ALI BIN ABI THOLIB “Karramallahu Wajhahu” ….. PEMBERANI dan CERDAS ………………………….ALI Bin ABi TAHLIB = BUKAN SYIAH ——————————– hanya orang MUSYRIK dan MUNAFIK saja …. yg mengatakan Ali adalah SYIAH …………………………………………… SYI’AH SESAT —————————————– Dari Ibnu Abbas ujarnya, saya pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaan dengan Ali. Saat itu Nabi bersabda kepada Ali: Wahai Ali, nanti akan muncul di tengah umatku suatu kaum yang berlebihan dalam mencintai kita ahlul bait, mereka dikenal dengan nama Syi’ah Rafidhah. Karena itu bunuhlah mereka sebab mereka adalah kaum musyrik. HR Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir no. 12998 ————————————— Syi’ah sebuah kelompok agama yang memiliki prinsip-prinsip ajaran: ————————————– Al-Qur’an sudah berubah dari aslinya, baik karena adanya tambahan atau pengurangan pada saat dikumpulkan oleh para sahabat di masa khalifah Abu Bakar. Hal ini dinyatakan oleh ulama Syi’ah bernama At-Tabrizi dalam bukunya Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. ———————————– Mereka melebihkan imam-imam Syi’ah di atas seluruh para Nabi seperti yang ditulis oleh Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kafi dan tokoh Syi’ah modern Khomaini. —————————— Sangat penuh rasa benci pada tokoh-tokoh utama sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafsah radhiyallahu ‘anhum. Mereka menganggap para tokoh sahabat yang menjadi kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai penjahat ulung terhadap ajaran Rasulullah. …… Berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu yang belum terjadi, tetapi para imam Syi’ah mengetahui segala sesuatu di masa lalu, masa kini dan akan datang. ………………. Dengan adanya doktrin-doktrin keagamaan semacam ini, patutkah Syi’ah dikategorikan sebagai salah satu komunitas muslim sebagaimana halnya komunitas ahlussunah wal jama’ah. ???? ——————————– Syi’ah yang memiliki doktrin sebagaimana yang disebut di atas, telah dinubuwatkan oleh Rasulullah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir no. 12998 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قال : كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَعِنْدَهُ عَلِيٌّ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « يَا عَلِيُّ ، سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ قَوْمٌ يَنْتَحِلُوْنَ حُبَّنَا أَهْلَ الْبَيْتِ لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُوْنِ ». Dari Ibnu Abbas ujarnya, saya pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaan dengan Ali. Saat itu Nabi bersabda kepada Ali: Wahai Ali, nanti akan muncul di tengah umatku suatu kaum yang berlebihan dalam mencintai kita ahlul bait, mereka dikenal dengan nama Syi’ah Rafidhah. Karena itu bunuhlah mereka sebab mereka adalah kaum musyrik. …………………………. Selain dari nubuwat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, khalifah Ali bin Abi Thalib sendiri berkata: di belakang kami kelak akan muncul suatu kaum yang mengaku cinta kepada kamu. Mereka suka berdusta dengan nama kamu, mereka sebenanya keluar dari Islam. Ciri mereka yaitu gemar memaki Abu Bakar dan Umar. ……………………………. Ammar bin Yasir berkata kepada seorang laki-laki yang mencerca Aisyah ketika berada di sisi Ammar bin Yasir: “Pergilah kamu wahai orang yang celaka, apakah engkau senang menyakiti kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR At-Tirmidzi, hadits hasan] ——————————– Semua golongan Syi’ah senang sekali mencerca Aisyah radhiyallahu ‘anha. ———————— Demikianlah sebenarnya sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali bin Abi Thalib, dan Ammar bin Yasir yang oleh kaum Syi’ah dipandang sebagai tokoh-tokoh mereka, tetapi ternyata menyuruh kita untuk memerangi Syi’ah karena mereka musyrik atau keluar dari Islam. ————————————– Bahkan Ali Pun Membakar Kaum Syiah, dan Sebagian Lagi Melarikan Diri dari Pedang Beliau SYAIKHUL-Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatatakan bahwa “Syi’ah itu buatan kaum zindiq munafik, yang pada masa ‘Ali hidup, beliau telah membakar sebagian dari mereka dan sebagian lagi melarikan diri dari pedang beliau,” [Minhâjus Sunnah 1/11].

ali singa allah

ALI BIN ABI THOLIB “Karramallahu Wajhahu” ….. PEMBERANI dan CERDAS
………………………….ALI Bin ABi TAHLIB = BUKAN SYIAH
——————————–
hanya orang MUSYRIK dan MUNAFIK saja …. yg mengatakan Ali adalah SYIAH
……………………………………………

SYI’AH SESAT

—————————————–
Dari Ibnu Abbas ujarnya, saya pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaan dengan Ali. Saat itu Nabi bersabda kepada Ali: Wahai Ali, nanti akan muncul di tengah umatku suatu kaum yang berlebihan dalam mencintai kita ahlul bait, mereka dikenal dengan nama Syi’ah Rafidhah. Karena itu bunuhlah mereka sebab mereka adalah kaum musyrik. HR Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir no. 12998
—————————————

Syi’ah sebuah kelompok agama yang memiliki prinsip-prinsip ajaran:
————————————–

Al-Qur’an sudah berubah dari aslinya, baik karena adanya tambahan atau pengurangan pada saat dikumpulkan oleh para sahabat di masa khalifah Abu Bakar. Hal ini dinyatakan oleh ulama Syi’ah bernama At-Tabrizi dalam bukunya Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab.
———————————–

Mereka melebihkan imam-imam Syi’ah di atas seluruh para Nabi seperti yang ditulis oleh Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kafi dan tokoh Syi’ah modern Khomaini.
——————————

Sangat penuh rasa benci pada tokoh-tokoh utama sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafsah radhiyallahu ‘anhum. Mereka menganggap para tokoh sahabat yang menjadi kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini sebagai penjahat ulung terhadap ajaran Rasulullah. ……

Berkeyakinan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu yang belum terjadi, tetapi para imam Syi’ah mengetahui segala sesuatu di masa lalu, masa kini dan akan datang. ……………….

Dengan adanya doktrin-doktrin keagamaan semacam ini, patutkah Syi’ah dikategorikan sebagai salah satu komunitas muslim sebagaimana halnya komunitas ahlussunah wal jama’ah. ????
——————————–

Syi’ah yang memiliki doktrin sebagaimana yang disebut di atas, telah dinubuwatkan oleh Rasulullah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir no. 12998

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قال : كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَعِنْدَهُ عَلِيٌّ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « يَا عَلِيُّ ، سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ قَوْمٌ يَنْتَحِلُوْنَ حُبَّنَا أَهْلَ الْبَيْتِ لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُوْنِ ».

Dari Ibnu Abbas ujarnya, saya pernah berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersamaan dengan Ali. Saat itu Nabi bersabda kepada Ali: Wahai Ali, nanti akan muncul di tengah umatku suatu kaum yang berlebihan dalam mencintai kita ahlul bait, mereka dikenal dengan nama Syi’ah Rafidhah. Karena itu bunuhlah mereka sebab mereka adalah kaum musyrik. ………………………….

Selain dari nubuwat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, khalifah Ali bin Abi Thalib sendiri berkata: di belakang kami kelak akan muncul suatu kaum yang mengaku cinta kepada kamu. Mereka suka berdusta dengan nama kamu, mereka sebenanya keluar dari Islam. Ciri mereka yaitu gemar memaki Abu Bakar dan Umar. …………………………….

Ammar bin Yasir berkata kepada seorang laki-laki yang mencerca Aisyah ketika berada di sisi Ammar bin Yasir: “Pergilah kamu wahai orang yang celaka, apakah engkau senang menyakiti kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR At-Tirmidzi, hadits hasan]
——————————–

Semua golongan Syi’ah senang sekali mencerca Aisyah radhiyallahu ‘anha.
————————

Demikianlah sebenarnya sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali bin Abi Thalib, dan Ammar bin Yasir yang oleh kaum Syi’ah dipandang sebagai tokoh-tokoh mereka, tetapi ternyata menyuruh kita untuk memerangi Syi’ah karena mereka musyrik atau keluar dari Islam.

————————————–
syiah sesat 34

Bahkan Ali Pun Membakar Kaum Syiah, dan Sebagian Lagi Melarikan Diri dari Pedang Beliau

SYAIKHUL-Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatatakan bahwa “Syi’ah itu buatan kaum zindiq munafik, yang pada masa ‘Ali hidup, beliau telah membakar sebagian dari mereka dan sebagian lagi melarikan diri dari pedang beliau,” [Minhâjus Sunnah 1/11].

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah hendaknya sudah jelas dan tegas bahwa Syiah sama sekali bukan sekte (atau bagian) dari Islam. Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulama besar yang pernah dipunyai oleh sejarah Islam. Siapa meragukan kapasitas beliau secara keislaman dan ilmu?

Salah satu ciri yang menonjol dari kaum Syiah adalah mereka sangat mengagung-agungkan Ali, sebaliknya sangat mendeskreditkan sahabat-sahabat lainnya—padahal dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar, dan Ustman, siapalah orang-orang Syiah itu amalnya terhadap Rasulullah dan Islam?

Inilah perkataan-perkataan kaum Syiah terhadap para sahabat, yang dinukilkan dari kitab-kitab mereka sendiri:

1. Mereka mengatakan, bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali tiga orang, yaitu: Miqdâd bin Aswad, Abu Dzar, dan Salmân al-Fârisi. [Raudhatun Minal Kâfi 8/245-246 oleh ulama mereka yang bernama Al Kulini].

2. Mereka mengatakan, bahwa para sahabat adalah orang-orang kuffar, sesat, dan terlaknat karena memerangi ‘Ali dan mereka kekal di neraka. [Awâ-ilul Maqâlât hal. 45 oleh Mufîd].

3. Ni’matullah al-Jazâ-iri al-Mâjûsi mengatakan dalam kitabnya, al-Anwâru Nu’mâniyyah (2/244), “Imamiyyah mengatakan dengan nash yang terang atas imamahnya ‘Ali dan mereka telah mengkafirkan para sahabat.”

4. Muhammad Bâqir al Majlîsi mengatakan: “Aqidah kita tentang berlepas diri (al-barâ`) ialah: bahwa sesungguhnya kita berlepas diri dari empat orang berhala, yaitu: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmân, dan Mu’âwiyah. Dan dari empat orang perempuan, yaitu: ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul-Hakam. Dan dari semua pendukung dan pengikut-pengikut mereka. Sesungguhnya mereka adalah sejelek-jelek makhluk Allah di permukaan bumi; dan sesungguhnya tidak sempurna iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan (iman) kepada para imam, kecuali sesudah berlepas diri dari musuh-musuh mereka”. [Haqqul-Yakîin, hal. 519 dalam bahasa Parsi].

5. Mereka mengatakan, bahwa Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmân diadzab di neraka dengan sekeras-keras
azab.

6. Mereka mengatakan, bahwa Abu Bakr dan ‘Umar adalah orang pertama yang masuk neraka bersama Iblis.

SYIAH BUKAN ISLAM 1

7. Bahkan mereka mengatakan, bahwa ‘Umar diadzab di neraka lebih keras dari iblis. [Al-Anwârun- Nu’mâniyyah, 1/81-82].

8. Penyusun kitab al-Anwârun-Nu’mâniyyah (1/81-82) berkata : “Telah datang riwayat-riwayat yang khusus-yakni dari Syi’ah karena ahlus Sunnah menurut mereka adalah orang-orang awam-, “Sesungguhnya setan dirantai dengan tujuh puluh rantai dari besi Jahannam, dan ia dibawa ke mahsyar (tempat berkumpul). Maka, setan melihat ada seorang laki-laki di depannya yang dibawa oleh Malaikat Adzab, dalam keadaan di lehernya ada seratus dua puluh rantai dari rantairantai Jahannam. Lalu, setan mendekat kepadanya dan ia bertanya (kepada orang itu): ‘Apakah gerangan yang telah diperbuat oleh orang celaka ini sehingga dia diadzab lebih dariku, padahal akulah yang menyesatkan makhluk dan membawa mereka kepada kebinasaan?’ Maka, ‘Umar menjawab pertanyaan setan itu: “Tidak ada sesuatu pun yang aku kerjakan selain sesungguhnya aku telah merampas khilâfah ‘Ali bin Abi Thâlib’.”

Kemudian si Majusi yang bernama Ni’matullah al-Jazâ-iri ini memberi komentar: “Zhahirnya bahwa dia -yakni Umar- manganggap kecil apa yang menyebabkan dirinya menjadi celaka dan bertambah adzabnya, padahal dia tidak tahu, bahwa setiap yang terjadi di dunia ini sampai hari Kiamat berupa kekufuran dan kemunafikan dan berkuasanya orang-orang yang durhaka dan zhalim, tidak lain melainkan disebabkan oleh perbuatannya ini.” (Saya nukil dari kitab Mas-alatut Taqrîb [1/366) oleh Syaikh Nâshir al-Qifâri].

Lihatlah apa yang telah dikatakan si Majusi ini terhadap khalifah yang mulia ‘Umar bin Khaththâb Radhiallahu ‘anhu. Yang menurut keyakinan Syi’ah, bahwa ‘Umar diazab lebih pedih dan lebih besar dari Iblis!? Demikian juga bahwa perbuatan ‘Umar lebih menyesatkan daripada perbuatan Iblis!?

9. Telah berkata seorang Majusi lainnya, asy-Syirâzi, yang mereka namakan tanpa haq dengan “Ayatollah”(!?): “Biarkanlah mereka (yakni Syi’ah) menjelaskan dengan setiap ketegasan, sesungguhnya Abu Bakr dan ‘Umar, keduanya tidak pernah beriman kepada Allah meskipun sekejap mata saja. Biarkanlah mereka (yakni Syi’ah) menjelaskan dengan setiap ketegasan, sesungguhnya ‘Aisyah seorang Khawârij, sedangkan Khawârij adalah kafir. Biarkanlah mereka (yakni Syi’ah) menjelaskan dengan setiap ketegasan, sesungguhnya ‘Utsman laknatullah dari Bani Umayyah, dan mereka adalah pohon yang terlaknat di dalam Al-Qur’ân.”

Si Majusi ini sampai hari ini masih hidup sebagai salah seorang ulama mereka (baca: Syi’ah Râfidhah).

(Saya nukil dengan ringkas dari kitab Zhâhiratut-Takfîr fi Madzhab Syi’ah (hal. 9) oleh Syaikh ‘Abdurrahmân Muhammad Sa’îd ad-Dimasyqiyyah).

10.Al Kulini di kitabnya, al-Kâfi, di bagian kitab “Raudhah” mengatakan: “Bahwa dua orang Syaikh (yang dimaksud oleh mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar) telah terpisah dari dunia ini (yakni mati) (dalam keadaan) tidak bertaubat dan tidak mengingat apa yang keduanya telah perbuat terhadap Amirul-Mukminin (yakni ‘Ali bin Abi Thâlib), maka atas keduanya laknat Allah dan malaikat dan manusia semuanya.” [Saya nukil dari kitab Mas-alatut-Taqrîb Baina Ahlis-Sunnah wasy-Syî’ah (1/366) oleh Syaikh Nâshir al-Qifâri].

11.Kemudian si Majusi yang bernama Ni’matullah al-Jazâ-iri di kitab al-Anwârun Nu’mâniyyah (2/111) mengatakan: “Telah dinukil di dalam riwayat-riwayat pertama –yakni riwayat Syi’ah- bahwa khalifah yang pertama –yakni Abu Bakr- bersama dengan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan berhala yang biasa dia sembah pada zaman Jahiliyyah tergantung di lehernya tertutup oleh bajunya. Dan dia pun sujud –yakni di dalam shalat- sedangkan yang dia maksudkan adalah sujud kepada berhalanya itu sampai Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam mati, maka barulah mereka (yakni para sahabat di bawah pimpinan Abu Bakr) menyatakan (secara terang-terangan) apa yang ada di dalam hati-hati mereka.”

Demikianlah, beberapa tuduhan keji sekte aneh ini terhadap para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mendapatkan sanjungan dari Allah Azza wa Jalla. Semoga kian menyadarkan kaum muslimin akan tipu-daya dan kebusukan mereka. Wallahul-Hâdi [Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat/majalah as-sunnah]
…………………………..

‘Ali bin Abi Thalib (lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah / 599 – wafat 21 Ramadhan 40 Hijriah / 661 ), adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Ali adalah sepupu dari Nabi Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Nabi Muhammad SAW.

Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600 (perkiraan).
Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Ia bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk memiliki penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah). Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Nabi Muhammad .

Ali Bin Abu Thalib tumbuh menjadi anak yang cepat matang. Di wajahnya tampak jelas kematangannya, yang juga menunjukkan kekuatan, dan ketegasan. Saat ia menginjak usia pemuda, ia segera berperan penuh dalam dakwah Islam, tidak seperti yang dilakukan oleh pemuda seusianya. Contoh yang paling jelas adalah keikhlasannya untuk menjadi tameng Rasulullah Saw saat beliau hijrah, dengan menempati tempat tidur beliau. Ia juga terlibat dalam peperangan yang hebat, seperti dalam perang Al Ahzab, dia pula yang telah menembus benteng Khaibar. Sehingga dia dijuluki sebagai pahlawan Islam yang pertama.

Ali bin Abu Thalib adalah seorang dengan perawakan sedang, antara tinggi dan pendek, perutnya agak menonjol, pundaknya lebar, kedua lengannya berotot, seakan sedang mengendarai singa. lehernya berisi. bulu jenggotnya lebat, matanya besar, wajahnya tampan. kulitnya agak gelap, postur tubuhnya tegap dan proporsional, bangun tubuhnya kokoh, seakan-akan dari baja.

Jika berjalan seakan-akan sedang turun dari ketinggian, seperti berjalannya Rasulullah Saw. Seperti dideskripsikan dalam kitab Usudul Ghaabah fi Ma’rifat ash Shahabah: adalah Ali bin Abi Thalib bermata besar, berkulit gelap, berotot kokoh, berbadan besar, berjenggot lebat, bertubuh agak pendek, sangat fasih dalam berbicara, berani, pantang mundur, dermawan, pemaaf, lembut dalam berbicara, dan halus perasaannya.
Jika ia dipanggil untuk berduel dengan musuh di medan perang, ia segera maju tanpa gentar, mengambil perlengkapan perangnya, dan menghunuskan pedangnya. Untuk kemudian menjatuhkan musuhnya dalam beberapa langkah. Karena sesekor singa, ketika ia maju untuk menerkam mangsanya, ia bergerak dengan cepat bagai kilat, dan menyergap dengan tangkas, untuk kemudian membuat korban tak berkutik.

Tadi adalah sifat-sifat fisiknya. Sedangkan sifat-sifat kejiwaannya, maka ia adalah sosok yang sempurna, penuh dengan kemuliaan. Keberaniannya menjadi perlambang para kesatria pada masanya. Setiap kali ia menghadapi musuh di medan perang, maka dapat dipastikan ia akan mengalahkannya. Seorang yang takwa tak terkira, tidak mau masuk dalam hal yang syubhat, dan tidak pernah melalaikan syari’at.
Seorang yang zuhud, dan memilih hidup dalam kesederhanaan. Ia makan cukup dengan berlauk-kan cuka, minyak dan roti kering yang ia patahkan dengan lututnya. Dan memakai pakaian yang kasar, sekadar untuk menutupi tubuh di saat panas, dan menahan dingin di kala udara dingin menghempas.

Penuh hikmah, adalah sifatnya yang jelas. Dia akan berhati-hati meskipun dalam sesuatu yang ia lihat benar, dan memilih untuk tidak mengatakan dengan terus terang, jika hal itu akan membawa mudharat bagi umat. Ia menempatkan hal pada tempatnya yang tepat. Berusaha berjalan seirama dengan rekan-rekan pembawa panji dakwah, seperti keserasian butiran-butiran air di lautan.
Ia bersikap lembut, sehingga banyak orang yang sezaman dengannya melihat ia sedang bergurau, padahal hal itu adalah suatu bagian dari sifat kesempurnaan yang melihat apa yang ada di balik sesuatu, dan memandang kepada kesempurnaan. Ia menginginkan agar realitas yang tidak sempurna berubah menjadi lurus dan meningkat ke arah kesempurnaan.

Ia terkenal kefasihannya. Sehingga ucapan-ucapannya mengandung nilai-nilai sastra Arab yang jernih dan tinggi. Baik dalam menciptakan peribahasa maupun hikmah. Ia juga mengutip dari redaksi Al Quran, dan hadits Rasulullah Saw, sehingga menambah benderang dan semerbak kata-katanya. Yang membuat dirinya berada di puncak kefasihan bahasa dan sastra Arab.
Ia sangat loyal terhadap pendidiknya, Nabi-nya, juga Rabb-nya. Serta berbuat baik kepada kerabatnya. Amat mementingkan istrinya yang pertama, Fathimah az Zahra. Dan ia selalu berusaha memberikan apa yang baik dan indah kepada orang yang ia senangi, kerabatnya atau kenalannya.
Ali Bin Abu Thalib berpendirian teguh, sehingga menjadi tokoh yang namanya terpatri dalam sejarah. Tidak mundur dalam membela prinsip dan sikap. Sehingga banyak orang yang menuduhnya bodoh dalam politik, tipu daya bangsa Arab, dan dalam hal melembutkan sikap musuh, sehingga kesulitan menjadi berkurang. Namun, sebenarnya kemampuannya jauh di atas praduga yang tidak benar, karena ia tahu apa yang ia inginkan, dan menginginkan apa yang ia tahu. Sehingga, di samping kemanusiaannya, ia seakan-akan adalah sebuah gunung yang kokoh, yang mencengkeram bumi.

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke-2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani, atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau.
Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir atau syariah dan bathin atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan cerdas.
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan efek Nabi yang tidur hingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar .

Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu percaya kenabian Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain.
Ketika Muhammad menemukan Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Muhammad pun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, “Duduklah wahai Abu Turab , duduklah. “Turab” yang berarti debu atau tanah dalam bahasa Arab. Julukan tersebut adalah julukan yang paling disukai oleh Ali.
Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi.

Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, diperkirakan sekitar 36 musuh tewas diujung pedang Ali, dan semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
Dalam perang Uhud, Ali berduel dengan 29 musuh dan semua musuhnya itu pun tewas menemui ajal di ujung pedangnya. “Tidak ada pedang, setajam pedang Zulfikar dan tidak ada pemuda yang setangguh Ali bin Abu Thalib” Demikianlah slogan yang selalu didengung-dengungkan oleh kaum muslimin saat usai perang Uhud yang amat dahsyat itu tengah berlangsung.
Dalam perang tersebut, Ali bin Abu Thalib memperlihatkan ketangguhannya sebagai seorang pahlawan Islam yang gagah perkasa. Ia di kenal sebagai jagoan bangsa Arab yang memiliki keterampilan memainkan pedang dengan tangguh. Sementara itu, baju besi yang dimilikinya berbentuk tubuh bagian depan di kedua sisi, dan tidak ada bagian belakangnya. Ketika di tanya, “Mengapa baju besimu itu tidak dibuatkan bagian belakangnya, Hai Abu Husein?” Maka Ali bin Abu Thalib akan menjawabnya dengan mudah, “Kalau seandainya aku menghadapi musuhku dari belakang, niscaya aku akan binasa.”

Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda: “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.
Dan keesokkan harinya Rasulullah ternyata menyerahkan bendera kepemimpinan itu kepada Ali bin Abu Thalib yang sedang menderita penyakit mata. Kemudian Rasulullah meludahi kedua belah matanya yang sedang sakit sampai sembuh seraya berkata, “Hai Ali, terimalah bendera perang ini dan bawalah pasukan kaum muslimin bersamamu menuju benteng Khaibar hingga Allah membukakan pintu kemenangan untuk kaum muslimin.”

Lalu Ali bin Abu Thalib memimpin tim dan memusatkan pasukannya di sebuah batu karang besar dekat benteng guna menghimpun kekuatan kembali. Tak lama kemudian ia memberikan komando untuk bersiap-siap menyerbu ke benteng dan akhirnya terjadilah perang yang sengit antara kaum muslimin dengan orang-orang yahudi di sana.
Ali bin Abu Thalib memainkan pedang Zulfikar-nya dengan gesit dan menghunuskan kepada musuhnya yang berani menghadang. Tidak ada musuh pun yang selamat dari kelebatan pedang yang di pegang Ali. Akan tetapi seorang yahudi tiba-tiba menghantamkan pedang kearahnya dengan keras. Secepat kilat di tangkis serangan itu dengan tamengnya, sampai terjatuh tamengnya itu. Akhirnya ia raih sebuah pintu besar yang terbuat dari besi yang berada di sekitar benteng dan dijadikan-nya sebagai tameng dari serangan pedang orang-orang yahudi lainnya. Dan ia tetap menggunakan pintu besar itu hingga perang usai dan kaum muslimin memperoleh kemenangan.
Abu Rofi’ seorang sahabat yang ikut perang itu menyatakan, “Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Ali bin Abu Thalib mencabut pintu besi yang besar itu untuk dijadikan tameng-nya, Setelah tameng-nya terjatuh dari tangannya.” Kemudian setelah perang usai, ada delapan orang laki-laki, salah seorang diantaranya adalah aku sendiri, yang berusaha untuk menggotong dan menempatkan kembali pintu besi itu ke tempat semula, tetapi mereka tidak mampu untuk melakukannya karena terlalu berat. ”
Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian. Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah .

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak memiliki pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.
Ketika Ali bin Abu Thalib di angkat menjadi khalifah ke empat menggantikan Khalifah Ustman bin Affan, maka ia tidak pernah melakukan kecurangan atau penyelewengan dalam pemerintahannya. Ia tidak pernah melakukan korupsi atau memakan uang rakyat yang ada di “baitul maal.” Namun Ia lebih memilih untuk bekerja sendiri atau menjual harta benda miliknya sendiri untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.
Bahkan diceritakan bahwa Ia pernah pergi ke pasar untuk menawarkan pedangnya kepada orang-orang yang berada di sana sambil berkata, “Apakah di antara kalian yang akan membeli pedangku ini, karena hari ini aku sedang tidak memiliki uang?” Kemudian orang-orang balik bertanya, “Bukankah Anda seorang Khalifah yang memiliki uang banyak ya Amirul Mukminin?” Lalu Ali pun menjawab, “Kalau seandainya aku memiliki uang empat dirham saja, tentu aku tidak akan menjual pedang kesayanganku ini.”
Pernah suatu ketika Ali bin Abu Thalib tengah menangis di mihrab Masjid Nabawi seraya berkata, “Wahai dunia, janganlah engkau bisa memperdayai-ku Tapi perdaya-lah orang-orang selain-ku. Sungguh aku telah menceraikanmu dari diriku dan jangan engkau kembali kepadaku!”
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal, 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya.

Ditambah lagi dengan terjadinya “perang Shiffin” yaitu perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib ra. melawan pasukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang didalamnya terjadi peristiwa “Tahkim” hal ini menimbulkan konflik yang parah, hingga memecah belah umat Islam menjadi berfirqah-firqah.
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya.

Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN RA ————————— seorang MILYARDER …. yang BERIMAN …. di JALAN ALLAH …. ——————————— Utsman dan Ruqayyah {putri Rasul} …………….. Abu Lahab dan Ummu Jamil menyuruh putranya Utbah untuk menceraikan istrinya yang bernama Ruqayyah putri Muhammad Saw. Maka Utbah pun menceraikan Ruqayyah karena alasan dendam kepada ayahnya. ……………………………… Begitu Utsman mendengar berita telah dicerainya Ruqayyah, maka ia langsung teriak kegirangan. Ia lalu segera meminang Ruqayyah dari Rasulullah Saw. Maka Rasul Saw pun menikahkan Ruqayyah kepadanya. Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid mengadakan walimah untuk perkawinan putrinya ini……………………………. Utsman adalah seorang dari bangsa Quraisy yang memiliki tampang yang paling tampan, sedangkan Ruqayyah juga tidak kalah cantik dan menarik. Maka banyak orang yang berkata kepada Ruqayyah saat dirinya dinikahkan dengan Utsman: …………….. Inilah pasangan terbaik yang pernah dilihat manusia Ruqayyah, dan suaminya yang bernama Utsman —————————Utsman dan Ummu Kultsum {putri Rasul} …………………. Utsman mendampingi Rasulullah Saw dalam semua pertempuran yang pernah Beliau lakukan. Tidak ada satu perang pun yang terlewatkan selain perang Badr. Dia tidak turut-serta dalam perang ini karena harus merawat istrinya yang bernama Ruqayah sebab sakit…………………… Saat Rasulullah Saw kembali dari Badr, dan Beliau mendapati Ruqayah telah kembali ke pangkuan Allah, maka Rasul Saw menjadi amat sedih. ………………… Rasul Saw berbagi kesedihan dengan Utsman atas musibah yang terjadi. Maka Rasul Saw memasukkan Utsman ke dalam golongan ahli Badr, dan mendapatkan jatah ghanimah. Kemudian Rasulullah Saw menikahkan Utsman dengan putri kedua Rasulullah Saw yang bernama Ummu Kultsum. —————————- Oleh karenanya, manusia memanggil Utsman dengan sebutan Dzu Nuraini (orang yang memiliki dua cahaya). Pernikahan Utsman yang kedua kalinya dengan putri Nabi Saw adalah sebuah keutamaan yang tidak didapatkan pria lain selain dirinya. Hal itu dikarenakan, belum pernah terjadi sebelumnya ada orang yang menjadi menantu Nabi sebanyak dua kali selain Utsman bin Affan ra. ———————————– Sejarah Kenabian Tidak Pernah Mendapati Orang yang Menjadi Menantu Rasulullah Sebanyak Dua Kali Selain Utsman bin Affan. ………… Dia adalah dzu nurain (pemilik dua cahaya), orang yang pernah berhijrah dua kali sekaligus suami dari dua putri Rasulullah Saw. Dialah Utsman bin Affan ra. ———————————————

utsman 1

KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN RA

—————————
seorang MILYARDER …. yang BERIMAN …. di JALAN ALLAH ….
——————————— Utsman dan Ruqayyah {putri Rasul} ……………..

Abu Lahab dan Ummu Jamil menyuruh putranya Utbah untuk menceraikan istrinya yang bernama Ruqayyah putri Muhammad Saw. Maka Utbah pun menceraikan Ruqayyah karena alasan dendam kepada ayahnya. ………………………………

Begitu Utsman mendengar berita telah dicerainya Ruqayyah, maka ia langsung teriak kegirangan. Ia lalu segera meminang Ruqayyah dari Rasulullah Saw. Maka Rasul Saw pun menikahkan Ruqayyah kepadanya. Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid mengadakan walimah untuk perkawinan putrinya ini…………………………….
Utsman adalah seorang dari bangsa Quraisy yang memiliki tampang yang paling tampan, sedangkan Ruqayyah juga tidak kalah cantik dan menarik. Maka banyak orang yang berkata kepada Ruqayyah saat dirinya dinikahkan dengan Utsman: ……………..
Inilah pasangan terbaik yang pernah dilihat manusia Ruqayyah, dan suaminya yang bernama Utsman

—————————Utsman dan Ummu Kultsum {putri Rasul} ………………….
Utsman mendampingi Rasulullah Saw dalam semua pertempuran yang pernah Beliau lakukan. Tidak ada satu perang pun yang terlewatkan selain perang Badr. Dia tidak turut-serta dalam perang ini karena harus merawat istrinya yang bernama Ruqayah sebab sakit……………………

Saat Rasulullah Saw kembali dari Badr, dan Beliau mendapati Ruqayah telah kembali ke pangkuan Allah, maka Rasul Saw menjadi amat sedih. …………………
Rasul Saw berbagi kesedihan dengan Utsman atas musibah yang terjadi. Maka Rasul Saw memasukkan Utsman ke dalam golongan ahli Badr, dan mendapatkan jatah ghanimah. Kemudian Rasulullah Saw menikahkan Utsman dengan putri kedua Rasulullah Saw yang bernama Ummu Kultsum.
—————————-
utsman durain

Oleh karenanya, manusia memanggil Utsman dengan sebutan Dzu Nuraini (orang yang memiliki dua cahaya).
Pernikahan Utsman yang kedua kalinya dengan putri Nabi Saw adalah sebuah keutamaan yang tidak didapatkan pria lain selain dirinya. Hal itu dikarenakan, belum pernah terjadi sebelumnya ada orang yang menjadi menantu Nabi sebanyak dua kali selain Utsman bin Affan ra.
———————————–
Sejarah Kenabian Tidak Pernah Mendapati Orang yang Menjadi Menantu Rasulullah Sebanyak Dua Kali Selain Utsman bin Affan. …………
Dia adalah dzu nurain (pemilik dua cahaya), orang yang pernah berhijrah dua kali sekaligus suami dari dua putri Rasulullah Saw. Dialah Utsman bin Affan ra.
———————————————
============================================

Utsman bin Affan memiliki posisi terpandang di kalangan kaumnya pada masa jahiliah. Ia adalah orang yang memiliki harta kekayaan yang berlimpah. Ia juga adalah orang yang rendah hati dan pemalu. Kaumnya amat mencintai dirinya, sehingga ada seorang wanita Quraisy yang sedang memomong anaknya dengan bersenandung:
Aku dan Ar Rahman (Tuhan Yang Penyayang) menyayangimu Seperti orang Quraisy menyayangi Utsman
Begitu Islam memancarkan cahayanya di Mekkah, Utsman adalah orang yang termasuk para pendahulu yang segera menyerap cahaya tersebut.

Kisah keislaman Utsman bin Affan hingga sekarang masih sering dikisahkan orang.
Hal itu dikarenakan saat pada masa jahiliah ia mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah telah menikahkan putrinya yang bernama Ruqayah dengan sepupunya yang bernama Utbah bin Abi Lahab, Utsman merasa menyesal karena ia sudah kedahuluan. Ia merasa kesal karena tidak beruntung mendapatkan istri yang memiliki akhlak yang mulia dan berketurunan baik.
Utsma pun kembali pulang ke rumah dengan perasaan kesal dan sedih.
Saat pulang, ia mendapati bibinya sedang berada di rumah yang bernama Su’da binti Kuraizin. Su’da ini adalah perempuan yang tegas, cerdas dan sudah berusia senja. Su’da berhasil menghilangkan kekesalan Utsman dengan memberitahukan kepadanya bahwa akan muncul seorang Nabi yang menghancurkan penyembahan kepada berhala, dan menyeru untuk beribadah kepada Tuhan Yang Esa. Su’da menyuruh Utsman untuk mengikuti ajaran agama Nabi tersebut, dan ia menjanjikan bahwa Utsman akan mendapatkan apa yang pantas bagi dirinya.
Utsman berkisah: “Maka aku segera memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh bibiku tadi. Aku pun segera menemui Abu Bakar dan aku ceritakan kepadanya apa yang telah diberitahukan bibi kepadaku.”
Abu Bakar berkata: “Demi Allah, bibimu telah berkata benar atas apa yang ia sampaikan kepadamu dan dengan kebaikan yang ia janjikan untukmu, ya Utsman! Engkau pun adalah seorang yang bijak dan tegas yang mampu membedakan kebenaran,dan tidak ada kebathilan yang samar bagi dirimu.” Kemudian Abu Bakar berkata kepadaku:
“Apakah makna dari berhala yang disembah oleh kaum kita ini?! Bukankah berhala ini terbuat dari batu yang tuli. Tidak bisa mendengar dan melihat?” Aku menjawab: “Benar.” Abu Bakar berkata: “Apa yang telah dikatakan oleh bibimu telah terbukti, ya Utsman! Allah Swt telah mengirimkan Rasul-Nya yang dinanti-nanti. Ia mengutusnya untuk semua orang dengan membawa agama petunjuk dan kebenaran.”
Aku bertanya: “Siapakah dia?!” Abu Bakar menjawab: “Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.”
Aku bertanya keheranan: “Muhammad As Shodiq Al Amin (orang yang terkenal jujur dan terpercaya) itu?” Abu Bakar menjawab: “Benar. Dialah orangnya.” Aku bertanya kepada Abu Bakar: “Apakah engkau mau menemaniku untuk menemuinya?” Abu Bakar menjawab: “Baiklah.” Maka kami pun berangkat untuk menemui Nabi Saw.
Begitu Beliau melihatku Beliau langsung bersabda: “Ya Utsman, sambutlah seruan orang yang mengajak ke jalan Allah! Sebab aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus, dan kepada semua makhluk Allah secara umum.”
Utsman berkata: “Demi Allah, begitu aku melihat Beliau dan mendengarkan sabdanya, maka aku langsung merasa nyaman dan aku percaya akan keRasulannya. Kemudian akupun langsung bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.”

Hingga hari itu tidak ada satupun orang yang berasal dari kaumnya yang mau beriman kepada Rasulullah Saw.
Meswki tidak ada satupun yang menyatakan permusuhan kepada Nabi Saw selain pamannya yang bernama Abu Lahab.
Abu Lahab dan istrinya yang bernama Ummu Jamil adalah orang dari suku Quraisy yang paling keras melakukan perlawanan dan makar terhadap diri Nabi Saw. Maka Allah Swt menurunkan sebuah surat tentang diri Abu Lahab dan istrinya:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab [111] : 1-5)
Kebencian Abu Lahab kepada Rasulullah Saw semakin menjadi. Demikian juga kedengkian istrinya. Tidak hanya ditujukan kepada Muhammad Saw akan tetapi kepada kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Abu Lahab dan Ummu Jamil menyuruh putranya Utbah untuk menceraikan istrinya yang bernama Ruqayyah putri Muhammad Saw. Maka Utbah pun menceraikan Ruqayyah karena alasan dendam kepada ayahnya.

Begitu Utsman mendengar berita telah dicerainya Ruqayyah, maka ia langsung teriak kegirangan. Ia lalu segera meminang Ruqayyah dari Rasulullah Saw. Maka Rasul Saw pun menikahkan Ruqayyah kepadanya. Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid mengadakan walimah untuk perkawinan putrinya ini.
Utsman adalah seorang dari bangsa Quraisy yang memiliki tampang yang paling tampan, sedangkan Ruqayyah juga tidak kalah cantik dan menarik. Maka banyak orang yang berkata kepada Ruqayyah saat dirinya dinikahkan dengan Utsman:
Inilah pasangan terbaik yang pernah dilihat manusia Ruqayyah, dan suaminya yang bernama Utsman

Utsman -meski dia memiliki kedudukan dan kebaikan yang banyak- tidak terlepas dari siksaan kaumnya saat ia memeluk Islam.
Pamannya yang bernama Hakam merasa malu bila ada seorang pemuda dari Bani Abdi Syamsin yang keluar dari agama bangsa Qurasiy, dan Hakam amat malu dibuatnya. Maka Hakim bersama para pengikutnya berusaha menghadapi Utsman dengan siksaan dan perlakuan yang kejam.
Hakam menangkap Utsman dan mengikatkan tubuh Utsman dengan tali. Hakam bertanya kepada Utsman: “Apakah engkau membenci agama ayah dan kakek moyangmu, dan kini engkau masuk ke dalam agama yang dibuat-buat itu?! Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu hingga engkau meninggalkan agama yang kau anut ini!”
Utsman menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk selamanya, dan aku tidak akan berpisah dengan Nabiku selagi aku hidup.
Meski pamannya terus menyiksa dirinya, akan tetapi ia semakin teguh dan tak tergoyahkan dalam berakidah sehingga pamannya merasa putus asa dan akhirnya melepaskan Utsman dan tidak lagi mengganggunya.
Akan tetapi bangsa Quraisy masih saja membuat permusuhan kepada Utsman dan menyiksanya, sehingga hal itu membuat Utsman berkeputusan untuk lari dan menyelamatkan agamanya serta meninggalkan Nabinya.
Utsman adalah muslim pertama yang berhijrah ke Habasyah bersama istrinya ra. Saat mereka berdua hendak berangkat untuk berhijrah, Rasulullah Saw melepas mereka dan berpesan: “Semoga Allah Swt akan menemani Utsman dan istrinya yang bernama Ruqayah… Semoga Allah Swt akan menemani Utsman dan istrinya yang bernama Ruqayah. Utsman adalah orang pertama yang berhijrah bersama keluarganya setelah Nabi Allah Luth as.”

Utsman bersama istrinya tidak tinggal lama di Habasyah seperti para muhajirin lainnya. Mereka berdua merasakan kerinduan yang amat sangat kepada Nabi Saw dan kepada Mekkah.
Maka keduanya kembali ke Mekkah dan menetap di sana hingga saat Allah Swt mengizinkan kepada Nabi-Nya dan kepada kaum mukminin untuk berhijrah ke Madinah. Maka Utsman dan Ruqayah pun berangkat bersama rombongan muhajirin.

Utsman mendampingi Rasulullah Saw dalam semua pertempuran yang pernah Beliau lakukan. Tidak ada satu perang pun yang terlewatkan selain perang Badr. Dia tidak turut-serta dalam perang ini karena harus merawat istrinya yang bernama Ruqayah sebab sakit.
Saat Rasulullah Saw kembali dari Badr, dan Beliau mendapati Ruqayah telah kembali ke pangkuan Allah, maka Rasul Saw menjadi amat sedih.
Rasul Saw berbagi kesedihan dengan Utsman atas musibah yang terjadi. Maka Rasul Saw memasukkan Utsman ke dalam golongan ahli Badr, dan mendapatkan jatah ghanimah. Kemudian Rasulullah Saw menikahkan Utsman dengan putri kedua Rasulullah Saw yang bernama Ummu Kultsum. Oleh karenanya, manusia memanggil Utsman dengan sebutan Dzu Nuraini (orang yang memiliki dua cahaya).
Pernikahan Utsman yang kedua kalinya dengan putri Nabi Saw adalah sebuah keutamaan yang tidak didapatkan pria lain selain dirinya. Hal itu dikarenakan, belum pernah terjadi sebelumnya ada orang yang menjadi menantu Nabi sebanyak dua kali selain Utsman bin Affan ra.

Keislaman Utsman ra adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Swt anugerahkan kepada kaum muslimin dan kepada Islam. Tidak ada kesulitan yang dirasakan oleh kaum muslimin, maka Utsman akan menjadi orang yang akan segera membantu kesulitan mereka. Tidak ada satu musibah pun yang menimpa Islam, kecuali Utsman akan menjadi orang terdepan yang akan mengurangi beban yang diderita Islam.

Salah satunya adalah saat Rasulullah Saw hendak melakukan perang Tabuk, pada saat itu Rasulullah Saw amat membutuhkan bantuan finansial sebagaimana Beliau juga membutuhkan orang-orang yang akan menjadi prajurit dalam perang ini.
Sementara pasukan Romawi memiliki prajurit yang banyak, logistik yang memadai dan mereka bertempur di negerinya sendiri.
Sedangkan kaum muslimin, mereka akan melalui perjalanan yang panjang dengan bekal yang sedikit dan kendaraan yang tidak memadai.
Saat itu, kaum muslimin juga sedang mengalami masa paceklik, yang jarang terjadi hal seperti ini di jazirah Arab.
Dengan terpaksa maka Rasulullah Saw menolak banyak orang yang hendak melakukan jihad dan melarang mereka untuk mencari syahadah (mati di jalan Allah) sebab mereka tidak memiliki kendaraan yang dapat membawa mereka ke sana. Maka orang-orang tadi kembali pulang ke tempat masing-masing dengan mata yang berlinang.

utsman super dermawan

Pada saat itulah Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Beliau memuji Allah Swt, kemudian Beliau menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar.
Serta-merta Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”
Kemudian Rasulullah Saw turun satu anak tangga dari mimbarnya dan Beliau terus menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan apa yang mereka punya. Maka untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”
Wajah Rasul Saw menjadi cerah, kemudian Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar dan Beliau masih saja menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman untuk ketiga kalinya berdiri dan berkata: “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”
Pada saat itu Rasulullah Saw mengarahkan tangannya ke arah Utsman pertanda Beliau senang dengan apa yang telah dilakukan Utsman ra. Beliau pun bersabda: “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan… Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan.”

Belum lagi Rasulullah Saw turun dari mimbarnya, namun Utsman sudah berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang ia janjikan dan disertai dengan 1000 dinar emas.
Begitu uang-uang dinar tadi diserahkan kepangkuan Rasulullah Saw, Beliau lalu membolak-balikkan uang dinar tersebut seraya bersabda: “Semoga Allah Swt akan mengampunimu, ya Utsman atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Ia ciptakan hingga terjadinya hari kiamat.”

Pada saat kekhalifahan Umar Al Faruq ra, saat itu manusia sedang menderita tahun paceklik yang mengakibatkan banyak sawah ladang serta hewan yang menjadi korbannya. Sehingga tahun tersebut dikenang dengan sebutan tahun Ramadah (debu) karena parahnya paceklik yang terjadi.
Kesulitan yang dirasakan oleh manusia di Madinah terus semakin mengganas sehingga banyak nyawa manusia yang terancam. Suatu pagi para penduduk datang menghadap khalifah Umar dan berkata: “Wahai khalifah Rasulullah. Langit sudah lama tidak menurunkan hujan, dan bumi sudah tidak menumbuhkan pephonan. Banyak nyawa manusia yang terancam. Apa yang mesti kita lakukan?!”
Dengan tatapan penuh kegelisahan Umar melihat wajah mereka dan berkata: “Bersabarlah dan berharap pahalalah kalian kepada Allah! Aku amat berharap semoga Allah Swt akan memudahkan kesulitan kalian pada petang ini.”
Pada penghujung hari, terdengar kabar bahwa kafilah Utsman bin Affan telah datang dari Syam, dan rombongan tersebut akan tiba di Madinah pada pagi hari.
Begitu shalat Fajar usai dilaksanakan, maka semua orang berbondong- bondong menyambut kedatangan kafilah ini.
Para pedagang yang menyambut kedatangan kafilah ini mendapati bahwa rombongan Utsman terdiri dari 1000 unta yang sarat dipenuhi dengan gandum, minyak dan anggur kering.

Kafilah unta tersebut berhenti di depan pintu rumah Utsman bin Affan ra. Para budak segera menurunkan muatan dari punggung unta.
Para pedagang pun segera menemui Utsman dan berkata kepadanya: “Juallah kepada kami segala yang kau bawa, ya Abu Amr (panggilan Utsman)!”
Utsman berkata: “Aku akan menjualnya dengan senang hati kepada kalian, akan tetapi berapa harga yang hendak kalian tawarkan kepadaku?” Mereka menjawab: “Setiap dirham yang kau bayarkan akan kami ganti dengan dua dirham.”
Utsman menjawab: “Aku akan mendapatkan lebih dari itu.” Maka para pedagangpun menambahkan lagi harga tawaran mereka.
Utsman lalu berkata: “Aku akan mendapatkan lebih dari harga yang telah kalian tambahkan.” Para pedagangpun menambahkan lagi harga tawaran mereka.
Namun Utsman tetap berkata: “Aku akan mendapatkan lebih dari ini.” Para pedagang tadi berkata: “Wahai Abu Amr, tidak ada para pedagang lain di Madinah selainkami. Juga tidak ada seorang pun yang mendahului kami datang ke tempat ini. Lalu siapa yang telah memberikan tawaran kepadamu melebihi harga yang kami tawarkan?!”
Ustman menjawab: “Allah Swt akan memberikan 10 kali lipat dari setiap dirham yang aku bayarkan. Apakah kalian dapat membayar lebih dari ini?”
Para pedagang itu menjawab: “Kami tidak sanggup untuk membayarnya, wahai Abu Amr.
Utsman langsung berseru: “Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku akan menjadikan semua barang bawaan yang dibawa oleh kafilah ini sebagai sedekah kepada para fuqara kaum muslimin. Aku tidak pernah berharap satu dirham ataupun satu dinar sebagai gantinya. Aku hanya berharap keridhaan dan balasan dari Allah Swt.

utsman kuda

Saat kekhalifahan berpindah ke tangan Utsman bin Affan, Allah Swt berkenan menaklukan pada masa Utsman daerah Armenia dan Kaukasus.
Allah juga memenangkan kaum muslimin untuk menaklukan daerah Khurasan, Karman, Sigistan, cyprus dan beberapa daerah kecil di benua Afrika.
Kaum muslimin pada masa Utsman mendapatkan kesejahteraan yang belum pernah dirasakan oleh bangsa lain di muka bumi ini.

Hasan Al Bashry ra mengisahkan kesejahteraan penduduk pada masa Utsman bin Affan Dzu Nurain, serta kedamaian dan kenyamanan yang dirasakan oleh umat Islam. Ia berkata:
“Aku pernah melihat ada seorang pegawai Utsman berseru: ‘Wahai manusia, segeralah kalian mengambil jatah!’ Maka semua orang pun segera mengambil jatah mereka secara merata.
‘Wahai manusia, segeralah datang untuk mengambil rizqi kalian!’ Maka semua manusia segera berdatangan dan mereka mendapatkan jatah rizqi yang berlimpah.
Demi Allah kedua telingaku mendengar pegawai tadi berseru: ‘Segeralah kalian mengambil pakaian kalian!’ Semua orang segera mengambil pakaian yang panjang dan lebar. Pegawai tadi juga berseru: ‘Segeralah kalian mengambil minyak dan juga madu!’
Semua itu tidak mengherankan karena harta pada masa Utsman terus menerus berdatangan dan berlimpah.
Hubungan antara sesama muslim menjadi nyaman. Tidak ada di muka bumi seorang mukmin yang merasa khawatir terhadap seorang mukmin yang lain. Yang ada adalah seorang muslim yang menyayangi, mencintai dan membantu muslim lainnya.

Akan tetapi ada sebagian orang yang bila sudah merasa kenyang maka mereka akan kelewat batas. Jika mereka mendapatkan nikmat Allah maka mereka akan menjadi kufur.
Maka sebagian orang tadi malah melemparkan cacian kepada Utsman tentang berbagai permasalahan, yang bila permasalah tersebut dilakukan oleh orang selain Utsman maka mereka tidak akan mencacinya.
Mereka tidak hanya mencaci Utsman. Kalau saja mereka berhenti mencaci Utsman, maka keadaan akan bertambah tenang.
Akan tetapi setan terus meniupkan api permusuhan dan kejahatan pada diri orang-orang tadi.
Sehingga ada sekelompok orang yang berjumlah banyak dari berbagai suku berbeda berkumpul di sekeliling rumah Utsman selama 40 malam. Mereka menghalangi penduduk rumah Utsman untuk mendapatkan air bersih.
Orang-orang zhalim ini telah lupa bahwa Utsman-lah orang yang pernah membeli sumur rumah dengan hartanya agar pada penduduk dan orang yang melancong ke Madinah Al Munawarah tidak kehausan. Padahal sebelumnya, penduduk Madinah tidak memiliki sumber air jernih yang dapat mereka minum.
Mereka juga menghalangi Utsman untuk melakukan shalat berjamaah di Masjid Rasulullah Saw.
Orang-orang tersebut telah tertutup matanya untuk mengetahui bahwa Utsman-lah yang pernah memperluas Masjid Nabawi dengan hartanya sendiri, agar kaum muslimin merasa lapang dan nyaman berada di dalamnya.
Saat kesulitan ini semakin menghebat menimpa diri Utsman, maka sekitar 700 orang dari kalangan sahabat dan anak-anak mereka segera berusaha melindungi Utsman.
Di antara mereka adalah: Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdullah bin Zubair Al Awwam, Al Hasan dan Al Husain kedua putra Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah dan banyak lagi.

utsman diserang 1

Akan tetapi Utsman bin Affan lebih memilih dirinya yang akan menjadi korban daripada banyak nyawa kaum muslimin yang akan menjadi korban hanya demi melindungi dirinya saja. Ia juga memilih untuk meregang nyawa daripada kaum muslimin lain yang akan menjadi korban pembunuhan.
Utsman berpesan kepada orang-orang yang hendak melindunginya agar ia dibiarkan sesuai kehendak Allah Swt saja.
Utsman berkata kepada mereka: “Aku berjanji kepada orang yang memiliki tanggung jawab kepadaku agar mereka menahan diri dan tangannya.” Ia juga berkata kepada para budaknya: “Siapa yang mengembalikan pedang ke sarungnya, maka ia akan merdeka!”

Saat Utsman memejamkan matanya sebelum terjadi pembunuhan terhadap dirinya,ia melihat Nabi Saw yang diiringi oleh kedua sahabatnya yang bernama Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Utsman mendengar Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Segeralah menyusul kami, ya Utsman!” Maka Utsman merasa yakin bahwa ia akan segera berjumpa dengan Tuhannya dan Nabinya.

Pagi itu Utsman bin Affab berpuasa. Ia meminta untuk dibawakan celana panjang dan kemudian ia mengenakannya karena ia merasa khawatir bahwa auratnya dapat tersingkap jika ia dibunuh oleh orang- orang durjana tadi.
Pada hari Jum;at 18 Dzul Hijjah, terbunuhlah seorang hamba yang rajin beribadah dan berzuhud. Orang yang suka berpuasa dan melakukan qiyamul lail. Orang yang berhasil menyatukan mushaf Al Qur’an. Menantu Rasulullah Saw.
Ia berpulang ke pangkuan Tuhan saat ia sedang kehausan karena berpuasa, sementara Kitabullah terbentang di antara kedua tangannya.

Hal yang membuat kaum muslimin semakin sedih adalah di antara para pembunuh Utsman ra tidak terdapat seorang tokoh sahabat maupun anak sahabat yang turut-serta dalam proses pembunuhannya ini kecuali seorang saja dari mereka yang pada akhirnya ia merasa malu dan enggan untuk melakukannya.
Untuk mengenal lebih jauh sosok Utsman bin Affan silahkan melihat:
1. Al Ishabah: 2/462 atau (Tarjamah) 5448
2. Usudul Ghabah: 3/376
3. Al Istiab (dengan Hamisy Al Ishabah): 3/69
4. Tahdzib at Tahdzib: 7/139
5. Hilliyatul Awliya: 1/55
6. Al Thabaqat Al Kubra: 3/53-84
7. Al Ma’arif: 82
8. Al Ibar: 14
9. Shifatus Shafwah: 1/112
10. Ibnu Katsir: 7/144

 

Lelaki Paling TAMPAN, … Bukan Nabi Yusuf ——– ALLAH tidak melihat RUPA, tetapi HATI kita —————- amal perbuatan kita ——————- Nabi yusuf itu ketampanannya separuh dari penduduk dunia. ….Benarkah nabi Yusuf manusia paling tampan? ————————– Para wanita yang pernah ketemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam, mereka menganggap Yusuf bukan manusia biasa, tapi jelmaan Malaikat. فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ “Tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum dengan keelokan wajahnya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31). ——————————————- Apakah Nabi Yusuf Paling Ganteng? ……… Ulama berbeda pendapat tentang siapakah lelaki yang paling tampan. ==================================== Pendapat pertama, yang paling adalah Nabi Yusuf. ==================================== Kedua, orang yang paling tampan adalah Nabi Adam ‘alaihis Salam =================================== Ketiga, orang yang paling tampan adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ================================= –…. >>>hadis riwayat Turmudzi dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan, “Tidaklah Allah mengutus nabi, kecuali berwajah tampan, dan suaranya bagus. Dan Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.” ………………………… Apapun itu, yang lebih penting kita memahami bahwa derajat kemuliaan manusia di sisi Allah tidak diukur dari neraca fisik, namun kembali kepada taqwa. Kita berusaha untuk meniru taqwanya para nabi dan bukan ketampanan para nabi ………………………………….. Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

harta rupa 1

Lelaki Paling TAMPAN, … Bukan Nabi Yusuf …. ALLAH tidak melihat RUPA, tetapi HATI kita….. amal perbuatan kita
——————————————-

Nabi yusuf itu ketampanannya separuh dari penduduk dunia. ….Benarkah nabi Yusuf manusia paling tampan?
————————–

Para wanita yang pernah ketemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam, mereka menganggap Yusuf bukan manusia biasa, tapi jelmaan Malaikat.

فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

“Tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum dengan keelokan wajahnya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (QS. Yusuf: 31).
——————————————-

Apakah Nabi Yusuf Paling Ganteng? ………

Ulama berbeda pendapat tentang siapakah lelaki yang paling tampan.

====================================
Pendapat pertama, yang paling adalah Nabi Yusuf.
====================================

Kedua, orang yang paling tampan adalah Nabi Adam ‘alaihis Salam

===================================
Ketiga, orang yang paling tampan adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

=================================
–…. >>>hadis riwayat Turmudzi dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,“Tidaklah Allah mengutus nabi, kecuali berwajah tampan, dan suaranya bagus. Dan Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.”…………………………
Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Dari Abu Huroiroh ‘Abdurrahman bin Shokhr rodhiyallaahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kalian dan tidak juga bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” {HR. Muslim}
=============================================================

harta rupa 1
=================================================================

Pendapat pertama, yang paling adalah Nabi Yusuf.

Diantara dalilnya adalah ayat di atas dan hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيَ يُوسُفُ شَطْرَ الْحُسْنِ

“Yusuf diberi setengah ketampanan.” (HR. Ahmad 14050 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)
—————————————–

Disebutkan pula dalam hadis riwayat muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan peristiwa Isra Mi’raj yang beliau alami. Ketika beliau di langit ketiga, beliau bertemu dengan Yusuf. Komentar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ketemu beliau,

فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِىَ شَطْرَ الْحُسْنِ

Di sana saya bertemu Yusuf  alaihis shalatu was salam, ternyata beliau diberi setengah ketampanan. (HR. Muslim 429).

Ibnul Qoyim menjelaskan makna hadis,

والظاهر أن معناه أن يوسف عليه السلام اختص على الناس بشطر الحسن واشترك الناس كلهم في شطره

Kesimpulan yang bisa dipahami dari hadis bahwa Yusuf ‘alaihis salam secara khusus memiliki setengah ketampanan semua manusia. Sementara setengah setampanan sisanya terbagi pada semua manusia lainnya. (Badai al-Fawaid, 3/723).

Kedua, orang yang paling tampan adalah Nabi Adam ‘alaihis Salam

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini,

Hadis Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

Allah menciptakan Adam dengan rupa sama seperti wajahnya. (HR. Bukhari 6227 & Muslim 2841)

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبْ الْوَجْهَ فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

“Apabila kalian menghukum orang lain, jauhi wajah. Karena Allah menciptakan Adam dengan rupa seperti wajahnya.” (HR. Muslim 2612).

Kita tidak membahas makna kalimat ‘seperti wajahnya’, yang jelas hadis ini menunjukkan betapa wajah Nabi Adam ‘alaihis Salam adalah wajah yang indah.

Disamping itu, Adam adalah bapak semua manusia, dan semua ketampanan yang dimiliki keturunannya adalah cipratan dari Adam.

Sementara hadis di atas, bahwa “Yusuf diberi setengah ketampanan.”

Maknanya, Yusuf diberi setengah ketampanan Nabi Adam.

Pendapat ini disebutkan Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah (1/97).

Ketiga, orang yang paling tampan adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnul Qoyim menyebutkan pendapat ini,

قالت طائفة المراد منه أن يوسف اوتي شطر الحسن الذي أوتيه محمد فالنبي بلغ الغاية في الحسن ويوسف بلغ شطر تلك الغاية

Sebagian ulama menyebutkan, maksud hadis bahwa Yusuf diberi setengah ketampanan yang dimiliki Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di puncak ketampanan, sementara Yusuf hanya mencapai setengah ketampanan beliau.

Selanjutnya, Ibnul Qoyim menyebutkan alasan pendapat ini,

قالوا ويحقق ذلك ما رواه الترمذي من حديث قتادة عن أنس قال لَمْ يَبْعَثِ اللَّهُ نَبِيًّا إِلا حَسَنَ الصَّوْتِ ، حَسَنَ الْوَجْهِ ، وَكَانَ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَهُمْ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُمْ صَوْتًا

Mereka beralasan, bahwa ini sesuai dengan hadis riwayat Turmudzi dari Qatadah, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

“Tidaklah Allah mengutus nabi, kecuali berwajah tampan, dan suaranya bagus. Dan Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.” (Badai al-Fawaid, 3/723).

Apapun itu, yang lebih penting kita memahami bahwa derajat kemuliaan manusia di sisi Allah tidak diukur dari neraca fisik, namun kembali kepada taqwa. Kita berusaha untuk meniru taqwanya para nabi dan bukan ketampanan para nabi.

Wallahu a’lam.

JUAL-BELI DENGAN ALLAH SWT …. apa yg dibeli Allah ??? … kita JUAL apa kepada Allah ??? … diri/NYAWA kita …. dan HARTA kita —————— “Sesungguhnya Allah telah MEMBELI dari orang-orang MU’MIN “diri” dan “harta” mereka dengan memberikan SURGA untuk mereka. Mereka berPERANG pada JALAN Allah; lalu mereka MEMBUNUH atau TERBUNUH. janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan JUAL BELI yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah : 111) ——————————————– Sesungguhnya Syurga tidak cukup dibuka dengan banyaknya amal kita, masih membutuhkan rahmat dan ridho Allah SWT . ———————— Jual Beli Paling Menguntungkan Adalah Iman dan Jihad fi Sabilillah – —————————————– Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang GUGUR/syahid di JALAN ALLAH itu mati !!!! ——————– Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. QS. Ali Imron ayat 169 …………… Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. QS. Ali Imron ayat 170………………. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. QS. Ali Imron ayat 171……………. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. QS. Ali Imron ayat 172…………………. (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. QS. Ali Imron ayat 173……………………. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. QS. Ali Imron ayat 174…………………….. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. QS. Ali Imron ayat 175…………………….. Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. QS. Ali Imron ayat 176………………………… Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. QS. Ali Imron ayat 177…………………………. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. QS. Ali-Imron ayat 178………………………. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. QS. Ali Imron ayat 179…………………………… ================= Allah Ibaratkan dalam menjalani hidup, kita itu seperti pedagang. Modal utamanya adalah hidup. Keuntungannya adalah surga. Pastinya, setiap pedagang mengangankan untung. Begitu juga yang berdagang dengan hidupnya, ia mengharapkan keuntungan. Keuntungan terbesar adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga. ……………… فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185) ————————–

jual beli jihad 1

JUAL-BELI DENGAN ALLAH SWT …. apa yg dibeli Allah ??? … kita JUAL apa kepada Allah ??? … diri/NYAWA kita …. dan HARTA kita
——————
“Sesungguhnya Allah telah MEMBELI dari orang-orang MU’MIN “diri” dan “harta” mereka dengan memberikan SURGA untuk mereka. Mereka berPERANG pada JALAN Allah; lalu mereka MEMBUNUH atau TERBUNUH.  janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya  daripada Allah? Maka bergembiralah dengan JUAL BELI yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah : 111)
——————————————–
Sesungguhnya Syurga tidak cukup dibuka dengan banyaknya amal kita, masih membutuhkan rahmat dan ridho Allah SWT .
————————
Jual Beli Paling Menguntungkan Adalah Iman dan Jihad fi Sabilillah –
—————————————–
taubah 111

 

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang GUGUR/syahid di JALAN  ALLAH itu mati !!!!
——————–

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.
QS. Ali Imron ayat 169 ……………

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
QS. Ali Imron ayat 170……………….

Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.
QS. Ali Imron ayat 171…………….

(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.
QS. Ali Imron ayat 172………………….

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.
QS. Ali Imron ayat 173…………………….

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
QS. Ali Imron ayat 174……………………..

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. 
QS. Ali Imron ayat 175……………………..

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.
QS. Ali Imron ayat 176…………………………

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.
QS. Ali Imron ayat 177………………………….

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.
QS. Ali-Imron ayat 178……………………….

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.
QS. Ali Imron ayat 179……………………………

=================
niaga allah

Allah Ibaratkan dalam menjalani hidup, kita itu seperti pedagang. Modal utamanya adalah hidup. Keuntungannya adalah surga. Pastinya, setiap pedagang mengangankan untung. Begitu juga yang berdagang dengan hidupnya, ia mengharapkan keuntungan. Keuntungan terbesar adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga. ………………

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185)
————————–

Hanya saja, keberuntungan hidup di atas harus diraih dengan susah payah dan pengorbanan. Memaksa diri untuk mendahulukan ridha Allah atas keinginan syahwat. Terkadang mengorbankan yang paling dicintainya dari dunia ini untuk mendapat kemuliaan di sisi-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka diliputi oleh syahwat sedangkan surga diliputi oleh sesuatu yang tidak disuka.” (Muttafaq ‘Alaih)

Lafaz hadits di atas merupakan bagian dari Jawami’ Kalim (kalimat ringkas yang penuh makna) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mencela syahwat walau jiwa ini cenderung kepadanya, juga dalam menganjurkan berbuat ketaatan walau jiwa ini tidak menyukainya dan merasa berat menjalankannya. Di mana seseorang yang berkeinginan masuk surga itu harus mampu menundukkan diri/jiwanya untuk menjalankan beban syariat dari Allah dalam bentuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan-larangan dengan perkataan maupun perbuatan. Dan maksud surga diliputi dengan makarih (sesuatu yang tak disuka) karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada.

Di antara bentuk jual beli yang Allah tawarkan ke orang beriman dalam Al-Qur’an adalah iman dan jihad. Jika mereka menjualnya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Taubah: 111)

Al-‘Imad ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga karena mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. ini merupakan karunia, kemuliaan dan kebaikan-Nya.” Oleh karenanya al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengatakan: “Allah telah membeli mereka, demi Allah, Dia menghargai mereka sangat mahal.”

Al-Hasan berkata lagi, “Dengarkan jual-beli yang menguntungkan yang telah Allah ajak setiap mukmin melakukan jual-beli ini.” Dalam perkataan beliau yang lain, “Sesungguhnya Allah telah memberikan dunia kepadamu maka belilah surga dengan sebagiannya.” (Dinukil dari tafsir al-Baghawi)

Apa yang harus diberikan oleh seorang mukmin agar dapat surga? Mereka menyerahkan jiwa dan harta mereka untuk Allah dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh-musuh-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan agama-Nya. “Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. Al-Taubah: 111)

. . . untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. . .

Maksud Jualan di Atas?

Jual beli di atas ditafsirkan dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menyerahkan harta dan jiwa di jalan Allah. Ini sesuai firman Allah di ayat yang lain,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Shaff: 10-12)

Ini merupakan pesan dan arahan Dzat Mahapenyayang kepada hamba-hamba-nya yang beriman, supaya mereka melakukan jual beli menguntungkan yang bisa menyelamatkan dari azab yang neraka yang pedih dan mendapatkan kenikmatan yang abadi. Jual beli tersebut adalah “Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Iman yang sempurna adalah pembenaran terhadap perintah-perintah Allah dalam hati yang diikuti dengan ketundukan anggota badan mengerjakan amal-amal shalih. Dan di antara amal shalih yang paling agung adalah berjihad di jalan-Nya. Oleh karenanya Allah berfirman sesudahnya, “dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.” Yaitu dengan menginfakkan sebagian harta dan mengorbankan jiwa untuk menghadapi musuh-musuh Islam dengan tujuan untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya.

Pada ringkasnya untuk mendapatkan kenikmatan surga dan dihindarkan dari siksa neraka seseorang harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lalu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Lalu kenapa masih ada orang yang bercita-cita masuk surga tapi masih pelit dengan hartanya dan enggan berjihad di jalan Allah?

berbagai sumber

KEBENCIAN orang-orang KAFIR terhadap ….. AL QUR’AN & RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – ——————————- Ancaman Allah SWT Terhadap Orang-orang Yang Mendustkan, Mengingkari dan Menentang Al Qur’an —————————————- “Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, mereka itu tidak akan mampu melarikan diri dari adzab Kami. Apakah orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka itu lebih baik? Ataukah orang beriman yang dimasukkan ke dalam surga pada hari kiamat kelak? Wahai manusia, karena itu silahkan kalian berbuat sesuka kalian. Sungguh Allah taala senantiasa mengetahui apa yangkalian lakukan. Orang-orang kafir yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an datang kepada mereka PASTI CELAKA. Sungguh Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab yang amat mulia. Al-Qur’an tidak tersentuh oleh upaya pemalsuan pada masa turunnya mau¬pun pada masa-masa selanjutnya. Al-Qur’an turun dari Tuhan Yang Maha¬bijaksana lagi Maha Terpuji. Wahai Muhammad, apa yang dikatakan oleh kaum kafir kepadamu juga telah dikatakan oleh kaum kafir dahulu kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sungguh Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Memberi siksa yang amat pedih.” (QS. Fusshilat, 41: 40-43) —————————————– Inilah sebagian Ayat-ayat yang menjelaskan sikap jelek dan KEBENCIAN …. orang-orang kafir terhadp Al Qur’an dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ————————– 1. Orang Kafir berkata: Al Qur’an Adalah Kebohongan dan Cerita-cerita Usang. ……. Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا * وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا * قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا “Orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini hanyalah perkataan dusta yang dibuat oleh Muhammad. Dia membuat Al-Qur’an ini dibantu oleh sekelompok kaum Yahudi dan Nasrani.” Sungguh orang-orang kafir itu telah berbuat zhalim dan melakukan kebohongan yang sangat keji. Orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini hanyalah dongeng-dongeng umat-umat masa lalu yang dituliskan dan didiktekan kepada Muhammad pagi dan sore hari.” Wahai Muhammad, katakanlah: “Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan yang mengetahui segala rahasia yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.”” (QS. Al Furqan, 25: 4-6) —————————— 2. Orang Kafir berkata: Al Qur’an adalah Mimpi-mimpi kalut yang dibacakan oleh seorang Penyair. ………………… Allah Ta’ala berfirman: مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ * لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ * قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ * بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ “Setiap ada ayat Al-Qur’an datang kepada orang-orang musyrik, mereka pasti mendengarkannya dengan sikap mengejek. Hati orang-orang musyrik itu selalu melalaikan hari akhirat, dan mereka merahasiakan rencana jahat mereka kepada Nabi. Mereka berkata: “Bukankah Muhammad adalah manusia seperti kita juga? Patutkah kalian mengikuti Muhammad yang datang membawa sihir berupa Al-Qur’an? Padahal kalian tahu bahwa Al-Qur’an adalah sihir.” Muhammad berkata: “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui semua ucapan di langit dan di bumi. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Bahkan orang-orang musyrik berkata: “Al-Qur’an ini adalah perkataan orang yang mengigau, atau Muhammad telah merekayasa kebohongan, atau Muhammad juga seorang penyair. Karena itu, seharusnya Muhammad dapat menunjukkan mukjizat kenabian kepada kita sebagaimana rasul-rasul dahulu.” (QS. Al Anbiya’, 21: 2-5) ————————— 3. Orang Kafir berkata: Al Qur’an adalah dongeng-dongeng Purbakala. ……… Allah Ta’ala berfirman: وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ * وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَٰذَا ۙ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ “Wahai Muhammad, ingatlah ketika kaum kafir Makkah mengatur siasat buruk terhadapmu, untuk menangkap kamu atau membunuh kamu, atau mengusir kamu dari Makkah. Mereka melakukan tipu daya terhadap kamu, lalu Allah menyelamatkan kamu dari tipu daya mereka. Allah adalah sebaik-baik pengatur tipu daya untuk menghancurkan orang-orang kafir. Wahai Muhammad, ketika kamu membacakan Al-Qur’an kepada kaum musyrik Makkah, mereka berkata: “Kami mendengar. Sekiranya kami mau membuat bacaan seperti Al-Qur’an, maka kami juga bisa melakukannya karena Al-Qur’an itu hanyalah dongeng-dongeng masa lalu.” (QS. Al Anfal, 8: 30-31) —————————– 4. Orang Kafir berkata: Al Qur’an adalah rekayasa kebohongan dan sihir yang yang nyata. ……… Allah Ta’ala berfirman: وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَن يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُّفْتَرًى ۚ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ * وَمَا آتَيْنَاهُم مِّن كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِن نَّذِيرٍ * وَكَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوا مِعْشَارَ مَا آتَيْنَاهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِي ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ “Ketika ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah jelas kebenarannya dibacakan kepada orang-orang musyrik, mereka berkata kepada sesama mereka: “Laki-laki yang membacakan Al-Qur’an ini hanyalah ingin membelokkan kita dari tradisi menyembah tuhan-tuhan selain Allah yang dilakukan oleh nenek moyang kita.” Orang-orang musyrik berkata: “Al-Qur’an yang dibawa laki-laki ini hanyalah kebohongan yang dibuat-buat.” Orang-orang kafir berkata tentang Al-Qur’an yang datang kepada mereka: “Sungguh Al-Qur’an ini benar-benar hanyalah sihir.” Kami tidak pernah menurunkan kitab suci kepada bangsa Arab sebelum Al-Qur’an ini, sehingga mereka dapat mempelajari isinya. Wahai Muhammad, sebelum kamu, Kami tidak pernah mengirim rasul kepada bangsa Arab untuk menyampaikan ancaman Tuhanmu. Umat-umat bukan bangsa Arab dahulu Kami binasakan karena mereka telah mendustakan rasul-rasul-Ku. Padahal kekayaan dan kekuatan kaummu tidak mencapai sepuluh persen dari kekayaan dan kekuatan yang Kami berikan kepada mereka dahulu. Mengapa manusia tidak mau memperhatikan adzab-Ku kepada orang-orang yang mendustakan rasul-rasul-Ku?” (QS. Saba’, 34: 43-45) —————————- 5. Orang Kafir berkata: Muhammad adalah Ahli Sihir yang banyak Berdusta. ……… Allah Ta’ala berfirman: ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ * بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ * كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ فَنَادَوا وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ * وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ * أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ * وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ * مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ * أَأُنزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِن بَيْنِنَا ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّن ذِكْرِي ۖ بَل لَّمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ “Shaad. Demi Al-Qur’an yang memuat peringatan. Orang-orang kafir benar-benar sangat congkak dan memusuhi agama Allah. Amat banyak negeri yang telah Kami binasakan sebelum kaum kafir Quraisy. Ketika kaum kafir di negeri itu dibinasakan, mereka berteriak: “Alangkah celakanya nasib kami karena tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri dari adzab.” Kaum kafir Quraisy heran dengan datangnya seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang menyampaikan ancaman kepada mereka. Orang-orang kafir Quraisy berkata: “Muhammad adalah seorang penyihir lagi pembohong. Bagaimana Muhammad dapat menyatukan tuhan yang begitu banyak ini menjadi satu tuhan saja? Sungguh perbuatan Muhammad ini suatu hal yang tidak masuk akal.” Para pembesar kafir Quraisy keluar, lalu berkata: “Biarkanlah orang ini. Wahai kaum Quraisy, bersabarlah kalian untuk membela tuhan-tuhan yang kalian sembah selama ini. Sungguh perbuatan Muhammad menyatukan tuhan-tuhan kita adalah untuk tujuan tertentu. Wahai kaum Quraisy, kita tidak pernah mendengar ajaran satu tuhan ini dari agama Nasrani. Sungguh ajaran satu tuhan ini adalah kebohongan yang direkayasa. Apakah kepada Muhammad diturunkan Kitab untuk memberi peringatan kepada kita?” Bahkan kaum kafir Quraisy selalu meragukan peringatan-Ku sekalipun saat mereka ditimpa adzab.” (QS. Shaad, 38: 1-8) ——————————– 6. Akan selalu mengganggu dan kacaukan orang-orang Islam dari Al Qur’an dengan ajaran-ajaran sesat mereka. ……………… Allah Ta’ala berfirman: وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ * فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ * ذَٰلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ ۖ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ “Orang-orang kafir berkata: “Janganlah kalian dengarkan Al-Qur’an ini. Hendaklah kalian buat keributan supaya kalian dapat mengalahkan suara bacaan Al-Qur’an.” Karena itu, sungguh Kami akan menimpakan adzab yang berat kepada orang-orang kafir. Di akhirat Kami akan berikan balasan yang lebih buruk daripada dosa yang mereka lakukan di dunia. Begitulah balasan neraka bagi musuh-musuh Allah. Mereka kekal di dalam neraka, sebagai hukuman atas pengingkaran mereka kepada Al-Qur’an.” (QS. Fusshilat, 41: 26-28) —————————– 7. Orang Kafir buta matanya, menyumbat telinganya terhadap Al Qur’an. …….. Allah Ta’ala berfirman: وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ “Sekiranya Al-Qur’an ini Kami turunkan bukan berbahasa Arab, pasti kaum kafir Quraisy berkata: “Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan berbahasa Arab yang mudah dipahami? Apakah Al-Qur’an bukan berbahasa Arab, padahal nabi yang membawa Al-Qur’an orang Arab?” Wahai Muhammad, katakanlah: “Al-Qur’an ini menjadi petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang yang tidak beriman, mereka menyumbat telinga mereka agar tidak mendengar Al-Qur’an. Mereka juga buta terhadap Al-Qur’an. Mereka itu seolah-olah mendengar suara Al-Qur’an dari tempat yang sangat jauh.” (QS. Fusshilat, 41: 44) —————————- 8. Bila Al Qur’an dibacakan dihadapan orang kafir, akan menampakkan wajak jelek dan jahatnya, dan nyaris menyerang orang-orang beriman. …………………… Allah Ta’ala berfirman: وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ “Apabila ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas kebenarannya itu dibacakan kepada orang-orang kafir, engkau lihat wajah-wajah mereka cemberut tanda tidak senang. Orang-orang kafir itu nyaris membinasakan orang-orang mukmin yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka. Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir: “Apakah kalian mau aku beri kabar yang lebih buruk daripada sikap kalian menolak Al-Qur’an? Yaitu neraka yang Allah janjikan kepada orang-orang kafir. Neraka adalah tempat tinggal yang paling buruk bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Hajj, 22: 72) ————————–

KEBENCIAN KAFIR pd quran
KEBENCIAN orang-orang KAFIR  terhadap ….. AL QUR’AN & RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wasallam –

——————————-

Ancaman Allah SWT Terhadap Orang-orang Yang Mendustkan, Mengingkari dan Menentang Al Qur’an
—————————————-

“Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, mereka itu tidak akan mampu melarikan diri dari adzab Kami. Apakah orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka itu lebih baik? Ataukah orang beriman yang dimasukkan ke dalam surga pada hari kiamat kelak? Wahai manusia, karena itu silahkan kalian berbuat sesuka kalian. Sungguh Allah taala senantiasa mengetahui apa yangkalian lakukan. Orang-orang kafir yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an datang kepada mereka PASTI CELAKA. Sungguh Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab yang amat mulia. Al-Qur’an tidak tersentuh oleh upaya pemalsuan pada masa turunnya mau¬pun pada masa-masa selanjutnya. Al-Qur’an turun dari Tuhan Yang Maha¬bijaksana lagi Maha Terpuji. Wahai Muhammad, apa yang dikatakan oleh kaum kafir kepadamu juga telah dikatakan oleh kaum kafir dahulu kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sungguh Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Memberi siksa yang amat pedih.” (QS. Fusshilat, 41: 40-43)

—————————————–

Inilah sebagian Ayat-ayat yang menjelaskan sikap jelek dan KEBENCIAN …. orang-orang kafir terhadp Al Qur’an dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
————————–

1. Orang Kafir berkata: Al Qur’an Adalah Kebohongan dan Cerita-cerita Usang. …….

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا * وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا * قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini hanyalah perkataan dusta yang dibuat oleh Muhammad. Dia membuat Al-Qur’an ini dibantu oleh sekelompok kaum Yahudi dan Nasrani.” Sungguh orang-orang kafir itu telah berbuat zhalim dan melakukan kebohongan yang sangat keji. Orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini hanyalah dongeng-dongeng umat-umat masa lalu yang dituliskan dan didiktekan kepada Muhammad pagi dan sore hari.” Wahai Muhammad, katakanlah: “Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan yang mengetahui segala rahasia yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.”” (QS. Al Furqan, 25: 4-6)
——————————
toilet paper 1

2. Orang Kafir berkata: Al Qur’an adalah Mimpi-mimpi kalut yang dibacakan oleh seorang Penyair. …………………

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ * لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ * قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ * بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ

“Setiap ada ayat Al-Qur’an datang kepada orang-orang musyrik, mereka pasti mendengarkannya dengan sikap mengejek. Hati orang-orang musyrik itu selalu melalaikan hari akhirat, dan mereka merahasiakan rencana jahat mereka kepada Nabi. Mereka berkata: “Bukankah Muhammad adalah manusia seperti kita juga? Patutkah kalian mengikuti Muhammad yang datang membawa sihir berupa Al-Qur’an? Padahal kalian tahu bahwa Al-Qur’an adalah sihir.” Muhammad berkata: “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui semua ucapan di langit dan di bumi. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Bahkan orang-orang musyrik berkata: “Al-Qur’an ini adalah perkataan orang yang mengigau, atau Muhammad telah merekayasa kebohongan, atau Muhammad juga seorang penyair. Karena itu, seharusnya Muhammad dapat menunjukkan mukjizat kenabian kepada kita sebagaimana rasul-rasul dahulu.” (QS. Al Anbiya’, 21: 2-5)
—————————

3. Orang Kafir berkata: Al Qur’an adalah dongeng-dongeng Purbakala. ………

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ * وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَٰذَا ۙ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Wahai Muhammad, ingatlah ketika kaum kafir Makkah mengatur siasat buruk terhadapmu, untuk menangkap kamu atau membunuh kamu, atau mengusir kamu dari Makkah. Mereka melakukan tipu daya terhadap kamu, lalu Allah menyelamatkan kamu dari tipu daya mereka. Allah adalah sebaik-baik pengatur tipu daya untuk menghancurkan orang-orang kafir. Wahai Muhammad, ketika kamu membacakan Al-Qur’an kepada kaum musyrik Makkah, mereka berkata: “Kami mendengar. Sekiranya kami mau membuat bacaan seperti Al-Qur’an, maka kami juga bisa melakukannya karena Al-Qur’an itu hanyalah dongeng-dongeng masa lalu.” (QS. Al Anfal, 8: 30-31)
—————————–

4. Orang Kafir berkata: Al Qur’an adalah rekayasa kebohongan dan sihir yang yang nyata.

……… Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَن يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُّفْتَرًى ۚ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ * وَمَا آتَيْنَاهُم مِّن كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِن نَّذِيرٍ * وَكَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوا مِعْشَارَ مَا آتَيْنَاهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِي ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

“Ketika ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah jelas kebenarannya dibacakan kepada orang-orang musyrik, mereka berkata kepada sesama mereka: “Laki-laki yang membacakan Al-Qur’an ini hanyalah ingin membelokkan kita dari tradisi menyembah tuhan-tuhan selain Allah yang dilakukan oleh nenek moyang kita.” Orang-orang musyrik berkata: “Al-Qur’an yang dibawa laki-laki ini hanyalah kebohongan yang dibuat-buat.” Orang-orang kafir berkata tentang Al-Qur’an yang datang kepada mereka: “Sungguh Al-Qur’an ini benar-benar hanyalah sihir.” Kami tidak pernah menurunkan kitab suci kepada bangsa Arab sebelum Al-Qur’an ini, sehingga mereka dapat mempelajari isinya. Wahai Muhammad, sebelum kamu, Kami tidak pernah mengirim rasul kepada bangsa Arab untuk menyampaikan ancaman Tuhanmu. Umat-umat bukan bangsa Arab dahulu Kami binasakan karena mereka telah mendustakan rasul-rasul-Ku. Padahal kekayaan dan kekuatan kaummu tidak mencapai sepuluh persen dari kekayaan dan kekuatan yang Kami berikan kepada mereka dahulu. Mengapa manusia tidak mau memperhatikan adzab-Ku kepada orang-orang yang mendustakan rasul-rasul-Ku?” (QS. Saba’,  34: 43-45)
—————————-
muhammad bukan nabi kafir

5. Orang Kafir berkata: Muhammad adalah Ahli Sihir yang banyak Berdusta. ………

Allah Ta’ala berfirman:

ص ۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ * بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ * كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ فَنَادَوا وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ * وَعَجِبُوا أَن جَاءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ * أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ * وَانطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ * مَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَٰذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ * أَأُنزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِن بَيْنِنَا ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّن ذِكْرِي ۖ بَل لَّمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ

“Shaad. Demi Al-Qur’an yang memuat peringatan. Orang-orang kafir benar-benar sangat congkak dan memusuhi agama Allah. Amat banyak negeri yang telah Kami binasakan sebelum kaum kafir Quraisy. Ketika kaum kafir di negeri itu dibinasakan, mereka berteriak: “Alangkah celakanya nasib kami karena tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri dari adzab.” Kaum kafir Quraisy heran dengan datangnya seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang menyampaikan ancaman kepada mereka. Orang-orang kafir Quraisy berkata: “Muhammad adalah seorang penyihir lagi pembohong. Bagaimana Muhammad dapat menyatukan tuhan yang begitu banyak ini menjadi satu tuhan saja? Sungguh perbuatan Muhammad ini suatu hal yang tidak masuk akal.” Para pembesar kafir Quraisy keluar, lalu berkata: “Biarkanlah orang ini. Wahai kaum Quraisy, bersabarlah kalian untuk membela tuhan-tuhan yang kalian sembah selama ini. Sungguh perbuatan Muhammad menyatukan tuhan-tuhan kita adalah untuk tujuan tertentu. Wahai kaum Quraisy, kita tidak pernah mendengar ajaran satu tuhan ini dari agama Nasrani. Sungguh ajaran satu tuhan ini adalah kebohongan yang direkayasa. Apakah kepada Muhammad diturunkan Kitab untuk memberi peringatan kepada kita?” Bahkan kaum kafir Quraisy selalu meragukan peringatan-Ku sekalipun saat mereka ditimpa adzab.” (QS. Shaad, 38: 1-8)
——————————–

6. Akan selalu mengganggu dan kacaukan orang-orang Islam dari Al Qur’an dengan ajaran-ajaran sesat mereka. ………………

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ * فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا عَذَابًا شَدِيدًا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ * ذَٰلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ ۖ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“Orang-orang kafir berkata: “Janganlah kalian dengarkan Al-Qur’an ini. Hendaklah kalian buat keributan supaya kalian dapat mengalahkan suara bacaan Al-Qur’an.” Karena itu, sungguh Kami akan menimpakan adzab yang berat kepada orang-orang kafir. Di akhirat Kami akan berikan balasan yang lebih buruk daripada dosa yang mereka lakukan di dunia. Begitulah balasan neraka bagi musuh-musuh Allah. Mereka kekal di dalam neraka, sebagai hukuman atas pengingkaran mereka kepada Al-Qur’an.” (QS. Fusshilat, 41: 26-28)
—————————–

7. Orang Kafir buta matanya, menyumbat telinganya terhadap Al Qur’an. ……..

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍ بَعِيدٍ

“Sekiranya Al-Qur’an ini Kami turunkan bukan berbahasa Arab, pasti kaum kafir Quraisy berkata: “Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan berbahasa Arab yang mudah dipahami? Apakah Al-Qur’an bukan berbahasa Arab, padahal nabi yang membawa Al-Qur’an orang Arab?” Wahai Muhammad, katakanlah: “Al-Qur’an ini menjadi petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman. Orang-orang yang tidak beriman, mereka menyumbat telinga mereka agar tidak mendengar Al-Qur’an. Mereka juga buta terhadap Al-Qur’an. Mereka itu seolah-olah mendengar suara Al-Qur’an dari tempat yang sangat jauh.” (QS. Fusshilat, 41: 44)
—————————-
masjid no 3

8. Bila Al Qur’an dibacakan dihadapan orang kafir, akan menampakkan wajak jelek dan jahatnya, dan nyaris menyerang orang-orang beriman. ……………………

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Apabila ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas kebenarannya itu dibacakan kepada orang-orang kafir, engkau lihat wajah-wajah mereka cemberut tanda tidak senang. Orang-orang kafir itu nyaris membinasakan orang-orang mukmin yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka. Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir: “Apakah kalian mau aku beri kabar yang lebih buruk daripada sikap kalian menolak Al-Qur’an? Yaitu neraka yang Allah janjikan kepada orang-orang kafir. Neraka adalah tempat tinggal yang paling buruk bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Hajj, 22: 72)
————————–
koran toilet paper

Ancaman Allah SWT Terhadap Orang-orang Yang Mendustkan, Mengingkari dan Menentang Al Qur’an

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي آيَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِي النَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ * إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ * لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ * مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبْلِكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ

“Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, mereka itu tidak akan mampu melarikan diri dari adzab Kami. Apakah orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka itu lebih baik? Ataukah orang beriman yang dimasukkan ke dalam surga pada hari kiamat kelak? Wahai manusia, karena itu silahkan kalian berbuat sesuka kalian. Sungguh Allah taala senantiasa mengetahui apa yangkalian lakukan. Orang-orang kafir yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an datang kepada mereka PASTI CELAKA. Sungguh Al-Qur’an ini adalah sebuah kitab yang amat mulia. Al-Qur’an tidak tersentuh oleh upaya pemalsuan pada masa turunnya mau¬pun pada masa-masa selanjutnya. Al-Qur’an turun dari Tuhan Yang Maha¬bijaksana lagi Maha Terpuji. Wahai Muhammad, apa yang dikatakan oleh kaum kafir kepadamu juga telah dikatakan oleh kaum kafir dahulu kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sungguh Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Memberi siksa yang amat pedih.” (QS. Fusshilat, 41: 40-43)

setelah berkumpul 247_n

Wahai Saudara-saudaraku Mujahidin dan Mujahidah

Itulah sifat jelak dan kedurhakaan orang-orang kafir terhadap Islam dan Allah Taala, pasti Allah membalas kejahatan mereka itu. Maka renungi dan fahami betul-betul ayat-ayat diatas, kemudian mari kita bersatu padu dalam dakwah Al Qur’an dan berjihad menegakkan syariatnya. Elakkan perpecahan, rajutlahlah persaudaraan iman, majulah bersama-sama Insya Allah pertolongan Allah akan menyertai kita. Sesungguhnya pertolongan itu hanya dari Allah semata.

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Allah memberikan pertolongan dalam perang Badar itu sebagai kabar gembira dan penenteram hati kalian. Tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepada kalian selain Allah. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana dalam memberikan pertolongan kepada hamba-Nya.” (QS. Al Anfal, 8: 10)

Wallahu’alam bish shawab…

berbagai sumber