Loading
APAKAH ini KEHENDAK ALLAH ??? will of ALLAH SWT? .. atau aku masih bermimpi saja? … mimpiku benar ? ======== Allah menciptakan berPASANGAN, === UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ===== “Tidak ada di SURGA sesuatu yang SAMA seperti yang ada di dunia kecuali nama-NAMA ORANG”. (HR Ath-Thabrani)————————-…… SURGA = mendapatkan apa yg mereka … KEHENDAKI.. Al Furqaan:16—————–—SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI …. Az Zukhruf:71——————……….di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya———————-﴾ Asy Syarh:5 ﴿————–Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,————-فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٥﴾————-﴾ Asy Syarh:6 ﴿—————sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.————إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٦﴾————————–———– ============ Kaya dan Miskin ========————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.——— =========== wallahua’lam | Edy Gojira >

APAKAH ini KEHENDAK ALLAH ??? will of ALLAH SWT? .. atau aku masih bermimpi saja? … mimpiku benar ? ======== Allah menciptakan berPASANGAN, === UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ===== “Tidak ada di SURGA sesuatu yang SAMA seperti yang ada di dunia kecuali nama-NAMA ORANG”. (HR Ath-Thabrani)————————-…… SURGA = mendapatkan apa yg mereka … KEHENDAKI.. Al Furqaan:16—————–—SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI …. Az Zukhruf:71——————……….di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya———————-﴾ Asy Syarh:5 ﴿————–Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,————-فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٥﴾————-﴾ Asy Syarh:6 ﴿—————sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.————إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٦﴾————————–———– ============ Kaya dan Miskin ========————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.——— =========== wallahua’lam

will of ALLAH SWT ? .. atau … aku masih bermimpi saja ? … mimpiku benar ?  wallahua’lam

== Allah menciptakan berPASANGAN, ==== UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah

==== Tidak ada di SURGA sesuatu yang SAMA seperti yang ada di dunia kecuali nama-NAMA ORANG. (HR Ath-Thabrani)
————————–————————-
…… SURGA = mendapatkan apa yg mereka … KEHENDAKI.. Al Furqaan:16
—SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI …. Az Zukhruf:71
……….di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya
———————-
﴾ Asy Syarh:5 ﴿————–
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,————-
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٥﴾————-
﴾ Asy Syarh:6 ﴿—————
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.————
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٦﴾
————————–———–
UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah 

———— ———— Kaya dan Miskin ————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah.

—– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.—

———— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.—

—– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———

– ————– Empat Jenis Manusia —————

– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia:

—- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.

—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—

– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.——

—- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.———  ====

======================

JODOH/pasangan “memberi BAHAGIA/ KETENTRAMAN” …. jika DEKAT, dan menjadikan KASIH dan SAYANG di antara KEDUAnya {jodoh/pasangan}
————————–————
JODOH/ PASANGAN /JENIS/ ISTRI {أَزْوٰجًا}… supaya … cenderung DEKAT/TENTRAM {لِّتَسْكُنُوٓا۟}… rasa KASIH {مَّوَدَّةً} dan Sayang { وَرَحْمَةً}
————————–————
﴾ Ar Ruum:21 ﴿
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri { أَزْوٰجًا/JODOH} dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung / merasa tenteram {لِّتَسْكُنُوٓا۟} kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih {مَّوَدَّةً} dan sayang { وَرَحْمَةً}. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir { يَتَفَكَّرُونَ }.

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿الروم:٢١﴾

﴾ Maryam:96 ﴿
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمٰنُ وُدًّا ﴿مريم:٩٦﴾

﴾ Al Balad:17 ﴿
Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ ﴿البلد:١٧﴾

referensi lain JODOH/PASANGAN/COUPLE/JENIS {أَزْوٰجًا}
﴾ Thaahaa:53 ﴿
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu JODOH /PASANGAN /berjenis-jenis { أَزْوٰجًا } dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.————————-
الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦٓ أَزْوٰجًا مِّن نَّبَاتٍ شَتَّىٰ ﴿طه:٥٣﴾
————————–—-
“Tidak ada seorang yang membujang pun di surga”[As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani]
……………………..……………………..……………………..………..
engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639
……………………..………………………
Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,—————
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ—————

Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

……………………..……………………..………
Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688)—————————-

﴾ Az Zukhruf:71 ﴿————–
Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.———————-
يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خٰلِدُونَ ﴿الزخرف:٧١﴾————————–

Sebagaimana firman Allah,————–
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ————————

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik” (Az-Zumar : 34)—————-

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ————————

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qaaf : 35)——————————

﴾ Al Furqaan:16 ﴿—————
Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).———————

لَّهُمْ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ خٰلِدِينَ ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعْدًا مَّسْـُٔولًا ﴿الفرقان:١٦﴾———————–
﴾ Asy Syuura:22 ﴿——————-
Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.—————————-
تَرَى ٱلظّٰلِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا۟ وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۗ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصّٰلِحٰتِ فِى رَوْضَاتِ ٱلْجَنَّاتِ ۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ ﴿الشورى:٢٢﴾—————————

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :————
وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ———————-

“Tidak ada seorang yang membujang pun di surga”[As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani]————————–

Allah Ta’ala berfirman,———————–

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ———————–

“Dan Kami lenyapkan/hilangkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Al-Hijr : 47)——————–

======================

Allah telah memberikan petunjuk Ahlu As-Sunnah wal-jama’ah kepada kebenaran; yaitu mereka adalah manusia yang paling bahagia dalam setiap kebenaran dan manusia yang paling bahagia dalam menetapi kebenaran dalam bab ini ( takdir ), mereka meyakini bahwa apapun yang terjadi atas kehendak Allah; tidak ada apapun yang terjadi keluar dari kehendak Allah.

Maka segala apapun yang terjadi di alam semesta ini; malaikat, jin, manusia, benda dan setiap perkara yang kecil dan yang besar; semuanya berjalan atas kehendak Allah, ketentuan Allah dan takdir Allah.

Makanya kita wajib meyakini ilmu Allah yang qadim, catatan Allah yang pertama dan semua apapun pasti berjalan atas kehendak Allah. Hal ini untuk merealisasikan kesempurnaan kerajaan Allah. Hanya milik Allah seluruh kerajaan, tidak ada sesuatupun yang keluar dari kerajaan Allah. Maka semua urusan dan takdir adalah milik Allah.

Allah berfirman

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi” [ surat Al-Baqarah 107].

Banyak yang anda dapati hal yang sema’na ini dalam Al-Qur’an.

• Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“قدر اللَّهُ المَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ”

“Allah telah mentakdirkan seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi” [HR,Ahmad 2/169, dan lafadznya, dan Muslim 2653].
Oleh karena itu,
Abu Ja’far Atho-thohawy berkata:

“غلبت مشيئته المشيئات كلها، وغلب قضاؤه الحيل كلها”

▪”Segala kehendak apapun pasti dikalahkan oleh kehendak Allah, dan segala usaha apapun pasti dikalahkan oleh ketentuan Allah” [Matan Aqidah Thohawiyyah].

• (Artinya: ) apa yang Allah kehendaki pasti terjadi walaupun makhluk tidak menghendakinya, dan apa yang para hamba kehendaki pasti tidak akan terjadi jikalau Allah tidak menghendakinya.

Sebagaimana Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

ما شئت كان وان لم أشأ
وما شئت إن لم تشأ لم يكن

Apapun yang Engkau (Allah) kehendaki pasti terjadi walaupun aku tidak menghendakinya

Dan apapun yang aku kehendaki pasti tidak akan terjadi jikalau Engkau ( Allah) tidak menghendakinya [Syarah Usul ‘Itiqad 4/777, dan Asma wa As- sifat hal 171].

Abu Ja’far Atho-thohawy berkata:

علمه وقضاؤه وقدره

“Ilmu Allah yang lama dan ketentuan Allah yang terjadi dan takdir Allah yang lalu” [Matan Aqidah Thohawiyyah].

•(Adalah) mengalahkan segala usaha makhluk, sebagaimana dalam do’a nabi shalallahu alaihi wasallam:

“ماض في حكمك، عدل في قضاؤك”

“HukumMu berlaku padaku dan ketetapanMu padaku adalah adil” [HR, Ahmad 1/391, Ibnu Hibban menshahihkannya 972, Hakim 1/509, Ibnu Qayyim dalam shawaaiq al-mursalah 3/913, Ibnu Hajar menghasankannya sebagaimana dalam Futuuhat Rabbaniyyah 4/13 dari hadist Ibnu Mas’ud, Addaaruqutni dalam ‘Ilal berkata sanadnya tidak kuat 5/200].

Oleh karena itu walaupun makhluk selalu terus berusaha; maka apapun usaha mereka tidak akan sempurna jikalau menyelisihi ketentuan Allah, dan begitupula tidak akan berjalan dan tidak pula sempurna segala usaha apapun melainkan karena keputusan Allah dan ketentuan Allah.

Sebagaimana dalam wasiat nabi kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu:

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَوا عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

“Ketahuilah sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering” [HR, Ahmad 1/293, Tirmidzi 2516, berkata Tirmidzi Hasan Shahih, dan dhiya Mukhtaarah 10/22-25, Ibnu Rajab menghasankannya dalam Jaami’ Ulum wa Al-hikam hal 345].
Oleh karena itu, Abu Ja’far Atho-thohawy berkata:

“يفعل ما يشاء وهو غير ظالم أبدا”

▪”Allah berbuat apa yang Allah kehendaki dan selama-lamanya Allah tidak dzalim” [Matan Aqidah Thohawiyyah].

•Maka Allah memberi dan menolak, merendahkan dan mengangkat, memuliakan dan menghinakan, memberi hidayah dan menyesatkan, menghidupkan dan mematikan.

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

“Dia Allah yang mengatur urusan” [Surat Yunus 3].

يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya. [ Surat Ar-ra’du 26].

يُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَن يَشَاءُ ۖ

Allah menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya [ Surat Al- ‘Ankabut 21].

Semua itu berjalan sesuai kebijaksanaan Allah, maka hanya milik Allah hikmah dalam semua urusan, sebagaimana perkataan Abu Ja’far Athohaawi:

¶ “Allah memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki dan Allah menjaga dan memelihara ( kepada siapa yang Allah kehendaki) karena karunia-Nya, dan Allah menyesatkan kepada siapa yang Allah kehendaki dan Allah menghinakan dan memberi Ujian (kepada siapa yang Allah kehendaki) karena ke’adilan-Nya” [Matan Aqidah Thohawiyyah].

Maka Dia Allah memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki karena karunia-Nya dan hikmah-Nya, dan Dia Allah menyesatkan, menghinakan dan memberi Ujian kepada siapa yang Allah kehendaki karena keadilan-Nya dan hikmah-Nya.

Maka hikmah Allah adalah ada dalam semua urusan, maka Dia Allah meletakkan karunia-Nya pada tempatnya; karena susungguhnya kedzaliman itu adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan keadilan itu adalah menempatkan perkara pada tempatnya.

Maka Allah meletakkan karunia-Nya pada tempatnya, dimana Dia Allah berkehendak sesuai dengan hikmah itu, berbeda dengan pendapat Jahmiyyah dan orang yang mengikuti mereka seperti Asyaa’irah: sesungguhnya segala sesuatu itu berjalan sebatas kehendak Allah tanpa ada hikmah dalam takdir dan pengurusan ini.

Intinya adalah: kita wajib mengimani bahwa perbuatan-perbuatan Allah itu berjalan sesuai dengan keadilan dan hikmah.

Maka perbuatan-perbuatan Allah berputar antara karunia dan keadilan.

Sedangkan kedzaliman adalah sesuatu yang wajib disucikan dari Allah

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Dan sekali-kali tidaklah Allah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya [ surat Fusshilat 46].

وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.[ Surat Qaf 29].

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrahpun. [ Surat An-Nisa’ 40].

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mensucikan Allah dari sifat dzalim.

Makanya Allah tidak menyiksa seorangpun tanpa berbuat dosa, dan tidak pula menyiksa seorangpun karena dosa orang lain.

Terdapat dalam sebuah hadits dari nabi shalallahu alaihi wasallam:

لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ

“Jika seandainya Allah menyiksa seluruh penghuni langit dan bumi, maka Allah tidak berbuat zhalim dengan menyiksa mereka” [HR, Abu Dawud].

Maka Allah tidaklah menyiksa mereka melainkan karena ada penyebab untuk menyiksa mereka, walaupun Allah mampu menyiksa siapapun yang Allah kehendaki tanpa berbuat dosa, atau menyiksa siapapun yang Allah kehendaki karena dosa orang lain; akan tetapi Allah tidak melakukan hal itu karena kesempurnaan keadilan-Nya, sungguh Allah mengharamkan kedzaliman terhadap diri-Nya sebagaimana dalam hadits Qudsi dari Abu Dzar dari Nabi shallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمَاً فَلا تَظَالَمُوْا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram, maka janganlah kamu saling menzhalimi [HR, Muslim 2577].

Maka Dia Allah tidak akan dzalim dan tidak ridha kedzaliman kepada seorangpun dari para hamba-Nya.

Oleh karena itu Allah mengharamkan kedzaliman kepada para hamba-Nya dalam syari’at yang Allah turunkan kepada para utusan-Nya.

Lalu apabila disodorkan kepada manusia apapun yang terjadi; maka wajib baginya untuk tidak menjadikan keputusan itu berdasarkan akalnya yang kurang.

Oleh karena itu kebanyakan manusia yang dangkal ilmu mereka dan lemah iman mereka dalam jiwa mereka ada penolakan, atau melalui lisan mereka berani berbicara terhadap urusan Allah.

Anda mendengar sebagian orang apabila Allah menguji seorang hamba dengan suatu ujian ia berkata:

Allah menguji hamba ini padahal tidak pantas ujian tersebut kepada hamba ini!

Hal yang seperti ini adalah penentangan terhadap pengurusan Allah; bahkan yang wajib adalah meyakini hikmah Allah dalam pengurusan-Nya dan kesempurnaan keadilan-Nya.

Hal ini merupakan landasan pokok yang wajib diperhatikan; baik dalam ilmu, pemikiran dan penetapan, yaitu iman kepada kesempurnaan keadilan Allah dalam ciptaan-Nya, perintah-Nya dan balasan-Nya

Takdir Allah tidak disanggah dengan perkataan anda:

Mengapa Allah melakukan hal ini?

Mengapa terjadi begini?

Segala lintasan apapun yang terkandung penentangan terhadap pengurusan Allah, maka wajib seorang mu’min untuk menolaknya dengan keimanannya; bahwa Allah ta’ala Maha Bijaksana, hanya milik Allah kebijaksanaan yang sempurna dalam segala pengurusan dan takdir.[ lihat: ucapan berharga yang sema’na dengan ini dalam Zad Al-Ma’ad Ibnu Qayyim 3/235.

Oleh karena sifat Allah itu disucikan dari segala yang tercela:

Abu Ja’far Atho-thohawy berkata:

تقدس عن كل سوء وحين وتنزه عن كل عيب وشين

“Yaitu Allah bersih dari segala sifat yang buruk dan suci dari segala sifat ysng tercela” [ Matan Aqidah Thohawiyyah].

Artinya segala urusan yang tercela itu disucikan dari Allah.

Sebagaimana dalam do’a istiftah:

والشر ليس اليك

“Keburukan tidak dinisbatkan kepadaMu” [HR, Muslim 771].

Akan tetapi keburukan itu ada pada ciptaan-ciptaan Allah, adapun perbuatan Allah semuanya adalah adil dan hikmah.

Maka ciptaan Allah kepada perkara-perkara yang saling berlawanan yaitu baik dan buruk, yang bermanfaat dan yang memadzaratkan, malaikat dan syaitan, sehat dan sakit, kematian dan kehidupan, semua itu sesuai hikmah Allah, hanya bagi Allah hikmah yang sempurna dalam ciptaan-Nya yang bertolakbelakang.

Diantara hikmah Allah dalam ciptaannya ini ada yang nampak kepada kita, yaitu dengan cara memperhatikan, mentadaburi dan merenungkan, dan ada pula yang tersembunyi dari kita, dan hal ini adalah yang paling banyak.

Maka kewajiban kita terhadap hikmah yang tersembunyi adalah menyerahkan perkara itu kepada Ilmu Allah, dan kita meyakini bahwa hanya milik Allah hikmah yang sempurna, dan perincian hal itu tidak bisa diliputi oleh akal para hamba

وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا

Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmuNya. [ Surat Thoha 110].

Maka kita tidak bisa meliputi hikmah Allah sebagaimana kita tidak bisa meliputi ilmu ciptaan-Nya.

Lalu Allah mensifati diri-Nya dalam firman-Nya:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai [ surat Al-anbiya 23].

Maka hal ini adalah diantara yang Allah sifati terhadap diri-Nya bahwa Allah tidak boleh ditanyakan apa yang Allah perbuat, dan tidak boleh pertanyaan itu diarahkan kepada Allah, karena kesempurnaan hikmahnya, bukan karena kuat-Nya, kemampuan-Nya dan kekuasaan-Nya, karena barangsiapa siapa yang terkenal kesempurnaan hikmah-Nya, pasti tidak boleh ditanya:

Mengapa Engkau berbuat begini?

Mengapa terjadi dari-Mu begini?

Karena Allah adalah Maha bijaksana, adapun para hamba; maka sesungguhnya perkataan mereka, perbuatan mereka ada ruang untuk kurang, cacat, aib dan menyimpang, maka mereka adalah yang ditanya perbuatan-perbuatan mereka baik saat di dunia dengan hukum syar’i dan mereka akan ditanya pula di akhirat

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,
tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.[ surat Al-Hijr 92-93].

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang; umurnya untuk apa dia habiskan?, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan?, tentang hartanya dari mana dia peroleh? dan kemana dia infakkan? dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan?.” [HR, Addaarimi 543, Tirmidzi 2417 dia berkata: Hadits ini hasan shahih dari hadits Abi Bararah Al- Aslamy, lihat: silsilah shahihah 946].

Adapun Allah tidak ditanya: Mengapa Engkau berbuat begini ? dalam rangka penentangan.

Adapun pertanyaan untuk tambahan pengetahuan, maka tidak mengapa bertanya, seperti seseorang yang bertanya:

Apa hikmahnya dalam hal ini?
Mengapa Allah mensyariatkan begini?

Agar mengetahui hikmahnya bukan untuk menentang syari’at dan pengurusan.

Seperti Malaikat tatkala mereka bertanya kepada Rabb mereka bukan dalam rangka penentangan terhadap pengurusan Allah

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. [ Surat Al-Baqarah 30]

About Edy Gojira 734 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

4 Comments on APAKAH ini KEHENDAK ALLAH ??? will of ALLAH SWT? .. atau aku masih bermimpi saja? … mimpiku benar ? ======== Allah menciptakan berPASANGAN, === UJIAN/cobaan … bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA. ….. sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya …. adalah UJIAN dari Allah ===== “Tidak ada di SURGA sesuatu yang SAMA seperti yang ada di dunia kecuali nama-NAMA ORANG”. (HR Ath-Thabrani)————————-…… SURGA = mendapatkan apa yg mereka … KEHENDAKI.. Al Furqaan:16—————–—SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI …. Az Zukhruf:71——————……….di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya———————-﴾ Asy Syarh:5 ﴿————–Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,————-فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٥﴾————-﴾ Asy Syarh:6 ﴿—————sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.————إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ﴿الشرح:٦﴾————————–———– ============ Kaya dan Miskin ========————- Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. —– Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnya, konsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.————— Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.——– Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itu, secara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. ———– ————– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —- Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—- Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—– Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———- Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.——— =========== wallahua’lam

  1. ===== HIDUP ….. = UJIAN … “tidak ada UJIAN Nikmat di dunia” ,… “TIDAK ada ujian ISTIDRAJ” …..bagi orang BERIMAN …..—================ -ujian orang beriman = KECELAKAAN, KEMISKINAN, KEGUNDAHAN, KESEDIHAN, KESAKITAN, DUKA CITA, ….. utk mengHAPUS DOSA ======== “Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” (HR. Bukhari)============ “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik maka ditimpakan musibah (ujian) kepadanya.” (HR. Bukhari) ========= Dari Mush’ab bin Sa’d dari Ayahnya Sa’d bin Abu Waqash dia berkata, Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya?” beliau menjawab: “Para Nabi, kemudian kalangan selanjutnya (yang lebih utama) dan selanjutnya. Seorang hamba akan diuji sesuai kadar agamanya (keimanannya). Jika keimanannya kuat maka cobaannya pun akan semakin berat. Jika keimanannya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kadar imannya. Tidaklah cobaan ini akan diangkat dari seorang hamba hingga Allah membiarkan mereka berjalan di muka bumi dengan tanpa dosa.” (HR. Ibnu Majah)

  2. “BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI AKHIRAT, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KECUKUPAN DALAM HATINYA, DIA AKAN MENYATUKAN KEINGINANNYA YANG TERCERAI BERAI, DUNIA PUN AKAN DIA PEROLEH DAN TUNDUK HINA PADANYA. BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI DUNIA, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN DIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP, AKAN MENCERAI BERAIKAN KEINGINANNYA, DUNIA PUN TIDAK DIA PEROLEH KECUALI YANG TELAH DITETAPKAN BAGINYA.” (HR. TIRMIDZI) ——- CARA MEMBANGUN “RUMAH DI SURGA/KAMPUNG AKHIRAT/JANNAH” … … —– DG BERUSAHA KE ARAH KEHIDUPAN AKHIRAT {AL ISRAA’:19} ——- DG SUNGGUH-SUNGGUH DAN DALAM GOLONGAN MUKMIN —— ﴾ AL ISRAA’:19 ﴿

  3. ==== MIMPI BAIK dan BENAR ….. benar akan terbukti …… atau .. sudah terbukti di dunia …. Atau akan terbukti kebenarannya setelah MATI =========== MIMPI yang BAIK & BENAR .. pada MUKMIN (mukminin & mukminat) …….. diperlihatkan oleh Allah kepadanya … (sebelum event penenggelaman/pembenaman) ….=========Mimpi baik seorang mukmin merupakan khabar gembira bagi amal-amal baiknya dan merupakan sebahagian tanda dekatnya kiamat/assaah.malapetaka/awal tanda kiamat PENENGGELAMAN/pembenaman ke dalam bumi. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman, sedikit sekali yang bohong atau terjadi dari syaitan.==========>>>>>>> Hal itu akan terjadi ketika menjelang Kiamat/ malapetaka besar, kebanyakan ilmu (agama) diambil dan syari’at Islam telah terhapus dengan sebab fitnah dan banyaknya pembunuhan. Manusia seperti berada di zaman fathrah (zaman di antara dua Nabi), mereka membutuhkan seorang mujaddid dan pemberi pengingatan dalam masalah agama yang telah terhapus, sebagaimana umat terdahulu diingatkan oleh para Nabi. Akan tetapi, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir dan kenabian berakhir pada umat ini maka mereka digantikan dengan orang yang bermimpi dengan mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian dengan membawa kabar gembira dan peringatan.=======>>>>>>bisa juga Hal itu terjadi ketika jumlah orang-orang yang beriman sedikit, sementara kekufuran, kebodohan, dan kefasikan menimpa orang-orang yang ada. Sehingga seorang mukmin merasa kesepian, lalu diberikan pertolongan dengan mimpi yang benar sebagai penghormatan dan penghibur baginya. =============wallahua’lam………..Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu Mushir; “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim) …………. hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah SAW bersabda , “ Tidak tersisa dari kenabian, kecuali peringatan peringatan.” Mereka bertanya, “Apa peringatan peringatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “ Mimpi yang baik atau benar.”(HR Bukhari) ………………………Rasulullah SAW bersabda,” Jika zaman itu telah dekat (kiamat) , banyak mimpi orang beriman tidak bohong. Dan, sebenar benar mimpi di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan.” (HR Muslim) …………….. wallahua’lam ====

  4. salah satu ciri seorang MUKMIN …..adalah hatinya bergetar dan berTAMBAH IMAN-nya ketika dibacakan Al-Quran dan ……matapun bisa MENANGIS BAHAGIA.
    ……………………..…………………
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam … JUGA berlinang air mata {MENANGIS} … ketika dibacakan Al-Quran.
    ………………………….
    Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

    قال لي النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : ” اقْرَأْ علَّي القُرآنَ ” قلتُ : يا رسُولَ اللَّه ، أَقْرَأُ عَلَيْكَ ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟ ، قالَ : ” إِني أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي ” فقرَأْتُ عليه سورَةَ النِّساء ، حتى جِئْتُ إلى هذِهِ الآية : { فَكَيْفَ إِذا جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّة بِشَهيد وِجئْنا بِكَ عَلى هَؤلاءِ شَهِيداً } [ النساء / 40 ] قال ” حَسْبُكَ الآن ” فَالْتَفَتَّ إِليْهِ ، فَإِذَا عِيْناهُ تَذْرِفانِ) .

    “Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).
    ——————————-
    orang BERIMAN Bergetar hatinya dan mata bisa menangis
    ——————————-
    Allah menyebutkan salah satu ciri seorang yang berimana dalah hatinya peka terhadap Al-Quran. Peka dan bergetar ketika disebut nama Allah. Allah Ta’ala berfirman,

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).
    —————————
    Dan mata menagis ketika dibacakan Al-Quran. Berikut kisah panutan kita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlinang air mata ketika dibacakan Al-Quran. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

    قال لي النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : ” اقْرَأْ علَّي القُرآنَ ” قلتُ : يا رسُولَ اللَّه ، أَقْرَأُ عَلَيْكَ ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ ؟ ، قالَ : ” إِني أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي ” فقرَأْتُ عليه سورَةَ النِّساء ، حتى جِئْتُ إلى هذِهِ الآية : { فَكَيْفَ إِذا جِئْنا مِنْ كُلِّ أُمَّة بِشَهيد وِجئْنا بِكَ عَلى هَؤلاءِ شَهِيداً } [ النساء / 40 ] قال ” حَسْبُكَ الآن ” فَالْتَفَتَّ إِليْهِ ، فَإِذَا عِيْناهُ تَذْرِفانِ) .

    “Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).

    Mata menangis akan tetapi hati berbahagia

    Bagaimana tidak bahagia? Sementara air mata mengalir deras, ia bergumam, “akhirnya, akhirnya, akhirnya, mata ini menangis karena Allah? Bagaimana tidak bahagia, ia langsung teringat keutamaan menangis karena Allah. Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

    “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya” (HR. Tirmidzi no. 1633).

    “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; …. dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis)” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

    “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya” (HR. Tirmidzi no. 1633).

    لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

    Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih Sunan At-Tirmidzi [1338]).
    >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

    lalu … THEN .. selanjutnya …. orang BERIMAN = TAKWA kepada ALLAH …
    ……………………..…..
    AKIDAH/TAUHID … yg LURUS …. TAAT kepada Allah ….. TAWAKAL dan …. berSANDAR kepada Allah
    ……………………..…………….. kesempurnaan takdir Allah dan bahwa Dialah yang mengatur segala urusan hamba-hamba-Nya….

    Ayat-ayat mengajarkan kita tentang akidah yang agung yang harus menancap kuat di dalam hati kita, yang memberikan pelajaran agar setiap hamba senantiasa istiqomah dalam ketaatan kepada Allah, selalu bertawakkal dan bersandar kepada-Nya. Ayat-ayat di atas juga mengajarkan kita agar senantiasa memanjatkan doa, memohon taufik dan istiqomah di jalan-Nya, karena Dialah yang menentukan hal tersebut.

    Mengetahui bahwa segala perkara itu berada di tangan Allah akan menjauhkan kita dari sifat sombong dan lupa diri, karena apa yang kita dapatkan adalah anugerah dari-Nya bukan semata-mata usaha kita. Selain itu, kita juga diajarkan agar ridha dan sabar atas hal-hal buruk yang menimpa kita dalam kehidupan dunia, karena yang demikian pula adalah ketepan dari-Nya atas hikmah yang Dia kehendaki. Dan masih banyak lagi buah-buah keimanan yang dapat kita petik dari mempelajari ayat-ayat

    Ya Allah, ya Rabbal ‘alamin, perbaikilah akidah kami, perbaikilah amalan kami dan jangan Engkau serahkan diri kami ini kepada diri kami sendiri. Engkau mengetahui kelemahan kami, tiada daya dan upaya melainkan atas kehendakmu jua. Ya Allah, ya Rabb kami berilah kami semua petunjuk kepada jalan yang lurus dan perbaikilah keadan kami.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

    “Maukah engkau aku beritahukan sebuah kalimat yang termasuk perbendaharaan di antara perbendaharaan surga?” Aku (Abu Musa) menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Katakanlah ‘laa haula wala quwwata illaa billaah’ (tiada daya dan upaya melainkan kehendak Allah semata).”

    Di dalam Musnad dijelaskan bahwa dianjurkan seseorang memperbanyak menyebut kalimat ini, karena kalimat ini merupakan wujud dari memohon pertolongan dan bertawakkal kepada Allah. Dengan meresapi kalimat ini, seorang hamba sadar bahwa dia adalah seorang yang lemah dan tidak berdaya di sisi Allah. Dan seseorang hamba menyadari bahwa tiada daya baginya untuk melaksanakan ketaatan dan teguh dalam keimanan kecuali atas kehendak Allah Tabaraka wa Ta’ala.

    Tiada daya bagi seorang hamba dalam melaksanakan bentuk apapun dari amalan ketaatan dan hal-hal yang maslahat bagi dunia dan akhiratnya kecuali atas kehendak Allah Tabaraka wa Ta’ala. Seorang hamba itu adalah seorang yang sangat fakir di sisi Allah Jalla wa ‘Ala dan Allah ‘Azza wa Jalla itu Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba-hamba-Nya dalam hal apapun. Allah Ta’ala berfirman,

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

    “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Fathir: 15-17)

Leave a Reply