Loading
35 | EP Artikel-Edy Gojira

manusia banyak DOSA lalu TOBAT … DOSA lagi … lalu … TOBAT lagi … kapan berhenti DOSAnya ?…. HAL-HAL Yang Membuat Dosa Diampuni Allah … wallahua’lam ————————————– Allah Swt berfirman : “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Maidah [5] ayat 74) ——————- “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Zumar [39] ayat 53) ———————- 1. BERTAUBAT Al-Quran yang suci mengatakan :”Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3] ayat 135) —————— “Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah [5] ayat 39)—————– 2. BERBAKTI DAN MENDOAKAN KEDUA ORANGTUA————– Al-Quran yang mulia mengatakan : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS Al-Ahqaf [46] : 15-16)———- 2. MENGIKUTI PETUNJUK, DAN WASIAT RASULULLAH SAW SERTA MEMULIAKANNYA Al-Quran yang mulia mengatakan: “Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3] ayat 31)———- “Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Hujurat [49] ayat 3)—————– 3. INFAQ—————— Allah Swt berfirman : “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.” (QS Al-Taghabun [64] ayat 17)———– 4. BALASAN DI DUNIA———— Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba maka Allah segerakan balasannya di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukkan atas seorang hamba maka ditundalah balasannya sehingga ia mendapatkannya di Hari Qiyamat.” (Bihar al-Anwar 81:177)————— 5. SABAR ATAS UJIAN HIDUP—————– Al-Quran suci mengatakan : “..kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS Hud [11] ayat 11)———— Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya seorang mu’min itu apabila melakukan dosa maka diujilah dia dengan kefakiran maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya. Atau diuji ia dengan penyakit, maka apabila ia sabar niscaya hal itu menjadi penghapus dosanya atau ia diuji dengan rasa ketakutan dari Sultan (raja) yang menuntutnya, maka hal itupun menjadi penghapus dosanya atau ia dicoba sehingga ia menemui kematiannya maka ketika ia berjumpa dengan Allah maka tidak ada lagi dosa-dosanya dan Allah memasukkannya ke dalam surga.” (Bihar al-Anwar 81 : 199)———– 6. MUSIBAH—————- Rasulullah saww bersabda, “Tidaklah menimpa musibah kepada seorang mu’min laki-laki dan perempuan atas dirinya dan hartanya serta anaknya sehingga ketika ia menjumpai Allah maka tidak ada lagi kesalahan padanya.” (Bihar al-Anwar 67 : 236)—————- 7. SIKSA KUBUR DI ALAM BARZAKH———– Imam Ali ar-Ridha as berkata, “[Di dalam firman-Nya : “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” (QS Al-Rahman [55] ayat 39)], “Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki keyakinan yang benar lalu dia berbuat dosa dan dia tidak sempat bertaubat di dunia, maka diazablah ia di Alam Barzakh sampai ketika ia di hari Qiyamat tidak ada lagi dosanya dan tidak pula ia ditanya tentang itu” (Tafsir Nur ats-Tsaqalain 5 : 155)————- 8. PENYAKIT————– Imam Ali ar-Ridha as berkata, “Sakit bagi orang mu’min merupakan penyucian (atas dosanya) dan juga rahmat. Tetapi bagi orang yang ingkar, sakit adalah ’azab dan laknat dan sesungguhnya penyakit bagi seorang mu’min adalah penghapus dosa.” (Bihar al-Anwar 81 : 183)——– Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya penyakit itu membersihkan jasad dari dosa-dosa sebagaimana alat peniup pandai besi membersihkan karat dari besi.” (Bihar al-Anwar 81 : 197)——– Ditanyakan kepada Amirul Mu’minin as tentang penyakit yang menimpa seorang bayi, beliau menjawab, “Itu merupakan penghapus dosa (kafarat) bagi orang tuanya.” (Bihar al-Anwar 81 : 186)— Allah Ta’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi), “Ahli taat-Ku dalam jamuan-Ku, dan ahli syukur-Ku dalam limpahan-Ku, dan ahli dzikir-Ku dalam nikmat-Ku, tapi ahli maksiat kepada-Ku tidak ada bagian untuk mereka dari rahmat-Ku. Tetapi jika mereka bertaubat maka Aku adalah kekasihnya, dan apabila mereka berdoa maka Aku akan jawab doanya dan apabila mereka sakit, Aku yang akan menyembuhkannya dan Aku akan mengobati mereka dengan ujian dan musibah untuk membersihkan mereka dari dosa-dosa dan cela.” (Bihar al-Anwar 77 : 42)—————- 9. KESEDIHAN————– Rasulullah saww bersabda, “Apabila seorang mu’min telah banyak dosa-dosanya dan ia belum mengamalkan apa-apa yang dapat menghapus dosa-dosanya maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan demi menghapus dosa-dosanya.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)————- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya kesedihan itu menghapus dosa orang muslim.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)——– ‎10. KESUSAHAN DI DALAM MENCARI PENGHIDUPAN (NAFKAH)—– Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya ada dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat dan tidak juga dengan sedekah.”, maka ditanyakan kepada Nabi saww, “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?”, jawab Nabi, “Kesusahan di dalam mencari penghidupan.” (Bihar al-Anwar 73 : 157)———– 11. TAQWA, KEJUJURAN, PERBUATAN BAIK, DAN AMAL SHALIH———— Allah SwT berfirman, “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS Al-Thalaq [65] ayat 5)———– “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS Hud [11] ayat 114)————— “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab [33] ayat 35)————— “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab [33] 70-71)————– Lihat ayat-ayat lainnya : QS 34:4; 35:7; 36:11, 67:12————- 12. AKHLAQ YANG BAIK—————- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya akhlaq yang baik itu menghapus kesalahan (dosa) sebagaimana matahari mencairkan es dan sesungguhnya akhlaq yang buruk itu merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.” (Bihar al-Anwar 71 : 356)————— Rasulullah saww bersabda,“4 hal yang dapat menghapus dosa dan Allah gantikan dengan kebaikan : 1. Shadaqah, 2. Malu, 3. Akhlaq yang baik, 4. Rasa syukur.” (Bihar al-Anwar 71 : 332)————– 13. MEMPERBANYAKKAN SUJUD—————- Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww dan berkata,“Wahai Rasulullah, telah banyak dosa-dosaku tapi sedikit amalku,” maka Rasul saww bersabda, “Perbanyaklah sujud karena sujud itu menggugurkan dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan dari pohon” (Bihar al-Anwar 85 : 162)——————- 14. HAJJI DAN UMRAH————– Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saww telah bersabda, ”Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa yang ada di antara keduanya dan hajji yang diterima (Allah) balasannya adalah syurga dan ada suatu dosa di antara dosa-dosa yang tidak dapat diampuni kecuali dengan wukuf di ‘Arafah.” (Bihar al-Anwar 99 : 50)———— Imam Ali as berkata, ”Menjalani hajji ke Bait Allah dan umrahnya, keduanya menghapus kefakiran dan mencuci dosa.” (Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110)————– 15. BERDOA, BERISTIGHFAR DAN BERZIKIR—————— Al-Quran yang mulia mengatakan : “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Nisa [4] ayat 110)————- 16. BANYAK MEMBACA SHALAWAT KEPADA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA—- Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Barangsiapa yang belum mampu untuk menghapus dosa-dosanya maka perbanyaklah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, karena yang demikian itu dapat merontokkan dosa serontok-rontoknya” (Bihar al-Anwar 94 : 47)———– 17. HIJRAH, BERJIHAD DI JALAN ALLAH & MENAMPUNG KAUM MUHAJIRIN *]——- Al-Quran yang mulia mengatakan :”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain . Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS Ali Imran [3] ayat 195)————- “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan , mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki yang mulia.” (QS Al-Anfal [8] ayat 74)——– Lihat juga ayat-ayat : QS Al-Shaff [61] : 11-12;———— 18. KEMATIAN————- Rasulullah saww bersabda, “Kematian dapat menjadi penebus dosa-dosa orang-orang beriman.” (Amali lil-Mufid, h. 166)————–

September 17, 2016 Edy Gojira 1

manusia banyak DOSA lalu TOBAT … DOSA lagi … lalu […]

setiap NABI selalu bersabda TUHAN itu ESA, hanya SATU …. bukan dua atau tiga ———————————————— Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakntrinitas-400x300i Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony lane 1984). Dalam buku New Catholic Encyclopedia juga mengatakan:———– “The doctrine of the Holy Trinity is not taught in thr Old Testament”.——— Ajaran Trinitas tidak pernah diajarkan dalam Perjanjian Lama——– Tuhan itu Esa (monotheisme), bukan Trinitas———– Nabi Musa menolak Trinitas (Ulangan 4: 35, Ulangan 6: 4, Ulangan 32: 39).————- Nabi Daud menolak Trinitas (II Samuel 7: 22, Mazmur 86: 8).———- Nabi Sulaiman menolak Trinitas (I Raja-raja 8: 23).——— Nabi Yesaya menolak Trinitas (Yesaya 43: 10-11, Yesaya 44: 6,Yesaya 45: 5-6, Yesaya 46: 9). Yesus menolak Trinitas ————- “Dengarlah hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus 12:29)—– Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Yohanes 17:3——- Dalil Trinitas dan bantahannya————- Orang Nasrani berdalil——– 5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.———–

September 9, 2016 Edy Gojira 0

setiap NABI selalu bersabda TUHAN itu ESA, hanya SATU …. […]

MATI itu PASTI akan datang ….. walau orang berusaha MELARIKAN diri dari keMATIan ——————————————————– Kematian adalah sesuatu yang pasti menimpa siapapun manusia di dunia, yang mukminnya ataupun yang munafik atau yang kafirnya, ulamanya ataupun kaum awamnya, lelaki ataupun perempuannya, yang mudanya ataupun yang tuanya, kaum kayaknya ataupun miskinnya, golongan pejabat ataupun rakyat jelatanya dan selainnya, niscaya mereka semuanya akan mengalami kematian. Hal tersebut sebagaimana yang telah banyak di alami oleh umat-umat terdahulu dan sekang ini, dan juga pernah dialami oleh seorang shahabat dari golongan Anshor yang diselenggarakan penguburannya oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabat radliyallahu anhum, sebagaimana persaksian al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu anhu di dalam pembahasan dari hadits terdahulu. [1] ——————— TIAP TIAP YANG BERNYAWA AKAN MERASAKAN MATI (QS:ALI IMRON :185) ——– Mari kita perhatikan firman-firman Allah Ta’ala berikut ini:———— 1. إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Surat Az Zumar: 30). 2. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).——— 3. أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ “Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (Surat An Nisa’: 78)————– 4. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. (Surat Al Jumu`ah: 8).————— “Sesungguhnya segala yang bermula itu akan berakhir, setiap yang kuat itu memiliki kelemahan dan setiap yang hidup pasti akan mati” —————– Hal inipun didukung oleh beberapa dalil berikut ini, تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ اْلمـُلْكُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِى خَلَقَ اْلـمَوْتَ وَ اْلحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَ هُوَ اْلعَزِيزُ اْلغَفُورُ Maha berkah Allah, yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa lagi Maha pengampun. [QS. Al-Mulk/ 67: 1-2].——— Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan mati dan hidup. Jika Allah Azza wa Jalla telah menciptakan kehidupan bagi seorang manusia, maka Ia juga akan menciptakan kematian baginya. Maka kematian adalah sesuatu yang dipastikan akan dimiliki oleh setiap makhluk hidup sebagaimana Allah Jalla wa Ala pernah memberikan kehidupan kepadanya. Sebab setiap yang memiliki jiwa niscaya akan merasakan kematian, meskipun ia berusaha dengan maksimal dan optimal untuk selalu menjauhi dan menghindarinya. Kendatipun ia berada di dalam benteng kuat yang tak mudah dihancurkan senjata canggih apapun yang dijumpai di muka bumi, bungker kokoh yang keberadaannya sangat tersembunyi, istana megah yang diawasi oleh ribuan penjaga perkasa tak tertandingi namun tetap kematian itu akan datang menemui dan menghampirinya tiada peduli. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini,—- وَ مَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ اْلخُلْدَ أَفَإِين مِّتَّ فَهُمُ اْلخَالِدُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?. [QS al-Anbiya’/21: 34].———- كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ اْلمـَوْتِ Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. [QS. Ali Imran/3: 185, al-Anbiya’/21: 35 dan al-Ankabut/29: 57].———- مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَ مَا يَسْتَئْخِرُونَ Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya). [QS al-Hijr/ 15: 5].——— قُلْ إِنَّ اْلمـَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ اْلغَيْبِ وَ الشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكَمْ بِمَا كُنتُمْ تَعْلَمُونَ Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah, Yang mengetahui keghaiban dan yang nyata. Lalu Ia akan beritakan kepada kalian apa yang kalian telah kerjakan. [QS. Al-Jumu’ah/62: 8].—- أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ اْلمـَوْتُ وَ لَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [QS. An-Nisa’/ 4: 78].—- Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semakna di dalam alqur’an bahwasanya setiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan ketidak-abadian. Karena keabadian itu hanya ada di hari kiamat kelak, di dalam surga dengan segala kenikmatannya atau di dalam neraka dengan segala kesengsaraanya. Apakah kematian yang merenggut nyawanya itu karena penyakit yang menimpanya, kecelakaan kendaraan atau pesawat yang ditumpanginya, terbenam dalam kubangan air yang menenggelamkannya, teruruk dalam bongkahan-bongkahan tanah yang menguburnya, terbakar oleh api yang mengepungnya, terbunuh oleh lawan yang berseteru dengannya ataupun dengan sebab-sebab lainnya.———- Setiap manusia meskipun ia takut mati sehingga ia hanya berdiam diri di rumahnya dalam rangka menghindar dari kematian maka jikalau telah ditentukan kematian kepadanya niscaya ia akan mendatangi tempat dimana ia akan mati di tempat tersebut dan akan tertimpa sesuatu peristiwa yang menyebabkan kematian yang telah ditentukan baginya. Hal ini sebagaimana telah diungkapkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam ayat berikut,———- قُلْ لَّوْ كُنتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ اْلقَتْلُ إِلَى مَضَاجَعِهِمْ Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. [QS Alu Imran/ 3: 154].———– Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penetapan akan dasar qodlo dan qodar Allah. Bahwa orang yang telah ditetapkan kematian baginya di suatu tempat maka ia pasti akan mati di tempat tersebut”. [2]————- Maka kematian itu niscaya akan menghampiri setiap jiwa dalam berbagai keadaan, apakah matinya itu lantaran memperjuangkan agama Allah dengan bentuk berjihad dengan harta, lisan dan jiwa, kelelahan tatkala mengerjakan beberapa ibadah dari ibadah-ibadah yang disyariatkan oleh agama, membantu dan mengajak orang lain untuk ikut berpartisipasi di dalam menegakkan Islam sebagai agama yang paling bersahaja dan lain sebagainya. Ini adalah kematian yang mengandung kemuliaan. Ataukah matinya itu ketika sedang membela kebatilan yang selama ini ia yakini, melakukan berbagai kemaksiatan yang selama ini ia sukai, membantu dan mengajak orang lain untuk menentang dan melawan kebenaran yang selama ini ia benci dan jauhi dan lain sebagainya. Ini adalah kematian yang mengundang kenistaan. Mati berbalutkan kemuliaan ataukah mati berselimutkan kenistaan, itulah dua pilihan yang mesti diambil oleh setiap manusia yang niscaya akan melampaui dan memilih salah satu di antara keduanya.——– إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَ إِمَّا كَفُورًا Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. [QS. Al-Insan/ 76: 3].———- Bahkan di dalam setiap kematian itu terdapat sekarat, yang mesti di alami oleh setiap manusia baik yang mukmin, munafik ataupun kafirnya. وَ جَآءَتْ سَكْرَةُ اْلـمَوْتِ بِاْلحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ Dan datanglah sekaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. [QS. Qof/ 50: 19].——- Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan bahwasanya kematian itu mempunyai sekarat secara pasti. Ya Allah mudahkanlah sekaratul maut atas kami”. [3] وَ لَوْ تَرَى إِذِ اْلظَّالِمـُونَ فِى غَمَرَاتِ اْلمـَوْتِ وَ اْلمـَلَائِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمْ Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sekaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu”. [QS. Al-An’am/ 6: 93].——- Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penetapan adanya adzab kubur dan sekaratul maut”. Di dalam hadits, “Bahwasanya kematian itu mempunyai sekarat”. [4]– عن عائشة كَانَتْ تَقُوْلُ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ – عُلْبَةٌ فِيْهَا مَاءٌ – يَشُكُّ عُمَرُ – فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَهُ فىِ اْلمـَاءِ فَيَمْسَحُ بِهَا وَجْهَهُ وَ يَقُوْلُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُوْلُ: فىِ الرَّفِيْقِ اْلأَعْلىَ حَتىَّ قُبِضَ وَ مَالَتْ يَدُهُ Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Sesungguhnya di hadapan Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam ada sebuah bejana (yang terbuat dari kulit atau mangkuk) –Umar ragu-ragu- yang berisi air. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam air itu dan membasuh wajahnya dengannya. Beliau bersabda, “Laa ilaaha illallah (tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah), sesungguhnya kematian itu memiliki sekarat”. Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya bersabda, “Berada di tempat yang tinggi”. Sehingga beliau wafat sedangkan tangannya mengendur/ terkulai. [HR al-Bukhoriy: 6510. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [5]——- Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan bahwasanya kematian itu mempunyai sekarat dan kesulitan sehingga para Nabi Alaihim as-Salam pun meminta diringankan dari sekarat ini”. [6]—— Berdasarkan ayat dan hadits di atas dapat dipahami bahwasanya setiap kematian yang menimpa seseorang itu niscaya terdapat sekarat, yaitu suatu tekanan yang amat berat lagi menyulitkan ketika menjelang kematiannya sehingga orang tersebut seperti orang yang kehilangan akal dan kesadarannya sebagaimana keadaan orang yang sedang mabuk. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala meringankan kita dari sekaratul maut ini seringan-ringannya.————– Hadits dari Aisyah radliyallahu anha di atas menjadi dalil akan bolehnya bagi orang yang sakit untuk mempergunakan air pada bagian kepalanya (ngompres) untuk meringankan sakit panas yang menimpanya dan juga disunnahkan baginya untuk selalu memohon ampunan dan rahmat dari-Nya. Hal ini juga didukung oleh dalil berikut ini,—– عن عائشة قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيِّ وَ هُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لىِ وَ ارْحَمْنىِ وَ أَلْحِقْنىِ بِالرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى Dari Aisyah radliyallahu anha berkata, “Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata sedangkan beliau sedang bersandar kepadaku, “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan himpunkan aku di tempat yang tinggi”. [HR al-Bukhoriy: 5674 dan Muslim: 2444. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [7]———- Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Sepatutnya bagi orang yang sakit itu untuk meminta ampunan dan rahmat. Ia tidak boleh berputus asa dari pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak boleh berputus harapan dari rahmat-Nya”. [8]——- Maka dianjurkan bagi setiap muslim, ketika tertimpa sakit apalagi sakitnya itu mendekati tanda-tanda kematian untuk memperbanyak meminta ampun dan rahmat kepada Allah Jalla dzikruhu, selalu memuji-Nya, menghiasi diri dengan berbaik sangka kepada-Nya dan senantiasa berharap berjumpa dengan-Nya dan takut terhadap akibat dari dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Hal ini sebagaimana telah disinyalir di dalam dalil-dalil hadits berikut ini,——– Dari Ibnu Abbas radliyallahu anha berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengambil seorang anak perempuan asuh yang hampir meninggal dunia. Beliau meletakkannya di atas dadanya (memeluknya), lalu ia meninggal dunia di dalam pelukannya. Maka Ummu Ayman radliyallahu anha pun berteriak menangis. Dikatakan kepadanya, “Mengapa kamu menangis di sisi Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”. Iapun berkata, “Bukankah aku juga melihatmu menangis wahai Rosulullah?”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallampun bersabda, “Aku tidaklah menangis, ini hanyalah rahmat (rasa kasih sayang)”.—- إِنَّ اْلمـُؤْمِنَ بِكُلِّ خَيْرٍ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِنَّ نَفْسَهُ تَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ جَنْبَيْهِ وَ هُوَ يَحْمَدُ اللهَ عز و جل “Sesungguhnya orang mukmin itu selalu di dalam kebaikan di atas setiap keadaan, sesungguhnya jiwanya keluar dari jasadnya sedangkan ia dalam keadaan memuji Allah Azza wa Jalla”. [HR Ahmad: I/ 273-274. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy shahih]. [9]——– عن جابر رضي الله عنه قَالَ: َسمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ قَالَ: لاَ يَمُوْتُ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَ هُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ Dari Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu berkata, “Aku pernah mendengar Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan tiga hal sebelum wafatnya. Beliau bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”. [HR Abu Dawud: 3113, Muslim, Ibnu Majah: 4167 dan Ahmad: III/ 293, 325, 330, 334, 390. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih]. [10]——– Dari Anas radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah masuk menemui seorang pemuda yang sedang mendekati kematian. Beliau bersabda, “Apa yang kamu rasakan?”. Ia menjawab, “Demi Allah, wahai Rosulullah, sesungguhnya aku mengharapkan Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لاَ يَجْتَمِعَانِ فىِ قَلْبِ عَبْدٍ فىِ مِثْلِ هَذَا اْلمـَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ مَا يَرْجُوْ وَ آمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ “Tidaklah keduanya terhimpun di dalam hati seorang hamba di semisal tempat ini melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti”. [HR at-Turmudziy: 983, Ibnu Majah: 4261 dan Ibnu Abi ad-Dunya. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan]. [11]——–

September 9, 2016 Edy Gojira 1

MATI itu PASTI akan datang ….. walau orang berusaha MELARIKAN […]

apa itu MILLAH IBRAHIM ?…. keBODOHan; Islam Nusantara …. ajaran PLURALISME … mengaku MILAH IBRAHIM ? ———————— Secara terminologis (arti lughowy), “millah” itu identik dengan “Thorieqoh” atau “Syarie’ah”, yang artinya JALAN yang dibentang (dirumuskan/ditata) mengarah ke tujuan yang ingin dicapai. ———— Dengan demikian, millah atau syarie’ah itu maknanya lebih mengarah kepada implementasi dari suatu cita-cita/tujuan perjuangan (ideologi), semacam visi dan misi. Bukan berarti “agama” dan bukan pula “rumusan perundang-undangan” sebagaimana pemahaman dari hampir semua orang. —————- Allah menetapkan “syari’ah” dari Agama-Nya itu sama bagi semua Rosul-Nya, sebagaimana ditegaskan pada Kalam-Nya. — شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحً۬ا وَٱلَّذِىٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦۤ إِبۡرَٲهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ‌ۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ‌ۚ “Dia telah mensyariatkan untuk kalian dari Agama (dien) ini, sesuatu yang telah Aku wasiatkan kepada Nuh, dan yang Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, agar kalian dirikanlah Ad Dien, dengan kalian terpecah belah padanya … “(Asy Syuro : 13) ———— Sedangkan yang namanya aturan perundang-undanngan, tentu berbeda dan berubah-ubah sesuai perkembangan kehidupan manusia sepanjang zaman. ————- Baiklah, kita coba telusuri arti atau pengertian “Millah” dengan menelusuri petunjuk Allah dalam Al Quran. ———— Dilihat dari susunan (tartib) surat dan ayat dalam Al Quran, kata “Millah” itu mulai Allah gunakan pada Al Baqoroh 130. وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan MILLAH Ibrahim, selain orang yang membodohkan dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———– Ayat tersebut merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129. ———— Kemudian harapan dan cita-cita Ibrahim itu terungkap lagi pada Surah Ibrahim : 35 – 41. ———– Maka tentunya, berbagai hal yang terungkap pada ayat-ayat tersebut itulah, yang Allah sebut sebagai “Millah Ibrahim” pada Al Baqoroh 130 tersebut di atas, sebagai penutup (kesimpulan) dari apa yang diwacanakan pada ayat-ayat sebelumnya. ———— Dari kedua gugusan ayat-ayat tersebut di atas, yakni Al Baqoroh : 126-129 digabung dengan paparan pada Ibrahim : 35-41 diperoleh gambaran yang cukup jelas bahwa falsafah hidup dan cita-cita Ibrahim itu, dapat dirumuskan sebagai berikut : ——- 1) Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur dan aman sentosa. (Al Baqoroh : 126) “Al Balad” yang disebut pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia. Bukan merupakan institusi kekuasaan atau kelembagaan apapun. Bersama siapapun Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. — Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman. ————— 2) Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)—– Amal pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada ridho Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural. ———- 3) Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah. (Al Baqoroh : 128) ————- 4) Menjaga, memuliakan dan melestarikan amalan ritual (nusukiyah) yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. (Al Baqoroh : 128) ———– Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna. ——- 5) Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa (Al Baqo-roh : 129) ——— 6) Seluruh keturunannya diharapkan untuk selalu dijauhkan dari pengabdian kepada “berhala”. Dengan menjaga kejelasan eksistensi Komunitas Robbani (Rosul dan pengikut-pengikutnya) yang tetap menjaga sikap hubungan baik dengan semua manusia (Ibrahim : 35-36) ——- 7) Siap menempati belahan bumi manapun, meskipun gersang dan tandus, demi menjaga tegaknya Sholat (kelembagaan Dienullah). (Ibrahim : 37) —— 8) Menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, membangun simpati semua orang dalam hablun minannas dan sebagai salah satu akses menuju kesejahteraan ekonomi. (Ibrahim : 37) ——– 9) Berpegang teguh pada “Sitem Kendali Samawi” dengan senantiasa menyadari bahwa seluruh perilaku lahir dan batin berada di bawah pengawasan Allah. ( Ibrahim : 38 ) —— Kesucian jiwa dan perilaku adalah pilar utama ketentraman dan kebersihan sosial. Sebagus apapun sistem yang diterapkan, tidak berarti apa-apa jika jiwa-jiwanya kotor, tanpa kesadaran akan adanya “pengawasan samawi”. ———– 10) Senantiasa menjaga “hubungan vertikal” dengan Allah, dalam rangka mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya, mengkomunikasikan segala aktivitas amaliyah kepada Allah melalui do’a dan ritual sholat, untuk senantiasa memohon pertolongan, keridhoan dan maghfiroh-Nya. (Ibrahim : 39-41) ———– Demikianlah sepuluh pasal deskripsi Millah Ibrahim yang dirumuskan dari rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim yang Allah abadikan dalam Al Quran. Jelas sekali bahwa semua itu merupakan falsafah hidup, arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim. Benar-benar tergambar secara jelas suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, dan sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia). ———- Sangat logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Ibrahim, ——— sebagaimana Kalam-Nya mengomentari doa-doa Nabi Ibrahim itu, sebagai berikut: وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥ‌ۚ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ Lalu siapa yang tidak suka akan Millah Ibrahim, selain orang yang membodohi dirinya sendiri … (Al Baqoroh : 130) ———— Dan sangat pantas pula jika Allah menetapkan Nabi Ibrahim sebagai IMAM (pelopor) bagi seluruh manusia sesudahnya. وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِـۧمَ رَبُّهُ ۥ بِكَلِمَـٰتٍ۬ فَأَتَمَّهُنَّ‌ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً۬ا‌ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى‌ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Robbnya dengan beberapa kalimah (batu ujian), lalu Ibrahim menuntaskannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia”… (Al Baqoroh : 124) ——— Pandangan dan falsafah hidup Nabi Ibrahim serta dambaan dan cita-cita untuk masa depan dirinya dan semua keturunannya, diabadikan Allah dalam kemasan doa-doa Nabi Ibrahim, dan disebut-Nya sebagai “MILLAH IBRAHIM”, yang kemudian Allah mengarahkan para Nabi dan Rosul sesudahnya agar menjadikan Millah Ibrahim itu sebagai arah perjuangan mereka. ————— Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju?”. ———- Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Ibrahim. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Ibrahim itu, bukan malah menentangnya. ——– إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (١٢٠) شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬ (١٢١) وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٢٢) ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat yang konsisten di pihak Allah dengan lurus dan konsekuen (hanif), dan ia bukan yang termasuk kaum penyekutu Allah (Musyrikin) Ia sangat mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah menyeleksinya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami telah berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya di akhirat ia benar-benar termasuk orang-orang yang sholeh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Millah Ibrahim, secara hanief (lurus/konsekuen) dan dia itu bukan termasuk golongan Musyrikin”. (An Nahl : 120-123) ———– Demikian jelasnya perintah Allah kepada Rosul-Nya agar mengikuti Millah Ibrahim, berikut alasan atau latar belakang mengapa diperintahkan begitu, yang kemudian Allah mendeskripsikan pula secara terperinci apa yang menjadi falsafah hidup (visi dan misi) dan cita-cita perjuangannya itu, sehingga dipandang layak untuk dijadikan falsafah perjuangan para Rosul sesudahnya. ———

August 29, 2016 Edy Gojira 1

apa itu MILLAH IBRAHIM ?…. keBODOHan; Islam Nusantara …. ajaran […]

1 2