Gigitlah jangan kau LEPAS, JALAN NABI dan RASUL atau Sunnah RASUL dengan Gigi Gerahammu …. sampai kamu MATI …………………………… “Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi). ————— “Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam mengibaratkan dengan perumpamaan yang bisa cerna secara inderawi. Maksudnya orang yang bersabar dalam berpegang pada hukum Al Qur’an dan As Sunnah akan mendapatkan perlakuan keras dan kesulitan-kesulitan dari ahlul bid’ah dan orang-orang menyimpang dianalogikan bagai memegang bara api dengan genggaman tangannya, bahkan lebih dahsyat dari itu ———– Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549 ———————– Pelajaran: ———- 1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala.——– 2. Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya maksiat.— 3. Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan perpecahan.— 4. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.—- 5. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan dalam agama—————– ======= KARAKTERISTIK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH —————- Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah adalah : ————— 1. Menempuh jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menelusuri jejaknya secara lahir dan bathin. Beda halnya dengan kaum munafiqin yang hanya secara lahiriyah saja mengikutinya, sementara batinnya tidak. Jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah sunnahnya, yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dan dinukil dari beliau berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Jadi, bukan jejak lahiriyahnya seperti tempat di mana beliau duduk, tidur dan lainnya, karena menelusuri hal-hal seperti itu dapat menyebabkan perbuatan syirik, sebagaimana telah terjadi pada umat-umat sebelumnya. ——————- 2. Menelusuri jalan para as-sabiqun al-awwalun dari para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum Anshar, karena Allah Subhanahu waTa’ala telah memberikan keunggulan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman (yang mendalam terhadap masalah agama). Mereka telah menyaksikan turunnya wahyu dan mendengar tafsirnya (penjelasannya langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ) serta belajar langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara. Maka mereka lebih dekat kepada kebenaran dan lebih berhak diikuti setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam . Jadi, mengikuti mereka menempati urutan kedua sesudah mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aqwal (ucapan-ucapan para sahabat adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti bila tidak ada nash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena cara mereka beragama lebih selamat, lebih mengetahui dan lebih bijak. Tidak sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum mutaakhkhirin yang mengatakan, “Sesungguhnya cara kaum salaf itu aslam (lebih selamat) sedangkan cara kaum khalaf itu lebih mengetahui lagi lebih bijak. Lalu dengan itu mereka mengikuti jalan khalaf dan meninggalkan jalan salaf.” ————— 3. Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah ialah berpegang teguh kepada wasiat (pesan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di mana beliau bersabda,——- عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat-kuatnya, dan awas, hindarilah perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap bid’ah (hal baru) itu adalah sesat.”( HR. Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih.”) ————– Ahlus Sunnah itu selalu mengikuti thariqah (jalan) para khulafa’ur Rasyidin secara khusus sesudah mereka mengikuti jalan as-Sabiqun al-Awwalun (Generasi awal) dari kaum Muhajirin dan Anshar secara umum. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan wasiat khusus agar mematuhi sunnah Khulafa’ur Rasyidin sebagaimana di dalam hadits di atas. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin dengan Sunnahnya, maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang disunnahkan oleh para Khulafa’ur Rasyidin atau salah seorang dari mereka tidak boleh diabaikan. —————– 4. Termasuk karakteristik mereka juga adalah menjunjung tinggi Kitabullah dan Sunnah RasulNya, mereka selalu lebih mendahulukan keduanya di dalam penggunaan dalil (istidlal) dan berpanutan kepada keduanya daripada pendapat orang dan perbuatannya, karena mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah perkataan (firman) Allah Subhanahu waTa’ala, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala tegaskan, ———– وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا [النساء/87] Artinya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 87).—- Dan juga: وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا [النساء/122] [Artinya: “Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 122). ——– ————- 5. Sepakat untuk mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta bersatu pada al-haq (kebenaran) dan saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan takwa. Hal ini telah melahirkan wujudnya ijma’, sedangkan ijma’ merupakan sumber ketiga di dalam ilmu dan agama. Para ulama ushul telah mendefinisikan ijma’ sebagai berikut: Kesepakatan ulama di zamannya atas suatu perkara agama sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; ijma’ adalah hujjah yang pasti (qath’i) yang wajib diamalkan sesudah dua sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. —————– Termasuk karakteristiknya juga adalah mengukur dengan tiga landasan tersebut semua ucapan (pendapat) manusia dan perbuatan mereka baik lahir maupun batin yang ada hubungannya dengan masalah agama.———— Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :” Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tantang ilmu Agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi (zakat) sedangkan Allahlah yang memberinya (yakni pemberi rezeki). Senantiasa akan ada dari umat ini orang yang menunaikan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah“. HR. Bukhari dalam Fathul bary, no.71 dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan—————–

gigi geraham sunah

Gigitlah jangan kau LEPAS, JALAN NABI dan RASUL atau Sunnah RASUL dengan Gigi Gerahammu …. sampai kamu MATI

……………………………
Akan tiba suatu zaman bagi manusia, barnagsiapa di antara mereka yang bersabar berpegang teguh pada agamanya, ia ibarat menggenggam bara api” (HR. At Tirmidzi 2260, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi).

—————
“Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam mengibaratkan dengan perumpamaan yang bisa cerna secara inderawi. Maksudnya orang yang bersabar dalam berpegang pada hukum Al Qur’an dan As Sunnah akan mendapatkan perlakuan keras dan kesulitan-kesulitan dari ahlul bid’ah dan orang-orang menyimpang dianalogikan bagai memegang bara api dengan genggaman tangannya, bahkan lebih dahsyat dari itu
———–

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549 ———————–

Pelajaran: ———-

  1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala.——–
  2. Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya maksiat.—
  3. Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan perpecahan.—
  4. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.—-
  5. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan dalam agama—————–

=======

KARAKTERISTIK AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
—————-

Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah adalah :
—————
1. Menempuh jalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menelusuri jejaknya secara lahir dan bathin. Beda halnya dengan kaum munafiqin yang hanya secara lahiriyah saja mengikutinya, sementara batinnya tidak. Jejak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah sunnahnya, yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dan dinukil dari beliau berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan). Jadi, bukan jejak lahiriyahnya seperti tempat di mana beliau duduk, tidur dan lainnya, karena menelusuri hal-hal seperti itu dapat menyebabkan perbuatan syirik, sebagaimana telah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

——————-

2. Menelusuri jalan para as-sabiqun al-awwalun dari para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum Anshar, karena Allah Subhanahu waTa’ala telah memberikan keunggulan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman (yang mendalam terhadap masalah agama). Mereka telah menyaksikan turunnya wahyu dan mendengar tafsirnya (penjelasannya langsung dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ) serta belajar langsung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa perantara. Maka mereka lebih dekat kepada kebenaran dan lebih berhak diikuti setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam . Jadi, mengikuti mereka menempati urutan kedua sesudah mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aqwal (ucapan-ucapan para sahabat adalah hujjah (dalil) yang wajib diikuti bila tidak ada nash dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , karena cara mereka beragama lebih selamat, lebih mengetahui dan lebih bijak. Tidak sebagaimana dikatakan oleh sebagian kaum mutaakhkhirin yang mengatakan, “Sesungguhnya cara kaum salaf itu aslam (lebih selamat) sedangkan cara kaum khalaf itu lebih mengetahui lagi lebih bijak. Lalu dengan itu mereka mengikuti jalan khalaf dan meninggalkan jalan salaf.”

—————

3. Di antara karakteristik Ahlus Sunnah wal jama’ah ialah berpegang teguh kepada wasiat (pesan) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di mana beliau bersabda,——-

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat-kuatnya, dan awas, hindarilah perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap bid’ah (hal baru) itu adalah sesat.”( HR. Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih.”) ————–

Ahlus Sunnah itu selalu mengikuti thariqah (jalan) para khulafa’ur Rasyidin secara khusus sesudah mereka mengikuti jalan as-Sabiqun al-Awwalun (Generasi awal) dari kaum Muhajirin dan Anshar secara umum. Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan wasiat khusus agar mematuhi sunnah Khulafa’ur Rasyidin sebagaimana di dalam hadits di atas. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menggandengkan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin dengan Sunnahnya, maka hal itu menunjukkan bahwa apa yang disunnahkan oleh para Khulafa’ur Rasyidin atau salah seorang dari mereka tidak boleh diabaikan. —————–

4. Termasuk karakteristik mereka juga adalah menjunjung tinggi Kitabullah dan Sunnah RasulNya, mereka selalu lebih mendahulukan keduanya di dalam penggunaan dalil (istidlal) dan berpanutan kepada keduanya daripada pendapat orang dan perbuatannya, karena mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah perkataan (firman) Allah Subhanahu waTa’ala, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala tegaskan, ———–
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا [النساء/87]

Artinya: “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 87).—-

Dan juga:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا [النساء/122]

[Artinya: “Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (An-Nisa’: 122). ——–
————-

5. Sepakat untuk mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta bersatu pada al-haq (kebenaran) dan saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan takwa. Hal ini telah melahirkan wujudnya ijma’, sedangkan ijma’ merupakan sumber ketiga di dalam ilmu dan agama. Para ulama ushul telah mendefinisikan ijma’ sebagai berikut: Kesepakatan ulama di zamannya atas suatu perkara agama sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; ijma’ adalah hujjah yang pasti (qath’i) yang wajib diamalkan sesudah dua sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. —————–

Termasuk karakteristiknya juga adalah mengukur dengan tiga landasan tersebut semua ucapan (pendapat) manusia dan perbuatan mereka baik lahir maupun batin yang ada hubungannya dengan masalah agama.————

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :” Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah akan menjadikan dia paham tantang ilmu Agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi (zakat) sedangkan Allahlah yang memberinya (yakni pemberi rezeki). Senantiasa akan ada dari umat ini orang yang menunaikan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah“. HR. Bukhari dalam Fathul bary, no.71 dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan——————

Ubay bin Ka’ab menyatakan :

” Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan jalan dan Sunnah ini, karena orang yang berada di jalan dan Sunnah ini, yang mengingat Ar Rahman (Allah) lalu berlinang air matanya karena takut kepada Allah, tidak akan di sentuh api neraka. Sesungguhnya bersederhana dalam menempuh jalan dan sunnah ini lebih baik dari pada bersemangat dalam penyimpangan dari Sunnah“.

Berkata Syaikh Ali Hasan Abdul hamid (Murid Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani), “Atsar ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd, hal. 196, secara panjang lebar dengan sanad hasan”

Sufyan Ats-Tsauri menyatakan :

Bid’ah itu lebih disukai oleh ilblis daripada maksiat, karena maksiat itu adalah perkara yang pelakunya masih dapat diharapkan bertaubat darinya, sedangkan bid’ah tidak dapat diharapkan pelakunya bertaubat darinya.”

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid dalam Al-Muntaqa An-Nafis, halaman 36, ” atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam musnadnya riwayat 1885.”

Al- Fudlail bin ‘Iyadl menyatakan :

Apabila engkau melihat seorang ahlul bid’ah berjalan di suatu jalan , maka ambilah jalan lain. Dan tidak akan diangkat amalan ahlul bid’ah ke hadapan Allah Yang Maha Mulia. Barangsiapa membantu ahlul bid’ah (pada amalan bid’ah, pent.), maka sungguh dia telah membantu kehancuran Islam.”

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim 8/102-104 dari Al-Muntaqa An-Nafis hal 26-27.

Imam Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas menyatakan:

Sesungguhnya ilmi ini (As-Sunnah) adalah agama, maka telitilah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Imam al-Barbahari meriwayatkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri :

Barang siapa yang cenderung mendengar dengan telinganya kepada ahli bid’ah, berarti dia keluar dari jaminan perlindungan Allah. Dan Allah serahkan dia kepadanya (bid’ah).” Syarh Sunnah Al-Barbahari, hal. 137, dengan tahqiq Abu Yasir Khalid bin qosim Ar Radadi

sudah tahu FITNAH? .. arti FITNAH itu apa? COBAAN .. UJIAN? menurut AL qur’an FITNAH itu apa? —————————————— Makna fitnah secara bahasa —————- Al-Azhari rahimahullah mengatakan, “Inti makna fitnah di dalam bahasa Arab terkumpul pada makna Cobaan dan ujian الابتلاء، والامتحان Dan asalnya diambil dari ucapan seseorang: فتنتُ الفضة والذهب “Saya menguji perak dan emas” ——————— Maksudnya adalah saya melelehkan keduanya dengan api agar terpisahkan antara yang buruk dengan yang bagus. Makna inilah yang ditunjukkan oleh firman Allah ‘Azza wa Jalla: {يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ} “(Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api Neraka” (Adz -Dzaariyaat: 13), maksudnya adalah dibakar dengan api Neraka” (Tahdziibul Lughah: 14/296). ———————- Ibnu Faris rahimahullah berkata, “الفاء والتاء والنون أصل صحيح يدل على الابتلاء والاختبار” ( مقاييس اللغة 4/ 47) “Huruf Fa`, Ta`, dan Nun adalah huruf dasar yang shahih menunjukkan kepada cobaan dan ujian” (Maqayisul Lughah: 4/472). ———————– Ibnul Atsiir rahimahullah berkata: الامتحان والاختبار … وقد كثر استعمالها فيما أخرجه الاختبار من المكروه، ثم كثر حتى استعمل بمعنى الإثم والكفر والقتال والإحراق والإزالة والصرف عن الشيء (النهاية 3 / 410). “(Secara bahasa maknanya) “Ujian… dan (kata fitnah) banyak penggunaannya dalam perkara yang tidak disukai, kemudian setelah itu banyak digunakan untuk makna-makna: dosa, kekafiran, perang, pembakaran, penghilangan dan memalingkan sesuatu” (An-Nihayah 3/410). —————————— Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu: “الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة : المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار” . (لسان العرب لابن منظور). “Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat diantara manusia, fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur). ————————- Makna kata fitnah dalam Al-Qur’anul Karim ———————— Kata fitnah banyak terulang dalam Al-Qur’anul Karim di beberapa surat. Berikut ini ringkasan keterangan Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah tentang makna kata fitnah dalam Al-Qur’anul Karim. ————————– 1. Cobaan dan Ujian (الابتلاء والاختبار) Firman Allah Ta’ala, أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabuut: 2). ———- Maksud {وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ} adalah وهم لا يبتلون “Sedang mereka tidak diuji lagi?” (Tafsir Ibnu Jarir).———– 2. Memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya——— Firman Allah Ta’ala, وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ “Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (Al-Maaidah: 49).———- Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, معناه: يصدوك ويردوك “Maknanya adalah menghalangimu dan menolakmu.”——– 3. Siksa——- Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah mendapatkan siksaan” (An-Nahl: 110).———- Maksud {فُتِنُوا} adalah mereka disiksa.———— 4. Syirik dan kekufuran——– Sebagaimana firman Allah Ta’ala : وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi” (Al-Baqarah: 193).———- Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan fitnah dalam Ayat ini berkata, أي شرك “yaitu syirik.”———- 5. Terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan——— Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang orang-orang munafikin, يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri” (Al-Hadiid: 14)——— Al-Baghawi rahimahullah berkata, أي أوقعتموها في النفاق وأهلكتموها باستعمال المعاصي والشهوات. “Maksudnya kalian menjerumuskan diri kalian sendiri kedalam nifak dan kalia binasakan diri kalian dengan melakukan kemaksiatan dan (mengikuti) syahwat.”——– 6. Samarnya antara kebenaran dengan kebatilan——- Sebagaimana firman Allah Ta’ala: إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ “Jika kalian (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kesamaran antara Kebenaran dengan kebatilan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (Al-Anfaal: 73).——– Maksudnya: إلا يوالى المؤمن من دون الكافر ، وإن كان ذا رحم به {تكن فتنة في الأرض} أي شبهة في الحق والباطل “Jika tidak wala’ (cinta) kepada kaum mukminin tanpa orang kafir walaupun (orang kafir tersebut) kerabat yang ada hubungan rahimnya, {تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ}, yaitu: akan terjadi syubhat / kesamaran antara Kebenaran dengan kebatilan” (Tafsir Jami’ul Bayan, Ibnu Jarir).——– 7. Penyesatan———- Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا “Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah” (Al-Maaidah: 41).————- Sesungguhnya makna fitnah disini adalah Penyesatan (Al-Bahrul Muhith).———– 8. Pembunuhan dan penawanan———— Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian men-qashar shalat(mu), jika kalian takut diserang orang-orang kafir” (An-Nisaa`: 101).———– Dalam Tafsir Ibnu Jarir, disebutkan tafsir ayat ini, حملهم عليهم وهم فيها ساجدون حتى يقتلوهم أو يأسروهم “Serangan orang kafir terhadap kaum mukminin, sedangkan mereka dalam keadaan shalat, saat sujud, hingga orang-orang kafir tersebut membunuh kaum mukminin atau menawan mereka” (Tafsir Ibnu Jarir).———- 9. Perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati mereka————- Sebagaimana firman Allah Ta’ala, لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ “Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan perselisihan di antara kalian” (At-Taubah: 47)——– Maksud dari {يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ} adalah mereka menjerumuskan kalian ke dalam perselisihan diantara kalian.——– 10. Gila——— Sebagaimana firman Allah Ta’ala, بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ “Siapa di antara kalian yang gila” (Al-Qolam: 6)———– Maksud {الْمَفْتُونُ} adalah gila.——— 11. Pembakaran dengan api———- إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ “Kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar” (Al-Buruuj:10).———— Al-Baghawi rahimahullah berkata, {إن الذين فتنوا} عذبوا وأحرقوا Makna {إن الذين فتنوا} mereka diadzab dan dibakar.———– ——————- Kesimpulan———– Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن. الفتح ( 11 /176) “Dan diketahui makna (fitnah) ketika disebutkan kata tersebut, dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176).————– Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Dan adapun kata fitnah yang Allah Subhanahu sandarkan kepada diri-Nya atau Rasul-Nya sandarkan kepada-Nya, contohnya firman Allah {وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ} “Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian mereka yang lain” (Al-An’aam: 53).————- Dan perkataan Nabi Musa, إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ “Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki”(Al-A’raaf: 155).————– Maka (fitnah dalam konteks tersebut) bermakna lain, yaitu bermakna ujian dan cobaan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, dengan diberi kenikmatan ataupun ditimpa musibah, maka ini memiliki makna tersendiri. Fitnah kaum musyrikin juga memiliki makna tersendiri, fitnah seorang mukmin pada hartanya, anaknya, dan tetangganya pun memiliki makna tersendiri. Fitnah yang Allah takdirkan terjadi diantara kaum muslimin, sepertti fitnah yang Dia takdirkan terjadi diantara pengikut Ali dan Mu’awiyah dengan Ahlul Jamal dan (fitnah yang terjadi) dantara kaum muslimin hingga saling memerangi dan saling memboikot, ini juga memiliki makna tersendiri (Zaadul Ma’aad: 3/170).————–

fitnah 1

sudah tahu FITNAH? .. arti FITNAH itu apa? COBAAN .. UJIAN? menurut AL qur’an FITNAH itu apa?
——————————————
Makna fitnah secara bahasa  —————-

Al-Azhari rahimahullah mengatakan, “Inti makna fitnah di dalam bahasa Arab terkumpul pada makna Cobaan dan ujian

الابتلاء، والامتحان

Dan asalnya diambil dari ucapan seseorang:

فتنتُ الفضة والذهب

“Saya menguji perak dan emas”
———————

Maksudnya adalah saya melelehkan keduanya dengan api agar terpisahkan antara yang buruk dengan yang bagus. Makna inilah yang ditunjukkan oleh firman Allah ‘Azza wa Jalla:

{يَوْمَ هُمْ عَلَى النَّارِ يُفْتَنُونَ}

“(Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api Neraka” (Adz -Dzaariyaat: 13), maksudnya adalah dibakar dengan api Neraka” (Tahdziibul Lughah: 14/296).
———————-

Ibnu Faris rahimahullah berkata,

“الفاء والتاء والنون أصل صحيح يدل على الابتلاء والاختبار” ( مقاييس اللغة 4/ 47)

“Huruf Fa`, Ta`, dan Nun adalah huruf dasar yang shahih menunjukkan kepada cobaan dan ujian” (Maqayisul Lughah: 4/472).
———————–

Ibnul Atsiir rahimahullah berkata:

الامتحان والاختبار … وقد كثر استعمالها فيما أخرجه الاختبار من المكروه، ثم كثر حتى استعمل بمعنى الإثم والكفر والقتال والإحراق والإزالة والصرف عن الشيء (النهاية 3 / 410).

“(Secara bahasa maknanya) “Ujian… dan (kata fitnah) banyak penggunaannya dalam perkara yang tidak disukai, kemudian setelah itu banyak digunakan untuk makna-makna: dosa, kekafiran, perang, pembakaran, penghilangan dan memalingkan sesuatu” (An-Nihayah 3/410).
——————————

Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu:

“الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة : المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار” . (لسان العرب لابن منظور).

“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat diantara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).
————————-

Makna kata fitnah dalam Al-Qur’anul Karim
————————

Kata fitnah banyak terulang dalam Al-Qur’anul Karim di beberapa surat. Berikut ini ringkasan keterangan Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah tentang makna kata fitnah dalam Al-Qur’anul Karim.
————————–

1. Cobaan dan Ujian (الابتلاء والاختبار)

Firman Allah Ta’ala,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabuut: 2). ———-

Maksud {وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ} adalah

وهم لا يبتلون

“Sedang mereka tidak diuji lagi?” (Tafsir Ibnu Jarir).———–

2. Memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya ———

Firman Allah Ta’ala,

وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ          

“Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (Al-Maaidah: 49).———-

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

معناه: يصدوك ويردوك

“Maknanya adalah menghalangimu dan menolakmu.”——–

3. Siksa ——-

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا

“Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah mendapatkan siksaan” (An-Nahl: 110).———-

Maksud {فُتِنُوا} adalah mereka disiksa. ————

4. Syirik dan kekufuran ——–

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi” (Al-Baqarah: 193).———-

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan fitnah dalam Ayat ini berkata,

أي شرك

“yaitu syirik.”———-

5. Terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan ———

Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang orang-orang munafikin,

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri” (Al-Hadiid: 14)———

Al-Baghawi rahimahullah berkata,

أي أوقعتموها في النفاق وأهلكتموها باستعمال المعاصي والشهوات.

“Maksudnya kalian menjerumuskan diri kalian sendiri kedalam nifak dan kalia binasakan diri kalian dengan melakukan kemaksiatan dan (mengikuti) syahwat.”——–

6. Samarnya antara kebenaran dengan kebatilan ——-

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Jika kalian (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kesamaran antara Kebenaran dengan kebatilan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (Al-Anfaal: 73).——–

Maksudnya:

إلا يوالى المؤمن من دون الكافر ، وإن كان ذا رحم به {تكن فتنة في الأرض} أي شبهة في الحق والباطل

“Jika tidak wala’ (cinta) kepada kaum mukminin tanpa orang kafir walaupun (orang kafir tersebut) kerabat yang ada hubungan rahimnya, {تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ}, yaitu:  akan terjadi syubhat / kesamaran antara Kebenaran dengan kebatilan” (Tafsir Jami’ul Bayan, Ibnu Jarir).——–

7. Penyesatan ———-

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah” (Al-Maaidah: 41).————-

Sesungguhnya makna fitnah disini adalah Penyesatan (Al-Bahrul Muhith).———–

8. Pembunuhan dan penawanan ————

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian men-qashar shalat(mu), jika kalian takut diserang orang-orang kafir” (An-Nisaa`: 101).———–

Dalam Tafsir Ibnu Jarir, disebutkan tafsir ayat ini,

حملهم عليهم وهم فيها ساجدون حتى يقتلوهم أو يأسروهم

“Serangan orang kafir terhadap kaum mukminin, sedangkan mereka dalam keadaan shalat, saat sujud, hingga orang-orang kafir tersebut membunuh kaum mukminin atau menawan mereka” (Tafsir Ibnu Jarir).———-

9. Perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati mereka  ————-

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ

“Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan perselisihan di antara kalian” (At-Taubah: 47)——–

Maksud dari {يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ} adalah mereka menjerumuskan kalian ke dalam perselisihan diantara kalian. ——–

10. Gila ———

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

بِأَيْيِكُمُ الْمَفْتُونُ

“Siapa di antara kalian yang gila” (Al-Qolam: 6)———–

Maksud {الْمَفْتُونُ} adalah gila. ———

11. Pembakaran dengan api ———-

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar” (Al-Buruuj:10).————

Al-Baghawi rahimahullah berkata,

{إن الذين فتنوا} عذبوا وأحرقوا

Makna {إن الذين فتنوا} mereka diadzab dan dibakar.———–

——————-
Kesimpulan ———–

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن. الفتح ( 11 /176)

“Dan diketahui makna (fitnah) ketika disebutkan kata tersebut, dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176).————–

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata“Dan adapun kata fitnah yang Allah Subhanahu sandarkan kepada diri-Nya atau Rasul-Nya sandarkan kepada-Nya, contohnya firman Allah

{وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ}

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka dengan sebahagian mereka yang lain” (Al-An’aam: 53).————-

Dan perkataan Nabi Musa,

إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ

“Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki”(Al-A’raaf: 155).————–

Maka (fitnah dalam konteks tersebut) bermakna lain, yaitu bermakna ujian dan cobaan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun  keburukan, dengan diberi kenikmatan ataupun ditimpa musibah, maka ini memiliki makna tersendiri. Fitnah kaum musyrikin juga memiliki makna tersendiri, fitnah seorang mukmin pada hartanya, anaknya, dan tetangganya pun memiliki makna tersendiri. Fitnah yang Allah takdirkan terjadi diantara kaum muslimin, sepertti fitnah yang Dia takdirkan terjadi diantara pengikut Ali dan Mu’awiyah dengan Ahlul Jamal  dan (fitnah yang terjadi) dantara kaum muslimin hingga saling memerangi dan saling memboikot, ini juga memiliki makna tersendiri (Zaadul Ma’aad: 3/170).————–

berbagai sumber
wallahua’lam

Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim yang bukan penganut agama Yahudi dan Nasrani, mutlak diharamkan. Dalilnya: —————- – Firman Allah surah Al-Baqarah: 221————- – Firman Allah surah Al-Mumtahanah: 10—————- Kedua ayat itu dengan tegas melarang (mengharamkan) pernikahan muslim dengan non-muslim (musyrik), baik antara lelaki muslim dengan wanita non-muslim, maupun antara lelaki non-muslim dengan wanita muslimah.————— Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim ahli kitab (penganut Yahudi dan Nasrani. Dirinci menjadi dua bagian:———– 1) Pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab.———– Jumhur ulama membolehkannya, dengan dalil sebagai berikut:——— – Firman Allah surah Al-Maidah: 5———– – Ijma’ sahabat Rasulullah seperti: Umar, Usman, Talhah, Hudzaifah, Salman, Jabir dan sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Bahkan di antara mereka ada yang mempraktikkannya seperti Talhah dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhuma. Imam Ibnul Mundzir menyatakan, seperti dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, bahwa jika ada riwayat dari ulama salaf yang mengharamkan pernikahan tersebut diatas, maka riwayat itu dinilai tidak sahih. (lihat al-Mughni, vol. IX, hal. 545). Adapun riwayat dari Umar ra yang meminta sahabat Hudzaifah menceraikan isterinya yang ahli kitab, maka dipahami sebagai suatu kekhawatiran dari beliau, takut praktik sahabat ini menimbulkan fitnah bagi umat Islam. Atas dasar inilah, Umar ra mencegah mereka menikahi wanita ahli kitab, akan tetapi hal itu tidak berarti beliau mengharamkannya.—————– Namun ada juga beberapa ulama yang mengharamkan pernikahan tersebut secara mutlak. Dalil mereka adalah:—————- – Firman Allah surah al-Baqarah: 221, dan————— – Firman Allah surah al-Mumtahanah: 10—————- – Atsar dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa tidak ada kemusyrikan yang lebih besar daripada perempuan yang meyakini bahwa Isa putera Maryam adalah tuhannya. (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol. II, hal. 27; Tafsir al-Razi, vol. VI, hal. 150)———– Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 1 Juni 1980, yang mengharamkan pria muslim menikahi perempuan non-muslimah (ahli kitab), sebenarnya sejalan dengan pendapat Mazhab Syafi’i, karena menurut mazhab ini orang-orang Kristen dan Yahudi di Indonesia tidak tergolong atau tidak termasuk ke dalam ahli kitab. Jadi fatwa MUI itu melihat pada konteks keindonesiaan.———– 2) Pernikahan pria non-muslim (ahli kitab) dengan wanita muslimah. Dalam hal ini para ulama sepakat atas keharamannya. Berdasarkan dalil-dalil berikut:————– – Al-Qur’an surah al-Mumtahanah ayat 10. Penekanannya ada dalam penggalan ayat فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن الى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن“apabila kamu telah mengetahui bahwa wanita-wanita mukminah itu benar-benar beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami) mereka yang kafir. Wanita-wanita muslimah itu tidak halal (dinikahi) oleh lelaki-lelaki kafir, dan lelaki-lelaki kafir itu tidak halal (menikahi) wanita-wanita muslimah.”——— – Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 5. Yang menjadi dalil dalam ayat itu adalah والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم“dan dihalalkan bagimu menikahi perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dari orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu.”———– Ini memberikan pemahaman bahwa Allah ta’ala hanya membolehkan pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab, tidak sebaliknya. Seandainya pernikahan sebaliknya itu dibolehkan maka Allah pasti menegaskannya di dalam ayat tersebut yang memang konteksnya khusus persoalan muamalah apa saja yang dihalalkan antara umat Islam dengan pihak ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Jika yang disebutkan hanyalah kehalalan pria muslim menikahi wanita ahli kitab, dalam konteks ayat itu, maka tidak disebutkannya pernikahan pria non-muslim dengan wanita muslimah telah dengan pasti menegaskan keharamannya. Maka berdasarkan mafhum al-mukhalafah ini, pernikahan lelaki non-muslim (ahli kitab) dengan wanita muslimah dilarang oleh syariat Islam.——————- – Hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah: نتزوج نساء أهل الكتاب ولا يتزوجون نساءنا“kami (kaum muslimin) boleh menikahi perempuan ahli kitab, sementara mereka (ahli kitab) tidak boleh menikahi perempuan-perempuan kami (muslimah).” (lihat Tafsir al-Thabari, vol. II, hal. 378).————-

Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim yang bukan penganut agama Yahudi dan Nasrani, mutlak diharamkan. Dalilnya: —————-

–          Firman Allah surah Al-Baqarah: 221————-

–          Firman Allah surah Al-Mumtahanah: 10—————-

Kedua ayat itu dengan tegas melarang (mengharamkan) pernikahan muslim dengan non-muslim (musyrik), baik antara lelaki muslim dengan wanita non-muslim, maupun antara lelaki non-muslim dengan wanita muslimah.—————

  1. Pernikahan beda agama antara muslim/muslimah dengan non-muslim ahli kitab (penganut Yahudi dan Nasrani. Dirinci menjadi dua bagian:———–

1)       Pernikahan pria muslim dengan wanita ahli kitab.———–

  1. Jumhur ulama membolehkannya, dengan dalil sebagai berikut:———

–          Firman Allah surah Al-Maidah: 5———–

–          Ijma’ sahabat Rasulullah seperti: Umar, Usman, Talhah, Hudzaifah, Salman, Jabir dan sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum. Bahkan di antara mereka ada yang mempraktikkannya seperti Talhah dan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhuma. Imam Ibnul Mundzir menyatakan, seperti dikutip oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, bahwa jika ada riwayat dari ulama salaf yang mengharamkan pernikahan tersebut diatas, maka riwayat itu dinilai tidak sahih. (lihat al-Mughni, vol. IX, hal. 545). Adapun riwayat dari Umar ra yang meminta sahabat Hudzaifah menceraikan isterinya yang ahli kitab, maka dipahami sebagai suatu kekhawatiran dari beliau, takut praktik sahabat ini menimbulkan fitnah bagi umat Islam. Atas dasar inilah, Umar ra mencegah mereka menikahi wanita ahli kitab, akan tetapi hal itu tidak berarti beliau mengharamkannya.—————–

  1. Namun ada juga beberapa ulama yang mengharamkan pernikahan tersebut secara mutlak. Dalil mereka adalah:—————-

–          Firman Allah surah al-Baqarah: 221, dan—————

–          Firman Allah surah al-Mumtahanah: 10—————-

–          Atsar dari Abdullah ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa tidak ada kemusyrikan yang lebih besar daripada perempuan yang meyakini bahwa Isa putera Maryam adalah tuhannya. (lihat Tafsir Ibn Katsir, vol. II, hal. 27; Tafsir al-Razi, vol. VI, hal. 150)———–

  1. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 1 Juni 1980, yang mengharamkan pria muslim menikahi perempuan non-muslimah (ahli kitab), sebenarnya sejalan dengan pendapat Mazhab Syafi’i, karena menurut mazhab ini orang-orang Kristen dan Yahudi di Indonesia tidak tergolong atau tidak termasuk ke dalam ahli kitab. Jadi fatwa MUI itu melihat pada konteks keindonesiaan.———–

2)       Pernikahan pria non-muslim (ahli kitab) dengan wanita muslimah. Dalam hal ini para ulama sepakat atas keharamannya. Berdasarkan dalil-dalil berikut:————–

–          Al-Qur’an surah al-Mumtahanah ayat 10. Penekanannya ada dalam penggalan ayat فإن علمتموهن مؤمنات فلا ترجعوهن الى الكفار لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن“apabila kamu telah mengetahui bahwa wanita-wanita mukminah itu benar-benar beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami) mereka yang kafir. Wanita-wanita muslimah itu tidak halal (dinikahi) oleh lelaki-lelaki kafir, dan lelaki-lelaki kafir itu tidak halal (menikahi) wanita-wanita muslimah.”———

–          Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 5. Yang menjadi dalil dalam ayat itu adalah والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم“dan dihalalkan bagimu menikahi perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan dari orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu.”———–

Ini memberikan pemahaman bahwa Allah ta’ala hanya membolehkan pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab, tidak sebaliknya. Seandainya pernikahan sebaliknya itu dibolehkan maka Allah pasti menegaskannya di dalam ayat tersebut yang memang konteksnya khusus persoalan muamalah apa saja yang dihalalkan antara umat Islam dengan pihak ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Jika yang disebutkan hanyalah kehalalan pria muslim menikahi wanita ahli kitab, dalam konteks ayat itu, maka tidak disebutkannya pernikahan pria non-muslim dengan wanita muslimah telah dengan pasti menegaskan keharamannya. Maka berdasarkan mafhum al-mukhalafah ini, pernikahan lelaki non-muslim (ahli kitab) dengan wanita muslimah dilarang oleh syariat Islam.——————-

–          Hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah: نتزوج نساء أهل الكتاب ولا يتزوجون نساءنا“kami (kaum muslimin) boleh menikahi perempuan ahli kitab, sementara mereka (ahli kitab) tidak boleh menikahi perempuan-perempuan kami (muslimah).” (lihat Tafsir al-Thabari, vol. II, hal. 378).————-

–          Ijma’ sahabat dan para ulama sesudah mereka sepanjang masa.

–          Kaidah fikih yang menyatakan الأصل في الأبضاع التحريم“Hukum asal dalam masalah farj (kemaluan) dalam perkawinan adalah haram.” (lihat Imam al-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nazhair, hal. 84), dan juga berlaku kaidah usuliyyah لا إجتهاد في مورد النص“Tidak ada celah ijtihad sedikitpun dalam perkara yang sudah dinashkan tegas oleh syara’.”

Sekian. Wallahu a’lam.

Benarkah Musik Islami Itu Haram?…….. Nasyid Islami yang banyak kita dengar sekarang ini itu, bukanlah nasyid yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang mereka lakukan ketika mereka melakukan perjalanan jauh ataupun ketika mereka bekerja, akan tetapi nasyid-nasyid saat ini itu merupakan budaya kaum sufi ——————- MUSIK adalah HARAM …… bagaimanapun BENTUKnya ————————————- Thabl (bedug, drum, genderang) itu hukumnya haram dimainkan dalam keadaan dan kesempatan apa pun dan bagi siapapun. Karena ia termasuk alat musik yang tidak ada pengecualiannya dari hukum asal. ————- Sedangkan duff (rebana), ia alat musik yang diharamkan memainkannya bagi laki-laki dalam keadaan dan kesempatan apapun. Namun diberi keringanan khusus bagi wanita dan anak-anak perempuan untuk memainkannya. Adapun laki-laki mendengarkan permainan duff dari anak-anak perempuan hukumnya mubah, sebatas dalam pesta pernikahan atau hari raya saja. ———————— Lalu mendengarkan permainan duff melalui kaset, baik bagi wanita maupun laki-laki, diluar pesta pernikahan atau hari raya, hukumnya haram. Wallahu’alam. —————————- Hukum asal bagi seluruh jenis alat musik adalah haram, baik mendengarkan atau memainkannya, baik laki-laki maupun wanita. Berdasarkan hadits marfu dari Abu Malik Al Asy’ari radhiallahu’anhu : لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ والحريرَ والخَمْرَ والمَعَازِفَ “Akan datang kaum dari umatku kelak yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan ma’azif (alat musik)” (HR. Bukhari secara mu’allaq dengan shighah jazm) —————– Juga hadits Amir bin Sa’ad Al Bajali, ia berkata: دَخَلْتُ عَلَى قُرَظَةَ بْنِ كَعْبٍ، وَأَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، فِي عُرْسٍ، وَإِذَا جَوَارٍ يُغَنِّينَ، فَقُلْتُ: أَنْتُمَا صَاحِبَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ أَهْلِ بَدْرٍ، يُفْعَلُ هَذَا عِنْدَكُمْ؟ فَقَالَ: اجْلِسْ إِنْ شِئْتَ فَاسْمَعْ مَعَنَا، وَإِنْ شِئْتَ اذْهَبْ، قَدْ رُخِّصَ لَنَا فِي اللَّهْوِ عِنْدَ الْعُرْسِ “Aku datang ke sebuah acara pernikahan bersama Qurazah bin Ka’ab dan Abu Mas’ud Al Anshari. Di sana para budak wanita bernyanyi. Aku pun berkata, ‘Kalian berdua adalah sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan juga ahlul badr, engkau membiarkan ini semua terjadi di hadapan kalian?’. Mereka berkata: ‘Duduklah jika engkau mau dan dengarlah nyanyian bersama kami, kalau engkau tidak mau maka pergilah, sesungguhnya kita diberi rukhshah untuk mendengarkan al lahwu dalam pesta pernikahan’” (HR. Ibnu Maajah 3383, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah) —————– Yang namanya rukhshah (keringanan), tidak akan ada jika tidak ada larangan atau pengharaman. ————— Duff dan thabl tanpa diragukan lagi termasuk alat musik. Ibnu Atsir dalam kitab Nihayah Fii Gharibil Hadits Wal Atsar berkata: العزف: اللعب بالمعازف وهي الدفوف وغيرها مما يضرب به “Al ‘Azaf adalah memainkan alat musik semisal duff dan semacamnya yang ditabuh” —————- Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (1/484) berkata: وآلات المعازف: من اليراع والدف والأوتار والعيدان “Alat musik berupa yaraa’, duff, sitar, ‘idaan” ————- Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (10/46) berkata: وفي حواشي الدمياطي، المعازف: الدفوف وغيرها مما يضرب به “Dalam kitab Al Hawasyi karya Ad Dimyathi, al ma’azif maknanya duff dan sejenisnya yang ditabuh” ————- Oleh karena itu, duff dan thabl baik secara bahasa maupun secara syar’i termasuk ma’azif yang dilarang dalam hadits. —————–

musik islami haram teks

MUSIK adalah HARAM …… bagaimanapun BENTUKnya

————————————-
Thabl (bedug, drum, genderang) itu hukumnya haram dimainkan dalam keadaan dan kesempatan apa pun dan bagi siapapun. Karena ia termasuk alat musik yang tidak ada pengecualiannya dari hukum asal.
————-
Sedangkan duff (rebana), ia alat musik yang diharamkan memainkannya bagi laki-laki dalam keadaan dan kesempatan apapun. Namun diberi keringanan khusus bagi wanita dan anak-anak perempuan untuk memainkannya. Adapun laki-laki mendengarkan permainan duff dari anak-anak perempuan hukumnya mubah, sebatas dalam pesta pernikahan atau hari raya saja.
————————
Lalu mendengarkan permainan duff melalui kaset, baik bagi wanita maupun laki-laki, diluar pesta pernikahan atau hari raya, hukumnya haram. Wallahu’alam.

—————————-
musik haram 3
Hukum asal bagi seluruh jenis alat musik adalah haram, baik mendengarkan atau memainkannya, baik laki-laki maupun wanita. Berdasarkan hadits marfu dari Abu Malik Al Asy’ari radhiallahu’anhu :لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ والحريرَ والخَمْرَ والمَعَازِفَ“Akan datang kaum dari umatku kelak yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan ma’azif (alat musik)” (HR. Bukhari secara mu’allaq dengan shighah jazm)
—————–

Juga hadits Amir bin Sa’ad Al Bajali, ia berkata:

دَخَلْتُ عَلَى قُرَظَةَ بْنِ كَعْبٍ، وَأَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، فِي عُرْسٍ، وَإِذَا جَوَارٍ يُغَنِّينَ، فَقُلْتُ: أَنْتُمَا صَاحِبَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ أَهْلِ بَدْرٍ، يُفْعَلُ هَذَا عِنْدَكُمْ؟ فَقَالَ: اجْلِسْ إِنْ شِئْتَ فَاسْمَعْ مَعَنَا، وَإِنْ شِئْتَ اذْهَبْ، قَدْ رُخِّصَ لَنَا فِي اللَّهْوِ عِنْدَ الْعُرْسِ

Aku datang ke sebuah acara pernikahan bersama Qurazah bin Ka’ab dan Abu Mas’ud Al Anshari. Di sana para budak wanita bernyanyi. Aku pun berkata, ‘Kalian berdua adalah sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan juga ahlul badr, engkau membiarkan ini semua terjadi di hadapan kalian?’. Mereka berkata: ‘Duduklah jika engkau mau dan dengarlah nyanyian bersama kami, kalau engkau tidak mau maka pergilah, sesungguhnya kita diberi rukhshah untuk mendengarkan al lahwu dalam pesta pernikahan’” (HR. Ibnu Maajah 3383, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah)
—————–

Yang namanya rukhshah (keringanan), tidak akan ada jika tidak ada larangan atau pengharaman.
—————

Duff dan thabl tanpa diragukan lagi termasuk alat musik. Ibnu Atsir dalam kitab Nihayah Fii Gharibil Hadits Wal Atsar berkata:

العزف: اللعب بالمعازف وهي الدفوف وغيرها مما يضرب به

Al ‘Azaf adalah memainkan alat musik semisal duff dan semacamnya yang ditabuh”
—————-

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (1/484) berkata:

وآلات المعازف: من اليراع والدف والأوتار والعيدان

“Alat musik berupa yaraa’, duff, sitar, ‘idaan”
————-

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (10/46) berkata:

وفي حواشي الدمياطي، المعازف: الدفوف وغيرها مما يضرب به

“Dalam kitab Al Hawasyi karya Ad Dimyathi, al ma’azif maknanya duff dan sejenisnya yang ditabuh”
————-

Oleh karena itu, duff dan thabl baik secara bahasa maupun secara syar’i termasuk ma’azif yang dilarang dalam hadits.
——————–

Perbedaan antara duff dan thabl, yang rajih, duff biasanya terbuka satu sisinya dan tidak memiliki jalajil sedangkan thabl biasanya tertutup kedua sisinya. Ibnu Hajar berkata:

الدف الذي لا جلاجل فيه فإن كانت فيه جلاجل فهو المزهر

Duff itu yang tidak memiliki jalajil. Jika ada jalajil-nya maka itu mizhar” (Fathul Baari, 2/440)

Jika anda sudah memahami hukum asal dalam hal ini, ketahuilah bahwa ada beberapa riwayat yang mengecualikannya, yaitu membolehkan memainkan duff hanya bagi wanita dan anak kecil saja. Sedangkan bagi laki-laki, tetap pada hukum asalnya yaitu haram. Tidak ada hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ataupun atsar dari sahabat Nabi atau tabi’in bahwa mereka menabuh rebana atau memainkan rebana di depan orang lain.

Selain itu, yang lebih menguatkan bahwa hukum asal memainkan duff adalah haram adalah persetujuan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq ketika ia menyifati duff sebagai seruling setan, yaitu ketika ia mendengar permainan duff tersebut dari anak-anak perempuan. Penyifatan tersebut tidak mungkin terjadi kecuali dihasilkan dari pengetahuan Abu Bakar bahwa alat musik secara umum itu haram, termasuk duff. Hanya saja ketika itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan bahwa duff itu dibolehkan khusus bagi anak-anak perempuan di hari Id. Bahkan, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri menisbatkan duff kepada setan, beliau bersabda:

إن الشيطان ليخاف منك يا عمر

Sungguh setan itu akan takut kepadamu wahai Umar

Ini ketika ada budak wanita menabuh rebana, lalu datang Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu. Andai hukumnya mubah, tentu beliau tidak akan menisbatkan hal itu dengan setan. Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam bentuk lafadz jama’, semisal hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha, yang terdapat lafadz:

واضربوا عليه بالدف

Mainkanlah duff untuknya (Rasulullah)

Juga hadits Mu’adz Radhiallahu’anhu, yang terdapat lafadz:

دففوا على رأس صاحبكم

Mainkanlah duff di atas kepada sahabatmu

Atau hadits Anas Radhiallahu’anhu, yang terdapat lafadz:

اضربوا على رأس صاحبكم

Mainkanlah duff di atas kepada sahabatmu

Ini semua hadits-hadits yang dhaif, tidak bisa menjadi hujjah.

musik haram 2

Menabuh Rebana Yang Dibolehkan

Jika demikian jelaslah bahwa memainkan duff dibolehkan hanya untuk wanita dan anak kecil saja. Dan setelah menelusuri hadits-hadits yang membolehkan permainan duff bagi wanita dan anak kecil, semuanya tidak lepas dari dua keadaan, pesta pernikahan dan hari raya. Ada satu keadaan lagi yang diperselisihkan para ulama, dan akan kami bahas secara rinci, yaitu ketika menyambut kedatangan seseorang.

Diantara hadits yang membolehkan permainan duff di saat pesta pernikahan adalah hadits Ar Rubayyi’ bintu Mu’awwidz Radhiallahu’anha, ia berkata:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم غداة بُنِيَ عَلَيَّ فجلس على فراشي كمجلسك مني وجويريات يضربن بالدف

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwaan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan/memukul duff” (HR. Bukhari 4001)

Sedangkan hadits yang menunjukkan kebolehan ketika hari raya adalah hadits ‘Aisyah:

أن أبا بكر رضي الله عنهما دخل عليها وعندها جاريتان في أيام منى تدففان وتضربان والنبي صلى الله عليه وسلم متغش بثوبه فانتهرهما أبو بكر فكشف النبي صلى الله عليه وسلم عن وجهه فقال دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد وتلك الأيام أيام منى

Abu Bakar radhiallaahu’anhuma masuk menemuinya ’Aisyah. Di sampingnya terdapat dua orang anak perempuan di hari Mina yang menabuh duff. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam ketika itu menutup wajahnya dengan bajunya. Ketika melihat hal tersebut, Abu Bakar membentak kedua anak perempuan tadi. Nabi shallallaahu’alaihi wasallam kemudian membuka bajunya yang menutup wajahnya dan berkata : ”Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya”. Pada waktu itu adalah hari-hari Mina” (HR. Bukhari 987)

Bahkan, seluruh hadits shahih yang sharih membolehkan permainan duff menunjukkan bahwa duff dimainkan oleh anak kecil perempuan, kecuali hadits Buraidah yang nanti akan kami sebutkan.

Hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha tentang pesta pernikahan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا فَعَلَتْ فُلَانَةُ؟» ، لِيَتِيمَةٍ كَانَتْ عِنْدَهَا، فَقُلْتُ: أَهْدَيْنَاهَا إِلَى زَوْجِهَا قَالَ: «فَهَلْ بَعَثْتُمْ مَعَهَا بِجَارِيَةٍ تَضْرِبُ بِالدُّفِّ، وَتُغَنِّي؟

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Apa yang dilakukan Fulanah?’ (terhadap anak yatim yang tinggal bersama ‘Aisyah). Aisyah berkata: ‘Aku hadiahkan kepada suaminya’. Nabi berkata: ‘Mengapa engkau mengutus dia bersama anak-anak perempuan yang menabuh duff?’” (HR Thabrani 3/315)

Hadits Ar Rubayyi’ bintu Mu’awwidz Radhiallahu’anha:

جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ حِينَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي، فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا، يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (Khalid bin Dzakwaan) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan duff sambil menyebut kebaikan-kebaikan orang-orang yang terbunuh dari nenek-moyangku pada waktu Perang Badr”(HR. Bukhari 5147)

Hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha tentang hari raya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِدُفَّيْنِ، فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْهُنَّ فَإِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا

»

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam masuk ke rumah Aisyah. Di dalamnya terdapat dua anak perempuan memainkan duff. Abu Bakar lalu membentak mereka. Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam lalu berkata: ‘Biarkan mereka, karena setiap kaum itu memiliki hari raya’” (HR. Ahmad dan An Nasa-i)

Menabuh Rebana Ketika Menyambut Kedatangan Orang

Namun, terdapat perbedaan hukum bagi laki-laki antara memainkan dan mendengarkan permainan duff. Karena mendengarkan permainan duff yang dimainkan anak kecil dalam acara pernikahan atau hari raya hukumnya boleh, sebagaimana telah terdapat dalam riwayat yang sudah disebutkan.

Adapun memainkan duff dalam rangka menyambut kedatangan seseorang, terdapat dua hadits yang membicarakan hal ini:

Pertama, hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, di dalamnya terdapat lafadz:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِبَعْضِ الْمَدِينَةِ، فَإِذَا هُوَ بِجَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِدُفِّهِنَّ، وَيَتَغَنَّيْنَ

Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam melewati sebagian kota Madinah. Ada budak-budak yang memainkan duff ketika itu, sambil bernyanyi” (HR. Ibnu Maajah)

Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Nabi baru datang ke Madinah, sehingga tidak bisa menjadi dalil. Selain itu, yang memainkan duff adalah anak-anak perempuan. Ini diisyaratkan oleh komentar Nabi terhadap mereka, beliau berkata:

يعلم الله أني لأحبكن

Allah tahu bahwa aku mencintai mereka

Kedua, hadits Buraidah radhiallahu’anhu, ia berkata:

خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم في بعض مغازيه فلما انصرف جاءت جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني كنت نذرت إن ردك الله صالحاً –وفي رواية: سالماً- أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى فقال لها رسول الله صلى الله عليه و سلم إن كنت نذرت فاضربي وإلا فلا فجعلت تضرب فدخل أبو بكر وهي تضرب ثم دخل علي وهي تضرب ثم دخل عثمان وهي تضرب ثم دخل عمر فألقت الدف تحت استها ثم قعدت عليه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الشيطان ليخاف منك يا عمر

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pergi untuk berperang. Ketika beliau pulang, ada seorang budak perempuan berkata kepadanya, ‘wahai Rasulullah, aku bernadzar jika engkau pulang dalam keadaan sehat (dalam riwayat lain: selamat) aku akan menabuh duff untukmu sambil bernyanyi’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadanya: ‘Kalau engkau memang sudah bernazar, lakukanlah. Jika tidak maka jangan lakukan’. Akhirnya ia pun memainkan duff. Lalu Abu Bakar datang dan ia masih memainkannya. Ali datang, dan ia masih memainkannya. Utsman datang, ia masih memainkannya. Namun ketika Umar datang, rebana itu dilempar ke bawah dan sang budak wanita pun duduk. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh setan itu akan takut kepadamu wahai Umar’” (HR. Tirmidzi)

Yang nampak bagiku ini adalah kejadian waqi’atul ‘ain, hanya terjadi sekali dan tidak bisa diambil hukum umum serta tidak bisa dipertentangkan dengan nash yang lain. waqi’atul ‘ain adalah suatu kejadian yang zhanniyah, yang bertentangan dengan hukum asal atau kaidah-kaidah syariah yang umum sehingga menimbulkan banyaknya kemungkinan dan ta’wil. Konsekuensi dari keadaan ini adalah kaidah idza tatruq ilaihal ihtimal, saqatal istidlal (dengan adanya banyak kemungkinan maka tidak bisa menjadi dalil). Dan contoh lain dari kasus ini adalah kasus persusuan Salim pembantu Abu Hudzaifah terhadap Sahlah bintu Suhail radhiallahu’anhum, dan dikenal dikalangan ulama sebagai kasus radha’ul kabiir.

Oleh karena itu, kejadian waqi’atul ‘ain ini tidak bisa ditarik hukum umum. Kejadian-kejadian yang waqi’atul ‘ain tidak bisa dijadikan dalil untuk hukum umum. Sang budak perempuan bernazar untuk menabuh duff di hadapan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam karena gembira beliau pulang dengan selamat. Ini tidak dapat diqiyaskan. Orang-orang yang membolehkan memainkan duff secara mutlak dalam setiap acara senang-senang atau dalam setiap penyambutan orang yang baru datang, mereka lupa bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jelas-jelas melarang sang budak untuk menabuh duff bila tidak bernadzar. Larangannya terdapat di hadits itu sendiri, beliau berkata: “Jika tidak bernadzar, maka jangan”, dalam riwayat lain: “Jika tidak bernadzar, maka jangan kau lakukan”. Ini adalah larangan tegas terhadap permainan duff dalam rangka gembira menyambut kepulangannya. Hukum asal larangan adalah pengharaman, dan yang menjadi pengecualian di sini adalah sang budak telah bernadzar untuk menabuh duff di hadapan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Jadi jelas, yang menjadi pengecualian adalah nadzar sang budak untuk menabuh duff karena gembira beliau pulang dengan selamat. Maka, khususiyyah (hal yang khusus terjadi bagi Rasulullah saja) di sini jelas, walhamdulillah.

Taruhlah kejadian ini bukan khususiyyah beliau dan bukan waqi’atul ‘ain, tetap saja tidak bisa menjadi dalil bolehnya menabuh duff bagi penyambutan setiap orang yang datang. Karena betapa sering para sahabat bersafar lalu mereka pulang, dan tidak ada satu pun riwayat yang menerangkan ada wanita atau anak-anak perempuan menabuh duff untuk mereka, apalagi permainan duff yang dilakukan oleh laki-laki.

Pendapat Para Ulama

Berikut ini perkataan-perkataan para ulama yang bisa membuat anda lebih jelas, setelah anda mengetahui dalil-dalilnya.

  1. Imam Ahmad berkata: “Simak perkataan Ibrahim: ‘Pernah suatu ketika murid-murid Abdullah bin Mas’ud di sambut oleh anak-anak perempuan dengan rebana. Lalu mereka merusak rebana tersebut’” (Al Amr bil Ma’ruf karya Al Khallal, 1/172)
  2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Wanita diberi keringanan untuk memainkan duff dalam pesta pernikahan dan acara gembira. Adapun laki-laki, tidak seorang pun di masa Nabi yang memainkan duff ataupun bertepuk tangan” (Majmu’ Fatawa, 11/565)
  3. Al Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Klaim ijma dinukil lebih dari seorang ulama, tentang larangan berkumpulnya para pemuda dan pemudi lalu didendangkan duff di situ. Sebagian ulama memang ada yang menukil khilaf yang syadz tentang hal ini. Adapun memainkan duff dan qashbah sendirian, ini diperselisihkan hukumnya dalam madzhab Syafi’i. Yang dipegang oleh para imam dari Iraq, hukumnya haram, dan mereka itu lebih kuat pemahamannya terhadap madzhab Syafi’i dari para orang Khurasan. Pendapat ini juga dikuatkan dengan hadits yang telah disebutkan. Hukum haram tersebut hanya dikecualikan dengan permainan duff oleh anak perempuan pada hari raya atau ketika menyambut kedatangan orang yang dihormati atau dalam pesta pernikahan. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh hadits-hadits yang menjadi pegangan dalam bahasan ini. Kebolehan menabuh duff dalam kesempatan-kesempatan tersebut tidak melazimkan kebolehan menabuh duff dalam semua kesempatan” (Al Kalaam ‘Ala Mas-alatis Sima’, Ibnul Qayyim, 1/473)
  4. Ibnul Qayyim berkata: “Setiap perkataan yang tidak mengindahkan ketaatan kepada Allah, dan tiap suara yaraa’, mizmar dan duff hukumnya haram” (Ighatsatul Lahfaan, 1/256)
  5. Ibnu Rajab berkata: “Oleh karena itu mayoritas ulama berpendapat bahwa memainkan duff sambil bernyanyi bagi laki-laki hukumnya haram. Karena hal tersebut serupa dengan perbuatan wanita yang dilarang oleh agama. Ini pendapat Al Auzai’, Imam Ahmad, dan juga pendapat Al Halimi dan selainnya dari Syafi’iyyah. Adapun bernyanyi tanpa menabuh duff, dalam rangka membangkitkan semangat, hukumnya boleh. Telah diriwayatkan dari para sahabat tentang adanya rukhshah dalam hal ini” (Fathul Baari, 6/82)
  6. Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Mereka berdalil dengan lafadz hadits واضربوا untuk mengatakan bahwa bolehnya bermain duff tidak khusus bagi wanita. Namun hadits-hadits tersebut dhaif semua. Hadits yang kuat menunjukkan hal ini khusus bagi wanita, sehingga lelaki tidak boleh menyerupai mereka berdasarkan keumuman larangan menyerupai wanita” (Fathul Baari, 9/185)
  7. Ahli fiqih madzhab Syafi’i, Ibnu Hajar Al Haitami berkata: “Imam Al Baihaqi menukil perkataan gurunya, Imam Al Halimi, dan ia menyetujuinya yaitu bahwa jika kita membolehkan permainan duff, itu hanya untuk wanita”. Beliau juga mengatakan: “Menabuh duff itu hanya khusus bagi wanita karena pada asalnya itu adalah perbuatan wanita. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita” (Kaffur Ri’aa, 2/292)
    Beliau juga berkata: “Mayoritas ulama madzhab kami berpendapat haramnya menabuh duff pada selain pesta pernikahan dan walimah khitan. Tidak sebagaimana yang dirajihkan oleh Syaikhain yang membolehkan diluar kedua acara itu. Karena telah ada nash (pendapat) dari Imam Asy Syafi’i dan mayoritas ulama madzhab Syafi’i bahwa hukumnya haram diluar kedua acara tersebut. Adapun pembolehan secara mutlak, tidak ada dalil yang mendasarinya. Jika berdalil dengan hadits tentang anak-anak perempuan yang memainkan duff, ini pendalilan yang lemah. Karena bagi mereka dimaafkan sesuatu yang tidak dimaafkan bagi orang yang mukallaf” (Kaffur Ri’aa, 2/291)

Berkaitan dengan walimah khitan yang beliau sebutkan, saya tidak mengetahui adanya hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam maupun atsar dari sahabat.
==================
musik haram 1

Benarkah Musik Islami Itu Haram? …..

Nasyid Islami yang banyak kita dengar sekarang ini itu, bukanlah nasyid yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang mereka lakukan ketika mereka melakukan perjalanan jauh ataupun ketika mereka bekerja, akan tetapi nasyid-nasyid saat ini itu merupakan budaya kaum sufi

===============================

siapa di antara kita yang tidak mengenal musik? Dan di antara orang yang mengenal musik, siapa dari mereka yang menyukainya? Mungkin ada di antara kita yang mengangkat tangan dan ada yang tidak. Sebagian kita ada yang menyukai musik dan ada yang tidak. Karena hal ini disebabkan oleh adanya pro dan kontra akan hukum musik itu sendiri dan juga karena ketidaktahuan kita akan manfaat dan bahaya musik itu sendiri.

Pada kesempatan kali ini, mari kita simak bersama, apa sih sebenarnya hukum musik itu sendiri? Terkhusus lagi, jika musik itu dinisbatkan kepada Islam. Sebelum kita membahas bersama, ada kesepakatan yang harus kita patuhi. Karena kita adalah orang Islam, tentunya kita mengimani bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Tuhan kita dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi dan panutan kita. Maka konsekuensi dari itu, kita harus meyakini kebenaran yang datang dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Bukankah begitu, wahai saudaraku? Oke, mari kita simak dan renungkan bersama pembahasan kali ini.

Bagaimana Allah menerangkan hal ini dalam Al-Qur’an?

Ternyata, banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan akan hal ini. Satu di antaranya adalah:

Firman Allah ‘Azza wa jalla,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman: 6)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya setelah Allah menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbahagia dalam ayat 1-5, yaitu orang-orang yang mendapat petunjuk dari firman Allah (Al-Qur’an) dan mereka merasa menikmati dan mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Qur’an, lalu Allah Jalla Jalaaluh menceritakan dalam ayat 6 ini tentang orang-orang yang sengsara, yang mereka ini berpaling dari mendengarkan Al-Qur’an dan berbalik arah menuju nyanyian dan musik. 1

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu salah satu sahabat senior Nabi berkata ketika ditanya tentang maksud ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali.2

Begitu juga dengan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar Allah memberikan kelebihan kepada beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga beliau dijuluki sebagai Turjumanul Qur’an, bahwasanya beliau juga mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian.3

Al-Wahidy berkata bahwasanya ayat ini menjadi dalil bahwa nyanyian itu hukumnya haram. 4

Dan masih banyak lagi, ayat-ayat lainnya yang menjelaskan akan hal ini.

Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkabarkan kepada umatnya tentang musik?

Saudaraku, termasuk mukjizat yang Allah Ta’ala berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengetahuan beliau tentang hal yang terjadi di masa mendatang. Dahulu, beliau pernah bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.”5

Saudaraku, bukankah apa yang telah dikabarkan oleh beliau itu telah terjadi pada zaman kita saat ini?

Dan juga dalam hadis lain, secara terang-terangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang musik. Beliau pernah bersabda,

إني لم أنه عن البكاء ولكني نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين : صوت عند نغمة لهو ولعب ومزامير الشيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب ورنة شيطان

Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan.”6

Kedua hadis di atas telah menjadi bukti untuk kita bahwasanya Allah dan Rasul-Nya telah melarang nyanyian beserta alat musik.

Sebenarnya, masih banyak bukti-bukti lain baik dari Al-Qur’an, hadis, maupun perkataan ulama yang menunjukkan akan larangan dan celaan Islam terhadap nyanyian dan alat musik. Dan hal ini bisa dirujuk kembali ke kitabnya Ibnul Qayyim yang berjudul Ighatsatul Lahafan atau kitab-kitab ulama lainnya yang membahas tentang hal ini.

zina musik

Lalu, bagaimana dengan musik Islami?

Setelah kita mengetahui ketiga dalil di atas, mungkin ada yang bertanya di antara kita, lalu bagaimana dengan lagu-lagu yang isinya bertujuan untuk mendakwahkan manusia kepada kebaikan atau nasyid-nasyid Islami yang mengandung ajakan manusia untuk mengingat Allah? Bukankah hal itu mengandung kebaikan?

Maka kita jawab, ia benar. Hal itu mengandung kebaikan, tapi menurut siapa? Jika Allah dan Rasul-Nya menganggap hal itu adalah baik dan menjadi salah satu cara terbaik dalam berdakwah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat adalah orang-orang yang paling pertama kali melakukan hal tersebut. Akan tetapi tidak ada satu pun cerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukannya, bahkan mereka melarang dan mencela hal itu.

Wahai saudaraku, perlu diketahui, bahwasanya nasyid Islami yang banyak kita dengar sekarang ini itu, bukanlah nasyid yang dilakukan oleh para sahabat Nabi yang mereka lakukan ketika mereka melakukan perjalanan jauh ataupun ketika mereka bekerja, akan tetapi nasyid-nasyid saat ini itu merupakan budaya kaum sufi yang mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Mereka menjadikan hal ini sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, yang padahal hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, maka dari mana mereka mendapatkan hal ini?

Maka telah jelas bagi kita, bahwa kaum sufi tersebut telah membuat syariat baru, yaitu membuat suatu bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara melantunkan nasyid yang hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 7

Waktu-waktu yang diperbolehkan untuk bernyanyi dan bermain alat musik

Saudaraku, ternyata Islam tidak melarang kita secara mutlak untuk bernyanyi dan bermain alat musik. Ada waktu-waktu tertentu yang kita diperbolehkan untuk melakukan hal itu. Kapan itu?

1. Ketika Hari raya

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh istri beliau, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk (ke tempatku) dan di dekatku ada dua anak perempuan kecil dari wanita Anshar, sedang bernyanyi tentang apa yang dikatakan oleh kaum Anshar pada masa perang Bu’ats.” Lalu aku berkata, “Keduanya bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar berkata, “Apakah seruling setan ada di dalam rumah Rasulullah?” Hal itu terjadi ketika Hari Raya. Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan ini adalah hari raya kita.” 8

2. Ketika pernikahan

Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang menceritakan tentang anak kecil yang menabuh rebana dan bernyanyi dalam acara pernikahannya Rubayyi’ bintu Mu’awwidz yang pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari adanya hal tersebut.

Dan juga berdasarkan dari sebuah hadis, bahwasanya beliau pernah bersabda, “Pembeda antara yang halal dan yang haram adalah menabuh rebana dan suara dalam pernikahan.”9

Jadi, telah jelas bukan, bahwa keadaan yang diperbolehkan untuk bernyanyi dan bermain alat musik hanyalah ketika hari raya dan pernikahan. Dan alat musik yang diperbolehkan hanyalah duff (rebana) yang hanya dimainkan oleh wanita.

Beberapa karakter khas yang ada dalam nyanyian dan musik

  1. Dapat melalaikan hati
  2. Menghalangi hati untuk memahami Al-Qur’an dan merenungkannnya serta mengamalkan kandungannya
  3. Al-Qur’an dan nyanyian tidak akan bertemu secara bersamaan dalam hati selamanya. Karena Al Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu dan memerintahkan untuk menjaga kesucian hati. Sedangkan nyanyian memerintahkan sebaliknya, bahkan menghiasinya dan merangsang jiwa manusia untuk mengikuti hawa nafsu.
  4. Nyanyian dan minuman keras ibarat saudara kembar dalam merangsang jiwa untuk melakukan keburukan. Saling mendukung dan menopang satu sama lain.
  5. Nyanyian itu pencabut kewibawaan seseorang
  6. Nyanyian dapat menyerap masuk ke dalam pusat khayalan, lalu membangkitkan nafsu dan syahwat yang terpendam di dalamnya.

Dan masih banyak lagi yang lainnya.10

Karakter-karakter khas yang terdapat pada musik tersebut mencakup semua jenis musik, baik itu musik rock, pop, dangdut, maupun musik Islami. Karena hal ini memang telah terbukti di kalangan para pecinta musik. Dan memang, nyanyian dan musik ini sangat besar pengaruhnya bagi para pelaku dan pendengarnya dari segala sisi, baik dari akidahnya, akhlaknya, maupun dari akal pikirannya yang telah menunjukkan adanya kemerosotan yang sangat signifikan jika dibanding dengan generasi kakek nenek kita, yang mana dulu masih jarang ditemukan adanya nyanyian ataupun musik.

zina musik

Renungan

Wahai Saudara, kami rasa ketiga dalil dari Al-Qur’an dan hadis di atas dan penjelasan setelahnya, sudah cukup membuktikan kepada kita bahwa Islam melarang adanya nyanyian dan alat-alat musik. Dan juga, sudah cukup melegakan hati saudaraku yang memang sebelumnya kontra dengan musik. Dan menjadikan terang dan jelas bagi saudaraku yang sebelumnya pro dengan musik. Dan telah terjawab sudah, pertanyaan pada judul pembahasan kita saat ini. Bukankah demikian?

Namun memang sudah seharusnya bagi kita seorang muslim, untuk menerima dengan tunduk apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, tanpa ada rasa berat dan penolakan sedikit pun dari dalam hati kita. Karena jika hal itu terjadi, maka itu adalah salah satu tanda adanya kesombongan yang ada dalam hati kita. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongan.” Lalu ada seorang laki-laki bertanya pada beliau, “Sesungguhnya manusia itu menyukai baju yang indah dan sandal yang bagus.” Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” 11

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan kekuatan untuk bisa melakukan segala apa yang Dia perintahkan dan menjauhi segala apa yang Dia larang. Sesungguhnya Allah Ta’ala-lah yang Maha Pemberi taufik dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanyalah milik Allah semata. Wallahu waliyyut taufiq.

Catatan kaki :

  1. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, hal. 556/3
  2. Idem
  3. Idem
  4. Lihat Ighatsatul Lahafan karya Ibnul Qayyim, hal. 239
  5. HR. Bukhari, no. 5590
  6. HR. Hakim 4/40, Baihaqi 4/69
  7. Lihat penjelasan lebih lengkapnya di at Tahrim atau Ighatsatul Lahafan
  8. HR. Bukhari, no. 949, dan lain-lain
  9. HR. At Tirmidzi, no. 1080, dihasankan oleh Syekh Al-Albani
  10. Lihat At-Tahrim, hal. 151
  11. HR. Muslim, no. 275
=====================================
musik haram 3

Saatnya Meninggalkan MUSIK

Benarkah Musik Islami Itu Haram?
Ternyata, banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan akan hal ini. Satu di antaranya adalah :

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”  (QS. Lukman : 6)

Para ulama menafsirkan ayat ini berhubungan dengan nyanyian, begitu pula Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar Allah memberikan kelebihan kepada beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga beliau dijuluki sebagai Turjumanul Qur’an,

= Bahwasanya beliau juga mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan nyanyian. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir, hal. 556/3]

|| Bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkabarkan kepada umatnya tentang musik?

Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam Dan Pendapat Para Ulama Mengenai Nyanyian (Musik)

Hadits Pertama

Termasuk mukjizat yang Allah Ta’ala berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengetahuan beliau tentang hal yang terjadi di masa mendatang. Dahulu, beliau pernah bersabda,

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari, no. 5590)

Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik pada masa Rasulullah hidup itu sudah haram hukumnya.

Hadits Kedua

Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِى الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

“Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.” [HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Hadits Ketiga

Dari Nafi’ –bekas budak Ibnu ‘Umar-, beliau berkata :

عُمَرَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ فِى أُذُنَيْهِ وَعَدَلَ رَاحِلَتَهُ عَنِ الطَّرِيقِ وَهُوَ يَقُولُ يَا نَافِعُ أَتَسْمَعُ فَأَقُولُ نَعَمْ. قَالَ فَيَمْضِى حَتَّى قُلْتُ لاَ. قَالَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ وَأَعَادَ الرَّاحِلَةَ إِلَى الطَّرِيقِ وَقَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَسَمِعَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا

Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?”
Aku (Nafi’) berkata, “Iya, aku masih mendengarnya.”
Kemudian, Ibnu ‘Umar terus berjalan. Lalu, aku berkata, “Aku tidak mendengarnya lagi.”

Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengar suara seruling dari seorang pengembala. Beliau melakukannya seperti tadi.” [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Keterangan Hadits

Dari dua hadits pertama, dijelaskan mengenai keadaan umat Islam nanti yang akan menghalalkan musik, berarti sebenarnya musik itu haram kemudian ada yang menganggap halal.

Begitu pula pada hadits ketiga yang menceritakan kisah Ibnu ‘Umar bersama Nafi’. Ibnu ‘Umar mencontohkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal yang sama dengannya yaitu menjauhkan manusia dari mendengar musik. Hal ini menunjukkan bahwa musik itu jelas-jelas terlarang.

Pendapat Para Ulama Mengenai Nyanyian (Musik)

》Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”

》Al Qasim bin Muhammad pernah ditanya tentang nyanyian, lalu beliau menjawab, “Aku melarang nyanyian padamu dan aku membenci jika engkau mendengarnya.” Lalu orang yang bertanya tadi mengatakan, “Apakah nyanyian itu haram?”

Al Qasim pun mengatakan, ”Wahai anak saudaraku, jika Allah telah memisahkan yang benar dan yang keliru, lantas pada posisi mana Allah meletakkan ‘nyanyian’?”

》‘Umar bin ‘Abdul Aziz pernah menulis surat kepada guru yang mengajarkan anaknya, isinya adalah, ”Hendaklah yang pertama kali diyakini oleh anak-anakku dari budi pekertimu adalah kebencianmu pada nyanyian.

Karena nyanyian itu berasal dari setan dan ujung akhirnya adalah murka Allah.

Aku mengetahui dari para ulama yang terpercaya bahwa mendengarkan nyanyian dan alat musik serta gandrung padanya hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan.

Demi Allah, menjaga diri dengan meninggalkan nyanyian sebenarnya lebih mudah bagi orang yang memiliki kecerdasan daripada bercokolnya kemunafikan dalam hati.”

》Fudhail bin Iyadh mengatakan,  “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.”

》Adh Dhohak mengatakan,  “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”

》Yazid bin Al Walid mengatakan,  “Wahai anakku, hati-hatilah kalian dari mendengar nyanyian karena nyanyian itu hanya akan mengobarkan hawa nafsu, menurunkan harga diri, bahkan nyanyian itu bisa menggantikan minuman keras yang bisa membuatmu mabuk kepayang. … Ketahuilah, nyanyian itu adalah pendorong seseorang untuk berbuat zina.” [Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hal. 289, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, 1405 H]

Empat Ulama Madzhab Mencela Nyanyian

》Imam Abu Hanifah.
Beliau membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa. [Lihat Talbis Iblis, 282.]

》Imam Malik bin Anas.
Beliau berkata, “Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak tersebut adalah seorang biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat ‘aib.”[ Lihat Talbis Iblis, 284]

》Imam Asy Syafi’i.
Beliau berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[Lihat Talbis Iblis, 283.]

》Imam Ahmad bin Hambal.
Beliau berkata, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.” [Lihat Talbis Iblis, 280.]

》Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.” [Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.]

Nyanyian

Nyanyian dapat menyerap masuk ke dalam pusat khayalan, lalu membangkitkan nafsu dan syahwat yang terpendam di dalamnya. Dan masih banyak lagi yang lainnya. [Lihat At-Tahrim, hal. 151]

Semoga kita tunduk dan menerima hukum Allah, dijauhkan dari segala bentuk kesombongan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongan.” Lalu ada seorang laki-laki bertanya pada beliau, “Sesungguhnya manusia itu menyukai baju yang indah dan sandal yang bagus.” Lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” [HR. Muslim, no. 275]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan kekuatan untuk bisa melakukan segala apa yang Dia perintahkan dan menjauhi segala apa yang Dia larang.

Sesungguhnya Allah Ta’ala-lah yang Maha Pemberi taufik dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanyalah milik Allah semata.

berbagai sumber
wallahua’lam