Larangan bersahabat/TEMAN DEKAT/sahabat DEKAT {AULIYA} dengan orang-orang KAFIR ————————— Firman Allah SWT: لاَيَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكٰفِرِينَ اَوْلَيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَۚ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِى شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُوا مِنهُمْ تُقٰةًۚ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ وَإِلَى اللّٰهِ الْمَصِيرُ۝ آل عمران ٢٨ “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena ( siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri ( siksa)Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Qs: Ali Imran; ayat; 28). ————————- Kupasan Kata-kata ——————————— “Auliyah” bentuk jama’ dari ” Wali.” Menurut bahasa berarti: “Pelindung” Penolong”. —————————– Raghib Asfahani berkata: setiap orang yang mengurus persoalan orang lain, maka orang tersebut adalah, ‘wali’ dari orang lain itu. Makna ini terdapat pada firman Allah SWT: اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِينَ ءَامَنُو١ ۝ البقرة ٢٥٧ ( Allah Pengurus bagi orang-orang yang beriman…..) Al Baqarah; 257) ( lihat Al-Mufradat oleh Raghib Asfahani, hal; 533). ———————————— ” Tiqaah” semakna dengan, “Taqiyyah” yakni ‘ menggunakan siasat terhadap seseorang karena takut akan kejahatan orang itu.” Ibnu Abbas RA berkata: “Al Taqiyyah” ialah sikap lahir yang digunakan sebagai siasat, yaitu ada kalanya seseorang bersama-sama di antara orang-orang kafir, atau berada di tengah-tengah mereka, maka ia berpura-pura senang dengan mereka dengan lisannyya, akan tetapi dalam hatinya ia sedikit pun tidak menaruh kecintaan pada mereka. ( lihat tafsier Al-Bahrul-Muhith, jilid II hal; 432). —————————– Al-Qurthubi berkata; kata ” Tuqaah” asalnya ” Wuqayah.” Senada dengan kata; “Tu’adah” ( Ketenangan dalam berfikir dan bertindak). ——————————– Adapun makna: إِلاَّ أَن تَتَّقُوا مِنهُمْ تُقٰةً “Kecuali bila ada sesuatu pada mereka yang kamu takuti, maka tak mengapa melahirkan keakraban dengan mereka dengan lisan untuk memelihara diri dan sebagai siasat untuk menolak kedurjanaan dan gangguan mereka, tanpa keyakinan di dalam hati. وَإِلَى اللّٰهِ الْمَصِيرُ “Artinya: dan kepada Allah-lah tempat kamu kembali dan pulang, kemudian Dia akan membalas segala amal perbuatanmu. ———————– Sebab Turunnya Ayat ————————— 1. Ayat ini turun sehubungan dengan masalah segolongan dari kaum mukminin, yang mempunyai kawan-kawan orang Yahudi dan yang mereka jadikan teman-teman akrab. Beberapa sahabat menegur mereka: “Jauhilah orang-orang Yahudi itu, dan berhati-hatilah berkawan dengan mereka, supaya mereka tidak dapat mengintimidasi kalian terhadap agama kalian, dan menyesatkan kalian setelah kalian beriman.” Akan tetapi mereka menolak menerima baik nasihat tersebut dan mereka tetap dalam keakraban mereka dengan orang-orang Yahudi itu,. Maka turunlah ayat ini. ( lihat tafsier Ath-Thabari, jilid III hal; 223). ————————— 2. Al-Qurthubi meriwayatkan dalam Tafsiernya dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya ayat tersebut turun sehubungan dengan masalah Ubadah bin Shamit dari golongan Anshor yangg menghadiri perang Badr. Ia mempunyai sekutu-sekutu dari orang-orang Yahudi. Ketika Nabi SAW keluar untuk berjuang dalam perang Azhab, Ubadah berkata kepada Nabi SAW : “Ya Nabi Allah, saya mempunyyai lima ratus orang sekutu dari orang-orang Yahudi. Saya berpendapat agar mereka keluar bersama saya untuk menggunakan mereka sebagai kekuatan menghadapi musuh.” Lalu Allah SWT menurunkan ayat tersebut. ————————- Ayat-Ayat yang Menunjukkan Kepada Diharamkan Berteman Akrab Dengan Orang-Orang Kafir —————- Semakna dengan apa yang kami sebutkan di atas, yaitu di haramkannya berkawan akrab dengan orang-orang kafir, banyak ayat telah turun perihal tersebut, yang di antaranya khusus mengenai masalah hubungan dengan orang-orang ahli Kitab dan yang lain berhubungan secara umum dengan kaum musyrikin. —————————— Di sini kami mambatasi diri dengan menyebutkan sebagian saja dari ayat-ayat yang bersangkutan: ————————- 1. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah, ( 5) ayat; 51. يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصٰرٰىٓ أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءَ بَعْضٍ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi wali-wali.” ( teman akrab, seperti pemimpin, penolong atau pelindung). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain……” ———————– 2. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mumtahinah, (60) ayat; 1. يَٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan hal-hal kepadanya, karena rasa kasih sayang….” —————————– 3. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah, ( 5), ayat; 57. يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِن كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ۝ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, jadi pemimpinmu ( teman setiamu) yaitu di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir ( orang-orang musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” ——————————– 4. Firman Allah SWT di dalam surah Ali ‘Imran (3), ayat 118. يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُو نَكُمْ خَبَالاً “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil jadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu…..” ————————— 5. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mujadalah (58) ayat; 22. لاَتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ اْلأٰخِرِ يُوَآ دُّوْنَ مَن حَآ دَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهٗ “Tidaklah kamu akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya….” ——————————

jabat syaitan
Larangan bersahabat/TEMAN DEKAT/sahabat DEKAT {AULIYA}  dengan orang-orang KAFIR
—————————
Firman Allah SWT:
لاَيَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكٰفِرِينَ اَوْلَيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَۚ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِى شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُوا مِنهُمْ تُقٰةًۚ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ وَإِلَى اللّٰهِ الْمَصِيرُ۝ آل عمران ٢٨
 
“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena ( siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri ( siksa)Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Qs: Ali Imran; ayat; 28).
————————-
Kupasan Kata-kata
———————————
“Auliyah” bentuk jama’ dari ” Wali.” Menurut bahasa berarti: “Pelindung” Penolong”.
—————————–
Raghib Asfahani berkata: setiap orang yang mengurus persoalan orang lain, maka orang tersebut adalah, ‘wali’ dari orang lain itu. Makna ini terdapat pada firman Allah SWT:
اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِينَ ءَامَنُو١ ۝ البقرة ٢٥٧
 
( Allah Pengurus bagi orang-orang yang beriman…..) Al Baqarah; 257) ( lihat Al-Mufradat oleh Raghib Asfahani, hal; 533).
————————————
” Tiqaah” semakna dengan, “Taqiyyah” yakni ‘ menggunakan siasat terhadap seseorang karena takut akan kejahatan orang itu.” Ibnu Abbas RA berkata: “Al Taqiyyah” ialah sikap lahir yang digunakan sebagai siasat, yaitu ada kalanya seseorang bersama-sama di antara orang-orang kafir, atau berada di tengah-tengah mereka, maka ia berpura-pura senang dengan mereka dengan lisannyya, akan tetapi dalam hatinya ia sedikit pun tidak menaruh kecintaan pada mereka. ( lihat tafsier Al-Bahrul-Muhith, jilid II hal; 432).
—————————–
Al-Qurthubi berkata; kata ” Tuqaah” asalnya ” Wuqayah.” Senada dengan kata; “Tu’adah” ( Ketenangan dalam berfikir dan bertindak).
——————————–
Adapun makna:
إِلاَّ أَن تَتَّقُوا مِنهُمْ تُقٰةً
 
“Kecuali bila ada sesuatu pada mereka yang kamu takuti, maka tak mengapa melahirkan keakraban dengan mereka dengan lisan untuk memelihara diri dan sebagai siasat untuk menolak kedurjanaan dan gangguan mereka, tanpa keyakinan di dalam hati.
وَإِلَى اللّٰهِ الْمَصِيرُ
 
“Artinya: dan kepada Allah-lah tempat kamu kembali dan pulang, kemudian Dia akan membalas segala amal perbuatanmu.
———————–
Sebab Turunnya Ayat
—————————
1. Ayat ini turun sehubungan dengan masalah segolongan dari kaum mukminin, yang mempunyai kawan-kawan orang Yahudi dan yang mereka jadikan teman-teman akrab. Beberapa sahabat menegur mereka: “Jauhilah orang-orang Yahudi itu, dan berhati-hatilah berkawan dengan mereka, supaya mereka tidak dapat mengintimidasi kalian terhadap agama kalian, dan menyesatkan kalian setelah kalian beriman.” Akan tetapi mereka menolak menerima baik nasihat tersebut dan mereka tetap dalam keakraban mereka dengan orang-orang Yahudi itu,. Maka turunlah ayat ini. ( lihat tafsier Ath-Thabari, jilid III hal; 223).
—————————
2. Al-Qurthubi meriwayatkan dalam Tafsiernya dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya ayat tersebut turun sehubungan dengan masalah Ubadah bin Shamit dari golongan Anshor yangg menghadiri perang Badr. Ia mempunyai sekutu-sekutu dari orang-orang Yahudi. Ketika Nabi SAW keluar untuk berjuang dalam perang Azhab, Ubadah berkata kepada Nabi SAW : “Ya Nabi Allah, saya mempunyyai lima ratus orang sekutu dari orang-orang Yahudi. Saya berpendapat agar mereka keluar bersama saya untuk menggunakan mereka sebagai kekuatan menghadapi musuh.” Lalu Allah SWT menurunkan ayat tersebut.
————————-
Ayat-Ayat yang Menunjukkan Kepada Diharamkan Berteman Akrab Dengan Orang-Orang Kafir
—————-
Semakna dengan apa yang kami sebutkan di atas, yaitu di haramkannya berkawan akrab dengan orang-orang kafir, banyak ayat telah turun perihal tersebut, yang di antaranya khusus mengenai masalah hubungan dengan orang-orang ahli Kitab dan yang lain berhubungan secara umum dengan kaum musyrikin.
——————————
Di sini kami mambatasi diri dengan menyebutkan sebagian saja dari ayat-ayat yang bersangkutan:
————————-
1. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah, ( 5) ayat; 51.
يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصٰرٰىٓ أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءَ بَعْضٍ
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi wali-wali.” ( teman akrab, seperti pemimpin, penolong atau pelindung). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain……”
———————–
2. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mumtahinah, (60) ayat; 1.
يَٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan hal-hal kepadanya, karena rasa kasih sayang….”
—————————–
3. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah, ( 5), ayat; 57.
يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِن كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ۝
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, jadi pemimpinmu ( teman setiamu) yaitu di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir ( orang-orang musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
——————————–
4. Firman Allah SWT di dalam surah Ali ‘Imran (3), ayat 118.
يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُو نَكُمْ خَبَالاً
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil jadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu…..”
—————————
5. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mujadalah (58) ayat; 22.
لاَتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ اْلأٰخِرِ يُوَآ دُّوْنَ مَن حَآ دَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهٗ
 
“Tidaklah kamu akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya….”
——————————
Ikhtisar Kandungan Ayat
 
Allah SWT melarang hamba-hambaNya yang beriman untuk berteman dan berkawan dengan orang-orang kafir, atau mendekati mereka secara akrab dengan rasa kasih dan cinta, atau berkawan dengan mereka karena hubungan kekerabatan atau karena kenal, sebab tidaklah patut bagi orang-orang beriman berkasih sayang dengan musuh-musuh Allah, karena tidak dapat masuk pada akal akan adanya orang yang mempersatukan dalam hatinya kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada musuh-musuh-Nya, karena hal itu berarti mempersatukan dua hal yang saling bertentangan.
 
Ibnul Arabi berkata bahwa Umar Ibnu Khaththab RA melarang Abu Musa Al-Asy’ari mempekerjakan seorang ahli Kitab, yang oleh Abu Musa dipakainya sebagai penulis ( sekretaris) di Yaman. Umar memerintahkan Abu Musa agar ia memberhentikan pegawainya itu.( lihat tafsier ayat-ayat hukum oleh, Ali Ash-Shabuni, jilid I hal: 693-705).
 
Jadi orang muslim tidak diperkenankan berkasih sayang dengan selain orang-orang yang beriman, lalu ia mengambil orang-orang kafir, yang menanti-nanti marabahaya menimpa kaum mukminin, menjadi teman akrab, bersahabat dengan mereka dan menunjukkan rasa kasih sayang kepada mereka, atau meminta pertolongan kepada mereka, dengan meninggalkan saudara-saudaranya yang beriman, di antara iman dan kufur tidak ada relasi dan hubungan. Maka ayat-ayat tersebut memperingatkan kaum mukminin dari mengambil orang-orang kafir menjadi kawan akrab, kawan perjuangan.
 

Selanjutnya ayat-ayat tersebut menutup keterangannya dengan peringatan keras yang menunjukkan akan besarnya dosa atas orang yang menentang perintah-perintah Allah dan berteman akrab dengan musuh-musuh-Nya.”

wallahua’lam
berbagai sumber
======================================

LOYALITAS ….. hanya kepada ALLAH, RASUL, dan ORANG BERIMAN saja…..
>>> LOYALITAS kepada orang KAFIR, MUSYRIK = menyebabkan BATAL SYAHADATnya
……………………..………..
Kita meyakini bahwa landasan Al-Walawal Bara’ (loyalitas kepada Islam dan berlepas diri dari selainnya) hanyalah Islam, tidak yang lainnya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan RasulNya, kita wajib berwala’ kepadanya di mana saja. Dan barangsiapa kafir terhadap Allah dan RasulNya, kita wajib berlepas diri darinya di mana saja. Barangsiapa yang ada keimanan dan perbuatan dosa padanya, maka kita berwala’ kepadanya sebatas keimanannya dan berlepas diri darinya sebatas dosadosanya. Dan barangsiapa berwala’ kepada agama selain Islam berarti tauhid dan keimanannya telah batal.

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpinpemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Ma’idah: 51).

Kalimat berwala’ menunjukkan kecintaan dan pertolongan, maksudnya janganlah engkau bergaul dengan mereka atau berhubungan dengan mereka sebagaimana pergaulan dengan orang-orang yang dicintai. Alasan dilarangnya berwala’ kepada mereka karena sebagian dari mereka merupakan pemimpin dari sebagian yang lain. Itu berarti bahwa mereka bersatu dalam melawan dan melecehkan orang-orang yang beriman. Bagaimana mungkin akan terjadi hubungan walaantara kita dengan mereka?

Firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma’idah: 55-56).

Saat Allah melarang mereka untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, Allah juga menerangkan kepada mereka siapa sebenarnya penolong mereka, sehingga maksud ayat tersebut adalah: Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai penolong, sebab sebagian dari mereka adalah pemimpin dari sebagian yang lain, sehingga tidak bisa digambarkan adanya perwalian antara mereka dengan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya penolong-penolong kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Maka jadikanlah mereka itu sebagai penolong dan pemimpinmu.

Lafazh penolong diungkapkan dalam bentuk mufrad (tunggal) padahal obyeknya lebih dari satu, karena sesungguhnya asal pertolongan hanya dari satu Dzat, yaitu Allah. Berwala’ kepada Rasul dan orang-orang yang beriman adalah mengikuti Allah Subhaanahu Wata’ala.

Firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi temanteman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (beritaberita Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.” (Al-Mumtahanah: 1).

Maka Allah Subhaanahu Wata’ala melarang kaum muslimin untuk menjadikan orang-orang musyrik dan orang-orang kafir yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sebagai pemimpin dan orang pilihan mereka.

Firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (Ali Imran: 28).

Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa barangsiapa menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dan pemimpin dan meninggalkan orang-orang yang beriman, maka Allah dan Rasul-Nya telah berlepas darinya. Ini merupakan ancaman yang keras.

Kita diperintahkan untuk meniru Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya dalam menghadapi permusuhan orang-orang kafir dan perlawanan mereka. Firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”.” (Al-Mumtahanah: 4).

Firman Allah Subhaanahu Wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (23) قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapakbapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anakanak, saudarasaudara, isteriisteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumahrumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 23-24).

Allah Subhaanahu Wata’ala memerintahkan untuk berlepas dari orang-orang kafir meskipun mereka adalah orang tua atau anak-anak mereka, dan melarang untuk menjadikan mereka sebagai penolong dan pemimpin apabila mereka lebih memilih kekufuran daripada Islam. Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk memberi ancaman kepada orang yang lebih mengutamakan keluarganya dan kerabatnya daripada Allah dan Rasul-Nya, akan kedatangan adzab dan siksa Allah kepada mereka.

Firman Allah,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.” (Al-Mujadilah: 22).

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah yang telah membunuh orang tuanya pada perang Badar. Juga menerangkan bahwa di antara kaum mukminin tidak ada yang berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa orang yang lepas dari berkasih sayang dengan musuhmusuh Allah adalah orang yang Allah telah menanamkan keimanan di dalam hatinya dan menjadikannya indah di mata hatinya.

Diriwayatkan dari Amr bin Al-‘Ash radhiyallahuanhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda dengan suara keras, tidak pelan, “Ketahuilah bahwa keluarga orang tuaku –maksudnya si fulan- bukanlah pemimpin dan penolong bagiku. Sesungguhnya penolongku hanyalah Allah dan orang-orang beriman yang shalih.” (HR. Muslim)

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Dikatakan, bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam di sini adalah Al-Hakam bin Abi Al-‘Ash. Wallahu a’lam. An-Nawawi telah memberi judul untuk hadits ini dengan ‘Bab perwalian dengan orang-orang beriman dan pemutusan hubungan serta berlepas diri dari selain mereka’.”

arti MISKIN dalam FIQIH ISLAM…. dan apa arti FAKIR ?? ———————————- Dalam bahasa aslinya (Arab) kata miskin terambil dari kata sakana yang berarti diam atau tenang, sedang kata masakin ialah bentuk jama’ dari miskin yang menurut bahasa diambil dari kata sakana yang artinya menjadi diam atau tidak bergerak karena lemah fisik atau sikap yang sabar dan qana’ah.[1] ——————————- Menurut al-Fairuz Abadi dalam Al-Qamus “miskin” adalah orang yang tidak punya apa-apa atau orang-orang yang sangat butuh pertolongan. Dan boleh dikatakan miskin orang yang dihinakan oleh kemiskinan atau selainnya.[2] Dengan kata lain miskin adalah orang yang hina karena fakir jadi miskin menurut bahasa adalah orang yang diam dikarenakan fakir.[3] ——————————– Sedangkan menurut Yasin Ibrahim sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Ridlwan Mas’ud dalam bukunya zakat dan kemiskinan, instrument pemberdayaan umat lebih luas lagi yaitu orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka kebalikan dari orang-orang kaya yang mampu memenuhi apa yang diperlukannya.[4] ————————— Sementara itu para ulama baik sahabat atau tabi’in berbeda pendapat dalam memahami dan menafsirkan lafadh al-masakin dalam surat at-Taubah ayat 60: إنما الصدقات للفقراء و المسكين و العملين عليها و المؤلفة القلوبهم و في الرقاب و الغرمين و في سبيل الله و ابن السبيل فريضة من الله و الله عليم حكيم “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 60)[5] ————————- Kata miskin pada ayat di atas diartikan sebagai orang yang mempunyai sesuatu tetapi kurang dari nisab, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka atau orang-orang yang memiliki harta tetapi tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sendiri tanpa ada bantuan.[6] —————————– Ibnu Abbas menyatakan lain kata al-masakin diartikan orang yang keluar rumah untuk meminta-minta.[7] Hal serupa juga diungkapkan oleh Mujahid, lebih lanjut ia menyatakan bahwa al-masakin adalah orang yang meminta. Ibnu Zaid dalam menafsirkan al-masakin diartikan orang-orang yang meminta-minta pada orang lain. Sedangkan menurut Qatadah al-masakin adalah orang yang sehat (orang yang tidak mempunyai penyakit) yang membutuhkan.[8] ——————————– Pada riwayat lain disebutkan bahwa Umar menyatakan “bukanlah orang miskin yang tidak mempunyai harta sama sekali, tetapi orang yang buruk raganya” sementara Ikrimah menyatakan orang-orang ahli kitab.[9] —————————- Pengertian miskin sering disamakan dengan fakir. Penjelasannya adalah bahwa mengenai pengertian fakir dan miskin terdapat perbedaan pendapat, yaitu sebagai berikut: ————————————– 1) Menurut Madzhab Hanafi, orang fakir adalah orang yang memiliki usaha namun tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan orang miskin tidak memiliki mata pencaharian untuk mencukupi keperluan sehari-hari. Jadi keadaan orang fakir masih lebih baik daripada orang miskin.[10] ——————————– Pendapat ini diperkuat oleh Firman Allah dalam surat al-Balad ayat 16: او مسكينا ذا متربة “Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. al-Balad: 16).[11] ———————————- Imam Abu Hanifah memberi pengertian miskin adalah mereka yang benar-benar miskin dan tidak memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhan hidup.[12] Dengan kata lain orang miskin lebih parah kondisinya daripada fakir.[13] —————————– Imam Malik mengatakan bahwa fakir adalah orang yang mempunyai harta yang jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam masa satu tahun. ———————- Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan usaha atau mempunyai harta dan usaha tetapi kurang dari setengah kebutuhan hidupnya dan tidak ada orang yang berkewajiban menanggung biaya hidupnya. ————————————-

MISKIN uang 1
arti MISKIN dalam FIQIH ISLAM…. dan apa arti FAKIR ??

———————————-
Dalam bahasa aslinya (Arab) kata miskin terambil dari kata sakana yang berarti diam atau tenang, sedang kata masakin ialah bentuk jama’ dari miskin yang menurut bahasa diambil dari kata sakana yang artinya menjadi diam atau tidak bergerak karena lemah fisik atau sikap yang sabar dan qana’ah.[1]

Menurut al-Fairuz Abadi dalam Al-Qamus “miskin” adalah orang yang tidak punya apa-apa atau orang-orang yang sangat butuh pertolongan. Dan boleh dikatakan miskin orang yang dihinakan oleh kemiskinan atau selainnya.[2] Dengan kata lain miskin adalah orang yang hina karena fakir jadi miskin menurut bahasa adalah orang yang diam dikarenakan fakir.[3]

Sedangkan menurut Yasin Ibrahim sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Ridlwan Mas’ud dalam bukunya zakat dan kemiskinan, instrument pemberdayaan umat lebih luas lagi yaitu orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka kebalikan dari orang-orang kaya yang mampu memenuhi apa yang diperlukannya.[4]

Sementara itu para ulama baik sahabat atau tabi’in berbeda pendapat dalam memahami dan menafsirkan lafadh al-masakin dalam surat at-Taubah ayat 60:

إنما الصدقات للفقراء و المسكين و العملين عليها و المؤلفة القلوبهم و في الرقاب و الغرمين و في سبيل الله و ابن السبيل فريضة من الله و الله عليم حكيم

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 60)[5]

Kata miskin pada ayat di atas diartikan sebagai orang yang mempunyai sesuatu tetapi kurang dari nisab, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka atau orang-orang yang memiliki harta tetapi tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sendiri tanpa ada bantuan.[6]

Ibnu Abbas menyatakan lain kata al-masakin diartikan orang yang keluar rumah untuk meminta-minta.[7] Hal serupa juga diungkapkan oleh Mujahid, lebih lanjut ia menyatakan bahwa al-masakin adalah orang yang meminta. Ibnu Zaid dalam menafsirkan al-masakin diartikan orang-orang yang meminta-minta pada orang lain. Sedangkan menurut Qatadah al-masakin adalah orang yang sehat (orang yang tidak mempunyai penyakit) yang membutuhkan.[8]

Pada riwayat lain disebutkan bahwa Umar menyatakan “bukanlah orang miskin yang tidak mempunyai harta sama sekali, tetapi orang yang buruk raganya” sementara Ikrimah menyatakan orang-orang ahli kitab.[9]

Pengertian miskin sering disamakan dengan fakir. Penjelasannya adalah bahwa mengenai pengertian fakir dan miskin terdapat perbedaan pendapat, yaitu sebagai berikut:

1) Menurut Madzhab Hanafi, orang fakir adalah orang yang memiliki usaha namun tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan orang miskin tidak memiliki mata pencaharian untuk mencukupi keperluan sehari-hari. Jadi keadaan orang fakir masih lebih baik daripada orang miskin.[10]

Pendapat ini diperkuat oleh Firman Allah dalam surat al-Balad ayat 16:

او مسكينا ذا متربة

Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. al-Balad: 16).[11]

Imam Abu Hanifah memberi pengertian miskin adalah mereka yang benar-benar miskin dan tidak memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhan hidup.[12] Dengan kata lain orang miskin lebih parah kondisinya daripada fakir.[13]

Imam Malik mengatakan bahwa fakir adalah orang yang mempunyai harta yang jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam masa satu tahun.

Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan usaha atau mempunyai harta dan usaha tetapi kurang dari setengah kebutuhan hidupnya dan tidak ada orang yang berkewajiban menanggung biaya hidupnya.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau mempunyai harta tetapi kurang dari setengah keperluannya. Sebagaimana kata  fakir, kata  miskin  pun mengalami pengertian yang bermacam-macam.

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan bahwa orang miskin adalah orang yang memiliki harta setengah dari kebutuhan hidupnya atau lebih tetapi tidak mencukupi. ahli fikih sudah sama-sama mengadakan studi yang cukup mendalam mengenai masalah ini. Mereka sudahsepakat bahwa perbedaan pendapat dalam hal ini tak ada gunanya dalam arti zakat. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 273:

للفقراء الذين أحصروا في سبيل الله لا يستطيعون ضربا في الأرض يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف تعرفهم بسيمهم لا يسئلون الناس إلحافا و ما تنفقوا من خير فإن الله به عليم

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 273).[14]

2) Ibnu Al-Arabi berpendapat sama saja  antara fakir dan miskin yaitu orang yang tidak mempunyai apa-apa. Abu Yusuf pengikut Abu Hanifah dan Ibnu Qasim pengikut Maliki juga berpendapat demikian.[15]

Sementara itu Masdar F. Mas’udi mengatakan bahwa miskin menunjuk pada orang yang secara ekonomi lebih beruntung daripada si fakir. Tetapi secara keseluruhan ia tergolong orang-orang yang masih tetap kerepotan dalam memenuhi kebutuhan hidup kesehariannya.[16]

Thobari mengatakan bahwa yang dimaksud dengan miskin yaitu orang yang sudah tercukupi kebutuhannya, tapi suka meminta-minta. Diperkuat lagi pendapatnya itu dengan berpegang pada arti kata maskanah (kemiskinan jiwa) yang sudah menunjukkan arti kata demikian. Sedang yang disebutkan dalam Hadits shahih adalah :

ليس المسكين الذي تمرة و التمران … و لكن المسكين الذي يتعفف (رواه البخاري)

Yang dikatakan orang miskin itu bukan karena ia menerima sebuah, dua buah kurma, tapi orang miskin itu orang yang meminta-minta.” (HR. Bukhori)

Dan demikian pula apa yang dikatakan Imam Khatabi, hadits ini menunjukkan bahwa arti miskin yang tampak dan dikenal mereka ialah peminta-minta yang berkeliling. Rasulullah SAW menghilangkan sebutan miskin bagi orang yang tidak meminta-minta, karena itu berarti sudah berkecukupan. Maka dengan demikian gugurlah sebutan miskin itu bagi dirinya. Sedang yang meminta-minta mereka berada dalam garis kebutuhan dan kemiskinan, dan mereka itu harus diberi bagian.[17]

Dalam pengertian lain kemiskinan adalah salah satu bentuk ketidak-sejahteraan. Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyebut tentang kemiskinan dan petunjuk-petunjuk untuk mengatasinya. Namun dalam al-Qur’an dan Hadits tidak menetapkan angka tertentu lagi pasti sebagai ukuran kemiskinan, sehingga yang dikemukakan di atas dapat saja berubah. Namun yang pasti al-Qur’an menyebut setiap orang yang memerlukan sesuatu sebagai fakir atau miskin dan harus dibantu. Oleh karena itu pengertian miskin tergantung kepada ijtihad manusia yang selalu berubah dari masa ke masa, karena ukuran-ukuran yang dipergunakan untuk merumuskan suatu makna yang abstrak (seperti kemiskinan, misalnya) selalu berubah-ubah.[18]

1) Sedangkan dalam kategori fiqh, orang yang menerima zakat terdiri dari 8 golongan sebagaimana disyaratkan pada surat yang terbagi dalam dua kategori yaitu; 1) empat utama 2) sewaktu-waktu.

Empat penerima zakat yang utama, salah satunya adalah orang miskin. Miskin orang dalam usia produktif (di atas 17 tahun) yang memiliki alat produksi tapi masih kekurangan modal (di bawah nisab) dengan pendapatan masih tergolong miskin.

Menurut Sayogyo miskin tidak bersifat menyeluruh dan dalam hal ini dia membedakan ukuran antara warga miskin perkotaan dengan warga miskin pedesaan dengan menetapkan cakupan tingkat konsumsi makanan pokok pada masing-masing daerah yaitu angka pendapatan atau pengeluaran yang setara 240 kg beras untuk daerah pedesaan dan 480 kg beras untuk daerah perkotaan atau kriteria rata-rata 360 kg beras.[19]

Sedangkan Mauloud Kassim Nait-bel Karem menyebutkan, yang dimaksud dengan masakin adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan orang lain karena persediaannya tidak cukup dimakan selama satu tahun.[20]

Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental atau fisiknya dalam kelompok tersebut. Seseorang bukan merasa miskin karena kurang sandang, pangan, papan tetapi karena harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf kehidupan yang ada.[21]

Ajaran Islam yang dijabarkan dalam fiqh melihat 3 faktor yang berkaitan dengan masalah kemiskinan seseorang:

Pertama, harta benda yang dimiliki secara sah dan berada di tempat (maal mamluk hadhir).

Kedua, mata pencaharian (pekerjaan) tetap, yang dibenarkan oleh hukum (al kasb halal).

Ketiga, kecukupan (al-kifayah) akan kebutuhan hidup yang pokok atas landasan faktor-faktor tersebut.

Dirumuskan bahwa, miskin ialah barang siapa yang memiliki harta benda atau mata pencaharian tetap, hal mana salah satunya (harta / mata pencaharian / keduanya), hanya menutupi tidak lebih dari kebutuhan pokoknya.[22]

Para fuqaha berbeda pendapat tentang pengertian fakir dan miskin, pendapat yang terkuat dalam hal ini adalah, yang dimaksud fakir ialah pihak yang membutuhkan bantuan tetapi ia tidak mau mengemis sedangkan miskin pihak yang membutuhkan pertolongan dan mengemis pada orang lain.

Sedangkan menurut jumhur ulama, fakir adalah orang yang tidak memiliki apa-apa atau hanya memiliki kurang dari separuh kebutuhan diri dan tanggungannya, sedangkan orang miskin adalah mereka yang memiliki separuh kebutuhannya atau lebih, tetapi tidak mencukupi.[23]

[1] Sidi Gazalba, Ilmu Islam2: Asas Agama Islam, cet 2, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1985, hlm. 134.

[2] Teungku Hasby Ash-Shiddieqie, Pedoman Zakat, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2006, hlm. 166.

[3] Sidi Gazalba, op. cit., hlm. 135.

[4] Muh. Ridwan Mas’ud, Zakat dan Kemiskinan, Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat, Yogya: UII Press, 2005, hlm. 55.

[5] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, Semarang, CV. Toha Putra, 1995, hlm. 288.

[6] Fazlur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Yogyakarta, Dana Bakti Wakaf, hlm. 295.

[7] Ibid., hlm. 203.

[8] Ibid., hlm. 204.

[9] Ibid., hlm. 205.

[10] M. Ali Hasan, Zakat dan Infaq, Jakarta, Kencana, 2006, hlm. 95.

[11] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 1062.

[12] M. Ali Hasan, op. cit., hlm. 96.

[13] Imam al-Mawardi,  Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan dalam Takaran Islam, Jakarta: Geman Insani, 2000, hlm. 241.

[14] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 68.

[15] M. Ali Hasan, op. cit., hlm. 96.

[16] Masdar F. Mas’udi, Menggagas Ulang Zakat, Bandung, Mizan, 2005, hlm. 115.

[17] Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Jakarta: Lintera Internusa, 2002, cet. 6, hlm. 513.

[18] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1998, cet. 7, hlm. 449.

[19] M. Dawam Rahardjo, Islam Dan Transformasi Sosial-Ekonomi, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1999, hlm.439

[20] H. Moh. Daud Ali,  Lembaga-lembaga Islam di Indonesia,  Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995, cet 1, hlm. 278 – 279.

[21] Suryono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2002, hlm. 366.

[22] Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial: dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga Ukhuwah, Bandung: Mizan, 1995, hlm. 163.

[23] Yusuf Qardhawi,  Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan,  Jakarta: Gema Insani Press, 1995, cet. 1, hlm. 115.