Gigitlah jangan kau LEPAS, JALAN NABI dan RASUL atau Sunnah RASUL dengan Gigi Gerahammu …. sampai kamu MATI …………………………… “Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi). ————— “Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam mengibaratkan dengan perumpamaan yang bisa cerna secara inderawi. Maksudnya orang yang bersabar dalam berpegang pada hukum Al Qur’an dan As Sunnah akan mendapatkan perlakuan keras dan kesulitan-kesulitan dari ahlul bid’ah dan orang-orang menyimpang dianalogikan bagai memegang bara api dengan genggaman tangannya, bahkan lebih dahsyat dari itu ———– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549 ———————– Pelajaran: ———- 1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala.——– 2. Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya maksiat.— 3. Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan perpecahan.— 4. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.—- 5. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan dalam agama—————– ======= KARAKTERISTIK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH —————- Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah adalah : ————— 1. Menempuh jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menelusuri jejaknya secara lahir dan bathin. Beda halnya dengan kaum munafiqin yang hanya secara lahiriyah saja mengikutinya, sementara batinnya tidak. Jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah sunnahnya, yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dan dinukil dari beliau berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Jadi, bukan jejak lahiriyahnya seperti tempat di mana beliau duduk, tidur dan lainnya, karena menelusuri hal-hal seperti itu dapat menyebabkan perbuatan syirik, sebagaimana telah terjadi pada umat-umat sebelumnya. ——————- 2. Menelusuri jalan para as-sabiqun al-awwalun dari para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum Anshar, karena Allah Subhanahu waTa’ala telah memberikan keunggulan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman (yang mendalam terhadap masalah agama). Mereka telah menyaksikan turunnya wahyu dan mendengar tafsirnya (penjelasannya langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ) serta belajar langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara. Maka mereka lebih dekat kepada kebenaran dan lebih berhak diikuti setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam . Jadi, mengikuti mereka menempati urutan kedua sesudah mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aqwal (ucapan-ucapan para sahabat adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti bila tidak ada nash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena cara mereka beragama lebih selamat, lebih mengetahui dan lebih bijak. Tidak sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum mutaakhkhirin yang mengatakan, “Sesungguhnya cara kaum salaf itu aslam (lebih selamat) sedangkan cara kaum khalaf itu lebih mengetahui lagi lebih bijak. Lalu dengan itu mereka mengikuti jalan khalaf dan meninggalkan jalan salaf.” ————— 3. Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah ialah berpegang teguh kepada wasiat (pesan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di mana beliau bersabda,——- عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat-kuatnya, dan awas, hindarilah perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap bid’ah (hal baru) itu adalah sesat.”( HR. Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih.”) ————– Ahlus Sunnah itu selalu mengikuti thariqah (jalan) para khulafa’ur Rasyidin secara khusus sesudah mereka mengikuti jalan as-Sabiqun al-Awwalun (Generasi awal) dari kaum Muhajirin dan Anshar secara umum. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan wasiat khusus agar mematuhi sunnah Khulafa’ur Rasyidin sebagaimana di dalam hadits di atas. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin dengan Sunnahnya, maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang disunnahkan oleh para Khulafa’ur Rasyidin atau salah seorang dari mereka tidak boleh diabaikan. —————– 4. Termasuk karakteristik mereka juga adalah menjunjung tinggi Kitabullah dan Sunnah RasulNya, mereka selalu lebih mendahulukan keduanya di dalam penggunaan dalil (istidlal) dan berpanutan kepada keduanya daripada pendapat orang dan perbuatannya, karena mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah perkataan (firman) Allah Subhanahu waTa’ala, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala tegaskan, ———– وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا [النساء/87] Artinya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 87).—- Dan juga: وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا [النساء/122] [Artinya: “Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 122). ——– ————- 5. Sepakat untuk mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta bersatu pada al-haq (kebenaran) dan saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan takwa. Hal ini telah melahirkan wujudnya ijma’, sedangkan ijma’ merupakan sumber ketiga di dalam ilmu dan agama. Para ulama ushul telah mendefinisikan ijma’ sebagai berikut: Kesepakatan ulama di zamannya atas suatu perkara agama sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; ijma’ adalah hujjah yang pasti (qath’i) yang wajib diamalkan sesudah dua sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. —————– Termasuk karakteristiknya juga adalah mengukur dengan tiga landasan tersebut semua ucapan (pendapat) manusia dan perbuatan mereka baik lahir maupun batin yang ada hubungannya dengan masalah agama.———— Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :” Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tantang ilmu Agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi (zakat) sedangkan Allahlah yang memberinya (yakni pemberi rezeki). Senantiasa akan ada dari umat ini orang yang menunaikan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah“. HR. Bukhari dalam Fathul bary, no.71 dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan—————–

gigi geraham sunah

Gigitlah jangan kau LEPAS, JALAN NABI dan RASUL atau Sunnah RASUL dengan Gigi Gerahammu …. sampai kamu MATI

……………………………
Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

—————
“Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam mengibaratkan dengan perumpamaan yang bisa cerna secara inderawi. Maksudnya orang yang bersabar dalam berpegang pada hukum Al Qur’an dan As Sunnah akan mendapatkan perlakuan keras dan kesulitan-kesulitan dari ahlul bid’ah dan orang-orang menyimpang dianalogikan bagai memegang bara api dengan genggaman tangannya, bahkan lebih dahsyat dari itu
———–

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549 ———————–

Pelajaran: ———-

  1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala.——–
  2. Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya maksiat.—
  3. Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan perpecahan.—
  4. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.—-
  5. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan dalam agama—————–

=======

KARAKTERISTIK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
—————-

Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah adalah :
—————
1. Menempuh jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menelusuri jejaknya secara lahir dan bathin. Beda halnya dengan kaum munafiqin yang hanya secara lahiriyah saja mengikutinya, sementara batinnya tidak. Jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah sunnahnya, yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dan dinukil dari beliau berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Jadi, bukan jejak lahiriyahnya seperti tempat di mana beliau duduk, tidur dan lainnya, karena menelusuri hal-hal seperti itu dapat menyebabkan perbuatan syirik, sebagaimana telah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

——————-

2. Menelusuri jalan para as-sabiqun al-awwalun dari para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum Anshar, karena Allah Subhanahu waTa’ala telah memberikan keunggulan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman (yang mendalam terhadap masalah agama). Mereka telah menyaksikan turunnya wahyu dan mendengar tafsirnya (penjelasannya langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ) serta belajar langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara. Maka mereka lebih dekat kepada kebenaran dan lebih berhak diikuti setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam . Jadi, mengikuti mereka menempati urutan kedua sesudah mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aqwal (ucapan-ucapan para sahabat adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti bila tidak ada nash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena cara mereka beragama lebih selamat, lebih mengetahui dan lebih bijak. Tidak sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum mutaakhkhirin yang mengatakan, “Sesungguhnya cara kaum salaf itu aslam (lebih selamat) sedangkan cara kaum khalaf itu lebih mengetahui lagi lebih bijak. Lalu dengan itu mereka mengikuti jalan khalaf dan meninggalkan jalan salaf.”

—————

3. Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah ialah berpegang teguh kepada wasiat (pesan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di mana beliau bersabda,——-

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat-kuatnya, dan awas, hindarilah perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap bid’ah (hal baru) itu adalah sesat.”( HR. Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih.”) ————–

Ahlus Sunnah itu selalu mengikuti thariqah (jalan) para khulafa’ur Rasyidin secara khusus sesudah mereka mengikuti jalan as-Sabiqun al-Awwalun (Generasi awal) dari kaum Muhajirin dan Anshar secara umum. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan wasiat khusus agar mematuhi sunnah Khulafa’ur Rasyidin sebagaimana di dalam hadits di atas. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin dengan Sunnahnya, maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang disunnahkan oleh para Khulafa’ur Rasyidin atau salah seorang dari mereka tidak boleh diabaikan. —————–

4. Termasuk karakteristik mereka juga adalah menjunjung tinggi Kitabullah dan Sunnah RasulNya, mereka selalu lebih mendahulukan keduanya di dalam penggunaan dalil (istidlal) dan berpanutan kepada keduanya daripada pendapat orang dan perbuatannya, karena mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah perkataan (firman) Allah Subhanahu waTa’ala, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala tegaskan, ———–
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا [النساء/87]

Artinya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 87).—-

Dan juga:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا [النساء/122]

[Artinya: “Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 122). ——–
————-

5. Sepakat untuk mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta bersatu pada al-haq (kebenaran) dan saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan takwa. Hal ini telah melahirkan wujudnya ijma’, sedangkan ijma’ merupakan sumber ketiga di dalam ilmu dan agama. Para ulama ushul telah mendefinisikan ijma’ sebagai berikut: Kesepakatan ulama di zamannya atas suatu perkara agama sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; ijma’ adalah hujjah yang pasti (qath’i) yang wajib diamalkan sesudah dua sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. —————–

Termasuk karakteristiknya juga adalah mengukur dengan tiga landasan tersebut semua ucapan (pendapat) manusia dan perbuatan mereka baik lahir maupun batin yang ada hubungannya dengan masalah agama.————

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :” Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tantang ilmu Agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi (zakat) sedangkan Allahlah yang memberinya (yakni pemberi rezeki). Senantiasa akan ada dari umat ini orang yang menunaikan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah“. HR. Bukhari dalam Fathul bary, no.71 dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan——————

Ubay bin Ka’ab menyatakan :

” Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan jalan dan Sunnah ini, karena orang yang berada di jalan dan Sunnah ini, yang mengingat Ar Rahman (Allah) lalu berlinang air matanya karena takut kepada Allah, tidak akan di sentuh api neraka. Sesungguhnya bersederhana dalam menempuh jalan dan sunnah ini lebih baik dari pada bersemangat dalam penyimpangan dari Sunnah“.

Berkata Syaikh Ali Hasan Abdul hamid (Murid Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani), “Atsar ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd, hal. 196, secara panjang lebar dengan sanad hasan”

Sufyan Ats-Tsauri menyatakan :

Bid’ah itu lebih disukai oleh ilblis daripada maksiat, karena maksiat itu adalah perkara yang pelakunya masih dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bid’ah tidak dapat diharapkan pelakunya bertaubat darinya.”

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Al-Muntaqa An-Nafis, halaman 36, ” atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam musnadnya riwayat 1885.”

Al- Fudlail bin ‘Iyadl menyatakan :

Apabila engkau melihat seorang ahlul bid’ah berjalan di suatu jalan , maka ambilah jalan lain. Dan tidak akan diangkat amalan ahlul bid’ah ke hadapan Allah Yang Maha Mulia. Barangsiapa membantu ahlul bid’ah (pada amalan bid’ah, pent.), maka sungguh dia telah membantu kehancuran Islam.”

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim 8/102-104 dari Al-Muntaqa An-Nafis hal 26-27.

Imam Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas menyatakan:

Sesungguhnya ilmi ini (As-Sunnah) adalah agama, maka telitilah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Imam al-Barbahari meriwayatkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri :

Barang siapa yang cenderung mendengar dengan telinganya kepada ahli bid’ah, berarti dia keluar dari jaminan perlindungan Allah. Dan Allah serahkan dia kepadanya (bid’ah).” Syarh Sunnah Al-Barbahari, hal. 137, dengan tahqiq Abu Yasir Khalid bin qosim Ar Radadi

Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah? ————————– Banyak kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan bahwa perayaan maulid tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alasan mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah sehingga tidak seyogyanya seorang muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. ————————– Pengertian ringkas bid’ah ……………… Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127) ——————— Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : …… Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama………. Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama. ——————————————— Mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah? …………… Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ‘ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut. ——————— Definisi ‘ied ……………. Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “’Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267) ————— Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin. ————————– Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil ——————————————– Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. …….. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah ‘iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228) ————————- Adakah dalil dianjurkannya maulid? Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi. ————————— Kesimpulan hukum maulid ———————- Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas serta melihat penjelasan tentang ‘ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah : Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah). ——————– Inilah alasan pokok ————————- mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة “Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”) ————————— Terdapat kemiripan dengan perayaan orang kafir —————————– Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah. ————— Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh1 dan lainnya” (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80) ——————-

tanpa maulid nabi

Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah?

————————–

Banyak kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan bahwa perayaan maulid tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alasan mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah sehingga tidak seyogyanya seorang muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.
————————–

Pengertian ringkas bid’ah ………………

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127)
———————

Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : ……

  1. Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama……….
  2. Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama.

———————————————
Mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah? ……………

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ‘ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut.
———————

cinta nabi bukan maulid nabi

Definisi ‘ied …………….

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “’Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267)
—————

Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin.
————————–

Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil
——————————————–

Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. ……..

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah ‘iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228)
————————-

Adakah dalil dianjurkannya maulid?

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi.
—————————

Kesimpulan hukum maulid
———————-

Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas serta melihat penjelasan tentang ‘ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah : Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah).
——————–

Inilah alasan pokok
————————-
mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة

Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”)
—————————

Terdapat kemiripan dengan perayaan orang kafir
—————————–

Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah.
—————

Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh1 dan lainnya (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80)
——————-

Mungkin saja Nabi dan para sahabat melakukannya jika mau

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, akan semakin menambah keyakinan kita untuk mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah jika melihat perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini.

Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya para salaf tidak merayakannya (maulid Nabi-pen) padahal ada faktor pendorong untuk merayakannya dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahu ‘anhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan kita. Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (lihat Iqtidho Shirothil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 198)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, seandainya Rasulullah, para sahabat, tabi’in, maupun 4 imam mazhab mau merayakan maulid Nabi, tentu mudah bagi mereka untuk merayakannya. Faktor pendorong merayakan maulid sudah ada, yakni kecintaan mereka kepada Nabi yang teramat besar, ditambah lagi tidak ada faktor yang menghalangi mereka untuk merayakannya. Namun, mengapa mereka tidak merayakannya? Apa sih susahnya maulidan? Hal ini semata karena keyakinan mereka bahwa maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penutup

Sebagai penutup, marilah sejenak kita renungi bersama kisah berikut ini.

Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari 2 raka’at setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memperbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata, “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab, Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”

Syaikh Al Albani berkomentar, “Ini adalah jawaban yang sangat indah dari Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullahu Ta’ala. Jawaban ini adalah senjata ampuh bagi orang yang gemar berbuat bid’ah yang menganggap baik banyak bid’ah dengan alasan isinya adalah zikir dan sholat! Merekapun mengingkari ahlus sunnah dengan memanfaatkan alasan tersebut. Mereka menuduh bahwa ahlus sunnah mengingkari zikir dan sholat! Padahal sejatinya, yang mereka ingkari adalah penyelisihan mereka terhadap sunnah dalam berzikir, sholat, dan sejenisnya” (Irwa-ul Ghalil, 2/236, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 71-72)

Itulah kaum muslimin yang dimuliakan Allah, yang ahlus sunnah ingkari bukanlah zikir dan sholat itu sendiri, akan tetapi penyelisihan terhadap sunnah itulah yang menjadi poin penting pembahasan ini. Bagaimana tidak? Menyelisihi sunnah berarti menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Allah Ta’ala memerintahkan kita semua untuk selalu meneladani beliau. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua dan membimbing kita untuk senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, kehormatan, dan kecukupan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Mengabulkan do’a

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Wallahu a’lam.

berbagai sumber
==================================
cinta rasul ikut sunnah rasulMencintai dan Mengikuti/ittiba’ Rasulullah S.A.W
……………………..…………………
…….Taqwa kepada Allah ….harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW
……………………..…..menCINTAI Nabi = menCONTOH nabi …. menjadikan Nabi Muhammad sebagai TUNTUNAN/ suri TELADAN dalam hidup
……………………..……………………..………………
Mencintai Rasulullah S.a.w bukan sebatas kata-kata. Cinta butuh bukti, dan bukti cinta kepada beliau adalah menjadikan pe­rikehidupan Beliau sebagai teladan”
—————————————-
Be­rikut sejumlah Hadits yang menjelaskan hal tersebut. Namun sebelumnya per­ha­ti­kanlah Ayat ini:
“Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni­mu atas dosa-dosamu.”. (QS Ali Imran: 31).

Ayat ini berkenaan dengan pernyata­an orang-orang kafir yang mengatakan bah­wa perbuatan mereka dengan me­nyembah berhala semata-mata adalah bentuk kecintaan kepada Allah dan agar memperoleh kedekatan dengan-Nya. Hal demikian dibantah Nabi S.a.w de­ngan menegaskan bahwa, jika mereka benar-benar mencintai Allah, hendaklah mendengarkan perkataaan Beliau yang diutus oleh Allah Ta‘ala. Allah S.w.t me­nurunkan ayat di atas kepada Nabi Mu­hammad S.a.w untuk disampaikan ke­pada mereka.

Ayat ini memiliki relevansi sebagai ayat untuk mencambuk semangat umat guna mengikuti jalan Rasulullah S.a.w. Kare­na, sebaik-baiknya teladan ialah jalan yang dicontohkan Beliau, jalan yang di­penuhi cahaya wahyu. Sebagaimana fir­man Allah yang artinya, “Tiadalah Ia (Nabi Muhammad S.a.w) mengatakan sesuatu ber­dasarkan hawa nafsunya, akan tetapi ia benar-benar wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS An-Najm: 3-4).

Dari Abu Hurairah R.a, dari Nabi S.a.w, Beliau bersabda, “Biarkanlah apa yang tidak aku terangkan kepada kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian dengan sebab terlalu banyak bertanya dan perselisihan mereka dengan nabi-nabi mereka. Jadi, jika aku melarang kalian akan sesuatu, tinggalkanlah; dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah se­mampu kalian.”. (Muttafaq `Alaih).

Al Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab Berpegang Teguh dengan Agama bab Mengikuti Sunnah Rasul­ullah S.a.w. Sedangkan Muslim meriwa­yatkannya dalam kitab Keutamaan-ke­utamaan bab Penghormatan Nabi S.a.w dan Meninggalkan Banyak Bertanya yang tidak Begitu Penting.

Sebab disabdakannya hadits ini ialah ketika Rasulullah S.a.w menyampaikan khutbahnya mengenai kewajiban ber­haji. Salah seorang sahabat bertanya ten­tang pelaksanakan haji, apakah se­tiap tahun ataukah tidak. Pertanyaan ini diulang berkali-kali sehingga Nabi ber­sabda sebagaimana teks di atas.

Hadits ini mengajarkan kita untuk ti­dak banyak bertanya yang justru menim­bulkan kesulitan, bahkan mengakibatkan adanya perselisihan. Cukuplah sesuatu yang disampaikan Rasululullah dipaha­mi dengan tidak secara berlebihan dan kekurangan. Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, “Janganlah kalian bertanya se­suatu (kepada Nabi) hal-hal yang jika di­terangkan kepada kalian niscaya me­nyulitkan kalian….”. (QS Al-Maidah 101).

Perselisihan atau perdebatan yang tidak perlu dapat melemahkan kekukuh­an persaudaraan dan mengakibatkan ke­hancuran. Hal yang demikian terjadi pada Bani Israil, yang berani berban­tah­an de­ngan para nabi yang diutus kepada me­reka, bahkan membunuh mereka. Se­tiap perbuatan yang dilakukan se­orang mu­kal­laf dalam menaati perintah Rasulullah S.a.w tentu akan menghadapi ber­bagai kesulit­an. Sehingga perintah atau sunnah itu se­suai konteks hadits terse­but, dimaksud­kan sekadar tingkat ke­sanggupan.

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah R.a, ia berkata, “Rasulullah S.a.w mem­beri kami sebuah nasihat yang meng­ge­tarkan hati dan mencucurkan air mata. Kemudian kami berkata, ‘Ya Rasulullah, nasihat engkau seakan-akan nasihat perpisahan. Wasiatkanlah (nasihatilah) kami’.”. Beliau S.a.w berkata:

‘Aku berwasiat ke­pada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar perintah dan taatilah, sekalipun yang memerintah itu seorang budak Habasyi. Sesungguhnya orang-orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian memegang te­guh sunnahku dan sunnah para peng­gantiku yang diberi petunjuk Allah. Ber­pegangteguhlah pada sunnah-sunnah itu dan jauhilah urusan yang dibuat-buat. Sesungguhnya setiap bid`ah itu sesat’.”. (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadits ini dirangkum Abu Dawud da­lam kitab Sunnah bab Melazimkan Per­buatan Sunnah. Sedangkan At-Tirmidzi dalam kitab Ilmu bab Mengambil Jalan Sunnah dan Menjauhi Perbuatan Bid’ah.

Dalam pandangan Ibnu ‘Allan, pe­nulis Dalil al-Falihin, bid‘ah adalah se­suatu yang diada-adakan atau sesuatu yang baru yang bertentangan dengan tun­tunan Allah Ta‘ala dan dalil yang di­jadikan hujjah. Ini ada yang bersifat khash (khusus/spesifik) dan ‘am (umum/global).

Pada intinya, menurut keterangan pen­syarah, bid‘ah yang dianggap dha­lalah (sesat) adalah perbuatan yang di­ada-adakan dan menyalahi ruh syari’at Islam.

Hadits di atas menjelaskan ihwal kewajiban beriman dan bertaqwa hanya kepada Allah S.w.t dengan cara mengi­kuti perintah syari’at dan menjauhi la­rangan-Nya. Selanjutnya hadits ini me­nerangkan kewajiban taat kepada pe­mimpin yang mengajak berbuat ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hadits di atas juga mengkhabarkan salah satu ben­tuk mukjizat Nabi S.a.w tentang ra­malan Rasulullah mengenai sesuatu yang bakal terjadi di masa mendatang yang menimpa umat, yakni perselisihan dan perpecahan umat serta terbentuk­nya kelompok-kelompok umat Islam.

Dari Abu Hurairah R.a, dari Nabi S.a.w, bahwasanya Rasulullah S.a.w ber­sabda, “Seluruh umatku akan masuk sur­ga kecuali mereka yang berpaling.”. Lalu dikatakan, “Siapakah gerangan orang yang berpaling itu, wahai Rasul­ullah?”, Beliau menjawab, “Siapa yang me­naatiku akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku berarti ia telah berpaling.”. (HR Al-Bukhari).

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab Berpegang Teguh dengan Agama bab Mengikuti Sunnah Rasul­ullah S.a.w.

Untuk masuk surga, disyaratkan ke­taatan kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya. Setiap orang yang mengikuti sya­ri’at dari Allah Ta‘ala dan Rasulullah S.a.w, sesungguhnya ia orang yang men­cintai keduanya. Begitu pun sebaliknya, bila mengingkari syari’at Beliau berarti ia orang yang tidak mencintai keduanya. Na‘udzu billah.

Mencintai Nabi S.a.w bukan dengan sekadar berkata-kata dan mengaku-ngaku. Mencintai Nabi diperlukan ketulusan meng­ikuti syari’atnya, mencintai sunnah­nya, mencontoh adabnya, dan mencintai apa yang Nabi cintai seraya membenci apa yang Nabi benci.

“Mengikuti jalan Rasulullah S.a.w da­lam segala hal, baik perkataan, perbuat­an maupun budi pekerti, merupakan ben­tuk pengakuan sejati sebagai pecinta Beliau S.a.w”.

berbagai sumber
wallahua’lam