Loading
BUMI BULAT … LANGIT juga BULAT … sudah diJELASkan AL QUR’AN ————————————— AL QUR’AN menjelaskan “segala SESUATU” … >> Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan SEGALA SESUATU, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Q.S Yusuf:111 ——————– SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA ——————— Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah —————- TUJUH (7) langit = HAMPIR sama bentuknya dengan BUMI = universe = alam semesta | EP Artikel-Edy Gojira

BUMI BULAT ... LANGIT juga BULAT ... sudah diJELASkan AL QUR'AN --------------------------------------- AL QUR'AN menjelaskan "segala SESUATU" ... >> Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan SEGALA SESUATU, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Q.S Yusuf:111 -------------------- SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA --------------------- Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah ---------------- TUJUH (7) langit = HAMPIR sama bentuknya dengan BUMI = universe = alam semesta <<<< ----------------------------- 7 LANGIT= 7 konstelasi = lapisan langit …. seperti BUMI [berbentuk BOLA .. efek dari BIG BANG } konstelasi bumi mulai dari elektron mengelilingi Inti …. sampai konstelasi pulau yg terpisahkan samudra /laut {memudahkan penggambaran pemahaman} --------------------------------------- konstelasi LANGIT /alam semesta/ universe .... <<< mulai dari langit 1 BINTANG dan PLANETnya ,,,,,,, << langit 2 {selanjutnya} .. al BURUJ/ gugusan bintang /kumpulan BINTANG/galaksi .... << langit 3 /selanjutnya .... gugusan/kumpulan BURUJ/ cluster .... << langit 4 ... gugusan/kumpulan CLUSTER / super cluster .... << sampai langit 7 SAJA {langit/samawat= TERBATAS= yg TIDAK terbatas adalah ALLAH .... ALLAHU AKBAR ... Allah MAHA BESAR --------------------------------------- ﴾ Ath Thalaaq:12 ﴿ Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. ٱللَّـهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا ﴿الطلاق:١٢﴾ ———————------------------------------------- << LANGIT terdekat … konstelasi BINTANg dan PLANETnya = langit 1 >>> -------------------- Ash Shaaffat:6 ﴿ Sesungguhnya Kami telah menghiasi {زَيَّنَّا} langit { ٱلسَّمَآءَ} yang terdekat {ٱلدُّنْيَا} dengan hiasan, yaitu PLANET-PLANET {ٱلْكَوَاكِبِ}, إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِزِينَةٍ ٱلْكَوَاكِبِ ﴿الصافات:٦﴾ ----------------------------- Qur-an menamakan planet itu dengan nama Kaukab. Kata jamaknya Kawakib, tetapi tanpa memberitahukan jumlahnya. Impian Nabi Yusuf menyebutkan sebelas (surat 12 atau surat Yusuf) akan tetapi ini adalah riwayat impian NabiYusuf. -------------------- ---------------------------------- HIASAN langit yg lain ..... GALAKSI /buruj... konstelasi PUSAT GALAKSI / blackhole / dwarf star dan BINTANG-BINTANG ..... LANGIT ke 2 --------------------- ﴾ Al Hijr:16 ﴿ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (GALAKSI / galaxy / KUMPULAN BINTANG-BINTANG /بُرُوجًا) dan Kami telah menghiasi {وَزَيَّنّٰهَا} langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِينَ ﴿الحجر:١٦﴾ ------------------------------- ﴾ Al Buruuj:1 ﴿ Demi langit yang mempunyai gugusan bintang {BURUJ/ٱلْبُرُوجِ} , وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ ﴿البروج:١﴾ ------------- ﴾ Al Furqaan:61 ﴿ Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang {BURUJ/ بُرُوجًا} dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا ﴿الفرقان:٦١﴾ ----------------- Galaksi atau yang dalam terminologi al-Qur’an disebut al-buruj,merupakan suatu sistem dari himpunan besar yang terdiri dari bintang-bintang yang jumlahnya jutaan, bahkan milyaran. Hornby mendefinisikan galaksi sebagai beberapa kelompok besar gugusan bintang-bintang di angkasa luar yang menghimpun tata surya kita. ========================= AL QUR'AN Menjawab .... Tuduhan Allah Menciptakan Bumi Datar ------------------------------------ BULATNYA BUMI DI JELASKAN DALAM AL-QUR’AN ------------------------------ SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA ---------------------------- Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah berkaitan dengan anggapan bahwa menurut Alqur’an bumi itu datar. ------------------------------- ------------ Ada satu ayat Al-Qur’an lagi yang patut kita perhatikan sebagai tambahan penjelasan masalah ini, inilah jawaban telak tentang tuduhan bumi itu datar menurut Alqur’an: surat Az-Zumar ayat 5 خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ “Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun.” (QS.Az-Zumar:5) ---------------- Kata “at-takwir” artinya adalah menggulung. Pada ayat di atas dengan jelas Allah berfirman bahwa malam menggulung siang dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu TEMPAT YANG BULAT secara bersama-sama. Bagaimana keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar….? Kalau saja kejadian itu pada tempat yang datar, mestinya akan lebih tepat jika dipakai kata MENIMPA atau MENINDIH. --------------------- Dari keterangan ayat di atas juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada permukaan bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam, dan separuh lagi permukaannya adalah siang hari. Hal ini dapat digambarkan dari keterangan ayat, dimana seolah-olah bagian kepala dari sang malam itu menggulung bagian ekor dari sang siang, namun pada saat yang sama bagian kepala dari sang siang sedang menggulung pula bagian ekor dari sang malam. Sebanyak bagian siang yang digulung malam, maka pada saat yang bersamaan, sebanyak itu pula bagian malam yang sedang digulung oleh sang siang. Sekali lagi, keterangan ini menggambarkan bahwa terjadinya hal menakjubkan tersebut di atas bumi, hanya jika permukaan BUMI ITU BULAT adanya…! -----------------

BUMI BULAT ... LANGIT juga BULAT ... sudah diJELASkan AL QUR'AN

---------------------------------------
AL QUR'AN menjelaskan "segala SESUATU" ... >> Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan SEGALA SESUATU, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Q.S Yusuf:111
--------------------

SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA

---------------------

Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah
----------------

TUJUH (7) langit = HAMPIR sama bentuknya dengan BUMI = universe = alam semesta <<<<
-----------------------------
7 LANGIT= 7 konstelasi = lapisan langit  …. seperti BUMI [berbentuk BOLA .. efek dari BIG BANG } konstelasi bumi mulai dari elektron mengelilingi Inti …. sampai konstelasi pulau yg terpisahkan samudra /laut {memudahkan penggambaran pemahaman}
---------------------------------------

konstelasi LANGIT /alam semesta/ universe .... <<< mulai dari langit 1 BINTANG dan PLANETnya ,,,,,,, << langit 2 {selanjutnya} .. al BURUJ/ gugusan bintang /kumpulan BINTANG/galaksi .... << langit 3 /selanjutnya .... gugusan/kumpulan BURUJ/ cluster .... << langit 4 ... gugusan/kumpulan CLUSTER / super cluster ....  << sampai langit 7 SAJA  {langit/samawat= TERBATAS= yg TIDAK terbatas adalah ALLAH .... ALLAHU AKBAR ... Allah MAHA BESAR
---------------------------------------

Ath Thalaaq:12 ﴿ Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
ٱللَّـهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا ﴿الطلاق:١٢﴾

———————-------------------------------------
<< LANGIT terdekat … konstelasi BINTANg dan PLANETnya = langit 1 >>>
--------------------
Ash Shaaffat:6 ﴿
Sesungguhnya Kami telah menghiasi {زَيَّنَّا}  langit { ٱلسَّمَآءَ} yang terdekat {ٱلدُّنْيَاdengan hiasan, yaitu PLANET-PLANET {ٱلْكَوَاكِبِ},
إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِزِينَةٍ ٱلْكَوَاكِبِ ﴿الصافات:٦
-----------------------------

Qur-an menamakan planet itu dengan nama Kaukab. Kata jamaknya Kawakib, tetapi tanpa memberitahukan jumlahnya. Impian Nabi Yusuf menyebutkan sebelas (surat 12 atau surat Yusuf) akan tetapi ini adalah riwayat impian NabiYusuf.
--------------------

Untuk menjelaskan arti kata planet (Kaukab) dalam Qur-an, kita baca ayat yang sangat masyhur yang arti sesungguhnya nampak bersifat spiritual dan juga dipersoalkan diantara para ahli tafsir Qur-an. Walaupun begitu, kata itu penting karena ada perbandingan mengenai kata yang menunjukkan
“planet.”

Teks tersebut adalah sebagai berikut: Surat 24 ayat 35:

Artinya: “Allah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu
seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara.”

Yang dimaksudkan di sini adalah proyeksi cahaya kepada suatu benda yang merefleksikan (kaca) dengan memberinya kilatan mutiara, sebagaimana planet yang disinari matahari. Ini adalah satu-satunya perinci yang menerangkan arti kata “Kaukab” yang dapat kita jumpai dalam Qur-an.

Kata Kaukab terdapat juga dalam ayat-ayat lain. Dalam beberapa ayat kita tak dapat menentukan apakah yang dimaksudkan dengan kata itu. (Surat 6 ayat 72, dan surat 82 ayat 1-3).

Akan tetapi dalam suatu ayat terdapat kata”Kawakib” yang menurut pengetahuan modern hanya dapat diartikan planet. Yaitu surat 37 ayat 6

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yangterdekat dengan hiasan yaitu planet-planet.,’

Kalimat Qur-an: “Langit yang terdekatdapatkah diartikan:
sistem matahari? Kita mengetahui bahwa tak terdapat diantara benda-benda samawi yang terdekat kepada kita selain planet. Matahari adalah bintang satu-satunya dalam sistem ini yang pakai nama. Orang tak dapat mengerti, benda samawi apa gerangan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, jika
bukan planet. Rasanya sudah benar jika kita terjemahkanKawakib” dengan “planet;” dan ini berarti bahwa Qur-an menyebutkan adanya “planet” menurut definisi modern.

-----------------------------------
HIASAN langit yg lain ..... GALAKSI /buruj... konstelasi PUSAT GALAKSI / blackhole / dwarf star dan BINTANG-BINTANG  ..... LANGIT ke 2
---------------------
Al Hijr:16 ﴿ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (GALAKSI / galaxy / KUMPULAN BINTANG-BINTANG /بُرُوجًا) dan Kami telah menghiasi {وَزَيَّنّٰهَا} langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya),

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِينَ ﴿الحجر:١٦ 
-------------------------------

﴾ Al Buruuj:1 ﴿
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang {BURUJ/ٱلْبُرُوجِ} ,
وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ ﴿البروج:١﴾
-------------
﴾ Al Furqaan:61 ﴿
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang {BURUJ/ بُرُوجًا} dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.
تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا ﴿الفرقان:٦١﴾
-----------------

Galaksi atau yang dalam terminologi al-Qur’an disebut al-buruj,merupakan suatu sistem dari himpunan besar yang terdiri dari bintang-bintang yang jumlahnya jutaan, bahkan milyaran. Hornby mendefinisikan galaksi sebagai beberapa kelompok besar gugusan bintang-bintang di angkasa luar yang menghimpun tata surya kita.
=========================
This Chandra X-ray Observatory image is a spectrum of a black hole, which is similar to the colorful spectrum of sunlight produced by a prism. These data reveal that a flaring black hole source has an accretion disk that stops much farther out than some theories predict. Scientists theorize that the accretion disk is truncated there as the material erupts into a hot bubble of gas before taking its final plunge into the black hole. This provides a better understanding of how energy is released when matter spirals into a black hole.

Sampai kira-kira setengah abad yang lalu para astronom masih beranggapan bahwa tidak ada lagi kelompok-kelompok bintang di luar galaksi bima sakti, tetapi setelah ada teropong yang lebih besar lagi, telah diketahui pula beberapa galaksi lagi yang di dalamnya berisi bermilyar-milyar bintang, kemudian diketahui sekitar 30 juta galaksi dan seterusnya diketemukan sekitar 100 juta galaksi, akhirnya dengan teropong teleskop terbesar di dunia Mount Palamor diketahui galaksi di alam semesta ini tak terhingga jumlahnya.

Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Dr. Edwin P. Hubble, seorang sarjana di Observatorium Mount Wilson, California, Amerika Serikat pada tahun 1925 dapat dibuktikan bahwa galaksi-galaksi yang tampak dari bumi itu selain berotasi juga saling berjauhan dan menjauhi bumi, sehingga dapat dikatakan bahwa ruang alam kita ini bersama-sama dengan galaksi-galaksi itu berekspansi. Jadi, alam ini mengembang dengan ekspansinya galaksi-galaksi itu. Teori ini kemudian dikenal dengan “The Expanding Universe”.
====================================

AL QUR'AN Menjawab ....  Tuduhan Allah Menciptakan Bumi Datar

------------------------------------

BULATNYA BUMI DI JELASKAN DALAM AL-QUR’AN

------------------------------

SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA

----------------------------

Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah berkaitan dengan anggapan bahwa menurut Alqur’an bumi itu datar.
-------------------------------
bumi datar aneh

Sebenarnya jauh-jauh sebelum Galileo, sudah banyak ulama dan ilmuwan yang mengatakan bahwa planet bumi ini berbentuk bulat.

Lebih jelasnya mari kita lihat beberapa perkataan ulama Islam berikut ini:Ilmuwan Islam, Ibnu Khaldun (13321406 M / 732H – 808 H): “Ketahuilah, sudah jelas di kitab-kitab para ilmuwan dan peneliti tentang alam bahwa bumi berbentuk bulat….” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Kairo).

Ulama Islam, Ibnu Taimiyah (1263-1328 M): “Ketahuilah, bahwa mereka (para ulama) sepakat bahwa bumi berbentuk bulat. Yang ada di bawah bumi hanyalah tengah. Dan paling bawahnya adalah pusat….” (Al-Jawab Ash-Shahih li Man Baddala Din Al-Masih).

Bagi Qazuaini (seorang ilmuwan), salah satu bukti bumi berbentuk bulat adalah bintang-bintang dan planet-planet yang berbentuk bulat (Atsar Al-Bilad wa Akhbar Al-Bilad).
Selain mereka, masih banyak ilmuwan dan ulama Islam klasik yang menyebutkan di dalam bukunya bahwa bumi berbentuk bulat. Di antara buku tersebut adalah:

1. Muruj Al-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar, oleh Mas’udi Ali Husain Ali bin Husain (w. 346 H).
2. Ahsan Taqasim fi Ma’rifah Al-Aqalim, oleh Al-Maqdisi (w. 375 H)
3. Kitab Shurah Al-Ardh, oleh Ibnu Hauqal
4. Al-Masalik wa Al-Mamalik, oleh Al-Ishthikhry
5. Ruh Al-Ma’ani, oleh Imam Al-Alusi (ulama tafsir Al-Qur’an)
6. Mafatih Al-Ghaib, oleh Fakhru Ar-Razi (ulama tafsir Al-Qur’an)
Dan lain-lain.

Apakah Pendapat Mereka Bertentangan dengan Al-Qur’an?

Tentu saja tidak. Justru Dr. Hadi bin Mar’i dalam bukunya “Mausu’ah Al-Ilmiyah fi I’jaz Al-Qur’anul Karim” (Penerbit Attawfiqiah, Kairo) mengambil dalil bumi berbentuk bulat dari isyarat Al-Qur’an. Demikian juga para ahli tafsir lainnya.
-------------

Ada satu ayat Al-Qur’an lagi yang patut kita perhatikan sebagai tambahan penjelasan masalah ini, inilah jawaban telak tentang tuduhan bumi itu datar menurut Alqur’an: surat Az-Zumar ayat 5

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا
هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun.” (QS.Az-Zumar:5)
----------------

Kata “at-takwirartinya adalah menggulung. Pada ayat di atas dengan jelas Allah berfirman bahwa malam menggulung siang dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu TEMPAT YANG BULAT secara bersama-sama. Bagaimana keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar….? Kalau saja kejadian itu pada tempat yang datar, mestinya akan lebih tepat jika dipakai kata MENIMPA atau MENINDIH.
---------------------

Dari keterangan ayat di atas juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada permukaan bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam, dan separuh lagi permukaannya adalah siang hari. Hal ini dapat digambarkan dari keterangan ayat, dimana seolah-olah bagian kepala dari sang malam itu menggulung bagian ekor dari sang siang, namun pada saat yang sama bagian kepala dari sang siang sedang menggulung pula bagian ekor dari sang malam. Sebanyak bagian siang yang digulung malam, maka pada saat yang bersamaan, sebanyak itu pula bagian malam yang sedang digulung oleh sang siang. Sekali lagi, keterangan ini menggambarkan bahwa terjadinya hal menakjubkan tersebut di atas bumi, hanya jika permukaan BUMI ITU BULAT adanya…!
-----------------

Ajaibnya, keterangan-keterangan ini ditulis dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu, disaat orang-orang Eropa dan Amerika masih primitif, dan masih menganggap bumi ini datar serta menganggapnya sebagai pusat bagi jagad raya ini.
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya….

فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ

Maka Aku bersumpah dengan Rabb Yang Mengatur tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenamnya matahari; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. (QS. Ma’aarij:40)

Allah SWT bersumpah atas diri-Nya sendiri yang mengatur TEMPAT-TEMPAT terbit dan terbenamnya matahari, bahwa Allah SWT benar-benar Maha Kuasa.

Kenapa Allah menggunakan kata jamak (plural) untuk tempat terbit dan terbenamnya matahari (masyaariq dan maghaarib?

Karena tempat terbit dan terbenamnya matahari tidak hanya di 2 tempat. Terbit dan terbenamnya matahari ada di berbagai tempat yang dilalui garis edar bumi mengelilingi matahari. Hal ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa bumi itu bulat, dan bukan datar. Karena jika bumi itu datar maka tempat terbit dan terbenamnya matahari hanya ada di 2 tempat. Adapun yang sering kita katakan tentang timur dan barat sebenarnya hanyalah arah terbit, dan bukanlah tempat terbit.

Ayat ini digunakan Allah untuk menjelaskan kekuasaan-Nya mengatur alam semesta dalam skala MAKRO, yakni berorientasi ruang angkasa yang luas dan saling terkait antar planet-planet yang ada.

Dalam skala MIKRO, yakni menjelaskan pada manusia yang ada di bumi (tidak terkait dengan planet lain), Allah menggunakan kata-kata DIHAMPARKAN, seperti dalam surat An-Naaziat berikut ini.

وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

“Dan bumi sesudah itu diHAMPARkan-Nya.” (QS. An-Naaziat:30)

“Dihamparkan” adalah sebuah keterangan tentang sesuatu benda datar. Apakah berarti dengan kalimat ini Allah menjelaskan bahwa bumi itu datar dan tidak bulat?

Sesuatu benda bulat yang sangat besar apabila dijadikan tempat berdiri manusia yang sangat kecil akan terlihat menjadi suatu HAMPARAN yang datar karena terbatasnya jarak pandang manusia dan ini adalah ayat yang bermakna umum yang di tentukan hanya untuk manusia bukan di nisbatkan untuk ALLAH SWT. Jadi HAMPARAN digunakan untuk menunjukkan posisi bumi yang datar jika ditinggali manusia. Dan ayat ini Allah menjelaskan tentang kasih sayangnya menjadikan bumi itu berupa hamparan sehingga manusia bisa berdiri diatasnya. Dan ini adalah dalam pandangan MIKRO hubungan bumi dengan manusia, dan bukan hubungan bumi dengan matahari atau planet lain.

Subhanallah, begitu indahnya Allah menjelaskan sesuatu yang rumit bagi manusia tentang tata surya kita. Terlebih saat ayat ini diturunkan para saintis belum menemukan bukti bahwa bumi itu bulat dan bumilah yang mengelilingi matahari.

Tetapi dalam kondisi zaman manusia yang masih bodoh tentang ilmu pengetahuan ini, Allah menggunakan kata-kata yang sangat tepat untuk dipelajari manusia. Sayang, kita kurang berusaha memahami makna-makna yang tersirat dan tersurat dalam ayat-ayat Allah yang mulia dan suci ini.

 ”Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…” (Al Qur’an, 39:5)

Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.

earth flat 1

Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.

Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.

---------------------------

laut datar 1

Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah berkaitan dengan anggapan bahwa menurut Alqur’an bumi itu datar. Berikut ini dalil Alqur’an yang biasa mereka pakai:

DALIL PERTAMA:

firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr: 19, “Dan Kami (Allah) telah menghamparkan bumi….”. Nah lihatlah, kata mereka, bukankah ayat ini dengan gamblang telah menjelaskan bahwa bumi itu terhampar, dan tidak dikatakan bulat…! Kemudian mereka pun dengan enteng mengkafirkan semua orang yang berseberangan faham dengan mereka.

DALIL KEDUA:

adalah firman Allah pada surat Al-Baqarah: 22, “Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan (firasy) bagimu.”

DALIL KETIGA:

adalah firman Allah pada surat Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”

DALIL KEEMPAT:

adalah firman Allah pada surat An-Naba 78: 6-7,  “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?

DALIL KELIMA

adalah firman Allah pada surat Al-Ghasyiyah : 20, “Dan bumi bagaimana dihamparkan ?”

Memang secara tekstual, bunyi ayat-ayat di atas mengatakan bahwa bumi ini terhampar, seumpama firasy, karpet, atau tempat tidur. Namun, apakah sesederhana itu sajakah memahamkan ayat Al-Qur’an….? Apakah memahamkan al-Qur’an yang agung cukup secara tekstual saja, kemudian mengabaikan arti kontekstualnya…? Kalau demikian, yakni Al-Qur’an hanya difahamkan secara tekstual saja, maka pasti akan hilanglah kehebatan dan keagungan Al-Qur’an itu. Padahal ada banyak ayat suci Al-Qur’an dan hadis yang mendudukkan derajat orang-orang berpengetahuan berada beberapa tingkat di atas orang awam. Dalam hal ini, pemahaman kontekstual jelas memerlukan daya nalar yang lebih tinggi dibandingkan sekedar pemahaman tekstual saja. Dengan demikian, pantaslah kiranya jika Allah dalam Al-Qur’an dan Nabi dalam banyak hadis beliau, memuji dan menyatakan bahwa orang yang berilmu pengetahuan, yang memakai akal dan nalar, memiliki derajat yang tinggi jauh berbeda dengan orang awam.

PEMBAHASAN MASALAH

Pada surat Al-Hijr ayat 19 dikatakan bahwa Allah telah menghamparkan bumi. Disitu tidak ada dikatakan bagian yang dihamparkan adalah bagian bumi tertentu, tetapi yang terhampar adalah bumi secara mutlak. Sehingga dengan demikian, jika kita berada di suatu tempat di bagian manapun dari pada bumi itu (selatan, barat, utara, dan timur), maka kita akan melihat bahwa bumi itu datar saja, SEOLAH-OLAH TERHAMPAR di hadapan kita. Kemudian jika kita berjalan dan terus berjalan dengan mengikuti satu arah yang tetap, maka bumi itu akan terus menerus kita dapati terhampar di hadapan kita sampai suatu saat kita kembali ke tempat semula saat awal berjalan. Hal ini telah jelas membuktikan bahwa justru bumi itu bulat adanya. Sebaliknya, jika saja bumi itu berbentuk kubus, misalnya, maka pasti hamparan itu suatu saat akan terpotong, dan kita akan menuruni suatu bagian yang menjurang, menurun, TIDAK LAGI TERHAMPAR…..!

Selanjutnya, jika bumi itu adalah sebuah hamparan seperti karpet atau tikar, maka jika ada orang yang melakukan perjalanan lurus satu arah secara terus menerus, maka orang itu pada akhir perjalanannya akan sampai pada ujung bumi yang terpotong, dan tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula, di mana dia memulai perjalanannya yang pertama dulu. Penelitian dan pengalaman manusia telah membuktikan bahwa perjalanan yang dilakukan secara terus menerus ke satu arah tertentu tidak pernah menemukan ujung dunia yang terpotong, melainkan terus menerus yang ditemukan hanyalah hamparan demi hamparan di tanah yang dilalui, untuk kemudian perjalanan itu berakhir pada tempat semula saat perjalanan pertama dimulai. Hal ini tidak mungkin dapat terjadi jika saja bumi itu tidak bulat keberadaannya.

Penjelasan yang lebih gamblang adalah pada surat Al-Baqarah ayat 22: “ Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi itu firasy (hamparan, kapet) BAGIMU ……” Perhatikan kata-kata “bagimu”. Al-Qur’an dalam hal ini, tidak sekedar mengatakan bahwa bumi itu hamparan umpama karpet saja, kemudian berhenti pada kalimat itu, tapi ada kata tambahan lain yaitu “bagimu”. Artinya, bagi kita manusia yang tinggal di atas permukaan bumi ini, bumi terasa datar. Walaupun, bumi itu pada kenyataannya adalah tidak datar. Hanya TERASA DATAR bagi kita manusia. Terasa datar bukan berarti benar-benar datar, bukan….?

Penjelasan kata “karpet (firasy)” bagimu bukankah bisa diartikan sebagai sesuatu yang berfungsi untuk diduduki atau dipakai tidur, dengan aman dan nyaman…?. Kata firasy dalam bahasa Indonesia dapat diartikan karpet, atau ranjang adalah sesuatu yang nyaman dan aman dan dipakai untuk tidur. Nampaknya arti seperti ini dapat dipakai, sebab keberadaan struktur bumi ini memang berlapis-lapis. Bagian intinya sangat panas dengan suhu ribuan derajat celcius yang mematikan. Namun demikian, pada bagian LAPISAN YANG PALING ATAS, ada sebuah lapisan keras setebal 70 kilometer, disebut lapisan kerak bumi yang paling aman dan nyaman, dengan suhu yang aman pula bagi kehidupan. Seolah-olah lapisan bumi bagian atas itu adalah ‘karpet’ atau ‘ranjang’ yang terbentang luas dan melindungi manusia serta seluruh makhluk Allah yang berada di atasnya, aman dari bahaya lapisan bumi bagian dalam yang cair, yang sangat panas lagi mematikan itu.

Kemudian dalam QS.Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”

Perhatikan gambaran bumi dalam ayat lainnya:

waal-ardha ba’da dzaalika dahaahaa

[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

tejemahan bahasa Indonesia kembali menyaakan kata ini dengan ‘hamparan’.

Lalu ketika Al-Qur’an menyebut kata ‘al-ardha‘ atau ‘al-ardhi‘ yang diterjemahkan menjadi ‘bumi’, bisa juga merujuk kepada ‘permukaan bumi’ atau lapisan bumi paling luar tempat kita berpijak, lihat ayat ini :

walakum fii al-ardhi mustaqarrun wamataa’un ilaa hiinin

[2:36] dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

wa-idzaa tawallaa sa’aa fii al-ardhi liyufsida fiihaa wayuhlika alhartsa waalnnasla waallaahu laa yuhibbu alfasaada

[2:205] Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan

Ayat-ayat tersebut merupakan sinyal-sinyal ilmiah dari Al-Qur’an tentang proses pembentukan kulit bumi, tempat kita berpijak, disitu ada indikasi terjadinya proses yang berangsur-angsur, mulai dari sedikit lalu meluas menjadi seperti permukaan bumi yang ada sekarang, ibarat orang menggelar/menghamparkan permadani..

Kata ‘farsya’ juga diartikan sebagian para ulama dengan ‘alas’ atau ‘tunggangan’. Sebagian ulama tafsir mengartikan sebagai ‘yang disembelih’, dalam hal ini adalah terkait dengan kambing, domba dan sapi (lihat Tafsir Al-Mishbah – Quraish Shihab). Ini menjelaskan bahwa hewan yang diembelih tersebut bisa dimanfaatkan, misalnya kulitnya sebagai alas untuk tempat duduk.

wamina al-an’aami hamuulatan wafarsyan

[6:142] Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih.

Ini dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an yang lain :

waallaahu ja’ala lakum min buyuutikum sakanan waja’ala lakum min juluudi al-an’aami buyuutan tastakhiffuunahaa yawma zha’nikum wayawma iqaamatikum wamin ashwaafihaa wa-awbaarihaa wa-asy’aarihaa atsaatsan wamataa’an ilaa hiinin

[16:80] Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

Maka lagi-lagi kata ‘farasy’ dalam ayat tersebut tidak mengandung unsur ‘datar’ melainkanalas tempat duduk’. Tentu saja suatu yang dihamparkan/digelar/dibentangkan akan membentuk sesuai tempat dimana dia dihamparkan, hamparan akan berbentuk melengkung kalau dasar tempatnya juga melengkung, hamparan akan berbentuk datar kalau dasar tempatnya juga datar..

Kata tersebut juga dipakai dalam ayat lain :

muttaki-iina ‘alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wajanaa aljannatayni daanin

[55:54] Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.

wafurusyin marfuu’atin

[56:34] dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

Ayat tersebut juga tidak menyinggung tentang suatu bidang yang datar, tapi mengenai suatu benda yang ‘dibentangkan‘ untuk tempat duduk-duduk atau istirahat.

al’farasyi’ dalam ayat ini diartikan sebagai ‘anai-anai/laron’ yang baru lahir sehingga posisi mereka bertumpuk-tumpuk bergerak makin lama makin meluas, maka kata ini diikuti dengan ‘al-mabtsuutsi’ = bertebaran, menyebar makin lama makin luas, dalam kalimat ini juga tidak ada korelasi antara kata ‘faraasyi’ dengan datar, melainkan menjelaskan sesuatu yang berkembang meluas. Bisa dilihat dalam ayat ini :

yawma yakuunu alnnaasu kaalfaraasyi almabtsuutsi

[101:4] Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,

 

 

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

QS 2:22

alladzii ja’ala lakumu al-ardha firaasyan

[2:22] Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu

Farasya = ‘fa-ra-syin’

Kata tersebut berasal dari kata ‘farasya’ yang berarti : to spread out, extend, stretch forth, furnish = menghampar, mempunyai kata turunanfurusy (berbentuk jamak, bentuk tunggalnya :firasy). Kata ‘firasy’ berarti : hamparan yang biasanya digunakan untuk duduk atau berbaring. Dari situ kata tersebut juga bisa diartikan : permadani, kasur atau ranjang. Dalam kalimat ini tidak ada kaitan sesuatu yang terhampar dengan ‘datar’.

Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa bumi yang kita tempati ini berbentuk bulat menurut kesepakatan para ulama. Hal ini mereka nyatakan jauh-jauh hari sebelum para ilmuwan barat menyatakan hal ini. Berkata Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishal fil Milal wan Nihal (2/97) : Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satupun dari ulama kaum muslimin semoga Allah meridlai mereka- yang mengingkari bahwa bumi itu bulat, dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka, bahkan al-Quran dan as-Sunnah telah menguatkan tentang bulatnya bumi.

Hal senada pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan menukil perkataan Imam Abul Husain Ahmad bin Jafar bin Munadi salah seorang ulama Hanabillah yang sangat masyhur di zamannya- berkata : Demikianlah juga para ulama sepakat bahwasanya bumi dengan segala gerakannya, baik di darat maupun di laut itu bulat [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/159] Dan Syaikhul Islam pun menukil adanya ijma para ulama mengenai hal ini dari Imam Ibnu Hazm dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. [Lihat Majmu Fatawa 6/586]

Berkata Imam Ibnu Hazm : Kita katakan kepada orang yang tidak memahami masalah ini : Bukankah Allah mewajikan kepada kita untuk shalat Dzuhur apabila matahari telah bergeser ke arah barat (zawal)? Pasti dia akan menjawab : Ya. Lalu tanyakan kepadanya tentang makna bergesernya matahari ke arah barat, pasti jawabannya adalah bahwa matahari telah berpindah dari tempat pertengahan jarak antara waktu terbitnya dengan waktu tenggelamnya, dan ini terjadi di semua waktu dan semua tempat. Maka orang yang mengatakan bahwa bumi itu datar dan tidak bulat dia harus mengatakan bahwa orang yang tinggal di daerah bumi paling timur harus shalat Dhuhur saat matahari barusan terbit, juga orang yang tinggal di daerah paling barat tidak menjalankan shalat Dhuhur kecuali di pengunjung siang dan ini adalah sesuatu yang sudah keluar dari ketetapan syariat Islam [Lihat Al-Fishal 2/87 dengan diringkas)

Adapun firman Allah. Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan? {Al-Ghasyiyah [88] : 20] Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa bumi itu datar, karena sebuah benda yang bulat kalau semakin besar, maka akan semakin tidak kelihatan bulatnya dan akan nampak seperti datar. [Lihat Hidayatul Hairan Fi Masalatid Daurah oleh Syaikh Abdul karim Al-Humaid hal. 56]

Berkata Syaikh Bin Baz : Keberadaan bumi itu bulat tidak bertentangan dengan bahwa permukaan bumi itu datar yang layak untuk dijadikan tempat tinggal, sebagaimana firman Allah Taala. Artinya : Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan [Al-Baqarah [2] ; 22]

Juga firmanNya. Artinya : Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? [An-Naba [78] : 6-7] Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan ? [Al-Ghasyiyah [88] : 20]

Kesimpulannya, bumi itu bentuknya bulat namun permukaannya datar agar bisa dijadikan tempat tinggal dan dimanfaatkan oleh manusia. Dan saya tidak menemukan dalil naqli dan hissi yang menentang masalah ini [Lihat Al-Adilah An-Naqliyah wal Hissiyah oleh Syaikh Ibnu Baz hal. 103]

langit universe bumi 1

LANGITPUN BULAT

Adapun mengenai keberadaan bahwa langit itu bulat, maka ini pun sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama Islam. Berkata Imam Ibnu Katsir : Imam Ibnu Hazm, Ibnul Munadi dan Ibnu Jauzi serta para ulama lainnya telah menukil adanya ijma bahwa langit itu bulat [Lihat Al-bidayah wan Nihayah 1/69 tahqiq DR Abdullah At-Turki, lihat juga Al-Fishal 1/97-100]

Dan ini pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Telah kami jelaskan bahwa langit itu bulat menurut para ulama dari kalangan sahabat dan tabiain, bahkan tidak hanya satu orang ulama yang mana mereka adalah orang paling mengetahui tentang riwayat menyatakan bahwa langit itu bulat, seperti Abul Husain bin Munadi, Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi [Majmu Fatawa 25/195]

Dalil mengenai masalah ini sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah Artinya : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [Yasin [36] : 40] Berkata Hasan Al-Bashri bahwa maksudnya adalah berputar, berkata Ibnu Abbas : Berputar pada falak seperti falkah mighzal Falkah mighzal adalah kayu berbentuk bulat yang digunakan untuk menenun kain. Juga firman Allah. Artinya : Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terjaga [Al-Anbiya : [21] : 32]

Keberadaan langit sebagai atap bumi, sedangkan bumi itu bulat maka langit pun bulat. Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyah : “Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam mengkhabarkan bhawa Arsy itu seperti kubah, dan ini adalah sebuay isyarat bahwa langit itu bulat”. Kemudian setelah ini, pahamilah wahai saudaraku, bahwa bumi kita ini adalah pusat alam semesta. Dia berada persis di tengah-tengah lingkaran langit. Hal ini adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam beberapa tempat dalam Majmu Fatawa beliau. Beliau berkata : “Bahwasanya bumi terletak di tengah bulatan langit. Yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya semua benda langit itu terlihat dari bumi di segala penjuru langit dalam jarak yang sama, ini semua menunjukkan bahwa jauhnya antara bumi dan langit itu sama dari segala sisi, dan ini dengan tegas menunjukkan bahwa bumi itu terletak persis di tengah-tengah” [Lihat Majmu Fatawa 25/195]

Ilmuwan Eropa, Galileo Galilei (1546-1642) mengatakan dengan tegas bahwa bumi berbentuk bulat. Pernyataannya ini oleh otoritas Gereja dianggap  menyimpang sehingga dia harus dihadapkan pada hukuman mati.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebenaran pernyataan Galileo tersebut pun semakin jelas. Belakangan, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa dialah orang pertama yang menemukan teori bulatnya bumi.

-----------------------------------

Menurut teori ini bahwa alam semesta bersifat seperti balon atau gelembung karet yang sedang ditiup ke segala arah.
Ternyata, sebelum Hubble menemukan teorinya, bahwa alam ini mengembang, dalam al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Allah swt. meluaskan langit dengan berekspansinya galaksi-galaksi itu. Pernyataan bahwa alam semesta itu berekspansi dapat ditemukan dalam QS. al-Dzariyat/51: 48. Prof. Dr. Ahmad Baiquni, salah seorang pakar astronomi asal Indonesia, menerjemahkan ayat tersebut sebagai berikut:

Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (atau kekuatan) Kami dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskan-nya. (QS. al-Dzariyat/51: 48)

big bang detail

Ayat ini secara jelas menunjukkan adanya korelasi antara konsepsi al-Qur’an dengan teori Edwin Hubble tersebut di atas. Menurutnya, bahwa benda-benda alam semesta ini terus berkembang meluas sehingga galaksi-galaksi itu saling menjauh dari yang satu dengan yang lainnya. Semua itu menurut perintah Allah yang menciptakannya dan terus demikian sampai pada waktu yang telah ditentukan.

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya (QS. al-Nahl/16: 12)
======================

Alam semesta tidak mungkin statis dengan perhitungan - perhitungan berdasarkan teori relativitas (yang mengantisipasi kesimpulan Friedman dan Lemaitre). 
  1. Terkejut oleh temuannya, Einstein menambahkan "konstanta kosmologis" pada persamaannya agar muncul "jawaban yang benar", karena para ahli astronomi meyakinkan dia bahwa alam semesta itu statis dan tidak ada cara lain untuk membuat persamaannya sesuai dengan model seperti itu. Beberapa tahun kemudian, Einstein mengakui bahwa konstanta kosmologis ini adalah kesalahan terbesar dalam karirnya. (Pengemuka : Albert Einstein, pada tahun 1915)
  2. Ditemukan perhitungan yang menunjukkan bahwa struktur alam semesta tidaklah statis dan bahwa impuls kecil pun mungkin cukup untuk menyebabkan struktur keseluruhan mengembang atau mengerut menurut Teori Relativitas Einstein. (Pengemuka : Ahli fisika Rusia, Alexandra Friedman, tahun 1922)
  3. Semesta mempunyai permulaan dan bahwa ia mengembang sebagai akibat dari sesuatu yang telah memicunya. Dia juga menyatakan bahwa tingkat radiasi (rate of radiation) dapat digunakan sebagai ukuran akibat (aftermath) dari "sesuatu" itu. (Pengemuka : Astronomer Belgia, George Lemaitre adalah orang pertama yang menyadari apa arti perhitungan Friedman)
  4. Dengan mengembangkan perhitungan George Lemaitre lebih jauh dan menghasilkan gagasan baru mengenai Dentuman Besar. Jika alam semesta terbentuk dalam sebuah ledakan besar yang tiba-tiba, maka harus ada sejumlah tertentu radiasi yang ditinggalkan dari ledakan tersebut. Radiasi ini harus bisa dideteksi, dan lebih jauh, harus sama di seluruh alam semesta. (Pengemuka: George Gamov, tahun 1948)
Teori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya
Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.
Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut "model alam semesta yang statis", alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.
Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.
Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Surat al-Hadid: 1-2)
Pemuaian Alam Semesta
Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.
Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.
Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.
Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah "konstanta" untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai "kesalahan terbesar dalam kariernya".
Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?
Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa "satu titik tunggal" yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki "volume nol" dan "kepadatan tak terbatas". Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.
Harus dikatakan di sini bahwa "volume nol" adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep "ketiadaan", yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai "titik yang memiliki volume nol". Sebenarnya, "titik yang tidak memiliki volume" ini berarti "ketiadaan". Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.
Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:
"Dia Pencipta langit dan bumi." (QS. Al An'am:101)
Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.
Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa." (Surat Adz-Dzariyat:47).
Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.
Bukti "yang seharusnya ada" ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut "radiasi latar belakang" ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.
Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.
Semua bukti kuat ini memaksa komunitas ilmiah untuk menerima teori Ledakan Besar. Model ini merupakan titik terakhir yang dicapai oleh para ahli kosmologi berkaitan dengan awal mula dan pembentukan alam semesta.
Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut.
Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.
Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.
Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep "zat yang kekal" yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini "ada" melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini "tidak ada"? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta "yang tidak menguntungkan secara filosofis" (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:
Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.
Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:
Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya.
Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.
Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.
Hubungan Penciptaan Alam dalam Pandangan Islam dan Sains Modern
Diantara segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu dalam Al-Qur’an sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern. Penciptaan alam berdasarkan konsep Islam dan Sains modern ternyata memiliki hubungan, dan dari beberapa hasil observasi kosmolog ternyata banyak yang sesuai dengan beberapa firman Allah SWT, antara lain sebagai berikut:
1. Surat al-Anbiya’ ayat 30
”Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahakan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?”
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa alam semesta sebelum dipisahkan Allah merupakan sesuatu yang padu. Sesuatu yang padu itulah yang oleh kosmolog disebut dengan titik singularitas. Sedangkan yang dimaksud pemisahan ialah ledakan singularitas dengan sangat dahsyat, yang kemudian menjadi alam semesta yang terhampar.
Selanjutnya, dikatakan bahwa segala kehidupan itu berasal dari air. Tiga ahli kosmologi dan astronomi, yaitu Georges Lamaitre, George Gamow, dan Stephen Hawking menjelaskan bahwa atom-atom yang tebentuk sejak peristiwa Big Bang adalah atom Hidrogen (H) dan Helium (He). Adapun air terdiri dari atom hidrogen dan oksigen (H2O), artinya, sejak tahun 1400 tahun silam Al-Qur’an telah menyebutkannya jauh sebelum tiga pakar tersebut mengemukakan teorinya.
2. Surat Az-Zariyat ayat 47
(Artinya) “Dan langit kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
Menurut Baiquni yang dimaksud Banayna bi’abidin oleh ayat ini adalah ketika ledakan besar terjadi dan inflasi melandanya sehingga beberapa dimensinya menjadi terbentang. Sedangkan yang dimaksud dengan inna lamusi’un, adalah Tuhan yang membuat kosmos berekspansi. Pernyataaan ini diperkuat oleh maksud lafal yang terpakai, yakni isim al-fa’il, active participle yang menunjukkan bersifat tetap dan permanen seperti yang dikemukakan sebelumnya.
Hal ini berarti ekspansi alam berlangsung sejak ledakan besar sampai seterusnya.
Kata musi’un dalam bahasa arab sangatlah tepat diterjemahkan sebagai “meluaskan” atau “mengembangkan” yang sesuai dengan penjelasan sains masa kini bahwa alam semesta memang meluas atau mengembang. Stephen Hawking, dalam A Brief History of Time (1980), mengatakan bahwa penemuan bukti pengembangannya alam semesta merupakan salah satu revolusi terbesar dalam ilmu pengetahuan abad ke-20.
Berdasarkan teori Bing Bang yang telah diterima, alam semesta terbentuk sekitar 13,7 miliar tahun lalu dan terus mengembang sejak saat itu. Pakar-pakar Astronomi mengenali empat model grafik alam semesta di masa akan datang, yaitu accelerating expansion (pengembangan yang bertambah cepat), open universe (alam semesta terbuka), flat unirvese (alam semesta datar), dan closed universe (alam semesta tertutup). Model closed universe menjelaskan bahwa suatu saat alam semesta akan mengerut.
3. Surat Al-Fusilat ayat 11
(Artinya) “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan ruang alam (al-sama’) dan ruang alam (al-sama’) ketika penuh embunan (dukhan), lalu Dia berkata kepada ruang alam (al-sama’) dan kepada materi (al-ardh): “Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab:”Kami datang dengan suka hati.”
 
Sehubungan dengan tidak adanya Al-Qur’an menjelaskan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kata dukhan, karena itu beberapa referensi berusaha menafsirkan kata ini sedemikian rupa. Bucaille memahami kata ini sebagai asap yang terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian yang kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair dan dalam suhu rendah atau tinggi.
Ibnu Katsir menafsirkan dengan sejenis uap air. Al-Raghib melukiskan kehalusan dan keringanan sifat dukhan. Menurut Hanafy Ahmad, karena sifat sedemikian, Ia dapat mengalir dan beterbangan di udara seperti mengalir dan beterbangan al-sahab.
Agar tidak terjadi kekeliruan dalam menangkap maksud kata dukhan yang dihubungkan dengan proses penciptaan alam semesta, maka seharusnya kata ini dipahami dengan hasil temuan sains yang telah dihandalkan kebenarannya secara empiris. Tentu saja merupakan suatu kesalahan bagi yang mengatakan bahwa ruang alam (al-sama’) berasal dari materi sejenis dukhan. Berdasarkan dalam surat Al-Fusilat ayat 11, dukhan tidak menunjukkan suatu materi asal ruang alam (al-sama’), akan tetapi ia menjelaskan tentang bentuk alam semesta ketika berlangsungnya fase awal penciptaannya.
Hal ini diperkuat dengan hasil temuan ilmuwan bahwa pada suatu ketika dalam penciptaan terjadinya ekspansi yang sangat cepat sehingga timbul “kondensasi” proses dimana pemuaian dan gas kehilangan panas dan akan berubah bentuk menjadi cair. Saat pemuaian dan gas naik ke tempat lebih tinggi, temperatur udara lingkungan sekitar akan semakin turun menyebabkan terjadinya proses kondensasi dan kembali ke bentuk cair dan energi berubah menjadi materi.
Sebagaimana dukhan, Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa zat alir atau sop kosmos (al-ma’) telah ada sebagai salah satu kondisi terwujudnya alam semesta. Dengan kata lain, sebelum alam semesta terbentuk seperti sekarang, ia mengalami bentuk atau sifat semacam zat alir atau sop kosmos.
Kesimpulan
  1. Proses penciptaan Alam dimulai dari penyatuan antara ruang alam dan materi dari sesuatu yang padu (Al-Anbiya’ ayat 30) kemudian terjadi pemisahan oleh allah dengan mengalami proses transisi membentuk dukhan. Setelah itu ruang alam melebar, meluas, dan memuai (Adz-Zariyat ayat 47). Proses penciptaan alam berlangsung selama enam periode, dimana empat periode penciptaan bumi dan dua periode penciptaan langit (Al-Fushilat ayat 9-12).
  2. Penciptaan alam dalam pandangan kosmologi modern, secara kronologis alam tercipta bermula dari ruang kosong, kemudian inti atom padat meledak, lalu menjadi galaksi, dan menjadi bintang-bintang dengan tata suryanya sendiri-sendiri.
  3. Hubungan antara penciptaan alam dalam pandangan islam dan sains modern adalah bersesuaian. Keduanya sama sekali tidak bertentangan sehingga adanya sains modern dapat mengungkap rahasia proses penciptaan alam yang terdapat dalam Al-Qur’an.
AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM
1. Surat Al-Anbiya’ ayat 30
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.
2. Surat Huud ayat 7
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya[1], dan jika kamu Berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini[2] tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.
3. Surat As-Sajdah ayat 4
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy[3]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at[4]. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.
4. Surat Adz-Zariyat ayat 47
“Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa”.
5. Surat Al-Fushilat ayat 9-12
Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”.Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
6. Surat Ath-Thalaq ayat 12
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”
7. Surat An-Nazi’at ayat 27-33
“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah Telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”
8. Surat Yunus ayat 3
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”
9. Surat Ar-Ra’ad ayat 2
“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”
10. Al-Baqarah ayat 29
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
11. Al-Isra’ ayat 44
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
=================

Big Bang dan Al Qur'an

"Kami akan Memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar..." (QS Fushilat [41]:53).

Gambar dari managedspeed.com
Proses kelahiran alam semesta telah dimulai sejak sekitar 18 miliar tahun yang lalu, sebelum terjadinya Big Bang. Big Bang terjadi pada sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami Pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup. maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al Anbiya [21]:30)

Peristiwa Big Bang telah dijelaskan sebelumnya dengan kata-kata yang sederhana lagi indah oleh Allah SWT.
Selanjutnya, Al Qur'an juga telah mendahului penemuan 3 ahli kosmologi, Georges Lemaître, George Gamow, Stephen Hawking yang menemukan bahwa atom yang terbentuk sejak peristiwa Big Bang adalah Hidrogen (H) dan Helium(He), dan air terdiri dari Hidrogen dan Oksigen (H2O).
Stephen Hawking dalam A Brief History of Time (1980) mengatakan bahwa penemuan bukti mengembangangnya alam semesta merupakan salah satu revolusi terbesar dalam ilmu pengetahuan abad ke-20.

"Dan langit itu Kami Bangun dengan Kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskan (mengembangkan)nya" (QS Al Dzariyat [51]:47)

Telah disebutkan sebelumnya dalam Al Qur'an bahwa langit memang meluas dan atau mengembang.
Ahli-ahli astronomi mengenali empat model grafik alam semesta di masa yang akan datang, yaitu accelerating expansion, open universe, flat universe dan closed universe. Closed universe menjelaskan bahwa suatu saat alam semesta akan mengerut. Suatu saat nanti akan terjadi Big Crunch, yaitu tabrakan seluruh isi alam semesta dan tersedot kembali oleh gravitasi awal pembentukannya.

Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya"(yaitu) pada hari Kami Gulung langit sebagaimana mengglung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah Memulai penciptaan pertama behitulah Kami akan Mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami Tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan Melaksanakannya" (QS Al Anbiya [21]:104)

Allah berfirman  "...akan Mengulanginya...", dengan diksi yang tepat Allah SWT berfirman, Big Crunch sendiri merupakan kebalikan dari Big Bang. Big Crunch merupakan janji Allah yang pasti akan Ditepati. Hampir bisa dipastikan itulah Kiamat Kubra.

"Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. dan terbelahlah langit, karena hari itu langit menjadi lemah(QS Al Haqqah [69]:15-16)

Mengapa langit pada hari itu lemah adalah karena suatu saat energi percepatan dan mengembangnya alam semesta akan seimbang dengan gaya tariknya yang kemudian akan tertarik kembali pada titik awalnya.
Di dunia ini banyak sekali terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir, orang yang mengerti dan orang yang beryukur. Hanya saja sebagian besar manusia tidak mau berpikir atau mencoba memahami atau bersyukur. Maha Besar dan Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT.

==============================

KURSI Allah .... ARSY (SINGGASANA) ALLAH AZZA WA JALLA

------------------------

ayat-ayat  al-Qur'an  yang berisi  konsep-konsep  Kauniyah  sangat bervariasi, tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam  semesta  itu  sendiri. Untuk  memberikan  contoh  yang  nyata,  kita  dapat   menelaah ayat-ayat  berikut,

Dan  tidakkah   orang-orang    kafir   itu mengetahui  bahwa    sama,  [1]  dan  ardh [2] itu dahulu sesuatu  yang  padu,  kemudian  kami  pisahkan  keduanya   (QS. al-Anbiya':  30. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. al-Dzariyat: 47).
-------------------

Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama'  artinya  langit;  pengertiannya  ialah bahwa langit itu adalah  sebuah  bola  super  raksasa  yang  panjang   radiusnya tertentu,   yang  berputar  mengelilingi  sumbunya.  Dan   pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan  di malam hari. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia merasa yakin  bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari,  kapan  pun  juga.  Bintang-bintang tampak  tidak  berubah posisinya yang satu terhadap yang lain, dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu  hari  (siang dan malam).

----------------------------------
Orang    yang berkecimpung  dalam  bidang  sains, mereka mengatakan  al-Qur'an  sejalan  atau  cocok  dengan  sains,  hasil   karya pikir manusia, adalah suatu tuduhan  yang  tak  berdasar.  Apa  yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an; karena  ada  beberapa  konsepsi  sains yang  telah  saya tolak, karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. Dan tidak pula  saya  menarik  al-Qur'an  agar  sesuai   dengan sains.  Patokan  saya  adalah kebenaran kitab suci umat Islam, dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak.  Dan  bukankah justeru  Allah  swt  sendiri  yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi  kosmos  dan  radiasi  gelombang  mikro  kepada   para ilmuwan, untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya, hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam,  yang salaf, memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya  sesuai  dengan  perintah-Nya  dalam  surah Yunus  101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat  53,  Akan  Kami  perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka  itu  bahwa    ia (al-Qur'an) adalah yang benar.
------------------

Dari Ibnu Masud radhiallahu anhu dia berkata,

بين السماء الدنيا والتي تليها خمسمائة عام وبين كل سماء خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة والكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي والماء  خمسمائة عام ، والعرش فوق الماء ، والله فوق العرش لا يخفى عليه شيء من أعمالكم (رواه ابن خزيمة في " التوحيد " )

"Antara langit dunia dengan langit berikutnya berjarak lima ratus tahun dan jarak antara masing-masing langit berjarak lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan Kursy berjarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara Kursy dengan air berjarak lima ratus tahun. Arasy berada di atas air, sedangkan Allah berada di atas Arasy. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya amal-amal kalian." (HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105, Baihaqi dalam 'Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Qayim dalam 'Ijtima Juyusy Islamiyah', hal. 100 dan Az-Zahaby dalam 'Al-Uluw', hal. 64)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Hadits ini mauquf, hanya sampai kepada Ibnu Masud. Akan tetapi ini termasuk perkara yang tidak mungkin disimpulkan oleh akal, maka riwayat ini dihukumi sebagai marfu (sampai dan bersumber dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam), karena Ibnu Masud tidak dikenal suka mengambil riwayat Israiliyat."

(Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab Tauhid, 3/379)

Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata dalam beberapa pelajaran dari hadits ini;

"….Kesembilan: Kursi lebih besar dibandingkan langit.

Kesepuluh: Arasy lebih besar dari Kursy

Kesebelas: Arasy bukan Kursy dan Air."

(Syarhu Kitab Tauhid, hal. 667-668)

Arasy Allah merupakan makhlu Allah yang paling besar dan luas.

Allah Ta'ala berfirman,

فتعالى الله الملك الحق لا إله إلا هو رب العرش العظيم (سورة المؤمنون:  116)

"Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia." (QS. Al-Mukminun: 116)

Dia juga berfirman,

وهو رب العرش العظيم (سورة التوبة: 129)

"Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. At-Taubah: 119)

ذو العرش المجيد (سورة البروج: 15)

"Yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia." (QS. Al-Buruj: 15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

"{ وهو رب العرش العظيم }

"Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. At-Taubah: 119)

Maksudnya adalah bahwa Dia adalah pemilik segala sesuatu yang Penciptanya. Karena Dia pemilik Arasy yang agung yang menungi seluruh makhluk. Seluruh makhluk di langit dan dibumi serta apa yang terdapat di dalamnya dan di antara keduanya berada di bawah Arasy dan berada di bawah kekuasaan Allah Ta'ala. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya terlaksana terhadap segala sesuatu, Dia adalah pelindung atas segala sesuatu."

(Tafsir Ibnu Katsir, 2/405)

Beliau rahimahullah juga berkata,

ذو العرش

"Yang mempunyai 'Arsy." (QS. Al-Buruj: 15)

"Maksudnya adalah pemilik Arasy yang agung di atas seluruh makhluk. Sedangkan 'المجيد' (mulia), padanya terdapat dua qira'at (cara membaca); Dengan rafa (المجيدُ)berarti dia adalah sifat bagi Allah Azza wa Jalla. Dengan jar (المجيدِ) berarti dia adalah sifat bagi Arasy. Kedua makna ini benar."

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/474)

Arti 'المجيد' adalah yang luas dan agung kedudukannya.

Dari Abu Said radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia berkata, "Manusia pada hari kiamat akan dibinasakan. Dan aku adalah orang yang pertama kali bangun. Aku dapatkan Musa sedang berpegangan pada salah satu tiang Arasy. Aku tidak tahu, apakah dia bangun sebelum aku atau dia dibalas karena pingsan yang dia alami di bukit Tursina." (HR. Bukhari, no. 3217)

Arasy memiliki para penopang yang membawanya.

Allah Ta'ala berfirman,

الذين يحملون العرش ومن حوله يسبحون بحمد ربهم ويستغفرون للذين آمنوا ربنا وسعت كل شيء رحمة وعلماً فاغفر للذين تابوا واتبعوا سبيلك وقهم عذاب الجحيم (سورة غافر: 7)

"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala." (QS. Ghafir: 7)

Mereka adalah makhluk yang besar.

Dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

" أُذِن لي أن أحدِّث عن ملَك من ملائكة الله من حملة العرش ، إنَّ ما بين شحمة أذنه إلى عاتقه مسيرة سبعمائة عام " (رواه أبو داود، رقم 4727 )

"Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun." (HR. Abu Daud, no. 4727)

Hadits ini dinyatakan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar, sanadnya berdasarkan syarat yang shahih (Fathul Bari, 8/665)

Arasy di atas Kursy, bahkan di atas seluruh makhluk.

Ibnu Qayim rahimahullah berkata,

"Karena itu, ketika langit meliputi bumi, dia berada di atasnya. Ketika Kursy meliputi langit, maka dia berada di atasnya. Ketika Arasy meliputi Kursy, maka dia berada di atasnya."

(Ash-Shawaiqul Mursalah, 4/1308)

=====================

7- Arasy bukanlah kerajaan, bukan pula Kursy

Ibnu Abu Al-Iz Al-Hanafi rahimahullah, berkata, "Adapun orang yang merubah kalam Allah dan menjadikan Arasy sebagai bentuk kerajaan, bagaimana pandangannya terhadap firman Allah Ta'ala,

ويحمل عرش ربك فوقهم يومئذ ثمانية (سورة الحاقة: 17)

"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka." (QS. Al-Haaqah: 17)

Juga firman-Nya

وكان عرشه على الماء (سورة هود: 7)

"Dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air." (QS. Huud: 7)

Apakah dia akan berkata, "Ada delapan malaikat yang membawa kerajaan-Nya." Dan "Kerajaan-Nya berada di atas air." Dan "Nabi Musa berpegangan di salah satu kaki kerajaan." Apakah ada orang berakal mengatakan demikian dan dia sadar apa yang dia katakan?

Adapun terhadap Kursy, Allah Ta'ala berfirman,

وسع كرسيه السموات والأرض (سورة البقرة: 255)

"Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar." (QS. Al-Baqarah: 255)

Ada yang mengatkaan bahwa Kursy adalah Arasy. Tapi yang benar adalah bahwa dia bukan Arasy. Hal itu dikutip dari Ibnu Abbas radhiallahu anhum dan selainnya.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Kitab "Sifatul Arsy" dan Al-Hakim dalam Kitab, "Al-Mustadrak" dia berkata, "Riwayat ini berdasarkan syarat dua orang Syaikh (Bukhari dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya."

Dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas dalam firman Allah Ta'ala,

وسع كرسيه السموات والأرض

"Kursi Allah meliputi langit dan bumi."

Dia berkata, "Kursy adalah tempat dua kaki, sedangkan Arasy tidak ada yang dapat memperkirakan ukurannya kecuali Allah Ta'ala."

Ada yang mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu' (periwayatannya sampai kepada Nabi). Yang benar adalah: Bahwa dia mauquf (periwayatannya sampai pada shahabat) Ibnu Abbas.

Abu Dzar radhiallahu anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah Kursy di banding Arasy kecuali bagaikan cincin yang dilempar di atas padang di muka bumi."

Kursy seperti dikatakan oleh lebih dari seorang salaf di hadapan Arasy bagaikan tangga kepadanya."

(Syarah Aqidah Thahawiyah, hal. 312-313)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Ada yang berkata bahwa Arasy adalah Kursy, berdasarkan hadits, "Sesungguhnya Allah meletakkan Kursy-Nya pada hari kiamat." Mereka mengira bahwa Kursy adalah Arasy.

Sebagian lainnya juga ada yang mengira bahwa Kursy adalah ilmu. Mereka berkata terkait dengan firman Allah Ta'ala,

{ وسع كرسيه السموات والأرض }

Maksud 'كرسي' pada ayat tersebut adalah: Ilmu.

Yang benar, bahwa Kursy adalah tempat kedua kaki, sedangkan Arasy, di atasnya Allah Ta'ala bersemayam.

Sedangkan ilmu merupakan sifat bagi yang berilmu. Dapat mengetahui apa yang diketahuinya"

Wallahua'lam.

Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab Tauhid (3/393-394)

 ===============================

Menurut Prof. Baiquni :

"Alam semesta yang berawal dari ”ketiadaan” sebagai gun- cangan vakum yang membuatnya memiliki energi yang sangat tinggi dalam singularitas bertekanan negatip. Vakum yang mempunyai kandungan energi luar biasa besar dan tekanan gravitasi negatip ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif yang luar biasa besar keluar dari singularitas."
Seiring dengan mengembangnya alam semesta, materi dan radiasi di alam semesta menjadi semakin dingin. Karena suhu merupakan ukuran energi rerata (atau kelajuan rerata) partikel, pendinginan semesta memiliki pengaruh terhadap materi yang dikan- dungnya. Ketika alam semesta mendingin, karena ekspansi yang super cepat, suhunya merendah melewati 1.000 trilyun-trilyun derajat (coba bandingkan, misalnya dengan suhu reaksi fusi di matahari yang ”hanya” sekitar 5.500 derajat celcius), pada umur 10 pangkat minus 35 detik, terjadilah gejalalewat dingin’.
Pada saat pengembunan tersentak, keluarlah materi dari bentuk energi yang mem- anaskan kosmos kembali menjadi 1.000 trilyun-trilyun (1 dengan 27 nol dibelakangnya) derajat. Namun, seluruh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10 pangkat minus 32 detik. Ekspansi alam semesta yang luar biasa, menggelembung dengan tiupan dahsyat dikenal sebagai gejala inflasi.
Selama proses inflasi ini, terdapat kemungkinan tak hanya satu alam saja yang muncul, tetapi beberapa alam, berapa jumlahnya?
Dan masing-masing alam dapat memiliki hukum-hukumnya sendiri yang tidak perlu sama dengan hukum alam semesta yang kita tempati. Karena materialisasi dari energi yang tersedia yang pada akhirnya berakibat terhentinya inflasi tak terjadi secara serentak, maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos.
Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini?
Saat umur alam semesta mendekati seperseratus detik, isinya adalah radiasi dan partikel-partikel subnuklir. Pada saat itu, suhu kosmos sekitar 100 milyar derajat celcius. Campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat serta bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai ”fluida” daripada zat padat, sehingga kosmolog menamainya ”sop kosmos”.

Nukleosintesis dan Shadow World

Antara umur satu detik hingga tiga menit terjadi proses yang dinamai proses nuk- leosintesis yakni proses penggabungan inti-inti atom. Dalam periode ini, inti atom- atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi nuklir. Saat, setelah umur alam semesta mencapai 700.000 tahun, elektron-elektron masuk dalam orbit mereka di sekitar inti dan bersama-sama inti membentuk atom sembari melepaskan energi radiasi; pada saat itu seluruh langit bercahaya terang-benderang dan hingga kini ”cahaya” ini masih dapat diamati sebagai radiasi gelombang mikro.
Menurut perhitungan para ilmuwan kosmologi, alam semesta mempunyai sekitar sepuluh dimensi; yaitu, empat dimensi ruang-waktu yang kita hayati, dan enam dimensi lainnya yang tak kita sadari, karena ”tergulung” dengan jari-jari 10 pangkat minus 32 sentimeter yang berwujud sebagai muatan listrik dan muatan nuklir.
Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang, katakanlah, ”terentang” sebagai ruang-waktu. Jika semua yang telah dirintis secara matematika ini memperoleh dukun- gan dari hasil ekperimen atau observasi, maka ada kemungkinan bahwa alam semesta yang kita huni ini mempunyai ”dunia kembaran”(shadow world ) yang sebenarnya ke- beradaannya di sekeliling kita, ia hanya dapat kita hubungi melalui medan gravitasi.
Sumber : Miftachul Hadi Applied Mathematics for Biophysics Group Physics Research Centre, Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

====================================

Sejak penciptaan sampai suhu kosmos turun menjadi seratus juta-juta-juta-juta-juta derajat. Dalam tahap ini, seluruh kosmos yang terdiri atas ruang, materi, dan radiasi telah ditentukan interaksinya, sifat serta kelakuannya, pada waktu itu, segala macam interaksi antara materi dan radiasi dapat ditunjukkan sama kuatnya, yang menurut pengamatan Abdus Salam menampakkan diri sebagai simetri dengan menunjukkan pada bagian akhir ayat 3 surat Al-Mulk yang menyatakan sebagai berikut:

Di dalam al-Qu’ran diinformasikan bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah, dan prinsipnya sama dengan pendapat yang ketiga. Proses penciptaan alam semesta diawali dengan firman Allah Q.S. Al Anbiyaa’ (20): 30. Menurut Agus Mustofa (2003), ada 6 tahap penciptaan alam semesta, yaitu:
=======================

Tahap Pertama  

Q.S. Al Anbiyaa’ (21): 30

Apakah orang-orang kafir itu tidak tahu bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu dulunya terpadu, lalu Kami pisahkan keduanya (dengan kekuatan). Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Dari ayat di atas dijelaskan jika dulunya seluruh benda-benda angkasa dan langit adalah sesuatu yang satu (terpadu/berimpit). Sesuatu itu disebut Sop Kosmos, yaitu cikal bakalnya alam semesta. Pada tahap ini, cikal bakal alam semesta itu berada dalam keadaan yang sangat labil disebabkan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi. Zat yang terkandung di dalam Sop Kosmos itu tidak bisa didefinisikan sesuai dengan ragam zat yang ada sekarang. Bukan zat padat, zat cair, dan juga bukan gas, melainkan semacam kumpulan energi yang sangat berbahaya (ekstrim). Sebab semua material dan energi di alam ini dikompres dalam sebuah titik yang berukuran hampir nol, dimana ruang dan waktu berada di dalamnya. Ketika itu waktu belum bergerak dan ruang belum tercipta. Semuanya terdapat di dalam cikal bakal alam semesta yang berukuran Hampir Tiada. Bahkan ada yang berpendapat bahwa cikal bakal itu sebenarnya adalah sebuah “Ketiadaan”. Alam ini muncul dari “Tiada” menjadi “Ada” lewat sebuah ledakan maha dahsyat dimana sebelum itu ruang, waktu, materi, dan energi tidak ada, Yang ada hanyalah “Ketiadaan Mutlak”.

Kenapa bisa terjadi ledakan yang maha dahsyat? Hal itu disebabkan karena Sop Kosmos tersebut dalam keadaan yang tidak stabil, sehingga akhirnya meledak dengan kekuatan yang maha dahsyat. Ledakan itu telah melontarkan materi, energi, ruang, dan waktu ke segala penjuru alam semesta hingga kini. Dari sinilah, awal waktu berjalan mulai dari nol. Ledakan yang maha dahsyat ini biasa kita kenal sebagai Teori Big Bang. Teori ini diperoleh dalam pengamatan teleskop Hubble, diketahui bahwa berbagai benda-benda angkasa semuanya bergerak menjauh. Artinya, karena benda-benda itu bergerak saling menjauh, maka mestinya dulu benda-benda itu saling dekat. Lebih dulu lagi, benda-benda itu semakin dekat. Dan pada suatu ketika, miliaran tahun yang lalu, semua benda angkasa tersebut berkumpul di satu titik yang sama (padu atau berimpit). Persis seperti yang telah dijelaskan oleh Allah dalam ayat di atas. Jadi setelah proses peledekan, alam semesta terus menerus mengembang hingga pada saat ini.

Q.S. Adz-Dzariyat (51): 47

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar mengembangkannya

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Q.S. Al-Mulk: 3).

Dalam tahap ini, kandungan energi dan materi dalam alam semesta ditentukan jumlahnya.
---------

Tahap Kedua

Sesaat setelah ledakan terjadi, pada detik pertama suhu alam semesta dari tak hingga turun menjadi 1010 derajat Kelvin. Ini sama dengan suhu di pusat matahari atau sama dengan suhu yang dihasilkan oleh bom hidrogen. Tidak ada material yang mampu bertahan terkena suhu setinggi itu.

100 detik kemudian setelah ledakan, diperkirakan suhu alam semesta turun menjadi 109 derajat atau 1 miliar derajat Kelvin. Ini sama dengan suhu di bintang yang paling panas. Dan beberapa jam kemudian tercipta partikel-partikel elementer pembentuk alam semesta dan kemudian tercipta atom-atom bermassa rendah seperti Hidrogen dan Helium. Pada saat itu, alam semesta masih dalam bentuk gas (asap) panas yang hanya mengandung dua atom tersebut.

Q.S. Fushilat (41): 11

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Menjelmahlah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami segera menjelma dengan suka hati”.”

Tahap Ketiga

Selama jutaan tahun kemudian, alam semesta tidak mengalami perubahan yang berarti. Akan tetapi terus menerus mengembang ke segala penjuru. Puluhan jenis unsur alam semesta pun tercipta. Ruang semesta semakin membesar dan waktu pun ikut bergerak maju.

Tahap Keempat

Selama kurun waktu miliaran tahun kemudian, terbentuklah benda-benda langit akibat pengelompokkan atom-atom dan molekul yang bersenyawa. Pada pembentukkan generasi pertama, terciptalah bintang-bintang atau gugusan bintang dari material yang memang hanya ada pada waktu itu, yaitu Hidrogen dan Helium.

Hidrogen dan Helium ini masih tersisa di dalam matahari maupun bintang-bintang di alam semesta. Dan setiap saat terjadi perubahan 4 atom hidrogen menjadi 1 Helium sehingga menghasilkan panas jutaan derajat Kelvin. Dan kemudian, panas itulah yang menyebabkan planet-planet mengorbit di sekitar matahari, termasuk planet Bumi.

Tanpa matahari, bumi tidak akan bisa memunculkan kehidupan. Jika suatu ketika matahari itu padam, bumi pun juga akan ikut mati. Dan matahari memang akan mati sekian juta tahun ke depan. Hal itu dikarenakan, matahari adalah sebuah tabung gas yang sangat besar, namun terus-menerus mengalami penurunan jumlahnya akibat terbakar setiap saat. Reaksi yang terjadi di dalam matahari itu disebut Reaksi Termonuklir atau Reaksi Fusi. Lama kelamaan atom Hidrogennya habis dan yang tersisa hanyalah atom Helium. Maka, berhentilah proses pembakaran di sana dan matahari pun padam.

Matahari kita ini terbentuk sekitar 5 miliar tahun yang lalu. Dia termasuk matahari generasi kedua, karena di dalamnya ditemukan gas-gas yang massa lebih besar dari Hidrogen dan Helium. Sekitar 2% massa matahari ternyata mengandung Oksigen dan Karbon.

Tahap Kelima

Alam semesta terus menerus mengembang ke segala penjuru. Sehingga dalam ruang raksasa tersebut, tercipta ruang-ruang yang memiliki dimensi yang berbeda-beda. Dalam al-Qur’an, ruang-ruang tersebut biasa disebut langit. Ruang-ruang yang terbentuk berjumlah tujuh buah. Di mana ruang pertama memiliki dimensi 3 (langit pertama merupakan tempat bumi berada. Oleh karena itu, segala benda yang ada di dalam langit pertama, termasuk manusia disebut benda berdimensi 3), ruang kedua berdimensi 4, begitu seterusnya hingga ruang ketujuh berdimensi 9.

Q.S. Ath Thalaaq (65): 12

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Q.S. Al Mulk (67): 3

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah sesuatu yang tidak seimbang?”

Tahap Keenam

Pada tahap ini, dikhususkan pada perkembangan-perkembangan yang terjadi di langit pertama (langit dunia). Di mana di langit pertama inilah tempat hidup manusia. Kenapa bisa demikian? Sebab dalam firman Allah, di langit pertama dihiasi dengan bintang-bintang yang indah. Lihat saja langit di atas kita, banyak bertaburan bintang-bintang yang indah bukan! Oleh karena itu, diambil kesimpulan bahwa bumi yang kita diami berada di langit pertama yang berdimensi 3. Jadi, semua makhluk yang ada di bumi adalah makhluk berdimensi 3.

Q.S. Fushilat (41): 12

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

Matahari dulunya berasal dari gas panas atau nebula yang berpusar. Di tengah pusaran itu terbentuk matahari. Sedangkan, di pinggir-pinggirnya terjadi pendinginan lokal yang lebih cepat daripada pusatnya. Akibat dari pendinginan itu, maka terbentuklah padatan-padatan yang kemudian terpental akibat gaya putar (gaya sentrifugal). Bagian yang terpental itu adalah cikal bakal planet-planet, termasuk planet bumi. Hal ini terjadi + 5 miliar tahun yang lalu.

Q.S. Fushilat (41): 11

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Menjelmahlah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab: “Kami segera menjelma dengan suka hati”.”

Sesuai dengan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa matahari tercipta terlebih dahulu daripada bumi, hal ini sesuai dengan al-Qur’an yang berbunyi:

Q.S. An Nazi’at (79): 29-30

Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya

Menurut Ir. Agus Haryo Sudarmojo (2008), pada ayat di atas, kata “terang” dan “gelapdisebutkan terlebih dahulu daripada kata “penghamparan bumi”. Hal ini mempunyai makna bahwa matahari diciptakan terlebih dahulu daripada bumi, mengingat adanya gelap dan terang terjadi karena adanya matahari.

Alam semesta diperkirakan berumur lebih tua daripada bumi. Menurut al-Qur’an, perbandingan umur alam semesta dan bumi sebesar 6 : 2. Hal ini didasarkan pada ayat berikut:

Q.S. As-Sajdah (32): 4

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?”

Q.S. Fushilat (41): 9

Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam””

Dengan melihat perbandingan umur dari alam semesta dengan bumi, bagaimana dengan pendapat para ahli mengenai perbandingan tersebut? Menurut para pakar, umur alam semesta diperkirakan 13.7 × 109 tahun dan umur bumi diperkirakan 4.56 × 109 tahun. Sekarang, coba kita bandingkan umur alam semesta dengan umur bumi menurut para pakar tersebut:

umur alam semesta : umur bumi

13.7 × 109 : 4.56 × 109

13.7 : 4.56 (masing-masing dibagi 2.283333)

6 : 2

Jadi semakin jelas bahwa perbandingan umur alam semesta dan bumi menurut al-Qur’an dan para ahli yaitu 6 : 2 tahun.

Pada akhirnya hingga sekarang proses penciptaan alam semesta tersebut belum berhenti. Setiap saat, selalu ada bintang atau matahari yang tercipta. Sebagaimana juga, selalu ada bintang atau matahari yang padam. Demikian pula, selalu ada planet-planet yang tercipta dan mengalami kehancuran. Benda-benda angkasa jumlahnya hampir tak terhingga, diperkirakan sekitar 1080 partikel yang bisa teramati oleh para peneliti.

Sumber:

Mustofa, Agus. Ternyata Akhirat Tidak Kekal. Surabaya: Padma Press. 2003

Mustofa, Agus. Terpesona di Sidratul Muntaha. Surabaya: Padma Press. 2004

Sudarmojo, Ir. Agus Haryo. Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam al-Qur’an. Bandung: Mizan Media Utama. 2008
---------------------------------

Al-quran selalu mengatakan dengan tepat, seperti adanya efek relavistik yang mengenai panjang waktu pada kondisi tertentu alam sekitar, terpadunya langit dan bumi, serta adanya sop cosmos sebelum penciptaan langit dan bumi diciptakan oleh Allah dalam enam masa, yaitu dalam waktu sekitar setengah juta sekon, pada saat itu, alam semesta masih berada pada tahap keempat, tetapi dalam tahap itulah, terbentuk suatu pengelompokan galaksi-galaksi yang mengisi langit dan galaksi, yang dalam evolusinya, menghasilkan matahari dan bumi seperti sekarang ini.

1.Anggota Alam Semesta

Di dalam alam semesta terdapat banyak sekali benda-benda angkasa atau benda-benda langit antara lain galaksi, bintang, planet, komet, meteor dan benda –benda yang ada diluar angkasa, dan diantara angota-angota alam semesta antara lain adalah :

  1. Galaksi

Galaksi adalah kumpulan benda-benda langit yang terdapat di dalam alam semesta ynag berjumlah jutaan , macam-macam galaksi:

  1. Glaksi Bimasakti

Di temukan oleh seorang astronomidari inggris Willian Harshel. Galaksi bima sakti terdiri atas 400 milyar bintang. Dengan garis tengah sekitar 130.000 tahun cahaya (1 tahun cahaya sama dengan 9.500 milyar kilometer) dan galaksi ini merupakan rumah bagi matahari dan juga planet-planetl lainnya termasuk bumi. Bentuk galaksi ini spiral dan membentuk bintang baru setiap tahunnya.

  1. Galaksi Magelan

Galaksi magelan adalah galaksi yang paling dekat dengan galaksi bilmasakti jaraknay kurang kurang lebih 150.000 tahun cahaya dan berada di belahan langit selatan, dan bentuk galaksi ini tidak beraturan.

  1. Galaksi Ursa Mayor

Galaksi ini berjarak 10.000.000 tahun cahaya dari galaksi bimasakti. Galaksi ini berbentuk elips dan tepat.

  1. Galaksi Andromeda

Galaksi andromeda dikatagorikan sebagai galaksi rasaksa, karena memiliki diameter sekitar 200 ribu tahun cahaya atau dua kali lebih besar dari galaksi bimasakti. Andromeda memiliki massa 300 sampai 400 billiun kali massa matahari. Berbentuk bulat khas dan dengan bentuk yang besar itulah memudahkan galaksi ini untuk diamati melalui teleskop sederhana. Galaksi andromeda berjarak 2,5 tuhun dari galaksi bimasakti.

  1. Bintang

Bintang adalah sebuah benda langit yang dapat memancarkan cahaya dan panasnya sendiri, bintang memiliki ukuran yang berbeda-beda setiap bentuknya. Beberapa buah bintang lebih kecil dari bumi dan ada pula yang beribu-ribu besar bentuknya dari bumi.

Bintang terbuat dari kabut debu dan gas yang sangat besar yang di sebut nebula. Terbentuknya bintang biasanya diawali dengan penumpukan debu dan gas karena danya gaya yang kuat, sehingga mendorong debu dan gas menjadi gumpalan bola yang besar. Di setiap tempat gaya itu mendorong ke-arah pusat bola dan mengakibatkan tekanan yang sangat besar, akibat tekanan ini maka suhuidalam bola semakin meningkat sehingga pusat bola menjadi panas. Karena debu dan gas yang semakin menekan kearah pusat dan menyebabkan bertamba naiknya suhu dan tekana pada bola setelah beberapa waktu seperti itu gas-gas tersebut menyala dan terbentuklah bintang baru.

Contohnya adalah : Matahari dan Bintang.
=============================

KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS
oleh Achmad Baiquni

Telah  banyak  kitab  yang   ditulis   ulama    masyhur   untuk menafsirkan   ayat-ayat   suci   al-Qur'an    --yang  merupakan garis-garis  besar  ajaran  Islam  itu--  dengan    menggunakan ayat-ayat   lain   di   dalam  kitab  suci   tersebut,  sebagai bandingan, dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan.  Namun, dalam  al-Qur'an  sendiri, ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini  secara  jelas  disebutkan  sebagai   "ayat-ayat    Allah", misalnya  dalam  surah  'Ali  Imran  190 disebut, Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi, serta silih  bergantinya  malam dan  siang,  terdapat  ayat-ayat  Allah  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Karenanya, maka sebagai padanan untuk mendapatkan  arti  ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran  ayat-ayat  al-Qur'an  yang berisi  konsep-konsep  Kauniyah  sangat bervariasi, tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam  semesta  itu  sendiri. Untuk  memberikan  contoh  yang  nyata,  kita  dapat   menelaah ayat-ayat  berikut,

Dan  tidakkah   orang-orang    kafir   itu mengetahui  bahwa    sama,  [1]  dan  ardh [2] itu dahulu sesuatu  yang  padu,  kemudian  kami  pisahkan  keduanya   (QS. al-Anbiya':  30. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. al-Dzariyat: 47).

Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama'  artinya  langit;  pengertiannya  ialah bahwa langit itu adalah  sebuah  bola  super  raksasa  yang  panjang   radiusnya tertentu,   yang  berputar  mengelilingi  sumbunya.  Dan   pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan  di malam hari. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia merasa yakin  bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari,  kapan  pun  juga.  Bintang-bintang tampak  tidak  berubah posisinya yang satu terhadap yang lain, dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu  hari  (siang dan malam).

Apa  yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia  diminta  memberikan  penafsiran  (bukan  sekadar    salinan kata-kata)  ayat-ayat  tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan  persepsinya  tentang  langit, serta  ardh  yaitu  bumi  yang  datar  yang dikurung oleh bola langit. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan  bahwa  ayat  30 surah   al-Anbiya'   itu  melukiskan  peristiwa  ketika   Tuhan menyebutkan  langit  menjadi  bola,  setelah  ia  sekian   lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa  konsep kosmologis  dalam al-Qur'an, mengenai penciptaan alam semesta, yang  dikemukakan  orang  itu  sangatlah  sederhana.  Dan   itu tidaklah     benar,    karena     konsepsinya    tidak    mampu mengakomodasikan  gejala  yang   dinyatakan   ayat    4   surah al-Dzariyat.

Sebuah  langit  yang  berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah  langit  yang  bertambah  luas.  Apalagi    kalau   ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya; tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. Pada hemat saya, sesuatu konsepsi   mengenai   alam  semesta  yang  benar   harus  dapat dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat   dalam   kitab   suci;   ia    harus  sesuai  dengan konsep-konsep kosmologis dalam  al-Qur'an.  Untuk  mendapatkan konsepsi  yang  benar  itu  pada  hakekatnya  telah   diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat  101  surah  Yunus, Katakanlah  (wahai Muhammad), Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. Yunus: 101). Dalam  teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah, Maka apakah mereka itu tak   memperhatikan   onta-dalam   intighon,    bagaimana    ia diciptakan.   Dan   sama',   bagaimana  ia   ditinggikan.  (QS. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). Serta dalam ayat 190  dan  191  surah Ali Imran, Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh, serta silih bergantinya siang dan  malam,  terdapat  ayat-ayat  bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan  berbaring,  dan pikirkan  tentang penciptaan sama' dan ardh, wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia; Maha suci Engkau, maka  peliharalah kami dari siksa azab neraka. (QS. Ali Imran: 190 dan 191).

Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini, maka muncullah di lingkungan   umat  Islam  suatu  kegiatan  observasional   yang disertai dengan pengukuran, sehingga ilmu tidak lagi  bersifat kontemplatif  belaka,  seperti  yang  berkembang di lingkungan Yunani,  tapi  mempunyai  ciri  empiris  sehingga   tersusunlah dasar-dasar  sains.  Penerapan metode ilmiah ini, yang terdiri atas  pengukuran  teliti   pada   observasi   dan    penggunaan pertimbangan  yang  rasional, telah mengubah astrologi menjadi astronomi. Karena telah menjadi kebiasaan para  pakar  menulis hasil   penelitian   orang  lain,  maka  tersusunlah   himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita  kenal  sebagai  sains. Jelaslah  di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar.

Kita ingat ayat 3,  4  dan  5  surah  al-'Alaq,  Bacalah,   dan Tuhanmulah  Yang Maha Pemurah. yang mengajar dengan qalam. [3] Dia mengajar manusia apa yang  tidak  diketahuinya.  Penalaran tentang    "bagaimana"    dan    "mengapa",   yang   menyangkut proses-proses alamiah di  langit  itu,  menyebabkan  timbulnya cabang  baru  dalam  sains  yang  dinamakan  astrofisika, yang bersama-sama  astronomi  membentuk  konsep-konsep   kosmologi. Meskipun  ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama, kiranya perlu kita pertanyakan  apakah  benar  konsep  kosmologi  yang berkembang dalam  sains  itu  sejalan  dengan  apa  yang  terdapat   dalam al-Qur'an.  Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada  para  cendekiawan  bukan  Islam sejak  pertengahan  abad  ke  13 sampai selesai dalam abad 17, sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka  acuan  budaya, mental  dan  spiritual  yang  bukan  Islam,  dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami.

Mari kita kaji sambil menelusuri  perkembangan  ilmu  kealaman sejak  akhir  abad 19 hingga akhir abad 20, ketika ia berjalan sangat  cepat,  jauh  melampaui  kelajuannya  dalam   abad-abad sebelumnya,  sejalan  dengan  kecanggihan  instrumentasi  yang dipergunakan dalam observasi  dan  matematika  sebagai  sarana komputasi. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan  ajaran  agama  kita,  sedangkan dalam  fase-fase  lain  menghasilkan  kesimpulan yang sehaluan dengannya.

Seseorang yang hidup pada akhir abad 19, yang telah mengetahui melalui  kegiatan  sainsnya,  bahwa  bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama, dan bahkan mampu mengukur jarak itu  dan mengatakan berapa massanya, tak lagi akan mengatakan, langit itu sebuah bola  super  raksasa.  Ia  akan  mengatakan, langit  adalah  ruang  jagad-raya,  yang  di dalamnya terdapat bintang-bintang,  sebagian   diikuti   satelitnya,    dan   ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Karena  konsep  kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton, ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas.

Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang  lalu  ini  tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an, karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya'  dan  ayat 47  surah  al-Dzariyat.  Lebih  dari  itu  bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita; sebab alam semesta yang tak terbatas dan  tak  berhingga  besarnyadianggap tak berawal dan tidak berakhir. Dan kita akan melihat  sepanjang  pertumbuhan  sains selanjutnya   bahwa   ide-ide  semacam  ini,  yang   mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng, ada sejak dulu  dan  akan ada  seterusnya,  selalu  timbul-tenggelam.  (Karena itu, maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang  ingin  mengejar ketinggalan  mereka  dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap  mengadakan  langkah-langkah  pengamanan   dengan meng-Islamkan  sains,  sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami).

Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad  ke 19  gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut  di  atas.  Padahal  mereka baru  merupakan  sebagian  saja  dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. Kita dapat  juga  mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut,

Dalam  pada  itu  Dia  mengarah  pada penciptaan sama', dan ia penuh dukhon [4], lalu Dia berkata kepadanya dan kepada  ardh, Datanglah   kalian  mematuhi-Ku  dengan  suka  atau   terpaksa; keduanya menjawab: kami datang dengan  taat  (QS.  Fushshilat: 11)

Maka  Dia  menjadikannya  tujuh  sama' dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya  masing-masing;  dan kami   hiasi  langit  dunia  dengan  pelita-pelita,   dan  Kami memeliharanya; demikianlah ketentuan Yang  Maha  Perkasa  lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat: 12)

Allah-lah  yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. al-Thalaq: 12)

Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada  di antara  keduanya  dalam  enam  hari,  dan  pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. al-Sajadah:4)

Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan  ardh  dalam  enam hari,  ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. Hud: 7)

Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan  lenyap, dan  sungguh  jika  keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun yang dapat menahan keduanya itu selain Allah; Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Fathir: 41)

Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis; sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan,  begitulah  Kami akan  mengembalikannya;  itulah  janji  yang akan kami tepati; sesungguhnya   Kamilah   yang   akan    melaksanakannya    (QS. al-Anbiya': 104)

Sekarang  mari  kira  cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. Kita telah melihat  dari  contoh-contoh  yang  diberikan, bahwa  dengan  bekal  pengetahuan  abad  19 saja seseorang tak mungkin memahaminya; meski ia seorang pakar yang ulung  sekali pun.  Sebab  konsepsinya  tentang  alam  semesta  memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an.

Apa yang akan dikatakan oleh  seorang  kosmolog  atau  seorang fisikawan  abad  20,  jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang  dihasilkan  penelitian  para  pakar? Secara   garis  besar,  jawabnya  kira-kira  sebagai   berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai  mengalami perubahan  sejak  tahun  1929  ketika Hubble melihat dan yakin bahwa  galaksi-galaksi  di  sekitar  Bimasakti  menjauhi   kita dengan kelajuan  yang  sebanding dengan jarak dari bumi;  yang lebih jauh kecepatannya  lebih  besar,  sehingga  dalam  sains terdapat  istilah  alam  yang mengembang (expanding universe). Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda; kuda yang  paling laju  akan  berlari  paling  depan.  Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui, tidak  sulit  untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari.

Pada  tahun  1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang  cacahnya  kira-kira  100  milyar  dan masing-masing  rata-rata  berisi  100  milyar bintang itu pada mulanya  berada  di  satu  tempat  bersama-sama  dengan   bumi, sekitar   15  milyar  tahun  yang  lalu.  Materi   yang  sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu  gumpalan  yang  terdiri dari   neotron;  sebab  elektron-elektron  yang  berasal   dari masing-masing  atom  telah  menyatu   dengan    protonnya   dan membentuk  neotron  sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing  elektron  dan  antara   masing-masing    proton. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi  itu ke seluruh ruang jagad-raya; peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang).

Sudah  barang  tentu   gumpalan   sebesar   itu    tak   pernah bergelimpangan  di ruang kosmos; sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi  sangat kecil. Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali  massa  sang  surya,  dan  bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang  massanya  jauh  melebihi  pulsar  dan jari-jarinya  menyusut  mendekati ukuran titik. Gambarkan saja dalam angan-angan, berapa besar kepadatan materi  dalam  titik yang  volumenya nol itu jika selurnh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di  dalamnya! Inilah  yang  biasa  disebut sebagai singularitas. Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan  alam semesta  ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar  dari  singularitas  dengan suhu yang tak terkirakan tingginya.

Para  pakar  berpendapat  bahwa  alam  semesta  tercipta   dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang  membuatnya  mengandung energi  yang  sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. Vakum yang mempunyai  kandungan  energi  yang luarbiasa  besarnya  serta  tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. Tatkala  alam  mendingin, karena ekspansinya, sehingga suhunya merendah melewati 1.000  trilyun-trilyun  derajat,  pada  umur 10-35  sekon,  terjadilah  gejala  "lewat  dingin".   Pada saat pengembunan tersentak, keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali  menjadi  1.000  trilyun-trilyun  derajat, dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar  biasa  selama waktu  10-32  sekon.  Ekspansi  yang  luar  biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi.

Selama  proses  inflasi ini, ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang  muncul,  tetapi  beberapa  alam;  berapa? duakah?  tigakah?  atau  berapa?  para ilmuwan tidak tahu. Dan masing-masing alam  dapat  mempunyai  hukum-hukumnya  sendiri; tidak  perlu  aturannya  sama dengan apa yang ada di alam kita ini. Karena materialisasi  dari  energi  yang  tersedia,  yang berakibat  terhentinya inflasi, tidak terjadi secara serentak, maka di lokasi-lokasi  tertentu  terdapat  konsentrasi  materi yang  merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam  ini tidak  seorang  pun  tahu;  namun  tatkala umur alam mendekati seper-seratus  sekon,  isinya   terdiri   atas    radiasi   dan partikel-partikel sub-nuklir. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel  dan  radiasi yang  sangat  rapat  tetapi  bersuhu  sangat  tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga  para  ilmuwan memberikan  nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang  dinamakan  nukleosintesis; dalam  periode  ini  atom-atom  ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. Baru setelah umur  alam  mencapai  700.000 tahun  elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi;  pada  saat  itu seluruh  langit  bercahaya  terang  benderang  dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro.

Menurut  perhitungan  kami, alam semesta mempunyai dimensi 10; yaitu 4 buah dimensi  ruang-waktu  yang  kita  hayati,  dan   6 lainnya  yang  tidak  kita  sadari,  karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai  muatan listrik  dan  muatan  nuklir.  Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang, katakan  saja,  "terbentang"  dan   mengejawantah sebagai  ruang-waktu.  Kalau  semua yang telah dirintis secara matematis  ini  mendapatkan  pembenaran  dari  eksprimen   atau observasi  di  alam luas, maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita  huni  ini  mempunyai  kembaran   (shadow    world)   yang sebenarnya  berada  di  sekeliling  kita,  tapi tak dapat kita lihat; ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya  gravitasi sedangkan  hukum  alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini.

Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. Sudah tentu apa yang dikatakan  itu  adalah  hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus.  Selama perjalanan  mencari  kebenaran  itu,  sebenarnya  sains   telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya,   karena   tak   cocok   dengan   kenyataan,  dan mendapatkan pembetulan. Saya akan mengungkapkan beberapa  saja yang relevan, sebagai contoh.

Pertama,  ketika persamaan matematis Einstein, yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta, dinyatakan oleh Friedman  bahwa ia  memberi  gambaran kosmos yang mengembang, ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu;  yaitu  kosmos  yang  statis. Tapi langkah pembetulan itu mendapat  tamparan,  karena   Hubble   mengobservasi    justeru jagad-raya  ini  berekspansi. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis, tapi berekspansi.

Kedua,  ketika  gagasan  Gamow  tentang  dentuman  besar   yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal  dikumandangkan beberapa  kosmolog  yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang  dikenal  sebagai  kosmos  yang  mantap   (steady    state universe)  yang  menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan  tanpa  akhir. Namun  terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform, oleh Wilson  dan Penzias  pada  1964,  telah  mendorong  para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman  besar.  Dengan  demikian  maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan.

Ketiga, ketika dentuman besar tak  dapat  disangkal,  beberapa ilmuwan   mencoba   mengembalikan   keabadian    kosmos  dengan mengatakan, alam semesta  ini  berkembang-kempis  (oscillating universe). Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu, meledak dan  masuk  kembali  tak henti-hentinya   tak  berawal  dan  tak  berakhir,   entropinya besarnya tidak terhingga; suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung  kenyataan.  Kita  lihat  bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui  kegagalan,  karena  tak  sesuai dengan kenyataan yang terobservasi.

Bagaimana para fisikawan-kosmolog  dapat  mengatakan  semuanya itu  tanpa  melihat  sendiri  kejadiannya?  Sebenarnya   mereka melihat dua gejala, yaitu ekspansi alam  semesta  dan  radiasi gelombang  mikro,  yang  mereka  pergunakan  untuk   menelusuri kembali peristiwanya yang  terjadi  sekitar  15  milyar  tahun lalu,  seperti  layaknya  tim  detektif  yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan  menggunakan  sekelumit  abu  rokok  dan pecahan-pecahan   gelas  yang  berserakan  di  sekitar   tempat kejadian. Kalau para  detektif  itu  cukup  memakai  penalaran logis   saja,   maka   para   pakar,  di   samping  menggunakan pertimbanganpertimbangan  rasional,  harus  melandasinya  juga dengan  pengetahuan  sunnatullahsegenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam, yang dalam ayat 23 surah al-Fath   dinyatakan  memiliki  stabilitas,  sebagai   sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak  dulu,  sekali-kali  kamu  tak  akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu.

Apakah  para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang  dianut  dalam  sains  yaitu, pertama,   alam   semesta  ini  "terbuka,"   sehingga  ia  akan berekspansi selamanya, dan kedua jagad  raya  ini  "tertutup," sehingga  pada  suatu  saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya  seluruhnya  mencebur  kembali dalam  singularitas, tempat ia keluar dulu kala. Kapan? Mereka tak  tahu.  Sebab  mereka  tak  mempunyai   informasi    berapa sebenarnya  massa  yang  terkandung  dalam  alam ini; sebagian massa itu bercahaya, sebagian gelap, sedangkan  sebagian  lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino.

Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali  semua  galaksi yang  bertebaran,  karena  bintang-bintang  yang bercahaya dan materi antar bintang,  yang  terobservasi  pengaruhnya,  hanya dapat  menyajikan  sekitar  20  persen  saja  dari   gaya  yang diperlukan, yaitu yang dinamakan gaya kritis.  Sedangkan  qaul yang  kedua  mendasari  pernyataannya  dengan adanya neutrino- neutrino yang mereka  percayai  membawa  sebagian  besar  dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui.

Sekarang  marilah  kita  gali  konsep-konsep  kosmologi   dalam al-Qur'an, tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas, dan yang saya pilih  di  antara  sekian  banyak  ayat  yang   mengandung konsep- konsep tersebut, sebagai berikut,

Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan  energi-materi  itu  dulu   sesuatu   yang    padu   (dalam singularitas),   kemudian  kami  pisahkan  keduanya  itu   (QS. al-Anbiya': 30)

Dan ruang  waktu  itu  Kami  bangun  dengan  kekuatan   (ketika dentuman  besar  dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya    (sebagai    kosmos   yang    berekspansi)   (QS. al-Dzariyat: 47)

Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh  "embunan" (dari materialisasi energi), lalu Dia berkata kepadanya  dan  kepada  materi:  Datanglah   kalian    mematuhi (peraturan)-Ku  dengan  suka atau terpaksa; keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. (QS. Fushshilat: 11).

Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta)  dalam dua  hari,  dan  Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing;  dan  kami  hiasi  ruang-waktu (alam)  dunia  dengan  pelita-pelita,  dan Kami memeliharanya; demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi  Maha  Mengetahui (QS. Fushshilat: 12)

Allah-lah  yang  menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta), dan materinya seperti itu pula. (QS. al-Thalaq: 12)

Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan pada saat itu pula menegakkan   pemerintahan-Nya    (yang    seluruh     perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. al-Sajadah: 4)

Dan Dia-lah yang  telah  menciptakan  ruang-waktu  dan  materi dalam enam hari, sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah  di  antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. Hud: 7)

Sesungguhnya  Allah  menahan  ruang-waktu  (alam  semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka),  dan  sungguh  jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah; sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. al-Fathir: 41)

Pada  hari  Kami  gulung  ruang-waktu  (alam  semesta) laksana menggulung lembaran tulis; sebagaimana Kami telah  mulai  awal penciptaan, begitulah Kami akan mengembalikannya; itulah janji yang  akan  kami  tepati;  sesungguhnya  Kamilah   yang    akan melaksanakannya (QS. al-Anbiya': 104).

Demikian   konsep-konsep  kosmologi  yang  dapat  digali   dari al-Qur'an  sebagaimana  saya  melihatnya  selaku  orang    yang berkecimpung  dalam  bidang  sains.  Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha  menarik-narik  al-Qur'an agar  sejalan  atau  cocok  dengan  sains,  hasil   karya pikir manusia, adalah suatu tuduhan  yang  tak  berdasar.  Apa  yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an; karena  ada  beberapa  konsepsi  sains yang  telah  saya tolak, karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. Dan tidak pula  saya  menarik  al-Qur'an  agar  sesuai   dengan sains.  Patokan  saya  adalah kebenaran kitab suci umat Islam, dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak.  Dan  bukankah justeru  Allah  swt  sendiri  yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi  kosmos  dan  radiasi  gelombang  mikro  kepada   para ilmuwan, untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya, hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam,  yang salaf, memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya  sesuai  dengan  perintah-Nya  dalam  surah Yunus  101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat  53,  Akan  Kami  perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka  itu  bahwa    ia (al-Qur'an) adalah yang benar.

Dalam  awal  uraian  saya  telah  dikatakan  bahwa   penggalian konsep-konsep kosmologi dalam  al-Qur'an  merupakan  pekerjaan yang  tak  kunjung  henti.  Memang begitulah karena sains akan terus berkembang dan akan senantiasa  menemukan  hal-hal  yang baru  yang  dapat  lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga dapat lebih memahami ayat-ayat Allah.

CATATAN

Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran.

1. Sama', kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa     yang dindingnya ditempeli bintang-bintang, melainkan ruang     alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang,     galaksi-galaksi dan lain-lainnya. Karena secara eksprimental     dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu     kesatuan, maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti     "ruang".

2. Ardh, bumi atau tanah; karena bumi baru terbentuk sekitar     4,5 milyar tahun lalu di sekitar matahari, dan tanah di bumi     kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai     kerak di atas magma. Maka saya condong mengartikan kata-kata     ardh dengan istilah "materi," yakni bakal-bumi, yang sudah ada     sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. Dan karena telah     terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari     yang satu menjadi yang lain, maka saya akan mencakup keduanya     dalam istilah energi-materi.

3. Qalam, pena; karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya     dengan pena, misalnya dengan lidi-aren, dengan pangkal bulu,     dengan bolpen, dengan vulpen, dengan kuas, dengan mesin ketik     dan lain-lain sebagainya, maka saya condong untuk menggunakan     istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". Malahan saya lebih     suka mengartikan sebagai "karya tulis".

4. Dukhan asap atau uap; pada saat awal penciptaan, atom-atom     yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan     elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom,     bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh     karenanya, maka saya condong menggunakan istilah embunan, yang     kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila     dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu     sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam     kasus ini bertrilyun-trilyun derajat).

5. Arsy, singgasana atau tahta; karena melukiskan Tuhan duduk     di singgasana adalah syirik, saya condong untuk menafsirkan     sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana, aparatur dan     peraturannya. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina     Graha, hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang     mengambil keputusan, melainkan pemerintah Indonesia yang     bertindak. Karenanya, maka saya lebih suka mempergunakan     katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata     arsy.

6. Ma', air atau zat alir; karena dalam fase penciptaan alam     itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen     belum dapat berbentuk, maka saya memilih maknanya sebagai zat     alir. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi     dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain     daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini, maka     penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan     zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat     tinggi, tidaklah terlalu aneh.

 

Views All Time
Views All Time
840
Views Today
Views Today
2
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

1 Comment on BUMI BULAT ... LANGIT juga BULAT ... sudah diJELASkan AL QUR'AN --------------------------------------- AL QUR'AN menjelaskan "segala SESUATU" ... >> Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan SEGALA SESUATU, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Q.S Yusuf:111 -------------------- SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA --------------------- Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah ---------------- TUJUH (7) langit = HAMPIR sama bentuknya dengan BUMI = universe = alam semesta <<<< ----------------------------- 7 LANGIT= 7 konstelasi = lapisan langit …. seperti BUMI [berbentuk BOLA .. efek dari BIG BANG } konstelasi bumi mulai dari elektron mengelilingi Inti …. sampai konstelasi pulau yg terpisahkan samudra /laut {memudahkan penggambaran pemahaman} --------------------------------------- konstelasi LANGIT /alam semesta/ universe .... <<< mulai dari langit 1 BINTANG dan PLANETnya ,,,,,,, << langit 2 {selanjutnya} .. al BURUJ/ gugusan bintang /kumpulan BINTANG/galaksi .... << langit 3 /selanjutnya .... gugusan/kumpulan BURUJ/ cluster .... << langit 4 ... gugusan/kumpulan CLUSTER / super cluster .... << sampai langit 7 SAJA {langit/samawat= TERBATAS= yg TIDAK terbatas adalah ALLAH .... ALLAHU AKBAR ... Allah MAHA BESAR --------------------------------------- ﴾ Ath Thalaaq:12 ﴿ Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. ٱللَّـهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا ﴿الطلاق:١٢﴾ ———————------------------------------------- << LANGIT terdekat … konstelasi BINTANg dan PLANETnya = langit 1 >>> -------------------- Ash Shaaffat:6 ﴿ Sesungguhnya Kami telah menghiasi {زَيَّنَّا} langit { ٱلسَّمَآءَ} yang terdekat {ٱلدُّنْيَا} dengan hiasan, yaitu PLANET-PLANET {ٱلْكَوَاكِبِ}, إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِزِينَةٍ ٱلْكَوَاكِبِ ﴿الصافات:٦﴾ ----------------------------- Qur-an menamakan planet itu dengan nama Kaukab. Kata jamaknya Kawakib, tetapi tanpa memberitahukan jumlahnya. Impian Nabi Yusuf menyebutkan sebelas (surat 12 atau surat Yusuf) akan tetapi ini adalah riwayat impian NabiYusuf. -------------------- ---------------------------------- HIASAN langit yg lain ..... GALAKSI /buruj... konstelasi PUSAT GALAKSI / blackhole / dwarf star dan BINTANG-BINTANG ..... LANGIT ke 2 --------------------- ﴾ Al Hijr:16 ﴿ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (GALAKSI / galaxy / KUMPULAN BINTANG-BINTANG /بُرُوجًا) dan Kami telah menghiasi {وَزَيَّنّٰهَا} langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِينَ ﴿الحجر:١٦﴾ ------------------------------- ﴾ Al Buruuj:1 ﴿ Demi langit yang mempunyai gugusan bintang {BURUJ/ٱلْبُرُوجِ} , وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ ﴿البروج:١﴾ ------------- ﴾ Al Furqaan:61 ﴿ Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang {BURUJ/ بُرُوجًا} dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا ﴿الفرقان:٦١﴾ ----------------- Galaksi atau yang dalam terminologi al-Qur’an disebut al-buruj,merupakan suatu sistem dari himpunan besar yang terdiri dari bintang-bintang yang jumlahnya jutaan, bahkan milyaran. Hornby mendefinisikan galaksi sebagai beberapa kelompok besar gugusan bintang-bintang di angkasa luar yang menghimpun tata surya kita. ========================= AL QUR'AN Menjawab .... Tuduhan Allah Menciptakan Bumi Datar ------------------------------------ BULATNYA BUMI DI JELASKAN DALAM AL-QUR’AN ------------------------------ SIFAT KETERBATASAN MANUSIA ITU ADALAH MERASA SEGALA TAHU DAN HANYA BERBEKAL TEORI YANG TERPANDANG OLEH MATA ---------------------------- Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah berkaitan dengan anggapan bahwa menurut Alqur’an bumi itu datar. ------------------------------- ------------ Ada satu ayat Al-Qur’an lagi yang patut kita perhatikan sebagai tambahan penjelasan masalah ini, inilah jawaban telak tentang tuduhan bumi itu datar menurut Alqur’an: surat Az-Zumar ayat 5 خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ “Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun.” (QS.Az-Zumar:5) ---------------- Kata “at-takwir” artinya adalah menggulung. Pada ayat di atas dengan jelas Allah berfirman bahwa malam menggulung siang dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu TEMPAT YANG BULAT secara bersama-sama. Bagaimana keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar….? Kalau saja kejadian itu pada tempat yang datar, mestinya akan lebih tepat jika dipakai kata MENIMPA atau MENINDIH. --------------------- Dari keterangan ayat di atas juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada permukaan bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam, dan separuh lagi permukaannya adalah siang hari. Hal ini dapat digambarkan dari keterangan ayat, dimana seolah-olah bagian kepala dari sang malam itu menggulung bagian ekor dari sang siang, namun pada saat yang sama bagian kepala dari sang siang sedang menggulung pula bagian ekor dari sang malam. Sebanyak bagian siang yang digulung malam, maka pada saat yang bersamaan, sebanyak itu pula bagian malam yang sedang digulung oleh sang siang. Sekali lagi, keterangan ini menggambarkan bahwa terjadinya hal menakjubkan tersebut di atas bumi, hanya jika permukaan BUMI ITU BULAT adanya…! -----------------

  1. ﴾ Ath Thalaaq:12 ﴿ Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
    ٱللَّـهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا ﴿الطلاق:١٢﴾

Leave a Reply