Banyak pertanyaan “Apakah TUGAS ISTRI itu “seperti PEMBANTU” di dunia ini?.—– Sebenarnya PERAN dan TUGAS istri itu apa, menurut AL QUR’AN dan AL HADITS ??. ———- Cara mudah dengan melihat ISTRI-ISTRI Nabi Muhammad, apa yang dilakukannya di rumah dan saat bersama Nabi SAW. ————– krn dalam hidup kita harus ITTIBA Rasul termasuk ITTIBA istri Rasul, karena ISTRI-ISTRI RASUL diberi ARAHAN dan PETUNJUK LANGSUNG dari NABI MUHAMMAD. ———- “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 34) ————————– masih ada saja wanita yang tidak mengerti betapa Islam meninggikan derajatnya, terutama dalam rumah tangga. Islam menjadikan seorang wanita sebagai ratu untuk suaminya. ——————– Meskipun seorang istri harus senantiasa mematuhi dan membahagiakan suami -tugas yang terkesan berat- akan tetapi sebenarnya suami memiliki kewajiban yang luar biasa besar terhadap istrinya, inilah yang membuat suami memiliki hak penuh terhadap sang istri. ——————— “Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf” (QS An Nisaa’:19) —————- “Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS Al Baqoroh: 228) ————— Dan yang dimaksud dengan ‘urf dalam ayat-ayat ini, adalah sesuatu yang dikenal dan berlaku di kebiasaan masyarakat muslimin dan tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala. ———–

istri bukan pemb cov

Banyak pertanyaanApakah TUGAS ISTRI itu “seperti PEMBANTU” di dunia ini ?.

 

—–  Sebenarnya PERAN dan TUGAS istri itu APA, menurut AL QUR’AN dan AL HADITS ??.

———- Cara mudah dengan melihat ISTRI-ISTRI  Nabi Muhammad, apa yang dilakukannya di rumah dan saat bersama Nabi SAW.??

————–  krn dalam hidup kita harus ITTIBA Rasul termasuk ITTIBA istri Rasul, karena  ISTRI-ISTRI RASUL  diberi ARAHAN dan PETUNJUK LANGSUNG dari NABI MUHAMMAD. !
———-

carilah suami

 

 

Kewajiban Istri Kepada Suami Berdasarkan Al-Qur’an Dan As-Sunnah
Asas hubungan suami istri berdasarkan persamaan hak antara pria dan wanita.
Sebagaimana firman Allah,
“…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya…”.
(QS.Al-Baqarah, 2 : 228).
Ayat ini memberikan hak kepada wanita sebanding dengan hak pria kepadanya.
Setiap kali istri diberi beban sesuatu, suami pun dikenakan beban yang sama dengannya.
Asas yang diletakkan islam untuk pergaulan suami-istri dan mengatur tata kehidupannya adalah asas yang firah dan alami.
Pria lebih mampu bekerja, berjuang, dan berusaha di luar rumah.
Wanita lebih mampu mengurus rumah tangga, mendidik anak-anak, membuat suasana rumah lebih menyenangkan dan penuh ketentraman.
Karena itu pria diberikan tugas sesuai dengan fitrahnya, dan tugas wanita disesuaikan dengan tabiatnya.
Dengan demikian, rumah tangga, baik urusan dalam maupun urusan luar, lebih teratur dan tidak seorang pun di antara suami-istri melihat urusan rumah tangga menjadi berantakan.
Rasulullah saw., menentukan tugas kepada Ali sebagai suami dan menentukan juga kepada Fatimah sebagai istrinya.
Beliau memutuskan supaya Fatimah bekerja di rumah, sementara Ali bekerja mencari nafkah.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Fatimah datang kepada Rasulullah saw., ia meminta seorang pelayan rumah tangga karena tangan Fatimah bengkak akibat tugas-tugas rumah tangga.
Rasulullah bersabda,
“Maukah kalian (Ali dan Fatimah) aku tunjukkan yang lebih baik daripada yang kamu minta itu? Jika kamu berdua hendak menaiki tempat tidur, bacalah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 33 kali. Ini lebih baik bagi kamu berdua daripada pelayan rumah tangga.” (HR.Bukhari – Muslim).
Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Aku berbakti kepada Zubair dengan mengurus seluruh rumah tangganya.
Dia mempunyai seekor kuda dan akulah yang mengurusnya.
Aku memberinya makan rumput dan akulah yang merawatnya.
Asma’ memberi kudanya makanan, minuman, dan mengisi kantong airnya, membuat tepung dan menjunjung air di atas kepalanya dari sebuah kebun milik suaminya, meskipun harus menempuh jarak dua pertiga farsakh (1 farsakh = 8 KM).
istri hadiah 1
Dua hadits tersebut menunjukkan bahwa wanita wajib bekerja di dalam rumah tangganya, dan pria berkewajiban memberikan nafkah kepadanya.
Fatimah, putri Nabi saw., telah mengadukan pekerjaan rumah yang memang tugasnya, tetapi Rasulullah saw., tidak mengatakan kepada Ali, “Itu adalah tanggung jawab kamu, dan kamu wajib melaksanakannya.”
Begitupula ketika Rasulullah saw. melihat pengabdian Asma’ kepada suaminya.
Rasulullah tidak berkata bahwa dia (Asma’) tidak berkewajiban melakukannya.
Rasulullah bahkan mengakui adanya kewajiban istri untuk melakukan semua itu.
Rasulullah mengetahui bahwa di antara para istri itu, ada yang melakukannya dengan suka rela dan ada juga yang terpaksa.
Ibnul Qayyim berkata, “Masalah ini tidak perlu diragukan lagi. Tidak ada perbedaan antara wanita terhormat dengan wanita biasa, wanita fakir aaupun wanita kaya.”
Fatimah adalah sosok seorang wanita yang terhormat di dunia.
Dia tetap wajib berbakti kepada suaminya.
Pernah ia datang mengadu kepada Rasulullah tentang pekerjaannya dan berbakti kepada suaminya, tetapi Rasulullah tidak mendengarkan pengaduannya itu.
Sebagian ulama Maliki berkata, “Istri berkewajiban mengurus rumahnya”.
Jika wanita berstatus bangsawan karena ayanya kaya, ia wajib mengurus rumah tangga dan menyuruh pelayannya.
Jika ia wanita biasa, ia wajib mengemas tempat tidurnya dan urusan-urusan rumah yang semisalnya.
Jika ia wanita miskin, ia wajib mengurus rumahnya, memasak, dan mencuci.
Jika ia wanita desa, pedalaman dan pegunungan, ia wajib bekerja seperti kebiasaan yang dilakukan mereka.
Sebagaimana firman Allah,
“…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS.Al-Baqarah, 2 : 228).
Kaum muslimin di berbagai belahan dunia, dahulu maupun sekarang, telah mengikuti tradisi yang kami sebutkan itu.
Ketahuilah bahwa Nabi saw., dan para sahabat menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya.
Sejauh yang kami ketahui, tak seorang wanita pun yang menolak pekerjaan tersebut.
Memang, ia tidak boleh menolak.
Mereka bahkan memukuli istri-istri yang tidak melakukan tugas-tugas tadi dengan sepenuhnya.
Hal ini mereka anggap sebagai pengabdian terhadap suaminya.
Seandainya ini bukan haknya, tentulah para suami tidak akan menuntutnya.
istri bukan tulis
Demikianlah pendapat yang kuat.
——————————————- =================== —————————-

Sebenarnya syariat Islam sangat unik dalam mengatur tugas dan kewajiban para istri. Tidak seperti yang umumnya kita saksikan di negeri kita, ternyata baik mengasuh anak atau pun mencari rizqi untuk kehidupan rumah tangga, pada dasarnya dalam akad nikah tidak termasuk bagian dari tugas dan kewajiban istri.

Menafkahi Keluarga Bukan Tugas Istri

Jumhur ulama seluruhya sepakat bahwa akad nikah yang dilakukan oleh wali dan menantunya adalah akad yang selain terkait dengan kehalalan persetubuhan, juga merukapan akad yang mewajibkan si menantu atau suami untuk menanggung beban kehidupan istri dan anak-anaknya nanti.

Akad nikah bukan akad kerjasama antara suami dan istri untuk menanggung bersama rumah tangga itu. Akad nikah hanya membebani suami saja, dan tidak ada beban apa pun di pihak istri. Dari situlah datangnya kepemimpinan suami atas istri, sebagaimana sudah ditetapkan Allah SWT di dalam Al-Quran.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa’ : 34)

Akad nikah itu mewajibkan suami memberi mahar (mas kawin), dan memberikan hak kepada istri untuk menerimanya. Istri sama sekali tidak pernah diwajibkan memberi mahar kepada suami.

Akad nikah itu mewajibkan suami memberi nafkah kepada istri, dan memberikan hak istri untuk menerimanya. Istri sama sekali tidak pernah dianjurkan, apalagi diwajibkan, untuk memberi nafkah kepada suami. Tidak ada kamusnya dalam Islam bahwa seorang istri harus ‘bantu-bantu’ suami dalam urusan menghidupi keluarga. Seratus persen kewajiban itu adanya di pundak suami.

Bahkan kalau suami tidak mampu memberi nafkah dan membiayai kehidupan rumah tangga, istri berhak mengundurkan diri dari ikatan pernikahan, dengan jalan fasakh. Hak itu 100% dijamin oleh syariat Islam.

Kalau Bukan Kewajiban, Lalu Apa Tugas Dasar Seorang Istri?

Seorang wanita berhak untuk memiliki harta sendiri. Dan hak itu dijamin dalam syariat Islam. Demikian juga, seorang wanita berhak untuk melakukan aktifitas ekonomi yang menghasilkan harta, di luar dari apa yang telah menjadi hak nafkah dari suaminya.

Namun yang menjadi masalah seorang isri juga wajib berada di sisi suaminya bila memang suaminya memerlukan. Dalam hal ini sudah menjadi kewajiban istri untuk stand-by bila suaminya membutuhkan dirinya.

Namun perlu juga ditegaskan, bahwa posisi istri sama sekali bukan posisi pembantu rumah tangga. Pembantu rumah tangga memang dibayar untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga, mulai dari memasak, menyapu, mengepel lantai, mencuci pakaian, menjemur, menyetrika, memberi makan anak, memandikan, memberi makan dan seabreg tugas lainnya.

Akad nikah yang terjadi antara mertua dan menantu sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala tugas pembantu itu. Jumhur ulama sepakat bahwa satu-satunya kewajiban seorang istri dari akad nikah itu semata-mata hanya memberikan pelayanan seksual kepada suami.

Kalau istri itu rela dan suka melakukan semua tugas pembantu, maka hal itu sekedar menjadi ‘added vallue’ atau nilai tambah alias bonus. Ibarat kita beli HP dapat gelas dan cangkir. Kadang nlai tambah itu ada, tetapi kadang tidak ada.

istri sapu

Aneh bin Ajaib : Para Wanita Justru Tidak Terima

Yang menurut saya rada aneh atau lucu, tetapi juga menarik untuk diperhatikan, ternyata para wanita di negeri kita sejak masih lahir sudah ditanamkan ‘nilai tambah’ ini oleh orang tua dan lingkungannya, bahkan oleh para guru dan ustadznya. Sehingga ketika akad nikah terjadi, seorang wanita resmi menjadi ‘pembantu rumah tangga’ buat suaminya.

Segala urusan tetek bengek yang aslinya merupakan tugas PRT,  tiba-tiba dan seoah-olah menjadi kewajiban istri. Namun karena otak para wanita negeri kita sudah diformat menjadi pembantu sejak kecil, maka berubah profesi jadi pembantu rumah tangga pun tidak mengapa. Tidak ada yang protes atas semua hal ini.

Malahan yang terjadi sebalikya. Ketika saya menyampaikan materi yang berjudul : ‘Istri Bukan Pembantu’ di  berbagai tempat, dimana pesertanya kebanyakan ibu-ibu dan para wanita, kebanyakan mereka tetap tidak percaya. Mereka sama sekali tidak menduga kalau ternyata istri itu bukan pembantu.

Dan tidak sedikit dari para wanita yang justru membantah keras apa yang saya utarakan. Padahal saya tidak mengarang dan juga tidak sedang melamun. Saya sedang membaca isi kitab-kitab fiqih karya para ulama, yang tentunya semua bersumber dari kitabullah dan sunnah rasulullah SAW.

Tetapi para wanita itu justru menolak kitab fiqih dan minta ayat Quran yang menyebutkan bahwa wanita bukan pembantu.

Fatwa Empat Mazhab Terkait Bahwa Istri Bukan Pembantu

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Al-Kasani dalam kitab Badai’ush-Shanai’ menyebutkan hal-hal berikut ini :

Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap (Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai‘).

Masih dalam mazhab yang sama tetapi dalam kitab lainnya yaitu kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah juga disebutkan hal yang senada :

Seandainya seorang istri berkata,”Saya tidak mau masak dan membuat roti”, maka istri itu tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santap, atau menyediakan pembantu untuk memasak makanan.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu Al-Kabir menyebutkan :
Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya. (kitab Asy-Syarhul Kabir oleh Ad-Dardir)

3. Mazhab As-Syafi’iyah

Al-Imam Asy-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab menuliskan :

Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban. . (kitab Al-Muhadzdzab oleh Asy-Syirozi)

4. Al-Hanabilah

Pendapat mazhab Al-Hanabilah pun sejalan dengan mazhab-mazhab lainnya, yaitu bahwa intinya tugas istri bukanlah tugas para pembantu rumah tangga.

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual.

Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.

Namun seperti yang saya katakan tadi, nyaris semua tulisan para ulama ini ditolak mentah-mentah justru oleh para wanita kita sendiri.

Padahal di Timur Tengah dan di Arab sana semua terbukti. Kita jarang menemukan para wanita bekerja di dapur sebagaimana lazimnya pembantu. Bahkan yang pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga pun bukan ibu-ibu seperti di negeri kita.Bulan Ramadhan tahun 2008, Penulis diundang berceramah di Doha Qatar. Memang sangat kontras pemandangannya. Selama beberapa hari di Doha, Penulis memang sempat bertandang ke beberapa pusat perbelanjaan. Memang rata-rata yang belanja kebutuhan sehari-hari kebanyakan bukan ibu-ibu macam di Indonesia. Justru yang belanja di mall untuk kebutuhan sehar-hari kebanyakan bapak-bapak yang jenggotan dan brewokan.

Penulis juga sempat heran dan bertanya dalam hati, ini emak-emak pada kemana ya? Pasar kok isinya lanang kabeh (baca : lelaki semua). Oleh karena itulah maka Penulis kemudian membuka beberapa literatur yang original dari beberapa kitab turats yang ditulis oleh para ulama, khusus pada masalah yang ditanyakan tersebut.

Dan memang Penulis pun baru sadar, bahwa ternyata apa yang kita pikirkan selama ini tentang tugas para istri, lebih merupakan pemahaman lokal budaya bangsa kita saja.

Sementara kalau kita merujuk ke aturan yang asli dan original dari syariat Islam, setidaknya lewat apa yang ditulis oleh para ulama salaf, tugas para istri tidak seberat para pembantu rumah tangga.

Dalam format berpikir bangsa kita, posisi seorang istri memang lebih merupakan abdi atau pembantu buat suami. Secara tidak sadar, kita menganggap semua itu berasal dari ajaran agama Islam. Seolah-olah kita mengatakan bahwa Islam telah mewajibkan para istri untuk melakukan banyak pekerjaan rumah tangga, layaknya seorang pembantu.

Lalu apakah para wanita negeri kita harus menuntut dan mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan sejak zaman nenek moyang?

istri beban

Jawabannya tentu saja tidak. Kalau para wanitanya sendiri sudah merasa nyaman dengan pola kehidupan seperti itu, ikhlas, ridha dan bahagia, tentu saja semua itu menjadi hak mereka.

Kalau seorang istri merasa enjoy dengan semua tugas rumah tangga itu, maka bukan cuma boleh hukumnya, tetapi juga mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Sebab semua itu termasuk bagian dari amal shalih yang dikerjakan dengan tulus, walaupun bukan tugasnya.

Ibarat kita menumpang taksi, tetapi dapat pengemudi yang baik. Walau pun sebenarnya tugas sopir taksi cuma mengantarkan kita sampai tujuan, kalau dia mau mengangkat semua barang bawaan kita, juga mau disuruh nyapu, ngepel, masak dan cuci baju, ya kenapa harus dilarang? Asalkan semua dilakukan ikhlas tanpa pamrih, tentu sopir taksi itu dapat pahala di sisi Allah.

Kesimpulannya : menjadi pembantu rumah tangga di rumah sendiri tidak salah buat para istri, walaupun pada dasarnya Islam tidak mewajibkannya.

Wallahu a’lam bishshawab,

================================ ———— ====================

Belakangan saya sempat dibikin terheran-heran dengan cerita rumah tangga sejumlah kawan yang notabene adalah para aktivis dakwah. Ada keresahan di antara mereka soal hak dan kewajiban suami-istri. Para suami merasa khawatir melanggar syariat, sementara para istri merasa selama ini mereka ‘dikerjain’ oleh para suami dalam urusan rumah tangga.

Tema yang membuat mereka resah adalah; siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga seperti memasak, menyiapkan makanan-minuman, mencuci pakaian dan menyeterikanya? Suamikah atau istri?

Berawal dari beberapa kajian soal ini, juga beredar sejumlah artikel di dunia maya – yang seperti biasa menjadi efek viral kemana-mana – beberapa muslimah berpikir kalau selama ini para suami salah kaprah memahami kewajiban mengurus rumah tangga. Bahwa mencuci, menyetrika, memasak, dll. Sesungguhnya bukan kewajiban istri, tapi kewajiban suami. Dalil yang menjadi acuan adalah firman Allah SWT.:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (TQS. Al-Baqarah: 233).

Di dunia maya juga beredar sejumlah tulisan — sebagian dibuat oleh para asatidz rahimakumullah – yang merangkum hak dan kewajiban perempuan dalam pernikahan. Singkat kalam, dalam tulisan itu dicantumkan bahwa para ulama salaf ash-sholeh memahami bahwa para istri tidak wajib sama sekali untuk memasak, mencuci, menyetrika dan sejumlah pekerjaan domestik lainnya.

Dalam sejumlah tulisan itu disebutkan bahwa kewajiban seorang istri adalah sekedar istimta’, yaitu memberikan pemenuhan kebutuhan biologis kepada suami. Lainnya tidak. Hal itu memang masyhur dalam sejumlah kitab lintas Madzhab Fikih.

Para pengikut Madzhab Hanbali misalnya berpendapat bahwa tidak ada kewajiban bagi seorang istri untuk pekerjaan domestik semisal membuat adonan, membuat roti, atau memasak. Pendapat senada juga datang dari para pengikut Madzhab Imam Syafi’i seperti yang tertuang dalam kitab al-Majmu’ (juz 16 halaman 427, edisi Maktabah Syamilah).

Menurut mereka, bila para istri berkhidmat pada suaminya dalam pekerjaan-pekerjaan di atas itu adalah amal terpuji (al-akhlaq al-mardliyyah), bukan sebagai kewajiban.

Meski demikian tidak semua ulama berpendapat serupa. Abu Tsaur[i] berpendapat sebaliknya. Beliau Menyatakan bahwa wajib bagi seorang istri membantu atau berkhidmat pada suaminya dalam segala hal (yang ma’ruf – penulis). Beliau mengutip sebuah hadits yang dicantumkan Imam Ibnu Habib[ii] dalam kitab al-Wadhihah, yakni:

إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمَ عَلَى فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ كُلِّهَا

Sesungguhnya Nabi SAW. memutuskan atas Fatimah – semoga Allah meridloinya – membantu urusan rumah seluruhnya

Ulama lain yang berpendapat serupa adalah ‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah. Beliau berpendapat bahwa seorang istri memang wajib mengerjakan tugas-tugas domestik. Beliau mendasari pendapatnya pada keputusan Nabi SAW. terhadap rumah tangga Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib ra.:

فَإِنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَضَى عَلَى ابْنَتِهِ فَاطِمَةَ بِخِدْمَةِ الْبَيْتِ ، وَعَلِيٍّ مَا كَانَ خَارِجًا مِنْ الْبَيْتِ مِنْ عَمَلٍ

Sesungguhnya Nabi SAW. menetapkan terhadap anak perempuannya, Fatimah, mengerjakan pekerjaan di rumah, sedangkan kepada Ali bin Abi Thalib pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah. (Musnad Ibnu Abi Syaibah).

Hadits di atas diperkuat dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra sama-sama mengeluhkan pekerjaan mereka masing-masing kepada Rasulullah SAW. Ali bercerita kalau pekerjaannya mengambil air (dari luar rumah) yang membuat dadanya terasa sakit. Sedangkan Fatimah mengadukan keletihannya menggiling tepung yang membuat tangannya melepuh. Namun Rasulullah SAW. membiarkan hal itu dan justru mengajarkan kepada mereka berdua wirid dan zikir yang akan membuat mereka dicintai dan dimuliakan Allah SWT.

———————–

Sikap Rasulullah saw. yang membiarkan pekerjaan Ali di luar rumah dan Fatimah di dalam rumah, menunjukkan penetapan Beliau bahwa demikianlah aktifitas suami dan istri dalam Islam. Seorang suami memang harus bekerja mendatangkan apa yang dibutuhkan istri dari luar rumah seperti membawakan air dan bahan makanan, sedangkan istri bekerja di sektor domestik/dalam rumah seperti menggiling tepung, memasak, dsb.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Barriy[iii] menyebutkan, “Melaksanakan pekerjaan di rumah adalah wajib bagi seorang wanita meskipun sang istri memiliki kedudukan terpandang dan kemuliaan jika sang suami kesulitan (mendatangkan pembantu).” Berkata Ibnu Hajar, “Demikianlah Nabi saw. menetapkan Fatimah melakukan pekerjaan di rumah, sedangkan Ali melaksanakan pekerjaan di luar rumah.”

Selain itu, Rasulullah saw. juga sering meminta kepada istri-istri beliau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di sektor domestik alias di rumah tangga, seperti meminta air minum, makanan, dsb.

يَا عَائِشَةُ اسْقِينَا ، يَا عَائِشَةُ أَطْعِمِينَا ، يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الشَّفْرَةَ ، وَاشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ

Wahai Aisyah tolong ambilkan minum, wahai Aisyah tolong ambilkan kami makanan, wahai Aisyah ambilkan kami pisau dan asahlah dengan batu! (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban).

‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah juga berpendapat bahwa bagi istri, adalah wajib melayani suami di rumah sekaligus mengurus rumah sesuai kemampuannya. Jika pekerjaan rumah tangga mendatangkan kesusahan bagi istri, maka suami wajib membantu untuk meringankannya. Misalnya memberikan mesin cuci atau menyewa pembantu rumah tangga untuk meringankan tugas istri di rumah.

Sebaliknya, jika pekerjaan di dalam rumah ringan dan mampu dikerjakan istri maka tidak ada kewajiban bagi suami untuk mendatangkan pembantu. Bahkan sang istri wajib untuk melaksanakan hal itu. Hal ini berdasarkan apa yang diputuskan oleh Nabi SAW. untuk Fatimah, putrinya.

Syaikh Taqiyuddin juga menyebutkan bahwa seorang istri wajib melayani suami seperti membuat adonan roti, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika suami meminta. Sebaliknya suami wajib menyediakan apa saja yang harus dilakukan di luar rumah seperti membuang sampah, menyediakan kayu bakar atau gas LPG, bahan makanan dari pasar, dsb.

Rasulullah saw. juga mengingatkan para wanita agar mereka mandiri dalam melakukan pekerjaan rumah dan sekali-kali tidak merepotkan suaminya bila mereka sendiri mampu melakukan hal itu. Sabda Nabi SAW.:

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِىَ لاَ تَسْتَغْنِى عَنْهُ

Allah SWT. tidak akan memandang kepada perempuan yang tidak berterima kasih kepada suaminya dan dia tidak berupaya mengerjakan sendiri tanpa merepotkan suaminya (HR. Bayhaqiy)

Menurut kami, inilah pendapat yang rajih (kuat), karena nash-nash syara’ di atas telah menunjukkan pembagian tugas suami dan istri dalam sebuah pernikahan. Demikian pula kehidupan rumah tangga para sahabat di masa Rasulullah saw. pun berlangsung seperti itu. Para sahabiyyah berkhidmat pada suaminya dan menyiapkan berbagai keperluan rumah tangga untuk mereka. Mereka menggiling tepung, memasak roti dan mencucikan pakaian suami mereka. Dan Rasulullah saw. membiarkan dan mengakui hal itu. Seandainya pekerjaan tersebut bukanlah kewajiban kaum wanita niscaya Rasullah akan membatalkan aktivitas-aktivitas tersebut.

———————————

Selain itu seandainya suami memerintahkan istri untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga semisal memasak, mencuci, menyapu, dll., maka wajib bagi istri untuk mengerjakannya. Karena ketaatan pada suami dan mengakui serta mengerjakan hak-hak suami adalah amal yang agung bagi seorang perempuan dalam rumah tangga. Sabda Nabi SAW.:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِمَا عَظَّمَ اللَّهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا

Seandainya aku diperintahkan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah telah menjadikan besar hak suami atas istrinya (HR. Abu Daud).

 

Akhirul kalam, meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan berbagai madzhab, namun kami melihat pendapat yang rajih, yang lebih kuat, adalah menetapkan pembagian tugas pria dan wanita seperti ketetapan Nabi saw. kepada Ali dan Fatimah. Para lelaki bertugas dalam pekerjaan di luar rumah, sedangkan kaum wanita bertanggungjawab dalam pekerjaan-pekerjaan domestik.

Inilah ladang amal soleh yang wajib mereka kerjakan. Hal ini bukanlah ‘urf atau adat, melainkan ketetapan yang datang dari nash syara’. Karenanya tak ada alasan bagi seorang perempuan menolak mengerjakan tugas-tugas domestik, dengan alasan hal itu adalah urf, apalagi berdalih itu tidak termasuk tugas seorang istri. Andaikan benar demikian, niscaya Rasulullah SAW. akan membela keluhan putrinya sendiri. Tapi faktanya Beliau justru membiarkan aktifitas itu tetap berlangsung dan malah mengajarinya wirid dan zikir.

Menelantarkan tugas-tugas rumah tangga adalah kemaksiatan di sisi Allah SWT. karena termasuk melalaikan kewajiban. Maka seorang istri harus berusaha sekuat tenaga mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sebaik-baiknya, sehingga rumah tangganya menjadi tempat berkumpul yang menyenangkan bagi suami dan anak-anaknya. Lebih dari itu, amal dalam rumah tangga adalah amal agung yang dapat menyamai jihad fi sabilillah yang dilakukan kaum pria. Wallahualam.

============================================

istri anak d

==========================================================================

Disadari atau tidak, seorang istri menjadi kekuatan penting dalam kehidupan suami, bukan hanya pelengkap, tapi ia adalah penentu utama dan memiliki peran besar bagi kesuksesan suami dan buah hatinya. Sejarah telah mencatat, dibalik kesuksesan dan kebesaran seorang suami selalu ada istri yang setia menopang dan membantunya. Di balik Nabi Adam ada siti Hawa, di balik Nabi Muhammad ada Siti Khadijah, dan bahkan di balik Soeharto ada Ibu Tien.

Demikianlah, istri yang sosoknya terlihat lemah, ternyata memiliki energi yang luar biasa. Ia adalah inspirasi tak bertepi yang mampu menghantarkan sang suami ke jenjang kesuksesan yang sepintas mustahil dijangkaunya. Begitu juga sebaliknya. Hari ini, betapa banyak kita dengar orang-orang besar yang mendadak hancur karier dan masa depannya karena terjerat kasus hukum, mulai dari perselingkuhan, korupsi sampai pembunuhan. Tentu ini tidak harus terjadi bila di belakang mereka ada sosok istri yang hebat. Yang mampu mendamaikan mata dan jiwa sang suami.

Lalu istri model apa yang memiliki kontribusi besar bagi kemajuan suami dan anak-anaknya? Tentu jawabnya adalah istri shalihah. Tak peduli ia hanya ibu rumah tangga atau pun seorang pejabat publik. Maka sangat beruntung bagi laki-laki yang mendapatkan wanita yang mampu menjadikannya lebih besar daripada sebelumya. Yang mampu membuatnya lebih tabah, ulet, sabar, kuat dalam menghadapi liku-liku kehidupan. Istri yang demikian itulah yang digambarkan Rasulullah sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia, istri shalihah.

1. Menghayati fungsi istri terhadap suami.

Hadis Rosullullah SAW. :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra, Bahwa Rasullallaah SAW. bersabda : “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita shalihah.” ( HR. Muslim )

Jadi, Fungsi wanita yang menjadi istri haruslah dapat mengfungsikan dirinya laksana perhiasan yang melekat pada diri pemakainya. Istri harus selalu menjadi penyejuk, penyedap, pesona dan pemberi semangat hidup pada suaminya.

2. Menjadi wakil suami dalam keluarga.

Hadis Rosullallah SAW. :

Dari Ibnu Umar ra. berkata, Rasullullaah SAW. Bersabda : “ Setiap orang di antaramu adalah penanggung jawab dan setiap orang diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah penanggung jawab atas umatnya, ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang suami penanggung jawab atas keluarganya, ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya, seorang istri penanggung jawab atas rumah tangga suaminya (Bila suami pergi), ia diminta tanggung jawab atas kepemimpinanya.“ ( HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi )

Setiap istri wajib menghormati kepemimpinan suaminya di rumah dan diluar rumah, istri harus menempatkan diri sebagai wakil suami selaku pemimpin rumah tangga, ia tidak boleh melampaui batas sebagai wakil ini, karena itu, istri harus meminta persetujuan suami bila melakukan tindakan penting dalam rumah tangganya. Karena istri menjadi wakil suami, maka segala tindakan istri dalam mengurus rumah tangga suami, dalam menggunakan uang belanja, mengurus anak dan mengawasi pembantu rumah tangga, semua itu harus dipertanggung jawabkan kepada suami.

3. Mentaati perintah suami dalam kebenaran.

Hadis Rasullallah SAW. :

Dari Abu Huraira ra, Nabi SAW. Bersabda : “ Sekiranya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri sujud kepada suaminya. “ ( HR. Tirmidzi )

Maka istri diwajibkan mentaati suaminya selama perintah – perintah itu benar, jika istri diperintah oleh suami untuk membuat makanan, mencuci pakaiannya, disuruh menjaga rumah dengan baik atau memelihara kebersihan rumahnya, dll, tetapi ia tidak mau, maka istri telah durhaka terhadap suaminya.

( Bila istri tidak sanggup melaksanakannya, harus terus terang kapada suaminya, jangan diam saja ( agar tidak durhaka terhadap suami ), karna suami mengaggap istri itu mampu mengerjakannya )

4. Meringankan beban mahar suami.

Hadis Rasullallah SAW :

“ Wanita yang paling baik ialah wanita yang maharnya paling sedikit. “ ( HR. Thabarani )

Karena itu, bila istri mengetahui bahwa suaminya merasa berat dalam melunasi pembayaran mahar yang masih terhutang, maka sangat dianjurkan istri meringankannya, Caranya bisa dengan mengurangi atau menghapuskannya sama sekali, tapi perlu diperhatikan bahwa suami tidak boleh berusaha menekan istrinya agar membebaskannya dari kewajiban membayar maharnnya.

5. Melayani kebutuhan seksual suami

Hadis Rasullallah SAW. :

Dari Abu Ali Thalg bin Ali ra, Sesungguhnya Rasullallah SAW. Bersabda : “ Bila Seorang suami memanggil istrinya untuk memenuhi kebutuhannya (Seksualnya), maka hendaklah ia penuhi sekalipun ia sedang diatas cerobong yang tinggi. “ ( HR. Tirmidzi Dan Nasa’i )

Dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata : Rasullallah SAW. Bersabda :
“ Allah melaknat wanita yang menunda – nunda, yaitu seseorang istri ketika diajak suaminya ketempat tidurnya, tetapi ia berkata : ‘Nanti dulu’ sehingga suaminya tertidur sendirian. “ ( HR. Khatib )

Abu Hurairah ra. Berkata : Bersabda Rasullallah SAW. :
“ Jika suami memanggil istrinya untuk tidur bersama, lalu istrinya itu menolak, sehingga semalaman suaminya menjadi jengkel (Marah) kepada istrinya, maka para malaikat mengutuk istri itu sampai pagi hari. “ ( HR Bukhari Dan Muslim )

Setiap istri wajib melayani kebutuhan seksual suaminya dan tidak boleh menolak atau menundanya, kecuali karena alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam, yaitu :

1.Sedang haid.
2.Sedang nifas.
3.Sedang melakukan puasa wajib ( Ramadhan ).
4.Menjalankan ibadah haji atau umrah.

Bila melakukan pada saat alasan tersebut di atas adalah haram.

istri bukan pe

6. Meringankan beban belanja suami.

Allah SWT berfirman :

“ Hendaknya (Suami) yang berkelapangan membelanjai sesuai kelapangannya dan (Suami) yang kekurangan/disempitkan rizkinya, membelanjai dari harta yang Allah karuniakan kepadanya “ ( QS. Ath – Thalag : 7 )

Seorang istri yang baik tidak boleh memaksa suami untuk memberinya belanja lebih dari kemampuan konkret sang suami.

( yang kekurangan/disempitkan rizkinya, membelanjai dari harta yang Allah karuniakan kepadanya ( Bagi suami yang miskin, hendaklah ia membelanjai istrinya sebanyak yang Allah karuniakan kepadanya ) ( Ayat Terakhir QS. Ath – Thalag : 7 )

Jadi, Jangan memaksa suami mencari hutang dan meminjam kekanan – kiri untuk memenuhi hasrat sang istri dalam menutup belanja keluarganya yang telah ditargetkan setiap bulannya. Bila istri sanggup untuk bekerja ( Dengan ijin suami ), maka hendaknya ia membantu suaminya untuk meringankan beban nafkah suami (Akan mendapatkan dua pahala yaitu pahala kekeluargaan dan pahala sedekah).

7. Membantu kehidupan agama suami.

Seorang istri mempunya kewajiban berdakwah. Orang yang paling utama didakwahi adalah suaminya sendiri. Karena itu tugas seorang istri membantu kehidupan beragama suaminya adalah fardhu ‘ain.
Istri adalah seorang yang paling bertanggung jawab meluruskan perilaku suami yang tidak sejalan dengan ketentuan Islam.

Bila suami kurang pengetahuan Islamnya, sedang istri banyak tahu, maka ia wajib mengajari suaminya, karena itu istri wajib terus menerus belajar agama agar dapat membantu suaminya dalam menegakkan kehidupan beragama atau menyuruh (Dengan baik/halus) kepada suami untuk mempelajari juga tentang agama.

8. Membantu jihad suami.

Allah SWT berfirman :

“ Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: ‘ Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah kuberikan kesenangan itu dan aku ceraikan dengan cara yang baik. Tetapi jika kamu menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kebahagian negri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar ‘ “ ( QS. Al – Ahzab : 28-29 )

Setiap orang islam wajib melakukan jihad bila Islam terancam oleh pihak lain. Jihad ini menjadi tanggung jawab setiap laki-laki mukmin, bila wanita muslimah telah bersuami dan suaminya ingin berjihad, maka sang istri wajib membantu jihad suaminya (Jika kamu menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kebahagian negri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar).

(Jihad dalam menegakkan Agama Allah merupakan kewajiban yang harus diutamakan lebih dahulu dan lebih di utamakan daripada kewajiban kepada keluarga)

9. Berdandan untuk menggairahkan suami.

Hadis Rasullullaah SAW. :

“ Dari Anas ra, Rasullullah SAW. Bersabda : ‘ Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, yaitu keras menjaga kehormatanya, pandai membangkitkan syahwat suaminya. “ ( HR. Dailami )

Jadi, Seorang istri yang baik dapat menjaga diri dari bergaul di dalam keluarga maupun masyarakat dengan secara Islami dan membangkitka syahwat suami (Menggairahkan) dengan cara misalnya : berolah raga untuk mengencangkan otot – otot pinggul, otot – otot dada, sehingga terpelihara dengan baik.

10. Memelihara harga diri dan harta suami.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari Abdullah bin Salam ra, Rasullullah SAW. Bersabda :
“ Seabaik-baik istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu lihat, taat kepadamu ketika kamu suruh, menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi .“ ( HR. Thabarani )

Firman Allah SWT.

“ Wanita-wanita shalihah yaitu yang taat ( Berdiam dirumah ) lagi memelihara kehormatanya ketika suaminya pergi sebagaimana Allah telah memeliharanya “ ( QS. AN – Nisaa’ : 34 )

Hadis dan firman/ayat di atas memerintahkan istri mentaati suami, menjaga harta suami dan memelihara kehormatanya pada saat suami tidak dirumah, taat dalam artinya mengikuti perintah yang benar, yang tidak berlawanan dengan ketentuan agama.

Hadis Rasullullah SAW. :

“ Manusia yang paling jahat disisi Allah pada hari kiamat yaitu suami istri yang melakukan hubungan intim, kemudian salah seorang diantaranya menceritakan kepada orang lain rahasia pasangannya “

11. Keluar rumah harus minta ijin suami.

Hadis Rasullullah SAW. :
Dari Anas ra, Nabi SAW bersabda : “ Siapa saja istri yang keluar dari rumahnya tanpa ijin suaminya, maka ia berada dalam kemurkaan Allah sampai ia pulang atau merelakannya.“ ( HR. Khatib )

Istri yang taat kepada suaminya tentu tidak merasa tertekan atau terpenjarakan dirumah bila ia mengikuti tuntutan Islam dalam berumah tangga, seorang istri yang shalihah justru menemukan ketentraman batin dan kepuasan rohaniah dengan mematuhi ketentuan berkeluarga Islami.

12. Tidak boleh merusak kepemimpinan suami.

Hadis rasullullah SAW :

Dari Abi Bakrah ra, dari Nabi SAW. Bersabda : “ Binasalah kaum laki-laki yang mentaati para wanitanya “ ( HR. Ahmad dan Thabarani ).

Jadi seorang istri harus nurut/mentaati terhadap suami, tidak boleh memutuskan sesuatu untuk keperluan keluarga dengan sendiri harus dirembukan dengan suami, seperti membeli meja, kursi, dll harus kesepakatan suami, bila suami tidak setuju dan istri jalan terus. Tindakan istri semacam ini sudah merusak kewibawaan suami di tengah keluarga.

13. Selalu lembut dalam memandang suami.

Hadis Rasullullah SAW :

Dari Abu Sa’id ra, Nabi SAW. Bersabda : “ Sesungguhnya seorang suami melihat istrinya ( Dengan kasih sayang ) dan istrinya pun melihatnya ( Dengan kasih sayang pula ), Maka Allah melihat
keduannya dengan pandangan kasih sayang, Dan bila suami
memegang telapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar
dari celah jari-jari tangan mereka.” ( HR. Rafi’I )

14. Menemani makan suami sampai selesai.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari Mu’adz ra, Nabi SAW. Bersabda : “ Sekiranya seorang istri
mengatahui betapa besar kewajibanya kepada suaminya, niscaya ia
tidak akan mau duduk selama suaminya makan siang dan malam
hingga selesai ( HR. Thabarani ).

Kalau dikatakan suami itu manja dan kekanak-kanakan, maka hal
itu adalah benar. Disatu sisi suami dituntut untuk tegar, perkasa
dan menjadi pengayom, tetapi di sisi lain justru suami menyimpan
sifat kekanak-kanakan. Jadi bila suami makan maka istri hendaknya menemani suami sampai selesai dikarenakan suatu kewajiban istri terhadap suami.

15. Menemani suami mandi.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari Aisyah ra, Rasullullah SAW. bersabda : “ Semoga Allah merahmati suami yang dimandikan istrinya dan ditutup ( Kekurangan ) akhlaknya. “ ( HR. Baihaqi )

Lalu apa manfaatnya bagi istri menemani mandi atau memandikan suaminya? Yang jelas suami merasa kemanjaannya terpenuhi dan istri membuktikan kemesraannya kepada suaminnya, namun sayang, hal yang mudah ini jarang dilakukan oleh suami istri. Padahal jelas-jelas oleh islam dibenarkan mengapa enggan melakukannya.

16. Merawat suami ketika sakit.

Istri merawat suaminya selama sakit adalah tanggung jawab istri, sebab pengabdian istri kepada suaminya tidak terukur kebaikannya sebelum ia membuktikan kesetiaan, kesabaran dan keteguhan dalam merawat suaminya selama sakit, bahkan Rasullullah SAW. Semasa sakitnya meminta dirawat dirumah ‘Aisyah, istri tercintanya.

17. Mengalah kepada suami.

Allah SWT. Berfirman :

“Dan jika seorang istri khawatir suaminya nusyuz atau bersifat acuh, maka tidak mengapa mereka mengadakan perdamaian sungguh-sungguh dan perdamaian itu lebih baik ( Bagi mereka ), sekalipun nafsu manusia itu tabiatnya kikir.Dan jika kamu berlaku baik ( Kepada Istrimu ) dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan” ( QS. An – Nisaa’ :128 )

Ayat ini menerangkan sikap yang harus diambil oleh seorang istri bila ia melihat sikap nusyu suaminya, seperti Tidak melaksanakan kewajibanya terhadap dirinya sebagai mestinya, tidak memberi nafkah, tidak menggauli dengan baik, berkurang rasa cita dan kasih sayang, dll,yang mungkin ditimbulkan oleh kedua belah pihak atau oleh salah satu pihak, jadi hendaklah istri mengadakan musyawarah dengan suami, mengadakan pendekatan perdamaian disamping berusaha mengembalikan cinta dan kasih sayang suaminya yang telah pudar. Hal ini tidak berdosa jika istri bersifat mengalah kepada suaminya, seperti bersedia beberapa haknya dikurangi dan sebagainya. Agar si suami ingat kembali akan kewajiban-kewajibannya yang telah ditentukan.

18. Menutup dirinya dari laki-laki lain.

Hadis Rasullullah SAW. :

Rasullullah SAW. Bersabda : ‘ Istri-istri kalian yang tebaik ialah istri yang peranak ( Banyak anak ), besar cintanya, pemegang rahasia, kesatria membela keluarga, patuh kepada suaminya, membentengi diri dari laki-laki lain, taat pada perintah suaminya, bila bersendirian dengan suaminya, ia pasrahkan dirinya sepenuhnya sesuai dengan keinginan suaminya dan tidak bersikap kepada suaminya laksana sesama laki-laki.” ( HR.Thusi )

Ciri istri yang bertanggung jawab terhadap suaminya adalah sebagai berikut :
1. Banyak Anaknya
2. Besar cintanya kepada suaminya
3. Kuat memegang rahasia suami
4. Tabah menghadapi penderitaan keluarga
5. Menyerahkan diri kepada suaminya lahir dan batin
6. Pandai bersolek untuk suaminya
7. Membentengi dirinya dari laki-laki lain.

Seorang istri muslimah wajib membatasi dirinya dalam bergaul dengan orang lain, ia hanya boleh menampakkan dirinya secara bebas hanya kepada suaminya, walaupun ia berada dalam rumah, tetapi bila ada orang lain bukan mahramnya, ia tetap harus menutup dirinya dengan pakain muslimah dan terhadap anak kandungnya sendiri, tidaklah dibenarkan menampakkan auratnya yang dapat menimbulkan rangsangan.

19. Berterima kasih atas kebaikan suami.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari ‘Abdullah bin Amr ra, ujarnya Rasullullah SAW. Bersabda :
“ Allah tidak mau melihat istri yang tidak berterima kasih atas kebaikan suaminya.“ ( HR.Nasa’I )

Bagi istri yang tahu berterima kasih kepada suami, maka ia selalu menggembirakan hati suaminya dengan ucapan Alhamdulilah, senyum dan pandangan mesra setiap kali suaminya menyerahkan hasil jeri payahnya, tidak ada gerutu dalam hatinya, tidak ada sesal dalam kalbunya, setiap usaha suaminya senantiasa ia sertai dengan panjatkan do’a kepada Allah SWT semoga suaminya mendapatkan hasil yang diridhoi Allah SWT yang bisa mencukupi keluaraga dan tetap dalam kebaikan didunia dan diakhirat. Inilah potret istri yang shaliha dan itulah istri calon penghuni surga.

20. Tidak berkhianat terhadap suami.

Tindakan istri berkhianat terhadap suaminya adalah seperti : serong, curang, menyembunyikan sesuatu dari pengetahuan suaminya, keluar rumah tanpa ijinnya, bertemu laki-laki lain pada saat suaminya tidak ada, dll.

Oleh karena itu istri yang baik agar tidak berkhianat kepada suami : Para istri jangan menjadi mata-mata orang lain terhadap suaminya Jika istri tidak sependapat dengan suaminya dalam suatu urusan, hendaklah ia nyatakan pendapat pribadinya dengan terus terang agar dapat dipertimbangkan oleh suami.

Jangan menyebar cacat-cela suami kepada siapapun, sekalipun kepada
keluarga dan saudara-saudara istri sendiri, yang akibatnya membenci
suami anda sendiri. Hindari diri dari menjadi musuh dalam selimut
terhadap suami sendiri. Sebab perbuatan seperti itu di murkai oleh Allah.

Rasullullah SAW. Bersabda : “Musuhmu yang terbesar adalah istrimu yang setempat tidur denganmu dan hamba sahayamu”. ( HR. Dailamy )

Perbanyaklah amala shalih, karena kelak di akhirat suami tidak bisa
menolong istri dan istripun tidak bisa menolong suami dari siksa Allah SWT, jangan sekali-kali menggantungkan nasib diakhirat anda pada suami, walaupun anda yakin suami anda orang shalih.

Pegang teguhlah rahasia suami walaupun anda dalam kesulitan yang berat, karena teguh pada kebaikan adalah sifat yang istri shalih dan dijamin Allah dengan pahala surga.

21. Tidak menyakiti hati suami.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari Mu’Adz bin jabal ra, dari nabi SAW. Bersabda : “ Jangan seorang istri menyakiti suaminya didunia ini, karena bidadari dari surga berkata kepadanya: ‘Janganlah engkau sakiti dia, semoga Allah membinasakanmu. Sebab dia (Suamimu) hanya sebentar di sisimu. Ia segera akan berpisah darimu untuk pergi kepada kami. ‘ “ (HR.Tirmidzi)

Dari Hushain bin Mihshan ra, Nabi SAW. Bersabda : “Sesungguhnya (Suamimu) adalah Surgamu dan nerakamu.“ ( HR.Ahmad dan Nasa’I )

prilaku istri yang termasuk menyakiti hati suami adalah dengan contoh sebagai berikut. Istri disuruh suami membuatkan minum. Sambil membuat minum, ia terus menggerutu kepada suaminya. Tatkala ortu istri datang kerumah, istri memberikan kepada mereka sejumlah hadiah tanpa meminta ijin kepada suaminya. Ia tidak mau perdulikan perasaan dan pendapat suaminya. Sikap tak acuh saja. Tatkala istri senang atau tertarik pakaian bagus, ia begitu saja membelinya, walaupun suaminya tidak setuju, karena tidak mempunyai uang untuk membelikannya, tetapi istri tetap bersikeras walaupun pembeliannya dilakukan secara kredit. Istri bermalas-malasan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, karena lebih suka nonton film televisi, karena sikap malasnya itu, pembersihan rumah menjadi beban suami, bila di tegur sikapnya tak acuh saja.

Istri yang menyakitkan hati suaminya dia ancam oleh Islam tidak mendapatkan balasan surga kelak diakhirat, karena itu, wahai para istri, berhati-hatilah dalam bersikap dan bertindak terhadap suami.

22. Tidak boleh melarikan diri dari rumah suami.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari Ibnu Umar ra, Rasullullah SAW. Bersabda : “ dua golongan yang shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya dan istri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai kembali pulang “ ( HR Hakim, )

Bila ada masalah atau pertengkaran didalam kehidupan berumah tangga seorang istri yang shaleha akan mengajak suaminya untuk berfikir jernih, saling intropeksi diri dan meminta nasehat kepada orang yang mengerti ajaran islam, jangan mengambil tindakan yang gegabah dengan cara lari dari rumah suaminya, sebab hal ini mempersulit penyelesaian (Berdosa), tetapi jika memang harus meninggalkan suami untuk sementara guna memberi pelajaran kepada suami, maka lakukanlah dengan cara baik-baik. Mintalah suami mengantarkan pulang kerumah orang tua anda secara terhormat, dengan tindakan seperti itu, insya Allah suami anda menjadi
insyaf.

23. Tidak puasa sunah ketika suami di sisinya kecuali dengan ijinnya.

Hadis Rasullullah SAW.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW. Bersabda : “ siapa saja istri berpuasa (Sunah) tanpa ijin suaminya, lalu suaminya mengajak bercampur, tetapi ia menolaknya (Karena sedang berpuasa), maka Allah tetapkan ia berbuat tiga dosa besar.”( HR. Thayalisi )

Dari Abu Hurairah ra, Rasullullah SAW bersabda : “ tidak dihalalkan bagi seorang istri berpuasa sunat ketika suaminya dirumah, melainkan dengan ijin suaminya dan tidak boleh bagi istri mengijinkan orang lain masuk kerumahnya melainkan dengan ijin suaminya.“ ( HR.Bukhari Dan Muslim )

Harus disadari oleh setiap istri bahwa mentaati suami itu adalah kewajiban agama yang sama nilainya dengan kewajiban laki-laki berjihad, menegakkan agama Allah, jadi seorang istri tidak perlu bingung dalam mencari pahala untuk bekal akhirat.

24. Membangunkan suami untuk shalat malam.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari Abu Huraira ra, Rasullullah SAW. Bersabda : “ Semoga Allah memberi rahmat kepada seorang wanita yang bangun shalat malam dan ia bangunkan suaminya untu shalat malam, jika suaminya enggan, lalu ia percikan air ke mukannya ( suaminya).” ( HR.’Ahmad, Nasa’I dan Ibnu Hibban )

Seorang suami yang menginginkan bahagia dunia akhirat, akan memilih istri yang shaliha, dengan harapan istri dapat membantu membentuk akhlak mulia dan hidup dengan syariat Allah SWT, untuk itu istri diharapkan dapat meluruskan perbuatan-perbuatan suaminya yang dilihat salah dan juga membantu suaminya meningkatkan iman dan takwanya kepada Allah SWT. Shalat malam adalah sunat, bila seorang istri melaksanakan shalat malam, maka mengajak suami untuk shalat juga, bila tidak mau bangun maka dibenarkan untuk memercikan air kemuka suaminya agar suami mau bangun, dan tidak juga hanya untuk shalat malam tetapi untuk shalat-shalat lainnya ( Fardhu harus dipaksa ) agar selalu mengingatkan kepada suami agar terlepas dari dosa.

25. Tidak membuka tutup kepalanya di luar rumah suami.

Hadis Rasullullah SAW. :

Dari ‘Aisyah, Rasullullah SAW. Bersabda : “ seorang istri yang membuka kain (kepalanya) diluar rumah suaminya, maka berarti ia telah mengoyak tabir yang mendinding dirinya dengan Allah SWT.” ( HR.Ahmad )

Seorang wanita yang sudah balig wajib menutup auratnya, yaitu seluruh tubuhnya, kecuali muka dan kedua telapak tangannya sampai pergelangannya, kalau ia berada diluar rumahnya atau hendak bertemu laki-laki bukan mahramnya. Ketika ia bersuami, di hadapan dan di rumah suaminya ia boleh berpakaian bebas.

ref : berbagai sumber

 

 

ADAKAH lobang hitam / BLACK HOLE di AL QUR’AN ? ….. LUBANG HITAM sebagai PUSAT GALAKSI/ CLUSTER / SUPER CLUSTER ——————— Black hole atau lubang hitam merupakan benda angkasa dengan kekuatan gravitasi sangat besar. Penemuan black hole pun menjadi satu penemuan besar dalam bidang astronomi. Sebelumnya tidak ada bayangan sama sekali tentang adanya lubang hitam dengan kekuatan sangat besar ini. Namun, setelah ditemukan adanya black hole kemudian munculah asumsi bahwa lubang hitam termasuk bintang yang tak terlihat karena tidak memancarkan cahaya sama sekali. Black hole diyakini terbentuk dari bintang yang terlihat gelap karena kehabisan bahan bakar sehingga bintang tersebut tidak terlihat. Secara lebih lanjut black hole pun masuk dalam tahapan kelahiran bintang. ———- Black Hole Sudah Dikabarkan Dalam Al-Qur’an Faktor lain yang menyebabkan black hole tidak terlihat yaitu karena gravitasi yang super besar yang saking besarnya dirasa cukup kuat menarik cahaya. Selain memiliki gaya gravitasi yang besar, black hole memiliki massa yang besar pula. Massa besar yang dimiliki black hole ini pun diduga menjadi sebab besarnya gravitasinya. Akan tetapi, ada satu hal unik terkait massa besar black hole ini. Meskipun black hole memiliki massa yang amat besar, ukurannya cukup padat. Bila ditemukan black hole dengan berat matahari, maka ukuran black hole tersebut hanya memiliki diameter 3 km saja. Cukup padat bukan. Sementara black hole yang sebenarnya diketahui memiliki diameter 31 km dengan massa 1031. Dengan demikian sangat wajar bila gravitasi black hole super besar. ———- Black Holes atau lubang hitam bisa dibilang penemuan paling fenomenal di abad 20 di bidang astronomi. Sebelumnya, tak seorang ilmuwan yang pernah membayangkan bahwa di langit ada sejumlah bintang bergerak terus, menyapu, menyedot semua benda langit di sekitarnya. Apalagi bintang itu memang tidak terlihat.——– Sejak tahun 1790 seorang ilmuwan Inggris John Michell dan ilmuwan Perancis, Pierre-Simon Laplace memprediksi bahwa ada bintang tersembunyi di langit. Kemudian tahun 1910 teori relativitas Einstein memperkirakan adanya benda di luar angkasa yang memiliki pengaruh terhadap waktu dan tempat. Selanjutnya dikembangkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild, pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin dipopulerkan oleh Stephen William Hawking. Pada saat ini banyak astronom yang percaya bahwa hampir semua galaksi dibalam semesta ini mengelilingi lubang hitam pada pusat galaksi.———- Tahun 1967 ilmuwan Amerika John Archibald Wheeler sudah mulai membicarakan dan menamakan “lubang hitam” black holes sebagai hasil dari hancurnya bintang-bintang. sehingga menjadi populer di dunia bahkan juga menjadi topik favorit para penulis fiksi ilmiah. Kita tidak dapat melihat lubang hitam akan tetapi kita bisa mendeteksi materi yang tertarik/tersedot ke arahnya. Dengan cara inilah, para astronom mempelajari dan mengidentifikasikan banyak lubang hitam di angkasa lewat observasi yang sangat hati-hati sehingga diperkirakan di angkasa dihiasi oleh jutaan lubang hitam——— Para ilmuwan memastikan keberadaan black holes dengan menggunakan teleskop Hubble terhadap pusat galaksi M87. Mereka menemukan konsentrasi gas secara berkesinambungan di sekitar black holes. Konsentrasi gas bergerak sangat cepat yakni 400 km/detik. ——- Di tahun 1994, melalui teleskop Hubble di pusat galaksi M87 yang dikelilingi oleh gas yang jelas. Diperkirakan masa black holes ini 3 juta kali lipat masa matahari. Kemudian bukti-bukti ilmiah semakin banyak ditemukan tentang adanya black holes melalui sinar-X.———– Black holes atau lubang hitam seperti definisi ilmuwan NASA adalah medan gravitasi sangat kuat. Akibatnya, benda-benda langit tersedot dengan intensitas tinggi tanpa terkecuali. Saking kuatnya, cahaya pun tidak bisa menghindar dari sedotan. Black hole terbentuk ketika sebuah bintang besar mulai habis usianya akibat kehabisan energi dan bahan bakar. Meski tidak terlihat, black hole memiliki magnet tingkat tinggi.——————– Semua bintang dengan masa 20 kali lipat dengan matahari memungkinkan untuk hancur dan berakhir dan berubah menjadi black hole. Ini karena bintang itu memiliki magnet dan masa yang besar. Namun jika masa bintang kecil dan bahan bakarnya habis, maka magnetnya dan masanya tidak mencukupi untuk menyedot benda-benda di sekitarnya dan tidak menjadi black holes. Bintang ini hanya menjadi white dwarf atau bintang mati. Matahari misalnya, setelah 400 juta tahun akan hilang bahan bakar nuklirnya dan redup. Namun ia tidak menjadi black hole karena masanya tidak mencukupi. Barangkali ini yang diisyaratkan oleh Al-Quran————— “Apabila matahari digulung,” (At Takwir: 1) ————- Jadi bukan hancur namun redup. Kuwwirat dalam kamus maknanya satu bagian masuk tergulung ke bagian lainnya. ———— Meledaknya bintang adalah fase pertama terbentuknya black holes. Para ahli menemukan bahwa semua bintang akan meledak setelah kehabisan bahan bakarnya dan berubah menjadi bintang lain, namun bentuk paling ekstrim adalah black holes. —————- Karena gravitasi begitu kuat pada lubang hitam mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata “hitam”. Istilah “lubang hitam” telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa. Kekuatan grafitasi eksrtrim ini menghasilkan panas tinggi sehingga menciptakan cahaya. Cahaya itu dengan mudah dideteksi oleh astronom melalui alat mereka. Padahal kecepatan cahaya adalah 300 ribu km/detik. Karenanya tidak bisa dilihat, ia disebut lubang hitam. Ada black hole yang memiliki masa lebih dari 1000 juta kali masa matahari. Ia menyedot benda, gas, benda langit di dekatnya secara berkesinambungan.————— Massa dari lubang hitam terus bertambah dengan cara menangkap semua materi didekatnya. Semua materi tidak bisa lari dari jeratan lubang hitam jika melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari lubang hitam akan tersedot. Berlainan dengan reputasi yang disandangnya saat ini yang menyatakan bahwa lubang hitam dapat menyedot apa saja disekitarnya, lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari dirinya. dia hanya bisa menarik materi yang lewat sangat dekat dengannya. ———- Sejumlah galaxy sejauh 250 juta tahun kecepatan cahaya. Tahun 2002, ilmuwan menemukan sejumlah lubang hitam di wilayah ini. (nasa.gov) ———- Antara Ilmuwan dan Al-Quran ——— Seorang ilmuwan Barat menjelaskan hakikat black hole “It creates an immense gravitational pull not unlike an invisible cosmic vacuum cleaner. As it moves, it sucks in all matter in its way — not even light can escape. Black hole menciptakan gravitasi ekstrim yang bekerja seperti vacuum cleaner alam raya yang tidak terlihat. Ia bergerak dan menelan semua benda yang ditemuinya bahkan cahaya pun disedotnya dan tidak bisa menghindar.” ————— Karakter black hole: ———— Tidak terlihat (Invisible) Bekerja seperti sapu mesin yang menyedot (cavuum cleaner) Bergerak secara berkesinambungan (moves) ———— Black Hole dalam Al Quran ———– ilustrasi Video BLACK HOLE/ lubang HITAM https://youtu.be/8-KKJeZs8eg Al Quran menyebutkan banyak fenomena alam raya dan benda-benda luar angkasa, bintang, planet, nama bintang, galaksi dan lain-lain. Sebelum mengklaim adanya fenomena black hole dalam Al-Quran, mari kita perhatikan ayat yang paling dekat untuk dikaji. Yakni di surat At-Takwir ayat 15-16. — “Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu,” ———– Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yakni bintang yang bernama atau memiliki tiga karakter. Pertama, khunnas(الْخُنَّسِ); yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannaas (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuawan tentang karakter black hole yakni; invisible. Kedua, aljawaar (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ini karakter black hole kedua moves. Lafadl Al Quran tajri lebih perfect dibanding penjelasan ilmuan sebab kata ia bermakna bergerak cepat atau lari. Sementara moves tidak menggambarkan bergerak dengan cepat. Ketiga, al kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole vacuum cleaner.—————- Kunnas berasal dari kanasa artinya menyapu, miknasah alat untuk menyapu. Kunnas bentuk jamak dari kaanis yang menyapu. Kunnas adalah shigat muntaha jumuk (bentuk jamak paling tinggi) dari bentuk tunggal kaanis. ————— Para ulama tafsir klasik menjelaskan makna khunnas al jawaril kunnas adalah bintang yang cahayanya tidak muncul di siang hari dan muncul di malam hari. Namun ini hanya penafsiran bukan makna sesungguhnya. Penafsiran paling sesuai dengan realitas alam raya adalah black holes. ———- Lebih takjub lagi, ilmuwan NASA menemukan adanya gelombang suara dengan irama tertentu yang keluar dari black hole atau gas yang meliputinya di galaksi yang sangat jauh. ———- “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al Isra’: 44). ————- Black hole dengan ukuran sedang besarnya 10 kali limat dari berat matahari. Ada black hole yang besarnya sangat ekstrim yang ada di galaksi kita dan galaksi lain. Ada yang beratnya 1 juta kali lipat matahari. ———— Bagaimana mendeteksi black hole yang tidak terlihat dan tidak mengeluarkan cahaya? Setelah mengamati alam raya dan bintang-bintang dalam waktu yang lama. Tiba para ilmuwan menemukan sebuah bintang itu hilang cahayanya. Setalah beberapa saat bintang itu muncul lagi. Ketika gambarnya diamati, para astronom berkesimpulan bahwa cahaya itu terhalang oleh black hole yang melintas. —-

lubang hitam kunnas

ADAKAH lobang hitam / BLACK HOLE di AL QUR’AN ? ….. LUBANG HITAM sebagai PUSAT GALAKSI/ CLUSTER / SUPER CLUSTER
———————

Black hole atau lubang hitam merupakan benda angkasa dengan kekuatan gravitasi sangat besar. Penemuan black hole pun menjadi satu penemuan besar dalam bidang astronomi. Sebelumnya tidak ada bayangan sama sekali tentang adanya lubang hitam dengan kekuatan sangat besar ini. Namun, setelah ditemukan adanya black hole kemudian munculah asumsi bahwa lubang hitam termasuk bintang yang tak terlihat karena tidak memancarkan cahaya sama sekali. Black hole diyakini terbentuk dari bintang yang terlihat gelap karena kehabisan bahan bakar sehingga bintang tersebut tidak terlihat. Secara lebih lanjut black hole pun masuk dalam tahapan kelahiran bintang. ———-
Black Hole Sudah Dikabarkan Dalam Al-Qur’an
Faktor lain yang menyebabkan black hole tidak terlihat yaitu karena gravitasi yang super besar yang saking besarnya dirasa cukup kuat menarik cahaya. Selain memiliki gaya gravitasi yang besar, black hole memiliki massa yang besar pula. Massa besar yang dimiliki black hole ini pun diduga menjadi sebab besarnya gravitasinya. Akan tetapi, ada satu hal unik terkait massa besar black hole ini. Meskipun black hole memiliki massa yang amat besar, ukurannya cukup padat. Bila ditemukan black hole dengan berat matahari, maka ukuran black hole tersebut hanya memiliki diameter 3 km saja. Cukup padat bukan. Sementara black hole yang sebenarnya diketahui memiliki diameter 31 km dengan massa 1031. Dengan demikian sangat wajar bila gravitasi black hole super besar.
 ———-

Black Holes atau lubang hitam bisa dibilang penemuan paling fenomenal di abad 20 di bidang astronomi. Sebelumnya, tak seorang ilmuwan yang pernah membayangkan bahwa di langit ada sejumlah bintang bergerak terus, menyapu, menyedot semua benda langit di sekitarnya. Apalagi bintang itu memang tidak terlihat.——–

Sejak tahun 1790 seorang ilmuwan Inggris John Michell dan ilmuwan Perancis, Pierre-Simon Laplace memprediksi bahwa ada bintang tersembunyi di langit. Kemudian tahun 1910 teori relativitas Einstein memperkirakan adanya benda di luar angkasa yang memiliki pengaruh terhadap waktu dan tempat. Selanjutnya dikembangkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild, pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin dipopulerkan oleh Stephen William Hawking. Pada saat ini banyak astronom yang percaya bahwa hampir semua galaksi dibalam semesta ini mengelilingi lubang hitam pada pusat galaksi.———-

Tahun 1967 ilmuwan Amerika John Archibald Wheeler sudah mulai membicarakan dan menamakan “lubang hitam” black holes sebagai hasil dari hancurnya bintang-bintang. sehingga menjadi populer di dunia bahkan juga menjadi topik favorit para penulis fiksi ilmiah. Kita tidak dapat melihat lubang hitam akan tetapi kita bisa mendeteksi materi yang tertarik/tersedot ke arahnya. Dengan cara inilah, para astronom mempelajari dan mengidentifikasikan banyak lubang hitam di angkasa lewat observasi yang sangat hati-hati sehingga diperkirakan di angkasa dihiasi oleh jutaan lubang hitam———

Para ilmuwan memastikan keberadaan black holes dengan menggunakan teleskop Hubble terhadap pusat galaksi M87. Mereka menemukan konsentrasi gas secara berkesinambungan di sekitar black holes. Konsentrasi gas bergerak sangat cepat yakni 400 km/detik. ——-

Di tahun 1994, melalui teleskop Hubble di pusat galaksi M87 yang dikelilingi oleh gas yang jelas. Diperkirakan masa black holes ini 3 juta kali lipat masa matahari. Kemudian bukti-bukti ilmiah semakin banyak ditemukan tentang adanya black holes melalui sinar-X.———–

Black holes atau lubang hitam seperti definisi ilmuwan NASA adalah medan gravitasi sangat kuat. Akibatnya, benda-benda langit tersedot dengan intensitas tinggi tanpa terkecuali. Saking kuatnya, cahaya pun tidak bisa menghindar dari sedotan. Black hole terbentuk ketika sebuah bintang besar mulai habis usianya akibat kehabisan energi dan bahan bakar. Meski tidak terlihat, black hole memiliki magnet tingkat tinggi.——————–

Semua bintang dengan masa 20 kali lipat dengan matahari memungkinkan untuk hancur dan berakhir dan berubah menjadi black hole. Ini karena bintang itu memiliki magnet dan masa yang besar. Namun jika masa bintang kecil dan bahan bakarnya habis, maka magnetnya dan masanya tidak mencukupi untuk menyedot benda-benda di sekitarnya dan tidak menjadi black holes. Bintang ini hanya menjadi white dwarf atau bintang mati. Matahari misalnya, setelah 400 juta tahun akan hilang bahan bakar nuklirnya dan redup. Namun ia tidak menjadi black hole karena masanya tidak mencukupi. Barangkali ini yang diisyaratkan oleh Al-Quran—————

“Apabila matahari digulung,” (At Takwir: 1) ————-

Jadi bukan hancur namun redup. Kuwwirat dalam kamus maknanya satu bagian masuk tergulung ke bagian lainnya. ————

Meledaknya bintang adalah fase pertama terbentuknya black holes. Para ahli menemukan bahwa semua bintang akan meledak setelah kehabisan bahan bakarnya dan berubah menjadi bintang lain, namun bentuk paling ekstrim adalah black holes. —————-

Karena gravitasi begitu kuat pada lubang hitam mencegah apa pun lolos darinya kecuali melalui perilaku terowongan kuantum. Tak ada sesuatu, termasuk radiasi elektromagnetik yang dapat lolos dari gravitasinya, bahkan cahaya hanya dapat masuk tetapi tidak dapat keluar atau melewatinya, dari sini diperoleh kata “hitam”. Istilah “lubang hitam” telah tersebar luas, meskipun ia tidak menunjuk ke sebuah lubang dalam arti biasa. Kekuatan grafitasi eksrtrim ini menghasilkan panas tinggi sehingga menciptakan cahaya. Cahaya itu dengan mudah dideteksi oleh astronom melalui alat mereka. Padahal kecepatan cahaya adalah 300 ribu km/detik. Karenanya tidak bisa dilihat, ia disebut lubang hitam. Ada black hole yang memiliki masa lebih dari 1000 juta kali masa matahari. Ia menyedot benda, gas, benda langit di dekatnya secara berkesinambungan.—————

Massa dari lubang hitam terus bertambah dengan cara menangkap semua materi didekatnya. Semua materi tidak bisa lari dari jeratan lubang hitam jika melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari lubang hitam akan tersedot. Berlainan dengan reputasi yang disandangnya saat ini yang menyatakan bahwa lubang hitam dapat menyedot apa saja disekitarnya, lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari dirinya. dia hanya bisa menarik materi yang lewat sangat dekat dengannya.
———-
Sejumlah galaxy sejauh 250 juta tahun kecepatan cahaya. Tahun 2002, ilmuwan menemukan sejumlah lubang hitam di wilayah ini. (nasa.gov) ———-

Antara Ilmuwan dan Al-Quran ———

Seorang ilmuwan Barat menjelaskan hakikat black hole “It creates an immense gravitational pull not unlike an invisible cosmic vacuum cleaner. As it moves, it sucks in all matter in its way — not even light can escape. Black hole menciptakan gravitasi ekstrim yang bekerja seperti vacuum cleaner alam raya yang tidak terlihat. Ia bergerak dan menelan semua benda yang ditemuinya bahkan cahaya pun disedotnya dan tidak bisa menghindar.” —————

Karakter black hole: ————

Tidak terlihat (Invisible) Bekerja seperti sapu mesin yang menyedot (cavuum cleaner) Bergerak secara berkesinambungan (moves) ————


Black Hole dalam Al Quran ———–

ilustrasi Video BLACK HOLE/ lubang HITAM https://youtu.be/8-KKJeZs8eg

Al Quran menyebutkan banyak fenomena alam raya dan benda-benda luar angkasa, bintang, planet, nama bintang, galaksi dan lain-lain. Sebelum mengklaim adanya fenomena black hole dalam Al-Quran, mari kita perhatikan ayat yang paling dekat untuk dikaji. Yakni di surat At-Takwir ayat 15-16. —

Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu,” ———–

Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yakni bintang yang bernama atau memiliki tiga karakter. Pertama, khunnas(الْخُنَّسِ); yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannaas (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuawan tentang karakter black hole yakni; invisible. Kedua, aljawaar (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ini karakter black hole kedua moves. Lafadl Al Quran tajri lebih perfect dibanding penjelasan ilmuan sebab kata ia bermakna bergerak cepat atau lari. Sementara moves tidak menggambarkan bergerak dengan cepat. Ketiga, al kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole vacuum cleaner.—————-

Kunnas berasal dari kanasa artinya menyapu, miknasah alat untuk menyapu. Kunnas bentuk jamak dari kaanis yang menyapu. Kunnas adalah shigat muntaha jumuk (bentuk jamak paling tinggi) dari bentuk tunggal kaanis. —————

Para ulama tafsir klasik menjelaskan makna khunnas al jawaril kunnas adalah bintang yang cahayanya tidak muncul di siang hari dan muncul di malam hari. Namun ini hanya penafsiran bukan makna sesungguhnya. Penafsiran paling sesuai dengan realitas alam raya adalah black holes. ———-

Lebih takjub lagi, ilmuwan NASA menemukan adanya gelombang suara dengan irama tertentu yang keluar dari black hole atau gas yang meliputinya di galaksi yang sangat jauh. ———-

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al Isra’: 44). ————-

Black hole dengan ukuran sedang besarnya 10 kali limat dari berat matahari. Ada black hole yang besarnya sangat ekstrim yang ada di galaksi kita dan galaksi lain. Ada yang beratnya 1 juta kali lipat matahari. ————

Bagaimana mendeteksi black hole yang tidak terlihat dan tidak mengeluarkan cahaya? Setelah mengamati alam raya dan bintang-bintang dalam waktu yang lama. Tiba para ilmuwan menemukan sebuah bintang itu hilang cahayanya. Setalah beberapa saat bintang itu muncul lagi. Ketika gambarnya diamati, para astronom berkesimpulan bahwa cahaya itu terhalang oleh black hole yang melintas. —-

Diperkirakan jumlah black hole di alam raya ini jutaan bahkan ribuan juta.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fushilat: 53)

UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ————————— ———— Kaya dan Miskin ————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————- ———– Hasad dan Ghittoh ———- Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—– Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———– Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————– Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——- Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———– Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———- Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——– Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————- ————- Definisi Fitnah —————— Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.———— Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————– Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——- ————- Sumber Fitnah —————— Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ——— Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————- Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ———— Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). ————— —————- Bahagia itu Sederhana —————- Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———- Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).—————— Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.————— Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————- Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————- Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————- ———— Ujian Hidup ———- Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————– Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————- Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————- Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————- Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————- Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————– Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————– Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. —— ———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————- Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———– Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————– Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————- ———– Kesejahteraan itu Perlu ———————– Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).—————— Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.————— Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.————— Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.————— Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.————— Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu. ———————– Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ———— Allâh Ta’ala berfirman:———- Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——– Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————- “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———- ——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———– Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.———— Allâh Ta’ala berfirman:———– Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—- Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——– “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————- Allâh Ta’ala berfirman:———– “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——– Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—– “Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———– —- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———– Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.———— Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:— Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————- Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———– “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—– Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.—— Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———– Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———- “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————- Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).————— Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——– ”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———– Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]——— ————- HIKMAH COBAAN ——– Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.—— Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————– Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————- “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——- Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]——-

ujian hidup muslim

UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah
—————————
———— Kaya dan Miskin ————-

Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —–

Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.—————

Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——–

Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———–

————– Empat Jenis Manusia —————–

 Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —-

  1. Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—-
  2. Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—–
  3. Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———-
  4. Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————-

———– Hasad dan Ghittoh ———-
Hasad adalah tidak rela orang lain mendapat suatu nikmat dan menginginkan/membayangkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang. Ghittoh adalah menginginkan nikmat seperti yang ada pada orang lain, sehingga membuatnya terpacu agar memperoleh hal yang sama. Akan tetapi, ia tidak menginginkan nikmat yang ada pada orang lain tersebut hilang atau lenyap.—–

Salah satu hal yang menjadi penyebab beban batin pada diri manusia ialah karena adanya perasaan benci, iri, ataupun dengki. Andaikan penyakit-penyakit hati seperti rasa iri, dengki, dan benci tidak terdapat dalam hati manusia, niscaya manusia akan selalu merasa bahagia. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi mengatakan bahwa penduduk surga belum bisa merasakan nikmatnya surga, kecuali setelah dicabut penyakit-penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, benci, dan sebagainya.———–

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, perasaan hasad biasanya muncul karena adanya kesamaan dalam berbagai aspek atau bidang tertentu, entah dalam bidang pekerjaan, agama, aktivitas, dan seterusnya. Seorang tukang becak akan saling hasad dengan sesama tukang becak, seorang pedagang buah akan saling iri dengan sesama pedagang buah, aparat polisi dengan aparat TNI, seorang pendakwah saling hasad dengan sesama pendakwah, orang Islam dengan sesama orang Islam, aktivis muslim dengan sesama aktivis muslim, dan lain sebagainya.————–

Kalau tidak ada kesamaan aspek atau bidang, biasanya hampir tidak ada perasaan hasad. Seorang muslim hampir tidak ada rasa hasad dengan orang kafir, sebab—barangkali—dalam pikirannya sehebat apapun ia, toh ia tetap saja orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang pedagang hampir tidak mungkin merasa iri dengan tukang becak, dan seterusnya.——-

Di samping karena hati kita yang sakit, perasaan hasad juga disebabkan karena setan ikut berkecimpung di dalamnya. Setan akan selalu berusaha merusak hati kita dan menimbulkan permusuhan antara manusia, apalagi sesama muslim. Jadi, kita perlu berwaspada dan membersihkan penyakit-penyakit hati semacam hasad.———–

Perasaan iri, benci, atau hasad harus terus-menerus dilawan, salah satu solusinya ialah dengan cara mendoakan kebaikan pada orang yang dibenci tersebut. Para ulama dahulu, tatkala muncul perasaan benci atau hasad, maka bersegera untuk mendoakan orang yang dibenci tersebut agar mendapatkan kebaikan, bukan malah mendoakan keburukan karena dilarang dalam agama. Hal ini dilakukan untuk melawan sekaligus membersihkan hatinya dari perasaan benci.———-

Kalaupun mendoakan kebaikan bagi orang yang kita benci terasa berat, maka ada sebuah doa yang diajarkan oleh Imam Husain seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Tujuannya tidak lain adalah untuk melawan rasa hasad yang timbul dalam hati, yakni dengan cara mendoakan agar nikmat orang yang kita merasa iri dengannya semakin bertambah dan berkah. Contoh doa dari Imam Husain adalah demikian, “Ya Allah, tambahkan kebaikan baginya, tambahkan rezekinya, jadikanlah ia semakin kaya, makmur, dan sejahtera. Dan berikanlah kepada hamba yang lebih baik darinya”.——–

Jangan lupa—tambahan dari penulis—untuk memohon kebersihan hati dengan berdoa, “Ya Allah, hilangkan perasaan iri dan dengki yang ada di dalam hati hamba. Bersihkan hati hamba dari penyakit-penyakit hati. Karuniakan hamba hati yang bersih, suci, lembut, dan mudah menerima hidayah dari-Mu. Ya Allah, hilangkan kebencian yang ada dalam hati hamba. Penuhi hati hamba dengan rasa cinta dan kasih sayang, sehingga tiada tempat lagi bagi kebencian di hati hamba”. —————-

————- Definisi Fitnah ——————

Kata “fitnah” dalam konteks Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah diartikan dengan kata “menuduh” seperti yang ada dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan dengan kata “menuduh”. Sehingga jika ada orang yang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, maka dikatakan telah memfitnah.————

Lebih parah lagi, menggunakan dalil ayat wal fitnatu asyaddu minal qatl (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) untuk kasus tuduhan, tentu saja tidak tepat. Padahal ayat yang tepat untuk kasus tuduhan adalah subhanaka hadza buhtanun ‘azhim (An-Nur: 16), yang artinya Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar. Jadi, yang lebih tepat untuk kata menuduh adalah “buhtan” bukan “fitnah”.—————–

Kata “fitnah” dalam konteks Islam maksudnya adalah cobaan, ujian, godaan, atau sesuatu yang menghambat/menghalangi kebaikan. ——-

————- Sumber Fitnah ——————

Semua lingkungan yang kita diami bisa menjadi sumber fitnah, dan solusi bagi seorang muslim untuk menghadapi fitnah adalah dengan sabar. Masing-masing umat mempunyai fitnah, contoh: fitnah kaum ‘Ad adalah tubuh yang kekar, kaum Tsamud dengan keahlian bangunannya, bani Israil dengan fitnah wanita, dan fitnah umat Islam adalah harta dunia alias kekayaan, wanita, dan dajjal. ———

Rasulullah menegaskan bahwa setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta. Dalam hadits lain, Sayyidina Muhammad bersabda, “Sungguh, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Akan tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah ketika dunia dibentangkan, kemudian kalian saling berebut hingga membinasakan kalian seperti orang-orang sebelum kalian (HR. Imam Bukhari). ————-

Rasulullah juga mengatakan, “Sungguh, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan adalah kalian bersaing memperebutkan harta-harta dunia (HR. Imam Bukhari). Beliau juga memperingatkan, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita” (HR. Imam Bukhari). ————

Selain itu, salah satu fitnah umat Islam yang terbesar adalah dajjal. Kanjeng Nabi memperingatkan umatnya bahwa tidak ada makhluk yang Allah ciptakan di muka bumi sejak Nabi Adam hingga hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada dajjal (HR. Imam Muslim). —————

—————- Bahagia itu Sederhana —————-

Nabi seluruh umat manusia bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai sehat pada pagi hari, aman di tempat tinggalnya, dan punya cukup makanan untuk hari itu; maka seolah-olah ia telah mendapatkan dunia dan segala isinya (HR. Tirmidzi).———-

Nabiyullah Muhammad menjelaskan bahwa kebahagiaan itu ada empat, yakni: istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Sedangkan kesengsaraan itu ada empat, yakni: istri yang buruk, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk (HR. Imam Ibnu Hibban).——————

Hakikat kebahagiaan adalah qana’ah, yakni merasa cukup dan ridha atas segala yang Allah karuniakan. Imam Syafi’i pernah berujar, “Kalau engkau qana’ah dengan harta, niscaya tidak ada bedanya antara engkau dengan raja-raja dunia”.—————

Kanjeng Nabi juga mengatakan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan dengan banyaknya harta, akan tetapi dengan kaya hati. Maksudnya, merasa cukup dan ridha atas segala pemberian Allah. Lebih lanjut, beliau Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad menegaskan bahwa muslim yang berbahagia ialah yang merasa cukup dalam urusan harta dan ridha atas segala ketetapan Allah.—————-

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa sebenarnya inti dari fakir adalah hajat atau kebutuhan. Semakin banyak hajat seseorang, maka sebenarnya ia semakin fakir. Sebaliknya, inti dari kaya adalah merasa cukup alias qana’ah. Semakin ia merasa cukup terhadap harta, maka sesungguhnya ia semakin kaya. —————-

Begitu simpelnya hidup bahagia, maka tak salah jika ada hadits yang mengatakan, “Terimalah dengan penuh keridhaan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya” (Al-Hadits). ——————-

———— Ujian Hidup ———-

Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya ujian. Hidup di dunia adalah sesuatu yang melelahkan. Bahagia memang bisa diraih, tapi adakalanya seseorang pasti akan merasakan kesusahan. Entah bagaimana, pasti ada saja yang membuat kita susah, lelah, khawatir, dan keluh kesah. Begitulah hidup di dunia, penuh dengan ujian-ujian. Allah sendiri menegaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al-Ma’arij: 19). ————–

Sesuatu yang melelahkan dalam hidup, ada yang bersifat lahir dan ada yang bersifat batin. Lelah yang bersifat lahir adalah tubuh jasmani atau fisik kita, entah karena pekerjaan, menunaikan kewajiban, atau bahkan mengambil hak. Sedangkan lelah secara batin, yakni kita merasa bosan, jenuh, capek, suntuk, pesimis, marah, emosi, dan sebagainya. Pendeknya, tidak ada orang yang tidak lelah dalam menjalani hidup, semuanya pasti akan mengalami lelah.—————-

Allah memberikan berbagai macam musibah dan ujian, salah satu tujuannya agar manusia tidak merasa betah atau kerasan tinggal di dunia, karena memang hidup di dunia hanya sementara dan sangatlah singkat. Allah berfirman bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali ‘Imran: 185).—————-

Imam Hasan Al-Bashri pernah menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa manusia hidup di dunia hanya sebentar. Nasihat Imam Hasan Al-Bashri ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa hidup di dunia ini diibaratkan dengan seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh di terik panas matahari, kemudian ia berteduh di bawah pohon, setelah panas matahari hilang, maka ia pun melanjutkan perjalanannya. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan diri untuk mengahadapi perjalanan yang masih panjang. —————-

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Hasyr: 18).————-

Semakin besar tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar pula ujian yang akan diterima. Semakin rendah tingkat keimanan seseorang, maka ujian yang akan diterima juga kecil. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberikan ujian kepadanya agar Allah ta’ala mendengar permohonannya (HR. Imam Baihaqi).—————–

Allah juga berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214 yang artinya: ————–

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam ujian), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ——

———— Taatilah Allah Sepenuh Hati ——————-

Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa tunduk dan patuh kepada perintah Allah serta menjauhi semua larangan Allah. Mufti Ismail ibn Musa Menk mengatakan bahwa Islam mempunyai dua makna, yaitu ketundukan dan kedamaian. Artinya, jika kita tunduk pada aturan Allah, maka otomatis kita akan memperoleh kedamaian.———–

Akan tetapi, yang menjadi problem adalah ketika kita tidak sepenuh hati dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Kita taat kepada Allah kalau itu menguntungkan nafsu kita, sedang yang tidak sesuai dengan selera dan tidak membawa keuntungan, dengan serta merta ditinggalkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa hati kita belum sepenuhnya terbuka dalam menjalani ketaatan kepada Allah. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam ini adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah di pinggiran, belum masuk ke “Rumah Allah”.————–

Dahulu ada beberapa orang Arab-Badui yang ingin menyatakan diri masuk Islam di hadapan Nabi. Akan tetapi, motivasinya bukan karena mengikuti kebenaran, melainkan karena semata-mata ingin memperoleh banyak harta dari hasil ghanimah (rampasan perang) maupun fai (tanpa perang) dengan menjadi pasukan Islam. Orang-orang yang menjalani ketaatan seperti ini adalah model manusia yang hidupnya rugi dunia dan akhirat. —————-

———– Kesejahteraan itu Perlu ———————–

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan umatnya. Islam tidak membiarkan ketidakadilan hidup di tengah-tengah masyarakat. Antara si kaya dan si miskin harus ada keadilan, tidak boleh ada kesenjangan atau kecemburuan yang bisa menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itulah, dalam Al-Qur’an disebutkan supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu (Al-Hasyr: 7).——————

Beberapa konsep Islam untuk kesejahteraan umatnya antara lain: zakat, infak, sedekah, qurban, aqiqah, membayar denda atau kafarat (memberi makan orang miskin, memerdekakan budak, dll), pembagian ghanimah, fai, dan sebagainya. Apabila salah satu konsep di atas diberdayakan dengan baik, semisal zakat dan sedekah, Insya Allah kesejahteraan umat akan semakin merata.—————

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak di antara kaum muslimin yang masih hidup miskin di bawah standar kesejahteraan. Sebenarnya dalam Islam, kaya dan miskin tidak terlalu penting untuk dipermasahkan, karena ini berkaitan dengan takdir Allah dan sunnatullah. Semenjak Nabi Adam hingga akhir zaman, kaya dan miskin akan selalu beriringan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ada orang kaya pasti ada orang miskin. Dan yang terpenting kedua-duanya bisa menjadi orang mulia di mata Allah.—————

Akan tetapi, yang terkadang mengusik kita ialah ketika beberapa umat Islam yang lemah imannya, rela menjual agamanya demi urusan duniawi. Tentu saja ia rela mengganti agamanya karena persoalan himpitan ekonomi dan kesejahteraan hidup yang kurang. Sehingga ketika para misionaris menawari “satu kardus mi instant” dengan syarat ikut agamanya, maka ia pun tergiur, dan dengan serta merta menerimanya. Lalu kita pun menyalahkan para misionaris yang melakukan kristenisasi itu dengan mengatakan licik, tidak fair, dan seterusnya.—————

Siapa yang harus kita salahkan? Para misionaris ataukah orang-orang miskin yang lemah imannya? Apakah kita harus menyalahkan dan hanya terus bisa menyalahkan mereka? Kalau umat Islam yang fakir dan miskin itu bukan kita yang menyantuninya, maka jangan salahkan mereka ketika mereka pindah agama Krsiten ketika ditawari sejumlah fasilitas dan kesejahteraan hidup.—————

Mungkin dalam pikiran mereka (umat Islam yang lemah imannya dan terbatas ilmunya), agama Kristen lebih peduli orang-orang lemah dan lebih menjanjikan kesejahteraan daripada agama Islam, makanya mereka tergiur untuk masuk agama Kristen. Bagaimana dengan kita wahai kaum muslimin yang diberi kecukupan? Bantulah mereka yang miskin, pedulilah nasib mereka, berdayakan mereka, nasihatilah untuk bersabar, bantu mereka memperkuat iman dengan mengajaknya untuk selalu hadir di majelis ilmu.

———————–
Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. ————

Allâh Ta’ala berfirman:———-

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)——–

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:————-

“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]———-

——- SEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA’ALA ———–

Allâh Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.————

Allâh Ta’ala berfirman:———–

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu (Qs al-Anfâl/8:24)—-

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:——–

“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].————-

Allâh Ta’ala berfirman:———–

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Hûd/11:3)——–

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:—–

“Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]———–

—- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———–

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.————

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:—

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————-

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———–

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—–

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.——

Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———–

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———-

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————-

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).—————

Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——–

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———–

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]———

————- HIKMAH COBAAN ——–

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.——

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.————–

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:————-

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]——-

Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]————

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

1.

Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala[9].———-

2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :——-“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]——–
3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :———–”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]—

 

Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullâh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allâh Ta’ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:

“Dan Allâh Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullâh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allâh Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullâh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).

Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[14]

 

[1]

Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).

[2] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).
[3] Kitab Al-Fawâ-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)
[4] Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi).
[5] Tafsîr Ibnu Katsîr (8/137)
[6] Ighâtsatul Lahfân (hal 421-422 – Mawâridul Amân)
[7] HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)

Allah menciptakan berPASANGAN, termasuk TAKDIR Allah yang BAIK atau pun yang BURUK adalah rukun Iman yang ke 6. ———————- Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. ———————— Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim) —————- Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————– “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———- “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]——— Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————- —-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——– Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.—— Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———– Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————- Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————– Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]———— Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——- Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——- ”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————- Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz——— Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]—————— Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.——— Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——– “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———- Allah Maha Berkehendak——————– Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———- ”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———– Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————- Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]————— Mendekat Kepada Allah————- Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.———— Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————- Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]——— Berserah diri Kepada Allah——————- Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———– Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——- “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]——— Menerima Ketetapan/Takdir Allah————– Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————- Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——– Jangan Putus Asa!————— Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——– Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————– Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————- Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]———— Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]——— Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.———— Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————- Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—– ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,— (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———- Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———- ”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———– Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———- Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——– sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———– ”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————- Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita——— Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——– ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———- ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]——— “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——- ———Berusaha Mencari Karunia Allah——- Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.———— ”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——- Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————– ========= Allah Maha Tahu =========== Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan———— Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)————— Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:— Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)—————— Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————– Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—-

rukun iman percaya takdir

Allah menciptakan berPASANGAN, termasuk  TAKDIR Allah yang BAIK atau pun yang BURUK adalah rukun Iman yang ke 6.
———————-
Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir.

————————

Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim) —————-

Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk kita. Sehingga hati kita selalu bahagia.————–

“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)———-

“Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]———

Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.—————-

—-Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz——–

Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.——

Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.———–

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]————-

Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]————–

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]————

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]——-

Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.——-

”Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]————-

Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz———

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]——————

Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.———

Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT——–

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)———-

Allah Maha Berkehendak——————–

Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.———-

”Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]———–

Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.————-

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]—————

Mendekat Kepada Allah————-

Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.————

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]————-

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]———

Berserah diri Kepada Allah——————-

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]———–

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]——-

“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]———

Menerima Ketetapan/Takdir Allah————–

Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.————-

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” [Al Baqarah:216]——–

Jangan Putus Asa!—————

Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.——–

Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.————–

Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.—————-

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]————

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]———

Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.————

Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.—————-

Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.—–

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,—

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”———-

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]———-

”…Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]———–

Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!———-

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,——–

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]———–

”…Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]—————-

Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita———

Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.——–

”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]———-

”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]———

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]——-

———Berusaha Mencari Karunia Allah——-

Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.————

”Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]——-

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]————–

========= Allah Maha Tahu ===========

Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan————

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:

Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)—————

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:—

Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)——————

Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata:————–

Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)—-
==========================

Qadha’ dan Takdir dari Sisi Kehendak Allah Swt.

=============================
Qadha’ dan takdir dari sisi kehendak Allah Swt. terbagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama, kehendak yang telah tertuang di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sesungguhnya kalimat Syâ-a, Yasyâ-u, Masyî-atan mempunyai makna kehendak, dan redaksi ini banyak disebutkan melalui firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Adapun hubungan kata kehendak Allah Swt. dengan takdir sangatlah erat kaitannya.

Sesungguhnya kehendak Allah Swt. adalah asal mula terjadinya atau timbulnya segala sesuatu. Ayat Al-Qur’an banyak menyebutkan hakikat tersebut di dalam beberapa firman Allah Swt. berikut ini, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok pagi, kecuali –dengan menyebut– insya Allah.[1] Dan segera ingatlah kepada Rabbmu jika engkau lupa, lalu katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini,’” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, siapa saja yang berencana melakukan sesuatu esok hari, maka janganlah ia hanya mengandalkan keinginannya saja tanpa bersandar kepada kekuatan dan izin dari sisi Allah. Sebab, kita semua tidak dapat berbuat sesuatu apa pun jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, setiap orang harus mengerti bahwa segala sesuatu yang dikehendakinya sangat erat hubungannya dengan ketetapan Allah Swt.. Sehubungan dengan masalah ini, Rasulullah Saw. pernah mengajarkan kepada kita, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau berikut ini, “Abu Hurairah ra. menuturkan, Sulaiman bin Daud as. pernah mengatakan, ‘Pada malam ini aku akan menggauli seratus orang istriku, agar setiap orang di antara mereka melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah.’ Malaikat pun berujar kepada beliau, ‘Katakanlah Insya Allah.’ Akan tetapi, Nabi Sulaiman tidak mengatakannya, karena beliau terlupa. Maka beliau menggauli seratus orang istri beliau satu per satu pada malam itu, akan tetapi tidak seorang pun dari istri beliau yang berhasil melahirkan keturunan, kecuali seorang istri yang melahirkan seorang anak dalam kondisi cacat. Nabi Saw. pun mengatakan, ‘Andaikata beliau (Sulaiman) mengucapkan kalimat Insya Allah, maka apa yang ia rencanakan (kehendaki) akan terpenuhi.”[2]

Penjelasan dari hadis tersebut adalah, hendaknya setiap orang yang bersungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, maka selayaknya ia menyandarkan keinginannya hanya kepada Allah Swt. semata. Karena, ia tidak bisa melakukan segala sesuatu jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Apabila keinginan seseorang tidak mendapat izin dari Allah Swt., maka keinginan tersebut tidak akan pernah terwujud sedikit pun, meski yang dikehendakinya itu sangatlah mudah dalam pandangan manusia.

Jika kita melihat segala kejadian yang berhubungan dengan takdir, maka kita akan yakin bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu apa pun, kecuali jika dikehendaki oleh Allah Swt.. Bahkan adakalanya kita telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, dan kita yakin bahwa kita dapat melaksanakannya dengan baik, akan tetapi akhirnya kita melihat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak kita itu. Meski, jika kita telah memperhitungkan secara teliti, namun kehendak Allah Swt. bertentangan dengan kita, maksudnya jika Allah tidak berkehendak bahwa sesuatu yang kita kehendaki itu akan terwujud, maka yang kita kehendaki itu tidak akan pernah terwujud, meskipun segala persyaratannya telah kita penuhi. Hal ini telah dijelaskan melalui firman Allah Swt. berikut ini, “Dan engkau tidak mampu menempuh jalan itu, kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (QS Al-Insân [76]: 30).

Apa pun yang tidak dikehendaki oleh Allah Swt., meskipun kita telah berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya, pasti tidak akan pernah mungkin terwujud. Akan tetapi, adakalanya dengan kasih sayang yang serba Maha Allah Swt. mengabulkan atau mewujudkan sesuatu yang dihendaki seseorang, dimana Allah menganggap kehendak orang tersebut sebagai do’a, dan kehendak Allah sebagai pengabulan atasnya. Sehingga kehendak Allah Swt. pasti bertepatan dengan kehendak manusia.

Kesimpulannya, kehendak Allah Swt. akan terlihat di semua sektor kehidupan, seperti yang disebutkan di dalam firman Allah berikut ini, “Para Rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata secara langsung dengannya, dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada ‘Isa putra Maryam beberapa mukjizat, serta Kami perkuat ia dengan Ruh al-Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah para Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman, dan ada pula di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya,‛ (QS Al-Baqarah [2]: 253).

Andaikan tidak ada kehendak Allah Swt. dalam segala sesuatu, pasti kita tidak dapat mengerjakan atau mewujudkan sesuatu, meskipun kita telah bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Misalnya, kalau Allah Swt. tidak menghendaki kita berperang, tentu kita tidak akan pernah berperang, dan tidak akan pernah ada berjihad di jalan-Nya. Sebab, kehendak kita terkait erat dengan kehendak Allah Swt.. Apa pun yang telah dikehendaki oleh Allah Swt., maka pasti akan terwujud, dan Allah tidak mungkin ditanya tentang apa yang Dia lakukan, serta Dia tidak akan meminta pendapat dari siapa pun untuk melakukan kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, pasti Dia akan melakukan. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini, “Apa yang dihendaki oleh Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dihendaki oleh Allah, maka tidak akan terjadi.”[3]

Hadis di atas menyimpulkan, bahwa kehendak Allah Swt. pasti akan terwujud, dan apa pun yang yang tidak dikehendaki oleh Allah, pasti tidak akan terwujud. Sebab, segala sesuatunya berada di dalam kekuasaan Allah Swt.. Andaikata kaum Mu’tazilah atau kaum Jabbariyyah memahami hadis di atas dengan baik, maka sudah tentu mereka tidak akan mempunyai pendapat yang berlebihan tentang kehendak Allah Swt..

Demikian pula kehendak Allah Swt. sangat terkait erat dengan masalah keimanan dan petunjuk bagi seseorang. Orang-orang yang melihat masalah takdir dari sudut pandang ini, maka mereka akan berkata, ‚Sesungguhnya Iman adalah cahaya Allah Swt. yang dimasukkan ke dalam sanubari seseorang yang dikehendaki-Nya.‛ Dengan kata lain, meskipun engkau berusaha sekuat tenagamu untuk mengajak seseorang agar beriman kepada Allah Swt., maka engkau tidak dapat mengajaknya beriman jika tidak dikehendaki oleh Allah untuk beriman. Seseorang akan beriman jika Allah Swt. menyalahkan sinar keimanan di dalam sanubarinya. Sebaliknya, ia tidak akan beriman jika Allah Swt. tidak menghendaki- Nya beriman. Sebagaimana Allah Swt. sendiri yang telah berfirman, “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi, seluruhnya. Maka apakah engkau hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yûnus [10]: 99).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, jika Allah berkehendak maka pasti semua orang akan beriman. Oleh karena itu, janganlah engkau memaksa sebagian orang yang tidak mau beriman. Sebab, Allah Swt. tidak berkehendak semua orang beriman. Dalam masalah ini, terdapat firman Allah Swt. yang berbunyi sebagai berikut, “Dan jika perpalingan mereka darimu terasa amat berat bagimu, maka jika engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu engkau dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, maka buatlah.[4] Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang jahil,” (QS Al-An’âm [6]: 35).

Firman Allah Swt. di atas merupakan peringatan bagi pribadi Rasulullah Saw., bahwa yang berhak memberi petunjuk kepada seorang hanyalah Allah, bukan Nabi Saw., dan bukan pula yang lain. Jika Allah Swt. berkehendak, maka pasti semua orang akan beriman, atau akan masuk Islam. Akan tetapi, kehendak Allah Swt. tidaklah demikian. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat beriman, meskipun Nabi Saw. telah bersungguh-sungguh mengajak umat beliau untuk beriman. Sebagaimana Allah Swt. telah berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang datang sebelumnya, yaitu kitabkitab yang diturunkan sebelumnya, dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat saja, akan tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlombalombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu,” (QS Al-Mâidah [5]: 48).

Memang, kalau Allah Swt. berkehendak, pasti Dia akan menjadikan semua manusia berada dalam satu keyakinan yang sama, yaitu semuanya akan beriman kepada-Nya saja. Akan tetapi, Allah Swt. berkehendak lain, Dia telah menggariskan manusia menjadi berbagai macam aliran dan keyakinan. Oleh karena itu, setiap kelompok pasti akan berbeda dengan kelompok yang lain, sebagai ujian antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula kekuatan suatu negara atau keperkasaan seorang penguasa di atas penguasa yang lain akan silih berganti, antara yang satu dengan yang lain, semua itu terjadi atas kehendak Allah Swt. semata, bukan atas kehendak yang lain.

Selanjutnya, Allah Swt. juga telah berfirman, “Jika kalian pada peperangan Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itu pun pada peperangan Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan serta kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, supaya sebagian kalian dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 140).

Menurut ayat di atas, semua kekuatan akan silih-berganti, berpindah dari satu penguasa kepada yang lain. Semua itu terjadi menurut kehendak Allah Swt., bukan kehendak manusia. Demikian pula seperti yang telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kalian wahai manusia. Dan Dia datangkan umat yang lain sebagai pengganti kalian. Dan adalah Allah Mahakuasa berbuat demikian,” (QS Al-Nisâ’ [4]: 133).

Menurut firman Allah Swt. di atas, Allah mampu mengganti kelompok manusia yang lama dengan kelompok yang baru. Demikian pula Allah Swt. Mahamampu mengganti satu generasi dengan generasi yang baru. Seperti mengganti generasi para sahabat dengan generasi Umawi (Umayyah), kemudian menggantinya kembali dengan kelompok ‘Abbasi (‘Abbasiyyah). Setelah itu, menggantinya kembali dengan kelompok Saljukiyyah, dan dilanjutkan dengan kelompok ‘Utsmaniyyah. Dengan kata lain, warisan yang suci akan diberikan kepada generasi beriman yang shalih. Semua ketetapan Allah Swt. akan berjalan menurut kehendak-Nya, dan semua kehendak-Nya tidak dapat diubah oleh makhluk (manusia), meskipun diusahakan sambil dibantu oleh kekuatan yang lain (seluruh makhluk yang ada).

Memang, masalah agama adalah masalah yang terpenting dalam hidup ini. Sebab, hanya agama yang dapat menerangkan tujuan manusia hidup, berikut akibat di akhir kehidupannya. Demikian pula masalah agama dapat meletakkan segala sesuatu pada posisinya di tengah-tengah. Orang-orang yang menjaga agamanya secara baik, maka mereka dapat memimpin alam semesta ini dengan cara yang adil. Sehingga tidak ada yang lemah dan tidak ada pula yang lebih kuat, semuanya diatur menurut petunjuk agama yang baik.

Ketika seseorang jauh dari agamanya, maka batinnya menjadi kosong dari petunjuk agama. Demikian pula setiap kelompok manusia yang menjauhi agama, maka ia akan terjebak di kubangan materialis. Negara yang dibangun dengan sistem kufur selalu mangandalkan perekonomian dan kekuatan materialistis, akan tetapi mereka tidak mengakui adanya takdir Allah Yang Maha Berkuasa mengendalikan alam semesta dengan baik.

Di lain kesempatan, Allah Swt. juga berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, siapa saja di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang yang Mu’min, serta bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas pemberian-Nya, lagi Maha Mengetahui,” (QS Al-Mâidah [5]: 54).

Kalimat murtad mempunyai arti kembali ke belakang atau keluar dari suatu agama. Al-Qur’an menujukkan kalimat murtad terhadap orang-orang yang sebelumnya beragama Islam, akan tetapi kemudian ia keluar dari Islam, sehingga ia meninggalkan akidah yang lama dan pemikiran yang sebelumnya ia sandang.

Seorang atau sekelompok orang yang telah mencapai kedudukan tertentu dalam agamanya, maka ia merupakan bagian yang paling penting dalam dakwah kepada Allah Swt.. Pada saat ia menyelami makna dari firman Allah Swt. di atas, maka ia merasa takut kalau ia kembali kepada kepercayaannya yang lama, yakni sebelum ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ia merasa lebih berhati-hati, jangan sampai ia terjebak ke dalam kepercayaan atau pikiran di luar ajaran Islam. Atau, ia selalu berhati-hati agar keimanan yang telah terpatri di dalam lubuk sanubarinya tidak dicabut oleh Allah Swt. dan diserahkan kepada orang lain.

Demikian pula halnya dengan suatu negara, jika mendasari pandangan hidup yang ada dengan agama, maka seluruh penduduknya akan menaruh perhatian terhadap firman-firman Allah Swt., dan mereka akan selalu berhati-hati ketika mendengar ancaman Allah yang disebutkan di dalam salah satu firman-Nya. Karena, jika keimanan seseorang dicabut dari lubuk sanubarinya, maka selama itu pula ia akan hidup dalam kesesatan.

Mari kita perhatikan kalimat qaumin yang diakhirii dengan huruf nun tankir. Maksudnya, kaum apa saja –selain kaum Muslim– adakalanya mereka tidak dikenali oleh orang banyak, dan tidak pula diketahui kapan munculnya serta dalam kondisi apa mereka mulai ada, akan tetapi mereka mempunyai beberapa sifat tertentu yang bisa dikenali dan merupakan ciri khas yang melekat pada diri mereka. Adapun jika sifat-sifatnya sama seperti apa yang telah diterangkan seperti dalam kandungan ayat di atas, maka kaum itulah yang telah dipuji oleh Allah Swt.. Sehingga tidak ada kaum lain yang berhak mengaku apabila sifat mereka tidak cocok dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dalam firman Allah Swt. di atas.

Adapun sifat-sifat utama dari kaum yang dipuji oleh Allah Swt. itu yang pertama adalah, Allah mencintai mereka dan Allah menakdirkan banyak orang mencintai mereka. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini, “Dari Abu Hurairah ra. ia mengatakan, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, ‘Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan mengatakan bahwa Allah telah mencintai si Fulan, maka cintailah ia. Lalu malaikat Jibril mencintainya, dan mengumumkan kecintaan Allah itu kepada orang tersebut di kalangan penduduk langit, hingga penduduk langit pun mencintai orang itu. Kemudian orang itu dicintai oleh penduduk bumi, sehingga ucapannya akan ditaati oleh penduduk bumi, dan ia sangat dipedulikan oleh penduduk bumi.’”[5]

Sifat yang kedua, ia juga mencintai Allah Swt.. Dengan kata lain, qalbunya selalu mengingat kepada Allah, menaati seluruh perintah-Nya, dan mencintai Allah dengan sungguh-sungguh. Sifat yang ketiga, ia sangat santun dalam bersikap kepada orang-orang yang beriman. Yaitu, ia tidak pernah menyombongkan dirinya kepada orang-orang yang beriman, sehingga ia dicintai oleh orang-orang yang beriman. Sifat yang keempat, ia tidak pernah tunduk kepada oang-orang kafir, ia selalu mengumumkan permusuhan kepada oang-orang kafir, karena ia merasa bahwa orang-orang kafir adalah musuhmusuh Allah Swt.. Sifat yang kelima, ia selalu berjuang di hadapan Allah Swt.. Dengan redaksi lain, orang itu senantiasa bersiap-siap menghadapi serangan musuh-musuh agama Allah Swt.. Sedangkan sifat yang keenam, ia tidak pernah takut oleh celaan orang-orang yang tidak senang dengan Islam dan umatnya, serta ia selalu membela agama Islam dan umatnya demi untuk mencari keridhaan Allah Swt..

Itulah kiranya sifat orang-orang yang pantas bertindak selaku pemimpin bagi Islam dan umatnya. Sebab, agama Islam adalah tuntunan Ilahi dan merupakan amanat yang suci. Jika bangsa ‘Arab saat ini mempunyai keenam sifat di atas, maka mereka berhak menjadi pemimpin Islam dan kaum Muslim. Demikian pula bangsa-bangsa lain yang mempunyai keenam sifat tersebut, maka mereka juga berhak menjadi pemimpin Islam dan kaum Muslim.

Selanjutnya terdapat pula firman Allah Swt. yang menyebutkan tentang beberapa dasar yang perlu diperhatikan oleh setiap Mu’min, bahwa Allah yang paling berwenang memberikan kedudukan yang mulia kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang berhak mencabut dari siapa pun apa yang dikehendaki-Nya. Allah Swt. berhak memberi kemuliaan bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan berhak pula mencabut kemuliaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya. Seperti disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, dan Engkau cerabut kerajaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang-orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 26).

Alhasil, bangsa apa pun yang tidak memiliki sifat-sifat kepemimpinan seperti yang dikehendaki oleh Allah Swt., maka kekuasaannya akan berantakan (tidak bertahan lama). Sebab, keenam dari sifat tersebut merupakan sifat-sifat utama bagi seorang pemimpin yang akan langgeng kekuasaannya.

Dari firman Allah Swt. di atas dapat diketahui, bahwa siapa saja yang ingin menjadi pemimpin yang adil dan dihormati oleh orang lain (rakyatnya), maka ia harus mempunyai keenam sifat di atas. Tanpa keenam sifat itu, maka ia tidak akan mendapat kedudukan yang tinggi. Sebab, yang menentukan kedudukan seorang hanyalah Allah Swt. semata. Karena semua yang terjadi di alam dunia ini harus sesuai dengan kehendak Allah Swt., seperti disebutkan di dalam firman- Nya berikut ini, “Mereka kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi, kecuali jika Rabbmu menghendaki yang lain. Sesungguhnya Rabbmu Maha Melaksanakan terhadap apa yang Dia kehendaki,” (QS Hûd [11]: 107).

Allah Swt. juga telah berfirman, “Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya,” (QS Al-Burûj [85]: 16).

Dengan kata lain, semua yang terjadi di alam dunia ini harus sesuai dengan kehendak dan takdir Allah Swt.. Tanpa itu, semuanya tidak akan pernah terwujud, meskipun dikehendaki oleh siapa pun.

Allah Swt. juga telah berfirman, “Rabb kalian lebih mengetahui tentang diri kalian. Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengadzab kalian jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga bagi mereka,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 54).

Allah Swt. juga telah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia serta mengetahui apa yang dibisikkan oleh qalbunya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri,” (QS Qâf [50]: 16).

Allah Swt. juga berfirman, “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam sanubari kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya serta menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” (QS Al-Baqarah [2]: 284).

Demikian pula halnya dengan para Nabi, mereka tidak akan bertindak apa pun kecuali akan menyesuaikan tindakan mereka dengan kehendak Allah Swt.. Sebab, mereka merasa tidak mampu mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi diri mereka sendiri serta bagi orang lain. Seperti telah disebutkan di dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan, kecuali atas apa yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, serta aku tidak akan ditimpa kemudharatan karenanya. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman,” (QS Al-A’râf [7]: 188).

Dengan kata lain, kehendak Allah Swt. merupakan dasar bagi terwujudnya segala sesuatu, yang tanpa kehendak serta takdir dari-Nya maka segala sesuatu tidak akan pernah terwujud.

Demikian pula Nabi kita Muhammad Saw. senantiasa menyerahkan kehendak beliau kepada kehendak Allah Swt.. Seperti telah disebutkan dalam sabda beliau Saw. berikut ini, “Bersungguh-sungguhlah kalian, kuatkan persatuan kalian, dan bergembiralah kalian. Sesungguhnya tidak seorang pun akan dimasukkan ke dalam surga lantaran amal kebajikannya. Para sahabat yang mendengar ucapan beliau itu mengajukan pertanyaan, ‘Apakah engkau juga termasuk di antara apa yang engkau sebutkan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk juga aku, kecuali jika Allah memberi ampunan dan rahmat bagiku.”[6]

Itulah keyakinan Rasulullah Saw. di hadapan kehendak Allah Swt., sehingga setiap Mu’min harus mempunyai keyakinan seperti itu terhadap kehendak Allah. Perlu diketahui, jika Rasulullah Saw. bersikap sangat hati-hati terhadap takdir dan kehendak Allah Swt., maka bagaimankah seharusnya kita (orang-orang selain beliau) bersikap terhadap takdir dan kehendak Allah? Sebab, hanya dengan bersikap seperti itulah seorang Mu’min akan mencapai kedudukan terdekat di sisi Allah Swt.. Meskipun kita telah diberi wasiat (pesan) untuk memperbanyak amalan yang shalih, namun kalau bukan kita yang dimasukkan ke dalam surga, maka siapa kiranya yang akan dimasukkan ke sana? Kita tidak boleh berbangga dengan amal-amal kebajikan yang telah kita lakukan, karena kita diperintahkan untuk selalu waspada dan berhati-hati atas cara bersikap di hadapan takdir dan kehendak Allah Swt.. Sebab, setiap orang harus menerima takdir dan kehendak Allah Swt. dengan perasaan tawakkal yang total (utuh), dan selalu berharap mendapatkan kasih sayang-Nya, agar qalbu kita tidak merasa sombong dengan banyaknya amal kebajikan yang telah kita lakukan.

Tidak diragukan lagi, bahwa setiap Mu’min harus memahami secara baik kehendak Allah Swt., karena tidak semua Mu’min memahami benar kehendak-Nya Swt.. Sebab, yang dapat memahami secara baik dan benar atas kehendak Allah Swt. hanyalah para Nabi.

Di dalam Al-Qur’an diterangkan dengan panjang lebar tentang kehendak atau ketetapan Allah Swt.. Terutama yang berkenaan dengan kisah-kisah para Nabi dan kaum mereka. Misalnya saja kisah Nabi Allah Nuh as. dan kaum beliau. Al-Qur’an menyebutkannya sebagai berikut, “Mereka berkata, wahai Nuh, sesungguhnya engkau telah berbantah-bantahan dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau termasuk orangorang yang benar. Nuh menjawab, ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepada kalian jika Dia menghendaki, dan kalian sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari adzab-Nya. Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Rabb kalian, dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan,” (QS Hûd [11]: 32-34).

Dari firman Allah Swt. di atas dapat disimpulkan, bahwa Nabi Allah Nuh as. menjawab ucapan kaum beliau dengan jawaban yang penuh kepasrahan (sikap tawakal) kepada kehendak Allah Swt.. Seolah-olah beliau mengatakan, ‚Aku tidak dapat mendatangkan siksa kepada siapa pun, meski ia membantah semua keterangan tentang kenabian yang telah aku berikan kepadanya.‛ Memang, semua orang bergantung kepada kehendak dan ketetapan Allah Swt., serta tidak seorang pun dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan bagi dirinya sendiri, apa lagi bagi orang lain. Sebab, kewenangan mengenai masalah itu hanya berada di tangan Allah Swt.. Para Nabi dan Rasul hanya bertugas mengajak kaum masingmasing untuk beriman kepada Allah Swt.. Mereka mau beriman ataupun tidak, semua itu terserah kepada kehendak Allah Swt.. Demikian pula mereka akan mendapat siksa ataupun tidak juga terserah kepada kehendak Allah Swt.. Sebab, para Nabi dan Rasul tidak dapat memberi petunjuk dan keimanan kepada kaum mereka, kecuali kepada orang-orang yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.. Dan, mereka (para Nabi dan Rasul) tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan bagi kaum mereka, kecuali jika dikehendaki dan ditetapkan oleh takdir Allah Swt..

Demikian pula dengan kisah Nabi Allah Ibrahim as. yang pernah mengajarkan tentang adanya takdir Allah Swt. kepada kaum beliau ketika beliau mengajak mereka masuk ke dalam agama Islam; seperti yang telah disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, “Dan ia dibantah oleh kaumnya. Ia berkata, ‘Apakah kalian hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku?’ Dan aku tidak takut kepada malapetaka dari sembahan-sembahan yang kalian persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu dari malapetaka itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran darinya?” (QS Al-An’âm [6]: 80).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, Nabi Allah Ibrahim as. mengatakan, ‚Aku tidak takut sedikit pun terhadap berhala-berhala yang kalian sembah. Aku hanya takut kepada ketetapan dan kehendak Rabbku (Allah Swt.). Meskipun semua orang membelanjakan harta mereka sepenuh bumi, dan mereka ingin menimpakan keburukan kepadaku, maka aku yakin bahwa keburukan itu tidak akan terkena kepada diriku sedikit pun, kecuali telah dikehendaki oleh Allah Swt..‛

Pelajaran di atas merupakan pelajaran tauhid yang telah beliau ajarkan kepada kaum beliau as., bahwa ketetapan atau takdir Allah Swt. terhadap alam semesta ini pasti akan terjadi, baik takdir yang buruk maupun yang baik.

Allah Swt. juga telah berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Putranya (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar,’” (QS Al-Shâffât [37]: 102).

Firman Allah Swt. di atas mengajarkan kepada kita tentang adanya kehendak dan cobaan Allah bagi orang-orang yang beriman, apakah mereka akan bersabar ataukah justru akan menentang kehendak dan cobaan dari sisi-Nya?

Selanjutnya dalam surah Al-Kahfi [18] diceritakan, bahwa Nabi Musa as. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk berguru kepada Nabi Allah Hidir as. Dalam pertemuan itu, Nabi Hidir melarang Nabi Musa untuk bertanya kepada beliau tentang apa saja, dan Nabi Musa menyanggupi tidak akan bertanya sedikit pun. Sperti yang disebutkan pada firman Allah Swt. berikut ini, “Ia menjawab, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku.Dan bagaimana engkau dapat sabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata, ‘Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang bersabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun,” (QS Al-Kahfi [18]: 67-69).

Dari kisah-kisah para Nabi di atas dapat kita tarik benang merah, bahwa mereka (para Nabi Allah) itu selalu bertawakkal kepada kehendak dan takdir Allah Swt.. Selain itu, Allah Swt. juga telah menyebutkan kisah Nabi Yusuf as., seperti dijelaskan di dalam firman-Nya berikut ini, “Maka tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf, Yusuf merangkul ayah ibunya dan ia berkata, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman,” (QS Yûsuf [12]: 99).

Firman Allah Swt. di atas mengisayaratkan kepada kita, bahwa Nabi Allah Yusuf tidak lupa mengandalkan kemauannya kepada kehendak Allah semata. Meskipun beliau mampu mendatangkan ayah ibunya ke negeri Mesir dengan aman dan terhormat.

Jika kita perhatikan kisah-kisah para Nabi di atas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa mereka selalu mengandalkan kepada takdir dan kehendak Allah Swt.. Sebab, mereka yakin bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi atau terwujud kecuali jika telah ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah Swt.. Jika seseorang mengandalkan kehendaknya sendiri tanpa disandarkan kepada kehendak Allah Swt., maka ia termasuk kelompok orang yang berbuat kesyirikan.

Yang kedua, kehendak Allah Swt. yang terdapat di dalam sabda-sabda Nabi Saw., “Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullâh bercerita, disebutkan oleh Thufail bin Syahbarah, saudara laki-laki dari ‘Aisyah, dari ibunya, bahwa ia telah bermimpi dalam tidurnya, seolah-olah ia bertemu dengan kaum Yahudi, maka ia bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah kaum Yahudi.’ Kata laki-laki itu, ‘Kalian adalah orangorang yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah putra Allah.’ Jawab kaum Yahudi itu, ‘Kalian adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah dan Muhammad yang berkehendak.’ Kemudian ia bergabung kembali dengan kelompok yang lain, lalu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian ini?’ Jawab mereka, ‘Kami adalah umat Nashrani.’ Tanya laki-laki itu, ‚Mengapa kalian mengatakan bahwa ‘Isa adalah putra Allah?’ Jawab kaum Nashrani tadi, ‘Mengapa pula kalian mengatakan bahwa Allah dan Muhammad yang berkehendak?’ Di pagi harinya, laki-laki itu memberitahukan kepada seorang sahabat tentang mimpinya semalam, kemudian ia menemui Nabi Saw. dan menyebutkan kisah mimpi tersebut kepada beliau. Tanya Nabi kepadanya, ‘Apakah engkau telah memberitahukan kisah mimpimu ini kepada orang lain?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya, aku telah memberitahukan kisah mimpiku ini kepada seorang sahabat dekatku.’ Setelah mereka melakukan shalat Subuh, maka Nabi pun naik mimbar dan berkhotbah di atasnya dengan mengawali pidato beliau menggunakan kalimat tahmid, kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya Thufail bermimpi sesuatu, kemudian ia memberitahukan kisah mimpinya itu kepada salah seorang sahabatnya. Ketahuilah, bahwa sebenarnya aku ingin melarang kalian mengatakan apa yang dikehendaki oleh Allah dan apa yang dikehendaki oleh Muhammad.’”[7]

Dari hadis di atas dapat kita simpulkan, bahwa kehendak dan takdir Allah Swt. merupakan masalah yang paling pokok dalam keimanan seorang hamba. Sehingga tidak seorang pun boleh mempercayai bahwa kehendaknya mempunyai potensi dapat mendatangkan yang baik dan yang buruk. Sebab, hal itu dapat menyebabkan orang tersebut menjadi kafir dan musyrik.

Pada riwayat yang lain disebutkan, “Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki mengatakan kepada Nabi Saw., ‘Menurut kehendak Allah dan menurut kehendakmu.’ Maka beliau bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau hendak menyamakan kedudukan Allah dengan kedudukanku?’ Janganlah kalian mengatakan demikian, akan tetapi katakanlah menurut kehendak Allah saja.”[8]

Pada penjelasan hadis di atas disebutkan, Nabi Saw. sengaja mengajarkan tauhid kepada umat beliau bahwa semua kehendak yang ada di alam semesta ini hanya milik Allah Swt. semata, bukan milik yang lain. Sehingga tidak seorang pun boleh berkehendak sesuatu tanpa menyandarkan kehendaknya itu dengan kehendak Allah Swt..

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Anas bin Malik ra. mengatakan, Nabi Sw. selalu mengucapkan do’a, ‘Wahai Rabb yang membolak-balikan qalbu, teguhkan qalbuku berada dalam agama-Mu.’ Maka aku (Anas) bertanya, ‘Ya Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada ajaran yang engkau sampaikan, apakah engkau masih menghawatirkan keimanan kami?’ Beliau Saw. menjawab, ‘Benar, aku selalu mengkhawatirkan keimanan kalian, karena setiap qalbu manusia berada di antara dua jari-jari Allah, dan Dia akan membolak-balikkan qalbu seorang hamba sekehendak-Nya’”[9]

Berkaitan dengan intensitas beliau mengucapkan do’a di atas, pernah juga diutarakan oleh Ummu Salamah ra. sebagai berikut, “Dari Syahru bin Hausyab, ia mengatakan, aku berkata kepada Ummu Salamah, ‘Wahai Ummul Mu’minin, kiranya do’a apa yang sering dibaca oleh Nabi Saw. ketika beliau berada di kediamanmu?’ Jawab Ummu Salamah, ‘Beliau sering mengucapkan do’a, ‘Wahai Rabb yang membolak-balikan qalbu, teguhkan qalbuku di atas agama-Mu.’ Aku (Ummu Salamah) pernah mengajukan pertanyaan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau membaca do’a seperti itu?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Ummu Salamah, tidak seorang pun dari hamba-Nya, kecuali qalbunya berada di antara dua jari Allah Yang Maha Pemurah, Dia akan memberinya petunjuk atau Dia justru akan menyesatkannya, dan semua itu menurut kehendak-Nya.’”[10]

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, “Dalam riwayat Nuwas Ibnu Sam’an, katanya: ‚Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda tidak hati serangpun, melainkan berada diantara dua jari Tuhan Yang Maha Pemurah, adakalanya Dia memberinya petunjuk dan adakalanya Dia memberinya kesesatan, semuanya sekehendak-Nya.”[11]

Sebenarnya Allah Swt. telah mengajari kita do’a di atas, yaitu seperti yang tercantum dalam firman-Nya berikut ini, “Mereka berdo’a, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan sanubari kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Memberi karunia,” (QS Âli ‘Imrân [3]: 8).

Tidak diragukan lagi, bahwa segala do’a yang mengakui adanya kehendak Allah Swt. yang kita yakini bahwa Allah mampu mengabulkan setiap do’a kita dan yakini pula bahwa Allah yang mengilhami kita untuk berdo’a seperti itu adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai kesimpulannya, bahwa setiap do’a adalah sebagai pengakuan kita terhadap adanya kehendak Allah Swt. yang berhubungan dengan takdir-Nya. Dan kita menerangkan panjang lebar tentang masalah ini, karena sangat kuat hubungannya dengan masalah tauhid (keimanan).

Yang keetiga, masalah perintah yang bersifat Jabbari dan masalah perintah yang mengandung unsur Syar’i. Perlu pula dibicarakan mengenai masalah ini, agar dapat dipahami oleh semua orang atas posisi atau kedudukannya pada diri hamba. Adapun firman Allah Swt. yang menegaskan mengenai masalah ini adalah sebagai berikut, “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.[12] Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan serta bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam,” (QS Al-A’râf [7]: 54).

Sebenarnya, masalah perintah dan ciptaan hanya milik Allah Swt. semata. Adapun perintah Allah Swt. dalam hal ini terbagi menjadi dua macam. Pertama, perintah alam semesta; perintah yang bersifat ketetapan dan sesuai dengan takdir- Nya. Yang kedua, perintah berupa syari’at agama. Perintah yang bersifat takdir memberi arti bahwa Allah Swt. yang berkuasa di seluruh alam semesta ini. Setiap makhluk diciptakan oleh Allah menurut kehendak-Nya sendiri. Tidak seorang pun boleh mencampuri dalam masalah penciptaan makhluk Allah Swt.. Alhasil, kesemuanya tunduk pada kehendak-Nya. Karena, Dia-lah pemilik tunggal seluruh alam semesta ini, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Swt. berhak melakukan apa saja terhadap alam semesta ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan tidak satu pau yang dapat menentang kehendak-Nya.

Adapun perintah yang berupa ketetapan syari’at, maka perintah ini ditujukan kepada kita. Akan tetapi, melaksanakan atau tidaknya perintah tersebut terkait erat dengan kehendak Allah Swt. yang diberikan kepada sipa pun yang dikehendaki-Nya.

Setelah kita memahami kedua perintah ini secara baik, maka kita akan memahami semua bentuk perintah yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yang adakalanya terdapat perbedaan secara lahiriah di dalamnya. Bagaimanapun kemauan atau kehendak Allah Swt. tentang alam semesta sangatlah jelas di hadapan kita. Adapun perintah yang berkenaan dengan sifat, maka Allah Swt. memerintahkan kepada setiap orang untuk melakukan perintah-Nya menurut kehendak-Nya. Di dalam kedua persoalan tersebut terdapat kehendak Allah Swt. dan ridha-Nya.

Ibadah yang dilakukan oleh para malaikat dan amal-amal perbuatan mereka sangat bergantung dengan kehendak Allah Swt.. Demikian pula para Nabi dan segala perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shalih juga termasuk kehendak Allah Swt.. Alhasil, Allah Swt. ridha kepada semua perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shalih.

Selain itu, ada pula beberapa perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah Swt., meskipun pada dasarnya terkait erat dengan kehendak Allah. Seperti kekafiran, perbuatan dosa, kemunafikan dan sejenisnya. Adapun firman-firman Allah Swt. yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tidak diridhai oleh Allah adalah sebagai berikut, “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya,” (QS Al-Zumar [39]: 7).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS Al-Qashash [28]: 77).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” (QS Al-An’âm [6]: 141).

Allah Swt. juga berfirman, “Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (QS Al-Baqarah [2]: 191).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan yang suka membangga-banggakan diri –di hadapan manusia–,” (QS Al-Nisâ’ [4]: 36).

Memang Allah Swt. berkehendak menjadikan kerusakan di muka bumi, semuanya diciptakan dengan kehendak-Nya, akan tetapi Dia tidak ridha terhadap perbuatan yang bersifat merusa di muka bumi, termasuk juga masalah-masalah kejahatan yang lain. Jika kita perhatikan permasalahan ini dengan seksama, maka akan dapat kita simpulkan bahwa ayatayat Al-Qur’an yang kami sebutkan di atas keterangannya lebih jelas, dimana Allah Swt. tidak ridha dan tidak menyukai perbuatan buruk, apa pun bentuknya. Seperti telah disebutkan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, akan tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, hingga sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 16).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, jika Allah menghendaki akan membinasakan suatu negeri atau suatu bangsa, maka orang-orang yang jahil di antara mereka akan berbuat berbagai macam kerusakan, sampai pada batas akhir yang bisa ditoleransi, maka Allah menurunkan siksa pada penduduk negeri atau bangsa tersebut. Terlebih lagi jika kaum yang lemah di antara mereka menjadikan orang-orang jahat sebagai para penguasa tunggal di antara mereka. Dan setelah para penguasa itu berbuat sewenang-wenang, maka pada saat itulah Allah Swt. menurunkan bencana atau siksa bagi penduduk negeri tersebut. Apakah kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an itu benar-benar terjadi? Ya, orang-orang buruk di suatu negeri mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di dalam negeri mereka. Mereka berlaku zhalim, sewenangwenang, berbuat kerusakan dan perbuatan dosa yang luar biasa lainnya, sampai ketika meningkat pada puncaknya, maka di saat itulah Allah Swt. menurunkan siksa-Nya kepada negeri tersebut.

Jelas sekali di sini, bahwa masalah apa pun merupakan garis takdir atau kehendak yang bersifat takwini, bukan takdir atau kehendak yang bersifat syar’i. Dengan penjelasan, Allah Swt. berkehendak akan menghukum suatu kaum, dan hal itu telah ditetapkan dalam garis takdir-Nya di Lauh al-Mahfuzh. Sebab, Allah Swt. tidak rela apabila melihat ada sebagian hamba-Nya melakukan kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak memerintahkan mereka berbuat kerusakan apa pun bentuknya. Seperti dijelaskan di dalam firman-Nya Swt. berikut ini, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji.’ Mengapa engkau mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak engkau ketahui?,” (QS Al-A’râf [7]: 28).

Antara takdir takwini dengan takdir syar’i mempunyai kecocokan seperti yang disebutkan dalam firman Allah Swt. berikut ini, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Al-Ra’d [13]: 11).

Biasanya, jika kerusakan di suatu negara telah mencapai puncaknya yang paling atas, maka susunan kemasyarakatan di negara itu akan ikut kacau tak terurus. Sehingga keadilan dan kebenaran hampir lenyap di negara tersebut. Oleh karena itu, masalah dari kedua takdir ini harus dipahami secara baik dan benar (sesuai).

Kelompok Jabbariyyah mempunyai pandangan yang keliru mengenai kedua persoalan tersebut. Sebab, mereka tidak dapat membedakan antara kedua macam takdir dimaksud, yaitu takdir takwini dan takdir syar’i. Menurut mereka, keduanya adalah sama, dan keduanya berasal dari kehendak manusia. Sedangkan kelompok Mu’tazilah berpendapat, bahwa perbuatan seseorang diciptakan oleh kehendaknya sendiri, sehingga kelompok ini tidak pernah benar dalam pendapat mereka. Sedangkan kelompok Ahlu Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan, bahwa takdir Allah Swt. yang bersifat takwini dan takdir Allah yang bersifat syar’i adalah sama-sama kehendak Allah. Hanya saja, takdir syar’i diberikan sesuai dengan kehendak manusia yang akan berbuat keburukan, sehingga Allah Swt. akan menghukum orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Alhasil, antara petunjuk dan kesesatan ada kaitannya yang erat dengan kehendak Allah Swt.. Masalah ini banyak disebutkan oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Di antaranya, seperti telah disebutkan dalam firman-Nya berikut ini, “Siapa saja yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan siapa saja yang dikehendaki Allah kesesatan atasnya,[13] niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman,” (QS Al-An’âm [6]: 125).

Firman Allah Swt. di atas mengisyaratkan, bahwa kehendak manusia sangatlah erat hubungannya dengan kehendak Allah. Manusia tidak akan mendapat petunjuk kalau tidak mendapat karunia dari sisi Allah Swt.. Demikian pula manusia tidak akan melakukan keburukan atau perbuatan dosa kalau tidak ditetapkan oleh Allah Swt. dalam suratan takdirnya yang azali. Sehingga meskipun ada sebagian orang yang diberi otak sangat cerdas dan kepandaian yang cemerlang, akan tetapi ia lebih memilih hidup tersesat, dan mereka hidup bagaikan binatang ternak; bahkan lebih buruk lagi. Sebagai kesimpulannya, masalah kehendak untuk berbuat baik atau berbuat buruk yang ada pada diri manusia tidak sepenuhnya dari kehendak manusia itu sendiri, akan tetapi masih terkait erat dengan kehendak dan takdir Allah Swt..

Dari keterangan di atas dapat kita pahami, bahwa tidak seorang pun mempunyai kesempatan untuk bertindak sendiri, tanpa ada kehendak dari Allah Swt.. Karena, kita tidak mempunyai kemampuan apa pun untuk bertindak sendiri menurut kehendak kita. Akan tetapi, yang mempunyai kehendak penuh hanyalah Allah Swt.. Jadi, semua yang terjadi di alam semesta ini, baik yang bersifat takdir takwini ataupun yang bersifat takdir syar’i, kesemuanya itu tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari takdir Allah Swt.. Demikian pula masalah petunjuk dan kesesatan yang sangat menentukan dengan takdir-Nya, hanyalah atas kehendak Allah Swt. semata. Artinya, manusia tidak dapat mendatangkan petunjuk ataupun kesesatan bagi dirinya sendiri, kecuali dengan ketetapan dan takdir dari Allah Swt. semata.

Dalam sejarah telah tercatat, bahwa Allah Swt. yang menggerakkan sanubari ‘Umar Ibnul Khaththab ra. untuk berniat membunuh Rasulullah Saw., dan ia sudah bergerak mencari di manakah posisi Rasulullah Saw. berada pada saat itu. Akan tetapi, pada kenyataannya niat ‘Umar yang buruk itu berubah menjadi niat yang baik, karena ia ingin segera bertemu dengan Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Tentunya, yang menggerakkan sanubari ‘Umar Ibnul Khaththab ingin membunuh Rasulullah Saw. adalah Allah Swt.. Dan yang menggerakkan jiwa ‘Umar untuk ingin segera bertemu Rasulullah Saw. guna menyatakan keislamannya juga Allah Swt.. Demikian pula yang menggerakkan pikiran seorang penya’ir ‘Arab yang bernama Al-A’sya untuk memilih kesesatan juga Allah Swt.. Sebab, ia membanggakan minuman keras dalam bait-bait sya’ir yang dilantunkannya.

Peristiwa yang serupa dengan kejadian ini seringkali terjadi, bahkan jumlahnya tidak mungkin untuk dihitung. Sehingga mau tidak mau, manusia harus mengakui bahwa masalah petunjuk atau hidayah dan masalah kesesatan, semuanya hanya berada di tangan Allah Swt.. Dengan kata lain, seseorang akan diberi petunjuk menurut kehendak-Nya, dan akan menemui kesesatan menurut kehendak-Nya pula.

Perlu diketahui pula, bahwa Allah Swt. telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini, termasuk juga apa saja yang akan dilakukan oleh setiap orang dalam perbuatannya, dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh. Oleh karena itu, setiap hamba wajib memohon petunjuk kepada Allah Swt. agar ia diberi hidayah ke jalan yang lurus. Karena, hanya Allah Swt. yang berwenang berbuat apa pun terhadap segala sesuatu, termasuk juga terhadap seluruh kepentingan bagi makhluk-Nya. Allah Maha Berwenang memberi petunjuk kepada seseorang yang berdo’a memohon petunjuk, dan Dia juga berwenang mentapkan kesesatan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Setiap orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt., maka ia akan tertarik kepada Islam, dan kepada segala bentuk perbuatan baik yang mendatangkan keridhaan-Nya. Sebaliknya, jika seseorang dikehendaki kesesatan oleh Allah Swt., maka ia tidak akan mau menerima petunjuk, meskipun ia diminta dengan cara yang terbaik. Orang-orang semacam itu telah diisyaratkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut ini, “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari auman seekor singa,” (QS Al-Muddatstsir [74]: 49-51).

Dengan kata lain, orang-orang yang ditetapkan oleh Allah Swt. tidak mendapatkan petunjuk-Nya, maka ia akan lari dari jalan Islam bagaikan larinya seekor keledai yang dikejar oleh seekor singa yang liar.

Apa saja yang kami sebutkan di atas tidak lain hanya sebagai sebuah persyaratan, yaitu adanya kemauan manusia untuk rela mengerjakan suatu perbuatan atau justru meninggalkannya. Manusia bebas memilih apa saja yang akan ia lakukan di dalam pilihan hidupnya, akan tetapi Allah Swt. telah menentukan dalam catatan takdir-Nya apa saja yang akan dilakukan oleh manusia tersebut.

Misalnya saja, jika engkau ingin mengubah keadaan dunia ini menurut kehendakmu, dan engkau telah berusaha sekuat tenaga untuk mengubah keadaan dunia ini dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar,maka pada saat itulah Allah Swt. akan memberimu pertolongan dengan berbagai bantuan-Nya. Itulah undang-undang Allah Swt., atau ketetapan- Nya yang tidak akan mampu diubah oleh siapa pun.

Hendaknya kita mengerti secara saksama apa saja yang telah kita usahakan dan apa saja yang kita tunggu dari sisi Allah Swt. tentang bantuan-Nya. Jika Allah memberimu bantuan dengan kemurahan-Nya, maka hal itu dari rahmat dan karunia-Nya semata. Manusia hanya boleh berusaha apa saja untuk dirinya, akan tetapi tetap saja Allah Swt. yang menentukan sukses atau tidaknya tentang apa yang diinginkan oleh manusia.

Allah Swt. akan memberi kemuliaan bagi seseorang yang berjuang di jalan-Nya dengan predikat sebagai seorang syahid. Dan, di akhirat kelak ia akan diberi balasan berupa surga serta berbagai kenikmatan yang lain tanpa batas. Sebab, hal itu merupakan balasan yang pantas bagi seorang hamba yang mau (bersedia) berjuang di jalan Allah Swt. dengan ikhlas.

Oleh karena itu, janganlah kalian menunggu turunnya ‘Isa al-Masih atau Imam al-Mahdi as. di akhir masa kelak, sebelum kalian melakukan berbagai usaha yang baik untuk menciptakan kebaikan dan kebahagiaan di alam dunia ini. Sebab, Allah Swt. tidak akan pernah mengubah segala penetapan arah takdir-Nya sampai kalian mau mengubah diri kalian sendiri menjadi orang yang baik. Allah Swt. tidak akan mengubah ketetapan-Nya, meskipun terhadap para Nabi-Nya sendiri, sebelum mereka mau berjuang secara maksimal untuk memperbaiki kerusakan yang ada di alam dunia ini, hingga menjadi dunia yang lebih baik dan membahagiakan.

Rasulullah Saw. telah lama hidup dalam keadaan lapar dan haus, wajah beliau terluka dan gigi beliau terlepas karena serangan musuh. Kedua kaki beliau bengkak karena banyak mengalami berbagai penderitaan. Demikian pula yang diderita oleh para sahabat beliau. Dengan kata lain, Nabi Saw. dan para sahabat beliau yang telah mendapatkan keridhaan Allah Swt. telah banyak mengalami berbagai cobaan serta penderitaan di dalam hidup mereka. Sampai-sampai mereka pernah mengajukan pertanyaan, ‚Bilakah datangnya pertolongan Allah?‛

Pada saat cobaan telah memuncak sampai di tingkat yang tertinggi, maka di saat itulah Allah Swt. akan menurunkan pertolongan-Nya kepada para hamba yang bersedia untuk berjuang demi mewujudkan kebaikan alam semesta. Sebab, pertolongan Allah Swt. akan sangat dekat kepada orang-orang yang diberi-Nya ujian. Tentang masalah ini, Allah Swt. telah mensinyalir dalam salah satu firman-Nya sebagai berikut, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja, padahal belum datang kepada kalian cobaan (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat,” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Penjelasan seputar firman Allah Swt. di atas adalah, pada saat seseorang telah dicoba dengan berbagai kesulitan berupa sedikitnya makanan, minuman dan tempat tinggal, sehingga ia sudah tidak berdaya lagi untuk menghadapi cobaan yang sedemikian beratnya, maka di saat itulah ia akan mohon bantuan Allah. Dan, pada saat itu juga Allah Swt. akan menurunkan pertolongan-Nya, sehingga orang itu akan menikmati kesuksesan dalam hidupnya. Kalau dahulunya hina dan sulit, maka kehinaan serta kesulitan itu akan berubah menjadi kemuliaan dan kemudahan.

Apakah Anda benar-benar percaya bahwa manusia harus berusaha sekuat tenaga dan berjuang mati-matian untuk memperbaiki nasibnya? Jika jawabanmu adalah ya, maka aku sampaikan berita gembira kepadamu, percayalah dan tenangkan qalbumu bahwa Allah Swt. yang memiliki dan mengendalikan seluruh alam semesta ini akan memberimu pertolongan serta menjagamu dari segala bentuk kesulitan. Sebab, kewenangan Allah Swt. adalah seperti itu. Dengan kata lain, adakalanya Dia Swt. memberi cobaan kepada sebagian orang terlebih dahulu untuk menguji sampai di manakah kesabarannya, dan sampai di manakah usahanya untuk memperbaiki nasibnya sendiri? Jika ia bersungguh-sungguh dalam kesabarannya, dan bersungguh-sungguh usahanya untuk memperbaiki nasibnya, berarti ia akan menemui kesuksesan di dalam kehidupannya; baik di alam dunia maupun di alam akhirat kelak.

Sebaiknya kita akhiri pembahasan kita tentang takdir dari sisi kehendak Ilahi dengan kesimpulan sebagai berikut. Sesungguhnya Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Mengetahui tentang segala sesuatu dari segala sisinya. Sebab, ilmu-Nya mampu menjangkau dan mengetahui segala sesuatu. Semua itu telah dicatat dalam sebuah kitab di Lauh al-Mahfuzh secara jelas dan terperinci. Demikian pula para malaikat akan mencatat semua perbuatan manusia yang baik maupun buruk. Adapun takdir Allah Swt. tidak akan meleset sedikit pun dari ilmu-Nya, dan segala apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi. Kami yakin, bahwa apa saja yang telah dikehendaki oleh Allah Swt. pasti akan terjadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak akan pernah terjadi.

[1] Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang roh, kisah Ashhabul Kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain? Lalu beliau menjawab, datanglah esok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allâh (jika Allah menghendaki). Sampai esok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal yang beliau janjikan tersebut, dan Nabi tidak dapat menjawab pertanyaan sesuai janji yang telah beliau ucap kemarin. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi, bahwa Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allâh haruslah segera menyebutkannya kemudian-penerj.
[2] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, pada pembahasan mengenai al-Nikah, hadis nomor 119. Juga pada bahasan seputar al-Jihad, hadis nomor 23. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-Musnad, Jilid 2, hadis nomor 229, 275, dan 506.
[3] Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud pada pembahasan mengenai Adab, hadis nomor 106.
[4] Maksudnya ialah, janganlah engkau merasa keberatan atas sikap mereka itu berpaling dari ajakan menuju jalan Kami. Kalau engkau merasa keberatan, cobalah usahakan suatu mukjizat yang dapat memuaskan qalbu mereka, dan engkau tentu tidak akan pernah sanggup-penerj.
[5] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada bahasan mengenai Awal Penciptaan, hadis nomor 6. Juga oleh Imam Muslim, pada bahasan mengenai Berbuat Baik, hadis nomor 156.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada pembahasan mengenai Sifa-sifat Orang Munafik, hadis nomor 76.
[7] Lihat lebih lanjut keterangannya dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 5, hadis nomor 72.
[8] Lihat lebih lanjut keterangannya dalam al-Musnad, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Jilid 1, hadis nomor 214.
[9] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai al-Qadaru, hadis nomor 7.
[10] Diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, pada pembahasan mengenai Do’a, hadis nomor 89.
[11] Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, pada pendahuluan kitab, hadis nomor 13.
[12] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah san kesucian-Nya.
[13] Disesatkan Allâh dimaksud adalah, bahwa orang itu tersesat lantaran sikap ingkarnya, dan akibat ia tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allâh. Dalam ayat ini, karena mereka bersikap ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allâh menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi tersesat-penerj.

 

walau SAKIT….. atau diberi UJIAN buruk …. tetap UCAPkan AL HAMDULILLAH —————————– Banyak orang mengucap Alhamdulillah hanya di saat berhasil, sukses, mendapat rezeki atau senang. Hal itu tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya tepat. Alhamdulillah pantas kita ucapkan dalam kondisi dan di saat apapun. Sekali lagi, sebagai bentuk pengakuan dan kelapangan hati kita pada-Nya. ——————- Sakit adalah ujian, cobaan dan takdir Allah ———— Hendaknya orang yang sakit memahami bahwa sakit adalah ujian dan cobaan dari Allah dan perlu benar-benar kita tanamkan dalam keyakinan kita yang sedalam-dalamya bahwa ujian dan cobaan berupa hukuman adalah tanda kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ “sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.”[1]———– Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan baginya di dunia”[2]———— Mari renungkan hadits ini, apakah kita tidak ingin Allah menghendaki kebaikan kapada kita? Allah segerakan hukuman kita di dunia dan Allah tidak menghukum kita lagi di akhirat yang tentunya hukuman di akhirat lebih dahsyat dan berlipat-lipat ganda. Dan perlu kita sadari bahwa hukuman yang Allah turunkan merupakan akibat dosa kita sendiri, salah satu bentuk hukuman tersebut adalah Allah menurunkannya berupa penyakit.——— Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَْ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَْ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [3]——– Ujian juga merupakan takdir Allah yang wajib diterima minimal dengan kesabaran, Alhamdulillah jika mampu diterima dengan ridha bahkan rasa syukur. Semua manusia pasti mempunyai ujian masing-masing. Tidak ada manusia yang tidak pernah tidak mendapat ujian dengan mengalami kesusahan dan kesedihan. Setiap ujian pasti Allah timpakan sesuai dengan kadar kemampuan hamba-Nya untuk menanggungnya karena Allah tidak membebankan hamba-Nya di luar kemampuan hamba-Nya.—— Sakit manghapuskan dosa-dosa kita—————— Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini karena kesusahan, kesedihan dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan akan menghapus dosa-dosanya. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ “Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[4]———— Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ “Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[5]————- Bergembiralah saudaraku, bagaimana tidak, hanya karena sakit tertusuk duri saja dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.———— Sekali lagi bergembiralah, karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali, kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,——— مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ “Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[6]———– Hadits ini sangat cocok bagi orang yang mempunyai penyakit kronis yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya surga telah menunggunya.————– Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada hari kiamat nanti, banyak orang yang berandai-andai jika mereka ditimpakan musibah di dunia sehingga menghapus dosa-dosa mereka dan diberikan pahala kesabaran. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,———- يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ. ”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[7]– Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini, orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit, kelak di hari kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.—— Meskipun sakit, pahala tetap mengalir———– Mungkin ada beberapa dari kita yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa malakukan aktivitas, tidak bisa belajar, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan. Bergembiralah karena Allah ternyata tetap menuliskan pahala ibadah bagi kita yang biasa kita lakukan sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا “Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.”[8]——– Subhanallah, kita sedang berbaring dan beristirahat akan tetapi pahala kita terus mengalir, apalagi yang menghalangi anda untuk tidak bergembira wahai orang yang sakit.—— Sesudah kesulitan pasti datang kemudahan——– Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراْْْ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً ً “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”[9]———– Ini merupakan janji Allah, tidak pernah kita menemui manusia yang selalu merasa kesulitan dan kesedihan, semua pasti ada akhir dan ujungnya. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, susah-senang, lapar-kenyang, kaya-miskin, sakit-sehat. Salah satu hikmah Allah menciptakan sakit agar kita bisa merasakan nikmatnya sehat. sebagaimana orang yang makan, ia tidak bisa menikmati kenyang yang begitu nikmatnya apabila ia tidak merasakan lapar, jika ia merasa agak kenyang atau kenyang maka selezat apapun makanan tidak bisa ia nikmati. Begitu juga dengan nikmat kesehatan, kita baru bisa merasakan nikmatnya sehat setelah merasa sakit sehingga kita senantiasa bersyukur, merasa senang dan tidak pernah melalaikan lagi nikmat kesehatan serta selalu menggunakan nikmat kesehatan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,——- نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ “Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan waktu luang.”[10] ——–Bersabarlah dan bersabarlah———— Kita akan mendapatkan semua keutamaan tersebut apabila musibah berupa penyakit ini kita hadapi dengan sabar. Agar kita dapat bersabar, hendaknya kita mengingat keutamaan bersabar yang sangat banyak. Allah banyak menyebutkan kata-kata sabar dalam kitab-Nya. ————– Berikut adalah beberapa keutamaan bersabar:—- Sabar memiliki keutamaan yang sangat besar di antaranya:—- 1. Mendapatkan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman:——- “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[11]———- 2. Mendapatkan pahala yang sangat besar dan keridhaan Allah.—- Allah Ta’ala berfirman, “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar diberikan pahala bagi mereka tanpa batas.”[12] 3. Mendapatkan alamat kebaikan dari Allah.——- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari kiamat.”[13]——– 4. Merupakan anugrah yang terbaik——– Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menganugrahkan kepada seseorang sesuatu pemberian yang labih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”[14]——-

bersyukur selalu

walau SAKIT.…. atau diberi UJIAN buruk …. tetap UCAPkan AL HAMDULILLAH
—————————–

Banyak orang mengucap Alhamdulillah hanya di saat berhasil, sukses, mendapat rezeki atau senang. Hal itu tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya tepat. Alhamdulillah pantas kita ucapkan dalam kondisi dan di saat apapun. Sekali lagi, sebagai bentuk pengakuan dan kelapangan hati kita pada-Nya.

——————-
Sakit adalah ujian, cobaan dan takdir Allah ————

Hendaknya orang yang sakit memahami bahwa sakit adalah ujian dan cobaan dari Allah dan perlu benar-benar kita tanamkan dalam keyakinan kita yang sedalam-dalamya bahwa ujian dan cobaan berupa hukuman adalah tanda kasih sayang Allah. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،

فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.”[1]———–

 

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan  baginya di dunia”[2]————

 

Mari renungkan hadits ini, apakah kita tidak ingin Allah menghendaki kebaikan kapada kita? Allah segerakan hukuman kita di dunia dan Allah tidak menghukum kita lagi di akhirat yang tentunya hukuman di akhirat lebih dahsyat dan berlipat-lipat ganda. Dan perlu kita sadari bahwa hukuman yang Allah turunkan merupakan akibat dosa kita sendiri, salah satu bentuk hukuman tersebut adalah Allah menurunkannya berupa penyakit.———

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ

وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَْ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ

قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَْ أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ

مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [3]——–

 

Ujian juga merupakan takdir Allah yang wajib diterima minimal dengan kesabaran, Alhamdulillah jika mampu diterima dengan ridha bahkan rasa syukur. Semua manusia pasti mempunyai ujian masing-masing. Tidak ada manusia yang tidak pernah tidak mendapat ujian dengan mengalami kesusahan dan kesedihan. Setiap ujian pasti Allah timpakan sesuai dengan kadar kemampuan hamba-Nya untuk menanggungnya karena Allah tidak membebankan hamba-Nya di luar kemampuan hamba-Nya.——

 

Sakit manghapuskan dosa-dosa kita——————

Orang yang sakit juga selayaknya semakin bergembira mendengar berita ini karena kesusahan, kesedihan dan rasa sakit karena penyakit yang ia rasakan akan menghapus dosa-dosanya. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[4]————

 

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ،

حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.”[5]————-

 

Bergembiralah saudaraku, bagaimana tidak, hanya karena sakit tertusuk duri saja dosa-dosa kita terhapus. Sakitnya tertusuk duri tidak sebanding dengan sakit karena penyakit yang kita rasakan sekarang.————

 

Sekali lagi bergembiralah, karena bisa jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali, kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,———

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ

حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[6]———–

 

Hadits ini sangat cocok bagi orang yang mempunyai penyakit kronis yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan vonis dokter mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia khawatir penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya surga telah menunggunya.————–

Melihat besarnya keutamaan tersebut, pada hari kiamat nanti, banyak orang yang berandai-andai jika mereka ditimpakan musibah di dunia sehingga menghapus dosa-dosa mereka dan diberikan pahala kesabaran. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,———-

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.

Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”[7]–

Bagaimana kita tidak gembira dengan berita ini, orang-orang yang tahu kita sakit, orang-orang yang menjenguk kita ,orang-orang yang menjaga kita sakit,  kelak di hari kiamat sangat ingin terbaring lemah seperti kita tertimpa penyakit.——

 

Meskipun sakit, pahala tetap mengalir———–

Mungkin ada beberapa dari kita yang tatkala tertimpa penyakit bersedih karena tidak bisa malakukan aktivitas, tidak bisa belajar, tidak bisa mencari nafkah dan tidak bisa melakukan ibadah sehari-hari yang biasa kita lakukan. Bergembiralah karena Allah ternyata tetap menuliskan pahala ibadah bagi kita yang biasa kita lakukan sehari-hari. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.”[8]——–

Subhanallah, kita sedang berbaring dan beristirahat akan tetapi pahala kita terus mengalir, apalagi yang menghalangi anda untuk tidak bergembira wahai orang yang sakit.——

 

Sesudah kesulitan pasti datang kemudahan——–

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراْْْ, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً ً

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”[9]———–

 

Ini merupakan  janji Allah, tidak pernah kita menemui manusia yang selalu merasa kesulitan dan kesedihan, semua pasti ada akhir dan ujungnya. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, susah-senang, lapar-kenyang, kaya-miskin, sakit-sehat. Salah satu hikmah Allah menciptakan sakit agar kita bisa merasakan nikmatnya sehat. sebagaimana orang yang makan, ia tidak bisa menikmati kenyang yang begitu nikmatnya apabila ia tidak merasakan lapar, jika ia merasa agak kenyang atau kenyang maka selezat apapun makanan tidak bisa ia nikmati. Begitu juga dengan nikmat kesehatan, kita baru bisa merasakan nikmatnya sehat setelah merasa sakit sehingga kita senantiasa bersyukur, merasa senang dan tidak pernah melalaikan lagi nikmat kesehatan serta selalu menggunakan nikmat kesehatan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,——-

 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

 

“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan waktu luang.”[10]

 

——–Bersabarlah dan bersabarlah————

Kita akan mendapatkan semua keutamaan tersebut apabila musibah berupa penyakit ini kita hadapi dengan sabar. Agar kita dapat bersabar, hendaknya kita mengingat keutamaan bersabar yang sangat banyak. Allah banyak menyebutkan kata-kata sabar dalam kitab-Nya.

————–

Berikut adalah beberapa keutamaan bersabar:—-

Sabar memiliki keutamaan yang sangat besar di antaranya:—-

1. Mendapatkan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman:——-

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[11]———-

2. Mendapatkan pahala yang sangat besar dan keridhaan Allah.—-

Allah Ta’ala berfirman,

“sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar diberikan pahala bagi mereka tanpa batas.”[12]

3. Mendapatkan alamat kebaikan dari Allah.——-

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari kiamat.”[13]——–

4. Merupakan anugrah yang terbaik——–

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah Allah menganugrahkan kepada seseorang sesuatu pemberian yang labih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”[14]——-

 

Hindarilah hal ini ketika sakit

Ketika sakit merupakan keadaan dimana seseorang lemah fisik dan psikologis bahkan bisa membuat lemah iman. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati agar kondisi ini tidak di manfaatkan oleh syaitan. Ada beberapa hal yang harus kita hindari ketika sakit.

1. berburuk sangka kepada Allah atau merasa kecewa bahkan marah kepada takdir Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba kepada-Ku, jika ia berprasangka baik, maka aku akan berbuat demikian terhadapnya. Jika ia berprasangka buruk, maka aku akan berbuat demikian terhadapnya.”[15]

2. Menyebarluaskan kabar sakit dan mengeluhkannya

Merupakan salah satu tanda tauhid dan keimanan seseorang bahwa ia berusaha hanya mengeluhkan keadaannya kepada Allah saja, karena hanya Allah yang bisa merubah semuanya. Sebaliknya orang yang banyak mengeluh merupakan tanda bahwa imannya sangat tipis. kita boleh mengabarkan bahwa kita sakit tetapi tidak untuk disebarluaskan dan kita kelauhkan kepada orang banyak

3. membuang waktu dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia selama sakit

Misalnya banyak menonton acara-acara TV, mendengarkan musik, membaca novel khayalan dan mistik, hendaknya waktu tersebut di isi dengan muhasabah, merenungi, berdzikir, membaca Al-Quran dan lain-lain.

4. Tidak memperhatikan kewajiban menutup aurat

Hal ini yang paling sering dilalaikan ketika sakit. walaupun sakit tetap saja kita berusaha menutup aurat kita selama sakit sebisa mungkin. Lebih-lebih bagi wanita, ia wajib menjaga auratnya misalnya  kaki dan rambutnya dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak dilihat oleh laki-laki lain misalnya perawat atau dokter laki-laki

5. Berobat dengan yang haram

Kita tidak boleh berobat dengan hal-hal yang haram, misalnya dengan obat atau vaksin yang mengandung babi, berobat dengan air kencing sendiri karena Allah telah menciptakan obatnya yang halal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit bersama obatnya, dan menciptakan obat untuk segala penyakit, maka berobatlah, tetapi jangan menggunakan yang haram.”[16]

Dan perbuatan haram yang paling berbahaya adalah berobat dengan mendatangi dukun mantra, dukun berkedok ustadz dan ahli sihir karena ini merupakan bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari islam serta kekal di neraka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lalu mempercayai apa yang ia ucapkan, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam”[17].

 

Sebagai penutup tulisan ini, berikut jawaban serta jalan keluar dari Allah yang langsung tertulis dalam kitab-Nya mengenai beberapa keluhan yang muncul dalam hati manusia yang lemah[18]

–Mengapa saya di uji (dengan penyakit ini)?

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. 29:3)

-Mengapa saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan (berupa  kesehatan)?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

-Mengapa ujian (penyakit) seberat ini?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

-Saya mulai frustasi dengan ujian (penyakit) ini.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3:139)

-Bagaimanakah saya menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. 3:200)

-Apa yang saya dapatkan dari semua ini?

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka,” (QS. 9:111)

-Kepada siapa Saya berharap?

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS. 9:129)

-Saya sudah tidak dapat bertahan lagi dan menanggung beban ini!

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)


[1] HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani  dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi

[2] HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220

[3] Al-Baqarah:155-157

[4] HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651

[5] HR. Muslim no. 2572

[6] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

[7] HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.

[8] HR. Bukhari  dalam shahihnya

[9]  Alam Nasyrah: 5-6

[10] HR. Bukhari, no: 5933

[11] At Thaghabun: 11

[12] Az-Zumar:10

[13] HR. Tirmidzi no.2396 dalam kitabuz zuhd, Bab “ Tentang Sabar Terhadap Ujian”, dan dia berkata, “Ini hadist hasan gharib”, Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak (I/349), IV/376, 377)

[14] HR. Bukhari no. 1469 dalam kitabuz Zakat, Bab “menghindari diri untuk tidak meminta-minta”, dan Muslim no.2471 dalam Kitabuz Zakat, Bab “Keutamaan Menjaga Kehormatan dan Sabar”

[15] HR. Ahmad dan Ibnu Hibban

[16] HR. Abu Dawud

[17] HR. Ahmad di dalam Al-Musnad (II/429). Al-Hakim (I/8) dari Abu Hurairah secara marfu’.

=============================

Ada banyak contoh dalam Al-Qur’an dan Hadits dari keutamaan sikap mental yang positif, ketekunan dan optimisme dalam menghadapi kesulitan. Namun, tahukah Anda bahwa kesabaran dan pandangan positif tentang kehidupan adalah dua alat penyembuhan terbesar yang dapat Anda gunakan?

Bernard Jensen mengatakan, dalam bukunya The Science and Practice of Iridology, “Dokter sekarang mengakui bahwa sistem kerja tubuh yang paling penting adalah bukan anggota fisik, tetapi pikiran yang mengontrolnya.” Dr Ted M. Morter menegaskan hal ini dalam bukunya, Your Health… Your Choice, ketika ia mengatakan bahwa “pikiran negatif adalah penghasil asam nomor satu dalam tubuh (dan tingkat keasaman tubuh yang tinggi merupakan penyebab utama penyakit) … karena tubuh Anda bereaksi terhadap mental negatif dan tekanan emosional yang ditimbulkan oleh cara berpikir yang negatif dan akan menjadi ancaman nyata bagi kerusakan fisik.”

Bahkan, penelitian rumah sakit menunjukkan bahwa dari semua pasien yang berkonsultasi di fasilitas klinik rawat jalan di Amerika Serikat, yang sangat mengherankan bahwa tujuh puluh persen dari pasien ditemukan tidak memiliki dasar atas keluhan mereka. Angka itu luar biasa tinggi. Namun, meskipun secara medis pasien ini tidak ditemukan memiliki sumber yang jelas atas keluhan mereka, sebenarnya ada dasar fisik untuk fenomena ini. Sejak Freud mempopulerkan gagasan psikoanalisis, orang sering berfokus pada bidang mental untuk memecahkan masalah-masalah tertentu, dengan mengabaikan kenyataan bahwa kita tidak bisa memisahkan antara ranah fisik dan mental.

Pikiran ada di otak, dan otak adalah bagian dari organ tubuh. Seperti semua organ-organ lainnya, otak juga membutuhkan nutrisi yang sama seperti organ tubuh lainnya, dan otak juga rentan mengalami masalah yang sama. Kesimpulannya, otak hanyalah bagian dari tubuh kita seperti semua bagian lain dan benar-benar tergantung pada tubuh. Hal ini membutuhkan gula untuk mengembangkan energi seperti jaringan lain yang dapat berkembang dari kalium dan lemak. Akibatnya, otak adalah organ pertama yang menderita gula darah rendah dan bereaksi paling parah. Freud sendiri mengatakan bahwa psikoanalisis tidak cocok untuk mengobati penyakit seperti skizofrenia.

Jika kita menyadari bahwa otak adalah bagian organ tubuh dan bahwa ia bekerja selaras dengan organ-organ lain dan membutuhkan nutrisi dari aliran darah yang sama, kita dapat memahami bagaimana berbagai peristiwa mental dapat mempengaruhi kita secara fisik. Misalnya, menggunakan otak kita untuk berpikir dan belajar membakar nutrisi dalam sistem tubuh, terutama fosfor. Olahraga otak yang berat dapat menyebabkan kita menderita kekurangan fosfor. Dan kami menemukan bahwa kebalikannya juga berlaku dalam hubungan ini. Orang yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi biasanya memiliki kadar fosfor yang tinggi dalam sistem tubuh mereka.

Ada banyak hikmah dalam pernyataan Nabi SAW (diriwayatkan oleh Abu Hurairah), “Orang yang kuat bukanlah orang yang mengalahkan orang-orang dengan kekuatannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri saat marah.Sebenarnya, tetab sabar dan tenang adalah kunci untuk kekuatan fisik.

Fosfor bukan satu-satunya nutrisi yang dapat habis oleh stres mental dan kurangnya ketenangan spiritual. Jika kelenjar tiroid, organ utama untuk menangani emosi kita, bekerja lembur, kita bisa menderita kekurangan yodium. Stres akibat tuntutan pekerjaan, perceraian atau permasalahan lain dapat menyebabkan hilangnya kalium dan natrium dalam tubuh karena efek kelenjar adrenal yang dihasilkan lebih banyak dari kebutuhan untuk mineral ini.

Bahkan hipoglikemia (gula darah rendah) dapat disebabkan oleh kegembiraan. Nabi (SAW) mengajarkan kepada kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam menjalani hidup; Namun, kita sering mengekspos secara berlebihan rasa gembira kita dengan berteriak, berlebihan menonton televisi, pergi ke mall, film, pesta, taman hiburan, dll. Ketika kita melihat sesuatu yang menarik, adrenal cortex kita terstimulasi dan terjadi peningkatan gula darah dalam tubuh kita. Hal ini, pada gilirannya, merangsang pankreas untuk mensekresikan insulin ke dalam darah untuk menurunkan tingkat gula, menyebabkan kita kemudian merasa lelah atau lemah.

Untuk bisa menciptakan rasa tenang dan berdampak bagi kesehatan adalah dengan membiasakan diri mengucapkan, Alhamdulillah” untuk apa yang telah kita miliki dan apa yang kita terima. Kita harus mencoba untuk menjaga rumah dan lingkungan kerja kita damai dan sebisa mungkin bebas dari stres. Salah satu cara agar kita dapat melawan efek stres yaitu menyadari akan stres yang kita hadapi, dan mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan suplemen seperti herbal.

Misalnya, jika seseorang sampai larut malam shalat atau membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadhan, mereka dapat mengonsumsi makanan yang kaya fosfor dan makanan lain yang bisa membantu menjaga asupan fosfor dalam tubuh. Jika seseorang bergerak, bepergian atau melakukan perjalanan Haji atau Umrah, mereka bisa meningkatkan asupan tinggi untuk kalium dan natrium serta vitamin B kompleks.

Jika kita benar-benar mengabaikan hubungan antara kesehatan mental dan fisik, kita kehilangan detail penting dalam gambaran kesehatan diri kita. Dan, seperti pada sebagian besar masalah kesehatan, membiasakan diri untuk melakukan pencegahan lebih utama dari pada berobat. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghindari sikap negatif dan emosi yang mengendalikan tubuh kita adalah dengan membiasakan diri bersikap bijaksana, dan bagi Muslim, kita telah memiliki Alquran dan Hadis untuk membimbing kita untuk bersikap bijaksana dalam menyikapi seusatu, sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan, serta terhindar dari pikiran negatif dan stress.

Biasakanlah untuk mengucapkan, Alhamdullilahuntuk apa yang kita miliki; Insya Allahuntuk apa yang kita niatkan; dan, Subhana Allahketika kita melihat sesuatu yang menarik atau menakjubkan.

Kita harus ingat untuk mengucapkan, Astaghfir’Allah ketika kita kehilangan kesabaran atau menjadi lemah, dan yang paling penting, ucapkanlah “Allahu Akbarketika kita dihadapkan dengan tantangan hidup.

Kelima kalimah thayyibah tersebut, apabila kita amalkan dalam keseharian kita, seperti halnya mengkonsumsi multivitamin yang memiliki dampak yang luar biasa terhadap kesehatan kita secara keseluruhan.

*Artikel ini ditulis oleh Karima Burns, MH, ND. Dia merupakan seorang Doktor Naturopathy dan Magister Pengobatan Herbal. Dia telah mempelajari pengobatan alami selama 12 tahun, menerbitkan buletin tentang penyembuhan alami selama 4 tahun, dan menulis secara ekstensif tentang pengobatan alami dan herbal. Karima menjadi tertarik pada penyembuhan alami setelah berhasil mengakhiri perjuangan seumur hidup pribadinya dalam melawan penyakit asma, alergi, infeksi telinga kronis, depresi, hipoglikemia, kelelahan dan serangan panik yang dideritanya dengan racikan herbal dan terapi alami.

=======================

A. Arti Kalimat Tayyibah Alhamdulillah

Allah menciptakan manusia dengan bentuk fisik yang paling sempurna.

Manusia berbeda dibanding makhluk lainnya.

Manusia dianugerahi akal untuk berfikir.

Manusia juga diberi hati untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

Karena itu kita harus bersyukur kepada Allah.

Bersyukurlah dengan mengucap Alhamdulillah.

Manusia tidak perlu menghitung nikmat yang telah diberikan Allah.

Karena nikmat Allah begitu banyak sehingga manusia tidak akan mampu menghitungnya. Seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 34:

Artinya : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.”

Sebagai hamba yang perlu dilakukan adalah bersyukur dan memuji Allah.

Sesungguhnya Allah akan menambahkan nikmatnya kepada orang-orang yang bersyukur.

Sebaliknya ingkar atau kufur nikmat akan membuat kita terkena azab dari Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ibrahim  ayat 7 :

“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Alhamdulillah adalah kalimat tayyibah yang berarti segala puji bagi Allah.

Bacaan lengkapnya adalah Alhamdulillahirabbil’alamin.

Alhamdulillah artinya segala puji bagi Allah tuhan semesta Alam.

Alhamdulillah juga dinamakan bacaan Tahmid atau hamdalah.

Kalimat Alhamdulillah terdiri dari tiga kata Alhamdu, li dan Allah.

Alhamdu yang artinya yang artinya segala puji.

li artinya pengkhususan bagi Allah.

Segala puji-pujian hanya untuk Allah.

Tidak ada yang lain yang berhak mendapatkan pujian itu.

Misalnya, kita memuji arsitek karena telah merancang bangunan yang besar.

Tetapi coba kita pikirkan lagi, dari mana arsitek tersebut mendapatkan ide membuat bangunan tersebut.

Tentunya Allah yang telah memberinya ide.

Oleh sebab itu jika kita dipuji-puji orang, janganlah kita menjadi sombong.

Karena manusia dihadapan Allah sangatlah kecil.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

seperti dalam firmannya :

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

 

B. Waktu Pengucapan Kalimat Tayyibah Alhamdulillah

Waktu pengucapan Kalimat Tayyibah Alhamdulillah, antara lain :

  1. Alhamdulillah diucapkan ketika ketika kita memperoleh nikmat dari Allah. Nikmat adalah sesuatu yang menyenangkan. Misalnya kita mendapat hadiah, kabar gembira, kebaikan atau kelebihan rezeki kita harus mengucap Alhamdulillah. Setiap hari kita mendapatkan nikmat Allah. Contohnya nikmat sehat. Ketika kita sembuh dari sakit kita harus bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah.
  2. Disetiap salat kita juga membaca Alhamdulillah. Yaitu ketika kita membaca surat Al-Fatihah.
  3. Dalam dzikir sesudah salat kita mengucap Alhamdulillah. Bacaan Alhamdulillah diucapkan sebanyak 33 kali.
  4. Alhamdulillah juga menjadi bacaan pamungkas usai melakukan pekerjaan. Misalnya setelah belajar dan mengerjakan PR.
    1. Ketika terhindar dari malapetaka, kita juga mengucapkan Alhamdulillah. Misalnya ketika kita selamat dari bencana gempa dan tsunami.
    2. Ketika bersin kita juga mengucapkan Alhamdulillah

Alhamdulillah sebaiknya tidak hanya diucapkan dibibir saja.

Tetapi harus diikuti dengan perbuatan yang baik.

Misalnya kita mendapat kelebihan rezeki, kita bersyukur kepada Allah dengan mengucap Alhamdulillah.

Kita juga harus menyedekahkan kelebihan harta kita kepada orang-orang miskin.

Selain itu kita juga wajib mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan selalu bersyukur kita akan terhindar dari sifat sombong.

Karena itu Allah selalu memerintahkan hamba-Nya untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Seperti dalam firman-Nya dalam surat An-Naml ayat 93 yang berbunyi :

“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah…..”

Bersyukur tidak boleh kepada selain Allah.

Karena orang yang memuja selain Allah dinamakan Musyrik.

Kelak akan mendapatkan siksa diakhirat nanti.