PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK yg tersebar di masyarakat sebelum KIAMAT/ MALAPETAKA BESAR bagi semua penduduk BUMI -------------------- “Tidak akan terjadi hari KIAMAT sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang MUSYRIK dan sampai mereka MENYEMBAH “berhala” (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)” Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952. --------------------- “Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu? Mana buktinya?”. ------------------------- Tapi kalau sumber beritanya berasal dari firman Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân, masihkah ada yang meragukan kebenarannya?. Simaklah, Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ ” Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [Yûsuf/12:106] ----------------- Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman: وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ “Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya” [Yûsuf/12:103] ------------------------------- Ketauhidan manusia pada zaman Rasulullah SAW tidaklah sama dengan ketauhidan manusia di zaman sekarang. Ketauhidan manusia pada zaman sekarang sudah banyak yang melenceng dari syariat agama islam, kurang mendalami ilmu agama dan otomatis keimanannya juga lemah. Berbeda dengan zaman Rasulullah SAW, pada zaman Rasulullah SAW ketauhidan manusia pada saat itu masih asli, masih bagus, dan bersifat praktikal, sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Ketika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan lansung kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan dengan kita yang hidup pada zaman sekarang, apakah kita bisa bertanya lansung kepada rasulullah SAW ketika ada masalah. Hal itu tidak mungkin karena Rasulullah telah wafat , namun kita bisa mengamalkan sunah rasul dan Al-qur’annul karim sebagai pedoman hidup manusia, ------------------------ Salah satu bentuk penyimpangan terhadap ketauhidan manusia terhadap sang pencipta ialah syirik. Kenapa saya memilih syirik dalam makalah observasi lapangan ini. Karena perbuatan syirik merupakan dosa terbesar dalam agama islam. Dewasa ini perbuatan syirik atau menyekutukan Allah ini seperti perbuatan biasa dan seperti perbuatan yang lumrah bagi manusia pada masa sekarang, ini terbukti dengan masih adanya budaya sesajen, pesugihan, meminta keberuntungan kekuburan, meminta kekayaan kegunung kawi dan masih banyak lagi. Dalam pandangan islam ini bukan merupakan hal sepele dan sangat fatal dampaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT ----------- ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Anisa : 48) ---------------- <<< Pernyataan ayat diatas sangat mengancam manusia untuk meninggalkan perbuatan syirik itu. ---------- Surat Al A'raf ayat 172 menjelaskan bahwa setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia, oleh Allah SWT sudah dimintai kesaksian tentang ketuhanan Allah SWT dengan pertanyaan, ---------- ''Bukankah Aku ini Tuhanmu?'' Setiap janin yang hendak menjadi manusia ini pun menjawab, ''Tentu saja kami menjadi saksi.'' Untuk apa Allah SWT meminta kesaksian seperti itu? Agar kelak di hari kiamat tidak ada orang (yang menyembah selain Allah SWT) berargumen bahwa mereka tidak tahu tentang ketuhanan dan keesaan Allah SWT.----------- Dalam sebuah hadits riwayat Al Hakim, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap bayi yang terlahir --dari dua orang tua Muslim maupun kafir-- itu berada dalam kondisi Muslim. Hanya apakah si anak itu tetap sebagai Muslim atau berubah menjadi musyrik atau kafir, itu tergantung agama yang diajarkan kedua orang tuanya. ------------------ <<< Setiap orang tua Muslim memiliki tugas utama dan pertama untuk menjaga akidah diri dan anak keturunannya istiqamah pada akidah yang mengesakan Allah SWT. Saat ini, tugas tersebut menjadi bertambah wajib untuk ditunaikan, karena semakin banyak pihak yang berkeinginan untuk menyeret kaum Muslim pindah agama dan keyakinan. --------- <<< Gerakan pemurtadan yang dilakukan dengan iming-iming yang menggiurkan adalah salah satu aktivitas yang terus menggoda akidah umat Islam. Selain itu juga ada paham pluralisme agama yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran Islam. Semua agama dianggap sama.--------- Sahabat Ismail bin Umayah pernah meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Beliau memberinya nasihat singkat dengan mengingatkan, ''Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah SWT dengan sesuatupun, meski kamu harus menerima risiko kematian dengan cara dibakar hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah dua. '' (HR Ibnu Majah).------------- Nasihat Rasulullah SAW itu tentu terkait dengan peringatan Allah SWT bahwa dosa syirik akan menghanguskan segala kebajikan dan merupakan dosa tak terampuni. Allah SWT berfirman, ''Jika kamu mempersekutukan Allah SWT niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'' (QS Az Zumar:65). Di ayat yang lain Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'' (QS An Nisa 48). Semua keterangan tersebut terkait dengan syirik kufur, yakni orang yang menyembah kepada selain Allah SWT. -------------------- ---------------Tauhid adalah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada juga definisi yang lain, yaitu konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah (tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (diabdi/disembah) selain Allah. Orang yang bertauhid disebut orang yang beriman (orang mukmin). Lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik menurut bahasa artinya bersekutu atau berserikat. Sedangkan syirik menurut istilah artinya menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam Zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, maupun dalam ketaatan yang seharusnya ditujukan hanya untuk Allah semata. Dan orang yang berbuat syirik disebut orang musyrik (ada dua golongan). Sudah menjadi Sunnatullah bahwa pertentangan antara tauhid vs syirik atau orang mukmin vs orang musyrik akan selalu ada di segala zaman. -------- Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka mentaati 3 (tiga) prinsip ajaran tauhid sebagai berikut: Beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah-- • Meninggalkan perbuatan syirik---- • Menjauhi thaghut-------- Hal tersebut sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:------- Ibadatilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun... (QS. An-Nisa: 36)------- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadati..." (QS. Az-Zumar: 65-66)------ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Ibadatilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut."... (QS. An-Nahl: 36)----- Perbuatan syirik merupakan kezaliman yang besar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:-- Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)------------ Ada 3 (tiga) sebab munculnya perilaku syirik, yaitu sebagai berikut:--- Al jahlu (kebodohan) ---- • Dhai’ful iman (lemahnya iman) ---- • Taqlid (ikut-ikutan secara membabi-buta)--------- Barangsiapa yang berbuat syirik maka hapuslah pahala segala amal perbuatannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:--- Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)----- ...Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'am: 88)--- Barangsiapa yang berbuat syirik maka dia telah berbuat dosa yang besar dan dosanya itu tidak akan diampuni, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:-------- Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa: 48)------------ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa: 116)---------- Barangsiapa yang berbuat syirik maka Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya adalah neraka, berdasarkan firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:---------- ...Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim (musyrik) itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)--------- Orang-orang beriman tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun anggota keluarga sendiri, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:------- Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)------- Orang-orang musyrik itu halal darah dan hartanya, bahkan Allah memerintahkan untuk membunuh mereka di mana saja menjumpai mereka, kecuali mereka bertaubat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:--- ...bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan... (QS. At-Taubah: 5)--------- Demikian juga Nabi Musa 'alaihis salam dulu memerintahkan kaumnya agar membunuh orang-orang musyrik di antara mereka yang terlibat penyembahan patung anak lembu yang terbuat dari emas, akan tetapi dibunuhnya mereka dalam hal ini justru sebagai bentuk taubat mereka kepada Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada sang Pencipta yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi sang Pencipta yang menjadikan kamu; maka Dia akan menerima taubatmu... (QS. Al-Baqarah: 54)---------- Khusus para pelaku syirik dari golongan Yahudi dan Nasrani, Allah menamakan mereka ahli kitab (bukan orang musyrik) dan memerintahkan untuk memerangi mereka sampai mereka membayar jizyah, yaitu pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:---------- Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)--------

40 syirk 1

PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK yg tersebar di masyarakat sebelum KIAMAT/ MALAPETAKA BESAR bagi semua penduduk BUMI

--------------------
“Tidak akan terjadi hari KIAMAT sampai beberapa qabilah (suku/kelompok) dari umatku bergabung dengan orang-orang MUSYRIK dan sampai mereka MENYEMBAH “berhala” (segala sesuatu yang disembah selain Allâh)”
Hadits shahih riwayat Abu Dâwud no. 4252, at-Tirmidzi no. 2219 dan Ibnu Mâjah no. 3952.
---------------------
“Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu? Mana buktinya?”.
-------------------------

Tapi kalau sumber beritanya berasal dari firman Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân, masihkah ada yang meragukan kebenarannya?. Simaklah, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [Yûsuf/12:106] -----------------

Semakna dengan ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya” [Yûsuf/12:103]
-------------------------------
Ketauhidan manusia pada zaman Rasulullah SAW tidaklah sama dengan ketauhidan manusia di zaman sekarang. Ketauhidan manusia pada zaman sekarang sudah banyak yang melenceng dari syariat agama islam, kurang mendalami ilmu agama dan otomatis keimanannya juga lemah. Berbeda dengan zaman Rasulullah SAW, pada zaman Rasulullah SAW ketauhidan manusia pada saat itu masih asli, masih bagus, dan bersifat praktikal, sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang menyesatkan. Ketika ada yang kurang jelas bisa ditanyakan lansung kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan dengan kita yang hidup pada zaman sekarang, apakah kita bisa bertanya lansung kepada rasulullah SAW ketika ada masalah. Hal itu tidak mungkin karena Rasulullah telah wafat , namun kita bisa mengamalkan sunah rasul dan Al-qur’annul karim sebagai pedoman hidup manusia,

------------------------

Salah satu bentuk penyimpangan terhadap ketauhidan manusia terhadap sang pencipta ialah syirik. Kenapa saya memilih syirik dalam makalah observasi lapangan ini. Karena perbuatan syirik merupakan dosa terbesar dalam agama islam. Dewasa ini perbuatan syirik atau menyekutukan Allah ini seperti perbuatan biasa dan seperti perbuatan yang lumrah bagi manusia pada masa sekarang, ini terbukti dengan masih adanya budaya sesajen, pesugihan, meminta keberuntungan kekuburan, meminta kekayaan kegunung kawi dan masih banyak lagi. Dalam pandangan islam ini bukan merupakan hal sepele dan sangat fatal dampaknya. Sesuai dengan firman Allah SWT -----------

''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Anisa : 48)
----------------

<<< Pernyataan ayat diatas sangat mengancam manusia untuk meninggalkan perbuatan syirik itu.

----------

Surat Al A'raf ayat 172 menjelaskan bahwa setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia, oleh Allah SWT sudah dimintai kesaksian tentang ketuhanan Allah SWT dengan pertanyaan,  ----------

''Bukankah Aku ini Tuhanmu?'' Setiap janin yang hendak  menjadi manusia ini pun menjawab, ''Tentu saja kami menjadi saksi.'' Untuk apa Allah SWT meminta kesaksian seperti itu? Agar kelak di hari kiamat tidak ada orang (yang menyembah selain Allah SWT) berargumen bahwa mereka tidak tahu tentang ketuhanan dan keesaan Allah SWT.-----------

Dalam sebuah hadits riwayat Al Hakim, Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap bayi yang terlahir --dari dua orang tua Muslim maupun kafir-- itu berada dalam kondisi Muslim. Hanya apakah si anak itu tetap sebagai Muslim atau berubah menjadi musyrik atau kafir, itu tergantung agama yang diajarkan kedua orang tuanya.
------------------

<<< Setiap orang tua Muslim memiliki tugas utama dan pertama untuk menjaga akidah diri dan anak keturunannya istiqamah pada akidah yang mengesakan Allah SWT. Saat ini, tugas tersebut menjadi bertambah wajib untuk ditunaikan, karena semakin banyak pihak yang berkeinginan untuk menyeret kaum Muslim pindah agama dan keyakinan.
---------

<<< Gerakan pemurtadan yang dilakukan dengan iming-iming yang menggiurkan adalah salah satu aktivitas yang terus menggoda akidah umat Islam. Selain itu juga ada paham pluralisme agama yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran Islam. Semua agama dianggap sama.---------

Sahabat Ismail bin Umayah pernah meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Beliau memberinya nasihat singkat dengan mengingatkan, ''Janganlah kamu menjadi manusia musyrik, menyekutukan Allah SWT dengan sesuatupun, meski kamu harus menerima risiko kematian dengan cara dibakar hidup-hidup atau tubuh kamu dibelah dua. '' (HR Ibnu Majah).-------------

Nasihat Rasulullah SAW itu tentu terkait dengan peringatan Allah SWT bahwa dosa syirik akan menghanguskan segala kebajikan dan merupakan dosa tak terampuni. Allah SWT berfirman, ''Jika kamu mempersekutukan Allah SWT niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'' (QS Az Zumar:65). Di ayat yang lain Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.'' (QS An Nisa 48). Semua keterangan tersebut terkait dengan syirik kufur, yakni orang yang menyembah kepada selain Allah SWT.

--------------------

---------------Tauhid adalah kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada juga definisi yang lain, yaitu konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah (tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (diabdi/disembah) selain Allah. Orang yang bertauhid disebut orang yang beriman (orang mukmin). Lawan dari tauhid adalah syirik. Syirik menurut bahasa artinya bersekutu atau berserikat. Sedangkan syirik menurut istilah artinya menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam Zat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, maupun dalam ketaatan yang seharusnya ditujukan hanya untuk Allah semata. Dan orang yang berbuat syirik disebut orang musyrik (ada dua golongan). Sudah menjadi Sunnatullah bahwa pertentangan antara tauhid vs syirik atau orang mukmin vs orang musyrik akan selalu ada di segala zaman. --------

Semua rasul dari Nabi Adam 'alaihis salam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah dengan misi yang sama yaitu menyeru umatnya agar mereka mentaati 3 (tiga) prinsip ajaran tauhid sebagai berikut:

  • Beribadah (menyembah/mengabdi) kepada Allah--
    • Meninggalkan perbuatan syirik----
    • Menjauhi thaghut--------

Hal tersebut sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:-------

Ibadatilah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun... (QS. An-Nisa: 36)-------

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadati..." (QS. Az-Zumar: 65-66)------

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Ibadatilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut."... (QS. An-Nahl: 36)-----

Perbuatan syirik merupakan kezaliman yang besar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:--

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)------------

Ada 3 (tiga) sebab munculnya perilaku syirik, yaitu sebagai berikut:---

  • Al jahlu (kebodohan) ----
    • Dhai’ful iman (lemahnya iman) ----
    • Taqlid (ikut-ikutan secara membabi-buta)---------

Barangsiapa yang berbuat syirik maka hapuslah pahala segala amal perbuatannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:---

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)-----

...Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'am: 88)---

Barangsiapa yang berbuat syirik maka dia telah berbuat dosa yang besar dan dosanya itu tidak akan diampuni, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:--------

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa: 48)------------

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa: 116)----------

Barangsiapa yang berbuat syirik maka Allah mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya adalah neraka, berdasarkan firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:----------

...Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim (musyrik) itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah: 72)---------

Orang-orang beriman tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun anggota keluarga sendiri, berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:-------

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (QS. At-Taubah: 113)-------

Orang-orang musyrik itu halal darah dan hartanya, bahkan Allah memerintahkan untuk membunuh mereka di mana saja menjumpai mereka, kecuali mereka bertaubat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:---

...bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan... (QS. At-Taubah: 5)---------

Demikian juga Nabi Musa 'alaihis salam dulu memerintahkan kaumnya agar membunuh orang-orang musyrik di antara mereka yang terlibat penyembahan patung anak lembu yang terbuat dari emas, akan tetapi dibunuhnya mereka dalam hal ini justru sebagai bentuk taubat mereka kepada Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada sang Pencipta yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi sang Pencipta yang menjadikan kamu; maka Dia akan menerima taubatmu... (QS. Al-Baqarah: 54)----------

Khusus para pelaku syirik dari golongan Yahudi dan Nasrani, Allah menamakan mereka ahli kitab (bukan orang musyrik) dan memerintahkan untuk memerangi mereka sampai mereka membayar jizyah, yaitu pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:----------

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)--------

contoh syrik t

Berikut 40 (empat puluh) contoh perbuatan syirik berdasarkan keterangan dari Al Quran dan As Sunnah. Jumlah 40 ini tidak bermaksud membatasi, tetapi hanya sekedar memberikan contoh saja, yaitu sebagai berikut:

  1. Sembahyang kepada makhluk tak bernyawa

Apakah makhluk itu murni disembah/dipuja atau hanya sebagai simbol bagi rabb/ilah (tuhan) selain Allah, umpamanya menyembah/memuja patung, kuburan, pohon, batu, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain. Penyembahan/pemujaan terhadap makhluk-makhluk tersebut adalah perbuatan syirik akbar* karena telah mengada-adakan dan mengibadati ilah selain Allah, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS. Al-Anbiya: 52)

Mereka (Bani Israel) menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu (emas) ini, hingga Musa kembali kepada kami." (QS. Thaha: 91)

Aku (burung Hudhud) mendapati dia (Ratu Balqis) dan kaumnya sujud kepada matahari, tidak kepada Allah;... (QS. An-Naml: 24)

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. (QS. Al-A'raf: 191)

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, (QS. An-Nisa: 117)

  1. Mengaku sebagai Allah atau rabb/ilah (tuhan) selain Allah

Arbab adalah bentuk jamak dari rabb yang berarti pengatur atau yang mengatur. Jadi, Rabb (Allah) adalah Zat Yang mengatur atau Yang menentukan hukum. Sedangkan alihah merupakan bentuk jamak dari ilah yang berarti segala sesuatu yang diabdi, ditaati, atau disembah. Ilah bisa berupa manusia, barang, kesenangan atau hal-hal yang mendatangkan kesenangan maupun ketenangan. Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah(tiada ilah selain Allah) artinya secara esoterik maupun aplikatif adalah tiada sesuatupun yang diikuti aturannya, dijauhi larangannya atau diibadati (disembah/diabdi) selain Allah dengan kepengaturan-Nya/ajaran-Nya sebagai Rabb. Dengan demikian siapa saja yang mengaku sebagai Allah atau rabb/ilah selain Allah dengan tujuan atau alasan apapun, maka ia telah melakukan perbuatan syirik akbar karena telah menduakan keesaan Allah, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

(Fir'aun) berkata: "Akulah rabb-mu yang paling tinggi." Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (QS. An-Nazi'at: 24-25)

Dan barangsiapa yang mengatakan di antara mereka; “Sesungguhnya aku adalah ilah selain Allah” maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami membalas orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al-Anbiya: 29)

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang mengibadatiku selain Allah... (QS. Ali Imran: 79)

  1. Mengaku sebagai anak Allah

Baik mengaku secara biologis maupun hanya sekedar kiasan, siapapun yang mengaku sebagai anak Allah maka ia telah berbuat syirik akbar karena telah merendahkan Zat Khalik ke level makhluk-Nya, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya... (QS. Al-Maidah: 18)

...mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 100-101)

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlash: 1-4)

Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS. Al-Isra: 111)

...Sesungguhnya Allah Ilah yang Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa: 171)

  1. Mengatakan atau menetapkan bahwa Allah mempunyai anak

Barangsiapa yang berbuat demikian berarti ia telah menyamakan sifat Allah dengan makhluk-Nya dan tentu saja hal ini merupakan perbuatan syirik akbar, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Orang-orang Yahudi (Yaman) berkata: "Uzair itu anak Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu anak Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah: 30)

Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 116)

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak-anak perempuan Allah)? (QS. An-Najm: 19-20)

Katakanlah: "Jika benar Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)." Maha Suci Rabb Yang empunya langit dan bumi, Rabb Yang empunya 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu. (QS. Az-Zukhruf: 81-82)

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah (yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Maha Tinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al-Mu'minun: 91-92)

...mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-An'am: 100-101)

Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). (QS. An-Nahl: 57)

  1. Mengatakan atau mengajarkan bahwa Allah ialah Nabi Isa 'alaihis salam atau salah satu oknum Trinitas

Secara khusus hal ini ditujukan kepada orang-orang Nasrani yang mengatakan dan mengajarkan bahwa Allah ialah Isa Al-Masih dan bahwa keduanya adalah oknum-oknum Trinitas (Allah, Isa Al-Masih, Ruhul Qudus). Namun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang selain Nasrani yang berpandangan seperti itu. Barangsiapa yang mengatakan, mengajarkan, atau berpandangan bahwa Allah ialah Nabi Isa 'alaihis salam atau salah satu oknum Trinitas, maka dia telah berbuat syirik akbar berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam." Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?"... (QS. Al- Maidah: 17)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, ibadatilah Allah Rabb-ku dan Rabb-mu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka... (QS. Al- Maidah: 72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang Tiga (Trinitas)", padahal sekali-kali tidak ada ilah selain dari Ilah Yang Esa... (QS. Al- Maidah: 73)

...Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "Tiga (Trinitas)", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari mempunyai anak... (QS. An-Nisa: 171)

  1. Menyembah malaikat atau nabi tertentu atau menjadikan mereka sebagai arbab

Arbab adalah bentuk jamak dari rabb yang berarti pengatur atau yang mengatur. Jadi, Rabb (Allah) adalah Zat Yang mengatur atau Yang menentukan hukum. Mengatur alam raya ini, baik secara kauniy (hukum alam) maupun secara syar’iy (syari’at) sepenuhnya merupakan hak Allah sebagai Rabb, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An’am: 57)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Karena itu, barangsiapa yang menyembah atau memuja malaikat atau nabi, atau menjadikan mereka sebagai arbab (rabb-rabb selain Allah), maka dia telah berbuat syirik akbar karena hal itu berarti telah merampas sifat ketuhanan dari Allah dan diberikan kepada malaikat atau nabi, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam? (QS. Ali Imran: 80)

...dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa, tidak ada ilah selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

  1. Mengkultuskan dan mengagungkan orang-orang saleh tertentu

Hal ini terutama kepada mereka yang sudah meninggal dunia, misalnya para penganut Syiah, khususnya Rafidhah, yang mengkultuskan dan mengagungkan Ali bin Abu Thalib dan putranya, Husein bin Ali, radhiyallahu 'anhum pada setiap ritual tertentu dengan melukai anggota badan hingga berdarah-darah dan memanggil-manggil: "Ya Ali!" dan "Ya Husein!" secara berulang-ulang sambil meratapi terbunuhnya mereka dan membenci serta mengutuk orang-orang saleh lainnya yang dianggap menjadi lawan mereka pada masa itu. Demikian pula ketika melaksanakan ibadah haji di Mekah, para Rafidhah selalu memuja Husein dengan berseru-seru: "Labbaika Ya Husein!"

Selain itu, banyak juga orang yang mengkultuskan dan memuja-muja para wali. Pengkultusan inilah yang mendorong sebagian kaum muslimin untuk berkunjung ke kuburan para wali. Meski harus merogoh kocek dalam-dalam (padahal uangnya pas-pasan) dan menempuh perjalanan yang jauh serta berpeluh, mereka tidak peduli karena mereka berkeyakinan bahwa mengunjungi kuburan para wali adalah perbuatan yang memiliki keutamaan, apalagi fenomena ini telah berlangsung sekian lama dan rutin dilakukan oleh sebagian penduduk negeri. Di antara para pengunjung tersebut ada yang ingin segera dapat jodoh, ingin punya momongan, ingin jadi orang kaya, ingin dagangannya laris, ingin sembuh dari penyakit, dan sebagainya. Mereka yakin, keinginan atau cita-cita mereka bisa terkabul dengan mengunjungi kuburan para wali dan di sana biasanya mereka mengambil atau memuja benda-benda tertentu seperti air, tanah, keris, atau lainnya serta melakukan sawer sebagai syaratagar keinginan mereka terkabul. Tidak masalah meskipun mereka harus membayar mahal untuk syarat tersebut yang penting cita-cita mereka tercapai.

Manakala seseorang meyakini bahwa arwah orang-orang saleh yang dikultuskan/dipuja tersebut bisa mendatangkan syafa'at dan pahala kepadanya, memberikan efek langsung di dalam kehidupannya atau menyebabkan keinginannya terkabul, maka dia telah berbuat syirik akbar karena telah menafikan Allah sebagai Rabb Maha Pemberi rahmat, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Orang-orang (saleh) yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabb-mu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Isra: 57)

...Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir: 13-14)

  1. Menyembah atau memuja jin

Umpamanya ada orang mau membangun rumah, konon katanya di lokasi yang akan dibangun rumah itu terdapat jin penunggunya, sehingga ketika hendak membangun rumah, orang tersebut menuju lokasi itu (jin) dengan sesuatu hal berupa tumbal seperti: memotong ayam lalu dikubur sebelum dibuat pondasi rumah dalam rangka supaya tidak digangu oleh jin tersebut. Ini berarti jin tersebut adalah sesuatu yang dituju (diibadati) oleh pemilik rumah dengan sesuatu (tumbal) dalam rangka tolak bala. Barangsiapa berbuat demikian atau semisalnya (membakar kemenyan dan lain-lain untuk menyembah/memuja jin), maka dia telah melakukan perbuatan syirik akbar karena telah menjadikan jin sebagai ilah selain Allah (sekutu bagi Allah), berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu mengibadati kamu?" Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah mengibadati jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." (QS. Saba: 40-41)

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu... (QS. Al-An'am: 100)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengibadati syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. (QS. Yasin: 60)

  1. Menuhankan atau menomorsatukan hawa nafsu

Hawa nafsu adalah kecenderungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu (menjadikan hawa nafsu sebagai ilah-nya), ia mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya (padahal tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah). Jenis syirik ini amat berbahaya, karena manusia telah dikuasai hawa nafsunya. Sehingga ia merasa dirinya di atas segalanya, bahkan ada yang mengaku dirinya sebagai ilah/rabb (tuhan) yang harus disembah dan ditaati. Orang yang terjerumus kedalam syirik ini antara lain: Qarun, orang yang terkaya pada zamannya. Juga Fir’aun yaitu orang yang menuhankan dirinya karena kesombongan akan pangkat dan kekuasaan.

Menuhankan hawa nafsu jelas-jelas merupakan perbuatan syirik akbar, karena mereka lebih mempercayai hawa nafsunya daripada Allah. Menuhankan hawa nafsu banyak macamnya, umpamanya ada orang yang menginginkan suatu jabatan dengan harapan jabatan/kekuasaan itu dapat mendapatkan kekayaan harta benda. Dengan berbagai cara dia akan terus berusaha meraihnya walaupun caranya melanggar hukum Allah. Contoh lainnya, korupsi atau mengambil harta secara batil. Jika ada orang yang terus-menerus melakukan korupsi, apakah dia tahu atau tidak bahwa perbuatan itu dilarang Allah, berarti dia lebih menuhankan atau menomorsatukan hawa nafsunya daripada Allah. Demikian pula dengan perbuatan zina, memakan riba, main judi, dan perbuatan maksiat lainnya yang dilakukan secara terus-menerus dan menganggapnya sebagai perbuatan yang wajar (padahal Allah melarangnya). Itulah yang disebut menuhankan hawa nafsu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang perbuatan syirik ini:

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. Al-Furqan: 43)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Menurut Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Al-Jatsiyah: 23, yang dimaksud dengan "menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya" adalah orang itu bertindak berdasarkan hawa nafsunya, apa yang ia anggap baik, maka ia akan kerjakan, dan apa yang ia anggap jelek, maka ia akan tinggalkan. Dan ketika menafsirkan QS. Al-Furqan: 43, beliau berkata: "Kapan saja dia menilai baik sesuatu dan melihatnya sebagai suatu kebaikan dari hawa nafsunya sendiri, maka itulah agama dan madzhabnya."

  1. Berdoa kepada selain Allah

Yaitu doa/permohonan (tholab) seperti memohon suatu kemanfaatan atau terhindar dari suatu kemudharatan, apabila dipersembahkan atau dimintakan kepada selain Allah maka termasuk perbuatan syirik akbar jika tidak terpenuhi padanya tiga syarat:

-Permohonan tersebut mampu dikabulkan oleh orang yang diminta,
-Orang tersebut masih hidup, dan
-Orang tersebut hadir dan/atau mampu mendengarkan permohonan kepadanya.

Umpamanya berdoa/memohon kepada orang-orang yang telah mati, makhluk-makhluk halus (hantu, gendoruwo, arwah gentayangan, dan sebagainya), dewa/dewi berhala, tuhan-tuhan fiktif, dan sebagainya. Mereka yang diminta ini sesungguhnya tidak dapat memberi manfaat maupun mendatangkan mudharat (bahaya), karena itu berdoa/memohon kepada mereka adalah perbuatan syirik akbar berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Yunus: 106)

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. Al-Ahqaf: 5-6)

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Rabb-ku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Rabb-ku. (QS. Maryam: 48)

Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. (QS. Saba: 22)

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. Al-Hajj: 73)

  1. Menjadikan sesuatu selain Allah sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah

Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh orang-orang Syiah, khususnya Rafidhah, karena keyakinan dalam ajarannya, yaitu bertawasuldengan menjadikan imam-imam mereka yang telah meninggal dunia sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Sesungguhnya dalam Islam, berdoa cukup dilakukan langsung kepada Allah tanpa melalui perantara, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Dan Rabb-mu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mu'min: 60)

Barangsiapa menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah, dia memohon dan meminta kepadanya, sungguh dia telah berbuat syirik akbar karena dia telah mengambil wali/pelindung (jamak: aulia) selain Allah, dengan syarat:

-Dia berkeyakinan bahwa Allah itu tidak akan menjawab doa orang yang memanjatkan doa kepada-Nya secara langsung karena harus ada perantara antara Allah dengan makhluk dalam doa; atau

-Meyakini bahwa Allah itu menjawab doa si perantara karena Allah itu membutuhkan perantara; atau

-Meyakini bahwa si perantara itu memiliki hak yang wajib Allah tunaikan.

Umpamanya memohon pertolongan kepada orang mati di kuburan keramat, dia yakin orang yang dimintai pertolongan tersebut bukan pencipta tetapi hanya penghubung antara dirinya dengan Allah dan dia yakin Allah akan mengabulkan permohonannya setelah si penghubung itu menyampaikan permohonannya kepada Allah. Hal ini seperti yang dilakukan kaum musyrikin pada masa lalu sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil aulia (pelindung-pelindung) selain Allah (berkata): "Kami tidak mengibadati mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az Zumar: 3)

Dan mereka mengibadati selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Yunus: 18)

Adapun bertawasul dengan doa orang lain yang masih hidup diperbolehkan, selama tidak memenuhi syarat-syarat di atas. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika mengisahkan anak-anak Nabi Ya'qub 'alaihis salam:

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabb-ku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yusuf: 97-98)

  1. Menjadikan sesuatu sebagai andad (tandingan) bagi/selain Allah

Andad adalah bentuk jamak dari nidd yang secara bahasa berarti tandingan. Sedangkan secara istilah, andad adalah sesuatu yang memalingkan manusia dari tauhid (Islam) atau menjerumuskan seseorang kepada kekafiran atau kemusyrikan, baik itu jabatan, harta, keluarga, adat-istiadat, nasionalisme, maupun apa saja. Umpamanya seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya, sedang si anak tersebut dalam keadaan sakit, lalu ada orang yang menyarankan kepada si ayah tersebut agar si anak yang lagi sakit itu dibawa ke dukun. Dikarenakan saking sayangnya kepada si anak tersebut akhirnya si ayah datang ke dukun dan mengikuti apa yang disarankan oleh si dukun tersebut. Selanjutnya ketika si anak itu pengen dibelikan sepeda motor baru tapi si ayah tidak punya uang, karena saking sayangnya kepada si anak, si ayah harus menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan anaknya tersebut seperti mencuri, korupsi, dan lain-lain. Maka dengan demikian si anak tersebut telah memalingkan si ayah dari tauhid, dan berarti si anak telah menjadi andad.

Demikian pula seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan hukum jahiliyah/thaghut (hukum buatan manusia, misal: KUHP) disebuah negara demokrasi (misal: NKRI), apakah si hakim sadar atau tidak bahwa hal itu menyelisihi hukum Allah, tapi karena jabatan hakim yang dia jalani harus memutuskan perkara berdasarkan hukum yang berlaku di negaranya (hukum jahiliyah/thaghut), maka ini berarti si hakim telah menjadikan jabatannya sebagai andad.

Mengadakan/menjadikan sesuatu sebagai andad bagi/selain Allah adalah perbuatan syirik akbar berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan andad (tandingan-tandingan) bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 22)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan andad (tandingan-tandingan) selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan:

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Engkau menjadikan nidd (tandingan) bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Mengaku mengetahui perkara yang ghaib

Yang dimaksud perkara ghaib, yaitu perkara yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera. Termasuk perkara ghaib adalah apa yang akan terjadi. Sesungguhnya yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah. Dia Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah." Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml: 65)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am: 59)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS. Al-Hadid: 22–23)

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala; (1) Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, (2) tidak ada seorangpun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Ta’ala, (3) tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat selain Allah Ta’ala, (4) tidak ada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan (5) tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Ta’ala." (HR. Bukhari dan Ahmad)

Kemudian Allah memberitahukan sebagian perkara ghaib lewat wahyu-Nya kepada rasul yang Dia kehendaki. Dia Subhanahu Wa Ta'alaberfirman: 

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al-Jin: 26-27)

Syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah menyatakan: “Maka barangsiapa mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib atau membenarkan orang yang mengaku-ngaku hal itu, maka dia musyrik, kafir. Karena dia mengaku-ngaku menyamai Allah dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhususan-Nya.”

Pengetahuan tentang perkara yang ghaib merupakan salah satu hak istimewa Allah. Menisbatkan hal tersebut kepada selain-Nya adalah syirik akbar. Contoh yang biasanya mengaku mengetahui perkara yang ghaib adalah dukun dan tukang ramal/paranormal.

  1. Menghalalkan yang diharamkan Allah atau mengharamkan yang dihalalkan Allah

Allah memiliki hak-hak yang khusus. Di antara hak khusus bagi Allah adalah hak tasyri’, yakni menetapkan syariat yang wajib dijalani oleh makhluk-Nya. Di antara perkara tasyri’ adalah penetapan halal dan haram. Tiada yang berhak menghalalkan dan mengharamkan selain Allah. Tidak ada seorangpun yang boleh menghalalkan kecuali yang telah dihalalkan oleh Allah dan tidak mengharamkan kecuali yang diharamkan oleh Allah. Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yangtidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (QS. Yunus: 59)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl: 116)

Dan barangsiapa yang taat kepada penetap syariat selain Allah maka dia telah menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah, berarti dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan. Bahkan dalam sebuah ayat, seseorang disebut musyrik hanya karena turut serta menghalalkan bangkai, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An'am: 121)

Tentang ayat ini Al Hakim dan yang lainnya meriwatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas: Bahwa orang-orang membantah kaum muslimin tentang sembelihan dan pengharaman bangkai, mereka berkata: “Kalian makan apa yang kalian bunuh (sembelihan) dan tidak makan dari apa yang Allah bunuh (yaitu bangkai)”, maka Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi:

"Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal (hukum asal), Aku ciptakan hamba-hamba-Ku ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya." (HR. Muslim)

Jadi, menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah adalah perbuatan syirik akbar karena telah merampas hak khusus Allah dalam menetapkan halal dan haram.

  1. Memecah-belah agama Allah

Ketika seseorang terjebak dalam perilaku memecah-belah agama hal tersebut disejajarkan dengan mempersekutukan sesuatu dengan Allah dan keluar dari keikhlasan ibadah karena tidak memelihara semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya sebaik-baiknya.

Perbuatan itu dianggap sebagai mengganti agama fitrah dengan agama sesat dan karena menjadikan agama fitrah menjadi beberapa agama dan mazhab, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, para penyembah berhala, dan para pemeluk agama yang salah.

Perpecahan mengakibatkan konsep Islam, konsep yang datangnya dari Allah dan rasul-Nya, tidak dapat terlaksana secara kaffah (paripurna) sesuai perintah-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 208. Secara rasional, konsep apapun di dunia ini baik yang haq maupun yang batil menghendaki penganutnya untuk bersatu agar konsepnya berjalan dan tidak mengalami kehancuran.

Karena mengaku sebagai bagian dari umat Islam tetapi berbuat seperti apa yang diperbuat kaum musyrikin maka para pemilik perilaku memecah-belah agama ini dimasukkan dalam golongan mereka. Disejajarkan dengan para penyembah tuhan-tuhan selain Allah. Menyembah Allah tetapi meminta kepada selain Allah atau sebaliknya meminta kepada Allah tetapi menyembah selain Allah. Dengan demikian maka para pemecah-belah agama Allah adalah para pelaku syirik akbar, hal ini sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum: 31-32)

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. (QS. Al-Mu'minun: 52-54)

Jika memecah-belah agama (mencerai-beraikan umat) adalah perbuatan syirik (mempersekutukan Allah), maka lawannya, mendirikan khilafah (mempersatukan umat) adalah perbuatan tauhid (mengesakan Allah).

  1. Tidak mau membayar zakat

Jika dilihat secara syariah, zakat merupakan kewajiban dan termasuk dalam rukun Islam yang kadarnya sama dengan kadar syahadat, shalat, dan puasa Ramadhan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Jika mereka (kaum musyrikin) bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama... (QS. At-Taubah: 11)

Orang-orang yang tidak mau membayar zakat pada dasarnya mereka itu menuhankan harta benda. Padahal Allahlah yang memberikan rizki kepada mereka. Karena itu, mereka yang tidak mau membayar zakat digolongkan sebagai para pelaku syirik akbar berdasarkan firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala:

...Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Fushilat: 6-7)

Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)

  1. Takut kepada selain Allah

Maksudnya takut yang tersembunyi (dalam hati manusia), yakni takut dari suatu kemampuan khusus yang diyakini dimiliki oleh selain Allah, padahal kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh Allah. Takut yang tersembunyi bisa berupa takut kepada berhala atau patung, mayat, hantu atau yang ghaib (tidak terlihat mata) dari bangsa jin atau manusia (arwah gentayangan) bahwa mereka bisa membahayakan atau menimpakan sesuatu yang dibenci, misalnya adanya keyakinan sebagian masyarakat bahwa sebagian dari para wali yang telah meninggal dunia atau orang-orang yang ghaib itu bisa melakukan dan mengatur suatu urusan serta mendatangkan mudharat (bahaya). Karena keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada para wali atau orang-orang ghaib tersebut.

Takut termasuk tingkatan agama yang tertinggi dan teragung. Barangsiapa yang memalingkannya kepada selain Allah maka sungguh dia telah menyekutukan Allah dengan syirik akbar. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Ali Imran: 151)

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175)

...Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya... (QS. An-Nisa: 77)

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar: 36)

Takut kepada selain Allah yang tidak termasuk syirik:

-Takut karena sebab-sebab yang dapat dirasakan atau dilihat oleh panca indera, seperti takut kepada pencuri atau musuh. Takut seperti ini tidaklah termasuk syirik, dengan syarat tidak mengantarkan seseorang untuk meninggalkan perintah Allah.

-Takut yang sifatnya tabiat, seperti takut dari binatang buas, takut terbakar, takut tenggelam dan lain-lain. Takut seperti ini juga tidak termasuk bentuk syirik kepada Allah atau maksiat kepada-Nya.

  1. Berhukum/memutuskan perkara dengan selain hukum Allah

Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al-Maidah ayat 50 (lihat no. 27 dan 34), hanya ada dua pilihan hukum di dunia ini yaitu hukum Allah (Al Quran & As Sunnah) atau tandingannya yang disebut dengan hukum jahiliyah (hukum-hukum buatan manusia, misal: UUD 1945,hukum adat, KUHP, dan lain-lain). Hukum jahiliyah yang menyelisihi hukum Allah disebut juga hukum thaghut, misal: UUD 1945, KUHP, dan lain-lain. Orang yang berhukum kepada thaghut sedang ia masih mengaku beriman, maka pengakuan seperti ini adalah pengakuan dusta sebagaimana keadaan orang-orang munafik yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengkufuri thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-Nisa: 60-61)

Pengertian "thaghut" dalam ayat di atas adalah siapa saja (orang atau lembaga) yang memutuskan perkara dengan selain hukum Allah. Allah telah menamakan orang-orang yang berhukum/memutuskan perkara dengan selain syariah-Nya sebagai orang-orang yang kafir, zalim (musyrik), dan fasik sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim (musyrik). (QS. Al-Maidah: 45)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 47)

Berdasarkan ayat-ayat di atas, maka barangsiapa yang berhukum/memutuskan perkara dengan selain hukum Allah atau yang disebut dengan hukum jahiliyah/thaghut (tandingan bagi hukum Allah), menurut sebagian ulama, untuk mengkafirkannya tidak perlu disyaratkan adanya sikapistihlal (membolehkan berhukum dengan selain hukum Allah) karena vonis Allah pada ketiga ayat tersebut sudah sangat jelas dan tegas maknanya (ayat-ayat muhkamat) sehingga tidak lagi memerlukan takwil apapun. Siapa saja yang melakukannya (hakim, jaksa, penyidik, kepala negara, kepala daerah, kepala suku, ketua adat, atau lainnya) maka ia telah berbuat syirik akbar dan kafir, bagaimanapun ia melakukannya, baik disertai sikap istihlal maupun tidak. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An-Nisa: 168-169)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

...Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al- Baqarah: 85)

...Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-Maidah: 5)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada (rasul-rasul) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar: 65)

  1. Membuat hukum yang menandingi dan menyelisihi hukum Allah

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Rabb-ku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)

Kamu tidak mengibadati yang selain Allah kecuali hanya (mengibadati) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Seorang hamba Allah tidak patut menghukumi sesuatu dengan selain hukum/syariat Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut dien (peraturan/undang-undang) raja,... (QS. Yusuf: 76)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Barangsiapa (penguasa: eksekutif, legislatif, raja, ketua adat, dan lain-lain) yang membuat dan menetapkan hukum/undang-undang selain syariat Allah untuk hamba-hamba-Nya dan mewajibkan mereka berhukum dengannya, maka tidak diragukan lagi, penguasa tersebut telah berbuat syirik akbar karena telah menjadikan dirinya sebagai rabb selain Allah dan sekutu bagi Allah dalam menetapkan hukum/undang-undang, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

  1. Mentaati hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah

Allah telah menyebut orang-orang yang membuat hukum/undang-undang selain syariat Allah sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah dan sekutu bagi Allah (lihat no. 19). Allah juga menyebut rakyat yang mentaati hukum/undang-undang buatan para penguasa yang menghalalkan dan/atau mengharamkan sesuatu (tanpa izin Allah, menyelisihi hukum Allah) sebagai para penyembah arbab tersebut, sebagaimana firman-NyaSubhanahu Wa Ta'ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Sudah lama diketahui bahwa ibadah kaum Yahudi dan Nasrani kepada para pendeta dan ahli ibadah mereka berbentuk ketaatan kepada mereka dalam penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal. Hal ini telah diterangkan dalam Hadits Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (3095), Ibnu Jarir (16631-16633), Baihaqi (X/116), Thabrani dalam Al Kabir (XVII/92) dan lainnya. Dalam hadits tersebut disebutkan: ”Mereka tidaklah menyembah mereka, namun jika para pendeta menghalalkan sesuatu yang haram mereka ikut menghalalkannya, dan jika para pendeta mengharamkan sesuatu yang halal mereka ikut mengharamkannya."

Pengarang Fathul Majid (hal. 79) mengatakan tentang ayat tersebut: ”Dengan ini jelaslah bahwa ayat tersebut menunjukkan siapa yang mentaati selain Allah dan rasul-Nya serta berpaling dari mengambil Al Kitab dan As Sunnah dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan mentaatinya dalam bermaksiat kepada Allah dan mengikutinya dalam hal yang tidak dizinkan Allah, maka ia telah mengangkat orang tersebut sebagai rabb, ilah dan menjadikannya sebagai sekutu Allah.”

Dalam tafsirnya II/172, Ibnu Katsir berkata: ”Karena kalian berpaling dari perintah Allah dan syariat-Nya kepada kalian, kepada perkataan selain Allah dan kalian mendahulukan undang-undang selain-Nya atas syariat-Nya, maka ini adalah syirik. Sebagaimana firman Allah: 'Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.'”

Syaikh Asy-Syanqithi dalam tafsir Adhwaul Bayan IV/91 saat menafsirkan ayat "Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum" (QS. Al-Kahfi: 26), mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum para pembuat undang-undang selain apa yang disyariatkan Allah, mereka itu musyrik kepada Allah. Pemahaman ini diterangkan oleh ayat-ayat yang lain seperti firman Allah berikut tentang orang yang mengikuti tasyri’ (aturan-aturan) setan yang menghalalkan bangkai dengan alasan sebagai sembelihan Allah:

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An'am: 121)

Allah menegaskan mereka itu musyrik karena mentaati para pembuat keputusan yang menyelisihi hukum Allah. Kesyirikan dalam masalah ketaatan dan mengikuti tasyri’ (peraturan-peraturan) yang menyelisihi syariat Allah inilah yang dimaksud dengan beribadah kepada setan dalam ayat “Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai Bani Adam supaya kalian tidak menyembah (beribadah kepada) setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian. Dan beribadahlah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 60-61).

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa mentaati hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah adalah perbuatan syirik akbar. Sebagai contoh, mentaati dan mendukung hukum penguasa yang melarang pemakaian jilbab bagi kaum wanita, mentaati dan mendukung hukum penguasa yang membolehkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum muslimin, dan lain-lain.

  1. Memilih/mengangkat pemerintah atau wakil-wakil rakyat melalui pemilu dalam sistem demokrasi

Sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem demokrasi, salah satu tugas pemerintah dan wakil-wakil rakyat (DPR/parlemen) adalah membuat hukum/undang-undang yang bukan berdasarkan hukum Allah. Ini berarti pemerintah dan wakil-wakil rakyat telah merampas hak khusus Allah yaitu menetapkan hukum (lihat no. 19), dengan kata lain mereka adalah arbab (rabb-rabb) selain Allah yang memberlakukan hukum/undang-undang buatan mereka kepada manusia. Nah, dengan demikian maka memilih/mengangkat pemerintah atau wakil-wakil rakyat melalui pemilu dalam sistem demokrasi pada hakekatnya sama saja dengan memilih/mengangkat arbab (rabb-rabb) selain Allah. Hal ini berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan andad (tandingan-tandingan) bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 22)

Apakah mereka mempunyai syuraka (sekutu-sekutu) yang mensyariatkan untuk mereka dien (peraturan/undang-undang) yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim (musyrik) itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy-Syura: 21)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)  

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Jika memilih/mengangkat pemerintah atau wakil-wakil rakyat tersebut disertai dengan harapan bahwa mereka dapat membuat hukum/undang-undang yang lebih baik bagi rakyat atau dapat menjalankan hukum/undang-undang yang sudah ada dengan baik, tanpa peduli apakah hukum-hukum tersebut menyelisihi hukum Allah atau tidak, maka perbuatan ini termasuk perbuatan syirik akbar berdasarkan keterangan ayat-ayat tersebut khususnya QS. At-Taubah: 31 dan QS. Yusuf: 40.

  1. Meyakini atau menyebarkan ajaran yang menyelisihi ayat-ayat Allah

Ada pemikiran/ajaran yang menyatakan bahwa aspek-aspek Islam seperti soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, dan jubah merupakan cerminan kebudayaan Arab sehingga tidak wajib diikuti, karena itu hanyalah ekspresi lokal particular Islam di Arab saja. Demikian antara lain yang disampaikan oleh Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) melalui sebuah artikel karyanya yang berjudul: "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" (Kompas, 18 September 2002).

Sebagaimana diketahui bahwa jilbab, potong tangan, qishash, rajam, dan jenggot merupakan perkara-perkara yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya untuk ditegakkan. Pemikiran/ajaran Koordinator JIL tersebut bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Dalam hal ini, Koordinator JIL telah memposisikan dirinya sebagai rabb selain Allah dan orang-orang yang mengikuti pemikiran/ajarannya disebut sebagai orang-orang yang mengikuti rabb selain Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rabb-rabb) selain Allah, dan (juga mereka menjadikan rabb kepada) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh beribadah kepada Ilah yang Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadati dengan benar) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

Dengan demikian maka meyakini atau menyebarkan ajaran yang menyelisihi ayat-ayat Allah termasuk perbuatan syirik akbar. Demikian pula dengan keyakinan para penganut Ahmadiyah yang menyatakan bahwa kitab Tadzkirah berisi wahyu-wahyu dan kasyaf-kasyaf yang diterima Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dari Allah, maka keyakinan ini termasuk perbuatan syirik akbar, hal ini antara lain karena salah satu ayat dalam kitab Tadzkirah (halaman 436) menyatakan:

"Kamu (MGA) di sisi-Ku (Allah) memiliki kedudukan seperti anak-anak-Ku."

Ayat yang diklaim MGA sebagai wahyu dari Allah tersebut palsu karena mensifati Allah seperti makhluk-Nya yaitu mempunyai anak (sekalipun dalam arti kiasan) dan hal ini bertentangan dengan ayat-ayat Allah dalam Al Quran (lihat no. 3 dan 4 di atas, mengaku sebagai anak Allah, mengatakan atau menetapkan bahwa Allah mempunyai anak adalah perbuatan syirik akbar).

  1. Percaya adanya kekuatan tertentu yang dapat menahan kehendak Allah

Kehendak Allah itu pasti terlaksana, tidak ada sesuatupun yang dapat menahannya, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya. Hal ini berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am: 59)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS. Al-Hadiid: 22–23)

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Fathir: 2)

Sebagian ulama seperti penulis tafsir Al Jalalain mengatakan bahwa "rahmat" yang dimaksud pada ayat tersebut adalah rizki dan hujan (lihatTafsir Al Jalalain, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Muhalla dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi, hal. 434, Maktabah Ash Shofaa, cetakan pertama, tahun 1425 H).

Oleh karena itu, jika ada yang mengaku dapat menahan kehendak Allah dengan kekuatan tertentu, umpamanya seorang pawang hujan, dia mengaku dapat memindahkan atau mencegah/menahan turunnya hujan dengan ritual tertentu atau dengan menaruh benda-benda tertentu pada tempat tertentu, maka dia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik akbar, termasuk orang-orang yang mempercayai pengakuan tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?" Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS. Az-Zumar: 38)

  1. Menjadi tukang sihir

Sihir adalah ungkapan tentang ikatan-ikatan buhul, jampi-jampi (mantra), dan hembusan-hembusan tukang sihir yang bisa menimbulkan suatu bahaya bagi orang yang disihirnya, diantaranya bisa menghilangkan nyawa, menyakiti, menghilangkan akal, ada yang menyebabkan muncul ikatan yang sangat kuat (seperti pelet, gendam, dan lain-lain) dan ada yang menyebabkan berpalingnya seseorang dari orang yang lain (lihat syarah Riyadhus Shalihin oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin hal. 264 cet. Darul Atsar).

Mengerjakan sihir adalah perbuatan kekafiran (kufur akbar), berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Merekamengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 102)

dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan (nafas) pada buhul-buhul, (QS. Al-Falaq: 4)

Maksudnya wanita-wanita tukang sihir yang mengikat benda-benda sihirnya (jimat, tumbal, boneka voodoo, dan lain-lain) dan meniup pada buhul-buhulnya pada saat membaca mantra (lihat Tafsir Al Qurthubi XX/257). Seandainya sihir itu tidak memiliki hakekat tentu Allah tidak menyuruh kita untuk berlindung kepada-Nya dari pengaruh sihir itu. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah tersihir. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Nabi pernah terkena sihir, sehingga sihir itu membuatnya seakan-akan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Kemudian beliau berkata kepada Aisyah pada suatu hari: ”Aku kedatangan dua malaikat, salah satunya duduk di dekat kepalaku dan satunya lagi duduk di dekat kakiku, lalu malaikat itu berkata: "Sakit apa orang ini?" Malaikat yang satunya berkata: “Dia tersihir.” Malaikat itu berkata: "Siapa yang menyihirnya?" Malaikat yang satunya menjawab: ”Labid bin Al A’sham dengan sisir dan rambut dibungkus dengan pelepah kurma lalu dimasukkan ke sumur dzarwan.” (HR. Bukhari).

Mengerjakan sihir adalah perbuatan syirik, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu:

“Barangsiapa membuat suatu ikatan (bundelan), kemudian meniupnya, maka dia telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu (jimat) pada dirinya, maka dirinya akan dijadikan bersandar kepadanya.” (HR. Nasa’i)

Oleh karena mengerjakan sihir adalah perbuatan kufur akbar, maka syirik yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah syirik akbar. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Jundub radhiyallahu ’anhu tentang hukuman bagi tukang sihir:

"Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang." (HR. Tirmidzi dan Daruquthni)

  1. Percaya pada pantangan, mitos dan khurafat/takhayul

Banyak orang yang takut tidak selamat mengenakan baju hijau saat berkunjung ke pantai selatan, karena dianggap pantangan yang tidak disukai oleh Nyi Roro Kidul. Di sisi lain masyarakat juga masih takut tidak selamat bila melakukan pesta pernikahan di bulan Suro (Muharram). Mereka menganggap bulan Suro sebagai bulan yang keramat. Padahal keselamatan manusia itu tidak terletak pada tradisi atau keyakinan seperti itu, tapi berada di tangan Allah yang akan diberikan kepada orang yang taat menjalankan kitab-Nya, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 16)

Percaya pada pantangan yang disertai keyakinan adanya sesuatu selain Allah yang akan mendatangkan mudharat (bahaya) jika pantangan tersebut dilanggar, maka kepercayaan ini termasuk syirik akbar, hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan mereka mengibadati selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Yunus: 18)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Apakah yang telah diturunkan Rabb-mu?" Mereka menjawab: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu," (QS. An-Nahl: 24)

Adapun mitos adalah cerita-cerita bohong tentang suatu hal seperti asal-usul tempat, alam, manusia dan sebagainya yang mengandung arti mendalam dan diungkapkan dengan cara gaib. Sedangkan definisi khurafat adalah ajaran atau keyakinan yang tidak mempunyai landasan kebenaran, disebut pula takhayul. Hukum percaya kepada mitos dan khurafat adalah syirik. Adapun klasifikasi syirik akbar atau syirik asghar** tergantung pada jenis khurafat dan mitos serta pengamalan dari kepercayaan tersebut. Salah satu contoh mitos dan khurafat yang dikategorikan syirik akbar seperti keyakinan akan keberadaan Nyi Rodo Kidul sebagai penguasa pantai selatan, bahkan sampai melakukan ritual nadranan (ruwatan) meminta manfaat dan tolak bala kepada Nyi Roro Kidul. Khurafat dan mitos ini adalah syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?" Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS. Az-Zumar: 38)

  1. Percaya pada dukun dan tukang ramal/paranormal

Dalam fiqih Islam setidaknya ada dua istilah terkait dengan masalah ini:

-'Arraf (dukun): yaitu orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang tersembunyi dari perkara-perkara yang telah terjadi, seperti mengaku mengetahui peristiwa pencurian, atau barang-barang yang telah hilang.

-Kahin (tukang ramal/paranormal): yaitu orang yang mengaku mengetahui berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Biasanya mereka bekerja sama dengan jin-jin fasik (setan), atau bersandar kepada bintang-bintang atau kepada sebab-sebab dan pendahuluan-pendahuluan (mukadimah) yang mereka buat sendiri.

Ada yang mengatakan 'arraf itu tukang ramal, sedangkan kahin itu dukun. Bahkan ada juga yang mengatakan 'arraf dan kahin itu sama saja, karena keduanya sama-sama mengaku mengetahui perkara yang ghaib (lihat no. 13).

Mendatangi dukun atau tukang ramal/paranormal amat berbahaya. Yang termasuk dalam hukum ini adalah membaca ramalan bintang. Membaca ramalan seperti itu tidak perlu lagi mendatangi dukun atau tukang ramal, namun cukup membaca majalah ramalan bintang atau menonton tayangan ramalan nasib di televisi.

Mendatangi dengan membenarkan dukun atau tukang ramal dalam segala hal dengan keyakinan bahwa dukun atau tukang ramal itu mengetahuinya dengan sendirinya, maka hal ini dihukumi musyrik dan kafir (keluar dari Islam), karena mengetahui hal ghaib secara khusus hanya Allah yang tahu, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah." Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml: 65)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am: 59)

Adapun mendatangi dukun atau tukang ramal dengan keyakinan bahwa dukun atau tukang ramal tersebut mendapatkan ramalan dari jin/setan sehingga dia mengetahui ada barang yang hilang atau terjatuh, atau mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi, maka seperti ini ada dua hukuman:

-Tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Shafiyah radhiyallahu ’anha dari beberapa istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mendatangi 'arraf (dukun), lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam." (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Nawawi berkata: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”

-Kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dimaksud adalah kufur asghar, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mendatangi 'arraf (dukun) atau kahin (tukang ramal) kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam." (HR. Nasa'i, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kadangkala ramalan tersebut secara kebetulan tepat. Sungguhpun demikian, ramalan dukun atau tukang ramal/paranormal tidak boleh dipercayai karena jin/setan sendiri tidak mengetahui perkara-perkara ghaib, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

...Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (QS. Saba: 14)

  1. Menghalalkan/ridha dengan sistem demokrasi

Demokrasi diambil dari bahasa Latin, demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti hukum atau kekuasaan. Jadi, demokrasi adalah hukum dan kekuasaan rakyat, dan dibahasakan dalam Undang Undang Dasar RI dengan “Kedaulatan berada di tangan rakyat”.

Kezaliman dan kejahatan paling besar dari demokrasi adalah memberikan kekuasaan tertinggi membuat undang-undang kepada selain Allah yaitu kepada rakyat yang diwakili oleh wakil-wakil mereka di parlemen (MPR/DPR), sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 45)

Dalam Islam, yang berhak untuk membuat hukum/undang-undang, membuat syariat, dan membuat tatanan untuk kehidupan umat manusia adalah Allah, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri." (QS. Yusuf: 67)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Hai orang-orang yang beriman, ...apabila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apapun), maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian... (QS. An-Nisa: 59)

Dari keterangan ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa demokrasi adalah syirik akbar karena merampas hak khusus Allah dalam membuat hukum/undang-undang (lihat no. 18-21).

Oleh karena itu, barangsiapa yang menghalalkan/ridha dengan sistem demokrasi, baik ia terlibat atau tidak dalam kegiatan dan syiar-syiarnya, tetapi ia ridha dengan sistem demokrasi, maka ia termasuk orang yang ridha dengan syirik akbar. Orang yang ridha dengan syirik akbar, maka ia terlibat dalam kesyirikan. Dan itu berarti “yakhruju minal Islam”, keluar dari Islam.

  1. Mengabdi demi nasionalisme dan negara

Nasionalisme (kebangsaan) adalah sebuah faham yang membentuk loyalitas berdasarkan kesatuan tanah air, budaya dan suku. Pengertian ini diperjelas kembali oleh Dr. Ali Nafi’ di dalam bukunya “Ahammiyatul Jihad” hal. 411, beliau menulis: “Nasionalisme merupakan bentuk pengkultusan kepada suatu bangsa (tanah air) yang diaplikasikan dengan memberikan kecintaan dan kebencian kepada seseorang berdasarkan pengkultusan tersebut, ia berperang dan mengorbankan hartanya demi membela tanah air belaka (walaupun dalam posisi salah), yang secara otomatis akan menyebabkan lemahnya loyalitas kepada agama yang dianutnya, bahkan loyalitas tersebut bisa hilang sama sekali.”

Berkhidmat (mengabdi) untuk menegakkan nasionalisme dan menjadikannya sebagai tujuan utama dalam perjuangan hidup, seperti berperang karena untuk mempertahankan bangsa (nation), berpropaganda agar orang mendukung ide dan cita-cita nasionalisme, berjuang dan bekerja demi kebangsaan, serta menanamkan semangat fanatisme kebangsaan yang mendalam, maka penumpuan dan konsep hidup semacam itu adalah pandangan atau konsep hidup syirik, hal ini karena Allah telah menyuruh bekerja, berkhidmat, berjihad, dan berperang hanya karena Allah semata. Kaum muslimin dibenarkan berusaha memperbaiki bangsanya atas dasar apa yang diperintahkan oleh Allah. Maka apabila bangsanya itu kafir, umpamanya kafir karena berhukum dengan hukum buatan manusia seperti UUD dan UU turunannya (lihat no. 18-21 dan 27), saat itu pula kaum muslimin tidak boleh berkhidmat lagi, bahkan kalau ia berkhidmat pada bangsa kafir dianggap sebagai penghianatan terhadap diri dan Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hadits berikut:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-An'am: 162)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tali iman yang paling kuat adalah berkasih sayang karena Allah dan memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah." (HR. Thabrani dan Baghawi)

Fenomena nasionalisme ini dalam hadits dikenal dengan istilah 'ashabiyah, yaitu fanatisme kelompok, kekerabatan, kedaerahan, atau kebangsaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas mengharamkan ikatan 'ashabiyah, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan Jama'ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa yang berperang di bawah panji 'ashabiyah, marah karena 'ashabiyah, menyeru kepada 'ashabiyah dan membela 'ashabiyah kemudian terbunuh, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, dan tidak pernah mengindahkan janji yang telah dibuatnya, maka ia tidak termasuk dari golonganku dan aku tidak termasuk dari golongannya." (HR. Muslim)

Dari Jubair bin Muth'im radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan termasuk umatku orang yang menyeru kepada ‘ashabiyah, bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah, dan bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah.” (HR. Abu Dawud)

Syaikh Muhammad Said Al-Qahthani dalam tesisnya yang berjudul "Al Wala’ wal Bara’" hal. 42, mengatakan: “Nasionalisme merupakan salah satu bentuk kesyirikan, karena dia akan menuntut seseorang untuk berjuang membelanya, dan membenci setiap kelompok yang menjadi musuhnya, tanpa melihat muslim atau tidak, dengan demikian secara tidak langsung ia telah menjadikannya sebagai tandingan Allah.”

Bekerja semata-mata untuk kemajuan negara juga termasuk dalam kategori syirik, kaum muslimin tidak boleh meletakkan gantungannya kepada negaranya, kecuali tujuan negara dan orang-orang yang memerintahnya semua bertujuan menegakkan syariat Islam dan karena Allah semata. Apabila kita bekerja untuk kebaikan negara dan penduduknya yang bersyariat Islam maka pekerjaan kita itu sesuai dengan perintah Allah, tetapi apabila kita meletakkan kenegaraan sebagai tujuan perjuangan di dalam pekerjaan kita dan tidak mau meniatkan karena Allah (hal ini banyak terjadi di negara yang berhukum dengan hukum buatan manusia seperti UUD dan UU turunannya), maka pada dasarnya orang yang melakukannya itu sudah termasuk dalam kategori syirik karena ia telah menjadikan negara sebagai tandingan Allah. Allah telah memandang hina terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa yang menggantungkan keyakinannya kepada negara. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu." Niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), (QS. An-Nisa: 66)

  1. Melakukan ritual sesajen/persembahan korban untuk selain Allah (tradisi pesta sedekah bumi/laut, tradisi tumbal, dan lain-lain)

Berkorban dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah suatu bentuk ibadah yang agung, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al-An'am: 162)

Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkorbanlah. (QS. Al-Kautsar: 2)

Kedua ayat di atas menunjukkan agungnya keutamaan ibadah shalat dan berkorban, karena melakukan dua ibadah ini merupakan bukti kecintaan kepada Allah dan pemurnian agama bagi-Nya semata-mata, serta pendekatan diri kepada-Nya dengan hati, lisan dan anggota badan, juga dengan menyembelih hewan qurban yang merupakan pengorbanan harta yang dicintai jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu AllahSubhanahu Wa Ta’ala.

Oleh karena itu, mempersembahkan ibadah ini kepada selain Allah (baik itu jin, dewa/dewi, manusia ataupun lainnya) dengan tujuan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepadanya, yang dikenal dengan istilah ritual sesajen sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam ritual sedekah bumi/laut, tradisi tumbal, dan semacamnya adalah perbuatan syirik akbar, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hadits-hadits berikut:

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (QS. Al-An'am: 136)

Dan mereka sediakan untuk berhala-berhala yang mereka tiada mengetahui (kekuasaannya), satu bahagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang telah kamu ada-adakan. (QS. An-Nahl: 56)

...dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.... (QS. Al-Maidah: 3)

Dari ‘Ali radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku dengan empat nasihat: “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat anak yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi muhdits (orang yang jahat)/muhdats (pelaku bid’ah). Allah melaknat orang yang sengaja mengubah patok batas tanah." (HR. Muslim)

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu: 'Berkorbanlah.' Maka dia menjawab: 'Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.' Maka mereka mengatakan: 'Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.' Maka dia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan mereka juga mengatakan kepada orang yang satunya: 'Berkorbanlah.' Dia menjawab: 'Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘Azza Wa Jalla.' Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.'" (HR. Ahmad)

Adapun orang-orang yang ikut berpartisipasi dan membantu terselenggaranya acara ritual pemberian sesaji tersebut dalam segala bentuknya, adalah termasuk perbuatan dosa yang sangat besar, karena termasuk tolong-menolong dalam perbuatan maksiat yang sangat besar kepada Allah, yaitu perbuatan syirik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah: 2)

  1. Menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah dan bernazar untuk selain Allah

Menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah, misalnya dengan menyebut nama "Husein" yang sering dilakukan oleh orang-orang Syiah, khususnya Rafidhah, adalah termasuk perbuatan syirik meskipun sembelihan itu ditujukan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan hadits berikut:

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah karena Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al-An'am: 162)

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah... (QS. Al-Maidah: 3)

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An'am: 118)

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka (menghalalkan bangkai), sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An'am: 121)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Terlaknatlah orang yang mencela ayahnya, terlaknatlah orang yang mencela ibunya. Terlaknatlah orang yang menyembelih bukan karena Allah, terlaknatlah orang yang merubah batas tanah, terlaknatlah orang yang membisu (tidak mau memberi petunjuk) terhadap orang yang buta yang mencari jalan. Terlaknatlah orang yang menyetubuhi binatang dan terlaknatlah orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth." (HR. Ahmad)

Adapun nazar adalah perbuatan seorang mukallaf (orang yang sudah dikenai beban syariat) yang mewajibkan dirinya sendiri untuk mengerjakan suatu ibadah karena Allah. Nazar tidak boleh diarahkan kepada selain Allah. Apabila diarahkan kepada selain Allah maka itu termasuk syirik, umpamanya bernazar kepada kuburan wali atau tempat-tempat yang dianggap keramat bahwa apabila hajatnya terkabul akan menyembelih seekor kambing atau akan berpuasa tujuh hari berturut-turut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya. (QS. Al-Baqarah: 270)

...dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka... (QS. Al-Hajj: 29)

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS. Al-Insan: 76)

  1. Syirik niat dan keinginan

Yaitu melakukan suatu amal ibadah dengan niat karena selain Allah. Penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya (lihat no. 40), adalah terselipnya niat dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia. Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seseorang yang berbuat amal kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Huud: 15-16)

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal saleh yang dilakukan dengan niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari perbuatan riya (memperlihatkan amal saleh untuk mendapatkan pujian dan sanjungan), karena seseorang yang menginginkan dunia dengan amal saleh yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam meyoritas amal saleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan riya, karena riya biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian, orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab At-Tauhid mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (saleh yang dilakukan)nya.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Jawaabul Kaafi hal. 94 menggambarkan hal tersebut dengan berkata: “Adapun kesyirikan (penyimpangan) dalam niat dan keinginan (manusia) maka itu (ibaratnya seperti) lautan (luas) yang tidak bertepi dan sangat sedikit orang yang selamat dari penyimpangan tersebut. Maka barangsiapa yang menginginkan dengan amal kebaikannya selain wajah/keridhaan Allah (ikhlas), meniatkan sesuatu selain untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau selain mencari pahala dari-Nya maka sungguh dia telah berbuat syirik dalam niat dan keinginannya. Ikhlas adalah dengan seorang hamba mengikhlaskan untuk Allah (semata) semua ucapan, perbuatan, keinginan dan niatnya.”

  1. Mencintai sesuatu selain Allah seperti atau lebih dari mencintai Allah

Yaitu cinta kepada sesuatu selain Allah dengan membentuk sikap pengabdian, kepasrahan, dan kerendahan. Cinta semacam itu tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Barangsiapa yang mengarahkannya kepada selain Allah, maka dia telah terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Misalnya kita mencintai seseorang, kita rela melakukan apa saja demi orang itu, sampai-sampai terkadang lupa dengan Allah, lupa beribadah, atau malah berbuat maksiat. Padahal Allah-lah yang menciptakan cinta, dan cinta yang sempurna hanyalah pantas ditujukan kepada Allah semata. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan andad (tandingan-tandingan) selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah: 165)

Lalu tidak bolehkah kita mencintai orangtua, istri, anak, saudara, harta, rumah, kendaraan?

Tentu saja boleh, dan itulah yang disebut cinta naluriah (mahabbah thabi’iyyah). Hal itu dibenarkan karena bersifat fitri. Akan tetapi cinta kepada semuanya itu tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan bahkan cinta kepada semuanya itu haruslah dipayungi dan dibimbing dengan cinta kepada Allah.

Begitu pula, kecintaan kepada semua hal itu harus berakhir manakala mulai bertentangan dengan tuntutan cinta kepada Allah. Aplikasinya adalah seperti yang digambarkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut: 8)

Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)

  1. Memakai pelet dan susuk

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya mantera-mantera (jampi-jampi), jimat-jimat, dan tiwalah adalah syirik. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Tiwalah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang dibuat dan diklaim bisa membuat perempuan lengket pada suami dan sebaliknya (Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi). Jadi bisa saja tiwalah itu berupa pelet, susuk, dan bulu perindu. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa tiwalah yang dimaksud adalah jika berasal dari sihir (Syarh Kitab Tauhid, hal. 62). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa tiwalah ini diperoleh dari jalan sihir (Fathul Bari, 10:196). Sehingga jika pemikat hati atau pemikat cinta berupa pelet, susuk, dan bulu perindu, maka termasuk dalam kategori tamimah (jimat-jimat). Dan jimat-jimat itu terlarang sebagaimana telah disebutkan pula dalam hadits di atas.

Memakai tiwalah (pelet dan susuk) termasuk syirik karena di dalamnya ada keyakinan untuk menolak bahaya dan mendatangkan manfaat dari selain Allah (Fathul Majid, 139). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Tiwalah tergolong syirik karena tiwalah bukanlah sebab syar’i (yang didukung dalil) dan bukan pula sebab qodari (yang dibuktikan melalui eksperimen).” (lihat no. 36).

Lalu bagaimana jika yang memasang susuk itu seorang "kyai" atau menggunakan ayat-ayat Al Quran?

Syaikh Bin Baz rahimahullah memberikan komentar terhadap perkataan Ibnu Hajar yang menyebut tiwalah sebagai bagian dari sihir: “Meskipun yang melakukan (memasang susuk) itu mengaku sebagai muslim yang fanatik, mereka menulis Al Quran dan asma Allah hanya sebagai bentuk pelecehan terhadapnya, karena mereka menulis seperti caranya orang-orang Yahudi, yakni memisah-misahkan hurufnya (seperti dalam mujarobat, pen) dengan tinta khusus dan mencampurinya dengan mantra-mantra jahiliyyah.”

Dengan kata lain para pemasang susuk telah melakukan sihir, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Barangsiapa melakukan sihir, maka dia telah berbuat syirik." (lihat no. 24).

Alasan "yang penting niatnya" tidak bisa mengubah status haram menjadi halal. Karena niat baik hanya akan mendapat nilai baik jika jenis amal dan cara mengerjakannya juga baik dan benar dalam pandangan syar’i. Seperti seorang wanita tidak dibenarkan menjadi pelacur meskipun tujuannya adalah untuk menghidupi keluarga yang menjadi tanggungannya. Sedangkan melakukan kesyirikan apapun tujuannya lebih buruk dari itu, karena syirik adalah dosa yang paling besar.

  1. Setia dan taat kepada Pancasila atau ideologi sekuler lainnya

Salah satu ideologi sekuler yang dianut umat manusia adalah Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Selain sebagai dasar negara, Pancasila juga sebagai sumber dari segala sumber hukum di negara Indonesia. Artinya bahwa posisi Pancasila diletakkan pada posisi tertinggi dalam hukum di Indonesia, meskipun sejak Indonesia merdeka masih menggunakan hukum peninggalan Belanda, posisi Pancasila dalam hal ini menjadikan pedoman dan arah bagi setiap bangsa Indonesia dalam menyusun dan memperbaiki kondisi hukum di Indonesia. Mengingat bahwa hukum terus berubah dan mengikuti perkembangan masyarakat, maka setiap perubahan yang terjadi akan selalu disesuaikan dengan cita-cita bangsa Indonesia yang mengacu pada Pancasila.

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum diatur dalam pasal 2 Undang Undang No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menyatakan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara.

Sementara itu, Allah menyatakan dengan tegas bahwa Dia-lah Yang berhak menetapkan hukum dan Dia-lah Pemberi keputusan yang paling baik, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (QS. Al-An'am: 57)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak mengibadati selain Dia. Itulah dien (peraturan/hukum) yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

...Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri." (QS. Yusuf: 67)

...dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum (keputusan)." (QS. Al-Kahfi: 26)

...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50)

Hai orang-orang yang beriman, ...apabila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu (apapun), maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian... (QS. An-Nisa: 59)

Berdasarkan firman Allah tersebut, barangsiapa yang setia dan taat kepada Pancasila, meskipun rajin shalat, puasa, dzikir, dan sedekah, maka dia terjerumus ke dalam perbuatan syirik akbar yang menghapuskan seluruh amal ibadahnya. Hal ini karena Pancasila ditempatkan sebagai sumber dari segala sumber hukum, yang berarti bahwa setiap penerapan hukum apapun, termasuk hukum Allah, harus tunduk kepada dan sesuai dengan Pancasila. Ini jelas kezaliman yang besar dan pelecehan yang nyata terhadap hukum Allah.

  1. Menjadi pemerintah yang berbaiat/bersumpah memegang teguh UUD 1945 atau hukum jahiliyah lainnya

UUD 1945 dan turunannya adalah hukum jahiliyah yang diberlakukan di negara Indonesia. Hukum jahiliyah adalah tandingan bagi hukum Allah (lihat no. 18 dan 27). Sebelum melaksanakan tugas sebagai pemerintah, baik presiden, gubernur, bupati, maupun walikota diharuskan berbaiat/bersumpah memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturan turunannya, hal ini sebagaimana diatur dalam UU No. 27 Tahun 2009 dan Permendagri No. 35 Tahun 2013. Adapun isi baiat/sumpah selengkapnya adalah sebagai berikut:

“Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa.”

Konsekuensi dari ketaatan kepada sumpahnya berarti mencampakkan sebagian perintah/hukum Allah seperti qishash, diyat, hudud, jizyah, hisbah, dan lainnya, padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah... (QS. Al-A'raf: 54)

Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini, mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia-lah yang berhak menjadi Rabb (Pengatur) bagi manusia. Kalau tidak ada pencipta lain bersama Dia, maka tidak ada pula yang berhak memerintah bersama Dia (lihat Tafsir Fi Zhilalil Qur'an IV hal. 324).

Dengan demikian, menjadi pemerintah yang berbaiat/bersumpah memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan segala undang-undang dan peraturan turunannya termasuk perbuatan syirik akbar karena hal itu sama saja dengan bersumpah meninggalkan sebagian perintah/hukum Allah dan menggantinya dengan perintah/hukum buatan manusia (misal: KUHP).

  1. Percaya pada azimat/jimat

Mengenakan jimat dan mempercayainya dapat memberikan manfaat atau melindungi dari bahaya dan menolak bala’ adalah syirik akbar karena menyamakan Allah dengan makhluk dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah. Adapun mengenakan jimat dan meyakini Allah yang memberikan manfaat atau melindungi dari bahaya dan menolak bala’, sedang jimat itu hanya sebagai sebab adalah syirik asghar. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan hadits-hadits berikut:

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al-An’am: 17)

Dari ‘Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad dan Hakim)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan pelet adalah syirkun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Dalam hadits tersebut kata syirik dalam bentuk nakirah: "syirkun" (tidak ada alif lam di awalnya). Yang dimaksud di sini adalah syirik asghar (lihatRasa-il fil ‘Aqidah, Dr. Muhammad bin Ibrahim Al Hamad, hal. 437-439).

Mengambil sebab untuk meraih suatu kemanfaatan dan menolak kemudaratan tidak dilarang dalam Islam, bahkan dianjurkan. Tetapi dengan syarat, sebab tersebut adalah sebab syar’i atau sebab qodari. Maka menjadikan sesuatu sebagai sebab, padahal ia bukanlah sebab syar’i dan bukan pula sebab qodari adalah perbuatan syirik (lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pada Al Qoulul Mufid, 1/168).

Sebab syar’i maksudnya adalah sebab yang dijelaskan oleh dalil syar’i. Contoh sebab syar'i: membaca surat Al-Fatihah untuk orang sakit adalah sebab kesembuhannya. Sedangkan yang dimaksud dengan sebab qodari adalah sebab yang Allah ciptakan sebagai sebab di alam ini dan dapat diketahui dengan dua cara: pertama, dengan dalil syar’i dan kedua, dengan penelitian ilmiah dan percobaan. Contoh sebab qodari dengan dalil syar'i: madu, habbatus sauda’, kencing unta untuk obat sakit perut, bekam dan lain-lain adalah sebab-sebab kesembuhan. Adapun contoh sebab qodari dengan penelitian ilmiah dan percobaan: obat-obat antibiotik kedokteran modern yang merupakan sebab untuk menekan atau menghentikan perkembangan bakteri atau mikroorganisme berbahaya yang berada di dalam tubuh.

  1. Percaya pada tathayur

Tathayur (perasaan sial) yaitu meyakini adanya kesialan (thiyarah) karena sesuatu. Seperti misalnya pada hari-hari tertentu yang terkait dengan hari kelahiran atau weton tertentu, konon akan merugi jika keluar bekerja atau berdagang pada hari Selasa. Atau akan tidak awet jika mulai bekerja pada hari kamis. Ada juga yang dihitung berdasarkan tanggal lahir dan wetonnya lalu dia tidak boleh berjalan ke arah utara pada hari tertentu dan tak boleh ke barat pada hari tertentu lainnya.

Al-Qarafi rahimahullah berkata: “Tathayur adalah persangkaan jelek yang muncul dalam hati, sedangkan thiyarah adalah perbuatan yang dilakukan sebagai akibat dari persangkaan itu, yaitu larinya dia dari urusan yang akan dilakukan atau perbuatan yang lain.” (lihat Al Furuq 4/238).

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (dalam hatinya terdapat hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang membatalkan hajatnya karena thiyarah (kesialan), maka ia telah berbuat syirik." Para sahabat bertanya: “Apakah tebusan daripada perbuatan tersebut?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah: 'Ya Allah, tidak ada sesuatu kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang datang daripada-Mu, dan tidak ada ilah melainkan Engkau.'" (HR. Ahmad)

Thiyarah termasuk syirik karena keyakinan bahwa ia bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus: 107)

Contoh tathayur lainnya percaya pada tanda-tanda kesialan tertentu, misalnya ada burung gagak hitam pasti di kampung ini akan ada yang meninggal dunia atau terkena wabah. Demikian juga percaya pada tempat-tempat tertentu menjadi angker atau sial karena peristiwa tertentu misalnya tempat bekas kecelakaan, sehingga tikungan tersebut menjadi angker.

Dari Imran bin Husain bin Ali radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung, dan lain-lain), yang melakukan praktek dukun atau yang didukuni, yang menyihir atau meminta disihirkan, dan barangsiapa mendatangi kahin (tukang ramal) dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam." (HR. Bazzar)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak termasuk golongan kami orang yang bertathayur (merasa sial karena sesuatu) atau meminta ditathayurkan (ditebak kesialannya), atau menenung atau minta ditenungkan, menyihir atau minta disihirkan." (HR. Thabrani)

  1. Mencela masa/waktu (apalagi mencela Allah, ayat-ayat-Nya, atau rasul-Nya)

Mencela masa atau cuaca dengan meyakini bahwa ia adalah pelaku utama terjadinya keburukan sesuatu, ini hukumnya adalah syirik akbar karena dia meyakini adanya pencipta lain selain Allah dan menyandarkan terjadinya suatu peristiwa kepada selain Allah. Umpamanya perkataan:

“Aku benci musim kemarau karena ia menimbulkan bencana kelaparan.”

“Tahun ini merupakan tahun pembawa kesialan.”

"Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika bertanding pas hari Rabu."

"Bulan Suro, bulan penuh petaka!"

Bila mengucapkan celaan tersebut dengan diiringi keyakinan bahwa ia adalah pelaku utama terjadinya kelaparan atau musibah lainnya maka hal ini adalah syirik akbar (lihat rincian Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam Al Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid).

Mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik di masa lalu. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)." Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Begitu juga dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan mengenai larangan mencela waktu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Allah ’Azza Wa Jalla berfirman: ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Aku-lah yang membolak-balikkan malam dan siang.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan mencela Allah, ayat-ayat-Nya, atau rasul-Nya dikategorikan sebagai kekufuran yang mengeluarkan dari agama. Sama saja apakah si pelakunya melakukan itu ketika marah atau dalam keadaan rela. Dan sama saja apakah ia melakukan itu serius atau bercanda. AllahSubhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman... (QS. At-Taubah: 65-66)

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi: 106)

  1. Bersumpah dengan menyebut selain nama Allah

Bersumpah dengan nama Allah adalah bentuk mengagungkan Allah. Oleh karenanya, bersumpah dengan selain nama Allah dinilai sebagai bentuk tindakan lancang kepada Allah dan melecehkan kesempurnaan dan keagungan Allah. Karena seorang insan jika ingin menegaskan bahwa dirinya benar dalam perkataannya atau berupaya membersihkan diri dari tuduhan yang dialamatkan kepadanya maka dia akan bersumpah dengan sesuatu yang paling agung dalam hatinya. Adakah di alam semesta ini suatu yang lebih agung dibandingkan dengan Allah? Oleh karena itu, bersumpah dengan selain nama Allah tergolong kesyirikan sebab dalam sumpah tersebut terkandung pengagungan kepada selain Allah. Sedangkan pengagungan termasuk jenis ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah 'Azza Wa Jalla.

Yang dimaksud bersumpah dengan menyebut selain nama Allah -yang tergolong syirik- mencakup segala sesuatu selain Allah, baik itu Ka'bah, rasul, malaikat, langit, dan lain-lain. Misalnya dengan mengatakan “demi Ka'bah”, atau “demi Rasulullah”, “demi Jibril”, "demi langit yang luas", "demi bangsa dan negara", "demi kehormatanku", "demi cintaku kepadamu", dan seterusnya.

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ’anhu, suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu mendengar seorang yang bersumpah dengan mengatakan: "Tidak, demi Ka’bah." Maka Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan.'" (HR. Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim)

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, maka sungguh dia telah kafir atau musyrik." (HR. Ibnu Abi Hatim)

Bersumpah dengan menyebut selain nama Allah adalah syirik akbar jika diiringi keyakinan bahwa sesuatu yang disebutkan dalam sumpah tersebut sederajat dengan Allah dalam pengagungan dan dalam keagungan. Jika tidak ada unsur ini maka hukumnya adalah syirik asghar (Al Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al Kabair menyebutkan beberapa bentuk syirik asghar antara lain bersumpah dengan selain nama Allah dan percaya pada tathayur).

  1. Berbuat riya dan sum'ah

Yang dimaksud riya adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehinga pujian dan ketenaran pun datang. Riya dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang-orang munafik. Al Quran dan As Sunnah telah memperingatkan tentang riya dan sum'ah ini:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia... (QS. Al-Baqarah: 264)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah iamempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya. (QS. Al-Kahfi: 110)

Daru Jundub bin Abdullah bin Sufyan radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang berbuat sum'ah maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menyingkap hakikat dirinya, dan barangsiapa yang berbuat riya maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membuka tabir kejelekannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Maukah kuberitahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Al Masih Ad Dajjal?" Para shahabat menjawab: "Kami mau, wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda: ”Syirik khafi (tersembunyi), seseorang bangkit untuk melaksanakan shalatnya, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya karena ia tahu ada seseorang yang memperhatikannya." (HR. Ibnu Majah)

Riya ada dua jenis. Jenis yang pertama hukumnya syirik akbar. Hal ini terjadi jika seseorang melakukan seluruh amalnya agar dilihat manusia, dan tidak sedikit pun mengharap wajah/keridhaan Allah. Dia bermaksud bisa bebas hidup bersama kaum muslimin, menjaga darah dan hartanya. Inilah riya yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang keadaan mereka:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisaa: 142)

Adapun yang kedua adalah riya yang terkadang menimpa orang yang beriman. Sikap riya ini terkadang muncul dalam sebagian amal. Seseorang beramal karena Allah dan juga diniatkan untuk selain Allah. Riya jenis ini merupakan perbuatan syirik asghar. Syirik asghar adalah hukum asal riya sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Dari Mahmud bin Labid radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik asghar.” Mereka (para Sahabat) bertanya: “Apakah syirik asghar itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu riya. Allah akan berfirman pada hari kiamat nanti ketika Ia memberi ganjaran amal perbuatan hamba-Nya: 'Pergilah kalian kepada orang yang kalian berlaku riya terhadapnya. Lihatlah apakah kalian memperoleh balasan dari mereka.'" (HR. Ahmad, Baghawi, dan Thabrani)

.
Keterangan:

* Syirik akbar atau syirik besar adalah perbuatan mempersekutukan Allah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, menghapuskan seluruh amal ibadahnya, dan menjadikannya kekal di dalam neraka.

** Syirik asghar atau syirik kecil adalah perbuatan mempersekutukan Allah yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun ia berdosa dengan dosa yang paling besar lebih besar daripada dosa-dosa besar perbuatan maksiat seperti membunuh, mencuri, berzina, dan minum khamar (minuman keras).

BERBAGAI SUMBER

 

manusia banyak DOSA lalu TOBAT ... DOSA lagi ... lalu ... TOBAT lagi ... kapan berhenti DOSAnya ?.... HAL-HAL Yang Membuat Dosa Diampuni Allah ... wallahua'lam -------------------------------------- Allah Swt berfirman : “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah [5] ayat 74) ------------------- “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Zumar [39] ayat 53) ---------------------- 1. BERTAUBAT Al-Quran yang suci mengatakan :”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3] ayat 135) ------------------ “Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah [5] ayat 39)----------------- 2. BERBAKTI DAN MENDOAKAN KEDUA ORANGTUA-------------- Al-Quran yang mulia mengatakan : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS Al-Ahqaf [46] : 15-16)---------- 2. MENGIKUTI PETUNJUK, DAN WASIAT RASULULLAH SAW SERTA MEMULIAKANNYA Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] ayat 31)---------- “Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Hujurat [49] ayat 3)----------------- 3. INFAQ------------------ Allah Swt berfirman : “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Taghabun [64] ayat 17)----------- 4. BALASAN DI DUNIA------------ Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari Qiyamat.” (Bihar al-Anwar 81:177)--------------- 5. SABAR ATAS UJIAN HIDUP----------------- Al-Quran suci mengatakan : “..kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud [11] ayat 11)------------ Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min itu apabila melakukan dosa maka diujilah dia dengan kefakiran maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya. Atau diuji ia dengan penyakit, maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya atau ia diuji dengan rasa ketakutan dari Sultan (raja) yang menuntutnya, maka hal itupun menjadi penghapus dosanya atau ia dicoba sehingga ia menemui kematiannya maka ketika ia berjumpa dengan Allah maka tidak ada lagi dosa-dosanya dan Allah memasukkannya ke dalam surga.” (Bihar al-Anwar 81 : 199)----------- 6. MUSIBAH---------------- Rasulullah saww bersabda, “Tidaklah menimpa musibah kepada seorang mu’min laki-laki dan perempuan atas dirinya dan hartanya serta anaknya sehingga ketika ia menjumpai Allah maka tidak ada lagi kesalahan padanya.” (Bihar al-Anwar 67 : 236)---------------- 7. SIKSA KUBUR DI ALAM BARZAKH----------- Imam Ali ar-Ridha as berkata, “[Di dalam firman-Nya : “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS Al-Rahman [55] ayat 39)], “Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki keyakinan yang benar lalu dia berbuat dosa dan dia tidak sempat bertaubat di dunia, maka diazablah ia di Alam Barzakh sampai ketika ia di hari Qiyamat tidak ada lagi dosanya dan tidak pula ia ditanya tentang itu” (Tafsir Nur ats-Tsaqalain 5 : 155)------------- 8. PENYAKIT-------------- Imam Ali ar-Ridha as berkata, “Sakit bagi orang mu’min merupakan penyucian (atas dosanya) dan juga rahmat. Tetapi bagi orang yang ingkar, sakit adalah ’azab dan laknat dan sesungguhnya penyakit bagi seorang mu’min adalah penghapus dosa.” (Bihar al-Anwar 81 : 183)-------- Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya penyakit itu membersihkan jasad dari dosa-dosa sebagaimana alat peniup pandai besi membersihkan karat dari besi.” (Bihar al-Anwar 81 : 197)-------- Ditanyakan kepada Amirul Mu’minin as tentang penyakit yang menimpa seorang bayi, beliau menjawab, “Itu merupakan penghapus dosa (kafarat) bagi orang tuanya.” (Bihar al-Anwar 81 : 186)--- Allah Ta’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), “Ahli taat-Ku dalam jamuan-Ku, dan ahli syukur-Ku dalam limpahan-Ku, dan ahli dzikir-Ku dalam nikmat-Ku, tapi ahli maksiat kepada-Ku tidak ada bagian untuk mereka dari rahmat-Ku. Tetapi jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasihnya, dan apabila mereka berdoa maka Aku akan jawab doanya dan apabila mereka sakit, Aku yang akan menyembuhkannya dan Aku akan mengobati mereka dengan ujian dan musibah untuk membersihkan mereka dari dosa-dosa dan cela.” (Bihar al-Anwar 77 : 42)---------------- 9. KESEDIHAN-------------- Rasulullah saww bersabda, “Apabila seorang mu’min telah banyak dosa-dosanya dan ia belum mengamalkan apa-apa yang dapat menghapus dosa-dosanya maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan demi menghapus dosa-dosanya.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)------------- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kesedihan itu menghapus dosa orang muslim.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)-------- ‎10. KESUSAHAN DI DALAM MENCARI PENGHIDUPAN (NAFKAH)----- Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya ada dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak juga dengan sedekah.”, maka ditanyakan kepada Nabi saww, “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?”, jawab Nabi, “Kesusahan di dalam mencari penghidupan.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)----------- 11. TAQWA, KEJUJURAN, PERBUATAN BAIK, DAN AMAL SHALIH------------ Allah SwT berfirman, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Al-Thalaq [65] ayat 5)----------- “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS Hud [11] ayat 114)--------------- “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab [33] ayat 35)--------------- “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab [33] 70-71)-------------- Lihat ayat-ayat lainnya : QS 34:4; 35:7; 36:11, 67:12------------- 12. AKHLAQ YANG BAIK---------------- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlaq yang baik itu menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana matahari mencairkan es dan sesungguhnya akhlaq yang buruk itu merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.” (Bihar al-Anwar 71 : 356)--------------- Rasulullah saww bersabda,“4 hal yang dapat menghapus dosa dan Allah gantikan dengan kebaikan : 1. Shadaqah, 2. Malu, 3. Akhlaq yang baik, 4. Rasa syukur.” (Bihar al-Anwar 71 : 332)-------------- 13. MEMPERBANYAKKAN SUJUD---------------- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata,“Wahai Rasulullah, telah banyak dosa-dosaku tapi sedikit amalku,” maka Rasul saww bersabda, “Perbanyaklah sujud karena sujud itu menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan dari pohon” (Bihar al-Anwar 85 : 162)------------------- 14. HAJJI DAN UMRAH-------------- Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saww telah bersabda, ”Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang ada di antara keduanya dan hajji yang diterima (Allah) balasannya adalah syurga dan ada suatu dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat diampuni kecuali dengan wukuf di ‘Arafah.” (Bihar al-Anwar 99 : 50)------------ Imam Ali as berkata, ”Menjalani hajji ke Bait Allah dan umrahnya, keduanya menghapus kefakiran dan mencuci dosa.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110)-------------- 15. BERDOA, BERISTIGHFAR DAN BERZIKIR------------------ Al-Quran yang mulia mengatakan : “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Nisa [4] ayat 110)------------- 16. BANYAK MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA---- Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Barangsiapa yang belum mampu untuk menghapus dosa-dosanya maka perbanyaklah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena yang demikian itu dapat merontokkan dosa serontok-rontoknya” (Bihar al-Anwar 94 : 47)----------- 17. HIJRAH, BERJIHAD DI JALAN ALLAH & MENAMPUNG KAUM MUHAJIRIN *]------- Al-Quran yang mulia mengatakan :”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3] ayat 195)------------- “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan , mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia.” (QS Al-Anfal [8] ayat 74)-------- Lihat juga ayat-ayat : QS Al-Shaff [61] : 11-12;------------ 18. KEMATIAN------------- Rasulullah saww bersabda, “Kematian dapat menjadi penebus dosa-dosa orang-orang beriman.” (Amali lil-Mufid, h. 166)--------------

dosa terampuni

manusia banyak DOSA lalu TOBAT ... DOSA lagi ... lalu ... TOBAT lagi ... kapan berhenti DOSAnya ?.... HAL-HAL Yang Membuat Dosa Diampuni Allah ... wallahua'lam

 --------------------------------------
Allah Swt berfirman :
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah [5] ayat 74)
 -------------------
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Zumar [39] ayat 53)
 ----------------------
1. BERTAUBAT
Al-Quran yang suci mengatakan :”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3] ayat 135)
 ------------------
“Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah [5] ayat 39)-----------------
2. BERBAKTI DAN MENDOAKAN KEDUA ORANGTUA--------------
Al-Quran yang mulia mengatakan : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS Al-Ahqaf [46] : 15-16)----------
2. MENGIKUTI PETUNJUK, DAN WASIAT RASULULLAH SAW SERTA MEMULIAKANNYA
Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] ayat 31)----------
“Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Hujurat [49] ayat 3)-----------------
3. INFAQ------------------
Allah Swt berfirman : “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Taghabun [64] ayat 17)-----------
4. BALASAN DI DUNIA------------
Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari Qiyamat.” (Bihar al-Anwar 81:177)---------------
5. SABAR ATAS UJIAN HIDUP-----------------
Al-Quran suci mengatakan : “..kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud [11] ayat 11)------------
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min itu apabila melakukan dosa maka diujilah dia dengan kefakiran maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya. Atau diuji ia dengan penyakit, maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya atau ia diuji dengan rasa ketakutan dari Sultan (raja) yang menuntutnya, maka hal itupun menjadi penghapus dosanya atau ia dicoba sehingga ia menemui kematiannya maka ketika ia berjumpa dengan Allah maka tidak ada lagi dosa-dosanya dan Allah memasukkannya ke dalam surga.” (Bihar al-Anwar 81 : 199)-----------
6. MUSIBAH----------------
Rasulullah saww bersabda, “Tidaklah menimpa musibah kepada seorang mu’min laki-laki dan perempuan atas dirinya dan hartanya serta anaknya sehingga ketika ia menjumpai Allah maka tidak ada lagi kesalahan padanya.”
(Bihar al-Anwar 67 : 236)----------------
7. SIKSA KUBUR DI ALAM BARZAKH-----------
Imam Ali ar-Ridha as berkata, “[Di dalam firman-Nya : “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS Al-Rahman [55] ayat 39)], “Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki keyakinan yang benar lalu dia berbuat dosa dan dia tidak sempat bertaubat di dunia, maka diazablah ia di Alam Barzakh sampai ketika ia di hari Qiyamat tidak ada lagi dosanya dan tidak pula ia ditanya tentang itu” (Tafsir Nur ats-Tsaqalain 5 : 155)-------------
8. PENYAKIT--------------
Imam Ali ar-Ridha as berkata, “Sakit bagi orang mu’min merupakan penyucian (atas dosanya) dan juga rahmat. Tetapi bagi orang yang ingkar, sakit adalah ’azab dan laknat dan sesungguhnya penyakit bagi seorang mu’min adalah penghapus dosa.” (Bihar al-Anwar 81 : 183)--------
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya penyakit itu membersihkan jasad dari dosa-dosa sebagaimana alat peniup pandai besi membersihkan karat dari besi.” (Bihar al-Anwar 81 : 197)--------
Ditanyakan kepada Amirul Mu’minin as tentang penyakit yang menimpa seorang bayi, beliau menjawab, “Itu merupakan penghapus dosa (kafarat) bagi orang tuanya.” (Bihar al-Anwar 81 : 186)---
Allah Ta’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), “Ahli taat-Ku dalam jamuan-Ku, dan ahli syukur-Ku dalam limpahan-Ku, dan ahli dzikir-Ku dalam nikmat-Ku, tapi ahli maksiat kepada-Ku tidak ada bagian untuk mereka dari rahmat-Ku. Tetapi jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasihnya, dan apabila mereka berdoa maka Aku akan jawab doanya dan apabila mereka sakit, Aku yang akan menyembuhkannya dan Aku akan mengobati mereka dengan ujian dan musibah untuk membersihkan mereka dari dosa-dosa dan cela.”
(Bihar al-Anwar 77 : 42)----------------
9. KESEDIHAN--------------
Rasulullah saww bersabda, “Apabila seorang mu’min telah banyak dosa-dosanya dan ia belum mengamalkan apa-apa yang dapat menghapus dosa-dosanya maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan demi menghapus dosa-dosanya.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)-------------
Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kesedihan itu menghapus dosa orang muslim.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)--------
‎10. KESUSAHAN DI DALAM MENCARI PENGHIDUPAN (NAFKAH)-----
Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya ada dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak juga dengan sedekah.”, maka ditanyakan kepada Nabi saww, “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?”, jawab Nabi, “Kesusahan di dalam mencari penghidupan.”
(Bihar al-Anwar 73 : 157)-----------
11. TAQWA, KEJUJURAN, PERBUATAN BAIK, DAN AMAL SHALIH------------
Allah SwT berfirman, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.”
(QS Al-Thalaq [65] ayat 5)-----------
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”
(QS Hud [11] ayat 114)---------------
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS Al-Ahzab [33] ayat 35)---------------
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
(QS Al-Ahzab [33] 70-71)--------------
Lihat ayat-ayat lainnya : QS 34:4; 35:7; 36:11, 67:12-------------
12. AKHLAQ YANG BAIK----------------
Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlaq yang baik itu menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana matahari mencairkan es dan sesungguhnya akhlaq yang buruk itu merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.” (Bihar al-Anwar 71 : 356)---------------
Rasulullah saww bersabda,“4 hal yang dapat menghapus dosa dan Allah gantikan dengan kebaikan : 1. Shadaqah, 2. Malu, 3. Akhlaq yang baik, 4. Rasa syukur.” (Bihar al-Anwar 71 : 332)--------------
13. MEMPERBANYAKKAN SUJUD----------------
Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata,“Wahai Rasulullah, telah banyak dosa-dosaku tapi sedikit amalku,” maka Rasul saww bersabda, “Perbanyaklah sujud karena sujud itu menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan dari pohon” (Bihar al-Anwar 85 : 162)-------------------
14. HAJJI DAN UMRAH--------------
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saww telah bersabda, ”Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang ada di antara keduanya dan hajji yang diterima (Allah) balasannya adalah syurga dan ada suatu dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat diampuni kecuali dengan wukuf di ‘Arafah.” (Bihar al-Anwar 99 : 50)------------
Imam Ali as berkata, ”Menjalani hajji ke Bait Allah dan umrahnya, keduanya menghapus kefakiran dan mencuci dosa.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110)--------------
15. BERDOA, BERISTIGHFAR DAN BERZIKIR------------------
Al-Quran yang mulia mengatakan : “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Nisa [4] ayat 110)-------------
16. BANYAK MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA----
Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Barangsiapa yang belum mampu untuk menghapus dosa-dosanya maka perbanyaklah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena yang demikian itu dapat merontokkan dosa serontok-rontoknya” (Bihar al-Anwar 94 : 47)-----------
17. HIJRAH, BERJIHAD DI JALAN ALLAH & MENAMPUNG KAUM MUHAJIRIN *]-------
Al-Quran yang mulia mengatakan :”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3] ayat 195)-------------
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan , mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia.” (QS Al-Anfal [8] ayat 74)--------
Lihat juga ayat-ayat : QS Al-Shaff [61] : 11-12;------------
18. KEMATIAN-------------
Rasulullah saww bersabda, “Kematian dapat menjadi penebus dosa-dosa orang-orang beriman.” (Amali lil-Mufid, h. 166)--------------
“Tidak ada do’a mereka selain ucapan:
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami
dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan
dalam urusan kami
dan tetapkanlah pendirian kami,
dan tolonglah kami terhadap kaum yang ingkar.”
(QS Ali Imran [3] ayat 147)
“Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami mendengar
(orang) yang menyeru kepada iman :
“Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”,
maka kamipun beriman.
Ya Tuhan kami,
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami
dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,
dan wafatkanlah kami beserta
orang-orang yang banyak berbakti.”
(QS Ali Imran [3] ayat 193)
Amin ya Ilahi Rabbi…
====================================
DOSA-DOSA BESAR ..... dan ....DOSA tidak terampuni oleh Allah/ SYIRIK {menyekutukan Allah}
----------------------------------------------------
A. MENYEKUTUKAN ALLAH (SYIRIK)
------------------------------------------------------
1. Terjemah Hadits
“Anas r.a. berkata, ketika Nabi ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “Syirik (mempersekutukan Allah), durhaka terhadap kedua ayah-bunda, membunuh jiwa manusia, dan saksi palsu.”
(Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab “Syahadat”, bab: Apa yang diucapkan dalam saksi palsu).
--------------------------------------------
"Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi SAW. bersabda, "Tinggalkanlah tujuh dosa yang dapat membinasakan. "Sahabat bertanya, "Apakah itu ya Rasulullah?" Jawah Nabi, Syirik (mempersekutukan Allah; Berbuat sihir (tenung); Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali yang hak; Memakan harta riba; Memakan harta anak yatim; Melarikan diri dari perang jihad pada saat berjuang; Dan menuduh wanita mukminat yang baik-baik (berkeluarga) dengan tuduhan zina. {HR Abu Hurairah}

2. Penjelasan Hadits
Dalam hadits di atas diterangkan empat macam dosa besar, yakni menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa manusia tanpa hak, dan menjadi saksi palsu. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat.
Syirik adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya yang merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Perbuatan lain yang termasuk juga dosa besar adalah durhaka terhadap ayah bunda, membunuh jiwa manusia, dan menjadi saksi palsu.

Rasulullah juga memperingatkan agar kita jangan sampai terperosok ke dalam tujuh macam perbuatan dosa yang menghancurkan, terutama perbuatan menduakan Allah. Sebab, syirik adalah dosa yang paling besar, dan perbuatan syirik ibarat menghina Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh alam ini. Apabila seseorang menjadikan Tuhan selain Allah, berarti ia menganggap Allah itu lemah, yang sudah barang tentu merupakan perbuatan kurang ajar terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
--------------------------------
a. Syirik (Menyekutukan Allah)
----------------------------
Menurut bahasa, syirik berarti persekutuan atau bagian, sedangkan menurut istilah agama adalah mempersekutukan Allah SWT. Dengan selain Allah (makhluk-Nya). Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik adalah kufur atau satu jenis kekufuran.
Syirik dalam pembahasan ini adalah syirik besar bukan syirik kecil (riya), syirik disini adalah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu memuji-muja dan menyembah makhluk-Nya seperti pada batu besar, kayu, matahari, bulan, nabi, kyai (alim ulama), bintang, raja dan lain-lain.

Syirik dikategorikan sebagai dosa paling besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
(QS. An-Nisa: 48)

Al-Qur'an juga memberikan gambaran kepada kita mengenai akibat perbuatan syirik dengan gambaran yang sangat mengerikan:
Artinya : “Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 31)
Al-Qur'an mengatakan:
Artinya : “1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Ayat tersebut dapat diambil suatu pengertian, hanya Allah-lah yang memiliki langit dan bumf. Allah tidak beranak dan tiada yang menyamai-Nya di dalam kekuasaan-Nya. Allah-telah menciptakan segala sesuatu dengan cermat dan teliti, sehingga semua makhluk dibekali dengan kemampuan agar dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Tetapi walau demikian orang-orang musyrik masih saja menyembah selain Allah yang terdiri dari berhala-hala, ber­bagai binatang, hewan, bahkan manusia. Padahal, semua yang di­sembah ini tidaklah mampu berbuat apapun lantaran semuanya adalah makhluk Allah. Mereka takkan mampu menolak datangnya bahaya yang menimpa dirinya, dan tak mampu menghidupkan orang yang telah coati dari kuburnya. Setiap sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat yang telah tersebut, maka tidaklah berhak un­tuk disembah.
Ada pula sebagian umat manusia yang menjadikan pemuka agama sederajat dengan Tuhan. Dan mereka percaya bahwa para. pemimpin dan pemuka agama itu mampu menciptakan kecelakaan dan mampu membuat kebaikan. Lebih dari itu, mereka memiliki hak pengampunan dosa dan memberi berkat. Mereka juga diberi hak membuat undang-undang walaupun pads hakekatnya berten­tangan dengan syari'at Islam karenanya, Islam mengajak kepada mereka agar membebaskan diri mereka dari genggaman kekuasaan para pemimpin agama tersebut.
Rasulullah juga mengatakan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa yang berada di atas dosa-dosa besar lainnya :

Artinya : “Ingatlah, aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar - beliau mengulanginya tiga kali yaitu syirik (menyekutukan Allah), menyakiti kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu."
(HR. Muslim).
Pada ayat lain, dinyatakan bahwa perbuatan syirik adalah suatu kezaliman:
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Lukman : 13)
Orang yang syirik diharamkan untuk masuk surga, sebagaimana firman Allah:
Artinya : “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraca.”
(QS. Al-Maidah: 72)
Abu Hurairah ra berkata: nabi saw bersabda:
Allah ta’ala berfirman:

Artinya : “Aku paling tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa melakukan suatu amal dengan menyekutukan sesuatu kepada Ku dengan dia dan terserahlah ia kepada yang disekutukan itu.”
(HR. Muslim dan Ibnu Majjah) [2]

Artinya : “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan sesuatu amal dimana Aku dipersekutukan pada sesuatu, maka Aku tinggalkan ia dan yang disekutukannya itu.”
(HR. Muslim dan Ibnu Majjah)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً [رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

Artinya : “Dari Anas r.a. dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak awan di langit kemudian engkau minta ampun kepadaku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan.”
(Riwayat Turmudzi dan dia berkata: hadits hasan shahih).[3]
-------------------------------------
b. Durhaka Terhadap Kedua Orang Tua
-------------------------------------------
Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya berarti telah melakukan dan ia akan mendapat hukuman berat di hari kiamat nanti. Bahkan, ketika hidup di dunia pun, ia akan mendapat azab-Nya.
Allah SWT mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada ibu-bapaknya. Bagaimana pun keberadaan seseorang di muka bumi tidak terlepas dari peran ibu dan bapaknya. Ibunya yang telah mengandung dan bapaknya yang telah bersusah payah mencari rezeki, tanpa mengenal lebih untuk membiayai anaknya. Allah SWT berfirman:
Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)
Setiap anak tidak boleh menyakiti kedua ibu bapaknya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, dalam al-Qur'an disebutkan bahwa seorang anak tidak boleh mengatakan “ah”. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isra: 23-24)
Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat yang menerangkan keharusan berbuat baik terhadap orang tua. Menurut Ibn Abas, dalam al-Qur'an ada tiga hal yang selalu dikaitkan penyebutannya dengan tiga hal lainnya, sehingga tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan lainnya:[4]

a. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya;
b. Dirikan shalat dan keluarkan zakat;
c. Bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua.
Hal itu menandakan bahwa peran dan kedudukan orang tua sangat tinggi di hadapan Allah SWT sehingga Rasulullah SAW bersabda:
Artinya : “Keridaan Allah itu terletak pada keridaan kedua ibu-bapaknya dan kemurkaan Allah itu terletak pada kemurkaan kedua ibu bapak pula.”
(HR. Muslim, Hakim, dengan syarat Muslim)

Allah SWT sangat murka terhadap orang yang menyakiti orang tuanya sendiri dan mengharamkannya untuk masuk surga meskipun ia sangat rajin beribadah. Sebagaimana kisah seorang sahabat yang mengalami kesulitan untuk meninggal dunia karena ibunya murka kepadanya dan setelah ibunya memaafkan dosa anaknya setelah Rasulullah saw berkata kepadanya bahwa anaknya akan dibakar, sahabat tersebut meninggal dengan mudah.
Lebih jauh dalam hadits dinyatakan bahwa terhadap yang menyakiti orang tuanya sendiri, oleh Allah tidak akan mengakhirkan untuk menyiksanya.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :
“Semua dosa itu azabnya ditunda oleh Allah SWT sampai hari kiamat, kecuali orang yang durhaka kepada orang tuanya. Sesungguhnya Allah akan mempercepat azab kepadanya; dan Allah akan menambah umur seorang hamba jika ia berbuat baik kepada ibu bapaknya, bahkan Allah akan menambah kebaikan kepada siapa saja yang berbuat baik kepada ibu bapaknya serta memberi nafkah kepada mereka, jika diperlukan.”
(HR. Ibnu Majah)
Setiap anak harus selalu ingat bahwa pengorbanan kedua orang tuanya sangatlah besar, balikan tidak mungkin dapat dibalas dengan harta sebesar apapun. Alangkah kejam dan tidak berakalnya orang yang berani menyakiti hati kedua orang tuanya sendiri.
Tidak heran jika Allah SWT, memberikan keistimewaan kepada setiap orang tua, terutama seorang ibu yang disakiti oleh anak sendiri dengan demikian mengabulkan doanya. Dengan demikian, jika orang tuanya mendoakan agar anaknya celaka, sang anak dipastikan akan celaka. Hal itu dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi:

Artinya :
“Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang teraniaya, doa orang bepergian, dan doa kedua orang tua kepada anak-nya.”
(HR. Turmudzi)
c. Membunuh Jiwa Manusia
Maksud membunuh dalam pembahasan ini adalah membunuh jiwa yang diharamkan tanpa hak dengan sengaja (Q.S. 25: 68 -70). Orang yang berbuat seperti itu akan dimasukkan ke neraka jahanam dan kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah:
Artinya :
“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa: 93)
Sebagaimana halnya perbuatan musyrik, membunuh orang mukmin dengan sengaja juga termasuk dosa yang kemungkinan besar tidak akan mendapat ampunan-Nya. Rasulullah SAW. Bersabda:

Artinya :
“Semua dosa itu masih dapat diampuni oleh Allah, kecuali dosa orang yang mati kafir atau orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja.”
(H.R. Nasai dan Hakim)

d. Kesaksian Palsu
Maksud dari kesaksian palsu adalah orang yang berdusta ketika diminta oleh hakim untuk menerangkan suatu keadaan yang ia ketahui sehubungan dengan pengadilan terhadap seseorang. Kesaksian dalam suatu pengadilan sangat penting karena sangat membantu hakim dalam memutuskan perkara sehingga keputusannya adil dan hak-hak orang lain tidak terampas atau teraniaya. Dengan demikian, orang yang bersaksi palsu sesungguhnya telah merusak hak orang lain untuk mendapat keadilan. Orang yang bersaksi palsu diancam dengan siksaan pedih. Oleh karena itu, diharuskan untuk menjauhinya, sebagaimana firman-Nya:
Artinya
“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”
(QS. Al-Hajj: 30

B. TUJUH MACAM DOSA BESAR

1. Terjemah Hadis:
"Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi SAW. bersabda, "Tinggalkanlah tujuh dosa yang dapat membinasakan. "Sahabat bertanya, "Apakah itu ya Rasulullah?" Jawah Nabi, Syirik (mempersekutukan Allah; Berbuat sihir (tenung); Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali yang hak; Memakan harta riba; Memakan harta anak yatim; Melarikan diri dari perang jihad pada saat berjuang; Dan menuduh wanita mukminat yang baik-baik (berkeluarga) dengan tuduhan zina.

2. Penjelasan Hadits
Dsari ketujuh dosa diatas, bagian yang telah dibahas adalah tentang syirik dan membunuh tanpa hak. Dengan demikian, bagian yang akan dibahas di bawah ini adalah sisanya, yaitu kelima jenis dosa besar.

1. Berbuat Sihir
Sihir yang dimaksud dalam bahasan ini adalah tata cara yang bertujuan merusak rumah tangga orang lain atau menghancurkan orang lain dengan jalan meminta bantuan kepada setan. Hal ini termasuk perbuatan terlarang dan dosa besar. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 102)
Tidak diragukan lagi bahwa sihir termasuk dosa besar dan hukumannya pun sangat berat, yakni di penggal dengan pedang. sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Turmudzi:
Artinya :
“Hukuman bagi tukang sihir itu adalah dipenggal dengan pedang.” (HR. Turmudzi)
Menurut hadis yang diriwayatkan secara marfu oleh Ibnu Masud, perbuatan yang termasuk sihir adalah memohon kekuatan pada alam; mempercayai bahwa benda-benda tertentu dapat menolak dari gangguan pada diri; serta memalingkan hati perempuan supaya menyukainya.
2. Memakan Harta Riba
Riba menurut Bahasa adalah tambahan, sedangkan mengenai definisi riba menurut syara para ulama berbeda pendapat. Akan tetapi, secara umum riba diartikan sebagai utang-piutang atau pinjam meminjam atau barang yang disertai dengan tambahan bunga.
Agama Islam dengan tegas melarang umatnya memakan riba: Sebagaimana firman-Nya.
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
(QS. Ali-Imran: 130)
Hal itu, antara lain, karena riba merugikan dan mencekik pihak yang berhutang. Ia diharuskan membayar dengan bunga yang berlipat. Seandainya terlambat membayar, bunganya pun akin terus berlipat. Perbuatan seperti itu telah banyak dilakukan pada zaman jahiliyyah, dan para ulama menyebutnya istilah riba nasiah. Adapun bentuk riba lainnya adalah riba riba fadhal, yakni menukar barang dengan barang sejenis, namun salah satunya lebih banyak atau lebih sedikit daripada yang lainnya.
Ketika di dunia pun, orang yang berlaku riba walaupun kelihatan memiliki harta berlimpah, hatinya tidak akan tenteram. Dengan kata lain, mereka memiliki harta banayak tetapi tidak berkah sehingga serakah dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatkannya. (QS. 2: 275-276)
Artinya : “Dari Umar bin Khaththab ra., beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Emas dengan perak itu riba, kecuali begini dan begini, gandum dengan gandum itu riba, kecuali begini dan begini, syair dengan syair itu riba, kecuali begini dan begini, dan karma dengan karma itu riba, kecuali begini dan begini.” (Muttafaq alaih).[5]
Maksud hadits tersebut, dijelaskan dalam beberapa hadits lain; di antaranya adalah hadits-hadits berikut:

Artinya :
"Dari Abu Said Al-Khudri ra. (beliau berkata): Sesungguhnya Rasulullah saw., bersabda: 'Janganlah kalian menjual emas dengan emas, kecuali sama timbangan beratnya dan janganlah kalian melebihkan sebagian dari sebagian lain; Dan janganlah kalian menjual perak, dengan perak kecuali sama berat timbangannya, dan janganlah kalian melebihkan sebagiannya dari sebagiannya; Dan janganlah kalian melebihkan sebagiannya dari sebagiannya Dan janganlah kalian menjual yang tempo (utang) dengan yang tunai”.
(Muttafaq alaih).[6]
3. Memakan Harta Anak Yatim
Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya ketika ia masih kecil atau dengan kata lain ditinggal mati oleh orang yang menanggung nafkahnya. Dengan demikian, anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya tidak dikatakan yatim. Ini karena dalam Islam, penanggung jawab untuk mencari nafkah adalah ayah. Sebutan yang lazim di kalangan masyarakat bagi anak kecil yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya adalah yatim piatu.
Memakan harta anak yatim dilarang apabila dilakukan secara zalim. Seperti firman Allah SWT:
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
(QS. An-Nisa: 10)
Dengan demikian apabila dilakukan dengan cara yang patut (baik), orang yang memelihara anak yatim boleh mengambil sedikit harta anak tersebut (QS. 6: 152) yaitu mengambil sebatas biaya pemeliharaannya. Itupun kalau si anak sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, apabila mampu, sebaiknya ia tidak mengambil harta yatim tersebut (QS. 4: 6).
Islam sangat memperhatikan nasib anak yatim. Allah SWT akan memberikan pahala yang besar kepada siapa saja yang memelihara anak yatim. Nabi akan berada di sisi orang yang memelihara anak yatim dan jarak antara beliau dengannya bagaikan antara dua jari. Selain itu, Allah pun akan mencukupkan orang yang memelihara anak yatim, dan menjanjikan pahala surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Barang siapa yang menanggung makan dan minum (memelihara) anak yatim dari orang Islam, Allah SWT akan mencukupkan dia dan menghasurkannya masuk surga, kecuali ia melakukan dosa yang tak terampunkan.”
(HR. Turmudzi)
4. Melarikan Diri Dari Perang (Jihad)
Islam mewajibkan umatnya untuk memelihara, menjaga, mempertahankan, dan membela agamanya. Jika islam diserang dan diperangi musuh, umat Islam diwajibkan berperang. (QS. 22: 39)
Islam melarang umatnya untuk berpaling atau melarikan diri dari medan perang, sebagaimana firman-Nya:
Artinya :
“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya.
(QS. Al-Anfal: 16)
Orang yang lari dari perang (jihad) telah menipu dirinya sendiri dan telah berkhianat kepada Allah SWT dan ia dianggap tidak lagi meyakini kemahakuasaan Allah SWT yang senantiasa menolong setiap hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan agama Allah SWT.
Oleh karena itu, meninggalkan medan jihad tanpa alasan yang dapat diterima akal termasuk dosa besar dan pelakunya akan mendapat azab Allah SWT
5. Menuduh Wanita Mukminat Yang Baik-Baik (Berkeluarga) Dengan Tuduhan Zina.
Perempuan baik-baik dalam Islam ialah seorang mukminat yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan menjaga kehormatannya dari perbuatan keji (zina).
Apabila wanita seperti itu dituduh zina tanpa disertai syarat yang telah ditetapkan syara’, seperti mendatangkan empat saksi an menyaksikan dengan kepala sendiri, maka penuduhnya wajib didera delapan puluh kali dan kesaksiannya tidak boleh diterima selama-lamanya. Allah SWT berfirman:

Artinya :
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur : 4)

berbagai sumber

======================================

Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Hutangnya
-----------------------------------

Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)
Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.
--------------------------------

“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga”. (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
----------------------------------------

Keutamaan Orang yang Terbebas dari Hutang
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.
--------------------------------------------

Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Hutang, Kebaikannya Sebagai Ganti
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.
------------------------

Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.
-----------------------------------------

Urusan Orang yang Berhutang Masih Menggantung
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)
......................
Al ‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142)
--------------------------------------------------

Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)
--------------------------------
Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir, 3/181)
Ibnu Majah membawakan hadits di atas pada Bab “Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya.”
Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411). Di antara maksud hadits ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya.

Masih Ada Hutang, Enggan Disholati
Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?”. Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)

Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)
Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sering Berlindung dari Berhutang Ketika Shalat
Bukhari membawakan dalam  kitab shohihnya pada Bab “Siapa yang berlindung dari hutang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadits dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).”
Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397)
Al Muhallab mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari hutang dan hutang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” (Syarh Ibnu Baththol, 12/37)
Adapun hutang yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang:
[1] Hutang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi hutang tersebut.
[2] Berhutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
[3] Berhutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya.
Orang-orang semacam inilah yang apabila berhutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. (Syarh Ibnu Baththol, 12/38)
Itulah sikap jelek orang yang berhutang sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini.

Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari hutang ketika shalat?
Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”
Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).

Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya
Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.

كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».

Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih kecuali kalimat fid dunya –di dunia-)
Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.
Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan yang memberi hutangan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)

Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

berbagai Sumber

Nabi Ibrahim melaksanakan TAQWA penuh resiko, nyawa taruhannya, dan UJIANnya sangat BESAR bagi NABI dan RASUL ------------------------------ "Ibrahim" merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang. ------------------------- Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut. --------------- Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.------------------- Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.---------- Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud ----------- Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:--- “Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).--------- Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.------------ Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.---------- Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.-------------- Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.-------- Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”-------- Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.---- Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”---- Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:---- “Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”--------- “Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”------- “Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”----- Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”-------------- Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.--------- Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)---------------- “Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)----------- Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.-------- Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.--------- “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).------------------- Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.-------------- Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk-------------- “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)------------ Nabi Ibrahim dan Keturunannya---------------- Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.-------------- Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.----------- Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.---------- Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.----------------- Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.------------------- Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:- Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).-------- Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran: 1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)------------ 2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).--------- 3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)------------- 4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).------- Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja. --------------- kisah nabi ibrahim Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.---------------- “Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)----------- “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)---------------- -------------- Kelahiran Nabi Ismail ------------- Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.------------- Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)------------------ Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.----------- Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat----- Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.---------- Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.--------------- Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,--------------- “Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)-------------- Kisah Penyembelihan Nabi Ismail----------- Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.------------- Kunjungan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ke Mekah-------- Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.------- Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,--- “Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)---------------------- Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.--- Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)----------- Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.------------ Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).------------------ Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.---------- Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),— (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)--------------------- Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)------------------- Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud. -------------------------------- Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak.

kisah ibrahim lengkap

Nabi Ibrahim melaksanakan TAQWA penuh resiko, nyawa taruhannya, dan UJIANnya sangat BESAR bagi NABI dan RASUL 

------------------------------

"Ibrahim" merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang.

-------------------------
Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut.

---------------
Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.-------------------

Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.----------

Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud -----------

Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:---

“Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).---------

Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.------------

Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.----------

Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.--------------

Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.--------

Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”--------

Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.----

Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”----

Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:----

“Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”---------

“Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”-------

“Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”-----

Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”--------------

Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.---------

Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)----------------

“Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)-----------

Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.--------

Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.---------

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).-------------------

Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.--------------

Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk--------------

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)------------

Nabi Ibrahim dan Keturunannya----------------
Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.--------------

Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.-----------

Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.----------

Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.-----------------

Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.-------------------

Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:-

Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).--------

Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran:
1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)------------

2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).---------

3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)-------------

4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).-------

Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja.
---------------
kisah nabi ibrahim
Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.----------------

“Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)-----------

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)----------------

--------------

Kelahiran Nabi Ismail -------------

Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.-------------

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)------------------

Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.-----------

Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat-----

Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.----------

Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.---------------

Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,---------------

Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)--------------

Kisah Penyembelihan Nabi Ismail-----------

Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.-------------

Kunjungan Nabi Ibrahim Alaihissalam ke Mekah--------

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.-------

Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,---

Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)----------------------

Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.---

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)-----------

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.------------

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).------------------

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.----------

Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman,

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)---------------------

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)-------------------

Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud.
--------------------------------

Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak.

berbagai sumber
wallahua'lam