Loading
Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah? ————————– Banyak kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan bahwa perayaan maulid tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alasan mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah sehingga tidak seyogyanya seorang muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. ————————– Pengertian ringkas bid’ah ……………… Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127) ——————— Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : …… Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama………. Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama. ——————————————— Mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah? …………… Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ‘ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut. ——————— Definisi ‘ied ……………. Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “’Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267) ————— Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin. ————————– Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil ——————————————– Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. …….. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah ‘iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228) ————————- Adakah dalil dianjurkannya maulid? Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi. ————————— Kesimpulan hukum maulid ———————- Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas serta melihat penjelasan tentang ‘ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah : Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah). ——————– Inilah alasan pokok ————————- mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة “Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”) ————————— Terdapat kemiripan dengan perayaan orang kafir —————————– Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah. ————— Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh1 dan lainnya” (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80) ——————- | EP Artikel-Edy Gojira

Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah? -------------------------- Banyak kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan bahwa perayaan maulid tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alasan mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah sehingga tidak seyogyanya seorang muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. -------------------------- Pengertian ringkas bid’ah .................. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127) --------------------- Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : ...... Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama.......... Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama. --------------------------------------------- Mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah? ............... Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ‘ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut. --------------------- Definisi ‘ied ................ Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “’Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267) --------------- Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin. -------------------------- Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil -------------------------------------------- Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. ........ Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah ‘iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228) ------------------------- Adakah dalil dianjurkannya maulid? Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi. --------------------------- Kesimpulan hukum maulid ---------------------- Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas serta melihat penjelasan tentang ‘ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah : Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah). -------------------- Inilah alasan pokok ------------------------- mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة “Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”) --------------------------- Terdapat kemiripan dengan perayaan orang kafir ----------------------------- Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah. --------------- Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh1 dan lainnya” (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80) -------------------

Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah?

--------------------------

Banyak kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan bahwa perayaan maulid tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alasan mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah sehingga tidak seyogyanya seorang muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.
--------------------------

Pengertian ringkas bid’ah ..................

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127)
---------------------

Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : ......

  1. Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama..........
  2. Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama.

---------------------------------------------
Mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah? ...............

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahualaihi wa sallam. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut.
---------------------

cinta nabi bukan maulid nabi

Definisi ied ................

AbulAbbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267)
---------------

Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin.
--------------------------

Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil
--------------------------------------------

Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. ........

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228)
-------------------------

Adakah dalil dianjurkannya maulid?

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi.
---------------------------

Kesimpulan hukum maulid
----------------------

Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas serta melihat penjelasan tentang ‘ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah : Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah).
--------------------

Inilah alasan pokok
-------------------------
mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda,

و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة

Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”)
---------------------------

Terdapat kemiripan dengan perayaan orang kafir
-----------------------------

Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah.
---------------

Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh1 dan lainnya (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80)
-------------------

Mungkin saja Nabi dan para sahabat melakukannya jika mau

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, akan semakin menambah keyakinan kita untuk mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah jika melihat perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini.

Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya para salaf tidak merayakannya (maulid Nabi-pen) padahal ada faktor pendorong untuk merayakannya dan juga tidak ada halangan untuk merayakannya. Seandainya perbuatan itu isinya murni kebaikan, atau mayoritas isinya adalah kebaikan, niscaya para salaf radhiyallahuanhum lebih berhak untuk merayakannya. Karena mereka adalah orang yang lebih besar kecintaannya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahualaihi wa sallam dibandingkan kita. Mereka -para salaf- lebih semangat untuk berbuat kebaikan” (lihat Iqtidho Shirothil Mustaqim, 2/612-616, dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 198)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, seandainya Rasulullah, para sahabat, tabi’in, maupun 4 imam mazhab mau merayakan maulid Nabi, tentu mudah bagi mereka untuk merayakannya. Faktor pendorong merayakan maulid sudah ada, yakni kecintaan mereka kepada Nabi yang teramat besar, ditambah lagi tidak ada faktor yang menghalangi mereka untuk merayakannya. Namun, mengapa mereka tidak merayakannya? Apa sih susahnya maulidan? Hal ini semata karena keyakinan mereka bahwa maulid bukanlah ajaran Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penutup

Sebagai penutup, marilah sejenak kita renungi bersama kisah berikut ini.

Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari 2 raka’at setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memperbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata, “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab, Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”

Syaikh Al Albani berkomentar, “Ini adalah jawaban yang sangat indah dari Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullahu Ta’ala. Jawaban ini adalah senjata ampuh bagi orang yang gemar berbuat bid’ah yang menganggap baik banyak bid’ah dengan alasan isinya adalah zikir dan sholat! Merekapun mengingkari ahlus sunnah dengan memanfaatkan alasan tersebut. Mereka menuduh bahwa ahlus sunnah mengingkari zikir dan sholat! Padahal sejatinya, yang mereka ingkari adalah penyelisihan mereka terhadap sunnah dalam berzikir, sholat, dan sejenisnya” (Irwa-ul Ghalil, 2/236, dinukil dari Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 71-72)

Itulah kaum muslimin yang dimuliakan Allah, yang ahlus sunnah ingkari bukanlah zikir dan sholat itu sendiri, akan tetapi penyelisihan terhadap sunnah itulah yang menjadi poin penting pembahasan ini. Bagaimana tidak? Menyelisihi sunnah berarti menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Allah Ta’ala memerintahkan kita semua untuk selalu meneladani beliau. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua dan membimbing kita untuk senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, kehormatan, dan kecukupan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Mengabulkan do’a

Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Wallahu a’lam.

berbagai sumber
==================================
cinta rasul ikut sunnah rasulMencintai dan Mengikuti/ittiba’ Rasulullah S.A.W
……………………..…………………
…….Taqwa kepada Allah ….harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW
……………………..…..menCINTAI Nabi = menCONTOH nabi …. menjadikan Nabi Muhammad sebagai TUNTUNAN/ suri TELADAN dalam hidup
……………………..……………………..………………
Mencintai Rasulullah S.a.w bukan sebatas kata-kata. Cinta butuh bukti, dan bukti cinta kepada beliau adalah menjadikan pe­rikehidupan Beliau sebagai teladan
—————————————-
Be­rikut sejumlah Hadits yang menjelaskan hal tersebut. Namun sebelumnya per­ha­ti­kanlah Ayat ini:
Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni­mu atas dosa-dosamu.”. (QS Ali Imran: 31).

Ayat ini berkenaan dengan pernyata­an orang-orang kafir yang mengatakan bah­wa perbuatan mereka dengan me­nyembah berhala semata-mata adalah bentuk kecintaan kepada Allah dan agar memperoleh kedekatan dengan-Nya. Hal demikian dibantah Nabi S.a.w de­ngan menegaskan bahwa, jika mereka benar-benar mencintai Allah, hendaklah mendengarkan perkataaan Beliau yang diutus oleh Allah Ta‘ala. Allah S.w.t me­nurunkan ayat di atas kepada Nabi Mu­hammad S.a.w untuk disampaikan ke­pada mereka.

Ayat ini memiliki relevansi sebagai ayat untuk mencambuk semangat umat guna mengikuti jalan Rasulullah S.a.w. Kare­na, sebaik-baiknya teladan ialah jalan yang dicontohkan Beliau, jalan yang di­penuhi cahaya wahyu. Sebagaimana fir­man Allah yang artinya, “Tiadalah Ia (Nabi Muhammad S.a.w) mengatakan sesuatu ber­dasarkan hawa nafsunya, akan tetapi ia benar-benar wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS An-Najm: 3-4).

Dari Abu Hurairah R.a, dari Nabi S.a.w, Beliau bersabda, “Biarkanlah apa yang tidak aku terangkan kepada kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian dengan sebab terlalu banyak bertanya dan perselisihan mereka dengan nabi-nabi mereka. Jadi, jika aku melarang kalian akan sesuatu, tinggalkanlah; dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah se­mampu kalian.”. (Muttafaq `Alaih).

Al Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab Berpegang Teguh dengan Agama bab Mengikuti Sunnah Rasul­ullah S.a.w. Sedangkan Muslim meriwa­yatkannya dalam kitab Keutamaan-ke­utamaan bab Penghormatan Nabi S.a.w dan Meninggalkan Banyak Bertanya yang tidak Begitu Penting.

Sebab disabdakannya hadits ini ialah ketika Rasulullah S.a.w menyampaikan khutbahnya mengenai kewajiban ber­haji. Salah seorang sahabat bertanya ten­tang pelaksanakan haji, apakah se­tiap tahun ataukah tidak. Pertanyaan ini diulang berkali-kali sehingga Nabi ber­sabda sebagaimana teks di atas.

Hadits ini mengajarkan kita untuk ti­dak banyak bertanya yang justru menim­bulkan kesulitan, bahkan mengakibatkan adanya perselisihan. Cukuplah sesuatu yang disampaikan Rasululullah dipaha­mi dengan tidak secara berlebihan dan kekurangan. Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, “Janganlah kalian bertanya se­suatu (kepada Nabi) hal-hal yang jika di­terangkan kepada kalian niscaya me­nyulitkan kalian….”. (QS Al-Maidah 101).

Perselisihan atau perdebatan yang tidak perlu dapat melemahkan kekukuh­an persaudaraan dan mengakibatkan ke­hancuran. Hal yang demikian terjadi pada Bani Israil, yang berani berban­tah­an de­ngan para nabi yang diutus kepada me­reka, bahkan membunuh mereka. Se­tiap perbuatan yang dilakukan se­orang mu­kal­laf dalam menaati perintah Rasulullah S.a.w tentu akan menghadapi ber­bagai kesulit­an. Sehingga perintah atau sunnah itu se­suai konteks hadits terse­but, dimaksud­kan sekadar tingkat ke­sanggupan.

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah R.a, ia berkata, “Rasulullah S.a.w mem­beri kami sebuah nasihat yang meng­ge­tarkan hati dan mencucurkan air mata. Kemudian kami berkata, ‘Ya Rasulullah, nasihat engkau seakan-akan nasihat perpisahan. Wasiatkanlah (nasihatilah) kami’.”. Beliau S.a.w berkata:

‘Aku berwasiat ke­pada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, tetap mendengar perintah dan taatilah, sekalipun yang memerintah itu seorang budak Habasyi. Sesungguhnya orang-orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian memegang te­guh sunnahku dan sunnah para peng­gantiku yang diberi petunjuk Allah. Ber­pegangteguhlah pada sunnah-sunnah itu dan jauhilah urusan yang dibuat-buat. Sesungguhnya setiap bid`ah itu sesat’.”. (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadits ini dirangkum Abu Dawud da­lam kitab Sunnah bab Melazimkan Per­buatan Sunnah. Sedangkan At-Tirmidzi dalam kitab Ilmu bab Mengambil Jalan Sunnah dan Menjauhi Perbuatan Bid’ah.

Dalam pandangan Ibnu ‘Allan, pe­nulis Dalil al-Falihin, bid‘ah adalah se­suatu yang diada-adakan atau sesuatu yang baru yang bertentangan dengan tun­tunan Allah Ta‘ala dan dalil yang di­jadikan hujjah. Ini ada yang bersifat khash (khusus/spesifik) dan ‘am (umum/global).

Pada intinya, menurut keterangan pen­syarah, bid‘ah yang dianggap dha­lalah (sesat) adalah perbuatan yang di­ada-adakan dan menyalahi ruh syari’at Islam.

Hadits di atas menjelaskan ihwal kewajiban beriman dan bertaqwa hanya kepada Allah S.w.t dengan cara mengi­kuti perintah syari’at dan menjauhi la­rangan-Nya. Selanjutnya hadits ini me­nerangkan kewajiban taat kepada pe­mimpin yang mengajak berbuat ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hadits di atas juga mengkhabarkan salah satu ben­tuk mukjizat Nabi S.a.w tentang ra­malan Rasulullah mengenai sesuatu yang bakal terjadi di masa mendatang yang menimpa umat, yakni perselisihan dan perpecahan umat serta terbentuk­nya kelompok-kelompok umat Islam.

Dari Abu Hurairah R.a, dari Nabi S.a.w, bahwasanya Rasulullah S.a.w ber­sabda, “Seluruh umatku akan masuk sur­ga kecuali mereka yang berpaling.”. Lalu dikatakan, “Siapakah gerangan orang yang berpaling itu, wahai Rasul­ullah?”, Beliau menjawab, “Siapa yang me­naatiku akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku berarti ia telah berpaling.”. (HR Al-Bukhari).

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab Berpegang Teguh dengan Agama bab Mengikuti Sunnah Rasul­ullah S.a.w.

Untuk masuk surga, disyaratkan ke­taatan kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya. Setiap orang yang mengikuti sya­ri’at dari Allah Ta‘ala dan Rasulullah S.a.w, sesungguhnya ia orang yang men­cintai keduanya. Begitu pun sebaliknya, bila mengingkari syari’at Beliau berarti ia orang yang tidak mencintai keduanya. Na‘udzu billah.

Mencintai Nabi S.a.w bukan dengan sekadar berkata-kata dan mengaku-ngaku. Mencintai Nabi diperlukan ketulusan meng­ikuti syari’atnya, mencintai sunnah­nya, mencontoh adabnya, dan mencintai apa yang Nabi cintai seraya membenci apa yang Nabi benci.

“Mengikuti jalan Rasulullah S.a.w da­lam segala hal, baik perkataan, perbuat­an maupun budi pekerti, merupakan ben­tuk pengakuan sejati sebagai pecinta Beliau S.a.w”.

berbagai sumber
wallahua'lam

Views All Time
Views All Time
1479
Views Today
Views Today
7
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

4 Comments on Mengapa Maulid Nabi Dikategorikan Sebagai Bid’ah? -------------------------- Banyak kaum muslimin yang merayakan maulid Nabi. Telah banyak pula tulisan yang menjelaskan bahwa perayaan maulid tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Dengan memohon pertolongan Allah, sedikit bahasan ini akan memaparkan alasan mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah sehingga tidak seyogyanya seorang muslim merayakannya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. -------------------------- Pengertian ringkas bid’ah .................. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap perbuatan yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dalil yang menunjukkan disyari’atkannya perbuatan tersebut” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/127) --------------------- Berdasarkan pengertian di atas, maka ada dua poin penting yang dapat diambil : ...... Bid’ah hanya berkaitan dengan masalah agama.......... Bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam agama. --------------------------------------------- Mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah? ............... Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, tentu bagi saudara kita yang merayakannya, maulid adalah ibadah dan perayaan yang sangat agung yang dapat mendatangkan keridhoan Allah Ta’ala dan syafa’at Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maulid Nabi adalah perayaan yang rutin digelar setiap tahunnya sehingga maulid Nabi termasuk hari ‘ied dimana banyak dari kaum muslimin berkumpul di hari tersebut. --------------------- Definisi ‘ied ................ Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “’Ied adalah istilah yang diambil karena berulangnya sesuatu untuk sebuah perkumpulan besar. Bisa jadi yang berulang adalah tahun, pekan, bulan, atau semisalnya” (Fathul Majid, hal. 267) --------------- Dengan demikian, maulid dapat dikategorikan sebagai hari ‘ied berdasarkan pengertian di atas karena kesesuaian sifat-sifatnya, sama-sama rutin dan sama-sama merupakan perkumpulan besar kaum muslimin. -------------------------- Penentuan ibadah atau hari ‘ied kaum muslimin membutuhkan dalil -------------------------------------------- Akan tetapi, untuk menentukan suatu hari itu adalah ‘ied atau bukan maka membutuhkan dalil dari Al Qur’an atau As Sunnah. ........ Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan (suatu hari sebagai) ‘ied kecuali yang ditetapkan oleh syari’at sebagai hari ‘ied. Hari ‘ied (yang ditetapkan syari’at) tersebut adalah ‘iedul fithri, ‘iedul adha, hari-hari tasyrik dimana ketiga ‘ied tersebut adalah ‘ied tahunan, serta hari jum’at dimana hari jum’at adalah ‘ied pekanan. Selain dari hari-hari ‘ied tersebut, maka menetapkan suatu hari sebagai hari ‘ied yang lain adalah kebid’ahan yang tidak ada asalnya dalam syari’at” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 228) ------------------------- Adakah dalil dianjurkannya maulid? Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, sayangnya tidaklah kita temukan satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam. Tidak ada hadits Nabi, riwayat sahabat, serta ucapan 4 imam mazhab yang menunjukkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi. --------------------------- Kesimpulan hukum maulid ---------------------- Oleh karena itulah, dengan melihat definisi bid’ah di atas serta melihat penjelasan tentang ‘ied sebelumnya, maka yang dapat kita simpulkan adalah : Maulid adalah sebuah perayaan rutin (‘ied) yang tidak memiliki landasan sama sekali dalam agama sehingga tergolong perbuatan baru yang diada-adakan (baca : bid’ah). -------------------- Inilah alasan pokok ------------------------- mengapa maulid dikategorikan sebagai bid’ah. Maulid adalah perkara baru dalam agama yang tidak ada dasarnya sama sekali, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, و إياكم و محدثات الأمور فإن كل بدعة صلالة “Waspadalah kalian dari perkara-perkara baru (dalam agama) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata : “hadits ini hasan shahih”) --------------------------- Terdapat kemiripan dengan perayaan orang kafir ----------------------------- Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah. --------------- Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, “Termasuk ke dalam perbuatan bid’ah yang mungkar adalah : menyerupai orang kafir dan menyamai mereka dalam hari raya mereka dan perayaan mereka yang terlaknat sebagaimana yang dilakukan banyak orang awam dari kaum muslimin yang turut serta dalam perayaan orang nasrani pada Khamis al Baydh1 dan lainnya” (Al Amru bil Ittiba’, hal. 141, dinukil dari ‘Ilmu Ushul Al Bida’, hal. 80) -------------------

  1. ….Taqwa kepada Allah ….harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW
    ……………………..…..menCINTAI Nabi = menCONTOH nabi …. menjadikan Nabi Muhammad sebagai TUNTUNAN/ suri TELADAN dalam hidup
    ……………………..……………………..………………
    Mencintai Rasulullah S.a.w bukan sebatas kata-kata. Cinta butuh bukti, dan bukti cinta kepada beliau adalah menjadikan pe­rikehidupan Beliau sebagai teladan”
    —————————————-
    Be­rikut sejumlah Hadits yang menjelaskan hal tersebut. Namun sebelumnya per­ha­ti­kanlah Ayat ini:“Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni­mu atas dosa-dosamu.”. (QS Ali Imran: 31).

    Ayat ini berkenaan dengan pernyata­an orang-orang kafir yang mengatakan bah­wa perbuatan mereka dengan me­nyembah berhala semata-mata adalah bentuk kecintaan kepada Allah dan agar memperoleh kedekatan dengan-Nya. Hal demikian dibantah Nabi S.a.w de­ngan menegaskan bahwa, jika mereka benar-benar mencintai Allah, hendaklah mendengarkan perkataaan Beliau yang diutus oleh Allah Ta‘ala. Allah S.w.t me­nurunkan ayat di atas kepada Nabi Mu­hammad S.a.w untuk disampaikan ke­pada mereka.

    Ayat ini memiliki relevansi sebagai ayat untuk mencambuk semangat umat guna mengikuti jalan Rasulullah S.a.w. Kare­na, sebaik-baiknya teladan ialah jalan yang dicontohkan Beliau, jalan yang di­penuhi cahaya wahyu. Sebagaimana fir­man Allah yang artinya, “Tiadalah Ia (Nabi Muhammad S.a.w) mengatakan sesuatu ber­dasarkan hawa nafsunya, akan tetapi ia benar-benar wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS An-Najm: 3-4).

    Dari Abu Hurairah R.a, dari Nabi S.a.w, Beliau bersabda, “Biarkanlah apa yang tidak aku terangkan kepada kalian. Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian dengan sebab terlalu banyak bertanya dan perselisihan mereka dengan nabi-nabi mereka. Jadi, jika aku melarang kalian akan sesuatu, tinggalkanlah; dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah se­mampu kalian.”. (Muttafaq `Alaih).

  2. Dari Abu Hurairah R.a, dari Nabi S.a.w, bahwasanya Rasulullah S.a.w ber­sabda, “Seluruh umatku akan masuk sur­ga kecuali mereka yang berpaling.”. Lalu dikatakan, “Siapakah gerangan orang yang berpaling itu, wahai Rasul­ullah?”, Beliau menjawab, “Siapa yang me­naatiku akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku berarti ia telah berpaling.”. (HR Al-Bukhari).

    Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab Berpegang Teguh dengan Agama bab Mengikuti Sunnah Rasul­ullah S.a.w.

    Untuk masuk surga, disyaratkan ke­taatan kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya. Setiap orang yang mengikuti sya­ri’at dari Allah Ta‘ala dan Rasulullah S.a.w, sesungguhnya ia orang yang men­cintai keduanya. Begitu pun sebaliknya, bila mengingkari syari’at Beliau berarti ia orang yang tidak mencintai keduanya. Na‘udzu billah.

  3. nabi bersabda:“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

    Tasyabbuh dengan orang kafir ada dua macam: (1) tasyabbuh yang diharamkan, (2) tasyabbuh yang mubah (boleh).
    ..............................
    1- Tasyabbuh yang haram adalah segala perbuatan yang menjadi kekhususan ajaran orang kafir dan diambil dari ajaran orang kafir, tidak diajarkan dalam ajaran Islam.

    Terkadang tasyabbuh seperti ini dihukumi dosa besar, bahkan ada yang bisa sampai tingkatan kafir tergantung dari dalil yang membicarakan hal ini. Tasyabbuh yang dilakukan bisa jadi karena memang ingin mencocoki ajaran orang kafir, bisa jadi karena dorongan hawa nafsu, atau karena syubhat bahwa hal tersebut mendatangkan manfaat di dunia atau di akhirat.

    Bagaimana jika melakukannya atas dasar tidak tahu seperti ada yang merayakan ulang tahun (Ultah) padahal ritual seperti ini tidak pernah diajarkan dalam Islam? Jawabnya, kalau dasar tidak tahu, maka ia tidak terkena dosa. Namun orang seperti ini harus diberitahu. Jika tidak mau nurut, maka ia berarti berdosa.
    ....................................
    2- Tasyabbuh yang dibolehkan adalah segala perbuatan yang asalnya sebenarnya bukan dari orang kafir. Akan tetapi orang kafir melakukan seperti ini. Maka tidak mengapa menyerupai dalam hal ini, namun bisa jadi luput karena tidak menyelisihi mereka. Contohnya adalah seperti membiarkan uban dalam keadaan putih. Padahal disunnahkan jika warnanya diubah selain warna hitam. Namun jika dibiarkan pun tidak terlarang keras.
    -------------------------------
    Namun perlu diperhatikan bahwa ada syarat bolehnya tasyabbuh dengan orang kafir:
    .......................................
    1- Yang ditiru bukan syi’ar agama orang kafir dan bukan menjadi kekhususan mereka.

    2- Yang diserupai bukanlah perkara yang menjadi syari’at mereka. Seperti dalam syari’at dahulu dalam rangka penghormatan, maka disyari’atkan sujud. Namun dalam Islam telah dilarang.

    3- Syari’at menjelaskan bolehnya bersesuaian dalam perbuatan tersebut, namun khusus untuk amalan tersebut saja. Seperti misalnya dahulu Yahudi melaksanakan puasa Asyura, umat Islam pun melaksanakan puasa yang sama. Namun juga diselisihi dengan menambahkan puasa pada hari kesembilan dari bulan Muharram.

    4- Menyerupai orang kafir di sini tidak sampai membuat kita menyelisihi ajaran Islam. Misalnya, orang kafir sekarang berjenggot. Itu bukan berarti umat Islam harus mencukur jenggot supaya berbeda dengan orang kafir karena memelihara jenggot sudah menjadi perintah bagi pria muslim.

    5- Menyerupai orang kafir di sini bukan dalam perayaan mereka. Misalnya, orang kafir merayakan kelahiran Isa (dalam natal), maka bukan berarti kita pun harus merayakan kelahiran Nabi Muhammad (dalam Maulid Nabi). Jadi tidak boleh tasyabbuh dalam hal perayaan orang kafir.

    6- Tasyabbuh hanya boleh dalam keadaan hajat yang dibutuhkan, tidak boleh lebih dari itu.
    -------------------------------

    Hadits diatas adalah salah satu hadits yang menjelaskan tanda akhir zaman yaitu akan ada saatnya sebagian besar umat islam meniru-niru / tasyabuh terhadap budaya hidup orang kafir , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyelisihi kaum musyrikin secara mutlak, baik dari adat istiadat sampai penampilan. Karena dikhawatirkan jika mengikuti kebiasaan mereka nantinya juga akan beragama seperti mereka / kafir. Naudzubillah min dzalik

    Hadits tersebut juga dimaksudkan untuk mengingatkan umat ini akan perihal tersebut sehingga mereka berhati-hati supaya tidak termasuk orang-orang yang terkena fitnah akhir zaman yaitu tasyabuh (menyerupai orang kafir). Semua perbuatan maksiat yang terjadi saat ini mesti ada asal-usulnya pada umat-umat terdahulu akan tetapi orang yang diberi taufiq oleh Allah untuk mendapatkan hidayah, maka dia akan mendapatkan hidayah tersebut. Artinya, ada semacam kesimpulan bahwa perbuatan maksiat yang terjadi pada umat ini memiliki akar dan asal-usul pada umat-umat masa lampau. Demikian pula, bahwa tidaklah ada perbuatan yang dilakukan oleh umat-umat masa lampau melainkan akan ada pewarisnya pada umat ini.
    Imam an-Nawawy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan "Syibr (sejengkal)" " Dzirâ' (sehasta)" " Juhr adl-Dlobb (lubang masuk/rumah Dlobb) " adalah sebagai perumpamaan betapa mirip dan hampir samanya apa yang kelak dilakukan oleh umat ini dengan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani. Hal ini bukan di dalam melakukan kekufuran tetapi di dalam perbuatan maksiat dan pelanggaran-pelanggaran agama.

    Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa cara mengikuti itu ibarat bulu pada panah yang harus datar sehingga arah panahnya tidak nyasar. Demikian pulalah, kelak umat ini akan mengikuti sunnah / kebiasaan umat-umat terdahulu seperti itu.

    Ucapan Rasulullah ‘lubang masuk/rumah dlobb' karena lubang dlobb merupakan lubang binatang yang paling kecil dan perumpamaan ini hanya dimaksudkan sebagai al-Mubâlaghah (berlebih-lebihan). Artinya, bahwa umat ini benar-benar akan mengikuti mereka hingga bila diajak masuk ke lubang yang paling kecil sekalipun.Tentunya, bila diajak untuk memasuki lubang/rumah singa yang lebih besar, lebih pasti lagi mereka akan mengikutinya.

    Imam an-Nawawy -rahimahullah- menegaskan: "Ini merupakan mu'jizat yang nyata sekali dari Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam dan apa yang beliau beritakan telah benar-benar terjadi". Dan memang kita sadar atau tidak kita telah melihatnya baik itu dilingkungan sekitar kita maupun dari berbagai media berita elektronik maupun cetak dan berbagai media audio visual yang memberitakan berbagai peristiwa saat ini sangat cocok sekali dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW kepada kita, contoh kecil saja yaitu yang menimpa generasi muda sekarang ini, mereka mengaku islam akan tetapi tidak sadar banyak yang mengikuti budaya hidup artis-artis barat dari gaya pakaian sampai bentuk gaya rambut belum lagi pergaulan bebas, perayaan hari valentine, hura-hura tahun baru sampai permainan musik-musik band yang sangat marak sekarang ini, bahkan banyak sekali penonton yang histeria melihat “berhalanya” beraksi didepan panggung hal ini sungguh keadaan yang memprihatinkan. Semua hal yang dicontohkan kaum barat yang sangat mengerikan dampaknya yang semua itu tentunya sumbernya adalah dari kaum yahudi dan nasrani. Dampak semua itu sangat jelas yaitu bobroknya moral generasi muda dan menjauhkan mereka dari jalan yang lurus/agama. Hal itu contoh kecil saja belum lagi sistem politik negara kita yang mirip sekali dengan sistem hukum politik yahudi.

    Melihat nasib umat Islam di akhir jaman yang diprediksikan Rasulullah saw. Mereka akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nashrani, kecuali sedikit diantara mereka yang sadar. Dan prediksi tersebut sekarang benar-benar sedang menimpa sebagian besar umat Islam. Dari segi kehidupan sosial umat Islam hampir sama dengan mereka. Hiburan yang disukai, mode pakaian yang dipakai, makanan yang dinikmati, film-film yang ditonton, bebasnya hubungan lawan jenis dll. Pola hidup sosial Yahudi dan Nashrani melanda kehidupan umat Islam dengan dipandu mas media khususnya televisi. Dalam kehidupan ekonomi, sistem bunga atau riba mendominasi persendian ekonomi dunia dimana dunia Islam secara terpaksa atau sukarela harus mengikutinya. Riba’ yang sangat zhalim dan merusak telah begitu kuat mewarnai ekonomi dunia, termasuk dunia Islam. Lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti IMF, Bangk Dunia, WTO dll mendikte semua laju perekonomian di dunia Islam. Akibatnya krisis ekonomi dan keuangan disebabkan hutang dan korupsi menimpa sebagian besar dunia Islam.
    Begitu juga pengekoran umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani terjadi dalam kehidupan politik. Politik dibangun atas dasar nilai-nilai sekuler, mencampakkan agama dan moral dalam dunia politik, bahkan siapa yang membawa agama dalam politik dianggap mempolitisasi agama. Islam memang melarang menjadikan agama sebagai dagangan politik, tetapi Islam harus dijadikan landasan moral dalam berpolitik. Bahkan Islam telah memberikan landasan yang kuat dalam segala macam aktifitas berpolitik dan bernegara. Buruknya realitas sosial politik umat Islam di akhir zaman disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw, beliau bersabda yang artinya:
    Dari Tsauban berkata, Rasulullah saw. bersabda:” Hampir saja bangsa-bangsa mengepung kamu, seperti kelompok orang lapar siap melahap makanan”. Berkata seorang sahabat:” Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu ?” Rasul saw. menjawab:” Jumlah kalian pada saat itu banyak, tetapi kualitas kalian seperti buih ditengah lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh terhadap kalian, dan memasukkan kedalam hati kalian penyakit Wahn”. Berkata seorang sahabat:” Wahai Rasulullah saw., apa itu Wahn ?”. Rasul saw. Berkata: “Cinta dunia dan takut mati” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
    Inilah sebab utama dari kekacauan umat Islam saat ini, yaitu Wahn. Penyakit cinta dunia dan takut mati sudah menghinggapi mayoritas umat Islam, sehingga mereka tidak ditakuti lagi oleh musuh, bahkan menjadi bulan-bulanan orang kafir. Banyak umat Islam yang berkhianat dan menjadi kaki-tangan musuh Islam, hanya karena iming-iming dunia. Bangsa Amerika, Israel dan sekutunya menjadi kuat di negeri muslim, karena di setiap negeri musuh banyak agen dan boneka AS dan Israel. Bahkan yang lebih parah dari itu agen AS dan Israel itu para penguasa di negeri muslim atau kelompok yang dekat dengan penguasa. Dunia dengan segala isinya seperti harta, tahta dan wanita sudah sedemikian kuatnya memperbudak sebagia umat Islam sehingga mereka menjadi budak para penjajah, baik AS Nashrani dan Israel Yahudi. Dan pada saat mereka begitu kuatnya mencintai dunia dan diperbudak oleh dunia, maka pada saat yang sama mereka takut mati. Takut mati karena takut berpisah dengan dunia dan takut mati karena banyak dosa.
    ------------------------------

    HARAMNYA TASYABUH (MENYERUPAI ORANG KAFIR)
    Dalam hadist diatas Rasulullah mensinyalir bahwa umat ini akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang Yahudi dan Nashrani. Rasulullah telah melarang / mengharamkan kita mengikuti cara mereka tersebut yaitu penyerupaan di dalam banyak hal dari gaya pakaian apalagi sampai mengikuti ibadah .
    Dalam hadits Rasulullah banyak sekali larangan agar kita jangan menyerupai suatu kaum, terutama sekali terhadap orang-orang Yahudi dan Nashrani, diantaranya sabda beliau:

    "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka". (H.R.)

    Imam al-Munawy dan al-‘Alqamy mengomentari makna ‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum', yakni secara zhahirnya dia berpakaian seperti pakaian mereka, mengikuti gaya hidup dan petunjuk mereka di dalam berpakaian serta sebagian perbuatan mereka.

    Al-Qary mengatakan: "Barangsiapa menjadikan dirinya serupa dengan orang-orang kafir, misalnya di dalam berpakaian dan selainnya atau serupa dengan orang-orang fasiq, Ahli Tasawwuf atau serupa dengan orang-orang yang lurus dan baik, maka ‘dia adalah bagian dari mereka', yakni di dalam mendapatkan dosa atau kebaikan/pahala".

    BERBAGAI KEMIRIPAN UMAT INI TERHADAP KAFIRIN
    Beirkut ini adalah berbagai kemiripan/penyerupaan umat islam terhadap kaum kafirin baik dari segi agama, hukum politik maupun dari segi tradisi, :
    I. Pensikapan terhadap Wahyu Allah SWT :
    Pensikapan sebagian umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an sebagaimana Yahudi dan Nashrani mensikapi Taurat dan Injil. Kemiripan sikap ini pula menimbulkan fenomena dan dampak yang agak sama yang menimpa antara umat Islam dengan mereka. Beberapa kemiripan tersebut seperti disebutkan dalam informasi Al-Qur’an dan Hadits sbb:
    § Umiyah (Buta Huruf tentang Al-Qur’an) Allah swt berfirman yang artinya:“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga” (QS Al-Baqarah 78). Sifat yang menimpa bangsa Yahudi terkait dengan kitab Tauratnya juga menimpa umat Islam terkait dengan Al-Qur’an, dimana mayoritas umat Islam buta huruf tentang Al-Qur’an, dalam arti tidak pandai membacanya apalagi memahaminya dengan baik.

    § Juz’iyah Al-Iman (Parsial dan Tidak Utuh dalam Mengimani Al-Qur’an) Allah swt berfirman yang artinya:“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” (QS Al-Baqarah 85).
    Ayat yang menyebutkan sikap Bani Israil terhadap Taurat ini juga menimpa umat Islam dimana banyak diantara mereka yang beriman pada sebagian ayat Al-Qur’an dan ingkar pada sebagian ayat yang lain. Umat Islam banyak yang beriman pada ayat yang mengajarkan shalat, puasa dan haji, tetapi mereka juga mengingkari ayat atau ajaran lain seperti tidak mengimani pengharaman riba’, tidak beriman pada ayat-ayat yang terkait hukum pidana (qishash dan hudud) dan hukum-hukum lain yang terkait dengan masalah politik dan pemerintahan.
    § Ittiba Manhaj Al-Basyari (Mengikuti Hukum Produk Manusia)“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maa-idah 49-50)
    Inilah musibah terbesar yang menimpa umat Islam di hampir seluruh dunia Islam pada akhir zaman, mereka mengikuti hukum sekuler buatan manusia. Bahkan di negara yang mayoritas penduduknya umat Islam, mereka tidak berdaya bahkan menolak terhadap pemberlakuan hukum Islam. Kondisi ini akan tetap berlangsung sehingga mereka merubah dirinya sendiri, berda’wah dan membebaskan dari semua pengaruh asing yang menimpa umat Islam.
    § Tidak Memahami Kedudukan Al-Qur’an“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al-Israa’ 9)
    Umat Islam tidak mengetahui dan tidak mendudukkan Al-Qur’an sesuai fungsinya. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai hidayah untuk manusia yang hidup tetapi banyak diselewengkan, Sebagian umat Islam hanya menggunakan Al-Qur’an terbatas sebagai bacaan untuk orang meninggal dan dibaca saat ada orang yang meninggal. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pedoman hidup hanya ramai di musabaqahkan. Sebagaian yang lain hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai kaligrafi yang menjadi hiasan dinding di masjid-masjid atau di tempat lainnya. Sebagian yang lain menjadikan Al-Qur’an sebagai jimat, yang lain hanya menjadi pajangan pelengkap perpustakaan yang jarang dibaca atau bahkan tidak pernah dibaca.
    § Hajr Al-Qur’an (Meninggalkan Al-Qur’an) Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan.”

    Meninggalkan Al-Qur’an adalah salah satu masalah besar yang menimpa umat Islam. Umat Islam banyak yang meninggalkan Al-Qur’an, dalam arti tidak memahami, tidak membaca, tidak mentadaburi, tidak membaca, tidak mengamalkan dan tidak menjadikan pedoman hidup dalam kehidupan mereka. Umat Islam lebih asyik dengan televisi, koran, majalah, lagu-lagu, musik dan lainnya. Jauhnya umat Islam menyebabkan hinanya mereka dalam kehidupan dunia. Salah satu rahasia kejayaan umat Islam apabila mereka komitmen dengan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.
    II. Pensikapan terhadap Ahli Agama / Ulama :
    Allah SWT. Berfirman yang artinya:
    ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah 31)
    Inilah sikap Yahudi dan Nasrani terhadap ahli agama mereka. Dan ternyata banyak dari umat Islam yang mengkultuskan ulama dan kyai dan menempatkan mereka pada posisi Tuhan yang suci dan tidak pernah salah. Terkait dengan surat At-Taubah 31, diriwayatkan dalam beberapa hadits diantaranya oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan At-Tabrani bahwa Adi bin Hatim yang baru masuk Islam datang kepada Rasulullah saw. yang masih memakai kalung salib dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk melepaskannya. Kemudian Rasul saw. membacakan ayat tadi. Adi menyanggahnya:” Wahai Rasulullah kami tidak menyembahnya”. Tetapi Rasulullah saw menjawabnya:” Bukankah mereka mengharamkan yang dihalalkan Allah dan menghalalkan yang diharamkan Allah ?” Betul, kata Adi. Rasul saw. meneruskan:” Itulah ibadah mereka”. Demikianlah pendapat mayoritas ulama jika sudah menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan mentaatinya maka itulah bentuk penyembahan terhadap ahli agama. Dan ini pula yang banyak menimpa umat Islam, mereka mentaati secar buta apa yang dikatakan ulama atau kyai padahal bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.
    III. Pensikapan terhadap Dunia
    Penyakit utama Yahudi adalah sangat rakus terhadap dunia, baik harta, kekuasaan maupun wanita sebagaimana direkam dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman yang Artinya: ”Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Baqarah 96).
    Penyakit ini pula yang menimpa sebagian besar umat Islam sebagaimana disebutkan dalam hadits Wahn. Perlombaan sebagian umat Islam terhadap dunia telah membuat mereka buta dan tuli sehingga menghalalkan segala cara. Inilah fenomena yang terjadi di Indonesia dan sebagian negeri muslim lainnya. Mayoritas penduduknya muslim tetapi menjadi negera terkorup di dunia, paling banyak hutangnya, paling jorok, paling rusak dll. Sungguh sangat jauh antara Islam dan realitas umat Islam.
    Diantara dorongan dunia yang paling kuat daya tariknya adalah syahwat wanita. Dan inilah yang sedang menimpa kita. Fenomena seks bebas, pornografi merupakan santapan harian bagi sebagian umat Islam, begitu gencarnya serangan dari barat baik melalui televisi, majalah dan internet meluncurkan rudal pornografi dan budaya asusila yang tepat sasaran kepada umat islam generasi ini lebih-lebih generasi muda saat ini yang kita melihat begitu besar dampaknya terhadap kemerosotan moral dan agama. Dan realitas ini sangat cerdas dimanfaatkan oleh si “artis-artis” pengumbar aurot baik itu yang dicafe-cafe, bar-bar, maupun ditelevisi. Manusia yang sedang rakus dan lahap terhadap syahwat mendapatkan makanan dan pemandangan yang sangat cocok bagi mereka. Memang manusia Indonesi sedang terkena penyakit dan penyakit itu adalah penyakit hati dan syahwat. Dan “artis-artis” pengumbar aurot memuaskan rasa sakit itu, sebagaimana NARKOBA memuaskan orang yang sedang kecanduan NORKOBA itu.
    Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Said Al-Khudri ra. Nabi saw. bersabda:” Sesungguhnya itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah akan menguji kalian, maka Allah akan melihat bagaimana kamu memperlakukan dunia. Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama menimpa Bani Israil adalah pada wanita” (HR Muslim)
    IV. Pensikapan terhadap Akhirat.
    Allah SWT. Berfirman yang artinya: Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?". (Bukan demikian), yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS Al-Baqarah 80-81).
    Inilah sikap mereka yaitu Yahudi terhadap akhirat, lebih khusus lagi terhadap neraka. Mereka meremehkan siksa api neraka. Dan ternyata penyakit ini juga banyak menimpa umat Islam. Sebagian umat Islam yang meremehkan siksa api neraka membuat mereka melalaikan kewajiban Islam, seperti menegakkan shalat, zakat, puasa, haji, menutup aurat dll. Pada saat yang sama mereka juga tidak takut berbuat dosa. Inilah fenomena potret umat Islam. Umat Islam yang melakukan korupsi, suap, manipulasi, dan curang dalam kehidupan politik. Umat Islam yang bertransaksi dengan riba dalam kehidupan ekonomi. Umat Islam yang meramaikan tempat hiburan dan prostitusi dalam keremangan malam, bahkan siang sekalipun. Umat Islam yang memenuhi meja-meja judi disetiap pelosok kota dan negeri. Umat Islam yang banyak menjadi korban NARKOBA. Umat Islam dan sebagian kaum muslimat yang buka aurat bahkan telanjang ditonton masyarakat. Dan masih banyak lagi daftar kejahatan sebagain umat yang mengaku umat Islam. Dan itulah potret dan realitas umat Islam hari ini.
    V. Pensikapan Terhadap Tradisi Ahlul Kitab
    Hari-hari besar (perayaan-perayaan) walau sebagian besar termasuk dalam perkara ibadah, tetapi kadang-kadang ada beberapa bagian yang termasuk adat-istiadat. Kecuali yang dikhususkan dalam syari’at dengan dalil-dalil yang banyak, dan mengingat pentingnya, maka dikhususkan pelarangannya dengan alasan ada unsur tasyabbuh di dalamnya. Khusus bagi kaum muslimin, bahwa dalam satu tahun hanya ada dua hari raya saja (Idul Fitri dan Idul Adha). Adapaun hari-hari besar lainnya, seperti Maulid Nabi, tahun baru Muharram, hari-hari besar nasional, perayaan-perayaan rutin yang mengambil satu hari dalam setahun, satu kali dalam sebulan, dua hari sekali atau seminggu penuh yang selalu diperingati masyarakat, semua itu termasuk tasyabbuh sebagaimana yang dimaksud dalam nash-nash.
    Dewasa ini kita temukan berbagai ritual dan perayaan-perayaan yang dilakukan mayoritas umat islam khususnya generasi muda saat ini, yang tentu saja hal itu tidak mereka sadari ternyata adalah budaya umat yahudi maupun nasrani yang mereka sangka itu adalah budaya modern yang gaul, memang gengsi dan suka bergaya ‘gaul’ justru menjerumuskan manusia kelembah kebinasaan, diantara tradisi-tradisi orang musyrik kafir yang banyak ditiru oleh umat islam saat ini adalah :
    1. Perayaan Tahun Baru
    2. Perayaan Valentine Day (Hari perzinaan bebas)
    3. April MOP
    4. Perayaan Ulang Tahun
    5. Perayaan Maulid Nabi dll
    6. Bahkan ada yang Merayakan Natal paskah dsb.
    7. Perayaan-perayaan lainnya yang tidak dicontohkan Nabi seperti tahlilan, haul, ruwatan dsb (meniru umat hindu).

    GOLONGAN-GOLONGAN YANG DILARANG DITIRU GELAGATNYA (DI-TASYABUHI)
    Dengan menelaah dan mengkaji nash-nash syar’i maka kita akan dapat mengenali beberapa golongan yang dilarang untuk ditiru, tidak saja secara garis besar, tetapi juga secara mendetil. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai golongangolongan yang haram ditiru ;

    Golongan Pertama: Orang Kafir
    Sebagaimana telah dinyatakan, bahwa secara umum bertasyabbuh kepada orang-orang kafir, dengan tanpa kecuali, adalah sangat terlarang. Termasuk golongan ini adalah orang-orang musyrik, Yahudi, Nasrani, Majusi, Syaibah, orang-orang Komunis, dan lain-lain. Kita dilarang bertasyabbuh terhadap setiap perkara yang merupakan ciri khas orang kafir, baik dalam ibadah, adat-istiadat, maupun pakaian. Seperti sabda Nabi kepada Abdullah bin Umar . Ketika beliau melihatnya berpakaian dengan dua pakaian berwarna kuning keemasan, sabda beliau , “Sesungguhnya pakaian ini adalah dari orang-orang kafir, maka janganlah kamu memakainya.” Hal ini merupakan dalil, bahwa jika pakaian itu merupakan pakaian khas orang-orang kafir maka seorang muslim tidak boleh memakainya.

    Sebagian pakaian yang merupakan pakaian khas orang kafir adalah pantalon. Oleh karena itu tidak boleh memakainya di negeri-negeri muslimin, walaupun banyak dipakai oleh orang yang serba kebarat-baratan dan inilah yang banyak menimpa di sebagian negeri-negeri muslimin. Akan tetapi, ibrah (contoh pelajaran) harus diambil dari orang-orang yang istiqamah, orang-orang yang faqih dalam agama, bukan dari banyaknya orang yang memakai, karena pantalon yang ketat menampakkan bentuk aurat. Sebagian lagi ciri khas orang kafir, contohnya topi Yahudi dan lambang salib milik orang-orang Nasrani.

    Golongan Kedua: Orang-orang Musyrik
    Kita telah dilarang bertasyabbuh terhadap cara ibadah mereka, perayaan hari-hari besar mereka, perbuatan-perbuatan mereka, seperti muka’an wa tashdiyah yakni beribadah dengan cara bersiul-siul dan bertepuk tangan, minta syafa’at dan tawassul dengan makhluk ciptaan Allah Ta’ala di dunia, bernadzar dan berkurban di pekuburan, dan perbuatan-perbuatan lainnya. Termasuk perbuatan yang dilarang pula yakni meninggalkan padang Arafah sebelum maghrib (dalam berhaji) sebab perbuatan tersebut merupakan perbuatan kaum musyrikin.
    Para pendahulu kita (as-salafus shalih) sangat membenci setiap perkara yang merupakan ciri khas milik orang-orang musyrik dan semua yang termasuk perbuatan-perbuatan mereka. Seperti kata Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dan yang lainnya, “Barangsiapa yang membuat bangunan di negeri orang-orang musyrik serta membuat panji-panji dan pataka-pataka (bendera lambang komando) mereka hingga akhir hayatnya, maka akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.” (Sunan Baihaqi juz IX hal. 234).
    Dan Ibnu Umar membenci meletakkan hiasan-hiasan di masjid dan melarang dari hal tersebut serta semua hal yang berhubungan dengan masalah itu, karena menurut beliau . bahwa hal itu menyerupai patung-patung orang musyrik (Iqtidla Shirathal Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah juz I hal. 344).

    Golongan Ketiga: Ahli Kitab
    Yang dimaksud Ahli Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kita dilarang meniru semua perkara yang merupakan ciri khas orang-orang Yahudi dan Nasrani, baik dalam bidang aqidah, ibadah, adat-istiadat (budaya), dalam berpakaian, atau hari-hari besar mereka. Contohnya: membuat bangunan di atas kuburan, dan menjadikannya masjid, menggantungkan gambar-gambar (foto-foto), mengekspose wanita, meninggalkan makan sahur, tidak menyemir rambut yang memutih (dengan warna selain hitam, pent.), menggantung atau memasang salib, ikut memperingati dan merayakan hari-hari besar mereka dan lain-lain.

    Golongan Keempat: Orang-orang Majusi
    Sebagian ciri khas orang-orang Majusi adalah menyembah dan beribadah kepada api, mensucikan raja-raja dan para pembesar, mencukur rambut bagian kuduk dan membiarkan rambut bagian depan (model mohawk, dst), mencukur jenggot, memanjangkan kumis, meniup peluit atau terompet, dan memakai piring atau bejana dari emas dan perak.

    Golongan Kelima: Persia dan Romawi
    Termasuk golongan ini tentu saja Ahli Kitab, Majusi dan lainnya, Persia dan Romawi. Kita juga telah dilarang bertasyabbuh dengan hal-hal yang merupakan ciri khas mereka dalam peribadatan, kebudayaan, cara dan tata tertib keagamaan. Seperti, mengagungkan dan mensucikan pembesar-pembesar dan orang-orang terhormat, mentaati pendeta (alim ulama) dan rahib-rahib (orang-orang shalih) yang mensyari’atkan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah Ta’ala, berlebih-lebihan serta melampaui batas dalam beragama.

    Golongan Keenam: Orang-orang ‘Ajam yang Bukan Muslimin
    Hal ini berdasarkan sabda Nabi ketika beliau melarang seorang laki-laki yang memakai sutera di bagian bawah pakaiannya, dengan sabda beliau , “Seperti orang ‘Ajam (bukan Arab, non Muslim)” (HR. Abu Dawud no. 4049), atau terhadap orang yang menambahkan sutera di bagian pundak pakaiannya, dengan sabdanya , “Seperti orang ‘Ajam (bukan Arab, yang non muslim)” (lihat Iqtidla Shirathal Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah juz I hal. 304).

    Dan, beliau juga melarang berdiri menyambut pembesar sebagai penghormatan. Bahkan, beliau melarang perbuatan yang sama bagi makmum terhadap imamnya dengan alasan yang sama, sebab dikhawatirkan mereka memahami bahwa yang demikian itu adalah salah satu cara penghormatan. Hal itu sebagaimana dinyatakan dalam asbabul wurud dari hadits tersebut, bahwa yang demikian itu bertasyabbuh dengan perbuatan orang-orang ‘Ajam yang berdiri untuk menghormati kedatangan pembesar-pembesar mereka. Hal inilah yang dilarang, karena bertasyabbuh dengan orang-orang kafir ‘Ajam, (HR. Muslim no. 413). Perkara ini dikuatkan pula oleh Umar bin Khattab Beliau melarang berpakaian seperti orang ‘Ajam sebagaimana halnya terhadap orang-orang musyrik. Beliau menyampaikan larangan tersebut dengan keras sekali. Demikian pula dengan yang diisyaratkan oleh para as-salaf ash-shalih.

    Golongan Ketujuh: Orang-orang Jahiliyah dan Ahlinya

    Kita juga telah dilarang dari segala hal yang berbau jahiliyah, baik dalam akhlak, ibadah, adat, maupun syi’ar-syi’arnya. Seperti membuka wajah dan bertabarruj bagi wanita, tidak berpakaian di bawah terik matahari pada waktu ihram sehingga dia meminta-minta pakaian. Hal ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rafidlah zaman sekarang ini. Semua ini merupakan perbuatan jahiliyah dan amalan orang-orang musyrik. Demikian juga bertelanjang (tidak memakai pakaian, yakni menampakkan aurat, baik keseluruhan maupun sebagian saja), fanatik kebangsaan, berbangga-bangga dengan kebangsawanan dan mencela nasab, meratapi mayat dan meminta hujan kepada bintang-bintang (yakni berpendapat bahwa hujan turun karena musim dan bukan karena rahmat Allah Ta’ala). Nabi telah membantah dan membatalkan semua yang berbau jahiliyah dengan Islam, baik pahamnya, kebudayaannya, atau taklidnya (ikut-ikutan tanpa ilmu), peraturan dan perundangannya, iklan-iklan dan propagandanya.

    Golongan Kedelapan: Setan
    Golongan lainnya yang terlarang untuk dijadikan figur peniruan (tasyabbuh) adalah setan. Nabi telah menerangkan perbuatan-perbuatan setan itu dan kita dilarang menirunya. Seperti, makan dan minum dengan tangan kiri. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, Bahwa Nabi bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri dan jangan pula minum dengannya (tangan kiri). Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengannya (tangan kiri pula).” (HR. Muslim no. 2019).

    Tetapi sayangnya, perbuatan ini banyak dilakukan di kalangan kaum muslimin dengan menganggap bahwa perbuatan itu adalah perbuatan sepele, atau memang karena ketakabburannya terhadap kebenaran, serta iman meniru-niru auliya’u setan (teman-teman setan) dari golongan orang-orang kafir dan fasik.

    Golongan Kesembilan: Orang-orang Badui yang Tidak Sempurna Agamanya
    Mereka adalah orang-orang Badui (Arab) yang jahil. Banyak orang-orang Arab yang memakai hukum perundang-undangannya berdasar adat dan taklid (mengikuti nenek moyang), tidak berdasarkan Islam sama sekali. Semuanya itu merupakan warisan jahiliyah, bahkan ada orang-orang Badui yang fanatik terhadap adat-istiadat dan kebudayaannya, doktrin-doktrin hari-hari besar, taklid, serta berbagai atribut lainnya meskipun bertentangan dengan syari’at Islam. Di antaranya, fanatik jahiliyah (kebulatan tekad untuk mempertahankan kejahiliyahan), membangga-banggakan kebangsawanan, mencela nasab, menamakan maghrib dengan isya dan menamakan isya dengan al-atamah (kegelapan malam), bersumpah untuk thalak, menggantungkan thalak, tidak menikah kecuali dengan anak pamannya, dan adat-adat jahiliyah lainnya.
    Wallahu ‘Alam

  4. tradisi-tradisi orang musyrik kafir yang banyak ditiru oleh umat islam saat ini adalah :
    1. Perayaan Tahun Baru
    2. Perayaan Valentine Day (Hari perzinaan bebas)
    3. April MOP
    4. Perayaan Ulang Tahun
    5. Perayaan Maulid Nabi dll
    6. Bahkan ada yang Merayakan Natal paskah dsb.
    7. Perayaan-perayaan lainnya yang tidak dicontohkan Nabi seperti tahlilan, haul, ruwatan dsb (meniru umat hindu).
    -----------------------
    Facebook, internet, email, TV, radio, dlsb.. sejatinya hanyalah sarana atau alat komunikasi saja.. Sebagaimana jaman dulu ada surat menyurat.. Cuman jaman sekarang sudah lebih canggih, tapi prinsipnya tetep sama, yakni sama2 alat komunikasi..
    ---------------
    Intinya : Kita menyampaikan suatu berita, entah itu dakwah atau apapun tidak secara langsung face to face, tapi lewat alat komunikasi tsb.. Apakah itu bid'ah..??
    -----------------------------
    Bukankah Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah berdakwah tidak secara langsung face to face sama orang yang didakwahi.. Beliau pernah lho berdakwah menggunakan media alat komunikasi.. Gak percaya..??

    Silahkan buka shahih Bukhari.. Diriwayatkan secara panjang dalam hadits shahih bahwa Rasulullah pernah mengirim surat pada raja Heraklius agar masuk masuk Islam.. Bukankah hal tsb juga merupakan dakwah..?? Dan bukankah surat menyurat adalah alat komunikasi..?? Dari sini saja sebenernya sudah termentahkan tudingan mereka yang membid'ahkan dakwah di facebook..

    Memang betul.. Berdakwah merupakan ibadah, namun sarana yang dipakai untuk berdakwah bukanlah bid’ah menurut istilah agama.. Seperti penggunaan microphone untuk pengeras suara, facebook, email sebagai pengganti surat-menyurat, video ceramah dlsb..

    Dalam masalah dunia, apapun itu (dalam kasus ini mengenai teknologi), hukum asalnya adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang melarang atau mengharamkannya..

    Adapun bid’ah dalam agama, ucapan itu telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alahi was salam, dimana dalam hadits beliau bersabda, potongan haditsnya adalah : "setiap bidah itu adalah sesat". Begitu juga yang dipahami oleh para sahabat dan ulama-ulama lain yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan baik..

    Maka.. Semua hal dalam perkara dunia.. Semisal Motor atau Mobil buat ke masjid, Pesawat terbang buat naik haji, Hand Phone, TV, radio, Komputer dan FB buat dakwah, kertas buat nulis Qur’an dan hadits, Sekolah, Madrasah, pesantern, dll buat belajar agama, microphone di masjid buat khutbah dll.. Semua itu adalah sarana / washillah untuk ibadah, BUKAN IBADAHNYA ITU SENDIRI.. Itulah yang disebut dengan Mashlahatul Marsalah..

    Sebab untuk urusan dunia, yang menyangkut ilmu pengetahuan, teknologi, alat komunikasi, transportasi, dan semua yang berkenaan dengan peradaban manusia.. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalam peristiwa penyilangan serbuk sari kurma yang sangat masyhur :

    "Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu" [Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim (1366)]

    Jadi.. Benda-benda yang disebutkan diatas itu adalah urusan dunia yang merupakan hasil kemajuan peradaban manusia secara umum dan pengembangan teknologi seiring dengan berjalannya waktu, yang mana orang kafir juga menggunakannya, dan tidak ada kaitannya dengan agama secara langsung..

    Sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi, itu bukanlah bid’ah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi.. Silahkan mau buat mikrofon masjid, pesawat buat pergi haji, software dll..

    Akan tetapi.. Yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam larang di sini adalah segala macam perkara baru dalam bentuk amalan / keyakinan agama dan syari’at, entah itu amalan-amalan (Fi’liyah) maupun Ucapan (Qouliyah) baik mengurangi atau menambahkan..

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    "Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan dalam urusan agama yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu" (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)

    Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    “Dan jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”(HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dia berkata Hadits hasan shahih).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

    “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) kepada hal-hal yang baru itu adalah kebid’ahan dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan”. [SHAHIH. HR.Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43),Al-Hakim (1/97)]

    Dari sini.. Maka telah jelaslah sudah : Bahwa berdakwah lewat media alat komunikasi bukan bid'ah..
    ========================
    hukum TAHLILAN = BID’AH MUNKAR ..... Tahlilan adalah Bid'ah tercela
    -----------------------
    “Dari Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata : ” Kami (yakni para shahabat semuanya) memandang/menganggap (yakni menurut madzhab kami para shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap” HR Imam Ibnu Majah (No. 1612 dan ini adalah lafadzhnya) dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204 dan riwayat yang kedua bersama tambahannya keduanya adalah dari riwayat beliau), dari jalan Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir sebagaimana tersebut di atas.
    ------------------------
    Mereka ijma’ dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma’kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengan nama ” Selamatan Kematian atau Tahlilan”.
    -------------------------------
    Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan,” Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kumpul(ditempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak dimaksudkan kecuali untuk bermegah megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa sifulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakan hartanya untuk tahlilan bapaknya . Semuanya itu adalah haram menyalahi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, salafus shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam agama(kita).”
    ------------------------

    LUGHOTUL HADITS---------
    1. كُنَا نَعُدُّ / كُنَّا نَرَى = Kami memandang/menganggap.
    Maknanya : Menurut madzhab kami para shahabat semuanya bahwa berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan termasuk dari bagian meratap.-------

    Ini menunjukkan telah terjadi ijma’/kesepakatan para shahabat dalam masalah ini. Sedangkan ijma’ para shahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah dengan kesepakatan para Ulama Islam seluruhnya.-----------

    2. اْلاِجْتِمَاع اِلَى أَهلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ = Berkumpul-kumpul di tempat atau di rumah ahli mayit dan membuatkan makanan yang kemudian mereka makan bersama-sama--------

    3. بَعْدَ دَفْنِهِi = Sesudah mayit itu ditanam/dikubur. Lafadz ini adalah tambahan dari riwayat Imam Ahmad.-------

    Keterangan di atas tidak menunjukkan bolehnya makan-makan di rumah ahli mayit “sebelum dikubur”!?. Akan tetapi yang dimaksud ialah ingin menjelaskan kebiasaan yang terjadi mereka makan-makan di rumah ahli mayit sesudah mayit itu dikubur.-------

    4. مِنَ الْنِّيَاحَةِ = Termasuk dari meratapi mayit-------------
    Ini menunjukkan bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit atau yang kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan” adalah hukumnya haram berdasarkan madzhab dan ijma’ para sahabat karena mereka telah memasukkan ke dalam bagian meratap sedangkan merapat adalah dosa besar.--------------

    SYARAH HADITS---------------
    Hadits ini atau atsar di atas memberikan hukum dan pelajaran yang tinggi kepada kita bahwa : Berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ (ini yang biasa terjadi) termasuk bid’ah munkar (haram hukumnya). Dan akan bertambah lagi bid’ahnya apabila di situ diadakan upacara yang biasa kita kenal di sini dengan nama “selamatan kematian/tahlilan pada hari pertama dan seterusnya”.----------

    Hukum diatas berdasarkan ijma’ para shahabat yang telah memasukkan perbuatan tersebut kedalam bagian meratap. Sedangkan meratapi mayit hukumnya haram (dosa) bahkan dosa besar dan termasuk salah satu adat jahiliyyah.-----------------

    FATWA PARA ULAMA ISLAM DAN IJMA’ MEREKA DALAM MASALAH INI-------------
    Apabil para shahabat telah ijma’ tentang sesuatu masalah seperti masalah yang sedang kita bahas ini, maka para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in dan termasuk di dalamnya Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) dan seluruh Ulama Islam dari zaman ke zamanpun mengikuti ijma’nya para sahabat yaitu berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan makan-makan di situ adalah haram dan termasuk dari adat/kebiasaan jahiliyyah.--------------

    Oleh karena itu, agar supaya para pembaca yang terhormat mengetahui atas dasar ilmu dan hujjah yang kuat, maka di bawah ini saya turunkan sejumlah fatwa para Ulama Islam dan Ijma’ mereka dalam masalah “selamatan kematian”.-----------

    1. Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah. Al-Imam Asy-Syafi’iy di ktabnya ‘Al-Um” (I/318).

    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”[1]

    Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”
    2. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

    “Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka [2] dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

    Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

    3. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

    “Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

    Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alasan ta’ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini.

    Telah berkata An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..

    Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”

    Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kupmul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita).

    Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

    4. Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

    5. Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.

    Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

    6. Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

    7. Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    8. Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

    9. Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapaun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

    10. Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

    11. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]

    12. Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i (I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

    ----------KESIMPULAN.--------------
    Pertama : Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk didalamnya imam empat.------

    Kedua : Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.----

    Ketiga : Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.---------

    Keempat : Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat /sanak famili dan para jiran/tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat.-------------

    “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]--------

    Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang kami turunkan di atas).----------

    Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]---------------

    Kemudian beliau membawakan hadits Ja’far di atas.

    [Disalin dari buku Hukum Tahlilan (Selamatan Kematian) Menurut Empat Madzhab dan Hukum Membaca Al-Qur’an Untuk Mayit Bersama Imam Syafi’iy, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat (Abu Unaisah), Penerbit Tasjilat Al-Ikhlas, Cetakan Pertama 1422/2001M]
    _______
    Footnote
    [1]. Ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi’i menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan Imam Syafi’i diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.
    [2]. Perkataan ini seperti di atas yaitu menuruti kebiasaannya selamatan kematian itu menyusahkan dan menyibukkan. Tidak berarti boleh apabila tidak menyusahkan dan tidak menyibukkan ! Ambillah connoth firman Allah did alam surat An-Nur ayat 33 :”Janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi”. Apakah boleh kita menyuruh budak perempuan kita untuk melacur apabila mereka menginginkannya?! Tentu tidak!

Leave a Reply