Loading
Menjaganya | EP Artikel-Edy Gojira

syariat islam itu ada amalan-amalan yang dapat menggugurkan dosa dan demikian pula sebaliknya ada perbuatan-perbuatan yang dapat mengGUGURkan amalan/PAHALA, diantaranya adalah: -------------------- 1. Kufur dan syirik ------------------ Alloh berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.[1] (Az Zumar 65) ------------------ 2. Murtad ------------- Alloh berfirman: وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.[2](Al Baqarah 217) --------------------- 3. Nifaq dan Riya’ --------------------- Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi pada hari kiamat: “jika Alloh memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka pergilah kalian kepada amalan yang engkau berbuat riya’ di dunia maka lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala padanya.(HR Ahmad dan Al Baghawi dari sahabat Mahmud bin Labib dengan sanad shahih menurut syarat Muslim) --------------------- 4. Mengungkit-ungkit Pemberian ---------------------- Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…”[3] (Al Baqarah 246) --------------------- 5. Hasad ---------------- Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ “Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? ”.[4] (An Nisa’ 54) -------------------- Dalam sebuah hadits dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اياكم والحسد فان الحسد ياءكل الحسنات كما تاءكل النار الحطب, او قال العشب (رواه ابو داود) “Jahuilah oleh kalian perbuatan hasan karena sesungguhnya hasad itu akan memakan (menghilangkan) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”.[5] (HR Abu Daud) -------------- 6. Meninggalkan Shalat ‘Ashr --------------------- Dari sahabat Buraidah Radhiyallahu a’hu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله “Barangsiapa meninggalkan shalat ‘ashr maka gugurlah amalannya”.[6] ----------------------------- Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata: barangsiapa yang meninggalkannya tanpa udzur maka gugurlah amalannya karena ini adalah perkara yang sangat agung, bahkan sabagian ulama’ beristinbath dengan hadits ini bahwa barangsiapa meninggalkannya maka ia yelah kafir, karena tidak ada perbuatan yang dapat menggugurkan amalan selain kemurtadan sebagaimana dalam firman Alloh yang berbunyi: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”.[7] (Al An’am 88) ------------------------- Dan ada sebagian yang berpendapat bahwa shalat ashr adalah khusuh karena barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir, dan demikian pula dengan shalat-shalat wajib yang lainnya secara umum. Dan ini adalah dalil tentang agungnya shalat ‘ashr. Maka dari itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk menjaganya secara lebih dibandingkan dengan shalat-shalat yang lainnya sebagaimana tertuang dalam firman-Nya: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”.[8] (Al Baqarah 238) --------------------------- [Syarh Riyadhus Shalihin] Dan yang dimaksud dengan shalat wustha di sinilah adalah shalat ‘ashr, karena ada hadits yang shahih yang menjelaskan demikian. شغلونا عن الصلاة الوسطى صلاة العصر، ملأ الله أجوافهم وقبورهم ناراً (HR Ahmad) ------------------ 7. Memelihara Anjing --------------------- Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: من اتخذ كلبا إلا كلب ماشية أو صيد أو زرع انتقص من أجره كل يوم قيراط . “Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga kebun atau berburu atau menjaga ternakmaka akan berkurang amalannya setiap hari satu qirat (dalam riwayat lain dua qirat) ”. (HR Bukhari dan Muslim) ----------------- Dalam Hadits yang shahih dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan satu qirat adalah seperti gunung uhud. Al Qurthuby berkata: “yang demikian itu (satu dan dua qirat) mencakup dua jenis anjing yang mana salah satunya labih jelek dari yang lain, seperti anjing yang hitam yang Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memeritahkan kita untuk membunuhnya”. ------------------- 8. At Ta’li atas Allah Ta’ala ------------------------ At Ta’ly adalah berbicara tentang Alloh tanpa ilmu. --------------- Nabi bersabda “ sesungguhnya seseorang yang berkata Alloh tidak akan menganpuni si fulan maka kelak Alloh akan berkata barangsiapa yang beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan dan engkau telah menggugurkan amalanmu”. (HR Muslim dari sahabat Jundub bin Abdillah) -------------------- 9. Menyelisihi Perintah Alloh dan Rasul-Nya ----------------------------- Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.( Al Hujuraat 2) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (Muhammad 33) ---------------------------- Sebaigan orang berpendapat bahwa yang orang -orang yang dimaksud dalam surat Al Hujuraat ayat 2 adalah orang-orang yang hidup dizaman Nabi karena dizaman ini tidak mungkin karena Nabi telah meninggal dan kita tidak mungkin dapat meninggikan suara kita melebihi suara Nabi. Namun, para ulama’ menjelaskan bahwa konteks ayat inimeliputi seluruh kaum muslimin bahkan sampai zaman ini. Lalu bagaimana seseorang dapat meninngikan suaranya melebihi suara Nabi ? Yaitu tatkala ada sebuah majlis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi kemudian seseorang itu meninngikan suaranya melebihi suara pembaca hadits tersebut, ada sebagian ulama’ pula yang menjelasan bahwa diantara bentuk meninggikan suara dalam ayat diatas adalah meninggikan suara atau berteriak di samping kuburan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a‘lam ----------------- 10. Transaksi ‘Inah -------------------------- Transaksi ‘inah itu termasuk bentuk akal-akalan dalam riba. --------- Di antara trik transaksi riba yang sudah diwanti-wanti sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang disebut dengan jual beli ‘inah. --------------- Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang. ------------- Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belumpunya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”. Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.” ------- Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan.Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara.Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari.Inilah yang disebut transaksi ‘inah.Ini termasuk di antara trik riba.Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.” ------------------------ Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, إِذَاتَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga;lh kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242) ------------------- Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ “Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525) ---------------------

August 17, 2016 Edy Gojira 2

perbuatan-perbuatan yang dapat  mengGUGURkan  amalan/PAHALA, diantaranya adalah: -------------------- syariat islam [...]

MENGAMBIL SEBAB ......dan .... TIDAK mengHILANGkan TAWAKKAL ----------------------------------- Tawakkal artinya mewakilkan, yaitu menampakkan kelemahan dan bersandar atau bergantung kepada orang lain -------------------- Dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dan Al Hakim. Imam Tirmidzi berkata : hasan shahih) ------------------------- Hakikat Tawakkal .... PENTINGnya .... Tawakkal ----------------------------- ar-Râghib al-Ashfahani t (wafat th. 425 H) berkata, “(kata) Tawakkal itu (bisa) dikatakan dari dua sisi. (Jika) dikatakan: Tawakkaltu li fulân (Aku menjadi wakilnya si fulan), maka maksudnya adalah dia menjadi wakil si Fulan. Dan (jika) dikatakan juga : Wakkaltuhu fatawakkala lii, wa tawakkaltu ‘alaihi (aku menjadikan dia sebagai wakil, kemudian dia menjadi wakilku, dan aku bertawakkal kepadanya), maka maksudnya adalah aku bersandar atau bergantung kepadanya.” ------------------------ Ibnul Atsîr rahimahullah (wafat th. 606 H) berkata, “Tawakkal terhadap suatu perkara adalah apabila bergantung dan bersandar padanya. (Ungkapan) Aku wakilkan urusanku kepada seseorang, artinyanya aku bersandar dan bergantung padanya.” ---------------------- Secara istilah, Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat th. 795 H) berkata, “Tawakkal ialah penyandaran hati dengan jujur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam upaya memperoleh kebaikan-kebaikan dan menolak bahaya-bahaya dalam seluruh urusan dunia dan akhirat.” ---------------------- Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla ialah puncak iman.” ------------------------- Pengertian yang paling dekat yang dikumpulkan dari pengertian-pengertian di atas yakni Tawakkal ialah keadaan hati yang tumbuh dalam mengenal Allâh Azza wa Jalla , beriman kepada keesaan-Nya dalam menciptakan, mengatur, mendatangkan manfaat, menolak bahaya, memberi dan menahan, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa saja yang tidak Dia kehendaki maka tidak akan terjadi. Oleh karena itu, wajib bersandar dan berserah diri kepada-Nya, percaya kepada-Nya, yakin bahwa Allâh Azza wa Jalla akan mencukupinya.” ------------------------ Hakikat Tawakkal ------------------------ 1. Mengenal Allâh dan sifat-sifat-Nya seperti sifat maha kuasa-Nya, maha kaya-Nya, dan sifat terus-menerus mengurus makhluk-Nya, sifat maha tahu-Nya terhadap segala sesuatu dan mengetahui bahwa semua perkara itu bersumber dari kehendak-Nya. Pengetahuan tentang masalah-masalah ini merupakan langkah awal yang hendak manapaki jalan tawakkal. Orang-orang yang tidak mengimani hal-hal diatas, seperti orang yang mengatakan bahwa Allâh Azza wa Jalla itu tidak memiliki sifat, maka mereka tidak akan bisa bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla 2. Mengakui dan menetapkan adanya sebab, menjaganya dan melakukan sebab-sebab tersebut. 3. Hati sangat tergantung kepada Allâh Azza wa Jalla , bersandar kepada-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan percaya dengan pengaturan-Nya. Sebagian orang yang berilmu, “Orang yang bertawakkal itu seperti anak kecil yang tidak mengetahui apa-apa yang dapat melindunginya selain ibunya, maka begitu juga orang yang bertawakkal, dia tidak mengetahui sesuatu yang dapat melindunginya selain Rabb-nya. 4. Tawakal adalah kemantapan di atas tauhid, bahkan hakikat tawakal adalah sepenuhnya mentauhidkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan hati. Apabila di dalam hati masih ada noda kesyirikan maka tawakkalnya masih cacat. Dan bila seseorang sudah memurnikan tauhidnya maka tawakkalnya menjadi benar. 5. Ridha. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ridha adalah buah tawakkal. Barangsiapa yang menafsirkan tawakkal dengan ridha, maka dia telah menafsirkan tawakkal dengan buahnya yang maling mulia dan faedahnya yang paling agung. Karena sesungguhnya jika seseorang bertawakkal dengan sebenar-benarnya maka dia akan ridha dengan apa yang diperbuat oleh Allâh Azza wa Jalla .” 6. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Rahasia tawakkal dan hakekatnya adalah kepasrahan dan ketergantungan hati kepada Allâh semata. Tidaklah tercela mengambil sebab (melakukan usaha-red) dengan tetap menjaga hati (agar bebas-red) dari ketergantungan kepada sebab tersebut. Adalah merupakan sebuah kesia-siaan, orang yang mengatakan, “Saya bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla ” tetapi ia bersandar, bergantung dan memiliki keyakinan kepada selain-Nya. Jadi, tawakkal lisan berbeda dengan tawakal hati. Oleh karena itu, tidak manfaatnya sedikitpun, ucapan seseorang yang mengatakan, “Saya berawakal kepada Allâh” tetapi ia masih bersandar dan bergantung kepada selain Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana orang yang berkata, “Saya bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla ” sedangkan ia terus berkubang dengan maksiat.” ---------------------- realisasi tawakkal tidak bertentangan dengan sebab-sebab yang telah ditakdirkan Allâh Azza wa Jalla dan merupakan ketentuan-Nya dalam makhluk, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan makhluk-Nya untuk mengambil sebab-sebab (melakukan usaha-red) sekaligus memerintahkan mereka agar bertawakkal. ....................... Jadi, upaya mencari sebab-sebab dengan anggota badan adalah bentuk ketaatan kepada-Nya, sedangkan tawakkal dengan hati ialah iman kepada-Nya, seperti dalam firman Allâh Azza wa Jalla : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama ! [an-Nisâ’/4:71] ---------------- Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu bisa dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allâh dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang tidak kamu ketahui, sedang Allah mengetahuinya. [al-Anfâl/8:60] ---------------------- Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. [al-Jumu’ah/62:10] ----------------

August 15, 2016 Edy Gojira 1

MENGAMBIL SEBAB ......dan .... TIDAK mengHILANGkan TAWAKKAL ----------------------------------- Tawakkal artinya [...]

apa yang dimaksud…… Hawa Nafsu ?? ——————- Apakah hawa nafsu itu selalu buruk ?? —————————- Hawa nafsu terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس).”Dalam bahasa Indonesia, ‘nafsu’ bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh”Ketiga-tiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab: Hawa (الهوى): sangat cinta; kehendak. Nafsu (النفس): roh; nyawa; jiwa; tubuh; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha. Syahwat (الشهوة): keinginan untuk mendapatkan yang lezat; birahi. ————————– Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai “syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia,” yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang. ——————– ‘Hawa nafsu ‘cenderung’ pada keburukan’, ketika kita menyandarkan seluruh perbuatan kita pada ‘hawa nafsu’ semata atau ‘hawa nafsu’ sebagai yang utama dan tentu ‘jiwa’ ini akan jatuh ke lubang kotor, yang mengotori jiwa. Manusia akan ‘dikuasai’ dan ‘diperbudak’ oleh hawa nafsu-nya. ——————————— Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا{7} فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا{8} قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا{9} وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا{10} “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 7-10) ——————————————- Sedangkan secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan maksiat, hal ini sebagaimana telah disinyalir dalam Al Quran surat Yusuf ayat 53, yang mana memang pada asalnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿يوسف:٥٣﴾ “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Yusuf: 53) ————————————— Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata: “Yaitu (nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan) kecuali nafsu yang Allah menjaganya (dari keburukan)”. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada sesuatu yang diinginkannya, meskipun ia menyuruh kepada sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala, kecuali Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, maka Dia menyelamatkannya dari mengikuti hawa nafsu dan mentaatinya dari keburukan-keburukan yang diperintahkannya. Sesungguhnya Allah Maha memaafkan dari dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat dari dosa tersebut dengan tidak menyiksanya. —————————————- Adapun kecondongan jiwa kepada apa yang diinginkannya, kecondongan hati kepada apa yang dicintainya meskipun hal itu keluar dari hukum-hukum syari’at. Dan setiap apa yang keluar dari yang diwajibkan oleh kitab dan sunnah maka itulah hawa. Dan setiap orang yang tidak mengikuti ilmu dan kebenaran maka ia adalah shohibul hawa, Allah Ta’ala berfirman, “Dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’’. (Al-An’am: 119) ——————— Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut. ———————- Ada pula yang mendefinisikan hawa nafsu yang tidak berbeda jauh dari yang disebutkan diatas yaitu : 1.Kecenderungan jiwa kepada yang diinginkan. 2.Kehendak jiwa terhadap yang disukai. 3.Kecintaan manusia terhadap sesuatu hingga mengalahkan hatinya (qalbunya). 4.Suka atau asyik terhadap sesuatu kemudian menjadi isi hatinya (qalbunya). ——————

July 8, 2016 Edy Gojira 1

apa yang dimaksud…… Hawa Nafsu ?? ——————- Apakah hawa nafsu [...]