Loading
Ingkar Janji (Khianat), Watak Kaum Yahudi ………………………………………………………… sehingga YAHUDI digolongkan Allah sebagai kaum yg diMURKAi oleh Allah ……………………………………………. “HAI Bani Israil , ingatlah ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al Baqarah (2) :40) …………………………….. orang yang dimurkai Allah adalah kaum Yahudi. Karena selain ingkar, mereka berusaha membunuh para nabi seperti Nabi Zakaria, Yahya, Isa, dan juga Nabi Muhammad. Ada pun orang yang sesat adalah kaum Nasrani karena mereka tersesat oleh Paulus sehingga menyembah Yesus sebagai Tuhan mereka. ……………………….al fatihah:6-7 Tunjukilah kami jalan yang lurus {=jalan orang BERIMAN, dg petunjuk Allah}” ………………………………… “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat {= jalan orang BERIMAN} kepada mereka; BUKAN (jalan) mereka yang dimurkai {= jalan kaum YAHUDI} dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat {= jalan kaum KRISTEN/NASRANI/penyembah yesus}”. ……………………… Kita baca lagi ayat lainnya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120] | EP Artikel-Edy Gojira

Ingkar Janji (Khianat), Watak Kaum Yahudi .................................................................. sehingga YAHUDI digolongkan Allah sebagai kaum yg diMURKAi oleh Allah .................................................... “HAI Bani Israil , ingatlah ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al Baqarah (2) :40) ................................... orang yang dimurkai Allah adalah kaum Yahudi. Karena selain ingkar, mereka berusaha membunuh para nabi seperti Nabi Zakaria, Yahya, Isa, dan juga Nabi Muhammad. Ada pun orang yang sesat adalah kaum Nasrani karena mereka tersesat oleh Paulus sehingga menyembah Yesus sebagai Tuhan mereka. ............................al fatihah:6-7 Tunjukilah kami jalan yang lurus {=jalan orang BERIMAN, dg petunjuk Allah}” ....................................... “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat {= jalan orang BERIMAN} kepada mereka; BUKAN (jalan) mereka yang dimurkai {= jalan kaum YAHUDI} dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat {= jalan kaum KRISTEN/NASRANI/penyembah yesus}”. ........................... Kita baca lagi ayat lainnya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Ingkar Janji (Khianat), Watak Kaum Yahudi
.................................................................. sehingga YAHUDI digolongkan Allah sebagai kaum yg diMURKAi oleh Allah
....................................................
HAI Bani Israil , ingatlah ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al Baqarah (2) :40)
...................................
orang yang dimurkai Allah adalah kaum Yahudi. Karena selain ingkar, mereka berusaha membunuh para nabi seperti Nabi Zakaria, Yahya, Isa, dan juga Nabi Muhammad. Ada pun orang yang sesat adalah kaum Nasrani karena mereka tersesat oleh Paulus sehingga menyembah Yesus sebagai Tuhan mereka.
............................al fatihah:6-7
Tunjukilah kami jalan yang lurus {=jalan orang BERIMAN, dg petunjuk Allah}”
.......................................
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat {= jalan orang BERIMAN} kepada mereka; BUKAN (jalan) mereka yang dimurkai {= jalan kaum YAHUDI} dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat {= jalan kaum KRISTEN/NASRANI/penyembah yesus}”.
...........................

Kita baca lagi ayat lainnya:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain kaum Yahudi dan Nasrani, ada lagi Musuh Islam lainnya yang levelnya tentu di bawah kaum Yahudi dan Nasrani. Karena mereka ini sekedar antek. Yaitu kaum MUNAFIK. Apa ciri-ciri kaum Munafik?

Orang-orang yang beriman tidak akan mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al Maa-idah 51]

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]
..................................
Dalam tulisan yang lalu telah dibahas tentang sifat orang-orang Yahudi yang sukamelupakan ni’mat” atau “tidak bersyukur”.

Bani Israil telah diambil janjinya baik dalam keadaan nyaman maupun di bawah ancaman bukit Thursina.

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa”. (QS. Al Baqarah (2) :63)

Isi perjanjian itu adalah melaksanakan sekuat tenaga apa yang telah diberikan kepada mereka, yaitu Taurat, yang kemudian injil pada masa Nabi IsaAlaihissalam. Dan Allah akan menepati pula janji-Nya bila Bani Israil menepati janjinya kepada Allah. Namun, meskipun telah berjanji di bawah ancaman bukit Thursina, tapi tetap saja kemudian mereka berpaling.

Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi. ” (QS. Al Baqarah (2) :64)

Namun Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi Karunia dan Maha Rahman. Janji yang lain adalah: jika datang Nabi Muhammada ShallallahuAlaihi Wasallam yang telah Allah janjikan, supaya beriman kepadanya dan mengikutinya. Namun ketika janji Allah itu telah tiba, yaitu datangnya Nabi akhir zaman, mereka justeru mengingkarinya hanya karena Muhammad itu dari bangsa Arab (QS Al Baqarah (2) : 89) dan hanya karena Muhammad tidak memusuhi Jibril (QS Al Baqarah (2): 97).

Tidak hanya mengingkari janjinya kepada Allah, Bani Israil juga suka mengkhianati perjanjian-perjanjian dengan Rasulullah ShallallahuAlaihi Wasallam dan Muslimin. Tercatat jelas dalam sejarah para nabi hingga era millenium ini, deretan daftar panjang perjanjian-perjanjian yang dikhianati oleh kaum Yahudi ini. Melanggar perjanjian membuat mereka diusir dari Madinah dan menciptakan beberapa perang besar. Pelanggaran panjang pun selalu mereka lakukan di dalam konflik berdarah PalestinaIsrael. Yang terbaru adalah kaum Yahudi ini melanggar perjanjian international dengan tidak mematuhi resolusi PBB dalam penyerangan koalisi terhadap Libya.

Tokoh-tokoh Yahudi menciptakan aturan-aturan international guna mengintervensi negara-negara lain. Sedangkan di sisi lain justeru mereka yang melanggarnya. Pelanggaran international yang tak pernah mereka hentikan adalah penjajahan dan pembantaian terhadap Muslimin, wanita dan anak-anak Palestina.

Melanggar janji atau berkhianat adalah bagian dari karakter kuat Bani Israil (Yahudi). Maka Muslim yang suka berkhianat, jelas raganya Muslim tapi sifatnya Yahudi.

Bukan hanya Bani Israil yang punya ikatan janji kepada Allah dan Rasul-Nya, tapi juga Muslimin. Janji adalah hal yang tidak terpisahkan dari “tha’at”. Setiap Muslim telah diikat oleh janji. Adalah wajib untuk memenuhinya. Karena, jika tidak dipenuhi, maka hal itu akan jadi “boomerang” bagi Muslim itu sendiri.

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahannam).” (QS. Ar Ra’d (13) :25)

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. ” (QS. Ali Imran (3) :77)

Rasulullah ShallallahuAlaihi Wasallam bersabda, “Tidak sempurna iman bagi mereka yang tidak bersifat amanah dan tidak sempurna agama bagi mereka yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad).

Tipu daya, tipuan dan khianat itu di neraka.” (HR. Abu Daud).

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: “Tiga orang, Aku musuhnya pada hari Kiamat, yaitu seseorang yang memberikan kepada-Ku (janji) kemudian ia khianat, seseorang yang men jual orang merdeka lalu harganya dimakannya, dan seseorang yang mempekerjakan buruh yang telah menyempurnakannya namun ia tidak diberi upanya”.” (HR. Bukhari)
.........................
Sebelum melakoni kehidupan di dunia, manusia telah diambil kesaksiannya di alam ruh. Meskipun sifatnya kesaksian, tetapi hal tersebut pun mengandung kesepakantan antara Allah dan manusia.

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb). Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Ilah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang yang sesat dahulu ?” (QS. Al A’raf ( 7):172- 173).

Karena itulah Allah mengutus para Rasul untuk mengingatkan manusia tentang kesepakatan anatara manusia dengan Allah tersebut. Dan di dunia ini, berulang kali pula Allah mengambil dan memegang janji manusia.

Syahadat adalah satu ikrar janji setia dan suci. Seorang Muslim dituntut dan dituntun untuk selalu mengucapkan dan mengingat janji yang utama ini, minimal dalam setiap sholat.

Di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, selain ucapan 2 kalimat syahadat, para sahabat pun mengadakan kesepakatan janji setia pula kepada Rasulullah dengan cara syari’at “bai’at”. Bai’at (janji setia) yang menyatakan akan menolong Allah (agama Allah) dan Rasul-Nya. Bahkan para wanita pun berbai’at (berjanji setia) untuk tidak mempersekutukan Allah dan tidak bermaksiat (QS. Al Mumthahanah (60): 12).

Berjanji kepada Allah, tidak mungkin langsung kepada Allah. Karana itulah Allah menetapkan pembantu-Nya di dunia, yaitu para Rasul sebagai sarana perantara. Termasuk dalam hal penerimaan janji dan sumpah. Bani Israil diambil janjinya melalui perantara tangan para Rasul. Para sahabat dan sahabiyah diambil janjinya melalui perantara tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika Rasulullah telah wafat, maka janji setia itu melalui tangan para khalifah yang menggantikan kedudukan para Nabi dan Rasul sebagai sarana perantara antara umat dengan Allah dalam beberapa syari’at yang bersifat khusus sebagaimana telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin.

Memenuhi janji adalah wajib (QS. Al Maidah (5): 1).

Qalamullah:

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (QS. Al Fath (48):10).

Jelas tidak ada pilihan lain bagi seorang Mu’min selain memenuhi janji-janjinya, terutama janji kepada Allah. Ketika Muslimin bisa menepati janji-janjinya, akan terciptalah ummat yang sangat kuat dan penuh loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah, Yahudi berupaya melemahkan sumber-sumber energi kekuatan Muslimin yang salah satunya terletak pada “janji setia”. Maka Yahudi mencoba menghilangkan syari’at “bai’at” dengan menggulirkan opini angker tentang “bai’at”. Yahudi menciptakan momok bagi masyarakat dunia tentang “bai’at”. “Bai’at sangat identik dengan teroris”. Akibatnya, Muslimin takut dengan syari’atnya sendiri.

Banyaknya syari’at janji (bai’at) di dalam Al Qur’an dan Al hadits, jelas menunjukkanwajib”-nya seorang Muslim memiliki ikatan janji kepada Allah. Dan tata cara berjanji setia itu telah dicontohkan oleh para sahabat, yaitu “berbai’at”.

Wahai Muslimin! Berbai’atlah kepada Allah melalui wakilnya di dunia dan penuhilah janji setia itu, maka Allah akan menepati janji-Nya dengan memberikan surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah ( 9) :111).

Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah mengancam:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu, ia berklata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa yang melepaskan (diri) satu jengkal dari ketha’tan (kepada Allah), maka ia di hari Kiamat nanti akan bertemu dengan Allah dengan tidak membawa alasan. Dan barang siapa yang mati dan di lehernya tidak terdapat janji bai’at kepada Allah, maka ia mati seperti dalam keadaan jahiliyah”. (HR. Muslim).

Untuk itu, tepatilah janji kita, jangan sampai karakter Yahudi ini membuat kita mengingkari syahadat kita!

Wallahu a’lam... berbagai sumber

 

Views All Time
Views All Time
48
Views Today
Views Today
1
About Edy Gojira 720 Articles
sampaikanlah .... kebenaran ayat-ayat Allah

4 Comments on Ingkar Janji (Khianat), Watak Kaum Yahudi .................................................................. sehingga YAHUDI digolongkan Allah sebagai kaum yg diMURKAi oleh Allah .................................................... “HAI Bani Israil , ingatlah ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al Baqarah (2) :40) ................................... orang yang dimurkai Allah adalah kaum Yahudi. Karena selain ingkar, mereka berusaha membunuh para nabi seperti Nabi Zakaria, Yahya, Isa, dan juga Nabi Muhammad. Ada pun orang yang sesat adalah kaum Nasrani karena mereka tersesat oleh Paulus sehingga menyembah Yesus sebagai Tuhan mereka. ............................al fatihah:6-7 Tunjukilah kami jalan yang lurus {=jalan orang BERIMAN, dg petunjuk Allah}” ....................................... “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat {= jalan orang BERIMAN} kepada mereka; BUKAN (jalan) mereka yang dimurkai {= jalan kaum YAHUDI} dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat {= jalan kaum KRISTEN/NASRANI/penyembah yesus}”. ........................... Kita baca lagi ayat lainnya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

  1. jadi orang yg mengaku beragama ISLAM = jangan / TIDAK BOLEH .... meggunakan aturan dan hukum buatan MANUSIA .. apalagi YAHUDI, NASRANI/ KAFIR

    jadi orang yg mengaku beragama ISLAM = harus TAAT dan PATUH , serta TUNDUK pada HUKUM Allah, aturan Allah di al qur'an {sebagai sumber hukum yg UTAMA/ pertama} dan al hadits {sebagau sumber hukum ke dua}
    ..................................
    “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]
    ......................................
    AGAMA- DIEN

    kata-kata ad Dien, namun kalau diklasifikasikan hanya memiliki tiga arti yaitu :

    a. Aturan-aturan agama (Qs Asy Syuura : 13 dan 21 dan Qs. Al Haj : 78)

    b. Ketaatan, kepatuhan dan keihlasan sebagaimana tersebut dalam Qs. Az Zumar : 3 dan 11, Al Bayyinah : 5)

    c. Hari kiamat atau hari Agama atau hari pembalasan (Al Fatihah : 4, Ash Shoffaat : 20, Ash Shod : 78; Adz Dzaariat : 13; al Waaqiah : 56; al Mudatsir : 46; Al Ma’arij : 26; al Infithar : 9, 10 dan 17 dan Al Muthoffifin : 11).
    ....................................
    Dari pengertian tersebut terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan, tentang AGAMA/ ad dien yaitu

    a. Bahwa Ad Dien itu adalah aturan-aturan Allah – artinya segala bentuk hukum dari agama itu bersumber dari Allah, Nabi Muhammad SAW hanya menyampaikan risalah tersebut kepada manusia tanpa dikurangi atau ditambahi sedikitpun.

    b. Diberikan kepada manusia yang berakal. Memahami konsep manusia yang berakal dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu berakal dalam konteks syar’iyah dan berakal dalam konstek kesadaran berfikir.

    Akil-Baligh dalam konsteks syar’iyah adalah situasi dimana hukum-hukum tentang kewajiban dan larangan agama dibebankan kepada manusia. Indikatornya adalah ketika manusia mampu memberikan alternatif dan solusi terhadap permasalahan hidup dengan sadar (kemampuan akliyah) dan Baligh berarti telah sampai pada masa kematangan reproduksi nya yaitu dengan keluar sperma bagi kaum laki-laki dan menstruasi bagi kaum wanita. Terhadap orang yang hilang kesa-darannya baik karena gila, tidur atau lupa, maka hukum-hukum taklifi tidak berlaku atasnya – artinya tidak berhak atas dosa atau hukuman, jika ia melakukan kesalahan.

    Sedangkan berakal dalam konteks kesadaran berfikir dapat dibedakan menjadi dua; Pertama yaitu kemampuan mengurai setiap permasalahan dalam kerangka analitis sistematis; misalnya dalam tinjauan sebab, akibat dan solusinya dengan dasar ilmu yang realible – dus kemampuan tersebut lebih mengarah pada aspek intelektualitas sese-orang. Kedua; yaitu kesadaran hati (berfikir dengan hati nurani) terkadang seseorang memiliki kepandaian intelektual, tetapi ia tidak memiliki kepandaian “Hati Nurani/Qolb”. Ia mengingkari hukum, melakukan zina, mencuri atau perbuatan melanggar hukum agama lainnya. Secara akal dia tahu bahwa zina itu haram karena sejelek-jeleknya perbuatan dan jalan kehidupan, tetapi akalnya tidak mampu menjelaskan hal tersebut didepan gelora Hati dan nafsu syetannya – maka ketika itu ia tidak berakal sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al A’raf : 178

    c. Jika ia mampu menggunakan akal secara benar untuk memahami dan menjalankan aturan Allah tersebut, maka ia akan mendapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan keselamatan hidup di akhirat. Artinya bahwa akal yang benar akan membawa pada pilihan yang benar terhadap apa yang diberikan oleh Allah – dan hal tersebut menjadi modal untuk memperoleh kebahagiaan.

    Kebahagiaan hidup di dunia berdimensi sangat luas dan abstrak. Standar keba-hagiaan tidak dapat diukur dengan seberapa banyak ia mempunyai harta benda melain-kan lebih mengarah kepada kenyamanan, ketentraman dan kemampuan mengendalikan diri. Rasulullah mengatakan :”bukanlah kaya itu karena ia memiliki harta benda, melain kan adanya kelapangan hati”. Oleh sebab itu, agama tidak menjanjikan langsung melim-pahnya harta kekayaan melainkan kemantapan bathin yang berujung pada komit-men dan keuletan berusaha. Bagi mereka dunia adalah tempat persinggahan sementara dan permainan yang melenakan (Qs. Ali Imron : 185, Al An’am : 32 dan Hadid : 20), oleh sebab itu kekayaan yang paling sempurna adalah ketenangan dalam menjalankan agama itu sendiri (Qs. Al Maidah : 3).

    Sedangkan keselamatan hidup di akhirat adalah keberhasilan seseorang dalam mempertanggung jawabkan semua aktifitas pelaksanaan amanat hidup sebagai hamba Allah (Qs. Adz Dzariat : 56) dan sebagai Kholifah (Qs. Al Baqoroh : 30) yang sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. Pada masa tersebut, manusia tidak dapat mohon bantuan kepada sesamanya, sebab pada hari itu semua dihisab amal-nya dengan seadil-adilnya. Harta benda dan anak istrinya yang dulu dibanggakan, sudah tidak dapat dibanggakan lagi – yang ada hanya “Rahman dan Rahimnya” dzat yang Maha Kuasa (Qs. Al Baqoroh : 48, 123 dan 281)

  2. jelas sekali .. JANGAN menempuh JALAN YAHUDI {kaum di murkai} dan KRISTEN/NASRANI {kaum SESAT/ penyembah yesus}
    ..................................................
    Tunjukilah kami jalan yang lurus {=jalan orang BERIMAN, dg petunjuk Allah}”
    .......................................
    “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat {= jalan orang BERIMAN} kepada mereka; BUKAN (jalan) mereka yang dimurkai {= jalan kaum YAHUDI} dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat {= jalan kaum KRISTEN/NASRANI/penyembah yesus}”.
    ...................................................
    Dalam sehari semalam, minimal 17 kali kita memohon kepada Allah. Dalam shalat, kita senantiasa dengan berdoa. “Ihdinash Shiratal Mustaqim” yang artinya, “Ya Allah, Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
    .......................................
    Menurut penafsiran ulama, orang yang dimurkai Allah adalah kaum Yahudi. Karena selain ingkar, mereka berusaha membunuh para nabi seperti Nabi Zakaria, Yahya, Isa, dan juga Nabi Muhammad. Ada pun orang yang sesat adalah kaum Nasrani karena mereka tersesat oleh Paulus sehingga menyembah Yesus sebagai Tuhan mereka.

    Kita baca lagi ayat lainnya:

    “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

    Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Selain kaum Yahudi dan Nasrani, ada lagi Musuh Islam lainnya yang levelnya tentu di bawah kaum Yahudi dan Nasrani. Karena mereka ini sekedar antek. Yaitu kaum MUNAFIK. Apa ciri-ciri kaum Munafik?

    Orang-orang yang beriman tidak akan mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin:

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al Maa-idah 51]

    Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

    “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]

  3. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam... menyebabkan BATAL SYAHADAT orang itu/ murtad tanpa sadar

    Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.

    Termasuk juga di dalamnya adalah orang-orang yang meyakini bahwa peraturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih afdhal (utama) daripada sya’riat Islam, atau orang meyakini bahwa hukum Islam tidak relevan (sesuai) lagi untuk diterapkan di zaman sekarang ini, atau orang meyakini bahwa Islam sebagai sebab ketertinggalan ummat. Termasuk juga orang-orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum rajam bagi orang yang (sudah menikah lalu) berzina sudah tidak sesuai lagi di zaman sekarang.

    Juga orang-orang yang menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil syar’i yang telah tetap, seperti zina, riba, meminum khamr, dan berhukum dengan selain hukum Allah atau selain itu, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama.

    Allah Ta’ala berfirman:

    أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

    Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al-Maa-idah: 50]

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

    “… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al-Maa-idah: 44]

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

    “… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 45]

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

    “… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Maa-idah: 47]

  4. YAHUDI dan NASRANI = kaum KAFIR
    .......................
    ﴾ At Taubah:30 ﴿
    Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?
    وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّـهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصٰرَى ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ ٱللَّـهِ ۖ ذٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوٰهِهِمْ ۖ يُضٰهِـُٔونَ قَوْلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَبْلُ ۚ قٰتَلَهُمُ ٱللَّـهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ ﴿التوبة:٣۰

Leave a Reply