Gagasan penyatuan awal bulan ramadhan, syawal dan dzulhijjah telah bertahun-tahun diupayakan, tetapi hasilnya tetap nihil. ————————– Seakan mempersatukan umat Islam yangdinyatakan oleh Allah sebagai “ummatan wahidah” itu sulit diwujudkan,bagai mempersatukan minyak tanah dengan air. Walaupun nampak sama-sama cair tapi susah bersatu walau hanya untuk menentukan kapan tanggal 1 ramadhan,syawal dan dzulhijjah. ——————- Para Ulama sepakat bahwa orangyang enggan mengikuti perintah rasulullah adalah orang yang membangkang kepadabeliau. “Kullu ummatie yadkhuluunal jannata illaa man abaa, wa man ya’baayaa Rasulullah? Man ashoonie fa qod abaa”. ———— KEABSAHAN RUKYATUL HILAL ————— MOZAIK LINGUSTIK ———– Kata “Rukyatul Hilal”terdiri dari dua kata dalam bahasa arab, yakni rukyah dan hilal.Rukyah adalah sepatah kata isim berbentuk mashdar mempunyai fi’il ra-a –yara. Kata ra-a dan tashrifnya mempunyai banyak arti, antara lain: ———– 1. Ra-a bermakna abshara, artinyamelihat dengan mata kepala. Bentuk mashdarnya rukyah. Diartikan demikianjika maf’ul bih (objek) nya menunjukkan sesuatu yang tampak/terlihat. —————— 2. Ra-a bermakna adraka/’alima,artinya mengerti, memahami, mengetahui, memperhatikan, berpendapat, dan adayang mengatakan melihat dengan akal fikiran. Bentuk mashdarnya adalah ra’yun.Diartikan demikian jika maf’ul bih (objek) nya berbentuk abstrak atau tidakmempunyai maf’ul bih (objek). ——————– 3. Ra-a bermakna hasiba/zhonna,artinya mengira, menduga, yakin dan ada yang mengatakan melihat denganhati. Bentuk mashdarnya ra’yun. Dalam kaidah bahasa arab diartikandemikian jika mempunyai 2 maf’ul bih (objek). ————— Jadi, rukyahhanya dapat diartikan melihat dengan mata kepala, dan tidak boleh diartikandengan arti yang lain. ————————– Hilal Menurut Bahasa ——————- Hilal dalam bahasa arab adalahsepatah kata isim yang terbentuk dari 3 huruf asal yaitu ha-lam-lam, samadengan terbentuknya kata fi’il halla dan ahalla yang berarti tampak. ———– · Halla al-Hilaalu dan Ahalla al-Hilaaluartinya bulan sabit tampak.——- · Halla ar-Rajulu artinya seoranglaki-laki melihat/memandang bulan sabit.——– · Ahalla al-Qoumu al-Hilaala artinya orangbanyak berteriak ketika melihat bulan sabit.———– · Halla asy-Syahru artinya bulan (baru)dimulai dengan tampaknya bulan sabit.———- Jadi, menurutbahasa arab, hilal itu adalah bulan sabit yang tampak pada awal bulan.——- —————– Hilal Menurut al-Qur’an ——————- “Mereka bertanya kepadamutentang ahillah (jamak dari hilal) …” (QS. Al-Baqarah: 189) ————————— Al-Maraghidalam tafsirnya jilid I halaman 84 mengekemukakan sebuah riwayat dari Abu Na’imdan Ibnu ‘Asakir dari Abi Sholih dan Ibnu Abbas menceritakan: “BahwaMu’adz bin Jabal dan Tsa’labah Ibnu Ghunaimah bertanya: Ya Rasulallah, mengapakeadaan hilal itu tampak lembut cahayanya laksana benang, kemudian bertambahsehingga membesar, merata dan bundar, dan kemudian berangsur-angsur menyesutdan melembut sehingga kembali seperti keadaan semula, tidak dalam satu bentuk?Maka turunlah ayat ini.” ——————

Gagasan penyatuan awal bulan ramadhan, syawal dan dzulhijjah telah bertahun-tahun diupayakan, tetapi hasilnya tetap nihil.
————————–
Seakan mempersatukan umat Islam yangdinyatakan oleh Allah sebagai “ummatan wahidah” itu sulit diwujudkan,bagai mempersatukan minyak tanah dengan air. Walaupun nampak sama-sama cair tapi susah bersatu walau hanya untuk menentukan kapan tanggal 1 ramadhan,syawal dan dzulhijjah.
——————-

Para Ulama sepakat bahwa orangyang enggan mengikuti perintah rasulullah adalah orang yang membangkang kepadabeliau. “Kullu ummatie yadkhuluunal jannata illaa man abaa, wa man ya’baayaa Rasulullah? Man ashoonie fa qod abaa”.
————

Kemarin saudara Ahmad Fauzan (salahseorang kader Muhammadiyah) dengan lantangnya mengatakan bahwa rukyatulhilal itu adalah hal yang primitif dan usang. Ungkapnya:

“ Rukyat itu kriteria basi,yang udah kuno.. jadi nggak perlu dibahas cukup untuk kalangan orang-2 semi primitifaja, buang2 energi Jkriteria Rukyaul Hilal adalahkriteria kuno dan primitif”
——————–

Pernyataannya di atas sungguh melecehkan dan merendahkan ajaran Nabi Muhammad Saw. Karena beliau selalu menyuruh umatnya untuk melaksanakan rukyatul hilal sebelum berpuasa dan berlebaran.Ajaran ini diijma’i para sahabat, menjadi pedoman para tabi’in, tabi’itani’in,mazhab 4 (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) dan menjadi dasar hukum itsbatpara Khalifah, Sulthan dan Ulil Amri.

Saudara Ahmad Fauzan bersikeras untuk tetap mengikuti konsep wujudul hilal. Yaitu paham yang mengatakan bahwajika hilal sudah di atas ufuk, maka hal itu menandakan bulan baru dalam kelender hijriah, meski hilalnya tidak terlihat.

Saya amati saudara Ahmad Fauzanyang melecehkan ajaran rasulullah ini dalam mendefinisikan kata “Hilal”dari segi filosofis dan linguistiknya saja tidak bisa. Kok bisa-bisanya diamerendahkan sistem rukyatul hilal yang sampai sekarang diperpegangi dan dipahamipara ulama baik secara riwayat maupun dirayat…??? Justru sistem wujudul hilalyang dianutnya lah yang usang dan ngaur. Saya akan bahas tentang keabsahansistem rukyatul hilal dari perspektif agama dan sains, juga keusangansistem wujudul hilal dari pelbagai perspektif.


KEABSAHAN RUKYATUL HILAL
—————

MOZAIK LINGUSTIK
———–

Kata “Rukyatul Hilal”terdiri dari dua kata dalam bahasa arab, yakni rukyah dan hilal.Rukyah adalah sepatah kata isim berbentuk mashdar mempunyai fi’il ra-a –yara. Kata ra-a dan tashrifnya mempunyai banyak arti, antara lain:
———–

1.     Ra-a bermakna abshara, artinyamelihat dengan mata kepala. Bentuk mashdarnya rukyah. Diartikan demikianjika maf’ul bih (objek) nya menunjukkan sesuatu yang tampak/terlihat.
——————

2.     Ra-a bermakna adraka/’alima,artinya mengerti, memahami, mengetahui, memperhatikan, berpendapat, dan adayang mengatakan melihat dengan akal fikiran. Bentuk mashdarnya adalah ra’yun.Diartikan demikian jika maf’ul bih (objek) nya berbentuk abstrak atau tidakmempunyai maf’ul bih (objek).
——————–

3.     Ra-a bermakna hasiba/zhonna,artinya mengira, menduga, yakin dan ada yang mengatakan melihat denganhati. Bentuk mashdarnya ra’yun. Dalam kaidah bahasa arab diartikandemikian jika mempunyai 2 maf’ul bih (objek).
—————

Jadi, rukyahhanya dapat diartikan melihat dengan mata kepala, dan tidak boleh diartikandengan arti yang lain.
————————–

 Hilal Menurut Bahasa
——————-

Hilal dalam bahasa arab adalahsepatah kata isim yang terbentuk dari 3 huruf asal yaitu ha-lam-lam, samadengan terbentuknya kata fi’il halla dan ahalla yang berarti tampak. ———–

·        Halla al-Hilaalu dan Ahalla al-Hilaaluartinya bulan sabit tampak.——-

·        Halla ar-Rajulu artinya seoranglaki-laki melihat/memandang bulan sabit.——–

·        Ahalla al-Qoumu al-Hilaala artinya orangbanyak berteriak ketika melihat bulan sabit.———–

·        Halla asy-Syahru artinya bulan (baru)dimulai dengan tampaknya bulan sabit.———-

Jadi, menurutbahasa arab, hilal itu adalah bulan sabit yang tampak pada awal bulan.——-
—————–

Hilal Menurut al-Qur’an
——————-

“Mereka bertanya kepadamutentang ahillah (jamak dari hilal) …” (QS. Al-Baqarah: 189)
—————————

Al-Maraghidalam tafsirnya jilid I halaman 84 mengekemukakan sebuah riwayat dari Abu Na’imdan Ibnu ‘Asakir dari Abi Sholih dan Ibnu Abbas menceritakan:

“BahwaMu’adz bin Jabal dan Tsa’labah Ibnu Ghunaimah bertanya: Ya Rasulallah, mengapakeadaan hilal itu tampak lembut cahayanya laksana benang, kemudian bertambah sehingga membesar, merata dan bundar, dan kemudian berangsur-angsur menyesut dan melembut sehingga kembali seperti keadaan semula, tidak dalam satu bentuk?Maka turunlah ayat ini.”
——————

Ash-Shabuni dalam tafsirnyaShafwatu at-Tafaasiir juz I halaman 125 mengekemukakan tafsir ayat tersebutsebagai berikut:

“Merekabertanya kepadamu hai Muhammad tentang hilal mengapa ia tampak lembut semisalbenang selanjutnya membesar dan terus membulat kemudian menyusut dan melembutsehingga kembali seperti keadaan semula?”

Jelaslah menurut ayat tersebutdan tafsirnya, bahwa hilal atau bulan sabit itu pasti tampak terlihat.

Hilal Menurut as-Sunnah

Hadis yangdiriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Rib’i bin Hirasy dari salahseorang sahabat Rasul menyebutkan bahwa 2 orang a’rabi datang menghadap Rasuldan melapor dengan ungkapan: “Billah la-ahalla al-Hilalu amsi ‘asyiyyatan” (DemiAllah sungguh telah tampak hilal kemarin sore).

Hadis inimenyatakan, bahwa hilal itu pasti tampak terlihat. Demikian pula hadis-hadislainnya.

Hilal Menurut Sains

Hilal ataubulan sabit atau dalam istilah astronomi disebut crescent adalah bagian daribulan yang menampakkan cahayanya terlihat dari bumi ketika sesaat setelah matahariterbenam pada hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi.

Dari tinjauan bahasa, al-Qur’an, as-Sunnah dan tinjauansains sebagaimana diutarakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hilal (bulansabit) itu pasti tampak cahayanya terlihat dari bumi di awal bulan, bukansekedar pemikiran atau dugaan adanya hilal. Nah, dari sini saja dapat kitasimpulkan sistem wujudul hilal tidak mempunyai dasar hukum syariah dan jugatidak berlandaskan sains.

Apabila katarukyah dan hilal dengan artinya tersebut digabungkan, maka arti rukyatul hilaladalah pengamatan dengan mata kepala terhadap penampakan bulan sabit sesaatsetelah matahari terbenam di hari telah terjadinya ijtima’ (konjungsi).Penampakan bulan sabit di awal bulan harus terlihat oleh mata, baik matatelanjang maupun dengan alat dan tidaklah cukup dalam angan-angan, pemikiran,perkiraan dan keyakinan belaka. Penampakan bulan sabit (zhuhurul hilal) menjaditanda datangnya bulan baru.

RukyatulHilal adalah sistem penentuan awal bulan qamariah dengan cara melihat danmengamati hilal (bulan sabit) secara langsung di lapangan pada hari ke 29(malam ke-30) dari bulan yang sedang berjalan; apabila ketika itu hilal dapatterlihat, maka pada malam itu dimulai tanggal 1 bagi bulan baru atas dasar rukyatulhilal; tetapi apabila tidak berhasil melihat hilal, maka malam itu tanggal30 dari bulan yang sedang berjalan dan kemudian malam berikutnya dimulaitanggal 1 bagi bulan baru atas dasar istikmal (menggenapkan 30 hari bagibulan sebelumnya).

Menurut sistemini, maka umur bulan qamariah ialah 29 hari atau 30 hari. Rasulullah saw.Bersabda:

“Sesungguhnya kami adalah umatyang ummi. Tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung (hisab) umur bulan.Umur bulan itu sekian-sekian,” (HR. Bukhari dan Muslim). Menurut al-Bukhari“sekian-sekian” ialah “kadang 29 hari dan kadang 30 hari”

Hadis ini sering dipahami secarahitam putih, bahwa rukyah itu berlaku bagi masyarakat yang masih awam. Sedanguntuk masyarakat yang sudah maju maka tidak perlu rukyah, cukup dengan ilmupengetahuan. Padahal sesungguhnya di balik hadis ini terdapat hikmah mendalam,yaitu:

1.     Sifat keumian itu justru menunjukkan secarayakin tentang otentitas ad-diinul islam dibangun atas dasar wahyu, bukandibangun atas dasar hasil pemikiran;

2.     Hadis ini mengajarkan, bahwa usia bulan qamariahkadang 29 hari kadang 30 hari, berbeda dengan umur bulan syamsiah;

3.     Nabi saw. mengajarkan rukyah sebagai kemudahanbagi umatnya;

4.     Rukyah mempunyai nilai ibadah jika hasilnyadigunakan untuk pelaksanaan ibadah seperti shiyam, ‘id, gerhana dll.

5.     Rukyah, pengamatan dan observasi benda-bendalangit seperti letak matahari terbenam, posisi dan tinggi hilal, dan jarakantara hilal dan matahari dapat menambah kekuatan iman;

6.     Rukyah itu ilmiah. Rukyah, pengamatan danobservasi benda-benda langit ribuan tahun lamanya dicatat dan dirumuskan.Kemudian lahirlah ilmu astronomi dan ilmu hisab. Rukyah melahirkan hisab. Tanparukyah tak ada ilmu hisab. Rukyah itu bagaikan seorang ibu yang melahirkan anakbernama hisab. Jika si hisab telah menjadi dewasa kemudian lupa dan mengabaikanrukyah, itu sama saja durhaka kepada orang yang melahirkan dirinya.

Rukyatul Hilal Sebagai Sistem

Tidak kurangdari 23 hadis tentang rukyah, yaitu hadis-hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi,an-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, Ibnu Hibban,al-Hakim, ad-Daruquthni, al-Baihaqi dan lain-lain. Kesemua hadis tersebutdengan jelas mengabsahkan sistem rukyatul hilal. Satu di antaranya adalah:

“Bila kamu melihat hilal, makaberpuasalah dan bila kamu melihat hilal maka berbukalah (beridul fitri). Bilahilal tertutup awan atasmu, maka berpuasalah kamu tiga puluh hari.” (HR.Muslim)

Inti hadis ini, bahwa ramadhandan idul fitri ditetapkan atas dasar sistem rukyah. Apabila dapat melihat hilalsyawal, maka puasanya 29 hari; dan apabila tidak dapat melihatnya, maka idulfitri ditetapkan atas dasar istikmal dan puasanya menjadi 30 hari. Kata “ra-aytumal-hilal” (melihat hilal), secara bahasa mengindikasikan melihat secaralangsung.

Sementara itu, ada hadis yangmenjawab syarat dari “fa in ghumma” dengan jawaban “faqduru lah”.Kata tersebut di atas sementara diterjemahkan dengan arti “kadarkanlah”yang harus dilakukan sesudah terdapat mendung sebagaimana tersebut dalam hadisyang dimaksud. Untuk memahaminya perlu dihubungkan dengan hadis berikut:

“Berpuasalah kamu karenamelihat hilal dan berbukalah kamu (beridul fithri) karena terlihat hilal. Bilahilal tertutup awan atasmu, maka kadarkanlah padanya tiga puluh (faqduru lahutsalatsina).” (HR. Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa yangdimaksud dengan “kadarkanlah” pada hadis sebelumnya adalah “kadarkanlahtiga puluh”.

Kata faqdurudalam hadis itu masih harus diperjelas lagi maksudnya. Kata faqduru adalahbentuk amr dari fi’il madhi qadara dan memiliki banyak arti: sanggupilah,kuasailah, ukurlah, bandingkanlah, pikirkanlah, pertimbangkanlah, sediakanlah,persiapkanlah, agungkanlah, muliakanlah, bagilah, tentukanlah, takdirkanlah,persempitlah, tekanlah, dan masih banyak arti lainnya.

Artiyang demikian banyak menjadi sulit untuk diambil salah satunya ketikadihubungkan dengan tujuan hadis tentang puasa ramadhan.

Menurutahli ushul fiqh kata faqduru disebut kata mujmal (banyakartinya). Untuk memahaminya harus dijelaskan dengan mencarikan kata mufassar(pasti artinya) dalam hadis lain, seperti kata akmilu (sempurnakanlah)sebagaimana terdapat dalam hadis “fa akmilu iddata sya’ban tsalatsina”(sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban menjadi tiga puluh).

Sistemrukyatul hilal telah menjadi pedoman dan pengalaman para sahabat:

“Dari Abdullah bin Umar iaberkata: orang-orang berusaha melihat hilal (melakukan rukyatul hilal) lalusaya memberitahu kepada Rasulullah saw. bahwa saya telah melihat hilal, makabeliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar supaya berpuasa” (HR.Abu Dawud, Daruquthni, dan Ibnu Hibban)

Hadis ini menunjukkan:

1.     Tingginya semangat melaksanakan rukyah dikalangan para sahabat.

2.     Para sahabat tidak memutuskan sendiri dan tidakmau mendahului Rasulullah saw.

3.     Istbat sepenuhnya ada di tangan Rasulullah saw.baik sebagai Rasul Allah, maupun sebagai kepala negara.

4.     Itsbat Rasulullah saw. berlaku bagi semua kaummuslimin.

Selanjutnyasistem rukyatul hilal ini dijadikan pedoman dan pengamalan para sahabat,Tabi’in, Tabi’ittabi’in, madzab 4 (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) dantelah menjadi dasar hukum itsbat para khalifah, sulthan, dan Ulil Amri.

KEUSANGAN WUJUDUL HILAL

Wujudul Hilalsebagai sistem yang dipakai oleh Muhammadiyah seringkali tidak mengikutikeputusan pemerintah dalam memulai dan mengakhiri puasa. Kalaupun sama, hal itudikarenakan faktor kebetulan saja. Sejauh penelusuran penulis, konsep wujudulhilal hanya ada di Indonesia, tidak pada negara-negara lain.

Secaraharfiah, wujudul hilal berasal dari dua kata bahasa arab. Wujudberarti ada, dan hilal berarti bulan sabit. Dengandemikian, wujudul hilal adalah sistem penentuan awal bulan qamariah yangmenitikberatkan pada posisi hilal di atas ufuk sebagai petunjuk masuknya bulanbaru, kendati hilal belum bisa dilihat dan di bawah imkan rukyah.

Menurutpengakuan Oman Fathurohman, Muhammadiyah sampai sejauh ini tidak mendefinisikanhilal. Pengertian hilal menurut Muhammadiyah dirumuskan dandiasumsikan dari kriteria yang digunakan dalam menetapkan awal bulan qamariah,yaitu kriteria wujudul hilal. Hilal didefiniskan oleh Muhammadiyahsebagai penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saatsetelah bulan baru (konjungsi). Muhammadiyah sendiri mendefinikan wujudulhilal itu “untuk menentukan tanggal 1 bulan baru, ialah kalau pada ketikaterbenam matahari pada akhir bulan, hilal (bulan sabit) sudah wujud. Yangdimaksud bahwa hilal sudah wujud, yaitu matahari terbenam lebih dahulu daripada terbenamnya bulan walaupun hanya sejarak 1 menit atau kurang”. Dengandemikian, hilal dalam konsep wujudul hilal tidak dikaitkan dengan terlihatnyasecara aktual ataupun pasti dapat terlihat secara potensial, tetapi hanyaterkait dengan geometris bumi, bulan dan matahari. Jadi hilal teoritis.

Oman jugamenambahkan bahwa ketika kata rukyat dihubungkan dengan kata hilal, maka iaakan berarti sesuai dengan definisi hilal yang digunakan. Rukyat dalampengertian secara visual (melihat dengan mata kepala) atau rukyah bashoriyahatau disebut juga rukyah bil fi’li, hanya cocok untuk pengertian hilalsecara aktual. Rukyatul hilal yang terdapat dalam sejumlah hadis Nabi saw.tentang rukyat hilal Ramadhan dan Syawal adalah rukyatul hilal dalam pengertianhilal aktual, sehingga kata rukyat tidak dapat dipalingkan kepada arti lainselain melihat secara visual.

Pertanyaannya,apakah Muhammadiyah tetap melaksanakan rukyatul hilal di era modern ini saat ini?Ternyata TIDAK…!!!!

Menurut sumberyang dapat dipercaya, Muhammadiyah mula-mula menggunakan SISTEM RUKYAT (rukyatbil fi’li), kemudian IJTIMA’ QABLAL GHURUB, dan terakhir dipergunakan sistemWUJUDUL HILAL sejak penentuan awal dan akhir Ramadhan 1388 H.

Sistem RUKYATBIL FI’LI mula-mula digunakan oleh Muhammadiyah untuk menentukan awal dan akhirRamadhan, setelah perkembangan ilmu astronomi, maka Muhammadiyah menggunakansistem hisab yang dipelopori oleh KH. Siraj Dahlan, putra KH. Ahmad Dahlan.Hisab yang digunakan, mula-mula hisab sistem IJTIMA’ QABLAL GHURUB. Karenaperkembangan pemikiran dalam pemikiran hisab, pada tahun 1388 H sistem hisabijtima’ qablal ghurub disempurnakan dengan memperhatikan posisi hilal di atasufuk, sistem WUJUDUL HILAL.

Tentangaplikasi rukyatul hilal dalam Muhammadiyah (versi dulu) akan lebih jelas lagikalau putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah tentang hal itu. Salah satuputusannya mengatakan:

“bila kamu menyaksikandatangnya bulan Ramadhan dengan melihat hilal atau persaksian orang yang adilatau dengan menyempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari apabila berawan ataudengan hisab, maka puasalah dengan ikhlas niatmu karena Allah semata.”

Untuk memastikan masuknyaRamadhan, Majelis Tarjih Muhammadiyah memutuskan empat cara:

1.     Rukyat (melihat dengan mata kepala)

2.     Kesaksian orang yang adil

3.     Penggenapan umur bulan Sya’ban 30 hari(istikmal) apabila cuaca berawan dan mendung

4.     Hisab

Putusan Tarjih 1932 di Makasarmenegaskan:

“berpuasa dan ‘idul-fitri itudengan rukyat dan tidak berhalangan dengan hisab. Apabila ahli hisab menetapkanbahwa hilal belum wujud atau sudah wujud tetapi tidak mungkin terlihat, padahalkenyataannya ada orang yang melihat pada malam itu juga, maka rukyatlahdipakai”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwakedudukan rukyat lebih tinggi dari pada hisab. Namun keputusan ini telah diubaholeh putusan berikutnya tahun 2000 M dan putusan tahun 2003 M. Putusan terakhirmenyatakan bahwa hisab hakiki dan rukyat sebagai pedoman penetapan awal bulanqamariah memiliki kedudukan yang sama. Bahkan secara spesifik dalam putusantahun 2003 dikatakan hisab mempunyai fungsi dan kedudukan yang sama denganrukyat sebagai pedoman penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.Hisab yang dimaksud dalam putusan tersebut adalah hisab hakiki dengan kriteria wujudulhilal. Dalam praktiknya sekarang, Muhammadiyah menggunakan hisabwujudul hilal dalam menentukan awal bulan kamariah, karena dipandang lebihpraktis untuk menentukan tanggal jauh sebelumnya dan dapat menentukan haridepan secara lebih pasti, sehingga persiapan-persiapan dapat dilakukansebelumnya secara tepat.

Dari tulisan saya di atas tentangWujudul Hilal, dapat ditarik beberapa kesimpulan akan keusangan wujudulhilal, antara lain:

1.     Muhammadiyah (yang sekarang) dengan sistem wujudulhilalnya tidak melayani konsep fikih. Sebab tidak merujuk dan mengkaji apa ituhilal dengan pendekatan filosofis linguistik, sebagaimana yang dimaksud olehsyari’at. Jika al-Qur’an dan Hadis yang menjadi pedoman kita, maka hendaknyamerujuk pada kedua sumber hukum islam tertinggi tersebut. Wahyu itu diturunkandi tanah arab, sehingga untuk berinteraksi dengan masyarakat arab, al-Qur’anturun dengan bahasa arab. Mustahil kita berpuasa kalau tidak berdasar padadalil al-Qur’an dan hadis. Mustahil kita memahami isi al-Qur’an dan Hadis tanpaterlebih dahulu mempelajari bahasa arab dan ilmu-ilmu yang berkaitan. Sehinggawajar kita merujuk dan menekankan pada kelimuan bahasa arab dan sains untuktepat mendefinisikan hilal. Jangan membangun rumah langsung ke atapnya, tapibangunlah dari pondasinya agar pegangan menjadi kuat dan mantap. Dengankata lain, jangan asal bilang hilal sudah wujud, kalau kita belum tahu apa artihilal yang sebenarnya.

2.     Muhammadiyah (yang sekarang) mengatasnamakanHisab Wujudul Hilal-Nya dengan sebutan Rukyah bil ‘Ilmi. Padahal secaralinguistik rukyah itu hanya digunakan untuk melihat secara visual, bukan secaramelihat secara keilmuan dan hisab. Sehingga lebih layak jika dikatakan RA’YUNBIL ‘ILMI. Kalau demikian, berarti sama saja tidak memenuhi kriteriapenetapan awal bulan baru, karena penetapan awal bulan baru harus dengan RUKYAHBIL FI’LI, BUKAN RA’YUN BIL ‘ILMI.

3.     Keputusan-keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyahternyata tidak konsisten. Pada awalnya, Muhammadiyah juga melakukan RUKYAH BILFI’LI, lambat laun berubah dan berpegang pada sistem IJTIMA’ QABLAL GHURUB.Terakhir baru berpegang pada WUJUDUL HILAL. Dan ini mengisyaratkan bahwapendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan (Allahu yarham) tidak mengenal konsepwujudul hilal sebagaimana diperpegangi oleh mayoritas Muhammadiyin sekarang.Bahkan Muhammadiyah (dulu) memposisikan rukyat lebih tinggi dari pada hisab.Dan saya sangat setuju dengan keputusan ini.

4.     Wujudul Hilal yang berarti adanya hilal, jugasangat tidak sesuai dengan kajian nash dan sains. Ketika posisi hilal di atasufuk meski hanya satu menit atau kurang, hilal sudah dinyatakan wujud kendatitidak terlihat dan jauh di bawah imkan rukyah. Hal ini jelas-jelas tidak masukakal, karena tidak terbukti secara realita dan tidak memenuhi apa yang dimaksudoleh pengertian hilal itu sendiri. Jika dipaksakan dengan mengatakan hilaltelah wujud, padahal belum. Maka hal ini termasuk kekeliruan yang nyata bahkanpembohongan, khususnya kepada masyarakat arab dan umat islam. Karena merekamemahami hilal dengan tampaknya cahaya kecil berbentuk sabit.

5.     Jika kita memperhatikan lafazh “fa in ghumma”(apabila mendung) pada beberapa hadis Nabi saw. tentang pedoman memulai danmengakhiri puasa. Maka lafazh tersebut disebut dengan istilah syarat dalamgramatikal bahasa arab. Sementara faqduru (kadarkanlah) adalah jawabasy-syart (jawaban atas syarat). Nah, pertanyaannya sekarang adalah apakahada istilah mendung dalam hisab wujudul hilal? Ternyata TIDAK ADA. SebabMuhammadiyah mendasarkan dan berpegang pada wujudul hilal jauh-jauh harisebelum, yang kita ketahui bersama bahwa masa beberapa tahun ke depan tidakbisa kita nyatakan secara pasti bahwa harinya mendung atau tidak saatpelaksanaan rukyah.

6.     Jika Muhammadiyah mengartikan kata “faqduru”(kadarkanlah) dengan arti hisablah. Hal itu sah-sah saja, karena satu lafazhdalam bahasa arab mempunyai banyak arti. Tapi alangkah lebih indah dan lebihbijak jika kata “faqduru” yang notebene-nya kata mujmal (banyak makna,ambigu) dicari kata mufassar-nya (makna pasti). Kata mufassar-nyaterdapat pada hadis lain, yaitu “fa akmilu tsalatsina” (makasempurnakanlah tiga puluh). Kata faqduru (kadarkanlah/istikmal) sendiri tidakboleh dilakukan sebelum adanya syarat, syaratnya adalah ketika terjadi ghumma(mendung). Ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh mengumandangkan puasa atau hariraya sebelum observasi hilal secara nyata. Hal inilah yang melatarbelakangipara ulama dahulu yang menyutujui hisab hanya boleh dilakukan setelah adanyarukyah. Pendapat ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalanidalam kitabnya Bulughul Maram.

7.     Pernyataan Din Syamsuddin (Ketua Umum PPMuhammadiyah) di Mahkamah Konstitusi:

“Menurutkami, sidang isbat tidak perlu karena melalui sidang itu, pemerintah tidakmengayomi umat. Dalam sidang itu, aspirasi banyak kalangan tidak terwadahikarena tidak ada tukar pendapat”

“Mulai tahunini Muhammadiyah tidak lagi mengikuti sidang isbat yang biasa digelar KementerianAgama untuk menentukan Ramadhan dan Idul Fitri. Kami sudah bisa menetapkan awalpuasa, juga hari raya, sampai 100 tahun ke depan. Hal itu karena kami memilikirumus eksakta, seperti astronomi dan falak, sehingga sidang isbat tidakdiperlukan lagi oleh kami”. (Tribun Jogja, 27 Juni 2012)

Ada beberapakomentar yang perlu diutarakan terkait pernyataan Din Syamsuddin di atas:

a)     Sidang Isbat tetap diperlukan dan sangatmemayungi umat Islam. Perlu diketahui sebelumnya bahwa sidang isbat adalahkewenangan ulil amri. Di dalam suatu negara kewenangan ulil amri itu bersifatfinal. Dalam artian keputusan seharusnya ditaati dan dilaksanakan.

Tujuan dibentuk dan dilaksanakannya sidang isbat olehpemerintah merupakan upaya dari negara untuk menghadapi perbedaan metodepenentuan awal bulan yang ada. Yang akhirnya bertujuan, semoga dengan adanyapengontrolan perbedaan itu diharapkan agar tercipta kemaslahatan dan kenyamandalam beribadah.

Bayangkan jika tidak ada sidang isbat, pastinyaperbedaan awal bulan akan semakin liar, dan tak terkendalikan.

Kemaslahatan dan kenyamanan ibadah – awal puasa danhari raya – itu bisa terwujud jika penyatuannya dapat diseragamkan.Kebalikannya, jika tidak terseragamkan maka yang terjadi kesemrawutan ibadah. Andaikanpermasalahan ini hanya sekedar berkaitan dengan kepersonalan seseoranjg sihtidak apa-apa. Tapi masalahnya, penentuan awal bulan ini menyangkut hal-halyang sampai ke akar tradisi sosial keagamaan. Seperti tradisi mudik beda,tradisi “sungkeman” beda, “kupatan” pun akan beda jika awal bulan Ramadhantelah ada perbedaan. Jadi tidak nyaman bukan?

“Diceritakan dari Rib’i bin Hirasy dari seorang sahabatNabi saw. ia berkata: orang-orang berselisih tentang hari terakhir dari bulanRamadhan. Lalu datanglah dua orang Badwi seraya memberi kesaksian di hadapanNabi saw.: Demi Allah sungguh telah tampak hilal kemaren petang. Maka Nabi saw.memerintahkan orang-orang agar supaya berbuka (beridul fithri)”. (HR. Ahmadbin Hanbal dan Abu Dawud). Dalam satu riwayat lagi Abu Dawud menambahkankata-kata “dan agar supaya mereka datang ke tempat shalat besok pagi” (shalatidul fithri dikerjakan pada pagi hari berikutnya).

Hadis ini memberikan petunjuk bahwa adanya perbedaan penentuan awalbulan itu sebagai hal yang wajar, tetapi perbedaan itu sudah selesai danberhenti ketika telah dikeluarkan itsbat oleh Ulil Amri yang didasarkan padadalil rajih yaitu rukyatul hilal yang berkualitas.

Hal-hal yangperlu digarisbawahi dari pemaparan di atas, yaitu:

1)     Rukyatul Hilal/Istikmal adalah sistem penentuanawal bulan qamariah, khususnya bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah yangdiajarkan oleh Rasulullah saw.

2)     Arti rukyatul hilal adalah melihat dengan matakepala atau mengamati penampakan hilal di awal bulan. Untuk mengawali bulanbaru, hilal harus tampak terlihat bukan sekedar dalam angan-angan, dugaan, ataukira-kira.

3)     Terjadinya keputusan istikmal setelahpenyelenggaraan rukyatul hilal bil fi’li tidak berhasil melihat hilal.

4)     Rasulullah saw. tidak pernah menentukan hariberpuasa dan hari ‘id jauh sebelum waktunya.

5)     Sistem rukyatul hilal ini dijadikan pedoman danpengamalan para sahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in, madzab 4 (Hanafi, Maliki,Syafi’i, dan Hanbali) dan telah menjadi dasar hukum itsbat para khalifah,sulthan, dan Ulil Amri.

Ada dua kaidah penting harus diterapkan dalam sidangisbat. Pertama, yaitu “tashorruful imam ‘ala ar-raiyyah manuthun bilmashlahah”.

Jadi, bagaimana pemerintah mengambil kebijakan tentangpenentuan awal Ramadhan dan Syawal dengan mengacu kepada kemaslahatan umat. Dankemaslahatan itu lebih bisa terjadi jika – awal bulan Ramadhan dan Syawal – ituseragam.

Kedua, “hukmul hakim ilzamun, wa yarfa’ul khilaf”.Semestinya, jika sudah itsbat (ditetapkan) dalam sidang itsbat seperti itu,awal bulan jatuh pada hari “H” ya ketetapan pemerintah itu yang dipakai. Karenakeputusan hakim (pemerintah) itu ilzamun, mengikat, wa yarfa’ulkhilaf, dan keputusan itu seharusnya mampu menghilangkan perbedaan. Tapi kenapamasih ada? Padahal sudah mengumpulkan berbagai kelompok/ormas islam.

Sejarah sidang isbat di Indonesia itu “antik”. Padazaman Soeharto yang dikenal sebagai rezim tangan besi saja masih terjadiperbedaan. Anehnya, hal itu dibiarkan oleh presiden kedua RI itu. Lebih dariitu, ketidakseragaman awal ramadhan itu hanya ada di Indonesia, tak ada dinegara lain. Di negara lain khususnya negara-negara timur tengah seperti SaudiArabia penetapan awal bulannya kebanyakan ditetapkan dengam keputusan raja danlangsung dipatuhi oleh selutuh rakyatnya.

b)     Memang sidang isbat tidak banyak memberikanwaktu untuk bertukar pendapat. Tapi hanya menyampaikan hasil rukyah dan argumenyang dipakai saja. Wajar-wajar sama sidang isbat tidak memberikan banyak waktuuntuk bertukar pendapat, karena acaranya MEMANG SIDANG ISBAT, bukan lokakaryaatau simposium dan bentuk kegiatan hisab rukyah lainnya. Pembahasan bertukarpendapat juga dilakukan oleh Kemenag seperti perumusan kriteria imkan rukyahdan tentang perundang-undangan sidang itsbat. Jika SIDANG ISBAT digunakan untukbertukar pikiran, maka bagaimana nasib umat yang menunggu untuk sholat tarawihatau bertakbiran? Hasilnya kan akan larut malam.

c)     Ungkapan Din Syamsuddin yang tidak mau mengikutisidang isbat itu menurut saya sangatlah tidak tepat. Apalagi berucap bisamenetapkan kapan puasa dan hari raya 100 tahun ke depan. Kalau berbeda pendapatdengan pemerintah lalu tidak mau ikut sidang isbat, lebih baik berbeda pendapatdan menghadiri sidang isbat. Karena ikut sidang isbat akan mengisyaratkan kepatuhankepada ulil amri, setidaknya dari segi formalitas. Nah, ungkapan 100 tahun kedepan itu seakan-akan menganggap yang lain tidak begitu pandai hisab. Bukankahorang non-Muhammadiyin juga banyak ahli falaknya, baik dalam segi kuantitasmaupun produktifitasnya? Hisab itu belum tentu pasti, kendati hisabkontemporer. Buktinya beberapa hisab kontemporer seperti ephemeris, new comb,nautica, jean meeus dll menunjukkan hasil yang berbeda. Adanya perbedaan metodedan hasil hisab serta perbedaan dalam memanfaatkanya menunjukkan kebenaranhisab relatif.

d)    Ungkapan tersebut juga terkesan mengabaikanrukyah. Bukan terkesan lagi, tapi nyata-nyata mengabaikan rukyah. Rukyah ituilmiah. Rukyah, pengamatan dan observasi benda-benda langit ribuan tahunlamanya dicatat dan dirumuskan. Kemudian lahirlah ilmu astronomi dan ilmuhisab. Rukyah melahirkan hisab. Jika tidak ada rukyah, mustahil ada hisab.Rukyah itu bagaikan seorang ibu yang melahirkan anak bernama hisab. Jika sihisab telah menjadi dewasa, kemudian lupa dan mengabaikan rukyah. Itu sama sajadurhaka kepada orang yang melahirkan dirinya. Hisab yang tinggi akurasinya,dapat dijadikan sarana pendukung rukyah. Tetapi tidak dapat dijadikan sebagaipenggantinya dan tidak dapat menjadi pengganti al-Qur’an dan as-Sunnah.

e)     Pernyataan Din Syamsuddin terkesan menolak keputusanMajelis Tarjih Muhammadiyah (yang dulu, karena yang dulu mengutamakan rukyat)dan juga menolak Fatwa MUI nomor 2 tahun 2004 tentang penetapan awal bulanRamadhan, awal Syawal dan Dzulhijjah ada pada pemerintah, Kementerian Agama RI.

Wal akhir,hendaknya kita saling bertoleransi kalau juga mau berbeda pendapat. KarenaIslam sangat menghargai perbedaan. Namun kita tidak serta merta memberikankeluasan untuk berbeda pendapat. Ada hal yang harus kita tempuh, yaitu salingnasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Itulah 2 tanda-tanda orangyang tidak merugi setelah beriman dan beramal sholeh.

berbagai sumber
wallahua’lam

Mengapa Dia Murka kepada Yahudi dan menyuruh kaum Islam untuk memusuhi dan memerangi ————– seorang teman berkomentar, “Kadang gue kepikir kenapa Allah sedemikian benci dengan ciptaan -Nya sendiri yg dinamai Yahudi ini ya….dan menyuruh kaum Islam untuk memusuhi dan memerangi… sorry bener-bener ga mengerti…” ?? ————– Nampaknya teman saya ini memang benar-benar tidak mengerti tentang siapakah kaum Yahudi dan kenapa Allah mengarahkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap mereka, bahkan disuruh bersiap untuk berperang dengan kaum Yahudi. Dan saya menduga, jangan-jangan tidak cuma dia yang benar-benar tidak mengerti tentang siapakah kaum Yahudi sehingga Allah murka pada mereka. —————- Karena yang ditanya tentang sikap Allah, maka untuk mengetahui bagaimana sikap-Nya itu perlu kita tanyakan kepada Allah. Namun karena saya tidak bisa mendapat jawaban langsung dari-Nya, maka saya cukup mendapatkan jawabannya dari apa yang sudah Dia firmankan di dalam al-Quran maupun Hadits (melalui Nabi-Nya). —————- Untuk menjawab pertanyaan teman saya tentang sikap Allah terhadap Yahudi, perlu memahami dulu apa sifat-sifat Allah. ———————– Apakah Allah Tuhan Yang Pemurka? (Mengapa Dia Murka kepada Yahudi?) ————— Sama sekali tidak. Dia adalah Tuhan yang Maha Pencipta, Maha Pemberi dan Maha Penyayang. Juga Maha Sabar. ————– Mari kita bandingkan antara kasih sayang orangtua kepada anaknya dan kasih sayang Allah kepada makhluknya. ——————– Setiap orangtua pasti cinta dan sayang pada anak-anaknya. Meski begitu, sebagai orangtua kita pernah marah kepada anak kita kalau mereka membangkang terhadap perintah dan larangan kita. Apalagi jika anak kita durhaka kepada kita, tentu kita sangat marah, galau dan sedih. Tapi tidak ada orangtua yang tiba-tiba marah dan benci kepada anaknya tanpa sebab. ————— Seperti orangtua kepada anaknya, sesungguhnya Allah juga sangat cinta dan sayang kepada seluruh ciptaan-Nya. Bahkan kasih sayang dan cinta Allah kepada makhluk-Nya melebihi kasih sayang orangtua kepada anaknya. ———————– Kisah ini disampaikan oleh ‘Umar bin al-Khaththab : ——————— Datang para tawanan di hadapan Rasulullah. Ternyata di antara para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi bertanya, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Padahal dia kuasa untuk tidak melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi bersabda, “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 5999) ——————– Begitu penyayangnya Allah kepada kita, sehingga tak mungkin Dia murka kecuali bila makhluknya telah bertindak keterlaluan. Begitu pula kepada orang-orang Yahudi, Allah murka kepada mereka disebabkan mereka perilaku pembangkangan dan kedurhakaan mereka sudah melampuai batas ———————- Namun meski Allah sangat marah kepada makhluk yang kufur kepada-Nya, Dia bersabar terhadap kekufuran mereka. Allah tidak serta-merta marah kepada makhluk-makhluk yang membangkang dan durhaka kepada-Nya lalu mengazab mereka atas kekufurannya itu, meski Dia sangat bisa melakukan itu. Karena Allah telah menetapkan ketentuan untuk dirinya sendiri bahwa, “Kasih sayang-Ku mendahului murka-Ku.” Padahal setiap hari lautan, gunung dan bumi merasa geram terhadap manusia. ———————–

yahudi bangkang

seorang teman berkomentar, “Kadang gue kepikir kenapa Allah sedemikian benci dengan ciptaan -Nya sendiri yg dinamai Yahudi ini ya….dan menyuruh kaum Islam untuk memusuhi dan memerangi… sorry bener-bener ga mengerti…” ??
————–

Nampaknya teman saya ini memang benar-benar tidak mengerti tentang siapakah kaum Yahudi dan kenapa Allah mengarahkan umat Islam untuk berhati-hati terhadap mereka, bahkan disuruh bersiap untuk berperang dengan kaum Yahudi. Dan saya menduga, jangan-jangan tidak cuma dia yang benar-benar tidak mengerti tentang siapakah kaum Yahudi sehingga Allah murka pada mereka.
—————-
Karena yang ditanya tentang sikap Allah, maka untuk mengetahui bagaimana sikap-Nya itu perlu kita tanyakan kepada Allah. Namun karena saya tidak bisa mendapat jawaban langsung dari-Nya, maka saya cukup mendapatkan jawabannya dari apa yang sudah Dia firmankan di dalam al-Quran maupun Hadits (melalui Nabi-Nya).
—————-
Untuk menjawab pertanyaan teman saya tentang sikap Allah terhadap Yahudi, perlu memahami dulu apa sifat-sifat Allah.
———————–

Apakah Allah Tuhan Yang Pemurka? (Mengapa Dia Murka kepada Yahudi?)
—————

Sama sekali tidak. Dia adalah Tuhan yang Maha Pencipta, Maha Pemberi dan Maha Penyayang. Juga Maha Sabar.
————–

Mari kita bandingkan antara kasih sayang orangtua kepada anaknya dan kasih sayang Allah kepada makhluknya.
——————–

Setiap orangtua pasti cinta dan sayang pada anak-anaknya. Meski begitu, sebagai orangtua kita pernah marah kepada anak kita kalau mereka membangkang terhadap perintah dan larangan kita. Apalagi jika anak kita durhaka kepada kita, tentu kita sangat marah, galau dan sedih. Tapi tidak ada orangtua yang tiba-tiba marah dan benci kepada anaknya tanpa sebab.
—————

Seperti orangtua kepada anaknya, sesungguhnya Allah juga sangat cinta dan sayang kepada seluruh ciptaan-Nya. Bahkan kasih sayang dan cinta Allah kepada makhluk-Nya melebihi kasih sayang orangtua kepada anaknya.
———————–

Kisah ini disampaikan oleh ‘Umar bin al-Khaththab :
———————

Datang para tawanan di hadapan Rasulullah. Ternyata di antara para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi bertanya, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Padahal dia kuasa untuk tidak melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi bersabda, “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Shahih, HR. al-Bukhari no. 5999)
——————–

Begitu penyayangnya Allah kepada kita, sehingga tak mungkin Dia murka kecuali bila makhluknya telah bertindak keterlaluan. Begitu pula kepada orang-orang Yahudi, Allah murka kepada mereka disebabkan mereka perilaku pembangkangan dan kedurhakaan mereka sudah melampuai batas
———————-

Namun meski  Allah sangat marah kepada makhluk yang kufur kepada-Nya, Dia bersabar terhadap kekufuran mereka.  Allah tidak serta-merta marah  kepada makhluk-makhluk yang membangkang dan durhaka kepada-Nya lalu mengazab mereka atas kekufurannya itu, meski Dia sangat bisa melakukan itu. Karena Allah telah menetapkan ketentuan untuk dirinya sendiri bahwa, “Kasih sayang-Ku mendahului murka-Ku.” Padahal setiap hari lautan, gunung dan bumi merasa geram terhadap manusia.
———————–

Setiap hari lautan meminta izin pada Allah, “Tuhan, izinkan aku menenggelamkan anak Adam yang telah memakan rezeki-Mu, namun ia menyembah selain Engkau.” Gunung – gunung juga berkata, Tuhan, izinkan aku menghimpit anak manusia yang telah memakan rezeki-Mu, namun ia menyembah selain Engkau.”  Bumi pun tak mau kalah. Ia berkata, Tuhan, izinkan aku untuk menelan anak Adam yang telah memakan rezeki-Mu, namun ia menyembah selain Engkau.”

Menanggapi permintaan itu, Allah swt. berkata, “Biarkan saja mereka. Andai kalian menciptakan mereka, pastilah kalian akan mengasihi mereka.”

Setiap hari dan setiap saat, Allah bersabar menanti manusia-manusia yang sadar terhadap kesalahannya lalu bertaubat dan meminta ampun kepada-Nya. Kesabaran-Nya berlangsung hingga tiba kiamat dan hari pengadilan.

Jadi meskipun kaum Yahudi sudah bertindak keterlaluan dalam pembagkangannya kepada Allah, sehingga membuat Dia murka. Namun Dia bersabar, tidak menghabisi para pembangkang itu saat ini juga. Mereka terus diberi waktu untuk bertaubat, hingga tiba saat yang dijanjikan.
==================

Mulanya Yahudi adalah Makhluk yang Diistimewakan Allah

===========

Dalam Al-Qur’an, Allah mengungkit-ungkit keistimewaan yang pernah Dia berikan kepada Bani Israil.

2:47. Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat

Salah satu bentuk keistimewaan untuk mereka adalah mereka dibela oleh Allah ketika mereka dizalimi oleh rezim Fir’aun:

2:49. Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.

2:50. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

Meski telah diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun, tapi mereka tidak bersyukur dan beriman kepada Allah. Mereka berdalih ingin melihat Tuhan terlebih dulu.

2:55. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”,…

Permintaan mereka memaksa Nabi Musa bermohon kepada Allah untuk memperlihatkan diri-Nya. Allah mengatakan mereka tidak akan sanggup melihat Allah. Tapi mereka memaksa, sehingga Allah memperlihatkan ketakmampuan makhluk melihat diri-Nya melalui gunung. Gunung tak sanggup menghadapi keagungan Allah, sehingga gunung itu hancur berantakan.  Maka Nabi Musa pun jatuh pingsan.

7:143. Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.  Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Sedangkan orang-orang Yahudi yang menjadi kaum Nabi Musa mati tersambar petir yang menghancurkan gunung itu.

2: 55. …karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.

Tapi Allah mengistimewakan orang Yahudi sesudah mematikan mereka, supaya mereka bersyukur.

2:56. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.

Allah juga mengistimewakan mereka dengan menurunkan kitab Taurat melalui Nabi Musa:

2:53. Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.

Tapi mereka tidak mau bersyukur. Ketika Nabi Musa dipanggil Allah ke bukit Thursina untuk menerima kitab Taurat, Nabi Musa meninggalkan kaumnya selama 40 malam. Tapi pada masa itu orang Yahudi menjadi penyembah berhala:

2:51. Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.

Mereka kemudian dimarahi oleh Nabi Musa:

2:54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

Setelah dimarahi Nabi Musa, mereka kembali beriman kepada Allah, lalu mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka:

2:52. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.

Dalam perjalanan pulang dari Mesir ke Palestina, mereka diistimewakan lagi dengan cara perjalanan mereka senantiasa dinaungi dengan awan sehingga mereka tidak kepanasan, dan mereka diberi makanan dari surga:

2:57. Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Dalam ayat di atas, Allah menyatakan tidak menzalimi mereka. Bahkan cenderung memanjakan mereka, meski mereka adalah “anak-anak” nakal. Kalau mereka merasa dizalimi, sesungguhnya kezaliman itu karena ulah mereka sendiri.

Meski dimanjakan, mereka sudah berlaku fasik, mengganti aturan Allah dan aturan mereka sendiri lalu mengerjakan perbuatan yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Allah mulai menimpakan azab kepada mereka atas kezalimannya itu.

2:59. Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.

Meski mereka mulai fasik, mereka terus diberi nikmat. Yang berikutnya berupa 12 mata air yang memancar:

2:60. Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.—————
————————-

 

Orang Yahudi Tidak Mensyukuri Nikmat Allah


================

Meski Bani Israil telah mendapat banyak keistimewaan dari Allah, tapi semua itu tidak membuat mereka beriman dengan benar. Meski telah diberikan makanan dari surga dan diberi air dari 12 mata air, mereka tidak juga bersyukur. Bahkan mereka tidak mau menyebut Allah sebagai “Tuhan kita”, tetapi mereka sebut sebagai “Tuhanmu” saat berbicara kepada Nabi Musa:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”…. (2:61)

Mereka diperintahkan untuk masuk ke negeri Palestina sambil bersujud dan memohon ampun kepada Allah:

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. (2:58). 

Tapi mereka tidak mau masuk ke dalam negeri Palestina, dengan alasan di dalam negeri itu sudah ada bangsa lain. Mereka tidak mau berbaur dengan masyarakat yang sudah ada di situ. Dengan kurangajarnya mereka minta Nabi Musa bersama Tuhan mengusir masyarakat yang ada di situ (sebagaimana saat ini mereka mengusir orang Arab dari Palestina):

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (5:24.)

Allah pernah memerintahkan Bani Israil untuk taat pada perintah-Nya dan meminta mereka mengucapkan janji setia. Pada saat itu, Allah mengangkat bukit Thursina ke atas kepada mereka. Padahal tidak ada kaum sebelum dan sesudah mereka yang dimuliakan seperti itu.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”.. (2:93)

Apa isi sumpah/janji yang Allah diktekan kepada mereka?

2:83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

2:84. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

Apa jawaban mereka?:

…Mereka menjawab: “Kami mendengarkan tetapi tidak menaati…”. (2:93)

Betapa beraninya dan angkuhnya mereka melecehkan perintah Allah dengan mengucapkan kalimat itu.
———————————

Pembangkangan Orang Yahudi kepada Allah

———————————————–
==========================

Selanjutnya mereka memang mengabaikan janji mereka itu. Mereka mengimani sebagian isi Taurat yang sesuai dengan hawa nafsu mereka dan mengingkari yang tidak sesuai hawa nafsu mereka:

2:85. Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Mereka adalah orang yang mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat:

2:86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.==============
———————–

Orang Yahudi Membunuh Para Nabi

===========================

Atas pembangkangan mereka itu, Allah mengirimkan banyak nabi kepada mereka. Tetapi mereka tetap membangkang. Bahkan  beberapa nabi telah mereka bunuh, di antaranya Nabi Zakaria dan Nabi Yahya:

2:87. Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada `Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

Mereka membunuh para nabi karena ajaran para nabi tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka:

5:70. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.

5:71. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi).  Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.========
——————–

Orang Yahudi Telah Menuduh Maryam Berzina dan Mengklaim Telah Membunuh Nabi Isa

=========================

4:156. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

4:157. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka.  Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

4:158. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

—————————–

Orang Yahudi Tak Takut Ancaman Neraka

==========================

Ketika diancam dengan azab neraka, mereka menjawab seperti ini:

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja…” (2:80).

Tapi kemudian dibantah oleh Allah:

…Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (2:80).

(Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (2:81).
===========================

Orang Yahudi Mengubah Al-Kitab

================================
Karena ada ayat-ayat Taurat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, kemudian mereka mengubah-ubah ayat-ayat Taurat itu:

2:78. Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.

2:79. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.=====================
————————-

Orang Yahudi Menolak Kenabian Muhammad
———————–

Menjelang Muhammad diangkat sebagai Rasul, orang Yahudi sedang menanti-nanti datangnya nabi terakhir yang mereka harapkan akan menjadi pembela mereka. Ciri-ciri orang yang mereka nantikan itu sudah dideskripsikan dengan jelas dalam Taurat dan Injil. Begitu jelasnya, hingga mereka mengenal ciri-ciri nabi yang akan datang itu seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri:

2:146. Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Bahkan Nabi Isa menyebutkan nama yang akan datang sesudahnya adalah Ahmad, sama dengan nama nabi ketika beliau baru dilahirkan. Kata “Ahmad” dan “Muhammad” berbeda bentuk tapi bermakna sama, yakni “Yang terpuji” :

61:6. Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.

Namun setelah mereka menjumpai Nabi Muhammad yang mengoreksi kesesatan mereka, mereka menolak mengakui kenabian Muhammad. Padahal Al-Qur`an yang dibawa Nabi Muhammad membenarkan sebagian isi Taurat yang belum diubah.

2:89. Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.———-
—————————————-

Yahudi Pengkhianat Perjanjian

—————————–

Orang Yahudi adalah masyarakat pengkhianat perjanjian. Mereka tidak hanya suka mengkhianati perjanjian dengan manusia. Perjanjian dengan Allah pun mereka khianati:

2:100. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman.

2:101. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).—
————————-

Yahudi Kaum Rasis yang Rakus

——————————-

Orang Yahudi adalah kaum rasis. Mereka merasa diri mereka superior, hanya bangsa Yahudi yang disayang oleh Allah. Mereka mengklaim, ghayim atau bangsa lain diciptakan Tuhan hanyalah sebagai budak mereka. Ini bunyi klaim mereka dalam kitab Talmud:

“Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

Namun klaim mereka dibantah oleh Allah:

2:94. Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar.

2:95. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.

Bantahan juga Allah ungkapkan pada surat lain:

62:6. Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mengklaim bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

62:7. Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang lalim.

Mereka juga mengklaim bahwa seharusnya semua nabi berasal dari bangsa mereka, tak boleh dari bangsa Arab atau yang lainnya. Karena itu mereka menolak kenabian Muhammad, dengan alasan Muhammad bukan orang Yahudi. Karena paham mereka yang rasis itu, Allah murka kepada mereka.

2:90. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.

Orang Yahudi berdalih bahwa mereka akan beriman kepada Muhammad jika dia bangsa Yahudi. Namun dalih itu juga dibantah Allah dengan data pembunuhan yang mereka lakukan kepada para utusan Allah yang berkebangsaan Yahudi.

2:91. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”

Allah kemudian membuka rahasia tentang apa yang sebenarnya membuat mereka memilih kekufuran daripada keimanan, yakni rakus terhadap kenikmatan dunia:

2:96. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka (orang Yahudi), manusia yang paling rakus kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih rakus lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

 

berbagai sumber
wallahua’lam

 

 

 

Ada orang MISKIN,… Mati Kelaparan…. dsb … Padahal Rezeki Sudah Dijamin Allah ? ———————————————— Rezeki bagaikan hujan yang tidak terbagi secara merata. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tidak di padang sahara atau sebaliknya; Terkadang turun di pedesaan tidak di perkotaan atau sebaliknya dan begitu seterusnya. ———————– Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan derita. Ingatlah ketika Allâh Azza wa Jalla menenggelamkan kaum Nabi Nûh Alaihissallam yang membangkang! Dengan apa Allâh Subhanahu wa Ta’ala membinasakan mereka? Dengan hujan yang menyebabkan banjir dahsyat. ——————— Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum ! Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak membagikannya merata kepada setiap orang. Ada yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba, terkadang harta bisa menyeretnya kelembah nista yang berujung derita. ——————- Jika kita semua sudah mengetahui dan menyadari bahwa rezeki telah diatur oleh Allâh Azza wa Jalla , semua telah dibagi oleh Allâh Azza wa Jalla , lalu apa yang harus kita lakukan ? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki yang sedikit ? Buat apa kita iri dengan orang lain ? Buat apa merasa hina ? Apakah harta bisa menjamin pemiliknya akan masuk surga ? Apakah dunia bisa menjamin untuk mendapatkan keridhaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ? ——————– Kepada orang-orang yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan, kita katakan, ‘Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian ? Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ …وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu neraka, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita [HR. al-Bukhâri dan Muslim] ————————- Hadits yang mulia ini adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan. Dengan sangat jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa penghuni surga kebanyakan berasal dari orang-orang miskin. Lalu bagaimana dengan orang-orang kaya ? Oleh karena itu, kita memperhatikan harta-harta kita dengan lebih seksama lagi, dari mana diperoleh dan bagaimana penggunaannya ? ———————– Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda : يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia). [HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan] —————————- Suatu ketika, sesaat setelah membaca ayat : أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu [At-Takâtsur/102:1] ———————— Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : يَقُولُ ابْنُ آدَمَ : مَالِى مَالِى – قَالَ – : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ, أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allâh pun) berfirman, “Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang serta apa-apa yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan ———————– Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak. ———————- Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula ? Tidak ! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang sebenarnya yang dicari di dunia ini ? ———————– Apakah ketenaran ? Apakah pujian ? Apakah kedudukan di dunia ? ———————- Subhânallâh! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal tersebut. —————- Bersedekahlah! Ber-infaq-lah di jalan Allâh! Bukakanlah pintu-pintu kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . —————- Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . ——————– Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم Demi Allâh! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi yang saya takutkan pada kalian adalah dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, Sehingga kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah menghancurkan mereka. [HR. al-Bukhâri dan Muslim] ————————– Dengan gamblang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan mereka dari akhirat. ———————— Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun ————————- Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa`: 36).

rezeki jaminan

 Ada orang MISKIN,… Mati Kelaparan…. dsb … Padahal Rezeki Sudah Dijamin Allah ?

————————————————

Rezeki bagaikan hujan yang tidak terbagi secara merata. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tidak di padang sahara atau sebaliknya; Terkadang turun di pedesaan tidak di perkotaan atau sebaliknya dan begitu seterusnya.
———————–

Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan derita. Ingatlah ketika Allâh Azza wa Jalla menenggelamkan kaum Nabi Nûh Alaihissallam yang membangkang! Dengan apa Allâh Subhanahu wa Ta’ala membinasakan mereka? Dengan hujan yang menyebabkan banjir dahsyat.
———————

Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum ! Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak membagikannya merata kepada setiap orang. Ada yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba, terkadang harta bisa menyeretnya kelembah nista yang berujung derita.
——————-

Jika kita semua sudah mengetahui dan menyadari bahwa rezeki telah diatur oleh Allâh Azza wa Jalla , semua telah dibagi oleh Allâh Azza wa Jalla , lalu apa yang harus kita lakukan ? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki yang sedikit ? Buat apa kita iri dengan orang lain ? Buat apa merasa hina ? Apakah harta bisa menjamin pemiliknya akan masuk surga ? Apakah dunia bisa menjamin untuk mendapatkan keridhaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?
——————–

Kepada orang-orang yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan, kita katakan, ‘Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian ? Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ …وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu neraka, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita [HR. al-Bukhâri dan Muslim]
————————-

Hadits yang mulia ini adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan. Dengan sangat jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa penghuni surga kebanyakan berasal dari orang-orang miskin. Lalu bagaimana dengan orang-orang kaya ? Oleh karena itu, kita memperhatikan harta-harta kita dengan lebih seksama lagi, dari mana diperoleh dan bagaimana penggunaannya ?
———————–

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ

Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia). [HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan]
—————————-

Suatu ketika, sesaat setelah membaca ayat :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu [At-Takâtsur/102:1]
————————

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ : مَالِى مَالِى – قَالَ – : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ, أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allâh pun) berfirman, “Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang serta apa-apa yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan
———————–

Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak.
———————-

Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula ? Tidak ! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang sebenarnya yang dicari di dunia ini ?
———————–

Apakah ketenaran ? Apakah pujian ? Apakah kedudukan di dunia ?
———————-

Subhânallâh! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal tersebut.
—————-

Bersedekahlah! Ber-infaq-lah di jalan Allâh! Bukakanlah pintu-pintu kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
—————-

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
——————–

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

Demi Allâh! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi yang saya takutkan pada kalian adalah dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, Sehingga kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah menghancurkan mereka. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]
————————–

Dengan gamblang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan mereka dari akhirat.
————————

Setelah kita mendengar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, mestinya kita mau mengaca diri dan menilai diri kita sejujurnya. Adakah kita termasuk orang-orang yang terlalaikan oleh keindahan dunia yang menipu ini ?

Kekayaan! Kekayaan apakah yang sebenarnya harus kita miliki ?

Coba perhatikan hadits dibawah ini.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa/hati

Dalam hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati yang dimiliki oleh seorang Mukmin, yaitu rasa puas, ridha dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla . Inilah yang dinamakan dengan qanâ’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan rasa qanâ’ah yang sangat tinggi.

Jika kita menginginkan dunia maka dunia tidak akan pernah ada habisnya. Jika seseorang memiliki satu gunung emas, niscaya dia akan menginginkan dua gunung emas atau lebih banyak lagi.

Sampai kapan orang-orang yang mengejar dunia akan puas ? Mereka tidak akan pernah puas kecuali kalau mulut-mulut mereka sudah dipenuhi dengan tanah, maksudhnya kematian telah menjemput.

Dunia bukan tujuan hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita fokuskan diri kita untuk benar-benar beribadah kepada Allâh dan mengisi sisa-sisa hari kita ini dengan takwa kepada Allâh Azza wa Jalla.

=======================

Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun

————————-

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa`: 36).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Yang Banyak Memberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Surah Adz-Dzaariyaat:58).

وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama” (Al-Maa`idah:114).

وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki” (Al-Hajj: 58).

وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki” (Al-Jumu’ah: 11).

(Fiqhul Asmaa`il Husnaa, hal. 103).

Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).

Allah memberitahukan di dalam ayat ini bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Sangat jelas sekali beberapa firman Allah di atas. Tidak ada satu pun di antara hamba-hamba-Nya yang beriman yang meragukan firman Allah Ta’ala di atas.

Hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang Allah ketahuinya.

Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71).

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas,

الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم

Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfa’at dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).

Terkadang memang sebagian orang ada yang mati kelaparan dan sebenarnya ini tidaklah bertentangan dengan nama Allah Ar-Razzaaq (Yang Banyak Memberi rezeki).

Allah tetap dikatakan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Allah telah memberikan kepada orang tersebut jatah rezekinya secara penuh dan sudah menyempurnakan ajalnya. Allah memberikan rezeki kepada orang itu semua dari apa yang telah Allah takdirkan untuknya, sehingga ketika Allah mencabut nyawanya, ia dalam keadaan telah memperoleh rezekinya secara penuh, tidak terkurangi sedikitpun.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Ya memang Allah telah menentukan rezeki orang yang mati kelaparan tersebut lebih sedikit dari sebagian orang yang lain, namun ada hikmah dibaliknya yang Allah ketahui. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa saja yang cocok bagi setiap hamba-Nya dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki banyak dan siapa saja yang cocok mendapatkan rezeki sedikit.

Nasehat bagi yang mendapatkan rezeki yang sedikit

  1. Segala kenikmatan dan kesempitan yang Allah berikan hanyalah sebagai cobaan semata, bukan sebagai penghormatan atau penghinaan. Dengan cobaan itu, akan tampak orang yang bersyukur dengan orang yang bersabar, atau kebalikannya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

    فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

    (15) “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’”.

    وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

    (16) “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku’”.
    كَلَّا
    (17) “Sekali-kali tidak (demikian)” (Al-Fajr:15-17).
    Maksudnya bahwa hakikat persoalannya tidaklah sebagaimana yang diperkirakan oleh manusia.

  2. Sesungguhnya barangsiapa yang bersabar dengan sedikitnya rezeki di dunia dan bersabar atas keterluputan mendapatkan rezeki yang banyak di dunia, maka Allah akan menggantinya dengan kenikmatan yang sangat besar di Surga dan ia akan melupakan musibah yang dirasakannya sewaktu di dunia. Bahkan satu kali celupan saja di Surga, akan menyebabkan sirnanya seluruh lelah-letih dan derita sewaktu di dunia, meski ia adalah orang yang paling menderita sewaktu di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطَُّلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

    “Kemudian didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari penduduk  Surga, lalu ia dicelupkan satu kali celupan ke dalam Surga. Kemudian ditanya, ‘Wahai keturunan Adam, apakah engkau pernah melihat penderitaan sebelumnya sedikit saja? Apakah angkau pernah merasakan kesengsaraan sedikit saja?’ Orang itu berkata, ‘Tidak demi Allah, wahai Tuhanku, aku tidak pernah melihat penderitaan dan tidak merasakan kesengsaraan sama sekali sebelumnya’”. (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat.

sangat JELAS sekali ….BUNGA BANK ADALAH RIBA ….. dalam Islam ———————————- Sabda Rasululullah SAW, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai). ———————- Pengantar————– Dalam kehidupan kaum Muslimin yang semakin sulit ini, memang ada yang tidak memperduli­kan lagi masalah halal dan haramnya bunga bank. Bahkan ada pendapat yang terang-terangan menghalalkannya. Ini dikarenakan keterlibatan kaum Muslimin dalam sistem kehidupan Sekularisme-Kapital­isme Barat serta sistem Sosialisme-Atheisme. Bagi yang masih berpegang teguh kepada hukum Syariat Islam, maka berusaha agar kehidupannya berdiri di atas keadaan yang bersih dan halal. Namun karena umat pada masa sekarang adalah umat yang lemah, bodoh, dan tidak mampu membeda-bedakan antara satu pendapat dengan pendapat lain­nya, maka mereka saat ini menjadi golongan yang paling bingung, diombang-ambing oleh berbagai pendapat dan pemikiran. ————————- Dalam tulisan yang singkat ini, ada beberapa aspek yang ingin diketengahkan tentang seputar masalah riba : ………………. ————– Pertama, bunga riba dalam tinjauan sejarah. Akan dijelaskan secara singkat peran Bani Israil dan tingkah laku mereka dalam masalah riba. ——————– Kedua, diketengahkan kela­kuan orang-orang Yahudi dalam mengubah syariatnya sendiri (Hukum Allah SWT). Secara singkat akan dipaparkan peran kaum Yahudi dalam menghalalkan riba. —————- Ketiga, masih dalam kerangka tingkah laku kaum Yahudi, diceritakan juga serba sedikit usaha-usaha mereka dalam membangun jaringan kehi­dupan dalam bidang ekonomi dan keuangan dunia, khususnya dalam bidang moneter dan perbankan. ———————– Keempat, mengetengah­kan bagaimana bank pada awalnya berdiri, serta keterlibat­an umat Islam Indonesia dalam masalah perbankan pada deka­de awal abad XX sampai sekarang. ——————— Kelima, mengetengahkan usaha-usaha para tokoh masyarakat Islam (intelektual dan kaum modernis) dalam menghalalkan riba (bunga) bank. ——————– Keenam, mengetengahkan hukum riba yang tetap haram sampai Hari Kiamat. ————————— Riba dan Yahudi dalam Tinjauan Sejarah ———————– Sejak dahulu, Allah SWT telah mengharamkan riba. Keharamannya adalah abadi dan tidak boleh diubah sampai Hari Kiamat. Bahkan hukum ini telah ditegaskan dalam sya­riat Nabi Musa as, Isa as, sampai pada masa Nabi Muhammad saw. Tentang hal tersebut, Al Qur-aan telah mengabarkan tentang tingkah laku kaum Yahudi yang dihukum Allah SWT akibat tindakan kejam dan amoral mereka, termasuk di da­lamnya perbuatan memakan harta riba. —————————— Firman Allah SWT: “….disebabkan oleh kezhaliman orang-orang Yahudi, maka Kami telah haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka; dan (juga) karena mereka banyak menghalangi (manu­sia) dari jalan Allah; serta disebabkan mereka memakan riba. Padahal sesungguhnya mereka telah dilarang memakan­nya, dan mereka memakan harta dengan jalan yang bathil (seperti memakan uang sogok, merampas harta orang yang lemah. Kemudian) Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS An Nisaa’ : 160-161). —————————– Dalam sejarahnya, orang Yahudi adalah kaum yang sejak dahulu berusaha dengan segala cara menghalangi manusia untuk tidak melaksana­kan syariat Allah SWT. Mereka membu­nuh para nabi, berusaha mengubah bentuk dan isi Taurat dan Injil, serta menghalalkan apa saja yang telah diharamkan Allah SWT, misalnya menghalalkan hubungan seksual antara anak dengan ayah, membolehkan adanya praktek sihir, meng­halalkan riba sehingga terkenallah dari dahulu sampai sekarang bahwa antara Yahudi dengan perbuatan riba adalah susah dipisahkan. ——————– Tentang eratnya antara riba dengan gerak kehidupan kaum Yahudi, kita dapat mengetahuinya di dalam kitab suci mereka: “Jikalau kamu memberikan pinjaman uang kepada umatku, yaitu kepada orang-orang miskin yang ada di antara kamu, maka janganlah kamu menjadikan baginya sebagai orang pena­gih hutang yang keras, dan janganlah mengambil bunga dari­padanya” (Keluaran, 22:25). ————————- Dalam kitab Imamat (orang Lewi), tersebut pula la­rangan yang senada. Pada kitab tersebut disebutkan agar orang-orang Yahudi tidak mengambil riba dari kalangan kaum­nya sendiri: …………… “Maka jikalau saudaramu telah menjadi miskin dan tangannya gemetar besertamu ….., maka janganlah kamu mengambil daripadanya bunga dan laba yang terlalu (be­sar)…… jangan kamu memberikan uangmu kepadanya dengan memakai bunga …..” (Imamat 35-37). ————————- Jelaslah di dalam ayat-ayat tersebut bahwa orang-orang Yahudi telah dila­rang memakan riba (bunga). Namun dalam kenyataannya, mereka membangkang dan mengabaikan larangan tersebut. Mengapa mereka demikian berani melang­gar ketentuan hukum Taurat itu? Dalam hal ini, Buya Hamka (alm) mengutip dari buku Taurat pada kitab Ulangan pasal 23 ayat 20 : ———————————-

sangat JELAS sekali ….BUNGA BANK ADALAH RIBA ….. dalam Islam

———————————-
Sabda Rasululullah SAW, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai).
———————-

Pengantar————–
Dalam kehidupan kaum Muslimin yang semakin sulit ini, memang ada yang tidak memperduli­kan lagi masalah halal dan haramnya bunga bank. Bahkan ada pendapat yang terang-terangan menghalalkannya. Ini dikarenakan keterlibatan kaum Muslimin dalam sistem kehidupan Sekularisme-Kapital­isme Barat serta sistem Sosialisme-Atheisme. Bagi yang masih berpegang teguh kepada hukum Syariat Islam, maka berusaha agar kehidupannya berdiri di atas keadaan yang bersih dan halal. Namun karena umat pada masa sekarang adalah umat yang lemah, bodoh, dan tidak mampu membeda-bedakan antara satu pendapat dengan pendapat lain­nya, maka mereka saat ini menjadi golongan yang paling bingung, diombang-ambing oleh berbagai pendapat dan pemikiran.
————————-
Dalam tulisan yang singkat ini, ada beberapa aspek yang ingin diketengahkan tentang seputar masalah riba : ……………….
————–
Pertama, bunga riba dalam tinjauan sejarah. Akan dijelaskan secara singkat peran Bani Israil dan tingkah laku mereka dalam masalah riba.
——————–
Kedua, diketengahkan kela­kuan orang-orang Yahudi dalam mengubah syariatnya sendiri (Hukum Allah SWT). Secara singkat akan dipaparkan peran kaum Yahudi dalam menghalalkan riba.
—————-
Ketiga, masih dalam kerangka tingkah laku kaum Yahudi, diceritakan juga serba sedikit usaha-usaha mereka dalam membangun jaringan kehi­dupan dalam bidang ekonomi dan keuangan dunia, khususnya dalam bidang moneter dan perbankan.
———————–
Keempat, mengetengah­kan bagaimana bank pada awalnya berdiri, serta keterlibat­an umat Islam Indonesia dalam masalah perbankan pada deka­de awal abad XX sampai sekarang.
———————
Kelima, mengetengahkan usaha-usaha para tokoh masyarakat Islam (intelektual dan kaum modernis) dalam menghalalkan riba (bunga) bank.
——————–
Keenam, mengetengahkan hukum riba yang tetap haram sampai Hari Kiamat.
—————————

Riba dan Yahudi dalam Tinjauan Sejarah
———————–

Sejak dahulu, Allah SWT telah mengharamkan riba. Keharamannya adalah abadi dan tidak boleh diubah sampai Hari Kiamat. Bahkan hukum ini telah ditegaskan dalam sya­riat Nabi Musa as, Isa as, sampai pada masa Nabi Muhammad saw. Tentang hal tersebut, Al Qur-aan telah mengabarkan tentang tingkah laku kaum Yahudi yang dihukum Allah SWT akibat tindakan kejam dan amoral mereka, termasuk di da­lamnya perbuatan memakan harta riba.
——————————
Firman Allah SWT:

“….disebabkan oleh kezhaliman orang-orang Yahudi, maka Kami telah haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka; dan (juga) karena mereka banyak menghalangi (manu­sia) dari jalan Allah; serta disebabkan mereka memakan riba. Padahal sesungguhnya mereka telah dilarang memakan­nya, dan mereka memakan harta dengan jalan yang bathil (seperti memakan uang sogok, merampas harta orang yang lemah. Kemudian) Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS An Nisaa’ : 160-161).
—————————–

Dalam sejarahnya, orang Yahudi adalah kaum yang sejak dahulu berusaha dengan segala cara menghalangi manusia untuk tidak melaksana­kan syariat Allah SWT. Mereka membu­nuh para nabi, berusaha mengubah bentuk dan isi Taurat dan Injil, serta menghalalkan apa saja yang telah diharamkan Allah SWT, misalnya menghalalkan hubungan seksual antara anak dengan ayah, membolehkan adanya praktek sihir, meng­halalkan riba sehingga terkenallah dari dahulu sampai sekarang bahwa antara Yahudi dengan perbuatan riba adalah susah dipisahkan.
——————–
Tentang eratnya antara riba dengan gerak kehidupan kaum Yahudi, kita dapat mengetahuinya di dalam kitab suci mereka:

“Jikalau kamu memberikan pinjaman uang kepada umatku, yaitu kepada orang-orang miskin yang ada di antara kamu, maka janganlah kamu menjadikan baginya sebagai orang pena­gih hutang yang keras, dan janganlah mengambil bunga dari­padanya” (Keluaran, 22:25).
————————-

Dalam kitab Imamat (orang Lewi), tersebut pula la­rangan yang senada. Pada kitab tersebut disebutkan agar orang-orang Yahudi tidak mengambil riba dari kalangan kaum­nya sendiri: ……………

“Maka jikalau saudaramu telah menjadi miskin dan tangannya gemetar besertamu ….., maka janganlah kamu mengambil daripadanya bunga dan laba yang terlalu (be­sar)…… jangan kamu memberikan uangmu kepadanya dengan memakai bunga …..” (Imamat 35-37).
————————-

Jelaslah di dalam ayat-ayat tersebut bahwa orang-orang Yahudi telah dila­rang memakan riba (bunga). Namun dalam kenyataannya, mereka membangkang dan mengabaikan larangan tersebut. Mengapa mereka demikian berani melang­gar ketentuan hukum Taurat itu? Dalam hal ini, Buya Hamka (alm) mengutip dari buku Taurat pada kitab Ulangan pasal 23 ayat 20 :
———————————-

“Maka dari bangsa lain, kamu boleh mengambil bunga (riba). Tetapi dari saudaramu, maka tidak boleh kamu meng­ambilnya supaya diberkahi Tuhan Allahmu, agar kamu dalam segala perkara tanganmu mampu memegang negeri, (seperti) yang kamu tuju (cita-citakan) sekarang adalah hendaklah (kamu) mengambilnya sebagai bagian dari harta pusakamu”.

Berdasarkan kutipan di atas, Buya Hamka menarik kesimpulan bahwa ayat tersebut telah menjadi pe­gangan kaum Yahudi sedunia sampai sekarang. Mereka, biar­pun tidak duduk pada kursi pemerintahan di suatu negeri, tetapi merekalah yang justru menguasai pemerintahan negeri tersebut melalui bentuk pinjaman ribawi (membungakan uang­nya) yang menjerat leher.

Yahudi dan Penguasaan Moneter Internasional
Dalam sebuah penggalan naskah Protokolat, yaitu beru­pa strategi jahat Yahu­di, disebutkan bahwa kebangkrutan berbagai negara di bi­dang ekonomi adalah hasil kreasi gemilang mereka, misalnya dengan kredit (pinjaman) yang menjerat leher negara non-Yahudi yang makin lama makin terasa sakit. Mereka katakan bahwa bantuan luar negeri yang telah dilakukan boleh dika­takan laksana seonggok benalu yang mencerap habis segenap potensi perekonomian negara tersebut.
Memang dalam kenyataannya pada masa sekarang, orang-orang Yahudi telah berhasil menguasai sistem moneter in­ternasional, khususnya dalam bidang perbankan. Misalnya, penguasaan mereka terhadap pusat keuangan di Wallstreet (New York). Tempat ini merupakan pangsa bursa (uang) ter­besar di dunia. Sirkulasi keuangan di Amerika Serikat telah dikua­sai oleh orang-orang Yahudi sejak awal abad XX sampai sekarang.
Di samping itu, mereka juga menguasai bidang-bidang industri (yang umumnya dibutuhkan oleh orang banyak), perda­gangan internasional (dalam bentuk perusahaan-perusahaan raksasa), yang tersebar di seluruh Amerika, Eropa dan negeri-negeri di Asia dan Afrika. Sebagai misal, di Ameri­ka, orang-orang Yahudi menguasai perusahaan General Elec­tric, Fairstone, Standard Oil, Texas dan Mobil Oil. Dalam perdagangan valuta asing, maka setiap 10 orang broker, sembilan di antaranya adalah orang-orang yahudi.
Di Perancis, sebagian saham yang tersebar di berbagai bidang kehidupan adalah milik orang-orang Yahudi. Dalam menghancurkan moral di suatu negeri, orang-orang Yahudi dan antek-anteknya ikut andil; misalnya mengelola usaha Kasino, Nigth Club, atau perdagangan obat bius.

Umat Islam Indonesia dan Perbankan
Sistem perbankan telah muncul di dunia Islam sejak kedatangan penjajah Barat menyerbu ke berbagai negeri Islam. Di negeri-negeri jajahannya, mereka menerapkan sistem ekono­mi Kapitalisme yang bertumpu kepada sistem perbankan (riba).
Di Indonesia muncul bank pertama, yaitu Bank Priyayi, tahun 1846 di Purwokerto, dengan pendiri­nya Raden Bei Patih Aria Wiryaatmaja dari kalangan kera­ton. Kemudian secara meluas di berbagai daerah, berdiri Bank Rakyat (Volksbank); antara lain di Garut (1898), Sumatera Barat (1899), dan Menado (1899).
Dalam menanamkan sistem perbankan ini, penjajah Be­landa mendirikan Sentral Kas, tahun 1912, yang berfungsi sebagai pusat keuangan. Dari kalangan intelektual, didiri­kanlah Indonesische Studie Club di Surabaya tahun 1929. Kemudian Belanda, dalam menyuburkan sistem riba, mendiri­kan Algemene Volkscredit Bank (AVB) tahun 1934.
Pada tahun-tahun pertama setelah terusirnya pejajah Belanda dari Indonesia, didirikanlah Yayasan Pusat Bank Indonesia tahun 1945, yang menjadi cikal bakal Bank Indo­nesia sekaligus memberikan rekomendasi pendirian bank-bank yang ada. Mela­lui PP No.1, tahun 1946, lahirlah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pada tahun yang sama, menyusul berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI) 1946. Kemudian jumlah bank semakin bertambah banyak. Di antaranya Bank Industri Negara (BIN, 1952), Bank Bumi Daya (BBD, 19 Agus­tus 1959). Bank Pem­bangunan Industri (BPI, 1960), Bank Dagang Negara (BDN, 2 April 1960), Bank Export-Import Indonesia (Bank Exim) yang dinasionalisasikan pada 30 Nopember 1960. Pada tahun-tahun berikutnya sampai seka­rang, dunia perbankan tumbuh seperti jamur di musim hujan.
Secara garis besar, dunia perbankan di Indonesia didominasi oleh bank-bank yang menjadi Badan Usaha Milik Negara/BUMN (misalnya BNI 1946, BRI, BDN) dan bank-bank milik swasta. Untuk yang pertama, jumlahnya tidak terlalu ba­nyak. Tetapi untuk yang kedua, ia terbagi ke dalam tiga kategori; yaitu swasta asli Indonesia (misalnya Bank Susi­la Bakti, Bank Arta Pusara, Bank Umum Majapahit), swasta merger bank luar (misalnya Lippo Bank, BCA, Bank Summa), dan bank luar tulen (misalnya Chase Manhattan, Deutsche Bank, Hongkong Bank, Bank of America).
Untuk melihat perkembangan perbankan di Indonesia, saat ini telah dibangun sejumlah 2652 bank (tidak termasuk BRI dan BRI Unit Desanya). Menurut standard Ame­ri­ka diti­lik dari jumlah penduduk Indonesia, maka negeri ini masih memerlukan 7800 bank lagi.

Sistem Perbankan dan Organisasi Keagamaan
Sebelum tahun 1990-an umat Islam Indonesia belum terlibat lang­sung. Sistem ini sejak dahulu hanya diminati oleh kalangan konglomerat. Namun sejak diadakan pe­nandatangan kerja sama antara Bank Summa dengan Organisasi keagamaan NU tanggal 2 Juni 1990, maka umat Islam Indone­sia telah mulai dilibat­kan langsung dalam praktek perbank­an. Dalam perjanjian kerjasama tersebut telah disepakati untuk didirikan seba­nyak 2000 buah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia. Namun sebelumnya BPR telah berdiri tanggal 25 Februari 1990. BPR ini memberikan pinjaman kredit sebesar antara 100.000 sampai 500.000 rupiah dengan bunga 2,25% per bulan, untuk pengusaha /pedagang kecil, petani, dan untuk umum kredit tersebut berkisar antara 25 sampai 200 juta rupiah.
Rencana NU untuk mendirikan BPR sesungguhnya bukan masalah baru lagi. Ide itu telah ada dan dibahas berulang-ulang dalam berbagai kesempatan kongres besar NU. Pada awalnya NU mengharamkannya; kemudian memberikan alternatif fatwa yaitu haram, halal dan subhat; dan terakhir tanggal 22 Juli 1990, NU melalui Abdurrahman Wahid sebagai PB NU telah menghalalkannya.
Fatwa NU ini lalu diikuti oleh Muhammadiyah melalui AS Projokusumo (sebagai PB Muhammadiyah). Alasan yang dikemukannya adalah karena fatwa tersebut diputuskan mela­lui perdebatan para ulama yang dikenal telah mendalami masalah-masalah hukum Islam. Majelis Ulama Indonesia, melalui KH Hasan Basri, menyambut baik keputusan NU ini. Menurut beliau, keputusan tersebut dikeluarkan atas dasar musyawarah para ulama yang memahami hukum Islam.
Fatwa ini menimbulkan reaksi antara yang pro dan kontra di kalangan ulama dan intelektual Muslim. Dari kubu yang tidak setuju, muncullah pernyataan dari Dekan Fakul­tas Syariah IAIN Jakarta, Dr Peunoh Daly. Ia berkata bahwa bank yang dibentuk oleh NU maupun Muhammadiyah seha­rusnya bank yang Islami, bukan bank yang hanya menjadi alat untuk pemerataan riba. Beliau menandaskan bahwa sam­pai sekarang belumlah ada bank yang bersifat Islami di Indonesia. Ia merasa heran mengapa sistem muamalah yang telah diatur oleh Islam, yaitu sistem muamalah mudlarabah, qiradh dan salam itu tidak dihidupkan. “Akibatnya, umat Islam terje­rat ke dalam sistem bank yang mengandung riba”, celanya.
Di kalangan NU sendiri, ternyata ada suara yang tidak puas atas fatwa ini. Kalangan fungsionaris Syuriah PB NU, misalnya, menilai bahwa fatwa tersebut tidak sejalan dengan garis kebijakan mereka. Sebab, menurut mereka, NU seharusnya membentuk bank muamalah mudlarabah (berdagang bersama yang saling menguntungkan), bukan bank umum yang lebih cenderung menganut sistem rente.
Bagaimana silang pendapat di kalangan intelektual dan ulama modernis di negeri ini? Sesuaikah pendapat mereka dengan ketentuan syara’? Dapatkah pendapat mereka diteri­ma? Lebih jauh dari itu, apakah mereka boleh disebut muj­tahid atau lebih baik disebut sebagai muqallid?

Pendapat Intelektual dan Ulama Modernis
Di antara pekerjaan yang dikelola bank, maka yang menjadi topik permasalahan dalam Fikih Islam adalah soal bunga (rente) bank. Sebab, secara umum tujuan usaha bank adalah untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan kre­dit. Bank memberikan kredit kepada orang luar dengan me­mungut bunga melalui pembayaran kredit (yang jumlahnya lebih besar dari besarnya kredit). Selisih pembayaran yang biasanya disebut bunga, itulah yang menjadi keuntungan usaha bank.
Dalam masalah ini, para intelektual dan ulama moder­nis mempunyai pendapat yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang mereka. Ada segolongan dari mereka yang mengharamkannya karena bunga bank tersebut dipandang seba­gai riba. Tetapi segolongan lainnya menghalalkannya.
Ke dalam kubu pertama (yang mengharamkan bunga bank), tersebutlah Mahmud Abu Saud (Mantan Penasehat Bank Pakistan), berpendapat bahwa segala bentuk rente (bank) yang terkenal dalam sistem perekonomi­an seka­rang ini adalah riba. Lalu kita juga mendengar pendapat Muhammad Abu Zahrah, Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Hukum Universitas Cairo yang memandang bahwa riba Nasi’ah sudah jelas keharamannya dalam Al Qur-aan. Akan tetapi banyak orang yang tertarik kepada sistem perekono­mian orang Yahudi yang saat ini menguasai perekonomian dunia. Mereka memandang bahwa sistem riba itu kini bersi­fat daru­rat yang tidak mungkin dapat dielakkan. Lantas mereka mena’wilkan dan membahas makna riba. Padahal sudah jelas bahwa makna riba itu adalah riba yang dilakukan oleh semua bank yang ada dewasa ini, dan tidak ada keraguan lagi tentang keharamannya. Buya Hamka secara sederhana memberikan batasan bahwa arti riba adalah tambahan. Maka, apakah ia tambahan lipat-ganda, atau tambahan 10 menjadi 11, atau tambahan 6% atau tambahan 10%, dan sebagainya, tidak dapat tidak ten­tulah terhitung riba juga. Oleh karena itu, susahlah buat tidak mengatakan bahwa meminjam uang dari bank dengan rente sekian adalah riba. (Dengan demikian) menyimpan dengan bunga sekian (deposito) artinya makan riba juga.
Ke dalam kubu kedua (yang menghalalkan bunga bank), peminatnya kebanyakan berasal dari kalangan intelektual dan ulama modernis. Mereka me­mandang bahwa bunga bank yang berlaku sekarang ini dalam batas-batas yang wajar, tidaklah dapat dipandang haram. Tersebutlah A. Hasan, salah seorang pemuka Persatuan Islam (Persis), yang mengemukakan bahwa riba yang sudah tentu haramnya itu ialah yang sifatnya berganda dan yang membawa (menyebabkan) ia berganda. Menurut beliau, riba yang sedi­kit dan yang tidak membawa kepada berganda, maka itu bo­leh. Ia menambahkan bahwa riba yang tidak haram adalah riba yang tidak mahal (besar) dan yang berupa pinjaman untuk tujuan berdagang, bertani, berusaha, pertukangan dan sebagainya, yakni yang bersifat produktif.
Drs Syarbini Harahap berpendapat bahwa bunga kon­sumtif yang dipungut oleh bank tidaklah sama dengan riba. Karena, menurutnya, di sana tidak terdapat unsur pengania­yaan. Adapun jika bunga konsumtif itu di­pungut oleh lintah darat, maka ia dapat dipandang sebagai riba. Sebab, prak­tek tersebut memberikan kemungkinan ada­nya penganiayaan dan unsur pemerasan antarsesama warga masya­rakat, meng­ingat bahwa lintah darat hanya mengejar keuntungan untuk dirinya sendiri. Adapun jika bunga terse­but dipungut dari orang yang meminjam untuk tujuan-tujuan yang produktif seperti untuk perniagaan, asalkan saja tidak ada dalam teknis pemungutan tersebut unsur paksaan atau pemerasan, maka tidaklah salah dan tidak ada keharam­an padanya.
Pernyataan Syarbini Harahap ini dalam perkembangan selanjutnya, ternyata sama nadanya dengan apa yang difat­wakan NU via Abdurrahman wahid, atau lewat pernyataan Syafruddin Prawiranegara, Muhammad Hatta, Kasman Singodi­mejo, dan lain-lain.
Bertolak dari alasan bahwa transaksi kredit merupakan kegiatan perdagangan dengan uang sebagai komoditi, Dawan Rahardjo, mengatakan bahwa kalau transaksi kredit dilaku­kan dengan prinsip perdagangan (tijarah), maka hal terse­but dihalalkan. Riba yang tingkat bunganya berlipat ganda dan diharamkan itu perlu digantikan dengan mekanisme per­dagangan yang dihalalkan.
Berbagai pendapat dan fatwa yang berani tersebut dalam upaya menghalalkan riba dalam bentuk bunga bank telah melibatkan jutaan kaum Muslimin ke dalam ke­giatan perbankan. Walaupun demikian masih terdapat jutaan lainnya yang membenci praktek dan menjauhi dari memakan harta riba. Kebencian mereka terhadap praktek riba terse­but sama halnya dengan kebencian mereka memakan daging babi. Oleh karena itu masih banyak kalangan kaum Muslimin yang tidak mau meminjam dan menyimpan uang di bank karena takut terlibat riba, walaupun di kalangan kaum Muslimin tidak banyak mengerti sejauh mana aspek hukum dan kegiatan perbankan, serta banyak pula di antara mereka yang bingung terhadap hukum yang sebenarnya tentang riba (bunga) bank. Itu­lah fakta tentang keadaan umat Islam setelah umat ini diragukan dan dikaburkan pengertian mereka terhadap riba (bunga) bank.

Bolehkah Kita Menghalalkan Riba ?
Orang Islam yang awam sekalipun pasti tahu bahwa memakan harta riba adalah dosa besar. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa memakan harta riba termasuk dosa yang paling besar setelah dosa syirik, praktek sihir, membunuh, dan memakan harta anak yatim. Malah dalam sebuah Hadits lainnya disebutkan bahwa perbuatan riba itu derajatnya 36 kali lebih besar dosanya dibandingkan dengan dosa berzina. Rasul SAW bersabda :

“Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali daripada perbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam)” (HR Al Baihaqy, dari Anas bin Malik).

Oleh karena itu, tidak ada satupun perbuatan yang lebih dilaknat Allah SWT selain riba. Sehingga Allah SWT memberikan peringatan yang keras bahwa orang-orang yang memakan riba akan diperangi (QS Al Baqarah : 279).
Jika pada awalnya riba yang diharamkan hanya yang berlipat ganda, akan tetapi sebelum Rasulullah saw wafat, telah diturunkan yaitu ayat-ayat riba (QS Al Baqarah dari ayat 278-281) yang menurut asbabun nuzul-nya merupakan ayat-ayat terakhir dari Al Qur-aan. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut ditegaskan bahwa riba, baik kecil maupun besar, berlipat ganda atau tidak, maka ia tetap diharamkan sampai Hari Kiamat. Lebih dari itu, melalui ayat 275 dari rang­kaian ayat-ayat terse­but, Allah SWT telah mengharamkan segala jenis riba, ter­masuklah di antaranya riba (bunga) bank:

“Mereka berkata (berpendapat bahwa) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba; padahal Allah telah menghalal­kan jual beli dan telah mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada mereka larangan tersebut dari Rabbnya lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya (dipungut) pada waktu dulu (se­belum datangnya larang ini) dan urusannya (terserah) Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang mengulangi (meng­ambil riba), maka orang-orang tersebut adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah : 275).

Dalam hal ini, Ibnu Abbas berkata:

“Siapa saja yang masih tetap mengambil riba dan tidak mau meninggalkannya, maka telah menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Kepala Negara Islam) untuk menasehati orang-orang tersebut. Tetapi kalau mereka masih tetap membandel, maka seorang Imam dibolehkan memenggal lehernya”.

Juga Al Hasan bin Ali dan Ibnu Sirin berkata:

“Demi Allah, orang-orang yang memperjualbelikan mata-uang (money changer) adalah orang-orang yang memakan riba. Mereka telah diingatkan dengan ancaman akan diperangi oleh Allah dan RasulNya. Bila ada seorang Imam yang adil (Kepa­la Negara Islam), maka si Imam harus memberikan nasehat agar orang tersebut bertaubat (yaitu meninggalkan riba). Bila orang-orang tersebut menolak, maka mereka tersebut wajib diperangi”.

Apa sesungguhnya riba itu? Secara global dapatlah disebutkan bahwa definisi riba adalah :
“Tambahan yang terdapat dalam akad yang berasal dari salah satu pihak, baik dari segi (perolehan) uang, materi/barang, dan atau waktu, tanpa ada usaha dari pihak yang menerima tambahan tersebut”.
Definisi ini kiranya mampu mencakup semua jenis dan bentuk riba, baik yang pernah ada pada masa jahiliyah (riba Fadhal, riba Nasi’ah, riba Al Qardh), maupun riba yang ada pada masa sekarang ini, seperti riba bank yang mencakup bunga dari pinjaman kredit, investasi deposito, jual-beli saham dan surat berharga lainnya, dan atau riba jual-beli barang dan uang. Untuk riba yang terakhir ini contohnya banyak dan dapat berkembang pada setiap masa.
Berdasarkan definisi ini, maka walaupun nama dan jenisnya berbeda namun riba dapat mencakup banyak macam yang kiranya melebihi 73 macam menurut keterangan dari Hadits Rasulullah saw. Rasulullah saw melalui penglihatan ghaib yang bersandarkan kepada wahyu, telah mengetahui bahwa suatu saat nanti umat Islam akan menghalalkan riba dengan alasan perdagangan (bisnis), seperti yang tertera pada hadits pembuka tulisan ini. Lebih dari itu, beliau telah diberitahukan bahwa riba pada masa yang akan datang (misalnya zaman sekarang dan seterusnya) akan meliputi berbagai aktivitas bidang kehidupan ekonomi dan keuangan yang akhirnya akan melibatkan seluruh kaum Muslimin. Sabda Rasulullah saw:

“Riba itu mempunyai 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (HR Ibnu Majah, hadits No.2275; dan Al Hakim, Jilid II halaman 37; dari Ibnu Mas’ud, dengan sanad yang shahih).

Juga sabda Rasulullah saw:

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya” (HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah).

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa segala bentuk dan jenis riba adalah haram tanpa melihat lagi apakah riba tersebut telah ada pada masa jahiliyah atau riba yang muncul pada zaman sekarang. Pengertian ini ditegaskan pada ayat 275 surat Al Baqa­rah tersebut isinya bersifat umum, yakni hukumnya mencakup semua bentuk dan jenis riba; baik yang nyata maupun ter­sembunyi, sedikit persentasenya atau berlipat ganda, kon­sumtif maupun produktif.
Lafazh yang bersifat umum menurut kaidah Ushul Fiqih tidaklah boleh dibatasi dan disempitkan pengertiannya. Kaidah Ushul itu berbunyi:

“Lafazh umum akan tetap bersifat umum selama tidak terdapat dalil (syar’iy) yang mentakhsishkannya (yang mengecualikannya)”.

Dalam hal ini tidak terdapat satu ayat maupun hadits yang menghalalkan sebagian dari bentuk dan jenis riba (mi­salnya riba produktif), dan atau hanya mengharamkan sebagian yang lainnya (misalnya riba yang berlipat ganda, konsum­tif, riba lintah darat). Dengan demikian, telah jelas bagi kita bahwa semua bentuk dan jenis riba adalah haram dan tetap haram sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu, atas dasar apa para intelektual dan ulama modernis sampai bera­ni menghalalkan riba bunga bank? Mereka telah berani mem­beda-bedakan halal-haramnya berdasarkan sifat konsumtif dan produktif, padahal Allah SWT dan Rasul-Nya tidak pernah membeda-bedakan bentuk dan jenis riba. Tidak ada satupun illat (sebab ditetapkannya hukum) bagi keharaman riba. Apakah kaum intelektual dan ulama modernis ingin mengubah hukum Allah SWT dari haram menjadi halal hanya karena faktor kemaslahatan, semisal untuk pembangunan, mengatasi kemiskinan; atau karena pada masa sekarang kegiatan per­bankan yang berlandaskan kepada aktivitas riba sudah mera­jalela dalam masyarakat kaum Muslimin?
Barangkali kaum intelektual dan ulama modernis tidak takut lagi kepada ancaman dan siksa dari Allah SWT:

“Bila muncul perzinaan dan berbagai jenis dan bentuk riba di suatu kampung, maka benar-benar orang sudah meng­abaikan (tak perduli) sama sekali terhadap siksa dari Allah yang akan menimpa mereka (pada suatu saat nanti)” (HR Thabrani, Al Hakim, dan Ibnu Abbas; Lihat Yusuf An Nabahani, Fath Al Kabir, Jilid I, halaman 132).

Pendapat dan fatwa yang muncul dari kalangan intelek­tual dan ulama modernis sesungguhnya tidak pada tempatnya dan tidak pula memenuhi syarat bagi orang yang berwe­nang untuk berijtihad serta tidak layak disebut sebagai ulama mujtahid. Oleh karena itu mereka tidak berhak mengeluarkan fatwa, apalagi untuk mengubah hukum Allah SWT dan Rasul-Nya !
Umat Islam diperintahkan untuk menolak setiap fatwa yang tidak berlandaskan kepada syariat Islam. Kita wajib menolaknya, bahkan wajib dicegah setiap hukum yang berlandaskan kepada akal dan hawa nafsu. Sebab, manusia tidak berhak menentukan satu hukumpun. Ia harus tunduk kepada hukum Allah SWT dan RasulNya semata. Bila kita menaati intelek­tual dan ulama modernis yang menghalalkan riba, maka itu sama artinya kita menjadikan mereka sebagai Tuhan yang disembah. Itulah yang pernah dikatakan oleh Rasulullah saw kepada ‘Adiy bin Hatim, ketika beliau menyampaikan firman Allah SWT:

“Mereka mengangkat pendeta-pendeta dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Mariyam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Satu: Tiada Tuhan kecuali Dia. Maha Suci (Allah SWT) dari yang mereka persekutukan” (QS At Taubah : 31).

Kemudian Adiy bin Hatim berkata :

“Kami tidak menyembah mereka (para Rahib dan Pendeta) itu”. Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya mereka telah menghalalkan apa yang telah dahulu diharamkan, mengharam­kan apa yang telah dihalalkan, lalu kalian menaati mereka. Itulah bentuk penyembahan kalian terhadap mereka” (HR Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Jarir, dari ‘Adiy bin Hatim. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, halaman 349).

Apakah umat Islam ingin menjadikan ulama seperti di atas sebagai Tuhan sesembahan yang berhak menentukan halal dan haramnya sesuatu perbuatan?
Ya Allah, kami sudah menyampaikannya. Saksikanlah !

Lelaki Paling TAMPAN, … Bukan Nabi Yusuf ——– ALLAH tidak melihat RUPA, tetapi HATI kita —————- amal perbuatan kita ——————- Nabi yusuf itu ketampanannya separuh dari penduduk dunia. ….Benarkah nabi Yusuf manusia paling tampan? ————————– Para wanita yang pernah ketemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam, mereka menganggap Yusuf bukan manusia biasa, tapi jelmaan Malaikat. فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ “Tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum dengan keelokan wajahnya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31). ——————————————- Apakah Nabi Yusuf Paling Ganteng? ……… Ulama berbeda pendapat tentang siapakah lelaki yang paling tampan. ==================================== Pendapat pertama, yang paling adalah Nabi Yusuf. ==================================== Kedua, orang yang paling tampan adalah Nabi Adam ‘alaihis Salam =================================== Ketiga, orang yang paling tampan adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ================================= –…. >>>hadis riwayat Turmudzi dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan, “Tidaklah Allah mengutus nabi, kecuali berwajah tampan, dan suaranya bagus. Dan Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.” ………………………… Apapun itu, yang lebih penting kita memahami bahwa derajat kemuliaan manusia di sisi Allah tidak diukur dari neraca fisik, namun kembali kepada taqwa. Kita berusaha untuk meniru taqwanya para nabi dan bukan ketampanan para nabi ………………………………….. Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

harta rupa 1

Lelaki Paling TAMPAN, … Bukan Nabi Yusuf …. ALLAH tidak melihat RUPA, tetapi HATI kita….. amal perbuatan kita
——————————————-

Nabi yusuf itu ketampanannya separuh dari penduduk dunia. ….Benarkah nabi Yusuf manusia paling tampan?
————————–

Para wanita yang pernah ketemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam, mereka menganggap Yusuf bukan manusia biasa, tapi jelmaan Malaikat.

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

“Tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum dengan keelokan wajahnya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31).
——————————————-

Apakah Nabi Yusuf Paling Ganteng? ………

Ulama berbeda pendapat tentang siapakah lelaki yang paling tampan.

====================================
Pendapat pertama, yang paling adalah Nabi Yusuf.
====================================

Kedua, orang yang paling tampan adalah Nabi Adam ‘alaihis Salam

===================================
Ketiga, orang yang paling tampan adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

=================================
–…. >>>hadis riwayat Turmudzi dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,“Tidaklah Allah mengutus nabi, kecuali berwajah tampan, dan suaranya bagus. Dan Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.”…………………………
Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Dari Abu Huroiroh ‘Abdurrahman bin Shokhr rodhiyallaahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kalian dan tidak juga bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” {HR. Muslim}
=============================================================

harta rupa 1
=================================================================

Pendapat pertama, yang paling adalah Nabi Yusuf.

Diantara dalilnya adalah ayat di atas dan hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيَ يُوسُفُ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Yusuf diberi setengah ketampanan.” (HR. Ahmad 14050 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
—————————————–

Disebutkan pula dalam hadis riwayat muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan peristiwa Isra Mi’raj yang beliau alami. Ketika beliau di langit ketiga, beliau bertemu dengan Yusuf. Komentar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ketemu beliau,

فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِىَ شَطْرَ الْحُسْنِ

Di sana saya bertemu Yusuf  alaihis shalatu was salam, ternyata beliau diberi setengah ketampanan. (HR. Muslim 429).

Ibnul Qoyim menjelaskan makna hadis,

والظاهر أن معناه أن يوسف عليه السلام اختص على الناس بشطر الحسن واشترك الناس كلهم في شطره

Kesimpulan yang bisa dipahami dari hadis bahwa Yusuf ‘alaihis salam secara khusus memiliki setengah ketampanan semua manusia. Sementara setengah setampanan sisanya terbagi pada semua manusia lainnya. (Badai al-Fawaid, 3/723).

Kedua, orang yang paling tampan adalah Nabi Adam ‘alaihis Salam

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

Hadis Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

Allah menciptakan Adam dengan rupa sama seperti wajahnya. (HR. Bukhari 6227 & Muslim 2841)

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبْ الْوَجْهَ فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

“Apabila kalian menghukum orang lain, jauhi wajah. Karena Allah menciptakan Adam dengan rupa seperti wajahnya.” (HR. Muslim 2612).

Kita tidak membahas makna kalimat ‘seperti wajahnya’, yang jelas hadis ini menunjukkan betapa wajah Nabi Adam ‘alaihis Salam adalah wajah yang indah.

Disamping itu, Adam adalah bapak semua manusia, dan semua ketampanan yang dimiliki keturunannya adalah cipratan dari Adam.

Sementara hadis di atas, bahwa “Yusuf diberi setengah ketampanan.”

Maknanya, Yusuf diberi setengah ketampanan Nabi Adam.

Pendapat ini disebutkan Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah (1/97).

Ketiga, orang yang paling tampan adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnul Qoyim menyebutkan pendapat ini,

قالت طائفة المراد منه أن يوسف اوتي شطر الحسن الذي أوتيه محمد فالنبي بلغ الغاية في الحسن ويوسف بلغ شطر تلك الغاية

Sebagian ulama menyebutkan, maksud hadis bahwa Yusuf diberi setengah ketampanan yang dimiliki Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di puncak ketampanan, sementara Yusuf hanya mencapai setengah ketampanan beliau.

Selanjutnya, Ibnul Qoyim menyebutkan alasan pendapat ini,

قالوا ويحقق ذلك ما رواه الترمذي من حديث قتادة عن أنس قال لَمْ يَبْعَثِ اللَّهُ نَبِيًّا إِلا حَسَنَ الصَّوْتِ ، حَسَنَ الْوَجْهِ ، وَكَانَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَهُمْ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُمْ صَوْتًا

Mereka beralasan, bahwa ini sesuai dengan hadis riwayat Turmudzi dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

“Tidaklah Allah mengutus nabi, kecuali berwajah tampan, dan suaranya bagus. Dan Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.” (Badai al-Fawaid, 3/723).

Apapun itu, yang lebih penting kita memahami bahwa derajat kemuliaan manusia di sisi Allah tidak diukur dari neraca fisik, namun kembali kepada taqwa. Kita berusaha untuk meniru taqwanya para nabi dan bukan ketampanan para nabi.

Wallahu a’lam.