yg ke SURGA …. banyak dari golongan orang MISKIN… kenapa ???

takut miskin 23

yg ke SURGA …. banyak dari golongan orang MISKIN… kenapa ???
————————
———————— orang MISKIN sudah SUSAH hidupnya di DUNIA … beda dg orang KAYA/banyak UANG/banyak HARTA … yg bisa MEMBELI DOSA … membeli jalan ke NERAKA .. dg UANGnya… dg mudah !!!
————————-
PAHAMILAH .. mengapa RASUL berdoa ingin dijadikan golongan orang MISKIN ????

Rasulalloh dalam doanya mengatakan: “Ya Allah hidupkanlah saya keadaan miskin dan matikan saya keadaan miskin dan kumpulkanlah saya dalam golongsn orang-orang miskin”. [Hadist Sunan Ibni Majah No. 4126 Kitabulzuhdi]
————————–————————–
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اطلعت في الجنة، فرأيت أكثر أهلها الفقراء
“Saya pernah melihat surga, aku lihat kebanyakan penduduknya adalah orang miskin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
————————–———————
Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)
————————–——–
Orang-orang fakir-miskin akan memasuki surga lima ratus tahun, sebelum orang-orang kaya memasukinya. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
————————
Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat. (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab)
————————–—————-
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang-orang kaya mereka hina pada hari kiamat, kecuali orang yang berbuat dengan hartanya, begini begitu dan mendapatkan kekayaannya dengan baik”.
[Hadist Sunan Ibni Majah No. 4130 Kitabulzuhdi]
————————–—-
Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قمت على باب الجنة، فكان عامة من دخلها المساكين، وأصحاب الجد محبوسون غير أن أصحاب النار قد أمر بهم إلى النار
“Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)
————————–———
Aku berdiri di pintu surga, maka kulihat orang-orang yg masuk ke dalamnya kebanyakan dari orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang yg bernasib baik di dunia mereka tertahan di luar. Kecuali penduduk neraka mereka langsung diperintahkan masuk ke neraka. Dan aku berdiri pula di pintu neraka, kulihat orang yg masuk kebanyakannya ialah kaum wanita.’ [HR. Muslim No.4919].
————————–
Orang miskin punya keutamaan saat ia mau bersabar. Di sini juga jadi pertanda, jangan sampai kita meremehkan mereka.

Berikut tiga di antaranya:
1- Penghuni surga banyak orang miskin

Dari Harits bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia berkata,

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong” (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Orang yang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia (alias: miskin). Ini cara baca mutadho’af dalam hadits. Bisa juga dibaca mutadho’if yang artinya orang yang rendah diri dan tawadhu’. Al Qadhi menyatakan bahwa yang dimaksud orang yang lemah adalah orang yang lembut hatinya dan tawadhu’. Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 168.
2- Orang miskin mendahului orang kaya masuk surga

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

“Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Diterangkan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 68) sebagai berikut.

Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan,

وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47). Oleh karenanya, setengah hari di akhirat sama dengan 500 tahun di dunia.

Adapun firman Allah Ta’ala,

فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun” (QS. Al Ma’arij: 4). Ayat ini menunjukkan pengkhususan dari maksud umum yang sebelumnya disebutkan atau dipahami bahwa waktu tersebut begitu lama bagi orang-orang kafir. Itulah kesulitan yang dihadapi orang-orang kafir,

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ (8) فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ (9) عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ (10)

“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah.” (QS. Al Mudatsir: 8-10).
3- Berkah dari do’a orang miskin

Dalam hadits disebutkan bahwa Sa’ad menyangka bahwa ia memiliki kelebihan dari sahabat lainnya karena melimpahnya dunia pada dirinya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR. Bukhari no. 2896).

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” (HR. An Nasai no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Baththol berkata, “Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyu’ karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain kecuali dekat pada Allah saja. Amalan mereka bersih dan do’a mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan)”. Al Muhallab berkata, “Yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada mukmin yang lain” (Lihat Syarh Al Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114).
Pengemis Jalanan Bukanlah Orang Miskin

Karena rerata pengemis jalanan adalah orang mampu nan kuat yang malas bekerja, padahal di balik itu juga mereka kaya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا

“Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun malu atau tidak meminta dengan cara mendesak” (HR. Bukhari no. 1476).

Moga Allah beri kita taufik dan hidayah untuk semakin peduli pada orang-orang miskin, apalagi kerabat dekat kita.

Semoga bermanfaat.

JANGAN mati sebagai Kanzul Mal !!.. jangan meREMEHkan !!! ——————- dicap Allah sbg PENIMBUN HARTA

mati kanzul mal 1

JANGAN mati sebagai Kanzul Mal !!.. jangan meREMEHkan !!!
——————- dicap Allah sbg PENIMBUN HARTA
Siapa saja yang meninggalkan (mati dalam keadaan menyimpan) yang kuning (uang emas) dan yang putih (uang perak), maka dia diSETERIKA dengannya (di neraka kelak).” (HR. Bukhari),
…………PENIMBUN HARTA = tidak menafkahkannya pada jalan Allah .. << apa itu JALAN Allah ??? ………….………………..
Imam Thabrani meriwayatkan dari Abi Umamah bahwa seorang ahlus shuffah (yang tinggal di Masjid Nabawi) meninggal, lalu ditemukan di dalam selimut (sarungnya) sekeping uang dinar, lalu Rasulullah Saw menyebutnya “kayyah” (sepotong api neraka). Lalu ada orang lain yang meninggal dan ditemukan ditempat tidurnya dua keping dinar. Beliaupun mengomentari “kayyataan” (dua keping api neraka).
————————–—-
“Hai oang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagaian besar orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan bathil, dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak {= uang di BANK, perhiasan, investasi ….dst sekarang ini} dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka. ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At Taubah 34-35)
————————–——
Siapa saja yang meninggalkan (mati dalam keadaan menyimpan) yang kuning (uang emas) dan yang putih (uang perak), maka dia diseterika dengannya (di neraka kelak).” (HR. Bukhari),
————————–———–
JIHAD di JALAN Allah … JIHAD FI SABILILLAH

<<< “BerJIHADlah terhadap kaum MUSYRIKIN dengan HARTA benda kamu, dan diri-DIRI kamu {NYAWA} dan lidah-LIDAH kamu.” (HR. Abu Daud, dari Anas).>>>
————————
“Setan menjanjikan (menakut-nahkuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

Dalam menafsirkan ayat yang mulia ini, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Dua hal dari Allah, dua hal dari setan. ‘Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan’. Setan itu berkata, ‘Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya’. “Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)”.

(Dan dua hal dari Allah adalah), “Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya”, yakni atas maksiat yang kamu kerjakan, “dan karunia” berupa rizki.[5]

Al-Qadhi Ibnu Athiyah menafsirkan ayat ini berkata : “Maghfirah (ampunan Allah) adalah janji Allah bahwa Dia akan mencukupi kesalahan segenap hambaNya di dunia dan di akhirat. Sedangkan al-fadhl (karunia) adalah rizki yang luas di dunia, serta pemberian nikmat di akhirat, dengan segala apa yang telah dijanjikan Alla Ta’ala [6]

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam menafsirkan ayat yang mulia ini berkata : “Demikianlah, peringatan setan bahwa orang yang menginfakkan hartanya, bisa mengalami kefakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepadanya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya. Adapun Allah, maka ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih banyak daripada yang ia infakkan, dan Dia meipatgandakannya baik di dunia saja atau di dunia dan di akhirat”
————————–—-
Jihad harta benda.

Macam jihad yang pertama adalah “Jihad harta benda”: adalah jenis jihad dengan menafkahkan (membelanjakannya) untuk meninggikan kalimat Allah. Dan jihad jenis ini me­rupakan urat sensitif bagi setiap jihad yang dilakukan umat Islam dalam hidupnya, baik jihad tabligh (menyampaikan) ataupun jihad pengajaran, politik maupun perang.

Beberapa ayat al-Qur’an yang menegaskan tentang salah satu macam jihad harta dan benda antara lain sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (Q.S. 9: 111)”

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. (Q.S. 9: 41)”

Dan juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i mengenai jihad harta dan benda :

مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ كُتِبَتْ لَهُ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ٠

“Barang siapa yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, baginya disediakan tujuh ratus lipat harta yang dibelanjakan­nya itu”.

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Enam, kecuali Malik mengenai salah satu macam jihad harta benda dengan menyiapkan bekal bagi pejihad dan menafkahi keluarga :

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا٬وَ مَنْ خَلَفَ غَازِيًا فِيْ أَهْلِهِ غَزَا٠

“Barang siapa yang mempersiapkan (bekal) orang yang hendak pergi ke medan jihad di jalan Allah, berarti ia telah berjihad, dan barang siapa menanggung nafkah keluarga seseorang yang sedang berperang, berarti ia telah berjihad dijalan Allah”.

Jihad Tabligh

Jenis atau macam jihad yang kedua adalah Jihad menyampaikan (tabligh). Jihad tabligh adalah dengan menyampai­kan Islam dengan perkataan, memberikan argumentasi bahwa dakwah Islam adalah hak terhadap orang-orang yang memerlukan seperti orang munafik, orang yang keluar dari agama islam dan yang menyimpang.

Dalil dalm al-Qur’an tentang jihad tabligh antara lain :

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. 9: 71)

. . . (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merana takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (Q.S. 33: 39)

Dalil-dalil dari hadits Nabi tentang salah satu macam jihad islam yaitu jihad tabligh

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jaban:

نَضَرَ اللَّهُ امْرَءً اسَمِعَ مِنِّيْ شَيْئًا فَبَلَغَهُ كَمَاسَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ٠

“Allah mengetokkan rupa seseorang yang mendengarkan sesuatu daripadaku dan menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Acap kali orang yang menyampaikan lebih menerima dan menghafal dari orang yang sekedar mendengarkan “.

Beliau juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan Ashhabu ‘s-Sunan:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنِ اتَّبَعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا ٠

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya tanpa me­ngurangi pahala mereka sedikit pun…”

Jihad mengajar

Macam jihad yang ketiga adalah Jihad mengajar: Jihad mengajar adalah dengan mengeluarkan daya upaya dalam membentuk masyarakat Islam dari segi intelektual, kultural dan mental, dan memberikan gambaran yang betul tentang ideologi Islam. Secara keseluruhan, tentang alam semesta, kehidupan dan manusia.

Dalil Al-Quran dan Hadits tentang jihad mengajar

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke dalam perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya. (Q.S. 9: 122)

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulul­lah saw., beliau bersabda:

تَنَا صَحُوْا فِى الْعِلْمِ فَإِنَّ خِيَانَةَ أَحَدِكُمْ فِى الْعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ خِيَانَتِهِ فِى مَالِهِ٬ وَاِنَّ اللَّهَ مُسَائِلُكُمْ٠

“Saling nasihat menasihatilah dalam ilmu, karena khianat salah seorang dari kamu dalam ilmunya adalah lebih berat daripada khianatnya dalam harta, dan sesungguhnya Allah akan minta pertanggungjawabanmu”.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At- Tirmidzi:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ بِلِجَامٍ مِنْ نَارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu menyembunyikannya, niscaya ia akan didera, pada hari kiamat dengan dera dari api”.

Jihad politik

Macam atau jenis jihad selanjutnya adalah Jihad politik: yaitu dengan mengeluarkan daya upaya dalam mendirikan Daulah Islamiyah berdasarkan prinsip-prinsip Islam, kaidah-kaidahnya yang umum dan menyeluruh. Ringkasnya, pemerintahan harus menerapkan peraturan hukum Allah semata.

Dalil al-Quran dan Hadits Nabi mengenai jihad dalam politik

. . . dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Q.S. 5: 49-50)

Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

مَامِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ ٬ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَالاَ يَفْعَلُوْنَ مَالاَ يُؤْمَرُوْنَ ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ٠

“Tidaklah seorang Nabi yang diutus Allah ke suatu umat sebelumku kecuali ia dari umatnya mempunyai penolong dan sahabat yang memegang sunnahnya, mengikuti perintahnya, kemudian setelah itu datanglah orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka, barang siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia adalah seorang Mukmin, dan barang siapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka ia adalah seorang Mukmin, dan barang siapa yang memerangi mereka dengan hatinya maka ia adalah seorang Mukmin, dan di bela­kang itu tidak ada lagi iman walau sebesar biji sawipun”.

Jihad Perang

Jihad perang adalah macam dari jihad dengan mengeluarkan daya upaya untuk menghadapi thaghut yang merintangi menjalankan hukum Allah, menghalang-halangi penyebaran dakwah-Nya di muka bumi.

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan(Q.S. 8: 39)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk(Q.S. 9: 29)

Dan ini adalah yang disebutkan Rib’iy bin ‘Amir dalam pertemuan yang berlangsung antara kaum Muslimin dan Rustum, pemimpin Persia: “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penyembahan hamba kepada pc nyembahan Allah, dari kesempitan dunia kepada kelapangannyn, dari penganiayaan agama-agama kepada keadilan Islam”.

Itulah jenis-jensi dan macam jihad di jalan Allah yang merupakan ajaran islam untuk kita laksanakan bersama.

berbagai sumber
WALLAHU A’LAM

HARTA = FITNAH ….. UJIAN KAYA= banyak HARTA = PENYEBAB BANYAK MUSLIM ….. diLEMPAR ke NERAKA <<<< Penduduk Surga Kebanyakan Orang Miskin >>>>>

harta fitnah 1

HARTA = FITNAH ….. UJIAN KAYA= banyak HARTA = PENYEBAB BANYAK MUSLIM ….. diLEMPAR ke NERAKA

<<<< Penduduk Surga Kebanyakan Orang Miskin >>>>>
……………….jangan ditanyakan takdir/nasib orang KAFIR/ MUSYRIK …. langsung di seret dan dilempar ke NERAKA…………………

Harta merupakan salah satu bentuk fitnah, yaitu ujian dan godaan yang sangat dikhawatirkan bisa menjerumuskan orang-orang beriman ke dalam kemaksiatan dan hal yang haram. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih,

عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ لكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ “

Dari Ka’ab bin Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Setiap umat memiliki godaan yang menjerumuskan tersendiri dan godaan yang menjerumuskan umatku adalah godaan harta kekayaan.” (HR. Tirmidzi no. 2336, An-Nasai dalam AS-Sunan Al-Kubra no. 11795, Ahmad no. 17471, Al-Hakim no. 7896 dan Ibnu Hibban no. 3223. Hadits shahih)

Rasulullah saw melihat bahwa di SURGA itu kebanyakan orang orang MISKIN, sedangkan dalam neraka kebanyakan wanita. HR Muslim-Bukhary.

Rasulullah berdoa kepada Allah swt,” Yaa Allah jadikanlah aku seorang miskin dan matikanlah aku dalam kemiskinan”HR Muslim.

“Orang – orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang – orang kaya” (HR. Tirmidzi, dia berkata, “Hadits shahih”, dari Abu Hurarah}

Dari Haritsah bin Wahb radhiallahu ‘anhu bhwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا أخبركم بأهل الجنة؟ قالوا: بلي، قال: كل ضعيف متضعف، لو أقسم على الله لأبره

“Maukah kusampaikan kepada kalian tentang ahli surga?” Para sahabat menjawab. “Tentu.” Beliau bersabda, “Orang-orang yang lemah dan diremehkan. Andaikan orang ini bersumpah atas nama Allah (berdoa), pasti Allah kabulkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

An-Nawawi dalam syarah hadis ini menyatakan:

ومعناه يستضعفه الناس، ويحتقرونه، ويتجبرون عليه، لضعف حاله في الدنيا، والمراد أن أغلب أهل الجنة هؤلاء … وليس المراد الاستيعاب

Makna hadis: “Dia diremehkan masyarakat, dianggap hina, suka disuruh-suruh. Karena dia lemah dari sisi dunianya. Maksud hadis ini adalah umumnya penduduk surga orangnya semacam itu, bukan maksudnya seluruh penduduk surga.” (Syarh Muslim An-Nawawi, 17:187)
……………………………
Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kepada umatnya untuk biasa berlindung dari keburukan godaan kekayaan dan kemiskinan. Kekayaan dan kemiskinan adalah ujian yang harus dihadapi dengan keimanan dan kesabaran. Ada orang yang jatuh karena ujian kemiskinan, sebagaimana ada orang yang jatu karena ujian kekayaan.

Dari Aisiyah radhiyallahu ‘anha berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam biasa membaca doa:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَفِتْنَةِ القَبْرِ وَعَذَابِ القَبْرِ، وَشَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ قَلْبِي بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ، وَالمَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ»

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksaan neraka; dari fitnah kubur dan siksaan kubur; keburukan fitnah kekayaan dan keburukan fitnah kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebutkan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Ya Allah, basuhlah hatiku dengan es dan embun…bersihkanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana Engkau membersihkan kain putih dari kotoran…jauhkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, perbuatan dosa dan jeratan hutang.” (HR. Bukhari no. 6377 dan Muslim no. 589)

Kekayaan bisa membuat orang kaya tak bersyukur, sehingga ia menghambur-hamburkan hartanya untuk hidup mewah, kikir, rakus, tidak peduli kepada penderitaan sesama, tidak mengeluarkan zakat dan hak-hak orang lain dalam hartanya. Adapun kemiskinan bisa membuat orang tak sabar, sehingga ia mengeluh, mendengki, dan melakukan perbuatan haram atau dosa guna mengejar harta. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan godaan kemiskinan dan kekayaan.

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قمت على باب الجنة، فكان عامة من دخلها المساكين، وأصحاب الجد محبوسون غير أن أصحاب النار قد أمر بهم إلى النار

“Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata umumnya orang yang memasukinya adalah orang miskin. Sementara orang kaya tertahan dulu (masuk surga). Hanya saja, penduduk neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)
====================

JANGAN sekalikali …… menjadi orang KAFIR ……
………………….

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al-Imran 3 : 85).

—————–
Hadis riwayat Ali ra, ia berkata:
Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil.
Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresangoresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: TIDAK ADA SEORANG PUN DARI KAMU SEKALIAN ATAU TIDAK ADA SATU JIWA PUN YANG HIDUP KECUALI TELAH ALLAH TENTUKAN KEDUDUKANNYA DI DALAM SURGA ATAUKAH DI DALAM NERAKA serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia.
——————————–
kafir kekal

KAFIR /musyrik/menyekutukan Allah …. tidak perlu ditimbang oleh Allah … langsung diLEMPAR ke NERAKA
—————–  …. KEKAL di NERAKA   wallahua’lam
﴾ Al Israa’:39 ﴿
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).
ذٰلِكَ مِمَّآ أَوْحَىٰٓ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ ٱلْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ ٱللَّـهِ إِلٰهًا ءَاخَرَ فَتُلْقَىٰ فِى جَهَنَّمَ مَلُومًا مَّدْحُورًا ﴿الإسراء:٣٩﴾﴾ Al Fushilat:40 ﴿
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ ءَايٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَآ ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِىٓ ءَامِنًا يَوْمَ ٱلْقِيٰمَةِ ۚ ٱعْمَلُوا۟ مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿فصلت:٤۰﴾

 ——————

At Taubah:17 ﴿  Yahudi,penguasa Al QUDS = KAFIR <<<
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjidmesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang siasia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.
…….
An Nisaa:14 ﴿ DURHAKA = menolak/kufur/kafir pada perintah Allah {Al Qur’an} …. dan RASUL {Al Hadits}
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.”

===========================

UJIAN .. orang BERIMAN …

ujian keimanan 1

UJIAN .. orang BERIMAN …
……………..
“Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia teguh dalam
agamanya, maka ujiannya lebih berat. Dan jika
ia kurang agamanya maka dia diuji [sedikit]
sesuai kadar agamanya [HR. at-Tirmidzī
dari Sa’ad bin Abī Waās].
————————–————
Beliau juga bersabda, “Ujian akan
senantiasa menimpa seorang mu`min
pada anak-anak dan hartanya hingga
dia bertemu Allah tanpa memiliki
dosa” [HR. at-Tirmidzī dari Abū
Hurairah].
————————–
Abū Sa’īd al-Khudrī menjenguk Nabi
sementara Rasūlullāh sedang sakit dengan
selimut menutupi tubuhnya. Abū Sa’īd meletakkan
tangannya di atas selimut, merasakan panas
darinya, dan berkata, “Wahai Rasūlullāh,
betapa berat panas yang menimpamu” Beliau
menjawab, “Begitulah kami [para abi].
jian dilipatgandakan bagi kami. Dan pahala
kami juga dilipatgandakan.” Abū Sa’īd lalu
bertanya, Wahai Rasūlullāh, siapakah manusia
yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab,
“Para abi.” Abū Sa’īd bertanya lagi, “Lalu
siapa?” Beliau menjawab, “Para ulama.” Abū
Sa’īd bertanya, “Lalu siapa?” Beliau menjawab,
“Orang-orang shalih. Sebagian mereka diuji
dengan kutu hingga membunuh mereka. Sebagian
mereka diuji dengan keakiran hingga
tidak menemukan kecuali jubah untuk dipakai.
Dan mereka akan gembira dengan ujian
sebagaimana kalian gembira dengan kesenangan”
[HR. bnu Mājah dan al-Hākim].
————————–
Rasullulllah juga bersabda, “Seseorang diuji
sesuai kadar agamanya. Jika ia teguh dalam
agamanya, maka ujiannya lebih berat. Dan jika
ia kurang agamanya maka dia diuji [sedikit]
sesuai kadar agamanya [HR. at-Tirmidzī
dari Sa’ad bin Abī Waās].
————————–
Nabi bersabda, “Perumpamaan orang beriman
adalah seperti tanaman yang senantiasa diterpa
angin. [Begitu pula] orang beriman senantiasa
tertimpa musibah. Sedangkan perumpamaan
orang munaik adalah seperti pohon pinus. ia
tidak bergerak sampai ia dicabut” [HR. Muslim
dari Abū Hurairah].
————————–——–
Nabi bersabda, “Pahala yang besar datang
dengan ujian yang berat. jika Allah mencintai
suatu kaum, Dia akan memberinya ujian. Barangsiapa
ridha maka baginya keridhaan [Allah].
Dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan
[Allah]” [HR. at-Tirmidzī dari Anas].
————————–————
Beliau juga bersabda, “Barangsiapa
dikehendaki oleh Allah kebaikan,
maka Dia akan memberinya
ujian” [HR. al-Bukhārī dari
Abū Hurairah].
————————–————
Beliau juga bersabda,
“Tidaklah seorang muslim
tertimpa penyakit, keletihan,
kekhawatiran, kesedihan,
gangguan, dan kesusahan
bahkan duri yang melukainya,
melainkan Allah akan
menghapus dosa-dosanya” [HR.
al-Bukhārī dari Abū Hurairah
dan Abū Sa’īd al-Khudrī]
————————–
Beliau juga bersabda, “ujian akan
senantiasa menimpa seorang mu`min
pada anak-anak dan hartanya hingga
dia bertemu Allah tanpa memiliki
dosa” [HR. at-Tirmidzī dari Abū
Hurairah].
————————–——

SETIAP MAKHLUK …… PASTI AKAN MATI

takut mati 1

SETIAP MAKHLUK …… PASTI AKAN MATI
…………………..
SIAPKAN BEKAL untuk MATIMU/ MATIKU / MATI KITA …..yg UTAMA
———————–
MATI .. AJAL …pasti DATANG … segera { besok, seminggu lagi, sebulan lagi, beberapa BULAN lagi, setahun lagi …. WALLAHUA’LAM }
————————–——
Salah satu nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’aala kepada hamba-Nya adalah nikmat umur. Nikmat umur begitu agung karena dengan adanya nikmat ini seseorang bisa hidup dan menggapai jalan kebahagiaan atau jalan yang diinginkannya, sedangkan terhentinya nikmat ini maka berhentilah kehidupannya dan upaya seseorang untuk menggapai keinginannya.

Umur kita terbatas. Ketika ajal telah datang, maka disinilah manusia akan tahu betapa tingginya nikmat umur dan kemuliaannya. Saat ajal datang menjemput, maka tidak seorangpun bisa memajukan waktunya atau mengundurkannya barang sedetikpun. Kedatangan ajal merupakan hal yang pasti, akan tetapi waktu datangnya tidak kita ketahui, hanya Allah ‘Azza wa Jalla, Rabb Yang Maha Mengetahui…

Ajal Manusia
Dalam Lisān al-‘Arab (Ensiklopedi Arab), ajal adalah batas waktu kematian seseorang. Dalam surah al-An’am [6]: 2 Allah berfirman:
هو الذى خلقكم من طين ثمّ قضى أجلاً وأجل مسـمى عنده ثمّ أنتم تمترون
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu.”

Berangkat dari ayat di atas, ajal menurut al-Thaba’thaba’i terbagi menjadi dua, yaitu الأجل المسـمى (al-ajal al-musamma, waktu tertentu) sudah tertulis di أم الكتاب (Umm al-Kitab, lauh mahfudh), dan الأجل غير المسـمى (al-ajal ghair al-musamma, waktu tidak tertentu) sudah tertulis di لوح المحوو الإثبات (lauh al-mahwi wa al-itsbāt, papan penghapusan dan penetapan). Al-ajal al-musamma bersifat mutlak (absolut), sedang al-ajal ghair al-musamma bersifat bersyarat (kondisonal). Bisa saja antara kedua ajal itu tidak terjadi secara bersamaan, karena al-ajal ghair al-musamma ditentukan oleh situasi kondisi yang melingkupinya.

Sebagai contoh, umur seseorang tertulis umpamanya 90 (sembilan puluh) tahun. Kita ketahui bahwa seluruh isi alam semesta ini saling berkait dan berpengaruh terhadap eksistensi diri seseorang. Interaksi yang demikian kuat bisa saja menimbulkan bencana yang tidak bisa terelakkan dan mengakibatkan ajal datang menjemputnya sebelum berakhir waktu alami (sesuai dengan yang tertulis). Kematian seperti ini disebut mati sulaman.

Pembagian ajal yang dilakukan al-Thaba’thaba’i di atas memberikan gam-baran bahwa segala sesuatu berjalan berdasarkan hukum Allah. Kematian dengan al-ajal ghair al-musamma tidak menafikan ketentuan dalam al-ajal al-musamma karena terjadi berdasarkan hukum Allah yang disebut hukum kausal.

Sebenarnya, kita juga tidak mengetahui apakah kematian seseorang itu berda-sarkan al-ajal al-musamma atau al-ajal ghair al-musamma karena kita tidak pernah memperoleh informasi tentang itu.

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menentukan batas akhir kehidupan bagi setiap makhluk. Sesungguhnya setiap jiwa itu tidak akan mati kecuali dengan izin Allah dan takdir dari-Nya. Apabila sudah ditakdirkan waktunya mati, maka tidak ada pilihan lagi kecuali mati. Tidak bergeser sedikitpun.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak pula memajukannya!” (QS Al-A’raaf [7]:34)

Mari kita perhatikan sebuah ayat yang setiap kali dipahami oleh orang yang lalai maka akan membuat orang itu bertaubat, yang setiap kali diperhatikan oleh orang yang berpaling maka akan menjadikannya segera kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’aala dan meminta ampunan-Nya, sebuat ayat yang menceritakan tentang sebuah perjalanan yang berat, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’aala:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ
وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah beruntung, kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran [3]: 185).
Allah SWT juga berfirman”
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَاباً مُّؤَجَّلاً وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
“Setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketentuan yang telah ditetapkan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali-Imran [3]:145)

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa siapa yang mati atau terbunuh, maka hal itu merupakan takdir. Allah berfirman:
قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ
“Katakanlah: “Sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ketempat mereka terbunuh…”
(QS Ali-‘Imran [3]:154)

Allah juga berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ
“Dimanapun kamu berada, kematian akan menemuimu, walaupun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (An-Nisaa [4]:78)

Renungan bila ajal datang menjemput
Untuk mengingatkan kembali kepada hakikat kehidupan yang sesungguhnya, dan menyadari kematian sebagai guru bagi kehidupan, mari kita perhatikan renungan dibawah ini:

Renungan Pertama
Ada cerita mengenai orang-orang yang terdahulu, seseorang diantara mereka bertanya kepada temannya, “Maukah engkau mati sekarang?” Orang itu menjawab; “Tentu tidak” Lalu ditanyakan lagi kepadanya; “Kenapa?” Jawab orang itu; “Saya belum bertaubat dan belum berbuat kebajikan” Selanjutnya dikatakan kepada orang itu; “Kerjakanlah sekarang!”

Ia menjawab; “Nanti akan saya lakukan”. Demikianlah ia selalu berkata; “Nanti dan nanti” sehingga akhirnya orang itu meninggal dunia tanpa bertaubat dan melakukan kebaikan.

Ingatlah wahai saudaraku, keadaanmu disaat engkau merasakan pedihnya sakaratul maut, yang pada saat menghadapinya, Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’aala, bersabda; “Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, sesungguhnya dalam kematian itu terdapat rasa kesakitan” (HR. Bukhari)

Wahai saudaraku, cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, menjadikan mata menangis, perpisahan dengan orang-orang yang dicintai, berpisah dari segala kenikmatan, pemutus dari segala cita-cita.

Wahai orang-orang yang tertipu oleh dunianya, wahai orang-orang yang berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’aala, wahai orang yang lengah dari ketaatan kepada Robbnya, wahai orang-orang yang setiap kali dinasehati lalu hawa nafsunya menolak nasehat tersebut, wahai orang-orang yang dilalaikan oleh nafsunya dan tertipu oleh angan-angan yang panjang.

Pernahkah engkau memikirkan detik-detik kematian sedangkan engkau tetap dalam keadaanmu semula? Tahukah engkau apa yang akan terjadi pada dirimu disaat kematian menjemputmu? Tentu saat ini engkau akan berucap dalam hatimu; saya akan mengucapkan Laa Ilaha Illallah !!! Tetapi itu tidak mungkin wahai saudaraku, jika engkau masih tetap lalai dan berpaling dari kebenaran, hingga tiba saat-saat kematianmu, tentu engkau tidak akan mampu mengucapkannya, bahkan engkau akan berharap dihidupkan kembali.

Suatu ketika Hasan al-Bashri rahimahullah berdiri didepan sebuah kuburan sambil melihat kuburan tersebut dengan seksama, kemudian ia menoleh kepada salah seorang yang turut hadir disana dan berkata; “Seandainya penghuni kubur ini keluar dari kuburannya, menurutmu apa yang akan dilakukannya?” Orang itu menjawab; “Tentu ia akan bertaubat dan berzikir mengingat Allah”. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata kepada orang itu; “Kalau dia tidak keluar, maka kamulah yang harus melakukannya !”
Saudaraku, apa jawabanmu bila Rabbmu menanyakan tentang umurmu, untuk apa kau habiskan; menanyakan tentang masa mudamu, untuk apa engkau gunakan; menanyakan tentang hartamu, dari mana engkau dapatkan dan untuk apa engkau gunakan, dan ilmumu untuk apa engkau amalkan?.

Seorang penyair berkata :
“Saudaraku, cobalah mencari jalan keselamatan.
Persiapkan dirimu (dengan beramal shaleh) sebelum datang kematianmu.
Songsonglah sesuatu yang pasti datang dengan kesungguhan.
Janganlah tertipu oleh fatamorgana kehidupan. Sungguh sebentar lagi engkau mati.”
Coba kita perhatikan apa yang telah kita persiapkan untuk menjadikan kuburan kita sebagai taman surga? Keadaan yang bagaimanakah yang kita inginkan disaat Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِن مَّكَانٍ قَرِيبٍيَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ
“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. Yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur).” (QS. al-Qaf [50] : 41-42)

Mari kita renungkan kembali firman Allah Subhanahu wa Ta’aala:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَؤُوا كِتَابِيهْإِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيهْفَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍفِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
قُطُوفُهَا دَانِيَةٌكُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئاً بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Adapun orang-orang yang diberikan padanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: Ambillah, bacalah kitabku (ini) Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku, maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi, dalam surga yang tinggi yang buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan; ‘makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. al-Haaqqah[69]: 19-24)

Saudaraku, tidakkah renungan ini menjadikan kita menangis, meneteskan air mata? Tidakkah perjalanan ini menjadikan kita bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’aala atas segala dosa yang kita kerjakan?

Saudaraku, segeralah bertaubat, manfaatkan segera setiap detik nafasmu untuk memikirkan setiap amal perbuatanmu, koreksilah amalanmu, apakah amalan dan perbuatan yang engkau lakukan mendekatkan dirimu ke surga atau malah semakin mendekatkan dirimu ke neraka ?

Di akhir renungan ini, saya persembahkan pelajaran bagi setiap insan yang tenggelam dalam berbagai kesenangan dunia, sehingga lupa kepada Robbnya, dan juga untuk setiap orang yang bertaubat dan mohon ampunan kepada Rabb-Nya, sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Pada hari kiamat akan didatangkan seorang ahli neraka yang paling banyak mengenyam kenikmatan dunia, lalu ia dicelupkan sesaat ke dalam Neraka, kemudian ia ditanya; “Wahai anak Adam, apakah telah engkau dapatkan kenikmatan? Pernahkah sebuah kenikmatan menghampirimu? Ia menjawab; “Demi Allah, tidak wahai Tuhanku”, Demikian pula didatangkan seorang ahli Surga yang paling sengsara hidupnya ketika di dunia, lalu dia dicelupkan sesaat ke dalam Surga. Kemudian ia ditanya; “Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan ? Adakah sebuah malapetaka menerpamu? Ia menjawab, “Demi Allah, tidak pernah sedikitpun kesengsaraan dan malapetaka menerpaku.” (HR. Muslim)

Renungan Kedua
Hiduplah sesuka hatimu, tumpahkan dan hamburkan kesenangan demi kesenangan untuk memuaskan nafsumu. Katakan semaumu tentang Islam, tentang orang-orang shalih, tentang ibadah dan kebajikan. Bergembiralah dan tertawalah sepuas-puasmu kepada dunia, kelak pada akhirnya engkau akan meregang ditengah sakaratul maut, entah kapan waktunya tapi itu pasti menimpamu, lalu engkaupun mati. Saat itu, malaikat tepat berada diatas kepalamu; hatimu bergetar, nyawamu meregang, mulutmu terkunci, seluruh tubuhmu terasa lemas, matamu terbelalak, sedang pintu taubat telah tertutup, orang-orang disekitarmu menangis sedang engkau sendiri mengerang melawan pedihnya sakratul maut, lalu nyawamu diangkat ke langit.

Pada waktu itu, barulah engkau tahu pasti dan yakin, bahwa selama ini engkau telah terpedaya. Tiada berguna lagi air mata darah, selanjutnya yang ada hanyalah siksa, derita dan merana sepanjang masa.

Saudaraku, sebelum semua ini terjadi, sebelum semuanya terlambat, selamatkanlah dirimu. Saudaraku…, yakinkan dirimu, dunia ini bukan akhir dari segalanya, masih ada negeri akhirat yang justru disanalah kehidupan yang sesungguhnya, tempat pembalasan atas amal yang dilakukan manusia di dunia, tempat pembalasan amal dengan seadil-adilnya.
Wallahu A’lam Bishshawaab….