Loading
UJIAN muslim sekarang = virus MURTAD tanpa SADAR ——————————– ANCAMAN terBESAR ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pemBATAL keISLAMan) ….. alias terjangkiti virus MTS (MURTAD TANPA SADAR). ———————————— Orang yang asalnya beriman (MUSLIM) lalu terjangkiti virus kemurtadan, …. maka ia TIDAK ada BEDAnya dengan orang yang KAFIR. ———————————- Dalam sebuah hadits shahih Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkan bakal tibanya suatu masa di Akhir Zaman dimana fitnah datang secara massif sehingga dunia digambarkan menjadi laksana malam yang gelap gulita. ———————— Selanjutnya Nabi صلى الله عليه و سلم menerangkan betapa di masa itu jenis pelanggaran yang dilakukan kaum muslimin tidak lagi dapat digolongkan sebagai dosa kecil, bahkan tidak juga dosa besar. ——————————– Sebab betapapun besarnya dosa seseorang, namun jika ia masih memiliki iman-tauhid yang benar dan ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan mengampuninya. ———————— Di era badai fitnah, kata Nabi صلى الله عليه و سلم , ancaman terbesar ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pembatal keislaman) alias terjangkiti virus MTS (Murtad Tanpa Sadar). ——————– Pagi hari seorang lelaki masih beriman, tiba-tiba sore harinya ia telah menjadi kafir. Atau sore hari seseorang masih beriman, tiba-tiba pagi harinya ia telah menjadi kafir. ————————- Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan “seseorang di pagi hari berbuat kebaikan, lalu di sore harinya berbuat kejahatan”. Tidak..! Tapi secara eksplisit Nabi صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sore kafir.” ————————- Perbandingannya bukan antara berbuat baik dengan berbuat jahat, tetapi antara beriman dan kafir. بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169) ————– Jelas Nabi صلى الله عليه و سلم memperingatkan bahwa ketika dunia diwarnai oleh badai fitnah, maka ancaman yang muncul bukanlah sekedar keterlibatan dalam dosa-dosa kecil, bahkan tidak pula dosa-dosa yang besar, melainkan munculnya gejala riddah (kemurtadan). Bila seseorang telah terlibat dalam dosa kemurtadan, berarti ia telah kehilangan iman-tauhidnya. …………………………. Ia telah kehilangan barang paling berharga dalam hidupnya. Ia telah kehilangan miftah al-jannah (kunci pembuka pintu surga). ………………………….. Sehingga bila ia sibuk mengerjakan berbagai amal seperti sholat, puasa di bulan Ramadhan, sedekah, umrah dan lain sebagainya, maka semua perbuatan itu menjadi sia-sia. ……………………… Sebab tanpa iman segala amal kebaikan seseorang menjadi tidak bernilai di mata Allah سبحانه و تعالى . وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24] : 39) ………………………….. Orang yang asalnya beriman (muslim) lalu terjangkiti virus kemurtadan, maka ia tidak ada bedanya dengan orang yang kafir. …………………………………….. Amal apapun yang ia kerjakan menjadi laksana fatamorgana, terhapus tanpa bekas dan penilaian di sisi Allah سبحانه و تعالى . وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217) | EP Artikel-Edy Gojira

UJIAN muslim sekarang = virus MURTAD tanpa SADAR ——————————– ANCAMAN terBESAR ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pemBATAL keISLAMan) ….. alias terjangkiti virus MTS (MURTAD TANPA SADAR). ———————————— Orang yang asalnya beriman (MUSLIM) lalu terjangkiti virus kemurtadan, …. maka ia TIDAK ada BEDAnya dengan orang yang KAFIR. ———————————- Dalam sebuah hadits shahih Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkan bakal tibanya suatu masa di Akhir Zaman dimana fitnah datang secara massif sehingga dunia digambarkan menjadi laksana malam yang gelap gulita. ———————— Selanjutnya Nabi صلى الله عليه و سلم menerangkan betapa di masa itu jenis pelanggaran yang dilakukan kaum muslimin tidak lagi dapat digolongkan sebagai dosa kecil, bahkan tidak juga dosa besar. ——————————– Sebab betapapun besarnya dosa seseorang, namun jika ia masih memiliki iman-tauhid yang benar dan ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan mengampuninya. ———————— Di era badai fitnah, kata Nabi صلى الله عليه و سلم , ancaman terbesar ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pembatal keislaman) alias terjangkiti virus MTS (Murtad Tanpa Sadar). ——————– Pagi hari seorang lelaki masih beriman, tiba-tiba sore harinya ia telah menjadi kafir. Atau sore hari seseorang masih beriman, tiba-tiba pagi harinya ia telah menjadi kafir. ————————- Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan “seseorang di pagi hari berbuat kebaikan, lalu di sore harinya berbuat kejahatan”. Tidak..! Tapi secara eksplisit Nabi صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sore kafir.” ————————- Perbandingannya bukan antara berbuat baik dengan berbuat jahat, tetapi antara beriman dan kafir. بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169) ————– Jelas Nabi صلى الله عليه و سلم memperingatkan bahwa ketika dunia diwarnai oleh badai fitnah, maka ancaman yang muncul bukanlah sekedar keterlibatan dalam dosa-dosa kecil, bahkan tidak pula dosa-dosa yang besar, melainkan munculnya gejala riddah (kemurtadan). Bila seseorang telah terlibat dalam dosa kemurtadan, berarti ia telah kehilangan iman-tauhidnya. …………………………. Ia telah kehilangan barang paling berharga dalam hidupnya. Ia telah kehilangan miftah al-jannah (kunci pembuka pintu surga). ………………………….. Sehingga bila ia sibuk mengerjakan berbagai amal seperti sholat, puasa di bulan Ramadhan, sedekah, umrah dan lain sebagainya, maka semua perbuatan itu menjadi sia-sia. ……………………… Sebab tanpa iman segala amal kebaikan seseorang menjadi tidak bernilai di mata Allah سبحانه و تعالى . وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24] : 39) ………………………….. Orang yang asalnya beriman (muslim) lalu terjangkiti virus kemurtadan, maka ia tidak ada bedanya dengan orang yang kafir. …………………………………….. Amal apapun yang ia kerjakan menjadi laksana fatamorgana, terhapus tanpa bekas dan penilaian di sisi Allah سبحانه و تعالى . وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

UJIAN muslim sekarang = virus MURTAD tanpa SADAR
——————————–
ANCAMAN terBESAR ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pemBATAL keISLAMan) ….. alias terjangkiti virus MTS (MURTAD TANPA SADAR).
————————————
Orang yang asalnya beriman (MUSLIM) lalu terjangkiti virus kemurtadan, …. maka ia TIDAK ada BEDAnya dengan orang yang KAFIR.
———————————-

Dalam sebuah hadits shahih Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkan bakal tibanya suatu masa di Akhir Zaman dimana fitnah datang secara massif sehingga dunia digambarkan menjadi laksana malam yang gelap gulita.
————————
Selanjutnya Nabi صلى الله عليه و سلم menerangkan betapa di masa itu jenis pelanggaran yang dilakukan kaum muslimin tidak lagi dapat digolongkan sebagai dosa kecil, bahkan tidak juga dosa besar.
——————————–
Sebab betapapun besarnya dosa seseorang, namun jika ia masih memiliki iman-tauhid yang benar dan ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan mengampuninya.
————————
Di era badai fitnah, kata Nabi صلى الله عليه و سلم , ancaman terbesar ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pembatal keislaman) alias terjangkiti virus MTS (Murtad Tanpa Sadar).
——————–
Pagi hari seorang lelaki masih beriman, tiba-tiba sore harinya ia telah menjadi kafir. Atau sore hari seseorang masih beriman, tiba-tiba pagi harinya ia telah menjadi kafir.
————————-
Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan “seseorang di pagi hari berbuat kebaikan, lalu di sore harinya berbuat kejahatan”. Tidak..! Tapi secara eksplisit Nabi صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sore kafir.”
————————-
Perbandingannya bukan antara berbuat baik dengan berbuat jahat, tetapi antara beriman dan kafir. بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169)
————–
Jelas Nabi صلى الله عليه و سلم memperingatkan bahwa ketika dunia diwarnai oleh badai fitnah, maka ancaman yang muncul bukanlah sekedar keterlibatan dalam dosa-dosa kecil, bahkan tidak pula dosa-dosa yang besar, melainkan munculnya gejala riddah (kemurtadan). Bila seseorang telah terlibat dalam dosa kemurtadan, berarti ia telah kehilangan iman-tauhidnya.
………………………….
Ia telah kehilangan barang paling berharga dalam hidupnya. Ia telah kehilangan miftah al-jannah (kunci pembuka pintu surga).
…………………………..
Sehingga bila ia sibuk mengerjakan berbagai amal seperti sholat, puasa di bulan Ramadhan, sedekah, umrah dan lain sebagainya, maka semua perbuatan itu menjadi sia-sia.
………………………
Sebab tanpa iman segala amal kebaikan seseorang menjadi tidak bernilai di mata Allah سبحانه و تعالى . وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24] : 39)
…………………………..
Orang yang asalnya beriman (muslim) lalu terjangkiti virus kemurtadan, maka ia tidak ada bedanya dengan orang yang kafir.
……………………………………..
kafir thaghut 2322

Amal apapun yang ia kerjakan menjadi laksana fatamorgana, terhapus tanpa bekas dan penilaian di sisi Allah سبحانه و تعالى . وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi muslim yang sadar bahwa ia sedang hidup di era badai fitnah untuk mempelajari apa saja perkara yang termasuk nawaqidh al-iman (pembatal keislaman) agar ia dapat menghindarkan dirinya dari terjangkit virus MTS alias gejala kemurtadan.

Dan perlu diketahui bahwa era badai fitnah ini merupakan pra-kondisi menjelang hadirnya puncak fitnah. Sebab seluruh fitnah yang terjadi di dunia pada hakikatnya adalah dalam rangka menyongsong kehadiran puncak fitnah alias fitnah paling dahsyat sepanjang zaman, yaitu fitnah Ad-Dajjal. Dan menjelang kehadiran puncak fitnah dunia akan menyaksikan aneka fitnah bermunculan dan kian mewabah sampai hadirnya puncak fitnah.

Demikian pula, karena Ad-Dajjal merupakan puncak fitnah, maka ia akan menjadi puncak thaghut penguasa zalim. Dan sebelum kehadiran Ad-Dajjal sebagai puncak thaghut penguasa zalim, maka dunia bakal diramaikan oleh hadirnya aneka thaghut penguasa zalim dalam rangka menyongsong puncak thaghut penguasa zalim yang mereka nantikan kehadirannya itu. Inilah yang disebut oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم di dalam haditsnya mengenai periodisasi perjalanan sejarah ummat Islam sebagai babak keempat, yaitu babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Inilah babak yang sedang dijalani ummat Islam dewasa ini.

wasapada fitnah dajjal 1
———————————

Salah satu faham modern yang dewasa ini secara gencar dikampanyekan oleh

masyarakat Barat (baca: kaum Yahudi dan Nasrani) ialah Pluralisme.

Sebagian besar penghuni planet bumi dewasa ini telah terpengaruh dan

percaya kepada faham tersebut. Mereka memandangnya sebagai sebuah faham

yang baik dan positif. Bahkan faham ini telah dipandang sebagai

indikator kemajuan atau kemodernan seseorang atau bahkan suatu bangsa.

Memang, pada tahap awal, Pluralisme mengajarkan suatu hal yang baik

yaitu keharusan setiap orang agar menghormati orang lain apapun latar

belakang agama dan keyakinannya. Sampai di sini kita tidak punya masalah

dengan ajaran ini. Bahkan Islam-pun menganjurkan kita untuk berlaku

demikian. Tetapi persoalannya, Pluralisme tidak menerima jika seseorang

hanya sebatas memiliki sikap seperti itu. Ia menuntut setiap orang agar

mengembangkan “sikap modern” sedemikian rupa sehingga tanpa ragu dan

bimbang rela berkata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama

benar.” Nah, jika seorang muslim sampai rela mengeluarkan kata-kata

seperti itu, barulah ia benar-benar diakui sebagai seorang penganut

Pluralisme. Barulah ia akan diberi label “muslim modern” dan “muslim

moderat” oleh masyarakat dunia, khususnya masyarakat barat.

 

Apa masalahnya bila seorang muslim berkata: “Semua agama baik. Semua

agama sama. Semua agama benar”? Saudaraku, ungkapan seperti itu

menunjukkan bahwa yang mengucapkannya tidak setuju dengan beberapa ayat

di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Padahal ketidaksetujuan seseorang

akan isi Al-Qur’an menunjukkan bahwa dirinya meragukan kebenaran fihak

yang telah mewahyukannya, yaitu Allah سبحانه و تعالى . Padahal tidak ada

satupun firman Allah سبحانه و تعالى yang mengandung kebatilan.

Subhaanallah…! Seluruh isi Al-Qur’an sepatutunya diterima oleh setiap

orang yang mengaku muslim sebagai kebenaran mutlak, karena ia merupakan

Kalamullah (ucapan-ucapan Allah سبحانه و تعالى). Sehingga setiap malam

saat sholat tahajjud Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم selalu membaca

doa yang sebagian isinya berbunyi:

 

أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ

 

“…(Ya Allah) Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janji-Mu haq

(benar adanya), dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar dan firman-Mu

benar…” (HR. Bukhari, No 1053)

 

Maka seorang muslim yang termakan oleh faham Pluralisme sehingga

melontarkan kalimat-kalimat batil seperti di atas sungguh potensial

terjangkiti virus MTS. Sebab ia sekurang-kurangnya telah menolak tiga

ayat Al-Qur’an. Ia telah memandang dirinya lebih cerdas daripada Allah

سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar pengetahuannya. Ketiga ayat

tersebut ialah:

 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

 

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS.

Ali Imran [3] : 19)

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali

tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat

termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)

 

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

 

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan,

kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (QS.

Al-Hijr [15] : 2)

badai murtad tanpa sadar 1

Bagaimana mungkin seorang muslim yang pernah membaca ketiga ayat di

atas, sambil mengaku beriman akan Al-Qur’an sebagai kumpulan firman

Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar pengetahuannya, lalu

akan dengan ringannya tega melontarkan kata-kata: “Semua agama baik.

Semua agama sama. Semua agama benar”?

 

Coba perhatikan cuplikan diskusi yang sering terjadi di sekitar kita.

Ada beberapa orang sedang mendiskusikan soal perselisihan antar dua

kelompok berbeda agama yang terjadi di tengah masyarakat. Yang satu

kelompok kaum muslimin, sedangkan yang satu lagi kelompok kaum

non-muslim. Lalu masing-masing fihak mempertahankan argumennya

masing-masing. Akhirnya suasana diskusi menjadi panas dan hampir tidak

terkendali. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka melontarkan sebuah

upaya menenteramkan situasi dengan melontarkan kata-kata: “Sudahlah

tenman-teman. Marilah kita ingat selalu bahwa kita ini kan satu bangsa.

Agama boleh berbeda. Tapi kita kan tetap satu bangsa. Toh, setiap agama

kan maksudnya baik. Tujuannya mulia. Dan semuanya kan menuju tujuan yang

sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kenapa sih kita tidak bisa saling

memahami dan bersikap toleran?”

 

Bukankah contoh kasus di atas merupakan suasana yang sangat sering kita

temui di dalam kehidupan sehari-hari kita? Dan diskusi hangat dengan

akhir seperti itu kian hari kian mudah kita temui belakangan ini. Kasus

dan pelaku perselisihan boleh berbeda, tapi ujung akhir penyelesaiannya

kurang lebih sama. Yaitu mengakui bahwa setiap agama punya maksud yang

sama dan baik. Benarkah demikian? Kalaulah semua agama punya maksud dan

tujuan yang sama dan baik, lalu mengapa kita harus memilih Al-Islam?

Mengapa kita tidak pilih yang lainnya saja? Bukankah Islam secara

praktek lebih rumit dan menuntut pengorbanan dibandingkan yang lainnya?

Islam mewajibkan setiap muslim sholat beribadah kepada Allah سبحانه و

تعالى sekurangnya lima kali sehari-semalam. Islam mewajibkan setiap satu

tahun sekali selama sebulan penuh muslim menahan rasa lapar, dahaga dan

berhubungan suami-istri di siang hari. Mengapa tidak kita pilih agama

lainnya yang lebih sederhana dan ringan? Artinya, pandangan yang

mengatakan bahwa semua agama bermaksud “sama dan baik” mengingkari

statement Allah سبحانه و تعالى yang berfirman:

 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

 

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS.

Ali Imran [3] : 19)

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali

tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat

termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)

 

Realitasnya dewasa ini sangat mudah kita jumpai di sekeliling kita kaum

muslimin yang melontarkan kata-kata batil seperti di atas.

Astaghfirullahal ‘azhiem. Allahummagh fir lil muslimin wal muslimat. Ya

Allah, ampunilah dosa-dosa kaum Muslimin dan Muslimat. Laa haula wa laa

quwwata illa billah…!

 

Ya Allah, lindungilah kami dari virus penyakit murtad tanpa sadar di era

modern penuh fitnah ini. Amiin. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.

 

اللهم إني أعوذبك مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

 

“Ya Allah aku berlindung kpdMu dari cobaan yang memayahkan,

kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.”

(HR. Bukhari, No. 5871)
==================================
==========================================================

mengaku MUSLIM … = harus meninggalkan/menjauhiAlihah (Sembahan-sembahan)…. Arbaab (tuhan-tuhan pengatur)Andaad (tandingan-tandingan)….Thaghut
——————————-

agar TIDAK BATAL syahadatnya … agar tidak MURTAD TANPA SADAR
————————————
orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dikatakan memegang Laa ilaaha illallaah: dikatakan muslim, mukmin apabila dia meninggalkan atau menjauhi, atau berlepas diri dari empat hal, yaitu :
………….
1 Alihah (Sembahan-sembahan) ……
2 Arbaab (tuhan-tuhan pengatur)………….
3 Andaad (tandingan-tandingan)……………
4 Thaghut……….
——————————-
Jadi Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk berlepas diri, menjauhi, meninggalkan empat hal tadi

tauhid sw
……………………..…
1. Alihah
Alihah adalah jamak daripada ilaah, yang artinya tuhan. Jadi Laa ilaaha illallaah ketika kita mengucapkannya: tidak ada ilaah, tidak ada tuhan yang diibadati kecuali Allah, berarti menuntut dari kita untuk meninggalkan ilah-ilah selain Allah (tuhan-tuhan selain Allah) dan yang penting bagi kita di sini adalah memahami apa makna ilaah. Karena kalau kita melihat realita orang yang melakukan kemusyrikan pada jaman sekarang, mereka tidak menamakan apa yang mereka ibadati selain Allah itu sebagai ilah (sebagai tuhan) akan tetapi dengan nama-nama yang lain. Dan kalau kita memahami makna ilah, maka kita akan mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh si fulan atau masyarakat fulani itu adalah mempertuhankan selain Allah.
…………………….
2. Arbaab (tuhan-tuhan)
Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk meninggalkan arbaab, berlepas diri daripada Arbaab.

Apa Arbab…?? Ia adalah bentuk jamak daripada Rabb, yang artinya tuhan pengatur atau yang mengatur, berarti kalau kata-kata “atur” maka berhubungan dengan aturan, seperti hukum/undang-undang. Jadi Rabb adalah tuhan yang mengatur, yang menentukan hukum.

Kita sebagai makhluk Allah, dan konsekuensi sebagai makhluk yang diciptakan Allah yang mana Dia juga telah memberikan sarana kepada kita, maka yang berhak menentukan adalah… hanya Allah. Jadi Allah disebut Rabbul ‘Alamin karena Allah yang mengatur alam raya ini, baik secara kauniy (hukum alam) maupun secara syar’iy (syari’at). Sedangkan jika ada orang yang mengaku atau mengklaim bahwa dia berhak mengatur, berarti dia memposisikan dirinya sebagai rabb.
……………………..…….
3. Andad (Tandingan-tandingan)
Andad adalah jamak dari kata nidd, yang artinya tandingan, maksudnya adalah tandingan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah memerintahkan agar kita hanya menghadapkan dan menjadikan-Nya sebagai tujuan satu-satunya. Tidak boleh seseorang mengedepankan yang lain terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah berfirman tentang nidd ini atau tentang Andad ini :
فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“…Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah sedang kamu mengetahui”. (QS Al Baqarah [2]: 22)

Andad itu apa…?

Andad adalah sesuatu yang memalingkan kamu daripada Al Islam, atau sesuatu yang memalingkan kamu daripada tauhid, baik itu anak, isteri, jabatan, harta, atau apa saja yang mana jika hal itu memalingkan seseorang daripada tauhid atau memalingkan seseorang dari pada Al Islam atau menjerumuskan seseorang kepada kekafiran atau ke dalam kemusyrikan, maka sesuatu hal itu sudah menjadi Andad.
……………………….
kafir thaghut

4. Thaghut.
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang Dia firmankan:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut…” (QS. An Nahl [16] : 36)

Perintah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran semua Rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau musyrik, Allah ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (laa ilaaha ilallaah)” (QS. Al Baqarah [2]: 256)

Bila seseorang beribadah shalat, zakat, shaum, haji dan sebagainya, akan tetapi dia tidak kufur terhadap thaghut maka dia itu bukan muslim dan amal ibadahnya tidak diterima.

Adapun tata cara kufur kepada thaghut adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah :

Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah,
Engkau meninggalkannya,
Engkau membencinya,
Engkau mengkafirkan pelakunya,
Dan engkau memusuhi para pelakunya.

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menyebutkan bahwa thaghut ada 5. Beliau tidak menyatakan sesuatu sebagai thaghut secara asal-asalan, namun karena memang ada landasannya dari nash-nash yang jelas. Maka THAGHUT adalah:…………….
1. Syetan yang menyeru agar beribadah kepada selain Allah SWT, dalilnya: ”Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Yassin: 60) ………
2. Penguasa yang merubah hukum Allah SWT, dalilnya: ”Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.” (An Nisa: 60)……………
3. Mereka yang berhukum selain dengan hukum Allah, dalilnya: ”Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)……….
4. Mereka yang mengaku mengetahui perkara ghaib (dukun, paranormal), dalilnya: ”Allah mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang gaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al Jinn: 26-27)…………..
5. Orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridha dengan hal itu, dalilnya: ”Barangsiapa di antara mereka mengatakan: ’Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah,’ maka orang itu Kami berikan balasan berupa Jahannam.” (Al Anbiya: 29)……..
————————–
Tauhid Syarat Diterima Amal……..……………

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

………..TAUHID berasal dari akar kata wahhada-yuwahhidu-tawhiidan yang berarti mengesakan atau menunggalkan sehingga dapat disimpulkan dengan bertauhid berarti kita mengesakan Allah SWT dalam beribadah, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surat AnNisa : 32 :
“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kamu menyekutukannnya dengan sesuatu apapun”
………………………………

Amal shalih apapun, baik itu shalat, shaum, zakat, haji, infaq, birrul walidain(berbakti kepada orang tua) dan sebagainya tidak mungkin diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada pahalanya bila tidak dilandasai tauhid yang bersih dari syirik.

berbagai sumber

 

Views All Time
Views All Time
1238
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

3 Comments on UJIAN muslim sekarang = virus MURTAD tanpa SADAR ——————————– ANCAMAN terBESAR ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pemBATAL keISLAMan) ….. alias terjangkiti virus MTS (MURTAD TANPA SADAR). ———————————— Orang yang asalnya beriman (MUSLIM) lalu terjangkiti virus kemurtadan, …. maka ia TIDAK ada BEDAnya dengan orang yang KAFIR. ———————————- Dalam sebuah hadits shahih Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkan bakal tibanya suatu masa di Akhir Zaman dimana fitnah datang secara massif sehingga dunia digambarkan menjadi laksana malam yang gelap gulita. ———————— Selanjutnya Nabi صلى الله عليه و سلم menerangkan betapa di masa itu jenis pelanggaran yang dilakukan kaum muslimin tidak lagi dapat digolongkan sebagai dosa kecil, bahkan tidak juga dosa besar. ——————————– Sebab betapapun besarnya dosa seseorang, namun jika ia masih memiliki iman-tauhid yang benar dan ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah سبحانه و تعالى akan mengampuninya. ———————— Di era badai fitnah, kata Nabi صلى الله عليه و سلم , ancaman terbesar ialah kaum muslimin bakal melakukan pelanggaran yang tergolong nawaqidh al-iman (pembatal keislaman) alias terjangkiti virus MTS (Murtad Tanpa Sadar). ——————– Pagi hari seorang lelaki masih beriman, tiba-tiba sore harinya ia telah menjadi kafir. Atau sore hari seseorang masih beriman, tiba-tiba pagi harinya ia telah menjadi kafir. ————————- Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan “seseorang di pagi hari berbuat kebaikan, lalu di sore harinya berbuat kejahatan”. Tidak..! Tapi secara eksplisit Nabi صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sore kafir.” ————————- Perbandingannya bukan antara berbuat baik dengan berbuat jahat, tetapi antara beriman dan kafir. بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169) ————– Jelas Nabi صلى الله عليه و سلم memperingatkan bahwa ketika dunia diwarnai oleh badai fitnah, maka ancaman yang muncul bukanlah sekedar keterlibatan dalam dosa-dosa kecil, bahkan tidak pula dosa-dosa yang besar, melainkan munculnya gejala riddah (kemurtadan). Bila seseorang telah terlibat dalam dosa kemurtadan, berarti ia telah kehilangan iman-tauhidnya. …………………………. Ia telah kehilangan barang paling berharga dalam hidupnya. Ia telah kehilangan miftah al-jannah (kunci pembuka pintu surga). ………………………….. Sehingga bila ia sibuk mengerjakan berbagai amal seperti sholat, puasa di bulan Ramadhan, sedekah, umrah dan lain sebagainya, maka semua perbuatan itu menjadi sia-sia. ……………………… Sebab tanpa iman segala amal kebaikan seseorang menjadi tidak bernilai di mata Allah سبحانه و تعالى . وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24] : 39) ………………………….. Orang yang asalnya beriman (muslim) lalu terjangkiti virus kemurtadan, maka ia tidak ada bedanya dengan orang yang kafir. …………………………………….. Amal apapun yang ia kerjakan menjadi laksana fatamorgana, terhapus tanpa bekas dan penilaian di sisi Allah سبحانه و تعالى . وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

  1. Nabi صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan “seseorang di pagi hari berbuat kebaikan, lalu di sore harinya berbuat kejahatan”. Tidak..! Tapi secara eksplisit Nabi صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sore kafir.”
    ————————-
    Perbandingannya bukan antara berbuat baik dengan berbuat jahat, tetapi antara beriman dan kafir. بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 169)

  2. Salah satu faham modern yang dewasa ini secara gencar dikampanyekan oleh

    masyarakat Barat (baca: kaum Yahudi dan Nasrani) ialah Pluralisme.

    Sebagian besar penghuni planet bumi dewasa ini telah terpengaruh dan

    percaya kepada faham tersebut. Mereka memandangnya sebagai sebuah faham

    yang baik dan positif. Bahkan faham ini telah dipandang sebagai

    indikator kemajuan atau kemodernan seseorang atau bahkan suatu bangsa.

  3. mengaku MUSLIM … = harus meninggalkan/menjauhi … Alihah (Sembahan-sembahan)…. Arbaab (tuhan-tuhan pengatur) … Andaad (tandingan-tandingan)….Thaghut
    ——————————-
    agar TIDAK BATAL syahadatnya … agar tidak MURTAD TANPA SADAR
    ————————————
    orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dikatakan memegang Laa ilaaha illallaah: dikatakan muslim, mukmin apabila dia meninggalkan atau menjauhi, atau berlepas diri dari empat hal, yaitu :
    ………….
    1 Alihah (Sembahan-sembahan) ……
    2 Arbaab (tuhan-tuhan pengatur)………….
    3 Andaad (tandingan-tandingan)……………
    4 Thaghut……….
    ——————————-
    Jadi Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk berlepas diri, menjauhi, meninggalkan empat hal tadi

    tauhid sw
    ……………………..…
    1. Alihah
    Alihah adalah jamak daripada ilaah, yang artinya tuhan. Jadi Laa ilaaha illallaah ketika kita mengucapkannya: tidak ada ilaah, tidak ada tuhan yang diibadati kecuali Allah, berarti menuntut dari kita untuk meninggalkan ilah-ilah selain Allah (tuhan-tuhan selain Allah) dan yang penting bagi kita di sini adalah memahami apa makna ilaah. Karena kalau kita melihat realita orang yang melakukan kemusyrikan pada jaman sekarang, mereka tidak menamakan apa yang mereka ibadati selain Allah itu sebagai ilah (sebagai tuhan) akan tetapi dengan nama-nama yang lain. Dan kalau kita memahami makna ilah, maka kita akan mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh si fulan atau masyarakat fulani itu adalah mempertuhankan selain Allah.
    …………………….
    2. Arbaab (tuhan-tuhan)
    Laa ilaaha illallaah menuntut kita untuk meninggalkan arbaab, berlepas diri daripada Arbaab.

    Apa Arbab…?? Ia adalah bentuk jamak daripada Rabb, yang artinya tuhan pengatur atau yang mengatur, berarti kalau kata-kata “atur” maka berhubungan dengan aturan, seperti hukum/undang-undang. Jadi Rabb adalah tuhan yang mengatur, yang menentukan hukum.

    Kita sebagai makhluk Allah, dan konsekuensi sebagai makhluk yang diciptakan Allah yang mana Dia juga telah memberikan sarana kepada kita, maka yang berhak menentukan adalah… hanya Allah. Jadi Allah disebut Rabbul ‘Alamin karena Allah yang mengatur alam raya ini, baik secara kauniy (hukum alam) maupun secara syar’iy (syari’at). Sedangkan jika ada orang yang mengaku atau mengklaim bahwa dia berhak mengatur, berarti dia memposisikan dirinya sebagai rabb.
    ……………………..…….
    3. Andad (Tandingan-tandingan)
    Andad adalah jamak dari kata nidd, yang artinya tandingan, maksudnya adalah tandingan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah memerintahkan agar kita hanya menghadapkan dan menjadikan-Nya sebagai tujuan satu-satunya. Tidak boleh seseorang mengedepankan yang lain terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Allah berfirman tentang nidd ini atau tentang Andad ini :
    فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    “…Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah sedang kamu mengetahui”. (QS Al Baqarah [2]: 22)

    Andad itu apa…?

    Andad adalah sesuatu yang memalingkan kamu daripada Al Islam, atau sesuatu yang memalingkan kamu daripada tauhid, baik itu anak, isteri, jabatan, harta, atau apa saja yang mana jika hal itu memalingkan seseorang daripada tauhid atau memalingkan seseorang dari pada Al Islam atau menjerumuskan seseorang kepada kekafiran atau ke dalam kemusyrikan, maka sesuatu hal itu sudah menjadi Andad.
    ……………………….
    kafir thaghut

    4. Thaghut.
    Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang Dia firmankan:
    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

    “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut…” (QS. An Nahl [16] : 36)

    Perintah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran semua Rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau musyrik, Allah ta’ala berfirman:
    فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

    “Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (laa ilaaha ilallaah)” (QS. Al Baqarah [2]: 256)

    Bila seseorang beribadah shalat, zakat, shaum, haji dan sebagainya, akan tetapi dia tidak kufur terhadap thaghut maka dia itu bukan muslim dan amal ibadahnya tidak diterima.

    Adapun tata cara kufur kepada thaghut adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah :

    Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah,
    Engkau meninggalkannya,
    Engkau membencinya,
    Engkau mengkafirkan pelakunya,
    Dan engkau memusuhi para pelakunya.

    Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menyebutkan bahwa thaghut ada 5. Beliau tidak menyatakan sesuatu sebagai thaghut secara asal-asalan, namun karena memang ada landasannya dari nash-nash yang jelas. Maka THAGHUT adalah:…………….
    1. Syetan yang menyeru agar beribadah kepada selain Allah SWT, dalilnya: ”Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Yassin: 60) ………
    2. Penguasa yang merubah hukum Allah SWT, dalilnya: ”Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.” (An Nisa: 60)……………
    3. Mereka yang berhukum selain dengan hukum Allah, dalilnya: ”Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)……….
    4. Mereka yang mengaku mengetahui perkara ghaib (dukun, paranormal), dalilnya: ”Allah mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang gaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al Jinn: 26-27)…………..
    5. Orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridha dengan hal itu, dalilnya: ”Barangsiapa di antara mereka mengatakan: ’Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah,’ maka orang itu Kami berikan balasan berupa Jahannam.” (Al Anbiya: 29)……..
    ————————–
    Tauhid Syarat Diterima Amal……..……………

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

    ………..TAUHID berasal dari akar kata wahhada-yuwahhidu-tawhiidan yang berarti mengesakan atau menunggalkan sehingga dapat disimpulkan dengan bertauhid berarti kita mengesakan Allah SWT dalam beribadah, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surat AnNisa : 32 :
    “Dan sembahlah Allah, dan janganlah kamu menyekutukannnya dengan sesuatu apapun”
    ………………………………

    Amal shalih apapun, baik itu shalat, shaum, zakat, haji, infaq, birrul walidain(berbakti kepada orang tua) dan sebagainya tidak mungkin diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada pahalanya bila tidak dilandasai tauhid yang bersih dari syirik.

    berbagai sumber

Leave a Reply