Mempersiapkan Kekuatan Melawan Musuh {I’dad} untuk berPERANG adalah WAJIB bagi setiap orang ISLAM —————- betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan dalam diri: —— “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214 ———————- Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya. ——————- I’dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? ————– ———— Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ————- Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.———– Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya———– إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)———- Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta’ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.——— Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta’ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———- Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———– Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.———– Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.———- وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)————- Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————- Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.—— bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46) ——— Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan. * * *———- Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? ——— Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad. * * *——- Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”——- Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta’ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan? ————– Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I’dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: ——— Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!——— Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———- Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.————– وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ “Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40) ————– Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.———— Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ———— Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar: وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)——– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا “Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)———— Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri. ————- Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan.”——— Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “kenapa kamu tidak memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?” Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu ‘alaihi bersabda: “Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua.”——– Beliau bersabda, “Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah menerangkan, “Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga.”—— Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.——- Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.———- Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——— Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——- Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala sesuai harapan para pemimpinnya.—– Allah Ta’ala berfirman, وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ “Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 59-60)———— ———————– I’DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. ———–

idad siap perang

Mempersiapkan Kekuatan Melawan Musuh {I’dad} untuk berPERANG adalah WAJIB bagi setiap orang ISLAM

—————-
betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan  dalam diri: ——

 “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214
———————-
Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya.
——————-

I’dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? ————–
————
Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ————-

Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.———–

Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya———–

 

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)———-

Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta’ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.———

Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta’ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———-

Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———–

Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.———–

Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.———-

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)————-

Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———-

Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————-

Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.——

bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46)

———

Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan.

* * *———-

Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? ———

Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad.

* * *——-

Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”——-

Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta’ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan?

————–
Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I’dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: ———

Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!———

Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.———-

Lakukan I’dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.————–

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40) ————–

Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.———-

Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.————

Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ————

Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu ‘Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)——–

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda,

ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا

Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)————

Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri.

————-

Dari Salamah bin al-Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: “Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan.”———

Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “kenapa kamu tidak memanah?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?” Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu ‘alaihi bersabda: “Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua.”——–

Beliau bersabda, “Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya.”——

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  juga pernah menerangkan, “Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga.”——

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.——-

Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.———-

Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).———

Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).——-

Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala sesuai harapan para pemimpinnya.—–

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal: 59-60)————

———————–

I’DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. ———–

 

Negeri ini dimerdekakan oleh teriak dan pekik “ALLAAHU AKBAR” !!! Tanpa I’DAD & JIHAD , negeri ini tak akan merdeka !!! Mereka para pejuang berjuang demi Islam, Syahid mengorbankan harta, jiwa, raga, keluarga dan bahkan Nyawa untuk Islam !!!

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ

  مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون

 

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu . Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” QS Ash-Shaff:10-13

 

Tradisi jihad sebagai sebuah perniagaan atau jual-beli antara orang beriman dengan Allah SWT bukan merupakan tradisi yang baru diperkenalkan oleh Nabi Akhir Zaman, yaitu Nabi Muhammad saw. Namun tradisi ini sudah Allah tetapkan semenjak diwahyukannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa as dan Kitab Injil kepada Nabi Isa as.

 

Negara-negara non Islam justru malah menerapkan undang-undang Kewajiban I’dad bagi seluruh rakyatnya melalui kebijakan WAJIB MILITER,kita ambil contoh saja: Korea Selatan, IsraHELL, Amerika, Rusia, dan lain lain. Dan perlu digarisbawahi bahwa kewajiban ini bagi semua pria & wanita TANPA TERKECUALI !!!

 

Dan tentu saja dalam Wajib Militer yang dipelajari bukan hanya baris berbaris, cara menyemir sepatu atau upacara, tapi pasti yang dipelajari adalah beladiri, cara melawan musuh, gerilya, membunuh lawan, mengenal jenis senjata, dan bahkan latihan menembak sasaran dengan peluru asli, bukan peluru kosong / peluru karet.

 

 

Namun mengapa negeri kita yang menyandang gelar sebagai: “NEGARA MUSLIM TERBESAR DI DUNIA” dengan jumlah muslim mencapai 225 juta jiwa justru malah tidak menerapkan kewajiban I’DAD yang jelas-jelas diperintahkan Allah dalam Qur’an dan juga disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW?

 

Tidak lain adalah karena para pemimpin & wakil rakyat hasil DEMOKRASI bentukan Yahudi, semua yang berbau Islam dijauhkan, mereka ingin memisahkan negara dan Islam. Sehingga ini pun termasuk salah satu cara untuk melemahkan Umat Islam.

 

 

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ 

 بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ 

وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ 

 

 

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. (QS At-Taubah 111)

 

Allah SWT menawarkan kepada orang beriman agar menjual diri dan harta mereka kepada Allah SWT dengan bayarannya berupa surga untuk mereka. Wujud jual-belinya ialah berupa kesediaan seorang mukmin untuk berperang di jalan Allah, lalu ia membunuh atau terbunuh di medan perang. Perkara ini sudah Allah janjikan semenjak turunnya Kitab Taurat dan Injil kemudian Al-Qur’an.

 

 

Ironisnya dewasa ini, masyarakat yahudi-nasrani yang mendominasi dunia diizinkan dan dimudahkan untuk membangun kekuatan militer mereka. Bahkan mereka dapat dengan seenaknya mengerahkan armada perangnya ke negeri mana saja yang mereka sukai. Termasuk ke negeri-negeri kaum muslimin sebagaimana yang kita saksikan di Palestina, Irak dan Afghanistan. Kehadiran pasukan mereka di bumi Islam tidak dipandang sebagai sebuah tindak kriminal atau pelanggaran hukum internasional. Sementara bila kaum muslimin berusaha mempersenjatai diri, maka mereka segera dilabel sebagai kelompok teroris.

 

 

Maka sudah tiba masanya bagi ummat Islam untuk memperhatikan kewajiban syariat yang satu ini. Tidak pantas bila ummat Islam menghindar untuk mempersiapkan diri membangun armada perang sedangkan Barat kafir yang diwakili oleh kekuatan militer yahudi-nasrani dibiarkan bebas menyusun bahkan memobilisasi kekuatan militer mereka sesuka hati.

 

Oleh karenanya, sudah sewajarnya bila kaum muslimin berusaha sekuat tenaga untuk mempersiapakn berbagai kekuatan –termasuk armada perang- dalam rangka memenuhi perintah mulia Allah SWT.

 

 

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ

 تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ

 لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ

فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal 60

 

Untuk itu marilah kita memulakan persiapan tersebut dengan melakukan apa yang jelas-jelas telah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya ialah memanah.

 

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ

{ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ }

أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa sahaja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (ABUDAUD – 2153)

 

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ اللَّهْوُ إِلَّا فِي ثَلَاثَةٍ

 تَأْدِيبِ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتِهِ امْرَأَتَهُ وَرَمْيِهِ بِقَوْسِهِ وَنَبْلِهِ وَمَنْ

تَرَكَ الرَّمْيَ بَعْدَ مَا عَلِمَهُ رَغْبَةً عَنْهُ فَإِنَّهَا نِعْمَةٌ كَفَرَهَا أَوْ قَالَ كَفَرَ بِهَا

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hiburan kecuali dalam tiga hal; seorang laki-laki yang melatih kudanya, candaan seseorang terhadap isterinya, dan lemparan anak panahnya. Dan barangsiapa yang tidak memanah setelah ia mengetahui ilmunya karena tidak menyenanginya, maka sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan yang ia kufuri.” (NASAI – 3522)
==========================

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Anfaal: 60).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Dalam tafsir Ibnu Kastir, yang dimaksud dengan “Kekuatan dan kuda-kuda yang di tambat”, riwayat Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir ra bersabda Rosulullah s.a.w dan beliau di atas mimbar, ‘Persiapkanlah olehmu kekuatan, ketahuilah kekuatan adalah ar-romyu, kekuatan adalah ar-romyu’.” (Mukhtashar Muslim 110). Kata ar-romyu dapat diartikan melempar, membidik, memanah, menembak, dan sebagainya.

Dr. Abdullah Azzam rohimahullah, menerangkan dan menjelaskan maksud hadis tersebut:
Hadist tersebut pada hakikatnya termasuk di antara mu’jizat Nabi, mengapa? Perlu diketahui bahwa dalam peperangan mereka di zaman kenabian, menggunakan pedang, tombak dan panah. Pedang untuk memukul, tombak untuk menikam, dan busur untuk melempar atau membidikkan anak panah. Sementara penggunaan pedang dan tombak lebih domoinan dari penggunaan busur.

Jadi, mengapa Nabi saw bersabda bahwa kekuatan adalah melempar? Sementara ar-romyu atau melempar di zaman kita ini menjadi sarana yang banyak dipakai dalam peperangan. Semua peperangan dengan melempar, hampir tidak ada lagi dengan tusukan tombak dan pukulan pedang.

Pada umumnya memang dengan melempar, baik senjata ringan, atau menengah, atau senjata berat atau pesawat tempur, semuanya dengan cara melempar. Klasinkov (AKA) dengan melempar, ZPU, DSCK,Grinov, Mortir, pesawat-pesawat tempur BM 12, Rudal-rudal, semuanya dengan melempar.

Ketahuilah bahwa kekuatan adalah melempar ini benar-benar merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. Ketahuilah kekuatan adalah melempar. Melemparlah wahai Bani Ismail, karena sesungguhnya bapak kalian adalah seorang (jago) melempar. (HR Bukhari).

“Barangsiapa yang belajar melempar, lalu melupakannya, maka dia bukan termasuk golongan kami.” ( HR Muslim )
“Barangsiapa melempar (memanah), lalu melupakannya, maka ia adalah suatu nikmat yang dia kufuri atau dia ingkari.” (HR Muslim)

Selanjutnya, beliau menerangkan tentang i’dad yang dimaksud ayat tersebaut:
“I’dad adalah memepersiapkan kekuatan, i’dad adalah melempar…. I’dad adalah melatih kuda dan memeliharanya, …I’dad adalah memepersiapkan fisik…. I’dad adalah mempersiapkan mental dan spiritual.” (Lihat Hijrah dan I’dad, Dr. Abdullah Azzam).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Umat Islam di mana saja di seluruh dunia seharusnya menjawab seruan-seruan para ulama yang mereka berangkat dari dalil-dalil Quran dan Sunnah untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjdi. Musuh-musuh Islam sudah merasa bahwa Islam memang suatu yang membahayakan dan akan bangkit sebagai satu-satunya musuh yang tak pernah absen dari sejarah peradapan dunia. Amerika yang dahulu menganggap Uni Soviet adalah musuhnya sekarang sudah bergandeng tangan untuk menghadapi Islam.

Suatu ketika, sepulang dari kunjungannya ke perbatasan Afghanistan untuk menyaksikan gerakan jihad di Afghan, Nikson ditanya oleh wartawan:
“Apa yang telah Anda lakukan untuk menyelesaikan problemnya?”
Ia menjawab, ” Itu mudah.”
“Apakah solusi yang Anda persiapkan?”
Dijawab, “Itu mudah.”
Mereka bertanya lagi, “Apa problem yang terjadi?”
Ia menjawab, “The problem is Islam?”
Jadi, Islam adalah problem. Maka, Amerika harus bersatu dengan Rusia untuk menghancurkan jihad Afghanistan dan menghentikan gerak maju Islam. (Lihat Fie Dhilal Suratut Taubah, Dr. Abdullah Azzam ).

Syaid Qutb dalam al-Mustaqbal Hadza Dien menyatakan, “Musuh-musuh Islam menyadari betul bahwa satu-satunya musuh mereka adalah Islam. Karena itu mereka berusaha mati-matian untuk menghancurkan generasi yang tinggi ini. Sebab, generasi inilah yang bakal menjegal tujuan imperialisme mereka.”

Kita dapat melihat apa yang terjadi di dunia, di mana-mana Islam dan umatnya menjadi sasaran kejahatan dan kebencian mereka. Kalau terhadap umat mayoritas saja sudah mulai berani, apalagi terhadap kaum yang minoritas.

Lihat saja seperti kasus Ambon dll. Dari keadaan ini seharusnya setiap muslim waspada dan selalu mempersiapkan diri dan keluarganya untuk suatu hari yang tak terduga,
yang bukan mustahil dapat menimpa siapa saja yang memeluk Islam. Islam bagi mereka suatu problem dan ancaman, Islam adalah musuh bebuyutan, dan perang salib tidak pernah berhenti.

Musuh-musuh Islam mengadakan persiapan yang tidak tanggung-tanggung untuk menghdapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Salah satu contohnya adalah sejarah kekalahan orang-orang Arab melawan Israel pada tahun 1967. Ada seorang bertanya pada Mose atau Igel Alun: “Bagaimana kalian dapat memenangkan pertempuran melawan orang-orang Arab, dengan kemenangan yang mengagumkan?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya kami telah mengadakan persiapan sebelum itu selama sepuluh tahun, lalu kami laksanakan rencana tersebut dalam waktu tiga jam. Kami telah mempersiapkan secara masak selama sepuluh tahun, hanya untuk serangan tiga jam, yang pertama menghancurkan lapangan-lapangan pesawat tempur Mesir. Maka kami memperoleh kemenangan itu.”

Sepuluh tahun melakukan i’dad, sementara peperangan hanya berjalan sebentar, hanya beberapa hari saja, sekali dalam sebulan.
Sedangkan i’dad dan ribath itu bisa berlangsung sangat lama; lama dan membosankan, kecuali bagi jiwa yang mengharapkan balasan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hati yang selalu bertambah kekuatannya dengan zikrullah, ibadah-ibadah nafilah, salat malam, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah yang lainnya. (Lihat Hijrah dan I’dad, Dr. Abdullah Azzam).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu!
Pada dasarnya Islam memerintahkan i’dad sejak seorang masih kanak-kanak atau sejak kecil. Generasi yang kuat secara fisik dan mental, jasmani dan rohani adalah generasi yang akan mampu mengemban amanah dalam mengamalkan dan mendakwahkan risalah Allah, sehingga tidak mudah dijajah, dikuasai, dihina, dibantai. Jangan kita jadikan generasi ini seperti ayam potong, yang kita gemukkan dengan berbagai makanan untuk disembelih oleh musuh-musuh Islam, karena mereka tidak mempunyai kesiapan mental maupun fisik.

Nabi saw bersabda yang artinya, “Ajarkanlah anak-anak kamu renang, memanah, dan menunggang kuda.”

Generasi yang kuat jasmani dan rohani akan mampu memikul beban dakwah dan tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini.
Oleh sebab itu, sejak awal, Islam menekankan untuk mempersiapkan anak-anak sebagai penerus dakwah dan membekali mereka dengan keterampilan yang optimal yang pada suatu hari diperlukan sebagai pembela risalah ini.

Kalau musuh-musuh Islam menyiapkan dan melatih anak-anak mereka dengan hal-hal yang menjadikan mereka siap kapan-kapan saja bila terjadi peperangan, mengapa justru umat Islam melupakan dan meninggalkan hal itu. Sehingga umat Islam selalu menjadi korban dan mangsa dari keganasan musuh-musuhnya.

Menyiapkan kekuatan sudah disyareatkan Allah, baik dalam keadaan aman atau keadaan perang. Tujuan dari pada i’dad adalah agar musuh-musuh Islam merasa takut, gentar, dan sangat memperhitungkan dengan kekuatan Islam secara syumul, sebagaimana yang dinyatakan ayat di atas (QS 8: 60), “Menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya.”

Dalam Ibnu kastir, makna “turhibuuna” yaitu “tukhwifuuna”: memberi rasa takut, gentar, kepada orang-orang kafir. “Dan musuh-musuh selain mereka, yang kamu tidak ketahui sedang Allah mengetahui.” Berkata Mujahid yang dimaksud ini adalah Bany Quraizhoh, berkata Assady Parsi, berkata Shufyan Staury, berkata Ibnu Yaman, “Yang dimaksud ini adalah setan yang ada di sekitarnya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis.”

Berkata Ibnu Abi Hatim dalam suatu riwayat, “Yang dimaksud ini adalah jin.” Dan berkata Muqotil bin Hayyan dan Abdurrohman bin Zaid bin Aslam bahwa yang dimaksud ini adalah oarang-orang munafik. Ini sama sebagaimana firman Allah yang maknanya
“Dan di sekitar kamu banyak kaum Arab Badui yang munafik, dan juga di kalangan penduduk Madinah ada yang keterlaluan dalam kemunafikannya.”

Maka dalam sekian banyak pendapat tadi, dapat kita simpulkan bahwa musuh-musuh Islam yang kita tidak ketahui tetapi Allah yang mengetahuinya antara lain:

  • Orang kafir yang menyembunyikan kebenciannya, dan menunggu-nunggu kesempatan untuk membantai kaum muslimin apabila ada kesempatan.
  • Setan yang selalu menggangu manusia.
  • Bangsa jin yang kafir dan menentang Islam dan membantu musuh-musuh Islam untuk memerangi umat Islam.
  • Orang-orang munafik yang selalu membuat kesusahan di mana-mana dan memfitnah, melaporkan orang Islam kepada musuh-musuh Islam, dan menyebarkan rahasia umat Islam, memfitnah mereka-mereka yang mau menegakkan syariat Islam, mengadu domba umat, memecah belah umat, dan menjilat pada pemerintah yang zalim, pemerintahan kafir dll.

Dari uraian yang singkat ini, dapat kami simpulkan bahwa hendaknya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuh kita, baik musuh dalam diri kita (yang berupa setan dan hawa nafsu) maupun musuh di luar kita (yang berupa orang-orang kafir yang akan memerangi kita). Apabila kita tidak mau mempersiapkan diri, sesungguhnya musuh telah mempersiapkan diri guna menghanncurkan kita. Oleh karena itu, tidaka ada jalan lain bagi kita, kecuali mempersiapkan diri dan bersiap-siap menghadapi musuh yang sewaktu-waktu datang.
=====================
“Penopang-Penopang Jihad yang Bersifat Materi”
———————-
A. Kelayakan Fisik الليا قة البدنية
Ini biasa di dapat dengan:
· Kekuatan otot (با لقوة العضلية)
· Kecekatan dan kegesitan tubuh (والرشاقة الجسمية)
· Kesigapan dan semangat (والنشاط والهمة)
———————-
Mengingat kata “jihad” merupakan pecahan dari kata “mujahadah” (bersungguh-sungguh) dan “mukaabadah” (menahan sesuatu), lantaran keras dan beratnya beban, kesulitan, kesengsaraan, kepayahan, penderitaan, ketakutan dan bahaya yang ada di dalamnya… seperti membawa senjata dan perlengkapan, mengamankan amunisi dan logistic, berjalan jauh, berlari dan melompat; melakuakan operasi penyerangan, bertahan dari gempuran musuh, melakukan taktik hit and run dalam serangan; mengadakan latihan perang-perangan… dan aktivitas-aktivitas keras lainnya dalam suasana medan yang diwarnai dengan kepulan debu, kobaran api dan gumpalan asap; dalam bara api peperangan yang dahsyat yang berseliweran di sana-sini, pecahan bom dan roket; dan di antara gelimpangan mayat, serpihan daging dan genangan daerah… atau juga menderita kepayahan, kesulitan, sedikit tidur dan kekurangan makan.
—————-
Keadaan jihad yang sedemikian itu membutuhkan tubuh-tubuh yang lentur, gesit dan kuat; lengan dan otot yang sekeras baja, serta tekad dan semangat yang tinggi lagi kokoh seperti gunung, mampu mengemban segala bentuk tugas dilapangan, dan tidak pernah merasa letih ataupun jemu sampai akhir peperangan yang bisa singkat maupun lama, yang kadang menidingin dan kadang memanas pula.
——————
Jika demikian halnya, maka haruslah dipilih fisik-fisik yang tepat dan pantas untuk jihad, kemudian dilatih secara kontinyu dan teratur agar menjadi kuat dan bermental baja, gesit dan cekatan, serta mampu hidup dalam kondisi kasar dan keras…. Dan supaya mereka berlatih menghadapi kesulitan dan membiasakan diri terhadap kondisi yang tidak menyenangkan sehingga nantinya tidak shock (terkejut) bila menghadapi hal-hal yang di luar perhitungan, lalu menjadi lamban dan berat serta kembali dengan membawa kegagalan dan kerugian.
————————-
Ketika Bani Isra’il meminta Nabi mereka untuk mengangkat seorang raja bagi mereka supaya merka bisa berperang di jalan Alloh swt di bawah pimpinannya, maka kemudian Alloh swt mengangkat Tholut sebagai raja dan panglima perang mereka; dan Alloh swrt mensifati Tholut sebagai seorang yang luas ilmunya dan kuat (perkasa) tubuhnya.
Alloh berfirman:
————
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya Alloh telah mengangkat Tholut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Tholut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak ?!’. Nabi (mereka) berkata , ‘Sesungguhnya Alloh telah memilih rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Alloh memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakin-Nya dan Alloh maha Luas pemberiaan-Nya lagi Maha Mengetahui.’.” (QS. Al Baqarah; 247).
——————–
Ketika putri Nabi Syu’aib as memohon kepada bapaknya untuk menjadikan Musa sebagai pekerjanya, ia mensifatinya sebagai orang yang kuat lagi dapat dipercaya… dan sebaik-baik orang yang diupah sebagai pekerja adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan kuat tubuh mereka.—————-
Alloh saw berfirman:

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”.” (QS. Al Qashosh: 26).——————–
Alloh saw berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal: 60).——————–

Rosululloh saw bersabda:
المؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن

“Seseorang Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).————

B. Keahlian Perang (الخبرة القتالية)——-
Yakni mengetahui:
· Taktik-taktik perang (بأساليب القتال)
· Macam-macam senjata (وأنواع السلاح)
· Cara-cara penyediaan dan pengiriman bantuan(وطرق الإعداد والإمداد وغيرها)
——————-
Sudah dimaklumi bahwa pedagang dan perniagaannya, perajin dengan karya tangannya, pegawai dengan tugasnya, petani dengan pertaniannya dan setiap pekerja dengan pekerjaannya membutuhkan keahlian terhadap bidang kerja yang dia geluti. Jika tidak berbekal keahlian maka akan berakhir dengan kegagalan. Sejauh mana tingkat keahlian, kecakapan dan kemahiran yang dimilikinya maka sejauh itu pula keberhasilan yang dapat diwujudkannya.
————–
Perang itu akan menentukan hidup dan mati, mulia atau hina, haq atau batil yang akan berkuasa. Dan perang juga akan membuat persaingan dalam hal kemampuan, kecakapan, kekuatan dan keahlian. Telah berkembang teknik-teknik, cara-cara serta siasat perang dan telah masuk ke dalam bagiannya berbagai cabang ilmui pengetahuan, dan telah dipergunakan di dalamnya berbagai jenis industry senjata dan ciptaan-ciptaan baru (dalam bidang persenjataan); dan telah ditundukkan di dalamnya hampir seluruh kekuatan dan kemampuan. Sehingga jadilah dia sebagai suatu kegiatan yang saling berjalinan, saling terkait dan terkoordinasi dengan rapi.
Jika demikian, dalam peprangan dibutuhkan suatu pengalaman dan keahlian khusus dalam hal strategi perang dan taktik-taktik tempur, baik taktik perang ofensif dan defensive, gerilya atau perang kota, operasi-operasi perang darat, perang laut, perang opini / propaganda / urat syaraf, atau perang politik ekonomi, pemikiran dan yang lainnya.—————-
Juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap jenis-jenis senjata, cara mengoperasikannya, memperbaiki dan merawatnya. Dan dalam perang juga dibutuhkan pengalaman dan keahlian khusus terhadap cara-cara dan sasaran-sasaran penyediaan dan pengirimanan bantuan yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pasukan yang berperang. Sebagai tambahan, sekarang ini Dinas Keamanan dan staf-staf ahli yang bekerja di dalamnya dengan peralatan-peralatan canggih dan alat-alat komunikasi, spionase dan mata-mata yang mereka miliki mempunyai peran yang sangat efektif dalam menentukan keberhasilan suatu operasi militer dan mewujudkan kemenangan di dalamnya.——————-

Semua itu dituntut dan sangat perlu dipersiapkan dan disediakan. Karena pentingnya sisi persoalan ini, maka didirikanlah akademi-akademi militer, pendidikan-pendidikan khusus dan diklat-diklat militer di sebagian besar Negara-negara di dunia.
——————
Maka dari itu sudah seyogyanya bagi umat islam untuk mempersiapkan seluruh kekuatan yang mereka miliki dan seluruh kemampuan yang mereka sanggupi supaya mereka punya kesiapan dan sudah siap ketika ada seruan yang memerintahkkan mereka untuk berperang.——————-
Alloh swt berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakanb langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram.; itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya dirirmu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya danketahuilah bahwasanya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36).———-

Rosululloh bersabda:
من علم الرمي ثم تركه فليس منا

“Barangsiapa yang telah diajari melempar, kemudian meninggalkannya maka ia bukan golongan kami. (HR. Muslim).—————

Rosululloh bersabda;
من تعلم الرمي ثم تركه فقد عصانى

“Barangsiapa yang belajar melempar (panah atau yang sejenisnya) kemudian dia meninggalkannya, maka sesungguhnya ia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Ibnu Majah).—————–

Dari Salman bin Akwa, dia berkata, Nabi pernah melewati sebuah kaum yang sedang memanah, lalu beliau berkata dengan lantang, “Melemparlah kalian wahai anak-anak Ismail, karena sesungguhnya Bapak kalian adalah seorang pemanah. Saya akan bersama Bani Fulan.” Tetapi kemudian salah satu kelompok itu tidak ikut memanah. Rosuluulloh bertanya, ‘Kenapa kalian tidak ikut memanah?’Bagaimana kami (berani) melempar jika tuan bersama mereka?!’ jawab mereka. Lalu beliau berkata, “melemparlah kalian, saya bersama kalian semua.” (HR. Bukhori).——————–

Rosululloh bersabda:

“Melemparlah dan menunggang (kuda)lah, tetapi aku lebih suka kalian melempar daripada menunggang. Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah batil (sia-sia/tidak berguna), kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya atau seseorang yang melatih kudanya atau seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya. Sesungguhnya ketiga hal itu termasuk perkara yang haq. Dan barangsiapa meninggalkan melempar setelah belajar, maka sesungguhnya ia telah mengkufuri (nikmat) sesuatu yang telah diajarkan kepadanya.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dan Al Baihaqi.
Nabi saw sering bermusyawarah dengan para sahabatnya, khususnya mereka yang memiliki keahlian dan pengalaman, ketika beliau hendak memerangi musuh dan yang lain, maka beliau sendiri pandai dalam persoalan tersebut meski beliau mendapat wahyu.————-

C. Strategi Perang (التخطيط القتالي)—————-
Yakni dengan membuat langkah-langkah sebagai berikut.
· Spesifikasi target (بتحديد الهدف).
· Taktik yang matang (وإحكام الخطة).
· Pelaksanaan yang tuntas (ودقةالتنفيذ).
——————
Yang dimaksud dengan “strategi perang” adalah suatu planning (rencana) operasi yang lengkap, representative dan jelas dari medan peperangan, lebar dan panjang areanya; dapat diiliustrasikan dengan jelas melalui sketsa tersebut, posisi-posisi lawan serta lokasi-lokasi pertahanannya, peralatan pendukung, pasukan, senjata, logistic dan sebagainya.—————

Sebagaimana dijelaskan pula di dalamnya tahap-tahap perang, taktik-taktik, kemungkinan-kemungkinannya, solusi serta antisipasi terhadap setiap terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang ada.—————

Dengan cara tersebut akan meminimalkan penyimpangan dan hal-hal mendadak yang terjadi di luar perhitungan dan bias dihindari dengan melakukan antisipasi secara cepat dan dadakan. Kecuali pada momen keadaan atau kondisi tertentu yang mana komandan pasukan, melalui kejelian pandangan serta kecerdikannya, merasa perlu melakukan perubahan strategi lain yang lebih tepat, dan mengganti taktik kepada taktik yang lain yang lebih pas untuk keuntungan pasukan dalam pertempuran.————–

Dalam penyusunan strategi ini perluu sekali melibatkan seluruh pakar dan ahli (militer yang kompeten) dengan tetap menjaga kerahasiaannya, agar jangan sampai ada informasi apapun yang bocor kepihak lawan, yang mana kebocoran tersebut bias mengakibatkan kegagalan dan kekalahan bahkan kehancuran. Adalah Rosululloh saw biasa merancang strategi bagi setiap peperangan yang diterjuninya.———–

Dalam perang Uhud, beliau saw menerangkan medan pertempuran dan menentukan lokasi-lokasi bagi pasukan pemanah dan pasukan tempur. Serta membagi-bagi tugas, memberikan pesan-pesan peringatan agar supaya tidak terjadi kegagalan strategi dan menderita kerugian. Al Qur’an telah menjelaskan hal tersebut melalui ayat:——–

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Al Imron: 121-122).———————

Dalam peperangan Khoibar, adalah orang Yahudi telah bersekutu dengan Bani Ghatafan untuk membantu melawan kaum Muslimin, apabila kaum Muslimin menyerang mereka di negeri mereka, Khaibar. Nabi saw diberitahu persekutuan tersebut. Maka beliau saw menggerakkan pasukan ke perkampungan Bani Ghatafan. Hal ini untuk memberikan kesan seolah-olah ia bermaksud untuk menyerang mereka. Kemudian, beliau berbalik menuju Khaibar, setelah mengirim sekelompok pasukan dari para sahabatnya untuk menyerbu perkampungan Bani Ghatafan, yang sudah tidak mempunyai kekuatan dan penjagaan karena orang-orangnya pergi ke Khaibar membantu orang-orang Yahudi melawan kaum Muslimin. Berita penyerbuan yang dilakukan kaum Muslimin menimbulkan ketakutan di kalangan Bani Ghatafan. Dan maneuver tersebut memaksa menarik kekuatan yang berada di Khaibar dan membawanya balik ke negeri mrereka., untuk mempertahankan dan menjaga negeri mereka dari ancaman dan serbuan kaum Muslimin.——————–

Demikianlah strategi dan siasat berhasil dalam mengelabuhi Yahudi Khaibar dan sekutunya Bani Ghatafan. Selanjutnya pasukan Islam meneyerbu mereka dan akhirnya berhasil menaklukan Khaibar.———————

Dalam perang Adzab, Nabi saw diberi saran untuk menggali parit pada arah satu-satunya yang memungkinkan musuh ke kota Madinah –oleh karena, kota Madinah terlindung kuat secara alami, dengan perbukitan di sisi timur dan baratnya, sedangkan di sisi selatan dengan kebun-kebunnya-, Beliau saw menerima saran tersebut, lalu memerintahkan kaum Muslimin menggali parit. Parit tersebut memaksa pasukan musuh menghentikan gerak majunya dan membuat perkemahan di belakangnya. Musuh tidak mampu melewatinya sampai akhirnya pasukan musuh menjadi kacau balau dan terpaksa harus mundur. Dan Alloh menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan.——————

Nu’aim bin Mas’ud ra mempunyai peranan besar dalam merusak persekutuan antara Yahudi Madinah dengan pasukan Ahzab. Yang demikian itu adalah berkat siasatnya yang jitu. Alloh berfirman mengisahkan kejadian dalam perang ini.————

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan [1209]. dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan dia menurunkan orang-orang ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 25-27).———–

Dari Ka’ab bin Malik ra, dia berkata “Adalah Nabi apabila bermaksud melakukan peperangan, maka beliau menyamarkan tujuan kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud).
Dari Ka’ab bin Malik ra, dia juga berkata “ Belum pernah Rosululloh saw bermaksud melakukan Sahr, melainkan pasti beliau menyamarkan kepada tujuan yang lain.” (HR. Al Bukhri dan Muslim).——————

Rosululloh saw bersabda,
الحرب خدعة
“Peperangan adalah tipu daya.” (HR.Muslim).—————

Rosululloh saw bersabda,
“Setiap kebohongan akan dicatat (sebagai dosa) atas anak Adam, kecuali dalam tiga hal: 1) seorang dalam berbohong ketika berperang, karena perang adalah tipu daya. 2) seseorang yang berbohong kepada isterinya untuk menyenangkannya. 3) seseorang yang berbohong kepada dua orang yang bersengketa untuk mendamaikan mereka. (HR. At Thabrani dan Ibn Sina).———————

Dan diriwayatkan, “Amru bin Abdul Wadd Al Amiri melakukan perang tanding dengan Ali ra. Ketika keduanya telah berhadap-hadapan. Ali berujar, ‘Aku berperang tanding bukan untuk menghadapi dua orang’. Mendengar ucapan Ali ra, Amru menoleh ke samping. Dengan segera Ali melompat ke depan dan menghantam Amru dengan pedangnya. Maka berteriaklah Amru, ‘Engkau telah menipuku’. Ali menjawab dengan tenang, ‘perang adalah tipu daya’.”——————-

Kaum Muslimingenerasi awal sangat mahir dan lihai dalam menentukkan target-target operasi militer mereka, mematangkan taktik –taktik peperangan mereka dan membagi-bagi kesatuan dan formasi tempur mereka, sehingga dapat mengungguli seluruh pasukan Persia dan pasukan Romawi yang merupakan dua kekuatan paling kuat pada zamannya, baik dalam soal kesepian, keteraturan dan persenjataan.————-
——-
D. Persenjataan Perang (التسليح القتالي)———-
Yang terdiri dari:
· Persenjataan darat (بالتسليح البري).
· Persenjataan laut (والتسليح البحري).
· Persenjataan udara (والتسليح الجوي).
———————–
Senjata adalah alat perang dan bekal yang harus dibawa seorang prajurit dalam perang. Tanpa senjata, tidak akan ada dan tidak akan terjadi peperangan. Pasukan yang tak bersenjata adalah seperti kawanan domba, dan umat yang tak bersenjata tidak akan bisa bertahan hidup (di muka bumi), kalaupun masih bertahan hidup, maka sudah pasti mereka lemah dan hina seperti domba betina yang tak bertanduk.
Persejataan modern telah berkembang sedemikian pesat dan menjadi bermacam-macam dengan kekuatan yang sangat hebat dan menakutkan dan mengancam kehancuran dunia.——————
Perlombaan dalam pengembangan dan penemuan senjata-senjata perang akan terus berjalan terus dan menyedot anggaran dana yang paling besar. Seandainya perang dunia ketiga pecah dan senjata-senjata tersebut digunakan, pastilah ia akan menghancurkan dunia, melenyapkan peradabannya dan merubahnya menjadi puing-puing dan reruntuhan.———————
Oleh karenanya, sisi ini perlu diperhitungkan dan diberikan porsi perhatian yang sangat besar dan untuk menghadapi perang perlu dipersiapkan berbagai jenis senjata terbaru, terbagus dan kuat agar jangan sampai umat Islam menjadi mangsa empuk bagi senjata-senjata lawan. Sebab tidak logis dan tidak bisa diterima, menghadapi besi dan kayu atau menghadapi peluru dengan panah; atau menghadapi bom dengan batu.————-

Untuk keberhasilan suatu perang, maka seharusnyalah memakai persenjataan dan mendekati kemampuan senjata lawan, meski tidak harus mengimbanginya. Inilah minimal yang memungkinkan perang berjalan terus. Jika tidak, maka perang tersebut adalah perang bunuh diri, yang pada ghalibnya berkesudahan dengan kekalahan dan kebinasaan.—————–
Menyiapkan kekuatan senjata, masuk dalam makna firman Alloh swt

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al Anfal: 60).———————-

Dalam Tafsir Al Qurtubi diterangkan makna firman Alloh swt:———-

Suatu perintah dari Alloh kepada orang-orang beriman agar mereka menyiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sesungguhnya Alloh jika mau, maka bisa saja Dia mengalahkan mereka dengan kalam (ucapan) dan menaburi wajah mereka dengan segenggam debu, seperti yang pernah dilakukan oleh Rosululloh saw, akan tetapi Alloh hendak menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dengan ilmuNya yang mendahului segala sesuatu dan ketetapanNya yang pasti berjalan. Segala kebaikan yang kamu siapkan untuk musuhmu, maka iamasuk dalam bekal persiapanmu.———-
Ibn Abbas ramengatakan bahwa kekuatan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah senjata dan kekerasan.————
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Uqbah bin Amir ra, dia berkata, “Aku mendengar Rosululloh saw berkata di atas mimbar, setelah membaca ————

—————–
Lalu berkata, “Ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwasanya kekuatan itu adalah melempar.”——-

Ini adalah nash hadits yang diriwayatkan dari Uqbah Abu AliTsumamah bin Syafi Al Hamdzani. Sedangkan Muslim tidak mempunyai periwayatan hadits yang shohih tentang persoalan ini selain daripadanya.————
————
Dan hadits lain dalam masalah “melempar”, juga dari ‘Uqbah. Dia berkata, ‘Aku mendengar Rosululloh bersabda,——-
“Kelak akan ditaklukan untuk kalian negeri-negeri dan Alloh mencukupkan atas kalian, maka janganlah seseorang di antara kalian merasa malas untuk mempermainkan panahnya.” (HR. Muslim).

Rosululloh saw bersabda:–
“Segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil (sia-sia/tidak berguna) kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan istrinya, sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq.”———–
Mempersiapkan bekal untuk perang memperkuat kaum Muslimin serta menggetarkan musuh-musuh Alloh. Yang terakhir ini adalah musuh-musuh yang tidak kelihatan yang dimaksudkan dalam firman Alloh swt————
“… dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60) {Tafsir Ath Thabrani}.———–

Memberikan bekal persiapan seseorang untuk berperang di jalan Alloh serta berinfak di dalamnya adalah seperti berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang memberikan bekal persiapan / perlengkapan adalah seperti orang yang berperang.

Rosululloh saw bersabda,
من جهز غازيا حتى يستقل كان له مثل أجره حتى يموت أو يرجع
“Siapa yangmempersiapkan perlengkapan orang yang akan berperang sampai ia bisa berangkat, maka orang tersebut akan memperoleh pahala sepertinya, sampai yang berperang mati atau kembali.” (HR. Ibn Majah).——————–

Rosululloh saw bersabda,
“Sesungguhnya Alloh akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah lantaran satu panah; pembuatnya yang memiliki niat kebaikan dalam membuatnya, orang yang membantu menyodorkan anak panahnya kepada orang yang membidikkannya damn orang yang membidikkannya. Melemparlah dan menungganglahkalian, tetapi aku lebih suka melempar daripada menunggang. Dan segala sesuatu yang dijadikan permainan seseorang adalah bathil, kecuali seseorang yang memanah dengan busurnya, seseorang yang melatih kudanya dan seseorang yang bersenda gurau dengan isterinya. Sesungguhnya ia termasuk perkara yang haq. Dan siapa saja yang telah diajari Alloh melempar kemudian ia meninggalkannya karena telah tidak menyukainya lagi, maka sesungguhnya itu adalah nikmat yang ia kufuri.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’I dan Ibn Majah).
Alloh berfirman:———————-

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. At Taubah: 41).———————–

Perkembangan persenjataan perang merupakan reaksi positif dan kelanjutan dari apa yang telah dimiliki kaum Muslimin dahulu.————–
Pada zaman Nabi saw, kaum Muslimin telah menggunakan senjata Manjanik, pelempar batu (lebih kecil dari Manjanik) dan kendaraan pendobrakuntuk mengepung serta mendobrak benteng-benteng dan gerbang-gerbang pertahanan lawan.
Rosul saw pernah mengutus beberapa orang sahabat ke daerah Jarasy –di Negara Syam- untuk mempelajari pembuatan senjata. Kemudian kaum muslimin membuatnya sendiri dan Rosul saw memeprgunakannya dalam pengepungan kota Thoif serta negeri Khaibar.
Jumlah pasukan berkuda berkembang secara kontinyu. Pada perang Badr, jumlah prajurit dalam pasukan Rosul ada 12 orang saja dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 314 orang. Sementara perkembangan jumlah prajurit berkuda pada perang Tabuk mencapai 12.000 orang dari keseluruhan prajurit yang berjumlah 30.000 orang. —

Kemudian pada periode selanjutnya persenjataan laut mulai dikembangkan oleh Kaum Muslimin. Mereka membuat rumah-rumah galangan untuk membuat kapal, yang diarsiteki oleh pakar-pakar yang mereka miliki. Di samping itu, telah dibuka pula akademi-akademi perang untuk melatih taktik-taktik perang di laut.————

Berkembanglah persenjataan laut yang dimiliki kaum Muslimin. Sehingga mereka menjadi armada laut yang terkuat di zamannya. Bahkan berhasil mengungguli armada laut bangsa Romawi, yang sebelumnya merupakan aramada laut paling kuat dan paling tangguh pada zamannya. Armada-armada laut ini (menurut penuturan Ibn Kaldun) melarikan diri ketika menghadapi armada laut Islam yang mengaum di hadapan mereka seperti auman singa yang melihat mangsanya.——————-

Pada zaman Khalifah Utsman bin Affan ra, bangsa Romawi keluar dari Negara mereka untuk memerangi kaum Muslimin dengan armada laut mereka yang berkekuatan 500 buah kapal prang di bawah pimpinan Konstantin putra Heraklius, Raja Romawi. Armada mereka bergerak menuju negeri Maghrib (sekarang adalah wilayah Negara Maroko dan sekitarnya). Kemudian kaum Muslimin menyongsong kedatangan mereka dengan armada laut mereka yang berkekuatan 200 kapal perang di bawah pimpinan Abdulloh bin Sa’ad bin Abu As Sarh.———————

Maka bertemulah kedua pasukan itu dalam pertempuran yang sangat sengit, yang terkenal dengan sebutan “Mauqi’ah Dzatus Shawar” (lantaran banyaknya kapal-kapal perang yang dikerahkan dalam peperangan tersebut). Dalam peperangan tersebut, panglima pasukan Romawi, Constantin terluka parah, yang mengakibatkan kekalahan di pihak pasukannya. Maka kemudian mundurlah dia dengan tentaranya yang tersisa, meninggalkan medan pertempuran. Sehingga kemenangan diraih oleh kaum Muslimin. Dengan kemenangan ini, maka jadilah perairan Laut Tengah sebagai perairan islam yang di kuasai kaum Muslimin, yang mana kapal-kapal mereka bisa berlayar ke mana saja dengan bebas dan aman.———-
====================

berbagai sumber
wallahu a’lam

UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ————————— ———— Kaya dan Miskin ————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————- ———– Hasad dan Ghittoh ———- Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—– Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———– Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————– Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——- Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———– Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———- Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——– Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————- ————- Definisi Fitnah —————— Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.———— Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————– Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——- ————- Sumber Fitnah —————— Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ——— Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————- Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ———— Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). ————— —————- Bahagia itu Sederhana —————- Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———- Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).—————— Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.————— Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————- Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————- ———— Ujian Hidup ———- Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————– Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————- Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————- Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————- Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————- Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————– Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————– Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. —— ———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————- Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———– Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————– Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————- ———– Kesejahteraan itu Perlu ———————– Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).—————— Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.————— Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.————— Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.————— Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.————— Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu. ———————– Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ———— Allâh Ta’ala berfirman:———- Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——– Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————- “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———- ——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———– Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.———— Allâh Ta’ala berfirman:———– Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—- Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——– “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————- Allâh Ta’ala berfirman:———– “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——– Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—– “Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———– —- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———– Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.———— Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:— Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———– “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—– Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.—— Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———– Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———- “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————- Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).————— Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——– ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———– Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]——— ————- HIKMAH COBAAN ——– Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.—— Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————– Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————- “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——- Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]——-

ujian hidup muslim

UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah
—————————
———— Kaya dan Miskin ————-

Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —–

Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.—————

Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——–

Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———–

————– Empat Jenis Manusia —————–

 Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —-

  1. Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—-
  2. Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—–
  3. Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———-
  4. Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————-

———– Hasad dan Ghittoh ———-
Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—–

Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———–

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————–

Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——-

Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———–

Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———-

Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——–

Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————-

————- Definisi Fitnah ——————

Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.————

Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————–

Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——-

————- Sumber Fitnah ——————

Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ———

Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————-

Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ————

Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). —————

—————- Bahagia itu Sederhana —————-

Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———-

Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).——————

Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.—————

Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————-

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————-

Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————-

———— Ujian Hidup ———-

Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————–

Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————-

Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————-

Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————-

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————-

Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————–

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————–

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ——

———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————-

Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———–

Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————–

Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————-

———– Kesejahteraan itu Perlu ———————–

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).——————

Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.—————

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.—————

Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.—————

Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.—————

Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu.

———————–
Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ————

Allâh Ta’ala berfirman:———-

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——–

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————-

“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———-

——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———–

Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.————

Allâh Ta’ala berfirman:———–

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—-

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——–

“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————-

Allâh Ta’ala berfirman:———–

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——–

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—–

“Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———–

—- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———–

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.————

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:—

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————-

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———–

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—–

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.——

Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———–

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———-

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————-

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).—————

Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——–

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———–

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]———

————- HIKMAH COBAAN ——–

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.——

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————–

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————-

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——-

Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]————

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

1.

Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala[9].———-

2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :——-“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]——–
3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :———–”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]—

 

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullâh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allâh Ta’ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:

“Dan Allâh Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullâh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allâh Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullâh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).

Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[14]

 

[1]

Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).

[2] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).
[3] Kitab Al-Fawâ-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)
[4] Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi).
[5] Tafsîr Ibnu Katsîr (8/137)
[6] Ighâtsatul Lahfân (hal 421-422 – Mawâridul Amân)
[7] HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)

walau SAKIT….. atau diberi UJIAN buruk …. tetap UCAPkan AL HAMDULILLAH —————————– Banyak orang mengucap Alhamdulillah hanya di saat berhasil, sukses, mendapat rezeki atau senang. Hal itu tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya tepat. Alhamdulillah pantas kita ucapkan dalam kondisi dan di saat apapun. Sekali lagi, sebagai bentuk pengakuan dan kelapangan hati kita pada-Nya. ——————- Sakit adalah ujian, cobaan dan takdir Allah ———— Hendaknya orang yang sakit memahami bahwa sakit adalah ujian dan cobaan dari Allah dan perlu benar-benar kita tanamkan dalam keyakinan kita yang sedalam-dalamya bahwa ujian dan cobaan berupa hukuman adalah tanda kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ “sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.”[1]———– Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan baginya di dunia”[2]———— Mari renungkan hadits ini, apakah kita tidak ingin Allah menghendaki kebaikan kapada kita? Allah segerakan hukuman kita di dunia dan Allah tidak menghukum kita lagi di akhirat yang tentunya hukuman di akhirat lebih dahsyat dan berlipat-lipat ganda. Dan perlu kita sadari bahwa hukuman yang Allah turunkan merupakan akibat dosa kita sendiri, salah satu bentuk hukuman tersebut adalah Allah menurunkannya berupa penyakit.——— Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَْ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَْ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [3]——– Ujian juga merupakan takdir Allah yang wajib diterima minimal dengan kesabaran, Alhamdulillah jika mampu diterima dengan ridha bahkan rasa syukur. Semua manusia pasti mempunyai ujian masing-masing. Tidak ada manusia yang tidak pernah tidak mendapat ujian dengan mengalami kesusahan dan kesedihan. Setiap ujian pasti Allah timpakan sesuai dengan kadar kemampuan hamba-Nya untuk menanggungnya karena Allah tidak membebankan hamba-Nya di luar kemampuan hamba-Nya.—— Sakit manghapuskan dosa-dosa kita—————— Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini karena kesusahan, kesedihan dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan akan menghapus dosa-dosanya. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ “Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[4]———— Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[5]————- Bergembiralah saudaraku, bagaimana tidak, hanya karena sakit tertusuk duri saja dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.———— Sekali lagi bergembiralah, karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali, kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,——— مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ “Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[6]———– Hadits ini sangat cocok bagi orang yang mempunyai penyakit kronis yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya surga telah menunggunya.————– Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada hari kiamat nanti, banyak orang yang berandai-andai jika mereka ditimpakan musibah di dunia sehingga menghapus dosa-dosa mereka dan diberikan pahala kesabaran. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,———- يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ. ”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[7]– Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini, orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit, kelak di hari kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.—— Meskipun sakit, pahala tetap mengalir———– Mungkin ada beberapa dari kita yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa malakukan aktivitas, tidak bisa belajar, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan. Bergembiralah karena Allah ternyata tetap menuliskan pahala ibadah bagi kita yang biasa kita lakukan sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.”[8]——– Subhanallah, kita sedang berbaring dan beristirahat akan tetapi pahala kita terus mengalir, apalagi yang menghalangi anda untuk tidak bergembira wahai orang yang sakit.—— Sesudah kesulitan pasti datang kemudahan——– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراْْْ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً ً “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”[9]———– Ini merupakan janji Allah, tidak pernah kita menemui manusia yang selalu merasa kesulitan dan kesedihan, semua pasti ada akhir dan ujungnya. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, susah-senang, lapar-kenyang, kaya-miskin, sakit-sehat. Salah satu hikmah Allah menciptakan sakit agar kita bisa merasakan nikmatnya sehat. sebagaimana orang yang makan, ia tidak bisa menikmati kenyang yang begitu nikmatnya apabila ia tidak merasakan lapar, jika ia merasa agak kenyang atau kenyang maka selezat apapun makanan tidak bisa ia nikmati. Begitu juga dengan nikmat kesehatan, kita baru bisa merasakan nikmatnya sehat setelah merasa sakit sehingga kita senantiasa bersyukur, merasa senang dan tidak pernah melalaikan lagi nikmat kesehatan serta selalu menggunakan nikmat kesehatan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,——- نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan waktu luang.”[10] ——–Bersabarlah dan bersabarlah———— Kita akan mendapatkan semua keutamaan tersebut apabila musibah berupa penyakit ini kita hadapi dengan sabar. Agar kita dapat bersabar, hendaknya kita mengingat keutamaan bersabar yang sangat banyak. Allah banyak menyebutkan kata-kata sabar dalam kitab-Nya. ————– Berikut adalah beberapa keutamaan bersabar:—- Sabar memiliki keutamaan yang sangat besar di antaranya:—- 1. Mendapatkan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman:——- “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[11]———- 2. Mendapatkan pahala yang sangat besar dan keridhaan Allah.—- Allah Ta’ala berfirman, “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar diberikan pahala bagi mereka tanpa batas.”[12] 3. Mendapatkan alamat kebaikan dari Allah.——- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari kiamat.”[13]——– 4. Merupakan anugrah yang terbaik——– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menganugrahkan kepada seseorang sesuatu pemberian yang labih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”[14]——-

bersyukur selalu

walau SAKIT.…. atau diberi UJIAN buruk …. tetap UCAPkan AL HAMDULILLAH
—————————–

Banyak orang mengucap Alhamdulillah hanya di saat berhasil, sukses, mendapat rezeki atau senang. Hal itu tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya tepat. Alhamdulillah pantas kita ucapkan dalam kondisi dan di saat apapun. Sekali lagi, sebagai bentuk pengakuan dan kelapangan hati kita pada-Nya.

——————-
Sakit adalah ujian, cobaan dan takdir Allah ————

Hendaknya orang yang sakit memahami bahwa sakit adalah ujian dan cobaan dari Allah dan perlu benar-benar kita tanamkan dalam keyakinan kita yang sedalam-dalamya bahwa ujian dan cobaan berupa hukuman adalah tanda kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.”[1]———–

 

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan  baginya di dunia”[2]————

 

Mari renungkan hadits ini, apakah kita tidak ingin Allah menghendaki kebaikan kapada kita? Allah segerakan hukuman kita di dunia dan Allah tidak menghukum kita lagi di akhirat yang tentunya hukuman di akhirat lebih dahsyat dan berlipat-lipat ganda. Dan perlu kita sadari bahwa hukuman yang Allah turunkan merupakan akibat dosa kita sendiri, salah satu bentuk hukuman tersebut adalah Allah menurunkannya berupa penyakit.———

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ

وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَْ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ

قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَْ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ

مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [3]——–

 

Ujian juga merupakan takdir Allah yang wajib diterima minimal dengan kesabaran, Alhamdulillah jika mampu diterima dengan ridha bahkan rasa syukur. Semua manusia pasti mempunyai ujian masing-masing. Tidak ada manusia yang tidak pernah tidak mendapat ujian dengan mengalami kesusahan dan kesedihan. Setiap ujian pasti Allah timpakan sesuai dengan kadar kemampuan hamba-Nya untuk menanggungnya karena Allah tidak membebankan hamba-Nya di luar kemampuan hamba-Nya.——

 

Sakit manghapuskan dosa-dosa kita——————

Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini karena kesusahan, kesedihan dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan akan menghapus dosa-dosanya. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[4]————

 

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،

حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[5]————-

 

Bergembiralah saudaraku, bagaimana tidak, hanya karena sakit tertusuk duri saja dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.————

 

Sekali lagi bergembiralah, karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali, kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,———

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[6]———–

 

Hadits ini sangat cocok bagi orang yang mempunyai penyakit kronis yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya surga telah menunggunya.————–

Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada hari kiamat nanti, banyak orang yang berandai-andai jika mereka ditimpakan musibah di dunia sehingga menghapus dosa-dosa mereka dan diberikan pahala kesabaran. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,———-

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[7]–

Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini, orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit,  kelak di hari kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.——

 

Meskipun sakit, pahala tetap mengalir———–

Mungkin ada beberapa dari kita yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa malakukan aktivitas, tidak bisa belajar, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan. Bergembiralah karena Allah ternyata tetap menuliskan pahala ibadah bagi kita yang biasa kita lakukan sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.”[8]——–

Subhanallah, kita sedang berbaring dan beristirahat akan tetapi pahala kita terus mengalir, apalagi yang menghalangi anda untuk tidak bergembira wahai orang yang sakit.——

 

Sesudah kesulitan pasti datang kemudahan——–

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراْْْ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً ً

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”[9]———–

 

Ini merupakan  janji Allah, tidak pernah kita menemui manusia yang selalu merasa kesulitan dan kesedihan, semua pasti ada akhir dan ujungnya. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, susah-senang, lapar-kenyang, kaya-miskin, sakit-sehat. Salah satu hikmah Allah menciptakan sakit agar kita bisa merasakan nikmatnya sehat. sebagaimana orang yang makan, ia tidak bisa menikmati kenyang yang begitu nikmatnya apabila ia tidak merasakan lapar, jika ia merasa agak kenyang atau kenyang maka selezat apapun makanan tidak bisa ia nikmati. Begitu juga dengan nikmat kesehatan, kita baru bisa merasakan nikmatnya sehat setelah merasa sakit sehingga kita senantiasa bersyukur, merasa senang dan tidak pernah melalaikan lagi nikmat kesehatan serta selalu menggunakan nikmat kesehatan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,——-

 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

 

“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan waktu luang.”[10]

 

——–Bersabarlah dan bersabarlah————

Kita akan mendapatkan semua keutamaan tersebut apabila musibah berupa penyakit ini kita hadapi dengan sabar. Agar kita dapat bersabar, hendaknya kita mengingat keutamaan bersabar yang sangat banyak. Allah banyak menyebutkan kata-kata sabar dalam kitab-Nya.

————–

Berikut adalah beberapa keutamaan bersabar:—-

Sabar memiliki keutamaan yang sangat besar di antaranya:—-

1. Mendapatkan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman:——-

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[11]———-

2. Mendapatkan pahala yang sangat besar dan keridhaan Allah.—-

Allah Ta’ala berfirman,

“sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar diberikan pahala bagi mereka tanpa batas.”[12]

3. Mendapatkan alamat kebaikan dari Allah.——-

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari kiamat.”[13]——–

4. Merupakan anugrah yang terbaik——–

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah Allah menganugrahkan kepada seseorang sesuatu pemberian yang labih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”[14]——-

 

Hindarilah hal ini ketika sakit

Ketika sakit merupakan keadaan dimana seseorang lemah fisik dan psikologis bahkan bisa membuat lemah iman. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati agar kondisi ini tidak di manfaatkan oleh syaitan. Ada beberapa hal yang harus kita hindari ketika sakit.

1. berburuk sangka kepada Allah atau merasa kecewa bahkan marah kepada takdir Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba kepada-Ku, jika ia berprasangka baik, maka aku akan berbuat demikian terhadapnya. Jika ia berprasangka buruk, maka aku akan berbuat demikian terhadapnya.”[15]

2. Menyebarluaskan kabar sakit dan mengeluhkannya

Merupakan salah satu tanda tauhid dan keimanan seseorang bahwa ia berusaha hanya mengeluhkan keadaannya kepada Allah saja, karena hanya Allah yang bisa merubah semuanya. Sebaliknya orang yang banyak mengeluh merupakan tanda bahwa imannya sangat tipis. kita boleh mengabarkan bahwa kita sakit tetapi tidak untuk disebarluaskan dan kita kelauhkan kepada orang banyak

3. membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia selama sakit

Misalnya banyak menonton acara-acara TV, mendengarkan musik, membaca novel khayalan dan mistik, hendaknya waktu tersebut di isi dengan muhasabah, merenungi, berdzikir, membaca Al-Quran dan lain-lain.

4. Tidak memperhatikan kewajiban menutup aurat

Hal ini yang paling sering dilalaikan ketika sakit. walaupun sakit tetap saja kita berusaha menutup aurat kita selama sakit sebisa mungkin. Lebih-lebih bagi wanita, ia wajib menjaga auratnya misalnya  kaki dan rambutnya dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak dilihat oleh laki-laki lain misalnya perawat atau dokter laki-laki

5. Berobat dengan yang haram

Kita tidak boleh berobat dengan hal-hal yang haram, misalnya dengan obat atau vaksin yang mengandung babi, berobat dengan air kencing sendiri karena Allah telah menciptakan obatnya yang halal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit bersama obatnya, dan menciptakan obat untuk segala penyakit, maka berobatlah, tetapi jangan menggunakan yang haram.”[16]

Dan perbuatan haram yang paling berbahaya adalah berobat dengan mendatangi dukun mantra, dukun berkedok ustadz dan ahli sihir karena ini merupakan bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari islam serta kekal di neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lalu mempercayai apa yang ia ucapkan, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam”[17].

 

Sebagai penutup tulisan ini, berikut jawaban serta jalan keluar dari Allah yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah[18]

–Mengapa saya di uji (dengan penyakit ini)?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

-Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan (berupa  kesehatan)?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

-Mengapa ujian (penyakit) seberat ini?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

-Saya mulai frustasi dengan ujian (penyakit) ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

-Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

-Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka,” (QS. 9:111)

-Kepada siapa Saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. 9:129)

-Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dan menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)


[1] HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani  dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi

[2] HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220

[3] Al-Baqarah:155-157

[4] HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651

[5] HR. Muslim no. 2572

[6] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

[7] HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.

[8] HR. Bukhari  dalam shahihnya

[9]  Alam Nasyrah: 5-6

[10] HR. Bukhari, no: 5933

[11] At Thaghabun: 11

[12] Az-Zumar:10

[13] HR. Tirmidzi no.2396 dalam kitabuz zuhd, Bab “ Tentang Sabar Terhadap Ujian”, dan dia berkata, “Ini hadist hasan gharib”, Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak (I/349), IV/376, 377)

[14] HR. Bukhari no. 1469 dalam kitabuz Zakat, Bab “menghindari diri untuk tidak meminta-minta”, dan Muslim no.2471 dalam Kitabuz Zakat, Bab “Keutamaan Menjaga Kehormatan dan Sabar”

[15] HR. Ahmad dan Ibnu Hibban

[16] HR. Abu Dawud

[17] HR. Ahmad di dalam Al-Musnad (II/429). Al-Hakim (I/8) dari Abu Hurairah secara marfu’.

=============================

Ada banyak contoh dalam Al-Qur’an dan Hadits dari keutamaan sikap mental yang positif, ketekunan dan optimisme dalam menghadapi kesulitan. Namun, tahukah Anda bahwa kesabaran dan pandangan positif tentang kehidupan adalah dua alat penyembuhan terbesar yang dapat Anda gunakan?

Bernard Jensen mengatakan, dalam bukunya The Science and Practice of Iridology, “Dokter sekarang mengakui bahwa sistem kerja tubuh yang paling penting adalah bukan anggota fisik, tetapi pikiran yang mengontrolnya.” Dr Ted M. Morter menegaskan hal ini dalam bukunya, Your Health… Your Choice, ketika ia mengatakan bahwa “pikiran negatif adalah penghasil asam nomor satu dalam tubuh (dan tingkat keasaman tubuh yang tinggi merupakan penyebab utama penyakit) … karena tubuh Anda bereaksi terhadap mental negatif dan tekanan emosional yang ditimbulkan oleh cara berpikir yang negatif dan akan menjadi ancaman nyata bagi kerusakan fisik.”

Bahkan, penelitian rumah sakit menunjukkan bahwa dari semua pasien yang berkonsultasi di fasilitas klinik rawat jalan di Amerika Serikat, yang sangat mengherankan bahwa tujuh puluh persen dari pasien ditemukan tidak memiliki dasar atas keluhan mereka. Angka itu luar biasa tinggi. Namun, meskipun secara medis pasien ini tidak ditemukan memiliki sumber yang jelas atas keluhan mereka, sebenarnya ada dasar fisik untuk fenomena ini. Sejak Freud mempopulerkan gagasan psikoanalisis, orang sering berfokus pada bidang mental untuk memecahkan masalah-masalah tertentu, dengan mengabaikan kenyataan bahwa kita tidak bisa memisahkan antara ranah fisik dan mental.

Pikiran ada di otak, dan otak adalah bagian dari organ tubuh. Seperti semua organ-organ lainnya, otak juga membutuhkan nutrisi yang sama seperti organ tubuh lainnya, dan otak juga rentan mengalami masalah yang sama. Kesimpulannya, otak hanyalah bagian dari tubuh kita seperti semua bagian lain dan benar-benar tergantung pada tubuh. Hal ini membutuhkan gula untuk mengembangkan energi seperti jaringan lain yang dapat berkembang dari kalium dan lemak. Akibatnya, otak adalah organ pertama yang menderita gula darah rendah dan bereaksi paling parah. Freud sendiri mengatakan bahwa psikoanalisis tidak cocok untuk mengobati penyakit seperti skizofrenia.

Jika kita menyadari bahwa otak adalah bagian organ tubuh dan bahwa ia bekerja selaras dengan organ-organ lain dan membutuhkan nutrisi dari aliran darah yang sama, kita dapat memahami bagaimana berbagai peristiwa mental dapat mempengaruhi kita secara fisik. Misalnya, menggunakan otak kita untuk berpikir dan belajar membakar nutrisi dalam sistem tubuh, terutama fosfor. Olahraga otak yang berat dapat menyebabkan kita menderita kekurangan fosfor. Dan kami menemukan bahwa kebalikannya juga berlaku dalam hubungan ini. Orang yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi biasanya memiliki kadar fosfor yang tinggi dalam sistem tubuh mereka.

Ada banyak hikmah dalam pernyataan Nabi SAW (diriwayatkan oleh Abu Hurairah), “Orang yang kuat bukanlah orang yang mengalahkan orang-orang dengan kekuatannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri saat marah.Sebenarnya, tetab sabar dan tenang adalah kunci untuk kekuatan fisik.

Fosfor bukan satu-satunya nutrisi yang dapat habis oleh stres mental dan kurangnya ketenangan spiritual. Jika kelenjar tiroid, organ utama untuk menangani emosi kita, bekerja lembur, kita bisa menderita kekurangan yodium. Stres akibat tuntutan pekerjaan, perceraian atau permasalahan lain dapat menyebabkan hilangnya kalium dan natrium dalam tubuh karena efek kelenjar adrenal yang dihasilkan lebih banyak dari kebutuhan untuk mineral ini.

Bahkan hipoglikemia (gula darah rendah) dapat disebabkan oleh kegembiraan. Nabi (SAW) mengajarkan kepada kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam menjalani hidup; Namun, kita sering mengekspos secara berlebihan rasa gembira kita dengan berteriak, berlebihan menonton televisi, pergi ke mall, film, pesta, taman hiburan, dll. Ketika kita melihat sesuatu yang menarik, adrenal cortex kita terstimulasi dan terjadi peningkatan gula darah dalam tubuh kita. Hal ini, pada gilirannya, merangsang pankreas untuk mensekresikan insulin ke dalam darah untuk menurunkan tingkat gula, menyebabkan kita kemudian merasa lelah atau lemah.

Untuk bisa menciptakan rasa tenang dan berdampak bagi kesehatan adalah dengan membiasakan diri mengucapkan, Alhamdulillah” untuk apa yang telah kita miliki dan apa yang kita terima. Kita harus mencoba untuk menjaga rumah dan lingkungan kerja kita damai dan sebisa mungkin bebas dari stres. Salah satu cara agar kita dapat melawan efek stres yaitu menyadari akan stres yang kita hadapi, dan mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan suplemen seperti herbal.

Misalnya, jika seseorang sampai larut malam shalat atau membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadhan, mereka dapat mengonsumsi makanan yang kaya fosfor dan makanan lain yang bisa membantu menjaga asupan fosfor dalam tubuh. Jika seseorang bergerak, bepergian atau melakukan perjalanan Haji atau Umrah, mereka bisa meningkatkan asupan tinggi untuk kalium dan natrium serta vitamin B kompleks.

Jika kita benar-benar mengabaikan hubungan antara kesehatan mental dan fisik, kita kehilangan detail penting dalam gambaran kesehatan diri kita. Dan, seperti pada sebagian besar masalah kesehatan, membiasakan diri untuk melakukan pencegahan lebih utama dari pada berobat. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghindari sikap negatif dan emosi yang mengendalikan tubuh kita adalah dengan membiasakan diri bersikap bijaksana, dan bagi Muslim, kita telah memiliki Alquran dan Hadis untuk membimbing kita untuk bersikap bijaksana dalam menyikapi seusatu, sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan, serta terhindar dari pikiran negatif dan stress.

Biasakanlah untuk mengucapkan, Alhamdullilahuntuk apa yang kita miliki; Insya Allahuntuk apa yang kita niatkan; dan, Subhana Allahketika kita melihat sesuatu yang menarik atau menakjubkan.

Kita harus ingat untuk mengucapkan, Astaghfir’Allah ketika kita kehilangan kesabaran atau menjadi lemah, dan yang paling penting, ucapkanlah “Allahu Akbarketika kita dihadapkan dengan tantangan hidup.

Kelima kalimah thayyibah tersebut, apabila kita amalkan dalam keseharian kita, seperti halnya mengkonsumsi multivitamin yang memiliki dampak yang luar biasa terhadap kesehatan kita secara keseluruhan.

*Artikel ini ditulis oleh Karima Burns, MH, ND. Dia merupakan seorang Doktor Naturopathy dan Magister Pengobatan Herbal. Dia telah mempelajari pengobatan alami selama 12 tahun, menerbitkan buletin tentang penyembuhan alami selama 4 tahun, dan menulis secara ekstensif tentang pengobatan alami dan herbal. Karima menjadi tertarik pada penyembuhan alami setelah berhasil mengakhiri perjuangan seumur hidup pribadinya dalam melawan penyakit asma, alergi, infeksi telinga kronis, depresi, hipoglikemia, kelelahan dan serangan panik yang dideritanya dengan racikan herbal dan terapi alami.

=======================

A. Arti Kalimat Tayyibah Alhamdulillah

Allah menciptakan manusia dengan bentuk fisik yang paling sempurna.

Manusia berbeda dibanding makhluk lainnya.

Manusia dianugerahi akal untuk berfikir.

Manusia juga diberi hati untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

Karena itu kita harus bersyukur kepada Allah.

Bersyukurlah dengan mengucap Alhamdulillah.

Manusia tidak perlu menghitung nikmat yang telah diberikan Allah.

Karena nikmat Allah begitu banyak sehingga manusia tidak akan mampu menghitungnya. Seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 34:

Artinya : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.”

Sebagai hamba yang perlu dilakukan adalah bersyukur dan memuji Allah.

Sesungguhnya Allah akan menambahkan nikmatnya kepada orang-orang yang bersyukur.

Sebaliknya ingkar atau kufur nikmat akan membuat kita terkena azab dari Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ibrahim  ayat 7 :

“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Alhamdulillah adalah kalimat tayyibah yang berarti segala puji bagi Allah.

Bacaan lengkapnya adalah Alhamdulillahirabbil’alamin.

Alhamdulillah artinya segala puji bagi Allah tuhan semesta Alam.

Alhamdulillah juga dinamakan bacaan Tahmid atau hamdalah.

Kalimat Alhamdulillah terdiri dari tiga kata Alhamdu, li dan Allah.

Alhamdu yang artinya yang artinya segala puji.

li artinya pengkhususan bagi Allah.

Segala puji-pujian hanya untuk Allah.

Tidak ada yang lain yang berhak mendapatkan pujian itu.

Misalnya, kita memuji arsitek karena telah merancang bangunan yang besar.

Tetapi coba kita pikirkan lagi, dari mana arsitek tersebut mendapatkan ide membuat bangunan tersebut.

Tentunya Allah yang telah memberinya ide.

Oleh sebab itu jika kita dipuji-puji orang, janganlah kita menjadi sombong.

Karena manusia dihadapan Allah sangatlah kecil.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

seperti dalam firmannya :

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

 

B. Waktu Pengucapan Kalimat Tayyibah Alhamdulillah

Waktu pengucapan Kalimat Tayyibah Alhamdulillah, antara lain :

  1. Alhamdulillah diucapkan ketika ketika kita memperoleh nikmat dari Allah. Nikmat adalah sesuatu yang menyenangkan. Misalnya kita mendapat hadiah, kabar gembira, kebaikan atau kelebihan rezeki kita harus mengucap Alhamdulillah. Setiap hari kita mendapatkan nikmat Allah. Contohnya nikmat sehat. Ketika kita sembuh dari sakit kita harus bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah.
  2. Disetiap salat kita juga membaca Alhamdulillah. Yaitu ketika kita membaca surat Al-Fatihah.
  3. Dalam dzikir sesudah salat kita mengucap Alhamdulillah. Bacaan Alhamdulillah diucapkan sebanyak 33 kali.
  4. Alhamdulillah juga menjadi bacaan pamungkas usai melakukan pekerjaan. Misalnya setelah belajar dan mengerjakan PR.
    1. Ketika terhindar dari malapetaka, kita juga mengucapkan Alhamdulillah. Misalnya ketika kita selamat dari bencana gempa dan tsunami.
    2. Ketika bersin kita juga mengucapkan Alhamdulillah

Alhamdulillah sebaiknya tidak hanya diucapkan dibibir saja.

Tetapi harus diikuti dengan perbuatan yang baik.

Misalnya kita mendapat kelebihan rezeki, kita bersyukur kepada Allah dengan mengucap Alhamdulillah.

Kita juga harus menyedekahkan kelebihan harta kita kepada orang-orang miskin.

Selain itu kita juga wajib mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan selalu bersyukur kita akan terhindar dari sifat sombong.

Karena itu Allah selalu memerintahkan hamba-Nya untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Seperti dalam firman-Nya dalam surat An-Naml ayat 93 yang berbunyi :

“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah…..”

Bersyukur tidak boleh kepada selain Allah.

Karena orang yang memuja selain Allah dinamakan Musyrik.

Kelak akan mendapatkan siksa diakhirat nanti.

 

NABI banyak sekali bersabda tentang SABAR. hadits tentang sabar yang perlu anda ketahui: —————- “Orang yang gagah perkasa tidak diukur dengan kemenangan dalam pertarungan, tetapi kekuatan yang sebenar ialah orang yang dapat mengawal dirinya ketika marah.” [Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim] ————— Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadis; Daripada Abu Hurairah ra berkata, bahawa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergusti, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika ia sedang marah”. [Hadis Riwayat Bukhari] —————— Kesabaran merupakan dhiya’ (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” [Hadis Riwayat Muslim] —————- Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimum.(bersungguh-sungguh). Rasulullah SAW pernah menggambarkan: “…barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” [Hadis Riwayat Bukhari] ————- Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” [Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim] ——————— Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, kerana segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengatahui) bahawa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar kerana (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah baik baginya. (Hadis Riwayat Muslim] ———————– Daripada Anas bin Malik ra berkata, bahawa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman: “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya (buta mata), kemudian dia bersabar, maka aku gantikan syurga baginya”. [Hadis Riwayat. Bukhari] ———————- Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Daripada Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah daripada wajahnya seraya berkata, “Ya Allah ampunilah dosa kaumku, kerana sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.[Hadis Riwayat Bukhari] ———————– Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah hadisnya; Daripada Abu Hurairah ra. bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda; “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut”. [Hadis Riwayat Bukhari & Muslim] ———————— “Tiada seorang Muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosanya.”[Hadis riwayat Bukhari dan Muslim] ——————– Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkara adalah baik baginya. Dan tidak lah didapati seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin. Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.”[Hadith Riwayat Muslim] ———————- “Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar” [Al-Baqarah 2:153] —————— “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)”. [Ali’Imraan 3:200] ———————- “Dan turutlah apa yang diwahyukan kepadamu serta bersabarlah (dalam perjuangan mengembangkan Islam) sehingga Allah menghukum (di antaramu dengan golongan yang ingkar, dan memberi kepadamu kemenangan yang telah dijanjikan), kerana Dia lah sebaik-baik Hakim”. [Yunus 10:109] —————– “Dan sabarlah (wahai Muhammad, engkau dan umatmu, dalam mengerjakan suruhan Allah), kerana sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”. [Hud 11:115] ———— “Dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu); dan tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berdukacita terhadap kedegilan mereka, dan janganlah engkau bersempit dada disebabkan tipu daya yang mereka lakukan”. [Al-Nahl 16:127] ———-

NABI banyak sekali bersabda tentang SABAR.  hadits tentang sabar yang perlu anda ketahui:
—————-

  • “Orang yang gagah perkasa tidak diukur dengan kemenangan dalam pertarungan, tetapi kekuatan yang sebenar ialah orang yang dapat mengawal dirinya ketika marah.” [Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]
    —————

  • Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadis; Daripada Abu Hurairah ra berkata, bahawa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergusti, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika ia sedang marah”. [Hadis Riwayat Bukhari]
    ——————

  • Kesabaran merupakan dhiya’ (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” [Hadis Riwayat Muslim]
    —————-

  • Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimum.(bersungguh-sungguh). Rasulullah SAW pernah menggambarkan: “…barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” [Hadis Riwayat Bukhari]
    ————-

  • Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” [Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim]
    ———————

  • Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, kerana segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengatahui) bahawa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar kerana (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah baik baginya. (Hadis Riwayat Muslim]
    ———————–

  • Daripada Anas bin Malik ra berkata, bahawa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman: “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya (buta mata), kemudian dia bersabar, maka aku gantikan syurga baginya”. [Hadis Riwayat. Bukhari]
    ———————-

  • Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Daripada Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah daripada wajahnya seraya berkata, “Ya Allah ampunilah dosa kaumku, kerana sesungguhnya mereka tidak mengetahui”.[Hadis Riwayat Bukhari]
    ———————–

  • Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah hadisnya; Daripada Abu Hurairah ra. bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda; “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut”. [Hadis Riwayat Bukhari & Muslim]
    ————————

  • “Tiada seorang Muslim yang menderita kelelahan atau penyakit, atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosanya.”[Hadis riwayat Bukhari dan Muslim]
    ——————–

  • Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkara adalah baik baginya. Dan tidak lah didapati seorang pun hal tersebut melainkan pada diri seorang mukmin. Jika dia merasakan kesenangan maka dia bersyukur. Dan itu lebih baik baginya. Jika kesusahan menerpanya maka dia bersabar. Dan itu lebih baik baginya.”[Hadith Riwayat Muslim]
    ———————-

  • “Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar” [Al-Baqarah 2:153]
    ——————

  • “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)”. [Ali’Imraan 3:200]
    ———————-

  • “Dan turutlah apa yang diwahyukan kepadamu serta bersabarlah (dalam perjuangan mengembangkan Islam) sehingga Allah menghukum (di antaramu dengan golongan yang ingkar, dan memberi kepadamu kemenangan yang telah dijanjikan), kerana Dia lah sebaik-baik Hakim”. [Yunus 10:109]
    —————–

  • “Dan sabarlah (wahai Muhammad, engkau dan umatmu, dalam mengerjakan suruhan Allah), kerana sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”. [Hud 11:115]
    ————

  • “Dan bersabarlah (wahai Muhammad terhadap perbuatan dan telatah golongan yang ingkar itu); dan tiadalah berhasil kesabaranmu melainkan dengan (memohon pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berdukacita terhadap kedegilan mereka, dan janganlah engkau bersempit dada disebabkan tipu daya yang mereka lakukan”. [Al-Nahl 16:127]
    ———-

Makna Kata SABAR …. berarti MENAHAN dan MENGEKANG ——————————– Sabar secara etimologi, sabar (ash-shabar) berarti menahan dan mengekang ————————————– Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.kiki emotikon ——————————– Dalam islam dijelaskan bahwa yang di maksud sabar ialah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan,baik dalam menemukan sesuatu yang tidak di ingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. ————————- Imam Al-ghazali mengatakan bahwa sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya atas dorongan ajaran islam. ————————————- Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim) ——————– Sekilas Tentang Hadits Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh : – Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999. – Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412. – Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777. ——————— Makna Hadits Secara Umum ——————— Hadits singkat ini memiliki makna yang luas sekaligus memberikan definisi mengenai sifat dan karakter orang yang beriman. Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’ ( عجبا ). Karena sifat dan karakter ini akan mempesona siapa saja. ——————— Kemudian Rasulullah SAW menggambarkan bahwa pesona tersebut berpangkal dari adanya positif thinking setiap mu’min. Dimana ia memandang segala persoalannya dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut nagatifnya. —————————— Sebagai contoh, ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia, kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. ——————— Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. —————————— Urgensi Kesabaran ——————– Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas. ———————— Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian “nrimo”, ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi. ———————— Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif. ———————-

SYUKUR sabar

Makna Kata SABAR .… berarti MENAHAN dan MENGEKANG
——————————–

Sabar secara etimologi, sabar (ash-shabar) berarti menahan dan mengekang

————————————–

Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.kiki emotikon

——————————–

Dalam islam dijelaskan bahwa yang di maksud sabar ialah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan,baik dalam menemukan sesuatu yang tidak di ingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.
————————-

Imam Al-ghazali mengatakan bahwa sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya atas dorongan ajaran islam.
————————————-

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)
——————–

Sekilas Tentang Hadits

Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh :
– Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
– Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
– Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.
———————

Makna Hadits Secara Umum
———————

Hadits singkat ini memiliki makna yang luas sekaligus memberikan definisi mengenai sifat dan karakter orang yang beriman. Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’ ( عجبا ). Karena sifat dan karakter ini akan mempesona siapa saja.
———————

Kemudian Rasulullah SAW menggambarkan bahwa pesona tersebut berpangkal dari adanya positif thinking setiap mu’min. Dimana ia memandang segala persoalannya dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut nagatifnya.
——————————

Sebagai contoh, ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia, kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya.
———————

Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan dan hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.
——————————

Urgensi Kesabaran
——————–

Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas.
————————

Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian “nrimo”, ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.
————————

Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif.
———————-

Makna Sabar

Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “Shobaro”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)

Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rab nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT.

Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:
Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai, bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar.

Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur’an, kata-kata yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah tekankan kepada hamba-hamba-Nya. Dari ayat-ayat yang ada, para ulama mengklasifikasikan sabar dalam al-Qur’an menjadi beberapa macam;

1. Sabar merupakan perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS.2: 153: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat-ayat lainnya yang serupa mengenai perintah untuk bersabar sangat banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah dalam QS.3: 200, 16: 127, 8: 46, 10:109, 11: 115 dsb.

2. Larangan isti’ja l(tergesa-gesa/ tidak sabar), sebagaimana yang Allah firmankan (QS. Al-Ahqaf/ 46: 35): “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…”

3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana yang terdapat dalam QS. 2: 177: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”

4. Allah SWT akan mencintai orang-orang yang sabar. Dalam surat Ali Imran (3: 146) Allah SWT berfirman : “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”

5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah SWT senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah berfirman (QS. 8: 46) ; “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.”

6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. Allah mengatakan dalam al-Qur’an (13: 23 – 24); “(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun `alaikum bima shabartum” (keselamatan bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Inilah diantara gambaran Al-Qur’an mengenai kesabaran. Gembaran-gambaran lain mengenai hal yang sama, masih sangat banyak, dan dapat kita temukan pada buku-buku yang secara khusus membahas mengenai kesabaran.

Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits.

Sebagaimana dalam al-Qur’an, dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran sebagai berikut;
1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)

2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)

3. Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik. Rasulullah SAW mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)

4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mu’min, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)

5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya.” (HR. Bukhari)

6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, ‘Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)

7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)

8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik unttukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)

Bentuk-Bentuk Kesabaran

Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal; sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari Allah:

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.

Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah diperlukan beberapa hal,
(1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya’.
(2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya.
(3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.

2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan “menyenangkan”. Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang “menyenangkan”.

3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb.

Aspek-Aspek Kesabaran sebagaimana yang Digambarkan dalam Hadits

Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat beberapa hadits yang secara spesifik menggambarkan aspek-aspek ataupun kondisi-kondisi seseroang diharuskan untuk bersabar. Meskipun aspek-aspek tersebut bukan merupakan ‘pembatasan’ pada bidang-bidang kesabaran, melainkan hanya sebagai contoh dan penekanan yang memiliki nilai motivasi untuk lebih bersabar dalam menghadapi berbagai permasalahan lainnya. Diantara kondisi-kondisi yang ditekankan agar kita bersabar adalah :

1. Sabar terhadap musibah.

Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.’ (HR. Bukhari Muslim)

2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad).
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian berangan-angan untuk menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah (untuk menghadapinya).” HR. Muslim.

3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai.
Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melihat pada amir (pemimpinnya) sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim)

4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan.
Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; ‘Wahai Rasulullah, engkau mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku ‘atsaratan’ (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku (kelak). (HR. Turmudzi).

5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seorang muslim apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi)

6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi
Dalam sebuah riwayat digambarkan; ‘Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi).

Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran

Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang seyogyanya diantisipasi dan diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif dari amalan yang dilakukan seorang insan. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah dsb. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat, guna meningkatkan kesabaran. Diantara kiat-kiat tersebut adalah;

1. Mengkikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan sangat menunjang munculnya kesabaran kepada Allah SWT.

2. Memperbanyak tilawah (baca; membaca) al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena al-Qur’an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga dzikir kepada Allah.

3. Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.

4. Mujahadatun Nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat dan maksimal guna mengalahkan keinginan-keinginan jiwa yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, kikir, dsb.

5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti’jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat “amalan” seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya. (Lihat QS. 9 : 105)
6. Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah, dsb.

7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Karena hal ini juga akan menanamkan keteladanan yang patut dicontoh dalam kehidupan nyata di dunia.
———————-

Dengan kata lain sabar ialah tetap tegaknya dorongan agama berhadapan

dengan dorongan hawa nafsu.dorongan agama ialah hidayah Allah kepada

manusia untuk mengenal Allah, Rasul serta mengamalkan ajaran-Nya.

Sedangkan dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syahwat dan

keinginan-keinginan rendah yang minta di laksanakan.

 

barang siapa yang tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan

hawa nafsu secara terus menerus maka orang tersebut termasuk golongan

orang yang sabar. ^^

 

*Tingkatan Sabar :*

 

Berpijak dari pengertian sabar menurut Al-Ghazali di atas,maka upaya

manusia untuk bersabar dapat di golongkan dalam tiga tingkatan,yaitu:

 

  1. Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena mempunyai daya

juang dan kesabaran yang tinggi.

  1. Orang yang kalah oleh hawa nafsunya.
  2. Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu, tetapi suatu

ketika ia kalah, karena besarnya dorongan nafsu. Meskipun demikian, ia

bangun lagi dan terus tetap bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu

tersebut.

 

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunia, Nabi

Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam membagi sabar menjadi tiga

tingkatan,yaitu

 

1.Kesabaran dalam menghadapi musibah

2.Kesabaran dalam mematuhi perintah Allah Subhannahu Wa Ta’ala, dan

3.Kesabaran diri untuk tidak melakukan maksiat.

 

*Macam-Macam Sabar:*

 

1.Sabar menerima cobaan hidup. Cobaan hidup, baik fisik maupun non

fisik, akan menimpa semua orang baik berupa lapar, haus, sakit, rasa

takut, kehilangan orang-orang yang di cintai, kerugian harta benda dan

lain sebagainya. Cobaan seperti itu bersifat alami, manusiawi, oleh

sebab itu tidak ada seorang pun yang dapat menghindar.Yang diperlukan

adalah menerimanya dengan penuh kesabaran, seraya memulangkan segala

sesuatunya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

 

2.Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu. Hawa nafsu menginginkan segala macam

kenikmatan hidup,kesenangan dan kemegahan dunia. Untuk mengendalikan

segala keinginan itu di butuhkan kesabaran. Jangan sampai semua

kesenangan hidup dunia itu membuat orang lupa diri apa lagi lupa Allah

Subhannahu wa Ta’ala.

 

3.Sabar Dalam Taat Kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala Dalam menaati

perintah Allah, terutama dalam beribadah kepada-Nya di perlukan kesabaran.

 

4.Sabar Dalam Berdakwah .Jalan dakwah adalah jalan panjang berliku-liku

yang penuh dengan segala onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan ini

harus memiliki kesabaran.^^

 

5.Sabar Dalam Perang.Dalam peperangan sangat di perlukan kesabaran,

apalagi menghadapi musuh yang lebih banyak atau lebih kuat. Dalam

keadaan terdesak sekali pun, seorang prajurit Islam tidak boleh lari

meninggalkan medan perang, kecuali sebagai bagian dari siasat perang (

  1. Al-Anfal 15-16

 

6.Sabar Dalam Pergaulan. Dalam pergaulan sesama manusia baik antara

suami isteri, antara orang tua dengan anak, antara tetangga dengan

tetangga, antara guru dan murid, atau dalam masyarakat yang lebih luas,

akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan.

Oleh sebab itu dalam pergaulan sehari-hari di butuhkan kesabaran

sehingga tidak cepat marah, atau memutuskan hubungan apabila menemui

hal-hal yang tidak di sukai.

 

*Keutamaan Sabar *

 

Sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang istimewa. Al-Qur’an

mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara

lain di kaitkan dengan keyakinan, syukur, tawakkal, dan taqwa.mengaitkan

satu sifat dengan banyak sifat mulia lainnya menunjukkan betapa

istimewanya sifat itu. Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa,

tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga menempati posisi

yang istimewa.

 

Sifat sabar memang sangat di butuhkan sekali untuk mencapai kesuksesan

dunia dan akhirat. Seorang mahasiswa tidak akan berhasil mencapai gelar

kesarjanaan tanpa sifat sabar dalam belajar. Seorang peneliti tidak akan

dapat menemukan penemuan-penemuan ilmiah tanpa ada sifat sabar dalam

penelitiannya.

 

*Imbalan Orang Yang Sabar *

 

1.Dapat berdampingan dengan Allah

2.Memperoleh berita yang menyenangkan

3.Bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak berdosa

4.Di beri pahala yang berlipat

5.Terbebaskan dari siksa api neraka

  1. Di cintai oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala.

    Penutup

    Inilah sekelumit sketsa mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar mereupakan salah satu sifat dan karakter orang mu’min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya.

    Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya.

    Wallahu A’lam