Loading
Asysyafii | EP Artikel-Edy Gojira

apakah mungkin bisa MEMANDANG ALLAH di surga ?…… Wajah Allah dapat dilihat orang BERIMAN di SURGA KELAK … jika MASUK SURGA … ———————– Melihat Dengan Mata Kepala——— Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada RabbNya. (Al-Qiyamah: 22-23)——- Ayat ini menegaskan dengan gamblang bahwa Allah akan dilihat dengan mata kepala secara langsung pada hari kiamat nanti. Tentang hal ini banyak hadits berderajat mutawatir.—— Hadits Abu Hurairah dan Abu Sa’id dalam Shahihain menceritakan bahwa para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah kalian mendapatkan kesulitan melihat bulan pada saat purnama?” Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mendapatkan kesulitan melihat matahari pada saat tidak ada awan?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau kemudian bersabda, “Seperti itu juga kalian melihat Rabb kalian.”———– Anas bin Malik berkata, “Manusia akan melihat Allah pada hari kiamat nanti dengan mata kepala mereka.”——– Orang Kafir Tidak Akan Melihat Allah———– Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. (Al-Muthaffifin: 14-15)———- Dan salah satu bagian dari hukuman terbesar terhadap orang-orang kafir adalah mereka terhalang untuk melihat Allah dan terhalang dari mendengar perkataan-Nya.———- Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menjelaskan tentang ayat itu, “Ketika mereka itu terhalang dari melihat Rabb mereka karena mereka dalah orang-orang yang dibenci atau dimurkai Allah, maka ini menjadi bukti bahwa wali Allah itu akan melihat Allah karena Allah meridhai mereka.”——– Lalu Ar-Rabi’ bertanya, “Wahai Abu Abdillah, apakah benar engkau mengatakan demikian?” Ia menjawab, “Ya, benar! Karena itu pulalah aku menundukkan diri diri di hadapan Allah. Kalau saja Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia akan melihat Allah tentu ia tidak mau menghambakan diri kepada-Nya.” ====================

February 4, 2017 Edy Gojira 3

apakah mungkin bisa MEMANDANG ALLAH di surga ?…… Wajah Allah […]

JANGAN Lihat SIAPA yang BICARA…. Tapi …. Lihatlah APA yang Dibicarakan –Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun datangnya.— “Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan” (Ali bin Abi Thalib) —————————————————– JANGAN pernah …. meremehkan masukan /perKATAan dari siapa pun, bahkan bila orang itu secara usia lebih muda. Karena sesungguhnya setiap diri akan menerima ganjaran sesuai dengan apa yang diusahakannya – ————————————— Imam Asy-Syafii mengajarkan kita hal ini. Beliau berkata, Jika telah shahih suatu hadits, maka itu adalah madzhabku. Dan jika telah shahih suatu hadits, lemparkanlah kata-kataku (yang menyelisihinya) ke dinding. —————————- Beliau juga berkata, Setiap yang saya katakan, jika terdapat hadits shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang bertentangan dengan pendapatku, maka hadits shahih itu lebih utama (untuk diikuti), dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku. ————————— Sikap ini juga diajarkan oleh Imam Malik. Beliau berkata, Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, semua yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah. ——————————— Inilah yang diajarkan oleh dua ulama besar ini, yang barakah ilmunya telah dirasakan oleh umat Islam lebih dari seribu tahun. Mereka dan ulama-ulama lainnya pun terkenal dengan ungkapan, Pendapatku benar, namun ada kemungkinan salah. Pendapat selainku salah, namun ada kemungkinan benar. —————————– Adapun orang-orang yang taashshub, mereka berprinsip sebaliknya. Bagi mereka, Pendapat yang kuikuti pasti benar, tak mungkin salah. Pendapat yang menyelisihiku pasti salah, tak mungkin benar. ———————————— Jika ada ayat Al-Quran atau Hadits Nabi yang terlihat bertentangan dengan pendapat yang mereka ikuti, mereka akan tawil ayat dan hadits tersebut agar sesuai dengan paham yang mereka ikuti, walaupun tawil mereka tersebut bertentangan dengan zhahir makna ayat dan hadits tersebut, walau tak ada seorang pun ulama mutabar sebelumnya yang memahami ayat dan hadits tersebut sebagaimana yang mereka pahami. ——————————–

July 23, 2016 Edy Gojira 2

JANGAN Lihat SIAPA yang BICARA…. Tapi …. Lihatlah APA yang […]

arti MISKIN dalam FIQIH ISLAM…. dan apa arti FAKIR ?? ———————————- Dalam bahasa aslinya (Arab) kata miskin terambil dari kata sakana yang berarti diam atau tenang, sedang kata masakin ialah bentuk jama’ dari miskin yang menurut bahasa diambil dari kata sakana yang artinya menjadi diam atau tidak bergerak karena lemah fisik atau sikap yang sabar dan qana’ah.[1] ——————————- Menurut al-Fairuz Abadi dalam Al-Qamus “miskin” adalah orang yang tidak punya apa-apa atau orang-orang yang sangat butuh pertolongan. Dan boleh dikatakan miskin orang yang dihinakan oleh kemiskinan atau selainnya.[2] Dengan kata lain miskin adalah orang yang hina karena fakir jadi miskin menurut bahasa adalah orang yang diam dikarenakan fakir.[3] ——————————– Sedangkan menurut Yasin Ibrahim sebagaimana yang diungkapkan oleh M. Ridlwan Mas’ud dalam bukunya zakat dan kemiskinan, instrument pemberdayaan umat lebih luas lagi yaitu orang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka kebalikan dari orang-orang kaya yang mampu memenuhi apa yang diperlukannya.[4] ————————— Sementara itu para ulama baik sahabat atau tabi’in berbeda pendapat dalam memahami dan menafsirkan lafadh al-masakin dalam surat at-Taubah ayat 60: إنما الصدقات للفقراء و المسكين و العملين عليها و المؤلفة القلوبهم و في الرقاب و الغرمين و في سبيل الله و ابن السبيل فريضة من الله و الله عليم حكيم “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 60)[5] ————————- Kata miskin pada ayat di atas diartikan sebagai orang yang mempunyai sesuatu tetapi kurang dari nisab, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka atau orang-orang yang memiliki harta tetapi tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sendiri tanpa ada bantuan.[6] —————————– Ibnu Abbas menyatakan lain kata al-masakin diartikan orang yang keluar rumah untuk meminta-minta.[7] Hal serupa juga diungkapkan oleh Mujahid, lebih lanjut ia menyatakan bahwa al-masakin adalah orang yang meminta. Ibnu Zaid dalam menafsirkan al-masakin diartikan orang-orang yang meminta-minta pada orang lain. Sedangkan menurut Qatadah al-masakin adalah orang yang sehat (orang yang tidak mempunyai penyakit) yang membutuhkan.[8] ——————————– Pada riwayat lain disebutkan bahwa Umar menyatakan “bukanlah orang miskin yang tidak mempunyai harta sama sekali, tetapi orang yang buruk raganya” sementara Ikrimah menyatakan orang-orang ahli kitab.[9] —————————- Pengertian miskin sering disamakan dengan fakir. Penjelasannya adalah bahwa mengenai pengertian fakir dan miskin terdapat perbedaan pendapat, yaitu sebagai berikut: ————————————– 1) Menurut Madzhab Hanafi, orang fakir adalah orang yang memiliki usaha namun tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan orang miskin tidak memiliki mata pencaharian untuk mencukupi keperluan sehari-hari. Jadi keadaan orang fakir masih lebih baik daripada orang miskin.[10] ——————————– Pendapat ini diperkuat oleh Firman Allah dalam surat al-Balad ayat 16: او مسكينا ذا متربة “Atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (QS. al-Balad: 16).[11] ———————————- Imam Abu Hanifah memberi pengertian miskin adalah mereka yang benar-benar miskin dan tidak memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhan hidup.[12] Dengan kata lain orang miskin lebih parah kondisinya daripada fakir.[13] —————————– Imam Malik mengatakan bahwa fakir adalah orang yang mempunyai harta yang jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam masa satu tahun. ———————- Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan usaha atau mempunyai harta dan usaha tetapi kurang dari setengah kebutuhan hidupnya dan tidak ada orang yang berkewajiban menanggung biaya hidupnya. ————————————-

July 16, 2016 Edy Gojira 2

arti MISKIN dalam FIQIH ISLAM…. dan apa arti FAKIR ?? […]