Loading
Berjuang | EP Artikel-Edy Gojira

Mempersiapkan Kekuatan Melawan Musuh {I'dad} untuk berPERANG adalah WAJIB bagi setiap orang ISLAM ---------------- betapa Rasulullah Muhammad SAW sangat menganjurkan agar seorang muslim prihatin dengan persiapan untuk berjuang di jalan Allah. Muslim yang hilang niat & semangat berjuang maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan bahwa hilangnya semangat berjihad sebagai tanda hadirnya kemunafikan dalam diri: ------ “Barangsiapa mati dan belum berperang dan tidak pernah bercita-cita untuk berperang, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafiqan” HR.Abu Dawud 214 ---------------------- Tentu yang dimaksud disini bukan hanya memanah dengan busur panah saja, namun juga termasuk menembak, membidik, dan sebagainya. Dan yang dimaksud berkuda disini tidak hanya naik kuda asli saja, tapi juga mengendarai motor, mobil, dan kendaraan lainnya. ------------------- I'dad Hanya Persiapan Alat Perang Tanpa Latihan? -------------- ------------ Banyak orang yang menganggap enteng sisi persiapan yang teramat penting ini, sehingga dapat anda saksikan mereka yang berjatuhan di awal atau di pertengahan jalan perjuangan. Maka mereka pun terjerumus ke dalam lubang kecil yang menjebak, atau karena terkena fitnah dan ujian kecil saja. Mereka kibarkan bendera putih tanda menyerah, tunduk dan pasrah pada penjahat-penjahat yang zalim…lalu mereka berikan tanda loyal dan ketaatan mereka yang setinggi-tingginya. ------------- Dalam perjuangan Islam, tidak dikenal istilah berkorban separuh waktu, kemudian hidup damai, nyaman dan tentram serta menghibur diri dengan merasa bahwa mereka telah menjalankan tugas dan kewajibannya. Kemudian mereka menyerahkan tugas selanjutnya pada yang lain.. Tidak!!! Islam sama sekali tidak mengenal istilah demikian. Islam hanya mengenal kamus pengorbanan dan jihad, sejak dari buaian hingga liang lahat.----------- Seorang muslim hanya mengenal istirahat yang sesungguhnya kecuali di surga nan abadi, ini adalah konsekwensi dari perjanjian jual beli yang telah Allah bicarakan dalam firmanNya----------- إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah:111)---------- Akad jual beli telah ditetapkan, akadnya telah dilakukan, tidak dapat dibatalkan atau dikembalikan, dan Allah subhanallahu ta'ala telah benar-benar menepati janji-Nya, maka si hamba pun seharusnya demikian pula, menepati janjinya.--------- Wahai manusiaa!! Bertakwalah kepada ALLAH Ta'ala dan sambutlah seruan ALLAH dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!---------- Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian memepersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.----------- Lakukan I'dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang.----------- Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.---------- وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ "Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40)------------- Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.---------- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.------------- Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang.------ bagi yang ingin berjihad dia harus melakukan I’dad, jika ia tidak mau melakukan I’dad untuk berjihad maka sama halnya dengan orang yang gembar-gembor untuk melakukan sesuatu namun tidak berusaha untuk merealisasikannya. Dengan demikian sebenarnya ia memvonis dirinya sendiri sebagai pendusta dan penipu. Sebenarnya ia tidak ingin perang dan bertempur…meskipun dia mengaku-ngaku dengan lidahnya seribu kali ingin berjihad, dan mencintai jihad dan mujahidin Allah berfirman وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu. ” (at-Taubah:46) --------- Bahkan sebenarnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran kalian, kalian telah berdusta pada diri kalian dan rakyat kalian yang lalai ketika kalian mengangkat slogan tentang pembebasan. * * *---------- Jika ada pertanyaan, atas siapa sajakah kewajiban ini berlaku? --------- Pertanyaan ini kami jawab, I’dad ini diwajibkan bagi mereka yang mendapatkan beban kewajiban berjihad. * * *------- Jika ada pertanyaan lagi, “Sebatas manakah I’dad itu harus dilakukan?”------- Pertanyaan ini kami jawab, “Persiapan itu berakhir pada puncak kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia; sebab Allah subhanallahu ta'ala tidak membebani hamba-Nya melainkan sebatas kemampuan? -------------- Mencari jawaban persoalan tersebut, dalam tulisan ini, kami tidak ingin menelusuri keterangan semua ulama untuk meluruskan kesimpulan ahli syariat I'dad yang lebih tepat berbicara tentang kawin-cerai dan makanan-makanan halal. Kami rasa cukup dengan mengutip penjelasan seorang ulama yang diakui keilmuan-Islamnya oleh dunia Islam yang karya-karyanya telah terebar di pelbagai Negara, yaitu Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Berikut terjemahkan penjelasan beliau yang kami unduh dari www.alukah.net: --------- Wahai manuisa!! Bertakwalah kepada Allah Ta'ala dan sambutlah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu kepada sesuatu yang membawa kehidupan kepadamu!--------- Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya, sehingga Dia akan bolak-balikkan hatinya tersebut sesuai kehendak-Nya berdasarkan hikmah-Nya. Mintalah kepada Allah keteguhan di atas iman dan kesabaran dalam menetapi syariat Islam. Ketahuilah, di antara seruan Allah dan rasul-Nya adalah agar kalian mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang selalu berkeinginan menjadikan kalimat Allah rendah dan menjadikan kalimat mereka yang batil sebagai kalimat tertinggi. Tetapi Allah pasti menolak semua itu dengan kekuatan dan daya-Nya, dan Dia akan menolong agama-Nya melalui para wali dan tentara-Nya.---------- Lakukan I'dad (siapakan) apa yang kamu mampu dari kekuatan dalam jihad dengan lisan dan harta serta peralatan perang. Dengan itu kalian berharap ridha Allah (Tuhan kalian), membela Islam (agama kalian), dan melindungi diri, keluarga dan rumah kalian.-------------- وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ "Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40) -------------- Kalian membela agama kalian dari orang yang hendak menyerang dan menghancurkannya. Karena sesungguhnya agama adalah pokok keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.---------- Siapkan apa yang kamu mampu untuk menghadapi mereka dari kekuatan hujjah dan argument, dan menjawab syubhat mereka dengan menunjukkan kebohongannya dan menghancurkan dasar-dasar pemikiran mereka.------------ Persiapkan kekuatan untuk menghadapi mereka dengan berlatih menggunakan senjata-senjata perang dan mempelajari cara-cara dan metode peperangan yang sesuai dengan era sekarang. ------------ Diriwayatkan dari Uqbah bin amir Radhiyallahu 'Anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda di atas mimbar: وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ "Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah." (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan lainnya)-------- Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ارْمُوا وَارْكَبُوا وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا "Memanah dan berkudalah, dan kalian memanah lebih aku sukai dari pada berkuda." (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)------------ Maka siapa yang meninggalkan (pengetahuan/kemampuan) memanah (di antaranya menembak) setelah ia mengetahuinya karena membencinya, maka itu adalah nikmat yang ditinggalkannya atau yang ia kufuri. ------------- Dari Salamah bin al-Akwa' Radhiyallahu 'Anhu berkata: Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah melewati kaum yang sedang berlomba memanah, siapa di antara mereka yang menang, lalu beliau bersabda: "Panahlah wahai Bani Ismail. Islamil adalah bapaknya bangsa Arab. Sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah. Dan aku bersama (menjagokan) bani fulan."--------- Kemudian salah satu dari dua kelompok itu menurunkan tangannya (tidak melanjutkan), karenanya beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya, "kenapa kamu tidak memanah?" Mereka menjawab, "Bagaimana kami memanah sementara Anda bersama mereka?" Kemudian Nabi shalawatullah wasalamuhu 'alaihi bersabda: "Mulailah memanah dan aku bersama kalian semua."-------- Beliau bersabda, "Akan ada banyak bumi yang ditaklukkan oleh kalian dan semoga Allah menolong kalian. Janganlah salah seorang kalian malas untuk bermain-main dengan anak panahnya."------ Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga pernah menerangkan, "Siapa yang sampai di jalan Allah dengan satu anak panah –yakni siapa yang memanah dan mengenai musuh- maka bagi satu derajat di surga."------ Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan dalam hadits ini, tidak boleh meninggalkan memanah walau ia tidak memiliki hajat terhadapnya.------- Dan arramyu (memanah/melempar) yang ditafsirkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam ayat mencakup setiap panah yang sesuai pada setiap masa dan tempat. Memanah pada era beliau adalah dengan busur, panah dan manjanik, maka memanah yang pas pada era sekarang adalah dengan senapan dan macam-macam senjata api, bom dan rudal. Sebabnya, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan ramyu (melempar) secara global dan tidak menentukan senjata yang digunakan.---------- Di antara metode Islam dalam menganjurkan untuk mempelajari cara melempar adalah dengan membolehkan untuk berkompetisi dengan taruhan di dalamnya. Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).--------- Maka boleh seseorang berlomba menembak dengan taruhan beberapa dirham atau semisalnya karena di dalamnya terdapat anjuran dan motifasi untuk belajar memanah (masuk di dalamnya menembak).------- Kemudian syaikh Utsaimin memuji kebijakan Mamlakah Arab Saudi yang memerintahkan untuk dibukanya pusat-pusat tadrib (latihan) berperang di negerinya. Selanjutnya beliau berharap agar tempat-tempat semacam ini juga diadakan di semua negeri kaum muslimin sehingga para pemudanya mahir menggunakan senjata untuk membela agamanya dan mempertahankan negeranya. Beliau berharap agar negeri-negeri kaum muslimin serta rakyatnya berkompetisi dan berlomba dalam ranah yang mulia ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta'ala sesuai harapan para pemimpinnya.----- Allah Ta'ala berfirman, وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُونَ * وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ "Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Anfal: 59-60)------------ ----------------------- I'DAD dan JIHAD pun dikobarkan oleh Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Ahmad Watulessy Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, KH.Ahmad Dahlan, HOS.Cokroaminoto, Si Singamangaraja XII, PETA (Pembela Tanah Air), para ulama & santri dalam Palagan Ambarawa dan juga di seluruh pelosok negeri lainnya. Serangan Fajar yang mengambil dasar dari Hadits Nabi Muhammad SAW untuk menyerang musuh saat Shubuh dan lainnya. -----------

September 24, 2016 Edy Gojira 2

Mempersiapkan Kekuatan Melawan Musuh {I'dad} untuk berPERANG adalah WAJIB bagi [...]

Mengapa Ummat Islam Mundur ?? dan Ummat Selain Islam Maju? --------------------- Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin, paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan sesama.------------------------ > kenapa ummat Islam mundur?? adalah karena ummat Islam sudah tidak memPRAKTEKkan/mengamalkan ajaran ISLAM yang termuat dalam Al Qur’an dan Hadits. .... Padahal itu adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan akhirat. ------------------------------------- > ummat Islam TIDAK berSATU, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu. ---------------------------- >ummat Islam Cinta Dunia dan Takut Mati. ----------------------- > Ummat Islam kehilangan semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah. ------------------------------- > Ummat Islam TIDAK MANDIRI di bidang ekonomi. ....... Saat ini secara ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir. Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil. Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan. -------------------------- > ummat Islam tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama. ----------------------- >ummat Islam banyak melakukan HAL yang TIDAK berGUNA ............... Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya) ------------------------ >ummat Islam tidak menguasai media massa. .....Akibatnya ketika HUKUM ISLAM diLECEHkan, ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media massa. -------------------------------- Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30 kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi. -------------------- Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam. Sebagian ummat Islam dengan semangat “Toleransi” justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang sebenarnya merupakan kafir harbi.---------------- Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang kafir mampu memerangi ummat Islam dan menang: ..................... ”Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr:14] ---------------------- Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena masalah furu’iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah dan mudah ditaklukkan musuh.

July 28, 2016 Edy Gojira 2

Mengapa Ummat Islam Mundur ?? dan Ummat Selain Islam Maju? [...]

suatu umat yang MENINGGALKAN masalah JIHAD adalah UMAT yang LEMAH. .... Musuh-musuh akan mengalahkan mereka dan merampas hak milik mereka serta menjadikan mereka umat yang ....terHINA dan .... diperBUDAK. -------------------- Meninggalkan jihad melawan musuh dan lari dalam pertempuran di dalam menghadapi mereka, adalah perbuatan yang paling di cela oleh Islam, mengingat dampaknya sangat bahaya bagi masa depan umat Islam itu sendiri. Karena hal tersebut akan bisa membawa umat Islam kepada kekalahan, setelah itu mereka akan terhina dan tertindas serta akan di perbudak oleh musuh-musuh Islam. -------------------------- Lari dari medan pertempuran di kala pertempuran melawan musuh yang sedang berkobar, perbuatan ini dalam agama Islam dianggap sebagai perbuatan dosa besar. Bagi pelakunya akan mendapat dua ancaman dari Allah swt. yaitu : akan mendapat amarah-Nya dan akan mendapat siksa neraka. Allah telah berfirman : ------------------------------------ ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu yang itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan kemurkaanya adalah neraka jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (Q.S. 8 : 15-16). --------------------------------------- Melalui ayat tersebut, Allah melarang lari dari medan pertempuran di kala menghadapi orang-orang kafir. Allah mengecualikan dua hal, yaitu lari sebagai siasat agar musuh maju, sehingga musuh masuk ke dalam suatu jebakan, atau dengan kata lain, mundur untuk melakukan siasat perang. Kedua, ialah mundur karena ingin membantu teman-temannya, kemudian secara bersamaan menyerang dan melawan musuh. Dalam kedua hal tersebut, Allah telah memberi maaf kepada mereka, karena mundur bukan berarti lari atau takut menghadap musuh, tetapi merupakan strategi peperangan yang diperlukan. ------------------------------ Nabi saw. telah memasukkan perihal mundur dari medan pertempuran ini ke dalam salah satu di antara dosa-dosa besar. Beliau telah bersabda : اجتنبوا السّبع الموبقات،قالوا: وماهنّ يارسول الله؟ قال: الشّرك با لله، والسّحر، وقتل النّفس الّتى حرّم الله الاّ بالحقّ، وأكل الرّبا،واكل مال اليتيم، والتّولى يوم الزحف وقذف المحصنات المؤمتات الغافلا ت (رواه البخارى ومسلم) “Kamu harus menjauhi tujuh perkara yag akan mengakibatkan kerusakan (dosa-dosa besar)”. Para sahabat bertanya kepada beliau : “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tujuh perkara itu?”. Rasulullah menjawab : “ Berbuat syirik kepada Allah (menduakan Tuhan), menjalankan ilmu sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali membunuh dengan hak, memakan hasil riba (rente), memakan harta anak yatim, lari dari ajang pertempuran dan menyangka orang-orang perempuan baik-baik berbuat zina”.142 --------------------------------- Terkadang, perbuatan meninggalkan perang melawan musuh ini hanya terdorong oleh rasa malas dan tak mau mengerti kepentingan kaum muslimin. Orang-orang yang bertipe demikian ini lebih mengutamakan kepentingan pribadinya, dan lebih mencintai kehidupan duniawinya, tanpa menghiraukan rekan-rekannya yang berjuang demi menolak bahaya-bahaya yang datang dari musuh-musuh Islam. Kasus semacam ini pernah terjadi di masa Rasulullah saw. yang pelakunya terdiri dari tiga orang. Ketiga orang tersebut mendapat hukuman psikologis dan sosiologis dari kaum muslimin, sehingga hampir-hampir mereka diusir dari kalangan kaum muslimin. ---------------------------------- Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan kisah mereka dalam suatu hadits yang panjang, tentang nasib orang-orang yang tidak ikut serta dengan rombongan Rasulullah menuju perang Tabuk tanpa alasan yang bisa diterima. Lalu Nabi saw. memberi sedikit pelajaran pada mereka dengan cara mengisolir. Seluruh kaum muslimin, kala itu tidak ada yang mau berbicara dengan mereka dan tak ada yang berhubungan ataupun memberi salam, sekalipun kepada kerabat sendiri. Sekarang, marilah kita dengar kisah yang diangkat dari salah seorang di antara mereka yang terlibat dalam peristiwa ini: Sahabat Ka’ab ibnu Malik berkata: “Ketika berita kembalinya Rasulullah dari petempuran Tabuk. Terdengar olehku, hatiku kini terasa susah sekali mengingat alasan yang kubuat-buat terhadap beliau. Diriku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat agar jangan sampai kena marah besok, maka kucoba untuk menguasai diriku dari kesusahan yang melanda diriku sejak kedatangan Rasulullah. Pada keesokan harinya, datanglah Rasulullah dan rombongan, seperti biasa apabila beliau datang dari bepergian, beliau singgah dulu di masjid kemudian melakukan sembahyang dua rakaat. Setelah itu beliau datang baru duduk istirahat. Ketika beliau sedang istirahat, tiba-tiba datang orang-orang yang tidak ikut bertempur, semuanya meminta maaf kepada Rasul atas keaalpaan mereka tidak mengikuti pertempuran. Jumlah terdapat delapan puluh orang lebih, mereka bersumpah di hadapan Rasul bahwa alasan yang mereka ajukan adalah benar-benar dan tidak dibuat-buat. Akhirnya Rasulullah menerima alasan mereka dan memohonkan ampunan bagi mereka semuanya. Adapun masalah yang terpendam dalam hati mereka masing-masing Rasulullah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. ------------ Setelah itu aku datang menemui Rasulullah dan bersalam dengan beliau. Tetapi beliau menjawab dengan sambutan yang mengandung marah. Beliau lalu bersabda padaku : “Hai, ke sinilah engkau”. Kemudian aku langsung menuju beliau dan duduk di hadapannya; lalu beliau bertanya : “Apa yang menyebabkan engkau tidak ikut serta?”. Aku segera menjawab : “Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya saya berada di hadapan selain anda, pastilah saya akan dimaafkan dengan alasan-alasanku. Tetapi di hadapan anda wahai Rasulullah, seandainya saya membuat-buat alasan tentang ketidakhadiran saya dalam perang Tabuk tentu Allah akan marah kepadaku. Dan apabila saya berkata sebenarnya pasti anda akan marah kepadaku, hanya saja harapanku semoga Allah memaafkan diriku ini. Terus terang saya tidak mempunyai alasan apapun yang bisa diterima; demi Allah, ketika saya tidak ikut serta, keadaanku cukup kuat untuk bisa ikut serta”. ---------------------- Kemudian Rasulullah bersabda : “Kau berkata benar, sekarang pergilah sampai Allah akan memberi keputusan mengenai diriku”. Kemudian segera aku berdiri pergi dari situ, lalu aku disusul oleh orang-orang Bani Salmah, mereka mengikutiku sambil berkata : ----------------------- “Demi Allah kami belum pernah melihat anda berbuat dosa, kenapa engkau tidak membuat alasan sebagaimana mereka yang telah mendapat maaf dari Rasulullah. Sebenarnya dosa yang telah anda lakukan telah diampuni karena istighfar Rasulullah”. ------------------------ Demi Allah, mereka terus mengatakan penyesalannya atas keputusan yang telah kuambil, sehingga hampir saja diriku terpengaruh oleh mereka lalu kembali kepada Rasulullah dan membuat-buat alasan. Kemudian aku bertanya kepada Bani Salim : Apakah ada orang lain yang seperti diriku ini?”. Mereka menjawab : “Ya ada, mereka berjumlah dua orang. Mereka mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapat jawaban yang sama dari beliau”. Lalu aku bertanya kepada mereka: “Siapa saja mereka itu?”. Mereka menjawab : “Mararah ibnu Ar-Rabiah Al-‘Amiry dan Hilal ibnu Umayyah Al-Waqify”. ---------------- Rasulullah melarang semua kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga. Kini, kami bertiga serasa asing di tempat sendiri, karena semua orang menjauh dari kami tak ada satu pun di antara mereka yang mau berbicara ataupun bergaul dengan kami. Keadaan yang sangat menyedihkan bagi kami itu terus berlangsung selama lima puluh hari. ------------ Sikap kedua temanku hanya berdiam di rumah mereka masing-masing meratapi nasibnya. Lain dengan diriku, karena termasuk yang paling muda dan paling kuat di antara kaumku, aku selalu keluar ikut sembahyang berjamaah dengan kaum muslimin di masjid, dan berjalan-jalan di pasar. Tetapi ternyata tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku. Kemudian aku mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam pada beliau dengan harapan akan mendapat jawaban dari beliau, tatapi beliau diam saja. Lalu aku ikut sembahyang dengan beliau dan mencari posisi yang dekat dengan beliau, namun ternyata jika pandangan kami bertemu Rasulullah memalingkan mukanya dari diriku. Terasa olehku perlakuan yang kejam dari semua orang amat lama sekali sehingga membuat diriku malu. Apabila berjalan aku terpaksa melewati tembok rumah Abu Qatadah karena malu dilihat orang. Abu Qatadah adalah anak pamanku. Pada suatu hari aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi ia tidak mau menjawab salamku. Lalu segera ia kutanya: “Hai Abu Qatadah, demi Allah, tidaklah kau tahu bahwa aku benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya?”. Ia hanya diam saja tidak mau menjawab, kemudian aku mengulangi perkataanku itu beberapa kali. Setelah itu Abu Qatadah hanya mengatakan : “Hanya Allah dan Rasul yang lebih mengetahui”. Mendengar jawabannya itu air mataku terus berlinang, aku langsung berlari dari situ. Setelah lewat masa empat puluh hari tiba-tiba datanglah utusan Rasulullah saw. untuk menyampaikan pesan kepadaku. Utusan itu berkata kepadaku : “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan agar engkau menjauhi istrimu”. Aku bertanya kepadanya : “Apakah aku harus mentalaknya atau bagaimana?”. Ia menjawab : “Tidak, tetapi jauhi ia dan jangan kau dekati”. Rasulullah pun mengutus utusan yang sama kepada kedua temanku yang tidak ikut berperang dan menyampaikan kepada mereka pesan yang sama kepada beliau. Setelah itu, aku melaksanakan perintah Rasulullah dan kuperintahkan kepada istriku agar kembali kepada kedua orang tuanya sampai Allah memberikan keputusan-Nya mengenai diriku ini. -------------- Setelah selang sepuluh hari genaplah lima puluh hari sejak Rasulullah saw. melarang semua orang berbicara denganku. -------------------- Pada esok hari yang kelima puluhnya aku melakukan sembahyang subuh di atas rumahku. Setelah itu aku duduk-duduk memikirkan takdir yang sedang menimpa diriku. Waktu itu terasa olehku dunia yang lebar ini terasa sempit sekali. Tiba-tiba, terdengar suara keras mengatakan : “Hai Ka’ab ibnu Malik, bergembiralah” Setelah mendengar suara itu segera aku bersujud sebagai tanda syukur bahwa Allah telah memberi ampunan kepadaku. Semua orang datang kepadaku setelah melakukan sembahyang subuh untuk memberi selamat. Segera aku bangkit menuju Rasulullah. Di tengah jalan banyak orang-orang secara berduyun-duyun menyambut diriku dan mengucapkan selamat atas diampuninya dosaku. Ketika aku sampai di hadapan Rasulullah, beliau menyambut kedatanganku dengan wajah yang berseri-seri karena gembira. Waktu itu beliau sedang duduk dikerumuni para sahabat. Segara aku mengucapkan salam kepada beliau, menjawab : “Bergembiralah dengan hari yang paling baik ini sejak kau dilahirkan oleh ibumu”. Aku bertanya : “Apakah pengampunan itu datangnya dari anda atau dari Allah?”. Beliau menjawab : “Tentu saja dari Allah”. Ketika aku duduk di hadapan Rasulullah saw. aku berkata pada beliau : “Sebagai konsekwensi atas taubatku, kini saya harus melepaskan hartaku sebagai shadaqah kepada Allah dan Rasul-Nya”. Beliau menjawab : “Peganglah hartamu itu, karena itu akan kau perlukan”. Aku menjawab : “Wahai Rasulullah, biasanya saya selamat karena selalu berkata benar. Sekarang saya taubat dan tidak mau berkata kecuali perkataan benar selama hayat masih dikandung badan”. ------------------------ Setelah peristiwa tadi terjadi, maka turunlah ayat yang memberikan keterangan tentang diterimanya taubat mereka yang selalu berkata benar. Ayat-ayat tersebut berbunyi sebagai berikut : -------------------- “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepda mereka, terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka tidak mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadanya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang. --------------- “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.(Q. S. : 9 : 117 – 119). ------------

July 25, 2016 Edy Gojira 3

suatu umat yang MENINGGALKAN masalah JIHAD adalah UMAT yang LEMAH. [...]

Larangan bersahabat/TEMAN DEKAT/sahabat DEKAT {AULIYA} dengan orang-orang KAFIR --------------------------- Firman Allah SWT: لاَيَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكٰفِرِينَ اَوْلَيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَۚ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِى شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُوا مِنهُمْ تُقٰةًۚ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ وَإِلَى اللّٰهِ الْمَصِيرُ۝ آل عمران ٢٨ “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena ( siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri ( siksa)Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (Qs: Ali Imran; ayat; 28). ------------------------- Kupasan Kata-kata --------------------------------- “Auliyah” bentuk jama’ dari ” Wali.” Menurut bahasa berarti: “Pelindung” Penolong”. ----------------------------- Raghib Asfahani berkata: setiap orang yang mengurus persoalan orang lain, maka orang tersebut adalah, ‘wali’ dari orang lain itu. Makna ini terdapat pada firman Allah SWT: اللّٰهُ وَلِىُّ الَّذِينَ ءَامَنُو١ ۝ البقرة ٢٥٧ ( Allah Pengurus bagi orang-orang yang beriman…..) Al Baqarah; 257) ( lihat Al-Mufradat oleh Raghib Asfahani, hal; 533). ------------------------------------ ” Tiqaah” semakna dengan, “Taqiyyah” yakni ‘ menggunakan siasat terhadap seseorang karena takut akan kejahatan orang itu.” Ibnu Abbas RA berkata: “Al Taqiyyah” ialah sikap lahir yang digunakan sebagai siasat, yaitu ada kalanya seseorang bersama-sama di antara orang-orang kafir, atau berada di tengah-tengah mereka, maka ia berpura-pura senang dengan mereka dengan lisannyya, akan tetapi dalam hatinya ia sedikit pun tidak menaruh kecintaan pada mereka. ( lihat tafsier Al-Bahrul-Muhith, jilid II hal; 432). ----------------------------- Al-Qurthubi berkata; kata ” Tuqaah” asalnya ” Wuqayah.” Senada dengan kata; “Tu’adah” ( Ketenangan dalam berfikir dan bertindak). -------------------------------- Adapun makna: إِلاَّ أَن تَتَّقُوا مِنهُمْ تُقٰةً “Kecuali bila ada sesuatu pada mereka yang kamu takuti, maka tak mengapa melahirkan keakraban dengan mereka dengan lisan untuk memelihara diri dan sebagai siasat untuk menolak kedurjanaan dan gangguan mereka, tanpa keyakinan di dalam hati. وَإِلَى اللّٰهِ الْمَصِيرُ “Artinya: dan kepada Allah-lah tempat kamu kembali dan pulang, kemudian Dia akan membalas segala amal perbuatanmu. ----------------------- Sebab Turunnya Ayat --------------------------- 1. Ayat ini turun sehubungan dengan masalah segolongan dari kaum mukminin, yang mempunyai kawan-kawan orang Yahudi dan yang mereka jadikan teman-teman akrab. Beberapa sahabat menegur mereka: “Jauhilah orang-orang Yahudi itu, dan berhati-hatilah berkawan dengan mereka, supaya mereka tidak dapat mengintimidasi kalian terhadap agama kalian, dan menyesatkan kalian setelah kalian beriman.” Akan tetapi mereka menolak menerima baik nasihat tersebut dan mereka tetap dalam keakraban mereka dengan orang-orang Yahudi itu,. Maka turunlah ayat ini. ( lihat tafsier Ath-Thabari, jilid III hal; 223). --------------------------- 2. Al-Qurthubi meriwayatkan dalam Tafsiernya dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya ayat tersebut turun sehubungan dengan masalah Ubadah bin Shamit dari golongan Anshor yangg menghadiri perang Badr. Ia mempunyai sekutu-sekutu dari orang-orang Yahudi. Ketika Nabi SAW keluar untuk berjuang dalam perang Azhab, Ubadah berkata kepada Nabi SAW : “Ya Nabi Allah, saya mempunyyai lima ratus orang sekutu dari orang-orang Yahudi. Saya berpendapat agar mereka keluar bersama saya untuk menggunakan mereka sebagai kekuatan menghadapi musuh.” Lalu Allah SWT menurunkan ayat tersebut. ------------------------- Ayat-Ayat yang Menunjukkan Kepada Diharamkan Berteman Akrab Dengan Orang-Orang Kafir ---------------- Semakna dengan apa yang kami sebutkan di atas, yaitu di haramkannya berkawan akrab dengan orang-orang kafir, banyak ayat telah turun perihal tersebut, yang di antaranya khusus mengenai masalah hubungan dengan orang-orang ahli Kitab dan yang lain berhubungan secara umum dengan kaum musyrikin. ------------------------------ Di sini kami mambatasi diri dengan menyebutkan sebagian saja dari ayat-ayat yang bersangkutan: ------------------------- 1. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah, ( 5) ayat; 51. يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصٰرٰىٓ أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءَ بَعْضٍ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi wali-wali.” ( teman akrab, seperti pemimpin, penolong atau pelindung). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain……” ----------------------- 2. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mumtahinah, (60) ayat; 1. يَٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan hal-hal kepadanya, karena rasa kasih sayang….” ----------------------------- 3. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Maidah, ( 5), ayat; 57. يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِن كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ۝ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, jadi pemimpinmu ( teman setiamu) yaitu di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir ( orang-orang musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” -------------------------------- 4. Firman Allah SWT di dalam surah Ali ‘Imran (3), ayat 118. يٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُو نَكُمْ خَبَالاً “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil jadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu…..” --------------------------- 5. Firman Allah SWT di dalam surah Al-Mujadalah (58) ayat; 22. لاَتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ اْلأٰخِرِ يُوَآ دُّوْنَ مَن حَآ دَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهٗ “Tidaklah kamu akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya….” ------------------------------

July 23, 2016 Edy Gojira 2

Larangan bersahabat/TEMAN DEKAT/sahabat DEKAT {AULIYA}  dengan orang-orang KAFIR --------------------------- Firman [...]

HADIST JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU ADALAH JIHAD AKBAR = hadits PALSU .... ini BUKTInya —————------------------- UPAYA kaum Kafir, Musyrik, Fasik, dan Munafik..... agar kaum Muslim LALAI, MENYIMPANG dari JALAN ALLAH .. mengikuti jalan dan KEMAUAN para DAJJAL, pembohong, kekafiran dan SYAITAN -------------------- Catatan ini untuk membantah argumentasi kaum liberal, para orientalis serta orang2 yg sudah terjangkit Al-Wahn akut dalam dirinya yang ingin merubah makna jihad yg sebenarnya. -------------------------- Diantara kesalahan tentang pemahaman Jihad yang menyebabkan ummat enggan untuk melaksanakannya adalah pemahaman jihad besar (jihad melawan hawa nafsu) dan jihad yang lebih rendah. --------------------- Seiring dengan keyakinan ini, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri dipertimbangkan sebagai jihad yang terbesar, yang menjadikan jihad dengan berperang di medan pertempuran merupakan jihad yang paling rendah. ------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sewaktu pulang dari perang Tabuk, رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ . قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ ؟ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ “ Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Mereka berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad hati.” (HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd (384) dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (Bab Al-Wawi/Dzikr Al-Asma` Al-Mufradah) dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma. Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (biografi Ibrahim bin Abi Ablah Al-Adawi/210) dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (biografi Ibrahim bin Abi Ablah); dari Ibrahim bin Abi Ablah. Imam As-Suyuthi mengatakan, “Diriwayatkan Ad-Dailami, Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd, dan Al-Khathib.”[Jami’ Al-Ahadits (15164)] ----------------------------------------------- Dalam riwayat Al-Khathib disebutkan, bahwa ketika NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat baru saja dari suatu peperangan, beliau bersabda kepada mereka, قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ . قَالُوْا : وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ ؟ قَالَ : مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ “ Kalian telah kembali ke tempat kedatangan terbaik, dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat berkata, “Apakah jihad yang lebih besar itu? Nabi bersabda, “Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.” -------------------------------- Konsepsi ini walaupun secara fakta didasarkan atas sebuah hadits, akan tetapi hadits ini dapat disangkal dari beberapa aspek, yang akan saya sebutkan berikut ini. ----------------------- 1. Status Keshahihannyahaditsjihaad al-nafs lemah(dhaif),baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan. Dari sisi sanad, isnad hadits tersebut lemah (dha’if). Al-Hafidz al-‘Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin ‘Ablah. (lihat kitab Al Jihad wal Qital fi Siyasah Syar’iyah karya Dr. Muhammad Khair Haikal) --------------------------- Hadits ini tidak bisa digunakan untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini, Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini sanadnya lemah.” As-Suyuthi menukil dari Ibnu Hajar, “Hadits ini sangat terkenal dan sering diucapkan. Ia adalah perkataan Ibrahim bin Abi Ablah dalam Al-Kunanya An-Nasa`i.”[Ad-Durar Al-Muntatsarah fi Al-Ahadits Al-Musytaharah (1/11)] --------------------------------

July 18, 2016 Edy Gojira 1

HADIST JIHAD MELAWAN HAWA NAFSU ADALAH JIHAD AKBAR = hadits [...]