Loading
Perjalanan Hidup Manusia….. dan ….setelah MATI ————————————– peta HIDUP —————————- ….———–jangan MEREMEHKAN … bekal utk MATImu/ MATIku …—————kamu/aku … ke SURGA atau ke NERAKA … krn amal/perbuatan kita SENDIRI —————————————– Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Menurut Islam sebagaimana yang telah diterangkan dan dikemukakan didalam Al-quran dan Hadist dengan jelas dan tegas, bahwa setiap jiwa atau roh manusia itu akan mengalami perjalanan yang panjang di tempat/alam yang berbeda-beda, setiap alam pasti lebih besar dan lebih luas keadaannya dari pada alam yang telah ditempati sebelumnya. Dalam Al-quran dan hadist telah di jelaskan bahwa perjalanan hidup manusia akan melalui beberapa alam; Alam Arwah, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Barzakh, dan Alam Akhirat. | EP Artikel-Edy Gojira

Perjalanan Hidup Manusia….. dan ….setelah MATI ————————————– peta HIDUP —————————- ….———–jangan MEREMEHKAN … bekal utk MATImu/ MATIku …—————kamu/aku … ke SURGA atau ke NERAKA … krn amal/perbuatan kita SENDIRI —————————————– Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Menurut Islam sebagaimana yang telah diterangkan dan dikemukakan didalam Al-quran dan Hadist dengan jelas dan tegas, bahwa setiap jiwa atau roh manusia itu akan mengalami perjalanan yang panjang di tempat/alam yang berbeda-beda, setiap alam pasti lebih besar dan lebih luas keadaannya dari pada alam yang telah ditempati sebelumnya. Dalam Al-quran dan hadist telah di jelaskan bahwa perjalanan hidup manusia akan melalui beberapa alam; Alam Arwah, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Barzakh, dan Alam Akhirat.

Perjalanan Hidup Manusia….. dan ….setelah MATI
————————–———— peta HIDUP —————————-
….———–jangan MEREMEHKAN … bekal utk MATImu/ MATIku
…—————kamu/aku … ke SURGA atau ke NERAKA … krn amal/perbuatan kita SENDIRI
————————–—————
Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Menurut Islam sebagaimana yang telah diterangkan dan dikemukakan didalam Al-quran dan Hadist dengan jelas dan tegas, bahwa setiap jiwa atau roh manusia itu akan mengalami perjalanan yang panjang di tempat/alam yang berbeda-beda, setiap alam pasti lebih besar dan lebih luas keadaannya dari pada alam yang telah ditempati sebelumnya.
Dalam Al-quran dan hadist telah di jelaskan bahwa perjalanan hidup manusia akan melalui beberapa alam; Alam Arwah, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Barzakh, dan Alam Akhirat.
Alam-alam tersebut akan di jelaskan di bawah ini;

1- Alam Roh (Arwah)

Perjalanan pertama yang akan di rasakan oleh manusia ialah Alam Roh.
Alam roh(arwah) adalah alam sebelum roh manusia di tiup kedalam kandungan seorang ibu. Awal perjalanan manusia di mulai dari alam roh(arwah) ketika Allah mengumpulkan semua roh(arwah) yang akan diturunkan ke bumi.
Kejadian ini di ceritakan dalam ayat Al-quran, yaitu;

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا

بَلَىٰ ۛشَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya; “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS: Al-A’raf Ayat: 172)

Dan dalam ayat Al-quran, yaitu;

ۚ فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya; “Maka hadapkan-lah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS: Ar-Ruum Ayat: 30)

Dengan adanya ayat di atas maka seluruh manusia yang lahir ke dunia sudah mempunyai tanda, yaitu tanda fitrah, beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda dalam hadist;

:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُعَلَى الْفِطْرَةِ, فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.

2- Alam Rahim
Perjalan yang kedua ialah Alam Rahim (kandungan). Rahim artinya kasih sayang. Alam rahim adalah suatu alam di mana manusia dibentuk atas dasar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba Nya. Waktu berada di alam rahim ini, sejak itulah terjalin kasih sayang yang disebut “Silaturahmi”. Setelah melewati alam roh dan setelah membuat kesaksian tentang Allah maka manusia akan memasuki kehidupan dalam rahim (kandungan). Ketika manusia berada di alam rahim, jasad manusia di ciptakan dalam beberapa tahap;

Tahap pertama : nutfah yaitu dimulai setelah pembuahan atau minggu pertama. Itu dimulai setelah terjadinya pencampuran air mani dengan telur. Allah berfirman dalam Al-quran, yaitu:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS: Al-Insaan Ayat: 2)

Tahap kedua : ‘alaqah (segumpal darah yang melekat pada dinding rahim). Tahap pembentukan alaqah itu pada akhir pekan pertama / hari ketujuh. Pada hari ketujuh telor yang sudah dibuahi itu akan tertanam di dinding rahim (qarar makin).
Tahap ketiga : mudghah (segumpal daging yang berwarna merah ke hitam-hitaman). pembentukan mudghah terjadi pada minggu keempat
Tahap keempat : Izam dan Lahm, pada tahap ini adalah minggu ke lima, keenam, dan ketujuh. Yaitu pembentukan tulang-tulang, kemudian pembentukan otot-otot yang akan membungkus tulang-tulang itu.
Tahap kelima : Nasy’ah Khalqan akhar, pada tahap ini yaitu pada minggu kedelapan, pembentukan menjadi janin, pada bulan ketiga janin telah terbentuk dengan sempurna.

Dalam tahap kedua sampai kelima telah di jelaskan oleh Allah dalam firmannya; yaitu:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَاالْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ

أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS: Al-Mu’minuun Ayat: 14)

Tahap keenam : Nafkhur-ruh yaitu tingkat peniupan roh.

kemudian Allah menetapkan qadar kepada manusia di dalam rahim, qadar yang di tetapkan oleh Allah ada empat: umur, rezeki, bahagia, dan sengsara. Hal ini telah di jelaskan dalam sebuah hadist, yaitu:

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قاَلَ ;حَدَّثَناَ رَسُوْلُ اللّهِ .صلم. وَهُوَ الصَّادِقُ

الْمَصْدُوْقُ ; إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّه أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُوْنُ

عَلَقَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ

الرُّوْحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماَتٍ ; رِزْقِه ، وَأَجَلِه ، وَعَمَلِه ، وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ

سَعِيْدٌ – الحديث رواه أحمد –

Artinya: “ Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata : Telah bersabda kepada kami Rasulullah SAW – Beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara kamu (setiap kamu) benar-benar diproses kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud air mani; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal darah; lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal daging; kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas (sang janin) itu ditetapkan dalam 4 ketentuan : 1. Ditentukan (kadar) rizkinya, 2. Ditentukan batas umurnya, 3. Ditentukan amal perbuatannya, 4. Ditentukan apakah ia tergolomg orang celaka ataukah orang yang beruntung“ (HR Ahmad).

3- Alam Dunia
Setelah manusia berhasil melewati alam rahim, maka manusia telah memasuki tahap ketiga dari perjalanan hidupnya, yaitu; alam dunia.
Dalam dunia ini perjalanan manusia melalui proses yang panjang,
mulai dari bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. proses ini tidak berjalan sama antara satu dengan yang lainnya. tidak semua manusia dapat hidup sampai remaja, dewasa, atau tua, karena kematian bisa datang kapanpun dan di manapun, serta tidak memandang usia, ada sebagian manusia yang hidup hanya sampai bayi, dan sebagian lagi hanya sampai remaja. dan sebagian yang lain ada yang hidup sampai tua bahkan sampai pikun.
Di alam dunia ini manusia mendapatkan taklif (tugas) dari Allah, yaitu berupa ibadah. sedangkan alam dunia adalah tempat ujian bagi manusia. Di dunia manusia tidak di larang untuk menikmati kehidupan duniawi, hanya saja perlu dipahami, bahwa dunia ini tempat berbakti, tetapi penuh dengan berbagai tipu daya.

Allah berfirman;

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ

آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS: Al-A’raf Ayat: 32)

Ayat-ayat ini menerangkan dengan jelas bahwa perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia ini oleh ummat manusia baik dari orang-orang yang beriman maupun orang-orang yang tak beriman, tapi di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja. oleh sebab itu dalam Al-quran Allah memberi peringatan dengan firmannya;

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ

لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الحَيَاة الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ

كَانُوا كَافِرِينَ

Artinya; “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS: Al-An’am Ayat: 130)

Manusia hidup di dunia hanya sekali, dan tidak akan ada kesempatan hidup di dunia untuk yang kedua kalinya, maka manusia wajib mencari bekal untuk menuju ke alam yang selanjutnya. karena hanya di alam dunia ini yang menjadi penentu nasib manusia setelah alam dunia. yaitu dengan cara: beribadah kepada Allah, menjalankan perintahnya dan menjauhi semua larangannya

4- Alam Barzakh

Sebelum manusia melewati alam dunia, maka manusia akan mengalami kematian, jika kematian telah datang maka putuslah semua hubungannya dengan kehidupan dunia. Setelah meninggal dunia manusia akan memasuki alam barzakh(kubur), di alam kubur manusia tinggal sendiri hanya amal baik dan buruk yang akan selalu menemaninya.
Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lembah dari lembah-lembah neraka.

Sedangkan Alam Kubur adalah alam tempat penantian untuk menanti hari kiamat, di alam kubur ini Allah menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur. Alam kubur ini merupakan awal alam akhirat,
Alam ini “ghoib”. oleh karena itu tidak mungkin untuk di selidiki. satu-satunya informasi yang wajib di pegang adalah dalil Al-quran dan hadist;
sebagaimana Allah berfirman;

فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا ۖ وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا

وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Artinya; “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir´aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir´aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.

(QS: Al-Mu’min Ayat: 45-46)

Dan firman Allah:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ

قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ

وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْتَقُولُونَ عَلَى

اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS: Al-An’am Ayat: 93)

Ayat Al-quran di atas menjelaskan nasib manusia yang kafir kepada Allah dan manusia yang berada di jalan yang salah, maka akan di tampakkan kepadanya neraka yang panas pada waktu pagi dan sore, dan mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih.
Sedangkan manusia yang bertakwa kepada Allah,, melakukan perintahnya dan menjauhi larangannya,, ia akan mendapatkan nikmat kubur, dan akan di tampakkan kepadanya hawa surga,

Allah berfirman;

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya; “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS: Al-Baqarah Ayat: 3-5)

5- Alam Akhirat

Alam akhirat juga di sebut dengan alam baka, alam akhirat di dahului dengan terjadinya kiamat, di mana alam semesta menjadi rusak total. seluruh jagat raya ini akan hancur, entah seperti apa gambaran ketika semua ini terjadi.
Alam akhirat setelah terjadi kiamat menjadi 3, yaitu:

Padang Mahsyar adalah tempat penghitungan amal (hisaban). pada peristiwa ini seluruh ummat manusia mulai dari Nabi adam as sampai manusia terakhir di kumpulkan dalam satu tempat, Allah berfirman;

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا

Artinya: “Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok”. (QS: An-Naba’ Ayat: 17-18)

Surga adalah tempat orang yang rajin beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintahnya, maka mereka di selamatkan dan di masukkan ke dalam surga.

Neraka adalah tempat bagi Orang-orang kafir, baik dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik yang tidak mau bertaubat,, maka mereka akan kekal di dalam neraka yang penuh dengan siksaan. dan bagi orang yang tidak patuh terhadap perintah Allah. dan yang selalu berbuat dosa, maka mereka akan di masukkan ke dalam neraka, mereka akan di siksa dan di bersihkan dari dosa-dosanya.

About Edy Gojira 722 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

3 Comments on Perjalanan Hidup Manusia….. dan ….setelah MATI ————————————– peta HIDUP —————————- ….———–jangan MEREMEHKAN … bekal utk MATImu/ MATIku …—————kamu/aku … ke SURGA atau ke NERAKA … krn amal/perbuatan kita SENDIRI —————————————– Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Menurut Islam sebagaimana yang telah diterangkan dan dikemukakan didalam Al-quran dan Hadist dengan jelas dan tegas, bahwa setiap jiwa atau roh manusia itu akan mengalami perjalanan yang panjang di tempat/alam yang berbeda-beda, setiap alam pasti lebih besar dan lebih luas keadaannya dari pada alam yang telah ditempati sebelumnya. Dalam Al-quran dan hadist telah di jelaskan bahwa perjalanan hidup manusia akan melalui beberapa alam; Alam Arwah, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Barzakh, dan Alam Akhirat.

  1. MENYESAL setelah MATI ??? …… apa GUNAnya ???
    ………… MATI lalu diSIKSA di BARZAKH …. di AKhirat di NERAKA???
    ………………………………………..
    penyesalan-penyesalan MANUSIA di akhirat sebagai akibat dari amalan-amalan manusia di dunia

    1. Penyesalan orang-orang munafik setelah menyaksikan kemenangan dan kejayaan orang-orang beriman:

    “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).” [Surat 4 An-Nisa’, ayat 73]

    2. Penyesalan orang yang menyekutukan Allah setelah menyaksikan kerugiannya:

    “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” [Surat 18 Al-Kahfi, ayat 42]

    3. Penyesalan orang yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pada hari kiamat nanti:

    “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” [Surat 25 Al-Furqon, ayat 27]

    4. Penyesalan orang yang salah dalam memilih sahabat sehingga menjadikannya menyimpang dari ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam pada hari kiamat nanti:

    “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).”[Surat 25 Al-Furqon, ayat 28]

    5. Penyesalan orang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya pada hari kiamat nanti karena amal buruknya ketika di dunia:

    “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).” [Surat 69 Al-Haqqoh, ayat 25]

    6. Penyesalan orang kafir pada hari kiamat nanti karena dibakar di neraka selamanya:

    “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” [Surat 78 An-Naba’, ayat 40]

    7. Penyesalan pada hari kiamat karena kurang dalam beramal kebaikan:

    “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” [Surat 89 Al-Fajr, ayat 24]

    8. Penyesalan ahli neraka:

    “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” [Surat 6 Al-An’am, ayat 27]

    9. Penyesalan karena tidak taat kepada Allah dan RasulNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:

    “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” [Surat 33 Al-Ahzab, ayat 66]

    Semuanya adalah harapan dan penyesalan yang telah terlambat pada saat itu..!

    Saat ini, ketika kita masih di dunia dan ketika jiwa di kandung badan, kita masih bisa memperbaikinya.. Masih ada waktu dan kesempatan untuk menjadi orang baik dan menutup umur dengan yang terbaik, husnul khotimah..

    Sesal dahulu pendapatan, sesal setelah MATI …. tiada guna..
    ……………………………………..
    Allah SWT telah menyediakan suatu tempat di akhirat nanti. Tempat yang saling berlawanan. yang pertama tempat yang begitu nyaman dan bagi mereka yang telah di tetapkan oleh Allah untuk tinggal di situ (SYURGA), mereka tidak akan mau pergi ke tempat yang lain, mereka betah tinggal di tempat itu. Berbeda dengan tempat yang kedua. tempat ini justru yang paling di takutkan oleh umat manusia (NERAKA). Mereka yang tinggal di situ tak akan betah, mereka ingin segera mungkin untuk keluar.
    Dua tempat yang berlawanan itu adalah surga dan neraka. Surga tidak perlu di sangsikan lagi, semua yang hidup ingin sekali masuk ke dalamnya dan menikmati fasilitasnya. Berbeda dengan neraka semua makhluk tidak ada yang bercita-cita masuk ke dalamnya, apalagi tinggal di dalamnya.

    Al-Qur’an menggambarkan kedua tempat dan ucapan-ucapan penghuni keduanya. Bagi penghuni surga perkataannya begitu bahagia tinggal di situ. Berbeda dengan penghuni neraka, penyesalan-penyesalan yang ada. mereka mengakui akan perbuatan-perbuatan yang buruk semasa hidup di dunia. Mereka para penghuni neraka ingin kembali ke dunia dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik.

    “Mereka menjawab, ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali lalu kami mengakui (kesalahan) dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Qs. Al-Mumin : 11)

    “Ya Tuhan kami , keluarkan kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Muminun : 107)

    Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang menyesal di neraka sana, tapi menyesal ketika masih di dunia karena pintu tobat masih terbuka lebar selama hayat dikandung badan.
    Semoga di akhir hidup tidak dalam keadaan buruk atau Shuul khotimah.

    Imam Al-Ghozali mengatakan sesuatu yang paling jauh adalah hari kemarin, karena hari kemarin tidak akan pernah kembali lagi. Dan sesuatu yang paling dekat adalah kematian, karena yang namanya kematian tidak ada yang tahu. Bisa hari ini, besok, atau satu jam kemudian.
    selama masih ada waktu mari kita mengadakan perubahan pada diri kita untuk selalu berada pada jalur yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya, Nabi Muhammad SAW.

    Sobat, marilah kita berlomba-lomba dalam mencari kebaikan.
    SEMOGA BERMANFAAT

  2. Mengapa ORANG “harus” MATI …. Mati itu “menyakitkan”? … mengapa Allah TIDAK membuat manusia KEKAL …. TIDAK mati … tidak MENDERITA …. Hidup selama-lamanya … sehingga bisa MENIKMATI HIDUP selamanya? … katanya Allah Maha PENGASIH dan PENYAYANG >>>> ﴾ Al Fatihah:1 ﴿ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah {RAHMAN/ٱلرَّحْمٰنِ} lagi Maha Penyayang {rahim/ٱلرَّحِيمِ }. ﴾ Al Fatihah:3 ﴿ Maha Pemurah {ٱلرَّحْمٰنِ} lagi Maha Penyayang {ٱلرَّحِيمِ}. >>>>

    >>> ﴾ Al Mulk:2 ﴿ Yang menjadikan MATI dan HIDUP, supaya Dia meng-UJI kamu, SIAPA di antara kamu yang —-LEBIH BAIK AMALNYA—. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

    ………..……….…. RAHMAN dan RAHIM …………… ….
    “—Ar-RAHMAN— artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa’lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata ‘Seorang lelaki ghadhbaan,’ artinya penuh kemarahan.
    >> “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)

    Sementara, —AR-RAHIIM— adalah nama Allah l yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa’iil ( ٌﻞِْﻴﻌَﻓ ) bermakna faa’il (2 ٌ( ﻞِﻋﺎَﻓ pelaksana, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi). Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah l itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”
    >> Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah l (yakni Allah l memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
    …………………
    —keBAIKan menurut manusia—- ….. bisa jadi = keBURUKan menurut Allah .. Al Jin:10
    …………………………………………….
    parameter BAIK dan BURUK adalah PETUNJUK Allah (Al qur’an) .. Al Jin:13
    ………………………………………………………………………..

    ﴾ Al Jin:10 ﴿Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

    ﴾ Al Jin:11 ﴿
    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
    ﴾ Al Jin:12 ﴿
    Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari.
    ﴾ Al Jin:13 ﴿
    Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.
    ﴾ Al Jin:14 ﴿
    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.
    ﴾ Al Jin:15 ﴿
    Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.
    ﴾ Al Jin:16 ﴿
    Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).

  3. KEKAL = selamanya itu .. hanya ALLAH saja yg maha mengetahui …
    —————————-
    SIKSAAN ….. bagi orang MUSLIM atau …. SIKSAAN bagi KAFIR = KEHENDAK ALLAH … utk membersihkan DOSA …… < << --------------------------- KEKAL = selamanya .. BATAS waktunya yg TAHU HANYA ALLAH saja >>>>> ” kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) “……

    Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. QS. Hud [11] : 108
    ———————————-
    فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ مَا دَامَتِالسَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108)

    “ Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya .” (QS. Huud: 106-108)

    Jika kita melihat ayat di atas, seakan-akan ada yang ganjil. Allah mengisyaratkan surga dan neraka itu ada selama bumi dan langit itu ada. Dari sini bisa diyakini bahwa surga dan neraka itu tidak kekal. Ayat inilah yang menjadi dasar keyakinan Ir. Agus Mustofa (Penulis Buku Tasawuf Modern) dalam bukunya “ Ternyata Akhirat Tidak Kekal ” [1] .

    Berikut kami cuplik sedikit perkataan beliau dalam buku tersebut setelah beliau membawakan surat Huud ayat 106-108:
    “Ayat di atas bercerita tentang keadaan penduduk neraka dan penduduk surga. Dikatakan oleh Allah, bahwa mereka itu akan kekal di dalam surga atau neraka selama ada langit dan bumi.

    Informasi ini, sungguh sangat menggelitik logika kita. Kenapa demikian? Sebab ternyata kekekalan surga dan neraka itu –menurut ayat ini- tergantung pada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta.
    Dengan kata lain, akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal.

    Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.
    Tentu, hal ini membuat kita agak shock. Sebab ini telah menggoyang apa yang sudah kita pahami selama ini. Bahwa yang namanya akhirat itu adalah alam baka. Alam yang kekal abadi, dan tidak akan pernah mengalami kiamat lagi. Dan itu telah dikatakan berulang-ulang dalam Al Qur’an.

    Akan tetapi, apakah kita tidak percaya kepada firman Allah di atas, bahwa Surga dan Neraka itu kekalnya adalah sekekal langit dan bumi? Tentu saja, kita juga nggak berani untuk tidak percaya, sebab kalimat-kalimat di atas demikiangamblangnya: Khaalidiina fiiha maadaamatis samaawaati wal ardhi … (kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi …) ” (hal. 234)

    Demikian sedikit nukilan dari perkataan beliau, yang kesimpulannya sesuai judul bukunya yaitu akhirat itu tidaklah kekal. Kami sangat tergelitik sekali ingin menyanggah pernyataan beliau di atas dengan merujuk pada pakar tafsir terkemuka.

    Yang tentunya ilmu ulama tafsir sudah pasti lebih terpercaya. Semoga Allah memudahkan untuk menyelesaikan tulisan ini karena ingin mengharapkan wajah-Nya yang mulia.

    3 Hal yang Mesti Diyakini Mengenai Surga dan Neraka

    Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Hafizh Al Hakami rahimahullah , keyakinan terhadap surga dan neraka yang mesti diyakini adalah 3 hal.

    *. Beliau sebut dalam bait syairnya,
    والنَّارُ وَالجَنَّةُ حَقٌّ وَهُمَا … مَوْجُوْدَتَانِ لاَ فَنَاءَ لَهُمَا

    “ Neraka dan surga adalah benar adanya. Keduanya telah ada saat ini. Dan keduanya tidaklah fana. ”

    Berikut sedikit uraiannya. [2]
    *. Pertama :

    Surga dan neraka itu benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun tentangnya.
    Di antara dalilnya,
    وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
    (131) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (132) وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)

    “ Dan peliharalah dirimu dari api neraka , yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Ali Imron: 131-133)

    *. Kedua : Surga dan neraka sudah ada saat ini.
    Tentang surga, Allah Ta’ala berfirman,
    أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
    “ Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Ali Imron: 133)

    *. Tentang neraka, Allah Ta’ala berfirman,
    أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
    “ Yang telah disediakan untuk orang-orang kafir. ” (QS. Ali Imron: 131).

    Jika dikatakan “telah disediakan”, berarti keduanya telah ada.
    Dari Imron bin Hushain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ ، وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ، فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

    “ Aku pernah melihat surga, lalu aku melihat bahwa kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku pun pernah melihat neraka, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita .” [3]

    Dari Ibnu ‘Abbas, Rofi’ bin Khudaij, ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ ، فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ

    “ Sakit demam berasal dari panasnya jahannam. Oleh karenanya, dinginkanlah demam tersebut dengan air. ” [4]

    *. Ketiga :

    Surga dan neraka itu kekal karena Allah yang menghendaki keduanya untuk kekal. Keduanya tidaklah fana. Banyak sekali dalil yang membicarakan hal ini, berikut kami sebutkan sebagiannya.

    Tentang surga, Allah Ta’ala berfirman,

    خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    “ Mereka kekal di dalamnya . Itulah kemenangan yang besar. ” (QS. At Taubah: 100)

    Tentang neraka, Allah Ta’ala berfirman,

    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا ,إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

    “ Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula)akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya .” (QS. An Nisa’: 168-169)

    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ ، وَ أَهْلُ النَّارِ النَّارَ ، ثُمَّ يَقُومُ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ يَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ ، وَيَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ، خُلُودٌ

    “ Jika penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, kemudian seseorang akan meneriaki di antara mereka, “Wahai penduduk neraka, tidak ada lagikematian untuk kalian . Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Kalian akan kekal di dalamnya . ” [5]

    Awal Sanggahan dari Mustofa Bisri
    Buku “ Ternyata Akhirat Tidak Kekal ” sebenarnya sudah dikritisi lebih terlebih dulu oleh A. Mustofa Bisri. Berikut pemaparan beliau ketika memberikan pengantar untuk buku tersebut.
    “Yang paling menarik tentu kesimpulan Agus Mustofa tentang ketidak-kekalan Akhirat, yang karenanya kemudian menjuduli bukunya dengan “ Ternyata Akhirat Tidak Kekal ” ini . Kesimpulannya itu antara lain didasarkan pada Q.S. 11 Hud: 107 dan 108, di mana -menurut pemahaman Agus- kekekalan mereka yang berbahagia di sorga maupun celaka di neraka digantungkan “kepada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta”.
    Dengan kata lain, paparnya, “Akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran” (hal. 234). Pendapat ini diperkuat dengan kutipan Q.S. 28: Al Qashash: 88,

    كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

    “Tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa kecuali ‘Wajah-Nya’”
    Kesimpulan dan pendapat itu terjadi karena Agus Mustofa tidak mempertimbangkan atau mengabaikan tafsir-tafsir yang ada, khususnya mengenai kalimat:

    مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

    Misalnya, tafsiran Ahli Tafsir yang menyatakanbahwa yang dimaksud “langit dan bumi” adalah langit dan bumi yang lain, berdasarkan QS. 14: 48

    يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

    “ (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” … [6]

    Demikian sebagian komentar dari Bapak Mustofa Bisri yang mengkritik pendapat kontroversial dari Agus Mustofa. Intinya, pendapat yang diutarakan oleh Agus Mustofa berseberangan dengan pendapat ahli tafsir dan para ulama yang tentu lebih memahami ayat tersebut.

    Mari kita simak penjelasan selanjutnya.

    Merujuk Tafsiran Ulama

    *. Pertama :
    Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al Amili (Abu Ja’far Ath Thobari)
    Mengenai ayat,
    خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
    “ Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi ”, Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Orang Arab biasanya jika ingin mensifatkan sesuatu itu kekal selamanya, maka mereka akan mengungkapkan dengan,
    هذا دائم دوام السموات والأرض
    “Ini kekal selama langit dan bumi ada.” Namun maksud ungkapan ini adalah kekal selamanya . [7]

    *. Kedua : Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi
    Selain membawakan perkataan Ibnu Jarir Ath Thobari, Ibnu Katsir membawakan penafsiran lain. Beliau rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi dipahami bahwa maksud ayat “ selama langit dan bumi itu ada ” adalah jenis langit dan bumi (maksudnya: langit dan bumi yang beda dengan saat ini, pen). Karena sudah pasti alam akhirat juga ada langit dan bumi (namun berbeda dengan saat ini, pen).

    Buktinya adalah firman Allah Ta’ala ,
    يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
    “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit .” (QS. Ibrahim: 48)

    Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menjelaskan mengenai firman Allah,
    خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
    “ Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi ”, maksudnya adalah Allah mengganti langit berbeda dengan langit yang ada saat ini. Begitu pula Allah mengganti bumi berbeda dengan bumi yang ada saat ini. Langit dan bumi (yang berbeda dengan saat ini tadi, pen) pun akan terus ada.”

    *. Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa Sufyan bin Husain menyebutkan dari Al Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan mengenai firman Allah (yang artinya), “ Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, ” yaitu setiap surga itu memiliki langit dan bumi.
    ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan, “Yaitu selama bumi itu menjadi bumi (yang berbeda dengan saat ini, pen) dan langit menjadi langit (yang berbeda dengan saat ini, pen).” –Demikian penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah mengenai surat Huud ayat 107. [8]

    *. Ketiga : Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud AlBaghowi
    Al Baghowi menyatakan yang hampir sama dengan Ibnu Jarir Ath Thobari dan Ibnu Katsir. Al Baghowi mengatakan, “Mengenai ayat (yang artinya), “ Mereka kekal di dalamnya ” yaitu terusberada tinggal di dalamnya. Sedangkan ayat (yang artinya), “ Selama langit dan bumi itu ad a”,sebagaimana dikatakan oleh Adh Dhohak, “Selama langit dan bumi dari surga dan neraka itu ada. Karena segala sesuatu yang berada di atasmu dan menaungimu itulah langit. Sedangkan segala sesuatu sebagai tempat engkau berpijak itulah bumi.

    Begitu pula para pakar tafsir menjelaskan bahwa ungkapan dalam ayat tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kekalnya sesuatu. Inilah ungkapan yang biasa disebutkan oleh orang Arab. Mereka biasa mengatakan, “Saya tidak akan mendatangimu selama langit dan bumi itu ada”. Atau mereka katakan, “… selama bergantinya malam dan siang”. Mereka maksudkan ini semua untuk mengungkapkan “ selamanya ”.” [9]

    *. Keempat : Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani
    Tentang ayat (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada,” Asy Syaukani menukil perkataan Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, beliau mengatakan maksud ayat tadi, “Setiap surga memiliki langit dan bumi tersendiri.” [10]

    *. Kelima : Mahmud bin ‘Amr bin Ahmad Az Zamakhsyari
    Az Zamakhsyari menyatakan penafsiran yang sama dengan Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir. Jadi, makna ayat (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada”, maksudnya: [1] Yang dimaksud adalah langit dan bumi di akhirat, keduanya itu abadi dan makhluk yang kekal, [2] ungkapan orang Arab yang ingin menyatakan sesuai itu kekal dan tidak ada ujung akhirnya.

    Untuk maksud pertama ini, beliau membawakan dua ayat bahwa di akhirat itu ada langit dan bumi tersendiri.

    Ayat pertama, Allah Ta’ala berfirman,

    يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

    “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit .” (QS. Ibrahim: 48)

    Ayat kedua, Allah Ta’ala berfirman,

    وَأَوْرَثَنَا الأرض نَتَبَوَّأُ مِنَ الجنة حَيْثُ نَشَاء

    “ Dan telah (memberi) kepada kami bumi (tempat) ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” (QS. Az Zumar: 74) [11]

    *. Keenam :
    Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan, “Sekelompok ulama menjelaskan mengenai firman Allah (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada”, yaitu yang dimaksud adalah langit dari surga dan bumi dari surga. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “ Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surgaFirdaus. Firdaus adalah surga yang paling tinggi dan merupakan surga pilihan. Sedangkan atap (langit) dari surga tersebut adalah ‘Arsy Allah ”.

    Begitu pula sebagian ulama ketika menjelaskan mengenai firman Allah,

    وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

    “ Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh .” (QS. Al Anbiya’: 105).

    Yang dimaksudkan di sini adalah bumi di surga. Oleh karena itu tidak bertentangan antara yang menyatakan langit akan terlipat (yaitu langit dunia, pen). Sedangkan langit yang tetap terus ada adalah langit (atap) dari surga. Oleh karena itu, yang mesti kita pahami adalah segala sesuatu yang berada di atas, maka ia disebut secara bahasa dengan langit ( as samaa’ ).
    Sebagaimana pula hujan disebut dengan samaa’ (langit). Dan atap juga disebut dengan samaa’ (langit).” [12]

    Ringkasnya , mengenai surat Huud ayat 107 dan 108, ada dua penafsiran:

    *. Pertama : Yang dimaksud adalah langit dan bumiyang ada di akhirat nanti.
    *. Kedua : Penyebutan “selama langit dan bumi itu ada” adalah ungkapan orang Arab yang ingin menyebutkan sesuatu itu kekal abadi.

    Bandingkan tafsiran di atas ini dengan pemahamann penulis buku tersebut.(Kekeliruan Penulis Buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”)

    Dari penjelasan ulama di atas, terlihat jelas bahwa surat Huud ayat 16-108 bukan memaksudkan akhirat itu tidak kekal sebagaimana yang disalah pahami oleh Agus Mustofa. Sudah jelaslah kekeliruan yang beliau utarakan dalam buku tersebut.

    Intinya, kekeliruan yang beliau lakukan disebabkan beberapa hal:

    Pertama:
    Hanya bergantung pada logika yang dangkal
    Setelah beranjak dari pemahaman keliru terhadap surat Huud ayat 107 dan 108, beliau pun mengemukakan argumen sains.

    Namun ini sudah beranjak dari pemikiran keliru terhadap ayat tadi dan dibangun di atas logika yang fasid (rusak). Yang namanya logika jika bertentangandengan dalil, maka dalil yang mesti didahulukan karena logika tentu saja terbatas.

    Coba pahami baik-baik perkataan seorang alim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut ini.
    “ Bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidaklah bisa berdiri sendiri . Akal bisa berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya.

    Apabila akal mendapati cahaya iman dan Al Qur’an barulah akal akan seperti mata yang mendapatkan cahaya mentari. Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu .” [13]

    Intinya, logika bisa berjalan dan berfungsi jika ditunjuki oleh dalil syar’i yaitu dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan tentang surga dan neraka, betapa banyak ayat yang menunjukkan kekalnya.

    Pantaskah di sini akal mengalahkan dalil Al Qur’an dan As Sunnah? Logika barulah benar jika memang tidak berseberangan dengan wahyu.

    Kedua:
    Pengarang buku ini tidak mau merujuk pada ulama ulama tafsir.
    Inilah salah satu kekeliruannya lagi. Jarang sekali kami lihat dalam buku beliau yang menukil perkataan ulama atau mau merujuk pada mereka dalam menafsirkan ayat. Beliau kadang menafsirkannya sendiri sehingga bisa salah fatal semacam ini.

    Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
    مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُأَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
    ” Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan. ” [14]

    Kita punya kewajiban jika tidak tahu tentang masalah agama termasuk pula dalam memahami ayat untuk bertanya pada orang berilmu.
    Allah Ta’ala berfirman,
    فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
    “ Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orangyang berilmu, jika kamu tiada mengetahui .” (QS.An Nahl: 43 dan Al Anbiya’: 7).

    Ingatlah, obat dari kebodohan adalah dengan bertanya pada ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ
    “ Obat dari kebodohan adalah dengan bertanya. ” [15]

    Ketika membawakan hadits ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut kebodohan dengan penyakit dan obatnya adalahdengan bertanya pada para ulama (yang berilmu).” [16]

    Ketiga:
    Mengikut ayat mutasyabih (yang masih samar)
    Sebelum menyebutkan pendapatnya pada halaman 234, sebenarnya Ir. Agus Mustofa sudah memaparkan ayat-ayat yang menunjukkan kekalnya surga dan neraka.

    Bahkan beliau sendiri katakan di hal. 232 dari bukunya, “Dan masih banyak lagi ayat tentang kekekalan Surga, Neraka, atau Akhirat itu. Tak kurang dari 110 ayat yang menggambarkan, betapa akhirat, surga dan neraka itu kekal.”

    Namun ketika sampai pada hal. 234, setelah membawakan surat Huud ayat 106-108, beliau pun mengatakan,
    “Justru di sinilah kunci pemahamannya. Pertama, bahwa akhirat tersebut sesungguhnya memang tidak kekal . Akan tetapi, ketidakkekalan itu bukan berarti meringankan arti dari informasi-informasi sebelumnya yang mengatakan: Khaalidiina fiiha… (kekal di dalamnya …). Dan di ayat lainnya lagi seringkali ditambahkan kata ‘abada’ (abadi, selama-lamanya). Miliaran tahun! Karena kekal yang dimaksudkan tersebut memang bukan kekal yang tidak terbatas. Akhirat adalah makhluk. Karena itu ia pasti memiliki awal dan akhir.”

    Demikian perkataan beliau.
    Semula ia katakan bahwa 110 ayat membicarakan kekekalan akhirat, namun ketika bertemu dengan surat Huud ayat 106-108, baru ia menjadi bingung. Lalu akhirnya ia simpulkan bahwa akhirat itu tidak kekal. Bagaimana mungkin hanya berpegang pada surat Huud lalu mengalahkan 110 ayat yang menyatakan kekekalan surga dan neraka?!

    Thoriqoh (metode) orang-orang yang menyimpang memang seperti ini. Kebiasaannya adalah selalu mempertentangkan ayat yang satudan lainnya. Atau kebiasaannya adalah berpegang pada ayat yang masih samar (baca: mutasyabih) dan meninggalkan ayat-ayat yang sudah jelas yaitu ayat muhkam.

    Seharusnya sikap yang tepat ketika seseorang menemukan ayat-ayat yang samar dan sulit baginya untuk memahaminya adalah ia pahami dan membawa ayat tersebut kepada ayat muhkam (yang sudah jelas maknanya) . Bukan malah yang jadi pegangan adalah ayat mutasyabih yang masih samar.

    Itulah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala , ketika kita menemukan ayat masih samar, bawalah ayat tersebut kepada ayat yang sudah jelas maknanya agar kita tidak tersesat. Allah Ta’ala berfirman,

    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

    “ Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, makamereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal .” (QS. Ali Imron: 7).

    Ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya) dalam ayat ini disebut dengan ummul kitaab (induk kitab) . Artinya, ayat-ayat muhkam inilah yang jadikan rujukan ketika bertemu dengan ayat-ayat yang masih samar bagi sebagian orang (mutasyabihaat). [17] Namun kecenderungan orang-orang yang sesat adalah biasa mengikuti ayat mutasyabih (yang masih samar).

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
    “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, yaitu keluar dari kebenaran menuju pada kebatilan, maka mereka mengikuti ayat yang masih mutasyabih (masih samar). Mereka mengambil ayat mutasyabih tersebut yang mampu mereka selewengkan sesuai maksud mereka yang keliru dan dijadikan sebagai pembela mereka karena makna yang masih bisa diselewengkan sesuka mereka. Adapun ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya), seperti itu tidak dijadikan rujukan mereka. Mereka tidak mau berpegang pada ayat yang muhkam karena itu bisa menyangkal dan menjatuhkan pendapat mereka sendiri. ” [18]

    Penutup

    Inilah beberapa kekeliruan dasar penulis Agus Mustofa. Ditambah lagi pemahaman beliau yang berbau tasawuf dan filsafat, hal ini semakin menambah kelamnya buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”.

    Kami hanya mengingatkan, waspadalah terhadap buku-buku dan pemahaman beliau sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati kita agar waspada dengan orang-orang yang hanya mau berpegang pada ayat mutasyabih (yang masih samar) dan meninggalkan jauh-jauh ayat muhkam (yang sudah jelas maknanya).

    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha , beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat Ali Imron ayat 7 di atas, lalu ‘Aisyah mengatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ
    “ Jika kalian melihat orang-orang yang sering mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih (yang masih samar), maka merekalah yang Allah sebut(dalam surat Ali Imron ayat 7). Oleh karenanya, Waspadalah terhadap mereka . ” [19]

    Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada penulis buku tersebut. Semoga kaum muslimin yang lain dapat terhindar dari kekeliruan-kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik.
    Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

    Refrensi:

    [1] Buku yang ditulis oleh Agus Mustofa amatlah banyak, semuanya bertajuk tasawuf modern. Buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” ini telah sampai pada cetakan kesepuluh dan diterbitkan oleh PADMA Press.
    [2] Kami sarikan dari Ma’arijul Qobul , Syaikh Hafizh bin Ahmad Al Hakami, 2/222-229, Darul Hadits, cetakan tahun 1420 H.
    [3] HR. Bukhari no. 5198 dan Muslim no. 2737.
    [4] HR. Bukhari dan Muslim.
    [5] HR. Bukhari no. 6544 dan Muslim no. 2850.
    [6] Lihat Ternyata Akhirat Tidak Kekal , Agus Mustofa, hal. xi-xii, PADMA press, cetakan kesepuluh, tahun 2006.
    [7] Tafsir Ath Thobari (Jaami’ Al Bayan ‘an Ta’wilil Ayil Qur’an) , Ibnu Jarir Ath Thobari, 12/578, Dar Hijr.
    [8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/472, Muassasah Qurthubah.
    [9] Ma’alimut Tanzil , Al Baghowi, 4/200, Dar Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H.
    [10] Fathul Qodir , Asy Syaukani, 3/486, Mawqi’ At Tafaasir.
    [11] Al Kasysyaf , Az Zamakhsyari, 3/124, Mawqi’At Tafaasir.
    [12] Majmu’ Al Fatawa , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 15/109, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.
    [13] Majmu’ Al Fatawa , 3/338-339.
    [14] Lihat Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar , Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 15, Mawqi’ Al Islam.
    [15] HR. Abu Daud no. 336, Ibnu Majah no. 572 dan Ahmad (1/330). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih . Lihat Shohih Al Jaami’ no. 4363.
    [16] Ighotsatul Lahfaan min Mashoidisy Syaithon , Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, 1/19, Darul Ma’rifah, cetakan kedua, tahun 1395 H
    [17] Faedah dari penjelasan Ibnu Katsir ketika menjelaskan surat Ali Imron ayat 7. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim , 3/7.
    [18] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim , 3/9.
    [19] HR. Muslim no. 2665.

    http://fharouq.blogspot.co.id/2013/09/ternyata-surga-dan-neraka-tidak-kekal.html

Leave a Reply