Loading
yang tersisa ….. broken notes (KEHENDAK ALLAH SWT saja ….. keAJAIBan bagi-ku) ————– lesu …..sedih ….sadness …… ingat HADITS nabi SAW. —————- “Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat melainkan hanya seperti salah satu dari kalian mencelupkan tangannya ke dalam lautan, maka silakan dilihat apa yang dibawa oleh jarinya”. (HR. Muslim) ========== “BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI AKHIRAT, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KECUKUPAN DALAM HATINYA, DIA AKAN MENYATUKAN KEINGINANNYA YANG TERCERAI BERAI, DUNIA PUN AKAN DIA PEROLEH DAN TUNDUK HINA PADANYA. BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI DUNIA, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN DIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP, AKAN MENCERAI BERAIKAN KEINGINANNYA, DUNIA PUN TIDAK DIA PEROLEH KECUALI YANG TELAH DITETAPKAN BAGINYA.” (HR. TIRMIDZI) ——- CARA MEMBANGUN “RUMAH DI SURGA/KAMPUNG AKHIRAT/JANNAH” … … —– DG BERUSAHA KE ARAH KEHIDUPAN AKHIRAT {AL ISRAA’:19} ——- DG SUNGGUH-SUNGGUH DAN DALAM GOLONGAN MUKMIN —— ﴾ AL ISRAA’:19 ﴿ =========== MIMPI BAIK dan BENAR ….. benar akan terbukti …… atau .. sudah terbukti di dunia …. Atau akan terbukti kebenarannya setelah MATI =========== MIMPI yang BAIK & BENAR .. pada MUKMIN (mukminin & mukminat) …….. diperlihatkan oleh Allah kepadanya … (sebelum event penenggelaman/pembenaman) ….=========Mimpi baik seorang mukmin merupakan khabar gembira bagi amal-amal baiknya dan merupakan sebahagian tanda dekatnya kiamat/assaah.malapetaka/awal tanda kiamat PENENGGELAMAN/pembenaman ke dalam bumi. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman, sedikit sekali yang bohong atau terjadi dari syaitan.==========>>>>>>> Hal itu akan terjadi ketika menjelang Kiamat/ malapetaka besar, kebanyakan ilmu (agama) diambil dan syari’at Islam telah terhapus dengan sebab fitnah dan banyaknya pembunuhan. Manusia seperti berada di zaman fathrah (zaman di antara dua Nabi), mereka membutuhkan seorang mujaddid dan pemberi pengingatan dalam masalah agama yang telah terhapus, sebagaimana umat terdahulu diingatkan oleh para Nabi. Akan tetapi, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir dan kenabian berakhir pada umat ini maka mereka digantikan dengan orang yang bermimpi dengan mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian dengan membawa kabar gembira dan peringatan.=======>>>>>>bisa juga Hal itu terjadi ketika jumlah orang-orang yang beriman sedikit, sementara kekufuran, kebodohan, dan kefasikan menimpa orang-orang yang ada. Sehingga seorang mukmin merasa kesepian, lalu diberikan pertolongan dengan mimpi yang benar sebagai penghormatan dan penghibur baginya. =============wallahua’lam………..Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu Mushir; “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim) …………. hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah SAW bersabda , “ Tidak tersisa dari kenabian, kecuali peringatan peringatan.” Mereka bertanya, “Apa peringatan peringatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “ Mimpi yang baik atau benar.”(HR Bukhari) ………………………Rasulullah SAW bersabda,” Jika zaman itu telah dekat (kiamat) , banyak mimpi orang beriman tidak bohong. Dan, sebenar benar mimpi di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan.” (HR Muslim) …………….. wallahua’lam ==== | Edy Gojira >

yang tersisa ….. broken notes (KEHENDAK ALLAH SWT saja ….. keAJAIBan bagi-ku) ————– lesu …..sedih ….sadness …… ingat HADITS nabi SAW. —————- “Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat melainkan hanya seperti salah satu dari kalian mencelupkan tangannya ke dalam lautan, maka silakan dilihat apa yang dibawa oleh jarinya”. (HR. Muslim) ========== “BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI AKHIRAT, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KECUKUPAN DALAM HATINYA, DIA AKAN MENYATUKAN KEINGINANNYA YANG TERCERAI BERAI, DUNIA PUN AKAN DIA PEROLEH DAN TUNDUK HINA PADANYA. BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI DUNIA, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN DIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP, AKAN MENCERAI BERAIKAN KEINGINANNYA, DUNIA PUN TIDAK DIA PEROLEH KECUALI YANG TELAH DITETAPKAN BAGINYA.” (HR. TIRMIDZI) ——- CARA MEMBANGUN “RUMAH DI SURGA/KAMPUNG AKHIRAT/JANNAH” … … —– DG BERUSAHA KE ARAH KEHIDUPAN AKHIRAT {AL ISRAA’:19} ——- DG SUNGGUH-SUNGGUH DAN DALAM GOLONGAN MUKMIN —— ﴾ AL ISRAA’:19 ﴿ =========== MIMPI BAIK dan BENAR ….. benar akan terbukti …… atau .. sudah terbukti di dunia …. Atau akan terbukti kebenarannya setelah MATI =========== MIMPI yang BAIK & BENAR .. pada MUKMIN (mukminin & mukminat) …….. diperlihatkan oleh Allah kepadanya … (sebelum event penenggelaman/pembenaman) ….=========Mimpi baik seorang mukmin merupakan khabar gembira bagi amal-amal baiknya dan merupakan sebahagian tanda dekatnya kiamat/assaah.malapetaka/awal tanda kiamat PENENGGELAMAN/pembenaman ke dalam bumi. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman, sedikit sekali yang bohong atau terjadi dari syaitan.==========>>>>>>> Hal itu akan terjadi ketika menjelang Kiamat/ malapetaka besar, kebanyakan ilmu (agama) diambil dan syari’at Islam telah terhapus dengan sebab fitnah dan banyaknya pembunuhan. Manusia seperti berada di zaman fathrah (zaman di antara dua Nabi), mereka membutuhkan seorang mujaddid dan pemberi pengingatan dalam masalah agama yang telah terhapus, sebagaimana umat terdahulu diingatkan oleh para Nabi. Akan tetapi, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir dan kenabian berakhir pada umat ini maka mereka digantikan dengan orang yang bermimpi dengan mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian dengan membawa kabar gembira dan peringatan.=======>>>>>>bisa juga Hal itu terjadi ketika jumlah orang-orang yang beriman sedikit, sementara kekufuran, kebodohan, dan kefasikan menimpa orang-orang yang ada. Sehingga seorang mukmin merasa kesepian, lalu diberikan pertolongan dengan mimpi yang benar sebagai penghormatan dan penghibur baginya. =============wallahua’lam………..Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu Mushir; “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim) …………. hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah SAW bersabda , “ Tidak tersisa dari kenabian, kecuali peringatan peringatan.” Mereka bertanya, “Apa peringatan peringatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “ Mimpi yang baik atau benar.”(HR Bukhari) ………………………Rasulullah SAW bersabda,” Jika zaman itu telah dekat (kiamat) , banyak mimpi orang beriman tidak bohong. Dan, sebenar benar mimpi di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan.” (HR Muslim) …………….. wallahua’lam ====

……….. hanya karena …..KEHENDAK ALLAH SWT saja ….. keAJAIBan dari Allah  untuk-kutulisan TIDAK HANCUR / hilang ………

“NABI MELIHAT DIRInya sendiri ” di JANNAH/surga
————– alhamdulillah ya Allah .. dg MIMPI yg kau berikan untukku .. wallahua’lam ————– melihat diriku sendiri di my JANNAH DREAM …

sebuah hadits yang berasal dari ‘Aisyah bahwa telah terjadi sebuah gerhana matahari pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam bersabda,
“Ketika aku berdiri disini, aku melihat semua yang telah dijanjikan kepadamu. Aku bahkan melihat diriku sendiri memetik beberapa buah di surga, ketika engkau melihat aku melangkah ke depan. Dan aku melihat api neraka, beberapa bagiannya memakan bagian-bagian yang lain, ketika engkau melihat aku melangkah ke belakang.”
HR Muslim

http://edy.upy.ac.id/2017/12/23/nabi-muhammad-ketika-melihat-surga-dan-neraka-nabi-melihat-dirinya-sendiri-di-jannah-surga-alhamdulillah-ya-allah-dg-mimpi-yg-kau-berikan-untukku-wallahual/

“BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI AKHIRAT, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KECUKUPAN DALAM HATINYA, DIA AKAN MENYATUKAN KEINGINANNYA YANG TERCERAI BERAI, DUNIA PUN AKAN DIA PEROLEH DAN TUNDUK HINA PADANYA. BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI DUNIA, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN DIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP, AKAN MENCERAI BERAIKAN KEINGINANNYA, DUNIA PUN TIDAK DIA PEROLEH KECUALI YANG TELAH DITETAPKAN BAGINYA.” (HR. TIRMIDZI)

——- CARA MEMBANGUN “RUMAH DI SURGA/KAMPUNG AKHIRAT/JANNAH” … … DG BERUSAHA KE ARAH KEHIDUPAN AKHIRAT {AL ISRAA’:19}

——- DG SUNGGUH-SUNGGUH DAN DALAM GOLONGAN MUKMIN —— ﴾ AL ISRAA’:19 ﴿

================

MIMPI BAIK dan BENAR ….. benar akan terbukti …… atau .. sudah terbukti di dunia …. Atau akan terbukti kebenarannya setelah MATI =========== MIMPI yang BAIK & BENAR .. pada MUKMIN (mukminin & mukminat) …….. diperlihatkan oleh Allah kepadanya … (sebelum event penenggelaman/pembenaman) ….=========Mimpi baik seorang mukmin merupakan khabar gembira bagi amal-amal baiknya dan merupakan sebahagian tanda dekatnya kiamat/assaah.malapetaka/awal tanda kiamat PENENGGELAMAN/pembenaman ke dalam bumi. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman, sedikit sekali yang bohong atau terjadi dari syaitan.==========>>>>>>>  Hal itu akan terjadi ketika menjelang Kiamat/ malapetaka besar, kebanyakan ilmu (agama) diambil dan syari’at Islam telah terhapus dengan sebab fitnah dan banyaknya pembunuhan. Manusia seperti berada di zaman fathrah (zaman di antara dua Nabi), mereka membutuhkan seorang mujaddid dan pemberi pengingatan dalam masalah agama yang telah terhapus, sebagaimana umat terdahulu diingatkan oleh para Nabi. Akan tetapi, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir dan kenabian berakhir pada umat ini maka mereka digantikan dengan orang yang bermimpi dengan mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian dengan membawa kabar gembira dan peringatan.=======>>>>>>bisa juga Hal itu terjadi ketika jumlah orang-orang yang beriman sedikit, sementara kekufuran, kebodohan, dan kefasikan menimpa orang-orang yang ada. Sehingga seorang mukmin merasa kesepian, lalu diberikan pertolongan dengan mimpi yang benar sebagai penghormatan dan penghibur baginya. =============wallahua’lam………..Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu Mushir; “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim) …………. hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah SAW bersabda , “ Tidak tersisa dari kenabian, kecuali peringatan peringatan.” Mereka bertanya, “Apa peringatan peringatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “ Mimpi yang baik atau benar.”(HR Bukhari) ………………………Rasulullah SAW bersabda,” Jika zaman itu telah dekat (kiamat) , banyak mimpi orang beriman tidak bohong. Dan, sebenar benar mimpi di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan.” (HR Muslim) …………….. wallahua’lam  ===============

lesu …..sedih ….sadness …… ingat HADITS nabi SAW.

“Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat melainkan hanya seperti salah satu dari kalian mencelupkan tangannya ke dalam lautan, maka silakan dilihat apa yang dibawa oleh jarinya”. (HR. Muslim)

http://edy.upy.ac.id/2020/12/06/lesu-sedih-sadness-demi-allah-tidaklah-kehidupan-dunia-dibandingkan-akhirat-melainkan-hanya-seperti-salah-satu-dari-kalian-mencelupkan-tangannya-ke-dalam-lautan-maka-silakan-dilihat/

==============

AL-MUBASSYIRAT MIMPI BENAR MUKMININ AKHIR ZAMAN

Apa itu mubasyirat? Mubasyirat ialah mimpi yang benar dan baik .

#1) As-Syuura (42) a. 51: Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana

#2) Dalam Surat Yunus ayat 64 Allah berfirman: “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.”

#3) As-Syu’ara (26) a. 208-209: Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri, kecuali setelah ada orang-orang yang memberi peringatan kepadanya; untuk (menjadi) peringatan. Dan Kami tidak berlaku zhalim.

Hadis – hadis berkaitan:
#1) Dari Abu Hurairah RA Berkata: bahwasanya Nabi s.a.w bersabda : “Apabila telah dekat Hari Kiamat maka mimpi orang mukmin nyaris tidak pernah bohong. Mimpi orang mukmin itu merupakan satu dari empat puluh enam bagian tanda-tanda kenabian, dan apa-apa yang berasal dari kenabian tidak mengandung dusta.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

#2) Diriwayatkan dari Ummu Kurz, Sabda Rasulullah:”Telah habis kenabian, tetapi tinggal Mubasyirat (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

#3) Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Sabda RAsulullah:”Tidak ketinggalan dari (urusan) kenabian melainkan Mubasyirat. Sahabat-sahabat bertanya: Apa dia Mubasyirat? Sabdanya: Mimpi yang baik. (HR. Bukhari)

#4) Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka seakan-akan dia melihatku pada saat terjaga dan setan tidaklah dapat menyerupaiku.” (HR. Bukhari)

#5) Berkata Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang telah melihatku dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia telah melihat yang benar (Al-haq).” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

#6) At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa seorang penduduk Mesir bertanya kepada Abu Darda RA mengenai firman Allah ini. Abu Darda’ menjawab: “Tidak ada seorangpun bertanya tentang ayat ini semenjak aku bertanya kepada Rasulullah SAW dan beliau menjawab: “Tidak seorangpun bertanya kepadaku tentang ayat ini selain engkau semenjak ayat ini diturunkan. Ayat ini menjelaskan mimpi baik, yang di alami seorang muslim.” (HR At-Tirmidzi)

#7) Sahih Bukhari: 9, 119:
Riwayat Abu Huraira: “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada sisa dari kenabian kecuali Al-mubashshirat.” Mereka bertanya, “Apakah Al-mubashshirat?” Beliau SAW menjawab: “Mimpi yang baik (yang memberitakan kabar gembira).”

===============

Allah Ta’ala berfiman,

قَالَ الله تَعَالَى: {وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ}

الروم: 23

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari…” (QS. Ar-Ruum: 23)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ: «لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلاَّ المُبَشِّرَاتِ» قَالُوْا: وَمَا المُبَشِّرَاتُ؟ قَالَ: «الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ». رَوَاهُ البُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak tersisa dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa kabar gembira tersebut?’ Beliau menjawab, ‘Mimpi yang baik.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6990]

وَعَنْهُ: أنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤيَا المُؤْمِنِ تَكْذِبُ، وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
وَفِي رِوَايَةٍ: «أَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا، أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا».

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila telah datang waktunya (kiamat),  hampir tidak ada mimpi soerang mukmin yang dusta. Dan mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 7017 dan Muslim, no. 2263]

Tentang Mimpi dan Tidur

Yang dimaksud mimpi di sini adalah mimpi ketika tidur. Ketika seseorang tidur, maka ia mengalami kematian kecil.

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)

Begitu juga Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖفَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az-Zumar: 42)

==================

Macam-Macam Mimpi

Pertama: Mimpi yang baik (ru’ya shalihah hasanah), yaitu jika seseorang bermimpi hal yang ia sukai. Mimpi ini datangnya dari Allah dan itu suatu nikmat. Karena jika ia bermimpi seperti itu, ia jadi semangat dan bergembira. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلاَّ المُبَشِّرَاتِ

Tidak tersisa dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.

Kedua: Mimpi buruk (ru’ya makruhah), mimpi ini datang dari setan. Mimpi ini menggelisahkan. Salah satu terapi dari mimpi seperti ini adalah membaca ta’awudz, yaitu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Mimpi ini baiknya tidak diceritakan kepada orang lain dan yang bermimpi harus bersabar dalam hal itu.

Karena ingatlah bahwa setan itu musuh manusia dan berusaha menyakiti, juga membuat sedih manusia. Coba kita renungkan dengan baik ayat berikut,

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِۚوَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (QS. Al-Mujadalah: 10)

Ketiga: Mimpi biasa yang tidak ada maksud apa pun. Biasanya itu cuma bisikan jiwa atau suatu pikiran yang akhirnya terbawa dalam mimpi.


MAKNA SABDA NABI: MIMPI SEORANG MUKMIN BAGIAN DARI NUBUWWAH ———

Apa makna sabda Nabi:
“Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah (kenabian).”
Kalau begitu siapakah yang benar mimpinya?
“Makna sabda Nabi :
adalah apa yang diimpikan seorang mukmin akan terjadi dengan benar, karena mimpi tersebut merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi. Terkadang mimpi itu adalah berita tentang sesuatu yang sedang atau akan terjadi. Kemudian sesuatu itu benar terjadi persis seperti yang diimpikan. Dengan demikian, dari sisi ini mimpi diibaratkan seperti nubuwwah dalam kebenaran apa yang ditunjukkannya, walaupun mimpi berbeda dengan nubuwwah. Karena itulah mimpi dikatakan satu dari 46 bagian nubuwwah. Kenapa disebut 46 bagian, karena hal ini termasuk perkara tauqifiyyah1. Tidak ada yang mengetahui hikmahnya sebagaimana halnya bilangan-bilangan rakaat dalam shalat2.
Adapun ciri orang yang benar mimpinya adalah seorang mukmin yang jujur, bila memang mimpinya itu mimpi yang baik/bagus. Jika seseorang dikenal jujur ucapannya ketika terjaga, ia memiliki iman dan takwa, maka secara umum mimpinya benar. Karena itulah hadits ini pada sebagian riwayatnya datang dengan menyebutkan adanya syarat, yaitu mimpi yang baik/bagus dari seorang yang shalih.
Dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah z disebutkan bahwa Nabi n bersabda:
“Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya.”
Akan tetapi perlu diketahui di sini bahwa mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya itu ada tiga macam:
Pertama: Mimpi yang benar lagi baik. Inilah mimpi yang dikabarkan oleh Nabi n sebagai satu dari 46 bagian kenabian. Secara umum, mimpinya itu tidak terjadi di alam nyata. Namun terkadang pula terjadi persis seperti yang dilihat dalam mimpi. Terkadang terjadi di alam nyata sebagai penafsiran dari apa yang dilihat dalam mimpi. Dalam mimpi ia melihat satu permisalan kemudian ta’bir dari mimpi itu terjadi di alam nyata namun tidak mirip betul. Contohnya seperti mimpi Nabi n beberapa waktu sebelum terjadi perang Uhud. Beliau mimpi di pedang beliau ada rekahan/retak dan melihat seekor sapi betina disembelih. Ternyata retak pada pedang beliau tersebut maksudnya adalah paman beliau Hamzah z akan gugur sebagai syahid. Karena kabilah (kerabat/keluarga) seseorang kedudukannya seperti pedangnya dalam pembelaan yang mereka berikan berikut dukungan dan pertolongan mereka terhadap dirinya. Sementara sapi betina yang disembelih maksudnya adalah beberapa sahabat beliau g akan gugur sebagai syuhada. Karena pada sapi betina ada kebaikan yang banyak, demikian pula para sahabat g. Mereka adalah orang-orang yang berilmu, memberi manfaat bagi para hamba dan memiliki amal-amal shalih.
Kedua: Mimpi yang dilihat seseorang dalam tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau dari apa yang terjadi pada dirinya dalam hidupnya. Karena kebanyakan manusia mengimpikan dalam tidurnya apa yang menjadi bisikan hatinya atau apa yang memenuhi pikirannya ketika masih terjaga (belum tidur) dan apa yang berlangsung pada dirinya saat terjaga (tidak tidur). Mimpi yang seperti ini tidak ada hukumnya.
Ketiga: Gangguan dari setan yang bermaksud menakut-nakuti seorang manusia, karena setan dapat menggambarkan dalam tidur seseorang perkara yang menakutkannya, baik berkaitan dengan dirinya, harta, keluarga, atau masyarakatnya. Hal ini dikarenakan setan memang gemar membuat sedih kaum mukminin sebagaimana Allah l berfirman:
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia4 itu dari setan, dengan tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati, padahal pembicaraan itu tidaklah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka kecuali dengan izin Allah ….” (Al-Mujadalah: 10)
Setiap perkara yang dapat menyusahkan seseorang dalam hidupnya dan mengacaukan kebahagiaan hidupnya merupakan target yang dituju oleh setan. Ia sangat bersemangat untuk mewujudkannya, baik orang yang hendak diganggunya itu tengah terjaga atau sedang larut dalam mimpinya. Karena memang setan merupakan musuh sebagaimana Allah l berfirman:
“Sesungguhnya setan itu merupakan musuh bagi kalian maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (Fathir: 6)
Terhadap bentuk mimpi yang ketiga ini, kita dibimbing oleh Rasulullah n untuk berlepas diri darinya. Beliau memerintahkan kepada orang yang bermimpi melihat perkara yang dibencinya agar berlindung kepada Allah l dari gangguan setan dan dari kejelekan apa yang dilihatnya. Kemudian ia meludah sedikit ke arah kirinya sebanyak tiga kali, mengubah posisi tidurnya dengan membalikkan lambung/rusuknya ke arah lain dan tidak boleh menceritakan mimpi tersebut kepada seorang pun. Bila seseorang telah melakukan bimbingan Rasul yang telah disebutkan ini, niscaya mimpi buruknya itu tidak akan memudaratkannya sedikitpun. Hal ini banyak terjadi di kalangan manusia. Banyak pertanyaan yang datang tentang permasalahan ini, namun obatnya adalah apa yang telah diterangkan oleh Nabi n, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah c yang diriwayatkan Al-Imam Muslim .
Rasulullah  bersabda:
“Bila seseorang dari kalian bermimpi hal yang dibencinya (mimpi buruk), hendaklah meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali dan berlindung kepada Allah dari gangguan setan tiga kali, serta memalingkan lambung/rusuknya ke arah yang berbeda dengan yang sebelumnya.”
Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri z yang diriwayatkan  Al-Imam Al-Bukhari t:
“Bila seseorang dari kalian bermimpi perkara yang dibencinya (mimpi buruk) maka hanyalah mimpi itu dari setan. Karena itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari kejelekan mimpi tersebut dan janganlah ia ceritakan mimpinya kepada seorang pun. Sungguh mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”
Dalam hadits Abu Qatadah z yang dikeluarkan Al-Imam Muslim  disebutkan bahwa Abu Qatadah berkata:
“Aku pernah bermimpi buruk hingga mimpi itu membuatku sakit/lemah. Sampai akhirnya aku mendengar Rasulullah n bersabda bahwa mimpi yang bagus itu dari Allah, maka bila salah seorang dari kalian bermimpi melihat perkara yang disukainya maka jangan ia ceritakan mimpi tersebut kecuali kepada orang yang dicintainya. Bila yang diimpikan itu perkara yang tidak disukai (mimpi buruk), hendaklah ia meludah sedikit ke kiri tiga kali, berlindung kepada Allah dari kejelekan setan dan dari kejelekan mimpi tersebut, dan jangan ia ceritakan mimpi itu kepada seorang pun.
Bila demikian yang dilakukannya niscaya mimpi itu tidak akan memudaratkannya.”
Adapun dalam hadits Abu Hurairah z disebutkan bahwa Nabi n bersabda:
“Bila seseorang dari kalian melihat perkara yang dibencinya dalam mimpinya maka hendaklah ia bangkit dari tempat tidurnya (untuk berwudhu) lalu mengerjakan shalat dan jangan ia ceritakan mimpinya itu kepada manusia.” (HR. Muslim)
====================

Mimpi baik seorang mukmin merupakan khabar gembira bagi amal-amal baiknya dan merupakan sebahagian tanda dekatnya kiamat/assaah.malapetaka/awal tanda kiamat PENENGGELAMAN/pembenaman ke dalam bumi. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman, sedikit sekali yang bohong atau terjadi dari syaitan.

nabi bersabda:  إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ ============ “Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: penenggelaman permukaan bumi di timur, penenggelaman permukaan bumi di barat, penenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab, keluarnya asap, keluarnya Dajjal, keluarnya binatang besar, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, dan api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang menggiring manusia, serta turunnya Isa bin Maryam alaihissallam.” (HR Muslim).============

Rasulullah SAW bersabda, “Jika zaman itu telah dekat (kiamat), banyak mimpi orang beriman tidak bohong. Dan, sebenar-benar mimpi di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan. “(HR Muslim)

صحيح مسلم 4203: و حدثنا إسمعيل بن الخليل أخبرنا علي بن مسهر عن الأعمش ح و حدثنا ابن نمير حدثنا أبي حدثنا الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رؤيا المسلم يراها أو ترى له وفي حديث ابن مسهر الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءا من النبوة

Dan telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Al Khalil; Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Al A’masy; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair; Telah menceritakan kepada kami Bapakku telah menceritakan kepada kami al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu Mushir; “Mimpi yang baik adalah sebahagian daripada empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim)

Demikianlah Rasulullah SAW menganggap masa kenabiannya telah habis dan tinggal peringatan-peringatannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak tersisa dari kenabian, kecuali peringatan-peringatan.” Mereka bertanya, “Apa peringatan peringatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Mimpi yang baik atau benar.”

Para ulama membahagikan kebenaran mimpi orang mukmin menjadi tiga bahagian iaitu:

1. Berlaku dalam keadaan memerangi kekafiran dan kebodohan. Maka, orang mukmin terhibur dengan mimpi baik itu.

2. Berlaku dalam penguasaan ilmu ketika terjadi kekacauan dan fitnah. Dalam keadaan seperti ini, orang mukmin juga terhibur dengan mimpi yang baik itu.

3. Berlaku pada zaman turunnya Isa as dan kekhilafahan Al Mahdi kerana pada waktu itu, zaman telah berubah menjadi baik, sebagaimana Rasulullah SAW memberitahu kepada kita bahwa pada waktu itu, mimpi orang orang mukmin yang jujur tidak bohong.
Wallahu’alam bissawab

……………………..……………………...
Dan di antara tanda-tandanya adalah benarnya mimpi seorang mukmin di akhir zaman. Setiap kali seseorang yang benar dalam keimanannya, maka mimpinya pun benar. Dijelaskan dalam ash-Shahiihain [1] dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اقْتَـرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ، وَأَصْدَقُكُـمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا، وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُـزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ.

‘Jika Kiamat sudah dekat, maka hampir-hampir mimpi seorang muslim tidak dusta. Mimpi kalian yang paling benar adalah yang paling benar pembicaraannya. Dan mimpi seorang muslim adalah satu bagian dari empat puluh lima bagian kenabian.’”. Ini adalah lafazh Muslim.

Sementara dalam lafazh al-Bukhari:

لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ … وَمَا كَانَ مِنَ النُّبُوَّةِ فَإِنَّهُ لاَ يَكْذِبُ.

“Hampir saja mimpi seorang mukmin tidak dusta… dan apa saja yang berasal dari kenabian, maka ia tidak dusta.”.

Ibnu Abi Hamzah rahimahullah berkata, “Makna ungkapan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman tidak dusta adalah sebagian besar mimpi seorang mukmin terjadi dalam bentuk yang tidak memerlukan tafsiran, dan kebohongan tidak akan pernah masuk ke dalamnya. Berbeda dengan mimpi yang sebelumnya, terkadang pentakwilannya agak samar sehingga seseorang menafsirkannya, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Maka masuklah kebohongan ke dalamnya dengan tafsiran tersebut.”

Beliau berkata, “Dan hikmah pengkhususan peristiwa tersebut di akhir zaman bahwasanya seorang mukmin ketika itu menjadi orang yang asing, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits:

بَدَأَ اْلإسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا.

“Islam datang dalam keadaan asing, lalu dia akan kembali asing sebagaimana awal kedatangannya.[2] [HR. Muslim]. Saat itu kawan seorang mukmin juga yang menolongnya sangat sedikit, maka dia dimuliakan dengan mimpi yang benar. [3].

Para ulama berbeda pendapat tentang penentuan waktu terjadinya mimpi seorang mukmin menjadi benar dengan beberapa pendapat: [4].

Pertama : Hal itu akan terjadi ketika menjelang Kiamat, kebanyakan ilmu (agama) diambil dan syari’at Islam telah terhapus dengan sebab fitnah dan banyaknya pembunuhan. Manusia seperti berada di zaman fathrah (zaman di antara dua Nabi), mereka membutuhkan seorang mujaddid dan pemberi pengingatan dalam masalah agama yang telah terhapus, sebagaimana umat terdahulu diingatkan oleh para Nabi. Akan tetapi, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir dan kenabiaan berakhir pada umat ini maka mereka digantikan dengan orang yang bermimpi dengan mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian dengan membawa kabar gembira dan peringatan. Pendapat ini diperkuat dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu :

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ.

“Zaman saling berdekatan dan ilmu diambil.” [5].

Ibnu Hajar rahimahullah menguatkan pendapat ini.

Kedua: Hal itu terjadi ketika jumlah orang-orang yang beriman sedikit, sementara kekufuran, kebodohan, dan kefasikan menimpa orang-orang yang ada. Sehingga seorang mukmin merasa kesepian, lalu diberikan pertolongan dengan mimpi yang benar sebagai penghormatan dan penghibur baginya.

Pendapat ini hampir sama dengan perkataan Ibnu Abi Hamzah terdahulu. Berdasarkan dua pendapat ini, maka mimpi seorang mukmin tidak khusus pada zaman tertentu. Akan tetapi, setiap kali kekosongan dunia semakin mendekat, agama semakin merosot, maka saat itu mimpi seorang mukmin yang jujur adalah benar.

Ketiga: Hal itu khusus terjadi pada masa Nabi ‘Isa Alaihissallam (di akhir zaman), karena penduduk pada zamannya adalah umat terbaik setelah kurun pertama. Perkataan mereka paling benar, maka mimpi seorang mukmin yang jujur dengan imannya pada saat itu benar-benar terjadi, wallaahu a’lam.

berbagai sumber
_________
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab at-Ta’biir, bab al-Qaid fil Manaam (XII/404, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab ar-Ru’-yaa, (XV/20, Syarh an-Nawawi).
[2]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaanul Islaam Bada-a Ghariiban wa Saya’uudu Ghariiban (II/176, Syarh Muslim).
[3]. Fat-hul Baari (XII/406).
[4]. Lihat kitab Fat-hul Baari (XII/406-407).
[5]. Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi, bab Raf’ul ‘Ilmi (XVI/222, Syarh an-Nawawi).

==================

About Edy Gojira 734 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

3 Comments on yang tersisa ….. broken notes (KEHENDAK ALLAH SWT saja ….. keAJAIBan bagi-ku) ————– lesu …..sedih ….sadness …… ingat HADITS nabi SAW. —————- “Demi Allah, tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat melainkan hanya seperti salah satu dari kalian mencelupkan tangannya ke dalam lautan, maka silakan dilihat apa yang dibawa oleh jarinya”. (HR. Muslim) ========== “BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI AKHIRAT, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KECUKUPAN DALAM HATINYA, DIA AKAN MENYATUKAN KEINGINANNYA YANG TERCERAI BERAI, DUNIA PUN AKAN DIA PEROLEH DAN TUNDUK HINA PADANYA. BARANGSIAPA YANG NIATNYA ADALAH UNTUK MENGGAPAI DUNIA, MAKA ALLAH AKAN MENJADIKAN DIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP, AKAN MENCERAI BERAIKAN KEINGINANNYA, DUNIA PUN TIDAK DIA PEROLEH KECUALI YANG TELAH DITETAPKAN BAGINYA.” (HR. TIRMIDZI) ——- CARA MEMBANGUN “RUMAH DI SURGA/KAMPUNG AKHIRAT/JANNAH” … … —– DG BERUSAHA KE ARAH KEHIDUPAN AKHIRAT {AL ISRAA’:19} ——- DG SUNGGUH-SUNGGUH DAN DALAM GOLONGAN MUKMIN —— ﴾ AL ISRAA’:19 ﴿ =========== MIMPI BAIK dan BENAR ….. benar akan terbukti …… atau .. sudah terbukti di dunia …. Atau akan terbukti kebenarannya setelah MATI =========== MIMPI yang BAIK & BENAR .. pada MUKMIN (mukminin & mukminat) …….. diperlihatkan oleh Allah kepadanya … (sebelum event penenggelaman/pembenaman) ….=========Mimpi baik seorang mukmin merupakan khabar gembira bagi amal-amal baiknya dan merupakan sebahagian tanda dekatnya kiamat/assaah.malapetaka/awal tanda kiamat PENENGGELAMAN/pembenaman ke dalam bumi. Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa mimpi seorang mukmin di akhir zaman, sedikit sekali yang bohong atau terjadi dari syaitan.==========>>>>>>> Hal itu akan terjadi ketika menjelang Kiamat/ malapetaka besar, kebanyakan ilmu (agama) diambil dan syari’at Islam telah terhapus dengan sebab fitnah dan banyaknya pembunuhan. Manusia seperti berada di zaman fathrah (zaman di antara dua Nabi), mereka membutuhkan seorang mujaddid dan pemberi pengingatan dalam masalah agama yang telah terhapus, sebagaimana umat terdahulu diingatkan oleh para Nabi. Akan tetapi, Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir dan kenabian berakhir pada umat ini maka mereka digantikan dengan orang yang bermimpi dengan mimpi yang benar, yang merupakan bagian dari kenabian dengan membawa kabar gembira dan peringatan.=======>>>>>>bisa juga Hal itu terjadi ketika jumlah orang-orang yang beriman sedikit, sementara kekufuran, kebodohan, dan kefasikan menimpa orang-orang yang ada. Sehingga seorang mukmin merasa kesepian, lalu diberikan pertolongan dengan mimpi yang benar sebagai penghormatan dan penghibur baginya. =============wallahua’lam………..Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpinya orang muslim adalah yang dia lihat, atau yang diperlihatkan kepadanya. Dan di dalam Hadits Ibnu Mushir; “Mimpi yang baik adalah bagian dari empat puluh enam kenabian.” (HR Muslim) …………. hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah SAW bersabda , “ Tidak tersisa dari kenabian, kecuali peringatan peringatan.” Mereka bertanya, “Apa peringatan peringatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “ Mimpi yang baik atau benar.”(HR Bukhari) ………………………Rasulullah SAW bersabda,” Jika zaman itu telah dekat (kiamat) , banyak mimpi orang beriman tidak bohong. Dan, sebenar benar mimpi di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan.” (HR Muslim) …………….. wallahua’lam ====

  1. Kehidupan Akhirat Lebih Baik dari Dunia
    Orang yang bertakwa itu berangkat meninggalkan dunia menuju kebahagiaan akhirat. Mereka bersama-sama hidup di dunia, tetapi orang yang cinta dunia tidak mengikuti mereka menyiapkan bekal untuk akhirat.

    Orang yang bertakwa tinggal di dunia dengan tenang. Mereka menikmati makanan yang baik. Mereka merasa telah meraih dunia berlebih-lebihan. Kemudian mereka berpaling meninggalkannya, menyiapkan bekal menuju kebahagiaan abadi.

    Berkali-kali Allah Swt., menyebutkan dalam firmannya bahwa kehidupan akhirat adalah lebih baik dari kehidupan dunia. Seperti firman Allah dalam surat al-Taubah ayat 38:ِبمُتيِضَرَأِةَٰوَيَحۡلٱاَيۡنُدلٱَنِمِةَرِخلۡأٓٱُعََٰتَماَمَفِةَٰوَيَحۡلٱُدلٱاَيۡنيِفِةَرِخلۡأٓٱٌليِلَقاَلِإ١٣

    “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (QS. al-Taubah/9: 38).

    Asbāb al-Nuzūl: Ibnu Jarīrmeriwayatkan dari Mujāhid bahwa ia berkata tentang ayat ini, “ini ketika mereka diperintahkan untuk pergi dalam perang Tabuk setelah penaklukan Mekkah.

    Mereka diperintahkan untuk berangkat pada waktu musim panas yang terik, padahal buah-buahan sedang waktunya masak dan Al-Qurṭubīmenjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayatini diturunkan ketika Nabi Saw., mengajak kaum muslim untuk ikut serta dalam perang Tabuk namun mereka enggan ikut dan lebih memilih menetap di rumah-rumah mereka.

    Oleh karena itu diturunkanlah sebuah ayat yang menggambarkan buruknya perbuatan kaum muslim yang memilih untuk menikmati keduniaan dibandingkan dengan kenyamanan yang akan mereka dapatkan di akhirat nanti.mereka ingin berteduh serta mereka merasa berat untuk pergi. Maka Allah menurukan firman-Nya:

    Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk perang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?

    Al-Qurṭubī menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayatini diturunkan ketika Nabi Saw., mengajak kaum muslim untuk ikut serta dalam perang Tabuk namun mereka enggan ikut dan lebih memilih menetap di rumah-rumah mereka. Oleh karena itu diturunkanlah sebuah ayat yang menggambarkan buruknya perbuatan kaum muslim yang memilih untuk menikmati keduniaan dibandingkan dengan kenyamanan yang akan mereka dapatkan di akhirat nanti.

    Menurut Mutawallī al-Sya’rāwī, dalam ayat ini Allah menerangkanbahwa kehidupan akhirat lebih tinggi nilainya dan lebih banyak nikmatnya, sekalipun dunia dihiasi dengan segala kesenangannya. Nikmat dunia sejatinya tidak banyak, sebab sesungguhnya kenikmatan dunia itu tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan nikmat yang akan didapatkan kelak di akhirat.23Hal ini sejalan dengan Abū Ja’far yang mengatakan bahwa tidaklah kehidupan dan kesenangan dunia yang mereka nikmati, bila dibandingkan dengan kenikmatan akhirat dan kemuliaan yang Allah Swt., siapkan untuk wali-wali-Nya dan orang-orang yang menaatinya melainkan hanyalah sedikit dan tidak bernilai.

    Hal ini sebagaimana perumpamaan yang diberikan oleh Nabi Saw., dalam sabdanya:ِهللاَو؟ُعِجْرَيَمِبْرُظْنَيْلَفِمَيْلايِفُهَعَبْصِإْمُكُدَحَأُلَعْجَياَمُلْثِمَّلِإِةَرِخلآايِفاَيْنُّدلااَم(رواه المسلم)

    “Demi Allah, dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan salah satu jemarinya ke laut, maka lihatlah apa yang ada pada jarinya tersebut saat ia keluarkan dari laut.” (HR. Muslim)

    Mengenai hal ini dalam ayat lain juga disebutkan:يِقَوَنيِذَلِلَلْاۡوَقَتٱِهِذََٰهيِفْاوُنَسۡحَأَنيِذَلِلۗاٗرۡيَخْاوُلاَقَۚۡمُكُبَرَلَزنَأٓاَذاَماَيۡنُدلٱُراَدَلَوَۚٞةَنَسَحِةَرِخلۡأٓٱُراَدَمۡعِنَلَوَۚٞرۡيَخَنيِقَتُمۡلٱ١

    “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (QS. al-Naḥl/16:30)

    Ayat ini mengisyaratkan bahwa kebaikan ada pada dunia dan akhirat hanya saja salah satu dari keduanya memiliki kebaikan yang lebih dari yang lain. Oleh sebab itu ketika Allah berfirman: “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan yang baik).” “Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik”.

    Maksudnya lebih baik dari kebaikan dunia. Maka dunia adalah baik, dan akhir darinya adalah kebaikan akhirat.26Abū Ja’far memahami ayat ini maksudnya adalah sebaik-baik negri bagi orang yang takut kepada Allah di dunia sehingga menjaga diri dari siksa-Nya dengan menjalankan berbagai kewajiban-Nya dan menjauhi segala maksiat-Nya, adalah negri akhirat.

    Kebahagiaan yang akan diterima oleh mereka (orang yang bertakwa) itu sifatnya kekal, sedang kehidupan dunia hanya sementara. Kebahagiaan akhirat memberikan kepuasan dalam arti sebenar-benarnya, sedang kebahagiaan di dunia merupakan kebahagiaan yang sementara dan terbatas

    Mengenai kehidupan akhirat lebih baikdari dunia, dalam al-Qur’an juga dinyatakan bahwa pahala akhirat lebih baik dari kesenangan duniawi, Allah Swt., berfirman: ٓاَمَوُعََٰتَمَفٖءۡيَشنِممُتيِتوُأِةَٰوَيَحۡلٱاَيۡنُدلٱَدنِعاَمَوَۚاَهُتَنيِزَوَِللٱٞرۡيَخِقۡعَتاَلَفَأََٰۚٓيَقۡبَأَوَنوُل٥٣

    “Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya.”(QS. al-Qaṣaṣ/28: 60).

    Ayat ini menerangkan bahwa apa yang diberikan Allah bagi manusia baik berupa harta benda maupun keturunan hanya merupakan kesenangan duniawi. Kehidupan dunia dengan segala perhiasannya belum tentu menjamin keselamatan dan kebahagiaan mereka.

    Sebaliknya, pahala yang ada di sisi Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat adalah lebih baik, karena yang demikian itu kekal dan abadi. Berbeda dengan kesenangan duniawi yang dipujanya karena waktunya terbatas sekali, dan sesudah itu habis dan punah. Firman Allah: dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

    “Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.” (Āli ‘Imrān/3: 198).

    Bila akal sehat membandingkan antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat niscaya ia akan memilih akhirat. Selanjutnya al-Sya’rāwī menyajikan sebuah contoh seorang sahabat yang mendengar pahala mati syahid dan dia yakin tiada pintu antara dia dengan surga kecuali terbunuh di jalan Allah, dia membuang kurmanya lalu berperang dan mati syahid.

    Karena dia telah membandingkan antara nikmat dunia dan akhirat.

    30Hal ini sejalan dengan al-Qurṭubī yang mengatakan bahwa yang lebih utama dan lebih kekal yaitu kehidupan akhirat, dan arti kehidupan akhirat adalah surga.

    “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Naḥl/16:41)

    Asbāb al-Nuzūl: Ayat ini turun tentang sahabat Nabi Saw., di Mekkah, yaitu Bilāl, Ṣuhaib, Khabāb, ‘Āmmar dan Jandal b. Ṣuhaib, mereka disiksa oleh penduduk musrik Mekkah hingga mereka terpaksa mengatakan apa yang dikehendaki kaum kafir. Setelah dilepaskan, mereka pun berhijrah ke Madinah.

    Abū Ja’farmemahami ayat ini maksudnya adalahpahala Allah atas hijrah mereka (orang-orang yang berhijrah) di akhirat lebih besar, karena pahalanya adalah surga, yang kenikmatannyakekal abadi.

    Mengenai hal ini al-Sya’rāwī memberikan contoh apabila salah seorang sahabat memberikan sebagian hartanya kepada kaum Muhajirin, ‘Umar berkata: “Semoga Allah memberkatimu karenanya. Inilah yang dijanjikan oleh Allah di dunia dan apa yang disimpan-Nya diakhirat untukmu adalah lebih besar dari ini.

    Al-Qurṭūbī dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud pahala di akhirat itu lebih besar adalah lebih besar daripada yang harus diketahui oleh seseorang sebelum ia menyaksikannya, sesuai dengan firman Allah Swt.

    “Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS. al-Insān/76: 20).

    Cukup banyak orang-orang dewasa ini yang pada kehidupannnya secara tidak disadari terjerumus pada sifat cinta dunia, menganut paham hedonisme, sehingga mereka terlena, lalai, dan lupa akan kebahagiaan akhirat, padahal sudah seyogianya bagi umat muslim betul-betul menyadari bahwa sejatinya kehidupan dunia dan segala kesenangan dan kenikmatannya itu sangat tidak sebanding dengan kenikmatan dan kemuliaan yang didapatkan di akhirat.

  2. PERBANDINGAN ANTARA DUNIA DENGAN AKHIRAT

    Secara fithrah manusia mencintai dunia, karena memang Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan berbagai kesenangan dunia itu indah di mata manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman : زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali-‘Imrân/3:14]. Dunia itu hijau dan manis, maka hendaklah manusia berhati-hati dengan dunia. Jangan sampai kesenangan dunia mnejerumuskan ke dalam kemaksiatan dan melalaikan dari ketaatan kepada Sang Pencipta. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. [HR Muslim, no. 2742]. Maksud “dunia itu manis lagi hijau” adalah keindahan dan kenikmatan dunia itu seperti buah-buahan yang berwarna hijau dan manis, karena jiwa manusia berusaha untuk mendapatkannya. Atau maksudnya adalah dunia itu segera sirna, seperti sesuatu yang berwarna hijau dan manis juga akan segera rusak. Maksud “sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini”, yaitu Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kamu sebagai pengganti generasi-generasi sebelum kamu, lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan melihat apakah kamu melakukan ketaatan atau bermaksiat kepada-Nya dan mengikuti syahwat kamu. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita”, yaitu jangan sampai kamu terpedaya dengan dunia dan wanita. Kata wanita dalam hadits ini mencakup semua wanita, termasuk istri dan lainnya. Wanita yang paling banyak menyebabkan fitnah (keburukan) adalah istri, karena fitnahnya terus-menerus dan mayoritas manusia terpedaya dengan para istri. Oleh karena itu jangan sampai kita terpedaya dengan dunia dan melupakan akhirat. Karena seandainya manusia hidup puluhan tahun di dunia ini, dengan berbagai kenikmatan yang dimiliki, sesungguhnya semua itu kecil dibandingkan kenikmatan akhirat.

    DUNIA SANGAT SEDIKIT DIBANDINGKAN AKHIRAT

    Banyak orang terpedaya dengan keindahan dunia, sehingga melupakan amal untuk akhirat. Padahal sesungguhnya dunia itu sangat kecil dibandingkan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allâh” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [at-Taubah/9:38].

    Allâh Azza wa Jalla juga berfirman : بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. [al-A’la/87:16-17]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat perbandingan antara dunia dan akhirat. Perbandingan antara keduanya bagaikan seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka dunia bagaikan setetes air yang melekat pada jari-jarinya itu. Al-Mustaurid bin Syaddad Radhiyallahu anhu berkata: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini –perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858].

  3. DUNIA SANGAT REMEH DI SISI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

    Demikian juga dunia ini sangat remeh di sisi Allâh Azza wa Jalla , maka jangan sampai orang Mukmin memandang besar dan agung terhadap dunia yang remeh dan hina di sisi Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memberikan gambaran tentang remehnya dunia di sisi Allâh Azza wa Jalla , antara lain di dalam hadits berikut ini: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ ». Dari Jabir bin Abdillâh, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebuah pasar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dari ‘Aliyah (nama tempat, Pen.) dan para sahabat berada di sekelilingnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bangkai seekor kambing yang kecil telinganya, lantas beliau angkat batang telinga bangkai kambing tersebut seraya berkata: “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini dengan satu dirham?” Para sahabat menjawab: “Kami tidak suka sama sekali, apa yang bisa kami perbuat dari seekor bangkai kambing?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Bagaimana jika kambing itu untuk kalian?” Para sahabat menjawab: “Demi Allâh, apabila kambing itu masih hidup kami tetap tidak mau karena dia telah cacat, yaitu telinganya kecil, bagaimana lagi jika sudah menjadi bangkai!” Rasûlullâh akhirnya bersabda: “Demi Allâh, dunia itu lebih hina di sisi Allâh daripada seekor bangkai kambing ini bagi kalian”. [HR Muslim, no. 2957]. Di dalam hadits lain disebutkan: عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dunia di sisi Allâh sebanding dengan satu sayap nyamuk, niscaya Allâh tidak akan memberikan minum seteguk air kepada orang kafir”. [HR Tirmidzi, no. 2320 dan ini lafazhnya; juga Ibnu Majah, no. 4110; Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib wat-Targhib, no. 3240].

    AKHIR PERJALANAN DUNIA

    Dunia yang begitu rendah di sisi Allâh Azza wa Jalla juga segera sirna. Dan yang ada setelahnya adalah akhirat. Di akhirat ada dua pilihan, tidak ada yang ketiga: siksaan yang pedih atau ampunan dan ridha Allâh. Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hakikat ini : اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. [al-Hadîd/57:20]. JADIKAN AKHIRAT SEBAGAI PUSAT PERHATIAN Kalau kita sudah mengetahui hakikat perbandingan dunia dengan akhirat, maka seharusnya kita lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Jangan sampai hanya mengejar kesenangan dunia sehingga mengabaikan bekal untuk akhirat. Jangan sampai dengan alasan sibuk kerja, sibuk urusan keluarga dan anak-anak, kemudian melalaikan shalat berjamaah di masjid, membaca al-Qur`ân, mempelajari ilmu agama, dan ibadah lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menjadikan akhirat sebagai tujuan adalah cara yang terbaik dalam meniti jalan hidup ini. Karena Allâh Azza wa Jalla akan memberikan berbagai kemudahan bagi orang yang berbuat demikian, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini : عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kekayaannya di dalam hatinya, Dia akan mengumpulkan segala urusannya yang tercerai-berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya (niatnya), niscaya Allâh akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya, Dia akan mencerai-beraikan segala urusannya yang menyatu, dan tidak datang kepadanya dari dunia kecuali sekadar yang telah ditakdirkan baginya”. [HR Tirmidzi, no. 2465. Syaikh al-Albani menyatakan shahîh lighairihi. Lihat Shahîh at-Targhib wat-Targhib, no. 3169]

Leave a Reply