Loading
Mahmud | EP Artikel-Edy Gojira

PENTINGnya RENDAH HATI dan apa itu TAWADHU', ... RENDAH HATI, LAWAN dari sombong ..... --------- Perintah Tawadhu’ ------------------- Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Allah berfirman (artinya): “Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertaqwa.” (An Najm: 32) ------------------- Demikianlah, Allah menutup pintu-pintu yang menjurus kepada takabbur (sombong) dengan melarang dari memuji-muji diri sendiri karena dari sinilah benih takabbur (sombong) datang. Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhias dengan akhlaq yang mulia ini, ------------- sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya): “Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy Syu’ara’: 215)------------------ Begitu juga Rasulullah , beliau senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda: إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588) ---------------- ------------------- Pengertian tawadhu’ ------------- Secara Etimologi Arab kata, tawadhu’ berasal dari kata ( تواضع- يتواضع) yang mempunyai arti (merendahkan diri, rendah hati). Selain itu ada kata lain (وضع) yang artinya “tempat, letaknya”. (Mahmud Yunus, 1992: 105).------------- Tawadhu’ secara Terminologi Menurut Al-Ghozali (1995:350). Tawadhu’ adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita. Pada hakekatnya tawadhu’ itu adalah “sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.” (Ahmad Athoillah, 2006: 448).[1] Tawadhu adalah kerendahan hati yang tidak menilai dirinya lebih baik dari orang lain dan tuntutannya adalah perilaku dan ucapan hormat kepada orang lain. (Mulla Ahmad Naraqi, Mi’rajus Saadah, halaman 300).[2]----------- Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang Tawadhu’: ‘Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan Tawadhu’ –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…‘ ----------------- Sebagaimana akhlak-akhlak yang lain, ketawadhu’an juga mempunyai dua ujung dan pertengahannya. Salah satu ujungnya adalah yang cenderung kepada sikap berlebihan, dan ini dinamakan kesombongan. Sedangkan ujung yang lain adalah yang cenderung kepada sikap mengurang-ngurangkan, dan ini dinamakan menghinakan dan merendahkan diri. Dan pertengahan antara kedua sikap inilah yang dinamakan tawadhu’. Dan tawadhu’ yang terpuji adalah yang tidak sampai menghinakan diri. Masing-masing dari dua ujung ini tercela. Dan sebaik-baik perkara yang disukai Allah adalah pertengahannya.[3] ---------------- Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”----------------- مشتق من الضعة بكسر أوله وهي الهوان , والمراد بالتواضع إظهار التنزل عن المرتبة لمن يراد تعظيمه , وقيل هو تعظيم من فوقه لفضله . Arti kata Tawadhu’ dari segi bahasa sama dengan makna kata al-hawaan yang artinya, malu atau merasa rendah hati. Sedangkan secara istilah adalah menampakkan kerendahan martabat diri pada orang yang dianggap lebih mulia. Ada juga yang mengartikan Tawadhu’ adalah memuliakan seseorang yang lebih utama darinya.------------------ Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Al-Sunnah وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”. (Al-Furqan: 63)--------------- وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا Artinya: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Al-Isra: 37)----------- Thabaathabaa’i memahami ayat 37 di atas dalam arti kiasan, yakni kesombongan yang engkau lakukan untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu pada hakikatnya adalah hanya waham dan ilusi, sebab sebenarnya ada yang lebih kuat dari engkau yakni bumi, terbukti kakimu tidak dapat menembus bumi, dan ada juga yang lebih tinggi darimu yakni gunung, buktinya engkau tidak setinggi gunung. Maka akuilah bahwa engkau sebenarnya rendah lagi hina. Tidak ada sesuatu yang dikehendaki dan diperebutkan manusia dalam hidup ini seperti kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, harta benda dan lain-lain kecuali hal-hal yang bersifat waham yang tidak mempunyai hakikat di luar batas pengetahuan manusia.. Itu semua diciptakan dan ditundukkan Allah untuk diandalkan manusia guna memakmurkan bumi dan penyempurnaan kalimat (ketetapan) Allah. Tanpa hal yang tidak memiliki hakikat itu, manusia tidak hidup di dunia, dan kalimat Allah yang menyatakan: “Bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan matha (Kesenangan hidup) sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah [2] : 36). ------ Demikian lebih kurang Thabaathabaa’i.-------------- عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر Artinya: Dari Nabi SAW berkata: “tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah.” (HR. Muslim, no. 33 juz 1)[4]---------------- أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَد Artinya: “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR.Muslim no. 2865)------------------ Selama hidupnya, Rasulullah saw selau bersikap rendah hati, kasih sayang, lemah lembut dan penuh toleransi. Sekalipun terhadap anak- anak kecil. Sifat kenabian dan kedudukan tinggi beliau tidak menghalanginya berbuat baik dan berakhlak mulia yang khusus diberikan Allah. Beliau selalu memberi salam kepada anak- anak, bermuka manis kepada mereka, dan meluangkan waktu sekedar untuk menyenangkan mereka.[5]----------------- Anas bin Malik mengatakan bahwa ketika melewati kerumunan anak- anak beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR Muttafaq alaih).-------------- B. Macam-Macam Tawadhu’ dan Tanda-Tandanya ----------- Telah dibahas oleh para ulama sifat Tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi Tawadhu’ menjadi dua, jika dilihat dari baik buruknya:------------ 1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-Tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.------------ 2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu Tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).--------------- ----- Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam dilihat dari objeknya:[6] -------- 1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.----------------- Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:------------- a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.------------ b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa--- bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.--- c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.--- d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.----- 2. Tawadhu’ kepada Agama------------------- Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada agama diantaranya:------- a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.------- Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.--------- Tanda-tanda orang Tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:----- a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.------- b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.--------- c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.------------ 4. Tawadhu’ kepada Sesama.----------- Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada manusia diantaranya:--------- a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.------ b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.------ c. Siap membantu orang lain.----- d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.------ e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.------- C. Keutamaan Sifat Tawadhu’------------- Allah Ta’ala berfirman: تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)---------------- Allah Ta’ala berfirman: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215)------------- Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)---------------- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)------------ Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)-----------------

September 24, 2016 Edy Gojira 1

PENTINGnya RENDAH HATI dan apa itu TAWADHU', ... RENDAH HATI, [...]

syariat islam itu ada amalan-amalan yang dapat menggugurkan dosa dan demikian pula sebaliknya ada perbuatan-perbuatan yang dapat mengGUGURkan amalan/PAHALA, diantaranya adalah: -------------------- 1. Kufur dan syirik ------------------ Alloh berfirman: وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.[1] (Az Zumar 65) ------------------ 2. Murtad ------------- Alloh berfirman: وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.[2](Al Baqarah 217) --------------------- 3. Nifaq dan Riya’ --------------------- Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi pada hari kiamat: “jika Alloh memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka pergilah kalian kepada amalan yang engkau berbuat riya’ di dunia maka lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala padanya.(HR Ahmad dan Al Baghawi dari sahabat Mahmud bin Labib dengan sanad shahih menurut syarat Muslim) --------------------- 4. Mengungkit-ungkit Pemberian ---------------------- Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…”[3] (Al Baqarah 246) --------------------- 5. Hasad ---------------- Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ “Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? ”.[4] (An Nisa’ 54) -------------------- Dalam sebuah hadits dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اياكم والحسد فان الحسد ياءكل الحسنات كما تاءكل النار الحطب, او قال العشب (رواه ابو داود) “Jahuilah oleh kalian perbuatan hasan karena sesungguhnya hasad itu akan memakan (menghilangkan) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”.[5] (HR Abu Daud) -------------- 6. Meninggalkan Shalat ‘Ashr --------------------- Dari sahabat Buraidah Radhiyallahu a’hu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله “Barangsiapa meninggalkan shalat ‘ashr maka gugurlah amalannya”.[6] ----------------------------- Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata: barangsiapa yang meninggalkannya tanpa udzur maka gugurlah amalannya karena ini adalah perkara yang sangat agung, bahkan sabagian ulama’ beristinbath dengan hadits ini bahwa barangsiapa meninggalkannya maka ia yelah kafir, karena tidak ada perbuatan yang dapat menggugurkan amalan selain kemurtadan sebagaimana dalam firman Alloh yang berbunyi: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”.[7] (Al An’am 88) ------------------------- Dan ada sebagian yang berpendapat bahwa shalat ashr adalah khusuh karena barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir, dan demikian pula dengan shalat-shalat wajib yang lainnya secara umum. Dan ini adalah dalil tentang agungnya shalat ‘ashr. Maka dari itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk menjaganya secara lebih dibandingkan dengan shalat-shalat yang lainnya sebagaimana tertuang dalam firman-Nya: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”.[8] (Al Baqarah 238) --------------------------- [Syarh Riyadhus Shalihin] Dan yang dimaksud dengan shalat wustha di sinilah adalah shalat ‘ashr, karena ada hadits yang shahih yang menjelaskan demikian. شغلونا عن الصلاة الوسطى صلاة العصر، ملأ الله أجوافهم وقبورهم ناراً (HR Ahmad) ------------------ 7. Memelihara Anjing --------------------- Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: من اتخذ كلبا إلا كلب ماشية أو صيد أو زرع انتقص من أجره كل يوم قيراط . “Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga kebun atau berburu atau menjaga ternakmaka akan berkurang amalannya setiap hari satu qirat (dalam riwayat lain dua qirat) ”. (HR Bukhari dan Muslim) ----------------- Dalam Hadits yang shahih dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan satu qirat adalah seperti gunung uhud. Al Qurthuby berkata: “yang demikian itu (satu dan dua qirat) mencakup dua jenis anjing yang mana salah satunya labih jelek dari yang lain, seperti anjing yang hitam yang Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memeritahkan kita untuk membunuhnya”. ------------------- 8. At Ta’li atas Allah Ta’ala ------------------------ At Ta’ly adalah berbicara tentang Alloh tanpa ilmu. --------------- Nabi bersabda “ sesungguhnya seseorang yang berkata Alloh tidak akan menganpuni si fulan maka kelak Alloh akan berkata barangsiapa yang beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan dan engkau telah menggugurkan amalanmu”. (HR Muslim dari sahabat Jundub bin Abdillah) -------------------- 9. Menyelisihi Perintah Alloh dan Rasul-Nya ----------------------------- Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.( Al Hujuraat 2) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (Muhammad 33) ---------------------------- Sebaigan orang berpendapat bahwa yang orang -orang yang dimaksud dalam surat Al Hujuraat ayat 2 adalah orang-orang yang hidup dizaman Nabi karena dizaman ini tidak mungkin karena Nabi telah meninggal dan kita tidak mungkin dapat meninggikan suara kita melebihi suara Nabi. Namun, para ulama’ menjelaskan bahwa konteks ayat inimeliputi seluruh kaum muslimin bahkan sampai zaman ini. Lalu bagaimana seseorang dapat meninngikan suaranya melebihi suara Nabi ? Yaitu tatkala ada sebuah majlis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi kemudian seseorang itu meninngikan suaranya melebihi suara pembaca hadits tersebut, ada sebagian ulama’ pula yang menjelasan bahwa diantara bentuk meninggikan suara dalam ayat diatas adalah meninggikan suara atau berteriak di samping kuburan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a‘lam ----------------- 10. Transaksi ‘Inah -------------------------- Transaksi ‘inah itu termasuk bentuk akal-akalan dalam riba. --------- Di antara trik transaksi riba yang sudah diwanti-wanti sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang disebut dengan jual beli ‘inah. --------------- Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang. ------------- Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belumpunya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”. Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.” ------- Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan.Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara.Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari.Inilah yang disebut transaksi ‘inah.Ini termasuk di antara trik riba.Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.” ------------------------ Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, إِذَاتَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga;lh kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242) ------------------- Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ “Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525) ---------------------

August 17, 2016 Edy Gojira 2

perbuatan-perbuatan yang dapat  mengGUGURkan  amalan/PAHALA, diantaranya adalah: -------------------- syariat islam [...]