QURBAN, AQIQAH lengkap, komplit…. dasar Dalil Syar’i ————————– Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis) ——- Pengertian Udh-hiyah—————– Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)—————— Keutamaan Qurban————– Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)—————– Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521). ————— I. Definisi Qurban ————— Secara bahasa (lughatan) atau etimologis, Qurban berasal dari kata Qaruba – Yaqrubu – Qurban – Qurbanan, dengan huruf Qaf didhammahkan artinya bermakna mendekat. Qaruba ilaihi artinya mendekat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman: Inna Rahmatallahi Qariibun Minal Muhsinin (Sesungguhnya Rahmat Allah dekat dengan orang-orang berbuat baik).[1]———- Secara istilah (Syar’an) atau terminologis, Qurban bermakna menyembelih hewan tertentu dengan niat Qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada waktu tertentu pula. [2]———– Pada masa modern, istilah Qurban telah masuk ke bahasa Indonesia yakni ‘Korban’, yakni memberikan sesuatu secara rela karena faktor cinta dan ridha. Semakin hari istilah ‘Korban’ semakin meluas, dia juga bisa bermakna menjadi penderita, seperti istilah ‘Korban gempa’, ‘Korban banjir’, dan lain-lain.—— II. Aktivitas Berkurban dan Hewan Qurban————- Aktivitas menyembelih berkurban dalam bahasa Arab ada beberapa istilah, pertama, disebut dengan dhahhaa, dikatakan: dhahhaa bi Syaatin minal Udh-hiyah artinya dia berkurban dengan ‘Kambing Qurban.’[3] Ada pun Hewan Qurban-nya sendiri lebih dikenal dengan istilah Al Udh-hiyah, jamaknya Al Adhaahiy. Oleh karena itu hari penyembelihannya disebut ‘Iedul Adhaa (Hari Raya Qurban). Sementara, pengorbanan adalah tadh-hiyah.—- Kedua, dalam Al Quran, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nahr (diambil dari kata nahara – yanhuru –nahran). Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Kautsar ayat 2:——————- فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”—————- Oleh karena itu, hari raya kurban juga dikenal dengan Yaumun Nahri.————– Ketiga, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nusuk (diambil dari kata nasaka – yansuku – nusukan).—————- Allah Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ “…jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS. Al Baqarah (2): 196)———– Keempat, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih disebut dzab-ha (diambil dari kata dzabaha – yadzbahu – dzabhan).—————- Allah Ta’ala berfirman: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. …..” (QS. Al Baqarah (2): 67)——————- Kelima, dalam Al Quran aktivitas tersebut juga di sebut Al Hadyu.———– وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban (Al Hadyu) yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. (QS. Al Baqarah (2): 196)——– [1] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah, 2/28. [2] Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 252, catatan kaki no. 3. Cet.1, 1425H – 2004M. Darul Kutub Al Islamiyah [3] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah, 1/406. ==================== Hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah, bukan wajib. Hal-hal yang menunjukkan kesunnahannya adalah argumentasi-argumentasi berikut ini;———————– Pertama; Allah memerintahkan berkurban dalam Al-Qur’an. Allah berfirman;———– {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2] Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)————— Perintah Shalat dalam ayat di atas bersifat umum, mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah sehingga tercakup pula Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Perintah berkurban juga bersifat umum yang mencakup kurban wajib, seperti Al-Hadyu (الْهَدْيُ) karena Haji Tamattu’ mapupun kurban Sunnah seperti Udhiyah (اْلأُضْحِيَةُ) yang dilakukan kaum Muslimin di luar tanah suci (Mekah). Karena itu, ayat ini menjadi dalil perintah berkurban, yang menunjukkan adanya dorongan dari pembuat Syariat sehingga digolongkan dalam amal yang bernilai Ma’ruf.———– Kedua; perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjukkan beliau melakukan dan mengamalkan amal berkurban. Bukhari meriwayatkan;———— صحيح البخاري (17/ 267) عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba tersebut.” (H.R.Bukhari)—————– Perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai mana ucapan beliau dan sikap diam beliau adalah dalil Syara’. Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan aktivitas berkurban, dan mencontohkan pada umatnya, maka hal ini menguatkan dalil pertama bahwa berkurban adalah amal yang didorong oleh Syariat dan digolongkan sebagai perbuatan yang Ma’ruf. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga pernah memerintahkan seorang Shahabat berkurban, misalanya dalam Hadis berikut ini;——————– صحيح البخاري (17/ 237) عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذَعَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَارَتْ لِي جَذَعَةٌ قَالَ ضَحِّ بِهَا dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhani dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagi-bagikan binatang kurban kepada para sahabatnya, sementara ‘Uqbah sendiri hanya mendapatkan Jadza’ah (kambing yang berusia enam bulan, atau berumur empat tahun ke atas, atau sapi berumur tiga tahun ke atas), maka kataku selanjutnya; “Wahai Rasulullah, aku hanya mendapatkan Jadza’ah?” beliau bersabda: “Berkurbanlah dengannya.” (H.R.Bukhari)—————- Beliau juga memuji penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah Shalat ‘Ied dan mensifatinya sebagai Ibadah yang sempurna. Bukhari meriwayatkan;————- صحيح البخاري (17/ 234) عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ dari Al Bara`, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyembelih (hewan kurban) setelah Shalat (Ied) maka ibadah kurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat.” (H.R.Bukhari)———— Nash-Nash ini menguatkan bahwa ibadah berkurban memang diperintahkan, dicontohkan, dan dipuji sebagai salah satu ibadah dalam Syariat Islam.————– Ketiga; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan aktivitas berkurban dengan Irodah (kehendak/keinginan) Mukallaf. Imam Muslim meriwayatkan;———— صحيح مسلم (10/ 169) عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” (H.R.Muslim)—————- Jika pada argumentasi pertama dan kedua penunjukan makna yang bisa ditangkap barulah adanya dorongan dan teladan untuk berkurban (yang masih belum menjelaskan apakah dorongan tersebut bersifat tegas/pasti/keras ataukah tidak), maka pada argumentasi yang ketiga ini, sifat dorongan tersebut menjadi diketahui. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan ibadah berkurban dengan Irodah/kehendak Mukallaf, bukan menetapkan tanpa memberi pilihan. Oleh karena itu Hadis ini menunjukkan bahwa berkurban hukumnya adalah Sunnah, bukan Wajib. Karena jika berkurban hukumnya wajib, niscaya Nabi tidak akan mengaitkannya dengan kehendak Mukallaf, kerana sesuatu yang wajib harus dilaksanakan tanpa pilihan.—————- Keempat; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendiamkan umatnya yang tidak berkurban tanpa mengkritiknya atau mencelanya. Abu Dawud meriwayatkan;————– سنن أبى داود – م (3/ 56) عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى ». dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; saya menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Idul Adha di lapangan, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R.Abu Dawud)————- Dalam Hadis di atas Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkurban untuk dirinya dan juga untuk umatnya yang belum berkurban. Penyebutan lafadz;————– وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku— Menunjukkan diantara umatnya ada yang belum berkurban. Penyebutan ini tidak disertai kritikan, celaan, apalagi ancaman terhadap mereka. Karena itu, Hadis ini semakin menguatkan bahwa berkurban hukumnya Sunnah, bukan wajib.——- Kelima; sejumlah Shahabat sengaja tidak berkurban untuka mengajari kaum Muslimin dan generasi sesudahnya bahwa berkurban hukumnya tidak wajib.——– Baihaqi meriwayatkan bahwa Abubakar dan Umar sengaja tidak berkurban agar tidak diduga bahwa berkurban hukumnya wajib. معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا) قال الشافعي : وقد « بلغنا أن أبا بكر الصديق وعمر رضي الله عنهما كانا لا يضحيان كراهية أن يقتدى بهما ، فيظن من رآهما أنها واجبة » “As-Syafi’I berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar tidak berkurban karena tidak suka diteladani sehingga orang yang melihat beliau berdua menduga bahwa berkurban itu wajib” (H.R. Baihaqy)—————— Cukup jelas dalam riwayat di atas bahwa Abubakar dan Umar sengaja meninggalkan berkurban karena tidak suka jadi teladan yang disangka orang bahwa berkurban hukumnya wajib.————– Memahami bahwa Abubakar dan Umar tidak berkurban karena beliau berdua tidak termasuk Mukallaf yang wajib melakukan berkurban sulit diterima, karena dalam lafadz riwayat jelas sekali disebutkan alasan tidak berkurban, yaitu untuk memberi pemahaman kepada kaum Muslimin (termasuk generasi dibelakang) bahwa berkurban itu tidak wajib. Tidak bisa pula difahami bahwa alasan Abubakar dan Umar meninggalkan berkurban adalah karena masyarakat umum memandang wajibnya berlaku umum tanpa membedakan antara yang mampu dengan yang tidak. Alasan ini sulit diterima karena sama sekali tidak dinyatakan dalam lafadz riwayat. Yang ada dan cukup jelas adalah, beliau berdua meninggalkan berkurban karena khawatir berkurban itu dianggap wajib dari segi kewajiban itu sendiri, bukan khawatir pemahaman wajib yang mutlak meski tidak mampu. Lagipula alasan ini perlu ditinjau ulang dari segi bahwa Syariat tidak mungkin mewajibkan sesuatu kepada Mukallaf sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya. Misalnya Haji yang jelas wajib. Syara’ membebaskan bagi yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.—————- Diantara Shahabat lain yang meninggalkan berkurban karena kahwatir dianggap wajib adalah Abu Mas’ud Al-Anshory. Baihaqy meriwayatkan;——————- السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (9/ 265) عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنِّى لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّى لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِى أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَىَّ. “dari Abu Mas’ud Al-Anshory beliau berkata: sesungguhnya aku meninggalkan berkurban padahal aku kaya, hanya karena khawatir tetanggaku melihat bahwa hal tersebut adalah keharusan bagiku” (H.R. Baihaqy)——————– Ibnu ‘Umar berfatwa, bahwa berkurban adalah Sunnah dan Ma’ruf. Bukhari meriwayatkan secara Mu’allaq dengan Shighot Jazim (tegas);—————- صحيح البخاري (17/ 233) بَاب سُنَّةِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ هِيَ سُنَّةٌ وَمَعْرُوفٌ “Bab Sunnahnya berkurban. Ibnu Umar berkata; Berkurban itu Sunnah dan Ma’ruf” (H.R.Bukhari)—- Demikian pula Ibnu Abbas yang memerintahkan membeli daging untuk dibagi-bagikan, bukan berkurban dengan hewan secara langsung. Baihaqy meriwayatkan;—————– معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا) عن ابن عباس ، أنه « جلس مع أصحابه ، ثم أرسل بدرهمين فقال : اشتروا بهما لحما ، ثم قال : هذه أضحية ابن عباس » “dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau duduk-duduk dengan para muridnya. Kemudian beliau mengirimkan dua Dirham dan berpesan; belilah daging dengan uang itu kemudian katakan: ini adalah kurban Ibnu ‘Abbas” (H.R.Baihaqy)—————– Menurut Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, tidak ada satupun riwayat Shahih yang menunjukkan bahwa ada Shahabat yang mewajibkan berkurban. Ibnu Hazm berkata; المحلى (7/ 358) لاَ يَصِحُّ، عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّ الأُُضْحِيَّةَ وَاجِبَةٌ Tidak ada riwayat shahih dari seorang Shahabatpun bahwa berkurban hukumnya wajib (Al-Muhalla, vol 7 hlm 358)———————– Adapun riwayat yang tegas mengatakan bahwa berkurban wajib bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan Sunnah bagi umatnya, yakni seperti riwayat berikut ini;————- سنن الدارقطنى – مكنز (4/ 336، بترقيم الشاملة آليا) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَىَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ ». Dari ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَbersabda: Ada tiga hal yang wajib bagiku dan Sunnah bagi kalian: Berkurban, Shalat Witir, dan dua rokaat Shalat Sunnah Fajar” (H.R.Ad-Daruquthni)———————- Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan sebagai Hujjah karena termasuk riwayat yang Dhoif.——- Catatan Terhadap Pendapat Yang Mewajibkan Berkurban—————— Ada sejumlah dalil yang dijadikan dasar pendapat yang mewajibkan berkurban. Berikut ini pemaparan dalil-dalil tersebut sekaligus ulasannya.————— Pertama; orang yang mampu berkurban tapi tidak berkurban dilarang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mendekati tempat Shalat Nabi dan kaum Muslimin. Ahmad meriwayatkan;—————– مسند أحمد (16/ 466) حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُزَ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Ayyasy dari Abdurrahman bin Hurmuz Al A’raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat kami.” (H.R. Ahmad)—————- Dari Hadis ini difahami; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang mendekati tempat Shalat, yakni ikut Shalat Ied bersama Nabi padahal Shalat Ied adalah amal kebaikan. Hal ini menjadi dalil bahwa perintah berkurban adalah perintah yang tegas, sehingga hukumnya wajib, bukan sekedar Sunnah. Apalagi jika memahami bahwa Shalat Ied hukumnya wajib dengan bukti Shalat Ied bisa menggugurkan Shalat Jum’at. Dilarangnya untuk menjalankan kewajiban menunjukkan merealisasikan syarat untuk menjalankan kewajiban itu hukumnya juga wajib. Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula.————- Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut; Menurut Syu’aib Arna-uth, Hadis di atas sanadnya Dhoif karena faktor seorang perawi yang bernama Abdullah bin ‘Ayyasy yang dinilai sebagai perawi yang dhoif. Penilaian Al-Albani yang menghasankan Hadis ini dalam Takhrij Musykilatu Al-Faqr dinilai sebuah kesalahan oleh Syu’aib Arna-uth.———- Kalaupun bisa dijadikan sebagai Hujjah, maka statusnya tidak melampaui status sebagai Hadis Mauquf sebagaimana pernyataan ibnu Hajar. Hadis Mauquf, tentu belum bisa menajadi dalil dalam pembahasan hukum Syara’. Ibnu Hajar mengatakan;———– فتح الباري – ابن حجر (10/ 3) من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا أخرجه بن ماجة وأحمد ورجاله ثقات لكن اختلف في رفعه ووقفه والموقوف أشبه بالصواب قاله الطحاوي وغيره Hadis “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat kami” diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Perawi-perawinya Tsiqoh namun diperselisihkan apakah Marfu’ ataukah Mauquf. Status Mauquf lebih dekat dengan kebenaran sebagaimana dinyatakan At-Thohawy dan selainnya (Fathu Al-Bary, vol 10, hlm 3)———— Bahkan seandainyapun bisa dipakai sebagai Hujjah dalam kapasitasnya sebagai Hadis Shahih/Hasan yang dihukumi Marfu’pun, lafadz yang melarang mendekati tempat Shalat masih belum kuat difahami sebagai Qorinah/indikasi untuk menunjukkan kewajiban berkurban. Hal itu dikarenakan tidak ada lafadz lugas yang menunjukkan kewajiban melakukan berkurban sebagaimana dalam Nash-Nash lain ada perintah yang semakna dengannya dari segi kekuatan perintah/larangan namun status hukum finalnya bukan wajib atau Haram. Sebagai contoh misalnya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mandi Jum’at dan menyatakannya dengan lafadz yang mengesankan seakan-akan mandi Jum’at hukumnya wajib. Ahmad meriwayatkan;—————– مسند أحمد (23/ 194) عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah (akil baligh).” (H.R.Ahmad)—— Dalam Hadis ini mandi Jum’at diperintahkan dengan pernyataan yang mengesankan bahwa hal itu adalah keharusan. Namun Nash-Nash yang lain menunjukkan bahwa mandi Jum’at bisa ditinggalkan tanpa celaan dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena itu Jumhur ulama memahami bahwa Hadis ini tidak lebih menunjukkan Ta’kidul Istihbab (tekanan) anjuran sehingga status mandi Jum’at adalah Sunnah muakkadah, bukan wajib.———–

perbedaan qurban aqiqah

QURBAN, AQIQAH lengkap, komplit…. dasar Dalil Syar’i
————————–

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis) ——-

Pengertian Udh-hiyah—————–

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)——————

Keutamaan Qurban————–

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)—————–

Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521).
—————
I. Definisi Qurban —————

Secara bahasa (lughatan) atau etimologis, Qurban berasal dari kata Qaruba – Yaqrubu – Qurban – Qurbanan, dengan huruf Qaf didhammahkan artinya bermakna mendekat. Qaruba ilaihi artinya mendekat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman: Inna Rahmatallahi Qariibun Minal Muhsinin (Sesungguhnya Rahmat Allah dekat dengan orang-orang berbuat baik).[1]———-

Secara istilah (Syar’an) atau terminologis, Qurban bermakna menyembelih hewan tertentu dengan niat Qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada waktu tertentu pula. [2]———–

Pada masa modern, istilah Qurban telah masuk ke bahasa Indonesia yakni ‘Korban’, yakni memberikan sesuatu secara rela karena faktor cinta dan ridha. Semakin hari istilah ‘Korban’ semakin meluas, dia juga bisa bermakna menjadi penderita, seperti istilah ‘Korban gempa’, ‘Korban banjir’, dan lain-lain.——

II. Aktivitas Berkurban dan Hewan Qurban————-

Aktivitas menyembelih berkurban dalam bahasa Arab ada beberapa istilah, pertama, disebut dengan dhahhaa, dikatakan: dhahhaa bi Syaatin minal Udh-hiyah artinya dia berkurban dengan ‘Kambing Qurban.’[3] Ada pun Hewan Qurban-nya sendiri lebih dikenal dengan istilah Al Udh-hiyah, jamaknya Al Adhaahiy. Oleh karena itu hari penyembelihannya disebut ‘Iedul Adhaa (Hari Raya Qurban). Sementara, pengorbanan adalah tadh-hiyah.—-

Kedua, dalam Al Quran, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nahr (diambil dari kata nahara – yanhuru –nahran). Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Kautsar ayat 2:——————-

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”—————-

Oleh karena itu, hari raya kurban juga dikenal dengan Yaumun Nahri.————–

Ketiga, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nusuk (diambil dari kata nasaka – yansuku – nusukan).—————-

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

“…jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS. Al Baqarah (2): 196)———–

Keempat, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih disebut dzab-ha (diambil dari kata dzabaha – yadzbahu – dzabhan).—————-

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. …..” (QS. Al Baqarah (2): 67)——————-

Kelima, dalam Al Quran aktivitas tersebut juga di sebut Al Hadyu.———–

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban (Al Hadyu) yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. (QS. Al Baqarah (2): 196)——–

[1] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah, 2/28.

[2] Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 252, catatan kaki no. 3. Cet.1, 1425H – 2004M. Darul Kutub Al Islamiyah

[3] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah,  1/406.

====================

Hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah, bukan wajib. Hal-hal yang menunjukkan kesunnahannya adalah argumentasi-argumentasi berikut ini;———————–

Pertama; Allah memerintahkan berkurban dalam Al-Qur’an. Allah berfirman;———–

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2]

Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)—————

Perintah Shalat dalam ayat di atas bersifat umum, mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah sehingga tercakup pula Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Perintah berkurban juga bersifat umum yang mencakup kurban wajib, seperti Al-Hadyu (الْهَدْيُ) karena Haji Tamattu’ mapupun kurban Sunnah seperti Udhiyah (اْلأُضْحِيَةُ) yang dilakukan kaum Muslimin di luar tanah suci (Mekah). Karena itu, ayat ini menjadi dalil perintah berkurban, yang menunjukkan adanya dorongan dari pembuat Syariat sehingga digolongkan dalam amal yang bernilai Ma’ruf.———–

Kedua; perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjukkan beliau melakukan dan mengamalkan amal berkurban. Bukhari meriwayatkan;————

صحيح البخاري (17/ 267)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba tersebut.” (H.R.Bukhari)—————–

Perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai mana ucapan beliau dan sikap diam beliau adalah dalil Syara’. Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan aktivitas berkurban, dan mencontohkan pada umatnya, maka hal ini menguatkan dalil pertama bahwa berkurban adalah amal yang didorong oleh Syariat dan digolongkan sebagai perbuatan yang Ma’ruf. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga pernah memerintahkan seorang Shahabat berkurban, misalanya dalam Hadis berikut ini;——————–

صحيح البخاري (17/ 237)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ

قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذَعَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَارَتْ لِي جَذَعَةٌ قَالَ ضَحِّ بِهَا

dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhani dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagi-bagikan binatang kurban kepada para sahabatnya, sementara ‘Uqbah sendiri hanya mendapatkan Jadza’ah (kambing yang berusia enam bulan, atau berumur empat tahun ke atas, atau sapi berumur tiga tahun ke atas), maka kataku selanjutnya; “Wahai Rasulullah, aku hanya mendapatkan Jadza’ah?” beliau bersabda: “Berkurbanlah dengannya.” (H.R.Bukhari)—————-

Beliau juga memuji penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah Shalat ‘Ied dan mensifatinya sebagai Ibadah yang sempurna. Bukhari meriwayatkan;————-

صحيح البخاري (17/ 234)

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

dari Al Bara`, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyembelih (hewan kurban) setelah Shalat (Ied) maka ibadah kurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat.” (H.R.Bukhari)————

Nash-Nash ini menguatkan bahwa ibadah berkurban memang diperintahkan, dicontohkan, dan dipuji sebagai salah satu ibadah dalam Syariat Islam.————–

Ketiga; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan aktivitas berkurban dengan Irodah (kehendak/keinginan) Mukallaf. Imam Muslim meriwayatkan;————

صحيح مسلم (10/ 169)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” (H.R.Muslim)—————-

Jika pada argumentasi pertama dan kedua penunjukan makna yang bisa ditangkap barulah adanya dorongan dan teladan untuk berkurban (yang masih belum menjelaskan apakah dorongan tersebut bersifat tegas/pasti/keras ataukah tidak), maka pada argumentasi yang ketiga ini, sifat dorongan tersebut menjadi diketahui. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan ibadah berkurban dengan Irodah/kehendak Mukallaf, bukan menetapkan tanpa memberi pilihan. Oleh karena itu Hadis ini menunjukkan bahwa berkurban hukumnya adalah Sunnah, bukan Wajib. Karena jika berkurban hukumnya wajib, niscaya Nabi tidak akan mengaitkannya dengan kehendak Mukallaf, kerana  sesuatu yang wajib harus dilaksanakan tanpa pilihan.—————-

Keempat;  Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendiamkan umatnya yang tidak berkurban tanpa mengkritiknya atau mencelanya. Abu Dawud meriwayatkan;————–

سنن أبى داود – م (3/ 56)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى ».

dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; saya menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Idul Adha di lapangan, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R.Abu Dawud)————-

Dalam Hadis di atas Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkurban untuk dirinya dan juga untuk umatnya yang belum berkurban. Penyebutan lafadz;————–

وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى

dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku—

Menunjukkan diantara umatnya ada yang belum berkurban. Penyebutan ini tidak disertai kritikan, celaan, apalagi ancaman terhadap mereka. Karena itu, Hadis ini semakin menguatkan bahwa berkurban hukumnya Sunnah, bukan wajib.——-

Kelima; sejumlah Shahabat sengaja tidak berkurban untuka mengajari kaum Muslimin dan generasi sesudahnya bahwa berkurban hukumnya tidak wajib.——–

Baihaqi meriwayatkan bahwa Abubakar dan Umar sengaja tidak berkurban agar tidak diduga bahwa berkurban hukumnya wajib.

معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا)

قال الشافعي : وقد « بلغنا أن أبا بكر الصديق وعمر رضي الله عنهما كانا لا يضحيان كراهية أن يقتدى بهما ، فيظن من رآهما أنها واجبة »

“As-Syafi’I berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar tidak berkurban karena tidak suka diteladani sehingga orang yang melihat beliau berdua menduga bahwa berkurban itu wajib” (H.R. Baihaqy)——————

Cukup jelas dalam riwayat di atas bahwa Abubakar dan Umar sengaja meninggalkan berkurban karena tidak suka jadi teladan yang disangka orang bahwa berkurban hukumnya wajib.————–

Memahami bahwa  Abubakar dan Umar tidak berkurban karena  beliau berdua tidak termasuk  Mukallaf yang wajib melakukan berkurban sulit  diterima, karena dalam lafadz riwayat jelas sekali disebutkan alasan tidak berkurban, yaitu  untuk memberi pemahaman kepada  kaum Muslimin (termasuk generasi dibelakang) bahwa  berkurban itu tidak wajib. Tidak  bisa pula difahami bahwa alasan Abubakar dan Umar meninggalkan berkurban adalah karena masyarakat umum memandang wajibnya berlaku umum tanpa membedakan antara yang mampu dengan  yang tidak. Alasan ini sulit diterima karena sama sekali tidak dinyatakan dalam lafadz riwayat. Yang ada dan cukup jelas adalah, beliau berdua meninggalkan berkurban  karena  khawatir berkurban itu dianggap wajib dari segi kewajiban itu sendiri, bukan khawatir pemahaman wajib yang mutlak meski tidak mampu. Lagipula alasan ini perlu ditinjau ulang dari segi bahwa Syariat tidak mungkin mewajibkan sesuatu kepada Mukallaf sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya. Misalnya Haji yang jelas wajib. Syara’ membebaskan bagi yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.—————-

Diantara Shahabat lain yang meninggalkan berkurban karena kahwatir dianggap wajib adalah Abu Mas’ud Al-Anshory. Baihaqy meriwayatkan;——————-

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (9/ 265)

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنِّى لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّى لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِى أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَىَّ.

“dari Abu Mas’ud Al-Anshory beliau berkata: sesungguhnya aku meninggalkan berkurban padahal aku kaya, hanya karena khawatir tetanggaku melihat bahwa hal tersebut adalah keharusan bagiku” (H.R. Baihaqy)——————–

Ibnu ‘Umar berfatwa, bahwa berkurban adalah Sunnah dan Ma’ruf. Bukhari meriwayatkan secara Mu’allaq dengan Shighot Jazim (tegas);—————-

صحيح البخاري (17/ 233)

بَاب سُنَّةِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ هِيَ سُنَّةٌ وَمَعْرُوفٌ

“Bab Sunnahnya berkurban. Ibnu Umar berkata; Berkurban itu Sunnah dan Ma’ruf” (H.R.Bukhari)—-

Demikian pula Ibnu Abbas yang memerintahkan membeli daging untuk dibagi-bagikan, bukan berkurban dengan hewan secara langsung. Baihaqy meriwayatkan;—————–

معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا)

عن ابن عباس ، أنه « جلس مع أصحابه ، ثم أرسل بدرهمين فقال : اشتروا بهما لحما ، ثم قال : هذه أضحية ابن عباس »

“dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau duduk-duduk dengan para muridnya. Kemudian beliau mengirimkan dua Dirham dan berpesan; belilah daging dengan uang itu kemudian katakan: ini adalah kurban Ibnu ‘Abbas” (H.R.Baihaqy)—————–

Menurut Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, tidak ada satupun riwayat Shahih yang menunjukkan bahwa ada Shahabat yang mewajibkan berkurban. Ibnu Hazm berkata;

المحلى (7/ 358)

لاَ يَصِحُّ، عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّ الأُُضْحِيَّةَ وَاجِبَةٌ

Tidak ada riwayat shahih dari seorang Shahabatpun bahwa berkurban hukumnya wajib (Al-Muhalla, vol 7 hlm 358)———————–

Adapun riwayat yang tegas mengatakan bahwa berkurban wajib bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan Sunnah bagi umatnya, yakni seperti riwayat berikut ini;————-

سنن الدارقطنى – مكنز (4/ 336، بترقيم الشاملة آليا)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَىَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ ».

Dari ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَbersabda: Ada tiga hal yang wajib bagiku  dan Sunnah bagi kalian: Berkurban, Shalat Witir, dan dua rokaat Shalat Sunnah Fajar” (H.R.Ad-Daruquthni)———————-

Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan sebagai Hujjah karena termasuk riwayat yang Dhoif.——-

Catatan Terhadap Pendapat Yang Mewajibkan Berkurban——————

Ada sejumlah dalil yang dijadikan dasar pendapat yang mewajibkan berkurban. Berikut ini pemaparan dalil-dalil tersebut sekaligus ulasannya.—————

Pertama; orang yang mampu berkurban tapi tidak berkurban dilarang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mendekati tempat Shalat Nabi dan kaum Muslimin. Ahmad meriwayatkan;—————–

مسند أحمد (16/ 466)

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُزَ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Ayyasy dari Abdurrahman bin Hurmuz Al A’raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat  kami.” (H.R. Ahmad)—————-

Dari Hadis ini difahami; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang mendekati tempat Shalat, yakni ikut Shalat Ied bersama Nabi padahal Shalat Ied adalah amal kebaikan. Hal ini menjadi dalil bahwa perintah berkurban adalah perintah yang tegas, sehingga hukumnya wajib, bukan sekedar Sunnah. Apalagi jika memahami bahwa Shalat Ied hukumnya wajib dengan bukti Shalat Ied bisa menggugurkan Shalat Jum’at. Dilarangnya untuk menjalankan kewajiban menunjukkan merealisasikan syarat untuk menjalankan kewajiban itu hukumnya juga wajib. Suatu  kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula.————-

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Menurut Syu’aib Arna-uth, Hadis di atas sanadnya Dhoif karena faktor seorang perawi yang bernama Abdullah bin ‘Ayyasy yang dinilai sebagai perawi yang dhoif. Penilaian Al-Albani yang menghasankan Hadis ini dalam Takhrij Musykilatu Al-Faqr dinilai sebuah kesalahan oleh Syu’aib Arna-uth.———-

Kalaupun bisa dijadikan sebagai Hujjah, maka statusnya tidak melampaui status sebagai Hadis Mauquf sebagaimana pernyataan ibnu Hajar. Hadis Mauquf, tentu belum  bisa menajadi dalil dalam pembahasan hukum Syara’. Ibnu Hajar mengatakan;———–

فتح الباري – ابن حجر (10/ 3)

من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا أخرجه بن ماجة وأحمد ورجاله ثقات لكن اختلف في رفعه ووقفه والموقوف أشبه بالصواب قاله الطحاوي وغيره

 

Hadis “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat  kami” diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Perawi-perawinya Tsiqoh namun diperselisihkan apakah Marfu’ ataukah Mauquf. Status Mauquf lebih dekat dengan kebenaran sebagaimana  dinyatakan At-Thohawy dan selainnya (Fathu Al-Bary, vol 10, hlm 3)————

Bahkan seandainyapun bisa dipakai sebagai Hujjah dalam kapasitasnya sebagai Hadis Shahih/Hasan yang dihukumi Marfu’pun, lafadz yang melarang mendekati tempat Shalat masih belum kuat difahami sebagai Qorinah/indikasi untuk menunjukkan kewajiban berkurban. Hal itu dikarenakan tidak ada lafadz lugas yang menunjukkan kewajiban melakukan berkurban sebagaimana dalam Nash-Nash lain ada perintah yang semakna dengannya dari segi kekuatan perintah/larangan namun status hukum finalnya bukan wajib atau Haram. Sebagai contoh misalnya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mandi Jum’at dan menyatakannya dengan lafadz yang mengesankan seakan-akan mandi Jum’at hukumnya wajib. Ahmad meriwayatkan;—————–

مسند أحمد (23/ 194)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah (akil baligh).” (H.R.Ahmad)——

Dalam Hadis ini mandi  Jum’at diperintahkan dengan pernyataan yang mengesankan bahwa hal itu adalah keharusan. Namun Nash-Nash yang lain menunjukkan bahwa mandi Jum’at bisa ditinggalkan tanpa celaan dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena itu Jumhur ulama memahami bahwa Hadis ini tidak lebih menunjukkan Ta’kidul Istihbab (tekanan) anjuran sehingga status mandi Jum’at adalah Sunnah muakkadah, bukan wajib.———–

Demikian pula dalam kasus memakan bawang putih. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah melarang orang yang memakan bawang putih untuk mendekati masjid Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (3/ 360)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا

dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat terjadinya perang Khaibar: “Barangsiapa memakan dari pohon ini, yaitu bawang putih, maka jangan sekali-kali dia mendekati masjid kami.” (H.R.Bukhari)

Larangan mendekati masjid dalam Hadis ini tidak bermakna  haramnya orang memakan bawang putih, namun hanya bermakna ketidaksukaan terhadap bau bawang putih tersebut yang mengganggu Jamaah. Dari Hadis ini bisa difahami bahwa larangan mendekati masjid belumlah cukup menjadi Qorinah haram/wajibnya sesuatu.

lagipula hukum Shalat Ied adalah Sunnah, bukan wajib. Ketentuan bahwa Shalat Ied bisa membuat Shalat Jum’at boleh tidak dilaksanakan jika jatuh di hari Jum’at tidak menunjukkan wajibnya Shalat Ied, kerena kebolehan tidak melakukan Shalat Jum’at tersebut adalah Rukhshoh bagi Arab Badui agar tidak dua kali datang ke Madinah untuk melakukan Shalat Ied dan Shalat Jum’at dalam satu hari. Lagi pula safar juga membuat musafir boleh tidak melakukan Shalat Jum’at, namun hal ini tidak menunjukkan safar hukumnya wajib.

Oleh kerana itu sejauh-jauh yang mungkin difahami terkait hukum berkurban yang memakai riwayat ini dan yang semakna dengannya adalah adanya unsur Ta’kidul Istihbab (tekanan anjuran) dalam perintah berkurban, sehingga hukum berkurban bukan sekedar Sunnah tetapi Sunnah Muakkadah, namun tidak sampai wajib.

Kedua; Ada riwayat yang mengharuskan tiap rumah berkurban tiap tahun. Ahmad meriwayatkan;

مسند أحمد (29/ 419)

عَنْ أَبِي رَمْلَةَ قَالَ حَدَّثَنَاهُ مِخْنَفُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ أَوْ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحَاةً وَعَتِيرَةً قَالَ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ قَالَ ابْنُ عَوْنٍ فَلَا أَدْرِي مَا رَدُّوا قَالَ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ

dari Abu Ramlah ia berkata, Telah menceritakannya kepada kami Mikhnaf bin Sulaim ia berkata, “Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau melakukan wukuf di Arafah. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya bagi  setiap rumah/keluarga, atau atas setiap anggota keluarga harus memberikan Adlaah (memotong kurban) dan ‘Atiirah setiap tahunnya.” Mikhnaf bin Sulaim berkata, “Tahukah kalian apa itu ‘Atirah?” Ibnu ‘Aun berkata, “Aku tidak tahu apa jawaban mereka waktu itu.” Mikhnaf bin sulaim berkata, “(Atirah) Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah binatang yang disembelih di bulan Rajab.’” (H.R.Ahmad)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Menurut Syua’ib Arna-uth Hadis di atas sanadnya Dhoif karena Abu Romlah adalah perawi yang Majhul. Seandainya bisa dijadikan hujjahpun masih belum kuat menunjukkan kewajiban berkurban karena tidak ada lafadz lugas yang menunjukkannya.

Tambahan lagi, dalam Hadis itu yang diharuskan adalah dua hal yaitu  berkurban dan ‘Atiroh (kambing yang disembelih di bulan Rajab). Padahal Hadis yang lebih shahih menegaskan bahwa Islam tidak mengenal ‘Atiroh, tidak mensyariatkannya, dan tidak menganjurkannya apalagi sampai  mewajibkannya. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (17/ 124)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيرَةَ

وَالْفَرَعُ أَوَّلُ النِّتَاجِ كَانُوا يَذْبَحُونَهُ لِطَوَاغِيتِهِمْ وَالْعَتِيرَةُ فِي رَجَبٍ

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak ada Fara’ dan Atiroh.” Beliau lalu jelaskan: “Fara’ adalah anak pertama seekor unta yang mereka sembelih untuk sesembahan mereka, dan Atirah adalah hewan (kambing) yang mereka potong di bulan Rajab.” (H.R.Bukhari)

Abu Dawud juga meriwayatkan Hadis yang senada;

سنن أبى داود – م (3/ 64)

عَنْ أَبِى الْمَلِيحِ قَالَ قَالَ نُبَيْشَةُ نَادَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّا كُنَّا نَعْتِرُ عَتِيرَةً فِى الْجَاهِلِيَّةِ فِى رَجَبٍ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ « اذْبَحُوا لِلَّهِ فِى أَىِّ شَهْرٍ كَانَ وَبَرُّوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَطْعِمُوا »

dari Abu Al Malih, ia berkata; Nubaisy berkata; seorang laki-laki memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; sesungguhnya kami dahulu menyembelih hewan pada sepuluh pertama Bulan Rajab pada masa Jahiliyah, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami? Beliau berkata: “Sembelihlah karena Allah pada bulan apa saja, dan berbaktilah kepada Allah ‘azza wajalla, serta berilah makan!” (H.R.Abu Dawud)

Seandainya  berkurban hukumnya wajib berdasarkan Hadis Ahmad di atas seharusnya ‘Atiroh juga wajib. Namun telah diketahui  bahwa ‘Atiroh hukumnya tidak wajib.

Ketiga; perintah berkurban dalam surat Al-Kautsar digandengkan dengan perintah Shalat yang hukumnya wajib. Jadi berkurban juga wajib. Allah berfirman;

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2]

Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)

Jawaban argumentasi ini  adalah sebagai berikut;

Jika perintah Shalat difahami sebagai perintah yang umum, maka Shalat tersebut mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah. Karena itu, tidak bisa dikhususkan sebagai Shalat wajib saja. Jika difahami Shalat Sunnah, maka berarti berkurban digandengkan dengan perintah Sunnah sehingga hukumnya juga Sunnah.

Jika perintah Shalat dalam surat Al-Kautsar itu difahami sebagai Shalat Ied, maka Shalat Ied hukumnya juga Sunnah. Sehingga perintah berkurban yang menyertainya adalah perintah yang Sunnah juga.

Lagipula, tidak semua poin dalam satu ayat yang disambung dengan Harf ‘Athof hukum Syara’nya sama. Sebagai contoh adalah ayat  berikut ini;

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} [النحل: 90]

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat Ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan (An-Nahl; 90)

Dalam ayat ini perintah Adil hukumnya wajib. Perintah Ihsan hukumnya adalah Sunnah. Jadi tidak selalu poin-poin perintah yang di deret dalam satu ayat status hukum Syara’nya sama. Status hukum Syara’ sebuah perintah atau larangan harus memperhatikan Qorinah-Qorinah lain dalam Nash-Nash yang lain.

Keempat; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan Shahabat yang berkurban sebelum Shalat Ied agar mengulangi  berkurban. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (17/ 262)

جُنْدَبَ بْنَ سُفْيَانَ الْبَجَلِيَّ قَالَ

شَهِدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

 

Jundab bin Sufyan Al Bajali berkata; aku ikut menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari raya kurban, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa menyembelih binatang kurban sebelum Shalat (Iedul Adha), hendaknya ia mengulangi kurbannya, dan barangsiapa belum berkurban hendaknya ia berkurban.” (H.R.Bukhari)

Imam Muslim juga meriwayatkan Hadis yang semakna;

صحيح مسلم (10/ 131)

جُنْدَبُ بْنُ سُفْيَانَ قَالَ

شَهِدْتُ الْأَضْحَى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعْدُ أَنْ صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَرَى لَحْمَ أَضَاحِيَّ قَدْ ذُبِحَتْ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ فَقَالَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ أَوْ نُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ كَانَ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

Jundab bin Sufyan dia berkata, “Saya pernah ikut hadir Shalat Idul Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak lama setelah selesai Shalat, beliau melihat daging kurban yang telah disembelih, maka beliau bersabda: “Siapa yang menyembelih hewan kurban sebelum Shalat, hendaknya ia mengulanginya sebagai gantinya. Dan siapa yang belum menyembelih hendaknya menyembelih dengan menyebut nama Allah.” (H.R.Muslim)

Dari Hadis ini difahami, bahwa ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mengulang berkurban berarti berkurban hukumnya wajib, sebagaimana Shahabat yang disuruh mengulang Shalat ketika meninggalkan rukun Shalat.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Perintah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mengulang berkurban adalah karena berkurban sebelum Shalat Ied hukumnya tidak sah, bukan menunjukkan kewajiban berkurban. Keabsahan suatu amal ibadah terkait dengan dipenuhinya Syarat dan Rukun, yang ini berbeda dengan pembahasan status wajib, Sunnah atau Mubahnya suatu perbuatan. Keabsahan ibadah adalah pembahasan kapan suatu amal bisa diharapkan diterima oleh Allah dan diganjar olehNya, sementara status wajib, Sunnah, Mubah adalah pembahasan apakah suatu perbuatan diperintahkan dengan tegas/keras/disertai ancaman, ataukan sekedar anjuran kebaikan tanpa disertai ketegasan/ancaman siksa.

Kelima; Ada Hadis yang menunjukkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melaksanakan secara konsisten dan terus menerus ibadah kurban. Ahmad meriwayatakan;

مسند أحمد (10/ 251)

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي

dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun selalu menyembelih kurban.” (H.R.Ahmad)

Terus menerusnya ibadah berkurban yang dilakukan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah wajib sebagaimana Shalat lima waktu dan puasa Ramadhan yang dilakukan terus menerus.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Muhammad Abdurrahman  Al Mubarokfury dalm kitabnya Tuhfatu Al-Ahwadzi mengatakan bahwa dalam sanad Hadis tersebut ada perawi yang bernama Hajjaj bin Artho-ah yang banyak melakukan kesalahan dan melakukan Tadlis. Al-Albany menilainya Dhoif ketika mentakhrij Sunan At-Tirmidzi, sebagaimana Syu’aib Arna-uth juga mendhoifkannya ketika mentakhrij Hadis dalam Musnad Ahmad.

Lagipula, merutinkan amalan masih belum kuat menunjukkan kewajiban sebagaimana Shalat Rowatib, Siwak, membaca Mu’awwidzatain juga dirutinkan Nabi namun hukumnya tidak wajib.

Keenam; Nabi memerintahkan berkurban karena berkurban adalah Sunnah Nabi Ibrahim, sementara mengikuti Millah Ibrahim hukumnya wajib. Ibnu Majah meriwayatkan;

سنن ابن ماجه (9/ 281)

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

dari Zaid bin Arqam dia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?” beliau bersabda: “Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?” beliau menjawab: “Setiap rambut terdapat kebaikan.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.” (H.R.Ibnu Majah)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Riwayat di atas tidak bisa menjadi Hujjah karena sanadnya Dhoif Jiddan. Di dalamnya ada perawi yang bernama Abu Dawud Nufai’ bin Al-Harits Al-A’ma Al-Kufy  dan A’idzullah yang juga dinilai Dho’if.

Lagipula, mengikuti Millah Ibrohim, maksudnya adalah mengikuti dalam Tauhid. Sementara Syariat Nabi Ibrahim, bukanlah Syariat bagi umat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Atas dasar ini, hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah bukan wajib. Namun pendapat yang mewajibkan adalah pendapat yang Islami  dan Syar’I untuk diikuti oleh kaum Muslimin yang sepakat dengan cara pengambilan hukumnya.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa berkurban adalah Sunnah adalah; Suwaid bin Ghofalah, Sa’id bin Al-Musayyab, ‘Alqomah, Al-Aswad, ‘Atho’, As-Syafi’i, Ahmad,  Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Al-Mundzir, Abu Yusuf, Al-Muzany, Dawud, An-nawawy, dan Asyhab.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa berkurban adalah wajib  adalah; Abu Hanifah, Malik, Robi’ah, Ats-Tsaury, Al-Auza’y, Al-Laits , sebagian riwayat  dari Ahmad, dan Ibnu Taimiyah.

Wallahua’lam.

=============================================
Bagaimana Hukum Qurban Secara Kolektif?

Sebagaimana ketentuan di atas, satu kambing hanya boleh untuk satu orang (dan boleh diniatkan untuk anggota keluarga), satu sapi untuk tujuh orang (termasuk anggota keluarganya), dan satu unta untuk sepuluh orang (termasuk anggota keluarganya), lalu bagaimana jika 1 kambing dijadikan qurban untuk 10 orang atau untuk satu sekolahan (yang memiliki murid ratusan orang) atau satu desa? Ada yang melakukan seperti ini dengan alasan dana yang begitu terbatas.

Sebagai jawabannya, alangkah baiknya kita perhatikan fatwa ulama yang terhimpun dalam Al Lajnah Ad Da-imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) mengenai hal ini.

Soal kedua dari Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ no. 3055

Soal: Ada seorang ayah yang meninggal dunia. Kemudian anaknya tersebut ingin berqurban untuk ayahnya. Namun ada yang menyarankan padanya, ”Engkau tidak boleh menyembelih unta untuk qurban satu orang. Sebaiknya yang disembelih adalah satu ekor kambing. Karena unta lebih utama dari kambing. Jadi yang mengatakan ”Sembelihlah unta”, itu keliru”. Karena apabila ingin berkurban dengan unta, maka harus dengan patungan bareng-bareng.

Jawab:

Boleh berkurban atas nama orang yang meninggal dunia, baik dengan satu kambing atau satu unta. Adapun orang yang mengatakan bahwa unta hanya boleh disembelih dengan patungan bareng-bareng, maka perkataan dia yang sebenarnya keliru. Akan tetapi, kambing tidak sah kecuali untuk satu orang dan shohibul qurban (orang yang berqurban) boleh meniatkan pahala qurban kambing tadi untuk anggota keluarganya. Adapun unta boleh untuk satu atau tujuh orang dengan bareng-bareng berqurban. Tujuh orang tadi nantinya boleh patungan dalam qurban satu unta. Sedangkan sapi, kasusnya sama dengan unta.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Yang menandatangai fatwa ini:

Anggota: ’Abdullah bin Qu’ud, ’Abdullah bin Ghodyan

Ketua: ’Abdul ’Aziz bin ’Abdillah bin Baz[8]

Dari penjelasan ini, maka kita bisa ambil beberapa pelajaran:

  1. Seorang pelaku qurban dengan seekor kambing boleh mengatasnamakan qurbannya atas dirinya dan keluarganya.
  2. Qurban dengan sapi atau unta boleh dipikul oleh tujuh orang.
  3. Yang dimaksud kambing untuk satu orang, sapi dan unta untuk tujuh orang adalah dalam masalah orang yang menanggung pembiayaannya.
  4. Tidak sah berqurban dengan seekor kambing secara kolektif/urunan lebih dari satu orang lalu diniatkan atas nama jama’ah, sekolah, RT atau desa. Kambing yang disembelih dengan cara seperti ini merupakan daging kambing biasa dan bukan daging qurban.

Solusi dalam Iuran Qurban

Solusi yang bisa kami tawarkan untuk masalah iuran hewan qurban secara patungan adalah dengan acara arisan qurban. Jadi setiap tahun beberapa orang bisa bergantian untuk berqurban. Di antara alasan dibolehkan hal ini karena sebagian ulama membolehkan berutang ketika melakukan qurban.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan tentang orang yang tidak mampu aqiqah, ”Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.”[9] Qurban sama halnya dengan aqiqah.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, ”Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?” Abu Hatim menjawab, ”Aku telah mendengar firman Allah,

لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al Hajj: 36)”[10]

Catatan:

  1. Yang mengikuti arisan tersebut hendaknya orang yang berkemampuan karena yang namanya arisan berarti berutang.
  2. Harga kambing bisa berubah setiap tahunnya. Oleh karena itu, arisan pada tahun pertama lebih baik setorannya dilebihkan dari perkiraan harga kambing untuk tahun tersebut.
  3. Ketika menyembelih tetap mengatasnamakan individu (satu orang untuk kambing atau tujuh orang untuk sapi dan unta) dan bukan mengatasnamakan jama’ah atau kelompok arisan.

Bagaimana dengan Hadits ”Ini adalah qurbanku dan qurban siapa saja dari umatku yang belum berqurban”?

Sebagian orang ada yang beralasan benarnya qurban secara kolektif melebihi ketentuan syari’at yang dikemukakan di atas dengan alasan hadits Jabir bin ’Abdillah berikut,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى ».

”Aku bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menghadiri shalat Idul Adha di tanah lapang. Setelah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkhutbah, beliau turun dari mimbar kemudian beliau diserahkan satu ekor domba. Lalu beliau memotong dengan tangannya, lantas bersabda, ”Bismillah, wallahu akbar. Ini adalah qurbanku dan qurban siapa saja dari umatku yang tidak ikut berqurban”.”[11] Mereka beralasan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja niatkan untuk seluruh umatnya yang tidak berqurban, maka berarti kami boleh niatkan qurban untuk satu RT, satu sekolahan atau satu desa.

Sanggahan: Mengenai hadits ”qurban siapa saja yang tidak ikut berqurban”, ini adalah khusus untuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak untuk yang lainnya. Jadi, beliau diperbolehkan berkurban untuk seluruh umatnya (selain keluarganya). Sedangkan umatnya hanya diperbolehkan menyembelih qurban untuk dirinya dan keluarganya sebagaimana dijelaskan di muka.

Al Qodhi Abu Ishaq mengatakan, ”Perkataan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ini –wallahu a’lam- sebagaimana seseorang boleh  berqurban untuk dirinya dan keluarganya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam boleh berqurban atas nama seluruh kaum muslimin karena beliau adalah ayah mereka dan istri-istri beliau adalah ibu mereka.”[12] Oleh karena, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah ayah kaum muslimin, maka beliau diperbolehkan meniatkan qurban untuk dirinya dan keluarganya (yaitu seluruh kaum muslimin).

Kesimpulan:

  1. Penyembelihan qurban untuk diri dan keluarga dibolehkan sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini berdasarkan amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
  2. Penyembelihan qurban untuk diri sendiri dan untuk seluruh umat Islam selain keluarga hanyalah khusus bagi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Dalilnya, para sahabat tidak ada yang melakukan hal tersebut sepeninggal Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Yang ada mereka hanya menyembelih qurban untuk diri sendiri dan keluarga.
  3. Sebagian kaum muslimin yang menyembelih qurban untuk satu sekolah atau untuk satu RT atau untuk satu desa adalah keliru, seperti ini tidak dilakukan oleh para salaf terdahulu.

====================================
Kurban memiliki beberapa syarat yang tidak sah kecuali jika telah memenuhinya, yaitu.

1. Hewan kurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa.

2. Telah sampai usia yang dituntut syari’at berupa jaza’ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah (berusia setahun penuh) dari yang lainnya.

a. Ats-Tsaniy dari unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun
b. Ats-Tsaniy dari sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun
c. Ats-Tsaniy dari kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun
d. Al-Jadza’ adalah yang telah sempurna berusia enam bulan

3. Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

a. Buta sebelah yang jelas/tampak
b. Sakit yang jelas.
c. Pincang yang jelas
d. Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang

Dan hal yang serupa atau lebih dari yang disebutkan di atas dimasukkan ke dalam aib-aib (cacat) ini, sehingga tidak sah berkurban dengannya, seperti buta kedua matanya, kedua tangan dan kakinya putus, ataupun lumpuh.

4. Hewan kurban tersebut milik orang yang berkurban atau diperbolehkan (di izinkan) baginya untuk berkurban dengannya. Maka tidak sah berkurban dengan hewan hasil merampok dan mencuri, atau hewan tersebut milik dua orang yang beserikat kecuali dengan izin teman serikatnya tersebut.

5. Tidak ada hubungan dengan hak orang lain. Maka tidak sah berkurban dengan hewan gadai dan hewan warisan sebelum warisannya di bagi.

6. Penyembelihan kurbannya harus terjadi pada waktu yang telah ditentukan syariat. Maka jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka sembelihan kurbannya tidak sah. [1]

HEWAN KURBAN YANG UTAMA DAN YANG DIMAKRUHKAN
Yang paling utama dari hewan kurban menurut jenisnya adalah unta, lalu sapi. Jika penyembelihannya dengan sempurna, kemudian domba, kemudian kambing biasa, kemudian sepertujuh unta, kemudian sepertujuh sapi.

Yang paling utama menurut sifatnya adalah hewan yang memenuhi sifat-sifat sempurna dan bagus dalam binatang ternak. Hal ini sudah dikenal oleh ahli yang berpengalaman dalam bidang ini. Di antaranya.

a. Gemuk
b. Dagingnya banyak
c. Bentuk fisiknya sempurna
d. Bentuknya bagus
e. Harganya mahal

Sedangkan yang dimakruhkan dari hewan kurban adalah.

1. Telinga dan ekornya putus atau telinganya sobek, memanjang atau melebar.
2. Pantat dan ambing susunya putus atau sebagian dari keduanya seperti –misalnya putting susunya terputus-
3. Gila
4. Kehilangan gigi (ompong)
5. Tidak bertanduk dan tanduknya patah

Ahli fiqih Rahimahullah juga telah memakruhkan Al-Adbhaa’ (hewan yang hilang lebih dari separuh telinga atau tanduknya), Al-Muqaabalah (putus ujung telinganya), Al-Mudaabirah (putus dari bagian belakang telinga), Asy-Syarqa’ (telinganya sobek oleh besi pembuat tanda pada binatang), Al-Kharqaa (sobek telinganya), Al-Bahqaa (sebelah matanya tidak melihat), Al-Batraa (yang tidak memiliki ekor), Al-Musyayya’ah (yang lemah) dan Al-Mushfarah [2, 3]

DAGING KURBAN YANG DIMAKAN, DIHADIAHKAN DAN DISHADAQAHKAN
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian hewan kurbannya, menghadiahkannya dan bershadaqah dengannya. Hal ini adalah masalah yang lapang/longgar dari sisi ukurannya. Namun yang terbaik menurut kebanyakan ulama adalah memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya dan bershadaqah sepertiganya.

Tidak ada perbedaan dalam kebolehan memakan dan menghadiahkan sebagian daging kurban antara kurban yang sunnah dan kurban yang wajib, dan juga tidak ada perbedaan antara kurban untuk orang hidup, orang yang wafat atau wasiat.

Diharamkan menjual bagian dari hewan kurban baik dagingnya, kulitnya atau bulunya dan tidak boleh juga memberi sebagian dari hewan kurban tersebut kepada jagalnya sebagai upah penyembelihan, karena hal itu bermakna jual beli.[4]

Ibnu Hazm Rahimahullah berpendapat lebih jauh dari itu, sampai ia menetapkan kewajiban memakan sebagian hewan kurbannya, ia mengatakan, “Diwajibkan atas setiap orang yang berkurban untuk memakan sebagian hewan kurbannya dan itu harus dilakukan walaupun hanya sesuap atau lebih. Juga diwajibkan bershadaqah darinya dengan sesukanya, baik sedikit atau pun banyak dan itu harus, dan dimubahkan memberi makan kepada orang kaya dan kafir dan menghadiahkan sebagiannya jika ia berkeinginan untuk itu.” [5]

[Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/450), Al-Mugni (VIII/637) dan setelahnya, Badaa’I’ush Shana’i (VI/2833) dan Al-Muhalla (VIII/30).
[2]. Para ulama berselisih tentang makna al-Mushfarah, ada yang menyatakan bahwa ia adalah hewan yang terputus seluruh telinganya dan ada yang mengatakan bahwa ia adalah kambing yang kurus. Lihat Nailul Authar (V/123).-pen.
[3].  Al-Mughni (IX/442), Badaa-i’ush Shana-i’ (VI/2846), Nihaayatul Muhtaaj (VIII/128) dan al-Muhalla (VIII/41).
[4]. Al-Mughni dengan Syarh al-Kabiir (XI/109), Tuhfatul Fuqa-haa’ (III/135) dan Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi (XIII/ 130).
[5]. Al-Muhalla (VIII/54).

==================================
Ilustrasi - Penyembelihan binatan qurban (picasaweb/PKS Sukahati-Cibinong)VI. Tata Cara Penyembelihan

Unta Didirikan dan Yang lain dibaringkan

Jika unta maka dipotong sewaktu ia berdiri, dan itu sunah, ada pun yang lainnya dengan cara berbaring. Hal ini disebutkan beberapa hadits berikut:

وَنَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَنَاتٍ بِيَدِهِ قِيَامًا

“Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembelih Unta dengan tangannya dengan cara berdiri …” [1]

Dari Ziyad bin Jubeir, dia berkata:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَتَى عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يَنْحَرُ بَدَنَتَهُ بَارِكَةً فَقَالَ ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Ibnu Umar mendatangi seorang laki-laki yang sedang menyembelih Unta sambil dibaringkan, lalu beliau berkata: “Bangkitkanlah agar berdiri, lalu ikatlah, itulah sunah nabimu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”[2]

Didirikan dengan tiga kaki, dan kaki kiri depan diikat, dari Abdurrahman bin Sabith, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَانُوا يَنْحَرُونَ الْبَدَنَةَ مَعْقُولَةَ الْيُسْرَى قَائِمَةً عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ قَوَائِمِهَا

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, mereka menyembelih Unta dengan keadaan kaki kiri depannya terikat, dan Unta berdiri atas tiga kakinya yang lain.”[3]

Sedangkan selain Unta, maka disembelih dengan cara dibaringkan. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

أما البقر والغنم، فيستحب ذبحها مضطجعة. فإن ذبح ما ينحر، ونحر ما يذبح، قيل: يكره، وقيل: لا يكره.

“Ada pun sapi dan kambing, disunnahkan menyembelih dengan cara dibaringkan. Jika terjadi sebaliknya, yang diri justru dibaringkan atau yang baring justru didirikan, maka dikatakan: makruh, ada pula yang mengatakan; tidak makruh.” [4]

Orang yang Menyembelih

Disunnahkan orang yang menyembelih adalah yang berkurban, jika dia memiliki keahlian. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

وَنَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَنَاتٍ بِيَدِهِ قِيَامًا وَذَبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ كَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembelih Unta dengan tangannya sendiri sambil berdiri, di Madinah Beliau menyembelih dua ekor kambing Kibasy yang putih.”[5]

Namun, bagi yang tidak ada keahlian dianjurkan untuk menyaksikan penyembelihan. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq:

ويستحب أن يذبحها بنفسه، إن كان يحسن الذبح، وإلا فيندب له أن يشهده.

“Disunnahkan disembelih sendiri oleh yang berkurban, jika dia bisa menyembelih dengan baik, jika tidak bisa, maka dianjurkan untuk menyaksikan.”[6]

Dibolehkan menurut ijma’i ulama bagi orang bisu untuk menjadi penyembelih. Berkata Imam Ibnul Mundzir:

وأجمعوا على إباحة ذبيحة الأخرس.

“Para ulama telah ijma’ (sepakat), bahwa bolehnya sembelihan dari orang bisu.”[7]

Tasmiyah (membaca bismillah)

Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan wajib membaca bismillah (dan takbir) ketika menyembelih, sebagian lain mengatakan sunah. Namun, yang benar adalah wajib, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Maka makanlah dari (sembelihan binatang-binatang halal) Yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika betul kamu beriman kepada ayat-ayat–Nya.” (QS. Al An’am (6): 118)

Ayat ini mengaitkan antara keimanan dengan menyebut nama Allah Ta’ala ketika menyembelih, maka tidak syak (ragu) lagi atas wajibnya hal tersebut.

Dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

وَلَا آكُلُ إِلَّا مَا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Aku tidaklah makan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya (ketika menyembelihnya, pen).”[8]

عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Dari Anas, dia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua kambing Kibas berwarna putih dan bertanduk, dan memotong keduanya dengan tangannya sendiri, beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi Kibas tersebut (untuk mencengkram, pen).”[9]

Mendoakan Orang Yang Berkurban

Hal juga dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika hendak menyembelih. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

‘Nabi mengucapkan: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammadin wa min ummati Muhamamdin (Dengan Nama Allah, Ya Allah terimalah Kurban dari Muhammad dan umat Muhammad),” lalu beliau pun menyembelih.” [10]

VII. Upah Untuk Penjagal (Penyembelih)

Tidak boleh memberikan upah dengan mengambil dari daging kurban, sebab Daging kurban adalah harta yang dipersembahkan dari dan untuk kaum muslimin, oleh karena itu dia tidak boleh dijadikan sebagai alat pembayaran atau dijual belikan, termasuk kulitnya, demikian ijma’ (kesepakatan) para ulama. Namun, penyembelih dibolehkan diberikan sedekah darinya, dan tidak dinamakan upah. Sedangkan upahnya diambil dari sumber dana yang lain.

Dalilnya adalah, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan unta-untanya dan menyedekahkan daging, kulit, dan bagian punuknya, dan saya diamanahkan agar tidak memberikan si tukang potong dari hasil potongan itu (sebagai upah).” Ali berkata: “Kami memberikannya dari kantong kami sendiri.”[11]

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah tentang hadits tersebut:

وأنه لا يجوز أن يعطى الجزار منه شيئا، على معنى الاجرة، ولكن يعطى أجرة عمله، بدليل قوله: ” نعطيه من عندنا “. وروي عن الحسن أنه قال لا بأس أن يعطى الجازر الجلد.

“Bahwa tidak diperbolehkan memberikan tukang potong dari hasil potongannya sedikit pun, maksudnya adalah tidak boleh memberikan upah (dari daging potongan), tetapi dia boleh diberikan upah atas kerjanya itu, dalilnya adalah: “Kami memberikannya dari kantong kami sendiri.” Diriwayatkan oleh Al Hasan bahwa dia berkata: “Tidak mengapa memberikan kulit untuk tukang potongnya.”[12]

Jadi, ada beberapa pelajaran dari hadits tersebut. Pertama, tukang potong tidak diupah dengan daging hewan kurban, namun boleh diberikan daging tersebut untuknya asalkan atas nama sedekah, bukan upah, sebab daging kurban adalah hak seluruh kaum muslimin, termasuk si pemotong. Kedua, tukang potong boleh diupah melalui sumber dana lain. Ketiga, dibolehkannya pengurusan hewan kurban diamanahkan kepada orang lain. (istilah sekarang: Panitia Qurban). Keempat, semua daging dan kulitnya adalah dibagi-bagikan (disedekahkan), bukan dijual.

Tertulis dalam Ta’sisul Ahkam:

التصدق بجميع الهدي وكل ما يتصل به

Bersedekah itu adalah dengan semua qurban dan semua hal yang terkait dengannya.[13]

Imam Al ‘Aini mengatakan:

وفيه من استدل به على منع بيع الجلد قال القرطبي وفيه دليل على أن جلود الهدي وجلالها لا تباع لعطفها على اللحم وإعطائها حكمه وقد اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذلك الجلود والجلال

Dalam hadits ini terdapat dalil bagi pihak yang mengatakan terlarangnya menjual kulit. Berkata Al Qurthubi: “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa kulit hewan qurban dan Jilal (daging punuk Unta) tidaklah dijual belikan, karena hukum menyedekahkannya itu satu kesatuan dengan daging. Mereka (para ulama) sepakat bahwa daging tidak boleh dijual, begitu juga kulitnya.” [14]

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فلا يجوز لكم إعطاء الجلد كأجرة للجزار، كما لا يجوز بيع شيء من الأضحية بما في ذلك الجلد له أو لغيره

Maka, tidak boleh bagimu memberikan kulit sebagai upah bagi penjagal, sebagaimana tidak boleh menjual bagian apa pun dari hewan qurban, seperti kulit atau lainnya. [15]

Ada pula yang membolehkan, yakni Al Auza’i, Ishaq, Ahmad, Abu Tsaur, dan segolongan Syafi’iyah. Abu Tsaur beralasan karena semua ulama sepakat bahwa kulit boleh dimanfaatkan, maka menjual kulit termasuk makna “memanfaatkan.” [16]

Menurut mayoritas ulama adalah tidak boleh. Berkata Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

واختلفوا في جلدها وشعرها مما ينتفع به فقال الجمهور لا يجوز وقال أبو حنيفة يجوز بيعه بغير الدنانير والدراهم يعني بالعروض

Para ulama berbeda pendapat tentang menjual kulit dan bulunya, yang termasuk bisa dimanfaatkan. Mayoritas ulama mengatakan tidak boleh, Abu Hanifah berpendapat boleh menjualnya dengan bukan dinar dan dirham, yakni dengan ’uruudh (barang berharga selain emas). [17]

Imam An Nawawi menjelaskan:

ومذهبنا أنه لا يجوز بيع جلد الهدى ولا الأضحية ولا شيء من أجزائهما

Pendapat mazhab kami adalah tidak boleh menjual kulit hewan qurban, tidak pula boleh dijual sedikit pun bagian-bagiannya. [18]

Beliau juga mengatakan:

وحكى بن المنذر عن بن عمر وأحمد واسحق أنه لا بأس ببيع جلد هديه ويتصدق بثمنه قال ورخص في بيعه أبو ثور

Ibnul Mundzir menceritakan bahwa Ibnu Umar, Ahmad, dan Ishaq menyatakan bahwa boleh menjual kulit hewan qurban, dan menyedekahkan uangnya. Katanya: Abu Tsaur memberikan keringanan dalam menjual kulit.[19]

Lalu, Imam An Nawawi juga menceritakan bahwa Al Auza’i dan An Nakha’i membolehkan menjual kulit dengan ayakan, timbangan, dan semisalnya. Al Hasan Al Bashri membolehkan kulit diberikan untuk penjagal. Lalu semua pendapat ini dikomentari Imam An Nawawi, katanya:

وهذا منابذ للسنة والله أعلم

Semua ini berlawanan dengan sunah. Wallahu A’lam.[20]

Demikianlah adanya perbedaan pendapat dalam hal menjual kulit. Namun, yang shahih –wallahu a’lam- adalah tidak boleh menjualnya sesuai zhahir hadits tersebut, dan apa yang dikatakan oleh Imam An Nawawi, bahwa menjualnya adalah: “Berlawanan dengan sunah.”

Catatan Kaki

[1] HR. Bukhari No. 1551, Al Baihaqi dalam As sunan Al Kubra No. 9993, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1879

[2] HR. Muslim No. 1320

[3] HR. Abu Daud No. 1767, sAs Sunan Al Kubra No. 9999, Syaikh Al Albany menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1767.

[4] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/741

[5] Lihat takhrijnya pada catatan kaki No. 26

[6] Syaikh Sayyid Sabiq. Ibid.

[7] Imam Ibnul Mundzir, Kitabul Ijma’, No. 220

[8] HR. Bukhari No. 5565

[9] HR. Muslim No. 1967

[10] Ibid

[11] HR. Muslim No. 1317

[12] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/742.

[13] Ta’sisul Ahkam, 3/313

[14] Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 15/254

[15] Fatawa Syabakah Al Islamiyah, No. 58258

[16] Ibid

[17] Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, 4/95

[18] Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,9/65

[19] Ibid

[20] Ibid
=================================

(Dok. IKMI Johor)

VIII. Cara Pembagian Daging Kurban

Pemilik hewan kurban berhak mendapatkannya dan memakannya. Hal ini berdasarkan perintah dari Allah Ta’ala sendiri:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“.. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al Hajj (22): 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa pemilik hewan kurban berhak memakannya, lalu dibagikan untuk orang sengsara dan faqir, mereka adalah pihak yang lebih utama untuk mendapatkannya. Selain mereka pun boleh mendapatkannya, walau bukan prioritas.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah memaparkan cara pembagian sebagai berikut:

للمهدي أن يأكل من هديه الذي يباح له الاكل منه أي مقدار يشاء أن يأكله، بلا تحديد، وله كذلك أن يهدي أو يتصدق بما يراه. وقيل: يأكل النصف، ويتصدق بالنصف .وقيل: يقسمه أثلاثا، فيأكل الثلث، ويهدي الثلث، ويتصدق بالثلث.

“Si pemilik hewan kurban dibolehkan makan bagian yang dibolehkan baginya sesuai keinginannya tanpa batas. Dia pun boleh menghadiahkan atau menyedekahkan sesuka hatinya. Ada pula yang mengatakan dia boleh memakannya setengah dan menyedekahkan setengah. Dan dikatakan: dibagi tiga bagian, untuknya adalah sepertiga, dihadiahkan sepertiga, dan disedekahkan sepertiga.”[1]

IX. Bolehkah Berqurban Untuk Orang Yang Sudah Wafat?

Imam Al Bahuti mengatakan:

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ .

Imam Ahmad berkata: bahwa semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. [2]

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ .

“Segala puji bagi Allah. Tidak ada dalam ayat, dan tidak pula dalam hadits, yang mengatakan bahwa ‘Tidak Bermanfaat’ doa seorang hamba bagi mayit, dan juga amal perbuatan yang diperuntukkannya berupa amal kebaikan, bahkan para imam Islam sepakat hal itu bermanfaat bagi mayit, hal ini sudah ketahui secara pasti dalam agama Islam, hal itu telah ditunjukkan oleh Al Quran, As Sunnah, dan ijma’. Barang siapa yang menyelesihinya, maka dia adalah ahli bid’ah.” [3]

Beliau juga berkata:

وَالْأَئِمَّةُ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ وَكَذَلِكَ الْعِبَادَاتُ الْمَالِيَّةُ : كَالْعِتْقِ

“Para imam telah sepakat bahwa sedekah akan sampai kepada mayit, demikian juga ibadah maaliyah (harta), seperti membebaskan budak.” [4]

Dan, qurban termasuk ibadah maaliyah.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

أَيَّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا الإِْنْسَانُ وَجَعَل ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ نَفَعَهُ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى : كَالدُّعَاءِ وَالاِسْتِغْفَارِ ، وَالصَّدَقَةِ وَالْوَاجِبَاتِ الَّتِي تَدْخُلُهَا النِّيَابَةُ

“Amal apa pun demi mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh manusia dan menjadikan pahalanya untuk mayit seorang muslim, maka hal itu membawa manfaat bagi mayit itu, Insya Allah, seperti: doa, istighfar, sedekah, dan berbagai kewajiban yang bisa diwakilkan.” [5]

Kelompok yang membolehkan berdalil:

Diqiyaskan dengan amalan orang hidup yang sampai kepada orang yang sudah wafat, seperti doa, sedekah, dan haji.
Ibadah maaliyah (harta) bisa diniatkan untuk orang yang sudah wafat seperti sedekah, dan berqurban jelas-jelas ibadah maaliyah.
Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengisyaratkan bahwa qurban untuk orang yang sudah wafat adalah boleh dan pahalanya sampai, Insya Allah.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

‘Nabi mengucapkan: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammadin wa min ummati Muhamamdin (Dengan Nama Allah, Ya Allah terimalah Kurban dari Muhammad dan umat Muhammad),” lalu beliau pun menyembelih.” [6]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan agar qurban dari Beliau, dan umatnya diterima Allah Ta’ala. Hadits ini menyebut “umat Muhammad” secara umum, tidak dikhususkan untuk yang masih hidup saja. Sebab, “umat Muhammad” ada yang masih hidup dan yang sudah wafat.

Sebenarnya, telah terjadi perbedaan pandangan para ulama tentang berqurban untuk orang yang sudah wafat. Berikut ini rinciannya:

إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ . فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ . أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَا فَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ . وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لأَِنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ .

وَقَدْ صَحَّ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْ نَفْسِهِ ، وَالآْخَرُ عَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِهِ . وَعَلَى هَذَا لَوِ اشْتَرَكَ سَبْعَةٌ فِي بَدَنَةٍ فَمَاتَ أَحَدُهُمْ قَبْل الذَّبْحِ ، فَقَال وَرَثَتُهُ – وَكَانُوا بَالِغِينَ – اذْبَحُوا عَنْهُ ، جَازَ ذَلِكَ . وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الذَّبْحَ عَنِ الْمَيِّتِ لاَ يَجُوزُ بِغَيْرِ وَصِيَّةٍ أَوْ وَقْفٍ .

Jika seseorang berwasiat untuk berkurban atau berwaqaf untuk itu, maka dibolehkan berkurban baginya menurut kesepakatan ulama. Jika dia memiliki kewajiban karena nazar atau selainnya, maka ahli warisnya wajib melaksanakannya. Ada pun jika dia tidak berwasiat, dan ahli waris dan selainnya nya hendak berkurban untuknya dari hartanya sendiri, maka menurut Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, membolehkan berkurban untuknya, hanya saja Malikiyah membolehkan dengan kemakruhan. Mereka membolehkan karena kematian tidaklah membuat mayit terhalang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala sebagaimana sedekah dan haji.

Telah shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua kambing kibas, satu untuk dirinya dan satu untuk umatnya yang belum berkurban. Atas dasar ini, seandainya tujuh orang berpartisipasi dalam kurban Unta, lalu salah seorang ada yang wafat sebelum penyembelihan. Lalu ahli warisnya mengatakan –dan mereka sudah baligh- : sembelihlah untuknya, maka itu boleh. Sedangkan kalangan Syafi’iyah berpendapat tidak boleh berkurban untuk mayit tanpa diwasiatkan dan waqaf. [7]

Catatan Kaki:

[1] Ibid, 1/742-743

[2] Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16

[3] Majmu’ Fatawa, 5/466. Mawqi’ Al Islam

[4] Ibid

[5] Al Mughni, 567-569

[6] HR. Muslim No. 1967

[7] Al Bada’i Shana’i, 5/72. Hasyiyah Ibnu Abidin, 5/214. Hasyiyah Ad Dasuqi, 2/122, 123. Hasyiyah Al Bujirumi ‘alal Minhaj, 4/300. Nihayatul Muhtaj, 8/136. Al Mughni ‘Alal Asy Syarh Al Kabir, 11/107. Muthalib Ulin Nuha, 2/472

=======================================

Fiqh Aqiqah dan perbedaannya dgn qurban

PENGERTIAN ‘AQIQAH

  • ‘Aqiqah ialah sembelihan binatang an‘am yang dilakukan kerana menyambut kanak-kanak yang baru dilahirkan sebagai tanda kesyukuran kepada Allah subhanahu wata‘ala.

HUKUM MELAKUKAN ‘AQIQAH

  • Hukum melakukan ‘aqiqah ialah sunnah mu’akkadah bagi orang yang menanggung sara hidup kanak-kanak tersebut. Jika anak itu lelaki disunatkan menyembelih dua ekor kambing, manakala jika anak itu perempuan disunatkan menyembelih seekor kambing. Binatang seperti lembu, kerbau atau unta boleh dibahagikan kepada tujuh bahagian.

——————————–

Qurban dan aqiqah punya banyak persamaan dan perbedaan. Di antara persamaannya adalah sama-sama ibadah ritual dengan cara penyembelihan hewan. Dagingnya sama-sama boleh dimakan oleh yang menyembelihnya, meskipun sebaiknya sebagian diberikan kepada fakir miskin, tapi boleh juga diberikan sebagai hadiah. Hal ini berdasarkan hadis Aisyah ra.

Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh. (HR Al-Baihaqi).

Sedangkan perbedaannya, ibadah qurban hanya boleh dilakukan pada hari tertentu saja, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Dimulai sejak selesainya shalat ‘Idul Adha. Sedangkan aqiqah dilakukan lantaran adanya kelahiran bayi, yang dilakukan penyembelihannya pada hari ketujuh menurut riwayat yang kuat. Sebagian ulama membolehkannya pada hari ke 14, bahkan pendapat yang lebih luas, membolehkan kapan saja.

Bolehkah Menyembelih Quran untuk Orang yang Sudah Wafat?

Umumnya para ulama membenarkan menyembelih hewan qurban untuk keluarganya yang telah wafat. Kalau pun ada berbedaan di antara mereka, maka sedikit saja permasalahannya.

Apalagi bila semasa hidupnya pernah berwasiat untuk berkurban dari harta yang dimilikinya, maka semua mazhab menerimanya dan berpendapat bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal itu syah.

Sedangkan bila inisiatif itu datang dari orang lain dan juga uangnya, maka para ulama sedikit berbeda pendapat.

Fuqaha dari kalangan Al-Malikiyah mengatakan bahwa hal itu masih tetap boleh tapi dengan karahiyah (kurang disukai). Sebaliknya, kalangan fuqaha dari Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa hal itu boleh hukumnya. Artinya tetap syah dan diterima disisi Allah SWT sebagai pahala qurban.

Sebenarnya jumhur ulama umumnya menerima bahwa pahala yang dikirimkan kepada mayit di kubur itu bisa sampai. Terkecuali pendapat kalangan Asy-Syafi’iyah, mereka tidak menerima pandangan itu. Artinya, kalangan fuqaha Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa tidak bisa dikirm pahala kepada orang yang sudah wafat. Kecuali bila memang ada wasiat atau waqaf dari mayit itu ketika masih hidup.

Sebenarnya pendapat kalangan Asy-Syafi’iyah ini justru bertentangan dengan perilaku umat Islam di negeri ini yang mengaku bermazhab Asy-Syafi’iyah. Dan fenomena tahlilan atau mengirim pahala bacaan ayat Al-Quran al-Kariem kepada ruh di kubur justru menjadi ciri khas keagaamaan bangsa ini. Sementara mazhab mereka dalam hal ini Imam Asy-Syafi’i justru mengatakan bahwa pengiriman itu tidak akan sampai.

Sedangkan dasar kebolehannya adalah bahwa dalil-dalil menunjukkan bahwa kematian itu tidak menghalangi seorang mayit bertaqaruub kepada Allah SWT, sebagaimana dalam masalah shadaqah dan haji.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah hutang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR Al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji dengan dilakukan oleh orang lain memang jelas dasar hukumnya, oleh karena para shahabat dan fuqoha mendukung hal tersebut. Mereka di antaranya adalah Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Imam Asy-Syafi`i ra. dan lainnya. Sedangkan Imam Malik ra. mengatakan bahwa boleh melakukan haji untuk orang lain selama orang itu sewaktu hidupnya berwasiat untuk dihajikan.

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya.” (HR Jamaah)

Adapun anak yang meninggal saat dilahirkan, menurut banyak ulama tidak perlu disembelihkan aqidah, sebab secara umum aqidah hanya untuk anak yang hidup, sebagai doa atas kebaikannya di dunia ini.

—————————

WAKTU PELAKSANAAN ‘AQIQAH

  • Waktu melakukan ‘aqiqah adalah dari hari kelahiran kanak-kanak itu sehinggalah ia baligh. Masa yang paling afdhal untuk melakukan ‘aqiqah adalah pada hari ketujuh kelahiran kanak-kanak tersebut.
  • Sabda Rasullullah sallallahu ‘alayhi wasallam:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ , وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى .

Maksudnya:
“Setiap bayi itu tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya dan diberi nama.”
(Riwayat Abu Daud)

SYARAT ‘AQIQAH

  1. Berniat ‘aqiqah ketika menyembelih.
  2. Hendaklah binatang tersebut tidak ada cacat yang boleh mengurangkan dagingnya serta sampai umur.

PERKARA SUNAT SEMASA ‘AQIQAH

  1. Berdoa semasa hendak menyembelih: بِسْمِ اللهِ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَةٌ … (sebut nama anak)
    Maksudnya:
    “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, binatang ini daripada-Mu dan kembali kepada-Mu, ini ‘aqiqah…”.
  2. Menyembelih ketika matahari sedang naik.
  3. Daging ‘aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum disedekahkan.
  4. Tidak mematah-matahkan tulang-tulang daripada binatang ‘aqiqah, hanya mencerai-ceraikan sendi-sendinya.
  5. Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.
  6. Memasak daging ‘aqiqah dengan cara gulai manis untuk dihidangkan kepada tetamu.

PERKARA YANG PERLU DILAKUKAN KETIKA MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK

  1. Mengazankan di telinga sebelah kanan anak yang baru lahir.
  2. Membaca iqamah di telinga sebelah kirinya.
  3. Membaca doa di kedua-dua belah telinganya, contohnya membaca surah Al-Ikhlas.
  4. Menyapu lelangit kanak-kanak tersebut dengan benda-benda yang manis seperti buah tamar atau pisang.
  5. Menamakan kanak-kanak tersebut dengan nama-nama yang baik pada hari ketujuh kelahirannya.
  6. Mengadakan jamuan dan doa kesyukuran sempena kelahirannya.
  7. Mencukur rambut kanak-kanak tersebut selepas menyembelih ‘aqiqah untuknya.
  8. Memberi sedekah emas atau perak seberat rambut kanak-kanak yang dicukur itu atau wang yang sama nilai dengan emas atau perak tersebut.
  9. Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.

HIKMAH ‘AQIQAH

  1. ‘Aqiqah mengandungi beberapa hikmah, antaranya:
  2. Sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah kerana telah mengurniakan anak.
  3. Untuk mengisytiharkan kepada masyarakat umum tentang anugerah yang dikurniakan oleh Allah.
  4. Untuk memulakan kehidupan anak dengan perkara-perkara kebaikan.
  5. Mengeratkan hubungan silaturrahim antara ahli-ahli masyarakat dengan keluarga yang dikurniakan anak.
  6. Melahirkan rasa kegembiraan kerana mendapat zuriat yang menepati sunnah Rasulullah.

Perbezaan antara ‘aqiqah dan qurban.

Terdapat beberapa perbezaan antara ‘aqiqah dengan qurban:

  1. ‘Aqiqah tidak terikat pada masa tertentu, sedangkan qurban dilakukan pada masa-masa tertentu, iaitu selepas sembahyang dan khutbah Hari Raya ‘Aidil Adha hingga 13 Zulhijjah.
  2. Daging ‘aqiqah boleh diberi milik kepada orang kaya manakala daging qurban hanya boleh diberi kepada fakir miskin.
  3. ‘Aqiqah dilakukan sempena menyambut kelahiran anak sebagai tanda kesyukuran kepada Allah, manakala qurban dilakukan kerana memperingati peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya, Isma‘il.
  4. Daging qurban sunat disedekahkan secara mentah, sedangkan daging ‘aqiqah sunat disedekahkan setelah dimasak.

===============================

Sudah Dewasa Belum Diaqiqah, Lebih Utama Qurban atau Aqiqah yang Tertunda ?

Aqiqah adalah sembelihan hewan kurban untuk anak yang baru lahir dan dilakukan pada hari ketujuh kelahirannya. Hukum pelaksanaan aqiqah ini adalah sunnah muakkadah, sebagaimana diriwayatkan dari Samurah bahwa Nabi saw bersabda,”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberikan nama untuknya.” (HR. Imam yang lima, Ahmad dan Ashabush Sunan dan dishohihkan oleh Tirmidzi)

Waktu pelaksanaan aqiqah ini adalah pada hari ketujuh dari hari kelahirannya namun jika ia tidak memiliki kesanggupan untuk menagqiqahkannya pada hari itu maka ia diperbolehkan mengaqiqahkannya pada hari keempat belas, dua puluh satu atau pada saat kapan pun ia memiliki kelapangan rezeki untuk itu, sebagaimana makna dari pendapat para ulama madzhab Syafi’i dan Hambali bahwa sembelihan untuk aqiqah bisa dilakukan sebelum atau setelah hari ketujuh.

Adapun yang bertanggung jawab melakukan aqiqah ini adalah ayah dari bayi yang terlahir namun para ulama berbeda pendapat apabila yang melakukannya adalah selain ayahnya :

1. Para ulama Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa sunnah ini dibebankan kepada orang yang menanggung nafkahnya.

2. Para ulama Madzhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa tidak diperkenankan seseorang mengaqiqahkan kecuali ayahnya dan tidak dieperbolehkan seorang yang dilahirkan mengaqiqahkan dirinya sendiri walaupun dia sudah besar dikarenakan menurut syariat bahwa aqiqah ini adalah kewajiban ayah dan tidak bisa dilakukan oleh selainnya.

3. Sekelompok ulama Madzhab Hambali berpendapat bahwa seseorang diperbolehkan mengaqiqahkan dirinya sendiri sebagai suatu yang disunnahkan. Aqiqah tidak mesti dilakukan saat masih kecil dan seorang ayah boleh mengaqiqahkan anak yang terlahir walaupun anak itu sudah baligh karena tidak ada batas waktu maksimalnya.(al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2748)

Aqiqah atau Kurban

Dari keterangan diatas bisa disimpulkan bahwa aqiqah tidak mesti dilakukan pada hari ketujuh dan itu semua diserahkan kepada kemampuan dan kelapangan rezeki orang tuanya, bahkan ia bisa dilakukan pada saat anak itu sudah besar / baligh.

Orang yang paling bertanggung jawab melakukan aqiqah adalah ayah dari bayi terlahir pada waktu kapan pun ia memiliki kesanggupan. Namun jika dikarenakan si ayah memiliki halangan untuk mengadakannya maka si anak bisa menggantikan posisinya yaitu mengaqiqahkan dirinya sendiri, meskipun perkara ini tidak menjadi kesepakatan dari para ulama.

Dari dua hal tersebut diatas maka ketika seseorang dihadapkan oleh dua pilihan dengan keterbatasan dana yang dimilikinya antara kurban atau aqiqah maka kurban lebih diutamakan baginya, dikarenakan hal berikut :

1. Perintah berkurban ini ditujukan kepada setiap orang yang mukallaf dan memiliki kesanggupan berbeda dengan perintah aqiqah yang pada asalnya ia ditujukan kepada ayah dari bayi yang terlahir.

2. Meskipun ada pendapat yang memperbolehkan seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri namun perkara ini bukanlah yang disepakati oleh para ulama.

Dalil mereka yang memperbolehkan seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri adalah apa yang diriwayatkan dari Anas dan dikeluarkan oleh al Baihaqi, “Bahwa Nabi saw mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah beliau diutus menjadi Rasul.” Kalau saja hadits ini shohih, akan tetapi dia mengatakan,”Sesungguhnya hadits ini munkar dan didalamnya ada Abdullah bin Muharror dan ia termasuk orang lemah sekali sebagaimana disebutkan oleh al Hafizh. Kemudian Abdur Rozaq berkata,”Sesungguhnya mereka telah membicarakan dalam masalah ini dikarenakan hadits ini.” (Nailul Author juz VIII hal 161 – 162, Maktabah Syamilah)

Nabi Ibrahim melaksanakan TAQWA penuh resiko, nyawa taruhannya, dan UJIANnya sangat BESAR bagi NABI dan RASUL —————————— “Ibrahim” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang. ————————- Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut. ————— Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.——————- Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.———- Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud ———– Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:— “Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).——— Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.———— Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.———- Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.————– Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.——– Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”——– Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.—- Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”—- Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:—- “Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”——— “Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”——- “Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”—– Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”————– Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.——— Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)—————- “Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)———– Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.——– Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.——— “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).——————- Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.————– Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk————– “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)———— Nabi Ibrahim dan Keturunannya—————- Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.————– Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.———– Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.———- Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.—————– Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.——————- Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:- Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).——– Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran: 1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)———— 2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).——— 3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)————- 4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).——- Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja. ————— kisah nabi ibrahim Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.—————- “Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)———– “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)—————- ————– Kelahiran Nabi Ismail ————- Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.————- Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)—————— Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.———– Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat—– Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.———- Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.————— Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,————— “Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)————– Kisah Penyembelihan Nabi Ismail———– Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.————- Kunjungan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ke Mekah——– Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.——- Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,— “Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)———————- Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.— Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)———– Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.———— Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).—————— Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.———- Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),— (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)——————— Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)——————- Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud. ——————————– Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak.

kisah ibrahim lengkap

Nabi Ibrahim melaksanakan TAQWA penuh resiko, nyawa taruhannya, dan UJIANnya sangat BESAR bagi NABI dan RASUL 

——————————

“Ibrahim” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu Ib dan Rahim. Ib sama artinya dengan Abun dalam bahasa Arab, yaitu bapak atau ayah. Rahim dalam bahasa Suryani sama artinya dengan Rahim dalam bahasa Arab, yaitu penyayang. Jadi, Ibrahim berarti ayah yang penyayang.

————————-
Kisah Nabi Ibrahim AS | Nabi Ibrahim adalah anak dari Tarikh bin Nahur bin Sarug bin Argu bin Falig bin Amir bin Syalakh bin Qoynan bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan di Sawad, Babilonia pada zaman raja Namrud. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM. Beliau seorang Rasul Allah yang diutus kepada suatu kaum di negeri Irak yang dikuasai raja Namrud tersebut.

—————
Menurut sejarah, Namrud adalah raja pertama yang menjadi penguasa besar dunia yang menguasai Timur dan Barat di zamannya. Dia adalah anak dari Kausy bin Kanaan bin Ham bin Nuh. Menurut riwayat dalam masa pra sejarah hanya ada 4 orang yang menguasai Timur dan Barat pada zaman masa pra sejarah: 1. Namrud, 2. Sulaiman bin Daun, 3. Dzulkarnain, 4. Bakhtansar. Dua orang beriman dan dua lagi kafir. Raja Namrud seorang raja yang memerintah tanpa undang-undang, dialah undang-undang itu. Kekuasaannya berpusat di Timur sebelum berdirinya kerajaan Persia. Ia seorang raja yang mengaku dirinya sebagai Tuhan.——————-

Menurut riwayat Namrud mendengar dari ahli nujumny bahwa akan ada anak yang dilahirkan, seorang laki-laki yang akan menentangnya dan menghancurkan kekuasaannya. Anak itu adalah Ibrahim as. Yang akan menghapus agama kalian dan menghancurkan berhala kalian pada bulan dan tahun yang ditentukan. Maka diperintahkan oleh Namrud seluruh anak yang lahir saat itu harus dibunuh. Maka dibunuhlah anak-anak yang lahir pada bulan itu. Sehingga banyak wanita yang tidak mau melahirkan pada bulan itu. Sedang ibu Nabi Ibrahim menyembunyikan kehamilannya pada saat kesempatan baik ia keluar menuju gua untuk melahirkan anaknya. Setiap waktu, ia datangi tempat itu untuk melihat keadaannya. Dilihatnya anak itu tetap sehat sedang mengisap telunjuk jari tangannya. Kaum raja Namrud semuanya mennyembah berhala. Sedang Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk menyembah tuhan sebenarnya. Nabi Ibrahim sejak kecil sudah terpelihara dari segala macam syirik dan maksiat. Hidayat Allah telah mempengaruhi jiwanya sehingga patung-patung, arca-arca yang menjadi sesembahan mereka, menimbulkan soal dalam hatinya: “Kenapa ini yang harus disembah, padahal tak dapat mendengar dan melihat, apalagi menghidupkan dan mematikan. Benarkah ini Tuhan? Siapakah ini yang membuatnya?.———-

Kisah nabi ibrahim dalam melawan Namrud ———–

Siang malam ia mencari TUhan dengan akalnya, mencari Tuhan yang sebenar-benarnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran sebagai berikut:—

“Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang, katanya “Inilah Tuhanku? Tetapi setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata:”Aku tidak akan berTUhan kepada yang terbenam” Setelah itu ia melihat pula bulan purnama yang memancarkan cahayanya, iapun berkata: :Inilah Tuhanku?”Tetapi setelah bulan itu lenyap, ia berkata: Susungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian dia melihat pula olehnya matahari bercahaya (lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang ia lihat sebelumnya} maka iapun berkata: “Inilah Tuhanku yang lebih besar”. Tetapi setelah matahari terbenam iapun berkata:”Hai kaumku! AKu terlepas dari apa yang kamu persekutukan”. “Sesungguhnya aku hanya menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menjadi langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku sekali-kali tidak mau mempersekutukanNya. “(QS. al-Anam 6:76-79 disebut pula dalam QS. as-Shoffat 37:88-90).———

Demikianlah nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan mempergunakan akal fikirannya, dengan memperhatikan alam sekitarnya. Setelah Nabi Ibrahim memulai melakukan dakwahnya menyiarkan agama ALlah, Nabi Ibrahim as berani membersihkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar, juga beliau berani menghancurkan berhala-berhala yang tidak pula memberikan kemudahan.————

Seruan Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud dan Rakyatnya.———-

Pada suatu hari kaumnya mengadakan upacara agama mereka. Mereka keluar kampung bersama Raja Namruda dan kampungnya ditinggalkan kososng, hanya Nabi Ibrahim yang tinggal, ia beralasan kakinya sakit. Nabi Ibrahim pergi ke rumah berhala mereka, lalu dipecahkannya berhala-berhala itu satu persatu. Ditinggalkannya berhala yang paling besar. Dikalungkannya kampak pada leher berhala yang besar kemudian ia pergi.————–

Ketika mereka pulang ke kampung teruslah mereka menuju rumah berhala-berhala itu, dilihatnya berhala-berhala itu telah hancur. Tidak syak lagi menduga Nabi Ibrahim yang menghancurkannya.——–

Raja Namrud marah besar kepada nabi Ibrahim, kemudian ia bertanya: “Wahai Ibrahim, Engkaulah yang memecahkan berhala-berhala ini?”——–

Nabi Ibrahim menjawab: “Bukan, tetapi dipecahkan oleh berhala-berhala yang besar, buktinya kampaknya masih di lehernya”.—-

Raja Namrud tambah marah, seraya berkata : “Mana mungkin patung semacam ini dapat berbuat”. Kata nabi Ibrahim selanjutnya: “Kalau kamu tidak dapat berbuat mengapa engkau sembah?”—-

Tatkala tak ada lagi alasan bagi mereka untuk membenarkan perbuatan mereka, dihadapkanlah Ibrahim ke dalam pengadilan raja. Ia berkata kepadanya:—-

“Ibrahim, siapakah yang menjadikan alam ini?”———

“Yang menjadikan alam ini ialah Dzat yang dapat menghidupkan dan yang dapat mematikan dan berkuasa atas segala-galanya”——-

“Aku juga berkuasa, barangsiapa yang aku perintah untuk membunuhnya, maka matilah ia, dan apabila aku tidak bunuh ia maka hiduplah ia”—–

Tuhan kami ialah yang menerbitkan matahari dari sebelah timur, maka cobalah kamu putar terbitnya dari sebelah barat”————–

Mendengar perkataan Ibrahim itu, maka tercenganglah ia tak dapat menjawab. Amat murkalah raja Namrud atas kekalahannya dalam dialog itu, maka disuruhlah mereka bakar Nabi Ibrahim. Dikumpulkanlah berbagai kayu bakar dan dedaunan kering untuk membakarnya. Kemudian Nabi Ibrahim dibakar.———

Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku Engkaulah Tuhan Yang Esa di langit dan akulah seorang di bumi yang menyembah kepadaMu tidak ada yang menyembahMu selain aku, cukuplah Allah sebagai pelindungku. Kemudian ALlah menurunkan wahyu kepadanya agar api itu menjadi dingin dan menyelamatkan, dan selama Nabi Ibrahim dibakar beliau tidak merasakan panasnya api (QS. Al Baqarah 2:258)—————-

“Kami berfirman: “Hai api jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahmi” (QS. AL-Anbiya 21:69)———–

Maka selamatkanlah beliau dari api itu, dan ia tidak terbakar oleh panasnya api yang membara itu. Dan berimanlah Luth bin Haran bin Tarikh, anak saudaranya serta Sarah binti Haran, istri serta anak pamannya raja Harran.——–

Belia mengajak ayahnya, Azar, untuk beriman kepada Allah, dan segera bertaubat.———

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia seorang Nabi yang sangat membenarkan, ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberikan pertolongan kepada engkau sedikitpun?”. “Wahai Ayahku! Aku telah diberi pengetahuan yang belum engkau ketahui. Sebab itu ikutlah aku. Niscaya akan kutunjukkan engkau ke jalan yang lurus”. “Wahai Ayahku! Jangan engkau sembah syetan, sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”. Allah yang akan menimpa engkau: maka engkau menjadi kawan bagi syetan”. Berkata ayahnya: “Apakah engkau benci kepada sesembahanku (patung-patung), hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti menghina Tuhan-tuhanku niscaya aku akan melempar menyiksamu dan enyahlah engkau dariku selamanya ” (QS. Maryam 19:41-46).——————-

Tidak lama kemudian Nabi pindah ke negeri Kanaan. Dan disanalah beliau menyampaikan ajaran agamanya kepada manusia. Dan disanalah beliau berumah tangga sampai mendapat keturunan. Adapun halnya raja Namrud, ia binasa karena perbuatannya, nyamuk telah masuk ke dalam telinganya dan tidak keluar juga sampai akhirnya ia memukul kepalanya dengan palu, setiap hari ia memukul kepalanya dengan palu sampai membunuh dirinya sendiri.————–

Itulah bukti nyata bagi orang-orang yang beriman atas mereka yang kufur kepada Allah dan menyekutukannya dengan makhluk————–

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yamg kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu)mu itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. Ibrahim berkata “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”(QS. Al-Mumtahanah 60:4)————

Nabi Ibrahim dan Keturunannya—————-
Nabi Ibrahim mempunyai dua orang isteri, Sarah dan Hajar. Dari keduanyalah beliau mendapat keturunan Nabi Ismail dari garis keturunan ibunya Hajar, dan Nabi Ishaq dari garis keturunan ibunya Sarah.————–

Sebenarnya, Nabi Ibrahim belum punya keturunan sampai usia beliau lanjut. Hingga akhirnya, Sarah menyuruh beliah untuk mencari seorang wanita yang dapat memberikannya keturunan. Maka dikawinilah oleh Nabi Ibrahim hamba sahayanya yang berkebangsaan Mesir, Hajar.———–

Tidak lama kemudian Hajar mengandung anaknya, sedangkan nabi Ibrahim berumur 86 tahun, sehingga bahagialah hati Nabi dan Hajar dengan kehadiran Ismail, seorang anak yang dirindukannya. Namun demikian kebahagiaan itu justru membuat Sarah dirundung sedih dan duka, tak tahan melihat kebahagiaan mereka berdua.———-

Sehingga Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan Hajar dan anaknya di Makkah, sebagaimana akan diceritakan dalam sejarah Nabi Ismail as. Beserta Hajar ibunya. Dan Allah memerintahkan kepadanya melakukan syariat qurban yang digantikan Allah dengan kambing Kibasy. Dan setelah itu beliau mendirikan Kabah.—————–

Setelah kepergiaan Hajar, dengan rahmat Allah Sarah pun mengandung anaknya. Dan ketika nabi Ibrahim mendapatkan Ishaq, beliau berumur 99 tahun. Betapa bahagia hatinya mendapatkan keturunan dari Nabi Ibrahim, anak itu diberi nama ishaq as.——————-

Diantara ujian yang diterima Ibrahim selain pengorbanan itu adalah pemberlakuan syariat yang diterimanya dari Allah berupa Shahifah. Diriwayatkan beliau menerima 30 shahifah, Nabi Ibrahim melaksanakan semua perintah Allah dengan baik, sebagaimana dinyatakan Allah:-

Dan ketika Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu ia menyempurnakannya. Allah berfirman: sesungguhnya aku menjadikan dirimu sebagai pemimpin bagi manusia, ia berkata: “Dan keturunanku” Allah berfirman: “Orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan janjiku” (QS. al-Baqarah 2:124).——–

Diriwayatkan bahwa 30 atau 40 shahifah itu terdapat di beberapa tempat dalam Al-Quran:
1. 10 dalam surat Baraah:”Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang memuji (Allah) yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu” (QS. At-taubah 9:112)————

2. Sepuluh di surat al-ahzab: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar “(QS. Al-Ahzab 33:35).———

3. Sepuluh di surat al-Mukmin : “Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya ” (QS. Al-Mukminun 23:9)————-

4. Sepuluh dalam surat Sa ala sailun : “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al-Maarif 70:34).——-

Diriwyatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffari dari Rasulullah saw bah shohifah Ibrahim merupakan perumpamaan seluruhnya, agar manusia mengambil ibarat dan hikmah darinya. Di dalamnya terdapat hikmah bagi orang-orang yang berakal bagaimana manusia membagi waktunya untuk beribadah kepada Allah, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, waktu untuk merenungkan dirinya terhadap masa lalu dan masa depannya, dan waktu dipergunakannya untuk keperluannya yang halal bagi hidupnya. Ada tiga hal yang harus dipersiapkannya; bekal untuk akheratnya, bekal untuk hidupnya, dan kesenangan bukan pada yang haram. Untuk itulah maka orang yang berakal harus memiliki kemampuan melihat zamannya, siap menghadapi masalahnya dan menjaga lisannya. Dan barangsiapa yang menjaga perkataannya dari perbuatannya maka sedikitlah kata-katanya kecuali apa yang diperlukannya saja.
—————
kisah nabi ibrahim
Perjuangan Nabi Ibrahim yang sangat panjang dalam menegakkan kebenaran didasari dengan kesabarannya menjalankan perintah Allah. Karena kesabarannya itu maka ALlah memberi julukan Khalilullah, dan menjadikan orang sesudahnya sebagai pimpinan, dan menjadikan keturunannya sebagai Rasul. Dari keuda anaknya, ismail dan ishaq, lahirlah para Nabi yang menyeru kepada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar. Karena itulah Nabi Ibrahim akhirnya dijuluki sebagai bapak para nabi. Nabi Ibrahim mendapat tempat mulia di sisi Allah, belia termasuk salah satu nabi ulul azmi diantara lima nabi-nabi lainnya karena Allah telah mengambil dari mereka satu perjanjian yang berat; mereka adalah nabi nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad saw. Dan beliaupun mendapat gelar khalilullah.—————-

“Dan tidak ada yang benci kepada Agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang yang saleh ” (QS. Al-Baqarah 2:130)———–

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapt dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-nahl 16:120)—————-

————–

Kelahiran Nabi Ismail ————-

Sarah adalah istri Nabi Ibrahim yang mandul, ia mengetahui keadaan suaminya yang merindukan keturunan yang baik, maka Sarah memberikan pembantunya Hajar agar dinikahinya dengan harapan Allah mengaruniakan daripadanya keturunan yang saleh. Maka Nabi Ibrahim menikahi Hajar dan lahirlah daripadanya Nabi Ismail, sehingga Nabi Ibrahim sangat berbahagia sekali karena telah lama menunggu kedatangannya.————-

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya (Nabi Ismail) ke Mekah. Setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkannya sambil berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)——————

Kemudian Nabi Ibrahim kembali ke istrinya, yaitu Sarah.———–

Tamu Nabi Ibrahim yang Terdiri dari Para Malaikat—–

Suatu hari, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kedatangan tamu yang terdiri dari para malaikat dalam bentuk manusia, maka Nabi Ibrahim segera berdiri dan menyembelih untuk mereka seekor anak sapi yang gemuk lalu memanggangnya, kemudian menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak mau makan, karena para malaikat tidak makan dan minum.———-

Ketika itulah, para malaikat memberitahukan bahwa mereka bukan manusia, bahkan sebagai malaikat yang datang untuk menimpakan azab kepada penduduk Sadum, karena mereka tidak mengikuti ajakan Nabi mereka, yaitu Luth ‘alaihissalam.—————

Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anaknya dari istrinya Sarah, yaitu Ishaq. Padahal Sarah seorang yang mandul dan sudah tua, sedangkan suaminya juga sudah tua, lalu para malaikat memberitahukan bahwa yang demikian adalah ketetapan Allah, para malaikat berkata,—————

Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Terj. Hud: 73)————–

Kisah Penyembelihan Nabi Ismail———–

Suatu hari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi menyembelih anaknya, lalu beliau memberitahukan mimpinya itu kepada anaknya. Hal ini merupakan ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Meskipun ujian ini begitu berat, namun Nabi Ismail siap memikulnya karena taat kepada Allah, dan saat masing-masing bersiap-siap menjalankan perintah Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga sudah membaringkan Nabi Ismail dan telah mengambil pisau untuk menyembelihnya. Tetapi saat hendak menyembelihnya, angin segar pun datang, malaikat Jibril datang membawa kambing yang besar untuk menebus Nabi Ismail. Untuk selanjutnya, peristiwa itu dijadikan sandaran dalam pensyariatan kurban pada hari raya Idul Adh-ha.————-

Kunjungan Nabi Ibrahim Alaihissalam ke Mekah——–

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pergi ke Mekah untuk melihat kondisi Hajar dan anaknya, Ismail. Dalam salah satu kunjungan, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meminta anaknya membantunya dalam meninggikan pondasi baitullah yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk dibangunkan, lalu Nabi Ismail setuju.——-

Keduanya pun mengangkut batu sehingga selesailah pembangunannya. Setelah selesai, keduanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia menerima amal mereka berdua. Keduanya berkata,—

Ya Tuhan Kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.–Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji Kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 127-128)———————-

Maka Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam, Dia memberikan berkah kepada ka’bah dan menjadikannya kiblat bagi kaum muslim di setiap tempat dan setiap waktu.—

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki ajaran yang lurus dan syariat yang mulia, dimana kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengikutinya, Dia berfirman, “Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali Imran: 95)———–

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan isra’-mi’raj, maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di langit ketujuh dengan menyandarkan punggungnya ke Baitul ma’mur yang seharinya dimasuki oleh 70.000 malaikat untuk beribadah dan berthawaf di situ. Setelah itu mereka keluar dan tidak kembali lagi.————

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai Nabi Ibrahim dan menjadikannya sebagai kekasih-Nya (lihat QS. An Nisaa’: 125).——————

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diberi pakaian pada hari Kiamat (Muttafaq ‘alaih). Saat itu, manusia dalam keadaan telanjang, lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi pakaian sebagai penghormatan kepadanya. Setelah itu para nabi setelahnya dan manusia setelahnya.———-

Dalam Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Dia berfirman,

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.–Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.–Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (QS. An Nahl: 120-123)———————

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melebihkan beliau di dunia dan di akhirat, Dia menjadikan para nabi dari keturunannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al ‘Ankabut: 27)——————-

Beliau termasuk para rasul ulul ‘azmi, bahkan beliau adalah rasul yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kita diperintahkan bershalawat kepadanya dalam tasyhhud.
——————————–

Nabi Ibrahim wafat di berdampingan dengan kubur Sarah di Hebron dalam usia 200 tahun. Meninggalkan keturunan para Nabi yang banyak.

berbagai sumber
wallahua’lam

Seorang muslimah makan sambil berjalan, makan dengan tangan kiri, tanpa berdoa, bahkan menyisakan makanan, hal ini seakan sudah menjadi pemandangan umum di kantin-kantin kampus. Betapa miris hati ini melihatnya. Bila amal ibadah yang ringan saja sudah ditinggalkan dan disepelekan, bagaimana dengan amalan yang besar pahalanya?? Atau mungkinkah karena hal itu hanya merupakan suatu ibadah yang kecil kemudian kita meninggalkannya dengan alasan kecilnya pahala yang akan kita peroleh? Tidak begitu Saudariku … Yang sedikit apabila rutin dilakukan, maka akan menjadi banyak! Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ (٣٣) “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad 33) ———————- Cukuplah firman Allah Ta’ala tersebut menjadi nasihat bagi kita semua untuk selalu berusaha menaati perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, baik perintah wajib maupun anjuran (sunnah) maupun atau perintah untuk menjauhi perkara yang dilarang. Saat ini banyak kita jumpai seorang muslim yang menyepelekan amalan sunnah, namun berlebihan pada perkara yang mubah. Maka perhatikanlah firman Allah Ta’ala, وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hayr : 7) ————————– Dan di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum. —————— Adab ketika Makan dan Minum —————————- Memakan makanan dan minuman yang halal.Saudariku, hendaknya kita memilih makanan yang halal. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman, يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ “Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51) —————— Mendahulukan makan daripada shalat jika makanan telah dihidangkan.Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi shalat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih) Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika shalat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan. ——————— Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak sesungguhnya ia mengobarkan api neraka jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …” ——————– Jangan berlebih-lebihan dan boros.Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim) ———————– Mencuci tangan sebelum makan.Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencontohkan hal ini, namun para salaf (generasi terdahulu yang shalih) melakukan hal ini. Mencuci tangan berguna untuk menjaga kesehatan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit. Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh.Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad) Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud) Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim) Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan maka ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-)” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)Di antara faedah membaca basmallah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i) Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim) Makan mulai dari makanan yang terdekat.Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini sekaligus sebagai penguat dari kedua adab makan sebelumnya dan menjelaskan bagaimana cara menasihati anak tentang adab-adab makan. Lihatlah bahwa nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sangat dipatuhi oleh Umar Ibnu Abi Salamah pada perkataan beliau, “ … demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.“ Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)Sungguh betapa mulianya agama ini, sampai-sampai sesuap nasi yang jatuh pun sangat dianjurkan untuk dimakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk syukur atas makanan yang telah Allah Ta’ala berikan dan bentuk kepedulian kita terhadap fakir miskin. Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan.Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya. Cara duduk untuk makanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari) Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan. Adapun hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat makan duduk dengan menduduki salah satu kaki dan menegakkan kaki yang lain adalah dhaif (lemah). Yang benar adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh (seperti duduk sopannya seorang perempuan dalam tradisi Jawa) saat makan. Apabila lalat terjatuh dalam minumanNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah ia buang, sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari) Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makanTerdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.”(Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari) Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk.Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim) Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya. (HR.Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah (472))Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari) Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5957), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’(381))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah (499)) Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi.Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’,kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.’”

Seorang muslimah makan sambil berjalan, makan dengan tangan kiri, tanpa berdoa, bahkan menyisakan makanan, hal ini seakan sudah menjadi pemandangan umum di kantin-kantin kampus. Betapa miris hati ini melihatnya. Bila amal ibadah yang ringan saja sudah ditinggalkan dan disepelekan, bagaimana dengan amalan yang besar pahalanya?? Atau mungkinkah karena hal itu hanya merupakan suatu ibadah yang kecil kemudian kita meninggalkannya dengan alasan kecilnya pahala yang akan kita peroleh? Tidak begitu Saudariku … Yang sedikit apabila rutin dilakukan, maka akan menjadi banyak! Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ (٣٣)

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad 33)
———————-

Cukuplah firman Allah Ta’ala tersebut menjadi nasihat bagi kita semua untuk selalu berusaha menaati perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, baik perintah wajib maupun anjuran (sunnah) maupun atau perintah untuk menjauhi perkara yang dilarang. Saat ini banyak kita jumpai seorang muslim yang menyepelekan amalan sunnah, namun berlebihan pada perkara yang mubah. Maka perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hayr : 7)
————————–

Dan di antara perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adab ketika makan dan minum.
——————

Adab ketika Makan dan Minum
—————————-

  1. Memakan makanan dan minuman yang halal.Saudariku, hendaknya kita memilih makanan yang halal. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal lagi baik. Allah Ta’ala telah berfirman,

    يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

    “Hai para rasul, makanlah yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu`minun: 51)
    ——————

  2. Mendahulukan makan daripada shalat jika makanan telah dihidangkan.Yang dimaksud dengan telah dihidangkan yaitu sudah siap disantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam telah dihidangkan dan shalat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa (pergi shalat) sampai makanmu selesai.” (Muttafaqun ‘alaih) Faidahnya supaya hati kita tenang dan tidak memikirkan makanan ketika shalat. Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur adalah tingkat lapar seseorang. Apabila seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan hendaknya dia makan terlebih dahulu. Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan.
    ———————
  3. Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang minum pada bejana perak sesungguhnya ia mengobarkan api neraka jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas …”
    ——————–
  4. Jangan berlebih-lebihan dan boros.Sesungguhnya berlebih-lebihan adalah di antara sifat setan dan sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra` ayat 26-27 dan Al-A’raf ayat 31. Berlebih-lebihan juga merupakan ciri orang-orang kafir sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang mukmin makan dengan satu lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    ———————–
  5. Mencuci tangan sebelum makan.Walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencontohkan hal ini, namun para salaf (generasi terdahulu yang shalih) melakukan hal ini. Mencuci tangan berguna untuk menjaga kesehatan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit.
  6. Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh.Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya yang demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar.” (HR. Ahmad)
  7. Tuntunan bagi orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang.Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Barangkali kalian makan berpencar (sendiri-sendiri).” Mereka menjawab, ”Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Berkumpullah kalian atas makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu diberkahi untuk kalian.” (HR. Abu Dawud)
  8. Dianjurkan memuji makanan dan dilarang mencelanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukainya, maka beliau memakannya. Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim)
  9. Membaca tasmiyah (basmallah) sebelum makan.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan maka ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi’ (dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhir -aku makan-)” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)Di antara faedah membaca basmallah di setiap makan adalah agar setan tidak ikut makan apa yang kita makan. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama seseorang yang sedang makan. Orang itu belum menyebut nama Allah hingga makanan yang dia makan itu tinggal sesuap. Ketika dia mengangkat ke mulutnya, dia mengucapkan, ‘Bismillaahi fii awwalihii wa aakhirihi’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dibuatnya seraya bersabda, “Masih saja setan makan bersamanya, tetapi ketika dia menyebut nama Allah maka setan memuntahkan semua yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i)
  10. Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mendoakan keburukan bagi orang yang tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan tangan kirinya, maka beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu menjawab, “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda, “Semoga kamu tidak bisa!” Orang tersebut tidak mau makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia benar-benar tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim)
  11. Makan mulai dari makanan yang terdekat.Umar Ibnu Abi Salamah radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya dulu adalah seorang bocah kecil yang ada dalam bimbingan (asuhan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tangan saya (kalau makan) menjelajah semua bagian nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menegur saya, ‘Wahai bocah bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.’ Maka demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Hadits ini sekaligus sebagai penguat dari kedua adab makan sebelumnya dan menjelaskan bagaimana cara menasihati anak tentang adab-adab makan. Lihatlah bahwa nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sangat dipatuhi oleh Umar Ibnu Abi Salamah pada perkataan beliau, “ … demikian seterusnya cara makan saya setelah itu.“
  12. Memungut makanan yang jatuh, membersihkannya, kemudian memakannya.Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah satu dari kalian makan lalu makanan tersebut jatuh, maka hendaklah ia memungutnya dan membuang kotorannya kemudian memakannya. Jangan ia biarkan makanan itu untuk setan.” (HR. At-Tirmidzi)Sungguh betapa mulianya agama ini, sampai-sampai sesuap nasi yang jatuh pun sangat dianjurkan untuk dimakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk syukur atas makanan yang telah Allah Ta’ala berikan dan bentuk kepedulian kita terhadap fakir miskin.
  13. Makan dengan tiga jari (yaitu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah) kemudian menjilati jari dan wadah makan selesai makan.Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya. Apabila beliau telah selesai makan, beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian selesai makan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya hingga ia membersihkannya dengan mulutnya (menjilatinya) atau menjilatkannya pada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)Maksudnya yaitu menjilatkan pada orang lain yang tidak merasa jijik dengannya, misalnya anaknya saat menyuapinya, atau suaminya.
  14. Cara duduk untuk makanRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Bukhari) Maksudnya adalah duduk yang serius untuk makan. Adapun hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat makan duduk dengan menduduki salah satu kaki dan menegakkan kaki yang lain adalah dhaif (lemah). Yang benar adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh (seperti duduk sopannya seorang perempuan dalam tradisi Jawa) saat makan.
  15. Apabila lalat terjatuh dalam minumanNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang dari kalian maka hendaklah ia mencelupkan lalat tersebut kemudian barulah ia buang, sebab di salah satu sayapnya ada penyakit dan di sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari)
  16. Bersyukur kepada Allah Ta’ala setelah makanTerdapat banyak cara bersyukur atas kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, salah satunya dengan lisan kita selalu memuji Allah Ta’ala setelah makan (berdoa setelah makan). Salah satu doa setelah makan yaitu, “alhamdulillaahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi ghaira makfiyyin walaa muwadda’in walaa mustaghnan ‘anhu rabbanaa.”(Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidak dibutuhkan oleh Rabb kita.”) (HR. Bukhari)
  17. Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih utama sambil duduk.Dari Amir Ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu ’anhum, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan sambil duduk.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih)Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertanya kepada Anas, ‘Kalau makan?’ Dia menjawab, ‘Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-.’” (HR. Muslim)
  18. Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya. (HR.Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wallailah (472))Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, “Cara seperti itu lebih segar, lebih nikmat dan lebih mengenyangkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)Bernafas dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.”(HR. Bukhari)
  19. Berdoa sebelum minum susu dan berkumur-kumur sesudahnya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika minum susu maka ucapkanlah, ‘Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu’ (Ya Allah berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah untuk kami lebih dari itu) karena tidak ada makanan dan minuman yang setara dengan susu.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (5957), dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’(381))Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian minum susu maka berkumur-kumurlah, karena sesungguhnya susu meninggalkan rasa masam pada mulut.” (HR. Ibnu Majah (499))
  20. Dianjurkan bicara saat makan, tidak diam dan tenang menikmati makanan seperti halnya orang-orang Yahudi.Ishaq bin Ibrahim berkata, “Pernah suatu saat aku makan dengan Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dan sahabatnya. Kami semua diam dan beliau (Imam Ahmad) saat makan berkata, ‘Alhamdulillah wa bismillah’,kemudian beliau berkata, ‘Makan sambil memuji Allah Ta’ala adalah lebih baik dari pada makan sambil diam.’”

Maksud dari istilah “Shalat menurut cara Nabi SAW” adalah mengerjakan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita wajib mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hal beribadah, apalagi dalam hal melaksanakan shalat tentunya. ————————- Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1] ————————- Diantara ayat Al-Qur’an yang mewajibkan sekeligus memerintahkan kita shalat yaitu: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa (4) : 103) ———————- Shalat itu dibagi pada yang wajib dan sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun islam.[2] ———————– Rukun shalat adalah bagian pokok dari sholat itu sendiri. Artinya, perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan karena jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah/batal. Rukun sholat itu ada 13 rukun, yaitu sebagai berikut: Niat (cukup didalam hati) Berdiri (jika mampu) Takbiratul Ikhram (takbir awal shalat) Membaca surat al-fatihah (kecuali makmum yang mendengar bacaan imam) Ruku` dan tuma`ninah (dengan sikap tenang sejenak) I`tidal dan tuma`ninah Sujud dan tuma`ninah Duduk diantara dua sujud dan tuma`ninah Duduk tasyahud akhir Membaca tasyahud akhir. Membaca shalawat kepada Nabi Membaca salam pertama menoleh ke kanan Tartib urutan tukunnya

Maksud dari istilah “Shalat menurut cara Nabi SAW” adalah mengerjakan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita wajib mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hal beribadah, apalagi dalam hal melaksanakan shalat tentunya.
————————-

Lalu bagaimana cara kita mengikuti shalat Beliau SAW ? Ya tentu saja dengan cara kita mempelajari shalat tersebut dari para pewaris Nabi SAW, yaitu para ulama. Para ulama terutama para Imam Madzhab inilah yang jaraknya lebih dekat dengan para sahabat Rasulullah SAW. Guru-guru mereka  adalah para tabi’in yang tentunya berguru langsung dengan para sahabat Nabi SAW. Sekedar contoh saja misalnya Imam Malik Rahimullah Ta’ala. Beliau adalah salah satu dari empat imam madzhab fiqh. Beliau diberi gelar Imam Daril Hijrah (Pemuka Ulama Madinah). Beliau mempunyai guru yang bernama Nafi’ Rahimahullahu. Beliau (Nafi’) adalah mantan budak dsri Sahabat Abdullah Ibn Umar RA. Nafi’ Rahimahullahu Ta’ala tentunya berguru langsung kepada Abdullah Ibn Umar RA. Guru dari Abdullah Ibn Umar RA adalah ayahnya (Umar Ibn Al-Khattab RA) dan Rasulullah SAW. Dengan demikian. Sudah sangat jelas bahwa sanad keguruan beliau-beliau bersambung kepada Rasulullah SAW. Tentu saja dalil yang digunakan dalam ber-fiqh baik shalat dan lainnya adalah Al-Qur’an dan Hadis-hadis Rasulullah SAW. Untuk kita yang awam ini, tentu menjadi layak mengikuti (ittiba’) kepada salah satu dari imam 4 madzhab karena kedalaman ilmu beliau-beliau, baik dalam bidang fiqh mau pun hadis.
—————————–

Namun yang perlu kita maklumi bahwa tidak selalu pendapat para imam madzhab ini sama dalam menyimpulkan hukum fiqh. Keragamaan pendapat beliau-beliau yang sangat pakar ini tentu dalam hal teks nash, baik dari ayat Al-Qur’an maupun Hadis. Selain dari pemahaman teks nash yang tidak selalu sama, penilaian tentang kuat atau lemahnya hadis menurut beliau-beliau ini juga bisa saja menyebabkan kesimpulan hukum yang tidak sama. Namun perlu dipertegas lagi, bahwa keragamaan merka dalam berijtihad adalah sekitar masalah teks nash yang memang sangat memungkinkan adanya multi tafsir dan masalah tersebut berkutat pada masalah furu’iyah yang masih sangat dimaklumi dan ditolelir, tidak pada masalah pokok seperti tauhid. Dengan demikian, ittiba’ kepada salah satu madzhab sudah pasti mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW.
——————–

Contoh lain yang paling mudah kita temui seperti pertanyaan di atas adalah masalah membaca do’a iftitah dalam shalat. Sebagian ulama ada yang membaca iftitah dengan do’a Allahumma Ba’id Baini dst dan sebagian lagi ada yang membaca dengan Allahu Akbar Kabira dst. Kenapa, kok beda ? karena masing-masing mereka mempunyai dalil hadis bahwa nabi ketika iftitah membaca doa yang mereka hujahkan. Dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa do’a iftitah, baik Allahu Akbar Kabiira atau pun redaksi lainnya yang bersumber dari hadis, boleh dibaca semuanya ketika ifitah.
——————

Baiklah, Bii Aunillaahi Ta’ala saya mencoba memaparkan beberapa point pertanyaan akhi angga sebagai berikut :

  1. Untuk masalah taharruk (menggerakan ) jari ketika tasyahud, sebagai berikut :
  • Imam hanafi berpendapat bahwa mengangkat jari ketika sampai pada kalimat “La” dan menurunkan kembali ketika pada kalimat “illa”
  • Mazhab Maliki berpendapat bahwa menggerakan jari ke kanan dan ke kiri mulai dari awal tahiyyat sampai akhir.
  • Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa mengangkat telunjuk ketika mengucapkan “Illallaah”
  • Madzhab Hambali : Mengerakkan jari ketika setiap kali membaca kalimat “Allah”
    Mengenai bacaan tasyahud yang populer adalah sebagaimana yang umum dibaca masyarakat kita.
  1. Mengenai bacaan iftitah, malikiyah berpendapat makruh, sedangkan jumhur berpendapat sunnah. Do’a iftitah sangat banyak, mungkin yang paling jarang dibaca di masyarakat kita adalah redaksi : subhanakkallahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuk wa taalaa jadduk wala ilaaha ghairuk. Adapun bacaan iftitah NU dan Muhammadiyah sebagaimana yang anda tanyakan semuanya berdasarkah dari Hadis Rsulullah SAW dan kita boleh memilih salah satu diantaranya atau membacanya berganti-gantian, hari ini allahu akbar kabira, besoknya Allahumma ba’id dan besoknya lagi sebagaiman redaksi diatas.
  2. Jumhur berpendapat bahwa disunnahkan makmum membaca do’a iftitah sebelum imam memulai bacaan al Fatihah. Makmum mendengarkan bacaan Al fatihah ketika imam membacanya. Kemudian makmum membaca Al Fatihah ketika imam membaca surah setelah al fatihah. Bagaimana jika bacaan imam lebih pendek dari bacaan fatihah makmum ? makmum membaca alfatihah sepanjang bacaan imam walaupun fatihahnya belum selesai. Ini menurut pendapat madzhab Asy-Syafi’iyyah. Untuk pendapat madzhab lainnya dalam masalah ini, bisa dibaca lengkap di artikel kami : Hukum membaca Al-Fatihah bagi makmum.
  3. Para ulama sepakat bahwa niat adalah di dalam hati. Adapun membahasan atau melafazkan niat itulah yang menjadi perselihan mereka. Talaffuzh niyat ( membahasakan niyat) seperti membca ushalli dst, sebagian ulama ada yang menganggap sunnah, sebagian lagi menganggap boleh dan sebagian lagi menganggap makruh bahkan ada yang menganggap bid’ah.
  4. Mengenai sighat salam : Madzhab hanafi berpendapat paling sedikit dengan mengucapkan “assalam”. Sedangkan Madzhab Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa lafazh yang paling minimal adalah assalam alaikum (syafi’I hambali)./ ke semua madzhab sepakat bahwa yang paling afdhal adalah menggunakan redaksi lengkap, yaitu : “assalam alaikum wa rahmatullah” dan mereka sepakat tidak danjurkan membaca wa barakatuh

Wallahu a’lam
==========================

Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1]
————————-

Diantara ayat Al-Qur’an yang mewajibkan sekeligus memerintahkan kita shalat yaitu:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”       (QS. An-Nisaa (4) : 103)
———————-

Shalat itu dibagi pada yang wajib dan sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun islam.[2]
———————–

 

  1. Rukun, syarat wajib dan syarat sah sholat
    1. Rukun Sholat

Rukun shalat adalah bagian pokok dari sholat itu sendiri. Artinya, perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan karena jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah/batal. Rukun sholat itu ada 13 rukun, yaitu sebagai berikut:

  1. Niat (cukup didalam hati)
  2. Berdiri (jika mampu)
  3. Takbiratul Ikhram (takbir awal shalat)
  4. Membaca surat al-fatihah (kecuali makmum yang mendengar bacaan imam)
  5. Ruku` dan tuma`ninah (dengan sikap tenang sejenak)
  6. I`tidal dan tuma`ninah
  7. Sujud dan tuma`ninah
  8. Duduk diantara dua sujud dan tuma`ninah
  9. Duduk tasyahud akhir
  10. Membaca tasyahud akhir.
  11. Membaca shalawat kepada Nabi
  12. Membaca salam pertama menoleh ke kanan
  13. Tartib urutan tukunnya
    1. Syarat wajib sholat

Orang yang melaksanakan sholat lima waktu wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Beragama Islam
  2. Telah menerima dakwah Islam
  3. Suci dari darah haid dan nifas (bagi wanita)
  4. Berkal
  5. Balig
    1. Syarat sah sholat lima waktu

Sholat seseorang dikatakan sah apabila memnuhi hal-hal berikut ini:

  1. Suci dari hadas (baik hadas besar maupun kecil)
  2. Badan, pakaian, dan tempat sholat harus suci dari najis
  3. Menutup aurat
  4. Menghadap kiblat
  5. Telah tiba waktu sholat, tidak mendahuluinya[3]
  1. Bacaan dan gerakan sholat menurut tuntunan hadits Nabi SAW
    1. Takbir

Mengangkat kedua tangan sebatas kedua pundak saat takbiratul ikram

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ وَلَا يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi, Sa’id bin Manshur, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Amru an-Naqid, dan Zuhair bin Harb, serta Ibnu Numair semuanya dari Sufyan bin Uyainah dan lafazh tersebut milik Yahya, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Salim dari bapaknya dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memulai shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundak, dan mengangkat tangan sebelum rukuk dan ketika berdiri dari rukuk, namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya antara dua sujud.” (HR. Muslim)

Mengangkat kedua tangan hingga sebatas telinga

عَنْ وَاءِلَ ابْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صل الله عليه و سلّم : حِينَ افْتَتَحَ الصّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِيَالَ أُذُنَيْهِ قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُهُمْ فَرَ أَيْتُهُمْ يَرْ فَعُونَ اَيْدِيَهُمْ إِلَى صُدُورِهِمْ فِي افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ وَعَلَيْهِمْ بَرَانِسُ وَأَكْسِيَةٌ

Artinya: dari Wail bin Hujr, dia berkata, “saya melihat Rasullah SAW sewaktu memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua telinga beliau.” Katanya, “kemudian aku datang kepada mereka, aku melihat mereka mengangkat tangan sampai ke dada mereka sewaktu memulai shalat, sementara mereka memakai mantel yang menutup kepala dan memakai pakaian” (HR. Abu Daud)

  1. Do’a Iftitah

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ { وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا } مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ { إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ } اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ لِي إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَإِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعِظَامِي وَعَصَبِي وَإِذَا رَفَعَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ وَإِذَا سَجَدَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ فَأَحْسَنَ صُورَتَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ وَإِذَا سَلَّمَ مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya: Dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengerjakan shalat, beliau bertakbir kemudian membaca; “Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardli Haniifam Muslima Wamaa Ana Minal Musyrikin, Inna Shalaati Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaati Lillahi Rabbil ‘Aalamin, Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Anaa Awwalul Muslimin. Allahumma Antal Malik Laailaaha Illa Anta, Anta Rabbi Wa Anaa ‘Abduka Dlalamtu Nafsii Wa’taraftu Bidzanbii Faghfirlii Dzunuubi Jamii’a Innahu Laa Yaghfirud Dzunuuba Illa Anta Wahdinii Liahsanil Ahlaaqi Laa Yahdii Li Ahsanihaa Illa Anta Washrif ‘Anni Sayyi`Ahaa Laa Yashrif Sayyi`Ahaa Illa Anta. Labbaika Wa Sa’daika Wal Khairu Kulluhu Fii Yadaika Wass Syarru Laisa Ilaika Ana Bika Wa Ilaika Tabaarakta Wa Ta’aalaita Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaika”. (Aku hadapkan muka-Ku ke hadirat Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan tunduk dan menyerahkan diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang Musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Penguasa seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian aku di perintah, dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam (yang menyerah diri). Ya Allah, Enkau adalah Rabbku dan aku dalah hamba-Mu, aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dan mengakui kesalahanku, maka amnpunilah dosaku semuanya, dan tiadalah yang dapat mengampuni dosaku itu melainkan Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang baik, dan tak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang tercela, karena tidak ada yang dapat menjauhkanku dari akhlak yang tercela melainkan Engkau, Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku patuhi perintah-Mu, kebaikan seluruhnya berada dalam kekuasaan-Mu, sedangkan kejahatan tidak dapat di pakai untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Aku ini hanya dapat hidup dengan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, Maha Berkah Engakau dan Maha Tinggi, aku meohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

Apabila ruku’, beliau membaca; “Allahumma Laka Raka’tu Wabika Aamantu Walaka Aslamtu Khasya’a Laka Sam’ii Wa Basharii Wa Mukhhii Wa ‘Idzaamii Wa ‘Ashabii (Ya Allah, kepada-Mu lah aku ruku’, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, dan kepada-Mu lah pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang belulangku dan urat sarafku tunduk).”

Apabila i’tidal beliau mengucapkan; “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanaa Walakal Hamdu Mil`Us Samaawaati Wal Ardli Wa Mil`U Maa Bainahumaa Wamil`U Maa Syi`Ta Min Syai`In Ba’du” (Maha Mendengar Allah terhadap siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya bagi Engkau jua segala pujian, sepenuh langit, bumi, dan sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu).”

Apabila sujud, beliau mengucapkan; “Allahumma Laka Sajadtu Wa Bika Aamantu Walaka Aslamtu, Sajada Wajhiya Lilladzii Khalaqahu Wa Shawwarahu Fa Ahsana Shuuratahu Wa Syaqqa Sam’ahu Wa Basharahu Wa Tabaarakallahu Ahsanul Khaaliqin” (Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya dengan sebaik-baik bentuk, membuat pendengaran dan penglihatannya, dan Maha Barakah Allah, sebaik-baik pencipta).”

Apabila selesai salam, beliau mengucapkan; “Allahummaghfirlii Maa Qaddamtu Wa Maa Akhhartu Wamaa Asrartu Wamaa A’lantu Wamaa Asraftu Wamaa Anta A’lamu Bihi Minni Antal Muqaddim Wal Mu`Akhhir Laa Ilaaha Illa Anta (Ya Allah, ampunilah daku, dan dosa-dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang samar dan dosa yang jelas, serta dosa yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya, Engkau lah yang mendahulukan dan mengundurkan, tiada ilah selain Engkau).” (HR. Muslim)

Do’a iftitah dengan bacaan “Subhaanaka Allahumma Wabihamdika”

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ ثُمَّ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثَلَاثًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ثَلَاثًا أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ ثُمَّ يَقْرَأُ

Artinya: Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan: “Subhaanaka Allahumma Wabihamdika Watabaarakasmuka Wa Ta’aala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairaka” (Maha suci Engkau, ya Allah, aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha luhur keluhuran-Mu dan tidak ilah selain Engkau).” kemudian membaca: “Laa Ilaaha Illallah” (tidak ada ilah selain Allah) sebanyak tiga kali, kemudian membaca: “Allahu Akbar Kabiira (Allah Maha besar benar-benar Maha besar).” sebanyak tiga kali- (kemudian membaca): “A’uudzu Billahis Samii’il ‘Aliim Minas Syaithaanir Rajiim Min Hamzihii Wanafkhihi Wa Naftsihi” (Aku berlindung kepada Allah, dzat yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari goda’an syetan yang terkutuk, dari kegilaannya, dari kesombongannya dan syairnya yang jelek).” kemudian beliau membaca (Al-Fatihah).” (HR. Abu Daud)

  1. Wajibnya membaca al Fatihah pada setiap rakaat

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Arinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid serta Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Sufyan berkata Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Mahmud bin ar-Rabi’ dari Ubadah bin ash-Shamit menyatakan hadits tersebut marfu’ kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Hr. Muslim)

Membaca ‘Amin’ di belakang imam

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ عَنْ حُجْرٍ أَبِي الْعَنْبَسِ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ { وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah dari Hujr Abu Al ‘Anbas Al Hadlrami dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca; “Walaadl dlaallin, beliau mengucapkan; “Amiin” Sambil mengangkat suaranya.“ (HR. Abu Daud)

  1. Tentang Basmalah

Pendapat yang tidak mengeraskan Basmalah

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَ�قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka semua memulai bacaannya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin”. (HR. Abu Daud)

Pendapat yang mengeraskan Basmalah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قال: كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه و سلّم لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA. Dia berkata, “Nabi SAW tidak mengetahui pemisah surah, sehingga diturunkan kepada beliau . Bismillaa hirramaa nirraahim” (HR. Abu Daud)

  1. Peletakan tangan

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جُحَادَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ وَائِلٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ وَمَوْلًى لَهُمْ أَنَّهُمَا حَدَّثَاهُ عَنْ أَبِيهِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنْ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهُمَا ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ فَلَمَّا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhadah telah menceritakan kepadaku Abdul Jabbar bin Wail dari Alqamah bin Wail dan maula milik mereka bahwa keduanya telah menceritakannya dari bapaknya, Wail bin Hujr “Bahwasanya dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika masuk shalat, bertakbir.” Hammam menggambarkannya, “Di hadapanya, kemudian melipatnya pada bajunya kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Ketika dia ingin rukuk, maka beliau mengeluarkan kedua tangannya dari bajunya, kemudian mengangkat keduanya, kemudian bertakbir, lalu rukuk. Ketika beliau mengucapkan, ‘Samiallahu Liman Hamidahu’ maka beliau mengangkat kedua tangannya. Ketika beliau sujud, maka beliau sujud di antara kedua telapak tangannya.” (HR. Muslim)

Meletakkan tangan diatas dada

عَنْ طَاوُسٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ الله صل الله عليه و سلّم يَضَعُ يَدَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدَّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

Artinya: dari Thawus, dia berkata, “Rasulullah SAW meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, kemudian menarik keduanya di atas dada, sedang beliau dalam keadaan shalat” (HR. Abu Daud)

Larangan melatakkan tangan pada lambung

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ عَنْ وَكِيعٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ صَبِيحٍ الْحَنَفِيِّ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَوَضَعْتُ يَدَيَّ عَلَى خَاصِرَتَيَّ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ هَذَا الصَّلْبُ فِي الصَّلَاةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sarri dari Waki’ dari Sa’id bin Ziyad dari Ziyad bin Shabih Al Hanafi dia berkata; saya shalat di samping Ibnu Umar, lalu aku meletakkan kedua tanganku pada kedua lambungku (bertolak pinggang), seusainya shalat, dia berkata; “Ini adalah salib dalam shalat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan seperti ini.” (HR. Abu Daud)

  1. Ruku’

Mengangkat tangan saat ruku’

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ

وَزَادَ

Artinya: telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Ibnu Abu Umar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membuka shalat mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. Beliau juga mengangkat tangan ketika rukuk dan mengangkat kepalanya dari rukuk.” (HR. Tirmidzi)

Meletakkan tangan diatas kedua lutut saat rukuk

عن مُصْعَبْ بن سَعْدٍ قال: صَلَيْتُ إِلَي جَنْبِ أَبِي فَجَعَلْتُ يَدَيَّ بَيْنَ رُكْبَتَيَّ فَنَهَانِي عَنْ ذَلِكَ فَعُدْتَ فَقَالَ: لَاتَصْنَعْ هَذَا، فَإِنَّا كُنَّا نَفْعَلَهُ فَنُهِيْنَا عَنْ ذَلِكَ وَأُمِرْنَا أَنْ نَضَعَ أَيْدِيَنَا عَلَى الرُّكَبِ

Artinya: dari Mush’ab bin Sa’ad, dia berkata, ”Aku pernah mengerjakan shalat disamping bapakku, lalu aku meletakkan kedua tanganku antara kedua lututku, maka ia melarangku mengerjakan cara yang demikian itu. Lalu saya kembali (mengulanginya), ia berkata (ayahku), janganlah kamu melakukan cara ini, lalu kami dilarang melakukannya dan kami diperintahkan supaya meletakkan tangan diatas lutut.” (HR. Abu Daud)

Bacaan dalam Ruku dan Sujud

عن شُعْبَةُ قَالَ: قُلْتُ لِسُلَيْمَانَ أَدْعُوْ فِي الصَّلَاةِ إِذَا مَرَرْتُ بِايةِ تَخَوُّفٍ؟ فَحَدَّثَنِى عنْ سَعْدِ عُبَيْدَتَ عنْ مُسْتَوْرِدٍ عنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ عنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم فَكَانَ يَقُوْلُ فِي رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَفِي سُجُوْدِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى، وَمَا مَرَّ بِايةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَقَفَ عِنْدَهَا فَسَأَلَ وَلَا بِايةِ عَذَابٍ إَلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا فَتَعَوَّذَ.

Artinya: Dari Syu’bah, dia berkata, ”aku berkata kepada Sulaiman, Apabila aku membaca ayat yang mengandung kekhawatiran (atau ketakutan), apakah aku harus berdo’a dalam shalat?” dari Hudzaifah, bahwasannya dia pernah shalat dengan Nabi SAW, lalu beliau dalam rukuknya, ”Subhaana Rabbiyal ’Azimii (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)” dalam sujud membaca ”Subhaana Rabbiyal A’laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Luhur)”. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau pasti berhenti pada ayat itu, lalu berdo’a dan setiap kali melewati ayat tentang adzab, beliau juga pasti berhenti pada ayat itu, lalu memohon perindungan.” (HR. Muslim)

Bacaan dalam ruku’ dan Sujud

عَنْ عَاءِشَةَ أَنْ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم كَانَ يَقُوْلُ فِي رُكُوْعِهِ وَ سُجُوْدِهِ: سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَا ءِكَةَ وَالرُّوْحِ

Artinya: Dari Aisyah RA, bahwasannya Nabi SAW mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya, ”Subbuhul Qudduusun, rabbul malaa’ikati waruuhi” (Maha Suci Allah, Tuhan kami, Tuhan Malaikat dan Jibril”). (HR. Muslim)

Shalatnya orang yang tidak menegakkan tulang sulbinya saat rukuk dan sujud

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ النَّمَرِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar An Namari telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari ‘Umarah bin Umair dari Abu Ma’mar dari Abu Mas’ud Al Badri dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sempurna shalat seseorang sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.“ (HR. Abu Daud)

  1. I’tidal

Apa yang dibaca saat mengangkat kepala dari rukuk

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dan Waki’ dari al-A’masy dari Ubaid bin al-Hasan dari Ibnu Abi Aufa dia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam apabila beliau mengangkat punggungnya dari rukuk maka beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidahu, Allahumma Rabbana laka al-Hamdu Mil’u as-Samawati wa Mil’u al-Ardh wa Mil’u Ma Syi’ta Min Sya’in Ba’du. (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujiNya. Yami, segala puji bagimu sepenuh langit dan bumi serta sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu)”. (HR. Muslim)

  1. Cara meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَال

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “saya melihat apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Daud)

  1. Sujud

Mengangkat tangan saat turun sujud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ وَهُوَ يَهْوِي

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ التَّابِعِينَ قَالُوا يُكَبِّرُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَهْوِي لِلرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

dari Abu Hurairah berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika sedang turun (sujud).” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih. ini adalah pendapat ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in. Mereka berkata; “Seorang laki-laki hendaknya bertakbir ketika rukuk dan sujud.” (HR. Tirmidzi)

Anggota sujud

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ قَالَ حَمَّادٌ أُمِرَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ وَلَا يَكُفَّ شَعْرًا وَلَا ثَوْبًا

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Sulaiman bin Harb keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “aku di perintah” sedangkan Hammad mengatakan; Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam di perintah supaya melakukan sujud atas tujuh anggota badan, dan supaya seseorang tidak menahan rambut dan kainnya ketika sujud.” (HR. Abu Daud)

Tujuh anggota sujud

عَنِ الْعَبَّاسِ ابْنِ عَبْدِالْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولُ الله صل الله عليه و سلّم يَقُوْلُ: إِذَا سَجَدُ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ اَرَابٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ

Artinya: Dari Abbas bin Abbdul Muthallib RA, bahwasannya dia pernah mendengar Rasullah SAW bersabda, ”Apabila seorang hamba bersujud, sujudlah bersamanya anggota badan, yakni: Muka, Kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kakinya.” (HR. Muslim)

Sujud pada hidung dan jidad

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُئِيَ عَلَى جَبْهَتِهِ وَعَلَى أَرْنَبَتِهِ أَثَرُ طِينٍ مِنْ صَلَاةٍ صَلَّاهَا بِالنَّاسِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ نَحْوَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Sufwan bin Isa telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat pada dahi dan ujung hidung beliau terdapat bekas tanah dari mengerjakan shalat bersama orang-orang.” Telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar seperti hadits di atas.” (HR. Abu Daud)

Menampakkan ketiak dan merenggangkan lengan saat sujud

أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُرْمُزَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ رَبِيعَةَ نَحْوَه

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Bakar bin Mudlar dari Ja’far bin Rabi’ah dari Ibnu Hurmuz dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah, “bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya.” Al Laits berkata, telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Rabi’ah seperti itu.” (HR. Bukhari)

Sifat (Cara) Sujud

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه و سلّم قال: اع ْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ، وَلَا يَفْتَرِشْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ الْكَلْبِ

Artinya: Dari Anas RA, bahwasannya Nabi SAW bersabda, ”Sempurnakanlah dalam bersujud, dan janganlah salah seorang dari kamu membentangkan kedua lengannya, sebagaimana anjing.” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk Iq’a` antara dua sujud

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا يَقُولُ قُلْنَا لِابْنِ عَبَّاسٍ فِي الْإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ فِي السُّجُودِ فَقَالَ هِيَ السُّنَّةُ قَالَ قُلْنَا إِنَّا لَنَرَاهُ جُفَاءً بِالرَّجُلِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ هِيَ سُنَّةُ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa “dia mendengar Thawus berkata; kami bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai duduk iq`a’ (duduk bersimpuh) di atas kedua tumit di antara sujud.” Ibnu Abbas menjawab; “itu termasuk sunnah”. Kata Thawus; “kami berkata; “Sesungguhnya kami melihatnya kurang sopan.” Ibnu Abbas menjawab; “Itu adalah sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam.“ (HR. Abu Daud)

Doa antara dua sujud

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas’ud telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Khubbab telah menceritakan kepada kami Kamil Abu Al ‘Ala` telah menceritakan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan diantara dua sujudnya “Allahumma Ghfir Li Warhamni Wa’afini Wahdini Warzuqni” (ya Allah anugerahkanlah untukku ampunan, rahmat, kesejahteraan, petunjuk dan rizki).“ (HR. Abu Daud)

  1. Cara bangkit dari rakaat ganjil

عنْ أَبِى قِلَابَةَ قَالَ: جَاءَ نَا أَبُوْ سُلَيُمَانَ مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثْ إِلَى مَسْجِدِنَا فقال: وَ الله إِنِّي لأُصَلِّي وَمَا أُرِيْدُ الصَلَاةَ وَلَكِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ رَأَيْتُ رَسُوْلُ الله صل الله عليه و سلّم يُصَلِّي ؟ قَالَ: فَقَعَدَ فِيْ الرَّكْعَةِ الأُوْلَى حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجَدَةِ الاَخِرِةِ

Artinya: Dari Abu Qilabah, dia berkata, ”Abu Sulaiman Malik bin Huwarits datang ke masjid kami, lalu berkata, ”Demi Allah sesungguhnya aku akan mengerjakan shalat bersamamu, sebenarnya aku tidak mau mengerjakan shalat, akan tetapi aku bermaksud akan memperhatklan kepada kalian bagaimana cara Rasullah SAW mengerjakan Shalat,” kata Abu Qilabah, ”maka dia duduk (istirahat) pada rakaat pertama, ketika bangkit dari sujud akhir.” (HR. Abu Daud)

Mengangkat tangan saat bangkit rakaat kedua

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْمُحَارِبِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Muhammad bin ‘Ubaid Al Muharibi keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari ‘Ashim bin Kulaib dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari raka’at kedua, beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya.” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk tasyahud

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً وَرَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَحَلَّقَ بِشْرٌ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa’il bin Hujr dia berkata; kataku; “Sungguh aku melihat bagaimana tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!.” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, lalu menghadap kiblat, bertakbir, mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua telinga, setelah itu tangan kanan beliau memegang tangan kirinya, sewaktu beliau hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya seperti tadi.” Katanya melanjutkan; “Kemudian beliau duduk, yaitu menduduki kaki kirinya dan meletakkan tangan kiri di atas paha kirinya sambil merenggangkan siku yang kanan terhadap paha sebelah kanan dan menggenggam kedua jari (kelingking dan manis) dan membentuk suatu lingkaran. Aku melihat beliau melakukan seperti ini Bisyr membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah serta menunjuk dengan jari telunjuk.“ (HR. Abu Daud)

Bacaan Tasyahud

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كُنَّا إِذَا جَلَسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ ذَلِكَ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُوَ بِهِ

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata; “Apabila kami selesai duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat, maka kami ucapkan; “As Salaamu ‘alallah qabla ‘ibaadihis salaam’ala fulaanin wa fulaan (selamat sejahtera bagi Allah sebelum hamba-bamba-Nya, selamat sejahtera bagi fulan dan fulan).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengatakan “As Salaamu ‘alaallah, karena Allah adalah dzat sumber keselamatan, akan tetapi jika salah seorang dari kalian duduk hendaklah mengucapkan; ‘At Tahiyyati Lillah Was Shalawaatu Wat Thayyibaat, As Salaamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiiyyu Warahmatullahi Wa Barakaatuh As Salaamu ‘Alaina Wa ‘Alaa Ibaadillahis Shalihin (Segala kesejahteraan milik Allah semata, begitupun segala kasih-sayang dan hal-hal yang baik, selamat sejahtera kiranya terlimpah kepadamu wahai Nabi, begitupun rahmat Allah serta berkah-berkah-nya. Selamat sejahtera terlimpah pula atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang Shalih) ” apabila kalian mengucapkan seperti ini, maka kalian dapat mencapai semua hamba yang Shalih baik yang di langit maupun yang di bumi, -atau sabdanya- di antara langit dan bumi. ‘ “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Ann Namuhammadan ‘Abduhu Wa Rasuuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selaian Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya) “, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih do’a yang menarik hatinya dan berdo’a dengan do’a itu.” (HR. Abu Daud)

Membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setelah syahadat

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَرْتَنَا أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ وَأَنْ نُسَلِّمَ عَلَيْكَ فَأَمَّا السَّلَامُ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ بِشْرٍ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ الْحَكَمِ بِإِسْنَادِهِ بِهَذَا قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى كَمَا رَوَاهُ مِسْعَرٌ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَاقَ مِثْلَه

dari Ka’b bin ‘Ujrah dia berkata; kami bertanya -atau- mereka bertanya; “Wahai Rasulullah, Anda memerintahkan kami untuk bershalawat dan salam kepada anda, kami telah mengetahui tentang salam, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepada anda?” beliau bersabda: “Ucapkanlah; ‘Allahumma Shalli ‘Ala Muhammadin Wa’alaa Aalii Muhammad, Kamaa Shallaita ‘Alaa Ibrahim. Wabaarik ‘Alaa Muhammad Wa’alaa Aali Muhammad, Kamaa Barakta ‘Alaa Ibrahim Fil ‘Alamiina Innaka Hamidum-Majiid (Ya Allah, curahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau curahkan kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Agung).” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk tawaruk pada rakaat keempat

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍالسَّاعِدِيَّ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو قَتَادَةَ قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا فَاعْرِضْ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ وَيَفْتَحُ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ إِذَا سَجَدَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا ثُمَّ يَصْنَعُ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ زَادَ أَحْمَدُ قَالُوا صَدَقْتَ هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي وَلَمْ يَذْكُرَا فِي حَدِيثِهِمَا الْجُلُوسَ فِي الثِّنْتَيْنِ كَيْفَ جَلَسَ

Artinya: dari Abu Humaid As Sa’idi dia berkata; saya pernah mendengarnya berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -Ahmad berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atha` dia berkata; aku mendengar Abu Humaid As Sa’idi berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah Abu Qatadah, Abu Humaid berkata; “Aku lebih mengetahui tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka berkata; “kalau demikian, jelaskanlah.” Kemudian Abu Humaid menyebutkan hadits tersebut, katanya; “… kemudian beliau membuka jari-jari kedua tangannya apabila sujud, lalu mengucapkan: “Allahu Akbar” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, beliau mengerjakan seperti itu di raka’at yang lain.” Kemudian dia menyebutkan lanjutan dari hadits tersebut, katanya; “…dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan) di atas betis kiri.” Ahmad menambahkan; “Sepuluh sahabat tersebut berkata; “Benar kamu, demikianlah beliau biasa melaksanakan shalat.” keduanya tidak menyebutkan dalam kedua hadits tersebut tentang cara duduk dalam rala’at kedua.”  (HR. Abu Daud)

  1. Menunjukdalam shalat

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِيِّ قَالَ رَآنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِي وَقَالَ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فَقُلْتُ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُسْرَى

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi dari Malik dari Muslim bin Abu Maryam dari Ali bin Abdurrahman Al Mu’awi dia berkata; Abdullah bin Umar melihatku, ketika aku sedang mempermainkan kerikil dalam shalat, seusai shalat, dia melarangku sambil berkata; “Perbuatlah seperti yang di perbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” kataku; ‘Bagaimana yang biasa di perbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Apabila beliau duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan menggenggam semua jari jemarinya seraya menunjuk dengan jari yang dekat ibu jari (jari telunjuk) dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.” (HR. Abu Daud)

  1. Doa setelah syahadat

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَائِشَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hasan bin ‘Athiyah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Aisyah bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu; dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari kejahatan Dajjal.” (HR. Abu Daud)

Do’a setelah Tasayahhud

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَلْمَمَاتِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, dari Nabi SAW, bahwasannya setelah membaca tasyahhud beliau mengucapkan, “Allahumma Innii ‘Auudzu Bika Min ‘Azaabi Jahanna, Wa A’uudzu Bika Min ‘Adzaabil Qabri, Wa A’uudzu Bika Min Fitnatid Dajjal, Wa A’uudzuu Bika Min Fitnatil Mahyaa Wal Mamaati (Wahai Allah, aku berlindung kepada engkau dari siksa neraka, aku berlindung kepada engkau dari siksa kubur, aku berlindung kepada engkau dari fitnah dajjal. Aku berlindung kepada engkau dari fitnah hidup dan mati ), (HR. Abu Daud)

  1. Salam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Artinya: Dari Abdullah bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memberi salam ke arah kanan dan ke arah kiri sehingga terlihat putih pipi beliau (beliau mengucapkan): ” Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah, Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian, semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Abu Daud)

Ucapan Salam

عَنْ وَاءِلٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم فَكَانَ يُسَلَّمُ عَنْ يَمِينِهِ (اَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ (الله وَبَرَكَةُ) وَ عَنْ شِمَالِهِ (اَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله

Artinya: Dari Wail, dia berkata, “saya pernah mengerjakan shalat bersama nabi SAW, beliau biasa memberi salam ke kanan beliau (dengan mengucapkan), Asslamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakatu (Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkahnya tetap atas kalian), dan ke sebelah kiri beliau (dengan mengucapkan) Asslamu ‘alaikum wa rahmatullaahi (semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Muslim)

  1. Bacaan samar dalam shalat dzuhur

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ وَعُمَارَةَ بْنِ مَيْمُونٍ وَحَبِيبٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَلَيْنَا أَخْفَيْنَا عَلَيْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qais bin Sa’d dan ‘Umarah bin Maimun serta Habib dari ‘Atha` bin Abu Rabah bahwa Abu Hurairah berkata; “Di dalam shalat itu ada yang di baca, dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perdengarkan kepada kami, maka kami pun akan perdengarkan kepada kalian, dan apa yang beliau samarkan (dalam bacaan) kepada kami, maka kami pun akan menyamarkan kepada kalian.” (HR. Abu Daud)

 

  1. Kesimpulan

Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu,dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Rukun sholat terdiri dari tigas belas (13) rukun, syarat wajib sholat terdiri dari lima (5) syarat, dan syarat sah sholat terdiri dari lima (5) syarat.

Mengenai bacaan dan gerakan sholat menurut tuntunan Nabi SAW telah kami cantumkan di bagian pembahasan, yang dimana menurut keyakinan kami masih banyak lagi hadits mengenai hal ini yang belum kami temukan dan kami cantumkan.

Apakah “bentuk” BANTUAN Allah sehingga “orang-orang beriman” TIDAK— MUSNAH/ BINASA ?? …. ——————— ALLAH sekali-kali —TIDAK AKAN— memberi jalan kepada orang-orang –KAFIR– untuk MEMUSNAHKAN orang-ORANG YANG BERIMAN”…. ﴾ An Nisaa:141 ﴿ ————————- ﴾ An Nisaa:141 ﴿ (yaitu) orang-orang yang {ٱلَّذِينَ} MENUNGGU-NUNGGU (menunggu peristiwa YANG AKAN TERJADI /يَتَرَبَّصُونَ) pada DIRIMU {بِكُمْ}. Maka jika terjadi bagimu KEMENANGAN { فَتْحٌ } dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu {ikut memenangkan/ نَسْتَحْوِذْ} ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi KEPUTUSAN { يَحْكُمُ } di antara kamu di HARI KIAMAT {ٱلْقِيٰمَةِ} dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk MEMUSNAHKAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN ========================== “BANI ASHFAR” dan “kalian” … berKOALISI {“gencatan senjata”}, melawan … “BENTENG UMAT ISLAM” …. Tanda KIAMAT (HR. Imam Ahmad) ————————— Urutan event 6 tanda kiamat … (1) kematian Nabi Muhammad SAW (2) PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS (palestina oleh Umar Bin Kattab) (3) WABAH new desease yg menyebabkan keMATIan dg CEPAT (oleh Virus/bakteri) (4) konflik umat Islam (“umatku”) (5) harta membumbung tinggi (banyak orang KAYA) (6) koalisi negara EROPA {/ BANI ASHFAR } dan negara-negara timur tengah {“kalian”) ….melawan/ vs… {BENTENG} “umat ISLAM (“umat Nabi MUHAMMAD”… Minhaj Nubuwah) ————————— “Auf bin Malik al-Asyja’iy berkata: Aku menemui Nabi saw lalu aku ucapkan salam. Nabi saw: Auf ? Aku: Ya, benar. Nabi saw: Masuklah. Aku: Semua atau aku sendiri? Nabi saw: Masuklah semua. Nabi saw: Wahai Auf, hitung ada ENAM tanda Kiamat. Pertama, (1)KEMATIANKU. Aku: Kalimat Nabi saw ini membuatku menangis sehingga Nabi saw membujukku untuk diam. Aku lalu menghitung: satu. Nabi saw: (2)PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS {…. = oleh Umar Bin Khattab dan pasukannya…. }. Aku: Dua. Nabi saw: (3)KEMATIAN yang akan merenggut UMATKU dengan CEPAT seperti wabah kematian kambing. {… = wabah penyakit oleh virus/ bakteri ….} Aku: Tiga. Nabi saw:(4) KONFLIK DAHSYAT yang menimpa UMATKU {… =Afghanistan war, jazirah war, Mesir war, Rohingya (genoside), Gaza war, Syam war ….}. Aku: Empat. Nabi saw: (5) HARTA MEMBUMBUNG TINGGI NILAInya hingga seseorang diberi 100 dinar masih belum puas. Aku: Lima. Nabi saw: (6)Terjadi GENCATAN SENJATA antara kalian dengan BANI ASHFAR {….= bangsa pirang/”negara Eropa” dg KOALISI “negara-negara munafik timur tengah”… HR Abu hurairah….}, lalu mereka mendukung kalian dengan 80 tujuan. Aku: Apa maksud tujuan? Nabi saw: Maksudnya panji. Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. BENTENG UMAT ISLAM SAAT ITU di wilayah yang disebut GHOUTHAH, daerah sekitar kota DAMASKUS.” (HR. Imam Ahmad) ————————– Ref HR Abu Hurairah; tanda AKHIR zaman= ….. {1} WAKTU MEMENDEK {24 jam menjadi 16 jam atau kurang; …..{2} umat Islam PENGETAHUAN MENYUSUT {= Al Qashash:60), …. {3} umat Islam KEKURANGAN DAN PENDERITAAN {= akibat perang/ genocide {Rohingya, palestina, Yaman, Afghanistan, Kashmir etc}}; …. {4} PENYAKIT {baru} BERMUNCULAN {= virus baru/ bakteri baru … Mers, AI, ebola etc} …. {5} Umat Islam mengalami HARJ (PEMBUNUHAN/… war/ genocide} ——————————– Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” ————————— ﴾ Al Qashash:60 ﴿ << pengetahuan menyusut (MEMENTINGKAN “perhiasan duniawi”} Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? ------------------------------- Umatku yang UNGGUL dg …“ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI “MEREKA”” … lalu …. DATANG KIAMAT ------------------------------------ “Salamah bin Nufail berkata: aku datang menemui Nabi saw dan berkata: aku bosan merawat kuda perang, aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Nabi saw menjawab: Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah UMATKU YANG UNGGUL melawan musuh-musuhnya, Allah sesatkan hati-hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI MEREKA (berupa ghanimah) —hingga— DATANG KEPUTUSAN ALLAH (Kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya. Ketahuilah, PUSAT NEGERI ISLAM adalah SYAM. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang), dan itu membawa kebaikan hingga DATANGnya KIAMAT.” (HR. Imam Ahmad) -----------------------------------------------

lalu kiamat

>>> Apakah “bentuk” BANTUAN Allah sehingga “orang-orang beriman” —TIDAK— MUSNAH/ BINASA ?? …. <<<
———————
ALLAH sekali-kali —TIDAK AKAN— memberi jalan kepada orang-orang –KAFIR– untuk MEMUSNAHKAN orang-ORANG YANG BERIMAN”…. ﴾ An Nisaa:141 ﴿
————————-
bani ashfar

﴾ An Nisaa:141 ﴿
(yaitu) orang-orang yang {ٱلَّذِينَ} MENUNGGU-NUNGGU (menunggu peristiwa YANG AKAN TERJADI /يَتَرَبَّصُونَ) pada DIRIMU {بِكُمْ}. Maka jika terjadi bagimu KEMENANGAN { فَتْحٌ } dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu {ikut memenangkan/ نَسْتَحْوِذْ} ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi KEPUTUSAN { يَحْكُمُ } di antara kamu di HARI KIAMAT {ٱلْقِيٰمَةِ} dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk MEMUSNAHKAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN

==========================
“BANI ASHFAR” dan “kalian” … berKOALISI {“gencatan senjata”}, melawan … “BENTENG UMAT ISLAM” …. Tanda KIAMAT (HR. Imam Ahmad)
—————————

Urutan event 6 tanda kiamat …
(1) kematian Nabi Muhammad SAW
(2) PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS (palestina oleh Umar Bin Kattab)
(3) WABAH new desease yg menyebabkan keMATIan dg CEPAT (oleh Virus/bakteri)
(4) konflik umat Islam (“umatku”)
(5) harta membumbung tinggi (banyak orang KAYA)
(6) koalisi negara EROPA {/ BANI ASHFAR } dan negara-negara timur tengah {“kalian”) ….melawan/ vs… {BENTENG} “umat ISLAM (“umat Nabi MUHAMMAD”… Minhaj Nubuwah)
—————————

“Auf bin Malik al-Asyja’iy berkata: Aku menemui Nabi saw lalu aku ucapkan salam. Nabi saw: Auf ? Aku: Ya, benar. Nabi saw: Masuklah. Aku: Semua atau aku sendiri? Nabi saw: Masuklah semua. Nabi saw: Wahai Auf, hitung ada ENAM tanda Kiamat. Pertama, (1)KEMATIANKU. Aku: Kalimat Nabi saw ini membuatku menangis sehingga Nabi saw membujukku untuk diam. Aku lalu menghitung: satu. Nabi saw: (2)PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS {…. = oleh Umar Bin Khattab dan pasukannya…. }. Aku: Dua. Nabi saw: (3)KEMATIAN yang akan merenggut UMATKU dengan CEPAT seperti wabah kematian kambing. {… = wabah penyakit oleh virus/ bakteri ….} Aku: Tiga. Nabi saw:(4) KONFLIK DAHSYAT yang menimpa UMATKU {… =Afghanistan war, jazirah war, Mesir war, Rohingya (genoside), Gaza war, Syam war ….}. Aku: Empat. Nabi saw: (5) HARTA MEMBUMBUNG TINGGI NILAInya hingga seseorang diberi 100 dinar masih belum puas. Aku: Lima. Nabi saw: (6)Terjadi GENCATAN SENJATA antara kalian dengan BANI ASHFAR {….= bangsa pirang/”negara Eropa” dg KOALISI “negara-negara munafik timur tengah”… HR Abu hurairah….}, lalu mereka mendukung kalian dengan 80 tujuan. Aku: Apa maksud tujuan? Nabi saw: Maksudnya panji. Pada tiap panji terdisi dari 12.000 prajurit. BENTENG UMAT ISLAM SAAT ITU di wilayah yang disebut GHOUTHAH, daerah sekitar kota DAMASKUS.” (HR. Imam Ahmad)

————————–
Ref HR Abu Hurairah; tanda AKHIR zaman= ….. {1} WAKTU MEMENDEK {24 jam menjadi 16 jam atau kurang; …..{2} umat Islam PENGETAHUAN MENYUSUT {= Al Qashash:60), …. {3} umat Islam KEKURANGAN DAN PENDERITAAN {= akibat perang/ genocide {Rohingya, palestina, Yaman, Afghanistan, Kashmir etc}}; …. {4} PENYAKIT {baru} BERMUNCULAN {= virus baru/ bakteri baru … Mers, AI, ebola etc} …. {5} Umat Islam mengalami HARJ (PEMBUNUHAN/… war/ genocide}
——————————–

Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”
—————————

﴾ Al Qashash:60 ﴿ << pengetahuan menyusut (MEMENTINGKAN “perhiasan duniawi”}
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
——————————-
Umatku yang UNGGUL dg …“ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI “MEREKA”” … lalu …. DATANG KIAMAT
————————————

“Salamah bin Nufail berkata: aku datang menemui Nabi saw dan berkata: aku bosan merawat kuda perang, aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Nabi saw menjawab: Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah UMATKU YANG UNGGUL melawan musuh-musuhnya, Allah sesatkan hati-hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan ALLAH AKAN MEMBERI RIZKI DARI MEREKA (berupa ghanimah) —hingga— DATANG KEPUTUSAN ALLAH (Kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya. Ketahuilah, PUSAT NEGERI ISLAM adalah SYAM. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang), dan itu membawa kebaikan hingga DATANGnya KIAMAT.” (HR. Imam Ahmad)

———————————————–

“pasukan sangat besar” yang BELUM PERNAH diLIHAT SEBELUMnya
{ref: manuskrip dan HR Abu Hurairah} <<< JANJI ALLAH yg terakhir = HUJAN BATU = lemparan Allah = meteor shower >>>>

<<< kerusakan yang di muka bumi KEDUA = kesombongan “Yahudi di ISRAEL” dan “YAHUDI di seluruh dunia” sekarang ini = “yahudi dunia” merasa AKAN MENANG melawan kekuatan sekecil itu >>>
{“hanya orang BUTA yang TIDAK BISA melihat”}

PASUKAN

﴾ Muhammad:18 ﴿ Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA {بَغْتَةً}, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya {syarat-syaratnya/أَشْرَاطُهَا}. Maka apakah faedahnya {maka bagaimana/ فَأَنَّىٰ} bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?

……………………DATANG Janji Allah terakhir﴾ Al Israa’:7 ﴿
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan maka ketika {فَإِذَا} “DATANG {جَآءَ} JANJI {وَعْدُ} TERAKHIR {ٱلْءَاخِرَةِ}untuk MEMBURUKKAN/ MENYURAMKAN {muka suram Isلِيَسُۥٓـُٔوا۟} MUKA-MUKA kamu {muka suram orang-orang Israel ketika akan diHOLOCOUST/ وُجُوهَكُمْ}, dan MEREKA mujahidin Syam, Irak, Sunni libanon disekitar Israel … mengepung = pasukan Al mahdi = pasukan anak DOMBA ) masuk {وَلِيَدْخُلُوا۟}MASJID {ٱلْمَسْجِدَ}, sebagaimana {كَمَا} MEREKA MEMASUKInya {دَخَلُوهُ} PERTAMA {= orang BERIMAN ada di SYAM dg sifat… seperti KHALIFAH dulu … dg PASUKAN PERANG / أَوَّلَ} kali {مَرَّةٍ } untuk MENGUASAI/ MEMBINASAKAN SEHABIS-HABISNYA {وَلِيُتَبِّرُوا۟} apa yang {مَا } mereka dapati {عَلَوْا۟} dengan PENGUASAAN sepenuhnya {تَتْبِيرًا}

…………………………. JANJI ALLAH benar-benar DATANG dan TIDAK DIAKHIRKAN … akhir zaman di perkuat hadits Abu hurairah:

……………… MANUSKRIP Abu Hurairah : ……………………
” Dalam rangkaian Hijrah seribu empat ratus (tahun) dan hitungan dua atau tiga……. [1420-1430 H] Al-MAHDI Al AMIN keluar dan memerangi seluruh dunia dan menghimpun orang-orang sesat dan dimurkai Tuhan, dan orang-orang yang terseret dalam kemunafikan di bumi Isra’ dan Mi’raj di tepi bukit MAJIDUN.

Dalam perang itu keluar seorang ratu dunia, pelaku makar dan pelacur. Namanya AMIRIKA. Ia menggoda dunia waktu itu dalam kesesatan dan kekafiran. Sementara itu Yahudi dunia saat itu berada di tempat yang paling tinggi. Mereka menguasai seluruh Al QUDS {=menguasai masjid al quds/ Aqsa di palestina} dan Al MADINAH Al MUQADDASAH (Kota yang disucikan/ Yerusalem/ Palestina).

Semua negeri datang dari LAUT dan UDARA {= KOALISI kafir 2014; dari kaum tersesat, dimurkai, munafik HR Abu Hurairah} , kecuali negeri salju yang menakutkan dan negeri panas yang menakutkan {= bukan dari negara dekat KUTUB atau negara “panas”/jalur katulistiwa; Asia, Afrika Amerika Latin}. Al MAHDI melihat bahwa seluruh dunia melakukan makar buruk kepada dirinya dan ia melihat bahwa makar Allah lebih hebat lagi. Ia melihat bahwa seluruh alam Tuhan berada dalam kekuasaannya. Akhir dari perang itu ada di tangannya, dan seluruh dunia merupakan pohon yang dimilikinya dari dahan hingga ranting-rantingnya.

Di tanah Isra’ dan Mi’raj terjadi perang dunia yang disitu Al Mahdi memberi peringatan kepada orang-orang kafir bila mereka tidak mau keluar {= Syam harus “bersih” dari keKAFIRan; bersih dari orang-orang terSESAT, orang-orang diMURKAi, dan orang-orang MUNAFIK}. Maka orang-orang KAFIR DUNIA berkumpul untuk memerangi Al Mahdi dalam pasukan sangat besar yang BELUM PERNAH diLIHAT SEBELUMnya. Dalam kelompok kekuatan Yahudi Al KHAZAR {= kaum Syiah dan Yahudi di seluruh dunia ref: syiah merupakan aliran produk yahudi la’natullah. http://www.solusiislam.com/2013/01/syiah-ternyata-kembarannya-yahudi.html http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/syiah-vs-yahudi.htm http://sejarah.kompasiana.com/2013/07/24/benarkah-askhenazi-bukan-yahudi-asli-keturunan-israel-1-576236.html http://nafas-diri.blogspot.com/2014/01/sejarah-kerajaan-khazaria-cikal-bakal.html } dan Bani Israel {= “Yahudi dari seluruh dunia ke israel” dan “penguasa AL QUDUS, Yerusalem/ Palestina”} masih terdapat pasukan lain yang tidak diketahui jumlahnya.

Al Mahdi melihat bahwa siksa Allah sangat mengerikan dan bahwa JANJI Allah benar-benar telah DATANG dan tidak diakhirkan lagi{{= “…. datang جَآءَ janji وَعْدُ terakhir ٱلْءَاخِرَةِ ….. “= Al Israa’:7}. Kemudian Allah melempari mereka dengan LEMPARAN yang dahsyat. Bumi, lautan dan langit TERBAKAR, untuk mereka, dan langit menurunkan HUJAN yang sangat BURUK {= hujan BATU}. Seluruh penduduk bumi mengutuk orang kafir dunia, dan Allah mengizinkan LENYAP-nya seluruh orang kafir di Perang DAJJAL, dan perangnya terjadi di negeri Syam dan kejahatan……… ”

comet hail bob

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<… HR Abu Hurairah …>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Pada dekade-dekade hijriah setelah 1400 tahun hijriah hitunglah dekade itu dua {1420) dan tiga {1430} ………, akan muncul Al Mahdi,ia memerangi seluruh dunia,bersatu padu memeranginya orang-orang yg tersesat{{ket= * “sudah terjadi” Irak war, Syam war – sampai sekarang {2014}}= Nasrani), orang-orang yg dimurkai {{ket= * “sudah terjadi” Gaza War- 2014}=Yahudi) serta orang-orang yg keterlaluan keMUNAFIKannya di negeri Isra’ Mi’raj {=SYIAH dan negara-negara munafik } di dekat Gunung Magedon.Akan keluar menghadapinya RATU DUNIA dan tipu muslihat,pezina namanya amirika {=America}. Ia MERAYU DUNIA pada hari itu dalam KESESATAN DAN KEKAFIRAN.{ket= * “sudah terjadi” 2014} } Yahudi dunia ketika itu berada di puncak ketinggian,menguasai AL QUDS dan KOTA SUCI. {ket= * “sudah terjadi” 2014}

SELURUH NEGERI datang dari LAUT,DAN UDARA kecuali negeri-negeri salju yg sangat dingin dan negeri-negeri panas yg sangat panas {ket= * “sudah terjadi” -koalisi- 2014} .

Al Mahdi melihat bahwa seluruh dunia sedang membuat tipu muslihat jahat terhadapnya dan meyakini bahwa Allah bisa membuat tipu muslihat yg lebih lihai. Ia yakin bahwa seluruh alam adalah pohon baginya,akan dikuasainya sejak ranting hingga akarnya….., MAKA Allah MELEMPARI {waktu = ” … TAK Mungkin lama dari peristiwa SEBELUMnya yang SUDAH terjadi”} mereka dg anak panah yg “paling DAHSYAT”, yg membakar bumi,laut dan langit mereka. Langitpun menurunkan hujan yg buruk dan seluruh penduduk bumi mengutuk semua orang kafir di bumi dan Allah mengizinkan hilangnya semua kekufuran” … HR ABu HUrairah

Ref ……………….. lahirnya …. dan … matinya ISRAEL ….. Al Israa’: 4-7
﴾ Al Israa’:4 ﴿
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini DUA KALI (مَرَّتَيْنِ) dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.

﴾ Al Israa’:5 ﴿ <<< SUDAH TERJADI LAMA (Umar bin Khatab dan pasukannya)
Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu HAMBA-HAMBA KAMI yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana .

…………………. HAMBA KAMI = “ORANG BERIMAN” (Isa, Nabi Muhammad, manusia bersih = BUKAN KAFIR) … nebukadnezar = kafir, bukan hamba Allah/Kami, … Hamba Allah yang mempunyai kekuatan besar adalah UMAR BIN KHATAB yang pernah menguasai Palestina (Israel sekarang) ref: http://www.muslimdaily.net/artikel/ringan/sejarah-indah-pembebasan-palestina-oleh-khalifah-umar.html#.U8OUgECbXY8 http://catatansafira.wordpress.com/2011/10/18/umar-ibn-khattab-dan-penaklukan-jerusalem/

﴾ Maryam:30 ﴿
Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
﴾ Ash Shaaffat:169 ﴿
benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”.

﴾ Al Jin:19 ﴿
Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

……………………ISRAEL “kembali” menguasai PALESTINA = ISRAEL sekarang ini (ZIONIS sekarang) = KONDISI sekarang ini = present time
﴾ Al Israa’:6 ﴿
Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk MENGALAHKAN MEREKA KEMBALI (=menguasai orang beriman/ muslim palestina) dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu KELOMPOK YANG LEBIH BESAR.
============================
Catastrophe/ extinction/ event “TIBA-TIBA” …. setelah TANDA-TANDA sebelumnya “sudah” terjadi/ TERBUKTI. {ref: HR Aisyah, Ali, dan Abu Hurairah)

… bentuknya= “PELEMPARAN” dan ANGIN MERAH {= efek HUJAN BATU/ meteor impact earth} , pengAMBLESan (penenggelaman) BUMI, GEMPA, pengUBAHan Bentuk

<<< Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha >>>>
Ibnu Abi Dunya berkata : Al Hasan bin Mahbub menceritakan kepada kami, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhar yaitu Hasyim bin Al Qasim, katanya : telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Muhammad bin Al Munkadir dari “Aisyah radhiallahu’anha bahwa ia berkata : Rasulullah telah bersabda : “Pada umatku nanti akan terjadi PENGAMBLESAN {=penenggelaman bumi, efek gempa besar/ efek lemparan Allah}, PENGUBAHAN BENTUK dan PELEMPARAN {=meteor shower/ batsyah/ hujan batu/ lemparan Allah/meteor impact earth} ,”Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, —–sedangkan kaum itu masih mengatakan Laa ilaaha ilallah?——–” Beliau menjawab, “
Jika telah tampak BIDUANITA-BIDUANITA —{1},
telah muncul PERZINAAN —{2},
diteguknya KHAMR —{3} dan
dipakainya KAIN SUTERA —{4},maka di sinilah hal itu terjadi.
” (Ibnu Abi Dunya meriwayatkan hadits ini dalam Dzammul Malalhi, hadits no. 3. Pensanadan hadits ini dha’if, namun banyak syawahid (bukti atau penguat dari hadits lain) yang mengangkat derajat hadits ini ke tingkat hasan lighairihi

>>>> menurut pemahaman Syi’ah, kekhalifahan mereka (terutama Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra) tidak sah, karena dianggap menyerobot hak Ali bin Abi Thalib ra. Selain mengingkari, kalangan Syi’ah juga mengutuk Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. MENGINGKARI DAN MENGUTUK {=melaknat/menjelek-jelekkan} Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra menurut ajarah Syi’ah merupakan ajaran prinsip yang harus dilakukan. Sementara itu, menurut ajaran Islam, perbuatan tersebut tidak patut dan dilarang. http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/syi-ah-menurut-kacamata-sejumlah-tokoh.htm#.VApSwUBnnxY

<<<< Hadits Ali ra. >>>>
Ibnu Abi Dunya berkata : telah menceritakan kepada kami Ar Rabi’ bin Tsaqlab, katanya : Farj bin Fadhalah menceritakan kepada kami riwayat dari yahya bin Sa’id, dari Muhammad bin Ali, dari Ali ra, katanya Rasulullah telah bersabda : “Jika umatku telah melakukan lima belas {15} perilaku, maka ia layak mendapatkan bala’ (AZAB/bencana/ malapetaka/ CATASTROPHE),” Ditanyakan, “Apa saja kelima belas perilaku itu ya Rasulullah” Beliau menjawab, “
Jika kekayaan hanya berputar pada kalangan tertentu –{1},
amanat menjadi barang rampasan –{2},
zakat menjadi utang –{3};
ilmu dipelajari untuk selain agama –{4}
seorang lelaki (suami) menurut pada istrinya —{5} dan mendurhakai ibunya –{6};
berbuat baik kepada teman —{7} namun kasar terhadap ayahnya sendiri —{8};
ditinggikannya suara-suara di masjid —{9};
yang menjadi pemimpin suatu kaum adalah orang yang paling hina di antara
mereka —{10};
seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya —{11};
diminumnya khamr —{12};
dipakainya kain sutera —{13},
mengambil para biduanita —{14}; dan

ORANG-ORANG AKHIR DARI UMAT INI TELAH MELAKNAT ORANG-ORANG TERDAHULU —{15}
{= Syiah 2011-2014 sekarang ini- melaknat sahabat Nabi SAW “Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra” }.

Maka kalau sudah demikian, TUNGGULAH DATANGNYA ANGIN MERAH {= efek hujan batu impact earth}, PENGAMBLESAN BUMI {=efek gempa besar, setelah hujan batu/ lemparan Allah} DAN PENGUBAHAN BENTUK.” (Di dalam sanad hadits ini terdapat Al Farj bin Fadhalah yang oleh sebagian ahli hadits dinyatakan dha’if mengenai hafalannya, namun Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Takhrijul Misykat (5451)

<<<< Hadits Abu Hurairah >>>>
At Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah telah bersabda :

{1} Jika harta hanya diedarkan pada kalangan terbatas,
{2} amanat jadi barang rampasan,
{3} zakat sebagai utang,
{4} ilmu dipelajari untuk selain agama,
{5} seorang lelaki (suami) mentaati istrinya dan {6} mendurhakai ibunya,
{7} mendekatkan temannya dan menjauhkan ayahnya,
{8} tampak suara-suara di dalam masjid,
{9} orang yang fasik tampil memimpin kabilah,
{10} orang yang paling hina menjadi pimpinan suatu kaum,
{11} seorang dimuliakan karena ditakui kejahatannya,
{12} muncul penyanyi-penyanyi dari budak-budak wanita dan {13} berbagai alat musik,
{14} diteguknya khamr dan
{15} ORANG-ORANG AKHIR DARI UMAT INI TELAH MELAKNAT (mengutuk) umat TERDAHULU {= SYIAH sekarang ini- sehingga terjadi IRAK dan SYAM WAR 2011-2014 — melaknat sahabat Nabi SAW “Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra”}

maka ketika itu TUNGGULAH ANGIN MERAH {=efek Batsyah terlihat di langit dan ketika efek impact earth — {= AKAN segera terjadi/ BELUM terjadi}, } , GEMPA, AMBLESNYA BUMI {=efek gempa besar, setelah hujan batu/ lemparan Allah}, PERUBAHAN BENTUK, PENJERUMUSAN serta TANDA-TANDA LAIN yang beruntun seperti sebuah jaring tua (usang) yang jika kawatnya terputus maka akan terus merembet.” At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.
…………………………
===========================================
<<<Tanpa “PAIN” …. {﴾ Al A’raf:94; Al An’am:42 ﴿},>>> … <<< tanpa melihat “manusia dengan KAIN KAFAN di PUNDAKnya” …. Yang Tiap detik/menit/jam/hari/minggu/bulan, merasakan “nyawa” diambil oleh malaikat {﴾ At Taubah:111 ﴿}.>>>>
………………………………
>>>> manusia mengira/ “merasa” sudah CUKUP “iman-nya”, … apalagi sekarang dalam posisi “merasa” diMULIAkan Tuhan/ Allah {﴾ Ali Imran:26 ﴿}. …. ‘Merasa dirinya diMULIAkan Tuhan di DUNIA, (berprasangka/ berbaik sangka dirinya) disebabkan sudah “merasa” BAIK Islam-nya, …. Sudah “merasa” CUKUP BAIK Iman-nya’. <<<<
……………………………………………………….
>>> “diBUKAkan pintu kesenangan di DUNIA” bagi dirinya …. Semakin bertambah BANGGA DIRI-nya, …. Merasa dirinya diMULIAkan Tuhan didunia …. Karena Iman/Islam yang diMILIKinya … sudah “merasa” BAIK dan sudah “merasa” BENAR { ﴾ Al An’am:44 ﴿}.<<<<
………………………………………………………………………….
﴾ Ali Imran:26 ﴿
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. ENGKAU —-” MULIAKAN”—- orang yang ENGKAU KEHENDAKI dan Engkau —“HINAKAN— orang yang ENGKAU KEHENDAKI. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

﴾ Al An’am:44 ﴿
Maka tatkala mereka MELUPAKAN PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, KAMIPUN MEMBUKAKAN “SEMUA PINTU-PINTU KESENANGAN UNTUK MEREKA”; sehingga apabila mereka berGEMBIRA dengan —–“apa yang telah diberikan kepada mereka”—- , Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

﴾ At Taubah:111 ﴿
Sesungguhnya ALLAH TELAH MEMBELI dari orang-orang mukmin DIRI {أَنفُسَهُمْ} dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

﴾ Al A’raf:94 ﴿
Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya keSEMPITan dan penDERITAan supaya mereka TUNDUK dengan meRENDAHkan DIRI.

﴾ Al An’am:42 ﴿
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) keSENGSARAan dan keMELARATan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan TUNDUK meRENDAHkan DIRI.
……………………………………
>>> Manusia meLUPAkan PERINGATAN/ancaman Tuhan … karena diBUKAkan pintu-pintu KESENANGAN …. { Al An’am:44} … mereka BERGEMBIRA karenanya … sampai suatu waktu DIMUSNAHkan semuanya { Al An’am:45}
……………………………………………………………………
﴾ Al An’am:44 ﴿
Maka tatkala mereka MELUPAKAN PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, KAMIPUN MEMBUKAKAN SEMUA PINTU-PINTU KESENANGAN UNTUK MEREKA; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.

﴾ Al An’am:45 ﴿
Maka orang-orang yang zalim itu DIMUSNAHKAN {فَقُطِعَ} sampai ke akar-akarnya {SELURUH دَابِرُ KAUM ٱلْقَوْمِ ORANG-ORANG yang ٱلَّذِينَ Dzalim ظَلَمُوا۟} . Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

﴾ Al An’am:51 ﴿
Dan berilah PERINGATAN {وَأَنذِرْ} dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan {DIKUMPULKAN/ يُحْشَرُوٓا۟} kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.
………………….

======================================
menyingkat

the sign … WAKTU “terasa” PENDEK {= menyingkat} …. = “frekuensi bumi (f) semakin besar” dan … efeknya waktu (t) semakin KECIL {pendek/ singkat} … hk kauniah/ sunnatullah di alam/ Physic law …. before CATASTROPHE (tanda akhir zaman HR ABu Hurairah)

<<< urutan event “akhir zaman” (1) waktu memendek (2) pengetahuan menyusut (3) kekurangan dan penderitaan) (4) penyakit bermunculan {new desease} (5/ the last/ terAKHIR) … HARJ (pembunuhan-pembunuhan terhadap umat Islam) … HR Abu Hurairah >>>

Dari Anas bin Malik Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak akan terjadi qiamat sehingga waktu terasa pendek, maka setahun dirasakan seperti sebulan, sebulan dirasakan seperti seminggu, seminggu dirasakan seperti sehari, sehari dirasakan seperti satu jam serta satu jam dirasakan seperti satu kilatan api. ” ( sebentar saja, hanya seperti kilatan api sekejap). (HR. Tirmizi).

Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa “WAKTU akan menjadi PENDEK”, pengetahuan akan menyusut, kekurangan dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”
<<<<<<<<<<<<<<<<<<
>> alam semesta pada kondisi ACCELERATE EXPANSION (meluas yang dipercepat, … “waktu” menyingkat/memendek/mengecil dan “frekuensi” semakin cepat/ membesar/ rapat/ rapid)

>> jadi walau itu HADITS …. tetap dari PETUNJUK Allah SWT… Muhammad TIDAK sekedar “berkata yang keluar dari MULUTnya” …. krn diberitahu oleh Allah

>>> seluruh alam semesta “SEMAKIN menjauh/meluas …. kecepatan putaran (ROTASI dan REVOLUSI)…. semakin CEPAT … sampai ke level ATOMIK” (elektron mengitari proton…. atau … planet mengitari bintang/surya; … semua planet/bumi juga berotasi semakin CEPAT

>>> AKIBATnya …. t waktu /t bumi/waktu seluruh alam semesta … menjadi “PENDEK/short/mengecil”

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. لَمُوسِعُونَ” (Al Qur’an, 51:47)

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi).

Dari Anas Ra. berkata RasuJullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di an tara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi).

Dari Abu Malik Al-Asy’ari Ra. katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Sesungguhnya akan ada sebagian dari umatku yang meminum khamar dan mereka menamakannya dengan nama yang lain. (Mereka meminum) sambi! diiringi dengan alunan musik dan suara biduanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menenggelamkan mereka ke dalam bumi (dengan gempa) dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengubah mereka menjadi kera atau babi.” (HR. Ibnu Majah).

Menurut Harun Yahya, di ruang di antara permukaan bumi dan ionosfera konduktif, terdapat getaran alami. Frekuensi asas ini yang juga dikenali sebagai Detak Jantung Dunia, disebut sebagai Resonansi Schumann.

” Hal tersebut telah diramalkan secara matematik oleh ahli fizik Jerman Winfried R Schuman pada tahun 1952,” ujarnya.

Resonansi Schumann, kata dia, sangat penting kerana membungkus bumi. ” Dengan demikian terus menjaga alam dan semua bentuk kehidupan di bawah kesannya. Hal ini secara terus menerus diukur oleh pusat penyelidikan fizik terkemuka di dunia.”
………………………………………………
Pada 1950, Resonansi Schumann diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap malar. Memang sistem komunikasi global tentera ini ditubuhkan di atas frekuensi ini.

Namun, pada 1980-an, berlaku perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. ” Laporan terbaru telah mendedahkan bahawa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepatkan masa,” ujarnya.

Dengan demikian, masa 24 jam terasa seperti 16 jam atau kurang. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskan mengapa angka ini mengalami kenaikan, atau faktor yang menyebabkannya meningkat.
………………………………
**} penelitian Schumann
Ditandai dalam waktu 30 tahun (1950-1980) resonansi Schuman (frequency clock/ penanda detak waktu BUMI) Berubah dari 7.8 Hertz (1950) menjadi 11 Hertz (1980) = sehingga kalau dihitung WAKTU 24 JAM “TERASA” 16 JAM

Nabi saw. bersabda bahwa pada akhir zaman waktu akan sangat pendek. Abû Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
Sungguh, tanda-tanda akhir zaman adalah bahwa waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, kekurangan[1] dan penderitaan akan tersebar, penyakit bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.”[2]

{{ ”Hal tersebut telah diramalkan secara matematis oleh fisikawan Jerman Winfried R Schuman pada tahun 1952,” tuturnya.

Resonansi Schumann, kata dia, sangat penting karena membungkus bumi. ”Dengan demikian terus menjaga alam dan semua bentuk kehidupan di bawah efeknya. Hal ini secara terus menerus diukur oleh pusat penelitian fisika terkemuka di dunia.”

Pada 1950, Resonansi Schumann diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap konstan. Memang sistem komunikasi global militer ini didirikan di atas frekuensi ini.

Namun, pada 1980-an, terjadi perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. ”Laporan terbaru telah mengungkapkan bahwa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepat waktu,” tuturnya. }}}

Dengan demikian, waktu 24 jam terasa seperti 16 jam atau kurang. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskan mengapa angka ini mengalami kenaikan, atau faktor yang menyebabkannya meningkat.

”Dengan makin singkatnya waktu, pertanda akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi SAW terbukti secara ilmiah saat ini,” tuturnya
,,,,,,,,,,,<<<<<<>>>>>>>>………………..

” Dengan makin singkatnya waktu, petanda akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi SAW terbukti secara ilmiah saat ini,” ujarnya.

Bumi semakin dipersiapkan untuk hari Kiamat dan oleh kehendak Allah petanda yang diisyaratkan berlaku secara berturut turut.

“Di masa lalu, hari itu lebih lama; kami dapat melakukan banyak pekerjaan setiap hari. Waktu telah makin singkat. Ini jelas. Ini adalah petanda dari Akhir Zaman. Ini adalah petanda hadirnya Imam Mahdi. Ini adalah sebuah keajaiban yang disebutkan Nabi Muhammad SAW,” papar Adnan Oktar dalam wawancara dengan AKS SAMSUN TV dan TV Kayseri.

” Semua orang mengatakan ini. Akhir pekan datang dalam waktu yang singkat. Apakah akhir pekan datang begitu cepat di masa lalu? Hari-hari tersebut tidak terelewati. [Sekarang] hari berakhir dalam sekejap. Satu kali tidur untuk sementara waktu, untuk tujuh atau lapan jam, kemudian dia terbangun, sarapan dan malam datang dan hari berakhir. Orang pergi bekerja dan dalam masa yang singkat kembali ke rumah dan tidur. Dia tidak punya masa untuk bernafas,” kata beliau
=================================