AJARAN ISLAM ——————————- ada baiknya kita pahami dulu bersama kata “karma” menurut kamus bahasa Indonesia; “dalam hinduisme yaitu hukum ‘menanam’ dan ‘mengetam’, sebab dan akibat dalam kehidupan manusia, dimana setiap tindakan manusia dalam hidupnya pasti akan membawa akibat, baik atau buruk”. ———————— Lalu bagaimana Karma menurut Islam, agama yang kita yakini kebenaran ajaran-ajarannya melalui Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW? —————————- Dalam firmanNya Allah menjelaskan “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-An’am:160) —————————- Ayat lain selain tersebut diatas Allah juga berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8) ———————- Tentu saja masih banyak ayat-ayat lainnya yang berkaitan dengan karma ini, misalnya dalam QS Ali Imron 197, Al An am 11, an Nahl 36, Tahaa 128, An naml 69, Al An kabuut 20 Fathir 44. dan lain sebagianya yang tidak mungkin saya tuliskan satu persatu dalam tulisan ini. ———————— Dua ayat Al-Qur’an diatas saya rasa sudah cukup untuk memberikan bukti bahwa karma itu bukanlah mitos. Bahwa karma itu sebenarnya ada ajarannya dalam Agama kita. Islam. ——————————— Setiap Perbuatan Ada Balasannya ———————————— Adapun dalam Islam, konsep karma vipaka (akibat dari perbuatan) itu ada juga. Dalam ajaran aqidah Islam, semua perbuatan walaupun seberat dzarah (atom) pun akan mendapat balasan. ———————– Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Q.S. Al-Zalzalah [99] :7-8) ————————- Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri (Q.S. Al-Fushilat [41] :46) —————————— Jika hukum karma yang dimaksud adalah bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya seimbang dengan kualitas baik atau buruknya perbuatan itu, maka YA, dalam Islam ada juga keyakinan mengenai hal itu. ————————— Dari Sahal bin Sa’ad r.a.,ia berkata, “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasnya, namun kamu pasti akan mati. Berbuatlah semaumu, namun pasti kamu akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, namun pasti kamu akan berpisah.. (H.R. Tirmidzi) —————————— Setiap Perbuatan Kadang Dibalas Di Dunia Kadang Dibalas Di Akhirat ———————————- Secara umum dalam konsep aqidah Islam perbuatan manusia di dunia akan mendapat balasan di akhirt. Namun kadang kala sebagian dari balasan itu terjadi di dunia dan sebagian terjadi di akhirat. ———————— “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi” (Q.S. Asy-Syuura [42] :30-31) —————————— Sebagaimana pepatah : “siapa menebar angin ia akan menuai badai’. Maka musibah di dunia seperti banjir, longsor, global warming, efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozone, adalah akibat dari kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia. ———————– Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. (Q.S. Ar-Ra’d [13] :31) ————————- Sebagian dari perbuatan zholim dan kekafiran itu juga akan dibalas oleh Allah di dunia. Sebagai contoh diancam oleh Allah bahwa barang siapa melakukan ekonomi riba, maka ia akan hidup dalam keadaan mabuk kepayang dan hilang keberkahan. ———————–

karma perbuatan
KARMA DALAM AJARAN ISLAM
——————————-
Sebelum saya membahas karma, ada baiknya kita pahami dulu bersama kata “karma” menurut kamus bahasa Indonesia; “dalam hinduisme yaitu hukum ‘menanam’ dan ‘mengetam’, sebab dan akibat dalam kehidupan manusia, dimana setiap tindakan manusia dalam hidupnya pasti akan membawa akibat, baik atau buruk”.
————————
Lalu bagaimana Karma menurut Islam, agama yang kita yakini kebenaran ajaran-ajarannya melalui Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW?
—————————-
Dalam firmanNya Allah menjelaskan “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-An’am:160)
—————————-
Ayat lain selain tersebut diatas Allah juga berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
———————-
Tentu saja masih banyak ayat-ayat lainnya yang berkaitan dengan karma ini, misalnya dalam QS Ali Imron 197, Al An am 11, an Nahl 36, Tahaa 128, An naml 69, Al An kabuut 20 Fathir 44. dan lain sebagianya yang tidak mungkin saya tuliskan satu persatu dalam tulisan ini.
————————
Dua ayat Al-Qur’an diatas saya rasa sudah cukup untuk memberikan bukti bahwa karma itu bukanlah mitos. Bahwa karma itu sebenarnya ada ajarannya dalam Agama kita. Islam.
———————————
Oleh karena itu. Sesungguhnya, ketika kita membuat orang lain menangis, maka kitalah yang akan menangis kelak.
 
Sesungguhnya ketika kita membuat orang lain merugi, kita sendirilah yang akan merugi kelak.
 
Dan sesungguhnya ketika kita membuat orang lain susah, kita sendirilah yang akan merasakan kesusahan kelak. Tidak ada kesusahan yang timbul kecuali kita yang menyusahkan diri kita sendiri.
 
Tidak ada permasalahan kehidupan yang muncul kecuali kita sendiri yang membuat masalah. Terkadang ketika kita ditimpa sebuah masalah, kita lebih banyak menuding orang lain sebagai penyebabnya. Padahal sejatinya menyalahkan orang lain untuk penderitaan kita, justru akan menambah kita satu penderitaan lagi.
 
Jadi ketika kita ditimpa sebuah masalah atau penderitaan, marilah kita cari penyebab kesusahan hidup, dari dalam diri kita sendiri. Dan carilah semua penyebab penderitaan yang kita rasakan, dari dalam diri kita sendiri. Karena penyebab yang paling banyak dan yang paling utama adalah biasanya justru dari diri kita sendiri. Jujur dengan kesalahan sendiri dan ubahlah, inilah dua solusi efektif bila penderitaan sedang datang.
 
Bukankah Allah sudah memperingatkan sebagaimana Ayat yang saya tulis diatas; bahwa siapapun yang tidak menghendaki kesusahan, tidak menginginkan kesulitan dikehidupan dunia ini, hendaknya selalu berbuat baik dan menjauhi keburukan.
 
Bukankah perbuatan buruk pasti akan menuai keburukan. sedang perbuatan baikpun akan menuai kebaikan. Hanya kadang kita perlu membuka mata, dibagian kehidupan yang mana ia tumbuh menjadi buah.
 
Tidak selamanya jika kita berbuat keburukan pada si A maka buah keburukan tersebut dari Si A juga. Bisa saja buah tersebut berasal dari si B atau si C. Buah keburukannya pun belum juga tentu sama, bahkan bisa jadi lebih parah.
 
Kan satu di balas sepuluh? Demikian juga dengan perbuatan baik. Jika kita berbuat baik pada si A, belum tentu balasan kebaikan tersebut dari si A.
 
Bisa jadi kebaikan tersebut berasal dari si B, si C dan seterusnya. Buah kebaikannya pun juga belum tentu sama.
 
Bisa saja kebaikan itu berupa finansial, kesehatan, ketenangan, kebahagiaan dan lain sebagainya. Ah.. Allah itu memang begitu Maha Adil dan Bijaksana.
 
Semestinya kita tidak henti-hentinya bersyukur atas hidayahNya ini. Bila penyebab dibanyak semua kesulitan kita adalah kesalahan kita sendiri, bila penyebab di banyak semua kesusahan kita adalah keburukan kita sendiri dan bila penyebab dibanyak pederitaan kita adalah maksiat dan dosa kita sendiri.
 
Maka Ampunan Allah adalah awal jawaban segalanya, atau mungkin malah jawaban bagi segalanya. Sadarlah bahwa apapun perbuatan buruk yang kita lakukan hanya akan mengantarkan kita kepada kenestapaan yang mungkin berkepanjangan.
 
Dan apapun kejahatan yang kita kerjakan hanya akan mengantarkan kita kepada penyesalan yang mungkin akan kita ratapi sepanjang sisa hidup. Jadi tidak ada satupun yang bisa meloloskan diri dari hukum sebab akibat. Tidak ada satupun manusia yang bisa lolos dari kejaran akibat buruk perbuatan buruk.
 
Allah berfirman “Tiap-Tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS: Al-Muddatsir: 38)
 
Dalam hadits Qudsi Allah juga berfirman: “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan Zalim atas diriKu dan Aku jadikan ia sesuatu yang diharamkan diantara kamu. Maka jangalah kamu saling menganiaya” (HR. Abu Dzar Al-Ghifari)
 
Oleh karena itulah, saat ini juga marilah kita buat sebanyak-banyak orang bahagia dengan kehadiran kita, maka kebahagiaan akan menjadi bagian dari kehidupan kita. Tidak ada keburukan dan tidak ada kesalahan yang tidak berakibat buruk. semuanya berakibat buruk. hanya dengan kebaikan sajalah akibat buruk tersebut akan diubah dan dikubur.
 
Sekali lagi, mulai detik ini juga marilah kita berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan. Kita tidak tahu sebesar apa keburukan yang sudah kita lakukan. Nabi SAW bersabda “ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya.. “HR. At-Tirmidzi
 
Siapapun punya masa lalu, Masa lalu memang jangan menjadi beban, tapi harus menjadi pengalaman dan pelajaran. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjustifikasi siapapun.
 
Sebagai seorang muslim, marilah kita mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kompas dalam kehidupan kita di dunia tempat kita singgah sementara ini. Bila kita tidak mau mengakrabkan diri Dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta tidak mau berpedoman pada keduanya, boleh jadi kita bagaikan berjalan tanpa arah dan tujuan. Atau bahkan berjalan dalam kegelapan tanpa pelita. Jadi. Al-Qur’an dan Hadits. Itulah kompas kita sebagai seorang muslim. Bukan Ilmu Nujum dan bukan pula ajaran dari agama-agama lain.
=============================
karma sesuai perbuatan
Setiap Perbuatan Ada Balasannya
————————————

Adapun dalam Islam, konsep karma vipaka (akibat dari perbuatan) itu ada juga. Dalam ajaran aqidah Islam, semua perbuatan walaupun seberat dzarah (atom) pun akan mendapat balasan.
———————–

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Q.S. Al-Zalzalah [99] :7-8)
————————-

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri (Q.S. Al-Fushilat [41] :46)
——————————

Jika hukum karma yang dimaksud adalah bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya seimbang dengan kualitas baik atau buruknya perbuatan itu, maka YA, dalam Islam ada juga keyakinan mengenai hal itu.
—————————

Dari Sahal bin Sa’ad r.a.,ia berkata, “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasnya, namun kamu pasti akan mati. Berbuatlah semaumu, namun pasti kamu akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, namun pasti kamu akan berpisah.. (H.R. Tirmidzi)
——————————

Setiap Perbuatan Kadang Dibalas Di Dunia Kadang Dibalas Di Akhirat
———————————-

Secara umum dalam konsep aqidah Islam perbuatan manusia di dunia akan mendapat balasan di akhirt. Namun kadang kala sebagian dari balasan itu terjadi di dunia dan sebagian terjadi di akhirat.
————————

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi”  (Q.S. Asy-Syuura [42] :30-31)
——————————

Sebagaimana pepatah : “siapa menebar angin ia akan menuai badai’. Maka musibah di dunia seperti banjir, longsor, global warming, efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozone, adalah akibat dari kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia.
———————–

Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. (Q.S. Ar-Ra’d [13] :31)
————————-

Sebagian dari perbuatan zholim dan kekafiran itu juga akan dibalas oleh Allah di dunia. Sebagai contoh diancam oleh Allah bahwa barang siapa melakukan ekonomi riba, maka ia akan hidup dalam keadaan mabuk kepayang dan hilang keberkahan.
———————–

Orang-orang yang makan (mengambil) riba  tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Q.S. Al-Baqarah [2] :275)

Jelas bahwa efek buruk (hidup seperti orang gila) akibat dari riba yang disebutkan pada ayat di atas terjadi di dunia dan bukan di akhirat. Adapun balasan hukuman di akhirat berbeda lagi. Balasan di akhirat tetap akan ada walaupun sebagian dari siksa itu dirasakan di dunia.

Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (Q.S. Al-Baqarah [2] :275)

Barang Siapa Membuat Kesusahan Akan Mendapat Kesusahan

Sebagian dari konsep timbal balik, take and give, dijelaskan oleh Islam dalam contoh praktis kehidupan sehari-hari.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh berkata, telah memberitakan kepada kami Al Laits bin Sa’d dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Lulu’ah dari Abu Shirmah dari Rasulullah s.a.w, beliau bersabda: “Barangsiapa berbuat kemadlaratan maka Allah akan memberinya madlarat, dan barangsiapa membuat kesusahan pada orang lain maka Allah memberinya kesusahan.” (H.R. Ibnu Majah No. 2333)

Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits di atas hasan.

Dari Abu Shirmah r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa menyengsarakan seorang muslim, Allah akan menyengsarakan dirinya dan barangsiapa menyusahkan seorang muslim, Allah akan menimpakan kesusahan kepadanya.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi) Menurut Tirmidzi hadits ini hasan shahih.

Dari Abu Hurairah r.a.bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Umar r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda : Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. (H.R. Muslim No.4677)

Barangsiapa mengintai-ngintai (menyelidiki) keburukan saudaranya semuslim maka Allah akan mengintai-intai keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah maka Allah akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam (tengah-tengah) rumahnya. (H.R. Ahmad)

Barang Siapa berbuat Zina Akan Mendapat Kesusahan

Kadangkala perbuatan buruk di dunia akan mendapatkan balasan langsung di dunia pula. Diantaranya adalah perbuatan zina yang kita lakukan akan berbuah pada musibah dan kemiskinan. Dalam sebuah hadits dikatakan :

Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya. Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan). Kalau menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah-olah dia ikut melakukannya” (H.R. Ad-Dailami)

Seseorang bisa disempitkan rezekinya, mengalami kebangkrutan usaha atau miskin karena dosa dosa yang dilakukannya. Jika terjadi seperti ini berarti Allah masih menyayanginya karena ia dijewer agar tidak lupa diri dan kembali ke jalan yang benar.

Khusus Perbuatan Pada Orang Tua Dibalas Kontan Di Dunia

Jika perbuatan baik atau buruk lainnya umumnya dibalas nanti di akhirat dan kadang kala jika Allah menghendaki kebaikan bagi orang tsb akan dibalasnya di dunia, namun khusus untuk perbuatan baik atau buruk kepada orang tua akan dibalas langsung di dunia (dan juga tidak menghilangkan balasan di akhirat).

Tiga macam do’a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do’a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)

Apabila orang tua sakit hati atau sedih akibat perbuatan anaknnya, bisa jadi ia akan mendoakan keburukan atau mengutuki anaknya, maka jika Allah mengabulkan doa itu, akan sulitlah hidup anaknya di dunia. Segala urusan menjadi gagal, rezeki sempit dan perdagangan kurang beruntung.

Dari Anas bin Malik r.a. : Dua peruntukan dosa yg Allah cepatkan adzab (siksanya) di dunia yaitu beruntuk zhalim dan al’uquq (durhaka kepada orang tua)” (H.R. Hakim 4/177)

Dari  Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (H.R. Muslim No.4638)

Lihatlah bagaimana perbuatan baik menyambung silaturahmi di dunia ternyata bisa langsung dibalas mendapatkan rezeki di dunia. Ini adalah salah satu dari contoh hukum timbal balik (hukum karma) bagaimana perbuatan baik akan berakibat pada diperolehnya kebaikan di dunia.

Perbuatan Pada Alam Bisa Dibalas Kontan Di Dunia Atau Di Akhirat

Dalam Islam, akibat dari perbuatan buruk manusia tidak hanya kepada manusianya sendiri melainkan juga berdampak pada lingkungan sekitarnya dan alam. Akibat perlakuan yang semena-mena pada alam, maka alam akan rusak. Dan alam yang rusak ini akan berdampak buruk kembali kepada manusia. Sebaliknya jika manusia memperlakukan alam ini dengan baik dan bijak, maka alam akan terpelihara baik. Sehingga kondisi alam yang baik ini pada gilirannya akan membuat manusia hidup nyaman dan sehat.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Ar-Ruum [30] : 41)

Sebagai contoh, jika kita membuang sampah sembarangan ke sungai maka sungai akan rusak dan tersumbat tumpukan sampah. Maka ketika hujan datang, sungai tidak mampu mengalirkan air sehingga terjadilah banjir. Maka manusia akan ditimpa musibah dan kesusahan akibat banjir. Dari sisi ini, hukum karma berlaku bahwa kerusakan alam itu adalah balasan kontan di dunia akibat dari perbuatan buruk manusia kepada alam. Dan dalam hal ini Islam sepakat mengenai hal ini.

Namun Islam menyatakan bahwa perbuatan buruk pada alam, disamping kontan dibalas di dunia (berupa alam yang rusak, binatang punah dll), kadang kala tidak berakibat buruk di dunia namun mendapat hukuman di akhirat. Misalnya menyiksa binatang dengan mengurungnya dan tidak memberi makan hingga mati, maka di dunia dia tidak mengalami apa-apa (kecuali mungkin dimarahi orang mungkin juga tidak) namun di akhirat kelak akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.

Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah. (H.R. Bukhari)

Dan Islam melarang menyiksa binatang secara langsung maupun tidak langsung seperti mengadu binatang (termasuk mengadu ayam, adu kambing, adu jangkrik, adu ikan cupang dll)

Nabi s.a.w. melarang mengadu domba antara hewan-hewan ternak. (HR. Abu Dawud)

Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis. (H.R. Bukhari)

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab berkata; Telah mengkabarkan kepdaku Amru bahwa Abu Bakar bin Sawadah bercerita; bahwa Yazid bin Abi Yazid bercerita kepadanya; dari Ubaid bin Umair dari Aisyah, istri Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bahwasanya ada seorang lelaki yang membaca ayat ini: ‘barang siapa yang berbuat jelek maka ia akan mendapatkan balasan karenanya’ lelaki tersebut berkata; Sesunguhnya kita akan dibalas dengan setiap amal kita, kalau begitu kita akan celaka. Lalu hal tersebut sampai kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka beliau bersabda: “Benar, orang-orang mukmin amal jeleknya akan dibalasa di dunia dengan musibah yang menimpa jasadnya dan membuat dirinya sakit.” (H.R. Ahmad No. 23232)

Jika Meninggalkan Jihad dan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Akan Mendapat Balasan di Dunia

Sebagian dari perbuatan buruk itu ada yang bersifat kolektif dan balasannya pun kolektif. Hal semacam ini adalah menyangkut mendiamkan keburukan dan kezhaliman. Karena kewajiban seorang muslim adalah menjadi umat yang selalu tegak memperingatkan manusia akan bahaya kezhaliman.

Berbeda dengan umat terdahulu dimana para pemuka agama dan pendetanyapun mendiamkan kezhaliman sehingga mereka ditimpa kesesatan, maka Allah menghendaki umat ini menjadi umat pertangahan dan saksi atas perbuatan manusia, Sehingga umat Islam selalu diminta untuk melakukan amar ma’ruf (mengajak kepada yang ma’ruf) dan nahi mungkar (mencegah pada kemungkaran).

Salah satu bentuk dari nahi mungkar itu bilamana perlu adalah dengan tangan dan jihad. Jika umat Islam telah mencintai kehidupan dunia dan takut mati, sehingga meninggalkan jihad maka balasan karma nya akan diterima di dunia berupa kehinaan dan dicabutnya rasa takut musuh-musuh Islam, sehingga Allah takdirkan musuh-musuh Islam menguasai dan mencabik-cabik umat Islam.

Suatu kaum yang meninggalkan perjuangan akan Allah timpakan kepada mereka azab. (HR. Ath-Thabrani)

Ada situasi Dimana Seolah Hukum Timbal Balik Tidak Berlaku

Berbeda dengan hukum karma yang menyiratkan bahwa yang namanya “hukum”  itu pasti berlaku dan rumus timbal balik itu pasti terjadi. Sedangkan dalam pandangan Islam, kadang kala, sebuah perbuatan baik belum tentu mendapat balasannya berupa perbuatan baik pula. Bahkan kadang kita berbuat baik malah mendapat kesusahan. Sebaliknya orang yang berbuat jahat malah mendapatkan limpahan kebaikan dari manusia.

Situasi-situasi dimana hukum timbal balik seolah tidak terjadi adalah sebagai berikut :

1. Situasi Istidraj

Situasi istidraj ialah Allah menunda dan mengulur waktu berlakunya adzab di dunia, bahkan mungkin sama sekali tidak mendapat adzab di dunia. Tidak hanya itu, semakin bertambah kezhalimannya semakin bertambah kemaksiatannya malah semakin ditambah pula kesenangan nya di dunia, justru semakin dibukakan kesuksesan dan kenikmatan di dunia.

Dan orang-orang yang mendustakan ayat kami, maka kami akan menarik mereka (sanastadri-juhum), secara berangsur angsur (ke arah kebinasaan)  dengan cara yang mereka tidak ketahui” (Q.S. Al-A’raaf [7] : 182)

Add-Dhohhak’ berkata bahwa “Setiap kali mereka menambah/membuat/membaharui maksiat yg baru maka setiap itu lah Allah membaharui / menambah / membuat nikmat ke atas mereka”.

Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (H.R. Muslim No.4680)

Maka dalam situasi seperti ini seolah-oleh hukum timbal balik itu tidak berlaku. Orang jahat kok malah semakin berjaya dan sukses. Padahal bukanlah hukum ini tidak berlalu melainkan balasan atas kejahatan mereka ditunda dan dibalas nanti di akhirat. Orang akan berkata kok enak? Sesungguhnya adzab di neraka itu jauh lebih pedih daripada di dunia.

Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Fushilat [41] : 40)

Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui (Q.S. At-Taubah [9] : 81)

2. Amal Kebaikan Untuk Menambal Perbuatan Buruk di Masa Lalu

Ada situasi lain dimana hukum timbal balik ini seolah-olah tidak berlaku. Yaitu ketika kita berbuat baik namun perbuatan baik ini tidak mendatangkan balasan kebaikan apa-apa. Karena amal kebaikan ini dihabiskan untuk menambal nilai minus akibat perbuatan buruk di masa lalu.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk (Q.S. Huud [11] : 114)

Jadi sebenarnya bukannya timbal balik tidak terjadi melainkan timbal baliknya tidak berupa peristiwa atau kejadian melainkan berupa pahala plus yang menutupi dosa minus. Tentu ini bukannya rugi atau tidak mengenakkan, justru ini termasuk balasan yang besar. Dan ini termasuk katagori balasan di akhirat. Karena pada yaumul hisab nanti (hari ditimbangnya amal baik dan buruk) nilai amal baik kita akan lebih berat dari amal buruk. Dan sebagai timbal baliknya adalah surga.

Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?  berbakti (Q.S. Al-An’aam [6] : 32)

3. Allah Menghendaki Terhindar Dari Dunia

Terkadang pula kita jumpai orang-orang yang seumur hidupnya berbuat baik dan beramal sholeh,  namun miskin terus menerus. Situasi ini seolah-oleh menunjukkan hukum timbal balik tidak berlaku. Padahal bisa jadi Allah justru teramat sayang pada dia sehingga menghindarkan dia dari dunia karena Allah tahu jika dibukakan dunia dan segala kenikmatannya orang ini akan tidak kuat dan bisa menjadi lalai.

Sesungguhnya Allah melindungi hambaNya yang mukmin dari godaan dunia dan Allah juga menyayanginya sebagaimana kamu melindungi orangmu yang sakit dan mencegahnya dari makanan serta minuman yang kamu takuti akan mengganggu kesehatannya. (H.R. Al-Hakim dan Ahmad)

Dalam situasi ini pun seolah hukum timbal balik tidak berlaku. Sudah beramal sebanyak-banyaknya dan sudah berdoa tanpa putus asa namun tetap saja nasib tidak berubah. Maka jangan lah menganggap semua amal dan doa itu sia-sia tanpa balasan, melainkan sesungguhnya yang terjadi adalah balasan itu dikumpulkan nanti di akhirat.

Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (Q.S. Ali Imran [3] : 198)

Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa (Q.S. An Nisaa’ [4] : 77)

4. Di Dunia Sebagai Ujian Sedangkan Balasannya di Akhirat

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Q.S. Ali Imran [3] : 186)

Dengan ujian ini Allah menyisihkan orang yang munafik dari orang yang beriman, emas sepuhan dari emas murni dan loyang dari besi.

“Allah Sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, hingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mu’min)…” (Q.S. Ali Imran [3] : 179)

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (Q.S. Al-Ankabut  [29] : 3)

Maka kasus seperti ini juga bukan tidak dibalas atau tidak berlaku hukum timbal balik. Sesungguhnya ini termasuk situasi dimana perbuatan baik itu dibalas di akhirat nanti. Dan ini bukan sebuah kerugian karena selama di dunia selalu mendapat ujian, melainkan balasan di akhirat itu lebih baik dan lebih kekal sehingga tidak ada bandingannya jika dibandingkan dengan kenikmatan di dunia.

Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (Q.S. Yusuf [12] : 57)

 

Dalam Islam Hukum Timbal Balik Tidak Selalu Seimbang

Berbeda dengan hukum karma dalam Hindu Budha, di dalam aqidah Islam dikatakan bahwa perbuatan baik akan mendapat balasan berkali lipat sedangkan perbuatan jahat akan mendapat balasan seimbang dengan kejahatannya.

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya (Q.S. Al-An’aam [6] :160)

 

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa dalam aqidah Islam uga terdapat keyakinan bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya, jika ini diartikan sebagai hukum karma maka hal ini juga terdapat dalam Islam.

Jika hukum karma itu bermakna perbuatan baik pada orang lain akan mendapat balasan yaitu orang lain pun akan berbuat baik pula pada kita, Islam bisa setuju bisa tidak. Karena timbal balik ini bisa terjadi bisa juga tidak. Balasan itu kadang terjadi di dunia kadang terjadi di akhirat. Beberapa hal balasannya kontan di dunia sedangkan hal lainnya sebagian dibalas di dunia dan sebagian di akhirat.

wallahua’lam

berbagai sumber

Umat Islam harus “GHONIY”, ini yang benar…… Tapi, kalau “umat ISLAM harus kaya”, = ini hanya TIPU daya SYETAN yang sangat halus dan mengGELINCIRkan —————————— makna “ghinaa” dan “ghoniyyun” bukan kaya sebagaimana dimengerti dalam bahasa Indonesia. Makna yang lebih tepat adalah MANDIRI, TIDAK menjadi BEBAN dan kerepotan orang lain, merdeka. ————————————— Orang yang “ghoniy” bisa jadi tidak berharta banyak, tapi ia tidak membebani siapa pun bahkan bisa berkontribusi untuk orang lain. Sebaliknya, ada orang berharta banyak namun sebenarnya tidak “ghoniy”, sehingga pelit dan tidak memiliki sumbangsih bagi umat. ——————————- Istilah “ghoniyyun” (غَنِيٌّ) atau “ghinaa” (غِنَى) biasanya diterjemahkan “kaya”. Terjemah ini tidak persis tepat, karena “kaya” dalam bahasa Indonesia berarti mempunyai banyak harta, sementara dalam Bahasa Arab berbeda. ——————————– Makna asli “ghoniyyun” atau “ghina” adalah cukup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan kepada selainnya. Ini sebetulnya lebih bersifat psikis atau sikap mental, bukan fenomena fisik-material. Wanita yang sangat cantik disebut “ghoniyah” (غانية), karena sudah cukup dengan dirinya dan tidak memerlukan perhiasan. Suara nyanyian yang sangat merdu disebut “ghinaa’” (غناء), karena sudah cukup dengan dirinya dan tidak butuh apa-apa lagi untuk memperindahnya. ———————————– Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051) —————————- “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) ===== “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas; karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Qs al-‘Alaq: 6-7) ————————- “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53) “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu/HIDUP berMEWAHan)” (Qs. At Takatsur: 8). ……………………..…… ﴾ At Takaatsur:1 ﴿ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, …………… ﴾ At Takaatsur:2 ﴿ sampai kamu masuk ke dalam kubur…….. ﴾ At Takaatsur:3 ﴿ Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),……………… ﴾ At Takaatsur:4 ﴿ dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui……………. ﴾ At Takaatsur:5 ﴿ Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,…………….. ﴾ At Takaatsur:6 ﴿ niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,…………………. ﴾ At Takaatsur:7 ﴿ dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin……………….. ﴾ At Takaatsur:8 ﴿ kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)………………………

tangan harta 2

Umat Islam harus “GHONIY”, ini  yang benar…… Tapi, kalau “umat ISLAM harus kaya”, = ini hanya TIPU daya SYETAN yang sangat halus dan mengGELINCIRkan
——————————

makna “ghinaa” dan “ghoniyyun” bukan kaya sebagaimana dimengerti dalam bahasa Indonesia. Makna yang lebih tepat adalah MANDIRI, TIDAK menjadi BEBAN dan kerepotan orang lain, merdeka.
—————————————

Orang yang “ghoniy” bisa jadi tidak berharta banyak, tapi ia tidak membebani siapa pun bahkan bisa berkontribusi untuk orang lain. Sebaliknya, ada orang berharta banyak namun sebenarnya tidak “ghoniy”, sehingga pelit dan tidak memiliki sumbangsih bagi umat.

——————————-

Istilah “ghoniyyun” (غَنِيٌّ) atau “ghinaa” (غِنَى) biasanya diterjemahkan “kaya”. Terjemah ini tidak persis tepat, karena “kaya” dalam bahasa Indonesia berarti mempunyai banyak harta, sementara dalam Bahasa Arab berbeda.
——————————–

Makna asli “ghoniyyun” atau “ghina” adalah cukup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan kepada selainnya. Ini sebetulnya lebih bersifat psikis atau sikap mental, bukan fenomena fisik-material. Wanita yang sangat cantik disebut “ghoniyah” (غانية), karena sudah cukup dengan dirinya dan tidak memerlukan perhiasan. Suara nyanyian yang sangat merdu disebut “ghinaa’” (غناء), karena sudah cukup dengan dirinya dan tidak butuh apa-apa lagi untuk memperindahnya.
———————————–

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup. (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

—————————-
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
=====

Alhasil, makna “ghinaa” dan “ghoniyyun” bukan kaya sebagaimana dimengerti dalam bahasa Indonesia. Makna yang lebih tepat adalah mandiri, tidak menjadi beban dan kerepotan orang lain, merdeka.

Orang yang “ghoniy” bisa jadi tidak berharta banyak, tapi ia tidak membebani siapa pun bahkan bisa berkontribusi untuk orang lain. Sebaliknya, ada orang berharta banyak namun sebenarnya tidak “ghoniy”, sehingga pelit dan tidak memiliki sumbangsih bagi umat.

Maka, di antara nama-nama Allah adalah “al-ghoniyyu” (الغني), yakni Dzat yang mandiri, cukup dengan diri-Nya, tidak butuh kepada selain-Nya. Bahkan, Dia bisa mencukupi yang lain. Sebaliknya, ketika manusia “merasa tidak butuh kepada Allah”, ia menjadi tercela. Perasaan ini akan mengantarkannya kepada tindakan-tindakan liar, tak terkendali, melampaui batas kewajaran.

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ . أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

Artinya: “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas; karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Qs al-‘Alaq: 6-7)
————————-
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu/HIDUP berMEWAHan)” (Qs. At Takatsur: 8).
……………………..……
﴾ At Takaatsur:1 ﴿
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, ……………
﴾ At Takaatsur:2 ﴿
sampai kamu masuk ke dalam kubur……..
﴾ At Takaatsur:3 ﴿
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),………………
﴾ At Takaatsur:4 ﴿
dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui…………….
﴾ At Takaatsur:5 ﴿
Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,……………..
﴾ At Takaatsur:6 ﴿
niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,………………….
﴾ At Takaatsur:7 ﴿
dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin………………..
﴾ At Takaatsur:8 ﴿
kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)………………………

Dalam surah ‘Abasa: 5, istilah serupa juga digunakan dan merujuk kepada sikap sombong, tidak membutuhkan hidayah, atau merasa sudah benar. Meski banyaknya harta juga bisa berkontribusi pada munculnya sikap tertipu (ghurur) tsb, namun kata ini — dalam ayat-ayat ini — sesungguhnya lebih menunjuk kepada sikap mental ketika berhadapan dengan bimbingan agama.

maksiat lancar rejeki lancar

Untuk itu pula, ketika Rasulullah dan para ulama memperingatkan kita dari bahaya “al-maal” (المال), titik tekannya ada pada potensi ketertipuan itu, bukan pada manfaat harta yang sudah dimaklumi. Sebenarnya, jiwa kita memang teramat rapuh ketika berhadapan dengan pesona harta, wanita, dan tahta.

Lawan dari “ghoniy” adalah “faqir” (فقير), artinya membutuhkan. Oleh karena itu, dalam Al-Quran dinyatakan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Artinya: “Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Qs Fathir: 15)

Kekayaan berupa banyaknya harta memang bisa menjadikan seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri. Namun, banyaknya harta yang diiringi ketamakan, sebenarnya adalah hakikat kefakiran itu sendiri.

Faktanya, harta itu tidak bisa menutupi rasa butuhnya yang terus menganga, tidak terpuaskan, sehingga terus-menerus mengejar tambahan. Demikianlah, karena makna dasar “faqir” sesungguhnya adalah “adanya celah terbuka yang membutuhkan penambal”.

Maka, jangan meminta dan berharap menjadi “orang kaya”, sebab ini hanya tampilan fisik-material. Jadilah “ghoniyyun“, orang-orang mandiri, bisa mencukupi diri sendiri, tidak menjadi beban orang lain, dan bahkan berkontribusi untuk umat. Betapa banyak orang kaya, tapi hatinya faqir, tidak ghoniy. Ia terus-menerus haus dan tidak kunjung puas. Jiwanya dikepung hasrat tak terperi, sementara tubuhnya lelah mengejar angan-angan kosong. Tangannya rapat menggenggam, tidak mau berinfak, sebab hatinya masih merasa kurang.

Umat Islam harus “ghoniy”, ini ucapan yang benar. Tapi, kalau “umat Islam harus kaya”, ini hanya tipu daya syetan yang sangat halus dan menggelincirkan; apalagi jika “istaghna”, merasa tidak butuh kepada Allah dan cukup dengan kekuatannya sendiri. Na’udzu billah. Wallahu a’lam.
———————————

Abu Dzar radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya,

يَا أَبَا ذَر، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : أَفَتَرَى قِلَّةِ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قال : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang banyaknya harta merupakan kekayaan?”. Aku (Abu Dzar) berkata : “Iya Rasulullah”. Rasulullah berkata : “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta merupakan kemiskinan?”, Aku (Abu Dzar ) berkata, “Benar Rasulullah”. Rasulullahpun berkata : “Sesungguhnya kekayaan (yang hakiki-pen) adalah kayanya hati, dan kemisikinan (yang hakiki-pen) adalah miskinnya hati” (HR Ibnu Hibbaan dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih At-Targiib wa At-Tarhiib no 827)

==========================
Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.

Saudaraku … milikilah sifat qona’ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

================================
kaya duniaDari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW:
“Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.
.
Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.
.
Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.
Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.
Ciri utama harta berkahAda beberapa ciri yang menunjukan keberkahan harta

a. Menambah ketakwaan.

Firman Allah dalam Surat Almaidah ayat 100, “Tidak sama yang buruk (harta yang haram) dengan yang baik (harta halal), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam ayat ini, setelah Allah menegaskan pentingnya kwalitas harta halal, Alalah Yang Maha Kaya lalu memerintahkan, untuk bertakwa, suatu indikasi bahwa tidak mungkin harta haram akan membantu mencapai ketakwaan. Semakin banyak rezeki diperoleh seseorang semakin ia tunduk kepada Allah. Tidak merasa sombong sebagaimana dilakukan Far’aun dan Qarun yang keduanya melakukan pembangkangan terhadap Allah dengan menganggap diri mereka Tuhan dan mendapatkan kekayaan atas jerih keringat sendiri tanpa bantuan Allah. Sebagai jawaban atas kedurhakaan itu, keduanya Allah musnahkan. Firaun dengn memiliki bala tentara yang banyak, harta yang melimpah, istana megah akhirnya dibenamkan kedalam luat merah bersama dengan armadanya. Sangat mudah bagi Allah hanya dengan membelah lautan.

Adakalanya kita temukan seseorang yang melimpah harta tetapi tetap rajin datang shalat berjamaah, pandangannya tunduk kepada orang lain tanpa ada terlihat kesombongan. Kesehariannya sederhana jauh dari keborosan. Kendaraannya digunakan di jalan Allah, anak-anaknya beriman dan menjaga auratnya. Setiap waktunya zakatnya dikeluarkan dengan memberikan kepada fakir miskin, orang tidak mampu dengan memberdayakan mereka sehingga lebih mandiri. Menyantuni anak yatim dan membela hak-hak orang lemah.

b. Memberikan rasa aman

Dalam surat Ibrahim ayat 24-26, Allah mengumpamakan setiap kebaikan (kalimatun tayyibah) termasuk di dalamnya harta halal dengan sebuah pohon yang kokoh, akarnya menghujam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya setiap saat. Sebaliknya setiap keburukan (kalimatun khabitsah) termasuk harta haram, akan menjadi seperti pohon yang goyah, akarnya hanya melingkar dipermukaan bumi, tidak berbuah serta tidak memberikan rasa aman bagi siapa saja yang berteduh dibawahnya.

c. Mengantarkan kapada amal shaleh

“Hai para rasul, makanlah yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal yang saleh,” (QS, 23:51). Perhatikan hubungan harta halal dengan amal saleh.

d. Mendorong untuk bersyukur

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah. Di sini tergambar bahwa hanya harta halal yang bisa membuat seorang hamba pandai bersyukur.

Ibnu Hajar menulis bahwa terkadang suatu kehancuran terjadi pada hartanya, terkadang juga menimpa pemiliknya, dan terkadang pemiliknya dijauhkan dari amal shalih. Sebaliknya, barangsiapa menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka hartanya akan diberkahi. Bahkan dalam sebuah hadits lain disebutkan barangsiapa menyedekahkan hartanya dengan baik, maka Allah SWT akan menjaga harta yang ditinggalkannya bahkan setelah kematiannya, ahli warisnya tidak merusak hartanya dan tidak membelanjakan hartanya untuk hal yang sia-sia.

Apabila harta tidak disedekahkan, pada umumnya harta itu akan mendatangkan akibat buruk kepada anak-anaknya setelah ia meninggal dunia. Bahkan sekiranya hak orang lain tersebut tidak kita keluarkan? Maka Allah akan merampas dengan cara yang tidak kita sangka dan tidak kita sukai. Bagaimana Caranya? Mari kita tanya diri kita masing-masing. Pernahkah kita mengalami peristiwa kehilangan barang berharga, atau barang kita rusak secara tidak wajar, atau kita terpaksa mengeluarkan biaya karena suatu peristiwa yang tidak kita duga? Jika pernah, coba tanyakan lagi pada diri kita masing-masing, sudahkah kita keluarkan harta yang bukan menjadi hak kita tersebut? Wallahu alam bishawwab.