PERBEDAAN dan HUKUM bagi pelaku KORUPSI / GHULUL, MENCURI, dan MERAMPOK ——————— MENCURI ——– Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang. ——— “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295) ———— Syarat dan KetentuanSuatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :———— 1. Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal—- 2. Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi—– 3. Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri– 4. Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain— 5. Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab– 6. Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.— —-Dampak Mencuri— Dampak mencuri dapat dibagi menjadi dua yaitu :— —-1. Bagi Pelakunyaa. ——— a. Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar— b. Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku— c. Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat—- d. Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih.—- —-2. Bagi Korban & Masyarakata. —- a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya— b. Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam—- c. Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.—– —-Hukuman Bagi Pencuri———– Mencuri adalah dosa besar dan orang yang yang mencuri wajib dihukum, yaitu:—– a. Mencuri yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya——- b. Mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya.——— c. Mencuri yang ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya.———– d. Mencuri yang ke empat kalinya, dipotong kaki kanannya——– e. Kalau masih mencuri, maka ia dipenjara sampai tobat———- ——– Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. Al-Maidah : 38 )——— Artinya : Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. ( Qs. Al-Hijr : 18 )————- ————- Syarat hukum potong tangan———– 1. Pencuri tersebut; sudah baligh, berakal, san melakukan pencurian degan kehendaknya bukan paksaan– 2. Barang yang dicuri sampai nisab (+ 93,6 gram emas), dan barang itu bukan milik si pencuri— ————— Hukuman Bagi Perampok——- 1. Bagi perampok yang membunuh orang yang dirampoknya dan mengambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib di bunuh; sesudah dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur)——– 2. Bagi perampok yang mebunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya hanya dibunuh saja.———- 3. Bagi perampok yang hanya mengambil harta bendanya saja, sedang orang orang yang dirampoknya tidak dibunuh, dan harta yang diambil sampai nisab, maka perampok trsebut mendapat hukuman potong tangan kanan dan kaki kirinya.———– 4. Bagi perampok yang hanya menakut-nakuti saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya adalah penjara atau hukuman lainnya yang dapat membuat jera, agar ia tidak mengulanginya.——— —————— Artinya : Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs. Al-Mumtahanah : 12 )——– Artinya : Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.” ( QS. Yusuf : 77 )————— Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, ( QS. Al-Maidah : 33 )———– Maksudnya Ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi Maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.——— Artinya : kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Maidah ayat 34 )———— —— KORUPSI —— Pengertian Korupsi ——– Korupsi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Arti kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.———- Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam undang-undang korupsi yang berlaku di Malaysia korupsi diartikan sebagai reswah yang dalam bahasa Arab bermakna suap.—— –Ayat dan Hadist Tentang Korupsi———— Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. ( QS. Al-Baqarah: 188 )————– Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi. ( QS. Ali Imran :161 )———— Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar. ( QS. Al-Maidah : 33 ) — Artinya : Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al-Maidah : 38 )—————- Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob ( QS. Al-Kahfi : 79 )————— – Sebenarnya korupsi dari asal kata yang mengandung banyak defenisi, sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. Termasuk ke dalam makna korupsi adalah suap. ———- Pengertian korupsi yang banyak tersebut dilihat dari sudut pandang fiqih Islam juga mempunyai dimensi-dimensi yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena beberapa defenisi tentang korupsi merupakan bagian-bagian tersendiri dari fiqih Islam. Adapun pengertian yang termasuk makna korupsi dalam fiqih Islam adalah sebagai berikut:— • Pencurian—- • Penggunaan Hak orang lain tanpa izin– • Penyelewengan harta negara (ghanimah)– • Suap– • Khianat— • Perampasan— Pada Surat Al-Baqarah ayat 188 disebutkan secara umum bahwa Allah SWT melarang untuk memakan harta orang lain secara batil. Qurtubi memasukkan dalam kategori larangan ayat ini adalah: riba, penipuan, ghosob, pelanggaran hak-hak, dan apa yang menyebabkan pemilik harta tidak senang, dan seluruh apa yang dilarang oleh syariat dalam bentuk apapun.———— Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk: • Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).————- • Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.——— Asbabunnuzul ayat ini diturunkan kepada Abdan bin Asywa’ al-Hadhramy menuduh bahwa ia yang berhak atas harta yang ada di tangan al-Qois al-Kindy, sehingga keduanya bertengkar di hadapan Nabi SAW. Al-Qois membantah dan ia mau bersumpah untuk membantah hal tersebut, akan tetapi turunlah ayat ini yang akhirnya Qois tidak jadi bersumpah dan menyerahkan harta Abdan dengan kerelaan. Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larang memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, apalagi dengan jalan membawa ke depan hakim, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya ————————- harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.————— Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan, ketika dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.———– Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXI/272).————– Dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara). (Nadhratun Na`im, XI. Hlm. 5131)————– Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri”. (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).———– Ibnu Hajar Al Haitami (wafat: 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).———— Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi)”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36.)————- Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi. (Jaraimul Fasad fil Fiqhil Islami, Hal. 99)———– ——–Hukum Potong Tangan untuk Koruptor ?—— Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila disamakan dengan pencuri, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.———— Allah berfirman, yang artinya, “>وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38).———— Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa batas maksimal harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat diatas di-taqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.———— Kemudian, para ulama menyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya: Barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada di kamar tidur untuk barang berharga, semisal: Emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.—————- Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman untuk pencuri buah kurma, “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu: 1/4 dinar (± 1,07 gr emas).” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).——————— Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya.” (HR. Muslim)——————- Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.————- Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.————– Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan. Karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum dengan dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya“. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).—————- Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Karena dia dapat mengambil harta orang lain yang disimpan dengan perangkat keamanan apapun. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri, telah dipotong.————- Sementara orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan, ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya. (Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in, jilid II, Hal. 80)———- Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga. Seorang koruptor tetap layak untuk dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor sebagai berikut:————- Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.———– Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).————- Kedua, hukuman ta’zir.———— Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, jilid XII, hal 276.)———– Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.———— Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.—————– Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.—————- Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.——————– Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).————— Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).———– ——-Kesimpulan dari tulisan di atas:—— 1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya sebagai orang yang diberi amanah.—— 2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat, lebih besar akibatnya dari pada pengkhianatan harta milik pribadi.———- 3. Pengkhianatan terhadap harta yang menjadi amanah disebut ghulul.———– 4. Termasuk kategori ghulul adalah tindak korupsi terhadap uang negara.———– 5. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri, antara lain:———– Harus mencapai nilai minimal: 1/4 dinar (1,07 gr emas).——– Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).—— 6. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul), termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya, melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).——— 7. Hukuman untuk pelaku kriminal ada 2:——– Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, disebut hudud.——— Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada keputusan hakim, disebut ta’zir.————- 8. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah sebagai berikut:————— Dipaksa untuk mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.——— Hukuman ta’zir. Hukuman ini bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan pada keputusan hakim.———–

hukum mencuri korup

PERBEDAAN dan HUKUM bagi pelaku KORUPSI / GHULUL , MENCURI, dan MERAMPOK

———————
MENCURI ——–
Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang. ———
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295) ————

Syarat dan KetentuanSuatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :————
1. Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal—-
2. Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi—–
3. Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri–
4. Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain—
5. Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab–
6. Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.—

—-Dampak Mencuri—
Dampak mencuri dapat dibagi menjadi dua yaitu :—
—-1. Bagi Pelakunyaa. ———
a. Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar—
b. Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku—
c. Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat—-
d. Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih.—-
—-2. Bagi Korban & Masyarakata. —-
a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya—
b. Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam—-
c. Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.—–

—-Hukuman Bagi Pencuri———–
Mencuri adalah dosa besar dan orang yang yang mencuri wajib dihukum, yaitu:—–
a. Mencuri yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya——-
b. Mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya.———
c. Mencuri yang ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya.———–
d. Mencuri yang ke empat kalinya, dipotong kaki kanannya——–
e. Kalau masih mencuri, maka ia dipenjara sampai tobat———-
——–
Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. Al-Maidah : 38 )———
Artinya : Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. ( Qs. Al-Hijr : 18 )————-
————-
Syarat hukum potong tangan———–
1. Pencuri tersebut; sudah baligh, berakal, san melakukan pencurian degan kehendaknya bukan paksaan–
2. Barang yang dicuri sampai nisab (+ 93,6 gram emas), dan barang itu bukan milik si pencuri—
—————
Hukuman Bagi Perampok——-
1. Bagi perampok yang membunuh orang yang dirampoknya dan mengambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib di bunuh; sesudah dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur)——–
2. Bagi perampok yang mebunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya hanya dibunuh saja.———-
3. Bagi perampok yang hanya mengambil harta bendanya saja, sedang orang orang yang dirampoknya tidak dibunuh, dan harta yang diambil sampai nisab, maka perampok trsebut mendapat hukuman potong tangan kanan dan kaki kirinya.———–
4. Bagi perampok yang hanya menakut-nakuti saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya adalah penjara atau hukuman lainnya yang dapat membuat jera, agar ia tidak mengulanginya.———
——————
Artinya : Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs. Al-Mumtahanah : 12 )——–

Artinya : Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.”
( QS. Yusuf : 77 )—————

Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, ( QS. Al-Maidah : 33 )———–
Maksudnya Ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi Maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.———

Artinya : kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Maidah ayat 34 )————

—— KORUPSI ——
Pengertian Korupsi ——–
Korupsi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Arti kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.———-
Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam undang-undang korupsi yang berlaku di Malaysia korupsi diartikan sebagai reswah yang dalam bahasa Arab bermakna suap.——

–Ayat dan Hadist Tentang Korupsi————
Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. ( QS. Al-Baqarah: 188 )————–

Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi. ( QS. Ali Imran :161 )————

Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar. ( QS. Al-Maidah : 33 ) —

Artinya : Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al-Maidah : 38 )—————-

Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob ( QS. Al-Kahfi : 79 )—————

Sebenarnya korupsi dari asal kata yang mengandung banyak defenisi, sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. Termasuk ke dalam makna korupsi adalah suap. ———-
Pengertian korupsi yang banyak tersebut dilihat dari sudut pandang fiqih Islam juga mempunyai dimensi-dimensi yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena beberapa defenisi tentang korupsi merupakan bagian-bagian tersendiri dari fiqih Islam. Adapun pengertian yang termasuk makna korupsi dalam fiqih Islam adalah sebagai berikut:—
• Pencurian—-
• Penggunaan Hak orang lain tanpa izin–
• Penyelewengan harta negara (ghanimah)–
• Suap–
• Khianat—
• Perampasan—
Pada Surat Al-Baqarah ayat 188 disebutkan secara umum bahwa Allah SWT melarang untuk memakan harta orang lain secara batil. Qurtubi memasukkan dalam kategori larangan ayat ini adalah: riba, penipuan, ghosob, pelanggaran hak-hak, dan apa yang menyebabkan pemilik harta tidak senang, dan seluruh apa yang dilarang oleh syariat dalam bentuk apapun.————
Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk:
• Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).————-
• Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.———
Asbabunnuzul ayat ini diturunkan kepada Abdan bin Asywa’ al-Hadhramy menuduh bahwa ia yang berhak atas harta yang ada di tangan al-Qois al-Kindy, sehingga keduanya bertengkar di hadapan Nabi SAW. Al-Qois membantah dan ia mau bersumpah untuk membantah hal tersebut, akan tetapi turunlah ayat ini yang akhirnya Qois tidak jadi bersumpah dan menyerahkan harta Abdan dengan kerelaan.
Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larang memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, apalagi dengan jalan membawa ke depan hakim, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya
————————-
harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.—————

Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan, ketika  dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.———–

Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXI/272).————–

Dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara). (Nadhratun Na`im, XI. Hlm. 5131)————–

Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri”. (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).———–

Ibnu Hajar Al Haitami (wafat: 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).————

Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi)”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36.)————-

Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi. (Jaraimul Fasad fil Fiqhil Islami, Hal. 99)———–

——–Hukum Potong Tangan untuk Koruptor ?——

Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila disamakan dengan pencuri, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.————

Allah berfirman, yang artinya,

“>وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38).————

Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa batas maksimal harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat diatas di-taqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.————

Kemudian, para ulama menyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya: Barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada di kamar tidur untuk barang berharga, semisal: Emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.—————-

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman untuk pencuri buah kurma, “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu: 1/4 dinar (± 1,07 gr emas).” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).———————

Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya.” (HR. Muslim)——————-

Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.————-

Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.————–

Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan. Karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum dengan dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya“. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).—————-

Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Karena dia dapat mengambil harta orang lain yang disimpan dengan perangkat keamanan apapun. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri, telah dipotong.————-

Sementara orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan, ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya. (Ibnu Qayyim,  I’lamul Muwaqqi’in, jilid II, Hal. 80)———-

Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga. Seorang koruptor tetap layak untuk dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor sebagai berikut:————-

Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.———–

Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).————-

Kedua, hukuman ta’zir.————
Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah,  jilid XII, hal 276.)———–

Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.————

Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.—————–

Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.—————-

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.——————–

Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).—————

Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).———–

——-Kesimpulan dari tulisan di atas:——

1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya sebagai orang yang diberi amanah.——

2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat, lebih besar akibatnya dari pada pengkhianatan harta milik pribadi.———-

3. Pengkhianatan terhadap harta yang menjadi amanah disebut ghulul.———–

4. Termasuk kategori ghulul adalah tindak korupsi terhadap uang negara.———–

5. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri, antara lain:———–

  • Harus mencapai nilai minimal: 1/4 dinar (1,07 gr emas).——–
  • Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).——

6. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul), termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya, melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).———

7. Hukuman untuk pelaku kriminal ada 2:——–

  • Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, disebut hudud.———
  • Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada         keputusan hakim, disebut ta’zir.————-

8. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah sebagai berikut:—————

  • Dipaksa untuk mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.———
  • Hukuman ta’zir. Hukuman ini bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan pada keputusan hakim.———–

Penjelasan di atas merupakan sinopsis dari salah satu artikel karya Dr. Erwandi Tarmidzi, yang diterbitkan di Majalah Pengusaha Muslim edisi 27. Pada edisi ini, Majalah Pengusaha Muslim mengupas berbagai kasus dalam dunia kerja, baik negeri maupun swasta.

AL QUR’AN EVIDENCE …. MUKJIZAT AL QUR’AN … manusia sering menyebutnya dengan MUKJIZAT —————————— AL QUR’AN itu BENAR ….. dan …..SABDA Nabi Muhammad yang terBUKTI BENAR dan diBUKTIkan oleh ilmu SAINS MODERN … ————————————– Berikut 100 Mukjizat Sederhana Rasul Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan ilmiah Yang diKutip Dari Beberapa Sumber Dan Ilmu Kedokteran Dengan Tujuan Mengungkap Kebenaran Dan Kerasulan Muhammad Serta Menumbuhkan Ketaqwaan kita Kepada Allah Ajjawazala ——————- Firman Allah Ajjawazala. “ Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu.” (QS Fushshilat : 53) ——————- “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82) “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155) ———————- “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29) ————– “Sekali-kali jangan(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12) ————————– Berikut Mukjizat AlQuran Dan Hadits Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan Ilmiah ——————————- Mukjizat Ke-1 : (Penciptaan Manusia dari air mani) —————– Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur’an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;———– وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14) ————— Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern. —————- Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur’an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.” Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur’an.” —————- Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur’an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.” —————– Mukjizat Ke-2 (Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi) ——————– Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;———— فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7) ——————- Mukjizat ke-3 (Janin Berada dalam 3 Kegelapan) ——————— Para dokter ilmu kandungan menemukan bahwa janin ketika masih berada dalam kandungan dilapisi oleh tiga selaput yang melindunginya dari air yang berasal dari luar, dan dari panas serta cahaya, dan dinamakan dengan tiga kegelapan. ———- Penemuan ini selaras dengan apa yang digambarkan Allah tentang proses penciptaan dalam surat Az-Zumar. Dia berfirman, يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Az-Zumar 6) ————— dst ——–

quran keajaiban nyata

AL QUR’AN EVIDENCE …. MUKJIZAT AL QUR’AN … manusia sering menyebutnya dengan MUKJIZAT
——————————
AL QUR’AN itu BENAR ….. dan …..SABDA Nabi Muhammad yang terBUKTI BENAR dan diBUKTIkan oleh ilmu SAINS MODERN …
————————————–
Berikut 100 Mukjizat Sederhana Rasul Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan ilmiah Yang diKutip Dari Beberapa Sumber Dan Ilmu Kedokteran Dengan Tujuan Mengungkap Kebenaran Dan Kerasulan Muhammad Serta Menumbuhkan Ketaqwaan kita Kepada Allah Ajjawazala
——————-
Firman Allah Ajjawazala.
“ Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu
menyaksikan segala sesuatu.” (QS Fushshilat : 53)
——————-
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82)

“Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155)
———————-
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29)
————–
“Sekali-kali jangan(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12)
————————–
Berikut Mukjizat AlQuran Dan Hadits Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan Ilmiah
——————————-
Mukjizat Ke-1 : (Penciptaan Manusia dari air mani)
—————–
Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur’an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;———–

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14)
—————
Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern.
—————-
Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur’an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.” Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur’an.”
—————-
Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur’an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.”
—————–
Mukjizat Ke-2 (Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi)
——————–
Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;————

فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7)
——————-
Mukjizat ke-3 (Janin Berada dalam 3 Kegelapan)
———————
Para dokter ilmu kandungan menemukan bahwa janin ketika masih berada dalam kandungan dilapisi oleh tiga selaput yang melindunginya dari air yang berasal dari luar, dan dari panas serta cahaya, dan dinamakan dengan tiga kegelapan.
———-
Penemuan ini selaras dengan apa yang digambarkan Allah tentang proses penciptaan dalam surat Az-Zumar. Dia berfirman,

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Az-Zumar 6)
————— dst ——–

Mukjizat Ke-4 (Manusia diciptakan dalam Beberapa Tahapan)

Allah swt berfirman,

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا. وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian” (Nuh : 13-14)

Syaikh az-Zandani berkata, “Kami bertemu dengan seorang professor Amerika bernama Marshal Johnson. Kami berkata kepadanya, “Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan dalam beberapa tahap.”

Dia menjawab, “ Saya memiliki jawaban, hal ini hanya ada tiga kemungkinan:

Pertama : Bahwa Muhammad memiliki mikroskop raksasa yang membuatnya mampu mengkaji perkara-perkara ini.
Kedua : Bahwa itu terjadi secara kebetulan.
Ketiga : Bahwa Muhammad adalah utusan dari sisi Allah.”

Mukijzat Ke-5 (Tidak Semua Sperma Membuahi Sel Telur)

Para dokter ahli menemukan bahwa hanya sebagian kecil dari mani yang akan menjadi janin, dan bahwa satu pancaran mani mengandung seratus sampai delapan ratus juta sperma. Dan bahwa satu sperma saja mampu membuahi sel telur. Pengetahuan ini belum ditemukan kecuali setelah abad kedua puluh.

Rasulullah saw memberitakan pengetahuan ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia bertutur,”Rasulullah saw ditanya tentang berjimak dengan mengeluarkan mani di luar vagina istri (azl). Maka beliau bersabda,

مَامِنْ كُلِّ الْمَاءِيَكُوْنُ الْوَلَدُ، وَإِذَا أَرَادَاللهُ خَلْقَ شَيُءِلَمْ يَمْنَعْهُ شَيْءٌ

“Tidaklah semua air mani menjadi seorang anak. Jika Allah berkehendak menciptakan sesuatu, maka tiada suatu pun yang mencegahnya.”

Mukjizat Ke-6 (Jenis Kelamin Berasal dari Air Mani Laki-laki)

Setelah ditemukannya mikroskop elektronik, maka para pakar ilmu kandungan tahu bahwa jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan janin ada dalam mani, bukan dalam sel telur. Mereka menyebutkan bahwa mani dengan salah satu jenisnya (X) atay (Y), dialah yang bertanggung jawab menentukan jenis kelamin janin. Al-Qur’an memberitakan pengetahuan ini lewat lisan Rasulullah saw. Allah berfirman,

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَىٰ. مِنْ نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan” ( An-Najm : 45-46)

Mukjizat Ke-7 (Manusia Diciptakan dari Percampuran Mani Laki-laki dan Perempuan)

Mayoritas ilmuwan memberikan gambaran bahwa manusia dibungkus dalam mani, dan membesar di dalam rahim seperti pohon yang kecil. Manusia tidak ada yang tahu bahwa janin diciptakan dari percampuran antara sperma laki-laki dan sel telur perempuan, kecuali pada awal abad kedua puluh.

Dan kita dapatkan Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw telah menyebutkannya secara ilmiah dan rinci bahwa manusia diciptakan dari campuran mani laki-laki dan mani perempuan yang dinamakanNya “Mani yang bercampur.” Allah swr berfirman dalam surat Al-Insan

إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَٰهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan : 2)

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad terdapat jawaban Rasulullah saw terhadap seorang Yahudi ketika bertanya kepadanya, dari apa manusia diciptakan? Beliau bersabda,

يَايَهُوْدِيْ، مِنْ كُلِّ يُخْلَقُ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَنُطْفَةِ الْمَرْأَةِ

“Wahai orang Yahudi, (setiap manusia) diciptakan dari campuran mani laki-laki dan mani permpuan.”

MUKJIZAT TENTANG PENCIPTAAN LANGIT

Mukjizat Ke-8 (Teori Big Bang)

Para astronom menemukan (ilmu pengetahuan) bahwa pada awalnya langit dan bumi saling melekat menjadi satu, kemudian keduanya terpisah dari yang lain. Penemuan ini dinamakan dengan teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berbunyi, Pada mulanya alam berbentuk massa yang sangat tebal, berkilau dan sangat panas. Kemudian akibat pengaruh tekanan dahsyat yang datang dari suhu panasnya yang sangat tinggi maka terjadilah ledakan dahsyat yang meledakkan massa gas tadi dan melemparkan kepingan-kepingannya ke seluruh penjuru. Bersama berjalanya waktu, maka terbentuk planet-planet dan bintang-bintang.

Pada tahun 1989 M, satelit Amerika (NASA) mengirim data-data yang mengokohkan teori ledakan Dahsyat, dan sebelumnya pada tahun 1986 M, Stasiun Antariks Uni Soviet juga mengirimkan data-data yang mengokohkan teori ledakan dahsyat ini. Penemuan ini baru dilihat oleh orang-orang kafir pada masa kita sekarang ini, sementara Allah telah memberitakannya di dalam Al-Qur’an al-Karim bahwa orang-orang kafir akan menyaksikan pengetahuan ini. Allah swt berfirman dalam surat Al-Anbiya,

أَوَلَمْ يَرَ الََّذِينَ كَفَرُوا أَنًَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (Al-Anbiya : 30)

Dalam tafsir Al-Qur’an disebutkan, kata رَتْفًا maksudnya : melekat (padu).

Mukjizat Ke-9 (Langit Melewati Periode Kabut)

Para astronomi mengatakan bahwa langit melewati periode dalam bentuk kabut. Inilah yang direkomendasikan oleh ilmu pengetahuan akhir-akhir ini. Mereka mengatakan. Buktinya, pergilah ke salah satu teropong dan arahkan pandangan mata kalian ke arah langit, kalian akan menemukan kabut di langit, sisa kabut membentuk bintang-bintang dan planet-planet sampai masa kita sekarang ini. Dan Allah telah memberitakan pengetahuan ini di dalam Al-Qur’an dalam surat Fushshilat, Dia berfirman,

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأًرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(Fushshilat : 11)

Mukjizat Ke-10 (Langit yang Meluas)

Para ahli astronomi menemukan bahwa langit semakin hari semakin meluas, dan di Amerika penemuan ini dipublikasikan lewat media-media masaa. Para ilmuwan menyaksikan lewat teleskop bahwa dunia yang kita tempati ini adalah bentuk yang terus-menerus meluas. Oleh karena itu, benda-benda langit semakin menjauh dari kita (bumi), begitu juga antara benda langit yang satu dengan benda langit yang lain, dengan kecepatan yang kadang-kadang mendekati kecepatan cahaya. Dan Al-Qur’an telah menggambarkan hakikat ini secara jelas. Silahkan lihat dalam ayat yang mulia, Allah swt berfirman,

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَٰهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz-Dzariyat 47)

Mukjizat Ke-11: (Tentang Penciptaan Bintang)

Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman,

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (Al-Waqiah : 75-76)

Kenapa Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan tempat peredaran bintang?

Setelah pengetahuan manusia maju, tampaklah apa yang diberitakan Allah SWT lewat lisan Rasulullah SAW dalam penemuan ini.

Para ilmuwan berkata, Tempat peredaran bintang-bintang merupakan perkara yang agung bagi manusia. Jarak antara bumi dan matahari diperkirakan sekitar 150.000.000 km. bintang yang berjarak paling dekat dengan kita yang berada di luar gugusan matahari (Alpha Centaurus) diperkirakan berjarak sekitar 4,3 kali kecepatan cahaya, sementara satu tahun kecepatan cahaya diperkirakan sekitar 9.500.000 km. sehingga jika cahaya keluar darinya, maka cahaya tersebut baru akan sampai kepada kita setelah lebih dari lima puluh bulan. Dalam jangka waktu itu bintang tersebut telah bergerak bergeser dari tempatnya dengan jarak yang jauh sekali. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa apabila manusia memandang bintang secara langsung, niscaya dia akan kehilangan penglihatan.

Karena bintang yang kita lihat pada kegelapan langit, hanyalah tempat peredaran yang dilalui bintang.

Mukjizat Ke-12 : (Black Holes)

Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan bintang-bintang. Dia berfirman.

فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang (yang bersembunyi (di siang hari), Yaitu bintang-bintang yang beredar dan menyapu. (At-Takwir : 15-16)

Ayat ini menggambarkan kita bahwa di antara bintang-bintang yang ada di langit adalah bintang-bintang yang menyapu, dan para ahli astronomi telah menyebutkan hal itu. Seorang ilmuwan Amerika menggambarkan bintang-bintang black holes dengan ungkapannya, Ini adalah penyapu-penyapu raksasa langit yang menghisap, yang tinggi, dan pemakaian Al-Quran Al-Karim bagi bintang-bintang ini dengan istilah bintang yang beredar dan menyapu adalah lebih mengena.

Mukjizat ke-13 : (Siang dan Malam)

Ilmu modern telah menyingkap bahwa malam menutupi bumi dari segala penjuru, dan menyerupai lapisan tipis yang mirip seperti kulit. Apabila bumi berputar, maka pada siang hari lapisan tipis tersebut lepas. Sehingga dengan perputaran ini terjadi pengulitan siang dari malam. Allah telah menggambarkan penemuan ini dalam ayat berikut. Allah SWT berfirman:

وَءَايَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (Yaasin : 37)

Mukjizat Ke-14 : (Pandangan yang Semakin Kabur)

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ. لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُنَ

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir.”” (Al-Hijr : 14-15)

Ketika para astronot telah keluar dari batas terang dan masuk ke dalam kegelapan alam, mereka pasti mengatakan sesuatu yang hampir sama dengan ungkapan ayat Al-Qur’an tanpa mereka ketahui.

إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا

“Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan” (Al-Hijr : 15). Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-15 : (Pintu-pintu Langit )

Belakangan, para ilmuwan membuktikan bahwa langit tidaklah hampa, akan tetapi merupakan bangunan kokoh berisikan material dan energi, dan tidak mungkin diterobos kecuali melalui pintu-pintu yang dibuka. Dan inilah yang disebutkan oleh Al-Qur’an di sela-sela ayat ini. Allah SWT berfirman :

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,” (Al-Hijr : 14)

Mukjizat Ke-16 : (Dada Semakin Sesak Ketika Naik Ke Udara)

Para ilmuwan berkata bahwa perubahan besar pada tekanan udara yang terjadi ketika naik ke angkasa menjadikan dada manusia sesak dan sempit. Blits Pascall, seorang ilmuwan ternama, menyatakan bahwa tekanan udara akan semakin berkurang setiap kita semakin jauh dari permukaan bumi. Dan Allah telah memberitakan dalam ayat ini, apa yang akan terjadi pada manusia jika dia naik ke angkasa. Allah SWT berfirman :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (Al-An’am : 125)

Mukjizat Ke-17 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Allah SWT berfirman :

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. ” (Yaasin : 40)

Kepler, seorang ahli astronomi, menemukan bahwa matahari dan planet-planet lain yang mengikutinya beredar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan. Pada abad 19 M, seorang astronom, Richard Carrington, dia menemukan bahwa matahri dan planet-planet yang mengikutinya, keseluruhannya berputar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan dan keseimbangan tertentu. Hal ini sesuai dengan firmanNya :

كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى

“Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Az-Zumar : 5)

Mukjizat Ke-18 : (Hujan)

Para astronot menemukan bahwa lapisan atmosfer bumi berfungsi mengembalikan air yang telah menguap ke bumi dalam bentuk hujan melalui perputaran yang terus menerus yang disebut dengan siklus penguapan air. Allah telah bersumpah dengan ayat ini, dan Dia berfirman,

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ

“Demi langit yang mengandung hujan” (Ath-Thariq : 11)

Tafsir ayat ini menyebutkan bahwa langit mengembalikan hujan pada setiap tahun.

Mukjizat Ke-19 : (Tentang Kilat )

Pada 1985 M, di Amerika dilakukan kajian tentang kilat dan bagaimana proses terbentuknya. Merka menemukan kilat terbentuk dari es. Rincian ini telah diberitakan Allah kepada kita dalam surat An-Nur. Allah SWT berfirman :

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَّنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ

“dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (An-Nur : 43)

Makna سَنَابَرْقِهِ adalah سَنَابَرْقِ الْبَرَدِ (kilauan kilat es)

Mukjizat Ke-20 : (Adzan di Bulan )

Astronot pertama yang berhasil mendarat dipermukaan bulan bernama Armstrong. Dia mengumumkan keislamannya ketika dia menziarahi Kairo. Dalam perjalanannya berkeliling dunia, dia mendengar adzan Zhuhur. Dia bertanya-tanya di tengah rasa kagetnya disebabkan suara itu, maka orang-orang mengatakan, “Itu suara mu’adzin yang mengingatkan kaum Muslimin waktu shalat.” Maka dia mengumumkan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya bahwa alunan adzan yang didengarnya dalah sama persis dengan alunan yang didengarnya ketika pertama kali menginjakkan kudua kakinya di atas permukaan bulan.”

Mukjizat Ke-21 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan ” (Al-Qamar : 1)

In merupakan mukjizat inderawi yang disaksikan orang pada masa Rasulullah SAW. Di dalam hadits dari Anas, diriwayatkan bahwa penduduk Makkah meminta kepada Rasylullah SAW agar mereka diperlihatkan sebuah mukjizat, maka Allah memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah sebanyak dua kali.

Pada masa kita sekarang ini, para ahli stronomi Amerika berkata, “Bulan pernah terbelah suatu ketika. kemudian menyatu. KIta menemukan adanya sabuk batu yang telah berubah membelah bulan dari permukaannya hingga ke pusatnya dan terus sampai ke permukaannya lagi. Maka kami berkonsultasi kepada ahli bumi dan ahli geologi. Mereka mengatakan. “Ini tidak mungkin terjadi, kecuali jika memang bulan pernah terbelah kemudian menyatu”.”
MUKJIZAT TENTANG PENCIPTAAN BUMI

Mukjizat Ke-22 : (Bumi yang Mempunyai Retakan)

Para ahli geologi menemukan beberapa retakan yang memotong-motong lapisan batu paling luar dari lapisan bumi pada kedalaman puluhan ribu kilometer. Letaknya di seluruh arah, dan lebarnya mencapai antara 65-150 km. Retakan-retakan ini saling tersambung antara yang satu dengan yang lain, menjadikannya seolah-olah satu retakan. Para ahli menyerupakannya dengan daging. Allah telah bersumpah dengan pengetahuan ini dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:
وَالأرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ

“Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,” ( Ath-Thariq : 12)

Mukjizat Ke-23 : (Tentang Gunung)

Para ahli geologi menemukan bahwa gunung memiliki akar yang memanjang di bawah permukaan bumi sebanding dengan 4,5 kali lipat ketinggiannya di atas permukaan bumi, dan bahwa fungsinya adalah mengukuhkan dan menjaga kestabilan bumi. Rahasia ini telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Al-Karim jauh sebelum 1400 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman:
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

“Dan (bukanlah Kami telah menjadikan) gunung-gunung sebagai pasak?,” (An-Naba : 7)

Dan juga Allah berfirman,
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (An-Nazi’at : 32)

Mukjizat Ke-24 : (Tempat Terendah di Bumi)

Allah telah mengabarkan tempat yang paling rendah di permukaan bumi dalam Al-Qur’an. Allah SWt berfirman:
الم. غُلِبَتِ الرُّومُ. فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

Alif Laam Miim. Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terendah dan sesudah dikalahkan mereka akan menang.” (Ar-Ruum : 1-3)

Ilmu geologi telah membuktikan bahwa Laut Mati yang menjadi tempat pertempuran antara Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada tahun 624 M merupakan bagian bumi yang paling rendah secara mutlak. DI mana nisbat kerendahannya mencapai kurang lebih 400 meter di bawah permukaan air laut. Tempat itu merupakan permukaan bumi yang paling rendah secara mutlak.

Mukjizat Ke-25 : (Daerah-Daerah yang Menyusut)

Ilmo modern mengukuhkan bahwa bumi terus menyusut secara berkelanjutan di seluruh penjuru dan sudutnya. Yang menjadi sebab penyusutan ini adalah keluarnya berjuta-juta ton material bumi dalam bentuk gas, ua, benda cair dan padat dari mulut gunung-gunung berapi secara terus-menerus secara bergantian sehingga berdampak pada penyusutan bumi secara terus-menerus. Proses penyusutan bumi terus berkelanjutan sampai sekarang ini, dan Allah telah memberitakannya dalam Al-Qur’an, di mana Al-Haq, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya. ” (Ar-Ra’d “41)

(Ada yang menafsirkan bahwa Islam akan mendatangi daerah-daerah kafir dan lambat laun akan menjadi daerah Islam sehingga daerah-daerah kafir akan berkurang. Kenyataan ini telah terjadi saat ini dimana ISlam semakin diterima dibelahan dunia walau tetap saja ada yang menghalanginya)

Mukjizat Ke-26 : (Gunung yang Bergerak)

Allah telah mengabarkan RasulNya, Muhammad SAW bahwa gunung begerak seperti awan, dan Allah berbicara kepada RasulNya dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (An-Naml : 88)

Ayat ini mengisyaratkan pada proses perputaran bumi di sekitar poros matahari, karena gunung adalah bagian dari bumi. Maka apabila gunung bergerak seperti jalannya awan, maka seolah-olah bumilah yang berputar, sedangkan awan bergerak kurang lebih seperti kecepatan bumi. Ayat-ayat ini mengisyaratkan pada perputaran bumi. Ayat-ayat ini datang dalam bentuk yang tidak mengejutkan bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an. Sejak 14 abad lalu, akal tidak akan percaya bila Anda katakan bahwa bumi berputar. Dia akan bertanya, “Bagaimana hal itu terjadi padahal saya berdiri di atasnya?!” Al-Qur’an memalingkan pandangan manusia sesuai dengan kadar tingkat pengetahuan mereka. Para ilmuwan menyebutkan bahwa bumi berputar pada porosnya dalam jangka waktu satu hari satu malam, dan berputar mengelilingi matahari dalam jangka waktu satu tahun.

MUKJIZAT TENTANG LAUTAN

Mukjizat Ke-27 : (Bertemunya Batas Laut)

Pada tahun 1973 M, kapal Inggris melakukan penelitian di tengah laut selama tiga tahun, dan mereka mendirikan pelabuhan-pelabuhan di laut. Penelitian modern itu menemukan bahwa air laut walaupun tampak satu jenis, namun terdapat banyak perbedaan besar antara massa air yang satu dengan yang lainnya. Pada daerah-daerah yang di dalamnya berteMu dua jenis laut yang berbeda akan ditemukan sekat antara keduanya. Sekat ini memisahkan kedua laut itu, di mana masing-masing laut memiliki suhu panas, rasa asin, dan kepadatan tersendiri. Penemuan ini sama seperti yang diberitakan Allah dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ. بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (Ar-Rahman : 19-20)

Mukjizat Ke-28 : (Ombak di Dasar Laut)

Para ilmuwan berkata, “Kedalaman laut yang sedang sekitar 4 km. Dasar samudera gelap, tidak dapat ditembus oleh sinar sama sekali. SInar matahari akan lebur dan tertolak keluar pada tingkat kedalaman ini. Para imuwan tidak tidak mengenal ombak kecuali ombak yang ada di permukaan. Baru pada tahun 1955 M, para ilmuwan menemukan bahwa ada ombak lain di dasar laut pada kedalaman 1000 m. ombak ini lebih besar daripada ombak yang ada dipermukaan dengan ratusan kali lipat dalam panjang dan tinggi gelombangnya. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan oleh Allah dalam ayat ini. Allah SWT berfirman.

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur : 40)

Mukjizat Ke-29 : (Angin yang Menggerakkan di Laut)

Allah SWT berfirman :

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ

“Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.” (Ar-Rahman : 24)

Dan dalam ayat yang lain :

إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur,” (Asy-Syura : 33)

Sebagian orang mengatakan bahwa kapal-kapal yang berlayar dengan tenaga mesin menggunakan bahan bakar dari batu bara, minyak , atau lainnya, apa yang menghentikannya jika angin berhenti?

Semua jenis kapal yang menggunakan bahan bakar dengan semua jenisnya, dan bergerak menggunakan tenaga uap dengan bahan bakar nuklir, apabila angin tidak ada, niscaya gerak kapal akan terhenti secara total. Karena sarana pembakar bahan bakar ini adalah dengan perantara gas oksigen yang ada di udara.

Mukjizat Ke-30 : (Laut yang Tanahnya Ada Api)

Belakangan, para ahli geologi menemukan semua samudera dan sebagian lautan seperti Laut Merah dan Laut Arab benar-benar bernyalakan api dengan aktivitas nyata. Allah berfirman dalam surat Ath-Thur ayat 6:

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

“dan laut yang di dalam tanahnya ada api,”

Para ahli tafsir memberikan catatan, مَسْجُورِ maknanya bernyalakan api.

Mukjizat Ke-31 : (Laut di Bawah Api dan di Bawah Laut)

Ilmu pengetahuan mengungkap bahwa di bawah laut terdapat api, dan dibawah api ini ada laut lagi. Pengambilan gambar penemuan ini telah selesai dilakukan. Hal ini telah dibeitakan oleh Rasulullah SAW di dalam hadits, di mana beliau bersabda,

لاَيَركَبْ الْجَحْرَإِلاَّحَاجٌُّ أَوْمُعْتَمِرٌُأَوْمُجَاهِدٌُفَإِنَّ تاحْتَ الْبَحْرِنَارًاوَتَحْتَ النَّارِبَحْرًا

“Tidaklah belayar di atas laut melainkan orang yang berhaji, umrah, atau berjihad. Sungguh di bawah laut ada api, dan di bawah api ini ada laut lagi.” (HR. Abi Dawud)

Semua ilmu pengetahuan yang sebelum 1400 tahun lalu bersifat ghaib telah diberitakan oleh Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW yang mulia di dalam hadits.

MUKJIZAT TENTANG ANGIN

Mukjizat Ke-32 : (Angin yang Mengawinkan)

Para ahli cuaca mengatakan bahwa hujan tidak turun kecuali setelah angin mengawinkan awan. Penemuan ini telah diberitakan oleh Allah kepada kita sebelum 1400 tahun yang lalu dalam surat Al-Hijr;

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (air, awan, debu) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al-Hijr : 22)

Mukjizat Ke-33 : (Angin yang Menggerakkan)

Para ahli cuaca mengatakan bahwa angin memiliki peranan paling besar dalam membentuk awan dan mendung, menggerakkannya, menyusun antara sebagian yang satu dengan sebagian yang lain, mengangkatnya menuju tingkat yang lebih tinggi, mengondensasikannya dengan atom-atom yang bemacam-macam (condensation nuclear), dan mengisinya dengan muatan listrik. Peran besar angin inilah yang ditetapkan oleh penelitian-penelitian ilmiah modern, Dan Al-Qur’an telah datang dengannya sebelum ditetapkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan kita di bumi, 14 abad yang lalu, lewat lisan Muhammad SAW. Allah SWT berfirman :

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (Ar-Ruum : 48)

Mukjizat Ke-34 : (Curah Hujan)

Para ahli cuaca telah sampai kepada penemuan ini, mereka berkata, “Kuantitas curah hujan yang turun pada tahun ini pada bola bumi sama dengan kuantitas curah hujan yang turun pada setiap tahun. Akan tetapi, yang berbeda hanya tempat pembagiannya di atas bumi.”

Dan Rasulullah SAW telah memberitakan pengetahuan ini di dalam hadits. Beliau bersabda.

لاَسَنَةَ أَقْلَّ مِنْ سَنَةٍِ الْمَطَرِوَلٰكِنَّ اللّهَ يَصْرِفُهُ

“Tidakkah curah hujan pada sebuah tahun lebih sedikit daripada curah hujan pada tahun yang lain, hanya saja Allah memalingkannya (ke tempat yang lain).” (Dari Ibnu Abbas, Silsilah as-Hadits ash-Shahihah, no. 2461)

MUKJIZAT TENTANG TUMBUH_TUMBUHAN

Mukjizat Ke-35 : (Tentang Klorofil)

Para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan bahwa klorofil merupakan produsen tunggal di muka bumi yang memproduksi makanan. Yaitu sebuah istilah bagi kloroflas yang merubah energi matahri, karbondioksida, dan air menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Oleh sebab itu ia disebut klorofil. Produsen ini ada pada setiap daun, Lalu siapakah yang menumbuhkan tanaman? Dia-lah Allah SWT. Allah SWT berfirman.

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; ” (Al-An’am : 99)

Mukjizat Ke-36 : (Air Hujan yang Menumbuhkan)

Pada konferensi internasional I di Islamabad, salah seorang ahli tumbuh-tumbuhan maju seraya berkata, “Apabila hujan jatuh ke tanah, maka ia menjadikan butiran-butiran tanah bergetar dan mengembang, yakni bertambah besar disebabkan air yang masuk di antara butiran-butiran ini. Apabila butiran-butiran ini telah penuh dengan air, maka jadilah ia sebagai penampung air.” Penemuan ini telah Allah SWT beritakan kepada kita dalam Al-Qur’an pada firmanNya.

وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, bergetarlah tanah itu itu dan mengembang dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (Al-Hajj : 5)
==============================================
MUKJIZAT TENTANG ANTISIPASI PENYAKIT

Mukjizat Ke-37 : (Penyakit Akibat Perzinaan)

Dalam riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan riwayat ini shahih dengan salah satu lafadz, Rasulullah SAW bersabda,

لَمْ تَظْهَرِالْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍِ قَطُّ، حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا، إِلاَّ فَشَافِيْهِمُ الطَّاعَُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِىْ لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا

“Tidaklah perzinaan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka.”

Sesuatu yang diberitakan oleh Rasulullah SAW telah tampak pada masa ini. Ini memberikan bukti bagi dunia bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik bagi manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah pengidap penyakit kencing nanah (Gonorrhae) setiap tahunnya lebih dari 250 juta orang. Sebagaimana diperkirakan jumlah pengidap sipilis setiap tahunnya mencapai 50 juta orang. Majalah Amerika, The Times tanggal 4 Juli 1983 menyebutkan, 20 juta warga Amerika mengidap penyakit Herpes, dan mengumumkan bahwa di Afrika saja 30 juta orang mati setiap tahun dengan sebab penyakit AIDS yang muncul akibat hubungan seks bebas (zina). Di samping itu juga muncul penyakit-penyakit lain yang bermacam-macam akibat tersebarnya perzinaan.

Mukjizat Ke-38 : (Tentang Khamar)

Rasulullah SAW telah mengingatkan manusia dari bahaya khamar. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Wa’il al-Hadhrami bahwa Thariq bin Suwaid al-Ju’fi bertanya kepada Nabi SAW tentang khamar? Maka Nabi SAW melarang atau membenci untuk membuatnya menjadi sesuatu, dia berkata, “Saya hanya membuatnya sebagai obat”. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍِوَلٰكِنَّهُ دَاءًَ

“Ia bukanlah obat, akan tetapi penyakit.” (HR. Muslim)

Pada masa ini, data statistik kesehatan dunia menyatakan bahwa sebab-sebab kematian yang muncul akibat mengkonsumsi khamar menempati posisi pertama pada banyak negeri di dunia. dr. Ouprey Louis menyatakan bahwa alkohol adalah racun tunggal yang diperkenankan di dunia. Dr. Brater dan rekan-rekannya menegaskan bahwa mengkonsumsi satu gelas khamar dapat menyebabkan kematian sebagian sel otak. Ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa khamar berpengaruh terhadap alat pencernaan, syaraf, organ seks, serta berpengaruh terhadap keturunan. Khamar juga memiliki pengaruh terhadap hati. Adapun limpa, maka ia merupakan korban utama khamar. Lebih dari 200 ribu orang, setiap tahunnya mati di Inggris disebabkan oleh khamar.

Mukjizat Ke-39 : (Pengaruh Amarah pada Manusia)

Ilmu kedokteran modern menemukan, bahwa ada banyak perubahan pada fisik manusia yang disebabkan oleh amarah. Dia berpengaruh terhadap kecepatan detak jantung, menyebabkan tekanan darah meningkat, menambah kadar gula dalam darah, membahayakan pembuluh jantung, serta mengandung kemungkinan diserang penyakit-penyakit jantung yang mematikan. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia tentang bahaya-bahaya sesuatu yang dilarang Rasulullah SAW di dalam hadits. Al-Bukhari meriwayatkan hadits dalam Shahihnya dari Abu Hurairah ra bahwa seseorang meminta wasiat kepada Nabi SAW, “berilah aku wasiat.” Beliau bersabda, “Jangan marah!” Ia mengulangi permintaanya beberapa kali, namun beliau tetap mengatakan, “Jangan marah!”

Mukjizat Ke-40 : (Tentang Tato)

Lembaga Eropa mengingatkan para penggemar tato bahwa tindakan membuat tato pada kulit adalah meracuni badan dengan bahan kimia yang beracun. laporan itu berbunyi bahwa tato dapat menyebabkan kanker kulit dan penyakit kulit kronis. Ilmu pengetahuan pada masa ini datang memperlihatkan kepada manusia bahaya-bahaya apa yang dilarang Rasulullah SAW. Di dalam hadits, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda :

لَعَنَ اللّهُ الْوَاصِلَةِ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya, serta wanita yang bertato dan yang minta tato.” (HR. Al-Bukhari)

Mukjizat Ke-41 : (Wabah Penyakit Datang dengan Waktu Tertentu)

Ilmu kedokteran modern menetapkan bahwa penyakit-penyakit menular pada musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada musim-musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada bilangan tahun-tahun tertentu dan dengan cara tertentu. Di antara contohnya: penyakit campak dan polio pada anak-anak banyak di jumpai pada bulan september dan oktober, dan tifoid banyak ditemukan pada musim panas. Di antara ilmu yang tidak pernah di ketahui kecuali setelah di temukannya mikroskop, adalah bahwa beberapa penyakit menular berpindah melalui hujan rintik-rintik lewat udara yang berdebu, dan kuman (mikroba) ikut bersama debu ketika di bawa terbang oleh angin dari orang yang sakit kepada orang yang sehat. Penumuan ini menobatkan Nabi SAW sebagai peletak pertama kaidah menjaga kesehatan dengan menjaga diri dari bahaya wabah dan penyakit-penyakit menular. Dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Rasululllah SAW bersabda:

غَطُّوا اْلإِنَاءَ وَأَوْكُوا ِلسِّقَاءِ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةًََ يَنْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌُ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ غَطَاءٌُ أَوْ سِقَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌُ إِلاَّ نَزَلَ فِيْهِ مِنْ ذٰلِكَ الْوَبَاءِ

“Tutuplah bejana dan alat minum, Sungguh dalam satu tahun ada satu malam yang pada malam itu wabah turun. Tidaklah ia lewat pada sebuah bejana atau alat minum yang tidak ditutup, melainkan wabah itu hinggap padanya.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-42 : (Hikmah Larangan Memakan Binatang Buas)

Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata:

نَهَى رَسُلُ اللّهِ صَلَى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابِ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍِ مِنْ الطَّيْرِ

“Rasulullah SAW melarang memakan semua jenis binatang buas yang bertaring dan semua jenis burung yang berkuku (bercakar).” (HR. Muslim)

Ilmu gizi modern menyatakan bahwa manusia mewarisi sebagian sifat hewan yang dimakannya karena kandungan racun dn virus yang terkandung di dalam dagingnya yang mengalir di dalam darah, dan pindah ke lambung manusia, sehingga berpengaruh terhadap tingkah laku akhlak mereka.

Mukjizat Ke-43 : (Tentang Siwak)

Sebuah majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan Rowdatt, rektor Institut Perkumanan pada Universitas Rostoc. Dalam tulisannya itu ia berkata, “Saya telah membaca tentang siwak yang digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi. Seketika itu, saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan ggi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut dan gigi dari berbagai penyakit, bagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker.”

Dalam penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah SAW. Mukjizat pertama, yaitu manfaat-manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad SAW bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon-pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia? Inilah hadits Nabi SAW, beliau menganjurkan kita bersiwak dengan sabdanya,

اَلسِّوَاكُ مِطْهَرَةٌٌُ لِلْفَمِ مَرْ ضَاةٌُ لِلرَّبِّ

“Siwak adalah pembesih mulut dan sebab ridhonya Rabb.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Mukjizat Ke-44 : (Tentang Kegemukan, Makan Secukupnya)

Ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa kegemukan dari segi kesehatan terhitung penyakit dalam pencernaan makanan. Pada tanggal 11 Juni 2003, direktur Pusat Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Amerika mengatakan bahwa kegemukan hampir merupakan sebab pertama kematian. Hasil dari penelitian yang dilakukan di Amerika memperlihatkan, bahwa kenaikan berat badan menambahkan serangan kegagalan fungsi hati. Para ilmuwan asal Kanada menyebutkan bahwa berlebih-lebihan dalam hal makan bisa merusak kesehatan manusia. Seorang ahli gizi Inggris berkata pada tanggal 12 Juni 2003, bahwa kegemukan mengancam keseimbangan penambahan usia manusia. Seorang dokter Italia menyebutkan bahwa makan hingga kenyang lebih banyak membinasakan manusia daripada perang yang membinasakan mereka.

Segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yang ditemukan oleh Ilmu pengetahuan pada masa ini adalah kita dapati Rasulullah SAW telah memerintahkannya kepada manusia. Dalam hadits yang diiwayatkan oleh Ahmad, At-Tarmidzi, dan Ibnu Majah, dari Al-Miqdam Karib al-Kindi, dia berkata berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَامَلَأَ ابْنُ اَدَمَ وِعَاءًَ شَرًّامِنْ بَطْنٍِ، حَسبُ ابْنِ اَدَمَ أُكُلاَتٌُ يُقِمْنَ صَلْبَهُ فَإِنْ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثٌُ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌُ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌُ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah bani Adam memenuhkan bejana yang lebih buruk daripada perut. Cukup bagi Bani Adam makan beberapa suap yang menegakkan tulang sulbinya. Apabila mesti lebih dari itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya (udara).” (HR. Ahmad)

Mukjizat Ke-45 : (Buah Zaitun)

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, enam belas ahli dari ahli-ahli kedokteran ternama berkumpul di kota Roma. Dalam penjelasan mereka, mereka megukuhkan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun membantu mencegah penyakit pembuluh hati, mencegah peningkatan kolesterol darah, peningkatan tekanan darah, penyakit gula, dan kegemukan. Sebagaimana minyak zaitun dapat mencegah sebagian jenis kanker. Para ahli kedokteran menjelaskan manfaat apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW dalam hadists ini. RAsulullah SAW bersabda:

كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوْابِهِ فَإِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ شَجَرَةٍِ مُبَارَكَةٍِ

“Makanlah buah zaitun dan berminyak rambutlah dengannya. Karena sungguh buah zaitun keluar dari pohon yang berkah.” (HR. Ahmad dan At-Tarmidzi, dan At-Tarmidzi berkata,”Hadits ini hadits hasan”)

Mukjizat Ke-46 : (Sepuluh Perkara Fitrah)

Penelitian-penelitian kedokteran mengungkapkan untuk kita bahwa kuku mengundang penyakit, di mana jutaan kuman akan bersarang di bawahnya. Dan membiarkan panjang bulu kemaluan, adalah berarti siap menanggung penyakit bulu kemaluan berkutu yang tersebar di Eropa, serta menyebabkan luka dan peradangan pada daerah ini. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia manfaat apa yang diperintahkan oleh Rssulullah SAW dalam hadits ini. Sunah-sunah fitrah yang diwasiatkan Nabi SAW adalah bagaikan pondasi kebersihan individu. Imam Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

عَشْرَةٌُ مِنَ الْفَْطْرَةِ: قَصُّ الشَّارَبِ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ اْلأَظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

“Sepuluh perkara merupakan fitrah: merapikan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, mencuci ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-47 : (Keistimewaan Tanah)

Para ilmuwan di masa modern melakukan penelitian terhadap tanah untuk mengetahui kuman-kuman yang ada padanya, maka mereka menyimpulkan bahwa tanah memiliki keistimewaan membunuh kuman-kuman yang berbahaya. Dan Rasulullah SAW telah memberitakan bahwa tanah memiliki kekuatan membunuh kuman. dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلِغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتِ أَوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana kalian apabila ia dijilati oleh anjing, yaitu dengan mencucinya tujuh kali, dan yang pertama kali dengan tanah.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-48 : (Khitan)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih mereka, dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda,

اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ: اَلْخِتَانُ، وَاْلاِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ

“Fitrah itu ada lima perkara; khitan, mencukur bulu kemaluan, merapikan kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

Majalah Kedokteran Inggris menyebutkan. “Kanker penis sangat jarang terjadi di negeri-negeri Islam, di mana khitan dilakukan ketika masih kanak-kanak. Di antara faktor pendorong terjadinya kanker penis adalah terjadinya peradangan pucuk penis, dan khitan merupakan sarana untuk mengantisipasi kanker penis.”

Penemuan ini memperlihatkan dunia bahwa ajaran Rasulullah adalah yang terbaik bagi manusia.

Mukjizat Ke-49 : (Kanker Kulit pada Remaja Putri)

Diberitakan dalam majalah Kedokteran Inggris, bahwa kanker kulit sekarang semakin bertambah pada kalangan remaja putri, di mana kanker ini menyerang kaki-kaki mereka. Penyebab utama tersebarnya penyakit ini adalah pakaian-pakaian pendek yang menyebabkan kontak langsung fisik perempuan dengan sinar matahari dalam jangka waktu yang panjang, sedangkan kaos-kaos kaki yang transparan tidak memiliki manfaat.

Penemuan ini menjelaskan ganjaran maksiat di dunia terhadap orang-orang yang menyelisihi ajaran Rasulullah SAW yang termuat dalam hadits ini. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Nabi SAW, beliau bersabda,

وَنِسَاءٌُ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةْ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا

“Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, tidak taat kepada Allah, berjalan berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak masuk surga serta tidak mendapatkan harumnya.”

Mukjizat Ke-50 : (Manfaat Silaturrahim)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi SAW dengan sanad yang shahih bahwa beliau bersabda,

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ وَقُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِكَ

“Sambunglah tali silaturrahim dengan orang yang memutus hubungan denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berlaku buruk terhadapmu, dan katakan yang haq walau menyakiti dirimu.”

Ilmu kedokteran datang selaras dengan apa yang diwasiatkan Rasulullah SAW.

Dr. Fitche Georant berkata, “Keistimewaan sikap memaafkan mejadikan orang yang mendapat perlakuan buruk mampu hidup tenang. Perasaan dendam dan benci akan mengeruhkan hidup, Menyebabkan kegelisahan, dan mengobarkan perasaan sakit di dalam relung hati. Adapun sikap memaafkan maka ia menghapuskan semua itu.”
=======================================
MUKJIZAT TENTANG ANTISIPASI PENYAKIT

Mukjizat Ke-51 : (Hikmah Larangan Kencing pada Air Tergenang)

Banyak dokter menyebutkan bahwa jutaan orang mengidap penyakit kutu air (bilharziazis = penyakit yang hidup di air, apabila penyakit itu hinggap maka akan menjadikan kaki pecah-pecah). Penyebab penyakit ini adalah seseorang kencing pada air tergenang yang tidak bergerak, lalu orang lain datang mandi di air tersebut dan tertimpa penyakit ini. Apabila seseorang kencing pada air yang tergenang, maka akan keluar telur, lalu menetas, dan melahirkan penyakit. Seandainya manusia tidak kencing pada air tergenang, tentu penyakit bilharziazis tidak akan ada di dunia.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa semua ajaran yang disebutkan Rasulullah SAW bagi manusia merupakan kebaikan bagi manusia. Telah disebutkan dalam hadits ini, dari Jabir ra,

أَنَّ رَسُوُلَ اللّهِ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

“Sesungguhnya Rasulullah melarang kencing pada air yang tergenang.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-52 : (Tentang Karantina Kesehatan)

Dari Usamah bin Zaid ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

إِذَا وَقَعَ الطَّاعُوْنُ بِأَرْضٍِ فَلاَ تَدْخُلُوْهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍِ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْامِنْهَا

“Apabila penyakit pes mewabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila ia mewabah di suatu negeri dan kalian ada di dalamnya, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Ahmad)

Para dokter spesialis kuman dan penyakit mengatakan bahwa data hasil penelitian menunjukkan kepada kita manakala penyakit pes mewabah di suatu negeri, maka prosentase orang yang membawa kuman brejumlah 95%. Dan prosentase orang yang tampak berpenyakit berjumlah 20-30%. Sisanya adalah orang-orang yang membawa kuman akan tetapi zat kekebalan tubuhnya mengalahkan kuman tersebut. Apabila mereka tetap tinggal di tempat tersebut, maka kesehatan mereka tidak akan terancam. Namun apabila seorang dari mereka keluar dari tempat tersebut, maka dia akan menularkan penyakitnya. Langkah paling tepat untuk menanggulangi penyakit ini adalah dengan melakukan karantina kesehatan Yaitu agar tidak ada yang keluar-masuk pada tempat di mana penyakit pes sedang mewabah.

Mukjizat Ke-53 : (Puasa Mengekang Nafsu)

Ilmu kedokteran menyatakan bahwa memperbanyak puasa dapat mengendorkan dan mengekang gairah seks. Dalam penelitian ini ditemukan menurunnya tingkat hormon testosteron. Penemuan ini mengukuhkan bahwa puasa mampu mengekang gairah seks serta memperbaikinya. Penemuan ini selaras dengan apa yang diperintahkan Nabi SAW,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسَتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌُ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu melakukan jimak, maka hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa menjadi penawar baginya.” (HR. Bukhari)

Mukjizat Ke-54 : (Manfaat Puasa)

Melalui beberapa penelitian kedokteran, puasa ditemukan memiliki beberapa manfaat yang bersifat antisipatif melawan banyak penyakit dan gangguan fisik, di antaranya:

Puasa menguatkan sistem kekebalan tubuh.

Mencegah bahaya kegemukan.

Melindungi tubuh dari bahaya racun yang tertimbun pada sel-sel tubuh dan jaringannya yang timbul disebabkan mengkonsumsi makanan sebelum puasa sepanjang tahun.

Melindungi tubuh dari terbentuknya batu ginjal.

Mengobati beberapa penyakit sirkulasi darah.

Puasa memberikan waktu istirahat bagi alat pencernaan.

Rasulullah SAW telah mengabarkan kita bahwa dalam puasa terkandung kesehatan bagi manusia. Rasululah SAW bersabda,

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌُ

“Puasa adalah pelindung.” (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i).

Kata حُنَّةٌُ Maksudnya وٍِقَايَةٌُ (pelindung). Dan dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman,

وَأَن تَصُومُوْا خَيْرٌُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah : 184)

Mukjizat Ke-55 : (Bakteri pada Anjing)

Ilmu kedokteran mengungkap bahwa mulut anjing membawa 50 bakteri. Ini diketahui setelah ditemukan nya mikroskop. Bakteri tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, Rasulullah SAW telah memperingatkan kita dari mulut anjing dalam haditsnya, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَاشَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍِ وَعَفِّرُوْهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ

“Jika anjing minum pada bejana salah seorang kalian, maka hendaklah ia mencucinya sebanyak tujuh kali, dan melumurinya dengan tanah pada kali yang kedelapan.”

Mukjizat Ke-56 : (Tentang Memakan Daging yang Diharamkan)

Allah SWT berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكََّيْتُمْ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,” (Al-Ma’idah : 3)

Seorang dokter asal Denmark yang bernama John Flas ditanya tentang memakan daging-daging yang diharamkan dalam Islam. Maka dia menjawab bahwa memakan bangkai, binatang yang mati tercekik, yang mati terjatuh, yang mati dipukul, dan yang dimakan binatang buas, adalah berbahaya bagi manusia, sebab kematian hewan-hewan ini berjalan lambat dan kuman-kuman yang ada di dalam lambung telah pindah ke dalam daging sehingga dagingnya mengandung kuman. Adapun jika sebelum mati, hewan tersebut sempat disembelih, maka hewan itu bersih dari kuman dan layak untuk dimakan. Tidak dibenarkan memakan darah karena darah adalah racun. Dan tidak dibenarkan memakan daging babi karena sarang kuman dan menyebabkan sakit pada tulang punggung dan persendian, dan penyakit-penyakit ini terjadi di Eropa.

Mukjizat Ke-57 : (Tentang Laut)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW ketika ditanya tentang laut, beliau menjawab,

هُوَ الطَّهُوْرُ مَا ؤُهُ الجِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut adalah suci dan halal bangkainya.” (HR. Al-Tarmidzi, dia berkata,:Hadits Shahih”)

Dalam hadits ini, kenapa Rasulullah SAW menghalalkan bangkai ikan dan mengharamkan hewan-hewan yang lain?

Para ahli menjawab pertanyaan ini bahwa ikan memiliki keistimewaan yang Allah letakkan padanya. Yaitu apabila ikan ditangkap dan keluar dari laut, lalu mati, niscaya darah-darahnya akan terkumpul di jakun, seolah-olah disembelih.

Ini adalah salah satu dari tanda kenabian beliau SAW, dan bahwa beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu.

Mukjizat Ke-58 : (Hikmah Larangan Makan dan Minum Berdiri)

Ilmu kedokteran modern mengungkapkan, minum berdiri menyebabkan air yang mengalir berjatuhan dengan keras pada dasar lambung dan menumbuknya, menjadikan lambung kendor dan menjadikan pencernaan sulit. Sebagaimana terus-menerus makan dan minum sambil berdiri menimbulkan luka pada dinding lambung. Penemuan ini menjelaskan manusia bahaya yang telah diperingatkan Rasulullah SAw dalam hadits ini.

Dari Anas dari Qatadah,

إِنَّالنَّبِيِّ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Sesungguhnya Nabi melarang seseorang minum sambil berdiri”

Qatadah berkata, “Kami bertanya, “Bagaimana kalau makan?” Beliau bersabda,

ذَاكَ أَشَرُّ وَأَخْبَثُ

“Itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR. Muslim dan At-Tarmidzi).

Mukjizat Ke-59 : (Larangan Meniup kedalam Minuman)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخُ فِي الشُّرَابِ

“Rasulullah saw melarang minum dari mulut poci dan meniup ke dalam minuman.” (HR. Bukhari)

Para dokter menyatakan, bahwa minum dari mulut poci bisa meninggalkan kuman berbahaya. Dan telah terbukti dalam kedokteran, bahwa sebab TBC adalah meniup kedalam minuman.

Mukjizat Ke-60 : (Cara Membuang Hajat)

Hadiits Jabir,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ أَنْ نَتَّكِئَ عَلَى الْيُسْرَى وَأَنْ نَنْصِبَ الْيُمْنَى فِي قَضَاءِ الْحَا جَةِ

“Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bertumpu pada kaki kiri dan memberdirikan telapak kaki kanan saat buang hajat.” (HR. At-Thabrani)

Ilmu pengetahuan datang pada masa ini mengungkap manfaat posisi buang hajat yang diperintahkan Rasulullah SAW. Para dokter spesialis berkata, “Dubur pada badan manusia merupakan tempat keluarnya kotoran adalah berbentuk angka empat arab (٤), Apabila seseorang bertumpu pada kaki kiri dan memberdirikan telapak kaki kanan, duburnya akan berbentuk sempurna dan kotoran keluar dengan mudah.”

Mukjizat Ke-61 : (Berbaring di Sisi Tubuh yang Kanan)

Dari Al-Barra’ bin Azib, Bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَ ضّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِكَ اْلأَيْمَنِ

“Apabila kamu hendak tidur, berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW mengarahkan manusia agar tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan, lalu ilmu pengetahuan datang mengungkap manfaat-manfaat sesuatu yang diperintah Rasulullah SAW tersebut.

Majalah The Times mempublikasikan hasil kajian yang menunjukkan peningkatan angka kematian pada anak-anak yang tidur telungkup di atas perut mereka. Seorang peneliti Australia memperlihatkan adanya peningkatan angka kematian pada anak-anak ketika mereka tidur telungkup di atas perut mereka.

Adapun tidur telentang di atas punggung, maka tidur seperti ini menyebabkan pernafasan mulut. Sementara tidur berbaring di atas sisi sebelah kiri, maka tidak diterima (oleh ilmu kedokteran), karena pada posisi ini, jantung berada di bawah tekanan paru-paru kiri, sehingga tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan adalah posisi tidur yang benar.

Mukjizat Ke-62 : (Shalat dan Kesehatan)

Dr. Alex Carlyle peraih Nobel dalam bidang kedokteran berkomentar tentang shalat, “Shalat melahirkan kebugaran luar biasa pada tubuh dan anggota-anggotanya, bahkan merupakan penghasil kebugaran terbesar yang diketahui sampai masa kita sekarang ini. Di antara faidah shalat adalah menguatkan otot perut, menambah gerakan usus sehingga mengurangi kondisi menahan (gerakan) dan menguatkan penyaringan empedu. Posisi ruku’, sujud dan gerakan yang terjadi padanya berupa menekankan ujung jari telapak kaki dapat mengurangi tekanan pada otak.”

Penemuan ini memperlihatkan pada dunia bahwa apa yang diperitahkan Rasulullah SAW bersumber dari sisi Allah.

Mukjizat Ke-63 : (Mencuci Tangan)

Nabi SAW bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوَضُوْءَ، خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

“Barangsiapa wudhu dan membaguskan wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Musim)

Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa orang yang berwudhu secara terus-menerus maka sungguh dia telah membersihkan hidung dan bebas sari kuman (mikroba). Telah tetap secara ilmiah, bahwa kuman tidak menyerang kulit manusia jika ia tidak menjaga kebersihannya. Berikut rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berbunyi,
“Tiga juta orang mati pada setiap tahun. Dan kita tidak tahu siapa mereka. Mereka mati sebab tidak peduli pada kebersihan tangan, tidak mencucinya sebelum makan, dan tidak memperhatikan istinja.” Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kulit tangan membawa banyak kuman yang pindah ke mulut atau hisung ketika kedua tangan tudak dicuci. Oleh karena itu, mencuci kedua tangan adalah wajib. Rasulullah SAW telah memerintah manusia untuk membersihkan tangan dengan hadits berikut,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نُوْمَةٍِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فِي اْلإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثَا، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika salah seorang kalian bangun dari tidurnya, maka jangan (langsung) memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali, karena salah seorang kalian tidak tahu di mana tangannya bermalam.” (HR. At-Tarmidzi)
================================================
Mukjizat Ke-64 : (Tentang Besi)

Dalam Al-Qur’an, Rasulullah SAW mengabarkan manusia dengan wahyu dari Allah bahwa besi diturunkan ke bumi dan tidak mungkin untuk diproduksi. Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman dalam surat Al-Hadid,

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia,” (Al-Hadid : 25)

Para ilmuwan mengatakan bahwa membuat satu bijih besi memerlukan panas empat kali lipat yang seperti matahari. Karena besi memerlukan panas yang tinggi sekali, sementara panas yang seperti ini tidak dimiliki matahari. Dan bahwa proses penggabungan atom (nuclear fusion) di dalam matahari tidak sampai kepada tahap menjadi unsur besi. Proses ini berhenti jauh sebelum tahap menjadi unsur besi. Catatan ini menjadikan para ilmuwan mengambil kesimpulan bahwa bumi kita pada saat terlepas dari matahari tidak lain hanyalah sebuah onggokan abu. Tidak terdapat padanya sesuatu yang lebih berat daripada alumunium dan silikon, kemudian ditimpa dengan hujan meteor dari besi.

MUKJIZAT TENTANG ILMU ANATOMI

Mukjizat Ke-65 : (Tentang Kulit)

Para ahli anatomi menyebutkan bahwa indera peraba pada tubuh manusia adalah kulit. Mereka mengatakan, “Kalau kulit telah terbakar, (niscaya) tubuh tidak akan merasakan sakit.”

Ketika menggambarkan penduduk neraka, Allah SWt mengabarkan kita bahwa kulitlah yang merasakan sakit. Allah SWt brefirman dalam surat An-Nisa’,

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab” (An-Nisa’ : 56)

Mukjizat Ke-66 : (Tentang Parfum)

Ilmu anatomi tubuh telah menyebutkan indera penciuman. Indra penciuman disusun pararel dengan organ syahwat. Sehingga apabila laki-laki atau perempuan mencium wangi parfum (niscaya) ia mengalir di urat-urat syaraf syahwat.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Ahmad dan An-Nasa’i dari Nabi SAW, beliau bersabda.

أَيُّمَا امْرَأَةِ اسْتَعْطَترَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍِ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌُ

“Wanita mana saja memakai wewangian, lalu lewat pada sebuah kaum supaya mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina.” (HR. An-Nasa’i)

Dapat dipahami dari hadits ini bahwa parfum membangkitkan syahwat.

Mukjizat Ke-67 : (Tentang Ucapan ‘Rayuan’)

Ilmu anatomi mengatakan, “Demikian juga pendengaran dan organ pendengaran, ia sangat berkaitan erat dengan organ syahwat. Sehingga apabila laki-lakai atau wanita mendengar sebuah kata, maka kata itu terdengar lembut dan mengalir menuju organ syahwat. Apa yang disebutkan dalam ilmu anatomi telah diketahui oleh kaum muslimin berdasarkan pemahaman mereka terhadap ayat ini. Yakni firman Allah SWt,

فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Maka janganlah kamu tunduk (merayu) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya” (Al-Ahzab : 32)

Mukjizat Ke-68 : (Tentang Khalwat)

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam kedua kitab Shahih mereka dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍِ إِلاَّمَعَ ذِي مَحْرَمٍِ

“Janganlah salah seorang kalian berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali bersama mahram.” (HR. Bukhari)

Dr. Alez Carlyle berkata, “Pada saat hasrat seks mengalir pada manusia, maka ia mengeluarkan semacam zat yang mengalir dalam darah menuju otak dan membiusnya, sehingga tidak mampu lagi berfikir jernih.” Oleh karena itu, para penyeru ikhtilath (campur aduk antara laki dan perempuan bukan mahram), mereka diarahkan oleh akal mereka. Mereka diarahkan oleh syahwatnya. Presiden Amerika yang telah meninggal. Kennedy, dia berkata, “Pada setiap tujuh pemuda yang mendaftarkan diri sebagai prajurit ditemukan enam orang yang tidak baik, dikarenakan syahwat telah merusak kelayakan kesehatan dan psikologis mereka.”

Mukjizat Ke-69 : (Sentuhan Lain Jenis)

Disebutkan dalam ilmu anatomi, “Apabila tubuh laki-laki bersentuhan dengan tubuh waniita, niscaya ‘sambungan’ yang membangkitkan syahwat akan mengalir di antara keduanya.”

Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa sentuhan laki-laki terhadap tubuh wanita dapat membangkitkan syahwat. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Malik, Ahmad, dan lainnya, dari Nabi SAW beliau bersabda,

إِنِّيْ لاَأُصَا فِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِيْ لاِمْرَأَةٍِ قَوْلِيْ لِمِئَةِ امْرَأَةٍِ

“Sungguh aku tidak menjabat wanita. Perkataan saya pada satu wanita adalah bagaikan perkataan saya untuk seratus wanita.”

Mukjizat Ke-70 : (Berkaitan dengan Keinginan Manusia)

Ahli terkemuka dunia dalam anatomi otak, Dr. Moore berkata, “Telah pasti bagi kami bahwa lokasi yang menggambarkan kejujuran dan kedustaan dalam tubuh manusia terletak pada bagian depan kepala (ubun-ubun). Seandainya bagian otak ini dihilangkan, seseorang tidak akan memiliki kehendak.”

Penemuan ini telah diberitakan Allah kepada kita, bahwa bagian depan kepalalah yang berdusta. Di mana Dia berfirman dalam surat Al-“Alaq.

كَلاَّ لَئِنْ لَّمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq : 15-16)

Mukjizat Ke-71 : (Tentang Susu)

Setelah menggunakan alat-alat canggih, para ahli anatomi sampai pada penemuan bahwa susu merupakan bahan hasil saringan dari sisa-sisa makanan dan darah. Dan Allah telah mengabarkan kepada kita tentang pengetahuan ini dalam Al-Qur’an, surat AN-Nahl, Allah SWT berfirman,

نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّٰرِبِينَ

“Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (An-Nahl : 66)

MUKJIZAT TENTANG PENGOBATAN

Mukjizat Ke-72 : (Madu dan Obat)

Rasulullah SAW telah menyampaikan berita dalam Al-Qur’an dengan wahyu Allah bahwa madu mengandung obat. Allah SWT berfirman,

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاَ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنََّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl : 69)

Hasil beberapa penelitian mutakhir menunjukkan bahwa madu mengandung obat bagi sebagian jenis penyakit dan mampu membunuh banyak kuman (mikroba), sehingga sangatlah bagus menggunakan madu sebagai obat, dan memberikan hasil yang baik pada banyak jenis penyakit. Seperti obat infeksi lambung, obat radang hati yang menahun, obat anemia pada anak, obat luka nanah, obat dingin dan radang tenggorokan, obat keracunan alkohol, obat sakit perut dan diare.

Mukjizat Ke-73 : (Madu Terbaik)

Para ilmuwan berhasil menyimpulkan jenis madu yang terbaik. Mereka mendapatkan bahwa jenis madu yang terbaik adalah madu yang diambil dari gunung, kemudian pada urutan berikutnya yang diambil dari kayu, kemudian setelahnya yang diambil dari perumahan manusia. Ini selaras dengan pengurutan Allah dalam surat An-Nahl. Allah SWT berfirman,

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. (An-Nahl : 68)

Mukjizat Ke-74 : (Habbatus Sauda’)

Dalam hadits ini, Aisyah ra ia bertutur, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إِنْ هٰذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌُ مِنْ كُلِّ دَاءٍِ إِلاَّ مِنَ السَّامِ قُلْتُ : وَمَا السَّامُ؟ قَلَ : الْمَوْتَ

“Sesungguhnya habbah sauda’ (jintan hitam) adalah obat penyembuh dari segala penyakit kecuali as-sam.” Aku bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian” (HR. Bukhari)

Telah dilakukan penelitian di Balai Penelitian Florida Amerika Serikat pada habbah sauda’ mampu meningkatkan kekuatan organ kekebalan tubuh. Dan bahwa habbah sauda’ memainkan peran penting dalam meningkatkan dan menambah kekuatan organ kekebalan tubuh manusia untuk melindungi dirinya melawan kuman serta bahan-bahan aktif lainnya yang memudharatkan.

Mukjizat Ke-75 : (Tentang Demam)

Beberapa dokter mengatakan, “Di antara sebab yang menurunkan suhu panas tubuh adalah mengguyur kepala dengan air dingin. Dengan cara ini, suhu tubuh akan turun.”

Dan RAsulullah SAW telah menyebutkan hal ini kepada kita dalam hadits berikut, dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda,

إِنَّمَا الْحُمَّى أَوْشِدَّةٌُ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوْهَا بِالْمَاءِ

“Demam atau parahnya demam adalah berasal dari panas api neraka, maka dinginkan dia dengan air.” (HR. Bukhari Muslim)

Dan Rasulullah SAW apabila dilanda demam, maka beliau meminta satu geriba air, kemudian menyiramkannya pada kepalanya, lalu mandi”

MUKJIZAT TENTANG LALAT

Mukjizat Ke-76 : (Makanan Lalat)

Allah menurunkan ayat ini pada RasulNya, dan Dia menantang manusia untuk mengambil sesuatu yang telah dimakan lalat, maka niscaya mereka tidak akan mampu,

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَّ يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطًَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ. مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنََّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj : 73-74)

Apa yang diturunkan ilmu pengetahuan modern, bahwa ketika lalat mengambil makanan, maka ia menyemburkan zat tertentu dari air liurnya sehingga makanan tadi bercampur dengan cepat dengan makanan tersebut, sehingga tidak mungkin untuk diselamatkan. Karena sebelum makanan masuk ke dalam perutnya makanan tersebut terlebih dahulu berproses secara kimiawi menjadi unsur jenis lain.

Mukjizat Ke-77 : (Penyakit dan Penawar pada Lalat)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ شُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ أَحَدَ جَنَاحَيْهِ دَاءٌُ وَاْلا خَرَ دَوَاءٌُ

“Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang kalian, hendaklah dia mencelupkannya, kemudian mengangkatnya. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, dan pada sayap yang lain terdapat penawar.”

Setelah diadakan percobaan pada sayap lalat, maka ilmu pengetahuan menetapkan bahwa pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawar. Jika lalat jatuh pada minuman lalu dicelupkan, maka ia akan membunuh sebagian besar kuman dan akan tersisa sebagian kecil kuman, di mana tubuh membutuhkannya untuk melawan penyakit seperti pencacaran.

MUKJIZAT TENTANG SUSU

Mukjizat Ke-78 : (Susu: Materi Pokok)

Ilmu pengetahuan modern merekomendasikan bahwa dari sekian jenis makanan, susu adalah satu-satunya yang terbukti mengandung semua materi pokok yang dibutuhkan tubuh manusia. Penemuan ini telah diberitakan Rasulullah SAW dalam hadits ini, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan dari Nabi SAW, beliau bersabda,

وَمَنْ سَقَاهُ اللّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ : اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْ ءٌُ يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَرَابِ إِلاَّ اللَّبَنُ

“Barangsiapa yang diberi minum air susu oleh Allah hendaklah mengucapkan, “Ya Allah, berikanlah kami berkah padanya dan erikan kami tambahan darinya,” Sungguh tidak ada suatu makanan dan minuman yang mencukui (untuk menolak lapar dan haus) selain susu.”

MUKJIZAT TENTANG TUBUH MANUSIA

Mukjizat Ke-79 : (Unsur Manusia)

Para pakar kedokteran berkata, “Melalui analisa ditemukan bahwa tubuh manusia terdiri dari susunan yang sama dengan susunan bumi, yaitu; air, gula, protein, lemak, vitamin, hormon, klorin (Cl), sulfur/belerang (S), Fosforus (P), Magnesium (Mg), kapur/kalsium (Ca), kalium/potasium (K), sodum (Na), besi (Fe), tembaga/kuprum (Cu), yodium. iodin (I), dan materi-materilainnya.

Penemuan ini persis seperti yang Allah beritakan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلََّهَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لاَ يَعْلَمُونَ

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yaasin : 36)

Mukjizat Ke-80 : (Tulang Ajbu Dzanab)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَا بَيِنَ النَّفْخَتُيْنِ أَرْبَعُوْنَ، قَالُوْا: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ) أَرْبَعُوْنَ يَوْمَا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتَ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ سَنَةًَ؟ قَالَ: أَبَيْتُ: ثُمَّ يُنْزِلُ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءًَ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، وَلَيْسَ مِنَ اْلإِنْسَانِ شَيْءٌُ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jarak antara tiupan sangkakala empat puluh.” Mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah, (apakah) empat puluh hari?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Mereka bertanya, “(Apakah) empat puluh bulan?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Mereka bertanya, “(Apakah) empat puluh tahun?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Kemudian Allah menurukan hujan dari langit, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya sayur mayur. Tidak ada ssuatu pun dari tubuh manusia melainkan pasti hancur, kecuali satu tulang, yaitu ajbu adz adz-dzanab. Dari ajbu dzanab ini manusia disusun kembal pada Hari Kiamat.” (HR, Bukhari Muslim)

Ajbu Dzanab adalah tulang halus yang terletak pada ujung tulang ekor di antara kedua pantat.

النَّفْخَتُيْنِ (dua tiupan) adalah hari ditiupnya sangkakala. Pertama kali ditiup, semua makhluk di langit dan bumi mati. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka manusia pun bertumbuhan. Kemudian ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan mereka masing-masing)

Beberapa ilmuwan Jepang telah mengukuhkan kemustahilan hancurnya ajbu dzanab, baik dengan pelarutan pada tingkat asam yang paling tinggi secara kimia, atau dengan pembakaran dan penumbukan secara fisika, ataupun dengan terkena sinar yang bermacam-macam.

Apakah Rasulullah SAW pernah melaukan eksperimen terhadap tulang ini untuk memberitahukan kita bahwa ia tidak akan hancur? Ataukah itu adalah wahyu dari Allah?
==============================
MUKJIZAT TENTANG TANDA-TANDA KIAMAT

Mukjizat Ke-81 : (Tanda Kiamat: Jazirah Arab Menjadi Subur)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Rasululah SAW bersabda;

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُوْدَ جَزَِْرَةُ الْعَرَبِ مُرُوْجًا وَ أَنْهَارًا

“Kiamat tidak akan terjadi sampai jazirah Arab kembali penuh dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR. Muslim)

Banyak ahli geologi zaman ini mengisyaratkan bahwa jazirah Arab dahulu penuh dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai. Dan bahwa sekarang sedang ada peralihan gerak timbunan salju pada kedua kutub utara dan selatan menuju jazirah Arab. Peralihan ini akan menyulap padang pasir menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai, karena ia membawa air dalam jumlah yang sangat banyak yang mampu mencukupi padang-padang pasir itu untuk berubah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Dalam Konferensi Untuk Perlindungan Lingkungan Hidup yang diadakan di Thailand disebutkan bahwa hasil kajian menjelaskan bahwa timbunan salju di bagian utara Amerika Serikat akan mencair sekitar tahun tahun 2030 dan yang demikian itu disebabkan karena timbunan salju sedang beralih menuju Jazirah Arab. Dan tidaklah samar atas seorang pun seorangpun bahwa konferensi-konferensi yang diadakan pada masa ini berkaitan dengan perubahan iklim, sementara para ilmuwan tidak ada yang tahu bahwa iklim akan beralih kecuali setelah beberapa tahun belakangan ini saja?! Tidaklah seorang manusia mengetahui hal ini kecuali, ia adalah Rasul dari sisi Allah.

Mukjizat Ke-82 : (Tanda Kiamat: Gunung-gunung yang Hilang)

Dari Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُمُوُمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَزُوْلَ جِبَالٌُ عَنْ أَمَاكِنِهَاوَتَرَوْنَ اْلأُمُوْرَ الْعِظَامِ الَّتِي لَمْ تَكُوْنُوْا تَرَوْنَهَا

“Kiamat tidak akan terjadi hingga gunung-gunung hilang dari tempatnya, dan kalian melihat perkara-perkara besar yang belum pernah kalian lihat.” (HR. Ath-Thabrani)

Pada zaman ini, banyak sekali gunung-gunung yang digusur dari tempatnya, lalu tempatnya dibangun apartemen-apartemen, baik di Makkah al-Mukarromah ataupun di kota-kota lainnya, serta dijadikan jalan-jalan. Dan kita melihat banyak sekali perkara yang belum pernah kita lihat di zaman Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-83 : (Tanda Kiamat: Fitnah dan Pasar yang Berdekatan)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُمُوُمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ وَالْكَذِبُ وَتَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul fitnah-fitnah dan kedustaan, dan pasar-pasar semakin saling berdekatan.” (HR. Ahmad)

Pada zaman ini, pasar-pasar sudah saling berdekatan, di mana ditemukan dalam satu kampung ada beberapa pasar, sampai-sampai antara pasar yang satu dengan pasar yang lain saling berdampingan. Telah benar Rasulullah SAW, dan beliau adalah orang yang jujur (benar) dan dipercaya (dibenarkan).

Mukjizat Ke-84 : (Tanda Kiamat: Membaca dan Pembunuhan)

Rasulullah SAW bersabda.

يَأْتِي زَمَانٌُ تَكْثُرُ فِيْهِ الْقِرَاءَةُ وَيَقِلُّ فِيْهِ الْفُقَهَاءُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ الْهَرَجُ. قَالُوْ: وَمَا الْهَرَجُ؟ قَالَ: الْقَتْلُ

“Akan datang sebuah zaman, pada waktu itu membaca banyak digemari, orang-orang yang faham agama sedikit, ilmu dicabut, dan al-harj banyak terjadi.” Mereka bertanya, “Apa itu al-harj?’ Beliau bersabda, “Yaitu pembunuhan.” (HR. Ath-Thabrani)

Pada zaman kita sekarang, berdasarkan hadits ini telah terjadi dua mukjizat:

Pertama, banyak membaca. Semua orang alim membaca koran dan buku setiap hari.

Kedua, banyak terjadi pembunuhan. Pada zaman ini telah dirakit senjata-senjata, granat, dan bom yang membinasakan banyak orang.

Mukjizat Ke-85 : (Tanda Kiamat: Bangga Membangun Masjid)

Dari Anas ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهِى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Di antara tanda-tanda kiamat adalah manusia saling berbangga dalam membangun masjid.” (HR. An-Nasa’i)

Telah terjadi pada zaman ini bahwa setiap orang yang membangun masjid menginginkan masjidnya lebih bagus daripada masjid yang lain. Orang yang memperhatikan kondisi dunia islam akan mendapatkan banyak ragam arsitektur masjid.

Mukjizat Ke-86 : (Tanda Kiamat: Perang Terhadap Yahudi)

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam dua kitab Shahih mereka dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلُ الْمُسْلِمِيْنَ الْيَهُوْدُ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِموْنَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang Islam diperangi oleh orang-orang Yahudi, dan orang-orang Islam memerangi mereka.” (HR. Muslim)

Hadits ini menggambarkan realita kita saksikan hari ini. Allah memberikan kekuatan kepada Yahudi untuk melawan setiap muslim, Ini membuktikan apa yang diberitakan Rasulullah SAW, bahwa mereka akan membunuh orang-orang Islam.

Mukjizat Ke-87 : (Tanda Kiamat: Musuh Tak Gentar Terhadap Islam)

Dari Tsauban ra, bahwa Nabi SAW bersabda,

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَاتَدَاعَى اْلأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌُ: أَمِنْ قِلَّةٍِ نَحْنُ يَوْمَئِذٍِ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْ مَئِذٍِ كَشِيْرٌ وَلٰكِنَّكُمْ غُشَاءٌُ كَغُشَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللّهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَيَقْذِفَنَّ اللّهُ فِي قُلُوْ بِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌُ: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ اْمَوْتِ

“Akan segera tiba bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya, “Ada yang bertanya, “Apakah dikarenakan kami sedikit pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian tidak ubahnya seperti buih laksana buih banjir. Allah benar-benar akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada-dada musuh kalian dan Allah benar-benar akan melempar al-wahn di hati-hati kalian.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” Beliau bersabda, “Yaitu mencintai dunia dan membenci kematian.” (HR, Abu Dawud)

Hadits ini menggambarkan kondisi orang Islam pada zaman ini, seolah-olah beliau menyaksikan mereka hari ini. Dunia mengerumuni negeri-negeri Islam, dimana minyak dan kebutuhan-kebutuhan dunia ada di tangan orang Islam.

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang Islam berjumlah banyak, dan sekarang jumlah mereka lebih dari satu milyar, akan tetapi musuh-musuh tidak gentar terhadap mereka.

Mukjizat Ke-88 : (Tanda Kiamat: Memelihara Hewan Melebihi Anak Sendiri)

Rasulullah SAW bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌُ لَيُرَبِّيَنَّ جَرْوَ كَلْبِهِ خَيْرٌمِنْ أَنْ يُرَ بِّيَ وَلَدًا مِنْ صُلْبِهِ

“Akan datang suatu masa pada manusia, di mana memelihara anak anjingnya, lebih baik dari memelihara anak kandungnya sendiri.” (HR. AL-Hakim)

Dan ini telah terjadi di negara-negara barat.

Mukjizat Ke-89 : (Tanda Kiamat: Masjid dan Mushaf Hanya Hiasan)

Dalam Shahih al-Jami’ ash Shaghir karya as-Suyuthi, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا زُرِفَتْ مَسَاجِدُكُمْ وَحُلِّيَتْ مَصَا حِفُكُمْ فَالدِّمَارُ عَلَيْكُمْ

“Apabila masjid-masjid kalian diperindah dan mushaf-mushaf kalian dijasikan perhiasan, maka kehancuranlah yang akan menimpa kalian.”

Pada masa ini, masjid-masjid kita sekarang diperindah dengan berbagai perhiasan, berupa; kapur, marmer, keramik, dan lainnya. Mushaf-mushaf diletakkan dalam laci dan tidak dibaca kecuali sedikit.

Mukjizat Ke-90 : (Tanda Kiamat: Berlomba-lomba dalam Kemewahan)

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab ra, bahwa Jibril as datang kepada Rasulullah SAW dalam rupa laki-laki mengenakan pakaian putih bersih, berambut hitam pekat, dan bertanya kepada beliau tentang Islam, iman, dan ihsan, lalu Rasulullah SAW menjawabnya. Kemudian Jibril as bertanya kepada beliau tentang tanda-tanda kiamat. Maka Rasulullah AW menjawab,

أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ رِعَاءَ الشَّاةِ يَتَطَا وَلَوْنَ فِي الْبُنْيَانِ

“Apabila budak melahirkan tuannya, dan kamu melihat orang-prang yang tidak mengenakan sandal, tidak berpakaian, para penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan.” (Hr. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini disebutkan Rasulullah SAW seolah-olah beliau melihat kemajuan bangunan dunia sekarang ini. Semua orang yang dahulunya penggembala unta dan kambing, meninggalkan profesi mereka sebagai penggembala dan tinggal di kota, dan berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Mukjizat Ke-91 : (Tanda Kiamat: Berpakaian Tapi Telanjang)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ لنَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌُ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌُ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجِدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua kelompok ahli neraka yang belum pernah saya lihat: sekelompok kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor unta, mereka mencambuk manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan melenggak-lenggok dan keluar dari ketaatan kepada Allah, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Wanita-wanita ini tidak masuk surga dan tidak pula mendapatkan wangi surga, padahal wangi surga tercium dari jarak demikian dan demikian.”

Tidak samar lagi bagi siapa pun sesuatu yang kita lihat hari ini, berupa wanita-wanita Muslimah yang berpakaian tapi telanjang, yaitu wanita-wanita yang mengenakan pakaian terbuka atau ketat dan tipis, yang menampakkan daerah-daerah fitnah yang banyak ditemukan.

Tampak jelas apa yang mereka perbuat terhadap kepala-kepala mereka sehingga tampak persis seperti punuk unta di atas punggungnya.

Allah SWT dan RasulNya SAW telah mengancam mereka dengan tidak masuk surga serta tidak mencium wanginya.

Mukjizat Ke-92 : (Tanda Kiamat: Riba Merajalela)

Di antara tanda Kiamat sebagaimana yang diberitakan Rasululah SAW, adalah merajalelanya riba ditengah umat Muhammad. Semua manusia zaman ini, yang harta mereka disimpan di bank, pada pasti terkena debu riba. Amat benarlah Rasulullah SAW dalam hadits ini, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ زَمَانٌُ لاَ يَبْقَى فِيْه أَحَدٌ إِلاَّ أَكَلَ الرِّبَا، فَإِنْلَمْ يَأْ كُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

“Akan datang sebuah zaman di mana tidak seorangpun yang hidup pada waktu itu, kecuali dia memakan harta riba. Apabila dia tidak memakannya, dia terkena debunya.” (HR. Abu Dawud)

Mukjizat Ke-93 : (Tanda Kiamat: Muslim Mengikuti Yahudi dan Nasrani)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْحُذَ أُمِّتِيْ بِأَخْذِ الْقُْرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍِ وَذِرَاعًا بِذَرَاعٍِ حَتَّى لَوْ دَخْلُوْا جُحْرَ ضَبِّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ! قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti tradisi umat kurun-kurun sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga walaupun mereka masuk lubang kadal gurunpun, kalian pasti mengikutinya!” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?” Dijawab oleh Rasulullah, “Kalau bukan mereka, lalu siapa?” (HR. Bukhari)

Ini telah tampak pada masa kita sekarang ini. Di banyak negeri Islam, mengikuti dan meniru orang Nasrani dan Yahudi telah menjadi perlombaan dalam hal pakaian, bicara, dan tingkah laku.

Mukjizat Ke-94 : (Tanda Kiamat: Bangsa Romawi)

Dari Amru bin al-Ash, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,

تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَالرُّوْمُ أَكْشَرُ النَّاسِ

“Kiamat akan terjadi, dan pada waktu itu orang-orang Romawi (maksudnya Nasrani dan sekutunya) merupakan mayoritas manusia.” (HR. Muslim)

Sekarang, masa ini telah dekat dengan Kiamat dan bangsa Arab (Maksudnya Umat Islam) hanya seperlima dunia, sementara sisanya yang lain adalah bangsa Romawi. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Muhammad SAW berbicara dengan dasar wahyu dari Allah?!

Mukjizat Ke-95 : (Tanda Kiamat: Kesaksian Palsu)

Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيْمِ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ اْلأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّوْرِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ، وَظُهُوْرَ الْقَلَمِ

“Sesungguhnya tanda dekatnya Kiamat adalah ketundukan pada orang-orang khusus, semaraknya perdagangan, pemutusan silaturrahim, kesaksian palsu, menyembunyikan kesaksian yang haq, dan maraknya pena.” (HR. Ahmad)

Pena semakin marak, ilmu pengetahuan dan buku-buku tersebar luas melalui percetakan-percetakan, alat-alat foto copy, dan yang semisalnya. Bukankah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya?

Mukjizat Ke-96 : (Tanda Kiamat: Menjual Ayat)

Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah bersabda,

مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ إِذَا تَعَلَّمَ عُلَمَاؤُكُمْ لِيَجْلِبُوْا دَنَانِيْرَكُمْ وَدَرَاهِمَكُمْ وَاتَّخَذْتُمْ الْقُرْانَ تِجَارَةُ

“Di antara tanda dekatnya Kiamat, adalah apabila orang-orang alim kalian belajar untuk memperoleh dinar dan dirham kalian dan kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai perdagangan.” (HR. Ad-Duruquthni)

Mayoritas manusia zaman ini belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan materi, dan banyak orang-orang alim menerima gaji pada setiap akhir bulan. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Mukjizat Ke-97 : (Tanda Kiamat: Hubungan yang Tidak Baik)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ سُوْءُ الْجِوَارِ وَقَطِيْعَةُ اْلأَرْحَامِ وَأَنْ يُعَطَّلَ السَّيْفُ مِنَ الْجِهَادِ وَأَنْ تُجِلَبَ الدُّنيَا بِالدِّيْنِ

“Di antara tanda-tanda Kiamat, adalah jahat dalam bertetangga, memutus silaturrahim, ditanggalkannya pedang dari jihad, dan diraihnya dunia dengan agama.” (HR. Ibnu Mardawaih)

Kita telah menyaksikan sesuatu yang telah diberitahukan hadits ini seperti perakitan alat-alat perang selain pedang serta ditinggalkannya pedang, sebagaimana yang diberitakan Nabi SAW. Tidakkkah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Mukjizat Ke-99 : (Dajjal)

Imam Ahmad berkata, Yunus menceritakan kepada kami, dari Mihjan bin al-Adra’, bahwa Rasulullah SAW berpidato di depan para sahabat,

يَوْمُ الْخَلاَصِ وَمَا يَوْمُالْخَلاَصِ!! ثَلاَثًَا، فَقِيْلَ لَهُ: وَمَا يَوْمُ الْخَلاَصِ؟ قَالَ: يَجِيْءُ الدَّجَّالُ فَيَصْعَدُ جَبَلَ أُحُدٍِ فَيَنْظُرُ الْمَدِيْنَةَ فَيَقُوْلُ لِأَصْحَابِهِ: أَتَرَوْنَ هٰذَا الْقَصْرَ اْلأَبْيَضَ؟! هٰذَا مَسْجِدُ أَحْمَدَ

“Yaum al-khalash, apa itu yaum al-khalash?” (beliau mengulangnya tiga kali). Dikatakan kepada beliau, “Apa itu yaum al-khalash?” Beliau bersabda, “Yaitu hari ketika Dajjal datang, lalu naik ke gunung Uhud seraya mengarahkan pandangannya ke Kota Madinah, lalu ia berjata, “Apakah kalian melihat istana putih ini? ini masjid Ahmad”.”

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menyampaikan berita bajwa kelak ketika Dajjal keluar, masjid beliau seperti istana. Dan semua orang pada masa ini bisa melihat masjid Rasulullah SAW benar seperti istana sebagai hasil dari perluasan fisik masjid, perluasan yang belum pernah disaksikan sejarah yang sama sepertinya, berkat kemurahan Allah, kemudian berkat kemurahan pemerintah Arab Saudi.

Semoga Allah menjadikannya ternasuk dalam khidmat kepada Islam dan Kamu Muslimin.

Mukjizat Ke-100 : (Makkah Pusat Daratan Dunia)

Penemuan ilmiah baru yang disosialisasikan pada bulan Januari 1977 M. berbunyi, “Makkah al-Mukarramah merupakan pusat daerah darat dunia, dan terletak di tengah-tengah dunia.”

Untuk sampai kepada penemuan baru ini memerlukan penelitian ilmiah bertahun-tahun. Ini merupakan hikmah Allah untuk memilih Makkah sebagai tempat Baitullah al-Haram (Ka’bah) dan sebagai kiblat umat Islam.

Allah SWT berfirman,

سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar” (Fushshilat : 53)

Allah SWT juga berfirman,

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَٰفًا كَثِيرًا

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisaa’ : 82)

Dan masih banyak lagi mukjizat dan tanda dari Allah SWT…

—————————————————————

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-‘Imran : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali-‘Imran : 85)

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan”.” (An-Naml : 93)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).” (An-Nisaa’ :174)

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.” (Al-Jaatsiyah : 3)

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.” (Yusuf : 105)

وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَأَيَّ آيَاتِ اللَّهِ تُنْكِرُونَ

“Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?” (Al-Mu’min : 81)

sejarah turunnya Al Qur’an …. petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat —————— Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. ——— Bagian-bagian Al-Qur’an ———— Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. ——————– Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).——— Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.——— Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——- ————– Sejarah Turunnya Al-Qur’an ———– Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —- 2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.— 3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—- Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. 4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—- Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. ———— Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat. Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. ——– Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah ———— Makkiyah Madaniyyah ———— Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang, Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—– Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—– Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun. ——- Kodifikasi Al-Qur’an ———— Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. ———— Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan. ————– Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an —————— Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik. ——————- Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat. ———— Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi) ————– Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh. Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———– Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.— Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——- Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———– Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——- Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah: Firman Allah SWT:———- Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu. ————- Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap. ————— Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat. Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda. —————- Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an ————— Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:—— Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?——— Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah. Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam. ————– Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———– Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.——— Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.—— Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).—— ==========================

sejarah turunnya Al Qur’an …. petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat
——————

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.

———
Bagian-bagian Al-Qur’an

————
Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr.
Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat.

——————–
Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an).
Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).———
Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.———
Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.——-
————–
Sejarah Turunnya Al-Qur’an
———–
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. —-
2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.—
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.—-
Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin.
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.—-
Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.
————
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat.
Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
——–
Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah
————
Makkiyah Madaniyyah ————
Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang,
Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).—–
Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.—–
Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun.
——-
Kodifikasi Al-Qur’an
————
Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.
————
Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
————–
Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an
——————
Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
——————-
Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As.
Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.
————
Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi)
————–
Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.
Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ———–
Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.—
Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.——-
Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.———–
Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ——-
Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah:
Firman Allah SWT:———-

Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.
————-
Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap.
—————
Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat.
Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.
—————-
Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an
—————
Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:——
Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?———
Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.
Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam.
————–
Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.———–
Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.———
Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.——
Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).——

=================================

Ketika Al-Quran turun kepada Nabi SAW, beliau menyampaikan kepada para sahabatnya secara perlahan-lahan agar mereka menghafalnya lafaznya, dan mampu memahami maknanya. Nabi Muhammad SAW, sangat perhatian dalam menghafal (memelihara) Al-Qur’an dan dalam memperolehnya. Al-Qur’an sepenuhnya hanya bisa diapresiasi dalam bahasa Arab. Al-Qur’an adalah dokumen keagamaan yang mengandung pernyataan awal tentang kepercayaan dan praktek kaum Muslim yang mendasar, namun bukan doktrin yang dijelaskan secara utuh dan sistematis. Al-Qur’an adalah sebuah dokumen hukum suci yang terdiri dari peraturan-peraturan tentang perkawinan, perceraian, makanan, finansial, harta rampasan, pembalasan (Qishash), perjanjian, wasiat, warisan, dan sebagainya, meskipun tampaknya ia mengandung inkonsistensi dan kode hukum yang diberikan, dilakukan secara tidak lengkap dan sistematis. Peraturan-peraturan individu sepertinya dinyatakan dari waktu ke waktu dengan kebutuhan yang ada, dan men-naskh beberapa peraturan yang mendahuluinya.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus sebagaimana kitab-kitab yang kita ketahui, akan tetapi sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur, sebab ada suatu hikmah atau rahasia yang terkandung di dalamnya. Wahyu itu diturunkan pada setiap ada peristiwa atau kejadian, supaya mereka kaum muslimin bertetap hati, tidak merasa jenuh dan Nabi sering dikunjungi oleh malaikat Jibril untuk dibangun kegembiraan dan kesenangan hati. Dengan demikian Nabi selalu merasa gembira karenanya. Untuk orang-orang yang ummi akan lebih mudah cara menghafalnya dan memahami. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan Malaikat Jibril adalah secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Kadang-kadang turun hanya terdiri dari beberapa ayat saja, dan kadang-kadang terdiri dari beberapa ayat, lima sampai sepuluh ayat bahkan ada yang hanya satu ayat. Tetapi ada pula yang sekali turun terdiri dari satu surat lengkap yaitu terdiri dari beberapa surat yang pendek, seperti Surat Al-fatihah, Surat Al-Ikhlas, Al-Alaq, dan sebagainya.
Oleh karena itu, tidaklah aneh kalau Al-Qur’an itu, sebagaimana apa yang telah kita dengar, telah dihafal oleh sejumlah besar para sahabat. Karena salah satu hikmah Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut hemat penulis adalah agar lebih mudah dihafal ataupun dipahami oleh umat Rasulullah SAW dikemudian hari.
B. Pembahasan
1. Ayat yang Pertama Turun
Agama Islam adalah agama yang dianut oleh ratusan juta bahkan miliaran kaum muslim seluruh dunia, dan merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat, karena agama Islam mempunyai satu sendi utama yang esensial berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya; yaitu kalamulah.
Al-Qur’an pertama kali turun pada malam Lailatul Qadr di sebuah gua Hira dengan ayat yang pertama dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5, ini didasarkan pada firman Allah SWT, pada Surat Al-Qadr, dan ayat yang terakhir turun adalah ayat mengenai riba. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau di waktu Nabi Muhammad SAW telah di angkat menjadi Nabi Muhammad SAW. Sampai saat ini, tanggal tersebut diperingati oleh umat Islam Indonesia setiap tahun sebagai malam peringatan Nuzulul Qur’an. Sebenarnya para ulama mengenai hal ini tidak sependapat. Ada tiga pendapat, mengenai ayat atau surat pertama sekali turun, yaitu ada yang mengatakan Surat Al-Fatihah, Surat Al-Mudatstsir, dan pendapat yang terkuat adalah Surat Al-‘Alaq. Semua pendapat ini masing-masing mempunyai alasan.
Pendapat yang lain mengatakan, bahwa ayat yang pertama diturunkan adalah Surat Al-Mudatstsir berhujjah dengan hadits riwayat Asy-Syaikhani, yang diterima dari Abi Salamah bin Abdurrahman. Dia berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah “Ayat apa yang turun sebelum segalanya? Jabir berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “Ya Ayyuhal Mudatstsir.” Kemudian aku berkata, atau “Iqra’ Bismi Rabbika”? jabir berkata: “Saya ceritakan kepadamu apa yang diceritakan oleh Rasulullah kepada kami.” Rasulullah berkata “ Aku mengasingkan diri di gua Hira, setelah aku pun turun ke lembah, kemudian aku dipanggil oleh seorang, maka aku menoleh ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri (tapi tiada siapa-siapa). Selanjutnya aku melihat ke atas, ternyata ada Jibril, kemudian aku menggigil, aku lalu datang kepada Khadijah. Aku menyuruh orang-orang menyelimutiku. Maka Allah SWT menurunkan ayat “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” Demikian pula pendapat-pendapat yang lain, masing-masing didukung oleh hadits. Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat bahwa ayat pertama turun ialah Surat Al-‘Alaq 1-5 berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari, yang diterima dari Aisyah ra, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Tentang ayat pertama turun Imam Al-Bukhari meriwayatkan dua hadits yang berbeda. Salah satunya mengatakan bahwa ayat pertama turun adalah lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq (seperti teks di atas). Hadits riwayat Imam Al-Bukhari yang bersumber dari Aisyah ra ini menyatakan sahih oleh dua tokoh hadits yang lain. Yaitu oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya dan oleh Al-Baihaqiy dalam Dalil-nya. Kemudian Al-Thabraniy dalam kitabnya Al-Kabir dengan sanad-nya sendiri- yang bersumber dari Abi Raja Al-Aththardiy menyatakan:”Abu Musa mengajarkan kami mengaji. Beliau menyuruh kami duduk ber-halaqah. Beliau mengenakan dua baju putih. Jika beliau membaca surat Al-Alaq, Beliau menyatakan: “Ini adalah surat pertama yang turun kepada Muhammad SAW.
Imam Al-Bukhari juga memang meriwayatkan dua hadits yang seakan-akan berbeda mengenai satu masalah. Yakni ayat yang pertama turun. Mari kita simak riwayat Imam Al-Bukhari, dan Imam Muslim dari Abu Salamah bin Abdal Rahman bin ‘Auf yang mengatakan “Aku pernah menanya Jabir bin Abdullah: (ayat) Al-Qur’an manakah turun terlebih dahulu?” Ia menjawab: “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” Lalu kukatakan “Ataukah “Iqra’ Bismi Rabbika?” Ia (Jabir) lalu mengatakan: “Akan kuceritakan kepadamu, apa yang diceritakan Rasulullah.” Rasulullah pernah bersabda:”Sesungguhnya aku pernah di gua Hira. Seusai aku menyendiri di sana, aku keluar. Aku menuruni lembah. Kemudian aku dipanggil. Aku melihat ke depan dan ke belakangku, ke kanan dan ke kiriku. Kemudian aku menatap ke langit. Tiba-tiba dia (maksudnya Jibril) tengah duduk di atas Arsy antara langit dan bumi. Aku gemetar. Maka kudatangi Khadijah dan dia menyelimutiku. Kemudian Allah SWT menurunkan: “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” (Wahai orang yang tengah berselimut. Bangunlah, maka berilah peringatan).
Sedikitnya ada dua hal yang perlu diperhatikan menurut penulis menyangkut hadits di atas. Pertama, kalimat Abu Salamah yang berbunyi:” Ataukah Iqra’ Bismi Rabbika?” ini artinya, Abu Salamah tidak serta merta menerima keterangan Jabir yang mengatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir” itu. Dan, kalimat Abu Salamah yang berbentuk pertanyaan (Ataukah Iqra’ Bismi Rabbika?) itu sesungguhnya bantahan secara halus terhadap keterangan Jabir. Tetapi oleh karena dalam masalah ini status Abu Salamah sebagai orang yang bertanya (katakanlah murid), tentu ia harus bersikap sopan, tidak membantah ulang keterangan Jabir bin Abdullah; kedua, kecuali hadits di atas, Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan yang lain dari Abu Salamah dan dari Jabir. Intinya berbunyi “Ketika aku (maksudnya Rasulullah SAW) tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suatu jenis suara dari langit. Aku lalu mengarahkan pandangan ke arah langit. Rupanya malaikat yang telah mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku takut, sampai-sampai aku terperosok ke tanah. Aku kemudian mendatangi keluargaku dan kukatakan “Selimuti aku, selimuti aku”. Lalu Allah SWT menurunkan ayat: “Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan!, Dan Tuhanmu agungkanlah!, Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (QS. Al-Muddatstsir:1-5)
Adanya pengakuan Rasulullah yang berbunyi: “Rupanya malaikat yang tengah mendatangiku di Hira…” menunjukkan bahwa sebelum peristiwa turunnya Surat Al-Muddatstsir, Rasulullah telah bertemu Jibril di Hira. Dengan dasar dua alasan tadi, kebanyakan ulama mengatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang pertama sekali turun adalah ayat 1-5 Surat Al-Alaq. Sementara itu, Surat Al-Muddatstsir mereka nyatakan diturunkan, bukan yang pertama kali turun.
Menurut penulis, mungkin saja timbul pertanyaan: Apakah kegunaan kita mengetahui ayat lebih dahulu turun dibandingkan dengan ayat lainnya? Pertanyaan seperti ini memang bisa saja timbul terutama dari orang yang awam terhadap hakikat Al-Qur’an.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya dikutip apa yang tulis oleh Syekh Muhammad Abd Al-‘Azhim Al-Zarganiy. Penulis kitab Manahil Al-‘Irfan ini, melihat sedikitnya ada tiga faedah yang dapat dipetik dari mengetahui hal seperti ini, yaitu:
1. “Untuk membedakan ayat mana yang nasikh dan mana mansukh. Jika ditemui atau beberapa ayat yang berbeda mengenai satu masalah, maka dengan mengetahui ayat yang mana turun lebih dahulu dan belakangan, dapat diketahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh.
2. Untuk mengetahui Tarikh Tasyri’. Artinya, perjalanan sejarah penetapan hukum Islam dapat ditangkap secara lebih jelas dengan mengetahui hal ini.
3. Untuk dapat mengikuti secara pasti perjalanan turunnya Al-Qur’an yang berangsur-angsur. Dengan demikian bisa ditangkap taktik strategi dakwah Islam di dalam mengajak orang kepada jalan Allah SWT.”
2. Surat yang Terakhir Turun
Ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(QS. Al-Baqarah: 281)
Para ulama tidak sepakat mengenai ayat terakhir turun. Selain dari pendapat di atas, terdapat pula pendapat lain yaitu di antara mereka yang mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, An-Nisa’ ayat 176, At-Taubah ayat 128-129, dan yang paling populer adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah pendapat di atas, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 281. Masing-masing pendapat ini mempunyai alasan, tetapi alasan itu kurang kuat jika dibandingkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa yang terakhir turun tersebut Surat Al-Baqarah ayat 281. Tapi menurut Salman Harun bahwa ayat terakhir yang turun adalah ayat ke lima dari Surat Al-Maidah. Isinya adalah pesan bahwa ajaran Tuhan tentang manusia dan kemanusiaan telah sempurna diberikan lewat Al-Qur’an. Sesuai dengan makna Al-Maidah yaitu “ hidangan”, maka untuk mencapai kesempurnaan manusia dan kemanusiaan tersebut, perlu ada sesuatu yang dihidangkan yaitu pendidikan dan pengajaran. Mayoritas ulama berpendapat bahwa terakhirnya turunnya Al-Qur’an ialah hari Jumat, 9 Dzulhijah tahun 10 H atau tahun 63 kelahiran Nabi Muhammad SAW atau sama dengan bulan Maret 632 M, pada saat itu nabi sedang berwukuf di Padang Arafah dalam menyelenggarakan haji yang dikenal dengan haji Wada’. Sa’id bin Al-Khudri, sebagaimana dikutip oleh As-Syayuti, mengatakan, ayat ini turun kepada Nabi Muhammad SAW sembilan hari menjelang beliau wafat.
Menurut pendapat yang lain masalah ayat yang paling akhir turun, tak satu pun yang marfu’ kepada Nabi Muhammad SAW. Riwayat-riwayat yang semuanya bersumber dari sahabat dan tabi’in. Itulah sebabnya mengapa di dalam menunjuk ayat yang paling akhir turun, terjadi kesimpangsiuran dan persilangan pendapat. Dan, riwayat-riwayat yang hanya sekali tidak selamanya menunjukkan turunnya ayat. Tidak jarang di antaranya yang menunjuk pada surat. Bersama ini kita uraikan beberapa riwayat di antaranya:
a. Riwayat pertama yang paling akhir turun adalah firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(QS. Al-Baqarah: 281)

Dalil yang dipegang adalah:
1) Riwayat yang dikeluarkan oleh Nasa’i dari ‘Ikhrimah, dari Ibnu Abbas.
2) Riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id Jubair.
3) Riwayat Ibnu Jari, dari Ibnu Jurai.
4) Riwayat Al-Baihaqiy, dari Ibnu Abbas.
b. Riwayat kedua ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah:278)
Riwayat yang sama, juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqy.
c. Riwayat ketiga ayat yang terakhir adalah Surat Al-Baqarah ayat 282, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua orang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS.Baqarah:282)
Riwayat ini merujuk pada:
1) Riwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Sa’id bin Al-Musayyab.
2) Riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Ubaid, dari Ibnu Syihab.
Mengomentari ketiga riwayat di atas, Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy dan Dr. Muhammad Yusuf Al-Qasim dalam masalah ini sepakat dengan Imam Al-Syayuthi mengatakan: “Ketiga riwayat ini mungkin sekali dikompromikan”. Jelas, kata kedua guru besar Ilmu Al-Qur’an dari Universitas Al-Azhar ini, bahwa ketiga ayat yang ditunjuk oleh ketiga riwayat di atas diturunkan sekaligus karena letaknya yang boleh dikatakan berurutan dan kisahnya masih satu rangkaian.
d. Riwayat keempat ayat yang terakhir turun adalah Surat Maidah ayat 3, “…pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…”( QS. Al-Maidah:3)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini turun 81 hari sebelum Rasulullah SAW wafat. Jadi, inilah pendapat yang kuat dibandingkan dengan pendapat yang populer di kalangan umat Islam, bahwa ayat yang terakhir adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Ayat ini turun di Padang Arafah ketika Rasulullah menunaikan haji terakhir, dan dia masih hidup beberapa bulan lagi setelah itu. Setelah Surat Al-Baqarah ayat 281, turun 9 hari atau 81 hari menjelang Rasulullah SAW wafat.
Syekh Muhammad Al-Khudhari dalam kitabnya, Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami, dan Syekh Abdu Al-Aziz Al-Khuli dalam kitabnya Al-Qur’an Wasfhuhu, Hidayatuhu, ‘Atsaru I’jazihi termasuk memegang ayat 3, surat Al-Maidah ini sebagai ayat yang diturunkan paling akhir yang diturunkan pada haji Wada’, dan setelah ayat diturunkan 81 hari sebelum Rasulullah SAW 81 hari.
Imam Al-Syayuthi menolak ayat 3 Surat Al-Maidah sebagai ayat yang paling akhir turun dengan alasan, bahwa; pertama, yang dimaksud dengan “menyempurnakan agama” adalah menyempurnakan kekuasaannya, meninggikan kalimatnya, dan memperkuat wibawanya; kedua, yang dimaksud dengan “menyempurnakan agama” adalah menyempurnakan hukum-hukum halal dan haram. Dengan kata lain, tidak berarti setelah itu turun lagi ayat-ayat mengenai peringatan dan nasihat.
Tetapi menurut Imam Al-Zarkasyi punya pilihan lain. Penulis kitab Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an ini menulis “Al-Qadhi Abu bakar mengatakan dalam kitab Al-Intishar ”Tak satu pun dari ucapan-ucapan ini yang marfu’ kepada Rasulullah SAW. Boleh jadi, perawinya mengatakannya sebagai suatu jenis ijtihad dan kecenderungan dugaan. Mengetahui yang demikian bukan termasuk kewajiban agama, ada kemungkinan, masing-masing mereka menginformasikan ayat yang terakhir yang didengarnya dari Rasulullah SAW pada hari wafatnya atau beberapa saat sebelum beliau sakit”.
3. Masa Turun Al-Qur’an
Rentang selama turunnya Al-Qur’an, salah satu faktor kuat yang menyebabkan keterjagaan hafalan Nabi Muhammad SAW, dan tetapnya dalam hati Nabi yang mulia adalah penyampaian Al-Qur’an yang dilakukan oleh Jibril kepada nabi Muhammad SAW, pada bulan Ramadhan di setiap tahun. Bahkan, pada tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW, Jibril menyampaikan bacaan Al-Qur’an dua kali, sehingga dapat memahaminya pada waktu menjelang akhir kehidupannya.
Penyampaian Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW seiring dengan periode dakwah Nabi SAW, yang meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. Yang pertama berlangsung lebih kurang 13 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Dan yang terakhir berlangsung lebih kurang selama 10 tahun, setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Ayat atau surat Al-Qur’an yang diturunkan pada periode pertama disebut dengan ayat atau surat Al-Makkiyah dan pada periode kedua disebut dengan Al-Madaniyah.
Tentang rentang waktu di mana Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an, Abdal Wahhab Abdal Masjid Ghazlan dalam Mabahitsfi ‘Ulum Al-Qur’an-nya menurunkan tiga pendapat, yaitu; pertama, bahwa Al-Qur’an diturunkan berturut-turut selama dua puluh tahun; kedua, bahwa Al-Qur’an diturunkan selama dua puluh tiga tahun; ketiga, Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an selama dua puluh lima tahun.
Ketiga pendapat Al-Ghazlan di atas, tak satu pun yang menunjukkan secara cermat mengenai masa di mana Rasulullah SAW menerima Al-Qur’an. Agaknya mereka memilih menggenapkan bilangan masa itu ketimbang merincinya. Seperti diketahui, bahwa pengangkatan Muhammad bin Abdullah yang lahir tanggal 12 Rabi’ul-Awwal menjadi nabi dan rasul pada saat usia beliau mencapai usia 40 tahun. Sedangkan pertama kali beliau menerima wahyu pada tanggal 12 Rabi’ul-Awwal saat beliau bermimpi (ru’ya shadiqah). Enam bulan kemudian, pada bulan yang sama juga, yakni pada bulan Ramadhan, beliau menerima ayat Al-Qur’an yang pertama turun. Sedangkan Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun. Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan, bahwa Rasulullah SAW menerima wahyu Al-Qur’an selama 22 tahun 6 bulan.
Semua ayat Al-Qur’an diperoleh Nabi Muhammad melalui wahyu. Hal ini tidak dapat disamakan dengan proses ilham. Karena ilham datang lantaran suatu usaha, sedangkan wahyu datang dengan sendirinya. Wahyu datang dalam dua bentuk, yaitu bentuk pertama lewat malaikat Jibril yang bertugas menyampaikannya dan cara seperti inilah yang sering terjadi. Bentuk yang kedua adalah penyampaian secara langsung dari Allah SWT ke dalam kesadaran Nabi, bentuk terakhir ini sangat berat bagi beliau sehingga sampai bercucuran keringat walau itu terjadi di musim dingin.
Wahyu turun kapan saja dan tidak atas kemauan Nabi Muhammad. Adakalanya saat beliau sudah berangkat tidur lalu beliau duduk dan senyum ( misalnya QS.108 ), atau sedang lelap dini hari ( misalnya QS.9:118 ), sedang menetap ( misalnya QS.2:125 ), bepergian ( antara lain QS.4:176 ), sedang berperang ( seperti QS.63 ), melaksanakan Isra’ ( yaitu QS.43:45 ), melaksanakan Mi’raj ( seperti QS.2:284 sampai akhir ), waktu musim dingin ( ayat mengenai fitnah terhadap Aisyah; QS.24:11 ), musim panas ( QS.9:81), serta keadaan lainnya.
Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan berbagai peristiwa, baik bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah SAW. Beberapa sumber riwayat memperkirakan masa turunnya wahyu seluruhnya 20 tahun, tetapi ada juga memperkirakan kurang lebih 25 tahun, perkiraan ini didasarkan pada masa mukimnya Rasulullah SAW di Mekkah setelah bi’tsah yaitu antara 10 dan 15 tahun.
4. Dalil dan Bukti Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsur
Al-Qur’an itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap. Pertama, penyampaian Al-Qur’an dari Allah SAW kepada Lawh Al-Mahfuzh. Maksudnya, sebelum Al-Qur’an disampaikan kepada Rasulullah SAW sebagai utusan Allah SWT terhadap manusia, ia terlebih dahulu disampaikan kepada Lawh Al-Mahfuzh, yaitu suatu lembaran yang terpelihara di mana Al-Qur’an pertama kalinya ditulis pada lembaran tersebut. Allah SWT menjelaskan, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuz.“(QS. Al-Buruuj:21-22)
Tidak ada manusia yang tahu bagaimana cara penyampaian Al-Qur’an dari Allah SWT ke Lawh Al-Mahfuzh. Dan manusia tidak wajib mengetahuinya, tetapi wajib mempercayainya karena yang dikatakan Allah SWT.
Tahap kedua adalah turunnya ke langit pertama dengan sekaligus. Di langit pertama itu, ia disimpan pada Bayt Al-‘Izzah. Penurunan tahap kedua ini bertepatan dengan malam Qadar, seperti dalam Surat Al-Qadr (97) ayat 1, Ad-Dukhan (44) ayat 3, dan Al-Baqarah ayat 185. Ibnu Abbas mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Az-Zarqani: “Al-Qur’an diturunkan, secara sekaligus, ke langit dunia pada malam Qadr. Setelah itu, ia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 20 tahun.”
Para Mufassirin mengkaji hikmah penurunan Al-Qur’an ke langit pertama. Fakhruddin Ar-Razi, misalnya mengatakan bahwa hikmah diturunkan Al-Qur’an ke langit dunia adalah untuk kemaslahatan, yaitu agar ia tidak jauh, baik dari Rasulullah SAW maupun dari malaikat, terutama malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat Ar-Razi ini dikomentari oleh Al-Hijazi. Dia mengatakan hal ini merupakan rahasia Allah SWT. Masalah tersebut lebih tinggi dari itu semua, di mata manusia sulit mengetahuinya.
Tahap ketiga adalah turunnya Al-Qur’an dari Bayt Al-‘Izzah secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, atau 23 tahun. Jibril menyampaikan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW, sehingga setiap kali wahyu ini disampaikan beliau langsung menghafalnya. Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 97 menyebutkan hal tersebut, yaitu: “Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Baqarah: 97)

Klasifikasi tahap penurunan Al-Qur’an di atas, didasarkan penyampaian Al-Qur’an dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Apabila klasifikasi tersebut didasarkan atas periode penyampaian dakwah Islam dan penanaman serta pertumbuhan ajaran Islam, maka penurunan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan pula kepada periode Mekkah dan Madinah. Periode Mekkah lebih kurang 13 tahun dan periode Madinah kurang lebih 10 tahun. Dalam kajian Ulumul Al-Qur’an, hal ini disebut dengan ilmu Al-Makkiyah Wa Al-Madaniyah. Jumlah surat yang diturunkan pada periode Mekkah lebih banyak dari jumlah surat yang diturunkan pada periode Madinah. Surat yang diturunkan pada periode Mekkah adalah berjumlah 86 surat, sedangkan periode Madinah berjumlah 28 surat. Perbedaan antara kedua periode ini ditandai dengan perjalanan dakwah Islam oleh Rasulullah SAW, yaitu yang terdiri dari sebelum hijrah yang disebut periode Mekkah, dan setelah hijrah yang disebut periode Madinah.
Seperti yang telah digambarkan di atas, bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Hal ini mendapat ejekan dan kritik dari kaum kafir. Mereka mempertanyakan kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan dengan sekaligus. Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an diturunkan dengan sekaligus. Maka Al-Qur’an menjawab kritikan dan protes kaum kafir itu. Allah menjawab dengan beberapa berfirman-Nya: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).”(QS.Al-Furqan:32). “Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.”(QS.Al-Isra’:106)

5. Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Berangsur-Angsur
Paling tidak ada empat hikmah kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, yaitu:
a. Menetapkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad SAW, seperti digambarkan dalam ayat di atas. Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka berarti Nabi Muhammad SAW akan selalu berjumpa dengan Jibril dan menerima Al-Qur’an. Hal ini secara psikologis akan berpengaruh kepada Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah ilahi, dia akan menjadi tegar dan kuat. Berbeda dengan turunnya sekaligus, berjumpa dan mendapatkan seluruh ayat kemudian tidak muncul lagi.
b. Berangsur-angsur dalam mendidik umat, yang sedang tumbuh ini, untuk menanamkan ilmu dan amal. Hal ini dapat memberikan kemudahan kepada para sahabat untuk memahami dan menghafalkannya. Betapa sulitnya memahami dan menghafal ayat-ayat yang begitu banyak jika ia diturunkan sekaligus. Dan bahkan lebih sulit lagi mengamalkannya, karena perintah dan larangan yang begitu banyak muncul secara bersamaan. Maka untuk itulah Allah SAW menurunkan ayat-ayat tersebut dengan berangsur-angsur.
c. Menyesuaikan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan perlunya penyesuaian penurunan ayat dengan peristiwa yang sedang terjadi, yaitu; pertama, akan menimbulkan kesan yang mendalam sehingga umat Islam benar-benar merasakan betapa butuhnya mereka dengan Al-Qur’an; kedua, berguna menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat secara langsung dengan yang diturunkan ketika itu juga atau menunggu beberapa lama, hal ini selain menimbulkan kesan yang mendalam bagi penanya, dan juga dapat menambah keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an benar-benar datang dari Allah SWT, sehingga Nabi Muhammad SAW harus menunggu turunnya ayat yang berkenaan dengan itu.
d. Memberikan isyarat yang nyata kepada musuh-musuh Islam, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang datang dari Allah SWT bukan perkataan Nabi Muhammad SAW. Jika ia kalam Nabi Muhammad SAW, maka dia dapat mengungkapkannya kapan dan di mana saja, tidak perlu menunggu.

C. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan yakni:
1. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau di waktu Nabi Muhammad SAW telah di angkat menjadi Nabi Muhammad SAW, dan peringati sebagai Nuzulul Qur’an. Sebenarnya para ulama mengenai hal ini tidak sependapat. Ada tiga pendapat, mengenai ayat atau surat pertama sekali turun, yaitu ada yang mengatakan Surat Al-Fatihah, Surat Al-Mudatstsir, dan jumhur ulama berpendapat bahwa ayat pertama turun ialah Surat Al-‘Alaq 1-5.
2. Para ulama tidak sepakat mengenai ayat terakhir turun. Terdapat banyak pendapat mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, An-Nisa’ ayat 176, At-Taubah ayat 128-129, dan yang paling populer adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah Surat Al-Baqarah ayat 281.
3. Penyampaian Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW seiring dengan periode dakwah Nabi SAW, yang meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan berbagai peristiwa, baik bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah SAW.
4. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Hal ini dibuktikan dengan jumlah 86 surat yang diturunkan pada periode Mekkah lebih banyak dari jumlah 28 surat yang diturunkan pada periode Madinah. Perbedaan antara kedua periode ini ditandai dengan perjalanan dakwah islam oleh Rasulullah SAW, yaitu yang terdiri dari sebelum hijrah yang disebut periode Mekkah, dan setelah hijrah yang disebut periode Madinah. Dalilnya dapat dilihat pada Surat Al-Furqan ayat 32 dan Surat Al-Isra’ ayat 106.
5. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an berangsur-angsur, yaitu:
a. Menetapkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad SAW.
b. Berangsur-angsur dalam mendidik umat, yang sedang tumbuh ini, untuk menanamkan ilmu dan amal.
c. Menyesuaikan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu.
d. Memberikan isyarat yang nyata kepada musuh-musuh Islam, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang datang dari Allah SWT bukan perkataan Nabi Muhammad SAW.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (1996), Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Depag RI.
Abu Syuhbah, Muhammad bin Muhammad, (2003), Al-Madkhal Li Dirasah Al-Qur’an Karim, Terj. Taufiqurrahman, Bandung: Pustaka setia.
Al-Kumiy, Ahmad Al-Sayyid, dan Yusuf Al-Qasim, Muhammad Ahmad, (1396H/1976M), ‘Ulum Al-Qur’an Cet. III, Mesir: Universitas Al-Azhar.
As-Shalih, Subuhi, (2001), Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.
As-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman, (1398H/1978), Al-Itqan ‘Ulum Al-Qur’an, Beirut: Darul Al-Ma’rifah.
Hijazi, Mahmud, (1970), Al-Wahdah Al-Mawdhu’iyyah fi Al-Qur’an Al-Karim, Kairo:Marba’ah Al-Madani.
Harun, Salman, (1999), Mutiara Al-Qur’an, Jakarta:Logos.
Marzuki, Kamaluddin, (1994), ‘Ulum Al-Qur’an, Bandung: Remaja Rosakarya.
M. Yusuf, Kadar, (2009), Studi Al-Qur’an, Jakarta: Hamzah.
Shihab, M. Quraish, (1996), Membumikan Al-Qur’an¸ Bandung: Mizan.
Wahid, Marzuki, (2005), Studi Al-Qur’an Kontemporer, Bandung: Pustaka Setia.
Zarkasiy, Al-Imam Badru Al-Din Muhammad Abdullah (1391H/1972M) Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an, Tahqiq Muhammad Al-fadlal Ibrahim cet.I, Beirut:Darul Al-Ma’rifah.

 

teori penciptaan manusia. Bagaimana ketika manusia pertama diciptakan dan bagaimana mekanisme terbaik pembentukan jasad manusia di rahim ibunya, pembentukan ovum, sperma, dan lain sebagainya telah dijelaskan secara rinci dan detail. Pembentukan manusia ini baru terbukti oleh sains pada akhir-akhir abad ini oleh teknologi mutakhir. ————– Maka tidak ada yang bisa diragukan dari Alquran, termasuk mengenai teori penciptaan manusia pertama yaitu Adam adalah tidak melalui proses evolusi seperti yang dilontarkan oleh Darwin. Alquran bukan yang harus dibuktikan oleh sains dan teknologi, tapi sains dan teknologi lah yang harus dibuktikan oleh Alquran, karena Alquran sudah pasti benar. —————————— Prapenciptaan “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqarah: 30) —————— Malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh terhadap segala perintahNya. Sebelum manusia pertama atau Adam diciptakan, malaikat sudah diciptakan terlebih dahulu. Suatu ketika saat Allah memberikan pengumuman berupa rencana akan menciptakan suatu makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Namun, makhluk yang dipilih Allah itu adalah manusia. Mengetahui hal ini malaikat sedikit “protes” pada Allah. Kita harus ingat bahwa malaikat itu makhluk yang paling taat dan patuh pada segala perintah dan keputusanNya. Akan tetapi satu hal ini yang membuat malaikat “angkat bicara” kepada Allah berkenaan dengan akan adanya penciptaan manusia ini. —————– Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, malaikat tahu bahwa manusia yang akan diciptakan Allah tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi. ——————— Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya. Ada sesuatu dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban Allah tersebut. —————- Ayat ini juga mengingatkan pada manusia bahwa tujuan awal kita diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi. ——————— a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam) ——————- Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya : “Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7) ——————- “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26) ———————— Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29) —————– Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda : “Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari) —————— “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Albaqarah:31) ———— “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32) ———— “Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33) ————— “Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Alanam:2) ———————— b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa) —————— Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya : “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36) ————– Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu : “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak…” (QS. An Nisaa’ (4) : 1) —————- Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan : “Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim) —————– Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya. ——————— c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa) ————- Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya : ———- “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14). ———— Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda : “Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim) —————- Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas). “ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur” (QS. Addahr: 2) ——— “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS 96. Al-’Alaq: 2) Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)).Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya. Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya. —————-

teori penciptaan manusia. Bagaimana ketika manusia pertama diciptakan dan bagaimana mekanisme terbaik pembentukan jasad manusia di rahim ibunya, pembentukan ovum, sperma, dan lain sebagainya telah dijelaskan secara rinci dan detail. Pembentukan manusia ini baru terbukti oleh sains pada akhir-akhir abad ini oleh teknologi mutakhir.
————–
Maka tidak ada yang bisa diragukan dari Alquran, termasuk mengenai teori penciptaan manusia pertama yaitu Adam adalah tidak melalui proses evolusi seperti yang dilontarkan oleh Darwin. Alquran bukan yang harus dibuktikan oleh sains dan teknologi, tapi sains dan teknologi lah yang harus dibuktikan oleh Alquran, karena Alquran sudah pasti benar.
——————————
 Prapenciptaan
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqarah: 30)
——————
Malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh terhadap segala perintahNya. Sebelum manusia pertama atau Adam diciptakan, malaikat sudah diciptakan terlebih dahulu. Suatu ketika saat Allah memberikan pengumuman berupa rencana akan menciptakan suatu makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Namun, makhluk yang dipilih Allah itu adalah manusia. Mengetahui hal ini malaikat sedikit “protes” pada Allah. Kita harus ingat bahwa malaikat itu makhluk yang paling taat dan patuh pada segala perintah dan keputusanNya. Akan tetapi satu hal ini yang membuat malaikat “angkat bicara” kepada Allah berkenaan dengan akan adanya penciptaan manusia ini.
—————–
Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, malaikat tahu bahwa manusia yang akan diciptakan Allah tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi.
———————
Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya. Ada sesuatu dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban Allah tersebut.
—————-
Ayat ini juga mengingatkan pada manusia bahwa tujuan awal kita diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi.
———————
a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
——————-
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)
——————-
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)
————————
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 .
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29)
—————–
Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)
——————
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Albaqarah:31)
————
“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32)
————
“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33)
 —————
“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Alanam:2)

 ————————
b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
——————
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)
————–
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak…” (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
—————-
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)
—————–
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
———————
c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
————-
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis.
Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
———-
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
————
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim)
—————-
Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
“ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur” (QS. Addahr: 2)
———
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”  (QS 96. Al-’Alaq: 2)
Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)).Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya.
Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya.
—————-
Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna (mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu, sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz `ilmiy (mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Quran. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali di dalam Al-Quran.
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Assajdah:7-9)”
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Athuur:21)”

Interpretasi
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 M itu”. Selain iti beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh ebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.”
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6).
Inilah teori penciptaan dalam Islam. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia mengendalikan alam semesta menurut kehendak-Nya sesuai fungsi dan peran yang spesifik.
Awal penciptaan dituturkan di dalam al-Qur’an seara logis dan tegas, dengan menyatakan banyak fakta dalam penciptaan. Namun, seseorang yang membandingkan penjelasan tentang awal penciptaan seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian itu akan dengan mudah menyimpulkan bahwa kedua buku memiliki sumber yang sama namun al-Qur’an menjelaskannya secara logis dan ilmiah.
Dari al-Mu’minun: 12-16, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  • Adam diciptakan dari tanah liat secara langsung, atau secara tidak langsung dari bahan dasar lumpur. Sebelum berubah menjadi manusia, Adam menerima hembusan ruh dari Allah nafas yang memberinya kemampuan kemampuan untuk belajar dan potensi untuk mengenali.
  • Hawa diciptakan dari sel atau tulang Adam. Penciptaan tersebut memberi penjelasan yang masuk akal mengenai kesamaan antara peta genetik dan jumlah chromosom pada kedua Adam dan Hawa.
Dalam teori penciptaan dalam Islam, Allah menentukan peran bagi Hawa, seorang perempuan diciptakan dari laki-laki, yang ditugaskan di Al-Qur’an dengan ayat-ayat berikut:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Allah juga berfirman, ‘Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?’ [an-Nahl: 72]
Menurut ayat-ayat ini, teori penciptaan menurut Islam itu mencakup hal-hal berikut:
  • Allah menganugerahi Adam isteri dengan sifat-sifat tertentu untuk tujuan kasih sayang dan rahmat.
  • Allah memberi Hawa fitur reproduksi untuk memberikan anak laki-laki dan perempuan.
  • Sesuai kehendak Allah, Adam dan Hawa merupakan bagian dari bangunan masyarakat yang lengkap, yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, dan seterusnya.
  • Allah menentukan desain fitur-fitur manusia dalam air sperma yang dipancarkan manusia dengan DNA yang spesifik, peta genetika atau jumlah chromosom bersama antara pasangan perkawinan, laki-laki dan perempuan.
  • Allah menjaga sumber kelangsungan kehidupan makhluk-Nya. Karena itu, Allah mengatur kerajaan tumbuhan sebagai makhluk otonom yang menyediakan makanan yang diperlukan untuk kerajaan manusia.
  • Dia mengatur siklus untuk menghasilkan air tawar untuk minuman manusia dan pengairan tanaman yang mereka makan.
  • Allah mengelola pasokan energi untuk makhluk-Nya demgam proses fotosintesis yang ajaib, yang menyimpan energi dari matahari menjadi buah yang dapat dimakan.
Sebagaimana teori evolusi nihil logika kehidupan evolusi, Biogenesis juga gagal dalam mengasumsi awal mula kehidupan dalam zat kimia dengan regenerasi imajiner spontan. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta kehidupan dan kematian.
Teori Penciptaan dalam Islam mengenai peran Pencipta sebagai Pencipta unsur kehidupan. Unsur seperti itu tidak diketahui sampai sekarang oleh manusia. Teori Darwin tidak mampu menjelaskan mengenai ruh. Tanpa ruh, sebuah jasad yang ada tidak akan berfungsi, tidak akan hidup. Ruh masih menjadi misteri dalam sains dan teknologi. Hanya Allah yang tahu, bahkan di Alquran pun dikatakan bahwa Allah lah yang memegang kunci rahasia alam ruh. Jiwa ditiupkan ke dalam Adam dan juga ditiupkan ke dalam setiap manusia. Hal ini menjadi rahasia Allah semata, tidak seorang pun bisa mendefinisikannya.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (al-Isra’: 85)
Allah dalam teori Penciptaan dalam Islam tidak hanya membuat badan kita hidup, tetapi ia juga membentuk rupa kita agar terlihat seperti rupa manusia. Allah memiliki nama lain dalam Al-Qur’an selain al-Khaliq (Pencipta), yaitu al-Mushawwir (Yang membentuk rupa).
“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Hasyr: 24)
Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa Al-Quran bukan hanya sebagai kitab suci yang membacanya merupakan ibadah, namun ia juga merupakan sebuah kitab yang banyak mengandung tanda-tanda ilmiah. Hal ini semakin membuktikan bahwa Al-Quran itu benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan Muhammad SAW.

mimpi-MIMPI para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM 72 golongan,,,, selalu BERMIMPI …. dapat BAIk/nikmat/ SURGA ……. janji Allah {katanya} ——————————— Mengapa umat ISLAM di akhir zaman yang mayoritas …… begitu LEMAH dan ….mudah di-DZOLIMi oleh kaum KUFFAR ????????? ———————————————————– Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.” Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai {/banyak} tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.” —————————————————————– Suatu keadaan yang nyata di hadapan kita sekarang, bahwa jumlah umat Islam sudah cukup banyak. Di dunia ini, satu setengah milyar lebih penduduk bumi adalah Muslim. Tetapi kita saksikan bahawa jumlah yang banyak ini belum membawa umat ini keluar dari kesulitan-kesulitannya. Inilah rupanya yang diungkapkan Rasulullah dalam hadis di atas. Patutlah kiranya kita semua, umat Islam melihat ke dalam, seberapa jauh kiranya kita sudah terjangkiti penyakit al-Wahn tersebut, penyakit cinta dunia dan takut akan kematian. —————– Tentunya ini tak lepas dari kesalahan pandangan umumnya masyarakat Muslim terhadap kehidupan dunia. Mengapa sampai cinta pada dunia dan takut mati? Tentu ini kerana memandang bahwa dunia ini adalah tempatnya segala kesenangan, dan kematian adalah pemutus kesenangan tersebut. Sungguh suatu cara pandang yang sesat dan keliru. —————————— …………………….. Jika semua “DUNIA” diberikan Allah …. kemungkinan terJERUMUS ke NERAKA …. semakin BESAR … godaan SYAITAN, dan Nafsu memiliki DUNIA ……………………. >> UJUB … sombong DIRI …. pasti MENYELIMUTI HATI >> BERAMAL akhirat utk DUNIA …. pasti SELAMAnya dilakukan >>meremehkan JIHAD … lebih MENYIBUKKAN … kesenangan DUNIA >> BUTA mata QALBU …. ingin hidup lama …. menikmati DUNIA >> MENGIRA diri … dpt NIKMAT Akhirat …. di dunia SAJA diberi BAIK >> merasa CUKUP …. agamanya … AMALANnya … REZEKI … bangga diri >> LUPA Kewajiban BESAR …. yg BELUM/TIDAK dilakukan …. fasik >> BERKACA … melihat ke ATAS pada manusia LAIN … tidak TUNDUK >> IQRO’ … KORAN, TV, MUSIK, VIDEO … keMEWAHan dunia >> INTERNET … tidak MENYAMPAIKAN … takut dianggap “SOK SUCI” >> RIYA’ .. pada manusia .. TAKUT hanya pada CEMOOHAN manusia >> INTERNET … hanya utk GHIBAH … tak INGAT “DOSA” yg akan diHISAB >> AKHIRAT adalah … BESOK …. syaitan memBISIKi tiap saat >> MATI adalah TUA … masih MUDA .. masih SEHAT .. apa yg diTAKUTkan >> saya kan ISLAM … ya PASTI dapat… SYAFAAT ….masuk SURGA pasti >> Allah kan MAHA PENGAMPUN … aku ISLAM pasti “diampuni” >> aku sudah Shalat ….. aku sudah puasa … ya pasti dapat SURGA >> aku sudah SYAHADAT … api NERAKA .. tak mempan pd KULITku >> BIDADARI – BIDADARI … sudah siap MENYAMBUTku …. di akhirat >> NAUNGAN … pohon dan nikmat SURGA … sudah TERBAYANG >> aku kan ISLAM … aku kan orang BERIMAN ….. >> ……………………………………………………………….. dst APAKAH KAMU/aku … MENGIRA AKAN MASUK SURGA ?? ————————–———— >> ﴾ Ali Imran:142 ﴿…. Belum/tidak … diUJI dengan “JIHAD dan SABAR” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ?? ………… Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (???), padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. ———————– >>> ﴾ Al Baqarah:214 ﴿ …. Belum/tidak … diUJI dengan “MALAPETAKA dan KESENGSARAAN” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ?? …………….. Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (??), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ————————– mimpi-mimpi para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM 72 golongan selalu BERMIMPI …. dapat BAIk/nikmat/ SURGA ……. janji Allah {katanya} ————————–————— Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. Buta melihat BATAS ‘waktu” >>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. TIDAK menyiapkan BEKAL >>>>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. selalu ‘melihat” keSENANGan >>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. selalu berMIMPI surga >>>>>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira cukup BAIK amalnya >>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira CUKUP ibadahnya >>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira AKAN dapat syafaat Tuhan >>>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira dapat AMPUNAN Tuhan >>>>> Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira SELAMAT di akhirat >>>>>>> ——————-

msulim buih laut

mimpi-MIMPI para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM 72 golongan,,,,
selalu BERMIMPI …. dapat BAIk/nikmat/ SURGA ……. janji Allah {katanya}

———————————
Mengapa umat ISLAM di akhir zaman yang mayoritas …… begitu LEMAH dan ….mudah di-DZOLIMi oleh kaum KUFFAR ????????? ———————————————————–

msulim buih laut

Sebuah hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”  Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai {/banyak} tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.” —————————————————————–

Suatu keadaan yang nyata di hadapan kita sekarang, bahwa jumlah umat Islam sudah cukup banyak. Di dunia ini, satu setengah milyar lebih penduduk bumi adalah Muslim. Tetapi kita saksikan bahawa jumlah yang banyak ini belum membawa umat ini keluar dari kesulitan-kesulitannya. Inilah rupanya yang diungkapkan Rasulullah dalam hadis di atas. Patutlah kiranya kita semua, umat Islam melihat ke dalam, seberapa jauh kiranya kita sudah terjangkiti penyakit al-Wahn tersebut, penyakit cinta dunia dan takut akan kematian. —————–

Tentunya ini tak lepas dari kesalahan pandangan umumnya masyarakat Muslim terhadap kehidupan dunia. Mengapa sampai cinta pada dunia dan takut mati? Tentu ini kerana memandang bahwa dunia ini adalah tempatnya segala kesenangan, dan kematian adalah pemutus kesenangan tersebut. Sungguh suatu cara pandang yang sesat dan keliru. ——————————
================================

apakah aku/kamu merasa BERGUNA .. bagi Agama Allah ? …. apa yg TELAH aku/kamu LAKUKAN .. utk agama Allah ??
————————–—— kok .. selalu MINTA SURGA Allah ?
——————– kita termasuk BUIH atau beriman … tergantung AMAL/perbuatan/yg kita lakukan utk agama Allah ini !!
———————–
“BUIH” …. = sesuatu yang AKAN “HILANG” (extinction), sesuatu yang TAK ada HARGAnya …. yang memberi MANFAAT kepada manusia, maka ia TETAP DI BUMI { Ar Ra’du:17}
……………………..……… BUIH, al wahn, dan MUSLIM 72 golongan …….
BUIH adalah = MANUSIA-MANUSIA (kumpulan manusia yang sangat BANYAK sekali, … bahkan BUIH itu adalah Umat Nabi Muhammad (beragama ISLAM) akhir zaman (present time)
……………………BUIH, al wahn, dan MUSLIM 72 golongan …….
……………………..……………………..……………………..
>>> apakah SAMA orang BUTA dengan orang yang dapat MELIHAT ??? { Ar Ra’du:16}

>>>> Hanyalah orang-orang yang berAKAL saja yang dapat mengambil PELAJARAN, { Ar Ra’du:19 }

>>> orang-orang yang memenuhi SERUAN Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang BAIK { Ar Ra’du:18}

<<<<….. orang-orang yang TIDAK MEMENUHI SERUAN Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, NISCAYA mereka akan MENEBUS DIRINYA dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya HISAB YANG BURUK dan tempat KEDIAMAN MEREKA ialah JAHANAM dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. { Ar Ra’du:18}

…………………………………… BUIH {= al wahn/ cinta dunia & takut mati}
Dalam satu hadis Nabi S.A.W., baginda telah menggambarkan umat di akhir zaman seperti buih.
“Akan datang umat-umat yang berkerumunan ke atas kalian seperti kerumunannya orang-orang yang makan pada satu pinggan.” Maka seorang bertanya : “Apakah jumlah kami pada ketika itu sedikit?”
Baginda s.a.w menjawab: “Bahkan jumlah kamu pada saat itu ramai. Akan tetapi keadaan kamu seperti buih-buih di lautan. Dan sesunguhnya Allah akan mencabut dari (hati) musuh-musuh kamu rasa takut terhadap kamu serta akan ditimpakan (penyakit) al-Wahn di dalam hati-hati kamu.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah al-Wahn?” Nabi SAW menjawab: “Cinta kepada dunia dan takut mati.”
(Sahih – Hadis riwayat Abu Daud, Kitab al-Malahim: Bab: Fi Tada al Umam ‘Alal Islam, jld. 4, ms. 484, no: 4297)

…………………………………… 72 golongan masuk NERAKA (banyak sekali … tetapi hanya BUIH) dan HANYA 1 golongan SURGA

bnu Hibban dan Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham 2:189 menshahihkan hadits ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam kitab Silsilah Ash-Shahiihah no. 203 dan Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2128.
Dari Abu ‘Aamir Al-Huzaniy, dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan bahwasannya ia (Mu’awiyyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata : Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bediri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, dan sesungguhnya UMAT INI {=umat nabi Muhammad/ orang Islam)akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan. (Adapun) yang tujuh puluh dua (72) akan masuk NERAKA dan satu (1) golongan akan masuk SURGA, yaitu ”Al-Jama’ah”.

…………………………………………………. BUIH {= bukan LOGAM = MENGAMBANG, ringan Timbangan-nya = AKAN HILANG = tak ada harganya}

﴾ Ar Ra’du:16 ﴿
Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

﴾ Ar Ra’du:17 ﴿
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

﴾ Ar Ra’du:18 ﴿
Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.

﴾ Ar Ra’du:19 ﴿
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

…………………………………. SERUAN Tuhan = MENGIKUTI/mentaati dan menjalankan (follower) PERINTAH Allah melalui RASUL-nya (contoh dari RASUL dan SAHABAT Nabi)

﴾ Al Anfaal:24 ﴿
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah SERUAN ALLAH dan SERUAN RASUL apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.

﴾ Ibrahim:44 ﴿
Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi SERUAN ENGKAU dan AKAN MENGIKUTI RASUL-RASUL”. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?

﴾ Al Anbiyaa:45 ﴿
Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan TIADALAH ORANG-ORANG YANG TULI MENDENGAR SERUAN, apabila MEREKA DIBERI PERINGATAN”

﴾ Ar Ruum:52 ﴿
Maka Sesungguhnya KAMU TIDAK AKAN SANGGUP menjadikan orang-orang yang MATI ITU DAPAT MENDENGAR, dan menjadikan orang-orang yang TULI DAPAT MENDENGAR SERUAN, apabila mereka itu berpaling membelakang.

﴾ Asy Syuura:47 ﴿
PATUHILAH SERUAN TUHANMU sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu TIDAK MEMPEROLEH TEMPAT BERLINDUNG PADA HARI ITU (kiamat universe /akhirat) DAN TIDAK (PULA) DAPAT MENGINGKARI (dosa-dosamu).

>>>>> ………….. yang BENAR (dan dekat HARI KIAMAT (assaah))
Rasulullah Saw lewat riwayat Jabir Ibnu Abdullah bersabda :
Akan ada generasi penerus dari umatku yang akan MEMPERJUANGKAN yang BENAR,
kamu akan mengetahui mereka nanti pada HARI KIAMAT, dan KEMUDIAN Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, “Wahai Isa, pimpinlah jamaa’ah (sholat), ia akan berkata, “Tidak, kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah SAW dan orang-orang mereka sendiri.

>>>> …………… seperti SAHABAT NABI
Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.” Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah? ” Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang BERPEGANG SEBAGAI PEGANGANKU dan pegangan SAHABAT-SAHABATKU.” HR Imam Tirmizi.

==================================
……………………..
Jika semua “DUNIA” diberikan Allah …. kemungkinan terJERUMUS ke NERAKA …. semakin BESAR … godaan SYAITAN, dan Nafsu memiliki DUNIA
…………………….
seperti buih laut

>> UJUB … sombong DIRI …. pasti MENYELIMUTI HATI
>> BERAMAL akhirat utk DUNIA …. pasti SELAMAnya dilakukan
>>meremehkan JIHAD … lebih MENYIBUKKAN … kesenangan DUNIA
>> BUTA mata QALBU …. ingin hidup lama …. menikmati DUNIA
>> MENGIRA diri … dpt NIKMAT Akhirat …. di dunia SAJA diberi BAIK
>> merasa CUKUP …. agamanya … AMALANnya … REZEKI … bangga diri
>> LUPA Kewajiban BESAR …. yg BELUM/TIDAK dilakukan …. fasik
>> BERKACA … melihat ke ATAS pada manusia LAIN … tidak TUNDUK
>> IQRO’ … KORAN, TV, MUSIK, VIDEO … keMEWAHan dunia
>> INTERNET … tidak MENYAMPAIKAN … takut dianggap “SOK SUCI”
>> RIYA’ .. pada manusia .. TAKUT hanya pada CEMOOHAN manusia
>> INTERNET … hanya utk GHIBAH … tak INGAT “DOSA” yg akan diHISAB
>> AKHIRAT adalah … BESOK …. syaitan memBISIKi tiap saat
>> MATI adalah TUA … masih MUDA .. masih SEHAT .. apa yg diTAKUTkan
>> saya kan ISLAM … ya PASTI dapat… SYAFAAT ….masuk SURGA pasti
>> Allah kan MAHA PENGAMPUN … aku ISLAM pasti “diampuni”
>> aku sudah Shalat ….. aku sudah puasa … ya pasti dapat SURGA
>> aku sudah SYAHADAT … api NERAKA .. tak mempan pd KULITku
>> BIDADARI – BIDADARI … sudah siap MENYAMBUTku …. di akhirat
>> NAUNGAN … pohon dan nikmat SURGA … sudah TERBAYANG
>> aku kan ISLAM … aku kan orang BERIMAN …..
>> ……………………………………………………………….. dst
APAKAH KAMU/aku … MENGIRA AKAN MASUK SURGA ??
————————–————
>> ﴾ Ali Imran:142 ﴿…. Belum/tidak … diUJI dengan “JIHAD dan SABAR” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ??
…………
Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (???), padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
———————–
>>> ﴾ Al Baqarah:214 ﴿ …. Belum/tidak … diUJI dengan “MALAPETAKA dan KESENGSARAAN” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ??
……………..
Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (??), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
————————–
mimpi-mimpi para BUIH .. para AL WAHN …. para MUSLIM 72 golongan
selalu BERMIMPI …. dapat BAIk/nikmat/ SURGA ……. janji Allah {katanya}
————————–—————
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. Buta melihat BATAS ‘waktu” >>>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. TIDAK menyiapkan BEKAL >>>>>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. selalu ‘melihat” keSENANGan >>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. selalu berMIMPI surga >>>>>>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira cukup BAIK amalnya >>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira CUKUP ibadahnya >>>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira AKAN dapat syafaat Tuhan >>>>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira dapat AMPUNAN Tuhan >>>>>
Manusia yg “mengira” HIDUP masih LAMA ….. mengira SELAMAT di akhirat >>>>>>>
——————-
….. BEKERJA = untuk AKHIRAT …. seAKAN-akan MATI BESOK hari ……
—————-
…. untuk DUNIA = jagalah …. hidup SESUAI contoh dari NABi SAW …….
———————
“—JAGALAH— untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan —BEKERJALAH— untuk akhiratmu seakan kamu MATI BESOK.” (Lihat Musnad Al Harits, No. 1079. Mawqi’ Jami’ Al Hadits. Lalu Imam Nuruddin Al Haitsami, Bughiyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Al Harits, Hal. 327. Dar Ath Thala’i Lin Nasyr wat Tauzi’ wat Tashdir. Lihat juga, Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Mathalib Al ‘Aliyah, No. 3256. Mauqi’ Jami’ Al Hadits.)
———————————
tiap manusia, ada BATAS waktu …. PERISTIWA, dan WAKTUnya (ada awal dan ada AKHIRnya)
……………………………………
﴾ Al A’raf:34 ﴿
Tiap-tiap umat أُمَّةٍ mempunyai BATAS WAKTU; maka apabila TELAH DATANG waktunya mereka TIDAK dapat mengUNDURkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) meMAJUkannya.
————————–
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ,,,,,,,,,,,,”””””””””””””””””””,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
banyak manusia meminta kepada ALLAH ingin dikembalikan ke DUNIA ….. krn MASUK ke NERAKA
——————
“…DAPATKAH KAMI DIKEMBALIKAN (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”….. Al A’raf:53
﴾ Ibrahim:44 ﴿
Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, BERI TANGGUHLAH KAMI (KEMBALIKANLAH KAMI KE DUNIA) WALAUPUN DALAM WAKTU YANG SEDIKIT, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul”. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?
—————
﴾ Al An’am:27 ﴿
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami DIKEMBALIKAN (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).
—————–
﴾ Al An’am:28 ﴿
Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka DIKEMBALIKAN KE DUNIA, TENTULAH MEREKA KEMBALI KEPADA APA YANG MEREKA TELAH DILARANG MENGERJAKANNYA. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.
—————————
﴾ Al A’raf:53 ﴿
Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau DAPATKAH KAMI DIKEMBALIKAN (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”. Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.
……………………..
hell heaven sesal 56
——————————————–

kamu/aku SUDAH merasa akan ke SURGA Allah ? ……… MENYESAL setelah di CABUT nyawa oleh MALAIKAT ?? …. apa gunanya ??… ————————————– >> ﴾ Ali Imran:142 ﴿…. Belum/tidak … diUJI dengan “JIHAD dan SABAR” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ??……………………………… Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (???), padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. ———————————- >>> ﴾ Al Baqarah:214 ﴿ …. Belum/tidak … diUJI dengan “MALAPETAKA dan KESENGSARAAN” …. Sudah “mengira AKAN masuk SURGA ??………………………………. Apakah kamu MENGIRA bahwa kamu AKAN MASUK SURGA (??), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

—————————-
>>> Peristiwa Yang TERJADI … (now) dan … Yang “AKAN” TERjadi (future) adalah = UJIAN

﴾ Az Zumar:49 ﴿
Maka apabila manusia ditimpa BAHAYA ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya NIKMAT dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. SEBENARNYA itu adalah “”””” UJIAN”””””, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.
————————–———–
PENYESALAN …. tak BERGUNA …. jika telah MATI …..
DUNIA ini, MAIN-MAIN dan SENDA GURAU BELAKA ,,,,,,
﴾ Al An’am:31 ﴿
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat {ASSAAH/malapetaka/saat itu} datang kepada mereka dengan TIBA-TIBA, mereka berkata: “Alangkah besarnya PENYESALAN kami, terhadap ke-LALAI-an kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.
قَدْ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَآءِ ٱللَّـهِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتْهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا۟ يٰحَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ﴿الأنعام:٣١﴾
﴾ Al An’am:32 ﴿
Dan tiadalah kehidupan DUNIA ini, selain dari MAIN-MAIN dan SENDA GURAU BELAKA. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿الأنعام:٣٢﴾
﴾ Al An’am:33 ﴿
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُۥ لَيَحْزُنُكَ ٱلَّذِى يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلٰكِنَّ ٱلظّٰلِمِينَ بِـَٔايٰتِ ٱللَّـهِ يَجْحَدُونَ ﴿الأنعام:٣٣﴾
﴾ Al An’am:34 ﴿
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا۟ عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا۟ وَأُوذُوا۟ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ ٱللَّـهِ ۚ وَلَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِى۟ ٱلْمُرْسَلِينَ ﴿الأنعام:٣٤﴾
——————————

Asy- Syaikh Salim Al Hilali menjelaskan dan merinci hadits yang sangat penting ini.Hadits ini menceritakan apa itu wahn yang itu menunjukkan keadaan ummat Islam.

Pertama: Musuh-musuh Allah dari kalangan tentara Iblis serta pendukung syaithan selalu memata-matai perkembangan ummat Islam serta negara mereka. Karena mereka telah melihat penyakit wahn ini telah merasuki kaum musiimin. Penyakit ini telah menyembelih leher-leher ummat Islam. Maka mereka menerkamnya dan masih menyembunyikan sisanya.

Kaum kuffar dan musyrikin ahlul kitab selalu melakukan hal demikian sejak munculnya fajar is¬lam. Itu terjadi ketika daulah Islam yang murni yang ditanamkan pondasinya dan dikokohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah dan sekitarnya.

Ini ditegaskan dalam hadits yang menceritakan tiga orang yang sengaja tidak ikut berperang (HR Bukhari Muslim), sebagaimana dikatakan oleh Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “…Ketika aku berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang petani dari petani-petani negeri Syam yang membawa makanan untuk dijual di Madinah

berkata: Siapa yang bisa menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku? Maka orang-orang menunjukinya, maka dia datangi aku kemudian menyerahkan kepadaku sebuah surat dari raja Ghassan. Dan saya adalah seorang terpelajar, maka aku baca ternyata didalamnya tertulis: Amma ba’du, telah sampai kepada kami berita bahwa teman-temanmu bersikap keras kepadamu. Dan Allah tidak akan membiarkanmu berada di negeri yang penuh dengan kehinaan dan kesempitan, maka datanglah dan bergabunglah dengan kami, kami akan menampungmu.”

Perhatikan, wahai muslim yang cerdas dan coba renungkan, wahai saudara terkasih, bagaimana orang-orang kafir selalu mengawasi berita-berita daulah Islam. Bila ada kesempatan, mereka akan menerkamnya dari segala penjuru. Itu juga dijelaskan dengan:

Kedua: Sesungguhnya ummat-ummat kafir saling membantu dan bergabung untuk menyerang Islam, daulahnya, pemeluknya dan para da’inya.

Siapa yang membaca sejarah perang Salib, akan tahu bagaimana peristiwa itu. Yang mana Bani Ashfar mempersiapkan pasukannya untuk membinasakan daulah khilafah. Akan jelas hal ini seperti jelasnya cahaya matahari ditengah teriknya siang.

Dan hingga sempurna bagi mereka hal itu, maka mereka membuat “Kelompok”, kemudian ‘Badan orgainisasi”, kemudian “dewan”, kemudian “Organisasi dunia”, dengan itu mereka membakarnya semangat mereka dengan slogan-slogan. Juga:

Ketiga: Negeri-negeri Islam adalah sumber-¬sumber kebaikan dan berkah. Maka ummat-ummat kafir ingin menguasainya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakannya dengan makanan baik yang membuat berselera para menyantapnya, maka mereka menyerbunya, setiap penyerbu ingin mendapat bagian seperti bagian singa.

Ke- empat: Orang-orang kafir membuat neger-¬negeri Islam menjadi berkelompok terpecah dan terpisah-pisah, sebagaimana datam hadits Abdullah bin Hawalah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Nanti kalian akan menjadi pasukan yang berkelompok¬kelompok. Satu kelompok di Syam, satu kelompok di Iraq, dan satu kelompok di Yaman.” kata sahabat: Berilah pilihan, wahai Rasulullah. Maka beliau bersabda: “Pilihlah yang di Syam, siapa yang enggan, maka yang di Yaman. Dan hendaklah dia minum dari airnya, karena Allah menjaminkan untukku negeri Syam dan penduduknya. ”

Rabi’ah berkata: Aku mendengar Idris Al Khaulani menyampaikan hadits ini dan berkata: “Dan siapa yang dijamin Allah tidak akan tersia-sia.”

Bukankah ini realita ummat Islam?! Mereka menjadi negara-negara yang terpisah. Tidak punya wibawa.Tidak bisa berkuasa mengurus dalam dan luar negerinya dengan merdeka. Semuanya diatur oleh or¬ang kafir. Hanya Allah yang kita minta pertolongannya dan kepadanya kita bertawakkal.

Ke enam: Kini, orang kafir tidak segan lagi kepada kaum muslimin, karena mereka (kaum muslimin) sudah kehilangan wibawanya dihadapan umrnat-ummat lainnya. Yang mana dulu wibawa itu membuat gemetar lutut dan sendi-sendi orang kafir dan pasukan Iblis. Itu karena senjata penghancur milik kaum muslimin tidak lagi ditakuti oleh orang kafir.

Allah berfirman:

“Akan Kami lemparkan dalam hati orang-orang kafir rasa takut akibat mereka menyekutukan Allah. ” (Ali Imran: 151)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Aku ditolong Allah dengan musuh mengalami rasa takut, padahal aku masih sebulan perjalanan kesana. ”

Ke tujuh: Unsur-unsur kekuatan ummat Is¬lam bukan pada banyaknya jumlah dan kekuatannya, pasukan kavalerinya dan kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya. Karena ummat ini adalah ummat tauhid dan pengusung panji-panji tauhid.

Apakah engkau tidak dengar sabda Rasulutlah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang jumlah: “Bahkan kalian ketika itu banyak !” ?

Perhatikan pelajaran dari perang Hunain, akan engkau dapati dia menjadi contoh disetiap masa.

“Dan hari Hunain ketika kalian merasa takjub dengan jumlah kalian yang banyak, tapi itu tidak berguna bagi kalian sedikitpun. ” (QS At Taubah:26)

Ke delapan: Posisi ummat Islam ticlak dipertimbangkan sedikitpun diantara ummat¬ummat dimuka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan tetapi kalian bagai buih, seperti buih banjir.”

Sabda ini memberikan beberapa hal:

Buih yang mengalir membawa banyak kotoran bersamanya. Begini juga ummat Islam, berjalan bersama kotoran ummat Kafir
Banjir membawa buih yang tidak bermanfaat bagi manusia. Begitu juga ummat Is¬lam, tidak melaksanakan perannya dihadapan ummat-ummat lain, yaitu Amar Ma’ruf dan Nahyi Mungkar.
Buih akan segera sirna. Dan karena itu Allah akan mengganti siapa yang berpaling dan mengokohkan kelompok yang bermanfaat bagi manusia di muka bumi.
Buih yang dibawa banjir tercampur dengan kotoran tanah. Begitu juga pemikiran mayoritas ummat Islam telah terkontaminasi dengan sampah filsafat dan budaya yang rusak.
Buih yang dibawa oleh banjir tidak tahu akan berakhir dimana karena dia berjalan bukan atas keinginannya. Dia seperti orang yang menggali kuburnya dengan kukunya. Begitu juga ummat Is¬lam, tidak tahu apa yang sedang direncakan musuh¬-musuhnya atas diri mereka. Ironisnya, mereka masih saja membebek dan mengikuti mana yang lebih keras gaungnya dan bersikap bagai pucuk Erau yang bergerak kemana angin meniupnya.

Ke sembilan: Ummat Islam menjadikan dunia sebagai target utamanya. Tujuan ilmunya. Oleh karena itulah mereka menjadi takut mati. Cinta dunia karena mereka meramaikan dunia hingga lupa kepada kampung akhirat.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan hal ini menimpa ummatnya.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Bila ditaklukkan Persia dan Romawi, di kaum mana kalian? Abdurrahman bin Auf berkata: Kami akan berposisi seperti yang Allah perintahkan kami (yaitu akan memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya dan meminta tambahan dari nikmat-Nya. Lihat An Nawawi 18/96),

Kata beliau: Jangan sampai selain itu, yaitu kalian akan saling berlomba-lomba, kemudion saling mendengki, kemudian saling membelakangi,kemudian saling membenci -atau yang sejenisnya ¬kemudian kalian berjalan dihadapan muhajirin yang miskin dan sebagian kalian memakan sebagian. “(HR Muslim no_ 2962)

Oleh karena ketika ditaktukkan perbendaharaan Persia, Umar bin At Khaththab radhiyallahu ‘anhu menangis dan berkata: “Sesungguhnya harta ini jika dibukakan kepada sebuah ummat, Allah jadikan permusuhan diantara mereka.”

Ke sepuluh: Ummat-ummat kafir tidak akan bisa menghabiskan ummat Islam, walau mereka bersatu untuk itu dari segala penjuru -dan mereka memang sudah bersatu-, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah melipat bumi ini bagiku, maka aku melihat bagian timur dan baratnya. Dan ummatku akan sampai kekuasaan mereka seperti yang ditunjukkan kepadaku. Aku juga diberi perbendaharan merah dan putih (emas dan perak yang itu adalah harta benda kerajaan Persia dan Rumawi) dan aku meminta kepada Allah untuk ummatku agar tidak dibinasakan dengan kelaparan setahun yang membinasakan mereka. Dan agar jangan sampai mereka dikuasai musuh selain diri mereka sendiri hingga akan dihancurkan mereka hingga akar-akarnya. Dan

Allah telah berfirman :

Wahai Muhammad, Sesungguhnya Aku bila menetapkan suatu ketetapan, maka itu tidak bisaditolak. Aku memberikan bagi ummatmu untuk tidak dibinasakan dengan kelaparan setahun.

Dan Aku tidak jadikan berkuasa mereka satu musuhpun selain diri sendiri yang akan menyerang mereka sendiri walau musuhnya sudah bersatu dari berbagai penjuru. Hingga diantara mereka sendiri yang saling menghacurkan satu dengan lainnya (HR Muslim no. 2889)

Maka apa yang bisa membuat sebuah pohon yang kokoh yang akarnya menancap ke bumi dan cabangnya mencakar ke langit menjadi sia-sia?!
=============================
MUSUH BERIMAN 5

tanda orang MUKMIN …… selalu diberi UJIAN Allah ….. semakin tinggi/kuat AGAMAnya … UJIANnya semakin BERAT
————————————–

lihatlah diri KITA … diriku/dirimu … apakah sudah MENDAPATKAN ….. ujian itu ???…. sudahkah kita diANGGAP MUKMIN … oleh Allah ???
————————————
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan setan yang selalu menyesatkannya.” (HR ad-Dailami).
————————
orang diberi COBAAN Allah… diberi UJIAN oleh Allah …. diberi MUSIBAH oleh Allah = ciri orang diberi KEBAIKAN oleh Allah = ciri orang BERIMAN …….
———————–
Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya” HR Muslim, 8/125
…………………………..
orang beriman ….diberi LAPANG {banyak uang, sehat, berkecukupan}… berSYUKUR
orang beriman … diberi SEMPIT {sedikit uang, sakit, kekurangan dst} … berSABAR
————————–————————–———-
diberi rezeki yg BANYAK /LAPANG … lalu dipakai utk MAKSIAT ??? foya-foya…. makan dan senang-senang … spt orang KAFIR ???

———————-
bersabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Allah Swt. akan memberinya cobaan.” ( H.R. Bukhari)

———————————
Al ‘Ankabut:2 ﴿
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
——————————–
Al ‘Ankabut:3 ﴿
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
————————————
bersabda Nabi Saw., “Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya.” ( H.R. Bukhari dan Muslim)
————————————-

“Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya” HR At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023,


……………………..……………..
“Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”
HR At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023,
————————–——-
“Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimi’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab. ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”.
HR Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307,
————————–——————
Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”
HR Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130

====================================================
……………………………………………………………………………………………………………….
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan setan yang selalu menyesatkannya.” (HR ad-Dailami).
………………………………………………………………………………………………………………..
====================================================
Berdasarkan hadis di atas, setidaknya ada lima ujian yang dihadapi seorang mukmin.
……………………………

1. Dari orang “MENGAKU mukmin” yang mendengkinya.
Lazim didengar dan dilihat, ketika seorang beroleh kenikmatan,
selalu saja ada orang lain yang tidak menyukainya.
Kadangkala yang membenci itu juga mengaku mukmin.
Ini terjadi karena ada penyakit dengki.
Dengki melahirkan sikap hasud atau hasad.
Inilah penyakit hati yang paling berbahaya menghapus iman.

Padahal “penyakit hasud” tumbuh karena “permusuhan”,
bahkan juga karena “kebencian” dan “kesombongan”.
Sikap sombong selalu khawatir orang lebih hebat dari dirinya.
Karena itu, jauhilah hasad yang suka mengadu domba.

mukmin munafik 1

2. Dari kaum munafik yang selalu membencinya.
Sifat munafik lebih berbahaya dari kufur.
Munafik itu sering menampakkan wajah seakan-akan baik,
padahal dalam hatinya menyimpan permusuhan.

Ingatlah tentang peristiwa munculnya al ifki terhadap ‘Aisyah,
yakni berita bohong yang menjadi makar kaum munafik,
peristiwa ini terjadi di Madinah terhadap keluarga Nabi SAW.
(Lihat peringatan Allah dalam QS an-Nur [24]: 11).

munafik 1

Guna melindungi dari kaum munafik adalah dengan ;
a. bersandar kepada Allah,
b. berusaha menyingkap tipu daya dan rencana busuk mereka.

Ingatlah bahwa orang munafik pandai bersilat lidah.
Mereka suka membolak-balikkan kata-kata dan bohong.
Maksudnya untuk mempertahankan tujuannya.
(Lihat juga firman Allah dalam QS al-Munafiqun [63]: 1-11).

3. Dari orang kafir yang memerangi.
Kaum kafir adalah pendukung kebatilan.
Teman syaithan dan berusaha mencelakakan orang Islam.
(Lihat juga QS al-Anfal [8]: 36).
Orang kafir saling tolong untuk memerangi umat Islam.
(Lihat QS adz-Dzariyat [51]: 53).

yasin kapal induk d

Menghadapi kejahatan kaum kafir ini haruslah dengan ;
a. Meyakini “sunnatul ibtila” atas mukmin suatu keniscayaan.
b. Wajib membekali diri dengan tsiqah billah,
c. Bersangka baik kepada Allah (husnudzdzan billah).
d. Bertawakal kepada-Nya dan sering berdoa kepadaNya.
e. Selalulah ikuti manhaj (cara) dari para ulama yang saleh.

4. Dari syaithan yang selalu berusaha menyesatkan.
(Lihat QS Fathir [35]: 6).
Setiap mukmin wajib menutup semua pintu masuk syaithan.
a. jauihi sikap pemarah,
b. hindari keinginan syahwat syaithaniyah,
c. jangan tergesa-gesa bertindak,
b. hindari sifat kikir dan jauhi takabur.

nafsu syaitan 1

5. Dari nafsu yang selalu menentang kebaikan (QS Yusuf [12]: 53).
Musuh paling bahaya adalah nafsu dalam diri sendiri.
Menjauhi perdayaan nafsu ini dengan ;
a. Bersihkan hati dari semua akhlak tercela.
b. Isilah qalbu dengan kekuatan iman dan kasih sayang.
c. Senantiasa berpegang teguh pada ajaran Ilahi.

 

Wallahu a’lam.