JANTUNG komandan OTAK, ….. lalu OTAK PATUH pada perintah JANTUNG —————- Jantung ternyata pegang peran yang amat penting bagi baik buruknya keputusan yang manusia ambil yg otomatis pada baik buruknya manusia itu sendiri. —————- Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.——— Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.———- Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.———- The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body. Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.——— Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.” ~Doc Childre, founder, Institute of Heart——– Hasil Riset: Jantung Punya Kuasa untuk Berpikir Mandiri dari Otak Manakala kemudian di Al Quran surat Al A’raf (surat 7) ayat 179 dikatakan:—— Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati {JANTUNG/QALBU/ قُلُوبٌ) , tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [3] dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat [2], dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar [1]. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.—– [1] Telinga, jelas untuk mendengar——- [2] Mata, jelas untuk melihat—— [3] Hati atau jantung, adalah untuk memahami——- Jika yang kita inginkan adalah kebaikan, maka mari kita baikkan jantung kita agar kita dianugerahi cara pandang yang baik dan benar untuk bisa memiliki pengertian yang benar, bijak, dan memuliakan.—- Referensi: Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.——– =============== Allah melalui Al-Qur’an sebagai kitab suci, banyak memerintahkan manusia untuk menggunakan akal mereka untuk berpikir, menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, dan juga di dalam diri manusia itu sendiri. Memahami dan berpikir, tidak hanya di perintahkan untuk dilakukan dengan akal atau otak, akan tetapi dengan hati. Karena perpaduan akal dan hati, bagi seorang manusia, akan menuntunnya kepada kebenaran. Hal ini tertuang di dalam surah 22. Al-Hajj:46 : ——— [22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati {JANTUNG, QALBU,لْقُلُوبُ) yang di dalam dada.— Perhatikan surah Al-Hajj ayat 46 di atas. “fatakuuna lahum qulubun ya’qiluuna biha” yang diartikan “…lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…”, memiliki arti kata per kata “maka bagi mereka hati (qulubun) yang memahami (ya’qiluuna) dengannya”. Dalam bahasa Arab, qulubun berasal dari akar kata qalb yang artinya hati atau jantung. Harap dibedakan antara hati disini dengan hati (liver) yang merupakan salah satu anatomi dalam sistem pencernaan. Sebagaimana halnya beberapa bahasa di dunia, seperti misalnya bahasa Inggris, yang mana heart dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung, dalam bahasa Arab qalb dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung. Sedangkan ya’qiluuna berasal dari akar kata a’qal yang berarti berpikir atau memahami, dan dalam kaitannya dengan anatomi berarti otak.———— Deangan demikian “qulubun ya’qiluuna” secara tersurat juga berarti “jantung untuk memahami/berpikir”. Hal ini dipertegas pada kelanjutan ayat tersebut di ayat yang sama, mengenai kemampuan jantung ini : “fa-innahaa laa ta’maa l-abshaaru walaakin ta’ma l-qulubu allatii fii l-shuduuri” — “karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada (l-qulubu allatii fii l-shuduuri)”. Frasa ini menegaskan frasa sebelum-nya. Dimanakah letak qalb yang dimaksud ? Qulubu allatii fii l-shuduuri, qalbu tersebut terletak di dalam dada. Qalb apakah yang ada di dalam dada ? Secara anatomi, qalbu yang berada di dalam dada adalah jantung. Al-Qur’an dalam hal ini mengatakan qalb orang-orang yang kafir itu buta, sebagaimana di Allah mengatakan bahwa orang-orang kafir memiliki “qalb yang tidak dapat memahami”, di Q.S 6:25, 9:87, 63:3.———— Pemilihan kata a’qal yang disandingkan dengan qalb disini patut digaris-bawahi, karena “memahami” dalam bahasa arab, yang digunakan kurang lebih 19 kali dalam Al-Qur’an, adalah faqaha, bukan a’qal. A’qal yang berarti “memahami” atau “berakal” sendiri digunakan lebih dari 40 kali dalam Al-Qur’an, akan tetapi kaitannya dengan memikirkan dengan otak, bukan dengan hati.———– Jika “memahami” dengan qalb menggunakan kata faqaha (dan turunannya), sedangkan “memahami” dengan otak” Al-Qur’an menggunakan kata a’qal (dan turunannya), maka di surah Al-Hajj ayat 46 secara khusus dikaitkan kemampuan qalb dengan a’qal — qulubun ya’qiluun, yang berbeda dari penggunaannya di ayat-ayat yang lain.———– Qs22:46 “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, mereka mempunyai jantung yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada”———

jantung mikir

JANTUNG komandan OTAK, ….. lalu OTAK PATUH pada perintah JANTUNG
—————-

Jantung ternyata pegang peran yang amat penting bagi baik buruknya keputusan yang manusia ambil yg otomatis pada baik buruknya manusia itu sendiri.
—————-
Dari sekian peneliti psychophysiological untuk hubungan otak dan jantung, beberapanya adalah John dan Beatrice Lacey. Melalui 20 tahun penelitian, mereka temukan bahwa jantung berkomunikasi dengan otak dalam cara-cara yang secara signifikan mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dan bereaksi terhadap fenomena. Kedua peneliti itu juga menemukan betapa jantung sepertinya punya logika “anehnya” sendiri yang memiliki alur berbeda (dan mandiri) dari arahan dari sistem syaraf tak-sadar (autonomic). Jantung ini tampak selalu mengirimkan pesan sarat-makna kepada otak yang tidak hanya dipahami oleh si otak, namun juga dipatuhi. Maka menariknya, pesan dari jantung tersebut akan berpengaruh pada pilihan perilaku seseorang.———

Pada 1991, Dr. J. Andrew Armour memperkenalkan konsep “otak jantung”. Hasil kerjanya menyatakan bahwa jantung memiliki sistem syaraf intrinsik kompleks yang sedemikian rumitnya hingga bisa dikata bahwa dia memiliki “otak kecil”nya sendiri. Jantung memiliki sistem sirkuit yang menjadikannya mampu bertindak independen atas otak – untuk secara mandiri belajar, mengingat, dan bahkan merasa dan mengindera.———-

Sistem syarat jantung terdiri dari 40.000 neuron yang disebut sensory neurites. Komunikasi antara jantung dan otak dilakukan melalui jalur afferent. Melaluinya, sinyal sakit (pain) dan sensasi rasa lain masuk ke otak, tepatnya yang disebut medulla. Lebih dari itu, ada juga sinyal yang terus masuk lebih dalam ke wilayah otak sedemikian rupa berpengaruh pada persepsi, pengambilan keputusan dan proses kognitif yang lain.———-

The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body.

Institute of Heartmath menemukan bahwa manakala pola ritme otak bersifat baik dan koheren, informasi syaraf yang dikirimkan ke otak akan memfasilitasi cortical function. Efek darinya adalah: kejelasan pikiran yang meningkat, kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan meningkatnya daya kreatif. Sebagai tambahan, input yang koheren dan positif dari jantung cenderung akan membentuk cara pandang dan rasa yang baik.———

Since emotional processes can work faster than the mind, it takes a power stronger than the mind to bend perception, override emotional circuitry, and provide us with intuitive feeling instead. It takes the power of the heart.”
~Doc Childre, founder, Institute of Heart——–

Hasil Riset: Jantung Punya Kuasa untuk Berpikir Mandiri dari Otak

Manakala kemudian di Al Quran surat Al A’raf (surat 7) ayat 179 dikatakan:——

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati {JANTUNG/QALBU/ قُلُوبٌ)  , tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami [3] dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat [2], dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar [1]. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.—–

[1] Telinga, jelas untuk mendengar——-
[2] Mata, jelas untuk melihat——
[3] Hati atau jantung, adalah untuk memahami——-

Jika yang kita inginkan adalah kebaikan, maka mari kita baikkan jantung kita agar kita dianugerahi cara pandang yang baik dan benar untuk bisa memiliki pengertian yang benar, bijak, dan memuliakan.—-

Referensi: Rollin McCraty, The Scientific Role of the Heart in Learning and Performance, Institute of HeartMath, 2003.——–
===============
Allah melalui Al-Qur’an sebagai kitab suci, banyak memerintahkan manusia untuk menggunakan akal mereka untuk berpikir, menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, dan juga di dalam diri manusia itu sendiri. Memahami dan berpikir, tidak hanya di perintahkan untuk dilakukan dengan akal atau otak, akan tetapi dengan hati. Karena perpaduan akal dan hati, bagi seorang manusia, akan menuntunnya kepada kebenaran. Hal ini tertuang di dalam surah 22. Al-Hajj:46  : ———

[22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati {JANTUNG, QALBU,لْقُلُوبُ) yang di dalam dada.—

Perhatikan surah Al-Hajj ayat 46 di atas. “fatakuuna lahum qulubun ya’qiluuna biha” yang diartikan “…lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…”, memiliki arti kata per kata “maka bagi mereka hati (qulubun) yang memahami (ya’qiluuna) dengannya”. Dalam bahasa Arab, qulubun berasal dari akar kata qalb yang artinya hati atau jantung. Harap dibedakan antara hati disini dengan hati (liver) yang merupakan salah satu anatomi dalam sistem pencernaan. Sebagaimana halnya beberapa bahasa di dunia, seperti misalnya bahasa Inggris, yang mana heart dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung, dalam bahasa Arab qalb dapat berarti hati dan dapat pula berarti jantung. Sedangkan ya’qiluuna berasal dari akar kata a’qal yang berarti berpikir atau memahami, dan dalam kaitannya dengan anatomi berarti otak.————

Deangan demikian “qulubun ya’qiluuna” secara tersurat juga berarti “jantung untuk memahami/berpikir”. Hal ini dipertegas pada kelanjutan ayat tersebut di ayat yang sama, mengenai kemampuan jantung ini :  “fa-innahaa laa ta’maa l-abshaaru walaakin ta’ma l-qulubu allatii fii l-shuduuri” — “karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada (l-qulubu allatii fii l-shuduuri)”. Frasa ini menegaskan frasa sebelum-nya. Dimanakah letak qalb yang dimaksud ? Qulubu allatii fii l-shuduuri, qalbu tersebut terletak di dalam dada. Qalb apakah yang ada di dalam dada ? Secara anatomi, qalbu yang berada di dalam dada adalah jantung. Al-Qur’an dalam hal ini mengatakan qalb orang-orang yang kafir itu buta, sebagaimana di Allah mengatakan bahwa orang-orang kafir memiliki “qalb yang tidak dapat memahami”, di Q.S 6:25, 9:87, 63:3.————

Pemilihan kata a’qal yang disandingkan dengan qalb disini patut digaris-bawahi, karena “memahami” dalam bahasa arab, yang digunakan kurang lebih 19 kali dalam Al-Qur’an, adalah faqaha, bukan a’qal. A’qal yang berarti “memahami” atau “berakal” sendiri digunakan lebih dari 40 kali dalam Al-Qur’an, akan tetapi kaitannya dengan memikirkan dengan otak, bukan dengan hati.———–

Jika “memahami” dengan qalb menggunakan kata faqaha (dan turunannya), sedangkan “memahami” dengan otak” Al-Qur’an menggunakan kata a’qal (dan turunannya), maka di surah Al-Hajj ayat 46 secara khusus dikaitkan kemampuan qalb dengan a’qalqulubun ya’qiluun, yang berbeda dari penggunaannya di ayat-ayat yang lain.———–

Qs22:46  “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, mereka mempunyai jantung yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah yang buta itu mata, tetapi yang buta adalah qalbu yang ada di dalam dada”———

Ilmu pengetahuan sekarang membuktikan bahwa jantung manusia (qalb) ternyata mampu bersifat seperti otak (a’qal), mampu belajar, mengingat, bahkan merasakan, sebagaimana yang tertuang dalam artikel “Neurocardiology : The Brain in the Heart” (http://www.heartmath.org/research/science-of-the-heart/introduction.html) :

After extensive research, one of the early pioneers in neurocardiology, Dr. J. Andrew Armour, introduced the concept of a functional “heart brain” in 1991. His work revealed that the heart has a complex intrinsic nervous system that is sufficiently sophisticated to qualify as a “little brain” in its own right. The heart’s brain is an intricate network of several types of neurons, neurotransmitters, proteins and support cells like those found in the brain proper. Its elaborate circuitry enables it to act independently of the cranial brain – to learn, remember, and even feel and sense. The recent book Neurocardiology, edited by Dr. Armour and Dr. Jeffrey Ardell, provides a comprehensive overview of the function of the heart’s intrinsic nervous system and the role of central and peripheral autonomic neurons in the regulation of cardiac function.

Selanjutnya masih dalam artikel yang sama dijelaskan bagaimana pentingnya peranan dan konstribusi jantung dalam mengintegrasikan tubuh, pikiran, jiwa dan emosi seseorang :

In our internal environment many different organs and systems contribute to the patterns that ultimately determine our emotional experience. However, research has illuminated that the heart plays a particularly important role. The heart is the most powerful generator of rhythmic information patterns in the human body. As we saw earlier, it functions as sophisticated information encoding and processing center, and possesses a far more developed communication system with the brain than do most of the body’s major organs. With every beat, the heart not only pumps blood, but also transmits complex patterns of neurological, hormonal, pressure and electromagnetic information to the brain and through-out the body. As a critical nodal point in many of the body’s interacting systems, the heart is uniquely positioned as a powerful entry point into the communication network that connects body, mind, emotions and spirit.

Al-Qur’an pun menyatakan bahwa sistem otak di dalam jantung, pun berkomunikasi dengan otak manusia, sehingga bagi orang-orang yang kafir, maka Allah memfilter penyampaian sinyal-sinyal syaraf yang dikirim “otak dalam jantung” ke otak manusia, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Israa (17) ayat 46 :

[17:46] dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya …

waja’alnaa ‘alaa quluubihim akinnatan an yafqahuuhu wa fii adzaanihim waqran” — “dan Kami tempatkan di atas qalb mereka  penutup sehingga mereka tidak dapat memahaminya, dan sumbatan di telinga mereka”. Lihat bagaimana ketika membicarakan “filter” di telinga, Allah menggunakan kata fii (di dalam), sedangkan ketika membicarakan qalb, Allah menggunakan kata a’laa (diatas). Hal ini dikarenakan qalb (jantung) yang memiliki sistem otak sendiri, berkomunikasi dengan otak manusia, dimana otak manusia dalam hal ini berada di atas jantung, sehingga Allah mengatakan bahwa “filter” tersebut di letakkan “di atas” qalb, yaitu di antara qalb dan otak manusia.

[2:7] Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat
“khatamallaahu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim wa’alaa abshaarihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘azhiim”

Hal ini di jelaskan, masih di dalam artikel yang sama, sebagai berikut :

“As their research evolved, they found that the heart seemed to have its own peculiar logic that frequently diverged from the direction of the autonomic nervous system. The heart appeared to be sending meaningful messages to the brain that it not only understood, but obeyed.

Dalam artikel yang lain mengenai kemampuan otak di dalam jantung ini pun di dijelaskan, bahwa jantung pun memiliki sytem syaraf yang dijuluki dengan “the brain in the heart” :

These scientists have found that the heart has its own independent nervous system – a complex system referred to as “the brain in the heart.” There are at least forty thousand neurons (nerve cells) in the heart – as many as are found in various subcortical centers of the brain. (http://www.therealessentials.com/followyourheart.html)

Pam Montgomery dalam bukunya “Plant Spirit Healing: A Guide to Working with Plant Consciousness” menuliskan kaitan jantung dalam pengendalian emosi seseorang sebagai berikut :

There are 40,000 nerve cells in the heart as well as neurotransmitters such as noradrenaline and dopamine (known emotional mediators), that the heart synthesizes and releases. “With every beat of the heart, a burst of neural activity is relayed to the brain,” Martin explains. “The heart senses hormonal, [heart] rate and pressure information, translates it into neurological impulses and processes this information.

Bahkan, jantung manusia, sebagaimana otak manusia, pun memiliki kemampuan untuk mengingat. Dalam artikel http://www.lostartsofthemind.com/2006/11/can-your-heart-think-and-feel.html dinyatakan :

Amazingly, Dr Andrew Armour, a neurologist from Montreal, Canada, discovered a small but complex network of neurons in the heart, which he has dubbed ‘the little brain in the heart’. These neurons seem to be capable of both short and long term memory. Why should the heart even have neurons and the ability to remember? Well, for one thing, there is a lot of muscle co-ordination that goes on in the heart in order to allow it to function properly. The fact that hearts can even be transplanted shows that there is a long-term memory stored in the heart for its rhythms. When a heart is removed, it is cooled and can stay alive for up to four hours. Once the heart is connected into its new recipient, as blood enters it, it begins to beat again. It is almost certainly the ‘little brain in the heart’ that is enabling the heart to remember how to beat.

Di lain artikel, Professor Mohammad Omar Salem dalam tulisannya “The heart, mind and spirit” (http://www.rcpsych.ac.uk/pdf/Heart,%20Mind%20and%20Spirit%20%20Mohamed%20Salem.pdf) pun membahas mengenai brain in the heart ini. Mengutip dari tulisan tersebut :

After extensive research, Armour (Armour J A (1994), Neurocardiology: A natomical and Functional Principles, New York, NY, Oxford University Press: 3-19.) introduced the concept of functional ‘heart brain’. His work revealed that the heart has a complex intrinsic nervous system that is sufficiently sophistic ated to qualify as a ‘little brain’ in its own right. The heart’s brain is an intricate network of several types of neurons,  neurotransmitters, proteins and support cells similar to those found in the brain proper. Its elaborate circuitry enables it to act independently of the cranial brain – to learn, remember, and even feel and sense. The heart’s nervous system contains around 40,000 neurons, called sensory neurites (Armour J A (1991), Anatomy and function of the intrathor acic neurons regulating the mammalian heart. In: Zucker I H and Gilmore J P, eds. Reflex Control of the Circulation. Boca Raton, FL, CRC Press: 1-37. ). Information from the heart – including feeling sensations – is sent to the brain through several afferents. These afferent nerve pathways enter the brain at the area of the medulla, and cascade up into the higher centres of the brain, where they may influence perception, decision making and other cognitive processes (Armour J. A. (2004), Cardiac neuronal hierarchy in health and disease, American 4 journal of physiology, regulatory, integrative and comparative physiology. Aug;287(2):R262-71.).

Thus, it was revealed that the heart has its own intrinsic nervous system that operates and processes information independently of the brain or nervous system. This is what allows a heart transplant to work. Normally, the heart communicates with the brain via nerve fibres running through the vagus nerve and the spinal column. In a heart transplant, these nerve connections do not reconnect for an extended period of time; in the meantime, the transplanted heart is able to function in its new host only through the capacity of its intact, intrinsic nervous system (Murphy D A, Thompson G W, et al (2000), The heart reinnervates after transplantation. Annals of Thor acic Surgery;69(6): 1769-1781. )

Keterkaitan dengan emosi manusia, Al-Qur’an sangat menganjurkan keselarasan berpikir dengan akal dan berpikir dengan hati, mengisyaratkan keterhubungan yang erat antara a’qal dan qalb ini. Emosi dan tindakan manusia adalah hasil keselarasan antara keduanya, meskipun pusat emosi dan pengambilan tindakan tetap dipegang oleh otak  atau a’qal (klik disini untuk baca postingan “Struktur Otak Manusia Dalam Al-Qur’an”). Oleh sebab itu juga, salah satu metode pendeteksi kebohongan yang banyak dilakukan adalah dengan metode polygraph, dalam kaitannya dengan mendeteksi qalb atau jantung, sebagaimana yang diulas dalam postingan “Metode Pendeteksi Kebohongan Menurut Al-Qur’an (klik disini untuk baca)”.

Hal senada mengenai peranan qalb dalam kaitannya dengan emosi manusia di ungkapkan di dalam artikel “http://www.today.com/id/11023208/ns/today-today_health/t/does-your-heart-sense-your-emotional-state/#.UjnU4X9TC50” :

Psychologists once maintained that emotions were purely mental expressions generated by the brain alone. We now know that this is not true — emotions have as much to do with the heart and body as they do with the brain. Of the bodily organs, the heart plays a particularly important role in our emotional experience. The experience of an emotion results from the brain, heart and body acting in concert.

Dan juga dikatakan www.sciencedaily.com dalam artikelnya “http://www.sciencedaily.com/releases/2013/04/130407211558.htm” menjelaskan bagaimana jantung, dalam fungsinya yang independen (sebagaimana di atas dikatakan sebagai “little brain in the heart“), berperan dalam mempengaruhi persepsi manusia dalam melihat sesuatu :

“From previous research, we know that if we present images very fast then we have trouble detecting them, but if an image is particularly emotional then it can ‘pop’ out and be seen. In a second experiment, we exploited our cardiac effect on emotion to show that our conscious experience is affected by our heart. We demonstrated that fearful faces are better detected at systole (when they are perceived as more fearful), relative to diastole. Thus our hearts can also affect what we see and what we don’t see — and can guide whether we see fear.

“Lastly, we have demonstrated that the degree to which our hearts can change the way we see and process fear is influenced by how anxious we are. The anxiety level of our individual subjects altered the extent their hearts could change the way they perceived emotional faces and also altered neural circuitry underlying heart modulation of emotion.”

Sebelum Al-Qur’an di turunkan, pernyataan “qalb (hati) yang memahami”, “bepikir dengan hati nurani”, “memahami dengan hati” mungkin sudah ada, akan tetapi sekali lagi, pemilihan kata selalu menjadi keajaiban Al-Qur’an, yang mampu mengubah suatu istilah yang pada masa diturunkannya mampu dipahami secara biasa, akan tetapi ternyata menyimpan makna yang mengungkapkan sesuatu yang baru akan diketahui berabad-abad kemudian, seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan. Qulubun ya’qiluuna adalah salah satunya,  qalb (jantung) yang bersifat a’qal (otak), jantung yang memiliki system otak yang mandiri, yang berkomunikasi dengan otak manusia, sebagaimana Allah melalui Al-Qur’an sangat menekankan pentingnya keselarasan berpikir dengan a’qal dan berpikir dengan qalb. Hanya Al-Qur’an satu-satunya kitab yang menyatakan hal ini dengan pemilihan kata-nya yang sangat selektif.

[41:53] Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? 

Wallahu a’lam

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG … QALBU BUTA tidak memahami AYAT Allah —————— BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> ————- Qalbu Jasmani, yaitu Jantung ———- Dalam kamus bahasa Arab, qalbu dalam bentuk fisik didefenisikan sebagai “organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri.” Dari definisi ini dipastikan qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. ————– Sebuah hadist yag amat populer menyebutkan : أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Qalbu”. (HR Muslim, no. 1599. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadits ini dimuat oleh Imam an-Nawawi dalam Arba’in an-Nawawiyah, hadits no. 6, dan Riyadhush-Shalihin, no. 588)——— Kebanyakan orang mengartikan kalimat terakhir menjadi: “segumpal daging itu adalah hati,” padahal merujuk pembahasan diatas, dimana qalbu berarti jantung, maka seharusnya menjadi “segumpal daging itu adalah jantung.” Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak? jawabnya adalah jantung.———– Jadi, hadist yang selama ini diartikan hanya secara ruhiyah, ternyata bila kita gunakan tata bahasa yang benar, maka ia juga akan memiliki makna jasmaniah.————– ————- Qalbu Ruhani, yakni hati nurani———————- إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya. (Hadist Riwayat Ibnu Majah)———— Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu rohani. Roh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena roh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) roh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.——– Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Dalam bahasa inggris pun disebutkan heart sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan intuisi, perasaan dan emosi. seperti pada “His head told him not to fall in love, but his heart had the final say”.——- Nah, dengan memahami makna sebenarnya dari Qalbu, kita takkan lagi bingung dengan kontadiksi artinya dalam bahasa Indonesia. Mulai sekarang kita bisa menyebut Qalbu, atau Heart sebagai jantung. Ungkapan “Kaulah jantung hatiku” mungkin sebuah transisi sederhana untuk memperbaiki salah kaprah ini.——– Mungkin yang agak repot ketika kita sedang patah hati dan berkata “Kau sudah membuatku sakit hati,” kemudian kita rubah menjadi “Kau sudah membuatku sakit jantung,” orang akan menganggap Anda terserang penyakit medis, dan hilanglah unsur melankolis disini. Dan bila kita minta Aa Gym merubah lirik lagu “Jagalah Hati” menjadi “Jagalah Jantung,” apa beliau mau? repot juga, ya.——— Oya, bila Anda lebih memilih mengganti kata “hati” menjadi “qalbu” daripada memakai kata “jantung,” maka pastikan Anda menulis atau mengatakannya sebagai Qalbu, jangan Kalbu. Kalbu dengan huruf ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis “kalbu”, maknanya akan berubah menjadi anjing. ======================= QALBU = BUTA = tidak diGUNAkan untuk MEMAHAMI ayat-ayat Allah << ” … BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> <<< TIDAK BERUSAHA memahami ayat-ayat Allah = golongan BINATANG TERNAK … Al Furqaan:44 >> ————–﴾ Al Hajj:46 ﴿maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai QALBU yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada. أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصٰرُ وَلٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿الحج:٤٦﴾ ————﴾ Al Baqarah:7 ﴿ Allah telah mengunci-mati QALBU dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. خَتَمَ ٱللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة:٧﴾ ———-﴾ Al Baqarah:10 ﴿ Dalam QALBU mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿البقرة:١۰﴾ ————-﴾ Al Baqarah:18 ﴿ Mereka tuli, bisu dan BUTA, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿البقرة:١٨﴾ ……………………………….. ﴾ Al Furqaan:44 ﴿ atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الفرقان:٤٤﴾ ……………………………………………………… ——﴾ Al Israa’:72 ﴿ Dan barangsiapa yang BUTA (QALBUnya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). وَمَن كَانَ فِى هٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الإسراء:٧٢﴾ ——–﴾ Az Zukhruf:40 ﴿ Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang BUTA (QALBUnya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? أَفَأَنتَ تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ أَوْ تَهْدِى ٱلْعُمْىَ وَمَن كَانَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ ﴿الزخرف:٤۰﴾ ——–﴾ Ar Ruum:53 ﴿ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang BUTA (QALBUnya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). وَمَآ أَنتَ بِهٰدِ ٱلْعُمْىِ عَن ضَلٰلَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِـَٔايٰتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ ﴿الروم:٥٣﴾ ————-﴾ An Nahl:127 ﴿ Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿النحل:١٢٧ ====================

qalbu hati

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG … QALBU BUTA tidak memahami AYAT Allah

——————
BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>>
————-
Qalbu Jasmani, yaitu Jantung ———-

Dalam kamus bahasa Arab, qalbu dalam bentuk fisik didefenisikan sebagai “organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri.” Dari definisi ini dipastikan qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung.
————–
Sebuah hadist yag amat populer menyebutkan :

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Qalbu”. (HR Muslim, no. 1599. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadits ini dimuat oleh Imam an-Nawawi dalam Arba’in an-Nawawiyah, hadits no. 6, dan Riyadhush-Shalihin, no. 588)———

Kebanyakan orang mengartikan kalimat terakhir menjadi: “segumpal daging itu adalah hati,” padahal merujuk pembahasan diatas, dimana qalbu berarti jantung, maka seharusnya menjadi “segumpal daging itu adalah jantung.” Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak? jawabnya adalah jantung.———–

Jadi, hadist yang selama ini diartikan hanya secara ruhiyah, ternyata bila kita gunakan tata bahasa yang benar, maka ia juga akan memiliki makna jasmaniah.————–
————-

Qalbu Ruhani, yakni hati nurani———————-

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ

Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya. (Hadist Riwayat Ibnu Majah)————

Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu rohani. Roh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena roh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) roh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.——–

Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Dalam bahasa inggris pun disebutkan heart sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan intuisi, perasaan dan emosi. seperti pada “His head told him not to fall in love, but his heart had the final say”.——-

Nah, dengan memahami makna sebenarnya dari Qalbu, kita takkan lagi bingung dengan kontadiksi artinya dalam bahasa Indonesia. Mulai sekarang kita bisa menyebut Qalbu, atau Heart sebagai jantung. Ungkapan “Kaulah jantung hatiku” mungkin sebuah transisi sederhana untuk memperbaiki salah kaprah ini.——–

Mungkin yang agak repot ketika kita sedang patah hati dan berkata “Kau sudah membuatku sakit hati,” kemudian kita rubah menjadi “Kau sudah membuatku sakit jantung,” orang akan menganggap Anda terserang penyakit medis, dan hilanglah unsur melankolis disini. Dan bila kita minta Aa Gym merubah lirik lagu “Jagalah Hati” menjadi “Jagalah Jantung,” apa beliau mau? repot juga, ya.———

Oya, bila Anda lebih memilih mengganti kata “hati” menjadi “qalbu” daripada memakai kata “jantung,” maka pastikan Anda menulis atau mengatakannya sebagai Qalbu, jangan Kalbu. Kalbu dengan huruf ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis “kalbu“, maknanya akan berubah menjadi anjing.
=======================

APAKAH PERBEDAAN HATI DAN QALBU ?

Hati

(bahasa Yunani: ἡπαρ, hēpar) merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perutdiafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi.

Qalbu

Banyak orang bingung dengan pengertian qalbu. Qalbu harus ditulis dengan huruf ‘q’ karena teks Arabnya menggunakan huruf (qaf). Di Indonesia banyak orang menuliskannya dengan huruf ‘k’ sehingga menjadi kalbu. Padahal ‘k’ adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis (kalbu) maknanya adalah anjing. Jadi jauh benar bedanya antara qalbu (hatinurani) dengan kalbu (anjing).

Sebagian orang menerjemahkan qalbu dengan “hati”. Padahal hati (Inggris: liver) adalah organ tubuh yang ada di kanan dada dan fungsinya menyaring racun atau penyakit dari darah. Dalam Bahasa Arab hati disebut dengan ‘kibdun’ atau ‘kibdatun’. Bahasa Arab `Amiyah menyebutnya ‘kabid’. Jadi orang Arab tidak pernah memahami qalbu sebagai hati atau liver.

Hati juga sering dijadikan sebagai terjemahan dari ‘heart’ (Inggris) yang bermakna jantung, karena itu bentuknya sering digambarkan seperti jantung (♥).

Hati digunakan sebagai terjemahan ‘qalb’ (Arab) meskipun bahasa Arab menyebut hati ‘kibd’. Hati digunakan sebagai terjemahan ‘heart’ (Inggris) yang sebenarnya adalah jantung. Lalu hati juga digunakan sebagai terjemahan dari ‘liver’ (Inggris) atau ‘hephar’ (Latin). Jadi sebenarnya apa itu hati, apa itu qalbu?

Dua Macam Qalbu :

  1. Qalbu jismani, yaitu jantung Ada hadits tentang qalbu yang sangat populer di masyarakat, sering diucapkan oleh para ustadz dan muballigh dalam ceramah-ceramah mereka. Tapi sayangnya orang kurang cermat memahami makna qalbu pada hadits ini.

Abu Nu`aym menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. berkata: “Sesungguhnya di dalam jasad ada sebongkah daging; jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya; bongkahan daging itu adalah QALBU”.

Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak?

Bahasa Arab mengenal qalbu dalam bentuk fisik yang di dalam kamus didefinisikan sebagai ‘organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri’. Jadi, qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. Jantung adalah bongkahan daging yang kalau ia baik maka seluruh jasad akan baik atau sebaliknya kalau ia rusak maka seluruh jasad akan rusak.

  1. Qalbu ruhani, yaitu hatinurani. Ada juga jenis qalbu yang kedua, sebagaimana digambarkan dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya”. (HR Ibnu Majah)

Jadi kalau banyak dosa qalbu akan dipenuhi oleh bercak-bercak hitam, bahkan keseluruhan qalbu bisa jadi menghitam. Apakah para penjahat jantungnya hitam? Apakah para koruptor jantungnya hitam? Tanyakanlah kepada para dokter bedah jantung, apakah jantung orang-orang jahat berwarna hitam? Mereka akan katakan tak ada jantung yang menghitam karena kejahatan dan kemaksiatan yang dibuat. Lalu apa maksud hadits Nabi di atas? Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu ruhani. Ruh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena ruh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) ruh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.

Rupanya, istilah qalbu mirip dengan heart dalam bahasa Inggris, sama-sama memilki makna ganda. Heart dapat bermakna jantung (heart attack, serangan jantung) dapat juga bermakna hatinurani (you’re always in my heart, kamu selalu hadir di hatinuraniku). Maka apabila mendengar perbincangan tentang qalbu perhatikanlah konteksnya. Kalau yang berbicara adalah dokter medis, tentu qalbu yang diucapkannya lebih bermakna jantung. Tapi bila dikaitkan dengan perbincangan tentang moral, iman atau spiritualitas, maka maknanya lebih mengarah pada hatinurani yang wujudnya ruhaniah.

Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Namun bukan berarti karena dosa tak kan nampak bekas-bekas fisiknya lalu kita akan seenaknya saja berbuat dosa. Na`ûdzubillâh min dzâlik…
==========================

“Ingatlah! Bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal mudghoh, bila mudhgoh itu baik, akan baiklah seluruh tubuh itu, dan bila mudhgoh itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Mudhgoh itu adalah Qolbu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

          Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas sering dikutip oleh para mubaligh, dan para penulis ketika membahas tentang pentingnya qolbu. Para mubaligh dan penulis sering mengartikan mudghoh sebagai daging, dan mengartikan qolbu sebagai hati.

Seperti yang dimuat dalam Ensiklopedia Islam Indonesia, dalam sejarah pemikiran Islam kalbu merupakan salah satu daya dari dua daya yang dipunyai ruh. Daya pertama adalah daya berpikir yang disebut akal berpusat dikepala, sedangkan daya adalah daya merasa yang disebut kalbu (qalb) yang berpusat di dada (Ensiklopedi Islam, 2002, Harun Nasution, dkk, Jilid 3: O-Z, Penerbit Djambatan).

Menurut Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin, pemikiran atau perenungan itu dilakukan mulai dari hati (qalb = kalbu) yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui akal yang berpusat di kepala. Pendapat ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Hajj (22) ayat 46, Qs. 9 at-Taubah:93; Qs. 47 Muhammad: 24. Selanjutnya Al-Ghazali berpendapat hati laksana cermin yang dapat menangkap sesuatu yang ada diluarnya. Untuk dapat menangkapnya dengan baik, hati harus bersih dari berbagai macam dosa. Selanjutnya menurut Al-Ghazali, “hati” dapat berarti dua macam, yaitu hati dalam arti jasmani, dan hati dalam arti rohani. Hati dalam arti rohani merupakan esensi manusia. Adapun yang dimaksud hati dalam pembahasan Al-Ghazali adalah bukan hati dalam pengertian jasmani yang berupa benda sebagai alat yang terletak di dalam dada kiri manusia. Pengertian mudghoh sebagai daging, dan qalbu sebagai hati atau jantung yang memiliki fungsi berfikir dan memahami sesuatu menurut sebagian besar ulama termasuk Al-Ghazali, fungsi hati menurut pengertian agama, khususnya Islam sangat berbeda dengan fungsi hati atau jantung dalam dunia kedokteran (lihat Al-Ghazali dalam karyanya: Ihya Ulu Mudin atau Keajaiban Hati).

Dalam dunia kedokteran, khususnya anatomi dan neurology (ilmu syaraf), pengertian seperti hati seperti diungkapkan di atas tentunya akan menimbulkan pertanyaan, apakah tepat mudghoh diartikan sebagai daging, dan qolbu diartikan sebagai hati? Karena, menurut anatomi dan neurologi, hati (lever) tidak memiliki fungsi atau tidak ada hubungannya dengan baik-buruknya (kualitas) prilaku (akhlaq) manusia. Seperti yang diungkapkan Hendrawan Nadesul, seorang dokter sekaligus seorang penulis produktiv, otak manusia-lah yang menentukan niat, pikir, emosi, dan prilaku manusia. otak manusia ibarat kaset lagu. Dari luar semua tampak sama, tapi kita baru mengenal siapa seseorang setelah kaset di kepalanya diputar. Tiap orang punya lagu yang berbeda-beda. Martabat seseorang ditentukan oleh isi lagu di otaknya (Memahami Otak, 2003, Penerbit KOMPAS, hal:ix-x). Menurut Pasiak, orang boleh saja terganggu jantungnya, ginjalnya kurang berfungsi, paru-parunya bocor, kangker pada hatinya. Tetapi gangguan-gangguan itu tidak sampai mengubah kepribadian mereka. Mereka tidak menjadi “orang lain”. Lain halnya bila otak mereka sakit. Kerusakan otak yang parah akan menimbulkan perubahan kepribadian. Banyak pasien stroke yang sebelumnya periang menjadi pemurung. Banyak yang tadinya penyabar, kemudian menjadi pemarah. Beberapa pasien yang tadinya pemalu, berubah menjadi “tidak tahu malu”. Perubahan kepribadian karena kerusakan otak, banyak dilaporkan dalam buku-buku teks ilmu saraf (Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Al-Qur’an, 2005, Mizan, h.36-37).

Tulisan ini di latarbelakangi untuk memenuhi rasa ingin tahu, apa arti sebenarnya dari mudhgah dan qolbu. Baik dari sisi pemahaman agama Islam, maupun dari sisi ilmu kedokteran, khususnya anatomi dan neurologi. Karena menurut pemahaman penulis, satu pemahaman yang benar terhadap suatu istilah yang terdapat dalam Al-Qur’an, maupun dalam Hadist adalah pemahaman tersebut tidak bertentangan dengan pemahaman atas istilah tersebut dalam kaca mata ilmu pengetahuan. Hal tersebut sejalan dengan ungkapan, pemahaman kita yang benar atas ayat-ayat qur’aniyah, tidak mungkin bertentangan dengan pemahaman kita atas ayat-ayat qauniyah. Jika belum ada kesesuaian atas pemahaman kita terhadap ayat-ayat qur’aniyah dengan ayat-ayat qauniyah, hal itu mungkin disebabkan oleh pemahaman kita yang belum benar dalam memahami ayat-ayat qur’aniyah, atau mungkin pemahaman kita yang belum benar dalam memahami ayat-ayat qauniyah.

Karena demikian pentingnya kedudukan qolbu atas kualitas prilaku manusia, sebagaimana disebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim di atas, menurut penulis kesalahan penafsiran terhadap istilah (term) qolbu, akan menimbulkan kesalahan dalam mengupayakan langkah-langkah memperbaiki atau meningkatkan kualitas akhlaq (prilaku) manusia.

Pengertian Qolbu

Dalam bahasa Arab, istilah (term) qalb digunakan untuk menyebut banyak hal, isi, bagian dalam, bagian tengah, dan untuk menyebut sesuatu yang murni (Ahmad Warson Munawir, Al-Munawir: Kamus Arab-Indonesia, 1984, Pesantren Al-Munawir, Yogyakarta, h.3806-3807), bukan untuk menyebut organ tubuh yang disebut hati, sementara untuk organ hati itu digunakan term al-kabid (Ibnu Manzur dalam Achmad Mubarok, Psikologi Qur’ani, 2001, Pustaka Firdaus, h.40). Sedangkan dalam al-Qur’an qalb diartikan sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai seperti yang tersebut dalam Qs. 22 al Hajj: 46, atau pada surat 7 al-A’raf: 179. Dalam ayat tersebut qalb mempunyai potensi yang sama dengan akal (Achmad Mubarok, h.41). Dan akal merupakan hasil kerja otak (Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, 2005, Mizan Pustaka, h. 206).

Kesimpulan:

          Dari penelusuran beberapa literature baik yang mengupas tentang qalb atau qolbu dan yang mengupas tentang otak (Taufiq Pasiak, h. 204; Muhammad Kamal Abdul Azis, Ensiklopedia Keajaiban Tubuh Manusia Berdasarkan Al-Qur’an dan Sains, 2008, Citra Risalah, Yogyakarta, h.120; Hendrawan Nadesul dalam Memahami Otak, 2003, Kompas Media Nusantara, h. ix-xix) , penulis menyimpulkan arti yang tepat untuk qalb atau qolbu adalah otak. Kalau qolb diartikan sebagai otak, apa arti yang tepat untuk mudhgoh dalam hadis Bukhori dan Muslim di atas, dan arti sadr seperti dalam Qs. 94 Alam Nasyrah:1, dan di beberapa surat lain dalam Al-Qur’an. Penulis menyimpulkan arti yang tepat untuk term mudhgoh adalah organ. Seperti Mubarok menerjemahkan mudhgoh dalam hadis Bukhori dan Muslim (Mubarok, Psikologi Qur’ani, h.48). Sedangkan term sadr lebih tepat diartikan sebagai rongga, khususnya rongga kepala. Sedangkan term qolb atau qolbu lebih tepat diartikan sebagai otak beserta proses dan hasil kerjanya (pikiran, mengingat, perasaan, pemahaman, akal, dan sebagainya).

Sampai dengan saat ini, dengan kemajuan perkembangan teknologi dalam bidang kedokteran, hampir semua organ manusia dapat ditranplantasikan dari satu orang ke orang lain, kecuali otak. Otak ibarat CPU (Central Prossesing Unit) bagi computer. Gangguan otak disebabkan karena cidera, atau sebab lain, sering merubah prilaku seseorang. Orang gila, sering ditampakan dengan prilaku yang menyimpang, adalah orang yang mengalami gangguan pada kerja otaknya, bukan pada hatinya (atau lever-nya).

              Membasuh kepala, merupakan salah satu rukun berwudhu. Hal itu merupakan metafora (simbolik atau majaz), agar kita selalu berusaha mensucikan pikiran kita. Kita tidak diperintahkan untuk membasuh dada dan perut kita ketika kita berwudhu, pada hal letak jantung berada di rongga dada, sementara hati (lever) berada di rongga perut. Untuk itu, penulis berpendapat lebih tepat mengartikan term qolb atau qolbu sebagai otak, bukan hati (lever) atau jantung (cardiac). Dengan mengartikan term qolb atau qolbu sebagai otak beserta proses dan hasil kerja otak (pikiran, mengingat, perasaan, pemahaman, akal, dan sebagainya), akan lebih berkesesuaian atau sejalan dengan perintah membasuh kepala ketika berwudhu, perintah menempelkan kening (bagian depan kepala) ketika sujud dalam sholat, dan perintah berdzikir (mengingat) Allah atau dzikrullah. Kita mengetahui bahwa mengingat merupakan salah satu dari hasil kerja otak, bukan hasil kerja hati atau jantung. Mengartikan term qolb atau qolbu sebagai otak  beserta proses dan hasil kerja otak juga lebih berkesesuaian atau sejalan dengan ilmu kedokteran.
Waw’lahu a’lam bis-showab.
============================

QALBU = BUTA = tidak diGUNAkan untuk MEMAHAMI ayat-ayat Allah
<< ” … BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>>

<<< TIDAK BERUSAHA memahami ayat-ayat Allah = golongan BINATANG TERNAK … Al Furqaan:44 >>

————–﴾ Al Hajj:46 ﴿maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai QALBU yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصٰرُ وَلٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿الحج:٤٦﴾
————﴾ Al Baqarah:7 ﴿
Allah telah mengunci-mati QALBU dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
خَتَمَ ٱللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة:٧﴾
———-﴾ Al Baqarah:10 ﴿
Dalam QALBU mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿البقرة:١۰﴾
————-﴾ Al Baqarah:18 ﴿
Mereka tuli, bisu dan BUTA, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿البقرة:١٨﴾
………………………………..
﴾ Al Furqaan:44 ﴿ atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الفرقان:٤٤﴾
………………………………………………………
——﴾ Al Israa’:72 ﴿
Dan barangsiapa yang BUTA (QALBUnya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).
وَمَن كَانَ فِى هٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الإسراء:٧٢﴾
——–﴾ Az Zukhruf:40 ﴿
Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang BUTA (QALBUnya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?
أَفَأَنتَ تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ أَوْ تَهْدِى ٱلْعُمْىَ وَمَن كَانَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ ﴿الزخرف:٤۰﴾
——–﴾ Ar Ruum:53 ﴿
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang BUTA (QALBUnya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).
وَمَآ أَنتَ بِهٰدِ ٱلْعُمْىِ عَن ضَلٰلَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِـَٔايٰتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ ﴿الروم:٥٣﴾
————-﴾ An Nahl:127 ﴿
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.

وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿النحل:١٢٧
====================

apakah HATI itu AURAT ? sehingga ada JILBAB HATI ? …… {TUBUH} WANITA adalah AURAT sehingga harus ditutupi dengan JILBAB —————————– ———————- Ada ungkapan ,sebelum menjilbabpi kepalanya jilbabpi dulu hatinya, buat apa berjilbab kalau akhlaqnya rusak. Ungkapan yang berupa majaz atau kiasan tersebut tidak salah, namun menurut saya juga tidak benar, atau kurang tepat. ——————— Kenapa ? Jilbab dilihat dari fungsinya untuk menutup aurat , aurat adalah bahasa Arab dari kata kerja ‘ara, artinya telanjang adapun aurat adalah akar kata, artinya ketelanjangan, ringkasnya jilbab adalah penutup aurat . Adapun hati dalam sebuah hadits dikatakan sebagai raja dalam tubuh manusia, yang bila hati itu baik maka baik pulalah seluruh tubuhnya, dalam arti kata bahasa yang keluar dari tubuh adalah bahasa lisan dan bahasa gerakan. —————— Dalam hadits lain hati ialah tempatnya iman, “Attaqwa ha huna (Taqwa itu di sini, nabi menunjuk kepada hatinya) Kalau ungkapan tersebut bermakna jilbab yang dilihat dari fungsinya adalah untuk menutupi aib/aurat , maka apakah hati itu tempatnya aib ? Manusia sudah menjadi kodratnya, sebagai tempatnya salah dan dosa, sudah fitrah dan manusiawi , kalau Iman itu kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang (yazid wa yankus), kalau menunggu hati kita benar benar bersih lalu tidak bernoda lagi, lalu kapan berjilbabnya ? —————— Bagaimana dengan seorang akhwat yang berjilbab, namun kelakuannya tidak mencerminkan yang semestinya ? Menurut saya lihat dulu cara berjilbabnya, benarkah sesuai syar’e , seperti yang saya sampaikan di atas ? Sebab ada juga yang berjilbab namun, namun hatinya masih di persimpangan jalan, ada dualisme dalam hati dan pikirannya, antara mengikuti tren berpakaian ala barat/jahiliyah dengan memakai baju muslimah, yang akhirnya dipadukan menjadi jilbab gaul, yang mudah-mudahan asumsi saya salah, yakni menurut bahasa baginda yang mulia “berpakaian tapi telanjang, fungsi baju dan jilbab sebagai penutup aurat tidak nampak, karena pakaiannya ketat atau transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak. ———————- Banyak jalan menuju perbaikan diri, salah satunya adalah dengan menutup aurat, saya yakin bila itu bersumber dari hati bukan karena mengikuti tren, lambat laun jilbabnya yang akan menjadi jalan untuk membuka pintu hatinya dalam menyambut hidayah Allah. Manusia bukan malaikat, juga bukan hewan, manusia makhluk mulia yang dianugerahi dua sifat. ——————– “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91;8) ——————- Sifat fujur atau kefasikan ialah sifat pendosa, namun adakalanya manusia bersifat taqwa, karena manusia mempunyai al-hawa atau kecenderungan (hawa nafsu). Hati bukan untuk di tutupi namun hati untuk di jaga. Jangan ragu untuk menutup aurat hanya karena ungkapan, tutupi dulu/jilbapi dulu hatinya, justeru jadikan ungkapan tersebut sebagai motivasi untuk perbaikan diri, gak apa apa awalnya gak syar’e, bagus kalau langsung sesuai syareat, asalkan seiring bertambahnya usia dan waktu bertambah pula kesadaran kita memakai pakaian sesuai tuntutan syara. Boleh jadi ungkapan tersebut adalah propaganda dari kaum sekuler dan orientalis yang hendak menghancurkan Islam dari dalam, terkesan benar dan logis namun tujuan sebenarnya adalah merusak berlahan-lahan. ————————— APA JILBAB ITU?—————— Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi aurat wanita. —————— Dalilnya adalah: “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]———- Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.————— Dalilnya ialah:———- “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).——— Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:——— (dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka…). Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).————- Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada: “Bahwasannya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Berkata: “Ketika turun ayat (dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka…) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).——— Dari kedua hadits di atas terdapat empat poin: 1. Para wanita Arab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam belum memakai hijab sehingga ketika turunnya ayat tersebut, mereka langsung mengambil kain sarung dan menggunakannya sebagai hijab. Hadits ini sekaligus menjawab perkataan orang-orang Jahil bahwa jilbab hanya tradisi orang Arab.——- 2. Seandainya para wanita Arab sudah memakai penutup kepala, maka bisa dipastikan bahwa yang mereka pakai hanyalah kain yang menutup kepala, bukan hijab yang sesuai syar’i.—- 3. Terdapat semangat di dalam diri para wanita pada zaman itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Terbukti dengan mereka langsung membuat hijab dari potongan kain sarung. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Ingat, Allah tidak melihat keindahan jilbabmu, tapi Dia melihat bagaimana kamu dengan jilbabmu yang lebar itu bisa menepis fitnah untuk lelaki dan bagaimana kamu mejalankan syari’at.——– 4. Di antara para wanita di zaman Rasulullah tersebut tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan: “Aku belum siap”, atau “Jilbab hanya untuk wanita sholehah”.———- AKU BELUM SIAP—————- Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita Muslimah yang belum berjilbab ialah: “Aku belum siap”. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut:———– 1. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut: Ketika kita mengajak seseorang untuk sholat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan: “Aku belum mau sholat lima waktu karena belum siap.” Padahal kewajiban memakai jilbab lebih mudah daripada sholat, yang kamu butuhkan hanya jilbab yang cukup hingga menutup dada, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat. Kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster dimana baju dan roknya menyatu. Memakai jilbab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan: “Aku belum siap” bukanlah udzur dan tidak ada keringanan.——– 2. Kita tanyakan kepada wanita yang beralasan “Aku belum siap”: “Kapankah kamu siap? Bisa jadi kamu mati dalam keadaan belum siap berjilbab.” Terkadang di antara mereka ada yang meyakini kalau mereka siap berjilbab kalau sudah menikah. Apakah mereka yakin mereka akan hidup di saat itu?———– 3. Dari segi dalil maupun ijma’, tak ada satu pun ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dimana wanita yang berjilbab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadits yang telah kita bahas di atas, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan: “Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai jilbab karena aku belum siap?” Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berjilbab hanyalah wanita sholehah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita Muslimah yang sudah akil baligh WAJIB berjilbab.————– KEBATILAN ANGGAPAN JILBAB HATI———- Sebagian orang yang mengikuti hawa nafsu berkata bahwa jilbab tidaklah penting yang terpenting adalah jilbab hati. Maka, tanyakanlah lagi kepada orang tersebut: “Bagaimana jilbab hati yang benar itu?” Pernyataan seperti ini sangat dekat dengan bid’ah-bid’ah[1] yang dibuat oleh orang-orang Nasrani yang tidak bersunat, ketika mereka ditanya: “Yesus dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, mengapa banyak di antara kalian yang tidak khitan? Mereka menjawab: ‘Yang penting bagi kami adalah SUNAT HATI!’”——– Maka bertakwalah sekelompok orang yang menyelisihi sunah Rasulullah dan syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam agama yang mulia ini.————– Kemudian ada pula yang mengatakan: “Untuk apa berjilbab kalau kelakuannya bejat? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.”——– Maka, kita katakan kepada orang seperti ini: “Berjilbab saja kelakuannya bejat, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab.”— Belum satu pun saya temui ayat Al-Qur’an, hadits, atau pendapat ulama yang berkata tentang adanya “Jilbab hati”. Bisa jadi ini adalah perkara baru yang diada-adakan.———- BOLEHKAH AKU MEMAKAI JILBAB DAN MELEPASNYA SEKALI-KALI?——– Terkadang ada saja pertanyaan terlontar dari para Jilbabers, para wanita yang masih belajar memakai jilbab, atau yang berencana memakai jilbab: “Bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?”– Jawaban: BOLEH——– Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita Muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat dimana ia melepas jilbabnya. Yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:– “…dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS. An-Nuur 24:31]——– ———– SIAPAKAH YANG PERTAMA KALI TERBUKA AURATNYA?——– Nenek moyang kita, Adam ‘alayhis salam dan isterinya adalah manusia pertama yang terbuka auratnya setelah keduanya diperdaya oleh syaitan:——- “Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)——– Allah memperingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan yang sama, salah satunya yaitu memamerkan aurat di depan orang-orang yang seharusnya tidak pantas melihat aurat kita. Sebab yang demikian merupakan salah satu tipu daya setan.———- Setan telah berhasil membujuk kaum hawa untuk tidak menutup auratnya sesuai syari’at dengan membisikkan kata-kata yang manis: “Jangan berjilbab, karena engkau belum siap. Kamu masih suka bermaksiat, janganlah berjilbab. Pengetahuan Islammu masih awam, tak perlu berjilbab. Berjilbabnya nanti saja ketika sudah menikah, kalau sekarang kamu berjilbab tak ada laki-laki yang mau dekat sama kamu. Yang penting jilbab hati dulu.” Begitulah pekerjaan setan, sama seperti ketika mereka membujuk nenek moyang kita untuk memakan buah terlarang.——- Demikianlah artikel tentang jilbab ini dibuat. Adapun jika kurang jelas, kurang lengkap, atau terdapat kesalahan padanya semata-mata karena keterbatasan ilmu dan kelupaan penulis. Namun, semoga artikel ini dapat membantu memberikan pencerahan dan motivasi kepada saudari-saudari saya.—— Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab.——– “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)———— Dalam riwayat lain: “Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)——– Teruslah berbuat baik, walau orang-orang di sekelilingmu berbuat maksiat. Jadilah dirimu sendiri. Sebab orang jahat menilaimu dari pikiran jahatnya dan mereka pasti suka engkau berbuat jahat, sedangkan orang baik menilaimu dari pikiran baiknya dan mereka pasti suka engkau berbuat baik.——

jilbab hati aurat

apakah HATI itu AURAT ? sehingga ada JILBAB HATI ? …… {TUBUH} WANITA adalah AURAT sehingga harus ditutupi dengan JILBAB

—————————–
Ada ungkapan ,sebelum menjilbabpi kepalanya jilbabpi dulu hatinya, buat apa berjilbab kalau akhlaqnya rusak. Ungkapan yang berupa majaz atau kiasan tersebut tidak salah, namun menurut saya juga tidak benar, atau kurang tepat.

———————

Kenapa ? Jilbab dilihat dari fungsinya untuk menutup aurat , aurat adalah bahasa Arab dari kata kerja ‘ara, artinya telanjang adapun aurat adalah akar kata, artinya ketelanjangan, ringkasnya jilbab adalah penutup aurat . Adapun hati dalam sebuah hadits dikatakan sebagai raja dalam tubuh manusia, yang bila hati itu baik maka baik pulalah seluruh tubuhnya, dalam arti kata bahasa yang keluar dari tubuh adalah bahasa lisan dan bahasa gerakan.

——————

Dalam hadits lain hati ialah tempatnya iman, “Attaqwa ha huna (Taqwa itu di sini, nabi menunjuk kepada hatinya) Kalau ungkapan tersebut bermakna jilbab yang dilihat dari fungsinya adalah untuk menutupi aib/aurat , maka apakah hati itu tempatnya aib ? Manusia sudah menjadi kodratnya, sebagai tempatnya salah dan dosa, sudah fitrah dan manusiawi , kalau Iman itu kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang (yazid wa yankus), kalau menunggu hati kita benar benar bersih lalu tidak bernoda lagi, lalu kapan berjilbabnya ?

——————

Bagaimana dengan seorang akhwat yang berjilbab, namun kelakuannya tidak mencerminkan yang semestinya ? Menurut saya lihat dulu cara berjilbabnya, benarkah sesuai syar’e , seperti yang saya sampaikan di atas ? Sebab ada juga yang berjilbab namun, namun hatinya masih di persimpangan jalan, ada dualisme dalam hati dan pikirannya, antara mengikuti tren berpakaian ala barat/jahiliyah dengan memakai baju muslimah, yang akhirnya dipadukan menjadi jilbab gaul, yang mudah-mudahan asumsi saya salah, yakni menurut bahasa baginda yang mulia “berpakaian tapi telanjang, fungsi baju dan jilbab sebagai penutup aurat tidak nampak, karena pakaiannya ketat atau transparan sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak.

———————-
Hasil gambar untuk hadits berpakaian tapi telanjang

Banyak jalan menuju perbaikan diri, salah satunya adalah dengan menutup aurat, saya yakin bila itu bersumber dari hati bukan karena mengikuti tren, lambat laun jilbabnya yang akan menjadi jalan untuk membuka pintu hatinya dalam menyambut hidayah Allah. Manusia bukan malaikat, juga bukan hewan, manusia makhluk mulia yang dianugerahi dua sifat.

——————–

“ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS 91;8)

——————-

Sifat fujur atau kefasikan ialah sifat pendosa, namun adakalanya manusia bersifat taqwa, karena manusia mempunyai al-hawa atau kecenderungan (hawa nafsu). Hati bukan untuk di tutupi namun hati untuk di jaga.

Jangan ragu untuk menutup aurat hanya karena ungkapan, tutupi dulu/jilbapi dulu hatinya, justeru jadikan ungkapan tersebut sebagai motivasi untuk perbaikan diri, gak apa apa awalnya gak syar’e, bagus kalau langsung sesuai syareat, asalkan seiring bertambahnya usia dan waktu bertambah pula kesadaran kita memakai pakaian sesuai tuntutan syara. Boleh jadi ungkapan tersebut adalah propaganda dari kaum sekuler dan orientalis yang hendak menghancurkan Islam dari dalam, terkesan benar dan logis namun tujuan sebenarnya adalah merusak berlahan-lahan.
—————————

APA JILBAB ITU?——————

Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi aurat wanita.

——————

Dalilnya adalah:

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]———-

Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.—————

Dalilnya ialah:———-

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).———

Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:———

(dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka…). Riwayat lain menerangkan: “Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Hakim).————-

Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:

“Bahwasannya ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Berkata: “Ketika turun ayat (dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –jilbab- nya ke dada mereka…) maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.” (HR. Bukhari).———

Dari kedua hadits di atas terdapat empat poin:

1. Para wanita Arab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam belum memakai hijab sehingga ketika turunnya ayat tersebut, mereka langsung mengambil kain sarung dan menggunakannya sebagai hijab. Hadits ini sekaligus menjawab perkataan orang-orang Jahil bahwa jilbab hanya tradisi orang Arab.——-
2. Seandainya para wanita Arab sudah memakai penutup kepala, maka bisa dipastikan bahwa yang mereka pakai hanyalah kain yang menutup kepala, bukan hijab yang sesuai syar’i.—-
3. Terdapat semangat di dalam diri para wanita pada zaman itu untuk tunduk dan patuh kepada apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya. Terbukti dengan mereka langsung membuat hijab dari potongan kain sarung. Mereka tidak punya waktu untuk memodifikasinya karena memang hal tersebut adalah langsung dari Allah. Ingat, Allah tidak melihat keindahan jilbabmu, tapi Dia melihat bagaimana kamu dengan jilbabmu yang lebar itu bisa menepis fitnah untuk lelaki dan bagaimana kamu mejalankan syari’at.——–
4. Di antara para wanita di zaman Rasulullah tersebut tentu ada yang baru masuk Islam atau ahli maksiat. Namun, setelah turunnya ayat kewajiban hijab, maka mereka langsung melakukannya. Tak ada wanita yang beralasan seperti wanita di zaman sekarang yang menolak hijab dengan alasan: “Aku belum siap”, atau “Jilbab hanya untuk wanita sholehah”.———-

AKU BELUM SIAP—————-

Di antara alasan-alasan umum yang dikemukakan wanita Muslimah yang belum berjilbab ialah: “Aku belum siap”. Jika kita cermati, alasan ini kurang bisa diterima dari segi akal maupun dalil dengan sebab sebagai berikut:———–

1. Ini bisa kita analogikan sebagai berikut: Ketika kita mengajak seseorang untuk sholat wajib lima waktu, kemudian orang itu menolak dengan alasan: “Aku belum mau sholat lima waktu karena belum siap.” Padahal kewajiban memakai jilbab lebih mudah daripada sholat, yang kamu butuhkan hanya jilbab yang cukup hingga menutup dada, rok panjang dan lebar, dan baju yang agak panjang dan tidak ketat. Kalau mau yang lebih efektif bisa memakai pakaian sejenis daster dimana baju dan roknya menyatu. Memakai jilbab tidak seperti orang naik haji, atau membayar zakat, atau menyembelih kambing yang dibutuhkan kemampuan, sehingga alasan: “Aku belum siap” bukanlah udzur dan tidak ada keringanan.——–
2. Kita tanyakan kepada wanita yang beralasan “Aku belum siap”: “Kapankah kamu siap? Bisa jadi kamu mati dalam keadaan belum siap berjilbab.” Terkadang di antara mereka ada yang meyakini kalau mereka siap berjilbab kalau sudah menikah. Apakah mereka yakin mereka akan hidup di saat itu?———–
3. Dari segi dalil maupun ijma’, tak ada satu pun ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dimana wanita yang berjilbab harus menyiapkan sesuatu khusus terlebih dahulu. Bahkan dari hadits yang telah kita bahas di atas, para wanita Arab di zaman Rasulullah yang tentunya di antara mereka ada yang baru saja masuk Islam langsung membuat hijab ketika turunnya ayat yang mewajibkan hijab. Tidak ada di antara mereka yang beralasan: “Ya Rasulullah, bolehkah aku tidak memakai jilbab karena aku belum siap?” Dalil ini juga langsung membantah pernyataan bahwa wanita yang pantas berjilbab hanyalah wanita sholehah atau yang ilmu agamanya luas. Semua wanita Muslimah yang sudah akil baligh WAJIB berjilbab.————–

KEBATILAN ANGGAPAN JILBAB HATI———-

Sebagian orang yang mengikuti hawa nafsu berkata bahwa jilbab tidaklah penting yang terpenting adalah jilbab hati. Maka, tanyakanlah lagi kepada orang tersebut: “Bagaimana jilbab hati yang benar itu?” Pernyataan seperti ini sangat dekat dengan bid’ah-bid’ah[1]  yang dibuat oleh orang-orang Nasrani yang tidak bersunat, ketika mereka ditanya: “Yesus dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya, mengapa banyak di antara kalian yang tidak khitan? Mereka menjawab: ‘Yang penting bagi kami adalah SUNAT HATI!’”——–

Maka bertakwalah sekelompok orang yang menyelisihi sunah Rasulullah dan syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam agama yang mulia ini.————–

Kemudian ada pula yang mengatakan: “Untuk apa berjilbab kalau kelakuannya bejat? Lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.”——–

Maka, kita katakan kepada orang seperti ini: “Berjilbab saja kelakuannya bejat, apalagi tidak berjilbab? Seandainya ada wanita tidak berjilbab berpengarai baik, tentu lebih baik lagi apabila ia berjilbab.”—

Belum satu pun saya temui ayat Al-Qur’an, hadits, atau pendapat ulama yang berkata tentang adanya “Jilbab hati”. Bisa jadi ini adalah perkara baru yang diada-adakan.———-

BOLEHKAH AKU MEMAKAI JILBAB DAN MELEPASNYA SEKALI-KALI?——–

Terkadang ada saja pertanyaan terlontar dari para Jilbabers, para wanita yang masih belajar memakai jilbab, atau yang berencana memakai jilbab:

“Bolehkah aku memakai jilbab dan melepasnya sekali-kali?”–

Jawaban: BOLEH——–

Hal ini disebabkan tidak mungkinnya para wanita Muslimah memakai jilbab terus menerus. Ada saat dimana ia melepas jilbabnya. Yaitu di saat mandi, tidur di dalam kamarnya, di saat berdua dengan suami, atau saat berkumpul hanya dengan keluarganya di dalam rumah selama ia yakin tak ada orang non-mahrom yang melihatnya tanpa jilbab. Sebab Allah Azza wa Jalla berfirman:–

“…dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” [QS. An-Nuur 24:31]——–

———–

SIAPAKAH YANG PERTAMA KALI TERBUKA AURATNYA?——–

Nenek moyang kita, Adam ‘alayhis salam dan isterinya adalah manusia pertama yang terbuka auratnya setelah keduanya diperdaya oleh syaitan:——-

“Hai anak cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari syorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (Q. S. Al-A’raf: 27)——–

Allah memperingatkan kita agar jangan melakukan kesalahan yang sama, salah satunya yaitu memamerkan aurat di depan orang-orang yang seharusnya tidak pantas melihat aurat kita. Sebab yang demikian merupakan salah satu tipu daya setan.———-

Setan telah berhasil membujuk kaum hawa untuk tidak menutup auratnya sesuai syari’at dengan membisikkan kata-kata yang manis: “Jangan berjilbab, karena engkau belum siap. Kamu masih suka bermaksiat, janganlah berjilbab. Pengetahuan Islammu masih awam, tak perlu berjilbab. Berjilbabnya nanti saja ketika sudah menikah, kalau sekarang kamu berjilbab tak ada laki-laki yang mau dekat sama kamu. Yang penting jilbab hati dulu.” Begitulah pekerjaan setan, sama seperti ketika mereka membujuk nenek moyang kita untuk memakan buah terlarang.——-

Demikianlah artikel tentang jilbab ini dibuat. Adapun jika kurang jelas, kurang lengkap, atau terdapat kesalahan padanya semata-mata karena keterbatasan ilmu dan kelupaan penulis. Namun, semoga artikel ini dapat membantu memberikan pencerahan dan motivasi kepada saudari-saudari saya.——

Yang belum berjilbab, hendaklah berjilbab. Yang sudah berjilbab, hendaklah memperbaiki jilbabnya. Yang telah berjilbab dengan baik, bantulah yang belum berjilbab.——–

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)————

Dalam riwayat lain:
“Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)——–

Teruslah berbuat baik, walau orang-orang di sekelilingmu berbuat maksiat. Jadilah dirimu sendiri. Sebab orang jahat menilaimu dari pikiran jahatnya dan mereka pasti suka engkau berbuat jahat, sedangkan orang baik menilaimu dari pikiran baiknya dan mereka pasti suka engkau berbuat baik.——

Wabillahi taufiq wal hidayah…

Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah kepada kita, dan memudahkan kita untuk selalu berbuat baik kapanpun dan dimanapun kita berada.

“Dialah (Allah) yang telah menamakan kamu sekalian Muslimin dari dulu dan didalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dialah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Q. S. Al Hajj:78)

 


[1]     Bid’ah = ajaran baru yang tidak berasal dari Allah dan rasul-Nya. Ingat hadits: “…Tiap-tiap    yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke       neraka.” (HR. Muslim)
——————————————
Hasil gambar untuk jilbab punuk unta

Gambar Perempuan Yang Kepalanya Ibarat Punuk Onta, Yang Disebutkan Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam Dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya Bahwasanya Mereka Tidak Akan Masuk Surga dan Tidak Akan Mencium Bau Wangi Surga, Padahal Bau Wangi Surga Bisa Dicium Dari Jarak Yang Sangat Jauh..


Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda”

( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )
رواه أحمد ومسلم في الصحيح .

 

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,

  1. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],
  2. dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.

(HR. Muslim dan yang lain).

Penjelasan Hadits Menurut Para Ulama:

Imam An Nawawi dalam Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim berkata:

“Hadis ini merupakan salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Apa yang telah beliau kabarkan kini telah terjadi…

Adapun “berpakaian tapi telanjang”, maka ia memiliki beberapa sisi pengertian.

Pertama, artinya adalah mengenakan nikmat-nikmat Allah namun telanjang dari bersyukur kepada-Nya.

Kedua, mengenakan pakaian namun telanjang dari perbuatan baik dan memperhatikan akhirat serta menjaga ketaatan.

Ketiga, yang menyingkap sebagian tubuhnya untuk memperlihatkan keindahannya, mereka itulah wanita yang berpakaian namun telanjang.

Keempat, yang mengenakan pakaian tipis sehingga menampakkan bagian dalamnya, berpakaian namun telanjang dalam satu makna.

Sedangkan “maa`ilaatun mumiilaatun”, maka ada yang mengatakan: menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan apa-apa yang seharusnya mereka perbuat, seperti menjaga kemaluan dan sebagainya.

“Mumiilaat” artinya mengajarkan perempuan-perempuan yang lain untuk berbuat seperti yang mereka lakukan.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” itu berlenggak-lenggok ketika berjalan, sambil menggoyang-goyangkan pundak.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas, yaitu model para pelacur yang telah mereka kenal.

“Mumiilaat” yaitu yang menyisirkan rambut perempuan lain dengan gaya itu.

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” maksudnya cenderung kepada laki-laki.

“Mumiilaat” yaitu yang menggoda laki-laki dengan perhiasan yang mereka perlihatkan dan sebagainya.

Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta”, maknanya adalah mereka membuat kepala mereka menjadi nampak besar dengan menggunakan kain kerudung atau selempang dan lainnya yang digulung di atas kepala sehingga mirip dengan punuk-punuk unta. Ini adalah penafsiran yang masyhur.

Al Maaziri berkata: dan mungkin juga maknanya adalah bahwa mereka itu sangat bernafsu untuk melihat laki-laki dan tidak menundukkan pandangan dan kepala mereka.

Sedang Al Qoodhiy memilih penafsiran bahwa itu adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.

Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.

Fatwa Syaikhuna Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah:
Pertanyaan :

السؤال : هل ما تفعله بعض النسوة من جمع شعورهن على شكل كرةفي مؤخرة الرأس ، هل يدخل في الوعيد : ” نساء كاسيات عاريات … رؤوسهنكأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ….” ؟

 

Apakah perbuatan yang dilakukan sebagian wanita berupa mengumpulkan rambut menjadi berbentuk bulat (menggelung/menyanggul) di belakang kepala, masuk ke dalam ancaman dalam hadits :
نساء كاسيات عاريات … رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة …“…Wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang… kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga…“ ?

Jawaban :

الجواب :
أما جمع المرأة رأسها للشغل ، ثم بعد ذلك ترده ، فهذا لا يضر ، لأنها لا تفعل هذا زينة أو تجملا ، لكن للحاجة ،وأما رفعه وجمعه على سبيل التزين ، فإن كان إلى فوق فهو داخل في النهي ،لقوله صلى الله عليه وسلم : [ رؤوسهن كأسنمة البخت …] ، والسنام يكون فوق.

 

Adapun jika seorang wanita menggelung rambutnya karena ada kesibukan kemudian mengembalikannya setelah selesai, maka ini tidak mengapa, karena ia tidak melakukannya dengan niat berhias, akan tetapi karena adanya hajat/keperluan.
Adapun mengangkat dan menggelung rambut untuk tujuan berhias, jika dilakukan ke bagian atas kepala maka ini masuk ke dalam larangan, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam :
رؤوسهن كأسنمة البخت …“…kepala-kepala mereka seperti punuk unta…”, dan punuk itu adanya di atas…”
Sumber : “Liqo’ Bab al-Maftuh” kaset no. 161.

Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:
Pertanyaan :

لسائل: ما حكم جمع المرأة لشعرها فوق رَقَبَتِهَا وخلف رأسها بحيث يعطيشكلاً مكوراً مع العلم بأن المرأة حين تتحجب يظهر شكل الشعر من خلف الحجاب؟.

Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya dan di belakang kepalanya yang membentuk benjolan sehingga ketika wanita itu memakai hijab, terlihat bentuk rambutnya dari belakang hijabnya?

Jawaban :

الشيخ: هذه خطيئة يقع فيها كثير من المتحجبات حيث يجْمَعْن شعورهن خلفرؤوسهن فَيَنْتُؤُ من خلفهن ولو وضعن الحجاب من فوق ذلك، فإن هذا يخالفشرطا من شروط الحجاب التي كنت جمعتها في كتابي حجاب المرأة المسلمة منالكتاب والسنة ومن هذه الشروط ألا يحجم الثوب عضوا أو شيئا من بدن المرأة،فلذلك فلا يجوز للمرأة أن تكور خلف رأسها أو في جانب من رأسها شعر الرأسبحيث أنه يَنْتُؤُ هكذا فيظهر للرأي ولو بدون قَصْدٍ أنها مشعرانية أو أنهاخفيفة الشعر يجب أن تسدله ولا تُكَوِمَهُ .

Ini adalah kesalahan yang terjadi pada banyak wanita yang memakai jilbab, dimana mereka mengumpulkan rambut-rambut mereka di belakang kepala mereka sehingga menonjol dari belakang kepalanya walaupun mereka memakai jilbab di atasnya. Sesungguhnya hal ini menyelisihi syarat hijab yang telah kukumpulkan dalam kitabku “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah minal Kitab was Sunnah”.
Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah pakaian mereka tidak membentuk bagian tubuh atau sesuatu dari tubuh wanita tersebut, oleh karena itu tidak boleh bagi seorang wanita menggelung rambutnya dibelakang kepalanya atau disampingnya yang akan menonjol seperti itu, sehingga tampaklah bagi penglihatan orang walaupun tanpa sengaja bahwa itu adalah rambut yang lebat atau pendek. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

Sumber : “Silsilatul Huda wan Nur“.

 

Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27:

Pertanyaan:

” السؤال : هل يجوز أن نعتقد كفر النساء الكاسيات العاريات لقول النبي صلىالله عليه وسلم : ( لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها ) الحديث ؟

 

Apakah boleh kita berkeyakinan tentang kafirnya para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali” (Al-Hadits)?.

والجواب :
يكفر من اعتقد حل ذلك منهن بعد البيان والتعريف بالحكم ، ومن لم تستحل ذلكمنهن ولكن خرجت كاسية عارية فهي غير كافرة ، لكنها مرتكبة لكبيرة من كبائرالذنوب ، ويجب الإقلاع عنها ، والتوبة منها إلى الله ، عسى أن يغفر اللهلها ، فإن ماتت على ذلك غير تائبة فهي تحت مشيئة الله كسائر أهل المعاصي ؛لقول الله عز وجل : ( إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِوَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ) ” انتهى.

Jawaban:

Siapa saja yang meyakini akan halalnya hal itu dari kalangan para wanita padahal telah dijelaskan kepadanya [kalau tidak halal] dan diberi pengertian tentang hukumnya, maka ia kafir.

Adapun yang tidak menghalalkan hal itu dari kalangan para wanita akan tetapi ia keluar rumah dalam keadaan berpakaian tapi telanjang, maka ia tidak kafir, akan tetapi ia terjerumus dalam dosa besar, yang harus melepaskan diri darinya dan taubat daripadanya kepada Allah, semoga Allah mengampuninya. Jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat dari dosanya itu maka ia berada dalam kehendak Allah sebagaimana layaknya para ahli maksiat; sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisaa’: 48). Selesai. Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27.

Kesimpulan:

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk onta”, adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya .

Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya dengan ancaman tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [QS. Al-Ahzab: 36 ]

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu ..”

[Q.S. Al Hujaraat : 15]

Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk onta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah:

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu“. (QS. Al-Ahzaab: 33).

Adapun ketika dirumah dan dihadapan suami, maka para isteri diperbolehkan berdandan dengan cara apa saja yang menarik hati suaminya, bahkan tanpa mengenakan sehelai kainpun juga boleh, tidak haram, bahkan berpahala.

Semoga jelas dan bermanfaat..

AL QUR’AN EVIDENCE …. MUKJIZAT AL QUR’AN … manusia sering menyebutnya dengan MUKJIZAT —————————— AL QUR’AN itu BENAR ….. dan …..SABDA Nabi Muhammad yang terBUKTI BENAR dan diBUKTIkan oleh ilmu SAINS MODERN … ————————————– Berikut 100 Mukjizat Sederhana Rasul Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan ilmiah Yang diKutip Dari Beberapa Sumber Dan Ilmu Kedokteran Dengan Tujuan Mengungkap Kebenaran Dan Kerasulan Muhammad Serta Menumbuhkan Ketaqwaan kita Kepada Allah Ajjawazala ——————- Firman Allah Ajjawazala. “ Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu.” (QS Fushshilat : 53) ——————- “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82) “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155) ———————- “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29) ————– “Sekali-kali jangan(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12) ————————– Berikut Mukjizat AlQuran Dan Hadits Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan Ilmiah ——————————- Mukjizat Ke-1 : (Penciptaan Manusia dari air mani) —————– Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur’an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;———– وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14) ————— Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern. —————- Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur’an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.” Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur’an.” —————- Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur’an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.” —————– Mukjizat Ke-2 (Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi) ——————– Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;———— فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7) ——————- Mukjizat ke-3 (Janin Berada dalam 3 Kegelapan) ——————— Para dokter ilmu kandungan menemukan bahwa janin ketika masih berada dalam kandungan dilapisi oleh tiga selaput yang melindunginya dari air yang berasal dari luar, dan dari panas serta cahaya, dan dinamakan dengan tiga kegelapan. ———- Penemuan ini selaras dengan apa yang digambarkan Allah tentang proses penciptaan dalam surat Az-Zumar. Dia berfirman, يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Az-Zumar 6) ————— dst ——–

quran keajaiban nyata

AL QUR’AN EVIDENCE …. MUKJIZAT AL QUR’AN … manusia sering menyebutnya dengan MUKJIZAT
——————————
AL QUR’AN itu BENAR ….. dan …..SABDA Nabi Muhammad yang terBUKTI BENAR dan diBUKTIkan oleh ilmu SAINS MODERN …
————————————–
Berikut 100 Mukjizat Sederhana Rasul Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan ilmiah Yang diKutip Dari Beberapa Sumber Dan Ilmu Kedokteran Dengan Tujuan Mengungkap Kebenaran Dan Kerasulan Muhammad Serta Menumbuhkan Ketaqwaan kita Kepada Allah Ajjawazala
——————-
Firman Allah Ajjawazala.
“ Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu
menyaksikan segala sesuatu.” (QS Fushshilat : 53)
——————-
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82)

“Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155)
———————-
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29)
————–
“Sekali-kali jangan(demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12)
————————–
Berikut Mukjizat AlQuran Dan Hadits Yang Terbukti Benar Menurut Sains Dan Ilmiah
——————————-
Mukjizat Ke-1 : (Penciptaan Manusia dari air mani)
—————–
Allah swt telah menceritakan proses penciptaan manusia di dalam Al-Qur’an secara rinci. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun;———–

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Al-Mukminun : 12-14)
—————
Dokter kandungan paling hebat di dunia membuktikan bahwa semua yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasululullah saw tentang proses penciptaan manusia adalah sesuai dengan yang ditemukan pada ilmu modern.
—————-
Inilah cendikiawan paling besar dalam ilmu kandungan, doktor Kanada, Keith Moore. Dia memiliki sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam delapan bahasa; dipelajari di kebanyakan universitas-universitas dunia. Dia menyampaikan pidato dengan tema, “Keselarasan Ilmu Kandungan dengan sesuatu yang Terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah” di Universitas al-Malik Faishal. Dia berkata, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan ini, yang terdapat dalam Al-Qur’an datang kepada Muhammad dari sisi Allah, sebagaimana juga memberikan bukti kepadaku bahwa Muhammad adalah pasti seorang rasul yang diutus dari sisi Allah.” Dia juga berkata dalam pidatonya, “Manusia ketika pertama kali diciptakan dalam perut ibunya berbentuk segumpal darah, kemudian setelah itu ciptaannya meningkat menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang-belulang, dan kemudian dibungkus dengan daging,. “Semua yang kami dapatkan dalam penelitian-penelitian kami, maka kami mendapatkannya tertera di dalam Al-Qur’an.”
—————-
Seorang doktor Amerika, professor dalam bidang ilmu kandungan berkata pada muktamar yang diselenggarakan oleh Kerajan Arab Saudi di Riyadh, “Nash-nash Al-Qur’an memaparkan rincian yang lengkap bagi proses pertumbuhan manusia, dimulai semenjak tahap setetes mani sampai tahap pertumbuhan menjadi tulang dan tubuh.” Dan katanya, ”Belum ada dalam sejarah manusia, ditemukan paparan tentang proses pertumbuhan manusia yang gamblang seperti ini.”
—————–
Mukjizat Ke-2 (Manusia Bersumber dari Tulang Sulbi)
——————–
Para dokter ilmu kandungan menemukan, bahwa dasar diciptakannya manusia bersumber dari tulang sulbi, yaitu tulang belakang laki-laki dan tulang dada perempuan, yaitu tulang rusuk perempuan. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Ath-Thariq. Dia berfirman;————

فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan” ( Ath-Thariq: 5-7)
——————-
Mukjizat ke-3 (Janin Berada dalam 3 Kegelapan)
———————
Para dokter ilmu kandungan menemukan bahwa janin ketika masih berada dalam kandungan dilapisi oleh tiga selaput yang melindunginya dari air yang berasal dari luar, dan dari panas serta cahaya, dan dinamakan dengan tiga kegelapan.
———-
Penemuan ini selaras dengan apa yang digambarkan Allah tentang proses penciptaan dalam surat Az-Zumar. Dia berfirman,

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (Az-Zumar 6)
————— dst ——–

Mukjizat Ke-4 (Manusia diciptakan dalam Beberapa Tahapan)

Allah swt berfirman,

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا. وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian” (Nuh : 13-14)

Syaikh az-Zandani berkata, “Kami bertemu dengan seorang professor Amerika bernama Marshal Johnson. Kami berkata kepadanya, “Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan dalam beberapa tahap.”

Dia menjawab, “ Saya memiliki jawaban, hal ini hanya ada tiga kemungkinan:

Pertama : Bahwa Muhammad memiliki mikroskop raksasa yang membuatnya mampu mengkaji perkara-perkara ini.
Kedua : Bahwa itu terjadi secara kebetulan.
Ketiga : Bahwa Muhammad adalah utusan dari sisi Allah.”

Mukijzat Ke-5 (Tidak Semua Sperma Membuahi Sel Telur)

Para dokter ahli menemukan bahwa hanya sebagian kecil dari mani yang akan menjadi janin, dan bahwa satu pancaran mani mengandung seratus sampai delapan ratus juta sperma. Dan bahwa satu sperma saja mampu membuahi sel telur. Pengetahuan ini belum ditemukan kecuali setelah abad kedua puluh.

Rasulullah saw memberitakan pengetahuan ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia bertutur,”Rasulullah saw ditanya tentang berjimak dengan mengeluarkan mani di luar vagina istri (azl). Maka beliau bersabda,

مَامِنْ كُلِّ الْمَاءِيَكُوْنُ الْوَلَدُ، وَإِذَا أَرَادَاللهُ خَلْقَ شَيُءِلَمْ يَمْنَعْهُ شَيْءٌ

“Tidaklah semua air mani menjadi seorang anak. Jika Allah berkehendak menciptakan sesuatu, maka tiada suatu pun yang mencegahnya.”

Mukjizat Ke-6 (Jenis Kelamin Berasal dari Air Mani Laki-laki)

Setelah ditemukannya mikroskop elektronik, maka para pakar ilmu kandungan tahu bahwa jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan janin ada dalam mani, bukan dalam sel telur. Mereka menyebutkan bahwa mani dengan salah satu jenisnya (X) atay (Y), dialah yang bertanggung jawab menentukan jenis kelamin janin. Al-Qur’an memberitakan pengetahuan ini lewat lisan Rasulullah saw. Allah berfirman,

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَىٰ. مِنْ نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan” ( An-Najm : 45-46)

Mukjizat Ke-7 (Manusia Diciptakan dari Percampuran Mani Laki-laki dan Perempuan)

Mayoritas ilmuwan memberikan gambaran bahwa manusia dibungkus dalam mani, dan membesar di dalam rahim seperti pohon yang kecil. Manusia tidak ada yang tahu bahwa janin diciptakan dari percampuran antara sperma laki-laki dan sel telur perempuan, kecuali pada awal abad kedua puluh.

Dan kita dapatkan Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw telah menyebutkannya secara ilmiah dan rinci bahwa manusia diciptakan dari campuran mani laki-laki dan mani perempuan yang dinamakanNya “Mani yang bercampur.” Allah swr berfirman dalam surat Al-Insan

إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَٰهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan : 2)

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad terdapat jawaban Rasulullah saw terhadap seorang Yahudi ketika bertanya kepadanya, dari apa manusia diciptakan? Beliau bersabda,

يَايَهُوْدِيْ، مِنْ كُلِّ يُخْلَقُ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَنُطْفَةِ الْمَرْأَةِ

“Wahai orang Yahudi, (setiap manusia) diciptakan dari campuran mani laki-laki dan mani permpuan.”

MUKJIZAT TENTANG PENCIPTAAN LANGIT

Mukjizat Ke-8 (Teori Big Bang)

Para astronom menemukan (ilmu pengetahuan) bahwa pada awalnya langit dan bumi saling melekat menjadi satu, kemudian keduanya terpisah dari yang lain. Penemuan ini dinamakan dengan teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berbunyi, Pada mulanya alam berbentuk massa yang sangat tebal, berkilau dan sangat panas. Kemudian akibat pengaruh tekanan dahsyat yang datang dari suhu panasnya yang sangat tinggi maka terjadilah ledakan dahsyat yang meledakkan massa gas tadi dan melemparkan kepingan-kepingannya ke seluruh penjuru. Bersama berjalanya waktu, maka terbentuk planet-planet dan bintang-bintang.

Pada tahun 1989 M, satelit Amerika (NASA) mengirim data-data yang mengokohkan teori ledakan Dahsyat, dan sebelumnya pada tahun 1986 M, Stasiun Antariks Uni Soviet juga mengirimkan data-data yang mengokohkan teori ledakan dahsyat ini. Penemuan ini baru dilihat oleh orang-orang kafir pada masa kita sekarang ini, sementara Allah telah memberitakannya di dalam Al-Qur’an al-Karim bahwa orang-orang kafir akan menyaksikan pengetahuan ini. Allah swt berfirman dalam surat Al-Anbiya,

أَوَلَمْ يَرَ الََّذِينَ كَفَرُوا أَنًَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (Al-Anbiya : 30)

Dalam tafsir Al-Qur’an disebutkan, kata رَتْفًا maksudnya : melekat (padu).

Mukjizat Ke-9 (Langit Melewati Periode Kabut)

Para astronomi mengatakan bahwa langit melewati periode dalam bentuk kabut. Inilah yang direkomendasikan oleh ilmu pengetahuan akhir-akhir ini. Mereka mengatakan. Buktinya, pergilah ke salah satu teropong dan arahkan pandangan mata kalian ke arah langit, kalian akan menemukan kabut di langit, sisa kabut membentuk bintang-bintang dan planet-planet sampai masa kita sekarang ini. Dan Allah telah memberitakan pengetahuan ini di dalam Al-Qur’an dalam surat Fushshilat, Dia berfirman,

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأًرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.(Fushshilat : 11)

Mukjizat Ke-10 (Langit yang Meluas)

Para ahli astronomi menemukan bahwa langit semakin hari semakin meluas, dan di Amerika penemuan ini dipublikasikan lewat media-media masaa. Para ilmuwan menyaksikan lewat teleskop bahwa dunia yang kita tempati ini adalah bentuk yang terus-menerus meluas. Oleh karena itu, benda-benda langit semakin menjauh dari kita (bumi), begitu juga antara benda langit yang satu dengan benda langit yang lain, dengan kecepatan yang kadang-kadang mendekati kecepatan cahaya. Dan Al-Qur’an telah menggambarkan hakikat ini secara jelas. Silahkan lihat dalam ayat yang mulia, Allah swt berfirman,

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَٰهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Adz-Dzariyat 47)

Mukjizat Ke-11: (Tentang Penciptaan Bintang)

Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman,

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, (Al-Waqiah : 75-76)

Kenapa Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan tempat peredaran bintang?

Setelah pengetahuan manusia maju, tampaklah apa yang diberitakan Allah SWT lewat lisan Rasulullah SAW dalam penemuan ini.

Para ilmuwan berkata, Tempat peredaran bintang-bintang merupakan perkara yang agung bagi manusia. Jarak antara bumi dan matahari diperkirakan sekitar 150.000.000 km. bintang yang berjarak paling dekat dengan kita yang berada di luar gugusan matahari (Alpha Centaurus) diperkirakan berjarak sekitar 4,3 kali kecepatan cahaya, sementara satu tahun kecepatan cahaya diperkirakan sekitar 9.500.000 km. sehingga jika cahaya keluar darinya, maka cahaya tersebut baru akan sampai kepada kita setelah lebih dari lima puluh bulan. Dalam jangka waktu itu bintang tersebut telah bergerak bergeser dari tempatnya dengan jarak yang jauh sekali. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa apabila manusia memandang bintang secara langsung, niscaya dia akan kehilangan penglihatan.

Karena bintang yang kita lihat pada kegelapan langit, hanyalah tempat peredaran yang dilalui bintang.

Mukjizat Ke-12 : (Black Holes)

Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi bersumpah dengan bintang-bintang. Dia berfirman.

فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang (yang bersembunyi (di siang hari), Yaitu bintang-bintang yang beredar dan menyapu. (At-Takwir : 15-16)

Ayat ini menggambarkan kita bahwa di antara bintang-bintang yang ada di langit adalah bintang-bintang yang menyapu, dan para ahli astronomi telah menyebutkan hal itu. Seorang ilmuwan Amerika menggambarkan bintang-bintang black holes dengan ungkapannya, Ini adalah penyapu-penyapu raksasa langit yang menghisap, yang tinggi, dan pemakaian Al-Quran Al-Karim bagi bintang-bintang ini dengan istilah bintang yang beredar dan menyapu adalah lebih mengena.

Mukjizat ke-13 : (Siang dan Malam)

Ilmu modern telah menyingkap bahwa malam menutupi bumi dari segala penjuru, dan menyerupai lapisan tipis yang mirip seperti kulit. Apabila bumi berputar, maka pada siang hari lapisan tipis tersebut lepas. Sehingga dengan perputaran ini terjadi pengulitan siang dari malam. Allah telah menggambarkan penemuan ini dalam ayat berikut. Allah SWT berfirman:

وَءَايَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (Yaasin : 37)

Mukjizat Ke-14 : (Pandangan yang Semakin Kabur)

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ. لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُنَ

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir.”” (Al-Hijr : 14-15)

Ketika para astronot telah keluar dari batas terang dan masuk ke dalam kegelapan alam, mereka pasti mengatakan sesuatu yang hampir sama dengan ungkapan ayat Al-Qur’an tanpa mereka ketahui.

إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا

“Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan” (Al-Hijr : 15). Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-15 : (Pintu-pintu Langit )

Belakangan, para ilmuwan membuktikan bahwa langit tidaklah hampa, akan tetapi merupakan bangunan kokoh berisikan material dan energi, dan tidak mungkin diterobos kecuali melalui pintu-pintu yang dibuka. Dan inilah yang disebutkan oleh Al-Qur’an di sela-sela ayat ini. Allah SWT berfirman :

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,” (Al-Hijr : 14)

Mukjizat Ke-16 : (Dada Semakin Sesak Ketika Naik Ke Udara)

Para ilmuwan berkata bahwa perubahan besar pada tekanan udara yang terjadi ketika naik ke angkasa menjadikan dada manusia sesak dan sempit. Blits Pascall, seorang ilmuwan ternama, menyatakan bahwa tekanan udara akan semakin berkurang setiap kita semakin jauh dari permukaan bumi. Dan Allah telah memberitakan dalam ayat ini, apa yang akan terjadi pada manusia jika dia naik ke angkasa. Allah SWT berfirman :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (Al-An’am : 125)

Mukjizat Ke-17 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Allah SWT berfirman :

وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. ” (Yaasin : 40)

Kepler, seorang ahli astronomi, menemukan bahwa matahari dan planet-planet lain yang mengikutinya beredar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan. Pada abad 19 M, seorang astronom, Richard Carrington, dia menemukan bahwa matahri dan planet-planet yang mengikutinya, keseluruhannya berputar pada orbitnya masing-masing sesuai dengan aturan dan keseimbangan tertentu. Hal ini sesuai dengan firmanNya :

كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى

“Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.” (Az-Zumar : 5)

Mukjizat Ke-18 : (Hujan)

Para astronot menemukan bahwa lapisan atmosfer bumi berfungsi mengembalikan air yang telah menguap ke bumi dalam bentuk hujan melalui perputaran yang terus menerus yang disebut dengan siklus penguapan air. Allah telah bersumpah dengan ayat ini, dan Dia berfirman,

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ

“Demi langit yang mengandung hujan” (Ath-Thariq : 11)

Tafsir ayat ini menyebutkan bahwa langit mengembalikan hujan pada setiap tahun.

Mukjizat Ke-19 : (Tentang Kilat )

Pada 1985 M, di Amerika dilakukan kajian tentang kilat dan bagaimana proses terbentuknya. Merka menemukan kilat terbentuk dari es. Rincian ini telah diberitakan Allah kepada kita dalam surat An-Nur. Allah SWT berfirman :

وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَّنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ

“dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (An-Nur : 43)

Makna سَنَابَرْقِهِ adalah سَنَابَرْقِ الْبَرَدِ (kilauan kilat es)

Mukjizat Ke-20 : (Adzan di Bulan )

Astronot pertama yang berhasil mendarat dipermukaan bulan bernama Armstrong. Dia mengumumkan keislamannya ketika dia menziarahi Kairo. Dalam perjalanannya berkeliling dunia, dia mendengar adzan Zhuhur. Dia bertanya-tanya di tengah rasa kagetnya disebabkan suara itu, maka orang-orang mengatakan, “Itu suara mu’adzin yang mengingatkan kaum Muslimin waktu shalat.” Maka dia mengumumkan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya bahwa alunan adzan yang didengarnya dalah sama persis dengan alunan yang didengarnya ketika pertama kali menginjakkan kudua kakinya di atas permukaan bulan.”

Mukjizat Ke-21 : (Benda Langit Berjalan Menurut Garis Edar)

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan ” (Al-Qamar : 1)

In merupakan mukjizat inderawi yang disaksikan orang pada masa Rasulullah SAW. Di dalam hadits dari Anas, diriwayatkan bahwa penduduk Makkah meminta kepada Rasylullah SAW agar mereka diperlihatkan sebuah mukjizat, maka Allah memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah sebanyak dua kali.

Pada masa kita sekarang ini, para ahli stronomi Amerika berkata, “Bulan pernah terbelah suatu ketika. kemudian menyatu. KIta menemukan adanya sabuk batu yang telah berubah membelah bulan dari permukaannya hingga ke pusatnya dan terus sampai ke permukaannya lagi. Maka kami berkonsultasi kepada ahli bumi dan ahli geologi. Mereka mengatakan. “Ini tidak mungkin terjadi, kecuali jika memang bulan pernah terbelah kemudian menyatu”.”
MUKJIZAT TENTANG PENCIPTAAN BUMI

Mukjizat Ke-22 : (Bumi yang Mempunyai Retakan)

Para ahli geologi menemukan beberapa retakan yang memotong-motong lapisan batu paling luar dari lapisan bumi pada kedalaman puluhan ribu kilometer. Letaknya di seluruh arah, dan lebarnya mencapai antara 65-150 km. Retakan-retakan ini saling tersambung antara yang satu dengan yang lain, menjadikannya seolah-olah satu retakan. Para ahli menyerupakannya dengan daging. Allah telah bersumpah dengan pengetahuan ini dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:
وَالأرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ

“Dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,” ( Ath-Thariq : 12)

Mukjizat Ke-23 : (Tentang Gunung)

Para ahli geologi menemukan bahwa gunung memiliki akar yang memanjang di bawah permukaan bumi sebanding dengan 4,5 kali lipat ketinggiannya di atas permukaan bumi, dan bahwa fungsinya adalah mengukuhkan dan menjaga kestabilan bumi. Rahasia ini telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Al-Karim jauh sebelum 1400 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman:
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

“Dan (bukanlah Kami telah menjadikan) gunung-gunung sebagai pasak?,” (An-Naba : 7)

Dan juga Allah berfirman,
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

“Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” (An-Nazi’at : 32)

Mukjizat Ke-24 : (Tempat Terendah di Bumi)

Allah telah mengabarkan tempat yang paling rendah di permukaan bumi dalam Al-Qur’an. Allah SWt berfirman:
الم. غُلِبَتِ الرُّومُ. فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

Alif Laam Miim. Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terendah dan sesudah dikalahkan mereka akan menang.” (Ar-Ruum : 1-3)

Ilmu geologi telah membuktikan bahwa Laut Mati yang menjadi tempat pertempuran antara Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada tahun 624 M merupakan bagian bumi yang paling rendah secara mutlak. DI mana nisbat kerendahannya mencapai kurang lebih 400 meter di bawah permukaan air laut. Tempat itu merupakan permukaan bumi yang paling rendah secara mutlak.

Mukjizat Ke-25 : (Daerah-Daerah yang Menyusut)

Ilmo modern mengukuhkan bahwa bumi terus menyusut secara berkelanjutan di seluruh penjuru dan sudutnya. Yang menjadi sebab penyusutan ini adalah keluarnya berjuta-juta ton material bumi dalam bentuk gas, ua, benda cair dan padat dari mulut gunung-gunung berapi secara terus-menerus secara bergantian sehingga berdampak pada penyusutan bumi secara terus-menerus. Proses penyusutan bumi terus berkelanjutan sampai sekarang ini, dan Allah telah memberitakannya dalam Al-Qur’an, di mana Al-Haq, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya. ” (Ar-Ra’d “41)

(Ada yang menafsirkan bahwa Islam akan mendatangi daerah-daerah kafir dan lambat laun akan menjadi daerah Islam sehingga daerah-daerah kafir akan berkurang. Kenyataan ini telah terjadi saat ini dimana ISlam semakin diterima dibelahan dunia walau tetap saja ada yang menghalanginya)

Mukjizat Ke-26 : (Gunung yang Bergerak)

Allah telah mengabarkan RasulNya, Muhammad SAW bahwa gunung begerak seperti awan, dan Allah berbicara kepada RasulNya dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (An-Naml : 88)

Ayat ini mengisyaratkan pada proses perputaran bumi di sekitar poros matahari, karena gunung adalah bagian dari bumi. Maka apabila gunung bergerak seperti jalannya awan, maka seolah-olah bumilah yang berputar, sedangkan awan bergerak kurang lebih seperti kecepatan bumi. Ayat-ayat ini mengisyaratkan pada perputaran bumi. Ayat-ayat ini datang dalam bentuk yang tidak mengejutkan bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an. Sejak 14 abad lalu, akal tidak akan percaya bila Anda katakan bahwa bumi berputar. Dia akan bertanya, “Bagaimana hal itu terjadi padahal saya berdiri di atasnya?!” Al-Qur’an memalingkan pandangan manusia sesuai dengan kadar tingkat pengetahuan mereka. Para ilmuwan menyebutkan bahwa bumi berputar pada porosnya dalam jangka waktu satu hari satu malam, dan berputar mengelilingi matahari dalam jangka waktu satu tahun.

MUKJIZAT TENTANG LAUTAN

Mukjizat Ke-27 : (Bertemunya Batas Laut)

Pada tahun 1973 M, kapal Inggris melakukan penelitian di tengah laut selama tiga tahun, dan mereka mendirikan pelabuhan-pelabuhan di laut. Penelitian modern itu menemukan bahwa air laut walaupun tampak satu jenis, namun terdapat banyak perbedaan besar antara massa air yang satu dengan yang lainnya. Pada daerah-daerah yang di dalamnya berteMu dua jenis laut yang berbeda akan ditemukan sekat antara keduanya. Sekat ini memisahkan kedua laut itu, di mana masing-masing laut memiliki suhu panas, rasa asin, dan kepadatan tersendiri. Penemuan ini sama seperti yang diberitakan Allah dalam ayat ini. Allah SWT berfirman:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ. بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (Ar-Rahman : 19-20)

Mukjizat Ke-28 : (Ombak di Dasar Laut)

Para ilmuwan berkata, “Kedalaman laut yang sedang sekitar 4 km. Dasar samudera gelap, tidak dapat ditembus oleh sinar sama sekali. SInar matahari akan lebur dan tertolak keluar pada tingkat kedalaman ini. Para imuwan tidak tidak mengenal ombak kecuali ombak yang ada di permukaan. Baru pada tahun 1955 M, para ilmuwan menemukan bahwa ada ombak lain di dasar laut pada kedalaman 1000 m. ombak ini lebih besar daripada ombak yang ada dipermukaan dengan ratusan kali lipat dalam panjang dan tinggi gelombangnya. Penemuan ini selaras dengan yang diberitakan oleh Allah dalam ayat ini. Allah SWT berfirman.

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur : 40)

Mukjizat Ke-29 : (Angin yang Menggerakkan di Laut)

Allah SWT berfirman :

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ

“Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.” (Ar-Rahman : 24)

Dan dalam ayat yang lain :

إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur,” (Asy-Syura : 33)

Sebagian orang mengatakan bahwa kapal-kapal yang berlayar dengan tenaga mesin menggunakan bahan bakar dari batu bara, minyak , atau lainnya, apa yang menghentikannya jika angin berhenti?

Semua jenis kapal yang menggunakan bahan bakar dengan semua jenisnya, dan bergerak menggunakan tenaga uap dengan bahan bakar nuklir, apabila angin tidak ada, niscaya gerak kapal akan terhenti secara total. Karena sarana pembakar bahan bakar ini adalah dengan perantara gas oksigen yang ada di udara.

Mukjizat Ke-30 : (Laut yang Tanahnya Ada Api)

Belakangan, para ahli geologi menemukan semua samudera dan sebagian lautan seperti Laut Merah dan Laut Arab benar-benar bernyalakan api dengan aktivitas nyata. Allah berfirman dalam surat Ath-Thur ayat 6:

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ

“dan laut yang di dalam tanahnya ada api,”

Para ahli tafsir memberikan catatan, مَسْجُورِ maknanya bernyalakan api.

Mukjizat Ke-31 : (Laut di Bawah Api dan di Bawah Laut)

Ilmu pengetahuan mengungkap bahwa di bawah laut terdapat api, dan dibawah api ini ada laut lagi. Pengambilan gambar penemuan ini telah selesai dilakukan. Hal ini telah dibeitakan oleh Rasulullah SAW di dalam hadits, di mana beliau bersabda,

لاَيَركَبْ الْجَحْرَإِلاَّحَاجٌُّ أَوْمُعْتَمِرٌُأَوْمُجَاهِدٌُفَإِنَّ تاحْتَ الْبَحْرِنَارًاوَتَحْتَ النَّارِبَحْرًا

“Tidaklah belayar di atas laut melainkan orang yang berhaji, umrah, atau berjihad. Sungguh di bawah laut ada api, dan di bawah api ini ada laut lagi.” (HR. Abi Dawud)

Semua ilmu pengetahuan yang sebelum 1400 tahun lalu bersifat ghaib telah diberitakan oleh Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW yang mulia di dalam hadits.

MUKJIZAT TENTANG ANGIN

Mukjizat Ke-32 : (Angin yang Mengawinkan)

Para ahli cuaca mengatakan bahwa hujan tidak turun kecuali setelah angin mengawinkan awan. Penemuan ini telah diberitakan oleh Allah kepada kita sebelum 1400 tahun yang lalu dalam surat Al-Hijr;

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (air, awan, debu) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al-Hijr : 22)

Mukjizat Ke-33 : (Angin yang Menggerakkan)

Para ahli cuaca mengatakan bahwa angin memiliki peranan paling besar dalam membentuk awan dan mendung, menggerakkannya, menyusun antara sebagian yang satu dengan sebagian yang lain, mengangkatnya menuju tingkat yang lebih tinggi, mengondensasikannya dengan atom-atom yang bemacam-macam (condensation nuclear), dan mengisinya dengan muatan listrik. Peran besar angin inilah yang ditetapkan oleh penelitian-penelitian ilmiah modern, Dan Al-Qur’an telah datang dengannya sebelum ditetapkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan kita di bumi, 14 abad yang lalu, lewat lisan Muhammad SAW. Allah SWT berfirman :

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (Ar-Ruum : 48)

Mukjizat Ke-34 : (Curah Hujan)

Para ahli cuaca telah sampai kepada penemuan ini, mereka berkata, “Kuantitas curah hujan yang turun pada tahun ini pada bola bumi sama dengan kuantitas curah hujan yang turun pada setiap tahun. Akan tetapi, yang berbeda hanya tempat pembagiannya di atas bumi.”

Dan Rasulullah SAW telah memberitakan pengetahuan ini di dalam hadits. Beliau bersabda.

لاَسَنَةَ أَقْلَّ مِنْ سَنَةٍِ الْمَطَرِوَلٰكِنَّ اللّهَ يَصْرِفُهُ

“Tidakkah curah hujan pada sebuah tahun lebih sedikit daripada curah hujan pada tahun yang lain, hanya saja Allah memalingkannya (ke tempat yang lain).” (Dari Ibnu Abbas, Silsilah as-Hadits ash-Shahihah, no. 2461)

MUKJIZAT TENTANG TUMBUH_TUMBUHAN

Mukjizat Ke-35 : (Tentang Klorofil)

Para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan bahwa klorofil merupakan produsen tunggal di muka bumi yang memproduksi makanan. Yaitu sebuah istilah bagi kloroflas yang merubah energi matahri, karbondioksida, dan air menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Oleh sebab itu ia disebut klorofil. Produsen ini ada pada setiap daun, Lalu siapakah yang menumbuhkan tanaman? Dia-lah Allah SWT. Allah SWT berfirman.

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; ” (Al-An’am : 99)

Mukjizat Ke-36 : (Air Hujan yang Menumbuhkan)

Pada konferensi internasional I di Islamabad, salah seorang ahli tumbuh-tumbuhan maju seraya berkata, “Apabila hujan jatuh ke tanah, maka ia menjadikan butiran-butiran tanah bergetar dan mengembang, yakni bertambah besar disebabkan air yang masuk di antara butiran-butiran ini. Apabila butiran-butiran ini telah penuh dengan air, maka jadilah ia sebagai penampung air.” Penemuan ini telah Allah SWT beritakan kepada kita dalam Al-Qur’an pada firmanNya.

وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, bergetarlah tanah itu itu dan mengembang dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (Al-Hajj : 5)
==============================================
MUKJIZAT TENTANG ANTISIPASI PENYAKIT

Mukjizat Ke-37 : (Penyakit Akibat Perzinaan)

Dalam riwayat Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan riwayat ini shahih dengan salah satu lafadz, Rasulullah SAW bersabda,

لَمْ تَظْهَرِالْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍِ قَطُّ، حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا، إِلاَّ فَشَافِيْهِمُ الطَّاعَُوْنُ وَاْلأَوْجَاعُ الَّتِىْ لَمْ تَكُنْ فِيْ أَسْلاَفِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا

“Tidaklah perzinaan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka.”

Sesuatu yang diberitakan oleh Rasulullah SAW telah tampak pada masa ini. Ini memberikan bukti bagi dunia bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik bagi manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah pengidap penyakit kencing nanah (Gonorrhae) setiap tahunnya lebih dari 250 juta orang. Sebagaimana diperkirakan jumlah pengidap sipilis setiap tahunnya mencapai 50 juta orang. Majalah Amerika, The Times tanggal 4 Juli 1983 menyebutkan, 20 juta warga Amerika mengidap penyakit Herpes, dan mengumumkan bahwa di Afrika saja 30 juta orang mati setiap tahun dengan sebab penyakit AIDS yang muncul akibat hubungan seks bebas (zina). Di samping itu juga muncul penyakit-penyakit lain yang bermacam-macam akibat tersebarnya perzinaan.

Mukjizat Ke-38 : (Tentang Khamar)

Rasulullah SAW telah mengingatkan manusia dari bahaya khamar. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Wa’il al-Hadhrami bahwa Thariq bin Suwaid al-Ju’fi bertanya kepada Nabi SAW tentang khamar? Maka Nabi SAW melarang atau membenci untuk membuatnya menjadi sesuatu, dia berkata, “Saya hanya membuatnya sebagai obat”. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍِوَلٰكِنَّهُ دَاءًَ

“Ia bukanlah obat, akan tetapi penyakit.” (HR. Muslim)

Pada masa ini, data statistik kesehatan dunia menyatakan bahwa sebab-sebab kematian yang muncul akibat mengkonsumsi khamar menempati posisi pertama pada banyak negeri di dunia. dr. Ouprey Louis menyatakan bahwa alkohol adalah racun tunggal yang diperkenankan di dunia. Dr. Brater dan rekan-rekannya menegaskan bahwa mengkonsumsi satu gelas khamar dapat menyebabkan kematian sebagian sel otak. Ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa khamar berpengaruh terhadap alat pencernaan, syaraf, organ seks, serta berpengaruh terhadap keturunan. Khamar juga memiliki pengaruh terhadap hati. Adapun limpa, maka ia merupakan korban utama khamar. Lebih dari 200 ribu orang, setiap tahunnya mati di Inggris disebabkan oleh khamar.

Mukjizat Ke-39 : (Pengaruh Amarah pada Manusia)

Ilmu kedokteran modern menemukan, bahwa ada banyak perubahan pada fisik manusia yang disebabkan oleh amarah. Dia berpengaruh terhadap kecepatan detak jantung, menyebabkan tekanan darah meningkat, menambah kadar gula dalam darah, membahayakan pembuluh jantung, serta mengandung kemungkinan diserang penyakit-penyakit jantung yang mematikan. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia tentang bahaya-bahaya sesuatu yang dilarang Rasulullah SAW di dalam hadits. Al-Bukhari meriwayatkan hadits dalam Shahihnya dari Abu Hurairah ra bahwa seseorang meminta wasiat kepada Nabi SAW, “berilah aku wasiat.” Beliau bersabda, “Jangan marah!” Ia mengulangi permintaanya beberapa kali, namun beliau tetap mengatakan, “Jangan marah!”

Mukjizat Ke-40 : (Tentang Tato)

Lembaga Eropa mengingatkan para penggemar tato bahwa tindakan membuat tato pada kulit adalah meracuni badan dengan bahan kimia yang beracun. laporan itu berbunyi bahwa tato dapat menyebabkan kanker kulit dan penyakit kulit kronis. Ilmu pengetahuan pada masa ini datang memperlihatkan kepada manusia bahaya-bahaya apa yang dilarang Rasulullah SAW. Di dalam hadits, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda :

لَعَنَ اللّهُ الْوَاصِلَةِ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya, serta wanita yang bertato dan yang minta tato.” (HR. Al-Bukhari)

Mukjizat Ke-41 : (Wabah Penyakit Datang dengan Waktu Tertentu)

Ilmu kedokteran modern menetapkan bahwa penyakit-penyakit menular pada musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada musim-musim tertentu. Bahkan sebagiannya muncul pada bilangan tahun-tahun tertentu dan dengan cara tertentu. Di antara contohnya: penyakit campak dan polio pada anak-anak banyak di jumpai pada bulan september dan oktober, dan tifoid banyak ditemukan pada musim panas. Di antara ilmu yang tidak pernah di ketahui kecuali setelah di temukannya mikroskop, adalah bahwa beberapa penyakit menular berpindah melalui hujan rintik-rintik lewat udara yang berdebu, dan kuman (mikroba) ikut bersama debu ketika di bawa terbang oleh angin dari orang yang sakit kepada orang yang sehat. Penumuan ini menobatkan Nabi SAW sebagai peletak pertama kaidah menjaga kesehatan dengan menjaga diri dari bahaya wabah dan penyakit-penyakit menular. Dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Rasululllah SAW bersabda:

غَطُّوا اْلإِنَاءَ وَأَوْكُوا ِلسِّقَاءِ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةًََ يَنْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌُ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ غَطَاءٌُ أَوْ سِقَاءٍِ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌُ إِلاَّ نَزَلَ فِيْهِ مِنْ ذٰلِكَ الْوَبَاءِ

“Tutuplah bejana dan alat minum, Sungguh dalam satu tahun ada satu malam yang pada malam itu wabah turun. Tidaklah ia lewat pada sebuah bejana atau alat minum yang tidak ditutup, melainkan wabah itu hinggap padanya.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-42 : (Hikmah Larangan Memakan Binatang Buas)

Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata:

نَهَى رَسُلُ اللّهِ صَلَى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابِ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍِ مِنْ الطَّيْرِ

“Rasulullah SAW melarang memakan semua jenis binatang buas yang bertaring dan semua jenis burung yang berkuku (bercakar).” (HR. Muslim)

Ilmu gizi modern menyatakan bahwa manusia mewarisi sebagian sifat hewan yang dimakannya karena kandungan racun dn virus yang terkandung di dalam dagingnya yang mengalir di dalam darah, dan pindah ke lambung manusia, sehingga berpengaruh terhadap tingkah laku akhlak mereka.

Mukjizat Ke-43 : (Tentang Siwak)

Sebuah majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan Rowdatt, rektor Institut Perkumanan pada Universitas Rostoc. Dalam tulisannya itu ia berkata, “Saya telah membaca tentang siwak yang digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi. Seketika itu, saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan ggi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut dan gigi dari berbagai penyakit, bagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker.”

Dalam penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah SAW. Mukjizat pertama, yaitu manfaat-manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad SAW bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon-pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia? Inilah hadits Nabi SAW, beliau menganjurkan kita bersiwak dengan sabdanya,

اَلسِّوَاكُ مِطْهَرَةٌٌُ لِلْفَمِ مَرْ ضَاةٌُ لِلرَّبِّ

“Siwak adalah pembesih mulut dan sebab ridhonya Rabb.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Mukjizat Ke-44 : (Tentang Kegemukan, Makan Secukupnya)

Ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa kegemukan dari segi kesehatan terhitung penyakit dalam pencernaan makanan. Pada tanggal 11 Juni 2003, direktur Pusat Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Amerika mengatakan bahwa kegemukan hampir merupakan sebab pertama kematian. Hasil dari penelitian yang dilakukan di Amerika memperlihatkan, bahwa kenaikan berat badan menambahkan serangan kegagalan fungsi hati. Para ilmuwan asal Kanada menyebutkan bahwa berlebih-lebihan dalam hal makan bisa merusak kesehatan manusia. Seorang ahli gizi Inggris berkata pada tanggal 12 Juni 2003, bahwa kegemukan mengancam keseimbangan penambahan usia manusia. Seorang dokter Italia menyebutkan bahwa makan hingga kenyang lebih banyak membinasakan manusia daripada perang yang membinasakan mereka.

Segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia yang ditemukan oleh Ilmu pengetahuan pada masa ini adalah kita dapati Rasulullah SAW telah memerintahkannya kepada manusia. Dalam hadits yang diiwayatkan oleh Ahmad, At-Tarmidzi, dan Ibnu Majah, dari Al-Miqdam Karib al-Kindi, dia berkata berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَامَلَأَ ابْنُ اَدَمَ وِعَاءًَ شَرًّامِنْ بَطْنٍِ، حَسبُ ابْنِ اَدَمَ أُكُلاَتٌُ يُقِمْنَ صَلْبَهُ فَإِنْ لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثٌُ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌُ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌُ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah bani Adam memenuhkan bejana yang lebih buruk daripada perut. Cukup bagi Bani Adam makan beberapa suap yang menegakkan tulang sulbinya. Apabila mesti lebih dari itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya (udara).” (HR. Ahmad)

Mukjizat Ke-45 : (Buah Zaitun)

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, enam belas ahli dari ahli-ahli kedokteran ternama berkumpul di kota Roma. Dalam penjelasan mereka, mereka megukuhkan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun membantu mencegah penyakit pembuluh hati, mencegah peningkatan kolesterol darah, peningkatan tekanan darah, penyakit gula, dan kegemukan. Sebagaimana minyak zaitun dapat mencegah sebagian jenis kanker. Para ahli kedokteran menjelaskan manfaat apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW dalam hadists ini. RAsulullah SAW bersabda:

كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوْابِهِ فَإِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ شَجَرَةٍِ مُبَارَكَةٍِ

“Makanlah buah zaitun dan berminyak rambutlah dengannya. Karena sungguh buah zaitun keluar dari pohon yang berkah.” (HR. Ahmad dan At-Tarmidzi, dan At-Tarmidzi berkata,”Hadits ini hadits hasan”)

Mukjizat Ke-46 : (Sepuluh Perkara Fitrah)

Penelitian-penelitian kedokteran mengungkapkan untuk kita bahwa kuku mengundang penyakit, di mana jutaan kuman akan bersarang di bawahnya. Dan membiarkan panjang bulu kemaluan, adalah berarti siap menanggung penyakit bulu kemaluan berkutu yang tersebar di Eropa, serta menyebabkan luka dan peradangan pada daerah ini. Penemuan ini menjelaskan kepada manusia manfaat apa yang diperintahkan oleh Rssulullah SAW dalam hadits ini. Sunah-sunah fitrah yang diwasiatkan Nabi SAW adalah bagaikan pondasi kebersihan individu. Imam Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

عَشْرَةٌُ مِنَ الْفَْطْرَةِ: قَصُّ الشَّارَبِ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ اْلأَظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

“Sepuluh perkara merupakan fitrah: merapikan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, memasukkan air ke hidung, memotong kuku, mencuci ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-47 : (Keistimewaan Tanah)

Para ilmuwan di masa modern melakukan penelitian terhadap tanah untuk mengetahui kuman-kuman yang ada padanya, maka mereka menyimpulkan bahwa tanah memiliki keistimewaan membunuh kuman-kuman yang berbahaya. Dan Rasulullah SAW telah memberitakan bahwa tanah memiliki kekuatan membunuh kuman. dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلِغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتِ أَوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana kalian apabila ia dijilati oleh anjing, yaitu dengan mencucinya tujuh kali, dan yang pertama kali dengan tanah.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-48 : (Khitan)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih mereka, dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda,

اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ: اَلْخِتَانُ، وَاْلاِسْتِحْدَادُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ

“Fitrah itu ada lima perkara; khitan, mencukur bulu kemaluan, merapikan kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

Majalah Kedokteran Inggris menyebutkan. “Kanker penis sangat jarang terjadi di negeri-negeri Islam, di mana khitan dilakukan ketika masih kanak-kanak. Di antara faktor pendorong terjadinya kanker penis adalah terjadinya peradangan pucuk penis, dan khitan merupakan sarana untuk mengantisipasi kanker penis.”

Penemuan ini memperlihatkan dunia bahwa ajaran Rasulullah adalah yang terbaik bagi manusia.

Mukjizat Ke-49 : (Kanker Kulit pada Remaja Putri)

Diberitakan dalam majalah Kedokteran Inggris, bahwa kanker kulit sekarang semakin bertambah pada kalangan remaja putri, di mana kanker ini menyerang kaki-kaki mereka. Penyebab utama tersebarnya penyakit ini adalah pakaian-pakaian pendek yang menyebabkan kontak langsung fisik perempuan dengan sinar matahari dalam jangka waktu yang panjang, sedangkan kaos-kaos kaki yang transparan tidak memiliki manfaat.

Penemuan ini menjelaskan ganjaran maksiat di dunia terhadap orang-orang yang menyelisihi ajaran Rasulullah SAW yang termuat dalam hadits ini. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Nabi SAW, beliau bersabda,

وَنِسَاءٌُ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةْ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا

“Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, tidak taat kepada Allah, berjalan berlenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak masuk surga serta tidak mendapatkan harumnya.”

Mukjizat Ke-50 : (Manfaat Silaturrahim)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Nabi SAW dengan sanad yang shahih bahwa beliau bersabda,

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ وَقُلِ الْحَقَّ وَلَوْ عَلَى نَفْسِكَ

“Sambunglah tali silaturrahim dengan orang yang memutus hubungan denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berlaku buruk terhadapmu, dan katakan yang haq walau menyakiti dirimu.”

Ilmu kedokteran datang selaras dengan apa yang diwasiatkan Rasulullah SAW.

Dr. Fitche Georant berkata, “Keistimewaan sikap memaafkan mejadikan orang yang mendapat perlakuan buruk mampu hidup tenang. Perasaan dendam dan benci akan mengeruhkan hidup, Menyebabkan kegelisahan, dan mengobarkan perasaan sakit di dalam relung hati. Adapun sikap memaafkan maka ia menghapuskan semua itu.”
=======================================
MUKJIZAT TENTANG ANTISIPASI PENYAKIT

Mukjizat Ke-51 : (Hikmah Larangan Kencing pada Air Tergenang)

Banyak dokter menyebutkan bahwa jutaan orang mengidap penyakit kutu air (bilharziazis = penyakit yang hidup di air, apabila penyakit itu hinggap maka akan menjadikan kaki pecah-pecah). Penyebab penyakit ini adalah seseorang kencing pada air tergenang yang tidak bergerak, lalu orang lain datang mandi di air tersebut dan tertimpa penyakit ini. Apabila seseorang kencing pada air yang tergenang, maka akan keluar telur, lalu menetas, dan melahirkan penyakit. Seandainya manusia tidak kencing pada air tergenang, tentu penyakit bilharziazis tidak akan ada di dunia.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa semua ajaran yang disebutkan Rasulullah SAW bagi manusia merupakan kebaikan bagi manusia. Telah disebutkan dalam hadits ini, dari Jabir ra,

أَنَّ رَسُوُلَ اللّهِ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

“Sesungguhnya Rasulullah melarang kencing pada air yang tergenang.” (HR. Muslim)

Mukjizat Ke-52 : (Tentang Karantina Kesehatan)

Dari Usamah bin Zaid ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

إِذَا وَقَعَ الطَّاعُوْنُ بِأَرْضٍِ فَلاَ تَدْخُلُوْهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍِ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْامِنْهَا

“Apabila penyakit pes mewabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila ia mewabah di suatu negeri dan kalian ada di dalamnya, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Ahmad)

Para dokter spesialis kuman dan penyakit mengatakan bahwa data hasil penelitian menunjukkan kepada kita manakala penyakit pes mewabah di suatu negeri, maka prosentase orang yang membawa kuman brejumlah 95%. Dan prosentase orang yang tampak berpenyakit berjumlah 20-30%. Sisanya adalah orang-orang yang membawa kuman akan tetapi zat kekebalan tubuhnya mengalahkan kuman tersebut. Apabila mereka tetap tinggal di tempat tersebut, maka kesehatan mereka tidak akan terancam. Namun apabila seorang dari mereka keluar dari tempat tersebut, maka dia akan menularkan penyakitnya. Langkah paling tepat untuk menanggulangi penyakit ini adalah dengan melakukan karantina kesehatan Yaitu agar tidak ada yang keluar-masuk pada tempat di mana penyakit pes sedang mewabah.

Mukjizat Ke-53 : (Puasa Mengekang Nafsu)

Ilmu kedokteran menyatakan bahwa memperbanyak puasa dapat mengendorkan dan mengekang gairah seks. Dalam penelitian ini ditemukan menurunnya tingkat hormon testosteron. Penemuan ini mengukuhkan bahwa puasa mampu mengekang gairah seks serta memperbaikinya. Penemuan ini selaras dengan apa yang diperintahkan Nabi SAW,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسَتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌُ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu melakukan jimak, maka hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa menjadi penawar baginya.” (HR. Bukhari)

Mukjizat Ke-54 : (Manfaat Puasa)

Melalui beberapa penelitian kedokteran, puasa ditemukan memiliki beberapa manfaat yang bersifat antisipatif melawan banyak penyakit dan gangguan fisik, di antaranya:

Puasa menguatkan sistem kekebalan tubuh.

Mencegah bahaya kegemukan.

Melindungi tubuh dari bahaya racun yang tertimbun pada sel-sel tubuh dan jaringannya yang timbul disebabkan mengkonsumsi makanan sebelum puasa sepanjang tahun.

Melindungi tubuh dari terbentuknya batu ginjal.

Mengobati beberapa penyakit sirkulasi darah.

Puasa memberikan waktu istirahat bagi alat pencernaan.

Rasulullah SAW telah mengabarkan kita bahwa dalam puasa terkandung kesehatan bagi manusia. Rasululah SAW bersabda,

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌُ

“Puasa adalah pelindung.” (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i).

Kata حُنَّةٌُ Maksudnya وٍِقَايَةٌُ (pelindung). Dan dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman,

وَأَن تَصُومُوْا خَيْرٌُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah : 184)

Mukjizat Ke-55 : (Bakteri pada Anjing)

Ilmu kedokteran mengungkap bahwa mulut anjing membawa 50 bakteri. Ini diketahui setelah ditemukan nya mikroskop. Bakteri tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, Rasulullah SAW telah memperingatkan kita dari mulut anjing dalam haditsnya, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَاشَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍِ وَعَفِّرُوْهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ

“Jika anjing minum pada bejana salah seorang kalian, maka hendaklah ia mencucinya sebanyak tujuh kali, dan melumurinya dengan tanah pada kali yang kedelapan.”

Mukjizat Ke-56 : (Tentang Memakan Daging yang Diharamkan)

Allah SWT berfirman,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكََّيْتُمْ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,” (Al-Ma’idah : 3)

Seorang dokter asal Denmark yang bernama John Flas ditanya tentang memakan daging-daging yang diharamkan dalam Islam. Maka dia menjawab bahwa memakan bangkai, binatang yang mati tercekik, yang mati terjatuh, yang mati dipukul, dan yang dimakan binatang buas, adalah berbahaya bagi manusia, sebab kematian hewan-hewan ini berjalan lambat dan kuman-kuman yang ada di dalam lambung telah pindah ke dalam daging sehingga dagingnya mengandung kuman. Adapun jika sebelum mati, hewan tersebut sempat disembelih, maka hewan itu bersih dari kuman dan layak untuk dimakan. Tidak dibenarkan memakan darah karena darah adalah racun. Dan tidak dibenarkan memakan daging babi karena sarang kuman dan menyebabkan sakit pada tulang punggung dan persendian, dan penyakit-penyakit ini terjadi di Eropa.

Mukjizat Ke-57 : (Tentang Laut)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW ketika ditanya tentang laut, beliau menjawab,

هُوَ الطَّهُوْرُ مَا ؤُهُ الجِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut adalah suci dan halal bangkainya.” (HR. Al-Tarmidzi, dia berkata,:Hadits Shahih”)

Dalam hadits ini, kenapa Rasulullah SAW menghalalkan bangkai ikan dan mengharamkan hewan-hewan yang lain?

Para ahli menjawab pertanyaan ini bahwa ikan memiliki keistimewaan yang Allah letakkan padanya. Yaitu apabila ikan ditangkap dan keluar dari laut, lalu mati, niscaya darah-darahnya akan terkumpul di jakun, seolah-olah disembelih.

Ini adalah salah satu dari tanda kenabian beliau SAW, dan bahwa beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu.

Mukjizat Ke-58 : (Hikmah Larangan Makan dan Minum Berdiri)

Ilmu kedokteran modern mengungkapkan, minum berdiri menyebabkan air yang mengalir berjatuhan dengan keras pada dasar lambung dan menumbuknya, menjadikan lambung kendor dan menjadikan pencernaan sulit. Sebagaimana terus-menerus makan dan minum sambil berdiri menimbulkan luka pada dinding lambung. Penemuan ini menjelaskan manusia bahaya yang telah diperingatkan Rasulullah SAw dalam hadits ini.

Dari Anas dari Qatadah,

إِنَّالنَّبِيِّ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Sesungguhnya Nabi melarang seseorang minum sambil berdiri”

Qatadah berkata, “Kami bertanya, “Bagaimana kalau makan?” Beliau bersabda,

ذَاكَ أَشَرُّ وَأَخْبَثُ

“Itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR. Muslim dan At-Tarmidzi).

Mukjizat Ke-59 : (Larangan Meniup kedalam Minuman)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخُ فِي الشُّرَابِ

“Rasulullah saw melarang minum dari mulut poci dan meniup ke dalam minuman.” (HR. Bukhari)

Para dokter menyatakan, bahwa minum dari mulut poci bisa meninggalkan kuman berbahaya. Dan telah terbukti dalam kedokteran, bahwa sebab TBC adalah meniup kedalam minuman.

Mukjizat Ke-60 : (Cara Membuang Hajat)

Hadiits Jabir,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمْ أَنْ نَتَّكِئَ عَلَى الْيُسْرَى وَأَنْ نَنْصِبَ الْيُمْنَى فِي قَضَاءِ الْحَا جَةِ

“Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bertumpu pada kaki kiri dan memberdirikan telapak kaki kanan saat buang hajat.” (HR. At-Thabrani)

Ilmu pengetahuan datang pada masa ini mengungkap manfaat posisi buang hajat yang diperintahkan Rasulullah SAW. Para dokter spesialis berkata, “Dubur pada badan manusia merupakan tempat keluarnya kotoran adalah berbentuk angka empat arab (٤), Apabila seseorang bertumpu pada kaki kiri dan memberdirikan telapak kaki kanan, duburnya akan berbentuk sempurna dan kotoran keluar dengan mudah.”

Mukjizat Ke-61 : (Berbaring di Sisi Tubuh yang Kanan)

Dari Al-Barra’ bin Azib, Bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَ ضّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِكَ اْلأَيْمَنِ

“Apabila kamu hendak tidur, berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW mengarahkan manusia agar tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan, lalu ilmu pengetahuan datang mengungkap manfaat-manfaat sesuatu yang diperintah Rasulullah SAW tersebut.

Majalah The Times mempublikasikan hasil kajian yang menunjukkan peningkatan angka kematian pada anak-anak yang tidur telungkup di atas perut mereka. Seorang peneliti Australia memperlihatkan adanya peningkatan angka kematian pada anak-anak ketika mereka tidur telungkup di atas perut mereka.

Adapun tidur telentang di atas punggung, maka tidur seperti ini menyebabkan pernafasan mulut. Sementara tidur berbaring di atas sisi sebelah kiri, maka tidak diterima (oleh ilmu kedokteran), karena pada posisi ini, jantung berada di bawah tekanan paru-paru kiri, sehingga tidur berbaring di atas sisi sebelah kanan adalah posisi tidur yang benar.

Mukjizat Ke-62 : (Shalat dan Kesehatan)

Dr. Alex Carlyle peraih Nobel dalam bidang kedokteran berkomentar tentang shalat, “Shalat melahirkan kebugaran luar biasa pada tubuh dan anggota-anggotanya, bahkan merupakan penghasil kebugaran terbesar yang diketahui sampai masa kita sekarang ini. Di antara faidah shalat adalah menguatkan otot perut, menambah gerakan usus sehingga mengurangi kondisi menahan (gerakan) dan menguatkan penyaringan empedu. Posisi ruku’, sujud dan gerakan yang terjadi padanya berupa menekankan ujung jari telapak kaki dapat mengurangi tekanan pada otak.”

Penemuan ini memperlihatkan pada dunia bahwa apa yang diperitahkan Rasulullah SAW bersumber dari sisi Allah.

Mukjizat Ke-63 : (Mencuci Tangan)

Nabi SAW bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوَضُوْءَ، خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

“Barangsiapa wudhu dan membaguskan wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Musim)

Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa orang yang berwudhu secara terus-menerus maka sungguh dia telah membersihkan hidung dan bebas sari kuman (mikroba). Telah tetap secara ilmiah, bahwa kuman tidak menyerang kulit manusia jika ia tidak menjaga kebersihannya. Berikut rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berbunyi,
“Tiga juta orang mati pada setiap tahun. Dan kita tidak tahu siapa mereka. Mereka mati sebab tidak peduli pada kebersihan tangan, tidak mencucinya sebelum makan, dan tidak memperhatikan istinja.” Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kulit tangan membawa banyak kuman yang pindah ke mulut atau hisung ketika kedua tangan tudak dicuci. Oleh karena itu, mencuci kedua tangan adalah wajib. Rasulullah SAW telah memerintah manusia untuk membersihkan tangan dengan hadits berikut,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نُوْمَةٍِ فَلاَ يُدْخِلْ يَدَهُ فِي اْلإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثَا، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika salah seorang kalian bangun dari tidurnya, maka jangan (langsung) memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali, karena salah seorang kalian tidak tahu di mana tangannya bermalam.” (HR. At-Tarmidzi)
================================================
Mukjizat Ke-64 : (Tentang Besi)

Dalam Al-Qur’an, Rasulullah SAW mengabarkan manusia dengan wahyu dari Allah bahwa besi diturunkan ke bumi dan tidak mungkin untuk diproduksi. Rabb kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman dalam surat Al-Hadid,

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia,” (Al-Hadid : 25)

Para ilmuwan mengatakan bahwa membuat satu bijih besi memerlukan panas empat kali lipat yang seperti matahari. Karena besi memerlukan panas yang tinggi sekali, sementara panas yang seperti ini tidak dimiliki matahari. Dan bahwa proses penggabungan atom (nuclear fusion) di dalam matahari tidak sampai kepada tahap menjadi unsur besi. Proses ini berhenti jauh sebelum tahap menjadi unsur besi. Catatan ini menjadikan para ilmuwan mengambil kesimpulan bahwa bumi kita pada saat terlepas dari matahari tidak lain hanyalah sebuah onggokan abu. Tidak terdapat padanya sesuatu yang lebih berat daripada alumunium dan silikon, kemudian ditimpa dengan hujan meteor dari besi.

MUKJIZAT TENTANG ILMU ANATOMI

Mukjizat Ke-65 : (Tentang Kulit)

Para ahli anatomi menyebutkan bahwa indera peraba pada tubuh manusia adalah kulit. Mereka mengatakan, “Kalau kulit telah terbakar, (niscaya) tubuh tidak akan merasakan sakit.”

Ketika menggambarkan penduduk neraka, Allah SWt mengabarkan kita bahwa kulitlah yang merasakan sakit. Allah SWt brefirman dalam surat An-Nisa’,

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab” (An-Nisa’ : 56)

Mukjizat Ke-66 : (Tentang Parfum)

Ilmu anatomi tubuh telah menyebutkan indera penciuman. Indra penciuman disusun pararel dengan organ syahwat. Sehingga apabila laki-laki atau perempuan mencium wangi parfum (niscaya) ia mengalir di urat-urat syaraf syahwat.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Ahmad dan An-Nasa’i dari Nabi SAW, beliau bersabda.

أَيُّمَا امْرَأَةِ اسْتَعْطَترَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍِ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌُ

“Wanita mana saja memakai wewangian, lalu lewat pada sebuah kaum supaya mereka mencium wanginya, maka dia adalah pezina.” (HR. An-Nasa’i)

Dapat dipahami dari hadits ini bahwa parfum membangkitkan syahwat.

Mukjizat Ke-67 : (Tentang Ucapan ‘Rayuan’)

Ilmu anatomi mengatakan, “Demikian juga pendengaran dan organ pendengaran, ia sangat berkaitan erat dengan organ syahwat. Sehingga apabila laki-lakai atau wanita mendengar sebuah kata, maka kata itu terdengar lembut dan mengalir menuju organ syahwat. Apa yang disebutkan dalam ilmu anatomi telah diketahui oleh kaum muslimin berdasarkan pemahaman mereka terhadap ayat ini. Yakni firman Allah SWt,

فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

“Maka janganlah kamu tunduk (merayu) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya” (Al-Ahzab : 32)

Mukjizat Ke-68 : (Tentang Khalwat)

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam kedua kitab Shahih mereka dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍِ إِلاَّمَعَ ذِي مَحْرَمٍِ

“Janganlah salah seorang kalian berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali bersama mahram.” (HR. Bukhari)

Dr. Alez Carlyle berkata, “Pada saat hasrat seks mengalir pada manusia, maka ia mengeluarkan semacam zat yang mengalir dalam darah menuju otak dan membiusnya, sehingga tidak mampu lagi berfikir jernih.” Oleh karena itu, para penyeru ikhtilath (campur aduk antara laki dan perempuan bukan mahram), mereka diarahkan oleh akal mereka. Mereka diarahkan oleh syahwatnya. Presiden Amerika yang telah meninggal. Kennedy, dia berkata, “Pada setiap tujuh pemuda yang mendaftarkan diri sebagai prajurit ditemukan enam orang yang tidak baik, dikarenakan syahwat telah merusak kelayakan kesehatan dan psikologis mereka.”

Mukjizat Ke-69 : (Sentuhan Lain Jenis)

Disebutkan dalam ilmu anatomi, “Apabila tubuh laki-laki bersentuhan dengan tubuh waniita, niscaya ‘sambungan’ yang membangkitkan syahwat akan mengalir di antara keduanya.”

Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa sentuhan laki-laki terhadap tubuh wanita dapat membangkitkan syahwat. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Malik, Ahmad, dan lainnya, dari Nabi SAW beliau bersabda,

إِنِّيْ لاَأُصَا فِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِيْ لاِمْرَأَةٍِ قَوْلِيْ لِمِئَةِ امْرَأَةٍِ

“Sungguh aku tidak menjabat wanita. Perkataan saya pada satu wanita adalah bagaikan perkataan saya untuk seratus wanita.”

Mukjizat Ke-70 : (Berkaitan dengan Keinginan Manusia)

Ahli terkemuka dunia dalam anatomi otak, Dr. Moore berkata, “Telah pasti bagi kami bahwa lokasi yang menggambarkan kejujuran dan kedustaan dalam tubuh manusia terletak pada bagian depan kepala (ubun-ubun). Seandainya bagian otak ini dihilangkan, seseorang tidak akan memiliki kehendak.”

Penemuan ini telah diberitakan Allah kepada kita, bahwa bagian depan kepalalah yang berdusta. Di mana Dia berfirman dalam surat Al-“Alaq.

كَلاَّ لَئِنْ لَّمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ. نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq : 15-16)

Mukjizat Ke-71 : (Tentang Susu)

Setelah menggunakan alat-alat canggih, para ahli anatomi sampai pada penemuan bahwa susu merupakan bahan hasil saringan dari sisa-sisa makanan dan darah. Dan Allah telah mengabarkan kepada kita tentang pengetahuan ini dalam Al-Qur’an, surat AN-Nahl, Allah SWT berfirman,

نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّٰرِبِينَ

“Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (An-Nahl : 66)

MUKJIZAT TENTANG PENGOBATAN

Mukjizat Ke-72 : (Madu dan Obat)

Rasulullah SAW telah menyampaikan berita dalam Al-Qur’an dengan wahyu Allah bahwa madu mengandung obat. Allah SWT berfirman,

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاَ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنََّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl : 69)

Hasil beberapa penelitian mutakhir menunjukkan bahwa madu mengandung obat bagi sebagian jenis penyakit dan mampu membunuh banyak kuman (mikroba), sehingga sangatlah bagus menggunakan madu sebagai obat, dan memberikan hasil yang baik pada banyak jenis penyakit. Seperti obat infeksi lambung, obat radang hati yang menahun, obat anemia pada anak, obat luka nanah, obat dingin dan radang tenggorokan, obat keracunan alkohol, obat sakit perut dan diare.

Mukjizat Ke-73 : (Madu Terbaik)

Para ilmuwan berhasil menyimpulkan jenis madu yang terbaik. Mereka mendapatkan bahwa jenis madu yang terbaik adalah madu yang diambil dari gunung, kemudian pada urutan berikutnya yang diambil dari kayu, kemudian setelahnya yang diambil dari perumahan manusia. Ini selaras dengan pengurutan Allah dalam surat An-Nahl. Allah SWT berfirman,

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. (An-Nahl : 68)

Mukjizat Ke-74 : (Habbatus Sauda’)

Dalam hadits ini, Aisyah ra ia bertutur, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إِنْ هٰذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌُ مِنْ كُلِّ دَاءٍِ إِلاَّ مِنَ السَّامِ قُلْتُ : وَمَا السَّامُ؟ قَلَ : الْمَوْتَ

“Sesungguhnya habbah sauda’ (jintan hitam) adalah obat penyembuh dari segala penyakit kecuali as-sam.” Aku bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian” (HR. Bukhari)

Telah dilakukan penelitian di Balai Penelitian Florida Amerika Serikat pada habbah sauda’ mampu meningkatkan kekuatan organ kekebalan tubuh. Dan bahwa habbah sauda’ memainkan peran penting dalam meningkatkan dan menambah kekuatan organ kekebalan tubuh manusia untuk melindungi dirinya melawan kuman serta bahan-bahan aktif lainnya yang memudharatkan.

Mukjizat Ke-75 : (Tentang Demam)

Beberapa dokter mengatakan, “Di antara sebab yang menurunkan suhu panas tubuh adalah mengguyur kepala dengan air dingin. Dengan cara ini, suhu tubuh akan turun.”

Dan RAsulullah SAW telah menyebutkan hal ini kepada kita dalam hadits berikut, dari Nafi’, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda,

إِنَّمَا الْحُمَّى أَوْشِدَّةٌُ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوْهَا بِالْمَاءِ

“Demam atau parahnya demam adalah berasal dari panas api neraka, maka dinginkan dia dengan air.” (HR. Bukhari Muslim)

Dan Rasulullah SAW apabila dilanda demam, maka beliau meminta satu geriba air, kemudian menyiramkannya pada kepalanya, lalu mandi”

MUKJIZAT TENTANG LALAT

Mukjizat Ke-76 : (Makanan Lalat)

Allah menurunkan ayat ini pada RasulNya, dan Dia menantang manusia untuk mengambil sesuatu yang telah dimakan lalat, maka niscaya mereka tidak akan mampu,

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَّ يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطًَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ. مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنََّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj : 73-74)

Apa yang diturunkan ilmu pengetahuan modern, bahwa ketika lalat mengambil makanan, maka ia menyemburkan zat tertentu dari air liurnya sehingga makanan tadi bercampur dengan cepat dengan makanan tersebut, sehingga tidak mungkin untuk diselamatkan. Karena sebelum makanan masuk ke dalam perutnya makanan tersebut terlebih dahulu berproses secara kimiawi menjadi unsur jenis lain.

Mukjizat Ke-77 : (Penyakit dan Penawar pada Lalat)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ شُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ أَحَدَ جَنَاحَيْهِ دَاءٌُ وَاْلا خَرَ دَوَاءٌُ

“Apabila lalat jatuh pada minuman salah seorang kalian, hendaklah dia mencelupkannya, kemudian mengangkatnya. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, dan pada sayap yang lain terdapat penawar.”

Setelah diadakan percobaan pada sayap lalat, maka ilmu pengetahuan menetapkan bahwa pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawar. Jika lalat jatuh pada minuman lalu dicelupkan, maka ia akan membunuh sebagian besar kuman dan akan tersisa sebagian kecil kuman, di mana tubuh membutuhkannya untuk melawan penyakit seperti pencacaran.

MUKJIZAT TENTANG SUSU

Mukjizat Ke-78 : (Susu: Materi Pokok)

Ilmu pengetahuan modern merekomendasikan bahwa dari sekian jenis makanan, susu adalah satu-satunya yang terbukti mengandung semua materi pokok yang dibutuhkan tubuh manusia. Penemuan ini telah diberitakan Rasulullah SAW dalam hadits ini, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan dari Nabi SAW, beliau bersabda,

وَمَنْ سَقَاهُ اللّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ : اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْ ءٌُ يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَرَابِ إِلاَّ اللَّبَنُ

“Barangsiapa yang diberi minum air susu oleh Allah hendaklah mengucapkan, “Ya Allah, berikanlah kami berkah padanya dan erikan kami tambahan darinya,” Sungguh tidak ada suatu makanan dan minuman yang mencukui (untuk menolak lapar dan haus) selain susu.”

MUKJIZAT TENTANG TUBUH MANUSIA

Mukjizat Ke-79 : (Unsur Manusia)

Para pakar kedokteran berkata, “Melalui analisa ditemukan bahwa tubuh manusia terdiri dari susunan yang sama dengan susunan bumi, yaitu; air, gula, protein, lemak, vitamin, hormon, klorin (Cl), sulfur/belerang (S), Fosforus (P), Magnesium (Mg), kapur/kalsium (Ca), kalium/potasium (K), sodum (Na), besi (Fe), tembaga/kuprum (Cu), yodium. iodin (I), dan materi-materilainnya.

Penemuan ini persis seperti yang Allah beritakan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلََّهَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لاَ يَعْلَمُونَ

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yaasin : 36)

Mukjizat Ke-80 : (Tulang Ajbu Dzanab)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَا بَيِنَ النَّفْخَتُيْنِ أَرْبَعُوْنَ، قَالُوْا: (يَا أَبَا هُرَيْرَةَ) أَرْبَعُوْنَ يَوْمَا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتَ، قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ سَنَةًَ؟ قَالَ: أَبَيْتُ: ثُمَّ يُنْزِلُ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءًَ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ، وَلَيْسَ مِنَ اْلإِنْسَانِ شَيْءٌُ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jarak antara tiupan sangkakala empat puluh.” Mereka bertanya, “Wahai Abu Hurairah, (apakah) empat puluh hari?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Mereka bertanya, “(Apakah) empat puluh bulan?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Mereka bertanya, “(Apakah) empat puluh tahun?” Dia menjawab, “Saya tidak mau (menjawab sesuatu yang tidak saya ketahui).” Kemudian Allah menurukan hujan dari langit, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya sayur mayur. Tidak ada ssuatu pun dari tubuh manusia melainkan pasti hancur, kecuali satu tulang, yaitu ajbu adz adz-dzanab. Dari ajbu dzanab ini manusia disusun kembal pada Hari Kiamat.” (HR, Bukhari Muslim)

Ajbu Dzanab adalah tulang halus yang terletak pada ujung tulang ekor di antara kedua pantat.

النَّفْخَتُيْنِ (dua tiupan) adalah hari ditiupnya sangkakala. Pertama kali ditiup, semua makhluk di langit dan bumi mati. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka manusia pun bertumbuhan. Kemudian ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusan mereka masing-masing)

Beberapa ilmuwan Jepang telah mengukuhkan kemustahilan hancurnya ajbu dzanab, baik dengan pelarutan pada tingkat asam yang paling tinggi secara kimia, atau dengan pembakaran dan penumbukan secara fisika, ataupun dengan terkena sinar yang bermacam-macam.

Apakah Rasulullah SAW pernah melaukan eksperimen terhadap tulang ini untuk memberitahukan kita bahwa ia tidak akan hancur? Ataukah itu adalah wahyu dari Allah?
==============================
MUKJIZAT TENTANG TANDA-TANDA KIAMAT

Mukjizat Ke-81 : (Tanda Kiamat: Jazirah Arab Menjadi Subur)

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Rasululah SAW bersabda;

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُوْدَ جَزَِْرَةُ الْعَرَبِ مُرُوْجًا وَ أَنْهَارًا

“Kiamat tidak akan terjadi sampai jazirah Arab kembali penuh dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR. Muslim)

Banyak ahli geologi zaman ini mengisyaratkan bahwa jazirah Arab dahulu penuh dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai. Dan bahwa sekarang sedang ada peralihan gerak timbunan salju pada kedua kutub utara dan selatan menuju jazirah Arab. Peralihan ini akan menyulap padang pasir menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai, karena ia membawa air dalam jumlah yang sangat banyak yang mampu mencukupi padang-padang pasir itu untuk berubah menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai. Dalam Konferensi Untuk Perlindungan Lingkungan Hidup yang diadakan di Thailand disebutkan bahwa hasil kajian menjelaskan bahwa timbunan salju di bagian utara Amerika Serikat akan mencair sekitar tahun tahun 2030 dan yang demikian itu disebabkan karena timbunan salju sedang beralih menuju Jazirah Arab. Dan tidaklah samar atas seorang pun seorangpun bahwa konferensi-konferensi yang diadakan pada masa ini berkaitan dengan perubahan iklim, sementara para ilmuwan tidak ada yang tahu bahwa iklim akan beralih kecuali setelah beberapa tahun belakangan ini saja?! Tidaklah seorang manusia mengetahui hal ini kecuali, ia adalah Rasul dari sisi Allah.

Mukjizat Ke-82 : (Tanda Kiamat: Gunung-gunung yang Hilang)

Dari Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُمُوُمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَزُوْلَ جِبَالٌُ عَنْ أَمَاكِنِهَاوَتَرَوْنَ اْلأُمُوْرَ الْعِظَامِ الَّتِي لَمْ تَكُوْنُوْا تَرَوْنَهَا

“Kiamat tidak akan terjadi hingga gunung-gunung hilang dari tempatnya, dan kalian melihat perkara-perkara besar yang belum pernah kalian lihat.” (HR. Ath-Thabrani)

Pada zaman ini, banyak sekali gunung-gunung yang digusur dari tempatnya, lalu tempatnya dibangun apartemen-apartemen, baik di Makkah al-Mukarromah ataupun di kota-kota lainnya, serta dijadikan jalan-jalan. Dan kita melihat banyak sekali perkara yang belum pernah kita lihat di zaman Rasulullah SAW.

Mukjizat Ke-83 : (Tanda Kiamat: Fitnah dan Pasar yang Berdekatan)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُمُوُمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ وَالْكَذِبُ وَتَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul fitnah-fitnah dan kedustaan, dan pasar-pasar semakin saling berdekatan.” (HR. Ahmad)

Pada zaman ini, pasar-pasar sudah saling berdekatan, di mana ditemukan dalam satu kampung ada beberapa pasar, sampai-sampai antara pasar yang satu dengan pasar yang lain saling berdampingan. Telah benar Rasulullah SAW, dan beliau adalah orang yang jujur (benar) dan dipercaya (dibenarkan).

Mukjizat Ke-84 : (Tanda Kiamat: Membaca dan Pembunuhan)

Rasulullah SAW bersabda.

يَأْتِي زَمَانٌُ تَكْثُرُ فِيْهِ الْقِرَاءَةُ وَيَقِلُّ فِيْهِ الْفُقَهَاءُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ الْهَرَجُ. قَالُوْ: وَمَا الْهَرَجُ؟ قَالَ: الْقَتْلُ

“Akan datang sebuah zaman, pada waktu itu membaca banyak digemari, orang-orang yang faham agama sedikit, ilmu dicabut, dan al-harj banyak terjadi.” Mereka bertanya, “Apa itu al-harj?’ Beliau bersabda, “Yaitu pembunuhan.” (HR. Ath-Thabrani)

Pada zaman kita sekarang, berdasarkan hadits ini telah terjadi dua mukjizat:

Pertama, banyak membaca. Semua orang alim membaca koran dan buku setiap hari.

Kedua, banyak terjadi pembunuhan. Pada zaman ini telah dirakit senjata-senjata, granat, dan bom yang membinasakan banyak orang.

Mukjizat Ke-85 : (Tanda Kiamat: Bangga Membangun Masjid)

Dari Anas ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهِى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Di antara tanda-tanda kiamat adalah manusia saling berbangga dalam membangun masjid.” (HR. An-Nasa’i)

Telah terjadi pada zaman ini bahwa setiap orang yang membangun masjid menginginkan masjidnya lebih bagus daripada masjid yang lain. Orang yang memperhatikan kondisi dunia islam akan mendapatkan banyak ragam arsitektur masjid.

Mukjizat Ke-86 : (Tanda Kiamat: Perang Terhadap Yahudi)

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam dua kitab Shahih mereka dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلُ الْمُسْلِمِيْنَ الْيَهُوْدُ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِموْنَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang Islam diperangi oleh orang-orang Yahudi, dan orang-orang Islam memerangi mereka.” (HR. Muslim)

Hadits ini menggambarkan realita kita saksikan hari ini. Allah memberikan kekuatan kepada Yahudi untuk melawan setiap muslim, Ini membuktikan apa yang diberitakan Rasulullah SAW, bahwa mereka akan membunuh orang-orang Islam.

Mukjizat Ke-87 : (Tanda Kiamat: Musuh Tak Gentar Terhadap Islam)

Dari Tsauban ra, bahwa Nabi SAW bersabda,

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ اْلأُمَمُ كَمَاتَدَاعَى اْلأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌُ: أَمِنْ قِلَّةٍِ نَحْنُ يَوْمَئِذٍِ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْ مَئِذٍِ كَشِيْرٌ وَلٰكِنَّكُمْ غُشَاءٌُ كَغُشَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللّهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَيَقْذِفَنَّ اللّهُ فِي قُلُوْ بِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌُ: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ اْمَوْتِ

“Akan segera tiba bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya, “Ada yang bertanya, “Apakah dikarenakan kami sedikit pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian tidak ubahnya seperti buih laksana buih banjir. Allah benar-benar akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada-dada musuh kalian dan Allah benar-benar akan melempar al-wahn di hati-hati kalian.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” Beliau bersabda, “Yaitu mencintai dunia dan membenci kematian.” (HR, Abu Dawud)

Hadits ini menggambarkan kondisi orang Islam pada zaman ini, seolah-olah beliau menyaksikan mereka hari ini. Dunia mengerumuni negeri-negeri Islam, dimana minyak dan kebutuhan-kebutuhan dunia ada di tangan orang Islam.

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang Islam berjumlah banyak, dan sekarang jumlah mereka lebih dari satu milyar, akan tetapi musuh-musuh tidak gentar terhadap mereka.

Mukjizat Ke-88 : (Tanda Kiamat: Memelihara Hewan Melebihi Anak Sendiri)

Rasulullah SAW bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌُ لَيُرَبِّيَنَّ جَرْوَ كَلْبِهِ خَيْرٌمِنْ أَنْ يُرَ بِّيَ وَلَدًا مِنْ صُلْبِهِ

“Akan datang suatu masa pada manusia, di mana memelihara anak anjingnya, lebih baik dari memelihara anak kandungnya sendiri.” (HR. AL-Hakim)

Dan ini telah terjadi di negara-negara barat.

Mukjizat Ke-89 : (Tanda Kiamat: Masjid dan Mushaf Hanya Hiasan)

Dalam Shahih al-Jami’ ash Shaghir karya as-Suyuthi, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا زُرِفَتْ مَسَاجِدُكُمْ وَحُلِّيَتْ مَصَا حِفُكُمْ فَالدِّمَارُ عَلَيْكُمْ

“Apabila masjid-masjid kalian diperindah dan mushaf-mushaf kalian dijasikan perhiasan, maka kehancuranlah yang akan menimpa kalian.”

Pada masa ini, masjid-masjid kita sekarang diperindah dengan berbagai perhiasan, berupa; kapur, marmer, keramik, dan lainnya. Mushaf-mushaf diletakkan dalam laci dan tidak dibaca kecuali sedikit.

Mukjizat Ke-90 : (Tanda Kiamat: Berlomba-lomba dalam Kemewahan)

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab ra, bahwa Jibril as datang kepada Rasulullah SAW dalam rupa laki-laki mengenakan pakaian putih bersih, berambut hitam pekat, dan bertanya kepada beliau tentang Islam, iman, dan ihsan, lalu Rasulullah SAW menjawabnya. Kemudian Jibril as bertanya kepada beliau tentang tanda-tanda kiamat. Maka Rasulullah AW menjawab,

أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ رِعَاءَ الشَّاةِ يَتَطَا وَلَوْنَ فِي الْبُنْيَانِ

“Apabila budak melahirkan tuannya, dan kamu melihat orang-prang yang tidak mengenakan sandal, tidak berpakaian, para penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan.” (Hr. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini disebutkan Rasulullah SAW seolah-olah beliau melihat kemajuan bangunan dunia sekarang ini. Semua orang yang dahulunya penggembala unta dan kambing, meninggalkan profesi mereka sebagai penggembala dan tinggal di kota, dan berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Mukjizat Ke-91 : (Tanda Kiamat: Berpakaian Tapi Telanjang)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ لنَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌُ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌُ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجِدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua kelompok ahli neraka yang belum pernah saya lihat: sekelompok kaum yang memiliki cambuk-cambuk seperti ekor unta, mereka mencambuk manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan melenggak-lenggok dan keluar dari ketaatan kepada Allah, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Wanita-wanita ini tidak masuk surga dan tidak pula mendapatkan wangi surga, padahal wangi surga tercium dari jarak demikian dan demikian.”

Tidak samar lagi bagi siapa pun sesuatu yang kita lihat hari ini, berupa wanita-wanita Muslimah yang berpakaian tapi telanjang, yaitu wanita-wanita yang mengenakan pakaian terbuka atau ketat dan tipis, yang menampakkan daerah-daerah fitnah yang banyak ditemukan.

Tampak jelas apa yang mereka perbuat terhadap kepala-kepala mereka sehingga tampak persis seperti punuk unta di atas punggungnya.

Allah SWT dan RasulNya SAW telah mengancam mereka dengan tidak masuk surga serta tidak mencium wanginya.

Mukjizat Ke-92 : (Tanda Kiamat: Riba Merajalela)

Di antara tanda Kiamat sebagaimana yang diberitakan Rasululah SAW, adalah merajalelanya riba ditengah umat Muhammad. Semua manusia zaman ini, yang harta mereka disimpan di bank, pada pasti terkena debu riba. Amat benarlah Rasulullah SAW dalam hadits ini, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ زَمَانٌُ لاَ يَبْقَى فِيْه أَحَدٌ إِلاَّ أَكَلَ الرِّبَا، فَإِنْلَمْ يَأْ كُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

“Akan datang sebuah zaman di mana tidak seorangpun yang hidup pada waktu itu, kecuali dia memakan harta riba. Apabila dia tidak memakannya, dia terkena debunya.” (HR. Abu Dawud)

Mukjizat Ke-93 : (Tanda Kiamat: Muslim Mengikuti Yahudi dan Nasrani)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْحُذَ أُمِّتِيْ بِأَخْذِ الْقُْرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍِ وَذِرَاعًا بِذَرَاعٍِ حَتَّى لَوْ دَخْلُوْا جُحْرَ ضَبِّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ! قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti tradisi umat kurun-kurun sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga walaupun mereka masuk lubang kadal gurunpun, kalian pasti mengikutinya!” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?” Dijawab oleh Rasulullah, “Kalau bukan mereka, lalu siapa?” (HR. Bukhari)

Ini telah tampak pada masa kita sekarang ini. Di banyak negeri Islam, mengikuti dan meniru orang Nasrani dan Yahudi telah menjadi perlombaan dalam hal pakaian, bicara, dan tingkah laku.

Mukjizat Ke-94 : (Tanda Kiamat: Bangsa Romawi)

Dari Amru bin al-Ash, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,

تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَالرُّوْمُ أَكْشَرُ النَّاسِ

“Kiamat akan terjadi, dan pada waktu itu orang-orang Romawi (maksudnya Nasrani dan sekutunya) merupakan mayoritas manusia.” (HR. Muslim)

Sekarang, masa ini telah dekat dengan Kiamat dan bangsa Arab (Maksudnya Umat Islam) hanya seperlima dunia, sementara sisanya yang lain adalah bangsa Romawi. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Muhammad SAW berbicara dengan dasar wahyu dari Allah?!

Mukjizat Ke-95 : (Tanda Kiamat: Kesaksian Palsu)

Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيْمِ الْخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ اْلأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّوْرِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ، وَظُهُوْرَ الْقَلَمِ

“Sesungguhnya tanda dekatnya Kiamat adalah ketundukan pada orang-orang khusus, semaraknya perdagangan, pemutusan silaturrahim, kesaksian palsu, menyembunyikan kesaksian yang haq, dan maraknya pena.” (HR. Ahmad)

Pena semakin marak, ilmu pengetahuan dan buku-buku tersebar luas melalui percetakan-percetakan, alat-alat foto copy, dan yang semisalnya. Bukankah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya?

Mukjizat Ke-96 : (Tanda Kiamat: Menjual Ayat)

Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah bersabda,

مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ إِذَا تَعَلَّمَ عُلَمَاؤُكُمْ لِيَجْلِبُوْا دَنَانِيْرَكُمْ وَدَرَاهِمَكُمْ وَاتَّخَذْتُمْ الْقُرْانَ تِجَارَةُ

“Di antara tanda dekatnya Kiamat, adalah apabila orang-orang alim kalian belajar untuk memperoleh dinar dan dirham kalian dan kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai perdagangan.” (HR. Ad-Duruquthni)

Mayoritas manusia zaman ini belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan materi, dan banyak orang-orang alim menerima gaji pada setiap akhir bulan. Tidakkah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Mukjizat Ke-97 : (Tanda Kiamat: Hubungan yang Tidak Baik)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ سُوْءُ الْجِوَارِ وَقَطِيْعَةُ اْلأَرْحَامِ وَأَنْ يُعَطَّلَ السَّيْفُ مِنَ الْجِهَادِ وَأَنْ تُجِلَبَ الدُّنيَا بِالدِّيْنِ

“Di antara tanda-tanda Kiamat, adalah jahat dalam bertetangga, memutus silaturrahim, ditanggalkannya pedang dari jihad, dan diraihnya dunia dengan agama.” (HR. Ibnu Mardawaih)

Kita telah menyaksikan sesuatu yang telah diberitahukan hadits ini seperti perakitan alat-alat perang selain pedang serta ditinggalkannya pedang, sebagaimana yang diberitakan Nabi SAW. Tidakkkah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak berbicara dengan hawa nafsu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Mukjizat Ke-99 : (Dajjal)

Imam Ahmad berkata, Yunus menceritakan kepada kami, dari Mihjan bin al-Adra’, bahwa Rasulullah SAW berpidato di depan para sahabat,

يَوْمُ الْخَلاَصِ وَمَا يَوْمُالْخَلاَصِ!! ثَلاَثًَا، فَقِيْلَ لَهُ: وَمَا يَوْمُ الْخَلاَصِ؟ قَالَ: يَجِيْءُ الدَّجَّالُ فَيَصْعَدُ جَبَلَ أُحُدٍِ فَيَنْظُرُ الْمَدِيْنَةَ فَيَقُوْلُ لِأَصْحَابِهِ: أَتَرَوْنَ هٰذَا الْقَصْرَ اْلأَبْيَضَ؟! هٰذَا مَسْجِدُ أَحْمَدَ

“Yaum al-khalash, apa itu yaum al-khalash?” (beliau mengulangnya tiga kali). Dikatakan kepada beliau, “Apa itu yaum al-khalash?” Beliau bersabda, “Yaitu hari ketika Dajjal datang, lalu naik ke gunung Uhud seraya mengarahkan pandangannya ke Kota Madinah, lalu ia berjata, “Apakah kalian melihat istana putih ini? ini masjid Ahmad”.”

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menyampaikan berita bajwa kelak ketika Dajjal keluar, masjid beliau seperti istana. Dan semua orang pada masa ini bisa melihat masjid Rasulullah SAW benar seperti istana sebagai hasil dari perluasan fisik masjid, perluasan yang belum pernah disaksikan sejarah yang sama sepertinya, berkat kemurahan Allah, kemudian berkat kemurahan pemerintah Arab Saudi.

Semoga Allah menjadikannya ternasuk dalam khidmat kepada Islam dan Kamu Muslimin.

Mukjizat Ke-100 : (Makkah Pusat Daratan Dunia)

Penemuan ilmiah baru yang disosialisasikan pada bulan Januari 1977 M. berbunyi, “Makkah al-Mukarramah merupakan pusat daerah darat dunia, dan terletak di tengah-tengah dunia.”

Untuk sampai kepada penemuan baru ini memerlukan penelitian ilmiah bertahun-tahun. Ini merupakan hikmah Allah untuk memilih Makkah sebagai tempat Baitullah al-Haram (Ka’bah) dan sebagai kiblat umat Islam.

Allah SWT berfirman,

سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar” (Fushshilat : 53)

Allah SWT juga berfirman,

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَٰفًا كَثِيرًا

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisaa’ : 82)

Dan masih banyak lagi mukjizat dan tanda dari Allah SWT…

—————————————————————

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-‘Imran : 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali-‘Imran : 85)

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan”.” (An-Naml : 93)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).” (An-Nisaa’ :174)

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman.” (Al-Jaatsiyah : 3)

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.” (Yusuf : 105)

وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَأَيَّ آيَاتِ اللَّهِ تُنْكِرُونَ

“Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?” (Al-Mu’min : 81)

Apakah kita masih terus rela menjadi orang-orang yang sekedar ‘memegangi buntut-BUNTUT sapi’ dan puas menjadi ‘BUIH dari air banjir’ yang akan segera sirna dan ditimpakan keHINAan ataukah KEMBALI ke JALAN-Nya berdakwah dan bersiaga ?!!——– ————————- Bukankah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah mengabarkan hal ini. حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بِشْرٍ الْمَرْثَدِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ ، عَنْ مَرْزُوقٍ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحِمْصِيِّ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحْبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ” . Telah diriwayatkan dari Tsauban hamba Nabi saw bahwa beliau bersabda: “Akan datang suatu masa di mana bangsa mengeroyok kalian seperti orang rakus merebutkan makanan di atas meja, ditanyakan (kepada rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam) apakah karena di saat itu jumlah kita sedikit? Jawab rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak bahkan kamu saat itu mayoritas tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air banjir, hanya mengikuti kemana air banjir mengalir (artinya kamu hanya ikut-ikutan pendapat kebanyakan orang seakan-akan kamu tidak punya pedoman hidup) sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu, dan mencampakkan di dalam hatimu ‘al-wahn’ ditanyakan (kepada Rasulullah) apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Jawabnya: wahn adalah cinta dunia dan benci mati.” (Hadits Mursal diriwayatkan Ibn Hajar Al Asqalani dalam Tahzib al Tahzib Juz 8 hal 75). ————————- Didalam hadits lain yang terkait pula: Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia menjelaskan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ. “Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi, kalian ridha akan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, (yang) tidak akan hilang kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 423)]. ———————— Definisi Khilafah —– Khilafah atau Imamah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin diseluruh dunia. Khilafah menerapkan syariat islam di wilayahnya dan menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah adalah sebuah nama negara sekaligus nama sistem pemerintahan. Sistem khilafah berbeda dengan seluruh sistem buatan manusia seperti teokrasi, kerajaan, demokrasi, republik, dll. ————————— Khilafah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: imamah, daulah islam dan darul islam. Imamah berarti kepemimpinan, daulah islam berarti negara islam (islamic state), dan darul islam berarti daerah islam. Ketiga kata tersebut pada hakikatnya memiliki makna yang sama, namun untuk menghilangkan perbedaan maksud maka kita sebut saja khilafah. Sebab imamah juga digunakan oleh agama syiah imamiyyah yang menganggap bahwa imam mereka ma’sum atau suci, daulah islam juga kadang digunakan untuk negara regional (tidak seperti khilafah yang merupakan negara internasional), dan darul islam yang sering digunakan untuk menyebut negri-negri kaum muslimin yang sekarang padahal didalamnya tidak diterapkan syariat islam kaffah. ——————————– Khalifah adalah kepala negara khilafah. Pengangkatannya dengan metode baiat, meskipun boleh saja didahului oleh pemilihan dan musyawarah, namun yang menjadikan khalifah itu sah atau tidak adalah dia dibaiat atau tidak. Khalifah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: Imam, Amirul Mukminin, Ulil Amri, dan Sultan. Khalifah bertanggungjawab penuh atas pengurusan urusan umat (baik muslim maupun ahlu dzimmah yaitu kafir yang tunduk dibawah naungan negara islam) dengan syariat islam. Khalifah berhak mengadobsi salah satu ijtihad dalam sebuah persoalan jika terjadi perbedaan dalam menerapkan syariat islam. ——————— Khilafah, wajibkah? ———————– Umat islam wajib hidup dalam naungan khilafah islam. Sepanjang sejarah, umat islam tidak pernah hidup tanpa khilafah kecuali paska diruntuhkannya khilafah islamiyyah utsmaniyyah tahun 1924. Khilafah bahkan merupakan mahkotanya kewajiban, sebab banyak kewajiban yang tidak bisa terlaksana sempurna kecuali dengan khilafah. Diantaranya hukum hudud (hukum pidana islam), jizyah (pajak untuk ahlu dzimmah), penarikan zakat, jihad offensif (jihad untuk membuka penghalang dakwah dan memperluas wilayah khilafah), dan persatuan umat islam. Tanpa khilafah tidak ada perlindungan darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin, hal ini terbukti dengan banyaknya pembunuhan atas umat islam sejak runtuhnya khilafah seperti pembantaian di Palestina, Bosnia, Afghanistan, Irak, Rohingya, Xinjiang, Poso, Somalia, Mali, Kashmir, Pakistan, Suriah, dan sebagainya. —————————- Allah SWT berfirman: فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ “Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah: 48) ——————- وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al-Maidah: 49) ——————————— Memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah jelas merupakan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari syahadat. Ayat diatas melarang kaum muslimin membuat aturan-aturan yang dibuat tidak berlandaskan syara’ atau menyelisihi syara’. Misalnya dalam pencurian, membuat aturan bahwa ”barangsiapa yang mencuri maka akan dipenjara” ini sangat bertentangan dengan syara’, sebab Allah telah memutuskan untuk melakukan hukum potong tangan bagi pencuri (lihat QS. Alma’idah: 38). ————————— Rasulullah SAW bersabda: “Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”(HR Muslim) ———————— Hadits diatas menunjukkan betapa pentingnya kewajiban menegakkan khilafah, bahkan perkara ini disebut sebagai perkara hidup atau mati. Matinya seorang muslim adalah suatu perkara yang amat besar dihadapan Allah, namun lebih besar lagi jika sampai umat islam hidup dengan dua kepala negara. ———————– Mengomentari hadits diatas, Ibn Hazm rahimahullah menuturkan, “kaum Muslim di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam/khalifah, baik keduanya saling sepakat ataupun berselisih, di dua tempat berbeda atau di tempat yang sama” (Ibn Hazm, al-Muhalla, IX/360, Idârah at-Thabâ’ah al-Munîriyyah, Kairo. 1938 M). ——————- Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh diakadkan baiat kepada dua orang khalifah pada satu masa, baik wilayah Negara Islam itu luas ataupun tidak” (Imam an-Nawawi, Syarh an-Nawâwî ‘alâ Shahîh Muslim, XII/232). ————————– Kewajiban mengangkat satu orang khalifah untuk seluruh kaum muslimin juga ditunjukkan oleh perbuatan sahabat Nabi yang merupakan ijma’ sahabat ketika Nabi Muhammad SAW wafat, maka sahabat bersegera mungkin mengangkat pemimpin penggantinya (khalifaturrasul), bahkan sampai para sahabat tidak mengurusi jasad Rasulullah SAW sebelum terangkat khalifah. —————————–

islam dan khilafah

Apakah kita masih terus rela menjadi orang-orang yang sekedar ‘memegangi buntut-BUNTUT sapi’ dan puas menjadi ‘BUIH dari air banjir’ yang akan segera sirna dan ditimpakan keHINAan ataukah KEMBALI ke JALAN-Nya berdakwah dan bersiaga ——–

Khilafah, wajibkah?

————————-
Bukankah sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah mengabarkan hal ini.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بِشْرٍ الْمَرْثَدِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ ، عَنْ مَرْزُوقٍ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحِمْصِيِّ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحْبِيِّ ، عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ” .

Telah diriwayatkan dari Tsauban hamba Nabi saw bahwa beliau bersabda:

“Akan datang suatu masa di mana bangsa mengeroyok kalian seperti orang rakus merebutkan makanan di atas meja, ditanyakan (kepada rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam) apakah karena di saat itu jumlah kita sedikit? Jawab rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak bahkan kamu saat itu mayoritas tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air banjir, hanya mengikuti kemana air banjir mengalir (artinya kamu hanya ikut-ikutan pendapat kebanyakan orang seakan-akan kamu tidak punya pedoman hidup) sungguh Allah telah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kamu, dan mencampakkan di dalam hatimu ‘al-wahn’ ditanyakan (kepada Rasulullah) apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Jawabnya: wahn adalah cinta dunia dan benci mati.” (Hadits Mursal diriwayatkan Ibn Hajar Al Asqalani dalam Tahzib al Tahzib Juz 8 hal 75).
————————-

Didalam hadits lain yang terkait pula:

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia menjelaskan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا

إِلَى دِيْنِكُمْ.

 “Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi, kalian ridha akan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan pada kalian, (yang) tidak akan hilang kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.” [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 423)].

Kedua hadits yang saling terkait ini mengingatkan akan pentingnya Tarbiyah Jihadiyah bagi kaum Muslimin. Di akhir zaman ini, umat Islam memang memiliki jumlah yang tidak sedikit, akan tetapi karena pemahaman mereka terhadap diin (agama) sangat minim dan segala kesenangan dunia seperti harta, anak-anak, jabatan dan wanita telah mereka nikmati, mereka jadi lupa dengan kematian dan bahkan membencinya. Hal ini menyebabkan lemahnya diri mereka dalam bersiaga mempersiapkan diri dari yang tidak terduga.

Hadits kedua juga menjelaskan bahwa kesibukan umat Islam bekerja dan kecintaan mereka hidup sebagai pekerja saja sementara melalaikan semangat juang mendakwahkan agama dan bersiaga juga mendatangkan kehinaan yang ditimpakan Allah Subhanahu Wata’ala agar mereka kembali kepada jalan yang benar mendakwahkan kembali ajaran Islam dan membelanya.

Kedua hadits ini juga secara implisit mengingatkan umat Islam bahwa jati diri umat Islam yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya telah menimbulkan kebencian di antara orang-orang yang tidak beriman, sehingga mereka akan selalu melancarkan makar-makar mereka guna memadamkan cahaya Allah di muka bumi, yakni dengan menghancurkan eksistensi umat Islam dimanapun mereka berada.

Sejarah yang dialami oleh kaum Muslimin di Balkan dan yang sedang dialami oleh umat Islam Rohingya ataupun kejadian-kejadian lainnya di Palestina dan sebagainya membuktikan dengan jelas nubuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang keadaan kaum Muslimin saat ini, di zaman kontemporer ini.

Tinggallah kita merenungi apakah kita masih terus rela menjadi orang-orang yang sekedar ‘memegangi buntut-buntut sapi’ dan puas menjadi ‘buih dari air banjir’ yang akan segera sirna dan ditimpakan kehinaan ataukah kembali ke jalan-Nya berdakwah dan bersiaga
=============================

Definisi Khilafah —–

Khilafah atau Imamah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin diseluruh dunia. Khilafah menerapkan syariat islam di wilayahnya dan menyebarkan islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.  Khilafah adalah sebuah nama negara sekaligus nama sistem pemerintahan. Sistem khilafah berbeda dengan seluruh sistem buatan manusia seperti teokrasi, kerajaan, demokrasi, republik, dll.
 —————————
Khilafah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: imamah, daulah islam dan darul islam. Imamah berarti kepemimpinan, daulah islam berarti negara islam (islamic state), dan darul islam berarti daerah islam. Ketiga kata tersebut pada hakikatnya memiliki makna yang sama, namun untuk menghilangkan perbedaan maksud maka kita sebut saja khilafah. Sebab imamah juga digunakan oleh agama syiah imamiyyah yang menganggap bahwa imam mereka ma’sum atau suci, daulah islam juga kadang digunakan untuk negara regional (tidak seperti khilafah yang merupakan negara internasional), dan darul islam yang sering digunakan untuk menyebut negri-negri kaum muslimin yang sekarang padahal didalamnya tidak diterapkan syariat islam kaffah.
 ——————————–
Khalifah adalah kepala negara khilafah. Pengangkatannya dengan metode baiat, meskipun boleh saja didahului oleh pemilihan dan musyawarah, namun yang menjadikan khalifah itu sah atau tidak adalah dia dibaiat atau tidak. Khalifah memiliki beberapa sinonim, diantaranya: Imam, Amirul Mukminin, Ulil Amri, dan Sultan. Khalifah bertanggungjawab penuh atas pengurusan urusan umat (baik muslim maupun ahlu dzimmah yaitu kafir yang tunduk dibawah naungan negara islam) dengan syariat islam. Khalifah berhak mengadobsi salah satu ijtihad dalam sebuah persoalan jika terjadi perbedaan dalam menerapkan syariat islam.
———————

Khilafah, wajibkah?
———————–

Umat islam wajib hidup dalam naungan khilafah islam. Sepanjang sejarah, umat islam tidak pernah hidup tanpa khilafah kecuali paska diruntuhkannya khilafah islamiyyah utsmaniyyah tahun 1924. Khilafah bahkan merupakan mahkotanya kewajiban, sebab banyak kewajiban yang tidak bisa terlaksana sempurna kecuali dengan khilafah. Diantaranya hukum hudud (hukum pidana islam), jizyah (pajak untuk ahlu dzimmah), penarikan zakat, jihad offensif (jihad untuk membuka penghalang dakwah dan memperluas wilayah khilafah), dan persatuan umat islam. Tanpa khilafah tidak ada perlindungan darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin, hal ini terbukti dengan banyaknya pembunuhan atas umat islam sejak runtuhnya khilafah seperti pembantaian di Palestina, Bosnia, Afghanistan, Irak, Rohingya, Xinjiang, Poso, Somalia, Mali, Kashmir, Pakistan, Suriah, dan sebagainya.
—————————-
Allah SWT berfirman:
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
“Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. al-Maidah: 48)
——————-
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al-Maidah: 49)
———————————
Memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah jelas merupakan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari syahadat. Ayat diatas melarang kaum muslimin membuat aturan-aturan yang dibuat tidak berlandaskan syara’ atau menyelisihi syara’. Misalnya dalam pencurian, membuat aturan bahwa ”barangsiapa yang mencuri maka akan dipenjara” ini sangat bertentangan dengan syara’, sebab Allah telah memutuskan untuk melakukan hukum potong tangan bagi pencuri (lihat QS. Alma’idah: 38).
—————————
Rasulullah SAW bersabda: “Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”(HR Muslim)
————————
Hadits diatas menunjukkan betapa pentingnya kewajiban menegakkan khilafah, bahkan perkara ini disebut sebagai perkara hidup atau mati. Matinya seorang muslim adalah suatu perkara yang amat besar dihadapan Allah, namun lebih besar lagi jika sampai umat islam hidup dengan dua kepala negara.
———————–
Mengomentari hadits diatas, Ibn Hazm rahimahullah menuturkan, “kaum Muslim di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam/khalifah, baik keduanya saling sepakat ataupun berselisih, di dua tempat berbeda atau di tempat yang sama” (Ibn Hazm, al-Muhalla, IX/360, Idârah at-Thabâ’ah al-Munîriyyah, Kairo. 1938 M).
——————-
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh diakadkan baiat kepada dua orang khalifah pada satu masa, baik wilayah Negara Islam itu luas ataupun tidak” (Imam an-Nawawi, Syarh an-Nawâwî ‘alâ Shahîh Muslim, XII/232).
 ————————–
Kewajiban mengangkat satu orang khalifah untuk seluruh kaum muslimin juga ditunjukkan oleh perbuatan sahabat Nabi yang merupakan ijma’ sahabat ketika Nabi Muhammad SAW wafat, maka sahabat bersegera mungkin mengangkat pemimpin penggantinya (khalifaturrasul), bahkan sampai para sahabat tidak mengurusi jasad Rasulullah SAW sebelum terangkat khalifah.
 —————————–
Padahal mengurus jenazah adalah fardlu kifayah yang sangat diperintahkan untuk disegerakan pelaksanaannya, dan dalam hal ini bukan jasad sembarangan orang, namun jasad Rasulullah SAW, namun ternyata mengangkat khalifah lebih penting dan lebih disegerakan. Ini menunjukkan bahwa mengangkat satu khalifah untuk seluruh umat islam adalah kewajiban yang sangat mendesak.
Kewajiban mengangkat satu khalifah untuk seluruh kaum muslimin (khilafah) adalah kewajiban yang tidak ada perselisihan tentangnya oleh para Ulama salafus shalih. Imam Al-Mawardi rahimahullah dalam kitabnya Ahkam Assulthaniyyah berkata, “Imamah diletakkan (diposisikan) untuk mengganti nabi dalam menjaga agama dan mengurus dunia, dan mengangkat orang yang melakukannya (menjaga agama dan mengurus dunia) ditengah-tengah umat merupakan kewajiban berdasarkan ijma’”

Syarat sah khilafah

Sebagaimana ibadah ataupun muamalah lainnya, penegakan khilafah juga memiliki syarat. Meskipun hal ini dalam tataran bernegara tetap saja hal ini tidak bisa lepas dari islam. Sebagian kaum muslimin hari ini berpandangan bahwa jika dalam hal ibadah maka dia memakai islam, namun dalam hal bernegara maka dia memakai hukum positif hasil buatan manusia. Inilah yang dinamakan sekulerisme atau pemisahan agama dengan kehidupan yang terwujud dalam pemisahan agama dan negara.
Paham ini sangat berbahaya, karena telah menghilangkan sebagian ajaran islam. Ketika islam dihilangkan dalam bernegara, berarti telah hilang hukum hudud seperti potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, cambuk pada peminum minuman keras, hukuman mati bagi pembunuh dan orang murtad, dan masih banyak lagi. Kewajiban penarikan zakat akan berubah menjadi kewajiban penarikan pajak, wanita akan bebas keluar rumah tanpa menjaga kehormatan dengan mengumbar aurat, dan kriminalitas pasti terus merajalela dan akhlak atau moralitas umat akan semakin hancur. Hal ini telah terbukti baik di negri kita sendiri (indonesia), maupun di negri-negri muslim lainnya.
Sebagian orang yang mengetahui kewajiban pengangkatan khalifah tapi tidak memahami syarat-syaratnya, menyebebakan pengangkatan khalifah tidak sah secara syar’i. Ketika muncul khalifah yang tidak syar’i maka mendorong kelompok lainnya mengangkat khalifah yang tidak syar’i pula, sehingga seakan khalifah sudah ada namun tidak ada nilainya dihadapan syar’i. Sah atau tidaknya khilafah sebenarnya sangat mudah dikenali, yaitu: adanya wilayah, adanya pemimpin yang sah dan dibaiat, hukum menggunakan syariat islam totalitas, dan tidak dibawah aliansi lain (seperti PBB, Liga Arab, dll) alias harus independen. Jika memenuhi syarat tersebut maka khilafah telah sah berdiri.
Al-’Allamah Syaikh ‘Abd al-Qadim Zallum dalam Kitab Nizham Hukmi fil Islam menyatakan tentang wilayah yang berhasil menegakkan Khilafah harus memenuhi 4 syarat:
Pertama, kekuasaan wilayah tersebut bersifat independen, hanya bersandar kepada kaum Muslim, bukan kepada negara Kafir, atau di bawah cengkraman kaum Kafir.
Kedua, keamanan kaum Muslim di wilayah itu di tangan Islam, bukan keamanan Kufur, dimana perlindungan terhadap ancaman dari dalam maupun luar, merupakan perlindungan Islam bersumber dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam murni.
Ketiga, memulai seketika dengan menerapkan Islam secara total, revolusioner dan menyeluruh, serta siap mengemban dakwah Islam.
Keempat, Khalifah yang dibai’at harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah (Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu), sekalipun belum memenuhi syarat keutamaan. Sebab, yang menjadi patokan adalah syarat in’iqad (pengangkatan).
Syarat pertama menjelaskan tentang wilayah yang harus bersifat independen yaitu harus ditangan kaum muslimin. Di wilayah yang hendak didirikan daulah islam atau khilafah tersebut meski ada beberapa pihak yang tidak setuju, tapi mereka tidaklah punya kuasa untuk menolak kekuasaan islam.
Sebagaimana di Madinah ketika Nabi SAW menegakkan daulah islam, maka disana islam berkuasa, meskipun ada orang-orang munafik dan Yahudi yang menyimpan kebencian dihati mereka dan sewaktu-waktu bisa melakukan makar, namun mereka bungkam karena islam telah berkuasa penuh. Seberapa luas wilayah tersebut, tidaklah pernah syara’ menyebutkannya, baik kecil maupun luas, selama islam mendominasi disitu maka bisa menjadi daulah islam. Wilayah khilafah tidak seperti wilayah negara pada umumnya zaman ini yang statis. Wilayah khilafah sangat dinamis, Khilafah wajib terus memperluas wilayahnya dengan dakwah dan jihad ke seluruh dunia dan bisa saja wilayahnya berkurang jika kalah dalam pertempuran.
Syarat kedua menjelaskan tentang keamanan di wilayah tersebut. Keamanan yang dimaksud bukanlah wilayah tersebut harus aman 100%, karena hal itu mustahil. Namun yang dimaksud adalah penjagaan diwilayah tersebut haruslah ditangan umat islam. Misalnya polisi dan militer di wilayah itu (wilayah khilafah) adalah polisi/militer islam bukan polisi/militer negara lain atau gabungan dari negara lain (misal PBB). Daulah islam atau khilafah juga tidak boleh tunduk dibawah negara atau persyerikatan lainnya, khilafah harus independen  dalam memutuskan keputusan-keputusannya tanpa dipengaruhi/ditekan pihak diluar wilayahnya. Hal ini penting karena tanpa hal ini penerapan syariah kaffah tidak akan bisa terwujud disebabkan pemerintahan islam tidak punya kuasa melakukan pengurusan urusan umat.
Syarat ketiga menjelaskan bahwa negara khilafah harus menerapkan syariat islam saja tanpa mencampur dengan hukum-hukum buatan manusia yang menyelisihinya, semisal demokrasi, kapitalisme dan komunisme. Pemberlakukan syariat ini bisa dilihat dari mahkamah-mahkamah yang memutuskan perkara di pengadilan menggunakan fiqh islam.
Tidak perlu khilafah langsung menerbitkan undang-undang tertulis, karena menerbitkan undang-undang tertulis adalah pilihan bagi khalifah, sedangkan yang wajib adalah penerapan syariat islam secara kaffah. Khalifah wajib menunjuk orang-orang yang faqqih (paham hukum islam) untuk menjadi Qadhi (di Indonesia dikenal dengan hakim) dan menunjuk polisi hisbah (polisi yang ditugaskan terjun langsung ke masyarakat dan menindak jika terjadi pelanggaran) untuk menjamin penerapan syariat di lapangan.
Penerapan syariat islam wajib menyeluruh, dan tidak bertahap. Hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa ketika wahyu turun maka langsung diterapkan tanpa menunda-nunda lagi. Meskipun Nabi Muhammad SAW tidak menulis undang-undang secara tertulis, namun beliau mengangkat para Qadhi untuk memutuskan perkara. Sebab hakikatnya hukum Allah sudah tertulis semua di dalam Al-Qur’an dan Assunnah, para Qadhi tinggal berijtihad dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman sebagai Qadhi, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab “Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah”. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab “Dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab “Aku akan berijtihad dengan pendapatku”. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi 1249)
Syarat keempat menjelaskan bahwa khalifah yang ditunjuk haruslah memenuhi syarat sebagai khalifah. Syarat khalifah yaitu: Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu. Muslim artinya haram menjadi khalifah orang kafir atau musyrik, dia haruslah seorang muslim yang bersih dari beribadah kepada selain Allah, tidak mungkin mengangkat untuk memimpin kaum muslimin sementara pemimpin itu kafir atau musyrik.
Laki-laki artinya haram menjadi khalifah seorang perempuan, hal ini karena Rasulullah SAW melarang umat islam dipimpin oleh perempuan dalam hal politik/kekuasaan.  Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan beruntung suatu kaum manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan) nya kepada seorang wanita.” (HR. Bukhari, Kitabul Maghazi bab Kitabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ila Kisra wa Qaishar no. 4425)
Baligh artinya dia haruslah seorang yang sudah mempertanggungjawabkan dirinya sendiri dihadapan syariat islam, tidak mungkin seorang anak kecil yang tidak bisa mempertanggungjawabkan dirinya dihadapan Allah memegang tanggungjawab sebagai khalifah. Berakal artinya bisa menelaah fakta dengan baik, karena seorang khalifah harus bisa memutuskan perkara-perkara dalam keadaan apapun. Khalifah juga dituntut untuk memiliki strategi dalam menjalankan pemerintahannya serta dakwahnya didalam dan diluar negri, mustahil tanggungjawab seperti ini dipegang oleh orang yang tidak berakal atau kurang berakal.
Merdeka adalah lawan dari budak atau hamba sahaya. Merdeka artinya seorang khalifah tidak boleh memiliki atasan. Khalifah adalah pemimpin dan bukan orang yang dipimpin. Khalifah tidak boleh seperti presiden-presiden saat ini yang tunduk dibawah negara kafir penjajah seperti Amerika serikat, Inggris, Prancis, dan negara lainnya. Khalifah tidak boleh tunduk kepada hukum internasional atau perserikatan seperti PBB, Liga Arab, ASEAN, dan perserikatan lainnya yang menjadi alat negara kafir penjajah untuk mempertahankan eksistensinya. Bahkan khalifah haram tunduk terhadap pemimpin kelompoknya walaupun dulunya ia berasal dari kelompok itu. Khalifah bukanlah seperti presiden dalam demokrasi yang tetap terikat dengan partainya saat sudah berkuasa alias masih menjadi petugas partai. Meski khalifah berhak bermusyawarah dalam mengambil keputusan, namun tetaplah keputusan khalifah yang dilaksanakan.
Adil artinya meletakkan urusan pada tempatnya. Adil adalah lawan dari zalim. Sementara syara’ mendefinisikan adil adalah menjalankan sesuatu sesuai dengan hukum syara’. Adil bukanlah sama rata dan sama rasa, seperti dugaan sebagian orang. Seorang disebut adil jika melaksanakan hukum syara’, namun seorang tidak dianggap adil jika tidak melakukan sesuatu sesuai hukum syara’, dan dia disebut zalim. Misalnya seorang yang membagi warisan antara laki-laki dan perempuan, laki-laki menurut syara’ mendapatkan jumlah dua kali lipat dari warisan terhadap perempuan. Maka pembagian sesuai hukum syara’ ini adalah adil, dan jika ada yang membagi warisan laki-laki dan perempuan sama ukurannya maka dia telah berbuat zalim. Maka seorang khalifah wajib mengatur urusan rakyat dengan hukum syara’, khalifah akan dikatakan adil jika melaksanakan hukum syara’ dan dikatakan zalim jika mengatur urusan rakyat tidak dengan hukum syara’.
Mampu artinya seorang khalifah harus sanggup mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai seorang khalifah. Mampu juga menjadi batasan jabatan seorang khalifah, jika telah dibaiat seorang khalifah maka khalifah itu tetaplah khalifah sampai kapan pun, selama khalifah tersebut masih mampu memimpin negara khilafah. Hal ini karena akad pengangkatan khalifah adalah akad mutlak untuk mendengar dan taat, dan tidak pernah dibatasi sampai kapan jabatan tersebut. Khalifah wajib mengundurkan diri jika dirasa dirinya telah kehilangan kemampuan memimpin, misalnya karena faktor usia dan kesehatan.
Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu adalah syarat in’iqad atau syarat keabsahan bagi seorang khalifah yang diakui oleh seluruh madzhab islam. Selain syarat wajib, seorang khalifah juga dianjurkan memiliki syarat afdhaliyyat atau syarat keutamaan. Syarat keutamaan diantaranya adalah mujtahid dan Quraisy.

Quraisy, Syarat Afdhaliyat (keutamaan) atau syarat In’iqad (keabsahan)?

Mengenai syarat Quraisy, memang terjadi perbedaan pendapat apakah dia termasuk syarat keabsahan atau hanya syarat keutamaan. Jumhur ulama berpendapat bahwa Quraisy adalah syarat keabsahan, dikarenakan banyaknya hadits yang memerintahkan umat islam agar mengangkat pemimpin dari suku Quraisy. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya urusan (khilafah) ini ada di tangan Quraisy. Tidak seorang pun yang memusuhi mereka melainkan Allah akan membuatnya terjungkal/tersungkur ke tanah, selama mereka menegakkan agama (Islam).” (HR. Bukhari, juz 6, hal. 389)
“Urusan (khilafah) ini senantiasa berada di tangan Quraisy selama masih tersisa dari mereka dua orang.” (HR. Bukhari, juz 6, hal. 389).
“Urusan (khilafah) ini senantiasa berada di tangan Quraisy selama masih tersisa dua orang di antara manusia.” (HR. Muslim, juz 12, hal. 201)
Imam Al-Mawardhi, seorang Ulama yang telah menulis kitab Ahkam Assulthaniyyah juga mengungkapkan bahwa Syarat seorang diangkat sebagai khalifah adalah berasal dari suku Quraisy. “Tidak ada khalifah dari selain Quraisy.” (Al-Farrâ’, Al-Ahkam As-Sulthâniyah, hlm. 20)
Namun golongan yang menganggap bahwa Quraisy adalah syarat afdhaliyyat beralasan:
Pertama: Memang ada sejumlah hadis yang diriwayatkan dan sanadnya sahih dari Rasulullah saw., seperti hadis Anas, “Para imam adalah dari Quraisy.” (HR Ahmad); hadis Muawiyah, “Sesungguhnya urusan (Khilafah) ini ada di tangan orang Quraisy. Tidak seorang pun yang memusuhi mereka melainkan Allah akan membuatnya terjungkal ke tanah selama mereka menegakkan agama (Islam).” (HR al-Bukhari); dan hadis-hadis lain yang serupa dengannya. Namun, hadis-hadis itu tidak menunjukkan bahwa selain orang Quraisy tidak boleh menduduki jabatan Khilafah. Hadis itu hanya menunjukkan bahwa orang Quraisy punya hak dalam hal itu, dari sisi bahwa orang Quraisy diprioritaskan karena keutamaannya.
Apalagi hadis-hadis itu datang dalam bentuk berita (khabar), dan tidak satu pun yang datang dalam bentuk perintah (amar). Bentuk berita, sekalipun memberi pengertian tuntutan (thalab), tidak dianggap sebagai tuntutan yang harus (thalab[an] jâzim[an]) selama tidak ada indikasi (qarînah) yang menunjukkan sebagai penguat (ta’kîd). Di sini jelas tidak ada yang menunjukkan atas hal itu sehingga ini menunjukkan sunnah saja, bukan wajib. Dengan demikian, syarat nasab Quraisy adalah syarat afdhaliyyah, bukan syarat in’iqâd (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 304).
Kedua: sesungguhnya kata Quraisy adalah isim (kata benda), bukan sifat, yang dalam istilah ilmu ushûl disebut dengan laqab (panggilan). Mafhûm isim atau mafhûm laqab tidak diamalkan (dipakai) secara mutlak. Sebab, isim atau laqab tidak mempunyai mafhûm (konotasi). Oleh karena itu, ketentuan (nash) Quraisy bukan berarti tidak boleh bagi selain Quraisy. Tidak berarti bahwa urusan ini, yakni pemerintahan dan Khilafah, tidak dibenarkan berada di tangan orang selain Quraisy. Frasa selalu di tangan mereka tidak berarti bahwa tidak boleh berada di tangan selain mereka. Akan tetapi, itu boleh bagi mereka dan juga selain mereka. Karena itu, ketentuan (nash) bagi mereka itu tidak menghalangi selain mereka menduduki jabatan Khilafah. Dengan demikian, syarat nasab Quraisy adalah syarat afdhaliyyah, bukan syarat in’iqâd (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, II/34).
Ketiga: kalau syarat nasab (keturunan) Quraisy menjadi syarat in’iqâd, mengapa Rasulullah saw. bersabda: “…selama mereka menegakkan agama (Islam).” Sebab, mafhûm mukhâlafah dari hadis Muawiyah “…selama mereka menegakkan agama (Islam)” berarti bahwa jika mereka tidak menegakkan agama (Islam), maka urusan (pemerintahan) tersebut keluar dari mereka. Lalu apabila urusan pemerintahan lepas dari tangan mereka, bolehkah kaum Muslim hidup tanpa Imam yang menyebabkan terbengkalainya hukum dan terhentinya jihad?
Padahal hukum syariah telah menetapkan bahwa mengangkat imam (khalifah) itu wajib bagi kaum Muslim. Kaum Muslim juga wajib memecat penguasa jika ia menampakkan kekufuran yang nyata, baik penguasa itu seorang Quraiys atau bukan. Karena itu tidak terbayangkan dari hadis ini dan hadis lainnya, selain bahwa syarat nasab Quraisy hanyalah syarat afdhaliyah, dan sama sekali bukan syarat in’iqâd (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 306).
Keempat: Imam Ahmad mengeluarkan hadis dari Umar bin al-Khaththab ra. dengan sanad rijal-nya tsiqah (terpercaya) bahwa ia berkata, “Jika telah sampai ajalku dan Abu Ubadah masih hidup, maka aku akan menyerahkan Kekhilafahan kepada dirinya.”
Dalam hadits itu Umar ra. juga berkata, “Jika telah sampai ajalku dan Abu Ubadah telah mati, maka aku akan memberikan Kekhilafahan kepada Mu’adz bin Jabal.”
Padahal, Muadz bin Jabal tidak bernasab Quraisy. Umar bin al-Khaththab ra. mengucapkan hal itu dengan dihadiri oleh para Sahabat. Namun, tidak ada satu riwawat pun yang menyebutkan bahwa mereka berbeda pendapat dengan Umar tentang pendapatnya itu, dengan ber-hujjah mengenai kewajiban Khilafah di tangan Quraisy. Oleh karena apa yang dipahami oleh Umar itu tidak ditentang oleh seorang pun dari para Sahabat, hal itu menunjukkan bahwa syarat nasab Quraisy bukanlah syarat in’iqâd (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 306).

Perbedaan pendapat mengenai hal ini adalah dalam ranah cabang (furu’iyyah), namun mereka semua sepakat bahwa mengangkat satu khalifah bagi seluruh umat islam adalah wajib. Kedua pendapat tersebut adalah pendapat yang islami. Namun yang jelas Quraisy lebih diutamakan dalam memimpin umat islam dibanding dengan suku lainnya.

berbagai sumber
wallahua’lam