PENTINGnya RENDAH HATI dan apa itu TAWADHU', ... RENDAH HATI, LAWAN dari sombong ..... --------- Perintah Tawadhu’ ------------------- Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Allah berfirman (artinya): “Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertaqwa.” (An Najm: 32) ------------------- Demikianlah, Allah menutup pintu-pintu yang menjurus kepada takabbur (sombong) dengan melarang dari memuji-muji diri sendiri karena dari sinilah benih takabbur (sombong) datang. Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhias dengan akhlaq yang mulia ini, ------------- sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya): “Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy Syu’ara’: 215)------------------ Begitu juga Rasulullah , beliau senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda: إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588) ---------------- ------------------- Pengertian tawadhu’ ------------- Secara Etimologi Arab kata, tawadhu’ berasal dari kata ( تواضع- يتواضع) yang mempunyai arti (merendahkan diri, rendah hati). Selain itu ada kata lain (وضع) yang artinya “tempat, letaknya”. (Mahmud Yunus, 1992: 105).------------- Tawadhu’ secara Terminologi Menurut Al-Ghozali (1995:350). Tawadhu’ adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita. Pada hakekatnya tawadhu’ itu adalah “sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.” (Ahmad Athoillah, 2006: 448).[1] Tawadhu adalah kerendahan hati yang tidak menilai dirinya lebih baik dari orang lain dan tuntutannya adalah perilaku dan ucapan hormat kepada orang lain. (Mulla Ahmad Naraqi, Mi’rajus Saadah, halaman 300).[2]----------- Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang Tawadhu’: ‘Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan Tawadhu’ –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…‘ ----------------- Sebagaimana akhlak-akhlak yang lain, ketawadhu’an juga mempunyai dua ujung dan pertengahannya. Salah satu ujungnya adalah yang cenderung kepada sikap berlebihan, dan ini dinamakan kesombongan. Sedangkan ujung yang lain adalah yang cenderung kepada sikap mengurang-ngurangkan, dan ini dinamakan menghinakan dan merendahkan diri. Dan pertengahan antara kedua sikap inilah yang dinamakan tawadhu’. Dan tawadhu’ yang terpuji adalah yang tidak sampai menghinakan diri. Masing-masing dari dua ujung ini tercela. Dan sebaik-baik perkara yang disukai Allah adalah pertengahannya.[3] ---------------- Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”----------------- مشتق من الضعة بكسر أوله وهي الهوان , والمراد بالتواضع إظهار التنزل عن المرتبة لمن يراد تعظيمه , وقيل هو تعظيم من فوقه لفضله . Arti kata Tawadhu’ dari segi bahasa sama dengan makna kata al-hawaan yang artinya, malu atau merasa rendah hati. Sedangkan secara istilah adalah menampakkan kerendahan martabat diri pada orang yang dianggap lebih mulia. Ada juga yang mengartikan Tawadhu’ adalah memuliakan seseorang yang lebih utama darinya.------------------ Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Al-Sunnah وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”. (Al-Furqan: 63)--------------- وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا Artinya: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Al-Isra: 37)----------- Thabaathabaa’i memahami ayat 37 di atas dalam arti kiasan, yakni kesombongan yang engkau lakukan untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu pada hakikatnya adalah hanya waham dan ilusi, sebab sebenarnya ada yang lebih kuat dari engkau yakni bumi, terbukti kakimu tidak dapat menembus bumi, dan ada juga yang lebih tinggi darimu yakni gunung, buktinya engkau tidak setinggi gunung. Maka akuilah bahwa engkau sebenarnya rendah lagi hina. Tidak ada sesuatu yang dikehendaki dan diperebutkan manusia dalam hidup ini seperti kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, harta benda dan lain-lain kecuali hal-hal yang bersifat waham yang tidak mempunyai hakikat di luar batas pengetahuan manusia.. Itu semua diciptakan dan ditundukkan Allah untuk diandalkan manusia guna memakmurkan bumi dan penyempurnaan kalimat (ketetapan) Allah. Tanpa hal yang tidak memiliki hakikat itu, manusia tidak hidup di dunia, dan kalimat Allah yang menyatakan: “Bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan matha (Kesenangan hidup) sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah [2] : 36). ------ Demikian lebih kurang Thabaathabaa’i.-------------- عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر Artinya: Dari Nabi SAW berkata: “tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah.” (HR. Muslim, no. 33 juz 1)[4]---------------- أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَد Artinya: “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR.Muslim no. 2865)------------------ Selama hidupnya, Rasulullah saw selau bersikap rendah hati, kasih sayang, lemah lembut dan penuh toleransi. Sekalipun terhadap anak- anak kecil. Sifat kenabian dan kedudukan tinggi beliau tidak menghalanginya berbuat baik dan berakhlak mulia yang khusus diberikan Allah. Beliau selalu memberi salam kepada anak- anak, bermuka manis kepada mereka, dan meluangkan waktu sekedar untuk menyenangkan mereka.[5]----------------- Anas bin Malik mengatakan bahwa ketika melewati kerumunan anak- anak beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR Muttafaq alaih).-------------- B. Macam-Macam Tawadhu’ dan Tanda-Tandanya ----------- Telah dibahas oleh para ulama sifat Tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi Tawadhu’ menjadi dua, jika dilihat dari baik buruknya:------------ 1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-Tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.------------ 2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu Tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).--------------- ----- Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam dilihat dari objeknya:[6] -------- 1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.----------------- Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:------------- a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.------------ b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa--- bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.--- c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.--- d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.----- 2. Tawadhu’ kepada Agama------------------- Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada agama diantaranya:------- a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.------- Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.--------- Tanda-tanda orang Tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:----- a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.------- b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.--------- c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.------------ 4. Tawadhu’ kepada Sesama.----------- Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada manusia diantaranya:--------- a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.------ b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.------ c. Siap membantu orang lain.----- d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.------ e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.------- C. Keutamaan Sifat Tawadhu’------------- Allah Ta’ala berfirman: تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)---------------- Allah Ta’ala berfirman: وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215)------------- Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)---------------- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)------------ Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ “Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)-----------------

TAWADHU

PENTINGnya RENDAH HATI dan apa itu TAWADHU', ... RENDAH HATI, LAWAN dari sombong .....
--------------------

Perintah Tawadhu’
-------------------
Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, Allah berfirman (artinya):
“Janganlah kalian memuji diri kalian. Dia lah yang paling tahu tentang orang yang bertaqwa.” (An Najm: 32)
-------------------
Demikianlah, Allah menutup pintu-pintu yang menjurus kepada takabbur (sombong) dengan melarang dari memuji-muji diri sendiri karena dari sinilah benih takabbur (sombong) datang.
Allah juga memerintahkan Rasul-Nya untuk berhias dengan akhlaq yang mulia ini,
-------------
sebagaimana firman-Nya yang mulia (artinya):
“Rendahkanlah hatimu terhadap orang yang mengikutimu (yaitu) dari kalangan mu’minin.” (Asy Syu’ara’: 215)------------------

Begitu juga Rasulullah , beliau senantiasa memerintahkan para shahabatnya untuk bersikap tawadhu’. Iyad bin Himar menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ , وَ لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan hati sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berlaku zhalim atas yang lain.” (H.R. Muslim no. 2588) ----------------

  1. Pengertian tawadhu’ -------------

Secara Etimologi Arab kata, tawadhu’ berasal dari kata ( تواضع- يتواضع) yang mempunyai arti (merendahkan diri, rendah hati). Selain itu ada kata lain (وضع) yang artinya “tempat, letaknya”. (Mahmud Yunus, 1992: 105).-------------

Tawadhu’ secara Terminologi Menurut Al-Ghozali (1995:350). Tawadhu’ adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama dari pada kita. Pada hakekatnya tawadhu’ itu adalah “sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah.” (Ahmad Athoillah, 2006: 448).[1] Tawadhu adalah kerendahan hati yang tidak menilai dirinya lebih baik dari orang lain dan tuntutannya adalah perilaku dan ucapan hormat kepada orang lain. (Mulla Ahmad Naraqi, Mi’rajus Saadah, halaman 300).[2]-----------

Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang Tawadhu’:Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan  pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan Tawadhu’ –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…‘ -----------------

Sebagaimana akhlak-akhlak yang lain, ketawadhu’an juga mempunyai dua ujung dan pertengahannya. Salah satu ujungnya adalah yang cenderung kepada sikap berlebihan, dan ini dinamakan kesombongan. Sedangkan ujung yang lain adalah yang cenderung kepada sikap mengurang-ngurangkan, dan ini dinamakan menghinakan dan merendahkan diri. Dan pertengahan antara kedua sikap inilah yang dinamakan tawadhu’. Dan tawadhu’ yang terpuji adalah yang tidak sampai menghinakan diri. Masing-masing dari dua ujung ini tercela. Dan sebaik-baik perkara yang disukai Allah adalah pertengahannya.[3]     ----------------

Ibnu Qoyyim dalam kitab Madarijus Salikin berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Alloh karena Alloh adalah Al-Haq (benar); kalam-nya benar, agamanya-Nya benar. Kebenaran datangnya dari Alloh dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Alloh dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”-----------------

مشتق من الضعة بكسر أوله وهي الهوان , والمراد بالتواضع إظهار التنزل عن المرتبة لمن يراد تعظيمه , وقيل هو تعظيم من فوقه لفضله .

Arti kata Tawadhu’ dari segi bahasa sama dengan makna kata al-hawaan yang artinya, malu atau merasa rendah hati.  Sedangkan secara istilah adalah menampakkan kerendahan martabat diri pada orang yang dianggap lebih mulia. Ada juga yang mengartikan Tawadhu’ adalah memuliakan seseorang yang lebih utama darinya.------------------

Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Al-Sunnah

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”. (Al-Furqan: 63)---------------

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya: Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Al-Isra: 37)-----------

Thabaathabaa’i memahami ayat 37 di atas dalam arti kiasan, yakni kesombongan yang engkau lakukan untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu pada hakikatnya adalah hanya waham dan ilusi, sebab sebenarnya ada yang lebih kuat dari engkau yakni bumi, terbukti kakimu tidak dapat menembus bumi, dan ada juga yang lebih tinggi darimu yakni gunung, buktinya engkau tidak setinggi gunung. Maka akuilah bahwa engkau sebenarnya rendah lagi hina. Tidak ada sesuatu yang dikehendaki dan diperebutkan manusia dalam hidup ini seperti kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, harta benda dan lain-lain kecuali hal-hal yang bersifat waham yang tidak mempunyai hakikat di luar batas pengetahuan manusia.. Itu semua diciptakan dan ditundukkan Allah untuk diandalkan manusia guna memakmurkan bumi dan penyempurnaan kalimat (ketetapan) Allah. Tanpa hal yang tidak memiliki hakikat itu, manusia tidak hidup di dunia, dan kalimat Allah yang menyatakan: “Bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan matha (Kesenangan hidup) sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah [2] : 36). ------ Demikian lebih kurang Thabaathabaa’i.--------------

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر

Artinya: Dari Nabi SAW berkata: “tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar zarrah.” (HR. Muslim, no. 33 juz 1)[4]----------------

أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَد

Artinya: “Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR.Muslim no. 2865)------------------

Selama hidupnya, Rasulullah saw selau bersikap rendah hati, kasih sayang, lemah lembut dan penuh toleransi. Sekalipun terhadap anak- anak kecil. Sifat kenabian dan kedudukan tinggi beliau tidak menghalanginya berbuat baik dan berakhlak mulia yang khusus diberikan Allah. Beliau selalu memberi salam kepada anak- anak, bermuka manis kepada mereka, dan meluangkan waktu sekedar untuk menyenangkan mereka.[5]-----------------

Anas bin Malik mengatakan bahwa ketika melewati kerumunan anak- anak beliau mengucapkan salam kepada mereka. (HR Muttafaq alaih).--------------

 

  1. B.     Macam-Macam Tawadhu’ dan Tanda-Tandanya -----------

Telah dibahas oleh para ulama sifat Tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka, baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi Tawadhu’ menjadi dua, jika dilihat dari baik buruknya:------------

1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ke-Tawadhu’-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.------------

2. Tawadhu’ yang dibenci yaitu Tawadhu’-nya seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada di sisinya. (Bahjatun Nazhirin, 1/657).---------------

----- Sikap Tawadhu’ di bagi menjadi empat macam dilihat dari objeknya:[6] --------

1. Tawadhu’ kepada Alloh SWT.-----------------
Tawadhu’ kepada Alloh SWT artinya merendahkan diri di hadapan-Nya. Tanda-tanda orang Tawadhu’ kepada Alloh SWT diantaranya:-------------

a. Merasa kecil/sedikit dalam ta’at kepada-Nya. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada alloh SWT itu merasa bahwa dalam ketaatan dan ibadahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa yang telah dilakukan.------------
b. Merasa besar/banyak dalam maksiat. Artinya, seorang yang Tawadhu’ kepada Alloh SWT, merasa--- bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukan sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.---
c. memperbanyak pujian kepada Alloh SWT. Dan tidak pada diri sendiri.---
d. Tidak menuntut hak kepada Alloh, tetapi berorientasi pada amal yang harus dilakukan.-----

2. Tawadhu’ kepada Agama-------------------

Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada agama diantaranya:-------
a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama islam.-------

  1. Tawadhu’ kepada Rosululloh Saw.---------

    Tanda-tanda orang Tawadhu’ pada Rosululloh diantaranya:-----
    a. Mengutamakan petunjuk Rosululloh diatas manusia lainnya.-------
    b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau.---------
    c. Menjadikan Rosululloh Saw. Sebagai teladan hidupnya.------------4. Tawadhu’ kepada Sesama.-----------Tanda-tanda orang yang Tawadhu’ kepada manusia diantaranya:---------
    a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari orang lain.------
    b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.------
    c. Siap membantu orang lain.-----
    d. Bermusyawarah dengan anggota masyarakat yang lain.------
    e. Senantiasa berbaik sangka (khusnudzon) kepada orang lain.-------
  2. C.    Keutamaan Sifat Tawadhu’-------------

Allah Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)----------------

Allah Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215)-------------

Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)----------------

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)------------

Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

 

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)-----------------

Penjelasan ringkas:

Tawadhu’ dan rendah diri kepada kaum mukminin merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu’ niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang Tawadhu’ kepada-Nya. Serta akan dihormati, disukai, disegani –walaupun dia tidak menginginkan itu semua- oleh orang-orang sekelilingnya.-----------

Dan dalam hal ini -sebagaimana dalam sifat terpuji lainnya-, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan suri tauladan terbaik. Bagaimana tidak sementara Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau untuk merendah kepada kaum mukminin. Karenanya beliau senantiasa Tawadhu’ dan bergaul dengan kaum mukminin dari seluruh lapisan, dari yang kaya sampai yang miskin, dari orang kota sampai arab badui. Beliau duduk berbaur bersama mereka, menasehati mereka, dan memerintahkan mereka agar juga bersifat Tawadhu’. Kedudukan beliau yang tinggi tidak mencegah beliau untuk melakukan amalan yang merupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Karenanya sesibuk apapun beliau, beliau tetap menyempatkan untuk mengerjakan pekerjaan keluarganya di rumah.------------

  1. D.    Cara Menghilangakan Kesombongan dan Mengupayakan Ketawadlu’an-------

Perlu diketahui, bahwa kesombongan termasuk perkara-perkara yang membinasakan dan membinasakanya fardlu’ain. Tentu kesombongan tidak akan hilang dengan angan-angan belaka, melainkan harus diupayakan pelenyapanya dengan sungguh-sungguh.---------------

Mencabut Pangkal Kesombongan------------------

Ini hanya bisa dilakukan dengan ilmu dan amal bersama-sama. Hanya dengan gabungan keduanya penyembuhan akan berlangsung sempurna.---------------

Dari segi ilmu, hendaklah seseorang mengenal diri sendiri dan tuhanya, dan bagaimana kedudukan dirinya dihadapan tuhanya. Dengan hal ini saja, sesungguhnya sudah sangat memadai untuk menghilangan kesombongan. Sebab jika seseorang benar-benar mengetahui dirinya sendiri, tentu ia juga mengetahuai bahwa hanya tawadlu’lah sikap yang pantas dan sesuai dengan dirinya. Dan jika ia mengenal tuhanya, tentu ia akan mengetahui bahwa keagungan, dan kesombongan hanyalah hak Allah semata.----------------

Sedangkan dalam segi amaliyah, maka dengan membiasakan diri bersikap tawadlu’ terhadap orang lain karena Allah semata, dan menetapi akhlak oprang-orang yang bertawadlu’ sebagaimana akhlak-akhlak yang telah dicontohkan oleh beliau Rasulullah dan para shalihin.---------

            Tawadlu’ tidak akan diperoleh hanya dengan mengetahui ilmunya saja, akan tetapi pengamalan dalam kehidpan sehari-hari dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya orang-orang Arab yang menyombongkan diri kepada Allah dan Rasulullah diperintahkan untuk beriman dan mengerjakan shalat berjama’ah.----------------
============================

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”.

Memahami Tawadhu’

Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299). Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)

Keutamaan Sifat Tawadhu’

Pertama: Sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  16: 142)

Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Lihatlah Nabi Musa ‘alaihis salam melakukan pekerjaan rendahan, memantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Lihat pula Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Nabi Zakariya dulunya seorang tukang kayu. Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya,

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32). Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di dunia dan di akhirat.

Kedua: Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.

Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Mencontoh Sifat Tawadhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memberi salam pada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Anas berkata,

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يزور الأنصار ويسلم على صبيانهم ويمسح رؤوسهم

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Subhanallah … Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang ia miliki.

Coba lihat lagi bagaimana keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Beliau membantu istrinya. Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek, beliau menjahit dan memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau untuk berdakwah dan mengurus umat.

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”

Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Lihatlah beda dengan kita yang lebih senang menunggu istri untuk memperbaiki atau memerintahkan pembantu untuk mengerjakannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa rasa malu membantu pekerjaan istrinya. ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 676). Beda dengan kita yang mungkin agak sungkan membersihkan popok anak, menemani anak ketika istri sibuk di dapur, atau mungkin membantu mencuci pakaian.

Nasehat Para Ulama Tentang Tawadhu’

قال الحسن رحمه الله: هل تدرون ما التواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً .

Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

يقول  الشافعي: « أرفع الناس قدرا : من لا يرى قدره ، وأكبر الناس فضلا : من لا يرى فضله »

Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)

يقول بشر بن الحارث: “ما رأيتُ أحسنَ من غنيّ جالسٍ بين يدَي فقير”.

Basyr bin Al Harits berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir.” Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu’.

قال عبد الله بن المبارك: “رأسُ التواضعِ أن تضَع نفسَك عند من هو دونك في نعمةِ الله حتى تعلِمَه أن ليس لك بدنياك عليه فضل [أخرجه البيهقي في الشعب (6/298)].

‘Abdullah bin Al Mubarrok berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)

قال سفيان بن عيينة: من كانت معصيته في شهوة فارج له التوبة فإن آدم عليه السلام عصى مشتهياً فاستغفر فغفر له، فإذا كانت معصيته من كبر فاخش عليه اللعنة. فإن إبليس عصى مستكبراً فلعن.

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya. Namun, jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”

قال أبو بكر الصديق: وجدنا الكرم في التقوى ، والغنى في اليقين ، والشرف في التواضع.

Abu Bakr Ash Shiddiq berkata, “Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qona’ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu’.”

قال عروة بن الورد :التواضع أحد مصائد الشرف، وكل نعمة محسود عليها إلا التواضع.

‘Urwah bin Al Warid berkata, “Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang merasa iri kecuali pada sifat tawadhu’.”

قال يحيى بن معين :ما رأيت مثل أحمد بن حنبل!! صحبناه خمسين سنة ما افتخر علينا بشيء مما كان عليه من الصلاح والخير

Yahya bin Ma’in berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”

قال زياد النمري :الزاهد بغير تواضع .. كالشجرة التي لا تثمر

Ziyad An Numari berkata, “Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah seperti pohon yang tidak berbuah.”[1]

Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.

اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau)” (HR. Muslim no. 771).

Wallahu waliyyut taufiq.

AL QUR'AN EVIDENCE .... MUKJIZAT AL QUR'AN ... manusia sering menyebutnya dengan MUKJIZAT ------------------------------ AL QUR'AN itu BENAR ..... dan .....SABDA Nabi Muhammad yang terBUKTI BENAR dan diBUKTIkan oleh ilmu SAINS MODERN ... -------------------------------------- Berikut 100 Mukjizat Sederhana Rasul Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan ilmiah Yang diKutip Dari Beberapa Sumber Dan Ilmu Kedokteran Dengan Tujuan Mengungkap Kebenaran Dan Kerasulan Muhammad Serta Menumbuhkan Ketaqwaan kita Kepada Allah Ajjawazala ------------------- Firman Allah Ajjawazala. “ Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu.” (QS Fushshilat : 53) ------------------- "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Al Qur'an, 4:82) "Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al Qur'an, 6:155) ---------------------- "Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Al Qur'an, 18:29) -------------- "Sekali-kali jangan(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya." (Al Qur'an, 80:11-12) -------------------------- Berikut Mukjizat AlQuran Dan Hadits Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan Ilmiah ------------------------------- Mukjizat Ke-1 : (Penciptaan Manusia dari air mani) ----------------- Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur'an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;----------- وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14) --------------- Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern. ---------------- Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur'an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.” Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur'an.” ---------------- Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur'an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.” ----------------- Mukjizat Ke-2 (Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi) -------------------- Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur'an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;------------ فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7) ------------------- Mukjizat ke-3 (Janin Berada dalam 3 Kegelapan) --------------------- Para dokter ilmu kandungan menemukan bahwa janin ketika masih berada dalam kandungan dilapisi oleh tiga selaput yang melindunginya dari air yang berasal dari luar, dan dari panas serta cahaya, dan dinamakan dengan tiga kegelapan. ---------- Penemuan ini selaras dengan apa yang digambarkan Allah tentang proses penciptaan dalam surat Az-Zumar. Dia berfirman, يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Az-Zumar 6) --------------- dst --------

quran keajaiban nyata

AL QUR'AN EVIDENCE .... MUKJIZAT AL QUR'AN ... manusia sering menyebutnya dengan MUKJIZAT
------------------------------
AL QUR'AN itu BENAR ..... dan .....SABDA Nabi Muhammad yang terBUKTI BENAR dan diBUKTIkan oleh ilmu SAINS MODERN ...
--------------------------------------
Berikut 100 Mukjizat Sederhana Rasul Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan ilmiah Yang diKutip Dari Beberapa Sumber Dan Ilmu Kedokteran Dengan Tujuan Mengungkap Kebenaran Dan Kerasulan Muhammad Serta Menumbuhkan Ketaqwaan kita Kepada Allah Ajjawazala
-------------------
Firman Allah Ajjawazala.
“ Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu
menyaksikan segala sesuatu.” (QS Fushshilat : 53)
-------------------
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Al Qur'an, 4:82)

"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al Qur'an, 6:155)
----------------------
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Al Qur'an, 18:29)
--------------
"Sekali-kali jangan(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya." (Al Qur'an, 80:11-12)
--------------------------
Berikut Mukjizat AlQuran Dan Hadits Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan Ilmiah
-------------------------------
Mukjizat Ke-1 : (Penciptaan Manusia dari air mani)
-----------------
Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur'an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;-----------

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14)
---------------
Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern.
----------------
Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur'an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.” Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur'an.”
----------------
Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur'an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.”
-----------------
Mukjizat Ke-2 (Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi)
--------------------
Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur'an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;------------

فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7)
-------------------
Mukjizat ke-3 (Janin Berada dalam 3 Kegelapan)
---------------------
Para dokter ilmu kandungan menemukan bahwa janin ketika masih berada dalam kandungan dilapisi oleh tiga selaput yang melindunginya dari air yang berasal dari luar, dan dari panas serta cahaya, dan dinamakan dengan tiga kegelapan.
----------
Penemuan ini selaras dengan apa yang digambarkan Allah tentang proses penciptaan dalam surat Az-Zumar. Dia berfirman,

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Az-Zumar 6)
--------------- dst --------

Mukjizat Ke-4 (Manusia diciptakan dalam Beberapa Tahapan)

Allah swt berfirman,

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا. وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian” (Nuh : 13-14)

Syaikh az-Zandani berkata, “Kami bertemu dengan seorang professor Amerika bernama Marshal Johnson. Kami berkata kepadanya, “Disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa manusia diciptakan dalam beberapa tahap.”

Dia menjawab, “ Saya memiliki jawaban, hal ini hanya ada tiga kemungkinan:

Pertama : Bahwa Muhammad memiliki mikroskop raksasa yang membuatnya mampu mengkaji perkara-perkara ini.
Kedua : Bahwa itu terjadi secara kebetulan.
Ketiga : Bahwa Muhammad adalah utusan dari sisi Allah.”

Mukijzat Ke-5 (Tidak Semua Sperma Membuahi Sel Telur)

Para dokter ahli menemukan bahwa hanya sebagian kecil dari mani yang akan menjadi janin, dan bahwa satu pancaran mani mengandung seratus sampai delapan ratus juta sperma. Dan bahwa satu sperma saja mampu membuahi sel telur. Pengetahuan ini belum ditemukan kecuali setelah abad kedua puluh.

Rasulullah saw memberitakan pengetahuan ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia bertutur,”Rasulullah saw ditanya tentang berjimak dengan mengeluarkan mani di luar vagina istri (azl). Maka beliau bersabda,

مَامِنْ كُلِّ الْمَاءِيَكُوْنُ الْوَلَدُ، وَإِذَا أَرَادَاللهُ خَلْقَ شَيُءِلَمْ يَمْنَعْهُ شَيْءٌ

“Tidaklah semua air mani menjadi seorang anak. Jika Allah berkehendak menciptakan sesuatu, maka tiada suatu pun yang mencegahnya.”

Mukjizat Ke-6 (Jenis Kelamin Berasal dari Air Mani Laki-laki)

Setelah ditemukannya mikroskop elektronik, maka para pakar ilmu kandungan tahu bahwa jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan janin ada dalam mani, bukan dalam sel telur. Mereka menyebutkan bahwa mani dengan salah satu jenisnya (X) atay (Y), dialah yang bertanggung jawab menentukan jenis kelamin janin. Al-Qur'an memberitakan pengetahuan ini lewat lisan Rasulullah saw. Allah berfirman,

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَىٰ. مِنْ نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan” ( An-Najm : 45-46)

Mukjizat Ke-7 (Manusia Diciptakan dari Percampuran Mani Laki-laki dan Perempuan)

Mayoritas ilmuwan memberikan gambaran bahwa manusia dibungkus dalam mani, dan membesar di dalam rahim seperti pohon yang kecil. Manusia tidak ada yang tahu bahwa janin diciptakan dari percampuran antara sperma laki-laki dan sel telur perempuan, kecuali pada awal abad kedua puluh.

Dan kita dapatkan Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah saw telah menyebutkannya secara ilmiah dan rinci bahwa manusia diciptakan dari campuran mani laki-laki dan mani perempuan yang dinamakanNya “Mani yang bercampur.” Allah swr berfirman dalam surat Al-Insan

إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَٰهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan : 2)

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad terdapat jawaban Rasulullah saw terhadap seorang Yahudi ketika bertanya kepadanya, dari apa manusia diciptakan? Beliau bersabda,

يَايَهُوْدِيْ، مِنْ كُلِّ يُخْلَقُ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَنُطْفَةِ الْمَرْأَةِ

“Wahai orang Yahudi, (setiap manusia) diciptakan dari campuran mani laki-laki dan mani permpuan.”

MUKJIZAT TENTANG PENCIPTAAN LANGIT

Mukjizat Ke-8 (Teori Big Bang)

Para astronom menemukan (ilmu pengetahuan) bahwa pada awalnya langit dan bumi saling melekat menjadi satu, kemudian keduanya terpisah dari yang lain. Penemuan ini dinamakan dengan teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berbunyi, Pada mulanya alam berbentuk massa yang sangat tebal, berkilau dan sangat panas. Kemudian akibat pengaruh tekanan dahsyat yang datang dari suhu panasnya yang sangat tinggi maka terjadilah ledakan dahsyat yang meledakkan massa gas tadi dan melemparkan kepingan-kepingannya ke seluruh penjuru. Bersama berjalanya waktu, maka terbentuk planet-planet dan bintang-bintang.

Pada tahun 1989 M, satelit Amerika (NASA) mengirim data-data yang mengokohkan teori ledakan Dahsyat, dan sebelumnya pada tahun 1986 M, Stasiun Antariks Uni Soviet juga mengirimkan data-data yang mengokohkan teori ledakan dahsyat ini. Penemuan ini baru dilihat oleh orang-orang kafir pada masa kita sekarang ini, sementara Allah telah memberitakannya di dalam Al-Qur'an al-Karim bahwa orang-orang kafir akan menyaksikan pengetahuan ini. Allah swt berfirman dalam surat Al-Anbiya,

أَوَلَمْ يَرَ الََّذِينَ كَفَرُوا أَنًَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (Al-Anbiya : 30)

Dalam tafsir Al-Qur'an disebutkan, kata رَتْفًا maksudnya : melekat (padu).

Mukjizat Ke-9 (Langit Melewati Periode Kabut)

Para astronomi mengatakan bahwa langit melewati periode dalam bentuk kabut. Inilah yang direkomendasikan oleh ilmu pengetahuan akhir-akhir ini. Mereka mengatakan. Buktinya, pergilah ke salah satu teropong dan arahkan pandangan mata kalian ke arah langit, kalian akan menemukan kabut di langit, sisa kabut membentuk bintang-bintang dan planet-planet sampai masa kita sekarang ini. Dan Allah telah memberitakan pengetahuan ini di dalam Al-Qur'an dalam surat Fushshilat, Dia berfirman,

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأًرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".(Fushshilat : 11)

Mukjizat Ke-10 (Langit yang Meluas)

Para ahli astronomi menemukan bahwa langit semakin hari semakin meluas, dan di Amerika penemuan ini dipublikasikan lewat media-media masaa. Para ilmuwan menyaksikan lewat teleskop bahwa dunia yang kita tempati ini adalah bentuk yang terus-menerus meluas. Oleh karena itu, benda-benda langit semakin menjauh dari kita (bumi), begitu juga antara benda langit yang satu dengan benda langit yang lain, dengan kecepatan yang kadang-kadang mendekati kecepatan cahaya. Dan Al-Qur'an telah menggambarkan hakikat ini secara jelas. Silahkan lihat dalam ayat yang mulia, Allah swt berfirman,

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَٰهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz-Dzariyat 47)

Mukjizat Ke-11: (Tentang Penciptaan Bintang)

Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman,

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (Al-Waqiah : 75-76)

Kenapa Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan tempat peredaran bintang?

Setelah pengetahuan manusia maju, tampaklah apa yang diberitakan Allah SWT lewat lisan Rasulullah SAW dalam penemuan ini.

Para ilmuwan berkata, Tempat peredaran bintang-bintang merupakan perkara yang agung bagi manusia. Jarak antara bumi dan matahari diperkirakan sekitar 150.000.000 km. bintang yang berjarak paling dekat dengan kita yang berada di luar gugusan matahari (Alpha Centaurus) diperkirakan berjarak sekitar 4,3 kali kecepatan cahaya, sementara satu tahun kecepatan cahaya diperkirakan sekitar 9.500.000 km. sehingga jika cahaya keluar darinya, maka cahaya tersebut baru akan sampai kepada kita setelah lebih dari lima puluh bulan. Dalam jangka waktu itu bintang tersebut telah bergerak bergeser dari tempatnya dengan jarak yang jauh sekali. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa apabila manusia memandang bintang secara langsung, niscaya dia akan kehilangan penglihatan.

Karena bintang yang kita lihat pada kegelapan langit, hanyalah tempat peredaran yang dilalui bintang.

Mukjizat Ke-12 : (Black Holes)

Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan bintang-bintang. Dia berfirman.

فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

"Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang (yang bersembunyi (di siang hari), Yaitu bintang-bintang yang beredar dan menyapu. (At-Takwir : 15-16)

Ayat ini menggambarkan kita bahwa di antara bintang-bintang yang ada di langit adalah bintang-bintang yang menyapu, dan para ahli astronomi telah menyebutkan hal itu. Seorang ilmuwan Amerika menggambarkan bintang-bintang black holes dengan ungkapannya, Ini adalah penyapu-penyapu raksasa langit yang menghisap, yang tinggi, dan pemakaian Al-Quran Al-Karim bagi bintang-bintang ini dengan istilah bintang yang beredar dan menyapu adalah lebih mengena.

Mukjizat ke-13 : (Siang dan Malam)

Ilmu modern telah menyingkap bahwa malam menutupi bumi dari segala penjuru, dan menyerupai lapisan tipis yang mirip seperti kulit. Apabila bumi berputar, maka pada siang hari lapisan tipis tersebut lepas. Sehingga dengan perputaran ini terjadi pengulitan siang dari malam. Allah telah menggambarkan penemuan ini dalam ayat berikut. Allah SWT berfirman:

وَءَايَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan." (Yaasin : 37)

Mukjizat Ke-14 : (Pandangan yang Semakin Kabur)

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ. لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُنَ

"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir."" (Al-Hijr : 14-15)

Ketika para astronot telah keluar dari batas terang dan masuk ke dalam kegelapan alam, mereka pasti mengatakan sesuatu yang hampir sama dengan ungkapan ayat Al-Qur'an tanpa mereka ketahui.

إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا

"Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan" (Al-Hijr : 15). Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-15 : (Pintu-pintu Langit )

Belakangan, para ilmuwan membuktikan bahwa langit tidaklah hampa, akan tetapi merupakan bangunan kokoh berisikan material dan energi, dan tidak mungkin diterobos kecuali melalui pintu-pintu yang dibuka. Dan inilah yang disebutkan oleh Al-Qur'an di sela-sela ayat ini. Allah SWT berfirman :

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ

"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya," (Al-Hijr : 14)

Mukjizat Ke-16 : (Dada Semakin Sesak Ketika Naik Ke Udara)

Para ilmuwan berkata bahwa perubahan besar pada tekanan udara yang terjadi ketika naik ke angkasa menjadikan dada manusia sesak dan sempit. Blits Pascall, seorang ilmuwan ternama, menyatakan bahwa tekanan udara akan semakin berkurang setiap kita semakin jauh dari permukaan bumi. Dan Allah telah memberitakan dalam ayat ini, apa yang akan terjadi pada manusia jika dia naik ke angkasa. Allah SWT berfirman :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit." (Al-An'am : 125)

Mukjizat Ke-17 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Allah SWT berfirman :

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

"Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. " (Yaasin : 40)

Kepler, seorang ahli astronomi, menemukan bahwa matahari dan planet-planet lain yang mengikutinya beredar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan. Pada abad 19 M, seorang astronom, Richard Carrington, dia menemukan bahwa matahri dan planet-planet yang mengikutinya, keseluruhannya berputar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan dan keseimbangan tertentu. Hal ini sesuai dengan firmanNya :

كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى

"Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan." (Az-Zumar : 5)

Mukjizat Ke-18 : (Hujan)

Para astronot menemukan bahwa lapisan atmosfer bumi berfungsi mengembalikan air yang telah menguap ke bumi dalam bentuk hujan melalui perputaran yang terus menerus yang disebut dengan siklus penguapan air. Allah telah bersumpah dengan ayat ini, dan Dia berfirman,

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ

"Demi langit yang mengandung hujan" (Ath-Thariq : 11)

Tafsir ayat ini menyebutkan bahwa langit mengembalikan hujan pada setiap tahun.

Mukjizat Ke-19 : (Tentang Kilat )

Pada 1985 M, di Amerika dilakukan kajian tentang kilat dan bagaimana proses terbentuknya. Merka menemukan kilat terbentuk dari es. Rincian ini telah diberitakan Allah kepada kita dalam surat An-Nur. Allah SWT berfirman :

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَّنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ

"dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (An-Nur : 43)

Makna سَنَابَرْقِهِ adalah سَنَابَرْقِ الْبَرَدِ (kilauan kilat es)

Mukjizat Ke-20 : (Adzan di Bulan )

Astronot pertama yang berhasil mendarat dipermukaan bulan bernama Armstrong. Dia mengumumkan keislamannya ketika dia menziarahi Kairo. Dalam perjalanannya berkeliling dunia, dia mendengar adzan Zhuhur. Dia bertanya-tanya di tengah rasa kagetnya disebabkan suara itu, maka orang-orang mengatakan, "Itu suara mu'adzin yang mengingatkan kaum Muslimin waktu shalat." Maka dia mengumumkan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya bahwa alunan adzan yang didengarnya dalah sama persis dengan alunan yang didengarnya ketika pertama kali menginjakkan kudua kakinya di atas permukaan bulan."

Mukjizat Ke-21 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman :

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

"Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan " (Al-Qamar : 1)

In merupakan mukjizat inderawi yang disaksikan orang pada masa Rasulullah SAW. Di dalam hadits dari Anas, diriwayatkan bahwa penduduk Makkah meminta kepada Rasylullah SAW agar mereka diperlihatkan sebuah mukjizat, maka Allah memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah sebanyak dua kali.

Pada masa kita sekarang ini, para ahli stronomi Amerika berkata, "Bulan pernah terbelah suatu ketika. kemudian menyatu. KIta menemukan adanya sabuk batu yang telah berubah membelah bulan dari permukaannya hingga ke pusatnya dan terus sampai ke permukaannya lagi. Maka kami berkonsultasi kepada ahli bumi dan ahli geologi. Mereka mengatakan. "Ini tidak mungkin terjadi, kecuali jika memang bulan pernah terbelah kemudian menyatu"."
MUKJIZAT TENTANG PENCIPTAAN BUMI

Mukjizat Ke-22 : (Bumi yang Mempunyai Retakan)

Para ahli geologi menemukan beberapa retakan yang memotong-motong lapisan batu paling luar dari lapisan bumi pada kedalaman puluhan ribu kilometer. Letaknya di seluruh arah, dan lebarnya mencapai antara 65-150 km. Retakan-retakan ini saling tersambung antara yang satu dengan yang lain, menjadikannya seolah-olah satu retakan. Para ahli menyerupakannya dengan daging. Allah telah bersumpah dengan pengetahuan ini dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:
وَالأرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ

"Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan," ( Ath-Thariq : 12)

Mukjizat Ke-23 : (Tentang Gunung)

Para ahli geologi menemukan bahwa gunung memiliki akar yang memanjang di bawah permukaan bumi sebanding dengan 4,5 kali lipat ketinggiannya di atas permukaan bumi, dan bahwa fungsinya adalah mengukuhkan dan menjaga kestabilan bumi. Rahasia ini telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur'an Al-Karim jauh sebelum 1400 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman:
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

"Dan (bukanlah Kami telah menjadikan) gunung-gunung sebagai pasak?," (An-Naba : 7)

Dan juga Allah berfirman,
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

"Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh" (An-Nazi'at : 32)

Mukjizat Ke-24 : (Tempat Terendah di Bumi)

Allah telah mengabarkan tempat yang paling rendah di permukaan bumi dalam Al-Qur'an. Allah SWt berfirman:
الم. غُلِبَتِ الرُّومُ. فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

Alif Laam Miim. Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terendah dan sesudah dikalahkan mereka akan menang." (Ar-Ruum : 1-3)

Ilmu geologi telah membuktikan bahwa Laut Mati yang menjadi tempat pertempuran antara Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada tahun 624 M merupakan bagian bumi yang paling rendah secara mutlak. DI mana nisbat kerendahannya mencapai kurang lebih 400 meter di bawah permukaan air laut. Tempat itu merupakan permukaan bumi yang paling rendah secara mutlak.

Mukjizat Ke-25 : (Daerah-Daerah yang Menyusut)

Ilmo modern mengukuhkan bahwa bumi terus menyusut secara berkelanjutan di seluruh penjuru dan sudutnya. Yang menjadi sebab penyusutan ini adalah keluarnya berjuta-juta ton material bumi dalam bentuk gas, ua, benda cair dan padat dari mulut gunung-gunung berapi secara terus-menerus secara bergantian sehingga berdampak pada penyusutan bumi secara terus-menerus. Proses penyusutan bumi terus berkelanjutan sampai sekarang ini, dan Allah telah memberitakannya dalam Al-Qur'an, di mana Al-Haq, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya. " (Ar-Ra'd "41)

(Ada yang menafsirkan bahwa Islam akan mendatangi daerah-daerah kafir dan lambat laun akan menjadi daerah Islam sehingga daerah-daerah kafir akan berkurang. Kenyataan ini telah terjadi saat ini dimana ISlam semakin diterima dibelahan dunia walau tetap saja ada yang menghalanginya)

Mukjizat Ke-26 : (Gunung yang Bergerak)

Allah telah mengabarkan RasulNya, Muhammad SAW bahwa gunung begerak seperti awan, dan Allah berbicara kepada RasulNya dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (An-Naml : 88)

Ayat ini mengisyaratkan pada proses perputaran bumi di sekitar poros matahari, karena gunung adalah bagian dari bumi. Maka apabila gunung bergerak seperti jalannya awan, maka seolah-olah bumilah yang berputar, sedangkan awan bergerak kurang lebih seperti kecepatan bumi. Ayat-ayat ini mengisyaratkan pada perputaran bumi. Ayat-ayat ini datang dalam bentuk yang tidak mengejutkan bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur'an. Sejak 14 abad lalu, akal tidak akan percaya bila Anda katakan bahwa bumi berputar. Dia akan bertanya, "Bagaimana hal itu terjadi padahal saya berdiri di atasnya?!" Al-Qur'an memalingkan pandangan manusia sesuai dengan kadar tingkat pengetahuan mereka. Para ilmuwan menyebutkan bahwa bumi berputar pada porosnya dalam jangka waktu satu hari satu malam, dan berputar mengelilingi matahari dalam jangka waktu satu tahun.

MUKJIZAT TENTANG LAUTAN

Mukjizat Ke-27 : (Bertemunya Batas Laut)

Pada tahun 1973 M, kapal Inggris melakukan penelitian di tengah laut selama tiga tahun, dan mereka mendirikan pelabuhan-pelabuhan di laut. Penelitian modern itu menemukan bahwa air laut walaupun tampak satu jenis, namun terdapat banyak perbedaan besar antara massa air yang satu dengan yang lainnya. Pada daerah-daerah yang di dalamnya berteMu dua jenis laut yang berbeda akan ditemukan sekat antara keduanya. Sekat ini memisahkan kedua laut itu, di mana masing-masing laut memiliki suhu panas, rasa asin, dan kepadatan tersendiri. Penemuan ini sama seperti yang diberitakan Allah dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ. بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." (Ar-Rahman : 19-20)

Mukjizat Ke-28 : (Ombak di Dasar Laut)

Para ilmuwan berkata, "Kedalaman laut yang sedang sekitar 4 km. Dasar samudera gelap, tidak dapat ditembus oleh sinar sama sekali. SInar matahari akan lebur dan tertolak keluar pada tingkat kedalaman ini. Para imuwan tidak tidak mengenal ombak kecuali ombak yang ada di permukaan. Baru pada tahun 1955 M, para ilmuwan menemukan bahwa ada ombak lain di dasar laut pada kedalaman 1000 m. ombak ini lebih besar daripada ombak yang ada dipermukaan dengan ratusan kali lipat dalam panjang dan tinggi gelombangnya. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan oleh Allah dalam ayat ini. Allah SWT berfirman.

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun." (An-Nur : 40)

Mukjizat Ke-29 : (Angin yang Menggerakkan di Laut)

Allah SWT berfirman :

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ

"Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung." (Ar-Rahman : 24)

Dan dalam ayat yang lain :

إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

"Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur," (Asy-Syura : 33)

Sebagian orang mengatakan bahwa kapal-kapal yang berlayar dengan tenaga mesin menggunakan bahan bakar dari batu bara, minyak , atau lainnya, apa yang menghentikannya jika angin berhenti?

Semua jenis kapal yang menggunakan bahan bakar dengan semua jenisnya, dan bergerak menggunakan tenaga uap dengan bahan bakar nuklir, apabila angin tidak ada, niscaya gerak kapal akan terhenti secara total. Karena sarana pembakar bahan bakar ini adalah dengan perantara gas oksigen yang ada di udara.

Mukjizat Ke-30 : (Laut yang Tanahnya Ada Api)

Belakangan, para ahli geologi menemukan semua samudera dan sebagian lautan seperti Laut Merah dan Laut Arab benar-benar bernyalakan api dengan aktivitas nyata. Allah berfirman dalam surat Ath-Thur ayat 6:

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

"dan laut yang di dalam tanahnya ada api,"

Para ahli tafsir memberikan catatan, مَسْجُورِ maknanya bernyalakan api.

Mukjizat Ke-31 : (Laut di Bawah Api dan di Bawah Laut)

Ilmu pengetahuan mengungkap bahwa di bawah laut terdapat api, dan dibawah api ini ada laut lagi. Pengambilan gambar penemuan ini telah selesai dilakukan. Hal ini telah dibeitakan oleh Rasulullah SAW di dalam hadits, di mana beliau bersabda,

لاَيَركَبْ الْجَحْرَإِلاَّحَاجٌُّ أَوْمُعْتَمِرٌُأَوْمُجَاهِدٌُفَإِنَّ تاحْتَ الْبَحْرِنَارًاوَتَحْتَ النَّارِبَحْرًا

"Tidaklah belayar di atas laut melainkan orang yang berhaji, umrah, atau berjihad. Sungguh di bawah laut ada api, dan di bawah api ini ada laut lagi." (HR. Abi Dawud)

Semua ilmu pengetahuan yang sebelum 1400 tahun lalu bersifat ghaib telah diberitakan oleh Al-Qur'an dan oleh Rasulullah SAW yang mulia di dalam hadits.

MUKJIZAT TENTANG ANGIN

Mukjizat Ke-32 : (Angin yang Mengawinkan)

Para ahli cuaca mengatakan bahwa hujan tidak turun kecuali setelah angin mengawinkan awan. Penemuan ini telah diberitakan oleh Allah kepada kita sebelum 1400 tahun yang lalu dalam surat Al-Hijr;

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (air, awan, debu) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al-Hijr : 22)

Mukjizat Ke-33 : (Angin yang Menggerakkan)

Para ahli cuaca mengatakan bahwa angin memiliki peranan paling besar dalam membentuk awan dan mendung, menggerakkannya, menyusun antara sebagian yang satu dengan sebagian yang lain, mengangkatnya menuju tingkat yang lebih tinggi, mengondensasikannya dengan atom-atom yang bemacam-macam (condensation nuclear), dan mengisinya dengan muatan listrik. Peran besar angin inilah yang ditetapkan oleh penelitian-penelitian ilmiah modern, Dan Al-Qur'an telah datang dengannya sebelum ditetapkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan kita di bumi, 14 abad yang lalu, lewat lisan Muhammad SAW. Allah SWT berfirman :

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira." (Ar-Ruum : 48)

Mukjizat Ke-34 : (Curah Hujan)

Para ahli cuaca telah sampai kepada penemuan ini, mereka berkata, "Kuantitas curah hujan yang turun pada tahun ini pada bola bumi sama dengan kuantitas curah hujan yang turun pada setiap tahun. Akan tetapi, yang berbeda hanya tempat pembagiannya di atas bumi."

Dan Rasulullah SAW telah memberitakan pengetahuan ini di dalam hadits. Beliau bersabda.

لاَسَنَةَ أَقْلَّ مِنْ سَنَةٍِ الْمَطَرِوَلٰكِنَّ اللّهَ يَصْرِفُهُ

"Tidakkah curah hujan pada sebuah tahun lebih sedikit daripada curah hujan pada tahun yang lain, hanya saja Allah memalingkannya (ke tempat yang lain)." (Dari Ibnu Abbas, Silsilah as-Hadits ash-Shahihah, no. 2461)

MUKJIZAT TENTANG TUMBUH_TUMBUHAN

Mukjizat Ke-35 : (Tentang Klorofil)

Para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan bahwa klorofil merupakan produsen tunggal di muka bumi yang memproduksi makanan. Yaitu sebuah istilah bagi kloroflas yang merubah energi matahri, karbondioksida, dan air menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Oleh sebab itu ia disebut klorofil. Produsen ini ada pada setiap daun, Lalu siapakah yang menumbuhkan tanaman? Dia-lah Allah SWT. Allah SWT berfirman.

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا

"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; " (Al-An'am : 99)

Mukjizat Ke-36 : (Air Hujan yang Menumbuhkan)

Pada konferensi internasional I di Islamabad, salah seorang ahli tumbuh-tumbuhan maju seraya berkata, "Apabila hujan jatuh ke tanah, maka ia menjadikan butiran-butiran tanah bergetar dan mengembang, yakni bertambah besar disebabkan air yang masuk di antara butiran-butiran ini. Apabila butiran-butiran ini telah penuh dengan air, maka jadilah ia sebagai penampung air." Penemuan ini telah Allah SWT beritakan kepada kita dalam Al-Qur'an pada firmanNya.

وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

"Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, bergetarlah tanah itu itu dan mengembang dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah" (Al-Hajj : 5)
==============================================
MUKJIZAT TENTANG ANTISIPASI PENYAKIT

Mukjizat Ke-37 : (Penyakit Akibat Perzinaan)

Dalam riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan riwayat ini shahih dengan salah satu lafadz, Rasulullah SAW bersabda,

لَمْ تَظْهَرِالْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍِ قَطُّ، حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا، إِلاَّ فَشَافِيْهِمُ الطَّاعَُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِىْ لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا

"Tidaklah perzinaan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka."

Sesuatu yang diberitakan oleh Rasulullah SAW telah tampak pada masa ini. Ini memberikan bukti bagi dunia bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik bagi manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah pengidap penyakit kencing nanah (Gonorrhae) setiap tahunnya lebih dari 250 juta orang. Sebagaimana diperkirakan jumlah pengidap sipilis setiap tahunnya mencapai 50 juta orang. Majalah Amerika, The Times tanggal 4 Juli 1983 menyebutkan, 20 juta warga Amerika mengidap penyakit Herpes, dan mengumumkan bahwa di Afrika saja 30 juta orang mati setiap tahun dengan sebab penyakit AIDS yang muncul akibat hubungan seks bebas (zina). Di samping itu juga muncul penyakit-penyakit lain yang bermacam-macam akibat tersebarnya perzinaan.

Mukjizat Ke-38 : (Tentang Khamar)

Rasulullah SAW telah mengingatkan manusia dari bahaya khamar. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Wa'il al-Hadhrami bahwa Thariq bin Suwaid al-Ju'fi bertanya kepada Nabi SAW tentang khamar? Maka Nabi SAW melarang atau membenci untuk membuatnya menjadi sesuatu, dia berkata, "Saya hanya membuatnya sebagai obat". Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍِوَلٰكِنَّهُ دَاءًَ

"Ia bukanlah obat, akan tetapi penyakit." (HR. Muslim)

Pada masa ini, data statistik kesehatan dunia menyatakan bahwa sebab-sebab kematian yang muncul akibat mengkonsumsi khamar menempati posisi pertama pada banyak negeri di dunia. dr. Ouprey Louis menyatakan bahwa alkohol adalah racun tunggal yang diperkenankan di dunia. Dr. Brater dan rekan-rekannya menegaskan bahwa mengkonsumsi satu gelas khamar dapat menyebabkan kematian sebagian sel otak. Ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa khamar berpengaruh terhadap alat pencernaan, syaraf, organ seks, serta berpengaruh terhadap keturunan. Khamar juga memiliki pengaruh terhadap hati. Adapun limpa, maka ia merupakan korban utama khamar. Lebih dari 200 ribu orang, setiap tahunnya mati di Inggris disebabkan oleh khamar.

Mukjizat Ke-39 : (Pengaruh Amarah pada Manusia)

Ilmu kedokteran modern menemukan, bahwa ada banyak perubahan pada fisik manusia yang disebabkan oleh amarah. Dia berpengaruh terhadap kecepatan detak jantung, menyebabkan tekanan darah meningkat, menambah kadar gula dalam darah, membahayakan pembuluh jantung, serta mengandung kemungkinan diserang penyakit-penyakit jantung yang mematikan. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia tentang bahaya-bahaya sesuatu yang dilarang Rasulullah SAW di dalam hadits. Al-Bukhari meriwayatkan hadits dalam Shahihnya dari Abu Hurairah ra bahwa seseorang meminta wasiat kepada Nabi SAW, "berilah aku wasiat." Beliau bersabda, "Jangan marah!" Ia mengulangi permintaanya beberapa kali, namun beliau tetap mengatakan, "Jangan marah!"

Mukjizat Ke-40 : (Tentang Tato)

Lembaga Eropa mengingatkan para penggemar tato bahwa tindakan membuat tato pada kulit adalah meracuni badan dengan bahan kimia yang beracun. laporan itu berbunyi bahwa tato dapat menyebabkan kanker kulit dan penyakit kulit kronis. Ilmu pengetahuan pada masa ini datang memperlihatkan kepada manusia bahaya-bahaya apa yang dilarang Rasulullah SAW. Di dalam hadits, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda :

لَعَنَ اللّهُ الْوَاصِلَةِ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

"Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya, serta wanita yang bertato dan yang minta tato." (HR. Al-Bukhari)

Mukjizat Ke-41 : (Wabah Penyakit Datang dengan Waktu Tertentu)

Ilmu kedokteran modern menetapkan bahwa penyakit-penyakit menular pada musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada musim-musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada bilangan tahun-tahun tertentu dan dengan cara tertentu. Di antara contohnya: penyakit campak dan polio pada anak-anak banyak di jumpai pada bulan september dan oktober, dan tifoid banyak ditemukan pada musim panas. Di antara ilmu yang tidak pernah di ketahui kecuali setelah di temukannya mikroskop, adalah bahwa beberapa penyakit menular berpindah melalui hujan rintik-rintik lewat udara yang berdebu, dan kuman (mikroba) ikut bersama debu ketika di bawa terbang oleh angin dari orang yang sakit kepada orang yang sehat. Penumuan ini menobatkan Nabi SAW sebagai peletak pertama kaidah menjaga kesehatan dengan menjaga diri dari bahaya wabah dan penyakit-penyakit menular. Dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Rasululllah SAW bersabda:

غَطُّوا اْلإِنَاءَ وَأَوْكُوا ِلسِّقَاءِ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةًََ يَنْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌُ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ غَطَاءٌُ أَوْ سِقَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌُ إِلاَّ نَزَلَ فِيْهِ مِنْ ذٰلِكَ الْوَبَاءِ

"Tutuplah bejana dan alat minum, Sungguh dalam satu tahun ada satu malam yang pada malam itu wabah turun. Tidaklah ia lewat pada sebuah bejana atau alat minum yang tidak ditutup, melainkan wabah itu hinggap padanya." (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-42 : (Hikmah Larangan Memakan Binatang Buas)

Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata:

نَهَى رَسُلُ اللّهِ صَلَى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابِ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍِ مِنْ الطَّيْرِ

"Rasulullah SAW melarang memakan semua jenis binatang buas yang bertaring dan semua jenis burung yang berkuku (bercakar)." (HR. Muslim)

Ilmu gizi modern menyatakan bahwa manusia mewarisi sebagian sifat hewan yang dimakannya karena kandungan racun dn virus yang terkandung di dalam dagingnya yang mengalir di dalam darah, dan pindah ke lambung manusia, sehingga berpengaruh terhadap tingkah laku akhlak mereka.

Mukjizat Ke-43 : (Tentang Siwak)

Sebuah majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan Rowdatt, rektor Institut Perkumanan pada Universitas Rostoc. Dalam tulisannya itu ia berkata, "Saya telah membaca tentang siwak yang digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi. Seketika itu, saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan ggi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut dan gigi dari berbagai penyakit, bagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker."

Dalam penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah SAW. Mukjizat pertama, yaitu manfaat-manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad SAW bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon-pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia? Inilah hadits Nabi SAW, beliau menganjurkan kita bersiwak dengan sabdanya,

اَلسِّوَاكُ مِطْهَرَةٌٌُ لِلْفَمِ مَرْ ضَاةٌُ لِلرَّبِّ

"Siwak adalah pembesih mulut dan sebab ridhonya Rabb." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Mukjizat Ke-44 : (Tentang Kegemukan, Makan Secukupnya)

Ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa kegemukan dari segi kesehatan terhitung penyakit dalam pencernaan makanan. Pada tanggal 11 Juni 2003, direktur Pusat Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Amerika mengatakan bahwa kegemukan hampir merupakan sebab pertama kematian. Hasil dari penelitian yang dilakukan di Amerika memperlihatkan, bahwa kenaikan berat badan menambahkan serangan kegagalan fungsi hati. Para ilmuwan asal Kanada menyebutkan bahwa berlebih-lebihan dalam hal makan bisa merusak kesehatan manusia. Seorang ahli gizi Inggris berkata pada tanggal 12 Juni 2003, bahwa kegemukan mengancam keseimbangan penambahan usia manusia. Seorang dokter Italia menyebutkan bahwa makan hingga kenyang lebih banyak membinasakan manusia daripada perang yang membinasakan mereka.

Segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yang ditemukan oleh Ilmu pengetahuan pada masa ini adalah kita dapati Rasulullah SAW telah memerintahkannya kepada manusia. Dalam hadits yang diiwayatkan oleh Ahmad, At-Tarmidzi, dan Ibnu Majah, dari Al-Miqdam Karib al-Kindi, dia berkata berkata, "Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَامَلَأَ ابْنُ اَدَمَ وِعَاءًَ شَرًّامِنْ بَطْنٍِ، حَسبُ ابْنِ اَدَمَ أُكُلاَتٌُ يُقِمْنَ صَلْبَهُ فَإِنْ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثٌُ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌُ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌُ لِنَفْسِهِ

"Tidaklah bani Adam memenuhkan bejana yang lebih buruk daripada perut. Cukup bagi Bani Adam makan beberapa suap yang menegakkan tulang sulbinya. Apabila mesti lebih dari itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya (udara)." (HR. Ahmad)

Mukjizat Ke-45 : (Buah Zaitun)

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, enam belas ahli dari ahli-ahli kedokteran ternama berkumpul di kota Roma. Dalam penjelasan mereka, mereka megukuhkan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun membantu mencegah penyakit pembuluh hati, mencegah peningkatan kolesterol darah, peningkatan tekanan darah, penyakit gula, dan kegemukan. Sebagaimana minyak zaitun dapat mencegah sebagian jenis kanker. Para ahli kedokteran menjelaskan manfaat apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW dalam hadists ini. RAsulullah SAW bersabda:

كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوْابِهِ فَإِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ شَجَرَةٍِ مُبَارَكَةٍِ

"Makanlah buah zaitun dan berminyak rambutlah dengannya. Karena sungguh buah zaitun keluar dari pohon yang berkah." (HR. Ahmad dan At-Tarmidzi, dan At-Tarmidzi berkata,"Hadits ini hadits hasan")

Mukjizat Ke-46 : (Sepuluh Perkara Fitrah)

Penelitian-penelitian kedokteran mengungkapkan untuk kita bahwa kuku mengundang penyakit, di mana jutaan kuman akan bersarang di bawahnya. Dan membiarkan panjang bulu kemaluan, adalah berarti siap menanggung penyakit bulu kemaluan berkutu yang tersebar di Eropa, serta menyebabkan luka dan peradangan pada daerah ini. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia manfaat apa yang diperintahkan oleh Rssulullah SAW dalam hadits ini. Sunah-sunah fitrah yang diwasiatkan Nabi SAW adalah bagaikan pondasi kebersihan individu. Imam Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

عَشْرَةٌُ مِنَ الْفَْطْرَةِ: قَصُّ الشَّارَبِ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ اْلأَظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

"Sepuluh perkara merupakan fitrah: merapikan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, mencuci ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja'." (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-47 : (Keistimewaan Tanah)

Para ilmuwan di masa modern melakukan penelitian terhadap tanah untuk mengetahui kuman-kuman yang ada padanya, maka mereka menyimpulkan bahwa tanah memiliki keistimewaan membunuh kuman-kuman yang berbahaya. Dan Rasulullah SAW telah memberitakan bahwa tanah memiliki kekuatan membunuh kuman. dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلِغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتِ أَوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

"Sucinya bejana kalian apabila ia dijilati oleh anjing, yaitu dengan mencucinya tujuh kali, dan yang pertama kali dengan tanah." (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-48 : (Khitan)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih mereka, dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda,

اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ: اَلْخِتَانُ، وَاْلاِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ

"Fitrah itu ada lima perkara; khitan, mencukur bulu kemaluan, merapikan kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak."

Majalah Kedokteran Inggris menyebutkan. "Kanker penis sangat jarang terjadi di negeri-negeri Islam, di mana khitan dilakukan ketika masih kanak-kanak. Di antara faktor pendorong terjadinya kanker penis adalah terjadinya peradangan pucuk penis, dan khitan merupakan sarana untuk mengantisipasi kanker penis."

Penemuan ini memperlihatkan dunia bahwa ajaran Rasulullah adalah yang terbaik bagi manusia.

Mukjizat Ke-49 : (Kanker Kulit pada Remaja Putri)

Diberitakan dalam majalah Kedokteran Inggris, bahwa kanker kulit sekarang semakin bertambah pada kalangan remaja putri, di mana kanker ini menyerang kaki-kaki mereka. Penyebab utama tersebarnya penyakit ini adalah pakaian-pakaian pendek yang menyebabkan kontak langsung fisik perempuan dengan sinar matahari dalam jangka waktu yang panjang, sedangkan kaos-kaos kaki yang transparan tidak memiliki manfaat.

Penemuan ini menjelaskan ganjaran maksiat di dunia terhadap orang-orang yang menyelisihi ajaran Rasulullah SAW yang termuat dalam hadits ini. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Nabi SAW, beliau bersabda,

وَنِسَاءٌُ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةْ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا

"Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, tidak taat kepada Allah, berjalan berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak masuk surga serta tidak mendapatkan harumnya."

Mukjizat Ke-50 : (Manfaat Silaturrahim)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi SAW dengan sanad yang shahih bahwa beliau bersabda,

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ وَقُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِكَ

"Sambunglah tali silaturrahim dengan orang yang memutus hubungan denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berlaku buruk terhadapmu, dan katakan yang haq walau menyakiti dirimu."

Ilmu kedokteran datang selaras dengan apa yang diwasiatkan Rasulullah SAW.

Dr. Fitche Georant berkata, "Keistimewaan sikap memaafkan mejadikan orang yang mendapat perlakuan buruk mampu hidup tenang. Perasaan dendam dan benci akan mengeruhkan hidup, Menyebabkan kegelisahan, dan mengobarkan perasaan sakit di dalam relung hati. Adapun sikap memaafkan maka ia menghapuskan semua itu."
=======================================
MUKJIZAT TENTANG ANTISIPASI PENYAKIT

Mukjizat Ke-51 : (Hikmah Larangan Kencing pada Air Tergenang)

Banyak dokter menyebutkan bahwa jutaan orang mengidap penyakit kutu air (bilharziazis = penyakit yang hidup di air, apabila penyakit itu hinggap maka akan menjadikan kaki pecah-pecah). Penyebab penyakit ini adalah seseorang kencing pada air tergenang yang tidak bergerak, lalu orang lain datang mandi di air tersebut dan tertimpa penyakit ini. Apabila seseorang kencing pada air yang tergenang, maka akan keluar telur, lalu menetas, dan melahirkan penyakit. Seandainya manusia tidak kencing pada air tergenang, tentu penyakit bilharziazis tidak akan ada di dunia.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa semua ajaran yang disebutkan Rasulullah SAW bagi manusia merupakan kebaikan bagi manusia. Telah disebutkan dalam hadits ini, dari Jabir ra,

أَنَّ رَسُوُلَ اللّهِ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

"Sesungguhnya Rasulullah melarang kencing pada air yang tergenang." (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-52 : (Tentang Karantina Kesehatan)

Dari Usamah bin Zaid ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

إِذَا وَقَعَ الطَّاعُوْنُ بِأَرْضٍِ فَلاَ تَدْخُلُوْهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍِ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْامِنْهَا

"Apabila penyakit pes mewabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila ia mewabah di suatu negeri dan kalian ada di dalamnya, maka janganlah keluar darinya." (HR. Ahmad)

Para dokter spesialis kuman dan penyakit mengatakan bahwa data hasil penelitian menunjukkan kepada kita manakala penyakit pes mewabah di suatu negeri, maka prosentase orang yang membawa kuman brejumlah 95%. Dan prosentase orang yang tampak berpenyakit berjumlah 20-30%. Sisanya adalah orang-orang yang membawa kuman akan tetapi zat kekebalan tubuhnya mengalahkan kuman tersebut. Apabila mereka tetap tinggal di tempat tersebut, maka kesehatan mereka tidak akan terancam. Namun apabila seorang dari mereka keluar dari tempat tersebut, maka dia akan menularkan penyakitnya. Langkah paling tepat untuk menanggulangi penyakit ini adalah dengan melakukan karantina kesehatan Yaitu agar tidak ada yang keluar-masuk pada tempat di mana penyakit pes sedang mewabah.

Mukjizat Ke-53 : (Puasa Mengekang Nafsu)

Ilmu kedokteran menyatakan bahwa memperbanyak puasa dapat mengendorkan dan mengekang gairah seks. Dalam penelitian ini ditemukan menurunnya tingkat hormon testosteron. Penemuan ini mengukuhkan bahwa puasa mampu mengekang gairah seks serta memperbaikinya. Penemuan ini selaras dengan apa yang diperintahkan Nabi SAW,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسَتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌُ

"Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu melakukan jimak, maka hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa menjadi penawar baginya." (HR. Bukhari)

Mukjizat Ke-54 : (Manfaat Puasa)

Melalui beberapa penelitian kedokteran, puasa ditemukan memiliki beberapa manfaat yang bersifat antisipatif melawan banyak penyakit dan gangguan fisik, di antaranya:

Puasa menguatkan sistem kekebalan tubuh.

Mencegah bahaya kegemukan.

Melindungi tubuh dari bahaya racun yang tertimbun pada sel-sel tubuh dan jaringannya yang timbul disebabkan mengkonsumsi makanan sebelum puasa sepanjang tahun.

Melindungi tubuh dari terbentuknya batu ginjal.

Mengobati beberapa penyakit sirkulasi darah.

Puasa memberikan waktu istirahat bagi alat pencernaan.

Rasulullah SAW telah mengabarkan kita bahwa dalam puasa terkandung kesehatan bagi manusia. Rasululah SAW bersabda,

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌُ

"Puasa adalah pelindung." (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa'i).

Kata حُنَّةٌُ Maksudnya وٍِقَايَةٌُ (pelindung). Dan dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman,

وَأَن تَصُومُوْا خَيْرٌُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Baqarah : 184)

Mukjizat Ke-55 : (Bakteri pada Anjing)

Ilmu kedokteran mengungkap bahwa mulut anjing membawa 50 bakteri. Ini diketahui setelah ditemukan nya mikroskop. Bakteri tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, Rasulullah SAW telah memperingatkan kita dari mulut anjing dalam haditsnya, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَاشَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍِ وَعَفِّرُوْهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ

"Jika anjing minum pada bejana salah seorang kalian, maka hendaklah ia mencucinya sebanyak tujuh kali, dan melumurinya dengan tanah pada kali yang kedelapan."

Mukjizat Ke-56 : (Tentang Memakan Daging yang Diharamkan)

Allah SWT berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكََّيْتُمْ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya," (Al-Ma'idah : 3)

Seorang dokter asal Denmark yang bernama John Flas ditanya tentang memakan daging-daging yang diharamkan dalam Islam. Maka dia menjawab bahwa memakan bangkai, binatang yang mati tercekik, yang mati terjatuh, yang mati dipukul, dan yang dimakan binatang buas, adalah berbahaya bagi manusia, sebab kematian hewan-hewan ini berjalan lambat dan kuman-kuman yang ada di dalam lambung telah pindah ke dalam daging sehingga dagingnya mengandung kuman. Adapun jika sebelum mati, hewan tersebut sempat disembelih, maka hewan itu bersih dari kuman dan layak untuk dimakan. Tidak dibenarkan memakan darah karena darah adalah racun. Dan tidak dibenarkan memakan daging babi karena sarang kuman dan menyebabkan sakit pada tulang punggung dan persendian, dan penyakit-penyakit ini terjadi di Eropa.

Mukjizat Ke-57 : (Tentang Laut)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW ketika ditanya tentang laut, beliau menjawab,

هُوَ الطَّهُوْرُ مَا ؤُهُ الجِلُّ مَيْتَتُهُ

"Air laut adalah suci dan halal bangkainya." (HR. Al-Tarmidzi, dia berkata,:Hadits Shahih")

Dalam hadits ini, kenapa Rasulullah SAW menghalalkan bangkai ikan dan mengharamkan hewan-hewan yang lain?

Para ahli menjawab pertanyaan ini bahwa ikan memiliki keistimewaan yang Allah letakkan padanya. Yaitu apabila ikan ditangkap dan keluar dari laut, lalu mati, niscaya darah-darahnya akan terkumpul di jakun, seolah-olah disembelih.

Ini adalah salah satu dari tanda kenabian beliau SAW, dan bahwa beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu.

Mukjizat Ke-58 : (Hikmah Larangan Makan dan Minum Berdiri)

Ilmu kedokteran modern mengungkapkan, minum berdiri menyebabkan air yang mengalir berjatuhan dengan keras pada dasar lambung dan menumbuknya, menjadikan lambung kendor dan menjadikan pencernaan sulit. Sebagaimana terus-menerus makan dan minum sambil berdiri menimbulkan luka pada dinding lambung. Penemuan ini menjelaskan manusia bahaya yang telah diperingatkan Rasulullah SAw dalam hadits ini.

Dari Anas dari Qatadah,

إِنَّالنَّبِيِّ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

"Sesungguhnya Nabi melarang seseorang minum sambil berdiri"

Qatadah berkata, "Kami bertanya, "Bagaimana kalau makan?" Beliau bersabda,

ذَاكَ أَشَرُّ وَأَخْبَثُ

"Itu lebih jelek dan lebih buruk." (HR. Muslim dan At-Tarmidzi).

Mukjizat Ke-59 : (Larangan Meniup kedalam Minuman)

Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخُ فِي الشُّرَابِ

"Rasulullah saw melarang minum dari mulut poci dan meniup ke dalam minuman." (HR. Bukhari)

Para dokter menyatakan, bahwa minum dari mulut poci bisa meninggalkan kuman berbahaya. Dan telah terbukti dalam kedokteran, bahwa sebab TBC adalah meniup kedalam minuman.

Mukjizat Ke-60 : (Cara Membuang Hajat)

Hadiits Jabir,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ أَنْ نَتَّكِئَ عَلَى الْيُسْرَى وَأَنْ نَنْصِبَ الْيُمْنَى فِي قَضَاءِ الْحَا جَةِ

"Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bertumpu pada kaki kiri dan memberdirikan telapak kaki kanan saat buang hajat." (HR. At-Thabrani)

Ilmu pengetahuan datang pada masa ini mengungkap manfaat posisi buang hajat yang diperintahkan Rasulullah SAW. Para dokter spesialis berkata, "Dubur pada badan manusia merupakan tempat keluarnya kotoran adalah berbentuk angka empat arab (٤), Apabila seseorang bertumpu pada kaki kiri dan memberdirikan telapak kaki kanan, duburnya akan berbentuk sempurna dan kotoran keluar dengan mudah."

Mukjizat Ke-61 : (Berbaring di Sisi Tubuh yang Kanan)

Dari Al-Barra' bin Azib, Bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَ ضّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِكَ اْلأَيْمَنِ

"Apabila kamu hendak tidur, berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan." (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW mengarahkan manusia agar tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan, lalu ilmu pengetahuan datang mengungkap manfaat-manfaat sesuatu yang diperintah Rasulullah SAW tersebut.

Majalah The Times mempublikasikan hasil kajian yang menunjukkan peningkatan angka kematian pada anak-anak yang tidur telungkup di atas perut mereka. Seorang peneliti Australia memperlihatkan adanya peningkatan angka kematian pada anak-anak ketika mereka tidur telungkup di atas perut mereka.

Adapun tidur telentang di atas punggung, maka tidur seperti ini menyebabkan pernafasan mulut. Sementara tidur berbaring di atas sisi sebelah kiri, maka tidak diterima (oleh ilmu kedokteran), karena pada posisi ini, jantung berada di bawah tekanan paru-paru kiri, sehingga tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan adalah posisi tidur yang benar.

Mukjizat Ke-62 : (Shalat dan Kesehatan)

Dr. Alex Carlyle peraih Nobel dalam bidang kedokteran berkomentar tentang shalat, "Shalat melahirkan kebugaran luar biasa pada tubuh dan anggota-anggotanya, bahkan merupakan penghasil kebugaran terbesar yang diketahui sampai masa kita sekarang ini. Di antara faidah shalat adalah menguatkan otot perut, menambah gerakan usus sehingga mengurangi kondisi menahan (gerakan) dan menguatkan penyaringan empedu. Posisi ruku', sujud dan gerakan yang terjadi padanya berupa menekankan ujung jari telapak kaki dapat mengurangi tekanan pada otak."

Penemuan ini memperlihatkan pada dunia bahwa apa yang diperitahkan Rasulullah SAW bersumber dari sisi Allah.

Mukjizat Ke-63 : (Mencuci Tangan)

Nabi SAW bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوَضُوْءَ، خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

"Barangsiapa wudhu dan membaguskan wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya." (HR. Musim)

Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa orang yang berwudhu secara terus-menerus maka sungguh dia telah membersihkan hidung dan bebas sari kuman (mikroba). Telah tetap secara ilmiah, bahwa kuman tidak menyerang kulit manusia jika ia tidak menjaga kebersihannya. Berikut rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berbunyi,
"Tiga juta orang mati pada setiap tahun. Dan kita tidak tahu siapa mereka. Mereka mati sebab tidak peduli pada kebersihan tangan, tidak mencucinya sebelum makan, dan tidak memperhatikan istinja." Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kulit tangan membawa banyak kuman yang pindah ke mulut atau hisung ketika kedua tangan tudak dicuci. Oleh karena itu, mencuci kedua tangan adalah wajib. Rasulullah SAW telah memerintah manusia untuk membersihkan tangan dengan hadits berikut,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نُوْمَةٍِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فِي اْلإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثَا، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

"Jika salah seorang kalian bangun dari tidurnya, maka jangan (langsung) memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali, karena salah seorang kalian tidak tahu di mana tangannya bermalam." (HR. At-Tarmidzi)
================================================
Mukjizat Ke-64 : (Tentang Besi)

Dalam Al-Qur'an, Rasulullah SAW mengabarkan manusia dengan wahyu dari Allah bahwa besi diturunkan ke bumi dan tidak mungkin untuk diproduksi. Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman dalam surat Al-Hadid,

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

"Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia," (Al-Hadid : 25)

Para ilmuwan mengatakan bahwa membuat satu bijih besi memerlukan panas empat kali lipat yang seperti matahari. Karena besi memerlukan panas yang tinggi sekali, sementara panas yang seperti ini tidak dimiliki matahari. Dan bahwa proses penggabungan atom (nuclear fusion) di dalam matahari tidak sampai kepada tahap menjadi unsur besi. Proses ini berhenti jauh sebelum tahap menjadi unsur besi. Catatan ini menjadikan para ilmuwan mengambil kesimpulan bahwa bumi kita pada saat terlepas dari matahari tidak lain hanyalah sebuah onggokan abu. Tidak terdapat padanya sesuatu yang lebih berat daripada alumunium dan silikon, kemudian ditimpa dengan hujan meteor dari besi.

MUKJIZAT TENTANG ILMU ANATOMI

Mukjizat Ke-65 : (Tentang Kulit)

Para ahli anatomi menyebutkan bahwa indera peraba pada tubuh manusia adalah kulit. Mereka mengatakan, "Kalau kulit telah terbakar, (niscaya) tubuh tidak akan merasakan sakit."

Ketika menggambarkan penduduk neraka, Allah SWt mengabarkan kita bahwa kulitlah yang merasakan sakit. Allah SWt brefirman dalam surat An-Nisa',

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

"Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab" (An-Nisa' : 56)

Mukjizat Ke-66 : (Tentang Parfum)

Ilmu anatomi tubuh telah menyebutkan indera penciuman. Indra penciuman disusun pararel dengan organ syahwat. Sehingga apabila laki-laki atau perempuan mencium wangi parfum (niscaya) ia mengalir di urat-urat syaraf syahwat.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Ahmad dan An-Nasa'i dari Nabi SAW, beliau bersabda.

أَيُّمَا امْرَأَةِ اسْتَعْطَترَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍِ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌُ

"Wanita mana saja memakai wewangian, lalu lewat pada sebuah kaum supaya mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina." (HR. An-Nasa'i)

Dapat dipahami dari hadits ini bahwa parfum membangkitkan syahwat.

Mukjizat Ke-67 : (Tentang Ucapan 'Rayuan')

Ilmu anatomi mengatakan, "Demikian juga pendengaran dan organ pendengaran, ia sangat berkaitan erat dengan organ syahwat. Sehingga apabila laki-lakai atau wanita mendengar sebuah kata, maka kata itu terdengar lembut dan mengalir menuju organ syahwat. Apa yang disebutkan dalam ilmu anatomi telah diketahui oleh kaum muslimin berdasarkan pemahaman mereka terhadap ayat ini. Yakni firman Allah SWt,

فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

"Maka janganlah kamu tunduk (merayu) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya" (Al-Ahzab : 32)

Mukjizat Ke-68 : (Tentang Khalwat)

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam kedua kitab Shahih mereka dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍِ إِلاَّمَعَ ذِي مَحْرَمٍِ

"Janganlah salah seorang kalian berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali bersama mahram." (HR. Bukhari)

Dr. Alez Carlyle berkata, "Pada saat hasrat seks mengalir pada manusia, maka ia mengeluarkan semacam zat yang mengalir dalam darah menuju otak dan membiusnya, sehingga tidak mampu lagi berfikir jernih." Oleh karena itu, para penyeru ikhtilath (campur aduk antara laki dan perempuan bukan mahram), mereka diarahkan oleh akal mereka. Mereka diarahkan oleh syahwatnya. Presiden Amerika yang telah meninggal. Kennedy, dia berkata, "Pada setiap tujuh pemuda yang mendaftarkan diri sebagai prajurit ditemukan enam orang yang tidak baik, dikarenakan syahwat telah merusak kelayakan kesehatan dan psikologis mereka."

Mukjizat Ke-69 : (Sentuhan Lain Jenis)

Disebutkan dalam ilmu anatomi, "Apabila tubuh laki-laki bersentuhan dengan tubuh waniita, niscaya 'sambungan' yang membangkitkan syahwat akan mengalir di antara keduanya."

Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa sentuhan laki-laki terhadap tubuh wanita dapat membangkitkan syahwat. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Malik, Ahmad, dan lainnya, dari Nabi SAW beliau bersabda,

إِنِّيْ لاَأُصَا فِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِيْ لاِمْرَأَةٍِ قَوْلِيْ لِمِئَةِ امْرَأَةٍِ

"Sungguh aku tidak menjabat wanita. Perkataan saya pada satu wanita adalah bagaikan perkataan saya untuk seratus wanita."

Mukjizat Ke-70 : (Berkaitan dengan Keinginan Manusia)

Ahli terkemuka dunia dalam anatomi otak, Dr. Moore berkata, "Telah pasti bagi kami bahwa lokasi yang menggambarkan kejujuran dan kedustaan dalam tubuh manusia terletak pada bagian depan kepala (ubun-ubun). Seandainya bagian otak ini dihilangkan, seseorang tidak akan memiliki kehendak."

Penemuan ini telah diberitakan Allah kepada kita, bahwa bagian depan kepalalah yang berdusta. Di mana Dia berfirman dalam surat Al-"Alaq.

كَلاَّ لَئِنْ لَّمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al-'Alaq : 15-16)

Mukjizat Ke-71 : (Tentang Susu)

Setelah menggunakan alat-alat canggih, para ahli anatomi sampai pada penemuan bahwa susu merupakan bahan hasil saringan dari sisa-sisa makanan dan darah. Dan Allah telah mengabarkan kepada kita tentang pengetahuan ini dalam Al-Qur'an, surat AN-Nahl, Allah SWT berfirman,

نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّٰرِبِينَ

"Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya" (An-Nahl : 66)

MUKJIZAT TENTANG PENGOBATAN

Mukjizat Ke-72 : (Madu dan Obat)

Rasulullah SAW telah menyampaikan berita dalam Al-Qur'an dengan wahyu Allah bahwa madu mengandung obat. Allah SWT berfirman,

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاَ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنََّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (An-Nahl : 69)

Hasil beberapa penelitian mutakhir menunjukkan bahwa madu mengandung obat bagi sebagian jenis penyakit dan mampu membunuh banyak kuman (mikroba), sehingga sangatlah bagus menggunakan madu sebagai obat, dan memberikan hasil yang baik pada banyak jenis penyakit. Seperti obat infeksi lambung, obat radang hati yang menahun, obat anemia pada anak, obat luka nanah, obat dingin dan radang tenggorokan, obat keracunan alkohol, obat sakit perut dan diare.

Mukjizat Ke-73 : (Madu Terbaik)

Para ilmuwan berhasil menyimpulkan jenis madu yang terbaik. Mereka mendapatkan bahwa jenis madu yang terbaik adalah madu yang diambil dari gunung, kemudian pada urutan berikutnya yang diambil dari kayu, kemudian setelahnya yang diambil dari perumahan manusia. Ini selaras dengan pengurutan Allah dalam surat An-Nahl. Allah SWT berfirman,

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (An-Nahl : 68)

Mukjizat Ke-74 : (Habbatus Sauda')

Dalam hadits ini, Aisyah ra ia bertutur, "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إِنْ هٰذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌُ مِنْ كُلِّ دَاءٍِ إِلاَّ مِنَ السَّامِ قُلْتُ : وَمَا السَّامُ؟ قَلَ : الْمَوْتَ

"Sesungguhnya habbah sauda' (jintan hitam) adalah obat penyembuh dari segala penyakit kecuali as-sam." Aku bertanya, "Apakah as-sam itu?" Beliau menjawab, "Kematian" (HR. Bukhari)

Telah dilakukan penelitian di Balai Penelitian Florida Amerika Serikat pada habbah sauda' mampu meningkatkan kekuatan organ kekebalan tubuh. Dan bahwa habbah sauda' memainkan peran penting dalam meningkatkan dan menambah kekuatan organ kekebalan tubuh manusia untuk melindungi dirinya melawan kuman serta bahan-bahan aktif lainnya yang memudharatkan.

Mukjizat Ke-75 : (Tentang Demam)

Beberapa dokter mengatakan, "Di antara sebab yang menurunkan suhu panas tubuh adalah mengguyur kepala dengan air dingin. Dengan cara ini, suhu tubuh akan turun."

Dan RAsulullah SAW telah menyebutkan hal ini kepada kita dalam hadits berikut, dari Nafi', dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda,

إِنَّمَا الْحُمَّى أَوْشِدَّةٌُ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوْهَا بِالْمَاءِ

"Demam atau parahnya demam adalah berasal dari panas api neraka, maka dinginkan dia dengan air." (HR. Bukhari Muslim)

Dan Rasulullah SAW apabila dilanda demam, maka beliau meminta satu geriba air, kemudian menyiramkannya pada kepalanya, lalu mandi"

MUKJIZAT TENTANG LALAT

Mukjizat Ke-76 : (Makanan Lalat)

Allah menurunkan ayat ini pada RasulNya, dan Dia menantang manusia untuk mengambil sesuatu yang telah dimakan lalat, maka niscaya mereka tidak akan mampu,

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَّ يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطًَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ. مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنََّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj : 73-74)

Apa yang diturunkan ilmu pengetahuan modern, bahwa ketika lalat mengambil makanan, maka ia menyemburkan zat tertentu dari air liurnya sehingga makanan tadi bercampur dengan cepat dengan makanan tersebut, sehingga tidak mungkin untuk diselamatkan. Karena sebelum makanan masuk ke dalam perutnya makanan tersebut terlebih dahulu berproses secara kimiawi menjadi unsur jenis lain.

Mukjizat Ke-77 : (Penyakit dan Penawar pada Lalat)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ شُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ أَحَدَ جَنَاحَيْهِ دَاءٌُ وَاْلا خَرَ دَوَاءٌُ

"Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang kalian, hendaklah dia mencelupkannya, kemudian mengangkatnya. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, dan pada sayap yang lain terdapat penawar."

Setelah diadakan percobaan pada sayap lalat, maka ilmu pengetahuan menetapkan bahwa pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawar. Jika lalat jatuh pada minuman lalu dicelupkan, maka ia akan membunuh sebagian besar kuman dan akan tersisa sebagian kecil kuman, di mana tubuh membutuhkannya untuk melawan penyakit seperti pencacaran.

MUKJIZAT TENTANG SUSU

Mukjizat Ke-78 : (Susu: Materi Pokok)

Ilmu pengetahuan modern merekomendasikan bahwa dari sekian jenis makanan, susu adalah satu-satunya yang terbukti mengandung semua materi pokok yang dibutuhkan tubuh manusia. Penemuan ini telah diberitakan Rasulullah SAW dalam hadits ini, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan dari Nabi SAW, beliau bersabda,

وَمَنْ سَقَاهُ اللّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ : اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْ ءٌُ يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَرَابِ إِلاَّ اللَّبَنُ

"Barangsiapa yang diberi minum air susu oleh Allah hendaklah mengucapkan, "Ya Allah, berikanlah kami berkah padanya dan erikan kami tambahan darinya," Sungguh tidak ada suatu makanan dan minuman yang mencukui (untuk menolak lapar dan haus) selain susu."

MUKJIZAT TENTANG TUBUH MANUSIA

Mukjizat Ke-79 : (Unsur Manusia)

Para pakar kedokteran berkata, "Melalui analisa ditemukan bahwa tubuh manusia terdiri dari susunan yang sama dengan susunan bumi, yaitu; air, gula, protein, lemak, vitamin, hormon, klorin (Cl), sulfur/belerang (S), Fosforus (P), Magnesium (Mg), kapur/kalsium (Ca), kalium/potasium (K), sodum (Na), besi (Fe), tembaga/kuprum (Cu), yodium. iodin (I), dan materi-materilainnya.

Penemuan ini persis seperti yang Allah beritakan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلََّهَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لاَ يَعْلَمُونَ

"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yaasin : 36)

Mukjizat Ke-80 : (Tulang Ajbu Dzanab)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَا بَيِنَ النَّفْخَتُيْنِ أَرْبَعُوْنَ، قَالُوْا: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ) أَرْبَعُوْنَ يَوْمَا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتَ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ سَنَةًَ؟ قَالَ: أَبَيْتُ: ثُمَّ يُنْزِلُ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءًَ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، وَلَيْسَ مِنَ اْلإِنْسَانِ شَيْءٌُ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Jarak antara tiupan sangkakala empat puluh." Mereka bertanya, "Wahai Abu Hurairah, (apakah) empat puluh hari?" Dia menjawab, "Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui)." Mereka bertanya, "(Apakah) empat puluh bulan?" Dia menjawab, "Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui)." Mereka bertanya, "(Apakah) empat puluh tahun?" Dia menjawab, "Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui)." Kemudian Allah menurukan hujan dari langit, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya sayur mayur. Tidak ada ssuatu pun dari tubuh manusia melainkan pasti hancur, kecuali satu tulang, yaitu ajbu adz adz-dzanab. Dari ajbu dzanab ini manusia disusun kembal pada Hari Kiamat." (HR, Bukhari Muslim)

Ajbu Dzanab adalah tulang halus yang terletak pada ujung tulang ekor di antara kedua pantat.

النَّفْخَتُيْنِ (dua tiupan) adalah hari ditiupnya sangkakala. Pertama kali ditiup, semua makhluk di langit dan bumi mati. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka manusia pun bertumbuhan. Kemudian ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan mereka masing-masing)

Beberapa ilmuwan Jepang telah mengukuhkan kemustahilan hancurnya ajbu dzanab, baik dengan pelarutan pada tingkat asam yang paling tinggi secara kimia, atau dengan pembakaran dan penumbukan secara fisika, ataupun dengan terkena sinar yang bermacam-macam.

Apakah Rasulullah SAW pernah melaukan eksperimen terhadap tulang ini untuk memberitahukan kita bahwa ia tidak akan hancur? Ataukah itu adalah wahyu dari Allah?
==============================
MUKJIZAT TENTANG TANDA-TANDA KIAMAT

Mukjizat Ke-81 : (Tanda Kiamat: Jazirah Arab Menjadi Subur)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, "Rasululah SAW bersabda;

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُوْدَ جَزَِْرَةُ الْعَرَبِ مُرُوْجًا وَ أَنْهَارًا

"Kiamat tidak akan terjadi sampai jazirah Arab kembali penuh dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai." (HR. Muslim)

Banyak ahli geologi zaman ini mengisyaratkan bahwa jazirah Arab dahulu penuh dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai. Dan bahwa sekarang sedang ada peralihan gerak timbunan salju pada kedua kutub utara dan selatan menuju jazirah Arab. Peralihan ini akan menyulap padang pasir menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai, karena ia membawa air dalam jumlah yang sangat banyak yang mampu mencukupi padang-padang pasir itu untuk berubah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Dalam Konferensi Untuk Perlindungan Lingkungan Hidup yang diadakan di Thailand disebutkan bahwa hasil kajian menjelaskan bahwa timbunan salju di bagian utara Amerika Serikat akan mencair sekitar tahun tahun 2030 dan yang demikian itu disebabkan karena timbunan salju sedang beralih menuju Jazirah Arab. Dan tidaklah samar atas seorang pun seorangpun bahwa konferensi-konferensi yang diadakan pada masa ini berkaitan dengan perubahan iklim, sementara para ilmuwan tidak ada yang tahu bahwa iklim akan beralih kecuali setelah beberapa tahun belakangan ini saja?! Tidaklah seorang manusia mengetahui hal ini kecuali, ia adalah Rasul dari sisi Allah.

Mukjizat Ke-82 : (Tanda Kiamat: Gunung-gunung yang Hilang)

Dari Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُمُوُمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَزُوْلَ جِبَالٌُ عَنْ أَمَاكِنِهَاوَتَرَوْنَ اْلأُمُوْرَ الْعِظَامِ الَّتِي لَمْ تَكُوْنُوْا تَرَوْنَهَا

"Kiamat tidak akan terjadi hingga gunung-gunung hilang dari tempatnya, dan kalian melihat perkara-perkara besar yang belum pernah kalian lihat." (HR. Ath-Thabrani)

Pada zaman ini, banyak sekali gunung-gunung yang digusur dari tempatnya, lalu tempatnya dibangun apartemen-apartemen, baik di Makkah al-Mukarromah ataupun di kota-kota lainnya, serta dijadikan jalan-jalan. Dan kita melihat banyak sekali perkara yang belum pernah kita lihat di zaman Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-83 : (Tanda Kiamat: Fitnah dan Pasar yang Berdekatan)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُمُوُمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ وَالْكَذِبُ وَتَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ

"Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul fitnah-fitnah dan kedustaan, dan pasar-pasar semakin saling berdekatan." (HR. Ahmad)

Pada zaman ini, pasar-pasar sudah saling berdekatan, di mana ditemukan dalam satu kampung ada beberapa pasar, sampai-sampai antara pasar yang satu dengan pasar yang lain saling berdampingan. Telah benar Rasulullah SAW, dan beliau adalah orang yang jujur (benar) dan dipercaya (dibenarkan).

Mukjizat Ke-84 : (Tanda Kiamat: Membaca dan Pembunuhan)

Rasulullah SAW bersabda.

يَأْتِي زَمَانٌُ تَكْثُرُ فِيْهِ الْقِرَاءَةُ وَيَقِلُّ فِيْهِ الْفُقَهَاءُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ الْهَرَجُ. قَالُوْ: وَمَا الْهَرَجُ؟ قَالَ: الْقَتْلُ

"Akan datang sebuah zaman, pada waktu itu membaca banyak digemari, orang-orang yang faham agama sedikit, ilmu dicabut, dan al-harj banyak terjadi." Mereka bertanya, "Apa itu al-harj?' Beliau bersabda, "Yaitu pembunuhan." (HR. Ath-Thabrani)

Pada zaman kita sekarang, berdasarkan hadits ini telah terjadi dua mukjizat:

Pertama, banyak membaca. Semua orang alim membaca koran dan buku setiap hari.

Kedua, banyak terjadi pembunuhan. Pada zaman ini telah dirakit senjata-senjata, granat, dan bom yang membinasakan banyak orang.

Mukjizat Ke-85 : (Tanda Kiamat: Bangga Membangun Masjid)

Dari Anas ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهِى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

"Di antara tanda-tanda kiamat adalah manusia saling berbangga dalam membangun masjid." (HR. An-Nasa'i)

Telah terjadi pada zaman ini bahwa setiap orang yang membangun masjid menginginkan masjidnya lebih bagus daripada masjid yang lain. Orang yang memperhatikan kondisi dunia islam akan mendapatkan banyak ragam arsitektur masjid.

Mukjizat Ke-86 : (Tanda Kiamat: Perang Terhadap Yahudi)

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam dua kitab Shahih mereka dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلُ الْمُسْلِمِيْنَ الْيَهُوْدُ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِموْنَ

"Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang Islam diperangi oleh orang-orang Yahudi, dan orang-orang Islam memerangi mereka." (HR. Muslim)

Hadits ini menggambarkan realita kita saksikan hari ini. Allah memberikan kekuatan kepada Yahudi untuk melawan setiap muslim, Ini membuktikan apa yang diberitakan Rasulullah SAW, bahwa mereka akan membunuh orang-orang Islam.

Mukjizat Ke-87 : (Tanda Kiamat: Musuh Tak Gentar Terhadap Islam)

Dari Tsauban ra, bahwa Nabi SAW bersabda,

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَاتَدَاعَى اْلأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌُ: أَمِنْ قِلَّةٍِ نَحْنُ يَوْمَئِذٍِ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْ مَئِذٍِ كَشِيْرٌ وَلٰكِنَّكُمْ غُشَاءٌُ كَغُشَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللّهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَيَقْذِفَنَّ اللّهُ فِي قُلُوْ بِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌُ: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ اْمَوْتِ

"Akan segera tiba bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya, "Ada yang bertanya, "Apakah dikarenakan kami sedikit pada waktu itu?" Beliau menjawab, "Tidak, bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian tidak ubahnya seperti buih laksana buih banjir. Allah benar-benar akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada-dada musuh kalian dan Allah benar-benar akan melempar al-wahn di hati-hati kalian." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?" Beliau bersabda, "Yaitu mencintai dunia dan membenci kematian." (HR, Abu Dawud)

Hadits ini menggambarkan kondisi orang Islam pada zaman ini, seolah-olah beliau menyaksikan mereka hari ini. Dunia mengerumuni negeri-negeri Islam, dimana minyak dan kebutuhan-kebutuhan dunia ada di tangan orang Islam.

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang Islam berjumlah banyak, dan sekarang jumlah mereka lebih dari satu milyar, akan tetapi musuh-musuh tidak gentar terhadap mereka.

Mukjizat Ke-88 : (Tanda Kiamat: Memelihara Hewan Melebihi Anak Sendiri)

Rasulullah SAW bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌُ لَيُرَبِّيَنَّ جَرْوَ كَلْبِهِ خَيْرٌمِنْ أَنْ يُرَ بِّيَ وَلَدًا مِنْ صُلْبِهِ

"Akan datang suatu masa pada manusia, di mana memelihara anak anjingnya, lebih baik dari memelihara anak kandungnya sendiri." (HR. AL-Hakim)

Dan ini telah terjadi di negara-negara barat.

Mukjizat Ke-89 : (Tanda Kiamat: Masjid dan Mushaf Hanya Hiasan)

Dalam Shahih al-Jami' ash Shaghir karya as-Suyuthi, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا زُرِفَتْ مَسَاجِدُكُمْ وَحُلِّيَتْ مَصَا حِفُكُمْ فَالدِّمَارُ عَلَيْكُمْ

"Apabila masjid-masjid kalian diperindah dan mushaf-mushaf kalian dijasikan perhiasan, maka kehancuranlah yang akan menimpa kalian."

Pada masa ini, masjid-masjid kita sekarang diperindah dengan berbagai perhiasan, berupa; kapur, marmer, keramik, dan lainnya. Mushaf-mushaf diletakkan dalam laci dan tidak dibaca kecuali sedikit.

Mukjizat Ke-90 : (Tanda Kiamat: Berlomba-lomba dalam Kemewahan)

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab ra, bahwa Jibril as datang kepada Rasulullah SAW dalam rupa laki-laki mengenakan pakaian putih bersih, berambut hitam pekat, dan bertanya kepada beliau tentang Islam, iman, dan ihsan, lalu Rasulullah SAW menjawabnya. Kemudian Jibril as bertanya kepada beliau tentang tanda-tanda kiamat. Maka Rasulullah AW menjawab,

أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ رِعَاءَ الشَّاةِ يَتَطَا وَلَوْنَ فِي الْبُنْيَانِ

"Apabila budak melahirkan tuannya, dan kamu melihat orang-prang yang tidak mengenakan sandal, tidak berpakaian, para penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan." (Hr. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini disebutkan Rasulullah SAW seolah-olah beliau melihat kemajuan bangunan dunia sekarang ini. Semua orang yang dahulunya penggembala unta dan kambing, meninggalkan profesi mereka sebagai penggembala dan tinggal di kota, dan berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Mukjizat Ke-91 : (Tanda Kiamat: Berpakaian Tapi Telanjang)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ لنَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌُ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌُ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجِدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

"Dua kelompok ahli neraka yang belum pernah saya lihat: sekelompok kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor unta, mereka mencambuk manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan melenggak-lenggok dan keluar dari ketaatan kepada Allah, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Wanita-wanita ini tidak masuk surga dan tidak pula mendapatkan wangi surga, padahal wangi surga tercium dari jarak demikian dan demikian."

Tidak samar lagi bagi siapa pun sesuatu yang kita lihat hari ini, berupa wanita-wanita Muslimah yang berpakaian tapi telanjang, yaitu wanita-wanita yang mengenakan pakaian terbuka atau ketat dan tipis, yang menampakkan daerah-daerah fitnah yang banyak ditemukan.

Tampak jelas apa yang mereka perbuat terhadap kepala-kepala mereka sehingga tampak persis seperti punuk unta di atas punggungnya.

Allah SWT dan RasulNya SAW telah mengancam mereka dengan tidak masuk surga serta tidak mencium wanginya.

Mukjizat Ke-92 : (Tanda Kiamat: Riba Merajalela)

Di antara tanda Kiamat sebagaimana yang diberitakan Rasululah SAW, adalah merajalelanya riba ditengah umat Muhammad. Semua manusia zaman ini, yang harta mereka disimpan di bank, pada pasti terkena debu riba. Amat benarlah Rasulullah SAW dalam hadits ini, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ زَمَانٌُ لاَ يَبْقَى فِيْه أَحَدٌ إِلاَّ أَكَلَ الرِّبَا، فَإِنْلَمْ يَأْ كُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

"Akan datang sebuah zaman di mana tidak seorangpun yang hidup pada waktu itu, kecuali dia memakan harta riba. Apabila dia tidak memakannya, dia terkena debunya." (HR. Abu Dawud)

Mukjizat Ke-93 : (Tanda Kiamat: Muslim Mengikuti Yahudi dan Nasrani)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْحُذَ أُمِّتِيْ بِأَخْذِ الْقُْرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍِ وَذِرَاعًا بِذَرَاعٍِ حَتَّى لَوْ دَخْلُوْا جُحْرَ ضَبِّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ! قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

"Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti tradisi umat kurun-kurun sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga walaupun mereka masuk lubang kadal gurunpun, kalian pasti mengikutinya!" Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?" Dijawab oleh Rasulullah, "Kalau bukan mereka, lalu siapa?" (HR. Bukhari)

Ini telah tampak pada masa kita sekarang ini. Di banyak negeri Islam, mengikuti dan meniru orang Nasrani dan Yahudi telah menjadi perlombaan dalam hal pakaian, bicara, dan tingkah laku.

Mukjizat Ke-94 : (Tanda Kiamat: Bangsa Romawi)

Dari Amru bin al-Ash, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,

تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَالرُّوْمُ أَكْشَرُ النَّاسِ

"Kiamat akan terjadi, dan pada waktu itu orang-orang Romawi (maksudnya Nasrani dan sekutunya) merupakan mayoritas manusia." (HR. Muslim)

Sekarang, masa ini telah dekat dengan Kiamat dan bangsa Arab (Maksudnya Umat Islam) hanya seperlima dunia, sementara sisanya yang lain adalah bangsa Romawi. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Muhammad SAW berbicara dengan dasar wahyu dari Allah?!

Mukjizat Ke-95 : (Tanda Kiamat: Kesaksian Palsu)

Dari Ibnu Mas'ud ra, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيْمِ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ اْلأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّوْرِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ، وَظُهُوْرَ الْقَلَمِ

"Sesungguhnya tanda dekatnya Kiamat adalah ketundukan pada orang-orang khusus, semaraknya perdagangan, pemutusan silaturrahim, kesaksian palsu, menyembunyikan kesaksian yang haq, dan maraknya pena." (HR. Ahmad)

Pena semakin marak, ilmu pengetahuan dan buku-buku tersebar luas melalui percetakan-percetakan, alat-alat foto copy, dan yang semisalnya. Bukankah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya?

Mukjizat Ke-96 : (Tanda Kiamat: Menjual Ayat)

Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah bersabda,

مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ إِذَا تَعَلَّمَ عُلَمَاؤُكُمْ لِيَجْلِبُوْا دَنَانِيْرَكُمْ وَدَرَاهِمَكُمْ وَاتَّخَذْتُمْ الْقُرْانَ تِجَارَةُ

"Di antara tanda dekatnya Kiamat, adalah apabila orang-orang alim kalian belajar untuk memperoleh dinar dan dirham kalian dan kalian menjadikan Al-Qur'an sebagai perdagangan." (HR. Ad-Duruquthni)

Mayoritas manusia zaman ini belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan materi, dan banyak orang-orang alim menerima gaji pada setiap akhir bulan. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Mukjizat Ke-97 : (Tanda Kiamat: Hubungan yang Tidak Baik)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ سُوْءُ الْجِوَارِ وَقَطِيْعَةُ اْلأَرْحَامِ وَأَنْ يُعَطَّلَ السَّيْفُ مِنَ الْجِهَادِ وَأَنْ تُجِلَبَ الدُّنيَا بِالدِّيْنِ

"Di antara tanda-tanda Kiamat, adalah jahat dalam bertetangga, memutus silaturrahim, ditanggalkannya pedang dari jihad, dan diraihnya dunia dengan agama." (HR. Ibnu Mardawaih)

Kita telah menyaksikan sesuatu yang telah diberitahukan hadits ini seperti perakitan alat-alat perang selain pedang serta ditinggalkannya pedang, sebagaimana yang diberitakan Nabi SAW. Tidakkkah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Mukjizat Ke-99 : (Dajjal)

Imam Ahmad berkata, Yunus menceritakan kepada kami, dari Mihjan bin al-Adra', bahwa Rasulullah SAW berpidato di depan para sahabat,

يَوْمُ الْخَلاَصِ وَمَا يَوْمُالْخَلاَصِ!! ثَلاَثًَا، فَقِيْلَ لَهُ: وَمَا يَوْمُ الْخَلاَصِ؟ قَالَ: يَجِيْءُ الدَّجَّالُ فَيَصْعَدُ جَبَلَ أُحُدٍِ فَيَنْظُرُ الْمَدِيْنَةَ فَيَقُوْلُ لِأَصْحَابِهِ: أَتَرَوْنَ هٰذَا الْقَصْرَ اْلأَبْيَضَ؟! هٰذَا مَسْجِدُ أَحْمَدَ

"Yaum al-khalash, apa itu yaum al-khalash?" (beliau mengulangnya tiga kali). Dikatakan kepada beliau, "Apa itu yaum al-khalash?" Beliau bersabda, "Yaitu hari ketika Dajjal datang, lalu naik ke gunung Uhud seraya mengarahkan pandangannya ke Kota Madinah, lalu ia berjata, "Apakah kalian melihat istana putih ini? ini masjid Ahmad"."

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menyampaikan berita bajwa kelak ketika Dajjal keluar, masjid beliau seperti istana. Dan semua orang pada masa ini bisa melihat masjid Rasulullah SAW benar seperti istana sebagai hasil dari perluasan fisik masjid, perluasan yang belum pernah disaksikan sejarah yang sama sepertinya, berkat kemurahan Allah, kemudian berkat kemurahan pemerintah Arab Saudi.

Semoga Allah menjadikannya ternasuk dalam khidmat kepada Islam dan Kamu Muslimin.

Mukjizat Ke-100 : (Makkah Pusat Daratan Dunia)

Penemuan ilmiah baru yang disosialisasikan pada bulan Januari 1977 M. berbunyi, "Makkah al-Mukarramah merupakan pusat daerah darat dunia, dan terletak di tengah-tengah dunia."

Untuk sampai kepada penemuan baru ini memerlukan penelitian ilmiah bertahun-tahun. Ini merupakan hikmah Allah untuk memilih Makkah sebagai tempat Baitullah al-Haram (Ka'bah) dan sebagai kiblat umat Islam.

Allah SWT berfirman,

سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar" (Fushshilat : 53)

Allah SWT juga berfirman,

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَٰفًا كَثِيرًا

"Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisaa' : 82)

Dan masih banyak lagi mukjizat dan tanda dari Allah SWT...

---------------------------------------------------------------

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

"Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali-'Imran : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali-'Imran : 85)

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan"." (An-Naml : 93)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)." (An-Nisaa' :174)

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman." (Al-Jaatsiyah : 3)

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

"Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya." (Yusuf : 105)

وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَأَيَّ آيَاتِ اللَّهِ تُنْكِرُونَ

"Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?" (Al-Mu'min : 81)

sejarah turunnya Al Qur’an .... petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat ------------------ Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. --------- Bagian-bagian Al-Qur’an ------------ Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. -------------------- Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an). Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).--------- Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.--------- Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.------- -------------- Sejarah Turunnya Al-Qur’an ----------- Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain: 1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. ---- 2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.--- 3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.---- Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin. 4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.---- Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. ------------ Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat. Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. -------- Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah ------------ Makkiyah Madaniyyah ------------ Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang, Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).----- Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.----- Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun. ------- Kodifikasi Al-Qur’an ------------ Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang. ------------ Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan. -------------- Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an ------------------ Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik. ------------------- Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As. Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat. ------------ Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi) -------------- Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh. Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: ----------- Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.--- Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.------- Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.----------- Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. ------- Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah: Firman Allah SWT:---------- Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu. ------------- Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap. --------------- Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat. Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda. ---------------- Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an --------------- Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:------ Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?--------- Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an. Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah. Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam. -------------- Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.----------- Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.--------- Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.------ Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).------ ==========================

sejarah turunnya Al Qur’an .... petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat
------------------

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.

---------
Bagian-bagian Al-Qur’an

------------
Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-‘Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr.
Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat.

--------------------
Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an).
Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).---------
Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.---------
Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.-------
--------------
Sejarah Turunnya Al-Qur’an
-----------
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. ----
2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.---
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.----
Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin.
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.----
Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.
------------
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat.
Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
--------
Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah
------------
Makkiyah Madaniyyah ------------
Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang,
Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).-----
Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.-----
Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-‘Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun.
-------
Kodifikasi Al-Qur’an
------------
Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.
------------
Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
--------------
Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an
------------------
Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
-------------------
Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As.
Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.
------------
Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi)
--------------
Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.
Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah: -----------
Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.---
Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.-------
Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.-----------
Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. -------
Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah:
Firman Allah SWT:----------

Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.
-------------
Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap.
---------------
Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat.
Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.
----------------
Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an
---------------
Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:------
Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?---------
Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.
Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam.
--------------
Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.-----------
Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.---------
Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.------
Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).------

=================================

Ketika Al-Quran turun kepada Nabi SAW, beliau menyampaikan kepada para sahabatnya secara perlahan-lahan agar mereka menghafalnya lafaznya, dan mampu memahami maknanya. Nabi Muhammad SAW, sangat perhatian dalam menghafal (memelihara) Al-Qur’an dan dalam memperolehnya. Al-Qur’an sepenuhnya hanya bisa diapresiasi dalam bahasa Arab. Al-Qur’an adalah dokumen keagamaan yang mengandung pernyataan awal tentang kepercayaan dan praktek kaum Muslim yang mendasar, namun bukan doktrin yang dijelaskan secara utuh dan sistematis. Al-Qur’an adalah sebuah dokumen hukum suci yang terdiri dari peraturan-peraturan tentang perkawinan, perceraian, makanan, finansial, harta rampasan, pembalasan (Qishash), perjanjian, wasiat, warisan, dan sebagainya, meskipun tampaknya ia mengandung inkonsistensi dan kode hukum yang diberikan, dilakukan secara tidak lengkap dan sistematis. Peraturan-peraturan individu sepertinya dinyatakan dari waktu ke waktu dengan kebutuhan yang ada, dan men-naskh beberapa peraturan yang mendahuluinya.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus sebagaimana kitab-kitab yang kita ketahui, akan tetapi sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur, sebab ada suatu hikmah atau rahasia yang terkandung di dalamnya. Wahyu itu diturunkan pada setiap ada peristiwa atau kejadian, supaya mereka kaum muslimin bertetap hati, tidak merasa jenuh dan Nabi sering dikunjungi oleh malaikat Jibril untuk dibangun kegembiraan dan kesenangan hati. Dengan demikian Nabi selalu merasa gembira karenanya. Untuk orang-orang yang ummi akan lebih mudah cara menghafalnya dan memahami. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan Malaikat Jibril adalah secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Kadang-kadang turun hanya terdiri dari beberapa ayat saja, dan kadang-kadang terdiri dari beberapa ayat, lima sampai sepuluh ayat bahkan ada yang hanya satu ayat. Tetapi ada pula yang sekali turun terdiri dari satu surat lengkap yaitu terdiri dari beberapa surat yang pendek, seperti Surat Al-fatihah, Surat Al-Ikhlas, Al-Alaq, dan sebagainya.
Oleh karena itu, tidaklah aneh kalau Al-Qur’an itu, sebagaimana apa yang telah kita dengar, telah dihafal oleh sejumlah besar para sahabat. Karena salah satu hikmah Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut hemat penulis adalah agar lebih mudah dihafal ataupun dipahami oleh umat Rasulullah SAW dikemudian hari.
B. Pembahasan
1. Ayat yang Pertama Turun
Agama Islam adalah agama yang dianut oleh ratusan juta bahkan miliaran kaum muslim seluruh dunia, dan merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat, karena agama Islam mempunyai satu sendi utama yang esensial berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya; yaitu kalamulah.
Al-Qur’an pertama kali turun pada malam Lailatul Qadr di sebuah gua Hira dengan ayat yang pertama dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5, ini didasarkan pada firman Allah SWT, pada Surat Al-Qadr, dan ayat yang terakhir turun adalah ayat mengenai riba. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau di waktu Nabi Muhammad SAW telah di angkat menjadi Nabi Muhammad SAW. Sampai saat ini, tanggal tersebut diperingati oleh umat Islam Indonesia setiap tahun sebagai malam peringatan Nuzulul Qur’an. Sebenarnya para ulama mengenai hal ini tidak sependapat. Ada tiga pendapat, mengenai ayat atau surat pertama sekali turun, yaitu ada yang mengatakan Surat Al-Fatihah, Surat Al-Mudatstsir, dan pendapat yang terkuat adalah Surat Al-‘Alaq. Semua pendapat ini masing-masing mempunyai alasan.
Pendapat yang lain mengatakan, bahwa ayat yang pertama diturunkan adalah Surat Al-Mudatstsir berhujjah dengan hadits riwayat Asy-Syaikhani, yang diterima dari Abi Salamah bin Abdurrahman. Dia berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah “Ayat apa yang turun sebelum segalanya? Jabir berkata, saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah: “Ya Ayyuhal Mudatstsir.” Kemudian aku berkata, atau “Iqra’ Bismi Rabbika”? jabir berkata: “Saya ceritakan kepadamu apa yang diceritakan oleh Rasulullah kepada kami.” Rasulullah berkata “ Aku mengasingkan diri di gua Hira, setelah aku pun turun ke lembah, kemudian aku dipanggil oleh seorang, maka aku menoleh ke depan, ke belakang, ke kanan, dan ke kiri (tapi tiada siapa-siapa). Selanjutnya aku melihat ke atas, ternyata ada Jibril, kemudian aku menggigil, aku lalu datang kepada Khadijah. Aku menyuruh orang-orang menyelimutiku. Maka Allah SWT menurunkan ayat “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” Demikian pula pendapat-pendapat yang lain, masing-masing didukung oleh hadits. Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat bahwa ayat pertama turun ialah Surat Al-‘Alaq 1-5 berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari, yang diterima dari Aisyah ra, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Tentang ayat pertama turun Imam Al-Bukhari meriwayatkan dua hadits yang berbeda. Salah satunya mengatakan bahwa ayat pertama turun adalah lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq (seperti teks di atas). Hadits riwayat Imam Al-Bukhari yang bersumber dari Aisyah ra ini menyatakan sahih oleh dua tokoh hadits yang lain. Yaitu oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya dan oleh Al-Baihaqiy dalam Dalil-nya. Kemudian Al-Thabraniy dalam kitabnya Al-Kabir dengan sanad-nya sendiri- yang bersumber dari Abi Raja Al-Aththardiy menyatakan:”Abu Musa mengajarkan kami mengaji. Beliau menyuruh kami duduk ber-halaqah. Beliau mengenakan dua baju putih. Jika beliau membaca surat Al-Alaq, Beliau menyatakan: “Ini adalah surat pertama yang turun kepada Muhammad SAW.
Imam Al-Bukhari juga memang meriwayatkan dua hadits yang seakan-akan berbeda mengenai satu masalah. Yakni ayat yang pertama turun. Mari kita simak riwayat Imam Al-Bukhari, dan Imam Muslim dari Abu Salamah bin Abdal Rahman bin ‘Auf yang mengatakan “Aku pernah menanya Jabir bin Abdullah: (ayat) Al-Qur’an manakah turun terlebih dahulu?” Ia menjawab: “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” Lalu kukatakan “Ataukah “Iqra’ Bismi Rabbika?” Ia (Jabir) lalu mengatakan: “Akan kuceritakan kepadamu, apa yang diceritakan Rasulullah.” Rasulullah pernah bersabda:”Sesungguhnya aku pernah di gua Hira. Seusai aku menyendiri di sana, aku keluar. Aku menuruni lembah. Kemudian aku dipanggil. Aku melihat ke depan dan ke belakangku, ke kanan dan ke kiriku. Kemudian aku menatap ke langit. Tiba-tiba dia (maksudnya Jibril) tengah duduk di atas Arsy antara langit dan bumi. Aku gemetar. Maka kudatangi Khadijah dan dia menyelimutiku. Kemudian Allah SWT menurunkan: “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir.” (Wahai orang yang tengah berselimut. Bangunlah, maka berilah peringatan).
Sedikitnya ada dua hal yang perlu diperhatikan menurut penulis menyangkut hadits di atas. Pertama, kalimat Abu Salamah yang berbunyi:” Ataukah Iqra’ Bismi Rabbika?” ini artinya, Abu Salamah tidak serta merta menerima keterangan Jabir yang mengatakan bahwa ayat yang pertama turun adalah “Ya Ayyuhal Mudatstsir qum fa anzir” itu. Dan, kalimat Abu Salamah yang berbentuk pertanyaan (Ataukah Iqra’ Bismi Rabbika?) itu sesungguhnya bantahan secara halus terhadap keterangan Jabir. Tetapi oleh karena dalam masalah ini status Abu Salamah sebagai orang yang bertanya (katakanlah murid), tentu ia harus bersikap sopan, tidak membantah ulang keterangan Jabir bin Abdullah; kedua, kecuali hadits di atas, Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan yang lain dari Abu Salamah dan dari Jabir. Intinya berbunyi “Ketika aku (maksudnya Rasulullah SAW) tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suatu jenis suara dari langit. Aku lalu mengarahkan pandangan ke arah langit. Rupanya malaikat yang telah mendatangiku di gua Hira tengah duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku takut, sampai-sampai aku terperosok ke tanah. Aku kemudian mendatangi keluargaku dan kukatakan “Selimuti aku, selimuti aku”. Lalu Allah SWT menurunkan ayat: “Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan!, Dan Tuhanmu agungkanlah!, Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (QS. Al-Muddatstsir:1-5)
Adanya pengakuan Rasulullah yang berbunyi: “Rupanya malaikat yang tengah mendatangiku di Hira…” menunjukkan bahwa sebelum peristiwa turunnya Surat Al-Muddatstsir, Rasulullah telah bertemu Jibril di Hira. Dengan dasar dua alasan tadi, kebanyakan ulama mengatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang pertama sekali turun adalah ayat 1-5 Surat Al-Alaq. Sementara itu, Surat Al-Muddatstsir mereka nyatakan diturunkan, bukan yang pertama kali turun.
Menurut penulis, mungkin saja timbul pertanyaan: Apakah kegunaan kita mengetahui ayat lebih dahulu turun dibandingkan dengan ayat lainnya? Pertanyaan seperti ini memang bisa saja timbul terutama dari orang yang awam terhadap hakikat Al-Qur’an.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya dikutip apa yang tulis oleh Syekh Muhammad Abd Al-‘Azhim Al-Zarganiy. Penulis kitab Manahil Al-‘Irfan ini, melihat sedikitnya ada tiga faedah yang dapat dipetik dari mengetahui hal seperti ini, yaitu:
1. “Untuk membedakan ayat mana yang nasikh dan mana mansukh. Jika ditemui atau beberapa ayat yang berbeda mengenai satu masalah, maka dengan mengetahui ayat yang mana turun lebih dahulu dan belakangan, dapat diketahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh.
2. Untuk mengetahui Tarikh Tasyri’. Artinya, perjalanan sejarah penetapan hukum Islam dapat ditangkap secara lebih jelas dengan mengetahui hal ini.
3. Untuk dapat mengikuti secara pasti perjalanan turunnya Al-Qur’an yang berangsur-angsur. Dengan demikian bisa ditangkap taktik strategi dakwah Islam di dalam mengajak orang kepada jalan Allah SWT.”
2. Surat yang Terakhir Turun
Ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(QS. Al-Baqarah: 281)
Para ulama tidak sepakat mengenai ayat terakhir turun. Selain dari pendapat di atas, terdapat pula pendapat lain yaitu di antara mereka yang mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, An-Nisa’ ayat 176, At-Taubah ayat 128-129, dan yang paling populer adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah pendapat di atas, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 281. Masing-masing pendapat ini mempunyai alasan, tetapi alasan itu kurang kuat jika dibandingkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa yang terakhir turun tersebut Surat Al-Baqarah ayat 281. Tapi menurut Salman Harun bahwa ayat terakhir yang turun adalah ayat ke lima dari Surat Al-Maidah. Isinya adalah pesan bahwa ajaran Tuhan tentang manusia dan kemanusiaan telah sempurna diberikan lewat Al-Qur’an. Sesuai dengan makna Al-Maidah yaitu “ hidangan”, maka untuk mencapai kesempurnaan manusia dan kemanusiaan tersebut, perlu ada sesuatu yang dihidangkan yaitu pendidikan dan pengajaran. Mayoritas ulama berpendapat bahwa terakhirnya turunnya Al-Qur’an ialah hari Jumat, 9 Dzulhijah tahun 10 H atau tahun 63 kelahiran Nabi Muhammad SAW atau sama dengan bulan Maret 632 M, pada saat itu nabi sedang berwukuf di Padang Arafah dalam menyelenggarakan haji yang dikenal dengan haji Wada’. Sa’id bin Al-Khudri, sebagaimana dikutip oleh As-Syayuti, mengatakan, ayat ini turun kepada Nabi Muhammad SAW sembilan hari menjelang beliau wafat.
Menurut pendapat yang lain masalah ayat yang paling akhir turun, tak satu pun yang marfu’ kepada Nabi Muhammad SAW. Riwayat-riwayat yang semuanya bersumber dari sahabat dan tabi’in. Itulah sebabnya mengapa di dalam menunjuk ayat yang paling akhir turun, terjadi kesimpangsiuran dan persilangan pendapat. Dan, riwayat-riwayat yang hanya sekali tidak selamanya menunjukkan turunnya ayat. Tidak jarang di antaranya yang menunjuk pada surat. Bersama ini kita uraikan beberapa riwayat di antaranya:
a. Riwayat pertama yang paling akhir turun adalah firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(QS. Al-Baqarah: 281)

Dalil yang dipegang adalah:
1) Riwayat yang dikeluarkan oleh Nasa’i dari ‘Ikhrimah, dari Ibnu Abbas.
2) Riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id Jubair.
3) Riwayat Ibnu Jari, dari Ibnu Jurai.
4) Riwayat Al-Baihaqiy, dari Ibnu Abbas.
b. Riwayat kedua ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah:278)
Riwayat yang sama, juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqy.
c. Riwayat ketiga ayat yang terakhir adalah Surat Al-Baqarah ayat 282, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua orang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS.Baqarah:282)
Riwayat ini merujuk pada:
1) Riwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Sa’id bin Al-Musayyab.
2) Riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Ubaid, dari Ibnu Syihab.
Mengomentari ketiga riwayat di atas, Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy dan Dr. Muhammad Yusuf Al-Qasim dalam masalah ini sepakat dengan Imam Al-Syayuthi mengatakan: “Ketiga riwayat ini mungkin sekali dikompromikan”. Jelas, kata kedua guru besar Ilmu Al-Qur’an dari Universitas Al-Azhar ini, bahwa ketiga ayat yang ditunjuk oleh ketiga riwayat di atas diturunkan sekaligus karena letaknya yang boleh dikatakan berurutan dan kisahnya masih satu rangkaian.
d. Riwayat keempat ayat yang terakhir turun adalah Surat Maidah ayat 3, “…pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…”( QS. Al-Maidah:3)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini turun 81 hari sebelum Rasulullah SAW wafat. Jadi, inilah pendapat yang kuat dibandingkan dengan pendapat yang populer di kalangan umat Islam, bahwa ayat yang terakhir adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Ayat ini turun di Padang Arafah ketika Rasulullah menunaikan haji terakhir, dan dia masih hidup beberapa bulan lagi setelah itu. Setelah Surat Al-Baqarah ayat 281, turun 9 hari atau 81 hari menjelang Rasulullah SAW wafat.
Syekh Muhammad Al-Khudhari dalam kitabnya, Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami, dan Syekh Abdu Al-Aziz Al-Khuli dalam kitabnya Al-Qur’an Wasfhuhu, Hidayatuhu, ‘Atsaru I’jazihi termasuk memegang ayat 3, surat Al-Maidah ini sebagai ayat yang diturunkan paling akhir yang diturunkan pada haji Wada’, dan setelah ayat diturunkan 81 hari sebelum Rasulullah SAW 81 hari.
Imam Al-Syayuthi menolak ayat 3 Surat Al-Maidah sebagai ayat yang paling akhir turun dengan alasan, bahwa; pertama, yang dimaksud dengan “menyempurnakan agama” adalah menyempurnakan kekuasaannya, meninggikan kalimatnya, dan memperkuat wibawanya; kedua, yang dimaksud dengan “menyempurnakan agama” adalah menyempurnakan hukum-hukum halal dan haram. Dengan kata lain, tidak berarti setelah itu turun lagi ayat-ayat mengenai peringatan dan nasihat.
Tetapi menurut Imam Al-Zarkasyi punya pilihan lain. Penulis kitab Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an ini menulis “Al-Qadhi Abu bakar mengatakan dalam kitab Al-Intishar ”Tak satu pun dari ucapan-ucapan ini yang marfu’ kepada Rasulullah SAW. Boleh jadi, perawinya mengatakannya sebagai suatu jenis ijtihad dan kecenderungan dugaan. Mengetahui yang demikian bukan termasuk kewajiban agama, ada kemungkinan, masing-masing mereka menginformasikan ayat yang terakhir yang didengarnya dari Rasulullah SAW pada hari wafatnya atau beberapa saat sebelum beliau sakit”.
3. Masa Turun Al-Qur’an
Rentang selama turunnya Al-Qur’an, salah satu faktor kuat yang menyebabkan keterjagaan hafalan Nabi Muhammad SAW, dan tetapnya dalam hati Nabi yang mulia adalah penyampaian Al-Qur’an yang dilakukan oleh Jibril kepada nabi Muhammad SAW, pada bulan Ramadhan di setiap tahun. Bahkan, pada tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW, Jibril menyampaikan bacaan Al-Qur’an dua kali, sehingga dapat memahaminya pada waktu menjelang akhir kehidupannya.
Penyampaian Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW seiring dengan periode dakwah Nabi SAW, yang meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. Yang pertama berlangsung lebih kurang 13 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Dan yang terakhir berlangsung lebih kurang selama 10 tahun, setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah. Ayat atau surat Al-Qur’an yang diturunkan pada periode pertama disebut dengan ayat atau surat Al-Makkiyah dan pada periode kedua disebut dengan Al-Madaniyah.
Tentang rentang waktu di mana Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an, Abdal Wahhab Abdal Masjid Ghazlan dalam Mabahitsfi ‘Ulum Al-Qur’an-nya menurunkan tiga pendapat, yaitu; pertama, bahwa Al-Qur’an diturunkan berturut-turut selama dua puluh tahun; kedua, bahwa Al-Qur’an diturunkan selama dua puluh tiga tahun; ketiga, Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an selama dua puluh lima tahun.
Ketiga pendapat Al-Ghazlan di atas, tak satu pun yang menunjukkan secara cermat mengenai masa di mana Rasulullah SAW menerima Al-Qur’an. Agaknya mereka memilih menggenapkan bilangan masa itu ketimbang merincinya. Seperti diketahui, bahwa pengangkatan Muhammad bin Abdullah yang lahir tanggal 12 Rabi’ul-Awwal menjadi nabi dan rasul pada saat usia beliau mencapai usia 40 tahun. Sedangkan pertama kali beliau menerima wahyu pada tanggal 12 Rabi’ul-Awwal saat beliau bermimpi (ru’ya shadiqah). Enam bulan kemudian, pada bulan yang sama juga, yakni pada bulan Ramadhan, beliau menerima ayat Al-Qur’an yang pertama turun. Sedangkan Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun. Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan, bahwa Rasulullah SAW menerima wahyu Al-Qur’an selama 22 tahun 6 bulan.
Semua ayat Al-Qur’an diperoleh Nabi Muhammad melalui wahyu. Hal ini tidak dapat disamakan dengan proses ilham. Karena ilham datang lantaran suatu usaha, sedangkan wahyu datang dengan sendirinya. Wahyu datang dalam dua bentuk, yaitu bentuk pertama lewat malaikat Jibril yang bertugas menyampaikannya dan cara seperti inilah yang sering terjadi. Bentuk yang kedua adalah penyampaian secara langsung dari Allah SWT ke dalam kesadaran Nabi, bentuk terakhir ini sangat berat bagi beliau sehingga sampai bercucuran keringat walau itu terjadi di musim dingin.
Wahyu turun kapan saja dan tidak atas kemauan Nabi Muhammad. Adakalanya saat beliau sudah berangkat tidur lalu beliau duduk dan senyum ( misalnya QS.108 ), atau sedang lelap dini hari ( misalnya QS.9:118 ), sedang menetap ( misalnya QS.2:125 ), bepergian ( antara lain QS.4:176 ), sedang berperang ( seperti QS.63 ), melaksanakan Isra’ ( yaitu QS.43:45 ), melaksanakan Mi’raj ( seperti QS.2:284 sampai akhir ), waktu musim dingin ( ayat mengenai fitnah terhadap Aisyah; QS.24:11 ), musim panas ( QS.9:81), serta keadaan lainnya.
Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan berbagai peristiwa, baik bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah SAW. Beberapa sumber riwayat memperkirakan masa turunnya wahyu seluruhnya 20 tahun, tetapi ada juga memperkirakan kurang lebih 25 tahun, perkiraan ini didasarkan pada masa mukimnya Rasulullah SAW di Mekkah setelah bi’tsah yaitu antara 10 dan 15 tahun.
4. Dalil dan Bukti Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsur
Al-Qur’an itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap. Pertama, penyampaian Al-Qur’an dari Allah SAW kepada Lawh Al-Mahfuzh. Maksudnya, sebelum Al-Qur’an disampaikan kepada Rasulullah SAW sebagai utusan Allah SWT terhadap manusia, ia terlebih dahulu disampaikan kepada Lawh Al-Mahfuzh, yaitu suatu lembaran yang terpelihara di mana Al-Qur’an pertama kalinya ditulis pada lembaran tersebut. Allah SWT menjelaskan, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuz.“(QS. Al-Buruuj:21-22)
Tidak ada manusia yang tahu bagaimana cara penyampaian Al-Qur’an dari Allah SWT ke Lawh Al-Mahfuzh. Dan manusia tidak wajib mengetahuinya, tetapi wajib mempercayainya karena yang dikatakan Allah SWT.
Tahap kedua adalah turunnya ke langit pertama dengan sekaligus. Di langit pertama itu, ia disimpan pada Bayt Al-‘Izzah. Penurunan tahap kedua ini bertepatan dengan malam Qadar, seperti dalam Surat Al-Qadr (97) ayat 1, Ad-Dukhan (44) ayat 3, dan Al-Baqarah ayat 185. Ibnu Abbas mengatakan, sebagaimana yang dikutip oleh Az-Zarqani: “Al-Qur’an diturunkan, secara sekaligus, ke langit dunia pada malam Qadr. Setelah itu, ia diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 20 tahun.”
Para Mufassirin mengkaji hikmah penurunan Al-Qur’an ke langit pertama. Fakhruddin Ar-Razi, misalnya mengatakan bahwa hikmah diturunkan Al-Qur’an ke langit dunia adalah untuk kemaslahatan, yaitu agar ia tidak jauh, baik dari Rasulullah SAW maupun dari malaikat, terutama malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat Ar-Razi ini dikomentari oleh Al-Hijazi. Dia mengatakan hal ini merupakan rahasia Allah SWT. Masalah tersebut lebih tinggi dari itu semua, di mata manusia sulit mengetahuinya.
Tahap ketiga adalah turunnya Al-Qur’an dari Bayt Al-‘Izzah secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, atau 23 tahun. Jibril menyampaikan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW, sehingga setiap kali wahyu ini disampaikan beliau langsung menghafalnya. Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 97 menyebutkan hal tersebut, yaitu: “Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Baqarah: 97)

Klasifikasi tahap penurunan Al-Qur’an di atas, didasarkan penyampaian Al-Qur’an dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Apabila klasifikasi tersebut didasarkan atas periode penyampaian dakwah Islam dan penanaman serta pertumbuhan ajaran Islam, maka penurunan Al-Qur’an dapat diklasifikasikan pula kepada periode Mekkah dan Madinah. Periode Mekkah lebih kurang 13 tahun dan periode Madinah kurang lebih 10 tahun. Dalam kajian Ulumul Al-Qur’an, hal ini disebut dengan ilmu Al-Makkiyah Wa Al-Madaniyah. Jumlah surat yang diturunkan pada periode Mekkah lebih banyak dari jumlah surat yang diturunkan pada periode Madinah. Surat yang diturunkan pada periode Mekkah adalah berjumlah 86 surat, sedangkan periode Madinah berjumlah 28 surat. Perbedaan antara kedua periode ini ditandai dengan perjalanan dakwah Islam oleh Rasulullah SAW, yaitu yang terdiri dari sebelum hijrah yang disebut periode Mekkah, dan setelah hijrah yang disebut periode Madinah.
Seperti yang telah digambarkan di atas, bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Hal ini mendapat ejekan dan kritik dari kaum kafir. Mereka mempertanyakan kenapa Al-Qur’an tidak diturunkan dengan sekaligus. Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an diturunkan dengan sekaligus. Maka Al-Qur’an menjawab kritikan dan protes kaum kafir itu. Allah menjawab dengan beberapa berfirman-Nya: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).”(QS.Al-Furqan:32). “Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.”(QS.Al-Isra’:106)

5. Hikmah Al-Qur’an Diturunkan Berangsur-Angsur
Paling tidak ada empat hikmah kenapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, yaitu:
a. Menetapkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad SAW, seperti digambarkan dalam ayat di atas. Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka berarti Nabi Muhammad SAW akan selalu berjumpa dengan Jibril dan menerima Al-Qur’an. Hal ini secara psikologis akan berpengaruh kepada Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah ilahi, dia akan menjadi tegar dan kuat. Berbeda dengan turunnya sekaligus, berjumpa dan mendapatkan seluruh ayat kemudian tidak muncul lagi.
b. Berangsur-angsur dalam mendidik umat, yang sedang tumbuh ini, untuk menanamkan ilmu dan amal. Hal ini dapat memberikan kemudahan kepada para sahabat untuk memahami dan menghafalkannya. Betapa sulitnya memahami dan menghafal ayat-ayat yang begitu banyak jika ia diturunkan sekaligus. Dan bahkan lebih sulit lagi mengamalkannya, karena perintah dan larangan yang begitu banyak muncul secara bersamaan. Maka untuk itulah Allah SAW menurunkan ayat-ayat tersebut dengan berangsur-angsur.
c. Menyesuaikan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan perlunya penyesuaian penurunan ayat dengan peristiwa yang sedang terjadi, yaitu; pertama, akan menimbulkan kesan yang mendalam sehingga umat Islam benar-benar merasakan betapa butuhnya mereka dengan Al-Qur’an; kedua, berguna menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat secara langsung dengan yang diturunkan ketika itu juga atau menunggu beberapa lama, hal ini selain menimbulkan kesan yang mendalam bagi penanya, dan juga dapat menambah keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an benar-benar datang dari Allah SWT, sehingga Nabi Muhammad SAW harus menunggu turunnya ayat yang berkenaan dengan itu.
d. Memberikan isyarat yang nyata kepada musuh-musuh Islam, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang datang dari Allah SWT bukan perkataan Nabi Muhammad SAW. Jika ia kalam Nabi Muhammad SAW, maka dia dapat mengungkapkannya kapan dan di mana saja, tidak perlu menunggu.

C. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan yakni:
1. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan tahun pertama kenabian atau di waktu Nabi Muhammad SAW telah di angkat menjadi Nabi Muhammad SAW, dan peringati sebagai Nuzulul Qur’an. Sebenarnya para ulama mengenai hal ini tidak sependapat. Ada tiga pendapat, mengenai ayat atau surat pertama sekali turun, yaitu ada yang mengatakan Surat Al-Fatihah, Surat Al-Mudatstsir, dan jumhur ulama berpendapat bahwa ayat pertama turun ialah Surat Al-‘Alaq 1-5.
2. Para ulama tidak sepakat mengenai ayat terakhir turun. Terdapat banyak pendapat mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surat Al-Baqarah ayat 278, An-Nisa’ ayat 176, At-Taubah ayat 128-129, dan yang paling populer adalah Surat Al-Maidah ayat 3. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah Surat Al-Baqarah ayat 281.
3. Penyampaian Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW seiring dengan periode dakwah Nabi SAW, yang meliputi periode Mekkah dan periode Madinah. Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan berbagai peristiwa, baik bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah SAW.
4. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dengan sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur. Hal ini dibuktikan dengan jumlah 86 surat yang diturunkan pada periode Mekkah lebih banyak dari jumlah 28 surat yang diturunkan pada periode Madinah. Perbedaan antara kedua periode ini ditandai dengan perjalanan dakwah islam oleh Rasulullah SAW, yaitu yang terdiri dari sebelum hijrah yang disebut periode Mekkah, dan setelah hijrah yang disebut periode Madinah. Dalilnya dapat dilihat pada Surat Al-Furqan ayat 32 dan Surat Al-Isra’ ayat 106.
5. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an berangsur-angsur, yaitu:
a. Menetapkan atau menguatkan hati Nabi Muhammad SAW.
b. Berangsur-angsur dalam mendidik umat, yang sedang tumbuh ini, untuk menanamkan ilmu dan amal.
c. Menyesuaikan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa itu.
d. Memberikan isyarat yang nyata kepada musuh-musuh Islam, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang datang dari Allah SWT bukan perkataan Nabi Muhammad SAW.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (1996), Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Depag RI.
Abu Syuhbah, Muhammad bin Muhammad, (2003), Al-Madkhal Li Dirasah Al-Qur’an Karim, Terj. Taufiqurrahman, Bandung: Pustaka setia.
Al-Kumiy, Ahmad Al-Sayyid, dan Yusuf Al-Qasim, Muhammad Ahmad, (1396H/1976M), ‘Ulum Al-Qur’an Cet. III, Mesir: Universitas Al-Azhar.
As-Shalih, Subuhi, (2001), Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.
As-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman, (1398H/1978), Al-Itqan ‘Ulum Al-Qur’an, Beirut: Darul Al-Ma’rifah.
Hijazi, Mahmud, (1970), Al-Wahdah Al-Mawdhu’iyyah fi Al-Qur’an Al-Karim, Kairo:Marba’ah Al-Madani.
Harun, Salman, (1999), Mutiara Al-Qur’an, Jakarta:Logos.
Marzuki, Kamaluddin, (1994), ‘Ulum Al-Qur’an, Bandung: Remaja Rosakarya.
M. Yusuf, Kadar, (2009), Studi Al-Qur’an, Jakarta: Hamzah.
Shihab, M. Quraish, (1996), Membumikan Al-Qur’an¸ Bandung: Mizan.
Wahid, Marzuki, (2005), Studi Al-Qur’an Kontemporer, Bandung: Pustaka Setia.
Zarkasiy, Al-Imam Badru Al-Din Muhammad Abdullah (1391H/1972M) Al-Burhan fi’Ulum Al-Qur’an, Tahqiq Muhammad Al-fadlal Ibrahim cet.I, Beirut:Darul Al-Ma’rifah.

 

silsilah 25 nabi dan rasul ... DAN BANGSA-BANGSA DUNIA --------------------------- 1. Nabi Adam Alaihissalaam Asal keturunan semua manusia. Isterinya bernama Hawa yang dicipta daripada tulang rusuk baginda. Mulanya tinggal di Syurga, kemudian Allah Ta'ala turunkan mereka ke Dunia. --------------------- 2. Nabi Idris Alaihissalaam Penduduk Babil Iraq, terima 30 suhuf untuk umatnya keturunan Qabil. Orang pertama pandai menulis, membaca, ilmu falak dan jahit menjahit. ----------------- 3. Nabi Nuh Alaihissalaam Allah utus baginda ke negeri Arminia. Allah Ta'ala telah menurunkan bala dengan banjir besar kepada kaumnya yang ingkar. Baginda digelar Najiyullah. --------------------- 4. Nabi Hud Alaihissalaam Berketurunan Sam bin Nuh. Diutuskan kepada kaum ‘Ad di utara Hadhra Maut, Yaman. Allah Ta'ala membinasakan kaumnya yang ingkar dengan angin kencang yang sangat sejuk 8 hari 7 malam. -------------------- 5. Nabi Soleh Alaihissalaam Berketurunan Sam bin Nuh daripada generasi ke 6. Diutuskan kepada kaum Thamut, di antara Hijaz dan Syam. Allah memusnahkan kaumnya yang ingkar dengan pekikan suara yang kuat dari langit. -------------------- 6. Nabi Ibrahim Alaihissalaam Juga berketurunan Sam bin Nuh. Dilahirkan di Musol, Iraq ketika pemerintahan raja Namrud. Di gelar dengan ‘Khalilullah’. Seorang yang bijak dan berfikir. ------------------- 7. Nabi Luth Alaihissalaam Anak saudara Nabi Ibrahim Alaihissalaam. Diutuskan kepada penduduk negeri Sadum (Laut Mati, Jordan). Allah Ta'ala menurunkan bala kepada penduduk yang derhaka dengan menurunkan hujan batu yang membinasakan mereka. ---------------- 8. Nabi Ismail Alaihissalaam. Putera nabi Ibrahim Alaihissalaam dengan Hajar. Baginda dan ibunya orang pertama yang mendiami Mekah. Baginda membantu bapanya membina ka’bah. Digelar sebagai ‘Zabhihullah’. ------------------ 9. Nabi Ishak Alaihissalaam Putera Nabi Ibrahim Alaihissalaam dengan Sarah. Daripadanya lahir berketurunan Bani Israel. Dimakamkan di Hibrun, Palestin. ---------------- 10. Nabi Ya’kub Alaihissalaam Putera Nabi Ishak Alaihissalaam. Juga dikenali dengan nama Israil (hamba Allah). Diutuskan kepada penduduk negeri Kan’an. Dikurniakan 12 orang anak lelaki, antaranya ialah Nabi Yusuf Alaihissalaam. Dimakamkan di Hibrun bersebelah bapanya. ------------------ 11. Nabi Yusuf Alaihissalaam Putera Nabi Ya’kub Alaihissalaam yang paling disayangi. Seorang yang sabar, tabah, pemaaf, penyayang, dan sangat menghormati orang tuanya. Keistimewaannya ialah sangat kacak, pandai mentadbir mimpi dan bijaksana. ------------------- 12. Nabi Ayub Alaihissalaam Keturunan nabi Ishak Alaihissalaam. Di kurniakan harta yang banyak dan anak yang ramai. Seorang yang bertaqwa dan suka membantu. Diuji dengan kemusnahan harta, kematian anak dan mengidap penyakit yang berat bertahun-tahun. Baginda sabar dan mempunyai iman yang teguh. ------------------ 13. Nabi Zulkifli Alaihissalaam Putera Nabi Ayub Alaihissalaam. Seorang nabi dan raja kepada penduduk di Dmsyik dan sekitarnya. Asal nama baginda ialah Bashar, dan maksud Zulkifli ialah bersanggupan kerana baginda banyak berpuasa di siang hari dan beribadat pada waktu malam. ------------------ 14. Nabi Syuib Alaihissalaam Berketurunan Nabi Luth Alaihissalaam. Diutuskan ke negeri Madyan, Jordan. Kaumnya mengamalkan sikap mengurangkan timbangan dan sukatan dalam jual beli. Allah binasakan mereka dengan gempa bumi dan petir yang sangat dasyat. ----------------------- 15. Nabi Musa Alaihissalaam Keturunan Nabi Ya’kub Alaihissalaam. Putera Imran, saudara Nabi Harun. Dipelihara oleh Asiah isteri Firaun. Firaun menentang dakwah Nabi Musa akibatnya mati lemas tenggelam dalam Laut Merah. ---------------- 16. Nabi Harun Alaihissalaam Saudara Nabi Musa Alaihissalaam. Seorang yang fasih berbicara merupakan teman dakwah Nabi Musa. --------------------- 17. Nabi Daud Alaihissalaam Berketurunan Nabi Ishak. Baginda memiliki suara yang merdu, dan boleh melembutkan besi dengan tangan. Seorang yang kuat beribadat, raja yang adil dan bijaksana. Telah membina kota BaitulMaqdis bersama-sama puteranya Nabi Sulaiman. ------------------- 18. Nabi Sulaiman Alaihissalaam Putera Nabi Daud. Seorang rasul dan raja yang bijaksana. Keistimewaan baginda ialah boleh memahami bahasa binatang, boleh memerintah angin dan jin. Berjaya mengislamkan ratu Balqis, kemudian berkahwin dengannya. ----------------- 19. Nabi Ilyas Alaihissalaam Keturunan Nabi Harun. Diutuskan kepada Bani Israel yang ketika itu menyembah berhala, Ba’l. Baginda berdakwah kepada mereka, tetapi gagal. Allah menurunkan bala dengan kemarau selama 3 tahun. -------------------- 20. Nabi Ilyasa’ Alaihissalaam Anak angkat Nabi Ilyas. Diutuskan kepada Bani Israel. Baginda berjaya didalam dakwahnya. Tetapi setelah baginda meninggal, Bani Israel kembali kufur. Allah menurunkan bala dengan melenyapkan segala kesenangan yang dinikmati. ---------------- 21. Nabi Yunus Alaihissalaam Diutuskan kepada kaum yang menyembah berhala di Ninawa, Iraq. Apabila mereka enggan menerima dakwahnya, baginda meninggalkan mereka dan menumpang sebuah kapal. Kapal tersebut mengalami masalah, dan baginda terpilih untuk dibuang ke dalam laut bagi mengatasi masalah kapal tersebut daripada karam. Baginda di telan ikan nun (paus). ---------------- 22. Nabi Zakaria Alaihissalaam Keturunan Nabi Sulaiman. Diutuskan kepada Bani Israel, Palestin. Baginda sentiasa berdoa supaya dikurniakan zuriat. Pada usianya 100 tahun dan isterinya mandul, baginda dikurniakan anak yang dinamakan Yahya (hidup). Baginda juga telah membesar Maryam, ibu Nabi Isa. ----------------- 23. Nabi Yahya Alaihissalaam Putera Nabi Zakaria. Dikurniakan kepada baginda ilmu yang luas sejak kecil. Seorang yang bertaqwa, berbudi bahasa, rajin, dan tidak sombong. Mati syahid dibunuh oleh raja yang kejam demi mempertahankan hukum Allah. -------------- 24. Nabi Isa Alaihissalaam Putera Maryam bt. Imran. Jibril telah meniupkan ruh suci ke dalam rahim ibunya. Baginda boleh bercakap ketika masih bayi. Diutuskan kepada Bani Israel, dan diberikan kitab Injil. Bani Israel yang ingkar dengan dakwahnya cuba untuk membunuh baginda, namun Allah mengangkatnya ke langit dan akan turun ke bumi untuk menegakkan kebenaran. ----------------- 25. Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam. Berketurunan Bani Ismail. Dilahirkan di kota Mekah. Di gelar ‘al-Amin’. Dilantik sebagai rasul ketika berusia 40 tahun. Merupakan nabi dan rasul yang terakhir. Baginda menerima ujian yang dasyat daripada kaum Musyrikin Mekah. Baginda wafat di kota Madinah. ------------ Lima Nabi / Rasul yang mendapat gelaran Ulul Azmi disebabkan oleh tentangan dan ujian yang diterima lebih hebat berbanding nabi-nabi lain dalam menyampaikan agama Allah ialah: 1. Nuh Alaihissalaam 2. Ibrahim Alaihissalaam 3. Musa Alaihissalaam 4. Isa Alaihissalaam 5. Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. ==========================

silsilah 25 nabi dan rasul ... DAN BANGSA-BANGSA DUNIA

---------------------------

1. Nabi Adam Alaihissalaam
Asal keturunan semua manusia. Isterinya bernama Hawa yang dicipta daripada tulang rusuk baginda. Mulanya tinggal di Syurga, kemudian Allah Ta'ala turunkan mereka ke Dunia.
---------------------

2. Nabi Idris Alaihissalaam
Penduduk Babil Iraq, terima 30 suhuf untuk umatnya keturunan Qabil. Orang pertama pandai menulis, membaca, ilmu falak dan jahit menjahit.

-----------------

3. Nabi Nuh Alaihissalaam
Allah utus baginda ke negeri Arminia. Allah Ta'ala telah menurunkan bala dengan banjir besar kepada kaumnya yang ingkar. Baginda digelar Najiyullah.

---------------------

sejarah singkat dan silsilah keturunan 25 nabi dan rasul

4. Nabi Hud Alaihissalaam
Berketurunan Sam bin Nuh. Diutuskan kepada kaum ‘Ad di utara Hadhra Maut, Yaman. Allah Ta'ala membinasakan kaumnya yang ingkar dengan angin kencang yang sangat sejuk 8 hari 7 malam.

--------------------

5. Nabi Soleh Alaihissalaam
Berketurunan Sam bin Nuh daripada generasi ke 6. Diutuskan kepada kaum Thamut, di antara Hijaz dan Syam. Allah memusnahkan kaumnya yang ingkar dengan pekikan suara yang kuat dari langit.

--------------------

6. Nabi Ibrahim Alaihissalaam
Juga berketurunan Sam bin Nuh. Dilahirkan di Musol, Iraq ketika pemerintahan raja Namrud. Di gelar dengan ‘Khalilullah’. Seorang yang bijak dan berfikir.

-------------------

7. Nabi Luth Alaihissalaam
Anak saudara Nabi Ibrahim Alaihissalaam. Diutuskan kepada penduduk negeri Sadum (Laut Mati, Jordan). Allah Ta'ala menurunkan bala kepada penduduk yang derhaka dengan menurunkan hujan batu yang membinasakan mereka.

----------------

8. Nabi Ismail Alaihissalaam.
Putera nabi Ibrahim Alaihissalaam dengan Hajar. Baginda dan ibunya orang pertama yang mendiami Mekah. Baginda membantu bapanya membina ka’bah. Digelar sebagai ‘Zabhihullah’.

------------------

9. Nabi Ishak Alaihissalaam
Putera Nabi Ibrahim Alaihissalaam dengan Sarah. Daripadanya lahir berketurunan Bani Israel. Dimakamkan di Hibrun, Palestin.

----------------

10. Nabi Ya’kub Alaihissalaam
Putera Nabi Ishak Alaihissalaam. Juga dikenali dengan nama Israil (hamba Allah). Diutuskan kepada penduduk negeri Kan’an. Dikurniakan 12 orang anak lelaki, antaranya ialah Nabi Yusuf Alaihissalaam. Dimakamkan di Hibrun bersebelah bapanya.

------------------

11. Nabi Yusuf Alaihissalaam
Putera Nabi Ya’kub Alaihissalaam yang paling disayangi. Seorang yang sabar, tabah, pemaaf, penyayang, dan sangat menghormati orang tuanya. Keistimewaannya ialah sangat kacak, pandai mentadbir mimpi dan bijaksana.

-------------------

12. Nabi Ayub Alaihissalaam
Keturunan nabi Ishak Alaihissalaam. Di kurniakan harta yang banyak dan anak yang ramai. Seorang yang bertaqwa dan suka membantu. Diuji dengan kemusnahan harta, kematian anak dan mengidap penyakit yang berat bertahun-tahun. Baginda sabar dan mempunyai iman yang teguh.

------------------

13. Nabi Zulkifli Alaihissalaam
Putera Nabi Ayub Alaihissalaam. Seorang nabi dan raja kepada penduduk di Dmsyik dan sekitarnya. Asal nama baginda ialah Bashar, dan maksud Zulkifli ialah bersanggupan kerana baginda banyak berpuasa di siang hari dan beribadat pada waktu malam.

------------------

14. Nabi Syuib Alaihissalaam
Berketurunan Nabi Luth Alaihissalaam. Diutuskan ke negeri Madyan, Jordan. Kaumnya mengamalkan sikap mengurangkan timbangan dan sukatan dalam jual beli. Allah binasakan mereka dengan gempa bumi dan petir yang sangat dasyat.

-----------------------

15. Nabi Musa Alaihissalaam
Keturunan Nabi Ya’kub Alaihissalaam. Putera Imran, saudara Nabi Harun. Dipelihara oleh Asiah isteri Firaun. Firaun menentang dakwah Nabi Musa akibatnya mati lemas tenggelam dalam Laut Merah.

----------------

16. Nabi Harun Alaihissalaam
Saudara Nabi Musa Alaihissalaam. Seorang yang fasih berbicara merupakan teman dakwah Nabi Musa.

---------------------

17. Nabi Daud Alaihissalaam
Berketurunan Nabi Ishak. Baginda memiliki suara yang merdu, dan boleh melembutkan besi dengan tangan. Seorang yang kuat beribadat, raja yang adil dan bijaksana. Telah membina kota BaitulMaqdis bersama-sama puteranya Nabi Sulaiman.

-------------------

18. Nabi Sulaiman Alaihissalaam
Putera Nabi Daud. Seorang rasul dan raja yang bijaksana. Keistimewaan baginda ialah boleh memahami bahasa binatang, boleh memerintah angin dan jin. Berjaya mengislamkan ratu Balqis, kemudian berkahwin dengannya.

-----------------

19. Nabi Ilyas Alaihissalaam
Keturunan Nabi Harun. Diutuskan kepada Bani Israel yang ketika itu menyembah berhala, Ba’l. Baginda berdakwah kepada mereka, tetapi gagal. Allah menurunkan bala dengan kemarau selama 3 tahun.

--------------------

20. Nabi Ilyasa’ Alaihissalaam
Anak angkat Nabi Ilyas. Diutuskan kepada Bani Israel. Baginda berjaya didalam dakwahnya. Tetapi setelah baginda meninggal, Bani Israel kembali kufur. Allah menurunkan bala dengan melenyapkan segala kesenangan yang dinikmati.

----------------

21. Nabi Yunus Alaihissalaam
Diutuskan kepada kaum yang menyembah berhala di Ninawa, Iraq. Apabila mereka enggan menerima dakwahnya, baginda meninggalkan mereka dan menumpang sebuah kapal. Kapal tersebut mengalami masalah, dan baginda terpilih untuk dibuang ke dalam laut bagi mengatasi masalah kapal tersebut daripada karam. Baginda di telan ikan nun (paus).

----------------

22. Nabi Zakaria Alaihissalaam
Keturunan Nabi Sulaiman. Diutuskan kepada Bani Israel, Palestin. Baginda sentiasa berdoa supaya dikurniakan zuriat. Pada usianya 100 tahun dan isterinya mandul, baginda dikurniakan anak yang dinamakan Yahya (hidup). Baginda juga telah membesar Maryam, ibu Nabi Isa.

-----------------

23. Nabi Yahya Alaihissalaam
Putera Nabi Zakaria. Dikurniakan kepada baginda ilmu yang luas sejak kecil. Seorang yang bertaqwa, berbudi bahasa, rajin, dan tidak sombong. Mati syahid dibunuh oleh raja yang kejam demi mempertahankan hukum Allah.

--------------

24. Nabi Isa Alaihissalaam
Putera Maryam bt. Imran. Jibril telah meniupkan ruh suci ke dalam rahim ibunya. Baginda boleh bercakap ketika masih bayi. Diutuskan kepada Bani Israel, dan diberikan kitab Injil. Bani Israel yang ingkar dengan dakwahnya cuba untuk membunuh baginda, namun Allah mengangkatnya ke langit dan akan turun ke bumi untuk menegakkan kebenaran.

-----------------

25. Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam.
Berketurunan Bani Ismail. Dilahirkan di kota Mekah. Di gelar ‘al-Amin’. Dilantik sebagai rasul ketika berusia 40 tahun. Merupakan nabi dan rasul yang terakhir. Baginda menerima ujian yang dasyat daripada kaum Musyrikin Mekah. Baginda wafat di kota Madinah.

------------

Lima Nabi / Rasul yang mendapat gelaran Ulul Azmi disebabkan oleh tentangan dan ujian yang diterima lebih hebat berbanding nabi-nabi lain dalam menyampaikan agama Allah ialah:
1. Nuh Alaihissalaam
2. Ibrahim Alaihissalaam
3. Musa Alaihissalaam
4. Isa Alaihissalaam
5. Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

===========================================

Silsilah Para Nabi, Rasul dan Bangsa-Bangsa di Dunia

 Sepakat seluruh anggota teologi, ahli sejarah dan ilmuwan lainnya, bahwa manusia pertama yang mengisi planet bumi ini adalah pasangan ayahbunda Adam dan Hawa. Namun, tidak ada catatan pasti kapan kedua bapak manusia tersebut mulai mendiami permukaan bumi kecuali hanya ada beberapa konfirmasi yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an, menceritakan awal penciptaan Adam, dari mana dia diciptakan. Kemudian diciptakan pula istrinya Hawa, bagaimana mereka berdua menjalani hidup di surga dan beradu kejeniusan dengan malaikat, sampai perseteruan mereka dengan Iblis, sampai akhirnya takdir Allah menentukan kedua bangsa ciptaan Allah tersebut diusir dari surga untuk menjadi musuh abadi di dunia.

Allah SWT berfirman:

وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة

 

Artinya : ” Ingatlah ketika Tuhanmu (Muhammad) berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi …. ” (QS: 02: 30)

 

Allah SWT di dalam Ilmu-Nya telah merencanakan penciptaan bapak manusia dan memposisikannya sebagai pemimpin segala makhluk di muka bumi (khalifa), keputusan tersebut diumumkan Allah kepada segenap malaikat, hanya saja pada awalnya para hamba Allah yang paling patuh itu, dengan otak malaikatnya menyangsikan kapability manusia sanggup mengemban tugas berat tersebut.

 

Maka Allah SWT meyakinkan kepada mereka, berfirman: ” Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketehui “, yaitu sambungan ayat tadi.

Proses Penciptaan Adam (manusia): Kemudian untuk kedua kalinya para Malaikat kembali dikagetkan dengan titah Allah kepada mereka, berfirman:

 

إذ قال ربك للملائكة إني خالق بشرا من طين, إذا سويته ونفخت فيه من روحي فقعوا له ساجدين

 

Artinya : ” (ingatlah Muhammad) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiaannya dan Kutiupkan kepadanya roh ciptaan-Ku, maka hendaklah kamu sujud memberi hormat kepadanya “.

Para malaikat kaget bukan karena perintah sujud kepada makhluk yang lebih rendah materi penciptaaya dari pada materi asal mereka yaitu cahaya, sedangkan makhluk baru ini hanya dari tanah kering yang tak ubahnya laksana  Tagine Maroko  atau tungku tanah liat yang dipakai memasak jaman dulu. Untuk malaikat pun diperintahkan Allah kepada mereka pasti dikerjakan …

 

 

Imperium Pertama di Permukaan Bumi di Mulai:

Setelah Allah SWT mempermaklumkan kepada malaikat kehendak-Nya menciptakan Adam untuk diposisikan menjadi khalifah di planet bumi, maka ketika Adam dan ibunda Hawa menginjakkan kaki dipermukaan bumi, imperium pertama bumipun mulai ditancapkan. Dan syariat Allah pun sudah harus ditegakkan, oleh karena itu Allah senantiasa memberikan bimbingan-Nya kepada Adam melalui wahyu-wahyu-Nya, seperti dalam firman Allah:

 

إن الله اصطفى آدم ونوحا وآل إبراهيم وآل عمران على العالمين

Artinya : ” Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keturunan Ibrahim dan keturunan Imran melebihi segala umat (di masanya masing-masing) ” (QS: 03: 33)

 

 

Keturunan Adam yang melestarikan kehidupan umat manusia hingga sekarang:

Khalifah Adam dan permaisurinya Hawa mulai menata kehidupan baru mereka di istana bumi, bertanggung jawab masing-masing mengusir iblis yang senantiasa ingin menggagalkan misi mereka, disamping itu mereka berdua juga dituntut untuk melestarikan keturunan umat manusia di muka bumi. Menurut beberapa riwayat bahwa Adam dan Hawa setiap kali melahirkan bayinya selalu kembar emas (Laki-laki dan perempuan), oleh karena itu fiqhi munakahat mereka mewajibkan kawin silang, putra pertama menikahi kembaran adiknya begitu pula sebaliknya dan seterusnya, sampai berkembang biak keturunan umat manusia pada fase-fase awal.

 

 

Waktu itu dikerajaan Adam belum ada pencatatan sipil dan memang belum dibutuhkan saat itu, sehingga tidak ditemukan arsip yang mencatat berapa anak yang di lahirkan Khalifah Adam dan permaisurinya. Al-Qur’an hanya mencatat tentang ritual pengorbanan yang dilakukan oleh dua putra Adam, yaitu Habil dan Qabil, karena bertikai ingin mengawini gadis kembaran masing-masing, waktu itu bertentangan dengan fiqhi mereka. Akhirnya Khalifah Adam menengahi dengan memerintahkan masing-masing munajat memohon petunjuk dengan mempersembahkan kurban kepada Allah. Kurban Habil diterima disisi Allah karena disertai dengan ketulusan hati dan niat yang baik, sedangkan kurban Qabil ditolak karena dipenuhi dendam dan dengki. Pada akhirnya terjadi kriminal terbesar pertama dimuka bumi, Qabil dengan dendamnya membunuh dan menumpahkan darah saudaranya sendiri dan menyesal sampai hari kiamat ….

 

 

Kisah-kisah Adam as selengkapnya di dalam al-Qur’an, baca:

(QS: 2: 30-38; 3: 33, 84; 6: 2; 7: 11-12, 19-34; 15: 28, 33 ; 19: 59; 20: 22, 115-122; 22: 5; 23: 12; 30: 20; 32: 7; 35: 11; 38: 71, 76; 40: 67 ).

 

Silsilah 25 Rasul, beberapa orang nabi dan tokoh-tokoh monumental lainnya:

Adapun putra mahkota satu-satunya yang diabadikan dalam sejarah, pewaris tahta Adam dan melanjutkan keturunan umat manusia sampai sekarang ini adalah Nabi SHETS, kemudian dari keturunan keempat Sheth yang bernama Yartid menurunkan nabi dan rasul Allah selanjutnya setelah Adam as, yaitu nabi  IDRIS as rasul ke -2 .

Lihat: (QS: 19: 56-57; 21: 85 ).

 

 

Nabi Idris dan pasangannya melahirkan Malulsakh, kemudian dari Malulsakh terlahir Lamik yang kemudian Lamik inilah menurunkan langsung seorang nabi dan rasul besar, yaitu  NUH as. rasul ke-3  setelah Adam dan Idris as. Baca: (QS: 3: 33; 4: 163; 6: 84; 7: 59-64; 10: 71-72; 11: 25-48; 14: 9; 17: 3; 19: 58; 21: 76 ; 22: 42; 23: 23-29; 25: 37; 26: 19, 105-120; 54: 9-14, 13; 29: 14-15; 37: 76-82; 38: 12; 40: 31 ; 42: 30; 50: 12; 54: 15-16; 57: 26; 71: 1-27; 79: 49 ).

 

 

Nuh dikenal juga sebagai bapak kedua manusia setelah Adam as, karena pada masanya terjadi Bah besar yang menghancurkan hampir semua umat manusia dan makhluk-makhluk lain, kecuali segelintir saja dari keluarga dan pengikut Nuh serta beberapa pasang jenis hewan, unggus dan lainnya, yang ikut dalam perahu penyelamat Nuh. Nuh diperkirakan hidup pada: 3900 – 2900 SM, umur panjang itu hampir semuanya, yaitu 950 tahun dipergunakan berda’wak ke jalan Allah ( Lihat : QS. 29: 14). Namun sedikit saja kaumnya yang menerima da’wahnya sehingga Allah memberikan siksaan kepada orang-orang kafir dengan Bah raksasa tersebut.

 

 

Nabi Nuh memiliki tiga putra yang terkenal, tapi hanya satu yang mewaris tahtanya dan melahirkan semua rasul setelahnya sampai kepada rasul dan nabi besar kita Muhammad SAW. Putra Mahkota tersebut adalah SAM BIN NUH. Adapun putra-putra Nuh dan pewarisnya yang menurunkan para rasul pembawa risalah, sebagi berikut:

HAM : Yang diyakini menurunkan bangsa-bangsa: Sudan, Sind, India, Qibti-Mesir dan lain-lain …

YAFETH : Dia diyakini menurunka bangsa-bangsa: Turki, China, Ya’juj & Ma’juj dan lain-lain ….

SAM : Terakhir ini sebagaimana telah disebutkan tadi sebagai pewaris ayahnya Nuh, menurunkan dua putra pelanjut, yang dari keduanya lahir para rasul, nabi dan bangsa-bangsa besar di masanya. Kedua putra SAM bin Nuh adalah:

 

 

PERTAMA: Iram;

yang disebutkan sifatnya di dalam al-Qur’an, Iram yang memiliki menara raksasa sebagaimana diceritakan Al-Qur’an, menurunkan dua bangsa yang sangat besar dan kuat, yang juga dua-duanya disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu Add dan Tsamud. Kedua putra Iram yang kelak menurunkan kedua bangsa raksasa itu adalah:

 

Aush , menurunan secara berturut-turut: Add – Khulud – Raya dan Abdullah, yang terkhir ini menurunkan langsung  rasul Allah yang ke-4, yaitu Huud as  (2500 – 2200 SM), yang akhirnya umatnya mendapat bencana karena tidak menuruti dakwah rasul Allah Huud as. Kemudian dari Huud cucu Add bin Aus bin Iram bin Sam, menurunkan  rasul Allah yang ke-7, yaitu LUTH as  (1861-1686 SM), yang satu waktu dengan nabi Ibrahim as dan juga Lukman al-Hakim yang kisah kebijakannya diabadikan di dalam Al -Qur’an. Namun, lagi-lagi umat Luth inipun mendapatkan bencana besar dari Allah karena mengingkari da’wah rasul-Nya Luth. Dan dari keturunan Luth dengan rentang waktu yang cukup panjang, menurunkan bangsa-bangsa non-Arab dari garis keturunan SAM, seperti: (Babilon, Achor, Kan’an dll …).

 

‘Ars , yang terakhir ini menurunkan langsung bangsa Tsamud. Dari keturunan kelima Tsamud bernama Abir menurunkan langsung  rasul Allah yang ke-5, yaitu SHALEH as (2000 – 1900 SM), yang akhirnya umatnya juga kena siksa Allah karena kafir. Maka dengan demikian keturunan Iram bin Sam bin Nuh sudah selesai riwayat kerasulannya sampai di sini.Yang penting dicatat, bahwa bangsa-bangsa dari keturunan Iram bin Sam bin Nuh ini adalah sarat dengan bencana karena kesombongan dan keangkuhan mereka.

 

 

KEDUA: Arfakhshad;

yang terakhir inilah yang kemudian menurunkan rasul-rasul Allah berikutnya sampai kepada rasul penutup nabi besar Muhammad SAW, dari anak Sam bin Nuh. Dari keturuna ketujuh Arfakhshad yang bernama Azar menurunkan langsung nabi dan rasul Allah yang paling legendaris, yaitu  IBRAHIM as (1861-1686 SM), rasul Allah yang ke-6 . Dan dari Keturunan Arfakhshad ini juga lahir pembangkan ketuhanan terbesar di dunia raja Namrud.

 

 

Ibrahim juga dikenal dengan Bapak para nabi dan rasul, karena dialah yang menurunkan rasul-rasul selanjutnya hingga sampai kepada nabi besar kita Muhammad SAW. Sebagaimana juga dia dikenal sebagai Bapak  monoteisme , yang percaya hanya ada satu Tuhan. Dan ajarannya ini yang diikuti oleh para rasul selanjutnya sampai sekarang, mulai dari Yahudi, Nasrani sampai kepada agama penutup yaitu Islam.

 

 

Kemudian Ibrahim menurunkan tiga orang putra, dua di antaranya menjadi rasul, yaitu  ISMAIL rasul ke-8  dan  ISHAQ rasul yang ke-9 , satu lagi putra Ibrahim bernama Madayan menurunkan  rasul yang ke-12, yaitu Syuaib as . Maka ini juga sebabnya nabi Ibrahim disebut sebagai Bapak para nabi dan rasul karena ketiga putranya masing-masing menurunkan rasul untuk bangsa yang berbeda-beda. Adapun putra-putra Ibrahim tersebut, penulis susun dari putra nomor dua, sebagai berikut:

 

 

ISHAQ as , rasul yang ke-9  untuk Bani Israil: Menurunkan dua putra kembar, satu di antaranya mewarisinya menjadi rasul sesudahnya langsung, yaitu  Ya’qub rasul ke-10 , dari kedua putra kembar Ishaq ini masing-masing menurunka nabi dan rasul-rasul Bani Israil, sebagai berikut:

 

 

Eish : Menurunkan secara turun-temurun, masing-masing: Rum, tarekh, Amose. Kemudian dari keturunan ketiga Amose ini menurunkan langsung rasul yang  ke-13, yaitu AYYUB as , kemudian Ayub menurunkan putranya yang kelak menjadi rasul yang  ke-14, yaitu ZULKIFLI as . Kedua bapak dan anak ini diutus Allah menjadi rasul untuk Bangsa Syam (Demaskus-Suria sekarang).

 

 

Ya’qub as : Dia disebut juga sebagai Bapak Bani Israil, menurunkan 12 orang putra satu di antaranya menjadi rasul langsung sesudahnya, yaitu  YUSUF sebagai rasul yang ke-11 .

 

 

Putra-putra Ya’qub lainnya yang akan disebutkan disini selain Yusuf pada hanya tiga saja yang masing-masing menurunkan rasul-rasul Bani Israil, penulis urut dari yang paling kecil, sebagai berikut:

Benyamin : Dia adalah saudara kandung Yusuf seibu dan sebapak, dia jugalah satu-satunya keturunan Ya’qub yang menurunkan rasul di luar dari bani Israil. Benyamin menurunkan Abumatta, kemudian Matta dan menurunkan  YUNUS as, rasul yang ke-21  untuk bangsa Ninui – Irak.

 

 

Lawi : Menurunka Kohath, kemudian Imran yang melahirkan dua putra masing-masing menjadi rasul yang  ke-15 dan 16, yaitu MUSA (1436 SM) dan HARUN . Selanjutnya dari Harun menurunkan izar, kemudian Fahnaz yang menurunkan dua putra masing-masing: Pertama, Yasin menurunkan  ILYAS as, rasul ke-19 , dan kedua, Ukhtub menurunkan ALIYASA as, rasul ke-20 .

 

 

Yahudza : Menurunkan Bares – Hasrun – Raum – Ummanizab – Yauksaun – Salmun – Yuar – Ufiz, Isya dan ‘Uwaid yang menurunkan rasul  ke-17, yaitu DAUD as , kemudian dari Daud lahir putranya  SULAIMAN as, rasul ke-18 . Lalu dari Sulaiman secara terpisah menurunkan  ZAKARIA sebagai rasul ke-22 , kemudian menurunkan secara langsung YAHYA as rasul ke-23 . Dari garis lain Sulaiman juga menurunkan: Hezekia – Heli yang menurunkan Imran, lalu menu menurunkan bunda Maryam selanjutnya menurunkan  ISA as, rasul ke-24 .

 

 

Madyan:  Putra Ibrahim yang menurunkan Bangsa yang membawa namanya sendiri yaitu Madyan, kemudian secara tidak langsung menurunkan Safyun yang menurunkan langsung nabi  Syuaib as (Abad ke-16 SM), rasul ke-12  untuk Bangsa Arab jauh.

 

 

Smail as : Adalah putra pertama nabi Ibrahim as dari Ibu Hajar, di dikenal juga dengan Bapak Bangsa Arab, dia diutus untuk Bangsa Jurhum (Yaman dan Arab lainnya). Dari keturunan ke-61 Ismail lahirlah penghulu para nabi dan rasul, yaitu rasul penutup nabi besar  MUHAMMAD SAW

MURJIAH... apa itu MURJI'AH .. siapa itu MURJI'AH ..... apa ciri MURJIAH ? -------------------------------- Murji’ah merupakan isim fa’il dari kata al-irja’ yang memiliki dua makna: Berarti : pengakhiran. Berarti : memberikan harapan. ------------------ Secara istilah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad, Murji’ah ialah: orang-orang yang menganggap: keimanan itu hanya sebatas pengucapan dengan lisan saja2, dan seluruh manusia tidak saling mengungguli dalam keimanan. Sehingga, keimanan mereka dengan keimanan para malaikat dan para nabi itu satu (sama dan setara). ---------- Keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang.---------- Tidak ada istitsna’ (ucapan insya Allah) dalam hal keimanan3.-------- Dan siapa saja yang beriman dengan lisannya namun belum beramal, maka ia seorang mukmin yang hakiki.4 ---------------------- Sedangkan Syekh Abdul Aziz Ar-Rojihi mengatakan, “Murji’ah ialah mereka yang mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan.”5 ------------------ Sebab Mereka Dinamakan Murji’ah ----------------- Mereka disebut Murji’ah dikarenakan mereka mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan. Mereka mengatakan bahwa kemaksiatan tidak memiliki pengaruh buruk pada keimanan )seseorang) sebagaimana ketaatannya tidak bermanfaat dalam kekufuran. Kemudian, dengan dasar ini mereka senantiasa memberikan harapan kepada pelaku maksiat berupa pahala dan ampunan Allah.6 ------------------ Ada juga yang mengatakan bahwa mereka disebut Murji’ah karena senantiasa memberikan harapan atas pahala dan ampunan kepada para pelaku maksiat. ---------------------- Perbedaan dasar antara murji’ah dan ahlus sunnah ------------------- Perbedaan yang paling mendasar antara Ahlus sunnah dan kelompok Murji’ah adalah pada masalah defenisi keimanan. Murji’ah mengatakan keimanan itu hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat disertai pembenaran dalam hati. Dan mereka tidak memasukkan amal perbuatan sebagai bagian dari keimanan. ------------------- Sedangkan Ahlus Sunnah mengatakan bahwa keimanan itu adalah: Pengucapan dengan lisan. Yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. -------- Meyakini dengan hati.--------------- Pengamalan dengan anggota badan.----------------- Dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, serta berkurang dengan bermaksiat.-------------- Kelompok-kelompok murji’ah ----------------- Para ulama yang menulis kitab-kitab firaq (sekte-sekte dalam Islam) berbeda-beda dalam mengklasifikasikan jenis-jenis Murji’ah. Berikut adalah pengklasifikasian Syaikhul islam ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap kelompok ini. ------------ Kelompok yang mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas apa yang ada dalam hati, berupa pengetahuan dan keyakinan. Diantara mereka ada yang memasukkan amalan hati ke dalam cakupan iman, dan ada juga yang tidak seperti Jahm bin Shofwan dan para pengikutnya. ---- Kelompok yang mengatakan bahwa iman itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Dan ini merupakan perkataan Karromiyyah.---- Kelompok yang mengatakan keimanan itu hanya pembenaran dengan hati dan ucapan (2 kalimat syahadat).7 Dan ini merupakan perkataan Murjiah fuqaha.8 -------------- Jenis yang ketiga ini merupakan yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, dan kelompok Murji’ah sering ditujukan untuk jenis yang ini. ------------------ Syaikh Abdul Aziz Ar-Rojihi juga mengklasifikasikan murji’ah menjadi 4 kelompok: Jahmiyyah. Mereka mengatakan keimanan itu adalah pengenalan terhadap Rabb dengan hati. Sedangkan kekufuran itu kejahilan terhadap Rabb dalam hati. Mereka adalah orang-orang ekstrim; dan ini merupakan defenisi yang paling rusak tentang iman.----- Karromiyah. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Jika seseorang telah mengucapkan syahadat dengan lisannya, maka dia adalah seorang mukmin walaupun dalam hatinya berbohong.--------- Asy’ariyah dan Maturidiyah. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu hanya pembenaran hati.---- Murji’ah fuqoha. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu perbuatan dan pembenaran hati serta pengucapan dengan lisan. Dan ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah dan para murid beliau.9 --------------- Dan penamaan murji’ah fuqaha dikarenakan mereka adalah dari kalangan para ahli fiqih dan ahli ibadah yang diakui oleh ahlus sunnah.

irja bahaya

 MURJIAH... apa itu MURJI'AH .. siapa itu MURJI'AH ..... apa ciri MURJIAH ?
--------------------------------

Murji’ah merupakan isim fa’il dari kata al-irja’ yang memiliki dua makna:

  1. Berarti : pengakhiran.
  2. Berarti : memberikan harapan.

------------------
Secara istilah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad, Murji’ah ialah: orang-orang yang menganggap:

  1. keimanan itu hanya sebatas pengucapan dengan lisan saja2, dan seluruh manusia tidak saling mengungguli dalam keimanan. Sehingga, keimanan mereka dengan keimanan para malaikat dan para nabi itu satu (sama dan setara). ----------
  2. Keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang.----------
  3. Tidak ada istitsna’ (ucapan insya Allah) dalam hal keimanan3.--------
  4. Dan siapa saja yang beriman dengan lisannya namun belum beramal, maka ia seorang mukmin yang hakiki.4

----------------------
Sedangkan Syekh Abdul Aziz Ar-Rojihi mengatakan, “Murji’ah ialah mereka yang mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan.”5

------------------
Sebab Mereka
Dinamakan Murji’ah
-----------------

Mereka disebut Murji’ah dikarenakan mereka mengeluarkan amal perbuatan dari cakupan keimanan. Mereka mengatakan bahwa kemaksiatan tidak memiliki pengaruh buruk pada keimanan )seseorang) sebagaimana ketaatannya tidak bermanfaat dalam kekufuran. Kemudian, dengan dasar ini mereka senantiasa memberikan harapan kepada pelaku maksiat berupa pahala dan ampunan Allah.6

------------------
Ada juga yang mengatakan bahwa mereka disebut Murji’ah karena senantiasa memberikan harapan atas pahala dan ampunan kepada para pelaku maksiat.
----------------------

Perbedaan dasar antara murji’ah dan ahlus sunnah

-------------------
Perbedaan yang paling mendasar antara Ahlus sunnah dan kelompok Murji’ah adalah pada masalah defenisi keimanan. Murji’ah mengatakan keimanan itu hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat disertai pembenaran dalam hati. Dan mereka tidak memasukkan amal perbuatan sebagai bagian dari keimanan.
-------------------

Sedangkan Ahlus Sunnah mengatakan bahwa keimanan itu adalah:

  1. Pengucapan dengan lisan. Yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. --------
  2. Meyakini dengan hati.---------------
  3. Pengamalan dengan anggota badan.-----------------
  4. Dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, serta berkurang dengan bermaksiat.--------------

Kelompok-kelompok murji’ah
-----------------

Para ulama yang menulis kitab-kitab firaq (sekte-sekte dalam Islam) berbeda-beda dalam mengklasifikasikan jenis-jenis Murji’ah. Berikut adalah pengklasifikasian Syaikhul islam ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap kelompok ini. ------------

  1. Kelompok yang mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas apa yang ada dalam hati, berupa pengetahuan dan keyakinan. Diantara mereka ada yang memasukkan amalan hati ke dalam cakupan iman, dan ada juga yang tidak seperti Jahm bin Shofwan dan para pengikutnya. ----
  2. Kelompok yang mengatakan bahwa iman itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Dan ini merupakan perkataan Karromiyyah.----
  3. Kelompok yang mengatakan keimanan itu hanya pembenaran dengan hati dan ucapan (2 kalimat syahadat).7 Dan ini merupakan perkataan Murjiah fuqaha.8

--------------
Jenis yang ketiga ini merupakan yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah, dan kelompok Murji’ah sering ditujukan untuk jenis yang ini.
------------------

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rojihi juga mengklasifikasikan murji’ah menjadi 4 kelompok:

  1. Jahmiyyah. Mereka mengatakan keimanan itu adalah pengenalan terhadap Rabb dengan hati. Sedangkan kekufuran itu kejahilan terhadap Rabb dalam hati. Mereka adalah orang-orang ekstrim; dan ini merupakan defenisi yang paling rusak tentang iman.-----
  2. Karromiyah. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Jika seseorang telah mengucapkan syahadat dengan lisannya, maka dia adalah seorang mukmin walaupun dalam hatinya berbohong.---------
  3. Asy’ariyah dan Maturidiyah. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu hanya pembenaran hati.----
  4. Murji’ah fuqoha. Mereka mengatakan bahwa keimanan itu perbuatan dan pembenaran hati serta pengucapan dengan lisan. Dan ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah dan para murid beliau.9

---------------
Dan penamaan murji’ah fuqaha dikarenakan mereka adalah dari kalangan para ahli fiqih dan ahli ibadah yang diakui oleh ahlus sunnah.

Diantara buah pemikiran kelompok murji’ah

Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa perbedaan dasar antara Murji’ah dan Ahlus Sunnah ialah dalam permasalahan iman. Dari sinilah muncul banyak pandangan mereka yang menyelisihi Ahlus Sunnnah. Diantaranya adalah:

  1. Keimanan itu tidak bertambah dan tidak juga berkurang.10
  2. Seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan telah meyakininya dengan hati disanggap sebagai seorang Mukmin yang sempurna imannya serta termasuk penghuni surga; walaupun ia meninggalkan salat, puasa, dan melakukan dosa-dosa besar lainnya.
  3. Keimanan seorang mukmin sama seperti keimanan para malaikat dan juga para nabi. Karena keimanan itu tidak saling melebihi satu dengan yang lain.
  4. Seseorang tidak boleh beristitsna dalam keimanan, yaitu mengatakan “saya mukmin insya Allah”. Karena hal itu menunjukkan menandakan keraguan dalam keimanan. Yaitu ashlul iman (pokok keimanan). Dan siapa yang ragu dalam keimanan, maka tidak bisa dikatakan sebagai seorang mukmin.11 . Kecuali berkata demikian dalam rangka khawatir terjerumus dalam men-tazkiyah diri sendiri, yaitu khawatir dianggap merasa imannya sudah sempurna, maka boleh berkata demikian. Namun bukan dalam rangka meragukan ashlul iman (pokok keimanan)12 .

Wallahu a’lam.

Catatan Kaki

1 HR. Bukhari no. 3606.

2 Maksudnya: keimanan itu hanya sebatas ucapan dua kalimat syahadat saja. Sehingga, seseorang sudah dianggap mukmin hanya dengan mengucapkan dua kalimat tersebut.

3 Maksudnya, seseorang mengatakan,Saya mukmin insya Allah”.

4 Mauqif ahlis Sunnah wal jama’ah min ahlil ahwaa’ wal bida’ 1/152.

5 Al-mukhtar fi ushulis sunnah 1/265, syamilah.

6 Mauqif ahlis Sunnah wal jama’ah min ahlil ahwaa’ wal bida’ 1/152.

7 Ushuluddin ‘inda Abi Hanifah 1/354, Syamilah.

8 Majmu’ fatawa 111/223, syamilah.

9 Al-mukhtar fi ushulis sunnah 1/265, syamilah.

10 Ushuluddin ‘inda Abi Hanifah 1/389, Syamilah.

11 Ushuluddin ‘inda Abi Hanifah 1/415, Syamilah.

12 Simak penjelasan Syaikh Muhammad Ali Farkus di http://www.ferkous.com/site/rep/Ba12.php
============================
Sejarah dan Latar Belakang Munculnya Murji’ah

Murjiah merupakan aliran yang muncul di Damasyik, Ibu kota Kerajaan Umayyad , di sebabkan beberapa pengaruh Masehi pada masa pertengahan  kedua abad pertama Hijriah. Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan.Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu, Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.

Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Allah, karena hanya Allah-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih dianggap mukmin dihadapan mereka.

Awal mula timbulnya Murji’ah adalah sebagai akibat dari gejolak dan ketegangan pertentangan politik yaitu soal khilafah (kekhalifahan) yang kemudian mengarah ke bidang teologi. Pertentangan politik ini terjadi sejak meninggalnya Khalifah Usman yang berlanjut sepanjang masa Khalifah Ali dengan puncak ketegangannya terjadi pada waktu perang Jamal dan perang Shiffin. Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman Ibn Affan, umat islam terbagi menjadi dua golongan yaitu kelompok Ali dan Muawiyyah. Kelompok Ali lalu terpecah menjadi dua yaitu Syi’ah dan Khawarij.

Setelah wafatnya Ali, Muawiyyah mendirikan Dinasti Bani Umayyah (661M). Kaum Khawarij dan Syi’ah yang saling bermusuhan, mereka sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah itu. Syi’ah menganggap bahwa Muawiyyah telah merampas kekuasaan dari tangan Ali dan keturunannya. Sementara itu, Khawarij tidak mendukung Muawiyyah karena ia dinilai telah menyimpang dari ajaran islam. Di antara ke tiga golongan itu terjadi saling mengkafirkan. Dalam suasana pertentangan ini, timbul satu golongan baru yaitu Murji’ah yang ingin bersikap netral, tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan itu. Bagi mereka, sahabat-sahabat yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu, mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah dan memandang lebih baik menunda penyelesaian persoalan ini ke hari perhitungan di hadapan Tuhan.

Dari persoalan politik mereka tidak dapat melepaskan diri dari persoalan teologis yang muncul di zamannya. Waktu itu terjadi perdebatan mengenai hukum orang yang berdosa besar. Persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum Khawarij mau tidak mau menjadi bahan perhatian dan pembahasan bagi mereka. Terhadap orang yang berbuat dosa besar, kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir sedangkan kaum Murji’ah menjatuhkan hukum mukmin. Karena, yang dipentingkan oleh Murji’ah bukan perbuatan tetapi keimanan. Penghukuman atas suatu perbuatan, ditangguhkan pada hari kebangkitan nanti. Pandangan yang dikemukakan oleh Murji’ah itu berangkat dari latar belakang kemunculan yang ingin bersikap netral. Mereka tidak ingin melibatkan diri secara praktis dalam pertentangan antara khawarij dan syiah.

Aliran Murji’ah ini berkembang sangat subur pada masa pemerintahan Dinasti bani Umayyah, karena bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintahan yang sah. Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun aliran ini tak mempunyai bentuk lagi, bahkan beberapa ajarannya diakui oleh aliran kalam berikutnya.

  • Ada beberapa pendapat mengenai Murjiah,antara lain yaitu :
  1. Van Vloten,seorang orientalis Belanda berpendapat bahwa nama Murjiah ini di ambil dari firman Allah:

“Dan orang-orang lain itu dimundurkan kepada urusan Allah:baik Ia melakukan azab atas mereka maupun Ia beri ampun kepada mereka namun Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana”.(Al-Baqoroh 106)

  1. Nicholson(1368-1945) berpendapat :

“ Murjiah merupakan satu kata yang diambil dari kata “arja-a” dalam arti menimbulkan “harapan’ dan “cita-cita”.

Aliran Murjiah adalah aliran yang memberikan reaksi pendapat aliran Khawarij yang mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar adalah aliran Murjiah

  1. 2.           Doktrin dan ajaran Murji’ah

Ajaran  pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan  irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun persoalan teologis. Ajaran dan pemikiran Murji’ah yang dikembangkan antara lain:

  1. Bidang  i’tiqodiyah bahwa tidak akan memberi  dasar dan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga kebalikannya.
  2. Di bidang politik

Prinsip-prinsip politik dari kaum Murji’ah dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Dilarang menentang khalifah yang zhalim sebab masalah khalifah bukanlah urusan manusia tetapi urusan Allah semata-mata.
  2. Baik buruknya sesuatu pemerintahan atau khalifah bukanlah urusan manusia, tetapi terserah kepada Tuhan karena masalah itu adalah urusan Tuhan.
  3. Tidak mau menjatuhkan Nabi.
  4. Jadi dipandang dari segi politik kaum Murji’ah ini lebih menguntungkan pemerintah waktu itu, yakni Bani Umayah, karena dengan dogmatika ini dapat mencegah umat Islam berontak terhadap pemerintah.
  5. Di bidang Teologi

Dalam bidang Teologi, Murji’ah mempunyai faham tersendiri berbeda dengan kaum Khawarij, Syi’ah, dan Ahlussunnah wal Jsama’ah. Adapun pokok-pokok pikiran kaum Murji’ah di bidang teologi antara lain:

  1. Imam itu ialah mengenal Tuhan dan rasul-rasulnyA.

Orang beriman dalam hatinya bila berbuat dosa besar orang tersebut masih tetap mukmin. Orang beriman bila ia berbuat dosa besar, maka hukum baginya ditangguhkan atau menunggu sampai kemuka Allah pada hari kiamat. Sebagian kaum Murji’ah yang ekstrim beri’tikad, bahwa asal seorang mengakui dalam hati atas wujudnya Tuhan dan kepada rasul-rasulnya maka orang itu telah disebut mukmin meskipun ia berbicara hal-hal yang menjadikan seorang kafir, seperti menghina nabi, al-Qur’an dan sebagainya.

  1. 3.  Sekte-Sekte dalam murji’ah.

Secara garis besar, kelompok Murji’ah terbagi kepada dua golongan yakni golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan Murji’ah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka,tetapi akan dihukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang dilakukan. Sementara golongan Murji’ah ekstrim,yaitu pengikut Jaham Ibn Sofwan, berpendapat bahwa orang islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya didalam hati. Bahkan orang yang menyembah berhala,menjalankan agama Yahudi dan demikian, menurut pandangan Allah,tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna imannya.
------------------------------

Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi netral atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij. Ajaran  pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan  irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun persoalan teologis. Secara garis besar, kelompok Murji’ah terbagi kepada dua golongan yakni golongan moderat dan golongan ekstrim
======================
================================================
CIRI-CIRI MURJI`AH YANG PALING MENONJOL
Murji`ah memiliki sekian banyak ciri, dan ada beberapa ciri yang paling menonjol, di antaranya sebagai berikut.

1. Mereka berpendapat, iman hanya sebatas penetapan dengan lisan, atau sebatas pembenaran dengan hati, atau hanya penetapan dan pembenaran.
2. Mereka berpendapat, iman tidak bertambah dan tidak berkurang, tidak terbagi-bagi, orang yang beriman tidak bertingkat-tingkat, dan iman semua orang adalah sama.
3. Mereka mengharamkan istitsn` (mengucapkan ‘saya beriman insya Allah’) di dalam iman.
4. Mereka berpendapat, orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan haram (dosa dan maksiat) tidak berkurang imannya dan tidak merubahnya.
5. Mereka membatasi kekufuran hanya pada pendustaan dengan hati.
6. Mereka mensifati amal-amal kekufuran yang tidak membawa melainkan kepada kekufuran, seperti menghina dan mencela (Allah, Rasul-Nya, maupun syari’at Islam); bahwa hal itu bukanlah suatu kekufuran, tetapi hal itu menunjukkan pendustaan yang ada dalam hati.[19]

CIRI-CIRI MURJI’AH MENURUT AHLI BID’AH TERDAHULU
Dahulu para ahli bid’ah –dari kalangan Khawarij dan selainnya- menuduh Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah dengan irja`, dikarenakan perkataan mereka (Ahlus-Sunnah) bahwa pelaku dosa besar tidak dikafirkan, kecuali jika dia menghalalkan perbuatan tersebut. Dan mereka berpendapat, orang yang meninggalkan shalat karena malas atau meremehkannya tidaklah kafir yang dapat mengeluarkannya dari agama.[20]

Di antara dali-dalil yang menunjukkan hal itu ialah sebagai berikut.

Pertama : Atsar yang dikeluarkan Ishaq bin Rahawaih dari Syaibân bin Farrûkh, ia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Abdullah Ibnul-Mubârak: ‘Apa pendapatmu tentang orang yang berzina dan meminum khamr atau selain itu. Apakah ia dikatakan mukmin?’. ‘Abdullah Ibnul Mubârak menjawab,‘Aku tidak mengeluarkannya dari iman,’ maka Syaibân berkata,‘Apakah pada saat tua nanti engkau menjadi Murji`ah?,’ lalu ‘Abdullah Ibnul-Mubârak menjawab,‘Wahai, Aba ‘Abdillah! Sesungguhnya Murji`ah tidak menerimaku, karena aku mengatakan iman itu bertambah, sedangkan Murji`ah tidak mengatakan demikian’.”[21]

Kedua : Apa yang disebutkan oleh al-Qâdhi Abul-Fadhl as-Saksaki al-Hanbali (wafat 683 H) dalam kitabnya, al-Burhân: Bahwa ada sekelompok ahlul bid’ah yang dinamakan dengan al-Mansuriyyah -mereka adalah sahabat dari ‘Abdullah bin Zaid-, mereka menuduh Ahlus-Sunnah sebagai Murji`ah, karena Ahlus-Sunnah mengatakan, orang yang meninggalkan shalat, apabila ia tidak mengingkari kewajibannya maka ia tetap seorang muslim; demikian menurut pendapat yang shahîh dari madzhab Imam Ahmad.

Mereka (ahlu bid’ah) mengatakan: “Ini menunjukkan bahwa iman menurut mereka (Ahlus Sunnah) adalah perkataan tanpa amal.”[22]

CIRI-CIRI SESEORANG TERLEPAS DARI MURJI’AH, MENURUT AHLUS-SUNNAH
Para ulama Ahlus-Sunnah telah menyebutkan sejumlah ciri yang dapat diketahui bahwa seseorang terlepas dari bid’ah Irja`, di antaranya ialah:

1. mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan.
Imam Ibnul-Mubarak t pernah ditanya: “Engkau berpendapat Irja`?,” maka ia menjawab,“Aku mengatakan bahwa iman itu perkataan dan perbuatan. Bagaimana mungkin aku menjadi Murji`ah?!”[23]
2. mengatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.
Imam Ahmad ditanya tentang orang yang mengatakan: “Iman itu bertambah dan berkurang,” maka ia menjawab,“Orang ini telah berlepas diri dari Irja`.”
3. mengatakan bahwa maksiat mengurangi iman dan membahayakannya.
4. mengatakan bahwa kekufuran dapat terjadi dengan perbuatan sebagaimana dapat terjadi dengan keyakinan dan perkataan. Dan ada di antara amal yang menjadi kufur karena melakukan amal tersebut tanpa keyakinan, dan menganggap halal perbuatan tersebut.[24]

CIRI-CIRI SESEORANG TERLEPAS DARI MURJI`AH MENURUT HIZBIYYUN DAN HARAKIYYUN
Di antara ciri seseorang terlepas dari Murji`ah menurut kaum Hizbiyyun dan Harakiyyun ialah:

1. mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dengan mutlak tanpa perincian yang telah disepakati oleh para salaf, Ahlus-Sunnah sejak dahulu sampai hari ini.
2. mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan. Dalam masalah ini terjadi khilâf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama Ahlus-Sunnah sejak dahulu hingga hari ini.

Menurut mereka, apabila seorang muslim berpendapat dengan dua pendapat tersebut, maka ia telah terlepas dari Murji`ah.[25]

TUDUHAN DUSTA TERHADAP AHLI HADITS ABAD INI, YAITU SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAH
Ada sebagian orang dari kalangan hizbiyyun dan harakiyyun yang menuduh Syaikh al-Albani sebagai Murji`ah. Tuduhan ini merupakan tuduhan yang kejam, dusta, bohong, dan mengada-ada.

Syaikh al-Albani rahimahullah telah menjelaskan dalam kitab-kitabnya dan tahqîqnya tentang masalah iman, sebagaimana dipegangi para ulama salaf. Kalau kita mau membahas satu per satu dari kitab beliau, maka akan panjang pembahasannya. Tetapi saya cukupkan dengan penjelasan para ulama yang memuji beliau.

Syaikh Abdul-‘Azîz bin ‘Abdullah bin Bâz rahimahullah berkata,”Aku tidak melihat di bawah kolong langit seorang yang ‘alim tentang hadits pada zaman ini, seperti al-‘Allamah Muhammad Nâshiruddin al-Albâni.”

Beliau rahimahullah juga pernah ditanya: “Siapa mujaddid (pembaharu) pada zaman ini?”

Lalu beliau menjawab, “Menurutku, Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni. Beliaulah mujaddid (pembaharu) pada zaman ini. Wallahu a’lam.”

Syaikh bin Bâz juga pernah berkata,“Aku tidak mengetahui seorang di alam semesta yang lebih ‘alim daripada Syaikh Nâshir (al-Albani) pada zaman ini.”

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah pernah ditanya, tentang orang yang menuduh Syaikh al-Albâni dengan irja` (Murji’ah), maka beliau menjawab: “Barangsiapa yang menuduh Syaikh al-Albâni dengan tuduhan irja`, maka ia telah salah, – orang itu – satu di antara dua kemungkinan, (yaitu): ia tidak mengenal al-Albani atau tidak mengetahui apa itu Irja`. Al-Albâni rahimahullah seorang dari Ahlus-Sunnah dan pembela Sunnah. Dia juga seorang imam dalam bidang hadits. Aku tidak mengetahui ada seorang yang menandinginya pada zaman sekarang. Akan tetapi, sebagian orang –kami mohon kepada Allah al-‘Afiyah- timbul perasaan dengki pada hatinya. Apabila ia melihat penerimaan seseorang, mereka mulai mencela seperti perbuatan orang-orang munafik yang mencela orang-orang mukmin yang bershadaqah dan tidak mendapatkan kecuali usaha mereka. Mereka (munâfiqîn) mencela orang yang bershadaqah dengan harta yang banyak dan orang miskin yang bershadaqah. Kami mengetahui beliau (al-Albâni) rahimahullah dari buku-bukunya, dan aku mengetahuinya sebagai seorang yang memiliki ‘aqidah Salaf dan selamat manhajnya. Akan tetapi, sebagian orang ingin mengafirkan hamba Allah dengan apa-apa yang Allah tidak mengafirkan mereka dengannya, kemudian menuduh bahwa orang yang menyelisihinya dalam masalah takfir maka ia adalah Murji`ah; ini merupakan suatu kebohongan, kedustaan, dan kezhaliman. Oleh karena itu, janganlah kalian mendengar perkataan-perkataan ini dari siapa pun.”

Beliau (Syaikh ‘Utsaimin) juga berkata: “Syaikh al-Albâni seorang yang panjang langkahnya (luas ilmunya), luas pengetahuannya, dan kuat pemikirannya”. [26]

Begitu pula tuduhan hizbiyyun kepada Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullâh. Mereka menuduh bahwa beliau adalah “Murji`ah”?! Mereka menuduh demikian karena ada fatwa dari Lajnah Da-imah yang memperingatkan dua buku karya Syaikh ‘Ali bin Hasan, yaitu at-Tahdzîr min Fitnatit-Takfîr dan Shaihatun-Nadzîr bi Khatharit-Takfîr. Padahal fatwa ini tidak memvonis Syaikh ‘Ali sebagai Murji’ah.

Dalam masalah ini, Syaikh ‘Ali telah menjawab serta menjelaskan dalam bukunya. Beliau mengajak “polemik” kepada anggota Lajnah Da-imah dengan buku beliau yang berjudul al-Ajwibah al-Mutalâ-imah ‘alâ Fatâwa al-Lajnah ad-Dâ-imah.

Kemudian beliau membantah orang-orang yang memanfaatkan fatwa itu untuk kepentingan hawa nafsu dan membela kelompok mereka. Beliau membantah dalam bukunya yang berjudul at-Tanbîhâtul Mutawâ-imah fî Nushrati Haqqi Ajwibah al-Mutalâ-imah ‘alâ Fatâwa al-Lajnah ad-Dâ-imah setebal 610 halaman, diterbitkan oleh Maktabah Dârul-Hadîts-Daulah Imârât, Cet. I, Th. 1424 H. Beliau membantah dengan bantahan ilmiah dan menjawab tuduhan itu dengan dalil-dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah, perkataan ulama Salaf, dan disertai bukti-bukti akurat dan marâji’ (referensi) yang banyak. Beliau jawab satu per satu dengan rinci, ilmiah dan nukilan yang sempurna, tidak sepotong-sepotong.

Tentang fatwa Lajnah Da-imah dijelaskan dengan gamblang oleh Syaikh Dr. Husain bin ‘Abdul-‘Azîz Âlu Syaikh dan Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah .

Dr. Hushain bin ‘Abdul Azîz Alu Syaikh –imam Masjid Nabawi dan Qadhi (hakim) di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah- pernah ditanya berkaitan dengan fatwa Lajnah Da-imah:

Fadhilatusy-Syaikh, bagaimana pendapat Syaikh tentang fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Da-imah tentang kedua kitab Syaikh ‘Ali al-Halabi: at-Tahdzîr dan Sha’ihatun Nadzîr, bahwasanya kedua kitab ini mengajak kepada pemikiran Irja`, bahwa amalan bukanlah syarat sahnya iman. Padahal kedua kitab ini tidak membahas masalah syarat sahnya iman atau syarat kesempurnaan iman?

Menghadapi pertanyaan ini, maka Syaikh Dr. Husain bin ‘Abdul Azîz Âlu Syaikh menjawab:

Yang pertama, wahai saudara-saudaraku! Syaikh ‘Ali dan masyayikh lainnya satu jalan. Syaikh ‘Ali adalah saudara tua sebagaimana para masyayikh yang mengeluarkan fatwa ini. Syaikh ‘Ali mengenal mereka, dan mereka pun mengenal Syaikh ‘Ali. Mereka memiliki hubungan baik dengan Syaikh ‘Ali.
Syaikh ‘Ali telah diberi Allah ilmu dan bashirah untuk mengatasi masalah ilmiah antara dia dan masyayikh, dan masalah ilmiah ini untuk menjelaskan al-haq (kebenaran).

Adapun Syaikh ‘Ali dan gurunya –Syaikh al-Albâni- barangsiapa yang berada di atas jalan Sunnah, maka tidak ada satu pun yang meragukan bahwasanya mereka di atas manhaj yang diridhai –walillahil hamdu. Syaikh Ali –walillahil hamdu- termasuk pembela manhaj Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Fatwa tersebut tidak me-nash-kan bahwa Syaikh ‘Ali sebagai Murji`ah –tidak akan beliau mengucapkan ini!- khilaf antara fatwa ini dengan Syaikh ‘Ali pada masalah kitab dan diskusi bersamanya pada perkara ini. Keberadaan orang lain yang hendak memaksakan kandungan fatwa ini, bahwasanya fatwa ini mewajibkan hukum atas Syaikh ‘Ali bahwa beliau Murji`, maka ini tidak saya pahami, dan aku menyangka bahwa saudara-saudara disini juga tidak memahami ini. Fatwa ini –walillahil hamdu- tidak menyelisihi hubungan antara Syaikh ‘Ali dan masyayikh, mereka menghormati dan menghargai Syaikh ‘Ali.

Syaikh ‘Ali telah menerangkan dengan penjelasan ilmiah (dalam kitab beliau -Ajwibah Mutalâ’imah ‘ala Fatwa Lajnah Dâ-imah) –sebagaimana dilakukan oleh Salaful-Ummah-; tidak ada seorang pun dari kita melainkan mengambil dan memberi, setiap orang diambil perkataannya dan juga dibantah, kecuali penghuni kubur ini, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh Imam Mâlik rahimahullah : “Setiap ucapan diterima dan ditolak, kecuali perkataan Rasul”.

Demikianlah umat ini, berselisih pada awalnya antara yang mengambil dan yang menolak. Tetapi manusia –dari segi asalnya- kadang-kadang di tengah-tengah ucapannya ada ucapan-ucapan lain –yaitu yang dinamakan dengan perkataan-perkataan spontan disebabkan adanya perdebatan, dan sebab tabi’at asli manusia- yang terdapat di dalamnya sedikit keras; bahkan juga di antara para sahabat Radhiyallahu anhum sebagaimana terjadi antara Abu Bakar dan ‘Umar, dan antara yang lainnya dari kalangan sahabat –seperti antara ‘Aisyah dan ‘Ali Radhiyallahu anhuma .

Kesimpulannya, fatwa ini –dalam pandanganku- tidak menghukumi, dan tidak menashkan dengan nash yang jelas bahwa Syaikh ‘Ali di atas manhaj Irja`. Sesungguhnya fatwa ini adalah pembicaraan tentang sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh. Syaikh ‘Ali telah menulis kitab (Ajwibah Mutalâ’imah) sesudah keluarnya fatwa, bukan dalam rangka membantah, tetapi menjelaskan manhajnya dan manhaj gurunya, yaitu Syaikh al-Albâni.

Yang kami yakini dan kami pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwasanya Syaikh ‘Ali dan gurunya –Syaikh al-Albâni- sangat jauh di antara manusia dari madzhab Murji`ah –sebagaimana telah kami katakan sebelumnya-. Syaikh ‘Ali –demikian juga Syaikh al-Albâni- jika ditanyakan kepadanya: “Apakah definisi iman?” Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murji’ah yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan. Bahkan nash-nash Syaikh al-Albâni menashkan bahwa definisi iman, adalah keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.[27]

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn ketika ditanya oleh Syaikh ‘Ali tentang fatwa Lajnah Da-imah, beliau menjawab: “Ini adalah suatu kesalahan dari Lajnah, dan aku merasa terganggu dengan adanya fatwa ini. Fatwa ini telah memecah-belah kaum Muslimin di seluruh negeri, sampai-sampai mereka menghubungiku baik dari Amerika maupun Eropa. Tidak ada yang mengambil manfaat dari fatwa ini melainkan takfiriyyun (tukang mengafirkan) dan tsauriyyun (para pemberontak).”

Beliau juga berkata: “Saya tidak suka keluarnya fatwa ini, karena membuat bingung manusia. Dan nasihatku kepada para penuntut ilmu agar tidak terlalu berpegang teguh dengan fatwa fulan atau fulan”.[28]

Saya ingatkan kepada orang-orang yang menuduh para ulama dan kaum Muslimin dengan tuduhan yang tidak benar akan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُوْنَ حَدٍّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ فَقَدْ ضَادَّ اللهَ وَمَنْ خَاصَمَ فِيْ بَاطِلٍ وَهُوَ يَعْلَمُهُ لَمْ يَزَلْ فِيْ سَخَطِ اللهِ حَتَّى يَنْزِعَ عَنْهُ، وَمَنْ قَالَ فِيْ مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ.

Barangsiapa syafa’at (pertolongan)nya menghalangi had (sanksi hukum) dari hukum-hukum Allah, maka ia telah melawan Allah. Dan barangsiapa yang bertikai (bermusuhan) dalam kebathilan padahal dia mengetahuinya, maka ia berada dalam kemurkaan Allah sampai ia melepasnya. Dan barangsiapa yang menuduh seorang mukmin dengan tuduhan yang tidak ada padanya, maka Allah akan menempatkannya dalam radghatul khabal sampai ia keluar dari perkataannya (bertaubat). [29]

Makna radghatul-khabal ialah cairan (keringat) penghuni neraka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang terdapat dalam Shahîh Muslim. [30]

MARAAJI’
1. Al-Qur’an dan terjemahannya, terbitan DEPAG.
2. Shahîh al-Bukhâri.
3. Shahîh Muslim.
4. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
5. Sunân Abi Dawud.
6. Sunân at-Tirmidzi.
7. Sunân an-Nasâ-i.
8. Al-Mustadrak ‘alash Shahîhain, karya Imam al-Hakim.
9. Kitâbus Syarî’ah, karya Imam al-Ajurri.
10. Syarhus Sunnah, karya Imam al-Baghawi.
11. Syarhus Sunnah, karya Imam al-Barbahari.
12. As-Sunnah, karya Imam Abu Bakar al-Khallal.
13. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani.
14. Al-Îmân, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
15. Al-Milal wan Nihal, karya asy-Syahrastani.
16. Al-Farqu bainal Firaq, karya Abdul Qahir al-Baghdadi.
17. Maqalât Islamiyyîn wakhtilâful Mushallîn, karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
18. Majmû’ Fatâwa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
19. Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah, karya Imam al-Lalikâ-i.
20. Syarah Aqîdah ath-Thahâwiyyah, karya Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi tahqiq para ulama dan takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
21. At-Takfîr wa Dhawâbithuhu, karya Syaikh Dr. Ibrâhim ar-Ruhaili.
22. Dirâsât fil Ahwâ’, karya Syaikh Dr. Nâshir bin Abdul Karîm al-‘Aql.
23. Wasathiyyah Ahlis Sunnah, karya Syaikh Muhammad Bakarim bin Muhammad Ba’abdullah.
24. Firaq Mu’âhirah, karya Ghâlib bin Ali ‘Awâji.
25. Mujmal Masâ-ilil Îmân wal Kufr al-‘Ilmiyyah fi Ushûl al-‘Aqîdah as-Salafiyah, Syaikh Musa Âlu Nashr, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halaby al-Atsary, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Masyhur Hasan Alu Salman, Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah, Baasim bin Faishal al-Jawabirah, cet. II-Markaz Imam al-Albany.
26. Murji`atul ‘Ashr, karya Syaikh Dr.Khâlid bin ‘Ali al-Anbari.
27. Fatâwâ ‘Ulamâ al-Akâbir fîmâ Uhdira min Dimâ-in fil Jazâ-iri, karya Abdul Malik Ramadhan al-Jazâ-iri.
28. At-Tanbihâtul Mutawâ-imah fii Nushrati Haqqi al-Ajwibatil Mutalâ-imah ‘alaa Fatwaa al-Lajnah ad-Dâ-imah, karya Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid.
29. Ar-Raddul Burhâni fintishâri lil ‘Allâmah al-Imam asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nâshiruddin al-Albâni. Karya Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi.
30. At-Ta’rîf wat Tanbi-`ah bi Ta-shîlât al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni rahimahullaah fî Masâ-ilil Imân war Raddi ‘alal Murji-`ah, karya ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid.
31. Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, oleh Yâzid bin Abdul Qadir Jawas, cet. IV-Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[19]. Lihat Murji`atul ‘Ashr (hal. 54)
[20]. Tentang masalah seseorang bisa menjadi kafir, lihat makalah penulis di majalah As-Sunnah, edisi 03/Tahun XI/1428 H/2007 M. (hal. 34-42).
[21]. Musnad Ishaq (III/670), dinukil dari Murji`atul ‘Ashr (hal. 56).
[22]. Lihat Murji`atul ‘Ashr (hal. 56-57).
[23]. As-Sunnah (III/566) oleh Imam Abu Bakar Al-Khallâl.
[24]. Lihat Murji`atul ‘Ashr (hal. 60). Lihat poin I (Ciri-ciri Murji`ah Menurut Ahlul Bid’ah Terdahulu)
[25]. Lihat Murji`atul Ashr (hal. 62).
[26]. Lihat Fatâwa Ulama’ al-Akâbir (hal. 6-7)
[27]. Lihat at-Tanbihât al-Mutawâimah (hal. 553-557)
[28]. At-Ta’rîf wat Tanbi-ah (hal. 15)
[29]. HR. Abu Dawud (no. 3597), al-Hâkim (II/27), dan Ahmad (II/70), dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c. Hadits ini shahih, lihat Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah (no. 437).
[30]. Lihat Shahîh Muslim (no. 2002 (72)) dan Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (II/545-546).

berbagai SUMBER
walalhua'lam