apa BEDAnya ILAH, TUHAN, RABB, ALLAH ? ,,,, kata itu diterapkan dalam hal apa? ——————————– Diantara syarat syarat kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah ilmu, maksudnya: seseorang yang mengucapkannya harus mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. Karena yang dituntut dari setiap orang bukan hanya mengucapkan kalimat ini dengan lisan saja, melainkan juga ia dituntut untuk memenuhi segala syarat syaratnya. Diantara syarat syaratnya adalah mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. ————————— Allah Ta’ala telah memerintahkan: فاعلم أنه لاإله إلاالله “Ketahuilah bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Allah”(Muhammad : 19). ———————– Dalam sebuah hadits shohih riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:————— من مات وهو يعلم أنه لاإله إلاالله دخل الجنة “Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah, maka ia masuk surga”. ————————- Mafhum dari hadits ini adalah bahwa barang siapa yang mati sedang ia tidak mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah maka ia tidak akan masuk surga. Orang yang tidak masuk surga adalah bukan orang Islam. Karena orang muslim akan masuk surga. Dalam hadits shohih muttafaqun ‘alaihi telah disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:——– لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim”. ———————- Sebab orang yang tidak mengetahui tauhid maka ia tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan tauhid. Dan barang siapa yang tidak mengamalkan dan menerapkan tauhid maka ia adalah seorang musyrik. Dan segala amalan amalan kebaikan yang dilakukan oleh seorang musyrik tidak akan diterima di sisi Allah, karena amalan amalan tersebut dikerjakan tidak berlandaskan pada tauhid. ————————– Allah Ta’ala berfirman tentang amalan amalan orang orang musyrikin: وقدمنا إلي ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا “Dan Kami datangkan apa apa yang telah mereka amalkan, lalu Kami menjadikannya sebagai debu yang berterbangan” ———————– Jadi masalah ini adalah masalah besar dan bukanlah masalah sepele. Karena bagaimana mungkin kita dapat mengamalkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah) kalau kita tidak mengetahui makna dari kalimat tersebut. Bahkan orang yang tidak mengetahui makna kalimat ini, maka pasti ia akan mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini, baik secara sadar ataupun tanpa sadar! Lihatlah keadaan pemerintah thogut nkri di sekitar kita. Mereka mengklaim diri mereka sebagai bagian dari kaum muslimin, mereka sholat, puasa serta selalu mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi mereka pada waktu yang bersamaan telah mengatakan secara lisan ataupun secara tingkah laku bahwa diri mereka adalah Ilah Ilah selain Allah !!! Subhanallah !!! Lihatlah juga keadaan aparat aparat keparat yang telah menjadi pelindung pelindung thogut. Sebagian mereka juga mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi pada waktu bersamaan mereka rela menjadi pelindung Ilah Ilah selain Allah, mereka rela membela mati-matian berhala pancasila dan memerangi tentara tentara tauhid !!! Lihatlah juga keadaan orang orang yang beribadah kepada kubur kubur. Mereka sering mengulang-ngulang kalimat tauhid laa ilaaha illallaah tidak ada Ilah kecuali Allah, akan tetapi pada waktu bersamaan mereka telah menjadikan kubur kubur yang mereka ibadahi tersebut sebagai Ilah Ilah selain Allah !!! Kenapa bisa terjadi begini? Karena mereka semua mengucapkan kalimat ini dengan tanpa memenuhi syarat syaratnya, yang salah satunya adalah syarat ilmu. Maka jelas mereka tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan kandungan dari kalimat ini, sehingga mereka bukanlah termasuk orang yang bertauhid !!! ———————– Makna Ilah——————— Untuk dapat memahami kalimat ini, maka pertama tama kita harus memahami makna dari kata Ilah, sehingga ketika kita mengucapkan kalimat “tidak ada Ilah kecuali Allah” maka kita mengucapkannya berdasarkan ilmu, kita mengetahui apa yang kita ucapkan dan kita siap untuk merealisasikannya. Kita hidup dan mati demi kalimat ini.—————– Kata Ilah إله dalam bahasa Arab bermakna: sesuatu yang diibadahi, baik secara haq ataupun secara batil. Allah adalah satu satunya Ilah yang haq, hanya Dia saja Ilah yang berhak untuk diibadahi. Adapun pancasila yang disembah, presiden yang ditaati secara mutlak, kuburan yang disembah, salib, patung budha, tempat tempat yang dikeramatkan dan dikultuskan dan lain lain adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya, tapi ini semua adalah Ilah Ilah yang bathil dan palsu, karena ini semua hanyalah makhluk dan sama sekali tidak berhak untuk diibadahi.—————- الإله (Al Ilah) berasal dari kata alaha – ya’lahu – uluuhah – ilaahah – uluuhiyyah yang bermakna beribadah. Adapun Ilaah adalah sinonim dari kata Ma’luuh yang bermakna obyek yang diibadahi atau sesuatu yang di ibadahi. Bentuk jamak dari kata Ilaah إله adalah aalihah آلهة (Ilah Ilah). Orang orang musyrikin Arab pada zaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut berhala berhala mereka dengan aalihah, karena berhala yang mereka ibadahi tidak hanya satu, tapi banyak, diantaranya adalah berhala lata, berhala uzza, berhala manat dan lain lain. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat heran terhadap da’wah tauhid Nabi Muhammad shollallahu ‘alihi wa sallam, mereka berkata:——————- أجعل الآلهة إلها واحدا إن هذا لشيئ عجاب “Kenapa ia menjadikan Ilah Ilah itu hanya Ilah Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang mengherankan”(Shaad : 5) —————————— Jadi mereka heran terhadap da’wah tauhid yang disampaikan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat tahu sekali makna dari kata Ilah. Itulah sebabnya mereka enggan mengucapkan laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah), karena dengan mengucapkan kalimat ini berarti mereka harus meninggalkan Ilah Ilah mereka yang sedang mereka ibadahi. Mereka tahu betul bahwa konsistensi dari mengucapkan kalimat tauhid adalah meninggalkan peribadatan kepada seluruh Ilah Ilah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala telah menceritakan keadaan mereka:—————- إنهم كانواإذا قيل لهم لاإله إلاالله يستكبرون، ويقولون أإنالتاركوا الهتنا لشاعر مجنون “Sesungguhnya mereka (orang orang musyrikin) apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah)” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah kami harus meninggalkan Ilah Ilah kami karena seorang penyair yang gila?”(Ash Shaaffaat : 35-36) ——————————- Mereka tahu betul makna kata Ilah. Maka celakalah orang yang mana Abu Jahal lebih tahu darinya tentang makna Ilah !——————- Jadi segala sesuatu yang diibadahi walau dengan satu bentuk ibadah saja, adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya. Dan ibadah itu sendiri memiliki arti yang luas, tidak seperti yang digambarkan oleh orang orang sekuler, ulama ulama pancasila dan penyembah penyembah kubur. Mereka menggambarkan bahwa ibadah hanyalah amalan amalan seperti sholat, sedekah, puasa, baca Al Quran, dan melaksanakan ibadah haji saja. Sehingga mereka santai santai saja ketika mempersembahkan satu atau beberapa bentuk ibadah kepada sembahan sembahan mereka selain Allah, mereka mengklaim bahwa mereka meyakini tidak ada Ilah selain Allah, padahal kenyataannya mereka telah beribadah kepada banyak Ilah Ilah selain Allah !!! —————— Bentuk bentuk ibadah Diantara bentuk bentuk ibadah selain ibadah ibadah ritual yang nampak jelas bagi semua orang, seperti sujud, ruku’, sholat, puasa, sedekah, haji dan lain lain adalah seperti dalam perkataan Ibnu Katsir rohimahullah yang telah dinukilkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdulwahab di dalam kitab beliau ‘Utsulus Tsalatsah, Ibnu Katsir berkata: ——————- “Pencipta segala sesuatu ini adalah yang berhak untuk diibadahi. Dan bentuk bentuk ibadah yang telah Allah perintahkan adalah seperti islam, iman dan ihsan, dan termasuk darinya adalah do’a, khouf (takut), roja (rasa berharap), tawakkal, roghbah (rasa berharap), rohbah (rasa takut), khusu’, khosyyah (takut), inabah (kembali bertaubat), isti’anah (meminta tolong), isti’adzah (meminta perlindungan), menyembelih hewan, nadzar dan bentuk ibadah yang lain lainnya yang telah Allah perintahkan semuanya hanya untuk Allah Ta’ala.”—————- Dalam kitab Hasyiyah Ushulus Tsalastsah disebutkan bahwa makna perkataan Ibnu Katsir “Dan bentuk ibadah yang lainnya yang telah Allah perintahkan” adalah: “Ini bermakna bahwa bentuk bentuk ibadah tidak hanya khusus pada hal hal ini saja dan tidak terbatas pada bentuk bentuk ini saja yang telah disebutkan oleh beliau rohimahullah, akan tetapi bentuk bentuknya sangat banyak sekali.” (Lihat Hasyiyah Utsulus Tsalatsah halaman 54).—————– Diantara bentuk ibadah adalah ketaatan. Maka wajib beribadah hanya kepada Allah Ta’ala bermakna wajib taat hanya kepada Allah Ta’ala. Yang berhak untuk dita’ati hanyalah Allah Ta’ala saja. Adapun siapapun selain-Nya, maka mereka semua ditaati karena Allah atau atas izin atau perintah dari Allah Ta’ala. Mereka ditaati pada hal hal yang tidak bertentangan dengan syari’at Allah———- Dalam sebuah hadits disebutkan: لا طاعة لبشر في معصية الله، إنما الطاعة في معروف “Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam bermaksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah pada hal yang ma’ruf” ————————— Makhluk apapun yang ditaati secara mutlak bagaimanapun dan apapun juga keadaanya, tanpa melihat apakah ia baik atau buruk dan tanpa melihat apakah perkara tersebut adalah perkara yang baik atau tidak baik, maka makhluk tersebut telah menjadi Ilah dan sembahan bagi orang yang taat buta kepadanya. Dan siapapun juga yang memerintahkan orang lain untuk taat buta kepadanya dalam segala hal dan kondisi, baik pada hal hal yang baik ataupun hal hal yang buruk dan kesyirikan, maka orang tersebut telah menjadi thogut yang wajib untuk kita jauhi dan kufuri.—————- Betuk ketaatan mutlak seperti ini bila dipersembahkan kepada makhluk, maka ini merupakan sebuah bentuk kesyirikan dan kekafiran yang nyata. Berikut adalah sebagian dari dalil dalilnya: وإن الشياطين ليحون إلي أولياءهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون “Sesungguhnya syetan syetan itu membisikkan kepada kawan kawannya agar mereka membantah (mendebat) kalian, dan jika kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrik.”(Al An’am:121) —————————- Disebutkan dalam asbabun nuzul ayat ini, bahwa orang orang musyrikin mendebat para sahabat rodiyallahu ‘anhum tentang pengharaman bangkai binatang, karena mereka (orang orang musyrikin) tidak mengharamkan bangkai, lalu turunlah ayat ini: “Bila kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrikin” ——————- Suatu perbuatan tidak disebut sebagai kesyirikan kecuali apabila terdapat suatu ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Lalu apa bentuk ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan.——————- Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang orang yang murtad sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah berkata kepada orang orang yang membenci apa apa yang telah Allah turunkan: “Kami akan mentaati kalian dalam beberapa urusan”, sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka.”(Surat Al Qital:25-26) —————————- Dalam menafsiri firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang orang yang murtad”, Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Maksudnya mereka yang meninggalkan keimanan dan kembali kepada kekafiran.”—————- Kemurtadan terjadi apabila seseorang melaksanakan kesyirikan, lalu apa kesyirikan yang disebut dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan kepada orang orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah pada suatu masalah tertentu. Lalu bagaimana gerangan bila mentaati mereka pada semua masalah ?!——————– Jadi, seseorang yang mengatakan kepada suatu makhluk tertentu apapun juga bentuk makhluk tersebut, baik berupa seorang manusia atau sekumpulan orang, atau suatu pemerintahan, atau suatu pemikiran seperti pancasila, atau suatu majelis seperti dpr/mpr atau apapun juga bentuknya: “Engkau mempunyai hak untuk memerintah apapun, engkau berhak memutuskan segala hal, apa yang engkau anggap baik maka ia adalah kebaikan dan apa yang engkau anggap buruk maka ia adalah keburukan, dan engkau mempunyai hak untuk ditaati dalam hal itu semua, engkau wajib ditaati apapun yang engkau perintahkan.”. Maka orang ini telah menjadikan makhluk tersebut sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah, bentuk peribadatannya kepada makhluk tersebut adalah ketaatan kepadanya.—————- Diantara bentuk ibadah yang lain adalah tahaakum (berhakim atau berhukum). Bila seseorang dalam segala urusannya berhakim kepada syariat Allah, maka dia adalah hamba Allah dan masuk dalam peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, bila ia berhakim kepada selain Allah, walaupun pada suatu urusan tertentu, maka ia berarti telah beribadah kepadanya dan telah menjadikannya sebagai Ilah selain Allah.————— Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang orang yang mengaku ngaku telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thogut, padahal mereka telah diperintah untuk kafir kepada thogut. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.(An Nisa ; 60) ‘———————- Syeikh Muhammad bin Ibrahim rohimahullah berkata dalam buku beliau Tahkimul Qowanin (Hukum menerapkan undang undang buatan): “Sesungguhnya firman Allah Azza wa Jalla: “Mengaku ngaku” adalah bentuk pendustaan bagi mereka atas apa yang mereka klaim dari keimanan, karena tidak akan berkumpul di dalam hati seseorang perbuatan berhakim kepada selain apa yang telah dibawa oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan, bahkan masing masing dari keduanya akan menafikan (meniadakan) yang lain.”—————— Syeikh Abu Bashir Ath Thorthusiy hafizhahullah berkata: “Bila keimanan tidak terdapat pada diri seseorang kecuali dengan berhakim (atau berhukum) kepada syari’at Allah Azza wa Jalla, maka hal itu menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa sesungguhnya berhakim (berhukum) kepada syari’at Allah Ta’ala adalah sebuah ibadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala karena perbuatan ini adalah syarat dari keimanan. Sesuatu hal tidak akan menjadi syarat dari keimanan kecuali ia mengandung peribadatan kepada-Nya Azza wa Jalla. Adapun yang kedua adalah, bahwa ketidak adanya sikap berhakim (berhukum) kepada syari’at Allah Azza wa Jalla akan meniadakan keimanan dari pelakunya. Dan telah disebutkan diatas bahwa keimanan tidak akan hilang pada diri pemiliknya kecuali karena sebab kesyirikan yang mengandung peribadatan kepada makhluk walau pada satu sisi tertentu. Maka (ini semua) menunjukkan bahwa perbuatan tahaakum (berhakim) adalah merupakan sebuah peribadatan dari pelakunya kepada obyek (yang ia berhakim kepadanya). Maka barang siapa yang berhakim kepada Allah saja dalam seluruh urusan kehidupannya yang khusus ataupun yang umum, maka ia adalah hamba Allah. Dan barangsiapa yang berhakim kepada selain Allah apapun juga bentuknya, walau pada satu permasalahan hidupnya, maka ia adalah hamba bagi sesuatu yang selain Allah ini.” Dan ia telah menjadikan sesuatu yang selain Allah ini sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah.——————— Diantara bentuk ibadah yang lain adalah: Kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan.————– Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda أوثق عرى الإيمان الموالة في الله والمعاداة في الله والحب في الله والبغض في الله عز و جل “Sekokoh kokohnya ikatan iman adalah loyalitas (al muwalah) karena Allah, memusuhi (al mu’adah) karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” ————————- Jadi keempat perbuatan ini adalah merupakan ikatan keimanan yang paling kokoh, karena perbuatan perbuatan ini adalah merupakan bentuk peribadatan yang paling sempurna dan paling tinggi tingkatannya. Keempat perbuatan ini wajib untuk dipersembahkan hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Adapun selain Allah, maka mereka semua dicintai atau dibenci karena Allah, serta diloyali dan dimusuhi karena Allah.——————– Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata: “Tidak boleh mencintai segala sesuatu yang ada karena sebab zatnya (dirinya) kecuali Dia Subhanahu wa bihamdihi. Segala sesuatu yang dicintai di alam semesta ini, itu hanyalah boleh untuk dicintai karena sebab selainnya, bukan karena sebab zatnya (dirinya). Hanya Rob Ta’ala yang wajib untuk dicintai karena Diri-Nya. Dan ini adalah termasuk dari makna makna ke-Ilahan-Nya. Dan bila di langit dan di bumi terdapat dua Ilah, maka langit dan bumi pasti akan hancur.”—————- Maka barang siapa yang loyalitasnya, permusuhannya, kecintaannya dan kebenciannya karena Allah dan Rosul-Nya, dimana dia tidak mencintai kecuali apa apa yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya, tidak membenci kecuali apa yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya, serta tidak loyal kecuali kepada orang yang loyal kepada Allah dan Rosul-Nya dan tidak memusuhi kecuali orang yang dimusuhi oleh Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia adalah hamba Allah dan telah beribadah kepada-Nya saja. Sebaliknya, barangsiapa yang mana kecintaan dan kebenciannya, loyalitas dan permusuhannya berdasarkan selain Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia telah menjadi hamba bagi selain Allah tadi dan telah mempersembahkan kepadanya bentuk ibadah yang paling tinggi derajatnya.—————— Contoh, bila kecintaan, loyalitas dan permusuhan seseorang berdasarkan tanah air dan nasionalisme kebangsaan, dimana ia akan loyal kepada siapapun yang setanah air dan sebangsa dengannya walaupun mereka adalah musuh Allah dan Rosul-Nya, atau ia akan mencintai dan menjunjung tinggi budaya tanah air dan bansanya walaupun itu merupakan perbuatan syirik kepada Allah, maka berarti ia telah menjadi hamba tanah air dan telah beribadah kepada tanah air, baik ia mengakui hal ini ataupun tidak mengakuinya ! Apa yang ia ikrarkan bahwa tidak ada Ilah selain Allah adalah merupakan sebuah kedustaan besar, karena pada saat yang sama ia telah menjadikan tanah air dan bangsanya sebagai Ilah selain Allah !—————————- Hak hak khusus yang hanya dimiliki oleh Ilah——————– Dari penjelasan diatas, maka kita dapat mengetahui beberapa diantara hak hak khusus ke-Ilahan yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana tidak satu makhlukpun boleh mengklaim bahwa dirinya memiliki salah satu atau beberapa dari hak hak ini, karena kalau demikian, maka ia telah mengklaim bahwa dirinya adalah Ilah selain Allah ! Atau tidak seorangpun boleh meyakini bahwa ada suatu makhluk apapun bentuknya, baik berupa satu orang manusia, atau sekumpulan orang, atau suatu bangsa, atau suatu pemikiran atau yang lainnya memiliki hak hak ini, karena kalau demikian, maka berarti ia telah meyakini bahwa makhluk tersebut adalah Ilah selain Allah ! Diantara hak hak khusus ke-Ilahan adalah sebagai berikut:—————– Hukum hanyalah milik Allah Ta’ala saja————- Hak membuat syari’at dan undang undang, menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya adalah hanya milik Allah Ta’ala saja.————- Hanya Allah saja yang menentukan hukum sesuai apa yang Dia kehendaki dan tidak seorangpun dapat mengkritik hukum yang Dia tetapkan.————— Hanya Allah Ta’ala saja yang tidak dimintai pertanggung jawaban, sedangkan selain-Nya maka mereka semua akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah mereka lakukan.—- Hanya Allah Ta’ala saja yang dicintai karena Dzat-Nya, sedangkan selain-Nya maka mereka semua dicintai karena Allah dan atas izin dan perintah dari Allah.—– Hanya Allah Ta’ala saja yang ditaati karena Dzat-Nya, sedangkan selain Allah Ta’ala maka mereka semua ditaati karena-Nya dan dalam rangka mentaati-Nya.—————– Hanya Allah Ta’ala saja yang dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudarat.————-

istilah tuhan quran

apa BEDAnya ILAH, TUHAN, RABB,  ALLAH ? ,,,, kata itu diterapkan dalam hal apa?
——————————–

Diantara syarat syarat kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah ilmu, maksudnya: seseorang yang mengucapkannya harus mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya. Karena yang dituntut dari setiap orang bukan hanya mengucapkan kalimat ini dengan lisan saja, melainkan juga ia dituntut untuk memenuhi segala syarat syaratnya. Diantara syarat syaratnya adalah mengetahui apa makna yang terkandung di dalamnya.
—————————

Allah Ta’ala telah memerintahkan:

فاعلم أنه لاإله إلاالله

Ketahuilah bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Allah”(Muhammad : 19).
———————–

Dalam sebuah hadits shohih riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:—————

من مات وهو يعلم أنه لاإله إلاالله دخل الجنة

“Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah, maka ia masuk surga”.

————————-
Mafhum dari hadits ini adalah bahwa barang siapa yang mati sedang ia tidak mengetahui bahwa tidak ada Ilah selain Allah maka ia tidak akan masuk surga. Orang yang tidak masuk surga adalah bukan orang Islam. Karena orang muslim akan masuk surga. Dalam hadits shohih muttafaqun ‘alaihi telah disebutkan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:——–

لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة

“Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim”.

———————-
Sebab orang yang tidak mengetahui tauhid maka ia tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan tauhid. Dan barang siapa yang tidak mengamalkan dan menerapkan tauhid maka ia adalah seorang musyrik. Dan segala amalan amalan kebaikan yang dilakukan oleh seorang musyrik tidak akan diterima di sisi Allah, karena amalan amalan tersebut dikerjakan tidak berlandaskan pada tauhid.
————————–

Allah Ta’ala berfirman tentang amalan amalan orang orang musyrikin:

وقدمنا إلي ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا

“Dan Kami datangkan apa apa yang telah mereka amalkan, lalu Kami menjadikannya sebagai debu yang berterbangan”

———————–
Jadi masalah ini adalah masalah besar dan bukanlah masalah sepele. Karena bagaimana mungkin kita dapat mengamalkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah) kalau kita tidak mengetahui makna dari kalimat tersebut. Bahkan orang yang tidak mengetahui makna kalimat ini, maka pasti ia akan mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kalimat ini, baik secara sadar ataupun tanpa sadar! Lihatlah keadaan pemerintah thogut nkri di sekitar kita. Mereka mengklaim diri mereka sebagai bagian dari kaum muslimin, mereka sholat, puasa serta selalu mengucapkan laa ilaaha illallah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi mereka pada waktu yang bersamaan telah mengatakan secara lisan ataupun secara tingkah laku bahwa diri mereka adalah Ilah Ilah selain Allah !!! Subhanallah !!! Lihatlah juga keadaan aparat aparat keparat yang telah menjadi pelindung pelindung thogut. Sebagian mereka juga mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah selain Allah), akan tetapi pada waktu bersamaan mereka rela menjadi pelindung Ilah Ilah selain Allah, mereka rela membela mati-matian berhala pancasila dan memerangi tentara tentara tauhid !!! Lihatlah juga keadaan orang orang yang beribadah kepada kubur kubur. Mereka sering mengulang-ngulang kalimat tauhid laa ilaaha illallaah tidak ada Ilah kecuali Allah, akan tetapi pada waktu bersamaan mereka telah menjadikan kubur kubur yang mereka ibadahi tersebut sebagai Ilah Ilah selain Allah !!! Kenapa bisa terjadi begini? Karena mereka semua mengucapkan kalimat ini dengan tanpa memenuhi syarat syaratnya, yang salah satunya adalah syarat ilmu. Maka jelas mereka tidak akan dapat mengamalkan dan menerapkan kandungan dari kalimat ini, sehingga mereka bukanlah termasuk orang yang bertauhid !!! ———————–

Makna Ilah———————

Untuk dapat memahami kalimat ini, maka pertama tama kita harus memahami makna dari kata Ilah, sehingga ketika kita mengucapkan kalimat “tidak ada Ilah kecuali Allah” maka kita mengucapkannya berdasarkan ilmu, kita mengetahui apa yang kita ucapkan dan kita siap untuk merealisasikannya. Kita hidup dan mati demi kalimat ini.—————–

Kata Ilah إله dalam bahasa Arab bermakna: sesuatu yang diibadahi, baik secara haq ataupun secara batil. Allah adalah satu satunya Ilah yang haq, hanya Dia saja Ilah yang berhak untuk diibadahi. Adapun pancasila yang disembah, presiden yang ditaati secara mutlak, kuburan yang disembah, salib, patung budha, tempat tempat yang dikeramatkan dan dikultuskan dan lain lain adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya, tapi ini semua adalah Ilah Ilah yang bathil dan palsu, karena ini semua hanyalah makhluk dan sama sekali tidak berhak untuk diibadahi.—————-

الإله (Al Ilah) berasal dari kata alahaya’lahuuluuhahilaahahuluuhiyyah yang bermakna beribadah. Adapun Ilaah adalah sinonim dari kata Ma’luuh yang bermakna obyek yang diibadahi atau sesuatu yang di ibadahi. Bentuk jamak dari kata Ilaah إله adalah aalihah آلهة (Ilah Ilah). Orang orang musyrikin Arab pada zaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut berhala berhala mereka dengan aalihah, karena berhala yang mereka ibadahi tidak hanya satu, tapi banyak, diantaranya adalah berhala lata, berhala uzza, berhala manat dan lain lain. Itulah sebabnya kenapa mereka sangat heran terhadap da’wah tauhid Nabi Muhammad shollallahu ‘alihi wa sallam, mereka berkata:——————-

أجعل الآلهة إلها واحدا إن هذا لشيئ عجاب

“Kenapa ia menjadikan Ilah Ilah itu hanya Ilah Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang mengherankan”(Shaad : 5)
——————————

Jadi mereka heran terhadap da’wah tauhid yang disampaikan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat tahu sekali makna dari kata Ilah. Itulah sebabnya mereka enggan mengucapkan laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah), karena dengan mengucapkan kalimat ini berarti mereka harus meninggalkan Ilah Ilah mereka yang sedang mereka ibadahi. Mereka tahu betul bahwa konsistensi dari mengucapkan kalimat tauhid adalah meninggalkan peribadatan kepada seluruh Ilah Ilah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala telah menceritakan keadaan mereka:—————-

إنهم كانواإذا قيل لهم لاإله إلاالله يستكبرون، ويقولون أإنالتاركوا الهتنا لشاعر مجنون

“Sesungguhnya mereka (orang orang musyrikin) apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallaah (tidak ada Ilah kecuali Allah)” mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah kami harus meninggalkan Ilah Ilah kami karena seorang penyair yang gila?”(Ash Shaaffaat : 35-36)

——————————-
Mereka tahu betul makna kata Ilah. Maka celakalah orang yang mana Abu Jahal lebih tahu darinya tentang makna Ilah !——————-

Jadi segala sesuatu yang diibadahi walau dengan satu bentuk ibadah saja, adalah merupakan Ilah bagi orang yang beribadah kepadanya. Dan ibadah itu sendiri memiliki arti yang luas, tidak seperti yang digambarkan oleh orang orang sekuler, ulama ulama pancasila dan penyembah penyembah kubur. Mereka menggambarkan bahwa ibadah hanyalah amalan amalan seperti sholat, sedekah, puasa, baca Al Quran, dan melaksanakan ibadah haji saja. Sehingga mereka santai santai saja ketika mempersembahkan satu atau beberapa bentuk ibadah kepada sembahan sembahan mereka selain Allah, mereka mengklaim bahwa mereka meyakini tidak ada Ilah selain Allah, padahal kenyataannya mereka telah beribadah kepada banyak Ilah Ilah selain Allah !!!
——————

Bentuk bentuk ibadah

Diantara bentuk bentuk ibadah selain ibadah ibadah ritual yang nampak jelas bagi semua orang, seperti sujud, ruku’, sholat, puasa, sedekah, haji dan lain lain adalah seperti dalam perkataan Ibnu Katsir rohimahullah yang telah dinukilkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdulwahab di dalam kitab beliau ‘Utsulus Tsalatsah, Ibnu Katsir berkata: ——————-

“Pencipta segala sesuatu ini adalah yang berhak untuk diibadahi. Dan bentuk bentuk ibadah yang telah Allah perintahkan adalah seperti islam, iman dan ihsan, dan termasuk darinya adalah do’a, khouf (takut), roja (rasa berharap), tawakkal, roghbah (rasa berharap), rohbah (rasa takut), khusu’, khosyyah (takut), inabah (kembali bertaubat), isti’anah (meminta tolong), isti’adzah (meminta perlindungan), menyembelih hewan, nadzar dan bentuk ibadah yang lain lainnya yang telah Allah perintahkan semuanya hanya untuk Allah Ta’ala.”—————-

Dalam kitab Hasyiyah Ushulus Tsalastsah disebutkan bahwa makna perkataan Ibnu Katsir “Dan bentuk ibadah yang lainnya yang telah Allah perintahkan” adalah: “Ini bermakna bahwa bentuk bentuk ibadah tidak hanya khusus pada hal hal ini saja dan tidak terbatas pada bentuk bentuk ini saja yang telah disebutkan oleh beliau rohimahullah, akan tetapi bentuk bentuknya sangat banyak sekali.” (Lihat Hasyiyah Utsulus Tsalatsah halaman 54).—————–

Diantara bentuk ibadah adalah ketaatan. Maka wajib beribadah hanya kepada Allah Ta’ala bermakna wajib taat hanya kepada Allah Ta’ala. Yang berhak untuk dita’ati hanyalah Allah Ta’ala saja. Adapun siapapun selain-Nya, maka mereka semua ditaati karena Allah atau atas izin atau perintah dari Allah Ta’ala. Mereka ditaati pada hal hal yang tidak bertentangan dengan syari’at Allah———-

Dalam sebuah hadits disebutkan:

لا طاعة لبشر في معصية الله، إنما الطاعة في معروف

“Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam bermaksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah pada hal yang ma’ruf”

—————————
Makhluk apapun yang ditaati secara mutlak bagaimanapun dan apapun juga keadaanya, tanpa melihat apakah ia baik atau buruk dan tanpa melihat apakah perkara tersebut adalah perkara yang baik atau tidak baik, maka makhluk tersebut telah menjadi Ilah dan sembahan bagi orang yang taat buta kepadanya. Dan siapapun juga yang memerintahkan orang lain untuk taat buta kepadanya dalam segala hal dan kondisi, baik pada hal hal yang baik ataupun hal hal yang buruk dan kesyirikan, maka orang tersebut telah menjadi thogut yang wajib untuk kita jauhi dan kufuri.—————-

Betuk ketaatan mutlak seperti ini bila dipersembahkan kepada makhluk, maka ini merupakan sebuah bentuk kesyirikan dan kekafiran yang nyata. Berikut adalah sebagian dari dalil dalilnya:

وإن الشياطين ليحون إلي أولياءهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون

“Sesungguhnya syetan syetan itu membisikkan kepada kawan kawannya agar mereka membantah (mendebat) kalian, dan jika kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrik.”(Al An’am:121)

—————————-
Disebutkan dalam asbabun nuzul ayat ini, bahwa orang orang musyrikin mendebat para sahabat rodiyallahu ‘anhum tentang pengharaman bangkai binatang, karena mereka (orang orang musyrikin) tidak mengharamkan bangkai, lalu turunlah ayat ini: “Bila kalian mentaati mereka, tentu kalian menjadi orang orang musyrikin” ——————-

Suatu perbuatan tidak disebut sebagai kesyirikan kecuali apabila terdapat suatu ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah Azza wa Jalla. Lalu apa bentuk ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan.——————-

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang orang yang murtad sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah berkata kepada orang orang yang membenci apa apa yang telah Allah turunkan: “Kami akan mentaati kalian dalam beberapa urusan”, sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka.”(Surat Al Qital:25-26)

—————————-
Dalam menafsiri firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang orang yang murtad”, Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “Maksudnya mereka yang meninggalkan keimanan dan kembali kepada kekafiran.”—————-

Kemurtadan terjadi apabila seseorang melaksanakan kesyirikan, lalu apa kesyirikan yang disebut dalam ayat diatas? Jawabannya adalah ketaatan kepada orang orang yang membenci apa yang diturunkan oleh Allah pada suatu masalah tertentu. Lalu bagaimana gerangan bila mentaati mereka pada semua masalah ?!——————–

Jadi, seseorang yang mengatakan kepada suatu makhluk tertentu apapun juga bentuk makhluk tersebut, baik berupa seorang manusia atau sekumpulan orang, atau suatu pemerintahan, atau suatu pemikiran seperti pancasila, atau suatu majelis seperti dpr/mpr atau apapun juga bentuknya: “Engkau mempunyai hak untuk memerintah apapun, engkau berhak memutuskan segala hal, apa yang engkau anggap baik maka ia adalah kebaikan dan apa yang engkau anggap buruk maka ia adalah keburukan, dan engkau mempunyai hak untuk ditaati dalam hal itu semua, engkau wajib ditaati apapun yang engkau perintahkan.”. Maka orang ini telah menjadikan makhluk tersebut sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah, bentuk peribadatannya kepada makhluk tersebut adalah ketaatan kepadanya.—————-

Diantara bentuk ibadah yang lain adalah tahaakum (berhakim atau berhukum). Bila seseorang dalam segala urusannya berhakim kepada syariat Allah, maka dia adalah hamba Allah dan masuk dalam peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, bila ia berhakim kepada selain Allah, walaupun pada suatu urusan tertentu, maka ia berarti telah beribadah kepadanya dan telah menjadikannya sebagai Ilah selain Allah.—————

Allah Ta’ala berfirman:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang orang yang mengaku ngaku telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thogut, padahal mereka telah diperintah untuk kafir kepada thogut. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.(An Nisa ; 60)

‘———————-

Syeikh Muhammad bin Ibrahim rohimahullah berkata dalam buku beliau Tahkimul Qowanin (Hukum menerapkan undang undang buatan): “Sesungguhnya firman Allah Azza wa Jalla: “Mengaku ngaku” adalah bentuk pendustaan bagi mereka atas apa yang mereka klaim dari keimanan, karena tidak akan berkumpul di dalam hati seseorang perbuatan berhakim kepada selain apa yang telah dibawa oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan keimanan, bahkan masing masing dari keduanya akan menafikan (meniadakan) yang lain.”——————

Syeikh Abu Bashir Ath Thorthusiy hafizhahullah berkata: “Bila keimanan tidak terdapat pada diri seseorang kecuali dengan berhakim (atau berhukum) kepada syari’at Allah Azza wa Jalla, maka hal itu menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa sesungguhnya berhakim (berhukum) kepada syari’at Allah Ta’ala adalah sebuah ibadah kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala karena perbuatan ini adalah syarat dari keimanan. Sesuatu hal tidak akan menjadi syarat dari keimanan kecuali ia mengandung peribadatan kepada-Nya Azza wa Jalla. Adapun yang kedua adalah, bahwa ketidak adanya sikap berhakim (berhukum) kepada syari’at Allah Azza wa Jalla akan meniadakan keimanan dari pelakunya. Dan telah disebutkan diatas bahwa keimanan tidak akan hilang pada diri pemiliknya kecuali karena sebab kesyirikan yang mengandung peribadatan kepada makhluk walau pada satu sisi tertentu. Maka (ini semua) menunjukkan bahwa perbuatan tahaakum (berhakim) adalah merupakan sebuah peribadatan dari pelakunya kepada obyek (yang ia berhakim kepadanya). Maka barang siapa yang berhakim kepada Allah saja dalam seluruh urusan kehidupannya yang khusus ataupun yang umum, maka ia adalah hamba Allah. Dan barangsiapa yang berhakim kepada selain Allah apapun juga bentuknya, walau pada satu permasalahan hidupnya, maka ia adalah hamba bagi sesuatu yang selain Allah ini.” Dan ia telah menjadikan sesuatu yang selain Allah ini sebagai Ilah yang ia ibadahi selain Allah.———————

Diantara bentuk ibadah yang lain adalah: Kecintaan, kebencian, loyalitas dan permusuhan.————–

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أوثق عرى الإيمان الموالة في الله والمعاداة في الله والحب في الله والبغض في الله عز و جل

“Sekokoh kokohnya ikatan iman adalah loyalitas (al muwalah) karena Allah, memusuhi (al mu’adah) karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

————————-
Jadi keempat perbuatan ini adalah merupakan ikatan keimanan yang paling kokoh, karena perbuatan perbuatan ini adalah merupakan bentuk peribadatan yang paling sempurna dan paling tinggi tingkatannya. Keempat perbuatan ini wajib untuk dipersembahkan hanya untuk Allah Azza wa Jalla. Adapun selain Allah, maka mereka semua dicintai atau dibenci karena Allah, serta diloyali dan dimusuhi karena Allah.——————–

Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata: “Tidak boleh mencintai segala sesuatu yang ada karena sebab zatnya (dirinya) kecuali Dia Subhanahu wa bihamdihi. Segala sesuatu yang dicintai di alam semesta ini, itu hanyalah boleh untuk dicintai karena sebab selainnya, bukan karena sebab zatnya (dirinya). Hanya Rob Ta’ala yang wajib untuk dicintai karena Diri-Nya. Dan ini adalah termasuk dari makna makna ke-Ilahan-Nya. Dan bila di langit dan di bumi terdapat dua Ilah, maka langit dan bumi pasti akan hancur.”—————-

Maka barang siapa yang loyalitasnya, permusuhannya, kecintaannya dan kebenciannya karena Allah dan Rosul-Nya, dimana dia tidak mencintai kecuali apa apa yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya, tidak membenci kecuali apa yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya, serta tidak loyal kecuali kepada orang yang loyal kepada Allah dan Rosul-Nya dan tidak memusuhi kecuali orang yang dimusuhi oleh Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia adalah hamba Allah dan telah beribadah kepada-Nya saja. Sebaliknya, barangsiapa yang mana kecintaan dan kebenciannya, loyalitas dan permusuhannya berdasarkan selain Allah dan Rosul-Nya, maka berarti dia telah menjadi hamba bagi selain Allah tadi dan telah mempersembahkan kepadanya bentuk ibadah yang paling tinggi derajatnya.——————

Contoh, bila kecintaan, loyalitas dan permusuhan seseorang berdasarkan tanah air dan nasionalisme kebangsaan, dimana ia akan loyal kepada siapapun yang setanah air dan sebangsa dengannya walaupun mereka adalah musuh Allah dan Rosul-Nya, atau ia akan mencintai dan menjunjung tinggi budaya tanah air dan bansanya walaupun itu merupakan perbuatan syirik kepada Allah, maka berarti ia telah menjadi hamba tanah air dan telah beribadah kepada tanah air, baik ia mengakui hal ini ataupun tidak mengakuinya ! Apa yang ia ikrarkan bahwa tidak ada Ilah selain Allah adalah merupakan sebuah kedustaan besar, karena pada saat yang sama ia telah menjadikan tanah air dan bangsanya sebagai Ilah selain Allah !—————————-

Hak hak khusus yang hanya dimiliki oleh Ilah——————–

Dari penjelasan diatas, maka kita dapat mengetahui beberapa diantara hak hak khusus ke-Ilahan yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana tidak satu makhlukpun boleh mengklaim bahwa dirinya memiliki salah satu atau beberapa dari hak hak ini, karena kalau demikian, maka ia telah mengklaim bahwa dirinya adalah Ilah selain Allah ! Atau tidak seorangpun boleh meyakini bahwa ada suatu makhluk apapun bentuknya, baik berupa satu orang manusia, atau sekumpulan orang, atau suatu bangsa, atau suatu pemikiran atau yang lainnya memiliki hak hak ini, karena kalau demikian, maka berarti ia telah meyakini bahwa makhluk tersebut adalah Ilah selain Allah ! Diantara hak hak khusus ke-Ilahan adalah sebagai berikut:—————–

  • Hukum hanyalah milik Allah Ta’ala saja————-
  • Hak membuat syari’at dan undang undang, menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya adalah hanya milik Allah Ta’ala saja.————-
  • Hanya Allah saja yang menentukan hukum sesuai apa yang Dia kehendaki dan tidak seorangpun dapat mengkritik hukum yang Dia tetapkan.—————
  • Hanya Allah Ta’ala saja yang tidak dimintai pertanggung jawaban, sedangkan selain-Nya maka mereka semua akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah mereka lakukan.—-
  • Hanya Allah Ta’ala saja yang dicintai karena Dzat-Nya, sedangkan selain-Nya maka mereka semua dicintai karena Allah dan atas izin dan perintah dari Allah.—–
  • Hanya Allah Ta’ala saja yang ditaati karena Dzat-Nya, sedangkan selain Allah Ta’ala maka mereka semua ditaati karena-Nya dan dalam rangka mentaati-Nya.—————–
  • Hanya Allah Ta’ala saja yang dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudarat.————-

Setelah kita memahami ini semua, maka lihatlah disekitar kita, alangkah banyaknya orang yang mengklaim bahwa diri diri mereka adalah Ilah Ilah selain Allah, walaupun mereka tidak menamainya dengan nama Ilah, akan tetapi dengan sikap mereka yang telah merampas hak khusus yang hanya dimiliki oleh Allah, berarti mereka telah mengikrarkan bahwa diri mereka adalah Ilah selain Allah !!! Subhanallah !!! Maka mereka tidak ada bedanya dengan fir’aun yang telah berkata:

وقال فرعون ياأيها الملأ ما علمت لكم من إله غيري، فأوقد لي يا هامن علي الطين فاجعل لي صرحا لعلي أطلع إلي إله موسي وإني لأظنه من الكاذبين

“Dan fir’aun berkata: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Ilah bagi kalian selain aku. Maka bakarlah hai haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Ilah nya Musa, dan sesungguhnya aku benar benar yakin bahwa dia termasuk orang orang pendusta.”(Al Qoshosh:38)

Dan alangkah banyak orang yang meyakini bahwa suatu makhluk tertentu, baik yang berupa seorang manusia, ataupun sekelompok orang, ataupun benda benda alam, ataupun kuburan ataupun suatu falsafat pemikiran tertentu, ataupun yang lainnya yang memiliki salah satu atau beberapa sifat ke-Ilahan yang hanya dimiliki oleh Allah. Maka dengan keyakinan mereka ini, mereka telah menjadikan makhluk makhluk tersebut sebagai Ilah Ilah selain Allah, walaupun mereka tidak menamakannya dengan nama Ilah !!!

Setelah itu, masihkah kita menganggap bahwa orang orang musyrikin itu adalah orang orang yang bertauhid ??? Bukankah mereka meyakini bahwa ada Ilah lain selain Allah??? Dan bahkan bukankah sebagian mereka malah lancang mengakui bahwa diri diri mereka adalah Ilah Ilah selain Allah ???
================================

Perbedaan Antara Ilah dan Rabb

……………………….
“Ar-Rabb” artinya adalah yang melakukan perbaikan, yang mengelola, yang memaksa dan yang selalu mengurusi.

Makna “murabbi” jika diambil dari akar kata “ar-rabb”, yakni selalu melakukan perbaikan utamanya akhlaq pada peserta didiknya, dan untuk tujuan ini kadangkala ia melakukan tindakan pemaksaan. Memang “murabbi” hakiki hanyalah Allah Ta’ala, sedangkan manusia lebih tepat hanyalah seolah – olah “murabbi” atau “mutarabbi”.

 

قال الهروي وغيره: يقال لمن قام بإصلاح شئ وإتمامه: قد ربه يربه فهو رب له وراب، ومنه سمي الربانيون لقيامهم بالكتب.

 

Al-Harawiy dan yang lainnya berpendapat, “Kalimat ini dimaksudkan untuk pihak yang selalu melakukan perbaikan terhadap sesuatu dan menyempurnakannya, “Sungguh “rabb”-nya selalu mendidiknya, karena ia adalah “rabb” dan “rabb” baginya”, dan dari hal ini muncul istilah “rabbaniyun” bagi orang yang mengamalkan Al-Qur’an”.

 

Dan di dalam Ash-Shihah, Dan “rabb” Fulan adalah yang telah melahirkannya, mengasuhnya sebagai pengasuh, memelihara dan mendidiknya, dengan makna yakni mengasuhnya. Sehingga “al-marbub” artinya adalah “Al-murabbi (yang mengasuh)”

 

Sebagian ulama berpendapat, “Sesungguhnya ini adalah nama dari Nama Allah Yang Agung, karena kebanyakan doa orang yang berdoa adalah dengan Nama ini, serta inilah yang dimaksudkan di dalam Al-Qur’an sebagaimana yang terdapat dalam akhir – akhir surat Ali Imran :

 

 رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

 

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, “Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian”, maka kami pun beriman, oleh karena itu, wahai Tuhan kami, ampunilah kami, dosa – dosa kami, tutuplah keburukan – keburukan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang – orang yang berbuat baik”. 

 

Serta dalam surat – surat yang lain, dan oleh karena itu shifat ini mengisyaratkan adanya hubungan antara “Ar-Rabb” dan “Al-Marbub”, yang terkandung di dalamnya di antaranya sifat – sifat belas kasihan, rasa sayang, dan berkehendak atas segala hal” Dan para ulama telah berselisih tentang pengambilannya, maka dikatakan, “Sesungguhnya ini diambil dari “at-tarbiyah”, sehingga Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah yang mengelola makhluk-Nya dan memelihara mereka, tentang hal ini adalah Firman-Nya Ta’ala,

 

Apabila huruf “alif” dan “lam” masuk pada kalimat “rabb” maka ini dikhususkan untuk Allah Ta’ala, karena sesungguhnya ini menunjukkan kesempurnaan, dan apabila kita buang darinya maka ini bisa disifatkan untuk Allah atau untuk hamba-Nya, maka dikatakan, “Allah adalah pemelihara para hamba-Nya”, sedang “Zaid adalah pemelihara negerinya” oleh karena itu Allah Yang Maha Suci adalah Tuhan para pemelihara, Maha Raja yang merajai para raja, dan Dia-lah yang menciptakan mereka semua dan memberi rezekinya, dan semua pemelihara selain-Nya adalah bukan Maha Pencipta serta bukan pula Maha Pemberi rezeki, dan semua para raja ketika sesudah tidak lagi menjadi raja maka akan dikuasai, serta kekuasaan akan dicabut dari tangannya.

 

Ada pun sandaran hakiki untuk mencapai tujuan tarbiyah maka ia adalah akhlaq suci yang lurus yang memancar dari jiwa – jiwa kalian para pendidik yang meresap kepada jiwa – jiwa murid kalian, para peserta didik, yang selalu dipegang oleh kalian di dalam tarbiyah, kemudian para murid mengambilnya dari kalian, dan inilah yang kalian tebarkan sebagai kekuatan cita – cita di dalam ruh – ruh mereka, sebagai sasaran dan koreksi di dalam pikiran mereka, sebagai perbaikan dan timbangan di dalam cita – cita mereka, serta sebagai tujuan pembicaraan dan penjelasannya di dalam lisan – lisan mereka.

 

Pelajaran yang bisa diambil adalah manusia sebagai “murabbi”, tetaplah bukan “Ar-Rabb”, sehingga sebagai pendidik niscaya terdapat banyak kekurangan sehingga selalu berhajat untuk meningkatkan pengetahuan, kualitas, skill dan kinerjanya. Kemudian perilaku mendidik adalah perilaku setiap orang, bukan monopoli para guru dan pengajar di sekolah – sekolah “organized”, karena setiap orang niscaya akan berkeluarga dan memiliki anak, atau paling tidak kita mesti mendidik “diri kita sendiri”. Selanjutnya sebagai “hamba Allah” harus menyadari bahwa perilaku dan motif, utamanya dalam proses pendidikan, mempunyai konsekwensi di akhirat kelak.

 

Dewasa ini berkembang pandangan pembagian Tauhid menjadi tiga, yakni Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid al-Asma’ wal al-Shifat. Bahkan pradigma Tauhid menjadi tiga tersebut, kini juga masuk dalam kurikulsekolah-sekolah agum akidah dan akhlak yang diajarkan di ama. Oleh karena itu, disini perlu dipaparkan bagaimana sebenarnya pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut.

Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ululiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, belum pernah dikatakan oleh seorangpun sebelum masa Ibn Taimiyah. Rasulullah Saw juga tidak pernah berkata kepada seseorang yang masuk Islam, bahwa di sana ada dua macam Tauhid dan kamu tidak akan menjadi Muslim sebelum bertauhid dengan Tauhid Uluhiyyah.

Rasulullah Saw juga tidak pernah mengisyaratkan hal tersebut meskipun hanya dengan satu kalimat. Bahkan tak seorangpun dari kalangan ulama salaf atau para imam yang menjadi panutan yang mengisyaratkan terhadap pembagian tauhid tersebut. Hingga akhirnya datang Ibnu Taimiyah pada abad ketujuh Hijriah yang menetapkan konsep pembagian Tauhid menjadi tiga.

Menurut Ibnu Taimiyah Tauhid itu terbagi tiga :

Pertama, Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja. Menurut Ibn Taimiyah, Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.

Kedua, Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Ibn Taimiyah berkata, “Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya.

Ketiga, Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal di kalangan manusia. Pandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab perintis ajaran Wahabi.

Dalam pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna Rabb atau rububiyyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya. Sedangkan makna Ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai Dzat yang berhak untuk disembah dan menjadi tujuan dalam beribadah.

Tentu saja, pembagian Tauhid menjadi tiga tadi serta pembatasan makna-maknanya tidak rasional dan bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits dan pendapat seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Ayat-ayat al-Qur’an , hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak ada yang membedakan antara makna Rabb dan makna Ilah. Bahkan dalil-dalil Al-qur’an dan Hadits mengisyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan tidak wajar pula baginya menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan)” (QS Ali-Imran : 80)

Ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah seperti Malaikat dan para Nabi. Dengan demikian berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyyah.

Konsep Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang kafir sebenarnya mengakui Tauhid Rububiyyah, akan semakin fatal apabila kita memperhatikan pengakuan orang-orang kafir sendiri kelak di hari kiamat seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an al-Karim yang artinya, “ Demi Allah, sungguh kita dahulu di dunia dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam” QS al Syu’ara :97-98)

Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di Akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan). Pendapat Ibn Taimiyah yang mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan ayat berikut ini yang artinya, “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya” (QS. Yusuf : 39-40)

Ayat di atas menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid Rububiyyah dan menyembah-nyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah. Disamping itu, ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan Uluhiyyah, sehingga dapat disimpulkan konotasi makna Rububiyyah itu pada dasarnya sama dengan Uluhiyyah.

Dalam surat al-Kahfi, mengisahkan pengakuan seorang Mukmin yang tidak melanggar Tauhid Rububiyyah dan seorang kafir yang mengakui telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

Orang Mukmin tersebut berkata: yang artinya “tetapi aku (percaya bahwa): dialah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” QS al Kahfi : 38)

Sedangkan orang kafir tersebut berkata, yang artinya: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” (QS al Kahfi : 42)

Kedua ayat di atas memberikan kesimpulan bahwa antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah ada keterkaitan talazum yang sangat erat. Disamping itu, ayat kedua di atas membatalkan pandangan Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah. Justru dalam ayat tersebut, orang Musyrik sendiri mengakui kalau telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

Konsep pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut akan batal pula, apabila kita mengkaitkannya dengan hadits-hadits Nabi Saw. Misalnya dengan hadits shahih berikut ini, yang artinya. Dari al Barra’ bin Azib, Nabi Saw bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh itu” (QS. Ibrahim : 27). Nabi Saw bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu ?” Lalu dia menjawab, “Allah, Rabbku, dan Muhammad Saw Nabiku” H.R. Muslim).

Hadits diatas memberikan pengertian, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir, akan bertanya kepada si mayit tentang Rabb, bukan Ilah, karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Seandainya pandangan Ibn Taimiyah dan Wahhabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah itu benar, tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit dengan, “Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”, bukan “Man Rabbuka (Siapa Tuhan Rububiyyah-mu)?” atau mungkin keduanya akan menanyakan semua, “Man Rabbuka wa man Ilahuka?” 78

Sekarang apabila pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut batil, lalu apa sebenarnya makna yang tersembunyi di balik pembahgian Tauhid menjadi tiga tersebut ?

Apabila diteliti dengan seksama, dibalik pembagian tersebut, setidaknya mempunyai dua tujuan :

Pertama, Ibn Taimiyah berpendapat bahwa praktek-praktek seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain yang menjadi tradisi dan dianjurkan sejak zaman Nabi Saw adalah termasuk bentuk kesyirikan dan kekufuran. Nah, untuk menjustifikasi (pembenaran) pendapat ini, Ibn Taimiyah menggagas pembagian Tauhid menjadi tiga, antara lain Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah. Dari sini, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa sebenarnya keimanan seseorang itu tidak cukup hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah semata, karena Tauhid Rububiyyah atau pengakuan semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang musyrik, hanya saja mereka tidak mengakui Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, keimanan seseorang akan sah apabila disertai Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

Kemudian setelah melalui pembagian Tauhid tersebut, untuk mensukseskan pandangan bahwa praktek-praktek seperti Tawassul, Istighatsah, Tabarruk, Ziarah kubur dan lain-lain adalah syirik dan kufur. Ibn Taimiyah membuat kesalahan lagi, yaitu mendefinisikan ibadah dalam konteks yang sangat luas, sehingga praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain dia kategorikan juga sebagai ibadah secara syar’i.

Dari sini Ibn Taimiyah kemudian mengatakan, bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para wali dan nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah sehingga dia divonis syirik. Tentu saja pradigma Ibn Taimiyah tersebut merupakan kesalahan di atas kesalahan. Dia mengklasifikasi Tauhid menjadi tiga tanpa ada dasar dari dalil-dalil agama.

Dia mendefinisikan ibadah dalam skala yang sangat luas sehingga berakibat fatal, yaitu menilai syirik dan kufur praktek-praktek yang telah diajarkan Rasulullah Saw dan para Sahabatnya. Dan secara tidak langsung pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut berarti mengkafirkan Rasulullah, para Sahabat dan seluruh kaum Muslimin selain golongan / kelompok nya.

Kedua, berkaitan dengan teks-teks mutasyabihat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menyangkut nama-nama dan sifat-sifat Allah, Ibn Taimiyah mengikuti aliran Musyabbihah yang mengartikan teks-teks tersebut secara literal (zhahir). Dalam upaya menjustifikasi (pembenaran) pandangannya yang cenderung menyerupakan Allah dengan mahlukNya. Ibn Taimiyah menggagas Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat. Dari sini dia kemudian mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang melakukan ta’wil terhadap teks-teks Mutasyabihat dan tidak mengartikannya secara literal, telah terjerumus dalam kebid’ahan dan kesesatan karena melanggar Tauhid al-Asma wa al-Shifat

Kedudukan Allah Subhanahu Wata’ala adalah sebagai Rabb (yang mengatur) Semesta Alam sedangkan kedudukan para Nabi dan rasul adalah Rabb (yang mengatur, melakukan perbaikan) daerah sekeliling mereka, khususnya dalam bidang akhlaq, namun terbatas pada mengingatkan dan mengajarkan saja. sebagaimana perintah Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al Quran Surah Ali ‘Imran : 79

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi dia berkata: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” 

Wallahu A’lam

PUASA ARAFAH = untuk yang TIDAK wukuf di ARAFAH, Saudi Arabia …. waktunya HARUS mengikuti wuquf di Arafah – Saudi Arabia ….. ——————— BUKAN membuat SENDIRI hari puasa ARAFAH menurut negaranya masing-masing…. karena puasa Arafah BERBEDA dengan PUASA RAMADHAN ————————— waktu orang berHAJI melakukan kegiatan WUKUF di ARAFAH … maka .. yg tidak ikut kegiatan WUKUF di ARAFAH HARI itu .. diSUNNAHkan berPUASA ——————– Puasa Arafah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda: ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari) ——————– Keutamaan Puasa Tarwiyah Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. ———— Sebuah artikel sederhana karya Dr Abdurrahman bin Shalih bin Muhammad al-Ghafili yang berjudul Hukm Shiyam Asyr Dzilhijjah, berusaha memaparkan hukum puasa yang sering disebut dengan Hari Tarwiyah tersebut. ——- Ia menjelaskan topik ini merupakan bahasan klasik yang telah banyak dikupas dalam deretan kitab hadis ataupun ulama-ulama terdahulu. Para ulama sepakat, Puasa Tarwiyah hukumnya sunah. Bahkan, sangat dianjurkan berpuasa sejak hari pertama Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah. ————- Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan asyr Dzilhijjah. —————- Keutamaan Puasa Arafah—————– Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada saat diberlangsungkannya wukuf di tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijah oleh para jamaah haji. Wukuf di Arafah bisa dikatakan sebagai inti dari pada pelaksanaan ibadah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. —————— Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.” ——————– Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah. عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ “Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123). ———————— Para Ulama mengatakan bahwasanya paling mulianya hari dalam satu tahun adalah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah dan paling mulianya malam dalam satu tahun adalah 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan.————— Amalan di Bulan Dzulhijjah————- Adapun amalan-amalan shaleh yang sangat di anjurkan oleh ulama untuk kita kerjakan pada 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah sangat banyak sekali di antaranya adalah shalat, puasa terutama puasa Tarwiyah dan Arafah serta banyak dzikir kepada Allah SWT. —————- Ulama mengatakan, “Barangsiapa memuliakan atau menghidupkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah dengan amalan-amalan ibadah maka Allah Ta’ala akan memberinya 10 keistimewaan, yaitu: Allah memberikan berkah pada umurnya Allah menambah rizqinya Allah menjaga diri dan keluarganya Allah mengampuni dosa-dosanya Allah melipatgandakan pahalanya Di mudahkan keluarnya nyawa ketika dalam keadaan sakaratul maut Allah menerangi kehidupannya Di beratkan timbangan kebajikannya Terselamatkan dari semua kesusahannya Di tinggikan derajatnya di sisi Allah Ta’ala Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku. ———————-

puasa arafah 1

PUASA ARAFAH  = untuk yang TIDAK wukuf di ARAFAH, Saudi Arabia …. waktunya HARUS mengikuti wuquf di Arafah – Saudi Arabia …..

———————
BUKAN membuat SENDIRI hari puasa ARAFAH menurut negaranya masing-masing…. karena puasa Arafah BERBEDA dengan PUASA RAMADHAN
—————————
waktu orang berHAJI melakukan kegiatan WUKUF di ARAFAH … maka .. yg tidak ikut kegiatan WUKUF  di ARAFAH HARI itu .. diSUNNAHkan berPUASA
——————–
Puasa Arafah  sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)
——————–
Keutamaan Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun.
————
Sebuah artikel sederhana karya Dr Abdurrahman bin Shalih bin Muhammad al-Ghafili yang berjudul Hukm Shiyam Asyr Dzilhijjah, berusaha memaparkan hukum puasa yang sering disebut dengan Hari Tarwiyah tersebut.
——-
Ia menjelaskan topik ini merupakan bahasan klasik yang telah banyak dikupas dalam deretan kitab hadis ataupun ulama-ulama terdahulu. Para ulama sepakat, Puasa Tarwiyah hukumnya sunah. Bahkan, sangat dianjurkan berpuasa sejak hari pertama Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah.
————-
Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan asyr Dzilhijjah.
—————-
Keutamaan Puasa Arafah—————–
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada saat diberlangsungkannya wukuf di tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijah oleh para jamaah haji. Wukuf di Arafah bisa dikatakan sebagai inti dari pada pelaksanaan ibadah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji.
——————
Ibnu Muflih dalam Al Furu’ -yang merupakan kitab Hanabilah- (3: 108) mengatakan, “Disunnahkan melaksanakan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Demikian disepakati oleh para ulama.”
——————–
Adapun orang yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah.

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

“Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).
————————
Para Ulama mengatakan bahwasanya paling mulianya hari dalam satu tahun adalah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah dan paling mulianya malam dalam satu tahun adalah 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan.—————

Amalan di Bulan Dzulhijjah————-

Adapun amalan-amalan shaleh yang sangat di anjurkan oleh ulama untuk kita kerjakan pada 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah sangat banyak sekali di antaranya adalah shalat, puasa terutama puasa Tarwiyah dan Arafah serta banyak dzikir kepada Allah SWT.
—————-
Ulama mengatakan, “Barangsiapa memuliakan atau menghidupkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah dengan amalan-amalan ibadah maka Allah Ta’ala akan memberinya 10 keistimewaan, yaitu:

  • Allah memberikan berkah pada umurnya
  • Allah menambah rizqinya
  • Allah menjaga diri dan keluarganya
  • Allah mengampuni dosa-dosanya
  • Allah melipatgandakan pahalanya
  • Di mudahkan keluarnya nyawa ketika dalam keadaan sakaratul maut
  • Allah menerangi kehidupannya
  • Di beratkan timbangan kebajikannya
  • Terselamatkan dari semua kesusahannya
  • Di tinggikan derajatnya di sisi Allah Ta’ala

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.
———————-

Ini merupakan pendapat Lajnah Daimah (Komite Fatwa dan Penelitian Ilmiyah) Arab Saudi. Mereka berdalil dengan pengertian hari arafah, bahwa hari arafah adalah hari dimana para jamaah haji wukuf di Arafah. Tanpa memandang tanggal berapa posisi hari ini berada.

Dalam salah satu fatwanya tentang perbedaan tanggal antara tanggal 9 Dzulhijjah di luar negeri dengan hari wukuf di arafah di Saudi, Lajnah Daimah menjelaskan,

يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوماً قبله فلا بأس

Hari arafah adalah hari dimana kaum muslimin melakukan wukuf di Arafah. Puasa arafah dianjurkan, bagi orang yang tidak melakukan haji. Karena itu, jika anda ingin puasa arafah, maka anda bisa melakukan puasa di hari itu (hari wukuf). Dan jika anda puasa sehari sebelumnya, tidak masalah. (Fatawa Lajnah Daimah, no. 4052)

Kedua, puasa arafah sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di daerah setempat

Karena penentuan ibadah yang terkait dengan waktu, ditentukan berdasarkan waktu dimana orang itu berada. Dan hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga penentuannya kembali kepada penentuan kalender di mana kaum muslimin berada.

Pendapat ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Utsaimin. Beliau pernah ditanya tentang perbedaan dalam menentukan hari arafah. Kita simak keterangan beliau,

والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع ، فمثلا إذا كان الهلال قد رؤي بمكة ، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع ، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد ، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم ، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة ، هذا هو القول الراجح ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا )

Yang benar, semacam ini berbeda-beda, sesuai perbedaan mathla’ (tempat terbit hilal). Sebagai contoh, kemarin hilal sudah terlihat di Mekah, dan hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara di negeri lain, hilal terlihat sehari sebelum Mekah, sehingga hari wukuf arafah menurut warga negara lain, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka pada saat itu, tidak boleh bagi mereka untuk melakukan puasa. Karena hari itu adalah hari raya bagi mereka.

Demikian pula sebaliknya, ketika di Mekah hilal terlihat lebih awal dari pada negara lain, sehingga tanggal 9 di Mekah, posisinya tanggal 8 di negara tersebut, maka penduduk negara itu melakukan puasa tanggal 9 menurut kalender setempat, yang bertepatan dengan tanggal 10 di Mekah. Inilah pendapat yang kuat. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا

Apabila kalian melihat hilal, lakukanlah puasa dan apabila melihat hilal lagi, (hari raya), jangan puasa. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, volume 20, hlm. 28)

Dari keterangan di atas, kita bisa memahami bahwa perbedaan penentuan hari arafah, kembali kepada dua pertimbangan:

Pertama, apakah perbedaan tempat terbit hilal (Ikhtilaf Mathali’) mempengaruhi perbedaan dalam penentuan tanggal ataukah tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam menentukan tanggal awal bulan, kaum muslimin di seluruh dunia disatukan. Sehingga perbedaan tempat terbit hilal tidak mempengaruhi perbedaan tanggal.

Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathali’ mempengaruhi perbedaan penentuan awal bulan di masing-masing daerah. Ini meruakan pendapat Ikrimah, al-Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdillah bin Umar, Imam Malik, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnu Abbas.  (Fathul Bari, 4/123).

Dari dua pendapat ini, insyaaAllah yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat kedua. Adanya perbedaan tempat terbit hilal, mempengaruhi perbedaan penentuan tanggal. Hal ini berdasarkan riwayat dari Kuraib – mantan budak Ibnu Abbas –, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits (Ibunya Ibnu Abbas) pernah menyuruhnya  untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya,

Setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku

“Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas.

“kami melihatnya malam jumat.” Jawab Kuraib.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya melihatnya dan  masyarakatpun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyahpun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه

“Kalau kami melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi,

“Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Tidak, seperti ini yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dan yang lainnya).

Kedua, batasan hari arafah

Sebagian ulama menyebutkan bahwa puasa arafah adalah puasa pada hari di mana jamaah haji melakukan wukuf di arafah. Tanpa mempertimbangkan perbedaan tanggal dan waktu terbitnya hilal.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa hari arafah adalah hari yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Sehingga sangat memungkinkan masing-masing daerah berbeda.

Ada satu pertimbangan sehingga kita bisa memilih pendapat yang benar dari dua keterangan di atas. Terlepas dari kajian ikhtilaf mathali’ (perbedaan tempat terbit hilal) di atas.

Kita sepakat bahwa islam adalah agama bagi seluruh alam. Tidak dibatasi waktu dan zaman, sebelum tiba saatnya Allah mencabut islam. Dan seperti yang kita baca dalam sejarah, di akhir dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, islam sudah tersebar ke berbagai penjuru wilayah, yang jarak jangkaunya cukup jauh. Mekah dan Madinah kala itu ditempuh kurang lebih sepekan. Kemudian di zaman para sahabat, islam telah melebar hingga dataran syam dan Iraq. Dengan alat transportasi masa silam, perjalanan dari Mekah menuju ujung wilayah kaum muslimin, bisa menghabiskan waktu lebih dari sebulan.

Karena itu, di masa silam, untuk mengantarkan sebuah info dari Mekah ke Syam atau Mekah ke Kufah, harus menempuh waktu yang sangat panjang. Berbeda dengan sekarang, anda bisa menginformasikan semua kejadian yang ada di tanah suci ke Indonesia, hanya kurang dari 1 detik. Sehingga orang yang berada di tempat sangat jauh sekalipun, bisa mengetahui kapan kegiatan wukuf di arafah, dalam waktu sangat-sangat singkat.

Di sini kita bisa menyimpulkan, jika di masa silam standar hari arafah itu mengikuti kegiatan jamaah haji yang wukuf di arafah, tentu kaum muslimin yang berada di tempat yang jauh dari Mekah, tidak mungkin bisa menerima info tersebut di hari yang sama, atau bahkan harus menunggu beberapa hari.

Jika ini diterapkan, tentu tidak akan ada kaum muslimin yang bisa melaksanakan puasa arafah dalam keadaan yakin telah sesuai dengan hari wukuf di padang arafah. Karena mereka yang jauh dari Mekah sama sekali buta dengan kondisi di Mekah.

Ini berbeda dengan masa sekarang. Hari arafah sama dengan hari wukuf di arafah, bisa dengnan mudah diterapkan. Hanya saja, di sini kita berbicara dengan standar masa silam dan bukan masa sekarang. Karena tidak boleh kita mengatakan, ada satu ajaran agama yang hanya bisa diamalkan secara sempurna di zaman teknologi, sementara itu tidak mungkin dipraktekkan di masa silam.

Oleh karena itu, memahami pertimbangan di atas, satu-satunya yang bisa kita jadikan acuan, Hari arafah adalah  hari jamaah haji wukuf di Arafah.

Allahu a’lam.

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. ———————————– Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at (penolong) baginya pada hari Kiamat. Allah SWT telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, ——————————- dan terdapat dalam firman-Nya: “…. Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha:123) ————————- Perumpamaan mukmin yg membaca Al-Qur’an: Diriwayatkan dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda : “ 1. Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Al-Atrujah, aromanya harum dan rasanya enak. 2. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah Kurma, yang tidak beraroma sedang rasanya enak dan manis. 3. Perumpamaan orang munafik yang rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Raihanah, aromanya wangi sedang rasanya pahit. 4. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Hanzhalah, tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” (HR. Bukhari no. 5427, HR. Muslim no. 797) ————————– Berikut 10 Keutamaan membaca Al-Qur’an Menurut Al-Qur’an dan Hadits Shahih : ———————– 1. Memperoleh Pahala Berlipat Ganda Yang Sempurna o Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah SWT dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah SWT menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir:29-30) —————- o Rasulullah saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf (HR. At-Tirmizi no. 2910). ——————–  Terlebih lagi pada bulan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Tentu, pahalanya berlipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. ——–  Hadits ini juga menjelaskan perhitungan yang rinci mengenai pahala membaca Al Qur’an. Tiap huruf berpahala 10 kebaikan. Kita mungkin bisa membayangkan apa yang bisa kita beli dengan uang $1.000 Dollar. Tapi, bisakah kita bayangkan apa yang “bisa” kita beli dengan 1.000 kebaikan? Salah satu yang bisa kita “beli” adalah keburukan-keburukan kita. Maksudnya, Allah SWT akan mengikis dosa dan keburukan kita dengan kebaikan-kebaikan yang kita miliki. Firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. ————————– Sesungguhnyaperbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. ” (QS Hud:114) ————————– 2. Akan mendapat Rahmat, Petunjuk, Keselamatan dan Kasih sayang dari Allah SWT ———————- o Firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah SWT, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah SWT menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah SWT mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Ma’idah: 15-16). ——————— 3. Sebagai penyembuh dari segala penyakit ——————— o Firman Allah SWT: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (QS Yunus: 57). “Katakanlah: „Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang yang beriman” (QS Fushshilat : 44) ———————— 4. Al-Qur’an akan menjadi penolong di hari kiamat —————————– o Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : ”Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafa‟at (penolong) bagi orang yang membacanya dan mentaatinya.” (HR. Muslim no. 804). ——————– Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali Al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia. ——————- o Dan dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda : “Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba kelak di hari kiamat, Puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa‟at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa‟at kepadanya, Rasulullah saw :”Maka keduanya memberikan syafa‟at” (HR. Ahmad) —————————– o Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan Al-Qur’an di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan surah Ali Imran, keduanya akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim no. 805) ———————– o Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surah Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya. (HR. Muslim no. 804) ————————- 5. Mahluk Allah SWT yang Terbaik. ———————– o Dari shahabat „Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari no. 5027) ————————- o Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Rasulullah saw bersabda. „Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” o “Ilmu adalah kehidupannya Islam dan tiangnya keimanan. Dan barangsiapa mengajarkan ilmu, maka Allah SWT akan menyempurnakan pahalanya, dan barangsiapa yang belajar, lantas mengamalkan(nya), maka Allah SWT akan mengajarkan kepadanya apa-apa yang tidak ia ketahui” (HR. Abu Syaikh) ———————- 6. Dikumpulkan bersama para malaikat. ———————– o Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (HR. Muslim no. 798, HR Al-Bukhari no. 4937) ————————— Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya. o Rasulullah saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah SWT (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan 1. ketenangan jiwa bagi mereka, 2. mereka diliputi oleh rahmat, 3. dikelilingi oleh para malaikat, dan 4. Allah SWT menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya. ———————— o Dari Usaid bin Hudhair ra, suatu hari ia sedang membaca surah Al Baqarah sedangkan kudanya diikat di dekatnya. Tiba-tiba kudanya terkejut ketakutan. lalu ia diam, maka kudanya pun diam. Kemudian, ia membaca. Kudanya terkejut ketakutan lagi. Ia pun diam, kudanya pun diam. Kemudian ia membaca lagi. Kudanya terkejut ketakutan lagi. Lalu ia pun beranjak. Saat itu putranya, Yahya, berada dekat dengan kuda itu, maka ia khawatir kuda itu akan mengenai anaknya. Ketika menarik anaknya, Usaid mengangkat kepalanya menghadap langit hingga ia tidak melihatnya. Ketika waktu subuh tiba. ia bercerita kepada Rasulullah saw. Beliau pun bersabda, “Bacalah hai Ibnu Hudhair! Bacalah hai Ibnu Hudhair!”. Ia menjawab, “Saya khawatir kuda itu menginjak Yahya, wahai Rasulullah saw, saat itu Yahya dekat dengan kuda itu. Lalu saya angkat kepala saya menghadap langit, ternyata di langit ada semacam awan yang di dalamnya ada semacam lampu-lampu, lalu lampu-lampu itu keluar hingga saya tidak bisa melihatnya lagi”. Rasulullah saw bertanya, “Tahukah engkau apa itu?”Kata Usaid, “Tidak”, Beliau bersabda, “Itu adalah malaikat yang mendekat karena suaramu. Andaikata engkau terus membaca, pasti ia akan tetap ada sampai subuh dan orang-orang dapat melihatnya karena ia tidak akan tersembunyi dari mereka.” (HR. Al Bukhari) ————————– 7. Al-Qur’an menentukan derajat bagi pembacanya ————————— o Dari shahabat „Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah SWT meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an” (HR. Muslim no. 269) ————— o “Akan dikatakan kepada para penghafal Al-Qur`an, “Bacalah dan naiklah ke atas. Bacalah dengan tartil sebagaimana dulu kamu di dunia membacanya dengan tartil. Karena jenjang kamu (di surga) berada di akhir ayat yang dulu kamu biasa baca.” (HR. Ahmad no. 6796). ———————- Siapa yang membaca dengan sempurna seluruhnya Al-Qur’an maka ia menempati tingkatan surga yang paling atas di akhirat. Sedang siapa yang membaca sesuatu juz darinya, maka kenaikannya dalam tingkatan surga sesuai dengan bacaannya itu. Dengan demikian, akhir pahalanya adalah pada akhir bacaannya. ————— 8. Kedua Orang Tuanya mendapatkan mahkota surga. ————————– o Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa selalu membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya niscaya Allah SWT akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya besok di hari kiamat yg mana cahaya mahkota tersebut lebih indah dari cahaya matahari yg menyinari rumah-rumah di dunia. dan dipakaikan kedua orang tuanya perhiasan yang tidak didapatinya didunia, lalu keduanya bertanya : dengan amal apa hingga kita diberikan pakaian ini ? dikatakan : karena anakmu hapal Al-Qur’an”. Maka apakah gerangan balasan pahala yg akan dianugerahkan kepada orang yg membaca dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri? ” . (Riwayat Abu Dawud) ——————– 9. Membaca Al Qur’an lebih berharga dibanding Harta benda dunia ———————- o Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah saw bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah SWT keahlian tentang Al-Qur`an, lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah SWT kekayaan harta , lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469). ————– o Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian suka jika ketika dia kembali kepada isterinya, di rumahnya dia mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting lagi gemuk-gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian di dalam shalatnya adalah lebih baik daripada ketiga ekor unta yang bunting dan gemuk itu.” (HR. Muslim no. 802) ———————– o Dari ‘Uqbah Bin ‘Amir ra berkata Rasulullah saw Bersabda : “Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau ‘Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?” Kami menjawab, “Kami ingin ya Rasulullah” Lantas beliau bersabda, “Mengapa tidak pergi saja ke masjid; belajar atau membaca dua ayat Al Qur’an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta.”(HR Muslim) ————————- o Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman : “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat memohon kepada-KU, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Ku berikan kepada orang-orang yang memohon‟. Dan keutamaan kalam Allah SWT atas semua perkataan adalah seperti, keutamaan Allah SWT atas makhluk-Nya. (HR Tirmidzi) ————————– 10. Dijauhi Setan & Kesusahan ————————- o Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra) ————– o Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim) —————– o Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daru Quthni dari Anas r.a, Rasulullah saw memerintahkan: “Perbanyaklah membaca Al Qur’an di rumahmu, sesungguhnya didalam rumah yang tak ada orang membaca Al Qur’an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan dirumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.” o Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a;Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan shalat dan dengan membaca Al Qur’an.” berbagai sumber wallahua’lam

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan.

———————————–
Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at (penolong) baginya pada hari Kiamat. Allah SWT telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat,
——————————-
dan terdapat dalam firman-Nya: “…. Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha:123)
————————-
Perumpamaan mukmin yg membaca Al-Qur’an: Diriwayatkan dari shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda : “
1. Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Al-Atrujah, aromanya harum dan rasanya enak.
2. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah Kurma, yang tidak beraroma sedang rasanya enak dan manis.
3. Perumpamaan orang munafik yang rajin membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Raihanah, aromanya wangi sedang rasanya pahit.
4. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Hanzhalah, tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” (HR. Bukhari no. 5427, HR. Muslim no. 797)
————————–
Berikut 10 Keutamaan membaca Al-Qur’an Menurut Al-Qur’an dan Hadits Shahih :
———————–
1. Memperoleh Pahala Berlipat Ganda Yang Sempurna
o Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah SWT dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengaan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah SWT menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir:29-30)
—————-
o Rasulullah saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf (HR. At-Tirmizi no. 2910).
——————–
 Terlebih lagi pada bulan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Tentu, pahalanya berlipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. ——–
 Hadits ini juga menjelaskan perhitungan yang rinci mengenai pahala membaca Al Qur’an. Tiap huruf berpahala 10 kebaikan. Kita mungkin bisa membayangkan apa yang bisa kita beli dengan uang $1.000 Dollar. Tapi, bisakah kita bayangkan apa yang “bisa” kita beli dengan 1.000 kebaikan? Salah satu yang bisa kita “beli” adalah keburukan-keburukan kita. Maksudnya, Allah SWT akan mengikis dosa dan keburukan kita dengan kebaikan-kebaikan yang kita miliki. Firman Allah SWT, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
————————–
Sesungguhnyaperbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. ” (QS Hud:114)
————————–
2. Akan mendapat Rahmat, Petunjuk, Keselamatan dan Kasih sayang dari Allah SWT
———————-
o Firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah SWT, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah SWT menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah SWT mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al-Ma’idah: 15-16).
———————
3. Sebagai penyembuh dari segala penyakit
———————
o Firman Allah SWT: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (QS Yunus: 57). “Katakanlah: „Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat penawar bagi orang-orang yang beriman” (QS Fushshilat : 44)
————————
4. Al-Qur’an akan menjadi penolong di hari kiamat
—————————–
o Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : ”Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafa‟at (penolong) bagi orang yang membacanya dan mentaatinya.” (HR. Muslim no. 804).
——————–
Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali Al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia.
——————-
o Dan dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda : “Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba kelak di hari kiamat, Puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa‟at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa‟at kepadanya, Rasulullah saw :”Maka keduanya memberikan syafa‟at” (HR. Ahmad)
—————————–
o Dari shahabat An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan Al-Qur’an di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan surah Ali Imran, keduanya akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim no. 805)
———————–
o Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surah Al-Baqarah dan Surah Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surah Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya. (HR. Muslim no. 804)
————————-
5. Mahluk Allah SWT yang Terbaik.
———————–
o Dari shahabat „Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari no. 5027)
————————-
o Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Rasulullah saw bersabda. „Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
o “Ilmu adalah kehidupannya Islam dan tiangnya keimanan. Dan barangsiapa mengajarkan ilmu, maka Allah SWT akan menyempurnakan pahalanya, dan barangsiapa yang belajar, lantas mengamalkan(nya), maka Allah SWT akan mengajarkan kepadanya apa-apa yang tidak ia ketahui” (HR. Abu Syaikh)
———————-
6. Dikumpulkan bersama para malaikat.
———————–
o Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (HR. Muslim no. 798, HR Al-Bukhari no. 4937)
—————————
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
o Rasulullah saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah SWT (masjid) untuk membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan
1. ketenangan jiwa bagi mereka,
2. mereka diliputi oleh rahmat,
3. dikelilingi oleh para malaikat, dan
4. Allah SWT menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.
————————
o Dari Usaid bin Hudhair ra, suatu hari ia sedang membaca surah Al Baqarah sedangkan kudanya diikat di dekatnya. Tiba-tiba kudanya terkejut ketakutan. lalu ia diam, maka kudanya pun diam. Kemudian, ia membaca. Kudanya terkejut ketakutan lagi. Ia pun diam, kudanya pun diam. Kemudian ia membaca lagi. Kudanya terkejut ketakutan lagi. Lalu ia pun beranjak. Saat itu putranya, Yahya, berada dekat dengan kuda itu, maka ia khawatir kuda itu akan mengenai anaknya. Ketika menarik anaknya, Usaid mengangkat kepalanya menghadap langit hingga ia tidak melihatnya. Ketika waktu subuh tiba. ia bercerita kepada Rasulullah saw. Beliau pun bersabda, “Bacalah hai Ibnu Hudhair! Bacalah hai Ibnu Hudhair!”. Ia menjawab, “Saya khawatir kuda itu menginjak Yahya, wahai Rasulullah saw, saat itu Yahya dekat dengan kuda itu. Lalu saya angkat kepala saya menghadap langit, ternyata di langit ada semacam awan yang di dalamnya ada semacam lampu-lampu, lalu lampu-lampu itu keluar hingga saya tidak bisa melihatnya lagi”. Rasulullah saw bertanya, “Tahukah engkau apa itu?”Kata Usaid, “Tidak”, Beliau bersabda, “Itu adalah malaikat yang mendekat karena suaramu. Andaikata engkau terus membaca, pasti ia akan tetap ada sampai subuh dan orang-orang dapat melihatnya karena ia tidak akan tersembunyi dari mereka.” (HR. Al Bukhari)
————————–
7. Al-Qur’an menentukan derajat bagi pembacanya
—————————
o Dari shahabat „Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah SWT meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an” (HR. Muslim no. 269)
—————
o “Akan dikatakan kepada para penghafal Al-Qur`an, “Bacalah dan naiklah ke atas. Bacalah dengan tartil sebagaimana dulu kamu di dunia membacanya dengan tartil. Karena jenjang kamu (di surga) berada di akhir ayat yang dulu kamu biasa baca.” (HR. Ahmad no. 6796).
———————-
Siapa yang membaca dengan sempurna seluruhnya Al-Qur’an maka ia menempati tingkatan surga yang paling atas di akhirat. Sedang siapa yang membaca sesuatu juz darinya, maka kenaikannya dalam tingkatan surga sesuai dengan bacaannya itu. Dengan demikian, akhir pahalanya adalah pada akhir bacaannya.
—————
8. Kedua Orang Tuanya mendapatkan mahkota surga.
————————–
o Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa selalu membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya niscaya Allah SWT akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya besok di hari kiamat yg mana cahaya mahkota tersebut lebih indah dari cahaya matahari yg menyinari rumah-rumah di dunia. dan dipakaikan kedua orang tuanya perhiasan yang tidak didapatinya didunia, lalu keduanya bertanya : dengan amal apa hingga kita diberikan pakaian ini ? dikatakan : karena anakmu hapal Al-Qur’an”. Maka apakah gerangan balasan pahala yg akan dianugerahkan kepada orang yg membaca dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri? ” . (Riwayat Abu Dawud)
——————–
9. Membaca Al Qur’an lebih berharga dibanding Harta benda dunia
———————-
o Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah saw bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah SWT keahlian tentang Al-Qur`an, lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah SWT kekayaan harta , lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469).
————–
o Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian suka jika ketika dia kembali kepada isterinya, di rumahnya dia mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting lagi gemuk-gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian di dalam shalatnya adalah lebih baik daripada ketiga ekor unta yang bunting dan gemuk itu.” (HR. Muslim no. 802)
———————–
o Dari ‘Uqbah Bin ‘Amir ra berkata Rasulullah saw Bersabda : “Siapakah di antara kalian yang tiap hari ingin pergi ke Buthan atau ‘Aqiq dan kembali dengan membawa dua ekor unta yang gemuk sedang dia tidak melakukan dosa dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi?” Kami menjawab, “Kami ingin ya Rasulullah” Lantas beliau bersabda, “Mengapa tidak pergi saja ke masjid; belajar atau membaca dua ayat Al Qur’an akan lebih baik baginya dari dua ekor unta, dan tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik dari empat ekor unta, demikianlah seterusnya mengikuti hitungan unta.”(HR Muslim)
————————-
o Rasulullah saw bersabda, Allah SWT berfirman : “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat memohon kepada-KU, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Ku berikan kepada orang-orang yang memohon‟. Dan keutamaan kalam Allah SWT atas semua perkataan adalah seperti, keutamaan Allah SWT atas makhluk-Nya. (HR Tirmidzi)
————————–
10. Dijauhi Setan & Kesusahan
————————-
o Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang di dalamnya dibaca surat Al Baqarah” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra)
————–
o Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)
—————–
o Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daru Quthni dari Anas r.a, Rasulullah saw memerintahkan: “Perbanyaklah membaca Al Qur’an di rumahmu, sesungguhnya didalam rumah yang tak ada orang membaca Al Qur’an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan dirumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.”
o Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a;Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan shalat dan dengan membaca Al Qur’an.”

berbagai sumber
wallahua’lam

sangat JELAS sekali ….BUNGA BANK ADALAH RIBA ….. dalam Islam ———————————- Sabda Rasululullah SAW, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai). ———————- Pengantar————– Dalam kehidupan kaum Muslimin yang semakin sulit ini, memang ada yang tidak memperduli­kan lagi masalah halal dan haramnya bunga bank. Bahkan ada pendapat yang terang-terangan menghalalkannya. Ini dikarenakan keterlibatan kaum Muslimin dalam sistem kehidupan Sekularisme-Kapital­isme Barat serta sistem Sosialisme-Atheisme. Bagi yang masih berpegang teguh kepada hukum Syariat Islam, maka berusaha agar kehidupannya berdiri di atas keadaan yang bersih dan halal. Namun karena umat pada masa sekarang adalah umat yang lemah, bodoh, dan tidak mampu membeda-bedakan antara satu pendapat dengan pendapat lain­nya, maka mereka saat ini menjadi golongan yang paling bingung, diombang-ambing oleh berbagai pendapat dan pemikiran. ————————- Dalam tulisan yang singkat ini, ada beberapa aspek yang ingin diketengahkan tentang seputar masalah riba : ………………. ————– Pertama, bunga riba dalam tinjauan sejarah. Akan dijelaskan secara singkat peran Bani Israil dan tingkah laku mereka dalam masalah riba. ——————– Kedua, diketengahkan kela­kuan orang-orang Yahudi dalam mengubah syariatnya sendiri (Hukum Allah SWT). Secara singkat akan dipaparkan peran kaum Yahudi dalam menghalalkan riba. —————- Ketiga, masih dalam kerangka tingkah laku kaum Yahudi, diceritakan juga serba sedikit usaha-usaha mereka dalam membangun jaringan kehi­dupan dalam bidang ekonomi dan keuangan dunia, khususnya dalam bidang moneter dan perbankan. ———————– Keempat, mengetengah­kan bagaimana bank pada awalnya berdiri, serta keterlibat­an umat Islam Indonesia dalam masalah perbankan pada deka­de awal abad XX sampai sekarang. ——————— Kelima, mengetengahkan usaha-usaha para tokoh masyarakat Islam (intelektual dan kaum modernis) dalam menghalalkan riba (bunga) bank. ——————– Keenam, mengetengahkan hukum riba yang tetap haram sampai Hari Kiamat. ————————— Riba dan Yahudi dalam Tinjauan Sejarah ———————– Sejak dahulu, Allah SWT telah mengharamkan riba. Keharamannya adalah abadi dan tidak boleh diubah sampai Hari Kiamat. Bahkan hukum ini telah ditegaskan dalam sya­riat Nabi Musa as, Isa as, sampai pada masa Nabi Muhammad saw. Tentang hal tersebut, Al Qur-aan telah mengabarkan tentang tingkah laku kaum Yahudi yang dihukum Allah SWT akibat tindakan kejam dan amoral mereka, termasuk di da­lamnya perbuatan memakan harta riba. —————————— Firman Allah SWT: “….disebabkan oleh kezhaliman orang-orang Yahudi, maka Kami telah haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka; dan (juga) karena mereka banyak menghalangi (manu­sia) dari jalan Allah; serta disebabkan mereka memakan riba. Padahal sesungguhnya mereka telah dilarang memakan­nya, dan mereka memakan harta dengan jalan yang bathil (seperti memakan uang sogok, merampas harta orang yang lemah. Kemudian) Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS An Nisaa’ : 160-161). —————————– Dalam sejarahnya, orang Yahudi adalah kaum yang sejak dahulu berusaha dengan segala cara menghalangi manusia untuk tidak melaksana­kan syariat Allah SWT. Mereka membu­nuh para nabi, berusaha mengubah bentuk dan isi Taurat dan Injil, serta menghalalkan apa saja yang telah diharamkan Allah SWT, misalnya menghalalkan hubungan seksual antara anak dengan ayah, membolehkan adanya praktek sihir, meng­halalkan riba sehingga terkenallah dari dahulu sampai sekarang bahwa antara Yahudi dengan perbuatan riba adalah susah dipisahkan. ——————– Tentang eratnya antara riba dengan gerak kehidupan kaum Yahudi, kita dapat mengetahuinya di dalam kitab suci mereka: “Jikalau kamu memberikan pinjaman uang kepada umatku, yaitu kepada orang-orang miskin yang ada di antara kamu, maka janganlah kamu menjadikan baginya sebagai orang pena­gih hutang yang keras, dan janganlah mengambil bunga dari­padanya” (Keluaran, 22:25). ————————- Dalam kitab Imamat (orang Lewi), tersebut pula la­rangan yang senada. Pada kitab tersebut disebutkan agar orang-orang Yahudi tidak mengambil riba dari kalangan kaum­nya sendiri: …………… “Maka jikalau saudaramu telah menjadi miskin dan tangannya gemetar besertamu ….., maka janganlah kamu mengambil daripadanya bunga dan laba yang terlalu (be­sar)…… jangan kamu memberikan uangmu kepadanya dengan memakai bunga …..” (Imamat 35-37). ————————- Jelaslah di dalam ayat-ayat tersebut bahwa orang-orang Yahudi telah dila­rang memakan riba (bunga). Namun dalam kenyataannya, mereka membangkang dan mengabaikan larangan tersebut. Mengapa mereka demikian berani melang­gar ketentuan hukum Taurat itu? Dalam hal ini, Buya Hamka (alm) mengutip dari buku Taurat pada kitab Ulangan pasal 23 ayat 20 : ———————————-

sangat JELAS sekali ….BUNGA BANK ADALAH RIBA ….. dalam Islam

———————————-
Sabda Rasululullah SAW, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai).
———————-

Pengantar————–
Dalam kehidupan kaum Muslimin yang semakin sulit ini, memang ada yang tidak memperduli­kan lagi masalah halal dan haramnya bunga bank. Bahkan ada pendapat yang terang-terangan menghalalkannya. Ini dikarenakan keterlibatan kaum Muslimin dalam sistem kehidupan Sekularisme-Kapital­isme Barat serta sistem Sosialisme-Atheisme. Bagi yang masih berpegang teguh kepada hukum Syariat Islam, maka berusaha agar kehidupannya berdiri di atas keadaan yang bersih dan halal. Namun karena umat pada masa sekarang adalah umat yang lemah, bodoh, dan tidak mampu membeda-bedakan antara satu pendapat dengan pendapat lain­nya, maka mereka saat ini menjadi golongan yang paling bingung, diombang-ambing oleh berbagai pendapat dan pemikiran.
————————-
Dalam tulisan yang singkat ini, ada beberapa aspek yang ingin diketengahkan tentang seputar masalah riba : ……………….
————–
Pertama, bunga riba dalam tinjauan sejarah. Akan dijelaskan secara singkat peran Bani Israil dan tingkah laku mereka dalam masalah riba.
——————–
Kedua, diketengahkan kela­kuan orang-orang Yahudi dalam mengubah syariatnya sendiri (Hukum Allah SWT). Secara singkat akan dipaparkan peran kaum Yahudi dalam menghalalkan riba.
—————-
Ketiga, masih dalam kerangka tingkah laku kaum Yahudi, diceritakan juga serba sedikit usaha-usaha mereka dalam membangun jaringan kehi­dupan dalam bidang ekonomi dan keuangan dunia, khususnya dalam bidang moneter dan perbankan.
———————–
Keempat, mengetengah­kan bagaimana bank pada awalnya berdiri, serta keterlibat­an umat Islam Indonesia dalam masalah perbankan pada deka­de awal abad XX sampai sekarang.
———————
Kelima, mengetengahkan usaha-usaha para tokoh masyarakat Islam (intelektual dan kaum modernis) dalam menghalalkan riba (bunga) bank.
——————–
Keenam, mengetengahkan hukum riba yang tetap haram sampai Hari Kiamat.
—————————

Riba dan Yahudi dalam Tinjauan Sejarah
———————–

Sejak dahulu, Allah SWT telah mengharamkan riba. Keharamannya adalah abadi dan tidak boleh diubah sampai Hari Kiamat. Bahkan hukum ini telah ditegaskan dalam sya­riat Nabi Musa as, Isa as, sampai pada masa Nabi Muhammad saw. Tentang hal tersebut, Al Qur-aan telah mengabarkan tentang tingkah laku kaum Yahudi yang dihukum Allah SWT akibat tindakan kejam dan amoral mereka, termasuk di da­lamnya perbuatan memakan harta riba.
——————————
Firman Allah SWT:

“….disebabkan oleh kezhaliman orang-orang Yahudi, maka Kami telah haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) telah dihalalkan bagi mereka; dan (juga) karena mereka banyak menghalangi (manu­sia) dari jalan Allah; serta disebabkan mereka memakan riba. Padahal sesungguhnya mereka telah dilarang memakan­nya, dan mereka memakan harta dengan jalan yang bathil (seperti memakan uang sogok, merampas harta orang yang lemah. Kemudian) Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS An Nisaa’ : 160-161).
—————————–

Dalam sejarahnya, orang Yahudi adalah kaum yang sejak dahulu berusaha dengan segala cara menghalangi manusia untuk tidak melaksana­kan syariat Allah SWT. Mereka membu­nuh para nabi, berusaha mengubah bentuk dan isi Taurat dan Injil, serta menghalalkan apa saja yang telah diharamkan Allah SWT, misalnya menghalalkan hubungan seksual antara anak dengan ayah, membolehkan adanya praktek sihir, meng­halalkan riba sehingga terkenallah dari dahulu sampai sekarang bahwa antara Yahudi dengan perbuatan riba adalah susah dipisahkan.
——————–
Tentang eratnya antara riba dengan gerak kehidupan kaum Yahudi, kita dapat mengetahuinya di dalam kitab suci mereka:

“Jikalau kamu memberikan pinjaman uang kepada umatku, yaitu kepada orang-orang miskin yang ada di antara kamu, maka janganlah kamu menjadikan baginya sebagai orang pena­gih hutang yang keras, dan janganlah mengambil bunga dari­padanya” (Keluaran, 22:25).
————————-

Dalam kitab Imamat (orang Lewi), tersebut pula la­rangan yang senada. Pada kitab tersebut disebutkan agar orang-orang Yahudi tidak mengambil riba dari kalangan kaum­nya sendiri: ……………

“Maka jikalau saudaramu telah menjadi miskin dan tangannya gemetar besertamu ….., maka janganlah kamu mengambil daripadanya bunga dan laba yang terlalu (be­sar)…… jangan kamu memberikan uangmu kepadanya dengan memakai bunga …..” (Imamat 35-37).
————————-

Jelaslah di dalam ayat-ayat tersebut bahwa orang-orang Yahudi telah dila­rang memakan riba (bunga). Namun dalam kenyataannya, mereka membangkang dan mengabaikan larangan tersebut. Mengapa mereka demikian berani melang­gar ketentuan hukum Taurat itu? Dalam hal ini, Buya Hamka (alm) mengutip dari buku Taurat pada kitab Ulangan pasal 23 ayat 20 :
———————————-

“Maka dari bangsa lain, kamu boleh mengambil bunga (riba). Tetapi dari saudaramu, maka tidak boleh kamu meng­ambilnya supaya diberkahi Tuhan Allahmu, agar kamu dalam segala perkara tanganmu mampu memegang negeri, (seperti) yang kamu tuju (cita-citakan) sekarang adalah hendaklah (kamu) mengambilnya sebagai bagian dari harta pusakamu”.

Berdasarkan kutipan di atas, Buya Hamka menarik kesimpulan bahwa ayat tersebut telah menjadi pe­gangan kaum Yahudi sedunia sampai sekarang. Mereka, biar­pun tidak duduk pada kursi pemerintahan di suatu negeri, tetapi merekalah yang justru menguasai pemerintahan negeri tersebut melalui bentuk pinjaman ribawi (membungakan uang­nya) yang menjerat leher.

Yahudi dan Penguasaan Moneter Internasional
Dalam sebuah penggalan naskah Protokolat, yaitu beru­pa strategi jahat Yahu­di, disebutkan bahwa kebangkrutan berbagai negara di bi­dang ekonomi adalah hasil kreasi gemilang mereka, misalnya dengan kredit (pinjaman) yang menjerat leher negara non-Yahudi yang makin lama makin terasa sakit. Mereka katakan bahwa bantuan luar negeri yang telah dilakukan boleh dika­takan laksana seonggok benalu yang mencerap habis segenap potensi perekonomian negara tersebut.
Memang dalam kenyataannya pada masa sekarang, orang-orang Yahudi telah berhasil menguasai sistem moneter in­ternasional, khususnya dalam bidang perbankan. Misalnya, penguasaan mereka terhadap pusat keuangan di Wallstreet (New York). Tempat ini merupakan pangsa bursa (uang) ter­besar di dunia. Sirkulasi keuangan di Amerika Serikat telah dikua­sai oleh orang-orang Yahudi sejak awal abad XX sampai sekarang.
Di samping itu, mereka juga menguasai bidang-bidang industri (yang umumnya dibutuhkan oleh orang banyak), perda­gangan internasional (dalam bentuk perusahaan-perusahaan raksasa), yang tersebar di seluruh Amerika, Eropa dan negeri-negeri di Asia dan Afrika. Sebagai misal, di Ameri­ka, orang-orang Yahudi menguasai perusahaan General Elec­tric, Fairstone, Standard Oil, Texas dan Mobil Oil. Dalam perdagangan valuta asing, maka setiap 10 orang broker, sembilan di antaranya adalah orang-orang yahudi.
Di Perancis, sebagian saham yang tersebar di berbagai bidang kehidupan adalah milik orang-orang Yahudi. Dalam menghancurkan moral di suatu negeri, orang-orang Yahudi dan antek-anteknya ikut andil; misalnya mengelola usaha Kasino, Nigth Club, atau perdagangan obat bius.

Umat Islam Indonesia dan Perbankan
Sistem perbankan telah muncul di dunia Islam sejak kedatangan penjajah Barat menyerbu ke berbagai negeri Islam. Di negeri-negeri jajahannya, mereka menerapkan sistem ekono­mi Kapitalisme yang bertumpu kepada sistem perbankan (riba).
Di Indonesia muncul bank pertama, yaitu Bank Priyayi, tahun 1846 di Purwokerto, dengan pendiri­nya Raden Bei Patih Aria Wiryaatmaja dari kalangan kera­ton. Kemudian secara meluas di berbagai daerah, berdiri Bank Rakyat (Volksbank); antara lain di Garut (1898), Sumatera Barat (1899), dan Menado (1899).
Dalam menanamkan sistem perbankan ini, penjajah Be­landa mendirikan Sentral Kas, tahun 1912, yang berfungsi sebagai pusat keuangan. Dari kalangan intelektual, didiri­kanlah Indonesische Studie Club di Surabaya tahun 1929. Kemudian Belanda, dalam menyuburkan sistem riba, mendiri­kan Algemene Volkscredit Bank (AVB) tahun 1934.
Pada tahun-tahun pertama setelah terusirnya pejajah Belanda dari Indonesia, didirikanlah Yayasan Pusat Bank Indonesia tahun 1945, yang menjadi cikal bakal Bank Indo­nesia sekaligus memberikan rekomendasi pendirian bank-bank yang ada. Mela­lui PP No.1, tahun 1946, lahirlah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pada tahun yang sama, menyusul berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI) 1946. Kemudian jumlah bank semakin bertambah banyak. Di antaranya Bank Industri Negara (BIN, 1952), Bank Bumi Daya (BBD, 19 Agus­tus 1959). Bank Pem­bangunan Industri (BPI, 1960), Bank Dagang Negara (BDN, 2 April 1960), Bank Export-Import Indonesia (Bank Exim) yang dinasionalisasikan pada 30 Nopember 1960. Pada tahun-tahun berikutnya sampai seka­rang, dunia perbankan tumbuh seperti jamur di musim hujan.
Secara garis besar, dunia perbankan di Indonesia didominasi oleh bank-bank yang menjadi Badan Usaha Milik Negara/BUMN (misalnya BNI 1946, BRI, BDN) dan bank-bank milik swasta. Untuk yang pertama, jumlahnya tidak terlalu ba­nyak. Tetapi untuk yang kedua, ia terbagi ke dalam tiga kategori; yaitu swasta asli Indonesia (misalnya Bank Susi­la Bakti, Bank Arta Pusara, Bank Umum Majapahit), swasta merger bank luar (misalnya Lippo Bank, BCA, Bank Summa), dan bank luar tulen (misalnya Chase Manhattan, Deutsche Bank, Hongkong Bank, Bank of America).
Untuk melihat perkembangan perbankan di Indonesia, saat ini telah dibangun sejumlah 2652 bank (tidak termasuk BRI dan BRI Unit Desanya). Menurut standard Ame­ri­ka diti­lik dari jumlah penduduk Indonesia, maka negeri ini masih memerlukan 7800 bank lagi.

Sistem Perbankan dan Organisasi Keagamaan
Sebelum tahun 1990-an umat Islam Indonesia belum terlibat lang­sung. Sistem ini sejak dahulu hanya diminati oleh kalangan konglomerat. Namun sejak diadakan pe­nandatangan kerja sama antara Bank Summa dengan Organisasi keagamaan NU tanggal 2 Juni 1990, maka umat Islam Indone­sia telah mulai dilibat­kan langsung dalam praktek perbank­an. Dalam perjanjian kerjasama tersebut telah disepakati untuk didirikan seba­nyak 2000 buah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia. Namun sebelumnya BPR telah berdiri tanggal 25 Februari 1990. BPR ini memberikan pinjaman kredit sebesar antara 100.000 sampai 500.000 rupiah dengan bunga 2,25% per bulan, untuk pengusaha /pedagang kecil, petani, dan untuk umum kredit tersebut berkisar antara 25 sampai 200 juta rupiah.
Rencana NU untuk mendirikan BPR sesungguhnya bukan masalah baru lagi. Ide itu telah ada dan dibahas berulang-ulang dalam berbagai kesempatan kongres besar NU. Pada awalnya NU mengharamkannya; kemudian memberikan alternatif fatwa yaitu haram, halal dan subhat; dan terakhir tanggal 22 Juli 1990, NU melalui Abdurrahman Wahid sebagai PB NU telah menghalalkannya.
Fatwa NU ini lalu diikuti oleh Muhammadiyah melalui AS Projokusumo (sebagai PB Muhammadiyah). Alasan yang dikemukannya adalah karena fatwa tersebut diputuskan mela­lui perdebatan para ulama yang dikenal telah mendalami masalah-masalah hukum Islam. Majelis Ulama Indonesia, melalui KH Hasan Basri, menyambut baik keputusan NU ini. Menurut beliau, keputusan tersebut dikeluarkan atas dasar musyawarah para ulama yang memahami hukum Islam.
Fatwa ini menimbulkan reaksi antara yang pro dan kontra di kalangan ulama dan intelektual Muslim. Dari kubu yang tidak setuju, muncullah pernyataan dari Dekan Fakul­tas Syariah IAIN Jakarta, Dr Peunoh Daly. Ia berkata bahwa bank yang dibentuk oleh NU maupun Muhammadiyah seha­rusnya bank yang Islami, bukan bank yang hanya menjadi alat untuk pemerataan riba. Beliau menandaskan bahwa sam­pai sekarang belumlah ada bank yang bersifat Islami di Indonesia. Ia merasa heran mengapa sistem muamalah yang telah diatur oleh Islam, yaitu sistem muamalah mudlarabah, qiradh dan salam itu tidak dihidupkan. “Akibatnya, umat Islam terje­rat ke dalam sistem bank yang mengandung riba”, celanya.
Di kalangan NU sendiri, ternyata ada suara yang tidak puas atas fatwa ini. Kalangan fungsionaris Syuriah PB NU, misalnya, menilai bahwa fatwa tersebut tidak sejalan dengan garis kebijakan mereka. Sebab, menurut mereka, NU seharusnya membentuk bank muamalah mudlarabah (berdagang bersama yang saling menguntungkan), bukan bank umum yang lebih cenderung menganut sistem rente.
Bagaimana silang pendapat di kalangan intelektual dan ulama modernis di negeri ini? Sesuaikah pendapat mereka dengan ketentuan syara’? Dapatkah pendapat mereka diteri­ma? Lebih jauh dari itu, apakah mereka boleh disebut muj­tahid atau lebih baik disebut sebagai muqallid?

Pendapat Intelektual dan Ulama Modernis
Di antara pekerjaan yang dikelola bank, maka yang menjadi topik permasalahan dalam Fikih Islam adalah soal bunga (rente) bank. Sebab, secara umum tujuan usaha bank adalah untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan kre­dit. Bank memberikan kredit kepada orang luar dengan me­mungut bunga melalui pembayaran kredit (yang jumlahnya lebih besar dari besarnya kredit). Selisih pembayaran yang biasanya disebut bunga, itulah yang menjadi keuntungan usaha bank.
Dalam masalah ini, para intelektual dan ulama moder­nis mempunyai pendapat yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang mereka. Ada segolongan dari mereka yang mengharamkannya karena bunga bank tersebut dipandang seba­gai riba. Tetapi segolongan lainnya menghalalkannya.
Ke dalam kubu pertama (yang mengharamkan bunga bank), tersebutlah Mahmud Abu Saud (Mantan Penasehat Bank Pakistan), berpendapat bahwa segala bentuk rente (bank) yang terkenal dalam sistem perekonomi­an seka­rang ini adalah riba. Lalu kita juga mendengar pendapat Muhammad Abu Zahrah, Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Hukum Universitas Cairo yang memandang bahwa riba Nasi’ah sudah jelas keharamannya dalam Al Qur-aan. Akan tetapi banyak orang yang tertarik kepada sistem perekono­mian orang Yahudi yang saat ini menguasai perekonomian dunia. Mereka memandang bahwa sistem riba itu kini bersi­fat daru­rat yang tidak mungkin dapat dielakkan. Lantas mereka mena’wilkan dan membahas makna riba. Padahal sudah jelas bahwa makna riba itu adalah riba yang dilakukan oleh semua bank yang ada dewasa ini, dan tidak ada keraguan lagi tentang keharamannya. Buya Hamka secara sederhana memberikan batasan bahwa arti riba adalah tambahan. Maka, apakah ia tambahan lipat-ganda, atau tambahan 10 menjadi 11, atau tambahan 6% atau tambahan 10%, dan sebagainya, tidak dapat tidak ten­tulah terhitung riba juga. Oleh karena itu, susahlah buat tidak mengatakan bahwa meminjam uang dari bank dengan rente sekian adalah riba. (Dengan demikian) menyimpan dengan bunga sekian (deposito) artinya makan riba juga.
Ke dalam kubu kedua (yang menghalalkan bunga bank), peminatnya kebanyakan berasal dari kalangan intelektual dan ulama modernis. Mereka me­mandang bahwa bunga bank yang berlaku sekarang ini dalam batas-batas yang wajar, tidaklah dapat dipandang haram. Tersebutlah A. Hasan, salah seorang pemuka Persatuan Islam (Persis), yang mengemukakan bahwa riba yang sudah tentu haramnya itu ialah yang sifatnya berganda dan yang membawa (menyebabkan) ia berganda. Menurut beliau, riba yang sedi­kit dan yang tidak membawa kepada berganda, maka itu bo­leh. Ia menambahkan bahwa riba yang tidak haram adalah riba yang tidak mahal (besar) dan yang berupa pinjaman untuk tujuan berdagang, bertani, berusaha, pertukangan dan sebagainya, yakni yang bersifat produktif.
Drs Syarbini Harahap berpendapat bahwa bunga kon­sumtif yang dipungut oleh bank tidaklah sama dengan riba. Karena, menurutnya, di sana tidak terdapat unsur pengania­yaan. Adapun jika bunga konsumtif itu di­pungut oleh lintah darat, maka ia dapat dipandang sebagai riba. Sebab, prak­tek tersebut memberikan kemungkinan ada­nya penganiayaan dan unsur pemerasan antarsesama warga masya­rakat, meng­ingat bahwa lintah darat hanya mengejar keuntungan untuk dirinya sendiri. Adapun jika bunga terse­but dipungut dari orang yang meminjam untuk tujuan-tujuan yang produktif seperti untuk perniagaan, asalkan saja tidak ada dalam teknis pemungutan tersebut unsur paksaan atau pemerasan, maka tidaklah salah dan tidak ada keharam­an padanya.
Pernyataan Syarbini Harahap ini dalam perkembangan selanjutnya, ternyata sama nadanya dengan apa yang difat­wakan NU via Abdurrahman wahid, atau lewat pernyataan Syafruddin Prawiranegara, Muhammad Hatta, Kasman Singodi­mejo, dan lain-lain.
Bertolak dari alasan bahwa transaksi kredit merupakan kegiatan perdagangan dengan uang sebagai komoditi, Dawan Rahardjo, mengatakan bahwa kalau transaksi kredit dilaku­kan dengan prinsip perdagangan (tijarah), maka hal terse­but dihalalkan. Riba yang tingkat bunganya berlipat ganda dan diharamkan itu perlu digantikan dengan mekanisme per­dagangan yang dihalalkan.
Berbagai pendapat dan fatwa yang berani tersebut dalam upaya menghalalkan riba dalam bentuk bunga bank telah melibatkan jutaan kaum Muslimin ke dalam ke­giatan perbankan. Walaupun demikian masih terdapat jutaan lainnya yang membenci praktek dan menjauhi dari memakan harta riba. Kebencian mereka terhadap praktek riba terse­but sama halnya dengan kebencian mereka memakan daging babi. Oleh karena itu masih banyak kalangan kaum Muslimin yang tidak mau meminjam dan menyimpan uang di bank karena takut terlibat riba, walaupun di kalangan kaum Muslimin tidak banyak mengerti sejauh mana aspek hukum dan kegiatan perbankan, serta banyak pula di antara mereka yang bingung terhadap hukum yang sebenarnya tentang riba (bunga) bank. Itu­lah fakta tentang keadaan umat Islam setelah umat ini diragukan dan dikaburkan pengertian mereka terhadap riba (bunga) bank.

Bolehkah Kita Menghalalkan Riba ?
Orang Islam yang awam sekalipun pasti tahu bahwa memakan harta riba adalah dosa besar. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa memakan harta riba termasuk dosa yang paling besar setelah dosa syirik, praktek sihir, membunuh, dan memakan harta anak yatim. Malah dalam sebuah Hadits lainnya disebutkan bahwa perbuatan riba itu derajatnya 36 kali lebih besar dosanya dibandingkan dengan dosa berzina. Rasul SAW bersabda :

“Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali daripada perbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam)” (HR Al Baihaqy, dari Anas bin Malik).

Oleh karena itu, tidak ada satupun perbuatan yang lebih dilaknat Allah SWT selain riba. Sehingga Allah SWT memberikan peringatan yang keras bahwa orang-orang yang memakan riba akan diperangi (QS Al Baqarah : 279).
Jika pada awalnya riba yang diharamkan hanya yang berlipat ganda, akan tetapi sebelum Rasulullah saw wafat, telah diturunkan yaitu ayat-ayat riba (QS Al Baqarah dari ayat 278-281) yang menurut asbabun nuzul-nya merupakan ayat-ayat terakhir dari Al Qur-aan. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut ditegaskan bahwa riba, baik kecil maupun besar, berlipat ganda atau tidak, maka ia tetap diharamkan sampai Hari Kiamat. Lebih dari itu, melalui ayat 275 dari rang­kaian ayat-ayat terse­but, Allah SWT telah mengharamkan segala jenis riba, ter­masuklah di antaranya riba (bunga) bank:

“Mereka berkata (berpendapat bahwa) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba; padahal Allah telah menghalal­kan jual beli dan telah mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada mereka larangan tersebut dari Rabbnya lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya (dipungut) pada waktu dulu (se­belum datangnya larang ini) dan urusannya (terserah) Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang mengulangi (meng­ambil riba), maka orang-orang tersebut adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah : 275).

Dalam hal ini, Ibnu Abbas berkata:

“Siapa saja yang masih tetap mengambil riba dan tidak mau meninggalkannya, maka telah menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Kepala Negara Islam) untuk menasehati orang-orang tersebut. Tetapi kalau mereka masih tetap membandel, maka seorang Imam dibolehkan memenggal lehernya”.

Juga Al Hasan bin Ali dan Ibnu Sirin berkata:

“Demi Allah, orang-orang yang memperjualbelikan mata-uang (money changer) adalah orang-orang yang memakan riba. Mereka telah diingatkan dengan ancaman akan diperangi oleh Allah dan RasulNya. Bila ada seorang Imam yang adil (Kepa­la Negara Islam), maka si Imam harus memberikan nasehat agar orang tersebut bertaubat (yaitu meninggalkan riba). Bila orang-orang tersebut menolak, maka mereka tersebut wajib diperangi”.

Apa sesungguhnya riba itu? Secara global dapatlah disebutkan bahwa definisi riba adalah :
“Tambahan yang terdapat dalam akad yang berasal dari salah satu pihak, baik dari segi (perolehan) uang, materi/barang, dan atau waktu, tanpa ada usaha dari pihak yang menerima tambahan tersebut”.
Definisi ini kiranya mampu mencakup semua jenis dan bentuk riba, baik yang pernah ada pada masa jahiliyah (riba Fadhal, riba Nasi’ah, riba Al Qardh), maupun riba yang ada pada masa sekarang ini, seperti riba bank yang mencakup bunga dari pinjaman kredit, investasi deposito, jual-beli saham dan surat berharga lainnya, dan atau riba jual-beli barang dan uang. Untuk riba yang terakhir ini contohnya banyak dan dapat berkembang pada setiap masa.
Berdasarkan definisi ini, maka walaupun nama dan jenisnya berbeda namun riba dapat mencakup banyak macam yang kiranya melebihi 73 macam menurut keterangan dari Hadits Rasulullah saw. Rasulullah saw melalui penglihatan ghaib yang bersandarkan kepada wahyu, telah mengetahui bahwa suatu saat nanti umat Islam akan menghalalkan riba dengan alasan perdagangan (bisnis), seperti yang tertera pada hadits pembuka tulisan ini. Lebih dari itu, beliau telah diberitahukan bahwa riba pada masa yang akan datang (misalnya zaman sekarang dan seterusnya) akan meliputi berbagai aktivitas bidang kehidupan ekonomi dan keuangan yang akhirnya akan melibatkan seluruh kaum Muslimin. Sabda Rasulullah saw:

“Riba itu mempunyai 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (HR Ibnu Majah, hadits No.2275; dan Al Hakim, Jilid II halaman 37; dari Ibnu Mas’ud, dengan sanad yang shahih).

Juga sabda Rasulullah saw:

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya” (HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah).

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa segala bentuk dan jenis riba adalah haram tanpa melihat lagi apakah riba tersebut telah ada pada masa jahiliyah atau riba yang muncul pada zaman sekarang. Pengertian ini ditegaskan pada ayat 275 surat Al Baqa­rah tersebut isinya bersifat umum, yakni hukumnya mencakup semua bentuk dan jenis riba; baik yang nyata maupun ter­sembunyi, sedikit persentasenya atau berlipat ganda, kon­sumtif maupun produktif.
Lafazh yang bersifat umum menurut kaidah Ushul Fiqih tidaklah boleh dibatasi dan disempitkan pengertiannya. Kaidah Ushul itu berbunyi:

“Lafazh umum akan tetap bersifat umum selama tidak terdapat dalil (syar’iy) yang mentakhsishkannya (yang mengecualikannya)”.

Dalam hal ini tidak terdapat satu ayat maupun hadits yang menghalalkan sebagian dari bentuk dan jenis riba (mi­salnya riba produktif), dan atau hanya mengharamkan sebagian yang lainnya (misalnya riba yang berlipat ganda, konsum­tif, riba lintah darat). Dengan demikian, telah jelas bagi kita bahwa semua bentuk dan jenis riba adalah haram dan tetap haram sampai Hari Kiamat. Oleh karena itu, atas dasar apa para intelektual dan ulama modernis sampai bera­ni menghalalkan riba bunga bank? Mereka telah berani mem­beda-bedakan halal-haramnya berdasarkan sifat konsumtif dan produktif, padahal Allah SWT dan Rasul-Nya tidak pernah membeda-bedakan bentuk dan jenis riba. Tidak ada satupun illat (sebab ditetapkannya hukum) bagi keharaman riba. Apakah kaum intelektual dan ulama modernis ingin mengubah hukum Allah SWT dari haram menjadi halal hanya karena faktor kemaslahatan, semisal untuk pembangunan, mengatasi kemiskinan; atau karena pada masa sekarang kegiatan per­bankan yang berlandaskan kepada aktivitas riba sudah mera­jalela dalam masyarakat kaum Muslimin?
Barangkali kaum intelektual dan ulama modernis tidak takut lagi kepada ancaman dan siksa dari Allah SWT:

“Bila muncul perzinaan dan berbagai jenis dan bentuk riba di suatu kampung, maka benar-benar orang sudah meng­abaikan (tak perduli) sama sekali terhadap siksa dari Allah yang akan menimpa mereka (pada suatu saat nanti)” (HR Thabrani, Al Hakim, dan Ibnu Abbas; Lihat Yusuf An Nabahani, Fath Al Kabir, Jilid I, halaman 132).

Pendapat dan fatwa yang muncul dari kalangan intelek­tual dan ulama modernis sesungguhnya tidak pada tempatnya dan tidak pula memenuhi syarat bagi orang yang berwe­nang untuk berijtihad serta tidak layak disebut sebagai ulama mujtahid. Oleh karena itu mereka tidak berhak mengeluarkan fatwa, apalagi untuk mengubah hukum Allah SWT dan Rasul-Nya !
Umat Islam diperintahkan untuk menolak setiap fatwa yang tidak berlandaskan kepada syariat Islam. Kita wajib menolaknya, bahkan wajib dicegah setiap hukum yang berlandaskan kepada akal dan hawa nafsu. Sebab, manusia tidak berhak menentukan satu hukumpun. Ia harus tunduk kepada hukum Allah SWT dan RasulNya semata. Bila kita menaati intelek­tual dan ulama modernis yang menghalalkan riba, maka itu sama artinya kita menjadikan mereka sebagai Tuhan yang disembah. Itulah yang pernah dikatakan oleh Rasulullah saw kepada ‘Adiy bin Hatim, ketika beliau menyampaikan firman Allah SWT:

“Mereka mengangkat pendeta-pendeta dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Mariyam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Satu: Tiada Tuhan kecuali Dia. Maha Suci (Allah SWT) dari yang mereka persekutukan” (QS At Taubah : 31).

Kemudian Adiy bin Hatim berkata :

“Kami tidak menyembah mereka (para Rahib dan Pendeta) itu”. Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya mereka telah menghalalkan apa yang telah dahulu diharamkan, mengharam­kan apa yang telah dihalalkan, lalu kalian menaati mereka. Itulah bentuk penyembahan kalian terhadap mereka” (HR Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Jarir, dari ‘Adiy bin Hatim. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, halaman 349).

Apakah umat Islam ingin menjadikan ulama seperti di atas sebagai Tuhan sesembahan yang berhak menentukan halal dan haramnya sesuatu perbuatan?
Ya Allah, kami sudah menyampaikannya. Saksikanlah !

ANCAMAN dari ALLAH SWT …. Bagi Orang yang MENINGGALKAN JIHAD ———————- JIHAD ADA TIGA MACAM …….. 1. Jihad melawan musuh yang nyata………….. 2. Jihad melawan setan………….. 3. Jihad melawan hawa nafsu………….. —————- 1. Disiksa dengan azab yang pedih Allah Ta’ala berfirman, Artinya,“ Wahai kaum mukmin, mengapa kalian merasa sangat keberatan ketika diperintahkan kepada kalian: “Pergilah berjihad guna membela Islam?” Apa­kah kalian lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kesenangan dunia hanyalah sangat sedikit jika dibandingkan de­ngan kesenangan di akhirat. Wahai kaum mukmin, jika kalian tidak mau pergi berperang, maka Allah akan mengadzab kalian dengan adzab yang pedih. Allah akan mengganti kalian dengan kaum lain yang mau berjihad, dan kalian sedikit pun tidak akan dapat merugikan Rasul Allah. Allah Mahakuasa mengatur semua­nya.” (QS. at-Taubah, 9: 38-39) —————————– 2. Ditimpa kehinaan yang sangat parah dan kehinaan itu tidak akan hilang sehingga mereka kembali berjihad إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ Artinya,“Bila kamu berjual-beli dengan ‘inah (dengan cara riba’ dan penipuan), mengikuti ekor-ekor lembu, menyukai bercocok-tanam, dan kamu meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kamu yang tidak akan dicabut sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (HR. Abu Dawud, Silsilah Al-Ahaadits ash-Shahihah Al-Albani no.10-11) ——————— Abu Bakar ash-Siddiq berkata, أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  عَامُ أَوَّل فِيْ هَذَا الشَّهْرِ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُوْلُ: مَا تَرَكَ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللهُ وَمَا تَرَكَ قَوْمٌ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْي عَنِ الْمُنْكَرِ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ. Artinya, “Wahai manusia sesungguhnya pada tahun pertama di dalam bulan seperti bulan ini aku telah mendengar Rasulullah berbicara diatas mimbar, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah melainkan Allah hinakan mereka, dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar-ma’ruf dan nahi-munkar melainkan Allah ratakan azab atas mereka.” (HR. Said bin Mansur) ——————————- 3. Ditimpakan kefakiran Sya’bi berkata, لَمَّا بويع أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْق صَعَدَ الْمِنْبَرَ فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَقَالَ فِيْهِ: لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ. Artinya,“Ketika Abu Bakar as-Shiddiq naik mimbar, beliau menyebutkan hadits dan di dalam hadits itu beliau mengatakan, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah, melainkan Allah timpakan kefakiran terhadap mereka.” (HR. Ibnu ‘Asakir) ——————- Kefakiran yang dimaksud tersebut bukanlah kefakiran dalam harta benda semata, tetapi dominasinya ialah fakir jiwa, sehingga mereka sangat takut dan gentar berhadapan dan menentang musuh-musuh Allah Ta’ala dan musuh-musuh mereka. Di dalam hadits shahih, Rasulullah menerangkan apa yang dimaksud dengan kaya, لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. Artinya,“Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kaya yang sebenarnya adalah jiwa yang kaya.” (HR. Bukhari) ————————————- Itulah definisi kaya yang sebenarnya, sedangkan manusia yang kita saksikan pada masa sekarang ini, ketika mereka telah berpaling daripada jihad, dan berganti dengan menghadapkan perhatiannya kepada berbagai usaha yang berbeda-beda—apatah perkara itu mubah maupun haram, Allah timpakan atas mereka kefakiran hati, terlalu tamak dan sangat bakhil, pelit dan kikir. Sehingga mereka banyak menolak kewajiban dan banyak memakan barang haram seperti hasil ruswah (sogokan) dan sebagainya. Dunia atau harta yang sedikit bagi mereka merupakan sesuatu yang membuat mereka sangat bimbang. Allah Ta’ala jadikan mereka hina karena tamak dan rakus, sehingga tidaklah sekali-kali engkau jumpai salah seorang dari mereka yang beranggapan bahwa rezekinya itu datang dari arah dirinya, melainkan ia telah dikuasai oleh kehinaan dan telah diperhamba oleh ketamakan dan rasa takut kehilangan rezeki. ——————————- 4. Orang yang mengatakan bahwa sekarang bukanlah zaman jihad, dilaknat oleh Allah Ta’ala, malaikat dan manusia Sesungguhnya Rasulullah bersabda, لاَ يَزَالُ الْجِهَادُ حُلْوًا خَضِراً مَا قَطرَ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ وَسَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَقُوْلُ فِيْهِ قُرَّاء مِنْهُمْ: لَيْسَ هَذَا بِزَمَانِ جِهَادٍ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَنِعْمَ الزَّمَانُ الْجِهَادُ ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَو أَحَدٌ يقُوْلُ ذَلِكَ ؟ قَالَ: نَعَمْ ، مَنْ لَعَنَهُ اللهُ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالنَّاسُ أَجْمَعُوْنَ. Artinya, “Jihad itu akan senantiasa manis dan segar selama hujan turun dari langit. Akan datang suatu zaman pada manusia, yang pada zaman itu ada ulama diantara mereka yang mengatakan, “Sekarang itu bukan zaman jihad lagi.” Siapa yang mengalami zaman tersebut, maka sebaliknya—zaman itu adalah jihad.” Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, adakah orang yang berkata semacam itu?” Beliau saw menjawab, “Ya, yaitu orang yang dilaknat oleh Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (HR. Said bin Mansur) —————————————– 5. Orang yang mati sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka ia mati pada satu cabang kemunafikan Rasulullah bersabda, مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ Artinya, “Barangsiapa yang mati (muslim), sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak pernah tergerak hatinya untuk berperang, maka ia mati pada satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim) 6. Orang yang tidak berperang, atau tidak membantu perlengkapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang pergi berperang dengan baik, ia akan ditimpa kegoncangan sebelum hari kiamat مَنْ لَمْ يَغْزُ أَوْ يُجَهِّزْ غَازِيًا أَوْ يَخْلُفْ غَازِيًا فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ أَصَابَهُ اللَّهُ بِقَارِعَةٍ ». قَالَ يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ فِى حَدِيثِهِ : قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ Artinya,“Siapa yang tidak berperang dan tidak membantu persiapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, niscaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan.” Yazid bin Abdu Rabbihi berkata, “Didalam hadits yang diriwayatkannya ada perkataan, “Sebelum hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir) ——————————————— Demikian pentingnya seorang mukmin mengetahui dan menyadari urgensi dakwah dan jihad dalam kehidupannya. Zaman kehidupan dimana saat ini manusia berada dalam kegelisahan dan kebingungan, serta ketandusan hati. Zaman dimana manusia bergerak cepat untuk berlomba memenuhi perutnya dan menghiasi dunianya. Maka seorang muslim yang benar-benar mencintai Islam dan keislamannya, ia bersifat totalitas menjadikan syari’at-Nya sebagai pedoman dan tatanan hidupnya, ia rela untuk hidup di bawah naungannya, ia bersedia berkorban dengan materi dan jiwanya demi tegaknya dinullah. ——————————- Mari camkan perintah Allah Ta’ala, Artinya, “Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah, 2:208) ————————————-

NO JIHAD azab pedih

ANCAMAN dari ALLAH SWT ….  Bagi Orang yang MENINGGALKAN JIHAD

———————-
JIHAD ADA TIGA MACAM ……..
1. Jihad melawan musuh yang nyata.………….
2. Jihad melawan setan…………..
3. Jihad melawan hawa nafsu…………..
———————————-

Tiga macam jihad ini termaktub di dalam Al-Qur-an, di antaranya:
——————————–
Firman Allah Azza wa Jalla,

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orangorang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur-an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia-lah Pelindungmu; Dia sebaikbaik pelindung dan sebaikbaik penolong.” [Al-Hajj/22 : 78]

—————————————-

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [At-Taubah/9: 41]
———————————
Juga firmanNya.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Anfaal/8: 72]
——————————————

Menurut al-Hafizh Ahmad binAli bin Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (wafat th. 852 H), “Jihad menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir.”
———————————-

Istilah jihad digunakan juga untuk melawan hawa nafsu, melawan setan, dan melawan orang-orang fasik. Adapun melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama Islam (belajar dengan benar), lalu mengamalkannya, kemudian mengajarkannya. Adapun jihad melawan setan dengan menolak segala syubhat dan syahwat yang selalu dihiasi oleh setan. Jihad melawan orang kafir dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq dengan tangan, lisan, dan hati.
———————————-

Perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam,

جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ.

Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.”[Shahih: HR. Ahmad (III/124), an-Nasa-i (VI/7), dan al-Hakim (II/81), dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.]
————————–

ANCAMAN dari ALLAH SWT ….  Bagi Orang yang MENINGGALKAN JIHAD
———————————– yaitu:

1. Disiksa dengan azab yang pedih Allah Ta’ala berfirman, Artinya,“ Wahai kaum mukmin, mengapa kalian merasa sangat keberatan ketika diperintahkan kepada kalian: “Pergilah berjihad guna membela Islam?” Apa­kah kalian lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kesenangan dunia hanyalah sangat sedikit jika dibandingkan de­ngan kesenangan di akhirat. Wahai kaum mukmin, jika kalian tidak mau pergi berperang, maka Allah akan mengadzab kalian dengan adzab yang pedih. Allah akan mengganti kalian dengan kaum lain yang mau berjihad, dan kalian sedikit pun tidak akan dapat merugikan Rasul Allah. Allah Mahakuasa mengatur semua­nya.” (QS. at-Taubah, 9: 38-39)
—————————–
2. Ditimpa kehinaan yang sangat parah dan kehinaan itu tidak akan hilang sehingga mereka kembali berjihad إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ Artinya,“Bila kamu berjual-beli dengan ‘inah (dengan cara riba’ dan penipuan), mengikuti ekor-ekor lembu, menyukai bercocok-tanam, dan kamu meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kamu yang tidak akan dicabut sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (HR. Abu Dawud, Silsilah Al-Ahaadits ash-Shahihah Al-Albani no.10-11)
———————
Abu Bakar ash-Siddiq berkata, أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  عَامُ أَوَّل فِيْ هَذَا الشَّهْرِ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُوْلُ: مَا تَرَكَ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللهُ وَمَا تَرَكَ قَوْمٌ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْي عَنِ الْمُنْكَرِ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ. Artinya, “Wahai manusia sesungguhnya pada tahun pertama di dalam bulan seperti bulan ini aku telah mendengar Rasulullah berbicara diatas mimbar, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah melainkan Allah hinakan mereka, dan tidaklah suatu kaum meninggalkan amar-ma’ruf dan nahi-munkar melainkan Allah ratakan azab atas mereka.” (HR. Said bin Mansur)
——————————-

3. Ditimpakan kefakiran Sya’bi berkata, لَمَّا بويع أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْق صَعَدَ الْمِنْبَرَ فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَقَالَ فِيْهِ: لاَ يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ ضَرَبَهُمُ الله بِالْفَقْرِ. Artinya,“Ketika Abu Bakar as-Shiddiq naik mimbar, beliau menyebutkan hadits dan di dalam hadits itu beliau mengatakan, “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah, melainkan Allah timpakan kefakiran terhadap mereka.” (HR. Ibnu ‘Asakir)
——————-
Kefakiran yang dimaksud tersebut bukanlah kefakiran dalam harta benda semata, tetapi dominasinya ialah fakir jiwa, sehingga mereka sangat takut dan gentar berhadapan dan menentang musuh-musuh Allah Ta’ala dan musuh-musuh mereka. Di dalam hadits shahih, Rasulullah menerangkan apa yang dimaksud dengan kaya, لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ. Artinya,“Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kaya yang sebenarnya adalah jiwa yang kaya.” (HR. Bukhari)
————————————-
Itulah definisi kaya yang sebenarnya, sedangkan manusia yang kita saksikan pada masa sekarang ini, ketika mereka telah berpaling daripada jihad, dan berganti dengan menghadapkan perhatiannya kepada berbagai usaha yang berbeda-beda—apatah perkara itu mubah maupun haram, Allah timpakan atas mereka kefakiran hati, terlalu tamak dan sangat bakhil, pelit dan kikir. Sehingga mereka banyak menolak kewajiban dan banyak memakan barang haram seperti hasil ruswah (sogokan) dan sebagainya. Dunia atau harta yang sedikit bagi mereka merupakan sesuatu yang membuat mereka sangat bimbang. Allah Ta’ala jadikan mereka hina karena tamak dan rakus, sehingga tidaklah sekali-kali engkau jumpai salah seorang dari mereka yang beranggapan bahwa rezekinya itu datang dari arah dirinya, melainkan ia telah dikuasai oleh kehinaan dan telah diperhamba oleh ketamakan dan rasa takut kehilangan rezeki.
——————————-
4. Orang yang mengatakan bahwa sekarang bukanlah zaman jihad, dilaknat oleh Allah Ta’ala, malaikat dan manusia Sesungguhnya Rasulullah bersabda, لاَ يَزَالُ الْجِهَادُ حُلْوًا خَضِراً مَا قَطرَ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ وَسَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَقُوْلُ فِيْهِ قُرَّاء مِنْهُمْ: لَيْسَ هَذَا بِزَمَانِ جِهَادٍ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَنِعْمَ الزَّمَانُ الْجِهَادُ ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَو أَحَدٌ يقُوْلُ ذَلِكَ ؟ قَالَ: نَعَمْ ، مَنْ لَعَنَهُ اللهُ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالنَّاسُ أَجْمَعُوْنَ. Artinya, “Jihad itu akan senantiasa manis dan segar selama hujan turun dari langit. Akan datang suatu zaman pada manusia, yang pada zaman itu ada ulama diantara mereka yang mengatakan, “Sekarang itu bukan zaman jihad lagi.” Siapa yang mengalami zaman tersebut, maka sebaliknya—zaman itu adalah jihad.” Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, adakah orang yang berkata semacam itu?” Beliau saw menjawab, “Ya, yaitu orang yang dilaknat oleh Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (HR. Said bin Mansur)
—————————————–
5. Orang yang mati sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak tergerak hatinya untuk berperang, maka ia mati pada satu cabang kemunafikan Rasulullah bersabda, مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ Artinya, “Barangsiapa yang mati (muslim), sedangkan ia belum pernah berperang dan tidak pernah tergerak hatinya untuk berperang, maka ia mati pada satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim) 6. Orang yang tidak berperang, atau tidak membantu perlengkapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang pergi berperang dengan baik, ia akan ditimpa kegoncangan sebelum hari kiamat مَنْ لَمْ يَغْزُ أَوْ يُجَهِّزْ غَازِيًا أَوْ يَخْلُفْ غَازِيًا فِى أَهْلِهِ بِخَيْرٍ أَصَابَهُ اللَّهُ بِقَارِعَةٍ ». قَالَ يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ فِى حَدِيثِهِ : قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ Artinya,“Siapa yang tidak berperang dan tidak membantu persiapan orang yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, niscaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan.” Yazid bin Abdu Rabbihi berkata, “Didalam hadits yang diriwayatkannya ada perkataan, “Sebelum hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir)
———————————————
Demikian pentingnya seorang mukmin mengetahui dan menyadari urgensi dakwah dan jihad dalam kehidupannya. Zaman kehidupan dimana saat ini manusia berada dalam kegelisahan dan kebingungan, serta ketandusan hati. Zaman dimana manusia bergerak cepat untuk berlomba memenuhi perutnya dan menghiasi dunianya. Maka seorang muslim yang benar-benar mencintai Islam dan keislamannya, ia bersifat totalitas menjadikan syari’at-Nya sebagai pedoman dan tatanan hidupnya, ia rela untuk hidup di bawah naungannya, ia bersedia berkorban dengan materi dan jiwanya demi tegaknya dinullah.
——————————-
Mari camkan perintah Allah Ta’ala, Artinya, “Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah, 2:208)
————————————-

KEUTAMAAN JIHAD

——————-
1. Jihad fi sabilillah adalah martabat tertinggi dalam Islam Rasulullah bersabda,
رَأْسُ هَذَا الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَمَنْ أَسْلَمَ سَلِمَ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ اْلجِهَادُ، لاَ يَنَالُهُ إِلاَّ أَفْضَلُهُمْ.
Artinya, “Pokok urusan ini adalah Islam, siapa yang masuk Islam pasti ia selamat, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad yang tidak dapat diraih kecuali orang yang paling utama diantara mereka.”(HR. Thabrani)

2. Mujahidin lebih tinggi derajatnya daripada selainnya Allah Ta’ala berfirman, Artinya,
“Orang-orang mukmin yang tinggal di rumah tidak mau ikut berperang, padahal tidak ada halangan baginya, ia tidak sama martabatnya dengan orang-orang mukmin yang berjihad untuk membela Islam dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya satu derajat daripada orang-orang yang tetap tinggal di rumah. Masing-masing telah Allah berikan janji pahala di akhirat. Allah lebihkan orang-orang yang berjihad dengan pahala yang sangat besar daripada orang-orang yang tetap tinggal di rumah. Di surga, Allah lebihkan orang-orang yang berjihad beberapa derajat. Allah juga berikan pengampunan dan rahmat kepada mereka. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada orang mukmin yang tetap tinggal di rumah.” (QS. an-Nisaa’, 4 : 95-96)

3. Jihad adalah ibadah dan amal yang paling istimewa Allah Ta’ala berfirman, Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian perdagangan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih di akhirat? Perdagangan itu adalah kalian beriman kepada Allah, beriman ke­pada Rasul-Nya dan kalian berjihad untuk membela Islam dengan harta kalian dan jiwa kalian. Keimanan dan jihad itu adalah lebih baik bagi kalian, jika kalian benar-benar menyadari beratnya adzab akhirat. Allah akan mengampuni semua dosa kalian. Allah memasukkan kalian ke dalam surga-surga. Surga-surga itu di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah memasuk­kan kalian ke tempat tinggal yang indah dalam surga ‘Adn. Itu semua adalah kemenangan yang besar. Hal lain yang kalian inginkan adalah pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Wahai Muhammad, berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.“ (QS. as-Shaaf, 61 :10-13) Abu Hurairah ra berkata ketika Rasulullah ditanya,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ ؟ فَقَالَ: إِيمَانٌ بِاللهِ وَرَسُولِهِ. قِيلَ ثُمَّ مَاذَا ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ. قِيلَ ثُمَّ مَاذَا ؟ قَالَ: حَجٌّ مَبْرُورٌ. Artinya,“Apakah amal yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya lagi, “Kemudian amal apalagi?” Beliau menjawab, “Al-jihad fi sabilillah.” Beliau ditanya lagi, “Kemudian amal apalagi?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (HR. Bukhari-Muslim) Pada hadits lain, Abu Hurairah ra berkata ketika Rasulullah ditanya, عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ « لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ ». قَالَ فَأَعَادُوا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ « لاَ تَسْتَطِيعُونَهُ ». وَقَالَ فِى الثَّالِثَةِ « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لاَ يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلاَ صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى Artinya,“Ya Rasulullah, amal apa yang dapat menyamai jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Kamu tidak akan sanggup melaksanakannya.” Pertanyaan itu diulang sampai tiga kali sedangkan jawaban Nabi sawtetap sama, “Engau tidak akan sanggup melaksanakannya.” Kemudian beliau saw bersabda, “Perumpamaan orang yang berjihad fi sabilillah itu seperti orang yang puasa dan shalat, serta membaca ayat-ayat Allah dan ia tidak berbuka dari puasanya dan tidak berhenti dari shalatnya sehingga orang yang berjihad fi sabilillah itu kembali.” (HR. Muslim) Berikut pula hadits yang serupa, جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يَعْدِلُ الْجِهَادَ قَالَ لَا أَجِدُهُ قَالَ هَلْ تَسْتَطِيعُ إِذَا خَرَجَ الْمُجَاهِدُ أَنْ تَدْخُلَ مَسْجِدَكَ فَتَقُومَ وَلَا تَفْتُرَ وَتَصُومَ وَلَا تُفْطِرَ قَالَ وَمَنْ يَسْتَطِيعُ ذَلِكَ Artinya,“Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku amalan yang dapat menyamai jihad?” Beliau menjawab, “Saya tidak menemukannya.” Kemudian beliau saw bersabda,”Apakah engkau mampu jika orang berjihad itu pergi untuk berjihad, engkau masuk masjid kemudian shalat dan tidak berhenti, dan puasa tidak berbuka hingga orang yang berjihad itu kembali?” Kemudian orang itu berkata, “Siapakah yang mampu melaksanakan demikian?” (HR. Bukhari)

4. Jihad di jalan Allah adalah jalan utama bagi tegaknya daulah Islamiyah Allah Ta’ala berfirman, Artinya, “Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian sampai rintangan terhadap pelaksanaan syari’at Islam lenyap, dan manusia mengikuti agamanya semata-ma­ta karena taat kepada Allah. Jika musuh-musuh kalian mau berhenti dari merintangi pelaksanaan syari’at Islam, maka antara kalian dengan mereka tidak ada alasan untuk bermusuhan. Ber­musuhan dibolehkan hanya terhadap orang-orang yang melakukan gangguan pelaksanaan syari’at.” (QS. al-Baqarah, 2:193)

5. Jihad fi sabilillah menjamin seseorang masuk surga, diampuni segala dosa, dan diberi kemenangan dunia dan akhirat Allah Ta’ala berfirman Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian perdagangan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih di akhirat? Perdagangan itu adalah kalian beriman kepada Allah, beriman ke­pada Rasul-Nya dan kalian berjihad untuk membela Islam dengan harta kalian dan jiwa kalian. Keimanan dan jihad itu adalah lebih baik bagi kalian, jika kalian benar-benar menyadari beratnya adzab akhirat. Allah akan mengampuni semua dosa kalian. Allah memasukkan kalian ke dalam surga-surga. Surga-surga itu di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah memasuk­kan kalian ke tempat tinggal yang indah dalam surga ‘Adn. Itu semua adalah kemenangan yang besar. Hal lain yang kalian inginkan adalah pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Wahai Muhammad, berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.“ (QS. as-Shaaf, 61 :10-13) Sementara Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala menjamin bagi orang yang keluar di jalan Allah, (dimana) dia tidak keluar, melainkan karena iman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, bahwasanya Dia akan mengembalikannya dengan mendapat pahala dari Allah atau membawa harta rampasan perang atau Dia memasukkannya ke dalam surga. Dan jika tidak memberatkan umatku, niscaya aku tidak akan ketinggalan menyertai ekspedisi perang. Sesungguhnya aku sangat ingin terbunuh di jalan Allah, lalu dihidupkan kembali, lalu terbunuh, dan dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi.” (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam bisshowwab.
BERBAGAI SUMBER