Loading
Ibnu | EP Artikel-Edy Gojira - Part 15

TAFSIRAN KALIMAT ‘LAA ILAHA ILLALLAH’ = ‘TIADA TUHAN SELAIN ALLAH’ --------------------------------- Selama ini diketahui bahwa tafsiran kalimat ‘laa ilaha illallah’ yang telah diajarkan sejak bangku SD sampai perguruan tinggi adalah ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Yang perlu kita tanyakan, apakah tafsiran ‘laa ilaha illallah’ seperti ini sudah sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits ? ----------------------------- Jika kita perhatikan, Ilah dalam kalimat yang mulia ini diartikan dengan kata Tuhan. Apakah tafsiran seperti ini sudah tepat? Mari kita tinjau. ------------------------------ MAKNA ILAH ADALAH TUHAN? ------------------------------ Jika kalimat ‘laa ilaha illallah’ diartikan dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’, maka ilah pada kalimat tersebut berarti Tuhan. Namun jika kita perhatikan kata Tuhan dalam penggunaan keseharian bisa memiliki dua makna. -------------------------- Makna pertama , kata Tuhan berarti pencipta, pengatur, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan (yang merupakan sifat-sifat rububiyyah Allah). ------------------------------------- Makna kedua , kata Tuhan berarti sesembahan ----------------------------------- Selanjutnya perhatikanlah firman Allah ta’ala, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): ‘Raa’ina’, tetapi katakanlah: ‘Unzhurna’, dan ‘dengarlah’.” (QS. Al Baqarah [2] : 104). ------------------------------------- Dalam ayat ini, Allah melarang para sahabat untuk menyebut ra’ina yang artinya perhatikanlah kami, tetapi hendaknya menggunakan unzhurna.. Mengapa demikian? Karena kata ra’ina juga sering digunakan oleh orang-orang Yahudi untuk memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam rangka mengejek, ra’ina dalam penggunaan orang-orang Yahudi bermakna tolol/bodoh. Karena kata tersebut mengandung dua makna (bisa bermakna baik dan bisa bermakna buruk), maka Allah melarang yang demikian. (Lihat Tafsir Surat Al Baqarah, Al ‘Utsaimin) ------------------------------------ Begitu juga dengan kalimat ‘laa ilaha illallah’. Karena kalimat ini merupakan kunci surga, dzikir dan amalan yang utama, serta paling banyak ganjarannya ketika diucapkan; maka seorang muslim selayaknya tidak mengartikan kalimat yang mulia ini dengan kata yang memiliki penafsiran ganda yang di dalamnya kemungkinan bermakna salah . Dari mana kita bisa menyatakan kata Tuhan pada kalimat ini bermakna keliru dan salah? Silakan menyimak tulisan selanjutnya. ---------------------------------- ILAH = PENCIPTA, PEMBERI RIZKI, DAN PENGATUR ALAM SEMESTA --------------------------------- Pembahasan pertama, bagaimana kalau ilah pada kalimat ‘laa ilaha illallah’ bermakna Tuhan yang berarti pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta (disebut dengan sifat Rububiyah)? --------------------------------- Sebelumnya perlu kami sebutkan di sini bahwasanya keyakinan tentang Allah sebagai satu-satunya pencipta, satu-satunya penguasa, satu-satunya pemberi rezeki dan satu-satunya pengatur alam semesta adalah keyakinan yang benar dan tidak ada keraguan tentangnya. Namun, perlu diketahui bahwa keyakinan seperti ini juga diakui oleh orang-orang musyrik sebagaimana terdapat dalam banyak ayat/dalil. Mari kita membuka mushaf dan melihat dalil-dalil tersebut. ---------------------------- Dalil pertama , Allah ta’ala berfirman, قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31) ----------------------------- Dalil kedua , firman Allah ta’ala, وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf [43]: 87) ------------------------------ Dalil ketiga , firman Allah ta’ala, لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. al-’Ankabut [29]: 63) ---------------------------------- Dalil keempat , firman Allah ta’ala, أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. an-Naml [27]: 62) ----------------------------------------- Perhatikanlah! Dalam ayat-ayat di atas terlihat bahwasanya orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun, pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyah Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. ------------------------ Oleh karena itu, Allah berfirman terhadap mereka, وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf [12]: 106) ----------------------- Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.” ------------------- ‘Ikrimah mengatakan,”Jika kamu menanyakan kepada orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya juga.” (Lihat Al-Mukhtashor Al-Mufid, 10-11)

July 9, 2016 Edy Gojira 3

TAFSIRAN KALIMAT ‘LAA ILAHA ILLALLAH’ = ‘TIADA TUHAN SELAIN ALLAH’ [...]

MAU PILIH mana??? .. amal JARIYAH .. atau .. DOSA jariyah ............................... hati-hati !!! --------------- DOSA JARIYAH,............ yaitu AMAL/perbuatan yg terus mengalir dosanya walau sudah MATI ---------------------- AMAL JARIYAH, amal yg terus mengalirkan pahala walau sudah MATI ------------------------ Dari al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang merintis perbuatan (sunnah) baik yang kemudian diikuti (orang- orang), maka dia memperoleh pahalanya sendiri dan pahala (orang-orang) yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. -------------------------------------- Dan barangsiapa memelopori perbuatan buruk yang kemudian diikuti (orang- orang), maka ia mendapat dosanya sendiri dan dosa (orang-orang) yang mengamalkan sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun."{ HR Ibnu Majah (203), ------------------------------------------------- *Apa sajakah dosa-dosa jariyah itu* *----------------------------------------- * *1. Orang yang mempelopori perbuatan maksiat* -------------------------------- Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam sebuah hadits dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim). --------------------------------------- Pemikul dosa jariyah ini tak menyuruh orang untuk mencontohnya,tapi dengan ia terang-terangan melakukan kemaksiatan itu diantara keramaian manusia sudah membuka pintu dosa itu mengenai dirinya. -------------------------------- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا “Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan yang lainnya). -------------------------------------- Maka termasuk siapapun manusia yang dalam catatan kehidupanya ia memperlihatkan dari contoh-contoh dosa kepada masyarakat sekelilingnya atau kepada karib kerabatnya maka ia akan ditimpa dengan dosa dari orang-orang yang akan mencontoh perbuatan itu. --------------------------------- Sebagai contoh kasus blog atau website dan media-media yang memperlihatkan program-program kemaksiatan,lalu kemaksiatan itu ditiru oleh setiap mata yang memandang dan dicontoh oleh mereka, maka aliran dosanya akan mengalir kepada penulis atau pengunggah yang mempertotonkan kemaksiatan tersebut. ------------------------------------- Iklan-iklan tv, sinetron yang mengumbar aurat, adegan pacaran yang dilarang serta seremonila mewah yang sarat akan dosa, maka aliran dosanya tidak akan berhenti yang mencontoh kemaksiatan itu tapi juga mengalir kepada yang memproduksi acara kemaksiatan itu. ---------------------------------- *2. Yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat dan kekufuran* --------------------------------- مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim) ---------------------------- Dari untaian hadits diatas kita mengetahui secara jelas bahwa siapapun manusia yang menyeru kepada setiap kesesatan, kekufuran dan deretan perilaku menyimpang maka penyeru atas semua itu mendapatkan limpahan dosa dari yang mengikuti itu semua. ------------------------------------ Maka semakin menyebar pemikiran sesat itu diantara manusia,maka semakin pula membanjiri dosa kepada penyerunya, Sungguh tidak ada beban yang paling menyiksa di akherat kecuali adalah beban dosa ketika manusia kelak dihisab oleh Allah SWT, maka sangat tragis seorang manusia yang tak hanya membawa dosa ia sendiri tapi juga memikul dosa dari orang lain disebabkan dosa jariyah yang ia cetuskan. ------------------------------ Berdasarkan dengan dalil-dalil diatas, Maka kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya untuk tidak mengupload konten-konten yang tidak senonoh di blog maupun di media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan lain sebagainya. Karena kita tidak hanya dikenai dosa uploadnya saja, namun dosa dari orang yang menikmatinya juga akan mengalir seperti yang sudah saya jelaskan diatas. ----------------------------------- Pikirkan, jika 1 orang menikmati konten Anda, kemudian mendownload dan menyebarkan. Ada yang membuat menjadi bacaan / CD film porno dan mungkin ada juga yang menyebarkan secara gratis lewat situs ataupun sosial media. --------------------------- Bagaimana jika yang menikmati ada 100 orang? maka setiap konten terlarang itu"dinikmati" oleh orang lain maka dosa akan tetap mengalir kepada Anda dari 100 orang tersebut. ------------------------------------ Oh tidak hanya sampai disitu, diantara 100 orang tadi ternyata ada 10 orang diantara mereka memerkosa anak gadis orang sehabis membaca / menonton konten yang diupload atau ditulis oleh Anda. ----------------------------- Entah mengalir selama setahun atau entah meski besok ajal menjemput, dosa itupun akan tetap terus mengalir. -----------------------------------

July 8, 2016 Edy Gojira 3

MAU PILIH mana??? .. amal JARIYAH .. atau .. DOSA [...]

Mengapa Islam keras terhadap permasalahan Bid’ah ?? ------------------------------------------------- Yasinan,Tahlilan: Bid’ah yang Dianggap Sunnah ------------------------------ Permasalahan bid’ah memanglah sangat ditentang oleh agama karena bid’ah akan membawa kesesatan dan setiap kesesatan itu berasal dari neraka, bahkan Nabi kita sendiri yang menyebutnya bahwa “setiap bid’ah itu adalah sesat.” [15] Maka dari itu sangatlah berbahaya sekali bid’ah ini, karena bid’ah bisa mematikan sunnah dan merupakan seburuk-buruknya perkara. -------------------------------------- IBADAH YANG TIDAK DICONTOHKAN RASULULLAH S.A.W = BID'AH ------------------------------------ Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim). ------------------------------- Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. (HR. Bukhari) ---------------------------- Suatu ibadah tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat: ............... 1. Menjadikannya ikhlash semata-mata karena Allah Ta'ala. ------------ 2. Kedua, Hendaknya ia sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits dalam kajian ini. ----------------------------- Dari hadist diatas nabi berpesan agar kita tidak mengada-ada dalam urusan agama, baik dalam bentuk ibadah maupun amalan-amalan lainnya yang dianggap sebagai ibadah tapi nabi sendiri tidak pernah melakukan dan menganjurkan kepada umatnya. Karena setiap amalan yang dilakukan itu jika tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW maka amalan itu akan tertolak (sia-sia). ------------------------------ Sesuatu yang baru dalam urusan agama disebut sebagai bid’ah. Dan bid’ah itu sendiri dapat mengantarkan seseorang kedalam kesesatan yang akan berakhir kedalam neraka. (mudah-mudahan kita terhindar dari segala perbuatan bid’ah). -------------------------------- Dalam artikel ini akan diterangkan beberapa bentuk amalan dan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan kata lain ibadah tersebut adalah bid’ah. ---------------------------- 1. TAHLILAN Tahlilan adalah peringatan hari kematian dari salah seorang kerabat keluarga, tahlilan dapat juga disebut upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. Dalam kegiatan tahlilan ini dibacakan doa-doa dan kalimat tahlil secara bersama-sama dan berulang-ulang. Namun yang menjadikan suatu persoalan adalah bahwa acara tahlilan dilakukan dengan mengundang orang-orang satu kampung dan menyediakan hidangan yang berlebihan selayaknya sebuah pesta. Ini juga terjadi pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100,bahkan hari ke-1000 setelah kematian. Bukankah ini suatu keanehan bahwa di dalam acara peringatan kematian di lakukan pesta dengan penyajian beragam makanan. ----------------- Imam syafi’I berkata dalam kitabnya, Al-Umm, Juz I hlm 279 -------------- “….dan aku membenci Al-Ma’tam, yaitu proses berkumpul/bergabung (ditempat keluarga mayit) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat (dikeluarga mayit). ------------------------- Khalifah umar bin abdul aziz melarang tahlilan seperti dalam Riwayat Ibnu Abi Syaibah: Telah berkata kepada kami Yan ‘Aqid bin isa dari tsabit dari Qais, beliau berkata” saya telah menyaksikan umar bin abdul aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan kemudian berkata: “kalian akan mendapat bencana dan akan merugi” ----------------------------- Jika kita telusuri, upacara kematian tersebut di adopsi dari budaya hindu dan budha. Mereka umta hindu dan budha menganggap bahwa setelah meninggal maka mayit tersebut akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Untuk itu kedatangan ruh tersebut harus disambut dengan pembacaan doa-doa dan menyiapkan sesajen untuk ruh mayit agar ruh itu bebas dari siksa kematian dan dapat mengunjungi keluarga yang di cintainya. ---------------------------------- 2. YASINAN ------------------------ Maraknya upacara Yasinan pada zaman sekarang seperti pada hari setelah kematian, pada malam jumat, pada ziarah kubur dan sebagainya seakan-akan bahwa Al-Qur’an itu hanya berisi surat Yasin saja. Padahal sangat dianjurkan untuk mengkhatamkan seluruh ayat Al-Qur’an setiap 1 bulannya. -------------------------- Ada beberapa syarat diterimanya amalan ibadah --------------------- 1. Ikhlas karena Allah dan semata-mata untuk Allah dengan konsekwensi terhadap syahadat yang terbebas dari syirik. -------------------- 2. konsekwensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, dengan mengikuti apa yang dianjurkan dan meninggalkan bid’ah (yang diada-adakan). -------------------------------------- Mari kita bandingkan apakah yasinan tersebut sudah mengikuti syarat tersebut ------------------------ • Yasinan mengkhususkan dengan surat Yasin, padahal tidak ada dalil yang shahih yang mengkhususkan surat tersebut. • Yasinan mengkhususkan pada hari tertentu saja (tiap malam jumat) namun dalil mengenai hal itu adalah lemah. • Mengkhususkan pada waktu atau acara tertentu (sebelum dan sesudah kematian ). Padahal Al-Qur’an dan Hadist tidak mengajarkan hal itu. • Dilakukan dengan cara berjamaah, membaca secara seperti paduan suara dan tidak jelas makhraj dan tajwidnya. Padahal Rasulullah mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, pelan, benar dan teratur, dibaca oleh satu orang yang lain mendengarkan. ------------------------------ mari kita lihat dalil-dalil yang menjelaskan yasinan tersebut. “ barangsiapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika dia bangun pagi harinya maka diampuni dosanya” -------------------------------- Keterangan : hadist ini palsu : Ibnu Jauzi mengatakan, semua jalannya adalah bathil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata, Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadit adalah tukang pemalsu hadist. ------------------------------

July 8, 2016 Edy Gojira 2

Mengapa Islam keras terhadap permasalahan Bid’ah ?? ------------------------------------------------- Yasinan,Tahlilan: Bid’ah [...]

apa yang dimaksud…… Hawa Nafsu ?? ——————- Apakah hawa nafsu itu selalu buruk ?? —————————- Hawa nafsu terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس).”Dalam bahasa Indonesia, ‘nafsu’ bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh”Ketiga-tiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab: Hawa (الهوى): sangat cinta; kehendak. Nafsu (النفس): roh; nyawa; jiwa; tubuh; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha. Syahwat (الشهوة): keinginan untuk mendapatkan yang lezat; birahi. ————————– Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai “syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia,” yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang. ——————– ‘Hawa nafsu ‘cenderung’ pada keburukan’, ketika kita menyandarkan seluruh perbuatan kita pada ‘hawa nafsu’ semata atau ‘hawa nafsu’ sebagai yang utama dan tentu ‘jiwa’ ini akan jatuh ke lubang kotor, yang mengotori jiwa. Manusia akan ‘dikuasai’ dan ‘diperbudak’ oleh hawa nafsu-nya. ——————————— Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا{7} فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا{8} قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا{9} وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا{10} “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 7-10) ——————————————- Sedangkan secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan maksiat, hal ini sebagaimana telah disinyalir dalam Al Quran surat Yusuf ayat 53, yang mana memang pada asalnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿يوسف:٥٣﴾ “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Yusuf: 53) ————————————— Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata: “Yaitu (nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan) kecuali nafsu yang Allah menjaganya (dari keburukan)”. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada sesuatu yang diinginkannya, meskipun ia menyuruh kepada sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala, kecuali Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, maka Dia menyelamatkannya dari mengikuti hawa nafsu dan mentaatinya dari keburukan-keburukan yang diperintahkannya. Sesungguhnya Allah Maha memaafkan dari dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat dari dosa tersebut dengan tidak menyiksanya. —————————————- Adapun kecondongan jiwa kepada apa yang diinginkannya, kecondongan hati kepada apa yang dicintainya meskipun hal itu keluar dari hukum-hukum syari’at. Dan setiap apa yang keluar dari yang diwajibkan oleh kitab dan sunnah maka itulah hawa. Dan setiap orang yang tidak mengikuti ilmu dan kebenaran maka ia adalah shohibul hawa, Allah Ta’ala berfirman, “Dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’’. (Al-An’am: 119) ——————— Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut. ———————- Ada pula yang mendefinisikan hawa nafsu yang tidak berbeda jauh dari yang disebutkan diatas yaitu : 1.Kecenderungan jiwa kepada yang diinginkan. 2.Kehendak jiwa terhadap yang disukai. 3.Kecintaan manusia terhadap sesuatu hingga mengalahkan hatinya (qalbunya). 4.Suka atau asyik terhadap sesuatu kemudian menjadi isi hatinya (qalbunya). ——————

July 8, 2016 Edy Gojira 1

apa yang dimaksud…… Hawa Nafsu ?? ——————- Apakah hawa nafsu [...]

1 13 14 15