Loading
kekhawatiran | Edy Gojira >

menJAWAB pertanyaan, bagaimana Allah akan MENYIKSA karena DOSA/ maksiat, padahal telah Dia TAKDIR-kan hal itu atas manusia ? ———————– Rasulullah saw bersabda: Allah berfirman:”Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kamu membuat kesalahan pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka memohon ampunlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu. (Hadist Shohih riwayat Muslim, no : 2577) —————— Rosulullah saw juga bersabda : Allah berfirman : ” Wahai anak adam, walaupun dosa kamu mencapai setinggi langit , kemudian kamu beristighfar memohon ampun kepada –Ku, maka niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. ” ( Hadist Shohih Riwayat Tirmidzi no : 2540 dan Ahmad : 5/ 172) ———————- Rasulullah saw bersabda:”Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika kamu tidak pernah berbuat dosa, maka Allah akan mematikan kamu dan menggantikannya dengan suatu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka meminta ampun kepada-Nya, kemudian Allah akan mengampuni mereka.” ( Hadist Shohih riwayat Muslim, no : 2749 ) ———————— Jawaban. —————— Langkah manusia untuk berbuat jahat kemudian dia disiksa karenanya bukanlah persoalan yang sulit. Karena langkah manusia pada berbuat jahat adalah langkah yang sesuai dengan pilihannya sendiri dan tidak ada seorangpun yang mengacungkan pedang di depannya dan mengatakan : “Lakukanlah perbuatan munkar/maksiat itu”, akan tetapi dia melakukannya atas pilihannya sendiri. Allah telah berfirman.———— “Artinya : Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan (yang benar), maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur” [Al-Insan : 3]—————– Maka baik kepada mereka yang bersyukur maupun yang kufur, Allah telah menunjukkan dan menjelaskan tentang jalan (yang benar). Akan tetapi sebagian manusia ada yang memilih jalan tersebut dan sebagian lagi ada yang tidak memilihnya. Penjelasan (Allah) tersebut pertama dengan Ilzam (keharusan/kepastia logis) dan kedua dengan Bayan (penjelasan).—————- Dalam hal Ilzam, maka kita dapat mengatakan kepada seseorang : Amal duniawi dan amal ukhrawimu sebenarnya sama dan seharusnya anda memperlakukan keduanya secara sama. Sebagai hal yang maklum adalah apabila ditawarkan kepadamu dua pekerjaan duaniawi yang telah direncanakan. Yang pertama kamu yakini mengandung kabaikan untuk dirimu dan yang kedua merugikan dirimu. Maka pastilah anda akan memilih pekerjaan pertama yang merupakan pekerjaan terbaik dari dua rencana di atas dan tidak mungkin anda memilih pekerjaan kedua, yang merupakan pilihan terburuk lalu anda mengatakan : “Qadar (Allah) telah menetapkan saya padanya (piliha kedua). Dengan demikian, apa yang telah anda tetapkan dalam menempuh jalan dunia semestinya anda lakukan dalam menempuh jalan ukhrawi. Kita dapat mengatakan : Allah telah menawarkan di hadapanmu dua amal akhirat, yaitu amal buruk yang berupa amal-amal yang menyalahi syara’ dan amal shalih yang berupa amal-amal yang sesuai dengan syara’. Maka apabila dalam berbagai pekerjaan duniawi anda memilih perbuatan yang baik, mengapa anda tidak memilih amal baik dalam amal akhirat. Karena itu, seharusnya anda memilih amal baik di dalam mencari akhirat sebagaimana anda harus memilih pekerjaan baik dalam mencari dunia. Inilah cara Ilzam.—————- Adapun cara Bayan, maka kita dapat mengatakan bahwa kita semua tidak tahu apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Allah berfirman.————- “Artinya : Setiap diri tidak mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok” [Luqman : 34]———– Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama’ mengatakan : “Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup”. Dan kita semua tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan tersebut telah terjadi. Dengan demikian, ketika kita melakukan sesuatu perbuatan, maka bukan berarti kita melakukannya atas dasar bahwa perbuatan tersebut telah ditetapkan bagi kita. Akan tetapi kita melakukannya berdasarkan pilihan kita sendiri dan ketika telah terjadi maka kita baru tahu bahwa Allah telah mentakdirkannya untuk kita.—————— Oleh karena itu, manusia tidak bisa beralasan dengan takdir kecuali setelah terjadinya perbuatan tersebut. Disebutkan dari Amirul Mu’minin, Umar bin Kahtthab, sebuah kisah (mungkin benar dari beliau mungkin tidak) bahwa seorang pencuri yang telah memenuhi syarat potong tangan dilaporkan kepada beliau. Ketika Umar menyuruh untuk memotong tangannya, dia mengatakan : “Tunggu dulu hai Amirul Mu’minin, demi Allah aku tidak mencuri itu kecuali karena Qadar Allah”. Umar mengatakan : “Aku tidak akan memotong tanganmu kecuali karena Qadar Allah”. Maka Umar berargumentasi dengan argumentasi yang digunakan pencuri tersebut tentang kasus pencurian terhadap harta orang-orang Islam. Padahal Umar bisa berargumentasi dengan Qadar dan Syari’at, karena beliau diperintahkan untuk memotong tangannya. Adapun dalam kasus tersebut, beliau berargumentasi dengan Qadar karena argumentasi tersebut lebih tepat mengenai sasaran.—————– Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi dengan Qadar untuk berbuat ma’siyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman.————– “Artinya : (Aku telah mengutus) para rasul yang membawa berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah setelah adanya para rasul” [An-Nisa : 165]———— Sementara semua amal manusia, setelah datangnya para rasul, tetap terjadi atas Qadar Allah. Walaupun Qadar bisa dijadikan argumentasi akan tetapi selalu bersama-sama dengan terutusnya para rasul selamanya. Dengan demikian jelas bahwa tidak layak berbuat ma’siyat dengan alasan Qadha’ dan Qadar Allah, karena dia tidak dipaksa untuk melakukannya.——– Semoga Allah memberi Taufiq. ============================ Ketika musibah dan bencana menghampiri kita, kadang yang dijadikan kambing hitam adalah alam, artinya alam itu murka. Ketika sakit datang, yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olaharga dan seterusnya. Ketika kita terzholimi oleh atasan atau majikan karena belum telat gaji bulanan, kadang yang jadi biang kesalahan adalah majikan atau bos yang dijuluki pelit atau bakhil. Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan bahwa karena dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah mendatangkan musibah, menurunkan penyakit atau ada yang menzholimi kita. Coba kita renungkan ayat yang akan dibahas berikut ini.——— Allah Ta’ala berfirman, وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).—— Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat.” Karena memang Allah akan menyiksa seorang hamba karena dosa yang ia perbuat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,——- وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun” (QS. Fathir: 45).——– Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ “Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).————- Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِى جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِه “Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu menyakitinya melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).————- Boleh jadi karena tidak menjaga pandangan, terus menerus dalam maksiat serta meremehkan dosa, itulah sebab Allah memalingkan Al Qur’an dari kita.———– Demikian faedah yang kami peroleh dari tafsir Ibnu Katsir. Moga Allah melepaskan berbagai musibah yang menimpa kita. Ayat ini adalah sebagai renungan bagi kita untuk selalu mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan orang lain ketika kita terzholimi. Boleh jadi musibah itu datang karena dosa syirik, tidak ikhlas dalam amalan, amalan bid’ah, dosa besar atau meremehkan maksiat yang kita perbuat hari demi hari.———– Ya Allah, ampunilah dosa dan terimalah taubat kami.——– Semoga hati, lisan dan badan ini bisa bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan.

September 17, 2016 Edy Gojira 1

menJAWAB pertanyaan,  bagaimana Allah akan MENYIKSA karena DOSA/ maksiat, padahal […]

Cara bersuci yang dikenal dalam Islam meliputi mandi, wudhu dan tayamum. Dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai tayamum. ————————– Pengertian Tayamum ———————– Pengertian Tayamum yang didefinisikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin adalah sebagai berikut:——– Jika diartikan secara bahasa, tayamum artinya bermaksud atau menyengajakan. Hal ini sesuai dengan ungkapan orang arab yakni tayyamamtu asy syai’a yang maknanya qashadtuhu (saya menginginkannya). ——– Menurut terminologi syariat, yang dimaksud dengan tayamum adalah membasuh wajah dan kedua telapak tangan dengan menggunakan ash-sha’id suci yang menggantikan bersuci menggunakan air jika memang tidak bisa menggunakan air. —————————– Secara syariat, tayamum adalah suatu keistimewaan dari umat Islam. Hal ini membuktikan bahwa Allah itu adil dan memudahkan manusia sebagai wujud dari kasih sayang-Nya. —————————————– Dalil pensyari’atan tayamum —————— Mengenai tayamum, ada beberapa dalil yang membenarkan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan (apabila) kemudian kalian tidak berhasil menemukan air maka bertayamumlah dengan tanah yang suci.” QS. An-Nisaa’: 43 ——————– Diriwayatkan oleh ‘Imran bin Hushain ra., Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada seorang lelaki yang memisahkan diri tidak ikut shalat berjamaah bersama orang-orang. Maka beliau pun bertanya kepadanya, “Wahai fulan, apakah yang menghalangimu untuk shalat bersama orang-orang ?” Lelaki itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya mengalami junub sedangkan air tidak ada.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya engkau bersuci dengan ash-sha’id, itu saja sudah cukup bagimu.” HR. Bukhari no. 348 dalam At-Tayamum ———————- Dalam terminologi diatas, ada kata ash sha’id. Apa itu ash sha’id? Ash sha’id adalah permukaan bumi dan segala sesuatu yang ada diatasnya. Maka dari itu diperbolehkan tayamum dengan apa saja yang masih layak disebut sebagai permukaan bumi. Demikian adalah pendapat dari Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Malik dan Ibnu Taimiyah dalam Shahih Fiqih Sunnah I/198. Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam ketiadaan air, maka diperbolehkan bersuci dengan tayamum. Dalam hadits ini juga kita dapat melihat bahwa tayamum memiliki kedudukan setara seperti bersuci dengan air, namun dengan syarat air tidak ada atau ada ketidaksanggupan untuk memakainya. (Tanbiihul Afhaam wa Taisirul ‘Allaam, jilid 1 hal. 113-114) ———————— Penyebab yang membolehkan tayamum ———————- Secara syariat tayamum dapat dilakukan jika ada keadaan sebagai berikut:— Tidak ada air yang cukup untuk bersuci ——– Tidak sanggup memakai air———- Kekhawatiran yang timbul mengenai bahaya jika badan tersentuh air karena sakit yang diderita atau hawa dingin yang terlalu parah.—————- Bahkan menurut beberapa ulama, orang yang khawatir bahwa kematian akan menjemputnya pada saat hawa dingin sangat menusuk diperbolehkan tayamum karena serupa orang sakit. (Shahih Fiqih Sunnah I/196). Dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ra., ia bercerita sebagai berikut: Pada suatu saat kami bepergian dalam sebuah rombongan perjalanan. Tiba-tiba ada seorang lelaki diantara kami yang tertimpa batu sehingga menyisakan luka di kepalanya. Beberapa waktu sesudah itu dia mengalami mimpi basah. Maka dia pun bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Apakah menurut kalian dalam kondisi ini saya diberi keringanan untuk bertayamum saja?” Menanggapi pertanyaan itu mereka menjawab, “Menurut kami engkau tidak diberikan keringanan untuk melakukan hal itu, sedangkan engkau sanggup memakai air.” Maka orang itu pun mandi dan akhirnya meninggal. Tatkala kami berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau mendapat laporan tentang peristiwa itu. Beliau bersabda, “Mereka telah menyebabkan dia mati! Semoga Allah membinasakan mereka. Kenapa mereka tidak mau bertanya ketika tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat ketidaktahuan adalah dengan bertanya. Sebenarnya dia cukup bertayamum saja.” HR. Abu Dawud, Ahmad dan Hakim

August 17, 2016 Edy Gojira 1

Cara bersuci yang dikenal dalam Islam meliputi mandi, wudhu dan […]

Neraka menjadi tanda keadilan Allah bagi makhluknya.———– manusia percaya tentang adanya rahmat Tuhan dan azab Tuhan dalam berbagai agama, tapi pemahaman setiap orang berbeda-beda. ————————- Dalam Islam, sama seperti Yudaisme dan Kekristenan, Tuhan bersifat Maha Adil. Kasih sayang-Nya melebihi murka-Nya. Tapi mungkin ada yang bertanya, “Kenapa Tuhan memberikan azab kepada manusia padahal dia adalah Tuhan yang Penyayang?” ————————- Jawabannya tergantung apakah kita beriman pada Allah atau tidak. Jika kita beriman pada-Nya dan kita meyakini bahwa Dia Maha Adil, maka Dia pasti menuntun kita ke jalan yang lurus. Itulah mengapa Allah menurunkan wahyu-Nya kepada para nabi, yang kemudian disampaikan kepada umat manusia. ———————— Di dalam Al-Qur’an, kita bisa melihat bukti-bukti bahwa Allah itu Maha Penyayang. Hal ini bisa kita lihat dalam berbagai ayat dimana Dia memberikan petunjuk-Nya kepada manusia, sehingga manusia selalu berada di jalan yang lurus. ——————– Jadi, untuk orang beriman, rasa takut kepada Tuhan berfungsi untuk memperkuat keimanannya. Orang yang beriman tahu bahwa dia harus mempunyai rasa cinta, takut, dan harapan pada-Nya. ———————– Cinta dan harapan adalah dua hal yang panjang untuk dibahas. Jadi, karena yang dibahas kali ini adalah masalah neraka dan keadilan Sang Pencipta, kita fokus pada sikap seorang Muslim dan rasa takut kepada Allah, yang berguna untuk menyelamatkannya dari neraka. ————— Cinta dan Harapan Orang Beriman —————– Orang-orang beriman tahu bahwa ada rahmat dan azab, dan seseorang hanya mendapatkan salah satu darinya (entah itu rahmat atau azab). Jadi, dia berusaha untuk menjauhkan dirinya dari azab Tuhan dan mendekatkan dirinya menuju rahmat dan kasih sayang-Nya, dengan demikian dia mendapatkan kepuasan rohani yang lebih tinggi. Orang yang beriman mematuhi batasan-batasan Allah, menjauhi larangan-Nya, dan mencoba untuk mencari ridha Allah dengan sebaik mungkin. Dia tahu bahwa hal ini akan menyelamatkannya dari azab Allah di akhirat. —————- {Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.} (2: 274) —————- Seperti yang dijelaskan dalam Quran, orang-orang yang beriman dan dengan tulus mengakui kebesaran Allah akan merasakan kekaguman batin terhadap kebesaran dan keagungan Allah. Dengan demikian, kekuatan Allah yang Maha Besar akan menciptakan rasa takut dalam diri orang beriman yang didasari rasa kekaguman kepada-Nya. Sebagai hasil dari ketaatan dan ketulusannya, Allah akan memberikan rahmat kepada mereka berupa ketenangan batin di dunia ini, dan di akhirat berupa surga. ———————— {Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.} (55:46) ———————— Tapi, mungkin muncul pertanyaan, bagaimana caranya mendapatkan ridho Allah dan menjauhi murka-Nya? Jawabannya sangat jelas. Kita harus mempunyai pengetahuan tentang Sang Pencipta dengan memahami firman-Nya yang diabadikan dalam Quran. ——————- {… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu…} (35: 28) —————– Orang-orang yang seperti itu akan memahami bahwa keadilan Allah tidak tertandingi. Karena itulah mereka mengimani semua yang difirmankan Allah.

August 16, 2016 Edy Gojira 0

Neraka menjadi tanda keadilan Allah bagi makhluknya. ————————– manusia percaya […]

Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim yang bukan penganut agama Yahudi dan Nasrani, mutlak diharamkan. Dalilnya: —————- – Firman Allah surah Al-Baqarah: 221————- – Firman Allah surah Al-Mumtahanah: 10—————- Kedua ayat itu dengan tegas melarang (mengharamkan) pernikahan muslim dengan non-muslim (musyrik), baik antara lelaki muslim dengan wanita non-muslim, maupun antara lelaki non-muslim dengan wanita muslimah.————— Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim ahli kitab (penganut Yahudi dan Nasrani. Dirinci menjadi dua bagian:———– 1) Pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab.———– Jumhur ulama membolehkannya, dengan dalil sebagai berikut:——— – Firman Allah surah Al-Maidah: 5———– – Ijma’ sahabat Rasulullah seperti: Umar, Usman, Talhah, Hudzaifah, Salman, Jabir dan sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Bahkan di antara mereka ada yang mempraktikkannya seperti Talhah dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhuma. Imam Ibnul Mundzir menyatakan, seperti dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, bahwa jika ada riwayat dari ulama salaf yang mengharamkan pernikahan tersebut diatas, maka riwayat itu dinilai tidak sahih. (lihat al-Mughni, vol. IX, hal. 545). Adapun riwayat dari Umar ra yang meminta sahabat Hudzaifah menceraikan isterinya yang ahli kitab, maka dipahami sebagai suatu kekhawatiran dari beliau, takut praktik sahabat ini menimbulkan fitnah bagi umat Islam. Atas dasar inilah, Umar ra mencegah mereka menikahi wanita ahli kitab, akan tetapi hal itu tidak berarti beliau mengharamkannya.—————– Namun ada juga beberapa ulama yang mengharamkan pernikahan tersebut secara mutlak. Dalil mereka adalah:—————- – Firman Allah surah al-Baqarah: 221, dan————— – Firman Allah surah al-Mumtahanah: 10—————- – Atsar dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa tidak ada kemusyrikan yang lebih besar daripada perempuan yang meyakini bahwa Isa putera Maryam adalah tuhannya. (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol. II, hal. 27; Tafsir al-Razi, vol. VI, hal. 150)———– Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 1 Juni 1980, yang mengharamkan pria muslim menikahi perempuan non-muslimah (ahli kitab), sebenarnya sejalan dengan pendapat Mazhab Syafi’i, karena menurut mazhab ini orang-orang Kristen dan Yahudi di Indonesia tidak tergolong atau tidak termasuk ke dalam ahli kitab. Jadi fatwa MUI itu melihat pada konteks keindonesiaan.———– 2) Pernikahan pria non-muslim (ahli kitab) dengan wanita muslimah. Dalam hal ini para ulama sepakat atas keharamannya. Berdasarkan dalil-dalil berikut:————– – Al-Qur’an surah al-Mumtahanah ayat 10. Penekanannya ada dalam penggalan ayat فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن الى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن“apabila kamu telah mengetahui bahwa wanita-wanita mukminah itu benar-benar beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami) mereka yang kafir. Wanita-wanita muslimah itu tidak halal (dinikahi) oleh lelaki-lelaki kafir, dan lelaki-lelaki kafir itu tidak halal (menikahi) wanita-wanita muslimah.”——— – Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 5. Yang menjadi dalil dalam ayat itu adalah والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم“dan dihalalkan bagimu menikahi perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dari orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu.”———– Ini memberikan pemahaman bahwa Allah ta’ala hanya membolehkan pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab, tidak sebaliknya. Seandainya pernikahan sebaliknya itu dibolehkan maka Allah pasti menegaskannya di dalam ayat tersebut yang memang konteksnya khusus persoalan muamalah apa saja yang dihalalkan antara umat Islam dengan pihak ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Jika yang disebutkan hanyalah kehalalan pria muslim menikahi wanita ahli kitab, dalam konteks ayat itu, maka tidak disebutkannya pernikahan pria non-muslim dengan wanita muslimah telah dengan pasti menegaskan keharamannya. Maka berdasarkan mafhum al-mukhalafah ini, pernikahan lelaki non-muslim (ahli kitab) dengan wanita muslimah dilarang oleh syariat Islam.——————- – Hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah: نتزوج نساء أهل الكتاب ولا يتزوجون نساءنا“kami (kaum muslimin) boleh menikahi perempuan ahli kitab, sementara mereka (ahli kitab) tidak boleh menikahi perempuan-perempuan kami (muslimah).” (lihat Tafsir al-Thabari, vol. II, hal. 378).————-

August 13, 2016 Edy Gojira 0

Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim yang bukan penganut […]

SEDIH … SADness …..Tidak Bermanfaat…. dan ….Tidak Diajarkan Syariat —————————— Bersedih tak diajarkan syariat dan tak bermanfaat. Bersedih itu sangat dilarang. Ini ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi, {Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati.}(QS. Ali ‘Imran: 139). ————————— “Janganlah bersedih atas mereka” (kalimat ini disebut berulangkali dalam beberapa ayat al-Quran) dan, {Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita.} (QS. At-Taubah: 40). ——————– Adapun firman Allah yang menunjukkan bahwa kesedihan (bersedih) itu tak bermanfaat apapun adalah, {Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.} (QS. Al-Baqarah: 38). ————————- Bersedih itu hanya akan memadamkan kobaran api semangat, meredakan tekad, dan membekukan jiwa. Dan kesedihan itu ibarat penyakit demam yang membuat tubuh menjadi lemas tak berdaya. Mengapa demikian? —————————— Tak lain, karena kesedihan hanya memiliki daya yang menghentikan dan bukan menggerakkan. Dan itu artinya sama sekali tidak bermanfaat bagi hati. Bahkan, kesedihan merupakan satu hal yang paling disenangi setan. Maka dari itu, setan selalu berupaya agar seorang hamba bersedih untuk menghentikan setiap langkah dan niat baiknya. Ini telah diperingatkan Allah dalam firman-Nya, {Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan supaya orang-orang mukmin berduka cita.} (QS. Al-Mujadilah: 10). ————————– Syahdan, Rasulullah s.a.w. melarang tiga orang yang sedang berada dalam satu majelis demikian, “(Janganlah dua orang di antaranya) saling melakukan pembicaraan rahasia tanpa disertai yang ketiga, sebab yang demikian itu akan membuatnya (yang ketiga) berduka cita.” Dan bagi seorang mukmin, kesedihan itu tidak pernah diajarkan dianjurkan. Soalnya, kesedihan merupakan penyakit yang berbahaya bagi jiwa. Karena itu pula, setiap muslim diperintahkan untuk mengusirnya jauh-jauh dan dilarang tunduk kepadanya. —————- Islam juga mengajarkan kepada setiap muslim agar senantiasa melawan dan menundukkannya dengan segala pelaratan yang telah disyariatkan Allah s.w.t. Bersedih itu tidak diajarkan dan tidak bermanfaat. Maka dari itu, Rasulullah s.a.w. senantiasa memohon perlindungan dari Allah agar dijauhkan dari kesedihan. Beliau selalu berdoa seperti ini, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita.” —————————– Kesedihan adalah teman akrab kecemasan. Adapun perbedaannya antara keduanya adalah manakala suatu hal yang tidak disukai hati itu berkaitan dengan hal-hal yang belum terjadi, ia akan membuahkan kecemasan. Sedangkan bila berkaitan dengan persoalan masa lalu, maka ia akan membuahkan kesedihan. Dan persamaannya, keduanya sama-sama dapat melemahkan semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan. ——————– Kesedihan dapat membuat hidup menjadi keruh. Ia ibarat racun berbisa bagi jiwa yang dapat menyebabkannya lemah semangat, krisis gairah, dan galau dalam menghadapi hidup ini. Dan itu, akan berujung pada ketidakacuhan diri pada kebaikan, ketidakpedulian pada kebajikan, kehilangan semangat untuk meraih kebahagian, dan kemudian akan berakhir pada pesimisme dan kebinasaan diri yang tiada tara. ————————– Meski demikian, pada tahap tertentu kesedihan memang tidak dapat dihindari dan seseorang terpaksa harus bersedih karena suatu kenyataan. Berkenaan dengan ini, disebutkan bahwa para ahli surga ketika memasuki surga akan berkata, {Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.}(QS. Fathir: 34). —————————-

August 13, 2016 Edy Gojira 0

SEDIH … SADness …..Tidak Bermanfaat….  dan ….Tidak Diajarkan Syariat —————————— […]

mimpi-MIMPI para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM 72 golongan,,,, selalu BERMIMPI …. dapat BAIk/nikmat/ SURGA ……. janji Allah {katanya} ——————————— Mengapa umat ISLAM di akhir zaman yang mayoritas …… begitu LEMAH dan ….mudah di-DZOLIMi oleh kaum KUFFAR ????????? ———————————————————– Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.” Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai {/banyak} tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.” —————————————————————– Suatu keadaan yang nyata di hadapan kita sekarang, bahwa jumlah umat Islam sudah cukup banyak. Di dunia ini, satu setengah milyar lebih penduduk bumi adalah Muslim. Tetapi kita saksikan bahawa jumlah yang banyak ini belum membawa umat ini keluar dari kesulitan-kesulitannya. Inilah rupanya yang diungkapkan Rasulullah dalam hadis di atas. Patutlah kiranya kita semua, umat Islam melihat ke dalam, seberapa jauh kiranya kita sudah terjangkiti penyakit al-Wahn tersebut, penyakit cinta dunia dan takut akan kematian. —————– Tentunya ini tak lepas dari kesalahan pandangan umumnya masyarakat Muslim terhadap kehidupan dunia. Mengapa sampai cinta pada dunia dan takut mati? Tentu ini kerana memandang bahwa dunia ini adalah tempatnya segala kesenangan, dan kematian adalah pemutus kesenangan tersebut. Sungguh suatu cara pandang yang sesat dan keliru. —————————— …………………….. Jika semua “DUNIA” diberikan Allah …. kemungkinan terJERUMUS ke NERAKA …. semakin BESAR … godaan SYAITAN, dan Nafsu memiliki DUNIA ……………………. >> UJUB … sombong DIRI …. pasti MENYELIMUTI HATI >> BERAMAL akhirat utk DUNIA …. pasti SELAMAnya dilakukan >>meremehkan JIHAD … lebih MENYIBUKKAN … kesenangan DUNIA >> BUTA mata QALBU …. ingin hidup lama …. menikmati DUNIA >> MENGIRA diri … dpt NIKMAT Akhirat …. di dunia SAJA diberi BAIK >> merasa CUKUP …. agamanya … AMALANnya … REZEKI … bangga diri >> LUPA Kewajiban BESAR …. yg BELUM/TIDAK dilakukan …. fasik >> BERKACA … melihat ke ATAS pada manusia LAIN … tidak TUNDUK >> IQRO’ … KORAN, TV, MUSIK, VIDEO … keMEWAHan dunia >> INTERNET … tidak MENYAMPAIKAN … takut dianggap “SOK SUCI” >> RIYA’ .. pada manusia .. TAKUT hanya pada CEMOOHAN manusia >> INTERNET … hanya utk GHIBAH … tak INGAT “DOSA” yg akan diHISAB >> AKHIRAT adalah … BESOK …. syaitan memBISIKi tiap saat >> MATI adalah TUA … masih MUDA .. masih SEHAT .. apa yg diTAKUTkan >> saya kan ISLAM … ya PASTI dapat… SYAFAAT ….masuk SURGA pasti >> Allah kan MAHA PENGAMPUN … aku ISLAM pasti “diampuni” >> aku sudah Shalat ….. aku sudah puasa … ya pasti dapat SURGA >> aku sudah SYAHADAT … api NERAKA .. tak mempan pd KULITku >> BIDADARI – BIDADARI … sudah siap MENYAMBUTku …. di akhirat >> NAUNGAN … pohon dan nikmat SURGA … sudah TERBAYANG >> aku kan ISLAM … aku kan orang BERIMAN ….. >> ……………………………………………………………….. dst APAKAH KAMU/aku … MENGIRA AKAN MASUK SURGA ?? ————————–———— >> ﴾ Ali Imran:142 ﴿…. Belum/tidak … diUJI dengan “JIHAD dan SABAR” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ?? ………… Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (???), padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. ———————– >>> ﴾ Al Baqarah:214 ﴿ …. Belum/tidak … diUJI dengan “MALAPETAKA dan KESENGSARAAN” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ?? …………….. Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (??), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ————————– mimpi-mimpi para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM 72 golongan selalu BERMIMPI …. dapat BAIk/nikmat/ SURGA ……. janji Allah {katanya} ————————–————— Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. Buta melihat BATAS ‘waktu” >>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. TIDAK menyiapkan BEKAL >>>>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. selalu ‘melihat” keSENANGan >>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. selalu berMIMPI surga >>>>>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira cukup BAIK amalnya >>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira CUKUP ibadahnya >>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira AKAN dapat syafaat Tuhan >>>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira dapat AMPUNAN Tuhan >>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira SELAMAT di akhirat >>>>>>> ——————-

July 7, 2016 Edy Gojira 6

mimpi-MIMPI para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM […]

Banyak sekali … PERTANYAAN …. “apakah AKU/kamu medapatkan PAHALA LAILATUL QADAR ?? ——————————- jawaban yg mudah sekali .. kita LIHAT tanda-tandanya SAJA !!! ————————– setelah PUASA Ramadhan apakah LEBIH TAQWA pada Allah … jika YA, berarti ada KEMUNGKINAN mendapat HIDAYAH/petunjuk dari Allah …. ada kemungkinan mendapatkan PAHALA Lailatul Qadar ———————————————- setelah PUASA apakah perbuatan LEBIH BURUK .. atau SAMA saja sebelum PUASA Ramadhan ?? —————————— >> ……… jika IYA .. ada kemungkinan KITA mendapatkan HANYA LAPAR dan HAUS saja !!! >> ……… kita ada kemungkinan BELUM tergolong orang BERIMAN … hanya MUSLIM BUIH !! >> …….. kita ada kemungkinan masih tergolong FASIK {mengambil perintah ALLAh yang ENAK dan MUDAH saja…… perintah yg “SUSAH dan BERAT” … di tinggalkan …. tidak diperdulikan} >> …….. kita ada kemungkinan,masih tergolong/dikelompokkan Allah sebagai MURTAD tanpa SADAR, masih tergolong penyembah THAGHUT, taklid buta, penyembah ULAMA/RAHIB, >> ……. kita ada kemungkinan masih tergolong manusia BUTA {Qalbunya}, tidak berusaha MEMAHAMI kebenaran Firman ALLAH, tidak berusaha MENGAMALKAN perintah Allah AL QUR’AN dan AL HADITS … secara KAFFAH … masih BANYAK FASIKnya ….. masih BANYAK DOSAnya … masih BANYAK MAKSIATnya ————————————- ISLAM KAFFAH = MELAKSANAKAN AJARAN Allah secara keseluruhan, …. tanpa MEMBEDAKAN semua ayat-ayat ALLAH …… atau …. mengikuti langkah-langkah SYAITHAN dengan melakukan pembeda-bedaan ajaran Islam atau meremehkan sebagian ajaran Allah dan Nabi-Nya .————- ……………………..memakai ayat yg MUDAH dilakukan …. ayat Allah yg SULIT dan nyawa TARUHANnya … diABAIKAN, di lewati SEAKAN-AKAN TIDAK ada adalah = ciri MUSLIM BUIH .. muslim FASIK …, muslim 72 golongan ——- …………………………..………. ISLAM KAFFAH {“manhaj SELAMAT dunia akhirat”} = berPEGANG pada SUNNAH NABI SAW dan SAHABAT NABI {Khalifah Rasyidin … sesudah Nabi} ……………………..………………… “Pegang teguhlah SUNNAH-ku {=contoh dari NABI SAW} dan sunnah KHALIFAH-Khalifah Rasyidin sesudah aku, pegang teguhlah dengan gerahammu”. (Hadits riwayat Imam Abu Daud dan Tirmidzi. Lihat Sunan Abu Daud Juzu’ II hal. 201)<<<<…………………………………………………………………………..>>>> “Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berFIRQAH umatku sebanyak 73 firqah, SEMUA-nya masuk NERAKA “kecuali” SATU. Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya, “SIAPAkah yang satu itu ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri i’tiqad) sebagai PEGANGAN-KU (i’tiqadku) dan pegangan sahabat-SAHABAT-KU”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, lihat Shahih Tirmidzi juz X) ———————– “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya). <<<< …………………………………………………. >>>>

July 7, 2016 Edy Gojira 6

Banyak sekali … PERTANYAAN …. “apakah AKU/kamu medapatkan PAHALA LAILATUL […]

BERTANGGUNGJAWAB …. APA yang telah DIKERJAKAN.. {Al Muddastir:38} …. Tidak ada lagi “TALI NASAB” … keluarga atau teman… {Al Mu’minun:101} —————————— MATI ….. Rugi … Su’ul Khatimah …. krn diLALAIkan oleh DUNIA …………………….. jangan SYIRIK … jangan MURTAD tanpa sadar … …………….. jangan MUNAFIK … jangan FASIK … jangan DOSA BESAR ————————– LAHIR “”sendirian”” …… MATI juga “”sendirian”” ….. TANGGUNG JAWAB “ sendirian” —————————- jika KAMU .. atau mungkin saya …. di LEMPAR ke NERAKA … adalah TANGGUNG JAWAB dirimu SeNDIri …../ diriku sendiri ——————– ﴾ Al An’am:94 ﴿ Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah). ……………… ﴾ Maryam:95 ﴿ Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. …………….. ﴾ Al Mu’minun:101 ﴿ Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya……………………. ﴾ Al Muddastir:38 ﴿ Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,………………… ﴾ Al Baqarah:134 ﴿ Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. …………….. ﴾ Saba’:25 ﴿ Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”………………… ﴾ Al Qiyaamah:36 ﴿ Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?……………. ﴾ Al Israa’:36 ﴿ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ————————-

July 5, 2016 Edy Gojira 2

BERTANGGUNGJAWAB …. APA yang telah DIKERJAKAN.. {Al Muddastir:38} …. Tidak […]

1 2 3 12