AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!?? …. sudah tahu AZAB dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah ——————- Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman). —————- Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.” {HR Imran bin Husain r.a} —————– Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah) ———— Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya. ———– Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.” —————- Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan. ———— sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah. Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa : 1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama? 2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah. 3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi. 4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta 5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar. 6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar. 7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan. 8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah. Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi : إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari). ————– sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah). ——— Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ? ————— ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya : 1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86). 2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51) 3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57) 4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104) berbagai sumber

minta bayar dakwah

AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!??  …. sudah tahu AZAB  dari Allah ?? … meminta IMBALAN dakwah
——————-
Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman).
—————-
Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.”  {HR Imran bin Husain r.a}
—————–
Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)
————
Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya.
———–
Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.”
—————-
Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”.
Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan.
————
sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah.
Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa :
1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama?
2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah.
3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi.
4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta
5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar.
6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar.
7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan.
8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi :
إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ
Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari).
————–
sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
———
Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ?
—————
ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya :
1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86).
2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51)
3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57)
4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104)

berbagai sumber

QURBAN, AQIQAH lengkap, komplit…. dasar Dalil Syar’i ————————– Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis) ——- Pengertian Udh-hiyah—————– Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)—————— Keutamaan Qurban————– Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)—————– Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521). ————— I. Definisi Qurban ————— Secara bahasa (lughatan) atau etimologis, Qurban berasal dari kata Qaruba – Yaqrubu – Qurban – Qurbanan, dengan huruf Qaf didhammahkan artinya bermakna mendekat. Qaruba ilaihi artinya mendekat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman: Inna Rahmatallahi Qariibun Minal Muhsinin (Sesungguhnya Rahmat Allah dekat dengan orang-orang berbuat baik).[1]———- Secara istilah (Syar’an) atau terminologis, Qurban bermakna menyembelih hewan tertentu dengan niat Qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada waktu tertentu pula. [2]———– Pada masa modern, istilah Qurban telah masuk ke bahasa Indonesia yakni ‘Korban’, yakni memberikan sesuatu secara rela karena faktor cinta dan ridha. Semakin hari istilah ‘Korban’ semakin meluas, dia juga bisa bermakna menjadi penderita, seperti istilah ‘Korban gempa’, ‘Korban banjir’, dan lain-lain.—— II. Aktivitas Berkurban dan Hewan Qurban————- Aktivitas menyembelih berkurban dalam bahasa Arab ada beberapa istilah, pertama, disebut dengan dhahhaa, dikatakan: dhahhaa bi Syaatin minal Udh-hiyah artinya dia berkurban dengan ‘Kambing Qurban.’[3] Ada pun Hewan Qurban-nya sendiri lebih dikenal dengan istilah Al Udh-hiyah, jamaknya Al Adhaahiy. Oleh karena itu hari penyembelihannya disebut ‘Iedul Adhaa (Hari Raya Qurban). Sementara, pengorbanan adalah tadh-hiyah.—- Kedua, dalam Al Quran, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nahr (diambil dari kata nahara – yanhuru –nahran). Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Kautsar ayat 2:——————- فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”—————- Oleh karena itu, hari raya kurban juga dikenal dengan Yaumun Nahri.————– Ketiga, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nusuk (diambil dari kata nasaka – yansuku – nusukan).—————- Allah Ta’ala berfirman: فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ “…jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS. Al Baqarah (2): 196)———– Keempat, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih disebut dzab-ha (diambil dari kata dzabaha – yadzbahu – dzabhan).—————- Allah Ta’ala berfirman: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. …..” (QS. Al Baqarah (2): 67)——————- Kelima, dalam Al Quran aktivitas tersebut juga di sebut Al Hadyu.———– وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban (Al Hadyu) yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. (QS. Al Baqarah (2): 196)——– [1] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah, 2/28. [2] Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 252, catatan kaki no. 3. Cet.1, 1425H – 2004M. Darul Kutub Al Islamiyah [3] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah, 1/406. ==================== Hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah, bukan wajib. Hal-hal yang menunjukkan kesunnahannya adalah argumentasi-argumentasi berikut ini;———————– Pertama; Allah memerintahkan berkurban dalam Al-Qur’an. Allah berfirman;———– {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2] Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)————— Perintah Shalat dalam ayat di atas bersifat umum, mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah sehingga tercakup pula Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Perintah berkurban juga bersifat umum yang mencakup kurban wajib, seperti Al-Hadyu (الْهَدْيُ) karena Haji Tamattu’ mapupun kurban Sunnah seperti Udhiyah (اْلأُضْحِيَةُ) yang dilakukan kaum Muslimin di luar tanah suci (Mekah). Karena itu, ayat ini menjadi dalil perintah berkurban, yang menunjukkan adanya dorongan dari pembuat Syariat sehingga digolongkan dalam amal yang bernilai Ma’ruf.———– Kedua; perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjukkan beliau melakukan dan mengamalkan amal berkurban. Bukhari meriwayatkan;———— صحيح البخاري (17/ 267) عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba tersebut.” (H.R.Bukhari)—————– Perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai mana ucapan beliau dan sikap diam beliau adalah dalil Syara’. Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan aktivitas berkurban, dan mencontohkan pada umatnya, maka hal ini menguatkan dalil pertama bahwa berkurban adalah amal yang didorong oleh Syariat dan digolongkan sebagai perbuatan yang Ma’ruf. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga pernah memerintahkan seorang Shahabat berkurban, misalanya dalam Hadis berikut ini;——————– صحيح البخاري (17/ 237) عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذَعَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَارَتْ لِي جَذَعَةٌ قَالَ ضَحِّ بِهَا dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhani dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagi-bagikan binatang kurban kepada para sahabatnya, sementara ‘Uqbah sendiri hanya mendapatkan Jadza’ah (kambing yang berusia enam bulan, atau berumur empat tahun ke atas, atau sapi berumur tiga tahun ke atas), maka kataku selanjutnya; “Wahai Rasulullah, aku hanya mendapatkan Jadza’ah?” beliau bersabda: “Berkurbanlah dengannya.” (H.R.Bukhari)—————- Beliau juga memuji penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah Shalat ‘Ied dan mensifatinya sebagai Ibadah yang sempurna. Bukhari meriwayatkan;————- صحيح البخاري (17/ 234) عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ dari Al Bara`, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyembelih (hewan kurban) setelah Shalat (Ied) maka ibadah kurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat.” (H.R.Bukhari)———— Nash-Nash ini menguatkan bahwa ibadah berkurban memang diperintahkan, dicontohkan, dan dipuji sebagai salah satu ibadah dalam Syariat Islam.————– Ketiga; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan aktivitas berkurban dengan Irodah (kehendak/keinginan) Mukallaf. Imam Muslim meriwayatkan;———— صحيح مسلم (10/ 169) عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” (H.R.Muslim)—————- Jika pada argumentasi pertama dan kedua penunjukan makna yang bisa ditangkap barulah adanya dorongan dan teladan untuk berkurban (yang masih belum menjelaskan apakah dorongan tersebut bersifat tegas/pasti/keras ataukah tidak), maka pada argumentasi yang ketiga ini, sifat dorongan tersebut menjadi diketahui. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan ibadah berkurban dengan Irodah/kehendak Mukallaf, bukan menetapkan tanpa memberi pilihan. Oleh karena itu Hadis ini menunjukkan bahwa berkurban hukumnya adalah Sunnah, bukan Wajib. Karena jika berkurban hukumnya wajib, niscaya Nabi tidak akan mengaitkannya dengan kehendak Mukallaf, kerana sesuatu yang wajib harus dilaksanakan tanpa pilihan.—————- Keempat; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendiamkan umatnya yang tidak berkurban tanpa mengkritiknya atau mencelanya. Abu Dawud meriwayatkan;————– سنن أبى داود – م (3/ 56) عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى ». dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; saya menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Idul Adha di lapangan, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R.Abu Dawud)————- Dalam Hadis di atas Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkurban untuk dirinya dan juga untuk umatnya yang belum berkurban. Penyebutan lafadz;————– وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku— Menunjukkan diantara umatnya ada yang belum berkurban. Penyebutan ini tidak disertai kritikan, celaan, apalagi ancaman terhadap mereka. Karena itu, Hadis ini semakin menguatkan bahwa berkurban hukumnya Sunnah, bukan wajib.——- Kelima; sejumlah Shahabat sengaja tidak berkurban untuka mengajari kaum Muslimin dan generasi sesudahnya bahwa berkurban hukumnya tidak wajib.——– Baihaqi meriwayatkan bahwa Abubakar dan Umar sengaja tidak berkurban agar tidak diduga bahwa berkurban hukumnya wajib. معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا) قال الشافعي : وقد « بلغنا أن أبا بكر الصديق وعمر رضي الله عنهما كانا لا يضحيان كراهية أن يقتدى بهما ، فيظن من رآهما أنها واجبة » “As-Syafi’I berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar tidak berkurban karena tidak suka diteladani sehingga orang yang melihat beliau berdua menduga bahwa berkurban itu wajib” (H.R. Baihaqy)—————— Cukup jelas dalam riwayat di atas bahwa Abubakar dan Umar sengaja meninggalkan berkurban karena tidak suka jadi teladan yang disangka orang bahwa berkurban hukumnya wajib.————– Memahami bahwa Abubakar dan Umar tidak berkurban karena beliau berdua tidak termasuk Mukallaf yang wajib melakukan berkurban sulit diterima, karena dalam lafadz riwayat jelas sekali disebutkan alasan tidak berkurban, yaitu untuk memberi pemahaman kepada kaum Muslimin (termasuk generasi dibelakang) bahwa berkurban itu tidak wajib. Tidak bisa pula difahami bahwa alasan Abubakar dan Umar meninggalkan berkurban adalah karena masyarakat umum memandang wajibnya berlaku umum tanpa membedakan antara yang mampu dengan yang tidak. Alasan ini sulit diterima karena sama sekali tidak dinyatakan dalam lafadz riwayat. Yang ada dan cukup jelas adalah, beliau berdua meninggalkan berkurban karena khawatir berkurban itu dianggap wajib dari segi kewajiban itu sendiri, bukan khawatir pemahaman wajib yang mutlak meski tidak mampu. Lagipula alasan ini perlu ditinjau ulang dari segi bahwa Syariat tidak mungkin mewajibkan sesuatu kepada Mukallaf sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya. Misalnya Haji yang jelas wajib. Syara’ membebaskan bagi yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.—————- Diantara Shahabat lain yang meninggalkan berkurban karena kahwatir dianggap wajib adalah Abu Mas’ud Al-Anshory. Baihaqy meriwayatkan;——————- السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (9/ 265) عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنِّى لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّى لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِى أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَىَّ. “dari Abu Mas’ud Al-Anshory beliau berkata: sesungguhnya aku meninggalkan berkurban padahal aku kaya, hanya karena khawatir tetanggaku melihat bahwa hal tersebut adalah keharusan bagiku” (H.R. Baihaqy)——————– Ibnu ‘Umar berfatwa, bahwa berkurban adalah Sunnah dan Ma’ruf. Bukhari meriwayatkan secara Mu’allaq dengan Shighot Jazim (tegas);—————- صحيح البخاري (17/ 233) بَاب سُنَّةِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ هِيَ سُنَّةٌ وَمَعْرُوفٌ “Bab Sunnahnya berkurban. Ibnu Umar berkata; Berkurban itu Sunnah dan Ma’ruf” (H.R.Bukhari)—- Demikian pula Ibnu Abbas yang memerintahkan membeli daging untuk dibagi-bagikan, bukan berkurban dengan hewan secara langsung. Baihaqy meriwayatkan;—————– معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا) عن ابن عباس ، أنه « جلس مع أصحابه ، ثم أرسل بدرهمين فقال : اشتروا بهما لحما ، ثم قال : هذه أضحية ابن عباس » “dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau duduk-duduk dengan para muridnya. Kemudian beliau mengirimkan dua Dirham dan berpesan; belilah daging dengan uang itu kemudian katakan: ini adalah kurban Ibnu ‘Abbas” (H.R.Baihaqy)—————– Menurut Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, tidak ada satupun riwayat Shahih yang menunjukkan bahwa ada Shahabat yang mewajibkan berkurban. Ibnu Hazm berkata; المحلى (7/ 358) لاَ يَصِحُّ، عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّ الأُُضْحِيَّةَ وَاجِبَةٌ Tidak ada riwayat shahih dari seorang Shahabatpun bahwa berkurban hukumnya wajib (Al-Muhalla, vol 7 hlm 358)———————– Adapun riwayat yang tegas mengatakan bahwa berkurban wajib bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan Sunnah bagi umatnya, yakni seperti riwayat berikut ini;————- سنن الدارقطنى – مكنز (4/ 336، بترقيم الشاملة آليا) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَىَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ ». Dari ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَbersabda: Ada tiga hal yang wajib bagiku dan Sunnah bagi kalian: Berkurban, Shalat Witir, dan dua rokaat Shalat Sunnah Fajar” (H.R.Ad-Daruquthni)———————- Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan sebagai Hujjah karena termasuk riwayat yang Dhoif.——- Catatan Terhadap Pendapat Yang Mewajibkan Berkurban—————— Ada sejumlah dalil yang dijadikan dasar pendapat yang mewajibkan berkurban. Berikut ini pemaparan dalil-dalil tersebut sekaligus ulasannya.————— Pertama; orang yang mampu berkurban tapi tidak berkurban dilarang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mendekati tempat Shalat Nabi dan kaum Muslimin. Ahmad meriwayatkan;—————– مسند أحمد (16/ 466) حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُزَ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Ayyasy dari Abdurrahman bin Hurmuz Al A’raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat kami.” (H.R. Ahmad)—————- Dari Hadis ini difahami; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang mendekati tempat Shalat, yakni ikut Shalat Ied bersama Nabi padahal Shalat Ied adalah amal kebaikan. Hal ini menjadi dalil bahwa perintah berkurban adalah perintah yang tegas, sehingga hukumnya wajib, bukan sekedar Sunnah. Apalagi jika memahami bahwa Shalat Ied hukumnya wajib dengan bukti Shalat Ied bisa menggugurkan Shalat Jum’at. Dilarangnya untuk menjalankan kewajiban menunjukkan merealisasikan syarat untuk menjalankan kewajiban itu hukumnya juga wajib. Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula.————- Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut; Menurut Syu’aib Arna-uth, Hadis di atas sanadnya Dhoif karena faktor seorang perawi yang bernama Abdullah bin ‘Ayyasy yang dinilai sebagai perawi yang dhoif. Penilaian Al-Albani yang menghasankan Hadis ini dalam Takhrij Musykilatu Al-Faqr dinilai sebuah kesalahan oleh Syu’aib Arna-uth.———- Kalaupun bisa dijadikan sebagai Hujjah, maka statusnya tidak melampaui status sebagai Hadis Mauquf sebagaimana pernyataan ibnu Hajar. Hadis Mauquf, tentu belum bisa menajadi dalil dalam pembahasan hukum Syara’. Ibnu Hajar mengatakan;———– فتح الباري – ابن حجر (10/ 3) من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا أخرجه بن ماجة وأحمد ورجاله ثقات لكن اختلف في رفعه ووقفه والموقوف أشبه بالصواب قاله الطحاوي وغيره Hadis “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat kami” diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Perawi-perawinya Tsiqoh namun diperselisihkan apakah Marfu’ ataukah Mauquf. Status Mauquf lebih dekat dengan kebenaran sebagaimana dinyatakan At-Thohawy dan selainnya (Fathu Al-Bary, vol 10, hlm 3)———— Bahkan seandainyapun bisa dipakai sebagai Hujjah dalam kapasitasnya sebagai Hadis Shahih/Hasan yang dihukumi Marfu’pun, lafadz yang melarang mendekati tempat Shalat masih belum kuat difahami sebagai Qorinah/indikasi untuk menunjukkan kewajiban berkurban. Hal itu dikarenakan tidak ada lafadz lugas yang menunjukkan kewajiban melakukan berkurban sebagaimana dalam Nash-Nash lain ada perintah yang semakna dengannya dari segi kekuatan perintah/larangan namun status hukum finalnya bukan wajib atau Haram. Sebagai contoh misalnya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mandi Jum’at dan menyatakannya dengan lafadz yang mengesankan seakan-akan mandi Jum’at hukumnya wajib. Ahmad meriwayatkan;—————– مسند أحمد (23/ 194) عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah (akil baligh).” (H.R.Ahmad)—— Dalam Hadis ini mandi Jum’at diperintahkan dengan pernyataan yang mengesankan bahwa hal itu adalah keharusan. Namun Nash-Nash yang lain menunjukkan bahwa mandi Jum’at bisa ditinggalkan tanpa celaan dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena itu Jumhur ulama memahami bahwa Hadis ini tidak lebih menunjukkan Ta’kidul Istihbab (tekanan) anjuran sehingga status mandi Jum’at adalah Sunnah muakkadah, bukan wajib.———–

perbedaan qurban aqiqah

QURBAN, AQIQAH lengkap, komplit…. dasar Dalil Syar’i
————————–

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied”. Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis) ——-

Pengertian Udh-hiyah—————–

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)——————

Keutamaan Qurban————–

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)—————–

Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521).
—————
I. Definisi Qurban —————

Secara bahasa (lughatan) atau etimologis, Qurban berasal dari kata Qaruba – Yaqrubu – Qurban – Qurbanan, dengan huruf Qaf didhammahkan artinya bermakna mendekat. Qaruba ilaihi artinya mendekat kepadanya. Allah Ta’ala berfirman: Inna Rahmatallahi Qariibun Minal Muhsinin (Sesungguhnya Rahmat Allah dekat dengan orang-orang berbuat baik).[1]———-

Secara istilah (Syar’an) atau terminologis, Qurban bermakna menyembelih hewan tertentu dengan niat Qurbah (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada waktu tertentu pula. [2]———–

Pada masa modern, istilah Qurban telah masuk ke bahasa Indonesia yakni ‘Korban’, yakni memberikan sesuatu secara rela karena faktor cinta dan ridha. Semakin hari istilah ‘Korban’ semakin meluas, dia juga bisa bermakna menjadi penderita, seperti istilah ‘Korban gempa’, ‘Korban banjir’, dan lain-lain.——

II. Aktivitas Berkurban dan Hewan Qurban————-

Aktivitas menyembelih berkurban dalam bahasa Arab ada beberapa istilah, pertama, disebut dengan dhahhaa, dikatakan: dhahhaa bi Syaatin minal Udh-hiyah artinya dia berkurban dengan ‘Kambing Qurban.’[3] Ada pun Hewan Qurban-nya sendiri lebih dikenal dengan istilah Al Udh-hiyah, jamaknya Al Adhaahiy. Oleh karena itu hari penyembelihannya disebut ‘Iedul Adhaa (Hari Raya Qurban). Sementara, pengorbanan adalah tadh-hiyah.—-

Kedua, dalam Al Quran, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nahr (diambil dari kata nahara – yanhuru –nahran). Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Kautsar ayat 2:——————-

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”—————-

Oleh karena itu, hari raya kurban juga dikenal dengan Yaumun Nahri.————–

Ketiga, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut nusuk (diambil dari kata nasaka – yansuku – nusukan).—————-

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

“…jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS. Al Baqarah (2): 196)———–

Keempat, dalam Al Quran juga, aktivitas menyembelih disebut dzab-ha (diambil dari kata dzabaha – yadzbahu – dzabhan).—————-

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. …..” (QS. Al Baqarah (2): 67)——————-

Kelima, dalam Al Quran aktivitas tersebut juga di sebut Al Hadyu.———–

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban (Al Hadyu) yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. (QS. Al Baqarah (2): 196)——–

[1] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah, 2/28.

[2] Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 252, catatan kaki no. 3. Cet.1, 1425H – 2004M. Darul Kutub Al Islamiyah

[3] Al Jauhari, Ash Shihah fi Al Lughah,  1/406.

====================

Hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah, bukan wajib. Hal-hal yang menunjukkan kesunnahannya adalah argumentasi-argumentasi berikut ini;———————–

Pertama; Allah memerintahkan berkurban dalam Al-Qur’an. Allah berfirman;———–

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2]

Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)—————

Perintah Shalat dalam ayat di atas bersifat umum, mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah sehingga tercakup pula Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Perintah berkurban juga bersifat umum yang mencakup kurban wajib, seperti Al-Hadyu (الْهَدْيُ) karena Haji Tamattu’ mapupun kurban Sunnah seperti Udhiyah (اْلأُضْحِيَةُ) yang dilakukan kaum Muslimin di luar tanah suci (Mekah). Karena itu, ayat ini menjadi dalil perintah berkurban, yang menunjukkan adanya dorongan dari pembuat Syariat sehingga digolongkan dalam amal yang bernilai Ma’ruf.———–

Kedua; perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjukkan beliau melakukan dan mengamalkan amal berkurban. Bukhari meriwayatkan;————

صحيح البخاري (17/ 267)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba tersebut.” (H.R.Bukhari)—————–

Perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai mana ucapan beliau dan sikap diam beliau adalah dalil Syara’. Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melakukan aktivitas berkurban, dan mencontohkan pada umatnya, maka hal ini menguatkan dalil pertama bahwa berkurban adalah amal yang didorong oleh Syariat dan digolongkan sebagai perbuatan yang Ma’ruf. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga pernah memerintahkan seorang Shahabat berkurban, misalanya dalam Hadis berikut ini;——————–

صحيح البخاري (17/ 237)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ

قَسَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ ضَحَايَا فَصَارَتْ لِعُقْبَةَ جَذَعَةٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَارَتْ لِي جَذَعَةٌ قَالَ ضَحِّ بِهَا

dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhani dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membagi-bagikan binatang kurban kepada para sahabatnya, sementara ‘Uqbah sendiri hanya mendapatkan Jadza’ah (kambing yang berusia enam bulan, atau berumur empat tahun ke atas, atau sapi berumur tiga tahun ke atas), maka kataku selanjutnya; “Wahai Rasulullah, aku hanya mendapatkan Jadza’ah?” beliau bersabda: “Berkurbanlah dengannya.” (H.R.Bukhari)—————-

Beliau juga memuji penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah Shalat ‘Ied dan mensifatinya sebagai Ibadah yang sempurna. Bukhari meriwayatkan;————-

صحيح البخاري (17/ 234)

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

dari Al Bara`, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyembelih (hewan kurban) setelah Shalat (Ied) maka ibadah kurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dengan tepat.” (H.R.Bukhari)————

Nash-Nash ini menguatkan bahwa ibadah berkurban memang diperintahkan, dicontohkan, dan dipuji sebagai salah satu ibadah dalam Syariat Islam.————–

Ketiga; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan aktivitas berkurban dengan Irodah (kehendak/keinginan) Mukallaf. Imam Muslim meriwayatkan;————

صحيح مسلم (10/ 169)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” (H.R.Muslim)—————-

Jika pada argumentasi pertama dan kedua penunjukan makna yang bisa ditangkap barulah adanya dorongan dan teladan untuk berkurban (yang masih belum menjelaskan apakah dorongan tersebut bersifat tegas/pasti/keras ataukah tidak), maka pada argumentasi yang ketiga ini, sifat dorongan tersebut menjadi diketahui. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan ibadah berkurban dengan Irodah/kehendak Mukallaf, bukan menetapkan tanpa memberi pilihan. Oleh karena itu Hadis ini menunjukkan bahwa berkurban hukumnya adalah Sunnah, bukan Wajib. Karena jika berkurban hukumnya wajib, niscaya Nabi tidak akan mengaitkannya dengan kehendak Mukallaf, kerana  sesuatu yang wajib harus dilaksanakan tanpa pilihan.—————-

Keempat;  Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendiamkan umatnya yang tidak berkurban tanpa mengkritiknya atau mencelanya. Abu Dawud meriwayatkan;————–

سنن أبى داود – م (3/ 56)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى ».

dari Jabir bin Abdullah, ia berkata; saya menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Idul Adha di lapangan, kemudian tatkala menyelesaikan khutbahnya beliau turun dari mimbarnya, dan beliau diberi satu ekor domba kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelihnya, dan mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAAHU AKBAR, HAADZA ‘ANNII WA ‘AN MAN LAM YUDHAHHI MIN UMMATI” (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ini (kurban) dariku dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku). (H.R.Abu Dawud)————-

Dalam Hadis di atas Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkurban untuk dirinya dan juga untuk umatnya yang belum berkurban. Penyebutan lafadz;————–

وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى

dan orang-orang yang belum berkurban dari umatku—

Menunjukkan diantara umatnya ada yang belum berkurban. Penyebutan ini tidak disertai kritikan, celaan, apalagi ancaman terhadap mereka. Karena itu, Hadis ini semakin menguatkan bahwa berkurban hukumnya Sunnah, bukan wajib.——-

Kelima; sejumlah Shahabat sengaja tidak berkurban untuka mengajari kaum Muslimin dan generasi sesudahnya bahwa berkurban hukumnya tidak wajib.——–

Baihaqi meriwayatkan bahwa Abubakar dan Umar sengaja tidak berkurban agar tidak diduga bahwa berkurban hukumnya wajib.

معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا)

قال الشافعي : وقد « بلغنا أن أبا بكر الصديق وعمر رضي الله عنهما كانا لا يضحيان كراهية أن يقتدى بهما ، فيظن من رآهما أنها واجبة »

“As-Syafi’I berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Abu Bakar dan Umar tidak berkurban karena tidak suka diteladani sehingga orang yang melihat beliau berdua menduga bahwa berkurban itu wajib” (H.R. Baihaqy)——————

Cukup jelas dalam riwayat di atas bahwa Abubakar dan Umar sengaja meninggalkan berkurban karena tidak suka jadi teladan yang disangka orang bahwa berkurban hukumnya wajib.————–

Memahami bahwa  Abubakar dan Umar tidak berkurban karena  beliau berdua tidak termasuk  Mukallaf yang wajib melakukan berkurban sulit  diterima, karena dalam lafadz riwayat jelas sekali disebutkan alasan tidak berkurban, yaitu  untuk memberi pemahaman kepada  kaum Muslimin (termasuk generasi dibelakang) bahwa  berkurban itu tidak wajib. Tidak  bisa pula difahami bahwa alasan Abubakar dan Umar meninggalkan berkurban adalah karena masyarakat umum memandang wajibnya berlaku umum tanpa membedakan antara yang mampu dengan  yang tidak. Alasan ini sulit diterima karena sama sekali tidak dinyatakan dalam lafadz riwayat. Yang ada dan cukup jelas adalah, beliau berdua meninggalkan berkurban  karena  khawatir berkurban itu dianggap wajib dari segi kewajiban itu sendiri, bukan khawatir pemahaman wajib yang mutlak meski tidak mampu. Lagipula alasan ini perlu ditinjau ulang dari segi bahwa Syariat tidak mungkin mewajibkan sesuatu kepada Mukallaf sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya. Misalnya Haji yang jelas wajib. Syara’ membebaskan bagi yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.—————-

Diantara Shahabat lain yang meninggalkan berkurban karena kahwatir dianggap wajib adalah Abu Mas’ud Al-Anshory. Baihaqy meriwayatkan;——————-

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (9/ 265)

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنِّى لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّى لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِى أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَىَّ.

“dari Abu Mas’ud Al-Anshory beliau berkata: sesungguhnya aku meninggalkan berkurban padahal aku kaya, hanya karena khawatir tetanggaku melihat bahwa hal tersebut adalah keharusan bagiku” (H.R. Baihaqy)——————–

Ibnu ‘Umar berfatwa, bahwa berkurban adalah Sunnah dan Ma’ruf. Bukhari meriwayatkan secara Mu’allaq dengan Shighot Jazim (tegas);—————-

صحيح البخاري (17/ 233)

بَاب سُنَّةِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ هِيَ سُنَّةٌ وَمَعْرُوفٌ

“Bab Sunnahnya berkurban. Ibnu Umar berkata; Berkurban itu Sunnah dan Ma’ruf” (H.R.Bukhari)—-

Demikian pula Ibnu Abbas yang memerintahkan membeli daging untuk dibagi-bagikan, bukan berkurban dengan hewan secara langsung. Baihaqy meriwayatkan;—————–

معرفة السنن والآثار للبيهقي (15/ 126، بترقيم الشاملة آليا)

عن ابن عباس ، أنه « جلس مع أصحابه ، ثم أرسل بدرهمين فقال : اشتروا بهما لحما ، ثم قال : هذه أضحية ابن عباس »

“dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya beliau duduk-duduk dengan para muridnya. Kemudian beliau mengirimkan dua Dirham dan berpesan; belilah daging dengan uang itu kemudian katakan: ini adalah kurban Ibnu ‘Abbas” (H.R.Baihaqy)—————–

Menurut Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, tidak ada satupun riwayat Shahih yang menunjukkan bahwa ada Shahabat yang mewajibkan berkurban. Ibnu Hazm berkata;

المحلى (7/ 358)

لاَ يَصِحُّ، عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّ الأُُضْحِيَّةَ وَاجِبَةٌ

Tidak ada riwayat shahih dari seorang Shahabatpun bahwa berkurban hukumnya wajib (Al-Muhalla, vol 7 hlm 358)———————–

Adapun riwayat yang tegas mengatakan bahwa berkurban wajib bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan Sunnah bagi umatnya, yakni seperti riwayat berikut ini;————-

سنن الدارقطنى – مكنز (4/ 336، بترقيم الشاملة آليا)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَىَّ فَرَائِضُ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ ».

Dari ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَbersabda: Ada tiga hal yang wajib bagiku  dan Sunnah bagi kalian: Berkurban, Shalat Witir, dan dua rokaat Shalat Sunnah Fajar” (H.R.Ad-Daruquthni)———————-

Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan sebagai Hujjah karena termasuk riwayat yang Dhoif.——-

Catatan Terhadap Pendapat Yang Mewajibkan Berkurban——————

Ada sejumlah dalil yang dijadikan dasar pendapat yang mewajibkan berkurban. Berikut ini pemaparan dalil-dalil tersebut sekaligus ulasannya.—————

Pertama; orang yang mampu berkurban tapi tidak berkurban dilarang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mendekati tempat Shalat Nabi dan kaum Muslimin. Ahmad meriwayatkan;—————–

مسند أحمد (16/ 466)

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُزَ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Ayyasy dari Abdurrahman bin Hurmuz Al A’raj dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat  kami.” (H.R. Ahmad)—————-

Dari Hadis ini difahami; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang mendekati tempat Shalat, yakni ikut Shalat Ied bersama Nabi padahal Shalat Ied adalah amal kebaikan. Hal ini menjadi dalil bahwa perintah berkurban adalah perintah yang tegas, sehingga hukumnya wajib, bukan sekedar Sunnah. Apalagi jika memahami bahwa Shalat Ied hukumnya wajib dengan bukti Shalat Ied bisa menggugurkan Shalat Jum’at. Dilarangnya untuk menjalankan kewajiban menunjukkan merealisasikan syarat untuk menjalankan kewajiban itu hukumnya juga wajib. Suatu  kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib pula.————-

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Menurut Syu’aib Arna-uth, Hadis di atas sanadnya Dhoif karena faktor seorang perawi yang bernama Abdullah bin ‘Ayyasy yang dinilai sebagai perawi yang dhoif. Penilaian Al-Albani yang menghasankan Hadis ini dalam Takhrij Musykilatu Al-Faqr dinilai sebuah kesalahan oleh Syu’aib Arna-uth.———-

Kalaupun bisa dijadikan sebagai Hujjah, maka statusnya tidak melampaui status sebagai Hadis Mauquf sebagaimana pernyataan ibnu Hajar. Hadis Mauquf, tentu belum  bisa menajadi dalil dalam pembahasan hukum Syara’. Ibnu Hajar mengatakan;———–

فتح الباري – ابن حجر (10/ 3)

من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا أخرجه بن ماجة وأحمد ورجاله ثقات لكن اختلف في رفعه ووقفه والموقوف أشبه بالصواب قاله الطحاوي وغيره

 

Hadis “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati tempat Shalat  kami” diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Perawi-perawinya Tsiqoh namun diperselisihkan apakah Marfu’ ataukah Mauquf. Status Mauquf lebih dekat dengan kebenaran sebagaimana  dinyatakan At-Thohawy dan selainnya (Fathu Al-Bary, vol 10, hlm 3)————

Bahkan seandainyapun bisa dipakai sebagai Hujjah dalam kapasitasnya sebagai Hadis Shahih/Hasan yang dihukumi Marfu’pun, lafadz yang melarang mendekati tempat Shalat masih belum kuat difahami sebagai Qorinah/indikasi untuk menunjukkan kewajiban berkurban. Hal itu dikarenakan tidak ada lafadz lugas yang menunjukkan kewajiban melakukan berkurban sebagaimana dalam Nash-Nash lain ada perintah yang semakna dengannya dari segi kekuatan perintah/larangan namun status hukum finalnya bukan wajib atau Haram. Sebagai contoh misalnya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mandi Jum’at dan menyatakannya dengan lafadz yang mengesankan seakan-akan mandi Jum’at hukumnya wajib. Ahmad meriwayatkan;—————–

مسند أحمد (23/ 194)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah mimpi basah (akil baligh).” (H.R.Ahmad)——

Dalam Hadis ini mandi  Jum’at diperintahkan dengan pernyataan yang mengesankan bahwa hal itu adalah keharusan. Namun Nash-Nash yang lain menunjukkan bahwa mandi Jum’at bisa ditinggalkan tanpa celaan dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena itu Jumhur ulama memahami bahwa Hadis ini tidak lebih menunjukkan Ta’kidul Istihbab (tekanan) anjuran sehingga status mandi Jum’at adalah Sunnah muakkadah, bukan wajib.———–

Demikian pula dalam kasus memakan bawang putih. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah melarang orang yang memakan bawang putih untuk mendekati masjid Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (3/ 360)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا

dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat terjadinya perang Khaibar: “Barangsiapa memakan dari pohon ini, yaitu bawang putih, maka jangan sekali-kali dia mendekati masjid kami.” (H.R.Bukhari)

Larangan mendekati masjid dalam Hadis ini tidak bermakna  haramnya orang memakan bawang putih, namun hanya bermakna ketidaksukaan terhadap bau bawang putih tersebut yang mengganggu Jamaah. Dari Hadis ini bisa difahami bahwa larangan mendekati masjid belumlah cukup menjadi Qorinah haram/wajibnya sesuatu.

lagipula hukum Shalat Ied adalah Sunnah, bukan wajib. Ketentuan bahwa Shalat Ied bisa membuat Shalat Jum’at boleh tidak dilaksanakan jika jatuh di hari Jum’at tidak menunjukkan wajibnya Shalat Ied, kerena kebolehan tidak melakukan Shalat Jum’at tersebut adalah Rukhshoh bagi Arab Badui agar tidak dua kali datang ke Madinah untuk melakukan Shalat Ied dan Shalat Jum’at dalam satu hari. Lagi pula safar juga membuat musafir boleh tidak melakukan Shalat Jum’at, namun hal ini tidak menunjukkan safar hukumnya wajib.

Oleh kerana itu sejauh-jauh yang mungkin difahami terkait hukum berkurban yang memakai riwayat ini dan yang semakna dengannya adalah adanya unsur Ta’kidul Istihbab (tekanan anjuran) dalam perintah berkurban, sehingga hukum berkurban bukan sekedar Sunnah tetapi Sunnah Muakkadah, namun tidak sampai wajib.

Kedua; Ada riwayat yang mengharuskan tiap rumah berkurban tiap tahun. Ahmad meriwayatkan;

مسند أحمد (29/ 419)

عَنْ أَبِي رَمْلَةَ قَالَ حَدَّثَنَاهُ مِخْنَفُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ أَوْ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحَاةً وَعَتِيرَةً قَالَ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ قَالَ ابْنُ عَوْنٍ فَلَا أَدْرِي مَا رَدُّوا قَالَ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ

dari Abu Ramlah ia berkata, Telah menceritakannya kepada kami Mikhnaf bin Sulaim ia berkata, “Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau melakukan wukuf di Arafah. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya bagi  setiap rumah/keluarga, atau atas setiap anggota keluarga harus memberikan Adlaah (memotong kurban) dan ‘Atiirah setiap tahunnya.” Mikhnaf bin Sulaim berkata, “Tahukah kalian apa itu ‘Atirah?” Ibnu ‘Aun berkata, “Aku tidak tahu apa jawaban mereka waktu itu.” Mikhnaf bin sulaim berkata, “(Atirah) Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah binatang yang disembelih di bulan Rajab.’” (H.R.Ahmad)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Menurut Syua’ib Arna-uth Hadis di atas sanadnya Dhoif karena Abu Romlah adalah perawi yang Majhul. Seandainya bisa dijadikan hujjahpun masih belum kuat menunjukkan kewajiban berkurban karena tidak ada lafadz lugas yang menunjukkannya.

Tambahan lagi, dalam Hadis itu yang diharuskan adalah dua hal yaitu  berkurban dan ‘Atiroh (kambing yang disembelih di bulan Rajab). Padahal Hadis yang lebih shahih menegaskan bahwa Islam tidak mengenal ‘Atiroh, tidak mensyariatkannya, dan tidak menganjurkannya apalagi sampai  mewajibkannya. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (17/ 124)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيرَةَ

وَالْفَرَعُ أَوَّلُ النِّتَاجِ كَانُوا يَذْبَحُونَهُ لِطَوَاغِيتِهِمْ وَالْعَتِيرَةُ فِي رَجَبٍ

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak ada Fara’ dan Atiroh.” Beliau lalu jelaskan: “Fara’ adalah anak pertama seekor unta yang mereka sembelih untuk sesembahan mereka, dan Atirah adalah hewan (kambing) yang mereka potong di bulan Rajab.” (H.R.Bukhari)

Abu Dawud juga meriwayatkan Hadis yang senada;

سنن أبى داود – م (3/ 64)

عَنْ أَبِى الْمَلِيحِ قَالَ قَالَ نُبَيْشَةُ نَادَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّا كُنَّا نَعْتِرُ عَتِيرَةً فِى الْجَاهِلِيَّةِ فِى رَجَبٍ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ « اذْبَحُوا لِلَّهِ فِى أَىِّ شَهْرٍ كَانَ وَبَرُّوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَطْعِمُوا »

dari Abu Al Malih, ia berkata; Nubaisy berkata; seorang laki-laki memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; sesungguhnya kami dahulu menyembelih hewan pada sepuluh pertama Bulan Rajab pada masa Jahiliyah, maka apakah yang anda perintahkan kepada kami? Beliau berkata: “Sembelihlah karena Allah pada bulan apa saja, dan berbaktilah kepada Allah ‘azza wajalla, serta berilah makan!” (H.R.Abu Dawud)

Seandainya  berkurban hukumnya wajib berdasarkan Hadis Ahmad di atas seharusnya ‘Atiroh juga wajib. Namun telah diketahui  bahwa ‘Atiroh hukumnya tidak wajib.

Ketiga; perintah berkurban dalam surat Al-Kautsar digandengkan dengan perintah Shalat yang hukumnya wajib. Jadi berkurban juga wajib. Allah berfirman;

{فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2]

Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (Al-Kautsar;2)

Jawaban argumentasi ini  adalah sebagai berikut;

Jika perintah Shalat difahami sebagai perintah yang umum, maka Shalat tersebut mencakup Shalat wajib dan Shalat Sunnah. Karena itu, tidak bisa dikhususkan sebagai Shalat wajib saja. Jika difahami Shalat Sunnah, maka berarti berkurban digandengkan dengan perintah Sunnah sehingga hukumnya juga Sunnah.

Jika perintah Shalat dalam surat Al-Kautsar itu difahami sebagai Shalat Ied, maka Shalat Ied hukumnya juga Sunnah. Sehingga perintah berkurban yang menyertainya adalah perintah yang Sunnah juga.

Lagipula, tidak semua poin dalam satu ayat yang disambung dengan Harf ‘Athof hukum Syara’nya sama. Sebagai contoh adalah ayat  berikut ini;

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ} [النحل: 90]

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat Ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan (An-Nahl; 90)

Dalam ayat ini perintah Adil hukumnya wajib. Perintah Ihsan hukumnya adalah Sunnah. Jadi tidak selalu poin-poin perintah yang di deret dalam satu ayat status hukum Syara’nya sama. Status hukum Syara’ sebuah perintah atau larangan harus memperhatikan Qorinah-Qorinah lain dalam Nash-Nash yang lain.

Keempat; Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan Shahabat yang berkurban sebelum Shalat Ied agar mengulangi  berkurban. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (17/ 262)

جُنْدَبَ بْنَ سُفْيَانَ الْبَجَلِيَّ قَالَ

شَهِدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

 

Jundab bin Sufyan Al Bajali berkata; aku ikut menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari raya kurban, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa menyembelih binatang kurban sebelum Shalat (Iedul Adha), hendaknya ia mengulangi kurbannya, dan barangsiapa belum berkurban hendaknya ia berkurban.” (H.R.Bukhari)

Imam Muslim juga meriwayatkan Hadis yang semakna;

صحيح مسلم (10/ 131)

جُنْدَبُ بْنُ سُفْيَانَ قَالَ

شَهِدْتُ الْأَضْحَى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعْدُ أَنْ صَلَّى وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَرَى لَحْمَ أَضَاحِيَّ قَدْ ذُبِحَتْ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِهِ فَقَالَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ أَوْ نُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ كَانَ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

Jundab bin Sufyan dia berkata, “Saya pernah ikut hadir Shalat Idul Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak lama setelah selesai Shalat, beliau melihat daging kurban yang telah disembelih, maka beliau bersabda: “Siapa yang menyembelih hewan kurban sebelum Shalat, hendaknya ia mengulanginya sebagai gantinya. Dan siapa yang belum menyembelih hendaknya menyembelih dengan menyebut nama Allah.” (H.R.Muslim)

Dari Hadis ini difahami, bahwa ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mengulang berkurban berarti berkurban hukumnya wajib, sebagaimana Shahabat yang disuruh mengulang Shalat ketika meninggalkan rukun Shalat.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Perintah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk mengulang berkurban adalah karena berkurban sebelum Shalat Ied hukumnya tidak sah, bukan menunjukkan kewajiban berkurban. Keabsahan suatu amal ibadah terkait dengan dipenuhinya Syarat dan Rukun, yang ini berbeda dengan pembahasan status wajib, Sunnah atau Mubahnya suatu perbuatan. Keabsahan ibadah adalah pembahasan kapan suatu amal bisa diharapkan diterima oleh Allah dan diganjar olehNya, sementara status wajib, Sunnah, Mubah adalah pembahasan apakah suatu perbuatan diperintahkan dengan tegas/keras/disertai ancaman, ataukan sekedar anjuran kebaikan tanpa disertai ketegasan/ancaman siksa.

Kelima; Ada Hadis yang menunjukkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melaksanakan secara konsisten dan terus menerus ibadah kurban. Ahmad meriwayatakan;

مسند أحمد (10/ 251)

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي

dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun selalu menyembelih kurban.” (H.R.Ahmad)

Terus menerusnya ibadah berkurban yang dilakukan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah wajib sebagaimana Shalat lima waktu dan puasa Ramadhan yang dilakukan terus menerus.

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Muhammad Abdurrahman  Al Mubarokfury dalm kitabnya Tuhfatu Al-Ahwadzi mengatakan bahwa dalam sanad Hadis tersebut ada perawi yang bernama Hajjaj bin Artho-ah yang banyak melakukan kesalahan dan melakukan Tadlis. Al-Albany menilainya Dhoif ketika mentakhrij Sunan At-Tirmidzi, sebagaimana Syu’aib Arna-uth juga mendhoifkannya ketika mentakhrij Hadis dalam Musnad Ahmad.

Lagipula, merutinkan amalan masih belum kuat menunjukkan kewajiban sebagaimana Shalat Rowatib, Siwak, membaca Mu’awwidzatain juga dirutinkan Nabi namun hukumnya tidak wajib.

Keenam; Nabi memerintahkan berkurban karena berkurban adalah Sunnah Nabi Ibrahim, sementara mengikuti Millah Ibrahim hukumnya wajib. Ibnu Majah meriwayatkan;

سنن ابن ماجه (9/ 281)

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

dari Zaid bin Arqam dia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?” beliau bersabda: “Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?” beliau menjawab: “Setiap rambut terdapat kebaikan.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.” (H.R.Ibnu Majah)

Jawaban argumentasi ini adalah sebagai berikut;

Riwayat di atas tidak bisa menjadi Hujjah karena sanadnya Dhoif Jiddan. Di dalamnya ada perawi yang bernama Abu Dawud Nufai’ bin Al-Harits Al-A’ma Al-Kufy  dan A’idzullah yang juga dinilai Dho’if.

Lagipula, mengikuti Millah Ibrohim, maksudnya adalah mengikuti dalam Tauhid. Sementara Syariat Nabi Ibrahim, bukanlah Syariat bagi umat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Atas dasar ini, hukum berkurban adalah Sunnah Muakkadah bukan wajib. Namun pendapat yang mewajibkan adalah pendapat yang Islami  dan Syar’I untuk diikuti oleh kaum Muslimin yang sepakat dengan cara pengambilan hukumnya.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa berkurban adalah Sunnah adalah; Suwaid bin Ghofalah, Sa’id bin Al-Musayyab, ‘Alqomah, Al-Aswad, ‘Atho’, As-Syafi’i, Ahmad,  Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Al-Mundzir, Abu Yusuf, Al-Muzany, Dawud, An-nawawy, dan Asyhab.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa berkurban adalah wajib  adalah; Abu Hanifah, Malik, Robi’ah, Ats-Tsaury, Al-Auza’y, Al-Laits , sebagian riwayat  dari Ahmad, dan Ibnu Taimiyah.

Wallahua’lam.

=============================================
Bagaimana Hukum Qurban Secara Kolektif?

Sebagaimana ketentuan di atas, satu kambing hanya boleh untuk satu orang (dan boleh diniatkan untuk anggota keluarga), satu sapi untuk tujuh orang (termasuk anggota keluarganya), dan satu unta untuk sepuluh orang (termasuk anggota keluarganya), lalu bagaimana jika 1 kambing dijadikan qurban untuk 10 orang atau untuk satu sekolahan (yang memiliki murid ratusan orang) atau satu desa? Ada yang melakukan seperti ini dengan alasan dana yang begitu terbatas.

Sebagai jawabannya, alangkah baiknya kita perhatikan fatwa ulama yang terhimpun dalam Al Lajnah Ad Da-imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) mengenai hal ini.

Soal kedua dari Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ no. 3055

Soal: Ada seorang ayah yang meninggal dunia. Kemudian anaknya tersebut ingin berqurban untuk ayahnya. Namun ada yang menyarankan padanya, ”Engkau tidak boleh menyembelih unta untuk qurban satu orang. Sebaiknya yang disembelih adalah satu ekor kambing. Karena unta lebih utama dari kambing. Jadi yang mengatakan ”Sembelihlah unta”, itu keliru”. Karena apabila ingin berkurban dengan unta, maka harus dengan patungan bareng-bareng.

Jawab:

Boleh berkurban atas nama orang yang meninggal dunia, baik dengan satu kambing atau satu unta. Adapun orang yang mengatakan bahwa unta hanya boleh disembelih dengan patungan bareng-bareng, maka perkataan dia yang sebenarnya keliru. Akan tetapi, kambing tidak sah kecuali untuk satu orang dan shohibul qurban (orang yang berqurban) boleh meniatkan pahala qurban kambing tadi untuk anggota keluarganya. Adapun unta boleh untuk satu atau tujuh orang dengan bareng-bareng berqurban. Tujuh orang tadi nantinya boleh patungan dalam qurban satu unta. Sedangkan sapi, kasusnya sama dengan unta.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Yang menandatangai fatwa ini:

Anggota: ’Abdullah bin Qu’ud, ’Abdullah bin Ghodyan

Ketua: ’Abdul ’Aziz bin ’Abdillah bin Baz[8]

Dari penjelasan ini, maka kita bisa ambil beberapa pelajaran:

  1. Seorang pelaku qurban dengan seekor kambing boleh mengatasnamakan qurbannya atas dirinya dan keluarganya.
  2. Qurban dengan sapi atau unta boleh dipikul oleh tujuh orang.
  3. Yang dimaksud kambing untuk satu orang, sapi dan unta untuk tujuh orang adalah dalam masalah orang yang menanggung pembiayaannya.
  4. Tidak sah berqurban dengan seekor kambing secara kolektif/urunan lebih dari satu orang lalu diniatkan atas nama jama’ah, sekolah, RT atau desa. Kambing yang disembelih dengan cara seperti ini merupakan daging kambing biasa dan bukan daging qurban.

Solusi dalam Iuran Qurban

Solusi yang bisa kami tawarkan untuk masalah iuran hewan qurban secara patungan adalah dengan acara arisan qurban. Jadi setiap tahun beberapa orang bisa bergantian untuk berqurban. Di antara alasan dibolehkan hal ini karena sebagian ulama membolehkan berutang ketika melakukan qurban.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan tentang orang yang tidak mampu aqiqah, ”Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.”[9] Qurban sama halnya dengan aqiqah.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, ”Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?” Abu Hatim menjawab, ”Aku telah mendengar firman Allah,

لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al Hajj: 36)”[10]

Catatan:

  1. Yang mengikuti arisan tersebut hendaknya orang yang berkemampuan karena yang namanya arisan berarti berutang.
  2. Harga kambing bisa berubah setiap tahunnya. Oleh karena itu, arisan pada tahun pertama lebih baik setorannya dilebihkan dari perkiraan harga kambing untuk tahun tersebut.
  3. Ketika menyembelih tetap mengatasnamakan individu (satu orang untuk kambing atau tujuh orang untuk sapi dan unta) dan bukan mengatasnamakan jama’ah atau kelompok arisan.

Bagaimana dengan Hadits ”Ini adalah qurbanku dan qurban siapa saja dari umatku yang belum berqurban”?

Sebagian orang ada yang beralasan benarnya qurban secara kolektif melebihi ketentuan syari’at yang dikemukakan di atas dengan alasan hadits Jabir bin ’Abdillah berikut,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِىَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ وَقَالَ « بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى ».

”Aku bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menghadiri shalat Idul Adha di tanah lapang. Setelah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkhutbah, beliau turun dari mimbar kemudian beliau diserahkan satu ekor domba. Lalu beliau memotong dengan tangannya, lantas bersabda, ”Bismillah, wallahu akbar. Ini adalah qurbanku dan qurban siapa saja dari umatku yang tidak ikut berqurban”.”[11] Mereka beralasan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja niatkan untuk seluruh umatnya yang tidak berqurban, maka berarti kami boleh niatkan qurban untuk satu RT, satu sekolahan atau satu desa.

Sanggahan: Mengenai hadits ”qurban siapa saja yang tidak ikut berqurban”, ini adalah khusus untuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak untuk yang lainnya. Jadi, beliau diperbolehkan berkurban untuk seluruh umatnya (selain keluarganya). Sedangkan umatnya hanya diperbolehkan menyembelih qurban untuk dirinya dan keluarganya sebagaimana dijelaskan di muka.

Al Qodhi Abu Ishaq mengatakan, ”Perkataan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ini –wallahu a’lam- sebagaimana seseorang boleh  berqurban untuk dirinya dan keluarganya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam boleh berqurban atas nama seluruh kaum muslimin karena beliau adalah ayah mereka dan istri-istri beliau adalah ibu mereka.”[12] Oleh karena, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah ayah kaum muslimin, maka beliau diperbolehkan meniatkan qurban untuk dirinya dan keluarganya (yaitu seluruh kaum muslimin).

Kesimpulan:

  1. Penyembelihan qurban untuk diri dan keluarga dibolehkan sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Hal ini berdasarkan amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
  2. Penyembelihan qurban untuk diri sendiri dan untuk seluruh umat Islam selain keluarga hanyalah khusus bagi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Dalilnya, para sahabat tidak ada yang melakukan hal tersebut sepeninggal Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Yang ada mereka hanya menyembelih qurban untuk diri sendiri dan keluarga.
  3. Sebagian kaum muslimin yang menyembelih qurban untuk satu sekolah atau untuk satu RT atau untuk satu desa adalah keliru, seperti ini tidak dilakukan oleh para salaf terdahulu.

====================================
Kurban memiliki beberapa syarat yang tidak sah kecuali jika telah memenuhinya, yaitu.

1. Hewan kurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa.

2. Telah sampai usia yang dituntut syari’at berupa jaza’ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah (berusia setahun penuh) dari yang lainnya.

a. Ats-Tsaniy dari unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun
b. Ats-Tsaniy dari sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun
c. Ats-Tsaniy dari kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun
d. Al-Jadza’ adalah yang telah sempurna berusia enam bulan

3. Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

a. Buta sebelah yang jelas/tampak
b. Sakit yang jelas.
c. Pincang yang jelas
d. Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang

Dan hal yang serupa atau lebih dari yang disebutkan di atas dimasukkan ke dalam aib-aib (cacat) ini, sehingga tidak sah berkurban dengannya, seperti buta kedua matanya, kedua tangan dan kakinya putus, ataupun lumpuh.

4. Hewan kurban tersebut milik orang yang berkurban atau diperbolehkan (di izinkan) baginya untuk berkurban dengannya. Maka tidak sah berkurban dengan hewan hasil merampok dan mencuri, atau hewan tersebut milik dua orang yang beserikat kecuali dengan izin teman serikatnya tersebut.

5. Tidak ada hubungan dengan hak orang lain. Maka tidak sah berkurban dengan hewan gadai dan hewan warisan sebelum warisannya di bagi.

6. Penyembelihan kurbannya harus terjadi pada waktu yang telah ditentukan syariat. Maka jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka sembelihan kurbannya tidak sah. [1]

HEWAN KURBAN YANG UTAMA DAN YANG DIMAKRUHKAN
Yang paling utama dari hewan kurban menurut jenisnya adalah unta, lalu sapi. Jika penyembelihannya dengan sempurna, kemudian domba, kemudian kambing biasa, kemudian sepertujuh unta, kemudian sepertujuh sapi.

Yang paling utama menurut sifatnya adalah hewan yang memenuhi sifat-sifat sempurna dan bagus dalam binatang ternak. Hal ini sudah dikenal oleh ahli yang berpengalaman dalam bidang ini. Di antaranya.

a. Gemuk
b. Dagingnya banyak
c. Bentuk fisiknya sempurna
d. Bentuknya bagus
e. Harganya mahal

Sedangkan yang dimakruhkan dari hewan kurban adalah.

1. Telinga dan ekornya putus atau telinganya sobek, memanjang atau melebar.
2. Pantat dan ambing susunya putus atau sebagian dari keduanya seperti –misalnya putting susunya terputus-
3. Gila
4. Kehilangan gigi (ompong)
5. Tidak bertanduk dan tanduknya patah

Ahli fiqih Rahimahullah juga telah memakruhkan Al-Adbhaa’ (hewan yang hilang lebih dari separuh telinga atau tanduknya), Al-Muqaabalah (putus ujung telinganya), Al-Mudaabirah (putus dari bagian belakang telinga), Asy-Syarqa’ (telinganya sobek oleh besi pembuat tanda pada binatang), Al-Kharqaa (sobek telinganya), Al-Bahqaa (sebelah matanya tidak melihat), Al-Batraa (yang tidak memiliki ekor), Al-Musyayya’ah (yang lemah) dan Al-Mushfarah [2, 3]

DAGING KURBAN YANG DIMAKAN, DIHADIAHKAN DAN DISHADAQAHKAN
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian hewan kurbannya, menghadiahkannya dan bershadaqah dengannya. Hal ini adalah masalah yang lapang/longgar dari sisi ukurannya. Namun yang terbaik menurut kebanyakan ulama adalah memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya dan bershadaqah sepertiganya.

Tidak ada perbedaan dalam kebolehan memakan dan menghadiahkan sebagian daging kurban antara kurban yang sunnah dan kurban yang wajib, dan juga tidak ada perbedaan antara kurban untuk orang hidup, orang yang wafat atau wasiat.

Diharamkan menjual bagian dari hewan kurban baik dagingnya, kulitnya atau bulunya dan tidak boleh juga memberi sebagian dari hewan kurban tersebut kepada jagalnya sebagai upah penyembelihan, karena hal itu bermakna jual beli.[4]

Ibnu Hazm Rahimahullah berpendapat lebih jauh dari itu, sampai ia menetapkan kewajiban memakan sebagian hewan kurbannya, ia mengatakan, “Diwajibkan atas setiap orang yang berkurban untuk memakan sebagian hewan kurbannya dan itu harus dilakukan walaupun hanya sesuap atau lebih. Juga diwajibkan bershadaqah darinya dengan sesukanya, baik sedikit atau pun banyak dan itu harus, dan dimubahkan memberi makan kepada orang kaya dan kafir dan menghadiahkan sebagiannya jika ia berkeinginan untuk itu.” [5]

[Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/450), Al-Mugni (VIII/637) dan setelahnya, Badaa’I’ush Shana’i (VI/2833) dan Al-Muhalla (VIII/30).
[2]. Para ulama berselisih tentang makna al-Mushfarah, ada yang menyatakan bahwa ia adalah hewan yang terputus seluruh telinganya dan ada yang mengatakan bahwa ia adalah kambing yang kurus. Lihat Nailul Authar (V/123).-pen.
[3].  Al-Mughni (IX/442), Badaa-i’ush Shana-i’ (VI/2846), Nihaayatul Muhtaaj (VIII/128) dan al-Muhalla (VIII/41).
[4]. Al-Mughni dengan Syarh al-Kabiir (XI/109), Tuhfatul Fuqa-haa’ (III/135) dan Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi (XIII/ 130).
[5]. Al-Muhalla (VIII/54).

==================================
Ilustrasi - Penyembelihan binatan qurban (picasaweb/PKS Sukahati-Cibinong)VI. Tata Cara Penyembelihan

Unta Didirikan dan Yang lain dibaringkan

Jika unta maka dipotong sewaktu ia berdiri, dan itu sunah, ada pun yang lainnya dengan cara berbaring. Hal ini disebutkan beberapa hadits berikut:

وَنَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَنَاتٍ بِيَدِهِ قِيَامًا

“Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembelih Unta dengan tangannya dengan cara berdiri …” [1]

Dari Ziyad bin Jubeir, dia berkata:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَتَى عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يَنْحَرُ بَدَنَتَهُ بَارِكَةً فَقَالَ ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Ibnu Umar mendatangi seorang laki-laki yang sedang menyembelih Unta sambil dibaringkan, lalu beliau berkata: “Bangkitkanlah agar berdiri, lalu ikatlah, itulah sunah nabimu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”[2]

Didirikan dengan tiga kaki, dan kaki kiri depan diikat, dari Abdurrahman bin Sabith, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَانُوا يَنْحَرُونَ الْبَدَنَةَ مَعْقُولَةَ الْيُسْرَى قَائِمَةً عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ قَوَائِمِهَا

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, mereka menyembelih Unta dengan keadaan kaki kiri depannya terikat, dan Unta berdiri atas tiga kakinya yang lain.”[3]

Sedangkan selain Unta, maka disembelih dengan cara dibaringkan. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

أما البقر والغنم، فيستحب ذبحها مضطجعة. فإن ذبح ما ينحر، ونحر ما يذبح، قيل: يكره، وقيل: لا يكره.

“Ada pun sapi dan kambing, disunnahkan menyembelih dengan cara dibaringkan. Jika terjadi sebaliknya, yang diri justru dibaringkan atau yang baring justru didirikan, maka dikatakan: makruh, ada pula yang mengatakan; tidak makruh.” [4]

Orang yang Menyembelih

Disunnahkan orang yang menyembelih adalah yang berkurban, jika dia memiliki keahlian. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

وَنَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَنَاتٍ بِيَدِهِ قِيَامًا وَذَبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ كَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyembelih Unta dengan tangannya sendiri sambil berdiri, di Madinah Beliau menyembelih dua ekor kambing Kibasy yang putih.”[5]

Namun, bagi yang tidak ada keahlian dianjurkan untuk menyaksikan penyembelihan. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq:

ويستحب أن يذبحها بنفسه، إن كان يحسن الذبح، وإلا فيندب له أن يشهده.

“Disunnahkan disembelih sendiri oleh yang berkurban, jika dia bisa menyembelih dengan baik, jika tidak bisa, maka dianjurkan untuk menyaksikan.”[6]

Dibolehkan menurut ijma’i ulama bagi orang bisu untuk menjadi penyembelih. Berkata Imam Ibnul Mundzir:

وأجمعوا على إباحة ذبيحة الأخرس.

“Para ulama telah ijma’ (sepakat), bahwa bolehnya sembelihan dari orang bisu.”[7]

Tasmiyah (membaca bismillah)

Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan wajib membaca bismillah (dan takbir) ketika menyembelih, sebagian lain mengatakan sunah. Namun, yang benar adalah wajib, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Maka makanlah dari (sembelihan binatang-binatang halal) Yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika betul kamu beriman kepada ayat-ayat–Nya.” (QS. Al An’am (6): 118)

Ayat ini mengaitkan antara keimanan dengan menyebut nama Allah Ta’ala ketika menyembelih, maka tidak syak (ragu) lagi atas wajibnya hal tersebut.

Dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

وَلَا آكُلُ إِلَّا مَا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Aku tidaklah makan makanan yang tidak disebut nama Allah atasnya (ketika menyembelihnya, pen).”[8]

عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Dari Anas, dia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua kambing Kibas berwarna putih dan bertanduk, dan memotong keduanya dengan tangannya sendiri, beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi Kibas tersebut (untuk mencengkram, pen).”[9]

Mendoakan Orang Yang Berkurban

Hal juga dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika hendak menyembelih. Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

‘Nabi mengucapkan: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammadin wa min ummati Muhamamdin (Dengan Nama Allah, Ya Allah terimalah Kurban dari Muhammad dan umat Muhammad),” lalu beliau pun menyembelih.” [10]

VII. Upah Untuk Penjagal (Penyembelih)

Tidak boleh memberikan upah dengan mengambil dari daging kurban, sebab Daging kurban adalah harta yang dipersembahkan dari dan untuk kaum muslimin, oleh karena itu dia tidak boleh dijadikan sebagai alat pembayaran atau dijual belikan, termasuk kulitnya, demikian ijma’ (kesepakatan) para ulama. Namun, penyembelih dibolehkan diberikan sedekah darinya, dan tidak dinamakan upah. Sedangkan upahnya diambil dari sumber dana yang lain.

Dalilnya adalah, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan unta-untanya dan menyedekahkan daging, kulit, dan bagian punuknya, dan saya diamanahkan agar tidak memberikan si tukang potong dari hasil potongan itu (sebagai upah).” Ali berkata: “Kami memberikannya dari kantong kami sendiri.”[11]

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah tentang hadits tersebut:

وأنه لا يجوز أن يعطى الجزار منه شيئا، على معنى الاجرة، ولكن يعطى أجرة عمله، بدليل قوله: ” نعطيه من عندنا “. وروي عن الحسن أنه قال لا بأس أن يعطى الجازر الجلد.

“Bahwa tidak diperbolehkan memberikan tukang potong dari hasil potongannya sedikit pun, maksudnya adalah tidak boleh memberikan upah (dari daging potongan), tetapi dia boleh diberikan upah atas kerjanya itu, dalilnya adalah: “Kami memberikannya dari kantong kami sendiri.” Diriwayatkan oleh Al Hasan bahwa dia berkata: “Tidak mengapa memberikan kulit untuk tukang potongnya.”[12]

Jadi, ada beberapa pelajaran dari hadits tersebut. Pertama, tukang potong tidak diupah dengan daging hewan kurban, namun boleh diberikan daging tersebut untuknya asalkan atas nama sedekah, bukan upah, sebab daging kurban adalah hak seluruh kaum muslimin, termasuk si pemotong. Kedua, tukang potong boleh diupah melalui sumber dana lain. Ketiga, dibolehkannya pengurusan hewan kurban diamanahkan kepada orang lain. (istilah sekarang: Panitia Qurban). Keempat, semua daging dan kulitnya adalah dibagi-bagikan (disedekahkan), bukan dijual.

Tertulis dalam Ta’sisul Ahkam:

التصدق بجميع الهدي وكل ما يتصل به

Bersedekah itu adalah dengan semua qurban dan semua hal yang terkait dengannya.[13]

Imam Al ‘Aini mengatakan:

وفيه من استدل به على منع بيع الجلد قال القرطبي وفيه دليل على أن جلود الهدي وجلالها لا تباع لعطفها على اللحم وإعطائها حكمه وقد اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذلك الجلود والجلال

Dalam hadits ini terdapat dalil bagi pihak yang mengatakan terlarangnya menjual kulit. Berkata Al Qurthubi: “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa kulit hewan qurban dan Jilal (daging punuk Unta) tidaklah dijual belikan, karena hukum menyedekahkannya itu satu kesatuan dengan daging. Mereka (para ulama) sepakat bahwa daging tidak boleh dijual, begitu juga kulitnya.” [14]

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فلا يجوز لكم إعطاء الجلد كأجرة للجزار، كما لا يجوز بيع شيء من الأضحية بما في ذلك الجلد له أو لغيره

Maka, tidak boleh bagimu memberikan kulit sebagai upah bagi penjagal, sebagaimana tidak boleh menjual bagian apa pun dari hewan qurban, seperti kulit atau lainnya. [15]

Ada pula yang membolehkan, yakni Al Auza’i, Ishaq, Ahmad, Abu Tsaur, dan segolongan Syafi’iyah. Abu Tsaur beralasan karena semua ulama sepakat bahwa kulit boleh dimanfaatkan, maka menjual kulit termasuk makna “memanfaatkan.” [16]

Menurut mayoritas ulama adalah tidak boleh. Berkata Imam Ash Shan’ani Rahimahullah:

واختلفوا في جلدها وشعرها مما ينتفع به فقال الجمهور لا يجوز وقال أبو حنيفة يجوز بيعه بغير الدنانير والدراهم يعني بالعروض

Para ulama berbeda pendapat tentang menjual kulit dan bulunya, yang termasuk bisa dimanfaatkan. Mayoritas ulama mengatakan tidak boleh, Abu Hanifah berpendapat boleh menjualnya dengan bukan dinar dan dirham, yakni dengan ’uruudh (barang berharga selain emas). [17]

Imam An Nawawi menjelaskan:

ومذهبنا أنه لا يجوز بيع جلد الهدى ولا الأضحية ولا شيء من أجزائهما

Pendapat mazhab kami adalah tidak boleh menjual kulit hewan qurban, tidak pula boleh dijual sedikit pun bagian-bagiannya. [18]

Beliau juga mengatakan:

وحكى بن المنذر عن بن عمر وأحمد واسحق أنه لا بأس ببيع جلد هديه ويتصدق بثمنه قال ورخص في بيعه أبو ثور

Ibnul Mundzir menceritakan bahwa Ibnu Umar, Ahmad, dan Ishaq menyatakan bahwa boleh menjual kulit hewan qurban, dan menyedekahkan uangnya. Katanya: Abu Tsaur memberikan keringanan dalam menjual kulit.[19]

Lalu, Imam An Nawawi juga menceritakan bahwa Al Auza’i dan An Nakha’i membolehkan menjual kulit dengan ayakan, timbangan, dan semisalnya. Al Hasan Al Bashri membolehkan kulit diberikan untuk penjagal. Lalu semua pendapat ini dikomentari Imam An Nawawi, katanya:

وهذا منابذ للسنة والله أعلم

Semua ini berlawanan dengan sunah. Wallahu A’lam.[20]

Demikianlah adanya perbedaan pendapat dalam hal menjual kulit. Namun, yang shahih –wallahu a’lam- adalah tidak boleh menjualnya sesuai zhahir hadits tersebut, dan apa yang dikatakan oleh Imam An Nawawi, bahwa menjualnya adalah: “Berlawanan dengan sunah.”

Catatan Kaki

[1] HR. Bukhari No. 1551, Al Baihaqi dalam As sunan Al Kubra No. 9993, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1879

[2] HR. Muslim No. 1320

[3] HR. Abu Daud No. 1767, sAs Sunan Al Kubra No. 9999, Syaikh Al Albany menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1767.

[4] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/741

[5] Lihat takhrijnya pada catatan kaki No. 26

[6] Syaikh Sayyid Sabiq. Ibid.

[7] Imam Ibnul Mundzir, Kitabul Ijma’, No. 220

[8] HR. Bukhari No. 5565

[9] HR. Muslim No. 1967

[10] Ibid

[11] HR. Muslim No. 1317

[12] Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/742.

[13] Ta’sisul Ahkam, 3/313

[14] Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 15/254

[15] Fatawa Syabakah Al Islamiyah, No. 58258

[16] Ibid

[17] Imam Ash Shan’ani, Subulus Salam, 4/95

[18] Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,9/65

[19] Ibid

[20] Ibid
=================================

(Dok. IKMI Johor)

VIII. Cara Pembagian Daging Kurban

Pemilik hewan kurban berhak mendapatkannya dan memakannya. Hal ini berdasarkan perintah dari Allah Ta’ala sendiri:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“.. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al Hajj (22): 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa pemilik hewan kurban berhak memakannya, lalu dibagikan untuk orang sengsara dan faqir, mereka adalah pihak yang lebih utama untuk mendapatkannya. Selain mereka pun boleh mendapatkannya, walau bukan prioritas.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah memaparkan cara pembagian sebagai berikut:

للمهدي أن يأكل من هديه الذي يباح له الاكل منه أي مقدار يشاء أن يأكله، بلا تحديد، وله كذلك أن يهدي أو يتصدق بما يراه. وقيل: يأكل النصف، ويتصدق بالنصف .وقيل: يقسمه أثلاثا، فيأكل الثلث، ويهدي الثلث، ويتصدق بالثلث.

“Si pemilik hewan kurban dibolehkan makan bagian yang dibolehkan baginya sesuai keinginannya tanpa batas. Dia pun boleh menghadiahkan atau menyedekahkan sesuka hatinya. Ada pula yang mengatakan dia boleh memakannya setengah dan menyedekahkan setengah. Dan dikatakan: dibagi tiga bagian, untuknya adalah sepertiga, dihadiahkan sepertiga, dan disedekahkan sepertiga.”[1]

IX. Bolehkah Berqurban Untuk Orang Yang Sudah Wafat?

Imam Al Bahuti mengatakan:

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ .

Imam Ahmad berkata: bahwa semua bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu. [2]

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ .

“Segala puji bagi Allah. Tidak ada dalam ayat, dan tidak pula dalam hadits, yang mengatakan bahwa ‘Tidak Bermanfaat’ doa seorang hamba bagi mayit, dan juga amal perbuatan yang diperuntukkannya berupa amal kebaikan, bahkan para imam Islam sepakat hal itu bermanfaat bagi mayit, hal ini sudah ketahui secara pasti dalam agama Islam, hal itu telah ditunjukkan oleh Al Quran, As Sunnah, dan ijma’. Barang siapa yang menyelesihinya, maka dia adalah ahli bid’ah.” [3]

Beliau juga berkata:

وَالْأَئِمَّةُ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ وَكَذَلِكَ الْعِبَادَاتُ الْمَالِيَّةُ : كَالْعِتْقِ

“Para imam telah sepakat bahwa sedekah akan sampai kepada mayit, demikian juga ibadah maaliyah (harta), seperti membebaskan budak.” [4]

Dan, qurban termasuk ibadah maaliyah.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

أَيَّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا الإِْنْسَانُ وَجَعَل ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ نَفَعَهُ ذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى : كَالدُّعَاءِ وَالاِسْتِغْفَارِ ، وَالصَّدَقَةِ وَالْوَاجِبَاتِ الَّتِي تَدْخُلُهَا النِّيَابَةُ

“Amal apa pun demi mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh manusia dan menjadikan pahalanya untuk mayit seorang muslim, maka hal itu membawa manfaat bagi mayit itu, Insya Allah, seperti: doa, istighfar, sedekah, dan berbagai kewajiban yang bisa diwakilkan.” [5]

Kelompok yang membolehkan berdalil:

Diqiyaskan dengan amalan orang hidup yang sampai kepada orang yang sudah wafat, seperti doa, sedekah, dan haji.
Ibadah maaliyah (harta) bisa diniatkan untuk orang yang sudah wafat seperti sedekah, dan berqurban jelas-jelas ibadah maaliyah.
Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengisyaratkan bahwa qurban untuk orang yang sudah wafat adalah boleh dan pahalanya sampai, Insya Allah.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

‘Nabi mengucapkan: “Bismillahi Allahumma taqabbal min Muhammadin wa min ummati Muhamamdin (Dengan Nama Allah, Ya Allah terimalah Kurban dari Muhammad dan umat Muhammad),” lalu beliau pun menyembelih.” [6]

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan agar qurban dari Beliau, dan umatnya diterima Allah Ta’ala. Hadits ini menyebut “umat Muhammad” secara umum, tidak dikhususkan untuk yang masih hidup saja. Sebab, “umat Muhammad” ada yang masih hidup dan yang sudah wafat.

Sebenarnya, telah terjadi perbedaan pandangan para ulama tentang berqurban untuk orang yang sudah wafat. Berikut ini rinciannya:

إِذَا أَوْصَى الْمَيِّتُ بِالتَّضْحِيَةِ عَنْهُ ، أَوْ وَقَفَ وَقْفًا لِذَلِكَ جَازَ بِالاِتِّفَاقِ . فَإِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً بِالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ وَجَبَ عَلَى الْوَارِثِ إِنْفَاذُ ذَلِكَ . أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَا فَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ . وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لأَِنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ .

وَقَدْ صَحَّ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْ نَفْسِهِ ، وَالآْخَرُ عَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِهِ . وَعَلَى هَذَا لَوِ اشْتَرَكَ سَبْعَةٌ فِي بَدَنَةٍ فَمَاتَ أَحَدُهُمْ قَبْل الذَّبْحِ ، فَقَال وَرَثَتُهُ – وَكَانُوا بَالِغِينَ – اذْبَحُوا عَنْهُ ، جَازَ ذَلِكَ . وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الذَّبْحَ عَنِ الْمَيِّتِ لاَ يَجُوزُ بِغَيْرِ وَصِيَّةٍ أَوْ وَقْفٍ .

Jika seseorang berwasiat untuk berkurban atau berwaqaf untuk itu, maka dibolehkan berkurban baginya menurut kesepakatan ulama. Jika dia memiliki kewajiban karena nazar atau selainnya, maka ahli warisnya wajib melaksanakannya. Ada pun jika dia tidak berwasiat, dan ahli waris dan selainnya nya hendak berkurban untuknya dari hartanya sendiri, maka menurut Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, membolehkan berkurban untuknya, hanya saja Malikiyah membolehkan dengan kemakruhan. Mereka membolehkan karena kematian tidaklah membuat mayit terhalang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala sebagaimana sedekah dan haji.

Telah shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkurban dengan dua kambing kibas, satu untuk dirinya dan satu untuk umatnya yang belum berkurban. Atas dasar ini, seandainya tujuh orang berpartisipasi dalam kurban Unta, lalu salah seorang ada yang wafat sebelum penyembelihan. Lalu ahli warisnya mengatakan –dan mereka sudah baligh- : sembelihlah untuknya, maka itu boleh. Sedangkan kalangan Syafi’iyah berpendapat tidak boleh berkurban untuk mayit tanpa diwasiatkan dan waqaf. [7]

Catatan Kaki:

[1] Ibid, 1/742-743

[2] Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16

[3] Majmu’ Fatawa, 5/466. Mawqi’ Al Islam

[4] Ibid

[5] Al Mughni, 567-569

[6] HR. Muslim No. 1967

[7] Al Bada’i Shana’i, 5/72. Hasyiyah Ibnu Abidin, 5/214. Hasyiyah Ad Dasuqi, 2/122, 123. Hasyiyah Al Bujirumi ‘alal Minhaj, 4/300. Nihayatul Muhtaj, 8/136. Al Mughni ‘Alal Asy Syarh Al Kabir, 11/107. Muthalib Ulin Nuha, 2/472

=======================================

Fiqh Aqiqah dan perbedaannya dgn qurban

PENGERTIAN ‘AQIQAH

  • ‘Aqiqah ialah sembelihan binatang an‘am yang dilakukan kerana menyambut kanak-kanak yang baru dilahirkan sebagai tanda kesyukuran kepada Allah subhanahu wata‘ala.

HUKUM MELAKUKAN ‘AQIQAH

  • Hukum melakukan ‘aqiqah ialah sunnah mu’akkadah bagi orang yang menanggung sara hidup kanak-kanak tersebut. Jika anak itu lelaki disunatkan menyembelih dua ekor kambing, manakala jika anak itu perempuan disunatkan menyembelih seekor kambing. Binatang seperti lembu, kerbau atau unta boleh dibahagikan kepada tujuh bahagian.

——————————–

Qurban dan aqiqah punya banyak persamaan dan perbedaan. Di antara persamaannya adalah sama-sama ibadah ritual dengan cara penyembelihan hewan. Dagingnya sama-sama boleh dimakan oleh yang menyembelihnya, meskipun sebaiknya sebagian diberikan kepada fakir miskin, tapi boleh juga diberikan sebagai hadiah. Hal ini berdasarkan hadis Aisyah ra.

Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh. (HR Al-Baihaqi).

Sedangkan perbedaannya, ibadah qurban hanya boleh dilakukan pada hari tertentu saja, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Dimulai sejak selesainya shalat ‘Idul Adha. Sedangkan aqiqah dilakukan lantaran adanya kelahiran bayi, yang dilakukan penyembelihannya pada hari ketujuh menurut riwayat yang kuat. Sebagian ulama membolehkannya pada hari ke 14, bahkan pendapat yang lebih luas, membolehkan kapan saja.

Bolehkah Menyembelih Quran untuk Orang yang Sudah Wafat?

Umumnya para ulama membenarkan menyembelih hewan qurban untuk keluarganya yang telah wafat. Kalau pun ada berbedaan di antara mereka, maka sedikit saja permasalahannya.

Apalagi bila semasa hidupnya pernah berwasiat untuk berkurban dari harta yang dimilikinya, maka semua mazhab menerimanya dan berpendapat bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal itu syah.

Sedangkan bila inisiatif itu datang dari orang lain dan juga uangnya, maka para ulama sedikit berbeda pendapat.

Fuqaha dari kalangan Al-Malikiyah mengatakan bahwa hal itu masih tetap boleh tapi dengan karahiyah (kurang disukai). Sebaliknya, kalangan fuqaha dari Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa hal itu boleh hukumnya. Artinya tetap syah dan diterima disisi Allah SWT sebagai pahala qurban.

Sebenarnya jumhur ulama umumnya menerima bahwa pahala yang dikirimkan kepada mayit di kubur itu bisa sampai. Terkecuali pendapat kalangan Asy-Syafi’iyah, mereka tidak menerima pandangan itu. Artinya, kalangan fuqaha Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa tidak bisa dikirm pahala kepada orang yang sudah wafat. Kecuali bila memang ada wasiat atau waqaf dari mayit itu ketika masih hidup.

Sebenarnya pendapat kalangan Asy-Syafi’iyah ini justru bertentangan dengan perilaku umat Islam di negeri ini yang mengaku bermazhab Asy-Syafi’iyah. Dan fenomena tahlilan atau mengirim pahala bacaan ayat Al-Quran al-Kariem kepada ruh di kubur justru menjadi ciri khas keagaamaan bangsa ini. Sementara mazhab mereka dalam hal ini Imam Asy-Syafi’i justru mengatakan bahwa pengiriman itu tidak akan sampai.

Sedangkan dasar kebolehannya adalah bahwa dalil-dalil menunjukkan bahwa kematian itu tidak menghalangi seorang mayit bertaqaruub kepada Allah SWT, sebagaimana dalam masalah shadaqah dan haji.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah hutang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR Al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji dengan dilakukan oleh orang lain memang jelas dasar hukumnya, oleh karena para shahabat dan fuqoha mendukung hal tersebut. Mereka di antaranya adalah Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Imam Asy-Syafi`i ra. dan lainnya. Sedangkan Imam Malik ra. mengatakan bahwa boleh melakukan haji untuk orang lain selama orang itu sewaktu hidupnya berwasiat untuk dihajikan.

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya.” (HR Jamaah)

Adapun anak yang meninggal saat dilahirkan, menurut banyak ulama tidak perlu disembelihkan aqidah, sebab secara umum aqidah hanya untuk anak yang hidup, sebagai doa atas kebaikannya di dunia ini.

—————————

WAKTU PELAKSANAAN ‘AQIQAH

  • Waktu melakukan ‘aqiqah adalah dari hari kelahiran kanak-kanak itu sehinggalah ia baligh. Masa yang paling afdhal untuk melakukan ‘aqiqah adalah pada hari ketujuh kelahiran kanak-kanak tersebut.
  • Sabda Rasullullah sallallahu ‘alayhi wasallam:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ , وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى .

Maksudnya:
“Setiap bayi itu tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya dan diberi nama.”
(Riwayat Abu Daud)

SYARAT ‘AQIQAH

  1. Berniat ‘aqiqah ketika menyembelih.
  2. Hendaklah binatang tersebut tidak ada cacat yang boleh mengurangkan dagingnya serta sampai umur.

PERKARA SUNAT SEMASA ‘AQIQAH

  1. Berdoa semasa hendak menyembelih: بِسْمِ اللهِ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَةٌ … (sebut nama anak)
    Maksudnya:
    “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, binatang ini daripada-Mu dan kembali kepada-Mu, ini ‘aqiqah…”.
  2. Menyembelih ketika matahari sedang naik.
  3. Daging ‘aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum disedekahkan.
  4. Tidak mematah-matahkan tulang-tulang daripada binatang ‘aqiqah, hanya mencerai-ceraikan sendi-sendinya.
  5. Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.
  6. Memasak daging ‘aqiqah dengan cara gulai manis untuk dihidangkan kepada tetamu.

PERKARA YANG PERLU DILAKUKAN KETIKA MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK

  1. Mengazankan di telinga sebelah kanan anak yang baru lahir.
  2. Membaca iqamah di telinga sebelah kirinya.
  3. Membaca doa di kedua-dua belah telinganya, contohnya membaca surah Al-Ikhlas.
  4. Menyapu lelangit kanak-kanak tersebut dengan benda-benda yang manis seperti buah tamar atau pisang.
  5. Menamakan kanak-kanak tersebut dengan nama-nama yang baik pada hari ketujuh kelahirannya.
  6. Mengadakan jamuan dan doa kesyukuran sempena kelahirannya.
  7. Mencukur rambut kanak-kanak tersebut selepas menyembelih ‘aqiqah untuknya.
  8. Memberi sedekah emas atau perak seberat rambut kanak-kanak yang dicukur itu atau wang yang sama nilai dengan emas atau perak tersebut.
  9. Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.

HIKMAH ‘AQIQAH

  1. ‘Aqiqah mengandungi beberapa hikmah, antaranya:
  2. Sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah kerana telah mengurniakan anak.
  3. Untuk mengisytiharkan kepada masyarakat umum tentang anugerah yang dikurniakan oleh Allah.
  4. Untuk memulakan kehidupan anak dengan perkara-perkara kebaikan.
  5. Mengeratkan hubungan silaturrahim antara ahli-ahli masyarakat dengan keluarga yang dikurniakan anak.
  6. Melahirkan rasa kegembiraan kerana mendapat zuriat yang menepati sunnah Rasulullah.

Perbezaan antara ‘aqiqah dan qurban.

Terdapat beberapa perbezaan antara ‘aqiqah dengan qurban:

  1. ‘Aqiqah tidak terikat pada masa tertentu, sedangkan qurban dilakukan pada masa-masa tertentu, iaitu selepas sembahyang dan khutbah Hari Raya ‘Aidil Adha hingga 13 Zulhijjah.
  2. Daging ‘aqiqah boleh diberi milik kepada orang kaya manakala daging qurban hanya boleh diberi kepada fakir miskin.
  3. ‘Aqiqah dilakukan sempena menyambut kelahiran anak sebagai tanda kesyukuran kepada Allah, manakala qurban dilakukan kerana memperingati peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya, Isma‘il.
  4. Daging qurban sunat disedekahkan secara mentah, sedangkan daging ‘aqiqah sunat disedekahkan setelah dimasak.

===============================

Sudah Dewasa Belum Diaqiqah, Lebih Utama Qurban atau Aqiqah yang Tertunda ?

Aqiqah adalah sembelihan hewan kurban untuk anak yang baru lahir dan dilakukan pada hari ketujuh kelahirannya. Hukum pelaksanaan aqiqah ini adalah sunnah muakkadah, sebagaimana diriwayatkan dari Samurah bahwa Nabi saw bersabda,”Setiap anak yang dilahirkan itu terpelihara dengan aqiqahnya dan disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberikan nama untuknya.” (HR. Imam yang lima, Ahmad dan Ashabush Sunan dan dishohihkan oleh Tirmidzi)

Waktu pelaksanaan aqiqah ini adalah pada hari ketujuh dari hari kelahirannya namun jika ia tidak memiliki kesanggupan untuk menagqiqahkannya pada hari itu maka ia diperbolehkan mengaqiqahkannya pada hari keempat belas, dua puluh satu atau pada saat kapan pun ia memiliki kelapangan rezeki untuk itu, sebagaimana makna dari pendapat para ulama madzhab Syafi’i dan Hambali bahwa sembelihan untuk aqiqah bisa dilakukan sebelum atau setelah hari ketujuh.

Adapun yang bertanggung jawab melakukan aqiqah ini adalah ayah dari bayi yang terlahir namun para ulama berbeda pendapat apabila yang melakukannya adalah selain ayahnya :

1. Para ulama Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa sunnah ini dibebankan kepada orang yang menanggung nafkahnya.

2. Para ulama Madzhab Hambali dan Maliki berpendapat bahwa tidak diperkenankan seseorang mengaqiqahkan kecuali ayahnya dan tidak dieperbolehkan seorang yang dilahirkan mengaqiqahkan dirinya sendiri walaupun dia sudah besar dikarenakan menurut syariat bahwa aqiqah ini adalah kewajiban ayah dan tidak bisa dilakukan oleh selainnya.

3. Sekelompok ulama Madzhab Hambali berpendapat bahwa seseorang diperbolehkan mengaqiqahkan dirinya sendiri sebagai suatu yang disunnahkan. Aqiqah tidak mesti dilakukan saat masih kecil dan seorang ayah boleh mengaqiqahkan anak yang terlahir walaupun anak itu sudah baligh karena tidak ada batas waktu maksimalnya.(al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2748)

Aqiqah atau Kurban

Dari keterangan diatas bisa disimpulkan bahwa aqiqah tidak mesti dilakukan pada hari ketujuh dan itu semua diserahkan kepada kemampuan dan kelapangan rezeki orang tuanya, bahkan ia bisa dilakukan pada saat anak itu sudah besar / baligh.

Orang yang paling bertanggung jawab melakukan aqiqah adalah ayah dari bayi terlahir pada waktu kapan pun ia memiliki kesanggupan. Namun jika dikarenakan si ayah memiliki halangan untuk mengadakannya maka si anak bisa menggantikan posisinya yaitu mengaqiqahkan dirinya sendiri, meskipun perkara ini tidak menjadi kesepakatan dari para ulama.

Dari dua hal tersebut diatas maka ketika seseorang dihadapkan oleh dua pilihan dengan keterbatasan dana yang dimilikinya antara kurban atau aqiqah maka kurban lebih diutamakan baginya, dikarenakan hal berikut :

1. Perintah berkurban ini ditujukan kepada setiap orang yang mukallaf dan memiliki kesanggupan berbeda dengan perintah aqiqah yang pada asalnya ia ditujukan kepada ayah dari bayi yang terlahir.

2. Meskipun ada pendapat yang memperbolehkan seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri namun perkara ini bukanlah yang disepakati oleh para ulama.

Dalil mereka yang memperbolehkan seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri adalah apa yang diriwayatkan dari Anas dan dikeluarkan oleh al Baihaqi, “Bahwa Nabi saw mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah beliau diutus menjadi Rasul.” Kalau saja hadits ini shohih, akan tetapi dia mengatakan,”Sesungguhnya hadits ini munkar dan didalamnya ada Abdullah bin Muharror dan ia termasuk orang lemah sekali sebagaimana disebutkan oleh al Hafizh. Kemudian Abdur Rozaq berkata,”Sesungguhnya mereka telah membicarakan dalam masalah ini dikarenakan hadits ini.” (Nailul Author juz VIII hal 161 – 162, Maktabah Syamilah)

Maksud dari istilah “Shalat menurut cara Nabi SAW” adalah mengerjakan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita wajib mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hal beribadah, apalagi dalam hal melaksanakan shalat tentunya. ————————- Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1] ————————- Diantara ayat Al-Qur’an yang mewajibkan sekeligus memerintahkan kita shalat yaitu: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa (4) : 103) ———————- Shalat itu dibagi pada yang wajib dan sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun islam.[2] ———————– Rukun shalat adalah bagian pokok dari sholat itu sendiri. Artinya, perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan karena jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah/batal. Rukun sholat itu ada 13 rukun, yaitu sebagai berikut: Niat (cukup didalam hati) Berdiri (jika mampu) Takbiratul Ikhram (takbir awal shalat) Membaca surat al-fatihah (kecuali makmum yang mendengar bacaan imam) Ruku` dan tuma`ninah (dengan sikap tenang sejenak) I`tidal dan tuma`ninah Sujud dan tuma`ninah Duduk diantara dua sujud dan tuma`ninah Duduk tasyahud akhir Membaca tasyahud akhir. Membaca shalawat kepada Nabi Membaca salam pertama menoleh ke kanan Tartib urutan tukunnya

Maksud dari istilah “Shalat menurut cara Nabi SAW” adalah mengerjakan shalat sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kita wajib mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hal beribadah, apalagi dalam hal melaksanakan shalat tentunya.
————————-

Lalu bagaimana cara kita mengikuti shalat Beliau SAW ? Ya tentu saja dengan cara kita mempelajari shalat tersebut dari para pewaris Nabi SAW, yaitu para ulama. Para ulama terutama para Imam Madzhab inilah yang jaraknya lebih dekat dengan para sahabat Rasulullah SAW. Guru-guru mereka  adalah para tabi’in yang tentunya berguru langsung dengan para sahabat Nabi SAW. Sekedar contoh saja misalnya Imam Malik Rahimullah Ta’ala. Beliau adalah salah satu dari empat imam madzhab fiqh. Beliau diberi gelar Imam Daril Hijrah (Pemuka Ulama Madinah). Beliau mempunyai guru yang bernama Nafi’ Rahimahullahu. Beliau (Nafi’) adalah mantan budak dsri Sahabat Abdullah Ibn Umar RA. Nafi’ Rahimahullahu Ta’ala tentunya berguru langsung kepada Abdullah Ibn Umar RA. Guru dari Abdullah Ibn Umar RA adalah ayahnya (Umar Ibn Al-Khattab RA) dan Rasulullah SAW. Dengan demikian. Sudah sangat jelas bahwa sanad keguruan beliau-beliau bersambung kepada Rasulullah SAW. Tentu saja dalil yang digunakan dalam ber-fiqh baik shalat dan lainnya adalah Al-Qur’an dan Hadis-hadis Rasulullah SAW. Untuk kita yang awam ini, tentu menjadi layak mengikuti (ittiba’) kepada salah satu dari imam 4 madzhab karena kedalaman ilmu beliau-beliau, baik dalam bidang fiqh mau pun hadis.
—————————–

Namun yang perlu kita maklumi bahwa tidak selalu pendapat para imam madzhab ini sama dalam menyimpulkan hukum fiqh. Keragamaan pendapat beliau-beliau yang sangat pakar ini tentu dalam hal teks nash, baik dari ayat Al-Qur’an maupun Hadis. Selain dari pemahaman teks nash yang tidak selalu sama, penilaian tentang kuat atau lemahnya hadis menurut beliau-beliau ini juga bisa saja menyebabkan kesimpulan hukum yang tidak sama. Namun perlu dipertegas lagi, bahwa keragamaan merka dalam berijtihad adalah sekitar masalah teks nash yang memang sangat memungkinkan adanya multi tafsir dan masalah tersebut berkutat pada masalah furu’iyah yang masih sangat dimaklumi dan ditolelir, tidak pada masalah pokok seperti tauhid. Dengan demikian, ittiba’ kepada salah satu madzhab sudah pasti mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW.
——————–

Contoh lain yang paling mudah kita temui seperti pertanyaan di atas adalah masalah membaca do’a iftitah dalam shalat. Sebagian ulama ada yang membaca iftitah dengan do’a Allahumma Ba’id Baini dst dan sebagian lagi ada yang membaca dengan Allahu Akbar Kabira dst. Kenapa, kok beda ? karena masing-masing mereka mempunyai dalil hadis bahwa nabi ketika iftitah membaca doa yang mereka hujahkan. Dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa do’a iftitah, baik Allahu Akbar Kabiira atau pun redaksi lainnya yang bersumber dari hadis, boleh dibaca semuanya ketika ifitah.
——————

Baiklah, Bii Aunillaahi Ta’ala saya mencoba memaparkan beberapa point pertanyaan akhi angga sebagai berikut :

  1. Untuk masalah taharruk (menggerakan ) jari ketika tasyahud, sebagai berikut :
  • Imam hanafi berpendapat bahwa mengangkat jari ketika sampai pada kalimat “La” dan menurunkan kembali ketika pada kalimat “illa”
  • Mazhab Maliki berpendapat bahwa menggerakan jari ke kanan dan ke kiri mulai dari awal tahiyyat sampai akhir.
  • Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa mengangkat telunjuk ketika mengucapkan “Illallaah”
  • Madzhab Hambali : Mengerakkan jari ketika setiap kali membaca kalimat “Allah”
    Mengenai bacaan tasyahud yang populer adalah sebagaimana yang umum dibaca masyarakat kita.
  1. Mengenai bacaan iftitah, malikiyah berpendapat makruh, sedangkan jumhur berpendapat sunnah. Do’a iftitah sangat banyak, mungkin yang paling jarang dibaca di masyarakat kita adalah redaksi : subhanakkallahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuk wa taalaa jadduk wala ilaaha ghairuk. Adapun bacaan iftitah NU dan Muhammadiyah sebagaimana yang anda tanyakan semuanya berdasarkah dari Hadis Rsulullah SAW dan kita boleh memilih salah satu diantaranya atau membacanya berganti-gantian, hari ini allahu akbar kabira, besoknya Allahumma ba’id dan besoknya lagi sebagaiman redaksi diatas.
  2. Jumhur berpendapat bahwa disunnahkan makmum membaca do’a iftitah sebelum imam memulai bacaan al Fatihah. Makmum mendengarkan bacaan Al fatihah ketika imam membacanya. Kemudian makmum membaca Al Fatihah ketika imam membaca surah setelah al fatihah. Bagaimana jika bacaan imam lebih pendek dari bacaan fatihah makmum ? makmum membaca alfatihah sepanjang bacaan imam walaupun fatihahnya belum selesai. Ini menurut pendapat madzhab Asy-Syafi’iyyah. Untuk pendapat madzhab lainnya dalam masalah ini, bisa dibaca lengkap di artikel kami : Hukum membaca Al-Fatihah bagi makmum.
  3. Para ulama sepakat bahwa niat adalah di dalam hati. Adapun membahasan atau melafazkan niat itulah yang menjadi perselihan mereka. Talaffuzh niyat ( membahasakan niyat) seperti membca ushalli dst, sebagian ulama ada yang menganggap sunnah, sebagian lagi menganggap boleh dan sebagian lagi menganggap makruh bahkan ada yang menganggap bid’ah.
  4. Mengenai sighat salam : Madzhab hanafi berpendapat paling sedikit dengan mengucapkan “assalam”. Sedangkan Madzhab Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa lafazh yang paling minimal adalah assalam alaikum (syafi’I hambali)./ ke semua madzhab sepakat bahwa yang paling afdhal adalah menggunakan redaksi lengkap, yaitu : “assalam alaikum wa rahmatullah” dan mereka sepakat tidak danjurkan membaca wa barakatuh

Wallahu a’lam
==========================

Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1]
————————-

Diantara ayat Al-Qur’an yang mewajibkan sekeligus memerintahkan kita shalat yaitu:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”       (QS. An-Nisaa (4) : 103)
———————-

Shalat itu dibagi pada yang wajib dan sunnah. Shalat yang paling penting adalah shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap hari. Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban ini atau meragukannya, ia bukan termasuk orang islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun islam.[2]
———————–

 

  1. Rukun, syarat wajib dan syarat sah sholat
    1. Rukun Sholat

Rukun shalat adalah bagian pokok dari sholat itu sendiri. Artinya, perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan karena jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah/batal. Rukun sholat itu ada 13 rukun, yaitu sebagai berikut:

  1. Niat (cukup didalam hati)
  2. Berdiri (jika mampu)
  3. Takbiratul Ikhram (takbir awal shalat)
  4. Membaca surat al-fatihah (kecuali makmum yang mendengar bacaan imam)
  5. Ruku` dan tuma`ninah (dengan sikap tenang sejenak)
  6. I`tidal dan tuma`ninah
  7. Sujud dan tuma`ninah
  8. Duduk diantara dua sujud dan tuma`ninah
  9. Duduk tasyahud akhir
  10. Membaca tasyahud akhir.
  11. Membaca shalawat kepada Nabi
  12. Membaca salam pertama menoleh ke kanan
  13. Tartib urutan tukunnya
    1. Syarat wajib sholat

Orang yang melaksanakan sholat lima waktu wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Beragama Islam
  2. Telah menerima dakwah Islam
  3. Suci dari darah haid dan nifas (bagi wanita)
  4. Berkal
  5. Balig
    1. Syarat sah sholat lima waktu

Sholat seseorang dikatakan sah apabila memnuhi hal-hal berikut ini:

  1. Suci dari hadas (baik hadas besar maupun kecil)
  2. Badan, pakaian, dan tempat sholat harus suci dari najis
  3. Menutup aurat
  4. Menghadap kiblat
  5. Telah tiba waktu sholat, tidak mendahuluinya[3]
  1. Bacaan dan gerakan sholat menurut tuntunan hadits Nabi SAW
    1. Takbir

Mengangkat kedua tangan sebatas kedua pundak saat takbiratul ikram

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَقَبْلَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ وَلَا يَرْفَعُهُمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi, Sa’id bin Manshur, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Amru an-Naqid, dan Zuhair bin Harb, serta Ibnu Numair semuanya dari Sufyan bin Uyainah dan lafazh tersebut milik Yahya, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Salim dari bapaknya dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memulai shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundak, dan mengangkat tangan sebelum rukuk dan ketika berdiri dari rukuk, namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya antara dua sujud.” (HR. Muslim)

Mengangkat kedua tangan hingga sebatas telinga

عَنْ وَاءِلَ ابْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صل الله عليه و سلّم : حِينَ افْتَتَحَ الصّلَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِيَالَ أُذُنَيْهِ قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُهُمْ فَرَ أَيْتُهُمْ يَرْ فَعُونَ اَيْدِيَهُمْ إِلَى صُدُورِهِمْ فِي افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ وَعَلَيْهِمْ بَرَانِسُ وَأَكْسِيَةٌ

Artinya: dari Wail bin Hujr, dia berkata, “saya melihat Rasullah SAW sewaktu memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua telinga beliau.” Katanya, “kemudian aku datang kepada mereka, aku melihat mereka mengangkat tangan sampai ke dada mereka sewaktu memulai shalat, sementara mereka memakai mantel yang menutup kepala dan memakai pakaian” (HR. Abu Daud)

  1. Do’a Iftitah

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ كَبَّرَ ثُمَّ قَالَ { وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا } مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ { إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ } اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ لِي إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ وَإِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعِظَامِي وَعَصَبِي وَإِذَا رَفَعَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ وَإِذَا سَجَدَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ فَأَحْسَنَ صُورَتَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ وَإِذَا سَلَّمَ مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya: Dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak mengerjakan shalat, beliau bertakbir kemudian membaca; “Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardli Haniifam Muslima Wamaa Ana Minal Musyrikin, Inna Shalaati Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaati Lillahi Rabbil ‘Aalamin, Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Anaa Awwalul Muslimin. Allahumma Antal Malik Laailaaha Illa Anta, Anta Rabbi Wa Anaa ‘Abduka Dlalamtu Nafsii Wa’taraftu Bidzanbii Faghfirlii Dzunuubi Jamii’a Innahu Laa Yaghfirud Dzunuuba Illa Anta Wahdinii Liahsanil Ahlaaqi Laa Yahdii Li Ahsanihaa Illa Anta Washrif ‘Anni Sayyi`Ahaa Laa Yashrif Sayyi`Ahaa Illa Anta. Labbaika Wa Sa’daika Wal Khairu Kulluhu Fii Yadaika Wass Syarru Laisa Ilaika Ana Bika Wa Ilaika Tabaarakta Wa Ta’aalaita Astaghfiruka Wa Atuubu Ilaika”. (Aku hadapkan muka-Ku ke hadirat Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan tunduk dan menyerahkan diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang Musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Penguasa seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikian aku di perintah, dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam (yang menyerah diri). Ya Allah, Enkau adalah Rabbku dan aku dalah hamba-Mu, aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dan mengakui kesalahanku, maka amnpunilah dosaku semuanya, dan tiadalah yang dapat mengampuni dosaku itu melainkan Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang baik, dan tak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak yang terbaik melainkan Engkau. Dan jauhkanlah aku dari akhlak yang tercela, karena tidak ada yang dapat menjauhkanku dari akhlak yang tercela melainkan Engkau, Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku patuhi perintah-Mu, kebaikan seluruhnya berada dalam kekuasaan-Mu, sedangkan kejahatan tidak dapat di pakai untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Aku ini hanya dapat hidup dengan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, Maha Berkah Engakau dan Maha Tinggi, aku meohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

Apabila ruku’, beliau membaca; “Allahumma Laka Raka’tu Wabika Aamantu Walaka Aslamtu Khasya’a Laka Sam’ii Wa Basharii Wa Mukhhii Wa ‘Idzaamii Wa ‘Ashabii (Ya Allah, kepada-Mu lah aku ruku’, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, dan kepada-Mu lah pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang belulangku dan urat sarafku tunduk).”

Apabila i’tidal beliau mengucapkan; “Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanaa Walakal Hamdu Mil`Us Samaawaati Wal Ardli Wa Mil`U Maa Bainahumaa Wamil`U Maa Syi`Ta Min Syai`In Ba’du” (Maha Mendengar Allah terhadap siapa saja yang memuji-Nya, Wahai Rabb kami, hanya bagi Engkau jua segala pujian, sepenuh langit, bumi, dan sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu).”

Apabila sujud, beliau mengucapkan; “Allahumma Laka Sajadtu Wa Bika Aamantu Walaka Aslamtu, Sajada Wajhiya Lilladzii Khalaqahu Wa Shawwarahu Fa Ahsana Shuuratahu Wa Syaqqa Sam’ahu Wa Basharahu Wa Tabaarakallahu Ahsanul Khaaliqin” (Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya dengan sebaik-baik bentuk, membuat pendengaran dan penglihatannya, dan Maha Barakah Allah, sebaik-baik pencipta).”

Apabila selesai salam, beliau mengucapkan; “Allahummaghfirlii Maa Qaddamtu Wa Maa Akhhartu Wamaa Asrartu Wamaa A’lantu Wamaa Asraftu Wamaa Anta A’lamu Bihi Minni Antal Muqaddim Wal Mu`Akhhir Laa Ilaaha Illa Anta (Ya Allah, ampunilah daku, dan dosa-dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang, dosa yang samar dan dosa yang jelas, serta dosa yang hanya Engkau saja yang mengetahuinya, Engkau lah yang mendahulukan dan mengundurkan, tiada ilah selain Engkau).” (HR. Muslim)

Do’a iftitah dengan bacaan “Subhaanaka Allahumma Wabihamdika”

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ ثُمَّ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثَلَاثًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ثَلَاثًا أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ ثُمَّ يَقْرَأُ

Artinya: Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk shalat malam, beliau bertakbir kemudian mengucapkan: “Subhaanaka Allahumma Wabihamdika Watabaarakasmuka Wa Ta’aala Jadduka Walaa Ilaaha Ghairaka” (Maha suci Engkau, ya Allah, aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha luhur keluhuran-Mu dan tidak ilah selain Engkau).” kemudian membaca: “Laa Ilaaha Illallah” (tidak ada ilah selain Allah) sebanyak tiga kali, kemudian membaca: “Allahu Akbar Kabiira (Allah Maha besar benar-benar Maha besar).” sebanyak tiga kali- (kemudian membaca): “A’uudzu Billahis Samii’il ‘Aliim Minas Syaithaanir Rajiim Min Hamzihii Wanafkhihi Wa Naftsihi” (Aku berlindung kepada Allah, dzat yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari goda’an syetan yang terkutuk, dari kegilaannya, dari kesombongannya dan syairnya yang jelek).” kemudian beliau membaca (Al-Fatihah).” (HR. Abu Daud)

  1. Wajibnya membaca al Fatihah pada setiap rakaat

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Arinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid serta Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Sufyan berkata Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Mahmud bin ar-Rabi’ dari Ubadah bin ash-Shamit menyatakan hadits tersebut marfu’ kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Hr. Muslim)

Membaca ‘Amin’ di belakang imam

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ عَنْ حُجْرٍ أَبِي الْعَنْبَسِ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ { وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Salamah dari Hujr Abu Al ‘Anbas Al Hadlrami dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca; “Walaadl dlaallin, beliau mengucapkan; “Amiin” Sambil mengangkat suaranya.“ (HR. Abu Daud)

  1. Tentang Basmalah

Pendapat yang tidak mengeraskan Basmalah

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَ�قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka semua memulai bacaannya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin”. (HR. Abu Daud)

Pendapat yang mengeraskan Basmalah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قال: كَانَ النَّبِيُّ صل الله عليه و سلّم لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA. Dia berkata, “Nabi SAW tidak mengetahui pemisah surah, sehingga diturunkan kepada beliau . Bismillaa hirramaa nirraahim” (HR. Abu Daud)

  1. Peletakan tangan

Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جُحَادَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ وَائِلٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ وَمَوْلًى لَهُمْ أَنَّهُمَا حَدَّثَاهُ عَنْ أَبِيهِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ الْتَحَفَ بِثَوْبِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ أَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنْ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهُمَا ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ فَلَمَّا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhadah telah menceritakan kepadaku Abdul Jabbar bin Wail dari Alqamah bin Wail dan maula milik mereka bahwa keduanya telah menceritakannya dari bapaknya, Wail bin Hujr “Bahwasanya dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya ketika masuk shalat, bertakbir.” Hammam menggambarkannya, “Di hadapanya, kemudian melipatnya pada bajunya kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Ketika dia ingin rukuk, maka beliau mengeluarkan kedua tangannya dari bajunya, kemudian mengangkat keduanya, kemudian bertakbir, lalu rukuk. Ketika beliau mengucapkan, ‘Samiallahu Liman Hamidahu’ maka beliau mengangkat kedua tangannya. Ketika beliau sujud, maka beliau sujud di antara kedua telapak tangannya.” (HR. Muslim)

Meletakkan tangan diatas dada

عَنْ طَاوُسٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ الله صل الله عليه و سلّم يَضَعُ يَدَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدَّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

Artinya: dari Thawus, dia berkata, “Rasulullah SAW meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, kemudian menarik keduanya di atas dada, sedang beliau dalam keadaan shalat” (HR. Abu Daud)

Larangan melatakkan tangan pada lambung

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ عَنْ وَكِيعٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ صَبِيحٍ الْحَنَفِيِّ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَوَضَعْتُ يَدَيَّ عَلَى خَاصِرَتَيَّ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ هَذَا الصَّلْبُ فِي الصَّلَاةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sarri dari Waki’ dari Sa’id bin Ziyad dari Ziyad bin Shabih Al Hanafi dia berkata; saya shalat di samping Ibnu Umar, lalu aku meletakkan kedua tanganku pada kedua lambungku (bertolak pinggang), seusainya shalat, dia berkata; “Ini adalah salib dalam shalat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan seperti ini.” (HR. Abu Daud)

  1. Ruku’

Mengangkat tangan saat ruku’

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ

وَزَادَ

Artinya: telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Ibnu Abu Umar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya ia berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membuka shalat mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya. Beliau juga mengangkat tangan ketika rukuk dan mengangkat kepalanya dari rukuk.” (HR. Tirmidzi)

Meletakkan tangan diatas kedua lutut saat rukuk

عن مُصْعَبْ بن سَعْدٍ قال: صَلَيْتُ إِلَي جَنْبِ أَبِي فَجَعَلْتُ يَدَيَّ بَيْنَ رُكْبَتَيَّ فَنَهَانِي عَنْ ذَلِكَ فَعُدْتَ فَقَالَ: لَاتَصْنَعْ هَذَا، فَإِنَّا كُنَّا نَفْعَلَهُ فَنُهِيْنَا عَنْ ذَلِكَ وَأُمِرْنَا أَنْ نَضَعَ أَيْدِيَنَا عَلَى الرُّكَبِ

Artinya: dari Mush’ab bin Sa’ad, dia berkata, ”Aku pernah mengerjakan shalat disamping bapakku, lalu aku meletakkan kedua tanganku antara kedua lututku, maka ia melarangku mengerjakan cara yang demikian itu. Lalu saya kembali (mengulanginya), ia berkata (ayahku), janganlah kamu melakukan cara ini, lalu kami dilarang melakukannya dan kami diperintahkan supaya meletakkan tangan diatas lutut.” (HR. Abu Daud)

Bacaan dalam Ruku dan Sujud

عن شُعْبَةُ قَالَ: قُلْتُ لِسُلَيْمَانَ أَدْعُوْ فِي الصَّلَاةِ إِذَا مَرَرْتُ بِايةِ تَخَوُّفٍ؟ فَحَدَّثَنِى عنْ سَعْدِ عُبَيْدَتَ عنْ مُسْتَوْرِدٍ عنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ عنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم فَكَانَ يَقُوْلُ فِي رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَفِي سُجُوْدِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى، وَمَا مَرَّ بِايةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَقَفَ عِنْدَهَا فَسَأَلَ وَلَا بِايةِ عَذَابٍ إَلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا فَتَعَوَّذَ.

Artinya: Dari Syu’bah, dia berkata, ”aku berkata kepada Sulaiman, Apabila aku membaca ayat yang mengandung kekhawatiran (atau ketakutan), apakah aku harus berdo’a dalam shalat?” dari Hudzaifah, bahwasannya dia pernah shalat dengan Nabi SAW, lalu beliau dalam rukuknya, ”Subhaana Rabbiyal ’Azimii (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung)” dalam sujud membaca ”Subhaana Rabbiyal A’laa (Maha Suci Tuhanku yang Maha Luhur)”. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau pasti berhenti pada ayat itu, lalu berdo’a dan setiap kali melewati ayat tentang adzab, beliau juga pasti berhenti pada ayat itu, lalu memohon perindungan.” (HR. Muslim)

Bacaan dalam ruku’ dan Sujud

عَنْ عَاءِشَةَ أَنْ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم كَانَ يَقُوْلُ فِي رُكُوْعِهِ وَ سُجُوْدِهِ: سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَا ءِكَةَ وَالرُّوْحِ

Artinya: Dari Aisyah RA, bahwasannya Nabi SAW mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya, ”Subbuhul Qudduusun, rabbul malaa’ikati waruuhi” (Maha Suci Allah, Tuhan kami, Tuhan Malaikat dan Jibril”). (HR. Muslim)

Shalatnya orang yang tidak menegakkan tulang sulbinya saat rukuk dan sujud

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ النَّمَرِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar An Namari telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari ‘Umarah bin Umair dari Abu Ma’mar dari Abu Mas’ud Al Badri dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sempurna shalat seseorang sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.“ (HR. Abu Daud)

  1. I’tidal

Apa yang dibaca saat mengangkat kepala dari rukuk

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dan Waki’ dari al-A’masy dari Ubaid bin al-Hasan dari Ibnu Abi Aufa dia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam apabila beliau mengangkat punggungnya dari rukuk maka beliau mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidahu, Allahumma Rabbana laka al-Hamdu Mil’u as-Samawati wa Mil’u al-Ardh wa Mil’u Ma Syi’ta Min Sya’in Ba’du. (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujiNya. Yami, segala puji bagimu sepenuh langit dan bumi serta sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu)”. (HR. Muslim)

  1. Cara meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَال

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “saya melihat apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” (HR. Abu Daud)

  1. Sujud

Mengangkat tangan saat turun sujud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ وَهُوَ يَهْوِي

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ التَّابِعِينَ قَالُوا يُكَبِّرُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَهْوِي لِلرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

dari Abu Hurairah berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika sedang turun (sujud).” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih. ini adalah pendapat ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in. Mereka berkata; “Seorang laki-laki hendaknya bertakbir ketika rukuk dan sujud.” (HR. Tirmidzi)

Anggota sujud

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ قَالَ حَمَّادٌ أُمِرَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ وَلَا يَكُفَّ شَعْرًا وَلَا ثَوْبًا

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Sulaiman bin Harb keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari ‘Amru bin Dinar dari Thawus dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “aku di perintah” sedangkan Hammad mengatakan; Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam di perintah supaya melakukan sujud atas tujuh anggota badan, dan supaya seseorang tidak menahan rambut dan kainnya ketika sujud.” (HR. Abu Daud)

Tujuh anggota sujud

عَنِ الْعَبَّاسِ ابْنِ عَبْدِالْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولُ الله صل الله عليه و سلّم يَقُوْلُ: إِذَا سَجَدُ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ اَرَابٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ

Artinya: Dari Abbas bin Abbdul Muthallib RA, bahwasannya dia pernah mendengar Rasullah SAW bersabda, ”Apabila seorang hamba bersujud, sujudlah bersamanya anggota badan, yakni: Muka, Kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kakinya.” (HR. Muslim)

Sujud pada hidung dan jidad

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُئِيَ عَلَى جَبْهَتِهِ وَعَلَى أَرْنَبَتِهِ أَثَرُ طِينٍ مِنْ صَلَاةٍ صَلَّاهَا بِالنَّاسِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ نَحْوَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Sufwan bin Isa telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terlihat pada dahi dan ujung hidung beliau terdapat bekas tanah dari mengerjakan shalat bersama orang-orang.” Telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar seperti hadits di atas.” (HR. Abu Daud)

Menampakkan ketiak dan merenggangkan lengan saat sujud

أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُرْمُزَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ رَبِيعَةَ نَحْوَه

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Bakar bin Mudlar dari Ja’far bin Rabi’ah dari Ibnu Hurmuz dari ‘Abdullah bin Malik bin Buhainah, “bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya.” Al Laits berkata, telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Rabi’ah seperti itu.” (HR. Bukhari)

Sifat (Cara) Sujud

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه و سلّم قال: اع ْتَدِلُوْا فِي السُّجُوْدِ، وَلَا يَفْتَرِشْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ الْكَلْبِ

Artinya: Dari Anas RA, bahwasannya Nabi SAW bersabda, ”Sempurnakanlah dalam bersujud, dan janganlah salah seorang dari kamu membentangkan kedua lengannya, sebagaimana anjing.” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk Iq’a` antara dua sujud

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا يَقُولُ قُلْنَا لِابْنِ عَبَّاسٍ فِي الْإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ فِي السُّجُودِ فَقَالَ هِيَ السُّنَّةُ قَالَ قُلْنَا إِنَّا لَنَرَاهُ جُفَاءً بِالرَّجُلِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ هِيَ سُنَّةُ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa “dia mendengar Thawus berkata; kami bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai duduk iq`a’ (duduk bersimpuh) di atas kedua tumit di antara sujud.” Ibnu Abbas menjawab; “itu termasuk sunnah”. Kata Thawus; “kami berkata; “Sesungguhnya kami melihatnya kurang sopan.” Ibnu Abbas menjawab; “Itu adalah sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam.“ (HR. Abu Daud)

Doa antara dua sujud

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas’ud telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Khubbab telah menceritakan kepada kami Kamil Abu Al ‘Ala` telah menceritakan kepadaku Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan diantara dua sujudnya “Allahumma Ghfir Li Warhamni Wa’afini Wahdini Warzuqni” (ya Allah anugerahkanlah untukku ampunan, rahmat, kesejahteraan, petunjuk dan rizki).“ (HR. Abu Daud)

  1. Cara bangkit dari rakaat ganjil

عنْ أَبِى قِلَابَةَ قَالَ: جَاءَ نَا أَبُوْ سُلَيُمَانَ مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثْ إِلَى مَسْجِدِنَا فقال: وَ الله إِنِّي لأُصَلِّي وَمَا أُرِيْدُ الصَلَاةَ وَلَكِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ رَأَيْتُ رَسُوْلُ الله صل الله عليه و سلّم يُصَلِّي ؟ قَالَ: فَقَعَدَ فِيْ الرَّكْعَةِ الأُوْلَى حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجَدَةِ الاَخِرِةِ

Artinya: Dari Abu Qilabah, dia berkata, ”Abu Sulaiman Malik bin Huwarits datang ke masjid kami, lalu berkata, ”Demi Allah sesungguhnya aku akan mengerjakan shalat bersamamu, sebenarnya aku tidak mau mengerjakan shalat, akan tetapi aku bermaksud akan memperhatklan kepada kalian bagaimana cara Rasullah SAW mengerjakan Shalat,” kata Abu Qilabah, ”maka dia duduk (istirahat) pada rakaat pertama, ketika bangkit dari sujud akhir.” (HR. Abu Daud)

Mengangkat tangan saat bangkit rakaat kedua

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْمُحَارِبِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah dan Muhammad bin ‘Ubaid Al Muharibi keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari ‘Ashim bin Kulaib dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari raka’at kedua, beliau bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya.” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk tasyahud

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً وَرَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَحَلَّقَ بِشْرٌ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa’il bin Hujr dia berkata; kataku; “Sungguh aku melihat bagaimana tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!.” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, lalu menghadap kiblat, bertakbir, mengangkat kedua tangan sehingga sejajar dengan kedua telinga, setelah itu tangan kanan beliau memegang tangan kirinya, sewaktu beliau hendak ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya seperti tadi.” Katanya melanjutkan; “Kemudian beliau duduk, yaitu menduduki kaki kirinya dan meletakkan tangan kiri di atas paha kirinya sambil merenggangkan siku yang kanan terhadap paha sebelah kanan dan menggenggam kedua jari (kelingking dan manis) dan membentuk suatu lingkaran. Aku melihat beliau melakukan seperti ini Bisyr membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah serta menunjuk dengan jari telunjuk.“ (HR. Abu Daud)

Bacaan Tasyahud

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كُنَّا إِذَا جَلَسْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قُلْنَا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ قَبْلَ عِبَادِهِ السَّلَامُ عَلَى فُلَانٍ وَفُلَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمْ ذَلِكَ أَصَابَ كُلَّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَوْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُوَ بِهِ

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata; “Apabila kami selesai duduk-duduk bersama bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat, maka kami ucapkan; “As Salaamu ‘alallah qabla ‘ibaadihis salaam’ala fulaanin wa fulaan (selamat sejahtera bagi Allah sebelum hamba-bamba-Nya, selamat sejahtera bagi fulan dan fulan).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mengatakan “As Salaamu ‘alaallah, karena Allah adalah dzat sumber keselamatan, akan tetapi jika salah seorang dari kalian duduk hendaklah mengucapkan; ‘At Tahiyyati Lillah Was Shalawaatu Wat Thayyibaat, As Salaamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiiyyu Warahmatullahi Wa Barakaatuh As Salaamu ‘Alaina Wa ‘Alaa Ibaadillahis Shalihin (Segala kesejahteraan milik Allah semata, begitupun segala kasih-sayang dan hal-hal yang baik, selamat sejahtera kiranya terlimpah kepadamu wahai Nabi, begitupun rahmat Allah serta berkah-berkah-nya. Selamat sejahtera terlimpah pula atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang Shalih) ” apabila kalian mengucapkan seperti ini, maka kalian dapat mencapai semua hamba yang Shalih baik yang di langit maupun yang di bumi, -atau sabdanya- di antara langit dan bumi. ‘ “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Ann Namuhammadan ‘Abduhu Wa Rasuuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selaian Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya) “, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih do’a yang menarik hatinya dan berdo’a dengan do’a itu.” (HR. Abu Daud)

Membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setelah syahadat

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَرْتَنَا أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ وَأَنْ نُسَلِّمَ عَلَيْكَ فَأَمَّا السَّلَامُ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ بِشْرٍ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ الْحَكَمِ بِإِسْنَادِهِ بِهَذَا قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى كَمَا رَوَاهُ مِسْعَرٌ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَاقَ مِثْلَه

dari Ka’b bin ‘Ujrah dia berkata; kami bertanya -atau- mereka bertanya; “Wahai Rasulullah, Anda memerintahkan kami untuk bershalawat dan salam kepada anda, kami telah mengetahui tentang salam, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepada anda?” beliau bersabda: “Ucapkanlah; ‘Allahumma Shalli ‘Ala Muhammadin Wa’alaa Aalii Muhammad, Kamaa Shallaita ‘Alaa Ibrahim. Wabaarik ‘Alaa Muhammad Wa’alaa Aali Muhammad, Kamaa Barakta ‘Alaa Ibrahim Fil ‘Alamiina Innaka Hamidum-Majiid (Ya Allah, curahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau curahkan kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Agung).” (HR. Abu Daud)

  1. Duduk tawaruk pada rakaat keempat

عَنْ أَبِي حُمَيْدٍالسَّاعِدِيَّ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو قَتَادَةَ قَالَ أَبُو حُمَيْدٍ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا فَاعْرِضْ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ وَيَفْتَحُ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ إِذَا سَجَدَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ وَيَثْنِي رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَيَقْعُدُ عَلَيْهَا ثُمَّ يَصْنَعُ فِي الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ زَادَ أَحْمَدُ قَالُوا صَدَقْتَ هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي وَلَمْ يَذْكُرَا فِي حَدِيثِهِمَا الْجُلُوسَ فِي الثِّنْتَيْنِ كَيْفَ جَلَسَ

Artinya: dari Abu Humaid As Sa’idi dia berkata; saya pernah mendengarnya berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -Ahmad berkata; telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atha` dia berkata; aku mendengar Abu Humaid As Sa’idi berkata di tengah-tengah sepuluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya adalah Abu Qatadah, Abu Humaid berkata; “Aku lebih mengetahui tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka berkata; “kalau demikian, jelaskanlah.” Kemudian Abu Humaid menyebutkan hadits tersebut, katanya; “… kemudian beliau membuka jari-jari kedua tangannya apabila sujud, lalu mengucapkan: “Allahu Akbar” Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan melipat kaki kirinya serta mendudukinya, beliau mengerjakan seperti itu di raka’at yang lain.” Kemudian dia menyebutkan lanjutan dari hadits tersebut, katanya; “…dan ketika beliau duduk (tahiyyat) yang terdapat salam, beliau merubah posisi kaki kiri dan duduk secara tawaruk (duduk dengan posisi kaki kiri masuk ke kaki kanan) di atas betis kiri.” Ahmad menambahkan; “Sepuluh sahabat tersebut berkata; “Benar kamu, demikianlah beliau biasa melaksanakan shalat.” keduanya tidak menyebutkan dalam kedua hadits tersebut tentang cara duduk dalam rala’at kedua.”  (HR. Abu Daud)

  1. Menunjukdalam shalat

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُعَاوِيِّ قَالَ رَآنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَعْبَثُ بِالْحَصَى فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ نَهَانِي وَقَالَ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فَقُلْتُ وَكَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخْذِهِ الْيُسْرَى

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi dari Malik dari Muslim bin Abu Maryam dari Ali bin Abdurrahman Al Mu’awi dia berkata; Abdullah bin Umar melihatku, ketika aku sedang mempermainkan kerikil dalam shalat, seusai shalat, dia melarangku sambil berkata; “Perbuatlah seperti yang di perbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” kataku; ‘Bagaimana yang biasa di perbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” dia menjawab; “Apabila beliau duduk dalam shalat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan menggenggam semua jari jemarinya seraya menunjuk dengan jari yang dekat ibu jari (jari telunjuk) dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.” (HR. Abu Daud)

  1. Doa setelah syahadat

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَائِشَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepadaku Hasan bin ‘Athiyah telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Aisyah bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu; dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari kejahatan Dajjal.” (HR. Abu Daud)

Do’a setelah Tasayahhud

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَلْمَمَاتِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, dari Nabi SAW, bahwasannya setelah membaca tasyahhud beliau mengucapkan, “Allahumma Innii ‘Auudzu Bika Min ‘Azaabi Jahanna, Wa A’uudzu Bika Min ‘Adzaabil Qabri, Wa A’uudzu Bika Min Fitnatid Dajjal, Wa A’uudzuu Bika Min Fitnatil Mahyaa Wal Mamaati (Wahai Allah, aku berlindung kepada engkau dari siksa neraka, aku berlindung kepada engkau dari siksa kubur, aku berlindung kepada engkau dari fitnah dajjal. Aku berlindung kepada engkau dari fitnah hidup dan mati ), (HR. Abu Daud)

  1. Salam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Artinya: Dari Abdullah bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memberi salam ke arah kanan dan ke arah kiri sehingga terlihat putih pipi beliau (beliau mengucapkan): ” Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah, Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi (semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian, semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Abu Daud)

Ucapan Salam

عَنْ وَاءِلٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صل الله عليه و سلّم فَكَانَ يُسَلَّمُ عَنْ يَمِينِهِ (اَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ (الله وَبَرَكَةُ) وَ عَنْ شِمَالِهِ (اَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله

Artinya: Dari Wail, dia berkata, “saya pernah mengerjakan shalat bersama nabi SAW, beliau biasa memberi salam ke kanan beliau (dengan mengucapkan), Asslamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakatu (Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkahnya tetap atas kalian), dan ke sebelah kiri beliau (dengan mengucapkan) Asslamu ‘alaikum wa rahmatullaahi (semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Muslim)

  1. Bacaan samar dalam shalat dzuhur

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ وَعُمَارَةَ بْنِ مَيْمُونٍ وَحَبِيبٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فِي كُلِّ صَلَاةٍ يُقْرَأُ فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ وَمَا أَخْفَى عَلَيْنَا أَخْفَيْنَا عَلَيْكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qais bin Sa’d dan ‘Umarah bin Maimun serta Habib dari ‘Atha` bin Abu Rabah bahwa Abu Hurairah berkata; “Di dalam shalat itu ada yang di baca, dan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perdengarkan kepada kami, maka kami pun akan perdengarkan kepada kalian, dan apa yang beliau samarkan (dalam bacaan) kepada kami, maka kami pun akan menyamarkan kepada kalian.” (HR. Abu Daud)

 

  1. Kesimpulan

Shalat menurut lughat (secara bahasa) berarti do’a, sedangkan menurut istilah syara’ shalat ialah seperangkat perkataan dan perbuatan yang dilakukan dengan beberapa syarat tertentu,dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Rukun sholat terdiri dari tigas belas (13) rukun, syarat wajib sholat terdiri dari lima (5) syarat, dan syarat sah sholat terdiri dari lima (5) syarat.

Mengenai bacaan dan gerakan sholat menurut tuntunan Nabi SAW telah kami cantumkan di bagian pembahasan, yang dimana menurut keyakinan kami masih banyak lagi hadits mengenai hal ini yang belum kami temukan dan kami cantumkan.

WUDHU’ NABI Shallallahu ‘alaihi wa Salam —————-wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’at kan Allah subhanahu wata’ala. Allah memerintahkan: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6). ———————- Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu’ (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya). —————————— Rasulullah juga mengatakan bahwa wudhu’ merupakan kunci diterimanya shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60). ——————— Utsman bin Affan ra berkata: “Barangsiapa berwudhu’ seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya” (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13). —————————— Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya” (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132). ————————— Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu’. Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan wudhu ——————————- 1. Memulai wudhu’ dengan niat. —————- 2. Tasmiyah (membaca bismillah)———— 3. Mencuci kedua telapak tangan——— 4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung———- 5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.——— 6. Membasuh kedua tangan sampai siku———– 7. Mengusap kepada, telinga dan sorban ————– 8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki ——— 9. Tertib————10. Berdoa

 Secara syari’at wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’at kan Allah subhanahu wata’ala. Allah memerintahkan:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).
———————-

Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu’ (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).
——————————

Rasulullah juga mengatakan bahwa wudhu’ merupakan kunci diterimanya shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60).
———————

Utsman bin Affan ra berkata: “Barangsiapa berwudhu’ seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya” (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13).
——————————

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya” (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132).
—————————

Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu’. Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan wudhu’:

1. Memulai wudhu’ dengan niat.

Niat artinya menyengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu’ karena melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala dan mengikuti perintah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya… (HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48).

2. Tasmiyah (membaca bismillah)

Beliau memerintahkan membaca bismillah saat memulai wudhu’. Beliau bersabda:

Tidak sah/sempurna wudhu’ sesorang jika tidak menyebut nama Allah, (yakni bismillah) (HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih, lihat Shahih Jami’u ash-Shaghir, no. 744).

Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan membaca bismillah saat berwudhu’. Pendapat ini diikuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas tentang perintah Rasulullah untuk membaca bismillah saat berwudhu’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah!” (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasa’i, no. 78)

Dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: ”Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah” maka wajiblah tasmiyah itu. Adapun bagi orang yang lupa hendaknya dia membaca bismillah ketika dia ingat. Wallahu a’lam.


3. Mencuci kedua telapak tangan

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mencuci kedua telapak tangan saat berwudhu’ sebanyak tiga kali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga membolehkan mengambil air dari bejancdengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah melarang bagi orang yang bangan tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. (HR. Bukhari-Muslim)


4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung

Yaitu mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung, kemudian menyemburkannya dengan cara memencet hidung dengan tangan kiri. Beliau melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. (HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)

Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini ada penunjukkan yang jelas bagi pendapat yang shahih dan terpilih, yaitu bahwasanya berkumur dengan menghirup air ke hidung dari tiga cidukan dan setiap cidukan ia berkumur dan menghirup air ke hidung, adalah sunnah. (Syarah Muslim, 3/122).

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung, kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah. (HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i )


5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.

Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Sedangkan Allah memerintahkan kita:

Dan basuhlah muka-muka kamu.” (Al-Maidah: 6)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membasuh mukanya saat wudhu’ sebanyak tiga kali”. (HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14)

Setalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. (HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572).

6. Membasuh kedua tangan sampai siku

Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

Dan bashlah tangan-tanganmu sampai siku” (Al-Maaidah: 6)

Rasulullah membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah mengalirkan air dari sikunya (Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)

Rasulullah juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas wudhu’ pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)

7. Mengusap kepada, telinga dan sorban

Mengusap kepala, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah subhanahu wata’ala memerintahkan:

Dan usaplah kepala-kepala kalian…” (Al-Maidah: 6).

Rasulullah mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. (HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251)

Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: ”Dua telinga itu termasuk kepala.”(HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140)

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah, no. 995 mengatakan: “Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi’:

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya. (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)

Dalam mengusap kepala Rasulullah melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengusap kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berwudhu’, lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali.“ (HSR Tirmidzi, no. 34 dan Shahih Tirmidzi no. 31)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat berwudhu’, cukup dengan menyapu diatasnya, (HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya) asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.

Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat berwudhu’ seperti layaknya sorban. Alasannya karena:

  1. Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala.

  2. Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya.

Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. (Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384).

8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki

Allah subhanahu wata’ala berfirman: ”Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki” (Al-Maidah: 6)

Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)

Imam Nawai di dalam Syarh Muslim berkata. “Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.”

Sedangkan pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja’.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “…barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya.” (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)

9. Tertib

Semua tatacara wudhu’ tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]

Dalam penggunaan air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, sebab Rasulullah pernah mengerjakan dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari]

10. Berdoa

Yakni membaca do’a yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam:


“Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj ‘alni minattawwabiina waja’alni minal mutathohhiriin (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

Dan ada beberapa bacaan lain yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam berwudhu’ yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari.

berbagai sumber

NIAT .. amalan AKHIRAT …. = karena PERINTAH Allah saja …. JANGAN ada NIAT yg lain …. agar .. TIDAK “sia-sia” amalannya … Huud:16 …………………………… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. [QS al-Maidah/ 5: 2]. ………………………………………….. >>> tulus IKHLAS (mengerjakan) AGAMA mereka KARENA Allah … An Nisaa:146 ………………………………… “Jika kalian berbuat Baik itu untuk dirimu sendiri, siapa berbuat jahat, kerugian untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7) ……………………………………………… Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS Muhammad/ 47: 7]. ————————- “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Surah al-An’am [6]: 160) ………………… ﴾ Huud:15 ﴿ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿هود:١٥﴾ —————– ﴾ Huud:16 ﴿ Itulah orang-orang yang TIDAK memperoleh di AKHIRAT kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. أُو۟لٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿هود:١٦﴾ ………………………………… Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah bersabda,”Umat ini diberi khabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan AKHIRAT untuk menCARI DUNIA, maka dia TIDAK akan memperoleh satu bagian pun di AKHIRAT. —————————— Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. (HR Bukhari) ————————— Umar bin Khathab r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari-Muslim) —————————————– Ayat di atas mengajarkan, kebaikan yang dimaksud adalah amalan yang shaleh. Yaitu perbuatan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Amal shaleh bisa berbentuk apa saja, selama ia berangkat dari keimanan kepada Allah, ikhlas dikerjakan, dan punya teladan dari generasi orang-orang shaleh terdahulu. ——————- Ibarat seorang petani yang menanam buah. Awalnya, tanaman itu berasal dari benih yang ditanam. ——————– Sang petani itu lalu merawatnya, memberi pupuk, dan menyiraminya setiap waktu. Hingga tiba saatnya masa panen dan seluruh manusia ikut merasakan buah dari tanaman tersebut. —————————- Begitulah perbuatan baik seorang Muslim. Kebaikan apapun yang ia lakukan, sejatinya ia sedang menyiapkan tanaman yang kelak berbuah manis suatu saat. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Mendengar, maka tak satupun kebaikan hamba-Nya melainkan langusung tercatat dan berbalas kebaikan pula. Bahkan termasuk kebaikan-kebaikan yang disepelekan. Sekecil biji zarrah, misalnya. Allah berfirman: فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Surah al-Zalzalah [99]: 7). ——————————

baik untuk diri sendiri

NIAT .. amalan AKHIRAT …. = karena PERINTAH Allah saja …. JANGAN ada NIAT yg lain …. agar .. TIDAK “sia-sia” amalannya … Huud:16
……………………………
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. [QS al-Maidah/ 5: 2].
…………………………………………..
>>> tulus IKHLAS (mengerjakan) AGAMA mereka KARENA Allah … An Nisaa:146
…………………………………
“Jika kalian berbuat Baik itu untuk dirimu sendiri, siapa berbuat jahat, kerugian untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7)
………………………………………………
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS Muhammad/ 47: 7].
————————-
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Surah al-An’am [6]: 160)
…………………
﴾ Huud:15 ﴿
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿هود:١٥﴾
—————–
﴾ Huud:16 ﴿
Itulah orang-orang yang TIDAK memperoleh di AKHIRAT kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.

أُو۟لٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ﴿هود:١٦﴾
…………………………………
Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah bersabda,”Umat ini diberi khabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan AKHIRAT untuk menCARI DUNIA, maka dia TIDAK akan memperoleh satu bagian pun di AKHIRAT.
——————————
Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. (HR Bukhari)
—————————
Umar bin Khathab r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niatnya dan tiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan pahala hijrah karena Allah dan Rasulullah. Barang siapa yang hijrahnya karena faktor duniawi yang akan ia dapatkan atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia dalam hijrahnya itu ia hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari-Muslim)
—————————————–
Ayat di atas mengajarkan, kebaikan yang dimaksud adalah amalan yang shaleh. Yaitu perbuatan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Amal shaleh bisa berbentuk apa saja, selama ia berangkat dari keimanan kepada Allah, ikhlas dikerjakan, dan punya teladan dari generasi orang-orang shaleh terdahulu.
——————-
Ibarat seorang petani yang menanam buah. Awalnya, tanaman itu berasal dari benih yang ditanam.
——————–
Sang petani itu lalu merawatnya, memberi pupuk, dan menyiraminya setiap waktu. Hingga tiba saatnya masa panen dan seluruh manusia ikut merasakan buah dari tanaman tersebut.
—————————-
Begitulah perbuatan baik seorang Muslim. Kebaikan apapun yang ia lakukan, sejatinya ia sedang menyiapkan tanaman yang kelak berbuah manis suatu saat. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Mendengar, maka tak satupun kebaikan hamba-Nya melainkan langusung tercatat dan berbalas kebaikan pula. Bahkan termasuk kebaikan-kebaikan yang disepelekan. Sekecil biji zarrah, misalnya.
Allah berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Surah al-Zalzalah [99]: 7).
——————————
Jangan bingung tentang kebaikan apa yang akan bisa dikerjakan. Sebab sSetiap manusia telah dibekali ragam nikmat.

Ada tangan yang bisa digunakan untuk membantu atau bersedekah, ada mulut dan lidah yang bisa dipakai untuk tilawah al-Qur’an atau berbagi ilmu pengetahuan.

Ada sepasang kaki yang bisa melangkah ke masjid dan majelis ilmu untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ada pena yang bisa digerakkan, menulis yang bermanfaat, mneyeru kepada kebenaran dan mengingkari kemungkaran yang terjadi di tengah masyarakat. Dan banyak lagi hal yang bisa diperbuat oleh setiap Muslim dalam berbuat kebaikan.

Lalu, dengan apalagi kita mengelak bahwa kita sulit melakukan kebaikan?

Ladang kebaikan telah Allah siapkan seluas langit dan bumi. Sarana untuk mengerjakan kebaikan juga melimpah berada di sekitar manusia. Ia tak terhitung jumlahnya dan pastinya waktu 24 jam dalam sehari adalah masa yang cukup untuk menebar kebaikan dalam kehidupan manusia.

Mulai saat ini, mari perkuat tekad dan semangat dalam diri masing-masing untuk senantiasa berbuat baik pada sesama sebagai wujud syukur kepada Allah. Setidaknya niat itu tak pernah pudar dalam jiwa seorang beriman. Bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيراً

“Jika kalian berbuat Baik (berarti) kalian berbuat Baik untuk dirimu sendiri,Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS: Al Isra : 7).