JANTUNG komandan OTAK, ..... lalu OTAK PATUH pada perintah JANTUNG ---------------- Jantung ternyata pegang peran yang amat penting bagi baik buruknya keputusan yang manusia ambil yg otomatis pada baik buruknya manusia itu sendiri. ---------------- Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.--------- Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.---------- Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.---------- The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body. Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.--------- Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.” ~Doc Childre, founder, Institute of Heart-------- Hasil Riset: Jantung Punya Kuasa untuk Berpikir Mandiri dari Otak Manakala kemudian di Al Quran surat Al A’raf (surat 7) ayat 179 dikatakan:------ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati {JANTUNG/QALBU/ قُلُوبٌ) , tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [3] dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat [2], dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar [1]. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.----- [1] Telinga, jelas untuk mendengar------- [2] Mata, jelas untuk melihat------ [3] Hati atau jantung, adalah untuk memahami------- Jika yang kita inginkan adalah kebaikan, maka mari kita baikkan jantung kita agar kita dianugerahi cara pandang yang baik dan benar untuk bisa memiliki pengertian yang benar, bijak, dan memuliakan.---- Referensi: Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.-------- =============== Allah melalui Al-Qur'an sebagai kitab suci, banyak memerintahkan manusia untuk menggunakan akal mereka untuk berpikir, menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, dan juga di dalam diri manusia itu sendiri. Memahami dan berpikir, tidak hanya di perintahkan untuk dilakukan dengan akal atau otak, akan tetapi dengan hati. Karena perpaduan akal dan hati, bagi seorang manusia, akan menuntunnya kepada kebenaran. Hal ini tertuang di dalam surah 22. Al-Hajj:46 : --------- [22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati {JANTUNG, QALBU,لْقُلُوبُ) yang di dalam dada.--- Perhatikan surah Al-Hajj ayat 46 di atas. "fatakuuna lahum qulubun ya'qiluuna biha" yang diartikan "...lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami...", memiliki arti kata per kata "maka bagi mereka hati (qulubun) yang memahami (ya'qiluuna) dengannya". Dalam bahasa Arab, qulubun berasal dari akar kata qalb yang artinya hati atau jantung. Harap dibedakan antara hati disini dengan hati (liver) yang merupakan salah satu anatomi dalam sistem pencernaan. Sebagaimana halnya beberapa bahasa di dunia, seperti misalnya bahasa Inggris, yang mana heart dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung, dalam bahasa Arab qalb dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung. Sedangkan ya'qiluuna berasal dari akar kata a'qal yang berarti berpikir atau memahami, dan dalam kaitannya dengan anatomi berarti otak.------------ Deangan demikian "qulubun ya'qiluuna" secara tersurat juga berarti "jantung untuk memahami/berpikir". Hal ini dipertegas pada kelanjutan ayat tersebut di ayat yang sama, mengenai kemampuan jantung ini : "fa-innahaa laa ta'maa l-abshaaru walaakin ta'ma l-qulubu allatii fii l-shuduuri" -- "karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada (l-qulubu allatii fii l-shuduuri)". Frasa ini menegaskan frasa sebelum-nya. Dimanakah letak qalb yang dimaksud ? Qulubu allatii fii l-shuduuri, qalbu tersebut terletak di dalam dada. Qalb apakah yang ada di dalam dada ? Secara anatomi, qalbu yang berada di dalam dada adalah jantung. Al-Qur'an dalam hal ini mengatakan qalb orang-orang yang kafir itu buta, sebagaimana di Allah mengatakan bahwa orang-orang kafir memiliki "qalb yang tidak dapat memahami", di Q.S 6:25, 9:87, 63:3.------------ Pemilihan kata a'qal yang disandingkan dengan qalb disini patut digaris-bawahi, karena "memahami" dalam bahasa arab, yang digunakan kurang lebih 19 kali dalam Al-Qur'an, adalah faqaha, bukan a'qal. A'qal yang berarti "memahami" atau "berakal" sendiri digunakan lebih dari 40 kali dalam Al-Qur'an, akan tetapi kaitannya dengan memikirkan dengan otak, bukan dengan hati.----------- Jika "memahami" dengan qalb menggunakan kata faqaha (dan turunannya), sedangkan "memahami" dengan otak" Al-Qur'an menggunakan kata a'qal (dan turunannya), maka di surah Al-Hajj ayat 46 secara khusus dikaitkan kemampuan qalb dengan a'qal -- qulubun ya'qiluun, yang berbeda dari penggunaannya di ayat-ayat yang lain.----------- Qs22:46 "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, mereka mempunyai jantung yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada"---------

jantung mikir

JANTUNG komandan OTAK, ..... lalu OTAK PATUH pada perintah JANTUNG
----------------

Jantung ternyata pegang peran yang amat penting bagi baik buruknya keputusan yang manusia ambil yg otomatis pada baik buruknya manusia itu sendiri.
----------------
Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.---------

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.----------

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.----------

The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.---------

Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.”
~Doc Childre, founder, Institute of Heart--------

Hasil Riset: Jantung Punya Kuasa untuk Berpikir Mandiri dari Otak

Manakala kemudian di Al Quran surat Al A’raf (surat 7) ayat 179 dikatakan:------

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati {JANTUNG/QALBU/ قُلُوبٌ)  , tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [3] dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat [2], dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar [1]. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.-----

[1] Telinga, jelas untuk mendengar-------
[2] Mata, jelas untuk melihat------
[3] Hati atau jantung, adalah untuk memahami-------

Jika yang kita inginkan adalah kebaikan, maka mari kita baikkan jantung kita agar kita dianugerahi cara pandang yang baik dan benar untuk bisa memiliki pengertian yang benar, bijak, dan memuliakan.----

Referensi: Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.--------
===============
Allah melalui Al-Qur'an sebagai kitab suci, banyak memerintahkan manusia untuk menggunakan akal mereka untuk berpikir, menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, dan juga di dalam diri manusia itu sendiri. Memahami dan berpikir, tidak hanya di perintahkan untuk dilakukan dengan akal atau otak, akan tetapi dengan hati. Karena perpaduan akal dan hati, bagi seorang manusia, akan menuntunnya kepada kebenaran. Hal ini tertuang di dalam surah 22. Al-Hajj:46  : ---------

[22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati {JANTUNG, QALBU,لْقُلُوبُ) yang di dalam dada.---

Perhatikan surah Al-Hajj ayat 46 di atas. "fatakuuna lahum qulubun ya'qiluuna biha" yang diartikan "...lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami...", memiliki arti kata per kata "maka bagi mereka hati (qulubun) yang memahami (ya'qiluuna) dengannya". Dalam bahasa Arab, qulubun berasal dari akar kata qalb yang artinya hati atau jantung. Harap dibedakan antara hati disini dengan hati (liver) yang merupakan salah satu anatomi dalam sistem pencernaan. Sebagaimana halnya beberapa bahasa di dunia, seperti misalnya bahasa Inggris, yang mana heart dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung, dalam bahasa Arab qalb dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung. Sedangkan ya'qiluuna berasal dari akar kata a'qal yang berarti berpikir atau memahami, dan dalam kaitannya dengan anatomi berarti otak.------------

Deangan demikian "qulubun ya'qiluuna" secara tersurat juga berarti "jantung untuk memahami/berpikir". Hal ini dipertegas pada kelanjutan ayat tersebut di ayat yang sama, mengenai kemampuan jantung ini :  "fa-innahaa laa ta'maa l-abshaaru walaakin ta'ma l-qulubu allatii fii l-shuduuri" -- "karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada (l-qulubu allatii fii l-shuduuri)". Frasa ini menegaskan frasa sebelum-nya. Dimanakah letak qalb yang dimaksud ? Qulubu allatii fii l-shuduuri, qalbu tersebut terletak di dalam dada. Qalb apakah yang ada di dalam dada ? Secara anatomi, qalbu yang berada di dalam dada adalah jantung. Al-Qur'an dalam hal ini mengatakan qalb orang-orang yang kafir itu buta, sebagaimana di Allah mengatakan bahwa orang-orang kafir memiliki "qalb yang tidak dapat memahami", di Q.S 6:25, 9:87, 63:3.------------

Pemilihan kata a'qal yang disandingkan dengan qalb disini patut digaris-bawahi, karena "memahami" dalam bahasa arab, yang digunakan kurang lebih 19 kali dalam Al-Qur'an, adalah faqaha, bukan a'qal. A'qal yang berarti "memahami" atau "berakal" sendiri digunakan lebih dari 40 kali dalam Al-Qur'an, akan tetapi kaitannya dengan memikirkan dengan otak, bukan dengan hati.-----------

Jika "memahami" dengan qalb menggunakan kata faqaha (dan turunannya), sedangkan "memahami" dengan otak" Al-Qur'an menggunakan kata a'qal (dan turunannya), maka di surah Al-Hajj ayat 46 secara khusus dikaitkan kemampuan qalb dengan a'qal -- qulubun ya'qiluun, yang berbeda dari penggunaannya di ayat-ayat yang lain.-----------

Qs22:46  "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, mereka mempunyai jantung yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada"---------

Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa jantung manusia (qalb) ternyata mampu bersifat seperti otak (a'qal), mampu belajar, mengingat, bahkan merasakan, sebagaimana yang tertuang dalam artikel "Neurocardiology : The Brain in the Heart" (http://www.heartmath.org/research/science-of-the-heart/introduction.html) :

After extensive research, one of the early pioneers in neurocardiology, Dr. J. Andrew Armour, introduced the concept of a functional "heart brain" in 1991. His work revealed that the heart has a complex intrinsic nervous system that is sufficiently sophisticated to qualify as a "little brain" in its own right. The heart’s brain is an intricate network of several types of neurons, neurotransmitters, proteins and support cells like those found in the brain proper. Its elaborate circuitry enables it to act independently of the cranial brain – to learn, remember, and even feel and sense. The recent book Neurocardiology, edited by Dr. Armour and Dr. Jeffrey Ardell, provides a comprehensive overview of the function of the heart’s intrinsic nervous system and the role of central and peripheral autonomic neurons in the regulation of cardiac function.

Selanjutnya masih dalam artikel yang sama dijelaskan bagaimana pentingnya peranan dan konstribusi jantung dalam mengintegrasikan tubuh, pikiran, jiwa dan emosi seseorang :

In our internal environment many different organs and systems contribute to the patterns that ultimately determine our emotional experience. However, research has illuminated that the heart plays a particularly important role. The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body. As we saw earlier, it functions as sophisticated information encoding and processing center, and possesses a far more developed communication system with the brain than do most of the body’s major organs. With every beat, the heart not only pumps blood, but also transmits complex patterns of neurological, hormonal, pressure and electromagnetic information to the brain and through-out the body. As a critical nodal point in many of the body’s interacting systems, the heart is uniquely positioned as a powerful entry point into the communication network that connects body, mind, emotions and spirit.

Al-Qur'an pun menyatakan bahwa sistem otak di dalam jantung, pun berkomunikasi dengan otak manusia, sehingga bagi orang-orang yang kafir, maka Allah memfilter penyampaian sinyal-sinyal syaraf yang dikirim "otak dalam jantung" ke otak manusia, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Israa (17) ayat 46 :

[17:46] dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya ...

"waja'alnaa 'alaa quluubihim akinnatan an yafqahuuhu wa fii adzaanihim waqran" -- "dan Kami tempatkan di atas qalb mereka  penutup sehingga mereka tidak dapat memahaminya, dan sumbatan di telinga mereka". Lihat bagaimana ketika membicarakan "filter" di telinga, Allah menggunakan kata fii (di dalam), sedangkan ketika membicarakan qalb, Allah menggunakan kata a'laa (diatas). Hal ini dikarenakan qalb (jantung) yang memiliki sistem otak sendiri, berkomunikasi dengan otak manusia, dimana otak manusia dalam hal ini berada di atas jantung, sehingga Allah mengatakan bahwa "filter" tersebut di letakkan "di atas" qalb, yaitu di antara qalb dan otak manusia.

[2:7] Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat
"khatamallaahu 'alaa quluubihim wa'alaa sam'ihim wa'alaa abshaarihim ghisyaawatun walahum 'adzaabun 'azhiim"

Hal ini di jelaskan, masih di dalam artikel yang sama, sebagai berikut :

"As their research evolved, they found that the heart seemed to have its own peculiar logic that frequently diverged from the direction of the autonomic nervous system. The heart appeared to be sending meaningful messages to the brain that it not only understood, but obeyed."

Dalam artikel yang lain mengenai kemampuan otak di dalam jantung ini pun di dijelaskan, bahwa jantung pun memiliki sytem syaraf yang dijuluki dengan "the brain in the heart" :

These scientists have found that the heart has its own independent nervous system – a complex system referred to as "the brain in the heart." There are at least forty thousand neurons (nerve cells) in the heart – as many as are found in various subcortical centers of the brain. (http://www.therealessentials.com/followyourheart.html)

Pam Montgomery dalam bukunya "Plant Spirit Healing: A Guide to Working with Plant Consciousness" menuliskan kaitan jantung dalam pengendalian emosi seseorang sebagai berikut :

There are 40,000 nerve cells in the heart as well as neurotransmitters such as noradrenaline and dopamine (known emotional mediators), that the heart synthesizes and releases. "With every beat of the heart, a burst of neural activity is relayed to the brain," Martin explains. "The heart senses hormonal, [heart] rate and pressure information, translates it into neurological impulses and processes this information.

Bahkan, jantung manusia, sebagaimana otak manusia, pun memiliki kemampuan untuk mengingat. Dalam artikel http://www.lostartsofthemind.com/2006/11/can-your-heart-think-and-feel.html dinyatakan :

Amazingly, Dr Andrew Armour, a neurologist from Montreal, Canada, discovered a small but complex network of neurons in the heart, which he has dubbed ‘the little brain in the heart’. These neurons seem to be capable of both short and long term memory. Why should the heart even have neurons and the ability to remember? Well, for one thing, there is a lot of muscle co-ordination that goes on in the heart in order to allow it to function properly. The fact that hearts can even be transplanted shows that there is a long-term memory stored in the heart for its rhythms. When a heart is removed, it is cooled and can stay alive for up to four hours. Once the heart is connected into its new recipient, as blood enters it, it begins to beat again. It is almost certainly the ‘little brain in the heart’ that is enabling the heart to remember how to beat.

Di lain artikel, Professor Mohammad Omar Salem dalam tulisannya "The heart, mind and spirit" (http://www.rcpsych.ac.uk/pdf/Heart,%20Mind%20and%20Spirit%20%20Mohamed%20Salem.pdf) pun membahas mengenai brain in the heart ini. Mengutip dari tulisan tersebut :

After extensive research, Armour (Armour J A (1994), Neurocardiology: A natomical and Functional Principles, New York, NY, Oxford University Press: 3-19.) introduced the concept of functional ‘heart brain’. His work revealed that the heart has a complex intrinsic nervous system that is sufficiently sophistic ated to qualify as a ‘little brain’ in its own right. The heart’s brain is an intricate network of several types of neurons,  neurotransmitters, proteins and support cells similar to those found in the brain proper. Its elaborate circuitry enables it to act independently of the cranial brain – to learn, remember, and even feel and sense. The heart’s nervous system contains around 40,000 neurons, called sensory neurites (Armour J A (1991), Anatomy and function of the intrathor acic neurons regulating the mammalian heart. In: Zucker I H and Gilmore J P, eds. Reflex Control of the Circulation. Boca Raton, FL, CRC Press: 1-37. ). Information from the heart - including feeling sensations - is sent to the brain through several afferents. These afferent nerve pathways enter the brain at the area of the medulla, and cascade up into the higher centres of the brain, where they may influence perception, decision making and other cognitive processes (Armour J. A. (2004), Cardiac neuronal hierarchy in health and disease, American 4 journal of physiology, regulatory, integrative and comparative physiology. Aug;287(2):R262-71.).

Thus, it was revealed that the heart has its own intrinsic nervous system that operates and processes information independently of the brain or nervous system. This is what allows a heart transplant to work. Normally, the heart communicates with the brain via nerve fibres running through the vagus nerve and the spinal column. In a heart transplant, these nerve connections do not reconnect for an extended period of time; in the meantime, the transplanted heart is able to function in its new host only through the capacity of its intact, intrinsic nervous system (Murphy D A, Thompson G W, et al (2000), The heart reinnervates after transplantation. Annals of Thor acic Surgery;69(6): 1769-1781. )

Keterkaitan dengan emosi manusia, Al-Qur'an sangat menganjurkan keselarasan berpikir dengan akal dan berpikir dengan hati, mengisyaratkan keterhubungan yang erat antara a'qal dan qalb ini. Emosi dan tindakan manusia adalah hasil keselarasan antara keduanya, meskipun pusat emosi dan pengambilan tindakan tetap dipegang oleh otak  atau a'qal (klik disini untuk baca postingan "Struktur Otak Manusia Dalam Al-Qur'an"). Oleh sebab itu juga, salah satu metode pendeteksi kebohongan yang banyak dilakukan adalah dengan metode polygraph, dalam kaitannya dengan mendeteksi qalb atau jantung, sebagaimana yang diulas dalam postingan "Metode Pendeteksi Kebohongan Menurut Al-Qur'an (klik disini untuk baca)".

Hal senada mengenai peranan qalb dalam kaitannya dengan emosi manusia di ungkapkan di dalam artikel "http://www.today.com/id/11023208/ns/today-today_health/t/does-your-heart-sense-your-emotional-state/#.UjnU4X9TC50" :

Psychologists once maintained that emotions were purely mental expressions generated by the brain alone. We now know that this is not true — emotions have as much to do with the heart and body as they do with the brain. Of the bodily organs, the heart plays a particularly important role in our emotional experience. The experience of an emotion results from the brain, heart and body acting in concert.

Dan juga dikatakan www.sciencedaily.com dalam artikelnya "http://www.sciencedaily.com/releases/2013/04/130407211558.htm" menjelaskan bagaimana jantung, dalam fungsinya yang independen (sebagaimana di atas dikatakan sebagai "little brain in the heart"), berperan dalam mempengaruhi persepsi manusia dalam melihat sesuatu :

"From previous research, we know that if we present images very fast then we have trouble detecting them, but if an image is particularly emotional then it can 'pop' out and be seen. In a second experiment, we exploited our cardiac effect on emotion to show that our conscious experience is affected by our heart. We demonstrated that fearful faces are better detected at systole (when they are perceived as more fearful), relative to diastole. Thus our hearts can also affect what we see and what we don't see -- and can guide whether we see fear.

"Lastly, we have demonstrated that the degree to which our hearts can change the way we see and process fear is influenced by how anxious we are. The anxiety level of our individual subjects altered the extent their hearts could change the way they perceived emotional faces and also altered neural circuitry underlying heart modulation of emotion."

Sebelum Al-Qur'an di turunkan, pernyataan "qalb (hati) yang memahami", "bepikir dengan hati nurani", "memahami dengan hati" mungkin sudah ada, akan tetapi sekali lagi, pemilihan kata selalu menjadi keajaiban Al-Qur'an, yang mampu mengubah suatu istilah yang pada masa diturunkannya mampu dipahami secara biasa, akan tetapi ternyata menyimpan makna yang mengungkapkan sesuatu yang baru akan diketahui berabad-abad kemudian, seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan. Qulubun ya'qiluuna adalah salah satunya,  qalb (jantung) yang bersifat a'qal (otak), jantung yang memiliki system otak yang mandiri, yang berkomunikasi dengan otak manusia, sebagaimana Allah melalui Al-Qur'an sangat menekankan pentingnya keselarasan berpikir dengan a'qal dan berpikir dengan qalb. Hanya Al-Qur'an satu-satunya kitab yang menyatakan hal ini dengan pemilihan kata-nya yang sangat selektif.

[41:53] Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? 

Wallahu a'lam

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG ... QALBU BUTA tidak memahami AYAT Allah ------------------ BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> ------------- Qalbu Jasmani, yaitu Jantung ---------- Dalam kamus bahasa Arab, qalbu dalam bentuk fisik didefenisikan sebagai "organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri." Dari definisi ini dipastikan qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. -------------- Sebuah hadist yag amat populer menyebutkan : أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ "Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Qalbu". (HR Muslim, no. 1599. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadits ini dimuat oleh Imam an-Nawawi dalam Arba’in an-Nawawiyah, hadits no. 6, dan Riyadhush-Shalihin, no. 588)--------- Kebanyakan orang mengartikan kalimat terakhir menjadi: "segumpal daging itu adalah hati," padahal merujuk pembahasan diatas, dimana qalbu berarti jantung, maka seharusnya menjadi "segumpal daging itu adalah jantung." Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak? jawabnya adalah jantung.----------- Jadi, hadist yang selama ini diartikan hanya secara ruhiyah, ternyata bila kita gunakan tata bahasa yang benar, maka ia juga akan memiliki makna jasmaniah.-------------- ------------- Qalbu Ruhani, yakni hati nurani---------------------- إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya. (Hadist Riwayat Ibnu Majah)------------ Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu rohani. Roh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena roh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) roh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.-------- Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Dalam bahasa inggris pun disebutkan heart sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan intuisi, perasaan dan emosi. seperti pada “His head told him not to fall in love, but his heart had the final say”.------- Nah, dengan memahami makna sebenarnya dari Qalbu, kita takkan lagi bingung dengan kontadiksi artinya dalam bahasa Indonesia. Mulai sekarang kita bisa menyebut Qalbu, atau Heart sebagai jantung. Ungkapan "Kaulah jantung hatiku" mungkin sebuah transisi sederhana untuk memperbaiki salah kaprah ini.-------- Mungkin yang agak repot ketika kita sedang patah hati dan berkata "Kau sudah membuatku sakit hati," kemudian kita rubah menjadi "Kau sudah membuatku sakit jantung," orang akan menganggap Anda terserang penyakit medis, dan hilanglah unsur melankolis disini. Dan bila kita minta Aa Gym merubah lirik lagu "Jagalah Hati" menjadi "Jagalah Jantung," apa beliau mau? repot juga, ya.--------- Oya, bila Anda lebih memilih mengganti kata "hati" menjadi "qalbu" daripada memakai kata "jantung," maka pastikan Anda menulis atau mengatakannya sebagai Qalbu, jangan Kalbu. Kalbu dengan huruf 'k' adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis "kalbu", maknanya akan berubah menjadi anjing. ======================= QALBU = BUTA = tidak diGUNAkan untuk MEMAHAMI ayat-ayat Allah << ” … BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> <<< TIDAK BERUSAHA memahami ayat-ayat Allah = golongan BINATANG TERNAK … Al Furqaan:44 >> --------------﴾ Al Hajj:46 ﴿maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai QALBU yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada. أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصٰرُ وَلٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿الحج:٤٦﴾ ------------﴾ Al Baqarah:7 ﴿ Allah telah mengunci-mati QALBU dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. خَتَمَ ٱللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة:٧﴾ ----------﴾ Al Baqarah:10 ﴿ Dalam QALBU mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿البقرة:١۰﴾ -------------﴾ Al Baqarah:18 ﴿ Mereka tuli, bisu dan BUTA, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿البقرة:١٨﴾ ……………………………….. ﴾ Al Furqaan:44 ﴿ atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الفرقان:٤٤﴾ ……………………………………………………… ------﴾ Al Israa’:72 ﴿ Dan barangsiapa yang BUTA (QALBUnya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). وَمَن كَانَ فِى هٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الإسراء:٧٢﴾ --------﴾ Az Zukhruf:40 ﴿ Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang BUTA (QALBUnya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? أَفَأَنتَ تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ أَوْ تَهْدِى ٱلْعُمْىَ وَمَن كَانَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ ﴿الزخرف:٤۰﴾ --------﴾ Ar Ruum:53 ﴿ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang BUTA (QALBUnya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). وَمَآ أَنتَ بِهٰدِ ٱلْعُمْىِ عَن ضَلٰلَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِـَٔايٰتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ ﴿الروم:٥٣﴾ -------------﴾ An Nahl:127 ﴿ Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿النحل:١٢٧ ====================

qalbu hati

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG ... QALBU BUTA tidak memahami AYAT Allah

------------------
BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>>
-------------
Qalbu Jasmani, yaitu Jantung ----------

Dalam kamus bahasa Arab, qalbu dalam bentuk fisik didefenisikan sebagai "organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri." Dari definisi ini dipastikan qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung.
--------------
Sebuah hadist yag amat populer menyebutkan :

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Qalbu". (HR Muslim, no. 1599. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadits ini dimuat oleh Imam an-Nawawi dalam Arba’in an-Nawawiyah, hadits no. 6, dan Riyadhush-Shalihin, no. 588)---------

Kebanyakan orang mengartikan kalimat terakhir menjadi: "segumpal daging itu adalah hati," padahal merujuk pembahasan diatas, dimana qalbu berarti jantung, maka seharusnya menjadi "segumpal daging itu adalah jantung." Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak? jawabnya adalah jantung.-----------

Jadi, hadist yang selama ini diartikan hanya secara ruhiyah, ternyata bila kita gunakan tata bahasa yang benar, maka ia juga akan memiliki makna jasmaniah.--------------
-------------

Qalbu Ruhani, yakni hati nurani----------------------

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ

Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya. (Hadist Riwayat Ibnu Majah)------------

Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu rohani. Roh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena roh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) roh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.--------

Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Dalam bahasa inggris pun disebutkan heart sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan intuisi, perasaan dan emosi. seperti pada “His head told him not to fall in love, but his heart had the final say”.-------

Nah, dengan memahami makna sebenarnya dari Qalbu, kita takkan lagi bingung dengan kontadiksi artinya dalam bahasa Indonesia. Mulai sekarang kita bisa menyebut Qalbu, atau Heart sebagai jantung. Ungkapan "Kaulah jantung hatiku" mungkin sebuah transisi sederhana untuk memperbaiki salah kaprah ini.--------

Mungkin yang agak repot ketika kita sedang patah hati dan berkata "Kau sudah membuatku sakit hati," kemudian kita rubah menjadi "Kau sudah membuatku sakit jantung," orang akan menganggap Anda terserang penyakit medis, dan hilanglah unsur melankolis disini. Dan bila kita minta Aa Gym merubah lirik lagu "Jagalah Hati" menjadi "Jagalah Jantung," apa beliau mau? repot juga, ya.---------

Oya, bila Anda lebih memilih mengganti kata "hati" menjadi "qalbu" daripada memakai kata "jantung," maka pastikan Anda menulis atau mengatakannya sebagai Qalbu, jangan Kalbu. Kalbu dengan huruf 'k' adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis "kalbu", maknanya akan berubah menjadi anjing.
=======================

APAKAH PERBEDAAN HATI DAN QALBU ?

Hati

(bahasa Yunani: ἡπαρ, hēpar) merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perutdiafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi.

Qalbu

Banyak orang bingung dengan pengertian qalbu. Qalbu harus ditulis dengan huruf ‘q’ karena teks Arabnya menggunakan huruf (qaf). Di Indonesia banyak orang menuliskannya dengan huruf ‘k’ sehingga menjadi kalbu. Padahal ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis (kalbu) maknanya adalah anjing. Jadi jauh benar bedanya antara qalbu (hatinurani) dengan kalbu (anjing).

Sebagian orang menerjemahkan qalbu dengan “hati”. Padahal hati (Inggris: liver) adalah organ tubuh yang ada di kanan dada dan fungsinya menyaring racun atau penyakit dari darah. Dalam Bahasa Arab hati disebut dengan ‘kibdun’ atau ‘kibdatun’. Bahasa Arab `Amiyah menyebutnya ‘kabid’. Jadi orang Arab tidak pernah memahami qalbu sebagai hati atau liver.

Hati juga sering dijadikan sebagai terjemahan dari ‘heart’ (Inggris) yang bermakna jantung, karena itu bentuknya sering digambarkan seperti jantung (♥).

Hati digunakan sebagai terjemahan ‘qalb’ (Arab) meskipun bahasa Arab menyebut hati ‘kibd’. Hati digunakan sebagai terjemahan ‘heart’ (Inggris) yang sebenarnya adalah jantung. Lalu hati juga digunakan sebagai terjemahan dari ‘liver’ (Inggris) atau ‘hephar’ (Latin). Jadi sebenarnya apa itu hati, apa itu qalbu?

Dua Macam Qalbu :

  1. Qalbu jismani, yaitu jantung Ada hadits tentang qalbu yang sangat populer di masyarakat, sering diucapkan oleh para ustadz dan muballigh dalam ceramah-ceramah mereka. Tapi sayangnya orang kurang cermat memahami makna qalbu pada hadits ini.

Abu Nu`aym menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. berkata: “Sesungguhnya di dalam jasad ada sebongkah daging; jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya; bongkahan daging itu adalah QALBU”.

Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak?

Bahasa Arab mengenal qalbu dalam bentuk fisik yang di dalam kamus didefinisikan sebagai ‘organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri’. Jadi, qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. Jantung adalah bongkahan daging yang kalau ia baik maka seluruh jasad akan baik atau sebaliknya kalau ia rusak maka seluruh jasad akan rusak.

  1. Qalbu ruhani, yaitu hatinurani. Ada juga jenis qalbu yang kedua, sebagaimana digambarkan dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya”. (HR Ibnu Majah)

Jadi kalau banyak dosa qalbu akan dipenuhi oleh bercak-bercak hitam, bahkan keseluruhan qalbu bisa jadi menghitam. Apakah para penjahat jantungnya hitam? Apakah para koruptor jantungnya hitam? Tanyakanlah kepada para dokter bedah jantung, apakah jantung orang-orang jahat berwarna hitam? Mereka akan katakan tak ada jantung yang menghitam karena kejahatan dan kemaksiatan yang dibuat. Lalu apa maksud hadits Nabi di atas? Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu ruhani. Ruh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena ruh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) ruh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.

Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah.

Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Namun bukan berarti karena dosa tak kan nampak bekas-bekas fisiknya lalu kita akan seenaknya saja berbuat dosa. Na`ûdzubillâh min dzâlik…
==========================

“Ingatlah! Bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal mudghoh, bila mudhgoh itu baik, akan baiklah seluruh tubuh itu, dan bila mudhgoh itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Mudhgoh itu adalah Qolbu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

          Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas sering dikutip oleh para mubaligh, dan para penulis ketika membahas tentang pentingnya qolbu. Para mubaligh dan penulis sering mengartikan mudghoh sebagai daging, dan mengartikan qolbu sebagai hati.

Seperti yang dimuat dalam Ensiklopedia Islam Indonesia, dalam sejarah pemikiran Islam kalbu merupakan salah satu daya dari dua daya yang dipunyai ruh. Daya pertama adalah daya berpikir yang disebut akal berpusat dikepala, sedangkan daya adalah daya merasa yang disebut kalbu (qalb) yang berpusat di dada (Ensiklopedi Islam, 2002, Harun Nasution, dkk, Jilid 3: O-Z, Penerbit Djambatan).

Menurut Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin, pemikiran atau perenungan itu dilakukan mulai dari hati (qalb = kalbu) yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui akal yang berpusat di kepala. Pendapat ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Hajj (22) ayat 46, Qs. 9 at-Taubah:93; Qs. 47 Muhammad: 24. Selanjutnya Al-Ghazali berpendapat hati laksana cermin yang dapat menangkap sesuatu yang ada diluarnya. Untuk dapat menangkapnya dengan baik, hati harus bersih dari berbagai macam dosa. Selanjutnya menurut Al-Ghazali, “hati” dapat berarti dua macam, yaitu hati dalam arti jasmani, dan hati dalam arti rohani. Hati dalam arti rohani merupakan esensi manusia. Adapun yang dimaksud hati dalam pembahasan Al-Ghazali adalah bukan hati dalam pengertian jasmani yang berupa benda sebagai alat yang terletak di dalam dada kiri manusia. Pengertian mudghoh sebagai daging, dan qalbu sebagai hati atau jantung yang memiliki fungsi berfikir dan memahami sesuatu menurut sebagian besar ulama termasuk Al-Ghazali, fungsi hati menurut pengertian agama, khususnya Islam sangat berbeda dengan fungsi hati atau jantung dalam dunia kedokteran (lihat Al-Ghazali dalam karyanya: Ihya Ulu Mudin atau Keajaiban Hati).

Dalam dunia kedokteran, khususnya anatomi dan neurology (ilmu syaraf), pengertian seperti hati seperti diungkapkan di atas tentunya akan menimbulkan pertanyaan, apakah tepat mudghoh diartikan sebagai daging, dan qolbu diartikan sebagai hati? Karena, menurut anatomi dan neurologi, hati (lever) tidak memiliki fungsi atau tidak ada hubungannya dengan baik-buruknya (kualitas) prilaku (akhlaq) manusia. Seperti yang diungkapkan Hendrawan Nadesul, seorang dokter sekaligus seorang penulis produktiv, otak manusia-lah yang menentukan niat, pikir, emosi, dan prilaku manusia. otak manusia ibarat kaset lagu. Dari luar semua tampak sama, tapi kita baru mengenal siapa seseorang setelah kaset di kepalanya diputar. Tiap orang punya lagu yang berbeda-beda. Martabat seseorang ditentukan oleh isi lagu di otaknya (Memahami Otak, 2003, Penerbit KOMPAS, hal:ix-x). Menurut Pasiak, orang boleh saja terganggu jantungnya, ginjalnya kurang berfungsi, paru-parunya bocor, kangker pada hatinya. Tetapi gangguan-gangguan itu tidak sampai mengubah kepribadian mereka. Mereka tidak menjadi "orang lain". Lain halnya bila otak mereka sakit. Kerusakan otak yang parah akan menimbulkan perubahan kepribadian. Banyak pasien stroke yang sebelumnya periang menjadi pemurung. Banyak yang tadinya penyabar, kemudian menjadi pemarah. Beberapa pasien yang tadinya pemalu, berubah menjadi "tidak tahu malu". Perubahan kepribadian karena kerusakan otak, banyak dilaporkan dalam buku-buku teks ilmu saraf (Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Al-Qur'an, 2005, Mizan, h.36-37).

Tulisan ini di latarbelakangi untuk memenuhi rasa ingin tahu, apa arti sebenarnya dari mudhgah dan qolbu. Baik dari sisi pemahaman agama Islam, maupun dari sisi ilmu kedokteran, khususnya anatomi dan neurologi. Karena menurut pemahaman penulis, satu pemahaman yang benar terhadap suatu istilah yang terdapat dalam Al-Qur’an, maupun dalam Hadist adalah pemahaman tersebut tidak bertentangan dengan pemahaman atas istilah tersebut dalam kaca mata ilmu pengetahuan. Hal tersebut sejalan dengan ungkapan, pemahaman kita yang benar atas ayat-ayat qur’aniyah, tidak mungkin bertentangan dengan pemahaman kita atas ayat-ayat qauniyah. Jika belum ada kesesuaian atas pemahaman kita terhadap ayat-ayat qur’aniyah dengan ayat-ayat qauniyah, hal itu mungkin disebabkan oleh pemahaman kita yang belum benar dalam memahami ayat-ayat qur’aniyah, atau mungkin pemahaman kita yang belum benar dalam memahami ayat-ayat qauniyah.

Karena demikian pentingnya kedudukan qolbu atas kualitas prilaku manusia, sebagaimana disebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim di atas, menurut penulis kesalahan penafsiran terhadap istilah (term) qolbu, akan menimbulkan kesalahan dalam mengupayakan langkah-langkah memperbaiki atau meningkatkan kualitas akhlaq (prilaku) manusia.

Pengertian Qolbu

Dalam bahasa Arab, istilah (term) qalb digunakan untuk menyebut banyak hal, isi, bagian dalam, bagian tengah, dan untuk menyebut sesuatu yang murni (Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir: Kamus Arab-Indonesia, 1984, Pesantren Al-Munawir, Yogyakarta, h.3806-3807), bukan untuk menyebut organ tubuh yang disebut hati, sementara untuk organ hati itu digunakan term al-kabid (Ibnu Manzur dalam Achmad Mubarok, Psikologi Qur’ani, 2001, Pustaka Firdaus, h.40). Sedangkan dalam al-Qur’an qalb diartikan sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai seperti yang tersebut dalam Qs. 22 al Hajj: 46, atau pada surat 7 al-A’raf: 179. Dalam ayat tersebut qalb mempunyai potensi yang sama dengan akal (Achmad Mubarok, h.41). Dan akal merupakan hasil kerja otak (Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, 2005, Mizan Pustaka, h. 206).

Kesimpulan:

          Dari penelusuran beberapa literature baik yang mengupas tentang qalb atau qolbu dan yang mengupas tentang otak (Taufiq Pasiak, h. 204; Muhammad Kamal Abdul Azis, Ensiklopedia Keajaiban Tubuh Manusia Berdasarkan Al-Qur’an dan Sains, 2008, Citra Risalah, Yogyakarta, h.120; Hendrawan Nadesul dalam Memahami Otak, 2003, Kompas Media Nusantara, h. ix-xix) , penulis menyimpulkan arti yang tepat untuk qalb atau qolbu adalah otak. Kalau qolb diartikan sebagai otak, apa arti yang tepat untuk mudhgoh dalam hadis Bukhori dan Muslim di atas, dan arti sadr seperti dalam Qs. 94 Alam Nasyrah:1, dan di beberapa surat lain dalam Al-Qur’an. Penulis menyimpulkan arti yang tepat untuk term mudhgoh adalah organ. Seperti Mubarok menerjemahkan mudhgoh dalam hadis Bukhori dan Muslim (Mubarok, Psikologi Qur’ani, h.48). Sedangkan term sadr lebih tepat diartikan sebagai rongga, khususnya rongga kepala. Sedangkan term qolb atau qolbu lebih tepat diartikan sebagai otak beserta proses dan hasil kerjanya (pikiran, mengingat, perasaan, pemahaman, akal, dan sebagainya).

Sampai dengan saat ini, dengan kemajuan perkembangan teknologi dalam bidang kedokteran, hampir semua organ manusia dapat ditranplantasikan dari satu orang ke orang lain, kecuali otak. Otak ibarat CPU (Central Prossesing Unit) bagi computer. Gangguan otak disebabkan karena cidera, atau sebab lain, sering merubah prilaku seseorang. Orang gila, sering ditampakan dengan prilaku yang menyimpang, adalah orang yang mengalami gangguan pada kerja otaknya, bukan pada hatinya (atau lever-nya).

              Membasuh kepala, merupakan salah satu rukun berwudhu. Hal itu merupakan metafora (simbolik atau majaz), agar kita selalu berusaha mensucikan pikiran kita. Kita tidak diperintahkan untuk membasuh dada dan perut kita ketika kita berwudhu, pada hal letak jantung berada di rongga dada, sementara hati (lever) berada di rongga perut. Untuk itu, penulis berpendapat lebih tepat mengartikan term qolb atau qolbu sebagai otak, bukan hati (lever) atau jantung (cardiac). Dengan mengartikan term qolb atau qolbu sebagai otak beserta proses dan hasil kerja otak (pikiran, mengingat, perasaan, pemahaman, akal, dan sebagainya), akan lebih berkesesuaian atau sejalan dengan perintah membasuh kepala ketika berwudhu, perintah menempelkan kening (bagian depan kepala) ketika sujud dalam sholat, dan perintah berdzikir (mengingat) Allah atau dzikrullah. Kita mengetahui bahwa mengingat merupakan salah satu dari hasil kerja otak, bukan hasil kerja hati atau jantung. Mengartikan term qolb atau qolbu sebagai otak  beserta proses dan hasil kerja otak juga lebih berkesesuaian atau sejalan dengan ilmu kedokteran.
Waw’lahu a’lam bis-showab.
============================

QALBU = BUTA = tidak diGUNAkan untuk MEMAHAMI ayat-ayat Allah
<< ” … BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>>

<<< TIDAK BERUSAHA memahami ayat-ayat Allah = golongan BINATANG TERNAK … Al Furqaan:44 >>

--------------﴾ Al Hajj:46 ﴿maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai QALBU yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصٰرُ وَلٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿الحج:٤٦﴾
------------﴾ Al Baqarah:7 ﴿
Allah telah mengunci-mati QALBU dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
خَتَمَ ٱللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة:٧﴾
----------﴾ Al Baqarah:10 ﴿
Dalam QALBU mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿البقرة:١۰﴾
-------------﴾ Al Baqarah:18 ﴿
Mereka tuli, bisu dan BUTA, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿البقرة:١٨﴾
………………………………..
﴾ Al Furqaan:44 ﴿ atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الفرقان:٤٤﴾
………………………………………………………
------﴾ Al Israa’:72 ﴿
Dan barangsiapa yang BUTA (QALBUnya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).
وَمَن كَانَ فِى هٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الإسراء:٧٢﴾
--------﴾ Az Zukhruf:40 ﴿
Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang BUTA (QALBUnya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?
أَفَأَنتَ تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ أَوْ تَهْدِى ٱلْعُمْىَ وَمَن كَانَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ ﴿الزخرف:٤۰﴾
--------﴾ Ar Ruum:53 ﴿
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang BUTA (QALBUnya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).
وَمَآ أَنتَ بِهٰدِ ٱلْعُمْىِ عَن ضَلٰلَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِـَٔايٰتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ ﴿الروم:٥٣﴾
-------------﴾ An Nahl:127 ﴿
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿النحل:١٢٧
====================

PERBEDAAN dan HUKUM bagi pelaku KORUPSI / GHULUL, MENCURI, dan MERAMPOK --------------------- MENCURI -------- Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang. --------- “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295) ------------ Syarat dan KetentuanSuatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :------------ 1. Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal---- 2. Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi----- 3. Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri-- 4. Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain--- 5. Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab-- 6. Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.--- ----Dampak Mencuri--- Dampak mencuri dapat dibagi menjadi dua yaitu :--- ----1. Bagi Pelakunyaa. --------- a. Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar--- b. Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku--- c. Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat---- d. Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih.---- ----2. Bagi Korban & Masyarakata. ---- a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya--- b. Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam---- c. Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.----- ----Hukuman Bagi Pencuri----------- Mencuri adalah dosa besar dan orang yang yang mencuri wajib dihukum, yaitu:----- a. Mencuri yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya------- b. Mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya.--------- c. Mencuri yang ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya.----------- d. Mencuri yang ke empat kalinya, dipotong kaki kanannya-------- e. Kalau masih mencuri, maka ia dipenjara sampai tobat---------- -------- Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. Al-Maidah : 38 )--------- Artinya : Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. ( Qs. Al-Hijr : 18 )------------- ------------- Syarat hukum potong tangan----------- 1. Pencuri tersebut; sudah baligh, berakal, san melakukan pencurian degan kehendaknya bukan paksaan-- 2. Barang yang dicuri sampai nisab (+ 93,6 gram emas), dan barang itu bukan milik si pencuri--- --------------- Hukuman Bagi Perampok------- 1. Bagi perampok yang membunuh orang yang dirampoknya dan mengambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib di bunuh; sesudah dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur)-------- 2. Bagi perampok yang mebunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya hanya dibunuh saja.---------- 3. Bagi perampok yang hanya mengambil harta bendanya saja, sedang orang orang yang dirampoknya tidak dibunuh, dan harta yang diambil sampai nisab, maka perampok trsebut mendapat hukuman potong tangan kanan dan kaki kirinya.----------- 4. Bagi perampok yang hanya menakut-nakuti saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya adalah penjara atau hukuman lainnya yang dapat membuat jera, agar ia tidak mengulanginya.--------- ------------------ Artinya : Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs. Al-Mumtahanah : 12 )-------- Artinya : Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu." Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu." ( QS. Yusuf : 77 )--------------- Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, ( QS. Al-Maidah : 33 )----------- Maksudnya Ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi Maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.--------- Artinya : kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Maidah ayat 34 )------------ ------ KORUPSI ------ Pengertian Korupsi -------- Korupsi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Arti kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.---------- Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam undang-undang korupsi yang berlaku di Malaysia korupsi diartikan sebagai reswah yang dalam bahasa Arab bermakna suap.------ --Ayat dan Hadist Tentang Korupsi------------ Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. ( QS. Al-Baqarah: 188 )-------------- Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi. ( QS. Ali Imran :161 )------------ Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar. ( QS. Al-Maidah : 33 ) --- Artinya : Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al-Maidah : 38 )---------------- Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob ( QS. Al-Kahfi : 79 )--------------- - Sebenarnya korupsi dari asal kata yang mengandung banyak defenisi, sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. Termasuk ke dalam makna korupsi adalah suap. ---------- Pengertian korupsi yang banyak tersebut dilihat dari sudut pandang fiqih Islam juga mempunyai dimensi-dimensi yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena beberapa defenisi tentang korupsi merupakan bagian-bagian tersendiri dari fiqih Islam. Adapun pengertian yang termasuk makna korupsi dalam fiqih Islam adalah sebagai berikut:--- • Pencurian---- • Penggunaan Hak orang lain tanpa izin-- • Penyelewengan harta negara (ghanimah)-- • Suap-- • Khianat--- • Perampasan--- Pada Surat Al-Baqarah ayat 188 disebutkan secara umum bahwa Allah SWT melarang untuk memakan harta orang lain secara batil. Qurtubi memasukkan dalam kategori larangan ayat ini adalah: riba, penipuan, ghosob, pelanggaran hak-hak, dan apa yang menyebabkan pemilik harta tidak senang, dan seluruh apa yang dilarang oleh syariat dalam bentuk apapun.------------ Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk: • Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).------------- • Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.--------- Asbabunnuzul ayat ini diturunkan kepada Abdan bin Asywa’ al-Hadhramy menuduh bahwa ia yang berhak atas harta yang ada di tangan al-Qois al-Kindy, sehingga keduanya bertengkar di hadapan Nabi SAW. Al-Qois membantah dan ia mau bersumpah untuk membantah hal tersebut, akan tetapi turunlah ayat ini yang akhirnya Qois tidak jadi bersumpah dan menyerahkan harta Abdan dengan kerelaan. Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larang memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, apalagi dengan jalan membawa ke depan hakim, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya ------------------------- harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.--------------- Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan, ketika dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.----------- Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXI/272).-------------- Dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara). (Nadhratun Na`im, XI. Hlm. 5131)-------------- Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri”. (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).----------- Ibnu Hajar Al Haitami (wafat: 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).------------ Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi)”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36.)------------- Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi. (Jaraimul Fasad fil Fiqhil Islami, Hal. 99)----------- --------Hukum Potong Tangan untuk Koruptor ?------ Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila disamakan dengan pencuri, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.------------ Allah berfirman, yang artinya, “>وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38).------------ Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa batas maksimal harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat diatas di-taqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.------------ Kemudian, para ulama menyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya: Barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada di kamar tidur untuk barang berharga, semisal: Emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.---------------- Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman untuk pencuri buah kurma, “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu: 1/4 dinar (± 1,07 gr emas).” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).--------------------- Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya.” (HR. Muslim)------------------- Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.------------- Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.-------------- Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan. Karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum dengan dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya“. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).---------------- Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Karena dia dapat mengambil harta orang lain yang disimpan dengan perangkat keamanan apapun. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri, telah dipotong.------------- Sementara orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan, ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya. (Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in, jilid II, Hal. 80)---------- Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga. Seorang koruptor tetap layak untuk dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor sebagai berikut:------------- Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.----------- Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).------------- Kedua, hukuman ta’zir.------------ Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah, jilid XII, hal 276.)----------- Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.------------ Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.----------------- Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.---------------- Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.-------------------- Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).--------------- Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).----------- -------Kesimpulan dari tulisan di atas:------ 1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya sebagai orang yang diberi amanah.------ 2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat, lebih besar akibatnya dari pada pengkhianatan harta milik pribadi.---------- 3. Pengkhianatan terhadap harta yang menjadi amanah disebut ghulul.----------- 4. Termasuk kategori ghulul adalah tindak korupsi terhadap uang negara.----------- 5. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri, antara lain:----------- Harus mencapai nilai minimal: 1/4 dinar (1,07 gr emas).-------- Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).------ 6. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul), termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya, melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).--------- 7. Hukuman untuk pelaku kriminal ada 2:-------- Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, disebut hudud.--------- Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada keputusan hakim, disebut ta’zir.------------- 8. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah sebagai berikut:--------------- Dipaksa untuk mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.--------- Hukuman ta’zir. Hukuman ini bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan pada keputusan hakim.-----------

hukum mencuri korup

PERBEDAAN dan HUKUM bagi pelaku KORUPSI / GHULUL , MENCURI, dan MERAMPOK

---------------------
MENCURI --------
Mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dengan tidak hak untuk dimilikinya tanpa sepengetahuan pemilikinya. Mencuri hukumnya adalah haram. Di dalam hadist dikatakan bahwa mencuri merupakan tanda hilangnya iman seseorang. ---------
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri”. (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah : 2295) ------------

Syarat dan KetentuanSuatu perkara dapat ditetapkan sebagai pencurian apabila memenuhi syarat sebagai berikut :------------
1. Orang yang mencuri adalah mukalaf, yaitu sudah baligh dan berakal----
2. Pencurian itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi-----
3. Orang yang mencuri sama sekali tidak mempunyai andil memiliki terhadap barang yang dicuri--
4. Barang yang dicuri adalah benar-benar milik orang lain---
5. Barang yang dicuri mencapai jumlah nisab--
6. Barang yang dicuri berada di tempat penyimpanan atau di tempat yang layak.---

----Dampak Mencuri---
Dampak mencuri dapat dibagi menjadi dua yaitu :---
----1. Bagi Pelakunyaa. ---------
a. Mengalami kegelisahan batin, pelaku pencurian akan selaludikejar-kejar rasa bersalah dan takut jika perbuatanya terbongkar---
b. Mendapat hukuman, apabila tertangkap, seorang pencuri akan mendapatkan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku---
c. Mencemarkan nama baik, seseorang yang telah terbukti mencuri nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat----
d. Merusak keimanan, seseorang yang mencuri berarti telah rusak imanya. Jika ia mati sebelum bertobat maka ia akan mendapat azab yang pedih.----
----2. Bagi Korban & Masyarakata. ----
a. Menimbulkan kerugian dan kekecewaan, peristiwa pencurian akan sangat merugikan dan menimbulkan kekecewaan bagi korbanya---
b. Menimbulkan ketakutan, peristiwa pencurian menimbulkan rasa takut bagi korban dan masyarakat karena mereka merasa harta bendanya terancam----
c. Munculnya hukum rimba, perbuatan pencurian merupakan perbuatan yang mengabaikan nilai-nilai hukum. Apabila terus berlanjut akan memunculkan hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah.-----

----Hukuman Bagi Pencuri-----------
Mencuri adalah dosa besar dan orang yang yang mencuri wajib dihukum, yaitu:-----
a. Mencuri yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya-------
b. Mencuri kedua kalinya, dipotong kaki kirinya.---------
c. Mencuri yang ketiga kalinya, dipotong tangan kirinya.-----------
d. Mencuri yang ke empat kalinya, dipotong kaki kanannya--------
e. Kalau masih mencuri, maka ia dipenjara sampai tobat----------
--------
Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Qs. Al-Maidah : 38 )---------
Artinya : Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. ( Qs. Al-Hijr : 18 )-------------
-------------
Syarat hukum potong tangan-----------
1. Pencuri tersebut; sudah baligh, berakal, san melakukan pencurian degan kehendaknya bukan paksaan--
2. Barang yang dicuri sampai nisab (+ 93,6 gram emas), dan barang itu bukan milik si pencuri---
---------------
Hukuman Bagi Perampok-------
1. Bagi perampok yang membunuh orang yang dirampoknya dan mengambil hartanya. Dalam hal ini hukumnya wajib di bunuh; sesudah dibunuh, kemudian disalibkan (dijemur)--------
2. Bagi perampok yang mebunuh orang yang dirampoknya, tetapi hartanya tidak diambil. Hukumnya hanya dibunuh saja.----------
3. Bagi perampok yang hanya mengambil harta bendanya saja, sedang orang orang yang dirampoknya tidak dibunuh, dan harta yang diambil sampai nisab, maka perampok trsebut mendapat hukuman potong tangan kanan dan kaki kirinya.-----------
4. Bagi perampok yang hanya menakut-nakuti saja, tidak membunuh dan tidak mengambil harta benda. Hukumannya adalah penjara atau hukuman lainnya yang dapat membuat jera, agar ia tidak mengulanginya.---------
------------------
Artinya : Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs. Al-Mumtahanah : 12 )--------

Artinya : Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu." Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): "Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu."
( QS. Yusuf : 77 )---------------

Artinya : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, ( QS. Al-Maidah : 33 )-----------
Maksudnya Ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi Maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.---------

Artinya : kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Al Maidah ayat 34 )------------

------ KORUPSI ------
Pengertian Korupsi --------
Korupsi adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Arti kata korupsi secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.----------
Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Dalam undang-undang korupsi yang berlaku di Malaysia korupsi diartikan sebagai reswah yang dalam bahasa Arab bermakna suap.------

--Ayat dan Hadist Tentang Korupsi------------
Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. ( QS. Al-Baqarah: 188 )--------------

Artinya : Tidaklah pantas bagi seorang Nabi untuk berlaku ghulul (khianat), barang siapa yang berlaku ghulul maka akan dihadapkan kepadanya apa yang dikhianati dan akan dibalas perbuatannya dan mereka tidak akan dizhalimi. ( QS. Ali Imran :161 )------------

Artinya : Sesungguhnya balasan orang-orang yang berbuat hirobah (perampokan) dengan maksud memerangi Allah dan Rasulnya dan berbuat kerusakan di muka bumi dibunuh, atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berbeda, atau dihilangkan dari bumi (dibunuh), itulah balasan kehinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar. ( QS. Al-Maidah : 33 ) ---

Artinya : Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya, sebagai balasan bagi pekerjaan keduanya, sebagai balasan dari Allah dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al-Maidah : 38 )----------------

Artinya : Adapun kapal adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, maka aku akan merusaknya karena di belakang mereka seorang raja yang selalu mengambil hak mereka dengan jalan ghosob ( QS. Al-Kahfi : 79 )---------------
-
Sebenarnya korupsi dari asal kata yang mengandung banyak defenisi, sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. Termasuk ke dalam makna korupsi adalah suap. ----------
Pengertian korupsi yang banyak tersebut dilihat dari sudut pandang fiqih Islam juga mempunyai dimensi-dimensi yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena beberapa defenisi tentang korupsi merupakan bagian-bagian tersendiri dari fiqih Islam. Adapun pengertian yang termasuk makna korupsi dalam fiqih Islam adalah sebagai berikut:---
• Pencurian----
• Penggunaan Hak orang lain tanpa izin--
• Penyelewengan harta negara (ghanimah)--
• Suap--
• Khianat---
• Perampasan---
Pada Surat Al-Baqarah ayat 188 disebutkan secara umum bahwa Allah SWT melarang untuk memakan harta orang lain secara batil. Qurtubi memasukkan dalam kategori larangan ayat ini adalah: riba, penipuan, ghosob, pelanggaran hak-hak, dan apa yang menyebabkan pemilik harta tidak senang, dan seluruh apa yang dilarang oleh syariat dalam bentuk apapun.------------
Al-Jassos mengatakan bahwa pengambilan harta orang lain dengan jalan batil ini bisa dalam 2 bentuk:
• Mengambil dengan cara zhalim, pencurian, khianat, dan ghosob (menggunakan hak orang lain tanpa izin).-------------
• Mengambil atau mendapatkan harta dari pekerjaan-pekerjaan yang terlarang, seperti dari bunga/riba, hasil penjualan khamar, babi, dan lain-lain.---------
Asbabunnuzul ayat ini diturunkan kepada Abdan bin Asywa’ al-Hadhramy menuduh bahwa ia yang berhak atas harta yang ada di tangan al-Qois al-Kindy, sehingga keduanya bertengkar di hadapan Nabi SAW. Al-Qois membantah dan ia mau bersumpah untuk membantah hal tersebut, akan tetapi turunlah ayat ini yang akhirnya Qois tidak jadi bersumpah dan menyerahkan harta Abdan dengan kerelaan.
Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larang memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, apalagi dengan jalan membawa ke depan hakim, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya
-------------------------
harta yang diselewengkan oleh seorang pegawai koruptor adakalanya harta milik sekelompok orang tertentu, seperti perusahaan atau harta serikat dan adakalanya harta milik semua orang, yaitu harta rakyat atau harta milik negara.---------------

Dalam tinjaun fikih, seorang pegawai sebuah perusahaan atau pegawai instansi pemerintahan, ketika  dipilih untuk mengemban sebuah tugas, sesungguhnya dia diberi amanah untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan oleh pihak pengguna jasanya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena beban amanah ini, dia mendapat imbalan (gaji) atas tugas yang dijalankannya. Ketika ia menyelewengkan harta yang diamanahkan, dan mempergunakannya bukan untuk sesuatu yang telah diatur oleh pengguna jasanya, seperti dipakai untuk kepentingan pribadi atau orang lain dan bukan untuk kemaslahatan yang telah diatur, berarti dia telah berkhianat terhadap amanah yang diembannya.-----------

Dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXI/272).--------------

Dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Musyaddad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kami angkat sebagai aparatur negara hendaklah dia menikah (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak mempunyai pembantu rumah tangga hendaklah dia mengambil pembantu (dengan biaya tanggungan negara). Jika tidak memiliki rumah hendaklah dia membeli rumah (dengan biaya tanggungan negara). (Nadhratun Na`im, XI. Hlm. 5131)--------------

Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri”. (HR. Abu Daud. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).-----------

Ibnu Hajar Al Haitami (wafat: 974 H) berkata, “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal (kas negara) dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).------------

Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal (uang negara) dengan cara berkhianat (korupsi)”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36.)-------------

Ini juga hasil tarjih Dr. Hanan Malikah dalam pembahasan takyiif fiqhiy (kajian fikih untuk menentukan bentuk kasus) tentang korupsi. (Jaraimul Fasad fil Fiqhil Islami, Hal. 99)-----------

--------Hukum Potong Tangan untuk Koruptor ?------

Apakah koruptor dapat disamakan dengan pencuri? Bila disamakan dengan pencuri, bolehkah dijatuhi hukuman potong tangan? Demikian pertanyaan mendasar yang patut kita jawab.------------

Allah berfirman, yang artinya,

“>وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38).------------

Firman Allah yang memerintahkan untuk memotong tangan pencuri bersifat mutlaq. Tidak dijelaskan berapa batas maksimal harga barang yang dicuri, dimana tempat barang yang dicurinya dan lain sebagainya. Akan tetapi kemutlakan ayat diatas di-taqyid (diberi batasan) oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.------------

Kemudian, para ulama menyaratkan beberapa hal untuk menjatuhkan hukum potong tangan bagi pencuri. Di antaranya: Barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang terjaga dari jangkauan, seperti brankas/lemari yang kuat yang berada di kamar tidur untuk barang berharga, semisal: Emas, perhiasan, uang, surat berharga dan lainnya dan seperti garasi untuk mobil. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, tidak boleh memotong tangan pencuri.----------------

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh seorang laki-laki dari suku Muzainah tentang hukuman untuk pencuri buah kurma, “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya adalah dia harus membayar dua kali lipat. Pencuri buah kurma dari tempat jemuran buah setelah dipetik hukumannya adalah potong tangan, jika harga kurma yang dicuri seharga perisai yaitu: 1/4 dinar (± 1,07 gr emas).” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah. Menurut Al-Albani derajat hadis ini hasan).---------------------

Batas minimal barang yang dicuri seharga 1/4 dinar berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh dipotong tangan pencuri, melainkan barang yang dicuri seharga 1/4 dinar hingga seterusnya.” (HR. Muslim)-------------------

Hadis ini menjelaskan maksud ayat yang memerintahkan potong tangan, bahwa barang yang dicuri berada dalam penjagaan pemiliknya dan sampai seharga 1/4 dinar.-------------

Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi, karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.--------------

Untuk kasus korupsi, yang paling tepat adalah bahwa koruptor sama dengan mengkhianati amanah uang/barang yang dititipkan. Karena koruptor dititipi amanah uang/barang oleh negara. Sementara orang yang mengkhianati amanah dengan menggelapkan uang/barang yang dipercayakan kepadanya tidaklah dihukum dengan dipotong tangannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya tidaklah dipotong tangannya“. (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).----------------

Di antara hikmah Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa menghindari pencuri adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin. Karena dia dapat mengambil harta orang lain yang disimpan dengan perangkat keamanan apapun. Sehingga tidak ada cara lain untuk menghentikan aksinya yang sangat merugikan tersebut melainkan dengan menjatuhkan sanksi yang membuatnya jera dan tidak dapat mengulangi lagi perbuatannya, karena tangannya yang merupakan alat utama untuk mencuri, telah dipotong.-------------

Sementara orang yang mengkhianati amanah uang/barang dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Sehingga merupakan suatu kecerobohan, ketika seseorang memberikan kepercayaan uang/barang berharga kepada orang yang anda tidak ketahui kejujurannya. (Ibnu Qayyim,  I’lamul Muwaqqi’in, jilid II, Hal. 80)----------

Ini bukan berarti, seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun juga. Seorang koruptor tetap layak untuk dihukum. Di antara hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor sebagai berikut:-------------

Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.-----------

Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi. Zaila’i berkata, “Sanad hadis ini hasan”).-------------

Kedua, hukuman ta’zir.------------
Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Allah, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah,  jilid XII, hal 276.)-----------

Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.------------

Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.-----------------

Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.----------------

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.--------------------

Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).---------------

Hukuman ta’zir ini diterapkan karena pencuri harta negara tidak memenuhi syarat untuk dipotong tangannya, disebabkan barang yang dicuri tidak berada dalam hirz (penjagaan selayaknya).-----------

-------Kesimpulan dari tulisan di atas:------

1. Pegawai perusahaan atau instansi pemerintah statusnya sebagai orang yang diberi amanah.------

2. Pengkhianatan terhadap harta masyarakat, lebih besar akibatnya dari pada pengkhianatan harta milik pribadi.----------

3. Pengkhianatan terhadap harta yang menjadi amanah disebut ghulul.-----------

4. Termasuk kategori ghulul adalah tindak korupsi terhadap uang negara.-----------

5. Syarat hukuman potong tangan untuk pencuri, antara lain:-----------

  • Harus mencapai nilai minimal: 1/4 dinar (1,07 gr emas).--------
  • Harta yang diambil berada dalam hirz (penjagaan yang layak dari pemilik).------

6. Korupsi harta negara atau perusahaan (ghulul), termasuk tindak pencurian yang tidak memenuhi syarat potong tangan. Karena pelaku mengambil harta yang ada di daerah kekuasannya, melalui jabatannya. Sehingga harta itu bukan harta yang berada di bawah hirz (penjagaan pemilik).---------

7. Hukuman untuk pelaku kriminal ada 2:--------

  • Hukuman yang ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, disebut hudud.---------
  • Hukuman yang tidak ditetapkan berdasarkan ketentuan syariat, dan dikembalikan kepada         keputusan hakim, disebut ta’zir.-------------

8. Hukuman yang diberikan untuk koruptor adalah sebagai berikut:---------------

  • Dipaksa untuk mengembalikan semua harta yang telah dikorupsi.---------
  • Hukuman ta’zir. Hukuman ini bisa berupa denda, atau fisik seperti cambuk, atau dipermalukan di depan umum, atau penjara. Semuanya dikembalikan pada keputusan hakim.-----------

Penjelasan di atas merupakan sinopsis dari salah satu artikel karya Dr. Erwandi Tarmidzi, yang diterbitkan di Majalah Pengusaha Muslim edisi 27. Pada edisi ini, Majalah Pengusaha Muslim mengupas berbagai kasus dalam dunia kerja, baik negeri maupun swasta.

UJIAN/cobaan ... bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ..... sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya .... adalah UJIAN dari Allah --------------------------- ------------ Kaya dan Miskin ------------- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. ----- Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.--------------- Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.-------- Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ----------- -------------- Empat Jenis Manusia ----------------- Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: ---- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.---- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.----- Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.---------- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.------------- ----------- Hasad dan Ghittoh ---------- Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.----- Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.----------- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.-------------- Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.------- Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.----------- Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.---------- Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.-------- Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. ---------------- ------------- Definisi Fitnah ------------------ Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.------------ Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.----------------- Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ------- ------------- Sumber Fitnah ------------------ Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. --------- Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ------------- Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ------------ Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). --------------- ---------------- Bahagia itu Sederhana ---------------- Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).---------- Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).------------------ Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.--------------- Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.---------------- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. ---------------- Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ------------------- ------------ Ujian Hidup ---------- Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). -------------- Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.---------------- Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).---------------- Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. ---------------- Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).------------- Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).----------------- Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: -------------- Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ------ ------------ Taatilah Allah Sepenuh Hati ------------------- Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.----------- Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.-------------- Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. ---------------- ----------- Kesejahteraan itu Perlu ----------------------- Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).------------------ Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.--------------- Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.--------------- Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.--------------- Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.--------------- Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu. ----------------------- Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ------------ Allâh Ta’ala berfirman:---------- Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)-------- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:------------- “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]---------- ------- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ----------- Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.------------ Allâh Ta’ala berfirman:----------- Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)---- Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:-------- “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].------------- Allâh Ta’ala berfirman:----------- “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)-------- Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:----- “Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]----------- ---- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ----------- Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.------------ Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:--- Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)------------- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:----------- “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]----- Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.------ Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.----------- Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:---------- “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.------------------- Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).--------------- Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:-------- ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).----------- Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]--------- ------------- HIKMAH COBAAN -------- Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.------ Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.-------------- Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:------------- “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]------- Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]-------

ujian hidup muslim

UJIAN/cobaan ... bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ..... sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya .... adalah UJIAN dari Allah
---------------------------
------------ Kaya dan Miskin -------------

Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. -----

Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.---------------

Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.--------

Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. -----------

-------------- Empat Jenis Manusia -----------------

 Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: ----

  1. Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.----
  2. Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.-----
  3. Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.----------
  4. Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.-------------

----------- Hasad dan Ghittoh ----------
Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.-----

Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.-----------

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.--------------

Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.-------

Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.-----------

Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.----------

Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.--------

Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. ----------------

------------- Definisi Fitnah ------------------

Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.------------

Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.-----------------

Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. -------

------------- Sumber Fitnah ------------------

Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ---------

Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). -------------

Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ------------

Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). ---------------

---------------- Bahagia itu Sederhana ----------------

Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).----------

Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).------------------

Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.---------------

Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.----------------

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. ----------------

Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). -------------------

------------ Ujian Hidup ----------

Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). --------------

Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.----------------

Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).----------------

Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. ----------------

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).-------------

Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).-----------------

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: --------------

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ------

------------ Taatilah Allah Sepenuh Hati -------------------

Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.-----------

Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.--------------

Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. ----------------

----------- Kesejahteraan itu Perlu -----------------------

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).------------------

Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.---------------

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.---------------

Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.---------------

Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.---------------

Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu.

-----------------------
Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ------------

Allâh Ta’ala berfirman:----------

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)--------

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:-------------

“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]----------

------- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA -----------

Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.------------

Allâh Ta’ala berfirman:-----------

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)----

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:--------

“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].-------------

Allâh Ta’ala berfirman:-----------

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)--------

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:-----

“Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]-----------

---- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH -----------

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.------------

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:---

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)-------------

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:-----------

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]-----

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.------

Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.-----------

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:----------

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.-------------------

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).---------------

Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:--------

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).-----------

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]---------

------------- HIKMAH COBAAN --------

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.------

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.--------------

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:-------------

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]-------

Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]------------

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

1.

Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala[9].----------

2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :-------“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]--------
3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :-----------”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]---

 

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullâh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allâh Ta’ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:

“Dan Allâh Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullâh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allâh Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullâh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).

Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[14]

 

[1]

Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).

[2] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).
[3] Kitab Al-Fawâ-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)
[4] Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi).
[5] Tafsîr Ibnu Katsîr (8/137)
[6] Ighâtsatul Lahfân (hal 421-422 – Mawâridul Amân)
[7] HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)

pemahaman, apa itu seBENARnya..... hakikat Rezeki, Ajal, dan Jodoh ----------------------- 1. REZEKI --------------- Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).--------- Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).------- 1. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain.Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).---------- 2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].----------- Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.----------- Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta.----------- Itu pula yang diindikasikan oleh ayat-ayat yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan infak (pembelanjaan), karena konsumsi dan infak hanya terkait dengan harta.------------- Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram.------------ Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki.----------- Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh rezeki.------------- 3.Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan (dinikmati) oleh seseorang. Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa rezeki manusia adalah apa saja yang ia kuasai baik yang ia manfaatkan maupun tidak (Lihat QS al-Baqarah [2]: 57, 60; an-Nisa’ [4]: 5; ar-Ra’d [13]: 26; al-Hajj [22]: 34).---------- Ayat-ayat itu jelas memutlakkan rezeki untuk menyebut semua yang dikuasai baik dimanfaatkan (secara riil) maupun tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa yang dimanfaatkan (secara riil) saja tanpa ada ayat yang mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut bersifat umum dan penunjukannya juga umum.------------ Jika orang mencuri, menilap atau merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki orang itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang mengambil rezekinya dari pihak lain.---------------- Rezeki dan Usaha------------- Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.------------ Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu. Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.-------------- Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.---------------- Banyak ayat al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan Allah dan Allahlah yang memberi rezeki (QS. al-Baqarah [2]: 172, 212, 254; Ali Imran [3]: 27, 37; al-An’am [6]: 142; al-‘Ankabut [29]: 60; ar-Rum [30]: 40; dsb). Dia meluaskan dan menyempitkan rezeki seseorang sesuai dengan kehendakNya. (QS. ar-Ra’d [13]: 26; al-Isra’ [17]: 30; al-Qashshash [28]: 82; al-‘Ankabut [29]: 62; ar-Rum [30]: 37; Saba’ [34]: 36; az-Zumar [39]: 52; asy-Syura [42]: 12).------------- Sesuai kehendak-Nya, Dia memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena itu, Allah SWT berfirman (artinya): Mintalah rezeki itu di sisi Allah (QS. al-‘Ankabut [29]: 17). Jadi, rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Ini adalah keyakinan yang harus diimani dan mengingkarinya berarti kufur.----------- Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak.---------- Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]: 6)------------ Imam Muslim meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.-------------- Allah SWT meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba (QS. al-Fajr [89]: 15-16). Kaya dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh penyikapan terhadapnya.---------- Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu.------ اَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya:Umurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa dan tubuhnya digunakan untuk apa. (HR at-Tirmidzi).--------------- Seret atau tertundanya rezeki hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu memintanya kepada Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul saw. berpesan: إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ: إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيْ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rezeki) dengan cara yang baik —halal, proporsional dan tidak tersibukkan dengannya— dan hendaklah tertundanya (lambatnya datang) rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud).---------------------- dst

rezeki jodoh ajal ihtiar

pemahaman, apa itu seBENARnya..... hakikat Rezeki, Ajal, dan Jodoh
-----------------------

1. REZEKI ---------------

Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).---------

Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).-------

1. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain.Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).----------

2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].-----------

Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.-----------

Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta.-----------

Itu pula yang diindikasikan oleh ayat-ayat yang mengaitkan rezeki dengan konsumsi dan infak (pembelanjaan), karena konsumsi dan infak hanya terkait dengan harta.-------------

Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram.------------

Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki.-----------

Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh rezeki.-------------

3.Rezeki bukan hanya yang secara riil dimanfaatkan (dinikmati) oleh seseorang. Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa rezeki manusia adalah apa saja yang ia kuasai baik yang ia manfaatkan maupun tidak (Lihat QS al-Baqarah [2]: 57, 60; an-Nisa’ [4]: 5; ar-Ra’d [13]: 26; al-Hajj [22]: 34).----------

Ayat-ayat itu jelas memutlakkan rezeki untuk menyebut semua yang dikuasai baik dimanfaatkan (secara riil) maupun tidak. Tidak bisa dikhususkan pada apa yang dimanfaatkan (secara riil) saja tanpa ada ayat yang mengkhususkannya, karena ayat-ayat tersebut bersifat umum dan penunjukannya juga umum.------------

Jika orang mencuri, menilap atau merampas harta orang lain, tidak dikatakan ia mengambil rezeki orang itu. Namun, ia mengambil rezkinya dari orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengambil rezeki orang lain, melainkan seseorang mengambil rezekinya dari pihak lain.----------------

Rezeki dan Usaha-------------

Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.------------

Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu. Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.--------------

Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.----------------

Banyak ayat al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan Allah dan Allahlah yang memberi rezeki (QS. al-Baqarah [2]: 172, 212, 254; Ali Imran [3]: 27, 37; al-An’am [6]: 142; al-‘Ankabut [29]: 60; ar-Rum [30]: 40; dsb). Dia meluaskan dan menyempitkan rezeki seseorang sesuai dengan kehendakNya. (QS. ar-Ra’d [13]: 26; al-Isra’ [17]: 30; al-Qashshash [28]: 82; al-‘Ankabut [29]: 62; ar-Rum [30]: 37; Saba’ [34]: 36; az-Zumar [39]: 52; asy-Syura [42]: 12).-------------

Sesuai kehendak-Nya, Dia memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena itu, Allah SWT berfirman (artinya): Mintalah rezeki itu di sisi Allah (QS. al-‘Ankabut [29]: 17). Jadi, rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Ini adalah keyakinan yang harus diimani dan mengingkarinya berarti kufur.-----------

Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak.----------

Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]: 6)------------

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.--------------

Allah SWT meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba (QS. al-Fajr [89]: 15-16). Kaya dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh penyikapan terhadapnya.----------

Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu.------

اَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya:Umurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa dan tubuhnya digunakan untuk apa. (HR at-Tirmidzi).---------------

Seret atau tertundanya rezeki hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu memintanya kepada Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul saw. berpesan:

إِنَّ رُوْحَ الْقُدْسِ نَفَثَ فِيْ رَوْعِيْ: إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتُ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِيْ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِيْ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرَكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rezeki) dengan cara yang baik —halal, proporsional dan tidak tersibukkan dengannya— dan hendaklah tertundanya (lambatnya datang) rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibn Mas’ud).---------------------- dst

Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya. Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain.Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. Karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”

2. JODOH

Lafadz “jodoh” adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menunjuk makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan lafadz suami, istri, pasangan hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh menurut kamus bahasa Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih spesifik dari lafadz suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana terdapat penjelasan sifat lebih khusus dari sekedar pasangan hidup. Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna “jodoh” seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan.

Para Fuqaha’ ketika membahas hukum pernikahan hanya menyebut istilah ( زَوْجٌ ) atau( بَعْلٌ ) untuk suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri, yakni istilah-istilah yang berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia.

Adapun makna jodoh yang menjadi topik diskusi di sini adalah “orang atau individu tertentu yang akan menjadi pasangan hidup kita”, dengan titik diskusi: Apakah Allah telah menentukan dalam Lauhul Mahfudz, sebelum manusia dilahirkan bahwa ia akan dipasangkan dengan individu tertentu ataukah tidak? Artinya apakah Allah sudah mentakdirkan dalam Azal bahwa A akan dipasangkan dengan B, C dipasangkan dengan D, ataukah tidak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilakukan studi yang mendalam terhadap nash-nash yang terkait dengan topik tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah atau dalil yang ditunjuk keduanya seraya mengesampingkan semua dasar yang tidak terkait dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah baik ia berupa adat, tradisi, pameo, peribahasa, dsb.

Hanya saja, pembahasan tentang jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan keimanan bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) (Maha Pengatur). Sebab, pembahasan “jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan” adalah satu hal, sementara pembahasan tentang keimanan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ) adalah hal yang lain.

Masing-masing adalah topik tersendiri yang harus dibahas berdasarkan nash-nash yang terkait dengan topik itu. Mencampur adukkan dua topik pembahasan ini adalah langkah keliru karena bertentangan dengan fakta pembahasan, sebagaimana bisa berakibat kekacauan terhadap pemahaman. Dengan demikian dua macam pembahasan itu harus dipisahkan.

Tinjauan sekilas terhadap persoalan jodoh menunjukkan bahwa persoalan ini adalah termasuk masalah aqidah, sebab kepercayaan bahwa Allah mentakdirkan A berpasangan dengan B, C berpasangan dengan D, atau Allah tidak mentakdirkan itu adalah jenis keyakinan, bukan amal.

Efek pembahasan yang paling akhir adalah membentuk keyakinan tertentu seputar persoalan tersebut, bukan membahas apa yang harus dikerjakan oleh seorang mukallaf. Dengan demikian masalah jodoh adalah masalah aqidah, bukan syariat dan dalam masalah ini pambahasan tersebut tidak ada bedanya dengan pembahasan tentang rezeki, ajal, Dajjal, siksa kubur, dsb.

Dalam persoalan aqidah, seorang Muslim harus mendasarkan semua kepercayaannya atas dalil yang shohih. Tidak diperkenankan seorang Muslim memiliki keyakinan tanpa ada dalil., yakni sekedar menduga-duga atau mengikuti umumnya kata orang.

Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) (pasti), tidak boleh bersifat ( ظَنِّيٌّ ) (dugaan). Meskipun ada Qorinah (indikasi) yang menunjukkan pada keyakinan tertentu, selama dalil itu bersifat ( ظَنِّيٌّ ) tidak boleh seorang Muslim mengambilnya sebagai aqidah. Allah telah mencela keras orang-orang kafir yang memiliki keyakinan bahwa para Malaikat itu berjenis kelamin wanita:

“Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (An-Najm;27-2). Artinya orang-orang kafir itu punya keyakinan bahwa Malaikat berjenis kelamin wanita tetapi mereka tidak memiliki bukti (dalil) atau argumentasi untuk menguatkan keyakinannya.

Keyakinan mereka hanya didasarkan pada dugaan ( ظَنٌّ ), padahal dzon itu sama sekali tidak ada nilainya untuk membuktikan ( الْحَقُّ )

Dari sini bisa difahami, bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab persoalan jodoh adalah mencari dalil yang menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan pasangan hidup manusia sebelum mereka diciptakan. Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) baik ( قَطْعِيُّ الثُّبُوْتِ ) (pasti sumbernya) maupun ( قَطْعِيُّ الدَّلاَلَةِ ) (pasti penunjukan maknanya).

Setelah dilakukan kajian terhadap persoalan ini, nyatalah bahwa tidak ada nash baik dalam al-Qur’an mapun as-Sunnah, juga Ijma’ sahabat dan Qiyas yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan calon pasangan seseorang. Bahkan nash-nash yang ada menunjukkan bahwa persoalan ini adalah masalah mu’amalah biasa yang berada dalam area yang dikuasai manusia.

Artinya persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang menunjukkan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia adalah:Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4).

Lafadz ( فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ ) begitu jelas menunjukkan bahwa setiap Muslim dipersilahkan memilih calon istrinya. Alasannya, ketika Allah memubahkan untuk menikahi wanita-wanita yang ( طَابَ ) (manis, enak, lezat, menyenangkan) bagi mereka, dan tidak mencela lelaki yang tidak mau menikahi wanita karena merasa kurang mantap, baik karena fisik maupun sifatnya, ini semua menunjukkan bahwa persoalan ini adalah persoalan pilihan ( اخْتِيَارِيٌّ ) bukan Qadha’.

Dalil lain yang mendukung adalah kenyataan bahwa syara’ memberikan hak menentukan calon suami sebagai hak penuh kaum wanita, yang tidak boleh ada intervensi dari siapapun meski itu ayah, ibu, paman, musyrif, atau khalifah sekalipun.

عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت فتاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي خسيسته قال فجعل الأمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم النساء أن ليس إلى الآباء من الأمر شيء. (رواه ابن ماجه)

Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini. (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i).

Dalam hadis di atas, Nabi memberi kebebasan penuh pada gadis tersebut untuk memutuskan apakah melanjutkan pernikahannya ataukah membatalkannya. Ini menunjukkan bahwa menentukan calon suami adalah hak penuh bagi wanita dan merupakan pilihan dia semata-mata.

Dalil lain yang mendukung adalah adanya syari’at talak. Talak adalah pembubaran akad nikah. Syari’at talak memungkinkan seseorang yang menjadi pasangan hidup orang lain untuk berpisah pada satu waktu tertentu dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu mustahil dikatakan bahwa seseorang sudah dipasangkan dengan orang tertentu jika ternyata syara’ memberikan suatu mekanisme untuk membubarkan akad nikah.

Lebih dari itu studi terhadap akad-akad yang diatur dalam syari’at Islam menunjukkan bahwa semua akad yang disana terdapat Ijab dan Qabul adalah mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Dengan demikian jual-beli, Ijarah, Wakalah, Syirkah, dan semisalnya adalah termasuk perkara mu’amalah yang berada dalam area yang dikuasai manusia. Manusia akan dimintai pertanggung jawaban dalam aktivitas itu. Jika ia melakukan jual-beli, Ijarah, Wakalah, dan Syirkah, dengan cara yang syar’i maka ia bebas dari hukuman, tetapi jika ia melakukannya dengan cara batil maka ia akan dijatuhi hukuman. Demikian pula masalah menentukan pasangan hidup. Jika seorang wanita Muslimah memutuskan menikah dengan orang kafir maka ia akan dihukum, sebaliknya jika ia menikah dengan lelaki yang dihalalkan syara’ maka ia bebas dari hukuman.

Adapun ayat yang berbunyi:Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. (QS. Ar-Rum [30] : 21)

Dan Kami menciptakan kalian berpasang-pasangan.(QS. An-Naba’ [78] : 8)

Juga termasuk ayat-ayat yang semisal dengannya, maka ayat ini sama sekali tidak terkait dengan masalah jodoh, dan tidak ada Qorinah apapun yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan A menikah dengan B, C menikah dengan D, baik secara ( صَرَاحَةٌ ) (jelas) maupun ( دَلاَلَةٌ ) (penunjukan makna). Tidak hanya itu, secara Manthuq dan Mahfum ayat ini tidak bisa difahami sebagai ayat jodoh, sebab Sighot (redaksional) ayat serta ( مَوْضُوْعٌ ) (topik pembahasan) memang tidak menunjuk ke arah sana. Maksud dari diciptakannya manusia berpasang-pasangan tidak lain adalah bahwa manusia terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan yang dengannya Allah memperkembangbiakkan spesies manusia di muka bumi, bukan ditetapkannya bahwa A akan menikah dengan B atau C akan menikah dengan D.

Adapun ayat yang berbunyi Khobitsat adalah untuk Khobitsun, dan Khobitsun adalah buat Khobitsat (pula), dan Thoyyibat adalah untuk Thoyyibun dan Thoyyibun adalah untuk Thoyyibat (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (An-Nur; 26)
maka ayat ini juga bukan ayat jodoh. Sebab As-babun Nuzul dari ayat ini adalah terkait dengan (حَدِيْثُ اْلإِفْكِ ) yakni peristiwa tuduhan atas Aisyah yang diisukan berbuat serong dengan seorang sahabat yang bernama Shofwan bin Mu’ath-thol. Karena itulah para mufassirin ketika menafsirkan ayat ini, mereka menukil penafsiran Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud ( الْخَبِيْثَات ) dalam ayat ini adalah ucapan-ucapan yang buruk. Artinya ucapan-ucapan yang buruk (diantaranya adalah memfitnah wanita baik-baik berbuat zina) hanya akan muncul dari orang-orang yang buruk, yakni orang-orang munafik atau orang-orang yang hatinya ada penyakit. Bukannya orang shalih pasti akan menikah dengan wanita shalih dan lelaki shalih akan menikah dengan wanita shalihah. Karena itu wajar jika diceritakan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Luth a.s beristri wanita yang tidak shalihah sebagaimana istri Fir’aun yang shalihah bersuami Fir’aun yang kafir. Hal ini dikarenakan urusan pernikahan adalah mu’amalah biasa bukan sesuatu yang telah ditetapkan sebagai mana rizki dan ajal. Jadi ayat ini tidak sah digunakan sebagai dalil bahwa persoalan jodoh adalah sesuatu yang ditakdirkan, atau Allah telah menentukan “kaidah umum” dalam pengaturan jodoh seseorang.

Dari sini bisa difahami, bahwa jodoh bukanlah perkara yang sudah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, tetapi ia adalah mu’amalah biasa sebagaimana mu’amalah yang lain, yang berada di area yang dikuasai manusia dan manusia dihisab atasnya.

Namun pemahaman bahwa jodoh adalah sesuatu yang berada dalam area yang dikuasai manusia bukan berarti pengingkaran bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) yang bersifat Maha Mengatur dan ( الْحَاكِمُ ) yang Maha Memutuskan. Setiap Mukmin ketika melaksanakan suatu aktivitas dalam area yang dikuasainya kemudian ternyata apa yang terjadi di luar harapannya dan di luar dugaannya, maka ia harus ridlo terhadap hal itu dan mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur.

Sebagai contoh: Seorang Muslim hendak naik haji dan sudah menyiapkan semua biaya dan bekal kemudian secara tiba-tiba Allah memberinya sakit. Pada kondisi ini, harus difahami bahwa melaksanakan ibadah haji adalah wilayah yang dikuasai manusia, tetapi pemahaman ini harus disertai keyakinan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ). Dengan demikian ia menjadi ridlo terhadap segala apa yang menimpanya, karena semua itu berada diluar kuat kuasanya.

Demikian pula dalam persoalan pasangan hidup. Memilih siapapun yang akan menjadi pasangan hidup semuanya adalah perkara (اخْتِيَارِيٌّ), akan tetapi terkait dengan kesepakatan, ini adalah masalah lain. Seorang dalam memutuskan sesuatu boleh jadi Allah mencondongkan pada suatu keputusan tertentu, boleh jadi membiarkannya. Sebab Allah adalah Dzat yang kuasa membolak-balikkan hati manusia. Namun ketika Allah mencondongkan pada suatu keputusan, bukan berarti Allah memasangkan X dengan Y atau P dengan Q sejak zaman Azali, alasannya orang masih punya pilihan mutlak untuk memutuskan hatta terhadap sesuatu yang berlawanan sama sekali dengan kehendaknya. Karena itu keimanan yang harus dimiliki adalah keimanan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ) secara mutlak, baik pada area yang dikuasai manusia maupun yang tidak dikuasai manusia, bukan keimanan bahwa Allah telah menetapkan dalam Lauhul Mahfudz bahwa A dipasangkan dengan B atau C dipasangkan dengan D.

Atas dasar ini semua pemahaman yang belum sesuai dengan nash-nash syara’ sesegera mungkin harus dikoreksi. Tidak boleh menjadikan alasan kemaslahatan misalnya: “cara ini cukup efektif untuk menghentikan orang dari pacaran” untuk mengadopsi pemahaman yang keliru tentang jodoh. Alasannya hal ini adalah persoalan hukum syara’ bukan persoalan uslub dakwah yang masih mungkin dipilih uslub yang paling tepat.

3. AJAL/KEMATIAN

Secara bahasa kata ajal berasal dari kata: ajila–ya‘jalu–ajal[an]. Menurut al-Khalil al-Farahidi dalam Kitâb al-‘Ayn dan ash-Shahib ibn ‘Abad di dalam Al-Muhîth fî al-Lughah, dikatakan ajila asy-syay‘u ya‘jalu wahuwa âjilun artinya naqîdu al-‘âjil (lawan dari segera). Dengan demikian, al-ajal (bentuk pluralnya al-âjalu) secara bahasa artinya terlambat atau tertunda.

Selain itu, secara bahasa, kata ajal juga memiliki beberapa makna sebagai berikut:

  • Ghâyah al-waqti fî al-mawti wa mahalu ad-dayn wa nahwuhu (akhir waktu pada kematian dan jatuh tempo utang dan semacamnya) (Al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah).
  • Muddah asy-syay‘i (jangka waktu sesuatu) (Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab; al-Jauhari, Ash-Shihah fî al-Lughah).
  • Muddatuhu wa waqtuhu al-ladzî yahillu fîhi (jangka waktunya dan waktu saat sesuatu itu berlalu) (Al-Fayumi, Mishbâh al-Munîr).
  • Jangka waktu yang ditetapkan untuk sesuatu atau perbuatan (Rawas Qal’ahji, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’).
  • Waktu yang ditetapkan untuk habisnya sesuatu (Abu Hilal al-‘Askari, al-Furûq al-Lughawiyah).

Dari sini ajal al-insân (ajal manusia) adalah akhir kehidupan seseorang atau habisnya umur seseorang. Artinya, saat ajal seseorang itu tiba, saat itu pulalah kematian datang menjemputnya.

Di dalam al-Quran kata ajal dan bentukannya disebutkan sekitar 55 kali. Di antaranya dalam arti jangka waktu (misal: QS al-Baqarah [2]: 231, 232, 234, 235; al-A’raf [7]: 135); umur (misal; QS al-A’raf [7]: 34; Yunus [10]: 11, 49); akhir umur/akhir kehidupan (misal: QS an-Nahl [16]: 61; Fathir [35]: 45).

Sebab Kematian: Berakhirnya Ajal

Ayat-ayat al-Quran yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah menyatakan secara pasti bahwa Allah SWT sajalah Zat Yang menghidupkan dan mematikan. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ

Allah menghidupkan dan mematikan (QS. Ali Imran [3]: 156).

Al-Quran juga menegaskan hal ini pada banyak ayat lainnya (lihat QS. al-Baqarah [2]: 73, at-Tawbah [9]: 116, Yunus [10]: 56, al-Hajj [22]: 6, al-Mu’minun [23]: 80, al-Hadid [57]: 2).

Allah SWT telah menetapkan ajal bagi tiap-tiap umat maupun individu. Kematian, yaitu datangnya ajal, telah ditentukan waktunya sebagai suatu ketetapan dari Allah yang tidak bisa dimajukan maupun dimundurkan. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran [3]: 145).

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya (QS. al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)

Pernyataan senada antara lain terdapat dalam QS. Yunus [10]: 49; an-Nahl [16]: 61 dan QS al-Munafiqun [63]: 11. Jadi, habisnya ajal atau datangnya kematian adalah sesuatu yang pasti (QS al-‘Ankabut [29]: 5). Karena kematian adalah pasti datangnya maka manusia tidak akan bisa lari menghindar darinya. Allah SWT menegaskan:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya tetp akan menemui kalian.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 8).

Allah SWT juga menegaskan:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kalian berada, kematian akan menjumpai kalian kendati kalian berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. an-Nisa’ [4]: 78).

Ayat ini menegaskan, jika orang berupaya menghindar dari kematian—dengan jalan membentengi diri dari apa saja yang dia sangka menjadi sebab datangnya kematian seakan dia berlindung dalam benteng yang tinggi lagi sangat kokoh sekalipun—maka hal itu tidak akan bisa menghindarkannya dari kematian. Sebab, semua yang disangka sebagai sebab maut itu baik berupa sakit, perang, dsb, sejatinya bukanlah sebab maut. Semua itu hanyalah kondisi yang didalamnya kadang terjadi kematian, namun kadang juga tidak.

Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa satu-satunya sebab kematian adalah habisnya ajal, yaitu habisnya jangka waktu yang ditetapkan untuk manusia; atau datangnya ajal, yaitu datangnya batas akhir umur manusia. Ketika itulah, Allah SWT mematikannya dengan mengutus Malaikat Maut untuk mencabut ruh dari jasad. (QS. as-Sajdah [32]: 11).

Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki. Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan memajukan atau menangguhkan ajal seseorang. Allah tidak akan menambah atau mengurangi jatah umur seseorang. Dalam QS al-Munafiqun [63]: 11, Allah mengungkapkan dengan kata lan yang merupakan penafian selama-lamanya (Lihat pula QS. Fathir [35]: 11).

Datangnya ajal adalah pasti, tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan menyegerakan ajal atau mengurangi umur. Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad, tidak berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak beramar makruf nahi mungkar, dan tidak melakukan perbuatan yang disangka berisiko mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak akan bisa memundurkan kematian dan tidak akan memperpanjang umur. Semua itu jelas dan tegas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran seperti di atas.

Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah ia bersilaturahmi. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad).

Juga ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya adalah bukan pertambahan umur biologis, tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan, jejak atau atsar al-‘umri-nya yang terus mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian biologisnya. Abu Darda menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يُؤَخِرُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا، وَإِنَّمَا زِيَادَةُ الْعُمْرِ بِالذُّرِيَّةِ الصَّالِحَةِ يَرْزُقُهَا الْعَبْدَ، فَيَدْعُوْنَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ، فَيَلْحِقَهُ دُعَاؤُهُمْ فِيْ قَبْرِهِ، فَذَلِكَ زِيَادَةُ الْعُمْرِ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah pertambahan umur. (HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam tafsirnya QS. Fathir [35] : 11).

Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya.

Dengan demikian, tidak ada gunanya lari dari maut. Maut juga tidak selayaknya ditakuti karena pasti datangnya. Sikap takut akan mati dan berupaya lari dari maut yang pasti datang bisa dikatakan sebagai sikap bodoh dan upaya yang sia-sia.

Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri menyongsong datangnya maut dan memelihara diri supaya maut itu datang dalam kondisi kita sedang menunaikan ketaatan sehingga kita mendapatkan husnul khatimah. Inilah sikap cerdas dan upaya yang berdaya guna. Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak dan paling baik persiapannya dalam menyongsong datangnya maut.

Ibnu Umar meriwayatkan, Rasul saw. pernah ditanya, siapakah Mukmin yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ اِسْتِعْدَادًا قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِهِمْ أُوْلَئِكَ مِنْ اْلأَكْيَاسِ

Mereka yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya untuk menghadapi maut itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk Mukmin yang paling cerdas. (HR Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan ath-Thabrani).

KESIMPULAN

1. Rezeki merupakan takdir yang telah Allah tetapkan kadarnya. Rezeki tidak terikat dengan adanya usaha manusia untuk mendapatkannya. Karena Rezeki yang diperoleh oleh manusia bukanlah hasil dari usaha yang mereka lakukan, namun karena memang rezeki tersebut telah Allah tetapkan atas manusia.

Rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Adapun dari sisi amal, Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha dan berikhtiar melangsungkan kondisi-kondisi yang di dalamnya rezeki bisa datang. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, ikhtiar dan kondisi itu bukan sebab bagi datangnya rezeki.

Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Karenanya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang tidak. Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]:

2. Jodoh merupakan sebuah pilihan, bukan ketetapan dari Allah. Tidak ada satupun nash-nash di dalam al qur’an maupun di dalam hadist yang mengindikasikan bahwa Jodoh adalah sebuah takdir/ketetapan dari Allah.

Adapun ketika manusia di dalam kandungan, memang ada hadist yang menerangkan bahwa Ajal dan Rezeki telah Allah tetapkan, namun tidak ada kata Jodoh pada isi hadist tersebut.

عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَ:
حَدَثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقِ :إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا. ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ. ثُمَّ يُرْسِلُ الْمَلَكَ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ. وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكُتُبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ! إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ. فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ. فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. فَيَدْخُلُهَا. وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ. حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إَلاَّ ذِرَاعٌ. فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ. فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ. فَيَدْخُلُهُا

Hadist riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami:

Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah).

Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia.

Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka.

Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.

3. Ajal atau Kematian merupakan suatu ketetapan yang telah Allah takdirkan kapan waktunya, tidak bisa dimundurkan dan tidak bisa dimajukan. Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki.

Wallahu A’lam bishowab.