apakah HATI itu AURAT ? sehingga ada JILBAB HATI ? …… {TUBUH} WANITA adalah AURAT sehingga harus ditutupi dengan JILBAB —————————– ———————- Ada ungkapan ,sebelum menjilbabpi kepalanya jilbabpi dulu hatinya, buat apa berjilbab kalau akhlaqnya rusak. Ungkapan yang berupa majaz atau kiasan tersebut tidak salah, namun menurut saya juga tidak benar, atau kurang tepat. ——————— Kenapa ? Jilbab dilihat dari fungsinya untuk menutup aurat , aurat adalah bahasa Arab dari kata kerja ‘ara, artinya telanjang adapun aurat adalah akar kata, artinya ketelanjangan, ringkasnya jilbab adalah penutup aurat . Adapun hati dalam sebuah hadits dikatakan sebagai raja dalam tubuh manusia, yang bila hati itu baik maka baik pulalah seluruh tubuhnya, dalam arti kata bahasa yang keluar dari tubuh adalah bahasa lisan dan bahasa gerakan. —————— Dalam hadits lain hati ialah tempatnya iman, “Attaqwa ha huna (Taqwa itu di sini, nabi menunjuk kepada hatinya) Kalau ungkapan tersebut bermakna jilbab yang dilihat dari fungsinya adalah untuk menutupi aib/aurat , maka apakah hati itu tempatnya aib ? Manusia sudah menjadi kodratnya, sebagai tempatnya salah dan dosa, sudah fitrah dan manusiawi , kalau Iman itu kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang (yazid wa yankus), kalau menunggu hati kita benar benar bersih lalu tidak bernoda lagi, lalu kapan berjilbabnya ? —————— Bagaimana dengan seorang akhwat yang berjilbab, namun kelakuannya tidak mencerminkan yang semestinya ? Menurut saya lihat dulu cara berjilbabnya, benarkah sesuai syar’e , seperti yang saya sampaikan di atas ? Sebab ada juga yang berjilbab namun, namun hatinya masih di persimpangan jalan, ada dualisme dalam hati dan pikirannya, antara mengikuti tren berpakaian ala barat/jahiliyah dengan memakai baju muslimah, yang akhirnya dipadukan menjadi jilbab gaul, yang mudah-mudahan asumsi saya salah, yakni menurut bahasa baginda yang mulia “berpakaian tapi telanjang, fungsi baju dan jilbab sebagai penutup aurat tidak nampak, karena pakaiannya ketat atau transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak. ———————- Banyak jalan menuju perbaikan diri, salah satunya adalah dengan menutup aurat, saya yakin bila itu bersumber dari hati bukan karena mengikuti tren, lambat laun jilbabnya yang akan menjadi jalan untuk membuka pintu hatinya dalam menyambut hidayah Allah. Manusia bukan malaikat, juga bukan hewan, manusia makhluk mulia yang dianugerahi dua sifat. ——————– “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91;8) ——————- Sifat fujur atau kefasikan ialah sifat pendosa, namun adakalanya manusia bersifat taqwa, karena manusia mempunyai al-hawa atau kecenderungan (hawa nafsu). Hati bukan untuk di tutupi namun hati untuk di jaga. Jangan ragu untuk menutup aurat hanya karena ungkapan, tutupi dulu/jilbapi dulu hatinya, justeru jadikan ungkapan tersebut sebagai motivasi untuk perbaikan diri, gak apa apa awalnya gak syar’e, bagus kalau langsung sesuai syareat, asalkan seiring bertambahnya usia dan waktu bertambah pula kesadaran kita memakai pakaian sesuai tuntutan syara. Boleh jadi ungkapan tersebut adalah propaganda dari kaum sekuler dan orientalis yang hendak menghancurkan Islam dari dalam, terkesan benar dan logis namun tujuan sebenarnya adalah merusak berlahan-lahan. ————————— APA JILBAB ITU?—————— Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi aurat wanita. —————— Dalilnya adalah: “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]———- Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.————— Dalilnya ialah:———- “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).——— Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:——— (dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka…). Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).————- Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada: “Bahwasannya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Berkata: “Ketika turun ayat (dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka…) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).——— Dari kedua hadits di atas terdapat empat poin: 1. Para wanita Arab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam belum memakai hijab sehingga ketika turunnya ayat tersebut, mereka langsung mengambil kain sarung dan menggunakannya sebagai hijab. Hadits ini sekaligus menjawab perkataan orang-orang Jahil bahwa jilbab hanya tradisi orang Arab.——- 2. Seandainya para wanita Arab sudah memakai penutup kepala, maka bisa dipastikan bahwa yang mereka pakai hanyalah kain yang menutup kepala, bukan hijab yang sesuai syar’i.—- 3. Terdapat semangat di dalam diri para wanita pada zaman itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Terbukti dengan mereka langsung membuat hijab dari potongan kain sarung. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Ingat, Allah tidak melihat keindahan jilbabmu, tapi Dia melihat bagaimana kamu dengan jilbabmu yang lebar itu bisa menepis fitnah untuk lelaki dan bagaimana kamu mejalankan syari’at.——– 4. Di antara para wanita di zaman Rasulullah tersebut tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan: “Aku belum siap”, atau “Jilbab hanya untuk wanita sholehah”.———- AKU BELUM SIAP—————- Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita Muslimah yang belum berjilbab ialah: “Aku belum siap”. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut:———– 1. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut: Ketika kita mengajak seseorang untuk sholat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan: “Aku belum mau sholat lima waktu karena belum siap.” Padahal kewajiban memakai jilbab lebih mudah daripada sholat, yang kamu butuhkan hanya jilbab yang cukup hingga menutup dada, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat. Kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster dimana baju dan roknya menyatu. Memakai jilbab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan: “Aku belum siap” bukanlah udzur dan tidak ada keringanan.——– 2. Kita tanyakan kepada wanita yang beralasan “Aku belum siap”: “Kapankah kamu siap? Bisa jadi kamu mati dalam keadaan belum siap berjilbab.” Terkadang di antara mereka ada yang meyakini kalau mereka siap berjilbab kalau sudah menikah. Apakah mereka yakin mereka akan hidup di saat itu?———– 3. Dari segi dalil maupun ijma’, tak ada satu pun ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dimana wanita yang berjilbab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadits yang telah kita bahas di atas, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan: “Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai jilbab karena aku belum siap?” Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berjilbab hanyalah wanita sholehah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita Muslimah yang sudah akil baligh WAJIB berjilbab.————– KEBATILAN ANGGAPAN JILBAB HATI———- Sebagian orang yang mengikuti hawa nafsu berkata bahwa jilbab tidaklah penting yang terpenting adalah jilbab hati. Maka, tanyakanlah lagi kepada orang tersebut: “Bagaimana jilbab hati yang benar itu?” Pernyataan seperti ini sangat dekat dengan bid’ah-bid’ah[1] yang dibuat oleh orang-orang Nasrani yang tidak bersunat, ketika mereka ditanya: “Yesus dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, mengapa banyak di antara kalian yang tidak khitan? Mereka menjawab: ‘Yang penting bagi kami adalah SUNAT HATI!’”——– Maka bertakwalah sekelompok orang yang menyelisihi sunah Rasulullah dan syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam agama yang mulia ini.————– Kemudian ada pula yang mengatakan: “Untuk apa berjilbab kalau kelakuannya bejat? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.”——– Maka, kita katakan kepada orang seperti ini: “Berjilbab saja kelakuannya bejat, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab.”— Belum satu pun saya temui ayat Al-Qur’an, hadits, atau pendapat ulama yang berkata tentang adanya “Jilbab hati”. Bisa jadi ini adalah perkara baru yang diada-adakan.———- BOLEHKAH AKU MEMAKAI JILBAB DAN MELEPASNYA SEKALI-KALI?——– Terkadang ada saja pertanyaan terlontar dari para Jilbabers, para wanita yang masih belajar memakai jilbab, atau yang berencana memakai jilbab: “Bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?”– Jawaban: BOLEH——– Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita Muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat dimana ia melepas jilbabnya. Yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:– “…dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS. An-Nuur 24:31]——– ———– SIAPAKAH YANG PERTAMA KALI TERBUKA AURATNYA?——– Nenek moyang kita, Adam ‘alayhis salam dan isterinya adalah manusia pertama yang terbuka auratnya setelah keduanya diperdaya oleh syaitan:——- “Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)——– Allah memperingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan yang sama, salah satunya yaitu memamerkan aurat di depan orang-orang yang seharusnya tidak pantas melihat aurat kita. Sebab yang demikian merupakan salah satu tipu daya setan.———- Setan telah berhasil membujuk kaum hawa untuk tidak menutup auratnya sesuai syari’at dengan membisikkan kata-kata yang manis: “Jangan berjilbab, karena engkau belum siap. Kamu masih suka bermaksiat, janganlah berjilbab. Pengetahuan Islammu masih awam, tak perlu berjilbab. Berjilbabnya nanti saja ketika sudah menikah, kalau sekarang kamu berjilbab tak ada laki-laki yang mau dekat sama kamu. Yang penting jilbab hati dulu.” Begitulah pekerjaan setan, sama seperti ketika mereka membujuk nenek moyang kita untuk memakan buah terlarang.——- Demikianlah artikel tentang jilbab ini dibuat. Adapun jika kurang jelas, kurang lengkap, atau terdapat kesalahan padanya semata-mata karena keterbatasan ilmu dan kelupaan penulis. Namun, semoga artikel ini dapat membantu memberikan pencerahan dan motivasi kepada saudari-saudari saya.—— Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab.——– “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)———— Dalam riwayat lain: “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)——– Teruslah berbuat baik, walau orang-orang di sekelilingmu berbuat maksiat. Jadilah dirimu sendiri. Sebab orang jahat menilaimu dari pikiran jahatnya dan mereka pasti suka engkau berbuat jahat, sedangkan orang baik menilaimu dari pikiran baiknya dan mereka pasti suka engkau berbuat baik.——

jilbab hati aurat

apakah HATI itu AURAT ? sehingga ada JILBAB HATI ? …… {TUBUH} WANITA adalah AURAT sehingga harus ditutupi dengan JILBAB

—————————–
Ada ungkapan ,sebelum menjilbabpi kepalanya jilbabpi dulu hatinya, buat apa berjilbab kalau akhlaqnya rusak. Ungkapan yang berupa majaz atau kiasan tersebut tidak salah, namun menurut saya juga tidak benar, atau kurang tepat.

———————

Kenapa ? Jilbab dilihat dari fungsinya untuk menutup aurat , aurat adalah bahasa Arab dari kata kerja ‘ara, artinya telanjang adapun aurat adalah akar kata, artinya ketelanjangan, ringkasnya jilbab adalah penutup aurat . Adapun hati dalam sebuah hadits dikatakan sebagai raja dalam tubuh manusia, yang bila hati itu baik maka baik pulalah seluruh tubuhnya, dalam arti kata bahasa yang keluar dari tubuh adalah bahasa lisan dan bahasa gerakan.

——————

Dalam hadits lain hati ialah tempatnya iman, “Attaqwa ha huna (Taqwa itu di sini, nabi menunjuk kepada hatinya) Kalau ungkapan tersebut bermakna jilbab yang dilihat dari fungsinya adalah untuk menutupi aib/aurat , maka apakah hati itu tempatnya aib ? Manusia sudah menjadi kodratnya, sebagai tempatnya salah dan dosa, sudah fitrah dan manusiawi , kalau Iman itu kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang (yazid wa yankus), kalau menunggu hati kita benar benar bersih lalu tidak bernoda lagi, lalu kapan berjilbabnya ?

——————

Bagaimana dengan seorang akhwat yang berjilbab, namun kelakuannya tidak mencerminkan yang semestinya ? Menurut saya lihat dulu cara berjilbabnya, benarkah sesuai syar’e , seperti yang saya sampaikan di atas ? Sebab ada juga yang berjilbab namun, namun hatinya masih di persimpangan jalan, ada dualisme dalam hati dan pikirannya, antara mengikuti tren berpakaian ala barat/jahiliyah dengan memakai baju muslimah, yang akhirnya dipadukan menjadi jilbab gaul, yang mudah-mudahan asumsi saya salah, yakni menurut bahasa baginda yang mulia “berpakaian tapi telanjang, fungsi baju dan jilbab sebagai penutup aurat tidak nampak, karena pakaiannya ketat atau transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak.

———————-
Hasil gambar untuk hadits berpakaian tapi telanjang

Banyak jalan menuju perbaikan diri, salah satunya adalah dengan menutup aurat, saya yakin bila itu bersumber dari hati bukan karena mengikuti tren, lambat laun jilbabnya yang akan menjadi jalan untuk membuka pintu hatinya dalam menyambut hidayah Allah. Manusia bukan malaikat, juga bukan hewan, manusia makhluk mulia yang dianugerahi dua sifat.

——————–

“ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91;8)

——————-

Sifat fujur atau kefasikan ialah sifat pendosa, namun adakalanya manusia bersifat taqwa, karena manusia mempunyai al-hawa atau kecenderungan (hawa nafsu). Hati bukan untuk di tutupi namun hati untuk di jaga.

Jangan ragu untuk menutup aurat hanya karena ungkapan, tutupi dulu/jilbapi dulu hatinya, justeru jadikan ungkapan tersebut sebagai motivasi untuk perbaikan diri, gak apa apa awalnya gak syar’e, bagus kalau langsung sesuai syareat, asalkan seiring bertambahnya usia dan waktu bertambah pula kesadaran kita memakai pakaian sesuai tuntutan syara. Boleh jadi ungkapan tersebut adalah propaganda dari kaum sekuler dan orientalis yang hendak menghancurkan Islam dari dalam, terkesan benar dan logis namun tujuan sebenarnya adalah merusak berlahan-lahan.
—————————

APA JILBAB ITU?——————

Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi aurat wanita.

——————

Dalilnya adalah:

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]———-

Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.—————

Dalilnya ialah:———-

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).———

Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:———

(dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka…). Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).————-

Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

“Bahwasannya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Berkata: “Ketika turun ayat (dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka…) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).———

Dari kedua hadits di atas terdapat empat poin:

1. Para wanita Arab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam belum memakai hijab sehingga ketika turunnya ayat tersebut, mereka langsung mengambil kain sarung dan menggunakannya sebagai hijab. Hadits ini sekaligus menjawab perkataan orang-orang Jahil bahwa jilbab hanya tradisi orang Arab.——-
2. Seandainya para wanita Arab sudah memakai penutup kepala, maka bisa dipastikan bahwa yang mereka pakai hanyalah kain yang menutup kepala, bukan hijab yang sesuai syar’i.—-
3. Terdapat semangat di dalam diri para wanita pada zaman itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Terbukti dengan mereka langsung membuat hijab dari potongan kain sarung. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Ingat, Allah tidak melihat keindahan jilbabmu, tapi Dia melihat bagaimana kamu dengan jilbabmu yang lebar itu bisa menepis fitnah untuk lelaki dan bagaimana kamu mejalankan syari’at.——–
4. Di antara para wanita di zaman Rasulullah tersebut tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan: “Aku belum siap”, atau “Jilbab hanya untuk wanita sholehah”.———-

AKU BELUM SIAP—————-

Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita Muslimah yang belum berjilbab ialah: “Aku belum siap”. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut:———–

1. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut: Ketika kita mengajak seseorang untuk sholat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan: “Aku belum mau sholat lima waktu karena belum siap.” Padahal kewajiban memakai jilbab lebih mudah daripada sholat, yang kamu butuhkan hanya jilbab yang cukup hingga menutup dada, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat. Kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster dimana baju dan roknya menyatu. Memakai jilbab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan: “Aku belum siap” bukanlah udzur dan tidak ada keringanan.——–
2. Kita tanyakan kepada wanita yang beralasan “Aku belum siap”: “Kapankah kamu siap? Bisa jadi kamu mati dalam keadaan belum siap berjilbab.” Terkadang di antara mereka ada yang meyakini kalau mereka siap berjilbab kalau sudah menikah. Apakah mereka yakin mereka akan hidup di saat itu?———–
3. Dari segi dalil maupun ijma’, tak ada satu pun ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dimana wanita yang berjilbab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadits yang telah kita bahas di atas, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan: “Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai jilbab karena aku belum siap?” Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berjilbab hanyalah wanita sholehah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita Muslimah yang sudah akil baligh WAJIB berjilbab.————–

KEBATILAN ANGGAPAN JILBAB HATI———-

Sebagian orang yang mengikuti hawa nafsu berkata bahwa jilbab tidaklah penting yang terpenting adalah jilbab hati. Maka, tanyakanlah lagi kepada orang tersebut: “Bagaimana jilbab hati yang benar itu?” Pernyataan seperti ini sangat dekat dengan bid’ah-bid’ah[1]  yang dibuat oleh orang-orang Nasrani yang tidak bersunat, ketika mereka ditanya: “Yesus dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, mengapa banyak di antara kalian yang tidak khitan? Mereka menjawab: ‘Yang penting bagi kami adalah SUNAT HATI!’”——–

Maka bertakwalah sekelompok orang yang menyelisihi sunah Rasulullah dan syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam agama yang mulia ini.————–

Kemudian ada pula yang mengatakan: “Untuk apa berjilbab kalau kelakuannya bejat? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.”——–

Maka, kita katakan kepada orang seperti ini: “Berjilbab saja kelakuannya bejat, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab.”—

Belum satu pun saya temui ayat Al-Qur’an, hadits, atau pendapat ulama yang berkata tentang adanya “Jilbab hati”. Bisa jadi ini adalah perkara baru yang diada-adakan.———-

BOLEHKAH AKU MEMAKAI JILBAB DAN MELEPASNYA SEKALI-KALI?——–

Terkadang ada saja pertanyaan terlontar dari para Jilbabers, para wanita yang masih belajar memakai jilbab, atau yang berencana memakai jilbab:

“Bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?”–

Jawaban: BOLEH——–

Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita Muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat dimana ia melepas jilbabnya. Yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:–

“…dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS. An-Nuur 24:31]——–

———–

SIAPAKAH YANG PERTAMA KALI TERBUKA AURATNYA?——–

Nenek moyang kita, Adam ‘alayhis salam dan isterinya adalah manusia pertama yang terbuka auratnya setelah keduanya diperdaya oleh syaitan:——-

“Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)——–

Allah memperingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan yang sama, salah satunya yaitu memamerkan aurat di depan orang-orang yang seharusnya tidak pantas melihat aurat kita. Sebab yang demikian merupakan salah satu tipu daya setan.———-

Setan telah berhasil membujuk kaum hawa untuk tidak menutup auratnya sesuai syari’at dengan membisikkan kata-kata yang manis: “Jangan berjilbab, karena engkau belum siap. Kamu masih suka bermaksiat, janganlah berjilbab. Pengetahuan Islammu masih awam, tak perlu berjilbab. Berjilbabnya nanti saja ketika sudah menikah, kalau sekarang kamu berjilbab tak ada laki-laki yang mau dekat sama kamu. Yang penting jilbab hati dulu.” Begitulah pekerjaan setan, sama seperti ketika mereka membujuk nenek moyang kita untuk memakan buah terlarang.——-

Demikianlah artikel tentang jilbab ini dibuat. Adapun jika kurang jelas, kurang lengkap, atau terdapat kesalahan padanya semata-mata karena keterbatasan ilmu dan kelupaan penulis. Namun, semoga artikel ini dapat membantu memberikan pencerahan dan motivasi kepada saudari-saudari saya.——

Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab.——–

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)————

Dalam riwayat lain:
“Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)——–

Teruslah berbuat baik, walau orang-orang di sekelilingmu berbuat maksiat. Jadilah dirimu sendiri. Sebab orang jahat menilaimu dari pikiran jahatnya dan mereka pasti suka engkau berbuat jahat, sedangkan orang baik menilaimu dari pikiran baiknya dan mereka pasti suka engkau berbuat baik.——

Wabillahi taufiq wal hidayah…

Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada kita, dan memudahkan kita untuk selalu berbuat baik kapanpun dan dimanapun kita berada.

“Dialah (Allah) yang telah menamakan kamu sekalian Muslimin dari dulu dan didalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dialah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Q. S. Al Hajj:78)

 


[1]     Bid’ah = ajaran baru yang tidak berasal dari Allah dan rasul-Nya. Ingat hadits: “…Tiap-tiap    yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke       neraka.” (HR. Muslim)
——————————————
Hasil gambar untuk jilbab punuk unta

Gambar Perempuan Yang Kepalanya Ibarat Punuk Onta, Yang Disebutkan Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam Dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya Bahwasanya Mereka Tidak Akan Masuk Surga dan Tidak Akan Mencium Bau Wangi Surga, Padahal Bau Wangi Surga Bisa Dicium Dari Jarak Yang Sangat Jauh..


Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda”

( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )
رواه أحمد ومسلم في الصحيح .

 

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,

  1. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],
  2. dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.

(HR. Muslim dan yang lain).

Penjelasan Hadits Menurut Para Ulama:

Imam An Nawawi dalam Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim berkata:

“Hadis ini merupakan salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Apa yang telah beliau kabarkan kini telah terjadi…

Adapun “berpakaian tapi telanjang”, maka ia memiliki beberapa sisi pengertian.

Pertama, artinya adalah mengenakan nikmat-nikmat Allah namun telanjang dari bersyukur kepada-Nya.

Kedua, mengenakan pakaian namun telanjang dari perbuatan baik dan memperhatikan akhirat serta menjaga ketaatan.

Ketiga, yang menyingkap sebagian tubuhnya untuk memperlihatkan keindahannya, mereka itulah wanita yang berpakaian namun telanjang.

Keempat, yang mengenakan pakaian tipis sehingga menampakkan bagian dalamnya, berpakaian namun telanjang dalam satu makna.

Sedangkan “maa`ilaatun mumiilaatun”, maka ada yang mengatakan: menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan apa-apa yang seharusnya mereka perbuat, seperti menjaga kemaluan dan sebagainya.

“Mumiilaat” artinya mengajarkan perempuan-perempuan yang lain untuk berbuat seperti yang mereka lakukan.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” itu berlenggak-lenggok ketika berjalan, sambil menggoyang-goyangkan pundak.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas, yaitu model para pelacur yang telah mereka kenal.

“Mumiilaat” yaitu yang menyisirkan rambut perempuan lain dengan gaya itu.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” maksudnya cenderung kepada laki-laki.

“Mumiilaat” yaitu yang menggoda laki-laki dengan perhiasan yang mereka perlihatkan dan sebagainya.

Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta”, maknanya adalah mereka membuat kepala mereka menjadi nampak besar dengan menggunakan kain kerudung atau selempang dan lainnya yang digulung di atas kepala sehingga mirip dengan punuk-punuk unta. Ini adalah penafsiran yang masyhur.

Al Maaziri berkata: dan mungkin juga maknanya adalah bahwa mereka itu sangat bernafsu untuk melihat laki-laki dan tidak menundukkan pandangan dan kepala mereka.

Sedang Al Qoodhiy memilih penafsiran bahwa itu adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.

Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.

Fatwa Syaikhuna Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah:
Pertanyaan :

السؤال : هل ما تفعله بعض النسوة من جمع شعورهن على شكل كرةفي مؤخرة الرأس ، هل يدخل في الوعيد : ” نساء كاسيات عاريات … رؤوسهنكأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ….” ؟

 

Apakah perbuatan yang dilakukan sebagian wanita berupa mengumpulkan rambut menjadi berbentuk bulat (menggelung/menyanggul) di belakang kepala, masuk ke dalam ancaman dalam hadits :
نساء كاسيات عاريات … رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة …“…Wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang… kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga…“ ?

Jawaban :

الجواب :
أما جمع المرأة رأسها للشغل ، ثم بعد ذلك ترده ، فهذا لا يضر ، لأنها لا تفعل هذا زينة أو تجملا ، لكن للحاجة ،وأما رفعه وجمعه على سبيل التزين ، فإن كان إلى فوق فهو داخل في النهي ،لقوله صلى الله عليه وسلم : [ رؤوسهن كأسنمة البخت …] ، والسنام يكون فوق.

 

Adapun jika seorang wanita menggelung rambutnya karena ada kesibukan kemudian mengembalikannya setelah selesai, maka ini tidak mengapa, karena ia tidak melakukannya dengan niat berhias, akan tetapi karena adanya hajat/keperluan.
Adapun mengangkat dan menggelung rambut untuk tujuan berhias, jika dilakukan ke bagian atas kepala maka ini masuk ke dalam larangan, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam :
رؤوسهن كأسنمة البخت …“…kepala-kepala mereka seperti punuk unta…”, dan punuk itu adanya di atas…”
Sumber : “Liqo’ Bab al-Maftuh” kaset no. 161.

Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:
Pertanyaan :

لسائل: ما حكم جمع المرأة لشعرها فوق رَقَبَتِهَا وخلف رأسها بحيث يعطيشكلاً مكوراً مع العلم بأن المرأة حين تتحجب يظهر شكل الشعر من خلف الحجاب؟.

Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya dan di belakang kepalanya yang membentuk benjolan sehingga ketika wanita itu memakai hijab, terlihat bentuk rambutnya dari belakang hijabnya?

Jawaban :

الشيخ: هذه خطيئة يقع فيها كثير من المتحجبات حيث يجْمَعْن شعورهن خلفرؤوسهن فَيَنْتُؤُ من خلفهن ولو وضعن الحجاب من فوق ذلك، فإن هذا يخالفشرطا من شروط الحجاب التي كنت جمعتها في كتابي حجاب المرأة المسلمة منالكتاب والسنة ومن هذه الشروط ألا يحجم الثوب عضوا أو شيئا من بدن المرأة،فلذلك فلا يجوز للمرأة أن تكور خلف رأسها أو في جانب من رأسها شعر الرأسبحيث أنه يَنْتُؤُ هكذا فيظهر للرأي ولو بدون قَصْدٍ أنها مشعرانية أو أنهاخفيفة الشعر يجب أن تسدله ولا تُكَوِمَهُ .

Ini adalah kesalahan yang terjadi pada banyak wanita yang memakai jilbab, dimana mereka mengumpulkan rambut-rambut mereka di belakang kepala mereka sehingga menonjol dari belakang kepalanya walaupun mereka memakai jilbab di atasnya. Sesungguhnya hal ini menyelisihi syarat hijab yang telah kukumpulkan dalam kitabku “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah minal Kitab was Sunnah”.
Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah pakaian mereka tidak membentuk bagian tubuh atau sesuatu dari tubuh wanita tersebut, oleh karena itu tidak boleh bagi seorang wanita menggelung rambutnya dibelakang kepalanya atau disampingnya yang akan menonjol seperti itu, sehingga tampaklah bagi penglihatan orang walaupun tanpa sengaja bahwa itu adalah rambut yang lebat atau pendek. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

Sumber : “Silsilatul Huda wan Nur“.

 

Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27:

Pertanyaan:

” السؤال : هل يجوز أن نعتقد كفر النساء الكاسيات العاريات لقول النبي صلىالله عليه وسلم : ( لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها ) الحديث ؟

 

Apakah boleh kita berkeyakinan tentang kafirnya para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali” (Al-Hadits)?.

والجواب :
يكفر من اعتقد حل ذلك منهن بعد البيان والتعريف بالحكم ، ومن لم تستحل ذلكمنهن ولكن خرجت كاسية عارية فهي غير كافرة ، لكنها مرتكبة لكبيرة من كبائرالذنوب ، ويجب الإقلاع عنها ، والتوبة منها إلى الله ، عسى أن يغفر اللهلها ، فإن ماتت على ذلك غير تائبة فهي تحت مشيئة الله كسائر أهل المعاصي ؛لقول الله عز وجل : ( إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِوَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ) ” انتهى.

Jawaban:

Siapa saja yang meyakini akan halalnya hal itu dari kalangan para wanita padahal telah dijelaskan kepadanya [kalau tidak halal] dan diberi pengertian tentang hukumnya, maka ia kafir.

Adapun yang tidak menghalalkan hal itu dari kalangan para wanita akan tetapi ia keluar rumah dalam keadaan berpakaian tapi telanjang, maka ia tidak kafir, akan tetapi ia terjerumus dalam dosa besar, yang harus melepaskan diri darinya dan taubat daripadanya kepada Allah, semoga Allah mengampuninya. Jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat dari dosanya itu maka ia berada dalam kehendak Allah sebagaimana layaknya para ahli maksiat; sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisaa’: 48). Selesai. Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27.

Kesimpulan:

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk onta”, adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya .

Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya dengan ancaman tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [QS. Al-Ahzab: 36 ]

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu ..”

[Q.S. Al Hujaraat : 15]

Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk onta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah:

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu“. (QS. Al-Ahzaab: 33).

Adapun ketika dirumah dan dihadapan suami, maka para isteri diperbolehkan berdandan dengan cara apa saja yang menarik hati suaminya, bahkan tanpa mengenakan sehelai kainpun juga boleh, tidak haram, bahkan berpahala.

Semoga jelas dan bermanfaat..

PAKAIAN adalah untuk MENUTUP AURAT {= kewajiban} … dan … membuat orang LEBIH BERTAKWA kepada Allah ————————– ………………….. dan memang TIDAK berguna/sia-sia… jika SUDAH menutup AURAT … TETAPI … TIDAK berTAKWA kepada Allah … apalagi masih MUSYRIK, MUNAFIK, … apalagi KAFIR ……………………….. يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26) ============================ Tafsir ” TAKWA Pakaian TerBAIK ” ……………………………. PAKAIAN adalah untuk MENUTUP AURAT {= kewajiban} … dan … membuat orang LEBIH BERTAKWA kepada Allah ——————– ………………….. dan memang TIDAK berguna/sia-sia… jika SUDAH menutup AURAT … TETAPI … TIDAK berTAKWA kepada Allah … apalagi masih MUSYRIK, MUNAFIK, … apalagi KAFIR ……………………….. يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26) …………………………….>>>>>>>>>>>>>>>>>> Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kita, pakaian untuk menutup aurat dan pakaian indah untuk perhiasan … ——————————– Sehingga fungsi pakaian ada 2, yakni sebagai penutup aurat dan sebagai perhiasan / keindahan … Kalau digabungkan dng pengertian pakaian takwa diatas, maka … ———————— Pakaian yg dipakai manusia hendaknya: 1. Menutup aurat (laki2 dan perempuan berbeda dalam pengertian aurat) 2. Tidak memperlihatkan lekuk tubuh pemakai, karena ketatnya pakaian 3. Tidak memperlihatkan bentuk tubuh pemakainya, karena bahan yg transparan 4. Tidak terlalu panjang atau berlebih, sehingga menyulitkan pemakai bergerak dan sulit unt beribadah 5. Tidak memakai bahan yg mudah sobek / mudah robek 6. Pakaian hendaknya mudah kering apabila basah terkena air, mengingat seorang muslim dianjurkan selalu bersuci dng air (wudlu dll) 7. Tidak memakai bahan sutera bagi laki2 namun diperbolehkan bagi wanita 8. Tidak memakai perhiasan emas bagi laki2 namun diperbolehkan bagi wanita 9. Tidak memakai pakaian yg terlalu besar, sehingga menyulitkan unt bergerak dan tidak enak dipandang 10. Tidak memakai pakaian yg terlalu sempit, karena dapat memperlihatkan bentuk tubuh 11. Tidak memakai pakaian yg memakai bahan seperti karet yg melekat tubuh, karena dapat memperlihatkan bentuk tubuh ——————————–

jilbab mayat

PAKAIAN adalah untuk MENUTUP AURAT {= kewajiban} … dan … membuat orang LEBIH BERTAKWA kepada Allah
————————–
………………….. dan memang TIDAK berguna/sia-sia… jika SUDAH menutup AURAT … TETAPI … TIDAK berTAKWA kepada Allah … apalagi masih MUSYRIK, MUNAFIK, … apalagi KAFIR
……………………..
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26)

============================
pakaian takwa 1

Tafsir ” TAKWA Pakaian TerBAIK ”
……………………..…….. PAKAIAN adalah untuk MENUTUP AURAT {= kewajiban} … dan … membuat orang LEBIH BERTAKWA kepada Allah
——————–
………………….. dan memang TIDAK berguna/sia-sia… jika SUDAH menutup AURAT … TETAPI … TIDAK berTAKWA kepada Allah … apalagi masih MUSYRIK, MUNAFIK, … apalagi KAFIR
……………………..
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Hal itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raf: 26)
……………………..……..>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kita, pakaian untuk menutup aurat dan pakaian indah untuk perhiasan …
——————————–
Sehingga fungsi pakaian ada 2, yakni sebagai penutup aurat dan sebagai perhiasan / keindahan …
Kalau digabungkan dng pengertian pakaian takwa diatas, maka …
————————
Pakaian yg dipakai manusia hendaknya:
1. Menutup aurat (laki2 dan perempuan berbeda dalam pengertian aurat)
2. Tidak memperlihatkan lekuk tubuh pemakai, karena ketatnya pakaian
3. Tidak memperlihatkan bentuk tubuh pemakainya, karena bahan yg transparan
4. Tidak terlalu panjang atau berlebih, sehingga menyulitkan pemakai bergerak dan sulit unt beribadah
5. Tidak memakai bahan yg mudah sobek / mudah robek
6. Pakaian hendaknya mudah kering apabila basah terkena air, mengingat seorang muslim dianjurkan selalu bersuci dng air (wudlu dll)
7. Tidak memakai bahan sutera bagi laki2 namun diperbolehkan bagi wanita
8. Tidak memakai perhiasan emas bagi laki2 namun diperbolehkan bagi wanita
9. Tidak memakai pakaian yg terlalu besar, sehingga menyulitkan unt bergerak dan tidak enak dipandang
10. Tidak memakai pakaian yg terlalu sempit, karena dapat memperlihatkan bentuk tubuh
11. Tidak memakai pakaian yg memakai bahan seperti karet yg melekat tubuh, karena dapat memperlihatkan bentuk tubuh
——————————–
Sebenarnya syarat pakaian yg kita pakai tidaklah banyak, intinya hanyalah supaya memudahkan kita dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya (agar bertakwa). Mudah dalam mengerjakan Sholat, berwudlu dan tidak menampakkan aurat …
Dengan kata lain, bagi laki2 dan wanita, dimanapun berada, tetap bisa langsung mengerjakan Sholat dng pakaian yg dikenakannya, tanpa harus mengganti atau menambah pakaian lain …
……………………..……<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا

“Sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian.”

Telah terjadi silang pendapat di kalangan para ulama tentang makna “Kami menurunkan pakaian” dalam ayat di atas. Ada yang berkata bahwa yang dimaksud adalah Allah Subhanahu wata’ala menurunkan hujan yang kemudian menumbuhkan kapas dan pohon katun, serta memberi penghidupan kepada hewan-hewan yang di antaranya menghasilkan wol dan bulu-bulu lainnya. Ada pula yang berkata, yang dimaksud “menurunkan” adalah menurunkan sebuah pakaian bersama turunnya Adam dan Hawa untuk dijadikan contoh bagi yang lainnya. Ada pula yang berkata, menurunkan di sini bermakna menciptakan, seperti halnya firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ

“Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.” (az-Zumar: 6)

Yang dimaksud “menurunkan” di sini adalah menciptakan. Pendapat ini diriwayatkan dari Said bin Jubair rahimahullah, dan dikuatkan oleh para ahli tahqiq, di antaranya ath-Thabari, al-Baghawi, dan asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Beliau berkata, “Allah Subhanahu wata’ala mengungkapkan kata menciptakan dengan menurunkan.” (Lihat Tafsir al-Qurthubi, ath-Thabari, dan Fathul Qadir)

يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا

“Menutup sau’aat kalian.”

Sau’aat adalah jamak dari sau’ah, maksudnya adalah aurat. Aurat dinamakan sau’ah, dari asal kata suu’ yang berarti buruk. Artinya, keburukan bagi seseorang jika ia menyingkapnya. (Tafsir al- Baghawi) چچ Yang dimaksud riisy di dalam ayat ini adalah pakaian luar yang menjadi hiasan. Lafadz yang pertama (libas) adalah pakaian inti yang menutup aurat, sedangkan riisy adalah pakaian penyempurna dan penghias. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Tafsir Ayat

Ayat ini menerangkan tentang salah satu kenikmatan yang Allah Subhanahu wata’ala anugerahkan kepada para hamba-Nya, yaitu pakaian yang menutupi aurat mereka dan melindungi tubuh mereka dari berbagai hal yang memudaratkan, seperti dingin, panas, debu; baju besi yang digunakan dalam pertempuran, dan lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

“Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang melindungimu dari panas dan pakaian yang melindungi kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri.” (an-Nahl: 81)

Al – Allamah as – Sa ’ di rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala memberi kenikmatan kepada manusia dengan memberi kemudahan kepada mereka dalam bentuk pakaian yang wajib dan pakaian perhiasan. Demikian pula kenikmatan lainnya, seperti makanan, minuman, kendaraan, pernikahan, dan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala telah memudahkan para hamba-Nya terkait dengan (kebutuhan) yang wajib maupun yang menjadi penyempurnanya. Allah Subhanahu wata’ala juga menjelaskan kepada mereka bahwa tujuan kenikmatan tersebut bukan sekadar pemberian, melainkan untuk membantu mereka beribadah dan taat kepada-Nya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 539)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menerangkan ayat ini, “Allah Subhanahu wata’ala mengatakan kepada orang-orang Arab yang jahil, yang dahulu melakukan thawaf dalam keadaan telanjang karena mengikuti perintah setan dan meninggalkan ketaatan kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan mereka tentang tipu daya setan yang membuat mereka teperdaya sehingga berhasil menguasai mereka dengan menghilangkan kenikmatan yang menjadi pelindung mereka. Akhirnya, mereka menampakkan dan saling memperlihatkan auratnya di antara mereka. Setan berhasil menggiring mereka sebagaimana ia berhasil menggiring kedua orang tua mereka, yaitu Adam dan Hawa, yang diperdaya oleh setan hingga Allah Subhanahu wata’ala menghilangkan penutup yang Dia berikan kepada keduanya sehingga tampaklah auratnya. Mereka pun bertelanjang.” (Tafsir ath-Thabari, 12/261)

Kewajiban Menutup Aurat

Ayat ini dijadikan dalil oleh para ulama tentang kewajiban menutup aurat dan tidak menampakkannya. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Mayoritas ulama mengatakan, ayat ini adalah dalil tentang wajibnya menutup aurat. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala mengatakan ‘yang menutupi aurat-aurat kalian’. Ada yang berpendapat, ayat ini tidak mengandung dalil yang menunjukkan hal itu, tetapi hanya menjelaskan tentang pemberian nikmat. Saya (al-Qurthubi) katakan, pendapat pertama lebih benar. Sebab, di antara bentuk kenikmatan itu adalah menutup aurat. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa Dia menjadikan bagi keturunan Adam sesuatu yang dapat menutup aurat mereka. Ini menunjukkan perintah untuk menutup aurat. Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang kewajiban menutup aurat dari pandangan manusia.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/182) Hal ini dikuatkan pula oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إلي عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR.Muslim no. 338, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

“Jagalah auratmu kecuali dari istri atau budak wanitamu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dll, dari Bahz bin Hakim bin Muawiyah, dari ayahnya, dari kakeknya. Hadits ini dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 203)

Tentang batasan aurat laki-laki, bagian kemaluan depan dan belakang disepakati oleh para ulama dan tidak ada perselisihan tentangnya. Adapun bagian paha, terjadi silang pendapat di kalangan para ulama. Yang benar, paha termasuk aurat. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh mayoritas para ulama. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Jarhad radhiyallahu ‘anhu tatkala pahanya tersingkap,

إِنَّ الْفَخِذَ عَوْرَةٌ

“Sesungguhnya paha itu aurat.” (HR. al-Bukhari secara ta’liq, Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dari Jarhad radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 7906)

Pusar dan lutut tidak termasuk aurat, menurut pendapat yang lebih kuat. Al- Imam asy-Syafi’i t mengatakan, “Pusar dan lutut tidak termasuk aurat, menurut pendapat yang benar.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/182)

Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat dari Umair bin Ishaq yang berkata, “Suatu ketika, aku bersama al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menemui kami lalu berkata, ‘Perlihatkan kepadaku, aku ingin mencium bagian tubuhmu yang dicium oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Al- Hasan mengangkat gamisnya, maka Abu Hurairah mencium pusarnya.” (HR. Ahmad, 2/493, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ats-Tsamar al- Mustathab hlm. 282)

Al – Qurthubi rahimahullah berkata , “Seandainya pusar adalah aurat, tentu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tidak menciumnya, dan al-Hasan radhiyallahu ‘anhu pun tidak akan mengizinkannya.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/182)

Tentang aurat wanita di hadapan lelaki yang bukan mahram, tidak ada perselisihan di kalangan para ulama bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat, selain wajah dan telapak tangan. Yang menjadi perselisihan adalah wajah dan telapak tangan. Dalam hal ini ada dua pendapat:

1. Pendapat yang mengatakan bahwa menutup wajah hukumnya sunnah muakkadah.

2. Pendapat yang mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan termasuk aurat yang harus ditutup.

Yang perlu dipahami, tidak ada seorang ulama pun yang berpendapat tidak boleh menutup wajah dan telapak tangan. Yang kuat di antara kedua pendapat di atas adalah wajibnya menutup seluruh tubuh wanita, termasuk wajah dan telapak tangan. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai berikut. Ia berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati para wanita yang pertama kali berhijrah, ketika Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ

‘Hendaknya mereka menutupkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka.’ (an-Nur: 31)

Mereka pun segera merobek kainkain sarung mereka lalu ‘berkhimar’ dengannya.” (HR. al-Bukhari no. 4480)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan makna ber-khimar, “Mereka menutupi wajah mereka.” (Fathul Bari, 8/490)

Mereka yang hidup di zaman Rasulullah n tentu lebih mengerti tentang makna dan pengamalan ayat tersebut dibandingkan dengan generasi yang setelah mereka. Demikian pula sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita adalah aurat. Sesungguhnya, jika ia keluar, setan menjadikan pandangan lelaki merasa indah tertuju kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6690)

Takwa, Pakaian Terbaik

وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

“Pakaian ketakwaan itu lebih baik.”

Pakaian terbaik adalah bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi laranga-Nya. Tanpa pakaian ketakwaan, pakaian yang membungkus tubuh seseorang untuk memperindah dirinya tidak berarti di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Seorang penyair berkata,

إِذَا الْمَرْءُ لَمْ يَلْبَسْ ثِيَاباً مِنَ التُّقَى تَقَلَّبَ عُرْيَاناً وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَاسِياً وَخَْيرُ لِبَاسِ الْمَرْءِ طَاعَةُ رَبِّهِ وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ كَانَ لِلهِ عَاصِياً

Jika seseorang tidak memakai pakaian ketakwaan, dia telanjang meskipun sedang berpakaian Sebaik-baik pakaian seseorang adalah taat kepada Rabb-nya Dan tiada kebaikan bagi seseorang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Al – Allamah as – Sa ’ di rahimahullah menerangkan, “dan pakaian ketakwaan itu lebih baik” daripada pakaian jasmani. Sebab, pakaian ketakwaan akan selalu dikenakan oleh seorang hamba, tidak lusuh dan hancur, sehingga semakin memperindah hati dan ruhnya. Adapun pakaian tubuh, paling bermanfaat tatkala digunakan untuk menutupi aurat yang tampak pada waktu tertentu atau menjadi sebuah perhiasan bagi manusia. Tidak ada lagi manfaat selain itu. Itu pun jika seseorang tidak memiliki pakaian dan auratnya tersingkap. Itu tidak memudaratkan baginya jika tersingkap ketika dalam keadaan terpaksa. Adapun seseorang yang tidak memiliki pakaian ketakwaan, aurat batinnya yang akan tersingkap sehingga ia mendapatkan kehinaan dan keburukan.” (Taisir al- Karim ar-Rahman hlm. 539)

Ada beberapa riwayat dari ulama salaf tentang makna pakaian ketakwaan di dalam ayat ini. Ibnul Anbari rahimahullah berkata, “Pakaian takwa adalah rasa malu.” Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang dimaksud adalah amalan saleh.” Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rupa yang baik pada wajah.” Ada pula yang berkata, “Apa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan menjadi hidayah-Nya.” Urwah bin Zubair rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah berkata, “Ia bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala lalu menutup auratnya, itulah pakaian ketakwaan.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Semua pendapat ini berdekatan maknanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/279)

Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Ini bisa diterapkan kepada setiap yang mengandung nilai takwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sehingga termasuk di dalamnya semua pendapat yang disebutkan.” (Fathul Qadir, 2/277)

ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hal itu adalah sebagian dari tandatanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Isim isyarat pada ayat ini (kata dzalika) kembali kepada pakaian ketakwaan yang merupakan sebaik-baik pakaian. Apa yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan bahwa Dialah satusatunya Pencipta alam semesta,

berbagai sumber