Loading
AGAMA …. hanya main-main dan SENDA GURAU ????!!!!! ……………………………………………. jangan SAMPAI menjadi PENYEBAB di AZAB Allah … At Taubah:65-66 …………………………………..ALLAH SWT sudah menegaskan bahwa agama Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. Dengan kata lain, agama Islam merupakan sesuatu yg serius, meski tidak kaku, karena Rasululloh SAW sendiri termasuk orang yg suka bercanda dan humor. ———————– Namun, Rasululloh SAW tidak pernah bercanda atau guyon yg terkait ataupun yg mengarah ke agama Islam. Entah itu terkait dg Al Qur’an, hadits, atau kisah para Nabi dan Rasul terdahulu. —————————————- ALLAH SWT sendiri sudah mengingatkan agar kita menjauhi senda gurau dan bercanda ttg agama. ———————— ﴾ At Taubah:65 ﴿ Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّـهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ ﴿التوبة:٦٥﴾ ﴾ At Taubah:66 ﴿ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ ﴿التوبة:٦٦﴾ ……………………………………. | EP Artikel-Edy Gojira

AGAMA .... hanya main-main dan SENDA GURAU ????!!!!! .................................................... jangan SAMPAI menjadi PENYEBAB di AZAB Allah ... At Taubah:65-66 .........................................ALLAH SWT sudah menegaskan bahwa agama Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. Dengan kata lain, agama Islam merupakan sesuatu yg serius, meski tidak kaku, karena Rasululloh SAW sendiri termasuk orang yg suka bercanda dan humor. ----------------------- Namun, Rasululloh SAW tidak pernah bercanda atau guyon yg terkait ataupun yg mengarah ke agama Islam. Entah itu terkait dg Al Qur’an, hadits, atau kisah para Nabi dan Rasul terdahulu. ---------------------------------------- ALLAH SWT sendiri sudah mengingatkan agar kita menjauhi senda gurau dan bercanda ttg agama. ------------------------ ﴾ At Taubah:65 ﴿ Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّـهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ ﴿التوبة:٦٥﴾ ﴾ At Taubah:66 ﴿ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ ﴿التوبة:٦٦﴾ ...........................................

AGAMA .... hanya main-main dan SENDA GURAU ????!!!!!
.................................................... jangan SAMPAI menjadi PENYEBAB di AZAB Allah ... At Taubah:65-66
.........................................
﴾ Al An'am:70 ﴿ Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.
وَذَرِ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِۦٓ أَن تُبْسَلَ نَفْسٌۢ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّـهِ وَلِىٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِن تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَّا يُؤْخَذْ مِنْهَآ ۗ أُو۟لٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أُبْسِلُوا۟ بِمَا كَسَبُوا۟ ۖ لَهُمْ شَرَابٌ مِّنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ ﴿الأنعام:٧۰﴾
﴾ Al A'raf:51 ﴿
(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۚ فَٱلْيَوْمَ نَنسَىٰهُمْ كَمَا نَسُوا۟ لِقَآءَ يَوْمِهِمْ هٰذَا وَمَا كَانُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا يَجْحَدُونَ ﴿الأعراف:٥١﴾
-------------------------------------
ALLAH SWT sudah menegaskan bahwa agama Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. Dengan kata lain, agama Islam merupakan sesuatu yg serius, meski tidak kaku, karena Rasululloh SAW sendiri termasuk orang yg suka bercanda dan humor.
-----------------------
Namun, Rasululloh SAW tidak pernah bercanda atau guyon yg terkait ataupun yg mengarah ke agama Islam. Entah itu terkait dg Al Qur’an, hadits, atau kisah para Nabi dan Rasul terdahulu.
----------------------------------------
ALLAH SWT sendiri sudah mengingatkan agar kita menjauhi senda gurau dan bercanda ttg agama.
------------------------
﴾ At Taubah:65 ﴿
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّـهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ ﴿التوبة:٦٥﴾
﴾ At Taubah:66 ﴿
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ ﴿التوبة:٦٦﴾
...........................................
Sebab turun ayat ini, bahwasanya ada sekelompok manusia yang dahulu bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk dan mereka adalah muslimin, kemudian dalam suatu majelis mereka mengatakan: “Kita tidak pernah melihat seperti para qurro’ (pembaca-pembaca) kita ini yang paling dusta lisannya, paling buncit perutnya (paling rakus dalam makan), paling penakut ketika bertemu musuh”, mereka memaksudkan dengan ucapannya itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan bersama mereka ada seorang pemuda dari kalangan sahabat, maka dia marah dengan ucapan mereka ini, kemudian dia pergi dan menyampaikan apa yang diucapkan kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dia mendapati wahyu telah turun mendahuluinya.
Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta maaf tatkala mereka mengetahui bahwa Rasullah shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui apa yang terjadi pada majelis mereka. Dan berdirilah salah seorang dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan: “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan keletihan dalam perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda gurau,” dalam keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikitpun kepadanya dan beliau hanya membacakan atasnya ayat ini:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ* لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah merela akan menjawab: ”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah: 65-66)

Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala:
قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.”

Ini menunjukkan bahwasanya sebelum ucapan ini mereka adalah orang-orang yang beriman, maka tatkala mereka mengucapkannya mereka menjadi murtad dari Islam. Padahal mereka mengatakan: “Ini hanya senda gurau” karena perkara-perkara agama ini tidak boleh dibuat senda gurau dan main-main. Sungguh Allah telah mengkafirkan mereka setelah keimanan mereka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Hal ini merupakan dalil bahwa barangsiapa mencela Allah, Rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya atau sedikit saja dari Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka dia telah murtad dari Islam walaupun hanya senda gurau, lalu dimana orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya dia tidak murtad melainkan apabila dia telah meniatkan dari hatinya? Seandainya ada orang yang mencela Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau Al-Qur’an, kita tidak boleh menghukuminya kecuali apabila dia meyakininya, kita tidak menghukuminya hanya semata-mata dengan ucapannya, lafadznya atau perbuatannya.”

Dari mana mereka mendatangkan ucapan semacam ini dan kertentuan ini?! Padahal Allah telah menghukumi mereka murtad sedangkan mereka mengatakan: “kami hanya bersenda gurau dan bermain-main” mereka orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta bertauhid, akan tetapi tatkala mereka mengucapkan perkataan seperti ini Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.”

Dan Allah tidaklah berfirman: “jika kalian meyakini hal ini”,kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka yang wajib adalah kita mendudukkan perkara-perkara pada tempatnya dan tidak boleh memasukkan padanya tambahan-tambahan atau pengurangan atau ketentuan-ketentuan dari diri kita sendiri.
Allah tidak bertanya tentang keyakinan mereka dan tidak menyebutkan bahwa mereka meyakininya, tetapi Allah menghukumi mereka dengan kemurtadan setelah keimanan mereka,

قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Sungguh kalian telah kafir sesudah iman.”

Allah sebutkan kekafiran mereka akibat dari ucapan mereka dan pengolok-olokan mereka dan Allah tidak mengaitkannya dengan ketentuan-ketentuan ini (harus atas dasar keyakinan mereka). Seorang manusia apabila mengucapkan kalimat kekafiran dalam keadaan dia tidak dipaksa maka dihukumi murtad, adapun apabila dia dalam keadaan dipaksa maka tidak murtad.
............................................

Mari kita perhatikan kalimat yg saya tebalkan. Nampak bahwa ALLOH SWT SANGAT MURKA dengan kita yg gemar mengolok-olok agama walaupun maksudnya bersenda gurau/bermain-main/bercanda saja. Bahkan kita dianggap sudah kafir sesudah beriman. Naudzubillah.

Seperti apa sih contohnya bersenda gurau/mengolok-olok dengan agama itu?

Saya ambil dari beberapa status di twitter.

doa puasa: Allahuma baring sana baring sini, tuh liat jamnya, waduh masih lama, jadi ingat makan, knapa lama sekali, udah mau mati..

Barangsiapa bangun sahur di bln ramadhan lalu ia tdr lagi, bangun lagi, tdr lagi, ia adalah golongan pengikut Mbah Surip.

– Sesungguhnya tiap2 individu itu pasti akan dihadapkan dengan orang2 freak beserta acaranya (baca: freak show)

– Apabila diantara kamu pd saat berbuka puasa sedang berada dlm perjalanan krn terjebak macet, maka kamu trmsk orang jalanan (HR Rasuna Said)

Barangsiapa yg waktu taraweh msh di jalan berarti dia termasuk golongan org yg terjebak macet (HR. Rasuna Said)

– Sesungguhnya membayangkan bakso jam segini adalah siksaan

Sholat itu harusnya pake jeans bukan sarung,karena ada ayat yg berbunyi “kuciptakan jeans dan manusia hanya untuk ibadah kepadaku.”

Sekilas status2 di atas nampak dan terasa lucu. Namun jika kita perhatikan, beberapa status di antaranya memiliki KEMIRIPAN dengan hadits ataupun ayat. Bahkan status paling atas jelas2 sekali mengolok-olok doa puasa.

“Ah, jangan begitu lah, ini kan main-main…”
Maksud saya untuk menghibur kok, daripada puasa malah terasa menjadi beban…”
Anda kaku sekali. Ini kan tidak serius…”
Menurut hemat saya, status2 itu biasa saja, tidak memperlihatkan keanehan…”
Yaa…itu sih mirip2 saja lah, tapi saya yakin pembuatnya dan yg menyebarkannya tidak bermaksud mempermainkan agama…”

Saya yakin ada komentar2 yg terlontar mirip dg di atas. Melihat komentar2 tersebut (atau yg serupa) justru memperlihatkan dan menegaskan bahwa ALLOH SWT sudah memberikan warning bahwa ada di antara orang2 yg (mengaku) beriman namun masih suka ‘bercanda’ dengan agama. Adapun jika komentarnya bernada ‘ngeles’ dan ‘netral’, saya malah terpikir bahwa orang tersebut tidak tahu.

Well, saya bukan orang yg suci dan bukan orang yg paling tahu dan paling benar dalam urusan agama. saya menghimbau dan mengajak saudara2 sekalian untuk menghindari perilaku dan sikap bermain-main ataupun bersenda gurau dengan agama.

Bersenda gurau dengan agama bisa kita lihat di film-film Hollywood. Di situ mereka tidak lagi sekedar bersenda gurau dg agama, mereka malah melecehkan dan terang2an mengolok-olok dan merendahkan agama mereka.

Beberapa film yg (menurut pendapat saya) bernuansa bercanda dg agama adalah “Bruce Al Mighty”, “Michael”, “Evan Al Mighty”, dan masih banyak lagi.

Bagi yg pernah melakukan perbuatan yg serupa dg tindakan saya di masa lalu, terutama karena ketidak tahuan kita, kuncinya hanya satu. Bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat (taubat nasuha). Dengan benar2 menyesali perbuatan jahiliyah kita di masa lalu dan berniat tidak akan pernah mengulanginya lagi, insya ALLOH kita akan diampuni-Nya.

Semoga bermanfaat.

Views All Time
Views All Time
355
Views Today
Views Today
6
About Edy Gojira 721 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

2 Comments on AGAMA .... hanya main-main dan SENDA GURAU ????!!!!! .................................................... jangan SAMPAI menjadi PENYEBAB di AZAB Allah ... At Taubah:65-66 .........................................ALLAH SWT sudah menegaskan bahwa agama Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. Dengan kata lain, agama Islam merupakan sesuatu yg serius, meski tidak kaku, karena Rasululloh SAW sendiri termasuk orang yg suka bercanda dan humor. ----------------------- Namun, Rasululloh SAW tidak pernah bercanda atau guyon yg terkait ataupun yg mengarah ke agama Islam. Entah itu terkait dg Al Qur’an, hadits, atau kisah para Nabi dan Rasul terdahulu. ---------------------------------------- ALLAH SWT sendiri sudah mengingatkan agar kita menjauhi senda gurau dan bercanda ttg agama. ------------------------ ﴾ At Taubah:65 ﴿ Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّـهِ وَءَايٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ ﴿التوبة:٦٥﴾ ﴾ At Taubah:66 ﴿ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ ﴿التوبة:٦٦﴾ ...........................................

  1. Tapi, kalau misalkan dakwah diselingi dengan sedikit candaan bagaimana?? Tapi candaannya tidak menjerumuskan ??
    ————-
    FATAL BILA BERCANDA SALAH MENURUT SYARIAT

    SETIAP etiap orang tentu butuh suasana rileks dan santai untuk mengendorkan urat syaraf, menghilangkan rasa pegal dan capek sehabis bekerja. Dari sini diharapkan badan kembali segar, mental stabil, semangat bekerja tumbuh kembali, sehingga produktifitas semakin meningkat.

    Suasana seperti ini diantaranya bisa dinikmati melalui bercanda atau berkelakar bersama orang lain. Berkelakar atau bercanda itu sedniri sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan manusia. Bahkan, kadang sudah menjadi semacam ‘bumbu’ dalam setiap pembicaraan. Namun, adakalanya kita menemui seseorang yang berlebihan dalam bercanda dan tertawa. Tentang hal ini Islam telah mengatur bagaimana sehasrunya bercanda yang baik itu sesuai dengan tuntutan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasullullah tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad)

    Adapun contoh bercandanya Rasulullah adalah ketika beliau bercanda dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70)

    Pada suatu ketika beliau bercanda dengan seorang sahabat dengan memanggil: “Hai yang mempunyai dua telinga “ (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

    Rasulullah SAW juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang pada beliau dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga.”

    Maka Nabi SAW berkata kepadanya,

    “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua.”

    Si wanita tua itu pun menangis tersedu-sedu, karena ia memahami apa adanya.

    Kemudian Rasulullah SAW memberi pemahaman, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi semua berubah menjadi muda belia dan cantik. Beliau kemudian membaca ayat yang berbunyi; “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.“

  2. BerCANDA …. ala Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
    ……………………..……….
    sebagai manusia biasa, kadang kala rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati dan membuat mereka gembira. namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasannya. bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. begitu pula, meski dalam keadaan bercanda beliau tidak berkata kecuali yang benar.
    ————————-
    Hidup terasa hambar dan datar tanpa humor dan canda bagaikan masakan tanpa garam. Namun hanya dalam kadar kuantitas, kualitas dan penyajian tertentu akan menjadi penyedap kehidupan. Suatu kali Imam Al Ghazali melontarkan 6 pertanyaan kepada murid-muridnya yang hadir dalam majelis ta’limnya. Salah satunya adalah: Benda apa yang paling tajam di dunia ini?. Beragam jawaban muncul dari murid-murid beliau. Pisau, silet, sampai pedang. Imam Al Ghazali menanggapi jawaban murid-muridnya tersebut. “Betul, semua benda yang kalian sebutkan itu tajam. Tapi ada yang lebih tajam dari itu semua. Yaitu LIDAH”.
    ———————-
    Meskipun lidah tidak bertulang, namun memang lidah bisa lebih tajam dari apapun, karena dia bisa ‘merobek’ hati. Bahkan kadang lidah bisa membuat lubang menganga di hati lawan bicara yang mungkin perlu waktu lama untuk mengembalikannya ke kondisi semula.
    —————————–
    Dalam keseharian, kewajiban menjaga lidah ini tidak saja harus kita laksanakan baik di kala sedang bicara serius ataupun di kala bercanda. Point terakhir ini seringkali membuat kita tidak sadar telah melukai hati teman kita. Kata-kata yang kita maksudkan sebagai candaan, seringkali menusuk hati teman kita, bisa karena bercanda yang keterlaluan, bercanda di saat yang tidak tepat, dan sebagainya. Karena di saat bercanda, seringkali kita tidak memperhatikan bagaimana mood teman kita itu yang sebenarnya.
    ———————————–
    Memang bercanda kadang diperlukan untuk memecahkan kebekuan suasana sebagaimana yang dikatakan Said bin Al-’Ash kepada anaknya. “Kurang bercanda dapat membuat orang yang ramah berpaling darimu. Sahabat-sahabat pun akan menjauhimu.” Namun canda juga bisa berdampak negatif, yaitu apabila canda dilakukan melampaui batas dan keluar dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Canda yang berlebihan juga dapat mematikan hati, mengurangi wibawa, dan dapat menimbulkan rasa dengki.

    Allah Subhanahu wa ta’ala. berfirman, Artinya: “Dan sesungguhnya Dia-lah yang membuat orang tertawa dan menangis” [QS. An-Najm: 43]

    Menurut Ibnu ‘Abbas, berdasarkan ayat ini, canda dengan sesuatu yang baik adalah mubah (boleh). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. pun sesekali juga bercanda, tetapi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. tidak pernah berkata kecuali yang benar. Imam Ibnu Hajar al-Asqalany menjelaskan ayat di atas bahwa Allah subhanahu wa ta’ala. telah menciptakan dalam diri manusia tertawa dan menangis. Karena itu silakanlah Anda tertawa dan menangis, namun tawa dan tangis kita harus sesuai dengan aturan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

    Mungkin sebagian orang merasa aneh dengan pernyataan tersebut dan mencoba mengingkarinya, seperti yang pernah terjadi pada seseorang yang mendatangi Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah. Orang itu berkata kepada Sufyan, “Canda adalah suatu keaiban (sesuatu yang harus diingkari).” Mendengar pernyataan itu Sufyan berkata, “Tidak demikian, justru canda sunnah hukumnya bagi orang yang membaguskan candanya dan menempatkan canda sesuai dengan situasi dan kondisi.”

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” [HR. Imam Ahmad]

    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” [HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435]

    Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” [HR. Al-Bukhari no. 6092 & Muslim no. 1497]

    Berikut ini adalah kaidah fiqih terkait canda dan humor sebagai panduan agar canda dan humor bernilai dan berdampak positif dan tidak justru berdampak dan bernilai negatif seperti menimbulkan luka hati atau ketersinggungan orang lain.

    1. Tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan gurauan. Firman Allah: “Dan jika kamu tanyakan mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” [QS. At-Taubah:65]

    2. Jangan menjadikan kebohongan dan mengada-ada sebagai alat untuk menjadikan orang lain tertawa, seperti tren April Mop di masa sekarang ini. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi & Hakim]

    3. Jangan mengandung penghinaan, meremehkan dan merendahkan orang lain, kecuali yang bersangkutan mengizinkannya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman..” [QS. al-Hujurat:11]. “Cukuplah keburukan bagi seseorang yang menghina saudaranya sesama muslim.” [HR. Muslim]

    4. Tidak boleh menimbulkan kesedihan dan ketakutan terhadap orang muslim. Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak halal bagi seseorang menakut-nakuti sesama muslim lainnya.” [HR. Ath-Thabrani]. “Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang saudaranya, baik dengan maksud bermain-main maupun bersungguh-sungguh.” [HR. Tirmidzi]

    5. Jangan bergurau untuk urusan yang serius dan jangan tertawa dalam urusan yang seharusnya menangis. Tiap-tiap sesuatu ada tempatnya, tiap-tiap kondisi ada (cara dan macam) perkataannya sendiri. Allah mencela orang-orang musyrik yang tertawa ketika mendengarkan Al-Qur’an padahal seharusnya mereka menangis, lalu firman-Nya: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkannya.” [QS. An-Najm:59-61]. Hendaklah gurauan itu dalam batas-batas yang diterima akal, sederhana dan seimbang, dapat diterima oleh fitrah yang sehat, diridhai akal yang lurus dan cocok dengan tata kehidupan masyarakat yang positif dan kreatif.

    6. Islam tidak menyukai sifat berlebihan dan keterlaluan dalam segala hal, meskipun dalam urusan ibadah sekalipun. Dalam hal hiburan ini Rasulullah memberikan batasan dalam sabdanya; “Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” [HR. Tirmidzi]. “Berilah humor dalam perkataan dengan ukuran seperti Anda memberi garam dalam makanan.” (Ali ra.). “Sederhanalah engkau dalam bergurau, karena berlebihan dalam bergurau itu dapat menghilangkan harga diri dan menyebabkan orang-orang bodoh berani kepadamu, tetapi meninggalkan bergurau akan menjadikan kakunya persahabatan dan sepinya pergaulan.” (Sa’id bin Ash).
    ……………………..……………
    Humor dan Canda Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM
    ……………………..…
    berikut ini beberapa contohnya :
    ……………………..………………..
    Aisya radhiyallahu anha berkata “aku belum pernah melihat rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tertawa ter bahak-bahak hingga kelihatan lidahnya. namun beliau hanya tersenyum.” (HR. bukhari, muslim)

    Anas radhiyallahu anhu berkata “rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan ‘wahai pemilik dua telinga’.” (HR . ahmad, abu dawud)

    Anas bin malik radhiyallahu anhu bercerita, “ada seorang pria dusun bernama zahir bin haram. rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat menyukainya, hanya saja tampang pria ini jelek. pada suatu hari, beliau menemui pria ini ketika ia sedang menjual barang dagangannya. tiba-tiba rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memeluk zahir bin haram sehingga ia tidak dapat melihat beliau. zahir bin haram pun berkata ‘lepaskan aku, siapakah ini ?’. setelah menoleh ia pun mengetahui ternyata yang memeluknya adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. maka pria ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada rasulullah. rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lantas berkata ‘siapaka yang sudi membeli hamba sahaya ini ?’, lalu zahid berkata ‘demi allah subhanahu wa ta’ala. wahai rasulullah jika demikian, aku tidak akan laku dijual’. lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘justru disisi allah subhanahu wa ta’ala engkau sangat mahal harganya’.” (HR ahmad)

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga sering kali menggoda aisya radhiyallahu anha. suatu kali beliau berkata kepadanya, “‘aku tau kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku ?’ aisya lalu berkata ‘darimana engkau tau ?’ rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘kalau engkau suka kepadaku, engkau akan mengatakan tidak, demi rabb muhammad. dan kalau engkau marah kepadaku, engkau akan mengatakan tidak, demi rabb ibrahim.’ lalu aisya berkata ‘benar demi allah subhanahu wa ta’ala tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.'” (muttafaqun alaihi)

    Abu hurairah radhiyallahu anhu menceritakan “rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan al-hasan bin ali radhiyallahu anhu. ia pun meliat merah lidah rasulullah. lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (disarikan dari abu ihsan al-atsari/abu rafif)

    diriwayatkan dari anas radhiyallahu anhu, bahwasannya ada seorang lelaki datang kepada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata “‘wahai rasulullah, bawalah aku ?’ maka rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘kami akan membawamu di atas anak onta’. laki-laki itu lalu berkata ‘apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta ?’ lalu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata ‘bukankah onta yang melahirkan anak onta ?’ (HR abu dawud, tirmidzi)

    Anas radhiyallahu anhu mengisahkan ummu sulaim radhiyallahu anha memiliki seorang putera yang bernama abu umair. rasulullah sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. pada suatu hari, beliau datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. mereka berkata “‘wahai rasulullah, burung peliaran kami yang biasa diajaknya main sudah mati’ lantas rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercanda dengannya, beliau berkata ‘wahai abu umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu ?'” (HR abu dawud)

Leave a Reply