Loading
Akibat | EP Artikel-Edy Gojira - Part 4

KARMA DALAM AJARAN ISLAM ------------------------------- ada baiknya kita pahami dulu bersama kata "karma" menurut kamus bahasa Indonesia; "dalam hinduisme yaitu hukum 'menanam' dan 'mengetam', sebab dan akibat dalam kehidupan manusia, dimana setiap tindakan manusia dalam hidupnya pasti akan membawa akibat, baik atau buruk". ------------------------ Lalu bagaimana Karma menurut Islam, agama yang kita yakini kebenaran ajaran-ajarannya melalui Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW? ---------------------------- Dalam firmanNya Allah menjelaskan "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-An'am:160) ---------------------------- Ayat lain selain tersebut diatas Allah juga berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" (QS. Al-Zalzalah: 7-8) ---------------------- Tentu saja masih banyak ayat-ayat lainnya yang berkaitan dengan karma ini, misalnya dalam QS Ali Imron 197, Al An am 11, an Nahl 36, Tahaa 128, An naml 69, Al An kabuut 20 Fathir 44. dan lain sebagianya yang tidak mungkin saya tuliskan satu persatu dalam tulisan ini. ------------------------ Dua ayat Al-Qur'an diatas saya rasa sudah cukup untuk memberikan bukti bahwa karma itu bukanlah mitos. Bahwa karma itu sebenarnya ada ajarannya dalam Agama kita. Islam. --------------------------------- Setiap Perbuatan Ada Balasannya ------------------------------------ Adapun dalam Islam, konsep karma vipaka (akibat dari perbuatan) itu ada juga. Dalam ajaran aqidah Islam, semua perbuatan walaupun seberat dzarah (atom) pun akan mendapat balasan. ----------------------- Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Q.S. Al-Zalzalah [99] :7-8) ------------------------- Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri (Q.S. Al-Fushilat [41] :46) ------------------------------ Jika hukum karma yang dimaksud adalah bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya seimbang dengan kualitas baik atau buruknya perbuatan itu, maka YA, dalam Islam ada juga keyakinan mengenai hal itu. --------------------------- Dari Sahal bin Sa’ad r.a.,ia berkata, “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasnya, namun kamu pasti akan mati. Berbuatlah semaumu, namun pasti kamu akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, namun pasti kamu akan berpisah.. (H.R. Tirmidzi) ------------------------------ Setiap Perbuatan Kadang Dibalas Di Dunia Kadang Dibalas Di Akhirat ---------------------------------- Secara umum dalam konsep aqidah Islam perbuatan manusia di dunia akan mendapat balasan di akhirt. Namun kadang kala sebagian dari balasan itu terjadi di dunia dan sebagian terjadi di akhirat. ------------------------ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi” (Q.S. Asy-Syuura [42] :30-31) ------------------------------ Sebagaimana pepatah : “siapa menebar angin ia akan menuai badai’. Maka musibah di dunia seperti banjir, longsor, global warming, efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozone, adalah akibat dari kerusakan yang dibuat oleh tangan manusia. ----------------------- Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. (Q.S. Ar-Ra’d [13] :31) ------------------------- Sebagian dari perbuatan zholim dan kekafiran itu juga akan dibalas oleh Allah di dunia. Sebagai contoh diancam oleh Allah bahwa barang siapa melakukan ekonomi riba, maka ia akan hidup dalam keadaan mabuk kepayang dan hilang keberkahan. -----------------------

July 23, 2016 Edy Gojira 2

KARMA DALAM AJARAN ISLAM ------------------------------- Sebelum saya membahas karma, ada [...]

Umat Islam harus “GHONIY”, ini yang benar...... Tapi, kalau “umat ISLAM harus kaya”, = ini hanya TIPU daya SYETAN yang sangat halus dan mengGELINCIRkan ------------------------------ makna “ghinaa” dan “ghoniyyun” bukan kaya sebagaimana dimengerti dalam bahasa Indonesia. Makna yang lebih tepat adalah MANDIRI, TIDAK menjadi BEBAN dan kerepotan orang lain, merdeka. --------------------------------------- Orang yang “ghoniy” bisa jadi tidak berharta banyak, tapi ia tidak membebani siapa pun bahkan bisa berkontribusi untuk orang lain. Sebaliknya, ada orang berharta banyak namun sebenarnya tidak “ghoniy”, sehingga pelit dan tidak memiliki sumbangsih bagi umat. ------------------------------- Istilah “ghoniyyun” (غَنِيٌّ) atau “ghinaa” (غِنَى) biasanya diterjemahkan “kaya”. Terjemah ini tidak persis tepat, karena “kaya” dalam bahasa Indonesia berarti mempunyai banyak harta, sementara dalam Bahasa Arab berbeda. -------------------------------- Makna asli “ghoniyyun” atau “ghina” adalah cukup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan kepada selainnya. Ini sebetulnya lebih bersifat psikis atau sikap mental, bukan fenomena fisik-material. Wanita yang sangat cantik disebut “ghoniyah” (غانية), karena sudah cukup dengan dirinya dan tidak memerlukan perhiasan. Suara nyanyian yang sangat merdu disebut “ghinaa’” (غناء), karena sudah cukup dengan dirinya dan tidak butuh apa-apa lagi untuk memperindahnya. ----------------------------------- Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051) ---------------------------- “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim) ===== “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas; karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Qs al-‘Alaq: 6-7) ------------------------- “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53) “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu/HIDUP berMEWAHan)” (Qs. At Takatsur: 8). ……………………..…… ﴾ At Takaatsur:1 ﴿ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, ............... ﴾ At Takaatsur:2 ﴿ sampai kamu masuk ke dalam kubur........ ﴾ At Takaatsur:3 ﴿ Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),.................. ﴾ At Takaatsur:4 ﴿ dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui................ ﴾ At Takaatsur:5 ﴿ Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,................. ﴾ At Takaatsur:6 ﴿ niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,...................... ﴾ At Takaatsur:7 ﴿ dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.................... ﴾ At Takaatsur:8 ﴿ kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)...........................

July 16, 2016 Edy Gojira 1

Umat Islam harus “GHONIY”, ini  yang benar...... Tapi, kalau “umat [...]

apa yang dimaksud…… Hawa Nafsu ?? ——————- Apakah hawa nafsu itu selalu buruk ?? —————————- Hawa nafsu terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس).”Dalam bahasa Indonesia, ‘nafsu’ bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh”Ketiga-tiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab: Hawa (الهوى): sangat cinta; kehendak. Nafsu (النفس): roh; nyawa; jiwa; tubuh; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha. Syahwat (الشهوة): keinginan untuk mendapatkan yang lezat; birahi. ————————– Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai “syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia,” yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang. ——————– ‘Hawa nafsu ‘cenderung’ pada keburukan’, ketika kita menyandarkan seluruh perbuatan kita pada ‘hawa nafsu’ semata atau ‘hawa nafsu’ sebagai yang utama dan tentu ‘jiwa’ ini akan jatuh ke lubang kotor, yang mengotori jiwa. Manusia akan ‘dikuasai’ dan ‘diperbudak’ oleh hawa nafsu-nya. ——————————— Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا{7} فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا{8} قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا{9} وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا{10} “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 7-10) ——————————————- Sedangkan secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan maksiat, hal ini sebagaimana telah disinyalir dalam Al Quran surat Yusuf ayat 53, yang mana memang pada asalnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿يوسف:٥٣﴾ “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” (Yusuf: 53) ————————————— Ibnu Katsir Rahimahullahu berkata: “Yaitu (nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan) kecuali nafsu yang Allah menjaganya (dari keburukan)”. Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada sesuatu yang diinginkannya, meskipun ia menyuruh kepada sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala, kecuali Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, maka Dia menyelamatkannya dari mengikuti hawa nafsu dan mentaatinya dari keburukan-keburukan yang diperintahkannya. Sesungguhnya Allah Maha memaafkan dari dosa-dosa bagi siapa yang bertaubat dari dosa tersebut dengan tidak menyiksanya. —————————————- Adapun kecondongan jiwa kepada apa yang diinginkannya, kecondongan hati kepada apa yang dicintainya meskipun hal itu keluar dari hukum-hukum syari’at. Dan setiap apa yang keluar dari yang diwajibkan oleh kitab dan sunnah maka itulah hawa. Dan setiap orang yang tidak mengikuti ilmu dan kebenaran maka ia adalah shohibul hawa, Allah Ta’ala berfirman, “Dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas’’. (Al-An’am: 119) ——————— Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut. ———————- Ada pula yang mendefinisikan hawa nafsu yang tidak berbeda jauh dari yang disebutkan diatas yaitu : 1.Kecenderungan jiwa kepada yang diinginkan. 2.Kehendak jiwa terhadap yang disukai. 3.Kecintaan manusia terhadap sesuatu hingga mengalahkan hatinya (qalbunya). 4.Suka atau asyik terhadap sesuatu kemudian menjadi isi hatinya (qalbunya). ——————

July 8, 2016 Edy Gojira 1

apa yang dimaksud…… Hawa Nafsu ?? ——————- Apakah hawa nafsu [...]

Tha’ifah Manshurah : Berperang Adalah Salah Satu Ciri Mereka ---------------------- Tha`ifah Manshurah atau Tha`ifah Zhahirah adalah satu kelompok kecil dari umat Islam yang mendapat pertolongan Allah. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah yang akan selalu ada. Sejak masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat nanti. ----------------------------- Tha`ifah Manshurah adalah orang-orang yang berakidah sesuai pemahaman Rasululah dan para sahabat. Mereka menjauhi dosa dosa besar dan dosa kecil semampu mereka. Berusaha mengamalkan Sunnah, mulai dari yang paling kecil hingga yang besar. Dan jelas sikap fanatiknya pada Islam, anti nasionalisme dan pemetakan berdasarkan ras dan daerah. ------------------------------ Wahai Rasulullah, apakah itu perang di jalan Allah --------------------------- ‘Utsman bercerita kepada kami, ia berkata: Jarir bin Manshur memberitakan kepada kami dari Abu Wa’il dari Abu Musa, ia berkata: “Seseorang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah itu perang di jalan Allah? Sesungguhnya ada seseorang dari kami yang berperang karena marah, dan ada yang berperang karena membela orang lain.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya -(Abu Musa) berkata: Tidaklah Rasulullah mengangkat kepalanya melainkan karena orang yang bertanya dalam keadaan berdiri- dan menjawab: ‘Siapa saja yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah.’” HR. al-Bukhari. ------------------------------ Hanya satu yang menyatukan mereka yaitu akidah Islam dan permusuhan terhadap thaghut. ------------------------------ Salah ciri mereka yang jelas terlihat adalah bahwa mereka berperang di jalan Allah. Sekali lagi saya menggunakan kata perang (قِتَال) bukan jihad yang masih bisa diinterpretasikan lain selain angkat senjata membunuh atau dibunuh musuh. -------------------------- Berikut beberapa riwayat tentang tha`ifah manshurah yang mengandung tegas kalimat qital (berperang) di jalan Allah. ................. 1.Hadis Jabir bin Samurah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :....... لَنْ يَبْرَحَ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا يُقَاتِلُ عَلَيْهِ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ Agama ini akan selalu tegak dimana ada sekelompok kaum muslimin berperang membelanya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 1922 dalam kitab Al-Imarah, Musnad Ahmad, no. 20985). Isnadnya hasan karena dalam sanadnya ada Simak bin Harb dimana haditsnya hasan bila bersendirian.

July 4, 2016 Edy Gojira 2

Tha’ifah Manshurah : Berperang Adalah Salah Satu Ciri Mereka ---------------------- [...]

Abu Bakar Ash-Shiddiq ------------------------------------- masuknya ia ke dalam Islam paling pertama. ------------------ Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ------------------------------ Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam -------------------------------- Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais --------------------------- Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad --------------------------------------- Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dari golongan umat beliau ----------------------------- Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq ..... Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر “Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih) --------------------------------- Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan sedekah ...................... Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi) --------------------------------

July 3, 2016 Edy Gojira 4

Abu Bakar Ash-Shiddiq ------------------------------------- masuknya ia ke dalam Islam paling [...]

1 2 3 4 5 6