Loading
إن | EP Artikel-Edy Gojira

AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan Ayat-ayat Allah dan sabda Nabi-Nya !!?? .... sudah tahu AZAB dari Allah ?? ... meminta IMBALAN dakwah ------------------- Dari Buridah r.a. Rasululloh bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran, yang dengannya ia memperoleh makanan dari manusia, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah hanya berupa tulang tanpa daging,” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman). ---------------- Rasulullah bersabda,” Barang siapa membaca Al-Quran dan dia menginginkan sesuatu, maka mintalah hanya kepada ALLAH. Karena tidak lama lagi akan datang suatu kaum yang setelah membaca Al-Quran, maka mereka akan meminta minta kepada manusia.” {HR Imran bin Husain r.a} ----------------- Sahabat Nabi, Ubay bin Kaab pernah diperingatkan Rasululloh. Pada suatu ketika aku mengajarkan Al-Quran kepada seseorang. Lalu ia menghadiahkan padaku sebuah busur panah. Ketika hal itu aku sampaikan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda,” Engkau telah mengambil satu busur dari neraka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah) ------------ Bahkan Khotib sholat Jumat pun harus menerima bayaran. Padahal Khutbah pada sholat Jumat adalah bagian dari rukun sholat Jumat. Sudah menjadi kewajiban orang Islam untuk melakukannya. Sama seperti kita melakukan rukun ibadah lainnya. Saya ambil contoh, kita tidak dibayar dalam melaksanakan sholat, juga tidak dibayar dalam melaksanakan puasa. Tapi untuk sholat jumat, kenapa harus dibayar dalam melaksanakan salah satu rukunnya. ----------- Maka pantaslah jika para Kiai, Syekh, Ustad dan para dai sekarang banyak yang hidup bermewah- mewahan dan bermegah megahan. Bahkan ada yang punya Rumah mewah, Mobil Jaguar, BMW dll. Walaupun mungkin dia memiliki perusahaan pribadi, tetapi itukah yang dicontohkan Nabi ? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda,” Jika kamu mengikuti jalanku, maka bersiap siaplah kamu miskin.” ---------------- Lebih tegas lagi di firmankan ALLAH dalam QS. At Takaatsur : 1-2 ,” Kamu telah dilalaikan ( dari mengingat ALLAH ) karena bermegah- megah / bermewah- mewah. Hingga kamu masuk ke dalam kubur”. Bukan berarti Islam tidak boleh kaya. Boleh, tetapi sebagaimana halnya Nabi dan para sahabat,kekayaan itu hanya boleh digunakan di jalan ALLAH. Kita hanya boleh mengambil secukupnya, sisanya adalah untuk mencari keridloan ALLAH. Bukan untuk bersenang senang, bermewah mewah dan pamer kekayaan. ------------ sesungguhnya Nabi dan para sahabat tidak pernah menerima bayaran atas dakwahnya. Maka, kalau memang para ulama tersebut itu adalah pewaris Nabi, ikuti saja seperti cara Nabi berdakwah.Tetapi ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Karena banyak ulama yang tidak menjadi pewaris Nabi. Selain itu urusan dunia dan kemapanan ikut dilibatkan dalam urusan dakwah ini. Tidak heran jika mereka mendapat bayaran jutaan, bahkan ada yang pasang tarif hingga puluhan juta rupiah. Bagi mereka yang mendukung pendakwah menerima upah, berpendapat bahwa : 1. Kalau tidak dibayar, dimasa datang tidak ada lagi orang yang mau berdakwah, lalu siapa yang akan menyampaikan ajaran agama? 2. Karena sibuk berdakwah, mereka tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah. Maka bayaran itu dianggap pantas untuk menjadi pengganti waktu mencari nafkah. 3. Berdakwah/ ceramah perlu transportasi, maka bayaran itu dianggap sebagai pengganti transportasi. 4. Ada yang mengibaratkan seperti pergi ke sawah, kalau menemukan belut maka boleh diambil. Artinya boleh menerima asal tidak meminta 5. Ada yang beranggapan bahwa untuk sekolah agama, IAIN misalnya, memerlukan banyak biaya. Jadi sudah sepantasnya dai dibayar. 6. Ada Ustad dari lembaga pendidikan terkenal mengatakan bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, tidak apa apa ceramah agama dibayar. 7. Ada pendapat yang mengatakan, ustadz menerima bayaran agar bisa disedekahkan lagi ketempat lain yang membutuhkan. 8. Bahkan ada yang membandingkan dengan artis. Mereka berpendapat artis saja dibayar mahal, masak Dai yang memberi pencerahan dunia dan akhirat dibayar sekedarnya. Ini bagi mereka yang pasang tarif hingga jutaan hingga puluhan juta rupiah. Dasar yang digunakan kelompok ini adalah sabda Nabi : إن ﺃ ﺤﻕ ﻤﺎ ﺃ ﺨﺫ ﺘﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﺃ ﺠﺭﺍ ﻜﺘﺎ ﺏ ﺍﻠﻠﻪ Yang ditafsirkan ,” Sesungguhnya yang paling haq/ benar kamu ambil pahala atasnya adalah kitabulloh,” (HR. Bukhari). -------------- sabda Rosululloh,”Dan akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela kebenaran (al-haq) dan mendapatkan pertolongan (dari ALLAH), mereka tak tergoyahkan oleh orang orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka, sampai datang keputusan ALLAH yaitu kematian seluruh orang mukmin menjelang kiamat dengan datangnya angin yang mematikan seluruh orang mukmin.”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah). --------- Dan jika apa yang dikatakan ustad tersebut memang benar bahwa ceramah agama untuk kepentingan yang lebih besar dengan mengajarkan Al Quran boleh dibayar, kenapa Rosululloh tidak pernah mengatakan hal ini ? --------------- ALLAH SWT pun telah menggariskan dalam firman-Nya : 1. “ Katakanlah : Aku tidak meminta upah sedikitpun atas dakwahku.”(QS.Shaad: 86). 2. “ Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari ALLAH yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan ?” (QS.Huud: 51) 3. “ Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang- orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS.Al-Furqaan: 57) 4. “ Dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka (terhadap seruan ini), sebab (seruanmu) itu adalah pengajaran bagi seluruh alam.” (QS. Yusuf:104) berbagai sumber

November 3, 2016 Edy Gojira 2

AZAB meMINTA BAYARAN/ UPAH dari MANUSIA dalam berDAKWAH atau menyampaikan [...]

APA gunanya kita diberi Allah ... MARAH?.... gunakan MARAH pada tempatnya ... untuk memBERANTAS KEMAKSIATAN ------------------------------------ melihat MAKSIAT ... keMUNKARan kok DIAM ... tidak MARAH ?? ... ALLAH akan sangat MARAH/murka pada orang itu .... ----------------------------- ‘Adi bin Umair ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengadzab manusia secara umum hanya karena perbuatan maksiat dari orang-orang tertentu, kecuali mereka mengetahui kemaksiatan itu, namun tidak mau memberantasnya. Padahal mereka sebenarnya mampu. Jika mereka melakukan seperti itu maka Allah akan mengadzab semuanya, yang tidak melakukan dan yang melakukan.” (HR Abu Dawud) ------------------- >>>> Marah adalah sifat bagi makhluk. Jika kita menetapkan sifat marah bagi Allah berarti kita menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. ????? <<<<<< --------------- Untuk menjawab kesalahpahaman seperti ini maka bisa kita jawab dari beberapa sisi: 1 Jika Anda boleh mengatakan demikian, maka kami pun juga bisa mengatakan bahwa orang yang menolak sifat ghadhab bagi Allah sama artinya telah menyerupakan Allah dengan dengan benda-beda mati (seperti batu, tanah, kayu, dsb) yang tidak memiliki sifat marah. 2 Kesamaan nama tidak mengharuskan kesamaan materi. Sebagai contoh, Allah bersifat wujud (ada). Demikian juga manusia bersifat wujud. Akan tetapi eksistensi keduanya berbeda. Wujud Allah adalah wujud azali abadi, sedangkan wujud manusia adalah wujud fana dan sementara. ---------- Demikian juga dengan sifat murka/marah/gadhab, meskipun Allah punya sifat marah namun amarah Allah sesuai dengan kemuliaan-Nya tidak sama dengan sifat amarah makhluk-Nya. ----------------- >> Marah adalah keadaan saat darah mendidih dalam hati, dan hal itu mustahil bagi Allah. ---------------- >>> Pemahaman seperti ini juga tidak tepat. Sebab mendidihnya darah, atau berubahnya warna wajah saat marah adalah sifat yang terjadi pada makhluk. Adapun Allah, maka marah-Nya tidak lazim harus seperti itu. Lantas bagaimana marahnya Allah? Hanya Allah–lah yang mengetahui bagaimana kaifiahnya. ---------------- >>> Menetapkan sifat marah bagi Allah sama dengan mengatakan bahwa Allah dipengaruhi oleh ciptaan, dan ciptaan yang menyebabkan peristiwa kemarahan-Nya, dll. Padahal Allah tidak terpengaruh oleh apa yang kita lakukan, atau oleh apa pun dalam ciptaan-Nya. Karena Dia tidak membutuhkan ciptaan dengan cara atau bentuk apapun. ------------------- Untuk meluruskan kesalahpahaman ini kita bisa menjawabnya dari beberapa sisi: Pertama: Yang menetapkan sifat murka bagi Allah adalah Allah sendiri. Sedangkan kewajiban kita hanyalah menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sebagai hamba-Nya tentu kita tidak boleh lancang sampai berani menolak ketetapan Allah atau menetapkan perkara yang tidak Ia tetapkan bagi diri-Nya Kedua: sifat murka adalah sifat ikhtiyariyah (pilihan) Allah. Artinya Allah tidak dipaksa oleh siapapun dalam hal ini. Semuanya terserah kepada kehendak Allah. Jika Ia menghendaki maka Ia akan murka kepada orang yang pantas untuk dimurkai, Sebagaimana Allah juga meridai hamba-Nya sesuai dengan kehendak dan iradah-nya. Jadi menetapkan sifat murka bagi Allah, tidak berarti mengtakan bahwa Allah bergantung kepada makhluk-Nya. Dengan demikian kita tidak perlu menakwil makna ghadhab dengan “kehendak menyiksa” atau “siksaan” atau takwil-takwil lain yang menyimpang dari makna lahirnya. ---------------- MAKSIAT kok didiamkan ??? kok TIDAK MARAH ?? .. apa gunanya mARAH yg diberikan Allah ??? --------------- Abu Bakar ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika terjadi kemaksiatan dalam suatu kaum, tetapi mereka tidak memberantasnya, padahal mereka mampu melakukannya, maka dikhawatirkan Allah akan menurunkan siksa-Nya kepada mereka semua.” (HR Abu Dawud) sifat PENGECUT .... MUNAFIK ... FASIK ----------------------- mengapa KAU DIAM saja .... melihat keMUNKARan ? ... mengapa tidak kau GUNAKAN MARAHmu .... untuk membasmi KEMUNKARAN ??!!! --------------------------------- Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat, Allah akan bertanya kepada seseorang, “Apa yang menghalangimu untuk memberantas kemunkaran yang kamu lihat?” Lalu Allah mengajarkan jawabannya, “Ya Rabbi, saya mengharapkan pengampunan-Mu, dan sayat takut musibah yang akan menimpaku, atau hartaku.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah) ---- Ada banyak teks ayat Alquran yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat marah / murka/ghadhab. Di antaranya adalah: --------------------- QS. An-Nisa: 93 وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا “Dan barang siapa membunuh seorang beriman dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93) --------------------- QS. Al-Baqarah: 90 Allah berfirman, فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ “Dankarena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan, dan kepada orang-orang kafir ditimpakan azab yang pedih.” (QS. Al-Baqarah: 90) ------------------ Ketika menanggapi ayat ini, Imam Ibnu Katsir membawakanriwayat dari Abu ‘Aliyah. Beliau mengatakan, “Allahmurka kepada mereka lantaran mereka mengingkari Injil dan Isa. Kemudian mereka juga ingkar terhadap Muhammad dan Alquran.” ------------------- QS. An-Nur: 9 -------------- Allah berfirman, وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ “Dan sumpah yang kelima bahwa kemurkaan Allah akan menimpanya (istri) jika suaminya termasuk orang yang berkata benar.” (QS. An-Nur: 9) Ada sekian banyak hadis yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat marah/murka/ghadhab. Di antaranya adalah: --------- Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ اللهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي “Sesungguhnya tatkala Allah menetapkan makhluk-Nya, Dia tulis di sisi-Nya di atas ‘arsy bahwa rahmat-Ku mendahului murka-Ku” (HR. Bukhari: 7422) --------------- Hadis yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ketika Rasulullah terluka dalam sebuah peperangan, beliau bersabda, اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى قَوْمٍ فَعَلُوا بِنَبِيِّهِ يُشِيرُ إِلَى رَبَاعِيَتِهِ اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى رَجُلٍ يَقْتُلُهُ رَسُولُ اللهِ فِي سَبِيلِ اللهِ “Allah sangat murka terhadap kaum yang memperlakukan nabinya seperti ini. Beliau menunjuk giginya yang patah. Kemudian beliau mengatakan, “Allah juga sangat murka terhadap orang yang dibunuh oleh nabi-Nya.”(HR. Bukhari: 4073 dan Muslim: 1793)

October 21, 2016 Edy Gojira 1

APA gunanya kita diberi Allah ... MARAH?.... gunakan MARAH pada [...]

JANGAN sampai ..... MENYAKITI ORANG TUA ..... MENYAKITI hati orang tua .... MENELANTARKAN orang tua .... sehingga diCAP Allah sebagai ANAK DURHAKA pada orang tua ------------- Dari Abdullah bin ’Umar, ia berkata, رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam) ----------------- Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ » “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim) -------------------- Jasa Orang Tua Begitu Besar ----------- Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Oleh karena itu, jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan memikulnya untuk berhaji dan memutari Ka’bah.-------------- Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung, إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari. ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟ قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad) ---- Berbakti pada Orang Tua adalah Perintah Allah---------- Allah Ta’ala berfirman, وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra’: 23)-------------- Dalam beberapa ayat, Allah selalu menggandengkan amalan berbakti pada orang tua dengan mentauhidkan-Nya dan larangan berbuat syirik. Ini semua menunjukkan agungnya amalan tersebut. Allah Ta’ala berfirman, وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An Nisa’: 36)-----------

October 11, 2016 Edy Gojira 3

JANGAN sampai ..... MENYAKITI ORANG TUA ..... MENYAKITI hati orang [...]

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG ... QALBU BUTA tidak memahami AYAT Allah ------------------ BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> ------------- Qalbu Jasmani, yaitu Jantung ---------- Dalam kamus bahasa Arab, qalbu dalam bentuk fisik didefenisikan sebagai "organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri." Dari definisi ini dipastikan qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. -------------- Sebuah hadist yag amat populer menyebutkan : أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ "Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Qalbu". (HR Muslim, no. 1599. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi, dengan lafazh yang berbeda-beda namun maknanya sama. Hadits ini dimuat oleh Imam an-Nawawi dalam Arba’in an-Nawawiyah, hadits no. 6, dan Riyadhush-Shalihin, no. 588)--------- Kebanyakan orang mengartikan kalimat terakhir menjadi: "segumpal daging itu adalah hati," padahal merujuk pembahasan diatas, dimana qalbu berarti jantung, maka seharusnya menjadi "segumpal daging itu adalah jantung." Hadits di atas jelas menyebut qalbu sebagai bongkahan daging (benda fisik) yang terkait langsung dengan keadaan jasad atau tubuh manusia. Bongkahan daging mana yang kalau ia sakit atau rusak maka seluruh jasad akan rusak? jawabnya adalah jantung.----------- Jadi, hadist yang selama ini diartikan hanya secara ruhiyah, ternyata bila kita gunakan tata bahasa yang benar, maka ia juga akan memiliki makna jasmaniah.-------------- ------------- Qalbu Ruhani, yakni hati nurani---------------------- إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ Sesungguhnya orang beriman itu, kalau berdosa, akan akan terbentuk bercak hitam di qalbunya. (Hadist Riwayat Ibnu Majah)------------ Qalbu yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbu rohani. Roh (jiwa) memiliki inti, itulah qalbu. Karena roh (jiwa) adalah wujud yang tidak dapat dilihat secara visual (intangible) maka qalbu yang menjadi inti (sentral) roh ini pun qalbu yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Indonesia ‘qalbu ruhani’ disebut dengan ‘hatinurani’. Mungkin karena dianggap terlalu panjang dan menyulitkan dalam pembicaraan, maka orang sering menyingkatnya menjadi ‘hati’ saja. Padahal ada perbedaan besar antara ‘hati’ dengan ‘hatinurani’ sebagaimana berbedanya ‘mata’ dengan ‘mata kaki’.-------- Qalbu orang yang berdosa akan menghitam. Ungkapan ‘menghitam’ di sini adalah ungkapan perumpamaan (majâzi, metaphoric) bukan ungkapan sesungguhnya (haqîqi). Dalam bahasa inggris pun disebutkan heart sebagai pusat seluruh kepribadian, terutama yang berhubungan dengan intuisi, perasaan dan emosi. seperti pada “His head told him not to fall in love, but his heart had the final say”.------- Nah, dengan memahami makna sebenarnya dari Qalbu, kita takkan lagi bingung dengan kontadiksi artinya dalam bahasa Indonesia. Mulai sekarang kita bisa menyebut Qalbu, atau Heart sebagai jantung. Ungkapan "Kaulah jantung hatiku" mungkin sebuah transisi sederhana untuk memperbaiki salah kaprah ini.-------- Mungkin yang agak repot ketika kita sedang patah hati dan berkata "Kau sudah membuatku sakit hati," kemudian kita rubah menjadi "Kau sudah membuatku sakit jantung," orang akan menganggap Anda terserang penyakit medis, dan hilanglah unsur melankolis disini. Dan bila kita minta Aa Gym merubah lirik lagu "Jagalah Hati" menjadi "Jagalah Jantung," apa beliau mau? repot juga, ya.--------- Oya, bila Anda lebih memilih mengganti kata "hati" menjadi "qalbu" daripada memakai kata "jantung," maka pastikan Anda menulis atau mengatakannya sebagai Qalbu, jangan Kalbu. Kalbu dengan huruf 'k' adalah transliterasi dari (kaf) dan kalau ditulis "kalbu", maknanya akan berubah menjadi anjing. ======================= QALBU = BUTA = tidak diGUNAkan untuk MEMAHAMI ayat-ayat Allah << ” … BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada” … Al Hajj:46>> <<< TIDAK BERUSAHA memahami ayat-ayat Allah = golongan BINATANG TERNAK … Al Furqaan:44 >> --------------﴾ Al Hajj:46 ﴿maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai QALBU yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya BUKANlah MATA itu yang BUTA, tetapi yang BUTA, ialah QALBU yang di dalam dada. أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَآ أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصٰرُ وَلٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ ﴿الحج:٤٦﴾ ------------﴾ Al Baqarah:7 ﴿ Allah telah mengunci-mati QALBU dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. خَتَمَ ٱللَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصٰرِهِمْ غِشٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿البقرة:٧﴾ ----------﴾ Al Baqarah:10 ﴿ Dalam QALBU mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿البقرة:١۰﴾ -------------﴾ Al Baqarah:18 ﴿ Mereka tuli, bisu dan BUTA, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ﴿البقرة:١٨﴾ ……………………………….. ﴾ Al Furqaan:44 ﴿ atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti BINATANG TERNAK, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الفرقان:٤٤﴾ ……………………………………………………… ------﴾ Al Israa’:72 ﴿ Dan barangsiapa yang BUTA (QALBUnya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). وَمَن كَانَ فِى هٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا ﴿الإسراء:٧٢﴾ --------﴾ Az Zukhruf:40 ﴿ Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang BUTA (QALBUnya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? أَفَأَنتَ تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ أَوْ تَهْدِى ٱلْعُمْىَ وَمَن كَانَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ ﴿الزخرف:٤۰﴾ --------﴾ Ar Ruum:53 ﴿ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang BUTA (QALBUnya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). وَمَآ أَنتَ بِهٰدِ ٱلْعُمْىِ عَن ضَلٰلَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِـَٔايٰتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ ﴿الروم:٥٣﴾ -------------﴾ An Nahl:127 ﴿ Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿النحل:١٢٧ ====================

September 27, 2016 Edy Gojira 1

QALBU PHYSIC adalah JANTUNG ... QALBU BUTA tidak memahami AYAT [...]

1 2 3 9