Loading
Bukankah Pengumpulan al-Quran itu bid’ah ? ———————————- Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid’ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid’ah dan ibadah buatan mereka. ——————————- Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah _________ Pertama : ……………… Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ‘ anhu. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ” Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku” (HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 2549) . —- Maka, mengumpulkan al-Qur ‘an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya. ________ Kedua : …………….. Penulisan al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru dan para Sahabat hanya mengumpul,menyalin dalam mushaf dan membukukannya saja. “Al-Qur’an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin ‘Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota” (Fathul Baari 9/13) Allah ta’ala berfirman : ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً “( Yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS. Al-Bayyinah : 2 ). ————— Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam pernah bersabda : ﻻَ ﺗَﻜْﺘُﺒُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺘَﺐَ ﻋَﻨِّﻲ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻠْﻴَﻤْﺤُﻪُ ” Janganlah kalian menulis dariku , barang siapa yang menulis dariku selain Al- Qur ‘an maka hapuslah ” (HR Muslim no 3004 ). ————- Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari . ________ Ketiga : …………. Mereka (para sahabat) mengumpulkan al- Qur ‘an dalam rangka merealisasikan firman Allah ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ ” Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya” ( QS Al -Hijr : 9 ) ………………. Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an selama – lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur ‘an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur ‘ an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin ‘Affaan dengan penyalinan lembaran- lembaran tersebut dalam mushaf – mushaf . …………. Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifayah dalam rangka menjalankan perintah Allah . …………… Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ” Ibnu Al- Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Janganlah kalian menulis dariku selain Al- Qur ‘an” disertakan dengan firman Allah ﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺟَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﻗُﺮْﺁﻧَﻪُ ” Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya” ( QS Al- Qiyaamah :17) …………………….. Dan juga firman Allah : ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻔِﻲ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒِ ﺍﻷﻭﻟَﻰ (١٨ ) “Sesungguhnya ini benar- benar terdapat dalam Kitab – Kitab yang dahulu ” ( QS Al-A ‘ la : 18) …………………….. Dan firman Allah ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً “( yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS Al- Bayyinah : 2 ) ……………………. Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur ‘an maka hukumnya wajib kifayah . ————— Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah , RasulNya, KitabNya , para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (Fathul Baari 9 /14 ) —————- Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sekretaris-sekretaris ﻛُﺘَّﺎﺏُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲِ yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur ‘an ). —————— Mereka menulis al-Qur ‘ an yang didikte oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al- Qur ‘an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran- lembaran mereka. ————————— Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al- Qur ‘an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur ‘an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya. _______ | EP Artikel-Edy Gojira

Bukankah Pengumpulan al-Quran itu bid’ah ? ———————————- Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid’ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid’ah dan ibadah buatan mereka. ——————————- Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah _________ Pertama : ……………… Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ‘ anhu. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ” Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku” (HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 2549) . —- Maka, mengumpulkan al-Qur ‘an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya. ________ Kedua : …………….. Penulisan al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru dan para Sahabat hanya mengumpul,menyalin dalam mushaf dan membukukannya saja. “Al-Qur’an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin ‘Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota” (Fathul Baari 9/13) Allah ta’ala berfirman : ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً “( Yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS. Al-Bayyinah : 2 ). ————— Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam pernah bersabda : ﻻَ ﺗَﻜْﺘُﺒُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺘَﺐَ ﻋَﻨِّﻲ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻠْﻴَﻤْﺤُﻪُ ” Janganlah kalian menulis dariku , barang siapa yang menulis dariku selain Al- Qur ‘an maka hapuslah ” (HR Muslim no 3004 ). ————- Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari . ________ Ketiga : …………. Mereka (para sahabat) mengumpulkan al- Qur ‘an dalam rangka merealisasikan firman Allah ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ ” Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya” ( QS Al -Hijr : 9 ) ………………. Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an selama – lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur ‘an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur ‘ an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin ‘Affaan dengan penyalinan lembaran- lembaran tersebut dalam mushaf – mushaf . …………. Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifayah dalam rangka menjalankan perintah Allah . …………… Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ” Ibnu Al- Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Janganlah kalian menulis dariku selain Al- Qur ‘an” disertakan dengan firman Allah ﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺟَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﻗُﺮْﺁﻧَﻪُ ” Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya” ( QS Al- Qiyaamah :17) …………………….. Dan juga firman Allah : ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻔِﻲ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒِ ﺍﻷﻭﻟَﻰ (١٨ ) “Sesungguhnya ini benar- benar terdapat dalam Kitab – Kitab yang dahulu ” ( QS Al-A ‘ la : 18) …………………….. Dan firman Allah ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً “( yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS Al- Bayyinah : 2 ) ……………………. Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur ‘an maka hukumnya wajib kifayah . ————— Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah , RasulNya, KitabNya , para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (Fathul Baari 9 /14 ) —————- Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sekretaris-sekretaris ﻛُﺘَّﺎﺏُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲِ yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur ‘an ). —————— Mereka menulis al-Qur ‘ an yang didikte oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al- Qur ‘an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran- lembaran mereka. ————————— Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al- Qur ‘an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur ‘an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya. _______

Bukankah Pengumpulan al-Quran itu bid’ah ?
———————————-
Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid’ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid’ah dan ibadah buatan mereka.
——————————-
Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah
_________
Pertama :
………………
Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ‘ anhu. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ
ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ

” Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku”

(HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 2549) .
—-
Maka, mengumpulkan al-Qur ‘an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya.
________
Kedua :
……………..
Penulisan al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru dan para Sahabat hanya mengumpul,menyalin dalam mushaf dan membukukannya saja.

“Al-Qur’an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin ‘Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota” (Fathul Baari 9/13)

Allah ta’ala berfirman :

ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً

“( Yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS. Al-Bayyinah : 2 ).
—————
Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam pernah bersabda :

ﻻَ ﺗَﻜْﺘُﺒُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺘَﺐَ ﻋَﻨِّﻲ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻠْﻴَﻤْﺤُﻪُ

” Janganlah kalian menulis dariku , barang siapa yang menulis dariku selain Al- Qur ‘an maka hapuslah ” (HR Muslim no 3004 ).
————-
Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari .
________
Ketiga :
………….
Mereka (para sahabat) mengumpulkan al- Qur ‘an dalam rangka merealisasikan firman Allah

ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ

” Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya” ( QS Al -Hijr : 9 )
……………….
Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an selama – lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur ‘an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur ‘ an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin ‘Affaan dengan penyalinan lembaran- lembaran tersebut dalam mushaf – mushaf .
………….
pengumpulan-quran khilafah 1

Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifayah dalam rangka menjalankan perintah Allah .
……………
Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

” Ibnu Al- Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Janganlah kalian menulis dariku selain Al- Qur ‘an” disertakan dengan firman Allah

ﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺟَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﻗُﺮْﺁﻧَﻪُ

” Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya” ( QS Al- Qiyaamah :17)
……………………..
Dan juga firman Allah :

ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻔِﻲ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒِ ﺍﻷﻭﻟَﻰ (١٨ )

“Sesungguhnya ini benar- benar terdapat dalam Kitab – Kitab yang dahulu ” ( QS Al-A ‘ la : 18)
……………………..
Dan firman Allah

ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً

“( yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS Al-Bayyinah : 2 )
…………………….
Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur ‘an maka hukumnya wajib kifayah .
—————
Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah , RasulNya, KitabNya , para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (Fathul Baari 9 /14 )
—————-
Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sekretaris-sekretaris ﻛُﺘَّﺎﺏُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲِ yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur ‘an ).
——————
Mereka menulis al-Qur ‘ an yang didikte oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al- Qur ‘an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran- lembaran mereka.
—————————
Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al- Qur ‘an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur ‘an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya.
_______

Keempat :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa mushaf ke negeri musuh.
ِّ
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa al- Qur ‘an ke negeri musuh (HR Al-Bukhari no 2990 dan Muslim no 1869 )

Ini merupakan isyarat bahwasanya al- Qur ‘an akan ada terkumpulkan di umat ini dan akan mudah di bawa dalam safar . (Lihat Ahkaamul Qur ‘aan karya Abu Bakr Ibnul ‘Arobi (wafat 542 H ), tahqiq : Muhammad Abdil Qodiir ‘Atoo , Daarul Kutub al-‘ Ilmiyah, cetakan ketiga, 2 /611 )

_____
Kelima :

Pengumpulan al-Qur ‘ an merupakan perkara yang disepakati oleh para sahabat , sehingga hal ini merupakan ijmak, dan ijmak merupakan hujjah.

____
Keenam :

Pengumpulan al-Qur ‘ an dilakukan oleh para sahabat sesuai dengan kaidah ” Saddu Dzari ‘ah” dan ” Dar ‘ul Mafaasid ” , yaitu dalam rangka untuk mencegah hilangnya sebagian al- Qur ‘an dan juga mencegah terjadinya perselisihan di antara umat di masa depan karena berselisih tentang al-Qur ‘an . Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Umar bin Al-Khottob, dan juga sebagaimana yang dilakukan oleh Utsman bin ‘Affan dengan menyalin lembaran-lembaran yang dikumpulkan oleh Abu Bakar dalam beberapa mushaf lalu di bagi- bagikan di bebeparapa kota.

Semuanya dilakukan agar kaum muslimin bersatu dan tidak berselisih.

===
Peringatan :
____
Pertama :

Jika ada yang berkata,
” Jika mengumpulkan al-Qur ‘ an merupakan bentuk penjagaan Al-Qur’an lantas kenapa Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam tidak melakukannya ?”

Jawapannya

sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al- ‘Asqolaani rahimahullah, beliau berkata :

” Al-Khotthoobi rahimahullah dan yang lainnya berkata, ” Dan ada kemungkinan bahwasanya Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam tidaklah mengumpulkan al-Qur ‘ an dalam sebuah mushaf karena beliau menantikan datangnya nasikh (ayat yang menghapus) yang menaskh – kan (menghapus) sebagian hukum – hukum al-Qur ‘ an atau tilawahnya . Tatkala selesai turunnya Al-Qur ‘ an – dengan wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam – maka Allahpun mengilhamkan kepada khulafaa ar- Rosyidin untuk mengumpulkan al- Qur ‘an sebagai bentuk penunaian janji yang benar bahwasanya Allah akan menjaga al- Qur ‘an bagi umat Muhammadiah – semoga Allah menambah kemuliaan mereka- . Dan permulaan penjagaan al-Qur ‘an dimulai melalui tangan Abu Bakr As- Shiddiq dengan musyawarah /masukan Umar radhiallahu ‘anhumaa ” ( Fathul Baari 9 /12 )

______

Kedua :

Jika kita perhatikan pengumpulan al- Qur ‘an bukanlah membuat suatu ibadah yang baru… sama sekali bukan . Ia justru suatu bentuk sarana untuk memudahkan kaum muslimin untuk beribadah dengan membaca dan mempelajari al- Qur ‘an . Hal ini sangat berbeza dengan bid ‘ah-bid ‘ah hasanah yang kebanyakannya merupakan bentuk ratacara baru dalam beribadah .
Seperti solat model baru , dzikir model baru, perayaan model baru… ini semua adalah kreasi dalam beribadah. Adapun pengumpulan al- Qur ‘an sama sekali tidak ada kreasi dalam membuat suatu tata cara beribadah, bahkan dilakukan pengumpulan al-Qur ‘ an dalam rangka memantapkan ibadah-ibadah yang sudah ada !!!

Karenanya para ulama menyebutkan bahwasanya pengumpulan al- Qur ‘an termasuk dalam al- Maslahah al- Mursalah. Sama seperti pembuatan sekolah- sekolah agama, pondok tahfiz al-Qur ‘an , ilmu sanad dan riwayat, ilmu al- Jarh wa at- Ta’ diil, ilmu nahwu dan shorof , semuanya bukanlah kreasi ibadah baru , akan tetapi sebagai sarana untuk bisa mengamalkan ibadah -ibadah yang sudah ada .

Silahkan kembali membaca perbedaan antara al- Maslahah al- Mursalah dengan bid’ ah hasanah .

_______

Ketiga :

Lihatlah bagaimana Abu Bakar dan Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘ anhumaa pun hati- hati dan sempat berhenti dan berpikir panjang. Padahal jelas mengumpulkan al- Qur ‘an adalah perkara yang dibolehkan dan bentuk pengamalan dari firman Allah tentang penjagaan Al- Qur ‘an .

Akan tetapi para sahabat tetap saja sangat berhati- hati untuk melakukan sesuatu yang ” masih baru” yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi. Bahkan Zaid bin Tsaabit mengatakan bahwa pekerjaan mengumpulkan al-Qur ‘an lebih berat daripada memindahkan sebuah gunung !! . Lantas cuba kita bandingkan dengan para (pelaku ) bid ‘ah -bid ‘ah hasanah , baik tata cara ibadah baru , baik
model- model dzikir baru… sungguh mereka sama sekali membuatnya tanpa ragu -ragu sedikitpun !!!

Ibnu Batthool berkata,

“Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit menghindar (dari mengumpulkan al- Qur ‘an) hal ini dikarenakan mereka berdua tidak mendapati Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam melakukannya . Maka mereka berdua benci untuk memposisikan diri mereka berdua sebagai posisi orang yang menambah – nambah kehati- hatiannya untuk agama melebihi kehati -hatian Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wasallam.

Akan tetapi tatkala Umar mengingatkan mereka berdua akan faedah mengumpulkan al- Qur ‘an dan kekawatiran terjadi perubahan kondisi di masa depan jika tidak dikumpulkan al-Qur ‘ an sehingga al- Qur ‘an akan menjadi samar setelah tadinya dikenal , maka mereka berduapun mengambil inisiatif Umar bin al- Khotthoob” ( Fathul Baari 9 / 13-14 ).

berbagai sumber

Views All Time
Views All Time
560
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

2 Comments on Bukankah Pengumpulan al-Quran itu bid’ah ? ———————————- Ini adalah komentar yang sering dilemparkan oleh para pendukung bid’ah hasanah (baik) untuk menghalalkan bid’ah dan ibadah buatan mereka. ——————————- Maka kita jawab dengan jawaban yg ilmiah _________ Pertama : ……………… Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ‘ anhu. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ” Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku” (HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 2549) . —- Maka, mengumpulkan al-Qur ‘an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya. ________ Kedua : …………….. Penulisan al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru dan para Sahabat hanya mengumpul,menyalin dalam mushaf dan membukukannya saja. “Al-Qur’an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin ‘Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota” (Fathul Baari 9/13) Allah ta’ala berfirman : ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً “( Yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS. Al-Bayyinah : 2 ). ————— Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam pernah bersabda : ﻻَ ﺗَﻜْﺘُﺒُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻲ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺘَﺐَ ﻋَﻨِّﻲ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻠْﻴَﻤْﺤُﻪُ ” Janganlah kalian menulis dariku , barang siapa yang menulis dariku selain Al- Qur ‘an maka hapuslah ” (HR Muslim no 3004 ). ————- Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur ‘an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari . ________ Ketiga : …………. Mereka (para sahabat) mengumpulkan al- Qur ‘an dalam rangka merealisasikan firman Allah ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﻟَﻪُ ﻟَﺤَﺎﻓِﻈُﻮﻥَ ” Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar- benar memeliharanya” ( QS Al -Hijr : 9 ) ………………. Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Qur’an selama – lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur ‘an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur ‘ an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin ‘Affaan dengan penyalinan lembaran- lembaran tersebut dalam mushaf – mushaf . …………. Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifayah dalam rangka menjalankan perintah Allah . …………… Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ” Ibnu Al- Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Janganlah kalian menulis dariku selain Al- Qur ‘an” disertakan dengan firman Allah ﺇِﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺟَﻤْﻌَﻪُ ﻭَﻗُﺮْﺁﻧَﻪُ ” Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya” ( QS Al- Qiyaamah :17) …………………….. Dan juga firman Allah : ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻔِﻲ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒِ ﺍﻷﻭﻟَﻰ (١٨ ) “Sesungguhnya ini benar- benar terdapat dalam Kitab – Kitab yang dahulu ” ( QS Al-A ‘ la : 18) …………………….. Dan firman Allah ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﺻُﺤُﻔًﺎ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓً “( yaitu ) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad ) yang membacakan lembaran- lembaran yang disucikan ( Al Quran )” (QS Al- Bayyinah : 2 ) ……………………. Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur ‘an maka hukumnya wajib kifayah . ————— Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah , RasulNya, KitabNya , para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (Fathul Baari 9 /14 ) —————- Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sekretaris-sekretaris ﻛُﺘَّﺎﺏُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲِ yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur ‘an ). —————— Mereka menulis al-Qur ‘ an yang didikte oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al- Qur ‘an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran- lembaran mereka. ————————— Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al- Qur ‘an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur ‘an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya. _______

  1. Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin , diantaranya Abu Bakar radhiallahu ‘ anhu. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

    ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲ ﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ
    ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ

    ” Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar- Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku”

    (HR At- Thirmidzi no 2676 , Abu Dawud 4607 , dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al- Haakim, dan dishahihkan oleh Al- Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 2549) .
    —-
    Maka, mengumpulkan al-Qur ‘an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya.

  2. beberapa bentuk amalan dan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dengan kata lain ibadah tersebut adalah bid’ah.
    —————————-
    1. TAHLILAN

    Tahlilan adalah peringatan hari kematian dari salah seorang kerabat keluarga, tahlilan dapat juga disebut upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. Dalam kegiatan tahlilan ini dibacakan doa-doa dan kalimat tahlil secara bersama-sama dan berulang-ulang. Namun yang menjadikan suatu persoalan adalah bahwa acara tahlilan dilakukan dengan mengundang orang-orang satu kampung dan menyediakan hidangan yang berlebihan selayaknya sebuah pesta. Ini juga terjadi pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100,bahkan hari ke-1000 setelah kematian. Bukankah ini suatu keanehan bahwa di dalam acara peringatan kematian di lakukan pesta dengan penyajian beragam makanan.
    —————–
    Imam syafi’I berkata dalam kitabnya, Al-Umm, Juz I hlm 279
    ————–
    “….dan aku membenci Al-Ma’tam, yaitu proses berkumpul/bergabung (ditempat keluarga mayit) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat (dikeluarga mayit).
    ————————-
    Khalifah umar bin abdul aziz melarang tahlilan seperti dalam Riwayat Ibnu Abi Syaibah:

    Telah berkata kepada kami Yan ‘Aqid bin isa dari tsabit dari Qais, beliau berkata” saya telah menyaksikan umar bin abdul aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan kemudian berkata: “kalian akan mendapat bencana dan akan merugi”
    —————————–
    Jika kita telusuri, upacara kematian tersebut di adopsi dari budaya hindu dan budha. Mereka umta hindu dan budha menganggap bahwa setelah meninggal maka mayit tersebut akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Untuk itu kedatangan ruh tersebut harus disambut dengan pembacaan doa-doa dan menyiapkan sesajen untuk ruh mayit agar ruh itu bebas dari siksa kematian dan dapat mengunjungi keluarga yang di cintainya.
    ———————————-
    Setelah Islam masuk maka acara tersebut secara perlahan-lahan diganti dengan kegiatan yang bernafaskan Islam, misalnya sesajen diganti dengan makanan-makanan yang dibagikan, mantera-mantera diganti Fdengan doa-doa dan bacaan Al-Qur’an. Namun secara aqidah kegiatan tersebut tetap menjadi bid’ah karena mengikuti cara yang dilakukan oleh umat agama lain dan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.

    mari kita buktikan dengan dalil bahwa amalan tahlilan adalah ditolak

    Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud :

    “ apabila mati anak Adam, maka putuslah amalannya kecuali 3 perkara : pertama: se dekah yang berkekalan (sedekah wafatnya), kedua: ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, krtiga: anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya”.

    penjelasan hadist :

    A.Hasan mengatakan bahwa :

    – Kalau seseorang telah mati, tidak akan bertambah amalnya, kecuali 3 perkara tadi.

    – Ilmu dan anak, adalah daripada usahanya sendiri pada waktu ia masih hidup dan itu yang akan menambah amalnya.

    – Manusia itu Cuma akan mendapat ganjaran dari apa yang telah dikerjakan sendiri diatas dunia.

    Coba kita lihat acara tahlilan, mereka menganggap dengan mengundang orang untuk mendoakan sang mayat maka akan mengurangi azab dan dapat menambah amalan bagi si mayat tersebut. Disitulah kekeliruan pemahaman yang banyak terjadi sekarang ini. Semoga mereka yang masih meyakini pemahaman seperti itu diberikan petunjuk oleh Allah.

    sesat tahlilan

    2. YASINAN
    ————————
    Maraknya upacara Yasinan pada zaman sekarang seperti pada hari setelah kematian, pada malam jumat, pada ziarah kubur dan sebagainya seakan-akan bahwa Al-Qur’an itu hanya berisi surat Yasin saja. Padahal sangat dianjurkan untuk mengkhatamkan seluruh ayat Al-Qur’an setiap 1 bulannya.
    ————————–
    Ada beberapa syarat diterimanya amalan ibadah
    ———————
    1. Ikhlas karena Allah dan semata-mata untuk Allah dengan konsekwensi terhadap syahadat yang terbebas dari syirik.
    ——————–
    2. konsekwensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, dengan mengikuti apa yang dianjurkan dan meninggalkan bid’ah (yang diada-adakan).
    ————————————–

    Mari kita bandingkan apakah yasinan tersebut sudah mengikuti syarat tersebut
    ————————
    • Yasinan mengkhususkan dengan surat Yasin, padahal tidak ada dalil yang shahih yang mengkhususkan surat tersebut.
    • Yasinan mengkhususkan pada hari tertentu saja (tiap malam jumat) namun dalil mengenai hal itu adalah lemah.
    • Mengkhususkan pada waktu atau acara tertentu (sebelum dan sesudah kematian ). Padahal Al-Qur’an dan Hadist tidak mengajarkan hal itu.
    • Dilakukan dengan cara berjamaah, membaca secara seperti paduan suara dan tidak jelas makhraj dan tajwidnya. Padahal Rasulullah mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, pelan, benar dan teratur, dibaca oleh satu orang yang lain mendengarkan.
    ——————————
    mari kita lihat dalil-dalil yang menjelaskan yasinan tersebut.

    “ barangsiapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika dia bangun pagi harinya maka diampuni dosanya”
    ——————————–
    Keterangan : hadist ini palsu : Ibnu Jauzi mengatakan, semua jalannya adalah bathil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata, Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadit adalah tukang pemalsu hadist.
    ——————————
    Hadist lainnya

    “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, maka seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”.

    Keterangan : hadist ini Maudhu (palsu) diriwayatkan oleh imam Baihaqi dalam Syuabul Iman. Rasanya tidak perlu lagi membaca surat lain, karena dengan membaca surat Yasin seperti sudah khatam Al-Qur’an 10 kali.

    Begitulah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini, beribadah tetapi sia-sia, karena menggunakan dalil yang lemah atau palsu sehingga tidak menimbulkan manfaat sedikitpun untuk dirinya.

    3. RUWAHAN

    Ruwahan berasal dari ajaran agama hindu yang percaya dengan roh-roh. Setelah Islam masuk maka nenek moyang melakukan upacara untuk menyambut roh pendahulunya karena memasuki bulan ramadhan roh tersebut akan mengunjungi anak cucunya.

    Upacara ruwahan ini dilakukan dengan mengundang orang banyak untuk mengikuti yasinan bersama, dan mendokan bersama kepada arwah yang telah meninggal tersebut.

    Ruwahan dalam pandangan hadist

    Hadist pertama

    “ ada enam perkara, orang yang aku (kata Nabi S.A.W) laknat dan Allah juga melaknatnya, padahal setiap permohonan Nabi itu diperkenankan :

    1. orang yang menambahi kitab Allah
    2. orang yang mendustakan ketentuan Allah
    3. orang yang mengalah kepada pemerintah yang sombong lagi kejam.
    4. orang yang menghalalkan larangan Allah
    5. orang yang menghalalkan dari keturunanku yang Allah haramkan.
    6. orang yang meninggalkan sunnahku”
    hadist kedua,.

    Jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

    Dari hadist tersebut dapat disimpulkan

    • Orang yang melaksanakan ruwahan tidak diterima amal dan sedeqahnya karena menyalahi perintah Allah dan Rasul, apalagi jika agar disenangi orang banyak sehingga menjadikan nya riya.
    • Orang yang melaksanakan ruwahan mendapat laknat dari Allah
    • Orang yang mengajak dan diajak sama-sama memikul dosanya.
    • Orang yang melakukan ruwahan akan dimasukan kedalam neraka..

    4. TAWASSUL

    Tawasul menurut ulama adalah perantara antara hubungan manusia dengan Allah S.W.T

    Namun tawassul yang dilakukan pada zaman sekarang ini sudah mengalami pergeseran karena seringkali kita lihat bahwa banyak orang bertawassul dengan benda yang dianggap keramat, kuburan, dan sebagainya.

    Dalam surat Al-Hajj ayat 73

    ”Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”

    Jadi meminta doa kepada orang yang telah mati ( walaupun itu adalah seorang Syekh atau ulama ) maka perbuatan itu adalah sia-sia, karena orang yang mati itupun tidak mampu untuk menolong dirinya sendiri. Begitu juga menggunakan makam orang-orang shaleh sebagai perantara dalam berdoa juga merupakan perbuatan yang sia-sia, bisa menjadi Syirik.

    Dalam surat Ar-Rad ayat 14

    “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”.

    Doa yang dibolehkan hanya ditujukan kepada Allah. Bahkan kita diwajibkan untuk selalu berdoa kepada Allah sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ibadah kepada Allah. Apabila kita ingin bertawassul menjadikan perantara dalam berdoa maka ini pun hanya boleh dilakukan kepada orang yang masih hidup seperti orang tua, anak yatim, ulama dan orang-orang shaleh lainnya yang mempunyai keutamaan dalam hal agamanya. Tapi kita tidak dibolehkan menjadikan orang-orang kafir sebagai perantara dalam berdoa.

    Dalam sebuah hadits

    Ada seorang laki-laki masuk ke mesjid, sementara Nabi S.A.W sedang berkhutbah. Lalu laki-laki itu berkata, ya Rasulullah, harta kekayaaan telah hancur (akibat kemarau panjang), segala usaha telah terputus, maka mohonkanlah kepada Allah agar kita ditolong (diturunkan hujan)) kemudian Nabi SAW berdoa menadahkan tangannya dan tidak lama kemudian turunlah hujan selama satu minggu.

    5. ISTIGHOSAH.(MEMINTA PERTOLONGAN)

    1. Meminta pertolongan kepada orang yang sudah mati adalah syirik besar sekalipun itu adalah makam Nabi Saw
    2. meminta pertolongan kepada orang masih hidup dibenarkan oleh syariat, dengan meyakini bahwa Allah yang mengabulkan.
    3. meminta pertolongan kepada makhluk selain manusia yang masih hidup sangat bertentangan dengan syariat Islam dan bisa terjerumus kedalam syirik akbar.

    Al-Qur’an surat An-Naml ayat 80

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”.

    6. TABARRUK (MENCARI BERKAH)

    Tabarruk adalah mencari berkah. Namun kita tidak dibolehkan bertabarruk dengan perantara sesuatu yang tidak mampu berbuat apa-apa.

    Contoh tabarruk yang dilarang

    a. bertabaruk dengan kubur Rasulullah Saw apalagi kuburan selain rasul atau melakukan perjalanan hanya untuk mengunjungi pemakamannya.
    b. Berdoa dimakam Rasulullah dan menyangka doa disana akan langsung dikabulkan.
    c. Bertabarruk dengan orang-orang shaleh yang telah mati
    Bertabaruk dengan cara seperti diatas dapat menjadikan haram karena telah melakukan bid’ah dalam agama, dan bisa juga menjadi musyrik karena telah mempersekutukan Allah dalam beribadah.

    Bertabarruk yang dibolehkan misalnya berzikir dan membaca Al-Qur’an agar mendapatkan keberkahan

    7. ZIARAH KUBUR

    Ziarah kubur dianjurkan oleh syariat dengan tujuan agar mengambil pelajaran dan ingat akan kematian kita sendiri dengan tidak berkata yang membuat Allah murka.

    Ziarah kubur dimaksudkan agar para peziarah mengambil pelajaran dengan mengingat mati sehingga setelah itu ia meminta ampunan dan bertobat kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Namun bila berziarah kubur selain dari pada tujuan tersebut maka tidaklah dianjurkan untuk melakukannya, karena merupakan bid’ah. Apalagi kalau berziarah kubur untuk meminta doa, meminta berkah, meminta ilmu kesaktian, meminta kesembuhan dan sebagainya itu adalah termasuk kedalam syirik akbar.

    8. MAULID NABI

    Maulid Nabi Saw adalah suatu perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pada zaman sekarang ini sangat marak acara peringatan tersebut dilakukan di berbagai daerah. Namun sangat jauh dari makna peringatan maulid nabi Saw tersebut. Peringatan maulid nabi dilakukan dengan menghidangkan berbagai macam hidangan sehingga seringkali menimbulkan mubazir. Dan acara maulid nabi diisi dengan tarian dan musik yang tidak ada hubungan dengan syariat sediktpun.

    Jika kita ingin memperingati maulid nabi sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah dapat dilakukan dengan cara lain yang lebih bermanfaat dan bernilai ibadah. Misal

    Mengikuti Nabi Muhammad Saw, mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataannya, menjalan perintahnya, dan menjauhi larangannya ( ali imran ayat 31)

    Mendahulukan apa yang disyariatkan dan diperintahkan oleh Rasulullah Saw, dari pada hawa nafsunya dan keinginan sendiri. ( surat Al Hasyr ayat 9)

    Banyak mengingat Rasulullah Saw, orang yang cinta kepada sesuatu, dia akan selalu mengingatnya ( surat Al-Ahzab ayat 56)

    Sumber ringkasan : Membongkar Kesesatan Tahlilan, Yasinan, Ruwahan, Tawassul, Istighotsah, Ziarah, Maulid Nabi Saw, Basyaruddin bin Nurdin Shalih Syuhaimin, Mujahid Press Bandung, 2008.

    Demikianlah ringkasan dari bentuk ibadah yang banyak terjadi sekarang ini namun semua itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, bahkan Rasulullah Saw sendiri mengingatkan kepada kita bahwa semua yang tidak berasal dari beliau adalah bid’ah. Sedangkan bid’ah adalah sesat dan kesesatan ada dalam neraka.. semoga kita terlindung dari segala perbuatan bid’ah tersebut.

    Agama adalah dalil, jangan mengingkari setiap perkataan yang didasarkan pada dalil yang berasal dari Rasulullah

Leave a Reply